Issuu on Google+


Š Hak Cipta 2014 oleh Haqqani Indonesia Dilarang mereproduksi atau memperbanyak sebagian atau seluruh buku ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin tertulis dari Haqqani Indonesia.

Diterbitkan dan Didistribusikan oleh: Yayasan Haqqani Indonesia Jl. Puri Kencana No.39 Cipete Selatan, Jakarta 12410 0819-100-00065 Email:alhaqqani@gmail.com http://naqsybandi.com/

Hal | 2


Daftar Isi

[4] [9] [19] [23] [33] [38] [45] [53] [56]

Mukadimah Qasidah Pembuka Allah Bershalawat atas Nabi-Nya Mengenai Penciptaannya Dialog antara Allah dengan Malaikat Deskripsi mengenai Nabi yang Diberkati Qasidah Kafilah Pujian Penyusun Mawlid Mengenai Leluhurnya yang Murni

[62] Prediksi tentang Kerajaan Nabi (s) di Dalam Taurat [70] Kelahirannya (Mawlid) [77] Yā Nabi Salām `Alayka [86] Masa Mudanya [120] Qasidah Yā Badra Tim [123] Pujian Penutup

Hal | 3


Mukadimah Bismillāhi ′r-Rahmāni ′r-Rahīm Al-Fātihata lanā wa lakum yā hādhirūn, Baca Surat al-Fatiha (Pembuka AlQur’an) bagi kami dan bagi kalian semua, wahai hadirin Wa li-wālidīnā wa li-wālidīkum, wa li-ahalīnā wa li-awlādinā, Dan bagi orang tua kami dan orang tua kalian dan bagi keluarga kami dan anak-anak kami Wa li-masyāyikhinā wa liman hadharanā wa liman ghāba `annā, Dan bagi syekh-syekh kami dan bagi siapa pun yang menghadiri (majelis

Hal | 4


ini) bersama kami dan bagi yang tidak bersama kami Wa li-ahyā’inā wa li-amwātinā wa li ‘l-muwāzhibīna `alā hadzā ‘l-majlis wa liman kāna sababan fī jama`inā Dan bagi saudara-saudara kami yang masih hidup dan saudara-saudara kami yang telah meninggal dunia dan bagi mereka yang telah mempersiapkan majelis ini dan bagi siapa pun yang menjadi sebab bagi kedatangan kami Bi-anna Allāha ‘l-karīma yunawwira ‘l-qulūb, wa yaghfir a′dz-dzunūb, wa yastūra ‘l-`uyūb, wa yufar-rijal qurūb, wa yahfazhunā bimā hafizha bihi ‘dz-dzikir wa yanshuranā bimā nashara bihi ‘r-rusul

Hal | 5


Bahwa sesungguhnya Allah Yang Maha Pemurah menerangi kalbukalbu dan memaafkan dosa-dosa dan Dia melindungi kita dengan jalan apapun yang dihasilkan dari mengingat-Nya dan Dia mendukung dan memberikan kemenangan kepada kita dengan jalan yang sama yang Dia berikan untuk mendukung dan memberi kemenangan kepada utusanutusan-Nya. Wa-anna Allaaha ‘l-karīma yaj`al majlisinā hadzā muhāthan bi ‘lkhayrāti wa ‘l-masarrāt wa ‘lanwāri wa ‘l-barakāt, wa yaqdhī lanā jamī`a ‘l-hājāt, bi-jāhi khayri ‘l- bariyyāt Dan sesungguhnya Allah Yang Maha Pemurah menyebabkan majelis ini dilingkupi dengan kebaikan dan kegembiraan dan cahaya dan berkah

Hal | 6


dan Dia mengurus semua keperluan kita demi Sang sebaik-baiknya ciptaan Wa-anna Allāha yanshura ‘lmuslimīn Dan sesungguhnya Allah akan mendukung dan memberikan kemenangan bagi siapa yang tunduk kepada-Nya wa `alā niyyati anna Allāha ‘lkarīma yanshur sulthān alawliyā asy-Syaykh Muhammad Nāzhim `Adil al-Haqqānī, wa yahfazhuhu wa yuwaffiquhu `alā ‘d-dawām bi-jāhi khayri ‘l-anām Dan dengan niat bahwa Allah Yang Maha Pemurah mendukung guru kita, Sultan Awliya Mawlana Syekh Muhammad Nazhim ‘Adil al-Haqqani (q) dan melindungi serta menjaganya dan menjadikannya berhasil

Hal | 7


sepanjang masa demi sebaik-baiknya makhluk Wa `alā kulli niyyatin shālihah ma`husni ‘l-khātimah `inda almawt ba`da al-`umuri ‘l-madīd fī thaa`atillāh, wa ilā hadhratinnabiyyi ‘l-Fātihah Dan bagi setiap niat yang murni, dengan akhir yang paling sempurna pada saat kematian setelah kehidupan yang panjang dalam ketaatan kepada Allah dan (kita panjatkan) ke hadirat Nabi (s), (kita baca) Surat al-Fatiha.

Hal | 8


Qasidah Pembuka Yā Rabbi shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi shalli `alayhi wa sallim (3x) Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan baginya Yā Rabbi shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi baligh-hu ‘l-wasīlah Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, sampaikanlah Nabi Muhammad (s) ke al-Wasilah (tempat tertinggi di Surga)

Hal | 9


Yā Rabbi shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi khushshah bi ‘l-fadhīlah Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, istimewakanlah kepadanya dengan segala keutamaan Yā Rabbi shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi w ‘ardha `ani ‘sh-shahābah Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, berikanlah keridaan-Mu kepada para Sahabatnya Yā Rabbi shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi w ‘ardha `ani ‘s-sulālah Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s)

Hal | 10


Ya Tuhan, berikanlah keridaan-Mu kepada keturunannya Yā Rabbi shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi w ‘ardha `ani ‘l-masyāyikh Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, berikanlah keridaan-Mu kepada guru-guru kami Yā Rabbi shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi farham wālidīnā Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, kasihanilah orang tua kami Allāhumma shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi warhamnā jamī`an

Hal | 11


Allaahumma ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, kasihanilah kami semua Allāhumma shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi warham kulla Muslim Allaahumma ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, kasihanilah segenap orang Islam Allaahumma shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi waghfirli kulli mudznib Allaahumma ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, ampunilah setiap orang yang berdosa

Hal | 12


Allaahumma shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi yaa sāmi` du`ānā Allaahumma ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, Engkaulah yang mendengar doa kami Yā Rabbi shalli `alā Muhammad /Yā Rabbi lā taqtha` rajānā Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, janganlah Engkau putuskan harapan kami Yā Rabbi shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi balighnā nazūruh Ya Tuhan, limpahkan rahmat atas Nabi Muhammad (s)

Hal | 13


Ya Tuhan, sampaikanlah kami agar kami dapat menziarahinya Yā Rabbi shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi taghsyānā bi nūrih Ya Tuhan, limpahkan rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, liputilah kami dengan cahayanya Yā Rabbi shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi hifzhānak wa amānak Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, kami mohon perlindunganMu dan keamanan dari-Mu Yā Rabbi shalli `alā Muhammad/Yā Rabbi waskinnā jinānak

Hal | 14


Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, tempatkanlah kami di dalam Surga-Mu Yā Rabbi shalli `alā Muhammad /Yā Rabbi ajirnaa min `adzābik Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, selamatkanlah kami dari azab-Mu Yā Rabbi shalli `alā Muhammad /Yā Rabbi warzuqnā ‘sysyahādah Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, berkatilah kami dengan maqamnya para Syuhada

Hal | 15


Yā Rabbi shalli `alā Muhammad /Yā Rabbi hithnā bi ‘s-sa`ādah Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, peliharalah kami dengan kebahagiaan Allaahumma shalli `alaa Muhammad/Yā Rabbi washlih kulla mushlih Allaahumma ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, perbaikilah diri semua orang yang ingin memperbaiki diri Allaahumma shalli `alā Muhammad /Ya Rabbi wakfi kulla mu’dzī Allaahumma ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s)

Hal | 16


Ya Tuhan, peliharan kami dari segala gangguan Allaahumma shalli `alÄ Muhammad /Ya Rabbi nakhtim bil musyaffa` Allaahumma ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, kami akhiri (doa ini) dengan nama Nabi (s) yang memberi syafaat Allaahumma shalli `alÄ Muhammad /Ya Rabbi shalli `alayhi wa sallim Allaahumma ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepadanya.

Hal | 17


Ya Rabbi shalli `alā Muhammad /Ya Rabbi shalli `alayhi wa sallim (3x) Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad (s) Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan atasnya Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Allaahumma ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan serta keberkahan kepadanya dan kepada keluarganya

Hal | 18


Allah Bershalawat atas NabiNya A`ūdzu billāhi mina ‘sy-syaythāni ‘r-rajīm Aku berlindung kepada Allah dari godaan Setan yang terkutuk Bismillāhi ‘r-Rahmāni ‘r-Rahīm Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Innā fatahnā laka fat-han mubīnā Sesungguhnya kami telah memberimu suatu kemenangan yang nyata. [48:1] li yaghfira laka ‘l-Lāhu mā taqaddama min dzanbika wa mā ta’akh-khar, wa yutimma

Hal | 19


ni`matahu `alayka wa yahdiyaka shirāthan mustaqīmā Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad (s)) atas dosadosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus. [48:2] wa yanshuruka ‘l-Lāhu nashran `azīza Dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang banyak. [48:3] laqad jā’akum rasūlun min anfusikum `azīzun `alayhi mā `anittum harīshun `alaykum bi ‘l-mu’minīna Ra’ūfun Rahīm Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang

Hal | 20


kamu alami, ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) [9:128] Fa in tawallaw fa-qul hasbiya ‘lLahu lā ilaha illa Huwa `alayhi tawakkaltu wa Huwa Rabbu ‘l`Arsyi ‘l-`Azhīm Maka jika mereka mengingkari maka katakanlah olehmu: cukuplah Allah penolong bagiku, tiada Tuhan yang wajib disembah dengan sebenarbenarnya kecuali Allah. Dan kepadanyalah aku berserah diri. Dan Dialah Allah pemilik Arasy yang Agung. [9:129] Inna ‘l-Lāha wa malā’ikatahu yushallūna `alan-Nabī yā ayyuha ‘l-ladzīna āmanū shallū `alayhi wa sallimū taslīmā Sesungguhnya Allah dan malaikatmalaikat-Nya berselawat atas Nabi,

Hal | 21


wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. [33:56] Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih

Hal | 22


Mengenai Penciptaannya Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Bismillāhi ‘r-Rahmāni ‘r-Rahīm Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Al-hamdu lillāhi ‘l-Qawiyyi ‘lGhālib Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuat, lagi Maha Dominan (dalam mengalahkan musuh-musuh-Nya) Al-Waliyyi ‘th-Thālib Yang menguasai dan mengetahui segala urusan makhluk-makhluk-Nya, Yang menuntut ketaatan para hambaNya

Hal | 23


Al-Bā`itsi ‘l-Wāritsi ‘l-Mānihi ‘ssālib Yang membangkitkan manusia dari kubur, Yang tetap kekal setelah kehancuran seluruh makhluk, Yang memberi kenikmatan, Yang melenyapkan kesengsaraan `Ālimi ‘l-kā’ini wa ‘l-bā’ini wazzā’ili wa ‘dz-dzāhib Yang Maha mengetahui segala sesuatu yang masih terwujud, yang sudah musnah terpisah-pisah dan yang sudah lenyap sama sekali. Yusabbihuhu ‘l-āfilu wa ‘l-mā’ilu wa ‘th-thāli`u wa ‘l-ghārib Senantiasa bertasbih kepada-Nya segala apa yang tidak terlihat, dan segala benda yang melengkung (seperti anak bulan) dan segala apa

Hal | 24


yang timbul dan tenggelam (seperti matahari, bulan dan bintang). Wa yuwah-hiduhu ‘n-nāthiqu wa ‘sh-shāmitu wa ‘l-jāmidu wa ‘dzdzā’ib Semua yang dapat berbicara menyatakan Keesaan-Nya, sebagaimana yang dilakukan juga oleh yang tidak mampu berbicara, juga segala benda yang padat dan cair. yadhribu bi-`adlihi ‘s-sākinu wa yaskunu bi-fadhlihi ‘dh-dhārib Dengan Keadilan-Nya, apa yang diam dapat bergerak dan apa yang bergerak menjadi diam. laa ilaha illa ‘l-Lāh Tiada Tuhan selain Allah

Hal | 25


Hakīmun azh-hara badī`a hikamihī wa ‘l-`ajā’ib Yang Maha Bijaksana, yang telah memperlihatkan kebijaksanaan-Nya yang indah memukau dan hal-hal yang mengagumkan. fī tartībi tarkībi hādzihi ‘lqawālib Di dalam mengatur susunan bentuk ciptaan-Nya ini. khalaqa mukhkhan wa `azhman wa `adhudan wa `urūqan wa lahman wa jildan wa sya`aran wa daman bi-nazhmin mu’talifin mutarākib Dia telah menciptakan otak, tulangbelulang, otot, pembuluh darah, daging, kulit, rambut dengan susunan yang amat serasi dan harmonis.

Hal | 26


min mā’in dāfiqin yakhruju min bayni ‘sh-shulbi wa ‘t-tarā’ib (Dia menciptakannya) dari pancaran cairan yang keluar dari antara tulang belakang dan tulang rusuk. laa ilaha illa ‘l-Lāh Tiada Tuhan selain Allah Karīmun basatha li-khalqihī bi sātha karamihī wa ‘l-mawāhib Yang Maha Pemurah, yang telah menghamparkan hamparan kedermawanannya dan anugerah-Nya kepada ciptaan-Nya. yanzilu fī kulli laylatin ila ‘ssamā’i ‘d-dunyā wa yunādī hal min mustaghfirin hal min tā’ib (Tā’ibūna ila ‘l-Lāh) Titah perintah-Nya yang membawa anugerah kedermawanan itu turun setiap malamnya ke langit pertama

Hal | 27


(dunia), seraya menyeru: “Adakah kiranya pada malam ini orang yang memohon ampunan dan orang yang ingin bertobat?” (Kami bertobat kepada Allah) Hal min thālibi hājatin faunīluhu ‘l-mathālib "Adakah kiranya orang yang meminta suatu hajat? niscaya Kutunaikan segala hajatnya.” Fa law ra’ayta ‘l-khuddāma qiyāman `alā ‘l-aqdāmi wa qad jādū bi ‘d-dumū`is-sawākib Maka seandainya engkau melihat orang-orang yang berkhidmat kepada Allah dengan beribadah dalam keadaan berdiri salat di atas telapak kaki mereka dan menangis di Hadapan-Nya?

Hal | 28


Wa ‘l-qawma bayna nādimin wa tā’ib Dan di antara mereka ada yang sedang menyesal dan bertobat atas segala dosanya. wa khā’ifin linafsihī yu`ātib Dan ada yang sedang ketakutan, sambil mencela dirinya sendiri karena berbuat dosa. wa ābiqin mina ‘dz-dzunūbi ilayhi hārib Dan ada yang sedang melarikan diri dari dosa-dosanya menuju pada pengampunan Allah. fa lā yazālūna fī ‘l-istighfāri hattā yakuffa kaffu ‘n-nahāri dzuyūla ‘l-ghayāhib

Hal | 29


Niscaya engkau sadar bahwa mereka itu senantiasa beristighfar sepanjang malam sampai terbit fajar. fa ya`ūdūna wa qad fāzū bi ‘lmathlūbi wa adrakū ridhā ‘lmahbūb wa lam ya`ud ahadun mina ‘l-qawmi wa Huwa khā’ib Lalu mereka pun kembali dalam keadaan berhasil meraih segala keinginan serta mendapat keridaan Allah yang tercinta, dan tiada seorang pun dari mereka yang kembali dengan tangan hampa. laa ilaha illa ‘l-Lāh Tiada Tuhan selain Allah Fa subhānahu ta`ālā min malikin awjada nūra nabiyyihī Muhammadin shalla ‘l-Lāhu wa sallama min nūrihi qabla an

Hal | 30


yakhluqa Ādama mina ‘th-thīni ‘l-lāzīb Maka Mahasuci Allah Yang Maha Tinggi, Maha Raja yang telah menciptakan Nur Nabi-Nya Muhammad (s) dari Nur-Nya, sebelum Dia menciptakan Nabi Adam (a) dari tanah liat. wa `aradha fakhrahu `alā ‘l-asyyā’i wa qāla hādzā sayyidu ‘lanbiyā’i wa ajallu ‘l-ashfiyā’i wa akramu ‘l-habā’ib Dan (setelah menciptakan seluruh makhluk dari Nur tersebut) Allah telah memperlihatkan Nur Muhammad (s) itu kepada seluruh makhluk yang telah ada, seraya berfirman, “Inilah Pemimpin para Nabi, Manusia Pilihan Teragung dan Kekasih-Ku yang paling mulia.”

Hal | 31


Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih

Hal | 32


Dialog antara Allah dengan Malaikat mengenai Nur Muhammad (s) Qīla Huwa Ādam (`alayhi ‘ssalām), qāla Ādamu bihī unīluhu a`lal marātib (Setelah Allah memperlihatkan Nur Muhammad (s) di Surga, lalu terjadilah suatu dialog antara malaikat dengan Allah (swt)): Malaikat bertanya, “Apakah itu Cahaya Nabi Adam (a)?” (Allah): “Bukan, bahkan dengan Nur ini Nabi Adam (a) Kuberi martabat yang tinggi.” Qīla Huwa Nūh (`alayhi ‘ssalām), qāla Nūhun bihī yanjū mina ‘l-gharaqi wa yahliku man

Hal | 33


khālafahu mina ‘l-ahli wa ‘laqārib (Malaikat bertanya), “Apakah itu Cahaya Nabi Nuh (a)?” (Allah): “Bukan, bahkan dengan Nur ini Nabi Nuh (a) beserta keluarga dan sahabatnya selamat dari badai yang menenggelamkan, sedangkan orangorang yang tidak mematuhinya menjadi binasa.” Qīla Huwa Ibrāhīm (`alayhi ‘ssalām), qāla Ibrāhīmu bihī taqūmu hujjatuhu `alā `ubbadi ‘lashnāmi wa ‘l-kawākib (Malaikat bertanya), “Apakah itu Cahaya Nabi Ibrahim (a)?” (Allah): “Bukan, bahkan dengan Nur ini Nabi Ibrahim (a) dapat menyampaikan hujjahnya terhadap para penyembah berhala dan bintang.”

Hal | 34


Qīla Huwa Mūsā (`alayhi ‘ssalām), qāla Mūsā akhūhu walākin hādzā habībun wa Mūsā kalīmun wa mukhāthib (Malaikat bertanya), “Apakah itu Cahaya Nabi Musa (a)?” (Allaah): “Bukan, Nabi Musa (a) adalah saudaranya, tetapi Nur ini Kekasih-Ku, sedangkan Nabi Musa (a) adalah orang yang menerima langsung firman-Ku.” Qīla Huwa `Īsā (`alayhi ‘ssalām), qāla `Īsā yubasy-syiru bihī wa huwa bayna yaday nubuwwatihī ka ‘l-hājib (Malaikat bertanya), “Apakah itu Cahaya Nabi Isa (a)?” (Allah): “Bukan, bahkan dengan Nur ini Nabi Isa (a) dapat membawa berita gembira tentang kelahiran Nur ini, dan Nur ini akan muncul pada rentang

Hal | 35


waktu yang dekat dengan kenabian Nabi Isa (a).” Qīla faman hādza ‘l-habību ‘lkarīmu ‘l-ladzī albastahu hullata ‘l-waqār Wa tawwajtahu bi tījāni ‘lmahābbati wa ‘l-iftikhār wa nasyarta `alā ra’sihi ‘l-`ashā’ib (Malaikat bertanya), “Jadi, Cahaya siapakah itu yang menjadi Kekasih-Mu yang mulia? Cahaya yang telah Engkau hiasi dengan Keagungan, dan telah Kau mahkotai dengan Kehormatan dan Kemegahan, dan telah Kau kibarkan bermacam-macam bendera atas kepemimpinannya?” Qāla Huwa nabiyyuni ‘stakhartuhu min Lu’ayy ‘bni Ghālib

Hal | 36


(Allah): “Ia adalah seorang Nabi yang telah Ku pilih dari keturunan Lu’ayy bin Ghalib.” Yamūtu abūhu wa ummuhu wa yakfuluhu jadduhu tsumma `ammuhu ‘sy-syaqīqu Abū Thālib! “Yang akan ditinggal wafat oleh ayah dan ibunya, lalu ia diasuh oleh kakenya, dan diasuh oleh saudara kandung ayahnya, yang bernama Abu Thaliib.” Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih

Hal | 37


Deskripsi mengenai Nabi (s) yang Diberkati Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Yub`atsu min tihāmata bayna yadayi ‘l-qiyāmati fī zhahrihī `alāmatun tuzhilluhu ‘lghamāmatu, tuthī`uhu ‘s-sahā-ib Ia (Nabi Muhammad (s)) akan diutus menjadi utusan-Ku di antara penduduk negeri Tihamah (Mekah), pada masa menjelang Kiamat; pada punggungnya terdapat sebuah tanda berupa tanda kenabian (KhatamunNubuwwah); dalam perjalanan ia dinaungi oleh awan tebal. Perintahnya kepada awan agar menurunkan hujan akan senantiasa dipatuhi.

Hal | 38


Fajriyyu ‘l-jabīni layliyyu ‘dzdzawā’ib Keningnya terang bercahaya bagaikan pagi, rambutnya hitam gelap bagaikan malam. Alifiyyu ‘l-anfi mīmiyyu ‘l-fami nūniyyu ‘l-hājib Hidungnya mancung tegak seperti huruf alif, mulutnya bulat indah seperti huruf mim, dan alisnya melengkung bagaikan huruf nun. Sam`uhu yasma`u sharīra ‘lqalami basharuhu ila ‘s-sab`i ‘ththibāqi tsāqib Pendengarannya mampu mendengar guratan Pena (di Loh Mahfuzh), penglihatannya mampu menembus langit ketujuh.

Hal | 39


Qadamāhu qabbalahumā ‘lba`īru fa-azālā masytakāhu mina ‘l-mihāni wa ‘n-nawā’ib Kedua tapak kakinya dicium unta, lalu dengan keberkahan kedua tapak kaki suci tersebut hilanglah semua rasa sakit akibat beban berat yang dibawanya. Āmana bihidh-dhabbu wa sallamat `alayhil asyjāru wa khāthabathu ‘l-ahjāru wa hanna ilayhi ‘l-jidz`u hanīna hazīnin nādib Seekor dhab (sejenis biawak) menegaskan keimanannya kepadanya, dan bahkan pepohonan mimosa memberikan salam kepadanya. Batubatu berbicara kepadanya. Batang kurma (yang menjadi mimbarnya) merindukannya, dengan kerinduan bagaikan orang yang sedang sedih dan

Hal | 40


meratap pilu karena cintanya pada Nabi (s). Yadāhu tazh-haru barakatuhumā fī ‘l-mathā`imi wa ‘l-masyārib Kedua tangannya menampakkan keberkahan pada makanan dan minuman. Qalbuhu lā yaghfulu wa lā yanāmu wa lākin lil khidmati ‘alād-dawāmi murāqib Hatinya tidak pernah lalai dan tidak pernah tidur, akan tetapi senantiasa berkhidmat dan mengingat Allah. In ūdziya ya`fu wa lā yu`āqib Jika disakiti, ia memaafkan dan tidak pernah membalas.

Hal | 41


Wa in khūshima yashmut wa lā yujāwib Jika dimusuhi, ia diam dan tidak menjawab. Arfa`uhu ilā asyrafi ‘l-marātib Allah mengangkatnya derajatnya ke maqam kehormatan tertinggi. Fī rakbatin lā tanbaghī qablahu wa lā ba`dahu li-rākib Dalam suatu perjalanan yang belum pernah ditempuh oleh siapapun baik sebelumnya maupun sesudahnya. Fī mawkibin mina ‘l-malā’ikati yafūqu `alā sā’iri ‘l-mawākib Di dalam rombongan para malaikat yang derajatnya melebihi rombongan lainnya.

Hal | 42


Fa idzā irtaqā `alā ‘l-kawnayni, wa’n-fashala `ani ‘l-`ālamayni wa washala ilā qābi qawsayni kuntu lahu anā ‘n-nadīma wa ‘lmukhāthib Ketika ia (Nabi (s)) menjelajahi dua alam (bumi dan langit) sampai keluar dan terpisah dari kedua alam itu, sampai di suatu tempat yang sangat dekat dengan-Ku, hanya sejarak dua busur panah (dari Hadirat Ilahi), ketika itu Aku saja yang menemaninya dan berbicara kepadanya. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Tsumma arudduhu mina ‘l-`arsy, qabla an yabruda ‘l-farsyuu waqad naala jamii`a ‘l-ma’aarib Kemudian Aku kembalikan ia (Nabi Muhammad (s)) dari `Arasy sebelum

Hal | 43


alas tidurnya menjadi dingin, (dalam waktu yang sangat singkat) ia telah memperoleh segala yang diinginkannya. Fa’idzaa syurrifa ‘t-turbatu thaybata minhu bi asyrafi qaalib Lalu ketika tanah Thaybah (Madinah) mendapat kemuliaan dan kehormatan karena menyimpan jasadnya yang paling mulia setelah wafatnya. Sa`at ilayhi arwaahu ‘lmuhibbiina `alaa ‘l-aqdaami wa ‘n-najaa’ib Maka roh dan jasad setiap orang yang mencintainya akan berduyun-duyun mendatangi pusaranya dengan berjalan kaki atau menunggang untaunta yang berjalan cepat. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih

Hal | 44


Qasidah Kafilah Shalatullāhi mā lāhat kawākib Shalatullāhi mā lāhat kawākib, `ala Ahmad khayri man rakiba ‘n-najā’ib Semoga Rahmat Allah—selama bintang-gemintang masih bersinar di langit—senantiasa tercurah kepada Nabi Ahmad (s), sebaik-baiknya manusia yang menunggangi unta. Hadā hādis-surā bismi ‘l-habā’ib, fahazza ‘s-sukru a`thāfa ‘rrakā’ib Pengiring unta-unta telah mendendangkan lagu syair dengan menyebut nama sang kekasih (Nabi Muhammad (s)); dan dengan rasa gembira dan terhibur unta-unta itu turut menggoyangkan tubuh dan

Hal | 45


lehernya, menari-nari mengikuti irama. Alam tarahā wa qad maddat khuthāha, wa sālat min madāmi`ihā sahā’ib Tidakkah kalian lihat bahwa unta-unta itu memanjangkan langkahnya, dan air matanya bercucuran karena bahagia. Wa mālat li ‘l-himā tharaban wa hannat, ilā tilka ‘l-ma`ālimi wa ‘lmalā`ib Dan begitu asyiknya mereka berjalan menuju tempat kekasihnya (Nabi Muhammad (s)) dengan rasa gembira dan rindu bergelora, mereka ingin agar segera sampai di kandangnya, tempat mereka bermain di sana.

Hal | 46


Fada` jadzbaz-zimāmi wa lā tasuqhā, faqā’idu syawqihā li ‘lhayyi jādzib Maka biarkanlah mereka, tidak perlu kau tarik tali kekangnya, dan jangan pula menghelanya—karena gelora rindu merekalah yang akan menariknya ke perkampungan Nabi Muhammad (s) (Madinah). Fahim tharaban kamā hāmat wa illa, fa innaka fī thariqi ‘l-hubbi kādzib Maka cintailah Nabi Muhammad (s) sepenuh hati dan dengan rasa gembira sebagaimana kecintaan unta-unta itu. Jika tidak, berarti engkau tidak tulus dalam mencintainya. Amā hāda ‘l-`aqīqu badā wa hādzi, qibābu ‘l-hayyi lāhat wa ‘lmadhārib

Hal | 47


Di sana, lembah al-`Aqiq telah tampak, dan itu, kubah (Makam Nabi (s)) telah terlihat dan juga kubahkubah para pecinta Nabi (s) telah jelas terlihat. Wa tilka ‘l-qubbatu ‘l-khadrā wa fīhā, Nabiyyun nūruhu yajlu ‘lghayāhib Dan di sana ada kubah hijau; yang di dalamnya bersemayam seorang Nabi yang cahayanya mampu menyinari dan melenyapkan segala kegelapan. Wa qad shahha ‘r-ridhā wa danā ‘t-talāqi, wa qad jā al-hanā min kulli jānib Sungguh telah jelas bahwa Allah telah rida kepadamu, dan pertemuanmu (dengan tempat-tempat suci yang penuh cahaya) semakin dekat, dan

Hal | 48


rasa riang gembira datang dari segala penjuru. Fa qul li’n-nafsi dūnaki wa ‘ttamallī, Famā dūna ‘l-habībi ‘lyawma hājib Katakanlah kepada dirimu sendiri, “Puaskan dirimu dengan menatap pusara orang yang engkau cintai— karena pada hari ini, tiada seorang pun yang akan melarangmu untuk bertemu dengan kekasihmu itu.” Tamallay bi ‘l-habībi bi kulli qashdin, fa qad hashala ‘l-hanā wadh-dhiddu ghā’ib “Puaskan hatimu ketika bertemu dengan Nabi tercinta (s), karena kebahagiaan telah diraih dan hilanglah semua rasa duka.”

Hal | 49


Nabiyyullāhi khayru ‘l-khalqi jam’ā, Lahu a`la ‘l-manāshibi wa ‘l-marātib Nabi Allah (s) adalah sebaik-baik makhluk seluruhnya—pangkat dan martabat tertinggi adalah miliknya. Lahu ‘l-jāhur-rafī`u lahu ‘lma`ālī, lahu ‘sy-syarafu ‘lmu’abbadu wa’l-manāqib Nabi (s) mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan mulia; beliau (s) memiliki segala sifat mulia yang kekal dan akhlak terpuji. Falaw annā sa`aynā kulla hīnin, `alā ‘l-ahdāqi lā fawqa ‘n-najā’ib Jika setiap hari kita mencarinya (berziarah ke makam beliau(s))— mencari di dalam pikiran kita dan bukannya dengan menunggangi unta.

Hal | 50


Wa law annā `amilnā kulla yawmin, li-Ahmada mawlidan qad kāna wājib Dan bahkan jika kita mengadakan Mawlidnya setiap hari, untuk mengingat kelahiran Nabi Ahmad (s), sesungguhnya itu merupakan tugas kita (karena begitu besarnya jasa beliau (s) kepada kita). `alayhi mina ‘l-muhaymini kulla waqtin, shalātun mā badā nūru ‘l-kawākib Semoga Rahmat Allah, Yang Maha Memelihara senantiasa tercurah kepada beliau (s) sepanjang masa— selama bintang-gemintang masih terlihat di angkasa. Ta’ummu ‘l-āla wa ‘l-ash-hāba thurran, jamī`ahum wa `itratahu ‘l-athāyib

Hal | 51


Semoga limpahan rahmat itu tercurah pula kepada keluarga dan para Sahabat seluruhnya dan keturunannya yang diberkati.

Hal | 52


Pujian Penyusun Mawlid adDayba`i Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Fa subhāna man khash-shahu shalla ‘l-Lāhu `alayhi wa sallam bi asyrafi ‘l-manāshibi wa ‘lmarātib Maka Mahasuci Allah yang telah mengistimewakan Nabi (s) dengan semulia-mulianya pangkat dan martabat. Ahmaduhu `alā mā manaha mina ‘l-mawāhib Aku memuji kepada-Nya atas segala anugerah yang dikaruniakan-Nya.

Hal | 53


Wa asyhadu an lā ilaha illa-Allah wahdahu lā syarīka lahu Rabbu ‘l-masyāriqi wa ‘l- maghārib Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Tuhan yang menguasai timur dan barat. Wa asyhadu anna sayyidanā Muhammadan `abduhu wa Rasūluhu ‘l-mab`ūtsu ilā sā’iri ‘la`ājimi wa ‘l-a`ārib Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Sayyidina Muhammad (s) adalah hamba-Nya dan utusan-Nya yang diutus kepada seluruh bangsa `Ajam dan bangsa Arab. Shalla ‘l-Lāhu `alayhi wa sallama wa `alā ālihī wa ash-hābihī ūli ‘lmātsiri wa ‘l- manāqib

Hal | 54


Semoga Allah merahmati dan menganugerahkan kesejahteraan kepadanya dan kepada keluarga dan para sahabatnya yang mempunyai kemuliaan turun-temurun dan perilaku yang terpuji. Shallatan wa salāman dā’imayni mutalāzimayni ya’tī qā’iluhumā yawma ‘l-qiyāmati ghayra khā’ib Dengan rahmat dan kesejahteraan yang kekal dan tak terpisahkan, yang pada hari kiamat kelak, orang yang senantiasa mengucapkan keduanya (shalawat dan salam) akan datang tanpa kekecewaan dan (bahkan tercapai segala cita-citanya). Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih

Hal | 55


Mengenai Leluhurnya yang Murni Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Awwalu mā nastaftihu bi-īrādi hadītsayni waradā fī Nabiyyi kāna qadruhu `azhīma wa nasabuhu karīma, wa shirāthuhu mustaqīma Pertama-tama yang kami jadikan sebagai tirai pembuka bagi kisah kelahiran manusia teragung ini adalah dengan menyampaikan dua rangkaian hadits yang bersumber dari Nabi (s) yang sangat hebat derajatnya, silsilah keturunannya teramat mulia dan perjalanan hidupnya begitu lurus. Qāla fī haqqihī man lam yazal Samī`an `Alīmā: Inn-Allāha wa malā’ikatahu yushallūna `ala ‘nHal | 56


Nabiyyi yā ayyuha ‘l-ladzīna āmanū shallū `alayhi wa sallimū taslīma! Mengenai haknya, Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui telah berfirman, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi (s), hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. [QS al-Ahzab, 33:56] Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih (Al-hadītsu ‘l-awwalu) `an bahri ‘l-`ilmi ‘d-dāfiq, wa lisāni ‘lqur’āni ‘n-nāthiq, awhadi `ulamā’i ‘n-nās, Sayyidinā `Abdillāh ibni Sayyidinā ‘l`Abbās, radhiy-Allāhu `anhumā `an Rasūlillāhi shalla ‘l-Lāhu `alayhi wa sallama annahu qāl,

Hal | 57


inna quraysyan kānat nūran bayna yadayi ‘l-lāhi `azza wa jalla qabla an yakhluqa Ādama `alayhi ‘s-salām bi alfay `ām, yusabbihullāha dzālika ‘n-nūru wa tusabbihu ‘l-malā’ikatu bi tasbīhih, falamma khalaqa ‘lLāhu Ādama `alayhi ‘s-salām awda`a dzālika ‘n-nūra fī thīnatih, Hadits pertama: Diriwayatkan dari seseorang yang bergelar “Samudra Ilmu” yang sangat luas ilmunya, dan yang bergelar “Lidahnya al-Qur’an” yang menuturkan makna-maknanya, seorang tokoh ulama yang tiada bandingannya, yaitu Sayyidina `Abdullah bin Abbas (r) –sebuah hadits yang bersumber dari Rasulullah (s), sesungguhnya beliau (s) bersabda, “Sesungguhnya orang Quraisy (Nabi

Hal | 58


Muhammad (s)) dahulu adalah berupa Nur di Hadirat Allah `Azza wa Jalla (di antara Kudrat dan Iradat-Nya), kira-kira dua ribu tahun sebelum Dia menciptakan Nabi Adam (a). Nur tersebut senantiasa bertasbih kepada Allah (swt) dan dengan bacaan tasbihnya itu, para malaikat ikut pula bertasbih kepada-Nya. Maka ketika Allah menciptakan Nabi Adam (a), dititipkannya Nur tersebut pada tanah liat yang menjadi asal ciptaannya.” Qāla shalla ‘l-Lāhu `alayhi wa sallama fa’ahbathaniya ‘l-Lāhu `azza wa jalla ila ‘l-ardhi fī zhahri Ādama `alayhis-salām Nabi (s) bersabda lagi, “Kemudian Allah menurunkan aku (Nur Muhammad (s)) ke bumi dalam tulang belakang Nabi Adam (a).

Hal | 59


Wa hamalanī fi ‘s-safīnati fī shulbi Nūhin ‘alayhi ’s-salām Dan aku telah dibawa pula berlayar di dalam bahtera Nuh (a) yang pada saat itu aku berada di dalam tulang sulbinya. Wa ja’alanī fī shulbi ‘l-khalīl Ibrāhīma `alayhi ‘s-salām hīna qudzifa bihī finnār, Lalu aku diletakkan pula di dalam tulang sulbi Nabi Ibrahim (a) ketika ia dilemparkan ke dalam ganasnya kobaran api Raja Namrud. Wa lam yazali ‘l-Lāhu `azza wa jalla yanqulunī mina ‘l-ashlābi ‘tthāhirati, ilaa ‘l-arhāmi ‘zzakiyyati ‘l-fākhirah, hattā akhraja niya ‘l-Lāhu min bayni abawayya wa humā lam yaltaqiyā `alā sifāhin qathth

Hal | 60


Allah `Azza wa Jalla senantiasa memindahkan aku dari sulbi-sulbi yang suci ke dalam rahim-rahim yang bersih lagi megah, sehingga Allah mengeluarkan aku (dengan kelahiran jasad) dari ibu-bapakku yang keduanya belum pernah berzina sama sekali.” Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih

Hal | 61


Prediksi tentang Kerajaan Nabi (s) di dalam Taurat Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Al-hadītsuts-tsānī `an `Athā ’ibni Yasārin, `an Ka`bi ‘l-Ahbār, qāla `allamanī abii ‘t-tawrāta illa sifran wāhidan kāna yakhtimuhu wa yudkhiluhu ‘sh-shundūq, Hadits Kedua: Diriwayatkan dari Atha’ bin Yasar kisah mengenai Ka’ab al-Ahbar, ia berkata, “Ayahku telah mengajariku seluruh bagian Kitab Taurat kecuali satu bagian saja, bagian itu selalu dibacanya hingga tamat, lalu dimasukkannya ke dalam peti.

Hal | 62


falammā māta abī fatahtuhu fa’idzā fīhi Nabiyyun yakhruju ākhiraz-zamān, mawliduhu bi Makkah, wa hijratuhu bi’lMadiinah, wa sulthānuhu bi ‘sySyām, Ketika ayahku telah meninggal dunia, peti itu kubuka. Ternyata di dalam bagian kitab Taurat itu terdapat keterangan tentang seorang Nabi yang akan muncul di akhir zaman. “Tempat lahirnya di Mekah dan tempat hijrahnya adalah Madinah, serta seorang sultannya akan berkuasa dan bertakhta di negeri Syam (yakni Sayyidina Muawiiyah (r)). yaqush-shu sya`rahu wa yattaziru `alā wa sathihī yakūnu khayra ‘l-anbiyā’i wa ummatuhu khayra ‘l-umam, yukabbirūna ‘lLāha ta`ālā `alā kulli syarafin yashuffūna fi ‘sh-shalāti ka

Hal | 63


shufūfihim fi ‘l-qitāl, qulūbuhum mashāhifuhum yahmadūna ‘lLāha ta`ālā `alā kulli syiddatin wa rakhā, Ia selalu menggunting rambutnya dan memakai kain pelikat di sekeliling pinggangnya. Ia akan menjadi Nabi terbaik di antara para Nabi, dan umatnya pun akan menjadi umat terbaik. Mereka akan selalu bertakbir mengagungkan kebesaran Allah (swt) ketika mendaki ke tempat yang tinggi. Mereka membuat barisan-barisan ketika salatnya, seperti barisanbarisan mereka ketika berperang. Hati mereka adalah tempat tersimpannya mushaf-mushaf mereka (maksudnya, banyak yang akan menghapal isi kitab suci al-Qur’an). Mereka akan senantiasa memuji Allah (swt), baik dalam keadaan susah maupun senang.

Hal | 64


tsulutsun yadkhulūna ‘l-jannata bi-ghayri hisāb (Allāhumma’j`alnā minhum) Wa tsulutsun ya’tūna bi-dzunūbihim wa khathāyāhum fa-yughfaru lahum, wa tsulutsun ya’tūna bidzunūbin wa khatāyā `izhām, Sepertiga dari umatnya masuk ke dalam Surga tanpa hisab, (Ya Allah, jadikanlah kami bagian dari mereka). Sepertiga lagi, akan datang di Hari Kiamat dengan membawa berbagai dosa dan kesalahan lalu mereka akan dikarunai pengampunan. Dan sepertiga lagi akan datang menghadap Allah dengan dosa-dosa dan kesalahan yang besar. fa yaqūlu ‘l-Lāhu ta`ālā li ‘lmalā’ikati ‘dz-habū fa-zinūhum fa yaqūlūna Rabbanā wajadnā hum asrafū `alā anfusihim; wa wajadnā a`mālahum mina ‘dz-

Hal | 65


dzunūbi ka amtsāli ‘l-jibāli ghayra annahum yasyhadūna an lā ilāha illa ‘l-Lāhu wa anna Muhammadan Rasūlullāh shalla ‘l-Lāhu `alayhi wa sallam Lalu Allah (swt) akan berfirman kepada malaikat, “Pergilah periksa dan timbang amalan mereka.” Kemudian malaikat melaporkan, “Wahai Tuhan kami, kami mendapati bahwa mereka telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, dan kami dapati bahwa dosa-dosa mereka itu bagaikan gunung. Namun mereka masih bersaksi bahwa ‘Tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Nabi Muhammad (s) adalah Utusan Allah.’” Asyhadu an lā ilaha illa ‘l-Lāhu wa asyhadu anna Muhammadan Rasūlullāh

Hal | 66


Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad (s) adalah Utusan Allah. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Fa yaqūlu ‘l-haqqu wa `izzatī wa jalālī, lā ja`altu man akhlashalī bi syahādati kaman kadz-dzaba bī, adkhilūhumu ‘l-jannata birahmatī, Mendengar laporan malaikat tersebut, lalu Allah berfirman, “Demi Kemuliaan-Ku dan Keagungan-Ku, Aku tidak akan menyamakan orangorang yang benar-benar ikhlas bersaksi pada Ketuhanan-Ku dengan orang-orang yang mendustakan Aku. Masukkanlah mereka itu ke dalam Surga dengan rahmat-Ku.

Hal | 67


yā a`azza jawāhiri ‘l-`uqūd, wa khulāshata iksīri sirri ‘l-wujūd; mādihuka qāshirun wa law jā’a bi-badzli ‘l-majhūd; wa wāshifuka `ājizun `an hashri mā hawayta min khishāli ‘l-karami wa ‘l-jūd Wahai ‘Mutiara Termulia dan Terindah’ dari segala mutiara, wahai ‘Intisari Iksir (obat mujarab yang langka untuk segala jenis penyakit) dari rahasia alam semesta! Orang yang memujimu tetap akan sebanding pujiannya itu dengan segala sifatmu yang mulia, meskipun ia telah berusaha semaksimal mungkin. Dan orang yang menggambarkan sifatsifatmu pun tidak akan mampu melukiskan sifat kemuliaan dan pemurah yang engkau miliki. Al-kawnu isyārah, wa Anta ‘lmaqshūd; yā asyrafa man nāla ‘l-

Hal | 68


maqāma ‘l-mahmūd; wa jā’at rusulun min qablika lākinnahum bi ‘r-rif`ati wa ‘l-`ulā laka syuhūd. Segala yang ada di alam semesta hanyalah isyarat dan tanda yang mendahului kemunculanmu, sedangkan engkaulah maksud sebenarnya bagi terciptanya alama semesta. Wahai manusia termulia yang telah memperoleh kedudukan terpuji! Telah datang Rasul-Rasul sebelum engkau, tetapi mereka semua menyatakan kesaksian tentang kemuliaan dan ketinggian derajatmu. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih

Hal | 69


Kelahirannya (Mawlid) Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Ahdhirū qulūbakum yā ma`syara dzawi ‘l-albāb; hattā ajluwa lakum `arā’isa ma`ānī ajalli ‘lahbāb; Al-makhshūshi bi asyrafi ‘l-alqāb; Ar-rāqī ilā hadhrati ‘lMaliki ‘l-Wahhab; hattā nazhara ilā jamālihī bilā sitrin wa lā hijāb Hadirkanlah hati-hati kalian, wahai orang-orang yang mempunyai akal pikiran! Agar dapat kujelaskan kepada kalian mengenai segala sifat yang indah menawan dan cantik memukau dari Sang Kekasih Teragung ini. Yang diistimewakan dengan gelar termulia, Yang pernah naik menghadap Allah, Maha Raja Yang Maha Pemberi; sehingga ia dapat

Hal | 70


menatap Keindahan-Nya secara langsung tanpa hijab. falammā āna awānu zhuhūri syamsi ‘r-risālah; fī samā’i ‘ljalālah; Kharaja marsūmu ‘l-jalīli li-naqībi ‘l-mamlakati Jibrīl Ketika tiba saatnya kemunculan “Sang Matahari Kerasulan” ini di “Langit Keagungan”, (menjelang kelahiran Rasulullah (s)) maka keluarlah satu malaikat yang membawa perintah Allah Yang Maha Agung kepada Sang Ketua dari Penghuni Langit, Sayyidina Jibril (a). Yā Jibrīl, nādi fī sā-iri ‘lmakhlūqāt; Min ahli ‘l-ardhi wa ‘s-samāwāt, bi ‘t-tahānī wa ‘lbisyārāt

Hal | 71


“Wahai Jibril (a), serukanlah kepada seluruh makhluk di bumi dan langit, agar melakukan penyambutan dengan ucapan-ucapan selamat datang dan kabar gembira.” fa inna nūra ‘l-mashūn, wa ‘ssirral maknūn, alladzī awjadtuhu qabla wujūdi ‘l-asy-yā’i, wa ‘ibdā`i ‘l-ardhi wa ‘s-samā; Anquluhu fī hādzihi ‘l-laylati ilā bathni ummihī masrūra “Karena sesungguhnya Nur yang terpelihara dan Rahasia yang tertutup sekian lama, yang telah Aku wujudkan sebelum terwujudnya segala sesuatu dan sebelum Kuciptakan bumi dan langit, pada malam ini akan Kupindahkan ke dalam perut ibunya dalam keadaan riang gembira.”

Hal | 72


Amla’u bihi ‘l-kawna nūra, wa akfuluhu yatīman wa uthahhiruhu wa ahla baytihī tath-hīra “Aku penuhi seluruh alam semesta dengan cahaya. Ia akan Kupelihara dan Kudidik dalam keadaan yatim (tanpa campur tangan ibu bapaknya) dan akan Kusucikan ia dan ahli keluarganya dengan sesuci-sucinya. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Fahtazza ‘l-`arsyu tharaban wa ‘s-tibsyāra (Setelah Jibril (a) menyerukan perintah Allah tersebut) `Arasy berguncang hebat karena merasa gembira.

Hal | 73


Wazdāda ‘l-kursiyyu haybatan wa waqāra Kursi yang sangat hebat itu pun menjadi semakin hebat dan agung (demi memuliakan Nabi (s)). Wamtalā’ati ‘s-samāwātu anwāra; wa dhajjati ‘l-malā’ikatu tahlīlan wa tamjīdan wa ’stighfāra Dan langit dipenuhi cahaya yang terang benderang; sedangkan para malaikat bergemuruh mengucapkan tahlil, tahmid dan istighfar. Subhana ‘l-Lāh wa ‘l-hamdulillāh wa lā ilaha illa ‘l-Lāh wa ‘l-Lāhu akbar (4 marrah) (Maha Suci Allah, dan Segala Puji bagi Allah, dan Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar, 4 kali)

Hal | 74


Wa lam taza ‘l-ummuhu tarā anwā`an min fakhrihī wa fadhlihi, ilā nihāyati tamāmi hamlih, (Sejak awal kehamilannya) Ibunya senantiasa melihat bermacam-macam tanda kemegahannya dan keutamaan bayi di dalam rahimnya, sehingga usia kandungannya cukup sempurna. Falammasy tadda biha ‘ththalqu, bi-idzni Rabbi ‘l-khalqi, wa dha`ati ‘l-habība shalla ‘lLāhu `alayhi wa sallama sājidan syākiran hāmidan ka annahu ‘lbadru fī tamāmih; (berdiri) Lalu ketika dirasakan dirinya akan melahirkan, dengan izin Tuhan pencipta makhluk, maka ia pun melahirkan al-Habib (s), dalam keadaan bersujud, bersyukur dan memuji Allah. Wajahnya begitu indah

Hal | 75


laksana bulan purnama yang mencapai puncaknya. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih

Hal | 76


Yā Nabi Salām `Alayka

Yā Nabi salām `alayka Yā Nabi salām `alayka, Yā Rasūl salām `alayka Wahai Nabi salam sejahtera untukmu, wahai Rasul salam sejahtera untukmu Yā Habīb salām `alayka, Shalawātullāh `alayka Wahai Kekasih salam sejahtera untukmu, rahmat Allah semoga tercurah padamu Asyraqa ‘l-kawnu ‘b-tihājān, bi wujūdi ‘l-mushthaf ‘Ahmad Alam semesta bergelimang cahaya bergembira dengan kelahiran Rasul pilihan, Ahmad (s)

Hal | 77


Wa li ahli ‘l-kawni unsun, wa surūrun qad tajaddad Seluruh penghuninya merasa bahagia, sambung-menyambung tiada henti (dengan kabar gembira dari Allah ini). Fathrabū yā ahla ‘l-matsānī, fa hazāru ‘l-yumni gharrad (Burung sikatan (nightingale) berkicau): “Bergembiralah wahai penghuni dari dua tempat (langit dan bumi) dengan kabar gembira ini.” Wa ‘stadhī-ū bi jamālin fāqa fi ‘lhusni tafarrad Dan carilah cahaya dari suatu keindahan, yang mengalahkan semua keindahan dan tiada bandingannya.

Hal | 78


Wa lana ‘l-busyrā bisa`din, mustamirrin laysa yanfad Kabar gembira bagi kita, dengan kebahagiaan abadi yang terusmenerus tiada henti. Haytsu ūtīnā `atha’an, jama`a ‘lfakhra ‘l-mu’abbad Karena kita telah menerima suatu anugerah, yang mencakup semua kemegahan abadi (untuk kehidupan di dunia dan akhirat). Fa li Rabbī kullu hamdin, jalla an yahshura hu ’l-`ad Maka bagi Tuhanku, segala pujian untuk-Nya, dan rasa syukur dengan bilangan yang tak terhingga. Idz habānā bi wujūdi, ‘lMushthafa ‘l-Hādī Muhammad

Hal | 79


Atas karunia-Nya kepada kita dengan kelahiran Rasul pilihan yang memberi petunjuk, Muhammad (s). Marhaban Marhaban Yā Nūra `Aynī Selamat datang, selamat datang wahai Cahaya Mataku Marhaban Marhaban Jadda ‘lHusayni Selamat datang, selamat datang wahai kakek dari al-Husain (a) Marhaban Yā Rasūlallāhi ahlan, Marhaban bika innā bika nus`ad Selamat datang wahai Rasulullah (s), selamat datang! Selamat datang, karena sesungguhnya bersamamu adalah kebahagiaan bagi kami.

Hal | 80


Marhaban wa bijāhih Yā Ilāhī, Marhaban jud wa balligh kulla maqshad Selamat datang, dengan kemuliaannya wahai Tuhanku, selamat datang, bermurah hatilah dan penuhilah segala maksud kami. Marhaban wa ’hdinaa nahja sabīlih, Marhaban kay bihī nus`ad wa nursyad Selamat datang, bimbinglah kami dengan metode dan jalan yang ditempuhnya, selamat datang, agar dengannya kami memperoleh kebahagiaan dan petunjuk. Rabbi f’aghfir lī dzunūbī yā Allāh Wahai Tuhanku, ampunilah dosadosaku, ya Allah

Hal | 81


Bi-barkati ‘l-Hādī Muhammad yā Allāh Dengan berkah Nabi Pemberi Petunjuk Muhammad (s), ya Allah Rabbi ballighnā bi jāhih, yā Allāh Wahai Tuhanku dengan kemuliannya, sampaikanlah kami, ya Allah Fī jiwārihi khayra maq’ad, yā Allāh Ke tempat terbaik di sisinya, ya Allah Wa shalātullāhi taghsyā, yā Allāh Semoga rahmat Allah senantiasa tercurah padanya, ya Allah Asyrafa ‘r-Rusli Muhammad, yā Allāh

Hal | 82


Kepada Rasul termulia Muhammad (s), ya Allah Wa salāmun mustamirrun, yā Allāh Dan kesejahteraan yang tiada henti, ya Allah Kulla hīni yatajaddad, yā Allāh Setiap waktu, berganti yang baru, ya Allah Shall-Allāhu `alā Muhammad, shall-Allāhu `alayhi wa sallam Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Muhammad (s), semoga Allah melimpahkan kesejahteraan kepadanya. Rabbi waj`al mujtama`nā, Ghāyatsu husnu ‘l-khitāmi

Hal | 83


Wahai Tuhanku, jadikanlah pertemuan kami ini, puncaknya adalah khusnul khatimah Wa’thinā mā qad sa’alnā, Min `athayaka ‘l-jisāmi Dan anugerahkanlah kepada kami apa yang kami minta, dari karuniakarunia-Mu yang sangat besar nilainya. Wa ‘krimi ‘l-arwāha minna, Bi liqā khayri ‘l-anāmi Dan berkatilah para arwah di antara kami, dengan suatu pertemuan dengan sebaik-baik manusia. Wa ‘blighi ‘l-mukhtāru `annā, Min shalātin wa salāmi

Hal | 84


Sampaikanlah kepada manusia Pilihan-Mu, dari kami, shalawat dan salam yang kami kumandangkan. Yā Allāhu yā Muhammad, Yā Abu Bakr ash-Shiddiq Yā `Umar, `Utsmān, Yā `Alī, Fāthimah binti Rasūli

Hal | 85


Masa Mudanya Wa wulida shalla ‘l-Lāhu `alayhi wa sallam makhtūnan biyadi ‘l`inayah Nabi Muhammad (s) dilahirkan sudah dalam keadaan dikhitan dengan Kekuasaan Allah (swt) Makhulan bi kuhli ‘l-hidāyah Kedua matanya bercelak dengan “Celak Hidayah” (terpelihara dari memandang hal-hal yang tidak diridai Allah). Fa-asyraqa bi-bahā’ihi ‘l-fadhā’ Ruang angkasa menjadi terangbenderang karena cahayanya.

Hal | 86


Wa tala`la’a ‘l-kawnu min nūrihī wa adhā’ Dan alam semesta penuh dengan keindahan serta bersinar cemerlang karena cahayanya itu. Wa dakhala fī aqdi bay`atihī man baqiya mina ‘l-khalā’iqi kamā dakhala fīhā man madhā Orang-orang yang tidak berjumpa dengannya adalah termasuk umatnya juga, sebagaimana orang-orang terdahulu sebelumnya. Awwalu fadhīlati ‘l-mu`jizāt bikhumūdi nāri fārisa wa suqūti ‘sy-syurrāfāt, wa rumiyati ‘sysyayāthīnu mina ‘s-samā’i bi ‘sysyuhubi ‘l-muhriqāt, wa raja`a kullu jabbārin mina ‘l-jinni wa huwa bi shawlati salthanatihī dzalīlun khādhi`

Hal | 87


Kehebatan pertama dari mukjizatnya adalah padamnya api sembahan orang-orang Persia (yang tidak pernah padam selama seribu tahun sebelumnya). Dan beranda-beranda istana Maharaja Persia tiba-tiba runtuh berjatuhan. Setan-setan dihujani dengan panah-panah api meteor yang panas membakar dari langit. Semua jin yang sombong dan zalim, menyerah dengan hina dan tunduk dengan kekuasaan kesultanannya. Lammā ta’allaqa min sanāhu ‘nnūru ‘s-sāthi`, wa asyraqa min bahā’ihi ‘dh-dhiyā’ul-lami`, hattā `uridha `ala ‘l-marādhi` Dan bersinarnya cahaya lembut berkilauan darinya (ketika lahir), sampai beliau diperlihatkan kepada ibu yang akan menyusuinya.

Hal | 88


Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Qīla: man yakfulu hādzihi ‘ddurrata ‘l-yatīmah, allatī lā tūjadu lahā qīmah? Qālati ‘ththuyūr: nahnu nakfuluhu wa naghtanimu himmatahu ‘l`azhīmah Setelah kelahiran Nabi Muhammad (s) malaikat mengajukan pertanyaan kepada seluruh makhluk, “Siapakah yang ingin mengasuh ‘mutiara yang sangat berharga ini, yang tidak ternilai harganya?’” Burung-burung menjawab, “Kamilah yang akan mengasuhnya dan mengambil manfaat dari cita-citanya yang besar.”

Hal | 89


Qālati ‘l-wuhūsy: nahnu awlā bidzālika likay nanāla syarafahu wa ta`zhīmah Binatang-binatang liar berkata, “Kamilah yang lebih layak mengasuhnya agar kami dapat memperoleh kemuliaan dan penghormatannya.” Qīla: yā ma`syara ‘l-umami ‘skunū fa-inna ‘l-Lāha qad hakama fī sābiqi hikmatihi ‘l-qadīmah, bianna Nabiyyahu Muhammadan shalla’l-Lāhu `alayhi wa sallama yakūnu radhī`an li-Halīmata ‘lhalīmah Lalu dijawab oleh malaikat, “Wahai sekalian golongan, tenanglah kalian semua! Karena sesungguhnya Allah telah memutuskan sejak dulu dan dengan Kebijaksanaan-Nya yang Maha terdahulu bahwa Nabi-Nya,

Hal | 90


Muhamaad (s) akan diasuh dan disusui oleh Halimah (binti Abi Dzuaib), seorang wanita yang amat penyabar. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Falamma a`radha `anhu marādhi`u ‘l-insi limā sabaqa fī thayyi ‘l-ghayb mina ‘s-sa`ādati li-Halīmata binti Abī Dzu’ayb Ketika tiba masanya, tidak ada yang ingin menjadi ibu susunya, sebagaimana telah dikatakan sebelumnya bahwa dengan suratan takdir-Nya Halimah binti Abi Dzuaib berbahagia menjadi ibu susunya. Fa-lamma waqa`a nazharuhā `alayh, bādarat musri`atan ilayh, wa wadha`at-hu fī hijrihā, wa dhammat-hu ilā shadrihā

Hal | 91


Ketika ia melihatnya, dengan segera ia mengambilnya, lalu memangku dan mendekapnya di dadanya. Fa-hasya lahā mutabassimā, fakharaja min tsaghrihī nūrun lahiqa bi ‘s-samā’i fa hamalathu ilā rahlihā w ‘artahalat bihī ilā ahlihā Bayi itu terlihat tersenyum kepadanya, dan dari gigi sucinya terpancar cahaya yang menjulang ke langit. Ia lalu membawanya ke kendaraannya dan mereka kembali ke tempat keluarganya. Fa-lamma washalat bihī ilā muqāmihā, `āyanat barakatahu hatta `alā aghnāmihā Ketika ia bersama bayi itu tiba di kampungnya, ia menyaksikan keberkahan yang dibawa bayi itu

Hal | 92


sampai pada kambing-kambing peliharaannya (yang sakit menjadi sehat dan gemuk, air susunya memancar deras sehingga cukup bagi seluruh keluarga, setelah diusapkannya tangan bayi itu ke atas kambing-kambingnya.) Wa kānat kulla yawmin tarā minhu burhānā wa tarfa`u lahu qadran wa sya’nān Lalu setiap hari ia melihat tanda-tanda yang luar biasa dan keberkahan dari bayi yang sedang diasuhnya itu. Dan semakin tinggi dan kuat rasa sayangnya kepada bayi itu. Hatta indaraja fī hullati ‘l-luthfi wa ‘l-amān wa dakhala bayna ikhwatihī ma`a ‘sh-shibyān Hingga bayi asuhannya itu semakin besar dan sehat sejahtera dan dapat

Hal | 93


bergaul dengan saudara-saudara sesusuannya yang lain dan anak-anak yang sebaya dengannya. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Fa-baynamā ‘l-habību shalla ‘lLāhu `alayhi wa sallama dāta yawmin nā’in `ani ‘l-awthān, idz aqbala `alayhi tsalātsatu nafarin, ka-anna wujūhahumu ‘sy-syamsu wa ‘l-qamar Pada suatu hari, ketika Sang Kekasih (s) sedang berada jauh dari perkampungannya, tiba-tiba datanglah tiga orang yang wajahnya sangat tampan bagaikan matahari dan rembulan. Fa ‘n-thalaqa ‘sh-shibyānu harabā wa waqafa ‘n-nabiyyu

Hal | 94


shalla ‘l-Lāhu `alayhi wa sallama muta`ajjibā Semua temannya melarikan diri ketakutan, sedangkan Nabi (s) berdiri dengan rasa kagum dan heran (melihat ketampanan mereka yang luar biasa). Fa’adhja`ūhu `alā ‘l-ardhi idhjā`ā khafīfā wa syaqqū bathnahu syaqqan lathīfā Kemudian mereka membaringkan Nabi (s) di tanah dengan hati-hati dan lemah lembut, kemudian membelah dadanya dengan tanpa rasa sakit sedikit pun. Tsumma akhrajū qalba sayyidi waladi `Adnān, wa syarahūhu bi sikkīni ‘l-ihsān wa naza`ū minhu hazh-zha ‘sy-syaythān wa

Hal | 95


mala’ūhu bi ‘l-hilmi wa ‘l-`ilmi wa ‘l-yaqīni wa ‘r-ridhwān Mereka mengeluarkan kalbu dari ‘Penghulu anak cucu Adnan’ ini, mereka membedahnya dengan penuh teliti, lalu mereka membuang dari kalbu itu sesuatu yang menjadi bisikan Setan dan mengisinya dengan kesabaran, ilmu pengetahuan, keyakinan dan keridaan. Wa a `ādūhu ilā makānihī faqāma ‘l-habību shalla ‘l-Lāhu `alayhi wa sallama sawiyyan kamā kān Kemudian mereka mengembalikannya ke tempat semula dan Sang Kekasih (s) pun bangun dan berdiri kembali seperti semula.

Hal | 96


Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Fa-qālati ‘l-malā’ikah: yā habība ‘r-rahmān, law `alimta mā yurādu bika mina ‘l-khayr, la`arafta qadra manzilatika `ala ‘l-ghayr, wa azdadta farahan wa surūra, wa bahjatan wa nūra Lalu para malaikat itu berkata, “Wahai Sang Kekasih Allah Yang Maha Pemurah, seandainya engkau mengetahui tujuan baik Allah kepadamu, pasti engkau akan mengetahui ketinggian derajatmu yang melebihi makhluk lainnya. Dan hatimu akan bertambah gembira dan bahagia, semakin riang dan bercahaya.” Yā Muhammadu absyir faqad nusyirat fi ‘l-kā’ināti a`lāmu `ulūmik, wa tabāsyarati ‘l-

Hal | 97


makhlūqātu bi-qudūmik, wa lam yabqa syay’un mimmā khalaqa ‘lLāhu ta`ālā illā jā’a li’amrika thā’i`ān wa li-maqālatika sāmi`ā "Wahai Muhammad (s), bergembiralah! Karena sesungguhnya pengetahuan mengenai kedatanganmu telah disebarkan di antara ‘para pengibar bendera dari seluruh makhluk’. Seluruh makhluk akan menyambut kedatanganmu dengan riang gembira. Dan setiap makhluk yang diciptakan Allah akan mengetahui kepemimpinanmu, mematuhi perintahmu dan mendengarkan sabdamu.” Fa-saya’tīka ‘l-ba`īr bidzimāmika yastajīr, w’adhdhabbu wa’l-ghazālah yasyhadāni laka bi ‘r-risālah

Hal | 98


“Dan unta akan datang kepadamu, memohon pertolongan dan perlindungan padamu. Dhab (sejenis biawak) dan kijang akan menyaksikan kerasulanmu.” Wa ‘sy-syajaru wa ‘l-qamaru wa ‘dz-dzi’bu, yanthiqūna binubuwwatika `an qarīb “Dan pepohonan, rembulan dan serigala, tidak lama lagi juga akan bertutur menyatakan kenabianmu.” Wa markabuka ‘l-burāq ilā jamālika musytāq “Dan Buraq yang akan menjadi tungganganmu senantiasa rindu ingin menatap keindahan wajahmu.” Wa Jibrīlu syāwūsu mamlakatika qad a`lana bi-dzikrika fi ‘l-āfāq

Hal | 99


“Dan Jibril (a), sebagai menteri bagi kerajaanmu, telah mendeklarasikan (kehadiranmu) dan menyebutkan namamu di seluruh penjuru cakrawala.” Wa ‘l-qamaru ma’mūrun laka bi ‘l-insyiqāq “Dan rembulan akan diperintahkan pula untuk terbelah dua untukmu.” Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Wa kullu man fi ‘l-kawni mutasyawwiqun li zhuhūrik muntazhirun li ‘isyrāqi nūrik Seluruh makhluk di alam semesta menantikan dan merindukan kemunculanmu. Harapan mereka adalah melihat kecemerlangan pancaran cahayamu.

Hal | 100


Fa baynamā ‘l-habību shalla ‘lLāhu `alayhi wa sallama munshitun li samā`i tilka ‘lasybāh, wa wajhuhu mutahallilun ka-nūri ‘sh-shabāh Ketika Sang Kekasih (s) terdiam mendengarkan kata-kata malaikat itu, wajahnya berseri-seri laksana cahaya pagi. Idz aqbalat Halīmatu mu`linatan bi ‘sh-shiyāh taqūlu: wa aghrībāh! Fa-qālati ‘l-malā’ikah: yā Muhammad, mā anta bigharīb, bal anta min ‘a-Llāhi qarīb wa anta lahu shafiyyun wa habīb Tiba-tiba datanglah Halimah mencaricarinya dengan berteriak-teriak dan berkata, “Kasihan, betapa jauhnya

Hal | 101


anak ini!” Lalu para malaikat berkata, “Wahai Muhammad (s), engkau tidak jauh, engkau dekat dengan Allah dan engkau adalah sahabat pilihan-Nya dan orang yang dicintai-Nya.” Qālat Halīmah: wā wahīdāh! Fa qālati ‘l-malā’ikah: yā Muhammad, mā anta bi wahīd bal anta shāhibu ‘t-ta’yīd wa anīsuka ‘l-Hamīdu ‘l-Majīd wa ikhwānuka mina ‘l-malā’ikati wa ahli ‘t-tawhīd Kemudian Halimah berkata lagi, “Kasihan anak ini sendirian!” Para malaikat berkata, “Wahai Muhammad (s)! Engkau tidaklah sendiri, bahkan engkau adalah orang yang penuh dengan dukungan. Penghiburmu adalah Zat Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia dan teman-temanmu adalah para malaikat dan mereka yang percaya dengan Keesaan Allah.”

Hal | 102


Qālat Halīmah: wā yatīmāh! Faqālati ‘l-malā’ikah: lilāhi darruka min yatīm, fa inna qadraka `ind‘a-Llāhi `azhīm Kemudian Halimah berkata lagi, “Kasihan anak yatim ini!” Para malaikat berkata, “Betapa terpujinya engkau di antara anak-anak yatim! Karena sesungguhnya derajatmu di Sisi Allah adalah sangat agung.” Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Fa-lammā ra’athu Halīmatu sāliman mina ‘l-ahwāl raja`at bihī masrūratan ila ‘l-athlāli tsumma qash-shat khabarahu `alā ba`dhi ‘l-kuhhān Ketika Halimah melihat bahwa anak yang diasuhnya itu selamat dari bahaya, ia membawanya pulang ke

Hal | 103


rumah dengan lega dan gembira. Kemudian ia menceritakan kejadian itu kepada beberapa al-kahin (tukang tilik). Wa a`ādat `alayhi mā tamma min amrihī wa mā kān fa-qāla lahu ‘l-kāhinu: yābna zamzama wa ‘l-maqām wa ‘r-rukni wa ‘lbayti ‘l-harām afī ‘l-yaqazhati ra’ayta hadzaa am fi’l-manām? Ia mengisahkan pada pendeta itu mengenai apa yang terjadi pada Nabi (s). Lalu tukang tilik itu berkata, “Wahai pangeran dari Telaga Zamzam dan Maqam Ibrahim; pangeran dari Rukun Yamani dan al-Baitul Haram! Apakah engkau dalam keadaan terjaga ketika mengalami kejadian itu, atau dalam keadaan tertidur?”

Hal | 104


Fa-qāla: bal wa hurmati ‘l-maliki ‘l-`alām, syāhadtuhum kifāhan lā asyukku fii dzālika wa lā udhām Kemudian Nabi (s) menjawab, “Demi kehormatan Maharaja alam semesta, aku melihatnya dengan jelas dan tidak ada keraguan mengenai kejadian itu, dan itu bukanlah tipuan.” Fa-qāla lahu ‘l-kāhinu: absyir ayyuhā ‘l-ghulām fa anta shāhibu ‘l a`lāmi wa nubuwwatuka li ‘lanbiyā’i quflun wa khitām, `alayka yanzilu Jibrīl wa `alā bisāthi ‘l-qudsi yukhāthibuka ‘lJalīl wa man dza ‘l-ladzī yahshuru mā hawayta mina ‘ttafdhīl wa `an ba`dhi washfi ma`nāka yaqshuru lisānu ‘lmādihi ‘l-muthīl Lalu tukang tilik itu berkata, “Berbahagialah nak! Karena engkau

Hal | 105


adalah “Pemimpin seluruh Umat”. Kenabianmu merupakan kunci dan penutup semua kenabian. Malaikat Jibril (a) akan turun kepadamu, dan di atas hamparan kudus dan suci, Allah Yang Maha Agung akan berbicara kepadamu. Siapa yang mampu menghitung segala keutamaan yang engkau miliki? Sedangkan lidah orang-orang yang memuji dan menyanjungmu saja tidak sanggup menggambarkan bahkan sebagian kecil saja dari keistimewaanmu.” Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Wa kāna shalla ‘l-Lāhu `alayhi wa sallama ahsana ‘n-nāsi khalqan wa khuluqan, wa ahdāhum ila ‘l-haqqi thuruqan wa kāna khuluquhu ‘l-Qur’ān

Hal | 106


Ketahuilah bahwa Nabi (s) adalah sebaik-baik manusia, baik fisik maupun akhlaknya, yang paling mengetahui jalan-jalan kebenaran. Akhlaknya adalah apa yang ada di dalam al-Qur’an. Wa syīmatuhu ‘l-ghufrān, yanshahu li ‘l-insān wa yafsahu fī ‘l-ihsān, wa ya`fū `ani ‘dz-dzanbi idzā kāna fī haqqihī wa sababih Sifatnya senantiasa memaafkan, memberi nasihat yang tulus kepada manusia dan melakukan kebaikan, serta senantiasa memaafkan kesalahan orang lain—jika itu berada dalam kapasitasnya. Fa idzaa dhuyyi`a haqqu ‘l-Lāhi lam yaqum ahadun li-ghadhabih, man ra’āhu badīhatan hābah, wa idzā da`āhu ‘l-miskīnu ajābah

Hal | 107


Namun apabila hak-hak Allah terlupakan, tiada yang sanggup berdiri menghadapi kemarahannya. Siapa pun yang pertama kali melihatnya, secara naluriah akan menghormatinya. Ketika orang miskin memanggilnya, beliau (s) selalu menjawabnya. Yaqūlu ‘l-haqqa wa law kāna murran, wa lā yudhmiru li muslimin ghisy-syan wa lā dhurran, Beliau (s) mengatakan kebenaran walaupun itu pahit dan beliau (s) tidak pernah menyembunyikan apa-apa dari kaum Muslim, tidak pernah menipu atau menyakiti. Man nazhara fii wajhihii `alima annahu laysa bi-wajhi kadzdzābin wa kāna shalla ‘l-Lāhu

Hal | 108


`alayhi wa sallama laysa bighammāzin wa lā `ayyāb Siapapun yang melihat wajahnya, pasti akan mengenal bahwa beliau (s) bukanlah seorang pendusta. Sesungguhnya, beliau (s) tidak pernah mengkritik atau mempermalukan orang lain. Idzā surra fa-ka’anna wajhahu qith`atu qamarin, wa idzā kallama ‘n-nāsa fa-ka’annamā yajnūna min kalāmihi ahlā tsamar Bila beliau (s) sedang gembira, wajahnya berseri-seri bagaikan bulan sabit. Ketika beliau (s) berbicara, kata-katanya tampak bagaikan orangorang sedang memetik buah-buahan yang manis dari mulutnya.

Hal | 109


Wa idzaa tabassama tabassama `an mitsli habbi ‘l-ghamām, wa idzā takallama faka’annamā ‘ddurru yasquthu min dzālika ‘lkalām, wa idzā tahaddatsa faka’anna ‘l-miska yakhruju min fīh Ketika beliau (s) tersenyum, gigigeliginya yang putih tampak bagaikan gumpalan awan. Ketika beliau (s) berbicara, kata-katanya bagaikan butir-butir mutiara yang berjatuhan dari ucapannya. Ketika beliau (s) berbicara tentang sesuatu, bagaikan ada wangi kasturi yang harum terpancar dari mulutnya. Wa idzā marra bi tharīqin `urifa min thībihī annahū qad marra fīh Setiap beliau (s) melewati tempat tertentu, beliau (s) meninggalkan

Hal | 110


semerbak wangi tubuhnya, dan orang akan tahu bahwa beliau (s) pernah melalui jalan tersebut. Wa idzā jalasa fī majlisin baqiya thībuhū fīhi ayyaman wa in taghayyab, wa yūjadu minhu ahsanu thībin wa in lam yakun qad tathayyab Setiap beliau (s) duduk di dalam suatu majelis, semerbak wanginya masih tercium hingga beberapa hari. Wewangian terbaik senantiasa tercium bersamanya, walaupun beliau (s) tidak memakai wewangian tertentu. Wa idzā masyā bayna ash-hābihi fa-ka’annahu ‘l-qamaru bayna ‘nnujūmi ‘z-zuhr Tatkala beliau (s) berjalan di antara para Sahabatnya, itu bagaikan

Hal | 111


rembulan dikelilingi oleh bunga-bunga bintang yang gemerlap. Wa idzā aqbala laylan fa-ka’anna ‘n-nāsa min nūrihī fī awāni ‘zhzhuhr Setiap kali beliau (s) mendatangi suatu tempat di malam hari, cahayanya tampak jelas dan orang-orang merasa seolah-olah mereka berada di siang hari. Wa kāna shalla ‘l-Lāhu `alayhi wa sallama ajwada bi ‘l-khayri mina ‘r-rīhi ‘l-mursalah, wa kāna yarfuqu bi ‘l-yatīmi wa ‘l-armalah Dan beliau (s) lebih cepat daripada angin yang bertiup dalam berbuat kebaikan dan beliau (s) senantiasa lemah lembut dan ramah terhadap anak-anak yatim dan janda-janda.

Hal | 112


Qāla ba`dhu wā shifīhī mā ra’aytu min dzī limmatin sawdā’a fī hullatin hamrā, ahsana min Rasūlillāhi shalla ‘l-Lāhu `alayhi wa sallam Beberapa Sahabat (r) yang menggambarkan beliau (s) berkata, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih menarik dengan turban hitam dan jubah merah daripada beliau (s), Rasulullah (s).” Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih Wa qīla li-ba`dhihim: ka’anna wajhahu ‘l-qamar, fa qāla bal adhwā’u mina ‘l-qamar, idzā lam yahul dūnahū ‘l-ghamāmu, qad ghasyiyahu ‘l-jalāl, w’antaha ilayhi ‘l-kamāl

Hal | 113


Pernah ditanyakan kepada seorang Sahabat, “Benarkah wajah beliau (s) indah bagaikan bulan purnama?” Jawabnya, “Bahkan lebih bercahaya daripada rembulan yang tidak ditutupi awan.” Beliau (s) benar-benar diselubungi kewibawaan yang hebat dan memiliki kesempurnaan tertinggi. Qāla ba`dhu wa shifīhi: mā ra’aytu qablahū wa lā ba`dahū mitslah Salah seorang yang menggambarkannya berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang yang setara dengan beliau (s) baik sebelum maupun setelahnya.” Fa ya`jizu lisānu ‘l-balīghi idzā arāda an yuhshiya fadhlah Bahkan lidah yang paling fasih pun tidak mampu menggambarkan

Hal | 114


keistimewaannya. Fa-subhāna man khash-shahū shalla ‘l-Lāhu `alayhi wa sallama bi ‘l-mahalli ‘l-asnā, wa asrā bihī ilā qābi qawsayni aw adnā Mahasuci Allah, Zat yang telah menempatkan beliau (s) dalam kedudukan yang tertinggi dan bercahaya dan Yang telah membawanya berjalan di waktu malam hingga sampai ke tempat yang sangat dekat dengan-Nya, sejarak dua busur panah atau lebih dekat lagi. Wa ayyadahū bi ‘l-mu`jizāti ‘l-latī lā tuhshā Dan mendukungnya dengan mukjizat yang tak terhitung banyaknya.

Hal | 115


Wa awfāhu min khishāli ‘lkamāli mā yajillu an yustaqshā, wa a`thāhu khamsan lam yu`thihinna ahadan qablah Dan melengkapkannya dengan kecakapan yang sempurna yang sulit untuk digambarkan seluruhnya dan memberinya lima keistimewaan yang belum pernah diberikan kepada siapa pun sebelumnya. Wa ātāhu jawāmi`a ‘l-kalimi falam yudrik ahadun fadhlah Dan mengaruniainya kepandaian dalam merangkaikan kalimat yang sedikit ucapannya, namun sangat luas pengertiannya. Singkatnya, tiada seorang pun yang dapat mencapai segala kelebihan dan keistimewaannya itu.

Hal | 116


Wa kāna lahū fī kulli maqāmin maqāl, wa li-kulli kamālin minhu kamāl Dan beliau (s) senantiasa memiliki ucapan yang sesuai dan tepat untuk setiap peristiwa dan kejadian. Dan setiap kesempurnaan berasal dari kesempurnaannya. Lā yahūru fī su’ālin wa lā jawāb, wa lā yajūlu lisānuhū illa fī shawāb Beliau (s) tidak pernah menolak pertanyaan apa pun dan tidak pernah mengelak untuk memberi jawaban. Dan lidahnya tidak pernah mengucap, melainkan untuk ucapan yang benar. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih

Hal | 117


Wa mā `asā an yuqāla fī man wa shafahu ‘l-Qur’ān, wa a`raba `an fadhā’ilihī ‘t-Tawrātu wa ‘l-Injīlu wa ‘z-Zabūru wa ‘l-Furqān Apakah lagi yang dapat dikatakan mengenai seorang manusia yang telah disifatkan kemuliaan akhlaknya oleh al-Qur’an, yang kelebihannya telah dijelaskan dalam Taurat, Injil, Zabur dan al-Fur’qan? Wa jama`a ‘l-Lāhu lahū bayna ru’yatihī wa kalāmihi, wa qarana ‘s-mahū ma`ā ‘s-mihī tanbīhan `alā `uluwwi maqāmih Dan yang telah Allah karuniakan dengan dua anugerah terhebat, yakni melihat Zat-Nya dan berbicara langsung dengan-Nya. Allah telah memuliakannya dengan menyandingkan nama beliau (s) bersama Nama-Nya untuk

Hal | 118


memperlihatkan dan membuktikan ketinggian martabatnya. Wa ja`alahū rahmatan lil `ālamīna wa nūrān, wa malā’a bi mawlidihi ‘l-qulūba surūrā Dan Allah telah menjadikannya sebagai rahmat dan cahaya bagi seluruh alam semesta dan telah mengisi semua kalbu dengan kegembiraan karena kelahirannya. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih

Hal | 119


Qasidah Yā Badra Tim Yā Rabbanā yā Rabbanā yā Rabbanā Bārik wa shalli `alā ‘n-nabiyy wa āli Yā badra timmin hāza kulla kamāli Mādzā yu`ab-biru `an `ulāka maqālī Wahai bulan purnama yang telah mencapai segala kesempurnaan! Bagaimana aku dapat mengungkapkan ketinggian derajatmu. Anta ‘l-ladzī asyraqta fī ufuqi ‘l`ulā Fa-mahawta bi ‘l-anwāri kulla dhalāli Engkaulah yang telah terbit di ufuk ketinggian dan kemuliaan

Hal | 120


Dengan cahayamu, engkau lenyapkan segala kesesatan. Wa bika astanāra ‘l-kawnu yā `alama ‘l-hudā Bi ‘n-nūri wa ‘l-in`āmi wa ‘lifdhāli Wahai ‘Panji Petunjuk’, karena engkau alam semesta menjadi terangbenderang dengan cahaya, kenikmatan dan berbagai karunia. Shalla `alayka ‘l-Lāhu Rabbī dā’imān Abadan ma`a ‘l-ibkāri wa ‘lĀshāli Semoga Allah Tuhan kami, melimpahkan rahmat kepadamu Selama-lamanya, di waktu pagi dan petang, sepanjang masa.

Hal | 121


Wa `alā jamī`i ‘l-āli wa ‘l-ashhābi man Qad khash-shahum Rabbu ‘l-`ulā bi-kamāli Dan kepada seluruh keluarga dan sahabatmu, Tuhan Yang Maha Tinggi mengistimewakan mereka dengan kesempurnaan. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alayh wa `alā ālih

Hal | 122


Pujian Penutup

Alhamduli ‘l-Lāhi Rabbi ‘l`ālamīn. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik `alā Sayyidinā Muhammadin wa `alā ālihī wa shahbihī ajma`īn. Ja`alanā ‘lLāhu wa iyyākum mimman yastawjibu syafā`atahū wa yarjū mina ‘l-Lāhi rahmatahū wa ra’fatah Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta alam. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kami Nabi Muhammad (s) dan keluarganya serta sahabatnya semua. Ya Allah, jadikanlah kami dan semua yang hadir termasuk ke dalam golongan yang mendapat syafaatnya dan kami senantiasa mengharapkan rahmat dan kasih-Nya.

Hal | 123


Allāhumma bi hurmati hādza ‘nnabiyyi ‘l-karīmi wa ālihī wa ashhābihi ‘s-sālikīna `alā manhaji ‘lqawīmi, ij`alnā min khiyāri ummatihī, wa ‘s-turnā bi dzayli hurmatihī, w’ahsyurnā ghadan fī zumratihī, w’asta`mil alsinatanā fī madhihī wa nushratih, wa ahyinā mutamassikīna bi sunnatihī wa thā`atih wa amitnā ‘l-Lāhumma `alā hubbihī wa jamā`atih Ya Allah, dengan kehormatan Nabi (s) yang mulia ini, dan keluarganya serta para sahabatnya yang telah menempuh jalan yang lurus, jadikanlah kami sebaik-baik umatnya (pada Hari Kebangkitan) dan tutuplah keburukan kami dengan kesuciannya. Kumpulkanlah kami ke dalam golongannya kelak. Gunakanlah lidah kami dalam memujinya dan membelanya. Hidupkanlah kami

Hal | 124


dengan memegang teguh Sunnahnya dan taat kepadanya, dan matikanlah kami dalam keadaan mencintainya dan mencintai umatnya. Allāhumma adkhilnā ma`ahū ‘ljannata fa-innahū awwalu man yadkhuluhā, wa anzilnā ma`ahū fī qushūrihā, fa innahū awwalu man yanziluhā, w’ar-hamnā yawma yasyfa`u li ‘l-khalā-iqi fatarhamuhā Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam surga bersama dengannya, karena sesungguhnya beliaulah yang pertama yang akan memasukinya. Tempatkanlah kami di dalam mahligai surga bersama dengannya, karena sesungguhnya beliaulah yang pertama yang akan menempatinya. Dan kasihanilah kami pada saat beliau (s) akan memberikan syafaatnya kepada seluruh makhluk,

Hal | 125


karena Engkau menyayangi mereka semua. Allāhumma ‘r-zuqnā ziyāratahū fī kulli sanah, wa lā taj`alnā mina ‘l-ghāfilīna `anka wa lā `anhu qadra sinah Ya Allah, berikanlah kami rezeki untuk dapat menziarahinya pada setiap tahun, dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk golongan orang-orang yang lalai dalam mengingat-Mu dan mengingat baginda Rasul walau hanya sekejap mata. Allāhumma lā taj`al fī majlisinā hādzā ahadan illā ghasalta bimā’i ‘t-tawbati dzunūbah, wa satarta bi ridā’i ‘l-maghfirati `uyūbah Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dalam majelis kami ini seorang pun

Hal | 126


melainkan Engkau telah basuh dosadosanya dengan ‘air tobat’ dan telah Engkau tutupi segala keburukannya dengan ‘selendang pengampunan-Mu’. Allāhumma innahū kāna ma`anā fī ‘s-sanati ‘l-mādhiyati ikhwān Ya Allah, sesungguhnya pada tahun yang lalu, masih ada bersama kami beberapa saudara kami… Rahimahumu ‘l-Lāh Semoga Allah merahmati mereka Mana`ahumu ‘l-qadhā’u `ani ‘lwushūli ilā mitslihā, fa lā tahrimhum tsawāba hādzihi ‘ssā`ati wa fadhlahā Yang kali ini mereka tidak dapat menghadiri majelis pada tahun ini karena takdir-Mu, janganlah Engkau halangi mereka untuk menerima

Hal | 127


berkah dan pahala dan kelebihan yang ada pada waktu ini. Allāhumma ‘r-hamnā idzā shirnā min ash-hābi ‘l-qubūr, wa wa fiqnā li`amalin shālihin yabqā sanāhu `alā mamarri ‘d-duhūr Ya Allah, sayangilah kami bila kami nanti menjadi penghuni kubur, dan berikanlah kekuatan kepada kami untuk melakukan amal kebaikan yang akan terus bercahaya sepanjang masa. Allāhumma ‘j-`alnā li’ālā’ika dzākirīn, wa lina`mā’ika syākirīn, wa li-yawmi liqā’ika mina ‘dz-dzākirīn, wa ahyinā bithā`atika masyghūlīn, wa idzā tawaffaytanā fa-tawaffanā ghayra maftūnīn, wa lā makhdzūlīn, wakhtim lanā minka bi khayrin ajma`īn

Hal | 128


Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang senantiasa ingat dengan karunia-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan mengingati Hari Perjumpaan dengan-Mu. Hidupkanlah kami dalam keadaan senantiasa sibuk dengan ketaatan kepada-Mu. Bila Engkau matikan kami kelak, maka ambillah nyawa kami tanpa godaan dan maksiat apapun. Dan akhirilah umur kami semua dengan kebaikan dari sisi-Mu. Allāhumma ‘k-finā syarra ‘zhālimīn (3 marrāt) Ya Allah, peliharalah kami dari kejahatan orang-orang yang zalim (3 kali) Waj`alnā min fitnati hādzihi ‘ddunyā sālimīn

Hal | 129


Dan jadikanlah kami selamat dari godaan kehidupan duniawi ini. Allāhumma ‘j-`al hādza ‘r-rasūla ‘l-karīma lanā syafī`an, w’arzuqnā bihī yawma ‘lqiyāmati maqāman rafī`a Ya Allah, jadikanlah Rasul (s) yang mulia ini sebagai pemberi syafaat bagi kami. Dan karena syafaatnya, berikanlah kepada kami kedudukan yang tinggi pada Hari Kiamat nanti. Allāhumma ‘sqinā min hawdhi nabiyyika Muhammadin shalla ‘lLāhu `alayhi wa sallama syarbatan hanī’atan marī’atan lā nazhma’u ba`dahā abadan, wa ‘h-syurnā tahta liwā’ihī ghadan Ya Allah, puaskanlah dahaga kami dengan meminum dari telaganya Nabi Muhammad (s) dengan minuman

Hal | 130


yang sedap dan lancar, yang setelahnya kami tidak akan merasa dahaga lagi, selama-lamanya. Dan kumpulkanlah kami di bawah benderanya nanti. Allāhumma ‘gh-firlanā bihī wa liābā’inā wa li-ummahātinā, wa limasyāyikhinā wa li-mu`allimīnā wa dzawī ‘l-huqūqi `alaynā, wa liman ajrā hādza ‘l-khayra fī hādzihi ‘l-laylah, wa li-jamī`i ‘lmu’minīna wa ‘l-mu’mināt, wa ‘lmuslimīna wa ‘l-muslimāt, ‘lahyā’i minhum wa ‘l-amwāt Ya Allah, dengan berkat kemuliaan Nabi Muhammad (s), ampunilah kami, ayah-ayah kami, ibu-ibu kami, para masyaikh kami, guru-guru yang telah mengajari kami, orang-orang yang terkait dengan kami, orang-orang yang telah mempersiapkan acara pada malam ini, dan seluruh orang yang

Hal | 131


beriman, laki-laki dan perempuan, dan orang-orang Islam, laki-laki dan perempuan, yang masih hidup dan yang telah tiada. Innaka qarībun mujību ‘dda`awāt, wa qādhiya ‘l-hājāt, wa ghāfirū ‘dz-dzunūbi wa ‘lkhathī’at, yā Arhama ‘r-Rāhimīn Sesungguhnya Engkau adalah Zat yang sangat dekat rahmat dan bantuan-Nya, Yang memperkenankan segala doa, Yang menunaikan segala hajat dan Yang mengampunkan segala dosa dan kesalahan. Wahai Zat Yang Maha Penyayang dari semua penyayang. Wa shalla ‘l-Lāhu `alā Sayyidinā Muhammadin wa `alā ālihī wa shahbihī wa sallam. Subhāna rabbika rabbi ‘l-`izzati `ammā yashifūn, wa salāmun `ala ‘l-

Hal | 132


mursalīn, wa ‘l-hamdulillāhi rabbi ‘l-`ālamīn Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad (s) dan seluruh kelurga serta para sahabatnya. Mahasuci Tuhanmu yang mempunyai kemegahan, dari apa yang mereka sifatkan. Salam sejahtera atas para Rasul dan segala puji hanyalah bagi Allah, Tuhan semesta alam. Al-Fātihah

Hal | 133


Mawlid ad-Dayba'i