Page 1

Terbit Senin dan K amis

Edisi 2 - 4 Desember 2014

Quo Vadis Transportasi Desa PENANGGUNG JAWAB

U

mumnya masyarakat yang tinggal di darat mengenal transportasi sebagai mesin REDAKSI beroda yang mampu menghantarkan pengendara dan penumpangnya ke tempat Syamsudin, S.Pd, MA AT. Erik Triadi, S.IP tujuan. Apalagi ditunjang dengan jalan aspal ke segala arah dan tujuan, transportasi makin diciptakan untuk ALAMAT REDAKSI menjadi kebutuhan warga, untuk mendukung aktivitas Jl. Cendrawasih No. 2 sehari-hari warga. Dari urusan pekerjaan, anak ke Mejing Lor - Desa Ambarketawang Kecamatan Gamping sekolah, belanja ke pasar atau pun rekreasi bersama Kabupaten Sleman teman dan keluarga. Daerah Istimewa Yogyakarta Idealnya transportasi harus dikaitkan dengan Telp : 0274-9543879 kepentingan publik atau kepentingan bersama warga e-mail : sekret@rumahsuluh.org website : rumahsuluh.org dalam menata dan mengelola sistem transportasinya. Mengapa demikian? Tidak hanya karena jalan yang dipakai adalah fasilitas milik negara yang bersumber dari pajak pembangunan dari warga, tetapi juga juga transportasi idealnya harus dikaitkan “Jatuh bangunnya negara dengan suatu sistem negara yang memiliki ini, sangat tergantung dari tujuan, yakni hendak mensejahterakan bangsa ini sendiri. Makin warganya sesuai dengan maksud dan tujuan pudar persatuan dan dari suatu negara didirikan. Apa maksudnya? kepedulian, Indonesia Bila pengaturan transportasi tidak berdiri di hanyalah sekedar nama atas tujuan negara, bisa dipastikan terjadi dan gambar seuntai pulau musibah korban jiwa dan kekacauan di peta" transportasi di jalan-jalan. (Drs. Mohammad Hatta) Salah satu aspek adalah tiadanya transportasi publik yang memadai yang bisa Erwin Razak, S.IP

1


SULUH

menjadi kendaraan utama warga dalam mendukung mobilitasnya. Sehingga warga mencoba memenuhi sendiri moda transportasinya, dan untuk itu dengan terpaksa dibutuhkan pengorbanan yang tidak kecil dari warga negara. Kekacauan juga disebabkan tidak ada pengaturan ataupun pembatasan jumlah kendaraan bermesin dan beroda di jalan-jalan maka sudah pasti musibah yang digambarkan diatas akan menjadi kenyataan.

Orang akan berlomba-lomba memiliki kendaraan pribadi, terutama bagi mereka yang mampu membelinya untuk tujuan yang sama sekali berbeda dengan tujuan bernegara. Pada suatu ketika orang miskin pun akan terpaksa harus membeli kendaraan bermesin dan beroda oleh karena transportasi publik makin tidak nyaman untuk digunakan selain ongkosnya mahal. Jalanan akan menjadi “lab demonstrasi� kekacauan transport di

2 edisi 2 4 Desember 2014

jalanan dan belum lagi persoalan polusi diudara karena pembakaran gas bensin yang dibuang. Di Indonesia persoalan ini sudah mulai menjadi sorotan banyak pihak, yang walaupun sejauh ini belum terlihat ada solusi yang jitu untuk mengurai benang kusutnya. Selain persoalan infrastruktur yang minim, ide mengembangkan transportasi publik seperti kereta api, kapal laut, tol laut atau dengan pembatasan jumlah kendaraan dengan aturan yang ketat dan pajak yang tinggi seringkali kalah oleh kepentingan ekonomi dan politik kelompok yang kabarnya disebut “mafia’. Syukurlah bagi warga desa yang tidak terlalu pusing dengan kemacetan dan keruwetan jalan-jalan di perkotaan sebagaimana di atas. Karena di beberapa tempat, sarana transportasi di desa masih menggunakan gerobak sapi. Di Kabupaten Sleman dan sekitarnya seperti Prambanan, Klaten, Boyolali dan Magelang, gerobak sapi dilestarikan dan masih menjadi sarana warga khususnya petani untuk mengangkut hasil bumi mereka. Baik mengangkut hasil bumi dari sawah ke rumah atau dari ladang ke rumah, bahkan bisa dicarter untuk keliling di seputar desa. (Erwin)


SULUH

Tradisi “Kimchi” dan Teknologi Pasca Panen

S

alah satu persoalan dunia pertanian Indonesia adalah penanganan pasca panen. Hendaknya kita belajar dari Korea yang hanya bisa bertani disatu musim, namun hasil dapat dimanfaatkan untuk setahun. Banyak hasil pertanian kita yang terbuang percuma karena penanganan hasil panen yang tidak tepat. “Coba saja lihat ketika musim buah mangga, pasti banyak yang terbuang karena busuk. Hal itu terjadi karena tidak kita oleh dengan baik,” jelas Dr. Maryatmo Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dalam workshop Pemberdayaan Desa dan Peran Perguruan Tinggi, Rabu, (19/11) di Kampus Universitas Janabadra. Kita dapat belajar dari orang Korea yang memiliki tradisi “Kimchi”. Di Korea, mereka hanya dapat bercocok tanam dalam semusim, yakni ketika musim panas. Ketika masuk musim dingin, aktivitas pertanian tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu, hasil pertanian dimusim panas tersebut harus bisa mencukupi pula disaat

musim dingin berlangsung. “Oleh karena itulah, lanjut Maryatmo, masyarakat Korea membuat Kimchi,” ujar Maryatmo. Kimchi sendiri ialah makanan khas Korea berupa asinan sayuran seperti kubis maupun sawi putih yang dimasukkan ke dalam guci tanah liat setelah diberi garam, dan dipendam di dalam tanah sebagai persediaan makanan sewaktu sayuran segar tidak tersedia di musim dingin. Sebagian besar orang Korea membuat kimchi dalam jumlah banyak sewaktu panen sayur di musim dingin. Selain budaya menabung dengan tradisi “kimchi”, rendahnya teknologi pengolahan pasca panen juga menjadi persoalan yang besar. Hal ini membuat nilai jual hasil pertanian menjadi rendah. “Petani rumput laut misalnya, produksi kita banyak, tapi petani hanya bisa menjual dalam kondisi basah harganya Rp.4.000, sedangkan kering Rp.8.000. Kemudian melalui Surabaya dijual ke Jepang harganya Rp.10.000, tetapi setelah diolah di sana, dalam bentuk bubuk untuk kosmetik dan lain-lain,

3 edisi 2 4 Desember 2014


SULUH

harganya bisa mencapai jutaan rupiah per kilogram,” papar Maryatmo. Contoh lain, pengolahan minyak cendana di NTT. Ketika dijual ke Hongkong atau Taiwan masih disuling dengan tingkat kemurnian yang rendah. Tetapi ketika disuling kembali di di negara tersebut, harganya bisa puluhan kali lipatnya.

dilakukan diakibatkan tidak tersedianya ruang bagi produksi di desa. Misalnya petani rumput laut yang hanya mengolah secara sederhana, memiliki persoalan pada ketersediaan area untuk mengolah rumput lautnya. Rumput laut tersebut hanya dijemur di tepi pantai yang kondisinya kotor. “Persoalannya karena di pantai-

“Sesungguhnya kampus-kampus punya teknologi yang bisa mengolah hasil pertanian, hanya saja hingga kini belum dilakukan,” ujar Rektor UAJY yang asli Bantul ini. Sedangkan Wijang penggiat pemberdayaan masyarakat mengatakan, pengolahan hasil pertanian yang masih sangat terbatas

pantai mereka tidak punya tempat untuk menjemur. Karena pantai sudah di kapling-kapling, sudah tidak ada area lagi. Begitu juga dengan garam, kita harus impor. Karena tidak ada lagi ruang untuk berproduksi karena pantai sudah dikapling-kapling. Kalah dengan namanya pariwisata,” tandas Wijang. (erik)

4 edisi 2 4 Desember 2014

Suluh edisi 2  
Suluh edisi 2  
Advertisement