Page 1

LITERANYING JEJAK TULISAN SE M A K B E LU KA R


Literanying Jejak Tulisan ‘Semak Belukar’

Cetakan Pertama, 1 Desember 2019 Tata Bahasa & Letak : Ikhsan S. Hadi Fotografi : Ari A. Riadi, Acep S. N., Ridwansyah, Alaena S.

2


Diterbitkan Oleh: Aliansi di Bawah Pohon Aliansi di Bawah Pohon, Dimanapun di bawah Tuhan

3


6

19

8

24

Sudut Pandang Semak Belukar

Berpikir Belukar

11

28

Mukodimah Semak Belukar

4

Kemah, Bebas & Bahagia

Tumbuhan Liar Tumbuh Liar

Mungkin - Kemungkinan adalah Dzikirku

16

32

Sampah di Jalanan

Bercermin pada Semak Belukar


Daftar Isi


Mukodimah Semak Belukar Oleh

Aliyanto

Imam Besar Majelis Malaikat

Pada 5 juni sesudah idul fitri seperti biasanya yang entah budaya dari mana, dan siapa yang memulai?, semua orang berbondong-bondong seperti bebek yang sedang digiiring oleh peternak, orang-orang hunting ketempat-tempat liburan dengan muka yang penuh dahaga akan liburan - berlibur - menghibur diri mereka yang mungkin karena selama setahun bergelut-gulat dengan aktivitas dan problematika hiruk-pikuk moderisasi dari peradaban yang kini bergeser kepada ke-tak-beradab-an. Pada 3 syawal 1440 H, di langit masih bertebaran, berhamburan rasa bahagia akan maaf-memaafkan. Getaran-getaran takbir masih melekat di udara dan embun di dahan-dahan

daun, gelombang hari kemenangan meyelimuti semua mahhluk, termasuk diriku yang merasakan dan merayakan itu. Hampir semua orang merayakan hari kemenangan dengan cara dan gayanya masing-mansing tanpa batasan. Hampir semua orang seperti “belombalomba dalam kebenarannya� rasa malas meyelimuti sekujur tubuhku, mungkin karena kelelahan dan kebanyakan makan. ya... namanya juga hari kemenangan!!! [Pikiran gatal]. Ya, namaya juga hari kemenangan, mungkin hari kemenangan untuk semua mahluk.


Dengan rasa berat lunglai-lesu aku sedikit memaksanan langkah kakiku karena janji yang sudah ku amini, lambat sekali perjalan menuju rumah kawanku Ikhsan Sopian Hadi sebab pertayaan demi pertanyaan yang aneh terus berkecimpung dipikranku yang disematkan untuk diriku sendiri [untuk keamanan si penulis, pertanyaan tidak disebutkan]. Pukul 11: 00 WIB aku tiba dirumah Ikhsan, sejam sudah keakurasian jam meleset, tapi mungkin ketelambatan itu justru waktu yang baik yang diberikan sang pemegang dan pengatur waktu, manusia hanya bisa merencanakan.

Satu demi satu teman-teman berdatangan sambil melontarkan kata ‘’Hapurahahampuraan’’, Batu Lempar [BL] Hutan Makam Keramat Godog tetap jadi tujuan diskusi tempat dulu karuhun-karuhun kita tilem (Moksa), diikuti juga oleh anak cucu yaitu kita, sembari bersilaturahim dengan doa-doa sekaligus menguak kembali silsilah sejarah karuhun kita, semakin kita mengenal sejarah silsilah kita, semakin kita gampang memetakan siapakah diri kita.

7


Sudut Pandang Semak Belukar Semak belukar adalah tumbuhan kayu-kayuan kecil dan rendah atau lahan yang ditumbuhi kayu-kayuan kecil dan rendah [hutan kecil]. Tema kali ini memang tema yang tak asing di telinga, orang-orang pasti beranggapan bahwa kita sedang bercanda karena mungkin anggapan orang tema-tema ini mungkin dianggap sepele dan apa yang menarik jika membahas ihwal semak belukar ?, semua orang, bahkan yang ikut dalam acara semak belukar ini bertanya sepeti itu. Semak Belukar adalah tempat berlidung dan sembunyi, bahkan menjadi tempat makan hewan-hewan kecil seperti semut. Semak belukar adalah perlindungan dari cuaca. Bagi si semut, dia akan berlindung ketika badannya akan terhantam ratusan bahkan ribuan air hujan atau terjangan dari hempasan angin. Tumbuhan liar ini penuh misteri bahkan ketika diskusi mulai di paparkan oleh Iksan Sopian Hadi dengan menyikapi dan membekali bahkan memantik teman-teman dengan memaparkan tumbuhan, apa itu semak dan belukar secara harfiyah melalui sentilan-sentilan kecil yang penuh dengan bahasa simbol-simbol. Togri atau Koko atau Rizqi, kemudian memaparkan tumbuhan perdu ini sebagai tumbuh-tumbuhan yang bisa menjadi obat dari peyakit ringan bahkan berat. Deden Wahyudin atau biasa dipanggil Mang Deden ( Den Cokis) meyikapi tumbuhan semak belukar jika di ladang petani adalah tumbuhan yang mengganggu bagi tanaman petani. Mendengar dua orang ini yang sudah memaparkan sudut pandangnya terhadap semak belukar, sesuai dengan apa yang di alami dengan interaksi lansung dengan tumbuhan ini, memantikku untuk bicara. Ya, sesuatu hal atau apapun itu pasti ada dua mata pedang tergantung kita meyikapi dan melihat apapun itu sebagai dan untuk apa. Semak belukar adalah tumbuhan kecil, bisa jadi obat juga, bisa jadi tempat berlindung beberapa hewan juga, tapi tumbuhan semak belukar juga bisa jadi racun dan juga bisa jadi ancaman, namun, tetap ada kebijakan dan kearifan, kewaspadaan dan perhitungan tanpa dilandasi kebencian dan kedengkian. Kadang juga kita menganggap sepele sesuatu yang kecil bahkan beranggapan tidak berguna seperti semak belukar ini. Ya, kan kita melihatnya dari sudut pandang mahluk yang lebih besar dan parameter yang berbeda pula, tapi bagaimana dengan pandangan semut meyikapi tumbuhan kecil ini?

8


10


Tumbuhan Liar - Tumbuh Liar Perilaku manusia hakikatnya bisa berubah 127°. Sebagaimana ombak yang berganti bentuk setiap detik dikarenakan kedahsyatan akal manusia yang terus berselancar di lautan informasi. Manusia tidak bisa hidup dengan satu bidikan fokusnya sendiri, Ia harus hidup dengan apa yang menjadi fokus yang lainnya juga untuk hidup bersama. Harus giat melatih sosial, intelektual, emotif-emosional. Itulah makom kewaspadaan pada suatu hal, apalagi terhadap Informasi-informasi dari luar diri. Informasi-Informasi tidak harus di yakini karena harus ada filter yang bernama “kebijaksanaan” disana, apalagi terhadap informasi media-media dan stuktur sosial yang tidak pernah diam, atau media sosial yang inti informasinya bagai buih dilautan, terombang-ambing oleh gelombang kebisuan, membidik sekilaslintas permasalahan dengan sederhana. Demi kebenaran diri, demikianlah sedikit lempengan realitas-kualitas yang coba saya sampaikan ini. Jadi, jangan terlalu dijadikan pegangan. Berangkat dari perilaku masarakat, penyakit, dan kebudaya yang saya tinggalitempati - diami yang cukup bias-buas dan bermaksud berangkat dari kenyataan yang menggantungkan kehidupannya di “Yaksa” pemegang industri, dan dinasdinas yang haus akan harta dan jabatan

( wanita’nya menyusul ketika 2 sarat tersebut sudah terpenuhi), bahkan ranah pendidikan sudah di rambati oleh akarakar keserakahan yang ujung-akhirnya menghamba pada materalisme. Eksistensi Tuhan semakin ditiadakan, Pamor/ Sima semakin terkalahkan oleh eksistensi dan pamor ‘Tuan’. Lalu bagaimana dengan orangorang yang bergelar mendidik dan terdidik?. Dan bagaimana dengan anak-anak ulama, dosen, guru, petani, pekerja serabutan, dan pengemis?. Semua orang berlomba-lomba mengikuti arus dan mendaftarkan diri untuk bergabung di tataran gelombang peradabanmaju yang penuh dengan “kemudahan” baik itu alat, internet, kendaraan dan tempat tinggal yang serba cepat. Tapi dengan kemajuan yang dipermudah manusia malah begitu manja bahkan sekedar membeli makanan ringan saja, orang sekarang enggan melangkahkan kakinya keluar. Secara tidak sadar, ia melumpuhkan kakinya sendiri. Manusia semakin sukar kenal dan mengenali orang lain bahkan dirinya sendiri. Kaum mandiri seperti Pedagang kecil dan petani yang mengolah tanahnya sendiri juga menjadi konsumen utama dari globalisasi ini. Kemewahan, kekusan, dan kemudahan mejadi semak yang menutupi lahan penghidupan. Kemewahan harta menjadi semak dikepala setiap orang dan rasa keserakahan menjadi pupuk yang menyuburkan semak belukar tersebut yang semakin membumbung tinggi.

11


Kita semakin dipalsukan dengan diri sendiri, bahkan kita sendiri yang memalsukannya, pelombaan memalsukan orang dan diri sendiri menjadi yang bukan diri kita sendiri menjadi festival besar-besaran di seantero kota, menjadi tren yang digandrungi oleh manusia moden ini. Instagram, facebook, twiter, tv, youtube, games dll. adalah salah satu hijab tebal manusia untuk mengenal dirinya sendiri. Kiblat kita mengikuti standarisasi glamor penuh bintang di langit yang biru namun lebam oleh asap-asap pabrik. Gerakan literasi dan intelektualisme di kotaku mengema di langit dari pengeras suara berbentuk kotak, penuh dengan semangat yang berkobar-kobaryang siap membakar apapun yang mendekat. Ada konflik yang berkecamuk dan amat serius di kepalaku antara dulu, budaya leluhur dan budaya sekarang. Yang belum kutemukan titik temunya yang mungkin tidak akan ditemukan. Mungkin karena perbedaan yang sangat jauh entah itu karena ruang dan waktu atau kualitas manusianya yang berbeda.

12

Cahaya yang terpancar dari layar-layar gawai, qoutes-qoutes yang renyah dan menggoda untuk dikonsumsi bersama secangkir kopi dan di hari yang senja, dari sayap paling kiri dan paling kanan dengan naifnya, modus acara budaya yang mau mengembalikan esensi budaya yang adiluhung di zaman sekarang, di angkat ke permukaan, mungkin karena dibaluti oleh kapitalisme, didasari oleh kepentingan dan kuntungan di desain se-elgan dan se-eklusif mungkin demi kepentingan tersebut.


13


14


15


Sampah di Jalanan Barangkali semua orang sudah tahu betapa uniknya lalu-lintas dan lalu-lalang sampah dan para petugasnya dikota intan ini. Kalau anda mengamati dan mengamalami perihal masalah sampah ini sampai ketingkat intensitas dalam jangka waktu tertentu, anda akan melihat sudut yang tempat untuk mengurai secara jelas perihal gejala sampah dan buruh sampah, seperti pekerja, mandor, pemimpin dan dinas sampah di Garut, namun anda kelak akan sampai pada poros ketika anda tidak bisa melakukan dan berbuat apa-apa. 16

Pemahaman dan rendahnya kesadaran etika, dengan pisikologi kekuasaan, egoisme, atau intoleransi sosial, dengan keliaraan, atau terkadang kenakalan dan keputusasaan. Mobil dan motor para mandor, kasi, kabid dan kadis di dinas


sampah yang terpakir di tepian jalan; mereka petugas-petugas sampah yang mengatur sampah di jalanan, merokok dengan santai dan teratawa bahagia, tangan bersih dan baju rapih yang dibaluti wangi dari parfum bermerk, ditengah para buruh yang bekerja keras dengan otot-

otot tangan yang mengeras, menangulangi bau sampah yang keras memukul hidung. Inilah cerminan ketololan dan kebodohan.

17


18


Kemah, Bebas & Bahagia Oleh

Ravi Wibowo

Owner Narpati

Apa yang bisa saya peroleh dari perkemahan ceria kali ini, hanyalah saya kurang tidur dan dapat menyaksikan aktivitas kera penghuni hutan pinus Godog di pagi harinya, mereka berkegiatan di puncak pohon pinus yang tinggi itu. Paling tidak saya bisa merasakan keliaran yang jinak dari mereka yang menjaga jarak dengan segala kejahatan manusia, termasuk pada eksploitasi pada hutan dan semua penghuninya. Beruntunglah mereka masih bisa hidup di alam liar. Diskusi kali ini tidak sesengit diskusi yang membuat saya pusing berpikir mungkin karena terlalu banyak orang, dan beberapa orang seperti tidak berada di sana, mungkin memang belum kenal atau tidak begitu akrab untuk bisa bicara dan berdiskusi se-intim diskusi biasanya. Sisa acara yang harusnya orang-orang menggunakan kostum yang mereka bekal ternyata tidak. Tidak banyak hal saya perhatikan kali ini hanya kecanggungan, tidak pun orang-orang canggung, saya

canggung dan terbaginya peserta kemah menjadi kelompok-kelompok kecil, kelompok pembuat kolam rendam dan hanya dibuat karena hanya beberapa orang saja yang ikut berendam, kelompok penonton pembuat kolam, kelompok pencari ikan entah memburu kemana, kelompok memasak dan kelompok yang asyik dengan kegiatan mereka sendiri. Sedikit banyak saya merasakan keramaian yang aneh di malam waktu kami bermalam. Setelah bertemu beberapa teman paska acara perkemahan, memang benar mereka pun merasakan hal yang sama, ada beberapa aktivitas astral di sepanjang malam tapi memang tidak kami hirau. Ada ular yang tidak bisa dilihat orang biasa, suara perempuan yang menangis, sosok yang mondar mandir di depan perkemahan kami dan masih ada beberapa yang saya lupa detailnya namun bisa membuat bulu merinding saya naik bila mendengar ceritanya lagi.

19


Semak Belukar Semak belukar sebagai batas di luar diri manusia yang serba terbatas, manusia sebagai hewan yang menciptakan akan diuji dengan pilihan-pilihan yang akan mengantar manusia pada taraf pemikiran yang lebih tinggi, manusia tidak akan cukup hanya dengan kepemilikan dia saat itu, manusia yang serba dinamis akan terus mencari apa yang Ia sukai, hawa nafsu bisa menjadi semak belukar itu sendiri, semak belukar bisa menjadi rintangan dan bisa menjadi solusi itu sendiri, tergantung dari pola pemikiran manusia yang tengah berpikir itu. Semak belukar yang intergral ini bisa menjadi pola pengolahan tentang pikiran, yang kelak menjadi pengelolaan hawa nafsu. Ketidak tahuan dan ketidak acuhan dari manusia pada manusia, beriringan dengan ide modernisasi, semangat meningkatkan tarap hidup masyarakat pada umumnya namun tidak mengidahkan interaksi manusia itu sendiri. Menjadikan manusia sebagai otomat, robot atau hanya angka dalam ide modernitas yang amat kental.

20

Semak belukar sebagai ketidak tahuan yang bisa saja menjadi hadiah sekaligus petaka bagi siapa saja yang berani melalui ketidak tahuan itu, pengambilan sikap atau pengertian setiap manusia tentang petaka dan hadiah bisa akan sangat unik, kecenderungankecenderungan yang akan dihadirkan, keterbukaan akan setiap definisi dari segala entitas, lapisan masyarakat tentu akan berbeda. Skema pemikiran setiap individu akan berbeda. Hadiah yang akan diperoleh seseorang dalam ke-semak belukaran ini adalah ialah kontrol atas nafsu diri, dan petaka yang akan ditanggung adalah terkontrolnya diri oleh hawa nafsunya sendiri. Semak belukar bisa menjadi risk & benefit bila memang dipandang sebagai sesuatu yang harus diketahui apa yang ada di balik itu. Para pengambil resiko dengan dedikasi dan konsisten akan mendapatkan reward yang sesuai dengan apa yang ada dalam ekspektasi manusia itu, namun bisa saja orang akan terjebak dengan ekspektasinya sendiri, mendefinisikan goal atau tujuan dari setiap apa yang diinginkannya.


21


Kebebasan Dalam buku strategi kebudayaan karya Soerjanto Poespawardojo, saya menutip; kebebasan adalah ciri khas manusia untuk menjadi mandiri dan bebas, bebas manusia bertujuan untuk mengolah dunia dan menguasainya dengan memberikan nilai manusiawi, jadi kebebasan dalam buku tersebut masih terkendala batasan harus bermanfaat untuk lingkungan sekitar, sebebasbebasnya manusia ialah manusia yang tidak merepotkan manusia lainnya. Namun dalam keadaan sadar manusia berhak bebas untuk bisa memilih apa yang ia yakin benar dengan segala latar belakangnya. Manusia dengan semangat bebas akan terikat dengan definisi kebebasan itu sendiri, kebebasan manusia hanya hadir dalam pikiran meski masih terbatas dengan tidak berwujud dan abstrak yang serba tidak bisa didefinisikan karena hanya ada di dalam pikiran setiap orang yang belum tentu bisa dibahasakan. Semak belukar dalam konteks kebebasan manusia. Hemat saya; ktidak percayaan dirinya, rasa takut yang terus membelenggu dirinya untuk tidak merasa yakin akan kemampuannya. Manusia dengan bakat masing-masing dan jalurnya, bila bisa mawas diri dan bisa tau siapa dirinya, tentu akan bisa menembus semak belukar dan terus bisa berkembang.

22


Bahagia Di keadaan sosial yang serba kapitalistik menyebabkan setiap orang akan punya semak belukarnya sendiri, ketidak yakinan pada diri sendiri akan menyebabkan banyak hal yang sangat membuat ketidak bahagian, misalkan; membuat perbandingan dengan orang lain, akan muncul segala dengan batasan matrealis-kapitalis, “dengan kaya saya akan bahagia� atau “bila saya punya uang saya akan bahagia�. Sesuatu seperti ini akan menyebabkan semak belukar menjadi mental manusia itu sendiri yang akan menghambat serta menggeser hakikat kebahagiaan. Definisi bahagia, dengan kecenderungan manusia yang berdeda-beda tentu akan berbeda, tentu pula hakikat bahagia yang umum akan sangat licin. Setiap orang dan setiap lingkungan hidup yang berbeda akan punya definisi atau cara pandang yang berbeda tentang kebahagiaan itu sendiri, perjalanan setiap orang akan kehidupan akan memunculkan hasil yang berbeda. Hemat saya bahagia adalah bisa menikmati hal kecil, seperti memasak untuk diri sendiri, berkumpul dengan teman-teman dekat, menulis, menggambar, membaca dan hal kecil lainnya. Namun bisa saja tahun depan skala kebahagiaan saya berubah atau parameter saya akan berubah, tergantung kita dalam menentukan bahagia itu sendiri. Agar tidak berlarut, definiskan bahagia sebagai perjalanan bukan tujuan, tentang proses yang akan terus berjalan selama kita masih hidup, bila menjadikan bahagia sebagai tujuan yang materialis maka betapa kita akan lelah dan tertekan akan kebahagiaan itu sendiri. Pahami apa yang membuat anda bahagia meski hal itu sangat kecil.

23


Berpikir Belukar Oleh

Ikhsan Sopian Hadi

Presiden Direktur Saung Yafara Creative Space

3 Syawal 1440 H Matahari merangkak pagi ini lebih cepat dari ranjang menuju singgasananya yang berkilatan. Selama itu terjadi, kira-kira pukul sebelas tepat, hanya Ada Ali yang lebih cekat merapat menuju rumah saya yang baru di cat dari karatnya meskipun ia terlambat sekitar satu jam dari hasil mufakat, tapi Tuhan maha belas kasihan karena terlambat ada pada takaran manusia dan bukan ukuran absolut bagi manusia lainya. Keterlambatan menjadi aroma lain dari pucuk kembang kehidupan yang baru saja menyeruak. Tidak ada kata terlambat bagi-Nya karena waktu selalu berjalan pada porosnya begitu pun ‘kebenaran’ di dunia, termasuk bagi sebagian manusia lainya. Setelah semua berkumpul dan saling memaafkan segala kesalahan yang lampau, kami berangkat ke hutan keramat yang biasa menjadi persemadian orang-orang yang kehilangan identitas sesaat. Hutan Makam keramat Godog lagi-lagi menjadi tempat favorit untuk bersemayam dan bertukar pikir. Seperti Rumi, kepala kami mesti diinjakinjak kembali untuk menekur bumi sebelum mengapai Tuhan. Bumi yang menyembunyikan akar dari getir berbagai getaran kehidupan. Kami mencoba mengubur segalanya demi mencari akar dari diri kami sendiri. Semak Belukar’ sejenis Tema yang diangkat dalam perbincangan liar kali ini. Semak semacam tanaman perdu yang tumbuh rendah dan batang utamanya yang berkayu, yang saya ambil darinya adalah bagaimana ia tumbuh secara arbitrer, tumbuh dari berbagai celah bahkan tidak terbaca.

24


Secara fisik, semak memang tidak sekokoh pohon juga tak selentur rumput, ia berada ditengah. Pertumbuhanya yang fluktuatif dan variatif menjadi semacam status dan representasi suasana pertumbuhan kawula muda, seperti pencarian atas identitas dan pergelokalan batin untuk mencapai parameter cita-citanya. Pertumbuhan tersebut ada yang cepat, ada yang santai bahkan lambat, ada yang telah berbunga, ada yang mengering bahkan ada yang masih tunas. Semua proses itu adalah proses tumbuh. Perjalanan menuju akhir jawabah dari rangkaian pertanyaan dan ribuan runut kemungkinan. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak bisa ditemukan atau bahakan mungkin tidak ada, dan bisa saja atau yang paling memungkinkan justru ‘pencarian jawaban’ itulah jawabannya. Mungkin pula kita akan ditebang karena

menjadi penghalang, atau dibiarkan tumbuh seliarnya agar dapat mengetahui seberapakah batas kemampuan tumbuh kita, atau justru kita tidak akan tumbuh melampaui batas normatifnya. Semak dalam ‘Pikir’ menjadi semacam kerumitan dari jalan pikiran. Kesesatan yang dihasilkannya menjadi kegelisahan. Banyak yang musti dipikirkan jika kembali kepada pernyataan filsuf Prancis, Descartes dengan ‘Cogito ergo sum’ (aku berpikir maka aku ada). Semak dalam pikir tumbuh liar begitu saja dalam kepala kita. Semacam rambut dan kuku yang hidup atau seolah ingin terpisah dari tubuh kita, Pikiran melekat dalam setiap aktifitas keseharian, karena ia menjadi tolak ukur dari segala hal termasuk menimbang hati dan kendali rasa.

25


Melihat semak bagi penulis semacam cerminan diri. Bagi sebagian orang semak mesti dibasmi karena menghalangi atau bagi sebagian lainya dibiarkan tumbuh berdaulat, merasakan getirnya iklim dan kejamnya musim. Berpikir Belukar adalah semacam menyatukan semangat kolektifitas yang tumbuh bersama. Tumbuh berkembang dimana saja dan adaptif terhadap berbagai situasi dan kendala, di tembok sekolah, di hutan, di halaman rumah, di pinggir jalan, di selokan, di kuil dan di halaman mesjid, dia bisa tumbuh meski harus mati berkali-kali. Semangat kolektif tanaman kecil ini terus tumbuh seperti lingkungan kecil saya yang hanya memiliki kegiatan kecil namun konsisten dan kontinyu, dibunuh namun mampu untuk terus tumbuh baru. Dalam studi saya di Universitaire Leergang voor de Opleiding van Tekenleraren, saya belajar sesuatu hal, bahwa tanaman perdu yang kecil itu

26

menjadi tahapan awal, titik berangkat mempelajari melukis tanaman, pohon dan semacamnya, terkadang saya berfikir bahwa keindahan Mooi yang dielu-elukan Basuki Abdulah ini terletak bukan pada eksotisme kelapa atau pegunungan atau sawah, melainkan yang membuatnya indah adalah hijau dari belukar kecil dan bergerombol itu. Tanaman kecil bahkan menjadi mode bagi beberapa desain dengan tajuk ‘floral’, bahkan munculnya kecenderungan estetika kontemporer baru saat ini tertarik kembali ada kepada alam, sebut saja karya-karya landart dan teori estetika Eco-Estetik. Semangat alam yang dalam lukisan bahkan pepohonan yang dari jauh itu nampak seperti belukar saja dari perspektif yang berbeda. Bahwa tidak mengabaikan kekerdilan adalah menikmati kebesaran juga. Bahwa hal kecil adalah hal terbesar dari sudut pandang yang lainya. Dalam kehidupan keseharian, meromantisasi hal-hal yang kecil adalah sebuah daya cipta rasa syukur dan puncak dari syukur adalah ketidak mampuan (mengalienasikan eksistensi dan daya dari diri). Bagaimana Semak belukar tumbuh secara sporadis menjadi semacam penggalian ulang, dari mana sumber ia tumbuh. Saya berpikir ulang bahwa terkadang belukar tidak tumbuh dari Benih. Ia bisa tumbuh dari akar. Mencari akar dalam diri manusia khususnya diri sendiri adalah mengkaji diri itu sendiri. Akar adalah bentuk yang menjalar dan tidak memiliki sumber baku, terus bergerak dinamis dan bercabang ke segala penjuru tapi tetap saling mengukuhkan. Pada dasarnya, kondisi


akar akan sesuai dengan kondisi permukaan artinya, sumber permasalahan bukan dicari dari pucuknya. Segala sesuatu tetap dicari dari akarnya. Akar menjadi semacam proses tumbuh yang kasat mata, yang ghaib dan paradoks. Ia seperti kadar atau nilai yang tidak terjangkau oleh pencerapan panca indra. Bahwa akar menentukan apa yang tumbuh diatasnya. Apakah akar itu mati atau abadi, tergantung dari mana mata kita membidik. Bahwasannya akar dan permukaan semacam daulat kemana dan apa

yang akan dilakukan, daulat tersebut tidak ada terpisah dari keseharian, ia meleburkan diri dalam kehidupan, bahkan kematian adalah bagian dari hidup itu sendiri. Berpikir belukar pada akhirnya adalah berpikir akar, berpikir dasar tentang kesadaran kecil dan kerendahhatian.

27


Mungkin Kemungkinan adalah Dzikirku Oleh

Deden Rizki Wahyudin ‘Den Su’

Mantan Supir & Mantan Pengrajin

28


Telah kulalui jalan tol yang membetang panjang membelah gunung, sungai bahkan pulau, meyusuri dari kampung-ke kampung, kota ke kota bahkan negara asing, budaya asing dan ras asing juga telah ku lihat, telah kujamahi dan kualami yang sebagian orang mungkin tidak berkesempatan mencicipi pahit, manis asam, kecut jalanan. Setiap hari badan ku harus dihadapkan dengan ancaman yang bisa membuatkuu mati kapan saja dari bencana alam; longsor, banjir, bajing luncat, begal, ditabrak dan menabrak. Berangkat dari pengalamanku sebagai sopir, aku bisa sedikit tahu bahasa jalanan, kultur jalanan yang aneh, unik tidak bisa diduga, dibaca hanya sekedar ilmu yang ada di buku saja.

Bahasa jalanan mempunyai karateristiknya sendiri, mempuyai ruhnya sendiri. Jalanan itu adalah hewan liar yang buas, yang perlu dijinakan dengan pawang yang bernama reflektifitas saraf-saraf yang berada di badan baik itu siasat, taktik, doa yang terus dibaca dan niat yang membaja. Mobil truk daya angkut kapasitas beban berat, sudah menyatu dengan badanku, seolah-olah sudah menjadi indraku yang ditambahi oleh tuhan, ketika ada masalah kecil (kerusakan), saraf-sarafku langsung bisa merasakannya. Contoh dari ban mobil yang kurang angin, atau hanya sekedar baut yang hilang, atau lampu sein yang mati.

29


Seperti yang disebutkan di atas saya ungkapkan hidup jalanan tak bisa di perdiksi meskipun orang itu sudah begelut dan mempuyai reflektifitas. Ada beberapa kejadian yang mengerikan yang membuat ku harus berhenti seketika dari kehidupan jalanan ini. Rasa bedosa menghatuiku, bahkan sampai sekarang, ketika ban mobilku memecahkan kepala bajing luncat. Ketika itu langsung kubantingkan setir, kehidupan ku berhenti dan turun dari perofesi itu. Manusia pelu bertahan hidup dan salah satunya cari makan, tubuhku menjalar dari keterpurukan dan rasa bedosa tadi dengan menjadi pemulung hanya sekedar menggajal perut anak-anakku dan istriku.

32


Semak belukar di profesi pemulung itu semacam rasa ‘malu’, amat sangat sangat membuatku bisa gila, karena malu, gengsi hina dan nampak tak terhormat, tapi kakiku melangkah, kutebas semak belukar di depan meskipun banyak duri dan daun daun semak melukai tubuhku. Demi hidup, cahanya di depan, dan lahan pertanian di depan sana kutemukan raut kening anak-anakku ketika dia tidur atau tertawa, kutebas semak belukar dengan pisau yang dinamakan “mungkin-kemungkinan� mungkin kelak anakku nanti jadi orang pintar dan cerdas ketika aku nanti dibodohi oleh orang, mungkin nanti dia jadi manusia yang besar, mungkin nanti dia jadi dokter yang menyembuhkan ketika ku jatuh sakit, mungkin nanti dia jadi tongkatku, mungkin nanti dia jadi lilin disaat aku gelap, mungkin-mungkinmungkin dan kemungkinan itu yang bisa menjadi manifestasiku di masa depan ketika nanti aku jatuh sakit karena faktor keterbatasan tubuhku dan kehidupan saat ini yang berjalan cepat-bengis. Apapun bisa terjadi dan menjadi di era ini. Mungkin-mungkin dan kemukinan dzikir yang setiap waktu ku ucapkan pada Tuhan yang Maha Esa.


Bercermin pada Semak Belukar Oleh

Haris Hidayat

Owner Main Leather Crafts

Berawal dari hobi dan basic yang sama, yakni naik gunung, pengalaman yang berbeda dan tempat yang berbeda, dijumpai pula tidak sama, mungkin tempat dan waktunya sama. Maksud saya lebih kepada “penyikapan yang berbeda dikepala setiap orang�. Sebuah rencanapun dibuat agar hobi kita terjalin lancar. Hobi camp yang kami lakukan tidak hanya melepas lelah dan melepas kejenuhan saja, di sini kami membuat rencana bagaimana hobi kita coba untuk tidak seperti hobi yang biasanya (anomali). Kami membuat acara camp kecil-kecilan yang tujuanya untuk berdiskusi langsung dengan orang-orang dengan keahlian, pengalaman, pemikiran,dan tujuan yang berbeda, bahkan dengan alam dan alam yang tak kasat mata (ghaib) langsung . Dengan tema “Semak Belukar�, menurut saya tema kali ini seperti melihat cerminan diri, berawal dari orang yang dianggap dan


dipandang sebelah mata, tidak mempunyai kemampuan dan menghasilkan apapun, tapi slalu mencoba agar bisa tumbuh dan menyebar, karena hakikatnya orang kecil dan dipandang sebelah mata seperti tumbuhan semak. “Dimana ada lahan dan tanah kosong tanpa ditanampun kami tumbuh” karena di sebuah lahan tersebut, tertutup oleh tanah, dan akarakar tumbuhan kecil itu samahalnya dengan mengumpulkan hal yang kecil, yang tak di anggap menjadi sesuatu yang ternilai, seperti pengrajin mencari pembeli dan berkelompok untuk mencari relasi. Berawal dari hal kecil yang dianggap orang lain tak ternilai dan tak mampu, ketika orang lain memandangi diriku sebagai orang yang bukan ‘berada’ (tak punya), dengan beban tanggungan yang banyak. Serta kemampuanku yang selalu dihina, dilecehkan dan terinjak karena dianggap tangan kiri itu tidak bisa

bekerja, seperti membuat pola ataupun menggunting, dari pengalaman pelajaran orang lain. Dari camp dan diskusi yang ku ikuti dengan sistem dan orang-orang aneh baik itu kelakuan dan kata-kata yang memusingkanku sedikit merangsang pikiran, sehingga kepalaku berpikir mesti belajar mengolah kata dan polapola pendalaman kata yang tak bisa kudapati diranah pendidikan formal. Berbicara perihal pola atau kelakuan tadi orang-orang yang aneh tak membuat ku schok mungkin karena keberangkatan tempat dan basic yang ku ketahui mengenai pola-pola kata yang rumit serupa dengan ketika meyelesaikan dan membuat pola-pola tas, dompet dll. yang sama rumitnya ku pecahkan. Bahan-bahan dan tema kecil-kecil yang mengatasnamakan “Aliansi dibawah pohon” ibarat bahan sisa-sisa yang ku gunting, pola atau dari bahan mentah sehigga menghasilkan sebuah nilai tertentu.

33


Pencarian teman, kelompok pengrajin, sampai pembeli, itu peyikapanku seperti sebuah semak belukar dan “pengrajin kecil� adalah semak yang menyebar walaupun dikubur dengan tanah, ditimpah oleh batu dan cor-cor tumbuhan kecil itu akan tetap tumbuh seperti ku lihat di tembok-tembok dan di jalan tol tumbuhan kecil itu membuat retak tembok dan membor jalan tol yang penuh dengan material keras dengan tunas yang lembut, perlahan tapi pasti, orang kecil bisa hidup di mana pun. Ini bukan kebohongan, yang ku bicarakan itu seni mengolah kata dalam usaha agar mampu menempel menyebar dan tumbuh dimana saja, Mengolah bahan memikirkam ide dan model, mencari tempat dan mencari pembeli serta relasi itulah diriku. Jalanan hidup kelompok kecil yang tangguh dan hidup di segala medan dan cuaca yang ekstrim.


35


36


Terimakasih kepada para Pengembara: Acep Setiawan Nugraha Aliyanto Alaena Sururoh Deden Wahyudin ‘Den Coxis’ Deden Rizki Wahyudin ‘Den Su’ Haris Hidayat Ikhsan Sopian Hadi Lita Arofu Mohammad Kahfi Nana Supriatna Salma Kavia ‘Neng’ Ismail ‘Eok’ Rian Fitriani Rizqi ‘Togri’ Ravi Wibowo Ridwansyah Yanto ‘Ato’

37


Profile for Patileman

Literanying 'Semak Belukar'  

Advertisement