Page 1

Koran Edents

LPM Edents

Dinamika Intelektual Mahasiswa Edisi 28 Maret - 11 April 2017

Penyesuaian Anggaran Ormawa: Kenali dan Pahami Alasannya

Dari Redaksi Ambisi Undip untuk menjadi universitas riset yang unggul memiliki dampak yang begitu luas. Peningkatan infrastuktur dan mutu pendidikan menjadi hal yang dikedepankan dengan biaya yang tidak sedikit. Imbasnya, dana yang diberikan ke masing-masing fakultas pun mengalami penyesuaian, salah satunya adalah dana anggaran untuk Organisasi Mahasiswa (Ormawa) FEB Undip. Koran edisi kali ini juga membahas tentang pendirian Tax Centre di lingkungan FEB Undip sebagai pusat informasi, pendidikan dan pelatihan pajak di lingkungan perguruan tinggi. Tax Centre FEB Undip rencananya tidak hanya dapat dinikmati oleh mahasiswa FEB Undip saja, namun untuk seluruh mahasiswa Undip bahkan masyarakat umum. Kabar kampus kali ini datang dari Undip Career Center (UCC) yang mengadakan seminar Career Jam Session yang bertajuk ‘Grow the Leader In You’. Simak pula kabar prestasi dari KSPM Undip yang meraih juara I di Kompetisi Nasional Games Investasi Pasar Modal 2017. Terakhir, kami dari redaksi mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan berita. Kritik dan saran selalu kami harapkan dari para sahabat Edents. Selamat membaca!

Kabar Kampus

“Yang perlu digaris bawahi adalah ini bukan pemotongan anggaran, tetapi penyesuaian anggaran,” –Wahyu Meiranto, Wakil Dekan II Bagian Sumberdaya FEB Undip Motto Undip yang berbunyi ‘An Excellent Research University’ tentunya memiliki dampak yang begitu luas. Peningkatan infrastuktur dan mutu pendidikan menjadi hal yang dikedepankan dengan biaya yang tidak sedikit. Imbasnya, dana yang diberikan ke masing-masing fakultas pun berkurang. Akhirnya, masingmasing fakultas harus memutar otak untuk menyesuaikan anggarannya, tak terkecuali Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) yang pada tahun 2016 menerima PAGU (alokasi anggaran) dari rektorat sebesar Rp 27 milyar menjadi menjadi Rp 16 milyar pada 2017. Hal ini mengakibatkan penyesuaian anggaran terhadap biaya operasional FEB.

Beban Kelebihan Mengajar dan Biaya Akreditasi Ainul Yaqin, selaku Ketua Komisi II Bidang Hukum dan Anggaran Senat Mahasiswa (SEMA) FEB memaparkan bahwa penyesuaian anggaran yang dilakukan pihak rektorat kepada fakultas tidak dibarengi oleh penyesuaian Beban Kelebihan Mengajar. Beban Kelebihan Mengajar tetap harus tetap dibayarkan, walaupun anggaran dari rektorat berkurang. “Jadi fixed cost nya tetap ada cuman tambahan-tambahan anggaran itu nggak ada,” terang Ainul. Ainul mengatakan bahwa dari dana Rp 16 Miliar yang diberikan kepada FEB, Rp 6 milyar dialokasikan untuk Beban Kelebihan Mengajar. Sisanya, Rp 10 milyar dialokasikan untuk anggaran operasional FEB. Dari sekian banyak anggaran fakultas yang disesuaikan, terdapat anggaran yang tidak dipotong, yakni dana untuk akreditasi. Hal ini dilakukan karena FEB Undip telah mendapat sertifikat dari The Alliance on Business Education and Scholarship for Tomorrow, 21st Century Organization (ABEST 21). ABEST 21 merupakan organisasi yang memberikan standar akreditasi untuk sekolah bisnis di tingkat Internasional. Hal ini menyebabkan FEB Undip tetap rutin melakukan kunjungankunjungan ke luar negeri. “Yang nggak dipotong itu dana untuk akreditasi, karena kita kan sudah ABEST, jadi kita harus rutin

melakukan kunjungan-kunjungan keluar negeri. Karena itulah khusus dana untuk akreditasi ini memang mengalami penambahan,” terang Ainul.

Penyesuaian Anggaran dan Bonus untuk Ormawa Penyesuaian anggaran operasional tentu berimbas juga kepada penyesuaian anggaran untuk Organisasi Mahasiswa (Ormawa) FEB Undip. Wahyu Meiranto doc. Edents selaku Wakil Dekan II Bagian Sumberdaya FEB Undip angkat bicara perihal penyesuaian anggaran ini. Wahyu menyatakan bahwa penyesuaian anggaran ini disebabkan karena dana belanja operasional mengalami penurunan dari anggaran tahun sebelumnya. Penyesuaian tersebut diterapkan oleh pihak universitas dan pihak fakultas harus menyesuaikan anggaran tersebut. Wahyu berharap kepada organisasi mahasiswa untuk memaklumi hal tersebut. Selain itu, Wahyu menambahkan bahwa perihal penyesuaian anggaran tahun 2017 belum tentu diterapkan kembali pada tahun anggaran 2018. Anggaran akan dikaji ulang oleh pihak Majelis Wali Amanat (MWA) Undip. Oleh karena itu, anggaran untuk tahun 2018 belum tentu sama seperti tahun 2017 dan akan dikaji ulang. Perihal penyesuaian anggaran Ormawa, SEMA FEB melakukan penyamarataan anggaran untuk Ormawa tersebut berdasarkan bidangnya. Beberapa bidang tersebut diantaranya adalah Himpunan Mahasiswa Departemen, Kelompok Studi, Minat dan Bakat, BEM, Lembaga Pers, dan Kerohanian. Ainul menambahkan bahwa penyamarataan anggaran Ormawa sesuai dengan bidangnya ini dilakukan agar adil tidak terjadi ketimpangan. “Contohnya KSPM itu dulu dapatnya 9 juta, kalo KESMES yang sama-sama kelompok studi itu cuma dapat 4 juta kan timpang tuh. Buat tahun ini kita sama ratakan per bidang, supaya adil dan yang kedua kita nanti kan juga ada bentuk output nyata,” ungkap Ainul. (Bersambung ke halaman 2)

Volume

03

Pekan ini di lpmedents.com PJTL 2017 : Be The Complete Journalist FEB Undip (25/3) –  LPM EDENTS kembali mengadakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) di Gedung EA.304 FEB Undip. Acara tahunan ini merupakan kelanjutan dari Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) yang ditujukan bagi Edentser 2015 dan 2016. PJTL 2017 mengangkat tema “Be The Complete Journalist”. Rangkaian acara PJTL  membahas tentang Kode Etik Jurnalistik dan cara membuat videografi. Seminar BELS Bersama Bank CIMB NIAGA FEB Undip (24/03) – ECOFINSC bekerja sama dengan CIMB NIAGA menyelenggarakan seminar Banking Education Lecturing Series (BELS) dengan tema “The Roles of Technology in Banking Industry”. Acara ini berlangsung di Hall Lantai 4 Gd.C FEB Undip.

Doa untuk Patmi dari Para Pembela Kendeng Semarang (23/3) – Bertempat di depan Gedung Gubernuran Jawa Tengah, berbagai aliansi pembela Kendeng melakukan aksi Doa Lintas Agama untuk Ibu Patmi dan Para Pejuang Lingkungan Lestari. Aksi yang dimulai pada pukul 19.30 WIB dilakukan sebagai ucapan belasungkawa atas wafatnya Ibu Patmi. Ibu Patmi merupakan warga Kendeng yang meninggal ketika melakukan aksi ‘cor’ kaki di depan Istana Negara, Jakarta Pusat.

Tumbuhkan Jiwa Kepemimpinan melalui Career Jam Session Undip (23/3) - Undip Career Center (UCC) merupakan wadah yang memberikan layanan dunia karir untuk mahasiswa dan alumni Universitas Diponegoro (Undip). Salah satu kegaiatan dari UCC adalah Career Jam Session yang merupakan seminar success story dari alumni Undip. Acara ini telah sukses untuk mengajak kembali teman-teman mahasiswa atau alumni fresh graduated agar mereka memiliki gambaran yang luas dalam menentukan karir di masa depan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan motivasi atau pandangan mahasiswa agar dapat lebih memiliki cita – cita yang diinginkan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Fitri Arianti selaku Direktur Undip Career Center, Yos Johan Utama selaku Rektor Universitas Diponegoro, Kukrit selaku perwakilan dari Suara Merdeka serta para mahasiswa Undip maupun dari luar Undip. Dimulai pukul 09.30, dalam acara ini juga dilakukan peresmian Suara Merdeka Update (SM Update) yang merupakan kolaborasi UCC dan Suara Merdeka. Kegiatan yang bertempat di Gedung Prof. Soedarto ini bertemakan ‘Grow the Leader In You’, yang bermaksud untuk menumbuhkan jiwa kepimpinan dari masing-masing mahasiswa agar memiliki kepercayaan diri. Pemaparan materi diawali dengan pembahasan mengenai ‘How to Develop Your Competency and Your Courage’ yang disampaikan oleh Bambang Widiyanto selaku Vice President of Human Resource Bali Turtle. Bambang memaparkan beberapa tips untuk mengembangkan kompetensi dan keberanian seseorang secara alami. Beberapa tipsnya adalah jangan pernah ragu dalam melakukan sesuatu, jangan pernah mengatakan tidak, sering bertemu dengan orang-orang sukses, berpikir dan bertindak posistif, serta berdoa. Bambang juga mengungkapkan bahwa kita harus berencana melakukan kesepakatan untuk belajar mencapai sukses mencapai Kordents Volume 3 Edisi 28 Maret- 11 April 2017 Diterbitkan Oleh Lembaga Pers Mahasiswa Edents

doc. Edents

kesempurnaan. Pada sesi ini, diharapkan mahasiswa mampu menghilangkan ketakutan dalam memasuki dunia kerja. Materi selanjutnya adalah pembahasan mengenai ‘Emotional and Social Intelligence’ yang disampaikan oleh Supranawa Yusuf. Dalam pemaparan materi yang kedua ini, Yusuf menggambarkan betapa ketatnya persaingan dari tahun ke tahun serta jumlah angkatan kerja yang semakin bertambah. Menurut Yusuf, terdapat beberapa keluhan pengguna tenaga kerja, yaitu sulit mendapatkan calon karyawan yang memenuhi kualifikasi. Beberapa keluhannya meliputi kemampuan yang tidak memadai dan perilaku tenaga kerja yang tidak sesuai dengan harapan perusahaan. Yusuf mengatakan bahwa semua perusahaan tentu mencari nilai yang tertinggi, oleh karena itu kemampuan berbicara dan keyakinan kita

dalam menjawab pertanyaan sangat diperlukan. Hal tersebut bisa didapatkan dengan cara membangun pengetahuan yang didapatkan melalui perguruan tinggi dan melakukan latihan-latihan untuk meningkatkan soft skill. Adapun rangkaian acara ini ditutup dengan penyerahan plakat yang diberikan oleh Fitri Arianti selaku Direktur UCC kepada para pembicara sekaligus foto bersama. Dengan adanya kegiatan ini, dalam jangka panjang diharapkan akan tercipta mahasiswa dan lulusan Undip yang unggul, memiliki jiwa kepemimpinan, berkualitas, serta terampil, sehingga siap dan berani menghadapi dunia kerja. Career Jam Session ini juga mendapatkan sambutan positif dari mahasiswa. Riski Sulistyawati, salah satu mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip ini mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat menarik dan bermanfaat. “Acara ini menarik ya, karena UCC sendiri memiliki inovasi untuk mengundang banyak mahasiswa, selain itu pembicara yang dihadirkan juga bagus sehingga banyak juga mahasiswa yang tertarik mendengarkan,” ujar Riski. Nurul Syahadatin, selaku ketua panitia menekankan beberapa hal penting yang harus dibenahi dari karakter mahasiswa Undip. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh UCC, mahasiswa Undip memiliki kelemahan di sisi soft skill, dan leadership yang masih ragu-ragu. Oleh karena itu, Nurul berharap dengan diadakannya Career Jam Session ini, seluruh peserta dapat berbenah diri dan membangkitkan jiwa kepemimpinannya masing-masing. “Saya berharap kegiatan ini dapat membangkitkan softskill dan leadership kita masing-masing. Setelah itu, bantu membangkitkan temantemannya yang lain,” tutup Nurul. (SDW)

Pemimpin Umum : Adhevyo Reza; Pemimpin Redaksi : Akhmad Sadewa S; Pemimpin Artistik : Henty Eka Palupy; Editor : Fana Mustika Insanu; Reporter : Mahardika, Pear, Kintan, Vefon, Asma, Yolanda Bella; Ilustator : Rakintan; Layouting; Alyani Sekretariat : Gedung PKM Lt. 1 FEB Undip, Tembalang Edents Call Center : 024-91181513


Kunjungi !

Kordents Vol. 3 Edisi 28 Maret - 11 April 2017

w w w.lpmedents.com

Tax Centre: Wadah Edukasi Pajak yang Komprehensif

doc. http://news.ddtc.co.id

“Jadi Tax Centre ini adalah lembaga yang kita buat sebagai bagian dari tanggung jawab kita sebagai anak bangsa.” –Suharnomo, Dekan FEB Undip Pentingnya peranan pajak dalam kehidupan bernegara membuat kesadaran untuk membayar pajak harus dimulai sejak dini. Oleh karena itu, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) mendirikan Tax Centre, yakni pusat informasi, pendidikan dan pelatihan pajak di lingkungan perguruan tinggi. FEB Undip bekerja sama dengan Dany Darussalam Tax Centre (DDTC), yang telah berkecimpung dan berpengalaman dalam menangani multinational companies. Suharnomo, selaku Dekan FEB Undip mengungkapkan bahwa Tax Centre berdiri karena adanya kesadaran untuk berpajak di lingkungan FEB Undip. “Saya rasa kesadaran kita aja ya, mestinya kampus dianggap lebih netral aja, ikut endorse mengenai pajak,” tambah Suharnomo.

Selayang Pandang Pajak memiliki peranan penting dalam kehidupan bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan. Hal ini terjadi karena pajak merupakan salah satu sumber pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran

Kabar Prestasi

untuk pembangunan. Beberapa fungsi tersebut antara lain untuk membiayai pembangunan infrastruktur, penegakan hukum, keamanan atas aset negara, infrastruktur ekonomi, pekerjaan publik, subsidi, pelayanan publik dan operasional negara itu sendiri. Menyadari adanya keterbatasan pada ruang fiskal pemerintah, Suharnomo berpendapat bahwa pemerintah akan menyasar ruang fiskal terutama pajak kepada masyarakat, yakni pada bidang usaha. Kondisi ini membuat kehadiran konsultan pajak di dunia usaha sangat dibutuhkan. Tentu saja hal ini merupakan peluang yang baik bagi mahasiswa yang memiliki pengetahuan tentang pajak dan menjadi konsultan pajak. Kehadiran Tax Centre di FEB Undip memiliki tujuan untuk membekali mahasiswa dan dosen agar memiliki kemampuan dan kesadaran dalam berpajak. Jika mahasiswa memiliki pengetahuan tentang pajak yang baik, maka akan memberikan nilai tambah bagi mahasiswa sehingga pasar kerja akan terbuka lebar.

Tidak hanya untuk Mahasiswa FEB Undip Tax Centre FEB Undip rencananya tidak hanya dapat dinikmati oleh mahasiswa FEB Undip saja, namun untuk seluruh mahasiswa Undip bahkan masyarakat umum. Masyarakat umum di sini terutama yang memiliki Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk konsultasi pajak secara gratis. “Tujuannya selain membekali mahasiswa dengan kemampuan berpajak ria, kita juga berencana akan melayani masyarakat terutama UMKM untuk konsultasi pajak dengan gratis. Jadi ini bagian dari Corporate Social Resposibility FEB Undip, pengabdian masyarakat dan ini contoh nyatanya,” tutur Suharnomo. Namun, untuk saat ini Tax Centre FEB Undip akan lebih memprioritaskan mahasiswa FEB Undip sebagai pelatihan dan contoh untuk ke depannya. Penerimaan anggota baru Tax Centre untuk menjadi konsultan pajak juga akan melewati serangkaian seleksi yang diadakan oleh Tax Centre itu sendiri. Dikarenakan program Tax Centre akan didanai juga oleh kantor pajak secara langsung, maka yang akan terpilih menjadi anggota Tax Centre tidaklah sembarangan. Seleksi akan dilakukan kepada mahasiswa yang memiliki passion dan kualifikasi yang mumpuni di bidang perpajakan. Mahasiswa yang telah terpilih akan mengikuti pelatihan mengenai perpajakan. Ada pun pelatihan ini tidak hanya pajak pribadi, namun juga pajak badan, lembaga dan korporasi. Diharapkan mahasiswa FEB

doc. Edents

KSPM Undip Sabet Juara I Stocklab Tingkat Jateng 2017 “Waktu aku dipanggil sebagai pemenang, itu pengalaman paling berkesan. Aku juga bisa bawa nama baik KSPM Universitas Diponegoro.” -Ian Laksono Dewantoro, Juara I Stocklab tingkat Jateng 2017.

Ian Laksono Dewantoro, mahasiswa D-3 Akuntansi 2015, berhasil meraih juara I di Kompetisi Nasional Games Investasi Pasar Modal 2017 Stocklab tingkat Jawa Tengah. Kompetisi yang digelar pada Selasa, 7 Maret 2017 silam merupakan lomba investasi pasar modal yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Pusat. Kompetisi ini dikemas dalam bentuk game kartu untuk mempermudah mengenal pasar modal. Stocklab mengenalkan restrukturisasi ekonomi, nilai saham, dan penyebab harga saham naik dan turun. Adapun alat yang digunakan yaitu kartu aksi, kartu ekonomi, dan uang. Para pemain berlomba membangun aset dengan berinvestasi di beberapa sektor saham dan reksa dana, dan menggunakan berbagai aksi secara optimal untuk menjadi investor. Pemenangnya dipilih berdasarkan dengan jumlah koin terbanyak. Bertempat di Kantor OJK Regional III Jawa Tengah dan DIY, Ian bersama 15 orang lebih perwakilan Kelompok Studi Pasar Modal Undip (KSPM Undip) lainnya bersaing dengan KSPM se-Jawa Tengah untuk meraih posisi kesembilan pemenang final Stocklab. Hadiah yang akan didapat Juara III hingga Juara IX mendapat lima ratus ribu rupiah, sedangkan pemenang Juara I dan Juara II mendapat satu juta rupah dan keduanya akan dikirim

ke Jakarta untuk berkompetisi di tingkat nasional mewakili Jawa Tengah. Dari perwakilan KSPM Undip, tiga diantaranya meraih juara yakni Ian (Juara I), Sarah Panggabean (Juara VIII), dan Bimo (Juara IX). Sedangkan Juara II diraih oleh KSPM USM. Ian mengaku terkejut saat dinyatatakan sebagai Juara I Stocklab. “Waktu aku dipanggil sebagai pemenang, itu pengalaman paling berkesan. Aku juga bisa bawa nama baik KSPM Universitas Diponegoro,” ujar Ian. Ketika ditanya perihal persiapannya dalam mengikuti lomba, Ian mengaku merasa santai tanpa beban. Ian menganggap Stocklab tidak seperti perlombaan, tetapi sebagai sarana belajar pasar modal. Kemenangannya di Stocklab tingkat Jateng pun dianggap sebagai bonus. Bermain game Stocklab dengan teman-temannya adalah cara Ian mempersiapkan kompetisi ini, baik dengan teman KSPM maupun teman kos. Melalui game Stocklab, Ian dapat mengedukasi teman-temannya di luar KSPM untuk mengerti pasar modal dan cara bermain saham. Sebagai perwakilan Jateng, Ian menuturkan tidak banyak perbedaan antara Stocklab tingkat Jateng dan tingkat nasional, hanya saja pesaingnya yang berbeda. Di tingkat Jateng pesaingnya adalah KSPM se-Jawa Tengah, beberapa diantaranya adalah Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Universitas Semarang (USM), Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan lainnya. Sedangkan persiapan yang ia lakukan untuk menghadapi Stocklab tingkat nasional dengan menambah frekuensi bermain Stocklab dengan teman-temannya. Ian berharap melalui Stocklab ia dapat lebih termotivasi untuk lebih mengerti pasar modal dan mengedukasi teman-temannya mengenai pasar modal. Ian pun mengajak teman-teman FEB Undip untuk belajar pasar modal dan menabung saham. Menurut Ian, 50% saham di Indonesia masih dikuasai oleh pihak asing. Ia berharap teman-teman FEB Undip untuk lebih mengerti pasar modal agar 50% saham yang dikuasai oleh asing itu kelak bisa jadi milik sendiri. “Karena kegiatan ‘yuk nabung saham’ ini juga sudah dipelopori oleh OJK. Lebih ngerti pasar modal yuk. Bareng-bareng untuk lebih mengerti pasar modal,” tutup Ian. (SDW)

LPM Edents FEB Undip

lpmedents.com

Undip yang telah mendapatkan pelatihan di Tax Centre dapat memberikan konsultasi mengenai pajak kepada masyarakat, terutama di bidang UMKM. Selain itu, dengan didirikannya Tax Centre diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa di bidang perpajakan, sehingga dapat mempermudah jalan mahasiswa untuk memasuki pasar kerja. Peresmian Tax Centre sendiri direncanakan pada tanggal 1 April 2017, namun masih menunggu Surat Keputusan dari pusat. Suharnomo berharap untuk minggu ini Surat Keputusan sudah turun, sehingga Tax Centre dapat segera diresmikan dan dapat langsung digunakan. “Kami harap Surat Keputusannya akan segera turun, segera dieksekusi, kita lakukan pelatihan ke masyarakat, ke mahasiswa, dan semoga hasilnya bagus,” tambah Suharnomo.

Angin Segar bagi Edukasi Pajak Ditanya mengenai pendapat tentang pendirian Tax Centre di FEB Undip, salah satu mahasiswi FEB Undip, Jannah Zahra, mengatakan bahwa pendirian Tax Centre merupakan gebrakan yang sangat baik. Menurutnya, memiliki label sebagai mahasiswa Ekonomi tentu harus mengerti dan memahami tata cara perpajakan. Jannah menjelaskan bahwa memahami peran kita sebagai wajib pajak dan membangkitkan kesadaran kita untuk membayar pajak adalah hal yang esensial. Selaras dengan Jannah, Anggoro Seto, mahasiswa Departemen Akuntansi FEB Undip berpendapat bahwa dengan berdirinya Tax Centre di FEB Undip patut diapresiasi. Selama ini mahasiswa mempelajari pajak hanya sebatas pada teori. Padahal, yang sebenarnya dibutuhkan adalah terjun langsung ke lapangan, sehingga mahasiswa dapat mengetahui proses serta prosedur dalam menghitung, melaporkan dan menyetor pajak. Selain itu, dewasa ini pemerintah sedang menjalankan program Tax Amnesty. Pendirian Tax Centre di FEB Undip sangat relevan untuk membantu program pemerintah tersebut. “Tax Centre ini bukan hanya untuk menjadi tempat konsultasi perpajakan, tetapi juga menjadi tempat untuk mengaplikasikan apa yang kita pelajari selama kuliah mengenai perpajakan. Saya berharap ke depannya Tax Centre FEB Undip dapat berkembang dan memberi dampak baik untuk kemajuan dalam dunia pendidikan Indonesia,” tutup Anggoro. (SDW)

Penyesuaian Anggaran Ormawa: Kenali dan Pahami Alasannya (sambungan Halaman 1)

Ainul memaparkan bahwa indikator penyesuaian anggaran yang dilakukan SEMA FEB dibedakan berdasarkan tanggung jawab dan jumlah program kerjanya. Contohnya adalah organisasi himpunan. Himpunan memiliki program kerja yang terbilang banyak karena mencakup suatu departemen. Oleh karena itu, keputusan yang diambil adalah besaran anggaran untuk himpunan jumlahnya lebih besar dibandingkan bidang Kelompok Studi. Selain itu, Ainul mengungkapkan bahwa Ormawa bisa mendapatkan bonus. Bonus yang diberikan tersebut tergantung kepada nilai akhir dari Ormawa yang bersangkutan. Adapun nilai akhir Ormawa terdiri dari akumulasi meliputi Program Kerja (proker), tingkat partisipasi acara SEMA FEB, Perlombaan, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), dan lainnya. Aulia Pradipta Prabandaru, selaku Ketua SEMA FEB Undip 2017 menambahkan bahwa terdapat beberapa indikator lainnya yang dapat memengaruhi penilaian suatu Ormawa, salah satunya adalah prestasi di kejuaraan lomba. “Untuk tahun ini kalau dia (Ormawa) berhasil juara, itu sangat mempengaruhi nilainya. Itu kita berikan sebagai bentuk apresiasi,” ungkap Aulia. Sedangkan perihal besaran anggaran yang akan diterima Ormawa yang berprestasi, Aulia mengatakan bahwa besarannya belum dapat dipastikan karena keterbatasan informasi anggaran di tahun 2018. Kendala yang Dialami Ormawa Penyesuaian anggaran untuk organisasi mahasiswa di FEB tentu menuai pro dan kontra, khususnya di kalangan mahasiswa. Tanggapan datang dari Muhammad Rafi selaku ketua Economics English Conversation Club (EECC). Rafi mengungkapkan bahwa pada tahun 2016, EECC memperoleh anggaran sebesar 4,5 juta rupiah, kemudian turun menjadi 3 juta rupiah pada tahun 2017. “Tahun kemarin EECC mendapatkan dana 4,5 juta. Tapi untuk tahun ini mendapatkan 3 juta. Namun, dari sisa hasil untuk pembagian Kelompok Studi dibagi berdasarkan setor, sehingga pembagian setor itu kami mendapat tambahan 600 ribu, jadi pada tahun ini kita mendapatkan dana sekitar 3,6 juta,” tutur Rafi. EECC yang awalnya berupa kelompok studi sekarang berubah menjadi Minat dan Bakat (Mikat). Hal ini dilakukan Rafi beserta anggotanya mengingat tujuan dari Kelompok Studi itu sendiri lebih kepada PKM. Sedangkan fokus dari EECC itu sendiri bukan ke PKM, sehingga mereka merasa ada beberapa hal yang tidak berkesinambungan. Pada tahun 2016, EECC mengadakan program kerja (proker) berupa seminar dan membutuhkan biaya yang banyak. Namun, karena EECC sudah berubah menjadi bidang Mikat, mereka menghilangkan proker tersebut. Harapan untuk Tetap Semangat dan Produktif Rafi berharap bahwa ke depannya anggaran Ormawa dapat kembali ditingkatkan, karena menurutnya aktivitas kemahasiswaan sangat tergantung dari dukungan fakultas, khususnya dari sisi pendanaan. “Harapan saya semoga anggaran (untuk tahun depan) bisa ditingkatkan agar mahasiswa tetap bisa explore keahlian masing-masing. Yah, harapannya setidaknya tidak akan berkurang lagi (anggaran untuk ormawa) ke depannya,” tutur Rafi. Sedangkan Aulia berharap agar para mahasiswa tetap menjaga semangat serta menjaga idealisme dan produktivitas dalam kondisi apapun. “Harus tetep semangat ya, jangan hanya karena anggaran turun kita menjadi loyo. Kita juga harus menjalankan idealisme dan tujuan kita dalam artian positif,” ujar Aulia. Menurutnya, saling bersinergi dan berjuang adalah kunci agar Ormawa di FEB tetap menjalankan dalam proker dengan baik dan mencapai tujuan yang positif. (SDW)

@tbv2341m

@lpmedents

Kordentstiga  
Kordentstiga  

Ambisi Undip untuk menjadi universitas riset yang unggul memiliki dampak yang begitu luas. Peningkatan infrastuktur dan mutu pendidikan menj...

Advertisement