Issuu on Google+


SURAT KEPUTUSAN (SK) REKTOR No. 365/TAHUN 1993 ISSN: 0853-8883

Pelindung: Rektor Universitas Islam Riau Penasehat: Pembantu Rektor III Univ. Islam Riau Dewan Pertimbangan: Drs Supriyadi MPd, Zainul Ikhwan SP, M Badri SP MSi, M Sabarudi ST, Wahyu Awaludin SH, Sobirin Zaini SPi, Hasbullah Zaini SH, Husnu Abadi MHum, Dewan Redaksi: Muhtarom SSos, Julisman SPd, Edi Efendi SSos, Navolino, Desi Sommalia Gustina SH MH

Penerbit: Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) AKLaMASI Universitas Islam Riau. Alamat: Jl Kaharuddin Nasution No 113 Kampus Darussalam Marpoyan Pekanbaru-Riau 28284. Hp:081267334451 Email: aklamasiuir@gmail.com Website: www.aklamasi.co Facebook: Lpm Aklamasi Uir Twitter: @aklamasiuir Percetakan: CV Witra Irzani Pekanbaru (Isi di luar tanggung jawab percetakan).

Redaksi terima foto juga tulisan berupa surat pembaca, opini, cerpen, puisi, esai, rilis berita, atau liputan juga kritikan dan saran untuk AKLaMASI dari pembaca. Kirimkan ke kantor Redaksi atau lewat email: aklamasiuir@gmail.com. Redaksi berhak menyunting selama tidak mengubah maksud tulisan. Tulisan yang masuk jadi hak milik redaksi. Ayo... Buruan kirim....

Desain Sampul: Barry Eko Lesmana Tata Letak isi: Abdul Hamid Nasution

Laporan Utama 8

Gedung UIR, JANGAN MEPET-MEPET! Kampus UIR mulai tampak sesak, antara beberapa gedung hampir tak ada jarak dan ruang gerak. Pembangunan gedung terus berlanjut, seolah tak perhatikan penting-nya area hijau atau taman tempat sekedar santai dan menghirup udara segar. Feature 22

Laporan Khusus 18

Dibalik Kampus Banyak Cerita

PERANGI KELAPARAN Tentang Komunitas Berbagi Nasi Pekanbaru, Ari terinspirasi dari Abangnya Rio. Rio tinggal d i lampung. Waktu ke Bandung, Rio pernah ikut turun langsung ke jalan untuk bagi-bagikan nasi dengan komunitas ber-bagi nasi d i Bandung. Lalu Rio ajak Ari bikin komunitas serupa d i Pekanbaru

Keberadaan UIR dengan lebih 26 ribu mahasiswa berdampak pada lingkungan sekitar. Tentunya Menggerakan perekonomian. Tapi, ternyata juga ada persoalan sosial d i masyarakat, hingga UIR buat regulasi khusus. Bagaimana pengaruh UIR keduanya d i masyarakat?

Opini-4 Surat untuk Rektor-5

31-English Flash

Profil Pendiri UIR-11

31-Agenda Kampus

Fotografi-20

32-Sastra

Feature-24

34-Pemuncak Universitas

Resensi-28

35-Para Pemuncak

Seputar Kampus-30

38-Senggang

KONTEN

2

Pemimpin Umum : Puput Jumantirawan Sekretaris Umum : Yosa Satrama Putra Pemimpin Redaksi : Abdul Hamid Nasution Desainer, Fotografer dan Ilustrator : Barry Eko Lesmana Reporter: Rahmi Carolina, Wahid Irawan, Jimmi Zakaria, Tahnia Dwi Sari serta Seluruh Pengurus dan Kru Magang Pemimpin Usaha : Oka Pringga Al-Ghifari Manejer Keuangan/Iklan : Evi Winda Sari Sirkulasi : Winda dan Oka


TERAS  Dari redaksi

Assalamu’alaikum. Salam Pers Mahasiswa. Salam Kebenaran. TAK penatlah kita senantiasa ucapkan syukur kepada Allah yang tak terhingga Dia menganugrahkan dan menjamin rezeki, kesehatan dan keselamatan setiap masa bagi makhluknya. Tapi lama juga rasanya tak jumpa sama pembaca. Rindu sangatlah yang kami sampaikan lewat salam redaksi ini. Apa yang kita rasakan jika dah lama tak jumpa, tentu lah rindu kan....? Edisi ini, selain bawa rindu, tentulah kami bawa buah tangan buat pembaca sekalian. Tapi nanti dulu. Tengok dulu kat sini. Awal November lalu, AKLaMASI mengangkat beberapa kru, dari reporter magang jadi tetap, ada Mimi, Jimmi, Wawan, dan Tahnia. Cukup banyak yaa... lebih dari tiga kan dah dibilang banyak. Syukur, mereka bisa bertahan selama tujuh bulan dalam proses magang di AKLaMASI. Yang pasti, magangnya nulis berita dan dapat mengembangkan intlektualitas dan kreatifitas mereka di AKLaMASI. Selamat deh, buat mereka. Tetaplah di sini, menulis kebenaran! Terus, 16 Oktober lalu AKLaMASI sudah berumur 19 tahun lho, saat ini menjalani umur ke-20. Tentunya tantangan bagi yang sudah

Supriyadi , Dewan Pert imbangan AKLaMASI potong nasi tumpeng, saat Malam Puncak Milad AKLaMASI ke-19 di PKM UIR

dianggap dewasa pasti makin luar biasa. Di Milad ke-19 itu AKLaMASI gelar beberapa lomba, Lomba Menulis Surat untuk Rektor, Menulis Puisi 50 Tahun UIR juga Lomba Desain Logo 19 Tahun AKLaMASI. Dua naskah surat dan tiga puisi terbaik, dan logo kami tampilkan edisi ini. Hai pembaca... Edisi ini sebenarnya edisi spesial yang kami persembahkan untuk Milad Emas, 50 tahun UIR. Persembahan itu kami buat dalam bentuk sajian tulisan, yang bisa dibaca di Laporan Utama, laporan Khusus, Profil Pendiri UIR, Fotografi, Sajak juga Surat untuk Rektor. Selain itu, kami juga suguhkan beberapa liputan menarik untukmu, macam Komunitas Berbagi Nasi Pekanbaru, mereka lagi heboh perangi kelaparan di Pekanbaru, tiap Selasa malam dan Sabtu malam, tulisan ini sile dibaca kat rubrik Feature. Pastinya, pembaca tengoktengok sekalian baca apa saja yang kami sajikan edisi ini. Selamat membaca. Jangan lupa sampaikan kritik dan sarannya ke redaksi AKLaMASI ya... See you next edition. Wassalam. Redaksi

EDITORIAL

MEMBANGUN UIR

U

IR genap berusia 50 tahun pada 4 September 2012. Pesta kecil sudah dihelat. Gegap gempita perayaan ulang tahun emas sudah berakhir. Tak ada lagi hiporia yang berlebih. Tapi logo ulang tahun emas masih digunakan di cop surat resmi UIR—mungkin sebagai rasa syukur. Tahun 1962 UIR berdiri, sederet tokoh tercatat sebagai pendirinya; Dt Wan Abdurrahman, Soeman Hasibuan, H Zaini Kunin, Rawi Kunin, H A Malik, H Bakri Sulaiman, A Kadir Abbas SH, dan H A Hamid Sulaiman. Ada perjuangan yang telah mereka lakukan tentunya mengantarkan UIR di usia 50 tahun. Mereka perlu dikenang. Di balik usianya yang sudah setengah abad, UIR punya Visi besar yang harusnya terwujud tahun 2020. Visi itu “Menjadikan Universitas Islam Riau yang unggul dan terkemuka di Asia Tenggara pada tahun 2020”. Para pengambil kebijakan tentu sudah buat strategi untuk mewujudkan. Rektor pernah keluarkan edaran tentang larangan merokok di kawasan kampus. Tampaknya ini salah satu strategi itu. Karyawan dan dosen pun sudah diharuskan pakai Id Card. Sistem administrasi registrasi juga sudah canggih pakai registrasi online. Yang barubaru ini sistem parkir sudah diolah secara professional dengan menggandeng SOS—penyedia jasa parkir. Di atas tanah seluas 56 Ha milik UIR, gedung-gedung baru banyak dibangun. Dipercepat dengan moment perhelatan PON. Ada banyak venu dibangun di UIR—sebenarnya tak banyak lagi tanah kosong yang dimiliki. Hall Volly dibangun berhadapan dengan Stadion Mini. PKM juga “disulap” jadi gelanggang gulat—sehingga beberapa sekretariat Organisasi Mahasiswa harus dipindah. Belum lagi lapangan panahan yang terpaksa dibangun di atas lahan praktek

mahasiswa pertanian. Ada juga bangunan gedung FKIP baru. Tak dapat ditafikan dalam tahun-tahun terakhir pembangunan fisik sangat pesat. Untuk membangun semua itu tak perlu lagi gadaikan sertifikat tanah,seperti yang pernah dilakukan Rawi Kunin. Semua berjalan lancar. Tapi menyisahkan tanda tanya, di mana ruang hijau? Dalam waktu dekat gedung rektorat baru juga akan dibangun di atas tanah yang selama ini dijadikan sebagai taman. “…Dengan 50 tahun ini Universitas Islam Riau telah mebuktikan prestasi dan eksistensi nya di Indonesia dengan jumlah mahasiswa yang kian meningkat setiap tahunnya…,” penggalan kalimat tak utuh itu berasal dari iklan ucapan selamat milad di web resmi UIR. Coba kita pikir ulang, apakah membeludaknya jumlah mahasiswa yang masuk adalah prestasi yang berdampak positif? Jangan-jangan mereka ke UIR karena tak lulus di Perguruan Tinggi Negeri? Bukankah ada istilah “Bibit mempengaruhi kualitas tanaman”. Atau kita penganut “Tak ada rotan akar pun jadi” Lalu dengan jumlah mahasiswa yang banyak itu—sekira 26 ribu—berapa lama rata-rata masa tunggu alumninya untuk diterima kerja? Apakah visi UIR bisa tercapai hanya dengan meningkatnya kuantitas bangunan dan mahasuswa? Harusnya dibarengi dengan peningkatan kualitas. Pengambil kebijakan bisa mendorongnya lebih getol. Dimulai dengan hal kecil. Misal, optimalkan bidang riset—tentu perlu budgeting untuk melaksanakannya. Sangat lucu kiranya kalau lembaga riset seperti Pusat Studi HAM yang dimiliki UIR tak punya kajian selama setahun—lantaran tak ada anggaran. UIR juga harus mendorong kreatifitas mahasiswa lebih intensif.  Redaksi

Foto: Hamid

19 Tahun, Tantangan Makin Luar Biasa

3


OPINI

PENTINGNYA PENDIDIKAN BERKARAKTER Prof DR Detri Karya

P

ENDIDIKAN Karakter merupakan upaya dalam rangka membangun karakter (character building) peserta didik untuk menjadi lebih baik. Sebab, Rektor karakter dan kepribadian peserta didik sangat mudah untuk dibentuk. Secara Universitas etimologis karakter dapat dimaknai Islam Riau sesuatu yang bersifat pembawaan yang mempengaruhi tingkah laku, budi pekerti, tabiat, ataupun perangai. Sedangkan secara terminologis, karakter dapat dimaknai dengan sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri seseorang atau suatu kelompok. Hal ini bertujuan untuk menciptakan karakter peserta didik yang paripurna, sampai 4 mendekati titik terwujudnya insan kami, dengan upaya mewujudkan kecerdasan spiritual, emosional, intelektual, dan estetika. Pendidikan berkarakter sangat perlu diperdalam oleh setiap unsur yang ingin menyelamatkan Negara ini dari perpecahan. Hal ini didasarkan kepada pengamatan terhadap apa yang terjadi pada bangsa akhir-akhir ini tiada lain dalam upaya membentengi moralitas generasi muda agar tidak terpengaruh oleh hal-hal negatifyang akhirnya memecahbelah bangsa ini. Sebaiknya pembentukan pendidikan karakter, dimulai sejak usia dini, karena bila karakter sudah terbentuk sejak usia dini, maka meraka tidak akan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berbau negatif. Pendidikan berkarakter harus bisa terintregrasi dengan baik dalam membangun kepribadian generasi muda. Karena dengan adanya pendidikan berkarakter, setidaknya dalam proses pendidikan dapat membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Dengan kata lain, keberhasilan pendidikan itu tidak hanya dari segi akademik semata, melainkan moralitas juga dapat terbangun dengan baik dalam diri para generasi muda dewasa ini. Oleh karena itu keberhasilan pendidikan itu sendiri, tidak berpusat dari faktor guru dan fasilitas belajar mengajar semata. melainkan disertakan adanya partisipasi masyarakat dan keluarga, khususnya orang tua turut berperan dalam menunjang keberhasilan pendidikan berkarakter. Apalagi kemajuan teknologi saat ini disatu sisi bisa menyebabkan tumbuhnya karakter yang diharapkan, tetapi bila tidak di ikuti dengan bimbingan yang baik justru akan menimbulkan dampak negatif bagi karakter bangsa. Disamping itu lama waktu seorang anak di sekolah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan lama waktu mereka di rumah bersama orang tuanya. Pendidikan berkarakter, menjadi harapan semua

pihak agar dapat melahirkan didikan-didikan yang mampu menjawab tantangan jaman, serta tidak terimbas oleh pengaruh negatif. disamping juga bisa melahirkan generasi yang mandiri dan bertanggungjawab serta mampu membuka lapangan pekerjaan dengan kemampuan sebagimana yang diterima dan diajarkan kepadanya sewaktu usia sekolah. Kita menyadari bahwa bangsa kita sedang mengalami penurunan kualitas karakter, mulai dari masalah gontok-gontokan sampai tawuran, kurang kerja sama, lebih suka mementingkan diri sendiri, golongan atau partai, sampai kepada sarat dengan korupsi, kolusi dan nepotisme yang cenderung menuju pecah belahnya bangsa ini. Dalam alam empiris dapat dilihat bahwa karakter anak bangsa ini semakin menunjukkan gejala yang sangat miris dan merisaukan. Kehidupan generasi muda yang kontradiktif, tidak hanya di luar lingkungan pendidikan, tetapi juga justru dilakukan oleh anakanak didik dalam masa pendidikan. Sungguh miris melihat realitas dan kenyataan yang seperti ini. Persoalan ini muncul karena minimnya penanaman nilai-nilai karakter yang ditanamkan sejak dini, terkait karakter perilaku, kebiasaan, kesukaan, kemampuan, bakat, potensi, nilai-nilai, dan pola pikir. Minimnya pengetahuan orang tua terhadap psychology anak menyebabkan banyak anak yang tidak mandiri tidak disiplin, berontak tanpa alasan yang jelas, gontokgontokan, dan tawuran, mementingkan diri sendiri dan lain-lain. Padahal menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dinyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Undangan-undang ini bertujuan untuk menghasilkan anak didik yang berkarakter. Bedasarkan uraian di atas maka bangsa ini memerlukan manusia yang berkarakter untuk mewujudkan cita-cita bangsa menjadi masyarakat yang aman, makmur adil, dan sentosa. Maka gerakan bersama untuk menuju manusia Indonesia yang berkarakter sangat diperlukan. Untuk itu, perlu sikap yang searah dalam membekali generasi muda untuk hidup yang lebih baik, mandiri, kuat, dan berkualitas sehingga berdiri sejajar dengan masyarakat di Negara maju.


Lomba 19 Tahun AKLaMASI SURAT UNTUK REKTOR

BAPAK REKTOR YANG TERHORMAT, KUTULIS SURAT UNTUKMU YANG saya hormati, Bapak Rektor UIR, Prof DR H. Detri Karya, SE, MA. Puji syukur kehadirat Allah atas nikmat dan karunia-Nya semoga Bapak dalam keadaan sehat walafiát. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, sahabat-sahabatnya dan para pengikutnya sebagai Rijal Ad-da’wah yang telah menyelamatkan umat manusia dari lembah kehancuran menuju kehidupan yang berperadaban (yukhrijuhum min azh-zhulumat ila an-nur). Mudahmudahan kita menjadi umatnya yang terpilih dan layak untuk mendapatkan syafa’at darinya. Melalui surat ini saya ingin menyampaikan kepada Bapak untuk dapat meningkatkan sarana dan prasarana Kampus Darussalam agar memenuhi standar pendidikan nasional yang secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak kepada mutu pendidikan Universitas Islam Riau, baik dari segi pelayanan, maupun proses belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan yang telah diamanatkan oleh Undang-Undang Republik Ondonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasioanal pasal 35 ayat 1 yang berbunyi, “Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.” Dalam pasal 45 ayat 1 di undang-undang yang sama juga menegaskan kepada satuan pendidikan formal dan nonformal untuk menyediakan sarana dan prasarana, adapun pasal itu menegaskan sebagai berikut, “Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik.” Masih perlu adanya peningkatan sarana dan prasarana yang Bapak rektor dan jajaran untuk memikirkannya, berencana mewujudkannya secara berkala. di antaranya ruang musik untuk Jurusan Sendratasik, labor kebijakan pemerintahan untuk Jurusan Ilmu Pemerintahan, ekretariat organisasi kemahasiswaan, komputer yang memadai untuk registrasi online, penambahan dosen untuk beberapa jurusan serta peningkatan sumber daya pegawai administratif untuk terciptanya pelayanan yang prima. Sejalan dengan ini perlu juga bapak memikirkan peningkatan pelayanan administartif secara prima.

pelayanan yang dikatakan Boediono dalam bukunya pelayanan prima perpajakan halaman 60, “Pelayanan adalah suatu proses bantuan kepada orang lain dengan cara-cara tertentu yang memerlukan kepekaan dan hubungan interpersonal agar terciptanya kepuasan dan keberhasilan.” Mengacu pada pengertian di atas, pelayanan yang dirasakan oleh sebagian mahasiswa belum ada rasa kepuasan serta keberhasilan, hal ini diakibatkan karena tidak adanya kepekaan interpersonal serta caracara pelayanaan yang masih jauh dari harapan. penyebab lain dari pelayanan yang masih jauh dari harapan adalah masih minimnya sarana dan prasarana yang menunjang untuk pelayanan itu sendiri. Maka dari pada itu saya mengharapkan dengan sangat kepada Bapak untuk meningkatkan sarana dan prasarana secara berencana dan berkala. karena kelengkapan sarana dan prasarana menentukan kualitas mutu dan pelayanan di Universitas Islam Riau. Semoga nantinya kita sama-sama mengharapkan kampus yang kita cintai ini dapat menjadi universitas yang memiliki sarana dan prasarana terlengkap, pelayanan prima, mutu pendidikan yang baik, tenaga kependidikan yang profesional, kompetensi lulusan, pengelolaan pembiayaan yang transparan serta menjadikan UIR ini sebagai universitas unggulan di Riau khusunya, dan Unggul di tingkat nasional, regional dan internasional hendaknya seperti visi UIR 2020. Demikian surat ini, semoga bapak menanggapinya dengan seksama dan mudah-mudahan ini menjadi agenda kebaikan kita bersama untuk mewujudkannya demi tercapainya UIR unggul. Hormat Saya, Alsar Andri.

*Naskah ini terpilih sebagai Juara I dalam Lomba Menulis Surat untuk Rektor UIR 2012 yang ditaja Pers Mahasiswa AKLaMASI Universitas Islam Riau sempena Milad ke-19 AKLaMASI 16 Oktober 2012.

Alsar Andri Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Islam Riau 5


SURAT UTUK REKTOR

Lomba 19 Tahun AKLaMASI

ENAM KERESAHAN, YANG NAK KUSAMPAIKAN PADAMU PAK! Setiyono Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Islam Riau

6

YANG terhormat, Bapak Rektor Universitas Islam Riau, Prof. Dr. Detri Karya, SE. MA Apa kabar Pak? Jangan telat makan ya Pak. Biar kesehatan Bapak senantiasa terjaga. Kalau keluar malam hati-hati ya Pak, di Pekanbaru banyak Genk Motor. Bagaimana rasanya selama menjadi Rektor Universitas Islam Riau Pak? Bahagiakah atau sedih? Empuk apa keras kursi Rektor itu Pak? Saya sudah lama ingin sekali mencoba duduk di kursi rektor itu Pak, setelah beberapa waktu yang lalu saya melihat Bapak asyik mengangguk-angguk sambil memutar ke kanan kiri kursi itu disaat Bapak sedang berbincang dengan seorang tamu. Sampai-sampai keinginan untuk duduk di kursi rektor dan menjadi rektor saya tuliskan dalam daftar 150 keinginan yang ingin saya wujudkan Pak selama hidup ini. Bapak dulu waktu kecil, saya yakin tidak pernah bermimpi menjadi rektor kan? Paling Bapak bermimpi jadi dokter, tentara, pilot, atau polisi. Karena saya yakin waktu kecil dulu Bapak gak pernah mendengar ada kata “Rektor”. Kalau “telor” mungkin sering Bapak dengar ya waktu kecil. Saya waktu kecil dulu juga seperti itu Pak, gak pernah ada mendengar kata rektor, makanya saya waktu kecil gak pernah bercita-cita untuk jadi rektor setiap kali ditanya sama Guru Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar, saya selalu menjawab jadi dokter namun kadang-kadang juga berubah keinginan mau jadi tentara, maklumlah masih kecil Pak, belum ngerti pentingnya komitmen dengan cita-cita. Bapak Rektor yang saya hormati, Perkenalkan saya Setiyono, mahasiswa Fakultas Teknik, Jurusan Planologi, angkatan 2008, Universitas Islam Riau. Saya berasal dari Kabupaten Rokan Hulu, tepatnya di Kecamatan Kepenuhan Hulu, Desa Muara Jaya. Tidak terlalu jauh dari kampung almarhum bapak Zaini Kunin. Saya biasa aktif di kegiatan-kegiatan mahasiswa, khususnya yang ada di UIR ini, sehingga sedikit banyak membentuk daya kreatifitas intelektual saya. Saat ini saya tinggal di daerah pinggiran kota, tapi kenyamanannya sangat luar biasa. Yakni di Kubang Raya. Mohon maaf Pak bila saya terlalu lancang untuk menulis surat ini kepada Bapak, dan mohon maaf juga bila beberapa kalimat pembuka tidak mengunakan bahasa intelektual yang kurang sopan menurut Bapak. Karena semua ini bertujuan agar saya bisa memenangkan lomba menulis Surat untuk Rektor yang ditaja oleh rekan-rekan AKLaMASI UIR

Pak, mereka yang luar biasa dan penuh semangat untuk turut serta ambil bagian dalam memajukan kampus ini, walaupun sebenarnya saya telah lama menantinanti kesempatan ini agar bisa menyampaikan segala bentuk keresahan saya selama kuliah di UIR Pak, karena sejak pertama kali saya kuliah di UIR ini, saya tidak pernah tahu lembaga apa yang dikelola langsung oleh UIR, yang bisa didatangi oleh mahasiswa/i dan menerima segala macam bentuk aspirasi dari mereka, sehingga iven yang ditaja AKLaMASI ini membuat saya berfikir bahwa ini adalah jalan untuk saya bisa menyampaikan segala bentuk keresahan saya selama di UIR ini kepada Bapak Rektor. Kampus UIR, sebagaimana kata banyak mahasiswa/i khususnya yang kuliah di sini setiap kali mereka ditanya kuliah dimana? maka mereka sering menjawab kuliah dikampus UGM (Universitas Gerbang Marpoyan), saya sering mengelus dada sebenarnya Pak setiap kali ada Mahasiswa/i UIR yang menjawab demikian. Mungkin Bapak juga akan sama mengelus dada seperti saya. Kenapa mahasiswa/i yang kuliah di sini sepertinya tidak begitu bangga dengan kampusnya ya Pak? Walaupun beberapa waktu yang lalu pernah dikunjungi Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal secara kasat mata kampus UIR ini bangunannya sangat megah, tamantamannya indah, sejuk, dan agamis lagi ditinjau dari sisi namanya “Universitas Islam Riau”. Mungkinkah ada kesalahan dalam pengelolaan baik itu sistem birokrasi, keamanan, belajar mengajarnya, dan lain sebagainya? Sehingga itu semua menjadi faktor kemiskinan akan rasa bangga disebagian jiwa para mahasiswa/i yang kuliah di UIR. Saya rasa hanya hati nurani Bapak yang mampu menjawab permasalahan itu. Ada enam hal terkait dengan keresahan saya yang pada kesempatan ini ingin saya sampaikan kepada Bapak. Pertama, nama besar Universitas Islam Riau. Kampus kita ini menyandang nama Islam, itu artinya segala macam bentuk sistem yang diterapkan dikampus ini selalu mengaju kepada konsep Islam atau ada keterkaitan dengan Islam. Akan tetapi, kewajiban untuk mengenakan jilbab bagi setiap mahasiswi tidak diterapkan secara tegas dikampus ini? Dan busanabusana yang Islami kenapa tidak dijadikan sebagai busana wajib yang harus dilaksanakan dan dipatuhi oleh para mahasiswa/i, padahal sangat relevan sekali aturan itu untuk diterapkan, mengingat nama kampus kita adalah Universitas Islam Riau, dan berada di


Provinsi yang memiliki budaya Melayu dan secara jelas memiliki keterkaitan dengan estetika Islam, sebagaimana telah dijelaskan UU Hamidy, 1991, dalam karyanya berjudul “Estetika Melayu di Tengah Hamparan Estetika Islam�. Selain itu masalah kegiatan masjid, kenapa UIR tidak mampu membuat pengajian setiap malam di Mesjid Munawwarah, sehingga apabila shalat Maghrib ataupun Isya di Mesjid itu bisa banyak jumlah shaf dan barisannya, padahal dengan kemapanan kampus UIR yang telah berusia 50 Tahun seharusnya bukan hal yang sulit saya rasa untuk membuat kegiatan yang bertujuan meramaikan mesjid itu. Kedua, Aturan di larang merokok di selingkungan kampus UIR. Awal pertama kali saya masuk dikawasan Universitas Islam Riau, saya melihat banyak tulisan terkait dengan dilarang merokok di lingkungan kampus, tapi saya sering menemukan beberapa mahasiswa ataupun dosen yang tidak mengindahkan aturan itu. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, apa langkah tegas dari pihak kampus untuk meminimalisir hal ini? Ketiga, Lokasi parkir kendaraan. Di Fakultas Teknik, lokasi parkir kendaraan sudah sangat sempit sekali kesannya, walaupun saya melihat banyak lahan yang bisa dimanfaatkan untuk lokasi parkir. Begitu juga dengan fakultas yang lain. Lantas apa master plan dari pihak kampus untuk menangani masalah ini? Bisakah itu ditampilkan keseluruh sudut kampus dalam waktu dekat ini? Sehingga mahasiswa puas dan tenang akan permasalahan terkait dengan sempitnya lokasi parkir yang ada karena sebentar lagi akan diselesaikan oleh pihak kampus. Keempat, Pelitnya alokasi dana kegiatan mahasiswa dari kampus. Saya nyaris tiga tahun belajar di beberapa pergerakan mahasiswa yang ada di UIR ini, tapi saya sering menemukan pelitnya pihak rektorat memberi bantuan dana untuk mendukung agenda-agenda yang dibuat mahasiswa. Bahkan selevel Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat universitas pun hanya mendapatkan dana dengan besaran Rp 750.000 untuk satu agenda kegiatan. Apa sebenarnya masalahnya? Bagaimana kampus kita ini akan unggul 2020 jika dukungan dana dari pihak kampus terhdap agenda mahasiswa sangat miskin sekali? Sementara sinergisitas mahasiswa dan pihak kampus sangat diperlukan dalam mewujudkan Visi UIR Unggul 2020. Kelima, Langkanya informasi serta pembinaan dari pihak Universitas Islam Riau terkait dengan ivent-ivent Nasional dan Internasional yang bisa diikuti oleh mahasiswa UIR. Entah saya yang kurang aktif, atau memang pihak kampus yang lemah langkah dalam memberikan informasi itu. Keenam, tidak adanya transparansi dari pihak UIR terkait dengan pengunaan dana, baik itu yang diperoleh dari mahasiswa, usaha-usaha, dana hibah mungkin jika

ada, serta hal lain sebagainya. Praktis selama saya kuliah di UIR ini, tidak pernah saya menemukan tranparansi itu. Sebenarnya masih banyak keresahan-keresahan saya yang lain terkait dengan kondisi kampus kita ini, namun yang paling krusial saat ini menurut saya adalah enam hal itu. Saya harap Bapak adalah sosok pemimpin yang dapat menjawab dan menyelesaikan segala bentuk keresahan saya itu, sehingga Visi UIR “Menjadikan Universitas Islam Riau yang unggul dan terkemuka di Asia Tenggara pada tahun 2020� dapat terwujudkan. Mohon maaf apabila kata yang kurang berkenan di hati. Karena sebagai seorang mahasiswa yang senantiasa ingin turut serta dan melihat kampusnya benar-benar terkemuka se Asia Tenggara, saya harus menyampaikan hal ini. Terima kasih atas perhatian Bapak telah bersedia membaca surat ini, dan bersedia menindak lanjuti dengan hal yang positif. Terima kasih juga telah mau dan bersedia untuk menjadi Rektor kami di Universitas Islam Riau, semoga jabatan yang Bapak emban saat ini akan dibalas dengan kebaikan oleh Allah swt, baik itu di dunia ataupun diakhirat kelak. Pak Topik menjahitnya kopiah, Kopiah dijahit dengan benang yang utuh Salam santun dan hormat dari, Setiyono

*Naskah ini terpilih sebagai Juara II dalam Lomba Menulis Surat untuk Rektor UIR 2012 yang ditaja Pers Mahasiswa AKLaMASI Universitas Islam Riau sempena Milad ke-19 AKLaMASI 16 Oktober 2012.

77


LAPORAN UTAMA

Kampus UIR mulai tampak sesak, antara beberapa gedung hampir tak ada jarak dan ruang gerak. Pembangunan gedung terus berlanjut, seolah tak perhatikan pentingnya area hijau atau taman tempat sekedar santai dan menghirup udara segar. Oleh Oka Alghifari

8

B

ANGUNAN utama di Kampus Universitas Islam Riau (UIR) kurang lebih ada 28 gedung. Mulai dari gedung perkuliahan sampai olahraga. Beragam bentuk arsitektur bangunan. Tak ada yang sama. Tapi hampir semua lembayung atapnya bermotifkan Melayu. Saat ini ada beberapa gedung yang lagi tahap pembangunan, gedung di belakang Fakultas Hukum, gedung di depan Fakultas Ekonomi, juga gedung Pascasarjana dan masih tahap renovasi gedung Fakultas Hukum. Dan hampir semua halaman dan pelataran yang mengelilingi gedung memakai paping blok ada juga disemenisasi, kehijauan di kampus UIR terasa makin berkurang. Pepohonan di lingkungan

kampus pun terus menurun, dari luas lahan 56Ha. Kampus tak ada menetapkan area hijau. Sekitar 34,7 Ha digunakan untuk parkir, 19Ha digunakan untuk bangunan —Sarana dan Prasarana, Gedung perkuliahan, dan Kantin. Saat hujan turun cukup deras air meng-genang di pekarangan fakultas, ini terlihat di Fakultas pertanian—kolam ikan meluap, genangan merembes dihalaman muka Fakultas. Hal serupa juga terjadi di pekarangan Pustaka UIR dan Rektorat UIR, air tampak menegang di bahu jalan juga di pekarangan tanaman eucalyptus—ditanam di samping dan depan gedung rektorat. Ini Sebab saluran drainase UIR tidak bekerja optimal. Pembangunan infrastruktur terus dicanangkan. Setidaknya ada empat bangunan yang akan di bangun di lahan UIR, Gedung Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) empat lantai di belakang Fakultas Teknik, Gedung

Rektorat lima lantai di Taman Samping FKIP seberang PKM, Asrama Putra di samping Gedung FKIP C dan Rumah Sakit UIR yang masih dalam perancangan. Abdulah Sulaiman, Pembantu Rektor (PR) IV mengatakan sekarang UIR tidak lagi membangun ke samping melainkan keatas, di 2013 UIR berkerjasama dengan pemerintah akan bagun Gedung Fikom, tetapi yang menjadi perioritas pembangunan Gedung Rektorat. “Rencanaya Rektorat akan dibangun di taman tempat biasa anak sendratasik latihan menari,” tambahnya. Abdullah juga mengatakan, UIR juga telah menunjuk konsultan untuk membuat masterplan dalam mengatur pembuangan limbah di UIR. Rony Ardiansyah, Panitia Pembangunan UIR 2004–2009, berpendapat konsep pembangunan UIR masih menuju ke yang baik. Jika kedepan ingin lebih baik harus ada lahan yang cukup dan harus menuju ke green kampus dan green building, kemudian gedung yang hemat energi. “Artinya penghijauan di atas gedung, pada siang hari kita tidak perlu menghidupkan lampu lagi, jadi ruangan itu cukup cahaya matahari dan juga sirkulasi, Jadi hematkan...” Jimmi

Foto: Jimmi

Gedung UIR, JANGAN MEPET-MEPET!


Rekapitulasi Bantuan Gedung UIR 2009-2013

Sumber: Pembantu Rektor IV UIR ď ˛

9

Merasa Nyaman Biasa Saja Kurang Memadai

Sedang Sejuk

GENAB sudah 50 tahun usia UIR di tanggal 4 September 2012, setidaknya ada banyak cerita tentang bagaimana infrastuktur UIR sekarang. Suasana gersang di lingkungan kampus terasa saat matahari terik. Belum lagi suasana di dalam kelas perkuliahan yang gerah, tidak meratanya fasilitas seperti kipas angin semacam pendingin ruangan juga padat atau jarak antar gedung bikin suasana tidak kondusif, saat perkuliahan berlangsung. Beberapa mahasiswa berikan saran terkait infrastruktur UIR. Untuk itu AKLaMASI melakukan survey kepada 150 Mahasiswa UIR dari tiap fakultas. Jumlah ini tentu tidak bermaksud mewakili seluruh mahasiswa UIR yang setidaknya berjumlah 20.000an. Pada survei ini digunakan metode simpel, Random Sampling untuk penentuan sampel sementara dalam pengumpulan data mengunakan angket dengan pertanyaan tertutup. Survei dilakukan 1 desember 2012 sampai 20 januari 2013. Dari hasil survey yang kami lakukan, kebanyakan mahasiswa mengatakan suasana diruangan kelas panas, karena tidak seimbangnya kipas angin yang ada dengan jumlah mahasiswa. Mereka menyarankan pembangunan infrastruktur UIR lebih baik lagi, dan harusnya menyediakan tempat hijau publik. ď ˛ AKL


LAPORAN UTAMA Zaini Kunin dengan pendiri lainnya, ingin UIR sebagai perguruan tinggi di Riau yang basisnya Islam. Ternyata tak sepenuhhya cita-cita itu terwujud. Cukup sedikit di kampus ini menjadikan mendukung kampus Islami dan menjalankan Catur Dharma Perguruan Tinggi, dakwah.

Islam,” ujar Ali. Ali menilai, sampai saat ini hasil dari mengintregrasikan nilai-nilai Islam kedalam setiap mata kuliah belum mendapatkan hasil yang optimal. Karena butuh waktu lama melakukannya, ditambah perbedean persepsi dari setiap insan akademisi. “Kita perlu persamaan persepsi dulu.” Tentang selogan kampus madani, Ali bilang secara umum UIR sudah madani namun tak sepenuhnya dijalankan apa itu madani. Tidak hanya cukup slogan dan simbol. Dibutuhkan juga usaha terpadu dan kebijakan bersama. “Seperti Fakultas Agama Islam tidak melayani mahasiswa yang tak berbusana muslim,” katanya. “Aturan Jilbab pun tergantung dari fakultas. Makanya saat ini UIR kurang madani,”kata Ali.

Oleh Yosa Satrama Putra

KAMPUS MADANI MASIH SLOGAN yang punya pemikiran yang beda. Saya suka, ternyata mereka bergerak dalam dakwah,” katanya. Dia baca dan pelajari berbagai buku tentang dakwah. Sejak itulah Dia gabung dalam pergerakan dakwah. Peran Lembaga Dakwah Bukan hanya peran mahasiswa yang diharapkan untuk menjadikan kampus Islami. Sebagai institusi yang bergerak dalam bidang dakwah, Lembaga Dakwah Kampus (LDIK) UIR berperan memberikan masukan-masukan dan program kepada pimpinan universitas, dengan tujuan menciptakan kampus Islami dan melaksanakan kegiatan-kegiatan Islam. Program ini yang dijalankan LDIK. Menurut Ali Noer, Direktur LDIK, ada dua jenis kegiatan yang dilaksanakan, meningkatkan mutu pembelajaran dan kegiatan-kegiatan yang bersifat serimonial. LDIK saat ini coba terapkan kurikulum pembelajaran mengintregritaskan ilmu pengetahun dengan nilai-nilai Islam. “Sebab, dulunya ilmu-ilmu itu dari dunia

Berjilbab dan Prinsip Islam UIR wajibkan setiap mahasiswi muslim gunakan jilbab di kampus. Dalam pantauan AKLaMASI beberapa minggu ini, sebagian mahasiswi ada yang pakai ada tak. Des Suryani, Dosen Teknik Perangkat Lunak. Ia pernah tegur mahasiswinya yang tak pakai jilbab dengan cara dipanggil secara pribadi untuk dinasehati. Kemudian bukan hanya dalam berbusana saja menerapkan prinsip Islami, tapi ketika sedang mengajar mahasiswa nya pun, Des pasti memulainya dengan berdoa dan disudahinya dengan Alhamdulillah . Ia melakukan itu juga ingin meng-ingatkan, ”Banyak orang yang pintar tapi akhlaknya kurang,” katanya. Dedi Utama, Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Al-Kahfi UIR katakan, para pendiri UIR mendirikan kampus UIR dengan nuansa Islami. ”Maksudnya dalam kesaharian kita menerapkan prinsip-prinsip Islam.” 

Ilustrasi: Eko

10

M

USIK bergemuruh di Auditorium Soeman Hs Fakultas Hukum lantai tiga, puluhan mahasiswa mengenakan almamater biru Universitas Islam Riau, mereka semua berdiri sambil menggoyanggoyangkan jempol tangan mereka. Ada yang goyangkan jarinya ala kadarnya tapi ada juga yang semangat menggerakan jempolnya. “Ayo semua nya ikuti saya ya, biar kita rileks,” ucap Setiyono sambil menggerakan jempolnya. Dia coba ajak puluhan mahasiswa Teknik Perangkat Lunak UIR untuk santai, yang hadir diacara Informatic Familiarity Day (I-FaD) Januari lalu. Saat itu Tiyo diundang sebagai trainer sekaligus launching bukunya yang pertama, berjudul Manajemen Kritik. Tiyo ajak peserta untuk merenung sambil berdoa. Suasana begitu hening dan peserta pun terenyuh saat itu. Sambil memotivasi peserta, Tiyo juga ajak untuk selalu beribadah, di mana tujuan nya mengajak mahasiswa yang Islami. Tiyo, Mahasiswa Teknik Sipil UIR stambuk 2008. sejak dua tahun alu Ia sering jadi tariner. Materi yang disampaikannya pun biasanya motivasi untuk generasi muda Islami. Ia ingin jadi mahasiswa yang tidak miskin karya serta menjalankan Catur Dharma, dakwah. “Melalui training ini lah saya bisa menyampaikan dakwah.” Selain dengan memberikan training ia juga nulis buku, untuk memperkuat isinya disandingkannya dengan ayat-ayat Quran. Ia mulai suka dunia dakwah dari semester dua. “Saya tertarik dari senior


Zaini Kunin

Luhur, Pendiri Universitas Islam Riau Oleh Rahmi Carolina

M

UNCULNYA Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Daerah Riau sudah dibenih sejak berdirinya SMPI. SMPI tumbuh digabung dengan Sekolah Rakyat Islam (SRI) dan berbuah badan Lembaga Pendidikan Islam (LPI). Daya untuk mengembangkan kegiatan pendidikan semakin nyata. Bahkan sudah dipersiapkan untuk melahirkan sebuah perguruan tinggi. Mewujudkannya tahun 1957 didirikan Sekolah Persiapan Perguruan Tinggi Islam di Pekanbaru. Sekolah ini tak berkembang dengan baik dan hanya bertahan dalam satu tahun. Mempertahankan hal itu, LPI berikrar untuk mengokohkan diri dalam bentuk sebuah yayasan. Tepat tanggal 30 maret 1957, berdasarkan Akte Notaris Syawal Sutan Diatas No. 10/1957 berdiri pula Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Daerah Riau, dengan Ketua Umum Soeman Hs dan Ketua Harian Zaini Kunin. Zaini Kunin adalah anak laki-laki ke tiga Imam Kunin. Ia pemuka masyarakat tersebab pengetahuan dan pendidikannya yang lebih dibanding orang-orang di kampung. Imam Kunin juga memiliki tanah dan kebun yang luas, sehingga digelar Imam Kayo. Isterinya, Syafiah. Mereka tinggal di desa pinggiran sungai Rokan, Lubuk Bendahara, Rokan Empat Koto, Kabupaten Rokan Hulu. Zaini pun dilahirkan di sana saat matahari sudah naik pada Desember 1922. Imam Kunin bertani selain kesibukannya sebagai Imam Mesjid serta Pemimpin Thariqat Naqsyabandiyah. Sementara Syafiah berjualan hasil kebun di pasar. Zaini enam bersaudara semuanya laki-laki. Umur delapan tahun ikut pendidikan di Sekolah Rakyat (SR). Semasa di sekolah, Zaini disayangi para guru karena sifatnya yang rajin dan tidak suka kelahi. Kalau diganggu, biasanya Zaini tidak melawan. “Cerita-cerita dari keluarga, waktu kecil-kecil dulu ayah dipanggil Luhur, karena kepribadiannya,� kata Husniati Zaini anak Zaini Kunin. Namun sebab keterbatasan pendidikan di sana, beliau hanya sampai kelas tiga saja. Lalu pada umur 11 tahun, Zaini meneruskan belajarnya di madrasah. Jaraknya lebih kurang 30 kilometer dari Lubuk Bendahara. Di sana, Zaini tinggal dengan keluarga dekatnya, Haji Amin. Di madrasah Zaini dalami ilmu Islam. Berkat jasa Ustadz Jalaluddin, guru sekaligus yang memimpin madrasah mempengaruhi hati dan pikirannya. Ia terbilang pelajar yang pintar, rajin dan tekun belajar. Setelah dua tahun berguru dengan Jalaluddin. Di usia 14 tahun, Zaini berangkat ke Sei Syarik, Suliki Kabupaten Lima Puluh Kota Payakumbuh. Di Pesantren Adda’watul Islamiyah, Sei Syarik, Zaini dididik oleh pimpinan pesantren sekaligus gurunya, Syekh Abdul Ghani. Dua tahun berselang, Zaini menilai Syekh Abdul Gani sebagai guru yang telah berjasa membuat dirinya berpandangan luas dalam mengajarkan hidup sederhana. Terutama saat pertemuan para ulama dan guru-guru agama di Suliki ketika membahas masalah-masalah agama. Baginya pertemuan tersebut sangat berharga. Ia dapat menimba pengalaman bagaimana orangorang pandai bertukar pikiran, berbicara, berargumentasi serta berdiskusi dalam suasana

11


12

yang penuh keakraban. Tahun 1936, Zaini lanjutkan pendidikan di Ma’had Islami dipimpin Syekh Haji Zainuddin Hamidy. Ia seorang ulama besar Hafiz Alqur’an dan ahli hadist yang disegani. Zaini berhasil menamatkan ma’had hingga kelas 7 sebagaimana kurikulum yang berlaku di sekolah tersebut. Sewaktu di ma’had bakat berpidato Zaini mulai menonjol. Beberapa kali saat libur ia pulang ke Lubuk Bendahara dan Rokan, dan menyempatkan berdakwah di masjid dan surau. Zaini pulang ke kampung halaman, disaat tentara Jepang sudah memasuki wilayah Sumatera Tengah. Namun, tekadnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang agama Islam tidak terhenti begitu saja. Bersama beberapa teman seperjuangan, Zaini memprakarsai mendirikan sebuah Madrasah Diniyah Awaliyah yang diberinama ma’had Dini sekitar tahun 1942. Madrasah ini berdiri setelah terlebih dahulu Zaini bersama dan teman-temannya menjadi guru sukarela pada program Pemberantasan Buta Huruf (PBH) di kampungnya. Seiring berkembangnya madrasah, Zaini begitu aktif dalam kegiatan pengajian Alqur’an di surau dibawah pimpinan Ustadz Wahid Saleh. Ia diajarkan ilmu Tafsir, Fiqh, Mahfudzat dan bahasa arab. Murid-muridnya mencapai 100 orang yang berdatangan dari berbagai daerah sekitar seperti Pemandangan, Tanjung Medan, Kubu Pauh, Dasan dan sebagainya. Meski Zaini Kunin tak pernah mengecap jenjang pendidikan tinggi, namun tekadnya begitu kuat agar mampu mewujudkan sebuah perguruan tinggi yang berkualitas. “Alasan kuat ayah, supaya anak-anak di Riau bisa sekolah tinggi,” jelas Husniati. Melalui YLPI Riau, maka pada 4 September 1962 berdirilah Universitas Islam Riau (UIR) yang semata-mata dengan niat untuk membantu dan membangun pendidikan Islam. Mulanya UIR berada di jalan Prof Mohd Yamin. Gedung tingkat dua dengan dua fakultas, Hukum dan Tarbiyah. Universitas Islam Riau diresmikan oleh Kepala Bagian Urusan Perguruan Tinggi Agama, H. Anton Timur Jaelani, MA, mewakili menteri agama yang tak bisa hadir. Serta penandatanganan Piagam berdirinya UIR. Acara diadakan di Aula Kantor Gubernur KDH Tingkat I Provinsi Riau, Jalan Gajah Mada Pekanbaru. Bertahap UIR berkembang pindah ke jalan Kaharuddin Nasution yang dulunya masih hutan. Tanahnya dibeli berngsurangsur. Setiap ada yang menjual Zaini selalu mengiyakan untuk membeli, padahal uang belum jelas adanya. Lantas harta dan barang-barang dijual. Sebagian juga ada yang mewakafkan tanah. Berkat kegigihan Zaini pada tahun 1983 dilaksanakanlah pembangunan pertama untuk gedung Fakultas Pertanian, sehingga pada tahun itu juga Fakultas Pertanian resmi menempati gedung baru di Perhentian Marpoyan. Zaini berhenti menjadi kepala di kantor departemen agama, alasannya ingin mengabdi kepada UIR. Bahkan sempat mau dipindahkan ke Tanjung Pinang. “Bagaimanapun caranya, sekuat dan semampu saya akan tetap melanjutkanUIR,” kenang Husniati. Sebagai tokoh dan pimpinan YLPI Daerah Riau, beliau bekerja tanpa modal. Satu-satunya modal yang dimilikinya hanyalah niat yang ikhlas dan keyakinan yang besar akan mendapat pertolongan Allah SWT. Pernah di satu sore, orang-orang kebun UIR datang ke rumah Zaini. Mereka minta jatah berasnya. Padahal beras di rumah pas makan, uang di saku pun tak ada. Dia selalu berpegang pada prinsipnya, “Biar tak dapat asal orang dapat.” Saat itu terasa sangat susah, bahkan makan saja sudah di jatah; besikek. Zaini Kunin sosok ayah yang tidak terlalu dekat dengan anaknya. Sebab ia selalu sibuk bepergian jauh. Sangat memperhitungkan segala hal, terutama kebutuhan untuk anak. Zaini hanya mau membelikan sesuatu yang berhubungan dengan sekolah dan pendidikan. Selebihnya jangan harap. Tujuannya agar anak-anak hidup sederhana dan apa adanya. Sampai akhir hayat Zaini mengabdi pada UIR, dan berpesan pada anak-anaknya untuk tetap menjaga dan tidak mengabaikan UIR. Karena kelak juga akan dipakai generasi akan datang. 

Soeman Hasibuan

Pemurah, Pelihara Anak Orang Oleh Rahmi Carolina


S

OEMAN Hasibuan adalah salah satu pendiri Universitas Islam Riau (UIR) bersama Zaini Kunin dan Khadijah Ali. Dilahirkan 4 April 1904 di Batantua, Bengkalis. Soeman anak ketiga dari enam bersaudara. Putra dari Lebai Wahid Hasibuan dan Tarumun. Diberi gelar Lebai sebab pandai mengaji dan paham ajaran Islam. Ayahnya juga petani. Hidup sederhana. Sebagai seorang Lebai Ia pun ajarkan anak-anaknya hidup sesuai ajaran Islam. Lebai Wahid dihargai dan dihormati di Bengkalis. Awal mulanya Lebai Wahid dan Tarumun asli Kotanopan, Mandailing, Tapanuli Selatan. Di sana mayoritas Muslim. Mereka merantau dan memutuskan tidak akan balik lagi ke kampung asal. Ia juga melarang anak-anaknya. Entah sebab apa. Sejak kecil hingga akhir hayat, anak-anaknya tak pernah ke kampung tersebut. Setelah menikah Lebai dan Tarumun memutuskan menetap di Bengkalis. Perjalanan mereka dari kampung ke Bengkalis tidaklah segampang sekarang. Memakan waktu bertahun-tahun mengingat bahwa dahulu tak banyak orang memiliki kendaraan, darat maupun laut. Sehingga sebagian perjalanan ditepuh dengan berjalan kaki. Kedatangan mereka di Bengkalis disambut baik masyarakat setempat, sebab Lebai dan isterinya sangat ramah dan sopan santun. Tak sedikit orang menyenanginya. Tahun 1912 umur Soeman tujuh tahun. Ia masuk sekolah Melayu Gouevernement Inlandsch School (GIS). Sederajat Sekolah Dasar dan tamat pada 1918 . Lalu, beliau ikut ujian masuk Normal Cursus (Sekolah Calon Guru) di Medan. Sebanyak 24 peserta, Soeman menempati peringkat keempat dari enam orang yang diterima. Ia mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda sebesar Rp 4 perbulan selama menempuh pendidikan di Sekolah Calon Guru tersebut. Tahun 1920, ia telah menyelesaikan pendidikannya di Normaal Cursus, kemudian melanjutkan ke Normal School (sekolah guru yang sebenarnya) di Langsa, Aceh Timur dan tamat pada tahun 1923. Soeman kembali ke Batantua. Setelah tiga bulan ia diangkat menjadi guru Bahasa Indonesia di HIS (Holland Inlandsch School) sekolah Belanda di Siak Sri Indrapura. Tujuh tahun mengabdi menjadi guru beliau diangkat sebagai Kepala Sekolah Melayu dan Penilik Sekolah di Pasir Pengarayan pada tahun 1930. Sesaat jelang Kemerderkan RI tahun 1945, Soeman kemudian ditunjuk menjadi ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) di Pasir Pengarayan. Masih menjabat sebagai ketua KNIP, ia diangkat pula menjadi Anggota DPR di Pekanbaru Riau. Lalu sempat juga diangkat menjadi KPG (Komandan Pangkalan Gurilla) Rokan Kanan pada saat Yogyakarta diduduki Belanda. Tahun 1960 Soeman pensiun juga berakhirnya masa jabatan sebagai Kepala Jawatan Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Kabupaten Kampar, Pekanbaru. Baru saja memasuki pensiun, tahun 1961 ia diangkat menjadi anggota BPH (Badan Pemerintahan Harian) merangkap sebagai kepala

Bagian Keuangan di Kantor Gubernur Riau oleh Gubernur Riau. Saat itu Kaharuddin Nasution. Bukan hanya itu, kesibukan terbagi menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Daerah Riau dengan Zaini Kunin sebagai Ketua hariannya. Mereka berjuang bersamasama mendirikan UIR. Tenaga dan pikiran. “Kalau dulu pak Zaini aktifnya di kantor departemen agama kalau pak Soeman di departemen pendidikan. Karena punya misi yang sama maka bergabunglah mereka mendirikan UIR,” jelas Fahridar Hasibuan, cucu Soeman Hs. Soeman orang yang pemurah. Ia suka melihara anak orang. Dalam artian suka mengumpulkan anak orang, dijadikan anak angkat dai berbagai suku. Tidak sedikit. Sehingga rumahnya selalu ramai tempat kumpul-kumpul. Dari bujang sampai kawin. Salah satunya adalah Muhammad Sani, gubernur Kepulauan Riau yang sekarang. “Muhammad Sani dulu sama kami tinggalnya,” kenang Fahridar. Kadang Muhammad Sani datang, jalan sendiri mutar-mutar dekat kebun kelapa. Dia terangkanlah pada warga-warga bahwa dia dulu yang menanam. Ketika belajar di Sekolah Melayu, Soeman Hs mulai menggemari sastra. Sebagai usaha mengembangkan bakatnya dalam bidang sastra, beliau sering mengikuti pembicaraan ayahnya dengan para saudagar yang datang ke rumahnya tentang kehidupan di Singapura. Dari situlah, ia kemudian banyak berkhayal dan memperoleh banyak inspirasi, serta beberapa bahan cerita. Karena gemar membaca ia banyak memperoleh inspirasi di buku perpustakaan. Dua buku yang diminati ketika itu, Siti Nurbaya karya Marah Rusli dan Teman Duduk karya M. Kasim. Kepengarangan Soeman Hs juga muncul berkat dorongan dari gurunya, M Kasim yang sering menceritakan pengalamannya menulis. Tulisan-tulisan Soeman Hs dimuat dalam majalah ibukota. Ada juga yang harian. Di harian Indonesia Raya, Soeman tercatat sebagai penulis tetap, dan di majalah Harmonis, Jakarta (1977-1978) ia khusus mengisi kolom Menyelami Bahasa Indonesia. Di antara tulisannya yang pernah dimuat dalam kolom tersebut, yaitu: Senyum dan Tawa, Kalau Hari Panas Lupa Kacang Akan Kulitnya, Marilah Kita Bersikap Hidup Sederhana, dan lainlain. Selain itu, ia juga pernah menjadi pengasuh ruang siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di Stasiun RRI Pekanbaru yang ditayangkan dua kali seminggu. Pada tahun 1972, ia sempat menerbitkan sebuah majalah anak-anak bernama Nenek Moyang, meskipun hanya beberapa kali terbitan karena kesulitan dana. Soeman Hs meninggal dunia pada hari Sabtu 8 Mei 1999 di rumahnya, Jalan Tangkuban Perahu, Pekanbaru dalam usia 95 tahun. Ia meninggalkan seorang istri bernama Siti Hasnah dan sembilan orang anak yakni Syamsul Bahri (sulung), Sawitri, Syamsiar, Faharuddin, Mansyurdin, Burhanuddin, Najemah Hanum, dan Rosman (bungsu), serta sejumlah cucu dan cicit. 

13


Rawi Kunin

Perjuangan & Romantika Hidup Oleh Barry Eko Lesmana

B

ERPERAWAKAN sedang, tidak terlalu tinggi, perempuan berumur 70 tahun ini jalan tertatih. Selangkah demi selangkah susuri gang antara lokal-lokal Fakultas Hukum. Ia gunakan tongkat untuk membantu. Tokat dengan cakar empat di ujung bawahnya. Siang itu ia pakai baju hijau, jilbab bermotif beludru juga warna hijau. Ia baru saja keluar dari ruang rapat kantor YLPI. Ia Dra Ida Rawi, istri rektor UIR pertama, Rawi Kunin SH. “Kamu wartawan yang mau wawancara saya?” tanyanya. Sebelumnya kami sudah buat janji. Ida cerita perjuangan suaminya membangun UIR. Keinginan Rawi Kunin tak terbendung lagi untuk membangun UIR. “Ia lihat UIR ini punya potensi yang sangat bagus untuk dikembangkan. Ditata dengan profesional. Niat ikhlasnya ingin mendidik anak-anak daerah yang tidak belajar keluar daerah,” kata Ida. Waktu jadi rektor—dulu namanya dewan presideum—Rawi punya program khusus untuk anak daerah yang tidak mampu biayai kuliah. Ia beri kuliah gratis. Sekarang orang yang diberi kuliah gratis sudah banyak berhasil. “Ada yang sudah jadi pengacara, dosen, asisten bupati juga,” tutur Ida. Ida jadi saksi perjuangan Rawi bangun UIR. Rawi bukan hanya korbankan waktu dan pikiran tapi juga finansial. Suatu kali suaminya meminjam uang ke BAPINDO sebesar 2 M. Rawi gadaikan delapan sertifikat tanah yang ia punya. Uang itu digunakan untuk membangun Fakultas Teknik, Mesjid Munawaroh dan Fakultas Kedokteran. “Ironisnya dek, itu tidak pernah dikonsultasikan pada saya , saya yakin, karena dia takut saya tak mengizinkan,” tutur Ida. Rawi jadikan toko, rumah, dan tanah sebagai jaminan ke bank. “Sebagai perempuan, saya takut, gak terbayang seandainya rumah diagunkan– dijaminkan, itulah sebabnya dia tidak pernah kasih tau saya.” Padahal waktu itu, anak perempuan Ida ikut ke bank, tapi juga tak pernah cerita ke Ida perihal peminjaman uang. “Barangkali dia sama papanya udah sekongkol,” kata Ida sambil terkekeh. Ida baru tau pada awal november 1992. “Saya diberitahu 38 hari sebelum suami saya meninggal,” Ceritanya, ketika itu Ida dan Rawi di Jakarta. Rencana besoknya, mereka hendak terbang ke Mesir untuk hadiri konferensi Islam sedunia di Iskandariyah. Ketika sedang menonton televisi, ada berita terjadi gempa di Mesir. “Aduh ada gempa ni Pa, besok kita terbang kesana. nanti kalau seandainya kita terkena gempa suami-istri, anakanak kita bagaimana,” katanya pada Rawi panik. Saat itulah Rawi baru ceritakan perihal peminjaman uang 2 milyar dan seluruh harta mereka sebagai jaminan ke BAPINDO. “Saya terkejut.” “Perasaan saya campur aduk, entah mau nangis, mau marah, semua campur aduk, galau betul saya,” tutur Ida. Tapi Rawi cepat meyakinkan Ida. “Tak usah dipikirkan sangat, papa sudah mencari jalan keluar,” Ida tirukan perkataan Rawi waktu itu. Rawi sedang usahakan mensertifikatkan tanah YLPI. “Setelah sertifikat selesai baru sertifikat kita tukar. Mungkin dua minggu lagi sertifikat itu keluar,” kata Rawi. Selesai penejelasan itu Ida baru tenang. Masa hidupnya Rawi sempat mendirikan Bank


Unisritama. Waktu itu, Saleh Djasit, Bupati Kampar yang resmikan Unisritama. Habis peresmian, Rawi mencegat Ida.Ternyata Rawi minta Ida simpan uang pribadi mereka sebesar 100 juta di Unisritama. “Saya terkejut, dalam hati saya, yang benar ni orang, 100 juta,” kata ida. Rawi jelaskan, uang itu dipergunakan sebagai modal awal Unisritama. Kembali Ida turuti keinginan Rawi, memberikan uang 100 juta hasil pernikahannya. Ida dan rawi menikah 14 mei 1967. Ida mengenal Rawi ketika dia masih kuliah semester 5 di Sosial Politik (SOSPOL)—sekarang FISIPOL —dan juga sebagai pegawai administrasi Fakultas Ekonomi UNRI. “Sedangkan pak Rawi dulu masih single dan bujang.” Masa itu, Rawi jadi dosen luar biasa hukum perpajakan Fekon UNRI. “Setiap habis ngajar, Bapak mampir keruang dekan untuk berbincang-bincang. Masa itu ruang dekan dan pegawai itu satu, bergabung,” kenang Ida. Menurut Ida, Rawi orang yang suka membaca. Terutama buku soal hukum—karena juga dia orang hukum—juga baca buku agama, budaya dan filsafat. Dirumah , Rawi punya pustaka sendiri. Ida ingat kebiasaan suaminya yang sering bangun pagi-pagi. “Biasanya shalat subuh dia yang membangunkan, dia bangun duluan, kalau dzikir dia lama sekali,” kata ida. Ia kenal sosok Rawi orang yang agamis. Ia ingat, ketika Rawi pergi keluar kota, di dalam tasnya harus ada sajadah dan surat yasin. “Sajadah dan surat yasin itu tidak pernah tinggal. Kalau baju, bapak bilang bisa dibeli” kata Ida. Makanya kalau pergi ke luar kota, Rawi hanya bawa dua atau tiga helai baju. Rawi juga di mata Ida orang suka berterus terang. Pernah suatu hari ketika rawi ikuti pelatihan di Padang. Saat pulang Rawi duduk bersebelahan dengan dosen UNRI. Masih gadis. Tiba di rumah Rawi bilang ke Ida, dia duduk bersebelahan dan ngobrol masalah pendidikan. “Itu perlu saya kasih tau sama yu, nanti kamu salah paham, dari pada dengar dari orang bapak pergi bukan sama istri kan aneh, nanti kamu bisa kesurupan,” kata Rawi. Rawi suami yang romantis dan setia. Satu ketika saat Ida ikut penataran ilmu sosial dibandung selama 17 hari. “dua kali dia kirim surat,” kata Ida. Teman-teman yang ikut pelatihan meledeknya. “Mereka bilang, setianyalah orang Riau, kami saja dari 27 propinsi, kekasih kami tak pernah kirim surat,” kenang Ida. Begitulah sosok Rawi bagi Ida. “Tak bisa saya lupakan, tak pernah saya lupakan.” Ada kisah yang paling romantis yang Ida ingat. Dia mau pulang kampung, ada keluarga meninggal. Pas itu Rawi tak ikut. Ida masuk mobil, tiba-tiba Rawi panggil Ida masuk ke rumah. Ida turun dan masuk. “Ada apalagi sih Pa? Ini udah mau berangkat.” Rawi masuk kamar, diambilnya syal dan dibalutkan kebadan Ida. “Saya bukan anak bayi lagi.” “Kamu kan mudah masuk angin, ini jalan malam, biasanya angin malam kencang dari siang, nanti masuk angin,” kata Rawi. Mengingat kisah itu, Ida selalu nangis. “Saya pikir, Gak dapat lagi orang seperti itu,” kata Ida.

15


Chadijah Ali

UIR Dahulu

C Ibu yang Demokratis Oleh Barry Eko Lesmana

HADIJAH Ali, tokoh perempuan yang berkiprah dalam dunia Pendidikan di Riau. Tahun 2010 lalu Ia dapat Anugerah Baiduri, sebagai Kategori Sabitah Baiduri selaku Tokoh Pendidikan Perempuan Riau, sebab ia mendirikan Yayasan Diniyah Puteri yang bergerak dalam bidang pendidikan di Riau. Ia termasuk pendiri Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Riau yang juga mendirikan Universitas Islam Riau (UIR) dan beberapa sekolah Islam di Riau. Putri ketiga Chadijah, Prof Dr Ellydar Chaidir SH MHum cerita perjuangan ibunya ikut dirikan YLPI. Sebelum YLPI berdiri, Chadijah bersama Baharudin Jusuf dirikan Sekolah Dasar (SD) Islam dan Soeman Hasibuan bersama Zaini Kunin dirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam pada 25 September 1950. Mereka sepakat menggabungkan SD Islam dan SMP Islam untuk mendirikan Yayasan Pendidikan Islam (YPI). Kemudian berkembang, dan sampailah berdiri Universitas Islam Riau, dan tahun 1955 YPI ganti jadi YLPI. “Selain mendirikan YLPI, ibu juga salah satu tokoh pendiri Rumah Sakit Ibnu Sina, dan terakhir mendirikan Yayasan Diniyah Puteri,” kata Ellydar. Chadijah Ali dilahirkan 30 Oktober 1925, wafat tahun 1987. Nama Chadijah Ali diabadikan sebagai nama jalan di samping Jalan Juanda. sebab Pemerinatah Provinsi Riau menganggap Chadijah adalah tokoh pendidikan yang di Riau. “Perjuangan orang dulu itu ikhlas, tak mengharapkan apa-apa. Semua dikorbankan untuk kemajuan pendidikan di Riau,” kata Ellydar. Selain sebagai tokoh pendidikan, Chadijah juga seorang mubaligh yang cukup terkenal waktu itu. Selain giat dalam pendidikan dan keagamaan, Chadijah juga dikenal sebagai seorang politisi. Pensiunan departemen penerangan ini, pada tahun 1950-an pernah tergabung di Partai Masyumi dan terakhir bergabung dengan PPP tahun 1960. Ellydar ingat pesan ibunya, agar kelak bekerja, harus jujur, ikhlas, dan harus bekerja keras untuk mencapai sesuatu. “Ingat dimanapun anda berkerja anda diawasi oleh Allah,” ingat Ellydar. Di keluarganya, Chadijah mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan pendidikan Islam. Dia sangat konsen pada pendidikan Islam. Maka pada anakanaknya harus mendapatkan pendidikan agama, setelah itu baru memilih fakultas yang mereka minati. “Beliau bukan


sekedar ibu rumah tangga biasa, Ibu juga pernah jadi Anggota Dewan Provinsi Riau.” Menurut Ellydar, ibunya, Chadijah ali seorang yang sangat demokratis. “Dia orangnya demokratis dalam mengambil keputusan.” Ibu tidak memaksakan kehendaknya dalam mengambil keputusan, cenderung dialogis dan diskusi. Chadijah yang gabung di PPP, sedangkan Ellydar gabung di Golkar. “Itulah buktinya, ibu saya demokratis, meskipun gabung di PPP, ibu tidak keberatan saya gabung dengan Golkar, terserah pada anak-anaknya.” “Jadi orang tua saya emang orang pergerakan, orang politik.” Pada anak-anaknya, Chadija selalu memberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri-sendiri. Bebas memilih sekolah, setelah lulus mau jadi apa, dan beraktifitas terserah pada anaknya, Ia tak pernah maksa. Meskipun Chadijah sibuk di luar, tapi tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai Istri sekaligus Ibu dari sembilan orang anak-anaknya. “Itulah keistimewaannya, ibu bisa membagi waktu dan kami tidak pernah merasa kehilangan,” kenang ellydar. Chaidir Anwar, suami Chadijah selalu men-support kegiatan-kegiatan Chadijah. “sebagai suami istri, tentu mereka harus saling membantu, bukan hanya fisik, mental, finansial. juga tidak hanya membesarkan anaknya, juga harus membesarkan masyarakat,” ujar Ellydar. Di samping kesibukannya sebagai pegawai penerangan, Chadijah juga mengajarkan ilmu keputrian, seperti keterampilan memasak, menjahit, membordir. Ia selalu ingatkan anakanaknya, meskipun sudah sekolah tinggi, harus bisa memasak, harus punya keterampilan. “Makanya sampai sekarang, saya masih kepasar, memasak, dan tetap melayani suami, karena begitulah ajaran Ibu,” kata ellydar. Meskipun ada pembantu di rumah, tapi menurut Ellydar, itulah kodrat sebagai istri. Ada yang menarik dari Chadija. Sebagai seorang nenek, harusnya Dia sangat dekat dengan cucunya, tapi Chadijah tidak. Ellydar cerita, bukan Ibunya tidak sayang terhadap cucucucunya, tapi biarkanlah cucu-cucunya itu bersama ibunya. “Biar kalian tahu, bagaimana mendidik dan membesarkan anak,” kata Ellydar menirukan perkataan Chadijah. 

17


LAPORAN KHUSUS Kampus UIR dengan Sekitar

Di Balik Kampus Banyak Cerita Keberadaan kampus UIR dengan lebih 26 ribu mahasiswa berdampak pada lingkungan sekitar. Menggerakan perekonomian, mulai dari loundry kiloan, warung nasi, hingga usaha kos-kosan. Tapi, ternyata juga ada persoalan sosial di masyarakat, hingga UIR membuat regulasi khusus. Bagaimana pengaruh UIR terhadap perkembangan ekonomi? Bagaimana pula persoalan yang muncul di masyarakat?

Oleh Wahid Irawan dan Winda

18

K

AMPUS Universitas Islam Riau (UIR) terletak di Jalan Kaharuddin Nasution Nomor 113 Perhentian Marpoyan. Jalan lebarnya sekitar 7 meter dengan pembatas median. Di kanan kiri Jalanan ruko berderet. Mulai dari toko kelontong, warnet, tempat fotocopy, toko baju juga swalayan. Tepat di depan kampus ada halte bus Trans Metro Pekanbaru (TMP). Sore itu, medio Desember halte bus dipenuhi antrean mahasiswa. Di waktu yang sama, sekira 500 meter dari gedung Pasca sarjana di desa Tanah Merah. “Sreek... Sreek…” bunyi sapu bergesek tanah. Terlihat lelaki paruh abad menyapu halaman rumah. “Rumah Pak RT di mana ya Pak?” saya bertanya. “Ketua RT yang mana satu?” ia balik tanya sembari terkekeh. Sebentar, Ia mengajak masuk ke rumah. Rupanya dia ketua RT 03 RW 2 Tanah Merah, Kampar yang kami cari. Pantas saja dia terkekeh. Syafrudin namanya. Tiap pagi dan sore kalau tak ada kegiatan Dia sapu sekeliling rumah. Hari-hari ia bekerja jadi petugas pemadam kebakaran Bandara Sultan Syarif Qasim (SSQ), Pekanbaru. “Ini untung saya ada di rumah biasanya saya kerja,” katanya. Dalam sehari ia kerja 12 jam, seminggu hanya off dua hari. Saat itulah dia di rumah. Desa Tanah Merah sangat dekat dengan kampus UIR. Tepat di belakang gedung Pasca sarjana. Ada banyak rumah kos di sini. Penghuninya kebanyakan mahasiswa. Soal kehi-

dupan mahasiswa, Udin cerita bagaimana permasalahan mahasiswa di tengah masyarakat. “ Gak sampai pergaulan bebas. Hanya pernah ada yang berkunjung sampai larut malam, biasanya kami tegur.” Sebagai ketua RT beberapa bulan lalu Udin pernah dipanggil oleh pihak rektorat UIR bersama masyarakat lainnya. Mereka bincangkan masalah penanganan perilaku mahasiswa di lingkungan sekitaran kampus. Rencananya pihak UIR akan buat peraturan soal itu. “Tapi sampai saat ini kami masih menunggu peraturan tersebut,” ujarnya. Tanpa sepengetahun Udin, sebenarnya rektorat sudah buat aturan. Tertanggal 10 oktober 2012 keluar Keputusan Rektor UIR Nomor 388/ UIR/KPTS/2012 tentang Tata Tertib Kehidupan Kemahasiswaan di Luar Kampus. Menurut Pembantu Rektor (PR) III , Iskandar Johan peraturan tersebut sudah disosialisasikan pada RT sekitar, pemilik kos, juga mahasiswa. Dasar dibuatnya peraturan tersebut jelas Iskandar Johan mengingat banyaknya mahasiswa kos di sekitar kampus. Maka dipandang perlu ada peraturan dalam berperilaku di luar kampus. Terutama di lingkungan tempat tinggal mahasiswa yang berdekatan dengan kampus. “Tapi untuk penanganan masalah sendiri UIR menyerahkan kepada pihak RT setempat di mana mahasiswa tersebut tinggal. Bila mereka lapor ke kampus, pihak UIR akan memproses sesuai dengan tata tertib kehidupan mahasiswa di luar kampus,” terang Iskandar Johan. Peraturan itu berisi kewajiban, hak, pelanggaran dan sanksi terkait mahasiswa UIR di luar kampus. Ada

juga larangan berisi poin apa saja yang tak boleh dikerjakan. Misalnya berzina, melakukan tindakan kriminal, sampai masalah pakaian juga diatur. Sanksinya mulai dari teguran lisan, tidak dilayani administrasinya, sampai dilaporkan ke polisi. Sementara Udin dan warga sekitarnya masih gunakan aturan lama, yang berlaku sejak sepuluh tahun lalu. Misalnya, kalau ada mahasiswa baru nge-kos harus lapor ketua RT. Tentu membawa fotocopy KTP bagi mahasiswa baru atau KTM. Mengenai sanksi untuk pelanggaran berat — seperti tertangkap berzina —mereka mengusir dari kampung. Juga ada denda. “Tapi ini pemuda yang buat sanksi itu berupa denda sebesar 1,5 juta,” ucap Udin. Menurut Udin hal itu dilakukan semata agar mahasiswa menyatu dengan masyarakat. Dan membuat mereka mematuhi kebiasaan tempat mereka tinggal. Tapi sejauh ini kehidupan bermasyarakat mahasiswa tak ada masalah berarti.


Foto Atas (Wawan) : Salah satu Warung Nasi milik Gianto di Jalan Air Dingin tampak begitu sepi saat jam makan siang di waktu mahasiswa liburan semester.

Foto: Wawan dan Eko

Foto Bawah (Eko) : Ruko, Kos-an, dan tempat bisnis lainnya begitu pesat perkembangannya di Jalan Karya I. Dulunya masih semak-semak, kini sudah rata dengan Ruko.

Cerita lain datang dari Yudi. Pria 45 tahun, ketua RT 03 RW 04 Air Dingin, Kelurahan Simpang Tiga. Dia sempat kuliah di Fakultas pertanian UIR tahun 1990-an. Dalam pandangannya ada perbedaan yang mencolok antara mahasiswa saat dia kuliah dan sekarang. Katanya ditahun 90-an mahasiswa sering berpartisipasi

kegiatan masyarakat. Tapi sekarang dia sudah tidak lihat itu. Yudi juga prihatin persoalan mahasiswa di lingkungannya. Pergaulan bebas jelasnya, pernah terjadi. Bahkan tak jarang sering dia jumpai kondom di selokan. Dia hanya bisa memberikan nasehat pada mahasiswa agar pergaulannya dijaga.

Dia berharap agar mahasiswa baru yang nge-kos di lingkungan RT 03 RW 04 Air Dingin melapor padanya. Karena hanya sebagian kecil yang melapor padanya. Selain masalah sosial, justru perekonomian sekitar berdampak positif. Dimulai tahun 1983 banyak bangunan kos-kosan berdiri. Sejak kepindahan UIR—dari kampus Mohd Yamin—ke Perhentian Marpoyan. Jumlah mahasiswa UIR yang lebih dari 26 ribu membuat usaha rumah kos semakin berkembang. Selain kos, pada tahun 90-an mulai dibangun asrama putra dan putri. Semacam pondokan. Faturrahman ketua RT 02 RW 05 Komplek Dokagu, Kelurahan Simpang Tiga, melihat geliat ekonomi warga sedang bergerak. “Itu karena banyaknya kos-kosan berdiri, warnet, warung nasi dan loundry,” katanya. Salah satu pelaku usaha Indah Puspita. Dia buka loundry di Air Dingin sejak 2011. Saat ini indah punya tiga karyawan untuk bagian cuci dan gosok. Dia memilih tempat usaha loundry dekat kampus karena kondisinya ramai. Sekarang pelanggan tetapnya tak kurang dari 20-an orang. Pelanggan Indah sehari-hari adalah anak-anak kos itu. Selain usaha loundry, usaha warung nasi juga ‘menggeliat’. Contohnya warung nasi Tanpa Nama yang berada di Air Dingin milik Gianto. Warung ini berdiri tahun 2007. Awal berdiri warung ini hanya menyediakan bahan baku nasi dua kilogram dan ayam dua potong, sebulan kemudian nasi menjadi 15 kilogram dan ayam 10 kilogram. Dalam waktu lima bulan ayam meningkat 100 kilogram. Gianto sendiri tak nyangka usahanya bakalan besar. Bermodal uang 8 juta-an hasil kerja jadi karyawan di Kantin 21. Saat ini kantin Tanpa Nama bisa buka cabang di jalan Karya. Berbeda saat awal berdiri hanya sebuah warung kecil. Sekarang keuntungannya Rp500 ribu perhari. Gianto merasa keberadaan UIR sangat berarti bagi bisnisnya. Saat masa libur kuliah. Konsumennya yang ratarata mahasiswa berpengaruh sangat terhadap omzetnya. “Kalau para mahasiswa pada libur penjualan ikut sunyi. Kalau biasanya 100 kilogram dihabiskan perhari, dihari libur cuma 10 kilogram. Jadi bisa dikatakan mahasiswa adalah pelanggan utamanya.” tutup Gianto. 

19


FOTOGRAFI

20


21


PERANGI KELAPARAN Oleh Barry Eko Lesmana

S

ELASA Malam, Minggu kedua Januari. Kenderaan masih ramai melintasi Jalan HR Soebrantas. Di Panam Paradise, satu cafe letaknya tepat seberang Simpang Tabek Gadang. Beberapa anak muda sedang kumpul. Duduk melingkari meja. Mereka ini para Grilyawan Komunitas Berbagi Nasi Pekanbaru. Malam ini mereka akan susuri jalan sambil bagi-bagikan nasi. Sembari menunggu para gerilya lain datang dan amunisi terkumpul, mereka ceritacerita lepas. Canda juga ketawa. Muhammad Afith Abdallah, lelaki 20 Tahun, ia satu di antara beberapa Grilyawan Berbagi Nasi Pekanbaru. Ia juga Mahasiswa Bahasa Inggris FKIP UIR. Afith cerita bagaimana komunitas Berbagi Nasi berdiri di Pekanbaru. Katanya komunitas ini merupakan aksi sosial. Gerakan bagi-bagi nasi pada orang tidak mampu yang hidupnya di

jalanan. “Berbagi Nasi Pekanbaru ini aksi sosial, tujuannya bagi-bagikan nasi kepada teman-teman yang kurang mampu, yang masih tidur beralaskan bumi beratapkan langit.” Afith berkisah saat dirinya dan temannya Ari, yang punya ide mendirikan komunitas ini. Saat itu mereka berbual lepas nyantai sambil makan, di Panam Paradise. “Kau udah kenyang?” tanya Ari. “Udah.” “Kau lihat orang yang tidur di pinggir ruko itu, mau kau belikan nasi?” “Kalau duit kau tak ada, pake duitku ni, belikanlah nasi. Terus kasi sama orang itu,” seru Ari. Ari terus menyugesti, “Apa tidak malu, kita kenyang, orang-orang di sana hanya melihat kita makan di sini.” Afith terharu. Berpikir, merasa nggak enak kalau dia bisa makan enak, padahal di depannya masih banyak orang yang belum makan satu harian. Sudah jam sembilan malam. Tujuh Gerilyawan dan Satu Grilyawati sudah berdatangan.

Amunisi pun sudah terkumpul 63 bungkus nasi. Mereka briefing. Afith lansung pimpin briefing. Bahas rute yang akan mereka lewati, Jalan HR Subrantas, Simpang SKA, Jalan Nangka kemudian Sudirman. Lepas bahas rute. Para Grilyawan berdiri. Mereka bacakan sumpah; “Kami putra-putri berbagi nasi berjanji, mempersatukan indonesia dengan sebungkus nasi Kami putra-putri berbagi nasi mengaku berbangsa satu bangsa yang mau berbagi nasi Kami putra-putri berbagi nasi menjunjung bahasa persatuan, bahasa lapar” Habis baca sumpah. Afith yang pimpin konvoi. Para grilya bergerak. Aksi mulai lewat Jalan HR Soebrantas menuju Simpang empat Pasar Pagi Arengka. Berjarak sekitar 100 meter dari Panam Paradise, Lelaki paruh baya berjalan pakai tongkat kayu, kenakan tudung kedaung, baju piyama lengan baju dilipat sampai siku, celana pendek coklat di bawah lutut. Di tangan kirinya ember biru kecil berisi duit


Foto: Eko

Berbagi Nasi Pekanbaru recehan. Grilyawan pun berhenti. Afith turun dari motor. Didekatinya lelaki itu. “Bapak sudah makan?” tanya Afith. “Sudah, saya sudah makan.” “Ini ada rezki untuk Bapak,” sela Afith sambil memberikan Amunisi. “Terimakasih Nak.” Mulut lelaki itu sambil komat kamit seperti mendoakan para Grilyawan. Perjalanan lanjut ke Simpang empat lampu merah Pasar Pagi Arengka. Rupanya di sana Ari sudah menunggu. “Udah makan ni semua? Kalau belum, yuk makan dulu, masa kita mau bagi nasi, tapi kita belum makan,” seru Ari. Rupanya Grilyawan Berbagi Nasi pada belum makan malam. Mereka menuju rumah makan dekat pasar itu. Ari adalah Jendral Berbagi Nasi Pekanbaru — sebutan Koordinator lapangan (Korlap) — dan termasuk pendiri komunitas ini. Nama lengkapnya Alazhari Refni. Ia juga Mahasiswa Akuntansi, Fakultas Ekonomi UIR. Tentang Komunitas Berbagi Nasi Pekanbaru, Ari terinspirasi dari Abangnya Rio. Rio tinggal di lampung. Waktu ke Bandung, Rio pernah ikut turun langsung ke jalan untuk bagibagikan nasi dengan komunitas berbagi nasi di Bandung. Lalu Rio ajak Ari bikin komunitas serupa di Pekanbaru. Kemudian Ari coba ajak temantemannya. Banyak yang tertarik. Dan sampai saat ini komunitas berbagi nasi tidak punya anggota tetap. “Kita tidak punya member tetap. Ini bebas, tidak terikat. Gak paksaan. Mau ikut ayo, yang mau cabut juga gak apa.” Yang gabung dengan komunitas ini ada mahasiswa, wartawan, presenter juga aktivis. “Anggotanya macam-macam, meskipun sekarang rata-rata anak UIR” Kata Ari. Komunitas ini pilih malam untuk melakukan aksi. Sebab siang sasaran mereka pada sibuk. Ada yang ngamen, ngemis, mulung atau jual koran di pertigaan lampu merah. Rute yang mereka lalui biasanya menyisiri jalan-jalan protokol, juga ke pasar-pasar. “Rute kita tempat yang banyak gepeng,” kata Ari. Kalau Grilyanya tambah, mereka akan bagi tim, “Biar sudut-sudut Pekanbaru bisa kita rangkul dengan berbagi nasi.” Gerilyawan pun jadi sebutan pilihan bagi orang yang ikut berbagi nasi. Karena mereka ibaratkan sedang perang. Perang melawan kehidupan yang begitu apatis di negeri ini. Dan sebungkus nasi dianggap amunisi,

karena itulah senjata mereka. “Nasi jadi amunisi kita, ini senjata memerangi kelaparan, kemiskininan, dan apatisme di Indonesia,” tutur Ari. Grilyawan sudah selesai makan. Ari tambah lima amunisi. Aksi lanjut ke simpang SKA. Sebelumnya, malam kedua aksi mereka. Ari cerita saat dia mau bagikan nasi pada lelaki paruh baya. Kaki kanannya pontong. Pakai tongkat sebelah. Ari mendekat. “Bang, kami ada nasi ni Bang,” kata Ari. “Makasih Dek, saya masih bisa cari makan, kasi sama yang lebih membutuhkan saja,” ujar Lelaki itu. Sampai di Simpang SKA, mereka tak jumpa sasaran di sana. Lanjut ke Jalan Nangka. Di Nangka mereka jumpa Perempuan, gendong anak umuran tujuh bulan, sambil bawa karung berisi kara-kara. Dua anaknya umuran delapan tahun dan sepuluh tahun juga ikut dengannya. Grilyawan berhenti. Ari turun dari motor. Mendekat dengan perempuan itu. “Bu, ini ada rezeki untuk Ibu,” ujar Ari sambil sodorkan tiga bungkus nasi. Lalu Ari mendekati dua anak itu. Sambil usap rambut si anak, Ari tanyakan hendak ke mana tujuan mereka. Rupanya, mau pulang ke Rumbai, pulang habis mulung kara-kara seharian. Grilyawan kembali susuri jalan Nangka, mereka berhenti di sudut sebuah ruko. Ada lelaki yang juga paruh baya. Duduk di atas kursi panjang, dekat barang-barangnya dibungkus pelastik hitam. Salah satu pelastik itu berisi pakaiannya. Mukanya tidak terlalu jelas, karena kondisi lampu

FEATURE

ruko padam. Mereka bagikan nasi, lelaki itu menolak. Ari tau kenapa Lelaki itu nolak. Waktu malam pertama dan malam kedua mereka aksi, mereka kasi nasi sama lelaki itu, masih diterima. Malam ketiga aksi, di tempat yang sama, mereka masih jumpai lelaki tersebut. Mereka medekat. “Rumah Bapak dimana? Kok Bapak tidur disini terus, istri sama anak Bapak mana?” Ari coba bertanya. “Rumah saya dibakar pemerintah di sana! Sudah, kalian pergi aja sana, saya gak suka ditanya-tanya ke’ gini.” Lelaki itu merepet sambil usir para Grilya. Di pertigaan lampu merah flyover Sudirman-Nangka. Mereka temui tiga anak jualan koran. Satu dari mereka, ada Riski. Kenakan baju sport hitam merah, tanpa sendal. Ia kelas lima SD. Riski jual koran untuk bantu orang tua. jualannya sepulang sekolah sampai jam sebelas malam. Malam itu mereka kebagian nasi. Jam dua dinihari. 68 amunisi yang dibawa habis. Lalu Dekat Menara Bank Riau mereka Briefing lagi. Ari yang pimpin. Duduk melingkar, mereka evaluasi aksi malam ini. Di akhir breafing, Ari sampaikan pada para Grilya, dia punya rencana selain membagikan nasi, mereka akan adakan semacam pelatihan, membagikan sleepingbad, juga akan bagi-bagi sembako. Ari berharap semoga dengan banyaknya amunisi dan para gerilya akan semakin baik. “Jika pemudapemuda Indonesia seperti ini, Indonesia akan maju, karena pemudanya mau berbagi dan peduli sesama”. 

Para Gerilyawan Komunitas Berbagi Nasi Pekanbaru

23


FEATURE

S

24

Salam Ulos di Parapat

ENIN siang, minggu keempat September 2012, usai makan, barang dan tas satu per satu dikumpulkan. Tidak hanya peserta, panitia pun sibuk berkemas lalu dioper kepanitia lain untuk diangkut kedalam bus. Mulai dari perlengkapan dapur hingga perlengkapan pribadi. Kulihat semuanya sibuk. Namun seketika pandanganku tertuju pada dua laki-laki yang belum kukenal. Yang kutahu mereka dari Makasar, Sulawesi Selatan. Beralih pada seorang perempuan. Rambutnya ikal sebahu diikat kebelakang. Berkacamata. Berdiri sambil pegang kopernya. Dia Ari dari Bali. Aku merasa tertarik pada tiga orang itu. Pasalnya mereka punya ciri khas tersendiri. Logat dan daerah yang kurasa asing. Aku dan Wawan diutus untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) yang ditaja Lembaga Pers Mahasiswa Suara USU di Parapat, Sumatera Utara. Instrukturnya Andreas Harsono dan Chik Rini. Nama yang tak asing. Aku memang belum kenal, tapi temanteman di pers mahasiswa AKLaMASI sering cerita tentang mereka. Peserta pelatihan berasal dari berbagai pers mahasiswa di Indonesia. Ada Jogja, Makassar, Bali, Aceh, Riau, Medan, Jambi dan Padang. “Mi, kau udah ketemu Kak Chik?” tiba-tiba Wawan berta-nya.

‘Sapurguk’ Kisah di Tano Batak Oleh Rahmi C dan Wahid Irawan “Belum, yang mana orangnya? Penasaran juga aku” “Tadi dia ada, orangnya pakai kacamata. Badannya agak berisi, ternyata beda dengan foto di blognya. Sendalnya juga sama denganmu,” jelas Wawan penuh semangat. Tak menyangka sedetail itu Wawan memperhatikannya. Sekira lepas pukul satu, setelah sholat Dzuhur kami bertolak dari Medan menuju Parapat. Panitia bilang pelatihan jurnalistik tingkat lanjutnya diadakan di sana. Butuh waktu beberapa jam ke sana. “Empat jam-an sih,”ujar Debora Sinambela panitia acara. Bersama Wawan, Aku duduk di bangku nomor dua. Sengaja pilih bangku depan supaya lebih terasa nyaman. Selintas pikir teringat kejadian dua malam yang lalu. Saat bertolak ke Medan. Ada peristiwa yang terus terkenang. Dari Riau kami berangkat berlima. Aku dan Wawan dari AKLaMASI UIR duduk di bangku nomor tiga belakang supir. Suryadi dan Herman dari Bahana UR bangku nomor dua di depan kami. Sedangkan Hafiz dari Gagasan UIN ba ng ku

kiri nomor dua sejajar dengan Suryadi dan Herman. Saat itu bicara ringan dengan Wawan. Lalu sibuk mengabari keluarga dan panitia bahwa kami telah berangkat. Tapi Herman malah sibuk cari plastik. “Wei, ade pelastik tak?” tanyanya pada kami. “Ada bang, tapi tempat sepatuku.” Jawab Wawan. “Dikau Mi?” Obok ransel di bawah bangku. Kuberikan pelastik hitam sedang tempat obat. “Untuk siape Bang?” tanyaku “Ni haa, kesian aku tengok budak ni,” katanya sambil melirik Suryadi. Berdiri, kuberi Suryadi minyak kayu putih. Kasihan. Padahal baru dua puluh lima menit berangkat. Perutnya kosong. Dia bilang belum ada makan. Dia mabuk. Muntah juga. Perlahan mulai sunyi. Hanya ada suara mesin dan getaran kaca jendela bus. Lagu Sai Anju Ma Au diputar pengantar tidur pe num pan g.


Foto: Mimi

Setelah tenang dan lampu bus mulai remang-remang, aku dan Wawan cerita lagi. Sejam berlalu tak terasa. Mata masih enggan dipejamkan. Naik-turun kaki lepaskan sendal. Ada rasa tak nyaman. Tiba-tiba kakiku terasa memijak air. “Wan, air apa ni ya?” “Kenapa?” “Aku tepijak air a.. dari mana datang air ni ye?” “Air AC tu Mi. Air AC...” “Masak iya? Jangan-jangan air muntah budak tu tak?” “Tak. Air AC tu Mi.” “Letakkan ransel aku ke atas tu Wan. Talinya dah basah dah. Nanti Basah lak laptopku.” Wawan langsung angkat ranselku ke bagasi atas. “Tak muat Mi. Macam mana? Gantung ajalah dibelakang bangku Suryadi tu.” “Yaudahlah.. macam mana bagus aja.” “Pantang!!! Iya Mi busuk!” kata Wawan dengan penuh ekspresi, terpegang tali tas. Penasaran. Kami cari asal air menggunakan HP senter. Dan benar, air itu berasal dari bawah bangku Suryadi. Mungkin yang tadi belum dibuangnya. Sesaat aku dan Wawan pandang-pandangan. Lalu tertawa terpingkal-pingkal. Segera sadar dari lamunan kenang kejadian itu. Panitia tawarkan air minum. Kulihat Wawan sibuk membaca. Diluar tampak mendung. Gerimis perlahan turun dan jalan mulai basah licin. Tiba-tiba bus rem mendadak. Mobil container dari arah lain terpeleset. Untung cepat direm, kalau tidak mungkin sudah adu kambing. Lanjut perjalanan, bus melaju lewati rumah-rumah penduduk, pepohonan dan perkebunan sawit. Mendekati Parapat, udara makin sejuk. Sebagian peserta tidur, ada yang makan. Melewati Pematang Siantar tampak rumah warga berhimpitan rapat. Di Parapat masih banyak hutan. Udara terasa sangat dingin. Jalannya naik turun. Kiri jalan tebing dan bagian kanan jurang berpohon. Supir bus tampak lihai memainkan stir. Badan berhalu kekanan kiri tak menentu. Mungkin ini yang namanya supir Medan. Danau Toba mulai tampak. Semua mata tertuju. Beberapa panitia bersorak

gembira. Kulihat Chik Rini sibuk foto dengan BlackBerry—nya. SEKITAR pukul 18.30 bus memasuki balai penginapan di jalan Ikan Pora-Pora, Parapat. Kami bergegas turun. Jalannya sempit. Harus goyang lutut lagi. Penginapan dibagi dua. Mungkin tidak muat. Perempuan dan semua panitia di penginapan induk. Sedangkan peserta laki-laki di penginapan Pemerintah Provinsi Sumut. Letaknya di atas jalan penginapan induk. “Sreekk... sreeeeekkk.. sreekkkk....” Chik Rini dan beberapa peserta menarik koper. Jalannya menurun lewati anak tangga. Kios-kios kecil berjejer dan di sebelah kanan nampak Danau Toba. Lumayan menitikkan keringat. Angin danau perlahan menyapa. Semakin lama semakin dingin. Sampai di penginapan. Besar seperti rumah bulatan. Dua tingkat. Di bawah hanya ada kamar dan toilet yang ditempati panitia laki-laki. Bangunan sebelah kiri dapur, terpisah dari penginapan. Halaman hijau nan luas ditanami bunga. Ada satu pohon Mangga besar, buahnya kecil dan selalu jatuh berserakan. Sempat beberapa kali terkejut ketika malam ketika buah mangga jatuh di atap bangunan dapur. Rida Sebayang dan Debora Sinambela membagi kamar peserta. Seluruhnya perempuan digabung dalam satu kamar. Sementara Chik Rini di kamar depan sebelah kiri. Hanya sendiri. Sibuk perhatikan sekeliling, Aku dan Ari tak kebagian tempat tidur. Aku kasih tau Rida. Kebetulan Chik Rini tak mau sendiri. Kamarnya lumayan besar dibanding kamar peserta dan ada dua tempat tidur sisa. Lantas aku bersama Ari menuju kamar Chik Rini.

Hening. Tak ada percakapan. Beda dengan kamar peserta. Chik Rini tak bersuara, sebab sakit dan suara mulai serak. Ari pilih tidur di tengah. Chik Rini ujung kiri lebih dekat dengan toilet. Aku ujung satunya dekat pintu kamar.

M

ALAMNYA acara perkenalan. Semua peserta juga panitia dikumpulkan di ruang tengah. Tapi Chik Rini tak nampak. Kata Debora diantar berobat oleh Yasir. Sementara Andreas Harsono datang esok hari. Perkenalan dibuka lelaki rambut keriting dan berkacamata sebagai MC, Guster Sihombing dari Suara USU. Aku dapat kesempatan pertama perkenalan diri. Biasa dan lurus saja, begitu pula dengan beberapa peserta lain. Giliran dari Makassar. Logat dan ekspresinya saja sudah bikin perut geli. “Nama saya Sutrisno Zulkifli, panggilan Cinno. Motivasi saya mengikuti PJTL Salam Ulos yang pertama ingin naik pesawat.” Dengan logat Makassarnya, sontak semua tertawa. Tak banyak kegiatan malam itu. Hanya pembukaan dan perkenalan. Satu per satu peserta diberi tanda pengenal, alat tulis, note book, beberapa majalah dan kaos merah dengan tulisan Salam Ulos. Esok paginya Chik Rini sampaikan materi elemen jurnalisme. Chik aktifis lingkungan WWF Indonesia Program Aceh. Pernah jadi kontributor Majalah PANTAU Jakarta tahun 1999 sampai 2003. Dia menulis naskah menarik “Sebuah kegilaan di simpang kraft”. Chik jelaskan bagaimana ia meliput di Aceh, saat-saat panasnya dengan masalah Gerakan Aceh Merdeka. 

25


FEATURE

J

26

Salam Ulos di Parapat

UMAT lepas makan siang. Pukul 11.45 sesuai intruksi panitia, peserta jalan menuju dermaga di Parapat. Letaknya tidak terlalu jauh. Tinggal mengikuti jalan setengah menurun bagian kanan penginapan. Di genggamanku sebotol Coca cola, kususul peserta laki-laki yang sudah dulu meninggalkan penginapan. Dua orang anak suku Batak lalu lalang melirik. “Enak kali kulihat minummu itu, mintaklah aku kakak e.” Tanpa pikir panjang kuberikan minuman itu pada mereka. Di dermaga, daun-daun pinus yang sudah menguning berjatuhan. Beberapa bungkus makanan berserakan, padahal sebelah kiri pagar masuk dermaga ada tong sampah. Dekat bebatuan arah jalan menuju kapal motor, terlihat apungan botol-botol air mineral dan plastik. Airnya keruh. Berminyak. Lama kupandang kapal motor yang akan menyeberangkan kami. Namanya Lopo Parindo. Ukuran tidak terlalu besar. Kendaraan itu di bagi dua, atas dan bawah. Keduanya memiliki fungsi yang sama, tempat duduk penumpang. Tak sampai separuh buritan atas Lopo Parindo dibiarkan terbuka tanpa atap. Sisi sebelah kanan dan kiri biasa digunakan untuk meletakkan sepeda motor yang hendak menyeberang juga. Debora Sinambela bilang, hari ini (27/9) kita ke Tomok, Pulau Samosir. Setiba nanti, peserta harus meliput. Pilihannya ada tiga, liputan tentang  makam Raja Sidabutar, Museum Batak, atau pun liputan bebas tentang sekitar Tomok. Jarak Parapat-Tomok tidak terlalu jauh. Butuh waktu sekitar 30-45 menit menggunakan kapal motor. Aku pilih duduk di buritan atas bersama peserta lain yang sebagian besar adalah lakilaki. Tanpa atap mata akan lebih leluasa melihat danau raksasa ini. Juga bukit-bukit hijau hutan pinus yang tinggi. Matahari pun masih bersembunyi dibalik awan. Udaranya masih dingin, padahal sudah tengah hari. Disitu ada beberapa penumpang lakilaki. Dari paras wajah dan logatnya terlihat seperti orang asli sini. Dibagian belakang lainnya ada pasangan suami istri. Mungkin wisatawan. Sebelum Lopo Parindo melaju kami sempatkan berfoto-foto. Kapan lagi

merasakan seperti ini. Aku lihat semuanya gembira. Tertawa lepas. Tambah lagi musiknya sangat mendukung. Batak Mix. Dari kejauhan danau terlihat kepala ombak mulai tinggi. Sontak aku merasa khawatir. Takut kapal ini tenggelam. sebab ‘setinggi itu bukitnya sedalam itu juga danaunya,’ kata Benson Saragih, penumpang yang juga penduduk asli Tomok . Kuperhatikan sekeliling. Tak satupun ada pelampung di situ. Matilah. “syiuuuuu... syiuuu... “ Angin makin kencang. Ombak semakin tinggi. Tapi teman-teman masih biasa. Mereka masih sama seperti tadi. Ada yang rekam video, foto-foto, tertawa, bahkan seorang panitia berjoget dibagian dalam atas kapal, Febri Pohan. Kanan-kiri-kanan-kiri. Bangku besi warna putih yang terletak di sebelah bagian kanan atas kapal bergeser ke kiri lalu kembali lagi ke kanan. Kapal diguncang ombak. “trakkk tuaassss tuas.” Sesekali ia terhempas kebawah. “aaaaa.... .” Beberapa peserta perempuan teriak. Kulihat Merry peserta dari Pers Mahasiswa Ganto UNP reflek memegang Wawan. Sesaat kemudian semua hening. Hanya musik dan ombak yang bersuara. Pasangan suami istri tadi juga pegangan tangan. Tapi beberapa penumpang laki-laki di sudut kiri belakang kapal, kulihat biasa saja. Mungkin sudah terbiasa.

Aku pindah sedikit masuk kebagian dalam kapal. Suryadi dan teman yang lain mengejekku. Sudah sering naik Roro tapi baru kali ini aku merasakan guncangan. “Jangan dilawan Mi, tenang. Ikuti ombaknya.” Robi dari Pers Mahasiswa Arena menenangkan. Mencoba tenang. Kubaca surah Al fatihah dan An Nas berkali-kali. Tak lama setelah itu kami tiba di dermaga Pagoda, Tomok. Semua kembali ceria. Lega. Tujuan utama kami Sigale-gale, objek wisata terkenal di Samosir. Si Gale-gale artinya lemah gemulai. Berjenis patung yang diukir menyerupai manusia. Terbuat dari kayu dan bisa manortor. Konon ceritanya, Raja Rahat yang hidup pada masa itu. Ia dikenal sangat kaya raya, namun hanya memiliki keturunan seorang anak laki– laki. Suatu hari anak semata wayang raja tersebut ikut perang. Di medan perang akhirnya putra raja meninggal. Raja sangat sedih. Lalu seorang dukun bersedia membuatkan sebuah patung dari kayu. Patung kayu tersebut dibuat persis dengan anaknya. Menurut Parlindungan Situmorang, guide yang memandu kami, masa itu di datangkanlah kembali roh anak raja tersebut dan dimasukkan kedalam patung tadi. Patung itu manortor. Raja sangat senang. Maka hingga kini diabadikanlah patung tersebut dan diberi nama Si Gale-gale. Setelah penjelasan dari guide tersebut, seluruh peserta dan panitia diajak manortor bersama Sigale-gale. Se be l um manort o r ,


Foto: Mimi

pengelola kasih pinjam ulos pada kami. Tiga kali puta-ran. Sigale-gale menari, tapi yang ini tidak dikendalikan oleh roh. Sigale-gale telah dimodifikasi dan digerakkan orang dibelakangnya. Sambil manortor Chik Rini dan beberapa peserta selipkan uang di tangan Sigale-gale. Sementara Debora Sinambela dikalungkan ulos oleh guide tadi. Saat manortor mereka jadi pasangan saat menari. Tarian terakhir, dengan lagu anak medan. Guster Sihombing pecahkan suasana. “ye ye ye laa la la.. yeye lala..” tirunya seperti Sahabat Dasyat di RCTI Beberapa peserta dan panitia mengikuti. Maju-mundur-maju-mundur. “Eeeeee..... haaaa..” semua mengikuti dengan tangan diatas. Lalu putar-putar seperti Gangnam Style. Dikanan belakangku beberapa wisatawan bersorak-sorak melihat. Dua orang bule tertawa. Andreas Harsono sibuk merekam. Semua orang tertuju pada kami. Untung orang asli sana tidak marah, sebab tarian mereka diobok-obok Guster. Lepas manortor, lanjut ke makam raja Sidabutar, aku pilih meliput itu karena Wawan memilih liputan Museum Batak. Niatnya berbagi liputan. Arah menuju makam itu dikelilingi kios oleh-oleh.

Bersahut-sahutan pedagang menawarkan, dari kios satu ke kios lainnya, “Cari apa kakak? Tengoktengok ajalah dulu yok gak papa.” Sampai dipemakaman Raja Sidabutar. Bersih. Aturan disana harus sopan dan santun. Kembali, pengun-jung harus pakai ulos yang sudah disiapkan pengelola. Gerbang masuk makam dipahat ukiran khas Batak, seperti cicak dan empat payudara. Parlin bilang, orang batak harus hidup seperti cicak, mudah beradaptasi dengan menempel di manamana. Filosofi itu memang begitu lekatnya bagi kebanyakan orang batak, tak heran jika orang batak tersebar hampir di seluruh daerah Indonesia. Sedangkan empat payudara menjadi simbol kalau orang batak harus punya banyak anak. Mungkin seperti slogan banyak anak banyak rejeki masih berlaku disini. Ada sembilan makam. Makam Op Soibutu Sidabutar, panjangnya tiga meter dengan lebar satu meter merupakan makam terbesar. Orang sana percaya dipertemukan dengan jodoh apabila mencium makam tersebut. Berukirkan Rumah Bolon. Bolon artinya rumah besar yang dulu didesain leluhur pada masa itu. Warnanya putih, merah dan hitam, lambang kehidupan.Penjaga makam bilang umur makam ini sudah lebih dari 300 tahun.

S

ELEMPARAN batu dari makam, Wawan kunjungi Museum Batak. Dari pintu keluar makam, yang menghubungkan ke kios-kios di tepi jalan. Tinggal berjalan sedikit kedepan Disanalah Museum Batak. Bentuk museum itu runcing di bagian sudut depan dan belakang, sedikit melengkung bagian tengahya. Hanya saja bagian belakang lebih tinggi dari bagian depan. Tak beda jauh dengan rumah-rumah di pulau itu. Bagian luar museum terlihat beberapa ukiran warna merah, hitam dan putih. Tengah nya terdapat ukiran kepala. Dibawah kepala patung terdapat bingkai kaca warna hitam empat buah. Ukuran pintu masuknya sendiri kecil, pakai anak tangga—bila masuk sedikit menunduk—yang berada di tengah-tengah museum. Hal itu melambangkan bahwa semua orang batak adalah raja dan rumah sebagai kerajaannya. Dan siapapun orang yang merasa tinggi bila ingin masuk harus merendah agar semua niat jahatnya hilang.

Saat itu lampu—listrik—padam, suasana museum sedikit gelap. Cahaya yang masuk hanya dari ruang-ruang fentilasi dan jendela. Di dalam museum ada banyak koleksi khas Batak. Mulai dari patung, piring, tongkat membuat ulos dan sebagainya. Di bagian atas pintu masuk utama, terpajang enam gendang yang berdiri agak condong. Dan terdapat papan persegi panjang yang bertuliskan “GROUP DOS NI TAHI DI TOMOK PARONDANG”. Sedikit berjalan ke depan, maka akan terlihat Hombung. Tempat tidur yang digunakan oleh raja dan istrinya. Bentuknya persegi panjang, setiap sudutnya membentuk ukiran tinggi yang melengkung. Pemilik museum Marlep Sidabutar, cerita bahwa waktu sekolah Dasar (SD) Ia sering cari barang antik bersama mamak dan bapaknya. Mereka berdualah yang menularkan hobi mengoleksi barang antik ini. Marlep habiskan masa kecilnya di Tomok. Bersekolah di SD 1 Tomok, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ambakita, Hingga berujung kelas satu Sekolah Menengah Atas (SMA). “Kelas satu SMA, saya berhenti sekolah.” Berhenti sekolah, tak membuatnya berhenti mengoleksi barang antik. Tahun 90-an ia merantau ke Jakarta, di jalan Surabaya, ia mengoleksi dan menjualnya. “Boleh dikatakan saya pengumpul dan penjual juga,” ujarnya. Saat krisis moneter 1997 menghantam perekonomian Indonesia, Marlep Sidabutar memutuskan pulang kampung. Ia melihat di kampungnya tidak ada sesuatu yang bisa dijadikan objek pariwisata. Atas inisiatif Marlep dan warga akhirnya pada 1998 ia buka Museum batak. “Saya pajangkan di rumah ini ramailah orang-orang datang.” “Barang-barang ini semua begitu berharga karena berisi ilmu pengetahuan,”cerita Marlep.”saya mengumpulkan semua ini selama 20 tahun,saya beli juga dari warga.” Diluar suasananya sedikit sepi. Muslim Ramli—panitia—bilang hari ini memang sepi, tidak seperti biasanya. Tampak beberapa peserta beli gantungan kunci. Andreas Harsono lihat mainan gendang. Chik Rini beli Sortali—biasanya dahulu dipakai sebagai ikat kepala pengantin perempuan saat pernikahan—sebelum kembali ke Parapat. 

27


RESENSI

Buku Sarongge

Oleh Rahmi Carolina

S 28

ARONGGE, novel perdana Tosca Santoso, Direktur Utama di tiga media; KBR68H, Green Radio dan Tempo TV. 20 tahun lebih jadi wartawan. Menulis—karya jurnalistik— tentu sudah biasa. Kalau karya sastra novel ini adalah debut baginya. Bisa dibilang Tosca Jurnalis yang “coba” menulis sastra. Harapannya agar lebih banyak orang yang membaca soal lingkungan dengan lebih santai. Apakah dia berhasil? Saya akan sedikit ulas isi novel Sarongge. Sarongge sedianya sebuah desa di kaki Gunung Gede, Kecamatan Cipanas, Jawa Barat. Hanya beberapa kilometer di sebelah barat daya Istana Cipanas. Di ketinggian 1500 mdpl. Sarongge masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Di situlah, Karen Hidayati, gadis, seorang aktivis lingkungan di organisasi Ksatria Pelangi, bertemu kembali dengan Husin, petani gunung. Sahabat lamanya saat kuliah dulu. Pertemuan singkat di madrasah kampung, menumbuhkan kembali rasa yang pernah ada pada Husin. Kekagumannya pada Karen, tentulah Karen sudah tahu sedari dulu. Tapi Dia tak punya banyak waktu untuk menanggapi. Perhatian Karen tersita oleh hutan-hutan yang menyeretnya ke dunia antahberantah. Apalagi setelah berkenalan dengan Ksatria Pelangi, organisasi yang membuka matanya pada kesewenangwenangan manusia. Kuasa dan modal yang mengoyak hutan. Ia larut pada penelitian dan aksi menjaga hutan. Walaupun akhirnya rasa hangat pelanpelan menjalar pada hati Karen. Tentang Husin, yang lepas tamat kuliah memilih cara hidup berbeda. Meninggalkan kenyamanan kelas menengah dan dengan sengaja memutuskan teguh pilihannya untuk berkembang bersama warga Sarongge. Dia punya gagasan, sederhana dalam pilihan. Husin tabah menanggung risiko dari pilihannya itu. Hal itu membangkitkan rasa kagum yang alamiah pada Karen. Mereka kembali merangkai cerita, dan mulai memupuk cinta di kampung kelahiran Husin, Sarongge. Karen, sosok gadis pemberani,

setengah hidupnya telah ia habiskan bersama Ksatria Pelangi. Menjelajah daerah pesisir Kampar, Riau hingga Papua untuk melawan kapitalisme yang terus menggerogoti lingkungan dan masyarakat yang hidup darinya. Karen telah mengabdikan seluruh jiwa dan raganya untuk membela bumi. Pada akhirnya Ia menikah dengan Husin. Awal Juli itu, di dalam hutan Pasir Pogor Buntu kampung Sarongge. Saat pohon bunga Ki Hujan—tumbuhan khas Sarongge—berguguran. Mereka habiskan malam di sana. Berdua diterangi bulan purnama. Kelopak daunnya rontok berputar seperti kincir dan lembut menyentuh tajuk-tajuk pepohonan lain. Musim gugur khas Sarongge yang hanya terjadi setahun sekali. Tiga tahun setelah itu mereka urusi dua orang anak. Anak itu titipan ustad Maarif, sahabat Husin yang direnggut kemudaannya oleh nikotin. Meskipun bukan anak kandung, tapi mereka sangat sayang pada Anisa dan Rena. Kebahagiaan itu tak lama. Karen jatuh tersungkur bersama dua pemuda Marind Marori. Mereka ditembak saat menyeberangi sungai Digul. Seketika sungai memerah darah, yang kalau dirunut ke hulu akan melewati Boven Digul, tempat sebagian republik ini pernah diasingkan. Sungai itu seolah ditakdirkan bercerita tentang kehendak bebas. Dulu mengupayakan republik merdeka,

sekarang mempertahankan hak hidup suku Marind. Inilah panggilan Ksatria Pelangi Karen yang terakhir. Karen wafat di Papua. Novel Sarongge judul sederhana, menyimpan segumpal kisah yang begitu gelap. Mulai dari kemiskinan masyarakat turun-temurun, ledakan penduduk yang menerobos hingga lereng pegunungan, perjuangan petani kecil melawan para penguasa, juga harapan mengembalikan hutan Jawa Barat seperti sediakala. Gaya bahasa yang digunakan Tosca sangat menarik. Selain Bahasa Indonesia Ia juga menggunakan Bahasa Sunda. Dia perkenalkan tumbuhan khas Sarongge beserta nama latinnya. Unik dan tetap enak dibaca. Tak banyak novel yang ditulis dengan banyak peristiwa nyata. Isinya bukan hanya laporan, kesaksian dan gugatan tentang perusakan bumi. Melalui riset yang tekun, Sarongge berhasil menjelaskan secara sederhana akar-akar konflik lingkungan dan kehutanan. Bahkan menyodorkan argumentasi nyaris tanpa bantahan. Ini kisah nyata yang dif iksikan. Tosca pakai Alur Campuran, namun lebih dominan menggunakan Alur Maju— kronologi. Gaya berceritanya pun membuat pembaca penasaran. Ia gunakan sudut pandang orang ketiga tunggal. Bebas berpindah dari satu tokoh ke tokoh lain. Dengan bebas, ia berhasil meng-ungkapkan apa yang ada di pikiran

Judul: Sarongge Penulis: Tosca Santoso Penerbit: Dian Rakyat Terbit: September 2012 Tebal: 370 Halaman serta perasaan para tokohnya. Novel ini mengandung banyak ide dan ideal, tentang perjuangan dan manusia. Mengajarkan pembaca tentang tugas terakhir kemanusiaan; mempertahankan bumi dari perusaknya. Seperti dinyatakan “pada tetes air terakhir, emas dan tembaga tak ada artinya.” Tosca berhasil menyulap data menjadi tulisan—sastra— menarik, enak dan menjadi penting untuk dibaca.***


SEPUTAR KAMPUS

ENGLISH FLASH

Petro Year End feat SPE International President

Foto: Oka

P DICURIGAI NYURI, DIHAJAR

R 30

UDI Siahaan (20), dihajar babak belur sama Satpam dengan beberapa mahasiswa yang ada di dalam Pos Satpam, bagian kepalanya berdarah saat diketahui membawa sepeda motor Satria Fu tanpa nomor polisi. Bersama Aulia (21) Mahasiswa Fakultas Hukum UIR. Mereka tertangkap Jumat, (18/1) pagi di Fakultas Teknik. Dan langsung dibawa ke Pos Satpam UIR. Saat diminta untuk mengeluarkan STNK mereka tidak dapat menunjukkan. Indikasi pencurian makin terasa saat di dompet Rudi ditemukan kunci T. Ketika ditemukan memang motor tersebut tidak tertancap kunci. Taufik, Anggota Satpam mengatakan, saat ditanya milik siapa motor tersebut. Mereka menjawab bahwa motor ini punya seorang polisi bernama Rio Siregar. Tapi saat ditanya Rio Siregar tidak tahu mengenai motor tersebut. Untuk proses selanjutnya, mereka berdua digiring menuju Polsek Bukit Raya, Pekanbaru. Awal mula tertangkap saat Aldison, Komandan Satpam UIR sedang perbaiki pagar besi di GOR Volley Indoor. Ia melihat dua pemuda mengendarai sepeda motor Satria Fu ngebut. Ia curiga saat motor yang dikendarai dua pemuda tersebut mogok. Lalu pura-pura mencolokkan kunci ke motor, motor pun kembali jalan. Aldison mendekat ke motor itu. Kecurigaannya bertambah saat ia tidak melihat kunci di motor itu. Kedua pemuda itu kemudian melaju ke Biro Administrasi Informasi dan Teknologi (BAIT). Aldison terus mengontrol. Ia pun memarkirkan motornya di samping motor Satria Fu yang masih kondisi hidup tersebut. Rudi pemuda yang membonceng masih tetap diatas motor. Aulia tegak di depan BAIT sambil menelepon. Melihat bet nama Satpam Aldison. Beberapa menit kemudian mereka kembali ngebut menuju Fakultas Teknik. Aldison lalu menelepon Taufik, anggota Satpam yang tugas di parkir Teknik. “Fik tolong lepas baju dinas, awasi orang tu, “ ujar Aldison melalui telpon. Sampai sekarang Aldison dan anggotanya masih menunggu untuk dijadikan saksi dalam kasus tersebut. Masih belum diketahu siapa pemilik motor tersebut. “Informasi Polsek Bukit Raya ternyata motor itu hasil curian dari Duri,” kata Aldison.  Wawan

ETROLEUM Engineering Department (HMTP) organized a workshop at Convention Hall Soeman HS’s UIR, Wednesday (12/12). The themes of workshop is Petro Year End feat Society of Petroleum Engineers (SPE) International President. The speaker is Dr Ganesh C Thakur. Ganesh is a president of SPE. The workshop was opened by Agus as leader of SPE Islamic University Of Riau (UIR). Agus said, he hopes this seminar to be a positive effect for students. “The seminar gives prospect for lecturers and students.” The seminar was also attended by Rektor UIR, Prof Detri Karya and Sugeng as Dean Engineering Faculty UIR. This seminar, Ganesh explained about SPE, including mission of SPE, containing “To collect, dissiminate, and exchange technical knowledge and to provide opportunities for professional to enchance their technical and professional competence”. Ganesh also explained about benefits of SPE, that is, helps companies get highest return on their human resources. The core of the seminar, Ganesh said, SPE will makes you increase knowledge and if you active in SPE, you have great opportunities. Abdul Rohim as Chairman of the committee said, this seminar is visits president of SPE each year, this is second visit President of SPE to UIR with a different president every year, because every year changed SPE president. This year the president of SPE visits to seven universities in Indonesia, and UIR is the six university which he is visited. Abdul hopes, students can take the positive side of the seminar and have motivated to join as SPE. Ryan as seminar participants said, this seminar is nice, because it can increase knowledge about SPE and able to meet directly with the president of SPE from India.  Jimmi

Competition Making Multimedia Learning

M

ULTIMEDIA lecturer of Faculty of Teacher Training and Education (FKIP) Islamic University of Riau (UIR) organized the competition making multimedia learning, Thursday (20/12). The competition was divided into two competitions, namely: competition makes learning media and competition makes blog media. The competition was opened by Zulafdhal MPd as a lecturer builder. Zulafdhal said, the competition is held to create Students FKIP creativity in teaching later, when opening competition. Lia as a race participant said, the competition is great for candidates teachers because, it can train candidates teachers make learning media as a teacher later. This competition was followed by English Department Student and Economic Accounting Department Student. In the competition, there are four judges who evolute. The competition was followed 10 group in the competition makes learning media and 10 person in the competition makes blog media. The competition begins at 9.00 am to 15.00 pm, the competition was going to well and announcement of the winners of the competition was also on that day.  Jimmi


Teaching English at the 21th Century

E

NGLISH Student Association (ESA) has organized a National Workshop at the Law Faculty Auditorium, (27/11) Tuesday. The themes of workshop is “Teaching English at the 21 st Century”. This event organized to over the Leadership of ESA’s from 2012 to 2013. “This like farewell agenda between the old management with the new management of ESA,“ Fitrah said as an event supervisor. There is an emphasis for student five semester of English study program to attend this workshop, because they will take study microteaching on sixth semester, the hope that they already have the basic and more prepared for their field practice. Yustina Ries Sunarti SEd MSc as Speaker of National workshop. Women born in Tegal, 12th April 1970, she is the School Director of Sekolah Victory Plus. International school located in Bekasi, Jakarta. In the first session Yustina explain sub themes about “Ideal Teacher”. She said, “Efective teachers have a plan. If you don’t have a plan, then you are planning to fail.” Before the teacher wont to teach the student, the teacher must to have a lesson plan sourced from syllabus has arranged on curriculum, Furthermore, session 2 with sub themes, “Classroom Management”. To effectively manage the classroom you have to Clearly define classroom procedures and routines and Effective teachers spend a good deal of time the first weeks of the scool year introducing, teaching, modeling, and practicing procedures until they become routinies. And The number one problem is not discipline; it is the lack of procedures and routines. And the last session about “Teaching Strategies”. Yustina said The hard of the teacher, The teacher have to help the student first, to be able to spirit a lot the other and to make a different and impact to somebody’s life. “This workshop was very interesting, the speaker cheerful, active and the themes very interesting,” Yoza said as student of English study program, class 5c. Encountered Khulaifiyah after the event said, “As the lecturer English study program, i hope such event like this workshop especially about language skills, could held every year by ESA cooperate with English study program. We expect support from all lecturers and institutions, especially financial support of the college’s over now. Tahnia

AGENDA KAMPUS

YLPI Harap Wisudawan Punya Sikap Baik

S

ABTU, 26 Januari, pagi itu hujan deras mengguyur kampus, aspal basah, pelataran di belakang unit kesehatan pun tergenang air. Udara masih terasa dingin, 974 orang akan diwisuda—di Hall Volly—pagi itu. Di dalam Hall Volly tampak wisudawan duduk rapi di bagian tengah gedung menghadap ke barat. Mereka dibagi dua bagian, dipisahkan karpet merah memanjang sampai ke pintu keluar. Rektor serta Anggota Senat duduk di depan menghadap ke peserta wisuda. Di bagian atas—tribun volly—berderet kerabat wisudawan. Mereka hadir untuk lihat prosesi wisuda sarjana ke-59 dan pascasarjana ke-22. Sidang rapat senat terbuka untuk melantik wisudawan berjalan lancar. Wisudawan ikuti rangkaian acara dengan khidmat. Tapi ruangan terasa pengap. Padahal sudah pakai Air Conditioner (AC), ada saja yang masih mengipas-ngipas. Dalam kesempatan ini, Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Riau, Hamir Hasan sampaikan sambutan. Ia merasa puas dengan wisudawan saat ini. “UIR telah menyumbang Sumber Daya Manusia (SDM) untuk Riau, apabila dihitung dari 50 tahun lalu.” Ia juga berpesan, yang diwisuda saat ini janganlah sombong atau puas, setelah S1 lanjutkan ke S2 begitu seterusnya. “Jagalah sikap dan tingkah lakumu dan almamter ketika kalian berada dalam dunia kerja. Sebagai orang tua, YLPI berharap wisudawan mempunyai sikap yang baik dan pemikiran yang ilmiah saat berada di masyarakat,” pesannya. Kemudian sambutan dilanjutkan Direktorat Kopertis Wilayah Sepuluh. ”Hari ini saya juga punya agenda penting namun saya merasa penting hadir disni,” katanya. Ada beberapa alasan kenapa UIR begitu penting bagi kami lanjutnya, salah satunya UIR adalah universitas swasta tertua di wilayah Kopertis X. “Kita (UIR) juga mempunyai dosen dan mahasiswa terbanyak,” terangnya. Ada tiga kekuatan mengapa UIR bisa berkembang sampai saat ini lanjutnya, pertama kepemimpinan rektorat yang selalu harmonis dengan staf-stafnya, kedua penyusuna program studi UIR dengan baik dan tiga percepatan pembangunan infrastruktur. Sekira jam sembilan pagi mulailah nama-nama wisudawan dipanggil satu persatu. Prosesi wisuda dimulai. Jambul toga dipindah dari kanan ke kiri tanda mereka resmi dapat gelar sarjan. Pemanggilan dimulai dari pemuncak pascasarjana, dilanjutakn pemuncak universitas dan fakultas. Di akhir acara Alfred, pemuncak Fakultas Teknik berdiri di depan, ia pegang naskah ikrar wiusda di belakangnya berdiri delapan orang pemuncak setiap fakultas dan pascasarjana. Ia bacakan ikrar itu dan diikuti semua wisudawan. Alfred sangat bangga ketika ia membacakan ikrar di hadapan 974 wisudawan yang disaksikan oleh orang tuanya. Ia mahasiswa Teknik Perangkat Lunak dan wisudawan pertama di jurusanya. Namun tak hanya Alfred yang berbangga namun Asep dan Kiki mahasiswa Teknik Mesin mendapat penghargaan mahasiswa prestasi. Mereka memenangkan lomba. Pukul 12 siang, perhelatanpun usai. Mereka keluar gedung satu persatu. Yosa

31


SASTRA

Sajak

Setengah Abad dalam Jihad

Hanya Setengah Peradaban

Menyalakan

Oleh Samsul, Mahasiswa FKIP Universitas Islam Riau

Oleh Agus Dwi Putra, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Riau

Oleh Laura Fitri, Mahasiswa FKIP Universitas Islam Riau

Kau bukanlah lagi seorang pemuda Rantanan usiamu setengah peradaban Namun keeksisanmu tetap terjaga   Banyak yang muda bermunculan Bak kan kata.... Bagai jamur dimusim hujan, Namunmu tetap bersinar diusiamu katakan senja   Kepala-kepala dalam petinggi Telah kau bentuk dalam ukiran ilmu pada mereka Mereka takkan ada tanpa wadah yang sepertimu Jaya !!   Begitu tampak dibola mata Begitu indah kan dirasa Begitu merdukan tercipta Dari zaman telah kau tampakkan pada dunia   Dari hutan belantara Sehingga tertata sedemikian rupa   Aku yakin, namamu ada dikancah mata dunia Apa yang bisa aku, kau, dan mereka Tanpa ada dirimu mewarnai hidup mereka Disini , cahaya, warna, kau bagai pelita Pelita menyinari ketabuan mereka Kehausan ilmu dicakrawala   Takkan ada kata terangkai Takkan ada jiwa yang permai Hanya lontaran do’a tulus Tuhan.... Jaga dia, agar anak cucuku bisa selamat dunia-Mu dan akhirat-Mu Universitas Islam Riau Jaya !!

Kue tart hamburan merantau Lapisan bersajak jilbab hijau Berjejer lilin diiringi nyanyian ulang tahun Beribu hembusan meniup tanpa bayan Fuuuh..... Api tertinggal sumbu padam Giliran keaduhan memainkan asa Peri-peri mengintip memberi aba-aba Di kejauhan berpasang jiwa Menancapkan pengharapan Pada lakon mentalakan mimpi takkan redup Didataran yang melangkah ke-50 usia menua Doa-doa melafal indah di pucuk mega Pohon yang dinaunginya Berbuah merapat mengkilat masak Menjadi biji padat Pengisi pot-pot kosong Dengan rimbun yg rimbun

 

Madura, 2013.

 *Naskah ini jadi puisi terbaik ke-4 pada Lomba Menulis Puisi 50 Tahun UIR yang ditaja Pers Mahasiswa AKLaMAS UIR sempena Milad 19 Tahun AKLaMASI dan Milad Emas UIR

Jhody M. Adrowi, Alumni Al-In’am, juga Mahasiswa UIN Sunan Kali Jaga Jogja, Pencinta Puisi

Simpai embun di alun-alun Simbai laku berduyun-duyun Silam pukau paruh berkilau Silikat pekat menghunus jihad Ini memang cerita lama Zaman ilmu bertanam ramah Diantar dari rumah ke rumah Kala itu tumbuhlah gedung Di payung bertudungtudung Oleh ilmu Dan para penggagas ulung Gedung yang dulu hanya serummpun Kini telah berjibun-jibun Dihuni para pelantun santun UIR... 32 Universitas Islam Riau Universitas Begitulah nama yang disematkan Pada gedung tak sembarang gedung Sebab berjihad sesam umat Kini usia setengah abad Namun jihad belumlah tamat *Naskah ini jadi puisi terbaik ke-1 pada Lomba Menulis Puisi 50 Tahun UIR yang ditaja Pers Mahasiswa AKLaMAS UIR sempena Milad 19 Tahun AKLaMASI dan Milad Emas UIR

Menghujam Mimpi Ketika embun sempurna hilang lalu kabut masih merinaikan hujan aku basuh siluetmu yang menganak di balik jendela hanya membentuk angkara pada jalan yang limbung terlalui untuk apa sapa pada malam ketika larut kau hujam jiwa dalam mimpi. Rinai Bening Kasih, Mahasiswa Ilmu Hukum Fak. Hukum Universitas Islam Riau

Pekanbaru,14 oktober 2012 *Naskah ini jadi puisi terbaik ke-2 pada Lomba Menulis Puisi 50 Tahun UIR yang ditaja Pers Mahasiswa AKLaMAS UIR sempena Milad 19 Tahun AKLaMASI dan Milad Emas UIR

Ku Azimatkan Senja Di Lirih Tuturmu : I Nurul Z Namamu ku tasbihkan dari sekerat karat retak rinduku. Ku balut senja, menggiring asma’mu atas azimat yang ku kaligrafikan di sembah sujudku. Kaulah bening airmata, terpetik dari wajah purnama.


33


PEMUNCAK

Wisuda Sarjana UIR ke-59

Oleh Juliana Dian Komalasari

J

UMAT, pertengahan Januari, matahari belum naik sepenuhnya, Andika Yosa kenakan baju batik hitam dengan corak merah dan kuning emas, celana hitam berbahan pentalon. Ia nak ambil toga yang nak dipakainya saat wisuda. Dika jadi pemuncak wisuda universitas awal tahun ini. Degan IPK 3,75. Awalnya Dika ingin kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Riau Jurusan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK). Ia berpikir semua bidang sekarang sudah menggunakan teknologi, karena itu niat kuliah TIK sangat kuat. Ia putuskan ikut tes di UIN tapi ternyata tak lulus. Tak mau

berputus asah ia pilih kuliah di UIR. lulus seleksi di Fakultas Agama Islam (FAI) Jurusan Pendidikan Islam. Selain aktif kuliah, mahasiswa angkatan 2009 ini juga aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FAI. Ternyata aktif berorganisasi tak menghambatnya di bidang akademik. Dalam waktu 3,5 tahun ia sudah selesaikan materi kuliah. Tinggal sibuk selesaikan skripsi. Mulai cari buku referensi, perbaikan skripsi semua dijalani walau melelahkan. “Saat ujian akhir awalnya deg-degan, tapi saat sidang berlangsung nggak lagi, malah jadi semakin rileks,” katanya. Skripsinya dapat nilai A dengan skor 82,50. Sebenarnya kata Dika ada dua teman satu kelasnya yang punyai nilai

dia bisa wisuda cepat. “Dika juga orangnya perhatian, suka membantu teman dalam kondisi apapun.” Dika anak semata wayang dari pasangan Abdullah dan Zairob. Abdullah berkerja sebagai wiraswasta sedang Zairob pegawai KUA Marpoyan Damai. Di mata Ibunya Dika termasuk anak manja. Zairob selalu terkesan saat anaknya minta sesuatu, bujuk rayunya pasti keluar. “Kalau sudah dapat apa yang diminta, dia selalu cium dan peluk saya. Terkadang makan pun minta disuapi kalau lagi manja-manjanya,” kenang Zairob. Wajah bahagia Zairob terukir, ia terlihat sangat senang dan bangga, kerena anak tunggalnya sudah mengukir prestasi. 

Foto: Dok. AKL

lebih tinggi darinya, bahkan IPKnya empat tapi mereka terlambat wisuda. “Menurut mereka setelah PPL bisa santai dulu baru bikin skripsi. Sedangkan saya saat PPL sudah mulai nyusun proposal, tidak ada niat jadi pemuncak universitas, tapi saya bersyukur,” ungkapnya. Dika masih ingat saat-saat kuliah, terutama saat diskusi. Ia suka lihat tingkah teman-temannya, ada yang serius berdiskusi ada juga yang mainmain. Hal kedua pada saat dosen tak masuk. “Teman-teman hidupkan musik setelah itu kami bergoyang bersama, bercanda, pokoknya itu yang gak bisa terlupakan selama kuliah, banyak kenangan sama teman-teman.” Sekarang Dika jadi tenaga pendidik di salah satu Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA). Soal keberhasilannya, Ia bilang tidak hanya harus belajar. Tapi dengan dukungan orang tua, teman, dan tentunya do’a. “Coba lakukan apa yang kita bisa, jangan pikirkan kegagalan, lihat kedepan, jika sudah memikirkan kegagalan ya sudahlah gagal aja sekalian,” begitu katanya. Dika juga suka bermain futsal. Biasa jadwalnya Sabtu atau malamnya untuk main futsal. “Sejak tiga bulan belakangan ini Dika tak main futsal, lantaran ngerjakan skripsi.” kata Darmawan teman sekelas Dika. Menurut Darmawan, si Dika orangnya sangat konsisten, karena itu


PARA PEMUNCAK WISUDAWAN TINGKAT MAGISTER, FAKULTAS DAN UNIVERSITAS PADA WISUDA KE-59 DAN PASCASARJANA KE-22 UNIVERSITAS ISLAM RIAU 26 Januari 2013

PASCASARJANA (S2)

UNIVERSITAS

NAMA: NURMASARI Tempat/Tgl. Lahir: Sungai Pakning, 12 Januari 1989 NPM: 107120014 Program Studi: Ilmu Administrasi IPK: 3,87 Predikat Kelulusan: Dengan Pujian Nama Orang Tua: Misno

NAMA: ANDIKA YOSA Tempat/Tgl. Lahir: Rengat, 21 Mei 1991 NPM: 092410098 Program Studi: Pendidikan Islam IPK: 3,75 Predikat Kelulusan: Dengan Pujian Nama Orang Tua: Abdullah Sani

PEMUNCAK TINGKAT FAKULTAS FAKULTAS HUKUM Nama: SARTIKA AYU RATU TARIGAN Lahir: Pekanbaru, 17 september 1990 NPM: 081010459 Program studi: Ilmu Hukum IPK: 3,69 Predikat Kelulusan: Sangat Memuaskan Nama Orang Tua: Dame Tarigan, MH

FAKULTAS EKONOMI Nama: NANDA MERDEKA PUTRI Lahir: Pekanbaru, 17 Agustus 1990 NPM: 085310520 Program Studi: Akuntansi IPK: 3,72 Predikat Kelulusan: Dengan Pujian Nama Orang Tua: Sudirman

FAKULTAS AGAMA ISLAM Nama: ANDIKA YOSA Lahir: Regat, 21 Mei 1991 NPM: 092410098 Program Studi: Pendidikan Islam IPK: 3,75 Predikat Kelulusan: Dengan Pujian Nama Orang Tua: Abdullah Sani

FAK. KEG. DAN ILMU PENDIDIKAN Nama: ANGGUN NOVIANI Lahir: Sragen, 27 November 1990 NPM: 086511611 Program Studi: Pendidikan Biologi IPK: 3,75 Predikat Kelulusan: Dengan Pujian Nama Orang Tua: Salmet Hardiyanto

FAKULTAS TEKNIK Nama: ALFRED APDIAN Lahir: Muara Lembu, 1 April 1989 NPM: 083510568 Program studi: Teknik Perangkat Lunak IPK: 3,68 Predikat Kelulusan: Sangat Memuaskan Nama Orang Tua: Amrin, S.Pd

FAK. SOSIAL DAN ILMU POLITIK Nama: ALSAR ANDRI Lahir: Simandolak, 5 Oktober 1989 NPM: 087310686 Program Studi: Ilmu Pemerintahan IPK: 3,67 Predikat Kelulusan: Sangat Memuaskan Nama Orang Tua: Ramli Siregar

FAKULTAS PERTANIAN Nama: MIRA SRI WAHYUNI Lahir: Lenggadai Hulu, 10 Juni 1990 NPM: 084210099 Program Studi: Agribisnis IPK: 3,73 Predikat Kelulusan: Dengan Pujian Nama Orang Tua: Amat Tani

FAKULTAS PSIKOLOGI Nama: MARDIANA NOVITA Lahir: Tulung Agung, 20 Maret 1990 NPM: 088110080 Program Studi: Psikologi IPK: 3,44 Predikat Kelulusan: Sangat Memuaskan Nama Orang Tua: Marianto

Sampai wisuda ke-59 ini, jumlah Alumni Universitas Islam Riau Berjumlah 28.798. Yang terdiri dari 4.355 lulusan Fakultas Hukum, 956 lulusan Fakultas Agama Islam, 2.548 lulusan Fakultas Teknik, 1.594 lulusan Fakultas Pertanian, 7130 lulusan Fakultas Ekonomi, 8177 lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2.562 lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 236 lulusan Fakultas Psikologi, dan 1.240 lulusan Pascasarjana.

35


Ucapan Selamat CIVITAS AKADEMIKA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM RIAU mengucapkan

SELAMAT DAN SUKSES ATAS DIWISUDANYA

WISUDAWAN/TI FISIPOL UIR yang dilantik pada Rapat Senat Terbuka pada wisuda Sarjana ke 59 dan Pascasarjana ke 22 Universitas Islam Riau tanggal 26 Januari 2013 “Semoga Ilmu yang Diberikan Berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agama” Drs. Zulkifli, M.Si Dekan

DR. Azam Awang, M.Si Pembantu Dekan I

Arif Rifa’i, S.Sos., M.Si Pembantu Dekan II

Emrizal, S.Si., M.Nv Pembantu Dekan III

CIVITAS AKADEMIKA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ISLAM RIAU mengucapkan

SELAMAT DAN SUKSES ATAS DIWISUDANYA

WISUDAWAN/TI FAKULTAS HUKUM UIR yang dilantik pada Rapat Senat Terbuka pada wisuda Sarjana ke 59 dan Pascasarjana ke 22 Universitas Islam Riau tanggal 26 Januari 2013 “Semoga Ilmu yang Diberikan Berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agama” Prof. DR. Syafrinaldi, SH., M.CL Dekan

CIVITAS AKADEMIKA FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM RIAU mengucapkan

SELAMAT DAN SUKSES ATAS DIWISUDANYA

WISUDAWAN/TI FAKULTAS EKONOMI UIR yang dilantik pada Rapat Senat Terbuka pada wisuda Sarjana ke 59 dan Pascasarjana ke 22 Universitas Islam Riau tanggal 26 Januari 2013 “Semoga Ilmu yang Diberikan Berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agama” Drs. Abrar, M.Si.Ak Dekan

CIVITAS AKADEMIKA FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM RIAU mengucapkan

SELAMAT DAN SUKSES ATAS DIWISUDANYA

WISUDAWAN/TI FAKULTAS AGAMA ISLAM UIR yang dilantik pada rapat senat terbuka pada wisuda Sarjana ke 59 dan Pascasarjana ke 22 Universitas Islam Riau tanggal 26 Januari 2013 “Semoga Ilmu yang Diberikan Berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agama” Drs. M. Yusuf Ahmad, MA Dekan


Ucapan Selamat SELAMAT DAN SUKSES ATAS DIWISUDANYA

WISUDAWAN/TI FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM RIAU yang dilantik pada Rapat Senat Terbuka pada wisuda Sarjana ke 59 dan Pascasarjana ke 22 Universitas Islam Riau tanggal 26 Januari 2013 “Semoga Ilmu yang Diberikan Berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agama” Dari Kepala Tata Usaha Fakultas Agama Islam

CIVITAS AKADEMIKA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ISLAM RIAU

CIVITAS AKADEMIKA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM RIAU

mengucapkan

mengucapkan

SELAMAT DAN SUKSES ATAS DIWISUDANYA

SELAMAT DAN SUKSES ATAS DIWISUDANYA

WISUDAWAN/TI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ISLAM RIAU

WISUDAWAN/TI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM RIAU

yang dilantik pada Rapat Senat Terbuka pada wisuda Sarjana ke 59 dan Pascasarjana ke 22 Universitas Islam Riau tanggal 26 Januari 2013

yang dilantik pada Rapat Senat Terbuka pada wisuda Sarjana ke 59 dan Pascasarjana ke 22 Universitas Islam Riau tanggal 26 Januari 2013

“Semoga Ilmu yang Diberikan Berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agama”

“Semoga Ilmu yang Diberikan Berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agama”

Ir. U.P. Ismail, M.Agr Dekan

Sigit Nugroho, M.Psi Dekan


TTS edisi Majalah 03

38

38 MENDATAR

MENURUN

2. Presiden Pertama RI 4. Anak 6. Udara Gerak 7. Dian 8. Nama Depan Dekan Fak Psikologi 9. Mata Uang India 12. Minggu 13. Tugu Depan Kantor Gubernur

1. Tanda Jeda 2. Pohon Besar Berlebah 3. Satu 5. Tidak Memihak 8. Luis (Balek) 11. Makan Malam

Tuliskan jawaban Anda di kertas selembar. Kirimkan ke Kantor Redaksi AKLaMASI di samping Gedung Klinik UIRA. Sertakan fhoto copy KTM Anda. Pemenang diberikan hadiah.

ISOLATIPS

JERAWAT merupakan salah satu permasalahan yang sangat serius pada wajah, karena secara tidak langsung mengganggu penampilan. Adanya jerawat d i wajah akan membuat sese-orang malu dan menjad i tidak percaya d iri. Terlebih bagi para wanita. Tamu yang t idak d iundang ini akan menjad i momok yang sangat menakutkan. Banyak obat pencegah jerawat yang dapat d iperoleh d i pasaran, tetapi tidak semua obat jerawat cocok dengan kulit. Oleh karena itu, menghilang-kan jerawat secara alami jauh lebih baik dari pada memakai obat penghilang jerawat berbahan kimia yang d ijual d i pasaran. Selain tanpa efek samping, bahan-bahan alami juga mudah d idapatkan. 1. Mentimun Ment imun d iparut hingga halus. Setelah itu

oleskan pada jerawat yang meradang tunggu sekitar 10-15 menit setelah itu bilas dengan air bersih. Lakukan rutin tiga kali dalam seminggu. 2. Madu Ambil madu secukupnya lalu oleskan merata pada wajah. Diamkan selama 10 menit, lalu bilas dengan air bersih. Lakukan ini dengan rutin hingga kulit menjad i halus dan jerawat hilang. 3. Bengkoang Parut bengkoang. Pisahkan air dan ampasnya. Tempel jerawat dengan ampas bengkoang hingga kering. Lalu bilas dengan air bersih. 4. Air Hangat Kompres jerawat pada pagi dan sebelum t idur dengan air hangat kuku menggunakan handuk Setelah jerawat hilang jagalah kebersihan wajah secara rut in agar terhindar dari jerawat, karena mencegah itu lebi h baik dari pada mengobat i. Konsumsi sayur dan buah. Minum air putih yang cukup untuk menjaga kelembaban kulit. Serta hindari kosmet ik yang menyebabkan kulit berminyak. ď ˛ Rahmi Carolina

Foto: internet

Obat “Momok�, Alami



Majalah AKLaMASI Edisi 03