__MAIN_TEXT__

Page 1


Makassar Biennale 2017:

MARITIM

Yayasan Makassar Biennale 2019


Makassar Biennale 2017: MARITIM

Cetakan Pertama, Januari 2019 Tata Letak RR. DIAH AYU WULANDARI Editor ADE AWALUDDIN FIRMAN Foto TIM DOKUMENTASI MAKASSAR BIENNALE 2017 Diterbitkan oleh Yayasan Makassar Biennale Kampung Buku Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E Makassar, Indonesia 90231 ISBN: 9786239012908 176 hlm 15 x 21 cm

Yayasan Makassar Biennale dibentuk pada tahun 2016 oleh praktisi dan akademisi yang bekerja di seni rupa demi membuka dialog antara seni rupa dengan dimensi kehidupan lainnya. Yayasan ini menjadikan Makassar Biennale (MB) sebagai ajang seni rupa internasional dua tahunan. MB sebagai forum dan kerja-kerja kebudayaan ­melaksanakan serangkai program yang bertujuan mengembangkan wacana dengan ­menggelar pameran, se­minar/diskusi/ sejenisnya, hingga ­publikasi; ­sekaligus sebagai ruang pendidik­an dalam arti seluas-­ luasnya dengan ­membuka ­program magang bagi ka­langan muda; serta wadah kolaborasi bagi individu dan komunitas jaringan MB. Website: makassarbiennale.org | Email: makassarbiennale@gmail.com Twitter: @mksbiennale | Facebook: makassarbiennale | Instagram: @makassarbiennale

Makassar Biennale 2017: MARITIM biennale yang digelar di Makassar, kota utama di Indonesia Timur, menjadikan dunia maritim sebagai lanskap, wacana utama, dan tema abadinya. Makassar Biennale I diadakan pada tahun 2015, mengusung tema "Trajectory!".


daftar isi

kata pengantar

4

profil seniman

9

pre-event

19

event

43

pasca event

119

ucapan terima kasih

171 3


kata pengantar

Makassar Biennale 2017

Medan Perluas Wacana Maritim

DENGAN menetapkan tema abadi “Maritim”, Makassar Biennale (MB) 2017 seperti membebaskan diri dari beban yang selama ini ditanggungnya—sebagai ajang seni yang digelar di kota yang menjadi artefak hidup dunia kemaritiman Nusantara. Biennale menjadi peristiwa sekaligus situs penting penanda geliat ­perkembangan kebudayaan di satu wilayah. Tidak cuma itu, MB pun ­mengarahkan dirinya sebagai ruang pertukaran pengetahuan khalayak umum dengan modus seni. Membicarakan catatan sejarah kawasan ini, seperti masa keemasan Kerajaan Gowa-Tallo, salah satu kerajaan maritim terbesar yang berkembang mulai awal abad ke-16, kita bisa membayangkan betapa temuan benda penting sangat dapat kita katakan hubungan antara seni dan pengetahuan. Ketika Raja Tumapa’risi Kallonna memerintah masa abad itu, ia ­membuat jabatan non-teritorial pertama di kerajaan ini bernama sabarana ­(syahbandar) yang disandang oleh Daeng Pamatte. Kronik Gowa melekatkan penemu aksara lontara’ ke sosok ini, meski kemungkinan besar sudah ada seratusan tahun sebelumnya. Namun pada masanya pertama kali negara

4


menggunakan aksara tersebut. Masa setelahnya, Tunipallangga (1548-1565), inovasi tombak dan perisai yang lebih ringan dan produksi bubuk mesiu serta pembuatan peluru untuk senapan pun berlangsung (Gibson, 197:2009). Masa setelahnya, hidup dua orang cerdik pandai berwatak kosmopolit, Karaeng Pattingalloang dan Amanna Gappa. Pattingalloang, figur di balik kejayaan Gowa-Tallo kala itu, seorang ahli diplomasi, dan konsolidator ulung yang tergila-gila pada ilmu pengetahuan— memesan barang langka antara lain bola dunia, peta dunia, hingga teropong bintang (Lombard dalam Arsuka, 2000). Sementara Amanna Gappa, seorang matoa Wajo di Kerajaan Gowa-Tallo, menjadi perumus undang-undang kelautan yang tersohor, Ade’ Allopi-Loping Ribicaranna Pa’balu’e atau Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa (O. L. Tobing, 1961). Dari catatan sejarah tadi dapat dikatakan bahwa nilai-nilai kreativitas, sebagai tempias dari pertukaran pengetahuan antar-manusia berbeda latar dan asal, mendorong kemajuan dan kematangan peradaban di wilayah ­tertentu, melalui dunia maritim. Dengan demikian, seni yang bersenyawa dengan ­kemaritiman tidak bisa lagi dibatasi dengan sekadar merujuk pada bentuk visual tertentu. Yang juga sangat pokok adalah ‘nalar’-nya, perihal bagaimana isu kemaritiman ditempatkan sebagai bingkai dalam proses kreatif seniman agar tidak terjebak pada eksotisme bentuk visual. Melalui beberapa sesi ­seminar dan lokakarya, MB berharap, beragam kemungkinan dalam isu ­kemaritiman sebagai sebentuk ekosistem akan dieksplorasi dan dibincangkan. Mengangkat kemaritiman sebagai tema besar kegiatan kiranya juga ­menjadi daya tawar tersendiri, di samping karena posisi Makassar s­ ebagai kota pelabuh­an yang tumbuh pada dua masa perdagangan utama di ­Nusantara, yakni perdagangan rempah-rempah dan kurun perdagangan dan ­industri ­teripang yang menjadikan bandar ini sebagai pusatnya. Hingga kini pun, Makassar sebagai bandar menjadi pintu penghubung yang strategis ­dalam konteks Indonesia mutakhir. Dengan keuntungan absolut inilah yang h ­ endak­nya menjadikan isu maritim sebagai ciri Makassar Biennale, ­terutama persentuhan dengan isu lain. Membicarakan maritim tak ubahnya ­membincangkan persoalan-persoalan hidup manusia yang saling berkaitan. Perhelatan ini memimpikan dirinya sebagai wadah besar yang ikut memberi saran (bahkan solusi) yang bertalian dengan hidup manusia yang lebih baik. Pokok pikiran ini juga beririsan dengan salah satu visi dari kabinet JokowiJK yang hendak mengembalikan marwah Indonesia sebagai poros maritim dunia. Titik berangkatnya juga serupa, yakni kegelisahan atas sikap manusia Indonesia yang condong memunggungi lautan dan dipingit di pedalaman selama beratus tahun. Padahal, 160 juta penduduk Indonesia (60 persen) berdiam di kawasan pesisir. Perhelatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah penting untuk mewujudkan visi tersebut.

5


SAYA setuju dengan kurator MB 2017, Nirwan Arsuka, MB beruntung punya pembanding yang dekat dan bisa jadi rujukan (Jakarta Biennale dan ­Biennale Jogja). Tapi tantangan lain menunggu. “Makassar harus berjuang ­mendefinisikan dirinya, merumuskan karakternya agar tak menjadi sekadar pengekor dari biennale yang sudah ada, dan bisa menyumbangkan sesuatu yang memperkaya khasanah yang ada.” Namun, selama tiga pekan, MB berharap itu berlangsung lebih jauh. ­Dinamika dan cara pikir, berdialog, dan metode karya di dalam ajang ini tidak semata ingin menempatkan istilah ‘maritim’ menjadi sebatas ‘perairan laut’. Yang tak kalah penting melihat, memikirkan, dan menggelutinya sebagai sebentuk ikatan dan ekosistem lingkungan hidup—dari hulu hingga hilir. Dari dalam akar hingga ujung atas pucuk daun. Hanya dengan begitu, seni menjadi cara pandang yang penting melihat ­persoalan di sekitar kita. Bisa menjelmakan bukti: seni sebagai jalan keluar.

Anwar ‘Jimpe’ Rachman

Direktur Makassar Biennale 2017

6


7


seniman Adi Gunawan (Makassar) Ahmad Anzul (Makassar) Al Farabi (Bulukumba) Andy Seno Aji (Bekasi) Chen-Wei Lin (Taipei) Cut Putri Ayasofia (Banda Aceh) Fadriah Suaib (Ternate) Faisal Syarif (Makassar) Kelompok Masyarakat Kofiau, Misool (Raja Ampat) Made Bayak (Gianyar) Muh Ridwan Alimuddin (Polman) Muhlis Lugis (Makassar) Pasir Putih Pemenang (Lombok) Postcarders (Pangkep) Rahmat Mochtar (Polman) St. Mutmainnah (Makassar) Teater Kita (Makassar) Quiqui (Makassar) Zainal Beta (Makassar)

partisipan Abdul Rahman Hamid Abdul Zaenal Akbar Zakaria Agussalim Burhanuddin Anggraini Herman Anwar 'Jimpe' Rachman Arham Rahman Armin Hari Asia Ramli Prapanca Ashari Ramadhan Asyari Mukrim Chen Hsiang Wen Citra Sasmita Dolorosa Sinaga Fitriani A. Dalay Gene Ammarell Hafez Gumay Harnita Rahman Ida Siti Irawati Irmawati Puan Mawar 8

Iwan Sumantri Linda Tagie Mariati Atkah Melanie Subono Muhammad Cora Muhammad Ridha Nirwan Ahmad Arsuka Nurabdiansyah Nurlina Syahrir Nurhanita Rahman Olin Monteiro Rahmat Muchtar Rahmadiyah Tria Gayathri Sawedi Muhammad Sofyan Salam Sudarmono Sukarman Syahrini Andriyani Tasrifin Tahara Tomi Satria Yahya Zulkhair Burhan


profil seniman Adi Gunawan lahir di Bone-Bone 8 Januari 1994. Mahasiswa Fakultas Seni dan

Desain Universitas Negeri Makassar ini giat bersama komunitas Penahitam Makassar. Beberapa karyanya dipamerkan dalam sejumlah pameran antara lain Stofo Line Art (UNM, 2013), Muntah Karya (Unifa, 2014), Penahitam Art and Music Camp Festival (2015), So Sial Art Project Adi Gunawan (Rumata Art Space, 2015). E-mail: adi. gunawan08@yahoo.co.id

Al Farabi (Sanggar Seni Budaya Al Farabi Bulukumba), kelompok seni budaya yang

didirikan AM. Ichdar YN pada 9 September 2007. Al Farabi acap kali mementaskan performance art dalam banyak kesempatan seperti International Performing Art Serwung Seni Segara Gunung di Sangiran, Jawa ­Tengah (2015), dan Internasional Performing Art Srawung Candi (2016). Sejak 2014 melaksanakan Kenduri Salo Bijawang, Bulukumba. Alamat: BTN Iin Citra Lestari 2, Blok B2, No.2 Desa Taccorong Kec. Gantarang, Bulukumba.

Andy Seno Aji lahir 14 Januari 1978 di Yogyakarta. Ia adalah seniman visual yang mengolah banyak medium dalam karyanya. Karya-karyanya terpajang dalam pameran antara lain pameran karya gambar pensil “Pastiche. This is not I” 26-31 LIP Yogyakarta, Juli 2004; karya instalasi “Omongkosong #1”, Cemeti Art House, Yogyakarta 6-30 April 2005, karya lukis “Apocalypse Now” Ark Gallery Jakarta, 13 December 2008, karya foto “Ekspedisi Cengkeh; Revolusi Belum Selesai” dengan Ong Hary Wahyu dan Tim Ekspedisi Cengkeh 2013, Klinik Kopi Yogyakarta 2015. Sejak tahun 2001, Andy juga banyak mengerjakan karya rupa untuk panggung, di antaranya dengan Teater Garasi, Waktu Batu I, Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu (2001-2002); Waktu Batu II, Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah (2002-2003); Waktu Batu III, Deus Ex Machina dan Perasaan-­perasaanku Padamu (2003-2005); opera King’s Witch (Yudi Ahmad Tajudin) Jakarta Desember 2006; juga dengan seniman lain, Bungkusan Hati dalam Kulkas (Wayang Lendir oleh Eko Nugroho) di Salihara Jakarta & Cemeti Arthouse ­Yogyakarta 2009; dan Pappa Tarahumara Theatre performance Garibaba’s Strange World (Hiroshi Koike), Yogyakarta dan Jakarta 2009. Ia menjalani residensi lokakarya desain panggung di Volksbuhne Berlin, sekaligus untuk desain grafis di LSD Studio Berlin, Desember 2007-Maret 2008. Ia meraih Young Artist Award, Buhnenbilder Hein Heckroth Forderpreis Award 2015, The Hein Heckroth Gesselschaft Giessen e.V, Giessen Germany 2015, sebuah penghargaan internasional untuk desain panggung. Pada tahun 2016, ia mulai berkarya untuk media video, animasi dan grafis gerak, salah satunya menjadi kompositor video animasi The Adventure of Alice (­Digital ­Animation and Interactive Performance By Grande Exhibition Australia), yang ­dipentaskan di Guido Reni, Roma, 2017. 9


Anggraini Herman lahir di Makassar, 24 April 1990. Alumni Jurusan Pendidikan Fisika, Universitas Negeri Makassar. Aktif berpameran, di antaranya Makassar Biennale dan “Sound.ink Festival and Exhibition” (2015), “Mother, Sister, Daughter” Rumata’ Artspace dan “Artivity Festival and Exhibition” (2014), “Recharge” dan “Journey” (2013). Ia ikut lokakarya antara lain kurator Japan Foundation (2015), Magang Nusantara Yayasan Kelola (2014), dan kritik seni rupa ruangrupa (2012). Anggi juga anggota Dewan Kesenian Makassar sejak 2015.

Ahmad Anzul lahir di Makassar 11 September 1967. Ia menggunakan banyak

metode seni rupa, seperti instalasi, performance art, dan medium lain untuk proyek pribadi (seperti seri karya “Negeri Garam”) maupun kelompok sejak akhir dekade 1990, melingkupi pameran sampai artistik panggung pertunjukan-pertunjukan ­teater. Aktif di Latar Nusa, kelompok seni budaya Makassar. Anzul juga anggota Dewan Kesenian Makassar periode 2013-2018.

Citra Sasmita, perupa kelahiran Bali yang banyak bekerja dengan isu ­gender

dalam karyanya. Ia banyak mengeksplorasi berbagai macam medium seperti lukisan, keramik, dan instalasi. Perupa yang pernah kuliah di Jurusan Fisika ini aktif ­berpameran di dalam dan luar negeri.

Cut Putri Ayasofia, kelahiran 1991, Banda Aceh. Mahasiswa UIN Ar-Raniry. Pendiri Komunitas Komikus Aceh bernama Panyóet sejak 2010. Pegiat seni mural dan ilustrasi.

Fadriah Suaib lahir dan besar di Ternate, Maluku Utara. Pendidikan, S1 Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Ternate. Beberapa pameran yang diikutinya antara lain “Bicara Bahasaku”, Ternate, 2004; pameran Seni Rupa bersama di Galeri Tondi di Medan, 2006; “Swara Nusa” di Nusa Tenggara Timur, 2015; pameran Besar Seni Rupa “Episentrum Local” di Manado, 2016.

10


Faisal Syarif lahir di Makassar 15 Oktober 1978, menempuh pendidikan di

Institut Kesenian Makassar (IKM). Karyanya “Etos” menjadi juara favorit Mandiri Art Award 2015. Ikut pameran Nusantara, Galeri Nasional 2011, dan pameran keliling 2012 Makassar.

Harnita Rahman lahir di Watampone, 29 November 1984. Sejak 2011 bekerja sebagai pustakawan di mini library Kedai Buku Jenny dan pegiat kerajianan daur ulang berbahan dasar kertas, mendirikan Teater Ketjil di tahun 2013 sebagai salah satu lini pertunjukan di KBJ. Bersama Teater Ketjil, saya menjadi sutradara, penulis naskah dan kadang aktris sekaligus. Kami Mementaskan naskah naskah sederhana yang kebanyakan diapadatasi dari karya sastra atau lagu lagu berdasarkan isu-isu yang sedang hangat dibicarakan. Sekarang bersama anak anak di Kompleks Wesabbe sedang belajar menggarap teater anak sebagai upaya memperkenalkan seni peran khusisnya teater pada anak anak.

Irawati lahir di Jakarta. Pendiri dan pengelola Komunitas Seni Budaya Paseban, Jakarta, sebuah komunitas urban kota dengan basis seni dan budaya sebagai ruang pendidikan alternatif bagi warga. Aktor, sutradara dan penulis naskah teater. Kini sedang bekerjasama dengan Koalisi Seni Indonesia dan PWAG dalam program Cultural Hotspot untuk wilayah NTB, NTT, dan Wallacea.

Kelompok Masyarakat Kofiau, Misool adalah komunitas yang

terdiri dari anak-anak hingga orang dewasa di Kofiau, Misool, Raja Ampat, merupakan dampingan The Nature Conservancy yang berfokus pada pendidikan konservasi lingkungan hidup.

Laurent, Lin Chen Wei (林正尉) lahir 2 Mei 1985. Ia bekerja sebagai

reporter di surat kabar Empat Arah dengan pekerja Indonesia di Taiwan (2015). Ia seorang seniman visual, penulis kritik seni, aktif di Outside Factory. Kini menempuh pendidikan program Ph.D Urban Planning. Esai dan kritiknya dipublikasi di 15 media dan majalah di Taiwan, Singapura, dan Makau. E-mail: cwlin502@gmail.com

Linda Tagie lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pegiat sastra dan aktor teater, saat ini sedang bergiat di komunitas sastra Dusun Flobamora dan Teater Perempuan Biasa. Juga aktif menyuarakan ketimpangan gender, ketidakadilan dan kekerasan pada perempuan dan anak melalui tulisan dan beberapa pementasan. 11


Made Bayak lahir di Tampaksiring 27 Juni 1980. Menyelesaikan pendidikan di ISI

Denpasar. Ia mulai berkarya di Klinik Seni Taxu Present (2004), Bali Mural Conspiracy at Bali Creative Festival (2010), Mural Project at SOS (Sumatran Orangutan Society, 2011), Bali Spirit Festival (2012), Monster in polluted river... public installation project di Sungai Badung (2012). Kini proyek-proyek seninya mengeksplorasi “Plasticology”, yang dikembangkannya sebagai sarana pendidikan semua kalangan. Pada September 2017, ia pa­meran dan lokakarya “Plasticology” di Pasar Hamburg, Jerman. Setelahnya ia ke ­Yogyakarta ikut berpameran di Festival Arsip IVAA.

Melanie Subono adalah aktivis, pejuang HAM, lingkungan, hak-hak buruh migran

dan hak-hak perempuan, musisi, dan pegiat seni yang sering berkolaborasi dengan ­banyak gerakan sosial di Indonesia.

Muhlis Lugis lahir di Ulo, 14 Mei 1987. Menyelesaikan studi S1 nya di Prodi

­ endidikan Seni Rupa Universitas Negeri Makassar pada tahun 2011, dan melanjutkan P pendidikan di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, dari 2012-2014. Muhlis aktif berpameran di dalam dan luar negeri, program residensi, dan mendapatkan sejumlah penghargaan, di antaranya Scope Art Show, Swiss (2017), “Friends of TPS”, ­Yogyakarta; Art as Perspektif: Militan for Education, Bali; “Artist’s Engagement with Art History” YOS (Yogyakarta Open Studio); Indonesian Art Exhibition, SAY Art Space, Seoul; JMB (Jogja Miniprint Biennale), Yogyakarta, Indonesia; “ACE Mart” ACE HOUSE Collective, Yogyakarta; Affordable Art Fair, Hongkong; Young Art Taipei, Taiwan; ASIA ­CONTEMPORARY ART SHOW Hongkong (2016); LIU & LUGIS Hallway Exhibition, Ludo Gallery, Singa; pura; Art Taipei, Taiwan; Trienal Seni Grafis Indonesia V, Bentara Budaya, Jakarta Affordable Art Fair, Singapura; Affordable Art Fair, New York; ASIA ­CONTEMPORARY ART SHOW Hongkong; CERNUNNOS (keer-noon-os), Ludo Gallery, Singapura (2015). Finalis Pameran Besar Seni Rupa (PBSR ) #5 Kemndikbud, Taman Budaya Ambon (2017); pemenang ketiga Trienal Seni Grafis V (2015); Finalis JMB (JogjaMiniprint Biennale 2014-2015), dan pemenang Program Parallel Event BIENALLE JOGJA XII Equator #2 (2013).

Muh Ridwan Alimuddin Ridwan Alimuddin adalah jurnalis, penulis, fotografer,

dan videographer. Bermukim di Tinambung, Sulawesi Barat. Dia menerbitkan sejumlah buku tentang kebudayaan maritime, yang kesemuanya berdasarkan hasil penelitian independennya bertahun-tahun. Dia juga aktivis yang memperkenalkan kebudayaan lokal Sulawesi Barat. Ridwan mendirikan Perpustakaan Keliling, perpustakaan di atas perahu yang melayani pulau-pulau di sekitar Sulawesi Barat. 12


Muhammad Suyudi, alumni Universitas Negeri Makassar. Karya-karyanya

dipamerkan di antaranya Kolaborasi 10 Perupa 2012, Makassar Art Moment 2012; Narasi Zaman (2012); Pameran Station (2014); Pameran Seni Rupa Rumahan (2014); Cross Border 2014 (pameran kolaborasi perupa Makassar-Balikpapan); “Anging Mammiri K ­ upasang” (2015); These Days (2016); dan Rest Area (2017). E-mail: muhammad1989suyudi@gmail.com

Pasir Putih Pemenang adalah organisasi nirlaba egaliter berbasis di Kecamatan

Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, berdiri pada 2010. Organisasi ini fokus pada pengembangan pengetahuan literasi media, seni serta studi sosial dan budaya. Pasir Putih Pemenang menginisiasi berbagai kegiatan yang berkaitan dengan persoalan sosial kemasyarakatan dan dibungkus dengan menciptakan peristiwa budaya.

Postcarders berisi empat siswa SMP-SMA dari Pulau Santando dan Sapuli,

­ angkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Mereka adalah Hamzah (11), Syahril (14) Jamali P (16), dan Randi (19).

Rahmadiyah Tria Gayathri lahir dan bekerja di Kota Palu sebagai ­seniman visual art & crafter. Mengelola toko kecil yang juga digunakan sebagai salah satu markas kegiatan kesenian bersama beberapa komunitas seni di Kota Palu. Mendirikan Komunitas Seni Rupa (Serrupa) pada 2014. Koordinator Umum Forum Sudut Pandang, terlibat aktif mengoordinasi kegiatan-kegiatan kesenian alternatif di Palu, rutin mengadakan pemutaran film-film alternatif bersama jejaring komunitas film lainnya. Alumni Makassar - SEAscreen Development Lab 2016. Terlibat dalam produksi film lokal di antaranya Film karya Sutradara Ancha Latief yang berjudul “Umar Amir” (2013), menulis naskah untuk film berjudul “SEHE” (2014), menjadi sutradara sekaligus produser di Film berjudul “SALEH & MARIA” (2017). Saat ini sedang terlibat dalam proses produksi film panjang pertama sutradara Yusuf Radjamuda yang berjudul Mountain Song sebagai produser.

Rahmat Muchtar lahir di Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, 10 Juli 1974. Belajar di Universitas Taman Siswa Yogyakarta Jurusan Seni Rupa/Lukis (1994), berproses di Sanggar Suwung Yogyakarta (1998-2001), Omah Panggung Nitiprayan, Yogyakarta (2002-2006), Studio Moksa, Bali (2007-2011). Kini, sejak 2012, mendirikan dan mengelola Uwake Culture Foundation. Alamat: Jalan Sultan Hasanuddin, TinggasTinggas, Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. 91354. E-mail: uwake74@yahoo. com

13


St. Muthmainnah a.k.a Inaowyu, lahir di Makassar 29 Desember 1992. Alumni

Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin. Pamerannya antara lain Black and White Contemporary (Solo Painting Exhibition, 2013); “Mother, Daugther, Sister“ (art and craft exhibition, 2014); In A Gallery “Therian-Trait” (Solo Painting Exhibition), 2014); Makassar Biennale (2015); End Year Exhibition of Penahitam Makassar in 2015; Re-­ thinking Local Heroes Exhibition (2016); and All The Small Things Exhibition (2017).

Syahrini Andriyani, panggilan Rini Fathi, lahir di Makassar. Kini bekerja di HRD

Dept. PT Trans Kalla Makassar. Ia juga aktor dan Direktur Artistik Sanggar Merah Putih Makassar dan Direktur Eksekutif Kala Teater.

Teater Kita didirikan pada 1 Oktober 1993 oleh Asia Ramli Prapanca bersama

beberapa seniman muda, antara lain Ishakim, Malhamang Zam-zam, Sukma Sillanan, Basri B. Sila, Aco Ridwan, Faizal Yunus, Hamrin Samad, dan Rahman Labaranjang. Sejak 1993 hingga kini, TKM telah mementaskan 40-an reportoar, antara lain: “Kavling 2M²” pada Festival Seni Surabaya 1996, “Etalase Bulan Sabit II” pada Festival Seni Surabaya 1999, “Aku Pinjam Baju Baru” pada Festival Cak Durasim 2002, “Genderang Perang di Tanjung Bulang” pada acara Monolog Indonesia-Malaysia di Studio Teater Phinisi UNM 2014, dan “Kedatangan dalam Bungkusan“, Festival Monolog ASEAN di Kuala Lumpur 2015. TKM berkolaborasi dengan Afrizal Malna mementaskan “Ayam Berwarna Hijau Jatuh dari Mulutku” pada Silaturahaim Teater Indonesia di TIM Jakarta 2003. Bersama Julie Janson dan Sally Sussman dari Australian Performance Exchange mementaskan “The Eyes Of Marege” pada Festival OzAsia di Adelaide dan di Studio Opera House Sydney 2007. Bersama Arie Van Duijn dan Ellin Krinsly (Sydney) mementaskan “Sawah yang Mengetuk Jendelaku” di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, 2008. Bersama Afrizal Malna mementaskan “Pelayaran Menuju Ibu Jangan Lupakan Warna Merah”, 7 November 2009 di Gedung Teater Cak Durasim pada Festival Teater Rakyat Indonesia di Surabaya. “Mati Listrik” dipentaskan tanggal 25 November 2009, di Gedung Kesenian Sulawesi Selatan Societeit de Harmonie, kolaborasi dengan Arie Van Duijn Ellin Krinsly dari kelompok “Between” (Antara) Sydney-Australia. “The Silent Voice of the Homeland“ (Senyapnya Kampung Halaman), dipentaskan tahun 2010 di Benteng Fort Rotterdam Makassar, kola­borasi TKM dengan Australian Performance Exhange, pada acara Makassar Arts Moment FSD UNM tahun 2013. “Tragos of Bagang” dipentaskan tahun 2013 pada acara Mei Arts Festival Sanggar Merah Putih Makassar. “Spirit of Tamanurung” dipentaskan di Makassar Art Moment FSD UNM (2013), dan dipentaskan pada Makassar International Eight Festival & Forum, di Pelataran Anjungan Mandar-Toraja Pantai Losari 7 September 2017, serta pada Jatim Art Forum Festival di Pelataran Monumen Kapal Selam Surabaya, 28 Oktober 2017. “Datu Museng & Maipa Deapati” dipentaskan pada Makassar International Eight Festival & Forum, 9 September 2017 di Pelataran Anjungan Mandar-Toraja Pantai Losari. Alamat: Hartaco Indah Blok IV AD/10 Makassar. E-mail: teaterkita@hotmail.com

14


Quiqui, komunitas perajut Makassar yang terbentuk September 2011, bekerja ­ enggunakan media benang dan merajut. Komunitas ini bersifat terbuka, memutuskan m tidak berstruktur organisasi demi asas sama rata. Aktif mengampanyekan merajut sebagai sebuah bentuk terapi, khususnya bagi ­perempuan pasca melahirkan dan aborsi. Tahun 2016, praktik kerja merajut yang ­dikerjakan oleh Quiqui ini digunakan oleh sebuah lembaga perlindungan perempuan dan anak sebagai media terapi bagi perempuan korban kekerasan. Selama enam tahun, Quiqui menghelat “Bom Benang” dan melakukan eksplorasi dan ­riset beragam bahan serat. Demi mengeksplorasi karya berbahan alami/ramah ­lingkungan, pada September pada Bom Benang 2017 Quiqui menemukan serat alami eceng gondok di sekitar Sungai Sinre’jala yang mengalir tepat di belakang tempat Quiqui berkegiatan sehari-hari sekitar rumah warga. Mengajak warga perempuan dan anak-anak untuk terlibat dan belajar menganyam bersama hingga menghasilkan produk layak jual. Quiqui menjadi seniman untuk Jakarta Biennale 2015.

Zaenal Beta lahir di Makassar, 19 April 1960. Tercatat sebagai salah satu luaran kursus seni rupa di Sanggar Ujung Pandang yang berlokasi di Fort Roterdam, Makassar. Di tempat itulah Zaenal Beta mula-mula belajar seni rupa secara “formal”. Selebihnya, dikembangkan secara autodidak. Sebelum menggeluti medium tanah liat di atas kanvas, Zaenal Beta terlebih dahulu dikenal sebagai seorang pematung dan kartunis. Pada ­sejumlah kesempatan, karya-karya kartunnya bahkan masih cukup sering ia pamerkan. Persentuhannya dengan medium tanah liat di atas kanvas dimulai sekira tahun 1980. Dia menemukan metode penciptaan karyanya secara tidak sengaja dan dikembangkan secara terus-menerus, termasuk dengan melakukan riset jenis-jenis tanah yang ada di beberapa daerah di Sulawesi Selatan pada pertengahan tahun 1980-an. Dia menemukan bahwa setiap daerah mempunyai karakter tanah liat yang berbeda dan mempunyai efek warna yang juga berbeda-beda pula. Temuan tersebut sangat penting bagi pengembangan karya Zaenal Beta. Zaenal Beta aktif memamerkan karya-karyanya, baik di Sulawesi Selatan maupun daerah lain di Indonesia. Beberapa penghargaan juga dia raih dari sejumlah organisasi, di dalam maupun luar negeri. Keunikan metode kerja dan material yang dia gunakan dalam ­membuat karya-karyanya cukup diminati dan dihargai. Perlu dicatat, Zaenal Beta merupakan satu-satunya seniman di dunia yang melukis ­dengan menggunakan tanah liat.

15


Anwar 'Jimpe' Rachman Direktur

Anwar ‘Jimpe’ Rachman m ­ enyelesaikan ­pendidikan di Jurusan Hubungan ­Internasional, Universitas Hasanuddin. Mengasuh Penerbit Ininnawa sejak 2005. Mendirikan Tanahindie (www.tanahindie. org) pada 1999 dan berkembang menjadi lembaga pengkajian kota. Ia juga pustakawan dan arsiparis di Kampung Buku. Menulis Hidup di Atas Patahan (2012) dan Chambers: Makassar Urban Culture Identity (2013) dan beberapa buku bersama lainnya. Menerjemahkan Pakkurru Sumange’: Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan (Anderson Sutton, 2013), The Voyage to Marege: Para Pencari Teripang dari Makassar di Australia (C.C. Macknight, 2017), dan Arts as Politic (Kathleen Adams, 2017-sekarang). Tulisannya terbit di Koran Tempo, Esquire Indonesia, Warisan Indonesia, Fajar, dll. Selain itu, fasilitator dan kurator Bom Benang 2012-2017, kurator di Jakarta Biennale (2015). Weblog: saintjimpe.blogspot.com

16

Nirwan Ahmad Arsuka Kurator

Nirwan Ahmad Arsuka lahir di Kampung Ulo, Barru, Sulawesi Selatan. ­Menyelesaikan pendidikan formal di Teknik Nuklir, FT-UGM, 1995. Semasa awal kuliah di ­Yogyakarta, ia ikut mendampingi anak-anak dan warga ­Pinggir Kali (Girli) Code. Bersama teman-temannya ia kemudian ­mendirikan kelompok studi MKP2H (Masyarakat Kajian Pengetahuan, Peradaban dan Hari Depan) dan kelompok aksi GEMPURDERU (­ Gerakan Masyarakat Purna Orde Baru). Pernah ­ bekerja serabutan sebagai wiraswastawan, sebelum diundang menjadi editor tamu ­untuk Sisipan Budaya Bentara Kompas, ­anggota Dewan Kurator Bentara Budaya Jakarta (BBJ), dan direktur di Freedom ­Institute. Tercatat sebagai associate member The Long Riders Guild, organisasi ­internasional pertama para penunggang kuda jarak jauh sedunia. Selain di Harian Kompas, tulisannya juga pernah muncul di jurnal Inter-Asia ­Cultural ­Studies dan International Journal of Asian Studies. Bukunya yang telah terbit, Two Essays (BTW, Lontar, 2016. Edisi 3 bahasa: Indonesia, ­Inggris, Jerman) dan ­Percakapan dengan Semesta (Yogyakarta: Circa, 2017). Sejak 2014, bersama sejumlah kawan, ia aktif membangun Jaringan Pustaka Bergerak I­ndonesia, gerakan literasi yang ­mengandalkan kekuatan masyarakat dan menyebar dengan kudapustaka, ­perahupustaka, bendipustaka, motorpustaka, dan aneka wahana pustaka lainnya.


denah lokasi

17


pre-event


pre-event Makassar Biennale 2017 21 Februari - 6 November 2017

Selasa, 21 Februari 2017: Pre-Event #1 kegiatan judul seniman lokasi

Peluncuran Buku THE VOYAGE TO MAREGE' C. C. Macknight Horst H. Liebner Fort Rotterdam, Kota Makassar, Sulawesi Selatan

Jumat, 13-31 Maret 2017: Pre-Event #2 kegiatan judul seniman lokasi

Pameran TAPAL LITERASI Prof. Dr. Abd. Azis Ahmad, M.Pd Nusa Pustaka Pambusuang, Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat

Rabu, 10 Mei 2017: Pre-Event #3 kegiatan judul seniman lokasi

Bincang dan Proyeksi FROM CONCEPT TO CREATION Heather Lander Gedung Pascasarjana UNM Gunungsari, Kota Makassar, Sulawesi Selatan

Kamis, 18 Mei 2017: Pre-Event #4 kegiatan Bincang dan Pertunjukan judul MATA/AIR: SENI, AIR, DAN ISU seniman Heather Lander Teater Tangan lokasi Kampung Buku, Kota Makassar

20


Minggu, 27 Agustus 2017: Pre-Event #5 kegiatan judul seniman lokasi

Pameran Sekolah Terapung BERLAYAR UNTUK BELAJAR The Floating School Alun-Alun Pangkep, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan

Sabtu, 21 Oktober 2017: Pre-Event #6 kegiatan judul seniman lokasi

Pameran BENANG DAN SUNGAI Bom Benang Sungai Sinre'jala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan

Jumat, 27 Oktober 2017: Pre-Event #7 kegiatan Residensi seniman Cut Putri Ayasofia Andy Seno Aji lokasi Tiro, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan kegiatan judul seniman lokasi

Pentas Seni PEREMPUAN BANTARAN SUNGAI Sanggar Seni Budaya Al Farabi Sungai Bijawang, Palambarae, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan

Rabu, 6 November 2017: Pre-Event #8 kegiatan judul seniman lokasi

Workshop PLASTICOLOGY Made Bayak SDN Batulacu, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 21


Pre-Event #1 Peluncuran Buku "The Voyage to ­Marege: ­Pencari Teripang dari Makassar di Australia" Peluncuran buku "The Voyage to ­Marege: Pencari Teripang dari Makassar di Australia", kolaborasi dengan Australia Consulate-General, Penerbit Ininnawa, Tanahindie, Kampung Buku, dan Yayasan Makassar Biennale pada 21 Februari 2017 di Fort Rotterdam, ­Makassar. "The Voyage to Marege: Pencari Teripang dari Makassar di Australia" merupakan buku karya klasik Macknight yang terbit pada 1976 tentang pencari teripang di ­Makassar yang berlayar ke wilayah Australia Utara, sebuah kawasan yang kemudian disebut sebagai Marege'. Pada peluncuran buku ini, dipamerkan arsip bersejarah dalam bentuk sketsa dan foto yang menjadi bahan serta bukti pendukung pelayaran ke Marege'.

22

Bersama ini hadir pula tiga narasumber, yakni C. C. Macknight (penulis buku The Voyage to Marege'), Horst Leibner (peneliti dunia maritim Indonesia), Richard Matthews (Konjen Australia di Makassar)


23


Pre-Event #2 Tapal Literasi Pameran Lukisan Kaligrafi 足Kontemporer "Tapal Literasi" karya Prof. Dr Abd. Azis Ahmad, M.Pd., yang menggoreskan kaligrafi arab, 足latin, dan lontara sebagai 足ekspresi budaya literasi dan 足kekagumannya pada Sang Pencipta.

24


25


Pre-Event #3 From Concept to Creation Proyeksi dari hasil residensi oleh Heather Lander, Installation and Projection Artist. Residensi ini merupakan bagian dari program UK/Indonesia 2016-2018 Season dari British Council UK/ID di Tanahindie. Sesi Bincang "From Concept to Creation" bersama seniman digelar di Aula Lt. 5 Gedung Pascasarjana UNM Kampus Gunungsari.

26


27


Pre-Event #4 Bincang dan Pertunjukan "Mata / Air: Seni Air, dan Isu Lainnya" Gelaran ini berkolaborasi Tanahindie dan British Council UK/ID, The Ribbing Studio, Heather Lander, Lembaga Bantuan Hukum Makassar, Yayasan Makassar Biennale, dan Teater Tangan dari Unit Pengembangan Kreativitas Seni Budaya dan Sastra Universitas Muslim Indonesia. Bersama itu Teater Tangan juga ­mementaskan kembali sebuah laporan pertunjukan teater "Ku-Partai Batu #2: Repertoar Air, Karts, dan Sungai" pada Kamis, 18 Mei 2017, di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 193 E (­Kompleks CV Dewi, samping ­Kantor Lurah Pandang) Makassar.

28


29


Pre-Event #5 Bom Benang 2017 ­"Benang dan Sungai" Bom Benang 2017 mengadakan pameran hasil karya warga dan anak-anak bantaran Sungai ­Sinre'jala pada Sabtu, 21 ­Oktober 2017. Selain Pameran Karya", item lainnya yakni "Piknik & Lokakarya Eceng Gondok bersama Warga Sinre'jala", "Gerobak bioskop Dewi Bulan", "Masak-masak di Halaman", dan "Pertunjukan Video ­Animasi" oleh Andy Seno Aji, ­seniman dari Bekasi. Bom Benang 2017 diinisiasi oleh Komunitas Quiqui dan The Ribbing Studio bekerjasama dengan Tanahindie, Kampung Buku serta Stichting Doen dan Arts Collaboratory.

30


31


32


33


Pre-Event #6 Berlayar untuk ­Belajar: ­Pameran Sekolah ­Terapung Pameran Sekolah Terapung dengan judul "Berlayar untuk Belajar" diadakan pada Minggu, 27 Agustus 2017, di Alun-Alun Pangkep (belakang Taman Musafir). Pameran karya adik-adik dari The Floating School ini adalah karya yang dihasilkan setelah enam bulan berlayar dan ­belajar bersama di Pulau Satando, Saugi, dan Sapuli. Terdapat pameran dari Kelas Fotografi, lukisan dari Kelas Gambar, launching buku Kelas Menulis, karya Kelas Prakarya, talkshow Kelas Komputer, penampilan dari Kelas Musik dan tari dari Kelas Menari. Juga photobooth, reading ­corner, workshop prakarya, dan beragam games dan ­pertunjukan lainnya.

34


35


Pre-Event #7 Residensi Seniman Makassar Biennale 2017 dan ­Pentas "Perempuan Bantaran Sungai" Cut Putri Ayasofia asal Aceh dan Andy Seno Aji asal Bekasi, Jawa Barat, dua ­seniman ini menjalankan residensi di ­Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Cut Putri Ayasofia yang m ­ erupakan ­penggiat seni mural dan komik ­menjalankan residensinya di Tiro, ­Bulukumba.

Program Residensi merupakan ­kerjasama Makassar Biennale 2017 dengan ­Pemerintah Kabupaten Bulukumba.

Sementara Andy Seno Aji, seniman audio visual melakukan residensi di Sanggar Seni Budaya Al Farabi.

36


37


Di saat bersamaan, Sanggar Seni Budaya Al Farabi yang juga ­diundang dalam Makassar Biennale 2017 mementaskan “Perempuan Bantaran Sungai� di lokasi bekas penambangan batu di tepi Sungai Bijawang, Palambarae, Gantarang Bulukumba.

38


39


Pre-Event #8 Workshop Plasticology Workshop "Plasticology" dipandu oleh Made Bayak yang dilaksanakan pada 6 足November 2017 bersama siswa SD Batulacu yang beralamat di Jl. 足Abdullah Daeng Sirua No. 258A, P 足 andang, Panakkukang, Kota 足Makassar, Sulawesi Selatan. Peserta membawa sampah plastik dari rumah mereka masing-masing dan dijadikan karya dari workshop ini yang turut dipamerkan bersama karya Made Bayak di Makassar Biennale 2017.

40


41


event


susunan acara Makassar Biennale 2017 Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar 8 - 28 November 2017

44


Rabu, 8 November 2017 seminar MARITIM I moderator Anwar ‘Jimpe’ Rachman narasumber Tomi Satria, "Kebijakan Pemerintah Kabupaten" / Agussalim Burhanuddin, "Maritim dalam Tinjauan Hankam" seminar MARITIM II moderator Sawedi Muhammad narasumber Ridwan Alimuddin, "Nelayan Laut Dalam" Tasrifin Tahara, "Nelayan Buton" Gene Ammarell, "Navigasi Bugis" Sudarmono, "Warga Pesisir Perkotaan" OPENING CEREMONY performance Teater Kita judul The Eyes of Marege'

Kamis-Jumat, 9-10 November 2017 PAMERAN / EXHIBITION ARTIST TALK

Sabtu, 11 November 2017 PAMERAN / EXHIBITION artist talk Andy Seno Aji

45


Minggu, 12 November 2017 PAMERAN / EXHIBITION artist talk Quiqui

Senin, 13 November 2017 seminar PENDIDIKAN DAN JARINGAN moderator Nurabdiansyah narasumber Dr. Sukarman B., M.Sn Drs. Asia Ramli Prapanca M.Pd, "Pendidikan Teater Rakyat" Nirwan Ahmad Arsuka Chen Hsiang - Wen, "Maritime Arts"

Selasa, 14 November 2017 PAMERAN / EXHIBITION ARTIST TALK

Rabu, 15 November 2017 seminar moderator narasumber

TEMU SENIMAN PEREMPUAN Olin Monteiro Rahmadiyah Tria Gayathri (Palu) Syahrini Adriyani (Makassar) Dolorosa Sinaga (Jakarta)

Kamis, 16 November 2017 seminar TEMU SENIMAN PEREMPUAN moderator Harnita Rahman narasumber Citra Sasmita (Bali) Fadriah Syuaib (Ternate) Anggraini Herman (Makassar) Fitriani A. Dalay (Makassar)

46


performing performer

PENTAS SENI Linda Tagie Melanie Subono Irawita Mariati Atkah Nurasiyah Harnita Rahman

Jumat-Senin, 17-20 November 2017 PAMERAN / EXHIBITION ARTIST TALK

Selasa, 21 November 2017 performing Parriqdiq Pupuq Mandar seminar KHASANAH KULINER moderator Anwar ‘Jimpe’ Rachman narasumber Yahya, "Kultur Kuliner Maritim" Ashari Ramadhan

Rabu, 22 November 2017 seminar HULU & HILIR moderator Asy’ari Mukrim narasumber Rahmat Muchtar, "Sungai Mandar" Iwan Sumantri, "Situs Sungai Karama’ " Abdul Zaenal, "Masyarakat Seko"

Kamis-Selasa, 23-28 November 2017 PAMERAN / EXHIBITION ARTIST TALK

47


Seminar Maritim Sesi I Makassar Biennale 2017 dengan pembicara Tomi Satria ­(Kebijakan Maritim Pemkab. Bulukumba) dan Agussalim ­Burhanuddin (Hubungan Internasional/Hankam) dan Anwar Jimpe Rachman sebagai moderator

48


Seminar Maritim Sesi II Seminar sesi II dilanjutkan oleh M. Ridwan Alimuddin (Peneliti Nelayan Mandar), Tasrifin Tahara (Peneliti Nelayan Buton), ­Sudarmono (Litbang Makassar) dan Gene Ammarell (­Antropolog dan Penulis buku 'Navigasi Bugis').

49


Artist Talk Wicara Seniman, salah satu rangkaian kegiatan di Makassar Biennale 2017 agar pengunjung bisa bertukar pengetahuan, membicarakan kesenian dan hal lainnya dengan seniman. Wicara Seniman digelar setiap hari mulai 8 November 2017 hingga 28 November 2017 di area Main Hall Makassar

Biennale 2017.

50


51


Suasana 足pameran Makassar B 足 iennale 2017: Maritim, di 足Pelataran Menara Phinisi 足Universitas Negeri Makassar.

52


53


Suasana Pameran UKM di ­Pelataran Menara Phinisi ­Universitas Negeri Makassar.

54


55


Seminar Seni: Pendidikan dan Jaringan Senin, 13 November 2018, seniman ini dilaksanakan di Panggung Utama Pelataran Menara Phinisi UNM dengan menghadirkan pembicara, praktisi, dan akademisi bidang kesenian: • • • •

56

Dr. Sukarman B., M.Sn (Universitas Negeri Makassar) Drs. Asia Ramli Prapanca M.Pd (Teater Kita Makassar) Chen Hsiang Wen (Taiwan) Nirwan Ahmad Arsuka (Makassar Biennale)


57


Seminar dan Temu Seniman Perempuan Dengan tema “Seni Rupa dan Perempuan di Indonesia Timur” seminar ini dilaksanakan pada Kamis, 16 November 2017; di Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar (UNM) Seniman perempuan di Indonesia Timur (Bali, Ternate dan Makassar) berbagi ­pengalaman kerja, baik individu maupun secara komunitas, tantangan yang mereka hadapi dan sharing mengenai on going project yang sedang dan akan mereka ­kerjakan di tempat masing-masing. Tak lupa juga membahas kemungkinan adanya proyeksi kerjakerja kolaborasi antar seniman perempuan IT. Koalisi Seni Indonesia bekerja sama dengan Makassar Biennale 2017 menggelar Seminar Temu Seniman Perempuan ­menghadirkan pembicara: • Anggraini Herman (Makassar) • Citra Sasmita (Bali) • Fadriah Syuaib (Ternate) • Fitriani A. Dalay (Makassar)

58


Beberapa foto rangkaian kegiatan "Temu Seniman Perempuan" yang diselenggarakan oleh Koalisi Seni dan Makassar Biennale 2017 . Rangkaian seminar dilaksanakan dari tanggal 15 - 16 November, dan terbagi ke tiga sesi, yakni: • • •

Diskusi Dinamika Seniman Perempuan, Strategi Kebudayaan Strategi Kita, dan Seni Rupa dan Perempuan.

59


Pentas Seni Kegiatan Pentas Seni yang ­diselenggarakan oleh Makassar ­Biennale 2017 dan Koalisi Seni ini adalah kegiatan akhir dari rangkaian kegiatan Temu Seniman Perempuan yang diselenggarakan dari tanggal 15 hingga 16 November 2017. Pentas Seni dibuka dengan monolog dari Irawati dari Komunitas Paseban. Dilanjutkan dengan pembacaan puisi dan dramatic reading oleh ­Nurasiyah, Mariati Atkah, Harnita Rahman, dan Linda Tagie. Pentas Seni ditutup dengan musical performance dari Melanie Subono.

60


61


Seminar Hulu dan Hilir Kegiatan seminar Hulu dan Hilir Makassar Biennale 2017 yang diadakan pada tanggal 22 November 2017 di Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar.

62


Seminar Khasanah Kuliner Seminar Khasanah Kuliner yang dilaksanakan pada tanggal 21 November 2017, di Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar. Diskusi diisi oleh praktisi dan akamedisi dunia kuliner di Indonesia.

63


Peluncuran Tiga Buku di Makassar Biennale 2017 Ada tiga buku yang diluncurkan selama Makassar Biennale 2017 berlangsung. Ketiganya adalah “Seni Ilustrasi” karya Prof. Sofyan Salam, “Halaman Rumah / Yard” (Anwar 'Jimpe' Rachman dkk), dan “Karaeng Besse, Si Gadis dari Punranga” memoar yang disusun ­Windah Makkarodda tentang ibunya.

Peluncuran Buku 'Seni Ilustrasi' Peluncuran “Seni Ilustrasi” karya Prof. Sofyan Salam yang berlangsung di Aula Pasca ­Sarjana UNM pada 23 November dihadiri pembedah Akbar Zakaria (pecinta ilustrasi) dan Ida Siti Herawati (peneliti ilustrasi dari Malang).

Kegiatan Bedah Buku dan Kuliah Umum Seni Ilustrasi, karya Prof. Sofyan Salam, yang terlaksana di Lt. 5 Aula Pascasarjana Universitas Negeri Makassar, tanggal 23 November 2017.

64


Peluncuran Buku 'Halaman Rumah / Yard' Dalam pembahasan “Halaman Rumah / Yard” pada 28 November di Baruga Colliq Pujie Universitas Negeri Makassar, hadir tiga pembicara, yakni Muhammad Cora (Arkom Makassar), Muhammad Ridha (UIN Alauddin Makassar), dan Zulkhair Burhan (Universitas Bosowa). Buku yang disusun dengan melibatkan dua puluhan peneliti, seniman, pengacara, dosen, pekerja sosial dan seni, dan mahasiswa dikerjakan mulai Januari-Oktober 2017. Muhammad Cora membedah buku ini dari perspektif arsitektur ­mengatakan, banyak arsitek yang kebingungan ­membuat sebuah desain rumah, ­sehingga hanya menghasilkan konsumtivisme ruang saja. Banyak orang yang membuat ruang tanpa menyadari fungsi ruang itu ­sendiri. ­Memperhatikan halaman rumah, menurutnya, penting untuk dihadirkan dalam lingkungan sosial sebagai ruang mewadahi dialog antar warga.

Dari perspektif sosiologi, Muhammad Ridha menjelaskan, tanah saat ini dilihat sebagai komoditas, sehingga kita tidak intim dengan tanah. Ini terjadi karena perubahan ruang oleh kapitalis yang berdampak pada hubungan antar manusia (relasi sosial). Menurut Ridha, dengan ­pertumbuhan kota yang seperti itu, halaman rumah menjadi sebuah alternatif ruang yang bisa menghidupkan banyak hal: perpustakaan komunitas atau ruang edukasi. Sementara Zulkhair Burhan ­mengatakan, halaman rumah sebagai ruang gagasan yang bisa dipertautkan sebagai ruang kohesivitas sosial. Menurutnya, h ­ alaman rumah sebagai ruang fisik hilang ­karena adanya gagasan dominan dalam hal ­arsitektur yang diadopsi dari media ­televisi, ini terbukti dengan banyaknya iklan-iklan rumah yang menawarkan ­kemewahan dalam bentuk rumah batu.

65


Direktur MB, Anwar Jimpe Rachman, mengatakan ­bahwa halaman rumah bisa menjadi sebuah ruang yang menyodorkan cara berpikir dan bekerja yang setara (equal), ketimbang cara berpikir dan cara kerja yang selama ini banyak dipakai di Makassar: patronklien. Halaman rumah, menurutnya, bisa menunjang itu sebab memungkinkan pertukaran ide dan gagasan yang lebih cair. Ini dibuktikan dengan awal pembuatan buku ini yang berawal dari obrolan-obrolan di halaman rumah Kampung Buku. Bukan hanya itu, penelitian yang melibatkan empat asisten peneliti ini juga dilakukan di halaman rumah.

66


Peluncuran Buku 'Karaeng Besse, Gadis dari Punranga' Selain buku Halaman Rumah, buku karya Winda Makarodda berjudul ­“Karaeng Besse, Gadis dari ­Punranga” pun diperkenalkan dalam acara ­menjelang penutupan Makassar ­Biennale 2017. Windah, mengatakan buku yang menceritakan memoar ­ibunya itu dikerjakan selama 3 tahun.

67


karya


1

Adi Gunawan Makassar I Got Caught

Instalasi Media Campuran Dimensi Bervariasi 2017

Kisah heroik para personel TNI yang bertugas menjaga batas wilayah laut Indonesia dalam bentuk instalasi dengan karakter-karakter yang terpengaruh dengan gaya kartun dan komik.

70


71


2

Ahmad Anzul Makassar Kampung Garam #107 Instalasi Media Campuran Dimensi Bervariasi 2017

Instalasi yang menceritakan ­kisah hidup sang seniman yang dikaitkan dengan ­kehidupan para petambak garam dan perkampungan di pinggir pantai yang hidup karena garam, ikan, dan biota laut lainnya.

72


73


3

Al Farabi Bulukumba Perempuan Bantaran Sungai Video Performance 3 menit 2017

74


Lakon pertunjukan performance arts ini respons Al Farabi terhadap perubahan yang mereka saksikan di Sungai Bijawang, Bulukumba, sungai yang kini ­tereksploitasi oleh pertambangan batu dan pasir.

75


4

Andy Seno Aji Bekasi Sungai ke Laut, Laut ke Sungai, Panrita Lopi Video Instalasi Ukuran Bervariasi 2017

76


Salah satu episode hikayat I La Galigo adalah penciptaan perahu ­Welenrengnge yang dibuat untuk mengarungi laut menuju daratan Cina. Perahu ­tersebut ­digambarkan sebagai sebuah perahu yang sangat besar, yang kadang ­digambarkan sebagai sebuah negeri dan kerajaan. Perahu Welenrenge terbuat dari kayu pohon Welenrenge (pohon Dewata) yang bercahaya kemilau, sehingga juga ­digambarkan sebagai perahu yang terbuat dari emas. Dalam naskah tersebut, perahu ­Welenrenge diilustrasikan sebagai perahu berbentuk segi empat, dengan beberapa penumpang di atasnya. Penerjemahan atas perahu dalam naskah ­tersebut kadang diartikan secara harfiah sebagai perahu, namun juga sebagai simbolisasi kerajaan atau kehidupan. Dalam satu versi hikayat ini disebut, perahu Welenrenrenge yang pulang dari Cina diterjang badai. Kepingan kapal itu menjadi cikal bakal perahu Phinisi, yang dibuat di beberapa daerah di Bulukumba, daerah yang kemudian dikenal sebagai Bumi Panrita Lopi. Melihat budaya laut juga melihat apa yang ada berlangsung di hulu, sungai. Sebuah tempat bekas penambangan batu di tepi Sungai Bijawang, Palambarae, Gantarang Bulukumba, adalah situs temuan untuk penciptaan karya. Sebuah situs mesin pemecah batu yang sudah tidak berfungsi di tepian sungai itu. Penambangan batu dengan mesin-mesin di sungai-sungai Bulukumba adalah “perahu” yang saat ini sedang dibuat untuk berlayar, atau tenggelam.

77


5

Chen-Wei Lin (林正尉) Taipei Masa Bahagia II: Le Retour de Manusia Tanpa Sejarah Instalasi Media Campuran Dimensi Bervariasi 2017

Tampak menarik untuk mempertanyakan bagaimana hubungan kesejarahan antara Makassar dan Taiwan (juga sering disebut VOC Formosa, 1624-1661). Taiwan pernah dibagi dua oleh penjajah Eropa—bagian selatan dikuasai Belanda, sementara di paruh utara diduduki Spanyol (1626-1642). Pada 1642, tentara VOC dibantu bala Indonesia mengalahkan Spanyol di bagian pantai utara Taiwan. Fray Juan de Los Angeles, misionaris Spanyol, diutus dari Taiwan ke Batavia, lalu menuju ke Makassar pada Maret 1643. Di Makassar, ia menulis “Formosa Lost to Spain” yang masih diingkari dan tidak ketahui oleh orang Taiwan sekarang. Artikel itu tidak cuma mengenang perang itu dengan sangat rinci, tapi juga menggambarkan lanskap kota, penam­pungan air, gudang mesiu, gereja, dan kamp artileri di Taiwan 370 tahun silam. Selain itu, selama tahun 1650, ada dua perempuan Makassar yang dibaptis dan dinikahi tentara Eropa di Fort Zeelandia,

78

yang pernah menjadi ibukota Taiwan bagian selatan. Sejarah hubungan Makassar dan Taiwan inilah yang akan kita geluti dalam dunia seni rupa. Ketika duduk dan menikmati matahari terbenam di Fort Rotterdam di Makassar pada 2016, saya dihadapkan memori menjadi orang Taiwan, tidak lagi sebagai pendatang: arsitektural dan ­bangunan lainnya amat mirip Fort Zeelandia di Taiwan, kendati sudah hilang pada akhir abad ke-19. Mereka sama-sama warisan dekade 1660. Sejarah Taiwan pun dibentuk oleh ­Manusia Tanpa Sejarah. Jalanan pertama dan jembatan dibangun oleh budak dari Banda Indonesia, kastil dipertahankan oleh ­pasukan Filipino Cagayan dan Pampanga, dan perempuan-perempuan dari Jakarta dan Makassar yang mencari Masa ­Bahagia di sini, bersama musim lengas, dan ­pelabuhan-pelabuhan.


79


6

Cut Putri Ayasofia Banda Aceh Jalan Islam di Tiro Komik A4 (21 halaman) 2017

80


Dua puluh satu halaman komik ini menceritakan tentang proses islamisasi pada abad ke-16 yang berlangsung di wilayah yang kini disebut Kecamatan Tiro, Bulukumba. Momentumnya terjadi ketika datang Datuk di Tiro, ulama yang menjadi utusan Kerajaan Aceh, yang menginjakkan kaki ke kabupaten yang terkenal karena keahlian penduduknya membuat Phinisi.

81


7

Fadriah Syuaib Ternate Risk

Media Campuran di Atas Kanvas 150 x 100 m 2017

Maritim mendominasi negeri di timur Indonesia. Keindahan alam dan pesona bawah lautnya tersohor di dunia. Timur menampakkan kekayaan yang melimpah, tetapi sayang masih banyak yang belum sadar dan memahami akibat dari risiko pencemaran, alhasil sampah non-organik adalah faktor utama yang masih bertebaran di permukaan laut dan bermukim di dalamnya. Sampah semacam makanan tambahan dan perlahan mematikan habitat-habitat laut.

82


83


8

Faisal Syarif Makassar Reclaim Mural 2017

Melihat reklamasi Kota Makassar dari sudut pandang masyarakat Pulau Lae-Lae.

84


85


9

Kelompok Masyarakat Kofiau Misool Raja Ampat .......

Foto & Drawing Printing Dimensi Bervariasi 2017

86


Karya-karya yang ditampilkan oleh Kelompok Masyarakat Kofiau Misool ini merupakan upaya mereka mengampanyekan perlindungan terhadap lingkungan hidup sekitar mereka yang terdiri dari gambar (drawing) dan karya fotografi. Kelompok Masyarakat Kofiau Misool adalah sekelompok warga dampingan TNC yang terdiri dari anak sekolah dasar dan warga biasa yang didampingi oleh seorang guru sekolah.

83


10

Made Bayak Gianyar Plastiliticium (The Worst Human Foot) Instalasi Media Campuran Dimensi Bervariasi 2017

88


Jika kita pernah mempelajari periode zaman dalam sejarah perjalanan manusia purba sampai dikatakan Home Luden maka kita tidak asing dengan istilah-istilah Paleolitikum, Megalitikum, Neolitikum dan lainnya. Peneliti dan arkeolog mempelajari perkembangan zaman tersebut melalui jejak peninggalan-peninggalan yang ditemukan di berbagai tempat, ada tulang belulang, peralatan yang pernah dipergunakan dan sisa-sisa makanan. Plastiliticum adalah imajinasi terhadap zaman hari ini, masa ketika plastik mendominasi berbagai benda yang menyertai kita sehari-hari. Jadi mari berandai-andai, kelak, 500 hingga 1000 tahun kemudian berlangsung penelitian tentang kebudayaan manusia hari ini, maka sampahlah yang mendominasi temuan-temuannya.

89


11

Muh Ridwan Alimuddin Polman Malletter Perahu Foto 31 pcs ukuran 6R

Penanda termudah untuk melihat karya seni vernakular komunitas bahari adalah perahu. Warna-warni, pola ragam hias, dan desain layar serta teknik pembuatan membuat mereka terkesan. Ini bisa disaksikan di Pantai Utara Jawa, Bali, Lamalera NTT, dan pesisir Sulawesi Selatan dan Barat. Perahu para pemburu paus di Lamalera, perahu peledang, satu sama lain berbeda ‘wajah-nya’. Ada matanya. 90

Demikian juga jukung di Bali, kadang mewujudkan dalam bentuk visual wajah di haluan perahu. Hal berbeda dalam suku berorinteasi laut Bugis, Makassar, dan Mandar. Perahu mereka polos saja. Ya, memang dicat, ada ‘stroke’, tapi tidak ‘senorak’ di Jawa, Madura dan Bali. Perahu pinisi hingga PLM pun nyaris tak pernah ditemukan pernah ada gambar sosok makhluk hidup di kulit lambung.


Beberapa tahun terakhir, ketika marak penggunaaan kapal motor pemburu tuna, ada kebiasaan para nelayan di Mandar memberi ragam hias ke kapal mereka. Hal yang sama tidak semarak di perahu lampau mereka, seperti di baqgo, pajala, palari, pinisi, dan padewakang serta sandeq. Perahu kuno itu paling berwarna putih lalu ada garis memanjang di bagian atas lambung. Jika perahu tak ada garis memanjang itu, yang disebut “bassiq”, bagi mereka, perahu tak indah. Ada istilah di Mandar, “Lopi sandeq malolo” (perahu sandeq yang cantik) adalah perahu sandeq yang putih bersih. Sejak penggunaan kapal motor, yang desain buritan relatif berbeda dengan perahu kuno, dan generasi yang lebih ‘ekspresif’, ada kebiasaan baru: menjadikan bagian buritan sebagai kanvas. Bagian atas baling-baling, persis di bawah dapur perahu, sering ditemukan gambar-gambar, diantaranya: logo klub sepakbola, ‘branding’ produk, binatang yang memberi kesan jantan (misal elang), dan sebagainya. Secara

fungsional gambar itu tak memiliki fungsi: ketika perahu melaut, gambar itu tak terlihat sebab adanya di bawah permukaan laut. Sepertinya, gambar itu menjadi ajang ekspresi (dipamerkan) ketika perahu didaratkan, yang bisa dilihat masyarakat umum. Kadang gambar itu dibuat sendiri oleh pelaut yang memiliki keterampilan “mallenter” (istilah ini berasal dari kata “letter”) atau meminta orang lain. Selain di buritan bagian bawah, yang juga menjadi ‘pelampiasan’ ungkapan seni para pelaut adalah di dinding bagian dek, di pintu palka dan bagian buritan. Yakni penulisan nama perahu yang dibuat indah. Dulu-dulu, paling ‘letter’ balok. Tidak menggunakan jenis huruf lengkung-lengkung dengan beragam warna. Jika perahu ukuran besar (kapal) lebih ekspresif pada penggunaan jenis huruf dan gambar-gambar besar, perahu ukuran kecil sekelas sampan, “lepalepa” lebih bermain ke penamaannya atau teks di lambung sampan. 91


12

Muhlis Lugis Makassar Banting Stir

Instalasi Media Campuran Dimensi Bervariasi 2017

92


Membicarakan maritim menjadi persoalan pelik ketika perubahan iklim menjadi ancaman dunia. Para pagandeng pun akhirnya menyerah dan menjual barang yang sama sekali baru dan berbeda dengan sebelumnya, yakni menjual telur dan beras.

93


13

Muhammad Suyudi Makassar Sompe’

Instalasi Media Campuran Dimensi Bervariasi 2017

94

Kata sompe’ memiliki beragam makna. Ada memahami sebagai layar. Tapi di balik itu sompe’ juga bisa berarti sebagai merantau—yang melahirkan kata ‘passompe’ bermakna ‘perantau’. Para lelaki Bugis dan Makassar yang sudah menjadi tulang punggung keluarga berangkat merantau menggunakan perahu layar. Tugas penting mereka adalah menjaga agar belanga penyimpan makanan selalu terisi.


Sementara para pria berjuang di seberang laut, para wanitanyapun dengan penuh harapan menanti kepulangan para perantau untuk memastikan keberlangsungan hidup mereka. Mereka yang menanti kepulangan para passompe’ di pantai pun setiap saat akan menanti tampaknya sebuah layar (sompe’), berharap para perantau mereka pulang dan membuahkan hasil. Jadi sompe’ bukan hanya berarti sebagai layar ataupun merantau, tapi lebih dari itu melihat sompe’ adalah melihat cahaya harapan bagi mereka, karna di situ harapan, kesetiaan, dan pengorbanan dipertaruhkan untuk kehidupan yang lebih baik. Berharap agar belanga tetap berisi “padi emas”. Padi sebagai simbol kebelangsungan hidup dan emas sebagai simbol untuk kehidupan yang lebih baik.

95


14

Rahmat Mochtar Polman Penyangga Poros Maritim Instalasi 2 x 1,5 meter 2017

Wacana kebangkitan poros maritim dunia bagi Indonesia, seyogyanya tidak hanya ditandai dengan keeksisan industri kelautan, tapi tumbuh kembangnya kebudayaan dan kesejahteraan manusia pesisir dan sungai. Perhatian kita mesti pula dilanjutkan ke akarakar maritim secara global yang selama ini luput dari perhatian kita, yakni kebudayaan yang menyangga teritori daratan dan lautan. Peradaban yang menjadi pintu keluar masuk bagi pertukaran budaya daratan dan pesisir yakni peradaban sungai. Sejarah manusia pernah melahirkan peradaban sungai yang menjadi penyangga dan benteng maritim dalam (non-laut), seperti Sungai Nil di Mesir, Indus di India, atau Kapuas, Musi dan sungai lain di Indonesia. Karya ini berupa alat penangkapan ikan di Sungai Mandar, Sulawesi Barat, yang populer disebut bunde’. Alat ini terbuat dari bambu dan jaring berbentuk segitiga. Visual Bunde’ inilah yang Rahmat Muchtar eksplorasi menjadi karya instalasi guna memperkenalkan alat-alat yang dilahirkan manusia pada kebudayaan sungai, tentu dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian, tempat serta kedaulatan di dalam poros maritim sebagai ­penyangga. 96


97


15

St. Mutmainnah Makassar Lost Paradise Mural 2,44 X 3,66 m 2017

98


Surga terindah dalam sebuah kota ­terhampar luas pada laut dan pantainya. Karya "Lost Paradise" merupakan reka ulang kenangan masa kecil saya untuk menikmati surga yang mulai hilang karena tergerus sampah plastik dan limbah industri.

99


16

Teater Kita Makassar The Eyes of Marege Teater 2007

Wacana kebangkitan poros maritim dunia bagi Indonesia, seyogianya tidak hanya ditandai dengan keeksisan industri kelautan, tapi tumbuh kembangnya kebudayaan dan kesejahteraan manusia pesisir dan sungai. Perhatian kita mesti pula dilanjutkan ke akar-akar maritim secara global yang selama ini luput dari perhatian kita, yakni kebudayaan yang menyangga teritori daratan dan lautan. Peradaban yang menjadi pintu keluar masuk bagi pertukaran budaya daratan dan pesisir yakni peradaban sungai.

100


Sejarah manusia pernah melahirkan peradaban sungai yang menjadi penyangga dan benteng maritim dalam (non laut), seperti Sungai Nil di Mesir, Indus di India, atau Kapuas, Musi dan sungai lain di Indonesia. Karya ini berupa alat penangkapan ikan di Sungai Mandar, Sulawesi Barat, yang populer disebut bunde’. Alat ini terbuat dari bambu dan jaring berbentuk segitiga. Visual Bunde’ inilah yang Rahmat Muchtar eksplorasi menjadi karya instalasi guna memperkenalkan alat-alat yang dilahirkan manusia pada kebudayaan sungai, tentu dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian, tempat serta kedaulatan di dalam poros maritim sebagai ­penyangga. 101


17

Quiqui & The Ribbing Studio Makassar Benang dan Sungai Instalasi Media Campuran Dimensi Bervariasi 2017

102


“Benang dan Sungai” adalah proyek kerja kolaboratif dari multi media, mulai dari benang dan serat, dokumentasi, kriya, komik, penelitian laboratorium, hingga video instalasi. Proyek seni ini merupakan tanggapan atas keadaan dan ekosistem Sungai Sinre’jala, Kecamatan ­Panakkukang. Sinre’jala merupakan fragmen kecil Makassar. Sungai di kota lebih dekat de­ngan stigma kotor dan tercemar. Tak luput sering dianggap sebagai tempat pembuang­an limbah dan menuntaskan beberapa perkara pelik. Mungkin itu pula yang menjadi alasan sebagian orang membangun rumah membelakangi sungai. Aliran Sungai Sinre’jala ­mengalir di timur jalan Adhyaksa melintasi jembatan sepanjang Jl. Prof. Abdurahman Basalamah menuju utara jalan Sukaria 18 dan ­bermuara di Tallo.

103


18

Pasir Putih Pemenang Lombok Montase Air

Video & Drawing Dimensi Bervariasi 2017

Laut sebagai medium penyebaran budaya di Nusantara. Laut membawa manusia dari dan ke berbagai tempat. Laut adalah saksi sejarah. Laut membawa manusia meninggalkan kampung halaman mereka, budaya lama mereka dan mencoba beradaptasi dengan budaya baru. Di banyak tempat, alih-alih mampu melebur bahkan tercipta lagi budaya baru, hasil dari negosiasi antar budaya. Namun, selagi manusia meninggalkan cerita lama, dalam waktu bersamaan mereka pun mengenang segala hal tentang kampung halaman mereka. Hadir pula cerita-cerita tentang para pendatang (Bugis, Mandar, Bali, Jawa, Sumatra, Kalimantan dan daerah lain) di Lombok dalam bentuk video. Video ini akan berisi cerita (sejarah), lagu atau tembang, serta gambaran kehidupan mereka saat ini. "Montase Air" juga mengajak warga untuk menggambar (sketsa) kenangan mereka tentang arsitektur, makanan, permainan tradisional, sesajian, dalam arti yang luas segala kenangan tentang budaya mereka. Sketsa-sketsa ini dipamerkan sebagai bahan kajian dan atau untuk membawa kembali memori kita tentang kampung halaman dan budaya kita. Yang terakhir, laut dan pelayaran memiliki hubungan yang erat dengan jarak dan waktu. Dalam karya ini, warga setempat diajak membuat kalender bersama tentang laut, berisi: musim, purnama, peristiwa adat dan budaya serta berbagai hal yang berkaitan dengan laut.

104


105


19

Postcarders Pangkep Postcards from Isles Foto Dimensi Bervariasi 2017

106

Karya fotografi yang menceritakan perihal kehidupan di sekitar mereka di Pulau Satando, Sapuli, dan Saugi. Mereka mengandaikan karya-karya mereka sebagai lembaran-­lembaran kartu pos, yang mereka kirim untuk sahabat-sahabat mereka di luar pulau.


107


20

Zaenal Beta Makassar Live Painting Tanah Liat di Atas Kanvas 100 x 140 cm 2017

Lukisan ini seluruhnya menggunakan tanah liat sebagai bahan lukis ­Zaenal Beta. Pelukis Makassar ini dikenal sebagai pelukis tanah liat. Ia dalam performance dan melukis langsung ini menggambarkan suasana kawasan pantai dan pelabuhan.

108


109


Workshop Makassar Biennale 2017 Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar 9 - 27 November 2017

Kamis, 9 November 2017 tema pemateri

MEMBATIK Andre's Batik

Jumat, 10 November 2017 tema pemateri

JAR DECOUPAGE Quiqui (Ungatawwa)

tema pemateri

MENGANYAM ECENG GONDOK (PLACEMAT) Quiqui (Nanie Bengkel Craft)

Sabtu, 11 November 2017 tema pemateri

DOMPET BEHEL Kamummu

tema pemateri

CLUTCH DECOUPAGE Quiqui (Ungatawwa)

Minggu, 12 November 2017 tema pemateri

DOMPET BEHEL Kamummu

tema pemateri

CROCHET TULIP DALAM POT Quiqui (Nanie Bengkel Craft)

Senin, 13 November 2017 tema pemateri

110

BASIC CROCHET Quiqui (Craftziness)


Selasa, 14 November 2017 tema pemateri

DOMPET BEHEL LIPAT (JAHIT TANGAN) Kamummu

tema pemateri

LUKIS TANGAN Henna Pacci

Rabu, 15 November 2017 tema pemateri

LUKIS TANGAN Henna Pacci

tema pemateri

MEMBATIK Andre's Batik

Kamis, 16 November 2017 tema pemateri

DOMPET BEHEL HP (JAHIT TANGAN) Kamummu

tema pemateri

BASIC CROCHET LANUUTAN (TAPESTRY) Quiqui (Ayi Craftziness)

Jumat, 17 November 2017 tema pemateri

WEAVING LOOM Nur Syamsina

tema pemateri

MENGANYAM ECENG GONDOK (WADAH BULAT) Quiqui (Nanie Bengkel Craft)

111


Sabtu, 18 November 2017 tema pemateri

ILUSTRASI Hujan Buatan

tema pemateri

MENGANYAM ECENG GONDOK (WADAH KOTAK) Quiqui (Nanie Bengkel Craft)

Minggu, 19 November 2017 tema pemateri

WATERCOLOR Hujan Buatan

tema pemateri

CROCHET TULIP DALAM KOTAK Quiqui (Nanie Bengkel Craft)

Senin, 20 November 2017 tema pemateri

BASIC CROCHET Quiqui (Ayi Craftziness)

tema pemateri

WALLDECOR KAYU PALET Decolova (Tenry Cicilya)

Minggu, 21 November 2017 tema pemateri

PATCHWORK Shine Knit

tema pemateri

DECOUPAGE KALENG Decolova (Tenry Cicilya)

Senin, 22 November 2017

112

tema pemateri

PATCHWORK Shine Knit

tema pemateri

DIY KAKTUS Decolova (Kaktus Makassar)


Kamis, 23 November 2017 tema pemateri

FOLDING SCRAPBOOK Harnita Rahman #SulapSampah

tema pemateri

KAKTUS FLANELZZ Decolova (Vee Assegaf)

Jumat, 24 November 2017 tema pemateri

POUCH TOTEBAG Kamummu (Mesin Jahit)

tema pemateri

PAPER CUTTING ART Cutting Mate

Sabtu, 25 November 2017 tema pemateri

CUKIL KAYU Muhlis Lugis

tema pemateri

MENJAHIT TAS BEHEL (MESIN JAHIT) Kamummu (Mesin Jahit)

Minggu, 26 November 2017 tema pemateri

CUKIL KAYU Muhlis Lugis

tema pemateri

FOOD PHOTOGRAPHY ART Quiqui (Winslicious)

Senin, 27 November 2017 tema pemateri

BUNGA TULIP KAIN Decolova (Vee Assegaf)

tema pemateri

CROCHET TULIP Quiqui (Nanie Bengkel Craft)

113


Workshop membatik oleh Andre’s Batik di Makassar Biennale 2017.

Workshop membuat jar decoupage bersama Quiqui (Ungatawa) di di pelataran Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar.

114


Workshop jahit tangan membuat dompet behel di Makassar Biennale 2017 bersama Kamummu.

115


Workshop jahit ­tangan membuat dompet behel lipat ini dilakukan bersama Kamummu di pelataran Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar.

116


117


pasca-event


Membaca Biennale di Timur Indonesia Fadriah Syuaib

Seniman, Ternate-Maluku Utara

Maritim mendominasi negeri di timur Indonesia, demikian fakta yang terjadi. Secara geografis, Timur Indonesia memiliki keindahan alam dan pesona bawah laut yang menjadi perhatian tersendiri di mata dunia. Keberagaman sumber alamnya sangat memiliki potensi yang sangat luar biasa. Ada beberapa sektor yang menjadi daya tarik wisatawan, salah satunya kepariwisataan, sejarah, dan alam pegunungan. Identifikasi ketimuran menjadi sebuah aikon, yakni keindahan bawah laut dan endemik hewan laut yang unik. Secara umum, Indonesia sendiri adalah negara maritim (katanya), meskipun tidak banyak fakta yang kita ketahui. Namun sejarah sudah membuktikan bahwa akibat adanya penjajahan itulah peng­alihan fungsi dari kemaritiman menjadi Negara agraris. Timur seakan terlupakan dan kemaritiman hanya sekadar dialog dalam lintas tertentu saja. Kebutuhan konsep dan pemahaman yang baik dan benar dalam penyampaian terkait semua hal itu tidak hanya berlandaskan dongeng, sejarah, cerita, tetapi berdasarkan fakta dan hakikat negara ini sebagai negara maritim. Seperti halnya sejarah, wilayah kemaritiman memang memiliki sejarah yang kuat bagi wilayah Timur. Setiap suku yang ada di wilayah ini pun memiliki keterikatan emosional dengan beberapa daerah lainnya. Lihatlah suku Bajo, hampir di setiap pulau suku tersebut menetap di sana, di perairan Maluku, Maluku Utara, hingga Papua. Melalui sebuah literatur permukiman Suku Bajo yang masih tradisional terdapat di Desa Bangko, Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Desa ini berada di sebelah barat Pulau Muna, yang secara administratif wilayahnya mencakup daratan dan lautan. Yayasan Makassar Biennale kemudian menggagas konsep dalam sebuah perhelatan seni dengan tema Maritim. Ini menarik, melalui literature maritim dan sejarah panjangnya seni kemudian 120


disejajarkan dengan tema tersebut. Melihat dan membaca maritim pada alur seni tidak semudah mengangkat topi, persoalan kemaritiman dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Ada dua versi untuk pengertian ini: maritim dalam pengertian sempit yang hanya berhubungan dengan pengaruh dan laut (angkatan laut) atau maritim dalam arti yang seluas-luasnya yang meliputi semua kegiatan yang berhubungan dan berkenaan dengan laut atau lebih sering disinggung dengan istilah kelautan. Pengertian maritim pada versi yang ke­dualah arti dari sebuah perjalanan artistik yang kemudian dirangkum lewat perhelatan besar tersebut. Maritim bukan lagi terhubung dalam satu aspek saja, namun maritim menjadi subjek dalam pengembangan sebuah pemikiran yang lebih luas oleh seniman. Pada konsep seni rupa, Biennale menjadi semacam rujukan karya seni. Biennale dipaksa untuk berada di lingkungan yang sangat terbatas dengan pemahaman Biennale itu sendiri. Berusaha merekonstruksi pecahanpecahan kesenian yang dibentuk secara konvensional menjadi lebih berbeda. Itu artinya Makassar selangkah sudah memahami krisis kesenian di Indonesia Timur sejak berpuluh tahun lamanya dan sedang memperbaiki, menyusun dan mengatur perlahan-lahan kesenian timur Indonesia. Sebenarnya Biennale tidak jauh beda dengan pameran bersama. Secara

pengertian yang saya kutip dari literatur online bahwa Istilah Biennale paling sering digunakan dalam dunia seni untuk mendeskripsikan pameran seni kontemporer internasional skala besar. Istilah ini populer karena acara Biennale Venesia yang pertama kali diadakan pada tahun 1895. Lalu sejak itu istilah Biennale digunakan untuk acara-acara seni lainnya seperti “Biennale de Paris”, atau bahkan sebagai suatu lakuran seperti “Berlinale” (untuk Berlin International Film Festival) dan “Viennale” (untuk festival film internasional di Wina). “Biennale” karenanya digunakan sebagai suatu istilah umum untuk acara-acara ­internasional lainnya yang diadakan berulang kali (se­perti trienial, documenta, Skulptur Projekte Münster). ( , halaman Ensiklopedia Bebas) Ini bukan sebuah “latah” yang kita bangun, tetapi penting sekali untuk digunakan nama Biennale sebagai gagasan untuk pemula. Semacam memperkenalkan bahwa istilah Biennale ada di Timur. Mungkin terdengar sama dengan yang ada di Jogja, Jakarta, Banten, atau beberapa kota besar lainnya, tetapi secara visual dan pengembangan gagasan sedikit berbeda. Bicara visual artistik, membaca maritim dalam kolase seni justru menjadi hal yang menarik. Karya-karya instalasi lebih dominan, sebab timur dan maritim sering membaca fisik bukan imajinasi. Ada perspektif yang memberikan kebebasan yang sesungguhnya, tanpa sadar orangorang Timur sudah melakukannya berabad-abad lalu. Mereka menampakkan kekayaan itu dalam ruang-ruang yang 121


beragam. Pada perahu, jaring, model tangkapan ikan atau proses pembakaran dan pengasapan ikan. Proses demikian adalah visualisasi artistik yang nyata, tidak mengubah tampilan dan fungsi bahkan menunjukan karakteristik ketimuran yang sangat kuat. Secara etimologi karya instalasi adalah seni yang memasang, menyatukan, dan mengkontruksi sejumlah benda yang dianggap bisa merujuk pada suatu konteks kesadaran makna tertentu. Biasanya makna dalam persoalan-­persoalan sosial-politik dan hal lain yang bersifat kontemporer diangkat dalam konsep seni instalasi ini. (sumber: Wikipedia bahasa Indonesia) Seni instalasi dalam konteks visual merupakan perumpaan yang me­ nyajikan visual tiga dimensional yang memperhitungkan elemen-elemen ruang, waktu, suara, dan atau melibatkan indra lainnya sebagai sensasi. Dan orang-orang timur telah melakukan­nya sejak berabad-abad silam. Kenyataannya sekarang kesenian Timur sudah bisa mengepakkan sayap, meskipun dalam jarak yang masih kecil perlahan akan tetap mengudara. Pelan-pelan tapi sampai akan menjadi lebih pasti. Motivasi ini bukan karena faktor ketertinggalan kita terhadap kesenian itu sendiri, akan tetapi lebih kepada bentuk apresiatif. Kita hanya terlambat meramu rempah sebuah menu, kita keasyikan menikmati masakan siap saji, sampai-sampai kita kenyang dalam durasi waktu yang

122

singkat hingga lupa sajian menu apa lagi yang harus disiapkan. Padahal sumber daya yang kita punya adalah sumber daya yang tidak kalah kualitas rasa. Kini Yayasan Makassar Biennale sudah menginisiasi perhelatan besar tersebut, sebuah langkah cerdas dalam membaca peluang berksenian di wilayah timur Indonesia tentunya. Sebagai pintu gerbang dan lalu lintas arus transformasi seni, daerah-daerah timur yang berjejeran punya peluang besar untuk tampil di dua tahun sekali dengan berbagai gagasan dan respon sebagai intervensi artistiknya.

Karya dan Esensi Dalam dimensi visual, Maritim memiliki gagasan yang kuat dan luas penafsirannya. Hampir seluruh aspek kelautan yang kompleks seniman membicarakan lewat intervensi artistiknya. Ada sekitar 65% seniman membicarakan sampah sebagai penolakan dan menjadikannya alasan kolektif.


Sebagai seniman perempuan, tentu hal ini menjadi penting untuk dibahas. Perempuan sebagai subjek dalam menafsirkan berbagai kecenderungan segala masalah, dan Timur Indonesia berada pada fase tersebut. Tidak ada batasan dalam proses berkarya, dan saya tidak merasa ada tindakan itu. Hanya butuh beberapa langkah jitu untuk membangun seniman seni rupa perempuan timur Indonesia. Mungkin ini peluang dang langkah cerdas yang dimaksud. Di kesempatan itu saya menampilkan karya berjudul “Risk�, dalam bahasa Indonesia bermakna "risiko". Dengan tampilan atau gaya surrealist lagi-lagi karya tersebut merespon tentang sampah. Konten yang sama dengan Made Bayak, seniman dari Bali ini membicarakan plastik atau sampah non-organik sebagai topik yang jauh lebih ekstrim lagi. Kedua karya ini menerjemahkan sebuah deskripsi tentang sebab akibat dari sampah plastik. Sampah secara esensi terhubung dalam interaksi kehidupan dan terekonstruksi pada kebiasaankebiasaan yang menyimpang sebagai pelaku dan penikmat laut dalam kehidupannya. Lain halnya dengan tampilan karya responsif, baik secara visual ia menggunakan indera penciuman, rasa dan tindakan sebagai satu tindakan interaktif yang tanpa sadar seni sedang menguasai tindakan individualistik setiap pengunjung.

Berbeda dengan karya-karya yang sudah saya sebutkan, karya video art lain lagi merespon persoalan maritim. Visual gambar dan suara menggunakan objek yang berbeda. Andy Seno Aji melihat visual dari dekat objek sebuah alat yang tentunya berhubungan dengan maritim. Lain halnya juga dengan gagasan yang di sampaikan oleh Oka dan Jatul dari NTB justru melihat potret emosional antar suku yang hidup dengan laut. Sementara karya video yang lain mendiskripsikan bunyi antara batu, angin dan bunyi aliran gemiricik air dari hulu ke hilir. Sebuah harapan besar untuk tetap mempertahankan perkembangan kesenian di masa yang akan datang. Timur sudah menemukan ruang tanpa sekat, dan ruang-ruang itu butuh properti yang baik dan berkualitas. Makassar Biennale harus lebih memprioritas kebutuhan tersebut terutama persiapan ruang pamer yang le­bih baik dan representatif. Tentunya bukan kompetisi akan tetapi kemajuan seni rupa secara itu sendiri. Semoga Makassar Biennale adalah promotor handal seni rupa yang menyebarkan energi positif untuk perkembangan kesenian (seni rupa) di Timur Indonesia ke depan.

123


History: The Power of Being Onward Chen-Wei Lin (林正尉) Seniman, Taipei-Tiongkok

"All history is contemporary history."--Benedetto Croce (1866-1952) Cities are not only spaces for sharing trading goods but memories and stories as well. Once the Italian author Italo Calvino had ever mentioned in his well-known novel “Invisible Cities”: From travelers, roads, camels, sounds in markets and wooden ships, all kinds of memories may come through diverse ways. Sharing is the essence of a city, while the sea de facto indeed. However, it is the time for us to consider about it. As long as forgetting the essence of the sea yet, our original imaginations will also be hidden and exhausted. The sea and ships are not merely the important tools for economy development, but also for our own stories and origins. The 2nd Makassar Biennale “Maritim” attempts to tell the various stories to the new generation. According to Michel Foucault in his inspiring paragraph on heterotopias space, that we if are disable to re-imagine about the status of sea, the military detectives and scouts would be instead of the wonderful adventures, meanwhile, so would the 124

modern police gain the power from a nation in order to erase the images of pirates in history. From the position of ocean, basically both Indonesia and Taiwan used to face these similar developing problems for (1) large-scale infrastructure some people do embrace; (2) modern industrial developments and non-ecological urban planning projects have been in a great position instead of the abundant cultural creativity and traditions everywhere. They were expected to build up a newlyimagined community, so that no hard for us to think about ourselves: Why are the increasing public transportation systems desired to be with strong eager than before? More concretely, just during in the recent decade of Makassar? The reason is not too difficult for us. In doing so, the moving flow for human beings can merely rely on the skylines and roads, in which provide a certain way for basically one-dimensional capital accumulation in efficient time. Therefore, no more space becomes needed for the importance of the sea in economical perspective. In the long run, the latter would just be traumatized and marginalized again.


I am truly honored to be the participator from Taipei City during the 2nd Makassar Biennale. It’s quite interesting that of from the curatorial perspective of “city to city” makes it more possibilities equally, for “Taiwan” has been fighting and striving for identity herself nevertheless under the proceeding pressure from the certain country and international society over two decades. However, the common anxiety and crisis in Taiwan also gets rooted in herself in situ. Because of the essence of island-oriented character has being ambiguous, the highly economical development made people in the island had been long time forgetting as being “islanders”, that is, people always think of themselves upon a land in contrast with sensing and discovering themselves relatively on a indefinable location where were used to be filled up with unlimited possibilities, contingencies from migrant adventures. That’s why we can sometimes find common words as well as rituals similarly between in Indonesia and Taiwan. Since both Indonesia and the south part of Taiwan had been colonized by Dutch V.O.C Company in the past, from history one may understand that for the viewpoint

of Batavia (Jakarta) governors, Formosa (Taiwan) was just used to be a military frontier and trading outpost connecting to China and Japan during the 17th Century. From spices robbery in Laut Maluku to “Banda Massacre” in Indonesia Timur etc., all kinds of situations and policies happened in Indonesia directly and deeply influenced the development of Taiwan definitely. My art project in the Biennale is inspired by two Makassarese girls’ Masa Bahagia in Taiwan during the year of 1655-1657. Even today the events of the Makassarese Anna and Julienna’s stories may find some important but remain ignored in both Taiwan and Makassar. No one knows about them still. The only one trial we can point out is from marriage records with Dutch V.O.C soldiers. For us, they were manusia tanpa sejarah who were born without real names, certain ethnicities, no clear figures or even no more impressive memories mentioned above. However, they were truly Christians so were able to migrate out, chasing for their love and life based on the population policies from the Dutch.

Makassar and head for the distant frontier? I start to spread my method combining art making, researches and imaginations. Thanks to the enlightenments from “new cultural history” genre, I’d re-read one of the most important female historian Natalie Zemon Davis’ The return of Martin Guerre, in this book she mentioned about why/how one needs to collect historical fragments from diaries, tales, local chants, contracts and visual icons etc. in order to “grow up” an “invisible person” in visible way. By reading Anthony Reid’s and others, I have known that a deadly and futureless plague happened in Makassar during the girl’s childhood in the earlier 17th century. Both Anna and Julienna might choose to give up believing in their original religion, for someone was caused to death in family or community. Also at the same time, the Sultanate of Gowa was deeply involved in dilemma: inner situation for lack of food, safety, men and happiness in Makassar, while the Dutch V.O.C became more aggressive, arrogant and ambitious on Gowa’s potential property.

What are the reasons caused them leave 125


They might have made the decision and motif to abroad, even think “how to escape more far away then before.” In brief, my artistic purpose is to re-construct/create their suffering mentalities and dreams which were already occurred. To sum up, histories from ordinary ones should not be into oblivion while we are standing on the certain point of new century and artistic thinking, we also need to rethink about the equal relationships from the neglected people as well as to our near community. The key image for me is to establish the concept of “being in the relationship from a port to another”, sharing our memories, tales and common maritime heritage to each other instead of erecting rigidly the grand modern political boundaries with co-competition and hierarchy. During the recent 20 years, Sulawesi and Taiwan got stuck still in the unsolved dilemma whether if being engaged in

126

plenty of religious, ethnicities, liberty-­ calling conflicts and social movements, or, like Taiwan, trying to be itself or fit in different kinds of political definitions under the specific political paradigm (such as establishing its certain name in the international family). How should we pass through of them? It is necessary to ask more. In my final opinion: The ocean always tries to remind of deep meanings in equality, connections and ecology within the “others”; From histories and imaginaries, we are inspired to collect and make it with possibilities, for them are not always about the past, instead, they help us the build up the courage and aura to confront the current difficulties. In other words, they both assist us to clear up the dust we may encounter, to throw out the sharp obstacles we may step on our following way. Yes, they will accompany us walking onward.


127


Metanarasi Perempuan Dalam Seni Rupa Catatan Proses Kreatif Citra Sasmita Seniman, Bali

Tak dapat dimungkiri bahwa mitos ­perempuan sebagai subjek seni memang kalah besar dibandingkan perempuan sebagai objek seni. Perempuan sebagai subjek seni dalam pernyataan ini merupakan dedikasi dirinya melalui daya kreatif untuk menciptakan karya seni, baik yang merepresentasikan gagasan, pengalaman, dan ekpresi personal. Kemudian mengenai perem­ puan sebagai objek seni, adagium Basoeki ­Abdullah yang menyatakan bahwa “perempuan itu lebih cocok dilukis bukan sebagai pelukis”, merupakan hal yang patut kita pertanyakan berulang kali. Apakah benar perempuan hanya berhak untuk dilukis? Apakah perempuan tidak mempunyai hak untuk mengungkapkan gagasannya melalui medium seni (lukis)? Disamping itu, pemikiran yang berkembang dalam pembacaan terhadap karya perempuan cenderung berkutat mengenai aspek personal normatif, yang tampaknya justru menghambat progresifitas perempuan dalam pembangunan wacana di arena seni rupa. Padahal karya-karya perempuan perupa bisa dianalisis dengan lebih kompleks, bahkan menjadi medium pergerakan.

sesuai dengan norma dan parameter sosial yang telah berlaku. Khususnya dalam kultur patriarkis dimana peran laki-laki dan perempuan telah ditentukan sedemikian rupa dengan mengatasnamakan tradisi dan budaya. Masyarakat dalam kultur patriarkis telah mengukuhkan sistem tersebut sehingga perempuan diasosiasikan dengan persoal­an domestik (masak, macak, manak) dan laki-laki secara natural menguasai wilayah publik. Persoalan domestik yang dimaksud bukan semata-mata beban kerja dan ruang terbatas perempuan hanya dalam rumah tangga, namun terlebih pada akses pengetahuan dan pengembangan mentalitas perempuan sebagai mahluk yang otonom. Kerangka domestifikasi yang telah dikonstruksi pada perempuan secara tidak langsung membentuk identitasnya—dimana konsep identitas disini melingkupi bahasa, habitus, seksualitas, dan relasi kuasa.

Kultus terhadap perempuan menjadi sangat terbatas oleh konstruksi sosial di masyarakat. Tubuh perempuan dalam pa­radigma masyarakat harus

Secara anatomi seks konsep tubuh ­perempuan telah direduksi hanya sebagai fungsi reproduksi, sebagai objek hasrat laki-laki dan bukan

128


sebagai subjek aktif yang memiliki kebebasan ekspresi dalam pencarian identitasnya, maka ketika di­mulainya metamorfosa tubuh dari usia belia (tumbuh­nya payudara dan mengalami menstruasi) pengalaman biologis tersebut disisipi bahasa/stigma sosial dimana tubuh ­perempuan yang diidentikkan dengan tubuh yang kotor. Seorang perempuan harus tahu bagaimana cara berpakaian dan menutup rapat tubuhnya ataupun berperilaku supaya terhindar dari objektifikasi lingkung­an (pelecehan, kejahatan psikologis atau bentuk penindasan lain). Kemudian dalam mitos kesuburan, misalnya dalam masyarakat Bali yang konservatif, seorang perempuan dianggap sempurna jika ia mampu mengandung dan melahirkan anak laki-laki sebagai penerus keluarga.

Sebagaimana yang diungkapkan Gadis Arivia dalam Kajian Budaya Feminis, kemampuan hamil tidak semata-mata persoalan biologis yang dapat dijelaskan secara ilmiah, melainkan memiliki makna kultural dan sosial. Perempuan berkompetisi untuk memenuhi kriteriakriteria tersebut untuk mendapatkan daya tawar dan bertahan hidup dalam lingkungan sosial. Maka tidak jarang didapati peristiwa bahwa perempuan sendiri bisa menjadi maskulin dan mensubordinasi perem­puan lain, berdasarkan perbedaan usia, kasta, kelas sosial dan tingkat pendidikan dalam kultur Bali yang sangat patriarkis. Batasan-batasan tersebut selain membuat perempuan asing dengan tubuhnya juga mengekang kebebasan berekspresi mereka melalui medium seni. Perempuan yang memilih jalan kesenian kerap kali dianggap sebagai kegiatan yang kontraproduktif atau

129


bertindak di luar nilai-nilai yang telah dikonstruksi masyarakat.

Banyak seniman dan tokoh masyarakat yang memungkiri adanya permasalahan

Dalam konteks seni rupa di Bali dapat diamati bahwa tidak banyak perempuan Bali yang menggeluti profesi perupa sebagai jalan hidupnya. Usia karir mereka kerap berakhir ketika memasuki hidup berumah tangga dengan kewajiban pokok bukan hanya dalam lingkungan keluarga namun juga dalam masyarakat adat. Jadi seorang perempuan selain menghadapi persoalan domestik, namun akan dilibatkan pula dalam tugas bermasyarakat, upacara agama seharihari maupun dalam periode tertentu, dalam ruang lingkup kecil hingga masif. Ada sanksi-sanksi yang bersifat mengikat jika mereka tidak mengikuti patron keperempuanan yang ada dalam ruang lingkup ini.

perempuan di Bali karena sifatnya yang kasuistik dan di bawah permukaan. Barangkali karena tendensi yang kuat untuk menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dan ritual yang adiluhung, fenomena kekerasan yang terjadi dapat lekas hilang dari ingatan melalui beberapa metode konsiliasi dalam budaya dan ritual keagamaan. Bahkan tragedi kemanusiaan bom Bali pertama (2002) dan kedua (2005) bukan menjadi hal krusial yang diangkat dalam praktek-praktek kesenian progresif seperti di seni rupa, meski tragedi bom Bali ini sempat diangkat oleh Made Wianta, namun ideologi mengangkat isu-isu sosial melalui medium seni merupakan wilayah yang dianggap riskan oleh kebanyakan seniman Bali.

Ketika seorang perempuan Bali memutuskan untuk berada dalam arena seni rupa, maka bukan hanya persoalan eksistensi yang dipertaruhkan dalam pergulatan keras dunia seni rupa yang masih didominasi oleh para perupa laki-laki, akan tetapi seorang perempuan perupa Bali mesti dibekali insting “survival� yang cukup tinggi, karena bukan hanya berada dalam lingkungan yang salah- perempuan perupa Bali tidak cukup beruntung untuk tinggal dan hidup dalam lingkungan masyarakat yang terbiasa menerima perempuan berprofesi sebagai perupa seperti halnya di Yogyakarya, Bandung, Jakarta yang dengan pemikiran terbuka menerima modernitas, dinamika wacana yang progresif dengan iklim diskusi yang juga layak. Di sisi lain peran media dan lembaga terkait untuk mengekpose eksistensi dan keterlibatan perempuan perupa pun sangat minim. Maka tidak mengherankan sosok perempuan akan melalui jalan yang cukup sulit untuk dapat terbaca dalam pemetaan dan percaturan dunia seni rupa Indonesia.

Sejak zaman kolonial, masyarakat Bali direpresi oleh kelompok feodal yang berafiliasi dengan pemerintah kolonial dalam politik baliseering untuk menciptakan masyarakat Bali yang berfokus pada agama, kegiatan ritual dan kesenian serta menjauhkan mereka dari konsep-konsep pergerakan dan nasionalisme. Dibalik eksotika mistisisme dan identitas manusia Bali yang dikontruksi tersebut, Bali pernah menjadi penyuplai besar budak ke wilayah dimana terjadinya pertemuan berbagai ras dan suku seperti di Afrika, Bourbon (pulau koloni Perancis) dan di Batavia pada abad ke 18. Terutama budak perempuan Bali yang menjadi favorit, meski dianggap ceroboh namun terkenal menjadi pekerja yang ulet dan bisa memasak babi.

130

Citra Bali yang adiluhung tersebut tetap dipertahankan untuk menutupi tragedi-­ tragedi kemanusiaan lain seperti pada masa orde baru setelah tragedi kekerasan 65 terjadi seperti politik pariwisata pada masa pemerintahan Soeharto. Sehingga


pulau Bali masih dianggap sebagai pulau dewata dan surga terakhir di dunia dan berkontribusi terhadap pendapatan negara melalui industry pariwisata. Dan yang terakhir, terkait tragedi bom Bali pun, metode yang sama tampaknya kembali digaungkan melalui “Ajeg Bali� untuk mempertahankan stabilitas perekonomian melalui jalur pariwisata ini. Sehingga, kegiatan berkesenian di Bali tidak bisa lepas dari bentuk keindahan dan eksotika semu serta mengabaikan aspek-aspek tragedi berdarah di masa lalu. Berdasarkan refleksi tersebut memotivasi saya untuk lebih intens mengungkapkan isu-isu sosial, permasalahan identitas dan permasalahan yang lebih spesifik tentang perempuan dalam karya seni. Karya-karya yang saya hadirkan banyak yang berupa pertanyaan akan posisi perempuan maupun perjalanan identitas manusia Bali yang semu; riuh dan estetik di permukaan namun tidak tampak kedalamannya.

131


Mendayagunakan Potensi ­Maritim Sebagai Starategi Teks Melalui Pendidikan Teater di Sulawesi Selatan Asia Ramli Prapanca Seniman, Makassar

Pendahuluan Sulawesi Selatan dikenal sebagai daerah pintu gerbang Indonesia Timur yang memiliki potensi budaya maritim yang sangat kaya, baik sistim pengetahuan, sistem budaya, pelayaran rakyat, sumberdaya perikanan, pertambangan dan energi, transportasi serta pariwisata. Orang Bugis - Makassar dikenal sebagai suku bangsa pelaut yang telah mengembangkan suatu peradaban maritim sejak berabad-abad lamanya. Disamping sebagai pelaut yang tangguh, mereka dikenal juga sebagai saudagar yang handal sebagai seorang pasompe atau pelaut saudagar. Keuletan, kegigihan, dan reso’nya (usaha keras) ditransmisikan dari generasi ke generasi berikutnya, mulai pada masa pendidikan informal, nonformal dan informal. Masalahnya sekarang adalah proses pendidikan seni di Sulawesi Selatan tidak mendayagunakan potensi maritim sebagai strategi teks membangun peradaban bahari. Proses pendidikan seni, baik pada pendidikan formal maupun non-formal kurang menyentuh peradaban maritim. Demikian halnya, pada setiap festival, proses kuratorial berlangsung berdasarkan estetika pembangunan “continental� yang hanya melayani mainstream, dengan 132

mengorbankan peradaban maritim demi keuntungan semata. Berdasarkan masalah tersebut di atas, tulisan ini bertujuan untuk mendayagunakan potensi maritim sebagai strategi teks membangun peradaban bahari melalui pendidikan teater di Sulawesi Selatan. Strategi ini ditempuh sebagai salah satu cara yang harus dilakukan sebagai desiminasi nilai–nilai kebaharian kepada para tokoh, lintas stakeholder, seniman, budayawan, lembaga pendidikan dan kebudayaan untuk kemudian disebarkan pada masyarakat luas. Memastikan identitas kemaritiman Sulawesi Selatan pada khususnya dan nusantara pada umumnya didayagunakan melalui penggalian, pelestarian dan pengembangan gagasan pembangunan. Hal ini sangat mendesak segera kita dilakukan terutama pada daerah strategis yang memiliki akar persinggungan yang kuat dengan laut/ perairan.

Strategi Teks Melalui Pendidikan Teater Eksposisi Peradaban Maritim Langkah pertama adalah menyelenggarakan seminar atau diskusi Eksposisi Peradaban Maritim dengan


memperkenalkan dan membahas beberapa buku hasil penelitian ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan mengenai sejarah, budaya dan tradisi pelayaran para pasompe atau pelaut saudagar orang Bugis-Makassar, termasuk di dalamnya menguraikan tentang nilai-nilai budaya maritim

(peradaban bahari). Tujuan tindakan eksposisi ini ialah agar peserta didik atau mahasiswa pendidikan seni bertambah wawasan dan pengetahuannya terhadap sejarah dan peradaban maritim orang Bugis-Makassar. Dengan bertambahnya wawasan dan pengetahuan mereka, maka diharapkan mereka dapat

133


melakukan tidakan diskusi, eksplorasi, identifikasi, memecahkan masalah, melahirkan solusi secara kelompok. Materi yang diperkenalkan, antara lain buku Pesan-Pesan Moral Pelaut Bugis (2007) hasil penelitian Prof. Dr. H. Abu Hamid. Dengan mengutip penulis sejarah L. J. J. Caron, Nooruyn, ia melukiskan bahwa orang Bugis dan Makassar mempunyai sejarah pelayaran yang sudah tua dengan menggunakan phinisi. Suku bangsa ini dikenal sebagai pelaut yang tangkas dan berani mengarungi lautan sampai ke Asia Tenggara dan Australia. Berlayar sebagai pedagang dan pengangkut hasil-hasil bumi. Sejak jauh sebelum masuknya Agama Islam di Sulawesi Selatan pada abad ke XVII, mereka sudah mengenal pantai Malaysia, Aceh, Borneo, Jambi, Banten, Nusantara, Maluku, dan Australia. Mereka sebagai pasompe (pelaut pedagang) yang dituntun oleh suatu hukum pelayaran yang dibuatnya sendiri dalam mengatur perjanjian kontrak sewa-beli, mengatur hubungan Ponggawa-Sawi waktu berada di lautan atau waktu berada di daratan. Hukum ini disebut: Ade’Alloping-loping ribicaranna PabbaluE (Adat-Istiadat pelayaran dan Perniagaan). Selanjutnya, kita perkenalkan buku Nilainilai Utama Kebudayaan Bugis (1992) karya Dr. H.A. Rahman Rahim. Di dalam buku tersebut menjelaskan nilai-nilai utama Bugis, yaitu (1) Kejujuran atau lempu’, yaitu ikhlas, benar, baik atau adil, tidak culas, curang, dusta, khianat, seleweng, buruk, tipu, aniaya, dan semacamnya: (2) Kecendekiaan, Toacca, Tokenawanawa atau Pannawanawa, yang dapat diterjemahkan menjadi cendekiawan, intelektual, ahli pikir atau ahli hikmah arif. Ungkapan Bugis yang menyatakan “layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam dari pada balik”, harus mempunyai arti berhati-hati: (3) 134

Kepatutan, yakni kepantasan, kelayakan adalah terjemahan dari kata Bugis asitinajang. Kata ini berasal dari tinaja yang berarti cocok, sesuai, pantas atau patut; (4) Keteguhan, getteng dalam bahasa Bugis, yakni tetap-asas atau setia pada keyakinan, atau kuat dan tangguh dalam pendirian, erat memegang sesuatu; (5) Usaha sebagai nilai kunci bagi pelaksanaan nilai-nilai kejujuran, kecendekiaan, kepatutan dan keteguhan; dan (6) Siri’, rasa amat malu, dengan malu, malu sebagai kata sifat atau kata keadaan, perasaan malu menyesali diri, perasaan harga diri,noda atau aib, dengki. Siri’ disejajarkan kedudukannya dengan akal pikiran yang baik karena bukan timbul dari kemarahan, dengan peradilan yang bersih karena tidak dilakukan dengan sewenang-wenang, dengan perbuatan kebajikan yang tidak menjelekkan sesama manusia secara tak patut (hal. 145 - 169). Buku lain yang perlu diperkenalkan adalah Manusia Makassar (2008) karya Prof. Dr. Hj. Sugira Wahid. Buku tersebut membahas cukup dalam tentang sejumlah nilai dan konsep dalam kebudayaan Makassar yang sangat besar pengaruhnya dalam perilaku dan pergaulan sosial etnis Makassar. Ia memberikan contoh melalui metafor-metafor, misalnya tentang makna nilai Tau ‘Orang’, bahwa manusia itu bermacam - macam. Ada manusia, benar - benar manusia. Ada Manusia sekedar manusia. Ada manusia dikatakan manusia karena ia dapat berbicara. Wahid mengungkapkan konsep sirik sebagai moral perjuangan bagi setiap individu maupun sebagai anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri sebagai manusia pembangun. Orang Makassar menurut Wahid memiliki prinsip Adakaji tojeng iaji ranrang tatappu, ia barang bawang, mannanjo natunrung barak. (Orang yang memegang adat kebiasaan negeri,


menemukan di dalamnya sebuah tali jangkar yang tidak putus dan tidak akan bergeser dari tempatnya ditambatkan, meskipun perahu dihantam amukan badai dahsyat). Buku penting lain berjudul Orang Makassar (2008) karya Dr. Andi Halilintar Lathhief. Buku ini memberikan informasi tentang puncak kejayaan seni budaya Makassar terjadi pada masa-masa I Malingkaang Daeng Mannyonri menjadi Mangkubumi di Kerajaan Gowa. Awal “jaman emas” (“golden age”) itu dimulai semasa beliau mendampingi pemerintahan Raja Gowa Sultan Alauddin. Ekspansi Kerajaan Gowa dengan alasan penyebaran Islam, membuat kerajaan tersebut mengembangkan kerajaannya bukan hanya di Sulawesi, tetapi bahkan ke luar Sulawesi seperti Kalimantan Timur (Berau dan Kutai), Nusa Tenggara (kecuali Bali), Marege (Australia Utara), dan Kepulauan Tanimbar (Maluku Tenggara). Khusus untuk kesenian Makassar, menurut Lathief, digambarkan dalam Lontarak Bilang Tallok, bahwa pada masa Karaeng ri Patingaloang kesenian telah tumbuh di Kerajaan Gowa. Pada masa tersebut, orang Makassar mulai membuat meriam dan peluru sendiri, mulai mengukir perahu dan berbagai jenis kesenian lainnya. Disebutkan bahwa Karaeng ri Patingaloang, selain sebagai seorang negarawan hebat yang menguasai berbagai bahasa internasional, beliau juga adalah seorang seniman yang mahir mengukir, pandai menari Sere Maloku dan memupunyai cita rasa seni yang tinggi. Sebuah buku mengenai telaah antropolingistik, ditulis oleh Prof. Dr. Nurdin Yatim, dengan judul Pelayaran Teripang dari Makassar ke Marege (1991), membawa pengaruh kebudayaan, khususnya pengaruh

bahasa di negeri Marege. Buku ini memberi banyak pengetahuan tentang hubungan sejarah, perdagangan, budaya, dan persaudaraan antara orang-orang Makassar dan orang-orang Marege (suku asli Australia). Disebutkan oleh Yatim, bahwa Steve Hutton “Chief Minister of Northern Teritorry’, Australia, dalam kata pelepasan perahu tradisional Padewakang Hati Magere 15 Desember 1987 di Ujung Pandang, menyampaikan bahwa terdapat kira-kira 400 kata yang berasal dari bahasa Makassar dalam kata-kata bahasa Aborigin di Australia. Disebutkan bahwa pelayaran dari Makassar ke Australia Utara untuk mencari teripang diperkirakan berlangsung sejak lebih dari tiga ratus tahun yang lalu sampai tahun 1907, dan telah membawa pengaruh yang amat besar terdapat perkembangan budaya beberapa suku Aborigin di Australia Utara. MackNight (1976), menyebutkan bahwa sejarah industri Australia berawal dari industri teripang yang dikembangkan orang-orang Makassar yang mengajarkan kepada mereka budaya laut. Mereka belajar membuat perahu dengan cara yang lebih modern daripada sekedar membuat perahu dari kulit kayu. Menurut Yatim, peneliti seperti Spillett (1987) dan Cooke (1987) bahkan telah melakukan usaha lebih jauh untuk melihat hubungan darah yang terjadi dalam perkawinan antara pelayar Makassar dengan orang-orang Aborigin. Berdasarkan petunjuk yang diungkapkan MackNight (1976), penelitian Spillett dan Cooke telah berhasil menelusuri hubungan darah tersebut. Ini kemudian, dibuktikan dalam keberhasilan pelayaran penelusuran rute tradisional tersebut dalam misi perahu “Padawakang Hati Marege” yang dipimpin oleh Peter Spillett akhir tahun 1987. 135


Prof. Dr. Andi Ima Kesuma, M. Pd., menulis sebuah buku Migrasi & Orang Bugis (2004), yang isinya mengisahkan migrasi Bugis ke Johor Malaysia, awal abad XVII, atau 1861, yang dirintis oleh Daeng Rilakka, salah seorang kerabat Diraja dari Sulawesi. Mengembangkan pengaruh dan kekuasaannya lebih dari satu abad di Tanah Melayu, bersama ke-5 puteranya: Opu Daeng Parani, Oupu Daeng Manambun, Opu Daeng Marewa, Opu Daeng Chelak, dan Opu Daeng Chelak. Orang Bugis melakukan migrasi bukanlah semata-mata oleh faktor ekonomis, tetapi juga oleh faktor non ekonomis, yakni antara lain tidak adanya ketenteraman jiwa, tidak hanya karena perang, juga dan terutama karena kehilangan kemerdekaan, justru karena filosofi orang Bugis, khususnya Bugis Wajo yang tertuang dalam ungkapan:“Maradeka to-Wajo’eade’mi napopuwang” (Rakyat Wajo itu merdeka hanya hukumlah yang dipertuan), sehingga jika dalam penyelenggaraan pemerintahan hukum tidak ditegakkan, niscaya akan berduyun-duyun orang Bugis akan ke negeri lain sebagai tanda protes pada kezaliman pemerintahan tersebut. Buku ini menggambarkan perjalanan orang Bugis dari periodeperiode kelampauannya, sekaligus memberikan renungan untuk menatap wajah kebugisan kita di kekinian dan bahkan juga untuk membayangkan (makna) kebugisan untuk hari-hari mendatang. Selain buku-buku tersebut di atas, seorang novelis Australia yang bernama Allan Beille bahkan telah melahirkan sebuah buku novel yang berjudul Songman, sebuah rangkaian cerita yang menggambarkan tentang pertalian erat antara pelaut Makassar dengan penduduk asli Australia, yang lebih dikenal dengan suku Aborigin atau Marege (Samad, 2014).

136

Sedang seorang wartawan senior Rida K Liamsi melahirkan sebuah buku novel sejarah “Bulang Cahaya” (2007) yang mengisahkan epos sejarah dan tragedi cinta pemuda Bugis, Raja Djaafar dengan puteri Melayu, Tengku Buntat di Melayu Riau-Lingga pada masa kesultanan Mahmud. Waktu itu, Raja Haji, ayah Raja Djaafar, masih Yang Dipertuan Muda Riau IV. Sedang ayah Buntat, Tengku Muhammad, Melayu asli, berjabat Temenggung. Perjuangan cinta mereka berkobar di tengah intrik kekuasaan Bugis-Melayu.

Persuasi Sebagai Langkah Inspirasi Persuasi sebagai langkah inspirasi bertujuan untuk mengajak dan mempengaruhi serta memberi isnpirasi kepada peserta didik atau mahasiswa agar melakukan tindakan yang sama atau lebih sesuai dengan yang diharapkan. Di sini kita bisa mengisahkan sejarah besar dan budaya agung suku-bangsa Bugis-Makassar seperti yang terkandung di dalam bukubuku sejarah dan budaya yang telah ditulis oleh para pakar, termasuk biografi Amanagappa, Karaeng Pattingaloang, Syekh Yusuf, juga termsuk kisah-kisah dalam buku mitologi terpanjang di dunia “I Lagaligo, dan berbagai legenda, cerita rakyat, serta upacara tradisi ritual yang telah banyak menginspirasi orang-orang Bugis-Makassar melahirkan karya-karya besar. Keagungan mitologi “I Lagaligo” di panggung-panggung teater dunia, dn keperkasaan “Pinisi” dari Tana Beru Bulukumba dalam mengarungi gelombang samudera nusantara sampai ke Cape Town dan Yirkala Australia adalah bukti sejarah yang tidak terlupakan sepanjang zaman. Semua itu telah banyak mengispirasi orang-orang Bugis-Makassar menjadi pemimpin, maha guru, dan pasompe atau pelaut saudagar. Selain itu, juga telah banyak menginspirasi para


seniman Bugis-Makassar di bidang seni sastera, seni rupa, seni tari, seni musik, dan seni teater. Di dalam kegiatan ini, juga kita bisa tampilkan film pertunjukan teater berbasis karakter peradaban bahari-bahari yang telah disebutkan sebelumnya. Sebagai contoh, Aspar Paturusi, seorang sastrawan, teaterawan, dan aktor film melahirkan buku, antara lain: novel “Pulau” (1976), novel “Arus” (1977), puisi “Sukma Laut” (1985), dan puisi “Perahu Badik Membaca Laut” (2015). Sedang Rahman Arge (almarhum), seorang wartawan senior, teaterawan, aktor film dan politisi melahirkan buku puisi “Jalan Menuju Jalan” (2007) yang isinya antara lain, Berlayar ke Buton, Pinisi, Berlayar ke Laut Diri, Pasomppe dan Perempuan di Pantai Paotere. Sastrawan dan politisi Husni Djamaluddin (almarhum), melahirkan buku puisi “Sajak-sajak dari Makassar” (1974), “Bulan Luka Parah” (1986), dan “Berenang-renang ke Tepian” (1978). Sementara Sinansari Ecip menerbitkan buku novel “Perjalanan” (1976). Ram Prapanca, selain bersama Pertwi Hasan dan Sinansari Ecip menerbitkan antologi puisi “Ombak Losari”, juga bersama Goenawan Monoharto pada Forum Sastra Kepulauan menerbitkan “Antologi Sastra Kepulauan” (1999), dan “Ombak Makassar” (2000). Selain itu, juga menerbitkan buku puisi “Puisi Sepanjang Karang” (1991), “Berita dari Karaeng” yang isinya antara lain: Sukmauku di Tanah Makassar, Penyair Karang, Aku Laut Aku Ombak. Puisinya berjudul Sebuah Dongeng Untuk Pulang, Jejak Airmatamu Ombak di Dadaku, dan Air Laut Terbang Bersama Dua Matahari dimuat dalam antologi puisi “Wasiat Cinta”. Di bidang seni rupa dapat ditelusuri beberapa pelukis atau perupa yang menggarap dengan obyek laut, di

antaranya Abdul Kahar Wahid, Mike Turusi, Zainal Beta, Beny Subiantoro, Sofyan Salam (lukisan dan fotografi), dan Faisal. Sedang Dicky Candra, Ishakim, dan Firman Djamil pada tema maritim cenderung menggarap seni rupa intalasi (atau seni lingkungan, atau seni rupa pertunjukan). Misalnya ketika Dicky Candra membuat seni rupa instalasi pertunjukan bersama Nurlina Syahrir di Pantai Biringkassi depan Benteng Fort Rotterdam. Sedang Firman Djamil membuat seni rupa instalasi pertunjukan “Mencari Benua Lagaligo” di Benteng Somba Opu (1995) dan di depan Benteng Fort Rotterdam (1996), dan seni instalasi lingkungan berjudul “Chenglong Spiral” di Cheng Long Taiwan (2011). Adapun Ishakim membuat seni rupa instalasi pertunjukan Teater Kita Makassar berjudul “Kavling 2 M2” (1996) di Surabaya, “Songkabala Penghuni Pulau” (1998) di Auditorium RII Makassar dan Pulau Samalona, “The Eyes Of Marege” di Adelaide dan di Sydnei Australia, “Tragos Of Bagang” di halaman Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar. Di bidang seni tari sejak dahulu kala telah tercipta tari tradisional atau klasik yaitu tari “Pakarena Biringkasi” dari Gowa dan Takalar, dan tari “Pakarena Balabulo” dari Selayar. Di era modern, Halilintar Lathief bersama Laboratorium Tari Nusantara mementaskan tari “Pattasi” (1991), dan bersama Balai Pendidikan dan Pusat Kesenian Somba Opu (Badik Pusaka) (1992) mementaskan teater-tari “Bunga Rampai Somba Opo”. Sedang Satriani bersama Makassar Art Moment mementaskan “Tari Kolosal di atas 10 Lepa-lepa” (2010). Adapun Ridwan Aco mementaskan “Perempuan Pada Bagang” (2014). Sedang Nurul Inayah mementaskan “Alekawako” (2013). Nureni Bau Salawati mementaskan “A’Biring Bone” (2015). 137


Di bidang seni musik, beberapa lagu daerah yang sebagian besar tidak diketahui penciptanya atau NN, di antaranya Bombang Tallua, Dongangdongang, Tenggang-Tenggang Lopi, dan Sorong Biseang. Hamrin Samad mementaskan komposisi musik Komposisi Musik “Tu Pa’biring” di Selayar, dan “Ammasili” di Gedung Kesenian Jakarta (2014). Beberapa seniman musik lain yang pernah menggarap tema laut adalah Daeng Basri, Arifin Manggau, Solihing yang bergabung dalam pertunjukan opera I La Galigo yang disutradarai oleh Robert Wilson dan musiknya ditata oleh Prof. Dr. Rahayu Supanggah, S.Kar., juga diinspirasi oleh budaya maritim. Di bidang seni teater, antara lain: teater rakyat “Kondobuleng” yang sering dipentaskan oleh Sanggar Paropo telah berusia sekitar 300 tahun (Fahmi Syariff, 2009). Pada tahun 1985, Aspar Paturusi bersama Teater Makassar mementaskan “Perahu Nuh II”. Rahman Arge bersama Teater Makassar mementaskan “Sang Mandor”. Fahmi Syariff dan Yacob Marala (almarhum) mementaskan “Para Karaeng”, Yoedhistira Sukatanya bersama Sanggar Merah Putih Makassar mementaskan “To’dopuli”. Malhamang Zam-zam bersama Bandar Teater Jakarta mementaskan “Pada Kapak dan Genangan”. Teater Kita Makassar mementaskan “Kavling 2 M2”, “The Eyes Of Marege”, “Pelayeran Menuju Ibu”, “Tragos Of Bagang”, “Genderang Perang di Tanjung Bulang”, dan “Kedatangan Dalam Bungkusan”. Rombongan Sandiwara Petta Puang mementaskan “Perempuan Pesisir”, dan “Pasompe”.

Workshop, Eksplorasi, dan Pementasan Seni Teater Kegiatan workshop dilakukan setelah peserta didik atau mahasiswa mengikuti seminar Eksposisi Peradaban Maritim

138

dan telah terinspirasi ketika mendapat persuasi tentang tokoh-tokoh seniman dan karyanya. Semua data yang mereka peroleh saat seminar eksposisi dan kegiatan persuasi, diidentifikasi dan dipilah untuk kemudian disusun menjadi naskah drama atau teater. Di dalam kegiatan ini, juga kita bisa tampilkan film pertunjukan teater berbasis karakter peradaban bahari-bahari yang telah disebutkan sebelumnya. Penyusunan naskah drama atau teater dilakukan saat workshop bersama guru, dosen, dan instruktur workshop dengan menggunakan beberapa teori, pendekatan dan metode yang telah disebutkan pada landasan teori dan pendekatan. Setelah kegiatan workshop, lalu dilanjutkan dengan kegiatan eksplorasi dengan memilih lokasi pantai yang dapat memberi rangsangan dalam menciptakan karya teater berbasis karakter peradaban bahari-baharu. Beberapa langkah yang bisa ditempuh, anatara lain: Tahap Persiapan/Preparasi, Tahap Perenungan/ Inkubasi, Tahap Iluminasi/Pengolahan, dan Tahap Verifikasi/penilaian. Tahap yang dinantikan ialah pementasan teater berbasis karakter peradaban baharibaharu dalam keindahan kontemporer.

Penutup Kegiatan seminar eksposisi, persuasi, workshop, eksplorasi, latihan teater, dan pementasan teater berbasis peradaban maritim akan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kreativitas peserta didik atau mahasiswa. Sejarah dan budaya BugisMakassar yang ditransmisikan pada kegiatan seminar eksposisi, persuasi, workshop, eksplorasi, latihan teater, dan pementasan teater peradaban maritim akan meningkatkan pengetahuan,


keterampilan dan kreativitas peserta didik atau mahasiswa. nPenurunan proyek-proyek pendidikan dan kebudayaan tidak lagi hanya melayani mainstream pada pembangunan kontinental, tapi berbalik pada proyek-proyek berbasis penciptaan berdasarkan karakteristik lingkungan peradaban maritim. Diharapkan kepada lembaga pendidikan untuk memasukan tema peradaban maritim ke dalam kurikulum. Diharapkan kepada lembaga ini untuk memprogram seminar, dialog, workshop, eksplorasi, latihan dan pementasan kesenian teater berbasis peradaban maritim. Kepada tokoh pendidik, guru, dosen, budayawan, seniman, siswa, dan mahasiswa untuk melakukan rekonstruksi pendidikan seni berbasis lingkungan sosial, budaya peradaban maritim.

Referensi Hamid, Mattulada, Farid, Lopa, Salombe. 2009. Siri’ & Pacce - Harga Diri Manusia Bugis, Makassar, Mandar, Toraja. Makassar: Pustaka Refleksi.

Liamsi, Rida K. 2007. Bulang Cahaya – Sebuah Novel. Pekanbaru: yayasan Sagang. Rahim, Rahman. 1992. Nilai-nilai Utama Kebudayaan Bugis. Makassar: Hasanuddin University Press. Ramli, Asia. 2010. Nilai-nilai Budaya Lokal Makassar dalam Pertunjukan Teater The Eyes Of Marege� Kolaborasi Teater Kita Makassar dengan Australian Performance Exhange. Tesis. Pascasarjana Universitas Negeri Makassar. Syariff. 2009. Kondobuleng: Dari Arena ke Teks. Eksistensi dan Transkripsi Teater Tradisional Bugis - Makassar. Seminar Serumpun IV UNHAS Malaysia 4-5 juli 2009). Wahid, Sugira. 2008. Manusia Makassar. Makassar: Pustaka Refleksi. Yatim, Nurdin. 1991. Pelayaran Teripang Dari Makassar Ke Marege. Makassar: Pemerintah Daerah Propinsi Dati I Sulawesi Selatan.

Hamid, Abu. 2007. Pesan-pesan Moral Pelaut Bugis. Makassar: Refleksi. Hamid, Abd. Rahman. 2010. Spirit Bahari Orang Buton. Rayhan Intermedia: Makassar Kesuma, Andi Ima. 2004. Migrasi & Orang Bugis. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Lathief, Halilintar. 2008. Orang Makassar. Makassar: Padat Karya.

139


Judul

Bekraf Harapkan Tiga Kota Biennale Kenalkan Seni Rupa Indonesia ke Pentas Dunia

Sumber Badan Ekonomi Kreatif RI Tulisan (bekraf.go.id)

140


141


Judul

Tomy Bicara Maritim di Seminar Makassar Biennale 2017

Sumber Pemerintah Kabupaten Bulukumba Tulisan (bulukumbakab.go.id)

142


143


Pameran Seni Rupa Makassar Biennale 2017 Pamerkan Karya 50 Seniman Judul

Sumber Okezone Tulisan (foto.okezone.com)

144


145


Judul

Dua Seniman Muda Residensi di Bulukumba

Sumber Inikata Tulisan (inikata.com)

146


147


Judul

Saat Seni Indonesia Ke Pentas Dunia

Sumber Inikata Tulisan (jurnalindonesia.com)

148


149


Judul

Makassar Biennale 2017: Dalam Secara Narasi, Luas dalam Partisipasi

Sumber Koalisi Seni Tulisan (koalisiseni.or.id)

150


151


Judul

MB 2017, Ajang Seni Rupa Dua Tahunan di Makassar

Sumber Tribun Timur Tulisan (makassar.tribunnews.com)

152


153


Judul

Makassar Biennale Kembali Digelar, Kali Ini Bertema Maritim

Sumber Tribun Timur Tulisan (makassar.tribunnews.com)

154


155


Judul

Pameran Karya Seni di Makassar Biennale 2017

Sumber Tribun Timur Tulisan (makassar.tribunnews.com)

156


157


Penutupan Makassar Biennale 2017 di Baruga Colli Puji'e FSD UNM Judul

Sumber Merahnews Tulisan (merahnews.com)

158


159


Judul

Komik Dato Tiro Dipamerkan di Makassar Biennale 2017

Sumber Rakyatku News Tulisan (newsrakyatkucom)

160


161


Judul

Ajang Seni Rupa International Akan Hadir di Makassar Biennale

Sumber Lembaga Pers Mahasiswa UNM Tulisan (profesi-unm.com)

162


163


Judul

Arts Biennale programs to be held in three cities

Sumber The Jakarta Post Tulisan (thejakartapost.com)

164


165


Judul

Makassar Biennale 2017 Angkat Tema Kemaritiman

Sumber Tribun jakarta Tulisan (tribunnews.com)

166


167


168


169


ucapan terima kasih


sponsor utama

172


ukm

173


media partner

174


Makassar Biennale 2017: MARITIM © Yayasan Makassar Biennale Kurator NIRWAN AHMAD ARSUKA TIM MANAJEMEN Direktur ANWAR ‘JIMPE’ RACHMAN Penasihat NURABDIANSYAH MUH. FAISAL. MRA IRFAN PALIPPUI ARHAM RAHMAN Divisi Keuangan NUR WAHIDAH DIANITA RUSLI Divisi Humas & Komunikasi ANDI HAMINA ANDI NURUL UTAMI IRWAN IKHSANUL TAJUDDIN Divisi Desain, Dokumentasi, dan Publikasi ADE AWALUDDIN FIRMAN FARID WAJDI SULAEMAN M NUR RAHMAT ABDUH AZIZIAH DIAH APRILIYA NURUL MUTIA A IBE M PALOGAI Divisi Kesekretariatan MUHAMMAD IQBAL BURHAN NURASIYAH Divisi Perlengkapan AHMAD MUSAFIR ARFAN RAHMAN FAHMI FIRDAUS

Divisi Umum FAUZAN AL AYYUBY RAFSANJANI MUHAMMAD ARFANDY RAUF RUSTAM ALWI EKHA NURUL HUDAYA ANSHAR KENNA DAHLAN Divisi Pameran, Marchandise, Workshop FITRIANI A DALAY JALALUDDIN RUMI ANDI ARISKA APRIANTY ADWIYATI TRIPUTRI RAHMAT RANING Supervisor Pameran DODY YUSDIANTO


Profile for Tanahindie

Makassar Biennale 2017 "Maritim"  

DENGAN menetapkan tema abadi “Maritim”, Makassar Biennale (MB) 2017 seperti membebaskan diri dari beban yang selama ini ditanggungnya—sebaga...

Makassar Biennale 2017 "Maritim"  

DENGAN menetapkan tema abadi “Maritim”, Makassar Biennale (MB) 2017 seperti membebaskan diri dari beban yang selama ini ditanggungnya—sebaga...

Advertisement