Page 1

LEMBAGA PERS MAHASISWA EDENTS

KORAN EDENTS Dinamika Intelektual Mahasiswa

Dari Redaksi Tak terasa kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa dan Senat Mahasiswa baik di tingkat fakultas ataupun universitas sudah akan berkahir. Seperti yang rutin dilakukan setiap tahunnya, Pemilihan Raya (Pemira) kembali hadir tahun ini untuk mencari penerus tongkat estafet kepengurusan periode sebelumnya. Koran Edents edisi 11 kali ini mengangkat isu tersebut dalam Laporan Utama, Sudah Siapkah Pesta Demokrasi di Undip? Pada Laporan Utama berikutnya, kami mengulas proses berjalanya Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa tingkat Madya di Universitas Diponegoro. Acara yang bertujuan untuk melatih jiwa kepemimpinan dan kemampuan manajerial mahasiswa ini memasuki tahap ketiga, setelah sebelumnya diadakan di tingkat departemen lalu faklutas dan sekarang berlanjut di tingkat universitas. Sebenernya keluaran seperti apa yang diharapkan dari acara ini? Benarkah terdapat kontrak untuk setiap mahasiswa yang mengikuti acara ini? Baca selengkapnya di Laporan Utama kami. Dari rubrik Kabar Kampus kami memiliki liputan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Mizan FEB Undip. Organisasi yang bergerak di bidang kerohanianan Islam ini telah melangsungkan acara terbaru mereka mulai dari rangkaian Cerdas Cermat Islam hingga mengulas Film yang bernafaskan Islam. Sementara untuk rubrik terakhir kami menyajikan opini tentang pemuda Indonesia saat ini. Terakhir dari dapur redaksi mengucapkan selamat membaca untuk sahabat sekalian.

Kordents Volume 11 Edisi 3 - 16 Oktober 2016 Diterbitkan Oleh Lembaga Pers Mahasiswa Edents Pemimpin Umum : Akbar Sih Pambudhi; Pemimpin Redaksi : Nur Wahidin; Pemimpin Artistik : Anastania Shafira; Editor : Adhevyo Reza; Reporter : Dias R, Septianus A, Yayuk, Desi Wulansari; Layouter : Maulana Eka Putra Sekretariat : Gedung PKM Lt. 1 FEB Undip, Tembalang Edents Call Center : 024-91181513

w w w.lpmedents.com

Volume 11 Edisi 3 - 16 Oktober 2016

Laporan Utama

LKMM Madya : Pencetak Bakal Pemimpin Masa Depan “Harapannya aku lebih dewasa dalam menghadapi segala kondisi, karena jiwa kepemimpinannya sudah dapet, berharap juga jiwa kepemimpinanku lebih terasah dan menjadi orang yang bermanfaat di ranah manapun aku mengabdi nantinya,”Sumber Nurul Hikmah, salah satu peserta LKMM Madya dari Fakultas Hukum Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) tingkat Madya telah menjadi agenda rutin yang digelar Universitas Diponegoro. LKMM Madya merupakan serangkaian kegiatan pelatihan bagi calon-calon pemimpin kampus. LKMM Madya bahkan menjadi salah satu syarat mutlak bagi mahasiswa yang akan mencalonkan diri sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Undip. Tak pelak hal tersebut menjadikan LKMM Madya menjadi kegiatan yang ditunggu bagi para calon pemimpin Undip selanjutnya. Jenjang LKMM Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) merupakan program atau kegiatan yang dirancang untuk memberikan bekal sikap, pengetahuan, dan keterampilan manajerial organisasi bagi mahasiswa khususnya yang aktif berorganisasi. Saat ini terdapat empat jenjang LKMM, yaitu LKMM Pra-Dasar, Dasar, Menengah (Madya), dan Lanjut. LKMM Pra Dasar sendiri telah digelar oleh masing-masing jurusan dengan tujuan untuk memperkenalkan organisasi kemahasiswaan. LKMM Dasar yang digelar setingkat Fakultas lebih menekankan pada keterampilan menyelenggarakan kegiatan kemahasiswaan dengan perencanaan dan sistematika yang baik. Tujuan LKMM Tingkat Menengah (Madya) yang digelar setingkat Universitas ini lebih kepada mempersiapakan peserta menjadi bakal pemimpin. Caranya dengan membekali mahasiswa dengan wawasan, sikap, keterampilan untuk mengkoordinasi dan membina tim kerja dalam suatu kelembagaan. Rangkaian kegiatan LKMM Madya diawali dengan kegiatan pra-Madya yang dilaksanakan tiga minggu sebelumnya. Pra-Madya dibagi menjadi beberapa tahap yakni tahap pertama dan tahap kedua yang dilaksanakan tanggal 8 & 9 September. Kemudian tahap ketiga bertajuk analisis sosial di tanggal 17 & 18 September dan dilanjutkan tahap pra-Madya terakhir ditanggal 24 & 25 September. Sedangkan untuk kegiatan utama LKMM Madya digelar di Salatiga pada tanggal 27-29 September. Dukungan kampus Pada saat kegiatan utama LKMM Madya, mahasiswa mendapat pelatihan dari tim pemandu khusus terdiri dari dosen-dosen yang mendapatkan sertifikasi dari Dirjen Perguruan Tinggi (Dikti). Pelatihan ini bertujuan agar tim mahasiswa terampil dalam melakukan manajemen organisasi mahasiswa kedepanya. Kegiatan LKMM Madya ini didukung penuh oleh pihak kampus, seperti diakui

Opini Indonesia kini berusia 71 tahun. Jika diibaratkan seorang manusia, Indonesia sudah memasuki usia senja dengan kulit keriput, mata mulai tidak awas dan tanda-tanda penuaan lainnya. Jika menilik 71 tahun ke belakang, apa yang sudah dicapai Indonesia sekarang ini setelah berhasil mengibarkan Sang Saka Merah Putih pada tahun 1945 silam? Banyak sekali. Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 200 juta jiwa tentunya memiliki kesempatan yang besar untuk memajukan negaranya dari berbagai bidang. Namun apakah 200 juta jiwa tersebut siap dan berkompeten menjalankan tugas mulia itu? Sebuah tanda tanya besar. Seperti yang kita ketahui, angka buta huruf di Indonesia masih terbilang cukup tinggi, yaitu sekitar 6 juta. Miris, bukan? Ternyata dengan jumlah penduduk 200 juta jiwa tersebut tidak semuanya mampu diharapkan untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Lalu, kepada siapa seharusnya Indonesia menaruh harapannya? Jangan mencoba berani menjawab dengan lirik lagu Ebiet G. Ade, “Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…”. Sungguh, hal ini bukanlah lelucon. Mahasiswa. Pembawa secercah harapan untuk Indonesia. Ya, kepada mahasiswalah seharusnya Indonesia berharap. Menaruh harapan dan mimpi-mimpi besarnya kepada mahasiswa yang disebut-sebut sebagai agen perubahan (agent of change). Sebagai agent of change menuju Indonesia hebat tentunya membutuhkan usaha yang tidak sedikit. Tidak semudah

oleh Ketua pelaksana LKMM Madya, Istata Luqman “Dari kampus sendiri, yang pertama tentu materil, dari fasilitas dibiayai penuh, sama sekali tidak dipungut biaya dari peserta. Mulai dari pra-Madya hingga hari H,” ungkap pria yang akrab disapa Tata saat ditemui Selasa (27/9). Kendala pelaksanaan LKMM Madya tahun ini diakui oleh Tata lebih kepada perbedaan persepsi atau keinginan dari pihak kampus dan pihak Mahasiswa. “Kita sebagai panitia, terutama dari BEM Undip yang dipercaya sebagai penyelenggara, punya tantangan disitu, gimana sih cara kita mensinergikan antara keinginan dari birokrasi dengan keinginan dan kondisi mahasiswa,” ungkap Tata. Tata melanjutkan bahwa cara terbaik untuk mengatasi kendala tersebut adalah komunikasi, dimana panitia disini berfungsi sebagai jembatan agar keinginan mahasiswa dipahami oleh kampus dan sebaliknya. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya peserta yang mengikuti kegiatan LKMM Madya ini. Total terdapat 80 peserta yang berasal dari berbagai fakultas di Undip. Rifki Hanif Juniardi salah satu peserta yang berasal dari FEB berpendapat bahwa kegiatan LKMM Madya ini sangatlah bagus. Senada dengan Rifki, Sumber Nurul Hikmah mahasiswi Hukum juga merasa acara ini luar biasa. Menurutnya, dalam LKMM Madya ini para peserta belajar memecahkan masalah dan juga dapat berkenalan serta mengakrabkan diri dengan mahasiswa dari fakultas lainnya. Pengabdian kepada kampus Sehubungan dengan adanya kontrak mengabdi di level eksekutif kampus keduanya sama-sama kompak menyambut positif hal tersebut. Mereka menilai bahwa LKMM Madya diadakan untuk menyiapkan para pemimpin dan sudah semestinya lulusan LKMM Madya ini dapat mengabdi di ranah yang semestinya dengan ilmu yang mereka dapatkan dari kegiatan LKMM Madya sebelumnya. Tata selaku ketua pelaksana LKMM Madya tahun ini berharap dengan adanya acara ini akan muncul kerjasama dari calon pemimpin kampus kedepannya. “Harapannya aku lebih dewasa dalam menghadapi segala kondisi, karena jiwa kepemimpinannya sudah dapet, berharap juga jiwa kepemimpinanku lebih terasah dan menjadi orang yang bermanfaat di ranah manapun aku mengabdi nantinya,” jelas Nurul. Harapan besar lainnya juga datang dari Rifki yang menginginkan semangat pengabdiannya kepada Universitas, fakultas, maupun jurusan semakin berkembang.

Minggu Ini di

lpmedents.com Peringati Hari Jadi, Undip Launcing Rangkaian Dies Natalis ke-59 Undip (24/9) – Memperingati hari jadi ke-59, Universitas Diponegoro menyelenggarakan Lauching Dies Natalis ke-59 pada Sabtu, 24 September 2016. Acara ini dihadiri oleh para civitas akademika Undip, karyawan, alumni Undip, serta warga sekitar Undip. Lauching Dies Natalis ke-59 dimulai pada pukul 06.00 WIB dengan senam bersama di halaman Widya Puraya. Teater BUIH Pentaskan Penderitaan Tenaga Kerja Wanita di Negeri Jiran FEB Undip (21/9) - Teater BUIH FEB Undip kembali menggelar acara tahunan mereka yang pada tahun ini memasuki tahun ketiga, yakni The Stage III. The Stage III diadakan dalam rangka pembukaan rangkaian open recruitment anggota baru Teater BUIH. Selain itu, The Stage III juga dimaksudkan untuk mengenalkan Teater BUIH kepada mahasiswa baru. Scholarship Show Kenalkan Beragam Beasiswa kepada Mahasiswa Undip (18/9)- Bertempat di gedung LPPU Tembalang, Economics English Conversation Club (EECC) FEB Undip kembali menggelar seminar dan workshop Scholarship Show dengan tema Ready for Global Competition. Acara ini bertujuan untuk membagikan informasi kepada mahasiswa pencari beasiswa. Acara yang dimulai pukul 08.00 ini ini mengundang beberapa pembicara yang telah mendapat beasiswa serta Kuscahyo Budi Prayogo, seorang motivator letter dari LIA yang mengisi workshop menulis esai dalam bahasa inggris.

Mahasiswa, Mulailah dari Diri Sendiri membalikkan telapak tangan, begitu istilah kerennya. Ingin membawa perubahan untuk bangsa tentunya harus dimulai dengan perubahan terhadap diri sendiri terlebih dahulu. Akan sangat lucu mahasiswa yang katanya sebagai agent of change, berkoar-koar tentang pentingnya demokrasi, berada di garda terdepan menentang penindasan terhadap kaum yang lemah, tapi memahami tulisan “Jangan Buang Sampah Sembarangan” atau “Batas Suci” pun tak mampu? Kejadian yang sangat menggelitik pernah saya temukan di kampus saya. Ketika halaman masjid yang jelas-jelas sudah terpasang tulisan “Batas Suci”, tapi malah dikotori (entah sengaja atau tidak) oleh mahasiswa yang sedang berolahraga di lapangan yang lokasinya memang bersebelahan dengan masjid. Sebagai mahasiswa saya merasa sangat malu, bagaimana mungkin mahasiswa tidak bisa memahami istilah “Batas Suci”? Tanpa melihat dari sudut pandang agama, saya rasa semua agama pun sudah sepakat dengan istilah lazim ini. Lantas, siapa yang harus disalahkan dari peristiwa memalukan seperti ini? Mahasiswa? Pengajar? Atau malah bapak penjaga masjid? Mulailah dari diri sendiri. Mulailah dari hal yang paling kecil. Mulailah sekarang juga, jangan ditunda-tunda. Kata-kata mutiara yang pernah dilontarkan Aa Gym tersebut seharusnya dapat selalu dijadikan self reminder bagi siapa saja, termasuk mahasiswa. Mulai memahami istilah-istilah sepele yang seharusnya dapat dengan mudah dimengerti seperti yang

telah disebutkan di atas dapat menjadi batu loncatan pertama untuk menuju ke arah yang lebih baik. Respect terhadap orang lain, peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar dapat menjadi batu pijakan selanjutnya. Sudah seharusnya bukan mahasiswa yang mengemban tugas mulia membawa Indonesia ke arah yang lebih baik juga memiliki pribadi yang baik pula? Indonesia tentunya tidak ingin jika harapan dan mimpi-mimpi besarnya dipercayakan kepada orang yang bahkan belum tamat memahami istilah “Batas Suci”. Mahasiswa diharapkan dapat terus menebarkan semangat positif kepada sesamanya sehingga akan tercipta sebuah keselarasan demi mencapai harapan dan mimpi bangsa Indonesia. Nah maka dari itu, ayo kita sebagai mahasiswa terus mengingat tugas-tugas mulia yang dipercayakan bangsa ini kepada kita, untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Tentu kita tidak mau bukan terus-terusan kalah bersaing dengan negara tetangga yang bahkan luas negaranya tidak melebihi ibukota kita? Jadi, mari bersama-sama membangun negeri kita tercinta ini. Jangan biarkan orang asing memegang kendali atas apa yang seharusnya kita miliki. Semangat membangun Indonesia! YULINA MASYRIFATUN NISA Redaktur Pelaksana Buletin LPM Edents


Kunjungi ! Laporan Utama

w w w.lpmedents.com

Kordents Vol. 11 Edisi 3 - 16 Oktober 2016

Sudah Siapkah Pesta Demokrasi di Undip?

Pemilihan Umum Raya (Pemira) tingkat Universitas merupakan pesta demokrasi mahasiswa Undip, hal ini dilakukan sebagai ajang pemilihan perangkat lembaga kemahasiswaan. Perangkat lembaga kemahasiswaan tersebut yaitu ketua dan wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Majelis Wali Amanat (MWA) Unsur Mahasiswa, dan Senat Mahasiswa (Sema) Universitas Diponegoro. Rangkaian Pemira Undip dilaksanakan dalam kurun waktu dua bulan. Dimulai sejak pembentukan tiga orang panitia pemilihan (Panlih) inti pada tanggal 2 September 2016 melalui open recruitment yang kemudian disahkan menjadi 22 anggota untuk keberlangsungan operasional Pemira. Setelah itu, dibentuk Panitia Pemungutan Suara Universitas (PPSU) yang bertugas ditataran teknis sebanyak tiga orang. Agenda Pemira Undip 2016 Rangkaian utama Pemira dimulai sejak disahkannya petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan Pemira pada tanggal 1 Oktober 2016. Seperti dijelaskan oleh Muhammad Agil Ramadhan selaku ketua Pemira Undip, Pembukaan pendaftaran bakal calon ketua dan wakil ketua BEM, MWA Unsur Mahasiswa dan SEMA diberi waktu dua minggu hari kerja dari tanggal 3 hingga 14 Oktober 2016. Agenda pencoblosan akan dilaksanakan pada tanggal 10 November 2016. Sementara itu, untuk penghitungan surat suara dilaksanakan langsung setelah pencoblosan, dengan opsi di tempat pemungutan suara (TPS) fakultas masing-masing apabila Panlih berkenan. Opsi lain yang ditawarkan adalah di sekretariat Panlih dengan disaksikan secara bersama – sama pihak yang berkepentingan. Penghitungan dilakukan dengan menghitung surat suara sah dari setiap pasangan calon di tiap fakultas dan diakumulasikan untuk tingkat Universitas. Surat-surat suara tersebut dikumpulkan di posko Universitas yang bertempat di Pos Polisi yang bersebelahan dengan SPBU Undip. Setelah masa penghitungan suara, masing-masing kandidat diberi waktu satu minggu untuk melakukan banding atau gugatan bilamana ada kandidat yang merasa

mulai diterapkan tahun ini di Sema Undip dan BEM Undip, Sigit mengaku mendapatkan dukungan sepenuhnya dari pihak Rektorat. Penerapan sistem ini mendapat dukungan dengan berbagai alasan antara lain alasan akademik dan alasan UKT. Alasan akademik yang mendasari penetapan akselerasi ini adalah bahwa ketika tidak diterapkanya sistem akselerasi maka angkatan ke-4 yang menjadi pejabat – pejabat di organisasi, ada kekhawatiran lulus melampaui batas normal bahkan mereka pun ada peluang terancam tidak lulus Sementara untuk tataran fakultas, Sigit mengakui bahwa masih belum terdapat keseragaman antara masing – masing himpunan dan Ormawa dengan fakultasnya. Sigit menambahkan untuk mensukseskan akselerasi di tingkat universitas dibutuhkan bantuan dari tingkat fakultas. “Salah satu solusinya itu ada juga akselerasi di himpunan mahasiswa, di Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomika dan Bisnis setahu saya sudah benar dalam menerapkan akselerasi, kan bagaimana caranya himpunan itu bisa seragam, dimana untuk angkatan pengurus yaitu angkatan kedua,” tambah Sigit.

dirugikan. Untuk masa Banding diberikan waktu selama satu minggu yaitu dari tanggal 11 hingga 18 November 2016. “Kami menyediakan waktu untuk masa banding seminggu sejak waktu pencoblosan. Jika ada gugatan bisa langsung dilaporkan kepada Panwas (Panitia Pengawas) terkait mekanisme selanjutnya dan keputusan hasil gugatan ada di tangan tim yudisial,” tutur Agil. Isu akselerasi dalam Pemira Sigit Tirto Utomo, ketua Senat Mahasiswa (Sema) Undip menuturkan bahwa agenda Pemira 2016 ini sudah terkonsep dari tataran Universitas hingga tataran biro atau tingkat jurusan. Terkait dengan akselerasi kaderisasi pada organisasi mahasiswa yang

Namun Sigit menyayangkan masih adanya ego dari beberapa jurusan dan fakultas yang belum menerapkan kebijakan tersebut. Agil berpendapat sebenarnya setiap kebijakan kembali lagi ke masing – masing senat fakultas untuk Panduan Pokok Organisasi (PPO) nya sebagai dasar hukum tertinggi di tingkat fakultas. Sigit menambahkan bahwa Senat Mahasiswa Undip hanya bertanggungjawab mengenai jalannya Pemira sepenuhnya di tingkat Universitas saja, tetapi untuk tingkat Fakultas tanggung jawab diberikan ke Senat Mahasiswa masing – masing fakultas.

Kabar Kampus

Mizan Activity 2016 ; Tumbuhkan Kecintaan Remaja terhadap Islam “Semoga umat islam yang mengahadiri bedah film tersebut bisa mengambil nilai-nilainya, terutama apabila dikaitkan dengan kondisi Indonesia sekarang, dimana umat islam Indonesia mudah terbelah,”-Niki Agni, ketua panitia Mizan Activity 2016 Organisasi Rohani Islam (Rohis) Mizan FEB Undip menggelar acara Mizan Activity dengan tema “Show Up Your Passion to Reach The Glory of Islam”. Acara ini berlangsung pada Jumat (30/9) dan Sabtu (1/10) bertempat di Hall Gedung C Lantai 4 dan Gedung Kewirausahaan. Rangakaian dalam acara tahunan ini meliputi Lomba Cerdas Tangkas Islam (LCTI), Lomba Video Dakwah, Bazaar, Nonton Bareng Film 3, Talkshow dan Bedah Film 3.

Film “3” adalah film laga futuristik pertama di Indonesia yang menceritakan tentang persahabatan tiga oang bernama Alif, Lam, dan Mim. Mereka menimba ilmu bersama di Padepokan AlIkhlas. Kemudian mereka melanjutkan hidup dengan profesi yang

Film “3” tidak tayang di seluruh bioskop Indonesia Namun film ini hanya tayang di beberapa bioskop di Indonesia. Di Jakarta sendiri hanya tayang tujuh hari. Arie Untung mengungkapkan kekecewaan nya karena ternyata tidak semua masyarakat yang sudah menonton meminati film 3, dan itulah yang menyebabkan film ini turun layar. Meski turun layar dini di negeri sendiri, namun film ini justru diminati di luar negeri seperti di Los Angeles dan Frankfurt. Arie menuturkan alasan tidak diputarnya film 3 di seluruh bioskop tanah air adalah karena kebijakan dari masing-masing bioskop yang berbeda. “Saya nggak tahu kenapa nggak tayang di bioskop-bioskop, apalagi di Semarang. Tapi yang jelas setiap bioskop punya kebijakan masing-masing untuk menayangkan atau tidak menayangkan film,” ungkapnya.

Rangkaian Mizan Activity dimulai dengan LCTI yang diikuti oleh 13 tim dari pelajar SMA/sederajat se-Semarang kota dan kabupaten. Berbeda dengan LCTI, Lomba Video Dakwah, khusus ditujukan kepada mahasiswa di Pulau Jawa. Lomba ini berbentuk tim yang terdiri dari dua atau tiga orang dengan durasi video maksimal 10 menit. Video Dakwah dapat berupa video bakat, short movie, film dokumenter, serta tutorial yang mengandung pesan inspiratif dan dakwah. Tiga tim terbaik diwajibkan datang ke Gedung Kewirausahaan FEB Undip pada hari Sabtu untuk melakukan presentasi selama 20 menit,. Kerjasama dengan KOPFI Bazaar, Nonton Bareng, Talkshow dan Bedah Film dilaksanakan pada 1 Oktober 2016 di Gedung Kewirausahaan. Mengingat sasaran dakwah kali ini adalah remaja muslim, maka Mizan FEB Undip ingin melakukan inovasi dalam dakwah islam yaitu bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Film Islami (KOPFI) Semarang. Setelah istirahat acara dilanjutkan dengan Talkshow dan Bedah Film. Talkshow dan Bedah Film langsung dilakukan oleh sang sutradara film yaitu Anggy Umbara dan Arie Untung yang merupakan pemeran sekaligus produser film tersebut. Anggie menjelaskan secara detil proses pembuatan Film 3.

mengalami kemajuan sangat pesat dalam hal duniawi namun sangat hancur dalam hal kepercayaan. Agama dianggap sebagai hal tabu dan menjadi sumber kerusakan. Orang Islam memiliki citra yang sangat buruk. Setiap ada teror dialamatkan pada agama. Film ini juga mennggambarkan adanya konspirasi yang bertujuan pada kekuasaan negara.

berbeda. Alif menjadi aparat keamanan, Lam menjadi seorang jurnalis dan Mim menjadi pendakwah. Ketiganya memiliki idealis yang sama namun dijalankan sesuai bidang masing-masing. Mereka sama-sama memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa. Pada saat itu penggunaan peluru tajam oleh siapapun (termasuk aparat) diharamkan dan dianggap kriminalitas. Setting dalam film ini mengambil kota Jakarta di tahun 2036 yang sudah banyak perubahan dan serba modern. Indonesia

Niki Agni, ketua panitia, merasa puas dengan terselenggaranya acara ini. Ia berharap acara ini dapat bermanfaat bagi peserta dan umat islam yang hadir bisa mengambil nilai-nilai dari film 3. “Semoga umat Islam yang mengahadiri bedah film tersebut bisa mengambil nilai-nilainya, terutama apabila dikaitkan dengan kondisi Indonesia sekarang, dimana umat Islam Indonesia mudah terbelah,” ucapnya. Meski terjadi kendala di beberapa seperti kendala teknis saat pemutaran film dan peserta yang tidak mencapai target, Niki bersyukur acara ini sudah berjalan.

Kordents 11  
Kordents 11  
Advertisement