Page 1

LIKA - LIKU PENGEMBANGAN KUALITAS DOSEN

JUMLAH DOSEN DAN MAHASISWA MASIH TIMPANG

IKD TAK SEKEDAR FORMALITAS, DOSEN JUGA PERLU DIKRITIK

Edisi November 2017

SLiLiT

ARENA

Jelas & Mengganjal


Karkatur Doel di Ilustrasi Ayi

Daftar isi SLiLiT Arena Laporan Utama

07 11 15

LIKA - LIKU PENGEMBANGAN KUALITAS DOSEN

JUMLAH DOSEN DAN MAHASISWA MASIH TIMPANG

IKD TAK SEKEDAR FORMALITAS, DOSEN JUGA PERLU DIKRITIK

Edisi November 2017

SLiLiT

ARENA

Jelas & Mengganjal

LIKA - LIKU PENGEMBANGAN KUALITAS DOSEN

PONTANG-PANTING PENGEMBANGAN DOSEN

JUMLAH DOSEN DAN MAHASISWA MASIH TIMPANG IKD TAK SEKEDAR FORMALITAS, DOSEN JUGA PERLU DIKRITIK

05 KANCAH BAPAK IBU GURU (DOSEN), DIDIKLAH KITA MENJADI “GILA” 26 WAWANCARA MAHASISWA BUKAN ANAK KECIL 28 LEBIH DEKAT UBAH PERSPEKTIF MELALUI SEKOLAH GENDER 30 FEATURE TRADISI “NGOPI” YANG TAK LEKANG 32 OPINI HILANGNYA KAMPUS BERKESADARAN SOSIAL 34 RESENSI MEMERDEKAKAN PIKIRAN JUGA TINDAKAN

www.lpmarena.com

Universitaria

18 UKT BELUM RAMAH DIFABEL MINIM SARANA DAN PEMBERDAYAAN, 22 UKM DITUNTUT BERPRESTASI DITERBITKAN OLEH: Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) ARENA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

PELINDUNG: Allah SWT // PENASEHAT: Rektor UIN Sunan Kalijaga // PEMBINA: Dr. Abdur Rozaki // DEWAN REDAKSI: Sabiq Ghidafian Hafidz, Lugas Subarkah // PEMIMPIN UMUM: Abdul Rohim // WAKIL PEMIMPIN UMUM: M. Abdul Rouf // SEKRETARIS UMUM: Lailatus Sa’adah // BENDAHARA: Alifah Amalia // PEMIMPIN REDAKSI: Isma Swastiningrum // REDAKTUR ONLINE: Wulan Agustina Pamungkas //REDAKTUR SLiLiT: Mujaeni // REDAKTUR Artistik: Agus Teriyana, Abdul Rohim // STAF REDAKSI: Ilham Habibi, Afin Nur Fariha, Mar’atus Shalihah, Rodiyanto, Ilham Rusdy, Anis N Nadhiroh, Rahmat Hidayat, Fikriyatul Islami Mujahidiyah, Muh. Abdul Qoni Akmaluddin, Khaerul Muawan, Dadan Maulana, Muyasharoh, Nia Kurniati Azizah, Rosi Salvajae, A. Hakiki, Hedi, Aliviatun N. // FOTOGRAFER: Mujaeni // DIREKTUR PERUSAHAAN & PRODUKSI: Agus Teriyana // KOORDINATOR PUSAT DATA & ANALISA (PUSDA): Dewi Anggraini // KOORDINATOR JARINGAN & KOMUNIKASI (JARKOM): Syakirun Ni’am // KOORDINATOR PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA (PSDM): Ajid Fu’ad Muzaki Kantor Redaksi: Student Center Lantai 1 No. 1/14 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Laksda Adisucipto Yogyakarta 55281 // Telp.:+62858 788 067 11(Agus) // E-mail: lpm_arena@yahoo.com // Website: www.lpmarena.com // Fanspage: LPM Arena // Instagram: @lpmarena // Twitter: PersMaArena

SLILIT ARENA MENGUNDANG SEMUA KALANGAN AKADEMIKA UIN SUNAN KALIJAGA UNTUK MENGIRIMKAN TULISAN MAUPUN ARTIKEL KE ALAMAT REDAKSI LPM ARENA. BAGI PIHAK YANG MERASA TIDAK PUAS DENGAN PEMBERITAAN SLILIT ARENA,BISA MENULISKAN HAK JAWABNYA, ATAU DATANG LANGSUNG KE KANTOR REDAKSI LPM ARENA GUNA BERDISKUSI LEBIH LANJUT. WARTAWAN SLILIT ARENA DIBEKALI TANDA PENGENAL DALAM SETIAP PELIPUTAN DAN TIDAK MENERIMA AMPLOP DALAM BENTUK APAPUN.


M

enurut sebagian orang, menurunnya kualitas keilmuan mahasiswa disebabkan oleh pudarnya semangat belajar dan meneliti di kalangan pelajar (dalam konteks ini adalah mahasiswa). Sekilas konsep ini tampak benar, namun membebankan kesalahan sepenuhnya kepada mahasiswa adalah pandangan yang naif. Perlu pengamatan yang jeli untuk melihat secara utuh siapa yang sebenarnya lebih patut untuk memikul tanggung jawab atas kondisi ini. Untuk itu, mari kita simak pembahasan ringan berikut: Tongkat yang bengkok tidak akan pernah melahirkan bayangan yang lurus. Inilah mungkin peribahasa yang paling tepat untuk menggambarkan pengaruh karakter dosen terhadap kualitas mahasiswa. Dosen yang 'moodmoodan' tidak akan pernah melahirkan mahasiswa yang profesional. Dosen yang jarang masuk kelas tidak akan pernah melahirkan mahasiswa yang rajin kuliah. Dosen yang tidak tahan dengan kritikan tidak akan pernah melahirkan mahasiswa yang berdaya nalar kritis. Dosen yang tidak profesional (mood-moodan), selera mengajarnya biasanya tergantung pada kondisi hidup atau keluarganya. Ini membuat mahasiswa bimbingannya perlu mencari waktu yang tepat untuk dapat berkonsultasi. Alih-alih mendapat saran dan masukan yang baik, mahasiswa bisa saja mendapatkan omelan yang tidak jelas jika dosen yang bersangkutan sedang dalam kondisi bad mood, entah karena sedang ada masalah keluarga atau yang lainnya. Apapun alasannya, karakter dosen seperti ini tidak akan pernah bisa menjadi seorang pendidik yang sebenarnya. Dosen yang jarang masuk kelas atau masuk kelas dengan keterlambatan yang 'luar biasa' terkadang juga

membuat kami geli. Pasalnya, dosen semacam ini terkadang memanfaatkan berbagai macam alasan untuk dapat diterima, bisa jadi rapat, menghadiri undangan, mengisi acara dan lain sebagainya, yang –bagi kami, sekalipun alasan-alasan tersebut benar namun tetap tidak dapat membenarkannya untuk meninggalkan kewajibannya sebagai seorang pendidik. Beberapa di antaranya terkadang justru absen tanpa kabar, yang membuat kami harus menunggu selama berjam-jam di dalam kelas tanpa kejelasan. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa jadwal mahasiswa juga padat, namun bayangkan saja jika ada di antara mereka yang ternyata memiliki aktivitas yang jauh lebih penting dan berguna daripada hanya sekedar 'menunggu' sesuatu yang tidak jelas. Seorang dosen semestinya memiliki komitmen yang tinggi terhadap kesepakatan (jadwal) yang sudah dibuat jika ingin melahirkan anak didik dengan karakter yang serupa. Karakter dosen yang terakhir ini lebih menggelikan lagi. Bagaimana bisa sebuah Universitas yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berekspresi dapat meloloskan dosen 'cengeng' yang alergi terhadap kritikan. Tanpa mengurangi rasa hormat, tipe pendidik semacam ini sebenarnya lebih pantas menjadi guru SD atau PAUD dibanding seorang dosen. Disadari atau tidak, tipe dosen seperti ini dapat membunuh nalar mahasiswa yang tajam dan kritis. Hal ini disebabkan mahasiswa seringkali berada pada posisi yang dilema antara mengkritik atau manut saja jika ada hal yang salah pada dosen tersebut. Di satu sisi mereka percaya bahwa dosen bukan Tuhan yang tidak pernah berbuat salah. Pasal yang selama ini lumrah didengar mahasiswa bahwa dosen pasti benar adalah anekdot yang menyesatkan. Namun di sisi lain memilih untuk mengkritik sama saja dengan 'bunuh diri' yang konsekuensinya adalah nilai yang rendah atau kesulitan dalam memenuhi kewajibankewajiban akademik, seperti skripsi, makalah dan lainlain. Inilah mungkin yang membedakan budaya belajar kita dengan negara-negara maju. Semakin kita kritis terhadap pemikiran dosen, semakin kecil nilai yang kita dapatkan. Sementara di negara maju, semakin kritis, semakin tinggi nilai yang didapatkan. Akhirnya, saya tidak bermaksud untuk mengeneralisir kondisi di atas pada semua dosen. Sulit untuk kita ingkari bahwa selain banyaknya dosen yang tidak profesional, banyak juga dari mereka yang profesional dan memiliki kompetensi. Hanya saja, pihak birokrasi kampus perlu lebih selektif lagi dalam memilih tenaga pengajar jika ingin meningkatkan kualitas mahasiswanya. Pembaharuan sistem yang baru-baru ini diusulkan dalam rapat senat tidak akan berguna tanpa disertai dengan perubahan mental setiap elemen kampus. Pendidik dengan karakter di atas bukan hanya tidak berguna tapi juga dapat menjadi 'kanker mematikan' yang dapat membunuh karakter dan kepribadian mahasiswa. Oleh sebab itu, sebuah tongkat perlu dijaga dari 'lumut-lumut bersepatu' agar terlihat lurus dan tegak, karena sekali tongkat itu bengkok maka ia tidak akan dapat melahirkan bayangan yang lurus. Ade Sabda Galah, Mahasiswa Manajemen Keuangan Syariah FEBI UIN Sunan Kalijaga.

lpmarena.com- 03 -


REDAKSI

B

erbicara kampus tentu tidak terlepas dari peran dosen. Keberadaanya masih diamini sebagai subyek yang memiliki pengaruh signifikan dalam proses pembelajaran. Ia memiliki peran strategis dalam membangun pengetahuan kepada mahasiswa. Seringkali transformasi pengetahuan bergantung pada kapasitasnya, baik secara keilmuan maupun strategi pembelajaran yang diterapkan. Mahasiswa pun memiliki peran dalam menentukan jalannya proses pembelajaran. Ia memiliki posisi sebagai subyek yang dikembangkan. Terlalu naif rasanya, menuntut pembelajaran yang efektif, tapi dengan kondisi mahasiswa yang pasif, begitupun sebaliknya. Dosen dan mahasiswa mestinya menjadi jembatan atas pengetahuan yang dimiliki keduanya. Artinya, relasi diantaranya merupakan faktor penting dalam membangun atmosfer pembelajaran. Relasi tersebut juga dipengaruhi oleh banyaknya jumlah subjek yang terlibat di dalamnya. Menurut peraturan Kementrian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi, rasio dosen dan mahasiswa untuk perguruan tinggi negeri yakni setiap 1 dosen menangani 30 mahasiswa (1:30) untuk keilmuan eksakta. Sedangkan untuk keilmuan sosial idealnya 1 dosen menangani 45 mahasiswa (1:45). Namun tidak sedikit fakultas di UIN Sunan Kalijaga yang melebihi dari rasio tersebut. Sehingga tidak jarang, hal itu mengganggu jalannya proses transformasi keilmuan. Mulai dari kondisi kelas yang tak terkontrol sampai pada dosen yang mengajar tidak pada keilmuannya. Kurikulum menjadi landasan pembelajaran di kampus. Kemudian diturunkan melalui deretan mata

- 04 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

kuliah. Pertanyaannya, sejauh mana kurikulum itu mampu mengakomodir kebutuhan mahasiswa? Hal ini menjadi kegelisahan bersama di tengah carut marutnya kondisi pembelajaran kita saat ini. Saat kurikulum tidak sepenuhnya mengakomodir kebutuhan mahasiswa, dosen diharapkan lebih bisa mengerti kondisi peserta didiknya. Sebab pembelajaran idealnya berangkat dari keadaan materil mahasiswa. Mestinya dosen mampu membaca hal itu. Mengutip istilah Ki Hajar Dewantara, “Tut Wuri Handayani�, secara garis besar memiliki makna, seorang pengajar mestinya mampu memberikan dorongan serta arahan kepada peserta didiknya. Artinya pengajar haruslah berangkat dari minat dan bakat mahasiswa. Namun sayangnya tidak jarang dosen yang masih gagap memahami realitas tersebut. Sehingga kondisi kelas tidak menemukan relevansinya. Setiap lembaga dalam meningkatkan kapabilitasnya tentu membutuhkan evaluasi sebagai ruang mengoreksi diri. Baik secara kebijakan atau kerja-kerja yang telah dilakukan. Termasuk pada kinerja dosen. Setiap semester sekali, UIN Sunan Kalijaga rutin melakukan penyerapan aspirasi mahasiswa. Kebijakan tersebut terangkum dalam layanan Indeks Kuisioner Dosen (IKD). Setiap Mahasiswa diharuskan memberi penilaian terhadap kinerja dosen. Penilaian tersebut berupa angka-angka, bahkan juga komentar secara tertulis yang langsung ditujukan ke dosen yang bersangkutan. Jika di kelas mahasiswa tidak berani mengkritik dosen, tapi di IKD ia bebas melakukannya. Tanpa harus diselimuti rasa takut. Tidak jarang IKD menjadi ruang pengharapan mahasiswa untuk mendapatkan perubahan. Sudah seharusnya kampus memberi perhatian serius terhadap aspirasi yang terhimpun. Namun kita juga tak boleh tutup mata, di lapangan mahasiswa masih belum merasakan dampak signifikan dari aspirasi tersebut. Sehingga perlu rasanya pengawalan yang tersistematis terhadap feedback yang diberikan dosen terhadap suara mahasiswa yang disampaikan. Selain itu, pengembangan dosen menjadi sektor yang harus dan terus diperhatikan. Baik kaitannya dengan keilmuan maupun pengajaran. Mengacu pada tri darma perguruan, dosen tidak hanya dibebani pengajaran, tapi juga penelitian dan pengabdian. Meskipun begitu tidak sedikit dosen yang mengeluh terkait dengan dukungan kampus yang diberikan. Mulai dari administrasi yang terlalu rumit sampai pendanaan yang masih dirasa minim. Namun secara substansi, tri darma perguruan sejatinya harus berdampak pada mahasiswa pun masyarakat secara luas. Bukan semata hanya untuk kepentingan dosen secara pribadi, agar bisa melangkah ke jabatan yang lebih tinggi. Melainkan bentuk tanggung jawab sebagai seorang pengajar. Contohnya penelitian, seberapa banyak pun penelitian yang dilakukan, jika tidak memiliki dampak yang jelas terhadap mahasiswa hal ini akan menjadi sia-sia. Sehingga perlunya alat ukur yang jelas terkait dengan seberapa signifikan dampak tersebut bisa dirasakan. Membaca dosen hari ini rasanya masih jauh dari kata ideal. Sebab, tugas dosen bukan hanya masuk kelas, mengajar lalu dianggap tuntas. Namun lebih dari itu, perlunya penghayatan pada setiap laku yang dikerjakan dengan tujuan untuk menumbuhkembangkan setiap pribadi peserta didiknya. []


Oleh M. Abd Rouf

G

Dokumen Istimewa

uru, “di gugu lan di tiru (dipercayai dan dicontoh)”. Sebuah filosofi Jawa yang masih menyeruak di tengah masyarakat. Banyak di akar rumput mengumandangkan kata-kata tersebut dalam laku keseharian. Meskipun sekarang institusi pendidikan sudah mentransformasikan diri dalam pelbagai bentuk, pandangan tentang sosok guru yang jadi panutan bagaimana cara berdiri di atas tanah tetap saja dalam artinya yang asali. Bahwa guru adalah pembawa lilin bagi lorong gelap yang butuh cahaya. Sosok guru memang menjadi syarat mutlak pengetahuan bisa tertransformasi dalam diri. Ketidaktahuan tentang diri dan yang liyan menjadi keadaan awal yang dilalui. Selanjutnya pencarian secara naluriah akan muncul atas rangsangan keingintahuan dari penjumpaan mata pada dunia luas. Guru di sini memainkan perannya—dalam definisi kekinian—sebagai pemberi tahu serta pendidik bagi para pencari lilin—yang tersesat pikirnya. Bentuk dari si guru ini sendiri sudah banyak tereduksi dalam pelbagai jenis juga penyebutan. Ada pepatah yang mengatakan pengalaman adalah guru paling berharga. Selain itu ada yang meyakini betul bahwa buku adalah sumber ilmu pengetahuan. Hal itu tidak lain bermakna buku adalah guru. Serta alam semesta yang luas ini juga ternamakan menjadi guru. Sementara itu, banyak nama panggilan yang tersemat bagi guru. Mulai dari ustadz, ulama', kyai, dosen serta panggilan-panggilan lain yang menyesuaikan sosial-budaya berbagai daerah. Namun kesemuanya hanya masalah penyebutan. Meski arus peradaban global menjuru berbagai sudut bumi dengan membawa kebudayaan baru—serta dibarengi kekerasan juga—kebudayaan domestik dalam sejarah panjang umat manusia sampai saat ini, makna guru tetaplah sama ketika dia dikenal oleh manusia. Adalah ladang subur yang terhampar luas. Tempat cangkul membongkah tanah. Tempat benih tumbuh dan menumbuhi kehidupan manusia. Tentu yang menjadi harapan besar bagi kita adalah pendialogan pengetahuan oleh sang guru kepada manusia bisa menjadi alat humanitas peradaban. Alat pembumbung semangat bagi mereka yang dilemahkan zaman. Sebagai alat perjuangan ketika senapan dan meriam tak ada di tangan para kaum tertindas—dan bahkan yang paling parah yaitu tertindas akal budinya. Ki Hajar Dewantara sendiri telah mengkonsepkan ide

lpmarena.com- 05 -


revolusionernya yang menempatkan proses mendidik sebagai upaya melepaskan perbudakan dalam diri menuju kemerdekaan mutlak dengan cara memanusiakan manusia. Prosesnya bisa mengaplikasikan apa yang telah diwacanakan oleh Paulo Freire, yaitu dengan cara menyekutukan kondisi lingkungan tempat kegiatan mendidik itu dilaksanakan secara dialogis. Gejolak politik, kondisi sosial kemasyarakatan, sektor ekonomi warga yang terkadang timpang harus disertakan. Entitas kebudayaan pun baik yang sekarang berlangsung atau yang telah dahulu hadir—yang telah banyak tergilas arus global—juga diwajibkan terangkul oleh tangan kreatif para pendidik. Dunia mesti digelar selebar mungkin di hadapan si murid terdidik tanpa dikte ketat yang bisa menjurus ke arah kebuntuan nalar. Dengan begitu pengetahuan yang dihasilkan dapat menjadi obat bagi peradaban dunia yang sedang sakit. Dosen adalah bentuk dari satu di antara sebutan bagi si guru. Legitimasi formal atas perkembangan institusi pendidikan sekarang—yang juga didukung dengan gelontoran dana besar—membawanya ke ranah kerja praksis yang lebih kompleks. Institusi Perguruan Tinggi (PT) yang menjadi tempat dosen bernaung memberikan prasyarat formil yang menuntut baginya. Gelar kesarjanaan, produktifitas kerja keilmuan, serta tuntutantuntutan lain yang terkadang malah mendudukkannya dalam hal teknis yang tidak sesuai dengan bidang garapan. Tidak lain karena egoisme institusi yang mengatasnamakan “demi kebaikan”. Di era sekarang—dalam kacamata paradigma kritis—peradaban dunia berjalan sangat kejam. Nilai-nilai kemanusiaan semakin tergerus oleh penumpukan kapital serta kekuasaan yang merusak. Populisme yang dimunculkan dalam menggaet massa politik, pengrusakan alam atas dasar pembangunan, represi terhadap kaum marjinal yang tidak punya kuasa dalam arus permainan elit, pemberangusan ruang-ruang diskusi, kesemuanya semakin menjamur. Serta yang paling mewabah di Indonesia saat ini tentang fenomena hoax yang kemunculannya banyak berasal dari lingkungan perkotaan dengan dimotori oleh kaum terdidik. Kaum ini menjelma dalam struktur kelas menengah yang reaktif-profokatif. Sentimen kecil saja bisa dijadikan olehnya isu kelompok dengan dibuntuti kepentingan yang kompleks. Contoh dalam laporan yang dirilis oleh Setara Institut, pada tahun 2016 jumlah pelanggaran terhadap kebebasan beragama/berkeyakinan terangkum dalam data mencapai angka 270 kasus. Angka tersebut paling tinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Sebagian besar kasus tersebut terjadi di Jawa, sebanyak 94 kasus. Lebih jauh lagi, Bonar Tigor Naipospos, sebagai wakil ketua lembaga menyebutkan kasus-kasus itu sebagian besar bertebaran di lingkungan perkotaan yang notabene banyak dihuni kaum terdidik—oleh sang dosen. Dalam hal ini, pertanyaan tentang bagaimana peran dosen dalam kegiatan mendidik menemukan pijakannya. Melihat perannya sebagai pendidik, dosen bukan hanya seorang penceramah teks yang memuat kondisi kehidupan di masyarakat sekitar dengan rentetan argumentasi—yang kadang kurang mengeksplorasi teks maupun konteks lebih dalam. Pendialogan yang partisipatif dengan menyentilkan semangat juang untuk mengatasi problem kehidupan secara humanis kiranya

- 06 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

juga masuk dalam bidang garapannya (Freire, 2007:56). Dosen di sini dituntut mampu membawa kegiatan mendidiknya untuk mendobrak ruang ketidakmungkinan dalam hidup ini—yang dalam lingkup sekarang dimotori oleh kapitalisme baik global maupun domestik. Maksud ruang ketidakmungkinan di atas adalah kondisi yang menempatkan subjek—baik itu dosen maupun peserta didik—tidak pada posisi strategis dalam hierarki sosial masyarakat (Robert, 2010:203). Dimensi yang mengerdilkan serta menjajah si subjek. Ruang yang banyak dimasuki oleh kapitalisme dengan fantasi palsu yang memuakkan. Ini tidak lain karena kekurangan yang menandai diri subjek. Jacques Lacan mengonsepkan perihal yang simbolik sebagai kekurangan yang tidak tertunaikan. Sebuah kekurangan yang si subjek sendiri tidak yakin tentang apa yang mampu untuk memenuhi kekurangan tersebut. Akan tetapi optimisme hadir di dalamnya dengan bentuk yang beragam untuk memprotes kepalsuan yang ditawarkan oleh kapitalisme. Optimisme sendiri hadir dalam subjek—dosen dan peserta didik—yang bebas. Merdeka dari aturan formal yang melingkupi laku keseharian. Dalam bahasa Žižekian ini sering disebut dengan subjek yang “gila”. Mungkin sekarang ini kita membutuhkan orang-orang “gila”, khususnya dalam institusi pendidikan, untuk dapat memunculkan inovasi yang membebaskan. Bukannya malah ide yang memperlanggengkan pengerdilan dan penjajahan itu sendiri. Hal ini menurut Žižek bisa dicapai dengan adegan “bunuh diri subjek”. Namun bukan bermakna mencerabut nyawa dari badan yang dimaksud. Melainkan hampir sama dengan bunuh diri kelas yang dikumandangkan oleh Marx. Bunuh diri subjek ini dimaksudkan mematikan fantasi atau ideologi besar yang melingkupi subjek—pendidik atau peserta didik. Dalam bahasa Lacanian itu disebut sebagai “yang-Lain Besar”. Bunuh diri subjek di sini diarahkan untuk meruntuhkan hegemoni hasrat yang mendorong keterbelengguan subjek. Wujud dari “yang-Lain Besar” dalam institusi pendidikan bisa beragam bentuk. Kurikulum pendidikan, kebijakan kampus yang mengarah pada orientasi besar kemana kampus dijalankan¬. Macam wacana World Class University, aturan cara berpakaian—yang sempat menggemparkan UIN Sunan Kalijaga beberapa waktu ini—serta politik nasional maupun global yang disponsori oleh kapital. Kesemuanya harus dimusnahkan dalam diri subjek untuk memunculkan kekososngan dalam diri subjek—pendidik dan terdidik. Kekosongan inilah yang membawa subjek ke dalam penemuan kemurnian ideologi. Melalui proses yang berlangsung secara terusmenerus. Dari sini kegiatan mendidik oleh si dosen haruslah diarahkan kepada proses menjadi orang “gila”. Dalam arti mereka yang hadir dalam proses didik-mendidik diarahkan bersama dengan kesepakatan yang terdiskursuskan secara koheren untuk menghancurkan fantasi yang dibawa oleh “yang-Lain Besar” (baca: kapitalisme) seradikal mungkin. Keluar dari lajur formal yang memalsukan untuk bisa memunculkan buah pikir kreatif yang tentunya mendorong optimisme dalam mewujudkan perubahan. Maka dari itu, Bapak serta Ibu dosen, mari kita samasama menjadi orang “gila”.[]


Doel

LIKA - LIKU

PENGEMBANGAN KUALITAS DOSEN

Center of Teaching Staff Development (CTSD) tidak bisa melakukan fungsi controlling terhadap dosen yang pernah dilatihnya. Sementara itu dalam tahap pengembangan dosen lebih lanjut, penelitian dan publikasi memiliki banyak kendala. Salah satunya adalah administrasi yang menyulitkan

Oleh Syakirun Ni'am

S

ekitar pukul 08.45 WIB Jumat (22/9), ditemui di ruang dosen Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, kepala CTSD Maksudin mengenakan songkoknya terlebih dahulu sebelum memulai wawancara. CTSD merupakan unit pelatihan non struktural di bawah wakil rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga untuk dosen non keguruan mendapatkan pelatihan dasar untuk dosen baru sebelum dilepas ke kelas. Menurut Maksudin, pada prinsipnya CTSD merupakan tempat pengembangan dosen. Namun hal tersebut terbatas hanya pada training dasar terhadap calon dosen

baik internal kampus maupun eksternal dengan bentuk workshop. Workshop tersebut meliputi strategi pembelajaran, desain pembelajaran, desain kurikulum, serta penggunaan multimedia sehingga memudahkan proses pembelajaran di kelas menjadi lebih mudah, menarik, dan efektif. Secara sederhana CTSD memiliki tanggung jawab mengarahkan pendidik baru tersebut sehingga mapan atau mumpuni dalam bidang akademik, metodologi, implementasi, sampai evaluasi. Training di atas ditempuh dalam waktu yang tidak menentu. Pernah dua minggu, satu bulan, atau bahkan tiga bulan bergantung pada target yang ingin dicapai.

“Apakah mau komprehensif, apa hanya kebutuhan-kebutuhan yang sangat dibutuhkan,� ungkap mantan wakil rektor bidang kelembagaan dan perencanaan tahun 2013 tersebut. Namun, menurutnya hal yang lebih penting adalah bagaimana setiap dosen memiliki peta pemikiran (thinking map) terkait bidang yang menjadi tanggung jawabnya. Sehingga dosen tidak sekadar mengadopsi dan mempelajari suatu teori, melainkan merekonstruksi dan melahirkan karya baru. Sehingga thinking map merupakan bentuk pengembangan berpikir di mana seorang akademisi sudah memahami sampai pada kajian ilmiah, kemudian kajian

lpmarena.com- 07 -


ilmiah diujicobakan dan dilatihkan. Menurutnya, dosendosen baru sendiri sudah memiliki thinking map. Namun belum terorganisir dengan baik. Program pembangunan thinking map sendiri pernah coba dilakukan oleh Maksudin. Menurutnya setiap thinking map akan memiliki turunan berupa visi misi yang kualitasnya akan terlihat pada pembelajaran mata kuliah yang diampu. Mulanya CTSD bermaksud melakukan riset institusional, sebagai salah satu bentuk program tersebut. Guna melihat bagaimana visi misi dosen dalam pembelajarannya. Namun rencana tersebut gagal terlaksana karena permohonan anggaran yang diajukannya pada kampus tidak cair. “Tapi ternyata kemarin ada pemotongan anggaran nasional, (jadi) kena imbasnya,” ungkap Maksudin. Padahal program tersebut juga memiliki fungsi controlling untuk melihat bagaimana hasil dari proses saat di-training. CTSD, sebagai lembaga non struktural tidak mendapatkan angaran yang rutin dari Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) sebagaimana Lembaga Penjaminan Mutu (LPM). Selain persoalan anggaran tadi, persoalan waktu dosen yang sudah terkuras banyak untuk kegiatan atau tuntutan lain. “Lagi-lagi saya katakan secara kelembagaan kita ngajukan proposal untuk bisa itu (riset), biar kita termasuk juga dalam langkah kontrol, to?” PENGEMBANGAN DOSEN LANJUTAN Rabu (11/10) siang, Arena menemui Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga Sutrisno untuk menanyakan tidak dicairkannya anggaran

- 08 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

untuk riset CTSD. Juga menanyakan program-program yang dilaksanakan lembaga untuk pengembangan dosen. Menanggapi proposal controlling CTSD yang tidak disetujui, Sutrisno menyataan bahwa center (lembaga otonom pendidikan dosen) merupakan tempat menghasilkan uang. Sutrisno mencontohkan centercenter di perguruan tinggi yang termasuk dalam daftar Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) baik dalam maupun luar negeri. Perihal pengembangan lanjutan bagi dosen, Sutrisno dengan gampang menyatakan bahwa dosen-dosen UIN merupakan orang-orang terpilih yang cerdas, bisa berkembang sendiri, dan tidak perlu dikembangkan. Dosendosen tersebut hanya perlu diberi suasana, kesempatan, serta peluang untuk mengembangkan diri. Sutrisno melihat mereka banyak melakukan riset internasional, menjadi narasumber, serta lulusan program doktoral luar negeri. “Banyak publikasi internasional,” terangnya menyebutkan. Untuk melihat kualitas dosen, menurut Sutrisno ada beberapa variabel yang digunakan. Antara lain jenjang pendidikan, karya, serta kenaikan jabatan fungsional. Dari karya itu sendiri dapat dilihat sejauh mana karya seorang dosen. Misal jabatan lektor kepala yang mengharuskan dosen sudah melakukan publikasi di jurnal nasional. Selain itu, dari jabatan tersebut juga dapat dilihat jenjang pendidikannya. Seperti lektor kepala yang mengharuskan dosen harus berijazah doktor terlebih dahulu untuk dapat mendudukinya. Jabatan fungsional dalam perguruan tinggi merupakan posisi yang menunjukkan tanggung jawab dan tugas

seorang dosen, yang tentu saja dilandasi pengetahuan, metodelogi, dan metode analisis. Semua hal tersebut didasarkan pada disiplin ilmu yang bersangkutan. Kenaikan kedudukan atau pangkat dalam jenjang jabatan fungsional sendiri memiliki syarat berbentuk angka kredit yang harus dipenuhi yang berbeda pada masing-masing tingkatan. Berupa angka kredit kumulatif dan angka kredit perjenjang. Dengan perhitungan kredit kumulatif yang diatur dalam Permenpan No. 17 b tahun 2013 jo No. 46 tahun 2013. Adapun variabel yang disyaratkan di tiap tingkat antara lain kualifikasi pendidikan (ijazah), pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, serta unsur penunjang. Selain itu adalah kewajiban publikasi di jurnal nasional untuk jenjang lektor kepala, dan internasional untuk guru besar. Memperhatikan pendidikan lanjutan bagi dosen, Sutrisno menjelaskan banyak beasiswa pendidikan untuk S3 bagi dosen yang belum doktor. Seperti program 5000 doktor, LPDP, serta kerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi luar negeri. Namun partisipasi dosen akan peluang tersebut bergantung pada kesiapan dosen sendiri. Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan Sahiron menjelaskan, lembaga hanya membantu pada hal-hal yang administratif seperti surat tugas belajar, atau surat izin belajar. Hal tersebut menjadi penting dalam sekolah lanjutan. Sri Purnami dosen program studi pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan menceritakan kisah pahitnya melakukan studi lanjut saat ditemui di depan ruang 109 fakultas pada Kamis (26/10)


siang. Dosen yang tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 2000 tersebut sempat melakukan studi lanjut tingkat doktoral. Namun tidak dia selesaikan karena tidak mendapatkan surat tugas belajar. Mulanya Sri yang tidak memiliki surat izin belajar berhasil mendapatkan beasiswa. Selang beberapa waktu selanjutnya, surat tugas tersebut dianggap penting sehingga orang-orang yang melakukan studi lanjutan dituntut untuk mengurusnya. Selain itu, dosen-dosen yang mendapatkan beasiswa full study lanjut pada masanya harus dipotong kerja fungsionalnya dengan kompensasi surat undangan belajar. Namun banyak dosen saat itu tidak dipotong kerja fungsionalnya karena buruknya sistem. Ketika perbaikan sistem keuangan dilakukan, dosendosen tersebut harus mengembalikan sejumah uang. Sri sendiri diminta untuk mengembalikan uang sebesar 18 juta. “Tapi saya tetap ndak mau mengembalikan. Saya nggak dapat undangan belajar,” ungkap Sri. Namun, menurutnya, sistem administrasi sekarang lebih baik. Sri mengungkapkan niatnya yang akan mengikuti program 5000 doktor. Meski sistem sekolah lanjut untuk dosen lebih baik, tapi hingga sekarang jumlah dosen dengan kualifikasi pendidikan doktor di UIN Sunan Kalijaga masih selisih jauh dari jumlah magisternya. Jumlah doktor di UIN hanya 197 orang, sedang magister sampai 340 orang. Tidak berbeda dengan pendidikan lanjut, dalam hal penelitian, lembaga hanya memberi peluang kepada dosen yang hendak mengajukan proposal penelitian melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Kementerian agama, atau founding dari luar negeri. Anggaran untuk penelitian dan pengabdian sendiri 30 persen dari total anggaran lembaga. Menurut Sutrisno, bahkan mungkin biaya penelitian yang didapatkan di atas standar minimal pendidikan. Hal tersebut

menjadikan jumlah proposal penelitian begitu banyak. “Saking gegap gempita untuk melakukan riset itu,” ujarnya Tidak begitu berbeda dengan Sutrisno, kepala Lembaga Penjaminan Mutu Muhammad Fakhri Husein menyatakan variabel untuk mengukur kualitas dosen antara lain, pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Hal tersebut menjadi standar nasional di perguruan tinggi. Dalam hal pendidikan, idealnya dosen yang masih S2 segera melakukan sekolah lanjutan. Namun tidak ada batasan berapa lama pengajar tersebut tetap sebagai magister. Sementara untuk penelitian, setiap dosen wajib melakukannya minimal satu kali dalam setahun, dan setengah dari dosen yang ada harus melakukan pengabdian masyarakat. Pihaknya memandang penelitian membantu pengembangan kualitas dosen. Menurut Fakhri melalui hasil penelitian itu, materi-materi pembelajaran menjadi lebih baru. Namun perencanaan penelitian yang terlalu mepet, serta target yang terlalu tinggi dari founding-nya membuat dosen tidak mengakses peluang penelitian yang ada. Fakhri mencontohkan harus publikasi internasional dengan tenggat waktu satu tahun. “Untuk ilmu-ilmu tertentu mungkin bisa. Tapi kalau seperti ilmu saya di ekonomi itu tidak mudah,” terangnya di sela-sela makan siang. Dosen-dosen dengan jabatan fungsional lebih tinggi, penelitian, dan publikasi lebih banyak memang lebih menginspirasi mahasiswa. Hal tersebut yang menjadikan profesor harus mengajar di S1 minimal 3 SKS. Namun dampak dari jabatan fungsional dan penelitian apakah akan mempengaruhi kualitas dosen dalam mengajar di kelas, menurut Sutrisno, diketahui oleh mahasiswa. Sehingga di akhir semester mahasiswa diminta untuk melakukan penilaian terhadap dosennya melalui Indeks Kinerja Dosen (IKD). Jumlah Guru besar di UIN sendiri hanya 31 orang. Kemudian 157 lektor kepala, 242 lektor, 72

asisten ahli, dan 34 calon dosen. ARENA mencoba meminta data audit mutu internal yang dilakukan oleh LPM. Namun, kata Fakhri, data audit tersebut tidak bisa dipublikasikan ke luar. Hasil audit mutu internal hanya digunakan untuk kepentingan manajemen. Berbeda dengan lainnya, Kepala LP2M Al Makin memandang jabatan fungsional seperti asisten ahli, lektor, dan lektor kepala, serta guru besar merupakan administrasi yang tidak merepresentasikan kualitas seorang dosen. Adapun update pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman satu jenjang ke jenjang selanjutnya, serta penelitian yang dilakukan, itu merupakan pandangan secara teoritis. Menurut Al Makin satusatunya variabel untuk melihat kualitas seorang dosen adalah publikasi. “Bahkan orang sudah lektor kepala pun belum menulis. Kenapa itu bisa terjadi?.” KENDALA - KENDALA DALAM PENELITIAN DAN PUBLIKASI Sri Purnami juga menceritakan kesulitan yang dihadapinya ketika melakukan penelitian adalah persoalan administrasi. Peneliti diharuskan membuat laporan keuangan Surat Pertanggung Jawaban (SPJ) dengan jumlah halaman yang ditentukan. Hal tersebut menurutnya bahkan lebih menyulitkan dari pada menjalani prosedur publikasi karya ilmiah. Sri mengaku, saat penelitian yang dilakukan bersama dengan temannya, ia harus menandatangani hal yang sebenarnya tidak dilakukannya demi tuntutan administrasi pelaporan tersebut. “Nah, tapi gimana lagi, ya, itu tuntutan,” ungkap Sri dengan berat. Penelitian sebagai variabel yang dihitung dalam kenaikan jabatan fungsional dosen, maupun sebagai jalan untuk bisa melakukan publikasi di jurnal, ternyata memiliki beberapa kendala. Meskipun pernyataan Sutrisno sama dengan penjelasan yang diutarakan Al Makin dalam banyaknya peluang biaya penelitian, tapi tidak dengan

lpmarena.com- 09 -


kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi peneliti. Tidak berbeda, kesulitan administrasi tersebut juga dibeberkan oleh Al Makin pada Selasa (26/9) sore, di rektorat lantai II ruang LP2M. Dosen yang melakukan penelitian tidak lantas bisa melakukan tahap publikasi. Peneliti tersebut masih diributkan dengan laporan pertanggungjawaban yang merupakan rincian penggunaan uang biaya penelitian. Hal tersebut berlaku jika founding biaya penelitian dari negara, seperti misal Kementerian Agama atau Kementerian Riset, Teknologi, dan Pedidikan Tinggi. Namun tidak berlaku jika founding-nya berasal dari luar negeri. “Lapor saya, ya, sudah jadi publikasi saya laporkan ke founding-nya,” terang Al Makin. Administrasi selanjutnya bersifat umum yang meliputi administrasi sehari-hari seperti finger print, Beban Kerja Dosen (BKD), mengoreksi soal, dan sebagainya. Banyaknya tuntutan administratif tersebut mengakibatkan rendahnya produktifitas penelitian dosen Persoalan selanjutnya ialah gaji dosen di Indonesia yang masih di bawah standar. Menurutnya, dosen sebagai PNS diperlakukan sama dengan pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), padahal dosen memiliki tuntutan publikasi internasional. Persoalan kedua adalah jumlah biaya penelitian yang Al Makin sendiri merasa malu memberikan jumlah tersebut pada peneliti. Al Makin bahkan mengakui ketimpangan peluang penelitian dan jumlah dosen yang melakukan penelitian. Ditambah, tidak semua hasil penelitian menjadi publikasi karya ilmiah. “Tapi yang jadi publikasi tidak banyak,” keluhnya. Sementara itu, publikasi ilmiah tingkat internasional

- 10 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

sendiri tidak kalah malang nasibnya. Dari sekian wawancara yang dilakukan ARENA dengannya, Al Makin kerap kali mengeluhkan hal tersebut. UIN Sunan Kalijaga sendiri hanya memiliki delapan jurnal publikasi internasional terakreditasi B yang terindeks Octopus. Dan hanya satu jurnal internasional dengan akreditasi A, yakni jurnal Al Makin sendiri. Data tersebut masih sama dengan data yang diungkapkannya pada ARENA dalam Slilit edisi Agustus 2016. Menurutnya, pelan-pelan dosen UIN Sunan Kalijaga mengejar publikasi tingkat lokal dan nasional. Namun publikasi internasional masih sangat sedikit. “Tapi yang (publikasi) level internasional ini... kita itu hafal,” keluh dosen Fakultas Ushuludin tersebut. PROGRAM POST DOCTORAL Sedikitnya jumlah profesor di UIN Sunan Kalijaga, ditambah dengan beberapa profesor yang sebentar lagi pensiun menjadi latar belakang munculnya Sunan Kalijaga International Post Doctoral Research Programm. Hal tersebut diungkapkan oleh wakil rektor II bidang keuangan dan perencanaan, dan administrasi umum Sahiron saat ditemui di ruangannya pada Senin (11/9) siang. Program dengan tujuan mencetak profesor tersebut berbentuk pendampingan dan pemberian fasilitas kepada calon-calon profesor yang dipilih secara seleksi. Pada 2016 doktor yang mengikuti program tersebut berjumlah 8 orang. Sedang pada 2017 berjumlah 15 orang. Setiap doktor mendapatkan anggaran dari BOPTN sebesar 50 juta dan fasilitas. Menurut Sahiron inti dari target tersebut adalah supaya doktor-doktor itu bisa

melakukan publikasi internasional. Sebab, salah satu dari syarat menjadi profesor publikasi internasional merupakan syarat yang sulit. Karena hal itu juga, program ini di bawah koordinasi LP2M. Tidak hanya diberi fasilitas, bahkan calon profesor angkatan 2016 mendapatkan pendampingan academic writing langsung oleh Kerstin Hunefeld dari Berlin, Jerman dan Abdul Haqq Chang dari Texas, U.S.A. dalam dua minggu sekali. Academic Writing melatih bagaimana menulis yang bagus dalam standar internasional, menganalisis data, menyusun argumentasi, serta lainnya. Makalah yang ditulis calon profesor tersebut, selain dikoreksi langsung oleh rektor, diedit dan diarahkan oleh dua pakar tadi. Namun program tersebut tidak bisa dilihat hasilnya dalam waktu dekat. Hal ini dikarenakan proses penggarapan karya ilmiah sendiri memakan waktu yang tidak sebentar. Belum lagi proses pada tahapan publikasi di jurnal yang harus di-review beberapa kali. Calon profesor angkatan 2016 ditargetkan setiap orangnya menyelesaikan lima makalah pada bulan Desember tahun lalu. Sampai sekarang jumlah makalah yang sudah masuk baru 90 persen. Sahiron sendiri mengakui sampai sekarang keberhasilan program tersebut belum dapat dilihat mengingat prosesnya yang panjang. Bahkan Al Makin sempat menuturkan, untuk publikasi internasional penelitian yang dilakukan bisa sampai satu tahun. Sementara untuk bisa menjadi publikasi sekitar dua tahun setelahnya. “Kalau ada yang publikasi dari (program) ini, dan artikelnya adalah program post doct berarti itu berhasil,” ungkap Sahiron.[]


JUMLAH DOSEN DAN MAHASISWA MASIH TIMPANG Rasio jumlah dosen dan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga masih belum dianggap ideal. Akibatnya berdampak pada kegiatan belajar yang kurang kondusif. Oleh Ajid Fuad Muzaky

A

bdul Khayi Muhyidin memutuskan pulang dari kampus mendengar perkuliahan diliburkan mendadak. Mahasiswa yang akrab dipanggil Khayi dan saat ini tinggal di Pesantren Ali Muhsin Krapyak tersebut memilih pulang jika perkuliahan diliburkan. Mahasiswa Ilmu Hadis semester V itu memilih melakukan aktivitas-aktivitasnya di pesantren. Semisal membaca buku, muroja'ah, atau sekedar tidur. “Lha di kampus nggak ada kegiatan sih,” ungkap Khayi, Jumat (27/10). Khayi mengaku jika di jurusannya Ilmu Hadis tergolong jurusan baru di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Sejak dibuka pertama kali tiga tahun silam, tepatnya tahun 2015 perkuliahan sering kosong. Entah sebelumnya ada pemberitahuan atau kosongnya mendadak. “Yang paling sering itu pas semester empat,” ujar Khayi sambil mengingat-ingat. Khayi mengungkapkan, ada beberapa mata kuliah yang diampu dosen yang bukan dari Fakultas Ushuluddin, yakni dari dosen Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek). Misal semester V ini ada mata kuliah Hadis Teknologi dan Informasi. Namun dalam praktik perkuliahannya, Khayi merasakan materi yang dibawakan dosen

kurang mengena dan sukar untuk dipahami, “Ya kalau di kelas cuma buka-buka blog atau hadis-hadis di internet,” cerita Khayi. Pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) dosen Ilmu Hadis UIN Sunan Kalija (Suka) tercatat sebanyak 9 dosen tetap, sementara jumlah mahasiswa sebanyak 114 mahasiswa. Jika dihitung dengan rasio, jumlah dosen tetap terhadap jumlah mahasiswa perbandinganya 1:12,7. DOSEN UIN DALAM ANGKA Menurut peraturan Kementrian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi nomor 4850/E.E2.3/KL/2015, rasio dosen dan mahasiswa pada Perguruauan Tinggi Negeri (PTN) 1:30 untuk keilmuan eksakta, sedangkan keilmuan sosial 1:45. Rasio tersebut mencakup dosen tetap, baik berstatsus Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun non-PNS. Jika mengacu pada Peraturan Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2016 tentang Pengangkatan Dosen Tetap Bukan Pegawai Negeri. Dosen tetap non-PNS adalah dosen yang bekerja penuh waktu sesuai dengan masa kontrak. Di UIN Suka sendiri

ada 36 dosen tetap non-PNS, dengan penyebarannya yang beragam di tiap fakultas. Diantaranya Fakultas Dakwah sebanyak 7 dosen, Fakultas Ekonomi Bisnis Islam 12 dosen, Fakultas Tarbiyah 3 dosen, Fakultas Syariah 8 dosen, kemudian Pascasarjana sebanyak 6 dosen tetap non-PNS. Sementara mengenai mekanisme pengangkatan, universitas menyusun kebutuhan dosen tetap non-PNS kepada Direktur Jendral (Dirjen) Kemenag untuk melakukan pemantauan. Kemudian pimpinan universitas menetapkan dosen tetap non-PNS berdasarkan hasil seleksi. Sementara dosen tetap PNS di UIN Suka menurut data PDDIKTI berjumlah 537 dosen, tersebar di 8 fakultas. Mekanisme pengangkatannya pun bersamaan dengan pembukaan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil dari Kemenag. Menurut pangkalan data PDDIKTI, rasio dosen tetap dan mahasiswa UIN Suka memiliki perbandingan yang cukup timpang. Berikut tabel mengenai data perbandingan rasio tersebut di berbagai fakultas dan jurusan jenjang S1. Data diurutkan dari fakultas rasionya terbesar hingga ke yang terkecil:

lpmarena.com- 11 -


Nama Fakultas

Jurusan Perbankan Syariah

1 : 64,1

Ekonomi Syariah

9

538

1 : 59,8

Akutansi Syariah

7

146

1 : 20,9

13

626

1 : 48.2

10

457

1 : 45,7

12

480

1 : 40

15

519

1 : 34,6

11

378

1 : 34,4

Hukum Tata Negara

10

459

1 : 45,9

Ilmu Hukum

15

687

1 : 45,8

10

433

1 : 43,3

12

368

1 : 30,7

Muamalah

14

428

1 : 30,6

Ilmu Komunikasi

12

590

1 : 49,2

Psikologi

18

609

1 : 33,8

Sosiologi

9

382

1 : 31

Sastra Inggris

10

377

1 : 37,7

Ilmu Perpustakaan

12

430

1 : 35,8

18

617

1 : 34,3

21

627

1 : 29,9

14

662

1 : 47,3

Komunikasi dan Penyiaran Islam Bimbingan Konseling Islam Managemen Dakwah Ilmu Kesejahteraan Sosial Pengembangan Masyarakat Islam

Hukum Keluarga Islam Perbandingan Mahzab

Humaniora

Fakultas Adab

8

Rasio

513

Keuangan Syariah

Fakultas Ilmu Sosial dan

Mahasiswa

8

Bisinis Islam (FEBI)

Fakultas Syariah

Tetap

1 : 90,5

Managemen

Komunikasi

Jumlah

740

Fakultas Ekonomi dan

Fakultas Dakwah dan

Jumlah Dosen

Sejarah Kebudayaan Islam Bahasa dan Sastra Arab Ilmu Al-Quran dan Tafsir

Fakultas Ushuludin dan

Sosiologi Agama

10

395

1 : 39,5

Pemikiran Islam

Studi Agama-Agama

12

277

1 : 23,1

Aqidah dan Filsafat

14

357

1 : 25,5

Ilmu Hadis

9

114

1 : 12,7

7

276

1 : 39,4

Fakultas Sains dan

Pendidikan

Teknologi

Matematika

- 12 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017


Pendidikan Biologi

7

Pendidikan Fisika

8

saat ini

1 : 34,9

234

1 : 30,4

16

238

1:26,7

14

322

1:23

15

302

1: 20,1

21

349

1: 16,6

12

117

1:9,8

sulit menemukan

Manajemen

Pendidikan Islam Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan

Pendidikan Bahasa

Keguruan

Arab Pendidikan Agama Islam Pendidikan Islam Anak Usia Dini

Germa

244

yang idealis

Rasio jumlah dosen dan mahasiswa di beberapa jurusan Dari data di atas dapat dijelaskan beberapa fakultas di UIN Suka memiliki rasio yang melebihi peraturan yang ditetapkan Kemenristekdikti. Misalnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), fakultas ini menempati urutan pertama dengan jumlah dosen tetap sebanyak 32 orang, sementara jumlah mahasiswa mencapai 1.937. Jika dihitung rasio perbandingan tersebut sebesar 1: 60,5. Dengan rincian masing-masing jurusan Perbankan Syariah 8 dosen dan 740 mahasiswa atau 1 : 90,5. Lalu Manajemen Keuangan Syariah 8 dosen dan 513 mahasiswa atau rasionya 1: 64,1. Ekonomi Syariah 9 dosen tetap dan 538 mahasiswa atau rasionya 1 : 59,8. Sementara rasio terendah ditempati oleh jurusan Akutansi Syariah, 7 dosen tetap dan 146 mahasiswa atau rasioanya 1 : 20,9. Padahal FEBI yang termasuk dalam kategori keilmuan sosial mestinya memiliki rasio 1 : 45. Dampak dari timpangnya rasio tersebut sangat dirasakan mahasiswa. Rezaldi misalnya, mahasiswa jurusan Perbankan Syariah ini menuturkan, pada semester pertama, kelasnya menampung sekitar 50 mahasiswa. Hal itu berdampak pada kondisi pembelajaran yang kurang kondusif. Menurutnya dengan jumlah yang timpang, dosen tidak mampu mengendalikan kelas secara baik. Fokusnya hanya pada mahasiswa yang berada pada barisan depan. Sedangkan mahasiswa yang berada di barisan kursi paling belakang kurang begitu diperhatikan. “Apalagi saat presentasi, yang di belakang

lebih banyak ngobrolnya,” tutur mahasiswa semester III tersebut, Rabu (15/11). Namun kondisi itu tidak bertahan lama, setelah masuk ke semester II fakultas memberlakukan kebijakan penambahan kelas. Awalnya hanya berjumlah 3 kelas ditambah menjadi 4. Alhasil jumlah mahasiswa di tiap kelas berkurang dengan angka maksimal 40 mahasiswa. Kondisi tersebut memang menjadikan dosen lebih bisa mengendalikan keadan kelas. Namun di sisi lain, penambahan kelas yang tidak diimbangi dengan penambahan dosen berdampak pada jam belajar yang makin bertambah. “Hari kamis saya kuliah sampai jam setengah 6 sore,” ujar Rezaldi. Tidak jarang juga pengajaran mata kuliah sampai pada hari Sabtu. Berbeda dengan kondisi FEBI, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan menempati fakultas dengan rasio dosen yang sesuai dengan peraturan. Fakultas tersebut mempunyai 1328 mahasiswa, dengan jumlah dosen sebanyak 78. Dengan rasio secara keseluruhan 1:17. Sementara pada program Pascasarjana rasio dosen masih berada pada angka yang baik. Dari 12 jurusan mempunyai dosen tetap sebanyak 61 dosen dengan 868 mahasiswa. Terhitung dari jenjang S2 sampai S3 rasio dosen dan mahasiswa memiliki perbandingan 1 : 14,2. UIN REKRUT DOSEN Perihal mekanisme perekrutan

dosen di UIN Suka. Endang Rukminingsih selaku Kepala Bagian (Kabag) Kepegawaian menjelaskan bahwasanya dalam penerimaan dosen berawal dari Kemenag yang meminta usulan kepada pihak kampus untuk membuka target kuota penerimaan dosen PNS. Kemudian ditawarkan ke Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) untuk membuka formasi dosen yang dibutuhkan universitas, yang juga mengacu pada kebutuhan fakultas. “Jadi tergantung Pusat atau Kemenag yang punya wewenang,” ujar Endang, Kamis (14/09). Peran universitas dalam perekrutan dosen hanya sebagai perantara dari fakultas ke Kemenag. “Yang menentukan tetep Kemenag,” tambah Endang. Menurut Endang pihaknya hanya bertanggung jawab di wilayah kepegawaian bukan menetapkan kebutuhan dosen atau penyebaran dosen. Kebutuhan serta penyebaran tergantung pada fakultas masingmasing. “Tetap satu garis koordinasi tapi,” pungkas Endang. Di tingkat fakultas, Alim Ruswantoro selaku Dekan I Fakultas Ushuluddin mengungkapkan, jika dalam menentukan dosen baik PNS maupun non-PNS selalu ada rapat di fakultas. Pembahasan dilakukan di Rapat Kerja Fakultas (RKF) yang melibatkan pimpinan fakultas, dekanat, KPU, Kasub fakultas, dan Kaprodi yang mengetahui kebutuhan jurusan. “Ada koordinasi ke universitas,” ujar Alim, Rabu (27/09). Untuk menentukan jumlah dosen yang dibutuhkan, ia menghitung rasio antara dosen

lpmarena.com- 13 -


dengan mahasiswa. Pengalaman tahun 2016, UIN Suka mendapatkan jatah CPNS dosen sebanyak 100 kuota. Pihaknya sudah memberitahukan kebutuhan penambahan sebanyak 10 dosen. Namun sayang jatah dari 100 dosen, UIN Suka hanya kebagian 10 dosen, dan Usuludin akhirnya tidak melakukan perekrutan. Sementara itu harapan baru perihal penambahan dosen muncul pada tahun 2017. berdasarkan

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 91 Tahun 2017 tanggal 31 Agustus 2017; tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun Anggaran 2017. UIN Suka mendapatkan jatah pemasukan dosen baru dengan status PNS sebanyak 20 dosen. Fakultas Ushuluddin sendiri mendapatkan jatah 2 dosen, yang sepenuhnya dialokasikan ke jurusan

Jumlah serta penyebaran calon dosen PNS berdasarkan rekrutmen tahun 2017, di berbagai fakultas dengan rincian sebagai berikut:

No

Nama Jabatan

Jumlah

1

Dosen Dakwah dan Komunikasi

1

2

Dosen Design

1

3

Dosen Ekonomi

1

4

Dosen Hukum dan HAM

1

5

Dosen Hukum Islam di Indonesia

1

6

Dosen Hukum Perikatan Islam

1

7

Dosen Hukum Pidana

1

8

Dosen Hukum Tata Negara Islam

1

9

Dosen Katalogisasi Literatur Aksara Jawa

1

10

Dosen Konseling Rehabilitasi

1

11

Dosen Manajemen Pendidikan

1

12

Dosen Manajemen Resiko Bank

1

13

Dosen Matematika

1

14

Dosen Sosiologi

1

15

Dosen Sosiologi Agama

2

16

Dosen Sosiologi Agama

1

17

Dosen Sosiologi Agama

1

18

Dosen Studi Islam

1

19

Dosen Tarjamah

1

TOTAL Formasi Dosen

- 14 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

20

Sosiologi Agama (SA). “Awalnya hanya satu, tapi kita berjuang,” tuturnya. Menurutnya SA merupakan jurusan yang sangat minim jumlah dosennya, hal itu karena beberapa sudah pensiun bahkan meninggal. Ia mengaku fakultasnya memiliki sumber daya dosen yang masih minim, jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa. “Yang paling kelihatan ya SA sama ILHA yang jurusan baru,” jelas Alim.[]


IKD TAK SEKEDAR FORMALITAS, DOSEN JUGA PERLU DIKRITIK

Indeks Kinerja Dosen (IKD) merupakan salah satu elemen penting untuk menilai kerja-kerja dosen kepada mahasiswa. Sayangnya, sistem evaluasi penilaian tersebut belum sepenuhnya diketahui tindak lanjutnya oleh mahasiswa. Oleh Ilham M. Rusdy Mujaeni/LPM Arena

Mahasiswa membuka layanan Sistem Informasi Akademik UIN Sunan kalijaga saat berada di Kantin Dakwah, Kamis (9/11)

D

i Warung Kopi, Luthfi Damis curhat tentang kronologi pemanggilannya oleh salah satu dosennya. Awalnya, ia mencermati sebuah pengumuman, “Kepada NIM 14150016, harap menghadap ke ruangan saya,� tulis salah satu akun melalui pesan WhatsApp yang disebar di grup jurusan. Mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya ini, mengklaim NIM itu miliknya. Luthfi sempat tercengang. Ia sudah menduga pemanggilan tersebut dampak dari kritikannya yang agak nakal kepada seorang dosen. Memang beberapa hari sebelumnya, ia menuliskan cuitan itu di kotak saran penilaian mahasiswa terhadap dosen atau kuisioner dosen yang tertera pada laman Sistem Informasi Akademik (SIA). Ia lupa-lupa ingat, perihal konten yang ditulisnya secara jelas. “Mohon maaf sebelumnya, bapak sebagai pengampu mata kuliah ini, seharusnya datang mendampingi atau mengevaluasi proses yang kami

jalani. Tapi, mengapa kami dibiarkan begitu saja," ucapnya sambil mengingat-ngingat konten yang dikirim. Keesokan harinya, ia memenuhi panggilan ke ruangan dosen yang bersangkutan dan menyelesaikan perkara itu dengan cara kekeluargaan. Menurutnya, kritik yang disampaikan kepada seorang dosen merupakan proses untuk evaluasi kinerja dosen. Bukan untuk menjatuhkan atau merusak nama baik. Selama ini, Luthfi berprasangka kolom kuisioner yang diisi di setiap akhir perkuliahan tersebut, tidak akan berdampak apaapa. Namun justru sebaliknya, kuisioner merupakan salah satu komponen dari IKD yang menjadi bahan pertimbangan evaluasi dosen di tingkat fakultas hingga universitas. Evaluasi merupakan komponen penting yang mesti dilakukan setiap lembaga guna meningkatkan kinerjanya. Hal itu juga dilakukan

UIN Sunan Kalijaga. Salah satu upaya yang ditempuh ialah menjaring aspirasi mahasiswa terkait kinerja dosen. Kebijakan tersebut terangkum dalam layanan formulir Indeks Kuisioner Dosen yang tertera pada SIA. Kuisioner satu-satunya jembatan mahasiswa untuk memberikan kritik dan masukan kepada dosen secara formal. Di setiap akhir semester, mahasiswa diwajibkan mengisi kuisioner di laman SIA, sebagai syarat untuk mengakses hasil perkuliahan berupa nilai Indeks Prestasi (IP). Data kuisioner yang terhimpun akan dikirim ke masing-masing fakultas untuk ditindaklanjuti. Nurjannah, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi menjelaskan, kuisioner yang diisi mahasiswa merupakan satu dari tiga komponen penting IKD. Setelah dua komponen lainnya, yakni Kehadiran Mengajar di Kelas serta Ketepatan Waktu Penyerahan Nilai. Namun menurutnya tidak sedikit

lpmarena.com- 15 -


mahasiswa yang belum mengetahui prosedur dan fungsi mengisi kuisioner. “Adakalanya mahasiswa itu kemudian hanya melewati dan tidak memberikan masukan,” lanjut Nurjanah. Padahal menurutnya data-data kuisioner yang diisi itu akan dikelolah bagian akademik di masing-masing fakultas. Kemudian hasil rekapnya dilaporkan ke tiap kepala jurusan, agar nantinya disampaikan ke dosen-dosen yang bersangkutan. Tentunya, sebelum evaluasi dilakukan pihak dekanat dan kajur terlebih dahulu mengadakan pertemuan untuk membicarakan perkembangan IKD, termasuk kuisioner sendiri. RAGAM EVALUASI DOSEN SELAIN KUISIONER Selain kuisioner, ada 8 komponen yang menjadi indikator penilaian terhadap kinerja dosen. Mulai dari IKD, yang meliputi 3 komponen yang telah disebutkan di atas. Serta Beban Kinerja Dosen (BKD) meliputi 5 komponen yang merupakan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyrakat. Dalam komponen IKD, wilayah pengawasan kinerja dosen difokuskan pada tuntutan akademik dosen di kelas. Seperti seberapa sering ia mengajar, ketepatan penyerahan nilai, dan bagaimana penilaian dari mahasiswa. Ketiga hasil itu nantinya akan dilaporkan di setiap rapat tertentu. Menurut Agus Moh. Najib, Dekan Fakultas Syari'ah dan Ilmu Hukum menjelaskan, setiap masa perkuliahan selalu diadakannya ruang evaluasi setiap seminggu atau dua minggu sekali. Forum tersebut terdiri dari jajaran fakultas. Setiap minggu atau dua minggu sekali Kaprodi mengecek kehadiran dosen atau memberi paraf ke jurnal kuliahnya. “Jadi, kalau misalnya ada yang nggak masuk minggu pertama atau kedua awal itu sudah dideteksi. Di Fakultas Syariah, misalnya, itu kan ada rapat rutin RKF (Rapat Koordinasi Fakultas),” tuturnya. Begitu juga dengan BKD, semua komponen dievaluasi. Seperti halnya komponen terkait jumlah SKS yang diajarkan; jumlah kegiatan penelitian, menulis jurnal atau karya

- 16 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

ilmiah; mengikuti seminar; dan bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Data BKD nanti diperoleh melalui Laporan Beban Kinerja Dosen (LBKD) yang dibuat sendiri oleh tiap dosen dan dilaporkan tiap akhir semester. Kemudian hasil LBKD juga tetap akan dibahas bersama dalam rapat rutin masing-masing fakultas. Pembahasan dalam rapat evaluasi dosen ikut melibatkan beberapa pihak terkait seperti Dekanat, Kajur, dan Kasubag. Kemudian dari hasil rapat kinerja dosen, tiap fakultas akan mengadakan evaluasi tergantung kelemahan dosen di fakultas tersebut. Misalnya dengan melakukan pembinaan terhadap para dosen yang dianggap nilai indeks kinerjanya tak memenuhi standar yang ditetapkan dalam IKD dan BKD. Pada umumnya, cakupan standar yang ditarget oleh tiap fakultas adalah mesti di atas rata-rata 3.00, yang dinilai berdasarkan komponen IKD dan BKD. “Jadi, ketika dosen itu IKD nya di bawah daripada 3, maka dosen itu akan dilakukan pembinaan,” lanjut Nurjannah. Pelakasanaan evaluasi terhadap kinerja dosen, itu bergantung pada bentuk evaluasi yang diberikan oleh Dekanat dan Kajur sebagai pihak yang menanganinya. Seluruh dosen tetap akan dievaluasi, baik yang nilai IKD-nya rendah maupun tinggi. Namun yang membedakan adalah reward atau punishment yang akan diberikan. Baik berbentuk materi maupun non materi. Pelaksanaan evaluasi non materi biasanya dengan diadakannya pelatihan khusus untuk peningkatan kualitas dosen dalam pengajaran. Misalnya di Fakultas Sosial dan Humaniora, ada pembinaan dari tim teaching yang meliputi dosen senior untuk memberikan penguatan mutu kepada dosen junior. “Yang disebut senior itu ya, yang lektor kepala itu, dari lektor kepala ke guru besar. Tapi lektor itu juga sudah termasuk senior sih, Nah, asisten dosen ini yang kita dorong untuk dievaluasi,” papar Mochamad Sodik, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora. Kemudian bentuk reward yang sifatnya non materi, dosen yang penilaiannya kurang baik akan

diberikan surat teguran secara lisan terlebih dahulu. “Tapi kalau misalnya berkali-kali yah, tulisan. Dari lisan terus surat peringatan pertama, lalu peringatan kedua melalui Kajur. Tapi kalau Kajur tidak mempan melalui Wakil Dekan I,” tambah Agus Moh. Najib. Setelah berkali-kali mendapat teguran, maka dosen yang bersangkutan akan diberi sanksi seperti diminimalkan waktu mengajarnya atau jadwal jatah SKS bakal dibatasi. Sedangkan pelaksanaan evaluasi dosen yang sifatnya materi, lebih berdampak pada reward yang diberikan. Misalnya, dosen yang dianggap nilainya rendah akan mempengaruhi wilayah finansialnya, yaitu melalui remunerasi atau penambahan gaji. “Jadi secara finansial juga berpengaruh, ada remunerasi atau penambahan gaji. Kalau nilai IKDnya rendah tentu juga dapatnya rendah, begitu pun sebaliknya. Yah, ini kan reward secara material,” papar Sodik. Tak hanya di Fishum, sanksi finansial berupa remunerasi juga diterapkan di Fakultas Syariah dan fakultas-fakultas lainnya. Remunerasi ini menggunakan kriteria penilaian yang sama. Tentunya dengan mempertimbangkan hasil penilaian IKD yang dicapai oleh para dosen. PERAN LPM Dari ragam cara pelaksanaan evaluasi kinerja dosen di tiap fakultas, itu akan dimonitoring oleh Lembaga Penjaminan Mutu (LPM). Peran LPM yakni mengontrol, sekaligus memberikan masukan atas hasil laporan kinerja dosen yang diterima. Seperti halnya keterlibatan Pengendali Sistem Mutu Fakultas (PSMF) dalam rapat tiap fakultas yang membahas terkait kinerja dosen. PSMF merupakan perpanjangan tangan dari LPM untuk memonitoring kinerja dosen di tiap fakultas. PSMF ini terdiri atas dosen-dosen yang diambil dari tiap fakultas dan diberikan pembinaan khusus untuk memonitor rapat dan pelaksanaan evaluasi kinerja dosen. Peran PSMF di fakultas tidak hanya stagnan menjadi pengawas atau monitor. "PSMF juga nanti bisa memberikan analisisnya dan rekomendasinya ke pimpinan


kuantitatif terhadap dosen di tiap fakultas. Data itu juga menjadi acuan bagi Badan Akreditasi Nasional Perguruan tinggi (BAN-PT) untuk penentu akreditas, sekaligus sebagai badan evaluasi eksternal. "Kalau eksternal kampus kan ada BAN PT, bersama dengan AME, Audit Mutu Eksternal," tambah Arifah.[]

seperti apa hasil yang akan kembali diekspos ke tiap fakultas. Selain itu, hasil rapat AMI juga akan dilaporkan lagi dalam rapat tinjauan manajemen di tingkat universitas. "Rapat tinjauan manajemen itu nanti bersama pimpinan universitas akan dilihat hasil rapat AMI-nya seperti apa, kemudian tindak lanjutnya apa," lanjutnya. Data IKD dan BKD, tak hanya mempengaruhi penilaian secara

fakultas," ujar Arifah Kusnuryani, selaku sekretaris LPM. Hasil IKD dan BKD yang telah direkap oleh tiap fakultas, nantinya bersama dengan hasil mentoring akan dilaporkan oleh PSMF dalam rapat tahunan Audit Mutu Internal (AMI). AMI adalah forum pertemuan tiap PSMF bersama dengan pusat internal LPM. Pembahasannya terkait bagaimana auditor AMI mengolahnya, dan

REKAP INDEKS KINERJA DOSEN TAHUN AKADEMIK 2016-2017 FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM NO 1 2 3 4 5 6

NAMA PRODI HUKUM TATA NEGARA PERBANDINGAN MADZAB HUKUM KELUARGA ISLAM HUKUM EKONOMI SYARIAH ILMU HUKUM HUKUM ISLAM RATA-RATA

Pend. & Pemb. Ilmu K4 K5 K6

K7

K8

RERATA

3.42

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

2.20

3.44

3.42

1.00

1.00

1.00

1.00

1.19

2.14

2.80

3.44

3.41

1.00

1.00

1.00

1.00

1.18

2.12

4.00

2.94

3.23

3.37

1.00

1.00

1.00

1.00

1.27

2.14

3.99 4.00 3.92

2.91 2.28 2.89

3.26 0.00 2.77

3.37 1.88 3.15

1.00 1.00 1.00

1.00 1.00 1.00

1.00 1.00 1.00

1.00 1.00 1.00

1.00 1.33 1.16

2.11 1.73 2.07

K1

K2

K3

RATARATA

3.75

3.34

3.23

3.76

3.04

3.99

REKAP INDEKS KINERJA DOSEN TAHUN AKADEMIK 2016-2017 FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI NO 1 2 3 4 5 6

NAMA PRODI MANAJEMEN DAKWAH PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM S2 RATA-RATA

Pend. & Pemb. Ilmu K4 K5 K6

K7

K8

RERATA

3.70

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

2.26

3.30

3.63

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

2.24

3.59

3.30

3.63

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

2.22

3.93

3.49

3.08

3.45

0.95

1.00

1.15

1.00

1.00

2.18

3.83

3.27

3.33

3.46

1.00

1.00

1.00

1.00

1.27

2.17

4.00

2.20

0.00

1.86

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

1.68

3.96

3.36

2.27

3.26

0.99

1.00

1.03

1.00

1.05

2.13

K1

K2

K3

RATARATA

4.00

3..88

3.33

4.00

3.71

4.00

Catatan: Pihak fakultas Syariah dan Hukum mengaku belum merekap nilai dari K4 sampai K8 ke pangkalan data online UIN Suka. Sehingga ini menyebabkan nilai tersebut masih terlihat kecil. KET : 1. Kehadiran mengajar di kelas (K1)  2. Ketepatan waktu penyerahan nilai (K2)  3. Penilaian mahasiswa (K3)  4. Penelitian (K4)  5. Menulis (K5)  6. Menjadi narasumber (K6)  7.Pengabdian pada masyarakat (K7)  8. Penunjang (K8)

lpmarena.com- 17 -


Mahasiswa difabel sedang bearada di ruangan Difabel Corner, Kamis (9/11). Ruang tersebut merupakan layanan yang disediakan perpustakaan UIN Sunan Kalijaga untuk mahasiswa difabel

UKT BELUM RAMAH DIFABEL UKT menggunakan indikator kemiskinan dalam penggolongannya. Namun difabel sebagai kelompok yang rentan belum menjadi acuan pada penggolongan tersebut. Akibatnya tidak sedikit mahasiswa difabel yang mengeluh besaran UKT yang diterimanya.

Oleh Rodianto

- 18 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017


Mujaeni/LPM Arena

P

agi itu menjelang siang, Selasa 9 Oktober 2017, suasana Fakultas Tarbiyah dan Keguruan tampak ramai dengan ingar-bingar mahasiswa yang mengular dari dalam kelas. Satu per satu dari mereka menyumpal pojok timur dengan kerumunan yang tak tentu. Di tengah kerumunan itu, Siti Maisyaroh salah satu mahasiswa difabel tunanetra ini mulai bercerita mengenai banyaknya kesulitan yang ditemui semenjak masuk di UIN Sunan Kalijaga (Suka). Termasuk golongan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang didapatkan. Ia menerima UKT golongan II, dengan nominal Rp 1.300.000,00. Baginya nominal tersebut sangat

memberatkan. “Kondisi perekonomian keluarga yang menengah ke bawah, tentu sangat memberatkan bagi saya,” ujar mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam tersebut dengan nada datar. Siti, begitu sapaan akrabnya, sangat menyesalkan golongan UKT yang ditetapkan padanya. Ia menilai nominal yang mesti dibayarkan per semester tidak sesuai dengan pendapatan keluarga. Terlebih tulang punggung perekonomian keluarga hanya bertumpu pada penghasilan ibunya sejak tiga tahun terakhir. “Bapakku kan sudah sepuh¸ jadi sudah tidak bekerja selama tiga tahun. Karenanya yang kerja itu

hanya ibu. Namun kondisi ibu juga sering sakit sehingga sering libur kerjanya,” pungkasnya. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, setiap hari ibunya menjajakan sayur-mayur yang ia ambil dari pasar. Namun semenjak ibunya menyidap penyakit gula, intensitas jualannya makin berkurang. Hal itu mempengaruhi penghasilan yang semakin tidak menentu. “Kadang 400 ribu kadang juga 500 ribu,” tuturnya. Akibatnya kondisi perekonomian keluarga semakin minim. Upaya banding UKT sudah ia tempuh melalui Pusat Layanan Difabel (PLD). Berkas-berkas yang dibutuhkan sudah dikumpulkannya. “Nanti katanya tinggal nunggu saja,

lpmarena.com- 19 -


bisa atau tidaknya,” ujarnya berharap. Banding tersebut menjadi harapan terbesarnya untuk meringankan beban orang tua. Ia sedikit menahan nafas, kemudian melanjutkan ceritanya mengenai kesulitan-kesulitannya menjadi mahasiswa UIN Suka. Tidak hanya penggolangan UKT, persyaratan saat penginputan data mahasiswa dianggapnya terlalu banyak. Kondisinya yang terbatas menjadikannya semakin sulit. Meski begitu ia merasa terbantu dengan keberadaan PLD yang memberikan pendampingan pada saat itu. Mahasiswa difabel yang keberatan terhadap penetapan UKT tidak hanya dialami Siti Maisyaroh. Hal serupa juga dialami oleh Toviyani Widi Saputri, mahasiswa Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Sebagaimana ditemui ARENA, mahasiswa yang terpaksa tidak berobat akibat biaya pendidikan tersebut harus menanggung UKT yang jauh dari jangkauan ekonomi keluarganya. Mahasiswa semester satu ini mendapatkan UKT golongan II dengan nominal Rp 1.500.000,00. Padahal semenjak sakit, keuangan keluarga banyak digunakan untuk berobat. Sehingga sirkulasi keuangan terpaksa harus diatur sedemikian rupa. “Sejak tahun 2010 uang keluarga hampir semua digunakan untuk berobat. Jadi, perekonomian itu terbalik,” ujarnya pelan. Mahasiswa tunanetra dan penyuka pengobatan bekam tersebut lebih memilih untuk mengalokasikan keuangan untuk

biaya pendidikan daripada berobat. Meskipun begitu ia tetap menyadari kondisinya tetap membutuhkan banyak dana dan penggunaan obat. Karenanya, ia tidak menuntut kuliah di perguruan tinggi yang mahal. “Akhirnya pilih UIN, sebab saya kira

Akhirnya pilih UIN, sebab saya kira tidak sampai satu juta

tidak sampai satu juta,” tambahnya. Selama ini untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya mengandalkan penghasilan bapaknya yang bekerja sebagai tukang patri. Sebagai pekerja yang mengikuti permintaan pelanggan membuat penghasilannya tak menentu. Biasanya dalam sebulan bapaknya mampu mengantongi Rp 600 ribu, tapi tidak jarang hanya mentok Rp 200 ribu saja. Hal itu tentu belum cukup memenuhi

kebutuhan keluarganya. Apalagi ibunya hanyalah ibu rumah tangga. Biaya yang tidak murah mengharuskannya memutar banyak akal. Demi meringankan beban orang tua, ia mencoba peruntungan melalui beasiswa Bidikmisi. Hal itu dilakukan atas inisiatif sendiri. “Bidikmisi itu saya modal nekat mas, sebab kemarin waktunya sudah mepet, satu minggu penutupan saya baru cari berkas,” tuturnya. DIFABEL INDIKATOR KEMISKINAN Inklusifitas pendidikan telah dijamin oleh Undang-Undang (UU). Hal ini sekurang-kurangnya bisa dilihat sebagaimana yang termaktub dalam UU Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. UU tersebut menekankan hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan jenjang, jalur, satuan, bakat, minat, dan kemampuannya tanpa diskriminasi. Pengakuan hukum di atas tidak hanya dipahami sebagai seperangkat peraturan belaka, akan tetapi implementasi kebijakan harus mampu menjangkau dan dipraktikkan dalam kehidupan. Pemberlakuan kebijakan yang mengacu pada masyarakat tersebut diamini oleh Ro'fah. Salah satu dosen Fakultas Syari'ah dan Hukum yang juga aktif dalam persoalan disabilitas. Ro'fah masih percaya dengan istilah kebijakan mikro yang menekankan penerapan pada pihak

Data Mahasiswa Difabel Tahun Akademik 2016/2017 JUMLAH MAHASIS WA

JENIS DISABILITAS

15

TUNANETRA TUNADAKSA TULI LAIN-LAIN

DAKWAH IKS BKI KPI 1 1

SAINTEK TI

1

TARBIYAH PAI PGMI 1 1

1

PESEBARAN PERFAKULTAS FISHUM ADAB SOSILOGI IKOM IP SKI SASTRA I 1 1 1 1 1

1

Data Mahasiswa Difabel Tahun Akademik 2017/2018 JUMLAH MAHASIS WA

JENIS DISABILITAS

13

TUNANETRA TUNADAKSA TULI LAIN-LAIN

DAKWAH IKS

BKI

USHULUDIN

SAINTEK

TAFSIR HADIS

TI

2 1

- 20 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

PESEBARAN PERFAKULTAS TARBIYAH FEBI KEUANGAN MANAJEMEN PAI PGMI SYARIAH KEUANGAN 1 1

SOSIOL 1

1 1

1

1

1


pelaksana. “Makanya tadi kalau kita bicara kebijakannya, teori dan juga praktik dalam dunia lebih luas,” tegasnya. Selama ini upaya-upaya advokasi terhadap disabilitas secara lebih luas telah dilakukan dalam skala nasional maupun internasioal. Disability inclution in social protection atau dalam hal ini inklusifitas difabel menjadi bagian tak terpisahkan dalam perlindungan sosial. Maka disabilitas sudah seharusnya menjadi pertimbangan dalam agenda-agenda sosial secara keseluruhan. Ro'fah menjelaskan UIN Suka yang mengatasnamakan dirinya sebagai kampus inklusi mestinya demikian. Salah satunya dalam menentukan indikator penggolongan UKT. Kampus harusnya selain mengacu pada tingkat perekonomian, juga melihat kondisi orang tua maupun pribadi mahasiswa itu sendiri. “Jika hal ini diaplikasikan dalam konteks disabilitas juga tepat,” ujarnya. Menurutnya ada beberapa alasan mengapa penyandang disabilitas mesti dijadikan indikator kemiskinan. Pertama, kemiskinan dan disabilitas link-nya sangat dekat. Apabila keluarga, apalagi yang orang tuanya juga difabel, kemungkinan miskinnya sangat tinggi. Kedua, biaya untuk menjadi difabel itu mahal. Kalaupun difabel tersebut anak orang kaya, tapi kebutuhan yang harus dikeluarkan setiap bulannya berbeda dengan mahasiswa non-difabel. “Difabel mengeluarkan biaya yang lebih

PAI 1

LOGI

BKI

PASCA HERMENEUTIKA

1

1

FISHUM KOMUNIKASI

PSIKOLOGI

1

1

banyak,” tegasnya. Sehingga perlu adanya kompensasi. Ketiga, disabilitas memiskinkan keluarga. Artinya sekalipun difabel berasal dari keluarga kaya, tetapi karena biaya yang dikeluarkan lebih banyak, maka hal ini berpotensi mendekatkannya pada jurang kemiskinan. Bagi keluarga yang memang sudah hidup berada di bawah garis kemiskinan, kondisi tersebut akan semakin menyusahkan kondisinya. Mengantisipasi kemungkinankemungkinan itu maka perlu tindakan afirmatif (afirmative action). Hal itu bertujuan agar kelompok atau golongan tertentu memperoleh peluang yang setara dengan lainnya dalam bidang yang sama. “Kalau kita berbicara mengenai affirmative action untuk penyandang disabilitas, saya pikir pemberian beasiswa kepada mahasiswa difabel itu juga menjadi komponen yang cukup penting untuk dipikirkan. Kalau itu bisa dilakukan oleh pimpinan UIN, saya yakin akan luar biasa. Terutama tentu saja kepada mereka penyandang disabilitas yang background-nya adalah kurang mampu,” timpalnya. Pemberian beasiswa dimaksudkan untuk membuka akses difabel dan kesempatan belajar ke perguruan tinggi lebih luas. Menurutnya mahasiswa difabel selama ini dinilai masih terbatas aksesnya untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi. Langkah yang bisa dilakukan selain pertimbangan disabilitas sebagai indikator dalam menetapkan penggolongan UKT, juga kuota khusus pada beasiswa Bidikmisi. Hal ini juga memungkinkan untuk diberlakukan dalam beasiswabeasiswa lainnya yang ada di UIN Suka. Jika beasiswa ini diterapkan tentu ekses bagi mahasiswa difabel akan terbuka lebih luas. “Mungkin tidak hanya di Bidikmisi, tapi semua beasiswa yang ditawarkan UIN itu perlu kuota khusus untuk difabel, ya untuk menyamakan kesempatan tadi,” ujarnya. Baginya, menyamakan kesempatan kuliah bisa dilakukan dengan beasiswa. Kampus juga harus mampu memastikan semua program beasiswa bisa mengakomodirnya. Termasuk akses dan informasi yang harus sampai ke

tangan mahasiswa difabel. Sejauh ini, UIN Suka masih belum menggunakan disabilitas sebagai salah satu indikator dalam menentukan penggolongan UKT. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Sahiron selaku Wakil Rektor II, saat ditemui, Senin (16/10). Menurutnya sejauh ini dalam menentukan golongan UKT masih disamakan. “Jadi sampai detik ini belum ada pembicaraan tentang difabel. Nanti kita coba melihat bagaimana melihat difabel ini dalam menentukan UKT,” ujarnya saat diwawancarai ARENA. Sahiron mengakui kerentanan mahasiswa difabel bisa berimbas pada dana yang dibutuhkan dalam memenuhi kebutuhan termasuk pendidikan. Bukan tidak mungkin nantinya mahasiswa difabel ditempatkan di UKT I atau II. Meskipun begitu bukan berarti sama rata melainkan menyesuaikan dengan kondisi keluarga. “Kecuali yang orang tuanya sangat mampu dan tidak perlu bantuan ya ditempatkan sewajarnya saja,” pungkasnya. Sahiron juga menyarankan orang-orang yang konsen di bidang disabilitas mestinya memberikan informasi secara resmi. Menurutnya PLD sebagai lembaga kampus bisa menjembatani kebutuhan itu. “Terlebih di tahun 2018 akan ada indikator lain,” tambahnya. Menurutnya disabilitas bisa dijadikan pertimbangan penggolongan UKT bergantung pada kesepakatan rapat UKT. PLD sebagai unit kampus yang ambil bagian dalam mengajukan pertimbangan, diharapkan bisa lebih aktif. Demikian juga langkahlangkah afirmasi yang belum dilakukan. Bisa berupa beasiswa difabel. Jika hal itu penting dan bisa membantu bisa diusulkan pada forum tersebut. “Mereka bekerja untuk itu, menyelesaikan masalahmasalah difabel. Biasanya diundang juga dalam rapat, maka merekalah yang memperjuangkan dalam rapat tersebut,” sambungnya. Dari periode tahun 2016 hingga 2017 jumlah mahasiswa difabel di UIN Suka berada di atas angka 10. Tahun 2016 misalnya angka mahasiswa difabel mencapai 15 mahasiswa yang tersebar di berbagai fakultas. Sedangkan tahun 2017, jumlahnya sedikit menurun menjadi 13 mahasiswa.[]

lpmarena.com- 21 -


MINIM SARANA DAN PEMBERDAYAAN, UKM DITUNTUT BERPRESTASI Kampus menuntut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) agar mampu menghasilkan banyak prestasi. Namun hal ini tidak diimbangi dengan dukungan kampus secara maksimal. Mulai dari fasilitas hingga sokongan dana yang menemui banyak kendala.

Dokumen Istimewa

Oleh Rahmat Hidayat dan Fikriyatul Islami Mujahidiyah

Anggota UKM mendapatkan penghargaan dalam acara Kalijaga Creative Festival 2016. Penghargaan tersebut diberikan setelah sebelumnya panitia KCF mengadakan perlombaan dengan kategori tertentu.

S

etiap kampus mempunyai kewajiban untuk menumbuhkembangkan setiap bakat dan kreativitas yang dimiliki mahasiswa. Lewat UKM, kampus mencoba mengaplikasikan perannya tersebut. UIN Sunan Kalijaga sendiri memiliki 17 UKM yang terdiri dari berbagai fokus kegiatan. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) itu sendiri memiliki dua macam kegiatan yaitu kegiatan yang

- 22 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

terprogram dalam kegiatan kemahasiswaan dan kegiatan yang terprogram dari setiap UKM. Kedua kegiatan itu didanai oleh kampus. Di sisi lain ada juga kegiatan insidental berupa undangan dari luar berkaitan permohonan delegasi. Khairul Anwar, Ketua Kasubag Bina Bakat UKM mengatakan, ada beberapa poin akan pentingnya UKM. Pertama, meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam UKM.

Hal ini berdasarkan pada manfaat UKM dalam mengasahkan kepribadian mahasiswa dalam hal kepemimpinan, wawasan manajerial, kemampuan kerjasama, memecahkan masalah dan tanggung jawab. Soft skill-soft skill yang jauh lebih penting daripada angka-angka IPK. “Sayangnya tidak semua orang menyadari. Jadi kita mendorong bagaimana mahasiswa menyadari pentingnya UKM,� tuturnya.


Kedua, bagaimana agar UKM menjadi semakin jelas dan meningkat pula kontribusinya terhadap kampus, masyarakat secara luas dan partisipasi terhadap pembinaan mahasiswa secara umum. Ketiga, meningkatkan prestasi dan reputasi mahasiwa sampai tingkat nasional dan internasional. TANTANGAN KADERISASI UKM Ronggo Suryo Gumelar, presiden UKM Jamaah Cinema Mahasiswa (JCM) menjelaskan, setiap tahunnya kuantitas kader mengalami kondisi naik turun. Tahun 2014 kader yang bertahan hanya sekitar lima orang, tahun berikutnya sekitar sepuluh orang. Pada tahun 2016 kembali turun hanya sebanyak lima orang Kurangnya minat mahasiswa terhadap UKM menurutnya, dipengaruhi kebijakan kampus yang membatasi kuliah hanya lima tahun. Sehingga mahasiswa berpikir dua kali ketika hendak kuliah sembari aktif di UKM. “Jadi mahasiswa harus kuliah, mereka tidak bisa menyambi kegiatan lain yang akan berisiko kuliah mereka akan lama,” ujar mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam tersebut saat ditemui ARENA, Selasa (19/09). Tidak hanya itu, ia berpendapat mental mahasiswa hari ini begitu lemah saat mengikuti proses di UKM. “Sedikit-sedikit ditekan lalu berhenti,” tambahnya. Penurunan kuantitas kader juga dialami UKM Mahasiswa Pecinta Alam UIN Sunan Kalijaga (Mapalaska). Selama tiga tahun terakhir UKM yang identik dengan kealaman mengalami penurunan jumlah kader yang signifikan. Berdasarkan pernyataan ketua Mapalaska Muhammad Arifudin Adli menjelaskan, kuantitas kader tiga tahun terakhir mengalami penurunan drastis. Pada tahun 2014 pendaftar, mencapai sekitar 180 orang. Pada tahun 2015 ada sejumlah 130 pendaftar. Dan di tahun 2016 mengalami penurun drastis sejumlah 80 orang. Penerimaan anggota Mapalaska menggunakan proses seleksi. Meskipun begitu ia tidak terlalu mempersoalkan banyaknya pendaftar yang bergabung. “Kami tidak mempedulikan kuantitas, tapi

lebih mengutamakan kompeten seseorang,” tuturnya Adli saat diwawacarai ARENA di depan kantor Mapalaska. Adli memiliki pandangan tersendiri mengapa Mapalaska semakin sedikit peminatnya. Menurutnya saat ini di UIN Suka banyak bermunculan komunitas pecinta alam yang digagas secara mandiri oleh mahasiswa. Sayangnya komunitas-komunitas tidak dibekali kapasitas terkait ilmu kepencitaalaman. Padahal untuk melakukan penjelajahan alam dibutuhkan keilmuan yang cukup. Seperti pentingnya membawa perlengkapana pribadi, manajemen alat perlengkapan yang baik, dan mengatur logistik selama dalam perjalanan. Menjamurnya komunitas tersebut dipengaruhi film pendakian yang tidak banyak membahas persiapan sebelum mendaki. Sehingga terbentuklah pemikiran betapa mudahnya mengadakan penjelajahan alam. “Berkumpul lima orang sudah bisa mendirikan komunitas. Kami berharap tidak ada lagi kasus anak UIN 2015 yang hilang di Gunung Sindoro terulang kembali. Ini adalah penyebab dari komunitas yang kurang ilmu kepencitaalaman,” ungkapnya. Munculnya komunitaskomunitas ini mengurangi minat mahasiswa untuk bergabung dengan Mapalaska. Ia juga menegaskan, mahasiswa bergabung dengan UKM tidak hanya belajar bakat sesuai dengan bidangnya, melainkan juga mesti belajar perihal keorganisasian yang identik degan peraturan. “Tidak sedikit orang-orang dari kalangan komunitas itu ingin terbebas dari aturan,” ujarnya. Tantangan yang dihadapi UKM Mapalaska juga dihadapi UKM Resimen Mahasiswa atau Menwa. Aridya Ega Rahmadani selaku ketua Menwa menyatakan, jumlah pendaftar awalnya bisa mencapai 70 sampai 80 pendaftar, tetapi saat ini mengalami penurunan. Untuk angkatan 2016, anggota Menwa berjumlah 12 orang, dan 10 orang yang berhasil melewati tahap seleksi. Dalam hal kestafan Menwa mengalami penurunan. Pada periode ini ada penurunan jumlah, semula yang berjumlah 30-an menjadi 17 karena ada perubahan sistem. Sebelumnya angkatan tua masih

menjabat dalam kestafan, tetapi sekarang sudah bebas tugas dan yang mengambil alih kepemimpinan dari anggota semester III dan V. “Jadi yang semester VII dan VIII tidak masuk dalam kestafan,” ungkapnya saat diwawancarai ARENA di Student Center. Khairul mengatakan faktor penyebab turunnya minat mahasiswa berproses di UKM, tren mahasiswa yang lebih berorientasi kepada akademik. Hal ini disebabkan kebijakan kampus yang kehadiran di kelasnya dibatasi sebanyak 75 persen. Kebijakan ini berpengaruh besar kepada mahasiswa untuk lebih terdorong ke akademik. Menurutnya, hanya orang-orang tertentu saja yang menyadari selain kuliah perlu juga menjajaki kegiatan di luar, seperti aktif organisasi intra (UKM), organisasi ekstra, atau Lembaga Swadaya Masyarakat. “Dan itu hanya sebagian kecil, mungkin tidak sampai 25 persen mahasiswa yang suka atau memiliki minat beraktifitas mengembangkan diri,” ungkapnya. Kurangnya kuantitas tersebut justru diperparah dengan kebijakan kampus yang memperpendek waktu sosialisasi saat masa pengenalan mahasiswa baru. Beberapa mahasiswa yang aktif di UKM menyayangkan sikap birokrat yang malah meminggirkan UKM, karena peraturan itu. Padahal ruang tersebut sebagai ajang menarik minat mahasiswa baru agar ikut berproses di UKM. Meskipun kampus menggantinya dengan pembukaan stand-stand UKM di depan Poliklinik saat masa pengenalan mahasiswa baru. Namun, di lapangan stand-stand tersebut terlihat sepi. Sebab tidak ada agenda mahasiswa baru yang diarahkan ke depan Poliklinik. Ditambah lagi hilangnya Panggung Demokrasi (Pangdem) tempat sosilisasi selain PBAK. Relokasi Pangdem yang hingga hari ini belum jelas kepastiannya. Ditambah sistem Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang merugikan sosialisasi UKM. Dalam PBAK masing-masing UKM diberi waktu tujuh menit untuk mensosialisasikan dirinya dalam bentuk presentasi power point. Terkait minimnya waktu dalam

lpmarena.com- 23 -


sosisaliasi UKM, Ghafur selaku ketua Eska sangat tidak setuju, karena sosialisasi UKM dalam PBAK merupakan momen UKM untuk unjuk gigi. Ditambah lagi hilangnya tempat Pangdem yang menjadi tempat sosialisasi selain PBAK. “UIN meminta kita bagaimana anggotanya sekiranya banyak. Nah sedangkan saat sosialisasi kita tidak mempunyai tempat,” ungkapnya. Ungkapan Ghafur senada dengan pernyataan Suryo Gumelar yang menyesalkan pembatasan ini. “UIN kayak latah, padahal mereka omongannya ingin mahasiswa aktif dan berprestasi. Kampus meminta mahasiswanya berprestasi tetapi kegiatan promosi UKM itu sendiri semakin dipangkas. Ini merupakan logika yang salah, rektorat kalau mintanya berprestasi tapi tidak difasilitasi malah makin dikurangi dan dibatasi,” ujarnya. SERETNYA PENCAIRAN DANA DAN PRASARANA Tidak hanya masalah kaderisasi anggota UKM, pendanaan serta fasilitas penunjang kerja-kerja UKM juga dirasa belum menemui harapan. Teater Eska, UKM yang bergerak di bidang kesenian ini menyatakan bahwa mereka mengalami kesulitan dan kendala dalam hal percairan dana dari pihak kampus. Menurutnya, permasalahan percairan dana yang ia hadapi dari tahun-tahun memiliki motif yang sama, yaitu masalah dari rektorat sendiri yang selalu molor dalam hal pengeluaran surat keterangan pencairan dana. “SK-nya tidak segera ditandatanganilah dan pembuatan SK-nya lama,” ungkap Ghafur. Teater Eska dalam hal akomodasi sarana dan pra-sarana sangat tidak mencukupi. Eska pun tidak ketinggalan, mengajukan barang-barang yang dibutuhkan. Namun hingga detik ini barang tersebut belum juga diberikan. “Untuk administrasi saja, surat menyurat kita tidak memiliki printer dan komputer,” sesal Ghafur. Di lain sisi, Eska sendiri memiliki banyak divisi, di antaranya Divisi Sastra, Divisi Keaktoran, dan Divisi Musik yang tentu membutuhkan banyak sarana dan pra-sarana. “Terutama Divisi Musik, kita tidak punya sound, kita tidak punya alat untuk latihan. Kita sudah me-list-

- 24 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

Itu sebenarnya jadi logika yang salah. UKM itu bukan organisasi atau lembaga berduit. kan gitar dan sarana lainnya, malah ditolak! Padahal itu disuruh minta dan mengajukan oleh birokrasi,” ungkapnya saat diwawancarai di depan GOR UIN. Masalah pendanaan dan pengakomodasian sarana yang dialami UKM Eska juga menimpa UKM JCM. Ronggo merasa, terkait pencairan dana sangat diribetkan dengan sistem rektorat. UKM harus melakukan kegiatan dulu, jika ingin mendapatkan kucuran dana. Hal itu mengharuskan UKM mempunyai dana terlebih dahulu dan melaporkan SPJ (Surat Pertanggungjawaban) kegiatan. “Itu sebenarnya jadi logika yang salah. UKM itu bukan organisasi atau lembaga berduit,” ungkapnya gusar. Ia meneruskan, sarana dan prasana yang diakomodasi kampus tidak mencukupi kebutuhan. JCM sebagai UKM perfilman tentu membutuhkan sarana-pra-sarana yang sangat banyak. Ronggo menyatakan, JCM hanya difasilitasi komputer, sedangkan alat-alat lain seperti kamera ia menyewa atau meminjam punya orang dan dari uang-uang pembinaan yang didapatkan dalam digunakan untuk membeli alat-alat yang murah. Untuk kegiatan lain alat-alat kita pinjam punya orang atau menyewa. “Seperti kamera, kita UKM film masa tidak mempunyai kamera, kan aneh!” ungkapnya. Masalah yang dialami Eska dan JCM sama dengan masalah yang dialami Mapalaska dan Menwa. Mereka merasa kekurangan pada pengakomodasian fasilitas/alat yang belum terpenuhi. Seperti Menwa yang membutuhkan sarana olahraga, khususnya olahraga tangan, seperti alat full up atau rangen. “Kami butuh itu,” ujar Ega.

SIKAP REKTORAT Saat ditemui di kantor Laboraturium Agama UIN Suka, Waryono Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan mengatakan, disingkatnya waktu sosialisasi saat pengenalan mahasiswa baru bukanlah suatu persoalan yang berarti. “Okelah itu kurang, tapi itu hanya pintu awal saja, jadi ibaratnya orang iklan itu tidak perlu panjang,” tutur Waryono, Selasa (03/10). Ia juga membandingkan dengan produk yang dikeluarkan berbagai perusahaan yang tetap mendapat tempat di konsumen meski iklannya sebentar. Menurutnya UKM dibentuk untuk mewadahi kreatifitas bakat mahasiswa. Sepinya minat mahasiswa terhadap UKM karena daya tariknya yang makin meredup. Untuk mengembalikan posisi peran UKM ia mewacanakan kebijakan mengakreditasi sekaligus sertifikasi terhadap UKM. Hal itu bisa dilihat dari empat poin. Pertama, pembuatan laporan setiap periode kepengurusannya. Kedua, laporan yang terstruktur. Ketiga, dilihat dari kepengurusan. Keempat, dari karir yang ditempuh alumni. Tahun 2018 besaran anggaran UKM akan dibedakan sesuai dengan rekam jejaknya. Hal itu bisa dilihat dari produktifitasnya, serta banyaknya anggota yang bergabung. “Kalau ada UKM yang tidak produktif kemungkinan akan dihapus dan kita akan membuat yang baru,” tegas Waryono. Waryono menambahkan dalam rangka mengaudit mutu UKM itu sendiri, ia mengadakan Focussed Group Discussion (FGD) pengembangan UKM. Kegiatan tersebut diharapkan agar pengurus UKM mempunyai visi yang jelas. Ia menegaskan visi Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan tidak akan berjalan bila UKM tidak memiliki visi. “Melalui FGD pengembangan UKM ini diharapkan kita memiliki visi besar bersama,” ujarnya. Selain itu ia juga mengkritisi hubungan kepengurusan dengan pembinanya. Menurutnya selama ini relasi keduanya tidak berjalan intens. “Ada yang ketemu pembina hanya karena minta tanda tangan selain tanda tangan ya tidak ketemu,” ungkapnya. Ke depan evaluasi pembina akan menjadi kebijakan untuk memperbaiki kondisi UKM.[]


SELIDIK ARENA Mengetahui “minat Mahasiswa Terhadap Unit Kegiatan Mahasiswa” UKM YANG DIKENAL MABA 11% CEPEDI 11% AL-MIZAN 10% SPBA 9% ARENA 8% PRAMUKA 8% KOPMA 6% OLAHRAGA 5% MENWA 5% TAEKWONDO 5% TEATER ESKA 5% MAPALA 5% PMI 3% GITA SAVANA 2% KARATE 2% INKAI 1% JCM 1% KORDISKA

PENGETAHUAN MABA TERHADAP UKM 96% mengetahui UKM 3% tidak mengeahui UKM 1% tidak menjawab SAYA MENGETAHUI UKM DARI …. 87% Sosialisasi UKM 7% Teman 4% orang lain 2% tidak menjawab KETERTARIKAN MABA SETELAH MENGIKUTI SOSIALISASI 88% tertarik 10% tidak 2% tidak menjawab MABA YANG TELAH MENDAFTAR MENJADI ANGGOTA UKM 44% mendaftar 56% tidak mendaftar

UNIT KEGIATAN MAHASISWA ALASAN MABA TERTARIK MENGIKUTI UKM Mendukung program studi 20% Mendkung karir di masa depan 16% Sesuai minat dan bakat 49% Mencari relasi 10% Ikut-ikut teman 1% Biaya pendaftaran mura 1% Menyukai kegiatan kemanusiaan 1%

ALASAN MABA BELUM TERTARIK UKM 44% Ingin fokus kuliah 16% Mengikuti organisasi ekstra 5% Sedang bekerja atau akan bekerja 55% Tidak mengisi

Survei yang dilakukan ARENA dilakukan dari tanggal 5 September sampi dengan 25 September 2017. Sampel diambil dari berbagai fakultas di UIN Sunan Kalijaga dengan jumlah 200 responden. Alat yang digunakan menggunakan kuisoner.


Oleh Muhammad Abdul Qoni Akmaluddin

S

ore yang tenang dan sepi. Hanya ada beberapa kursi kosong berjejer rapi di ruang pimpinan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga. ARENA melangkahkan kaki ke sudut ruangan sebelah timur. Mengarah ke ruangan Wakil Dekan (Wadek) 1 Bidang Akademik FUPI. Setelah sampai di depan ruangan yang dituju, ARENA mencoba mengetuk pintu beberapa kali sembari mengucapkan salam. Dari balik kaca kecil bagian atas pintu, terlihat sosok laki-laki yang sedang asyik di depan layar komputer. Laki-laki itu menjawab salam sembari mengembangkan senyumnya. Ia adalah Fakhruddin Faiz, seorang dosen sekaligus Wadek 1 FUPI. Tidak menunggu lama, ia langsung mempersilahkan duduk, dan mengakhiri kesibukannya di depan komputer. Dimulailah diskusi empat mata di sore itu, Selasa (12/09). Faiz menjelaskan perbedaan generasi dulu dengan sekarang tidak terlepas dengan kebudayaan yang ada. Dulu banyak orang alim, berwawasan luas, dan dekat dengan buku. Hal itu disebabkan belum adanya internet, sehingga sumber informasi masih pada buku dan guru. Mereka terpaksa harus membuka banyak buku untuk mendapatkan satu informasi atau mondok supaya dekat dengan guru. “Zaman sekarang sumber informasi banyak, mahasiswa tidak perlu capek-capek untuk mencari informasi, di-search di Google sudah keluar semua infomarsi yang ingin dicari,” ungkap Faiz. Bagi Faiz, bergesernya kebutuhan mahasiswa dari buku ke HP ataupun alat teknologi merupakan sebuah kewajaran. Pasalnya zaman terus bergerak, dan teknologi menuju arah kesempurnaan sehingga mindset seseorang digiring untuk mengikuti pasar. “Tapi bukan berarti kondisi seperti itu baikbaik saja.” tambah Faiz. Majunya alat teknologi dan banjirnya arus informasi membuat mahasiswa menjadi kagetan dan gampang terprovokasi. Sebabnya, wawasan keilmuan yang dimilikinya sangat

- 26 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

FAKHRUDDIN FAIZ sempit. “Kalau kondisi seperti ini dibiarkan maka generasi yang kita cetak adalah generasi yang kagetan. Tidak akan mungkin mencetak generasi seperti generasinya Soekarno dan Hatta. Dan bisa diprediksi negara kita akan seperti apa nantinya jikalau generasi penerusnya seperti itu,” jelasnya. Ditambah, melihat kondisi mahasiswa di zaman sekarang ini yang semakin memprihatinkan. Pandangan kampus sebagai media tranformasi ilmu pengetahuan beralih mengikuti pasar. Orientasi kuliah yang mulai bergeser sebagai ajang pamer dan mencari pekerjaan. Sehingga budaya akademik dan kajian-kajian keilmuan mulai ditinggalkan. Kampus yang dipercaya sebagai ruang transformasi pengetahuan mempunyai peran tersendiri untuk mencetak generasi bangsa yang unggul. Hal itu agar tercipta generasi emas di masa yang akan datang. Maka perlu adanya kejelasan antara posisi dosen dan mahasiswa sebagai subyek dalam pengembangan akademik di kampus. Berikut hasil wawancara ARENA bersama Fakhruddin Faiz terkait relasi dosen dan mahasiswa sebagai subyek tranformasi keilmuan: Bagaimana hubungan dosen dan mahasiswa dalam pengembangan akademik di kampus? Hubungan mahasiswa dan dosen tidak seperti guru dan murid, atau kyai dan santri yang terjadi di sekolah atau pondok pesantren. Yang mana murid atau santri harus patuh pada apa yang diucapkan guru atau kyai. Kalau di kampus menggunakan teori andragogi. Di mana bunyi teori tersebut adalah memperlakukan mahasiswa seperti orang dewasa. Yang itu artinya mahasiswa bukan seperti murid atau santri yang harus dituntun guru atau kyai. Mahasiswa dijadikan rekan belajar dosen dalam pengembangan keilmuan yang ada di kampus. Sumber informasi tidak hanya ada di dosen. Dosen tersendiri pada kasus ini bertindak sebagai fasilitator atau juga bisa dikatakan


inspirator. Dosen yang memfasilitasi mahasiswanya untuk mengembangkan keilmuan. Atau memotivasi mahasiswanya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Bukan berarti teori andragogi berjalan secara normal, karena untuk melibatkan dua subyek dalam hal ini dosen dan mahasiswa sebagai mitra belajar sangat sulit. Sehingga seringkali dosennya siap mahasiswanya tidak siap. Terkadang dosennya tidak siap tapi mahasiswanya siap. Maksud dari dosennya siap dan mahasiswanya tidak siap adalah ketika dosen sudah siap dengan materi yang akan diajarkan tetapi mahasiswanya masih awam akan hal tersebut sehingga dosen menjadi full informasi. Sedangkan yang dimaksud dosennya tidak siap dan mahasiswanya siap. Ketika mahasiswanya sudah siap dengan materi yang akan dibahas tetapi dosennya tidak peka untuk memberi ruang mahasiswanya. Sehingga penerapan teori tersebut belum berjalan efektif. Bagaimana Anda menerapkan teori tersebut di dalam kelas? Tergantung kelasnya juga. Kalau kelas yang anaknya mampu diajak jalan bareng, ya kita jalan bareng. Diskusi bareng dan memang mahasiswa benar-benar menjadi mitra belajar. Tapi tidak semua kelas kan seperti itu. Terkadang juga ada kelas yang tidak bisa diajak jalan bareng. Ya, saya sebagai infoman penuh. Biasanya faktor apa saja yang menjadikan mahasiswa mampu atau tidak untuk diajak jalan bareng? Pertama, mungkin karena materinya masih baru, sehingga mahasiswa masih awam. Kedua, mungkin karena materi yang diajarkan terlalu berat, sehingga anak tidak mempunyai gagasan pada materi tersebut. Sehingga dosen harus menerangkan sepenuhnya. Bagaimana metode yang Anda terapkan ketika mengajar? Sama seperti dosen yang lainnya. Di awal pertemuan mahasiswa disuruh baca buku yang ada hubungannya dengan mata kuliah. Supaya nanti mudah dalam diskusi. Dan mahasiswa datang ke kelas kosong akan gagasan. Kalau di kelas saya, tidak semua mahasiswa tak suruh buat makalah. Terkadang saya yang ceramah. Sampai saya mengetahui level pengetahuan mahasiswa. Jadi memang tidak dari awal mahasiswa saya suruh presentasi. Mereka juga harus punya bekal dulu. Setelah itu baru mahasiswa presentasi dan diskusi. Kelas yang aktif itu yang seperti apa ? Kelas yang aktif, kelas yang visi idealnya perkuliahan itu jalan. Target keilmuannya tersampaikan. Metodenya apa yang digunakan itu situasional. Jadi aktif itu jalannya bukan targetnya. Targetnya tetep kompetensi perkulian itu tercapai. Tidak ada gunanya mahasiswanya aktif tapi nggak dapat apa-apa. Nanti dapetnya cuma ramai aja di kelas. Targetnya bukan aktifnya, aktif itu sebagai salah satu metodenya. Target tercapainya kompetensi.

Metode apa saja yang pernah digunakan Anda dalam menghadapi mahasiswa supaya kelas yang aktif itu bisa tercipta? Tergantung kontekstualisasinya. Kalau mahasiswanya ngantuk ya disuruh cuci muka. Kalau mahasiswanya tidur ya dibangunkan. Kalau mahasiswanya telat ya ditanya alasannya. Kalau alasannya tidak rasional disuruh pulang. Di perguran tinggi kan ada Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pengajaran, penelitian, dan pengabdian. Lalu bagaimana Anda dalam menanggapi tridarma tersebut dan menerapkannya dalam kelas? Yang dibawa ke kelas, yang diajarkan itu kan pendidikan di situ sekaligus juga ada penelitian. Karena teori-teori yang diajarkan itu kan hasil dari penelitian terbaru sebagai pengembangan-pengembangan ilmu pengetahuan. Harusnya ilmu yang ada di kelas itu punya kontribusi di luar kelas. Jadi pendidikan, pengabdian, dan penelitian itu bukan hal-hal yang pisah-pisah. Pendidikan tidak bisa berkembang kalau tidak ada penelitian. Penelitian tidak ada gunanya kalau tidak ada pengabdian Apakah ada pengontrolan terhadap mahasiswanya terkait tridarma perguruan tinggi tersebut? Kalau sampai level pendidikan dan penelitian di kampus masih bisa. Karena kampus fasilitasnya banyak. Untuk pengabdian dosen hanya memberikan gambarangambaran mengenai kegunanaan ilmu pengetahuan. Contoh ilmu pengetahuan A dapat berguna seperti ini. Supaya mahasiswa mempunyai gambaran dalam kegunaan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari di dalam kelas. Dan dosen menjelaskan kepada mahasiswa, bahwa ilmu pengetahuan ini mempunyai pengaruh dalam masyarkat. Untuk mengubah tatanan sosial dan yang lain sebagainya. Bagaimana peran mahasiswa dalam masyarakat jika dikaitkan dengan tridarma perguruan tinggi? Mahasiswa dalam masyarakat seharusnya mempunyai peran untuk membina. Menyadarkan masyarakat, memberi pencerahan kepada masyarakat dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang didapat di kampus seharusnya diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat. Mencerahkan masyarakat dalam keterbatasannya dengan ilmu pengetahuan. Masalahnya, mahasiswa sekarang ketika berada di perantauan membaur dengan masyarakat, mengikuti gerakan petani, membela rakyat kecil, dan lain-lain. Tapi ketika kembali di kampung halaman menjadi manusia yang elite, tertutup bahkan tidak kenal mayarakat disekelilingnya. Itu kan sama saja. Kompetensinya tetep tidak tercapai.[]

lpmarena.com- 27 -


Dokumen Istimewa

Oleh Afin Nur Fariha

W

aktu menunjukan pukul 13.00 WIB dan sinar matahari masih terasa sangat menyengat. Beberapa mahasiswa-mahasiswi mulai berdatangan menuju Gedung Rektorat Lama UIN Sunan Kalijaga (Suka). Siang itu, Kamis (26/10) di gedung bernuansa klasik dengan hiasan daun-daun jendela berukuran besar, tepatnya di ruang pertemuan lantai tiga, tengah berlangsung Sekolah Gender yang ke-8 yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Suka. Lebih dari 50 mahasiswa hadir dalam pembukaan acara tahunan tersebut. Setelah seremonial pembukaan selesai, panitia membagikan selembar kertas berisi pertanyaanpertanyaan seputar fenomena stereotip gender, seperti: Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, pendapat Anda bagaimana? Bukankah manusia itu diciptakan dari zat yang sama? Peserta diberi waktu sepuluh menit untuk memberikan jawabannya tersebut. Usai pertanyaan itu, Witriani selaku Ketua PSW UIN Suka periode 2017 memberikan ilustrasi yang menarik terkait ketimpangan gender. Mulanya, ia meminta empat orang peserta perempuan untuk maju, membentuk formasi satu baris ke belakang. Setelah itu, dipanggillah salah satu peserta laki-laki untuk berdiri di barisan terdepan membelakangi empat peserta perempuan tersebut. “Konstuksi gender selama ini, mirip dengan formasi teman-taman yang ada di depan, yang terlihat selalu adalah laki-laki. Sementara di belakang ada banyak perempuan dan tidak begitu nampak,” ujar Witriani saat memberikan penjelasan. Sekolah Gender merupakan salah satu program kegiatan PSW, sekaligus sebagai ruang alternatif untuk belajar mengenai keadilan gender. “Karena tidak semua mahasiswa mendapatkan kurikulum gender dalam jurusannya, itulah sebab awal, kami merasa perlu mengadakan Sekolah Gender,” ungkap Alimatul Qibtiyah, salah satu penggagas Sekolah Gender saat ditemui ARENA, Selasa (24/10). Baginya, sangat disayangkan bila masih ada mahasiswa yang tidak mengetetahui dan tidak sadar persoalan gender. Apalagi saat ini dunia tengah memasuki umur milenium yang ketiga. Wacana gender merupakan wacana yang penting untuk menyongsong kehidupan ke depan. “Dunia ini terus berubah ya, termasuk tentang peran dan lain sebagainya. Artinya, kalau perspektif gender

- 28 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

tidak diberikan, mahasiswa akan kagok untuk menghadapi kenyataan baru. Sementara semua akses, partisipasi masyarakaat, kontrol, itu kan harapannya terbuka untuk laki-laki dan perempuan,” terang Alima. Ia juga menambahkan, isu gender dan Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan isu kontemporer yang sudah seharusnya diketahui mahasiswa. Perspektif adil gender telah dikumandangkan di Indonesia sejak akhir tahun 80-an. Misinya mengembalikan peran laki-laki dan perempuan pada ranah yang semestinya. Serta melawan konstruksi sosial yang mengesampingkan peran perempuan. Selama ini paham tersebut merelung di alam bawah sadar masyarakat dan menjadi suatu kebenaran. Alima masih mengingat pengalamannya saat mengisi seminar maupun khalaqqoh terkait wacana gender. Ia mengaku, pergolakkan transfer wacana tersebut pada awal tahun 2.000-an, masih sering mendapat pandangan dingin dari masyarakat. Bahkan, setiap kali selesai mengisi diskusi terkait gender, ia seringkali dituntun untuk berwudhu dan beristigfar oleh teman-temannya. Lantaran apa yang dia sampaikan dianggap dosa dan harus ditaubati. Padahal, ia meyakini antara Islam dan gender tidak bertentangan, justru seirama dan sejalan. Segala yang dilakukan Rasulullah merupakan upaya untuk membebaskan perempuan dari ketidakadilan gender. Ia juga bercerita, keadaan masyarakat Arab saat itu, sangat memposisikan perempuan sebagai the second sex, bahkan tidak pantas hidup. Beberapa kabilah mempunyai tradisi membunuh anak perempuan, karena dianggap makhluk lemah. Sekaligus tidak bisa menjadi tulang punggung keluarga apalagi berperang. Namun, setelah datangnya Islam, Rasullullah membuka akses bagi perempuan untuk mendapat pendidikan dan bersosial. “Aisyah itu ikut berperang bersama Rasulullah. Saat Rasul sudah wafat, ia bahkan pernah memimpin medan perang. Jadi sebenarnya perempuan tidak lemah,” papar Alima. Sementara itu, keadaan biologis perempuan yang mendukung untuk lebih dekat dengan anak, membuat lingkungan sosial dan penafsiran agama kerap mendekatkan mereka dalam wilayah domestik. Baginya, hal tersebut bukan menjadi persoalan. Asalkan tidak menyebabkan ketidakadilan dan perempuan tetap bisa maju. Sebab seperti laki-laki, perempuan juga bisa berperan bukan hanya sebagai pelengkap.


Tantangan demi tantangan, tidak pernah membuat semangatnya surut untuk terus menyuarakan perspektif gender. Termasuk di kalangan masyarakat UIN Suka. Ia memaparkan, sudah menjadi konsekuensi, bahwa secara realitas akan terjadi kepribadian ganda (split personality) di kalangan Muslim. “Misalnya, agama yang saya (laki-laki) pahami, perempuan itu tidak boleh jadi kepala keluarga, nafkah itu ada di tangan laki-laki. Tapi realitas sosial yang ada, wah gimana ini, sekarang yang banyak bekerja kok perempuan? Saya akan merasa berdosa. Mengapa penghasilan istri saya lebih besar dari pada saya,” paparnya lebih lanjut. Mengenai split personality, secara kasat mata, memang tidak menjadi masalah. Namun, karena ada kontradiksi antara pelajaran agama yang dipahami dengan perubahan sosial, maka akan terjadi sebuah pergolakan. Menyadari perubahan realitas tersebut, pada tahun 2014 PSW merasa sudah semestinya menciptakan ruang yang mampu menjadi wadah dialektika keilmuan gender. Ruang itu pun mewujud dengan terselenggarakannya Sekolah Gender. Saat Sekolah Gender angkatan pertama dibuka, sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Melihat respon yang baik dari para akademisi dan juga semangat yang kuat dari pihak PSW, maka forum tersebut terus diadakan dari tahun ke tahun. Sekolah Gender, diselenggarakan dengan ritme dua kali dalam setahun. Ada tujuh materi pokok yang disampaikan dalam pembelajarannya. Mulai dari Pengertian dan Perbedaan antara Sex dan Gender, Kesetaraan dan Keadilan Gender, Pengertian Patriarki, Pengertian Feminisme, Pengarusutamaan Gender, Gender dan Islam, serta yang terakhir Analisis Gender. Pesertanya pun tidak terbatas dari kalangan UIN Suka saja, semua orang bisa mengikuti kegiatan tersebut. Metode pembelajaran yang diterapkan ialah diskusi dialektis. Sehingga arus pembicaraan lebih terbuka dan tidak bersifat doktriner. Melainkan lebih merujuk pada tukar pikiran dan kegelisahan. Setelah peserta mengikuti Sekolah Gender, mereka diharapkan memiliki perspektif adil gender. Witriani menjelaskan, secara fungsional ada empat tahapan peran keilmuan gender. Pertama, gender sebagai sebuah fenomena yang tidak perlu dipermasalahkan, seperti perempuan memakai rok, dan laki-laki memakai celana. Kedua, gender sebagai sebuah persoalan, yang mana konstruksi peran laki-laki dan perempuan dalam praktiknya justru membuat timpang hak-hak perempuan. Ketiga, gender sebagai sebuah prespektif. Keempat, gender sebagai tool of analysis, dan gerakan sosial. Ia juga ingin meluruskan perspektif yang selama ini ditakuti masyarakat mengenai gender. Masyarakat seringkali beranggapan muara pembicaan gender ialah untuk mendobrak sistem yang sudah ada. “Seperti perempuan harus bisa menjadi sopir, menjadi kuli, imam dan lain sebagainya,” ujar Witri. Padahal gender itu sebenarnya bukan hanya untuk perempuan, tapi untuk keadilan laki-laki juga. Sementara itu, Multazam peserta Sekolah Gender mengaku termotivasi mengikuti acara tersebut. Menurutnya realitas sosial selama ini menunjukan lakilaki selalu mendominasi. Hal itu menjadi sebuah kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. Sebab dalam

kehidupan yang ideal mestinya tidak ada dominasi antara laki-laki pun perempuan. “Saya ingin membuktikannya dengan mengikuti Sekolah Gender,” tutur Multazam. Muhammad Khafid, yang juga salah satu peserta Sekolah Gender mengakui tujuannya mengikuti kegiatan ini, karena minimnya laki-laki yang feminis. Ia ingin mengusung sebuah perubahan dimulai dari dirinya sendiri terlebih dahulu. Menurutnya budaya patriartki secara tidak sadar memposisikan laki-laki berada pada zona yang diuntungkan, sedangkan perempuan sebaliknya. “Padahal kalau sejajar, juga tidak masalah, itu justru membuktikan kemajuan sebuah peradaban,” ungkap mahasiswa Prodi Islam dan Kajian Gender pascasarjana UIN Suka tersebut. PERSOALAN GENDER MASIH TERJADI Akses pendidikan dan politik bagi perempuan telah terbuka. Namun, berbagai masalah ketimpangan gender masih sering terjadi. Situasi ini akhirnya melahirkan perempuan dan anak berada pada kondisi rentan. Praktik yang merugikan pihak tertentu itu masih saja bertebaran melukai nurani masyarakat. Menurut pengamatan PSW, perspektif adil gender sangat diperlukan. Bercermin dari banyaknya peristiwa yang merebak akhir-akhir ini. Alima mencotohkan sebuah kasus mengenai perspektif seorang hakim bernama Binsar dalam memandang kasus pemerkosaan. Hakim tersebut mengatakan dalam kasus pemerkosaan, antara korban dan pelaku sama-sama enaknya, sehingga tidak perlu dipermasalahkan. “Itu kan tidak punya sensivitas keadilan terhadap apa yang dialami oleh perempuan,” terang Alima. Selain itu ia juga memaparkan kasus seorang bupati yang memberikan pernyataan, menikahi perempuan ibarat membeli baju. Jika sobek bisa dikembalikan lagi. Baginya, pernyataan bupati tersebut sangat melecehkan perempuan. Akhir-akhir ini juga marak diadakan seminar kiat cepat mencari istri empat. Ada juga launching Partai Ponsel pada 19 September 2017 lalu, yang salah satu program unggulannya adalah lelang perawan. Selain itu, juga marak program nikah siri online. “Semuanya itu kalau diimplementasikan merugikan perempuan dan anak,” tutur Alima. Ditambah data dari WHO tahun 2013, jumlah kekerasan fisik maupun seksual yang dialami perempuan karena ulah pasangannya sendiri mencapai 35 persen. Sementara kekerasan sosial terhadap perempuan maupun kekerasan pemerkosaan setelah menikah mencapai 70 persen. Sedang kekerasan level pembunuhan terhadap perempuan mencapai 5 persen. Di sisi lain, lebih dari 70 juta perempuan menikah di bawah usia delapan belas tahun. Tidak hanya itu, dalam kehidupan sehari-hari permasalahan bias gender masih kental di masyarakat umum. Akses perempuan dalam ruang publik yang masih sempit. Kalau tidak diperhatikan hal itu akan menimbulkan beban ganda bagi perempuan ”Jadi siapa bilang persoalan gender sudah selesai? Mungkin dari konsep sudah selesai kajiannya, tetapi implementasi dan sosialisasinya ke masyarakat luas itu yang belum,” ungkap Alima.[]

lpmarena.com- 29 -


Oleh Wulan D. Agustina

“J

angan kau takut pada gelap malam, bulan dan bintang, semuanya teman. Tembok tua tikus-tikus liar, iringi langkah kita menembus malam. Di Sayidan … di Jalanan, angkat sekali lagi gelasmu kawan. Di Sayidan, di jalanan, tuangkan air perdamaian,” sebuah lagu dari band kelahiran Yogyakarta Shaggy Dog dinyanyikan oleh seorang lelaki yang berada di salah satu warung kopi Kompleks Kebun Laras, G-bol. Diiringi petikan gitar dengan tempo yang cepat. Sesekali manusia-manusia yang berada di sekelilingnya tertawa sambil ikut menyayikan lagu tersebut. Sesekali pula mereka meneguk kopi seduh yang dibuat melalui proses tradisional, yang tersaji pada cangkir mereka. Rabu 20 September 2017. Waktu menunjukan pukul 22.30, beberapa warung kopi yang terletak di kompleks Kebun Laras, tepatnya di Jalan Sorowajan Baru, tampak dipenuhi manusia. Begitu pula warung kopi G-bol kepanjangan dari Gila Bola, begitu si pemilik menjelaskan. Salah satu warung kopi yang terletak pada kompleks tersebut. Menjelang tengah malam, manusia yang datang justru semakin iring- iringan. Semakin banyak. Warung kopi terlihat semakin bernyawa. Dari beberapa yang ARENA tanya, sebagian besar merupakan mahasiswa. Ada yang berdiskusi, bergurau, bernyanyi bahkan menonton bola lewat televisi di salah satu sudut warkop yang tak jauh dari meja kasir. Namun ada yang sama dari setiap manusia yang berkumpul menjadi kelompokkelompok kecil maupun besar, selalu tersaji kopi di antara forum mereka. Ada kopi susu, kopi hitam, dan lain sebagainya. Semua tersaji dalam cangkir kecil terbuat dari keramik dengan motif bunga pada salah satu bagiannya. Sebuah ciri khas dari cangkir ala Jawa Timuran. “Saya kan orang Jawa Timur, Bojonegoro,” ungkap Bahrul Ulum atau biasa dipanggil Kawul, owner dari warung kopi G-bol. Hobinya sebagai penikmat kopi yang membuat lelaki

- 30 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

berperawakan tinggi besar dengan rambut gondrong tersebut membuka usaha warung kopi. “Waktu kuliah, bangun tengah malam, mencari warung kopi itu susah,” ungkap Kawul bernostalgia. Menurutnya, pada tahun 2000 di mana ia masih duduk di bangku kuliah, warung kopi yang ada hanya Blandongan. Itu pun tidak buka selama 24 jam. “24 Jam itu kan baru- baru ini saja,” jelasnya. “Saya sering ngopi di sana (Blandongan),” ungkap Kawul. Tak jarang ia juga sharing dengan Badrun owner warung kopi Blandongan yang juga satu almamater dengannya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tekait per-kopi-an. Kawul seorang mahasiswa yang juga ikut dalam satu organisasi ekstra kampus, serta aktif sebagai anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo mengaku, melihat peluang usahanya juga berdasarkan pengalamannya sebagai mahasiswa. “Dulu anak organisasi kan ngumpul sukanya juga di warung kopi.” Menurutnya warung kopi bukan hanya sebagai tempat menghabiskan kopi saja, tetapi juga tempat nongkrong dan diskusi. Apalagi Kawul melihat budaya berorganisasi di kampus UIN Sunan Kalijaga sangat kental, begitu pun budaya diskusi. Sehingga pada tahun 2010 bertepatan dengan momentum Piala Dunia, ketika ia sudah lulus dari bangku kuliah memutuskan untuk membuka warung kopi. “Jadi kalau diskusi ya bisa di sini,” ucapnya sambil melayani pembeli di meja kasir. Senada dengan Kawul, Badrun yang merupakan owner dari warung kopi Blandongan pun mengungkap hal yang sama. Kesukaannya kepada kopi lah yang membuat ia mulai merintis usaha warung kopinya pada 17 Mei 2000, selain karena orientasi ekonomi jelasnya. Ia yang pada saat itu juga terlibat di organisasi gerakan mahasiswa mengaku juga hobi nongkrong dan berkumpul bersama teman- temannya. “Dulu nggak hanya pergerakan A, B, C saja. Tiap ada temen saya selalu suka ikut ngumpul-ngumpul,” ucapnya. “Ini karena hobi, suka. Kalau tidak suka ya saya nggak bisa ngumpulin orang.


Buka warung kopi gini kan ngumpulin orang,” sambungnya. Badrun mengungkapkan, sebelumnya penjual kopi seduh sudah banyak di Yogyakarta. Ada warung burjo, angkringan, juga warung kopi lainnya. Hanya saja yang mempunyai ciri khas dan masih eksis hingga saat ini adalah Blandongan. “Nanti kalau saya bilang ini (Blandongan) warung kopi pertama saya klaim dong. Bisa didemo saya,” ucap alumni UIN Sunan Kalijaga Fakultas Syariah, Jurusan Muamalah ini sambil tertawa. Sama halnya dengan G-bol, Blandongan yang dirintis oleh pemuda asal Gresik ini juga memakai cangkir kopi beserta tutup dari keramik dengan motif bunga kecil pada salah satu bagiannya. Ia menjelaskan hal tersebut merupakan tradisi sejak nenek moyang. “Potret tiap wilayah itu kan berbeda. Kalau di Jawa Timur, potret ngopi itu pakai cangkir yang ada tutupnya itu sudah sejak nenek moyang dulu. Yang namanya ngopi di Jawa Timur ukurannya standar. Jadi saya mengaplikasikan apa yang ada di daerah saya,” jelas Badrun. LINTAS BUDAYA, ORGANISASI, DAN KOMUNITAS Mengingat Jogja merupakan kota pelajar dengan berbagai kampus, organisasi kampus, organisasi daerah, komunitas, serta mahasiswa maupun mahasiswi dari berbagai daerah di Indonesia. Dari Madura, Sunda, Papua, dan lain sebagainya. Kawul mengungkap bahwa warung kopi G- bol berusaha mewadahi semua kalangan tersebut. “Yang ngopi di sini kan tidak hanya anak UIN. Banyak juga mahasiswa maupun mahasiswi dari kampus lain,” ungkapnya. “Jadi ya otomatis mengayomi semua organisasi, etnis, juga memfasilitasi semua komunitas,” sambungnya. Alumni Perbandingan Madzab dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga ini juga mengatakan bahwa antusias mahasiswa maupun mahasiswi terhadap warung kopi khususnya di Jogjakarta, sebagai kota dengan perputaran perekonomian terbesar nomor dua di Indonesia sangat meningkat dari tahun ke tahun. “Antusias mahasiswa, mahasiswi ngopi itu besar,” ungkapnya. “Apalagi pas masuk OSPEK itu kan panitia juga sering pada kumpul rapat di sini. Dulu kampus kan bukanya nggak 24 jam,” sambungnya. Dari awal ada, G-bol buka selama 24 jam. Bukan tanpa alasan Kawul membuatnya demikian. Menurutnya tidak sedikit mahasiswa yang beraktifitas hingga tengah malam. Terkadang makrab, diskusi malam, atau kerja. Ketika memutuskan untuk pulang, terkendala dengan jam malam. Di mana kos- kosan sudah ditutup. Dengan dibukanya G-bol selama 24 jam, Kawul berharap dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa maupun mahasiswi untuk beristirahat setelah beraktifitas maupun digunakan untuk diskusi dan rapat. Hal tersebut diamini oleh Fara mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga. Ia mengaku, sangat terfasilitasi dengan adanya warkop di sekitar kampusnya. Menurutnya warkop merupakan ruang alternatif untuk sekedar ngobrol ataupun berdiskusi. “Di kampus nggak leluasa, terlalu formal dan membosankan untuk diskusi, itu menurutku. Karena bosen juga sih dari pagi sampai sore kan sudah cukup banyak menghabiskan waktu di kampus. Nah, di warkop suasananya lebih santai

dan hangat aja buat diskusi,” ungkapnya. Fara yang juga terlibat di organisasi kampus sering memilih G-bol sebagai tempat diskusi bersama temantemannya baik mahasiswa UIN maupun di luar UIN juga menganggap bahwa jenis kopi seduh di warkop sekitar kampusnya dirasa sama, tidak jauh berbeda. Sama halnya dengan suasana di warkop sekitar kampusnya yang ia rasa juga tak jauh berbeda. “Kalau di warkop sekitar UIN, kayak Blandongan, G-bol, Kopas, Gendong, itu hampir sama sih suasananya kalau menurut aku. Pelanggannya juga kebanyakan mahasiswa- mahasiswi UIN. Soalnya tiap ke warkop yang aku sebut tadi, ya wajah- wajahnya udah familier sih di kampus. Beberapa juga emang udah kenal,” ungkapnya. “Tempatnya homey, udah kayak ngopi di teras rumah sendiri,” sambung Fara sambil sesekali meminum kopi susu yang ia pesan. Berbeda dengan Fara, Solihul Akmalia yang juga mahasiswi UIN Suka yang saat ini sudah memasuki semester IX justru mengatakan lebih menyukai nongkrong di café yang lebih modern atau kekinian. Walaupun demikian, ia tak jarang ngopi di sekitar kampusnya demi kepentingan organisasi. Menurutnya, aktivitas ngopi yang ia lakukan lebih banyak karena agenda rapat organisasi. “Kalau dirata-rata sih, dalam seminggu aku biasa ngopi di warung kopi ya cuma sekali,” ucap perempuan yang aktif di salah satu teater kampus di UIN Suka. KOPI TRADISIONAL Di saat sebagian besar warkop jaman sekarang sudah menggunakan pengolahan secara modern untuk kopinya, beberapa warung kopi yang ARENA datangi di sekitar kampus UIN Suka masih menggunakan cara tradisional dalam mengolah kopi hingga siap dinikmati pelanggan. Robusta, merupakan jenis kopi yang dipakai oleh warkop. “Di sini kopi diolah masih menggunakan cara tradisional,” ucap Kawul. Biji kopi mentah yang diambil dari Temanggung sebagai bahan dasar kopi di G-bol, melalui proses pertama yaitu dijemur selama tiga hari, hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan kadar air pada biji kopi. Semakin kering biji kopi, maka semakin tinggi kualitasnya. Namun, penyusutan yang terjadi semakin banyak, sehingga berat awal akan banyak berkurang. Selanjutnya, biji yang sudah dijemur, digoreng sekitar satu jam dalam wajan. Kemudian didiamkan dengan sebelumnya ditaburi gula supaya memunculkan warna yang lebih bagus pada kopi. “Itu tidak merusak cita rasa kopi,” ungkap Kawul. Kopi kemudian memasuki proses penggilingan selama dua sampai tiga kali penggilingan supaya halus. Kopi pun siap diseduh dan disajikan kepada pelanggan. Sama halnya G- bol, warkop Blandongan juga masih menggunakan cara tradisional dalam mengolah kopinya hingga saat ini. “Kopi seduh di Blandongan kopi tradisional, yang masih ada ampasnya,” ucap Badrun. Menyeduh kopinya pun diadaptasi dari Jawa Timur dengan cara menaruh kopi sebanyak sepertiga dari media seduh (cangkir). “Kalau cangkir berapapun mili, kopinya sepertiga dari wadahnya,” jelas Badrun.[] Mahasiswi jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komnikasi UIN Sunan Kalijaga.

lpmarena.com- 31 -


M

embuat semacam hipotesa khusus dari sekumpulan permasalahan yang hanya dipandang dari suatu penampakan fisik tanpa berpijak kepada dimensi realitas sungguh sangatlah memuakkan. Karena selubung pengetahuan kita yang sangat minim ini tidak akan pernah mampu untuk mengupas sebuah permasalahan dengan sangat mendalam. Bahkan jika sebuah permasalahan itu harus dipaksakan untuk segera dijelaskan secara mendetail dan konkret benar adanya, tanpa pengaruh dari kondisi eksternal, pastilah perlu sebuah bekal analisa yang sangat masif, terstruktur, dan spesifik. Barangkali itu merupakan salah satu permasalahan kita untuk mecapai serangkaian hipotesa demi sebuah teori sosial yang mapan dan mampu untuk menyelesaikan permasalahan sosial hari ini. Persoalan besar tatangan dunia, termasuk kita yang di dalamnya ialah kepercayaan terhadap logika kompetitif sebagai tatanan kehidupan yang alami. Dengan kata lain, sejarah manusia sebagai fenomena yang paling unik dan rumit merupakan produk yang lahir dari persaingan keras antar makhluk hidup sejak kemunculannya. Berkembangnya kehidupan dari organisme bersel tunggal hingga menjadi manusia, tampaknya menjadi salah satu contoh persaingan bebas, di mana yang kuat akan memenangi kompetisi. Sedangkan pihak yang tidak mampu bertahan dalam sistem akan tersisihkan. Model logika kompetitif ini ternyata juga merambah ke dalam dunia pendidikan kita saat ini. Logika kompetitif ini merubah logika kampus yang seharusnya menjadi lembaga pendidik untuk mencetak seorang pemimpin, ternyata teralienasi dari fungsinya. Kampus hari ini tidak dapat lagi mencetak seorang pemimpin yang siap turun ke bawah (turba) dan menyelesaikan seluruh permasalahan sosial. Namun kampus hari ini hanya dapat mencetak seorang buruh-buruh

- 32 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

dengan upah rendahan bermental sok kuasa, yang merintih ketika ditekan tapi menekan ketika diberikan kekuasaan. Kampus sebagai ruang pertempuran ideologi-ideologi yang telah mapan, seharusnya mampu untuk memupuk hingga membentuk budaya kritis mahasiswanya. Akan tetapi sistem pendidikan yang carut marut dengan segala permasalahan yang tak kunjung diselesaikan, menjadikan mahasiswa terombang-ambing hingga tak mampu berpijak pada yang diyakininya secara utuh. Budaya kritis telah padam, menjadikan hegemoni kekuasaan semakin langgeng. Ketika hal itu dibiarkan, maka penguasa akan semakin semena-mena dengan kekuasannya dan mahasiswa akan dibuat bungkam terhadap permasalahannya sendiri. Kini bagi mahasiswa keterkaitan antara golongan penindas dengan golongan tertindas, sudah tidak menjadi urusannya lagi. Baik diobrolkan atau bahkan ditelanjangi secara menyeluruh. Mahasiswa menganggap dirinya telah terpisah dengan keadaan sosialnya. Semua ini terjadi bukan begitu saja, ataupun lahir secara alamiah, tapi karena hubungan antara sebab dan akibat yang teralu rapi membuat analisa mahasiswa menjadi semakin buta. Kampus dewasa ini telah berhasil bertransformasi sedemikian rupa hingga menjadi lembaga yang sangat birokratis dan bervisi industri. Transformasi ini jelas tidak terlepas dari perkembangan kapitalisme kontemporer. Hal ini terjadi karena perputaran arus modal telah merasuk kedalam sendi-sendi kehidupan, termasuk ke dunia pendidikan. Terjebaknya dunia pendidikan saat ini terjadi dimulai dari masa kekuasaan Orde Baru yang sukses merubah corak produksi masyarakat Indonesia. Pada mulanya masih terbatas pada corak produksi pertanian kemudia bergeser ke arah produksi industri padat karya dan berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam besar-besaran.


Mahasiswa, kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini? (Victor Serge, Bolshevik) Realitas kampus saat ini menjadi salah satu barometer paling besar dalam tatanan masyarakat ke depan. Jika para mahasiswa masih disibukkan dengan agenda kumpul-kumpul geng yang rasistik berlogo neofasis, hingga memandang kelompok lain adalah musuh sejati yang harus dilawan tanpa perlu kompromis. Saat cafĂŠ-cafĂŠ penuh dengan segerombolan koloni mahasiswa yang hanya membahas style, gadget dan cerita konflik percintaannya, tanpa ada sedikit obrolan mengenai permasalahan di lingkungannya. Ketika sekumpulan Mahasiswa hanya memikirkan hasrat percintaan, yang timbul dari hasil masturbasi dalam kepala kotornya dengan seribu dalih untuk menguasai selangkangan lawan jenisnya. Tanpa ada sedikitpun obrolan yang progressif revolusioner. Tak ayal lagi bangsa kita ke depannya akan menjadi bangsa yang mabok kekuasaan sebab pemimpinnya bobrok tak berkualitas? UIN Sunan Kalijaga sebagai salah satu perguruan tinggi Islam ternama di Indonesia tak jarang menjadi tempat studi banding dari kampus lainnya seharusnya mampu menjadi suri tauladan. Ketika kurikulum pendidikan yang masih dirasa setengah-setengah, permasalahan UKT yang tiada ujungnya, fasilitas kampus yang terasa kurang, bahkan kini ruang kumpul mahasiswa menjadi sasaran bagi pembangunan tanpa ada relokasi lahan yang sepadan. Masihkah dapat dikatakan, bahwa kampus kita masih dapat menjadi kampus yang tepat sebagai rujukan studi banding bagi kampus yang lain? Sekitar beberapa bulan yang lalu kampus kita penuh sesak, karena berjajar ribuan mahasiswa dari segala daerah, aliran, ras, suku dan pembeda-pembeda lainnya yang tak harus dibeda-bedakan. Lalu, perkuliahan telah dimulai, sistem pendidikan yang dirasa tak ada bedanya dengan sistem pendidikan sewaktu SMA menjadi sebuah hal yang harus sesegera mungkin Mahasiswa Baru perbincangkan. Karena sandangan nama “mahasiswaâ€? sebagai sebuah pengakuisisian nama Tuhan di depan nama siswa, seharusnya menjadikan sebuah tahapan dalam pendidikan yang lebih baik lagi. Pendidikan dalam kampus yang dirasa masih searah tanpa ada dialog yang seimbang antara pelajar dengan pengajar menjadikan mahasiswa gagap dalam bersosial. Ditambah komersialisasi dalam dunia pendidikan telah

merubah kampus menjadi sebuah pabrik pencetak buruh. Ditambah eksklusivisme dari birokrat mahasiswa, seakan-akan menyublim menjadi sebuah es yang beku yang tak mau bersentuhan dengan air yang keruh. Halhal ini yang menjadikan tingkat kekritisan Mahasiswa semakin padam dan tenggalam pada lembah yang curam yaitu zona nyaman. Pendidikan sebagai sebuah solusi terhadap permasalahan saat ini seyogyanya menjadi sebuah solusi utama bangsa ke depan. Namun pendidikan hari ini telah teracuni oleh kepentingan pemangku kekuasaan. Pendidikan yang seharusnya menjadi tonggak utama pembangunan bangsa semakin teralienasi dari esensi utamanya. Menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan seharusnya sebagai daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Ternyata telah jauh dari apa yang diharapkan oleh Bapak Pendidikan Nasional. Hemat penulis pijakan para intelektual dalam era kekinian sungguh sangat memprihatinkan. Intelektual hanya berkutat dalam dunia teori tanpa ada ruang praktek sosial, untuk menguji keabsahan sebuah teori yang sudah mapan. Jangankan untuk melakukan praktek sosial, untuk hidup dalam dunia nyata saja masih gagap. Karena intelektualisme hanya cukup dengan membuat status di dunia maya. Menurutnya sosial media sudahlah cukup untuk mengabstraksikan semua isi di dalam kepala mungilnya. Tapi perlu dipahami, bahwa kata sampai kapanpun tidak akan pernah mampu untuk membuat kita menjadi sejahtera secara ekonomi, adil secara sosial, demokrasi secara politik dan partisipatif secara budaya. Tapi tindakan dan sikaplah yang mampu untuk membawa kita menuju kedalam dimensi yang lebih baik lagi.[]

Muhammad Shalahuddin, mahasiswa Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga angkatan 2014. Saat ini aktif berdinamika di Keluarga Aksi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

lpmarena.com- 33 -


Oleh Lailatus Sa’adah

P

engenalan sekolah pada tahun ajaran baru seringkali diisi dengan acara pembukaan dari kepala sekolah. Begitu halnya dengan suasana di Akademi Welton, yang digambarkan pada film berjudul Dead Poets Society. Orang tua wali terlihat khidmat ketika menyimak pidato dari kepala sekolah. Tidak ketinggalan prinsip-prinsip yang dianut Welton menjadi muatan pada pidato tersebut. Empat prinsip itu yakni; tradition, honor, discipline, dan excellence. Prinsip ini menjadi pijakan dalam setiap laku dan mesti dijunjung tinggi oleh siswanya. Hal itu agar memperoleh predikat siswa yang baik sehinga membawanya pada gelar lulusan terbaik. Lewat prinsip tersebut sekolah menghegemoni para siswa agar selalu taat terhadap aturan akademik, dan berperilaku sesuai keinginan kuasa (birokrat). Setting awal dibuka secara simbolis dengan memantikkan cahaya lilin kemudian disalurkan kepada seluruh siswa baru. Cahaya yang dipancarkan menjadi simbol pengetahuan yang akan diperoleh siswa jika menjalani proses pembelajaran di sekolah tersebut. Dead Poets Society menggambarkan kehidupan dalam sebuah

- 34 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

institusi pendidikan yang mengharuskan para siswanya mengikuti segala aturan yang berlaku. Bahkan keharusan tersebut juga terjadi ketika siswa berada di lingkungan keluarga. Tugas mereka tetaplah sama, yakni mengikuti keinginan orang tua yang dianggap sebagai pihak yang punya kuasa. Saat tuntutan datang dari segala arah, baik sekolah maupun keluarga, muncullah sosok guru yang menyadarkan nilai kebebasan. Ia bernama John Keating yang memiliki cara tersendiri dalam mengajar. Pada suatu momen John Keating mengajarkan siswanya untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Ia menaiki meja, lalu mengajak semua siswa untuk mengikutinya secara bergantian. Mereka diajarkan melihat sekeliling kelas dari sudut pandang yang berbeda. Ia seperti memberikan panggung pada setiap siswanya untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan keinginan mereka. Kemunculan John Keating menjadi awal kisah para siswa Dead Poets Society dimulai.


INSTITUSI YANG MENGHEGEMONI Sebuah institusi memiliki kuasa untuk mempengaruhi perilaku warganya, baik disadari maupun tidak. Hegemoni kesadaran ini juga berlaku di wilayah institusi pendidikan. Mereka melancarkan hegemoni untuk mengatur para siswa agar bertindak sesuai dengan keinginan institusi. Tanpa melihat siswa sebagai subyek yang memiliki kemampuan berpikir dan bertindak berdasarkan kemauannya masing-masing. Lewat hegemoni tersebut sekolah mulai membentuk citra siswa yang baik dan sebaliknya. Segala hal yang di luar peraturan merupakan dosa besar yang harus ditinggalkan. Kebanyakan siswa yang masuk Akademi Welton mayoritas merupakan perintah dari orangtua. Tentu dengan harapan agar menjadi orang sukses. Mereka yakin, dengan mengamini perintah orangtua serta menjalankannya menjadi suatu keharusan. Begitupun dengan perintah institusi sekolah. Lewat kurikulum seluruh penghuni institusi diarahkan untuk menjadi seragam. Baik secara pikiran maupun laku yang dikerjakan. Seseorang yang melanggar dan memilih hal di luar peraturan dianggap sebuah kesalahan. Hukuman menjadi kewajaran yang harus diterima atas tindakan yang dianggap tidak benar. PIKIRAN YANG BEBAS Dead Poets Society menciptakan ruang kebebasan terhadap pikiran yang terhegemoni oleh sistem maupun aturan yang menuntut perilaku seragam. Institusi pendidikan dan keluarga seharusnya berperan sebagai wadah yang mendukung bakat setiap anak. Menempatkannya sebagai subyek yang memiliki keahlian yang beragam. Bukan mengekang dan menjadikannya asing dengan dirinya sendiri John Keating memberikan “mantra” pendobrak agar siswa berani mengambil setiap langkah dalam kehidupan. Carpe Diem, sebuah kata sederhana yang bermakna “petiklah hari” menjadi pelecut keberanian tersebut. Lewat kata itu John Keating meyakinkan siswanya. Hidup hanyalah menunggu kematian, maka jangan sia-siakan. Jadikan hidupmu lebih berarti setiap harinya. Berani menjemput setiap langkah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Jangan hanya menunggu atau sekedar menerima dari orang lain. Sebab, setiap pribadi ialah tuan bagi dirinya sendiri. Ia tokoh utama dalam kehidupannya masing-masing. Jangan sampai orang lain mengekang setiap keyakinan dan menjadikan kita asing dengan kedirian. Dead Poets Society nama untuk sebuah kelompok belajar sastra dengan cara membacakan puisi-puisi karya Thoraeu, Whitman, dan Shelley serta karya-karya terbaik para penyair. John Keating sebagai guru Bahasa Inggris sekaligus pendiri Dead Poets Society pada masanya, mencoba meyakinkan para siswa untuk menemukan pikiran mereka sendiri dalam setiap karya-karya sastrawan. Hal itu agar para siswa berpikiran bebas sesuai kehendak hatinya.. Bukan mengamini begitu saja

sebuah alur sistem yang telah dibuat si penguasa. Para siswa yang tergabung dalam klub Dead Poets Society memulai perlawanan mereka dengan memasukkan artikel terkait bangkitnya kelompok tersebut di koran sekolah. Melalui artikel itu, pihak sekolah merasa resah dan merasa nama baiknya tercemar. Gejolak pemberontakan para siswa itu justru dilimpahkan kesalahannya kepada sang guru Bahasa Inggris, John Keating. Ia dianggap sebagai pengaruh buruk bagi para siswanya. BAHAYA KESAMAAN John Keating justru ingin membuktikan terkait bahaya keselarasan. Bahkan untuk menyelaraskan langkah kaki saja sudah menciptakan belenggu dalam pikiran mereka. Betapa keselarasan itu membuat jiwa manusia tertekan dan merasa asing akan hidupnya sendiri. Ketika seseorang yang telah merengkuh kebebasan kembali ditekan untuk menjadi sosok yang patuh, maka perlawanan untuk tetap menjadi jiwa yang bebas semakin kuat. Salah seorang siswa bernama Neil Perry memperoleh kepuasan batin dengan membebaskan jiwa mengikuti kehendak pikirannya. Ia memilih jalannya sendiri dengan memainkan peran utama pada pementasan tetaer. Meski penolakan sengit ditunjukan bapaknya, tapi ia tetap memerdekakan kehendaknya. Bagi orang tuanya memainkan peran dalam teater merupakan sesuatu hal yang remeh temeh. Tidak memberikan dampak berarti pada hidupnya. Bapaknya tak setuju, karena banyak hal lain yang mesti dilakukan yang berdampak signifikan pada kehidupan Neil mendatang. Selepas itu Neil beradu mulut dengan bapaknya. Ia merasa terpukul dengan sikap orangtuanya, yang seolah serba tahu apa yang terbaik untuknya. “Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri” (Pramoedya Ananta Toer). Itulah ungkapan yang mewakili sosok Neil Perry yang diperankan oleh Robert Sean Leonard. Ketika kehidupan tak lagi memberinya kebebasan, ia melepas belenggu yang melekat dalam dirinya menjadi manusia yang merdeka. Segala sikap yang membelenggu kehendaknya, menjadikan hidupnya tak lagi berarti. Neil memilih mendatangi kematian untuk membebaskan dirinya dari belenggu aturan sekolah pun keluarga yang mengelilingi kehidupannya. Tragedi kematian salah satu siswa terbaik Akademi Welton, Neil Perry, mengundang gejolak dalam diri klub Dead Poets Society. Pada akhirnya, John Keating disalahkan atas segala hal yang menimpa Akademi Welton. Begitupula dengan kasus kematian yang menimpa Neil. Keating menjadi kambing hitam atas segala masalah yang menimpa institusi tersebut. Orangorang yang mempunyai kuasa justru bersembunyi di balik mereka yang mempunyai pikiran bebas. Mereka telah membohongi diri sendiri dan dunia untuk melindungi nama baik institusi. Guna melanggengkan kuasa institusi agar terus hidup dalam pikiran.[]

lpmarena.com- 35 -


Oleh Doel Rohim

S

ebuah artikel dari Jim Clifton berjudul Universities: Disruption is Coming yang inti pembahasannya mempertanyakan dan mengkhawatirkan masa depan peran pendidikan tinggi, dalam menyuplai tenaga kerja industri di dunia. Artikel tersebut sontak membuat geger masyarakat dunia maya, sehingga memicu perdebatan sengit. Mengenai masih relevankah Perguruan Tinggi (PT), sebagai tempat produksi tenaga kerja untuk menyuplai kebutuhan pasar. Munculnya artikel ini dilatarbelakangi oleh iklan perusahaan Google dan Ernest & Young. Mereka akan menggaji siapapun yang bisa bekerja dengannya, tanpa harus menggunakan ijazah dari PT. Apa yang dilakukan oleh kedua perusahaan besar dunia tersebut, memutar balikan logika yang ada sekarang. Bahwa orientasi masuk PT adalah untuk mencari kerja. Pihak yang terpukul dengan iklan kedua perusahaan tersebut ialah birokrasi PT, yang selama ini menerima kemapanan. Hampir seluruh PT di dunia berperan sebagai tempat riset, penyuplai tenaga ahli, dan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh dunia industri. Namun, kebijakan yang dikeluarkan oleh kedua perusahaan itu telah menghilangkan peran PT dan sangat mungkin kebijakan ini diikuti oleh banyak perusahaan lainnya. Jika hal itu benar-benar terjadi, disitulah hari akhir riwayat PT sebagai instansi penyuplai tenaga produksi bagi dunia industri. Kebijakan perusahaan tersebut bagai lonceng kematian bagi PT diseluruh dunia. Kondisi kekhawatiran ini diperkuatoleh artikel yang ditulis Terry Eagleton, berjudul The Slow Death of University (2015). Ia menyatakan bahwa universitas sedang menuju ajalnya. Secara garis besar, artikel ini menggambarkan bahwa PT sedang melakukan bunuh diri secara bersama-sama. Sebab telah meninggalkan peran utamanya sebagai “pendidik” dan beralih kepada riset dan publikasi. Bukan itu saja, hubungan yang ada didalam PT sekarang sudah menyerupai sebuah ritel jual beli. Ada produsen dan konsumen. Sementara itu, hubungan antara “guru dan siswa” sudah bergeser maknanya menjadi “manajer dan pelanggan”. Hal itulah yang selalu dibanggakan oleh PT selama ini, yang tidak sesuai kodratnya. Banyak hal telah bergeser dari makna dan esensi PT yang tidak mendapatkan ruang yang layak. Jika dibadingkan dengan susupan kepentingan pasar yang selalu digembargemborkan sebagai kepentingan masyarakat seutuhnya. Hal itu ternyata hanyalah kelambu hitam untuk menutupi

- 36 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

kepentingan para pemilik modal. Dalam hal ini, sebuah pertanyaan perlu kita ajukan, yaitu apakah eksistensi PT akan segera berakhir? Ataukah PT akan tetap ada dengan orientasi yang berubah? Tidak lagi mengikuti jalan yang selama ini diambil. Hal ini menjadi penting untuk dijawab oleh para pengemban mandat PT, untuk menata ulang orientasi setiap PT dalam mengarungi ganasnya perubahan zaman. Bagaimanapun PT merupakan ruang dimana trasformasi pengetahuan dilakukan, bukan hanya distribusi pengetahuan yang mendorong para mahasiswanya untuk dapat diterima pasar. Namun, bagaimana pengetahuan yang didapatkan mampu menciptakan budaya yang merasuk dalam dada, akan hakikat bangsa dan kemanusiaannya. Perubahan orientasi pendidikan PT secara umum dan secara khusus, juga tidak bisa kita lepaskan dari kondisi sosial masyarakat yang bergerak menuju masyarakat yang konsumtif dan kapitalistik. Hal ini yang mendorong pergeseran makna dari PT sejak pra kemerdekaan, masa Orde Baru hingga paska Reformasi. Kita bisa lihat, orientasi pendidikan pada masa pra kemerdekaan. Seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara yang menyatakan, pendidikan merupakan usaha kultural untuk mempertinggi mutu hidup masyarakat dan memepertinggi derajat manusia. Artinya dalam hal ini dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan begitu saja, harus juga ikut serta dalam menjaga nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh bangsa. Sementara itu orientasi politis yang digaungkan oleh presiden Soekarno, bagaimana pendidikan dapat membangun kembali identitas kebangsaan yang sudah sekian ratus tahun terkubur hanguskan dalam jeratan kolonialisme dan imperialisme bangsa lainnya. Jelas kiranya bagaimana seharusnya orientasi pendidikan berjalan. Begitupun PT yang memiliki peran sangat fundamental dalam membangun karakter sebagai bangsa yang merdeka. Namun, orientasi pendidikan yang sudah dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara bak hilang diterpa bandang pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan Soeharto. Transisi pemerintahan yang dibarengi oleh banjir darah membawa perubahan yang sangat kentara dalam dunia pendidikan. PT didorong untuk dapat mengelola sumber daya manusia yang melimpah. Mengarahkan bangsa Indonesia untuk dijadikan sebagai tenaga inti pembangunan. Disisi lain pendidikan juga digunakan oleh Orba sebagai kontrol atas ideologi yang


Dokumen Istimewa

tidak sesuai dengan orientasi pembangunan yang diwacanakan oleh pemerintahan saat itu. Paska Reformasi setelah kejatuhan Soeharto, alih-alih pendidikan bisa menemukan orientasi yang jelas atau kembali kepada prinsip pendidikan yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara, malah berjalan sebaliknya. Pendidikan terjerumus pada liberalisme pasar global sehingga bargaining power negara terhadap masalah pendidikan sedikit demi sedikit dihilangkan, kemudian dialihkan kepada mekanisme pasar. Semenjak itulah dunia pendidikan terbawa arus mekanisme pasar, sehingga merubah orientasi PT yang hanya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan dunia industri. Parahnya lagi, PT seolah melupakan esensi kelahirannya yang dibagun atas dasar pendidikan dan pengajaran bagi para siswa, untuk membawa mereka pada hakikat kediriannya sebagai bangsa yang berbudaya. Di sinilah penting kiranya untuk menemukan kembali entitas pendidikan kita yang telah tercerabut dari akarnya. Adanya ketidakpercayaan pasar terhadap PT juga perlu kita cermati bersama. Apakah hal ini merupakan bentuk tidak jalannya sirkulasi modal yang

telah disuntikan kepada PT, yang tidak dapat mendorong kualitas dengan standar yang ditetapkan kapital? Lulusan PT cenderung menuntut standar gaji yang tinggi dengan beban kerja yang ringan. Padahal kualitas mereka tidak dapat dipertangungjawabkan dalam mekanisme pasar. Gampangnya, pemodal juga tidak ingin rugi dengan menggaji buruh kualitas rendah yang minta bayaran tinggi. Hal inilah yang menjadi tesis kenapa pasar menghilangkan kualifikasi yang dipresentasikan oleh PT melalui ijazah. Sebab dengan mengaburkan, bahkan menghilangkan kualifikasi tersebut, perusahaan akan lebih mudah mendapatkan buruh yang murah dengan kualitas kerja yang tidak kalah. Maka dari itu sudah seharusnya PT untuk selalu berinovasi secara kreatif dalam merespon kondisi sosial terutama dalam memenuhi kebutuhan pasar. Walaupun hal ini mereduksi esensi dari PT dalam pengertian yang luas “pendidikan dan pengajaran�. Tidak ada pilihan lain memang, kecuali mengembalikan PT pada hakikatnya sebagai lembaga pendidikan yang memanusiakan. Tanpa ada upaya kesana, akan sangat mungkin PT sudah tidak lagi menemukan relevansinya.[]

lpmarena.com- 37 -


Laki-laki kecil itu berlari sekencang-kencangnya melewati jalan setapak dan rumput-rumput yang masih dingin berembun. Dia bernama Priam, Priambodo. Untuk menambah laju kecepatannya, maka melepas selop dan memasang topi dengan terbalik akan mempermudah langkahnya. Dilewatinya sungai dan sawah-sawah, baru kemudian menemukan jalan berbatu dan sampai pada rumahnya yang menggubuk. Setelah gagang pintu dibuka dan berbunyi krieett berarti ibunya tak ada di rumah, sebab pintu tertutup. Dia sudah tak sabar ingin memberi tahu perihal berita baik dari gurunya kepada ibu, tentang menjadi orang pintar lewat matematika dan sains. Tapi sudah bisa dipastikan bahwa sang ibu pastilah sedang berada di sawah atau pekarangan. Ia duduk di bangku cokelat dari bambu dan bercerita kepada dirinya sendiri bagai memunguti sesal. Bahwa seandainya dia hidup dikota maka dia akan lebih pintar, karena makanan dikota enak dan nikmat, bangunan tinggi dan bagus, dan ibu tidak perlu ke sawah setiap hari atau hidup pas-pasan dari hasil penjualan terong di pekarangan. Lebih-lebih lagi, kalau dikota pasti dia akan memiliki HP android seperti milik Dendi yang dibelikan ibunya dari Jakarta. Wajar saja jika demikian, ibu si Dendi bekerja jadi pembantu di ibu kota, sedangkan ibunya hanya mengurus sawah dan pekarangan yang hasilnya pas-pasan, sedangkan bapaknya sudah

- 38 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017

meninggal dua tahun yang lalu karena keracunan pupuk pestisida. Jadi, waktu itu bapak selesai memupuk padi dengan pupuk yang ditawarkan oleh kepala desa, bapak kurang bersih mencuci tangan. Akibatnya, baru sekali menggigit satu pisang goreng yang dibawakan ibu, bapak langsung muntah-muntah dan mulutnya berbusa hingga akhirnya meninggalkan ibu dan anaknya. Beranjak dari mengingat bapak,satu-satunya yang memiliki android di desa hanya Dendi, setiap kali ada PR dari sekolah, dia hanya tinggal meminta teman-temannya untuk mengerjakan dan bonusnya adalah dipinjami androidnya untuk bermain Mobile Legend atau bahkan membuka situs-situs lainnya. Sayangnya si laki-laki Priam bukan salah satu dari teman dekat Dendi, jadi dia hanya menahan perasaannya tentang bayang-bayang bermain internet dan nge-game. Parahnya lagi, suatu hari ketika si Dendi dan temantemannya di sekolah tertawa terbahak-bahak hanya karena donat yang bolongannya dimasuki jari telunjuk, kemudian donat diambil lalu dimasuki jari lagi dan begitu seterusnya. Tentu bukan hal lucu yang menarik untuk ditertawakan baginya, tetapi begitulah hingga Dendi dan teman-temannya terpingkal-pingkal. Lebih parah lagi, Priam berpikir keras tentang siapa itu yang disebut-sebut Dendi bernama Maria Ozawa, Sasya Grey, dan kakek Sugiono. Setahunya, sejauh


sampai kelas lima Sekolah Dasar ini dia selalu menghafal nama-nama dalam pelajaran, termasuk yang mengetik naskah proklamasi bernama Sayuthi Melik, tokoh perempuan hebat bernama Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, kemudian tokoh-tokoh dalam sejarah Indonesia selain Bung Karno, Hatta, Moh.Yamin dan sederetan tokoh lainnya. Sampai seantero pengarang lagu-lagu kebangsaan dia hafal, seperti Amir Pasaribu, Ibu Soed, Alfred Simanjutak dan R. Kusbini. Bahkan, dia sedikit lebih maju dari teman-temannya ketika dia tahu tentang teori Darwin yang menceritakan bahwa manusia ber-evolusi. Dalam benaknya apakah nama-nama yang disebutkan Dendi adalah seorang ilmuan hebat sehingga dia mengetahui informasi itu hanya dari internet. Kalian yang membaca ini pasti sudah tahu salah satu nama itu dan ah... rasanya tidak elok untuk diceritakan didalam cerpen ini, siapakah yang disebut-sebut oleh Dendi dan apa jasanya dalam dunia Perinternetan. Lebih dari itu, sayangnya Priam digambarkan menjadi sosok polos dalam cerita ini dan tidak dikehendaki untuk mengetahui. Dua jam setelah dirinya bertarung dengan gejolak dan ekspektasi yang dibangun, seorang perempuan menurunkan satu ember terong yang dipanggulnya. “Kok sudah pulang.... bukannya hari senin ada jam tambahan ?” kata ibu. “Iya Bu... aku pulang cepat karena kata bu Maspiah aku akan diajak lomba olimpiade matematika di Jakarta, jadi aku harus segera memberi tahu pada ibu,” kata Priam sambil menyunging senyum, nadanya berbicara memang selalu datar dan lurus biar bagaimanapun itu. “Alhamdulillahh ya Lee.... yang rajin belajarnya, semoga besok pas di Jakarta menang dan bisa membawa nama baik sekolah.” “Iya bu.... dan yang terpenting aku sangat senang karena akan ke kota, melihat gedung-gedung tinggi, lampu-lampu yang bagus dan lihat orang-orang hebat bu,” tegas Priam masih dengan ekspektasinya tentang kota. “Semua orang bisa hebat Le, asalkan dia rajin dan bekerja keras..., hidup di kota itu nggak enak, apa-apa beli, tidak seperti di desa sayur bisa memetik sendiri, oksigen dan udara sejuk tidak penuh dengan polusi, air dan alamnya masih alami dan itu menyehatkan, dan orang yang sehat akan memiliki pola pikir yang baik,” timpal sang ibu. Priam hanya diam, lalu pelan-pelan merebahkan tubuhnya di ranjang kayu, meresapi perkataan perempuan itu yang tak lain adalah ibunya, tetapi terkadang menjengkelkan. Diam-diam ia memikirkan tentang mengapa banyak literatur menyebut alam dan dunia ini sebagai ibu pertiwi? Apakah karena dia telah menopang banyak manusia seperti halnya seorang perempuan mengandung, atau karena dia mengeluarkan mata air seperti halnya ibu menyusui, apakah karena dia ditumbuhi tumbuhtumbuhan seperti halnya perempuan merawat anak, dan ahh... yang penting dia akan segera menjamah kota. Kemudian angin berhembus tercium bau tikar pandan yang terkoyak pantat. Rapat-rapat bunyi semakin mengecil dan kunang-kunang berhamburan lalu tenggelam. ****

Siang yang panas. Hari itu tubuhnya yang kurus digendong bus, matanya terpelalak melihat gedunggedung menyalip awan. Bayangannya adalah manusiamanusia perkotaan begitu lihai menyusun batu-bata hingga ratusan meter tingginya, kemudian menyulap manusia menjadi anak-anak zaman yang serba modern, menggenggam android, dan pasti mereka lebih keren dari Dendi dan kawan-kawannya. Tetapi dadanya kembang kempis, hidungnya panas, dan telinganya ngiiiiiiing. Ini memang jauh dari desa yang serba becek dan kumuh, jauh berbeda dengan sawah-sawah dan pematangnya yang sempit. Tapi bau knalpot, dan asap perkotaan bercampur deodoran membuat pengap, ditambah pewangi mobil berbau jeruk tapi tiruan. Dan bedanya didesa rerimbun pohon berkelindan, tetapi dikota rimbun baliho-baliho berjejeran dan toko-toko besar bersaing mencari keuntungan.Tidak ada anak-anak bermain petak umpet, blenthik, dan obak-obakan lainnya disini. Ia terus menikmati perjalanan yang pendek-pendek, sebab kemacetan. Ditahannya pantat yang mulai memanas, matanya masih mengamati tembok-tembok megah, dan semua yang serba mewah. Bayangannya kemudian, setelah besar dia akan menjadi penghuni kota dan tinggal di bangunan-bangunan berlapis marmer dan ber-AC, juga tentunya akan menyaingi Dendi yang memiliki android. Sampai hampir sama sekali ia tak berpikir tentang perlombaan yang akan dijalaninya. Perutnya lalu mual, menghisap bau mesin bercampur asap rokok serta uap mulut banyak orang. Pantatnya digeser sedikit, tetapi disampingnya ada bu Maspiah, tangannya memegang besi di jendela kaca kuat-kuat, pandangannya kabur dan gelap seperti melihat gedunggedung runtuh dan langit hitam pekat. Telinganya bising oleh gaung-gaung decakan roda kendaraan dan mesinmesin, kemudian tanah mengering, gersang. Paruparunya sesak menghirup bau lunturan tinta-tinta baliho bercampur gas-gas pabrik, bus yang dinaikinya terbakar oleh bensin dan cerutu. Tanah-tanah mengering dan menganga seperti manusia kehausan. Sedang dirinya terbang bersama gumpalan asap hitam terlempar jauh dan tak bisa berteriak sama sekali. Dia menyaksikan orang-orang telah mati dan tubuhnya kering serta mengecil. Lalu orang-orang kota itu menggajih di neraka dan mencabik-cabik kulitnya sendiri. Ohhh..... apakah ini sudah kiamat atau apa ??? Ibu. Dia ditusuk-tusuk tubuhnya dengan pisau dan mengucur darahnya, dipotong-potong rambutnya,persis seperti orang-orang kota menggali-gali tanah untuk pondasi beton-beton bangunan dan menebang pohonpohon untuk menanam gedung-gedung pencakar langit. Setelah itu, bumi ini mengering atau ibu pertiwi sudah tak bisa menangis? Ia berwarna kuning dan panas, panas sekali. Ia sudah mandul, tak dapat ditumbuhi, ditanami bahkan digali pun sudah tak bisa. Lelaki kecil bernama Priam lalu terbangun terhimpit penumpang dan hueeekkkk..... nasi goreng berkuah keluar juga dari dalam perutnya, dan tidak lagi ingin menjadi orang kota.[] Nafisa Fiana, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, bergiat di UKM Teater Eska

lpmarena.com- 39 -


SENJA DI PELATARAN RAJA Abdul Rohman Terpojok di ujung waktu Di trotoar, sepi menjelma rindu Aku sendiri Di persaksikan kuda-kuda besi Seketika ranum wajahnya menyapa Berbalutkan sarung hitam berbunga Senyum merekah di bibirnya Di hadapan beringin tua Keluh merangkai kata Cerita merangkai makna Di pelupuk mata dua burung diterbangkan Mengembara menyongsong cakrawala, Melayang-layang menembus saujana Tersesat kembali ke pangkuannya Bayang-bayang purnama yang muncul di waktu senja Sang surya tergelincir, langit berubah jingga, malam menyambut bulan tanpa ditemani bintang Panggilan-Nya menggerakkan raga menenggelamkan sukma Terpental, kerdil, dan kecil terhempas debu kasunyatan Kita menggiring sepi, bersua, dan membaca Kita adalah mereka, mereka adalah kita Dilahirkan dan dimatikan Tiada beda antara kita dan mereka Jurang pembodohan, jarak ketimpangan Garis dan ukuran disamaratakan Kita tenggelam di dalam bandang Terhanyut ditidurkan zaman Sayang di ujung waktumu, aku ingin kau menjadi dirimu di dalam bandangmu Arungi, jejaki, hadapi temukan diri Yogyakarta, 4 Agustus 2017

- 40 -SLiLiT ARENA NOVEMBER 2017


SEKOLAH BUKAN RUANG BATAS Imana Tahira Setiap pagi Kuhendak ke sekolah Melewati jalan yang turun, curam sekali Menyeberangi sungai bercampur sampah dan kotoran Tak jarang sepatuku Berubah bau sampai berubah warna Tapi tak merubah kokohnya tekadku Sampai di sekolah Kepalaku selalu dipenuhi teori Herakleitos Bahwa perubahan adalah kemantapan Jadi, kukira Tak apa sepatuku berubah menjadi bau anyir Itu adalah sebuah kemantapan Setiap di sekolah Aku selalu meng hitung-hitung Derap kaki yang banyak menelusuri lorong-lorong laboratorium “Dalam pikirannya pasti banyak sejuta ide yang menggumpal,� batinku Sekolah bukan ruang batas Yang melulu soal mengajar dan diajarkan Lebih dari itu adalah sebuah perefleksian pada hidup Bahwa hidup adalah keberagaman Bahwa hidup adalah soal perubahan Jogja, 15 September 2017 Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

lpmarena.com- 41 -


SELAMAT DATANG DI ANGGOTA BARU MAGANG LPM ARENA 2017 Ahmad Fauzi, Ghina Kurnia O, Rizki Eka P, Muh. RM Fayasy, Fikri Maulana, Risal M Nisfi, Dian Novita Sari, Irkhas Febri, Khopipah, Randi Siswanto, Tsaqif, A. Zaim Yunus, Miftah Kharisma, Aufar Abdul Aziz, Ayyu Nur Millaty, Anshory Lubis, Dimyati Zain, Eni Fitri Astuti, Sidratul Muntaha, Joana Zettirah, Akhmad Faridho, Kristinawati, Mahsya, Ahmad Bagus Nur Akbar, Astri Martha Sari, Febri M. Billah, Ach. Nurul Luthfi, Sholehatul Inayah, Roziqien, Aisyah Srikandi, Dessy Novita Sari, Angga Permana, Wiji Hastuti, Hamdan Nawawi, Farah Dzakiyah, Ahmad Zaini Adnan, Faiq Septian, Ahmad Bukhori, Nidaul Jannah.

Selamat menempuh kenyataan baru bung....... PIE RASANE?? Januardi Husain, S.Pd

Robi Kurniawan, S.H

Ahmad Jamaluddin, S.H Hartanto Adi Saputra, S.Sos


Kampung Inggris Lovable Pare Learn English with “Up and Down System” Up and Down adalah istilah yang kami gunakan dalam menyusun materi pembelajaran di Lovable. kami akan memulai mengajari kalian dengan menghafal vocabulary. kami memberikan vocabulary agar nanti ketika kalian belajar grammar. kalian akan mampu menerjemahkan setiap contoh-contoh yang kami berikan. Pronunciation, pun kami ajarkan sebagai bekal kalian untuk mengucapkan vocabulary dengan baik dan benar. Jadi, bagi kalian yang belum perna belajar bahasa inggris atau sering tidak masuk kelas bahasa Inggris. kalian dapat mengucapkan vocabulary dengan baik dan benar. Grammar yang kami akan ajarkan ke kalian adalah cara singkat dan cepat untuk bisa memahami grammar. disini kalian tidak perlu menghafal istilah -istilah grammar dan rumus-rumus grammar yang rumit . kami akan menunjukkan cara yang sangat mudah dalam belajar grammar. Speaking, adalah puncak atau target yang kita akan capai.

Program :

“Make A Positive Change to Your Life Today”

- Two week program Biaya 470rb Fasilitas : belajar, tempat tinggal, kaos, modul, sertifikat - Development English skill( 1 bulan ) Biaya 670rb Fasilitas : belajar, modul, kaos, sertifikat, tempat tinggal

kamu mau kado buat momen apa? Kotak eksklusif murah

- Wisuda, - Ultah, atau - Nikahan mantan?

ADA!!

Delivery -Gojek -COD-an -JNE//POS//Sederajat Facebook Kotak Kado Jogja // IG @kotakkadojogja Kontak 0856 0776 7940 // Alamat Gowok, Catur Tunggal, Depok - D.I Yogyakarta


IKLAN LAYANAN MASYARAKAT INI DIPERSEMBAHKAN OLEH LPM AREA

Buletin slilit arena november 2017  
Buletin slilit arena november 2017  
Advertisement