Issuu on Google+

SLiLiT

EDISI DESEMBER 2016

ARENA

diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa ARENA sejak 1975

Daftar Isi i r

Konsisten ...................................04 iv sit i

MENEKAN NOMINAL UKT

...................................07

J E LAS & M E N G GAN JAL

W lpmarena.com

@PersMaArena

Lpm Arena

LPM ARENA

BISNIS BLU DI KLINIK PRATAMA Badan Layanan Umum (BLU) UIN Sunan Kalijaga meraup banyak keuntungan dari Poliklinik melalui kebijakan akademik seperti OPAK, KKN, dan Praktikum. oleh ANIS N. NADHIROH

MENYOAL PRODUKTIFITAS PENELITIAN PROFESOR

...................................11

DILEMA PERUBAHAN GELAR KESARJANAAN

...................................14 i

Di Balik Alam Kuantum dan Waktu Mikro ...................................16 s

ROBANDI/LPM ARENA

Propaganda Ala Samir Amin

...................................20 h

ORANG PINGGIRAN DI BIBIR JALAN

...................................22 t

Jangan (lagi) Bercita Jadi Tentara

...................................32

Sejak 2014 pihak kampus membuka Galeri Investasi untuk meningkatkan kesadaran ekonomi bagi mahasiswa

K

LINIK PRATAMA atau yang lebih dikenal dengan Poliklinik, merupakan bagian dari layanan komersil selain gedung Multi Purpose (MP), Convention Hall (CH), Hotel Universitas, dan lain sebagainya. Hal itu tercantum dalam statuta UIN Sunan Kalijaga, dalam pasal 82 huruf

(d). Diperjelas kembali dengan pasal 86 ayat 1 yang berbunyi Pusat pengembangan bisnis sebagaimana yang dimaksudkan dalam pasal 82 huruf d mempunyai tugas pengelolaan, pemasaran, pengembangan, dan kerjasama bisnis universitas.

lpmarena.com

01


iv sit i

ROBANDI/LPM ARENA

Selain Poliklinik, fasilitas kantin kampus merupakan lahan bisnis menjanjikan dengan pelanggan (mahasiswa) tetap.

02

SLiLiT ARENA DESEMBER 2016

Dari kebijakan tersebut, semua pendapatan Poliklinik masuk ke BLU, yang juga tergabung dengan Pusat Pengembangan Bisnis (PPB) sejak dua tahun terakhir. Pendapatan Poliklinik dari tahun ke tahun terus meningkat. Dari data pemasukan 2015 yang diberikan Fatma Amilia, kepala PPB mencatat sebanyak Rp 413.349.000. “Biaya keluar Rp 279.949.069, dan untuk surplusnya ada Rp 133.399.931,” tulisnya via WhatsApp (16/11). Untuk data 2016, Fatma memberikan rincian pemasukan per bulan. “Mulai Januari 2016 sampai sekarang mengalami surplus semua. Dari Januari itu ada Rp 32.642.000, Februari Rp 23.000.000, dan Maret Rp 8.000.000. April hanya Rp 7.000.000, karena waktu itu mahasiswa sedang liburan,” lanjutnya. Ia menambahkan, sejauh ini yang mengalami penurunan pendapatan hanya Poli Gigi yang sudah berdiri sejak enam bulan terakhir. Poliklinik mulai didirikan pada 1993. Setelah IAIN bertransformasi menjadi UIN berdasarkan Keputusan Presiden No.50 tahun 2004, Poliklinik semakin berkembang. Pada masa konversi itu, pihak kampus merenovasi gedung Poliklinik menjadi dua lantai. Dianna Rismajani, mantan kepala Poliklinik periode 2015 menginisiasi untuk membuat kegiatan berkelanjutan Poliklinik, sebelum masuk ke dalam kebijakan kampus. “Kami sengaja buat kegiatan. Karena kami tidak ada pekerjaannya, datang pagi pulang sore. Dulu waktu masih di puskesmas, pasienku ada 70-100, di sini pasien cuma lima,” kisahnya. Dianna mengatakan, setiap universitas pasti menghendaki adanya hasil kesehatan dari calon mahasiswanya. Menurutnya akan lebih strategis jika dijadikan kebijakan, maka menjadi wajib bagi mahasiswa untuk melakukan tes kesehatan. Selain Orientasi Pengenalan Akademik Kampus (OPAK), kebijakan yang terkait dengan Poliklinik juga pada kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan fakultas yang hendak menjalankan kegiatan praktikum. Fitri Nurtaati, kepala Poliklinik mengaku adanya kebijakan tersebut membantu pemasukan Poliklinik. Ia menegaskan, tanpa kebijakan tersebut pengunjung Poliklinik setiap bulannya hanya dapat menjaring kisaran 40 hingga 50 pasien. Pendapatan dari jumlah pasien tersebut menurutnya telah mampu membayar 15 pegawai, dengan sembilan orang sebagai tenaga kontrak. “Yah, setidaknya sudah mampu memenuhi kebutuhan pribadi kita,” tandasnya. Fitri memaparkan jumlah pengunjung di Poliklinik juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2013 ada 14.649 orang, pada 2014


iv sit i

ROBANDI/LPM ARENA

Gedung Tennis Indoor, fasilitas BLU dengan pendapatan paling rendah.

berjumlah 14.800 orang, sebanyak 15.700 orang pada 2015, dan sampai akhir Agustus 2016 baru tercatat 13.390 orang. “Jumlah pengunjung itu termasuk saat KKN dan maba,” tandasnya.

TARIF POLIKLINIK MAHAL Keuntungan yang didapat BLU melalui kebijakan tidak terlepas dari tarif yang ditetapkan pihak Poliklinik. Beberapa mahasiswa menganggap tarif Poliklinik terlalu mahal jika dibandingkan dengan layanan umum, seperti Puskesmas. Laila Nakhroh, mahasiswi Prodi Psikologi mengungkapkan ketidakpuasannya berobat di Poliklinik. Ia menceritakan, ketika berobat di Poliklinik ia tidak memperoleh resep obat. Ia merasa berobat di Poliklinik tergolong mahal untuk sekadar chek up. “Saya disuruh bayar sekitar Rp 50.000-an. Saya rasa untuk sekelas Poliklinik yang sasarannya mahasiswa Rp 50.000 dan tidak diberi obat itu

termasuk mahal,” keluhnya. Dari pengalaman tersebut, Laila memutuskan berobat di luar Poliklinik, selain di luar kebijakan kampus yang mewajibkan adanya surat keterangan sehat dari dokter Poliklinik. “Terakhir aku ke poliklinik itu pengalaman yang paling gak masuk akal menurutku, makanya aku enggan buat ke sana lagi,” tambahnya. Senada dengan Laila, Faisal Khaqi, mahasiswa Prodi Perbandingan Mazhab juga merasa keberatan berobat di Poliklinik. Ia membandingkan pengalamannya ketika ia mengalami kecelakaan pada 2013. Ia segera dirujuk ke puskesmas terdekat untuk mendapat beberapa jahitan di lukanya. Usai pengobatan ia hanya dikenai biaya Rp 100.000. “Sedangkan di Poliklinik Rp 70.000, hanya diperiksa, dikasih air putih hangat dan obat,” kisah mahasiswa semester tujuh itu. Kendati demikian, Fitri menampik bahwa tarif Poliklinik mahal. Menurutnya, tarif Poliklinik sangat terjangkau.

Standar tarif mengacu pada Formularium Nasional (Fornas). Fornas adalah daftar obat yang disusun berdasarkan bukti ilmiah mutakhir oleh Komite Nasional Penyusunan Fornas. Obat yang masuk dalam daftar obat Fornas adalah obat yang paling berkhasiat, aman, dan dengan harga terjangkau, yang disediakan serta digunakan sebagai acuan untuk penulisan resep dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). “Tarif di Poliklinik, ya kayak tarif di puskesmas,” tambahnya. Menanggapi persoalan kebijakan yang mengikutsertakan Poliklinik di dalam kebijakan akademik, Maskul Haji, kepala biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan dan Kerjasama (AAKK) hanya menyarankan agar ada pengkajian ulang. Hal tersebut juga mempertimbangkan banyaknya keluhan mahasiswa tentang mahalnya tarif Poliklinik. “Soalnya aturan dari sini itu Poliklinik untuk kesejahteraan, efektif, dan efisien. Kalau efisien tu lebih murah mestinya”.[]

lpmarena.com

03


Konsisten

EDITORIAL // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

4

Beberapa hari lagi tahun baru, dan beberapa bulan lagi UIN Sunan Kalijaga kembali membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Pada PMB periode 2016, kampus menjaring 2.615 mahasiswa baru. Maba yang sekarang menginjak semester satu, tentu hafal slogan brosur iklan akademik yang menggiurkan itu. Brosur dengan gambar gedung mewah, dan beberapa mahasiswa ngehits yang menjadi modelnya itu, mirip seperti daftar menu di kafe atau restoran. Tahun baru menjadi semangat baru bagi Humas kampus untuk menghadapi PMB. Salah satu tugas mereka adalah mempromosikan kampus melalui produksi iklan untuk mempengaruhi siswa-siswi agar masuk dan menjadi mahasiswanya. Barangkali bagi mereka, tugas itu sangat mulia. Mengabarkan gedunggedung dengan empat tingkat, akreditasi berlabel A, meraih World Class University (WCU), kerjasama dengan perusahaan ini dan itu, kunjungan orangorang penting dari sana-sini, dan hal-hal yang dianggap “baik� bagi citra kampus. Melalui iklan brosur itu, konon kampus siap mengatar kita pada proyeksi masa depan yang gemilang. Namun bagi sebagian mahasiswa yang peka tindak-tanduk kampus, barangkali akan terasa berbeda ketika dihadapkan pada kondisi senyatanya. Kita akan bertanya-tanya keheranan, brosur yang tebal nan mewah dengan segala informasi yang disebarkan kampus ternyata tidak sesuai dengan imaji yang ditawarkan. Kampus tidak beda dengan perusahaan, ketika pendidikan dijadikan barang dagangan yang tidak dapat ditawar. Syahdan, kemajuan anak bangsa yang diidealkan hanya sebatas utopia. Tapi barangkali sebuah utopia adalah niscaya dibutuhkan bagi sistem kapitalisme, jika tidak produk tak jadi dijaja. Maka dari itu, kampus membutuhkan media melalui Humas sebagai kontrol wacana pengetahuan untuk melanggengkan praktik-praktik kapitalitik yang disebarkan kepada pembaca. Kampus melalui media, berusaha meniadakan, menyembunyikan, dan tidak mempersoalkan faktafakta lain. Seperti yang terjadi pada 201 calon mahasiswa baru yang terdampak sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT), produksi penelitian yang menurun, dan hal lainnya. Fakta tersebut tidak lebih penting dari sekadar berita-berita pertemuan dan kunjungan yang ditulis Humas di portal kampus. Maka dari itu, perlu adanya media alternatif sebagai konter atas wacana yang disebar kampus. LPM Arena melalui produk buletin Slilit tidak berhenti untuk terus menyajikan fakta lain itu. Ia mengemban

misi menyampaikan kebenaran dengan fakta-fakta yang sesungguhnya ada di lapangan. Ia konsisten untuk tidak sekadar menggali fakta subyektif paparan seorang narasumber atau selintas dari objektifitas suatu kejadian. Namun seorang wartawan juga mesti pandai mengolah informasi yang didapat. Hasil olahan tersebut tidak terlepas dari keredaksian, yang menjadi ruang dialektis untuk terus mencari antitesis dari kebenaran-kebenaran fungsional. Pew Research for The People and the Press and Commitee of Concered Jurnalists mengeluarkan hasil survei bahwa 100 persen wartawan menempatkan kebanaran sebagai misi utama jurnalisme. Dari sana, Bill Kovack dan Tom Rosentiel menempatkan prinsip tersebut di urutan pertama dari semibilan elemen dalam buku Elemen-elemen Jurnalisme. Bill lebih tahu bahwa tujuan para pemikir pada masa abad Pertengahan bukan untuk mencari suatu kebenaran yang sedang dan akan terjadi. Melainkan sebagai kontrol atas dominasi yang sedang berkuasa. Sebab ia tahu fakta lain yang benar itu dapat membawa pemahaman yang bisa jadi membongkar tatanan kebenaran yang sedang mendominasi. Dalam konteks kampus, kekuasaan mengejawantahkan dirinya melalui institusi yang diroboti birokrasi, salah satunya Humas. Kebenarankebanaran dalam sebuah pemberitaan akan dianggap menggangu kemapanan mereka, karena dikhawatirkan akan membawa pemahaman kepada siapa yang membaca. Kemapanan itulah yang terus menerus diseriusi, dipreteli, dikuliti LPM Arena melalui wacana alternatif.[] Redaksi


surat

pembaca Silahkan kirim ke surel redaksi LPM ARENA lewat lpm_arena@yahoo.com. Sertakan biodata lengkap. Judul file: Surat Pembaca//SLiLiT ARENA

Dilema Pohon Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada LPM Arena yang sudah menyediakan kolom Surat Pembaca untuk kita semua. Selamat kepada para penguasa, yang sudah berhasil berkuasa dan menguasai sesuatu yang seharusnya tidak dikuasai. Di era modern ini, manusia memang sering merasa haus akan sesuatu yang belum terjadi dan haus ingin menghilangkan sesuatu yang membatasi pandangan mata, sebagai contoh, pohon-pohon yang ada di Fakultas Saintek. Jika dilihat dari sudut pandang orang yang haus ingin menghilangkan sesuatu yang membatasi pandangan mata, dan menganggap pohon hanya mengotori mobil-mobil yang parkir di bawahnya, maka pohon-pohon tersebut harus dibasmi. Tetapi, jika dilihat dari sudut pandang dunia yang menganggap bahwa lapisan ozon semakin bocor, cuaca ekstrim, dan bumi sudah mendekati masa tuanya, maka orang tersebutlah yang harus dibasmi. Pesan ini untuk para penguasa dan silakan jawab dengan hati nurani kalian.[] AHMAD KURNIAWAN, MAHASISWA SEMESTER IX PRODI BIOLOGI FAKULTAS SAINS & TEKNOLOGI UIN SUNAN KALIJAGA.

RALAT BERITA SLiLiT edisi November Judul berita “Ketidakpastian Relokasi Pangdem” Pada isi berita ...Bangunan itu menghadap selatan dengan luas sekitar 4x7 cm, dilapisi... harusnya: ...Bangunan itu menghadap selatan dengan luas sekitar 4x7 m, dilapisi...

Tugas akhir (TA) atau skripsi merupakan syarat utama kelulusan bagi mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan tinggi. Tujuan dari adanya TA tersebut sebenarnya untuk kepentingan mahasiswa sendiri, yaitu agar lebih mendalami dan dapat digunakan untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang sudah didapat selama kuliah. Sayangnya, menurut sebagian orang, TA dapat dikatakan sebagai momok yang menakutkan karena bayang-bayang beban penelitian yang rumit, dan proses bimbingan yang memakan waktu lama. Salah satu faktor lamanya proses pengerjaan TA adalah adanya kebijakan tentang dua orang dosen pembimbing. Biasanya dua pembimbing tersebut kurang begitu sejalan, sehingga membuat mahasiswa bingung. Kebijakan dua dosen pembimbing dalam TA masih menuai pro dan kontra di kalangan mahasiswa, bahkan di kalangan dosen yang bersangkutan. Sebagian dosen percaya, semakin banyak reviewer dalam TA, maka semakin akurat sebuah TA. Tapi sebagian lain ada yang merasa kasihan dengan mahasiswa, juga dosennya, karena terkadang kapasitas pembimbing yang satu melebihi kapasitas pembimbing yang kedua. Salah satu contoh program studi di UIN Sunan Kalijaga yang menggunakan dua pembimbing adalah Prodi Biologi. Pada Prodi Biologi, penunjukan dua dosen pembimbing berdasarkan keputusan rapat prodi. Rata-rata tingkat kelulusan mahasiswa Prodi Biologi yaitu pada semester ke-10 atau lima tahun perkuliahan. Kelebihan penggunaan dua pembimbing adalah menjadikan TA lebih detail, berbobot dan lebih baik. Sehingga tujuan dari pembuatan TA tercapai melalui koreksi dari reviewer. Sedangkan kekurangnnya, apabila antara dua dosen tersebut kurang “klop” dalam sudut pandang atau disiplin keilmuan yang berbeda, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah mahasiswa mengalami kebosanan saat mengerjakan TA. Karena perbedaan pendapat dan lambatnya proses ACC. Oleh sebab itu, perlu adanya kajian ulang tentang kebijakan tersebut, beserta konsekuensi yang ditimbulkannya sehingga tidak terlalu menyulitkan mahasiswa dan dosen.[] RINI ANGGRIANI, MAHASISWI SEMESTER VII PRODI BIOLOGI, FAKULTAS SAINS & TEKNOLOGI UIN SUNAN KALIJAGA.

SURAT PEMBACA // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

Kurangi Dosen Pembimbing di Prodi Biologi

5


lpmarena .com

DITERBITKAN OLEH:

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) ARENA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta PELINDUNG Rektor UIN Sunan Kalijaga // PEMBINA Dr. Abdur Rozaki // DEWAN REDAKSI Ahmad Jamaludin, Ulfatul Fikriyah PEMIMPIN UMUM Sabiq Ghidafian Hafidz // WK. PEMIMPIN UMUM M. Faksi Fahlevi // SEKRETARIS UMUM Alifah Amalia // BENDAHARA Anis Nur Nadhiroh PEMIMPIN REDAKSI Rifai Asyhari // REDAKTUR ONLINE Isma Swastiningrum, Lugas Subarkah // REDAKTUR SLiLiT Robandi // REDAKTUR BAHASA Nurul Ilmi STAF REDAKSI Ajid Fuad Muzaki, Dewi Anggraeni, Asvariyanti H.M, Lailatus Sa'adah, Rodiyanto, Mar'atus Sholihah, Ratna Sari, Wulan Agustina

Pamungkas, Ilham Habibi, Chaerizanisazi Bas’ad, Ulfa Nur Azizah, Abdul Rohim, Afin Nur Fariha, Mujaeni, Syakirun Ni'am, Ilham M.R, Rohmad Aditiya Utama // ARTISTIK Doel R & Sabiq GHz // KOOR. PERUSAHAAN & PRODUKSI Agus Teriyana // KOOR. PUSAT DATA & ANALISIS Imroatus Sa'adah KOOR. JARINGAN & KOMUNIKASI Abdul Rouf // KOOR. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA Khairul Amri Kantor Redaksi/Tata Usaha: Student Center Lantai 1 No. 1/14, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jl. Laksda Adisucipto Yogyakarta 55281 Telp.: +6285 878 806 711 a/n Agus // Surel: lpm_arena@yahoo.com // Jejaring: www.lpmarena.com

SLiLiT ARENA MENGUNDANG SEMUA KALANGAN AKADEMIKA UIN SUNAN KALIJAGA UNTUK MENGIRIMKAN TULISAN MAUPUN ARTIKEL KE ALAMAT REDAKSI LPM ARENA. BAGI PIHAK YANG MERASA TIDAK PUAS DENGAN PEMBERITAAN SLiLiT ARENA,BISA MENULISKAN HAK JAWABNYA, ATAU DATANG LANGSUNG KE KANTOR REDAKSI LPM ARENA GUNA BERDISKUSI LEBIH LANJUT. WARTAWAN SLiLiT ARENA DIBEKALI TANDA PENGENAL DALAM SETIAP PELIPUTAN & TIDAK MENERIMA AMPLOP DALAM BENTUK APAPUN.


iv sit i

HANDIKA AHMAD/LPM ARENA

UKT belum bisa memperbaharui fasilitas Laboratorium Saintek yang baru cukup untuk laboratorium pendidikan, sedangkan untuk fasilitas praktikum bidang sains murni masih minim.

MENEKAN NOMINAL UKT Banyaknya komponen dan program di dalam rancangan unit kost setiap prodi merupakan salah satu faktor nominal UKT naik. Tetapi banyak dari komponen dan program justru tidak terlaksana. Hal tersebut semestinya dapat mengurangi nominal UKT mahasiswa. oleh SYAKIRUN NIAM

P

ENETAPAN NOMINAL Uang Kuliah Tunggal (UKT) periode angkatan 2016/2017 tercantum dalam Surat keputusan Rektor UIN Sunan Kalijaga Nomor 92.19 tahun 2016. Surat tersebut ditandatangani Yudian Wahyudi pada 13 Mei 2016, tepat sehari setelah dilantik menjadi rektor. Penetapan tersebut dilaksanakan dengan membaca Surat Rektor nomor: UIN.02/R/KU/1383/2016 perihal usulan UKT yang

dilayangkan kepada Kementerian Agama pada 1 April 2016 lalu. Dari surat tersebut, golongan II dan III UKT di beberapa Fakultas mengalami kenaikan, seperti fakultas Sosial dan Humaniora (Soshum), Syari'ah dan Hukum, serta fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Di fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) tarif UKT naik pada golongan III. Di samping itu, berdasarkan data yang disampaikan Sahiron

Syamsuddin, Wakil Rektor III bidang Keuangan, sebanyak 201 calon mahasiswa baru tercatat mengundurkan diri setelah dikeluarkan surat pernyataan kesanggupan membayar UKT yang sudah ditentukan. Pada 2016, golongan UKT juga ditambah dua golongan, yakni IV dan V jika sebelumnya hanya tiga golongan. Nominal UKT di fakultas yang dikategorikan relatif murah, seperti Adab, Tarbiyah, Fishum, Dakwah dan Ushuluddin,

lpmarena.com

07


iv sit i dengan besaran nominal golongan IV mulai RP 1.500.000 sampai Rp 3.800.000. Untuk golongan V sebesar Rp 1.700.000 sampai Rp 4.500.000. Sedangkan untuk Fakultas yang relatif mahal, seperti Febi, Saintek, dan Syari'ah, besaran nominal golongan IV mulai dari Rp 4.450.000 sampai Rp 6.250.000. Untuk golongan V dari Rp 5.450.000 sampai Rp 7.500.000. Sahiron menjelaskan, kenaikan itu mengacu pada peraturan yang dikeluarkan Kemenag. Setiap Fakultas berbeda-beda dan tidak boleh melebihi besaran yang tercantum di dalam peraturan tersebut. “Mungkin ada sebagian yang naik, ada sebagian yang turun,” ucapnya. Berkenaan dengan munculnya kebijakan penambahan dua golongan baru, Waryono, mantan WR II menjelaskan bahwa kebijakan tersebut bukan atas inisiasi Kemenag, melainkan dari usul forum WR II pada Kementerian. Usul tersebut bertolak dengan melihat jumlah golongan UKT pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang mencapai lima sampai tujuh golongan. “Penambahan tersebut untuk meminimalisir selisih antar golongan agar tidak begitu kentara,” tuturnya. Besaran UKT sendiri mengacu pada Biaya Kuliah Tunggal (BKT), yakni total keseluruhan biaya operasional per mahasiswa di setiap semester. Besaran BKT bertolak dari satuan biaya operasional pendidikan per mahasiswa di setiap tahunnya pada masingmasing prodi atau biasa disebut dengan unit kost. Sementara, besaran unit kost ditentukan oleh banyak dan mahalnya komponen akademik yang diajukan suatu prodi. Waryono memaparkan,

08

perumusan formulasi BKT tahun ini meniru dari UGM, karena rumusan BKT Kemenag tidak sampai selesai. “Misalnya layanan akademik itu meliputi apa saja. Milik UGM itu lebih jelas,” ungkap Waryono yang sekarang menjabat WR III bidang Kemahasiswaan. BKT ditunjang oleh subsidi dari pemerintah melalui Badan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dan besaran UKT yang ditanggung mahasiswa. Kenaikan nominal UKT terjadi jika nominal BOPTN mengalami penurunan. Namun, pada faktanya dari tahun ke tahun nominal BOPTN naik. Untuk 2014 anggaran BOPTN sebesar Rp 28.707.258.000, pada 2015 Rp 29.918.714.000, dan 2016 sebanyak Rp 31.355.447.000. Walaupun Sahiron mengaku dana BOPTN untuk 2016 dipotong Kementrian Keuangan. Selain itu, bertambahnya jumlah komponen dan naiknya harga satuan komponen. Salah satu contohnya, prodi Pendidikan Fisika yang mengalami kenaikan dari tahun lalu. Joko Purwanto, mantan Kaprodi Pendidikan Fisika menjelaskan bahwa besaran UKT dimulai dari prodi yang menaikkan harga komponen dan mencanangkan beberapa program baru yang membuat unit cost naik. Hal tersebut dilakukan antara lain untuk membiayai praktikum prodi yang dianggarkan 70 juta rupiah pertahun. Jumlah tersebut dibagi dua semester, menjadi Rp. 35.000.000 per semester. Jumlah tersebut dibagi untuk lima mata kuliah, menjadi Rp. 7.000.000 setiap mata kuliah praktikum. Ia menganggap jumlah tersebut masih terhitung sempit, mengingat satu mata kuliah praktik dengan delapan alat yang berbeda, pemeliharaan, modul,

SLiLiT ARENA DESEMBER 2016

ongkos asisten, serta membeli alat dan bahan. “Maka harus diubah. Harus dinaikkan,” lanjut Joko. Pada 2016, Joko meningkatkan anggaran praktikum menjadi dua kali lipat. Adapun yang lain, seperti Praktik Lapangan Profesi (PLP), kuliah umum, pendelegasian mahasiswa ke seminar nasional atau internasional, mengonsep kurikulum, dan workshop metode penelitian bagi mahasiswa. Komponen prodi tersebut dirangkum menjadi sebuah rancangan yang kemudian diolah dan diakumulasikan dengan keperluan fakultas. “Baru kemudian masuk ke universitas,” katanya. Akumulasi dari seluruh komponen prodi, fakultas, dan universitas menjadi rancangan BKT yang kemudian diajukan kepada Kemenag. Rancangan tersebut menjadi acuan besaran dana BOPTN yang diturunkan oleh Kemenag dengan beberapa pertimbangan, seperti indeks program studi, indeks strata perguruan tinggi, indeks kemahalan wilayah, serta indeks akreditasi institusi. Setelah BOPTN diturunkan, akan diketahui besaran biaya yang harus ditanggung mahasiswa selama studi. Arifah Khusnuryani, mantan Wakil Dekan II bidang keuangan Fakultas Saintek menjelaskan, setelah besaran nominal UKT mahasiswa diketahui pihaknya akan melakukan subsidi silang. “Semisal biaya studi mahasiswa per semester adalah tiga juta maka harus ada persilangan sebesar 2,6 juta rupiah untuk mahasiswa golongan satu yang membayar 400 ribu,” katanya. Hal tersebut berlaku untuk semua golongan UKT, dari golongan satu sampai lima. “Sehingga biaya pendidikan mahasiswa satu fakultas


lpmarena.com

Spanduk protes terhadap penentuan golongan yang tidak tepat. 728 mahasiswa angkatan 2014/2015 dan 2015/2016 mengajukan banding (20/8).

terpenuhi seratus persen�. Menurut Arifah, sistem subsidi silang tidak akan berjalan jika kuota pada golongan satu lebih besar daripada golongan lainnya. Menurutnya, adanya lima golongan UKT tersebut untuk mengalihkan banyaknya kuota golongan satu ke golongan lain. “Kalau semua calon mahasiswa masuk ke grade satu, nanti nggak jalan (Red: subsidi silang,)� lanjut Arifah, yang turut mengolah formulasi unit kost Fakultas Saintek periode 2016 sampai 2017. Penempatan mahasiswa pada salah satu dari lima golongan, mengacu pada keadaan ekonomi keluarga mahasiswa. Acuan tersebut menggunakan indikator seperti penghasilan orang tua, aset yang dimiliki keluarga, berupa rumah, tanah, dan konsumsi listrik, sebagaimana tercantum dalam form tahun lalu. Pada 2016, pengkategorian fakultas mahal dan fakultas murah juga menentukan mekanisme pengelompokan mahasiswa ke dalam golongan UKT. Dari data persentase golongan UKT tahun ini, 11

persen golongan I, golongan II 57,6 persen, golongan III 13,4 persen, golngan IV 7,25 persen, dan golongan V 11,2 persen. Dari persentase golongan, kampus dapat mengakumulasikan sebesar Rp 5.791.101.500 pada semester genap UKT 2016/2017. Mekanisme penggolongan dilakukan dengan menghitung pendapatan per kepala keluarga. Hal itu didapatkan dari total penghasilan orang tua dibagi jumlah tanggungan keluarga, dengan pendapatan per kepala keluarga dari nol sampai Rp 250.000 yang masuk golongan I. Rumusan tersebut berlaku untuk semua kategori fakultas. Sedang pendapatan per kepala keluarga Rp 250.000 sampai Rp 2.250.000 masuk UKT golongan II dalam kategori fakultas yang relatif mahal, dan golongan V untuk kategori fakultas murah. Menginjak tahun keempat pemberlakuan sistem UKT, tidak sedikit mahasiswa yang mengajukan banding. Hal itu menunjukan mekanisme penggolongan masih belum tepat sasaran. Seperti yang dialami Muhammad Fajarudin Umam, mahasiswa semester satu Prodi Teknik Informatika. Fajar mengisi data penghasilan orang tua pada saat

pengisian data form mahasiswa dengan nominal Rp 500.000 untuk kolom penghasilan ayah dan Rp 700.000 untuk kolom Ibu, dengan anggota keluarga sebanyak tujuh orang. Jika dihitung pendapatan per kepala keluarga dengan cara menjumlah pendapatan dibagi tanggungan, maka per kepala hanya sebesar Rp 171.400 perbulan. Berdasarkan hitungan tersebut, seharusnya Fajar mendapatkan UKT golongan I, karena pendapatan per kapita di bawah Rp 250.000. Tapi, ia justru dimasukkan ke dalam golongan II dengan besaran Rp 2.500.000. Ia berharap banding yang diajukannya membuahkan hasil. “Kalo tidak bisa, mudahmudahan masih bisa lanjut kuliah sampai akhir,� keluhnya saat ditemui Arena, Jum'at (7/10) di gazebo Saintek bersama beberapa temannya yang juga mengajukan banding UKT. Dari data yang didapat dari Viki Ardianto Putra selaku SEMA-U, jumlah mahasiswa yang mengajukan banding akibat ketidaksesuaian penempatan golongan UKT pada periode 2014/2015 dan 2015/2016 mencapai 728 mahasiswa. Sementara itu, untuk surat banding mahasiswa angkatan

lpmarena.com

09


iv sit i 2016/2017 hingga 27 Oktober ini masih tertahan di fakultas. Jika ditambah dengan calon mahasiswa periode 2016/2017 yang mengundurkan diri karena kenaikan UKT, jumlahnya menjadi 929 mahasiswa terdampak. Sahiron menyatakan, pihak Rektorat terbuka bagi mahasiswa yang ingin melakukan banding. Namun, pihaknya akan melakukan verifikasi dan mengkaji terkait kebenaran surat-surat yang diajukan melalui tim verifikasi. “Setelah surat masuk akan ada yang verifikasi lapangan.Tim diturunkan ada seratusan lebih orang,” tuturnya.

KONTRADIKSI NAIKNYA NOMINAL UKT ...calon mahasiswa periode 2016/2017 yang mengundurkan diri karena kenaikan UKT, jumlahnya menjadi 929 mahasiswa terdampak.

10

Naiknya nominal UKT seharusnya mampu meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih baik, karena sejumlah komponen akademik ditunjang dengan dana yang lebih banyak dari tahun sebelumnya. Namun yang terjadi justru mengecewakan. Dana yang diturunkan tidak sesuai dengan komponen yang sudah dirancang di dalam unit kost. Hal ini disesalkan oleh Joko saat merancang unit kost Prodi Fisika. Ia berharap penambahan komponen UKT dapat mengembangkan kualitas prodinya. Namun yang terjadi justru banyak pembatalan terhadap program-program yang menopang kualitas akademik. “Kuliah umum semester dua saja ini tidak bisa dilakukan karena nggak ada anggaran,” katanya. Selain itu, Joko menerangkan bahwa biaya praktikum dipotong dengan nominal yang tidak sedikit. Hal ini juga terjadi pada semua prodi di Fakultas Saintek yang sejatinya mengalami kenaikan nominal UKT dari tahun lalu. Dari seluruh komponen yang dirancangnya, dana yang tidak diturunkan mencapai sekitar 60 persen. Ia heran, pemasukan dari

SLiLiT ARENA DESEMBER 2016

pembayaran mahasiswa tidak seimbang dengan pengeluaran yang didapatkan fakultasnya. “Faktanya tidak linier,” ungkapnya. Menurut Joko, persoalan tersebut merugikan dan mengganggu proses akademik mahasiswa, karena programprogram yang direncanakan harus dibatalkan. Dengan anggaran yang kecil, maka praktikum dilaksanakan seadanya. Tanpa mempertimbangkan target capaian kualitas. “Apa adanya saja yang penting jalan”. Kesulitan serupa juga dialami fakultas lain. Saat ditemui Arena di ruang dekan Fakultas Saintek, Murtono mengaku banyak program yang tidak terlaksana. Selain itu, komponen yang diajukan banyak yang tidak diturunkan. “Yang untuk membentuk UKT, yang praktikum sekian, sekian, ternyata ketika sampai ke sini,” tuturnya, tidak melanjutkan pembicaraan. Fauzan Arif Sani, mahasiswa semester satu Teknik Informatika mengaku orang tuanya kaget ketika mengetahui nominal UKT yang harus ditanggungnya, sebesar Rp 6.800.000 di golongan IV. Saat mengisi data, ia memasukkan penghasilan orang tua sebesar Rp 8.000.000 dengan tanggungan tiga orang anak. Pada 3 September lalu orang tuanya mengajukan banding karena keberatan dengan nominal yang didapatkan. “Tapi bandingnya justru ditolak,” kisahnya. Ojan, sapaan akrab Fauzan merasa heran mengetahui naiknya nominal UKT. Tetapi banyak komponen dan program-program yang tidak berjalan. “Harusnya lebih rendah dong dari UKT tahun kemarin,” pungkasnya. Ia berharap, baik nominal maupun selisih antar golongan UKT dapat ditekan. “Soalnya kan banyak juga tementemen yang penempatan UKT-nya gak sesuai, kalo bisa sih jaraknya juga direndahin selain nominalnya,” ungkap mahasiswa asal Karawang itu.[]


iv sit i

MENYOAL PRODUKTIFITAS PENELITIAN PROFESOR Beberapa persoalan seperti kebijakan tugas tambahan, minimnya pendanaan penelitian, dan minimnya jumlah profesor telah menghambat produksi penelitian. oleh AGUS TERIYANA

A

LHAMDULILLAH BUKU SAYA BISA terbit di tengah kesibukan saya sebagai salah satu pejabat di UIN Sunan Kalijaga,” Saifuddin menunjukkan pesan whatsApp itu. Pesan tersebut ditulis Noorhaidi Hasan di grup Universitas. Ia masih ingat, Noorhaidi juga pernah mengatakan bahwa menjabat di struktur kampus sangat mengganggu produktifitas dalam berkarya. Waktu itu, ia merasa pesan tersebut merupakan sebuah reaksi atas produktifitas penelitian yang menurun. Saifuddin menganggap, dari 78 profesor dan doktor di kampus masih kurang produktif, baik dari segi kualitas ataupun kuantitas. Pada 2016, kampus hanya bisa menghasilkan delapan penelitian unggulan internasional. “Jangankan di jurnal internasional, kadang untuk buku atau jurnal terakreditasi saja, yang saya tahu itu jarang,” lanjut Saifuddin. Melakukan riset dan penelitian menjadi kewajiban dasar bagi seorang profesor. Hal itu tercantum dalam Undangundang No. 14 tahun 2015 pasal

49 ayat 2, bahwa seorang Profesor memiliki kewajiban khusus menulis buku dan karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat. Namun di satu sisi, dalam Statuta seorang profesor juga dituntut merangkap pekerjaan di dalam struktur birokrasi. Saifuddin mencontohkan, untuk menjadi kepala program studi atau sekretaris prodi, minimal harus berpangkat lektor. Sedangkan untuk menjadi rektor harus bergelar guru besar, dan posisi dekan minimal wajib diisi oleh lektor atau doktor. “Jabatan-jabatan itu diisi oleh yang pangkatnya tinggi. Semakin rendah jabatannya, semakin rendah pula pangkat, dan tentunya tunjangannya”. Saifuddin menjelaskan mengenai karya penelitian sebagai salah satu bagian dari prosedur menaikkan jabatan fungsional dan struktural. Jika seorang dosen minim karya penelitian, maka kesempatan mendapatkan jabatan lebih tinggi seperti gelar profesor akan sulit. Sehingga hal tersebut tidak dapat menambah jumlah

profesor yang sedikit. Selain itu, karya penelitian yang dipublikasikan mendapat porsi 30 persen dari penilaian lainnya. Seperti jumlah minimal waktu mengajar seorang dosen dalam satu semester sebanyak 12 Satuan Kredit Semester (SKS), khutbah jum'at, dan pengabdian kepada masyarakat. “Dan partisipasinya dalam kepanitiaan agenda kampus, semisal seminar,” papar Saifuddin. Setiap penelitian yang dihasilkan mendapat jumlah poin berdasarkan jenis jurnal. Apabila karya dimuat di jurnal internasional akan mendapat poin 40 kum, jurnal terakreditasi mendapat poin 25 kum, jurnal yang belum terakreditasi tapi mendapat nomor Seri Standar Internasional mendapat 15 kum. Sedangkan penelitian yang tidak dimuat dalam jurnal hanya mendapatkan poin 3 kum. “Itupun harus mendapat rekomendasi surat keterangan dari perpustakaan,” lanjut Saifuddin. Dari pengalaman melakukan penelitian, Saifuddin juga menegaskan bahwa jumlah poin tersebut bisa dikurangi oleh Tim

lpmarena.com

11


iv sit i Penilai Karya Ilmiah (TPKI). Ada dua hal yang dapat mengurangi poin tersebut, yakni kualitas dan seturut tidaknya hasil penelitian. “Misalnya saya, saya ini SK-nya dosen zakat wakaf, tapi kok nulis politik harusnya dihargai 15 kum, tapi hanya dihargai 3 kum”. Alwan Khoiri, Dekan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, menceritakan kesibukannya selain menjalankan berbagai program kerja. Sebagai guru besar, ia mengaku selama ini tidak pernah melalaikan kewajiban memenuhi tugas mengajar. Sedangkan untuk membuat karya ilmiah dalam bentuk buku, ia menggunakan sela-sela waktu kosong. Ia lebih banyak meneliti di tingkat nasional. “Sedangkan yang internasionalnya baru dua,” katanya. Kendati demikian, Alwan menyayangkan adanya aturan pembatasan kuota penelitian oleh pihak LPPM. Kuota untuk dosen pemula, dosen menengah, dan guru besar. Selama ini, ia mengaku lebih suka mengajukan proposal penelitian di luar kampus atau melakukan penelitian mandiri. Hal senada juga diutarakan M. Chirzin, menurutnya kewajiban meneliti dan terlibat dalam kesibukan administrasi kampus adalah konsekuensi seorang profesor. Hal itu terkait erat dengan laporan beban kerja dan tunjangan seorang guru besar. “Kalaupun tugasnya banyak, itu pekerjaan yang tidak boleh dilupakan,” tegas sekretaris Senat Universitas. Selain itu, Chirzin juga menganggap bahwa persentase kualitas penelitian yang sesuai dengan integrasi-interkoneksi sebagai paradigma kampus jumlahnya masih sedikit. Khususnya Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fishum). “Penelitian berbasis

12

agama masih menjadi dominan,” pungkasnya.

LPPM DAN ANGGARAN Menurut Chirzin, faktor lain yang menghambat produksi penelitian adalah anggaran dana yang minim. Ia berharap adanya evaluasi dari pihak LPPM tentang anggaran dana bagi penelitian profesor. “Kalau anggaranya kecil tapi harus bikin penelitian yang heboh begitu, kan ndak masuk akal,” keluhnya. Berdasarkan data yang didapat Arena, Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) memblokir anggaran penelitian kampus, melalui surat nomor B348.3.37/Un.02/L.3/PN.01.1/11/ 2016 yang tertuju kepada Jauhar Paradis sebagai pelaksana penelitian. Namun, Jauhar menegaskan bahwa penelitian akan tetap dilaksanakan. “Jadi penelitian tahun 2016 tetap ada. Sabar aja,” balasnya melalui pesan WhatsApp. Sejak tahun 2012, pemerintah mengeluarkan undang-undang Republik Indonesia nomor 12 tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi. Di pasal 89 ayat 6 tertulis, pemerintah mengalokasikan anggaran paling sedikit 30 persen dari total APBD untuk penelitian di PTN dan PTS. Al Makin ketua LPPM menuturkan, anggaran penelitian tahun 2016 terpotong 15 persen akibat adanya Intruksi Presiden (InPres) Nomor 4 tahun 2016 tentang Penghematan dan Pemotongan Belanja Kementerian/Lembaga. Sebelumnya, pada 2015 anggaran penelitian sebanyak 3 Miliar. Dari perhitungan UU nomor 12 tahun 2012, seharusnya pada 2016 ini meningkat jadi 7 Miliar. “Tapi karena ada pemotongan anggaran, jadinya lima miliar,” katanya.

SLiLiT ARENA DESEMBER 2016

Al makin mengakui, dana penelitian tahun ini memang tidak tidak cukup untuk mengakomodir proses pelaksanaan penelitian. Anggaran standar minimal penelitian seorang profesor atau dosen sekira 100 juta. Jumlah itu digunakan untuk ongkos pulangpergi, melakukan konvensi internasional dan lain sebagainya. Namun, dampak dari pemotongan tersebut pihaknya hanya mampu membayar sekira 10 sampai 80 juta rupiah. “Dana riset kita untuk dosen, professor, itu masih jauh. Itu kenapa kita lambat dalam produksi ilmu pengetahuan,” tandasnya. Selain dana, Al Makin mengakui lemahnya penelitian di kampus merupakan imbas dari dua faktor. Pertama, gaji dosen belum memadai apabila dibandingkan dengan negara lain. Kedua, tuntutan utama dosen dan profesor di Indonesia lebih menitikberatkan pada persoalan administrasi dan birokrasi. “Jadi perlu dirombak, bagaimana dosen ini bisa diarahkan ke penelitian, bukan administrasi,” katanya. Pada 2016, penelitian kategori pemula atau rintisan sekitar 150 orang, kategori Madya sekira 40 orang, unggulan nasional 30 orang, internasional 8 orang, dan untuk program profesorisasi doktor ada 6 orang. Jumlah itu merupakan hasil kompetisi dari semua proposal yang masuk. Sistem yang diterapkan oleh LPPM untuk proposal penelitian itu bermodel kompetitif. Tidak memandang jabatan fungsional dari dosen, baik guru besar maupun dosen pemula. Proposal akan diseleksi oleh tim ahli di luar pihak LPPM. “Semuanya open, semuanya kompetitif, semua dosen boleh masuk,” ujar Al Makin.[]


iv sit i

DILEMA PERUBAHAN GELAR KESARJANAAN Perubahan gelar kesarjanaan pada beberapa prodi di UIN Sunan Kalijaga tidak sejalan dengan kurikulum akademik mahasiswa. oleh MAR'ATUS SHOLIHAH

P

ERATURAN MENTERI AGAMA Nomor 33 Tahun 2016 tentang Gelar Akademik Perguruan Tinggi Keagamaan, menginstruksikan Perguruan Tinggi Negeri Agama Islam (PTAIN) agar mengubah gelar kesarjanaan. Kebijakan tersebut ditetapkan dan diundangkan pada 9 Agustus 2016, dan dicatat dalam Berita Negara RI Nomor 1170 Tahun 2016. Kebijakan itu turut mengubah beberapa gelar program studi di UIN Sunan Kalijaga. Di antaranya sarjana Prodi Ilmu AlQuran dan Tafsir, Ilmu Hadits, Filsafat Agama, dan Studi Ilmu Agama yang semuanya bergelar Sarjana Agama (S.Ag). Sedangkan gelar Prodi Ahwal

14

Syakhsiyah, Jinayah, Siyasah Syar'iyyah, Perbandingan Madzhab, dan Muamalah, semuanya bergelar Sarjana Hukum (S.H). Prodi Manajemen Dakwah, Pengembangan Masyarakat Islam, Bimbingan Penyuluhan Islam, dan Sosiologi Agama, kini bergelar Sarjana Sosial (S.Sos). Sedangkan sarjana Pendidikan Bahasa Arab, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Manajemen Pendidikan Islam, Bimbingan dan Konseling Islam, bergelar Sarjana Pendidikan (S.Pd). Sebelumnya, gelar akademik mengacu pada PMA Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Penetapan

SLiLiT ARENA DESEMBER 2016

Pembidangan Ilmu dan Gelar Akademik di Lingkungan Perguruan Tinggi Agama. Seperti pada Strata Satu (S1) Sarjana Ushuluddin (S.Ud) yang disematkan pada Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Fakultas Syariah bergelar Sarjana Syariah (S.Sy), gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) disandang Fakultas Dakwah dan Komunikasi, dan Fakultas Tarbiyah bergelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I). Perubahan gelar tersebut menimbulkan kontroversi dalam hal mengaplikasikan, dan juga dalam menentukan serta menerapkan kurikulum. Di Fakultas Syariah dan Hukum, gelar yang sebelumya S.H.I,


iv sit i

M. Kholili, Wakil Dekan II Fakultas Dakwah dan Komunikasi berpendapat, perubahan gelar tersebut tidak sesuai dengan beberapa prodi dan kurikulum perkuliahan...

dalam PMA diganti menjadi S.H. Di Prodi non-ilmu hukum seperti Hukum Tata Negara Islam (HTNI) kurikulum akan disesuaikan dengan standar minimal kurikulum ilmu hukum yang bergelar S.H. “Agar sesuai dengan kompetensi mahasiswa sarjana hukum,” jelas Riyanta, mantan Wakil Dekan I bidang Akademik Fakultas Syariah dan Hukum. Setelah menjadi sarjana, mahasiswa dibekali dengan ijazah, transkrip nilai, dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). SKPI ini berisi penjelasan terkait kompetensi program studi dan sebagai bukti pendukung kompetensi kesarjanaan. Kendati demikian, masih ada SKPI yang tidak mengacu pada PMA. Beberapa prodi di Fakultas Syariah dan Hukum, seperti Akhwal Syakhsiyah dan Perbandingan Madzhab, di dalam SKPI masih tercatat sebagai sarjana hukum Islam. “Itu dilakukan untuk menyesuaikan dengan kurikulum, yang banyak tentang keislaman,” lanjut Riyanta. Riyanta sudah mengusulkan kepada pihak rektorat agar mengubah gelar S.H di SKPI menjadi S.H.I. “Harapannya, nantinya semua prodi di lingkungan Fakultas Syariah yang non-ilmu hukum, bergelar S.H, namun di SKPI nya tetap sarjana hukum Islam,” lanjutnya. Sedangkan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, gelar pada program studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Manajemen Dakwah, dan Pengembangan Masyarakat Islam, berubah menjadi S.Sos. Sebelumnya di prodi tersebut bergelar S.Sos.I. Sedangkan Prodi Bimbingan Konseling Islam berganti menjadi S.Pd. M. Kholili, Wakil Dekan II Fakultas Dakwah dan Komunikasi berpendapat, perubahan gelar tersebut tidak

sesuai dengan beberapa prodi dan kurikulum perkuliahan. Misalnya, gelar pendidikan yang disematkan untuk Prodi BKI dalam PMA. Menurutnya, hal itu tidak sesuai dengan porsi materi pendidikan yang lebih sedikit dibandingkan dengan materi psikologi. “Belum tentu 80 persen materi pendidikan, melainkan tentang psikologi,” katanya. Dari sana, ia melakukan negosiasi dengan pihak rektorat agar gelar BKI dengan fokus Bimbingan Konseling Masyarakat dan Keluarga menjadi S.Sos. Lebih lanjut tentang kurikulum, Kholili mengaku tidak ada yang berubah dengan materi perkuliahan mahasiswa. Kurikulum masih sama dengan sebelumnya, tentang ilmu-ilmu sosial yang menurutnya, materi tersebut sudah cukup mengakomodir gelar S.Sos, “Selain kelebihannya gelar S.Sos di Dakwah itu ada mayoritas materi Islamnya di kurikulum,” lanjutnya. Perubahan gelar akademik juga mendapat silang pendapat dari beberapa mahasiswa. Fita, mahasiswa PMI semester tujuh mengapresiasi gelar yang disandang prodinya. Ia mendengar dari beberapa alumni, bahwa lulusan dengan gelar S.Sos.I sulit mencari kerja. Menurutnya, hal itu karena embel-embel huruf I yang berarti Islam tersebut. “Sekarang S.Sos lebih umum, lapangan kerjanya lebih luas, seperti LSM, dinas sosial, perusahaan bagian CSR, dan banyak lagi,” tuturnya. Berbeda dengan Afida Nur Rizki, ia tidak setuju gelar di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan berubah menjadi S.Pd. “Lebih setuju pake S.Pd.I,” katanya. “Mencirikan Islam, jadi bisa dibedakan antara guru agama dan guru umum,” tandas mahasiswa prodi PGMI semester tiga.[]

lpmarena.com

15


Di Balik Alam Kuantum dan Waktu Mikro oleh ISMA SWASTININGRUM

Pada 14 Desember 1900, di depan masyarakat

OPINI // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

16

Jerman, fisikawan Max Planck lewat postulatnya menggebrak dunia dengan penemuan monumental mengenai radiasi benda hitam. Ia menyatakan, energi rata-rata osilator pada dinding rongga (benda hitam) tidak kontinu, tapi diskrit. Dengan kata lain, energi radiasi tidaklah berkesinambungan, tetapi terdiri dari paket-peket energi kecil yang dinamakan kuantum. Dengan ini, Planck mengakhiri krisis fisika klasik, yakni bencana ultraungu (UV catastrophe), setelah mampu menjelaskan dengan memuaskan kekurangan dua teori sebelumnya, yakni Teori Wien dan Teori Rayleigh-Jeans. Ia mendapatkan hadiah nobel fisika, sekaligus dinobatkan sebagai bapak mekanika kuantum. Berkat temuan Planck ini, segala hal mikroskopik dapat dijelaskan dengan baik. Dengan rumus: E = hυ, ia mengubah peradaban dunia. Kita bisa melihat orang menggunakan gadget, kamera mikro, laser, chip komputer, sampai teknologi bom atom pun tak lepas dari teori kuantum. Teknisi sedang berlomba-lomba menciptakan teknologi yang serba mini, serba nano, serba mikro dengan daya efisiensi yang besar. Bahkan jika mampu, mungkin manusia akan menciptakan dunianya sendiri dengan membuat bumi kuantum. Tak heran, teorinya ini turut dibesarkan banyak ilmuwan, termasuk Niels Bohr, Albert Einstein, Schrö dinger, Fermi Dirac, Richard Feynman, Stephen Hawking, dan komplotannya. Bahkan sebenarnya penemuan Planck ini lebih penting daripada Teori Relativitas Einstein yang terkenal dengan rumus E=m.c^2 itu. Berbeda dengan teori klasik, di mana kepastian lebih besar. Di alam kuantum (mikro), ketidakpastian merupakan keniscayaan yang jumlahnya lebih besar daripada kepastian. Dalam kuantum, hal paling kecillah yang membuat suatu perubahan besar terjadi. Maka lahirlah quantum technology yang saking pentingnya kita sering mendengar isitilah quantum learning, quantum healing, quantum teaching, sampai quantum enigma. Saat manusia memasuki alam mikro, dalam kenyataan kita sehari-hari yang tak kasat mata, ada partikel-partikel yang menumbuk kita. Partikel tersebut sangat amat kecil, hingga saking kecilnya kita tak merasa dan tak menyadari. Konstanta Planck (h) yang ukurannya 6,626 x 10^-34 J.s sedikit banyak menjelaskan itu. Setiap hari, kita dipukul dengan energy Planck, yang saking kecilnya energi itu, kita yang dipukul setiap hari masih santai-santai saja.

Di dalam ajaran klasik-tradisi Newtonian, ruang dan waktu bersifat objektif dan universal. Ruang memiliki banyak dimensi, matra yang umum terdiri dari panjang, lebar, tinggi. Sedangkan untuk waktu, memiliki tiga matra, yakni masa sekarang, masa lalu, dan masa depan. Sedangkan menurut Einstein, ruang dan waktu bersifat relatif. Tergantung kerangka acuan dan posisi pengamatnnya. Tentang konsepsi waktu, sejak jam mekanik pertama diciptakan di sebuah kota kecil di Italia, ruang waktu yang kita alami sekarang ini adalah kontinu. Padahal bisa jadi ruang waktu adalah diskrit yang dia bisa dipecah-pecah menjadi bagian-bagian kecil. Dan jika manusia bisa mengubah waktu, otomatis dia juga bisa mengubah ruang, atau sebaliknya. Ada perbedaan yang besar pada jarak antara dua peristiwa dibanding sebatas jarak antara dua benda. Sebab setiap benda mempunyai tata-waktunya sendiri dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Waktu inilah yang dinamakan waktu proper. Novelet mini berjudul Mimpi-Mimpi Einstein karya Alan Lightman bisa menjadi referensi yang cerdas dalam menunjukan waktu proper ini. Lewat bahasa yang sederhana dan puitis, Alan menunjukkan kisah waktu manusia secara universal lewat kegiatan manusia sehari-hari. Salah satu konsepnya, menurut Alan, waktu adalah gejala lokal. Waktu berjalan dengan kecepatankecepatan berbeda pada masing-masing tempat, dan orang dapat berbahagia atau bersedih lewat isolasi yang mereka ciptakan sendiri. Alan menulis, “…waktu seperti cahaya di antara dua cermin. Memantul ke depan dan ke belakang, menghasilkan bayangan, melodi, pikiran dalam jumlah yang tak terhingga. Inilah dunia penggandaan yang tak terbatas.” Misalnya, sepasang manusia bisa saling bercinta di satu tempat, di waktu yang sama dua orang saling membunuh di tempat yang lain. Atau contoh lainnya, ketika Anda bersedih, pada waktu yang sama ada orang yang bersedih karena kehilangan orang yang dicintainya, di lain tempat, orang bersedih karena tak memiliki orang yang dicintai. Kesedihan bisa menjadi kaca pantul yang saling berhubungan atau justru terlepas, dengan jumlah algoritmanya yang tak terbatas. Alangkah bodohnya kalau ada orang yang merasa kesedihan hanya miliknya sendiri, sempit sekali hidupnya. Dengan mencoba keluar dari 'gerak lokal waktu', manusia bisa sadar dan terlepas dari kesesatan atau putus asa primordial.


GAMBAR DARI INTERNET//DIOLAH OLEH SABIQ

OPINI // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

Dari sudut pandang yang berbeda, misalnya dalam filsafat, dalam bukunya Time and Free Will (1889) dan Creative Evolution (1907), filsuf Perancis Henri Bergson berkisah tentang sejarah makhluk hidup dan geraknya yang paling inti. Bergson membuat determinasi antara waktu objektif (time) dengan 'waktu yang hidup', yang disebut durasi (duration). Time menurut Bergson merupakan waktu mekanik yang geraknya kaku seperti jam atau kalender, sedangkan durasinya tidak ajek. Durasi menunjukkan waktu inti manusia, di mana waktu tersebut dihayati, mengalir, bergerak dinamis, hanya sekali, menolak titik tetap, mengelak refleksi, sembari menangkap kesemestaan. Durasi tersebut menunjukkan daya hidup (life force) sekaligus elan vital. Durasi ini menggerakkan manusia pada asalusulnya, karena ia dibentuk oleh kesadaran introspektif. Dalam 'durasi', manusia menemukan kehendak bebasnya, di mana kedua hal ini-durasi dan kehendak bebas-membentuk daya besar dalam diri yang disebut intuisi. Intuisi dibesarkan oleh vitalitas dan kreatifitas, ia terbebas dari waktu mekanik. Lewat intuisilah manusia mampu menangkap realitas secara menyeluruh, memahami kebebasannya sendiri, dan mampu mengurai persoalannya sendiri. Tindakan sejati menemukan kekuatannya lewat intuisi ini. Intuisi tercipta lewat intensitas dan benturan yang panjang. Di era millennial sekarang, ruang dan waktu kita seolah berganti pada apa yang disebut gawai. Intuisi kita pun terjebak di sana. Realitas dan non-realitas rasanya terdistorsi, ia sangat berjalan super cepat, hingga tak ada waktu untuk mengendapkannya. Di satu sisi itu baik, tapi di sisi lain ia melipat gerak sejarah yang ada. Hal yang dikhawatirkan, teknologi malah menjadi zombie baru, atau ironisnya nasib kita akan seperti tokoh Victor dalam buku Frankenstein karya Mary Shelley yang menderita karena makhluk ciptaan yang ia hidupkan sendiri. Ia menjadi Tuhan baru dengan menciptakan manusia buatan. Setelah makhluk buatannya itu mewujud, justru meminta tanggung jawab Victor. Karena makhluk ciptaanya itu

17

terasing dalam dunia manusia, ia tak dianggap. Hingga akhirnya seluruh keluarga Victor mati dibunuh oleh manusia ciptaannya, dan Victor mati karena menanggung derita yang disebabkan oleh makhluk itu. Ketika manusia bisa mengubah teknologi, itu berarti juga manusia telah mengubah peradaban. Jika kita tilik lebih jauh dalam materialisme dialektika sejarah, yang menjadi tonggak perubahan masyarakat adalah tentang cara produksinya (mood of production). Di era produksi sekarang, kita terjebak dalam mekanika hidup yang episodik. Sialnya, sekarang waktu mulai dikomoditaskan dengan moto terkenalnya, “waktu adalah uang�. Maka wajar ketika kita kehilangan waktu, kita sama ruginya dengan kehilangan uang. Di titik ini saya merasa tidak bebas dan memunculkan pertanyaan di benak saya, apa orang bisa lepas dari waktu? Juga ruang? Bagaimana caranya? Tapi untuk apa juga? Saya bingung.[] Mahasiswi semester VII Prodi Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga yang semoga fisikawan. Tipikal spesies yang fobia pada laboratorium, tapi suka meneliti. Sudah beberapa kali menjalin korespondensi imajiner dengan Albert Einstein dan Marie Curie.


//galeri foto

kota untuk siapa?

PERUMAHAN BERTANAH SUBUR, SLEMAN. Fotografer RONGGO SURYO GUMELAR

//LPM ARENA & AMAN

Kota selalu menghadirkan dua sisi pintu yang berbeda, megah dan suram. Dinding-dinding kota terbuat dari kebanggaan dan darah sekaligus. Keringat diperah untuk memenuhi segala obsesi akan keindahan, kesenangan, dan sesuatu yang utopia. Kota dipenuhi dengan kaki-kaki dan tangan-tangan yang dibeli, diperas, diasingkan satu dengan lainnya. Potret pembangunan kota inilah yang juga ada di Yogyakarta. Pembangunan yang tidak toleran memicu ketimpangan dan konflik sosial. Pesatnya pembangunan yang terjadi di Yogyakarta rupanya tidak terlalu memperhatikan berbagai dampak yang akan terjadi dari pembangunan itu sendiri, baik dampak sosial, budaya, maupun ekologi. Tak ayal kondisi di atas memunculkan perpecahan antar kelas masyarakat. Ketidaktoleransian merebak sampai pada kenyataan orang kaya dan orang miskin yang memiliki ruangnya sendiri. Ini jelas mempertanyakan ulang label “Jogja Berhati Nyaman�. Nyaman untuk siapa? Masyarakat kelas menengah ke bawah? Perempuan? Anak? Difabel? Atau justru para pemilik modal?

KETIMPANGAN, YOGYAKARTA. Fotografer HERLAMBANG JATI KUSUMO

CERMIN PEMBANGUNAN, KANOMAN. Fotografer ESTIKOMAH


Puisi - puisi

Abd. Rasyid

lahir di Sumenep, Madura. Pegiat sastra di Senopati Art Jogja. Karyanya terkumpul dalam buku antologi puisi bersama: Kumpulan Syair-syair Keindonesiaan (Pujangga Press: 2016), Seratus Puisi Qurani (Parmusi: 2016), Moratorium Senja (Stepa Pustaka: 2016). Berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sekilas Sajak Kotaku

Embun tak lagi singgah pada ladang petani yang pasrah Mereka lebih memilih ruang ber-AC karena takut kepanasan dan lecet Atau karena tak punya kartu sakti yang hanya dimiliki orang-orang tertentu saja Tampaklah kota-kota yang permai dengan menginjak-injak padi yang menjulang Keadaan mengubah diri, semakin asing di sana-sini Sungguh, pemandangan yang kasih Namun, sayang Jogja, pagi bulan Desember 2016

Di Balik-bangunan Tua

19

Pagi ini derap langkah telah tiada Puing-puing debu Yang kerap memayungi kita Bersembunyi di balik museum tua Sekali-kali menyapa: “Nak, sudah cukup pameran duniaku Yang kau emas-intan-kan� Air mengalir pada pesisir Melabuh bangkai berbau anyir Bangunlah bangun sekali bangun Jangan bangun-bangun-an Hari semakin menyala Nyatalah segala yang ada Bayang terus menjauh Berdesir mengikuti arah malam Dan kau tetap tanpa sepotong udara Jogja, senyum bulan September 2016

SASTRA // PUISI // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

Pagi semakin larut dari persembunyiannya Dari bukit-bukit menuju gedung-gedung berlantai

Kota pada secangkir kopi Di kota ini; Kepul asap berkelahi walau tanpa api Pada pekat langit menjalar seribu puisi Membawa kematian Kali cokelat pada syair Rendra Melegam meninggi bersama menara Menuduh dan menikam kota tak merdeka Akan tetapi, Di kota ini pula; Sehinggap udara menghijau Mengalir bersama mata air Mencipta dedaun pada ranting Dan itu selamanya Jogja, malam bulan Oktober 2016


Propaganda Ala Samir Amin oleh DEWI ANGGRAENI

PUSTAKA // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER

20

Ciri atau karakteristik abad 21 adalah berkembangnya budaya populer, globalisasi, dan kemajuan bidang teknologi. Banyak orang menyebutnya zaman modern, ketika pekerjaan dipermudah dengan berkembangnya teknologi, seperti bidang komunikasi. Ditemukannya alat komunikasi handphone memudahkan manusia untuk bisa berkomunikasi antar wilayah, bahkan sampai antar benua. Era modern erat kaitanya dengan globalisasi. Globalisasi menghubungkan dan menyederhanakan arus informasi, sosial budaya dan ekonomi antar negara. Namun, bagaimana dampaknya terhadap kondisi relasi antar manusia di bawah bayang-bayang sistem yang melingkupinya? Kaitannya dengan globalisasi ekonomi, seorang dengan modal tinggi melakukan ekspansi dan eksploitasi di negara-negara yang belum berkembang. Hal tersebut dimanfaatkan para pemilik modal untuk kesejahteraan dirinya. Akibatnya, yang kaya makin kaya dan yang tidak memiliki modal kapital semakin miskin. Samir Amin membahasnya dalam buku Dunia yang Hendak Kita Wujudkan. Dalam bukunya, ia juga membahas bagaimana laku organisasi Internasional yang turut terlibat di bidang perdagangan, yakni World Trade Organization (WTO). Hal tersebut bisa dilihat dari produksi kebijakan di dalamnya. Seperti pembatasan ruang gerak perdagangan hasil pertanian, yang berdampak pada rendahnya harga-harga produk pertanian dan juga terbatasnya kedaulatan pangan. Selain itu, di era modern ini pengelolaan media diperuntukkan hanya

Dunia yang Hendak Kita Wujudkan Samir AminPENERBITResist Book, Yogyakarta CETAKANAgustus, 2010TEBAL169 halamanISBN978-979-1097-74-1 PENULIS


GAYA KAPITALIS KONTEMPORER Karakteristik dan wujud kapitalisme dan imperialisme kini kembali membuka jalan dan telah memasuki era baru. Dengan wujud yang lebih fleksibel, berkembang, bertransformasi, dan melahirkan corak baru. Samir membeberkan beberapa ulasan tesis terkait wujud kapitalisme baru. Pertama, perihal organisasi dengan kerja-kerja revolusi yang berlangsung memunculkan seperangkat pelaku-pelaku sosial dan politik yang kompleks. Kedua, dikotomi antara negara sentral dan Periphery. Corak yang terlihat yakni polarisasi antar negara polis terhadap ekspansi kapitalis masih dinikmati oleh negara sentral. Ketiga, imperialisme sudah berbeda dari awal periode sejarah. Corak imperialisme sekarang diwujudkan dengan ditempatkannya saham dan obligasi atau instrumen modal milik tiga serangkai yaitu AS, Eropa, dan Jepang. Keempat, hegemoni AS atas kendali militer dunia dengan mencabut hukum internasional dan hak sepihak Washington untuk memutuskan perang atau tidak. Hal tersebut digunakan supaya AS dapat mengkompensasi defisiensi ekonomi yang

dialaminya. Berbicara kapitalisme, tak asing jika membahas tentang modal. Proses akumulasi ditunjukkan dengan adanya pemusatan dan sentralisasi modal (penguasaan atas modal) yang semakin berkembang. Kapitalisme yang besar semakin jauh dari kesempurnaan dan transparansi. Para pengusung kapitalisme yakni kaum borjuis selalu melahirkan borjuis selanjutnya dan menjadi keluarga borjuis yang stabil, senantiasa dipelihara untuk dirinya sendiri. Kemudian, kestabilan hidup dianggap layak oleh masyarakat dan memiliki akses akan kemewahan dan kekayaan. Sampai mereka pun menguasai negara. Kelas penguasa (kelas borjuis) menonjolkan diri melaui usaha bisnis pasar saham. Dari usaha bisnis tersebut menghantarkan mereka untuk membuka cabang dan mengakomodasi kapitalnya. Sentralisasi juga memperkuat interpenetrasi (penyebaran) kekuasaan ekonomi dan politik. Artinya, hubungan antara penguasa politik dengan pemilik modal memiliki kedekatan sebagai sesama penguasa. Kelas politik penguasa merupakan kaki tangan kapitalis. Keduanya terhubung dan saling berbagi keuntungan. Penilaian konkret dalam buku ini memaparkan adanya keterlibatan antara dunia bisnis dan institusi yang bertanggungjawab dalam melakukan audit dan penaksiran. Setidaknya ada keterlibatan yang terorganisir dari para pejabat negara. Transparansi hanyalah sekedar wacana propaganda cadangan. Dari ulasan sebelumnya telah dipaparkan bagaimana dunia ini berjalan, siapa yang menjadi subjek dan objek dalam terbentuknya sebuah sistem. Samir menjelaskan bahwa untuk mewujudkan sistem yang diinginkan dalam menyejahterakan manusia dan kemerdekaan manusia itu sendiri, harus ada perumusan tentang 'cara lian berpolitik'. Cara tersebut diejawantahkan melalui sebuah gerakan sosial yang mendunia dengan visi dan misi yang sama. Sehingga bisa tercapai tujuan bersama untuk menentang kapitalisme atau neoliberalisme.[]

Mahasiswa semester V Prodi Manajemen Keuangan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga.

PUSTAKA // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER

sebagai pelaku langsung dan penerima manfaat dari mekanisme globalisasi neoliberal. Melalui media, publik dikondisikan supaya menerima tatanan kekuasaan. Informasi-informasi yang dihasilkan menundukkan diri terhadap penguasa, sebagai alat kampanye kepentingannya. Sehingga media tak ubahnya hanya etalase muka-muka pemilik modal. Samir juga membahas bagaimana kondisi politik dunia saat ini. Organisasi dunia diatur oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang memiliki hak mutlak atau istilah lainnya ialah hak veto yang diperuntukkan bagi negara pendiri, salah satunya Amerika Serikat. AS sebagai negara adikuasa memiliki keuntungan dengan adanya hak veto. Kebijakan dibuat bertujuan untuk melanggengkan kekuasaan dominan. Misalnya, pihak keamanan dunia yang dibawahi oleh NATO, dengan dalihnya sebagai keamanan dunia, akan tetapi seringkali dimanfaatkan untuk menjaga upaya akumulasi kapital, yakni dengan eksploitasi minyak di Timur Tengah.

21


h

Tubuh yang mulai renta dan berat untuk diajak bergerak, tidak menghalanginya berjualan peralatan rumah tangga. Ia biasa menjejerkan sapu, gantungan baju, keset, dan karpet di trotoar jalan. Ia mulai berjualan pada pukul sepuluh malam, di trotoar samping kampus UIN Sunan Kalijaga yang mewah. Dari hasil jualan, Mohadi, kakek berusia 78 tahun yang mempunyai tiga orang anak ini,mengaku mendapat untung yang lumayan.

DOEL / LPM ARENA

DOEL / LPM ARENA

ORANG PINGGIRAN DI BIBIR JALAN

M

ALAM ITU JARUM JAM menunjukkan pukul 21.30 WIB. Jalan Laksda Adisucipto selalu ramai dengan hilir-mudik kendaraan yang tak terhitung jumlahnya. Jalan yang menghubungkan antara Yogya-Solo itu memang tak pernah sepi. Jika kita melewati 'Pertigaan Revolusi', kemudian belok kiri, ada potret kehidupan yang sangat jarang ditemukan di tempat lain, dan berlangsung sampai waktu memasuki sepertiga malam. Mohadi biasa memanfaatkan waktu itu untuk berjualan di ruas jalan. Ia tidak peduli meski malam terlampau mengerikan bagi manusia yang terbiasa dengan aktifitas di siang hari. Walau ia juga sadar, jalan itu bukan lagi milik nenek moyangnya. Tetapi ia mengaku alasan ekonomi memaksa tubuh lemahnya agar kuat menjajakan perabotan rumah tangga yang

22

SLiLiT ARENA DESEMBER 2016

dibuatnya sendiri. Malam itu ia sedang melayani pembeli, melakukan tawar-menawar dengan salah satu pengendara yang kebetulan lewat. Menurutnya, jalan ini memang bagus untuk berjualan karena tidak sepi dari pembeli. “Saben wengi mesti ono wae seng tuku daganganku (Red. Setiap malam pasti ada aja yang beli daganganku,)� katanya dengan bahasa Jawa. Selain pengendara yang lewat jalan ini, ada juga mahasiswa yang membeli untuk melengkapi perabotan indekosnya. Hampir dua tahun ia membuka lapak di jalan itu. Ia mengaku belum pernah mendapatkan ancaman dari siapa pun. Bahkan di suatu malam ia ditawari satpam kampus untuk menempati pos, saat hujan turun. Di usia yang renta itu, ia tak merasa payah

DOEL / LPM ARENA

oleh ABDUL ROHIM


h

Mohadi, kakek berusia 78 tahun, mulai berjualan pada pukul sepuluh malam, di trotoar samping kampus UIN Sunan Kalijaga

untuk menanggung nafkah istri di rumah. Di samping ia tak mau menyusahkan ketiga anaknya yang sudah mapan. “Dadi wong tuo iku aku ra seneng ngrepoti anak, luwih seneng nginiki (Red. Jadi orang tua itu aku tidak senang merepotkan anak, lebih senang seperti ini,)” ujarnya. Mohadi mengaku, hasil jualannya memang tidak sebanding dengan apa yang dikerjakan, “tapi lumayan,” katanya. Ia tidak memiliki pilihan lain selain jualan perabotan di malam hari. Siang harinya ia gunakan untuk membuat kerajinan perabtan yang dijajakannya. Sambil melepas rasa kantuk, Mohadi sesekali menceritakan perjalanan hidupnya. Ia sudah pernah menekuni beberapa pekerjaan, seperti bertani, jadi tukang ternak hewan, bahkan jadi buruh kuli juga pernah dilakoninya. Ia merasa, sebagai rakyat kecil, nasib terkadang perlu untuk disyukuri. Kakek yang hanya lulus sekolah rakyat (SR) pada masa penjajahan Belanda ini, juga menceritakan bahwa pemerintahan yang paling bagus menurutnya adalah pemerintahan Presiden Soekarno. Ia mengatakan, pada zaman Soekarno semua serba murah, sekolah gratis, tidak ada pemungutan pajak, kecuali pungutan untuk lahan yang lebih satu hektar, dan barang-barang serba gampang ditimang. Ia mengatakan, zaman Soekarno masih menjadi sanjungan. Saking bagus, kekuasaannya dirongrong oleh orang yang tidak suka dengan pemerintahannya dan ingin merebut kekuasaanya, yaitu Soeharto. “Nek jowone iku, ratu edan ratu buto, uwong mangan uwong (Red. Kalau Jawanya itu, ratu gila ratu edan, orang makan orang,)” ungkapnya dengan nada kesal. Dari pengalaman hidupnya, ia banyak belajar bahwa jadi rakyat kecil itu selalu dibohongi. Penguasa selalu mengambil hak-haknya. Menjadi seorang pemimpin itu tidak mudah “harus kuat godaan,” kata Mohadi. “Ini bukan sok pintar loh ya, saya tahu benar kelakuan para penguasa kita,” pungkas Mohadi dengan bahasa Indonesia, terbatabata. Angin malam sudah semakin menusuk tulang, hilir-mudik kendaraan juga semakin berkurang. Tetapi, Mohadi masih tetap setia bertahan di tempat ia berjualan. Walau pandangan matanya sudah sesayu angin malam itu, ia setia menunggu pembeli yang datang.[]

lpmarena.com

23


GAMBAR DARI INTERNET//DILOAH OLEH SABIQ

HEGEMONI KAPITALISME TERHADAP KESADARAN MASYARAKAT Kapitalisme tidak pernah menghendaki persaingan yang baik bagi manusia. Sistem dan

RESENSI // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

24

paham ekonomi yang meniscayakan kekuatan modal dalam pasar bebas dapat mendikte siapapun, terlebih masyarakat bahkan negara. Melalui media periklanan misalnya, kapitalisme berjejal seolah tak terbendung hingga mengaburkan kesadaran masyarakat yang tanpa sadar menyebabkan langgengnya sistem tersebut. Terlepas dari fungsinya sebagai penyampai informasi, media memiliki peran yang sangat signifikan dalam propaganda kepentingan. Kehadirannya yang sangat masif memicu kecenderungan manusia bertindak apatis terhadap keadaan sosial masyarakat. Tidak tanggung-tanggung, manusia dapat tercerabut dari fungsi sosial yang melatarinya. Sebagaimana digambarkan dalam film Branded, berlatar belakang kota Moskow, Rusia. Film ini diperankan oleh Ed Stoppard sebagai Misha, seorang pengusaha advertising yang selalu memiliki trik jitu dalam mengiklankan sebuah produk atau merek. Juga, Leelee Sobieski sebagai Abby Gibbons berkewarganegaraan Amerika yang mengagumi cara Misha dalam mengiklankan sebuah produk atau merk. Bermula dari pertemuannya dengan Bob Gibsons yang setuju membantu pendanaan Misha dan memasukkannya dalam agensi perusahaan iklan Amerika-Rusia. Selama lebih 15 tahun Misha menjadi mata-mata pemasaran dan menjadi penghubung masuknya merk barat. Secara tidak langsung, tersirat perang dua negara adidaya pada saat itu. Di sinilah kapitalisme yang tidak hanya menjarah negara dunia

DOKUMEN ISTIMEWA

oleh RODIYANTO

ketiga, tetapi negara dengan ideologi komunis sekalipun seolah kelimpungan. Tanda dimulainya era kapitalisme lanjut. Rusia berubah menjadi kota berjamur iklan. Modemode iklan dapat ditemui di sudut-sudut kota melalui televisi, billboard, spanduk dan poster dengan ciri khasnya masing-masing. Papan reklame tak ubahnya seperti penghias jalanan yang dengan piawai memamerkan keunggulan dari produknya masingmasing. Visualisasi tersebut turut pula menyebabkan dogmatisasi verbal atas kesadaran yang mulai mengabur. Lebih dari itu, fenomena demikian diperparah dengan kondisi masyarakat yang memiliki konsumerisme tinggi. Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan keberimbangan dalam pemenuhan kebutuhan dalam Islam. Pembagian rata sepertiga dari hak tubuh (makan, minum dan udara) tidak dilakukan sebagaimana mestinya bahkan cenderung mengeksploitasi. Hal yang berlebih-lebihan ini yang tidak diperkenankan, karena ternyata masih banyak kalangan masyarakat yang belum tentu mampu menjangkau itu. Masyarakat Rusia yang pada saat itu menggandrungi makanan cepat saji, berimbas pada pola makan yang tidak menentu, sehingga berefek pada kondisi tubuh masyarakatnya. Kondisi demikianlah yang turut pula mengkonstruk masyarakat akan konsep kecantikan, bahwa wanita


Branded SUTRADARA

JAMIE BRADSHAW, ALEKSANDR DULERAYN // TAHUN RILIS 2012

PEMAIN ED STOPPARD, LEELEE SOBIESKI, JEFFREY TAMBOR, MAX VON SYDOW. // DURASI 106 MENIT // NEGARA RUSIA

melihat makhluk aneh yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain, semacam memiliki indera keenam. Ia mampu melihat naluri manusia berupa makhluk aneh di kepala bagian belakang yang senantiasa menghendaki makanan daging cepat saji. Tidak berhenti di situ, makhluk aneh tersebut mampu merekondisi dirinya sendiri, dan yang terlepas darinya kemudian terakumulasi pada induk yang bertengger di atas perusahaan cepat saji tersebut. Besar dan semakin besar. Sebuah ilustrasi tentang akumulasi modal kapital yang terjadi dalam sistem kapitalisme. Konsentrasi modal tersebut menyebabkan ketidakberdayaan bahkan ketergantungan banyak orang. Di mana ketergantungan yang terjadi tidak hanya di wilayah proses produksi namun juga konsumsi. Di dunia ketiga, keadaan kehidupan ekonomi negara-negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi negara lain. Untuk pertama kalinya Misha tidak bisa berdamai dengan keadaan yang menjadikannya seperti itu. Mencoba berdamai dengannya adalah kenistaan dari orang yang mengetahui. Pernah ia lakukan, lagi-lagi ia tidak mendapati ketenangan di dalamnya. Sampai ia tahu bahwa ritual yang dilakukan di tempat pengasingannya dulu adalah rangkaian proses penguakan tabir kapitalisme. Setelah mempelajari mekanisme kerja kapitalisme, ia kembali membuat perusahan advertising bekerja sama dengan investor Cina yang membawahi restoran vegetarian. Dominasi Amerika Serikat tergambar jelas dari realitas masyarakat yang pada saat itu sangat menggandrungi makanan cepat saji. Perkara yang tidak mudah inilah yang mengharuskannya memilih cara radikal tentang bahaya makan daging yang berujung pada kematian. Misha melakukan propaganda serangan melalui televisi, poster, papan reklame dan media lainnya. Akibatnya, terjadilah chaos di masyarakat. Untuk mengendalikan situasi tersebut, Menteri Rusia melakukan uji coba makan hamburger melalui tayangan televisi yang berujung pada kematian sang menteri. Namun, apakah memang demikian kejadian yang sesungguhnya? Bisa saja ini merupakan konspirasi pihak berkepentingan yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Media turut serta dalam membentuk opini publik yang berujung pada bangkrutnya perusahaan hamburger. Mungkin masih banyak lagi kejadian lain di luar sana yang menyerupai konspirasi peristiwa hamburger. Di Indonesia, banyak sekali peristiwa yang melibatkan pejabat Negara, kemudian dipelintir dan diarahkan pada kondisi yang tidak senyatanya

RESENSI // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

cantik itu gemuk. Di mana wanitawanita gemuk dan berlemak menjadi sangat menarik dan populer. Konstruksi sosial yang menjangkit itu berusaha dijungkirbalikkan oleh Misha. Dengan memanfaatkan kondisi yang terjadi, Misha pun membuat reality show, yang mengagendakan perubahan fisik seorang perempuan gendut akibat mengkonsumsi makanan cepat saji, menjadi perempuan langsing berkat iklan yang ia tawarkan. Akan tetapi, apa yang dilakukannya tidak berbanding lurus dengan ekspektasi. Percobaan gagal, berbagai tuntutan datang dari kalangan masyarakat. Ia dianggap dalang dari komanya Veronica (wanita yang menjadi percobaan). Konsekuensinya, ia harus mendekam di balik jeruji besi, sebelum akhirnya keluar berkat jaminan Bob Gibsons. Memang, diakui atau tidak, berusaha menjungkir balik suatu kebiasaan dalam masyarakat penuh dengan risiko. Hidup dalam dunia pemasaran merupakan sebuah 'kesalahan'. Di dalamnya terdapat intrik politik yang mengharuskan manusia kebal terhadap serangan. Adalah sebuah keniscayaan bertahan dengan menyerang jika masih menghendaki ada di dunia tersebut. Nyatanya, suatu situasi berkebalikan dengan yang dialami Misha. Ketika terpuruk dan mengalami kegagalan, ia memilih melepas dan meninggalkan dunia pemasaran. Menurutnya, menjadi 'sufi' dengan menjauh dari suasana kota merupakan pilihan yang realistis, berharap tidak akan pernah kembali ke dalam kehidupan kota yang dianggapnya sebagai kutukan. Di kehidupan barunya itu, Misha mengembalakan sapi. Akan tetapi, untuk kedua kalinya sesuatu yang aneh terjadi dalam mimpinya, semacam isyarat kurban. Apa yang disampaikan dalam mimpi ia kerjakan dengan sangat detail. Tak satu pun yang terlewatkan. Seperti proses penyucian diri dari dosa yang terlewat. Gelap! Namun setelah terjaga dari pingsannya, Misha tiba-tiba sudah berada di Moskow. Kota yang dahulu tidak pernah diharapkan telah kembali. Hal ini disebabkan Abby membawa Misha kembali ke kota Moskow tanpa sepengetahuannya. Karena Misha sebelumnya mengalami hal-hal aneh tentang sapi dan ritualnya, maka sesampainya di kota, ia mampu

25


terjadi. Melalui media-bahkan dimotori oleh negara itu sendiri-berapologi menutupi kedok pelaku sehingga tampilan yang sampai ke masyarakat berbeda.

EKONOMI DAN KERJA

RESENSI // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

26

Film yang sebenarnya bergenre science fiction ini, penuh dengan intrik politik dan ekonomi. Berbagai kepentingan diakomodir di dalamnya, dimulai dari keinginan Misha menjadi orang kaya (ungkapan Abby saat di pengasingan ketika mendapati ia dalam keputusasaan) sampai pada intervensi pihak pemilik modal. Tak ayal, daya saing sangat menentukan dalam keberlangsungan ekonomi. Pertimbangan ekonomi itulah yang mendorong terjadinya sikut-sikutan. Yang mampu bertahan dengan produknya, tentu ia yang akan menentukan kehendak pasar dengan peta daya konsumsi masyarakat. Tidak peduli apakah cara yang dilakukan itu fair atau tidak. Sudah sesuai dengan kepatutan atau tidak. Dapat kita asumsikan bahwa pekerjaan merupakan tindakan manusia dalam proses realisasi diri. Dalam kerja, manusia menyatakan hakikatnya sebagai individu sosial, sehingga ia seharusnya merasa bahagia dan gembira. Akan tetapi hal itu tidak dapat kita temukan pada seorang Misha. Tuntutan kerja sebagai advertising meniscayakan adanya kompetisi, yang pada akhirnya memilih menang atau kalah dalam persaingan. Di sini, kerja tidak lagi dijadikan sebagai wadah untuk mengekspresikan ideide brilian, melainkan dengan terpaksa karena sebuah tuntutan dan persaingan. Ekonomi sebagai basis struktur, meminjam bahasanya Karl Marx, dalam kehidupan manusia dapat memengaruhi cara pandang dan kesadaran manusia itu sendiri. Sebagai fondasi dasar ia mampu menggerakkan manusia ke arah yang tak pernah kita duga. Dari hal yang rasional sampai di luar nalar sekalipun. Bahkan bagi sebagian kalangan, konsepsi terhadap ekonomi dianggap sebagai suatu entitas yang harus ada dalam kaitannya dengan terciptanya hubungan yang harmoni. Pengaruh ekonomi tidak hanya menjarah individu dan masyarakat dalam skop kecil. Akan tetapi juga dialami oleh negara. Keberlangsungan kehidupan bernegara juga ditentukan oleh seberapa efisien dan jeli dalam mengatur urusan yang satu ini. Sehingga melalui regulasi peraturan (hukum) yang dikeluarkan, tidak jarang bersinggungan dengannya. Namun apakah negara melalui perangkatnya akan berbesar hati mengeluarkan peraturan yang berorientasi pada kesejahteraan warga negara? Wallahu a'lam. Kita perhatikan secara seksama, apakah produk hukum yang ditelurkannya memang berpihak sepenuhnya pada rakyat atau dengan mengatasnamakan rakyat

hanya menguntungkan kelompok-kelompok tertentu.

MASYARAKAT KONSUMTIF Pada dasarnya, terdapat dua nilai yang terkandung dalam suatu barang atau komoditi, yaitu nilai guna dan tukar. Oleh kaum materialis, hal ini disebut sebagai nilai absolut suatu barang. Dalam artian, ia mutlak harus ada dalam suatu barang. Kenyataannya, tanpa mengesampingkan yang ada, kapitalisme mampu berjejal melampaui suatu keharusan pada suatu barang tersebut. Melalui hasrat manusia yang tidak terbatas, mampu menciptakan nilai relatif pada barang. Sehingga tingkat kepuasaan konsumen menjadi hal yang sangat diperhitungkan. Gaya hidup (life style) yang serba kapitalistik, turut menyokong intensitas produksinya. Belum lagi masyarakat hari ini yang cenderung konsumtif, tentu sangat menguntungkan. Fenomena masyarakat konsumtif dapat kita temui di mana-mana, tak terkecuali di sekeliling kita. Tidak terbatas pada makanan, penggunaan ponsel, dan lainnya, yang merupakan fenomena menarik untuk diperbincangkan. Sebagaimana tercantum dalam DS Annual Startup Report 2015, yang menjelaskan kondisi terakhir pengguna internet di Indonesia, bahwa saat ini terdapat sekitar 83.6 juta pengguna internet atau bertambah sebanyak 33% dibanding akhir tahun lalu. Digambarkan pula mengenai jumlah pemegang ponsel yang setiap orang mencapai 1.13 juta unit. Selanjutnya, bila dipandang dari jenis gadget yang dipakai, ponsel mendominasi dengan jumlah 85% pengguna. Ini menandakan jumlah ponsel di Indonesia melebihi jumlah populasinya. Memang ada benarnya, seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari, entah itu teman maupun keluarga, yang memiliki ponsel lebih dari satu buah. Sedangkan fungsi sentral adanya komoditas tersebut ialah sebagai media komunikasi. Sehingga logika yang seharusnya adalah 1:1. Di samping itu, kenyataan bahwa orang-orang lebih banyak menggunakan ponsel untuk berfoto selfie, daripada mengintensifkan komunikasi dengan keluarga. Sangat jarang kita menemukan teman, atau bahkan diri kita sendiri, yang dengan senang hati berlama-lama bersenggama via telpon bersama keluarga tanpa harus ada embel-embel kepentingan. Jika perilaku tersebut dibiasakan tidak dipenuhi, lalu seberapa banyak orang yang bisa berlama-lama dalam keadaan tersebut? Kita seakan-akan terisolir dan tanpa sadar mengalami ketergantungan. Lantas siapa yang diuntungkan dari sikap ketergantungan tersebut? Jawabannya adalah kapital global. Maka sangat beralasan jika ketergantungan merupakan kondisi yang memang diciptakan hanya demi melanggengkan dominasi sistem kapitalisme.


DOKUMEN ISTIMEWA

RESENSI // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

PERAN MEDIA Tak dapat dipungkiri, media memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan sosial, terutama dalam masyarakat modern saat ini. Keberadaan media sebagai penyampai informasi memungkinkan terlaksananya edukasi bagi masyarakat untuk mengidentifikasi peristiwa yang terjadi di luar sana. Di samping itu, media dapat berperan sebagai alat perubahan sosial dan pembaharuan masyarakat. Dengan sifatnya itu, media tentu mampu menjangkau massa dalam jumlah yang besar dan luas. Sebagaimana digambarkan dalam film ini, peran media dalam membentuk opini publik dan mengaburkan kesadaran masyarakat kentara adanya. Propaganda makanan cepat saji, kecantikan, dan kesehatan dimotori oleh media. Masyarakat seolah tidak lagi memiliki independensi dalam menentukan langkah yang tepat, sebab setiap hari penglihatannya selalu disuguhi berbagai aneka macam iklan, baik melalui televisi, papan reklame, dan lain-lain. Intensitas iklan yang semakin masif itu senyatanya telah mengubah paradigma masyarakat terhadap suatu barang, bahwa barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan menjadi sangat digandrungi. Propaganda media yang tidak terbendung tersebut membentuk kesadaran tersendiri di luar kesadarannya sebagai makhluk sosial. Penciptaan yang tanpa sengaja mencoba berbaik sangka dilakukan oleh media, yang berakibat pada relasi sosial. Masyarakat menjadi invidualistis dan apatis

terhadap kondisi yang terjadi disekelilingnya. Di Indonesia, perkembangan media semakin pesat. Dibuatnya UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, telah memberikan kebebasan yang kemudian menempatkannya sebagai salah satu kekuatan yang sangat diperhitungkan. Akan tetapi, dengan kebesasan pers tersebut, seiring itu pula kebebasan kapitalisme mampu berjejal mengiklankan produknya. Kran tersebut sudah terbuka lebar sehingga sangat memungkinkan terjadinya hegemoni kapitalisme di setiap sendi kehidupan masyarakat. Dari bangun tidur sampai tidur kembali. Lain hal kapitalisme, fungsi media hari ini berbanding terbalik dengan fungsi awal sebagai kontrol sosial masyarakat dan kekuasaan, dalam memberitakan harus sesuai porsi dan kebutuhan masyarakat. Media hari ini justru menggiring masyarakat dalam satu dimensi yang mengkonstruk dan membentuk pola pikir masyarakat lewat iklan, maupun berita yang condong pada kepentingan elitis. Oleh karenanya, selekif dalam memilih dan bersikap harus selalu ditanamkan agar tidak terombangambing oleh sistem yang ada saat ini. Kapitalisme tidak bisa dilawan oleh hal lain kecuali dengan kapitalisme itu sendiri.[]

Mahasiswa semester V Prodi Ilmu Hukum, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga

27


Upacara Pembakaran Santa oleh DARUZ ARMEDIAN

Kobaran api meninggi dan asapnya seperti

SASTRA // CERPEN // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

28

mengabarkan pada langit bahwa ada kekejaman di sini. Aku berdiri dalam kerumunan orang-orang yang riuh dan memandang api itu dengan dada gemuruh yang tak luruhluruh. Mataku berkaca-kaca saat orang tua telanjang itu berteriak mengungkapkan kesakitannya. Tak ada yang peduli, sebab pembakaran itu sudah lama dinanti-nanti. Seperti orang-orang pada saat kemarau yang menanti kabar datangnya hujan deras agar tanah jadi basah. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku anak perantauan yang pulang hanya sekejap seperti tak punya hak apa pun untuk melarang. Toh orang-orang hanya akan menuduhku bersekongkol dan bergabung dengan agama lain. Suara kakek tua itu tenggelam dalam suara api yang memakan kayu-kayu dan memakan tubuhnya yang gendut. Tak membutuhkan waktu lama, suara itu kini tenggelam dalam kematiannya. Orang-orang berteriak girang. Sebagian ada yang menyebut-nyebut nama Tuhan. Aku membisu sebagaimana angin, mengingat-ingat hari kemarin. Semua warga mengungkapkan kerisauan mereka waktu itu. Sebagian ada yang mengatakan, anaknya sekarang sering pergi ke peribadatan 'orang-orang asing' karena mendapat jajanan gratis. Mereka takut anak-anak itu dipengaruhi oleh orang tua berjenggot putih. Apa memang orang tua berjenggot putih itu punya ilmu sihir untuk mempengaruhi? Sebagian lagi mengungkapkan kalau jajanan para pedagang tidak laku, karena anak-anak lebih suka yang gratis. Padahal jajanan itu haram karena dibawa oleh orang yang berbeda agama, kata mereka. Sebagian kecil lagi ada yang mengungkit-ungkit kalau itu semua gara-gara 'orangorang asing' yang jumlahnya semakin banyak, dan adanya tempat peribadatan mereka, makanya orang tua berjenggot putih itu berani datang ke sini. “Semua gara-gara orang tua keparat itu! Bunuh saja dia!” pekik Sumini, pedagang jajanan di pinggir jalan raya. “Tidak hanya itu, orang-orang asing semakin banyak. Bagaimana kalau kita membunuh dia dan mengusir orangorang kafir itu dari rumahnya,” Gullana yang kukenal berwatak keras menambahi. Akhirnya disepakati, orang tua berjenggot putih saja yang dibunuh. Sementara 'orang-orang asing' tak usah diusir. Itu melanggar aturan. Besoknya, aku tak tahu bagaimana cara mereka menangkap orang yang kupanggil Santa itu. Malam ini mereka tengah berbahagia. Orang yang diburu kini telah tiada. “Selesai sudah. Kini tak ada lagi yang membuat risau DOKUMEN ISTIMEWA


“Di sini, aku lebih suka orang-orang perantauan daripada orang-orang yang tak pernah merantau dan tak mengenal hal-hal lain di luar sana,” ia menambahkan pembicaraan. Ia bicara padaku, tapi pandangannya jauh ke langit biru. “Kenapa bisa begitu?” Tapi Santa tak menjawab. “Kamu anak kuliahan?” ia malah balik bertanya. Aku lagi-lagi hanya mengangguk. Ia menganggukangguk mafhum. Santa kemudian bercerita tentang keberadaannya. Ia datang dari kota untuk mengunjungi peribadatan 'orang-orang asing' ini. Biasanya datang dua hari sebelum hari raya dalam agamanya. Ia akan membagibagikan hadiah kepada anak-anak. Entah anak siapa ia tak peduli. Pekerjaannya hanya memberi. Ia tinggal di sini karena di sini satu-satunya tempat ibadah yang dijaga oleh polisi. Akhirnya, aku juga ikut bercerita. Aku bercerita tentang 'orang-orang asing' yang ada di desa ini. Awalnya, hanya satu rumah yang didiami oleh orang yang tidak pernah ikut merayakan hari raya dalam agamaku. Kemudian bertambah dan terus bertambah. Nah, orang-orang setempat memanggilnya sebagai orang-orang asing. Orang yang tidak seagama dan itu kafir. Pada saat aku di perantauan, tempat ibadah 'orang-orang asing' dibangun meski banyak sekali yang tidak setuju. Katanya, pada saat pembangunan, seluruh personel kepolisian datang untuk menjaga. Santa bertanya, kenapa 'orang-orang asing' itu dimusuhi. Aku menjawab kalau itu sudah semacam tradisi sejak dulu. Orang yang berbeda agamanya akan dianggap sebagai pencemaran nama baik. Sebab, di sini dikenal sebagai desa yang agamanya sangat kental. Awalnya mereka hanya jadi bahan gunjingan, tetapi kemudian ada maklumat kalau 'orang-orang asing' itu harus diusir dan dimusuhi. Sebab telah menghalalkan zina, perempuannya suka memakai rok mini dan perokok, orang-orangnya tak tahu sopan santun. Bahkan ada yang mengatakan—mungkin memfitnah—bahwa anak kepala desa mati karena dibunuh anak 'orang-orang asing'. Aku tak tahu apa itu betul atau tidak. Aku hanya tahu kalau cerita itu berasal dari cerita orang lain dan saat ini aku ceritakan pada Santa. Tapi, 'orang-orang asing' itu tak pernah mau pergi. Ibuku, bapakku, tetanggaku, guruku, dan semua orang setempat membenci mereka. Mereka yang makin tahun makin bertambah jumlahnya, sehingga sudah seperti punya kewargaan

SASTRA // CERPEN // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

desa ini,” kata Farisi, kepala desa yang terpilih karena ayahnya seorang agamawan berpengaruh. “Aku tak lagi prihatin anakku bermain di mana saja. Soalnya, semenjak 'orang-orang asing' itu menetap di sini, anakku suka bermain bersama anakanak mereka. Kata anakku banyak jajanan di sana. Meski begitu, aku tak suka. Aku sering melarangnya ketika mau bermain dengan anak-anak mereka,” tambah Sabit, tetanggaku. Rumahnya di depan rumahku. “Akhirnya, desa ini menjadi desa yang aman” “Ya, akhirnya desa ini menjadi aman kembali seperti dulu” “Tak ada lagi orang aneh” “Ya, tak ada lagi orang aneh dan kafir itu” Aku mendengarkan semuanya. Semuanya. Bahkan mendengar gumaman banyak orang sekalipun. Tetapi, tak mungkin semuanya kutuliskan di sini. Sebab, cerpen akan terlihat membosankan jika terlalu banyak bicara. Api sudah mengecil dan hampir padam. Seperti padamnya amarah orang-orang yang turut andil dalam upacara pembakaran. Satu persatu dari mereka pergi. Tentu membawa perasaan masing-masing dalam hati. Aku tetap di sini. Memandang bara yang berasap. Tak ada sisa sedikit pun dari orang tua itu, kecuali tulang belulang yang sudah gosong dan rasarasanya kalau diambil akan hancur. Pada saat memandang itu semua, bayangan jenggot putih orang tua itu hadir begitu saja. Aku pernah menjabat tangannya. Tangannya hangat seperti tangan orang-orang biasa. Senyumnya juga biasa, sama seperti orang-orang sewajarnya. Ia orang biasa, tidak mempunyai ilmu sihir, misalnya. Tidak mempunyai keahlian sulap. Tidak mempunyai bakat apa pun kecuali memberi barang-barang pada anak kecil yang itu tak pernah memandang anak siapa. Ia orang biasa, tapi tidak diperlakukan seperti biasanya. Ia diburu dan kehadirannya sangat dikecam. Ia menyapa lebih dulu waktu itu. Aku membalas sapaannya. “Apa kau benar-benar anak perantauan?” tanyanya di beranda sebuah tempat peribadatan 'orang-orang asing'. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum dan pandanganku sibuk menelanjangi pakaiannya. Bajunya serba merah dan ada sedikit saja yang putih. Ia membawa barang-barang, mungkin saja permen atau jajanan lain. Dibungkus dengan apa namanya, aku tak tahu. Bungkus itu terbuat dari kain putih.

29


SASTRA // CERPEN // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

30

sendiri. Maka tak heran jika sudah berani merayakan hari raya, menghadirkan Santa, dan memasang cemara-cemara. Tentu tanpa harus sembunyisembunyi. Pertemuanku dengan Santa singkat sekali kalau dalam perhitungan hari. Sebab, tibatiba saja Pak Saifa memergokiku sedang berbincang-bincang pada Santa. Katanya, aku akan dilaporkan pada orang tuaku atau pada kepala desa atau pada guru ngajiku. Dan aku tahu sudah dari dulu, orang yang berbincang-bincang dengan 'orang-orang asing' akan digunjing tiap hari. Aku akhirnya pergi. Pamit pada Santa, dan matanya berkaca-kaca saat tanganku melambai dari agak jauh. Dadaku terenyuh. “Le, ngapain kamu di situ?” aku terperanjat. Itu suara Mbok Embus, mbaknya nenekku. “Orang tua kafir itu sudah mati. Apa kau tidak pulang dan merayakan kebahagiaan?” Aku tidak menjawab dan memilih pergi. Sudah tak ada bara api di sini. Semuanya jadi abu. Tak ada yang bisa kuucapkan kecuali dalam hati yang terus meneriakkan kebencian. Bara api itu beralih ke dalam diriku.

Tetapi, setelah upacara pembakaran itu, justru banyak orang yang bercerita padaku tentang kegelisahan masing-masing. Kebanyakan dari mereka mengungkapan kalau ternyata kakek tua berjenggot putih itu manusia biasa. Manusia biasa yang tak bakat berbuat jahat, dan membunuh manusia yang tak jahat itu dosa. Sebagian ada yang terus-menerus ingat jerit sakit ketika orang dibakar hidup-hidup, sehingga tidak pernah tenang hidupnya. Sebagian yang lain bercerita kalau tiap malam selalu bermimpi orang tua itu datang dengan sayap, menghibur anak-anak mereka yang semuanya sedang menangis. Mimpi yang sama. Sampai aku berangkat kembali ke perantauan,

banyak yang meneleponku dan masih bercerita perihal yang sama. Seolah tak ada bahasan yang lain. Aku jadi ikut gelisah. Dan entah beberapa tahun kemudian, aku pulang kampung lagi untuk merayakan hari raya. Saat hendak pergi ke tempat ibadah, aku melewati peribadatan 'orang-orang asing'. Tak ada siapa pun di sana. Bahkan polisi yang biasanya berjaga-jaga juga seperti lenyap ditelan dunia. Seusai beribadah, aku masih gelisah. Bagaimana nasib 'orangorang asing' itu. Sungguh dadaku bergemuruh kembali—segemuruh masa lalu di depan orang dibakar hidup-hidup—ketika melihat kerumunan di jalan. Aku segera ikut berdesakan. Di sana tak kutemukan apa-apa kecuali orang-orang berjabat tangan sambil mengucapkan selamat hari raya dan permohonan maaf. Tak ada obor, tak ada celurit, tak ada pentungan, tak ada kata-kata yang mengundang sakit. Hanya ada orang-orang yang membuatku membisu menyaksikan 'orang-orang asing' berjabat tangan dengan penduduk setempat. Mereka berpelukan layaknya saudara lekat. Saat hendak pulang dan segera menuliskan sebuah cerita tentang kejadian ini, di depan rumah kepala desa yang penuh tanaman bunga, aku tertawa kecil memandangi lebah dan kupu-kupu bergantian mengisap sari. Bergantian. Lebah yang imut berwarna hitam bergaris-garis kuning setia menunggu kupukupu yang asik menikmati bunga. Tak ada semenit, kupu-kupu itu terbang, tapi tak meninggalkan bunga. Ia berhenti dan mengawang, seperti memandang lebah girang mendapat kesempatan. Ah, seharusnya memang tak ada pertikaian. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang. “Santa!” Mahasiswa semester III Prodi Filsafat Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga dan bergiat di lesehan sastra KUTUB Yogyakarta.


Gerakan yang Tumpul oleh MUHAMMAD FAKSI F

Jika kesadaran atas dasar keberadaan tidak mampu menanggulangi persoalan kekinian. Apakah kita akan selamanya hanya menjadi debu jalanan?

Mahasiswa semester IX Prodi Filsafat Agama, Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam, yang sedang sibuk menggurat sketsa manusia di atas kertas.

KANCAH // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

Saya merasa baru dilahirkan. Tapi kelahiran kali ini tidak senikmat masa lalu, dengan hasrat biologis yang saya dapat dari ibu, kerabat dekat, kadang pula tetangga jauh. Terkenang masa lalu itu, apa yang saya perbuat adalah kebenaran dan kebebasan bereksistensi yang bagi saya adalah kebahagian itu sendiri. Akan tetapi, kelahiran ini membuat saya lebih banyak bisu. Walau sebenarnya ada kekuatan ambisi dengan kesadaran tinggi-kesadaran tanpa tindakan jelas. Sebab kini, kenyaman dan keberadaan mampu direkonstruksi dengan kehidupan pola produksi baru yang terinstrumentalisasi sebagai kesadaran. Mau tidak mau kita menghendaki diri untuk terjun dan mengikuti gelombang besar neo-kapitalisme, di mana kesadaran harus terus bersandar kepada kuasa pengatahuan elit borjuis, dan aparat negara. Secara tidak langsung keberadaan manusia harus terlempar menjadi orang lain, ketimbang menjadi suatu yang eksis dan menegasi realitas instrumental. Termasuk yang terjadi hari ini pada saya, dan saya kira juga dialami hampir semua orang. Hari ini, instrumentalisasi pengatahuan berdampak besar kepada gerakan mahasiswa dan tujuannya. Mereka terjebak pada paham-paham pragmatisme yang berlebihan. Relitas tidak dijadikan rujukan autentik sebagai kesadaran, melainkan hanya sebatas wacana instrumental sebagai targetan organisasi, seperti halnya seruan moral dan populis untuk rakyat. Tak ayal jika cara berpikirnya kategoris. Praktik akhirnya sangat unik, seperti yang kita perhatikan akhir-akhir ini. Ada orang orasi di malam hari, teriak-teriak anti dehumanisasi dan komersialisasi pendidikan. Tapi seperti banyolan pada umumnya, “setidaknya Tuhan mendengar, dan semoga perubahan cepat terjadi”. Contoh di atas bisa dibilang bagian dari apa yang saya sebut sebagai keterampilan dan kebanggaan instrumental dengan rasio dangkal. Mendidik kader menjadi pahlawan di luar kebiasaan manusia rasional. Tak selayaknya, orasi itu dijadikan keterampilan yang diperdagangkan. Ia akan dengan sendirinya bersuara lantang tanpa harus dilatih menjadi orator, apabila keberadaan manusia terusik. Seperti petani di Rembang dan masyarakat Parangkusumo. Apakah karena memang seperti demikian yang diajarkan? Lantas apa bedanya ruang kelas dan ruang gerakan?. Mari kita bertanya bersama, apa yang terjadi dengan

gerakan mahasiswa atas konteks ketertindasan kampus hari ini? Ada gemuruh tapi tidak ada gelombang. Kita mulai lupa pada tanggung jawab. Kita tak peka lagi. Alasannya, tidak ada isu yang harus diadvokasi. UKT senyap begitu saja, tidak ada transparansi data, ruang demokrasi yang kian sempit, dan lainnya. Apakah memang terlampau sibuk piknik? Atau terpendam bersama reruntuhan Panggung Demokrasi yang lenyap? Entahlah, kian hari kampus menyimpan derita dan kesakitan mental orang-orang yang ada di dalamnya. Mungkin benar, jika kekuatan demokrasi terorganisir (Negera Kesejahteraan) seperti yang digambarkan Jurgen Habermas, adalah salah satu penyebab kenapa akal rasional gerakan menjadi tumpul. Gerakan, hanya sebatas doktrin-doktrin yang diperdagangkan. Doktrin pengorganisiran gerakan yang menyajikan budak-budak yang buta terhadap realitas. Tertutup terhadap pemikiran kritis dan alternatif. Di sini penting untuk menelisik sistem pendidikan kita. Pendidikan kita mengajarkan untuk menyingkirkan segala sesuatu yang bersifat “antagonis”. Sedangkan kita tahu, sifat antagonistik merupakan stimulan bagi suatu laku praksis alternatif. Apa yang belum dijamah oleh pendidikan biasanya dikerjakan oleh tekanan sosial dalam kehidupanya di kemudian hari. Pendidikan dengan segala upaya menyingkirkan karakter antagonis tersebut. Membentuk seseorang menjadi pribadi yang akut dengan dogma moralis, hanya tahu ini salah dan itu benar, saya benar dan itu salah. Bahkan sempit dalam memaknai antagonis itu sendiri. Saya ingat Erich Fromm pernah menulis, “tidak perlu menjadi pribadi yang menyenangkan secara khas”. Keramahan dan keringanan serta segala sesuatu yang dipaksa untuk mengungkapkan senyuman, menjadi reaksi otomatis yang mana orang dihidupkan atau dimatikan seperti tombol elektrik. Tak ada jalan lain, hasrat pendidikan memang seperti demikian. Kemenangan dan kebenaran akan pengertian baik selalu dekat dengan pemenang. Kemenangan memang harus dinegasi jika tidak seimbang. Ada dua obyek yang menegasi di kampus kita hari ini, gerakan mahasiswa dengan kekuatan politik instrumental dan mahasiswa berbasis pendidikan murni atau mahasiswa “kupu-kupu,” yang pasrah penuh kepada kebijakan. Yang terbaik buat kita adalah menjadi gerakan, dan akademisi yang cerdas serta kritis terhadap sebuah kebijkan. Atau apa yang disebut sebagai gerakan alternatif baru, bukan teriak-teriak di malam hari yang sepi.[]

31


Jangan (Lagi) Bercita Jadi Tentara oleh RIFAI ASYHARI

Banyak dari kita pernah bercita menjadi tentara, pekerjaan gagah dengan balutan seragam

CAKI // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

32

loreng sambil memanggul senjata di atas bahu. Statusnya mentereng sebagai abdi negara yang patriotik. Setidaknya hal itu saya rasakan selama masa anak-anak, era 90-an. Saat Orde Baru bersama asas tunggalnya belum tumbang. Juga sebelum wirausaha kaya dipromosikan lewat seminar dan televisi. Suatu kali saya pernah mengenakan seragam panglima militer mainan kala mengikuti pawai sekolah. Kini saya menyesalinya. Sekira 2000-an, beranjak Sekolah Dasar, bayang kemegahan tentara belum lenyap, utamanya tiap saya memelototi acara Target dan Strategi yang tayang di satu stasiun televisi swasta. Acara itu mempertontonkan satuan pasukan-pasukan khusus tentara Indonesia yang berlatih menggunakan bedil. Mereka tembaki objek kosong dengan peluru betulan, sekedar berlatih. saya sempat berpikir betapa borosnya anggaran militer, tentara maksudnya, belum kenal kata militer kala itu, berlatih saja habiskan banyak uang. Sudah begitu dipuji secara membabi buta pula oleh narator acara tersebut. Berbanding terbalik dengan latihan sepak bola anak-anak desa yang sekedar bermodalkan satu bola plastik sampai kempes dan kaki nyeker tanpa sepatu. Bermain di atas petak sawah kosong atau tempat jemuran gabah KUD sampai bapak penjaga KUD mengacungkan celurit, marah karena kami tendang bola sambil menginjak gabah. Modal berlatih kami cukup lima ribu untuk satu bola, dan yang tidak kalah penting, siap kabur saat celurit terangkat. Meski menghabiskan anggaran besar, menjadi tentara lebih sering terucap di kelas daripada pemain sepak bola, saat ibu guru menanyakan perihal citacita. Lagi pula daftar cita-cita tak sebanyak hari ini. Kemungkinan sedikit, tak beranjak jauh dari lingkar pegawai pemerintah. Gelombang fordisme belum sampai di otak kami. Lagi, status pegawai negeri dimuliakan benar di desa. Sudah dapat gaji besar, profesinya diselimuti prestise yang bikin orang mengangguk segan saat berpapasan di jalan. Apapun jabatanya. Mereka memiliki hari minggu libur yang dihabiskan untuk merawat tanaman hias atau menjemur kasur. Kontras dengan pekerja informal di desa yang tak punya hari

libur selain hari raya Idul Fitri. Ibu menyebut pegawai negeri yang punya hari libur sebagai golongan priyayi. Namun, ada syarat utama untuk menjadi pegawai negeri di masa Soeharto. Satu dosen saya pernah mengungkap cerita tentang dirinya saat mendaftar dosen IAIN berpuluh tahun silam. Ia bikin pengakuan palsu soal dirinya saat wawancara kerja. Ia mengaku simpatisan golkar. Padahal ayah dan dirinya lebih suka memilih gambar kakbah ketimbang pohon beringin. Saat itu, orang harus mengaku ngefans partai pohon beringin agar bisa jadi pegawai. Golkar semasa Orba, tentu saja, adalah penguasa tunggal tak tertandingi. Usai penyederhanaan partai tahun 1972, Golkar terus berjalan mulus mengungguli dua pesaingnya, PDI dan PPP. Dua partai yang merupakan peleburan golongan nasionalis dan Islamis, tanpa golongan kiri, tak punya andil besar menentukan arah negara sampai pada pemilu 1992 saat Megawati mulai diperhitungkan. Pertarungan ideologi sudah tidak relevan lagi, ujar jenderal pada Pramoedya Ananta Toer saat mengunjunginya di Pulau Buru. Mungkin jenderal itu ingin menunjukkan bahwa kuasa Orba tak tertandingi. Riuh pertarungan ideologi Orde Lama luruh berganti musim pembangunan industri. Sebelum menenggelamkan 37 desa untuk membangun waduk Kedung Ombo tahun 1985, 5.268 keluarga diusir dari atas tanahnya sendiri. Petani menolak. Namun negara memaksa dengan senjata. Membangun infrastuktur dan menggebuk warga seperti dua sisi koin tak terpisahkan. Memang terlanjur jadi laku rutin Orba untuk membangun kemegahan di atas ceceran darah dan tangis warga. Lars militer mendarat ke tengah sawah mengusir warga sambil menginjaki tanaman petani, menggagalkan panen. Saya membayangkan itu seperti yang telah terjadi di Sukamulya juga Urut Sewu kemarin hari. Mengusir, menggebuk, sekaligus merusak tanaman di sawah. Petani dan militer tak pernah bertemu akrab sejak Orde Lama berkuasa. Foto hitam putih masa agresi militer yang memperlihatkan petani memberi makan tentara pejuang saat mengusir NICA sudah lama berganti wajah. Petani dipukuli tentara, ditembak gas air mata dan diseret keluar dari lokasi pembangunan pabrik semen pegunungan Kendeng, jadi wajah representatif tentara saat ini. Saat menegangkan aksi, saat warga atau


mahasiswa berhadapan muka dengan aparat, jelang chaos, massa berteriak menegaskan posisi aparat sebagai bagian rakyat. Saya mendengar suara orator itu, mengharap keberpihakan aparat eselon bawah pada rakyat. Iya, mereka juga bagian rakyat, tindakan keras tak memberi untung buat mereka sendiri. Meski catatan panjang kekerasan aparat menunjukkan sedikitnya harapan orator itu. Barak militer Batalyon Infanteri 403 di Condong Catur terbangun dari bambu ringkih yang memprihatinkan. Satu keluarga tentara eselon bawah tinggal di rumah kecil berjejer dengan keluarga lainya, berderet panjang terlihat tidak layak. Bersama seorang teman, suatu kali saya mengantar seorang bapak tua ke rumah dinas seorang tentara asal Ambon yang tengah bertugas di Yogya. Ia bercakap-cakap panjang dengan si bapak sambil mempersilakan kami duduk di teras rumah kecilnya. Usai ngobrol panjang, tentara itu memberi sangu si bapak dan mengucap terima kasih pada kami yang mau mengantarnya. “Kasian, mereka cuma anjing penjaga kapital,� ujar teman saya setengah berbisik. Yang saya tahu, militer berjalan dengan sistem komando. Memberi perintah atau diperintah. Salah benar ditanggung komandan, sementara kewajiban bawahan hanyalah melaksanakan. Prajurit tak berbicara mengenai rasionalitas komando. Tak diajarkan cara berdebat yang baik. Seorang penulis mengejek tiga kali absennya Agus Yudhoyono dari

undangan debat publik televisi, karena Agus mantan prajurit yang tak pandai berdebat. Iya, militer itu, mereka nurut saja dengan komando atasan. Gebuk adalah gebuk, tembak adalah tembak. Prajurit itu sudah mengucapkan Sumpah Prajurit untuk taat pada atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan—Sumpah Prajurit point 3. Komando atasan bertentangan dengan delapan wajib TNI untuk bersikap ramah dan tidak menakut-nakuti rakyat, karena nyatanya petani berulang kali dibogem di sawah mereka sendiri. Menjadi omong kosong. Militerisme itu abadi, kata om Bliven Sandalista berulang kali tiap menyebarkan berita represifitas aparat di ruang publik. Jalan Tengah Nasution dan Dwi Fungsi ABRI Soeharto itu abadi di tanah rakyat. Campur tangan tentara di ruang sosial politik bukan jalan membuat kehidupan tenteram. Otot kekar militer terbentuk untuk membunuhi rakyat di tanah sendiri. Adu fisik, tentu petani akan kalah. Solidaritas kita rendah, sementara rantai komando aparat terangkai rapi. Undang-undang nomor 34 tahun 2004 tentang TNI yang menginginkan profesionalitas tentara dengan menjunjung supremasi sipil terlanggar oleh laku aparat sendiri. Omong kosong satu lagi mengenai kepatuhan tentara pada hukum dalam Sapta Marga. Tentu kita tak heran dengan pelanggaran ini. Pemerintah sedang menginginkan negara ini dijejali industri dan infrastruktur penunjang untuk

CAKI // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

DOKUMEN ISTIMEWA

33


DOKUMEN ISTIMEWA

CAKI // SLiLiT ARENA // EDISI DESEMBER 2016

34 memenuhi kebutuhan pasar internasional. Kedaulatan rakyat atas sumber produksi dicerabuti satu persatu berganti kerja panjang dalam industri. Militerisme mutlak diperlukan untuk menunjang kebijakan neoliberalisme. Demokrasi neolib yang mengagungkan kebebasan individu sekedar diperuntukkan bagi pemodal besar, bukan individu miskin di kapitalisme pinggiran. Mereka dipaksa melepas alat produksi macam lahan garapan untuk menjadi tenaga buruh berupah rendah. David Harvey memastikan, sikap mendua ini dalam negara neoliberalisme; menjunjung tinggi kebebasan individual kaya sambil menerapkan kebijakan otoriter pada orang miskin. Negara dengan ambisi buas akan mengamini pentingnya gebukan aparat demi sampainya industrialisasi dan terpenuhinya kemanjaankemanjaan pemodal. Sampai saat nafsu itu bercokol dalam tempurung aparat negara, sampai saat itu pulalah militerisme abadi menumpah darah dari tubuh. Militer telah menghilangkan jutaan nyawa sepanjang sejarah manusia. Lantas, apakah prajurit yang saya temui di rumah dinasnya seburuk militerisme itu. Saya tak tahu. sepenglihatan saya waktu itu, ia memberi beberapa lembar uang ratusan ribu pada si bapak di ujung pertemuan. Bapak yang saya temui di kantor Arena

mengaku korban konflik Sampit yang kini hidup menumpang di satu kota di Jawa Tengah. Ia ingin pulang, bukan ke Sampit tapi kota itu. Sial tak ada uang. Hingga ia meminta kami mengantarkanya bertemu dengan tentara asal Ambon yang sebenarnya tak ia kenal. Pertemuan keduanya tersambung cepat dengan cerita konflik Sampit yang merenggut nyawa istri dan anak-anaknya. Mereka mengungkap penderitaan yang hanya bisa dirasakan keduanya. Andai saja, usai menolong si bapak, prajurit itu dapat perintah untuk menggebuk rakyat yang lain, maka hal itu sah-sah saja dalam sistem komando; untuk taat dan tak membantah atasan. Prajurit itu, terjebak dalam struktur yang melawan nurani dasar evolusi manusia untuk bekerja sama saling membantu, setidaknya dalam gagasan mutual aid Kropotkin. Bagaimana jika, anak-anak tak usah lagi bercita jadi tentara yang berulangkali memfungsikan dirinya sebagai mesin penggebuk rakyat. Menghapus tentara dari deret cita-cita anak. Jika jadi guru, atau punya anak, bebaskan cita-citanya, terkecuali jadi tentara.[]

Mahasiswa semester IX Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga


v t

50 rebu/ruang

iklan

mu

untuk 2000 pembaca SLiLiT ARENA +62858 7880 6711

Anisatul Umah, S. Sos //Sekretaris LPM Arena 2015-2016

14

semester

maaf pengalaman kami lebih banyak dari pada anda

Ulfatul Fikriyah, S. Pd //Redaktur online LPM Arena 2015-2016

Muttaqin Subroto, S. Fil //Guru besar sekali LPM Arena

Kami bertiga mengucapkan selamat menanggung sisa umur mahasiswa bagi semua kawan akademika UIN Sunan Kalijaga

l



Slilit ARENA Desember 2016