Skip to main content

(IDN) Jurnal Desain Tugas Akhir 2021 - Yolanda Intan

Page 1

GARIS-Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur (E-ISSN :2503-3344)

PUSAT PELATIHAN KETERAMPILAN DAN PENDIDIKAN DISABILITAS FISIK DI KOTA KENDARI DENGAN PENDEKATAN AKSESIBILITAS ¹Yolanda Intan Try Tandilangi, ²Santi, ³Ainussalbi Al Ikhsan 123

Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Halu Oleo E-mail : yolandatandilangi@gmail.com;2santi_ft@uho.ac.id;3ainussalbi@gmail.com 1

ABSTRAK Salah satu permasalahan pada perkotaan ialah terjadinya peningkatan daya saing terhadap Kesempatan Kerja. Adapun bagi Penyandang Disabilitas adanya stigma negatif masyarakat (faktor eksternal) dan menuntun pada rasa rendah diri (faktor internal) yang mengakibatkan Penyandang Disabilitas semakin kesulitan dalam mencapai maupun memperoleh hak kesempatan kerja mereka. Jumlah Disabiltias tertinggi Kota Kendari yaitu Disabilitas Fisik dengan jumlah 78 jiwa dari 263 jiwa (Kemensos,2019). Perancangan Pelatihan Keterampilan dan Pendidikan bagi Disabilitas Fisik bertujuan meningkatkan kualitas diri dan daya saing kerja sehingga menyingkirkan stigma negatif masyarakat dan meningkatkan kepercayaan diri Penyandang Disabilitas terkhususnya Disabilitas Fisik dalam terlibat pada Kesempatan kerja. Pengumpulan Data melalui Metode Kualitatif yaitu hasil studi literatur, serta observasi pada objek serupa. Di lanjutkan dengan Analisa Data dalam menghasilkan Konsep Perancangan hingga Desain. Adapun kesimpulan dari uraian pembahasan, yaitu; Pertama, penentuan lokasi didasarkan pada Teori Community Use “Kedekatan pusat komunitas dan potensi pengkolaborasian fasilitas”. Kedua, dalam mewujudkan ruang yang fungsional bagi Disabilitas Fisik, maka perancangan didasarkan pada Pendekatan Aksesibilitas yang berlandaskan Asas Kemudahan, Asas Keselamatan, Asas Kegunaan, dan Asas Kemandirian, dengan turut dilengkapi pedoman Design for Accessibility. Kata Kunci: Kesempatan Kerja, Disabilitas Fisik, Aksesiblitas, Kota Kendari.

ABSTRACT One of urban’s main problem is the increasing competitiveness of Employment Opportunity. However, for people with disabilities there are negative stigmas (as an external factor) from the society and leads to low self-esteem (as an internal factor) in which complicates their space in attaining or obtaining their Employment Opportunity’s rights. The highest number of the type of Disabilities in Kendari City is Physical Disability with 78 out of 263 people (Kemensos,2019). The planning of Training and Learning Center for Physical Disabilities are aiming to escalate self-quality and competiveness to remove negative stigmas of the society and to increase the confidence of Disabilities especially Physical Disabilities in their attempt on Employment Opportunity. Data collecting is through Qualitative Method in which is the result of literature study, also observation on the same object. And continued with Data Analysis into Concept yielding to the Design. As for conclusion; First, site selection is based on the Community Use “Proximity of community centers and potential joint-use of facilities.”. Second, to embody functional spaces for Physical Disability, the design is up to Accessibility Approach which principled by Convenience, Safety, Usefulness and Independency, complemented by guideliness of Design for Accessibility. Keywords: Employment Opportunity, Physical Disability, Accessiblity, Kendari City. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu masalah yang masih terjadi hingga kini ialah masalah kesempatan kerja. Dalam terus bertambahnya populasi, manusia terlahir dan tumbuh dengan genetika dan peristiwa yang bervariasi, ada yang terus tumbuh dengan sehat tanpa suatu masalah pada fisik atau mental, namun ada juga yang tanpa keinginannya mereka lahir dengan memiliki aspek kekurangan pada dirinya, atau yang tiba-tiba kehilangan kemampuan pada seiring dirinya bertumbuh atau seorang yang mengalami musibah yang diluar kendali sehingga kehilangan kemampuannya, mereka adalah orang-orang yang biasa kita kenal sebagai Penyandang Disabilitas. Berdasarkan UU No.8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas; Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami Volume 6 No. 2 | Agustus 2021

hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS) Februari 2020 saat ini jumlah Penyandang Disabiltas Usia Kerja (15 tahun dan lebih) yaitu 17,74 juta orang. Namun hanya 7,8 juta yang masuk dalam angkatan kerja, dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Disabilitas hanya 44 persen yang lebih rendah dibandingkan TPAK Nasional sebesar 69 persen. Mengutip Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah rendahnya TPAK Penyandang Disabilitas menunjukkan beberapa indikasi salah satunya, banyak nya Penyandang Disabilitas yang mundur lebih dahulu dan tidak berani masuk ke pasar tenaga kerja. Hal ini disebabkan oleh Faktor Internal maupun Faktor Eksternal. Faktor eksternal yaitu diskriminasi atau pandangan negatif serta tidak berkompetennya seorang penyandang disabilitas 1


GARIS-Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur (E-ISSN : 2503-3344) telah tertanam dalam pemikiran mayoritas masyarakat Indonesia yang menyebabkan sulitnya keterserapan dan pemberdayaan para penyandang disabilitas, yang akhirnya menimbulkan Faktor internal yaitu turunnya rasa kepercayaan diri Penyandang Disabilitas untuk bersaing pada kesempatan kerja. Adapun dalam UU 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas disebutkan upaya Pemerintah untuk memberi jaminan tenagakerjaan bagi para penyandang disabilitas telah diatur dalam Pasal 53 UU No.8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang dimana pada penyandang disabilitas minimal 1% dari total tenaga kerja sektor swasta dan 2% pada sektor pemerintahan. Kota Kendari sebagai Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara dengan jumlah penduduk pada tahun 2019 sebanyak 392.830 jiwa, diperoleh data sementara dari kemensos.go.id jumlah Disabilitas di Kota Kendari dari tahun 2018 - 2019 sebanyak 263 jiwa Disabilitas di Kota Kendari, kategori disabilitas tertinggi yaitu Daksa/Fisik dengan jumlah 78 jiwa. Dengan presentase usia didominasi retang umur 6-18 tahun, yang dimana 15 tahun keatas telah masuk kategori umur bekerja. Berdasarkan Permen PU No.30 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, Aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan bagi semua orang termasuk penyandang cacat dan lansia guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Fasilitas aksesibilitas di Kota Kendari yang masih kurang memadai pada fasilitas umum seperti trotoar, atau jalur pedestrian bagi disabilitas menjadi salah satu bentuk kurangnya perhatian dari pemerintah maupun masyarakat. Contohnya, guide block pada jalur pedestrian yang ditengahnya terdapat pohon atau kursi duduk maupun permukaan trotoar yang sulit diakses mandiri dengan kursi roda sehingga menyulitkan penggunaan pedestrian bagi penyandang disabilitas. Menyimpulkan uraian diatas, maka perencanaan Pusat Pelatihan Keterampilan dan Pendidikan Disabilitas Fisik di Kota Kendari dengan pendekatan Aksesibilitas diperlukan sebagai wadah yang dapat menampung Penyandang Disabilitas Fisik (jenis disabilitas tertinggi) Kota Kendari agar mendapatkan pelatihan, pengembangan bakat sehingga memperoleh penghasilan secara mandiri dan mampu membaur dan bersosialisasi dengan masyarakat umum dengan Kemudahan aksesibilitas. Selain itu diharapkan dapat menjadi wadah dukungan dan membangun kepercayaan diri pada Penyandang Disabilitas. B. Tujuan Tujuan dalam proses peracangan yaitu untuk menjawab permasalahan terkait : 1. Menentukan lokasi tapak yang sesuai dengan fungsi nya sebagai Pusat Pelatihan Keterampilan dan Pendidikan Disabilitas Fisik yang mudah dicapai, kondisi lingkungan yang saling menunjang untuk peruntukkan lahan 2. Perencanaan ruang Pusat Pelatihan Keterampilan dan Pendidikan Disabilitas Fisik di Kota Kendari yang Volume 6 No. 2 | Agustus 2021

fungsional bagi Penyandang Disabiltias Fisik terkait dengan penerapan Pendekatan Aksesibilitas. KAJIAN LITERATUR A. Deskripsi Pusat Pelatihan Keterampilan dan Pendidikan Disabilitas Fisik Pusat Pelatihan merupakan tempat melatih (KBBI), sehingga Pusat Pelatihan memiliki keserupaan fungsi dan tujuan dengan Balai Latih Kerja begitupun dengan Penyediaan fasilitas Prasarana dan Sarana yang dimuatkan dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No.8 Tahun 2017 tentang Standar Balai Latihan Kerja Pasal 14. Keterampilan adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas (KBBI), dan mengutip Tobbins Ibid (2000) mengemukakan 4 kategori keterampilan, yaitu Basic Literacy Skill dan Interpersonal Skill (Keterampilan Dasar), Techincal Skill dan Problem Solving (Keterampilan Kerja). Pendidikan yang dimaksudkan ialah muatan Pendidikan Khusus bagi Penyandang Disabilitas yang mendidik dalam bentuk Konsultasi-Terapi bagi kehidupan sehari-hari. Disabilitas Fisik merupakan individu dengan keterbatasan/gangguan fungsi gerak yang diantaranya karena Amputasi, Lumpuh layu, Gangguan saraf, (Celebral Palsy, Paraplegi), Orang kecil, Stroke dan akibat Kusta. Jumlah jenis Penyandang Disabiltias tertinggi di Kota Kendari yaitu pada jenis Disabilitas Fisik 78 jiwa dari 263 jiwa (Kemensos, 2019). B. Pelatihan Keterampilan Adapun muatan Pelatihan Keterampilan didasarkan dari Permen Ketenagakerjaan No.8 Tahun 2017 tentang Standar Balai Latihan Kerja serta penyesuaian terhadap batas kemampuan Disabilitas Fisik, dengan jumlah peserta tiap kelas maksimal 8 orang siswa dan minimal 2 orang instruktur berdasarkan Permendikbud No.17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru. Tabel 1 Muatan Pelatihan Keterampilan Sub Kejuruan NO

Kejuruan

(standar luas

/ 10 org

m2 ) / 18 org 1.

Kejuruan Bisnis & Manajemen

Luasan pada Rancangan (m2)

81 m2 + 162 m2

Akuntansi 2

Yunior (80 m + 150 m2)

Administrasi

81 m2 + 162 m2

Perkantoran (80 m2 + 150 m2) 2.

3.

Kejuruan Industri

Pelatihan

Kreatif

Menenun

Kejuruan Teknologi

Pelatihan

Informasi dan

81 m2 + 162 m2 81 m2 + 162 m2

Desain Grafis

Komunikasi

Sumber : Analisa Penulis,2021 2


GARIS-Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur (E-ISSN : 2503-3344) C. Pendidikan

D. Pendekatan Aksesbilitas Disabilitas Fisik dikategorikan menjadi Pengguna Kursi Roda dan Semi-Ambulant (menggunakan tongkat). Adapun Hambatan yang dialami oleh Disabilitas Fisik Pengguna Kursi Roda ; (1) Perubahan ketinggian lantai signifikan tanpa disertai ramp maupun permukaan lantai, (2) Tidak cukup ruang lutut di bawah meja atau westafel, (3) Ruang yang sempit bagi perubahan kursi roda, (4) Permukaan berbatu, pintu maupun jendela yang sulit atau berat untuk dibuka, (5) Serta tombol – tombol maupun perletakkan yang terlalu tinggi letakknya. Hambatan bagi Semi-Ambulant mencakup ; (1) Tangga yang terlalu tinggi, (2) Lantai yang terlalu licin, (3) Pergerakan cepat dari pintu maupun jendela, (4) Tangga berjalan terlalu cepat serta tangga tanpa pegangan (handrail). Dalam menemukan solusi bagi hambatan yang dialami oleh Disabilitas Fisik, maka digunakan Pendekatan Aksesbilitas pada pendekatan pada rancangan. Dengan inti muatan dari Design for Accessibility adalah : (1) Pencapaian, (2) Pintu Masuk, (3) Tata Massa, (4) Sirkulasi, (5) Pemilihan Material dan Bentuk, (6) Tipe Bukaan dan Kontrol, dan (7) Informasi dan Komunikasi. Muatan Design for Accessibility turut saling dikatikan dengan Asas Aksesbilitas dan Dimensional sesuai tubuh masyarakat Indoneisia yang termuat dalam Peraturan Menteri PU No.30 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesbilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

METODE PEMBAHASAN Penelitian rancangan metode perancangan arsitektur dengan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dan analisis. Data primer antara lain data tapak hasil observasi dari lokasi tapak, didukung oleh data sekunder berasal buku – buku nmaupun jurnal yang terkait pembahasan rancangan, sumber utama data perihal Pendekatan Aksesbilitas diambil dari The Architect’s Handbook, dan Peraturan Menteri PU No.30 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesbilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. PEMBAHASAN DAN HASIL RANCANGAN A. Lokasi Proyek 1. Gambaran Umum Site Lokasi ditentukan menggunakan Teori Community Use (Schneider and Wilsey, 1961) yaitu kedekatan pusat komunitas dan potensi pengkolaborasian fasilitas. Dengan merujuk terhadap keserupaan fungsi bangunan dan komunitas yang terbentuk yaitu Komunitas Disabilitas (LRSPDSRW Meohai Kota Kendari) dan Komunitas Pembinaan diri dan Pelatihan Kerja (BLK Kota Kendari) yang terletak di Kecamatan Baruga. Maka, lokasi proyek ditentukan pada Kecamatan Baruga.

Gambar 1 Data Lokasi Tapak Terpilih

Perencanaan Pusat Pelatihan dan Keterampilan Disabilitas Fisik di Kota Kendari terletak di Kecamatan Baruga dengan Batasan Tapak : a. Luas Lahan : ±14.000 m2 (1,4 Ha) b. Utara : Loka Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Rungu Wicara (LRSPDSRW) Meohai c. Selatan : Polres Kota Kendari d. Timur : Lahan Kosong e. Barat : Jalan Primer Jl. D.I. Panjaitan ; BLK Kota Kendari ; Panti Anak dan Remaja Sulawesi Tenggara

B. Konsep Pengolahan Tapak

Gambar 2 Konsep Pengolahan Tapak Terpilih

Intisari muatan dari Pengolahan tapak Acuan dengan muatan olahan yaitu : 1. Topografi

2. Tapak Terpilih

Volume 6 No. 2 | Agustus 2021

3


GARIS-Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur (E-ISSN : 2503-3344) Secara Horizontal: a. Kendaraan : Pencapaian Langsung dengan dimensi perjalur 6 m + Drop Off b. Darurat : Pencapaian Langsung dengan dimensi jalur 6 m dengan jangkauan ruang terbuka tengah massa bangunan dan Area C. c. Manusia : Pencapaian Langsung serta Pencapaian Miring. Pedestrian dari luar ke dalam tapak memiliki lebar 2,7 m dilengkapi bangku pada tiap 9 m. Panjang Pedestrian dari Halte ialah 60 meter Gambar 3 Pengolahan Topografi Tapak Terpilih

Tapak dari kemiringan 4,1% ke arah timur diolah menjadi 3 segmen dengan pembagian menjadi (1) Area A yaitu sebagai area parkir dan filter air dari permukaan jalan, (2) Area B sebagai fokus massa bangunan fasilitas, dan, (3) Area C sebagai area resapan aliran air maupun penunjang lainnya tanpa melibatkan massa bangunan.

4. Kebisingan a. Perletakkan pada area sumber kebisingan tertinggi, merupakan zona Service serta Area Parkir

2. Zonasi

Gambar 6 Perletakkan massa bangunan terhadap respon kebisingan

Pemberian jarak disertai dinding masif maupun vegetasi sebagai buffer kebisingan. Selain itu, profil kontur rendah pada area B memberi keuntungan memberi ketenangan bagi aktivitas Pelatihan dan Pendidikan. Gambar 4 Pengolahan Zonasi Tapak Terpilih

Zona pada tapak merujuk pada pengolahan topografi yang menjadi 3 segmen dan muatan aktivitas nya, yaitu : Area A sebagai Zona Publik muatan aktivitas Parkiran dan Halte), Area B sebagai Zona Semi Private dan Private muatan aktivitas Administrasi sebagai Zona Semi Private, dan Pelatihan Keterampilan, Pendidikan (Konsultasi dan Terapi), Penunjang, dan Service sebagai Zona Private, dan Area C sebagai Zona Semi Private.muatan aktivitas Olahraga, Kebun serta Pengolahan Resapan Air (Kolam Retensi). 3. Pencapaian (Sirkulasi)

Gambar 7 Respon terhadap sumber kebisingan

5. View a. View dari dalam ke luar

Gambar 8 View dari dalam ke luar tapak

View massa bangunan di pusat kan masuk ke dalam bangunan (terpusat pada ruang terbuka di tengah, yang di dominasi ruang hijau untuk relaksasi mata. Pada Massa Administrasi view dari dalam ke luar yaitu mengarah ke Gambar 5 Pengolahan Sirkulasi Tapak Terpilih Volume 6 No. 2 | Agustus 2021

4


GARIS-Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur (E-ISSN : 2503-3344) area parkir/sirkulasi kendaraan yaitu untuk memberi transparansi dan identifikasi luar-dalam. b. View luar ke dalam

Gambar 12 Arah Angin terhadap tapak

Gambar 9 View luar ke dalam tapak

Perletakkan Papan Nama untuk pemberian bayangan identifikasi nama dari fasilitas yang disediakan. Serta perlerakkan Papan “Selamat Datang” yaang terlihat dari Entrance Masuk Kendaraan untuk kesan penyambutan. Adapun Tampilan Massa Administrasi yang terlihat sebagai perwakilan atau wajah dari fasilitas dengan filosofi yang ingin dicapai yaitu Chrysalis.

1) Pada Posisi Utara dengan karakteristik hembusan angin relatif sejuk yang berasal dari Angin Laut yang berhembus pada siang hari. 2) Pada Posisi Selatan dengan karakteristik hembusan angin relatif kering yang berasal dari Angin Darat yang berhembus pada malam hari

6. Posisi Matahari-Hujan dan Angin terhadap tapak a. Matahari – Hujan Gambar 13 Perletakkan massa bangunan sebagai respon matahari dan angin terhadap tapak

Gambar 10 Respon Gedung Administrasi terhadap posisi yang menghadap Barat

Dalam merespon arah matahari yang datang dari pukul 11:00 – 15:00 maka digunakan : Secondary Skin, Elemen Air dan Koridor untuk mereduksi panas yang terasa pada area Main Entrance dari Halte.

C. Besaran Ruang Besaran Ruang Gerak bagi Disabilitas fisik berdasarkan Permen PU No.30 Tahun 2016 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, yaitu : 1,5 m x 1,5 m = 2,25 m2 pada pengguna kursi roda, dan 0,95 m x 1,2 m = 1,14 m2 pada semi-ambulant. Pada perhitungan digunakan ruang sirkulasi 2,25 m2 untuk memberi ruang gerak lebih leluasa. Tabel 2 Rekapitulasi Besaran Ruang NO 1.

Kelompok Ruang

Acuan (m2)

Rancangan (m2)

Kelompok Fasilitas

888

1000

520

647

1513

2416,5

347

404

5227

8935

1172

1140

Fungsi

Pelatihan

dan Pendidikan 2.

Kelompok Fasilitas Administrasi

3.

Kelompok Fungsi Penunjang

Gambar 11 Respon bangunan terhadap Iklim Tropis Indonesia

Adapun untuk merespon Iklim Tropis Indonesia, maka respon bangunan yaitu pada Penutup Atap dengan Kemiringan 5-37 derajat dan Talang Air yang diletakkan di ujung tapak. b. Angin

Volume 6 No. 2 | Agustus 2021

4.

Kelompok Fungsi Service TOTAL MASSA BANGUNAN

5.

Parkiran

5


GARIS-Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur (E-ISSN : 2503-3344) 6399

TOTAL + PARKIR

10075

Sumber : Analisa Penulis,2021 Selisih (deviasi) dari besaran ruang adalah : Sesudah Perancangan − Sebelum Perancangan 𝑥 100% Sesudah Perancangan =

10075 − 6399 𝑥 100% 10075

Deviasi Perancangan = 36,486% Perbandingan OS dan BC diperoleh dengan : Luas OS = Luas Site – Luas Lantai Dasar Luas OS = 14.027 m2 – 3.474 m2 Luas OS = 10.553 m2 Luas Lantai Dasar 𝑥 100% Luas Site 3474 𝐾𝐵𝐶 = 𝑥 100% = 24,76652170813431 ≈ 25 14027 𝐾𝐵𝐶 =

𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑂𝑝𝑒𝑛 𝑆𝑝𝑎𝑐𝑒 𝑥 100% Luas Site 10.553 𝐾𝑂𝑆 = 𝑥 100% = 75,23347829186569 14027 ≈ 75

Gambar 15 Penggunaan Bentuk Dasar Lingkaran pada Tapak

Untuk pemberian kemudahan observasi dari/ke satu titik.

𝐾𝑂𝑆 =

2. Tampilan

KBC : KOS = 25 : 75 D. Bentuk Dasar dan Tampilan Bangunan 1. Bentuk Dasar a. Persegi Gambar 16 Pengambilan filosofi Chrysalis pada Gedung Administrasi sebagai wajah kawasan

Perwujudan filosofi Chrysalis (Kepompong Kupukupu) yang berasal dari kata Yunani “χρυσός (:chrysós)” bermakna Gold , pada Gedung Administrasi yang terletak di sisi depan. Unsur yang diterapikan ; (a) Warna Hijau, (b) Garis Gold, (c) Lubang-lubang yaitu perwakilan bintik-bintik pada Kepompong.

Gambar 14 Bentuk Dasar Persegi pada Rancangan

Penyesuaian terhadap bentuk tapak untuk pemberian efisiensi ruang terbuka dan sirkulasi penataan massa bangunan yang relatif lurus menguntungkan bagi Disabiltias Fisik karena minim perubahan arah dan memberi pandangan luas ke depan. b. Lingkaran Volume 6 No. 2 | Agustus 2021

Gambar 17 Tampilan pada Gedung Kelas Keterampilan

Tampilan bentuk arc atau melengkung, untuk menghilangkan kekakuan maupun perasaan jenuh memasuki kelas dan memberi kesan tampilan menyenangkan. E. Ruang Luar 6


GARIS-Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur (E-ISSN : 2503-3344)

Gambar 18 Ruang Luar dengan Healing Environtment pada Area B

Healing Environtment pada ruang luar untuk memberi dampak pemulihan dari dalam (faktor internal) membantu mengingkatkan kepercayaan diri. Healing Environtment memuat poin-poin perihal (1) Sirkulasi Udara dan Penyinaran Matahari, (2) Membawa suasana landscape dari luar ke ruang, (3) Ketenangan, (4) Kenyamanan, dan (5) Keselamatan Kelima poin Healing Environment tidak bertentangan dengan Asas Aksesibilitas sehingga dapat di kolaborasikan Adapun point implementasi Healing Environtment pada rancangan yaitu : 1. Ruang Terbuka Hijau di tengah massa bangunan (Area B) 2. Ruang Terbuka dengan muatan aktivitas olahraga dan kebun (Area C) 3. View dari dalam ke luar yang di fokuskan pada ruang terbuka 4. Pemilihan Material Lunak yang dapat memfilter bising dan polutan, maupun menjadi pemikat burung, maupun kupu-kupu. 5. Pemilihan Material Keras yang tidak licin untuk keselamatan pengguna, penggunaan elemen air dari Kolam untuk efek relaksasi. Selain itu, penggunaan material keras berupa Halte, bangku, dan Stand bollard yang disertai lampu.

Gambar 19 Ruang Terbuka pada Area C

Gambar 20 Elemen Lantai, Dinding, dan Plafon pada Ruang Dalam

Selain itu dinding, dilengkapi Handrail dengan ketinggian 60-80 cm sebagai penyokong tubuh Disabilitas Fisik. G. Struktur dan Konstruksi Struktur dan Konstruksi yang digunakan yaitu :

Gambar 21 Sub Struktur pada Rancangan

1. Sub Struktur ; Pondasi Dalam pada Gedung >1 lantai dan Pondasi Dangkal pada Gedung 1 lantai.

Gambar 22 Super Struktur yang digunakan pada Rancangan

2. Super Struktur ; Sistem Rangka Kaku dan Sistem Rangka Portal dengan Bentuk Kolom Silinder sebagai Safety bagi Disabilitas Fisik.

F. Ruang Dalam Adapun ruang krusial bagi Disabilitas Fisik ialah Toilet, adapun penerapan pada Kamar Mandi sebagai berikut :

Volume 6 No. 2 | Agustus 2021

7


GARIS-Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur (E-ISSN : 2503-3344) 2. Sistem Darurat a. Perletakkan titik kumpul

Gambar 27 Perletakkan Titik Kumpul pada Area B Gambar 23 Upper Struktur pada Rancangan

Penggunaan sistem rangka batang kemiringan 5 – 37 derajat pada Upper Struktur dengan Konstruksi Baja untuk mewujudkan Tampilan atap tersembunyi dan melancip yang ingin di capai. H. Utillitas 1. Transportasi Vertikal a. Tenaga Manusia Gambar 28 Perletakkan Titik Kumpul hadapan Ged. Administrasi

Titik Kumpul diposisikan pada posisi dapat di akses oleh Pemadam Kebakaran maupun Kendaraan untuk memudahkan evakuasi Peserta, Pengajar, Pelaku Pelatihan, maupun Pihak Pengunjung. b. Pemadam Kebakaran Gambar 24 Penggunaan Ramp sebagai Transportasi Vertikal

Gambar 29 Hydrant Pillar dan Box pada Area B

Gambar 25 Penggunaan Tangga sebagai Transportasi Vertikal

b. Tenaga Mesin

Gambar 30 Hydrant Pillar dan Box pada Area C

Gambar 26 Penggunaan Short-Rised Lift sebagai transportasi darurat maupun mengangkut barang Volume 6 No. 2 | Agustus 2021

Untuk mengatasi situasi kebakaran, bangunan dilengkapi dengan Hydrant dan APAR serta Sprinkler pada koridor dan dalam ruang dengan jarak 3 m. Hydrant diletakkan 1 pada tengah Area B, dan 1 pada Area C, dengan jangkauan fire hose 30 – 40 m. 8


GARIS-Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur (E-ISSN : 2503-3344) DAFTAR REFERENSI

Gambar 31 Perletakkan APAR pada Ruang Dalam

Perletakkan APAR maupun emergency button pada ketinggian 60 cm – 110 cm dan 30 cm dari dinding untuk memungkinkan jangkauan aksesibel. c. Informasi Exit

Bass, Alan M. 1973. Site Selection. USA : Educational Facilities Review Series Ching, Francis D.K. 1943. Architecture form, space, & order 3rd Edition. John Willey & Sons, Inc : New Jersey. Pebrianto, Fajar. 2021. Menaker Sebut Hanya 7,5 Juta Penyandang Disabilitas yang Bekerja. https://bisnis.tempo.co/read/1436151/menakersebut-hanya-75-juta-penyandang-disabilitas-yangbekerja. Online. Di akses Juni 2021 Permen PUPR no. 30 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas Dan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan Pickard, Quentin. 2002. The Architects’ Handbook. USA: Blackwell Science Ltd Tarsidi, Didi. 2011. Kendala Umum yang Dihadapi Penyandang Disabilitas dalam Mengakses Layanan Publik. Jurnal Ilmiah. Bandung (ID): Universitas Pendidikan Indonesia

Gambar 32 Perletakkan informasi Exit di atas ambang pintu

Perletakkan info exit yang diletakkan di atas pintu menuju ke ruang luar yang dilengkapi LED yang dapat terlihat di kegelapan. 3. Kolam Retensi

Gambar 33 Kolam Retensi yang digunakan sebagai area filtrasi

Kolam Retensi sebagai fokus utama resapan air, dan pengolahan air kamar mandi, pencucian piring maupun air hujan menjadi air yang dapat digunakan kembali menjadi flush toilet, dan sprinkler. KESIMPULAN Adapun kesimpulan dari uraian pembahasan, yaitu; Pertama, Penentuan Lokasi didasarkan pada Teori Community Use “kedekatan pusat komunitas dan potensi pengkolaborasian fasilitas”. Kedua, dalam mewujudkan ruang yang fungsional bagi Disabilitas Fisik, maka perancangan didasarkan pada Pendekatan Aksesibilitas yang berlandaskan Asas Kemudahan, Asas Keselamatan, Asas Kegunaan, dan Asas Kemandirian, dengan turut dilengkapi pedoman Design for Accessibility. Volume 6 No. 2 | Agustus 2021

9


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
(IDN) Jurnal Desain Tugas Akhir 2021 - Yolanda Intan by yittworks - Issuu