Issuu on Google+

Passion for Perfection 115 Years Mercedes-Benz in Indonesia


Passion for Perfection 115 Years Mercedes-Benz in Indonesia

Mercedes-Benz


credit page

Mercedes-Benz


Passion for Perfection 115 Years Mercedes-Benz in Indonesia

Mercedes-Benz


9

Passion for Perfection Passion for Perfection

Contents:

13

Dua Penemu yang Memutar Roda Sejarah Two Inventors who Turned the Wheel of History

13

Karl Benz Karl Benz

19

Gottlieb Daimler Gottlieb Daimler


19

Lahirnya Sebuah Nama Baru: Mercedes

37

115 Tahun Mercedes-Benz di Indonesia

The Birth of a New Name: Mercedes

115 Years Mercedes-Benz in Indonesia

59 107

Mercedes-Benz di Indonesia Mercedes-Benz in Indonesia

Mercedes-Benz Club di Indonesia Mercedes-Benz Club in Indonesia


Passion for Perfection Passion for Perfection


Passion for Perfection Passion for Perfection


Passion for Perfection Passion for Perfection

Pada tahun 2009, Mercedes-Benz S-Class memasuki pasar dengan lima varian terbaru, yakni S550 sedan, S550 4MATIC sedan, S600, S63 AMG, dan yang teratas S65 AMG. Kelima varian Mercedes-Benz S-Class itu merupakan pengembangan dari model S-Class W221 atau S-Class terbaru yang pertama kali diperkenalkan kepada dunia pada tahun 2005. S-Class W221 mengukuhkan posisinya sebagai perintis dalam inovasi teknologi otomotif, yang akan menjadi panutan bagi kendaraan-kendaraan lain. Belasan inovasi baru dikembangkan untuk S-Class terbaru ini, mulai dari Brake Assist PLUS dengan sensor radar sampai tempat duduk dengan fungsi memijat (massage), dari Night View Assist dengan teknologi infra merah terkini sampai sistem COMAND terbaru, serta dari teknologi keamanan preventif PRE-SAFE® sampai fungsi Parking Assist, yang terintegrasi dalam PRO-SAFETM.

Menciptakan teknologi unggulan terbaru untuk S-Class W221 adalah suatu tantangan yang sangat besar bagi para insinyur di Daimler AG. Tidak heran jika mobil ini disebut-sebut akan menjadi pemacu kemajuan teknologi otomotif di dunia dengan terobosan-terobosan di bidang keamanan (safety), kenyamanan, kepraktisan, dan kemampuan beradaptasi dengan tuntutan lingkungan (ramah lingkungan). PRO-SAFETM terdiri dari empat tahapan PERFORM-SAFE, PRE-SAFE®, PASSIVE-SAFE, dan POST-SAFE. PERFORMSAFE mencakup semua fitur yang terkait dengan keamanan berkendara, yang dapat mendeteksi dan memberi peringatan tentang adanya situasi kritis pada waktu yang tepat, dan yang dapat memberikan bantuan yang tepat.

In 2009, the Mercedes-Benz S-Class entered the market with five new variants, namely S550, S550 4MATIC, S600, S63 AMG and the top-of-the-line model, S65 AMG. The five variants were developed from the base model S-Class W221 or the new S-Class, which had its world premiere in 2005.

Del dunt niatum zzriureet ipit aute vel diat. Lisit, sed magnim am dolumsandre modolesectem vulluptat accumsandio odolort iscincidunt eugue feum zzriuscidunt aliquamet lore modit at utat lum dolessed magnim vullumsandre vel eu feugiat. Alit adigna adionse quisit, cortionse magnit dionseq uatissis dunt utpate faccumm odolor ipsum velit laor autat iuscilla coreraestrud do eu facilla feugue et, si exeros elisl diat. Ut loreetue vullan ut laorem.

The S-Class W221 has been acknowledged as the trendsetter to other vehicles in the innovation of automotive technology. Dozens of new innovations have been developed for the new S-Class ranging from Brake Assist PLUS with radar sensors to seats with massage function, from Night View Assist with the latest infrared technology to the new COMAND system, as well as from preventive safety technology PRE-SAFE® to Parking Assist function, which is integrated into PROSAFETM.

Creating the new flagship technology for the innovative S-Class W221 was a very big challenge for the engineers at Daimler AG. No wonder this car is always mentioned when it comes to the advancement of the world’s automotive technology in terms of safety, comfort, agility, and adaptability to the environment (environmental-friendly). PRO-SAFETM consists of four stages: PERFORM-SAFE, PRE-SAFE®, PASSIVE-SAFE and POST-SAFE. PERFORM-SAFE includes all features associated with driving safety, which can detect and warn of a critical situation at the right time, and provide appropriate assistance.

11


Passion for Perfection Passion for Perfection

Pada tahun 2009, Mercedes-Benz S-Class memasuki pasar dengan lima varian terbaru, yakni S550 sedan, S550 4MATIC sedan, S600, S63 AMG, dan yang teratas S65 AMG. Kelima varian Mercedes-Benz S-Class itu merupakan pengembangan dari model S-Class W221 atau S-Class terbaru yang pertama kali diperkenalkan kepada dunia pada tahun 2005. S-Class W221 mengukuhkan posisinya sebagai perintis dalam inovasi teknologi otomotif, yang akan menjadi panutan bagi kendaraan-kendaraan lain. Belasan inovasi baru dikembangkan untuk S-Class terbaru ini, mulai dari Brake Assist PLUS dengan sensor radar sampai tempat duduk dengan fungsi memijat (massage), dari Night View Assist dengan teknologi infra merah terkini sampai sistem COMAND terbaru, serta dari teknologi keamanan preventif PRE-SAFE速 sampai fungsi Parking Assist, yang terintegrasi dalam PRO-SAFETM.

12

Menciptakan teknologi unggulan terbaru untuk S-Class W221 adalah suatu tantangan yang sangat besar bagi para insinyur di Daimler AG. Tidak heran jika mobil ini disebut-sebut akan menjadi pemacu kemajuan teknologi otomotif di dunia dengan terobosan-terobosan di bidang keamanan (safety), kenyamanan, kepraktisan, dan kemampuan beradaptasi dengan tuntutan lingkungan (ramah lingkungan). PRO-SAFETM terdiri dari empat tahapan PERFORM-SAFE, PRE-SAFE速, PASSIVE-SAFE, dan POST-SAFE. PERFORMSAFE mencakup semua fitur yang terkait dengan keamanan berkendara, yang dapat mendeteksi dan memberi peringatan tentang adanya situasi kritis pada waktu yang tepat, dan yang dapat memberikan bantuan yang tepat.


Passion for Perfection Passion for Perfection

In 2009, the Mercedes-Benz S-Class entered the market with five new variants, namely S550, S550 4MATIC, S600, S63 AMG and the top-of-the-line model, S65 AMG. The five variants were developed from the base model S-Class W221 or the new S-Class, which had its world premiere in 2005. The S-Class W221 has been acknowledged as the trendsetter to other vehicles in the innovation of automotive technology. Dozens of new innovations have been developed for the new S-Class ranging from Brake Assist PLUS with radar sensors to seats with massage function, from Night View Assist with the latest infrared technology to the new COMAND system, as well as from preventive safety technology PRE-SAFE® to Parking Assist function, which is integrated into PROSAFETM.

Creating the new flagship technology for the innovative S-Class W221 was a very big challenge for the engineers at Daimler AG. No wonder this car is always mentioned when it comes to the advancement of the world’s automotive technology in terms of safety, comfort, agility, and adaptability to the environment (environmental-friendly). PRO-SAFETM consists of four stages: PERFORM-SAFE, PRE-SAFE®, PASSIVE-SAFE and POST-SAFE. PERFORM-SAFE includes all features associated with driving safety, which can detect and warn of a critical situation at the right time, and provide appropriate assistance.

Del dunt niatum zzriureet ipit aute vel diat. Lisit, sed magnim am dolumsandre modolesectem vulluptat accumsandio odolort iscincidunt eugue feum zzriuscidunt aliquamet lore modit at utat lum dolessed magnim vullumsandre vel eu feugiat. Alit adigna adionse quisit, cortionse magnit dionseq uatissis dunt utpate faccumm odolor ipsum velit laor autat iuscilla coreraestrud do eu facilla feugue et, si exeros elisl diat. Ut loreetue vullan ut laorem.

13


Dua Penemu yang Memutar Roda Sejarah Two Inventors who Turned the Wheel of History


Dua Penemu yang Memutar Roda Sejarah Two Inventors who Turned the Wheel of History

Karl Benz Karl Benz yang lahir pada tanggal 25 November 1844 adalah seorang desainer mesin dan insinyur mobil. Pada masa kecilnya, ia dikenal sebagai seorang anak yang jenius. Pada usia 15 tahun, ia lulus ujian masuk pada jurusan teknik mesin di Universitas Karlsruhe, dan kuliah di sana. Setelah tamat, ia meneruskan studinya ke Universitas Politeknik dan lulus pada tahun 1864. Selama masa kuliah, Karl Benz kerap mengendarai sepeda. Pada masa-masa itulah, ia memimpikan akan keberadaan sebuah kendaraan yang tidak menggunakan kuda sebagai penarik.

Pada tahun 1871, dalam usia 27 tahun, Karl Benz bersama mitranya, August Ritter, di Mannheim, mendirikan perusahaannya yang pertama, Iron Foundry and Machine Shop. Namun, kerja sama itu tidak bertahan lama, keduanya kemudian berpisah dan memutuskan untuk berjalan sendirisendiri. Karl Benz lalu mendirikan perusahaan sendiri. Tujuh tahun kemudian, tahun 1878, Karl Benz mengembangkan mesin dua tak atau dua langkah (two stroke). Tahun 1883, Karl Benz bersama Max Rose dan Friedrich Wilhelm Esslinger, pemilik bengkel sepeda di Mannheim, mendirikan perusahaan baru yang memproduksi mesin-mesin untuk industri, yakni Benz & Company Rheinische GasmotorenFabriek, yang lebih dikenal dengan nama Benz & Cie.

Karl Benz Born on November 25, 1844, Karl Benz was an engine designer and automobile engineer. In his childhood, he was known as a child prodigy. At the age of 15 years, he passed the entrance examination at the University of Karlsruhe, and studied there majoring in mechanical engineering. After graduation, he continued his studies at the University of Polytechnic and graduated in 1864. During his studies, while riding his bicycle, he started to envision concepts for a vehicle that would eventually become the horseless carriage.

Mannheim. However, the cooperation did not last long. They parted as partners to find their own way. Karl Benz formed his own company. Seven years later, in 1878 he developed a twostroke engine. In 1883, Karl Benz with Max Rose and Friedrich Wilhelm Esslinger, the owner of a bicycle repair shop in Mannheim, established a new company to produce industrial engines, namely Benz & Company Rheinische Gasmotoren-Fabriek, better known as Benz & Cie.

In 1871, at the age of 27 years, Karl Benz with partner August Ritter, founded his first company - Iron Foundry and Machine Shop in

21


Dua Penemu yang Memutar Roda Sejarah Two Inventors who Turned the Wheel of History

Benz & Cie paved the way for Karl Benz to make his dreams come true by building a horseless vehicle. Karl Benz started to build the car fitted with a four-stroke engine of his own design using gasoline (benzene), known at that time as ligroin. His experience with the bicycle inspired him to develop a three-wheeled car - some called it Tri-Car. With a single front wheel, the car was easy to turn left and right.

Two years later, in 1885 Karl Benz’s three-wheeler was completely built with an engine attached to it. It was a 1-cylinder four-stroke engine displacing 984 cc, electricallyignited, gasoline-fueled, and water-cooled. The engine that boosted an output of 0.9 hp at 400 rpm, was mounted at the rear (between the two rear wheels), drove the rear wheels by a chain connecting the steering wheel to the front wheel. Karl Benz also designed speed control system (accelerator), electrical ignition, spark plugs, clutch, gearbox, radiator and carburetor.

Benz & Cie memberikan Karl Benz kesempatan untuk mewujudkan impian lamanya, yaitu menciptakan kendaraan yang tidak ditarik oleh kuda. Mulailah Karl Benz merancang mobil lengkap dengan mesin empat langkah yang dirancangnya sendiri, yang menggunakan bahan bakar bensin (benzene), yang pada waktu dikenal dengan ligroin.

Del dunt niatum zzriureet ipit aute vel diat. Lisit, sed magnim am dolumsandre modolesectem vulluptat accumsandio odolort iscincidunt eugue feum zzriuscidunt aliquamet lore modit at utat lum dolessed magnim vullumsandre vel eu feugiat. Alit adigna adionse quisit, cortionse magnit dionseq uatissis dunt utpate faccumm odolor ipsum velit laor autat iuscilla coreraestrud do eu facilla feugue et, si exeros elisl diat. Ut loreetue vullan ut laorem.

22

Pengalamannya dengan sepeda membuat mobil yang dirancangnya menggunakan tiga roda, beberapa menyebutnya Tri-Car. Dengan satu roda di depan, mudah bagi Karl Benz membelokkan mobilnya ke kiri dan ke kanan, bahkan juga memutar ke kiri dan ke kanan.

Dua tahun sesudahnya, tahun 1885, mobil tiga roda yang dirancang Karl Benz selesai dibuat, lengkap dengan mesin penggeraknya. Mesin itu adalah mesin empat langkah, 1 silinder dengan kapasitas 984 cc, berpengapian elektris, menggunakan bahan bakar bensin, dan berpendingin air. Mesin yang menghasilkan tenaga 0,9 HP (horse power) pada 400 putaran per menit (rpm) itu ditempatkan di bagian belakang (di antara kedua roda belakang), dan menggunakan roda belakang sebagai penggerak. Setirnya dihubungkan ke roda depan dengan rantai.


Del dunt niatum zzriureet ipit aute vel diat. Lisit, sed magnim am dolumsandre modolesectem vulluptat accumsandio odolort iscincidunt eugue feum zzriuscidunt aliquamet lore modit at utat lum dolessed magnim vullumsandre vel eu feugiat. Alit adigna adionse quisit, cortionse magnit dionseq uatissis dunt utpate faccumm odolor ipsum velit laor autat iuscilla coreraestrud do eu facilla feugue et, si exeros elisl diat. Ut loreetue vullan ut laorem.


Dua Penemu yang Memutar Roda Sejarah Two Inventors who Turned the Wheel of History

Karl Benz antara lain juga menciptakan sistem pengatur kecepatan (akselerator), pengapian yang memperoleh percikan api dari baterai, busi, kopling, persneling, radiator, dan karburator. Konsumen mobil-mobil Benz versi awal (tahun 1888) menghadapi dua masalah yang signifikan, yakni pertama, ketersediaan bensin yang masih terbatas. Pada masa itu, bensin dijual di apotek sebagai produk pembersih (kini, digantikan alkohol) dan tidak dijual dalam jumlah besar. Kedua, sulit menaklukkan tanjakan yang tinggi karena tidak tersedianya gear tambahan, akibatnya mobil harus didorong.

The customers of Benz’s car of early version (1888) were faced with two significant problems. First, the limited availability of gasoline. At that time, gasoline was sold in pharmacies as a cleaning product (today, replaced with alcohol) in small quantities. Secondly, the car had no additional gears and could not climb hills unaided. At the suggestions of his wife, Bertha Ringer, these two problems could be solved. Without the knowledge of her husband, Bertha took the vehicle on a 106-km trip from Mannheim to Pforzheim to visit her mother taking her two sons, Eugen and Richard with her.

Dua masalah itu dicoba diatasi oleh Karl Benz atas masukan istrinya, Bertha Ringer, yang tanpa setahu suaminya melakukan perjalanan dengan kedua putranya, Eugen dan Richard, dari Mannheim ke Pforzheim sejauh 106 kilometer untuk mengunjungi ibunya. Selain mendata lokasi-lokasi apotek sepanjang perjalanan, Bertha juga meminta suaminya untuk menambah satu gear lagi agar mobilnya bisa menaklukkan tanjakan tinggi. Tidak diketahui berapa lama perjalanan itu dilakukan oleh Bertha. Hanya disebutkan, menjelang malam Bertha tiba di Pforzheim, dan ia memberi tahu tentang perjalanan itu kepada suaminya melalui telegram.

In addition to having to locate fuel at pharmacies along the way, Bertha also asked Karl to add one more gear so the car could climb hills. It was unknown how far Bertha undertook the journey. It was just mentioned that Bertha reached Pforzheim at nightfall, notifying Karl of her journey by telegram.

Del dunt niatum zzriureet ipit aute vel diat. Lisit, sed magnim am dolumsandre modolesectem vulluptat accumsandio odolort iscincidunt eugue feum zzriuscidunt aliquamet lore modit at utat lum dolessed magnim vullumsandre vel eu feugiat. Alit adigna adionse quisit, cortionse magnit dionseq uatissis dunt utpate faccumm odolor ipsum velit laor autat iuscilla coreraestrud do eu facilla feugue et, si exeros elisl diat. Ut loreetue vullan ut laorem.

25


Passion for Perfection