17 panduan pelatihan pengembangan industri rotan rumahan

Page 1

03 SERI BUKU

R O TA N

Pa ndua n Pe lat ih a n

PENGEMBANGAN INDUSTRI ROTAN RUMAHAN T R A I N I NG

F OR

T R A I N E R

Penulis: Arman Masudi | Noviar Safari | Yuli Irianto

Social Economic Development Institute



---- PANDUAN PELATIHAN ----

PENGEMBANGAN INDUSTRI ROTAN RUMAHAN


PANDUAN PELATIHAN PENGEMBANGAN INDUSTRI ROTAN RUMAHAN Koordinator Penyusun: Pius Widiyatmoko Tim Penulis: Arman Masudi, Noviar Safari, Yuli Irianto Reviewer: Dadan Ramdan, Mokhamad Ikhsan, Budiarti Utami Putri Penyunting Bahasa: Betta A. Setiani, Budiarti Utami Putri Desain dan Tata Letak: Pieter P. Setra Perpustakaan Nasional: PANDUAN PELATIHANPENGEMBANGAN INDUSTRI ROTAN RUMAHAN INISIATIF Bandung, 2017, 25x20cm; 86 hal Hak Cipta dilindungi Undaang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi manual ini tanpa seizin penerbit


KATA PENGANTAR

D

alam rangka mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan di Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat, Perkumpulan Inisiatif bersama Tim Layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM), Serikat Perempuan Bonehau (SPB) dan Sande’ Institute membentuk sebuah wadah yang bernama Konsorsium Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat Mamuju (PSDABM-M).

Melalui Konsorsium PSDABM-M ini, berbagai bentuk kerja sama dilakukan untuk menciptakan pengelolaan hutan yang berkelanjutan, terutama diwujudkan dalam bentuk pengelolaan rotan yang tumbuh di hutan sekitar lingkungan masyarakat Desa Hinua, Bonehau dan Tamalea di Kabupaten Mamuju serta pengolahan rotan Agar masyarakat mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam hal pengelolaan rotan dan hutan yang berkelanjutan serta pengolahan rotan menjadi bahan baku atau barang jadi, maka upaya peningkatan kapasitas merupakan hal penting untuk dilakukan. Pengetahuan dan keterampilan mengelola tanaman rotan dan cara memanen yang baik serta mengolah hasilnya akan menjadi kontribusi yang positif terhadap keberlanjutan rotan dan hutan tersebut. Dalam konteks demikian, paket buku panduan dan modul ini dikembangkan oleh Konsorsium PSDABM-M. Paket buku pelatihan ini diharapkan dapat menjadi navigasi bagi konsorsium sendiri dan masyarakat sekitar dalam upaya mewujudkan pengelolaan dan pengolahan rotan yang berkelanjutan. Buku panduan dan modul ini terbagi ke dalam 3 paket besar yaitu, pembibitan, budidaya dan panen, pabrik pengolahan rotan serta industri rumahan (home industry). Ketiganya merangkum proses penanaman rotan hingga pengolahan panennya menjadi bahan baku sampai barang jadi siap pakai. Penyusunan paket buku panduan dan modul ini telah dilaksanakan dengan proses dan tahapan yang penuh dengan kehati-hatian dan sungguh-sungguh. Di awal proses penyusunan digelar lokakarya mini untuk menyamakan

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

5


pemahaman dan persepsi mengenai pengelolaan rotan yang berkelanjutan antara penulis dengan pengelolaan program. Kedua, pasca lokakarya mini yang output-nya adalah kisi-kisi penulisan paket buku modul dan panduan, kegiatan dilanjutkan dengan penulisan draft paket panduan dan modul lalu di-review melalui lokakarya pembahasan draft paket. Ketiga, agar penyusunan paket buku modul dan panduan ini tepat sasaran selanjutnya dilaksanakan pelatihan uji coba dengan peserta utama dari komunitas masyarakat di 3 desa tempat pelaksanaan program, pemerintah Kabupaten Mamuju serta reviewer proses pelatihan. Pasca ujicoba berbagai masukan diolah untuk menyempurnakan materi. Dan akhirnya setelah melalui proses yang bertahap tadi, paket buku panduan dan modul ini berhasil diselesaikan dan siap menjadi bahan peningkatan kapasitas masyarakat di 3 desa dalam hal pengelolaan rotan yang berkelanjutan. Namun demikian, walaupun paket buku panduan dan modul ini telah dibuat dengan semaksimal mungkin, kekeliruan dalam beberapa hal masih mungkin terjadi. Berdasarkan hal itu, berbagai saran, kritikan dan masukan konstruktif untuk penyempurnaan akan selalu terbuka. Terakhir, sebagai sebuah dokumen yang disusun dengan melibatkan banyak pihak tentu saja ucapan terimakasih layak ditujukan kepada mereka yang telah bersedia untuk terlibat. Kepada para penulis, reviewer, penyunting bahasa, dan masyarakat di 3 desa serta perwakilan dari Pemerintahan Kabupaten Mamuju diucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Dan juga pihak MCA-Indonesia yang memberikan dukungan pendanaan konsorsium. Semoga kehadiran paket buku panduan dan modul ini mampu menjadi sumbangsih yang berarti untuk menciptakan pengelolaan dan pengolahan rotan yang berkelanjutan di Indonesia.

Bandung, Maret 2017 Konsorsium Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Masyarakat - Mamuju (PSDABM-M) Perkumpulan Inisiatif, Tim Layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM), Sande’ Institut, Serikat Perempuan Bonehau (SPB)

6

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ____________________________________________________________5 DAFTAR GAMBAR _____________________________________________________________10 DAFTAR TABEL _______________________________________________________________13 BAB I. PENDAHULUAN ________________________________________________________17 A. Latar Belakang ___________________________________________________________17 B. Konsep Pengembangan Industri Rotan Rumahan _______________________________18 1. Deskripsi Industri Rotan Rumahan ________________________________________18 2. Manfaat yang Diharapkan dari Pengembangan Industri Rotan Rumahan ________20 3. Bentuk Industri Rotan Rumahan _________________________________________21 C. Pelaksanaan, Model, dan Metode Pelatihan dan Pengembangan Industri Rotan Rumahan _________________________________26 1. Tahapan Pelaksanaan Pengembangan Industri Rotan Rumahan ________________26 2. Model Pelatihan Pengembangan Industri Rotan Rumahan ____________________28 3. Metode Pelatihan Pengembangan Industri Rotan Rumahan ___________________28 BAB II. PROSES PRAPRODUKSI ________________________________________________29 A. Pengenalan Jenis-jenis Produk Industri Rotan Rumahan _________________________29 B. Kesiapan Bahan Baku Rotan ________________________________________________32 1. Identifikasi Bahan Baku Rotan ___________________________________________32 2. Teknik Pemilahan Bahan Baku Rotan ______________________________________33 3. Skema Pengelolaan Rotan Berbasis Industri Rotan Rumahan __________________34 4. Pengolahan Bahan Baku Rotan Menjadi Bahan Setengah Jadi _________________37 C. Kebutuhan Mesin dan Peralatan ____________________________________________39

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

7


BAB III. PROSES PRODUKSI ___________________________________________________42 A. Proses Pembuatan Keranjang _______________________________________________42 1. Bahan baku __________________________________________________________42 2. Mesin dan peralatan ___________________________________________________44 3. Reka bentuk keranjang _________________________________________________45 4. Tahap pembuatan _____________________________________________________47 B. Proses Pembuatan Kursi ___________________________________________________50 1. Bahan baku & bahan penunjang _________________________________________50 2. Mesin dan Peralatan ___________________________________________________51 3. Reka bentuk kursi rotan ________________________________________________51 4. Reka bentuk anyaman _________________________________________________52 5. Tahap pembuatan kursi rotan ___________________________________________54 6. Macam-macam Konstruksi Kursi _________________________________________58 C. Proses Pembuatan Meja ___________________________________________________61 1. Bahan Baku dan Bahan Penunjang ________________________________________61 2. Mesin dan Peralatan ___________________________________________________61 3. Tahapan pembuatan meja rotan _________________________________________62 4. Macam-macam Konstruksi Meja __________________________________________66 D. Pengenalan Produk Lemari Rotan ___________________________________________66 E. Tahap Akhir Proses Pengolahan Produk Rotan Hasil Industri Rumahan (Finishing) _____68 1. Jenis-jenis Finishing ___________________________________________________68 2. Alat-alat Finishing _____________________________________________________69 3. Langkah Finishing dengan Melamic ______________________________________69 F. Praktik Produksi Ramah Lingkungan _________________________________________71

8

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB IV. BIAYA PRODUKSI _____________________________________________________74 1. Harga Pokok Produksi Keranjang _________________________________________75 2. Harga Pokok Produksi Kursi _____________________________________________77 3. Harga Pokok Produksi Meja _____________________________________________78 BAB V. PROSES PENGEPAKAN ________________________________________________80 A. Jenis-jenis Bahan Pengepakan ______________________________________________80 B. Langkah-langkah Pengepakan ______________________________________________81 C. Langkah-langkah Penghematan Ruang _______________________________________83 DAFTAR PUSTAKA ___________________________________________________________85

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

9


DAFTAR ISI Gambar 1. Rotan kubu yang sudah diikat setiap 70–80 kg dan disimpan ________________34 Gambar 2. Perendaman rotan di kolam ___________________________________________37 Gambar 3. Pembelahan rotan menjadi lasio dan core _______________________________38 Gambar 4. Amplas grid (dari kiri) 40, 80, 150, 240, 600 _______________________________39 Gambar 5. (dari kiri ke kanan) Mesin bor rotan, mesin kompresor, mesin penyemprot _____40 Gambar 6. (dari kiri ke kanan) Meja rol, mesin pelengkung, hand tool sander ____________40 Gambar 7. Kompor untuk menekuk batang rotan __________________________________41 Gambar 8. (dari kiri ke kanan) Gunting potong rotan, bor tangan, palu, tang, obeng ______41 Gambar 9. Rotan core (kiri) dan rotan pitrit (kanan) _________________________________43 Gambar 10. Rotan kubu yang telah direndam (kiri) dan rotan lasio (kanan) _____________43 Gambar 11. Alat tajam untuk membantu memasukkan anyaman ______________________44 Gambar 12. Air nailgun yang menggunakan tekanan udara dari kompresor _____________44 Gambar 13.Tang pemotong (untuk rattan core) dan gunting kuku _____________________44 Gambar 14. Jenis-jenis pola anyaman pada basket _________________________________45 Gambar 15. Jenis keranjang kubu abu-abu (kiri) dan kubu natural (kanan) ______________46 Gambar 16. Jenis keranjang lombokan (menggunakan rotan core & lasio) _______________46 Gambar 17. Siapkan 12 rotan dan buat rangkaian seperti gambar _____________________47 Gambar 18. Sebarkan rangka anyaman (lungsen) dan anyam mengitari rangka anyam ____48 Gambar 19. Masukkan mal (kiri) dan tambahkan batang tambahan untuk setiap lungsen __48 Gambar 20. Anyam badan keranjang ____________________________________________49 Gambar 21. Rangka anyam (lungsen) dianyam menjadi lis dan dipotong lebihnya _______49 Gambar 22. Lembaran webbing pola anyam antik __________________________________50 Gambar 23. Contoh gambar kerja sebuah kursi bar stool ____________________________51 Gambar 24. Ilustrasi sambungan rotan ___________________________________________51

10

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


Gambar 25. Pola anyaman lasio pada bidang dudukan dan sandaran punggung _________52 Gambar 26. Pola anyaman rotan pitrit pada kursi sofa _______________________________52 Gambar 27. Anyaman rotan kubu pada dudukan bar stool ___________________________53 Gambar 28. Anyaman binding pada sambungan rotan ______________________________53 Gambar 29. Bak rendam untuk rotan batang ______________________________________54 Gambar 30. Batang rotan diuap dan ditekuk sesuai kebutuhan _______________________54 Gambar 31. Bagian kursi yang telah ditekuk dan diikat sementara _____________________54 Gambar 32. Produksi bagian kaki (kiri) dan dudukan kursi (kanan) _____________________55 Gambar 33. Perakitan dibantu dengan cetakan kayu (mal) agar ukuran kursi konsisten ____55 Gambar 34. Rangka kursi yang sudah dirakit siap dianyam atau diberi cushion __________56 Gambar 35. Rotan kulit abu-abu ________________________________________________57 Gambar 36. Pemasangan stripping polyester ______________________________________57 Gambar 37. Proses menganyam rotan ___________________________________________57 Gambar 38. Kursi rotan sudah dijemur dan diselesaikan _____________________________58 Gambar 39. Kursi stool, barstool, dining chair, arm chair, easy chair, sofa) ________________59 Gambar 40. Knock-up furniture Dirancang oleh Arman Masudi (dok. Penulis) ____________59 Gambar 41. Sofa set dengan sistem knock-down __________________________________59 Gambar 42. Oslo folding chair Sumber: www.boconcept.com ________________________60 Gambar 43. Stool 60 Dirancang oleh Alvar Aalto (www.artek.fi) _______________________60 Gambar 44. Persiapan bahan baku untuk pembuatan meja __________________________61 Gambar 45. Bor, tang, palu, dan meja peralatan lainnya untuk pembuatan meja _________61 Gambar 46. Pemotongan dan perendaman rotan __________________________________62 Gambar 47. Proses pemanasan dan pembengkokan rotan ___________________________62 Gambar 48. Contoh mal/jig meja rotan ___________________________________________62 Gambar 49. Pembentukan rangka menggunakan mal _______________________________63

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

11


Gambar 50. Pembuatan rangka rotan ____________________________________________63 Gambar 51. Pengikatan dan dekorasi ____________________________________________63 Gambar 52. Meja setelah di-sanding atau diamplas _________________________________64 Gambar 53. Coffee table, dining table, endside table, desk, bedside table _______________66 Gambar 54. Lemari rotan full anyaman ___________________________________________67 Gambar 55. Lemari rotan anyaman dengan rangka kayu ____________________________67 Gambar 56. Lemari rotan anyaman dengan rangka besi _____________________________67 Gambar 57. Proses staining (kiri) dan jenis-jenis warna woodstain pada rotan ____________70 Gambar 58. Proses finishing pada furnitur rotan ___________________________________70 Gambar 59. Kertas pembungkus ________________________________________________80 Gambar 60. Plastik bubblewrap _________________________________________________80 Gambar 61. Kardus pengepakan ________________________________________________81 Gambar 62. Tali rafia __________________________________________________________81 Gambar 63. Satu set keranjang berisi tiga keranjang ________________________________82 Gambar 64. Bungkus keranjang rotan ____________________________________________82 Gambar 65. Ikat bungkusan rotan _______________________________________________82 Gambar 66. Kursi yang dapat ditumpukkan dapat menghemat banyak ruang ___________83 Gambar 67. Set keranjang dengan tiga ukuran: kecil, sedang, besar ____________________83 Gambar 68. Flat Pack Basket ___________________________________________________84 Gambar 69. Bundel Soda Set dengan sistem knock-down ___________________________84

12

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


DAFTAR TABEL Tabel 1. Ringkasan alur pembuatan meja rotan ______________________________64 Tabel 2. Indikator Teknis Produksi Ramah Lingkungan ________________________71 Tabel 3. Harga Pokok Produksi Keranjang Laci _______________________________75 Tabel 4. Harga Pokok Produksi Keranjang Kubu _____________________________76 Tabel 5. Harga Pokok Produksi Keranjang Lombokan _________________________76

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

13



BAB

1

PENDAHULUAN

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

15



BAB

1

PENDAHULUAN

BAB 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I

ndonesia merupakan negara produsen rotan besar yang turut menyuplai sekitar 85% kebutuhan rotan dunia. Sumber daya rotan di Indonesia memang sangat melimpah, ada kurang lebih 306 jenis rotan yang telah teridentifikasi dan tersebar di seluruh nusantara. Dari jumlah tersebut, rotan yang sudah ditemukan dan digunakan untuk keperluan lokal mencapai kurang lebih 28 jenis. Sementara itu, yang sudah umum dijadikan usaha/diperjualbelukan untuk berbagai keperluan baru menjadi 28 jenis saja (Baharuddin dan Taskirawati, 2009). Sumber daya rotan banyak dipungut oleh masyarakat yang tinggal di sekitar atau bahkan di dalam hutan (masyarakat desa hutan). Meskipun masyarakat dapat memungut rotan yang melimpah dari alam, sumber daya tersebut belum cukup meningkatkan kondisi ekonomi mereka. Data hasil Sensus Ekonomi Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2013 menyebutkan bahwa masih banyak masyarakat pemungut rotan yang kondisiekonominya tergolong pada kelompok masyarakat prasejahtera. Kondisi ini terjadi karena masyarakat belum memanfaatkan rotan dengan maksimal. Rotan yang dipungut biasanya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalaupun ada yang menjualnya kepada tengkulak, biasanya masih dalam bentuk bahan baku yang nilai jualnya rendah. Salah satu cara meningkatkan nilai tambah rotan yaitu dengan mengolahnya menjadi barang jadi. Untuk itu, masyarakat dapat mengembangkan suatu usaha pengelolaan rotan bersama komunitas yang dikelola secara mandiri. Model komunitas relatif cocok dengan kondisi masyarakat secara sosial, ekonomi, dan juga kultural. Ketersediaan

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

17


BAB

1

PENDAHULUAN

bahan mentah dan baku yang melimpah, semangat komunal/kolektif masyarakat, dan pengelolaan yang tepat; ketiganya menjadi dasar dalam konteks pengembangan usaha pengelolaan rotan berbasis rumah tangga atau industri rumahan (home industry).

B. Konsep Pengembangan Industri Rotan Rumahan 1. Deskripsi Industri Rotan Rumahan Yang dimaksud dengan industri rotan rumahan adalah kegiatan kerja-kerja produksi (pengolahan rotan) baik barang maupun jasa, yang dilakukan oleh rumah tangga yang terhubung dengan industri pengolahan rotan, baik dalam proses awal, tengah maupun akhir. Sementara itu, ada pula kegiatan usaha kerajinan pengolahan rotan (crafting), yaitu kegiatan produksi pengolahan rotan yang dilakukan oleh rumah tangga tetapi tidak terhubung dengan industri rotan. Dilihat dari skalanya, ada tiga jenis industri rotan, yakni industri skala kecil, sedang, dan besar. Ketiganya berperan penting sebagai penopang perekonomian negara. Namun, menyesuaikan dengan kondisi negara berkembang, maka yang dinilai paling tepat dikembangkan saat ini yakni industri yang memerlukan modal sedikit dan mampu menyerap tenaga kerja. Industri inilah yang sering disebut industri rumahan. Undangundang No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pasal 1 secara spesifik mendefinisikan, “Industri rotan rumahan merupakan usaha produktif milik orang perorangan dan atau badan usaha perseorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam undangundang ini�

18

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

1

PENDAHULUAN

Dalam perkembangan ekonomi di Indonesia, industri rotan rumahan selalu digambarkan sebagai sektor yang memiliki peran penting untuk menyejahterakan keadaan ekonomi masyarakat. Hampir seluruh populasi usaha nasional adalah usaha berkategori industri rotan rumahan, dan masyarakat yang menjadi pengrajin rotan masih banyak yang termasuk dalam kelas menengah ke bawah. Maka dari itu, peran industri rotan rumahan tidak hanya terhadap output pendapatan nasional, tetapi juga pada penyerapan tenaga kerja dan memberikan pelayanan ekonomi yang luas pada masyarakat. Dengan kata lain, industri rotan rumahan dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain dari sisi ekonomi, industri rotan rumahan juga tak terlepas dari aspek kultural masyarakat, misalnya dengan memperhatikan keterlibatan perempuan dalam aktivitas ekonomi rumah tangga. Ida Rochgiyanti (dalam Budiastuti dan Wedastra, 2012) menyebutkan bahwa perempuan—khususnya di pedesaan—juga merupakan sumber daya pembangunan dan ekonomi yang menyimpan potensi strategis yang sama pentingnya dengan laki-laki. Para perempuan tersebut biasanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan di kampung, serta turut serta pula mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam hutan. Dengan kata lain, para perempuan di pedesaan dapat terlibat aktif dalam industri rotan rumahan, mengingat sifat industri rumah tangga ini relatif tidak berbahaya serta fleksibel/luwes dari segi waktu. Berdasarkan beberapa alasan di atas, maka sangat beralasan apabila dalam sistem pengelolaan rotan dipilih model pengembangan industri rotan rumahan. Panduan ini akan menjelaskan secara detail bagaimana proses pengelolaan industri rotan rumahan, mulai dari bentuk komunitas, regulasi, produksi, hingga pengemasan barang jadi sebelum dipasarkan. Namun, sebelum memulai pengembangan industri rotan rumahan, ada beberapa faktor yang menjadi prasyarat, di antaranya sebagai berikut: •

Adanya paradigma di masyarakat pemanfaat hasil hutan (rotan) bahwa rotan yang berlimpah yang mereka pungut adalah anugerah dari Tuhan semesta alam yang seharusnya memberikan nilai lebih bagi mereka, sehingga kehidupan mereka lebih baik.

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

19


BAB

1

PENDAHULUAN

Adanya kemauan untuk berkembang dari masyarakat pemanfaat hasil hutan (rotan)

Adanya daya dukung alam sehingga suplai bahan baku yang baik dapat berkesinambungan (terus menerus)

Adanya kemampuan (pengetahuan dan keterampilan) pengolahan bahan baku menjadi bahan olahan siap pakai

Adanya daya dukung pihak-pihak terkait dengan pengolahan rotan oleh rumah tangga (pemerintah, lembaga atau yayasan yang fokus, individu atau perusahaan yang mau bermitra, perbankan dan akademisi)

2. Manfaat yang Diharapkan dari Pengembangan Industri Rotan Rumahan Bagian yang penting dan tidak terpisahkan dari rangkaian kegiatan pengembangan industri rotan rumahan adalah manfaat yang dapat diperoleh semua pihak terutama oleh masyarakat di desa yang sudah biasa bergantung terhadap hasil hutan nonkayu (rotan). Adapun manfaat yang diharapkan dapat diperoleh sebagai berikut: • • • • •

Meningkatnya peluang kerja sehingga menambah serapan tenaga kerja di desa Meningkatnya kapasitas (pengetahuan, keterampilan) masyarakat pemanfaat rotan Bertambahnya nilai guna dan nilai tukar produk berbahan dasar rotan Meningkatnya pendapatan masyarakat pengelola hasil hutan (rotan) Meningkatnya devisa negara (melalui kegiatan ekspor produk berbahan dasar rotan)

Untuk lebih menjelaskan alur peningkatan kemanfaatan pengembangan industri rotan rumahan seperti dijelaskan dalam bagan berikut:

20

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

1

PENDAHULUAN

Bagan 1. Produkivitas menunjang peningkatan ekonomi rakyat dan negara

3. Bentuk Industri Rotan Rumahan Industri rotan dapat dijalankan dengan tiga model, yakni industri rumah tangga, industri pabrikan yang dijalankan bersama (kemitraan antara rumah tangga dan industri besar/pabrikan), dan industri besar. Industri rumahan sendiri dibagi menjadi dua, yaitu industri rotan rumahan mandiri dan industri rotan rumahan kemitraan. Industri rotan rumahan mandiri dikelola oleh rumah tangga dengan mengandalkan sumbersumber dari rumah tangga sendiri. sumber itu di antaranya bahan baku, modal, tenaga kerja, pengolahan, dan pemasaran. Sementara itu, industri rotan rumahan kemitraan dikelola oleh rumah tangga dengan mengandalkan sumber-sumber dari industri besar (subkontrak).

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

21


BAB

1

PENDAHULUAN

Bagan di bawah ini merupakan alur proses produksi oleh rumah tangga di komunitas pemanfaat hasil hutan (rotan) yang berlangsung dengan memakai konsep pengembangan industri rotan rumahan dan pola hubunganya dengan faktor ekternal.

Bagan 2 Alur proses produksi oleh industri rotan rumahan

Bagan 2. Alur proses produksi oleh industri rotan rumahan Pada prinsipnya usaha kecil dapat berjalan secara individual atau perseorangan yang mengandalkan kemampuan modal, manajemen produksi, pemasaran dilakukan secara mandiri. Namun model ini memiliki konsekuensi tersendiri, salah satunya persaingan usaha dengan pemodal besar. Dalam banyak kasus, usaha kecil perseorangan rentan gulung tikar atau bangkrut. Dalam persaingan usaha yang ketat ini, kegiatan pengembangan industri rotan rumahan sangat perlu untuk mendorong upaya konsolidasi berbagai aspek baik dalam hal manajemen sumber daya manusia, modal,

22

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

1

PENDAHULUAN

produksi maupun pemasaran. Maka terciptalah satu sistem usaha terpadu dari hulu sampai hilir yang dikelola oleh rumah tangga-rumah tangga di komunitas. Bentuk dari kegiatan mengkonsolidasi usaha-usaha pengrajin tersebut dikelola dalam satu kelembagaan yang sesuai dengan iklim dan regulasi yang berjalan.

Kelembagaan Yang dimaksud dengan kelembagaan adalah ”Bentuk satu-kesatuan atau badan yang mewadahi setiap rangkaian tindakan atau kegiatan yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya di dalam menjalankan pengelolaan dan pengolahan rotan di dalam konsep industri rotan rumahan yang berkesesuaian dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.” Definisi tersebut berarti bahwa dalam kegiatan mengembangkan industri rotan rumahan perlu adanya upaya untuk membuat badan yang kemudian kita sebut sebagai wadah bagi masyarakat pengelola dan pengolah rotan. Kegiatan ini diharapkan agar masyarakat tersebut menjadi lebih solid dan terlindungi secara hukum, yang selanjutnya wadah itu kita sebut “lembaga usaha pengembangan Industri Rotan Rumahan rotan.” Untuk dapat membangun lembaga pengelolaan dan pengolahan rotan, ada beberapa prasyarat yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut: • • • • • •

Adanya orang-orang yang siap dengan peran dan posisi masing-masing yang akan melakukan kegiatan pengembangan industri rotan rumahan. Adanya pengetahuan tentang pengelolaan manajemen usaha kecil (mandiri dan kemitraan). Adanya keterampilan pengolahan produk rotan. Adanya pemahaman tentang pasar. Adanya izin usaha atau legalitas. Adanya daya dukung dari sumber-sumber bahan, daya dukung keberpihakan dari stake holder (pemerintah, akademisi, NGO, pelaku pasar).

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

23


BAB

1

PENDAHULUAN

Adapun bentuk lembaga atau badan usaha yang sudah ada dan berjalan di Indonesia yaitu PT (Perseroan Terbatas), CV (Commanditaire Vennotschap), dan koperasi. Lembaga yang paling sesuai dengan corak usaha kecil dan menengah adalah bentuk “lembaga usaha koperasi primer (beranggotakan orang-orang)”, dengan alasan sebagai berikut: • • • • • •

Sistem pengaturan atau manajemen yang sederhana atau tidak rumit Sebagai program nasional, koperasi mendapat dukungan penuh dari pemerintah (dengan satu kementerian) Platform modal kecil Jangkauan kegiatan dapat melingkui masyarakat di desa Orientasi koperasi badan yang mencari untung/profit Jenis usaha sesuai dengan industri rumahan (usaha perdagangan, usaha jasa, dan lain-lain)

Selanjutnya, untuk dapat membangun sebuah lembaga usaha, perlu diperhatikan hal-hal berikut: a. Identifikasi anggota kelompok yang siap untuk menjadi anggota dan pengurus koperasi minimal 20 orang (syarat dasar pendirian koperasi primer oleh 20 orang) b. Identifikasi aturan yang perlu disusun dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, disesuaikan dengan kebutuhan. • • • • • •

24

Keanggotaan Kedudukan Nama Kepengurusan Iuran Perjanjian-perjanjian kerjasama

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

1

PENDAHULUAN

• • •

Kegiatan usaha Bagi hasil Keperluan lain yang dianggap perlu

c. Identifikasi unit kegiatan yang akan atau sedang dijalankan d. Rapat pendirian (dibuktikan dengan berita acara) e. Pengurusan dokumen-dokumen syarat pengajuan legalitas ke pemerintah • TDP • NPWP • Rekening Bank • Akta Notaris • Berita Acara Adapun hubungan koperasi dengan rumah tangga pengrajin, industri dan pasar (other user) dapat dilihat dalam bagan berikut:

Bagan 3. Pola hubungan koperasi dengan industri dan unit lain

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

25


BAB

1

PENDAHULUAN

Untuk menjalankan koperasi, diperlukan pula pemahaman mengenai regulasi yang terkait. Regulasi dalam pengelolaan rotan mencakup dua hal, yaitu yang terkait dengan ekologi (perlindungan atas sumber-sumber hutan negara, perlindungan hutan atas pengelolaan hasil hutan non kayu) dan regulasi daya dukung atas ekonomi (perlindungan atas keberlanjutan usaha kecil, perlindungan atas persaingan usaha bagi pelaku usaha kecil, mendorong pertumbuhan, dan mendorong terbukanya akses kepada usaha kecil). Hal-hal tersebut diatur dalam: • • • • •

Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 89 Tahun 2015 Tentang Ketentuan Ekspor Produk Kehutanan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen-LHK) Nomor 91 Tahun 2014 Tentang Penatausahaan Hasil Hutan Bukan Kayu yang Berasal dari Hutan Negara Peraturan Menteri Koperasi dan UKM (Permen-KUKM) Nomor 19 Tahun 2015 Tentang Kelembagaan Koperasi Peraturan daerah lainnya

C. Pelaksanaan, Model, dan Metode Pelatihan dan Pengembangan Industri Rotan Rumahan 1. Tahapan Pelaksanaan Pengembangan Industri Rotan Rumahan Untuk menjalankan kegiatan pengembangan industri rotan rumahan dapat melalui beberapa tahapan sebagai berikut: 1. Pembentukan kelompok (struktur organisasi kelompok dengan ketentuan 1 desa 1 kelompok). 2. Pengurusan badan hukum koperasi untuk 3 desa dengan satu badan hukum koperasi (primer). 3. Pembentukan unit-unit kerja koperasi: unit persiapan, unit pengolahan reka bentuk, unit pengumpul produk.

26

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

1

PENDAHULUAN

4. Pelatihan pengolahan produk berbahan dasar rotan (di dalam kelas, di luar kelas/praktik/magang). 5. Pelatihan pengelolaan manajemen industri rotan rumahan (di dalam kelas, di luar kelas/praktik/ magang). 6. Identifikasi potensi lokasi tempat tinggal rumah tangga sebagai dasar untuk mencari kecocokan bentuk olahan rotan. 7. Identifikasi lokasi pergudangan. 8. Identifikasi kecenderungan kelompok dalam memilih bentuk olahan rotan. 9. Identifikasi kebutuhan sesuai pilihan fokus olahan reka bentuk rotan. 10. Menyusun aturan kerja tentang relasi antarkelompok, kelompok dengan manajemen koperasi, kemitraan koperasi dengan industri rotan. Tahapan berikutnya adalah tahapan pengolahan rotannya itu sendiri yang dapat dilakukan melalui kegiatan: 1. Identifikasi (kenali) saudara-saudara dari masing-masing desa kita, berapa orang yang siap terlibat. 2. Identifikasi keterampilan apa yang paling cocok (spesialisasi) untuk saudara-saudara kita di masingmasing desa. 3. Tentukan metoda penambahan kapasitas (pengelolaan dan keterampilan). Selanjutnya, kegiatan memperkokoh dasar-dasar hukum sebagai bagian dari upaya agar semua kegiatan dilindungi hukum dan mendapatkan dukungan pemerintah, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Penyusunan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, MoU dan SOP 2. Pengurusan perizinan badan hukum (koperasi) 3. Penyesuaian standar mutu (berkelanjutan)

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

27


BAB

1

PENDAHULUAN

2. Model Pelatihan Pengembangan Industri Rotan Rumahan Model pelatihan pengembangan industri rotan rumahan ini adalah memuat petunjuk dan panduan pelaksanaan pelatihan pengembangan industri rotan rumahan, adapun petunjuk pelatihan ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu: 1. Bagian yang berisi petunjuk teknis bagaimana cara untuk melakukan fasilitasi pelatihan pengembangan industri rotan rumahan (ToT) 2. Bagian kedua berisi materi dan praktik dalam bentuk penjelasan berupa tulisan, gambar dan video, yang dikemas dalam modul-modul pelatihan

3. Metode Pelatihan Pengembangan Industri Rotan Rumahan Metode pelatihan pengembangan industri rotan rumahan ini menggunakan pendekatan andragogi yaitu pola pelatihan bagi orang dewasa. Suatu pembentukan pemahaman dan keterampilan yang dilakukan melalui kegiatan di dalam kelas (in class) dan kegiatan di luar kelas (out class). •

Kegiatan di dalam kelas (in class) diisi dengan materi sebagai berikut: 1. 2. 3. 4.

•

Ceramah Curah pendapat (brain storming) Diskusi kelompok dan pleno Pertunjukan gambar dan video

Adapun kegiatan di luar kelas (out class) adalah dengan materi sebagai berikut: 1. Studi (magang) pengolahan bahan baku rotan 2. Studi (magang) pembuatan reka bentuk rotan 3. Studi pelembagaan industri rotan rumahan

28

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

2

PROSES PRAPRODUKSI

BAB II. PROSES PRAPRODUKSI Ada beberapa hal yang harus disiapkan sebelum menjalankan industri rotan rumahan, mencakup terutama mencakup sarana prasarana dan kesiapan bahan baku. Berikut ini akan dibahas dua faktor tersebut.

A. Pengenalan Jenis-jenis Produk Industri Rotan Rumahan Proses pembuatan rotan menjadi barang jadi sangat bergantung pada kreasi, imajinasi dan keterampilan pembuatnya. Desain atau bentuk yang lebih kreatif akan diminati banyak orang. Bahan baku yang digunakan juga harus disesuaikan dengan bentuk produknya (Januminro, 2000). Berikut adalah foto-foto dari contoh jenis dan bentuk produk olahan rotan yang sudah diproduksi oleh sentra industri rotan rumahan di Cirebon Jawa Barat (riset Tim Penulis, 2016).

1. Anyaman

Laci

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

29


BAB

2

PROSES PRAPRODUKSI

Basket

Kursi

30

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

2

PROSES PRAPRODUKSI

2. Keranjang/Basket

Lombokan

Kubuan

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

31


BAB

2

PROSES PRAPRODUKSI

3. Kesiapan Bahan Baku Rotan 1. Identifikasi Bahan Baku Rotan Berdasarkan pada tahap pengolahan yang sudah dilalui, bahan baku rotan dapat dikategorikan sebagai berikut: a. Rotan Mentah. Rotan yang diambil/ditebang dari hutan, masih basah dan mengandung air getah rotan, warna hijau atau kekuning-kuningan (lapisan ber-chlorophyl), belum digoreng, dan belum dikeringkan. b. Rotan Asalan. Rotan yang telah mengalami proses penggorengan, penjemuran dan pengeringan. Permukaan kulit berwarna cokelat kekuning-kuningan, masih kotor belum dicuci, bergetah-kering, permukaan kulit berlapisan silikat. c. Rotan Setengah Jadi. Rotan yang telah mengalami proses seperti splitting dan peeling masuk dalam kategori ini. Bahan baku rotan ini siap diolah mejadi produk seperti keranjang dan kursi. d. Rotan Natural Washed and Sulphured (W/S). Rotan bulat natural yang masih berkulit, sudah mengalami proses pencucian dengan belerang (sulfur), ruas/tulang sudah dicukur maupun tidak dicukur (trimmed, untrimmed), biasanya kedua ujungnya sudah diratakan, sudah melalui sortasi ukuran diameter maupun kualitas. e. Rotan Poles. Rotan bulat yang telah dihilangkan permukaan kulit bersilikatnya dengan menggunakan mesin poles rotan, biasanya melalui 3 tahap amplas yang berbeda, yakni 1. amplas kasar (grit 30, 36, 40, 60) untuk menghilangkan permukaan kulit silikatnya, disebut sebagai poles kasar; 2. amplas sedang (grit 80 atau 100) untuk membersihkan permukaan rotan; dan 3. Amplas halus (grit 120, 150, 180, 240) untuk menghaluskan permukaan rotan, disebut sebagai poles halus.

32

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

2

PROSES PRAPRODUKSI

Tingkat rotan poles halus yang dibutuhkan oleh industri mebel dapat dibedakan menjadi tiga, yakni: •

Rattan Sanded-Polished. Dilakukan pengamplasan tiga tahap seperti yang tersebut di atas. Rotan dipoles hanya dengan menghilangkan permukaan kulit bersilikat termasuk kulit di bawah ruas rotan. Bentuk rotan maupun lekukan-lekukan masih dipertahankan sesuai dengan ciri rotan, namun permukaan sudah tidak berkulit.

Rattan Full-Polished. Rotan dipoles dengan meratakan semua ruas-ruas sehingga tidak bergelombang di antara ruas dengan permukaan lainnya.

Rattan Autoround-Polished. Sebelum rotan dipoles, terlebih dahulu dikupas kulitnya untuk diratakan diameternya dengan menggunakan autoround rod machine (mesin serut), sehingga rotan tersebut mempunyai diameter yang sama dari ujung ke ujung lainnya, lalu dipoles sampai halus. Rotan ini menyerupai tongkat karena diameternya sama.

2. Teknik Pemilahan Bahan Baku Rotan Tidak semua bahan baku rotan dapat digunakan karena pihak industri menetapkan standar tertentu kepada jenis rotan yang diinginkan. Berikut beberapa kriteria penting dalam pemilihan bahan baku rotan: a. Diameter/Ukuran. Rotan dikelompokkan sesuai diameter agar memudahkan proses pemilihan batang pada saat produksi. Contohnya, untuk rotan kubu biasanya dikelompokkan dalam angka 6–8 mm, 9–12 mm, dan seterusnya. b. Warna. Pihak industri dan konsumen memiliki spesifikasi atau standard tertentu terhadap warna rotan. Rotan yang memiliki warna yang merata dan konsisten menjadi pilihan. Sedangkan rotan yang memiliki warna yang tidak rata atau belang tidak diminati konsumen. Pewarnaan terjadi dalam proses pengasapan sulfur (warna menjadi lebih coklat dan kuning) atau perendaman di kolam (warna menjadi abu-abu).

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

33


BAB

2

PROSES PRAPRODUKSI

c. Cacat. Batang-batang rotan yang memiliki kecacatan seperti patah harus dipisahkan dibuang dari kelompok lain. d. Busuk. Beberapa rotan yang terjadi pembusukan akan terlihat bercak atau noda hitam. Rotan ini biasanya lembek dan mudah patah. Perhatikan juga kepada bercak jamur dan bluestain (bakal jamur yang berwarna hijau kebiru-biruan). Pisahkan dan buang rotan yang memiliki ciri-ciri pembusukan. e. Pembundelan. Setelah rotan sudah dipilah sesuai ukuran dan bebas cacat, rotan akan diikat per bundel. Satu ikatan atau bundel rotan dapat diikat setiap 7080 kg. Proses ini akan memudahkan penyimpanan dan transportasi bahan baku rotan.

Gambar1.1Rotan Rotankubu kubu yang sudah Gambar yang sudah diikatdiikat setiapsetiap 70–80 70– kg 80 kg dan disimpan dan disimpan

3. Skema Pengelolaan Rotan Berbasis Industri Rotan Rumahan Pengelolaan rotan berbasis industri rotan rumahan adalah kegiatan mengolah rotan dari mulai bahan baku menjadi berbagai jenis produk jadi. Kegiatan pengelolaan dilakukan melalui serangkaian aktivitas terhadap bahan rotan yang telah dipanen. Kegiatan ini dilakukan oleh rumah tangga di komunitas pemanfaat hasil hutan di sekitar wilayah/dalam kawasan hutan.

34

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

2

PROSES PRAPRODUKSI

a. Alur Bahan Baku

Bagan 4. Alur bahan baku rotan

Bagan 4 Alur bahan baku rotan

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

35


BAB

2

PROSES PRAPRODUKSI

b. Alur Pengolahan Rotan

Bagan 5 Alur proses pengolahan bahan baku rotan

Bagan 5. Alur proses pengolahan bahan baku rotan

36

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

2

PROSES PRAPRODUKSI

4. Pengolahan Bahan Baku Rotan Menjadi Bahan Setengah Jadi Proses pengolahan yang dilakukan berbeda-beda tiap rotan, tergantung kepada ukuran dan kegunaan rotan tersebut. Beberapa rotan mungkin melalui dua atau tiga proses di bawah, sebagian rotan seperti kubu (sega) hanya melalui proses perendaman untuk pewarnaan abu-abu. a. Perendaman. Proses perendaman dilakukan pada jenis rotan tertentu seperti kubu (sega) untuk mencapai warna abu-abu. Rotan kubu yang sudah disortir sesuai diameter diikat tiap bundel dengan berat kering sekitar 60–70 kg. Perlu dicatat bahwa perendaman terlalu lama akan merusak rotan sehingga rapuh dan tidak dapat dipakai. Pewarnaan abu-abu untuk rotan kubu memerlukan waktu perendaman sekitar sebulan.

Gambar 2. Perendaman rotan di kolam (Sumber: Gambar 2 Perendaman rotanPUPUK) di kolam

Sumber: PUPUK

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

37


BAB

2

PROSES PRAPRODUKSI

Gambarmenjadi 3. Pembelahan rotan menjadi Gambar 3 Pembelahan rotan lasio dan corelasio dan core

b. Splitting & Peeling. Proses ini dikenal juga sebagai proses pembelahan. Batang rotan dibelah menjadi dua komponen yaitu hati dan kulit. Kulit tersebut dinamakan lasio (atau rattan peel) dan berfungsi sebagai komponen anyaman. Hati rotan dikenal juga sebagai rattan core dan berfungsi sebagai lungsen (rangka anyaman) dan anyaman pada kursi. Pembelahan dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin pembelah (rattan splitting machine). Pembelahan secara mesin menghasilkan bentuk yang lebih rapi dan konsisten. c. Pengasapan Sulfur. Pada proses ini, rotan bulat yang masih berkulit mengalami proses pencucian dan pengasapan dengan belerang (sulphur). Biasanya proses ini dilakukan pada rotan batang berdiameter besar. Pengasapan dilakukan untuk mengeluarkan warna rotan dan membunuh larva serangga yang mungkin ada di dalam rotan. Pengasapan dilakukan sehari, kadang lebih dari 24 jam sehingga warna merata. Ruas/ tulang sudah dicukur maupun tidak dicukur (trimmed atau untrimmed), biasanya kedua ujungnya sudah diratakan, sudah melalui sortasi ukuran diameter maupun kualitas.

38

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

2

PROSES PRAPRODUKSI

d. Pemolesan. Batang rotan yang telah dihilangkan permukaan kulit bersilikatnya dinamakan rotan poles. Proses ini dilakukan dengan mesin poles rotan (Surface Milling Machine), biasanya melalui tiga tahap amplas yang berbeda yaitu: •

• •

Amplas (Grid 30, 36, 40 atau 60) untuk menghilangkan permukaan kulit silikatnya. Disebut sebagai poles kasar. Amplas (Grid 80 atau 100) untuk membersihkan permukaan rotan. Amplas (Grid 120, 150, 180 atau 240) untuk menghaluskan permukaan rotan, disebut sebagai “poles halus”. Gambar 4. Amplas grid (dari kiri) 40, 80, 150, 240, 600 (Sumber: Schleifpapier verschiedene Sorten)

C. Kebutuhan Mesin dan Peralatan a. Mesin Bor Rotan. Mesin ini berfungsi untuk membuat lubang atau cekungan pada ujung rotan semi poles. Cekungan ini digunakan untuk memudahkan proses sambungan kontruksi. b. Mesin Pemasang Paku dan Kompresor. Alat ini berfungsi untuk memasang paku dengan cara ditembakkan. Alat ini bekerja dengan memanfaatkan tekanan angin dari kompresor. Paku yang ditembakkan dari mesin ini akan memperkuat sambungan antar-rotan yang terlebih dahulu telah direkatkan dengan lem. c. Mesin Penyemprot/Spray Gun. Alat ini berfungsi untuk melakukan proses penyemprotan/finishing pada rotan setengah jadi. Penyemprotan menggunakan spray gun akan menghasilkan permukaan yang halus dan rata.

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

39


BAB

2

PROSES PRAPRODUKSI

Gambar 5. (dari kiri ke kanan) Mesin bor rotan, mesin kompresor, mesin penyemprot

d. Meja Rol. Meja rol mempunyai dua batang besi yang ditanam dikayunya. Besi berfungsi sebagai alat pembentuk komponen rangka. e. Mesin Pelengkung. Mesin ini digunakan untuk menekuk/membengkokkan rotan, misalnya untuk membuat bagian-bagian melengkung pada konstruksi kursi rotan, dan sebagainya. f.

Mesin Pengamplas Hand Tool Sander. Mesin hand tool sander berfungsi untuk mengamplas rotan sehingga tidak perlu dilakukan manual langsung dengan tangan.

Gambar 6. (dari kiri kanan) Mejake rol, mesin pelengkung, sanderpelengkung, Gambar 6 ke (dari kiri kanan) Meja hand rol,tool mesin

40

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N

hand tool sander


2

BAB

PROSES PRAPRODUKSI

g. Kompor/Blowtorch. Digunakan untuk menekuk rotan (bending). Rotan yang ditekuk dengan kompor akan memiliki bekas terbakar hitam dan harus diamplas sebelum difinish. Kompor menggunakan gas LPG. h. Kompor Stim/Steam Generator. Alat ini digunakan untuk menguap batang-batang rotan agar lembek dan mudah ditekuk. Batang rotan dimasukkan ke dalam tabung stim dan dibiarkan selama 30 menit atau lebih. Alat ini menggunakan bahan bakar kayu dan sisa buangan rotan.

Gambar 7. 7Kompor untukuntuk menekukmenekuk batang rotan Gambar Kompor batang

rotan

i. Gunting Potong Rotan. Biasa digunakan untuk memotong rotan dengan diameter antara 1-1,5 cm, seperti rotan core yang sering digunakan untuk dekorasi. j. Bor tangan. Alat ini digunakan untuk pengeboran kursi/meja yang memerlukan dekorasi. k. Palu. Alat ini digunakan pada proses dekorasi dan pengikatan. Palu berfungsi untuk memperkuat paku stapler pada proses pengikatan/binding.

Gambar 8. (dari kiri ke kanan) Gunting potong rotan, bor tangan, palu, tang, obeng.

l. Tang dan Obeng. Tang dan obeng berfungsi untuk mencabut paku stapler yang tidak pas di anyaman.

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

41


BAB

3

PROSES PRODUKSI

BAB III. PROSES PRODUKSI Apabila bahan baku rotan setengah jadi sudah dipersiapkan, kita dapat mulai produksi. Setiap jenis produk menggunakan jenis rotan yang berbeda.

A. Proses Pembuatan Keranjang 1. Bahan baku Bahan baku pembuatan keranjang yakni rotan-rotan dari beberapa jenis berikut:

42

Lasio. Lasio merupakan kulit rotan yang telah dipisahkan melalui proses pembelahan rotan dengan alat pembelah (rattan splitting machine). Lebar lasio biasanya antara 2–5 mm. Lasio digunakan untuk anyaman penutup dan sambungan rotan.

Pitrit. Pitrit merupakan rotan yang dihasilkan dari pembelahan rotan core. Satu batang core dapat menghasilkan 3-5 batang pitrit. Ukuran pitrit biasanya antara 2,5-5 mm. Pitrit berfungsi sebagai anyaman atau rangka anyam (lungsen).

Rotan core. Rotan core adalah hati atau isi dari batang rotan yang diperoleh melalui pembelahan dengan alat pembelah. Proses pembelahan dengan mesin memastikan bentuk batang rotan core yang konsisten dari ujung ke ujung. Core berfungsi sebagai anyaman atau memperkokoh konstruksi anyaman.

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

3

PROSES PRODUKSI

Gambar 9. RotanGambar core (kiri) dan pitritcore (kanan) 9 rotan Rotan (kiri)

•

dan rotan pitrit (kanan)

Kubu (Kooboo/Sega). Kubu merupakan jenis rotan yang berasal dari Kalimantan, memiliki diameter 6-12 mm. Rotan kubu yang masih berkulit dapat langsung dianyam menjadi keranjang. Kubu dapat juga dibelah untuk dianyam bagian kulitnya. Untuk mencapai warna abu-abu, rotan kubu direndamnkan di kolam sekitar satu bulan. Kubu umumnya digunakan untuk anyaman keranjang.

Gambar 10. Rotan kubu yang telah direndam (kiri) dan rotan lasio (kanan) Gambar 10 Rotan kubu yang telah direndam (kiri) dan

rotan lasio (kanan)

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

43


BAB

3

PROSES PRODUKSI

2. Mesin dan peralatan Menganyam tidak memerlukan pengoperasian peralatan yang rumit. Beberapa alat yang sering digunakan ketika menganyam keranjang rotan yaitu tang pemotong (side cutter), paku atau alat tajam, gunting atau gunting kuku, nail gun, palu karet, dan sarung tangan. Gambar 11. Alat tajam untuk membantu memasukkan anyaman

Gambar 12. Air nailgun yang menggunakan tekanan udara dari kompresor

Gambar 12 Air nailgun yang menggunakan tekanan udara dari kompresor

44

Gambar 13. Tang pemotong (untuk rattan rattan core) dan gunting Gambar 13 Tang pemotong (untuk core) dan kuku (untukgunting memotong lasio) kuku (untuk memotong lasio)

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

3

PROSES PRODUKSI

3. Reka bentuk keranjang Terdapat banyak jenis reka bentuk keranjang, tergantung dari jenis rotan dan pola anyaman yang digunakan. Beberapa pola hanya cocok dengan jenis rotan tertentu, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk eksperimentasi dan eksplorasi.

Gambar 14 Jenis-jenis pola anyaman pada basket Sumber: D. Macherson

Gambar 14 . Jenis-jenis pola anyaman pada basket (Sumber: D. Macherson)

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

45


BAB

3

PROSES PRODUKSI

Gambar 15. .Jenis keranjang kubu abu-abu (kiri) dan kubu natural (kanan)

Gambar 15 Jenis keranjang kubu abu-abu (kiri) dan kubu natural (kanan)

Gambar 16 keranjang Jenis keranjang lombokan (menggunakan Gambar 16. Jenis lombokan (menggunakan rotan core & lasio) lasio)

46

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N

rotan core &


BAB

3

PROSES PRODUKSI

4. Tahap pembuatan a. Persiapan. Tentukan jenis dan diameter batang kubu yang akan dipakai. Bahan baku rotan kubu disiram air terlebih dahulu agar mudah ditekuk. Jika menggunakan kubu abu-abu yang telah direndam sebulan dapat langung digunakan. b. Pembuatan dasar keranjang. Siapkan 12 batang rotan kubu dengan panjang yang sama dan posisikan seperti di gambar. Batang-batang ini akan menjadi lungsen atau rangka anyam keranjang. Panjang batang ini akan menentukan diameter dan tinggi keranjang. Ikat rangkaian ini dengan batang baru.

Gambar 17. Siapkan 12 rotan dan buat rangkaian seperti gambar

Gambar 17 Siapkan 12 rotan dan buat rangkaian seperti gambar Setelah rangkaian terikat, tekuk batang rangka anyam menyebar seperti jari-jari roda. Kemudian mulai menganyam mengitari lungsen atau rangka anyam ini.Pijak rangkaian agar tetap dalam posisi. Jika anyaman sudah sesuai diameter yang diinginkan, buatlah anyaman ganda sebagai lis.

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

47


BAB

3

PROSES PRODUKSI

Gambar 18. Sebarkan rangkaanyaman anyaman (lungsen) dan anyam mengitari Gambar 18 Sebarkan rangka (lungsen) dan anyam mengitari rangkaanyam anyam tersebut rangka tersebut

c. Penganyaman badan keranjang. Tekuk semua 24 lungsen atau rangka anyam ke atas. Keranjang yang tinggi seperti pada gambar memerlukan cetakan atau mal agar bentuk keranjang konsisten. Tambahkan batang baru di samping setiap lungsen yang ada agar rangka menjadi kokoh. Untuk memasang batang baru, potong miring batang agar runcing dan sisipkan ke dalam celah anyaman. Mulailah menganyam badan keranjang dari bawah ke atas.

Gambar 19. Masukkan mal (kiri) dan tambahkan batang tambahan

Gambar 19 Masukkan mal (kiri) dan tambahkan batang tambahan untuk untuk setiap lungsen (kanan) setiap lungsen (kanan) 48

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

3

PROSES PRODUKSI

Gambar 20. Anyam badan keranjang

Gambar 20 Anyam badan keranjang

Gambar 21. Rangka anyam (lungsen) dianyam menjadi lis

Gambar 21 Rangka anyam (lungsen) dianyam dan dipotong lebihnya menjadi lis dan dipotong lebihnya

d. Lis keranjang. Jika badan sudah teranyam, bagian terakhir adalah menganyam rangka anyam (lungsen) untuk membentuk lis. Bagian ini akan lebih sulit karena rangka anyam berdiameter lebih tebal dari anyaman biasa. Potong bagian yang menjorok keluar dengan tang pemotong. e. Penjemuran. Setelah keranjang selesai dianyam, keranjang dijemur dan dikeringkan. Apabila sudah kering, keranjang siap masuk ke tahap finishing. f. Standarisasi. Lama pembuatan keranjang ini sekitar 3–3,5 jam. Dalam sehari, satu orang pengrajin dapat menghasilkan 3–4 keranjang.

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

49


BAB

3

PROSES PRODUKSI

B. Proses Pembuatan Kursi Proses pembuatan kursi rotan memerlukan beberapa tahapan. Proses dimulai dengan menyiapkan bahan baku, bahan penunjang serta peralatan yang diperlukan.

1. Bahan baku & bahan penunjang

50

Bahan baku rangka kursi. Bahan baku utama adalah rotan asalan/batang yang sudah diproses semi poles yang akan digunakan sebagai rangka kursi. Rotan batang yang digunakan untuk rangka telah melewati proses pengasapan sulfur dan memiliki diameter berkisar 20–35 mm. Rotan batang yang tidak melewati proses pemolesan masih memiliki lapisan kulit dan cenderung lebih kuat dari rotan poles atau semi poles. Jenis rotan yang populer dipakai yaitu jenis Manau dan Mandola. Kebutuhan rotan batang untuk rangka biasanya berkisar 6 kg. Sebagai penguat rotan batang, biasanya digunakan rotan tohiti yang berdiameter lebih kecil (10–15 mm) untuk memperkokoh rangka utama.

Bahan baku anyaman. Bahan baku anyaman kursi umumnya hampir sama dengan bahan anyaman keranjang, yaitu menggunakan jenis rotan lasio, pitrit, kubu, ditambah webbing. Webbing adalah anyaman lasio yang diproduksi secara pabrikasi. Webbing dijual dalam bentuk lembaran dan dipasang pada rangka kursi dengan nail gun. (untuk pembahasan tentang lasio, pitrit, dan kubu, lihat kembali pada subbab pembuatan keranjang).

Bahan penunjang. Bahan baku lain yang diperlukan yaitu rotan core untuk dekor (3 kg) dan rotan sendid peel untuk pengikat/binding (0,35 kg). Bahan penunjang yang digunakan adalah lem dan stapler.

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N

Gambar 22. Lembaran webbing pola anyam antik


BAB

3

PROSES PRODUKSI

2. Mesin dan Peralatan Mesin yang digunakan untuk membuat kursi adalah mesin potong rotan dan mesin amplas semi poles. Sementara itu alat penunjang yang digunakan yaitu gergaji, kompor/blowtorch, kompor stim/steam generator, bor/drill, alat pelengkung, tang, pemasang paku/nail gun, side cutter, dan palu karet.

3. Reka bentuk kursi rotan Rancangan kursi yang akan dibuat ditentukan oleh pihak industri atau konsumen. Kursi rotan hadir dalam berbagai bentuk dan menggunakan jenis rotan yang berbeda-beda. •

•

Gambar kerja. Gambar kerja merupakan panduan untuk merakit sebuah produk furnitur seperti kursi. Gambar kerja atau desain kursi dihasilkan oleh perancang di industri dan memuat informasi rinci terkait ukuran, bahan, warna, dan jenis finishing sebuah kursi.

Gambar 23 Contoh gambar kerja sebuah kursi bar stool

Gambar 23. Contoh gambar kerja sebuah kursi bar stool

Sistem sambungan (joint). Berikut ini contoh-contoh sambungan yang sering digunakan pada rangka kursi rotan. Sambungan skrup lebih dianjurkan karena lebih kuat daripada paku.

Gambar 24. Ilustrasi sambungan rotan(sumber: INBAR Technical Report Rattan Processing) Gambar 24 Ilustrasi sambungan rotan Sumber: INBAR Technical Report Rattan Processing

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

51


BAB

3

PROSES PRODUKSI

4. Reka bentuk anyaman Reka bentuk anyaman berbeda-beda tergantung pada jenis rotan yang digunakan. Di bawah ini merupakan contoh anyaman berdasarkan jenis rotan. a. Anyaman Lasio

Gambar 25. Pola lasio pada bidang dudukan dan sandaran dan punggung Gambar 25 anyaman Pola anyaman lasio pada bidang dudukan sandaran

punggung

b. Anyaman Pitrit. Pola anyaman seperti kerangjang yang menutupi rangka-rangka kursi.

Gambar 26.26 Pola anyaman rotan pitrit pitrit pada Gambar anyaman Pola rotan kursi sofa pada kursi sofa

52

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

3

PROSES PRODUKSI

c. Anyaman Kubu. Pola anyaman yang digunakan

sama seperti anyaman keranjang. d. Anyaman Binding. Anyaman lasio ini berfungsi untuk menutup bekas sambungan antar-rotan dan memperindah tampilan kursi. Gambar 27Anyaman Anyamanrotan rotankubu kubu pada dudukan stool Gambar 27. pada dudukan barbar stool

Gambar 28. Anyaman binding pada sambungan rotan (sumber: INBAR Technical Report Rattan Processing

Gambar 28 Anyaman binding pada sambungan rotan Sumber: INBAR Technical Report Rattan Processing PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

53


BAB

3

PROSES PRODUKSI

5. Tahap pembuatan kursi rotan Rangka a. Pemotongan bahan dan perendaman anti ngengat. Rotan semi poles dipotong sesuai ukuran panjang atau pendeknya bagian kursi yang akan dibuat. Sebelum masuk ke tahap penguapan, rotan direndam dalam larutan anti ngengat selama 30 menit. b. Penguapan (steaming) dan penekukan (bending) rotan. Rotan yang telah dipotong menjadi komponen dasar dimasukan ke dalam oven bersuhu 100°C selama 30 menit hingga sehari. Oven akan memberikan uap panas pada rotan yang telah dipotong. Pemanasan bertujuan agar rotan lebih mudah dibengkokakan sesuai bentuk rangka yang diinginkan. Sementara itu penekukan dilakukan sesuai kebutuhan bagian kursi (senderan, kaki, dsb). Setelah di-bending, batang diikat sementara dengan tali rafia (atau dengan rotan yang dipaku) agar batang tidak berubah bentuk. Steam-bending memiliki banyak kelebihan dibanding bending (penekukan) dengan kompor (blowtorch). Steam-bending tidak meninggalkan bekas terbakar pada batang rotan. Alat ini dapat menampung lebih dari 30 batang rotan.

54

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N

Gambar 29. Bak rendam untuk rotan batang. Gambar 29 Bak rendam untuk rotan batang

Gambar 30.30Batang rotandiuap diuap ditekuk Gambar Batang rotan dandan ditekuk sesuaisesuai kebutuhan kebutuhan.

Gambar Bagian kursi yang ditekuk dansementara diikat Gambar31. 31 Bagian kursi yang telahtelah ditekuk dan diikat sementara.


BAB

3

PROSES PRODUKSI

c. Pemasangan rangka & perakitan (assembly). Komponen rotan tersebut akan dibuat rangka sesuai spek yang diminta. Tiap komponen rotan tersebut akan dibuat rangka menyesuaikan MAL JIG (prototipe/ contoh) yang telah ada. Proses pembengkokan dapat dilakukan dengan cara pemanasan dengan api kemudian rotan dibengkokan menggunakan rol besi. Setelah komponen rotan sesuai dengan MAL JIG, maka komponen rotan siap untuk dirakit. Setiap komponen dirakit dengan menggunakan sekrup dan lem. Pada tahap ini, masing-masing pengrajin akan mengerjakan satu bagian tertentu dari kursi agar proses produksi menjadi lebih cepat. Batang rotan yang sudah ditekuk kemudian dipotong dan disambung sesuai gambar kerja (shop drawing). Bagian kursi yang telah jadi kemudian disambung dan dirakit menjadi rangka kursi yang utuh. Di tahap ini masih ada beberapa penyesuaian yang dilakukan, seperti pembengkokan dan pemotongan. Mal yang terbuat dari kayu digunakan sebagai panduan atau cetakan supaya semua kursi yang diproduksi konsisten dengan ukuran. Jika sudah sesuai dengan mal, bagian akan di-drill dan disambung dengan sekrup.

Gambar 32 Produksi bagian kaki (kiri) dan dudukan kursi (kanan)

Gambar 32. Produksi bagian kaki (kiri) dan dudukan kursi (kanan).

Gambar 33 Perakitan (kiri) dibantu dengan cetakan kayu (mal) Gambar 33. Perakitan (kiri) dibantu dengan cetakan kayu agar ukuran kursi konsisten (mal) agar ukuran kursi konsisten.

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

55


BAB

3

PROSES PRODUKSI

d. Penyimpanan (storage). Setelah selesai dirakit, rangka kemudian disimpan untuk fase selanjutnya, yaitu penganyaman kursi atau pemasangan uphostery berupa cushion dsb. Pada saat ini pori-pori batang rotan masih terbuka dan masih memungkinkan untuk berubah bentuk. Oleh karena itu, kadang rangka masih diikat sementara pada bagian yang rentan sementara proses penganyaman berjalan. Penganyaman dapat dilakukan di industri rumahan yang sama atau oleh industri rotan rumahan lain dengan spesialisasi anyaman.

Gambar 34. Rangka kursi yang sudah dirakit siap dianyam atau diberi cushion.

Gambar 34 Rangka kursi yang sudah dirakit siap dianyam atau diberi cushion

Anyaman kursi Pada kursi, anyaman rotan berfungsi sebagai penutup bidang seperti sandaran dan punggung (backrest) atau dudukan (seat). Anyaman juga digunakan sebagai penutup sambungan atau disebut juga binding. Pengerjaan anyaman dikerjakan lagi di penganyam kursi.

56

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

3

PROSES PRODUKSI

a. Persiapan. Penyediaan bahan baku anyaman kursi rotan yaitu kulit rotan kubu abu-abu yang telah dibelah secara manual. Rotan kubu abu-abu tidak perlu dicelupkan air karena sudah melewati proses perendaman. b. Proses stripping polyester. Stripping polyester dipasang untuk memperkokoh dudukan kursi anyaman. Ikat dari ujung ke ujung rangka dan pasang. c. Anyaman. Pola anyaman yang digunakan sama dengan anyaman basket. Mulailah dari satu sisi kursi dan posisikan rangka anyaman (lungsen) dan paku dengan nailun. Setelah lungsen terpasang, mulailah menganyam selang seling di antara lungsen. Pastikan bagian kulit menghadap ke luar. Pastikan pula menyisakan sisi kiri dan kanan untuk menganyam ke samping. Selesaikan anyaman ke semua sisi, kemudian buat anyaman ganda pada lis untuk menutupi sambungan paku.

Gambar Rotan kulit abu-abu Gambar 35. Rotan kulit 35 abu-abu

36 Pemasangan stripping polyester Gambar 36.Gambar Pemasangan stripping polyester

Gambar 37 Proses menganyam rotan Gambar 37. Proses menganyam rotan

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

57


BAB

3

PROSES PRODUKSI

d. Proses binding/pengikatan & pemasangan dekor. Setiap sambungan rotan akan ditutup dengan kulit rotan yang memiliki lebar antara 4–5 mm. Kulit rotan sekitar 4–5 lembar ditempelkan ke sambungan menggunakan stapler gun, kemudian dililitkan memutar sampai tertutup. Proses pemasangan dekor dilakukan dengan membuat lubang pada rotan semi poles kemudian dipasangi rotan stik yang berdiameter 5 mm sebagai dekorasi.

Gambar 38.38 Kursi rotanrotan sudahsudah dijemur dan diselesaikan Gambar Kursi dijemur dan diselesaikan

e. Pengamplasan. Rangka kursi yang sudah jadi akan melalui proses amplas dilanjutkan dengan proses pewarnaan. Amplas permukaan rotan secara manual untuk mendapatkan permukaan yang halus dan siap untuk proses finishing. f. Penyelesaian/finishing. Rangka kursi yang sudah siap diwarnai, dibawa ke ruang finishing kemudian diproses sesuai pesanan.

6. Macam-macam Konstruksi Kursi Ada beberapa sistem konstruksi kursi, yaitu sebagai berikut: a. Built-in furniture, yaitu sistem konstruksi yang memanfaatkan bangunan rumah atau gedung sebagai bidang penguat konstruksi. Konstruksi bersifat permanen dan menempel pada dinding yang dibandun khusus untuk penempatan furnitur. Keuntungan dari sistem konstruksi ini yaitu pada kemudahan perawatan dan kebersihan karena sedikit celah yang terbuka. Namun di sisi lain furnitur mudah terserang lapuk bila dinding bangunan terlampau lembab dan berjamur. Sistem seperti ini sebenarnya lebih sering diterapkan untuk lemari, rak, atau kitchen set. 58

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

3

PROSES PRODUKSI

GambarGambar 39 (dari kirikirike Kursi stool, barstool, arm chair, easy 39. (dari ke kanan) kanan) Kursi stool, barstool, dining chair, dining arm chair,chair, easy chair, sofa) chair, sofa) b. Knock-up furniture, yaitu sistem konstruksi yang menggunakan sistem sambungan konstruksi mati (fixed construction). Seluruh bangunan tersambung secara permanen oleh lem, paku, dsb. Contohnya yaitu pada kursi tamu, bangku belajar di sekolah, kursi panjang di ruang tunggu, dll. Teknik ini memungkinkan furnitur dibongkar kembali menjadi komponen-komponen lepas. Teknik ini lebih murah secara produksi tapi akan memakan banyak tempat dan biaya pada saat transportasi.

Gambar 40.Gambar Knock-up furniture. Dirancang oleh Arman Masudi 40 Knock-up furniture (dok. Dirancang Penulis) oleh Arman Masudi (dok. Penulis)

c. Knock-down furniture, yaitu teknik konstruksi yang membuat furnitur dalam unit yang terpisah-pisah untuk dapat dirakit saat mencapai tujuan akhir. Teknik ini biasa dipakai dalam pengiriman barang untuk menghemat pemakaian ruang kontainer. Gambar 41. Sofa set dengan sistem knock-down. Dirancang oleh Abie Abdillah (www.studiohiji.com)

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

59


BAB

3

PROSES PRODUKSI

d. Folding chair, yaitu sistem konstruksi hingga kursi dapat dilipat. Biasanya juga dipakai dalam pengiriman barang untuk menghemat pemakaian ruang kontainer. e. Stacking chair, sistem konstruksi kursi dengan pendekatan susun. Dalam sistem ini, bagian kursi yang berada di atas akan masuk ke bagian kursi yang berada di bawahnya. Desain konstruksi ini menuntut perhitungan presisi pada saat dua atau lebih kursi disusun. Kursi dapat disusun secara vertikal (vertical arrangement), miring (diagonal arrangement), dan sejajar (horizontal arrangement). Gambar 42. Oslo Folding Chair diproduksi oleh Bo Concept (Sumber: https://www.boconcept. com)

Gambar 43. Stool 60 oleh ARTEK, sebuah contoh stacking chair (stool). Dirancang oleh Alvar Aalto. (Sumber: http://www.artek.fi/products/chairs/128). Sumber: Pengantar Studi Perancangan Fasilitas Duduk, Andar Bagus

60

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

3

PROSES PRODUKSI

C. Proses Pembuatan Meja Proses pembuatan meja rotan akan melewati proses yang sama dengan pembuatan kursi. Perbedaannya terdapat di tengah proses, apakah akan dianyam atau tidak. Meja dari rotan diproduksi berdasarkan rancangan yang telah dibuat. Untuk menyederhanakan proses pembuatannya, bahan rotan yang dipakai adalah rotan semi poles dan model meja bulat. 1. Bahan Baku dan Bahan Penunjang. Bahan baku meja adalah rotan asalan yang sudah diproses menjadi rotan semi poles. Rotan ini akan menjadi bahan rangka utama. Pembuatan meja membutuhkan 5 kg rotan semi poles, sekitar 0.8 kg rotan core untuk bahan dekorasi, dan 0,3 kg rotan sendid peel untuk bahan ikat. Bahan penunjang yang diperlukan antara lem dan stapler.

Gambar 44. Persiapan bahan baku untuk pembuatan meja

2. Mesin dan Peralatan. Mesin yang diperlukan adalah mesin potong rotan dan mesin amplas rotan. Peralatan pendukung adalah meja rol, lem, stapler, bor dan sekrup.

Gambar 45. Bor, tang, palu, dan meja peralatan lainnya untuk pembuatan meja

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

61


BAB

3

PROSES PRODUKSI

3. Tahapan pembuatan meja rotan a. Pemotongan bahan dan perendaman anti ngengat. Rotan semi poles dipotong. Panjangnya disesuaikan dengan ukuran meja yang akan dibuat. Selanjutnya rotan direndam kedalam larutan anti ngengat selama 30 menit, dilanjutkan dengan penguapan/steaming dalam oven. Bagian dasar pembuatan meja bulat adalah bagian atas meja yang bulat, penyangga kaki, bagian bawah yang bulat, per bill sebagai penguat dan bahan dekorasi.

Gambar 46. Pemotongan dan perendaman rotan

b. Penguapan/steaming rotan. Rotan yang telah dipotong menjadi komponen dasar dimasukan dalam oven selama 30 menit. Pemanasan dalam oven akan memberikan uap panas pada rotan yang telah dipotong. Hal ini bertujuan supaya rotan lebih mudah dibengkokkan sesuai rangka yang diinginkan. c. Pembuatan rangka & perakitan. Komponen rotan tersebut akan dibuat rangka sesuai spek yang diminta. Tiap komponen rotan tersebut akan dibuat rangka menyesuaikan mal/jig (prototipe/contoh) yang telah ada. Proses pembengkokan dapat dilakukan dengan cara pemanasan dengan api kemudian rotan dibengkokan menggunakan rol besi. Setelah komponen rotan sesuai dengan mal/jig, maka komponen meja rotan siap untuk dirakit. Setiap komponen dirakit dengan menggunakan sekrup dan lem.

62

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N

Gambar 47. Proses pemanasan dan pembengkokan rotan

Gambar 48. Contoh mal/jig meja rotan


BAB

3

PROSES PRODUKSI

Gambar 49. Pembentukan rangka menggunakan mal

d. Pengikatan/binding & pemasangan dekor. Setiap sambungan rotan akan ditutup dengan kulit rotan yang memiliki lebar antara 4-5 mm. Kulit rotan sekitar 4-5 lembar ditempelkan ke sambungan menggunakan stapler gun, kemudian dililitkan memutar sampai tertutup. Proses pemasangan dekor dilakukan dengan membuat lubang pada rotan semi poles kemudian dipasangi rotan stik yang berdiameter 5 mm sebagai dekorasi.

Gambar 50. Pembuatan rangka rotan

Gambar 51. Pengikatan dan dekorasi

Gambar 51 Pengikatan dan dekorasi PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

63


BAB

3

PROSES PRODUKSI

e. Pengamplasan. Rangka meja yang sudah jadi akan melalui proses amplas dilanjutkan dengan proses pewarnaan. Amplas permukaan rotan secara manual untuk mendapatkan permukaan yang halus dan siap untuk proses finishing. f. Penyelesaian/finishing. Rangka meja yang sudah siap diwarnai, dibawa ke ruang finishing kemudian diproses sesuai pesanan. Alur proses pembuatan meja rotan secara ringkas ditunjukan pada tabel di bawah ini :

Tabel 1. Ringkasan alur pembuatan meja rotan No.

64

Operasi

1.

Penyiapan mal jig untuk meja

2.

Pembuatan bagian atas meja bulat dengan mal jig

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N

Gambar

Gambar 52. Meja setelah disanding atau diamplas


BAB

3

PROSES PRODUKSI

No.

Operasi

3.

Pembuatan bagian bawah meja bulat dengan bantuan mal jig

4.

Pembuatan bagian kaki penyangga dengan maljig

5.

Pembuatan bagian penguat rangka atas dan bawah

6.

Rangka meja siap didekor

Gambar

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

65


BAB

3

PROSES PRODUKSI

Gambar 53. (dari kiri ke kanan) Coffee table, dining table, endside table, desk, bedside table (sumber: www.polyvore.com)

4. Macam-macam Konstruksi Meja

Dalam sistem konstruksi meja, dikenal juga sistem konstruksi built-in furniture, knock-up furniture, knock-down furniture, folding table, dan stacking table.

D. Pengenalan Produk Lemari Rotan Selain keranjang, kursi, dan meja, bahan baku rotan juga dapat dibuat menjadi lemari. Pembuatan rangka dan anyaman rotan untuk lemari melewati proses yang lebih kompleks dan keterampilan pengrajin yang lebih terampil. Proses pembuatan lemari rotan tidak akan dibahas secara detail dalam buku ini, melainkan hanya pengenalan terhadap beberapa bentuk paduan (mix part) saja. Terdapat beberapa bentuk paduan dalam mendesain dan membuat lemari rotan, yaitu sebagai berikut:

66

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

3

PROSES PRODUKSI

1. Paduan keranjang dan rangka dalam bentuk anyaman. Dimana semua bagian lemari adalah anyaman rotan. 2. Paduan keranjang anyaman dengan rangka kayu. Dimana semua bagian rangka lemari dari bahan kayu, sedangkan laci-laci dari keranjang rotan. 3. Paduan keranjang anyaman dengan rangka besi. Dimana semua bagian rangka lemari dari bahan besi, sedangkan laci-laci dari keranjang rotan.

Gambar 54. Lemari rotan full anyaman

Gambar 55. Lemari rotan anyaman dengan rangka kayu

Gambar 56. Lemari rotan anyaman dengan rangka besi

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

67


BAB

3

PROSES PRODUKSI

E. Tahap Akhir Proses Pengolahan Produk Rotan Hasil Industri Rumahan (Finishing) Finishing atau reka oles merupakan bagian terakhir dalam pembuatan produk perabot dan kerajinan. Umumnya, finishing berfungsi untuk meningkatkan keawetan dan ketahanan terhadap gesek. Finishing juga dapat meningkatkan nilai visual rotan dan nilai komersial.

1. Jenis-jenis Finishing Terdapat berbagai cara finishing, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Umumnya, pemilihan cara finishing didasarkan dari faktor mutu hasil, permintaan pasar, dan ekonomis. Berikut merupakan contoh jenis finishing: a. Politur. Politur merupakan jenis finishing yang sangat populer pada pembuatan perabot. Politur dibuat dari selak (shellac) dengan pelarut spiritus. Politur dapat diaplikasikan secara natural bening atau dengan warna transparan (serat rotan masih terlihat). Pengaplikasian politur yakni dengan menggunakan kuas, sehingga tidak terlalu sukar dan dapat dipraktikkan oleh pemula sekalipun. Harga politur juga relatif murah sehingga tidak terlalu membebani biaya produksi. b. Cat Sintetik Alkid Enamel. Penggunaan sintetik resin enamel (atau cat kuas; cat setengah duko) sudah cukup dikenal masyarakat luas. Cat ini biasanya dipakai untuk perabot di luar bangunan seperti kursi taman karena sifatnya tahan sinar matahari yang merusak kayu. Cat jenis ini mengering dengan oksidasi, yakni menangkap oksigen di udara. Maka dari itu harus dipastikan bahwa sirkulasi udara cukup baik pada saat pengeringan. Aplikasi finishing ini dioleskan menggunakan kuas. c. Nitrocellulose. Nitrocellulose sering juga disebut NC Clear. NC dikatakan lebih unggul penampilan reka olesnya dibandingkan politur dan alkid enamel. NC diaplikasikan dengan cara disemprotkan menggunakan

68

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

3

PROSES PRODUKSI

spray gun. Bahan ini mengering dengan penguapan thinner. NC yang mengandung bahan pewarna disebut cat duco (warna jenis ini dikatakan solid, artinya serat rotan tidak terlihat). d. Melamine. Melamine natural transparan atau bening alami merupakan jenis finishing dengan bahan baku dua komponen yaitu resin amino dan hardener. Melamine dapat juga menggunakan bahan pewarna transparan woodstain (masih terlihat serat). Gunakan thinner yang dianjurkan oleh pabrik cat. Aplikasi disemprot dengan spray gun dan sebaiknya dilakukan di ruang yang bersirkulasi udara baik dan tidak berdebu.

2. Alat-alat Finishing Finishing pada intinya merupakan proses untuk menghaluskan, membersihkan, dan mengkilapkan permukan rotan. Maka dari itu, jenis peralatan yang dapat digunakan yaitu kuas, amplas, spray gun, dan kompresor.

3. Langkah Finishing dengan Melamic Berikut merupakan langkah-langkah dalam mengaplikasikan finishing dengan jenis melamic: a. Pengamplasan. Persiapan yang dilakukan pertama adalah pengamplasan. Proses ini bertujuan untuk membersihkan permukaan rotan dari noda-noda yang akan menghalangi daya lekat pelapisan. Gunakan amplas kasar (Grid 80-100) hingga ke halus (Grid 180). Proses ini dapat dilakukan secara manual (dengan tangan) atau dengan mesin. b. Pengisian Pori-Pori. Pengisian pori-pori dapat dilakukan dengan wood filler yang larut dalam thinner maupun yang larut dalam air. Penutupan pori-pori bermanfaat agar rotan tidak berubah bentuk karena kelembapan udara.

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

69


BAB

3

PROSES PRODUKSI

Gambar57 57. Proses Proses staining (kiri) dan(kiri) jenis-jenis warna woodstain pada rotan woodstain pada rotan Gambar staining dan jenis-jenis warna

c. Staining. Wood stain dapat digunakan untuk pewarnaan transparan. Aplikasi dilakukan dengan penguasan, pencelupan, dan pengusapan dengan kain atau kaus perca. d. Melamine Sanding Sealer. Melamine sanding sealer merupakan lapisan penyekat yang terdiri dari dua komponen: sanding base dan hardener asam. Aplikasi sanding sealer dapat menggunakan spray gun, dilakukan 2-3 lapis sehingga semua pori tertutup. Setelah kering, permukaan rotan dapat diamplas dengan amplas grid 240-320. e. Top Coat. Pelapisan akhir dilakukan dengan spray gun. Penampilan akhir finishing ditetapkan pada tahap ini, apakah glossy, semi-gloss, satin, atau doff, tergantung pada pemilihan jenis melamine. Disarankan melakukan proses ini di ruang bersirkulasi udara baik. Furnitur yang sudah dijemur dan dikeringkan. Jika cuaca dan kelembapan mendukung, dalam waktu 24 jam Gambar 58 Proses finishing padafurnitur furnitur Gambar 58. Proses finishing pada rotan rotan furnitur siap dibungkus atau dipacking.

70

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

3

PROSES PRODUKSI

F. Praktik Produksi Ramah Lingkungan Metode produksi yang bersih dan ramah lingkungan menjadi nilai jual tambahan, terutama untuk pembeli dari luar negeri seperti Eropa. Sebagai produk ekspor, produk jadi rotan harus mampu memenuhi standar seperti standard eco product (ramah lingkungan). Metode produksi bersih ini akan memastikan daya saing dan daya jual produk rotan di pasar internasional, di samping melestarikan lingkungan di Indonesia. Tabel berikut merupakan beberapa langkah teknis yang dapat diambil untuk memastikan produksi bersih dalam tiap tahap produksi:

Tabel 2. Indikator Teknis Produksi Ramah Lingkungan No.

Tahap Produksi

Penerapan Produksi Bersih •

1.

Perendaman Alami

• • • •

2.

Pembelahan dan Pemolesan

• 3

Pemotongan, Pemanasan, dan Pembengkokan

• • • •

Dampak yang diharap

Uji kandungan air perendam sebelum dan sesudah perendaman Uji kualitas udara di sekitar lokasi perendaman Kesehatan Kerja; Tulisan berat kering rotan harus ada pada setiap ikatan Kelestarian lingkungan; atau bundel Standarisasi Kualitas Kurangi frekuensi pekerja untuk masuk ke dalam air. Lakukan pengangkatan pada saat yang bersamaan. Pemakaian masker, sepatu, dan sarung tangan bagi para pekerja Penanganan limbah sisa rotan yang baik, dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi biomassa (Untuk kompor uap dsb)

Kesehatan Kerja; Kelestarian lingkungan; Standarisasi Kualitas

Penggunaan biomassa sebagai pemanas. Manajemen dan penghematan energi. Pemakaian sarung tangan, masker, dan sepatu Sirkulasi udara yang baik Penggunaan mesin dengan spesifikasi yang efisien Mesin harus selalu di servis agar menjaga performa

Kesehatan Kerja; Kelestarian lingkungan; Peningkatan efisiensi

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

71


BAB

3

PROSES PRODUKSI

No. 4.

Tahap Produksi Perangkaan (Produksi Rangka Kursi)

Penerapan Produksi Bersih • • • •

5.

Penganyaman

6.

Pengamplasan (Finishing)

• • • • • •

7.

Pengecatan (Finishing)

• • • •

72

Dampak yang diharap

Penggunaan mesin kompresor yang memiliki spesifikasi yang paling efisien Sirkulasi udara yang baik Mesin harus selalu di servis agar menjaga performa

Kesehatan Kerja; Kelestarian lingkungan; Peningkatan Efisiensi

Media visual keselamatan kerja serta penghematan air dan listrik Pemakaian masker dan sarung tangan pekerja serta pencahayaan yang baik. Penggunaan mesin kompresor yang memiliki spesifikasi yang paling efisien

Kesehatan Kerja; Kelestarian lingkungan; Peningkatan Efisiensi

Pemakaian masker dan sarung tangan pekerja serta pencahayaan yang baik. Sirkulasi udara yang baik agar debu hasil pengamplasan tidak masuk ke tubuh manusia

Kesehatan Kerja

Adanya SOP (Standard Operating Procedure) untuk mengontrol suplai dan pemakaian cat Adanya Material Safety Data Sheet (MSDS) untuk masing-masing jenis cat yang dipakai Pemakaian masker dan sarung tangan pekerja. Penanganan limbah air penangkap residu cat, apakah cukup dibuang ke drainase umum atau tergolong limbah B3 Penggunaan mesin dengan spesifikasi yang efisien Penggunaan cat yang ramah Lingkungan. Di antara produk cat ramah lingkungan adalah yang berbasis air atau waterbased dan NC Alcohol. Beberapa contoh waterbased: Waterbased Stain; Waterbased Sanding Sealer; Waterbased Glaze; Waterbased Lacquer. Manajemen energi untuk penggunaan mesin

Kesehatan Kerja; Kelestarian lingkungan; Peningkatan Efisiensi

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

3

PROSES PRODUKSI

No.

Tahap Produksi

Penerapan Produksi Bersih •

8.

Pengeringan

9.

Pengepakan

• • • •

10.

Pengelolaan Limbah Terpadu

Dampak yang diharap

SOP oven sekaligus servis berkala kepada oven sehingga menjaga efisiensi Jika memungkinkan, menggunakan bahan bakar biomassa untuk pemanas

Keselamata kerja; Konservasi Energi

Desain kursi yang stacking atau knock-down dapat menghemat ruang dan mempercepat pengepakan Bahan pembungkus (kertas, kardus, dan tali pengikat) dipilih dari bahan yang daur ulang

Kesehatan Kerja; Kelestarian lingkungan; Peningkatan Efisiensi

Dua jenis limbah industri, yaitu B3 maupun biasa, harus dikelola dengan baik. Baik bekerjasama dengan perusahaan lembaga yang tersertifikasi (Untuk B3) maupun dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar biomassa. B3 harus ditampung terlebih dahulu sebelum dikelola oleh perusahaan yang kompeten, sementara sampah biomassa (rotan, debu pekat, atau sampah sisa kemasan) bisa diolah menjadi bahan bakar

Kesehatan Kerja; Kelestarian lingkungan; Peningkatan Efisiensi

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

73


4

BAB

BIAYA PRODUKSI

BAB IV. BIAYA PRODUKSI

B

esarnya anggaran yang dibutuhkan untuk produksi produk kerajinan dapat dihitung sendiri oleh pengusaha atau pengrajin rotan. Dokumen yang memuat semua anggaran biaya ini dinamakan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Biaya yang dikeluarkan untuk membuat sebuah produk dinamakan Harga Pokok Produksi (HPP). Pengusaha dan pengrajin rotan dapat mengambil keuntungan berdasarkan HPP masing-masing produk, misalnya 30% dari HPP. Hitungan HPP ini akan sangat membantu apabila melakukan produksi dalam kuantitas yang banyak, sehingga kita dapat mengetahui modal yang dibutuhkan serta keuntungan yang akan diperoleh. Berikut merupakan hitungan Harga Pokok Produksi (HPP) dari produk yang dibahas pada bab ini. Perlu dicatat bahwa upah pekerjaan berdasarkan Upah Minimal Rata-Rata (UMR) di daerah atau kota masing-masing. Upah pekerjaan di bawah mengacu kepada upah minimal Rp 80.000,- /hari. Analisis di bawah perlu disesuaikan kembali dengan harga-harga setempat.

74

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

4

BIAYA PRODUKSI

1. Harga Pokok Produksi Keranjang Tabel 3. Harga Pokok Produksi Keranjang Laci NO.

PEKERJAAN/MATERIAL

VOLUME

SATUAN

HARGA SATUAN

SUB-JUMLAH

A

Bahan Dasar

1.

Bahan Rotan Lasio

0.3

Kg

Rp

20,000.00

Rp

6,000.00

2.

Bahan Rotan Pitrit

0.2

Kg

Rp

18,000.00

Rp

3,600.00

3.

Bahan Rangka Kayu Albasia

0.5

Kg

Rp

15,000.00

Rp

7,500.00

B.

Bahan Finishing & Pengepakan

1.

Sanding Sealer

0.1

Liter

Rp

45,000.00

Rp

4,500.00

2.

Melamic

0.1

Liter

Rp

50,000.00

Rp

5,000.00

3.

Thinner

0.1

Liter

Rp

40,000.00

Rp

4,000.00

4.

Kertas Pembungkus

3

Lmbar

Rp

3,000.00

Rp

9,000.00

C.

Upah Pekerjaan

1.

Upah Pekerjaan Anyam

1

Ls

Rp

500.00

Rp

500.00

2.

Upah Pekerjaan Finishing

1

Ls

Rp

8,000.00

Rp

8,000.00

Rp

48,100.00

TOTAL

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

75


4

BAB

BIAYA PRODUKSI

Tabel 4. Harga Pokok Produksi Keranjang Kubu NO.

PEKERJAAN/MATERIAL

VOLUME

SATUAN

HARGA SATUAN

SUB-JUMLAH

1.

Bahan Kubu

1

Kg

Rp

10,000.00

Rp

10,000.00

2.

Upah Pekerjaan Anyam

1

Ls

Rp

20,000.00

Rp

20,000.00

3.

Sanding Sealer

0.1

Liter

Rp

45,000.00

Rp

4,500.00

4.

Melamic

0.1

Liter

Rp

50,000.00

Rp

5,000.00

5.

Thinner

0.1

Liter

Rp

40,000.00

Rp

4,000.00

TOTAL

Rp

43,500.00

Tabel 5. Harga Pokok Produksi Keranjang Lombokan NO.

76

PEKERJAAN/MATERIAL

VOLUME

SATUAN

HARGA SATUAN

SUB-JUMLAH

A.

Bahan Dasar

1.

Rotan Core

4

Kg

Rp

15,000.00

Rp

60,000.00

2.

Rotan Lasio

1

Kg

Rp

20,000.00

Rp

20,000.00

3.

Isi Nailgun

0.5

Kotak

Rp

30,000.00

Rp

15,000.00

4.

BBM Kompresor

0.2

L

Rp

8,000.00

Rp

1,600.00

B.

Bahan Finishing

1.

Sanding Sealer

0.1

Liter

Rp

45,000.00

Rp

4,500.00

2.

Melamic

0.1

Liter

Rp

50,000.00

Rp

5,000.00

3.

Thinner

0.1

Liter

Rp

40,000.00

Rp

4,000.00

4.

Kertas Pembungkus

3

Lmbar

Rp

3,000.00

Rp

9,000.00

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

4

BIAYA PRODUKSI

NO.

PEKERJAAN/MATERIAL

VOLUME

SATUAN

HARGA SATUAN

SUB-JUMLAH

C

Upah Pekerjaan

1

Upah Pekerjaan Produksi

1

Ls

Rp

25,000.00

Rp

25,000.00

2

Upah Pekerjaan Anyam

1

Ls

Rp

5,000.00

Rp

5,000.00

3

Upah Pekerjaan Finishing

1

Ls

Rp

8,000.00

Rp

8,000.00

TOTAL

Rp

157,100.00

2. Harga Pokok Produksi Kursi Komponen untuk penghitungan Harga Pokok Produksi Kursi ada 3 yaitu bahan baku, bahan penunjang dan biaya tenaga kerja langsung.

RINCIAN A.

KUANTITAS (kg)

HARGA/kg (Rp)

TOTAL (Rp)

Rotan asalan semi poles

6

12.000

72.000

Rotan Core / Kubu Semi Poles

3

14.750

44.250

0.5

28.000

14.000

1

10.000

10.000

Upah Rangka

8.000

8.000

Upah Binding

12.500

12.500

Upah Dekor

15.500

15.500

Bahan Baku

Sendid Rattan B.

Bahan Penunjang Lem & Stapler

C.

Biaya Tenaga Kerja

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

77


4

BAB

BIAYA PRODUKSI

RINCIAN

KUANTITAS (kg)

HARGA/kg (Rp)

TOTAL (Rp)

Upah Amplas

6.000

6.000

Upah Pengecekan

7.500

7.500

TOTAL AKHIR Kapasitas Muat 1X40 HC

189.750 168

10.500.000

Biaya Finishing / PCS

67.500

Pengepakan / PCS

20.000

Biaya Ekspor / PCS

62.500

HPP

339.750

Keuntungan 30%

441.675

Harga Jual Kursi

781.425

3. Harga Pokok Produksi Meja Komponen untuk penghitungan Harga Pokok Produksi meja ada 3 yaitu Bahan Baku, Bahan Penolong dan Biaya Tenaga Kerja Langsung. RINCIAN A.

HARGA/kg (Rp)

TOTAL (Rp)

Bahan Baku Rotan asalan semi poles

78

KUANTITAS (kg) 5

12.000

60.000

Rotan core/Kubu Semi Poles

0.75

14.750

11.062,50

Sendid Rattan

0.5

28.000

98.000

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

4

BIAYA PRODUKSI

RINCIAN B.

HARGA/kg (Rp)

TOTAL (Rp)

Bahan Penunjang Lem & Stapler

C.

KUANTITAS (kg) 1

10.000

10.000

Upah Rangka

8.000

6.000

Upah Binding

12.500

7.500

Upah Dekor

15.500

6.000

Upah Amplas

6.000

5.000

Upah Check

7.500

7.500

Biaya Tenaga Kerja

TOTAL AKHIR Kapasitas Muat 1X40 HC

136.862,5 144

10.500.000

Biaya Finishing / PCS

55.500

Pengepakan / PCS

20.000

Biaya Ekspor / PCS

72.916.67

HPP

285.279.17

Keuntungan 30%

370.862.92

Harga Jual Meja

656.142.08

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

79


BAB

5

PROSES PENGEPAKAN

BAB V. PROSES PENGEPAKAN

Produk rotan keranjang dan kursi perlu dibungkus terlebih dahulu sebelum dikirim ke toko dan akhirnya ke konsumen. Perlu dicatat bahwa produk rotan alami dapat berjamur apabila disimpan di tempat yang lembap.

A. Jenis-jenis Bahan Pengepakan Berikut beberapa pilihan bahan pembungkus yang dapat digunakan dalam industri rotan rumahan: 1. Kertas Pembungkus. Kertas pembungkus berwarna coklat, dikenal juga sebagai kertas Cokelat Kraft atau Samson. Digunakan untuk membungkus keranjang rotan, tetapi bisa juga untuk kursi rotan. Kekurangannya adalah kertas mudah sobek apabila terkena air. Dapat diikat dengan tali atau selotip.

Gambar59. 59 Kertas pembungkus Gambar Kertas pembungkus

2. Plastik Bubblewrap. Plastik gelembung udara ini biasa dipakai untuk melindungi barang dari guncangan dan banting. Biasa dipakai untuk melindungi barang yang mudah pecah pada saat transportasi. Dapat digunakan berlapis dengan kertas pembungkus agar produk rotan tidak lecet. Gunakan lakban 60 Plastik bubblewrap Gambar 60. Gambar Plastik bubblewrap (Sumber: http://www. atau selotip untuk mengikat plastic bubblewrap. Sumber:robertbright.com) http://www.robertbright.com

80

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

5

PROSES PENGEPAKAN

3. Kardus (Cardboard atau Corrugated Paper). Kardus dibuat secara pabrikasi di pengolahan kertas. Kardus merupakan bahan yang ringan dan cukup kuat untuk pengepakan. Produsen dus dapat membuat kotak kardus sesuai ukuran kursi. Kardus juga memungkinkan untuk mencetak informasi seperti jenis kursi dan logo merk. Kardus dapat didaur ulang dan dapat dipakai kembali oleh pihak industri maupun konsumen. Kardus umumnya diikat dengan selotip pada bagian tengah dan sudut-sudut.

Gambar 61. Kardus pengepakan Rattan) Gambar 61(sumber: Kardus Aida pengepakan Sumber: Aida Rattan

4. Pengikat Tali Rafia. Kuat, mudah didapati dan sangat ekonomis. Berfungsi sebagai pengikat pada bungkusan kertas maupun kardus. Ikatan tali rafia ini akan memudahkan mengangkat bungkusan keranjang rotan.

B. Langkah-langkah Pengepakan Pengepakan dilakukan setelah produk keranjang benarbenar kering. Pengepakan tergantung kepada cuaca dan kelembapan, keranjang bisa mulai dibungkus paling cepat 24 jam setelah di-finishing. Langkah pengepakan untuk produk keranjang adalah sebagai berikut:

GambarGambar 62. Tali rafia62

Tali rafia

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

81


BAB

5

PROSES PENGEPAKAN

1. Persiapan. Pastikan keranjang rotan benar-benar kering dan siapkan lembaran kertas pembungkus. Ukuran kertas berbedabeda tiap pabrik, ambillah ukuran terbesar. Untuk menghemat kertas pembungkus, keranjang dibungkus secara set/kelompok. Contohnya, keranjang besar di bawah memuat dua keranjang yang lebih kecil. 2. Bungkus. Bungkus keranjang dari dasar keranjang dan lipatlah di 63 Satu Gambar set keranjang tigaberisi keranjang sehingga Gambar 63. Satu setberisi keranjang bagian sudut. Agar sudut-sudut keranjang terjaga dari gesekan, menghemat bahan pembungkus. tiga keranjang sehingga menghemat bahan pembungkus. gunakan minimal dua lapis kertas pembungkus. Lipatan kertas ada di ujung seperti pada gambar. 3. Ikat. Ikat kertas keranjang. pembungkus agar tidak terbuka. Ikat dari empat sisi. Pastikan simpul ikatan ada di bagian atas. 4. Tumpuk. Jika sudah terikat tumpuk dan simpanlah keranjang di tempat yang kering. Gambar 64. Bungkus keranjang rotan rotan Gambar 64 Bungkus keranjang

Gambar65 65. Ikatbungkusan bungkusan rotan Gambar Ikat rotan

82

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

5

PROSES PENGEPAKAN

C. Langkah-langkah Penghematan Ruang Pada dasarnya, kursi dan keranjang rotan merupakan produk yang ringan tetapi memakan banyak ruang di dalam container. Berikut merupakan langkah-langkah yang diambil untuk meningkatkan efisiensi transportasi produk rotan.

1. Stacking Chair. Stacking chair merupakan kursi dengan konstruksi susun. Bagian kursi akan masuk ke bagian badan kursi yang berada di bawahnya. Teknik ini dapat menghemat banyak ruang pada saat transportasi.

Gambar Kursi yang dapat ditumpukkan Gambar 66.66 Kursi yang dapat ditumpukkan dapat dapat menghemat banyak ruang saat transportasi menghemat banyak ruang padapada saat transportasi

2. Basket Sets. Satu cara untuk menghemat pengiriman basket adalah membuat dalam tiga ukuran yang dapat masuk ke keranjang yang lebih besar. Cara ini juga dapat menghemat penggunakan bahan pembungkus. Gambar 67 Set dengan tiga ukuran: kecil, sedang, Gambar 67.keranjang Set keranjang dengan tiga ukuran: kecil, besar

sedang, besar

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

83


BAB

5

PROSES PENGEPAKAN

3. Knock-down. Knock-down adalah sistem furnitur bongkar-pasang. Kelebihan dari sistem ini adalah penghematan ruang pada saat transportasi, karena kursi dapat dibentuk menjadi flat-pack atau dus rata. Alih-alih dibungkus kotak dan masih banyak ruang kosong terbuang di dalam keranjang. Produsen furnitur besar seperti IKEA terkenal mengaplikasikan teknik ini agar memotong ongkos transportasi. Contoh di bawah adalah rancangan keranjang dengan rangka dan engsel yang dapat dilipat menjadi datar. Konsumen kemudian dapat merakit sendiri di rumah dengan mudah.

Gambar 68Therese Flat Broberg Pack Basket Gambar 68. Flat Pack Basket. Dirancang oleh (Sumber: WWF - Sustainable Rattan Production). Dirancang oleh Therese Broberg Sumber: WWF - Sustainable Rattan Production

Gambar 69. Bundel Soda Set dengan sistem Dirancang oleh Abie Gambar 69 Bundel Soda Set knock-down. dengan sistem knock-down Abdillah (sumber: http://www/studiohiji.com). Dirancang oleh Abie Abdillah

Sumber: http://www/studiohiji.com

84

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


BAB

5

PROSES PENGEPAKAN

DAFTAR PUSTAKA •

Baharuddin dan Taskirawati, I. 2009. Hasil Hutan Bukan Kayu. Buku Ajar Fakultas Kehutanan. Universitas Hasanuddin.

2010. “Bappenas.” bappenas.go.id. 24 Mei. http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/ file?file=digital/96491-%5B_Konten_%5D-Industri%20rotan.pdf.

2012. Bisnis Indonesia. 25 April. http://industri.bisnis.com/read/20120425/99/74143/rotan-rantaidistribusi-pemasaran-terlalu-panjang.

Budiastuti, Ni Ketut Sri dan Made Suma Wedastra. 2012. “Peranan Agroindustri dalam Pemberdayaan Ekonomi Wanita Perajin Anyaman Ketak di Kabutapen Lombok Barat.” GaneC Swara 7-13.

Chevny, Adam A. 2013. Kabar24bisnis. 4 April. http://kabar24.bisnis.com/read/20130404/78/6638/hargarotan-batangan-di-jatim-naik-menjadi-rp10000kg.

Djohani, Rianingsih dan Riza Irfani. 2005. 10 Jurus Menulis Modul Pelatihan. Bandung: Studio Driya Media.

2006. Hands-on Chinese Style Bamboo Furniture Guide. International Network for Bamboo & Rattan (INBAR).

Indonesia, Yayasan Rotan. 2010. Roadmap Mencapai Kelestarian Rotan untuk Pemanfaatan dan Kesejahteraan Bangsa.

t.thn. International Network for Bamboo and Rattan. http://www.inbar.int/home.

t.thn. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. http://www.kemenperin.go.id/majalah/8/mediaindustri.

1997. Local Tools & Equipment Technologies for Processing Bamboo & Rattan. International Network for Bamboo & Rattan (INBAR).

PA ND UA N PE L AT IH A N PE NG E M BA NG A N I ND U ST RI ROTA N RU MA HA N

85


BAB

5

PROSES PENGEPAKAN

86

t.thn. Panduan Produksi Bersih dan Efisien Industri Rotan di Indonesia. Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK).

t.thn. Positioning Paper KPPU terhadap Kebijakan Ekspor Rotan. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

t.thn. Pusat Informasi Ekspor Impor. http://eximjatim.com/index.php?option=com_ content&view=article&id=182%3A-industri-rotan-di-jatim-bisa-tumbuh-25&catid=35%3Aberitaexport&Itemid=87.

t.thn. Rattan Association Cambodia. http://www.rattancambodia.com/en/.

Sriwono, Andar Bagus. 2011. Pengantar Studi Perancangan Fasilitas Duduk. Bandung: ITB.

Sunaryo, Agus. 1997. Reka Oles Mebel Kayu. Semarang: Kanisius.

t.thn. Sustainable Rattan Design: The Mekong Region. World Wide Fund for Nature (WWF).

2011. Sustainable Rattan Harvesting Mini Guide. World Wide Fund for Nature (WWF).

2011. Sustainable RAttan Production: Manual for Small and Medium Enterprises in Lao PDR. World Wide Fund for Nature (WWF).

2016. Tribunnews. 4 Mei. http://www.tribunnews.com/video/2016/05/04/larangan-ekspor-membuatindustri-rotan-kalsel-terpuruk.

t.thn. Yayasan Rotan Indonesia. www.rotanindonesia.org.

PANDUAN P E LAT I HAN P E NG E MBANG AN I ND U ST R I ROTA N R UM A H A N


Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.