Page 1

AHUN I 12 EDISI 0011 8 TTAHUN

Opini

“Cakar” Pilihan Sambut Lebaran

--koranmandar/ M. Ridwan

Oleh: Juniarti Hamid

Gantungan baju yang lapuk di penjual cakar

Dalam himpitan ekonomi yang melanda negeri ini, masyarakat mencari alternatif dalam menyikapi baju lebaran.Di beberapa tempat terlihat warga menyerbu tempat penjualan baju bekas, seperti yang saya lihat di televisi. Seperti di pelataran Stadion Gajayana, Malang Jawa Timur. Stand baju bekas dikerumuni warga yang ingin menjadikannya baju lebaran.Hal sama juga terlihat di Kab.Jeneponto sebagian warganya memilih baju bekas sebagai baju lebaran. Hal yang sama terjadi di Sulbar.Ada kecendrungan sebagian masyarakat lebih memilih baju bekas untuk dijadikan baju lebaran.Selain harganya lebih murah, kualitasnya lebih bagus itulah alasan lebih memilih baju bekas. Untuk wilayah Sulbar baju bekas lebih populer dengan nama cakar. Istilah itu ada sejak

tahun 80-an, cakar merupakan kepanjangan dari “cap karung”. Karena dibungkus didalam karung.Salah satu yang mengenalkan cakar era 80-an di wilayah Sulbar adalah almarhum Paramisi, beliau membawanya datang dari Nunukan, Kalimantan Timur. Cakar di Nunukan didatangkan dari Malaysia. Seminggu sebelum hari Raya Idul Fitri, saya menemui salah satu penjual cakar yang biasa berjualan di pasar Tinambung.Anwar (22 tahun) adalah salah satu dari sekian banyak penjual cakar yang keliing di pasarpasar di wilayah Polman.Menurutnya omset penjualannya biasanya meningkat menjelang lebaran.Tapi tahun ini tidak sama tahun lalu, hasil penjualan cakar tahun ini agak berkurang.Mungkin daya beli masyarakat mulai berkurang. Cakar diambil dari Pare-Pare yang merupakan jalur masuk pakaian

bekas dari Malaysia. Satu ball berisi dua sampai tiga karung pakaian bekas, tergantung jenis pakaiannya.Untuk baju anakanak dibelinya sekitar 3 juta per bal,baju kemeja 3 sampai 4 juta per bal, celana jeans sekitar 2 juta per bal.Anwar kemudian menjualnya perlembar. Baju anak–anak kadang dijual Rp 2.500 sampai Rp 5.000 perlembar. Celana jeans Rp 35.000 sampai Rp 70.000 per potong.Omsetnya saat ini sekitar 10 juta,dan penjualan cakar sudah dijalaninya selama 2 tahun. Terlepas dari alasan masyarakat menjadikan cakar sebagai baju lebaran.Ada hal positif yang kita bisa rasakan manfaatnya.Yaitu menjadikan bumi hijau,membantu pelestarikan lingkungan.Dengan menjadikan cakar sebagai baju lebaran atau memakai baju lebaran tahun sebelumnya. Akan

mengurangi produksi pakaian.Bumi semakin tua, akan semakin dipercepat dengan konsumsi yang berlebihan.Sudah saatnya kita semakin bijak memanfaatkan alam. Sebaiknya baju yang sudah tidak kita pakai, yang masik layak. Sebaiknya diberikan kepada yang membutuhkan. Masih banyak saudara–saudara di sekeliling kita yang lebih membutuhkannya. Daripada menumpuk dalam lemari.Selain membersihkan lemari juga untuk beramal. Situasi yang terjadi di negri ini dengan menjadikan baju bekas sebagai baju lebaran (terlepas dari alasan pelestarian lingkungan) adalah gambaran nyata masyarakat yang jauh dari kesejahteraan dan serba kecukupan.Sehinggga baju bekaspun menjadi alternatif murah meriah merayakan lebaran. (ed-mra)

Hal 12_oke  

Oleh: Juniarti Hamid Gantungan baju yang lapuk di penjual cakar --koranmandar/ M. Ridwan EDISI 0EDISI0EDISI0EDISI0EDISI011111 8 T8T8T8T8TAHU...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you