Page 1

Pameran Foto

Lembaran Halaman Yang Hilang Kampung Buku, 27 - 30 Maret 2014

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 1


2

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Lembaran Halaman Yang Hilang Kampung Buku , 27 - 30 Maret 2014 Karya Sofyan "Pepeng" Syamsul Kurator Anwar Jimpe Rahman

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 3


4

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Photography is a major force in explaining man to man. (Edward Steichen) Teknologi fotografi kian terjangkau siapa saja. Dari komputer desktop, telepon seluler, hingga perkembangan sejumlah aplikasi fotografi di dunia maya yang diunduh gratis memungkinkan bagi siapa saja menggeluti dunia fotografis. Untuk skala Indonesia, pada tahun 2006 pasar kamera DSLR sebesar 20.000 unit. Begitu pula dengan bervariasi model dan harga telepon seluler yang nyaris seluruhnya telah dilengkapi kamera oleh tidak kurang enampuluhan merek handphone di dunia yang jelas beredar pula di negeri ini. Dengan data kuantitatif ini kita bisa perkirakan bahwa betapa besar peluang semaraknya dunia fotografis. Pada akhir 2013 tenar istilah “selfie�, kata yang dipakai untuk jenis foto yang dijepret sendiri menggunakan kamera dijital atau kamera telepon genggam. Data di atas juga seperti ingin menunjukkan pada kita bahwa seni fotografi kian berpeluang dirambah orang yang sama sekali baru terhadap wilayah seni yang satu ini. Bagaimana menyikapi perkembangan ini? Fotografer atau yang mengakrabi sejak lama dunia seni fotografi kini ditantang untuk menguji kemampuannya mendekati lebih karib subjek yang mereka abadikan.

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 5


Dengan begitu, fotografi kemudian berubah menjadi cara atau metode mendokumentasikan ruang dan manusia yang tergerus perubahanperubahan lingkungan yang cepat. Untuk itulah, pameran karya fotografi ini diajukan ke khalayak umum untuk memberi penegasan bahwa kamera menjadi pisau bedah dalam melihat persoalan-persoalan spesifik, seperti fenomena kehidupan di wilayah kota. Fotografi berubah menjadi wahana dan cara kerja pada sebuah situs/wilayah yang dipilih. Sebuah kawasan bernama Buloa yang terletak di Kecamatan Tallo, Makassar. Kawasan itu kini berkembang menjadi wilayah sengketa karena peluang yang diciptakan oleh kota dan segala perkembangannya. Tapi bukan itu yang menjadi fokus pendokumentasian ini, melainkan pada para penghuni kawasan itu sekarang: manusia-manusia dan lingkungan sekitar. Pameran ini berniat besar menegaskan ulang salah satu fungsi dan esensi dari fotografi sebagai seni dokumentasi.

6

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Anwar Jimpe Rachman, menulis beragam topik dan menyunting sejumlah buku bermacam tema. Beberapa kerja terakhirnya antara lain Hidup di Atas Patahan (InsistPress 2012), Pakkurru Sumange’: Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan (Ininnawa, 2013—terjemahan), dan Chambers: Makassar Urban Culture Identity (Chambers Celebes, 2013). Kurator di Tanahindie. Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang” 7


8

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Setelah Ramadan Dua Tahun Lalu Saya mengunjungi kawasan Tallo ini pada Ramadan dua tahun yang lalu. Terakhir saya mengunjunginya sewaktu kecil saja, itupun cuma sekali, seingat saya. Sebab pulang di rumah dalam keadaan basah kuyup membuat kami semua dihukum orang tua masing-masing lalu tidak ada lagi yang berani ke sana setelahnya. Dipimpin oleh anak yang usianya lebih tua, kami beramairamai mengayuh sepeda untuk ‘mandi-mandi’ di sini. Ini adalah kawasan wisata permandian yang tidak memungut biaya masuk dan tidak begitu jauh dari tempat tinggal saya. Saya sedang tidak bercerita tentang Buloa. Sebab memang saya tak mengenal Buloa. Saya hanya tahu tempat permandian tadi. Sejak hari itu, saya sering kembali ke sini dengan beberapa kawan. Alasannya bermacammacam, ada yang mencari ketenangan biar ketemu ide atau menawarkan tempat alternatif untuk melihat matahari terbit atau terbenam. Kebanyakan hal kedua yang diminati. Iya, saya pernah mengajak dua teman yang datang dari Norwegia dan Prancis. Hanya berselang beberapa bulan sejak terakhir saya berkunjung ke tempat itu, dermaga yang dibangun hanya dari bambu seperti habis diterjang ombak besar—sudah tak karuan lagi bentuknya. Daratan jadi tambah banyak. Mobil-mobil truk penuh pasir berjejeran berseberangan dengan beberapa rumah yang dibangun secara semi permanen. Seseorang saya tanyai tentang itu. ‘Ada yang mau dibangun’, kata orang itu. Saya belum sadar sebenarnya apa yang akan dibangun. Barangkali hanya ingin sekadar memperindah tempat itu sebab memang setahu saya itu adalah kawasan wisata.

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang” 9


Tak lama, saya membaca sebuah gerakan untuk menyelamatkan sebuah kampung di kawasan pesisir bertagar ‘Buloa’ di Twitter. Makassar Nol Kilometer (http://makassarnolkm.com) pun menaikkan beritanya. Ternyata kampung yang dimaksud terletak di Tallo Lama, bukan di daerah Losari. Beberapa pekan setelahnya tak saya temui lagi berita perkembangan Kampung Buloa. Barangkali sudah beres, pikir saya. Dan saya pun mengacuhkannya lagi. Saya lalu bertemu Zack pada akhir tahun 2012 dan merencanakan sebuah proyek foto mengenai ‘Kota’, walau masih sebatas perbincangan warung kopi. Saya mulai mengumpulkan materi baru untuk itu sejak awal 2013. Pada paruh akhir 2013, kami membicarakan ide ini dengan Kak Jimpe dan ternyata bersedia membantu. Tapi, karena kami bertiga diberi kesibukan lain. Proyek ini pun tertunda lagi. Karena sudah terlanjur membahas ini dengan Kak Jimpe dan tak ingin malu, akhirnya saya lanjutkan lalu memilih kawasan pesisir kota sebagai objek. Berangkatlah saya sore itu ditemani seorang kawan untuk mencari Kampung Buloa. Tidak sengaja saya berhenti di satu tempat yang begitu ramai. Ternyata di sinilah tempat awal dan akhir perjalanan melaut para nelayan Buloa. Di sini pula anak-anak Buloa menghabiskan jam pulang sekolah mereka. Saya mulai berkenalan dengan beberapa orang setempat. Bertemu dan berbincang dengan seorang bos pemilik beberapa perahu yang anaknya sedang kuliah jurusan arsitek dan tentu saja Ibu Aminah. Ibu Aminah adalah salah seorang korban penggusuran. Dia lalu bercerita tentang kejadian itu kepada saya. Semakin sore maka saya pun pamit pulang karena masih ragu

10

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang”


untuk pulang dalam keadaan gelap. Pertama kali memasuki kawasan ini kami harus menyusuri jalan kecil dipenuhi oleh orang berbadan kekar yang mengeluarkan aroma minuman keras. Tambah lagi saya mendengar cerita Ibu Aminah yang diintimidasi oleh preman bayaran bos tanah bikin nyali saya tambah kecil. Tapi, sebelumnya saya memang sudah mengutarakan maksud saya berkunjung dan berjanji akan kembali lagi keesokan harinya. Saya berkunjung keesokan harinya sesuai dengan janji. Pagi itu saya bertemu dengan suami Ibu Aminah. Bapak Bado namanya. Saya bertemu juga Nirma, anak bungsu mereka yang menangis karena tak diizinkan ikut melaut bersama pamannya karena cuaca bakal sangat panas. Saya menawarkan diri jadi teman bermainnya agar ia berhenti menangis. Tak banyak kegiatan memotret yang saya lakukan hari itu. Saya sibuk dengan Nirma berkeliling kawasan sekitar dermaga itu. Rumah Nirma berada pas di sisi tempat perahuperahu disandarkan yang saya maksud tadi. Itu merupakan kawasan hasil kesepakatan bersama dengan bos tanah setelah melalui negosiasi yang begitu panjang. Hari itu saya habiskan hanya dengan bermain bersama Nirma dan berkenalan dengan beberapa nelayan setempat. Hari-hari berikutnya saya mulai memotret segala aktivitas yang saya temui di tempat itu. Mencari tahu kehidupan keluarga Ibu Aminah setelah suaminya berhenti melaut dan menjadi kuli bangunan sejak 8 tahun yang lalu. Berkenalan pula dengan keluarga Bapak Rijal, paman Nirma. Pak Rijal masih bertahan sebagai nelayan karena tak punya keahlian lain. Saya pun dengar keluhan ibu-ibu karena sudah tak bisa lagi mencari kerang dan hewan laut

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 11


kecil lain sebab sudah tak punya air pasang surut. Tak ada lagi cara tradisional untuk menangkap udang dan ikan bandeng air asin. Semua aktivitas hanya berpusat di tengah laut saja saat ini dan mereka mulai tak begitu suka dengan musim hujan. Bapak Bado dan Ibu Aminah punya empat orang anak. Anak pertama diberi nama Mirna, seterusnya Imran, lalu Armin, dan terakhir Nirma. Keempatnya sangat banyak membantu saya menyelesaikan proyek foto ini. Imran dan Armin adalah juru mudi perahu-perahuan dari gabus yang dipakai untuk mengangkut saya memotret jika harus dari arah laut. Mirna yang begitu pemalu untuk difoto di antara semuanya bertugas mengantar kopi jika saya sedang bercakap dengan bapaknya dan, tentu saja, kalau tak ada kamera di dekat saya. Keempat anak ini tidak ada yang diimunisasi ketika masih bayi. Mereka hanya direndam-rendam di air laut saja jika sedang sakit, apapun jenis penyakitnya. Dan hampir semua anak Buloa tak ada yang diimunisasi hingga sekarang. Itu menurut pengakuan orang tua lainnya. Itu merupakan sedikit hal yang tidak masuk akal untuk saya, termasuk cerita tentang legenda penghuni macan putih, setumpuk harta karun, serta rencana pembangunan pelabuhan baru yang begitu banyak merugikan orang-orang yang telah menghuni kawasan itu secara turun temurun.[] Maret 2014

12

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Sofyan Syamsul, lahir di Ujung Pandang, 30 Januari 1988. Mengikuti sejumlah pelatihan fotografi yang dibimbing sejumlah fotografer kenamaan Indonesia. Ia menjadi tim dokumentasi program-program Rumata’artspace, seperti MIWF dan South Asian Screen Academy. Selain itu, ikut bergabung kerja-kerja film di Meditatif Film Workshop. Terakhir, ia menjadi fotografer untuk Wordcamp 2013 di Yogyakarta. Alamat: Jalan Yos Sudarso 1 Lorong 153 A No. 8 Makassar. Weblog: http://unsharestory. wordpress.com | email: daengpepeng@gmail.com Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang” 13


14

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 15


16

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 17


18

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 19


20

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 21


22

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 23


24

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 25


26

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 27


28

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 29


30

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 31


32

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�


Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 33


Terima kasih kepada: Warga Kampung Buloa | Anwar Jimpe Rachman | Sapriady Putra Fitriani A Dalay | Ridwan Mappa | Arif Pribadi | Barack AM Ade Cakra Irawan | Muhammad Indra Gunawan| Mawar Lestari M. Aan Mansyur | Shinta Febriany | Ayu Ambong Muhammad Bisyri | Roy Ruimer | Muhammad Reza Nurdin Dian Megawati Safitri |Muhammad Ikhsan Muin |Trivena Natasha Kalebu Wahyu Wiranata | Azhar Ramadhan | Wirasandi Ruslan Brune Charvin | Tanahindie | Makassar Nol Kilometer ARKOM Makassar | Kongsi Kura-Kura | Kala Teater | Meditatif Film Workshop Rumah Media | Theory of Discoustic | Blogger Anging Mammiri Liza Marzaman | Sudarmono | Mirwan Andan | Ibrahim Bram Suhud Majid | Jenny Frans Pongrangga | UPKSBS UKM Seni UMI Benny Wahyu | Abdi Karya | Rumata’ | Artha Kantata Raditya | Kantor Lurah Pandang 34

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang”


Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang� 35


Didukung Oleh:

36

Pameran Foto “Lembaran Halaman Yang Hilang�

Profile for Tanahindie

Lembaran Halaman yang Hilang  

Katalog pameran fotografi Sofyan Syamsul, 27-30 Maret 2014.

Lembaran Halaman yang Hilang  

Katalog pameran fotografi Sofyan Syamsul, 27-30 Maret 2014.

Advertisement