Page 1

E d i s i 1 / Ta h u n I / J u l i 2 0 1 2

Online

Cunong Nunuk Suraja Khrisna Pabichara Chairil Anwar

Altruis Jojo Jiwang Muhtadin Vivi Yulianti

Pekan Sastra Diksatrasia 2012 UKM Seni dan Budaya Unpak

Yusuf Nugraha Wahyudimalamhari Nugraha A. Baesuni Menulis Bukan Musik Biasa


2

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

WANGI Cunong Nunuk Suraja ULAS Khrisna Pabichara TOKOH Chairil Anwar LEGIT Pekan Sastra Diksatrasia 2012 Forum Bukan Musik Biasa LIMUN Ilustrasi sampul depan: Topeng karya Wahyudimalamhari

KOPI Sastra @kopisastra

UKM Seni dan Budaya Unpak TUNAS Yusuf Nugraha Altruis Jojo Jiwang Muhtadin

Vivi Yulianti Nugraha A. Baesuni

Ujung Senja

Wahyudimalamhari

Online Pemimpin Redaksi-Penanggung Jawab: Presiden Kopi Sastra Wakil Pemimpin Redaksi: Celoteh Jincurichi Pengumpul Naskah: Celoteh Jincurichi, Helmy Fahruroji, Havid Yazid Al Gifari, Hermawan Boat, Nugraha A. Baesuni Editor: Arif Sufyan, Indri Guli, Sanghitam Peliput Berita: Doni Dartafian A., Indra Nugraha, Rahmat Halomoan, Agus Arifin Pemotret: Hady Alvino. Sekretaris: Tidy Yulistina Andriani. Perancang Grafis dan Tata Letak: Wahyudimalamhari Ilustrasi Gambar: Wahyufimalamhari, Linda Umamah, Doni Hyoujin. Distribusi: Celoteh Jincurichi, Miftahul Falah. Iklan dan Keuangan: Nugraha A. Baesuni, Presiden Kopi Sastra, Qustan Sabar. Surel Redaksi: kopisastra@gmail.com Redaksi Majalah Online terbuka dalam segala bentuk komunikasi berupa tegur sapa, kiriman karya, liputan kegiatan, komunitas sastra/budaya (regional/kampus/sekolah), pengajuan pemasangan Iklan Pustaka Budaya maupun Iklan Umum Komersil melalui surel ke kopisastra@gmail.com, atau pesan pada https://www.facebook.com/kopisastra


3

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

KUASA MAKNA ATAS PUISI-PUISI TIGA PENYAIR MENGUAK SAPARDI DJOKO DAMONO oleh Cunong Nunuk Suraja

Awalan Dalam buku Seno Gumira Ajidarma (2008) Kentut Kosmopolitan dikatakan bahwa inilah celakanya hidup di dunia yang terbentuk oleh makna, karena dalam proses pembermaknaan berlangsunglah pertarungan antar makna untuk menggapai kuasa. Sedangkan kuasa atas makna, tak lebih dan tak kurang adalah suatu kibul. Makna memang begitu pluralnya sehingga tiada satu pun kuasa atas makna dapat diterima sebagai penafsiran absolut. ... karena hegemoni makna sebetulnya juga merupakan konstruksi bersama. Tidak datang hanya dari negara, tapi juga boleh para penerimanya, sehingga ketika administrasi kuasa berganti, sebenarnya tidak berarti konstruksi yang tercokolkan dalam internalisasi berpuluh tahun itu berganti.

Dalam hal memaknai kuasa makna tersebut dapat menyangkut pada lawan makna homogenitas pada heterogenitas yang oleh Seno Gumira Ajidarma diisyaratkan sebagai bukan satusatunya penyebab membedakan kebudayaan urban dengan kebudayaan tradisional yang


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

4

Online

seolah-olah menjadi lebih mudah disiasati karena dalam homogenitas pun setiap anggota masyarakat tidak mungkin menjadi individu yang sama dan sebangun dengan lainnya, sehingga berbagai macam klasifikasi perbedaan masih mungkin dilakukan. Berangkat dari memaknai kuasa homogenitas dan heterogenitas dapat dihubungkan dengan tesis Nirwan Dewanto (2010) tetang puisi yang sangat mungkin kata-kata berjuang untuk tidak mengatakan apa-apa. Tetapi puisi mustahil mencapai kekosongan semacam itu, sebab kata terlanjur punya arti yang dibaku-bekukan oleh kamus dan wicara umum. Puisi, dengan begitu selalu menjaga tegangan antara arti dan kekosongan. Jika penyair tahu bahwa ia mustahil mencapai keadaan nirarti, nirrupa atau nirsuara, maka ia selalu terus memperlihatkan usaha ke arah sana – usaha yang mungkin sia-sia, tetapi yang belum tentu tidak bermakna.Puisi adalah nyanyi sunyi, untuk mengutip judul kumpulan sajak Amir Hamzah. Sebuah paradoks: bahwa untuk mencapai sunyi, kita memerlukan nyanyi; atau, untuk bernyanyi, kita harus sedekat mungkin dengan sunyi. Kekosongan, atau kesunyian, adalah tujuan terjauh yang harus dicapai penyair, ketika bahasa selalu menjadi penjara bahasa.

Ketika berhenti di sini, yakni pada sebuah sajak Sapardi Djoko Damono, kita mengerti ada yang telah musnah: beberapa patah kata yang segera dijemput angin begitu diucapkan dan tak sampai kepada siapa pun. ... kita menjalani sebuah paradoks dengan sukarela – yaitu mengerti tentang ketidakberartian: ada beberapa patah kata, siapa pun yang mengucapkannya, mungin 'ia' sendiri, mungkin mereka, mungkin kita, yang tak sampai ke siapa pun; namun kita juga mengerti bahwa anginlah yang menjemputnya. Tidak juga penting tentang apa isi katakata itu, juga ke mana beberapa patah kata itu pergi, tetapi, ia, juga kita, sepenuhnya paham, meski si ia tak menceritakan apa pun, misalnya saja lanskap apa yang dilihatnya di sini, atau apa pula perasaannya; bersama ia, kita maklum bahwa kata-kata mengelak dari beban arti, dari tangkapan siapa pun yang hendak menundukkannya sebaga alat komunikasi. Pada sisi lain Suminto A. Sayuti (2010) menandai bahwa elemen yang secara spontan bergegas keluar dari sudut paling rahasia dari personalitas diri tersebut menjatuhkan warna unik pada apa yang diciptakannya. Lanskap, deskripsi, pemetaan dan pilhan atmosfer puisi, kadang bahkan menjungkirbalikkan entensi sadarnya secara subtil. Tentu, juga menjungkirbalikkan intensi sadar


5

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

sadar dan persepsi kita sebagai pembaca. Penyair (Sapardi Djoko Damono) pun memilih dan menetapkan suatu makna atau simbolisme, yang dalam sejumlah hal tidak serupa dengan gagasan kita, tetapi seringkali secara substansial, malah bertabrakan. Lebih jauh Sunu Warsono (2010) mengungkapkan bahwa dapat dipahami bahwa sajak imajis tidak bertolak dari atau tersusun berdasarkan ide atau gagasan tertentu yang telah jelas dalam benak si penyair sehingga katakata hanya hadir sebagai kendaraan untuk menyampaikan ide, gagasan, atau suatu tesis tertentu. Kata-kata yang muncul lebih sebagai unsur yang bersamasama membentu imaji (gambar) y a n g u t u h .

“Hal ini didukung oleh pendapat Sapardi Djoko Damono (1983) bahwa kata-kata adalah segalanya dalam puisi.�

Gambar itu pada dasarnya adalah dunia kata yang tersusun melalui kata-kata yang dipilih penyair. Dalam konteks itu, kata-kata lebih berperan sebagai pendukung pembaca dengan dunia kata atau dunia intusisi penyair. Hal ini didukung oleh pendapat Sapardi Djoko Damono (1983) bahwa kata-kata adalah segalanya dalam puisi. Kata-kata tidak sekedar berperan sebagai alat yang menghubungkan pembaca dengan ide penyair, seperti peran kata-kata dalam bahasa seharihari dan prosa pada umumnya, tetapi sekaligus sebagai pendukung imaji dan penghubung pembaca dengan dunia intusisi penair. Meskipun peranannya sebagai penghubung tak bisa dilenyapkan, namun yang utama adalah sebagai obyek yang mendukung imaji. Hal inilah yang membedakannya dari kata-kata dalam bukan puisi. Tesis-tesis ini sangat berseberangan dengan kredo Sutardji Coulzum Bachri yang membebaskan kata dari beban makna, ide dan penjajahan pengertian dan dimaknai kata-kata boleh bebas berjumpalitan membelah dan bergabung semaumaunya.


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

6

Online

MataJaman Sekumpulan Sajak Tiga Penyair Menguak Sapardi Djoko Damomo

Berbekal keraguan titi mangsa kelahiran buku ini dari kawah penerbitan masih dirancukan lagi dengan tanpa titi mangsa pada puisi-puisi Budhi Setyawan kecuali beberapa puisi Sosiawan Leak yang terbentang antara 2004–2009 dan Jumari HS pada rentang 1999–2010. Dapat diduga buku ini terbit pada tahun 2011 atau 2012. Masa-masa yang cukup hinggar berbagai kelompok penyair memunculkan antologinya mulai dari Senandung Bandung, Radja dan Ratoe Ketjil, Negeri Poci hingga Puisi Mbeling 2012: Suarasuara yang Dipinggirkan.

Dengan kulit buku berwarna kelam besuasana mistis sosok tangan kiri menggengam buah apel berwarna hijau menyarankan sebuah ingatan akan bencana turunnya manusia pertama ke bumi dari sorga tetapi sosol tangan kanan menjulur melampaui margin buku dan muncul di kulit buku bagian belakang menggegam pangkal batang yang mungkin pedang, golok ataupun pentungan. Ketiga penyair yang sengaja menguak Sapardi Djoko Damono dalam lirik imajis dan berbekal runutan tradisi pantun yang tertemukan dalam nafas puisi Indonesia moderen telah dirintis Amir Hamzah, Chairil Anwar hingga ke tongkat estafet kepenyairan Afrizal Malna dan Joko Pinurbo, tercatat nama Budhi Setyawan, Jumari HS dan Sosiawan Leak yang berdomisili pada kota yang berbeda dan latar belakang kehidupan yang beragam. Buku Kumpulan Puisi MataJaman ini lahir tanpa angka tahun.


7

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Sebuah gairah penciptaan yang dipicu semaraknya teknologi informatika dalam wujud pertemanan Facebook. Tak heran posisi tempat tinggal ketiga penyair ini juga di tiga kota. Ketiganya mencoba menguak Sapardi Djoko Damono yang telah dimitoskan sebagai penyair liris-imajis walaupun oleh Nirwan Dewanto (2010) diposisikan sebagai titik tengah diantara penyair Pujanggga Baru, Angkatan 45 dan penyair yang datang kemudian setelah tahun 2000. Tradisi syair yang bernama pantun dan yang dari barat dikenal dengan sebutan sonet(a) menjadi ciri pokok perkembangan puisi-puisi moderen Indonesia setelah perang dunia. Dari ketiga penyair yang mencoba menguak mistei kepenyairan Sapardi Djoko Damono dengan gaya liris dan bentuk sonet(a) dan pantun-syair moderen, Budhi Setyawan yang paling setia dengan bentuk kwatrin yang dapat dilacak dari puisi Sapardi yang terkumpul pada Mata Jendela (2010) TANGAN WAKTU selalu terulur ia lewat jendela yang panjang dan menakutkan selagi engkau bekerja, atau mimpi pun tanpa berkata suatu apa bila saja kautanya: mau apa berarti terlalu jauh kau sudah terbawa sebelum sungguh menjadi sadar bahwa sudah terlanjur terlantar belum pernah ia minta izin memutar jarum-jarum jam tua yang segera tergesa-gesa saja berdetak tanpa menoleh walau kauseru selalu terulur ia lewat jendela yang makin keras dalam pengalaman mengarah padamu tambah tak tahu memegang leher bajumu 1959


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

8

Online

Bandingkan dengan sajak Budhi Setyawan. selalu terulur ia lewat jendela Di Luar Wilayah kupu-kupu berlari mendaki perbukitan angin lembut jejaknya nampak di kening senja lampu berjalan sendiri di jalanan di antara hiruk pikuk jengkerik kemasan manis dunia terlalu banyak menipu sebab isi tak sesuai mereknya menerkam letupan hasrat untuk menjajah wilayah di luar kehendak makhluk cerita bersambung di bawah tekanan udara dingin panas bergelayutan keringat semut mnempel di daun nila kehidupan sarat mengandung tanda baca

Budhi Setyawan mencoba merunut kwatrin dengan pola sampiran pada pantun yang oleh Chairil Anwar sudah ditilik Nirwan Dewanto (2010) dengan mengambil bentuknya tapi diperluas bukan pada baris tetapi pada bait demi bait. Perhatikan bait pertama sajak Budhi Setyawan yang memotret alam dapat disamasejajarkan sebagai sampiran dalam pantun demikian juga kecenderungan puisi Sapardi Djoko Damono yang tampaknya lebih disiplin menempatkan potretan alamnya sebagai sampiran.

yang panjang dan menakutkan selagi engkau bekerja, atau mimpi pun tanpa berkata suatu apa

selalu terulur ia lewat jendela yang makin keras dalam pengalaman mengarah padamu tambah tak tahu memegang leher bajumu


9

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Sajak Budhi Setyawan yang lain dapat juga disandingkan di sini seperti Betapa Ku Takjub (h. 8), Pengejaran (16), Terbit Cahaya (h. 18), Yang Mengepung Kota (h. 23), Bulan Ikan (33), dan Sangkan Paran Puisi (38). Sisa sajak yang lain beragam bentuk dicova walau tak juga meninggalkan kesan lirik dan sampirab pantun pada bait-bait yang memotret keadaan situasai alam atau di luuar tuubuh penyair. Perhatikan salah satu bentuk soneta dalam kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono Kolam (2009) berikut: URAT DAUN /1/ ia pernah ingin sekali tahu siapa yang menyisipkan selembar daun di sela-sela halaman buku (yang penuh dengan catatan kaki) di antara halaman 89 dan 90 yang sampai hari ini belum juga selesai dibaca /2/ ia pernah ingin sekali bertanya mengapa daun itu tetap hijau dan tidak hanya tinggal urat yang bentuknya mengingatkannya pada ambang pohon kehidupan /3/ ia pernah ingin sekali menutup telingat dan mulutnya rapat-rapat

Bandingkan dengan soneta Jumari HS berikut: DI ATAS PERAHU Di atas perahu kecil Pada luasnya laut Di mataku ikan-ikan itu bersembahyang Dan cakkrawala mentakbrkan asma Mu Di angkasa, Camar-camar berlintasan Ombak pun berdebur di dada Dan pencarianku menemukan sayap malaikat Menerbangkan jiwa ini ke langit cinta Di atas perahu kecil Pada luasnya laut aku hanyyalah rintk gerimis Di musim kemarau : Menggelepar dalam rindu! Kudus, 2010


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

10

Online

Dengan pola soneta yang terbatasi pada 14 baris peyair yang mencoba mnguak kemiterian penciptaan soneta Sapardi Djoko Damono tergelincir pada baris ke limabelas seperti pada sajak Tembang Bagi Istri (h. 46), dan Hujan di Brunei (h. 52). dan sebuah puisi yang selintas nampak seperti hitungan soneta dengn 14 baris:

SAJAK BUAH KULDI Kutemukan sisa tubuhmu Di antara kursi-kursi pejabat yang menjumawa Dan aromanya begitu menyengat, mengundang tikustikus Mengerumuni, lalu melahap tanpa peduli ketiaknya Menciptakan mimpi buruk di negeri ini Di mana-mana, Bahkan di hotel-hotel tubuhmu Membuat lapar dan hampir setiap orang mengunyahnya Dalam gairah, segairah kemarau panjang Membakar hutan-hutan pulaupulau bahkan cinta Sampai sungai mengalir gelisah Sampai laut bergelombang dendam! Kutemukan sisa tubuhmu Aku termangu memandangi kekalahan-kekalahan!

Sesuatu yang menyaran dalam sajak ini hanyalah kesan tentang buah kuldi dengan ungkapan: Bahkan di hotel-hotel tubuhmu Membuat lapar dan hampir setiap orang mengunyahnya Tetapi ungkapan ini terasa kering imaji yang dtimbulkan walau adda gaung tentang penciptaan dosa pertama manusia hingga terusir dari sorga. Lalu apa yang dicapai dengan: Aku termangu memandangi kekalahan-kekalahan! Mampukah penyair kedua ini mengak ketokohan Sapardi Djoko Damono dalam bentukbentuk kreatif sonetanya? Ternyata penyair ini sudah mencoba mensonetakan gagasannya walau kekuarang baris maupun kelebihan baris dari 14 blas yang disyaratkan sebagao soneta.


11

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Penyair ketiga Sosiawan Leak adalah penyair yang mencoba menguak Sapardi Djoko Damono pada sisi puisi prosa lirisnya. Kemauan enyair bercerita menjadikan sajaknya tidak bernyanyi liris tetapi lebih memprosa bahkan seandainya dijadikan cerita pendek atau novel yang lebih terbuka rentang enginderaan imaji kreatifnya. Simak kutipan berikut: PERTEMPURAN BAPAK IBU sudah lama bapak an ibu bermusuhan mereka saling mengumpat di meja makan di hadapan ayam panggang ikan bakar dan sayur mayur yang dibeli di jalanan juga buah-buahan import usai gajian sembunyi-sembunyi meeka saling tampar saat berebut antri ke kamar mandi lantas adu muut, adu bdan hingga gedabigan di kamar meski tidak sedang bermesraan sudah lama bapak dan ibu pisah ranjang saling mengarang keburukan bagi musuhnya smbil menjaring simpati kami memasang spanduk, poster dan panji-panji di jalanan, perempatan dan gang-gang samping kamar mengobral janji dimkoran dan televisi sambil memberi ongkos jajan dan uang sekolah kami meninabobolan dengan dongeng perdamaian mengajarkan budi pekerti etika dan doa, sembari tetap bermusuhan sudah lama bapak dan ibu melamar perceraian tapi tak pernah kesampaian sebab biayanya terabaikan oleh pajak listrik, telepon, air minum dan belanja harian hingga rumah, hanya jadi medan pertempuran dan kami, cuma menjelma angka untuk membilang kemenangan pelangi-mojosongo, solo 2009


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

12

Online

Bandingkan dengan sajak Sapardi Djoko Damono yang menguat dalam karakterisasinya walau tak mengabaikan prosa liris dan imajisnya.

POHON BELIMBING Sore ini kita berpapsan dengan pohon belimbing wuluh yang kita tanam di halaman rumah kita bebrapa tahun yang lalu, is sedang berjalan-jalan sendirian di trotoar. Jangan kausapa, nanti ia bangun dari tidurnya. Kau pernah bilang ia tidak begitu nyaman sebenarnya di pekarangan kita yang tak terurus dengan baik, juga karena konon ia tidak disukai rumput di sekitarnya yang bosan menerima buahnya berjatuhan dan membusuk karena kau jarang memetiknya. Kau, kan, yang tak suka sayur asem? Aku paham, cinta kita telah kausayur selama ini tanpa belimbing wuluh. Demi kamu, tau! Yang tak bisa kupahami adalah kenapa kau melrangku menyapa pohon itu ketika ia berpapasan dengan kita di jalan. Yang tak akan mungkin bisa kupahami adalah kenapa kau tega membiarkan pohon belimbing itu berjalan dalam tidur? Kau, kan, yang pernah bilang bahwa pohon itu akan jadi tua juga akhirnya?

Tengoklah bagaimana Sapardi Djoko Damono mengadkmimaji dan gagasan pohon belimbing menjadi pertengaran suami istri seperti yang dilakukan Sosiawan Leak walau tak segaduh melempar-lemparkan perabotan rumah tanga dalam pertempuran dakam rumah sepasang suami istri yang bertengkar.


13

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Simpulan Ketiga penyair itu dengan jurus masing-masing telah menguak Sapardi Djoko Damono dalam tiga jurus lihai yang dikuasai secara mumpuni. Apalagi jika ketiganya tega mengulik misteri puisi Goenawan Mohamad yang juga mempunyai sisi lirik dalam warna yang beda bukan titik tengah perpuisian moderen Indonesia dari gerakanan pantun klasik Chairil Anwar yang termoderenkan dengan keleluasaan dalam membebaskan aturan beku-baku syair maupun pantun. Milik Goenawan tentu akan lebih rumit itu dijejaki kecuali melalu sajak-sajak Sosiawan Leak dan beberapa milik JumariHS maupun Budhi Setyawan. Bogor, Mei ke 24, 2012 Cunong Nunuk Suraja lahir di Yogyakarta,9 Oktober 1951. Kini pengajar Intercultural Communication di FKIP - Universitas Ibn Khaldun Bogor. Menulis thesis tentang Puisi Digital untuk S2 di FIB-UI jurusan Susastra 2006. Karyanya yang pernah dipublikasikan: Bulak Sumur – Malioboro. (Antologi Puisi Bersama). 1975. Yogyakarta: Dema UGM, Lirik-lirik Kemenangan. (Antologi Puisi Indonesia). 1994. Yogayakarta: Taman Budaya Propinsi DIY, Antologi Puisi Indonesia 1997. (Antologi Puisi Bersama). 1997. Bandung: Komunitas Sastra Indonesia dan Penerbit Angkasa Bandung, The American Poetry Annual. 1996. New York: The Amherst Society, The Lasting Joy, The national Library of Poetry. 1998. Owings Mills: The National Library of Poetry, The Chorus of the Soul, The International Library of Poetry. 2000. Owings Mills: The International Library of Poetry, Graffiti Gratitude. (Antologi Puisi Cyber). 2001. Bandung: Yayasan Multimedia Sastra dan Penerbit Angkasa Bandung, Pasar Kembang, Yogyakarta dalam sajak. (Antologi Puisi Bersama). 2001. Yogyakarta: Komunitas Sastra Indonesia Yogyakarta, Graffiti Imaji. (Kumpulan Cerpen Pendek). 2002. Jakarta: Yayasan Multimedia Sastra dan Penerbit Damar Warga, Les Cyberlettres (Antologi Puisi Cyberpunk). 2005. Jakarta: Yayasan Multimedia Sastra, Mekar di Bumi. (Visiografi Eka Budianta). 2006. Jakarta: Pustaka Alvabet, Jogja 5,9 Skala Richter (Antologi Seratus Puisi). 2006. Yogyakarta: Penerbit Bentang


15

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

SEPATU DAHLAN karya KHRISNA PABICHARA

“Di antara beragam tanggapan tentang Dahlan Iskan, hadirlah sebuah novel berjudul 'Sepatu Dahlan'. Novel ini menceritakan kisah-kisah semasa muda Dahlan Iskan. Beragam perilaku kanak-kanak, mulai dari keluguan, keberanian, kenakalan, dan mimpi Dahlan ketika kecil sangat layak untuk kita nikmati dan telaah.�

Sejak nama Dahlan Iskan resmi menjadi menteri BUMN (yaitu 19 Oktober 2011), banyak orang menaruh harapan besar padanya, terlebih karena integritas dan totalitasnya selama menjadi direktur utama PLN. Selanjutnya, beragam tindakan Dahlan tiba-tiba menjadi sorotan media. Penampilannya yang nyeleneh dan tidak terlalu suka dengan formalitas, serta keputusan-keputusannya yang mengernyitkan dahi banyak orang; seperti tentang memberikan kompensasi pada pencipta tokoh Pak Raden, atau ketika pembukaan paksa gerbang tol Semanggi, telah menimbulkan tanggapan terbuka dari rakyat Indonesia. Di antara beragam tanggapan tentang Dahlan Iskak, hadirlah sebuah novel berjudul 'Sepatu Dahlan'. Novel ini menceritakan kisah-kisah semasa muda Dahlan Iskan. Beragam perilaku kanakkanak, mulai dari keluguan, keberanian, kenakalan, dan mimpi Dahlan ketika kecil sangat layak untuk kita nikmati dan telaah. Hadirnya novel ini seakan memberi jalan untuk pembaca, tentang bagaimana harus menanggapi keputusan-keputusan dan tindakantindakan Dahlan yang sering muncul di media, juga tentunya sebagai bagaimana kita menanggapi berbagai persoalan yang dimiliki negeri ini.


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

16

Online

Sekilas tentang penulis

'Sepatu Dahlan'

KHRISNA PABICHARA Khrisna Pabicara, lelaki kelahiran Makassar ini mengaku, mulai serius dalam dunia penulisan sejak 2007. Meski begitu, baru pertama kali ia menerbitkan novel. Lalu, hasilnya? Ya, sehebat 'Sepatu Dahlan'. Buku 'Sepatu Dahlan' ini adalah buku ke-14 yang pernah diterbitkan Khrisna. Buku ini menjadi sangat penting bersamaan dengan pentingnya manufermenufer yang di lakukan sang tokoh novel di dunia nyata.

Sumber Foto: Google. Dari Endah Sulwesi

Khrisna bukanlah orang baru dalam dunia kepenulisan nasional. Sebelumnya, ia lebih dikenal sebagai penulis cerpen dan puisi. Beberapa buku kumpulan cerpen dan kumpulan puisi telah ia terbitkan. Dalam sebuah wawancara kami bertanya tentang jenis tulisan apa yang paling disuka, Khrisna menjawab puisi. “Puisi membuat saya berpikir lima kali dibanding tulisan lain�, begitu katanya. Khrisna mengaku, bahwa inspirasi yang memicu untuknya menulis dan terus menulis adalah Kakek. Sang Kakek diakuinya suka menulis dalam aksara Lontara Makassar, juga aksara arab tapi dalam bahasa Makassar. Setiap hari Sang Kakek menulis, lalu ia lagukan tulisannya setiap malam. “Dari kecil, sampai saya tamat SMP itu mendengarkan begitu setiap malam. Kakek menulis, lalu menyanyikannya. Dari situ saya bercita-cita menjadi penulis�. Cita-cita itu pun akhirnya terwujud sejak mulai serius menggeluti dunia kepenulisan pada tahun 2007. Khrisna mengakui bahwa dunia kepenulisan di negeri ini memang cukup berkembang, apalagi sejak berkembangnya dunia sosial media seperti blog, facebook, dan twitter. Dari sana semakin banyak orang sudah menganggap bahwa menulis itu bukan sesuatu yang klasik apalagi sulit, meskipun kalau bicara kualitas masih banyak kekurangan, diantaranya masih banyak orang yang menganggap ragam cakap sama saja dengan ragam tulisan, padahal banyak aturan yang harus diperhatikan dalam menulis.


17

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Khrisna pun berpendapat bahwa kecintaan orang-orang terhadap media sosial memang diiringi kekurangan, yakni sedikit banyak telah mengurangi keinginan orang membaca literatur dalam kertas. “Hasilnya, kejernihan dan kecerdasan gramatikal pun tidak berkembang, karena orang-orang lebih senang membaca sesuatu yang ada di media sosial dengan kosakata yang terbatas. Terlepas dari semua itu, keinginan seseorang untuk menulis saja sudah sangat bagus” tegas Khrisna. Ketika ditanya apa manfaat sastra saat ini bagi Negara, Khrisna mengaku tidak peduli. “Sebenarnya saya tidak peduli apa manfaat sastra bagi Negara. Karena saya melihat orang-orang yang saat ini menjadi penyelenggara Negara sepertinya mereka tidak membaca karya sastra, apalagi mengejawantahakan bacaan sastra ke dalam kehidupan seharihari. Sastra berguna bagi siapapun yang membacanya. Jadi, kalaupun ada penyelenggara Negara yang membaca sastra dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tentu akan sangat baik buat Negara ini. Misalnya saja, Pramudya Ananta Toer pernah menulis novel korupsi. Seandainya bacaan ini ditelaah dengan baik oleh penyelenggara Negara, tentu mereka akan malu” tegasnya panjang lebar. Hal ini patut kita akui. Sejalan dengan apa yang dikatakan Khrisna, Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna mengungkapkan, 'sesuai dengan hakikatnya, sebagai sumber estetika dan etika, karya sastra tidak bisa digunakan secara langsung. Sebagai sumber estetika dan etika, karya sastra hanya bisa menyarankan'. Ketika saransaran tidak pernah diterima maka inilah Indonesia jadinya. Meski begitu, tentu kita tentu harus terus berharap baik, berdoa dan berjuang untuk kesejahteraan Indonesia. Perbincangan singkat dengan Khrisna Pabicara, penulis novel 'Sepatu Dahlan' telah memberikan banyak hal seputar pandangannya terhadap sastra dan sekitar kita. Pandangan serta ide-idenya dalam menghadapi hidup ini sungguh luar biasa, dan buku 'Sepatu Dahlan' adalah salah satu bahan bacaan yang wajib kita telaah serta ejawantahkan dalah kehidupan sehari-hari. Kami melontarkan pertanyaan pamungkas pada siang menjelang sore kala itu; “Sampai kapan Pak Khrisna mau menulis?” Dengan tegas Khrisna menjawab, “Sampai mati”. (INQ/NAB)

Khrisna Pabichara

1bichara


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

18

Online

Chairil Anwar Si Binatang Jalang Nama Chairil Anwar mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di Majalah Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun. Hampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian. Namun saat pertama kali mengirimkan puisipuisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Sumber Foto: Google Image Ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil Anwar jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil Anwar tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, namun bercerai pada akhir tahun 1948. Vitalitas puitis Chairil Anwar tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949; penyebab kematiannya tidak diketahui pasti, menurut dugaan lebih karena penyakit TBC. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw menyebutkan bahwa "Chairil Anwar telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyarah yang terdapat dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus".


19

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Selama hidupnya, Chairil Anwar telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi; kebanyakan tidak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisi terakhir Chairil Anwar berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949, sedangkan karyanya yang paling terkenal berjudul Aku dan Krawang Bekasi. Semua tulisannya baik yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak, dikompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Kompilasi pertama berjudulDeru Campur Debu (1949), kemudian disusul oleh Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Aku

adalah sebuah puisi karya Chairil Anwar, karya ini mungkin adalah karyanya yang paling terkenal dan juga salah satu puisi paling terkemuka dari Angkatan '45. Puisi ini pula yang menjadikan Chairil Anwar mendapat julukan Si Binatang Jalang. Aku memiliki tema pemberontakan dari segala bentuk penindasan. Penulisnya ingin "hidup seribu tahun lagi", namun ia menyadari keterbatasan usianya, dan kalau ajalnya tiba, ia tidak ingin seorangpun untuk meratapinya.


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

AKU Kalau sampai waktuku Kumau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943 Chairil Anwar

20


21

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai bupati Inderagiri, Riau. Ia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Sebagai anak tunggal, orang tuanya selalu memanjakannya. Namun, Chairil Anwar cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun; sedikit cerminan dari kepribadian orang tuanya. Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orangorang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak lagi bersekolah. Chairil Anwar mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, ia telah bertekad menjadi seorang seniman. Pada usia 19 tahun, setelah perceraian orang tuanya, Chairil Anwar bersama ibunya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dimana ia berkenalan dengan dunia sastra; walau telah bercerai, ayahnya tetap menafkahinya dan ibunya. Meskipun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Ia juga mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Penulis-penulis tersebut sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap tatanan kesusasteraan Indonesia. (WHY dari berbagai sumber)


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

22

Online

Pasang Aksimu!

Kami sediakan space iklan (non iklan baris) murah di sini hanya Rp. 150.000,untuk dua edisi berikutnya silakan hubungi: 08567360301 (Wahyu) 085781187826 (Nunu)


23

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Pekan Sastra Diksatrasia 2012 FKIP Universitas Pakuan Bogor impunan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia jurusan Bahasa dan Seni FKIP Universitas P a k u a n B o g o r menyelenggarakan Pekan Sastra Diksatrasia. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai ajang apresiasi sastra antar mahasiswa semester empat dan enam serta mengenalkan sastra kepada para mahasiswa semester awal. Diawalai dengan workshop dan konser puisi dengan Jose Rizal Manua sebagai pembicara pada workshop yang dilakukan pada Senin pagi 9 Juli 2012. Lalu Senin siang dilanjutkan dengan perilisan album Diksatrasia Musikalisasi Puisi dan buku Antologi Cinta Tertinggal Senja yang semuanya adalah karya mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pakuan. Acara dilanjutkan pada 11 sampai 12 Juli 2012 untuk perlombaan Gebyar Drama. Semua peserta adalah mahasiswa semester empat yang dikelompokan menjadi 10 lakon. Berikut adalah lakon yang dipentaskan: Datangnya Berita, Putri Dyah Pitaloka, Satru, Tak Ada Bintang Di Dadanya, Singgasana Yang Hilang, Panggil Aku Euis, Joko Kendil Mencari Cinta, Perguruan, Petruk Jadi Presiden, dan Fatmawati.


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

24

Online

13 sampai 14 Juli 2012 acara perlombaan Pementasan Kreasi Sastra diselenggarakan. Peserta pada lomba ini adalah seluruh mahasiswa semester enam Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia yang dibagi menjadi enam pementasan. Berikut adalah kreasi yang dipentaskan: Dal Del Dol, Syafaat Cinta, Reaktor, Jeng Menul, Mimpi Basah, dan Fatimah. Acara yang disponsori Shopie Martin, Teater Karoeng, Majalah Online Kopi Sastra, Dapur Seni PBSI Unpak, dan tentunya Fakutlas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pakuan ini diadakan setiap tahun. Program ini diadakan selain ajang apresiasi sastra antar mahasiswa, juga adalah sebagai tugas akhir mata kuliah Drama dan Kreasi Sastra. Beriku adalah para pemenang perlombaan acara tersebut: Pemenang Pementasan Gebyar Drama: 1. Panggil Aku Euis 2. Perguruan 3. Tak Ada Bintang Di Dadanya Juara Favorit Petruk Jadi Presiden Pemenang Pementasan Kreasi Sastra: 1. Mimpi Basah 2. Dal Del Dol 3. Fatimah Juara Favorit Reaktor


25

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

UKM SENI & BUDAYA UNIVERSITAS PAKUAN

Foto: Dokumen UKM Seni dan Budaya Unpak

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni dan Budaya Universitas Pakuan, Bogor (lebih dikenal dengan USB), merupakan salah satu organisasi penyaluran minat dan bakat mahasiswa yang berorientasi kepada pengembangan seni dan budaya, khususnya budaya Indonesia. Sesuai namanya, -Unit Kegiatan Mahasiswa-, USB ini tentu dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa yang memiliki minat dalam bidang seni dan budaya. USB yang terbentuk pada Oktober 2002 ini memiliki lima departemen, yaitu: seni musik, Teater, fotografi dan jurnalistik, , penelusuran budaya dan seni rupa. Tentang seni musik, USB fokus mengeksplorasi jenis musik etnik, karena itu alat musik yang dipakai kebanyakan terbuat dari bambu, seperti: angklung, karinding, saluang, dan cilempung.

Belum lama ini, tepatnya pada 2 juni 2012, UKM Seni dan budaya unpak mengadakan pameran serta pertunjukkan seni dalam puncak acara diklat peserta anggota baru. Hiburan yang disuguhkan sangat atraktif dan menarik. Mulai dari pameran kriya, mural, beragam patung, bahkan penampilan freestyle bike dan teater on the street.

Dari musik-musik bambu ini USB sering menjadi pengisi acara pada banyak kegiatan di Bogor, baik hiburan, semi-formal, bahkan acara formal. Biasanya USB diminta memainkan musik bambu atau Taklung (tatakolan dan angklung) untuk mengisi sesi kesenian dalam beragam acara.


26

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Beragam kriya pun sering terpajang dalam pameran seni baik yang diadakan di lingkungan kampus maupun luar kampus. Begitu pun penampilan teater sering menjadi pengisi acara dalam berbagai festival teater di Bogor. Kontingen dari USB ini pun beberapa kali memenangkan ragam perlombaan seni, seperti musik etnik, mural, dan Alimpaedo kaulinan budak lembur (permainan anak kampung) yang diadakan di Sukabumi dan Bandung. Kegiatan-kegiatan seperti mipir Gunung Salak (penjelajahan mengitari kaki gunung salak), fun bike, serta penelusuran budaya ke situs dan kampung-kampung adat adalah agenda tahunan yang menjadi favorit.

Foto: Dokumen UKM Seni dan Budaya Unpak

Foto: Dokumen UKM Seni dan Budaya Unpak


27

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Foto: Dokumen UKM Seni dan Budaya Unpak

Tempat-tempat seperti Kampung Budaya Sindang Barang Bogor, Kampung Baduy Banten, Kampung Naga Tasikmalaya adalah tempat yang sudah rutin disinggahi sebagai bagian dari pengenalan kekayaan budaya di Indonesia, khususnya kepada para anggota. Bahkan, pada bulan Juli ini, beberapa anggota USB akan melaksanakan penelusuran ke situs Gunung Padang Cianjur. “Awal Juli ini kami harus sudah mendapatkan pelajaran banyak dari Gunung Padang Cianjur. Penelusuran ini sangat penting bagi kami, dan pengetahuan tentang situs ini sangat penting bagi Indonesia”, Ungkap Fey, ketua USB Seni Budaya Universitas Pakuan periode 2012-2013. “Ini pengalaman pertama saya pergi ke situs itu, tapi yang ketiga untuk USB ini” tambah Clara, salah satu anggota. Dalam hal fotografi, tak perlu diragukan lagi USB ini sangat giat memotret. Beragam kisah dan waktu, hal mewah maupun lumrah, bahkan segala hal yang tak berarti apa-apa bagi orang-orang selalu dapat diubah menjadi sebuah karya seni yang menakjubkan oleh USB ini. (IDG/HAL) Nama : UKM Seni dan Budaya Universitas Pakuan, Bogor Berdiri : Oktober 2002 Kontak: senibudaya_unpak@yahoo.co.id


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

28

Online

MUSIKALISASI PUISI DALAM PROSES oleh Yusuf Nugraha “ D i s e k o l a h , pembelajaran puisi dengan mengunakan metode musikalisasi puisi semakin diminati siswa sehingga mereka lebih termotivasi untuk mempelajari puisi.�

M usikalisasi

menjadi trend tersendiri dalam wilayah pengapresiasian puisi di samping dengan cara dideklamasikan atau didramatisasikan. Bahkan ada sebagian apresiator memosisikan musikalisasi puisi sebagai genre sastra baru di antara genre-genre yang sudah diakui yaitu puisi, prosa, dan drama—alasan tersebut kurang berterima karena musikalisasi puisi hanya bentuk lain mengapresiasi puisi. Di sekolah, pembelajaran puisi dengan mengunakan metode musikalisasi puisi semakin diminati siswa sehingga mereka lebih termotivasi untuk mempelajari puisi. Walaupun demikian, masih banyak para apresiator juga guru pembina di sekolah yang mempertanyakan konsep musikalisasi puisi karena kurangnya referensi sedangkan pemahaman yang berkembang semakin beragam. Apakah dalam pentransformasian puisi menjadi musikalisasi puisi teks puisi yang harus lebih dulu ada dibandingkan dengan komposisi musik ataukah sebaliknya? Demikian pula dalam penyajiannya, apakah puisi hanya dibacakan dan musik mengiringi, puisi dinadakan seluruhnya dengan iringan musik, ataukah puisi dibacakan sebagian dan sebagian lagi dinadakan dengan iringan musik?


29

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Musikalisasi puisi bermakna proses memusikalisasikan atau hal menjadikan sesuatu dalam bentuk musikal. Kata musikal berarti berkenaan dengan musik; mempunyai alasan musik; dan mempunyai rasa peka terhadap musik. Dasar dari kedua kata tersebut adalah musik yang bermakna ilmu atau seni menyusun nada atau suara diurutan kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan keseimbangan; nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan, terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi tersebut. Berbeda dengan musik yang merupakan seni yang bermediakan bunyi. Puisi merupakan karya seni yang bermediakan bahasa. Bahasa dalam puisi lebih dipadatkan serta berirama ketika dibacakan karena sudah mengandung unsur musikalitas. Selain itu puisi dibangun oleh unsur-unsur yang saling berkaitan baik dari segi bahasa maupun diluar bahasa sehingga menimbulkan kesan dan suasana tersendiri ketika diapresiasi.

Dari penggabungan kata musikalisasi dan puisi itulah istilah musikalisasi puisi terbentuk dengan memiliki makna sendiri yaitu proses memusikalisasikan atau hal menjadikan puisi dalam bentuk musik. Istilah musikalisasi puisi ini menurut Andre S. Putra Siregar—saat menjadi pembicara pada ulang tahun ke-2 Kelompok Musikalisasi Puisi Saung Pangulinan FKIP Universitas Pakuan Bogor pada tanggal 15 Juli 2006—pertama kali diberikan oleh orang Pusat Bahasa yaitu Bapak Sumardi ketika menjadi ketua penyelenggara lomba musikalisasi puisi tingkat SMA untuk pertama kalinya pada tahun 1990. Yang pada waktu itu istilahnya disebut 'Pemusikalan Puisi'.


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

30

Online

Dalam artikelnya “Gadis Kecil dan Musikalisasi Puisi� Soni Farid Maulana berpendapat bahwa yang dimaksud musikalisasi puisi adalah cara baca puisi dengan seluruh tafsirnya yang dilagukan oleh manusia dengan iringa musik yang pas, yang senyawa dengan isi puisi. Erland Basri berpendapat bahwa musikalisasi puisi adalah puisi yang dikemas dalam bentuk musikal (berirama, kaya dengan bunyi-bunyian berunsur musik) namun tidak lari dari konteks puisinya sendiri, bahkan merupakan upaya pendalaman dari puisi yang dibawakan berdasarkan pemahaman, penafsiran, serta ekspresi diri terhadap puisi yang dibawakan. Dengan demikian istilah musikalisasi puisi lebih mengarah pada proses mengeksplorasi kesan musikal yang ada dalam puisi kemudian puisi dinadakan dengan iringan musik tanpa lepas dari keutuhan 'jasad' dan 'ruh' puisinya.

Yang menjadi titik tolak pertama dalam musikalisasi puisi adalah teks puisi. Dalam hal ini puisi-puisi yang akan dimusikalisasikan adalah puisi para sastrawan yang memang sudah mendapatkan pengakuan masyarakat umum sebagai puisi dengan segala kredonya, bukan puisi karya sendiri. Hal itu karena tujuan utama dari musikalisasi puisi adalah untuk lebih memasyarakatkan puisi. Jika yang dimusikalisasikan adalah puisi-puisi karya sendiri, tidak ada bedanya dengan lagu atau musik alternatif lainnya, terkecuali jika puisi karya sendiri dan memang sudah diakui sebagai puisi oleh u m u m k e m u d i a n dimusikalisasikan oleh pengarangnya atau meminta dimusikalisasikan kepada orang lain.


31

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Dalam proses tranformasi puisi menjadi musikalisasi puisi, bukan komposisi musik yang lebih dulu ada kemudian tinggal memasukan puisinya—literasi musik—melainkan proses penafsiran puisi secara utuh kemudian bunyi seperti apa yang harus dihadirkan atau studi bunyi--meminjam istilah Andrie S. Putra Siregar. Dengan begitu komposisi musik yang dihadirkan tidak hanya sekedar harmoni yang mengiri puisi yang dinadakan, tidak hanya indah dan enak didengar, melainkan akan lebih memperkuat kesan puisi yang ingin disampaikan. Jenis musiknya pun menjadi beragam, tidak terbelenggu kepada standarisasi aliran dan alat musik tertentu. Berikut ini coba ditawarkan tahapan-tahapan pentranformasian teks puisi menjadi musikalisasi puisi. Langkah ini bukan rumus baku atau sejenis sabda Tuhan yang selamanya harus dipatuhi. Boleh saja mengikuti pendapat lain jika memang ada yang lebih rasional dan berterima. Pertama, pemilihan puisi: yang harus diperhatikan dalam pemilihan puisi adalah tidak semua puisi dapat dimusikalisasikan. Hal itu karena ada puisi-puisi tertentu yang lebih bermakna jika dideklamasikan atau didramatisasika. Hanya sekedar memberi contoh, misalnya sebagian besar puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri atau pun puisi-puisi Afrizal Malna. Selain itu, pilih puisi yang lebih dekat dengan diri karena dengan seperti itu kita akan lebih termotivasi untuk mengapresiasinya. Kedua, pemahaman puisi: pahami puisi secara menyeluruh, baik dari sisi tekstual (jasad puisi) atau pun kontekstual (ruh puisi). Dari sisi tekstual, pahami setiap kata-kata kemudian coba dibacakan dengan artikulasi yang tepat, intonasi (tinggi-rendah, keras-lembut, cepat-lambat) yang pas dengan penuh perasaan. Dari segi kontekstual, pahami isi puisi dengan menghubungkan pada peristiwa yang terjadi. Jika perlu, ketahui latar belakang pengarang dan kapan serta mengapa puisi itu ditulis.


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

32

Online

Ketiga, penghayatan puisi: setelah paham puisi dengan seluruh tafsirnya, coba hayati secara mendalam sehingga kita melebur dalam puisi itu. Mainkan imajinasi seakan kita mengalami atau setidaknya merasakan peristiwa yang terjadi. Keempat, pemusikalan puisi: nadakan teks puisi dengan irama yang sesuai, pemenggalan kata yang tepat, serta tempo yang teratur tanpa lepas dari keutuhan isi puisi. Walau begitu, tidak semua teks puisi bagus untuk dinadakan. Terkadang ada bagian-bagian tertentu yang lebih pas jika dideklamasikan. Hadirkan bunyi-bunyi yang bisa menerjemahkan kesan puisi, tetapi tidak melantur menjadi sebuah lagu yang sekedar indah didengar dan menyimpang dari apa yang ingin disampaikan. . Kelima, penyajian puisi: setelah proses pentranformasian selesai, pengapresiasian puisi disajikan dalam bentuk tersendiri yaitu dengan iringan musik. Yang harus diperjelas di sini, puisi bukan dideklamasikan atau didramatisasikan dan musik hanya sebagai pengiring belaka, melainkan puisi dinadakan. Andai pun ada bagian yang dideklamasikan, bagian puisi tersebut memang lebih pas jika diperlakukan seperti itu. Jika dalam proses penggarapannya dilakukan dengan jalan yang benar, kemungkinan besar hasilnya pun akan jauh menyimpang dari kesesatan.

Yusuf Nugraha, laki-laki kelahiran Bogor, Babakan Madang, 5 Mei 1981 ini kegiatan sehari-harinya adalah mengajar. Selain itu, sarjana lulusan S1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pakuan ini aktif di kelompok musikalisasi puisi Saung Pangulinan. Dalam kesendiriannya pun dia selalu menyempatkan diri untuk menulis. Karya yang pernah ditulisnya adalah Sastra Sufistik, Kajian terhadap Antologi Puisi Tarian Mabuk Allah karya Kuswaidi Syafiie, Perjalanan Adalah Proses (Panduan Musikalisasi Puisi dan CD Musikalisasi Puisi, 2008) bersama Saung Pangulinan. Saat ini, laki-laki berbintang taurus ini sedang merintis membentuk komunitas budaya di BabakanMadang, Kab. Bogor.


33

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Pasang Aksimu!

Kami sediakan space iklan (non iklan baris) murah di sini hanya Rp. 150.000,untuk dua edisi berikutnya silakan hubungi: 08567360301 (Wahyu) 085781187826 (Nunu)


34

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Altruis jojo

Ia dan Malam Ini Ia terpuruk Ia tertinggal Ia terjebak Dalam sebuah kesunyian

Ia teriak Lalu terdiam Dalam cahaya yang dimilikinya

Altruis jojo

WaktuHujan Hujan, Engkau menahan waktu Engkau menawan aku Hujan, Aku menahan waktu Aku menabung rindu

Altruis jojo

Hatiku Hatiku hancur menjadi buih Menjadi milyaran titik menciptakan sebuah pelangi Hatiku hancur menjadi pelangi Menjadi garis-garis berwarna-warni Hatiku hancur berwarna-warni Menciptakan sebuah pelangi api


35

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Altruis jojo

Aku Sendiri Aku sendiri Kemudian kupu-kupu itu mendekapku Tanpa suara Tanpa sedikitpun kata Aku sendiri Kupu-kupu itu kemudian pergi Mengepakkan sayap-sayap kecilnya Menuju ruang hampa Aku sendiri Tanpa suara Tanpa kata Tanpa dekapan Dan tanpa kupu-kupu! Aku sendiri

Altruis jojo

Aku Bergerak tak berirama Tak pernah tahu nada Melompat tak beraturan Tak bisa dikendalikan Menari Berlari Lalu meringkus hati Aku adalah binatang yang terluka Yang masuk kelantai dansa!

Altruis Jojo Lahir di Sukabumi, 10 Maret 1989. Hari-harinya diisi sebagai mahasiswa di Universitas Pakuan. Karyanya dimuat dalam Antologi Cinta Tertinggal Senja tahun 2012.


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

36

Online

Jiwang Muhtadin

Catatan Kecil di Simpang Jalan kau melintas pada mataku meski tanpa wajah sebelum akhirnya ramai orang-orang menancapkan nisan di dahiku kemudian hilang pada iringan bising klakson dan hembusan angin sore ini Jakarta, 31 Mei 2011

Jiwang Muhtadin

Hujan Sore ini hujan deras sore ini seperti luruh rindu yang kuhimpun dari terik hari satupersatu sejak semula mata kita meneruskan jarak tanpa arah tanpa kau-aku mengenal "sudah" kemudian tak lagi kuhitung apa yang tak perlu diperhitungkan seperti halnya wajahmu yang menjadi langit tak terukur di jantungku Depok, 21 Oktober 2011


37

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Jiwang Muhtadin

Untuk Matahari mungkin aku lebih luput berterimakasih daripada memakimu pun para penyair bohong-bohongan, misalnya aku lebih menganak-tirikanmu dibanding bulan atau lebih puas melihatmu lelah sebagai senja kau tahu, aku hanya butuh teduh teduh yang sederhana sesederhana burungburung yang nangkring di ranting tapi di sini kota, aku kira kau memakluminya teduh di sini adalah ada di kekakuan bangunan dan aku amat takut pada teduh semacam itu yang semakin menjadikan mataku beku di sini ranting dicukupi sembarang pohonan yang renggang sinarmu yang mencoba menjarah sisa-sisa angin seperti menghempaskanku pada api pemanggang lidahku semakin akrab dengan sumpah serapah dan keluh kesah pujipuji hanya ketika menjelang malam dan selepasnya begitulah penyair sundal sepertiku matahari, tubuhmu dicap dengan umpatan-umpatan garang apalagi di tempat gersang, di kotaku mungkin tinggal para ibu yang menjemur pakaian basah yang akan tetap melihatmu dengan riang atau sepasang kekasih yang tengah bermesraan saat kau hendak terbenam setelah itu mereka pun berlalu, ke dalam rumah dan kau akan kembali sendirian, mendengar kesah orang-orang berulang-ulang! Jakarta, 17 Oktober 2011


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

38

Online

Jiwang Muhtadin

Baris Mimpi Sisa Pagi 1/ tinggallah riak sisa dari suaramu yang parau dan lampau yang buram kuterjemah sebagai harokah binar fajar pemecah embun dimataku 2/ selaksa doa yang menyelinap ke bilik jantungmu namaku senyap melayat denyut denyutnya ada, tiada kau dan aku serupa butir debu yang berdzikir di pulau bisu

3/ tinggallah tanak gelap ampas dari matamu yang redup melingkup batasbatas sujud berserak remah kata yang basah dari mimpi paling sepi ada, tiada kau dan aku tinggallah nama tak berwajah merangkum sunyi di baris ini Jakarta, 13 September 2011


39

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Jiwang Muhtadin

Catatan Kecil di Simpang Jalan 2 Kau adalah puisi yang terpampang pada marka. Mengarahkan langkahku ke lumbung paling limbung. Dan jarum di dalam jerami segala kemungkinan adalah petunjuk jalan yang tak pernah berujung pada rumahmu. Tak mudah bagiku menerjemahkan rambu-rambu darimu. Selalu tumbuh kata keliru. berkembang menjadi bimbang. Kemudian gugur di kaburnya bayang-bayang. Jakarta, 23 Juni 2011

Jiwang Muhtadin, lahir di Jakarta, 4 Oktober 1989. Menyukai puisi dan musik rap. Alamat blognya http://jiwang-muhtadin.blogspot.com


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

40

Online

Vivi Yulianti

Malapetaka Dalam amarah murka aku bertanya pada kebengisan Adakah jalan kebatilan? Bagaimana cara melaknat kedamaian Adakah cara menistakan durjana Oh... Biarkan aku bertahta pada jalan, yang orang bilang jalan kelam Tak apalah aku tenggelam Toh... akal sehatku telah dibombardir oleh pekatnya dusta Di sebrang jalan lurus aku seperti terkoyak lalu berkelok-kelok Oh... Iblis bahagiakah dirimu? Mungkin juga malaikat Atid sudah bosan menulis Di sana malaikat Malik membuka pintu jauh sebelum malaikat ISROFIL meniup sangkakala Naudzubillah... Inilah malapetaka


41

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Vivi Yulianti

Nalar Bobrok Kemana perginya nalar Mengapa masa hanya membidik lalu Mengapa masa hanya merekam dulu Mengapa masa hanya menyimpan lampau Mengapa tidak kini dan nanti Aku berada di perkara sulit Tidak...! atas dasar trauma Iya, atas dasar butuh Tidak...! atas dasar rasio Iya, atas dasar rasa Enyah kau, enyah nalar bobrok...! Dari satu panggung Akulah peran antagonis itu Yang disandiwarai oleh penyandra nalar Dan Berharap masa sendu hanya gurauan belaka Tuhan kumohon perbaiki nalarku Agar rasa ini steril ke sedia kala


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

42

Online

Vivi Yulianti

Sekat Hitam dan Putih Kelabu pekat hitam dan putih yang merona hanyalah kekelaman yang menyekap ulu hatiku terasa ngilu Kerinduan semakin menguasai nalarku memompa perasaan yang bimbang saat ia menghilang tak hiasi kedua bola mataku Duhai dirinya yang kubutuhkan Kini tak berdalih dalam sebuah ruang antara hitam dan putih Aku benar-benar terperosok dalam kehampaan Tanpa sosoknya aku tetaplah mawar yang terpelanting tanpa gundukan tanah dan berserahkan menancap di duri batangnya sendiri Sungguh bengis antara LARA dan ARAL yang tak tertepiskan sekalipun waktu menghapus bayangnya Aku ingin menjahit robekan luka yang menganga karena terinpeksi kegalauan tak berdaya hadapi sekat hitam dan putih diantara sebuah perbedaan Aku hilang arah meronta dalam kepanikan apa gerangan baik2 saja karna aku disini kian terluka


43

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Vivi Yulianti

Di Bawah Di bawah ambang batas antara kesunyian dan kesenyapan Aku tetaplah menjadi bakteri yang menyatu dalam aliran darah pada jasadku sendiri Aku ROH...! atau JASAD...! Atau arwah yang gentayangan mencari kekalutan badaniahnya sendiri Aku ini RACUN...! Meracuni setiap hembusan nafas yang terhempas dalam kepanikan Walau ketenangan memeluk jasadku rohku tetap tersergap terhakimi kata yang menyakitkan Dibawah batas suci dan dibawah endapan kekufuran Aku tetap dalam ketidakberdaanku tanpa TUHAN

Vivi Yulianti lahir di Bogor dan beraktifitas sebagai mahasiswi di Universitas Pakuan Bogor.


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

44

Online

REKOMENDASI Judul: #Fiksimini 140 Kumpulan Fiksimini @ Facebook Penyusun: Susy Ayu dan Kurniawan Junaedhi Penerbit : Kosa Kata Kita Terbit : Juni 2012 Buku ini menghimpun sebanyak lima ratus karya Fiksi 140 yang berasal dari program Fiksi 140 yang diadakan di Facebook. ditambah seratus karya fiksi140 yang ditulis khusus oleh para sastrawan Indonesia: Soni Farid Maulana, Joko Pinurbo, Slamet Riyadi Sabrani, Kurniawan Junaedhi, Yonne de Fretes, dan lain-lain. Judul: Pengarang Tidak Mati Penulis: Maman S Mahayana Penerbit : Nuansa Cendikia Bandung Terbit : Juli 2012 Buku ini dikemassajikan dengan semangat memberi apresiasi yang sepatutnya kepada pengarang atas olah kreativitas. Maka, bagian gerbang depan buku ini coba menawarkan pandangan tentang posisi pengarang dalam hubungannya dengan teks yang dihasilkannya dan pembaca yang memproduksi dan mereproduksi makna teks. Bagian ini sengaja pula melampirkan esai Michel Faucoult, “What is an Author?” dan Roland Barthes, “The Death of the Author” sekadar untuk mencermati secara langsung, apa dan bagaimana sesungguhnya pandangan kedua ilmuwan itu tentang pengarang-penulis.


Online

Ujung Senja Sedikit ulasan untuk pembelajaran di sekolah

Ulasan

Menulis


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

46

Online

Ulasan

Menulis oleh Wahyudimalamhari

Sumber gambar: ramboeistblast.files.wordpress.com

Siapa

yang tidak kenal dengan Chairil Anwar, Taufiq Ismail, Andrea Hirata, William Shakespeare, atau JK Rowling? Ya, mereka adalah penulis ternama. Karya-karya mereka diakui dunia. Sempatkah berpikir untuk menjadi seorang penulis? Menulis bukan sekadar hobi, menulis juga bisa menjadi profesi. Seorang penulis bisa menjadi milyarder karena karyanya. Karya seorang penulis tidak hanya akan mengubah hidup si pembaca, tapi juga mengubah hidup si penulis itu sendiri. JK Rowling misalnya, berlatar belakang orang miskin, lalu dia membuat dongeng Harry Potter yang menjadikannya sebagai salah satu penulis terkaya. Tapi pernahkah terpikir, apa sebenarnya menulis itu? Ya, sebelum menjadi seorang penulis, baiknya kita pelajari terlebih dahulu apa itu menulis. Pada kesempatan ini, saya akan membahas menulis secara umum, baik menulis karya ilmiah atau pun menulis karya nonilmiah.


47

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

APA ITU MENULIS? Sesunggunnya menulis merupakan kegiatan untuk melatih berpikir, berpikir kritis, memudahkan daya tangkap atau persepsi, memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, menyusun urutan bagi pengalaman, dan dapat membantu menjelaskan ide, gagasan, atau pikiran dalam bentuk lisan. Tarigan (1994: 22) mengatakan bahwa menulis ialah menurunkan atau menukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami gambaran grafik tersebut. Pengertian yang lebih dalam lagi, menulis berarti menuangkan buah pikiran ke dalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan. Menulis juga bisa diartikan sebagai ungkapan atau ekspresi perasaan yang dituangkan dalam bentuk tulisan, seperti yang ditegaskan Roland Barthes (1915-1980) dalam buku Creative Writing yaitu untuk mengekspresikan yang tidak terekspresikan.

“Pengertian yang lebih dalam lagi, menulis b e r a r t i menuangkan buah pikiran ke dalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan.�


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

48

Online

FUNGSI MENULIS Menulis memiliki banyak fungsi. Seperti yang diungkapkan oleh D'Angelo dalam Tarigan, (2008), pada prinsipnya fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. Menulis sangat penting bagi pendidikan karena para pelajar akan merasa mudah dan nyaman dalam berpikir secara kritis. Juga dapat memudahkan kita merasakan dan menikmati hubungan-hubungan, memperdalam daya tangkap atau persepsi, memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, menyusun urutan bagi pengalaman. Tulisan membantu kita menjelaskan pikiran-pikiran kita. Tidak jarang, kita menemui apa yang sebenarnya kita pikirkan dan rasakan mengenai orang-orang, gagasan-gagasan, masalah-masalah, dan kejadiankejadian yang hanya dalam proses menulis yang aktual. Tidak jauh berbeda dari pendapat D'Angelo, Sabarti Akhadiah (dalam Hasani, 2005:3) mengungkapkan fungsi menulis sebagai berikut: 1) Penulis dapat mengenali kemampuan dan potensi dirinya. Dengan menulis, penulis dapat mengetahui sampai mana pengetahuannya tentang suatu topik. Untuk mengembangkan topik itu, penulis harus berpikir menggali pengetahuan dan pengalamannya. 2)

Penulis dapat terlatih dalam mengembangkan berbagai gagasan. Dengan menulis, penulis terpaksa bernalar, menghubung-hubungkan, serta membanding-bandingkan fakta untuk mengembangkan berbagai gagasan.


49

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

3)

Penulis dapat lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang ditulis. Kegiatan menulis dapat memperluas wawasan penulisan secara teoritis mengenai fakta-fakta yang berhubungan. 4) Penulis dapat terlatih dalam mengorganisasikan gagasan secara sistematis serta mengungkapkan secara tersurat. Dengan demikian, penulis dapat memperjelas permasalahan yang semula masih samar. 5) Penulis dapat meninjau serta menilai gagasannya sendiri secara objektif. 6) Dengan menulis sesuatu di atas kertas, penulis akan lebih mudah memecahkan permasalahan, yaitu dengan menganalisisnya secara tersurat dalam konteks yang lebih kongkret. 7) Dengan menulis, penulis terdorong untuk terus belajar secara aktif. 8) Penulis menjadi penemu sekaligus pemecah masalah, bukan sekedar menjadi penyadap informasi dari orang lain. 9) Dengan kegiatan menulis terencana, penulis membiasakan berpikir serta berbahasa secara tertib dan teratur. Dapat disimpulkan fungsi dari menulis adalah sebagai alat komunikasi tidak langsung yang dapat menggali kemampuan seseorang tentang suatu topik dengan cara berlatih mengorganisasikan gagasan secara sistematis dan terencana agar dapat berbahasa dengan tertib dan teratur. Selain itu, menulis juga dapat membantu seseorang memperdalam daya tangkap dan membantu memecahkan masalah.


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

50

Online

MANFAAT MENULIS Menulis tidak hanya memiliki manfaat finansial, tapi banyak manfaat lain yang bisa didapat dari menulis. Manfaat menulis menurut Sabarti Akhadiah (dalam Kartimi 2006: 5) sebagai berikut: 1) Mengetahui potensi diri dengan dan kemampuan serta pengetahuan kita tentang topik yang dipilih. Dengan mengembangkan topik itu kita d i p a k s a b e r p i k i r, m e n g g a l i pengetahuan, dan pengalaman yang tersimpan dalam diri. 2) D e n g a n m e n g e m b a n g k a n berbagai gagasan kita terpaksa bernalar, menghubunghubungkan, dan membandingkan fakta-fakta yang tidak pernah kita lakukan kalau kita tidak menulis. 3) Lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang ditulis. Dengan demikian, kegiatan menulis dapat memperluas wawasan baik secara teoritis maupun mengenai fakta-fakta yang berhubungan.

4) M e n u l i s b e r a r t i mengorganisasi gagasan secara sistematik serta mengungkapkan secara tersurat. Dengan demikian, setiap permasalahan yang semula samar-samar dakan menjadi lebih jelas. 5) Melalui tulisan, kita dapat menjadi peninjau dan penilaian gagasan kita secara obyektif 6) Lebih mudah memecahkan m a s a l a h d e n g a n menganalisisnya secara tersurat dalam konteks yang lebih konkrit. 7) Dengan menulis, kita menjadi aktif berpikir sehingga kita dapat menjadi penemu sekaligus pemecah masalah. Bukan hanya sekedar penerima informasi yang pasif. 8) Membiasakan kita berpikir dan berbahasa secara tertib.


51

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Selain manfaat menulis di atas, Hernowo (2004: 51) mengungkapkan bahwa menulis dapat digunakan untuk menyibak atau mengungkapkan diri. Dengan menulis seseorang bukan hanya akan menyehatkan fisik dan mental tetapi juga dapat mengenali detail-detail dirinya. S e m u a b i s a disimpulkan bahwa menulis bermanfaat untuk mengetahui kemampuan diri dengan aktif berpikir dalam menuangkan ide dan gagasan kedalam sebuah tulisan, menambah wawasan dan informasi, menumbuhkan keberanian dan kreativitas, dan yang pasti bisa meningkatkan finansial penulis.

Sumber gambar: jaraway.multiply.com

CIRI-CIRI TULISAN YANG BAIK Seorang penulis mempunyai maksud dan tujuan dalam tulisannya, yaitu agar karyanya dapat diterima dan dibaca oleh para pembaca. Agar maksud dan tujuan bisa tercapai dengan adanya respon dari pembaca terhadap tulisannya, sang penulis harus menyajikan tulisan yang baik. Berikut ciri-ciri tulisan yang baik menurut Adelstein dan Pival: 1. T u l i s a n y a n g b a i k mencerminkan kemampuan penulis mempergunakan nada yang serasi. 2. T u l i s a n y a n g b a i k mencerminkan kemampuan menulis menyusun bahanbahan yang tersedia menjadi suatu keseluruhan yang utuh.


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

52

Online

3. T u l i s a n y a n g b a i k mencerminkan kemampuan penulis untuk menulis dengan jelas dan tidak samar-samar. Salah satu caranya yaitu dengan memanfaatkan struktur kalimat, bahasa, dan contohcontoh sehingga maknanya sesuai dengan yang diinginkan oleh penulis. 4. Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan penulis untuk menulis secara meyakinkan, menarik minat para pembaca terhadap pokok pembicaraan. Dalam hal ini haruslah dihindari penggunaan kata-kata dan frase yang tidak perlu. 5. Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan penulis untuk mengkritik naskah tulisannya yang pertama serta memperbaikinya. Mau dan mampu merevisi naskah pertama merupakan kunci bagi penulisan yang tepat-guna atau penulisan efektif. 6. Tulisan yang baik mencerminkan kebanggaan penulis dalam naskah atau manuskrip. Kemauan untuk menggunakan ejaan dan tanda baca secara seksama, memeriksa makna kata, hubungan ketatabahasaan dalam kalimat-kalimat sebelum menyajikannya kepada para pembaca. Penulis yang baik menyadari benar-benar bahwa hal seperti itu dapat memberi akibat yang kurang baik terhadap karyanya.

Sumber foto: theactadiurna.files.wordpress.com


53

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Sedangkan menurut Mc. Mahan dan Day (dalam Tarigan, 2008: 67), ciri-ciri tulisan yang baik adalah sebagai berikut: 1. Jujur artinya penulis tidak boleh memalsukan ide atau gagasan 2. Jelas artinya penulis tidak boleh membingungkan para pembaca 3. Singkat tidak memboroskan waktu para pembaca 4. Usahakan keanekaragaman, panjang kalimat yang beraneka ragam, berkarya dengan penuh kegembiraan. Maka, kita dapat menyimpulkan ciri-ciri tulisan yang baik adalah tergantung kepada penulis, apakah mampu memanfaatkan struktur kalimat, bahasa, dan contoh-contoh sehingga maknanya sesuai, serta mau memeriksa kembali hasil tulisannya agar memenuhi kaidah bahasa. Bahasa yang digunakan harus jelas, singkat namun padat, komunikatif, dan penuh kejujuran.

Sumber gambar: dokumen Wahyudimalamhari

Wahyudimalamhari adalah nama pena dari Wahyudi. Lahir di Bogor, 5 April beberapa tahun lalu. Setelah lulusan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia jurusan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Pakuan Bogor, ia melanjutkan studi di jurusan Administrasi Pendidikan pada universitas yang sama, Saai ini bekerja sebagai guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMK Binantara dan PT. Bintang Pelajar.


Online

Mengucapkan

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Ramadhan 1433 H


Cerpen

Nugraha A. Baesuni

Harta Karun


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

56

Online

Nugraha A. Baesuni

Harta Karun Seperti biasa, sore itu Mamun siapkan peralatan memancing. Ia meramu umpan kue nastar yang ditumbuk dan diberi sedikit air agar kental. Jika diperhatikan, umpan itu seperti kembali menjadi adonan kue sebelum dipanggang. Setelah dirasa mantap, Mamun pun beranjak pergi ke sungai. “Pagawéan teh ngan nguseup weh nguseup, sia. Lainna gawé, neangan duit, naon ké nu halal!”1 “Iyeu gé halal, Ma.”2 “Ah, némbalan waé sia mah dibéjaan teh.”3 Ibu Halimah mengomel seperti biasa dan Mamun melenggang pergi tak acuh seperti biasa. Dari halaman masih terdengar sang Ibu mengomel dari d a p u r, d a n M a m u n t e t a p mengenakan sandalnya, lalu pergi ke sungai.

Mamun berjalan ke arah barat, arah menuju sungai. Matahari menyinari wajah lusuh dan tubuh tegapnya. Rambut sebahu yang sudah beberapa hari tak dikeramas terus berayun selagi ia berjalan. Angin sore menambah kencangnya ayunan itu. Beberapa orang tetangga yang ia lewati tak menyapa, seperti halnya ia tak menyapa siapa pun.


57

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Semua orang kampung tahu bahwa Mamun lulusan sekolah kejuruan. Tak tanggung-tanggung, ia mengambil jurusan teknik mesin! Wow! Nilai rapornya pun hebat. Mamun lulus ujian sekolah dengan nilai 'Baik'. Setelah lulus, ia mengirimkan surat lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan swasta. Perusahaan onderdil motor, garmen, makanan siap saji, dan beberapa perusahaan lain, hasilnya, tak ada panggilan. Begitulah hidup jaman sekarang, cari kerja susah. Kata orang-orang tua di kampungku, semua pekerjaan harus dilalui 4 dengan 3D: dulur, duit, dukun. Nilai ijazah bagus, tapi tak punya relasi di suatu perusahaan atau instansi, sulit dapat kerja. Punya relasi, tapi tak punya duit (pelicin), percuma. Punya relasi, punya duit, tapi tak minta doa dari dukun, juga sulit. Tiga hal itu pula yang selalu dikeluhkan Bu Halimah pada Tuhan dalam peraduannya. Ketika jengkel luar biasa, ia salahkan takdir yang

telah mengetukkan palu dan memutuskan bahwa miskin adalah bayangan keluarganya seumur hidup. Sebenarnya Mamun punya paman di Cirebon yang punya bengkel rumahan. Ia juga ditawari untuk kerja di bengkel itu. Tapi Ibu Halimah tak mengizinkan karena jarak antara Bogor dan Cirebon terlalu jauh. Sementara di rumah, Ibu Halimah hanya tinggal dengan Mamun si anak tunggal, karena suaminya telah meninggal. Seharihari Bu Halimah menjual nasi uduk untuk mencukupi kebutuhan dua manusia di rumah itu. Sebagai pengangguran yang dianggap merepotkan, Mamun tak pernah libur dari omelan Bu Halimah setiap hari. Meski ia menutup telinga, omelan sang ibu tetap menorobos masuk dan memantul-mantul di gendang telinganya. Satu-satunya tempat yang paling tenang adalah Curug Sapi, curug bagian dari Sungai Cikeas. Sambil menunggu ikan mencaplok umpannya. Di tempat itu Mamun bisa berhayal sejauh


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

58

Online

mungkin tanpa satu orang pun pengganggu, termasuk sang ibu yang bawel bukan main. Bila Mamun pulang dengan hasil ikan cukup banyak, biasanya untuk hari itu dan esoknya sang Ibu libur mengomel. *** Tali pancing Mamun ditarik. Ada ikan yang memakan umpannya lagi. Mamun sangat bersemangat tapi juga begitu hati-hati. “Kali ini harus dapat! Sudah tujuh kali umpanku dimakan, belum satu pun ikan kalah.â€? Menjengkelkan memang. Tapi, ah‌ apa boleh buat, kali ini ikan lepas lagi. Mamun lemparkan kail lagi. Kali ini lemparannya ke arah jauh. Ia simpan pancingnya di sela-sela batu. Seperti biasa, sambil menunggu umpan ditarik, ia sandarkan badan pada batu besar di sampingnya. Dengan kedua tangan membantali kepala, ia pejamkan dua mata. Sambil menunggu tarikan datang, ia lemparkan pikirannya pada sebuah kursi hitam di balik setir BMW SClass. Sedikit demi sedikit bibirnya

mulai melebar. Mamun senyum sambil terpejam. Di kepalanya sedang berputar film berjudul Mamun Kaya Raya. Ya, di kepalanya berputar film Mamun Kaya Raya. Mengisahkan tentang seorang lelaki muda, rupawan, senang berbagi, peduli pada sesama, dan tentunya tidak sombong. Dialah seorang saudagar muda, dialah Mamun. Rumah gedongnya benarbenar gedong. Dengan luas tanah lima puluh ribu meter, gedong itu ditumpu pilar-pilar besar dengan ukiran Bali berwarna emas, lampu gantung kristal pada setiap ruangan, kusen dan perabot kayu Jati, juga belasan lukisan seharga puluhan juta. Isi kamarnya tidak ada yang tahu, tidak ada seorang pun kecuali Mamun sendiri. Tapi, kita tentu bisa bilang kalau perabot isi kamarnya pasti bernilai puluhan, bahkan ratusan juta rupiah. Tentu, tidak seluruh tanah itu adalah rumah, karena empat per limanya adalah halaman. Ya, halaman rumput hijau dengan tiang-


59

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

tiang lampu di sepanjang pedestrian, ditemani pohon palem, sejumlah pohon beringin, rambutan, pisang, dan tentu pohon durian kegemarannya. Ada juga kolam renang di belakang rumah. Di sekitar kolam renang, berjajar lima puluh tujuh burung dalam sangkar: Ada tiga burung merak hijau, tiga burung kasuari, dua beo, dua jalak bali, dua kakatua maluku, satu rajawali, lima burung dara, tiga burung perkutut, dan beberapa banyak burung yang aku tak tahu namanya. Di sekitar itu pula terawat bunga-bunga beragam warna, mengisyaratkan betapa pemilik rumah seorang yang cinta kasih. Garasinya cukup untuk delapan mobil, tapi di garasi saat ini hanya ada tujuh mobil: ada Peugeot 504, Mercedes SLR Mc Laren, BMW 318i, dua mobil Toyota, Lamborgini Murchielago dan satu mobil Esemka, satu mobil –BMW S-Class- tengah ia kemudikan di jalan raya bersama sang kekasih yang cantik bukan main.

Tak ada yang Mamun ucapkan pada kekasihnya dalam mobil. Mamun percaya gadis itu setia, tak mungkin selingkuh, apalagi pada lelaki lebih miskin dan lebih payah. Mamun percaya bahwa dirinyalah yang paling diimpikan gadis itu. Di samping kiri Mamun, sang gadis duduk begitu nyaman. Pandangannya santai ke depan. Sesekali dia melirik ke arah Mamun. Senyumnya, ah, sangat manis. Sudah cukup lama mereka menjalin hubungan. Memang, selama ini bukan hanya wanita itu yang Mamun pacari, masih banyak wanita lain yang begitu senang berada di sampingnya. Muda, kaya raya, digandrungi wanita, tentu adalah impian setiap lelaki, dan Mamunlah satu-satunya lelaki yang terpenuhi semua impian itu. Yang lebih menyenangkan dari romansa Mamun ini, adalah para wanita yang ia pacari semua setia dan rela dimadu. Oh, indahnya. Beruntung nian engkau, wahai Mamun.


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

60

Online

Kalau kau mau tahu dari mana kekayaan yang Mamun miliki sekarang, jawabnya dari memancing. Mamun adalah pemancing ikan terhebat di dunia. Ia memancing dengan naluri sangat kuat. Saya menduga keahlian ini semacam mukjizat, karomah, atau ma'unah. Tapi, karena mukjizat adalah karunia Tuhan untuk nabi, sementara karomah adalah karunia tuhan untuk para wali, dan ma'unah adalah karunia untuk orang saleh serta rajin beribadah, maka mungkin keahlian 5 Mamun ini istidraj. Semua berawal dari lomba memancing ikan di kabupaten tiga tahun lalu. Saat orang-orang berlomba meracik umpan demi memenangkan lomba, Mamun hanya bermodalkan umpan nastar, tapi dengan bismillah setiap sebelum melemparkan kail. Hasilnya, tak sampai satu menit umpannya langsung disambar. Tak peduli umpan apa, ikan selalu senang. Mamun menjuarai lomba itu dan memenangkan hadiah uang tunai dua puluh juta rupiah. Tapi, itu baru

permulaan, karena yang menjadikannya kaya bukanlah lomba itu, tapi petualangannya di laut sekitar Pulau Seribu. Ya, selain mendapat hadiah dua puluh juta rupiah, Mamun juga mendapat paket liburan memancing di perairan Kepulauan Seribu. Sebenarnya, Mamun saat itu tak punya pengalaman soal memancing di laut, tapi kalau itu hadiah, kenapa harus ditolak? Tidak baik bukan menolak pemberian orang lain. Apalagi menolak hadiah. Mamun pergi ke Pulau Seribu dengan fasilitas akomodasi bersih; antar jemput dari rumah ke lokasi liburan, sewa kapal, plus penginapan dan fasilitas makan. Tidak seru kita menceritakan perjalanan ke sana, karena semua panitia berambut pendek dan berpakaian rapi, hanya Mamun yang gondrong. Selain itu, cara mereka berbincang terlalu kaku. Setelah semalam beristirahat di penginapan, pagi esoknya Mamun mulai dimanjakan sensasi laut. Sebenarnya bukan dimanjakan, tetapi dimualkan, karena itu pertama


61

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

kalinya Mamun naik kapal, eh bukan, tapi sampan. Ya, sampan. Perahu kecil dari kayu. Eh, tidak, mereka menyebutnya perahu cadik, karena ada kayu-kayu penyeimbang di kanan dan kiri kapal. Tapi, Mamun saat itu lebih senang menyebut perahu saja. “ Ya s u d a h l a h , a p a p u n namanya. Kalau mengapung dilaut dan ditumpangi orang, itu namanya perahu.” begitu kata Mamun menanggapi penjelasan panitia soal nama angkutan di laut tadi. Dalam perahu, Mamun ditemani seorang kru panitia dan seorang nelayan tua. Baru beberapa menit di laut, lelaki gondrong itu sudah mual. Tiba-tiba kepalanya sangat pening. Matanya kunangkunang. Ada yang salah dengan kepala Mamun saat ini. Mamun rasa harus segera memancing. “Pak, bisa berhenti dulu ‘gak?” “Hah, di sini, Bang? belum sampai ke tengah masa berhenti?” “Iya Bang, masa berhenti? Kan saya dibayar supaya ngajak keliling lautan di sini?” kata si Kakek.

“Saya mau mancing di sini.” “Yah, jangan di sini kalau mau mancing! Gak ada ikannya! Apalagi jam segini.” cegah si kakek. “Saya mau mancing di sini. Firasat saya bilang kalau di sini sekarang ada ikan.” “Yeeee… Jangan di sini Bang, nantilah saya bawa ke tempat yang banyak ikannya.” tegas kakek. “Saya mau di sini!!!!” Perahu berhenti. Mamun menyiapkan alat pancing. Yang mengherankan saat itu, ternyata ia memakai umpan kue nastar sisa lomba. Dua orang dalam perahu itu heran. Mana mungkin ikan laut memakan umpan macam itu? Jangankan dimakan, disentuh pun tidak mungkin. “Ini orang, sebenarnya siapa sih?” tanya kakek kepada kru yang menemani Mamun dengan agak berbisik--Kru itu berambut cepak. “Dia pemenang lomba mancing se-kabupaten Sukabumi, Pak.” “Masa sih? Apa belum pernah mancing di laut ya?”


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

62

Online

“Sepertinya sih belum.” “Pasti belum. Masa mancing di laut pake umpan begituan?” “Saya juga heran, Pak.” “Kenapa enggak dikasih tau?” “Ah, ngapain juga ngasih tau? Nanti juga dia kesel sendiri. Lagian dia itu belagu, Pak. Biarin aja nanti kesel sendiri” Sampai di sini, pada kalimat ini, Mamun menorah ke arah mereka. Mamun melihat mereka berbisik. “Pasti kalian ngomongin saya. Iya kan?” Dua lelaki itu tak menjawab. Mungkin tak berani pada orang gondrong seperti Mamun. Ya, kebanyakan orang di negara kita memang takut pada orang berambut gondrong. Sialnya, ketakutan itu ada karena kebanyakan orang menganggap orang gondrong itu orang kriminal. Lucunya lagi, dulu, salah satu presiden di negara kita pernah membuat sebuah badan intelejen pemberantas rambut gondrong. Walah, apa jangan-jangan mereka tidak lulus pelajaran sejarah di SD? Bukankah para pendeta, para

cendikiawan serta kesatria zaman Hindu selalu digambarkan dengan rambut gondrong? Bedanya hanya ikat kepala, itu saja! Jadi, kita bisa menyangka kalau dua orang di perahu itu nilai pelajaran sejarahnya merah. “Sudahlah, kalian lihat saja! Aku dapat ikan atau tidak, lihat saja. Oke?! Bismillah.” Mamun lemparkan kailnya ke tengah lautan. Tak sampai dua menit menunggu, tali pancing nampak kaku. Ya, ada sesuatu yang mengait. Mungkinkah itu ikan? Karena penasaran, Mamun menarik pancingnya. Tapi, ternyata berat sekali, sangat berat. Mamun tak kuasa menariknya. Dua orang tadi hanya bisa melongo dengan kelakuan Mamun, apalagi si kakek. Dalam hatinya si kakek benar-benar yakin kalau Mamun bukan pemancing professional. Nampak jelas kalau tali pancingnya kaku tak bergerak. Kalau yang didapatnya itu ikan, pasti talinya sudah gerak-gerak dibawa lari oleh ikan.


63

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Lama sekali Mamun berusaha, hampir setengah jam, tapi setelah itu si kakek dan lelaki berkepala cepak kaget bukan main. Mamun menarik tali pancingnya ke atas. Ya, nampak dipermukaan kalau ada sesuatu yang menyangkut, besar, hitam, tak bergerak, tapi tali pancingnya tidak putus. “Jangan diam saja! Ambil! Ambil!” “Tapi itu bukan ikan bang!” jawab si Cepak. “Ambil! Aku bilang ambil!” Si Cepak segera mengambil benda itu. Ditariknya, dan sangat berat, ya sangat berat. Si cepak tak mampu mengangkatnya. “Pak, bantu, Pak! Cepat, Pak! Mmmmmhhhh….” Si kakek membantu, tapi mereka masih kesulitan mengangkatnya. Mamun pun turun tangan. Mereka bertiga menarik benda itu. Perahu sampai bergoyang hebat. Tak seimbang. Tapi, mereka tak meyerah, apalagi Mamun, sangat bersemangat. Mereka menarik benda itu dan, Ah…. Akhirnya benda itu terangkat sampai ke atas perahu.

“Huh… Berat banget ya?” Si Cepak dan si Kakek terduduk lemas. Sementara Mamun hanya memandang diam benda itu, sebuah tas. “Hehe… pengalaman pertama memancing di laut, dapat tas. Hihi.…” Mamun menertawakan dirinya. Dua lelaki tadi ikut tertawa. Mereka menertawakan apa yang baru saja mereka alami. “Hehe… huh, Gimana sekarang? Kita buang saja tas ini?” tanya si Cepak. “ Ye e … J a n g a n ! I n i pengalaman saya. Jangan dibuang!” “Terus isinya apa, Bang? Coba lihat!” “Hey... hey… Jangan!! Biar aku saja yang lihat. Nanti kubuka di kamar.” “Haha… ya sudah. Abang simpan saja buat kenang-kenangan. Lagi pula kami tak peduli. Iya tidak, Kek?! Haha.…” “Ya, buat kenang-kenangan. Haha…. Sudahlah, kita kelilingkeliling saja, tidak usah memancing lagi. Ayo Kek, nyalakan mesinnya, Kek!”


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

64

Online

“Haha… iya, iya….” “Drodotdrodotdrodot… dooootdooootdoooot….” perahu berjalan kembali mengantar mereka keliling-keliling lautan pulau seribu. Mereka tak memancing. Hanya berputar-putar dan tak sampai satu jam. Kemudian mereka pulang ke penginapan. Sampai di penginapan, mereka bertiga menyimpan tas itu tepat di samping tempat tidur kamar Mamun. Kemudian si Cepak dan si Kakek pergi. “Paling juga isinya batu, haha….” Kata si Kakek kepada si Cepak sambil beranjak pergi. “Biar saja dia bawa satu tas batu, asli Pulau Seribu. Hahaha….” Dua orang itu pergi. Mamun mengunci pintu kamarnya, lalu menghampiri tas berat itu sambil senyum dan bertanya dalam hati, “Apa ya isinya? Batu? Haha,” Saat tas itu dibuka, tas hitam berbahan parasit dan kulit buatan, Mamun kaget bukan kepalang. Ya, ternyata tas itu berisi tumpukan emas sebesar penghapus papan tulis.

Emas murni, emas kuning, keras, asli emas, ya, ini emas, emas batangan, bertumpuk-tumpuk, satu tas penuh. Luar biasa, Mamun dapat harta karun tanpa diduga. Benda berbentuk kotak dan tebal itu benarbenar emas. Ya, ini harta karun. Ini harta karun. “Hah! Emas… Emas… Aku kaya! Aku kaya! Haha…. Aku kaya! Hahahahaha aku kayaaaaa….!!!!” *** Ya, kisah liburan itulah yang membuat Mamun begitu kaya raya. Kekayaannya tak habis hingga kini, hingga saat ia nampak keren dan ganteng di balik stir BMW edisi terbaru. Di sampingnya, di kursi sebelahnya, seorang wanita berambut panjang hitam, berkulit putih mulus, berkacamata hitam, berhidung mancung, dengan dagu putih mulus lonjong bagai sepotong telur ayam, serta dada bulat menonjol, padat berisi, adalah kekasihnya. Wanita cantik itu memakai kemeja putih tangan pendek. Bagian bawah kemejanya menutupi sabuk


65

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

kecil yang mengencangkan celana pendek yang dipakai. Celana itu hanya menutupi setengah paha. Setengah paha ke bawah sampai betis, nampak putih mulus, tak tertutupi apapun. Wanita itu memandang lurus ke depan dengan santai. Sesekali ia melirik ke arah Mamun sambil memberikan senyum yang begitu manis. Meski tak ada satu pun kata keluar dari mulut si cantik, raut wajahnya mengisyaratkan kalau ia sangat senang berada di sisi Mamun. “Muuuun… Mamunnnnn. Mamuuuuuun….” Seseorang memanggil, Mamun heran. Seperti ada yang memanggil, tapi ia sedang di dalam mobil. Siapa yang memanggil? Mamun melirik kursi belakang, tak ada orang. Lirik ke spion kanan dan kiri, tak ada orang. Tak ada siapa pun dalam mobil selain mereka berdua, yakni Mamun dan wanita itu. Ah, tapi di mana gadis itu? Di mana wanita cantik tadi? Tidak ada! Wanita itu tiba-tiba hilang! Hanya ada Mamun sendiri dalam mobil.

“Mamun... Mamuuuuuun... Muuuun… Mamunnnnn… Mamuuuuuun….” Mamun makin bingung. Tak ada orang, banyak sekali suara orang memanggilnya. Dari mana suara-suara itu datang? “Muuuun. Mamunnnnn… Mamuuuuuun….” Tiba-tiba jalan raya menjadi gelap. Ya, sangat gelap. Setir yang sejak tadi ia pegang tiba-tiba hilang. Mamun bingung. Keringat mulai mengucur di dahinya. “Apa yang terjadi? Di mana ini?” Mamun bingung, takut. Tiba-tiba Mamun kedinginan. Terasa angin menggosok-gosok lehernya. Seketika matanya terbuka. Nampak di muka, dedaunan dari pohon rambutan menghalangi cahaya mentari yang semakin lemah. Tetesan keringat di dahi terasa begitu dingin. Mamun melirik kanan dan kiri, bebatuan dan rumput-rumput liar. Telinganya menangkap riak air. Dia sadar, kalau ternyata ia sedang memancing di kali Cikeas. “Itu Mamun… itu….” “Mana?”


Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012

66

Online

Sumber foto: Google Image

“Itu, di pinggir kali.” Beberapa orang pria menghampirinya dengan langkah cepat. Mamun masih bingung. Kepalanya masih seperti benang kusut. “Mamun... Astagfirullah! Pulang, lu! Rumah lu kebakaran tuh!” “Apa sih ah? Ganggu orang aja.” “Serius! Emak lu meninggal, Mun. Cepetan pulang!” “Ngaco lu, ah!” “Subhanallah, rék naon ngawadul aing? Geura balik sia! Ditaréangan sia ku jelema salembur. 6 Karunya indung sia tu.!

“Astagfirulloh….” Mamun mengambil langkah seribu, meninggalkan kailnya, berlari menemui Ibu. Sampai di rumah, Mamun tak mampu berkata-kata, ia lupa cara berkata. Sang Ibu sudah terbaring di teras rumah tetangga, ditutupi sarung batik panjang, sudah tak bernyawa dan bau hangus. Beberapa saksi bilang, sempat terjadi ledakan di dapur. Pasti sang Ibu sedangmenyalakan kompor gasnya. Mamun mengutuk diri atas kejadian itu. Biasanya dia yang mengurus perapian sebelum sang Ibu menggoreng apa pun.


67

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Mamun hanya bisa menangis. Dalam tangisnya, lelaki gondrong itu tahu kalau sang Ibu telah meninggalkannya. Tapi, saat itu ia belum sadar, kalau ia semakin miskin. Nanggewer, 2012

1. Mancing saja kerjamu, bukannya mencari pekerjaan, mencari uang, apa sajalah yang halal” 2. “Ini juga halal, Mak” 3. “Ah, kamu diberi tahu malah melawan!” 4.

Saudara/kenalan/relasi, uang, dukun

5. Karunia tuhan yang dimiliki seorang biasa, bahkan bukan orang saleh. 6.

“Subhanallah, untuk apa saya bohong? Cepat pulang! Kau dicari orang sekampung. Kasihan Ibumu!.”

Nugraha A. Baesuni Lahir di Bogor, 1990. Mahasiwa Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Pakuan Bogor. Aktif dalam berbagai Organisasi. Karyanya dimuat dalam Antologi Pohon Kopi 1 dan 2.


68

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Forum Bukan Musik Biasa Kumpulan Bunyi Sunya (Jakarta)

For um

Bukan Musik Biasa diselenggarakan tiap dua bulan sekali. Ta h u n i n i f o r u m t e r s e b u t Sumber foto: Doni Dartafian dilaksanakan di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Surakarta Jawa Tengah yang berlangsung tanggal 27 Mei 2012. Acara ini menampilkan komposisi bunyi yang disajikan oleh Yurdika. Komponis asal Jogja yang menampilkan karyanya Polusi Bunyi. Komposisi ini menghadirkan suara yang menyatanyayat kulit yaitu dari suara tutup panci yang digesekan-gesekan ke lantai dan dipadukan dengan alat lain. Selain itu, Kelompok Tadulako asal Palu yang mengusung musik Vokal Rego dan Lalove, Ruang dan Waktu karya Ketut Sumerjana asal Bali yang menampilkan perpaduan synthesizer dan gamelan Bali. Rangkaian pementasan tersebut ditutup oleh penapilan Kumpulan Bunyi Sunya asal Jakarta yang mengusung tema Karuhun Baru di Ruang Tamu menampilkan tiga Tadulako (Palu) karyanya yaitu Trance karya Tommy Setiawan, Batas Terbias karya Didit Alamsyah, dan Turun Padi karya S. Lawe Samagaha. Seusai pementasan, dilaksanakan diskusi dengan pembicara musisi kontemporer Yasudah. (Doni D) Sumber foto: Doni Dartafian


69

Edisi 1 / Tahun I / Juli 2012 Online

Kami mengundang semua pembaca Online

untuk memberi kritik dan saran agar kami bisa lebih baik Kami juga mengundang semua pembaca untuk mengirimkan karya, liputan kegiatan, komunitas sastra/budaya (regional/kampus/sekolah), pengajuan pemasangan Iklan Pustaka Budaya maupun Iklan Umum Komersil melalui surel ke kopisastra@gmail.com, atau pesan pada https://www.facebook.com/kopisastra Sebagai upaya melestarikan Majalah Online Kopi Sastra, kami pun mengundang para pembaca untuk turut serta membantu kami dengan berdonasi kepada Majalah Online Kopi Sastra.

D o n a s i

Klik!


Majalah Online Edisi 1/Tahun 1/ Juli 2012  

Majalah Online Kopi Sastra Edisi perdana.

Advertisement