Page 1

Edisi 03, Januari 2018

Program Anak Muda dan Kota/ Youth and City merupakan program workshop/lokakarya penelitian dan penulisan dengan melibatkan anak muda Indonesia di Makassar, berusia 17-21 tahun sebagai satu langkah mengenal lebih dalam kota yang mereka tinggali. Rangkaian program ini untuk mengajukan pikiran kalang­an muda dalam melihat kota—dalam bentuk tulisan, karya seni rupa, dan bentuk lain—sebagai upaya menyuarakan pendapat mereka tentang kota yang manusiawi. (Foto: Ibe M Palogai)


Review T “Anak Muda dan Kota” Oleh: Rafsanjani

Lokakarya Meneliti dan Menulis di beranda Kampung Buku Foto: Ibe M Palogai Dok: Tanahindie

anahindie bekerja sama dengan Arts Collaboratory dan Stichting Doen kembali menjalankan program ketiganya, yaitu pelatihan penelitian dan penulisan “Anak Muda dan Kota” atau “Youth and City”, proyek untuk anak muda melihat kota. Program ini merupakan bagian dari proyek “Halaman Rumah”, setelah program pertamanya, yakni penelitian dan penulisan buku “Halaman Rumah/Yard” dengan berupaya membahas halaman rumah dari beragam ranah dan latar individu, kedua, kelas dan praktik kekriyaan Bom Benang 2017 “Benang dan Sungai” bekerja sama dengan komunitas Qui-qui Makassar dan The Ribbing Studio.* Setelah pendaftaran calon peserta penelitian dan penulisan Anak Muda dan Kota (AMdK) dibuka sejak 18 Desember 2017 sampai 10 Januari 2018 pendaftaran ditutup, kemudian dilanjutkan ke tahap wawancara calon peserta yang digelar selama dua hari, tepatnya (13-14 Januari): merupakan tahap pertama calon peserta bercerita mengenai rencana dan keinginan mereka untuk ikut dan menjadi peserta kelas meneliti dan menulis tentang kota. Akhirnya, terpilih 15 peserta dari 17 peserta pendaftar yang berhak melanjutkan dan menjadi peserta kelas pelatihan penelitian dan penulisan. Kelas perdana atau perkenalan peserta dengan teman-teman Tanahindie berlangsung pada tanggal 20 Januari di beranda Kampung Buku: bertukar cerita pengalaman bersama, menonton video dokumentasi program pertama “Halaman Rumah”, dan dilanjutkan dengan presentasi rencana penelitian masing-masing peserta, kemudian didiskusikan bersama. Kelas perdana ini dihadiri oleh 14 peserta pelatihan penelitian dan penulisan, terdiri dari tujuh perempuan dan tujuh laki-laki. Sebelum peserta mempresentasikan objek penelitiannya, teman-teman dari Tanahindie berbagi cerita dan pengalaman dalam melakukan penelitian dengan metode atau cara yang diterapkan selama ini. Dengan mengambil contoh dari penelitian Halaman Rumah sebelumnya: sebagai pemandu dalam meneliti hal-hal terkecil atau terdekat di sekitar kita, dimulai dari rumah/halaman rumah. Dalam 2/Yard


penuturan Anwar Jimpe Rachman, “meneliti tentang kota dimulai dari hal-hal terkecil yang ada di sekitar. Kami berbicara mengenai Halaman Rumah, karena kami merasa persoalan kota dimulai dari rumah yang merupakan struktur terkecil dari kota.” Seiring dengan hal tersebut, Ibrahim atau Kak Bram sapaan akrabnya, menambahkan bahwa “pada dasarnya yang kita lakukan selama ini dalam melakukan penelitian adalah mengangkat pengetahuan dari warga dan menciptakan narasi melalui praktik lapangan dengan berinisiatif untuk melakukan reproduksi pengetahuan atau berdaulat informasi.” Pada pertemuan kedua yang kembali digelar di beranda Kampung Buku, sebelumnya setiap peserta diberi jeda selama lima hari untuk ke lapangan (sesuai dengan objek penelitian masing-masing) melakukan pengamatan maupun wawancara—dituangkan dalam bentuk tulisan kemudian dievaluasi bersama pada pertemuan berikutnya. Setiap peserta mempresentasikan tulisannya melalui layar monitor, dan peserta lainnya diberi kesempatan untuk menambahkan hal-hal yang dianggap perlu untuk dieksplorasi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan maupun catatan-catatan penting untuk dibawa kembali ke lapangan. Melalui cara ini kelas menjadi interaktif, dengan melakukan pertukaran percakapan dari masing-masing masukan maupun tanggapan setiap peserta. Dari beberapa objek penelitian yang diangkat dari masing-masing peserta, salah satunya mengenai “Lahan Tani di kota”, penelitian ini dilakukan oleh Ahmad Teguh Saputro, salah satu peserta pelatihan penelitian dan penulisan AMdK. Hasil pengamatan awal yang dilakukannya dikedua lokasi yang berbeda, dalam tulisannya menggambarkan keberadaan lahan pertanian di tengah kota, berada di

antara deretan rumah warga yang berlokasi di Kompleks CV Dewi, Kecamatan Panakukang dan di Jalan Dr.Leimina, Antang, Makassar. Dalam wawancaranya bersama Daeng Sitti, perempuan berumur 47 tahun ini merupakan seorang petani penggarap di Kompleks CV Dewi, menceritakan bahwa hampir setiap tahun Dg. Sitti menanam padi di lahan berukuran empat petak, hanya saja pada tahun 2018 ini, tanaman padinya gagal panen dikarenakan curah hujan tinggi yang mengakibatkan lahan sawahnya tergenang air. Kelas terakhir bulan Januari atau pertemuan ketiga kelas meneliti dan menulis kembali meng­ evaluasi tulisan masing-masing peserta. Cara atau model kelas yang sama dilakukan pada pertemuan kedua. Setelah evaluasi tulisan selesai, kemudian dilanjutkan pemutaran Gerobak Bioskop Dewi bulan; menonton bersama dan bincang-bincang film dokumenter “Pejuang Dari Gua Purbakala” karya dari sutradara Nurtaqdir Anugrah/Abel dan M.Fahmi Iskandar/Fahmi. Pemutaran dan Bincang Film Dokumenter “Pejuang Dari Gua Purbakala” Pemutaran film dokumenter “Pejuang Dari Gua Purbakala” merupakan rangkaian kegiatan kelas meneliti dan menulis AMdK yang diadakan di beranda Kampung Buku. Pemutaran dan diskusi film ini diikuti 18 orang, terdiri dari peserta dan tim kerja program AMdK. Dalam sesi bincang-bincang, setelah film berdurasi kurang lebih 23 menit selesai diputar, Nurtaqdir Anugrah, sang sutradara berbagi cerita dan pengalaman dalam proses penelusuran—pengerjaan film dengan melibatkan akademisi dari beragam disiplin ilmu, diantaranya; dari arkeologi, kehutanan, dan hukum untuk membantu bahan 3/Yard

penelitian. Film dokumenter ini merekam sebuah kawasan gugusan karst di Maros yang sebagian kekayaannya sudah hilang dan sebagian lainnya terancam punah akibat eksploitasi pertambangan. Sebelumnya pernah terjadi penerbitan izin tambang di Bulu Barakka, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa dan di kawasan gugusan karst lainnya yang merupakan kawasan situs peninggalan purbakala. De­ ngan melihat hal ini, sekelompok masyarakat mencoba mencari cara dan melakukan advokasi untuk melakukan perlindungan kawasan karst tersebut. Gugusan karst Maros merupakan gugusan karst terbesar kedua di dunia setelah gugusan karst di Cina. Selain memiliki fungsi ekologi bagi kehidupan masyarakat dan spesies endemik yang hidup di sekitarnya, tak kalah pentingnya, gugusan karst tersebut juga menyimpan situs penting, berupa “lukisan dinding gua” berusia ratusan ribu tahun. Misal, gambar telapak tangan, ikan, dan anoa, masyarakat setempat menyebutnya gambar To riolo yang merupakan artefak penting bagi catatan peradaban dunia. Film yang disutradarai oleh Nurtaqdir Anugrah dan M.Fahmi Iskandar ini merupakan film yang masuk nominasi film dokumenter pendek terbaik Piala Citra 2015 dan Nominasi Film Terbaik The First Golden Tree International Documentary Festival (2016). *Setiap akhir pekan, peserta kelas meneliti dan menulis AMdK kembali bertemu di beranda Kampung Buku untuk mengeksplorasi dan mengavalusi bersama tulisan masing-masing peserta. Program Pelatihan Penelitian dan Penulisan AMdK berlangsung Januari hingga Juli 2018.


Merupa B Kesenian Makassar Oleh: Jalaluddin Rumi

erawal dari inisiatif oleh ‘Teman Bermain’ mencari bahasan yang menarik untuk dieksplorasi di Makassar, maka muncullah tawaran bincang rupa. Teman Bermain sebagai ruang yang dimanfaatkan untuk gelaran bincang rupa tersebut—ruang bagi teman-teman untuk berkesenian, atau melakukan kegiatan-kegiatan kreatif, bukan hanya tempat sekadar ngopi. Di ruang ini pula, tumpukan gagasan bersama di Laboratorial Space sebagai ruang karsa dan pustaka kesenirupaan di Makassar bertemu di titik ini, membincangkan kesenian dan kebudayaan Makassar sebagai pertemuan titik-titik kultural Sulawesi Selatan. Dalam acara bincang rupa, pembicara dan moderatornya akan dipilih dari teman-teman yang punya bacaan dan pengalaman terkait disiplin ilmu masing-masing, agar wacananya lebih luas dalam mengonsepkan sebuah karya. Rupa Makassar dalam Seni Rupa Indonesia

Bincang Rupa #3 bertopik "Jika Estetika & Seni Berdialog tentang Kebudayaan" di beranda Teman Bermain (Selasa, 6 Februari 2018)

Dok: Teman Bermain

Dalam Bincang Rupa pertama bertema “Rupa Makassar dalam Seni Rupa Indonesia” diadakan pada tanggal 3 Desember, 2017 di Beranda Kafe Teman Bermain. Menghadirkan Abdi Karya dan Anwar ‘Jimpe’ Rachman sebagai pembicara, sedang Suherman selaku moderator. Bentangan peristiwa kesenirupaan kemudian dipaparkan oleh Kak Abdi sebagai pembicara pertama, menilik kembali perjalanan awalnya di Makassar yang selalu berbarengan dengan model edukasi. Dilanjutkan Kak Jimpe, setelah gelaran kedua Makassar Biennale, mencoba mewacanakan perspektif kemaritimannya dalam format biennale di Indonesia bersama Jakarta Biennale dan Biennale Jogja untuk melihat 4/Yard


posisi Indonesia di Seni Kontemporer Dunia, melemparkan wacana untuk kerja kolaborasi demi membangun wacana seni rupa di Makassar, mengisi titik-titik yang belum muncul di Makassar. Maka selanjutnya menjadi fokus bersama dengan perspektif masing-masing adalah lanjutan gelaran ketiga Makassar Biennale, seperti apa layaran maritim yang ditawarkannya. Tentang Seniman dan Seni itu Apa? Kata bincangannya bahwa yang seperti inilah diperlukan di Makassar, sempitnya ruang di kampus untuk mewacanakan sedemikian, menjadikan ruang semacam ini semakin penting di seni kontemporer Indonesia. Hadir kebanyakan adalah teman-teman dari mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Unismuh dan UNM. Muh. Faisal selaku pembicara mengawali dengan mengaitkan masing- masing pengalaman estetis manusia sebagai gambaran visual kultural di tiap daerahnya, sehingga berbentuk kesenian yang khas pula antara satu dengan lainnya. Menyodorkan pertanyaan mendasar mengenai kenapa kita mesti berkesenian

di mana seniman juga adalah presenter kebudayaan oleh Budi Haryawan, pembicara kedua. Ditengahi oleh Rahmat Syarif, selaku moderator, menanyakan bagaimana pula kalau karya dari seniman diperjualbelikan demi kebutuhan dasar manusia, di mana peran seniman di dunia yang tak bisa lepas dari wilayah kalkulatif. Mau dibawa ke mana seni khususnya di Makassar dan bagaimana seniman meresponnya, menjadi bincangan penutup. Jika Estetika dan Seni Berdiaog tentang Kebudayaan Meski sekisar satu jam ditunda karena deras hujan, teman-teman dari Rumah Aksara, Kampung Buku, ISBI, UNM, juga temanteman yang membawa namanya sendiri, akhirnya juga berkumpul di awal Bincang Rupa ketiga. Muhammad Ridha, selaku pembicara memulai dengan bagaimana meng­ iring seni kemudian diarahkan untuk kepentingan dan demi rakyat. Disandingkan kemudian, pembebasan manusia untuk berkreasi melalui seni dan menentukan arahnya sendiri, lanjut Faisal Syarif, pembicara kedua. Sempat

juga diperjelas dengan datangnya Kak Jimpe, bahwa antara sosialis dan kapitalis sebagai wajah Lekra dan Manikebu, hanyalah alat yang mesti kita fleksibelkan sebagai manusia yang semestinya mampu memilih tanpa terjebak definisi di antara keduanya, juga tentang menikmati karya seni sebagai daya akal untuk merasakan visual dari karya. Berlangsung seperti sebelumnya kurang lebih tiga jam, itupun karena diingatkan oleh Indra A. Batara selaku moderator, sebagai bincangan penutup dengan menawarkan bacaan yang lebih dalam tentang sejarah kebudayaan kita sendiri. Sehingga, bagaimana seni mampu membebaskan kita merupakan tawaran atau perspektif lain untuk melanjutkan arah kebudayaan kita. Sedang perlu juga dipahamai bagaimana mudahnya seni ditunggangi oleh berbagai pihak dalam aneka bentuknya. Dengan mengkaji bagaimana model estetika dan seni kita di Makassar menarik untuk ditindaklanjuti sebagai tawaran terkait model kesenian dan kebudayaan kita kini.

Simak Dokumentasi Video Penelitian "Anak Muda dan Kota" di kanal Yutube Tanahinide Inc di tautan: https://goo.gl/Qye95e

5/Yard


KBJamming K Vol. 20: Panggung Musik Mikro dan Keintiman Khas Rumah

BJamming merupakan helatan microgigs yang diadakan oleh Kedai Buku Jenny sejak 2013 dan selalu menghadirkan ruang presentasi karya band maupun project musik asal Makassar. KBJamming sejak awal juga dirancang agar menjadi ruang diskusi, berbagi gagasan dan cerita tentang berbagai persoalan atau fenomena yang terkait dengan tema besar Musik dan Kota. KBJamming kali ini mengangkat tema Panggung dan Sastra. Tema ini sengaja dipilih sebagai pernyataan atas fenomena (kembali) lahirnya karya-karya musik berkualitas yang hirau terhadap sastra dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik sebagai mediumnya. Sekadar mengambil beberapa contoh, tahun-tahun terakhir misalnya pendengar musik di jalur independen dibuat takjub dengan karya Barasuara dalam album Taifun, AriReda yang telah lama melahirkan karya berkualitas tinggi dengan menyadur puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, FSTVLST di album HitsKitsch dan banyak lagi yang lainnya. Kemajuan ini bagi kami sangat mungkin dijadikan sebagai momentum dan sekaligus sebagai alat untuk secara serius memperkenalkan dan membumikan sastra kepada generasi milenial. Dan karena alasan tersebut, KBJamming kali ini menginisiasi sesi diskusi yang mengangkat topik Menyanyikan Sastra. Sesi diskusi yang dimulai pada pukul 16.20 Wita mengawali helatan KBJamming kali ini. Diskusi ini

Oleh: Zulkhair Burhan Kedai Buku Jenny, 11 Februari 2018 Suasana teras Kedai Buku Jenny, Kompleks Wesabe C17 dalam helatan KBJamming Vol. 20 (Rabu, 7 Februari 2018) Dok: Kedai Buku Jenny

6/Yard


Penampilan musik WaktuLuang, AkarBeton dan RuangBaca Foto: Ahmad Aufar | Dok: Kedai Buku Jenny

dimulai dengan elaborasi mengenai sastra dan anak muda milenial oleh Rachmat Hidayat Mustamin, seorang penulis dan pekerja film independen yang beberapa waktu lalu terpilih menjadi salah satu Emerging Writer di ajang Ubud Writers Festival 2018. Pemaparan berikutnya dilanjutkan oleh Runi Virnita Mamonto atau yang lebih akrab dipanggil Viny. Sebagai salah satu personil duo folk Ruang Baca, Viny menjelaskan latarbelakang tren band atau project musik yang menghasilkan karya yang dianggap nyastra. Dalam salah satu pemaparannya, manajer Kapal Udara ini menjelaskan bahwa geliat literasi di berbagai lini saat ini ikut berkontribusi cukup besar terhadap lahirnya karya-karya musik yang tidak hanya berkualitas secara musikal namun juga secara serius mengusung nuansa sastrawi di dalam karya. Setelah sesi diskusi, KBJamming menyuguhkan tiga presentasi project musik yaitu WaktuLuang, AkarBeton dan RuangBaca. Tiga project ini sengaja dipilih untuk mempresentasikan karyanya yang kami anggap sebagai representasi fenomena berkembangnya karya musik yang sastrawi. D i ke s e mp at an p e r t ama , ­WaktuLuang mempresentasikan

dua karya yaitu Tasbih Air Mata milik The Sao, serta Gerhana yang bercerita tentang buruh pabrik. WaktuLuang sendiri merupakan project musik bergenre folk ballads yang digawangi oleh Ade Awaluddin Firman a.k.a Aden, seorang musisi yang besar di UKM Seni UMI dan sehari-hari aktif di Tanahindie. Setelah WaktuLuang, giliran AkarBeton yang membawakan beberapa cover lagu berbahasa Indonesia baik seperti Senyum Membawa Pesan milik Mustache and Beard serta Katjie & Piering karya Zsa Zsa Zsu. AkarBeton yang dihuni oleh Komang Ade Saputra (gitar dan vocal), Muh. Ananda Maronie (gitar) dan Fuad Maulana (cajon/drum) sendiri merupakan project musik yang terbentuk sejak tahun 2017 dan mulai menyanyikan kembali karyakarya band Indonesia yang tidak begitu banyak dikenal khalayak sambil menyiapkan materi album perdana mereka. Penampilan trio folk AkarBeton sore itu semakin lengkap dengan suara biola dari Rafiat Arya Fitrah dari Secangkir Berdua. KBJamming ditutup dengan penampilan manis Viny dan Ale dari RuangBaca yang membawakan beberapa nomor lazim seperti Diam-Diam dan Terbangnya Bu7/Yard

rung yang selalu disambut koor massal serta dua karya baru yang menjadi materi di album perdana project musik KataKerja ini yaitu Dongeng dan Di Belantara Kata. Terbangnya Burung yang menjadi penutup penampilan duo pustakawan KataKerja ini mengajak kembali Arya untuk berkolaborasi. KBJamming kali ini terbilang cukup istimewa bagi kami di Kedai Buku Jenny. Pertama, karena helatan ini tak terasa telah menginjak volume ke-20 semakin istimewa karena KBJamming volume kali ini merupakan rangkaian kegiatan Festival Menu7uh untuk mera­ yakan ulang tahun ketujuh Kedai Buku Jenny Februari ini. Dan yang tak kalah membahagiakan karena akhirnya program tertua di KBJ ini kembali bisa dihelat di garasi sendiri setelah beberapa volume terakhir diadakan di Kampus Unhas. Helatan ini memang sejak awal berkonsep microgigs rumahan karena bagi kami aura rumah selalu membawa keintiman dan kehangatan seperti yang kami rasakan dan nikmati sesaat menuju senja di Rabu kemarin. Panjang umur inisiatif rumahan.


Perkawinan Bugis Susan Bolyard Millar xxv + 288 hlm | ISBN: 978-602-95231-3-3 Cetakan kedua, Maret 2018 Penerbit: Ininnawa Buku ini merupakan satu-satunya penelitian serius, mendalam, dan menyeluruh tentang pesta pernikahan Bugis. Kita dibawa menggeledah beragam makna di balik pesta megah, ritus-ritus yang mengiringi ritual panjang pernikahan, serta segala perilaku dan bentuk negosiasi antaraktor dalam prosesi tersebut. Tak lupa, menelisik aspek-aspek sosial-politik yang tersurat di baliknya. Di sini kita tidak hanya mendapatkan abstraksi yang berlangsung di dalam pernikahan Bugis. Tapi juga dibentangkan lukisan rinci tentang ruang, adegan hingga percakapan. Buku ini mendedah tata ruang aula pesta, ritual, hingga teks undangan pernikahan Bugis yang penuh dengan simbol-simbol politis yang berjalin di alam pikiran orang Bugis.

Halaman Rumah/Yard Anwar Jimpe Rachman, et al x + 183 hlm | ISBN: 978-602-99866-6-2 Cetakan Pertama, Oktober 2017 Penerbit: Tanahindie Press Pekarangan membentuk kebudayaan—sebagai jembatan antara hutan dan pertanian. Dalam konteks kebudayaan agraris, keduanya tak terpisahkan sebagai suatu mata rantai (budaya) agraris. Pelan-pelan, dalam suatu rentang waktu, pekarangan diwariskan, dibagi, dan diperjualbelikan Pekarangan lantas menjadi halaman rumah; menjelma sisa-sisa dari dominasi rumah atas pekarangan. Halaman rumah pun menjadi tanda kehadiran urbanisme. Halaman rumah adalah orientasi arsitektural orang Indonesia. Ia menjadi sebentuk pengertian yang luas dalam alam pikir mutakhir Nusantara—sebagaimana buku ini memulung beberapa perspektif yang nostalgis hingga praktis dari Flores., Makassar, Solo, Yogyakarta, dan beberapa tempat lainnya. Halaman bisa menjadi ruang ekspresi, berfungsi sebagai panggung, lanskap, ruang produksi, hingga ranah pertukaran gagasan.

Intervensi Dalam Pekerjaan Sosial DR. Iskandar, M.Si viii, 154 hlm | ISBN: 978-602-61769-2-9 Cetakan Pertama, November 2017 Penerbit: Ininnawa Intervensi Sosial dalam kegiatan Pekerjaan Sosial menjadi satu kesatuan konsep yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan dalam praktik dan pengembangan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Untuk mewujudkan kesatuan tersebut, peran pekerja sosial melalui keterampilan intervensi sangat diharapkan. Pada dasarnya, peran ini selalu mengarahkan kegiatannya pada persoalan campur tangan terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi individu, kelompok, komunitas, atau masyarakat. Buku yang membedah detail tentang segala sisi tentang kesatuan hingga tahap-tahapnya penting menjadi panduan bagi mahasiswa, kalangan akademik, dan para pegiat sosial. Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis Muhlis Hadrawi viii + 219 hlm | ISBN: 978-979-98499-6-0 Cetakan Kelima, Juni 2017 (Edisi Revisi) Penerbit: Ininnawa Assikalaibineng adalah susunan pengetahuan seks nan indah dan anggun yang dipraktikkan masyarakat Bugis dan Makassar dan diabadikan dalam lontara’ dan tersebar di banyak pelosok Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Inti ajaran Assikalaibineng mencakup konsep hubungan seks, pengetahuan alat reproduksi, tahap hubungan seks, teknik rangsangan, doa dan mantra seks, gaya cumbuan dan persetubuhan, teknik sentuhan sensual perempuan, penentuan jenis kelamin anak, pengendalian kehamilan, waktu baik dan buruk berhubungan, tata cara pembersihan tubuh, hingga pengobatan kelamin. Assikalaibineng di tangan Anda ini adalah edisi revisi. Di dalamnya dilengkapi pula lontara’ kutika, konsep astrologi masyarakat Bugis yang disebut memiliki keterkaitan dengan seksualitas dan segi hidup lain manusia.


Karaeng Besse, Si Gadis dari Punranga Windah Makkarodda viii + 208 hlm | ISBN: 978-602-99866-2-9 Cetakan Pertama, November 2017 Penerbit: Tanahindie Press Tahun keempat pernikahannya, suaminya dipecat dari tempat kerja, tabungan nol rupiah, 14 orang penghuni rumah yang butuh makan, dan dia menderita penyakit jantung ketika usianya baru 21 tahun. Karaeng Besse, seorang gadis dari Punranga, putus sekolah karena masa pemberontakan DI/ TII yang membuatnya harus angkat kaki dari tanah kelahiran bersama seluruh keluarganya. Tidak ingin anak-anaknya bernasib seperti dirinya, Karaeng Besse senantiasa menyisihkan uang belanja dari suami dan menjadikannya modal berbisnis dari kopi, jagung hingga cengkeh. Bermodal kepercayaan, Karaeng Besse dan suaminya bangkit dari keterpurukan dan selama kurang lebih 40 tahun jatuh bangun demi mengantar kesebelas anaknya mengenyam pendidikan hingga satu di antaranya meraih gelar profesor. Agama Pribadi dan Magi di Mamasa, Sulawesi Barat Kees Buijs viii + 199 hlm | ISBN: 978-602-61769-0-5 Cetakan Pertama, Juli 2017 Penerbit: Ininnawa Dalam “Agama Pribadi dan Magi di Mamasa, Sulawesi Barat”, Kees Buijs menguraikan bagian-bagian agama dan kebudayaan tradisional orang Toraja yang makin ditinggalkan dan dilupakan. Kees mengarahkan penjelasannya pada penghayatan agama secara pribadi yang berpusat di dapur setiap rumah, terutama di dalam rumah tradisional. Tak kalah menarik, di dalamnya pula, Kees menelisik dan mengurai bagaimana berkat dewa-dewa demi kehidupan juga didapatkan dari rangkaian kata magis dan batu istimewa nan bertuah—yang diperoleh dengan berbagai cara dan di waktu khusus, yang dipercaya ketika bumi dan langit sedang ‘bersatu’. Buku ini memberi penjelasan tambahan yang sangat penting dari untuk karya Buijs sebelumnya “Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit” (Ininnawa - KITLV Jakarta, 2009).

Dinamika Masyarakat Tani Darmawan Salman vi + 93 hlm | ISBN: 978-602-61769-1-2 Cetakan Pertama, Oktober 2017 Penerbit: Ininnawa Sebelum abad keempat belas, sebelum Belanda ke wilayah Nusantara, sistem agribisnis sudah berkembang pesat di tanah air. Di kawasan Maluku dan Sulawesi telah berkembang komoditas rempah-rempah oleh petani setempat, yang perdagangannya melibatkan pendatang dari Arab, Portugis, India, dan pedagang dari Nusantara sendiri. Apa yang terjadi pada bangsa di Nusantara ketika agribisnis berjaya di masa lalu? Jawabannya: involusi. Konsep ini diberikan Geertz (1963) tentang fenomena perkembangan pertanian sebagai fenomena tatkala pertanian seakan-akan tumbuh-berkembang, tetapi sebenarnya jalan di tempat. Karya Darmawan Salman ini menguak tentang bagaimana dinamika masyarakat tani di Nusantara dari masa ke masa—dari masa revolusi hijau pada masa Orde Baru hingga bentangan waktu setelahnya. Adakah perubahan di dalamnya?

Kontak Pemesanan Books, Merchandise, and Art Stuffs Jalan Abdullah Daeng Sirua, No. 192E (Kompleks CV Dewi, Samping Kantor Lurah Pandang, Panakkukang)

BUKA SETIAP HARI, jam 11:00 s/d 22:00 WITA. Minggu, jam 12:00 s/d 23:00

WA: 0856 5668 1100 Email: distribusiininnawa@gmail.com Twitter: @kampung_buku Instagram: @kampungbuku Website: ininnawa.com Bukalapak: bukalapak.com/u/jualind Tokopedia: tokopedia.com/kampungbuku


Ruang L Ketemu: Lapak Baca dan Kelas Kreatif Oleh: Ekha Nurul Hudaya

Foto bersama, Lapak Baca dan Kelas Kreatif di bangsal buruh bangunan, Permata Sudiang Raya. Dok: Ruang Ketemu

ima bulan yang lalu, tepatnya sejak 24 September 2017, “Ruang Ketemu” lahir dan menjadi sebuah gerakan inisiatif—siapapun bisa menjadi fasilitator. Kegiatan ini didasari atas kesediaan diri, tanpa ikatan, kontrak, ataupun hal struktural lainnya. Teknisnya, setiap satu item kegiatan ditanggungjawabkan oleh orang yang bersedia menjadi fasilitator. Ruang Ketemu sendiri diinisiatif oleh Nurasiyah serta digiati oleh ‘teman ketemu’ dari berbagai jurusan dan universitas di Makassar. Oleh beliau, Ruang Ketemu digagas menjadi lapak baca bergerak dan kelas kreatif. Sebenarnya lapak baca bergerak bukanlah sesuatu yang baru dan Ruang Ketemu hadir atas kegelisahan yang sama dengan teman-teman dari komunitas literasi. Meski Ruang Ketemu sendiri tidak menyebut diri sebagai komunitas, tapi gerakan. Untuk itu gerakan ini mencoba untuk membuat ruang di tengah keterbatasan. Ruang harus bisa dibuat di mana saja. Soal lapak baca bergerak, semua buku untuk saat ini merupakan koleksi pribadi atau juga sumbangan sampai titipan. Namanya bergerak, jadi lapak baca ini akan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Untuk sesi kelas kreatif, diadakan di satu lokasi dan waktu yang sama dengan lapak baca. Ada berbagai kelas kreatif yang berbeda setiap pekannya. Jadi siapa pun boleh mampir membaca buku yang tersedia, atau jika sedang kurang bersemangat dan tertarik berkreasi, bebas untuk mengikuti kelas kreatif saat itu juga. Kelas kreatif tiap pekannya akan berbeda, tergantung inisiatif dari teman ketemu yang bersedia menjadi fasilitator. Seperti kelas merajut, buku catatan buatan tangan, scrapping, menggambar dan sebagainya. Kelasnya boleh apa saja, sesuatu yang produktif atau membuat sesuatu dengan bahan yang dapat diperoleh dari sekitar, dan dilakukan di waktu luang. Setiap satu periode program atau sekisar sebulan sekali, teman ketemu akan mengadakan meet up alias pertemuan. Guna pertemuan ini adalah 10/Yard


Lapak Baca dan Kelas Kreatif yang digelar Ruang Ketemu di Kampus UNM Parantambung, Pelataran Pinisi Universitas Negeri Makassar dan bangsal buruh bangunan Permata Sudiang Raya Dok: Ruang Ketemu

untuk mempererat simpul pertemanan, evaluasi prog­ram, serta membica­ rakan teknis lapak baca di lokasi selanjutnya. Pada periode program beberapa bulan sebe­ lumnya, Ruang Ketemu mengadakan lapak baca bergerak dan kelas kreatif di berbagai kampus yang berbeda. Seperti di minggu pertama yang diadakan di Kampus UNM Parangtambung, lapak baca dan kelas membuat notebook difasilitasi oleh (@cixii_)­“Handmade Ceria”, minggu kedua sampai kelima, lapak baca digelar di kampus lain dengan kelas kreatif yang bermacam-macam pula. Bisa juga Ruang Ketemu berkolaborasi—seperti sebelumnya dengan Teman Bermain mengadakan kelas buku catatan. Program Ruang Ketemu untuk mengawali tahun ini, bergerak ke satu permukiman di Permata Sudiang Raya untuk lapak baca anak. Tepatnya, di bangsal buruh bangunan yang berdiri kontras di sebelah rumah-rumah besar di Permata Sudiang Raya. Di sini, ada banyak anak-anak usia sekolah dasar. Beberapa dari mereka belum bisa membaca dengan lancar bahkan belum bisa sama sekali. Tapi Alhamdulillah, anak-anak sangat antusias setiap menyambut buku. Namun, buku-buku yang tersedia masih terbatas untuk setiap anak. Sampai bulan Maret mendatang, Ruang Ketemu membuka lapak baca anak dan kelas kerajinan tangan setiap 11/Yard

Minggu sore. Biasanya banyak yang bertanya-tanya termasuk melalui Direct Message Instagram @ruangketemu mengenai bagaimana cara untuk bergabung atau ikut kegiatan Ruang Ketemu. Syaratnya adalah pertemuan. Semua teman yang mampir ke lapak baca dan kelas kreatif boleh bergabung. Setiap lapak baca yang berpindah-pindah, akan selalu ada perkenalan dengan teman-teman baru dan juga hal-hal baru. Sekadar informasi, Ruang Ketemu kadang juga mengisi booth di eventevent kampus. Silakan diikuti instagramnya untuk dapat info teranyar (atau juga mengundang Ruang Ketemu ke event kalian). Oh iya, adik-adik kita di bangsal buruh bangun­ an masih membutuhkan banyak buku untuk anakanak. Jika punya koleksi buku anak yang bisa disumbangkan boleh sekali, kok. Akhirul kata, mari kita doakan panjang umur Ruang Ketemu meski sedang tak berulang tahun!


Pameran S ‘Memaknai Makna’ Oleh: Rafsanjani

Karya-karya yang dipamerkan di Rumata' Art Space (20-22 Januari 2018)

Foto: Febriawan Djalil dan Rafsanjani

uatu gelar karya Seni Rupa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar yang diadakan di Rumata’ Art Space, Jalan Bontonompo Nomor 12 , menghadirkan 5 perupa mahasiswa tingkat akhir Jurusan Pendidikan Seni Rupa. Merekalah Asrul Amin S, tentang karya ilustrasi “Keistimewaan Perempuan”, Aminah, dengan karya paper cutting “Ekologi dan Ekosistem”, Disman, dengan karya kaligrafi kayu pada objek “Hewan”, Sri Wahyuni, dengan karya keramik pada objek “Floral”, dan Lisa Hardianti, dengan media pahat “Dibalik Pahatan Kayu”. Total 39 karya yang dipajang di pameran yang dikuratori oleh Hasbullah Mathar ini. Pada pameran bertema “Memaknai Makna”, ada empat karya seni kriya dan satu karya seni ilustrasi yang ditampilkan sebagai suatu proses yang harus dilalui sebelum tahap penyelesaian studi (menyusun skripsi). Karya yang dipamerkan, dalam prosesnya melalui tahapan konsultasi dan presentasi kepada pembimbing, kemudian mencari dosen sebagai kurator untuk melakukan bimbingan karya dan mengkuratori pameran. Dalam petikan catatan kuratorialnya yang terpajang di dinding sebelah kanan, berdekatan pintu keluar ruang pameran, seperti ini “karya seni apapun tidak akan pernah bekerja sebagai seni kalau belum bertemu dengan siapa yang harus menyaksikan sekaligus memaknainnya. Kehadiran manusia siapa pun dalam perhelatan seni, sesungguhnya di tangan merekalah suatu karya dapat dimaknai sebagai kemampuan memaknai, pada setiap pesan yang tersirat pada karya yang dipamerkan kali ini. Tidak ada yang misterius selain fakta yang digambarkan dengan jelas, pada fakta itulah kita dituntun untuk mencari sekaligus mencoba menemukan tentang apa yang hendak kita ingin pahami.” Pameran rupa “Memaknai Makna” berlangsung selama tiga hari, 12/Yard


Baca buletin "YARD" edisi pertama dan kedua di tautan: http://issuu.com/TANAHINDIE

tepatnya 20-22 Januari 2018, dimanfaatkan oleh teman-teman seangkatan, senior, dan adik kelasnya yang juga sebagai panitia pada penyelenggaraan pameran ini. Dengan mengadakan aktivitas yang lebih luas, seperti mural meriah, menggambar gembira, dialog seni, dan program senangsenang selepas pameran dengan mengundang band indie dari Makassar untuk tampil membawakan lagunya. Ketika mulai memasuki ruang pameran, kita akan disambut oleh karya kriya dari tanah keramik buatan perupa muda Sri Wahyuni, karya keramiknya berdimensi berbeda-beda pada setiap karyanya— diletakkan di atas Level (tempat peletakan sebuah karya). Karya yang menyita mata dan perhatian saya saat berada di depan pintu masuk ruang pameran. Dari pintu keluar ruang pameran menuju ke arah galeri utama, ruangnya sekira 10 x 6 meter, di pojok kiri memuat beberapa karya ilustrasi dari Asrul Amin bertema “Keistimewaan Perempuan”. Pandangan saya terpaku ketika berhadapan dengan salah satu ilustrasi Asrul berjudul “Mahal”. Sebuah karya ilustrasi menampilkan wajah seorang perempuan yang sedang terpejam, air berwarna biru sebagai representasi dari tubuhnya. Di bagian tengah tubuh perempuan ini terdapat sebuah pizza dan seekor lalat yang sedang hinggap, sekelilingnya ditusuk dengan jarum dan benang merah membalut lehernya. Karya ini dapat diasosiasikan dengan pengalaman pribadi senimannya terkait perempuan dan sebuah pizza yang menyampaikan sebuah simbol kemewahan, tentang relasi ekonomi, sosial, maupun filosofis. Dalam satu kesempatan bincang bersama Asrul, Ia menjelaskan terkait karyanya dengan menyimbolkan perempuan dan air sebagai sebuah kebutuhan 13/Yard

dalam hidup. Perempuan sebagai sumber kehidupan begitupun dengan air. Sedang pizza sebagai salah satu produk makanan dari luar negeri, diibaratkan dengan simbol kemewahan (mahal). Karya selanjutnya disusul oleh karya seni kriya dengan media paper cut berdimensi 40 x 70 cm buatan Aminah, karyanya yang berjudul “Woman in imagination” menyita perhatian saya sambil menatapnya berulang-ulang. Saya berusaha meyakinkan diri saya, bahwa karya tersebut terbuat dari kertas. Betapa rumit dan mendetailnya masa pemotongan kertas untuk menghasilkan sebuah karya apik yang membutuhkan proses yang tidak sebentar dalam penyelesaiannya. Karya lain seni kriya “kaligrafi kayu” tak kalah menarik dari segi bentuk. Karya dari Disman, perupa asal Kabupaten Enrekang ini membuat karya kaligrafi kayu pada objek “Hewan”. Karya seni ukir pada motif kaligrafi Arab yang dibentuk dalam ornamen hewan yang beragam, diantaranya: Merpati yang melambangkan ikhlas, Unta yang mewakili ketangguhan, macan yang diartikan perkasa, dan burung merak diartikan sebagai binatang yang bijaksana. Satu acuan mendasar yang terpenting dalam kreasi suatu karya yang tampak jelas terasa dalam pameran ini dengan meng­ hubungkannya dalam sebuah tema “Memaknai Makna”, bahwa ada hal-hal yang perlu kita maknai dan nikmati dari sebuah karya seni. Upaya untuk menikmati, mengerti, dan memahami sebuah karya dengan memperlakukannya bukan sebatas objek gambar saja. Dengan mengapresiasi keragaman karya yang ditampilkan untuk menambah wawasan seni rupa dari segi pembacaan visual, ide, bahan, media, dan tentunya untuk bahan kajian wacana eksplorasi imaji kita.


H Kelas Belajar Berkebun Oleh: Andi Ilmi Utami Irwan

Kelas Belajar Berkebun Penggiat Makassar Berkebun (28 Januari 2018) Dok: Makassar Berkebun

ari itu, Sabtu 28 Januari 2018, Rina sangat bersemangat. Pagi-pagi dia sudah meninggalkan kostannya yang berada di bilangan Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, menuju Jl. Balang Baru. Pagi di akhir pekan, yang biasanya bagi beberapa orang dimanfaatkan untuk beristrahat saja di rumah setelah beraktifitas dari Senin ke Jumat. Tapi berbeda dengan Rina dan kawan-kawannya sesama penggiat Makassar Berkebun. Sejak pukul 09.00 WITA satu persatu dari mereka telah berdatangan ke kebun salah satu penggiat, Ihsan. Kebun milik Ihsan tersebut menjadi tempat pelaksanaan Kelas Belajar Berkebun penggiat Makassar Berkebun. Aan Paramma, yang juga salah satu penggiat Makassar Berkebun bertindak sebagai fasilitator. Tepat pukul 10.00 WITA dia akan berbagi ilmu bagaimana membuat pupuk kompos skala rumah tangga. Sebelum memulai praktik komposting, mahasiswa Ilmu Pertanian salah satu perguruan tinggi di Makassar ini memberi penjelasan mengenai definisi komposting, bahan-bahan yang dibutuhkan serta proses yang terjadi saat pengomposan dan pemanfaatannya. Selama dua jam, kelas dikemas dengan santai, diikuti oleh sesama penggiat internal komunitas Makassar Berkebun. Sesi komposting hari itu merupakan bagian dari Kelas Belajar Berkebun yang telah kali kedua dilaksanakan oleh Makassar Berkebun dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Kelas Belajar Berkebun diadakan setiap dua minggu sekali di akhir pekan. Berbeda dengan pertemuan biasanya saat rawat tanam atau14/Yard


pun temu penggiat, Kelas Belajar Berkebun memang dimaksudkan sebagai ajang berbagi ilmu oleh penggiat dengan tema tertentu. Tujuannya tentu saja, agar penggiat lebih paham lagi seputar dunia bercocok tanam. Salah satu penggiat Makassar Berkebun yang hadir hari itu, Asriadi mengungkapkan alasannya bergabung di kelas komposting. Asriadi berencana memproduksi kompos sendiri untuk tanamannya di rumah. Selama ini dia selalu membeli kompos untuk tanamannya di rumah. Kini bagi Asriadi, membuat kompos adalah salah satu caranya untuk mengurangi jumlah sampah yang dibuang di rumahnya. “Sampah organik yang masih bisa diurai seperti tulang ikan, sisa sayur ataupun kulit buah bisa dimanfaatkan. Jadi cara ini bisa mengurangi sampah yang kita buang, tidak semuanya harus dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir, red) Antang toh,� katanya.

Asriadi beberapa tahun belakangan sedang berusaha mengupayakan gaya hidup zero waste. Ini adalah gerakan guna mengurangi produksi sampah. Gerakan ini tidak hanya dengan cara me-recycle produk-produk sekali pakai, tapi juga menggunakan berbagai pendekatan dalam usaha mengurangi produksi limbah, tanpa mengubur ataupun membakar.1 Diakui oleh Asriadi kesadaran untuk mulai peduli pada keadaan lingkungan, dimulai dari keterlibatannya dalam Komunitas Makassar Berkebun. Sebelumnya dia tidak berpikir sama sekali bahwa sisa sayur di rumahnya masih bisa dimanfaatkan untuk dibuat kompos yang sangat berguna untuk tanaman. Ataupun mengurangi sampah plastik yang dia gunakan. Berkali-kali dia sering menceritakan tentang kekhawatirannya, bagaimana mahluk bumi bisa

bertahan hidup dengan krisis pangan yang terjadi, karena sempitnya lahan pertanian sementara penduduk bumi terus bertambah. Dia juga mengkhawatirkan produksi sampah berlebihan yang tetap dilakukan oleh orang-orang. Wujud kepedulian pada lingkungan harus dilakukan melalui pembiasaanpembiasaan yang dilakukan dari diri sendiri terlebih dahulu. Itu yakinnya. Apa yang diutarakan oleh Asriadi memang sejalan dengan konsep gerakan dari Makassar Berkebun, yakni 3 E; Ekologi, Edukasi dan Ekonomi. Dibentuk sejak tahun 2011, Makassar Berkebun selalu mendasarkan kegiatannya untuk perbaikan Ekologi lingkungan; memberi Edukasi kepada masyarakat luas tentang agrikultur ataupun wawasan lingkungan; serta Ekonomi, kegiatan berkebun yang berdampak pada peningkatan ekonomi bagi masyarakat.

Gary Liss, “Zero Waste Hierarchy�, http:// zwia.org/standards/zero-waste-hierarchy/, diakses 2 Februari 2018. 1

Kelas Belajar Berkebun Praktik komposting (28 Januari 2018) Dok: Makassar Berkebun


Segera! Peluncuran Buku Februari, 2018

"Halaman Rumah"

@dewiboelan Tanahindie @tanahindie

dengan Arts Collaboratory dan YARD diterbitkan oleh Tanahindie bekerja sama Jimpe Rachman; REDAKTUR Stichting Doen. PENANGGUNG JAWAB Anwar Burhan, Ade Awaluddin Firman, Ibe M Palogai, Muh Iqbal Rafsanjani, Sulaeman M. Nur. h Daeng Sirua 192 E, ALAMAT REDAKSI Kampung Buku, Jalan Abdulla Makassar, Indonesia 90231. Redaksi menerima sastra, karya foto, ilustrasi, dan sumbangan materi publikasi, seperti esai, karya ahindie.org komik melalui tanahindie@gmail.com - www.tan

Yard - Edisi 3, Januari 2018/Third Edition, January 2018  
New
Advertisement
Advertisement