Issuu on Google+

COVER REPRO: (ekkizone.blogspot.com)


JAKSEL MENYAPA

Filantropi Pajak

N

egeri ini pernah mengecap sukses dibawah para anak mudanya. Sumpah Pemuda ditandai menjadi tonggak sejarah awal bagaimana keusuksesan anak muda memainkan perannya di negeri ini. Selanjutnya kita pun tak boleh lupa bagaimana aksi kaum muda lewat tragedy penculikannya berhasil membawa Soekarno dan Hatta secara "terpaksa" harus memproklamirkan negeri ini hingga yang paling baru dan masih bisa kita rasakan efeknya hingga saat ini adalah bagaimana para pemuda bisa membawa kita ke era reformasi saat ini. Dari sejarah yang tertuliskan ini jelas ada semangat anak muda dibelakangnya. Kedemawanan mereka dalam menyumbangkan materi, waktu, tenaga hingga nyawanya saat itu menunjukkan rasa kecintaannya terhadap negeri ini. Kecintaan yang mengingkan sebuah perubahan besar di bumi persada Indonesia. Saat ini pun peran pemuda ternyata sangat dirasakan di dunia perpajakan. Ada banyak acara-acara hingga berbagai media sosial yang mulai mengkampanyekan pajak sebagai muatan utama dan dibelakangnya tetap ada anak-anak muda yang cerdas dan kreatif yang mengotakinya. Hanya saja keberadaan mereka yang terus berusaha menyadararkan pentingnya pajak belum terlalu dirasakan oleh masyarakat banyak hingga terkesan kurang terdengar. Padahal apa yang diberikan mereka lewat agendaagendanya sejatinya tak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh para pendahulunya di masa lalu. Ada materi,

waktu, tenaga yang juga turut diberikan secara sukarela. Tujuannya pun tetap sama demi kecintaan terhadap negeri ini, hanya media berjuangnya lewat menyadarkan kepedulian pentingnya pajak. Inilah filantropi baru pajak yang belum sesungguhnya diketahui. Atas dasar ini, redaksi Pandu Pajak pun ingin memberikan apresiasi khusus pada mereka dengan menyiapkan edisi bertema pemua pajak kali ini. Pada edisi ini akan dibahas bagaimana peranperan yang sesungguhnya telah dimainkan mereka dalam menyadarkan pentingnya pajak bagi negeri ini. Peran tersebut bisa dilihat dari kolom Sosok dimana akan ditampilkan Daniel William, seorang pemuda yang sukses membangun akun twitter Pajak Mania–nya dalam membagikan informasi perpajakan bagi masyarakat luas. Selain itu ada juga organisasi Kostaf (Kelompok Studi Administrasi Fiskal) Universitas Indonesia yang akan dibahas sebagai salah satu organisasi mahasiswa yang sangat peduli dengan pajak. Pada kolom Pandu Utama, redaksi kali ini akan membahas sebuah tulisan berjudul "Pajak Mania". Tulisan karangan Dedy Antropov ini akan mencoba memberi penjelasan bagaimana sesungguhnya pandangan masyarakat umum soal pajak, apa masalah terbesarnya hingga solusi yang bisa diberikan terutama solusi yang berkaitan dengan peran anak muda didalamnya. Redaksi juga tak lupa menampilkan kolom Sumbang Suara yang akan diisi oleh Reza Frendy, mahasiswa yang saat ini tengah aktif menyuarakan program kerja Taxplore–nya. Sebagai sebuah program kerja utama Kostaf dan telah mendapat aspirasi dari pihak umum, redaksi tertarik untuk mencari tahu

bagaimana sesungguhnya kiprah Taxplore selama ini. Kolom Sumbang Suara pun menyuarakan lebih jelas tentang program ini. Tak lengkap juga jika seluruh pandangan peran pemuda tersebut tidak disempurnakan oleh pihak yang lebih kompeten dan professional. Pada sesi opini akan ada pandangan Ibu Dra. Ning Rahayu M.Si, yang merupakan tenaga pengajar di Universitas Indonesia. Beliau memberikan opininya soal kepedulian pemuda terhadap pajak dan apa saja faktor-faktor yang membuat anak muda saat ini kurang peduli terhadap pajak. Bagaimana opini beliau? Pembaca dapat menikmatinya di kolom "Pajak, Agenda Bangsa". Pada sesi akhir tetap akan ada hasil jepretan foto. Foto yang dihasilkan merupakan hasil karya pihak ekstrernal di luar Kanwil DJP Jakarta Selatan. Ada hasil foto kopi darat pertama Pajak Mania hingga suasana penyelenggaraan Taxplore. Semuanya dapat dilihat pembaca di kolom Sorot Lensa. Akhirnya yang terpenting dari semua ini, kita dipaksa untuk kembali mengingat salah satu kalimat penting pendiri negeri yang tahu betul bagaimana pentingnya peran pemuda. "Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia". (PP/dedy antropov)

www.kanwiljaksel.pajak.go.id Kanwil DJP Jakarta Selatan @djpjaksel Redaksi menerima tulisan Saudara, baik opini, artikel maupun pendapat. Silakan mengirimkan ke pandupajak@gmail.com

Pembina: Kepala Kanwil DJP Jakarta Selatan • Pengarah: Kepala Bidang P2Humas • Dewan Redaksi: Kasi Penyuluhan, Kasi Pelayanan, Kasi Humas • Redaktur Berita: Dedy Antropov, Aris Hidayat Kurniawan, • Redaktur Foto: Eko Cahyo Putranto, Mahyudin • Tim Layout: Firmania Ayu Ambari • Sekretariat: Fera Fanda • Alamat Redaksi: Bidang P2 Humas Kanwil DJP Jakarta Selatan Gedung Utama KPDJP Lantai 24 Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 40-42 Jakarta Selatan 12190 • email: pandupajak@gmail.com.


OPINI

Pajak, Agenda Bangsa Oleh: Dra. Ning Rahayu, M.Si Dosen Fakultas Ilmu Sospol UI

S

aya kira untuk saat ini belum semua pemuda bisa dikatakan peduli terhadap pajak Kepedulian terhadap pajak hanya dirasakan oleh beberapa pemuda yang secara basic–nya memang mengambil jurusan pajak atau yang benar-benar belajar mengenai ilmu perpajakan. Kalau yang di luar itu saya melihat belum terlalu terlihat kepeduliannya terhadap pajak. Tentunya kesadaran pemuda terhadap pajak bisa dikatakan akan timbul jika pemuda itu sendiri setidaknya mengerti atau memahami sedikit saja apa itu pajak sebenarnya, bagaimana pengalokasian dana pajak, hingga untuk apa pajak itu sendiri. Dari sinilah kepedulian pemuda terhadap pajak bisa dimulai. Memang kita pun tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak faktor yang menyebabkan para pemuda tidak peduli pajak. Pertama, di Indonesia, pajak itu tidak di tanamkan sejak kecil dan tidak masuk dalam kurikulum baku. Padahal sangat penting untuk menanamkan pengetahuan pajak sejak dini lewat pembakuan kurikulum minimal dimulai di sekolah dasar. Cara penyampaiannya pun bia dilakukan dengan sederhana misalnya dengan mensosialisasikan pajak sebagai sarana untuk gotong royong dalam pembangunan bangsa. Kedua, pajak itu dalam kehidupan masyarakat masih diartikan sebagai momok, sehingga mereka sulit untuk peduli. Jeleknya konotasi ini disebabkan kesalahan dari pihak pemerintah yang kurang bisa memberikan sosialisasi mengenai apa itu pajak sejak dini. Seharusnya pemerintah menya-

PANDU PAJAK

dari bahwa dalam mewujudkan kepedulian terhadap pajak, sebelumnya pemerintah harus terlebih dahulu menjelaskan apa itu pajak sebenarnya dan menciptakan image yang baik soal pajak. Buatlah anggapan bahwa pajak itu merupakan partisipasi masyarakat. Inilah yang penting ditanamkan sejak dini sehingga dapat merubah pandangan para pemuda. Selain kedua faktor utama tadi masih ada faktor lainnya seperti pengalokasian dana pajak yang masih belum tersosialisasikan secara baik di Indonesia. Masyarakat masih menilai negatif Direktorat Jenderal Pajak yang memungut dana pajak mereka. Akibatnya mereka pun takut untuk membayar pajak, karena ada asumsi bahwa pajak mereka kelak akan di 'korupsi', padahal tidak seperti itu sebenarnya. Kita bisa meniru luar negeri yang aktif mensosialisasikan alokasi dana pajaknya. Misalnya untuk pembangunan jalan mereka tak segan untuk mencantumkan tulisan 'jalanan ini dibangun dari dana pajak anda' sehingga mereka peduli dengan pajak. Inilah mungkin faktor-faktor yang menyebabkan masih banyak masyarakat terutama pemuda yang belum peduli pajak. Dalam memberikan kesadaran dan kepedulian pajak ini, saya harapkan inilah waktunya pemuda untuk mengambil kesempatan. Pemuda yang merupakan agent of development punya peran sebagai penerus bangsa. Oleh karena itu, kepedulian mereka terhadap pajak sangat diperlukan untuk memberikan jaminan terhadap pembangunan negeri ini di masa

KANWIL DJP JAKARTA SELATAN

depan. Jika kepedulian pajak tidak dimiliki oleh para pemuda, kita tidak bisa mengira kelak akan seperti apa negeri ini. Pada tahap awal mungkin peran pemuda ini bisa dilakukan dengan aktif mensosialisasikan pentingnya pajak untuk negara hingga terlibat langsung dalam penyelenggaraan acara yang bertemakan pajak/ Lewat cara-cara ini saja akan tumbuh jiwajiwa pemuda yang kental terhadap pajak. Setelah ini terbentuk pada tahapan selanjutnya, pemuda ini melangkah ke arah sinergi dengan pihakpihak terkait, misalnya Direktorat Jenderal Pajak dalam hal ini. Kalau ini terjadi kemungkinan menjadikan pajak sebagai sebuah agenda bangsa yang sangat penting untuk kepentingan bersama akan lebih mudah untuk dicapai. Pada tahap akhir akan tumbuh sebauh kesadaran bahwa kepedulian pajak itu bukanlah hanya tugas Direktorat Jenderal Pajak saja tetapi merupakan kepentingan bersama, kepentingan kita semua. •pp

OKTOBER 2013

3


PANDU UTAMA

Para peserta dan panitia workshop SPT Itu Mudah

Pajak Mania "Masalahnya ada pada sisi kepercayaan, mas. Pajak belum bisa menunjukkan itu kepada masyarakat." Pendapat tersebut muncul dari seorang mahasiswa saat saya bertanya soal rendahnya kepatuhan masyarakat terhadap pajak.

T

iga orang mahasiswa Universi tas Indonesia meluncur ke kantor saya siang itu. Awalnya kami hanya ingin membahas acara bersama bertema pajak. Namun, merasakan antusias yang tinggi pada jiwa-jiwa mahasiswa tersebut dan pengalaman mereka yang telah akrab mengkampanyekan pajak, obrolan kami akhirnya menyasar kepada pendapat tadi.

4

Tak sekedar memberikan pendapat, mereka pun membagikan solusi terkait masalah tersebut berdasarkan pengala man mereka selama ini. "Kita harus membangun kepatuhan pajak dengan terlebih dahulu melibatkan orang-orang yang telah patuh atau setidaknya sadar pajak dulu. Seperti kami, kami tahu pajak itu penting, makanya kami tularkan lewat acara bertema pajak."

PANDU PAJAK

KANWIL DJP JAKARTA SELATAN

Komunitas Kepercayaan Sebulan sebelum bertemu dengan ketiga mahasiswa tadi, saya sempat menghadiri sebuah acara kopi darat yang difasilitasi oleh komunitas Pajak Mania. Komunitas yang diotaki oleh Daniel William ini adalah wadah bagi orang-orang yang peduli pajak dan mengganggap pajak bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sekitar enam puluh orang menghadiri acara ini. Mulai dari anak muda hingga eksekutif muda gabung. Pembauran kultur etnis pun tampak dari beragamnya peserta yang hadir. Tentu saja mereka pun tidak hanya berasal dari Jakarta, beberapa peserta yang hadir berasal dari Depok, Tangerang, hingga Bekasi. Pemandangan yang lebih menarik lagi ketika melihat petugas pajak, konOKTOBER 2013


PANDU UTAMA

sultan pajak dan wajib pajak duduk bareng di acara ini. Ketiga sosok penentu pajak ini pun hadir dalam kapasitas yang sama, tak ada yang lebih tinggi satu sama lain. Sepanjang acara saya melihat tak ada kecanggungan di antara peserta. Semua berkesempatan menyumbangkan pikiran tanpa melihat latar belakangnya. Membaur satu sama lain hingga tak terlihat gambaran kekakuan atau keruwetan berurusan dengan pajak ala kantoran. Bisa dikatakan para peserta menikmati jalannya acara. Dari acara ini saya pun menemukan dua hal yang menarik. Pertama saya menemukan keunikan soal bagaimana komunitas ini terbentuk. Komunitas ini terbentuk atas dasar kepedulian pajak, hal yang jarang disenangi orang. Anda semua tahu sendiri kan bagaimana

PANDU PAJAK

pandangan banyak orang soal pajak. Hampir semua punya persepsi miring. Tetapi kejadian berbeda terjadi saat komunitas ini mampu terbentuk dari hal yang tak disenangi tersebut. Hal kedua dan yang tak kalah uniknya adalah bagaimana komunitas ini berkembang. Komunitas ini berkembang dalam balutan kepercayaan yang kuat. Kepercayaan yang mampu mendudukkan petugas pajak, konsultan pajak dan wajib pajak dalam meja yang sama. Jika biasanya kita hanya bisa melihat mereka duduk bareng di pengadilan pajak dengan bumbu argumen dalih dan tanggapan, semua itu tak terlihat di acara ini. Semuanya telah terkunci oleh unsur kepercayaan yang dibangun secara alamiah dan dikehendaki oleh tiap-tiap anggota. Itulah mengapa saya lebih suka melabeli komunitas ini dengan komunitas kepercayaan. Unsur trust nya begitu kentara walaupun sejatinya mereka berbeda kepentingan di lapangan.

Pajak Mania Selalu ada unsur trust ketika kita berbicara kepatuhan. Begitu pun dengan kepatuhan terhadap pajak. Masalah trust menjadi problem utama

KANWIL DJP JAKARTA SELATAN

yang sering membuat banyak masyarakat enggan membayar pajak. Kegagalan menyajikan trust pun membuat resistensi terhadap pajak semakin besar. Para ulama tak segan mengeluarkan fatwa haram pajaknya, komunitas anti pajak tumbuh subur di sosial media sampai media massa pun tak luput menjadikan pajak sebagai media darling- nya. Semua ini gambaran symptom kepatuhan pajak yang masih rendah. Menjelaskan soal trust ini, kita bisa berkaca pada apa yang dilakukan oleh komunitas Pajak Mania. Membangun komunitas yang tidak didasari oleh kegemaran banyak orang pada umumnya, Pajak Mania memulai unsur trust nya dengan terlebih dahulu memberikan porsi yang sama bagi tiap anggotanya untuk menyuarakan pendapatnya soal pajak. Tak ada kesungkanan untuk membahas berbagai masalah pajak hingga sisi negatif pajak sekali pun dapat dibahas di komunitas ini. Lewat kapasitas mereka, yang pada dasarnya telah patuh pajak, komunitas ini pun menjadi sebuah komunitas yang lahir secara genuine untuk memenuhi kebutuhan berbagi ilmu pajak. Pelan-pelan dari kebutuhan berbagi ilmu pajak tadi, terbentuklah unsur

OKTOBER 2013

5


PANDU UTAMA

Dedy Antropov, Pelaksana Kanwil DJP Jakarta Selatan

trust yang mengikat mereka. Akhirnya tidak ada keanehan lagi bagi petugas pajak, konsultan pajak dan wajib pajak untuk nimbrung di komunitas ini. Semua melupakan embel-embel kepentingannya. Kabutuhan mereka akan ilmu pajak serta saling tukar menukar informasi pajak telah membuat mereka sejenak melupakan identitas pribadinya Namun pertanyaan yang kembali muncul adalah bagaimana cara menuju ke unsur trust seperti yang ditunjukkan oleh Pajak Mania? Kalau Pajak Mania kan sudah jelas diikuti oleh anggota yang benar-benar telah peduli pajak, bagaimana dengan orang awam untuk bisa menuju ke unsur trust ini? Jawaban mahasiswa yang datang ke kantor saya bisa mewakili. Melibatkan orang-orang yang telah patuh pajak atau setidaknya telah sadar pajak dalam menyuarakan pentingnya kepatuhan pajak adalah salah satu solusinya. Ingat bagaimana negeri ini dahulu merdeka? Ada peran orang cerdas dibelakangnya. Ada peran Dr. Soetomo di Boedi Oetomo-nya, tiga serangkai Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara dan Dr Cipto Mangunkusumo dalam Indische Partij, atau Perhimpunan Indonesia-nya Moh. Hatta yang bergerak di luar negeri hingga tokoh-tokoh cerdas lainnya. Merekalah yang terlebih dahulu mengirim sinyal kesadaran untuk memerdekakan negeri ini. Lewat sinyal-

6

“

Menjelaskan soal trust ini, kita bisa berkaca pada apa yang dilakukan oleh komunitas Pajak Mania. Membangun komunitas yang tidak didasari oleh kegemaran banyak orang pada umumnya, Pajak Mania memulai unsur trust nya dengan terlebih dahulu memberikan porsi yang sama bagi tiap anggotanya untuk menyuarakan pendapatnya soal pajak

�

sinyal tadi akhirnya kita semua sadar untuk bergerak dan menyongsong kemerdekaan tersebut. Menularkan virus kesadaran pajak dengan melibatkan orang-orang yang sadar terlebih dahulu akan jauh lebih

PANDU PAJAK

KANWIL DJP JAKARTA SELATAN

efektif. Pesan yang ingin ditularkan tidak menjadi hambar ketika kita tahu bahwa mereka yang menularkan pesan tersebut adalah mereka yang benarbenar peduli dan dipenuhi kapasitas dalam mengajak bergerak bersama untuk sadar. Dari sini, kita bisa belajar bahwa meningkatkan kepatuhan masyarakat akan pajak itu selalu terkait soal partisipasi dan kepercayaan. Jika terus menerus mengkampanyekan peranan pajak dengan kepentingan subsidi, pembangunan fasilitas pendidikan, kesehatan hingga berbagai kepentingan sosial lainnya, sesungguhnya ada yang terlupakan di dalamnya. Semua kebutuhan tersebut hanya menyiratkan sisi-sisi kepentingan kalangan bawah. Padahal pajak itu bukanlah kebijakan yang dibuat untuk memenuhi rasa iba atau kasihan yang memperdaya kalangan bawah tapi harus mengakomodasi seluruh kalangan, apakah itu kalangan bawah atau atas. Soal pajak adalah soal bersama. Ada dasar konstitusi yang jelas untuk mengaturnya, jadi kepentingannya pun harus melibatkan semuanya. Seperti Pajak Mania yang telah membuat informasi pajak itu sebagai sebuah kebutuhan di antara anggotanya, kepatuhan pajak pun harus seperti itu. Semua menikmati dan semua berpartisipasi.• (dedy antropov)

OKTOBER 2013


SOSOK

Saya Ingin Mengajak Orang Cinta Pajak

D

alam tiga tahun terakhir, mungkin bagi Anda yang gemar dengan social media twitter dan peduli terhadap pajak pasti sudah tidak awam lagi dengan sebuah akun yang bernama Pajak Mania. Akun yang konsisten dalam berbagai pengetahuan dan hal-hal baru bertema pajak ini telah cukup mendapat perhatian dari berbagai kalangan penikmat dunia maya. Bahkan akun ini tak jarang menjadi tempat bertanya atau pun resensi dalam memahami ilmu perpajakan. Namun tahukah kita siapa kah penggagas akun Pajak Mania ini? Ya ternyata penggagas akun ini adalah seorang anak muda bernama Daniel William. Daniel yang saat ini beraktivitas sebagai salah satu pegawai di kantor akuntan publik kompeten di Jakarta lah yang pertama kali memiliki ide untuk membuat akun Pajak Mania. Awalnya akun Pajak Mania ini merupakan salah satu bentuk kesadaran Daniel yang merasakan bahwa masih banyak orang yang menganggap pajak itu merupakan hal yang menakutkan. Daniel sendiri secara jujur pun tidak menyanggah anggapan bahwa pajak merupakan hal menakutkan. Lewat pengalaman pribadi orang tuanya, yang kerap menemukan kesulitan terkait pelaporan dan perhitungan usahanya hingga tak jarang ditakut-takuti soal pajak, membuat orang tuanya memintanya untuk kuliah di bidang perpajakan agar nantinya tidak mengalami kesulitan lagi saat mengurusi pajak. Akhirnya atas arahan orang tuanya tersebut, Daniel pun melanjutkan pendidikan dengan mengambil jurusan Akuntansi Pajak di salah satu universitas swasta Jakarta. Dari sinilah cikal bakal Pajak Mania mulai dirintisnya. Jika di awal-awal perkuliahannya beliau kerap merasakan kesulitan dengan pelajaran-pelajaran kuliahnya, akhirnya pada saat menemukan mata pelajaran pajak rasa ingin tahunya terkait pajak mulai muncul. Bahkan rasa ingin tahu ini pun membawanya ke arah seorang yang mania akan pajak. Selain itu, beliau pun merasakan bahwa hal-hal sulit yang selama ini dirasakan banyak orang terhadap pajak ternyata salah. Atas dasar rasa mania nya ini, di awal Februari 2010, Daniel pun mengarsiteki terbentuknya akun twitter Pajak Mania ini. Beliau ingin membuat persepsi bahwa pajak itu susah, mengapa kita mesti tak akrab dengan pajak hingga berbagai pandangan tak mengenakkan soal pajak dapat berubah lewat akun twiter ini. "Saya ingin mengajak orang cinta pajak", ujar Daniel

Kopdar Pertama Pajak Mania Keluangan waktu yang dimiliki oleh Daniel pada saat

PANDU PAJAK

Daniel William

duduk di bangku kuliah membuatnya mulai berusaha mengembangkan akun Pajak Mania. Berbagai cara dilakukannya antara lain dengan membuat kuis-kuis pajak, berbagi pengetahuan pajak, mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan pajak yang diajukan para follower Pajak Mania hingga banyak cara lainnya akhirnya membuat Pajak Mania mulai dikenal oleh banyak orang. Dari sini beliau pun membangun banyak pertemanan dengan berbagai pihak-pihak lainnya yang juga peduli pajak. Kesuksesan membangun akun ini pun membuatnya barubaru ini berhasil melak-sanakan acara kopi darat (kopdar) pertama bagi para follower Pajak Mania. Lewat cara ini Daniel ingin semakin menciptakan rasa senang terhadap pajak itu semakin besar dan pastinya di kopdar ini dibagikan juga pengetahuan soal pajak. Tentu dalam mengembangkan akun twitter Pajak Mania banyak juga tantangan yang dihadapinya. Mulai dari keterbatasan waktunya untuk mengelola akun ini, mecari admin-admin yang bisa membantunya hingga banyaknya anggapan yang sering mencibir pajak pun juga dirasakannya. Tapi semua itu berhasil dilewatinya. "Masalah-masalah itu nantinya akan hilang sendiri", jelasnya. Terkait semakin tumbuh suburnya berbagai akun twitter yang juga membahas soal pajak, Daniel mengganggap itu sebagai hal positif. Beliau merasa bahwa banyaknya akun twitter tersebut semakin membantu dalam menyebarkan berbagai pengetahuan pajak. "Yang terpentingnya goal-nya sama", ucap Daniel. (dedy antropov)

KANWIL DJP JAKARTA SELATAN

OKTOBER 2013

7


SOSOK

Mereka Kurang Pencerahan

S

alah satu organisasi mahasiswa yang sangat peduli dengan pengembangan pajak terhadap para masyarakat umum saat ini adalah Kostaf (Kelompok Studi Administrasi Fiskal). Organisasi yang menaungi para mahasiswa jurusan administrasi fiskal Universitas Indonesia ini telah berkali-kali menye-lenggarakan berbagai kegiatan anak muda yang bertema pajak. Acara–acara utama seperti Taxplore, Fiscal Corner Day, Simulasi Peradilan Pajak, hingga berbagai acara bertema pajak lainnya telah dilaksanakan Aprilia Nurjannatin oleh Kostaf. Pada awalnya Kostaf hanya berwujud sebuah group discussion yang melibatkan beberapa mahasiswa di tahun 1980-an. Salah satu penggagasnya saat itu adalah Ibu Dra Ning Rahayu, M.Si yang kini telah menjadi salah satu tenaga pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dari sinilah cikal bakal Kostaf mulai terbentuk. Lewat ide-idenya akhirnya kini Kostaf telah resmi menjadi sebuah organisasi mahasiswa yang turut memberikan kontribusi di dunia pendidikan. Saat ini, Kostaf yang berafiliasi langsung dengan Himpunan Mahasiswa Administrasi, terus berusaha mengembangkan sayapnya dalam dunia kemahasiswaan. Saat ini Kostaf tengah dipimpin oleh Aprilia Nurjannatin. Dibawah kepemimpinannya, April memiliki visi untuk menjadikan Kostaf sebagai barometer perpajakan bagi para mahasiswa di Indonesia. Lewat visinya inilah April terus melakukan perbaikan dan pengembangan Kostaf kedepannya.

Kurang Pencerahan Di masa kepemimpinan April, berbagai agenda acara telah disiapkan oleh Kostaf. Acara-acara bertema pajak ini dilaksanakan secara runtun mulai awal-awal masa perkuliahan hingga nantinya akan

8

PANDU PAJAK

dilakukan pergantian pengurus di Kostaf. Tentu semua acara tersebut tetap melibatkan seluruh mahasiswa Adminitrasi Publik sebagai komponen utama. Tentunya dalam mengembangkan Kostaf sendiri terjadi banyak tantangan yang dihadapi oleh Kostaf. Tantangan yang datang pun tidak hanya bersifat eksternal saja tetapi internal juga berpengaruh. Lewat iklim Universitas Indonesia yang kurang mendukung mahasiswanya untuk bergerak berorganisasi dan lebih cenderung mendukung mahasiswa untuk menjadi mahasiswa akademisi yang sesungguhnya membuat kegiatankegiatan mereka terkesan kurang didukung. Namun, dengan kondisi para mahasiswanya yang benar-benar peduli terhadap organisasi berbagai acara tersebut tetap dapat berjalan dengan baik. Selain itu peran tax centre dalam mendukung kegiatan mereka pun dikeluhkan oleh April. Keberadaan tax centre yang seharusnya dapat mendukung justru saat ini seperti berada berseberangan dengan Kostaf. Selain itu, faktor eksternal mengenai berbagai kegiatan mereka yang kurang mendapat support dari pemerintah seperti Direktorat Jenderal Pajak (DJP) pun turut dikeluhkan. Belum ada support langsung yang bisa dirasakan oleh Kostaf padahal berbagai acara yang diselenggarakan Kostaf turut mendukung pajak juga. "Kita juga kan membantu DJP", ujar April. Masalah klasik yang sering dihadapi juga soal banyaknya masyarakat yang masih belum percaya terhadap pajak. Keterbatasan pengetahuan yang dimiliki masyarakat menjadi penyebab utama yang membuat masyarakat kurang memahami pajak. "Mereka kurang pencerahan", jelas April Pendapat inilah yang ingin dikikis oleh Kostaf dalam setiap tema acaranya. • (dedy antropov)

KANWIL DJP JAKARTA SELATAN

OKTOBER 2013


Sumbang Suara Pandu Pajak akan membahasnya lewat wawancara berikut. Apa yang sebenarnya membuat Anda tertarik untuk melaksanakan acara bertema pajak? Awalnya tentu karena kita semua memang punya basic pajak sebagai mahasiswa jurusan Administrasi Fiskal, Kita kan memiliki organisasi bagi anak-anak administasi fiskal yang bernama Kostaf, Kelompok Studi Administrasi Fiskal. Lewat organisasi ini kita mulai melakukan banyak acara, sperti Taxplore sendiri hingga berbagai acara lainnya yang rutin kita selenggarakan. Tentu kita pun menyadari bahwa sebagai mahasiswa, kitalah sesungguhnya lidah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Kita berperan dalam menyuarakan apa itu fiskal, publikasi fiskal itu sesungguhnya dan karena umumnya fiskal itu terkait dengan pajak akhirnya kita banyak bergerak dalam kepedulian terhadap pajak. inilah yang membuat kita tertarik untuk memberikan pengetahun pajak terhadap para mahasiswa hingga masyarakat umum. Bagaimana dengan peran tax centre Universitas Anda dalam mendukung setiap kegiatan ini? Kostaf sendiri sebenarnya dipayungi oleh tax center juga. Tax center sendiri kan memang didirikan untuk

Reza Frendy

Masalah Pajak, Masalah Anak Muda

S

alah satu event besar dan rutin yang selalu digagas oleh pemuda dalam menyadarkan peran pajak kepada masyarakat adalah Taxplore. Taxplore yang merupakan acara arahan para mahasiswa Jurusan Administrasi Fiskal Universitas Indonesia saat ini telah menjadi sebuah parameter ajang perlombaan pajak. Setiap tahunnya berbagai perlombaan dipertandingkan di acara ini. Tentunya, pelaksanaan acara ini pun menjadi sebuah bukti tonggak peran pemuda dalam menyadarkan pajak. Melihat kesuksesan acara ini, Redaksi Pandu Pajak pun berkesempatan berbincang langsung dengan Ketua Penyelenggara pelaksanaan Taxplore 2013, Reza Frendy. Bagaimana sesungguhnya pendapatnya soal penyelenggaraan acara pajak yang berkolaborasi dengan pemuda? Apa harapannya terkait peran pemuda terhadap pajak?

PANDU PAJAK

melindungi dan menggerakkan pendidikan di Administrasi Fiskal. Tax center sendiri cukup mendukung para mahasiswa dalam memperkaya pengetahuan mahasiswa. Misalnya jika ada kebutuhan akan pengetahuan pajak terkadang tax centre menyediakan berbagai buku hingga plikasi-aplikasi yang dibutuhkan. Tax centre mengerakkan, mensupport berbagai kegiatan kita. Kadang peran mereka kita libatkan dalam pemberian materi di acaracara kita. Intinya pendidikan di fiskal itu benar-benar didukung dan difasilitasi oleh tax centre. Bagaimana dengan dukungan pemerintah terkait acara Anda? Dukungan pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak terkadang memang mereka memberikan dukungan baik itu berupa sponsorship atau para juri.

KANWIL DJP JAKARTA SELATAN

OKTOBER 2013

9


Sumbang Suara

FOTO REPRO:(www.marcobookkeeping.com)

Memang ada pandangan negative mereka soal pajak. Rasa ketidakpercayaan mereka terhadap pajak lebih cenderung diperlihatkan sehingga enggan untuk mendekati pajak. Selain tentunya mereka masih merasa kesusahan dalam menghitung pajaknya. Mungkin inilah masalah utama pajak di mata masyarakat.

Namun, sejujurnya kita masih sering diribetkan dengan birokrasi yang ada disana. Terkadang meminta pembicara kita masih susah atau pun surat yang kita sampaikan masih harus ditunggu lama balasannya. Intinya birokrasinya maish perlu diperbaiki. Kan apa yang kita lakukan ini juga mendukung kinerja mereka dalam menghimpun penerimaan pajak. Bagaimana pandangan orang-orang terhadap berbagai acara Anda yang membawa unsur pajak? Tentu banyak pandangan soal acara kita. Sebagai pengalaman saja, tentu dalam setiap acara kan kita membutuhkan banyak dana untuk mendukung acara. Nah, pernah kita berinisiatif untuk berdagang demi mengumpulkan dana. Saat kita sedang berdagang ini pernah ada yang tidak ingin membeli hanya karena tahu bahwa uang pembelian mereka akan digunakan untuk pajak. Mereka sangat tidak suka dan masih memandang pajak itu secara negatif. Mungkin ini sisi penolakannya. Akan tetapi kalau secara keseluruhan, setiap penyelenggaraan acara kita selalu mendapat apresiasi. Hampir semua acara dihadiri oleh berbagai universitas, institusi swasta hingga masyarakat umum lainnya. Mereka peduli juga kok terhadap acara kita dan mereka juga bukan sekedar datang untuk bertanding juga tetapi menunjukkan ekspektasi yang benar-benar senang dengan terselenggaranya acara kita. Bagaimana pandangan mereka dengan pajak? Kalau dengan peserta acara kita tentu mereka cenderung menilai pajak sudah secara positif, namun pasti berbeda dengan masyarakat umum kebanyakan.

10

PANDU PAJAK

Ada solusi terkait masalah ini? Kalau solusi yang bisa saya berikan mungkin seharusnya pajak itu bisa memberikan transparansi terkait dana pajaknya itu digunakan untuk apa. Wujud pembayaran pajak itu cobalah kita tunjukkan pada masyarakat bahwa apa yang mereka peroleh itu sebenarnya berasal dari pajak. Transparansi inilah yang belum dirasakan oleh masyarakat. Jadi, muncul anggapan bahwa buat apa bayar pajak kalau tidak ada imbal baliknya. Selain itu dibuat jugalah iklan-iklan masyarakat yang benar-benar mampu menyampaikan maksud akan pentingnya pajak tersebut. Lewat iklan yang baik kan sisi psikologis masyarakat bisa disentuh sehingga sisi ketidakpercayaan tadi bisa diatasi. Selain itu program whistleblowing pun teruslah diaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Ini cara efektif membuktikan bahwa pajak itu telah berubah. Harapan Anda soal Pemuda dan Pajak? Saya berharap Direktorat Jenderal Pajak mendukunglah setiap acara kegiatan kita. Tujuan kita kan sama, sama-sama ingin menyadarkan masyarakat akan pentingnya pajak. Masalah pajak kan masalah anak muda juga. Kita sebagai pemuda mau buat semua orang peduli akan pentingnya pajak, paham bahwa pajak itu menopang hampir 79% APBN. Bayangkan kalau kita bisa bersama menyadarkan semua orang akan pajak mungkin porsi pajak lebih bisa ditingkatkan lagi, dengan jumlah wajib pajka yang bisa dikatakan masih rendah seperti saat ini saja kita bisa menopang 79% penerimaan negara, bayangkan bagaimana kalau semua masyarakat sadar pajak. Saya pun juga mengharapkan whistleblowing tetap dijalankan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Ini sangat penting dalam menghilangkan persepsi masyarakat terkait ketidakpercayaan tersebut. •(pp)

KANWIL DJP JAKARTA SELATAN

OKTOBER 2013


SOROT LENSA

Suasana pelaksanaan Workshop SPT itu mudah di beberapa Tax Center Jakarta Selatan

Para Peserta Seminar Beraktivitas Langsung dalam Seminar Taxplore 2012

Suasana Berbagi Informasi Perpajakan di Kopi Darat Pertama Pajak Mania

Jakarta Meeting di Kampus Univeritas Indonesia yang mencetuskan berdirinya Himpunan Mahasiswa Pajak Indonesia

PANDU PAJAK

KANWIL DJP JAKARTA SELATAN

OKTOBER 2013

11


www.kanwiljaksel.pajak.go.id Kanwil DJP Jakarta Selatan @djpjaksel

KPP Madya Jakarta Selatan Jalan Ridwan Rais No. 5A-7, Gambir, Jakarta Pusat 10110, Telp: 021-3447971, 3447972, 3504170. Fax: 021-3447971 •KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu Jalan Rasuna Said Blok B Kav. 8, Jakarta Selatan 12190, Telp: 021-5254237-5253622, Fax: 021-5252825 •KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua Jalan Rasuna Said Blok B Kav. 8, Jakarta Selatan 12190, Telp: 021-5254237-5253622, Fax: 021-5252825 •KPP Pratama Jakarta Setiabudi Tiga Jalan Raya Pasar Minggu No. 11, Pancoran, Jakarta Selatan 12780, Telp: 021-7993028-7992961, Fax: 021-7994253 • KPP Tebet Jalan Tebet Raya No. 9, Jakarta Selatan, Telp: 021-8296869,8296937, Fax: 021-8296901 •KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Satu Gedung Patra Jasa Lantai 1 & 14, Jalan Jend. Gatot Subroto-Jakarta, Telp: 021-52920983, 52921276, Fax: 021-52921274 •KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua Jalan Ciputat Raya No. 2 Pondok Pinang, Jakarta Selatan 12310, Telp: 021-75818842,75908704, Fax: 021-75818874 •KPP Kebayoran Baru Tiga Jalan K.H. Ahmad Dahlan No. 14 A, Jakarta Selatan 12130, Tel: 021-7245735,7245785, Fax: 021-7246627 •KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama Jalan Ciledug Raya No. 65, Jakarta Selatan 12250, Telp: 021-5843105-5843109, Fax: 021-5860786 •KPP Pratama Jakarta Mampang Prapatan Jalan Raya Pasar Minggu No. 1, Jakarta Selatan 12780, Telp: 021-79191232 /7949574-5/7990020, Fax: 021-7949575 •KPP Pratama Jakarta Pancoran Jalan T.B. Simatupang Kav. 5 Kebagusan, Jakarta Selatan 12520, Telp: 021-7804462, 7804667, 7804451. Fax: 021-7804862 •KPP Pratama Jakarta Cilandak Jalan T.B. Simatupang Kav. 32, Jakarta Selatan 12560, Telp: 021-78843521-23, Fax: 021-78836258 •KPP Pratama Jakarta Pasar Minggu Jalan T.B. Simatupang Kav. 39, Jakarta Selatan 12510, Telp: 021-7816131-4 /78842674, Fax: 021-78842440.


Pandu Pajak Oktober 2013