Koran Edents LPM Edents
Dinamika Intelektual Mahasiswa
Volume 05
Edisi 11 - 24 Mei 2020
Koran Edents Volume 5 ini dibuka dengan Laporan Utama 1 yang melaporkan tentang kebijakan Undip untuk membantu mahasiswa dalam melaksanakan kulon setelah adanya keluhan dari mahasiswa. Tidak kalah pentingnya, pada Laporan Utama 2 Ketua Kelompok Studi Pasar Modal Universitas Diponegoro, Ghufron Fasa, membagikan tips pelaksanaan kulon yang produktif untuk mahasiswa. Pada Kabar Kampus, kami laporkan pelaksanaan Banding UKT yang kini harus dilaksanakan secara online dengan adanya kebijakan kulon. Rubrik terakhir diisi oleh Iqlima Firda yang baru saja meraih juara 3 dalam The 5th National Business Plan Competition oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kami dari redaksi memohon maaf apabila terdapat kesalahan atau kekeliruan penulisan dalam koran ini. Kritik dan saran sangat diperlukan untuk menjadikan LPM Edents menjadi lebih baik lagi. Selamat membaca!
Kabar Prestasi
Saat ini, dunia sedang dilanda pandemik COVD-19 yang membuat segala sesuatu harus dilakukan dari rumah, baik pekerjaan, sekolah, ibadah dan kegiatan lainnya, ditekankan untuk dapat diatasi dari rumah. Kebijakan pemerintah yang mengharuskan kegiatan dari rumah ini juga berdampak di bidang pendidikan. Sekolah dasar hingga perguruan tinggi mulai melaksanakan kegiatan melalui daring. Ini juga dilakukan oleh Universitas Diponegoro (Undip). Undip mulai melakukan perubahan kebijakan kuliah yang semula tatap muka menjadi kuliah online (kulon) sejak bulan April lalu melalui sarana laman kulon Undip ataupun Microsoft Teams. Meskipun banyak yang beranggapan metode tatap muka merupakan cara efektif dalam melaksanakan perkuliahan, namun harus disadari bahwa situasi tidak mendukung dan sekarang merupakan saatnya kemajuan teknologi mulai diaplikasikan sebaik mungkin. Kuliah daring ini diharapkan dapat untuk memutus rantai penyebaran Coronavirus Diasease atau COVID-19 agar tidak terjadi kerumunan yang dapat menimbulkan penyebaran virus. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan melakukan metode kuliah daring ini membutuhkan jaringan internet yang baik dan tentu saja besar. Hal inilah yang dikeluhkan oleh para mahasiswa terutama yang sudah melakukan pulang kampung ke tempat asalnya. Banyak dari mereka mengatakan bahwa kuota internet yang dibutuhkan sangat besar sehingga membuat boros dan juga untuk mahasiswa yang tinggal di wilayah pinggiran maupun di desa, sinyal juga susah didapatkan.
Berangkat dari isu tersebut, Undip kemudian mengeluarkan kebijakan baru berupa perkuliahan dalam bentuk video call yang hanya boleh dilakukan dosen selama 15 menit. Video call dapat dilakukan lebih lama jika mendapat persetujuan bersama oleh mahasiswa yang melaksanakan kulon. Selain itu, Undip juga memberikan subsidi kuota untuk mahasiswa agar dapat mendukung jalannya perkuliahan. Belum Adanya Efektivitas dalam Perkuliahan
Endah, Kepala Bidang Kesejahteraan Mahasiswa
uang tunai dan juga untuk mahasiswa UKT Golongan 1-4.
Dok. SUN Education
Belum diketahui pasti kapan wabah virus COVID-19 akan berakhir di seluruh dunia, terutama di Indonesia. Pemerintah Indonesia sendiri terus mengundur batas waktu pelaksanaan physical distancing dan masih terus berupaya membuat kebijakan stabilisasi negara dalam masa pandemi. Masa kuliah online (kulon) di Universitas Diponegoro (Undip) kemungkinan masih akan dilakukan dalam waktu yang panjang, oleh karena itu Undip juga perlu menstabilkan pelaksanaan kulon agar dapat tetap efektif.
Kebijakan Undip di Masa Pandemi, Apakah Sudah Efektif?
(Kesma) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip mengatakan, “Beberapa dosen memang di awal melakukan kesepakatan terlebih dahulu antar mahasiswa dengan dosen, apakah mau 15 menit atau lebih, atau media kuliahnya mau menggunakan Microsoft Teams atau lain sebagainya. Ada dosen yang masih menggunakan cara-cara seperti itu sesuai dengan surat edaran yang sudah diterbitkan oleh rektorat, ada juga yang memang masih, ya, bisa dikatakan seenaknya sendiri gitu untuk melaksanakan kuliah online, jadi bisa sampai 2 SKS dibabat habis.” Dengan adanya kebijakan kuliah selama 15 menit ini, perkuliahan belum menjadi efektif karena dapat dikatakan kebijakan ini bukanlah merupakan jalan keluar yang solutif. Dengan waktu sesingkat itu, mahasiswa belum dapat menangkap dan memahami penjelasan dosen yang tentu butuh penafsiran lebih dalam lagi. Memahami sebuah materi yang baik butuh interaksi langsung dengan dosen. Mau tidak mau kesepakatan kuliah lebih dari 15 menit akan disetujui mahasiswa dan tetap membutuhkan biaya pengeluaran kuota internet. Pemberian Bantuan Subsidi Kuota dan Polemiknya
Melihat banyaknya hal yang dikeluhkan, akhirnya Undip memberikan bantuan subsidi kuota bagi mahasiswa. Pemberian ini semula diawali dari mahasiswa bidikmisi, dimana Undip dan Bank Tabungan Negara (BTN) bekerjasama untuk memberi uang Rp50.000 setiap bulan untuk setiap mahasiswa. Setelah itu, Undip menambah lagi pemberian subsidi dengan melakukan kerjasama bersama dua provider yaitu Telkomsel dan Indosat dimana akan ada pemberian kuota 10 GB untuk 1500 mahasiswa tiap provider-nya. Ini ditujukan kepada mahasiswa bidikmisi yang belum mendapatkan subsidi
Hal ini menuai polemik karena di masa seperti ini, bukan hanya mahasiswa bidikmisi dan UKT rendah saja yang terkena dampaknya. Mahasiswa dengan UKT 5-7 pun terkena dampaknya. Sehingga munculnya protes mahasiswa kepada Undip. “Ketika audiensi tersebut, pihak Rektorat bakal memberikan subsidi kepada semuanya sampai dengan golongan 7. Namun, pihak rektorat akan melakukan perubahan Rencana Keuangan Anggaran Tahunan (RKAT) terlebih dahulu, itu anggaran untuk pengadaan berupa barang dan jasa. Barang dan jasa ini nanti bentuknya adalah berupa kuota yang diberikan kepada mahasiswa,” ujar Endah.
Perihal kebijakan periode kuliah daring ini, Endah mengatakan bahwa dari pihak Undip sendiri belum memberikan informasi lebih lanjut. Hanya saja, menurut surat edaran Rektor, kuliah secara daring ini akan dilakukan sampai masa akhir semester genap (sekitar bulan Juni). Tindak Lanjut BEM Undip Mengenai Masalah Ini
Sebagai salah satu wadah aspirasi mahasiswa, BEM Undip melakukan tindakan segera untuk membantu teman-teman mahasiswa. “Upaya yang sudah dilakukan sama temen-temen BEM kemarin tanggal 29 Maret itu kami sudah menyebar form mengenai kendala mahasiswa terhadap kulon dan itu mendapatkan respon 4932 responden. Dari form itu, kami berusaha mengolah dan kemudian keluarlah surat harapan mahasiswa yang mana poin-poin tersebut, poin pertama dan kedua itu, ada hubungannya dengan bantuan subsidi kota juga perbaikan sistem kuliah online,” jelas Endah. Kemudian dari situ BEM Undip mengupayakan adanya sebuah audiensi bersama pihak rektorat untuk sama-sama mencari jalan tengah baiknya seperti apa terhadap permasalahan kuliah online yang terjadi di teman-teman mahasiswa. Untuk merealisasikannya, teman-teman BEM Undip tetap mengawal bersama.
Lebih lanjut mengenai kebijakan pemberian kuota internet, kini Undip telah mengeluarkan kebijakan baru yakni memberikan kuota internet 10 GB per bulan kepada seluruh mahasiswa yang belum mendapatkan bantuan kuota internet pada periode sebelumnya. Pemberian kuota akan dimulai awal bulan Juni 2020. (amd)
Tetap Bermanfaat dalam Berprestasi
Iqlima Firda, mahasiswi Departemen Akuntansi tahun 2018 Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip), baru-baru ini menorehkan prestasinya di bidang akademik. Iqlima bersama dengan tim memenangkan juara 3 di The 5th National Business Plan Competition yang diadakan oleh FEB Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Lomba tersebut dilaksanakan secara bertahap yaitu dari tahap pengumpulan proposal kemudian diseleksi 10 tim untuk lanjut ke tahap presentasi. Pembukaan lomba sudah dilaksanakan sejak akhir tahun 2019 kemudian technical meeting dan welcoming party serta presentasi dilaksanakan pada tanggal 6-7 Maret 2020. Pelaksanaan lomba tersebut dilaksanakan di FEB Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Membawa Ide Pengembangan Aplikasi untuk Kompetisi
Iqlima bersama timnya yaitu Maulidia, mahasiswi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Undip 2018, dan Puja, mahasiswa Teknik Kimia Undip 2018, merancang bisnis aplikasi tryout untuk mahasiswa kedokteran yang akan mengikuti uji kompetensi profesi dokter. Pengaplikasian aplikasi tryout ini semacam aplikasi bimbingan belajar online Ruangguru, yaitu terdapat soal untuk latihan, pembahasan soal dan juga materinya. Selain itu, fitur yang akan disediakan juga berupa pemeringkatan dari hasil uji kompetensi tersebut sehingga mahasiswa dapat mengetahui kemampuannya.
Latar belakang pembuatan aplikasi tryout ini berawal dari pengamatan kakak salah satu anggota tim yang mengalami kesulitan dalam melakukan uji kompetensi profesi dokter. “Dalam uji kompetensi profesi dokter tersebut tidak mudah dan tidak sedikit mahasiswa yang sering gagal dalam ujian tersebut, bahkan harus ujian berkali-kali agar dinyatakan lulus,” ujar Iqlima.
presentasi kita juga menganalisis pertanyaan yang akan ditanyakan oleh juri, jadi kami menyiapkan pertanyaan sekaligus jawaban kami sehingga kami dinilai juri sudah siap. Kebetulan juga sebagian besar pertanyaan yang kita analisis ditanyakan oleh juri,” jelas Iqlima.
Dok. Pribadi
Dari Redaksi
Iqlima juga menambahkan, “Seperti halnya siswa yang ingin masuk perguruan tinggi mengikuti tes SBM harus les terlebih dahulu agar ada latihannya.” Persiapan yang Matang menjadi Kunci Keberhasilan
Tim yang berasal dari bermacam-macam jurusan ini memiliki strategi pembagian tugas sesuai dengan bidang yang ditekuninya dalam kuliah untuk membuat pengerjaan lebih terstruktur. Puja sebagai pemilik ide untuk membuat aplikasi tryout ini menyusun konsep-konsep dalam penyusunan proposal. Iqlima sebagai mahasiswa Akuntansi bertugas untuk membuat penyusunan anggaran seperti analisis keuangan, analisis bisnis dan lainnya. Kemudian, Maulidia sebagai mahasiswa Ilmu Ekonomi menyusun prosedur marketing-nya.
Pengerjaan ide bisnis dilakukan melalui chatting group dengan membuat timeline untuk setiap step agar proses berjalan lancar dan setiap kendala dapat teratasi. Setelah dinyatakan lolos ke tahap presentasi, Iqlima dan timnya juga memiliki strategi yang berbeda untuk mempersiapkan presentasi. “Ketika mempersiapkan
Dengan memenangkan kompetisi ini Iqlima berharap agar ia dapat memotivasi orang lain untuk tetap berprestasi karena dengan memotivasi orang lain membuat dirinya bermanfaat untuk orang lain. “Nggak ada salahnya kalo mau bermanfaat untuk orang lain dengan lomba, karena dengan lomba bisa mengetahui masalah-masalah baru yang kita nggak dapetin waktu kuliah. Jadi, menghadapi masalah-masalah baru dan dengan lomba dapat bermanfaat untuk orang lain dan menginspirasi orang lain,” ujarnya. Iqlima juga berharap ide bisnis yang dibuat dapat dilaksanakan ke depannya agar menjadi ladang manfaat untuknya dan timnya. Tips Berprestasi untuk Mahasiswa
Menurut Iqlima yang merupakan mahasiswi aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan berbagai kepanitiaan, setiap orang memiliki kesempatan, dan rezeki yang didapat merupakan buah dari usaha diri kita sendiri. “Coba aja nggak papa,” kata Iqlima. Iqlima juga menambahkan, mahasiswa dapat mem-follow akun-akun resmi organisasi mahasiswa untuk mengetahui lomba-lomba yang diadakan dan juga bertanya kepada mahasiswa yang sudah mengikuti perlombaan. Iqlima yang juga memiliki motto “Lakukan yang terbaik dan jangan berhenti mencoba” itu berpesan, “Ketika kita ada kemauan pasti ada jalan. Jadi, jangan menyerah kalau misal kita mengalami kegagalan, karena kegagalan juga menuju keberhasilan. Jangan sia-siain waktu kalian kuliah juga,” katanya mengakhiri wawancara. (amd)
Kordents Volume 05 Edisi 11-24 Mei 2020
Pemimpin Umum : Bayu Teguh Imani ; Pemimpin Redaksi : Amadea Arum Diani ; Pemimpin Artistik: Kurnia Wulandari ; Editor : Cinka Yuniar Pramesti ; Layouter : Khaira Aqliya ; Reporter : Rio Dwi Cahyono, Khaira Aqliya, Martin Bonaraja Simamora, Nisa Alisva Anggraeni, Salma Vaza Zahiduzzakka, Diah Ayu Atmajani
Diterbitkan Oleh Lembaga Pers Mahasiswa Edents
Sekretariat : Gedung PKM Lt. 1 FEB Undip, Tembalang Edents Call Center : 024-91181513
Kunjungi !w w w.lpmedentsundip.com
Menjaga Produktivitas selama Masa Learning from Home
Merebaknya wabah COVID-19 di Indonesia membuat pemerintah menerapkan berbagai kebijakan untuk memutus mata rantai penyebarannya. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah salah satunya dengan menghimbau masyarakat untuk menerapkan Work from Home (WFH). Adanya WFH ini mengakibatkan kegiatan akademik yang tadinya dilaksanakan di kelas harus dialihkan melalui media pembelajaran online, atau biasa disebut learning from home. Kelebihan dan Kekurangan Learning from Home Ghufron Fasa, selaku Ketua Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Diponegoro (Undip) mengatakan bahwa dalam kegiatan kuliah online ini ada plus dan minus-nya tersendiri. Ia mengaku bahwa sebenarnya tidak ada masalah dalam pelaksanaan learning from home karena dengan begitu mahasiswa menjadi memiliki banyak waktu untuk mengembangkan diri di luar akademik dan lebih menghemat waktu serta tenaga. Namun, ia juga mengatakan bahwa learning from home ini kurang efektif. Ia menemukan beberapa kendala dalam pelaksanaannya.
Pada saat kuliah online, materi kurang tersampaikan dengan baik dan perlu uang lebih untuk membeli kuota bagi yang tidak memiliki fasilitas wifi di rumah. Kegiatan ekstrakurikuler pun menjadi lebih minim karena keterbatasan media yang ada. Selain itu, niat untuk belajar cenderung lebih fluktuatif karena kuliah dapat dilaksanakan dalam posisi yang lebih fleksibel atau sembari melakukan kegiatan lain di rumah. Akibatnya, dalam mengikuti kuliah online diperlukan tekad yang tinggi untuk menuntut ilmu bagaimanapun kondisi kita.
“Kita yang harus menyesuaikan diri dengan keadaan, bukan kita yang terpengaruh oleh keadaan dan tak mau keluar dari zona nyaman,” ujar Ghufron. Secara pribadi, Ghufron merasa lebih nyaman melaksanakan kuliah tatap muka dibandingkan sistem online. Dengan kuliah offline, materi pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik dan tidak terbatasi oleh kuota internet. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler juga dapat berjalan dengan lancar. Pola Belajar Selama Learning from Home
Selama learning from home, Ghufron tentunya mengalami
baik.
Dok. Gizmologi.id
Laporan Utama
Kabar Kampus
Kordents Vol. 05 Edisi 11-24 Mei 2020
perubahan pola belajar. Biasanya, ia sering melakukan pendalaman materi kuliah bersama teman-temannya secara tatap muka. Semenjak diterapkannya learning from home, kegiatan belajar bersama menjadi lebih sulit untuk dilakukan mengingat kondisi teman-teman lainnya yang belum tentu memiliki akses internet yang memadai.
Ghufron pun menjelaskan bahwa sebenarnya ilmu itu bisa diperoleh dari mana saja, tidak hanya dari yang disampaikan oleh dosen. Untuk mengejar materi perkuliahan, kita dapat mengatasinya dengan memahami kembali materi presentasi yang disampaikan oleh dosen dan mencari referensi tambahan dari sumber lain yang dapat dipercaya. Bagi Ghufron, terkadang ia juga meminta bantuan teman yang lebih pintar. Jadi, di tengah keterbatasan pelaksanaan kegiatan belajar ini, kita sebagai mahasiswa sudah seharusnya mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang ada. Menilik Kegiatan Organisasi secara Online
Dalam membagi waktu untuk kegiatan akademik dengan kegiatan organisasi, Ghufron menuturkan bahwa ia hanya tinggal menyesuaikannya saja. “Kalau jadwal pertemuan dan kegiatan organisasi biasanya menyesuaikan dengan pengurus yang lain. Untuk sekarang, kami mengadakan rapat biasanya di malam hari atau di weekend karena di waktu seperti itu biasanya kemungkinan ada kelas relatif kecil,” ujarnya. Menurutnya, semua itu kembali kepada prioritas masing-masing individu pengurus, bagaimana tiap individu tersebut menyesuaikan manajemen waktunya dengan
Pelaksanaan organisasi secara online bukannya tanpa kendala. Kegiatan–kegiatan yang dilakukan secara offline misalnya, pelaksanaannya harus tertunda. Ditundanya kegiatan-kegiatan tersebut diakibatkan oleh kurang efektifnya pelaksanaan apabila dilakukan secara online. “Ya inilah nikmatnya berorganisasi. Kita “dipaksa” menyesuaikan keadaan di manapun dan kapanpun agar tujuan organisasi tetap tercapai,” ungkapnya. Di sisi lain, pelaksanaan organisasi secara online memiliki nilai plus tersendiri. Bagi Ghufron, sistem online membantu memperluas program kerja seminar KSPM. Ghufron menjelaskan, ”Setiap tahunnya semnas diselenggarakan dengan partisipan yang hampir 100% domisili di kota Semarang. Tapi kalau kita ubah konsepnya jadi seminar online, jangkauannya bisa nasional atau bahkan internasional.” Learning from Home Bukan Hambatan untuk Produktif
Meskipun melaksanakan learning from home, baginya kegiatan– kegiatan organisasi yang dilakukan secara online tersebut masih perlu untuk diikuti oleh para mahasiswa. “Kalau semua kegiatan nonakademik berhenti hanya karena learning from home aku kira itu bukan keputusan yang bijaksana,” tuturnya. Di sisi lain, ada juga mahasiswa yang terkesan malas untuk mengikuti kegiatan organisasi yang dilakukan secara online, diakibatkan jenuh selama learning from home. Menurutnya, niat dan tekad yang bulat perlu untuk dimiliki. Lalu, perlu untuk mencari teman yang dapat diajak untuk berkembang bersama. “Menurutku dengan dua hal itu sudah cukup untuk mengatasi rasa malas tersebut,” ujarnya. Ghufron memberikan sejumlah tips dalam melakukan kegiatan perkuliahan online ini. “Tetep melaksanakan perkuliahan sebagaimana mestinya. Ditambahkan dengan kegiatan-kegiatan nonakademik,” ujarnya. Juga, ia menambahkan untuk tetap mengikuti kegiatan-kegiatan nonakademik, agar tidak merasa terlalu bosan selama mengikuti periode perkuliahan online. Selain itu, tetap menjaga komunikasi dengan teman-teman seperjuangan juga perlu dilakukan, agar dapat saling support satu sama lain di tengah wabah pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung ini. “Dan yang terakhir, jangan lupa selalu #stayathome dan #stayproductive”, tutupnya. (amd)
BEM FEB Undip Adakan Banding UKT Secara Online Offline.
Pandemi COVID-19 menyebabkan semua kalangan masyarakat mengalihkan segala aktivitasnya serba online atau dikenal dengan sebutan Work from Home. Istilah Work from Home muncul setelah adanya pembatasan kegiatan di luar rumah. Hal ini juga berdampak pada mahasiswa mengenai pelaksanaan kuliah dalam jaringan (daring) terhitung sejak tanggal 13 Mei 2020. Pelaksanaan banding UKT (Uang Kuliah Tunggal) semester genap pun dilakukan secara online. UKT sendiri merupakan besaran biaya kuliah setiap semester yang harus dibayarkan mahasiswa. Mahasiswa dapat mengajukan banding UKT apabila merasa keberatan mengenai besaran yang terlalu tinggi ataupun tidak sesuai dengan kemampuan orang tua. Pengajuan banding UKT hanya berlaku bagi mahasiswa angkatan lama yaitu angkatan 2019 ke atas, sedangkan mahasiswa baru tahun angkatan 2020 tidak diperbolehkan. Banding UKT sendiri diadakan setahun dua kali atau tiap semester.
Jumlah Pendaftar Melonjak Naik Akibat pandemi COVID-19 banyak pekerja terkena PHK, dirumahkan, bekerja sebagian, mengalami pengurangan gaji dan sebagainya. Diantaranya, merupakan orang tua atau wali mahasiswa. Hal tersebut memengaruhi jumlah pendaftar banding UKT online. Banyak mahasiswa menginginkan pengurangan biaya kuliah karena terkendala masalah ekonomi. “Jadi waktu hari terakhir penutupan kemarin kita data itu hampir dua kali lipat dari tahun kemarin untuk yang banding semester genap,” ucap Fachrul.
Banding UKT Online vs Offline
Pengajuan banding UKT online dapat dilakukan dengan syarat; tulang punggung keluarga meninggal dunia, tulang punggung keluarga mengalami penurunan ekonomi (PHK, pensiun, bercerai, sakit parah kronis yang tidak kunjung sembuh dalam jangka waktu pendek), terkena musibah/bencana alam, serta perekonomian keluarga yang menurun. Persyaratan banding UKT online tersebut sama dengan persyaratan banding UKT offline.
Pembukaan banding UKT online dilaksanakan pada tanggal 20 April 2020. Pendaftaran dan pengumpulan berkas banding UKT semester genap dilaksanakan pada tanggal 20-30 April 2020, kemudian dilanjutkan dengan tahap wawancara tanggal 4-9 Mei 2020. Adapun pelaksanaan tahap wawancara dilakukan melalui aplikasi Microsoft Teams dengan on cam dan on voice. Perbedaannya dengan banding UKT offline adalah, dahulu pengumpulan form dilakukan langsung ke sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro
LPM Edents FEB Undip
Dok. Amanat.id
(Undip), sedangkan sekarang pemohon cukup mengisi form online kemudian melakukan wawancara secara online melalui Microsoft Teams. “Wawancaranya dilakukan secara online melalui aplikasi Teams. Ada dua orang pewawancara mewawancarai satu orang,” ucap Fachrul selaku Ketua Bidang Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Advokesma) BEM FEB Undip. Setelah wawancara, berkas-berkas pendukung dimasukkan dalam amplop dan dikirim melalui pos ke salah satu penanggung jawab kegiatan banding. “Jadi ada dari BEM FEB dan himpunan secara garis besar menyeleksi berkasnya, entah dari segi kelengkapan, entah dari segi berkas itu,” lanjut Fachrul. Setelah itu berkas-berkas banding UKT online dikirim ke pihak Dekanat FEB Undip. Berkas-berkas pendukung yang dibutuhkan juga kurang lebih sama dengan banding UKT
lpmedentsundip.com
Rupanya dari dekanat sendiri juga tidak ada pembatasan mengenai jumlah penerima banding UKT. “Kalau untuk dari Dekanat sendiri ya, sebenarnya tidak ada berapa total yang harus lolos dan berapa total yang diloloskan, itu nggak ada,” ungkap Fachrul. Berkas-berkas pendukung merupakan faktor utama penentu lolos tidaknya pemohon dalam mengajukan banding UKT. Fachrul juga menambahkan, “Jadi, mereka (baca: Dekanat FEB Undip) tetep melihat dari berkas-berkasnya waktu seleksi. Setelah seleksi dari kita kan seleksi dari mereka lagi. Nah, itu mereka tetap melihat berkasnya dari segi skala prioritas, siapa yang paling prioritas untuk dibantu seperti itu.” Hambatan Selama Pelaksanaan
Hambatan yang dirasakan baik oleh pemohon ataupun BEM FEB sebagai fasilitator adalah ketika wawancara. Kendalanya seperti masalah jaringan serta beberapa mahasiswa yang memiliki keterbatasan alat komunikasi seperti laptop. “Wawancara pakai Teams dan juga kita menganjurkan untuk mengaktifkan kamera. Jadi mungkin terkendala masalah sinyal dan teknis sih yang bikin wawancaranya agak molor, dan juga kadang mungkin putus-putus karena kan perbedaan sinyal di berbagai tempat,” ucap Fachrul. (amd)
@tbv2341m
@lpmedents