Page 1

Daftar Isi LAPORAN UTAMA

Kreatif Berdaya Saing Data laju pertumbuhan ekspor ekonomi kreatif keluaran Kemenparekraf dalam tiga tahun terakhir, masing-masing menunjukkan sebesar 8.78 persen (2011), 4.71 persen (2012), dan 8.01 persen (2013).

POLLING Kata Mahasiswa, Indonesia Mampu Merebut Pasar Ekonomi Kreatif

Enny dan Kisahnya Menuju Kursi Direktur

TENTANG MEREKA

5 14 17

SOSOK

“Yang penting harus senang dan harus total. Jangan hanya mengerjakan sesuatu karena harus. Jadi, menjiwai apa yang kita kerjakan,” – Dharmayanny Yusuf (Desainer Indonesia).

19

Dharmayanny Yusuf, Desainer Indonesia Kualitas Internasional

21

SUDUT PROFESI

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

1


23 29

45 47 EDENTS

Daftar Isi LAPORAN KHUSUS

DIBALIK KOTA METROPOLITAN “Bertambahnya jumlah anjal di Kota Semarang membuat pemerintah daerah khususnya Dinas Sosial, Pemuda, dan Olahraga harus melakukan penanganan secara komprehensif bukan parsial”

SASTRA BUDAYA Duet Maut: Angklung Modern dan Musik Tradisional

37

KABAR KAMPUS

PENA ALUMNUS Ekonomi Kreatif: Harapan Baru

Ekonomi kreatif sama artinya dengan membahas realitas saat ini. Tak mengherankan jika Paul Romer (ekonom) menyebut ide adalah barang ekonomi yang sangat penting, lebih penting dari objek yang ditekankan di kebanyakan model ekonomi.

DATA DAN FAKTA Statistik para “Purnawirawan”

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

2


EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014


PROLOG

Secuil Industri Kreatif di Indonesia Oleh: Amirani H. Putri

Istilah industri kreatif pertama kali muncul pada dekade 1990an di Australia. Hal ini terkait usulan untuk melakukan reformasi radikal di bidang justifikasi dan mekanisme pendanaan yang menyangkut kebijakan di sektor seni dan budaya. Namun, istilah tersebut menjadi dikenal khalayak luas ketika industri kreatif dikembangkan oleh pemerintah Inggris akhir 1990-an ketika Britania Raya mengalami berbagai permasalahan. Diantaranya, tingkat pengangguran yang tinggi, berkurangnya aktivitas industri, serta pengurangan kontribusi dana pemerintah untuk bidang seni. Oleh karena itu, muncul konsep “culture as an indutry” sehingga seni dan budaya di desain untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Wahyu Widodo, Akademisi FEB Undip, mengungkapkan bahwa pada masa itu kontribusi industri manufaktur terhadap GDP (Gross Domestic Product) Inggris menurun. Setelah itu muncul pemikiran untuk mengembangkan industri non-manufaktur konvensional yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. “Kemudian di Indonesia, munculnya industri kreatif ini pasti diinspirasikan oleh sejarah tersebut,” ungkap Wahyu. Karena sejak tahun 2000-an, tepatnya setelah tahun 2004, output industri manufaktur Indonesia cenderung menurun, GDP dan pertumbuhannya juga menurun. Salah satu penyebabnya adalah krisis global tahun 2008 yang menimpa dunia. Sebenarnya, ekonomi kreatif bukanlah tahapan transformasi struktural ekonomi seperti halnya yang dikenal selama ini. Bahwa dari ekonomi pertanian menuju ekonomi industri kemudian beralih ke jasa berbasis teknologi. Akan tetapi, ekonomi kreatif adalah kegiatan usaha berbasis ilmu pengetahuan. Produk yang ditawarkan dalam kegiatan usaha tersebut merupakan perwujudan dari kreativitas, misalnya animasi, film, fashion, bahkan di Indonesia kuliner masuk didalamnya. “Sebenarnya di konteks perekonomian yang modern sekarang ini, industri kreatif itu harusnya sejajar dengan yang lain, bukan sebagai pelengkap karena sama-sama memiliki potensi,” jelas Wahyu. Industri Kreatif Indonesia Di Indonesia, industri kreatif muncul atas dasar pemikiran untuk mengurangi ketergantungan yang terlalu dominan terhadap industri manufaktur konvensional. Karena, menurut Wahyu, sebenarnya industri kreatif dapat menciptakan nilai tambah yang tinggi. Hanya saja tidak dalam struktur kebijakan yang jelas karena tidak ada cetak birunya. Hal ini lantas menjadikan industri kreatif tidak tersentuh hingga mucul gagasan dari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kemudian komandani Maria Elka Pangestu (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2011-2014). Maka, untuk menjadikan industri kreatif sebagai peluang usaha, disusun sebuah perencanaan yang dikenal dengan “Indonesia Design Power”. “Indonesia saat ini baru tahap awal dalam menciptakan industri animasi dan segala macamnya, sehingga butuh waktu yang cukup panjang untuk bisa ‘bersaing’ dari industri-industri

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

kreatif dari negara maju seperti Jepang dan negara-negara Eropa,” ungkap Wahyu. Menurutnya, jika dilihat dari laporanlaporan yang dikeluarkan oleh Kementrian terkait, hal ini cukup komperhensif meski dibutuhkan waktu untuk menilai berhasil tidaknya ekonomi kreatif di republik. Permasalahan yang dihadapi Indonesia pun cukup kompleks. Seperti halnya identifikasi industri kreatif yang memiliki keunggulan kompetitif di Indonesia. “Mana diantara 14 item di Indonesia yang benar-benar menjadi unggulan belum cukup jelas, masing-masing memilki potensi, namun mana yang harus didahulukan dan ke arah pasarnya juga masih perlu diformulasikan lebih jauh,” jelas Wahyu. Permasalahan lain, yakni menyangkut infrastruktur, baik secara fisik maupun dalam bentuk sumber daya manusia (SDM). Meski demikian, optimisme bahwa ekonomi kreatif dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi harus tetap di pupuk. “Memang bukan hal yang mudah, tapi hal itu harus dimulai,” tukas Wahyu. Pasalnya, optimisme muncul karena adanya potensi. Indonesia memiliki potensi di beberapa industri yang cukup kuat, akan tetapi belum dikelola dengan baik. Setidaknya, ekonomi kreatif bertujuan menciptakan lapangan pekerjaan. Pun, akan menjadi ajang promosi untuk mengenalkan Indonesia di mata dunia. Misalnya, dalam bidang fashion, kualitas produk buatan Indonesia mampu bersaing dengan asing, terbukti ada beberapa designer Indonesia yang merambah pasar mancanegara. Dalam bidang kuliner, beberapa kuliner di Indonesia sangat spesifik dan diminati pasar internasional khususnya negara-negera yang memiliki selera sama. Wahyu mengungkapkan bahwa regulasi pemerintah merupakan hal utama untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia. Misalnya, kebijakan promosi haruslah jelas, apa yang harus dilakukan dalam jangka pendek, menengah, maupun dalam jangka panjang. Lalu, integrasi kebijakan antara top-down dan bottom-up dari pemerintah. Karena menurut Wahyu, potensi ekonomi kreatif justru ada di daerah sehingga membutuhkan linkage antara kebijakan pusat dan potensi yang ada di daerah. Artinya, konsistensi kebijakan dan fasilitas yang baik, paling tidak akan berkontribusi terhadap peningkatan GDP. Pun dalam rangka menyalip perkembangan industri konvensional yang semakin jauh. (nq)

Setidaknya, ekonomi kreatif bertujuan menciptakan lapangan pekerjaan. Pun, akan menjadi ajang promosi untuk mengenalkan Indonesia di mata dunia.

4


Kreatif Berdaya Saing

LAPORAN UTAMA

“Data laju pertumbuhan ekspor ekonomi kreatif keluaran Kemenparekraf dalam tiga tahun terakhir, masing-masing menunjukkan sebesar 8.78 persen (2011), 4.71 persen (2012), dan 8.01 persen (2013).” Oleh: Rio P. Paramita, Ariski Priyanto, dan Mia R. Saputri

dok. Semarang Art Gallery

Tumbuh Kembang Ekonomi Kreatif Ekonomi kreatif di Indonesia mulai dikembangkan sejak munculnya instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2006. Instruksi tersebut berupa pembentukan “Indonesia Design Power” oleh Departemen Perdagangan Republik Indonesia (sekarang Kementerian Perdagangan) guna membantu pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Tahun 2009 pemerintah mulai memperkenalkan ekonomi kreatif ke khalayak umum melalui pameran virus kreatif dan pameran pangan nusa. Hal tersebut lantas dilanjutkan dengan pembuatan portal ekonomi kreatif hingga cetak biru “Rencana Pengembangan Industri Kreatif Nasional 2025”. Di Indonesia kini terdapat lima belas subsektor ekonomi kreatif, yakni periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fashion, video, film dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, televisi dan radio, riset dan pengembangan, serta kuliner. Menurut Fitrie Arianti, akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip), gelombang ekonomi kreatif di Indonesia mulai tumbuh. Namun, hingga saat ini prestasi dan kontribusi ekonomi kreatif dalam perekonomian Indonesia belum dirasakan oleh masyarakat. Hal ini bisa disebabkan strategi yang dilakukan para pelaku industri kreatif kurang tepat. Selain itu, Fitrie menilai kebijakan pemerintah yang selama ini dikeluarkan tidak sepenuhnya mendukung pengembangan ekonomi kreatif sehingga diperlukan adanya perbaikan dari sisi regulasi. “Padahal kalau ini bisa berkembang, saya rasa luar biasa, terutama bisa mengatasi masalah pengangguran,” tuturnya. Berbeda dengan Fitrie, Sekretaris Direktorat Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain, dan IPTEK (EKMDI) Kementerian Pariwisata

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf ) Republik Indonesia, Poppy Savitri, menilai industri kreatif Indonesia saat ini menunjukan hasil yang positif. Hal tersebut didukung dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013 yang menunjukkan kontribusi sektor industri kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar 7,05 persen. Kontribusi tersebut relatif tinggi bila dibandingkan dengan sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan, pengangkutan dan komunikasi, serta listrik, gas, dan air bersih, yang masing-masing hanya memberikan kontribusi sebesar 7,02 persen, 6,93 persen dan 0,80 persen. “Masing-masing subsektor dalam ekonomi kreatif memberi kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, namun masih didominasi industri fashion dan kuliner,” tutur Poppy. Ia menambahkan, saat ini Kemenparekraf tengah berupaya untuk mendata sektor-sektor ekonomi kreatif yang produksinya dilakukan di rumah atau home industry. Produk Unik, Peluang Ekspor Menurut Fitrie, produk buatan Indonesia memiliki peluang untuk bersaing di pasaran ketika mempunyai ciri khas dan keunikan. Tak hanya itu, faktor lain dalam daya saing adalah harga yang kompetitif. “Jadi di sini daya saing tercermin dari harga itu. Harga tidak bisa kompetitif karena memang kita mahal semuanya, raw material-nya punya tetapi bahan baku nggak bisa bikin, transportasi mahal, BBM mahal,” tuturnya. Selain itu, produk kreatif Indonesia dinilai Fitrie dapat di ekspor ke luar negeri. Hal ini dikarenakan produk barang atau jasa hasil industri kreatif Indonesia bukanlah produk-produk umum, tetapi unik dan spesifik, seperti seni ukir, kerajinan, motif desain, dan lainnya. Di sisi lain, data laju pertumbuhan ekspor ekonomi kreatif keluaran Kemenparekraf dalam tiga

5


LAPORAN UTAMA

Menurut Fitrie, pelaku ekonomi kreatif muda masih belum muncul secara maksimal. “Pemerintah dalam hal ini harus memberikan edukasi. Izin tidak sulit, ada kemudahan, pasar kita bantu,” tahun terakhir, masing-masing menunjukkan sebesar 8,78 persen (2011), 4,71 persen (2012), dan 8,01 persen (2013). Melihat laju pertumbuhan ekspor ekonomi kreatif yang terus meningkat, pemerintah pun berupaya untuk menguatkan pasar domestik dan mengembangkan pasar luar negeri. Pengembangan tersebut meliputi sumber daya dan teknologi, industri kreatif, akses pembiayaan dan pasar, serta penguatan institusi yang terkait dengan ekonomi kreatif. Tak hanya itu, Kemenparekraf juga menetapkan indikator guna meningkatkan profesionalisme pelaku ekonomi kreatif. Pertama, sertifikasi jumlah tenaga kerja sektor ekonomi kreatif periode 2012 hingga 2014. Pasalnya, sertifikasi dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensi agar mampu berdaya saing dan unggul. Indikator selanjutnya yaitu jumlah naskah Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sektor ekonomi kreatif yang dihasilkan. Standar kompetensi kerja akan berpengaruh terhadap kualitas sertifikasi yang dilakukan Kemenparekraf. Semakin berkembang SKKNI, maka jumlah pelaku ekonomi kreatif yang tersertifikasi akan meningkat, sehingga tercipta tenaga kerja profesional di sektor ekonomi kreatif Ekonomi Kreatif di Daerah Kemenparekraf kini telah mengembangkan empat sentra kreatif di Indonesia guna menggalakkan ekonomi kreatif. Keempat sentra tersebut yakni Labuan Bajo (NTT), Batang (Jawa Tengah), Pacitan (Jawa Timur), dan Toraja (Sulawesi Selatan). Selain itu, Kemenparekraf juga menjalin kerjasama dengan Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (ASBANDA). Dalam bentuk nyata, kerjasama diwujudkan dengan penandatanganan nota kessepahaman tentang peranan BPD dalam pengembangan ekonomi kreatif. Kerjasama tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan dukungan BPD dalam pembiayaan dan pendanaan untuk para pelaku industri kreatif guna mendukung kelancaran program ekonomi kreatif. Pun untuk mengoptimalkan penyaluran kredit produktif untuk para industri kreatif. Sementara itu, di Jawa Tengah, menurut penuturan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, daerah telah mengambil inisiatif untuk mengembangkan ekonomi kreatif dengan melihat potensi yang dimiliki. “Lebih banyak pusat itu dalam proses fasilitasinya,” ungkapnya. Ganjar menambahkan, khusus untuk industri kecil, pemerintah memfasilitasinya lewat Dinas Koperasi, berupa bantuan sosial, pelatihan, dan hibah peralatan. Mengenai produk kreatif di Jawa Tengah, Ganjar menilai sebagian produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

dan dapat diterima masyarakat, namun proses pemasaran masih menjadi kendala. Sebelum menghasilkan produk, menurut Ganjar, para pelaku ekonomi kreatif perlu memahami apa yang dibuat untuk selanjutnya diperkenalkan ke masyarakat. “Jadi bedakan dia iseng, hobi, dengan keinginan dia untuk menjual. Tugas kita disini untuk memasarkan apa yang menjadi produk-produk mereka,” tambahnya. Peluang daya saing produk daerah kini cukup kompetitif, utamanya dalam bidang desain dan animasi. Ganjar mengatakan bahwa dalam segi persaingan, produk-produk daerah mampu bersaing, namun produktivitas dan kontinuitas produk perlu ditingkatkan. Selain daya saing, tantangan bagi pemerintah ialah menciptakan nilai ekonomis dan intelektual dalam setiap kreasi serta inovasi yang muncul dari masyarakat. Dukungan Pemerintah Tingkatkan Industri Kreatif Indonesia Direktorat Kerjasama dan Fasilitasi Kemenparekraf memiliki visi terwujudnya wirausaha ekonomi kreatif yang berdaya saing dalam bidang teknologi informasi dan permainan interaktif melalui ekosistem ekonomi kreatif. Visi tersebut diwujudkan dalam beberapa program yaitu meningkatkan pengembangan dan pemanfaatan lisensi teknologi melalui: Pameran Teknologi Industri Kreatif. Selain itu, dibentuk pula sentra-sentra inovasi di Indonesia dan pusat kreatif yang berkualitas, melalui Fasilitasi Pengembangan Pusat Kreatif, Sentra Inovasi, dan Inkubator Bisnis. Peningkatan kuantitas dan kualitas fasilitasi pengembangan jaringan lainnya di bidang Eonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan Iptek melalui Forum Business Connect bagi pelaku, penyelenggaraan event wirausaha kreatif, penyediaan sarana prasarana pengembangan pusat kreatif. Sementara peningkatan apresiasi terhadap karya kreatif dilakukan melalui sosialisasi dan fasilitasi pendaftaran Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI). Tak hanya itu, Kemenparekraf juga memiliki programprogram lain dalam rangka menggalakkan industri kreatif, seperti Live in Designer dan Reka Baru Desain Indonesia. Ada pula capacity building melalui Indonesia Fashion Forward dan Jakarta Fashion Week. Kegiatan capacity building ini merupakan tugas pemerintah untuk mendorong para pelaku ekonomi kreatif dan meningkatkan kemampuan mereka dalam berproduk. Program Indonesia Fashion Forward (IFF) juga membantu peningkatan daya saing Indonesia di bidang fashion. Kemenparekraf memberikan fasilitas bagi fashion designer yang telah mapan dan terkenal untuk dapat go international. “Kita mendatangkan fashion dari London untuk mengajari mereka untuk membuat branding agar branding mereka bisa

6


LAPORAN UTAMA

lebih kuat itu gimana,” jelas Poppy. Selain itu, Kemenparekraf kini juga tengah menjalin hubungan kerjasama antarnegara untuk pengembangan industri kreatif Indonesia, salah satunya penandatanganan MoU dengan Inggris dan Korea Selatan terkait dengan kerja sama pengembangan industri kreatif bagi masing-masing negara. Salinan kerjasama Indonesia dan Inggris antara lain, menjalin kerjasama dalam pertukaran informasi, pameran capacity building, pendidikan, pelatihan, riset dan pengembangan, fasilitasi kerja sama business to business (b to b), dan partisipasi dalam setiap kegiatan atau program yang diselenggarakan oleh masing-masing pihak, untuk sektorsektor, antara lain musik, seni pertunjukan termasuk drama, dan animasi, permainan interaktif, juga konten digital. “Sekarang lagi diupayakan ada beberapa animator yang co-production dengan Inggris, untuk bisa produk kita nantinya ditayangkan disana, misal di BBC. Jadi kerjasama ini dalam rangka untuk promosinya, dengan jaringan itu bisa go internasional,” jelas Poppy. Kerja sama Indonesia dengan Inggris yang telah berjalan selama dua tahun melalui British Council untuk sektor fesyen, menghasilkan pelatihan kepada desainer muda lokal yang berpusat di London dan hingga kini meluluskan dua puluh orang desainer muda berbakat dalam ajang Indonesia Fashion Forward.

Dukungan pemerintah terhadap peningkatan ekonomi kreatif telah dirasakan Ari Nugroho, salah satu anak muda yang menjadi pelaku ekonomi kreatif. Ia merupakan pemilik café, clothing, serta pengelola salon dan spa di Semarang. “Pemerintah kan juga memposisikan dirinya hanya sebagai batu loncatan, bukan sebagai fasilitator, fasilitatornya ya diri kita sendiri,” imbuhnya. Ari menilai proses administrasi seperti perizinan, pengurusan hak cipta, dan keaslian merek dagang perlu dipermudah dan ditingkatkan intensitasnya oleh pemerintah. “Ya lebih ke administrasinya, kalau fungsi kontrolnya sudah bagus, mungkin diinformasikan lebih luas saja, sama administrasinya, karena banyak yang enggak tahu,” jelasnya. Berbeda dengan Ari, Fitrie menganggap pemerintah harus menyelesaikan beberapa “pekerjaan rumah” agar ekonomi kreatif Indonesia dapat terus berkembang. Menurutnya, pelaku ekonomi kreatif muda masih belum muncul secara maksimal. “Pemerintah dalam hal ini harus memberikan edukasi. Ijin tidak sulit, ada kemudahan, pasar kita bantu,” tambah Fitrie. (nq)

dok. news.Indonesiakreatif.net

Kunjungi! www.lpmedents.com

Kemenparekraf pun menyediakan kemudahan akses melalui portal indonesiakreatif.net, dalam upaya meningkatkan jejaring diantara pelaku ekonomi kreatif dan memperkenalkannya kepada investor, buyers, dan stakeholder. Dukungan lainnya berupa pengadaaan seminar, pameran berskala nasional, dan internasional.

“Kalau untuk tempat pengembangan dan pusat kreatif di Indonesia itu di Bandung, namanya Creativepreneur. Contoh saja batik yang sudah di digitalisasi, namanya batik fragtal dan juga fisika batik,” ujar Poppy. Batik Fragtal merupakan batik dengan motif yang dipadupadankan dengan teknik komputerisasi. Sedangkan, fisika batik adalah pengembangan desain batik dengan menginput rumus batik yang berguna untuk mendeteksi. Misal, apabila negara lain mencoba mengakui batik Indonesia, dengan cara ini dapat diketahui dari mana batik itu berasal.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

7


LAPORAN UTAMA

Dilema: Modal Bukan Masalah atau Masalahnya Bukan Modal Oleh: Alan R. Farandy dan Husain Muh. Makhluf Ekonomi kreatif kini hadir sebagai salah satu alternatif model pembangunan ekonomi baru setelah runtuhnya ekonomi sosialis dan ekonomi kapitalis konvensional. Bahkan ekonomi kreatif menjadi salah satu bentuk ekonomi yang dominan pada abad ke-21. Pasalnya, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat membuat masyarakat cenderung mulai mengejar lifestyle dan hiburan.

dok.swaragamajogja.com

John Anthony Howkins merupakan tokoh yang pada awalnya mempopulerkan istilah ekonomi kreatif. Ia berpendapat bahwa kreativitas merupakan aset modal utama yang harus dimiliki seseorang bila terjun ke industri kreatif. Pada industri kreatif, uang bukanlah modal utama seperti yang biasa digaungkan oleh kaum liberalis. Industri ini lebih menggarisbawahi gagasan dan kekayaan intelektual. “Modal bukan faktor utama dalam usaha, banyak orang ingin memulai usaha menganggap modal sebagai kendala,” jelas Harjum Muharam, akademisi FEB Undip menanggapi peran modal dalam sebuah usaha. Menurutnya kendala modal dapat diselesaikan asalkan bisnis yang akan dijalankan ‘menarik’. ‘Menarik’ diartikan Harjum sebagai sebuah gagasan kreatif yang dapat diubah menjadi modal ekonomi. Pun pasar menerima produk tersebut sebagai implementasi gagasan kreatif. Sementara itu, pembiayaan dapat dilakukan melalui investor, Corporate Social Responbility (CSR), modal ventura, pembiayaan dengan bunga ringan tanpa jaminan. “Kalau memang prospek usahanya bagus itu banyak yang mau menjadi sponsor,” tambahnya.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

Pada dasarnya, apabila seseorang-baik mempunyai modal atau tidak-dapat masuk ke industri kreatif jika memiliki akal pikiran kreatif dan inovatif. Salah satunya, Ari Nugroho, pemilik usaha clothing dan konveksi Oh My God. Ia mendapatkan dana hibah dari Kementerian Koperasi dan UMKM sebagai modal usahanya setelah mengikuti program Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN). Program ini memberi kesempatan kepada calon wirausahawan untuk membuat proporsal yang berisi ide kreatif usaha. Setelah itu, proposal akan diseleksi untuk diputuskan mendapatkan dana hibah guna modal atau tidak. “Itu (GKN –red) kan bantuan, berapa nominal yang kamu dapatkan itu diperoleh dari proyeksi yang ditawarkan kepada mereka, jadi modelnya presentasi. Kamu butuh 100 juta pun asal memproyeksikannya dengan benar-benar meyakinkan maka akan dapat,” tutur Ari. Selain dana hibah dari pemerintah, bank-bank umum juga memiliki program khusus bagi pelaku industri kreatif yang belum memenuhi kriteria untuk mendapatkan pinjaman secara komersial. Hal ini dinilai dari 5C, yaitu character, capacity, capital, collateral, dan condition of economy. “Kita (BRI –red) bisa berikan pinjaman kemitraan yang bunganya relatif rendah, kalau memang sudah meningkat dalam skala produksi tertentu namun dalam sisi bank teknis belum memenuhi kita bisa berikan KUR (Kredit Usaha Rakyat),” ungkap Hendra Padmono, Wakil Pimpinan Wilayah Bisnis II BRI Jawa Tengah yang membidangi masalah kredit. Apabila industri kreatif tersebut berdampak positif seperti menularkan budaya kreatif pada masyarakat, menurut Hendra, bank umum bahkan mau memberi dana hibah secara cumacuma. Misalnya, dana bina lingkungan, atau CSR.

8


LAPORAN UTAMA

Pendanaan-pendanaan yang disebutkan di atas sama sekali tidak memerlukan jaminan layaknya pendanaan komersial. Persyaratan pendanaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi individu antara lain, tidak sedang memiliki pinjaman dari bank lain, tidak layak mendapatkan pinjaman komersial yang dinilai melalui 5C, legalitas individu seperti KTP dan KK, serta memiliki usaha produktif yang layak didanai minimal sudah berjalan selama enam bulan.

Pembentukan human capital dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti diadakannya inkubator bisnis. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan bibit-bibit pelaku usaha yang berkualitas. “Misalnya seperti PT Telkom, Ia membuat semacam inkubator bisnis di Bandung. Secara manajemen dan finansial usaha bimbingannya mendapatkan bantuan, kalau sudah mandiri nanti keluar,” jelas Harjum.

Pinjaman kemitraan yang diberikan kepada individu dapat mencapai Rp 50 juta dan kelompok sebesar Rp 100 juta, sedangkan KUR mencapai Rp 500 juta. Menurut Hendra, pihak bank mempertimbangkan prospek dan skala usaha yang dimiliki pada calon debitur sebelum menentukan besaran pemberian pinjaman tersebut.

Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah pun telah memiliki Balai Pelatihan Koperasi dan UMKM dengan misi mewujudkan UMKM yang kompeten. Dengan demikian, diharapkan akan bermunculan pelaku usaha yang profesional, tangguh, dan mandiri. Ari menjelaskan bahwa kini ia menjadi salah satu pelatih untuk Balai Pelatihan Koperasi dan UMKM Jawa Tengah, “saya ngajarin teman-teman generasi muda buat ayo kreatif, Anda passion-nya dimana ayo kita tingkatkan.” Perbankan pun saat ini mulai memberi sinergi antara nasabah satu dengan lainnya. Bank memberikan informasi guna menyambungkan berbagai rantai nilai atau inter firm linkage. Contohnya, apabila nasabah satu memproduksi kerajinan tangan dan terdapat nasabah lainnya memiliki usaha distributor barang kerajinan tangan berorientasi ekspor, maka pihak bank dapat mempertemukan kedua belah pihak agar saling bekerja sama. “Kami pihak bank tahu pasar-pasar mana yang potensial untuk

“Pada industri kreatif, uang bukanlah modal utama seperti yang biasa digaungkan oleh kaum liberalis. Industri ini lebih menggarisbawahi gagasan dan kekayaan intelektual.” dok. vemale.com

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

9

Kunjungi! www.lpmedents.com

Human Capital Pelaku Ekonomi Kreatif Kebijakan pembangunan yang baik menurut Todaro (1998) tidak hanya berporos pada sisi hilir yaitu barang maupun jasa ekonomi, tetapi juga sisi hulu yaitu manusia. Sama halnya dengan ekonomi kreatif, bahwa manusia dan proses kreatifnya merupakan hal yang harus diperhatikan sebab merupakan modal utama. Pengarahan investasi pemerintah pada manusia atau sering disebut human capital merupakan salah satu alternatif pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.


LAPORAN UTAMA hasil kreatifitas dia,” papar Hendra. Ia menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan pembinaan kemitraan, teknisnya dengan mengumpulkan para nasabah dalam suatu perkumpulan. Sehingga pihak bank dapat mengarahkan antarusaha agar saling terhubung menciptakan sebuah pasar. Selain itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf ) juga memegang peranan sentral dalam pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. “Sisi ekonomi kreatif itu ditangani oleh Kemenparekraf, selama ini saya kira dia (Kemenparekraf-red)lebih ke aspek marketing, pameran, link, dan pembinaan,” jelas Harjum.

apa yang dikatakan Schumpeter (1883-1950), pemerintah harus menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif agar tercipta sebuah pembangunan ekonomi yang ditopang oleh wirausahawirausaha inovatif. “Kewirausahaan itu menjadi sistem nasional yang digarap oleh orang banyak bukan hanya Kementrian Koperasi dan UMKM,” jelas Harjum. Menurutnya setiap level pemerintah harus memiliki keterpihakan terhadap industri kreatif, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum untuk pembangunan infrastruktur.

dok. twitter.com/arienugroho Modal Nusantaraku Keberagaman budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke merupakan salah satu modal yang berharga untuk tampil di panggung dunia. Data BPS menunjukkan kontribusi ekonomi kreatif dalam total ekspor Indonesia dari 2010 hingga 2013 berturut-turut adalah 6,1 persen, 5,4 persen, 5,5 persen, dan 5 persen. Hal tesebut mengindikasikan bahwa ekspor ekonomi kreatif Indonesia belum menjadi sektor utama dalam perdagangan internasional Indonesia dengan negara mitra dagangnya.

Nilai Tambah Bruto (NTB) ekonomi kreatif Indonesia 2013 menunjukkan subsektor kuliner meraih peringkat pertama dari 15 subsektor dengan capaian kontribusi mencapai 208.632,75 miliar atau 33 persen. Pada peringkat kedua di bawah subsektor kuliner, terdapat subsektor mode (fashion) yang memberikan pengaruh NTB sebesar 181.570,3 miliar atau 27 persen. Kedua subsektor ini jauh meninggalkan 13 subsektor lainnya dimana kondisi serupa juga terjadi pada rentang 2010 sampai dengan 2013. Dengan demikian masih diperlukan kerjasama antarpihak untuk mengembangkan subsektor ekonomi kreatif lainnya.

Terkait dengan daya saing produk antarnegara, salah satu faktor yang mempengaruhi ialah rantai pasokan. Biaya logistik pada rantai pasokan yang tinggi menyebabkan harga produk kalah bersaing dan tidak kompetitif. Hal yang menyebabkan biaya logistik tinggi salah satunya dikarenakan infrastruktur yang masih rendah. Hasil penilaian World Economic Forum 2011-2012 menunjukkan kualitas infrastruktur Indonesia secara keseluruhan berada pada peringkat 82 dari 134 negara. Kualitas infrastruktur terendah adalah pelabuhan, yakni berada pada peringkat 103 dan ketersediaan listrik di peringkat 98. Kalah dengan negara tetangga, Malaysia, yang berada pada peringkat 23.

Menurut Hendra, BRI Jawa Tengah saat ini mulai terlibat aktif dalam pengembangan ekonomi kreatif melalui pemberian bantuan maupun binaan kepada subsektor kerajinan seperti pengusaha ukiran dan batik. “Saya juga pernah membawa pelaku industri kreatif ke luar negeri untuk diikutkan pameran seperti pengusaha batik keris dan kerajinan lainnya,” tambahnya.

Dalam mendorong industri kreatif dalam negeri agar dapat tumbuh dan berkembang, infrastruktur merupakan salah satu isu yang menjadi pekerjaan rumah pemerintahan baru. Seperti

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

Pada akhirnya pemerintah maupun swasta dapat saling bersinergi guna mengembangkan ekonomi kreatif Indonesia ini agar terus tumbuh dan berkembang sehingga mampu menopang perekonomian nasional. Lifestyle oke, hiburan oke, teknologi oke maka ‘Indonesia Oke,’ seperti slogan Kemenparekraf. (nq)

10


LAPORAN UTAMA

Berbicara mengenai ekonomi kreatif, kurang lengkap rasanya bila tak menyinggung soal plagiarisme yang marak diperbincangkan belakangan ini. Sedikit saja lengah, para pelaku ekonomi kreatif akan melihat produknya diakui oleh orang lain. Lantas, apa saja yang perlu dilakukan untuk menindaklanjuti hal ini? Bagaimana peran serta pemerintah dalam rangka meminimalisir tindak plagiarisme? Ancaman Plagiarisme di Bidang Ekonomi Kreatif Plagiarisme merupakan ancaman bagi pelaku ekonomi kreatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), plagiarisme diartikan sebagai penjiplakan yang melanggar hak cipta. Hal ini seperti diungkapkan Kholis Roisah, Akademisi Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) bahwa plagiarisme merupakan tindakan membuat suatu karya yang telah ada sebelumnya dan telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual. Ketika seseorang membuat tulisan sama dengan yang telah ada dan tidak memberitahukan sumbernya, asal usulnya dari mana, hal ini juga disebut plagiarisme.

dok. society6.com

Senada dengan Kholis, Basuki Antariksa, peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan Kepariwisataan

Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf ) mengungkapkan, plagiarisme adalah tindakan mengakui karya orang lain sebagai miliknya sendiri. Menurutnya, plagiarisme tidak terjadi bila informasi diungkapkan sifatnya umum dan tidak merupakan hasil kreativitas intelektual seseorang. Pun, plagiarisme lebih identik pada bidang karya cipta berbentuk tulisan. “Apabila berbicara mengenai pelanggaran terhadap perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) secara umum, maka sebaiknya digunakan istilah “pelanggaran terhadap perlindungan HKI� bukan plagiarisme,� tegasnya. Ekonomi Kreatif Butuh Perlindungan Salah satu perlindungan terhadap pelaku ekonomi kreatif dari tindakan plagiarisme ialah HKI. Terdapat empat sub di dalam HKI, yakni hak cipta, paten, merek, dan desain industri. Disadur dari Buku Panduan Hak Kekayaan Intelektual terbitan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan Paten adalah

Hak atas Kekayaan Intelektual bagi Ekonomi Kreatif, Penting (?) Oleh: Gita Suksesi, Silfia Nurul F., dan Erli Anggraeni

hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya tersebut kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Sementara itu, suatu tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa disebut merek. Lain halnya dengan Desain Industri, yakni suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri, atau kerajinan tangan. Para Pendesain pun diberikan hak eksklusif oleh negara Republik Indonesia atas hasil kreasinya selama jangka waktu tertentu untuk melaksanakan sendiri, atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakan Hak Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu tersebut. Para pelaku ekonomi kreatif yang memiliki usaha dengan ide baru perlu mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual atas

11


LAPORAN UTAMA produk ciptaannya. Pemberian HKI ini dilakukan agar produk dari para pelaku ekonomi kreatif tidak ditiru ataupun diplagiasi oleh pihak lain. Meski demikian, beberapa pelaku ekonomi kreatif merasa belum perlu untuk mematenkan produknya. Amirul Hakim, misalnya, pengusaha madu HQ ini mengungkapkan, “segmentasi yang kita gunakan masih berupa niche marketing atau ke kelompok-kelompok khusus yang well-educated tentang kualitas produk dan yang benar-benar peduli kesehatan. Jadi tidak perlu takut dengan plagiasi, karena pada akhirnya kualitas produk yang berbicara.” Berbeda dengan Hakim, Ari Nugroho, pemilik usaha clothing dan konveksi Oh My God ini sudah memperoleh merek untuk produknya. Ari mematenkan produknya karena pernah terkena kasus plagiasi yang menimpanya tahun 2009 ketika produknya masih tergolong baru. “Di situ saya tahunya pas di website ada orang yang pajang produk saya, tapi merek Oh My God nya diilangin,” ungkap Ari. Setelah memperoleh HKI, ia mempunyai hak untuk menuntut orang-orang yang memplagiasi produknya. “Kalau nggak saya hak paten kayak pas tahun 2009 lalu saya nggak bisa ngapa-ngapain ataupun nuntut orang yang plagiasi produk saya,” imbuhnya. Menurut Kholis, apabila HKI ditegakkan, hal ini dapat mencegah plagiarisme. Meski demikian, dapat menimbulkan konflik yang berimbas pada matinya kreativitas. Pun rendahnya pertumbuhan ekonomi sebagai akibat dari tidak sedikitnya pelaku ekonomi yang berurusan di meja hijau. “Apabila ingin HKI ditegakkan dengan betul dan konsekuen sesuai aturan kemungkinan sekali bisa mencegah plagiarisme. Pemerintah dalam konteks Undang-Undang sudah baik, Undang-Undang HKI nya sudah oke, tapi dari sisi penegakkan hukum yang belum oke,” ujar Kholis. HKI hanya untuk Produk. Bagaimana dengan Ide? Dewasa ini, plagiarisme produk, perlahan mulai dapat teratasi dengan adanya HKI. Tak berhenti sampai di sini, bahkan seseorang terkadang menuduh orang lain memplagiasi ide yang telah dicetuskannya. Menilik hal tersebut, Basuki kurang setuju dengan konsep plagiarisme ide. Hal ini didasarkan pada logika bahwa dua orang atau lebih mungkin saja memiliki ide yang sama dalam waktu bersamaan. Oleh karena itu, secara umum, dalam konsep perlindungan HKI, ide tidak mendapatkan perlindungan. Perlindungan HKI hanya diberikan kepada sebuah ide yang telah berwujud suatu karya nyata. Senada dengan Basuki, Kholis berujar bahwa ide harus diwujudkan dalam bentuk produk. Misalnya, seseorang mempunyai ide menulis buku, akan tetapi jika tidak diwujudkan dalam bentuk nyata maka tidak ada HKI-nya. Pada intinya, hanya produk yang memperoleh perlindungan di bawah naungan HKI.

Pelanggaran terhadap HKI, mengapa? Maraknya kasus pelanggaran terhadap perlindungan HKI, disebabkan pelaku ekonomi kreatif belum mendaftarakan produknya ke Direktorat Jenderal HKI. Proses pembuatan HKI sering kali dianggap rumit oleh para pelaku usaha. “Biasanya orang-orang mindset-nya dalam mengurus hal-hal yang seperti HKI itu susah, padahal sih tidak susah. Ya itu tergantung mindset dari tiap orang aja sih,” ujar Ari. Senada dengan Ari, Hakim pun berpikiran serupa, “sudah pernah ikut sosialisasi, sebenarnya tidak terlalu ribet karena pemerintah saat ini cukup kooperatif dengan perkembangan UMKM.” Selain banyaknya pelaku ekonomi yang belum mendaftarkan produknya ke HKI, menurut Basuki, latar belakang munculnya pelanggaran terhadap perlindungan HKI tidak sesederhana yang dibayangkan, karena berkaitan dengan kebudayaan sebuah masyarakat. Konsep HKI muncul sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat barat yang menganut paham individualisme. Di Indonesia, kebudayaan masyarakat masih didominasi paham kolektivisme, yakni sesuatu yang dimiliki oleh seseorang dianggap pula milik bersama. Pasalnya, menurut Basuki mayoritas masyarakat di Indonesia secara umum tidak merasa bersalah ketika melakukan tindakan yang melanggar HKI. Tindak Lanjut Pemerintah Pemberantasan plagiarisme atau perlindungan terhadap HKI membutuhkan peran aktif dari pemerintah. Diungkapkan Kholis, Direktorat Jenderal HKI hanya mengurusi masalah pendaftaran. Sedangkan yang bertanggung jawab dalam penanganan kasus HKI ialah pemegang HKI serta aparat penegak hukum yaitu kepolisian. Penyebab masalah pelanggaran dalam perlindungan HKI pun berasal dari para pelaku ekonomi kreatif yang belum mendaftarkan produknya. Oleh karena itu, dibutuhkan peran pemerintah dalam rangka sosialisasi guna menyadarkan para pelaku ekonomi kreatif bahwa memiliki HKI untuk produknya adalah penting. Menurut Kholis, sosialisasi HKI telah dilakukan sejak tahun 2000 di Indonesia secara terikat dengan internasional dan sudah ditegakkan secara ketat. Basuki menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir, Kementerian Hukum dan HAM beserta Kemenparekraf bersama-sama melakukan berbagai sosialisasi melalui kegiatan seminar, lokakarya, dan bimbingan teknis di berbagai wilayah di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai berbagai tindakan pelanggaran terhadap perlindungan HKI sekaligus memberikan informasi mengenai tatacara pendaftaran suatu kreativitas intelektual. Dijelaskan oleh Basuki, kebijakan pendampingan bagi para pelaku usaha ekonomi kreatif pun telah dilaksanakan sejak lama oleh Kementerian Hukum dan HAM dan mulai beberapa tahun terakhir oleh Kemenparekraf. Bentuk pendampingan tersebut adalah pemberian bantuan kepada para insan kreatif

Perkembangan ekonomi kreatif tak lepas dari berbagai persoalan. Plagiarisme atau pelanggaran terhadap perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) pun menjadi permasalahan penting akhir-akhir ini kerap diperbincangan oleh para pelaku dalam industri kreatif. EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

12


dok. cdn-media.viva.co.id

untuk mendaftarkan hasil karyanya di Direktorat Jenderal HKI. Di samping itu, Kementerian Hukum dan HAM telah memberikan komitmen pendaftaran perlindungan HKI tanpa dipungut biaya bagi insan kreatif yang mengalami kesulitan pendanaan. Kemenparekraf pun telah melakukan aktivitas yang sama dengan cara mengundang narasumber untuk memberikan bimbingan kepada para insan kreatif dalam meningkatkan kualitas produksi mereka sehingga dapat lebih diterima oleh pasar. Sependapat dengan Basuki, Kholis menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan pendampingan intensif terkait dengan pendaftaran hak paten, hak merek, hak cipta, dan desain industri. “Mereka yang sudah mulai laku, yang butuh baru mendaftarkan. Itu saja mereka harusnya butuh untuk keterkaitan yang namanya merek kan agar mereknya itu tidak ditiru dan usaha berjalan dengan baik maka harus didaftarkan,” tukas Kholis. Ia pun menjelaskan, biaya pendaftarannya HKI tidaklah mahal, untuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sebesar Rp 600.000,00 dan pengusaha biasa non-UKM Rp 1.000.000,00. Bahkan dengan harga tersebut, para pelaku ekonomi sering mengharapkan subsidi. Sedangkan untuk izin makanan, saat ini pengusaha harus terlebih dahulu mendaftarkan mereknya, setelah itu baru mendapat izin keamanan pangan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Izin industrian di Kementerian Perindustrian juga sama seperti itu. Dalam konteks perlindungan konsumen juga perlu dari pembajakan merek sehingga konsumen tidak bingung. Maka nuansa perlindungan konsumen dan produsen juga seimbang,” imbuh Kholis. Apabila ditinjau dari aspek kebijakan pemerintah, menurut Basuki, untuk penyelesaian persoalan pelanggaran terhadap perlindungan HKI, sosialisasi dan kegiatan pedampingan tidaklah cukup. Maka diperlukan tindakan yang bersifat holistik dan berkelanjutan. Mulai dari pendidikan mengenai budaya kreatif (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), penyediaan ruang kreatif (Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Dalam Negeri dan sebagainya), perlindungan HKI, fasilitasi pendanaan, menyediakan “jembatan” antara pencipta dan industri dan seterusnya. Dengan demikian, selama ini kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mencegah atau menyelesaikan persoalan pelanggaran terhadap HKI sebenarnya lebih banyak pada bagian “hilir”, yaitu menghukum pihak-pihak yang melanggar suatu ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai HKI. Akan tetapi, kebijakan yang berkaitan dengan “proses” menuju perlindungan terhadap HKI yang optimal, seperti menciptakan budaya kreatif dan menghargai kreativitas, nampaknya masih belum menjadi prioritas. Basuki menambahkan bahwa terdapat berbagai persoalan lain yang secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap efektivitas perlindungan HKI di Indonesia. Sebagai contoh, barang-barang yang dilindungi HKI menjadi mahal harganya.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

LAPORAN UTAMA

Sementara itu, data Bank Dunia pada tahun 2013 menunjukkan jumlah orang miskin di Indonesia adalah 97,9 juta jiwa atau setara dengan 40 persen penduduk. Kondisi ini akan menimbulkan persoalan ketika hak untuk mendapatkan akses terhadap produk yang dilindungi HKI dikaitkan dengan masyarakat kalangan menengah ke bawah. Pemerintah telah mengupayakan berbagai hal demi keamanan dan kenyamanan para pelaku ekonomi kreatif. Bahkan, berbagai tindakan untuk menyelesaikan persoalan pelanggaran terhadap perlindungan HKI telah dilakukan secara parsial. Sebagaimana diungkapkan Basuki, di sejumlah Perguruan Tinggi, tindakan plagiarisme yang dilakukan oleh seseorang dalam pembuatan skripsi, tesis, atau disertasi, umumnya berujung pada pencabutan gelar kesarjanaan bagi para pelanggarnya. Sementara itu, pelanggaran terhadap rezim HKI tentunya diselesaikan melalui proses pengadilan, yang berujung pada tuntutan ganti rugi. Plagiasi atau pelanggaran terhadap perlindungan HKI merupakan hal yang mengkhawatirkan bagi para pelaku ekonomi kreatif. Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa adanya pelanggaran HKI justru yang akan membuat para pelaku ekonomi kreatif menjadi lebih kreatif dengan pengeluaran inovasi-inovasi baru dari produknya. “Saat ini banyak brand besar yang berawal dari plagiasi, bahkan kondisi mereka jauh lebih sukses dari creator-nya. Artinya se-bonafide apapun produk kita, perubahan adalah hal yang pasti dan kita harus punya kesiapan untuk menghadapinya,” pungkas Hakim. HKI Tak Sekedar Mencegah Plagiarisme Pelaku ekonomi kreatif memang tak bisa menomorduakan pentingnya keberadaan HKI demi kelangsungan bisnisnya. Tak hanya plagiarisme, dengan mengantongi HKI, pelaku ekonomi kreatif akan memperoleh keuntungan lain. Menurut Ari, apabila pelaku ekonomi kreatif memiliki merek maka dapat mengembangkan bisnisnya menjadi franchise. Dilansir dari Bisnis Franchise Indonesia, bagi franchisor (pihak yang menjual atau meminjamkan hak dagangnya), mewaralabakan bisnisnya merupakan peluang guna mengembangkan bisnis dan distribusi produk-produknya secara lebih luas tanpa harus menguras modal yang besar untuk membuka gerai sendiri di berbagai tempat. Tak heran bila bisnis franchise menjadi salah satu cara untuk melakukan penetrasi pasar yang lebih luas. Semakin banyaknya franchise maka semakin kuat jaringan bisnis yang dimiliki para pelaku usaha. Maka, tak dapat dipungkiri bahwa HKI diperlukan bagi para pelaku ekonomi kreatif. Sebab, selain mencegah dari plagiarisme, HKI memudahkan mereka dalam melakukan franchising yang akhirnya dapat mengembangkan bisnisnya. (nq)

13


POLLING Kata Mahasiswa, Indonesia Mampu Merebut Pasar Ekonomi Kreatif

Oleh: Benna Andriyani, Nisa R. Delimunthe, dan Adrianto

Tahukah Anda

Ekonomi kreatif merupakan tren baru perekonomian Indonesia yang bergulir mulai tahun 2009. Kehadirannya mampu menggeser kedudukan ekonomi industri di tahun sebelumnya dengan sajian empat belas sektor pengembangan. Berkaitan dengan perkembangan ekonomi kreatif dan pasar domestik maupun mancanegara, Litbang Edents mengadakan polling kepada 100 mahasiswa FEB Undip yang terdiri dari 50 mahasiswa DIII dan 50 mahasiswa S1. Penyebaran kuisioner dilaksanakan pada 10-12 September 2014. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pandangan mahasiswa mengenai kemampuan Indonesia dalam merebut pasar ekonomi kreatif. Hasilnya, sebanyak 75% responden menyatakan mengetahui ekonomi kreatif. Mayoritas responden mendapatkan informasi dari media elektronik seperti internet dan televisi. Sementara itu, sisanya mengetahui hal tersebut dari surat kabar atau majalah serta penjelasan dosen. Dari 14 sektor ekonomi kreatif “kerajinan� menjadi salah satu pilihan tertinggi responden yang dinilai harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, seperti bantuan modal. Permodalan dari pemerintah untuk pengembangan ekonomi kreatif dirasa penting oleh 91% responden.

I

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

I

14


POLLING Kata Mahasiswa, Indonesia Mampu Merebut Pasar Ekonomi Kreatif

I

Selain itu, peranam teknologi dan kualitas sumber daya manusia dapat membantu berkembangnya ekonomi kreatif di Indonesia. Hal ini membuat responden optimis bahwa para pelaku ekonomi kreatif Indonesia mampu bersaing dengan produsen asing. Anak-anak muda Indonesia dipercaya sebagai generasi yang mampu menjalankan praktik ekonomi kreatif dengan baik oleh 97% responden. Pasalnya, 98% responden meyakini pemuda Indonesia memiliki peluang dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Disamping itu sebesar 81% responden memilih membeli produk asli buatan Indonesia daripada produk impor dan bajakan. Dengan demikian, bukan tidak mungkin Indonesia mampu merebut pasar ekonomi kreatif dan bersaing di panggung internasional. Sejalan dengan berkembangnya ekonomi kreatif di Indonesia sebesar 99% responden yakin bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat. Sebesar 96% respodnen merasa optimis jika Indonesia mampu mencapai masa ekonomi global dengan mengandalkan ekonomi kreatif. (nq)

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

15


Tentang Mereka

Skripsi Membawaku ke Sidang Pleno ISEI Oleh: Anastania Shafira Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) pada 3-5 September 2014 menggelar Sidang Pleno ISEI XVII dan Seminar Nasional. Acara yang bertemakan “Pembaharuan Institusi Ekonomi dan Mutu Modal Manusia” ini diselenggarakan di Ternate, Maluku Utara. Selain mengundang para petinggi negeri yang berkecimpung di bidang ekonomi, acara ini juga mengundang sivitas akademika yang makalahnya terpilih untuk dipresentasikan. Sandy Juli Maulana (Sandy) dan Dwi Rahmayani (Yani) adalah lulusan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) yang menjadi pemakalah dalam acara ISEI tersebut. Makalah yang disajikan Sandy merupakan bagian dari skripsinya. Mulanya ia menulis ulang skripsinya dalam bentuk makalah 20 halaman sebagai syarat wisuda, “karena mau kirim paper sebagai syarat kelulusan dan dengar ada info itu ya saya kirimkan gitu aja,” ujarnya. Pada skripsinya tersebut, Sandy mengangkat topik desentralisasi fiskal. Ia membahas mengenai Yardstick Competition, suatu mekanisme desentralisasi yang berbeda dengan model standar yang banyak dikenal yakni model Tiebout. Secara sederhana model Yardstick Competition menganggap bahwa pemerintah daerah akan terdorong untuk bersaing dalam pelayanan publik daerah lain. Hal tersebut didorong oleh spillover information yang membuat penduduk suatu daerah membanding-bandingkan pelayanan publiknya dengan pelayanan di daerah lain. Ia meneliti model itu untuk kasus pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah.

dok. dwirahmayanie.blogspot.com

Berbeda dengan Sandy, Yani membahas mengenai produktifitas. Ia menjelaskan bahwa terdapat faktor eksogen yang memengaruhi pertumbuhan, yaitu teknologi. “Nah teknologi itulah yang saya kembangkan untuk gimana sih cara menghitung variabel teknologi itu, nah salah satu pendekatannya yaitu dengan Total Factor Productivity itu,” ungkap Yani. Skripsi, Butuh Kerja Keras untuk Hasil Maksimal Selama pembuatan skripsi, baik Sandy maupun Yani mengaku memakan waktu yang tidak sebentar. ”Prosesnya saya mulai baca paper dan buku teks yang berkaitan sekitar 10 bulan, kemudian skripsinya sendiri saya kerjakan mulai Januari sampai Juni 2014,” ujar Sandy. Sementara Yani melewati 17 kali bimbingan dan konsultasi pada dosen pembimbingnya untuk memperoleh masukan yang menunjang skripsinya sebelum lanjut ke tahap sidang. Selain mendapatkan apresiasi, kedua mahasiswa IESP

angkatan 2010 ini juga mendapatkan kritik dari para dosen penguji dan pembimbingnya. “Ada beberapa kritik yang perlu diperbaiki dalam penulisannya dan itu sangat membantu dalam upaya perbaikannya,” tutur Sandy. Dalam pembuatan skripsi pun tidak jarang ditemui kesulitan. Diakui Sandy jika ia kesulitan saat mencari data-data politik. Pasalnya saat ia melakukan pencarian data bersamaan dengan masa pemilu. Selain itu, Sandy juga terbantu oleh World Bank yang saat itu sedang launching web basis data Indo-Dapoer sehingga ia bisa mendapatkan beberapa data secara online. Berada di titik kejenuhan juga tidak jarang kita temui pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan skripsi, hal itulah yang dialami oleh Yani. “Emang skripsi ada sisinya disaat kita down disaat kita lagi semangat-semangatnya, nah salah satunya untuk mengatasi kejenuhan atau waktu saya down itu ya main sih,” ungkap Yani. Selain itu, Yani juga tidak sungkan untuk curhat pada teman seperbimbingannya. Karena dengan curhat kepada temannya, ia tak jarang di-support, hal itulah yang membuat Yani tetap termotivasi dan semangat dalam pengerjaan skripsi. Ditanya mengenai tips membuat skripsi, baik Yani maupun Sandy tak memiliki tips khusus. Karena menurut Sandy setiap orang punya fungsi tujuan dan fungsi kendala masing-masing dalam menulis skripsi. “Intinya lakukan saja penelitian yang membuat kamu tertarik, tapi dalam batas-batas tertentu, istilah dosen saya research-able”. Sandy menuturkan pada saat semester awal, ia berniat untuk menjadikan skripsinya sebagai sarana belajar terakhir di bangku S1. Maka ia pun mengusahakan untuk mendapatkan banyak hal yang ia belum ketahui sebelumnya lewat skripsinya. Hal itulah yang memotivasi Sandy agar membuat skripsi dengan sebaik dan semaksimal mungkin. Sandy berharap topik riset yang nantinya akan diangkat oleh para mahasiswa tingkat akhir lebih beragam, tidak melulu pada satu bidang atau dengan metode yang sama. ”Sebenarnya dari dulu sudah beragam, tapi akan lebih baik kalau ada yang meneliti hal-hal dalam ranah ekonomi yang belum pernah diteliti sebelumnya oleh mahasiswa FEB,” ujarnya. Sama halnya dengan Sandy, Yani pun berharap agar lebih memperdalam metodologi dan grand theory-nya, karena menurutnya dari pengalaman sebelumnya mahasiswa FEB lemah di grand theory dan metodologinya. Yani pun tidak lupa memberikan support pada pejuang skripsi berikutnya, “jangan lupa untuk tetep semangat karena skripsi nggak akan selesai kalau semangat itu tidak ada”. (nq)

“Dulu pas saya semester awal, saya punya niat menjadikan skripsi itu sarana belajar terakhir di bangku S1, jadi akan saya usahakan saya mendapat banyak hal yang saya belum tahu sebelumnya,” Sandy Juli Maulana (IESP, 2010)

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

16


Tentang Mereka

Enny dan Kisahnya Menuju Kursi Direktur Oleh: Nur Wahidin

Enny Sri Hartati atau kerap disapa Enny adalah lulusan jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) FEB Undip angkatan 1989. Enny dikenal sebagai mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, seperti Rohani Islam, AIESEC, dan LPM Edents. Redaktur majalah kampus ini mengaku organisasi kemahasiswaan yang paling berkesan selama di bangku kuliah adalah LPM Edents. Baginya Edents merupakan sebuah keluarga yang ikatan batin sesama anggotanya erat. “Kita kalau ditanya lulusan mana jawabannya alumni Edents, bukan alumni FEB Undip,” tukasnya. Dahulu ketika berangkat kuliah, tempat pertama yang didatangi Enny adalah kantor Edents. Kala itu masih berada di di kampus FEB Undip Pleburan. “Fasilitas berupa kantor Edents sangat mendukung untuk diskusi atau apapun, nggak ada yang ngerecokin sama sekali karena memang agak berjauhan dengan ruang kuliah,” tutur Enny. Pada saat rezim orde baru, Enny beranggapan jika tulisan yang diterbitkan mengangkat isu nasional harus tajam dan didukung dengan analisis. Hal ini disebabkan pada masa tersebut seseorang yang mengeluarkan pendapat harus benar dan tidak boleh salah. Keadaan tersebut membuat Enny merasa termotivasi untuk menerbitkan tulisan berkualitas melalui berbagai diskusi dalam tim. Dalam diskusi tersebut semua orang memiliki posisi yang sama sehingga siapa saja bebas berdebat dan bebas untuk didebat. Debat yang dilakukan bukan saling menjatuhkan satu sama lain, namun debat yang produktif, menghasilkan kesimpulan yang disetujui oleh anggota tim. Bagi Enny, salah satu karyanya di Majalah Edents yang berkesan ialah tatkala mengangkat isu dwifungsi ABRI. Setelah lulus kuliah, perempuan kelahiran Karanganyar, 27 Juli 1971 ini, bergabung dengan Lembaga Pendidikan Ekonomi Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI). Saat bergabung dengan lembaga tersebut Enny merasa menjadi orang asing karena kebanyakan penelitinya berasal dari UI dan hanya ia yang berasal dari Undip. Setelah setahun bernaung di LPEM UI, Enny

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

memutuskan untuk keluar dan mencoba mencari pekerjaan ke beberapa kementerian, namun masih belum beruntung. Ia pun tak lantas menyerah, hingga akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai dosen di Universitas Trisakti Jakarta untuk matakuliah mikroekonomi dan makroekonomi. Kerinduannya terhadap bidang jurnalistik membuat Enny memutuskan untuk bergabung dalam organisasi jurnalistik dosen di Trisakti seperti media ekonomi dan Jurnal Ekonomi Manajemen Akuntansi (JEMA). Ia pun bertindak sebagai redaktur pelaksana sekaligus editor. Enny akhirnya melanjutkan studi magister dan doktoral di Institut Pertanian Bogor dan mengambil jurusan Ekonomi Pertanian untuk menunjang karirnya. Setelah lulus dengan gelar Doktor, pada tahun 1996, Enny bergabung dengan Institute for Development of Economics Finance (INDEF). Menurut Enny, karirnya di INDEF tak lepas dari pengalamannya saat manjadi Edentser. Ketika ia melakukan reportase untuk penulisan laporan utama Majalah Edents, tak jarang Enny dan kawan-kawan mencari narasumber hingga ke Jakarta. Ia pun bertandang ke INDEF untuk berdiskusi bersama Faisal Basri. Berkat seringnya Enny melakukan reportase di INDEF, ia semakin menyukai bidang ekonomi. Kini Enny yang dulunya mencari informasi di INDEF untuk keperluan penerbitan Majalah Edents telah menduduki kursi direktur di institusi tersebut. Meski demikian, hingga saat ini ia tetap melanjutkan kegemarannya menulis. Hal ini terbukti dengan keikutsertaannya sebagai redaktur pelaksana dalam sebuah jurnal ekonomi politik di INDEF. Enny berpesan agar generasi muda lebih produktif dalam berkarya. Tersedianya berbagai fasilitas dewasa ini diharapkan Enny menjadikan Edents lebih produktif dan menghasilkan produk yang berkualitas. (nq)

17

Kunjungi! www.lpmedents.com

dok. infobanknews.com

“Kita kalau ditanya lulusan mana jawabannya alumni Edents, bukan alumni FEB Undip,” - Enny Sri Hartati (Direktur INDEF).


Geliat Usaha

Sepiring Mafia untuk Cita Rasa Indonesia Oleh: Galuh Dian Paramudia dan Indah Natalia rahasia yang hanya diketahui oleh pencipta resep tersebut. Misi dari pencipta resep dan racikan Nasi Goreng Mafia adalah menyajikan pengalaman lidah yang unik sehingga akan terus diingat oleh para penikmatnya. Ketika pertama kali menciptakan tujuh resep Nasi Goreng Mafia, menghabiskan 1000 jam proses penelitian hingga menghasilkan cita rasa istimewa. Selain diracik dengan bumbu rempah rahasia, konsumen dapat memilih tingkat kepedasannya mulai dari level nol sampai lima. Rasa rempah dipertajam dengan sambel mafia sebagai pelengkap yang disajikan dalam dua tempat berbeda.

“...mengangkat rempah yang merupakan kekayaan asli Indonesia ke level yang lebih tinggi,” – Sarita Sutedjo (salah satu pendiri nasi goreng mafia).

Nasi goreng merupakan salah satu makanan favorit di Indonesia. Tidak heran apabila menu tersebut menjadi alternatif usaha yang dipilih para pelaku usaha dalam bidang kuliner. Meskipun terlihat usaha kecil, apabila ditekuni usaha tersebut dapat memberikan keuntungan fantastis, Nasi Goreng Mafia contohnya. Berawal dari tujuh sahabat “nongkrong” dan hobi berwisata kuliner, terbesit ide untuk mendirikan usaha kuliner sendiri. Angga Nugraha, Danis Puntoadi, Sarita Sutedja, Rex Marindo, Pujiana Nurul Hikmah, Budiardi Supa Sentana, dan Stefanie Kurniadi merupakan sekawan pendiri Nasi Goreng Mafia. Nama “mafia” dipilih untuk menggambarkan karakter nasi goreng yang pedas dan mempunyai kekuatan rempah yang khas. Mafia juga merupakan singkatan dari Makanan Favorit Orang Indonesia. Sarita menjelaskan, Nasi Goreng Mafia menawarkan cita rasa unik khas Indonesia melalui rempah dan bumbu pedasnya sesuai dengan lidah masyarakatnya. Selain itu, nasi goreng ini citarasa rempah yang khas dari masing-masing varian. “Kami mencoba mengangkat rempah yang merupakan kekayaan asli Indonesia ke level yang lebih tinggi,” ungkap Sarita. Sementara nasi goreng lain umumnya menitik beratkan pada penggunaan topping untuk membedakan varian yang satu dengan yang lainnya. “Jika dulu kita dijajah karena rempah, maka kini saat nya kita menjajah dunia dengan rempah,” tambahnya. Selain cita rasa unik, Nasi Goreng Mafia memliki beberapa varian menu aneh. Nama menunya pun mengambil nama kelompok mafia dari berbagai negara seperti Yakuza, Triad, Preman, Gangster, God Father, Brandal, dan Bandit, menu terbarunya. Gangster merupakan menu best seller dari nasi goreng ini, mengandung 17 bumbu rempah dan satu resep

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

Menurut Sarita, memulai usaha membutuhkan modal, baik materi maupun kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berperan penting dalam keberlangsungan suatu usaha. “Modal dalam bentuk dana tentu dibutuhkan, namun yang lebih penting di sini lebih kepada modal sumber daya manusia (termasuk soft skill di dalamnya) dan networking,” jelasnya. Sementara itu, strategi penjualannya, seperti dalam hal kebijakan penetapan harga, Nasi Goreng Mafia mematok harga bervariasi tergantung pada daya beli dan bahan bakunya. “Harga terendah dimulai dari 11.000 dan teratas di 18.000, namun harga ini bervariasi di beberapa lokasi, disesuaikan dengan kondisi daya beli dan harga bahan baku, jadi harga bisa berbeda di masingmasing lokasi,” terang Sarita. Sarita mengungkapkan, usaha kuliner ini mulai melebarkan sayapnya dengan membuka 20 cabang di beberpa kota, seperti Bandung, Depok, Bekasi, Yogyakarta, Bali, Cimahi, Pekanbaru, Bogor, Jakarta, Madiun, Lampung dan Garut. “Untuk tahap awal, kami akan coba menghadirkan Nasi Goreng Rempah Mafia di skala nasional dahulu, untuk kemudian mempersiapkan diri untuk mulai masuk ke skala dunia,” ujarnya. Melihat usaha kuliner yang makin beragam, mereka menyiasatinya dengan inovasi mulai dari sisi produk dan marketing, perbaikan sistem operasional, serta interaksi dan menggali insight dari konsumen. Tak lupa selalu membuka mata dan telinga untuk setiap perubahan yang terjadi, serta menjaga kualitas produk dengan menerapkan strategi training intensif dan quality control. Maka tak heran bila nasi goreng yang mengusung tagline “Nasi Goreng Rempah Pertama di Indonesia” ini kelezatan dan keunikan rasanya selalu dinanti para penikmatnya. (nq)

dok. ceritaperut.com 18


Dharmayanny Yusuf, Desainer Indonesia Kualitas Internasional

Sosok

Oleh: Sahniza T. Basori Puluhan tahun malang-melintang di dunia mode membuat sosok satu ini kaya akan pengalaman. Konsumennya adalah ekspatriat, sehingga tak heran namanya dikenal di kalangan warga asing yang tinggal di Indonesia. Berbekal pendidikan mode di ESMOD Perancis, membuatnya memiliki wawasan luas. Dharmayanny Yusuf atau akrab disapa Yanny, seorang desainer Indonesia yang menjadi langganan para ekspatriat di Indonesia. Bagaimana kisahnya hingga menjadi terkenal dan sukses seperti sekarang? Berikut kisahnya. Sejak kapan tertarik dengan dunia mode? Dari dulu saya suka dunia desain dan mode. Jadi, ya sudahlah buat apa belajar yang lain. Akhirnya saya memutuskan untuk belajar mode di Perancis. Setelah lulus dari SMA, saya bingung harus membuat apa. Ya sudah saya melanjutkan kuliah di Diplome ESMOD, Paris, Perancis. Saya memilih Perancis karena pada saat itu, Perancis adalah pusat mode dunia. Tiga puluh tahun yang lalu, orang yang ingin belajar mode, tidak memilih kota London atau New York. Namun, saat ini sudah agak mending, tidak hanya Paris sebagai kota mode. Bagaimana perjalanan karir Ibu hingga menjadi seorang desainer? Perjalanan karir saya dimulai setelah lulus SMA, kemudian belajar mode di Perancis. Ternyata saya senang, lalu saya memutuskan untuk menjadi seorang desainer. Dari dulu saya memang suka belajar mode. Saya sempat bekerja pada beberapa desainer, seperti Dorothee Biz Paris, Deborah Biz Paris, dan Avenir German. Kemudian saya kembali ke Indonesia dan memulai bisnis saya.

dok. Edents Dari mana saja inspirasi dalam mendesain produk?

“Yang penting harus senang dan harus total. Jangan hanya mengerjakan sesuatu karena harus. Jadi, menjiwai apa yang kita kerjakan,” – Dharmayanny Yusuf (Desainer Indonesia).

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

Suatu desain tidak dapat berdiri sendiri, terdapat beberapa elemen yang mempengaruhi kita. Ada warna, garis, manusia, dan peristiwa-peristiwa di sekeliling kita. Dalam mendesain baju, saya harus tahu background konsumen saya dari negara mana. Selera orang Perancis berbeda dengan selera orang Australia. Selera orang Australia berbeda dengan selera orang Amerika. Untuk mengetahui selera itu kita harus punya wawasan yang luas. Kita harus banyak baca. Jadi, lebih gampang mendesain untuk mereka. Setelah tahu background, kita harus tahu proporsional. Inti yang utama adalah menutupi yang jelek dan mengeluarkan yang bagus. Masing-masing desainer top mempunyai panutannya sendiri. Mereka tidak langsung ‘cling’ tiba-tiba mendapat ide. Harus banyak baca dan melihat. Misalnya dari museum. Di Perancis, kita mau ke museum semua ada. Apa pun yang ingin kita lihat, ada. Kita bisa mendapat inspirasi dari sana.

19


Sosok “Kerja banyak! Jangan malas-malasan! Banyak baca karena pemuda kita ini kurang baca,” – Dharmayanny Yusuf (Desainer Indonesia).

Bagaimana cara Ibu dalam memasarkan produk-produk? Saya tidak memasarkan, customer-nya yang datang. Mulamulanya saya ikut fashion show mereka, kemudian ikut bazaar. Terus dari situ kan orang mulai lihat, orang datang ternyata cocok kemudian ngomong terus dari mulut ke mulut. Saya nggak pernah bayar-bayar iklan. Jadi dari mulut ke mulut dengan tetap menjaga kualitas. Apakah Ibu pernah mengikuti fashion show ? Dulu iya penah ikut fashion show. Ikut di acara-acara komunitas mereka. Saya bukan mass production, saya lebih ke private. Saya sudah tidak ikut fashion show lagi. Sementara fashion show kan tujuannya untuk memasarkan produk, untuk mass production. Apa saja pengalaman menarik Ibu selama menjadi desainer? Pengalaman menarik, tinggal di Perancis dan belajar banyak hal. Belajar secara teknik, produksi, dan wawasan. Karena kalau teknik berkaitan dengan seni. Ketiga hal itu sangat berkaitan. Kreatif itu tidak cuma sendiri, tetapi juga harus punya keseimbangan garis. Jadi, itu lah yang saya pelajari. Kemudian pengalaman kerja di Perancis. Pokoknya belajar banyak ketika di luar negeri. Karena dengan jarak jauh di Perancis, kita bisa melihat lebih bagus. Kalau berkutat saja disini (di Indonesia –red), saya tidak melihat macammacam.

kembali lagi tapi ada perubahan. Apa pesan Ibu untuk mahasiswa yang ingin terjun dibidang mode? Pesan saya, wawasan diperluas! Jadi, kita harus banyak melihat, banyak membaca, dan jangan takut mencoba. Kerja keras! Jangan sedikit-sedikit bilang “ah susah”. Itu tidak ada. Kalau kita punya wawasan, semua itu gampang. Kerja keras dan tekun. Tidak boleh malas-malasan. Apa harapan Ibu untuk industri kreatif di Indonesia kedepannya? Saya mengharapkan anak muda sekarang lebih kreatif dan tidak usah takut usaha kita tidak berkembang. Kerja banyak! Jangan malas-malasan! Banyak baca karena pemuda kita ini kurang baca. “Kalau kita punya wawasan, semua itu gampang”. (nq)

dok. Edents

Apa yang membuat produk Ibu berbeda dari desainer lain? Desain saya berbeda dengan orang lain karena dengan pengalaman saya di Eropa, dengan wawasan saya yang tahu background customer saya, terus dengan saya punya staf yang bagus-bagus, saya punya asisten pribadi yang bagus, itu yang membuat produk saya berbeda. Konsumen saya sekali datang kesini itu tidak pernah pergi, disini terus sampai bertahun-tahun di Indonesia. Saya memang menjaga kualitas. Berdasarkan wawasan mengenai background customer, saya menjadi tahu selera mereka. Selain itu, saya punya mata (pandangan, selera -red) untuk orang Eropa. Jadi saya tahu yang mereka suka dan yang mereka tidak suka.

Apa saja suka dan duka yang Ibu rasakan selama menjadi desainer ? Rasanya sih suka saja, tidak ada dukanya karena saya suka pekerjaan saya. Walau harus bekerja sampai jam sebelas malam, sampai dua belas malam tetap saya kerjakan. Yang penting harus senang dan harus total. Jangan hanya mengerjakan sesuatu karena harus. Jadi, menjiwai apa yang kita kerjakan. Sehingga rasanya tidak ada dukanya. Suka semua. Apa tips agar usaha lebih maju ditengah ketatnya persaingan antar desainer? Tipsnya adalah jaga kualitas sama harus tetap eksis ngikutin mode, apa yang menjadi tren saat ini. Mode itu selalu berputar, recycle terus. Seperti rok tahun 50-an. Contohnya celana jeans saja. Sekarang celana jeans yang bawahnya terompet kembali lagi. Dulu, tahun 60-an Elvis Presley kan pakai. Jadi, mode itu

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

dok.edents 20


Sudut Profesi

dok.akamaihd.net

Perencana Keuangan: Prospek Cerah untuk Masa Depan Gemilang Oleh: Nungky Dwinurtanto dan Ari Nugroho

“Untuk fresh graduate itu jarang ada yang ingin langsung menjadi perencana keuangan, kalau bukan karena keinginan dari awal atau karena dia ingin kerja yang tidak terlalu berat ya ...,” – Safir Senduk (Perencana Keuangan).

Financial Planner (FP) atau biasa disebut dengan perencana keuangan merupakan salah satu profesi di bidang keuangan yang ada di Indonesia. Perencana keuangan merupakan profesi yang bertujuan untuk membantu seseorang menggapai tujuan hidupnya melalui manajemen keuangan secara terencana. Sederhananya, profesi ini merencanakan keuangan seseorang dimasa depan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Definisi lainnya adalah sebuah proses yang dilalui seorang individu untuk memenuhi tujuan finansialnya melalui pengembangan dan implementasi dari sebuah rencana keuangan secara komprehensif. Pada umumnya masyarakat mengenal konsultan keuangan, namun ada pula yang beranggapan bahwa perencana keuangan berbeda dengan konsultan keuangan. Sebenarnya kedua profesi ini memiliki persamaan cara kerja, yaitu sama-sama memberikan solusi mengenai keuangan, hanya istilahnya yang berbeda.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

Perencana keuangan terdiri dari dua kategori. Pertama, perencana keuangan yang bekerja untuk lembaga pemerintahan. Pada kategori ini jumlah perencana keuangan di lembaga pemerintahan masih kurang. Kedua, perencana keuangan independent. Jumlah perencanaa keuangan kategori dua ini lebih banyak jika dibandingkan dengan perencana keuangan yang bekerja di lembaga pemerintah. Bidang kerja dari masing-masing kategori perencana keuangan tersebut pun berbeda. Perencana keuangan independent memiliki bidang kerja yang lebih luas karena mereka membuka perusahaan perencana keuangan sendiri dan tidak terikat oleh birokrasi. Perusahaan yang dibuat perencana keuangan fokus pada konsultasi keuangan. Biasanya, klien akan memberikan informasi secara terbuka mengenai keuangannya. Setelah itu, perencana keuangan akan memberi solusinya dengan dua cara, yaitu writer financial planning (perencanaan keuangan tersurat) dan voice financial planning (perencanaan keuangan tersirat). Writer financial planning merupakan buku solusi yang harus dilakukan oleh seorang klien. Cara ini biasanya terjadi pada klien dengan permasalahan keuangan yang kompleks, sehingga perencana keuangan harus memberikan solusi secara tepat. Sedangkan voice financial planning merupakan solusi keuangan secara langsung. Kedua cara pemberian solusi keuangan tersebut masingmasing memiliki kekurangan dan kelebihan, akan tetapi rata-rata perencana keuangan akan memberikan saran kepada kliennya menggunakan writer financial planning. Hal ini dikarenakan klien dapat memahami solusi secara lebih mendalam ketika diberikan pedoman buku. Sehingga ketika terjadi permasalahan yang sama klien akan dapat memecahkan masalah keuanganya. “Biasanya sangat mendetail pertanyaannya, mulai dari dia kerja dimana, bagian apa, punya kartu kredit, dan banyak lagi yang intinya itu mengarah kepada masalah keuangan apa yang iya alami, dan apa yang dia inginkan untuk kedepan sesuai dengan keadaan sekarang dan apa yang harus dilakukan, rata rata seperti itu,” tukas Safir Senduk, salah seorang perencana keuangan.

21


Sudut Profesi

dok.bankingsense.com

Perkembangan perencana keuangan di Indonesia dimulai tahun 1998 oleh Safir Senduk. Ia memulai debutnya di bidang ini tahun 1994 ketika masih duduk dibangku kuliah. Safir mempelajari perencanaan keuangan secara autodidak dengan cara membaca buku dan referensi lain mengenai keuangan. Setelah satu tahun mempelajari bidang ini akhirnya Safir membuka perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan keuangan, Safir Senduk dan Rekan. Pada tahun 1998 hingga 2004 profesi ini masih belum berkembang. Perkembangan perencana keuangan dimulai ketika satu per satu klien Safir mulai percaya bahwa perusahaan miliknya memiliki kredibilitas dalam memberikan solusi permasalahan keuangan. Hal tersebut dilakukan kliennya dengan cara menulis surat di media massa. Namun, pada tahun 1998, tidak semua tulisan yang masuk ke redaksi media massa akan dimuat. Hal ini membuat perencana keuangan merasa sulit mendapatkan klien. Setelah tahun 2005, perencana keuangan mulai berkembang dengan dibantu kemajuan teknologi. Dengan demikian perlahan profesi perencana keuangan mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia. IFPC, Menaungi Perencana Keuangan Independent Financial Planner Club (IFPC) adalah organisasi independen perencana keuangan Indonesia yang anggotanya merupakan perencana keuangan di beberapa perusahaan. Organisasi ini didirikan pada 9 September 2009. Mulanya IFPC dibentuk atas diskusi antara Ligwina P. Hananto, Risza Bambang, dan Freddy Pieloor yang selanjutnya mengundang beberapa lembaga perencana keuangan independen lain, seperti Aidil Akbar Financial Check Up, Finansia Consulting, Mike Rini and Associates, Money n Love, One Consulting, Quantum Magna Financial, Safir Senduk dan Rekan, Shildt Consulting, serta Sri Kurniatun dan Rekan. IFPC merupakan sebuah organisasi yang berbentuk club, bukan asosiasi, sebab bersifat “informal” dan tidak terdapat peraturan-peraturan yang memberatkan. IFPC yang diketuai Freidy Pieloor ini bersifat independen karena para anggotanya tidak terikat secara langsung maupun tidak langsung dengan sebuah lembaga keuangan. Organisasi yang beranggotakan perorangan ini mengenakan “fee” atas jasa pelayanan yang diberikan kepada nasabah (dan tidak menerima komisi atas penjualan produk semata), serta memiliki kantor perencana keuangan sendiri, atau tergabung ke dalam kantor Perencana Keuangan Independen. Pendidikan Perencana Keuangan Seorang perencana keuangan harus menempuh pendidikan khusus terlebih agar mendapat gelar profesional di bidang ini paling lama dua tahun. Pendidikan khusus tersebut disediakan oleh Financial Planning Standards Boards (FPSB) dan International Association of Registered Financial Consultants (IARFC). Meski demikian, para pegawai perusahaan yang rata-rata mengikuti pendidikan ini karena perintah dari perusahaannya hanya

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

menempuh pendidikan selama satu tahun. “Kebanyakan dari peserta itu ada seorang pekerja, maka paling lama itu biasanya hanya satu tahun, karena itu mungkin hanya sebagai persyaratan atau mungkin mereka hanya atas paksaan kantor untuk ikut pendidikan tersebut,” tukas Safir. Pendaftar yang mengikuti pendidikan tersebut adalah para sarjana muda. Setelah para calon mengikuti pendidikan dan menempuh ujian yang telah ditentukan, para calon perencana keuangan tersebut mendapatkan gelar profesional bidang ini. Empat gelar yang diakui di bidang pekerjaan ini antara lain: Certified Financial Planner (CFP), Chartered Financial Consultant (ChFC), Registered Financial Advisor (RFA), dan Registered Financial Consultant (RFC). Dewasa

ini

jumlah

perencana

keuangan semakin bertambah, berbeda saat p e r e n c a n a keuangan belum dikenal oleh masyarakat. “Perencana keuangan saat sudah lumayan banyak di Indonesia beda sekali dengan jaman saya yang mungkin hanya bisa dihitung dengan jari. Saat ini banyak karena udah banyak media yang dapat digunakan untuk memberikan materi atau kiat kiat mengenai perencanaan keuangan,” jelas Safir. Profesi Unik, Masa Depan Gemilang Menapaki karir di bidang perencanaan keuangan ini dinilai Safir memiliki prospek cerah ke depannya. Akan tetapi, masyarakat masih meragukan hal tersebut, karena perencana keuangan hanya mengandalkan produk keuangan yang tidak dapat diprediksi setiap hari. Meski demikian, Safir menjelaskan bahwa seorang perencana keuangan dapat memiliki sumber finansial bermacan-macam, misalnya dari menulis artikel di media massa. Menulis buku mengenai keuangan juga merupakan salah satu pemasukan bagi seorang perencana keuangan karena royaltinya yang diterima terbilang besar. Apalagi jika seorang perencana keuangan juga mengeluti bidang seminar. Safir mengatakan, dalam seminar jumlah yang akan diterima seorang perencana keuangan bekisar 25 juta dalam satu kali tampil dengan kapasitas 200 orang. lebih lanjut ia menjelaskan, perenecana keuangan tidak melulu mencari uang dalam pekerjaan ini. “Segala sesuatunya itu jangan dilihat dari uangnya saja, uang bukan segalanya”, tukasnya. Beberapa pencari kerja yang merasa tidak yakin dengan profesi ini karena menilai prospeknya tidak terlalu menggiurkan. “Untuk fresh graduate itu jarang ada yang ingin langsung menjadi perencana keuangan, kalau bukan karena keinginan dari awal atau karena dia ingin kerja yang tidak terlalu berat ya, mungkin aja,” tutup motivator yang juga penulis buku ini. (nq)

22


Dibalik Kota Metropolitan | Laporan Khusus

Dibalik Kemegahan Kota Jakarta Oleh: Astianti Rahmadian dan Eka Ajeng K.

dok. Edents/Asti

“Keindahan Kota jakarta hanyalah sebuah topeng. Bilamana topeng tersebut dibuka, maka akan terlihat begitu jelas keganasan dan kejamnya kehidupan di ibukota."

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

23


Laporan Khusus | Dibalik Kota Metropolitan

Di jalanan Kota Jakarta siapapun akan dengan mudah menyaksikan mobil-mobil mewah berseliweran. Tak hanya berhenti sampai disini, sebagian besar warga Jakarta menghabiskan waktu liburnya di pusat perbelanjaan mewah. Hampir semua mall menjual barang-barang mewah nan mahal, namun tetap tak pernah kekurangan pembeli. Bagai uang koin dengan kedua sisinya, kemewahan tersebut merupakan salah satu sisi wajah Jakarta. Di antara jajaran rel kereta api, pemukiman kumuh yang tak layak untuk ditinggali juga dapat dengan mudah ditemukan di Jakarta. Pinggiran kali pun kerap menjadi tempat huni, airnya tak jarang digunakan untuk mencuci pakaian, bahkan memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti memasak. Anak-anak di bawah umur yang seharusnya bersekolah dan mendapat pendidikan yang layak juga masih berjualan di jalan-jalan raya untuk dapat membantu orang tuanya mencari nafkah. Pada saat yang sama pula para pengemis menengadahkan tangan meminta belas kasihan. Jakarta bagaikan terbelah di antara dua dunia. Di antara orang-orang kaya bermobil dan berumah mewah tetapi di satu sisi orang-orang miskin yang masih amat kesulitan untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai manusia yang bermartabat.

dok.Edents/Asti

Jurang Ketimpangan: Antara Kaya dan Miskin Kata yang dapat langsung menggambarkan situasi kontras di Jakarta yaitu kesenjangan sosial. Ketika jarak antara si kaya dan si miskin semakin besar, kesenjangan sosial pun semakin besar. Akar dari kesenjangan sosial adalah ketidakadilan sosial. Hal ini tercermin ketika kemakmuran hanya dirasakan segelintir orang, sementara kelompok orang lainnya harus hidup di dalam kemelaratan ketika kemiskinan dan kemakmuran melebur menjadi satu. Berpadu dan tersaji sebagai potret kehidupan di berbagai sudut kota. Kekayaan Indonesia yang seharusnya disebarkan secara merata kesemua warga negara, kini hanya dinikmati oleh segelintir orang beruntung atau pun cukup licik untuk dapat menikmatinya. Ngatilah (56) warga Jakarta yang hidup dengan keterbatasan keuangan harus bertahan hidup sebagai penjual nasi uduk disekitar rumahnya dibilangan Kebayoran Lama, Jakarta. Mulai berjualan pada pukul 17.00 Ngatilah mulai mempersiapkan dagangan untuk siap dijajakan disekitar rumahnya yang tak jauh dari sebuah mall mewah dan sebuah Perguruan

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

Tinggi Swasta di Jakarta. Hasil pendapatan bersih yang didapat tiap harinya hanya berada pada kisaran angka Rp.30.000,00. Hasil tersebut ia digunakan untuk membiayai hidup sehariharinya bersama anak dan suaminya. Disinggung mengenai berdirinya sebuah mall di lingkungan rumahnya, Ngatilah mengaku sempat terganggu dengan adanya pembangunan mall tersebut. Pasalnya, ia tinggal di rumah sederhana yang sudah ditempatinya selama 35 tahun diatas tanah milik pemerintah. “Ya, saya sih hanya bisa pasrah aja kalau nanti rumah saya digusur,” ungkap Ngatilah. Meski demikian, adanya pembangunan mall disekitar rumahnya diakui Ngatinah justru memberikan rezeki. Karena karyawan yang bekerja di mall tersebut sedikit banyak menambah pendapatannya sebagai seorang penjual nasi uduk. Hal serupa yang dapat dilihat dari lingkungan tersebut adalah masih adanya warga yang memiliki mata pencaharian pekerjaan sebagai tukang sampah. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu warga yaitu Tarjo (45) yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang sampah di sekitar komplek perumahan elit, tak jauh dari tempat tinggalnya juga di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta. Sehari ia mendapatkan penghasilan sebesar Rp.15.000,00. Penghasilan tersebut ia gunaka untuk membiayai kehidupan keluarganya. “Ya saya sih bersyukur aja dengan penghasilan saya ini yang penting saya bisa makan,” ungkapnya. Ditanya mengenai adanya pembangunan mall mewah disekitar rumahnya hal serupa juga ia katakan jika dirinya hanya bisa pasrah jika sewaktuwaktu rumah yang sudah 20 tahun ia tempati akan digusur oleh pemerintah karena tanah tersebut memang bukan miliknya. Perpindahan penduduk ke ibukota memang tak dapat dikendalikan. Daya tarik Jakarta sebagai pusat pemerintahan dinilai sebagian kalangan, seperti Nagtinah dan Tarjo, mampu memberikan jaminan hidup yang lebih baik. Faktanya, tak setali tiga uang, kehadiran migran justru membuat kemegahan Jakarta hanya sebatas yang terlihat dalam potret gedung pencakar langit karena masih ada sudut-sudut kota yang luput, bahkan tak tersentuh. Hal inilah yang kemudian menjadi tantangan bagi pemerintah, mengatasi ketimpangan sosial di ibukota. Sehingga dibutuhkan kesepakatan atau kerjasama antara pemerintah dan warga. Kesadaran warga untuk tidak mendirikan gubuk di tanah milik pemerintah maupun swasta juga diperlukan untuk menjaga kebersihan dan keindangan lingkungan sekitar.

dok. Edents

Jakarta, siapa yang tak mengenal ibu kota Negara Indonesia? Kota tersibuk dengan sisi kehidupan yang selalu dianggap penuh gedung pencakar langit, kendaraan umum dan kendaraan pribadi yang memadati jalan, serta hal lain yang membuat Jakarta sebagai kota mewah. Namun dibalik kemewahan Kota Jakarta, tak sedikit pula terdapat sisi yang membuat semua orang berpikir dan terkejut saat melihatnya, bahkan dapat pula keluar sebuah pertanyaan ”Apa benar ini ibukota republik ini?” Keindahan Kota Jakarta hanyalah sebuah topeng. Bilamana topeng tersebut dibuka, maka akan terlihat begitu jelas keganasan dan kejamnya kehidupan di ibukota.

Membuang kesan kejamnya ibukota agar menjadi kota yang indah tanpa menggunakan topeng bukanlah pekerjaan mudah. Mengurangi bahkan menghapus ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin adalah satu hal krusial yang harus segera diselesaikan selain mengatasi kemacetan. Sehingga kesejahteraan akan dirasakan untuk semua warga di Jakarta, dan bukan lagi menjadi angan-agan semata demi membangun dan menata Ibukota Negara Indonesia. (nq)

24


Dibalik Kota Metropolitan | Laporan Khusus

Realita "Anjal" Kota Semarang Oleh: Linggar A. Agung dan Puspa T. Azizah

“Bertambahnya jumlah anjal di Kota Semarang membuat pemerintah daerah khususnya Dinas Sosial, Pemuda, dan Olahraga harus melakukan penanganan secara komprehensif bukan parsial�

dok. alanpradipta.blogspot.com

Wilayah seluas 373.67 km2 dengan kepadatan penduduk 10.238 jiwa/km, serta diimbangi adanya sarana prasana yang memadai membuat Kota Semarang memiliki predikat sebagai kota metropolitan. Menurut Goheen (dalam Bourne, ed. 1971), kota metropolitan adalah kawasan perkotaan dengan karakteristik penduduk yang menonjol dibandingkan dengan penduduk pedesaan sekitarnya. Dilansir dari semarangkota. go.id, Kota Semarang meraih penghargaan Adipura kategori kota metropolitan pada tanggal 5 Juni 2014. Penghargaan ini di terima langsung oleh Walikota Hendrar Prihadi dari Wakil Presiden Boediono. Majunya perekonomian Kota Semarang mengisyaratkan suatu kota dipandang mampu mensejahterahkan masyarakatnya. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari 5,87 persen pada 2010 menjadi 6,41 persen tahun 2011. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, PDRB menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku juga mengalami kenaikan. Data BPS Jawa Tengah menunjukkan bahwa, PDRB menurut lapangan usaha Kota Semarang pada tahun 2010 sebesar Rp 43.398.190,77 kemudian naik menjadi Rp 48.461.410,41 di tahun 2011. Namun dibalik gagahnya Ibukota Jawa Tengah ini, masih dijumpai pengemis, gelandangan, orang terlantar (PGOT), dan anak jalanan, di sudut bahkan di pusat Kota Semarang. Miris. Dibalik pembangunan gedung-gedung pencakar langit, pusat-pusat perbelanjaan, serta tempat-tempat hiburan, dewasa ini masih terdapat kalangan yang tidak dapat menikmati kemajuan kota yang disebut metropolitan ini. Masyarakat beranggapan bahwa dengan mengadu nasib di

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

kota metropolitan, kehidupan yang layak akan didapatkan. Pada dasarnya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya dapat dibenarkan ataupun disalahkan. Benar dalam artian, terbukanya lapangan pekerjaan yang menjanjikan di kota metropolitan. Sedangkan salah ketika mengadu nasib dengan tidak produktif tetapi hanya memanfaatkan belas kasih masyarakat sekitar. Anak Jalanan, Salah Satu Masalah Kota Metropolitan Salah satu masalah kota metropolitan yang menjadi perhatian khusus ialah anak jalanan atau biasa disebut anjal. Menurut Hengky Surhendioto, Kepala Bidang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Dinas Sosial, Pemuda, dan Olahraga (Dinsospora) Kota Semarang, kota lunpia ini merupakan kota dengan jumlah anjal tertinggi di Jawa Tengah. “Jumlahnya kurang lebih sekitar ada 235-305 orang anak yang tersebar di seluruh Kota Semarang,� tuturnya. Anjal yang ada di Kota Semarang, 1520 persen berasal dari luar Kota Semarang. Hengky menyebutkan, adanya anjal ini dilatar belakangi oleh ketidakharmonisan dalam keluarga, broken home, serta kemiskinan yang menjadi masalah sosial. Keberadaan anjal yang dilatar belakangi oleh hal-hal tersebut, sebenarnya menuju ke suatu tujuan yaitu mencari uang untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup. Ironisnya, untuk mencapai hal tersebut sering kali anjal tidak dibekali dengan kemampuan yang memadai. Hal ini disebabkan beberapa dari anjal belum tamat Sekolah Dasar, sehingga tidak memiliki keahlian memadai. Sebagian besar anjal di Kota Semarang mencari uang dengan berjualan koran, mengamen, bahkan mengemis yang dapat dijumpai di tempattempat umum.

25


Laporan Khusus | Dibalik Kota Metropolitan Muhammad Toni, misalnya, seorang anjal yang baru berusia lima tahun terpaksa menghabiskan harinya dengan berjualan di pelataran Masjid Baiturahman Semarang. Ia mengaku hal tersebut dilakukannya karena perintah sang ibu. Penghasilan dari menjual koran pun tak menentu, Toni menuturkan terkadang ia mendapatkan uang sebesar Rp 20.000,00 sehari. Berbeda dengan Toni, Arep, seorang anjal berusia empat belas tahun mencari uang dengan meminta-minta di sekitar Tugu Muda Semarang. Ia menungkapkan, kegiatannya menggelandang sehari-hari di jalanan bersama teman-temannya menghasilkan uang sekitar Rp 10.000,00. Uang tersebut digunakannya untuk makan sehariharinya. Miris memang bila meilihat apa yang dilakukan anak seusia Toni dan Arep. Tidak seharusnya mereka berada dijalanan, tetapi di bangku sekolah guna mendapatkan pendidikan. Butuh Integrasi Semua Sektor Tuk Tangani Anjal Dinsospora Kota Semarang pun tak tinggal diam. Hengky mengatakan bahwa Dinsospora Kota Semarang mempunyai program pembinaan bagi anjal. Program pembinaan ini ditujukan kepada anjal yang mampu. Mampu ini memiliki artian bahwa anjal yang mengikuti pembinaan ini harus mengikuti Sekolah Dasar minimal kelas lima atau lulus Sekolah Dasar. Program pembinaan yang diberikan kepada anjal ini berupa pelatihanpelatihan, seperti menjahit, tata boga, atau perbengkelan. “Itu (program pembinaan –red) sudah beberapa kali kita laksanakan di Kota Semarang dengan APBD Kota Semarang,” kata Hengky menambahkan. Ditanya menyoal keberlanjutan program pembinaan tersebut ia menjawab hal tersebut harus melihat anggaran APBD yang telah direncanakan sebelumnya. Hengky juga menjelaskan bahwa penangan anjal harus dilakukan secara komprehensif bukan parsial.

Lebih lanjut Bambang mengatakan jika ingin dilakukan penjaringan terhadap anjal segala sesuatunya harus dipersiapkan. Persiapan itu salah satunya dengan penyediaan resource yang memadai. “Pertama itu Pemkot harus bikin penampungan dulu, masalahnya penampungan yang dimiliki Pemkot Semarang hanya satu itu,” papar Bambang. Sementara itu, Hengky menuturkan akan ada rencana pembangunan resource terpadu guna menuntaskan masalah rehabilitasi bukan hanya untuk anjal, tetapi juga pengemis, gelandangan, dan orang terlantar. Pemkot Semarang juga telah membuat Perda Nomor 15 Tahun 2014 tentang Penanganan Anak Jalanan, Gelandangan, dan Pengemis, selain melakukan pembinaan bagi anjal. Perda ini rencananya akan disahkan setelah peraturan walikota disetujui oleh Provinsi Jawa Tengah. Henky menjelaskan, dengan adanya perda ini, diharapkan penanganan dalam memberikan layanan yang baik terhadap PGOT menjadi lebih intensif sehingga hukum dapat ditegakkan sebagaimana mestinya agar memberikan efek jera. Salah satu pasal yang menjadi perhatian khusus dalam Perda Nomor 15 Tahun 2014, adalah pasal 24 yang berisi larangan memberikan uang maupun barang dalam bentuk apapun kepada anak jalanan, gelandangan, dan pengemis di jalan-jalan umum dan traffic light. Akan dikenakan sanksi berupa denda maupun kurungan penjara apabila didapati masyarakat yang melanggar larangan tersebut. Masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam hal pendanaaan kegiatan penanganan anjal, dan PGOT pun dapat menyalurkan langsung kepada lembaga sosial resmi yang ada di Kota Semarang. Selain itu, masyarakat juga dapat berperan aktif dengan memberikan pengajaran langsung secara sukarela kepada mereka yang membutuhkan. Seperti penuturan Aqrima Ramadhani, mahasiswi jurusan IESP Undip yang mengatakan, “yang pernah saya lihat, mungkin ngajarin anak jalanan kemudian memberikan bekal usaha mandiri seperti bikin bros kecil-kecilan kan itu dapat bermanfaat juga” Penanganan anjal tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah saja tetapi juga semua elemen masyarakat yang ada turut berperan aktif. Dengan demikian, anjal maupun PGOT yang ada di Kota Semarang dapat ditangani. (nq)

dok. Edents /Puspa

Selain memberikan program pembinaan terhadap anjal, Dinsospora Kota Semarang juga memiliki peran untuk menjaring anjal bekerja sama dengan Satpol PP. Setelah anjal dijaring dilakukan proses identifikasi masalah karena menurut penuturan Hengky yang ditangkap dalam penjaringan bukanlah anjal saja, tetapi juga ada pengemis, gelandangan dan orang terlantar. Selanjutnya, anjal di tempatkan ke resource bernama Among Jiwo. Namun, resource yang telah disediakan oleh Pemerintah Kota Semarang memiliki kapasitas yang tidak memenuhi syarat. Hal senada juga dituturkan oleh Bambang Condro Prihanto, salah seorang anggota Satpol PP, mengungkapkan bahwa kapasitas di Among Jiwo sangat terbatas. Selain itu, Panti Among Jiwo bukan tempat untuk menampung anjal, pengemis, gelandangan, atau

pun orang terlantar, melainkan tempat untuk menampung orang yang mempunyai gangguan jiwa.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

26


dok. Edents /Anih

Dibalik Kota Metropolitan | Laporan Khusus

Wajah Lain Kota Yogyakarta

“Jadi budaya seni itu harus ada pendukungnya ada pihak yang memelihara meneruskan dan selalu melakukan inovasi,” – Titiek Suliyati (Akademisi Ilmu Sejarah FIB Undip). Oleh: Haifa Hannum Arija dan Anih Purwanti Keistimewaan Kota Yogyakarta dapat dirasa karena masih memiliki kultur yang begitu kental. Pusat pemerintahan yang khas, yaitu Kesultanan, juga masih menjadi daya tarik bagi pengunjung lokal maupun mancanegara. Julukan Kota Pelajar yang disandang Yogyakarta pun mengisyaratkan bahwa kota ini sudah terjamah budaya lain dari berbagai penjuru daerah. Selain itu, Kota Yogyakarta yang juga dikenal sebagai Kota Pariwisata ini semakin menarik perhatian masyarakat luar daerah. Tak ketinggalan, para pebisnis di era modern pun semakin menggiatkan ide-idenya untuk memanfaatkan momen tersebut. Menurut Kekal Ahmad Hamdani, seorang penyair yang telah lama tinggal di Kota Gudeng, secara impresif Yogyakarta menjadi suatu kota masih memiliki romantika serta menjaga komitmen terhadap nilai-nilai lampau pra-Indonesia. Jika melihat sejarahnya, Kota Yogyakarta merupakan negara dependen ketika di bawah kekuasaan Belanda, hingga tahun 1950 Yogyakarta menjadi Daerah Istimewa. Meski wajah Yogyakarta kini berubah menjadi kota metropolitan, kota ini tetap mempunyai ciri khas tersendiri dengan budaya yang terpelihara. Budaya di Yogyakarta masih terbilang aman dan terjaga, namun hal tersebut tidak didukung oleh masyarakat yang melupakan budayanya. Budaya saling bertegur sapa dan silaturahmi, atau orang Jawa lebih mengenal dengan nama “srawung”, misalnya. Karena dewasa ini orang mulai berpikir dengan bertegur sapa melalui media sosial pun sudah cukup untuk menyambung kekeluargaan. Yogyakarta Kota Metropolitan (?) Munculnya Yogyakarta sebagai kota metropolitan tak terlepas dari faktor-faktor yang mendukungnya. Faktor tersebut menurut Titiek Suliyati, akademisi Ilmu Sejarah Undip, adalah penduduk datang bukan hanya dari Indonesia melainkan juga negara lain yang mencari ilmu di universitas Yogyakarta. Bertambahnya penduduk luar pun didukung oleh adanya sarana prasarana mampu mengembangkan Kota Yogyakarta menjadi kota yang lebih maju lagi. Seperti berupa pengembangan pemukiman, infrastruktur, rumah sakit, bahkan mall-mall yang didirikan di Yogyakarta. Lia Ivana, seorang mahasiswi UGM mengatakan,

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

dok. Edents/Anih

27


Laporan Khusus | Dibalik Kota Metropolitan

dok. hulaimi-s.blogspot.com akan ada delapan mall yang di Yogyakarta. “Di Yogya ini ada tiga mall, yang akan dibangun ada lima mall lagi. Sempet kuatir sih karena Yogya kan sudah padat penduduk, lalu ditambah lagi dengan banyaknya mall sehingga akan membuat macet Kota Yogya itu sendiri,” ungkapnya. Dampak dari perubahan Kota Yogyakarta yang menjelma menjadi kota metropolitan telah dirasakan kekal. “Secara pribadi bagi saya (perubahan yang kentara –red) adalah jalan raya yang sudah mulai padat dan kerap macet. Sudah jarang sekali kita jumpai alat transportasi tradisional kecuali di titik tertentu seperti kawasan Malioboro,” ujarnya. Hal yang sama pun diakui oleh Dewa Putra seorang mahasiswa asal Yogyakarta. Ia mengungkapkan ada hal yang berubah setelah Yogyakarta menjadi kota metropolitan. “Kalau dulu di daerah rumahku (Kaliurang –red) setiap minggu ada gotong royong bersihin got gitu, tapi kata ayahku sekarang udah mulai berkurang. Selain itu, permainan tradisional yang dulu sering aku mainin kayak gundu juga udah tergantikan dengan Ipad,” ujarnya. Namun ia mengatakan pergeseran Kota Yogyakarta menjadi kota metropolitan memiliki dampak positif. Menurutnya akses untuk pergi ke suatu tempat kini lebih mudah dengan adanya kendaraan umum seperti Transjogjakarta, selain itu bus liar yang dahulu mudah dijumpai kini mulai berkurang. Menurut Kekal, hal menarik terkait alasan Kota Yogyakarta masih mempertahankan budaya warisan leluhur seiring dengan perkembangannya menjadi kota metropolitan ialah kodrat dari kebudayaan yang dinamis dan berkembang. Kebudayaan tidak stagnan jika ia ingin sehat. Titiek mengatakan, budaya keraton masih dipertahankan oleh masyarakat Yogyakarta. Tradisi-tradisi yang masih memiliki pendukung seperti seni tari maupun gaya hidup masih dijunjung tinggi di Yogyakarta walaupun sudah menjadi kota metropolitan. Titiek menjelaskan, budaya dapat tetap hidup atau mati tergantung dari pendukungnya, “misalnya saja kesenian, seni apabila masih ada peminatnya dan ada yang melakukan seni tersebut tentu saja akan hidup, tetapi apabila orang sudah meninggalkan seni tersebut maka otomatis akan mati,” jelasnya. Pendukung berarti masyarakat mampu memelihara, menguri-uri, mengapresiasi hingga menikmati kebudayaan Yogyakarta yang ada sejak dulu. “Jadi budaya seni itu harus ada pendukungnya,

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

ada pihak yang memelihara, meneruskan, dan selalu melakukan inovasi,” tambahnya. Selain dari sisi pendukung, waktu yang digunakan untuk menikmati pertunjukan juga berkurang. Dahulu orang mampu menikmati pertunjukkan wayang semalam suntuk karena hari berikutnya tidak bekerja, namun zaman sekarang sudah tidak bisa lagi. Pertunjukkan seni wayang pun dibuat praktis ceritanya diperpendek ataupun dibuat lebih aktual. Namun diakui oleh Titiek masih ada pihak yang berkepentingan terkait pelestarian seni tradisi misalnya pemerintah kota dan juga pihak akademisi seperti Institut Seni Indonesia (ISI) serta lembaga kesenian yang selalu berinovasi. Peran Pemuda Terhadap Perubahan Budaya di Yogyakarta Menurut Kekal tidak ada perubahan yang signifikan terhadap masyarakat Yogyakarta. “Hal ini belum begitu signifikan hingga perubahan itu tak lagi mampu dicari jembatan-jembatannya,” tuturnya. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dampak positif dan negatif yang terjadi masih dalam taraf gejala walaupun ada beberapa bagian yang kentara. Fase masyarakat yang rentan setiap adanya perubahan adalah para pemuda. Mereka berperan dalam menciptakan dan memelihara budaya yang ada, salah satunya melakukan suatu gerakan untuk menghadapi culture shock. Misalnya dengan mengadakan festival dan gelaran-gelaran seni budaya, menggerakan lembaga seni budaya, komunitas, dan pegiatpegiat yang bergerak di jalanan dan wilayah pinggiran kesenian maupun kebudayaan mayor. Titik menambahkan bahwa karakter adalah hal unik yang memberi warna dan membedakan suatu daerah dengan daerah lain. Lia sebagai mahasiswa menginginkan budaya Indonesia mampu dikenal dikancah internasional. “Jangan tergeser kebudayaan kita oleh investor asing, tetap bagaimana kebudayaan ini ada dan bukan hanya sebagai sejarah namun tetap dinikmati oleh masyarakat dunia,” ungkapnya. Senada dengan harap Lia, Titiek lebih menitikberatkan pada akar budaya Indonesia. “Kalau menurut saya ya jangan lupa sama akarnya, kita maju tidak berarti harus selalu menengok ke bangsa lain, boleh maju tetapi dengan membandingkan atau mempelajari sesuatu namun jangan lupa akarnya,” pesannya. (nq)

28


Sastra Budaya

“Kami bisa memainkan angklung dipadukan alat musik lainnya dengan berbagai aliran seperti

dangdut, campursari, reggae, pop, dan lain-lain, semua tergantung selera masyarakat atau yang mempunyai hajatan,” - Beni Yulianto (anggota grup musik Saung Poget Van Java).

Duet Maut: Angklung Modern dan Musik Tradisional dok. Edents/dicha

Oleh: Dicha A. Amanda dan Hana R. Ulya

Siapa yang tak kenal alat musik tradisional angklung? Alat musik khas Jawa Barat yang terbuat dari bambu ini tak hanya berkembang didaerah asalnya. Pasalnya, alat musik tradisional ini diperkenalkan melalui pertunjukan musik sehingga masyarakat dapat mengenali dan menikmati alunan musiknya. Pertunjukan musik tradisional angklung kini dapat dijumpai di Dukuh Banaran, Desa Babadan, Batang, Jawa Tengah. Grup musik tradisional angklung “Saung Poget Van Java” belakangan berhasil memikat hati masyarakat untuk menikmati pertunjukan musik. Hal ini dikarenakan para pemainnya menggunakan angklung sebagai alat musik utamanya.

nongkrong dipinggir jalan sambil merokok, lalu saya dan anak saya berinsiatif bagaimana kalau dibelikan alat musik angklung. Saya tarik mereka untuk bermain musik dan minta ijin kepada orang tua mereka, Alhamdulillah mereka setuju,” tutur Abdul, ketua Saung Poget Van Java. Menurut penuturan Abdul Rohim, ide tersebut dapat terealisasi karena para pemuda kampung antusias belajar musik. Akhirnya, pada Januari 2014, Abdul berhasil membentuk grup musik tradisional dengan anggota berjumlah 15 orang. Anggota Saung Poget Van Java mayoritas adalah para pelajar SMP dan SMA, lainnya adalah wiraswasta dan pemuda lulusan SMA.

Saung Poget Van Java memainkan angklung dengan cara yang unik, yakni hanya digoyang-goyangkan sambil dipadukan dengan alat musik daerah lainnya seperti gambang, drum, bass, kentongan, dan kicik-kicik. Permainan musiknya pun bagai sebuah grup band yang membawakan lagu pop. Angklung modern-begitu pemainnya menyebut-didesain unik seperti piano agar memudahkan para pemain.

Nama Saung Poget Van Java diambil dari kata poget yang berarti “pokoke njoget”. Pada awal berdirinya, pembiayaan operasional grup musik ini ditanggung oleh Abdul. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Saung Poget Van Java pernah mengalami kesulitan pembiayaan operasional. Namun demikian, kesulitan tersebut dapat teratasi berkat inisiatif para anggota, mereka bermain musik di pinggir jalan dan keramaian. Akhirnya dari situlah penonton berkerumun menikmati permainan musik Saung Poget Van Java dan memberikan donasi secara suka rela. Selain mencari dana dengan bermain di keramaian, hal tersebut membantu memperkenalkan Saung Poget Van Java ke masyarakat.

Gagasan Saung Poget Van Java Grup musik tradisional asal Batang ini terlahir atas ide Abdul Rohim dan putranya. Keduanya berkeinginan untuk membentuk grup musik tradisional yang beranggotakan pemuda di desanya. “Dulu saya sering melihat anak sekolahan yang tiap harinya

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

29


Sastra Budaya

Para anggota Saung Poget Van Java mulanya berlatih memainkan alat musik secara autodidak karena hanya ada satu anggota grup yang mahir bermain musik. Keterbatasan tersebut tidak menghalangi semangat pemuda kampung untuk terus belajar. Meski rata-rata anggotanya adalah pelajar, biasanya pada sore hari para pemain meluangkan waktunya untuk berlatih. Kekompakkan antaranggota membuat permainan musik menjadi harmonis dan enak ditonton. Hal itu lantas membuat grup musik Saung Poget Van Java mendapat panggilan untuk mengisi acara hajatan seperti pernikahan, khitanan, maupun pengajian. Bahkan, tawaran bermain musik tidak hanya datang dari Batang, namun juga dari luar kota seperti Pekalongan dan sekitarnya. Ketika mengisi acara, permainan alat musik Saung Poget Van Java disesuaikan permintaan yang mempunyai hajatan atau para penonton. “Kami bisa memainkan angklung dipadukan alat musik lainnya dengan berbagai aliran seperti dangdut,

campursari, regge, pop, dan lain-lain, semua tergantung selera masyarakat atau yang mempunyai hajatan,” tutur Beni Yulianto, salah satu anggota, ketika ditanya perihal keunikan grup musik Saung Poget Van Java. Grup yang masih terhitung baru ini setiap kali tampil di hajatan mendapatkan bayaran yang cukup untuk menambah uang jajan para anggotanya. Selain itu, hasil dari bermain musik juga mereka sumbangkan ke yayasan yatim piatu di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Keberadaan alat musik tradisional dewasa ini mulai tergantikan oleh alat musik modern, hal ini tak lain karena masyarakat kurang melestarikan keberadaannya. Namun, Saung Poget Van Java mencoba untuk melestarikan keberadaan angklung dengan permainan musik yang dipadukan dengan berbagai alat musik tradisional, meski membawakan lagu pop atau jenis lainnya. “Harapan kedepan kami yaitu grup musik ini bisa berkembang lebih baik lagi, kami hanya bermain musik untuk menghibur dan tentunya untuk melestarikan musik tradisional khususnya angklung yang hampir punah,” ungkap Beni. (nq)

“Harapan kedepan kami yaitu grup musik ini bisa berkembang lebih baik lagi, kami hanya bermain musik untuk menghibur dan tentunya untuk melestarikan musik tradisional khususnya angklung yang hampir punah,” ungkap Beni.

dok.Edents/Ariska

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

30


Social Movement

Ruangguru: Ruang Berbagi Ilmu Oleh: Handre Diono

dok. static.tumblr.com

“Selama ini kita susah untuk mencari guru yang berkualitas dan hanya mendapatkan refrensi guru dari teman, seperti membeli kucing dalam karung sehingga ruangguru menjadi solusi untuk mencari guru yang berkualitas”, Adamas Belva Syah Devara (co-founders Ruangguru).

Belva adalah sosok yang tiga tahun lalu mencetuskan Ruangguru dan setahun kemudian mengajak Muhammad Iman Usman untuk bersama merintis online marketplace ini. Pembuatan Ruangguru memakan waktu satu setengah tahun terakhir dan secara resmi diperkenalkan pada masyarakat luas pada April 2014. Tak ada alasan khusus dalam memilih Ruangguru sebagai nama dari produk yang ditawarkan. “Nama Ruangguru terdengar lebih interesting, nggak ada cerita apapun di balik nama Ruangguru cuman supaya orang lebih familiar aja,” tambah Iman. Ruangguru menjangkau berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Kini setidaknya terdapat 5409 guru yang terdaftar (data 16/10/2014) dari berbagai latar belakang akademis maupun non-akademis. Meski baru diperkenalkan ke publik, menurut Nur Azifah, Program Officer Ruangguru, hingga Juli 2014, lebih dari seratus murid telah aktif dalam kegiatan belajar. Belajar Apapun dari Siapapun Mengusung slogan “Belajar Apapun dari Siapapun”, Ruangguru menyediakan berbagai pilihan guru berkualitas. Hal ini dikarenakan pengajar Ruangguru telah terverifikasi latar

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

belakangnya dan memiliki sistem rating yang komprehensif. Murid-murid akan teribat dalam penilaian performa guru saat mengajar dan memberi poin terhadap latar belakangnya. Poin lebih akan diberikan kepada guru atas dasar prestasi akademik dan pengalaman mengajar. Guru dapat mengunggah bukti prestasi akademis, sertifikasi, atau pengalamannya, sehingga pihak Ruangguru dapat memverifikasi data-data tersebut. Para guru di Ruangguru pun siap mengajar atas dasar permintaan murid tetapi masih sesuai bidang keahliannya. Pelajaran yang diajarkan tidak hanya terbatas pada pelajaran sekolah saja, murid-murid dapat pula mengasah kemampuan atau keterampilannya di bidang seni, bahasa asing, olahraga, dan lainnya. Tak hanya itu, pemilihan lokasi dan jam belajar-mengajar pun berdasarkan kesepakatan guru dan murid. Menariknya lagi, guru yang terdaftar tidak harus berlatar pendidikan formal di bidang keguruan ataupun memiliki pengalaman dalam mengajar. Sistem pembayaran yang digunakan Ruangguru adalah minimal pembayaran sebesar Rp50.000,00/jam dan akan dipotong 20 persen untuk biaya operasional serta kontribusi sosial. Setelah terjadi kesepakatan antara murid dan guru, pihak Rungguru akan mengirimkan tagihan pembayaran sesuai biaya yang disepakati. Guru akan dibayar sebesar 50 persen setelah melakukan pertemuan belajar dengan siswa, sisanya diserahkan di akhir paket belajar. Berbeda dengan guru, murid merupakan setiap individu yang menggunakan Ruangguru untuk memfasilitasi kegiatan belajar mengajarnya karena belajar bersama guru yang telah terdaftar di online marketplace ini. Sementara calon murid adalah, mereka yang sudah memiliki akun profil di website Ruangguru, namun belum melakukan pemesanan guru.

31

Kunjungi! www.lpmedents.com

Ruangguru merupakan online marketplace dan salah satu bentuk alternatif bagi pendidikan di Indonesia. Ruangguru.com adalah sebuah situs yang membantu calon murid mencari dan menemukan calon guru berkualitas untuk memberikan pelajaran tambahan atau pengembangan keterampilan tertentu di luar sekolah maupun kampus. “Selama ini kita susah untuk mencari guru yang berkualitas dan hanya mendapatkan refrensi guru dari teman, seperti membeli kucing dalam karung sehingga ruangguru menjadi solusi untuk mencari guru yang berkualitas,” ungkap Belva, sapaan Aldamas Belva Syah Devara, salah satu cofounders Ruang Guru.


Social Movement

dok. ziliun.com

Proses pemesanan guru dimulai dari registrasi untuk calon murid di website ruangguru.com. Setelah memilih guru yang diinginkan, Ruangguru akan melakukan konfirmasi kepada guru terpilih. Jika murid telah menyepakati guru yang dipilih, selanjutnya pihak Ruangguru akan mengirimkan tagihan agar murid dapat melakukan pembayaran 100 persen dari biaya paket belajar.

dok. ruangguru

Selain guru dan murid, ada pula Duta Ruangguru, pihak ketiga yang membantu perihal pemasaran dan promosi, utamanya dalam merekrut calon guru dan calon murid. Dalam berkegiatan, duta Ruangguru akan dilengkapi dengan materi promosi, mendapatkan komisi setiap berhasil mendapatkan referral. Selain mendapatkan penghasilan, Duta Ruangguru dapat menambah softskill manajemen proyek, komunikasi, networking, marketing, dan lainnya. Duta Ruangguru yang aktif dan memenuhi target, akan memperoleh sertifikat penghargaan. Peran dalam Pendidikan Indonesia Profit yang diperoleh Ruangguru sebagian akan disalurkan untuk memajukan pendidikan Indonesia. Hal tersebut diwujudkan secara konkret dengan menyekolahkan anak Indonesia melalui program Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GN-OTA), sebuah inisiatif nasional untuk membantu ribuan anak Indonesia agar dapat meneruskan pendidikannya. “Setiap murid yang belajar selama satu jam di Ruangguru sama dengan menyekolahkan satu anak Indonesia selama satu hari,� papar Nur. Selain itu, sebagian profit lainnya akan digunakan untuk mendukung programprogram pemberdayaan pemuda dan pengembangan masyarakat yang dikelola oleh anak muda secara sukarela melalui organisasi Indonesian Future Leaders. (nq)

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

Mengusung slogan “Belajar Apapun dari Siapapun�, Ruangguru menyediakan berbagai pilihan guru berkualitas. 32


dok. Edents /Adit

Diantara Kita

Dedikasi Petugas Keamanan Oleh: Dara Ayu dan Leonardus Aditya

“Sebenarnya ingin libur, tapi kita memaklumi bahwa kita kan diberikan tanggung jawab perusahaan untuk menjaga keamanan, menjaga keselamatan aset-aset perusahaan. Jadi ya mau tidak mau kita tetep kerja,� - Yonar Lalang (Petugas Keamanan di Kawasan Perkantoran MT Haryono).

Mudik telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia setiap menjelang hari raya Idul Fitri, orang-orang akan berkemas untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka menyambung tali silaturahmi dengan cara mengunjungi sanak saudara yang telah lama tidak berjumpa. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi mereka yang berprofesi sebagai polisi, pemadam kebakaran, perawat, dan petugas keamanan. Mereka masih harus berkutat dengan tugas-tugasnya dan bersabar menanti giliran libur lebaran.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

Tuntutan pekerjaan akan profesionalitas dan kompetensi kerja membuat sebagian kalangan orang harus tetap bekerja meski saat hari raya. Petugas keamanan misalnya, untuk meningkatkan profesionalitas dan kompetensinya, mereka wajib mematuhi kode etik dalam bekerja. Dilansir dari satpam-security.com (3/4/13), terdapat enam kode etik yang harus dipatuhi oleh petugas keamanan, yaitu kesetiaan, memberikan teladan yang baik, keselamatan dan keamanan, kejujuran, disiplin, dan keadilan tanpa prasangka.

33


dok. kramatembroidery.com

Diantara Kita

Kesetiaan serta keselamatan dan keamanan merupakan elemen penting bagi petugas keamanan dalam menjalankan tugas. Seorang petugas keamanan dituntut untuk loyal terhadap perusahaan, pekerjaan, atasan dan pegawai lainnya. Selain itu, petugas keamanan juga harus mampu meyakinkan bahwa mereka mampu mengamankan segala aset, orang, dan kegiatan, sehingga keselamatan dan keamanan dapat terjamin. Hal inilah yang melatarbelakangi mereka untuk rela menjalani hari raya tanpa keluarga besar di kampung halaman. Agus Sudarsono, salah satu petugas keamanan salah kantor perbankan di kawasan MT Haryono, Semarang, mengaku untuk kesekian kalinya harus bekerja di hari lebaran. Bersama rekannya, Yonar Lalang, ia tidak dapat mudik karena harus menjaga keamanan perusahaan. Mereka mengatakan, hal ini merupakan konsekuensi yang telah dipilih sejak awal melamar sebagai petugas keamanan. “Kalau mungkin pas ketepatan hari liburnya, ya kita libur tapi cuma satu hari,” ujar Agus. Terbatasnya outlet yang tetap beroperasi saat lebaran serta banyaknya transaksi perbankan yang tetap dibutuhkan menyebabkan ledakan nasabah yang datang ke kantor. Hal ini mengharuskan mereka untuk bekerja ekstra agar keamanan tetap terjaga. “Sebenarnya ingin libur, tapi kita memaklumi bahwa kita kan diberikan tanggung jawab perusahaan untuk menjaga keamanan, menjaga keselamatan aset-aset perusahaan. Jadi ya mau tidak mau kita tetep kerja,” ujar Yonar. Agus dan Yonar pun akhirnya harus rela merayakan lebaran tanpa keluarga di kampung halaman. Mereka yang

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

masing-masing berasal dari Jember dan Nusa Tenggara Timur ini mengaku baru bisa pulang ke kampung halaman lima tahun sekali. Libur yang didapatkan biasanya setelah hari lebaran usai. Pihak keluarga pun memaklumi profesi mereka sebagai petugas keamanan yang tetap bekerja di hari lebaran. Agus dan rekan-rekan biasanya memberlakukan sistem shift dan membuat kesepakatan internal antarpetugas keamanan di tempatnya bekerja. Kesepakatan internal ini biasanya terjadi untuk mengatur pembagian cuti. Masingmasing dari mereka akan memusyawarahkan siapa yang akan mengambil cuti ketika lebaran, dan siapa yang akan mengambil cuti ketika hari besar lainnya, seperti Natal dan tahun baru. Karena, tidak semua petugas keamanan dapat mengajukan cuti sesuai keinginannya, harus tetap ada yang menjaga keamanan di kantor. Selain itu, mereka juga membagi jam kerja menjadi tiga regu jaga dalam menjalankan tugasnya. Dengan demikian setiap petugas keamanan masih dapat membagi waktunya dengan keluarga, seperti anak dan istrinya di rumah. Para petugas keamanan seperti Agus dan Yonar mengaku jika bertugas pada saat hari libur, terlebih saat hari raya, akan menerima bonus yang setara dengan beberapa kali lipat dari upah biasa. Pria yang berusia sekitar tiga puluh tahunan ini mengatakan senang dapat memberi manfaat kepada perusahaan tempatnya bekerja. Selain berupaya untuk menjaga keamanan aset perusahaan, mereka menganggap hal tersebut sebagai dedikasinya kepada perusahaan. “Manfaatnya ya sebagai bentuk dedikasi kita. Tanggung jawab kita sebagai security ya harus mengamankan segala inventaris kantor,” tambah Agus. (nq)

34


KomunitaS

JatengYouth: Wadahi Generasi Penerus Bangsa Oleh: Panjalu Satrio W. I. dan Olwan Zakki F.

Muda, cerdas, dan peduli adalah beberapa kata yang dapat menggambarkan komunitas pemuda ini. Mengemban misi meningkatkan kepedulian anak muda di Jawa Tengah di bidang sosial dan politik, Jateng Youth aktif menyuarakan aspirasi anak muda kepada pemerintah. Tujuannya tidak lain untuk meningkatkan kepedulian anak muda Jawa Tengah terhadap isu-isu penting yang beredar di sekelilingnya, pun menjadikan generasi muda peduli dan aktif terhadap penyelenggaraan pembangunan Jawa Tengah yang lebih baik. Berawal dari libur Ujian Nasional, Kristi Ardiana dan tiga temannya yang saat itu masih berstatus siswa SMA ingin berkegiatan untuk mengisi libur. “Kita semua udah selesai UAN terus udah diterima juga di universitas, karena waktu (libur) itu bertepatan sama pilkada, kita mikir bikin komunitas yang bisa mewadahi kita untuk bersuara dan berkomentar soal pilkada, komunitas kecil-kecilan tapi yang berdampak positif,” ungkap Kristi, Ketua Jateng Youth saat ini. Akhirnya, pada 23 Juli 2013 dibentuklah Jateng Youth yang beranggotakan mereka berempat yaitu Kristi Ardiana (ketua), Rendi Arfiandi, Sesty Milla, dan Audrey Rachalia. Pergerakan meereka diawali dengan membuat sebuah akun @JatengYouth di sosial media. Hal tersebut ternyata mendapat respon positif dari para pengguna twitter sehingga diputuskanlah untuk membuat sebuah kegiatan perdana.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

Kegiatan perdana tersebut yaitu workshop, dialog interaktif, dan buka bersama Plt Walikota Semarang kala itu, Hendrar Prihadi, dengan pembicara Bunyamin (Kepala Dinas Pendidikan), Nurjanah (Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata), dan Bambang Haryono (Kepala Bappeda Kota Semarang). Melalui acara yang bertemakan “Youth’s voice for Jateng’s Development”, Jateng Youth mengajak anak muda Jawa Tengah untuk peduli dan berani menyampaikan aspirasinya untuk pembangunan Jawa Tengah di bidang pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata serta pembangunan infrastruktur. Bukan hanya itu, mereka pun sempat mengadakan penggalangan dana dan charity concert untuk Satinah, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terancam hukuman mati di Saudi Arabia. Setelah kegiatan perdana mereka, setahun sudah komunitas ini berjalan dan memiliki anggota lebih dari lima puluh orang yang berasal tidak hanya dari Semarang tetapi juga dari daerah lain di Jawa Tengah. “Dominannya dari Semarang, tapi ada juga yang dari Demak, Solo, Kendal, Pati, pokoknya sekitar Jawa Tengah,” ujarnya. Komunitas ini pun terus berjalan dengan mengadakan beberapa kegiatan rutin seperti dialog di media soaial dan gathering bersama para anggota. Adanya Jateng Youth, anak muda bukan hanya sekedar mengkritik tanpa melihat kinerja

35

Kunjungi! www.lpmedents.com

“Berawal dari obrolan soal pilkada, beberapa anak muda Jawa Tengah memutuskan untuk membentuk sebuah komunitas yang dapat menyalurkan aspirasi dan juga kepedulian terhadap lingkungan dan juga pemerintahan.”


KomunitaS pemerintah, namun juga memberi kritik, masukan, dan pendapat yang rasional serta membangun. Dalam rekruitmen anggotanya, sampai saat ini Jateng Youth telah melakukan open recruitment sebanyak tiga kali yang dibuka setiap ada kegiatan besar. Info penerimaan anggota baru disebarluaskan melalui media sosial dan beberapa kali melalui koran. Persyaratan untuk masuk komunitas ini salah satunya dengan menulis esai tentang motivasi dan apa yang akan dilakukan setelah tergabung dengan Jateng Youth. “Kalau kita bisa bantu kenapa tidak, gitu kan, jadi ningkatin supaya anak muda itu lebih care sama isu-isu di sekitar kita” tuturnya. Adanya Jateng Youth ini dirasakan memberikan manfaat bukan hanya pada lingkungan komunitas ini tetapi juga memberikan dampak positif terhadap para anggotanya ”Manfaat selama ikut Jateng Youth itu yang pasti kita jadi lebih banyak kenal orang, bukan cuma teman sebaya tapi juga orang penting yang ada di pemerintahan, kita juga menambah pengalaman kita dalam mengadakan suatu acara ataupun menanggapi isu isu yang berkembang dalam masyarakat” ungkap Rendi. (nq)

'....“Youth’s voice for Jateng’s Development”, Jateng Youth mengajak anak muda Jawa Tengah untuk peduli dan berani menyampaikan aspirasinya untuk pembangunan Jawa Tengah....'

dok. Jateng Youth

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

36


KABAR KAMPUS Undip Loyo di Kandang Sendiri Oleh: Akbar Sih Pambudi dan Shofiyatul Masithoh

dok. antaranews.com

“Jika dilihat dari semangat mereka (mahasiswa Undip –red) dan sampai sekarang itu saya melihatnya gairah untuk membuat PKM dan berprestasi itu tinggi,” - Abdul Syakur (Ketua Kontingen PKM Undip)

Pada tahun 2014, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke XXVII yang diikuti sekitar 2500 peserta, 440 tim, dan 90 Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta digelar di Universitas Diponegoro (Undip). Acara tersebut diadakan selama lima hari pada 25–29 Agustus 2014 lalu. Pada hari pertama seluruh peserta mengikuti technical meeting di Gedung Prof. Soedarto, Tembalang dan pada malam harinya diadakan Gala Dinner di Ghradika Bakti Praja, Kantor Gubenur Jawa Tengah. Keesokan harinya (26/8) diadakan upacara pembukaan di lapangan Widya Puraya Undip. Pembukaan acara tahunan tersebut dihadiri oleh Musliar Kasim (Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), Ganjar Pranowo (Gubenur Jawa Tengah), Hendrar Prihadi (Wali Kota Semarang), Sudharto P. Hadi (Rektor Undip), Kapolda Jateng, Kapolres Kota Semarang dan sejumlah pimpinan Perguruan Tinggi di Indonesia. Usai upacara pembukaan, rangkaian perlombaan digelar selama tiga hari di beberapa fakultas di Undip. Perlombaan PKM-P, PKM-K, dan PKM-M dilaksanakan di Fakultas Hukum. Sedangkan PKM-GT, PKM-T, dan PKM-KC di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) digunakan untuk Seminar dan Sarahsehan Pembantu Rektor III dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) digunakan sebagai tempat pameran atau gelar Produk PKM dan poster. Penutupan sekaligus pengumuman pemenang Pimnas ke27 diselenggarakan Kamis malam (28/8) bertempat di lapangan Widya Puraya dan dibuka dengan musik etnosamble. Peserta berkumpul membawa atribut kampusnya masing-masing sebagai tanda kebahagiaan tak lupa sembari meneriakkan jargonnya seolah-olah tak sabar menunggu pengumuman pemenang Pimnas tahun ini. Keesokan harinya (29/8) sebagai penutup dari rangkaian Pimnas, diadakan City Tour mengelilingi Kota Semarang. PTN Dominasi Pemenang Pimnas Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta berhasil mengumpulkan 13 medali emas yang terdiri dari 10 kategori presentasi dan tiga emas kategori poster. Selain itu mereka juga berhasil meraih delapan medali perak (tiga medali dari poster

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

dan lima medali dari presentasi) serta tujuh perunggu (lima presentasi dan dua poster). Dengan demikian, UGM berhasil membawa pulang piala bergilir Adikarta Kertawidya. Sedangkan juara bertahan tahun lalu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya harus puas berada di peringkat kedua dengan raihan lima emas (satu poster, empat presentasi), delapan perak, dan tujuh perunggu . Peringkat ketiga diduduki oleh Universitas Brawijaya (UB) Malang dengan enam emas, lima perak, dan enam perunggu serta disusul oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Sedangkan, tuan rumah, Undip hanya berhasil menempati posisi kedelapan dengan tiga medali emas dan satu perunggu. Menurunnya Peringkat Undip Pada Pimnas XXVI di Mataram tahun 2013, Undip berada pada peringkat keenam. Namun, apabila melihat jumlah perolehan medali, Undip mengalami peningkatan. Pasalnya, tahun lalu Undip hanya membawa pulang dua medali emas, satu perak, dan satu juara favorit. Pada perhelatan akbar tersebut ketua kontingen PKM Undip yang juga Staf Ahli Pembantu Rektor III Undip, Abdul Syakur, menuturkan, “Memang saya sempat kecewa dengan dua tim kami yaitu PKMM dan PKMKC yang dinilai tim juri kurang meyakinkan,” ungkapnya. Meski mendali bertarung di kandang sendiri dan Undip tidak dapat menjadi juara umum, tetapi Abdul menilai peserta telah tampil maksimal. Hal ini dikarenakan kontingen Undip dalam Pimnas ke-27 sebelumnya telah diberi pelatihan selama tiga hari di Salatiga. Abdul menilai prestasi Undip di Pimnas meningkat sejak tahun 2011. ”Saya melihat tahun 2011 tim Undip berangkat ke Unhas, kita belum mendapatkan apa-apa,” ujar Abdul. Pada tahun 2012 jumlah PKM meningkat dan mulai mendapatakan medali, begitu pula di tahun 2013 dan 2014 ini, berhasil mendapatkan medali meski tak bertengger sebagai juara umum. “Jika dilihat dari semangat mereka (mahasiswa Undip –red) dan sampai sekarang itu saya melihatnya gairah untuk membuat PKM dan berprestasi itu tinggi,” tambahnya. (nq)

37


KABAR KAMPUS dok. KSEI

FEB Undip Buka Prodi Ekonomi Islam Oleh: Alwan Azhary dan Alphonso Yansen

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) pada tahun ajaran 2014/2014 membuka program studi (prodi) Ekonomi Islam. Pembukaan prodi ini menyusul tiga Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lain di Indonesia yang sudah terlebih dahulu membuka prodi Ekonomi Islam, yaitu Univerita Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Indonesia. Prodi tersebut secara resmi dibuka pada Selasa (16/9) dengan diselenggarakannya Seminar Ekonomi Islam bertajuk “Pengukuhan Ketahanan Pangan Indonesia melalui AEC (AlQuran Economic Community)”. Menurut Mohamad Nasir, Dekan FEB Undip, ide membuka prodi Ekonomi Islam muncul sejak tahun 2011 akan tetapi karena terkendala beberapa hal baik dari eksternal maupun internal. Kendala eksternal yaitu proses perizinan penyelenggaraan pendidikan kepada Dikti yang berubah dari Ekonomi Islam menjadi Ekonomi Syariah karena belum ada nomenklatur dan kodifikasinya. Hal ini membuat panitia perlu menyusun learning outcome yang juga membutuhkan waktu hampir setahun. Sementara itu, “secara internal, Undip sebagai perguruan tinggi yang besar, dari panitia ke fakultas kita kan butuh proses semacam kita membutuhkan surat dukungan senat itu kan butuh waktu yang lama,” ujar Darwanto, ketua panitia pembukaan prodi Ekonomi Islam. Dibalik Pembukaan Prodi Ekonomi Islam Pembukaan prodi Ekonomi Islam ini diakui Darwanto sebagai salah satu cara mencapai misi pengembangan ilmu. Pasalnya, seiring dengan perkembangan Ilmu Ekonomi dan kebutuhan sumber daya manusia dalam bidang Ekonomi Islam yang kian

“Kami ingin menyediakan sumber daya yang berkompeten dalam skala nasional maupun global yang kaitannya dengan Ekonomi Islam.”- Mohamad Nasir (Dekan FEB Undip). EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

pesat, Perguruan Tinggi perlu menyediakan sarjana-sarjana yang berkompeten di bidang tersebut. “Kami ingin menyediakan sumber daya yang berkompeten dalam skala nasional maupun global yang kaitannya dengan Ekonomi Islam,” jelas Nasir. Sementara itu, untuk mencapai visi tersebut, telah disiapkan kurikulum untuk menunjang proses belajar mengajar pada prodi Ekonomi Islam. Kurikulum tersebut merupakan modifikasi dari ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi. Sedangkan mata kuliah yang ditawarkan diantaranya Ekonomi Moneter Islam, Manajemen Keuangan Syariah, Auditing Syariah. Salah satu mahasiswa prodi Ekonomi Islam, Olifia Riftanisa menjelaskan, untuk mata kuliah semester satu sama seperti prodi lain, yang membedakan adalah adanya mata kuliah Pengantar Bisnis Syariah. Setidaknya kini telah disiapkan enam dosen dan rencananya akan mendapat tambahan tenaga pengajar dari Perguruan Tinggi lain. Maka tak heran apabila angkatan pertama prodi Ekonomi Islam ini hanya berjumlah 28 mahasiswa. Hal ini mengingat pertimbangan jumlah dosen yang terbatas yakni enam pengajar, agar rasio antara mahasiswa dengan dosen tidak timpang. FEB Undip pun mulai melakukan kerjasama dengan Bank Indonesia, perbankan syariah, Organisasi Kemasyarakatan Islam maupun Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) untuk mendukung pengembangan prodi baru ini. Gina Aisyah, mahasiswa baru prodi Ekonomi Islam, menuturkan memilih Ekonomi Islam sebagai bidang yang ia selami selama mengenyam pendidikan di bangku kuliah karena menurutnya pertumbuhan Ekonomi Islam di Indonesia terbilang pesat dari tahun ke tahun, tetapi ahli di bidang tersebut secara kuantitas masih kurang memadai. “Habis S1 mau cari beasiswa untuk program pascasarjana Ekonomi Syariah di London,” tambah Gina saat mengutarakan rencananya selepas menyandang gelar sarjana. Ia pun berharap di tahun-tahun selanjutnya, kuota untuk penerimaan mahasiswa prodi Ekonomi Islam ditambah. Dibukanya prodi Ekonomi Islam ini diharapkan Nasir dapat memberikan wacana baru bagi bangsa Indonesia dan peluang bisnis yang lain diluar ekonomi konvensional. Sementara Darwanto berharap dibukanya prodi Ekonomi Islam ini mampu menangkap aspirasi dari masyarakat atau stakeholder, terkait permintaan dari pasar. (nq)

38


KABAR

KAMPUS

Ketoprak Ala Dies Natalis Undip Oleh: Desti Marina A. dan Amirani H. Putri

Bahwa nama Diponegoro sebagai universitas yang layak, artinya bukan sekedar nama tetapi juga mengandung satu gerakan perjuangan dan scientic.

Salah satu rangkaian acara dies natalis Universitas Diponegoro (Undip) ke-57 ialah pentas seni ketoprak. Pentas yang berlangsung 23 Oktober 2014 lalu itu diperankan oleh Rektor Undip, Sudharto P Hadi (Pangeran Diponegoro) dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (Pangeran Mangkubumi). Pagelaran Ketoprak Spektakuler dengan Lakon Kumara Tegal Rejo, Pahlawan Goa Selarong tersebut dimulai pukul 19.00. Bertempat di Gedung Prof. Soedarto, acara ini terselenggara berkat kerjasama antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, mitra perbankan-Ngesti Pandowo, dan Undip. Acara dibuka dengan tari tradisional yang dibawakan oleh para dosen Undip. Tidak hanya Rektor Undip dan Gubernur Jawa Tengah, beberapa mitra Undip turut menampilkan aksi panggung di lakon ketoprak ini. Diantaranya, Seketaris Daerah Jawa Tengah, CEO Bank Jateng, CEO Bank BII, beberapa wakil dari mitra Undip lainya. Dihadiri pula oleh pemain legendaris Yati Pesek. “Bisa bayangkan seorang gubernur Jateng, Sekda Jateng main disana, yang nonton juga dari dinas banyak,” ungkap Muhammad Nur, Dekan Fakultas Sains dan Matematika yang juga ketua panitia dies natalis Undip ke-57. Selain itu, sivitas akademika Undip bahkan paguyuban seni juga turut memeriahkan pagelaran ketoprak. Ketoprak tersebut mengambil latar saat Belanda merencanakan akan membangun jalan dari pantai selatan hingga Kerajaan Mataram melewati Tegalrejo. Tegalrejo merupakan padepokan Pangeran Diponegoro bersama para kerabat dan pengikutnya. Mengetahui hal tersebut, Pangeran Diponegoro tidak terima. Ia berusaha mempertahankan wilayahnya. Perang

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

antara Belanda dan pasukan Diponegoro pun terjadi dan berakhir dengan kematian Kapten De Joung beserta pengikutnya. Muhammad Nur berharap, sivitas akademika khususnya, dan semua yang ada di Undip, menganggap bahwa nama Diponegoro sebagai universitas yang layak, artinya bukan sekedar nama tetapi juga mengandung satu gerakan perjuangan dan scientic. Maka, hendaknya tidak salah dalam pengelolaannya, apalagi sampai dipaksakan. “Pesannya adalah berani, jujur dan peduli. Itu adalah implementasi dari contoh. Harus bekerja dengan sungguh-sungguh,” ujar Muhammad Nur. Terpilih menjadi lakon Pangeran Diponegoro, Sudharto merasa terhormat menjadi tokoh utama untuk kedua kalinya. Tahun lalu, saat dies natalis ke-56, ia juga mendapat kesempatan menjadi pameran utama. Ia mengaku puas dengan antusisas penonton. “Senang sekali saya, saya kira ini adalah pertunjukan dengan jumlah penonton yang paling besar yang selama ini kita gelar. Apalagi jika mahasiswa yang banyak menonton,” ungkapnya. Sudharto berharap pesan yang disampaikan melalui pagelaran ketoprak ini dapat tersampaikan dan terinternalisasi di dalam kehidupan mahasiwa. Menurut Sudharto, acara ini memiliki bebeharapa tujuan. Pertama, sebagai bentuk silahturahim antar Undip dengan mitra kerja, baik mitra perbankan, pemerintahan, serta alumni. Kedua, sebagai bentuk uri-uri budaya agar seimbang didalam menuntutilmu serta mengembangkannya. “Ilmu dan teknologi kita bisa kembangkan menjadi ilmu teknologi yang berbudaya yang punya keharusan budi dan kampus kan bukan hanya tempat untuk olah pikir tapi juga olah rasa dan oleh hati,” tutur Sudharto. Anisa Nur Arifin, mahasiswa Kedokteran Undip yang hadir dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa pentas ketoprak ini merupakan sesuatu hal yang kreatif. “Untuk peringatan dies natalis kali ini itu kreatif banget soalnya ngajakinnya bukan hanya dari mahasiswa, tapi juga ngajakin dari professor, semua disatuin jadi satu, ngajakin mahasiswa berkolaborasi bersama dosendosennya,” ungkapnya. (nq)

39

Kunjungi! www.lpmedents.com

dok.Edents/Ami

Dies natalis merupakan sebuah acara perayaan atas perjalanan sesuatu. Dies natalis Universitas Diponegoro (Undip) ke-57 tahun ini mengusung tema “Otonomi Dalam Harmoni”. Serangkaian acara telah dipersiapkan mulai dari kegiatan yang terkait riset, pendidikan, aplikasi dalam masyarakat dan sosio-kultural. Beberapa kegiatan yang terkait dengan sosio-kultural antara lain, pentas seni, ketoprak, malam inagurasi, olahraga, dan kegiatan jalan sehat. Diketuai oleh Dekan Fakultas Sains dan Matematika, Muhammad Nur, dies natalis Undip diadakan mulai Juni hingga Desember 2014. Seluruh kegiatan tersebut merujuk Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berasaskan jujur, berani, dan peduli.


Kajian Jurusan

Integrated Reporting sebagai Bentuk Pengungkapan Perusahaan Terkini dalam Era Ekonomi Kreatif Oleh: Puji Harto, Ph.D.*)

Perkembangan bisnis yang semakin pesat dewasa ini memunculkan kebutuhan terhadap bentuk pelaporan perusahaan yang lebih komprehensif. Selama ini pihak perusahaan melakukan kebijakan dan praktik pelaporan melalui laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan. Pelaporan tersebut menyajikan performa yang dihasilkan manajemen dalam menciptakan nilai perusahaan (firm value) yang semakin meningkat. Pada perkembangan selanjutnya, peningkatan nilai perusahaan tidak hanya didasarkan pada penggunaan asset yang bersifat fisik. Justru asset yang tidak berwujud (intellectual capital) memegang peran yang tidak kalah penting. Perusahaan-perusahaan besar misalnya, memiliki keunggulan bersaing karena kekuatan merek dan reputasi perusahaan, ditunjang sumber daya manusia penuh bakat dan kreativitas dalam menghasilkan inovasi yang berkesinambungan. Melihat hal tersebut, maka bentuk pelaporan perusahaan yang hanya mendasarkan pada aspek keuangan dirasa kurang memadai lagi dalam memotret perkembangan bisnis.

perusahaan juga perlu memiliki strategi dan kebijakan bisnis yang memperhatikan aspek tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Kondisi perubahan eksternal yang memberikan dampak signifikan pada lingkungan bisnis juga tidak dapat diabaikan begitu saja. Peningkatan populasi penduduk, perubahan iklim global serta berkurangnya sumber daya alam memberikan tantangan riil terhadap pelaku bisnis. Konsekuensinya,

Proses evolusi bentuk pelaporan perusahaan yang telah berkembang secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah.

Meningkatnya kebutuhan akan pelaporan yang lebih luas ruang lingkupnya memunculkan bentuk pelaporan yang berkelanjutan (sustainability report). Laporan ini tidak hanya berkutat pada aspek finansial tetapi juga mengintegrasikan aspek tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan dalam menghasilkan kinerja yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Pada perkembangan terkini, dalam satu dekade terakhir, kontribusi sumber daya fisik hanya menyumbang seperlima dari nilai pasar bisnis. Oleh karena itu, bentuk pengungkapan yang menyajikan secara komprehensif aspek aset berwujud dan tidak berwujud serta aspek sosial dan lingkungan dengan diimbangi tata kelola yang baik menjadi kebutuhan para stakeholder bisnis yang semakin berkembang. Pada aspek inilah, kemudian muncul konsep pelaporan yang terintegrasi (integrated reporting).

Sumber: Fasan (2013)

Tabel 1

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

40


Kajian Jurusan

1. Modal finansial yaitu modal yang tersedia bagi organisasi untuk memproduksi barang dan jasa serta diperoleh melalui pembiayaan, seperti utang, ekuitas, hibah, atau yang dihasilkan melalui operasi dan investasi. 2. Modal manufaktur yaitu modal yang yang bersifat fisik (tangible/fixed asset) yang diciptakan oleh entitas dan digunakan dalam memproduksi barang dan jasa, contohnya gedung, peralatan, dan infrastruktur. 3. Modal intelektual yaitu asset tidak berwujud yang memberikan manfaat kompetitif, diantaranya paten, copyright, software, dan sistem organisasi. 4. Modal sosial yaitu aspek kelembagaan dan hubungan yang dibangun di dalam dan diantara kelompok serta stakeholder untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. 5. Modal manusia yaitu kemampuan seseorang dan motivasinya untuk berinovasi seperti kemampuan memahami dan menerapkan strategi organisasi. 6. Modal alam yaitu input terhadap produksi barang atau ketentuan mengenai suatu jasa. Konsep Integrated Reporting Istilah integrated reporting dikembangkan oleh satu lembaga internasional yang disebut International Integrated Reporting Council (IIRC). Lembaga ini terdiri dari berbagai unsur: sektor korporasi, investasi, akuntansi, sekuritas, peraturan, akademik, dan penetapan standar serta masyarakat sipil. IIRC telah mengembangkan kerangka integrated reporting dan persiapan kasus bisnisnya. Konsep pelaporan yang dikembangkan oleh IIRC berusaha untuk mengembangkan dimensi pelaporan keuangan perusahaan yang lebih komprehensif. Integrated reporting dapat

diartikan sebagai bentuk komunikasi singkat mengenai strategi, tata kelola, kinerja, dan prospek organisasi mengarah pada penciptaan nilai dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Sejalan dengan hal tersebut, proses penciptaan nilai dilakukan dengan stewardship capital, suatu pemeliharaan dan perluasan berbagai bentuk modal. Gambar 2 di bawah memperlihatkan bahwa pemanfaatan berbagai macam modal secara optimal akan berdampak pada peningkatan kinerja keuangan juga kinerja non keuangan, serta kinerja sosial dan lingkungan. Peningkatan kinerja akan meningkatkan nilai perusahaan sehingga berkontribusi pada pencapaian visi organisasi. Hal ini akan berjalan dengan baik jika ditopang dengan pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik pula (good corporate governance). Komunikasi salah satu bentuk pelaporan perusahaan yang dihasilkan IR akan bermanfaat bagi berbagai pemangku kepentingan. IR memberikan konteks yang lebih besar untuk data kinerja, menjelaskan bagaimana nilai informasi yang relevan cocok dengan operasi atau bisnis, dan dapat membantu proses pengambilan keputusan perusahaan dalam jangka panjang. IIRC sebagai lembaga yang menyusun kerangka kerja IR menyatakan bahwa terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai melalui IR. Pertama, IR memberikan pendekatan yang lebih kohesif dan efisien untuk pelaporan perusahaan yang mengacu pada rangkaian pelaporan yang berbeda dan mengomunikasikan berbagai faktor yang secara material memengaruhi kemampuan organisasi untuk menciptakan nilai dari waktu ke waktu. Selanjutnya, diharapkan dapat meningkatkan akuntabilitas dan pelayanan untuk dasar yang luas dari modal (keuangan, manufaktur, intelektual, manusia, sosial dan networking, serta alam) dan mempromosikan pemahaman tentang saling ketergantungan satu sama lain. Disamping itu IR menyediakan satu dukungan terhadap pemikiran terintegrasi untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada penciptaan nilai jangka pendek, menengah, dan panjang.

Sumber: IIRC (2013)

Kunjungi! www.lpmedents.com

Capital stewardship dioperasionalkan dengan mengurai konsep menjadi enam komponen sebagai berikut (IIRC, 2013):

Gambar 2

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

41


Kajian Jurusan Sumber: IIRC (2013) Hingga saat ini, belum terdapat standar baku mengenai format pelaporan IR. Pihak IIRC sampai sejauh ini sudah mengembangkan kerangka kerja IR dan salah satu karakteristik utama IR adalah sifatnya yang principle based. Hal ini berarti pihak IIRC hanya mengembangkan point-point pengungkapan yang pokok, sedangkan aspek teknis pelaporan diserahkan kepada pihak manajemen (Abeysekara, 2013). Sebagai konsekuensinya, sangat dimungkinkan apabila terdapat tingkat kustomisasi pelaporan yang tinggi dan komparabilitas antar perusahaan yang relatif rendah.

Gambar 3

Tabel 2

Gambar 3 menjelaskan bahwa kegiatan organisasi, interaksi, dan networking, adalah hasil dari berbagai investasi modal yang digunakan untuk memengaruhi dan memanfaatkan modal tersebut dalam sebuah siklus secara terus menerus. Modal adalah sumber daya dan digunakan serta dipengaruhi oleh organisasi, yang diidentifikasi dalam framework IR berupa enam kategori modal. Laporan terintegrasi bisa saja tidak mencakup keseluruhan modal, namun fokus pada modal yang relevan dengan entitas. Sedangkan inti dari proses penciptaan nilai adalah model bisnis suatu entitas, yang mengacu pada berbagai modal dan input lainnya dengan menggunakan kegiatan bisnis entitas, menciptakan output (produk, layanan, produk sampingan, limbah), dan hasil (konsekuensi internal dan eksternal untuk modal). Bentuk Pelaporan Integrated Reporting Laporan yang terintegrasi mencoba menyajikan aspek informasi finansial serta non finansial. Aspek non finansial dapat dibagi menjadi tiga kategori (Thiagarajan dan Baul, 2014) yaitu intangible assets (termasuk modal intelektual dan asset tidak berwujud lainnya); Key Performance Indicators (KPIs) sebagai indikator outcome dari proses bisnis perusahaan; dan metrik sosial dan lingkungan (corporate social responsibility) serta aspek good corporate governance.

Sumber: PWC (2012) Prospek dan Tantangan Sejauh ini, penerapan integrated reporting masih bersifat sukarela, kecuali pada negara tertentu seperti Afrika Selatan yang mewajibkan perusahaan publik untuk mengungkapkan pelaporan ini. Ke depan, peningkatan kebutuhan akan informasi yang lebih komprehensif akan menjadikan integrated reporting semakin berkembang. Pada kasus di Indonesia, hingga kini belum ada perusahaan yang menerapkan integrated reporting. Sedangkan perusahaan public, baru sampai pada pengungkapan sustainability reporting dan sedikit perusahaan yang menerapkannya. Belum diterapkannya IR dikarenakan pertimbangan benefit dan cost dari pengungkapan IR. Penyusunan laporan ini memerlukan biaya yang cukup besar sedangkan perusahaan belum merasakan manfaat yang signifikan dalam konteks pengguna laporan di Indonesia. Satu hal yang pasti, dalam era ekonomi kreatif dimana peran intellectual capital yang menciptakan ide, gagasan kreatif, serta inovasi, semua telah tercakup dalam integrated reporting. Diharapkan pada masa mendatang pihak regulator untuk mempertimbangkan IR sebagai bentuk pelaporan perusahaan yang relevan bagi stakeholder. (nq) *) Penulis merupakan pengajar jurusan Akuntansi, FEB Undip.

Gambar 4

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

42


Sosok

Andang Priharsanto: Penggebrak Kesadaran Identitas Kota

Oleh: Ika Natasya

"Tidak berbicara keuntungan tetapi bagaimana cara untuk mengembangkan kreatifitas anak melalui kerajinan tanah liat ini" Andang Priharsanto atau kerap disapa Pak Ndang adalah kepala sekolah sekaligus guru yang aktif mengajar di Sekolah Dasar Negeri Sambi. Di sela-sela kesibukannya, ia juga gencar mempromosikan kerajinan tanah liat kepada anak didiknya. Berikut kisahnya saat ditemui oleh reporter Edents di kediamannya yang berada di desa Krasak, Teras, Boyolali. Kapan usaha kerajinan tanah liat ini mulai dirintis? Ini sudah lama, kita membuat souvenir, gerabah, kita juga mengadakan penelitian masalah genteng dan bekerjasama dengan LIPI. Hal ini dilakukan untuk meneliti bagaimana cara mengatasi permasalahan pembakaran dan pengelolaan tanah yang kurang baik. Produksi di Singkil, Boyolali itu hanya sekali, dua kali pembakaran dan kurang memperhatikan kualitas. Kita membakar kembali dengan suhu 1100, 1200, 1300, sebenarnya kalau diteliti genteng produksi Singkil tersebut jika diglasir tidak ada masalah. Kita mempraktekkannya dan juga jadi. Mengapa Bapak memilih untuk mengembangkan usaha kerajinan tanah liat ini? Saya ingin membuat kawasan wisata kerajianan di Boyolali, memunculkan ciri khas kota ini. Contohnya, kreatifitas dari tanah liat yang berbentuk lele, sapi, buah pepaya, dan lain-lain.

dok. Edents /Ika

Adakah keahlian khusus yang dibutuhkan? Tidak ada, karena pembuatannya mudah. Ya dari tanah yang dikelola sedemikian rupa kemudian dicetak, dibakar, pewarnaan. Sayangnya komunitas dalam kerajinan ini belum terbentuk, anggotannya masih sedikit. Produk apa saja yang dihasilkan dari kerajinan tanah liat ini? Produk yang dihasilkan berupa souvenir, gerabah, karena waktu saya habis di SD jadi pengembangannya ya macammacam. Contohnya souvenir untuk hajatan, misalnya; bros, gantungan kunci, tempelan dinding, tempelan pintu. Biasanya kami membuat kerajinan bermotif kartun yang digemari anakanak seperti Doraemon dan Spongebob. Kalau untuk kegiatan

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

43


Sosok pramuka ya seperti pin pramuka. Apa saja bahan untuk membuat kerajinan ini dan apakah ada kesulitan dalam mencarinya? Bahannya dari tanah liat, decolit, clean, cat, glasir, tetapi glasir warna hitam dan merah sulit ditemui. Tidak ada kesulitan dalam mencari bahan, karena bahannya diperoleh dari tanah sekitar yang bagus atau membeli dari percetakan genteng kemudian diolah kembali menjadi kerajinan. Biasanya digiling ulang kemudian dibentuk sesuai cetakan yang diinginkan, cetakan ini pun dibuat sendiri dengan bahan baku gypsum. Pembuatan cetakannya saja memakan waktu cukup lama. Dimana Bapak memasarkan produk ini? Dulu pernah dipasarkan melalui internet tetapi karena keterbatasan pada tenaga kerja jadi kesulitan untuk menyanggupi. Padahal alat dan bahan sudah tersedia, bahkan ada alat bantuan dari pihak LIPI juga. Pembuatan produk ini juga bergantung pada pesanan, mau seperti apa bentuk, ukuran, dan jumlahnya. Kalau dalam masalah pemasaran sih saya memang tidak terlalu mempublikasikannya karena kekurangan tenaga kerja, takut tidak bisa menyanggupi pesanan yang terlalu banyak. Selain itu, diadakan pula outbond, seminar di sekolahan, seperti SD, SMP untuk mengenalkan kerajinan ini. Kita juga menjual produk ketika kegiatan itu tetapi tidak berbicara soal keuntungan. Bagi saya yang terpenting adalah mengenalkan kepada anak-anak kreatifitas melalui pelatihan-pelatihan yang kami adakan. Hasil karya ini juga diikut sertakan dalam berbagai pameran, dan ini sudah ada sanggar tetapi belum bisa mengisi karena keterbatasan biaya. Kalau ada pesaing yang banyak mau kita adakan pasar seni.

Mengapa memilih anak-anak sebagai sasaran untuk membuat kerajinan ini? Dulu berorientasi pasar kerja tapi karena banyak saingan industri jadi sasarannya anak SD. Selain itu juga untuk mengembangkan kreatifitas anak. Kalau ibu-ibu kan berorientasi pada uang sedangkan remaja pasti banyak yang memilih bekerja di pabrik, tetapi anak-anak tidak. Jika mereka bisa membuat suatu karya maka mereka akan senang dan menekuni kerajinan tanah liat ini. Selain itu, hanya dengan modal yang relatif kecil mampu mendapatkan keuntungan lima kali lipat. Kan bisa membantu mencari uang sendiri tanpa meminta orang tua dengan cara membuat dan memasarkan produk kreatif tersebut. Anak-anak SD juga dapat meneruskan keahliannya di SMP dan SMA bahkan bisa membuka usaha sendiri. Saya dan teman-teman saya berusaha terus untuk mempromosikan kegiatan ini agar diterima di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal. Di SD saya sih sudah saya terapkan, tinggal menunggu respon pihak sekolah lain saja mau tidak untuk menerapkan kegiatan ini sebagai muatan lokal mereka. Apa harapan Bapak ke depan terkait kegiatan ini? Saya berharap keterampilan ini mampu menjadi ciri di kota Boyolali, dari hal yang sepele namun bermanfaat. Saya juga berharap adanya bantuan dari masyarakat semua untuk berpartisipasi membentuk ekonomi kreatif ini supaya maju. Mengenalkan kreatifitas dari kecil sehinga tercipta pola pikir yang kreatif untuk masa depan. (nq)

dok. Edents/Ika

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

44


Pena Alumnus

Ekonomi Kreatif: Harapan Baru Oleh: Sri Bimo Ario Tejo*) Bicara ekonomi kreatif sama artinya dengan membahas realitas saat ini. Tak mengherankan jika Paul Romer (ekonom) menyebut ide adalah barang ekonomi yang sangat penting, lebih penting dari objek yang ditekankan di kebanyakan model ekonomi. Karenanya, ekonomi kreatif tidak akan ada habisnya. Contoh sederhana ialah industri film Hollywood. Berapa ratus produksi film dan musik serta kontribusi ekonomi yang dihasilkan dari industri tersebut di Amerika Serikat? Hal tersebut baru satu jenis bisnis berbasis kreativitas selain 13 bidang ekonomi kreatif lainnya yang dipetakan oleh Kementerian Perdagangan RI. Sementara di Indonesia, kontribusi ekonomi kreatif menurut pengamat pada periode 2002-2006 memberikan kontribusi rata-rata sebesar 4,74 persen terhadap PDB. Tujuh tahun berikutnya, industri kreatif Indonesia menyumbang 6,9 persen atau berada di posisi ke-tujuh. Lepas dari keluhan dan tantangan seperti minimnya akses pembiayaan, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan persaingan yang hebat dari produk asing, justru jangan menjadikan kita cengeng. Sudah bukan lagi masanya berlindung dibalik proteksi atau subsidi.

Terkait ekonomi kreatif, setidaknya terdapat enam alasan yang mendasari optimisme ekonomi kreatif di republik. Pertama, khasanah seni budaya dan alam serta kearifan lokalnya. Destinasi wisata Indonesia tidak hanya Bali, ada Raja Ampat, Kepulauan Anambas, Belitung, Lombok dan sebagainya. Di akar rumput juga tumbuh desa wisata yang mengakomodasi kearifan lokal. Misalnya, desa wisata Penting Sari, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman DIY. Agenda untuk berkunjung ke sana hampir dipastikan full book untuk menginap di home stay, menikmati seni dan wisata lainnya. Di bawah Doto Yogantoro, semua komunitas masyarakat dilibatkan untuk menjadi pemandu wisata (guide), juru masak, seniman hingga tukang parkir. Kedua, infrastruktur masa transisi menuju kondisi yang lebih baik. Lucu sebenarnya, apabila ingin menuju Samarinda dari Pontianak dengan moda pesawat harus keluar Kalimantan dahulu melalui Jakarta. Sayangnya angkutan kereta api baru ada di Jawa dan Sumatera. Namun, pada 12 Agustus 2014 lalu dilakukan pencanangan rel kereta trans Sulawesi. Hal ini merupakan sebuah langkah progesif. Bagaimanapun juga, infrastruktur menjadi fasilitator pergerakan barang dan manusia yang menunjang ekonomi kreatif.

Terkait ekonomi kreatif, setidaknya terdapat enam alasan yang mendasari optimisme ekonomi kreatif di republik.

Pertama, khasanah seni budaya dan alam serta kearifan lokalnya. Kedua, infrastruktur masa transisi menuju kondisi yang lebih baik. Ketiga, perkembangan ekonomi daerah *) Penulis merupakan Pemimpin Redaksi LPM Edents tahun 1989-1990 Saat ini bekerja sebagai Chief Financial Officer di PT. Sentra Logistik

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

45


dok.news.indonesiakreatif.net

Pena Alumnus Kelima, perbelakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Alasan ini jangan dilihat dari kacamata masalah, tapi dicermati dari teropong peluang. Ekspansi industri kreatif Indonesia berpeluang besar untuk masuk ke negara lain. Misalnya, ST 12. Grup musik ini masih eksis, namun tidak di Indonesia, melainkan di Malaysia. Penjualannya CD-nya banyak digemari termasuk bangsawan dari kerajaan Malaysia. Bahkan pedagang Malaysia banyak mengimpor garmen dari Bandung. Tidak mengagetkan bila jalur penerbangan Bandung-Kuala Lumpur tersedia. Kini di sektor infrastruktur mulai tumbuh kesadaran untuk mengintegrasikan transportasi dan logistik. Komunitas Supply Chain Indonesia atau Asosiali Logistik Indonesia pun mulai mengoptimalkan kereta api untuk angkutan barang jarak jauh dan diamini oleh Kereta Api Indonesia. Lihat saja, dari Jakarta ke Surabaya, pengangkutan barang dilakukan dengan moda trucking. Padahal di atas 1.500 km moda ini tidak efisien. Akibatnya, pantura jadi proyek abadi. Pengalaman pengangkutan barang dengan moda kereta api lead time JakartaSurabaya hanya memakan waktu sekitar 12-14 jam dengan double track-nya. Namun, akibat rusaknya jembatan Comal, waktu tempuh pengangkutan barang dengan mode trucking justru menghabiskan dua sampai tiga hari. Ketiga, perkembangan ekonomi daerah. Lepas dari kritikan APBD, sebenarnya telah terjadi proses pemerataan dan pertumbuhan di daerah. Bahkan pertumbuhan ekonomi justru terjadi di Indonesia Timur. Keempat, akses internet. Perkembangan ekonomi daerah memicu kreativitas pemerintah daerah dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) maupun memberikan pelayanan publik terbaik. Salah satu dampak dari pertumbuhan ekonomi daerah adalah teknologi internet. Sudah jamak, bahkan di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) untuk berkomunikasi dengan ponsel maupun internet dengan warnet sekalipun, jaringan terkadang bermasalah.

Keempat, akses internet. Kelima, perbelakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Keenam, kreativitas orang Indonesia.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

Keenam, kreativitas orang Indonesia. Kondisi bobrok jika dilihat secara positif justru menunjukkan kualitas kreativitas orang Indonesia. Leluconnya, bahwa dengan kepintaran orang Indonesia dalam lobby, maka di Indonesia paling banyak jenis uangnya. Tidak sekedar uang kartal dan giral, tapi ada uang pelicin, uang damai, dan sebagainya. Kreativitas ini juga memunculkan populasi profesi terbanyak di Indonesia, yakni calo. Ada calo proyek, calo anggaran, hingga calo karcis. Tentang Kreativitas Orang Indonesia Bicara kreativitas, penulis teringat obrolan dengan seorang pegawai KAI mengenai susahnya memberantas calo karcis. Alhasil, KAI menerapkan sistem pembelian tiket dengan KTP. Ternyata, langkah tersebut masih dicurangi. Dipesan atas nama calo, pada saat mendapat pembeli keberangkatan dibatalkan dan diganti atas nama penumpang yang baru meski terkena potongan 25 persen untuk pembatalan. Meski demikian, calo masih mendapatkan keuntungan. Maka, kemudian diberlakukan pembelian dengan KTP dan tidak dapat dibatalkan. Akan tetapi, tetap dapat diakali. KTP dicetak dalam jumlah banyak dengan nama calo dengan foto pembeli alias praktek pembuatan KTP palsu. Akhirnya pengembalian (refund) diberlakukan satu bulan kemudian agar modal kerja calo terganggu. Dan kini, diterapkan harga yang lebih mahal bila melakukan pemesanan tiket di loket. Cerita tersebut paling tidak menggambarkan kreativitas orang Indonesia. Sayangnya, orang Indonesia menghadapi kendala mentalitas yang sulit diatur, maunya jalan pintas, berpikir jangka pendek sampai pada hal tidak kompak secara kelompok. Hal ini yang mungkin disebut Jokowi perlu revolusi mental. Maka, untuk menyikapi mental bangsa Indonesia, alangkah lebih baik bila diadakan wajib militer sebagaimana Singapura atau Amerika. Hal ini dibuktikan dengan pengalaman John Eddy Dharmasoeka yang merombak budaya perusahaan dan kinerja HFN di Hangzhou dengan mewajibkan karyawan mengikuti latihan dasar kemiliteran. Akhirnya, ekonomi kreatif harus menjadi harapan. Dan harapan adalah penggerak perubahan. (nq)

46


Data dan Fakta

Statistik Para “Purnawirawan� Oleh: Alfa Farah, M.Sc.*) Sebelum menulis lebih jauh, penulis perlu mendefinisikan apa yang dimaksud dengan para purnawirawan. Para purnawirawan adalah mahasiswa-mahasiswa yang mengulang mata kuliah. Mereka mengulang mata kuliah tertentu karena alasan tidak lulus pada kelas sebelumnya atau ingin memperbaiki nilai. Sebagai pembanding purnawirawan adalah prajurit dua (prada), yaitu mahasiswa yang pertama kali mengambil mata kuliah. Penggunaan istilah ini mungkin kurang tepat tetapi penulis belum bisa menemukan istilah lain yang lebih mengena.

Gambar 1. Tingkat Kehadiran Hahasiswa

Penulis ingin menulis mengenai para purnawirawan ini karena melihat mereka memiliki perilaku yang unik. Pikiran rasional akan mengatakan bahwa para purnawirawan seharusnya lebih rajin dan serius dalam kuliah. Pertama,-mengikuti logika sederhana-seseorang yang gagal pada percobaan pertama akan berusaha keras agar tidak gagal pada percobaan berikutnya.

Ketiga, dalam upaya untuk lulus dengan IPK yang bagus, para purnawirawan menghadapi beberapa batasan, antara lain; waktu dan mata kuliah yang hanya ditawarkan pada semester tertentu. Hal ini menjadi lebih emergency bagi mereka yang sudah berada di “ujung tanduk� (mendekati DO –red). Jadi, jelas bahwa mengulang mata kuliah adalah bukan untuk coba-coba. Biayanya terlalu mahal untuk sekedar iseng-iseng Meski demikian, pengalaman di kelas seringkali menunjukkan hal yang sebaliknya. Para purnawirawan cenderung kurang bergairah dalam mengikuti perkuliahan. Beberapa cenderung duduk bergerombol di kursi paling belakang dan kurang disiplin dibandingkan prada. Begitu pula dengan capaian nilai para purnawirawan yang cenderung relatif lebih rendah. Untuk mengkonfirmasi hal tersebut, penulis mengumpulkan data dari kelas-kelas yang diampu selama 2009-2013. Nilai Para Purnawirawan Data yang penulis kumpulkan adalah data nilai di 21 kelas dengan jumlah nilai akhir sebanyak 1179 nilai (nilai E karena gagal proses tidak diikutsertakan), dan 213 diantaranya merupakan nilai para purnawirawan. Meskipun-tentu saja-penulis tidak dapat mengeneralisasi, tetapi hal ini sungguh menarik untuk disajikan dan didiskusikan. Di setiap kelas, purnawirawan berjumlah sekitar 5-25 persen. Hanya sebagian kecil yang jumlahnya di atas 30 persen. Secara umum, tingkat kehadiran para purnawirawan lebih rendah dibandingkan dengan prada, yaitu 87 persen berbanding 93 persen.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

Sumber: Simaweb (diolah, 2014) Dari kelas-kelas yang dikumpulkan datanya, hanya di 38 persen kelas, purnawirawan berhasil mencapai nilai A. Di 29 persen kelas terlihat bahwa nilai tertinggi yang berhasil dicapai oleh purnawirawan adalah C. Bahkan yang cukup memprihatinkan, masih ada purnawirawan yang bernilai D di 67 persen kelas dan bernilai E di 33 persen kelas. Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa masih saja ada purnawirawan yang tidak lulus mata kuliah. Sementara itu, dari jumlah nilai mengulang yang dikumpulkan, komposisi nilai mengulang menunjukan mayoritas purnawiran (40 persen dari nilai purnawirawan yang dikumpulkan) mendapatkan nilai C. Hanya sembilan persen yang berhasil mencapai nilai A dan hanya 22 persen yang mencapai nilai B. Sisanya, 28 persen, mendapatkan nilai D dan E. Hal ini menunjukkan bahwa mengulang kelas tidak selalu sama dengan perbaikan nilai Jika dibandingkan dengan prada, capaian nilai purnawirawan masih lebih rendah. Mayoritas prada berhasil mencapai nilai A dan B (sebanyak 56 persen). Hanya 11 persen mendapatkan nilai D dan E. Mengapa lebih buruk? Data yang terkumpul mengkonfirmasi bahwa secara umum performa purnawirawan relatif lebih rendah dibandingkan dengan prada. Hal ini tentu memunculkan pertanyaan mengapa purnawirawan berperforma lebih rendah? Mengapa pula ada purnawirawan yang mendapat nilai D dan E? Tentu saja, jawaban

47

Kunjungi! www.lpmedents.com

Kedua, ada opportunity cost ketika mengulang mata kuliah. Mengulang mata kuliah tanpa peningkatan nilai atau bahkan dengan nilai yang lebih jelek sama saja dengan membuang waktu. Padahal, aktivitas para purnawirawan yang banyak (misalnya; mengerjakan skripsi, kuliah, organisai dan bekerja) menjadikan waktu bernilai lebih tinggi dibandingkan para prada.


Data dan Fakta Gambar 2. Komposisi Nilai Mahasiswa Mengulang

Gambar 3. Komposisi Nilai Mahasiswa Baru

Sumber: Simaweb dan data penulis (diolah, 2014) atas pertanyaan-pertanyaan ini sepatutnya diperoleh dari para purnawirawan. Survei kecil perlu dilakukan untuk menggali jawaban. Sayangnya, penulis belum memiliki kesempatan untuk melakukan survei tersebut. Meski demikian, ada beberapa hal yang penulis duga menyebabkan purnawirawan berperilaku demikian. Pertama, purnawirawan berpikir dosen tidak akan tega untuk tidak meluluskan mereka. Para purnawirawan menganggap dosen pasti akan meluluskan mereka, apalagi jika mereka sudah berada di ujung tanduk. Para purnawirawan bisa jadi berpikir bahwa bagi dosen tidak meluluskan mahasiswa berarti tambahan beban untuk kelas-kelas di tahun selanjutnya. Oleh karena itu, bagaimanapun performa purnawirawan (kecuali “kebangetan�), probabilitas lulus akan selalu lebih tinggi. Dalam terminologi game theory, nilai D dan E terdengar seperti non-credible threat bagi para purnawirawan. Dengan demikian, insentif untuk serius menjadi rendah.

performa mahasiswa di kelas, bukan oleh hal lainnya. Standar yang sama pasti diterapkan untuk semua peserta kelas, tanpa memperhatikan apakah dia purnawirawan atau prada, apakah dia hampir DO atau mahasiswa semester satu. Nilai yang bagus adalah hadiah dari diri sendiri (bukan dari dosen) atas kerja keras yang telah dilakukan. Seperti halnya Presiden Jokowi yang mengulang-ulang kata kerja keras, penulis yakin keberhasilan, dalam hal apapun dan khususnya dalam belajar, tidak dapat dicapai tanpa kerja keras dan semangat. *) Penulis merupakan pengajar jurusan IESP FEB Undip

Kedua, purnawirawan memiliki beban kerja yang lebih banyak. Para purnawirawan biasanya sedang dalam tahap menyelesaikan skripsi. Beberapa bahkan mungkin telah bekerja. Artinya, kuliah bukan lagi menjadi fokus utama sehingga konsentrasi dalam mengikuti kuliah menjadi berkurang. Ketiga, tingkat konsentrasi dalam menyerap materi kuliah melemah karena merasa pernah mendapatkan materi tersebut sebelumnya. Seseorang yang telah mengetahui suatu informasi akan cenderung meremehkan ketika informasi yang sama disampaikan kembali dalam kesempatan berikutnya. Dalam bahasa sederhana, para purnawirawan akan berkata “ah ini sudah pernah, sudah tahu, sudah paham�. Terakhir, beberapa purnawirawan memang coba-coba. Nah, purnawirawan seperti ini biasanya telah lulus pada kelas sebelumnya. Mereka iseng-iseng mengulang kelas, siapa tahu nilai berubah. Sekali lagi, penulis tentu tidak bisa mengeneralisasi. Meski demikian, data yang penulis kumpulkan menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengulang bisa saja tidak lulus. Nilai D dan nilai E adalah credible threat. Tidak ada garansi lulus bagi para purnawirawan. Nilai akhir kelas ditentukan oleh seberapa bagus

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

dok.pribadi

48


KOLOM PU

Nasionalisme Mempersatukan Perbedaan Oleh: Wenny Adelia Agasi*)

Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita Tanah air pasti jaya untuk selama-lamanya Indonesia pusaka, Indonesia tercinta Nusa bangsa dan bahasa Kita bela bersama

Lirik lagu Satu Nusa Satu Bangsa karya L. Manik mengingatkan bahwa negara ini merupakan satu kesatuan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lagu tersebut mengajarkan para pendengarnya mengenai nasionalisme, sebuah paham kebangsaan. Sayangnya, apakah interpretasi terhadap nasionalisme yang berkembang dewasa ini sudah tepat? Ataukah nasionalisme hanya sebuah slogan untuk membungkus kepentingan tertentu?

Menurut Ernest Gellenervia, nasionalisme adalah suatu prinsip politik yang beranggapan bahwa unit nasional dan politik seharusnya seimbang. Selanjutnya, apabila menengok Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nasionalisme diartikan dengan paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri (sifat kenasionalan). Sementara itu, Ernest Renan mendefinisikan nasionalisme sebagai kemauan untuk bersatu tanpa paksaan dalam semangat persamaan dan kewarganegaraan. Namun demikian, dapat ditarik kesimpulan, bahwa nasionalisme merupakan paham yang akan membawa setiap jiwa Indonesia pada persatuan. Dewasa ini, banyak pihak mengatasnamakan nasionalisme atas tindakan yang dilakukannya. Ada pula yang menggunakan nasionalisme untuk menjual produk-produk tertentu. Pun, menjadikan nasionalisme sebagai alat promosi dalam menyampaikan visi misi di ranah perpolitikan. Akan tetapi, sudah bukan lagi saat yang tepat untuk menjadikan nasionalisme sebagai tameng pelindung kepentingan pribadi. Menjadi tidak pantas rasanya jika nasionalisme yang mengandung makna persatuan, hanya dijadikan jargon tanpa arti. Jangan

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

biarkan masyarakat terbelenggu dalam makna nasionalisme yang diinginkan oleh pihak tertentu. Biarkanlah masyarakat mengerti bahwa nasionalisme merupakan sebuah paham untuk mempersatukan bangsa. Rasa Nasionalisme Bangsa yang Mulai Luntur Semakin berkurangnya pemahaman mengenai nasionalisme dari akar rumput akan memicu pudarnya semangat persatuan dan kesatuan. Padahal telah dijabarkan sebelumnya bahwa nasionalisme-lah yang akan mempersatukan bangsa. Persatuan merupakan hal penting dalam keberlangsungan kehiduapan negara-bangsa, karena Indonesia merupakan potret negeri yang memiliki keanekaragaman suku, ras, agama, dan kebudayaan. Bila perbedaan tersebut tidak dapat disatukan maka Indonesia dapat terpecah belah. Sehingga, semakin pudarnya rasa nasionalisme memungkinkan berkurangnya kadar persatuan bangsa. Sadarkah bahwa (mungkin) bagian yang menyebabkan lunturnya nasionalisme bangsa adalah jiwa-jiwa yang bermukin di dalamnya? Hal ini tercermin dari sikap masyarakat dalam memaknai beberapa hal penting. Contohnya, berapa banyak masyarakat Indonesia yang masih memasang bendera di depan rumah ataupun kantor saat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia atau mengikuti upacara dengan khikmad? Apakah kita termasuk rakyat yang dengan suka rela mengibarkan bendera saat HUT RI? Mungkin ini hanya bagian kecil yang dapat menginterpretasikan nasionalisme yang dimiliki seseorang. Tetapi bukankah terkadang sesuatu yang kecil dapat berdampak besar. Contoh lainnya, apakah benar masyarakat Indonesia benar-benar mengamalkan

49

Kunjungi! www.lpmedents.com

dok.pribadi

Nasionalisme Bukan Sekedar Jargon Saat ini, istilah nasionalisme sering dikemukakan oleh berbagai pihak. Nasionalisme digunakan sebagai pengemas untuk melengkapi tujuan dan maksud tertentu. Kemudian, mungkinkah nasionalisme justru digunakan sebagai alat promosi oleh pihak yang mempunyai kepentingan tertentu? Jawabnya adalah mungkin. Bahkan nasionalisme tak jarang digunakan sebagai jargon oleh beberapa kalangan.


KOLOM PU Pancasila dalam kehidupan sehari-hari? Tanyakan jawabnya pada diri masing-masing. Memudarnya rasa nasionalisme dapat dipicu oleh faktor internal dan eksternal. Terdapat beberapa faktor internal yang mengakibatkan berkurangnya nasionalisme bangsa. Pertama, adanya kekecewaan terhadap penyelenggaraan negara yang dinilai tidak baik oleh masyarakat seperti maraknya kasus korupsi, penggelapan uang, dan penyalahgunaan kekuasaan. Kedua, mulai berkurangnya penanaman paham nasionalisme di lingkungan masyarakat sejak dini. Ketiga, mulai memudarnya optimisme di kalangan pemuda karena ketertinggalan Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan apabila dibandingkan dengan negara lain. Sehingga, para pemuda tidak lagi bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Keempat, mulai berkembangnya etnosentrisme yaitu paham yang menagungkan suatu suku dan mengangapnya lebih baik dibandingkan dengan suku-suku yang lain. Sementara itu, faktor eksternal yang mempengaruhi memudarnya nasionalisme bangsa yaitu adanya arus globalisasi. Arus globalisasi secara langsung maupun tidak akan berimbas pada kebudayaan yang berkembang di suatu negara. Globalisasi memungkinkan terjadinya transfer budaya, misalnya budaya barat yang mulai berkembang di Indonesia. Padahal tidak semua budaya barat cocok untuk diterapkan di Indonesia yang masih memegang prinsip ketimuran. Sehingga, ketika masyarakat lebih memilih budaya barat yang tidak tepat maka akan berdampak turunnya moralitas bangsa dan dapat mengurangi rasa hormat terhadap budaya sendiri. Lalu, berkembangnya paham liberal yang menekankan sikap individualis. Padahal, seperti diketahui bersama, bahwa nasionalisme menekankan persatuan yang menghindari individualisme. Penjelasan mengenai faktor yang menyebabkan berkurangnya rasa nasionalisme dapat terus berkembang. Oleh karena itu, jangan hanya berdiam diri dan terpaku dalam keterpurukan dengan membiarkan nasionalisme bangsa hilang. Optimisme harus tetap dipupuk karena tetap ada pihak yang memelihara jiwa nasionalisme dalam dirinya. Hal inilah yang perlu ditularkan ke seluruh masyarakat Indonesia. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Perwujudan Nasionalisme Keprihatinan terhadap memudarnya nasionalisme bangsa belakangan ini seharusnya memicu banyak pihak untuk segera bertindak. Hal tersebut perlu dilakukan agar masyarakat tidak kehilangan kebanggaannya sebagai bagian dari negara-bangsa Indonesia. Sehingga, rasa nasionalisme harus terus ditanamkan sejak dini kepada setiap generasi. Selain itu, dibutuhkan solusi agar masalah ini tidak berlarut-larut. Solusi agar kecintaan pada negara-bangsa terus tumbuh ialah dengan menanamkan serta mengamalkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika di setiap sendi kehidupan masyarakat. Tak dapat dipungkiri bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang diberkahi keberagaman dalam lingkungan masyarakatnya. Sehingga diperlukan pemersatu agar Indonesia tidak bernasib sama seperti halnya India yang terpecah ketika terbebas dari Inggris. Perpecahan di India pada masanya dipicu perbedaan agama dalam masyarakatnya yang berimplikasi pada perang saudara. Akhirnya, masyarakat muslim India menjadi Pakistan. Sebenarnya Indonesia bukan tidak pernah mengalami perpecahan, hal ini terjadi ketika Timor-Timor (sekarang Timor Leste) lepas dari bingkai NKRI. Kemudian Gerakan Aceh Merdeka

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

(GAM) yang juga ingin memisahkan diri dari Indonesia. Hal-hal seperti ini harus dicegah dengan mempersatukan bangsa melalui dasar negara tempat dimana semua keberagaman berpijak, Pancasila. Selain Pancasila, yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia adalah semboyan Bhinneka Tunggal Ika pada lambang negara Republik Indonesia, Burung Garuda. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika berasal dari kitab sutasoma karangan Mpu Tantular yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Walaupun terdapat beragam suku, ras, agama, bahasa, dan lain sebagainya namun Indonesia tetap satu kesatuan: sebangsa dan setanah air. Dengan demikian, Bhinneka Tunggal Ika berkolerasi dengan nasionalisme yang menuntun masyarakat pada persatuan. Pemahaman akan makna Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika juga harus ditekankan sebagai sistem yang memberi pedoman dalam keberagaman. Yakni, bagaimana setiap unsur harus berjalan sesuai dengan status, kedudukan, dan perannya dalam satu kesatuan yang disertai dengan kewajiban dan hak. Karena itu pendidikan akan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika masih relevan. Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika wajib dikenalkan, diajarkan, dan terpenting diamalkan. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika bukan menghapuskan perbedaan dan bukan pula mempertentangkan perbedaan, akan tetapi mengakui perbedaan dan menempatkannya secara proporsional yang dekat dengan keadilan. Dengan kata lain, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika adalah perwujudan nasionalisme. Melalui Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika pemahaman akan persatuan dari akar rumput didapat. Maka sudah semestinya masyarakat paham bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Tak ada paksaan untuk menghilangkan keunikan dari setiap perbedaan yang ada. Keberagaman dalam suatu negara merupakan sesuatu yang wajar karena pada dasarnya menusia memang berbeda. Perbedaan juga harus dipandang sebagai sesuatu yang berharga. Dari perbedaanlah masyarakat dapat belajar bertoleransi dan saling menghormati. Tunggu apa lagi, saatnya bahu membahu untuk mempererat persatuan bangsa melalui nasionalisme. (nq)

*) Penulis adalah Pemimpin Umum LPM Edents Tahun 2013/2014

50


EPILOG

Apalah Arti Potensi Tanpa Naungan?

dok.antaranews.com

Oleh: Nurul Qolbi*)

Percepatan perkembangan ekonomi kreatif Indonesia tak lepas dari arahan strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025. Pun dalam pengembangannya-lima tahun ke depan-tak lepas dari tahapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) ketiga tahun 2015-2019, yaitu memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu dan teknologi yang berkembang pesat (dilansir dari parekraf.go.id [diakses Sabtu, 1/11]). Mengacu pada hal tersebut, maka industri kreatif dapat diartikan sebagai industri berbasis pemanfaatan kreativitas, keterampilan, dan bakat untuk menghasilkan serta mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu dalam rangka menciptakan lapangan kerja yang kemudian bermuara pada peningkatan kesejanteraan. Sejak disusunnya “Indonesia Design Power� pada tahun 2006 atas instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kontribusi ekonomi kreatif dalam perekonomian terus meningkat. Tahun 2013, ekonomi kreatif-15 sub sektor-menyumbang 7.05 persen dari keseluruhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Bahkan laju pertumbuhan ekspornya juga meningkat, dari 4.71 persen di tahun 2012 menjadi 8.01 persen pada tahun 2013. Hal ini merupakan sinyal bagi pemerintah, bahwa ke depan, pengembangan ekonomi kreatif layak untuk ditimbang. Pasalnya, ekonomi kreatif dapat menjadi sektor penggerak yang mampu menciptakan daya saing bagi sektor lain pun bagi republik. Tantangan sebagai Peluang Hadirnya ekonomi kreatif sebagai alternatif baru dalam pengembangan sektor industri non-manufaktur memberikan peluang bagi Indonesia. Meski demikian, setidaknya terdapat tujuh isu strategis yang perlu mendapatkan perhatian terkait pengembangan ekonomi kreatif. Ketujuh isu tersebut ialah (1) ketersediaan sumber daya-orang-kreatif yang potensial dan kompetitif; (2) ketersediaan sumber daya alam yang berkualitas, beragam, dan kompetitif; serta sumber daya budaya yang dapat diakses secara mudah; (3) industri yang berdaya saing,

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

tumbuh, dan beragam; (4) ketersediaan pembiayaan yang sesuai, mudah diakses dan kompetitif; (5) perluasan pasar bagi karya kreatif; (6) ketersediaan infrastruktur dan teknologi yang sesuai dan kompetitif; serta (7) kelembagaan yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif. Apabila ditarik benang merahnya, terdapat lima tantangan dalam ekonomi kreatif, yakni sumber daya (manusia, alam, dan budaya), industri, pembiayaan, infrastruktur dan teknologi, serta pemasaran. Keberadaan orang kreatif dibutuhkan sebagai sumber utama dalam menghasilkan produk kreatif yang berdaya saing. Sebab, produk kreatif bukan sekedar produk yang didasarkan pada gagasan seni dan budaya, tetapi juga berasal dari gagasan intelektual dan pengetahuan. Untuk itu diperlukan pengembangan talenta dan modal intelektual dalam rangka menangkap peluang ekonomi kreatif (Simatupang, 2008). Sementara itu, ide tanpa dukungan faktor produksi tak akan nyata adanya (berwujud produk –red). Dibutuhkan pula sumber daya alam pun budaya yang mudah diakses menjadi pelengkap bagi perkembangan ekonomi kreatif. Di lain sisi industri kreatif butuh sokongan teknologi untuk meningkatkan kapasitas produksi dan mencapai efisiensi. Maka, untuk meningkatkan peran teknologi diperlukan upaya untuk meningkatkan produktivitas modalnya. Kini, dukungan finansial dalam proses prosuksi mulai tak lagi sulit. Pembuatan nota kesepahaman antara pelaku ekonomi kreatif dengan investor dan sponsor dapat menjadi salah satu alternatif pembiayaan. Selain itu, juga mulai berkembang modal ventura, yakni investasi dalam bentuk pembiayaan berupa penyertaan modal ke suatu unit usaha. Dalam hal ini, pemberi modal bertidak sebagai pasangan usaha (investee company) selama periode waktu tertentu. Umumnya, investasi dalam bentuk modal ventura dilakukan dengan menukarkan modal tunai dengan sejumlah saham perusahaan mitra. Modal ini juga mencakup pemberian bantuan manajerial dan teknikal. Selain itu, kredit perbankan dengan bunga ringan bahkan pembiayaan tanpa jaminan dapat ditempuh sebagai solusi atas ketidaktersediaan modal.

51


EPILOG Tak hanya itu, perlu disusun perencanaan pemasaran untuk menjajakan karya kreatif. Penyusunan strategi pemasaran ini diperlukan agar produk kreatif memperoleh tempat di pasar, baik dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga dalam hal ini industri yang berdaya saing bertindak sebagai kunci. Industri yang lesu dan tak bergairah akan menghambat proses perluasan pasar. Infastruktur juga berperan dalam distribusi produk kreatif. Sayangnya, transportasi dalam negeri hingga kini tidak terintegrasi secara menyeluruh sehingga dapat menghambat penyaluran barang dan jasa ke tangan konsumen. Karena fakta dilapangan memperlihatkan akses jalan raya yang rusak di sanasini serta tepian jalan digunakan sebagai tempat untuk berjualan. Tak heran bila World Economic Forum (2011-2012) menempatkan kualitas infrastruktur Indonesia secara keseluruhan di posisi ke-82 dari 134 negara. Peran Kelembagaan Pada masa pemerintahan SBY, dibentuklah nomenklatur ekonomi kreatif dalam kementerian. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dapat dilihat sebagai langkah awal guna mempercepat pengembangan ekonomi kreatif pun dalam rangka mewujudkan Indonesia yang berkualitas hidup, berbudaya, berdaya saing, kreatif, dan dinamis secara berkelanjutan. Sayangnya, apa yang telah dirintis pada masa pemerintahan SBY tidak dilanjutkan oleh Presiden Joko Widodo walau industri kreatif telah menyumbangkan pendapatan negara sebesar 614 triliun rupiah.

Belakangan ini terdapat usulan dibentuknya Badan Ekokraf (Ekonomi Kreatif ) yang berfungsi untuk melanjutkan tugas dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Melalui badan ini, diharapkan dapat menaungi kehidupan ekonomi kreatif yang semakin hidup namun tak punya asa. Sebab keberadaan suatu lembaga di tataran pemerintah yang menaungi ekonomi kreatif diperlukan guna menjawab tantangan ke depan. Pun dalam rangka mengayomi para pelaku yang bergerak di bidang ini agar dapat terus mengembangkan diri sehingga kontribusinya dalam perekonomian semakin meningkat. (ar)

*) Penulis merupakan Pemimpin Redaksi LPM Edents tahun 2013/2014

dok.news.indonesiakreatif.net

Hilangnya nomenklatur ekonomi kreatif dalam perekonomian seolah mematikan potensi yang ada. Karena ekonomi kreatif memiliki potensi besar sebagai sektor penggerak perekonomian nasional. Kekayaan sumber daya manusia, sumber daya alam, dan kekhasanahan budaya Indonesia akan nampak sia-sia bila tidak dioptimalkan. Lantas setelah penghapusan

nomenklatur ekonomi kreatif di kementerian, siapa yang akan menaungi kegiatan ekonomi kreatif? Siapa pula yang bertanggungjawab atas tumbuh kembangnya ekonomi kreatif? Pelaku ekonomi kreatif akan mendapatkan jalan buntu baik dari segi perizinan, pengaduan, dan lebih parah lagi semangat untuk terus menghasilkan karya kreatif akan mati. Tidak ada dorongan dan bantuan bagi pelaku ekonomi kreatif.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

52


Resensi

THE MAZE RUNNER: ‘The Boys Survived of The Labyrinth’ Oleh: Saula Fitria Rilis Durasi Genre Sutradara Pemain

: 19 Oktober 2014 : 113 menit : Aksi-fiksi ilmiah : Wes Ball : Dylan O'Brien Thomas Brodie-Sangster Ki-hong Lee Kaya Scodelario

Glade dihuni oleh banyak remaja, semuanya memiliki pekerjaan khusus. Peraturan di Glade menyebutkan, semua orang diwajibkan melakukan pekerjaan sesuai dengan instruksi yang telah diberikan. Tidak ada yang boleh bermalas-malasan tanpa terkecuali. Pelanggaran akan mendapatkan sangsi berupa kurungan dalam lumbung tanpa diberi makan. The Maze Runner merupakan film aksi-fiksi ilmiah yang diproduseri Wes Ball dan diluncurkan oleh 20th Century Fox. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama, ‘The Maze Runner’ karya James Dasher. Rilis 11 September 2014 di Meksiko dan 19 September 2014 di Amerika Serikat, film ini dibintangi oleh Dylan O'Brien sebagai pemeran utama, Kaya Scodelario sebagai Theresa, dan seorang aktor berkebangsaan Korea, Ki-Hong Lee, serta beberapa aktor lainnya seperti Thomas Brodie-Sangster, Anish Surepeddi, dan Will Poulter. Film yang ditunggu peluncurannya terutama oleh para pembaca novel terkait, bercerita seorang pemuda bernama Thomas (Dylan O’Brien) yang sadar dari pingsan di dalam sebuah lift berkarat saat sedang meluncur cepat ke atas dengan dikejar hewan-hewan yang tak diketahui jenisnya. Ia keluar dari lift dengan disambut banyak remaja laki-laki ditengah sebuah lembah yang dipagari dinding-dinding kelabu sangat tinggi. Di memorinya hanya tersisa siapa namanya dan suara-suara dalam pikirannya yang mengatakan “WIKCED is Good”. Di dalam lembah berpagar dinding labirin (Maze), dibuat sebuah bentuk pemerintahan masyarakat yang berdomisili di lembah (Glade) dan anggotanya disebut Gladder. Pemimpin para Gladder tersebut adalah seorang pemuda berkulit hitam bernama Alby (Aml Ameen) yang merupakan penduduk pertama dari Glade. Alby memberikan tour singkat pada Thomas, sambil mengatakan bahwa kehilangan ingatan saat pertama kali terbangun dalam lift dan hanya mengingat namanya adalah hal wajar bagi setiap Gladder. Pemimpin Glade kedua Newt (Thomas Brodie-sangster) mengatakan pada Thomas bahwa Alby bisa menjadi pemimpin para Gladder karena dirinyalah orang yang dikirim pertama kali ke dalam Glade. Pun merasakan sunyinya berada dalam Glade seorang diri selama sebulan. Di sore harinya, Thomas melihat beberapa pemuda keluar dari celah yang menghubungkan lembah dengan labirin, Chuck (Blake Cooper), seorang Gladder termuda memberitahunya bahwa mereka adalah Runner. Para Runner merupakan Gladder yang terkuat dan tercepat sehingga dapat selamat keluar dari labirin sebelum celah tertutup saat hari mulai gelap.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

Seiring waktu, Thomas mengetahui bahwa anak-anak tersebut telah berusaha keluar dari labirin selama dua tahun dengan segala daya dan upaya yang dapat mereka pikirkan. Sengatan dari Grievers dapat mengembalikan ingatan mereka dari masa lalu. Akan tetapi beracun dan dapat meningkatkan hormon adrenalin sehingga jika tidak terkendali para korban yang tersengat dapat membunuh kawannya senidiri. Setiap bulannya, seorang anak baru dikirim melalui lift, tetapi belum genap sebulan setelah kedatangan Thomas seorang gadis tiba-tiba dikirim dengan secarik kertas ditangannya. Kertas tersebut bertuliskan bahwa ia adalah yang terakhir, setelah mengucapkan nama Thomas gadis itu pingsan dan dinyatakan koma. Thomas menyadari dirinya dapat mendengar gadis itu berbicara di kepalanya dan ketika ia terbangun, mereka bersatu bersama dengan lainnya mencoba mencari cara untuk melarikan diri. Film The Maze Runner memiliki beberapa kelemahan, seperti promosi film. Hal dibuktikan dengan tidak banyaknya jumlah penonton yang tidak mengetahui jenis film sebelum film diputar. Selain itu, alur dalam film ini pun dirasa terlalu cepat dan cukup membingungkan penonton. Seperti penceritan tentang masa-masa suram dalam Glade sama sekali tidak memunculkan kilas balik masa tersebut, sehingga mengharuskan para penonton untuk mengimajinasikan sendiri adegan tersebut. Padahal tidak semua penonton sudah membaca novel James Dsahner. Meskipun terdapat beberapa kelemahan, seperti semua film yang ada, The Maze Runner pun memiliki kelebihan yang dapat membuat penonton tidak menyesal telah membeli tiket. Visual dalam film tersebut sanggup menampilkan karakter mencekam sesuai tema dengan penggambaran dinding kelabu yang retak ditumbuhi tanaman rambat dan telah berumur, terutama penampakan Griever: separuh monster berlendir dan separuh robot laba-laba mekanik. Audio yang disajikan juga dirasa pas dengan plot yang ada. Pada plot-plot mencekam audio yang ditampilkan sanggup membuat penonton terkesima dan menjerit sama halnya ketika menonton film horor, tidak hanya itu para aktor yang membintangi pun sesuai dengan pencitraan James dalam novelnya. (nq)

53


Review Tugas tersebut mulanya ditolak oleh Hanum demi membela keyakinannya dari opini yang memojokkan Islam. Namun, akhirnya disanggupi dengan keyakinan bahwa tugas ini diberikan kepadanya bukan karena kebetulan semata. Bahwa gagasan “Would the world be better without Islam?” ini bisa sekaligus dijawab tidak dengan dirinya sebagai penulisnya. Bagaikan sebuah kebetulan, Rangga juga ditugaskan oleh Profesor Reinhard, atasan di universitas tempatnya bekerja, untuk mengikuti konferensi di Washington D.C.

Ketika Faktanya, Islam, dan Amerika Tak Terpisahkan Judul Buku Penulis Penerbit Terbit Tebal Buku Peresensi

: Bulan Terbelah di Langit Amerika : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra : PT. Gramedia Pustaka Utama : Juni, 2014 : 344 halaman : Muslimah Mahmudah

Bulan Terbelah di Langit Amerika merupakan novel fiksi yang akan membawa pembaca ke kejadian nyata seperti dalam tragedi World Trade Center (WTC). Sebuah tragedi yang membuat Islam mendapatkan julukan teroris hingga melekat bagi tiap penganutnya. Penyakit tersebut menular dari satu negara ke negara lain. Dunia begitu sensitif dan agama tersebut divonis sebagai pihak yang bertanggung jawab atas segala bentuk terorisme di muka bumi. Seolah dunia telah mengidap Islamophobia berjamaah. Penulis bukan hanya membawa pembaca kepada khayalan namun melihat fakta yang ada. Beberapa kisah yang terkandung didalamnya terinspirasi dari berbagai berita di media maupun video dari youtube. Kisah-kisah tersebut kemudian dirangkai secara apik oleh penulis hingga terasa begitu nyata. Buku ini merupakan perpaduan berbagai dimensi genre buku: drama, fakta sejarah dan ilmiah, traveling, spiritual, serta fiksi. Petualangan penulis diawali saat Hanum ditugaskan oleh bosnya, Gertrude Robinson untuk pergi ke New York dan menulis sebuah artikel yang mungkin bisa menyelamatkan Heute ist Wunderbar-koran tempat mereka bekerja-dari kebangkrutan. Sebuah artikel luar biasa yang menceritakan tentang tragedi 9/11 dengan bertema “Would the world be better without Islam?”

EDENTS

Volume 2 Edisi XXI Tahun 2014

Hanum dan Rangga akhirnya terbang ke Amerika bersama, tetapi dengan misi berbeda. Hanum bertugas untuk menyelesaikan tugas kewartawanannya. Lain halnya dengan Rangga yang bertandang ke Amerika untuk mengikuti konferensi ilmiah. Meski misi keduanya berbeda ternyata mereka dipertemukan dengan Philipus Brown, seorang pengusaha dan penderma yang juga korban black Tuesday 9/11. Semua terkuak ketika Philipus Brown bercerita tentang kisah di balik tragedi nahas itu. Dari perbincangan inilah semua kesaksian dan teka-teki yang selama delapan tahun ini tersimpan akan tersingkap. Pun menjalin cerita yang tak akan disangka-sangka. Apakah pertanyaan Would the world be better without Islam? akan menemukan jawabannya? Aktual tidaknya sejarah dan fakta ilmiah yang diungkap di buku ini dikatakan penulis jika semua pemaparan yang terkait masih menuai perdebatan, ditambah lagi dengan jenis novel fiksi. Bagian terpenting dalam buku ini ialah saat pembaca mampu mengambil manfaat yang terkandung didalamnya. Sebab sang penulis berhasil membuat ikut larut ke dalam kisah didalamnya. Sebuah buku tentang kisah perjalanan yang sarat akan makna dan menjadikan seorang muslim semakin mencintai Islam. Di awal cerita, pembaca diajak untuk flashback kejadian runtuhnya World Trade Center. Diceritakan pula keinginan seorang lelaki berwajah Arab agar dapat pulang lebih awal demi istri dan buah hatinya yang baru lahir. Lalu, cerita terus berlanjut hingga saat Hanum diberi tugas ke Amerika dan mengalami pertualangan di New York dan Washington D.C. Namun, alur yang maju mundur ini terkadang membuat cerita tidak bersifat bebas. Ketika pembaca tertinggal beberapa bagian halaman saja, ceritanya pun terasa berbeda. Selain itu, pembaca terkadang mendadak bingung dengan alurnya. Ada bagian cerita yang tiba-tiba menjadi membosankan, terlebih kala penulis memaparkan sejarah Amerika. Dibalik alur cerita tersebut, buku ini menjadi wajib dibaca karena tak hanya inspiratif, namun menyuguhkan sejarah hubungan Islam dan Amerika. Bercerita tentang suku Melungeon, Thomas Jefferson, dan Al-Qur’an, serta potongan surat AnNisa yang tertulis di salah satu pintu gerbang Fakultas Hukum, Harvard USA. Selain itu, novel ini juga mengungkapkan fakta bahwa Christophorus Colombus sebenarnya bukan penemu Benua Amerika. Novel yang terlihat identik dengan Islam ini tak hanya menarik pembaca muslim saja. Membawa pembaca untuk memahami bahwa dunia dan Islam adalah dua hal yang tak terpisahkan. Bahwa Islam dan Amerika memiliki tautan sejarah panjang tentang arti perjuangan hidup dan keadilan bagi sesama. (nq)

54

Majalah 21  

Majalah LPM Edents adalah salah satu produk dari LPM Edents yang rutin terbit dua kali dalam satu kepengurusan. Majalah LPM Edents membahas...

Majalah 21  

Majalah LPM Edents adalah salah satu produk dari LPM Edents yang rutin terbit dua kali dalam satu kepengurusan. Majalah LPM Edents membahas...

Advertisement