Issuu on Google+

Edisi Juli - September 2016

A Comprehensive In-depth Review of Aceh Economy

KEBANGKITAN EKONOMI BARSELA ISSN

2089-4465

9 772089 446550


2

Biro Perekonomian Setda Aceh

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |


Sa l e u m i s k a d Re

Drs. Muhammad Raudhi, M.Si (Kepala Biro Perekonomian Setda Aceh)

Assalamualaikum wr.wb. Pembaca AER yang kami muliakan. Kami hadir lagi menjumpai anda melalui edisi ketiga tahun 2016 ini dengan tema: Bangkitnya Ekonomi Barsela. Melalui edisi kali ini, kami ingin mengajak Anda untuk menyimak potensi dan perkembangan pembangunan ekonomi di kawasan Barat Selatan Aceh. Selama ini, banyak pihak yang skeptis tentang

pembangunan di kawasan Barat Selatan Aceh. Namun, fakta dan data menunjukkan bahwa potensi dan kinerja pembangunan di kawasan ini tidak kalah dengan kawasan pesisir Timur Aceh yang dulu menjadi primadona. Mengutip ungkapan Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, Rektor Universitas Teuku Umar, Meulaboh, masa depan Aceh ada di Barsela. Memang, pasca habisnya minyak dan gas di Aceh Timur dan Aceh Utara, sumber daya yang dapat kita andalkan adalah pertanian, perkebunan dan pengolahan hasil laut. Justru, di kawasan Barsela, semua sumber daya ini berlimpah. Pembaca yang terhormat. Dalam edisi kali ini kami kembali mengajak anda untuk mengapresiasi para pengusaha kecil penjaga warisan budaya Aceh. Dalam edisi kali ini, kami mengangkat sosok pengrajin songket Aceh, Ibu Dahlia (55) yang berdomisili di Desa Siem, Darussalam, Aceh Besar. Usaha kerajinan yang dilakukan dengan sangat tradisional ini justru mengangkat kejayaan Aceh masa lalu, yang konon produknya sudah lebih dulu mendunia. Pada rubrik lingkungan kami angkat kisah Kiki Siamang yang memberi hasil puluhan juta kepada Zul (29) sang pengusaha warung kopi di tepi jurang Geurutee. Pada rubrik wisata, Anda kami ajak menikmati Aceh Rapai Festival. Pada rubrik nasional, kami mewawancara Kepala KPP Banda Aceh terkait isu perolehan pajak dan sedikit mengenai capaian Tax Amnesti. Sementara pada rubrik internasional, kami menyajikan liputan Sabang Smart Travel Forum yang diadakan awal agustus lalu. Selamat menikmati... Wassalam

REDAKSI

Pelindung : Gubernur dan Sekretaris Daerah Ketua Pengarah : Asisten Keistimewaan Aceh, Pembangunan dan

Ekonomi Aceh Wakil Ketua Pengarah : Drs. Muhammad Raudhi, M.Si

(Kepala Biro Perekonomian Setda Aceh)

Pemimpin Redaksi : Kabag. Pembinaan Kerjasama pada Biro Perekonomian Setda Aceh

Wakil Pemimpin Redaksi : Frans Dellian, SSTP, M.Si (Kepala Biro Humas Setda Aceh)

Anggota : Azwari, SE, M.Si

Erwani, SE

Redaktur Pelaksana :

Ketua : Ir. M. Elli Syahdi

Sekretaris : Sri Iswari, SE. Ak

Anggota : Mustafa, SE

Nurdin, S.Pd

Redaksi :

Ketua : Amir Hasan, SE. Ak

Sekreataris : Dewi Ertika Pane, SS

Anggota : Kemalawati, BA

Marzuki, S.Sos

Staf Redaksi : Anggota : Zaldi Akmal, SE, MM

Syaiful Ardy

Managing Editor : Suhendra, SE

T. Muda Syurmanshah, SE Dimas Aldrian

Wartawan : Mizla Sadrina, SE., Fauzan, Nazariandi, Mia, Miftah, Nanda, Aidil, Fitri, Jauhar, Febi, Lilis.

Redaksi/Kontributor : Jeliteng Pribadi, SE, MM, MA,

Said Muniruddin, SE, MA, Nasrillah Anis, SE, MM, Miftachuddin Cut Adek, SE, M.Si,

Kartunis : Deky Konsultan Media : Adi Warsidi, Yoserizal Desain Grafis/Layout : Amir Faisal Alamat Redaksi Kantor Gubernur Aceh, Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Aceh Jln. T. Nyak Arief, No. 219, Banda Aceh. Email: bulletin.aer@gmail.com

Percetakan : PT AMG - Serambi Indonesia (Isi di luar tanggung jawab percetakan)


Daftar Isi

Laporan Utama

 Laporan Utama

6-9 Kebangkitan Ekonomi Barsela 10-11 Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE, MBA : Perlu Grand Strategy Optimalkan Potensi Barsela 12-15 Teuku Dadek : Kami Ingin Meulaboh sebagai Pusat Barsela 16-17 Perencanaan Strategik Barat-Selatan Aceh 18-19 Meningkatkan Infrastruktur Barsela 20-21 Aceh Peroleh Penghargaan TPID Inovatif

Hal. 6 Peluang Usaha

 Peluang Usaha

22-23 Ekonomi Berbasis Kreativitas dan Inovasi sebagai Kekuatan Baru Ekonomi Aceh

 Sosok

24-25 Songket Aceh Warisan Budaya Endatu

 Investasi

28-29 Aceh Diminati Investor Singapura dan China

 Perbankan

32-33 Bank Aceh Resmi Layani Nasabah dengan Sistem Syariah

 Opini

Hal. 22 Nanggroe

34-35 Meningkatkan Kinerja UKM di Aceh melalui Internet

 Nanggroe

36 Terampil Lewat Rotan 37 Cengkih Kembali Memberi Harapan 38-39 Pembangunan Daerah Kunci Ekonomi Kerakyatan

 Lingkungan

40-41 Wow, Kiky Siamang Hasilkan Jutaan untuk Zul

 Nasional

42 Sektor Keuangan Dominasi Pajak Banda Aceh

Hal. 36 Wisata

 International

43-44 Sabang dan Halal Tourism menjadi Fokus pada Rangkaian Pertemuan IMT-GT

 Wisata

45-46 Aceh International Rapa’i Festival; Persembahan Perkusi Aceh Untuk Dunia

Hal. 45


Surat Pembaca

Gonthor R. Aziz | Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1A OJK Jakarta Wah bagus ini majalahnya. Media seperti Aceh Recovery Forum ini sangat baik untuk menyebarkan berita-berita pembangunan yang dilakukan pemerintah sekaligus ajang promosi. Saya sudah tiga kali ke Aceh dalam periode yang berbeda, sebelum tsunami, pasca tsunami dan sekarang ini. Saya melihat ada banyak sekali pembangunan yang terjadi di Aceh. Terutama jika dibandingkan pada waktu setelah bencana tsunami. Ini suatu kemajuan yang sangat besar. Perkembangan pasar modal di Aceh memang belum sangat menggembirakan. Namun potensinya besar. Melalui sosialisasi dan edukasi seperti ini kita berharap dapat meningkatkan partisipasi masyarakat di pasar modal. [zaky]

Sarah Nabila Yasmin | Mahasiswa Teladan Universitas Syiah Kuala Sebelumnya saya tidak pernah tahu ada majalah ekonomi seperti ini di Aceh. Majalah seperti AER memiliki peran penting edukasi dan publikasi kepada masyarakat. Melalui media ini, informasi dan pengetahuan dapat disebarkan kepada masyarakat. Sebaliknya, program-program pembangunan pemerintah menjadi banyak diketahui masyarakat dan dapat membangun imej positif di mata masyarakat. Sebagai mahasiswa ekonomi, Saya memperoleh banyak pengetahuan dan informasi tentang pembangunan ekonomi di Aceh. Mudahmudahan majalah ini disebarluaskan secara lebih luas lagi sehingga dapat menyebarkan informasi dan edukasi kepada masyarakat banyak. [rahmi]

Prof. Dr. Nasir Azis, MBA | Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah, Banda Aceh Majalah siapa ini? Oh Biro Ekonomi Pemda Aceh. Bagus ini. Saya kira media seperti ini jelas sangat penting untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatan yang sudah dan akan dikerjakan oleh pemerintah. Ke depan, saya kira media seperti ini perlu diperkuat, diperluas sehingga dapat menjangkau banyak kalangan. Berbicara mengenai kawasan Barsela Aceh, memang jelas kalah dibandingkan kawasan Timur Aceh, khususnya di bidang infrastruktur. Memang tidak bisa dipungkiri, aksesibilitas yang mudah dengan Kota Medan, Sumatera Utara menjadikan kawasan Timur Aceh lebih maju dibandingkan kawasan Barsela Aceh. Namun apabila potensi yang dimiliki Barsela dalam bidang perkebunan, pertambangan, dll. dapat dioptimalkan, bukan tidak mungkin kawasan ini akan lebih maju dari kawasan Timur nantinya. [adek]

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

5


6

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |


Laporan Utama

KEBANGKITAN EKONOMI BARSELA Ke depan, kawasan Barsela akan menjadi motor penggerak ekonomi di Aceh. Dulu, dalam sebuah acara di PT. Arun di Lhoksemawe, Gubernur Aceh yang dijabat Prof. Dr. Ibrahim Hasan, MBA waktu itu berpesan, industri profi di kawasan Timur adalah motor penggerak ekonomi Aceh saat ini. Namun, masa depan Aceh ada di kawasan Barsela.

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

7


Laporan Utama

Prof. Dr. Nasir Azis, MBA Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah, Banda Aceh

K

awasan Barat-Selatan (Barsela) kemampuan suatu daerah atau kabu­paten/ Aceh dipersepsikan banyak kala­ kota dalam menghasilkan nilai tambah dari ngan lebih ‘tertinggal’ dibanding hasil produksi barang dan jasa dalam suatu kawasan Timur-Utara Aceh. kurun waktu tertentu. Benar­ kan demikian? Apabila indikator Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Kebangkitan Ekonomi Barsela jalan mencatat bahwa rata-rata PDRB kabu­ yang digunakan adalah infrastruktur dan jembatan, dulu sebelum tahun 1990- paten/kota di kawasan pesisir Timur jauh Kawasan Barat-Selatan (Barsela) Aceh dipersepsikan banyak kalangan lebih ‘tertinggal’ dibanding an mungkin dapat demikian. lebih dominan di Aceh. Meski produksi kawasan Timur-Utara Aceh.dikatakan Benarkan demikian? Apabila indikator yang digunakan adalah infrastruktur Namun, pasca tsunami, terutama sejak jalan minyak dan gas di Aceh Utara sudah jalan dan jembatan, dulu sebelum tahun 1990-an mungkin dapat dikatakan demikian. Namun, pascajauh yang dibangun USAID selesai dikerjakan berkurang, Aceh2009, Utara hampir tsunami, terutama sejak jalan yang dibangun USAID selesai dikerjakanPDRB pada tahun maka imej ini20 perlu dipertanyakan. Untuk membuktikan ini, AER mengupas Barsela secara pada tahun 2009, maka imej inihalperlu kali lebihkondisi besarpembangunan dibandingkan Singkil dan mendalam. Berikut analisanya! dipertanyakan. Untuk membuktikan hal Simeulu. Fakta ini mengukuhkan dominasi ini, AER mengupas Barsela kondisi pembangunan perekonomian di kawasan pesisir Timur Kondisi Perekonomian Barsela secara mendalam. Berikut analisanya! Aceh. (Grafik 1). Sudah menjadi rahasia umum bahwa kondisi perekonomian masyarakat di kawasan pesisir Barat Namun, fakta di atas tidak sepenuhnya Selatan relatif lebih rendah dibandingkan kawasan pesisir Timur Aceh. Hal ini terlihat dari nilai Produk Kondisi Perekonomian Barsela dapat diterima begitu saja. Nyatanya, Domestik Regional Bruto (PDRB) masing-masing kab/kota di Aceh. Sebagaimana kita ketahui, PDRB Sudah menjadi rahasia umum setelah dibagi dengan jumlah populasi menggambarkan kemampuan suatu daerahbahwa atau kabupaten/kota dalam menghasilkan nilai tambah dari kondisi masyarakat yang notabene jumlahnya hasil produksiperekonomian barang dan jasa dalam suatu kurun di waktupenduduk tertentu. kawasan pesisir Barat Selatan relatif lebih lebih besar di pesisr Timur, ketimpangan rendah kawasan pesisirrata-rata PDRBPDRB antar kawasan pun menjadi sirna. Badan Pusat dibandingkan Statistik (BPS) Aceh mencatat bahwa kabupaten/kota di kawasan pesisir Timur Aceh. ini terlihat dari nilai Produkminyak Buktinya, Subulussalam justru tercatat Timur jauh lebihHal dominan di Aceh. Meski produksi dan gas Kota di Aceh Utara sudah jauh berkurang, PDRB Aceh Utara hampir Bruto 20 kali lebih besar dibandingkan Singkilkabupaten dan Simeulu.dengan Fakta iniPDRB mengukuhkan Domestik Regional (PDRB) masingsebagai perkapita dominasi pesisir Timur Aceh.tertinggi (Grafik 1).di Aceh. Beberapa kabupaten dari masingperekonomian kab/kota didi kawasan Aceh. Sebagaimana kita ketahui, PDRB menggambarkan pesisir Barat lainnya yang juga memiliki Grafik 1 : Rata-rata PDRB ADHB Dengan Migas Tahun 2007-2013 (Rp miliar)

Grafik 1 : Rata-rata PDRB ADHB Dengan Migas Tahun 2007-2013 (Rp miliar) 14,000 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 -

Sumber : BPS Aceh, 2015.

Sumber : BPS Aceh, 2015.

8

Namun, |fakta di atas tidakOM sepenuhnya ACEH ECON IC R E V IEdapat W | diterima E DI S I J begitu UL I - saja. S E P Nyatanya, T E MB E R setelah 2 0 1 6 |dibagi dengan jumlah populasi penduduk yang notabene jumlahnya lebih besar di pesisr Timur, ketimpangan PDRB antar kawasan pun menjadi sirna. Buktinya, Kota Subulussalam justru tercatat sebagai kabupaten dengan PDRB perkapita tertinggi di Aceh. Beberapa kabupaten dari pesisir Barat lainnya yang juga

PDRB perkapita yang tinggi adalah Aceh Barat Daya di posisi ketiga, Aceh Jaya dan Nagan Raya di posisi ke-7 dan ke-8, serta Aceh Barat di posisi ke-10. Data PDRB per kapita selengkapnya dapat dilihat pada grafik 2. 60 50 40 30 20 10 -

Sumber: BPS Aceh, 2015.

Sumber: BPS Aceh, 2015.

Dari grafik 2 dapat disimpulkan bahwa kabupaten/kota di pesisir Barsela tidak kalah produktif dibandingkan pesisir Timur. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prof. Dr. Nasir Azis, MBA menilai bahwa ketertinggalan kabupaten/kota di pesisir Barsela terutama pada infrastruktur dasar.

Dari grafik 2 dapat disimpulkan bahwa kabupaten/kota di pesisir Barsela tidak “Namun, beberapa kabupaten/kota di Barsela sangat berpotensi untuk berkembang melampaui pesisir Timur, seperti Aceh Barat Daya, misalnya. Apabila dikembangkan dengan baik, kabupaten ini bisa kalah produktif dibandingkan pesisir Timur. berkembang menjadi lokomotif pembangunan ekonomi pesisir Barat-Selatan,” tambahnya. Jebolan Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang ini menambahkan bahwa sektor Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, pendidikan juga sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu kawasan. “Di pantai Timur ada Unimal, Unsam, Jabal Ghafur, IAIN Cot Kalla, Langsa, Universitas Al Muslim di Prof. Dr. Nasir Azis, MBA menilai bahwa Birueun, dan lain-lain. Di pantai Barat hanya ada satu, UTU di Meulaboh. Apapun analisanya, kualitas sumber daya manusia yang digambarkan dari eksistensi perguruan tinggi menjadi sangat menentukan ketertinggalan kabupaten/kota di pesisir dalam pembangunan daerah,” jelasnya panjang lebar. Dalam konteks pengembangan sumber daya manusia, masyarakat di pesisir Barsela sebenarnya tidak Barsela terutama pada infrastruktur dasar. kalah dengan masyarakat di pesisir Timur. Pada tahun 2015 misalnya, BPS Aceh mencatat beberapa kabupaten/kota di Barsela memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang cukup baik. Misalnya, Aceh Barat“Sudah dan Aceh Jaya masing-masing posisi ke-11 dan ke-12 tertinggi dengan skor IPM sejakmenempati dahulu, kawasan pantai sebesar 68.41 dan 67.53, jauh melampaui Aceh Utara dan Aceh Timur yang menempati posisi ke-14 dan ke-18. Selengkapnya dapat dilihat pada Grafik 3. Timur memiliki akses jalan yang sangat baik menuju Medan dibandingkan kawasan pantai Barsela Kondisi ini berimbas pada kemajuan di sektor perdagangan dan jasa,” jelasnya. “Namun, beberapa kabupaten/ kota di Barsela sangat berpotensi untuk berkembang melampaui pesisir Timur, seperti Aceh Barat Daya, misalnya. Apabila dikembangkan dengan baik, kabupaten ini bisa berkembang menjadi lokomotif pembangunan ekonomi pesisir BaratSelatan,” tambahnya. Jebolan Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang ini menambahkan bahwa sektor pendidikan juga sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu kawasan.

“Sudah sejak dahulu, kawasan pantai Timur memiliki akses jalan yang sangat baik menuju Medan dibandingkan kawasan pantai Barsela Kondisi ini berimbas pada kemajuan di sektor perdagangan dan jasa,” jelasnya.


Laporan Utama “Di pantai Timur ada Unimal, Unsam, Jabal Ghafur, IAIN Cot Kalla, Langsa, Universitas Al Muslim di Birueun, dan lainlain. Di pantai Barat hanya ada satu, UTU di Meulaboh. Apapun analisanya, kualitas sumber daya manusia yang digambarkan dari eksistensi perguruan tinggi menjadi sangat menentukan dalam pembangunan daerah,” jelasnya panjang lebar. Dalam konteks pengembangan sumber daya manusia, masyarakat di pesisir Barsela sebenarnya tidak kalah dengan masyarakat di pesisir Timur. Pada tahun 2015 misalnya, BPS Aceh mencatat beberapa kabupaten/kota di Barsela memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang cukup baik. Misalnya, Aceh Barat dan Aceh Jaya masing-masing menempati posisi ke-11 dan ke-12 tertinggi dengan skor IPM sebesar 68.41 dan 67.53, jauh melampaui Aceh Utara dan Aceh Timur yang menempati posisi ke-14 dan ke-18. Selengkapnya dapat dilihat pada Grafik 3. 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

Sumber: BPS Aceh, 2016

Sumber: BPS Aceh, 2016

Grafik 3 memperlihatkan secara umum, kabupaten/kota di pesisir Barsela relatif memiliki IPM lebih rendah dibandingkan pesisir timur. Namun, Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Jaya terlihat mampu bersaing dengan Aceh Utara dan Aceh Timur.

Grafik 3 memperlihatkan secara umum, kabupaten/kota di pesisir Barsela relatif memiliki IPM lebih rendah dibandingkan pesisir timur. Namun, Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Jaya terlihat mampu bersaing dengan Aceh Utara dan Aceh Timur.

menjadi potensi sangat besar bagi industry pariwisata. Aceh itu indah alamnya, kaya budayanya,” tambahnya sambil tersenyum. [AER | Rahmi Atika]

Potensi Sumber Daya Alam Pasca euforia minyak dan gas, Aceh hanya dapat mengandalkan sumber daya hutan, tambang, pertanian/perkebunan dan laut. Namun, sumber daya hutan dan tambang tidak dapat diandalkan. Kedua sektor ini sarat dengan konflik. Apalagi, tekanan terhadap upaya pelestarian lingkungan dan konsep green economy sangat gencar. Sehingga, laut dan kebun menjadi alternatif sumber daya yang paling menjanjikan. Rektor Universitas Teuku Umar, Meulaboh, Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, MBA menuturkan hal ini. “Ke depan, kawasan Barsela akan menjadi motor penggerak ekonomi di Aceh. Dulu, dalam sebuah acara di PT. Arun di Lhoksemawe, Gubernur Aceh yang dijabat Prof. Dr. Ibrahim Hasan, MBA waktu itu berpesan, industri profi di kawasan Timur adalah motor penggerak ekonomi Aceh saat ini. Namun, masa depan Aceh ada di kawasan Barsela,” jelasnya. “Ditambah lagi, kawasan pantai Barsela terkenal sangat indah alamnya. Ini

Potensi Sumber Daya Alam Pasca euforia minyak dan gas, Aceh hanya dapat mengandalkan sumber daya hutan, tambang, pertanian/perkebunan dan laut. Namun, sumber daya hutan dan tambang tidak dapat diandalkan. Kedua sektor ini sarat dengan konflik. Apalagi, tekanan terhadap upaya pelestarian lingkungan dan konsep green economy sangat gencar. Sehingga, laut dan kebun menjadi alternatif sumber daya yang paling menjanjikan. Rektor Universitas Teuku Umar, Meulaboh, Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, MBA menuturkan hal ini. “Ke depan, kawasan Barsela akan menjadi motor penggerak ekonomi di Aceh. Dulu, dalam sebuah acara di PT. Arun di Lhoksemawe, Gubernur Aceh yang dijabat Prof. Dr. Ibrahim Hasan, MBA waktu itu berpesan, industri profi di kawasan Timur adalah motor penggerak ekonomi Aceh saat ini. Namun, masa depan Aceh ada di kawasan Barsela,” jelasnya. “Ditambah lagi, kawasan pantai Barsela terkenal sangat indah alamnya. Ini menjadi potensi sangat besar bagi industry pariwisata. Aceh itu indah alamnya, kaya budayanya,” tambahnya sambil tersenyum. [AER | Rahmi Atika]

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

9


Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE, MBA :

PERLU GRAND STRATEGY OPTIMALKAN POTENSI BARSELA

10

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |


Laporan Utama

P

otensi ekonomi kawasan BaratSelatan (Barsela) Aceh tidak diragukan lagi. Namun, seberapa besar potensinya, serta tantangan dalam pengembangannya masih belum difahami oleh banyak orang secara gamblang. Untuk menjawab ini, AER berupaya menggali pemikiran orang nomor satu di Universitas Teuku Umar (UTU), Meulaboh, Aceh Barat. Berikut petikannya. Kenapa Barsela Perlu Dikembangkan secara Komprehensif? “Setelah migas habis, Aceh harus mencari alternatif sumber daya ekonomi yang berkesinambungan. Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Barsela dapat menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus menjadi motor penggerak pembangunan Aceh di masa yang akan datang,” papar Rektor Universitas Teuku Umar yang juga Guru Besar Manajemen Pemasaran FE Unsyiah dalam wawancara santai dengan AER. “Kawasan Barsela memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pusat agropolitan baik di sektor pertanian atau perkebunan. Kekayaan sumber daya lautnya yang langsung menuju Samudera Hindia juga sangat potensial untuk pengembangan kawasan minapolitan sebagai industry pengolahan hasil laut, perikanan tangkap, perikanan tambak, industri konservasi kelautan, dan juga pariwisata,” jelasnya bersemangat. “Selama ini, hasil perkebunan sawit dari kawasan Barsela menyumbang 65 persen produksi sawit Aceh. Sedangkan karet 55 persen, demikian pula hasil lautnya. Laut di kawasan Barsela langsung berhadapan dengan samudera hindia, sehingga ikannya lebih banyak, sementara di pantai Timur berhadapan dengan Selat Malaka dan sebagian besar sudah rusak,” tambahnya. Untuk menjadikan Barsela sebagai penopang perekonomian Aceh di masa depan, jebolan Universiti Kebangsaan Malaysia ini menawarkan perlunya dilakukan beberapa terobosan antara lain menetapkan Kawasan Strategis di Barsela. “Di Universitas Teuku Umar (UTU), kami

berupaya menjadikan UTU sebagai sumber inspirasi dan referensi pengetahuan, teknologi dan bisnis di bidang industri agro dan kelautan untuk membawa kawasan Barsela unggul di bidang ini, paling tidak secara regional pada tahun 2025, secara nasional tahun 2040, dan dunia pada tahun 2060 mendatang,” jelasnya bersemangat. “Untuk memajukan Barsela, perlu dipersiapkan perencanaan komprehensif yang disusun secara terintegrasi. Maka saya menawarkan koordinasi perencanaan kawasan regional Pantai Barat Selatan yang bisa disingkat BDB, Barsela Development Board,” jelasnya. “Untuk menarik investasi, diperlukan Barsela Investment and Promotion Agency (BIPA). Sedangkan untuk memobilisasi pendanaan dari dalam, dapat dilakukan melalui Barsela Corporate Social Responsibility Agency (Bacosra),” tambahnya. Barsela Development Board “Potensi ekonomi di Barsela sangat besar, sehingga pembangunannya harus dilakukan dengan cara-cara yang besar pula. Luas Barsela mencapai 37 persen dari wilayah Aceh, sedangkan penduduknya hanya 22,7 persen. Luas kebun di Barsela 45,5 persen dari total kebun di Aceh, sedangkan kebun sawit 62 persen. Singkat cerita, potensi pertanian dan kehutanan kab/kota di Barsela jauh melampau Kab/ Kota lainnya di Aceh,” papar ayah 4 anak ini. “Dengan kata lain, seperlima penduduk Aceh di Barsela menguasai sepertiga sumber daya pertanian/kehutanan/ perkebunan dan laut di Aceh. Itulah sebabnya, dibutuhkan perencanaan yang terkoordinasi, terintegrasi, singkron, dan tersimplifikasi (KISS). Inilah alasannya kenapa kita membutuhkan Barsela Development Board (BDB),” jelasnya. “Perencanaan daerah bukanlah serpi­ han atau miniatur perencanaan sebuah wilayah. Tapi dia merupakan perencanaan yang terintegral, tidak berdiri sendiri, yang memiliki karakteristik spesifik wilayah atau regional. Sistem perencanaan daerah membutuhkan koordinasi multilintas, horizontal-vertikal dan lintas horizontalvertikal. Hal ini sangat memungkinkan

untuk Barsela, karena 8 Kab/Kota yang ada di Barsela berasal dari 2 kabupaten induk, Aceh Barat dan Aceh Selatan. Sehingga memiliki kohesivitas wilayah, alam, budaya, dan latar belakang sejarah yang sama,” tambahanya panjang lebar. “Dengan adanya grand strategy pembangunan Barsela, memungkinkan pembangunan fasilitas umum yang berkualitas secara bersama-sama. Misal­ nya, pembangunan perguruan tinggi, rumah sakit, pelabuhan, kawasan industri,” jelasnya lagi. “Jadi, paling tidak, ada satu fasum yang sangat baik di Barsela. Misalnya, ada satu rumah sakit yang sama kualitasnya dengan RS Zainoel Abidin (RSUZA) di Banda Aceh. Sehingga, pasien dari Bakongan tidak harus menempuh perjalanan 500 km menuju Banda Aceh untuk mendapatkan pelayanan di RSUZA, jika ada yang sama baiknya di Barsela,” imbuhnya memberi contoh. Investasi dan Pendanaan Pembangunan “Pastilah rencana pembangunan kawasan akan membutuhkan anggaran, baik dari APBA, APBD maupun sumber dana lainnya. Kita berharap Pemerintah Aceh dapat mengalokasikan anggaran yang proporsional untuk mengembangkan kawasan Barsela,” papar mantan Pj. Bupati Aceh Jaya ini ketika ditanya masalah pendanaan. “Namun, kita berharap sumber dana yang utama justru berasal dari Investasi, baik asing maupun nasional. Sebuah negara atau daerah yang maju, biasanya tumbuh dari investasi, bukan semata-mata mengharap dana APBD yang nilainya tidak seberapa. Namun, bicara investasi bisnis memerlukan ukuran yang massif, baik dari segi luas lahan, sumber daya alam, SDM, dll. Itulah sebabnya, saya mengajak para Bupati di kawasan Barsela untuk bersamasama mengundang investor. Bicaranya bukan lagi per kabupaten, tetapi kawasan Barsela. Sehingga potensi dan daya tariknya akan jauh lebih besar di mata investor,” tambahnya sambal berharap Barsela Investment and Promotion Agency (BIPA) dapat segera terwujud. [adek]

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

11


Teuku Dadek :

KAMI INGIN MEULABOH SEBAGAI PUSAT BARSELA Bak dara nan cantik jelita, kawasan Barat-Selatan Aceh sangat mempe­ sona. Namun sang dara gadis desa, kecantikannya masih asli alami. Dibutuhkan sentuhan halus untuk memperkenalkannya ke pentas dunia.

12

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |


Laporan Utama

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

13


B

ak dara nan cantik jelita, kawasan Barat-Selatan Aceh sangat mempesona. Namun sang dara gadis desa, kecantikannya masih asli alami. Dibutuhkan sentuhan halus untuk memperkenalkannya ke pentas dunia. Untuk itu, AER mewawancara H. Teuku Dadek, SH, Kepala BAPPEDA Aceh Barat di ruang kerjanya di Meulaboh medio September lalu. Bagaimana potensi ekonomi Barsela? Potensinya sangat besar, namun harus diakui kita masih bekerja sendirisendiri. Kalau kami, kami ingin Meulaboh menjadi pusat pembangunan ekonomi di Barsela. Kita ingin menjadi Banda Acehnya wilayah sana. Makanya kita siapkan misalnya universitas, setidaknya menjadi pusat pendidikan tinggi di Barat Selatan khususnya Meulaboh seperti UTU, STIM, sama AKN dan beberapa perguruan tinggi swasta lainnya di wilayah Barat Selatan. Ini yang pertama yang sedang kita pacu. Ini akan menjadi magnet. Yang kedua, kita juga sedang memacu wilayah Aceh Barat ini menjadi pusat kesehatan. Rumah sakit di sini memang menjadi rujukan dari rumah sakit di Nagan Raya, tapi masih banyak juga yang tidak bisa mereka tangani dan terpaksa dibawa ke Banda Aceh. Makanya kita dukung sekarang Pak Gubernur ingin membangun rumah sakit regional untuk mengurangi beban Rumah Sakit Zainal Abidin (RSUZA). Yang ketiga ada di bidang jasa, misalnya pusat perdagangan di wilayah Barat Selatan. Kemudian yang keempat, kalau dalam

14

perspektif Aceh Barat, mungkin termasuk bidang pertambangan kami ingin unggul. Tetapi secara keseluruhan untuk Barat Selatan mungkin yang paling diperhatikan ya ekonomi perkebunan itu. Seperti sawit dan yang lainnya. Kalau pertambangan ya seperti batu bara. Kekurangan kita di Barat Selatan yaitu masih kurang produksi-produksi rumah tangga kalau dibandingkan wilayah Timur. Produk-produk kemasan itu di samping dari pabriknya di Jakarta, banyak juga dari Pidie, Pidie Jaya. Apakah infrastrukturnya memadai? Belum memadai. Untuk pendidikan, sekolah unggul terus ditingkatkan. Kalau jenjang SMA kami juga pacu pertumbuhannya dan tingkat universitas seperti UTU kita bangun terus. Apalagi setelah menjadi universitas negeri, kekuatan dana juga menjadi lebih kuat. Begitu pula dengan universitas AKN, makanya tanah sudah diserahkan ke Dikti. Jalan di UTU sudah kita buat, RTBDL (Rencana Tata Bangunan dan Lingkungannya) sudah kita susun. Infrastruktur juga kita siapkan. Dari segi SDM masyarakatnya juga sedang kita persiapkan. Pusat perumahan sudah mulai dibangun di sekitar UTU, yaitu ada kost dan perumnas. Tanah juga sudah disediakan untuk pembangunan rumah sakit regional. Sudah dipegang oleh Dinas Kesehatan. DED sedang dikerjakan. Sekarang kan bermasalah di funding-nya. Sekarang-kan mereka mau ngutangin uang dari Jerman, cuma sekarang-kan

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |

bermasalah di DPRA, karena pihak Jerman meminta jaminan kalau itu hutang. Karena nantinya ini tidak jadi hutang Gubernur, jadi mereka minta jaminan dari DPRA. Terakhir saya duduk dengan pihak Dinas Kesehatan, skenario paling buruk mereka akan menempatkan uang Otsus. Cuma itu butuh uang sejumlah 300 miliar, jadi kalau ditempatkan 50 miliar akan butuh waktu 6 tahun baru selesai. Sektor Jasa? Kalau sektor jasa, kita punya pelabuhan. Tapi Barat Selatan ini kan tidak ada ekspor yang signifikan. Ekspor yang adapun dibawanya ke Medan, cenderung tidak menggunakan kapal laut melainkan jalur darat. Ini dikarenakan mungkin lebih efisien. Padahal pelabuhan kita sendiri bagus, sumbangan dari Singapura. Mungkin perusahaan pakai pelabuhan bukan untuk ekspor, tapi dibawa ke Medan. Yang kita ekspor sekarang ini cuma batu bara. Mulai bulan Oktober ini sudah mulai ekspor lagi. Masalah lainnya, untuk jangka waktu dekat-kan usaha tambang beberapa menjadi usaha provinsi. Untuk transportasi ferry sudah mulai beroperasi, kini ada 2 kali keberangkatan ke Simeulue. Untuk fasilitas bongkar muat masih belum memadai di pelabuhan karena tidak ada yang diangkut muatan. Selama ini hanya untuk ekspor batu bara dan sekarang pun mereka sudah punya pelabuhan sendiri. Tidak ada komoditi yang dibawa karena mungkin bukan pelabuhan internasional. Wilayah Barat selatan ini saya lihat


Laporan Utama pemerintah daerahnya nggak bisa di koordinir dengan baik oleh provinsi mungkin. sehingga semuanya itu berkehendak membangun pelabuhan. Setelah pelabuhan ada, yang ada hanya orang mancing di situ. Faktor yang Mendorong Pembangunan? Aceh hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Uang kita hampir Rp 14 triliun untuk APBA, sedangkan Medan hanya Rp 7 triliun tapi tingkat kemiskinan kenapa lebih besar kita? Jangan salah. Kita di Aceh cuma bergantung pada uang Rp 14 triliun itu, sektor swasta tidak bergerak, investasi tidak ada. Di Medan uang pemerintah cuma Rp 7 triliun, tapi uang pengusaha itu yang jauh lebih bisa menghidupi masyarakat, investasi itu. Kalau hanya dengan uang Otsus jangan berharap. Karena sektor investasi kita ini kurang berjalan. Kalau di Aceh Rp 14 triliun itu bermakna Rp 14 triliun. Di Medan mungkin Rp 7 triliun itu bermakna Rp 70 triliun, karena sektor swasta yang berkembang dengan investasi maka Rp 7 triliun itu dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Masyarakat sudah ter-cover dengan investasi. Coba kalau di sini, di setiap daerah dibangun seperti MIFA (PT MIFA – red), sudah berapa peluang pekerja yang terserap. Inilah bagaimana caranya supaya Aceh menjadi primadona dalam investasi, ini yang menjadi masalah. Di Medan pemerintah dapat tenang bekerja, karena pabrik dan segala macamnya sudah tumbuh dengan sendirinya, ada pabrik sepatu, pabrik kecap, dll. Jadi nggak perlu pusing lagi mengembangkan daerah karena sudah ada investasi. Padahal, jalan kita di Aceh lebih baik dibandingkan jalanjalan di Sumut. Inilah yang jadi masalah di Aceh, investasi rendah. Investasi adalah faktor kunci untuk meningkatkan kemajuan ekonomi suatu daerah. Masalah investasi di Aceh cukup banyak, ada masalah perizinan, moratorium tambang. Kemarin itu, waktu perusahaan tambang mau melakukan perizinan, malah sudah ada jeda tidak boleh mengeluarkan lagi. Investasi juga kita dorong untuk kebutuhan sehari-hari. Jika untuk investasi yang menjadi kebutuhan kita saja seperti telur, dan semacamnya kenapa nggak bisa? Produksi daging saja, ayam potong, masih banyak dari Medan. Inilah yang harus kita

dorong orang untuk berinvestasi, bukan investasikan hanya sumber daya alam saja, PLTU, PLTA, tapi hal-hal kecil yang menjadi kebutuhan kita seperti ayam potong, ayam petelur, minyak goreng. Saat ini ekonomi terbantu sedikit oleh uang Otsus dan uang bangun desa. Bagaimanapun, investasi harus didorong. Kenapa di Jakarta dan sekitarnya bisa maju? Jika ada 100 persen uang beredar di Indonesia, 85 persen ada di Jabodetabek. Karena di sana banyak industri. Investasi di sini banyak yang ganggu. Soal investasi ini, masyarakat perlu dididik untuk dapat menerima para investor itu. Perlu menjadi masyarakat ramah investasi, masyarakat yang terbuka, perusahaan mau investasi tidak seharusnya dibuat tidak nyaman. Sektor pariwisata Sektor lainnya yang paling berpotensi meningkatkan ekonomi ya sektor pariwisata. Lihat di Banda Aceh saya kagum, luar biasa di Banda Aceh sampai menarik wisatawan dari Malaysia. Lihat Hotel Medan tempat saya kalau menginap di sana, hampir tidak ada kamar tersedia, wisatawan semua yang tempati. Event-event internasional itu yang perlu digalakkan agar orang bisa datang terus ke Aceh. Itu sektor kedua yang sangat penting untuk kita dorong. Pemanfaatan Dana Desa dan Dana CSR Berikutnya adalah dana desa. Apabila dana-dana ini bisa dimanfaatkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, maka akan besar dampaknya. Bayangkan, sekarang ini sebuah desa bisa punya anggaran Rp 800 juta setahun. Tahun 2016, Kabupaten Aceh Barat mendapat alokasi dana desa sebesar Rp252,5 miliar, naik 92 persen dari tahun sebelumnya yang berjumlah Rp143 miliar. Berikutnya adalah dana sumbangan perusahaan, atau CSR. Kalau mengenai CSR, di Aceh Barat juga banyak CSR dari perusahaan-perusahaan, namun banyak CSR sekarang ini cenderung digunakan untuk hal-hal proposal dan konsumtif. Sedikit yang berorientasi kepada development, malah sedikit sekali. Kalau di sini yang melakukan CSR itu PT MIFA, PT KTS. Kalau masalah perkebunan, ini memang sudah berjalan karena perkebunan di sini bagus. Karena sektor pertanian yang paling

banyak menyerap tenaga kerja. Terutama pertanian, ini tidak hanya menghasilkan produk tingkat pertama, namun juga ada pengolahan, sehingga dapat menghasilkan hasil olahan lainnya. Jadi kembali kepada investasi itu lagi, karena tidak bisa kita harapkan dari uang Otsus. Sektor pendidikan ini sebenarnya perlu kita pacu kembali, supaya semua nya menjadi negeri. Karena kalau bagi kami di sini itu efeknya besar. Orang kirim uang dari luar untuk anak-anaknya di sini itu bisa mendorong ekonomi menjadi bagus, begitu pula dengan kesehatan. Melihat Banda Aceh, Darussalam sebagai tempat anak-anak menimba ilmu itu sangat berpengaruh terhadap ekonomi Banda Aceh, efeknya besar. Seperti saat saya belajar ke Jogja, berapa ribu mahasiswa di sana, berapa puluh milyar orang tua kirim uang untuk anaknya. Ini yang membuat daerah tersebut hidup, mulai dari kuliner, tempat kost, usaha jasa lainnya. Hal ini sudah mulai terasa di Kecamatan Meureubo, jalan ke UTU. Uang Otsus ini kan nggak boleh kita pakai untuk investasi-investasi seperti itu. Walaupun bisa saja, tapi kalau kita bergantung dengan itu, nggak akan bisa bergerak banyak. Yang paling penting satu lagi, bagaimana kita ini bisa mengurangi pengeluaran masyarakat, misalkan ketergantungan kepada kredit. Karena masyarakat ini kebanyakan sudah banyak tergantung kepada kredit, seperti kredit motor, tv dan sebagainya. Pengurangan kredit motor ini bisa kita tiru dengan adanya trans kutaraja di Banda Aceh, itu sangat bagus dalam mengurangi pengeluaran masyarakat dalam hal kredit kendaraan. Kalau transportasi kita bagus seperti di Penang Malaysia, orang cenderung akan naik bus saja daripada membeli kendaraan pribadi karena tidak susah. Konteks kelautan Untuk kelautan, kita juga memproduksi banyak ikan. Cuma sekarang para nelayan kan sudah harus diatur dengan tata kelola penangkapan ikan. Jangan ikan-ikan kecil kita tangkap agar tidak terjadi over fishing. Mohon maaf ini, kalau saat ini nelayan masih ada yang pakai katrol dalam menangkap ikan. Itu kan sampai ke dasar laut sifatnya, jangankan ikan, ular laut saja sampai terjaring, padahal ular kan di dasar laut. [JP | Dimas | AER ]

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

15


Jeliteng Pribadi, SE, MM, MA Dosen Manajemen FEB Unsyiah

P

otensi ekonomi Barat-Selatan Aceh tidak terbantahkan. Namun, untuk bisa mengoptimalkan potensi menjadi keunggulan membutuhkan skill tersendiri. Khususnya dari para pemimpin daerah, dalam hal ini masing-masing Bupati/Walikota di setiap daerah di kawasan ini. Hal ini disebut dengan manajemen strategik atau strategic planning. Kata kunci dalam manajemen stategik adalah keunggulan bersaing (competitive advantage). Fred R. David mengatakan bahwa strategic management is all about gaining and maintaining competitive advantage. Tolok ukurnya selalu didasarkan atas perbandingan antara elemen kekuatan - kelemahan dengan pesaing, serta peluang – tantangan yang sedang dan akan dihadapi ke depan. Untuk meraih keunggulan bersaing yang berkelanjutan, Michael E. Porter menyarankan tiga elemen utama yang perlu dimiliki yakni, low cost, differentiation, dan focus. Tiga elemen inilah yang, saya kira, patut menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan di Barsela, bila ingin kawasan ini unggul dalam persaingan antar kawasan maupun antar wilayah. Bicara masalah keunggulan sumber daya alam, tidak diragukan lagi bahwa masing-masing daerah di kawasan Barsela memiliki potensi yang sangat besar dan unik satu sama lain. Oleh sebab itu, manajemen pembangunan di kawasan ini perlu fokus terhadap potensi dan keunikan yang dimiliki. Apabila dapat dioptimalkan, maka potensi sumber daya alam yang besar ini akan mampu menghasilkan efisiensi produksi (low

16

cost). Keunikan masing-masing wilayah akan menghasilkan differentiation – yang membedakan kawasan ini dari kawasan lainnya, dan bahkan antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya. Untuk itu, perlu dipertimbangkan pola-pola pertumbuhan ekonomi yang dapat menjadi lokomotif pembangunan ekonomi di masing-masing kab/kota, yang pada gilirannya menjadi lokomotif pembangunan di kawasan ini. Misalnya, menjadikan Aceh Barat sebagai pusat pendidikan dan kesehatan, Aceh Barat Daya sebagai pusat perdagangan, Aceh Selatan sebagai kawasan Minapolitan, Nagan Raya sebagai kawasan Agropolitan, Aceh Jaya sebagai pusat pariwisata, dll. Adanya perencanaan strategis pengembangan wilayah Barat Selatan yang baik akan mengundang masyarakat dan investor untuk berpartisipasi. Bagi investor, arah dan kebijakan pembangunan yang ditetapkan dalam dokumen ini akan menciptakan peluang untuk masuk ke dalam suatu bisnis, atau meningkatan produksi dari bisnis yang telah ada serta mengembangkan ekspor. Oleh sebab itu, budaya kerja dan sistem birokrasi pemerintahan di kawasan Barsela, sejak dari awal perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan harus diarahkan untuk mewujudkan keunggulan bersaing masing-masing daerahnya serta kawasan Barsela secara keseluruhan. Komitmen ini pada akhirnya akan mengundang partisipasi swasta dalam pembangunan. Sekaligus akan berdampak pada kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi yang pada gilirannya akan meningkatkan kapasitas anggaran pembangunan daerah yang lebih besar lagi. Pembangunan Ekonomi Daerah Mungkin agak klasik, tetapi banyak yang abai dan bahkan lalai, bahwa hakikat pembangunan ekonomi adalah untuk menyelesaikan masalah atau isu-isu ekonomi daerah yang dihadapi, baik untuk jangka pendek ataupun jangka panjang. Dua prinsip dasar pengembangan ekonomi daerah yang perlu diperhatikan adalah (1) mengenali ekonomi wilayah dan (2) merumuskan manajemen pembangunan daerah yang pro-bisnis. Mengenali ekonomi wilayah berarti para pengambil kebijakan perlu memahami kekuatan dan kelemahan ekonomi di daerahnya masing-masing. Hal ini meliputi kondisi sumber daya manusia, populasi dan pola urbanisasi. Semakin besar urbanisasi yang terjadi, semakin jelas ketimpangan ekonomi antara kota dan desa, dan

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |

kesesuaian keterampilan yang ada dengan yang dibutuhkan (link and matched). Berikutnya adalah memahami potensi ekonomi yang paling dominan terhadap perekonomian di daerahnya. Tentunya, sektor yang perlu diprioritaskan adalah yang memberi kontribusi terbesar terhadap PDRB. Selama ini, sektor pertanian masih menjadi fundamental perekonomian di Aceh dan Indonesia pada umumnya. Selanjutnya, adalah kemampuan wilayah untuk mengefisienkan pergerakan orang, barang dan jasa. Oleh sebab


Laporan Utama

PERENCANAAN STRATEGIK BARAT-SELATAN ACEH itu, aksesibilatas transportasi dari dan menuju sentra produksi dan pasar harus dipastikan aman dan lancar. Termasuk pula aksesibilitas suatu wilayah dengan kotakota yang lebih besar. Manajemen Pembangunan yang Pro-Bisnis Pelajaran teori ekonomi tingkat dasar mengatakan, pelaku utama ekonomi ada 3, yakni pemerintah, pengusaha, dan masyarakat. Dalam perkembangan dewasa ini, peran lembaga keuangan dan perbankan agaknya perlu ditambahkan

sebagai yang keempat. Oleh sebab itu, dalam pembangunan daerah, pemerintah tidak boleh mengabaikan peran ketiga pelaku lainnya. Keunggulan bersaing suatu wilayah ditentukan dari kualitas dan kinerja seluruh elemen pelaku ekonominya, bukan hanya pemerintahnya semata. Maka, pembangunan yang partisipatif dan akomodatif menjadi mutlak diperlukan. Sinergitas antara keempat pelaku ekonomi akan meningkatkan daya saing daerah dan hasil pembangunan yang diharapkan. Untuk meningkatkan partisipasi

para pelaku ekonomi secara luas, maka prinsip alokasi dan distribusi sumber daya menjadi syarat mutlak. Pemerintah daerah harus memastikan ketiga pelaku ekonomi lainnya dapat berpartisipasi secara maksimal di dalam pembangunan. Untuk itu, perlu didorong upaya-upaya untuk meningkatkan koordinasi, aksesibilitas informasi, dan transparansi. Apabila hal-hal di atas dapat dioptimalkan, maka sasaran pembangunan ekonomi akan dapat dicapai secara maksimal. Bagaimana menurut Anda? [ ]

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

17


MENINGKATKAN INFRASTRUKTUR BARSELA

Drs. Alfian Ibrahim, MS Mantan Rektor Universitas Teuku Umar, Meulaboh

K

eberadaan infrastruktur yang baik merupakan prasyarat mutlak bagi maju dan berkembangnya suatu kawasan. Hal ini ditekankan tokoh masyarakat Aceh Barat, Drs. Alfian Ibrahim, MS yang juga merupakan mantan Rektor Universitas Teuku Umar, Meulaboh. “Memang jalan utama yang dibangun USAID sudah sangat baik. Namun, jalanjalan penghubung, jembatan, pelabuhan, dermaga, bendungan dan irigasi serta saluran drainase di dalam kawasan masih

18

kurang, terutama dalam hal kualitasnya,” papar Alfian. “Dalam konteks pengembangan regionalisasi dalam bentuk pusat-pusat pertumbuhan, dimana menurut saya pengembangan kawasan Barat Selatan dalam zona pertanian itu menurut saya sudah tepat. Sebab potensi-potensi ekonomi di Barsela itu mengarah ke sana, terutama perkebunan itu sangat besar. Hal ini didukung oleh banyaknya investor pengusaha-pengusaha besar, seperti suconfindo, parasawita. Produk-produk kelapa sawit itu memang terlihat betul di pantai Barat Selatan. Itu mobil-mobil tangki CPO tiap hari 2-3 terlihat menuju Medan. Sekarang ini, produksi sawit diangkut melalui darat. Sehingga jalan utama sudah banyak yang rusak,” jelas pensiunan dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah ini panjang lebar. “Meskipun pertumbuhan kawasan ekonomi yang dilakukan pada masa pemerintahan Pak Ibrahim Hasan tidak begitu menonjol, tetapi sekarang memang terlihat itu. Contoh Sinabang, Kebutuhan pangan, dan lain-lain diperoleh dari Labuhan Haji. Kebutuhan sayur mayur dan lain-lain. Namun, untuk arus penumpang lebih banyak ke Aceh Barat. Sehingga untuk mendorong ekonomi kawasan Barsela, keberadaan pelabuhan menjadi sangat penting,” tambahnya. Pak Alfian – demikian sapaannya –

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |

berharap paling tidak di kawasan Barsela ada satu fasilitas publik yang sama baik kualitasnya dengan yang ada di Banda Aceh. “Misalnya rumah sakit. Paling tidak ada satu di Barsela, misalnya di Meulaboh yang memiliki kualitas sama baiknya dengan yang ada di Banda Aceh, seperti Rumah Sakita Zainul Abidin. Ini sekaligus juga akan mengurangi kepadatan pasien yang dirujuk dari daerah, khususnya dari Barat-Selatan,” pintanya. Pembangunan Infrastruktur di Barsela Pemerintah Aceh memberikan perhatian yang serius terhadap keberadaan infrastruktur di kawasan Barat Selatan. Beberapa sarana penting yang telah dibangun sejak 7 Januari 2013 hingga saat ini antara lain Jembatan Kuala Bubon sepanjang 838 meter dengan bentang 104,5 meter. Jembatan ini menghubungkan Kecamatan Teunom Aceh Jaya dengan Meulaboh, Aceh Barat. Gubernur Aceh dr. H. Zaini Abdullah yang meresmikan Jembatan Kuala Bubon ketika itu mengajak semua pihak untuk merawat jalan dengan cara menjaga kebersihan. "MDF sudah membantu kita dan kita semua wajib menjaganya, salah satunya dengan menjaga kebersihan jalan. Hewanhewan yang berkeliaran di jalan juga


Laporan Utama berpotensi menjadi penyebab kecelakaan, bagi hewan dan bagi pengguna jalan," ujar Doto Zaini sambal menyindir banyaknya sapi di jalanan. Menurut Gubernur, salah satu upaya Pemerintah Aceh membantu kawasan Pantai Barat Selatan dengan cara mem­ bantu pembangunan infrastruktur, seperti jalan dan jembatan. "Dengan bagusnya jalan dan jembatan maka iklim investasi akan hidup di Aceh, termasuk di kawasan Pantai Barat-Selatan," ujar Zaini Abdullah. Gubernur Resmikan Jembatan Antar Pulau di Pulau Banyak Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah meresmikan jembatan antar pulau di Singkil pada Minggu 24 Juli lalu. Gubernur menyatakan pembangunan infrastruktur, industri, pendidikan, pertanian dan kesehatan merupakan aspek pembangunan yang akan dipacu oleh pemerintah. Peresmian ini dilakukan seiring dengan pembukaan Festival Pulau Banyak. Jembatan gantung ini diberi nama Jembatan Syeich Abdur Rauf As-Singkili, menghubungkan Pulau Balai ke Teluk Nibung. Jembatan membentang sepanjang 160 meter dengan lebar 3 meter dan dapat dilalui oleh kenderaan seberat 2 ton. “Insya Allah jembatan ini mampu menopang lalu lintas yang menghubungkan dua pulau ini,” ujar Gubernur Zaini. Keberadaan jembatan tersebut kata gubernur, sangat penting sebagai penunjang bagi kemajuan kedua pulau itu. Jembatan itu bukan hanya mendukung perkembangan ekonomi dan budaya, tapi juga penting dalam membangun

Gubernur usai resmikan Jembatan Gantung di Singkil

kehidupan sosial. Gubernur berharap jembatan tersebut dapat dimanfaatkan dan dipelihara dengan baik agar pemanfaatannya bisa lebih optimal. Bupati Safriadi menyebutkan pada awalnya, pemerintah kabupaten bersama masyarakat akan menamai jembatan tersebut dengan nama Jembatan Balaibung. Artinya Jembatan Pulau Balai dan Teluk Nibung. Namun oleh gubernur menyarankan agar penamaan jembatan tersebut harus punya filosofi yang kuat. Karenanya kemudian dipilihlah nama Jembatan Syeich Abdur Rauf As-Singkili. “Gubernur menyarankan pakai nama ulama Aceh. Aceh Singkil tempat lahir ulama besar dan harapannya generasi muda harus tahu bahwa di Aceh Singkil ada ulama besarnya Aceh dan Indonesia,” ujar Safriadi. Jembatan tersebut, lanjut bupati, akan

menjadi ikon baru dari Kabupaten Aceh Singkil. “Jika berkunjung ke Aceh Singkil tidak sah jika tidak berkunjung ke Pulau Banyak dan Jembatan Syeich Abdur Rauf As-Singkili.” Kepada gubernur, Bupati Safriadi meminta agar membantu penyelesaian jembatan penghubung Kilangan – Kuala Baro – Trumon Aceh Selatan. Hal tersebut, katanya, sebagai penunjang perekonomian masyarakat sekaligus mrngrluarkan Aceh Singkil dari daerah teresolir dan tertinggal. Terkait penamaan tersebut, gubernur menyebutkan, Aceh punya sejarah panjang dan punya tokoh-tokoh hebat. Dengan demikian, nama-nama para tokoh baik ulama mau pun pahlawan akan senantiasa diberikan saat membangun berbagai ikon di Aceh. Hal itu sebagai bentuk pengetahuan bagi generasi muda di Aceh. (adek | rahmi | sumber : Humas Pemrov Aceh)

Foto : diliputnews.com

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

19


20

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |


Laporan Utama

ACEH PEROLEH PENGHARGAAN TPID INOVATIF

P

rovinsi Aceh meraih penghargaan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Inovatif 2015 terhadap program inovatif yang dilakukan pemerintah setempat yang dinilai cukup berhasil dalam menjaga stabilitas harga. Penghargaan ini diberikan Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus DW Martowardojo yang diterima Sekretaris Daerah Aceh, Dermawan MM dalam rapat Koordinasi Nasional VII TPID, Jakarta, pada hari Kamis tanggal 4 Agustus 2016. Selain Aceh, provinsi lainnya yang mendapatkan penghargaan tersebut adalah Pemprov Jawa Timur dan Pemprov Gorontalo. Sementara tiga pemerintah daerah tingkat kabupaten/kota yang mendapatkan penghargaan TPID Inovatif 2015 yakni Medan, Surakarta, dan Balikpapan. Kepala Biro Ekonomi Setda Aceh, Muhammad Raudi menyampaikan bahwa penghargaan yang diterima itu mengatakan beberapa inovasi yang dilakukan untuk menekan laju inflasi daerah yaitu saat ini di semua kabupaten/ kota sudah terbentuk TPID. Selanjutnya bekerja sama dengan BI, kabupaten/ kota diajak untuk memanfaatkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang medianya tersebut berada di BI. “Setiap jam 10 pada hari kerja, SKPD kabupaten/kota atau SKPD yang berkaitan dengan harga pasar yaitu Disperindag kabupaten/kota setiap hari mereka menginput harga pasar. Sehingga semua harga kebutuhan pokok yang ada di seluruh Aceh tergambar,” kata Muhammad Raudi.

“Menko Perekonomian menyerahkan Penghargaan TPID Inovatif tingkat provinsi kepada Provinsi Aceh untuk Pulau Sumatera, Provinsi Jawa Timur untuk Pulau Jawa dan Provinsi Gorontalo untuk kawasan Timur Indonesia.”

Ditambahkannya, manfaat dari hal tersebut, petani yang memproduksi padi, jagung, bawang, atau cabai dapat melihat harga-harga dari daerah lain. “Bisa dilihat disitu daerah mana bawang atau cabai yang harganya tinggi pada hari itu, termasuk juga harga ikan. Dengan tergambarnya harga pasar seperti itu maka petani dapat menjual harga barangnya dengan harga standar. Adanya PIHPS ini juga petani dapat melihat akan menjual kemana barangnya

yang harganya bisa normal atau pastinya dia mendapat keuntungan,” jelasnya. Inovasi lainnya, kata Muhammad Raudi berupa optimalisasi tempat pelelangan ikan dan memperkuat tempat penyimpanan dengan cold storage. Dalam hal ini bersama dengan Dinas Kelautan, pihaknya sedang mengupayakan agar kabupaten/kota peng­hasil ikan seperti Idi, Meulaboh juga memiliki cold storage supaya hasil-hasil panen ikan itu tidak anjlok. [Humas Aceh]

Beberapa program yang dilakukan pemerintah daerah berhasil menjaga stabilitas harga komoditas. Seperti yang dilakukan Pemerintah Provinsi Aceh yang melakukan inovasi berupa optimalisasi tempat pelelangan ikan dan memperkuat tempat penyimpanan dengan cold storage. Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

21


EKONOMI BERBASIS KREATIVITAS DAN INOVASI SEBAGAI KEKUATAN BARU EKONOMI ACEH 22

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |


Peluang Usaha

P

erkembangan jaman dan informasi teknologi di dunia sangat pesat. Persaingan global yang terjadi di negara-negara asing merupakan salah satu acuan kita dalam meningkatkan daya saing sehingga negara kita dapat menjadi negara yang mampu menarik perhatian dunia dan meningkatkan perekonomian secara nasional. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional kini tak lagi hanya berharap pada sektor industri, pariwisata, dan investasi saja, melainkan melalui sektor ekonomi kreatif. Perlu diketahui bahwa melihat potensi tersebut di Indonesia pada saat ini, berdasarkan hukum Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2015, presiden Joko Widodo membentuk suatu badan tersendiri yang mampu menjamin terselenggaranya kebijakan dan program pemerintah di bidang ekonomi kreatif. Kini badan tersebut telah resmi dan bernamakan Be Kraf (Badan Ekonomi Kreatif ) Indonesia yang merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebija­ kan ekonomi kreatif di bidang aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi, dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi dan radio. Pada hari Jumat tanggal 26 Agustus 2016 lalu Pemerintah Aceh dan Badan Ekonomi Kreatif (Be Kraf ) akhirnya memutuskan untuk menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman tentang Pelaksanaan Pengembangan Program Ekonomi Kreatif Untuk Mendukung Pembangunan di Aceh pada acara Focus Group Discussion (FGD) Ekonomi Perumusan Kerjasama Quadro Helix di Hotel Hermes. Mewakilkan Gubernur Aceh dr. H. Zaini Abdullah dalam sambutannya, Staf Gubernur Aceh Bidang Keistimewaan dan Sumber Daya

Manusia, Ir Helvizar mengatakan bahwa kita pantas bergembira karena Pemerintah pusat telah menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan usaha ekonomi kreatif di Aceh sebagaimana tertuang dalam kesepakatan antara Pemerintah Aceh dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia yang ditandatangani hari ini (26/8). Khusus untuk Aceh, sektor usaha ekonomi kreatif juga menunjukkan perkembangan hingga saat ini sudah terbukti banyaknya karya kreatif masyarakat Aceh masuk pasar Nasional meliputi, batik tenun, aneka motif bordir, mukena, dompet, tas dan lainnya,” ungkapnya. Dukungan dari pemerintah juga menjadi faktor yang amat penting bagi perkembangan ekonomi kreatif di Aceh. Di Indonesia sendiri, Kota Bandung yang menjadi salah satu percontohan dalam pengembangan ekonomi kreatif dalam hal ini sangat melibatkan komunitas secara aktif. Bandung pun menjadi kota pertama yang berhasil menggunakan model ABCG (Akademisi, Bisnis Sektor, Community, Government) dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Dalam mengelola ekonomi kreatif di Aceh yang memiliki 23 kabupaten dan/ atau kota, salah satu kunci sukses adalah mengembangkan komunitas di daerahnya yang khas. Sebab tanpa pelibatan berbagai pihak, tak akan berkembang, dalam hal ini peran pemerintah adalah sebagai regulator, katalisator, dan fasilitator dalam membangun fondasi ekonomi kreatif. Dalam hal ini yaitu mensosialisasikan rencana kebijakan dan program peme­ rintah, saat ini dalam pengem­ bangan ekonomi dan industri kreatif, mensosialisasikan kebijakan pembiayaan bagi pengembangan industri kreatif, menjaring isu, permasalahan, dan hambatan terkini dalam pengembangan ekonomi dan industri kreatif sebagai masukan bagi perumusan kebijakan, serta mensosialisasikan best practices dan success story dalam pengembangan ekonomi dan industri kreatif dari negara lain dan pelaku usaha.

Deputi Riset, Edukasi, dan Pengem­ bangan Badan Ekonomi Kreatif (Be Kraf ) Indonesia, Abdur Rohim Boy Berawi mengungkapkan bahwa industri kreatif dalam setahun terakhir telah menyumbang Rp 642 triliun atau 7,05 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. "Kontribusi terbesar berasal dari usaha kuliner sebanyak 32,4 persen, mode 27,9 persen, dan kerajinan 14,88 persen," sebutnya. Kendati industri kreatif Indonesia diprediksikan akan semakin berkembang, ada 16 subsektor yang terus tumbuh selama 2015 - 2019, yakni seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio, aplikasi game, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, periklanan, musik, penerbitan, fotografi, desain produk, fashion, film animasi dan video, kriya, dan kuliner. Dari subsektor yang ada, sedikitnya ada tiga bidang yang mengalami pertumbuhan cukup signifikan, yakni teknologi informasi sebesar 8,81 persen, periklanan 8,05 persen, dan arsitektur 7,53 persen. Selain menyumbang PDB nasional, Abdur mengatakan, industri kreatif merupakan sektor keempat terbesar dalam penyerapan tenaga kerja, dengan konstribusi secara nasional sebesar 10,7 persen atau 11,8 juta orang. Di Aceh, terkait sektor ini Helvizar menyatakan, perlu untuk mendapatkan perhatian selain sebagai meningkatkan pendapatan masyarakat sampai mencip­ takan lapangan kerja sehingga produk yang dihasilkan juga sarat dengan nilai seni dan budaya. Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Ricky Joseph Pesik berpendapat dalam pencapaian itu, salah satu tahapan dalam mengupayakan kerjasama pengem­ bangan ekonomi kreatif daerah dapat dilakukan melalui tiga C, yaitu connect, collaborate, commerce, atau keterhubungan, kolaborasi dan komersialisasi semua pemangku kepentingan mulai dari tingkat lokal hingga nasional. (Dimas)

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

23


Songket Aceh

WARISAN BUDAYA ENDATU

24

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |


K

ain songket bagi masyarakat Aceh bukan hanya sekedar tenunan. Selain untuk fashion, kain songket menggambarkan falsafah hidup masyarakat Aceh yang religius melalui motifmotifnya. Itulah sebabnya, kain songket menjadi bagian penting dalam upacara sakral di Aceh seperti pernikahan, peusijuk (selamatan-red), dan upacara adat lainnya. Namun kini, keberadaan songket Aceh terancam punah. Sedikit sekali orang yang mau menekuni warisan peninggalan endatu (leluhur-red) ini. Mengingat pentingnya melestarikan warisan endatu inilah, AER mengunjungi Desa Siem di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar. Seperti kebanyakan desa lainnya di Aceh Besar, desa ini pun demikian. Suasana kampung terbilang sepi dari hingar bingar kenderaan bermotor. Tampak perkampungan ini jarang dikunjungi pendatang. Apalagi, selepas persimpangan Tungkop, jalan semakin kecil dan sepi. Tak lama kemudian, setelah berkendara sekitar 3 km arah Timur Laut, tibalah kami di ujung gang yang tertulis, Lorong Tenun Songket. Tak sulit menemukan rumah kerajinan songket Aceh yang sudah melegenda ini. Melihat kondisi sekitar, takkan ada yang menyangka kalau ratusan tahun silam, desa ini pernah menjadi pusat pengembangbiakan ulat sutera dan usaha tenunan kain songket yang terkenal sampai ke manca negara. Seorang ibu paruh baya, Dahlia (55) menyambut kedatangan AER dengan hangat. Ia adalah putri semata wayang almh. Hj. Maryamu binti Ali (73) atau lebih dikenal dengan sebutan Nyak Mu yang wafat pada tahun 2009 silam. Dahlia menjadi satusatunya pewaris budaya yang hingga kini masih menekuni kerajinan tradisional tersebut. “Kerajinan menenun kurang diminati oleh anak perempuan Aceh saat ini,” ungkapnya. “Anak zaman sekarang lebih suka bekerja di mall–mall atau di supermarket, mereka bisa bersolek dengan paras muka yang cantik di depan umum, berbeda dengan menenun yang tidak memperhatikan penampilan,“ ujar istri seorang PNS ini datar. Dahlia menyadari situasi sekarang ini yang sudah jauh berubah dibandingkan masa kecilnya dulu. Terlebih di zaman teknologi canggih dan tempat hiburan yang menawarkan segala fasilitas yang bagus, sehingga membuat anak zaman sekarang enggan melestarikan budaya tradisional ini.

Sosok “Di era modern sekarang, kesadaran masyarakat dan rasa keinginan untuk menumbuhkan serta melestarikan kebu­ dayaan Aceh seperti Kain Songket Aceh ini sangat minim,” tambahnya. Dahlia menceritakan kisahnya dulu dalam menenun. Usaha tenunan kain songket mendiang ibunya sudah ada sejak tahun 1973. Dikala itu, Dahlia masih duduk di kelas 3 SD dan ia masih belum bisa menenun sama sekali, hanya sekedar melihat–lihat saja. Barulah saat lulus Sekolah Menengah Atas, Dahlia mulai belajar menenun karena ia tidak melanjutkan ke bangku perkuliahan. Bersama 5 orang pengrajin yang sudah bekerja bersama ibunya sejak lama, Dahlia bisa menghasilkan 5 kain songket dalam sebulan. “Semua tenunan ini dihasilkan dengan menggunakan alat tradisional yang digunakan ibu saya dulu,” jelasnya. “Saya dan kelima pekerja tersebut belajar menenun kain songket kepada ibu Saya. Dari semua penenun, tidak ada satupun yang bisa membuat motif, kecuali saya,” jelasnya sambil tersenyum bangga. Kain Songket Aceh ini dibandrol dengan harga Rp 1.600.000 untuk jenis kain sutra, sedangkan satu helai katun seharga Rp 800.000. Kain sutera memang sangat lembut dibandingkan dengan katun yang lebih keras. Untuk satu helai kain songket sudah ada rok dan selendang imbuhnya. “Biasanya, keluarga linto baroe (pengantin baru pria-red) yang ingin memberikan peuneuwoe (bingkisan-red) kepada dara baroe (pengantin baru wanitared) memesan sepaket songket dengan datang langsung ke sini,” jelasnya. “Kemudian saya menyiapkan bahan-bahannya, dan para pekerja kemudian menenunnya di rumah masing-masing,” tambahnya lagi. Dahlia mengaku bahwa pekerjaan menenun kain songket ini bukanlah pekerjaan pokok baginya, demikian pula dengan 5 pekerja lainnya. Mereka hanya bekerja bila ada pesanan. Untungnya, hampir setiap minggu selalu ada pesanan yang segera harus disiapkan untuk minggu berikutnya, demikian seterusnya. Sehingga, tidak ada outlet khusus untuk memajang dan menjual kain songket. Pemesanan dibuat berdasarkan jumlah permintaan pelanggan yang datang ke rumah. “Jadi, tidak ada kain songket yang dijual di toko-toko ataupun dititipkan ke toko souvernir Aceh, dikarenakan tidak sempat membuatnya,” jelasnya. Untuk proses menenun 1 helai kain songket dibutuhkan waktu sekitar 25 hari

jika membuka benang imbuh. Semua motif berasal dari Almh. Nyak Mu, dengan menjiplak dari buku ibunya, diantaranya pucuk rebung, awan si on, dan lidah tieong (burung beo), pinto Aceh dan bungoeng kertah. Dampak Tsunami Perbedaan saat sebelum dan setelah Tsunami memberikan dampak besar bagi usaha tenun songket, terutama kepada para pengrajinnya. Dulu saat sebelum Tsunami, banyak yang mau belajar, ada yang berasal dari Simpang Ilie, Lamteumen Timur, dan bahkan ada yang dari Lamno, dll. Namun setelah Tsunami, banyak yang tidak tertarik lagi. “Untuk para pemula yang ingin belajar, bisa memakan waktu sampai satu bulan, tapi kembali lagi kepada kemampuan masing-masing. Belajar menenun kain songket terkadang sama seperti menjahit bordir” jelasnya. Jika ada dari kalangan perempuan Aceh yang ingin belajar menenun, Dahlia mengaku bersedia dan sangat senang untuk mengajar. Akan tetapi, mengingat peralatan untuk menenun masih sangat terbatas, sehingga tidak memungkinkan untuk mengadakan pelatihan. Dahlia berharap agar pemerintah memberikan perhatian terhadap penenun kain songket. Sarannya, pihak pemerintah dapat ikut dan turun tangan dalam melestarikan kain songket Aceh seperti membuka pelatihan, kemudian Dahlia dan para pekerja diangkat menjadi guru dan bisa mengajarkan masyarakat yang ingin belajar menenun kain songket dan alat-alat bisa dibeli. Sehingga kain songket Aceh tidak mati dan dilupakan begitu saja. Perjuangan Dahlia sebagai penenun kain songket yang ada di Aceh ini tidak sia-sia, para pemesan ada yang berasal dari luar Aceh, seperti dari Jakarta. Dahlia pun memasarkan hasil tenunannya lewat media sosial seperti facebook. Ibu dari 6 orang anak ini selalu giat dalam meneruskan usaha keluarganya. Sayangnya, tak satupun anaknya tertarik untuk belajar menenun dan meneruskan warisan endatu-nya. Saat ini, 5 dari 6 orang anaknya sudah mendapatkan pekerjaan tetap. Dahlia berharap, pemerintah peduli dan mau mendukung melestarikan salah satu warisan Aceh ini, misalnya dengan menjadi penyelenggara pelatihan menenun kepada generasi penerus Aceh yang ingin belajar. Dengan begitu, Dahlia dan kelima rekannya bisa berbagi bakat yang mereka miliki. [Fitri, Lilis]

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

25


MEMBERSIHKAN IKAN Seorang pekerja menawarkan jasa membersihkan ikan kepada pelanggan rumah tangga di TPI Lampulo, Banda Aceh. Ada puluhan pekerja yang menawarkan jasa ini sambil menjual ikan. Rata-rata, penghasilan mereka dari upah membersihkan ikan ini mencapai Rp 100 -150 ribu setiap harinya. Tingginya minat masyarakat dalam mengkonsumsi ikan turut meningkatkan pendapatan mereka. Foto : Dimas

26

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |


| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

27


ACEH DIMINATI INVESTOR SINGAPURA DAN CHINA Kita ingin membantu Aceh dalam mengembangkan pela­ buhan atau airport di Sabang dan juga meningkatkan des­ tinasi wisata, kata Henry

28

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |


Investasi

B

ak sekuntum bunga yang mengundang kumbang untuk menghisap madunya, Aceh pun demikian agaknya. Sejak berakhirnya konflik tahun 2005 lampau, investor asing seakan tak pernah berhenti berdatangan hingga kini. Mulai dari Amerika, Eropa, bahkan dari Negara tetangga Asia. Baru-baru ini (19/7), perwakilan perusahaan pengembang pelabuhan dan bandara yang berbasis di Singapura, Globalports menjumpai Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf di ruang kerjanya. Tim yang dipimpin Direktur Eksekutif Globalports Henry TEH Kok-Kheng menawarkan investasi dan kerjasama pembangunan dan pengelolaan pelabuhan dan bandara di Sabang. “Kita ingin membantu Aceh dalam mengembangkan pelabuhan atau airport di Sabang dan juga meningkatkan destinasi wisata,” kata Henry. Menurut Henry, pelabuhan Sabang tidak hanya bisa dijadikan sebagai pelabuhan penumpang tapi juga untuk cargo. Untuk meningkatkan wisatawan ke Sabang, Henry juga menawarkan investasi seaplanes atau pesawat amfibi yang bisa digunakan wisatawan untuk menuju ke destinasi wisata lain seperti ke Phuket dan Langkawi dan tempat wisata lainnya. Henry bersama rombongan juga dijadwalkan akan mengunjungi Sabang untuk melihat berbagai peluang investasi lainnya. Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf sangat menyambut baik tawaran investasi dari Globalports dan berharap kerjasama pengembangan kawasan Sabang dapat terwujud. Muzakir Manaf juga mengatakan akan menjamin keamanan bagi para investor yang datang ke Aceh. “Kita sangat berharap investor menanam modal di Aceh agar Aceh cepat maju dan berkembang,” kata Muzakir.

Selain Pelabuhan Sabang kata Muzakir, Aceh juga memiliki beberapa pelabuhan lainnya seperti pelabuhan Krueng Geukuh dan Krueng Raya yang juga sangat layak untuk dikembangkan. Untuk itu, ia meminta Henry bersama rombongan dari Globalports untuk meninjau lokasi tersebut. Sekilas Globalports Asia Globalports Asia adalah salah satu perusahaan pengembang, manajemen dan investasi internasional yang berkantor pusat di Singapura. Fokus utama perusahaan ini adalah dalam mengembangkan tujuan dan infrastruktur yang terkait dengan terminal feri, terminal cruise, marina dan bisnis bandara. Untuk diketahui, pelabuhan Singapura (Port of Singapore) merupakan pelabuhan kedua terbesar di dunia, setelah Pelabuhan Sanghai, China. Pelabuhan yang telah berdiri sejak abad ke-13 yang awalnya digunakan untuk mengekspor kain katun, barang pecah belah, dan keramik ke pasar internasional, kini menangani lebih 420 juta ton kargo setiap tahun dan tercatat sebagai pelabuhan dengan lalu lintas kontainer tersibuk di dunia. Pelabuhan Singapura mengirimkan hampir ¼ kontainer dunia dan menghubungkan Singapura dengan lebih 600 pelabuhan di dunia.

Pembangunan dan Ekonomi Setdakab Ir Syahril. Para investor dari China tersebut bernaung di bawah perusahaan Kunming Engineering Corporation Limited dipimpin Vice President of Hua Neng Lancang River Hydropower Inc Mr. Huang Guangming dan Vice Director of Internasional Dept of Kunming Engginering Cooperation Mr. Jiang. Mr. Huang menyampaikan bahwa pihaknya berencana akan melakukan investasi di Aceh Barat serta meminta dukungan sepenuhnya dari pemerintah. Pihaknya juga akan melihat lokasi untuk rencana pembangunan PLTA di Aceh Barat. Perusahaan Kunming Engineering Corporation Limited yang sudah sukses membangun PLTA di beberapa lokasi a.l. Wieyuan Jiang Hydropower dan Sinan River Hydropower di China, serta Gazi Barota Hydropower di Pakistan rencananya akan membangun hydropower berkapasitas 220 Mega Watt (MW) di Aceh Barat. Dikatakan, investasi ini juga dimaksudkan untuk mendukung program pemerintah guna memenuhi kebutuhan listrik sebesar 35 ribu MW di seluruh Indonesia. Bupati Alaidinsyah menyambut baik rencana tersebut. Namun Bupati meminta investor serius dan mempersiapkan segala kebutuhan persyaratan berinvestasi. “Ini penting agar rencana investasi ini bisa berjalan baik,” ujarnya. [Haris AER | Humas Setdaprov Aceh & Pemkab Aceh Barat]

Investor China Lirik PLTA di Aceh Barat Sebelum Globalports Singapura, investor dari China juga telah lebih dahulu datang. Namun, rombongan pengusaha China lebih fokus pada sektor energy. Mereka tertarik untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di aliran Krueng Woyla, Aceh Barat. Hal ini diungkapkan saat audiensi dengan Bupati Aceh Barat Dr (HC) HT Alaidinsyah medio Mei lalu. Rombongan investor China yang berjumlah 20 orang didampingi Kadis Pertambangan dan Energi (Distamben) Ir Herman Yoes dan Asisten Keistimewaan | AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

29


MUSIM DURIAN Seorang warga tengah menjajakan durian di Bukit Kulu, Lhoong, Aceh Besar. Kecamatan Lhoong di Aceh Besar terkenal sebagai salah satu daerah penghasil durian. Bila musim durian tiba, banyak warga Banda Aceh dan wisatawan yang sengaja datang berburu durian Lhoong yang terkenal kelezatannya. Satu buah durian diharga antara 15.000 hingga 35.000 rupiah, tergantung besar dan kecilnya. Foto : Wahyu Andhika Fadwa

30

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |


| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

31


BANK ACEH RESMI LAYANI NASABAH DENGAN SISTEM SYARIAH

P

T Bank Aceh secara resmi melayani nasabah dengan sistem syariah, terhitung sejak 19 September silam. Keputusan tersebut dilakukan setelah bank milik Pemerintah Aceh ini mendapatkan izin operasional perubahan kegiatan usaha Bank Aceh menjadi Bank Syariah dari Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Gubernur Aceh selaku pemegang saham pengendali PT. Bank Aceh, dr. H. Zaini Abdullah, menyebutkan hadirnya Bank Aceh Syariah merupakan pintu gerbang baru bagi sistem perbankan di Indonesia khususnya di Aceh. Dalam prosesnya, lahirnya bank syariah ini punya banyak rintangan. “Prosesnya cukup alot dan alhamdulillah sejak malam tadi jam 12.00, semua sistem konvensional sudah kita tinggalkan,” ujar Gubernur Zaini saat Go live bank Aceh menjadi Bank Syariah, di

32

Kantor Pusat Bank Aceh, Bathoh (19/09). Perubahan sistim konvensional, lanjut gubernur, merupakan itikat baik dari pemerintah yang sepenuhnya didukung oleh masyarakat Aceh. “Ini adalah impian kita semua masyarakat Aceh dan sudah sejalan dengan berbagai qanun syariah yang juga kita terapkan di Aceh.” Gubernur menambahkan, lahirnya Bank Aceh Syariah diharapkan mendukung sepenuhnya pembangunan Aceh juga dilakukan dengan berlandaskan Syariat Islam. Sementara itu, Ahmad Wijaya Putra, Ketua OJK Provinsi Aceh, menyebutkan dengan konveksinya Bank Aceh menjadi bank syariah, bank milik pemerintah ini harus diikuti dengan lahirnya produk yang kompetitif dan layanan yang lebih baik. Jika tidak, kata Ahmad Wijaya, Bank Aceh Syariah akan kalah bersaing dengan bank lainnya. “Masalah produk serta layanan yang

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |

diberikan menjadi harga mati yang harus dilakukan oleh Bank Aceh Syariah. Harus ada sebuah inovasi baru yang diberikan oleh Bank Aceh,” ujar Ahmad Wijaya. OJK, kata Ahmad Wijaya akan terus mengawal dan memberikan pengawasan kepada Bank Aceh Syariah sehingga pascakonversi aset Bank Aceh bisa terus meningkat. Busra Abdullah, Direktur Utama Bank Aceh, meminta semua pihak bekerja maksimal sehingga tidak ada keluhan dari masyarakat terkait pelayanan. “Kami tidak mau ada yang mengatakan karena syariah layanan menjadi buruk, kredit macet dan sebagainya,” ujar Busra. Ia menyebutkan, semua pihak harus berkomitmen untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada nasabah. Semua cabang Bank Aceh Syariah, kata Busra telah memberikan informasi bahwa tidak ada kendala dan operasional di semua cabang. Semua operasional,


Perbankan katanya berjalan lancar. “Pascalive kita akan memantau semua nasabah dan jika ada kendala segera sikapi dengan pelayanan terbaik,” ujarnya. Konversi Bank Aceh Momentum Mem­ per­­kuat Pelaksanaan Syari’at Islam Pada Grand Launching Bank Aceh Syari’ah di Anjong Mon Mata, Senin (3/10/2016), Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah berharap konversi PT Bank Aceh dari bank umum konvensional menjadi bank syariah, dijadikan sebagai momentum untuk memperkuat dasar pelaksanaan Syariat Islam di Bumi Serambi Mekkah. “Langkah ini merupakan upaya kami selaku Kepala Pemerintahan Aceh, untuk memperkuat implementasi Syariat Islam dalam berbagai sisi kehidupan masyarakat di berbagai sektor, termasuk pada sektor ekonomi dan perbankan,” ujar Doto Zaini dalam sambutannya yang dibacakan Sekda Aceh. “Ini sesuai dengan perintah Allah yang termaktub dalam Surat Al-Baqarah ayat 275, yang artinya: ‘Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.’ Dalam surat ini, Allah secara tegas mewajibkan kita untuk menjauhi Riba,” kata Gubernur. Selanjutnya, sambung Gubernur, adalah landasan sosiologis, di mana masyarakat Aceh telah sejak dahulu menerapkan Syari’at Islam dalam setiap interaksi ekonomi. “Hal ini dikarenakan, nilai-nilai Islam sudah lebih dahulu menyatu dan integral dengan setiap gerak dan nafas masyarakat Aceh, yang tercermin dari pola interaksi antara sesama warga, dan tercermin pula dalam adat istiadat dan tradisi masyarakat Aceh.” Terakhir adalah landasan yuridis, yaitu ketentuan perundang-undangan sebagai payung hukum bagi implementasi Syari’at Islam, termasuk dalam bidang ekonomi, antara lain Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh, Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Aceh. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, serta berbagai Qanun tentang Pelaksanaan Syariat Islam, khususnya Qanun Nomor 9 Tahun 2014 Tentang Pembentukan Bank Aceh Syariah. “Alhamdulillah, setelah melewati proses yang panjang, akhirnya pada hari ini kami berhasil mewujudkan cita-cita mulia untuk mengantarkan Bank Aceh yang selama

ini beroperasi dengan sistem perbankan konvensional beralih menjadi bank berbasis syariah,” ungkap Doto Zaini. Konversi Bank Aceh Dukung Pertumbuhan Perbankan Syari’ah Nasional Gubernur menambahkan, konversi Bank Aceh tidak hanya penting bagi masyarakat Aceh, tapi juga tercatat sebagai sejarah baru bagi perbankan nasional, sebab Bank Aceh merupakan bank milik Pemerintah Daerah pertama yang beralih menjadi bank syariah. “Dampak konversi ini pun cukup terasa, sebab konversi Bank Aceh telah mampu mendukung pertumbuhan kinerja perbankan syariah hingga mampu menembus angka psikologis 5 persen dari total asset perbankan nasional. Dengan indikator ini, Insya Allah Bank Aceh tidak hanya mampu berkontribusi bagi pembangunan Aceh, tapi siap berperan untuk pembangunan nasional,” tambah Gubernur. “Kami sendiri sangat bangga atas kinerja Bank Aceh selama beberapa tahun ini, sehingga mampu memperkuat fondasi bisnis Bank Aceh semakin kokoh dan berpengaruh secara nasional. Dari tahun ke tahun pencapaian kinerja perbankan ini terus meningkat.” Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga mengungkapkan, bahwa ada empat aspek penting yang dihadirkan oleh Bank Aceh setelah beralih ke sistem perbankan syariah, yaitu Bank Aceh akan mampu mendorong peningkatan pasar bank syariah di Indonesia hingga melebihi 5 persen. “Selama ini, 5 persen dianggap sebagai angka psikologis yang sulit untuk dicapai. Artinya, Bank Aceh memiliki peran besar untuk melebihi angka psikologis itu. Selanjutnya, dengan konversi ini Aceh akan menjadi daerah dengan pangsa pasar perbankan syariah terbesar di indonesia,” tambah Gubernur. Selain itu, kehadiran Bank Aceh dalam perbankan syariah juga menempatkan bank ini sebagai bank syariah terbesar kelima di Indonesia dengan total aset mencapai R21,90 triliun. Bank Aceh Syari’ah berada di bawah BRI Syari’ah, Bank Syari’ah Mandiri, BNI Syari’ah dan Bank Muamalat. “Konversi ini berpotensi pula menj­ adikan Bank Aceh sebagai bank pengelola dana haji kelima terbesar secara nasional. Keberadaan Bank Aceh Syariah juga diharapkan mampu menjadi panutan bagi

pertumbuhan ekonomi syariah nasional,” tambah gubernur. Untuk mencapai efek positif tersebut, Bank Aceh diharapkan semakin memperluas aksesnya agar masyarakat dapat meman­ faatkan jasa dari perbankan seluasluasanya, yaitu dengan memperbesar akses pembiayaan produktif. Dalam rangka mensosialisasikan Bank Aceh Syari’ah, Pemerintah Aceh juga menyatakan sangat sangat mendukung gagasan pihak manajemen yang akan mensosialisasikan Program ‘Geraiku Bank Aceh’. “Melalui gerakan inklusif ini, Bank Aceh tentunya akan lebih maksimal melayani masyarakat di semua segmen dan semua wilayah,” tambah Gubernur. Diakhir sambutannya, Gubernur selaku Kepala Pemerintah Aceh dan sebagai pemegang saham pengendali, menyampaikan apresiasi atas dukungan dan pembinaan yang telah diberikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia selama ini. Gubernur juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas dedikasi dari sejumlah pihak termasuk dari pihak internal dan eksternal termasuk dari tim konsultan yang selama ini telah mendampingi proses konversi Bank Aceh. Konversi Bank Aceh Sesuai Konsep Dasar Pemerintah Aceh Sekretaris Daerah Aceh, Drs Dermawan MM, selaku Komisaris Utama Bank Aceh Syari’ah menjelaskan, konversi ini merupakan konsep dasar Pemerintah Aceh untuk mensyari’atkan ekonomi di Aceh. “Konversi ini adalah komitmen Bapak Gubernur Aceh untuk membuat Bank Aceh benar-benar merakyat dan kehadirannya dirasakan oleh rakyat. Tidak hanya namanya saja Syari’ah tetapi dalam operasionalnya memang benar-benar sesuai dengan syari’ah,” ujar Sekda. Dermawan menambahka, selama ini Pemerintah Aceh banyak menerima permohonan bantuan modal usaha dari masyarakat ekonomi lemah dan Usaha Mikro, Kecil Menengah. “Untuk itu, Bapak Gubernur berharap agar Bank Aceh tidak semata melayani kredit yang bersifat konsumtif tetapi kedepan harus mengakomodir kredit produktif, sebagai upaya menggeliatkan sektor ekonomi dan menekan angka kemiskinan di Aceh,” tambah Sekda. [Sumber : humas.acehprov.go.id]

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

33


MENINGKATKAN KINERJA UKM DI ACEH MELALUI INTERNET 34

p Blang Bintang

(34) Ayam Tangka

10/17/2016

Jeliteng

Home 20+

g

p Blang Bintan

Ayam Tangka

Ayam Tangkap Blang BintangBint apBlang @AyamTangk ang

Call Now

Home

Save

Status

Photo / Video

About Photos

4.0 ...

Write somethi

Likes Posts

Ayam

Create a Page

like this 1,846 people Chandra Zaid and Ronny Maya Iskandar

Bintang Tangkap Blang

e been here

114 people hav

New blog post

KopiAceh.com - Tok

o kopi dan makanan

SHOP

MAKANAN KHAS

/ apBlangBintang

mTangk ebook.com/Aya https://www.fac

Groups · Take ions · Good For Takes Reservat Out Kon rmasi Pem additional info t aran Gebay Cek Pengiri  Car Chat (Off)man

khas Aceh

t

 Search Pro ducts…

 KOPI

on this Page

Search for posts

February 11, 201

 HOME

ia

karta, Indones

Restaurant · Ja

ng on this Page

Reviews

10/17/2016

Share

Like

More

SEARCH

 PERNIK & GIF

TS

TENTANG 

 My Account

 CART

0

 CONTACT US

CONNECT WITH 

US

SOLONG Taste the traditi

onal Aceh blend

KOPI Keunggulan cita

rasa kopi kelas dun

34

http://www.kopiaceh

.com/

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |

ia yang unik dar

i Aceh.

CS kami sedang ONLINE. SIlahkan CHAT.  Online

1/9


Opini pendidikan dan pengelolaan yang baik, baik itu dari lembaga pemerintah maupun pihak terkait yang memang seharusnya memberikan pendidikan kepada masyarakat.

M. Firdaus Mahasiswa Berprestasi I D3 Unsyiah 2016

S

elama satu dekade terakhir kehidupan masyarakat sangat dekat dengan internet. Bahkan ada sebuah quote yang menyatakan “dunia sekarang sudah dalam genggaman”. perkembangan internet begitu pesat dan fungsi yang bisa di dapat dari internet pun semakin berkembang, internet mampu menembus batasan ruang, jarak dan waktu. Dewasa ini internet bukan hanya tempat untuk mencari informasi atau berkirim pesan saja, namun banyak hal yang bisa dimanfaatkan. Bahkan, berdagang pun sekarang sudah bisa dilakukan melalui internet. Internet memudahkan pelaku usaha untuk memasarkan bahkan menjual produknya baik itu barang maupun jasa. Adapun keunggulan yang di peroleh melalui internet ialah mampu menjangkau konsumen yang tersebar di seluruh dunia tanpa dibatasi oleh negara, ras, suku, bahasa, agama, dan hal-hal lainnya. Ini menggambarkan bahwa pelaku usaha memiliki peluang lebih besar untuk mempromosikan atau menjual barang dan jasa melalui media internet. Di Indonesia saja, saat ini diperkirakan terdapat sekitar 75 juta penduduk Indonesia yang terhubung ke dunia maya dan bakal menembus 115 juta hingga akhir tahun depan. Namun hal yang sangat disayangkan adalah kemajuan dan manfaat internet tersebut tidak bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia, khusunya di Aceh. Banyak kendala yang dihadapi terkait sarana dan prasarana teknologi maupun kemampuan masyarakat itu sendiri dalam memanfaatkan teknologi internet. Pemanfaatan yang kurang maksimal itu terjadi bukan karena masyarakat desa yang bodoh, tetapi lebih karena tidak adanya

Pemanfaatan Teknologi Informasi Komu­ ni­kasi (TIK) untuk Pemasaran Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan selalu menjadi isu yang banyak diperbincangkan berbagai kalangan, baik politisi, LSM, maupun akademisi. Namun, sangat sedikit yang melakukan upaya riil sehingga berdampak langsung pada kesejahteraan ekonomi masyarakat. Padahal UMKM merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia. Mantan menteri UMKM, Sjarifuddin Hasan mengatakan bahwa jumlah UMKM di Indonesia lebih dari 56,5 juta UKM di berbagai bidang. Kontribusinya terhadap ekonomi nasional sebesar 57% GDP (gross domestic product). UKM juga menampung hingga 97% dari total tenaga kerja saat ini. Meskipun jumlah dan kontribusi UMKM sangat besar, namun kelemahan mendasar yang dimiliki UMKM justru terletak pada bidang pemasarannya. Pemasaran produkproduk UMKM masih masih bersifat lokal dan tradisional. Kebanyakan dari usahausaha tersebut hanya melakukan pemasaran seadanya seperti pemasaran dari mulut ke mulut (Word of Mouth). Seyogyanya agar dapat menguasai pasar, kecepatan dalam menginformasikan sebuah produk menjadi sebuah prasyarat untuk dapat meningkatkan daya saing UMKM. Internet seharusnya bisa menjadi solusi bagi UMKM dalam menghadapi mekanisme pasar yang makin terbuka dan kompetitif. Apapun jenis bisnis yang digeluti dapat memanfaatkan internet sebagai media pemasaran dan penjualan untuk menjaring lebih banyak konsumen. Website merupakan salah satu media promosi yang paling popular saat ini, website memudahkan produsen untuk memajang produksinya dengan biaya yang relatif murah karena tidak harus menyewa toko dalam bentuk fisik. Pasar yang dijangkau pun menjadi lebih luas karena internet memangkas jarak antara produsen dan konsumen. Saat ini pun tersedia situssitus di internet yang menawarkan jasa penjualan online seperti tokobagus.com, tokopedia.com, kaskus,com, ebay.com yang memudahkan pengusaha untuk memasarkan produknya secara mendunia tanpa harus memiliki website pribadi. Namun seiring berkembangnya internet,

media promosi atau penjualan saat ini tidak hanya didominasi oleh website, melainkan merambah ke jejaring sosial yang menuntut pemasar untuk lebih proaktif menghubungi calon-calon pelanggan potensial. Sejalan dengan perkembangan internet, perangkat pendukung elektoronika pun juga semakin berkembang. Situs-situs online tidak harus lagi di akses melalui komputer ataupun laptop, melainkan bisa di akses dari perangkat mobile seperti smarthphone ataupun tablet yang sangat memudahkan pengguna mengelola produk yang akan dijual di dunia maya. Dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat terhadap dunia Internet dan penguasaan perangkat Teknologi Informasi Komunikasi (TIK), UMKM diharapkan bisa mendapatkan kemudahan dalam mempromosikan usahanya kepada kon­ su­ men secara global. Oleh karena itu, pembelajaran kepada UMKM tentang pentingnya internet dan pemanfaatan TIK dalam pemasaran penting untuk dilakukan. Terhubungnya pengusaha UMKM dengan internet bukan saja hanya memu­ dahkan untuk mendapatkan informasi terkini, melainkan keberadaan internet akan meningkatkan kesempatan bagi UMKM untuk mempromosikan hasil produksinya kepada masyarakat luas. Tentunya pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan internet harus sejalan dengan pengetahuan terhadap penggunaan perangkat TIK, yang akan memudahkan pelaku usaha untuk mengakses, meng-update, meng-upload hasil produknyanya melalui jaringan internet guna mendukung proses pemasaran. Bagaimana menurut Anda? [ ]

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

35


Nanggroe

TERAMPIL LEWAT ROTAN

T

angan perempuan itu begitu cekatan mengait belahan rotan dari satu sisi ke sisi lainnya. Seperti menganyam tikar. Namun ia bukan sedang mengayam tikar. Ia menyusun rotan – rotan itu begitu rapi untuk dijadikan tudung saji. Dari tangan perempuan itu sudah ratusan tudung saji berhasil dibuatnya. Inilah perkerjaan Mariana sehari-hari. Disela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, ia menghabiskan waktu untuk membuat berbagai kerajinan dari bahan baku rotan. Pekerjaan ini sudah ia geluti sejak masih kecil. Ibunyalah yang mewariskan keahlian itu. “Sudah zaman nenek kami dulu melakukan pekerjaan ini,” ujar Mariana sore itu memperlihatkan tudung saji yang sedang dibuatnya. Di Desa Kuh, Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar ini, kebanyakan ibuibu membuat kerajinan tangan berbahan rotan. Bahkan beberapa rumah penduduk terlihat ibu-ibu berkelompok melakukan pekerjaan yang sudah turun-temurun ini. Mereka membuka usaha kecil – kecilan dengan menganyam rotan menjadi perabot rumah tangga. Dari rotan tersebut mereka bukan hanya bisa menghasilkan tudung saji saja. Namun berbagai macam bentuk lainnya juga bisa mereka ciptakan. Seperti guci, keranjang, raga parcel, vas bunga, topi, aga boh labu, dan beberapa bentuk lainnya yang merupakan keperluan sehari – hari. Mariana mengakui, dalam satu hari ia bisa menghasilkan dua hingga tiga buah tudung saji ukuran besar. “Kadang sehari siap satu,” jelas perempuan beranak dua ini. Kesibukannya sebagai ibu rumah tangga membuatnya harus berbagi waktu, antara ‘mengurus; rotan dengan mengurus rumah. Pun begitu perempuan berusia 35 tahun ini sangat senang diajak bicara mengenai kerajinan rotan. “Kebanyakan ibu-ibu di sini belajar sama saya,” ujarnya.

36

Mardiana juga pernah diundang oleh salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal untuk mengajarkan cara membuat kerajinan berbahan rotan kepada perempuan di desa lain. “Kalau sekarang mau saja, tetapi waktu sangat terbatas.” Ujarnya lagi. Bahkan satu bulan lalu ia mengajarkan mahasiswa yang sedang ikut Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desanya. Rotan – rotan tersebut ia beli dari daerah Leupung dan Gurah. Bila dari kedua daerah itu juga tak tersedia ia terpaksa membeli dari pasar, meski dengan harga sedikit lebih mahal. Rotan kering dijual dengan harga Rp. 8.000 per kilo. Nah untuk membuat satu tudung saji ukuran besar diperlukan tiga kilo. Mariana sendiri tak pernah mendapatkan pelatihan bagaimana cara membuat kerajinan dari rotan. Pun begitu, barang-barang yang mereka hasilkan penuh dengan kreasi. Motif yang paling banyak seperti tudung saji motif bunga, bintang lima, enam, dan dua belas. Harganya juga beragam. Mulai Rp. 15 ribu sampai Rp. 100 ribu. Harga disesuaikan dengan besar kecilnya barangnya. Mariana sendiri, sebulan memperoleh pendapatan sekitar Rp. 800 ribu dari penjualan barang kerajinannya. “Kendalanya hanya pada modal, karna untuk memperoleh rotan kering tersebut kami harus membeli dengan harga agak mahal. Kadang rotan kering juga sulit kita dapatkan,” ujarnya. Perabot rumah tangga berbahan rotan hasil olahan Mariana dijual di pasar Aceh. Namun ada juga beberapa perempuan yang menjualnya di pinggir jalan besar. Salah satunya Wardiah. Sore itu saat media ini berkunjung, Wardiah sedang melayani pembeli yang singgah di kiosnya. Tempat ia berjualan sangat sederhana, ukuran hanya dua kali empat meter, atap terbuat dari plastik tenda warna biru sedangkan lantai dari papan, tak ada dinding. Bermacam barang berbahan rotan terdapat di sana.

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |

“Piyoh, na raga lagak – lagak htat nyoe (mampir, ini ada keranjang bagus – bagus)” Pinta Wardiah kepada setiap orang yang memerhatikan keranjang – keranjang rotan yang ia jajakan tersebut. Berbeda dengan Mariana, perempuan satu ini belum begitu mahir dalam mengolah rotan kering menjadi keranjang dan sebagainya. Wardiah mendapatkan barang – barang hasil rotan ini, dari ibu – ibu pengrajin rotan di desanya. Mengingat keadaan ekonomi keluarganya yang serba kekurangan, Wardiah memberanikan diri membuka usaha rotan ini. Baginya yang tak bisa membuat sendiri rotan – rotan tersebut, untuk mendapatkan barang – barang itu bukanlah hal yang mudah. Untuk mendapat kepercayaan dari orang – orang kampung ia harus memiliki modal awal lebih kurang Rp.1,2 juta. Modal tersebut ia dapatkan dengan meminjam ke kerabat terdekat. Kemudian setelah memiliki sedikit barang yang ingin dijual, barulah ia ajukan pengambilan kredit ke Bank Pengkreditan Rakyat Mustaqim Cabang Lhoknga. Tidaklah banyak keuntungan yang ia dapatkan. Jika ia membeli satu jenis barang dengan harga sekitar Rp. 30 ribu, maka yang ia jual hanya Rp. 60 ribu. Satu bulan ia bisa mendapatkan keuntungan Rp. 500 ribu. Laba tersebut sebagian ia gunakan untuk melunasi biaya kreditnya. Matahri semakin condong ke barat, peluh tampak membasahi wajah Wardiah. Hari itu hanya dua tudung saji yang terjual. Namun, ia tetap setia duduk di tepi jalan itu menunggu pembeli. “Bagaimana tidak setia, tidak ada pencarian lain selain ini. Ke sawah pun kan ada musimnya,” ujar perempuan berusia 32 tahun ini. “ Saya hanya berharap pemerintah bisa membantu memberikan modal usaha. Saya ingin membuka grosir alat-alat rumah tangga dari rotan,” harapnya. [Zulmasry]


Nanggroe

K

enaikan harga cengkih kering disambut bahagia oleh petani. Mereka kian semangat merawat tananaman cengkih. Petani berharap, kondisi ini bisa terus bertahan agar pendapatan mereka bisa membaik. Pada bulan Januari lalu harga cengkih kering di tingkat petani naik dari Rp 90.000 per kilogram menjadi Rp 105.000 per kilogram. Harga cengkih pernah melejit yakni Rp 200.000 per kg, namun dengan harga Rp 100.000 per kg pun, petani sudah bersyukur. Seperti yang dirasakan Fajrun (50) petani cengkih asal Lamlhom, Lhoknga, Aceh Besar. Dia memiliki kebun 5.000 meter persegi. Di kebun seluas itu terdapat 180 batang cengkih. Cengkih mulai berbunga pada usia 4-5 tahun. Sekali panen bisa menghasilkan 300 kg. Artinya sekali panen Fajrun memperoleh pendapatan kotor Rp 30 juta. “Yang sudah habis saya petik 100 batang. Masih ada 80 batang lagi yang belum saya petik, masih menunggu bunganya benar-benar matang,” kata Fajrun. Selain bertani cengkih, Fajrun juga menggarap sawah. Saat ini sawahnya juga sedang masa panen, sehingga dia harus membagi waktu memotong padi dan memetik cengkih. Menurut Fajrun, dalam dua bulan terakhir harga cengkih relatif stabil. Dia dan petani lainnya di Lhoknga semakin tekun merawat kebun. Mereka membersihkan semak-semak yang menutupi batang dan mengusir hama penggerek batang menggunakan obat nyamuk semprot. “Saya lihat sejak saya pakai obat nyamuk semprot hama penggerek batang hilang,” kata Fajrun. Selain Fajrun, petani cengkih asal Simeulue, Ahmadi (44) juga mulai turun lagi ke kebun untuk merawat cengkih warisan orangtuanya. “Saat ini cengkih kembali menjadi primadona. Boleh dikatakan petani cengkeh kembali sejahtera. Saat ini harga jual cengkih kering di pasaran di Simeulue, Rp 93.000 per kg,” kata Ahmadi dihubungi dari Banda Aceh.

CENGKIH KEMBALI MEMBERI HARAPAN Petani cengkih pernah berjaya. Namun, pada era 1980-an akibat monopoli mafia harga cengkih anjlok. Petani kecewa. Lalu mereka membabat batang-batang cengkih dan sebagian dibiarkan mati digerogoti penyakit. Sekarang harga cengkih naik berkali-kali lipat. Cengkih kembali memberi harapan. Di Aceh, daerah penghasil cengkih adalah Aceh Besar, Simeulue, Sabang, dan Aceh Selatan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh tahun 2014, luas kebun cengkih di Aceh mencapai 21.000 hektar dengan total produksi 3.379 ton cengkih per tahun. Kebun cengkih tersebut semuanya milik rakyat. Menurut Ahmadi, harga cengkih memang sepenuhnya ditentukan oleh pasar, namun dalam beberapa tahun terakhir harganya tidak pernah terjun bebas. Harga paling rendah yakni Rp 50.000 per kilogram. “Bagi orang Simeulue, punya 20 batang cengkih saja sudah bisa menyekolahkan anak,” kata Ahmadi. Pernah Anjlok Harga cengkih memang pernah anjlok ke posisi terendah yakni Rp 7.000 per kg. Pada era 80-an harga cengkeh sepenuhnya dimonopoli oleh pemerintah. Petani dibuat seperti sapi perahan. Saat itu, pemerintah mengatur perdagangan cengkih melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1980 Tentang Tata Niaga Cengkih Dalam Negeri. Melalui Keppres tersebut pemerintah menurunkan harga dari Rp 8.000 per kg menjadi Rp 7.000 per kg. Petani terpuruk dan kecewa. Ribuan hektar kebun cengkih ditelantarkan. Ada juga petani yang menebang cengkih untuk menggantikan dengan tanaman lain. Berton-ton cengkih kering tak terangkut. Petani jatuh miskin.

Menjamin Harga Supaya pengalaman pahit itu tidak terulang, perlu ada upaya pemerintah menjamin harga. Seperti yang disampaikan Ahmadi, sebenarnya petani tidak berharap harga cengkih melangit, namun mereka butuh jaminan bahwa harga tidak akan terjun bebas. Seperti yang dilakukan Pemkab Simeulue dengan cara bekerja sama dengan sebuah pabrik rokok nasional. Khusus petani cengkih di Simeulue tidak lagi khawatir hasil panen tidak terserap, karena perusahaan rokok itu berkomitmen menampung semua hasil panen saat pasar tidak mampu menyerap. Wakil Bupati Simeulue Hasrul Edyar mengatakan, saat harga di pasaran jatuh, perusahaan rokok tersebut membeli dengan harga minimal yakni Rp 61.250 per kg. Namun, saat harga di pasar di atas Rp 61.250 per kg, maka perusahaan rokok tersebut membeli sesuai dengan harga pasar. “Petani tidak diwajibkan menjual ke perusahaan. Mereka bebas mau jual ke pasar atau ke perusahaan,” kata Hasrul. Luas kebun cengkih di Simeulue mencapai 14.851 hektar dengan produksi 2.342 ton per tahun. Menurut Asrul, petani Simeulue kini semakin bergairah meremajakan kebun karena sudah ada jaminan harga. Setidaknya dari 93.000 penduduk Simeulue sebanyak 70.000 di antaranya menjadikan cengkih sebagai salah satu sumber pendapatan. [Amelia]

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

37


PEMBANGUNAN DAERAH KUNCI EKONOMI KERAKYATAN Peluang dan tantangan serta trobosan dalam bidang perekonomian masyarakat adalah dengan mencanangkan program one village, one product.

38

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |


M

eletakkan ekonomi kerakyatan adalah salah satu basis penting dalam pembangunan daerah. Sebagaimana infrastruktur yang ada akan berpengaruh dalam meningkatkan kegiatan ekonomi rakyat dalam seharihari. Dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh dalam beberapa tahun kedepan masih akan melakukan revitalisasi infrastruktur yang telah ada menjadi lebih baik lagi. Kota Banda Aceh yang saat ini masih dalam tahap pembangunan beberapa infrastruktur akan meningkatkan mobilitas serta penataan tempat yang lebih dinamis dalam melihat perkembangan kota yang pesat. Hal ini dilakukan dikarenakan Pemko Banda Aceh sedang melaksanakan program atau proyek fundamental menjadikan Banda Aceh menjadi contoh kota madani melalui kerjasama beberapa pihak. Salah satunya adalah proyek pembangunan Fly Over, pelebaran Jembatan Lamnyong dan Krueng Cut, pembugaran taman-taman, dan penataan simpang tujuh Ulee Kareng. Dalam menginformasikan pem­ bangunan daerah di kotanya, Pemko Banda Aceh menggelar Pameran Pembangunan pada tanggal 30 September hingga 4 Oktober 2016. Di dalam pameran ini dibentuk empat zona pembangunan kota, yaitu Zona Green and Resilient City, Zona Smart Government and Public Services, Zona Tourism, Syariah Corner, and Smart Economic dan zona khusus Banda Aceh Masa depan yang tiap zona tersebut mewakilkan stand-stand yang menyediakan informasi khusus mengenai perkembangan infrastruktur kota yang mereka kelola. Pembukaan dilakukan oleh Dirjen Bina Marga Kementerian PU dan PERA Republik Indonesia, Ari Setiadi Murwanto di Taman Sari (Taman Bustanussalatin) dengan penabuhan Rapa’I oleh Ari Setiadi Murwanto bersama Walikota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin Djamal, Ir Amir Ridha,

Nanggroe Ketua DPRK Arif Fadillah, Wakil Walikota Drs Zainal Arifin, Sekdakota Ir Bahagia Dipl SE, pengurus AKKOPSI Pusat dan Kajari Banda Aceh Husni Thamren. Ari dalam mewakili Menteri PU dan PERA, Basuki Hadimuljono, mengung­ kapkan setelah proyek Fly Over, pelebaran Jembatan Lamnyong dan Krueng Cut, ada beberapa proyek raksasa di Banda Aceh yang akan dibangun ke depan dan saat ini telah dibahas di Kementerian PU. “Ada Jalan Banda Aceh Outer Ring Road (BORR), Revitalisasi RTH Krueng Neng Banda Aceh, IPAL kawasan Banda Aceh dan pengembangan jalan Simpang Dodik Dodik sampai Lam Jame. Proyek ini sudah masuk dan sudah dibahas di Kementerian PU. Kami minta ke Ibu Wali (Illiza) agar segera menyelesaikan Amdal, lahan dan desainnya agar bisa dikerjakan secepatnya,” pinta Ari Setiadi Murwanto. “Banda Aceh telah ditetapkan salah-satu Kota yang termasuk dalam Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) di Indonesia,” ungkapnya kembali. Pemerintah Kota Banda Aceh mengin­ formasikan pembangunan kota dengan cara yang menarik, dalam setiap stand yang ada menjelaskan hal-hal yang rinci dalam bentuk infografis sehingga masyarakat awam yang melihatnya akan mudah mengerti. “Terdapat 48 stand pameran milik SKPD di jajaran Pemko Banda Aceh yang dibagi dalam empat zona,” ujar Sekda Kota Banda Aceh sebagai Ketua Panitia Pameran Pembangunan Kota Banda Aceh tahun 2016, Ir Bahagia. Ditambahkannya, dengan ditampilkan­ nya program-program Pemerin­ tah Kota Banda Aceh di masa mendatang tersebut diharapkan masyarakat dapat memperoleh informasi yang akurat sehingga akan dapat memberikan dukungan untuk suksesnya program-program tersebut. Membangun Ekonomi Kerakyatan dengan Satu Kecamatan Satu Produk Illiza selaku Walikota Banda Aceh mengatakan pada kata sambutannya

dalam Pameran Pembangunan Kota Banda Aceh 2016, “peluang dan tantangan serta trobosan dalam bidang perekonomian masyarakat adalah dengan mencanangkan program one village, one product.” Hal ini merujuk pada kreatifitas masyarakat dalam meningkatkan ekonomi daerahnya masing-masing. Kota Banda Aceh memiliki 9 kecamatan, dan sejumlah itulah stand yang mengisi zona ekonomi pintar, yaitu terdiri dari kecamatan Baiturrahman, Banda Raya, Jaya Baru, Kuta Alam, Kuta Raja, Lueng Bata, Meuraxa, Syiah Kuala, dan Ulee Kareng. Setiap stand kecamatan tersebut memperlihatkan dan menjual produk-produk unggulan yang ada di daerahnya masing-masing. Produk yang diunggulkan kecamatankecamatan tersebut pun sangat beragam, mulai dari seni kriya, kain songket khas Aceh, kain Batik, Bordir, kerajinan Rotan, Makanan/Kue khas Aceh, produk olahan Kopi dan produk olahan Ikan. Pencanangan satu kecamatan satu produk sangat baik jika diterapkan pada masyarakat untuk menekan angka pengangguran di daerah. Pada tahun 2015 lalu, tingkat pengangguran terbuka di Kota Banda Aceh mencapai 12,00% dari 250.303 jiwa penduduk. Jawaban dari kekhawatiran ini ada ditangan pemerintah dalam membangun sentra pelatihan dan menciptakan pasar yang menjadi tempat bagi para UKM (Usaha Kecil Menengah). Dengan adanya berbagai program pemerintah dalam menanggulangi pengang­ guran seperti memperluas lapa­ ngan kerja melalui penerapan kebijakan kemudahan berusaha dan iklim investasi, memberikan pelatihan kerja melalui BLK, memberikan informasi lowongan kerja bagi pencari kerja yang terdaftar, pembangunan infrastruktur yang menyeluruh, dan memberikan pelatihan kewirausahaan diharapkan angka pengangguran angka terus menurun menjadi 7,00% pada tahun 2020. [Dimas]

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

39


WOW, KIKY SIAMANG HASILKAN JUTAAN UNTUK ZUL

40

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |


Lingkungan

B

ersiap besok pagi kita ke Geurutee, ya,?” ujarku pada kru AER yang gemar fotografi. “Kita akan mengambil foto di sepanjang perjalanan. Jika beruntung, kita bisa bertemu Kiky dan keluarganya,” tambahku sambil menjelaskan nama Siamang yang kerap turun ke warung semi permanen di tepi jurang Gunung Geurutee, Aceh Jaya. Keesokan paginya, kami pun siap berangkat. Minggu yang cerah di langit Kota Banda Aceh mengawali perjalanan ke Tebing Geurutee sekitar 72 Km arah Barat Kota Banda Aceh. Namun baru lima belas menit berlalu, suasana berubah drastis. Hujan gerimis disertai kabut di kota kecil Lhoknga menemani sisa perjalanan kami hingga ke puncak Geurutee. Hembusan angin disertai butiran hujan sekilas tampak seperti salju. Pemandangan alam di sepanjang pesisir pantai Barat yang indah tampak semakin mempesona. Matahari telah naik sepenggalan hari. Namun suasana terlihat masih seperti jam 6 pagi. Di Leupung kami berhenti untuk mengambil beberapa foto. Hijau dedaunan pohon durian dan hutan di sepanjang Gunung Kulu dan Paro semakin indah dibalut kabut. Sambil sharing pengalaman masa lalu yang lucu-lucu, kami terus melaju menyusuri jalanan yang mulus. Pukul 10 kami tiba di Puncak Geurutee. Setelah parkir di pinggir jalan, kami langsung berhamburan ke arah warung di tepi jurang yang masih sepi. Lagi, mata kami dimanjakan dengan pesona pemandangan Samudera Hindia dan Pulau kecil tak berpenghuni Kluang yang diapit tebing Geurutee. Kabut yang menyapu panorama menambah sensasi mistis Geurutee. Kami abadikan momen itu melalu jepretan kamera bertubitubi. Kiky Siamang “Pucuk di cinta ulam tiba,” ujarku dalam hati. Baru 10 menit sampai di Geurutee, Kiky Siamang dan keluarganya ‘turun’. Suasana pun menjadi semarak seketika. Semua kru AER mencoba mengabadikan momen menarik ini. Beberapa konsumen yang baru sampai pun tak kalah antusiasnya memberikan makanan buah-buahan dan roti kepada Kiky Siamang dan keluarganya. “Silahkan kalau mau memberikan makanan. Mereka tidak mengganggu, nggak usah takut, tapi jangan pegang kepalanya, dia akan marah,” jelas Zul (29), pedagang yang sudah berjualan di sini sejak tahun 2005. “Kami adalah warung pertama

di Geurutee,” akunya. Entah sejak kapan siamang mulai turun ke warung, namun kehadirannya dalam sepuluh tahun terakhir telah menjadi daya tarik sendiri bagi konsumen. Tak jarang warga Banda Aceh dan wisatawan sengaja datang ke Geurutee hanya untuk melihat Siamang. Zul mengaku dulu bisa dapat sekitar 500-800 ribu per hari. Kalau hari minggu dan hari libur dan seputar lebaran bisa sampai 3 – 5 jutaan. “Namun sejak banyaknya warungwarung baru yang dibuka, penjualan kami jauh berkurang,” ujarnya. “Sekarang ratarata hanya dapat 300-500 ribu saja per hari,” tambahnya datar. Namun Zul tetap optimis. “Kiky Siamang hanya turun di kedai kami, tidak ke tempat yang lain. Jadi kami tetap dapat konsumen yang ingin menikmati pemandangan, beristirahat sejenak dalam perjalanan sambil bermain dengan Kiky Siamang,” yakinnya. Kiky dan keluarganya yang tengah asyik menikmati rambutan di sebelahnya tampak tak peduli. Ia tak faham kalau kehadirannya mampu memberi jaminan penghasilan puluhan juta rupiah kepada Zul setiap bulannya. Fenomena Siamang yang Hampir Punah Siamang atau symphalangus syndactylus merupakan salah satu jenis primata yang mendiami Pulau Sumatera serta sedikit di Malaysia dan Thailand. Banyaknya penebangan hutan dan penjualan ilegal untuk hewan peliharaan mengakibatkan hewan ini terancam punah. Diperkirakan, populasi siamang hanya tinggal 31.000 ekor yang mendiami daerah seluas 20.000 km2 (Supriatna dan Wahyono, 2000). Pada tahun 2008, International Union for the Conservation of Nature (UICN) melaporkan bahwa habitat utama siamang telah berkurang 70-80% dalam 50 tahun terakhir. Di Indonesia, siamang merupakan salah satu primata yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999. Fenomena Kiky Siamang yang turun ke warung-warung di Geurutee menjadi sinyal tentang rusaknya ekosisitem hutan di Geurutee dan sekitarnya. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Kiky siamang, diperlukan campur tangan pemerintah dalam menjadikan keberadaan siamang sebagai objek wisata maupun riset sehingga mendatangkan manfaat bagi daerah tanpa harus mengganggu atau menangkap satwa tersebut. [Ahmad Haris]

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

41


Nasional

SEKTOR KEUANGAN DOMINASI PAJAK BANDA ACEH

S

Nurul Hidayat Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama, Banda Aceh

42

ektor keuangan mendominasi perolehan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Banda Aceh. Hal ini disampaikan oleh Nurul Hidayat, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama, Banda Aceh. “Saya baru dua bulan bertugas di sini. Kelihatannya masih banyak warga Banda Aceh yang belum memahami perihal perpajakan, khususnya tentang kebijakan Tax Amnesty yang tengah digalakkan pemerintah,” ujar Nurul Hidayat. “Tax Amnesty adalah kebijakan peme­ rintah yang paling menguntungkan masya­ rakat. Bagaimana tidak, yang bersang­kutan tidak dihukum atas pelanggaran pajaknya selama ini, malah diberikan potongan pembayaran,” tambah ayah tiga anak asal Jakarta ini. “Kalau saya lihat, ekonomi Aceh masih didominasi oleh sektor keuangan perbankan. Hal ini terlihat dari kontribusi pajak yang kita peroleh terbesar sekitar 30 persen dari sektor jasa keuangan,” paparnya. “Dari sektor keuangan ini, 75 persennya diterima dari Bank Aceh. Baru setelah itu dari

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |

Government Expenditure, sekitar 24 persen. Perdagangan sekitar 15 persen. Sementara sektor industri kecil sekali, di bawah 5 persen,” jelasnya lagi. Lebih lanjut Nurul Hidayat menjelaskan bahwa wajib pajak (WP) tidak perlu takut ikut tax amnesty karena akan dipayungi hukum. Artinya, pengakuan harta yang bersangkutan tidak dapat dijadikan dasar penyelidikan, penyidikan, atau penuntutan terhadap dugaan pelanggaran pajak pada tahun 2015 dan tahun sebelumnya. Justru, pengampunan pajak akan ‘merapikan’ harta WP yang belum dilaporkan dalam SPT, dengan cara melunasi seluruh tunggakan pajak yang dimiliki dan membayar uang tebusan. “Mereka yang telah mendaftar tax amnesty akan sangat dirahasiakan,” tegasnya. “Maka, tidak perlu ragu untuk ikut tax amnesty. Ungkap, tebus, dan lega,” tambahnya sambil mengulang slogan tax amnesty. “Kala ada wajib pajak yang belum faham, silahkan datang ke KPP Pratama Banda Aceh. Kami akan membimbing WP mengisi form pengampunan pajak,” pungkasnya. [ahmad haris]


Internasional

SABANG DAN HALAL TOURISM MENJADI FOKUS PADA RANGKAIAN PERTEMUAN IMT-GT

K

erja sama Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle (IMTGT) berdiri pada Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) ke-1 di Langkawi, Malaysia, pada 20 Juli 1993. IMT-GT ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah perbatasan negaranegara IMT-GT. Melalui kerja sama IMTGT, sektor swasta terus didorong menjadi “engine of growth”. Untuk tujuan tersebut, telah dibentuk suatu wadah bagi para pengusaha di kawasan IMT-GT yang disebut Joint Business Council (JBC). JBC dalam hal ini secara aktif ikut dilibatkan dalam rangkaian Pertemuan Pejabat Senior (SOM)/ Pertemuan Tingkat Menteri (MM) IMT-GT setiap tahunnya. Wilayah Indonesia yang menjadi bagian dari kerja sama IMT-GT adalah Provinsi Aceh, Bangka Belitung, Bengkulu, Jambi, Lampung, Sumatera Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Salah satu strategi pembangunan yang dicanangkan oleh IMT-GT adalah

mendorong pertumbuhan sektor pariwisata. Hal ini pula yang menjadi latar belakang terlaksanakannya Sabang Smart Travel Forum (3/8/2016) Bertempat di Gapang Resort, Sabang. Kegiatan ini diperuntukkan untuk para pelaku usaha dan investor di bidang pariwisata yang berada di dalam kawasan kerjasama Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT). Pemerintah Aceh melihat bahwa posisi geo strtategis Sabang dan potensi parawisatanya sangat potensial untuk didorong menjadi kawasan kerjasama ekonomi yang saling mendukung untuk kawasan pertumbuhan ketiga negara IMT-GT. Keynote speaker dari diskusi panel ini menghadirkan (Deputi Bidang Koordinasi Kerjasama Ekonomi Internasional, Kemenko Perekonomian RI), Kepala Badan Investasi dan Promosi Aceh (Profil Investasi Sektor Pariwisata di Aceh), Dinas Pariwisata Aceh (Tourism Potential), Pendiri dan CEO Travel Sparks (Why

Tourism Business Needs to Work with Travel Bloggers?). Hal menarik dari forum ini adalah pembahasan hangat mengenai Halal Tourism yang telah menjadi tren promosi wisata yang dipaparkan oleh Senior Lecture dari Tourism Management Department Universiti Teknologi MARA Malaysia (Sharing Experience of Halal Tourism) dan Senior Lecture dari The Halal Science Center Chulalongkorn, University Bangkok, Thailand (Halal Road). Salah seorang pembicara dari Faculty of Hotel And Tourism Management Universiti Teknolog MARA, Puncak Alam Campus Selangor, Malaysia, Assoc. Prof. Dr Noráin Othman menjelaskan bahwa ‘halal tourism’ yang menjadi isu utama dunia pariwisata 10 sampai 40 tahun ke depan adalah wisata berbasis syariah. Bahkan, katanya, di Thailand sendiri yang mayoritas populasinya bukan muslim hebatnya sudah memiliki sistem sertifikasi halal tourism yang sudah diakui dunia. “Agak kondradiktif dengan negeri yang mayoritas penduduknya muslim

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

43


Internasional

tapi tempat wisata halal buat makan saja sangat sulit dicari atau bikin bingung para turis muslim,” katanya. Pihak pemerintah Malaysia pun saat ini sedang terus meningkatkan pelayanan wisata berbasis syariah dan terus menggenjot tingkat kunjungan wisatawan muslim dunia datang ke Malaysia. Hadir dalam kegiatan ini, 18 travel agent dari Indonesia, 13 travel agent dari Thailand, 11 asosiasi pariwisata dari Malaysia. Pelaksanaan kegiatan ini merupakan keputusan pada Working Group on Tourism pada rangkaian pertemuan 22nd IMT-GT Senior Officials Meeting, 12th Chief Ministers and Governors Forum (CMGF), dan 21st IMT-

44

GT Ministerial Meeting (MM) di Malaysia pada tahun 2015 lalu. Sehingga agar dapat terlaksananya tujuan utama Smart Travel Forum yaitu terwujudnya kerjasama Biro Travel IMT-GT untuk memajukan industri pariwisata Sabang dan Aceh; menyusun inisiasi kerjasama paketpaket wisata (travel produk) di wilayah IMT-GT dengan Sabang dan Aceh dan kerjasama investasi pariwisata lainnya; menyusun inisiasi rute penerbangan internasional dari Sabang-Banda AcehPhuket—Langkawi, dibutuhkannya kerjasama yang erat dan saling mendukung antar ketiga negara berkembang ini.

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |

Hingga akhirnya penandatanganan MoU of Frienship Resort dilaksanakan antara BPKS dan Port Klang Golf Resort, Selangor Darul Ehsan, Malaysia dengan harapan dapat dibangun fasilitas untuk menunjang peningkatan kualitas destinasi wisata di Sabang diantaranya pembangunan infrastruktur Golf Resort yang diharapkan akan mendatangkan investor-investor dan berkembangnya pertumbuhan investasi Aceh pada masa yang akan datang. Berlanjut, pertemuan IMT-GT ini digelar kembali di Provinsi Phang Nga, Thailand tanggal 20-23 September 2016. Di pertemuan itu pemerintah Aceh memaparkan update usulan Halal Tourism yang juga menjadi topik pembahasan penting. Thailand memberi perhatian khusus terhadap usulan halal tourism dengan pertimbangan bahwa tren halal dunia semakin meningkat sehingga usulan tersebut berpeluang besar untuk dikerjasamakan. Sebelumnya juga dibahas perkem­ bangan dan capaian kerja sama subregional IMT-GT dalam 6 area kerja sama yang tercantum dalam Implementation Blueprint 2012-2016, yaitu perdagangan dan investasi, infra­ struktur dan transportasi, pariwisata, produk dan layanan halal, pengembangan SDM, serta agrikultur, agroindustri dan lingkungan. Hal ini karena pentingnya kerjasama IMT-GT sebagai upaya mendorong kemajuan subkawasan dan sebagai building block bagi integrasi ASEAN. [Mia]


Wisata

ACEH INTERNATIONAL RAPA’I FESTIVAL;

PERSEMBAHAN PERKUSI ACEH UNTUK DUNIA Ini merupakan kali pertama bagi Disbudpar menggelar festival rapa’i berskala internasional. Tujuan event ini untuk pelestarian, promosi, peningkatan kapasitas, dan memperkenalkan Aceh sebagai destinasi wisata halal

| AC E H E CO N O MI C R E VI E W | E D I S I J U L I - S E PT E MB E R 2 0 16 |

45


Wisata

S

etelah rebranding ‘The light of Aceh’, berbagai upaya dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat untuk menjadikan Aceh sebagai ‘the world’s best halal cultural destination 2016’. Satu di antaranya yaitu perhelatan ‘Aceh International Rapa’i Festival 2016’. “Ini merupakan kali pertama bagi Disbudpar menggelar festival rapa’i berskala internasional. Tujuan event ini untuk pelestarian, promosi, peningkatan kapasitas, dan memperkenalkan Aceh sebagai destinasi wisata halal,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Reza Fahlevi. Didampingi Kabid Promosi, Rahmadhani ia mengatakan Aceh yang sudah ditetapkan sebagai wisata halal dan kini sedang mengikuti voting untuk kategori ‘the world’s best halal cultural destination 2016’. Dipilihnya kategori tersebut mengingat kebudayaan Aceh yang mengakar dari nilai-nilai agama. Membicarakan riwayat Rapai, konon dulu hikayatnya, Rapai dibawa oleh seorang penyiar Islam dari Baghdad bernama Syeh Rapi (ada yang menyebut Syeh Rifai) dan

46

dimainkan untuk pertama kali di Ibukota Kerajaan Aceh, Banda Khalifak (sekarang Gampong Pandee, Banda Aceh) sekitar abad ke-11. Rapai dimainkan secara ansambel yang terdiri dari 8 sampai 12 orang pemain yang disebut awak rapai dan disandingkan dengan instrumen lain seperti serunee kalee atau buloh merindu. Permainan dari ansambel Rapai tersebut dapat menjangkau pendengaran dari jarak jauh akibat gema yang dipantulkannya dan tidak memerlukan mikrofon untuk setiap penampilannya bahkan pada malam hari di daerah pedesaan bisa mencapai pendengaran dari jarak 5-10 km. Berdasarkan jenis dan besar suaranya, Rapa’i terbagi ke dalam berbagai jenis yaitu Rapai Daboih, Rapai Gerimpheng, Rapai Pulot, Rapai Pase, Rapai Anak/tingkah, Rapai Kisah/hajat. Perhelatan akbar yang berlangsung di Banda Aceh, 26-30 Agustus ini tersebar di tiga titik yaitu Taman Ratu Safiatuddin, Taman Seni dan Budaya, serta Museum Tsunami Aceh pagelaran seni budaya ini mendatangkan perkusi tanah air dan dunia. “Yang paling menarik dan atraktif dari penyelenggaraan Rapai Internasional ini

| ACEH ECON OM IC R E V IE W | E DI S I J UL I - S E P T E MB E R 2 0 1 6 |

adalah kehadiran peserta dari beberapa Provinsi yang juga memiliki jenis musik serupa, seperti Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Makassar dan Surabaya dan peserta negara asing lainnya, seperti Cina, Thailand, Malaysia, Iran, dan Jepang sehingga pemain rapa’i Aceh bisa coaching langsung dengan perkusi dunia,” terang Reza. Beliau menambahkan perkusi dalam dan luar negeri juga memeriahkan festival bergengsi ini. Sebut saja Daood Debu, Rafli Kande, Tompi, Gilang Ramadhan, Moritza Taher dan Steve Thornton. Perhelatan berskala internasional ini juga menampilkan beberapa kontingen dari lima negara, seperti Ogawa Daisuke (Jepang), Absolutely Thai (Thailand), Miladomus (China), Pejman (Mohammad Reza) Jahanara (Iran) dan Fieldflyer (Malaysia) yang akan menunjukkan talentnya di Aceh sebagai wakil perkusi dunia. Melalui pagelaran ini, wisatawan yang berkunjung diharapkan bisa merasakan atmosfer Aceh dalam balutan budaya dan nuansa islami yang ramah wisatawan. Pagelaran ‘Aceh International Rapa’i Festival’, persembahan perkusi Aceh untuk dunia. [Mia]


Biro Perekonomian Setda Aceh


Aceh Economic Review Edisi III Juli - September 2016