Page 1

Surat Kedua Puluh Dua

471

paling kecil. Sebaliknya, mencari rezeki dengan sikap tawakkal mendatangkan kelapangan dan ketenangan. Ia memperlihatkan buahnya yang bermanfaat di setiap tempat. Sebagai contoh, berbagai tumbuhan dan pohon berbuah yang membutuhkan rezeki—di mana ia termasuk kategori makhluk hidup—mendapatkan rezeki dengan sangat cepat meskipun ia tetap diam di tempatnya disertai tawakkal dan sikap qanaah, tanpa menunjukkan tanda ketamakan. Ia mengalahkan hewan dilihat dari sisi pemberian nutrisi kepada buahnya. Adapun hewan mendapatkan rezeki setelah melakukan berbagai upaya; rezeki yang didapatkannya juga sedikit dan terbatas. Hal itu lantaran ia memburunya dengan sikap tamak. Bahkan, dalam dunia hewan pun kita melihat bagaimana rezeki dilimpahkan kepada yang masih kecil, yang menunjukkan rasa tawakkal kepada Allah lewat kondisi mereka yang lemah. Rezeki mereka yang lembut dan sempurna dikirim dari perbendaharaan rahmat Ilahi. Sementara berbagai hewan buas yang memangsa buruannya dengan sangat tamak baru mendapatkan rezeki setelah melakukan usaha keras. Dua kondisi tersebut menjelaskan secara sangat gamblang bahwa sikap tamak menyebabkan keterhalangan. Sebaliknya, sikap tawakkal dan qanaah menjadi sarana pembuka rahmat dan karunia Tuhan. Hal yang sama kita dapati dalam dunia manusia. Bangsa Yahudi yang merupakan manusia paling rakus terhadap dunia dan lebih mencintai dunia ketimbang akhirat, bahkan mereka tergila-gila kepadanya melebihi bangsa lain, telah ditimpa kehinaan dan kenistaan. Mereka menjadi sasaran pembunuhan bangsa lain. Semua itu terjadi akibat aset ribawi yang mereka peroleh setelah melalui perjuangan panjang. Mereka tidak mau mengeluarkannya kecuali hanya sedikit. Seolah-olah tugas mereka hanya mengumpulkan dan menyimpan kekayaan. Kondisi tersebut menjelaskan kepada kita bahwa tamak merupakan sumber kehinaan dan kerugian bagi umat manusia. Terdapat banyak kejadian dan peristiwa yang jumlahnya tak terhitung bahwa ketamakan selalu mengarah pada kerugian dan penyesalan sehingga ada pepatah yang berbunyi:


472

AL-MAKTÛBÂT

“Orang yang tamak selalu gagal dan merugi.”464 Semua orang menganggap pepatah tersebut benar adanya. Jika demikian, apabila engkau sangat mencintai harta, burulah ia dengan sikap qanaah tanpa disertai sikap rakus agar ia datang kepadamu dalam jumlah besar. Kita bisa mengumpamakan orang yang merasa cukup (qanaah) dan orang yang tamak seperti dua orang yang masuk ke dalam jamuan besar yang disediakan oleh seseorang yang terpandang. Salah seorang dari keduanya berharap, “Kalau tuan rumah memberiku tempat berteduh sehingga aku bisa selamat dari cuaca dingin di luar, hal itu sudah cukup. Kalau kemudian ia memberiku tempat duduk seadanya di tempat yang paling rendah sekalipun, hal itu merupakan bentuk kebaikan dan kemurahannya.” Sementara orang yang kedua bersikap seolah-olah memiliki hak yang harus dipenuhi pihak lain dan semua orang tampak terpaksa memberikan penghormatan kepadanya. Melihat hal itu ia pun berbisik dalam hatinya dengan sombong, “Tuan rumah harus memberiku posisi yang paling tinggi dan paling baik.” Begitulah, ia masuk ke dalam rumah dengan membawa sikap tamak dan mengharapkan posisi yang tinggi. Namun ternyata tuan rumah justru mengembalikan dan menurunkannya ke posisi yang paling rendah. Maka, ia merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut dan dadanya dipenuhi oleh kemarahan terhadap tuan rumah. Pada saat di mana ia semestinya berterima kasih, ia melakukan yang sebaliknya. Ia mengkritik tuan rumah sehingga si tuan rumah kesal kepadanya. Sebaliknya, orang pertama masuk ke rumah dan menunjukkan sikap tawaduk dengan berusaha duduk di tempat yang paling rendah. Tuan rumah senang dengan sikap qanaah yang ia tunjukkan. Ia menaikkan orang pertama tersebut ke posisi yang paling tinggi. Orang itu pun semakin menunjukkan rasa syukur dan ridha setiap kali naik ke tingkatan yang lebih tinggi. 464

al-Maidanî, Majma`ul Amtsâl, j.1, h.214.


Surat Kedua Puluh Dua

473

Begitulah adanya. Dunia ini adalah negeri jamuan Tuhan (ar-Rahmân). Permukaan bumi adalah hidangan rahmat-Nya. Berbagai macam rezeki dan nikmat di dalamnya laksana tempat duduk yang posisinya beragam. Dampak buruk dan akibat dari sikap tamak dapat dirasakan oleh setiap orang, bahkan meskipun sikap tamak tersebut terkait dengan hal yang paling kecil dan sepele. Sebagai contoh: semua orang merasa tidak nyaman menghadapi pengemis yang terus-menerus meminta sehingga ia terpaksa mengusirnya. Sebaliknya, semua orang merasa kasihan melihat pengemis yang tidak banyak bicara dan bersikap qanaah sehingga mereka pun memberikan uang kepadanya. Contoh lain: misalkan suatu saat engkau susah tidur malam. Perlahan-lahan engkau bisa tertidur jika menghadapinya dengan santai dan tidak gelisah memikirkannya. Akan tetapi, jika engkau sangat ingin tidur dan gelisah dengannya sehingga terus berujar, “Kapan aku bisa tidur? Kenapa tidak bisa tidur?â€? tentu engkau tidak akan bisa tidur. Contoh berikutnya: misalkan dengan tidak sabar engkau sedang menunggu seseorang. Engkau pun bersikap tamak (terburu-buru) ingin menemuinya karena ada urusan penting. Dalam kondisi demikian, engkau merasa gelisah seraya berujar, “Mengapa ia belum datang? Mengapa ia datang terlambat?â€? Pada akhirnya, rasa tamak dan keinginan untuk bertemu itu melenyapkan kesabaran yang ada pada dirimu, sehingga engkau putus asa lalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun, tiba-tiba orang yang ditunggu tidak lama kemudian datang. Akan tetapi, hasil yang diharapkan telah sirna. Rahasia dan hikmah di balik berbagai peristiwa di atas adalah bahwa sebagaimana keberadaan roti merupakan hasil dari sebuah proses; dipetik, ditimbun, digiling, dan dipanggang, demikian halnya dengan segala sesuatu. Ia terwujud berkat adanya proses yang bertahap. Adapun sifat tamak tidak bisa bergerak secara bertahap dan perlahan-lahan. Ia tidak memperhatikan tahapan dan tingkatan maknawi yang terdapat dalam segala hal. Ia ingin segera


474

AL-MAKTÛBÂT

melompat sehingga akhirnya terjatuh atau meninggalkan salah satu tahapan sehingga tidak bisa mencapai tujuan yang diharapkan. Wahai saudara-saudaraku yang risau memikirkan kesulitan hidup dan mabuk akibat sifat rakus terhadap dunia! Mengapa engkau menerima kehinaan atas diri kalian demi sikap tamak, padahal ia mendatangkan sejumlah bahaya dan bencana, lalu engkau menerima setiap harta tanpa peduli apakah ia halal atau haram?! Untuk itu kalian rela mengorbankan berbagai urusan penting yang dibutuhkan untuk kehidupan ukhrawi. Bahkan, karena sikap tamak itu kalian meninggalkan salah satu rukun Islam yang penting, yaitu zakat, padahal ia merupakan pintu keberkahan bagi setiap manusia serta cara untuk menangkal bala dan musibah. Orang-orang yang tidak menunaikan zakat harta mereka, pasti akan kehilangan harta sebanyak kadar tersebut, atau mengeluarkannya untuk hal yang tidak penting, atau mendapatkan musibah yang datang tiba-tiba. Dalam mimpi imajiner yang benar, yang terjadi pada tahun kelima dari Perang Dunia I, aku mendapatkan suatu pertanyaan: mengapa kelaparan menimpa umat Islam? Mengapa harta mereka musnah dan tubuh mereka berada dalam kepenatan luar biasa? ini:

Dalam mimpiku itu aku memberikan jawabannya seperti

Allah I mewajibkan kita untuk mengeluarkan sepersepuluh465 dari harta yang kita terima dalam sebagian harta, serta seperempat puluh466 dalam sebagian yang lain. Hal itu agar kita bisa mendapatkan doa tulus yang dipanjatkan oleh kaum fakir miskin, sekaligus untuk menghilangkan kebencian dan kedengkian yang terdapat di hati mereka. Namun, karena ketamakan, harta tersebut justru kita pegang terus dan tidak kita bayarkan zakatnya. Nah, Allah I telah mengambil zakat kita yang bertumpuk itu dengan rasio 30/40 dan 8/10. Sepersepuluh, maksudnya satu dari sepuluh bagian yang didapat, misalnya zakat pertanian–Penulis. 466 Seperempat puluh, maksudnya satu dari empat puluh bagian yang ada, seperti zakat harta perniagaan dan zakat binatang ternak yang biasanya Allah hadirkan pada setiap tahun sepuluh anak hewan baru–Penulis. 465


Surat Kedua Puluh Dua

475

Allah I memerintahkan kepada kita untuk berpuasa dan menahan lapar yang mengandung sejumlah manfaat dan hikmah yang jumlahnya mencapai 70 manfaat. Kewajiban tersebut hanya berlangsung selama sebulan dalam setahun. Namun, kita merasa iba pada diri sendiri. Kita enggan menahan rasa lapar yang membuahkan kenikmatan dan bersifat sementara. Maka sebagai balasannya, Allah berikan kepada kita satu bentuk puasa dan rasa lapar yang beratnya menjadi tujuh puluh kali lipat. Hal itu kita rasakan selama lima tahun berturut-turut. Selanjutnya, Allah I meminta kita untuk menunaikan perintah yang penuh kebaikan, keberkahan, kemuliaan, dan bercahaya, yang hanya memakan waktu satu jam dari 24 jam yang ada. Namun, kita enggan melakukan shalat lima waktu, berdoa, dan berzikir akibat sifat malas. Kita menyia-iyakan satu jam tersebut bersama dengan sisa waktu lainnya. Maka, sebagai tebusannya, Allah menghukum kelalaian dan dosa kita dengan dipaksa untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan shalat lewat cara pemberian intruksi, latihan, perang, penyerangan, dan seterusnya selama lima tahun berturut-turut. Ya, begitulah yang kujelaskan dalam mimpi tersebut. Lalu aku terbangun dan kemudian merenung. Aku pun memahami bahwa terdapat hakikat penting dalam mimpi imajiner di atas. Ada dua kalimat yang menjadi sumber kemerosotan akhlak dan kekacauan dalam kehidupan sosial umat manusia. Keduanya telah kami jelaskan dalam “Kalimat Kedua Puluh Lima” saat membandingkan antara peradaban modern dan ketetapan alQur’an. Kedua kalimat tersebut adalah: 1. 2.

“Yang penting aku kenyang, tidak peduli yang lain mati kelaparan.” “Anda bekerja, saya makan.”

Yang membuat kedua kalimat tersebut tetap eksis dan tumbuh subur adalah tersebarnya riba dan tidak ditunaikannya zakat. Adapun solusi satu-satunya dan obat yang ampuh untuk kedua penyakit sosial tersebut adalah penerapan kewajiban membayar zakat kepada masyarakat secara umum dan pengharaman


476

AL-MAKTÛBÂT

riba. Sebab, urgensi zakat tidak terbatas hanya pada individu atau sejumlah kelompok. Ia adalah pilar penting dalam membangun kehidupan yang bahagia dan sejahtera bagi umat manusia. Bahkan, ia merupakan landasan utama bagi langgengnya kehidupan hakiki manusia. Hal itu dikarenakan di dalam masyarakat terdapat dua tingkatan: kaya dan miskin. Zakat adalah bentuk kasih sayang dan kebaikan kalangan kaya kepada kalangan miskin. Sebaliknya, ia menjamin sikap hormat dan taat kalangan miskin kepada kalangan kaya. Jika zakat tidak ditunaikan, akan terjadi kezaliman dari kalangan kaya kepada kalangan miskin. Sebagai akibatnya, akan timbul kedengkian dan pembangkangan dari kalangan miskin terhadap kalangan kaya. Akhirnya, kedua kalangan tersebut senantiasa berada dalam konfl ik permanen. Keduanya terus berada dalam perselisihan yang sengit sehingga secara bertahap mengarah pada benturan nyata dan konfrontasi di seputar pekerjaan dan kapital, seperti yang terjadi di Rusia. Karena itu, wahai teman-teman yang pemurah dan pemilik nurani, wahai para derwaman! Jika berbagai kebaikan yang kalian berikan tidak diniatkan sebagai zakat, ia akan mendatangkan tiga bahaya. Bahkan ia akan lenyap begitu saja tanpa memberikan manfaat. Sebab, ketika kalian tidak memberikannya atas nama Allah, pasti kalian merasa berjasa dan bermurah hati sehingga si miskin tertawan oleh kebaikanmu. Akibatnya, kalian terhalang mendapatkan doa tulus dari si miskin yang mustajab, di samping kalian telah mengingkari nikmat Allah dengan mengira bahwa harta tersebut adalah milik kalian. Padahal sebenarnya kalian hanya diserahi amanah dan disuruh untuk mendistribusikan harta Allah kepada hamba-hamba-Nya. Akan tetapi, jika kalian menunaikan kebaikan di jalan Allah atas nama zakat, kalian akan mendapatkan pahala yang besar. Dengan cara itu, kalian memperlihatkan rasa syukur terhadap nikmat yang Allah berikan. Kalian juga akan mendapatkan doa tulus dari pihak yang menerima, di mana ia sama sekali tidak riya dan menjilat kepada kalian sehingga harga dirinya tetap terjaga dan doanya menjadi tulus.


Surat Kedua Puluh Dua

477

Ya, pemberian harta sebanyak zakat atau bahkan lebih, penunaian sejumlah amal saleh dalam berbagai bentuknya, dan pemberian sedekah yang disertai sejumlah bahaya besar, seperti sikap riya, perasaan berjasa, dan penghinaan, tidak bisa dibandingkan dengan pembayaran zakat, pelaksanaan sejumlah amal saleh dengan niat di jalan Allah, keutamaan melaksanakan salah satu kewajiban-Nya, serta kesuksesan untuk bisa ikhlas dan mendapat doa mustajab. Ya, kedua pemberian tersebut sangat jauh berbeda.

Ya Allah, limpahkan salawat dan salam kepada junjungan kami, Muhammad r, yang telah bersabda, “Mukmin yang satu dengan mukmin lainnya ibarat bangunan yang saling menguatkan,” yang juga telah bersabda, “Sikap qanaah merupakan kekayaan yang tidak akan pernah habis.”467 Semoga salawat tersebut juga tercurah kepada keluarga beliau dan seluruh sahabatnya. Amin.

‫٭٭٭‬

467 Lihat: ath-abrânî, al-Mu’jam al-Ausath, j.7, h.84; dan al-Baihaqî, bab az-Zuhd, j.2, h.88.


478

AL-MAKTÛBÂT

PENUTUP Gibah (Bergunjing)

Perumpamaan yang bernada celaan dan teguran yang terdapat pada poin kelima, kilau pertama, obor pertama, dari “Kalimat Kedua Puluh Lima”, menyebutkan sebuah ayat mulia yang menjelaskan betapa buruknya gibah dalam pandangan al-Qur’an. Ayat tersebut menjelaskan dengan penuh kemukjizatan betapa gibah merupakan hal yang dibenci oleh manusia dilihat dari enam aspek. Penjelasan ayat al-Qur’an tersebut sudah sangat jelas sehingga tidak membutuhkan penjelasan lagi. Benar, tidak ada lagi penjelasan yang diperlukan setelah penjelasan al-Qur’an. Allah I berfi rman:

“Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (QS. al-Hujurât [49]: 12). Ayat ini mencela dan mengecam dengan sangat keras perilaku menggunjing keburukan orang lain dalam enam tahapan. Karena ditujukan kepada mereka yang menggunjing orang lain, maka ayat tersebut bermakna sebagai berikut: Huruf hamzah ( ) pada awal ayat digunakan untuk membentuk pertanyaan retoris (istiâm inkârî). Makna pertanyaan tersebut menembus ke semua kata dalam ayat di atas bagaikan air sehingga setiap kata menyiratkan pertanyaan yang melahirkan sebuah hukum.468 Kata pertama dalam ayat tersebut ialah hamzah. Ayat tersebut bermaksud menegur pembacanya dengan hamzah (pertanyaan): “Apakah engkau tidak mempunyai akal―yang bisa engkau 468 Maksudnya, setiap kata dari ayat al-Qur’an tersebut menyiratkan teguran dalam bentuk pertanyaan―Peny.


Surat Kedua Puluh Dua

479

gunakan untuk berpikir―sehingga engkau bisa mengerti betapa buruknya perilaku gibah ini?!” Dalam kata kedua, yaitu “suka”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Apakah hati yang engkau gunakan untuk mencintai atau membenci telah rusak sehingga engkau mencintai perilaku yang paling buruk dan sangat menjijikkan?!” Dalam kata ketiga, yakni “salah seorang di antara kalian”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Apa yang telah terjadi dengan kehidupan sosial dan peradaban kalian, yang mengambil vitalitasnya dari jamaah, sehingga kalian menerima sesuatu yang begitu meracuni kehidupan sosial kalian?!” “memakan Dalam kata keempat, yakni daging”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Apa yang terjadi dengan rasa kemanusiaan kalian sehingga kalian tega memangsa teman akrab kalian sendiri?!” Dalam kata kelima, yaitu “saudaranya”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Tidakkah engkau mempunyai belas kasihan terhadap sesama manusia?! Apakah engkau tidak memiliki hubungan silaturahim yang mengikatmu dengan sesamamu sehingga engkau tega menerkam saudaramu sendiri—dilihat dari beberapa sisi—secara biadab?! Apakah orang yang tega menggigit anggota badan saudaranya sendiri bisa dikatakan memiliki akal? Bukankah orang seperti itu adalah orang gila?!” Dalam kata keenam, yaitu “yang sudah mati”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Di manakah hati nuranimu? Apakah fi trahmu telah rusak sehingga engkau melakukan suatu tindakan yang paling buruk dan menjijikkan, yaitu memakan daging saudaramu sendiri yang telah mati, yang selayaknya mendapatkan penghormatan?!” Dari ayat yang mulia ini dan petunjuk-petunjuk yang terdapat pada setiap kata dalam ayat tersebut, bisa dipahami bahwa gibah adalah perbuatan yang tercela, baik dilihat dari sudut


480

AL-MAKTÛBÂT

pandang akal, qalbu, rasa kemanusiaan, hati nurani, fi trah, dan hubungan sosial. Renungkanlah makna ayat yang mulia ini dan lihatlah bahwa ayat tersebut mengutuk pergunjingan dalam enam tingkatan dengan bahasa yang penuh mukjizat dan sangat ringkas. Benar, gibah adalah senjata hina yang umumnya digunakan oleh orang-orang yang memiliki rasa permusuhan, kedengkian, dan keras kepala. Orang yang terhormat tidak akan mau menggunakan senjata yang sangat hina ini. Seorang penyair ternama pernah mengatakan:

Aku masih memiliki harga diri sehingga tidak menghukum (musuhku) dengan menjelek-jelekkannya. Sebab, membicarakan kejelekan musuh adalah senjata orang yang lemah dan hina.469 Gibah adalah membicarakan orang lain mengenai sesuatu yang tidak ia senangi. Jika kata-kata yang engkau sampaikan itu benar, berarti engkau telah menggunjingnya. Jika tidak benar, berarti engkau telah memfi tnahnya. Artinya, engkau melakukan dosa yang berlipat ganda.470 Meskipun pada dasarnya diharamkan, gibah dibenarkan dalam sejumlah kondisi tertentu. 471 Pertama: mengeluhkan kezaliman orang. Orang yang dizalimi boleh bercerita tentang orang yang menzaliminya kepada pihak yang berwenang untuk membantunya mengatasi kezaliman dan kejahatan yang menimpanya. Kedua: meminta saran. Seseorang yang bermaksud bekerjasama dengan orang lain dalam bisnis atau hal lain datang meLihat: Dîwân al-Mutanabbî, (Penerbit Dâr Shâdir), h.198. Lihat: Muslim, bab al-Birr, 70; at-Tirmidzî, bab al-Birr, 23; dan Abû Dâwud, bab al-Adab, 35. 469

470

471

Lihat: an-Nawawî, al-Adzkâr, h.360–362, 366.


Surat Kedua Puluh Dua

481

minta saran kepadamu. Maka, dengan niat yang tulus dan demi kemaslahatan orang itu, tanpa ada kepentingan pribadi di pihakmu, engkau boleh memberikan saran kepadanya, “Engkau tidak cocok bekerjasama dengan dia. Kamu akan menanggung kerugian.”472 Ketiga: memperkenalkan tanpa ada maksud mencemarkan nama baik. Misalnya, engkau mengatakan, “Si pincang atau si preman itu...” Keempat: orang yang digunjingkan adalah orang fasik yang terang-terangan berbuat kefasikan. Orang tersebut bahkan tidak mempunyai rasa malu bertingkah buruk, bangga dengan dosa-dosa yang diperbuatnya, dan merasa senang berbuat zalim terhadap orang lain.473 Dalam hal-hal khusus ini, gibah dibolehkan demi kebenaran dan kemaslahatan semata, tanpa niat buruk dan kepentingan pribadi. Jika tidak, gibah akan merusak dan melahap amal kebaikan, bagaikan api yang melalap kayu bakar. Jika seseorang terlibat dalam pergunjingan atau ikut mendengarkannya dengan sengaja, ia harus segera memohon ampun kepada Allah, dengan mengatakan:

Ya Allah, ampunilah kami dan orang yang kami gunjing.474 Lalu ia harus meminta maaf kepada orang yang digunjingnya itu saat bertemu dengannya. 475

‫٭٭٭‬ 472 Lihat: Ibnu Mâjah, bab al-Adab, 37; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, j.3, h.418-419; j.4, h.259; ath-ayâlisî, al-Musnad, 185. 473 Lihat: al-Baihaqî, as-Sunan al-Kubrâ, j.10, h.210; al-Qudhâ‘î, Musnad asy-Syihâb, j.1, h.263. 474 Lihat: as-Suyûthî, al-Fath al-Kabîr, j.1, h.84; Abû Nu‘aim, Hilyat al-Auliyâ’, j.3,h.254; dan al-Baihaqî, Syu‘ab al-Îmân, j.5, h.317. 475 Lihat: an-Nawawî, al-Adzkâr, h.366.


SURAT KEDUA PULUH TIGA

“Semoga keselamatan, kasih sayang, dan keberkahan tercurah kepada kalian untuk selamanya sebanyak menit demi menit dari umurmu dan partikel wujudmu.� Wahai saudaraku yang mulia, giat, tekun, serta yang berpegang teguh pada kebenaran, tulus, dan cerdas! Saudara hakiki dan saudara akhirat seperti kita tidak terhalang oleh perbedaan waktu dan tempat untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi. Meskipun yang satu berada di Timur dan yang lain berada di Barat, yang satu berada di masa lalu dan yang lain berada di masa mendatang, yang satu berada di dunia dan yang lain berada di akhirat. Mereka bisa dikatakan hidup bersama, bisa saling berkomunikasi, terutama jika mereka berkumpul untuk satu tujuan serta menunaikan misi dan kewajiban yang sama. Maka yang satu dengan yang lain adalah sama. Setiap pagi aku membayangkan kalian bersamaku lalu kuberikan kepada kalian sebagian ‘pahala’ yang kudapat; yaitu sepertiga (semoga Allah menerima). Sementara kalian terus didoakan bersama Abdul Majid dan Abdurrahman. Semoga kalian selalu mendapat jatah kalian insya Allah.


484

AL-MAKTÛBÂT

Berbagai persoalan duniawi yang kalian hadapi ikut menggugah hatiku. Aku juga merasakan sakit dan derita yang kalian alami. Akan tetapi, wahai saudaraku; karena dunia tidak kekal dan di balik sejumlah musibah terdapat kebaikan, maka terlintas dalam benakku―sebagai ganti darimu―ungkapan yang berbunyi, “Setiap kondisi pasti berubah.” Kurenungkan hadis yang berbunyi:

“Tidak ada kehidupan (hakiki) kecuali kehidupan di akhirat.”476 Serta Aku membaca ayat:

153)

“Allah bersama orang-orang yang sabar,” (QS. al-Baqarah [2]: Lalu aku mengucap:

“Kita adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali.” (QS. al-Baqarah[2]: 156). Seketika aku mendapatkan pelipur lara sebagai ganti darimu.” Wahai saudaraku, jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menjadikan dunia berpaling darinya dan memperlihatkan dunia dalam pandangan orang tersebut sebagai sesuatu yang buruk dan tercela.477 Insya Allah engkau termasuk golongan mereka yang dicintai oleh Allah I. Jangan merasa sakit dengan semakin banyaknya rintangan yang menghalangi penyebaran “al-Kalimât”. Penyebaran sejumlah risalah yang kau lakukan sampai saat ini, manakala mendapatkan rahmat Allah, dengan izin-Nya benih risalah penuh berkah itu akan segera mekar menjadi bunga yang banyak. HR. Bukhari, bab Manâqib al-Anshâr, j. 5, h.34, No. 3795. Lihat pula: Mulism (1805); at-Tirmidzi (3857); Ibnu Majah (742); dan Ahmad ibn Hambal (12178). 477 Lihat: at-Tirmidzi, at-ib, 1; Ahmad ibn Hamb, al-Musnad, 5/427, 428; Ibnu Hibban, ash-Shahih, 2/443. 476


Surat Kedua Puluh Tiga

485

Engkau menanyakan sejumlah pertanyaan. Wahai saudaraku yang mulia, sebagian besar al-Kalimât dan al-Maktubat tiba-tiba terlintas di dalam hati tanpa disengaja. Karenanya, ia tampak sangat indah. Andaikan aku menjawab pertanyaan tersebut dengan sengaja setelah merenung, berpikir, dan lewat kekuatan pengetahuan Said Lama, tentu jawabannya akan redup dan tidak sempurna. Sejak beberapa waktu yang lalu, daya pikir dan ingatanku melemah. Namun demikian, kami tetap akan menulis jawaban meski sangat singkat agar pertanyaan tersebut tidak terabaikan tanpa jawaban. Pertanyaan Pertama: Bagaimana seharusnya doa seorang mukmin untuk saudara mukmin lainnya? Jawaban: Doa tersebut harus berada dalam kategori doa yang makbul. Pasalnya, doa akan direspon dan diterima apabila memenuhi sejumlah syarat. Ia akan semakin berpeluang diterima ketika syarat-syaratnya terpenuhi. Di antaranya, (1) mensucikan diri dengan beristigfar saat hendak berdoa, (2) membaca salawat untuk Nabi r yang merupakan bentuk doa yang mustajab seraya menjadikan salawat tersebut sebagai penunjang doa, (3) menutup doa dengan bacaan salawat kepada Nabi r. Sebab, doa yang diapit oleh dua doa yang mustajab (salawat) akan menjadi mustajab. Selain itu, (4) berdoa tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. 478 Kemudian (5) berdoa dengan doa yang berasal dari Rasul r dan doa yang terdapat dalam al-Quran. Misalnya:

Ya Allah, Aku memohon ampunan dan kesehatan, untukku dan untuknya, dalam hal agama, dunia, dan akhirat.

478

29.

Lihat: Muslim, adz-dzikr, 86-88; at-Tirmidzi, al-Birr, 50; Abu Daud, al-Witr,


486

AL-MAKTÛBÂT

Ya Tuhan kami, berikan kepada kami kebaikan dunia-akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka. Serta berbagai doa ma’tsur lainnya yang bersifat universal. 479 Lalu (6) berdoa dengan niat tulus dan hati yang khusyuk. (7) Berdoa setelah shalat; terutama setelah shalat subuh.480 (8) Berdoa di tempat-tempat yang penuh berkah; terutama di masjid. (9) Berdoa di hari Jumat, khususnya di waktu mustajab. (10) Berdoa pada tiga bulan yang penuh berkah, terutama di malam-malam yang masyhur. Dan (11) berdoa di bulan Ramadhan, terutama di malam lailatul qadr. Berdoa dengan memenuhi syarat tersebut, dengan rahmat Allah sangat berpeluang untuk dikabulkan. Efek dari doa mustajab tersebut bisa jadi terlihat secara langsung di dunia, atau bisa juga di kehidupan akhirat bagi orang yang didoakan dan di kehidupannya yang kekal. Artinya, jika apa yang kita doakan tidak terwujud, hal itu bukan berarti ia tidak terkabul. Namun doa itu dikabulkan dalam bentuk yang lebih baik. Pertanyaan Kedua: Bolehkah menyebut “radhiyallâhu ‘anhu” kepada selain sahabat? Jawaban: Ya boleh. Pasalnya, doa tersebut bukanlah sebutan yang khusus untuk para sahabat Nabi. Beda halnya dengan ungkapan alayhi as-shalâtu wassalâm yang secara khusus diberikan kepada Rasul r. Bahkan seharusnya ungkapan radhiyallâhu ‘anhu diberikan kepada imam mujtahid yang empat, syekh Abdul Qadir al-Jailani, Imam Rabbani, Imam Ghazali, dan para pewaris Nabi selain mereka, yang berada dalam wilayah kewalian kubrâ dan mendapat kedudukan ridha-Nya. Hanya saja, tradisi para ulama biasanya menyebut para sahabat dengan radhiyallâhu ‘anhum, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in 479

dan 26.

Lihat: HR al-Bukhari dalam bab ad-Da’awat 55; Muslim bab adz-Dzikr 23

480 Lihat: HR at-Tirmidzi bab ad-Da’awat 78; Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf 2/424; an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra 6/32.


Surat Kedua Puluh Tiga

487

dengan rahimahumullâh, generasi sesudah mereka dengan ghafarallâhu lahum, serta para wali dengan quddisa sirruhum. Pertanyaan Ketiga: Mana yang lebih utama; para tokoh imam mujtahid atau syekh tarekat yang benar berikut para wali qutubnya? Jawaban: Yang lebih utama adalah para imam mujtahid, namun bukan secara keseluruhan. Akan tetapi, para imam mazhab yang empat saja, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam asy-Syafi i, Imam Malik, dan Imam Ahmad ibn Hambal. Mereka mengungguli para wali qutub dan pemimpin tarekat. Hanya saja, sejumlah tokoh wali qutub seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani dilihat dari satu sisi memiliki kedudukan yang lebih unggul dalam sejumlah keutamaan yang bersifat pribadi. Namun keutamaan yang bersifat menyeluruh dimiliki oleh para tokoh imam tersebut. Di samping itu, sebagian dari pemimpin tarekat juga termasuk mujtahid. Karenanya, tidak bisa dikatakan bahwa seluruh mujtahid lebih utama daripada wali qutub. Kita hanya bisa mengatakan bahwa empat imam mazhab itu merupakan manusia terbaik setelah para sahabat dan Imam al-Mahdi d. Pertanyaan Keempat: Apa hikmah dan tujuan dari fi rman Allah I yang berbunyi:

“Allah bersama orang-orang yang sabar.� (QS. al-Baqarah [2]: 153)? Jawaban: Allah telah menetapkan keberadaan segala sesuatu secara berangsur-angsur dan tertib seperti anak tangga. Hal itu sesuai dengan nama-Nya, al-Hakim (Yang Maha Bijaksana). Orang yang tidak bersabar dalam gerakannya, bisa jadi ia melompati anak tangga tersebut hingga terjatuh, atau meninggalkannya sama sekali sehingga tidak mencapai tujuan.


488

AL-MAKTÛBÂT

Karena itu, tamak adalah penyebab kegagalan. Sementara sabar bisa menyelesaikan berbagai persoalan. Karenanya, ada pepatah yang berbunyi:

“Orang yang tamak selalu gagal,”

“Sabar adalah kunci kelapangan.”481 Artinya, taufi k dan inayah Allah I menyertai orang-orang yang sabar. Sedangkan sabar itu sendiri terdiri dari tiga jenis: Pertama, sabar dalam menjauhi maksiat. Sabar ini berupa takwa. Ia mengantar pemiliknya mendapat rahasia fi rman Allah:

“Allah bersama dengan orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 194). Kedua, sabar saat mendapat musibah. Ini berupa tawakkal dan menyerahkan urusan kepada Allah I sehingga pemiliknya layak mendapat kemuliaan dari fi rman-Nya:

KJIHG

“Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.” (QS. Ali Imran [3]: 159) dan fi rman-Nya:

“Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imrân [3]: 146). Adapun sikap tidak sabar berisi sikap mengeluhkan Allah yang berujung pada sikap mengkritik perbuatan-Nya, meragukan rahmat-Nya, dan menolak hikmah-Nya. Ya, manusia, yang lemah dan papa, menangisi musibah dengan sikap mengeluh. Akan tetapi, seharusnya keluhan itu 481

al-Maydani, Majma’ al-Amtsal, 1/418; al-Qalqasyandi, Subhul A’sya 2/289.


Surat Kedua Puluh Tiga

489

disampaikan kepada Allah; bukan mengeluhkan-Nya. Hal ini sebagaimana perkataan Nabi Ya’qub dalam al-Quran:

86).

“Kukeluhkan duka dan laraku kepada Allah.” (QS. Yusuf [12]:

Maksudnya, mengeluhkan musibah kepada Allah, bukan mengeluhkan Allah kepada manusia. Apalagi disertai sikap kesal, penyesalan, dan ucapan, “Apa yang telah kulakukan sehingga aku mendapatkan musibah semacam ini,” sehingga membuat gusar hati orang yang lemah. Sikap ini berbahaya dan tidak ada artinya. Ketiga, sabar dalam melaksanakan ibadah yang bisa mengantarkan pelakunya kepada tingkat mahbûbiyyah (dicintai Allah). Ia menggiringnya menuju posisi ubudiyah yang sempurna yang merupakan tingkatan paling tinggi. Pertanyaan Kelima: Usia lima belas tahun dihitung sebagai usia taklif. Lalu bagaimana Nabi r beribadah sebelum menjadi nabi? Jawaban: Beliau beribadah dengan sisa ajaran agama Ibrahim yang masih berlaku di jazirah Arab meski tertutup oleh banyak tabir. Hanya saja, beliau melakukannya bukan sebagai kewajiban. Namun beliau melakukannya karena kerelaan sendiri sebagai amalan sunnah.482 Hakikat ini cukup panjang. Namun kita cukupkan sampai di sini. Pertanyaan Keenam: Apa hikmah diutusnya Rasul r pada usia sempurna, yaitu 40 tahun. Lalu apa hikmah diwafatkannya beliau pada usia 63 tahun? Jawaban: Hikmahnya sangat banyak. Di antaranya adalah sebagai berikut: 482 Lihat HR al-Bukhari dalam Bad’ul wahy 3, Tafsir Surat al-Alaq 1, Ta’bir 1; HR Muslim dalam al-Iman 252.


490

AL-MAKTÛBÂT

Kenabian merupakan beban yang sangat berat. Ia hanya bisa dipikul setelah potensi akal dan qalbu tumbuh sempurna dan matang. Nah, masa kesempurnaan tersebut adalah usia 40 tahun. Adapun usia remaja dan masa muda merupakan masa dimana hawa nafsu begitu kuat, naluri biologis bergejolak, dan ambisi duniawi begitu hebat, maka ia tidak cocok untuk mengemban tugas kenabian yang suci, ukhrawi, dan murni karena Allah semata. Betapapun manusia bersungguh-sungguh dan tulus sebelum usia 40, bisa jadi terlintas dalam benak orang yang mencari popularitas satu dugaan bahwa ia bekerja untuk kedudukan dunia dan meraih posisi di dalamnya. Maka ia tidak bisa selamat dari tuduhan mereka dengan mudah. Adapun sesudah 40 tahun, usia manusia sudah mendekati kematian serta akhirat sudah lebih dekat daripada dunia. Iapun bisa dengan mudah selamat dari tuduhan tersebut, mendapat taufi k untuk melakukan berbagai aktvitas ukhrawi, serta lolos dari prasangka buruk manusia. Adapun salah satu hikmah dari masa hidup beliau yang penuh bahagia selama 63 tahun adalah sebagai berikut: Orang beriman dituntut untuk tulus mencintai dan menghormati Rasul r melebihi siapa pun. Orang beriman tidak dibenarkan membenci apapun yang terkait dengan beliau. Ia harus melihat setiap kondisi beliau sebagai sesuatu yang indah dan mulia. Karena itu, Allah I tidak membiarkan kekasih-Nya hidup sampai usia tua renta, saat yang penuh dengan kesulitan dan penat yang biasanya terjadi sesudah usia 63 tahun ke atas. Namun Allah mewafatkan beliau pada usia 63 tahun yang merupakan pertengahan dari usia umat beliau. 483 Allah mengangkat beliau ke posisi yang dekat dengan-Nya sekaligus menunjukkan bahwa beliau adalah imam dalam segala hal. 483

Nabi r bersabda:

“Dari Abu Hurairah d, bahwasanya Rasulullah r bersabda: “Rata-rata umur umatku antara 60-70 tahun. Sebagian kecil yang melampaui batas tersebut. (HR. Ibnu Majah dan at-Tirmidzi).


Surat Kedua Puluh Tiga

491

Pertanyaan Ketujuh:

“Sebaik-baik pemuda adalah yang menyerupai orang tua, sementara seburuk-buruk orang tua adalah yang menyerupai anak muda.”484 Apakah ini hadis Nabi? Jika memang ia, apa maksudnya? Jawaban: Aku mendengarnya sebagai hadis Nabi sudnya adalah:

r. Adapun mak-

Sebaik-baik pemuda adalah yang tidak larut dalam kealpaan kepada Allah. Namun ia mengingat mati sebagaimana orang tua sehingga bersungguh-sungguh dalam menyiapkan akhirat dan melepaskan diri dari berbagai belenggu hawa nafsu dan gelora masa muda. Sementara seburuk-buruk orang tua adalah yang tidak ingat kepada Allah sehingga alpa seperti anak muda. Ia meniru hawa nafsu pemuda seperti anak-anak.” Gambaran yang tepat dari bagian kedua dari catatanmu adalah: Aku menggantungkan, di dinding, sebuah tulisan yang berisi hikmah yang sangat mendalam. Setiap pagi dan sore aku melihatnya dan mendapatkan pelajaran darinya. Ia adalah sebagai berikut: Jika engkau menginginkan pelindung, cukuplah Allah bagimu. Ya, jika Dia menjadi pelindungmu segala sesuatu akan menjadi temanmu. Jika engkau menginginkan sahabat, cukuplah al-Qur’an bagimu. Sebab, di dalamnya engkau hidup bersama para nabi dan malaikat. Tentu mereka adalah sahabat terbaik. 484 HR. ath-abrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/83, al-Mu’jam al-Awsath 6/94; Abu Ya’la dalam al-Musnad 13/467.


492

AL-MAKTÛBÂT

Jika engkau menginginkan harta, cukuplah qanaah bagimu. Ya, orang yang qanaah akan hidup sederhana. Orang yang hidup sederhana akan mendapatkan keberkahan. Jika engkau menginginkan musuh, cukuplah nafsu bagimu. Pasalnya, orang yang ujub terhadap dirinya pasti menemukan banyak kesulitan dan mendapat banyak ujian. Sementara orang yang tidak ujub akan merasa senang dan lapang. Jika engkau menginginkan juru nasihat, cukuplah kematian bagimu. Ya, orang yang ingat mati akan terbebas dari penyakit cinta dunia dan berusaha keras untuk menggapai akhirat. Sekarang, wahai saudaraku, aku akan menambah sebuah persoalan berharga di samping tujuh pertanyaanmu di atas. Yaitu: Dua hari yang lalu, salah seorang penghafal al-Qur’an membaca ayat-ayat yang terdapat dalam surah Yusuf sampai pada ayat:

“Wafatkan aku dalam keadaan muslim dan masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang salih.” (QS. Yusuf [12]: 101). Seketika terlintas dalam hatiku sebuah pelajaran penting. Semua yang terkait dengan al-Qur’an dan keimanan sangat berharga meskipun secara lahir tampak biasa dan kecil. Sebab, dilihat dari sisi nilai dan urgensinya ia sangat berharga dan besar. Ya, sesuatu yang mengantar pada kebahagiaan abadi bukanlah kecil. Oleh sebab itu, tidak bisa dikatakan bahwa ini persoalan kecil yang tidak penting dan tidak perlu penjelasan. Tidak diragukan lagi bahwa Ibrahim Khulusi merupakan orang pertama yang ingin mendengar persoalan seperti ini. Ia merupakan murid pertama dan orang pertama yang sangat mengapresiasi pesan-pesan al-Qur’an. Karena itu, perhatikan wahai saudaraku!


Surat Kedua Puluh Tiga

493

Ia merupakan pelajaran indah dari kisah terbaik. Ayat alQur’an yang menginformasikan penutup dari kisah terbaik tersebut, kisah Yusuf, yang berbunyi:

“Wafatkan aku dalam keadaan muslim dan masukkan aku ke dalam golongan orang salih.� (QS. Yusuf [12]: 101). Ia berisi sebuah pelajaran yang mulia, lembut, dan memberikan kabar gembira. Pada saat yang bersamaan ia juga merupakan mukjizat. Yaitu: Derita dan berbagai duka akibat perpisahan di mana kisah-kisah gembira lainnya juga berujung kepada hal yang sama, pasti akan menodai kenikmatan imajiner yang didapat dari kisah itu. Terutama, berita kematian dan perpisahan saat sedang berada di puncak kegembiraan dan kebahagiaan. Ketika itu, sakitnya akan lebih terasa sehingga melahirkan kepedihan dan keputus-asaan bagi yang mendengarnya. Namun ayat ini menutup bagian paling bersinar dari kisah . Beliau adalah pembesar Mesir, Allah melapangkan Yusuf hatinya, beliau bertemu dengan orang tuanya, serta bertemu dan berbaikan dengan para saudaranya. Pada saat ayat ini menginformasikan kematian Yusuf yang sedang berada di puncak kegembiran tersebut, ayat ini juga mengabarkan bahwa Yusuf sendiri yang meminta kepada Allah I untuk diwafatkan agar memperoleh kebahagiaan yang lebih besar daripada yang sedang dirasakannya. Iapun wafat dan meraih kebahagiaan agung tersebut. Artinya, di balik kubur terdapat kebahagiaan yang lebih di dunia. besar daripada kebahagiaan yang dinikmati Yusuf Pasalnya, orang yang berpegang teguh pada hakikat seperti Yusuf meminta kematian yang pahit saat berada pada posisi duniawi yang membahagiakan dan menyenangkan guna meraih kebahagiaan yang lebih besar di sana. Saudaraku, perhatikan retorika al-Qur’an yang penuh hikmah ini. Bagaimana ia memberitakan penutup kisah Yusuf dengan informasi yang tidak melahirkan kepedihan bagi orang


494

AL-MAKTÛBÂT

yang mendengarnya. Ia justru menambah kegembiraan dan kesenangan. Selain itu, ayat tersebut juga membimbing kepada hal berikut: Beramallah untuk kehidupan di balik kubur. Sebab, kebahagiaan sejati dan kenikmatan hakiki terdapat di sana. Lebih dari itu, ia menerangkan tingkatan “shiddîqiyyah” yang tinggi dan mulia milik Yusuf di mana ia menegaskan bahwa kondisi paling membahagiakan dan paling menyenangkan di dunia tidak membuat Yusuf lalai dan tergiur, namun ia terus berharap untuk akhirat.

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KEDUA PULUH EMPAT

“Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrâhîm [14]: 27).

“Dia memutuskan apa yang Dia inginkan.” (QS. al-Mâidah [5]: 1). Pertanyaan: Bagaimana didikan yang penuh kasih sayang sebagai konsekuensi dari nama Allah ar-Rahîm, pengaturan yang sesuai dengan sejumlah maslahat sebagai konsekuensi dari nama Allah al-Hakîm, kelembutan yang penuh cinta sebagai konsekuensi dari nama Allah al-Wadud, sejalan dengan sesuatu yang menakutkan seperti kematian, ketiadaan, kepergian, perpisahan, musibah, dan kesulitan? Anggaplah apa yang dialami oleh manusia di jalan kematian sebagai sesuatu yang baik karena menuju kebahagiaan abadi, akan tetapi kasih sayang seperti apa yang tampak, hikmah dan maslahat seperti apa yang terlihat, kelembutan seperti apa yang terdapat dalam proses memfanakan pohon, tumbuhan, bunga yang indah, lembut dan hidup; hewan yang layak eksis yang mencintai kehidupan dan ingin abadi tanpa pengecualian serta dalam proses pelenyapannya tanpa penundaan satupun darinya? Juga proses mempekerjakan mereka dalam kesulitan, transformasinya lewat sejumlah ujian tanpa membiarkan satupun dari mereka untuk merasa lapang? Serta proses mematikannya tanpa


496

AL-MAKTÛBÂT

jeda dan tanpa memberikan kesempatan untuk tinggal sebentar serta tanpa ridha dari mereka? Jawaban: Untuk bisa menjawab pertanyaan di atas, kami berusaha melihat hakikat agung tersebut dari jauh, sebab ia merupakan hakikat yang sangat luas, dalam, dan tinggi agar ia dapat disaksikan dengan jelas. Kami akan menerangkan faktor penyebabnya dalam lima rambu dan kami akan menjelaskan berbagai tujuan serta manfaatnya dalam lima petunjuk.

KEDUDUKAN PERTAMA (terdiri dari lima rambu)

Rambu Pertama Kami telah menjelaskan dalam penutup ‘Kalimat Kedua Puluh Enam’ bahwa seorang desainer yang mahir mempekerjakan seorang miskin dengan upah yang layak. Orang tersebut ditugaskan untuk menjadi model agar sang desainer tersebut bisa menjahit sebuah pakaian yang bagus dan mewah dibalut perhiasan paling indah. Tujuannya untuk memperlihatkan kemahiran dan kreasinya. Ia pun memotong, menggunting, memendekkan, dan memanjangkan pakaian tersebut di tubuh orang tadi. Desainer tersebut menyuruhnya duduk, berdiri, serta menyuruhnya dalam berbagai posisi. Nah, layakkah orang itu berkata kepada sang desainer, “Mengapa engkau mengubah pakaian yang telah membuatku tampil indah ini? Mengapa engkau menggantinya? Mengapa engkau menyuruhku duduk dan berdiri sehingga membuatku penat?! Demikian pula Sang Pencipta Yang Mahaagung. Dia menjadikan esensi setiap jenis entitas sebagai standar dan model. Dia memakaikan pakaian berhias indra kepada segala sesuatu terutama makhluk hidup, lalu mengukirnya dengan sejumlah ukiran pena qadha dan qadar serta memperlihatkan sejumlah manifestasi nama-nama-Nya guna menampakkan kesempurnaan kreasi-Nya lewat ukiran nama-nama-Nya. Selain itu, Dia juga mem-


Surat Kedua Puluh Empat

497

beri kepada setiap entitas sebuah kesempurnaan, kenikmatan, dan limpahan karunia sebagai upah yang sesuai. Layakkah makhluk menggugat Sang Pencipta Yang Mahaagung, di mana Dia Sang Pemilik kerajaan; yang berhak melakukan apa saja di kerajaan-Nya, dengan berkata, “Mengapa Engkau membuatku penat dan mengganggu ketenanganku?” Sama sekali tidak layak. Makhluk tidak memiliki hak apapun terhadap Sang Wajibul wujud. Ia tidak bisa mengaku memiliki hak apapun. Namun kewajibannya adalah selalu bersyukur dan memuji-Nya karena Dia telah memberikan sejumlah tahapan wujud untuknya. Sebab, seluruh tahapan wujud yang diberikan kepada makhluk adalah kejadian yang membutuhkan sebab. Sementara tahapan wujud yang tidak Dia berikan bersifat mungkin. Sementara yang bersifat mungkin adalah tiada dan tidak terhingga. Ketiadaan tidak membutuhkan sebab. Sesuatu yang tidak terhingga dan tidak memiliki ujung, tidak memiliki sebab. Contoh: Barang tambang tidak berhak mengeluh dengan berkata, “Mengapa kami tidak menjadi tumbuhan?!” Namun kewajibannya adalah bersyukur kepada Penciptanya atas nikmat “wujud” yang diberikan kepadanya sebagai tambang. Begitu pula dengan tumbuhan. Ia tidak berhak mengeluh. Ia tidak bisa berkata, “Mengapa aku tidak menjadi binatang?!” Namun kewajibannya adalah bersyukur kepada Allah yang telah memberikan “wujud dan kehidupan” kepadanya. Hal yang sama berlaku pada binatang. Ia tidak berhak mengeluh dengan berkata, “Mengapa aku tidak menjadi manusia?” Namun ia harus mensyukuri “wujud, kehidupan, dan ruh mulia” yang diberikan oleh Allah kepadanya. Demikian seterusnya. Wahai manusia yang mengeluh! Engkau tidak tetap dalam kondisi tiada. Engkau telah diberi pakaian wujud dan merasakan nikmat hidup. Engkau tidak menjadi benda mati dan tidak berupa hewan. Engkau juga telah mendapat nikmat Islam. Engkau tidak berada dalam kesesatan. Serta engkau telah merasakan nikmat sehat dan keselamatan.


498

AL-MAKTÛBÂT

Wahai orang yang kufur nikmat! Apakah sesudah penjelasan di atas engkau masih merasa memiliki hak atas Allah? Engkau masih belum bersyukur kepada Allah atas nikmat tingkatan wujud yang Dia berikan. Namun engkau mengeluhkan Allah karena tidak mendapat sejumlah nikmat berharga yang bersifat mungkin, sejumlah ketiadaan, serta sejumlah hal yang engkau tidak berhak atasnya. Engkau mengeluh dengan sikap tamak dan mengingkari nikmat-Nya. Andaikan ada seseorang yang dinaikkan ke puncak menara yang tinggi di mana menara tersebut memiliki banyak tingkat. Pada setiap tingkat ia menerima hadiah berharga, lalu ia melihat dirinya berada di puncak menara, pada kedudukan yang tinggi. Pantaskah ia tidak berterima kasih kepada si pemilik nikmat lalu menangis dan menyesal seraya berkata, “Mengapa aku tidak bisa naik ke tempat yang lebih tinggi daripada menara ini?” Kalau ini yang dilakukan tentu merupakan kesalahan besar. Betapa hal itu merupakan ketidak-warasan dan kufur nikmat. Orang gila sekalipun dapat memahaminya. Wahai manusia yang tamak; tidak qana’ah! Wahai orang yang boros; tidak hemat! Wahai orang yang mengeluh tanpa hak! Wahai orang yang lalai! Ketahuilah dengan pasti bahwa qana’ah adalah bentuk syukur yang menguntungkan. Sementara tamak adalah bentuk kekufuran yang merugikan. Hemat adalah bentuk penghormatan terhadap nikmat yang indah dan berguna. Sementara boros adalah sikap meremehkan nikmat, dan sikap meremehkan adalah buruk dan berbahaya. Jika engkau cerdas, biasakan dirimu untuk bersikap qana’ah serta berusahalah untuk selalu ridha. Jika tidak mampu, ucapkan, “Yâ shabûr” (Wahai Yang Mahasabar). Hiasi dirimu dengan sabar. Terimalah hakmu dan jangan pernah mengeluh. Ketahuilah apa yang engkau keluhkan dan kepada siapa engkau mengeluh. Sebaiknya engkau diam saja! Jika terpaksa harus mengeluh, keluhkan dirimu kepada Allah. Sebab kekurangan ada pada dirimu.


Surat Kedua Puluh Empat

499

Rambu Kedua Pada penutup persoalan terakhir dari “Surat Kedelapan Belas�, kami telah menyebutkan bahwa salah satu hikmah mengapa Sang Pencipta Yang Mahaagung terus-menerus mengganti dan memperbaharui entitas dalam bentuk yang mencengangkan lewat rububiyah-Nya yang agung adalah karena aktivitas dan gerakan pada makhluk bersumber dari satu keinginan, kerinduan, kenikmatan, dan cinta. Sehingga bisa dikatakan bahwa setiap aktivitas memiliki satu bentuk kenikmatan. Bahkan setiap aktivitas merupakan kenikmatan itu sendiri. Kenikmatan itupun mengarah kepada sebuah kesempurnaan. Bahkan ia merupakan satu bentuk kesempurnaan. Karena aktivitas mengarah pada kesempurnaan, kenikmatan, dan keindahan, sementara Sang Wajibul wujud, Allah I, merupakan kesempurnaan mutlak, Maha Sempurna Yang Mahaagung, Dzat yang mengumpulkan seluruh jenis kesempurnaan pada dzat, sifat, dan perbuatan-Nya, maka sudah pasti Sang Wajibul wujud memiliki kasih sayang suci tak terbatas, serta cinta murni tak terhingga yang sesuai dengan kemutlakan eksistensi dan kesucian-Nya, kemuliaan dzat dan kekayaan mutlak-Nya, serta kemurnian dzat dan kesempurnaan mutlak-Nya. Tentu saja Dia memiliki kerinduan suci tak terbatas yang bersumber dari kasih sayang dan cinta yang suci. Dia juga memiliki kegembiraan suci yang tak terkira yang bersumber dari kerinduan suci tersebut. Dia memiliki kenikmatan suci tak terkira yang bersumber dari kegembiraan suci tadi. Sudah pasti di samping memiliki kenikmatan suci, Dia juga memiliki keridhaan suci tak terhingga dan kebanggaan suci tak terbatas yang bersumber dari ridha dan kesempurnaan makhluk lewat gerak potensinya dari kekuatan menuju perbuatan saat bergerak dan menjadi sempurna melalui aktivitas qudrah-Nya dalam wilayah rahmat-Nya yang luas. Ridha-Nya yang suci dan mutlak serta kebanggaan-Nya yang juga bersifat mutlak melahirkan aktivitas-Nya yang bersifat mutlak dalam bentuk yang tak terhingga. Aktivitas tak terhingga tersebut juga menuntut pergantian dan perubahan tak terhingga.


500

AL-MAKTÛBÂT

Lalu pergantian dan perubahan tak terhingga itu menuntut kematian, ketiadaan, kepergian, dan perpisahan. Pada suatu waktu aku melihat bahwa berbagai pelajaran yang terkait dengan tujuan makhluk seperti yang ditegaskan oleh fi lsafat dan pengetahuan manusia adalah sesuatu yang tidak bernilai. Saat itu aku memahami bahwa fi lsafat tersebut mengantarkan pada kesia-siaan. Dari sini, fi lsuf yang tenggelam dalam dunia fi lsafat; entah tersesat dalam kubangan alam materi, atau menjadi sofi s, atau mengingkari kehendak dan ilmu ilahi, atau menyebut Sang Pencipta sebagai al-Mûjibu bi adz-Dzât (Dzat yang mewajibkan sendiri). Dalam kondisi demikian, rahmat ilahi mengirim nama-Nya al-Hakîm untuk menolongku. Dia memperlihatkan berbagai tujuan makhluk yang agung. Artinya, setiap makhluk merupakan “surat rabbani” yang penuh hikmah di mana ia bisa ditelaah oleh semua makhluk yang memiliki perasaan. Tujuan ini cukup bagiku selama satu tahun. Lalu berbagai hal luar biasa dalam penciptaan tersingkap. Maka, tujuan pertama tidak lagi memadai. Kemudian diperlihatkan kepadaku tujuan lain yang jauh lebih agung daripada yang pertama. Yaitu bahwa tujuan makhluk yang paling penting adalah mengarah kepada Penciptanya. Dengan kata lain, makhluk memperlihatkan berbagai kesempurnaan kreasi Penciptanya, ukiran nama-nama-Nya, hiasan hikmah-Nya, serta hadiah rahmat-Nya di hadapan penglihatan-Nya. Ia pun menjadi cermin bagi keindahan dan kesempurnaan-Nya. Begitulah aku memahami tujuan tersebut. Hal ini untuk beberapa lama sudah cukup bagiku. Lalu tampak sejumlah mukjizat qudrah-Nya dan kondisi rububiyah-Nya dalam melakukan perubahan dan penggantian yang sangat cepat dalam lingkup perbuatan-Nya yang mencengangkan dalam menciptakan segala sesuatu. Sehingga tujuan tadi menjadi tidak cukup. Akupun sadar bahwa terdapat sebab dan faktor yang besar yang setara dengan tujuan agung tersebut. Pada saat itulah berbagai konsekuensi yang terdapat dalam rambu kedua serta sejumlah tujuan yang disebutkan dalam petunjuk yang akan datang terlihat olehku.


Surat Kedua Puluh Empat

501

Akupun menjadi tahu dengan yakin bahwa aktivitas qudrah-Nya di alam ini serta perjalanan segala sesuatu membawa banyak makna di mana Sang Pencipta Yang Mahabijak membuat beragam entitas menuturkan aktivitas-Nya tadi. Bahkan gerakan langit dan bumi, serta gerakan seluruh entitas merupakan untaian kata dari tuturan tersebut, serta perjalanan dan putarannya merupakan bentuk perkataan dan ucapan. Artinya, berbagai gerakan dan perubahan yang bersumber dari aktivitas Tuhan merupakan kalimat tasbih, serta aktivitas-Nya yang terdapat di alam adalah tuturan pasif dari alam dan berbagai spesiesnya.

Rambu Ketiga Segala sesuatu tidak menuju ketiadaan dan tidak berakhir pada kefanaan. Namun ia berjalan dari wilayah qudrah menuju wilayah ilmu-Nya. Ia berpindah dari alam nyata menuju alam gaib. Ia pergi dari alam perubahan dan fana menuju alam cahaya dan abadi. Keindahan dan kesempurnaan pada sesuatu dilihat dari perspektif hakikat mengacu kepada nama-nama Ilahi serta kepada ukiran dan manifestasinya. Karena nama-nama Allah bersifat abadi dan manifestasinya bersifat kekal, sudah pasti ukirannya selalu tampil baru, indah, dan berubah. Ia tidak pergi menuju ketiadaan dan kefanaan. Akan tetapi, tampilan dan bungkusnya yang berganti. Adapun hakikat, esensi, dan identitasnya yang merupakan orbit keindahan serta wujud limpahan karunia dan kesempurnaan bersifat kekal abadi. Kebaikan dan keindahan pada sesuatu yang tidak bernyawa mengacu pada nama-nama Ilahi secara langsung. Jadi, kemuliaan dan pujian merupakan milik nama-Nya. Sebab, keindahan merupakan milik nama-Nya, serta cinta juga mengarah kepadanya. Pergantian cermin entitas tidak mempengaruhi nama-nama-Nya. Apabila sesuatu itu bernyawa, namun tidak termasuk yang berakal, maka perpisahan dan kepergiannya bukan merupakan kefanaan dan ketiadaan. Namun sesuatu yang hidup itu terbebas dari wujud fi siknya dan dari tugas-tugas hidup yang banyak. Ia menitipkan buah tugas yang ia dapat kepada ruhnya yang abadi. Ruh-ruhnya bersifat tetap dan permanen dengan bersandar ke-


502

AL-MAKTÛBÂT

pada nama-nama Ilahi. Ia pergi menuju kebahagiaan yang sesuai dengannya. Adapun jika makhluk bernyawa itu termasuk yang berakal, mereka menuju kepada kebahagiaan abadi dan alam kekal yang berlandaskan kesempurnaan materi dan maknawi. Karena itu, perpisahan dan kepergian mereka bukan merupakan kematian, ketiadaan, dan perpisahan. Akan tetapi, menyatu dengan kesempurnaan. Ia adalah wisata yang menyenangkan menuju alam milik Sang Pencipta Yang Mahabijak; alam yang lebih indah dan bercahaya dari pada dunia seperti alam barzakh, alam misal, serta alam arwah, juga menuju kerajaan-Nya yang lain. Kesimpulan: selama Sang Pencipta Yang Mahaagung ada dan kekal, Sifat-sifat-Nya bersifat permanen dan nama-Nya bersifat kekal, tentu manifestasi nama-nama dan ukirannya selalu tampak baru dalam keabadian maknawi. Ia bukan penghancuran, kefanaan, ketiadaan, dan perpisahan. Pasalnya, seperti diketahui, dilihat dari sisi kemanusiaan, manusia memiliki relasi dengan sebagian besar entitas. Ia merasa bahagia dengan kebahagiaan mereka, dan merasa sakit dengan musibah yang mereka alami. Terutama dengan mereka yang hidup. Lebih khusus lagi dengan manusia, dan lebih khusus lagi orang yang ia cintai dan ia hormati. Manusia sangat sedih dengan derita yang mereka alami, dan sangat bahagia dengan kebahagiaan mereka. Bahkan manusia rela mengorbankan kebahagiaannya demi membahagiakan mereka sama seperti seorang ibu yang rela mengorbankan kebahagiaannya demi anaknya. Dengan cahaya al-Qur’an dan rahasia iman, setiap mukmin dapat merasakan kebahagiaan dengan kebahagiaan, keabadian dan keselamatan seluruh makhluk dari ketiadaan serta kondisi mereka yang menjadi tulisan rabbani yang berharga. Ia mendapat cahaya agung sebesar dunia. Masing-masing mendapatkan manfaat dari cahaya tersebut sesuai dengan derajatnya. Namun jika ia orang yang sesat, di samping sakitnya sendiri, ia akan merasa sakit dengan kebinasaan dan kepergian makhluk


Surat Kedua Puluh Empat

503

secara lahir serta dengan derita makhluk yang bernyawa di antara mereka. Dengan kata lain, kekufurannya memenuhi dunia dengan ketiadaan lalu menuangkan ke kepalanya. Iapun pergi menuju neraka maknawi sebelum digiring menuju neraka akhirat.

Rambu Keempat Seperti yang disebutkan dalam sejumlah bagian dari Risalah Nur bahwa penguasa atau raja memiliki sejumlah wilayah berbeda yang bersumber dari atribut dan gelar yang beragam, seperti sultan, khalifah, penguasa, pemimpin, serta berbagai atribut dan gelar lainnya. Allah lebih daripada itu. Nama-nama-Nya yang mulia memiliki manifestasi beragam yang tak terhingga. Keragaman makhluk bersumber dari keragaman manifestasi tersebut. Karena setiap pemilik seluruh keindahan dan kesempurnaan ingin menyaksikan dan mempersaksikan keindahan dan kesempurnaannya, maka beragam nama-Nya itu yang bersifat kekal abadi menuntut tampilan yang juga bersifat abadi atas nama Dzat yang suci. Dengan kata lain, beragam nama-Nya tersebut ingin melihat dan memperlihatkan manifestasi keindahannya dan pantulan kesempurnaannya dalam cermin ukirannya. Artinya, ia menuntut pembaharuan kitab alam yang besar setiap waktu. Tulisannya selalu terus diperbaharui dengan tujuan tertentu. Yakni, ia menuntut penulisan ribuan tulisan beragam dalam sebuah lembaran serta memperlihatkan setiap tulisan tersebut di hadapan pandangan Dzat-Nya yang suci di samping penghamparannya kepada penglihatan makhluk yang memiliki perasaan. Perhatikan syair berikut yang menunjukkan hakikat di atas: Lembaran kitab alam... jenisnya tidak terbilang Untaian huruf dan katanya... bagian-bagiannya tidak terbatas Telah ditulis di lembaran hakikat lauhil mahfudz: setiap entitas di alam merupakan lafal bermakna yang berwujud Perhatikan baris-baris entitas, ia adalah risalah dari Tuhan untukmu485 485 Karya seorang ahli gramatika yang dikenal dengan nama Ruknuddin ibn al-Qauba’ (wafat 738 H).


504

AL-MAKTÛBÂT

Rambu Kelima: Penjelasan tentang Dua Nuktah Nuktah Pertama, selama Allah ada, maka segala sesuatu juga ada. Karena ada relasi dengan Sang Wajibul wujud, maka segala sesuatu ada untuk semua makhluk. Lewat relasi dan penisbatan dengan Sang Wajibul wujud, setiap entitas terpaut dengan seluruh entitas melalui rahasia kesatuan. Artinya, setiap entitas yang mengetahui atau diketahui relasinya dengan Sang Wajibul wujud memiliki hubungan dengan seluruh entitas yang bernisbat kepada Wajibul wujud melalui rahasia wahdah (kesatuan-Nya). Artinya, dari titik penisbatan tersebut, segala sesuatu memperoleh cahaya wujud yang tak terbatas. Karena itu, pada titik tersebut tidak ada perpisahan dan kelenyapan. Sehingga hidup sesaatpun merupakan sumber cahaya wujud yang tak terhingga. Sementara bila penisbatan dengan Allah tidak ada atau tidak diketahui, maka segala sesuatu akan merasakan berbagai jenis perpisahan dan ketiadaan yang tak terhingga. Sebab, dalam kondisi tersebut sesuatu dapat lenyap dan berpisah dengan setiap entitas yang mungkin memiliki ikatan. Dengan kata lain, ia membungkus wujud dirinya dengan berbagai jenis ketiadaan dan perpisahan yang tak terhingga. Andaikan ia tetap ada selama jutaan tahun tanpa penisbatan kepada Allah, maka hal itu tidak bisa menyamai kehidupan sesaat yang di dalamnya memiliki ikatan dengan-Nya. Karena itu, ahli hakikat berkata, “Sesaat dari keberadaan yang bersinar lebih baik daripada sejuta tahun keberadaan yang terputus (dari-Nya).” Artinya, sesaat dari keberadaan yang bernisbat dengan Wajibul wujud lebih utama daripada sejuta tahun keberadaan yang tidak bernisbat dengan-Nya. Karena itu, ulama hakikat berkata, “Cahaya wujud adalah mengenal Sang Wajibul wujud.” Dengan kata lain, dalam kondisi tersebut, entitas yang mendapatkkan cahaya wujud dipenuhi oleh malaikat, ruhaniyyûn (makhluk spiritual) dan makhluk yang memiliki perasaan. Sebaliknya, ketika Wajibul wujud tidak dikenal, gelapnya ketiadaan dan pedihnya perpisahan mengitari setiap entitas. Dunia dalam pandangan orang tersebut adalah tempat yang menakutkan, sunyi, dan sepi.


Surat Kedua Puluh Empat

505

Ya, sebagaimana setiap buah di pohon memiliki hubungan dengan seluruh buah yang berada di pohon tersebut serta membentuk semacam ikatan persaudaraan, pertemanan, dan hubungan kuat di antara mereka, ia juga memiliki sejumlah wujud non-esensial sebanyak buah yang ada. Akan tetapi, ketika buah itu dipetik dari pohon, perpisahan juga dialami oleh seluruh buah. Jika dibandingkan dengan buah yang dipetik, maka seluruh buah dianggap tidak ada. Sehingga ia diliputi oleh gelapnya ketiadaan yang bersifat eksternal. Demikian pula, setiap sesuatu memiliki segala sesuatu dilihat dari titik penisbatannya dengan qudrah Dzat Ahad shamad (Yang Mahaesa lagi Maha dibutuhkan). Apabila tidak ada penisbatan, maka berbagai bentuk ketiadaan eksternal sebanyak segala sesuatu juga menimpa segala sesuatu. Lewat rambu ini engkau bisa melihat keagungan cahaya iman dan melihat gelapnya kesesatan yang menakutkan. Jadi, iman adalah lambang hakikat mulia yang diterangkan dalam rambu ini. Hakikat ini tidak bisa dipetik kecuali dengan iman. Pasalnya, sebagaimana setiap sesuatu adalah tiada bagi orang buta, tuli, bisu, dan gila, demikian pula setiap sesuatu menjadi tiada dan gelap lewat ketiadaan iman. Nuktah Kedua, dunia dan segala sesuatu memiliki tiga sisi: Sisi pertama: mengarah kepada nama-nama Ilahi. Ia merupakan cermin baginya. Kelenyapan, perpisahan, dan ketiadaan tidak memberikan pengaruh pada sisi ini. Yang ada hanyalah pembaharuan. Sisi kedua: mengarah kepada akhirat dan alam keabadian. Ia ibarat ladangnya. Sisi ini menghasilkan buah abadi. Sisi ini juga membantu keabadian, sebab ia mengubah yang fana menjadi kekal. Ia juga berisi manifestasi kehidupan dan keabadian; bukan kematian dan perpisahan. Sisi ketiga: mengarah kepada yang fana. Artinya, ia mengarah kepada kita. Ia merupakan sisi yang disenangi oleh makhluk yang fana dan penurut hawa nafsu. Ia merupakan tempat bisnis bagi kalangan yang memiliki perasaan dan merupakan medan


506

AL-MAKTÛBÂT

ujian bagi para pengemban tugas. Begitulah, manifestasi keabadian dan kehidupan yang terdapat pada hakikat sisi ketiga ini menjadi balsam penyembuh luka akibat pedihnya perpisahan, kematian, dan ketiadaan di sisi dunia ini. Kesimpulan: Entitas yang terus mengalir dan makhluk yang terus bergilir tidak lain adalah bayangan yang bergerak dan tayangan yang terus berganti untuk memperbaharui cahaya penciptaan Sang Wajibul wujud.

KEDUDUKAN KEDUA Berisi Sebuah Pendahuluan dan Lima Petunjuk Pendahuluan berisi dua topik bahasan

Pendahuluan Bahasan Pertama Dalam lima petunjuk di bawah ini akan dituliskan sejumlah perumpamaan sebagai teropong kecil, halus, dan redup untuk melihat hakikat “kondisi rububiyah�. Perumpamaan tersebut tentu saja tidak dapat mengungkap hakikat kondisi rububiyah secara sempurna dan tidak bisa menjadi standar untuknya. Namun lewat teropong tersebut, ia dapat membantu seseorang untuk melihat kondisi rububiyah yang luar biasa itu. Kemudian berbagai ungkapan yang tidak sesuai dengan kondisi Dzat Yang Mahasuci yang terdapat dalam berbagai perumpamaan yang ada serta pada rambu-rambu di atas tidak lain bersumber dari keterbatasan perumpamaan itu sendiri. Misalnya berbagai makna yang populer untuk istilah kenikmatan, kesenangan, dan keridhaan tidak bisa menjelaskan kondisi dan sifat suci milik Allah I. Ia hanyalah simbol serta teropong refl eksi semata. Kemudian berbagai perumpamaan tersebut membuktikan hakikat hukum rububiyah yang menyeluruh dan agung seputar kondisi rububiyah lewat penampakan sebagian hukum itu pada sebuah contoh kecil.


Surat Kedua Puluh Empat

507

Misalnya, telah dijelaskan bahwa bunga pergi dari alam wujud. Namun ia meninggalkan ribuan jenis wujud lain, baru kemudian pergi. Dengan contoh ini hukum rububiyah yang agung memperlihatkan bahwa hukum tersebut berlaku pada seluruh musim semi sebagaimana juga berlaku pada seluruh entitas dunia. Ya, lewat sebuah hukum, Sang Pencipta Yang Maha Penyayang mengganti busana dan bulu burung lalu memperbaharuinya. Dengan hukum yang sama, Sang Pencipta Yang Mahabijak memperbaharui busana bola bumi setiap tahun. Dengan hukum yang sama pula, Dia mengganti bentuk seluruh alam saat kiamat terjadi. Dengan sebuah hukum, Allah I menggerakkan partikel seperti seorang Maulawi yang berputar. Dengan hukum yang sama, Dia menggerakkan bola bumi sebagaimana seorang maulawi tertarik oleh zikir. Bahkan dengan hukum itu pula, Dia menggerakkan alam dan mengatur sistem tata surya. Dengan sebuah hukum, Allah I memperbaharui dan mengembangkan sel-sel tubuh. Dengan hukum yang sama, Dia memperbaharui kebunmu berkali-kali pada setiap tahun dan setiap musim. Dengan hukum yang sama pula, Dia memperbaharui permukaan bumi pada setiap musim semi serta menghamparkannya dalam kondisi baru. Dengan sebuah hukum yang penuh hikmah, Sang Pencipta Yang Mahakuasa menghidupkan seekor lalat. Dengan hukum yang sama, Dia menghidupkan pohon sycamore di depan kita ini pada setiap musim semi. Dengan hukum itu pula, Dia menghidupkan bumi pada musim semi serta menghidupkan seluruh makhluk di hari kebangkitan. Al-Qur’an menjelaskan hal ini dengan fi rman-Nya:

“Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa.â€? (QS. Luqmân [31]: 28). Hal ini berlaku pula untuk yang lain.


508

AL-MAKTÛBÂT

Terdapat banyak sekali hukum rububiyah seperti itu yang berlaku mulai dari partikel hingga keseluruhan alam. Perhatikan keagungan hukum-hukum yang dikandung oleh aktivitas rububiyah-Nya serta renungkan jangkauannya yang luas, lalu lihat rahasia wahdah (kesatuan) di dalamnya. Perlu diketahui bahwa setiap hukum merupakan bukti tauhid. Ya, setiap hukum dari sekian hukum yang sangat banyak itu, karena pada waktu bersamaan merupakan satu hukum yang mencakup alam wujud, maka ia menegaskan keesaan Sang pencipta Yang Mahamulia berikut pengetahuan dan kehendak-Nya. Di samping itu, ia adalah salah satu bentuk manifestasi pengetahuan dan kehendak tersebut. Begitulah berbagai perumpamaan yang terdapat pada sebagian besar bahasan “al-Kalimât” menjelaskan satu sisi dan bagian dari contoh hukum tersebut dalam sebuah misal parsial. Dengan demikian, ia menunjukkan keberadaan hukum yang sama pada apa yang dinyatakan. Selama perumpamaan yang ada menjelaskan realitas hukum, berarti ia juga menguatkan pernyataan yang ada sebagai sebuah bukti logis. Artinya, sebagian besar perumpamaan yang terdapat dalam “al-Kalimât,” masing-masing berposisi seperti argumen dan bukti yang kuat.

Bahasan Kedua Dalam ‘hakikat kesepuluh’ dari “Kalimat Kesepuluh” disebutkan bahwa setiap buah dan setiap bunga yang terdapat di sebuah pohon memiliki tujuan dan hikmah sebanyak buah dan bunganya. Hikmah tersebut terdiri dari tiga bagian: Satu bagian mengarah kepada Sang Pencipta. Ia memperlihatkan ukiran nama-nama-Nya. Bagian yang lain mengarah kepada makhluk yang memiliki perasaan. Seluruh entitas dalam pandangan mereka adalah pesan bernilai serta untaian kata yang bermakna. Bagian terakhir mengarah kepada dirinya sendiri, kepada hidup dan kekekalannya. Ia memiliki hikmah sesuai dengan manfaat yang didapat manusia, jika memang memberi manfaat.


Surat Kedua Puluh Empat

509

Ketika aku menelaah tujuan yang banyak dari makhluk, alinea berbahasa Arab berikut ini terlintas dalam benakku. Kutuliskan ia dalam bentuk catatan berdasarkan lima petunjuk yang ada:

Makhluk yang terlihat jelas ini merupakan tayangan yang bergerak dan bayangan yang berjalan untuk memperbaharui manifestasi cahaya penciptaan Allah I lewat perubahan bentuk yang bersifat relatif: Pertama: dengan tetap terpeliharanya berbagai esensi indah dan identitas imajinernya. Kedua: dengan tetap dihasilkannya berbagai hakikat gaib dan salinannya. Ketiga: dengan tetap disebarkannya buah ukhrawi dan pemandangan abadi. Keempat: dengan tetap diungkapkannya tasbih rabbani dan konsekuensi nama-Nya. Kelima: dengan tetap terlihatnya berbagai atribut suci Tuhan dan pentas ilmu-Nya. Pada lima alinea di atas terdapat dasar-dasar petunjuk berikut yang akan menjadi bahasan kita. Ya, setiap entitas, terutama makhluk hidup, memiliki lima tingkatan hikmah dan tujuan yang berbeda.


510

AL-MAKTÛBÂT

Sebagaimana pohon yang berbuah menghasilkan buah melalui dahan-dahannya, demikian pula setiap makhluk hidup memiliki tujuan dan hikmah yang berbeda-beda dalam lima tingkatan. Wahai manusia yang fana! Jika engkau ingin mengubah hakikatmu yang ibarat benih kecil menjadi sebuah pohon abadi yang berbuah, serta ingin mendapatkan sepuluh tingkatan buah sebagaimana yang dijelaskan dalam lima petunjuk dan sepuluh jenis tujuan, maka milikilah iman yang hakiki. Jika tidak, engkau tidak akan mendapatkan seluruh tujuan dan buah tersebut. Selain itu, engkau akan menjadi rusak dalam benih kecil itu. Petunjuk Pertama: Kalimat tersebut menjelaskan bahwa meskipun setiap entitas sirna dari wujud, di mana secara lahiriah ia pergi menuju ketiadaan, namun makna yang disampaikan tetap terpelihara. Demikian pula dengan identitas maknawi, gambaran, dan substansinya terpelihara di alam misal, di lauhil mahfuzh yang merupakan prototipe dari alam misal, serta di memori ingatan yang merupakan prototipe dari lauhil mahfuzh. Artinya, entitas kehilangan wujud lahiriah, namun mendapatkan ratusan wujud maknawiyah dan ilmiah. Misalnya, huruf-huruf percetakan disusun dengan susunan tertentu dan posisi khusus agar bisa mencetak halaman tertentu. Gambaran sebuah halaman itu berikut identitasnya diberikan kepada banyak lembaran yang tercetak. Makna di dalamnya disebarkan kepada banyak akal. Setelah itu, kondisi huruf-huruf tersebut berubah dan berganti karena tidak lagi dibutuhkan. Namun huruf-huruf tersebut dibutuhkan untuk mencetak sejumlah halaman lain. Demikianlah, pena qadar ilahi memberikan kepada entitas bumi, terutama tumbuhan, sebuah pengaturan dan kondisi tertentu. Qudrah ilahi menghadirkannya dalam lembaran musim semi serta mengungkap makna-maknanya yang indah. Karena


Surat Kedua Puluh Empat

511

gambaran dan identitasnya berpindah kepada catatan alam gaib seperti alam misal, maka hikmah-Nya menghendaki kondisi tersebut berubah agar lembaran baru dari musim semi yang akan datang bisa ditulis guna mengungkap sejumlah maknanya yang indah. Petunjuk Kedua: Kalimat tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu, baik yang bersifat parsial maupun integral, setelah pergi dari alam wujud (terutama jika ia memiliki kehidupan), maka ia menghasilkan banyak hakikat gaib. Di samping itu, ia meninggalkan sejumlah bentuk sebanyak perjalanan hidupnya di lembaran “alam misal�. Sejarah hidupnya yang disebut dengan takdir hidup ditulis lewat sejumlah bentuk tadi dengan penuh makna. Pada waktu bersamaan, setelah pergi dari alam wujud, ia menjadi objek telaah makhluk spiritual. Contoh, sebuah bunga menjadi layu dan pergi dari alam wujud. Hanya saja, ia meninggalkan ratusan benih di alam ini dan menyimpan substansinya pada benih-benih tersebut. Di samping itu, ia juga meninggalkan ribuan bentuknya yang terdapat di lauhil mahfudz kecil serta dalam daya ingat yang merupakan miniatur lauhil mahfudz. Dari sana orang yang memiliki perasaan bisa melihat dan mempelajari tasbih rabbani dan ukiran Asmaul Husna yang ia tunaikan sepanjang hayatnya. Setelah itu, ia pergi meninggalkan alam wujud. Demikianlah musim semi yang berhias berbagai ciptaan indah di muka bumi di mana ia menyerupai taman besar, tidak lain merupakan bunga indah yang secara lahiriah akan lenyap dan pergi menuju ketiadaan. Namun musim semi tersebut meninggalkan banyak hakikat gaib yang ia berikan sebanyak benihnya. Ia meninggalkan sejumlah identitas maknawi yang diterbarkan sebanyak bunga. Ia juga meninggalkan berbagai hikmah rabbani sebanyak entitas yang ada. Musim semi meninggalkan semua jenis wujud ini, lalu menghilang dari pandangan kita. Di samping itu, ia mengosongkan tempat untuk para koleganya dari semua entitas musim semi


512

AL-MAKTÛBÂT

yang akan datang ke alam wujud guna menunaikan tugasnya. Artinya, musim semi tersebut melepaskan wujud lahiriahnya lalu memakai seribu wujud lain secara maknawi. Petunjuk Ketiga: Kalimat tersebut menjelaskan bahwa dunia merupakan ladang dan pabrik yang menghasilkan sejumlah produk yang sesuai dengan pasar akhirat. Sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam banyak “Kalimat” bahwa amal perbuatan jin dan manusia dikirim ke pasar akhirat, demikian pula entitas yang lain juga menunaikan banyak amal di dunia demi akhirat serta menghadirkan banyak hasil panenan untuknya. Bahkan bola bumi berjalan untuk amal tersebut. Bisa dikatakan bahwa perahu rabbani ini (bola bumi) menempuh perjalanan sejauh 24 ribu tahun hanya dalam setahun agar bisa berputar di sekitar mahsyar. Contoh: tentu penduduk surga ingin mengenang apa yang pernah terjadi di dunia. Mereka juga ingin berdialog seputar kenangan mereka. Bisa jadi mereka ingin melihat tayangan yang berisi kenangan dan peristiwa yang pernah mereka alami. Mereka merasa senang dengan menyaksikan semua itu sebagaimana mereka senang ketika bisa menyaksikan tayangan yang terdapat di layar bioskop. Jika demikian, maka surga yang merupakan negeri kenikmatan dan tempat kebahagiaan berisi sejumlah peristiwa dan pemandangan abadi untuk percakapan berbagai kejadian di dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ayat yang berbunyi:

“Duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. al-Hijr [15]: 48). Begitulah, kepergian entitas yang indah ini setelah sebelumnya ia tampil dalam satu waktu, serta silih-bergantinya satu dengan yang lain menjelaskan seolah-olah ia adalah perangkat pabrik untuk membentuk sejumlah pemandangan abadi.


Surat Kedua Puluh Empat

513

Contoh, manusia zaman sekarang mengambil gambar tempat-tempat yang menarik dan indah untuk mempersembahkan semacam bentuk keabadian dari berbagai tempat yang fana tadi dan menghadiahkannya kepada generasi sesudah mereka sebagai kenang-kenangan seperti yang terdapat di layar bioskop. Mereka memberikan sejenis keabadian kepada sesuatu yang bersifat fana. Mereka menampilkan masa lalu di masa sekarang dan masa depan. Demikian pula dengan berbagai entitas di musim semi yang ada di dunia ini setelah menempuh kehidupan yang singkat. Sebagaimana Sang Penciptanya Yang Mahabijak menuliskan tujuan-tujuannya yang terkait dengan alam abadi di alam ini, Dia juga menuliskan berbagai tugas hidup dan mukjizat subhani yang mereka tunaikan sepanjang perjalanan mereka dalam pemandangan abadi. Hal itu terwujud sesuai dengan tuntutan nama Allah, al-Hakîm (Yang Mahabijak), ar-Rahîm (Yang Maha Penyayang), dan al-Wadûd (Yang Mahakasih). Petunjuk Keempat: Kalimat tersebut menjelaskan bahwa entitas menunaikan berbagai jenis tasbih rabbani dalam perjalanan kehidupan mereka serta memperlihatkan berbagai kondisi yang sesuai dengan tuntutan nama-nama Ilahi. Contoh, nama ar-Rahîm menuntut adanya kasih sayang, nama ar-Razzâq menuntut adanya pemberian rezeki, nama alLathîf menuntut adanya sikap yang lembut. Demikian seterusnya. Setiap nama Ilahi memiliki konsekuensi. Setiap makhluk hidup menjelaskan apa yang dituntut dan menjadi konsekuensi dari nama-nama itu lewat kehidupan dan eksistensi mereka. Pada waktu yang sama, ia sendiri bertasbih menyucikan Allah Yang Mahabijak sebanyak perangkat yang dimiliki. Contoh lain, ketika manusia memakan sejumlah buah yang baik, buah tersebut akan dicerna dan terurai di perutnya lalu habis secara lahiriah. Namun sebenarnya ia sedang memberi sebuah


514

AL-MAKTÛBÂT

kenikmatan dan rasa kepada setiap sel di tubuhnya, di samping kelezatan yang diberikan kepada mulut dan perutnya. Dengan demikian, ia menjadi perantara datangnya banyak hikmah seperti memberikan nutrisi ke seluruh bagian tubuh dan membuat kehidupannya terus eksis. Makanan itu sendiri naik tingkatan dari wujud nabati menuju tingkatan kehidupan manusia. Demikian pula saat entitas bersembunyi di balik tirai ketiadaan. Sebagai gantinya ia menjadi tasbih abadi yang sangat banyak milik setiap entitas. Ia meninggalkan banyak ukiran Ilahi dan sejumlah tuntutannya di tangan nama-nama tersebut. Yakni, ia meninggalkannya menuju wujud yang abadi. Begitulah ia pergi. Jadi apakah kita akan berkata kepada ribuan jenis wujud―yang mendapat semacam keabadian―sebagai ganti dari kepergian wujud yang fana, “Kasihan sekali wujud yang temporer itu. Ia pergi begitu saja. Mengapa makhluk ini pergi?” Pantaskah mengeluh seperti itu? Namun rahmat, hikmah, dan cinta pada makhluk tersebut menuntut demikian. Jika tidak, itu artinya mengabaikan ribuan manfaat hanya untuk menangkal satu bahaya. Kondisi tersebut justru menghasilkan ribuan bahaya. Artinya, nama-nama Allah; ar-Rahîm, al-Hakîm, dan al-Wadûd menuntut kepergian entitas tersebut dalam tirai ketiadaan dan perpisahan. Petunjuk Kelima:

Kalimat tersebut menjelaskan bahwa entitas, terutama makhluk hidup, setelah pergi dari wujud lahiriahnya, mereka meninggalkan banyak hal abadi lalu pergi. Dalam ‘rambu kedua’ kami telah menjelaskan bahwa pada kondisi rububiyah terdapat―kalau boleh dikatakan―cinta mutlak, kasih sayang mutlak, kebanggaan mutlak, ridha suci dan mutlak, kegembiraan yang suci dan mutlak, kenikmatan suci dan mutlak, kesenangan suci dan mutlak, yang sesuai dengan kesucian dan kesempurnaan Dzat Wajibul Wujud. Pasalnya, berbagai jejak dari berbagai sifat mulia tersebut terlihat jelas. Sebab, yang


Surat Kedua Puluh Empat

515

dituntut oleh sejumlah sifat itu adalah menggiring entitas dengan cepat dalam sebuah aktivitas yang menakjubkan dalam bentuk perubahan, pergantian, kepergian, dan kefanaan. Lalu entitas dikirim secara permanen dari alam nyata ke alam gaib. Karena itu, dalam bingkai manifestasi berbagai sifat rabbani itu, seluruh makhluk selalu dalam kondisi berjalan dan bergerak. Dengan perjalanan dan pergerakan yang permanen tersebut, mereka memenuhi pendengaran kaum yang lalai dengan sejumlah ratapan perpisahan, serta memperdengarkan ke telinga kaum beriman alunan zikir dan tasbih. Atas dasar itu, setiap entitas yang pergi dari alam wujud meninggalkan sejumlah makna dan kondisi yang menjadi landasan keabadian untuk menampilkan sifat-sifat atau kondisi Sang Wajibul wujud yang abadi. Kemudian berbagai kondisi dan fase yang telah dijalani oleh entitas tersebut ia tinggalkan saat pergi dari alam wujud di wilayah wujud ilmi seperti imam mubin, kitab mubin, dan lauhil mahfuzh. Itulah wilayah yang menjadi simbol pengetahuan azali. Dengan demikian, setiap entitas yang fana meninggalkan sebuah wujud, namun memperoleh ribuan wujud abadi untuk dirinya dan yang lainnya. Misalnya, berbagai bahan material kasar dimasukkan ke mesin pabrik yang besar. Maka, secara lahiriah bahan itupun terbakar dan hancur. Akan tetapi, dari sana berbagai bahan kimia yang bernilai serta obat-obatan penting mengalir di pipa pabrik. Di samping itu, tenaga uapnya berhasil menggerakkan roda pabrik sehingga menghasilkan kain, percetakan buku, produksi gula, dan seterusnya. Dengan kata lain, terbakarnya bahan kasar tadi dan kepergiannya secara lahiriah, membuat ribuan hal mendapatkan busana wujud. Artinya, wujud yang kasar dan biasa tadi pergi dan mengalami kefanaan. Akan tetapi, ia melahirkan berbagai jenis wujud yang mulia. Jika demikian, layakkah kita mengatakan, “Sungguh kasihan bahan kasar itu!� Pantaskah kita mengeluh dengan berkata, “Mengapa pemilik pabrik itu tega membakarnya?�


516

AL-MAKTÛBÂT

Demikian halnya dengan Sang Pencipta Yang Mahabijak, Maha Penyayang, dan Mahakasih―tanpa ada maksud menyerupakan Dia dengan apa dan siapa pun―menyalakan pabrik alam dengan menjadikan setiap entitas yang fana sebagai benih bagi berbagai spesies abadi, serta sebagai orbit untuk memperlihatkan berbagai tujuan rabbani. Dengan itu, Dia memperlihatkan berbagai sifat-sifat dan kondisi-Nya yang suci seraya menjadikannya sebagai tinta bagi pena qadar-Nya dan kumparan bagi tenunan qudrah-Nya. Lewat qudrah-Nya, Allah I menggiring seluruh entitas untuk menunaikan tugas dan aktivitasnya demi berbagai tujuan mulia yang tidak kita ketahui. Dia menggiring seluruh entitas hingga menjadikan partikel bergerak, entitas berjalan, hewan mengalir, dan planet berputar. Aktivitas tersebut menjadikan alam berbicara serta membacakan dan mendiktekan ayat-ayat penciptaan-Nya tanpa suara. Hal itu sesuai dengan tuntutan rahmat, hikmah, dan kasih-Nya. Dari segi rububiyah, Allah menjadikan makhluk bumi sebagai arasy bagi-Nya di mana Dia menjadikan udara sebagai sejenis arasy bagi perintah dan kehendak-Nya, unsur cahaya sebagai arasy yang lain bagi ilmu dan hikmah-Nya, air sebagai arasy bagi kebaikan dan rahmat-Nya, tanah sejenis arasy bagi pemeliharaan dan pemberian kehidupan. Dia menjalankan tiga arasy itu berada di atas makhluk bumi. Ketahuilah bahwa hakikat mulia yang dijelaskan dalam lima rambu dan lima petunjuk ini hanya dapat disaksikan lewat cahaya al-Qur’an dan tidak bisa diraih kecuali lewat kekuatan iman. Jika tidak, kegelapan yang mencekam akan menerjang sebagai ganti dari hakikat abadi tersebut. Bagi kaum yang sesat, dunia akan dipenuhi dengan berbagai bentuk perpisahan dan ketiadaan. Akhirnya, alam baginya menjadi neraka maknawi. Sebab dengan wujudnya yang sebentar, ketiadaan yang tak terhingga melingkupi segala sesuatu. Masa lalu dan masa mendatang dipenuhi oleh berbagai gelapnya ketiadaan. Orang yang sesat hanya akan menemukan cahaya wujud yang menyedihkan pada kondisinya saat ini; satu masa yang sangat singkat.


Surat Kedua Puluh Empat

517

Akan tetapi dengan rahasia al-Qur’an dan cahaya iman, cahaya wujud akan terlihat dari yang azali hingga abadi. Sehingga ia memiliki ikatan dengannya dan mendapatkan kebahagiaan abadi. Kesimpulan: Kami ingin mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Niyazi al-Mishri, Andaikan jiwa ini berupa lautan luas Lalu dada ini hancur berkeping-keping Aku akan bermunajat hingga suara menjadi parau. Akupun berkata:

(Wahai Yang Mahabenar, wahai Yang Mahawujud,wahai yang Mahahidup, wahai Yang Disembah)

(Wahai Yang Mahabijak, wahai Yang Menjadi tujuan, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Mahakasih) Dan secara tegas kunyatakan:

Tiada Tuhan selain Allah, Sang penguasa Yang Mahabenar dan Mahajelas. Muhammad adalah utusan Allah yang janjinya benar dan bisa dipercaya. Aku yakin dan percaya:


518

AL-MAKTÛBÂT

Bahwa kebangkitan setelah kematian adalah benar adanya, surga adalah benar, neraka adalah benar, kebahagiaan abadi adalah benar, serta Allah Maha penyayang, Mahabijak, dan Mahakasih. Rahmat, hikmah, dan cinta-Nya meliputi segala sesuatu dan semua urusannya.


Surat Kedua Puluh Empat

519

Mahasuci Dzat yang menjadikan taman bumi-Nya sebagai galeri kreasi-Nya, mahsyar ciptaan-Nya, pameran qudrah-Nya, orbit hikmah-Nya, wadah rahmat-Nya, ladang surga-Nya, tempat perjalanan makhluk-Nya, dan saluran entitas-Nya. Hiasan hewan, goresan burung, buah pohon, dan bunga tanaman merupakan mukjizat pengetahuan-Nya, keluarbiasaan kreasi-Nya, hadiah kemurahan-Nya, petunjuk kelembutan-Nya, bukti keesaan-Nya, kelembutanhikmah-Nya, serta saksi rahmat-Nya. Senyum bunga dari indahnya buah, kicau burung di keheningan pagi, bunyi hujan di atas daun bunga, Indahnhya bunga dan merekahnya buah di kebun dan taman, Kasih ibu kepada anak kecilnya baik di kalangan hewan maupun manusia: Semuanya adalah bentuk perkenalan Dzat Yang Mahakasih, kasih Dzat Yang Maha Penyayang, rahmat Dzat Yang penuh cinta, cinta Dzat Yang Maha Memberi, baik kepada jin, manusia, ruh, hewan, maupun malaikat.


520

AL-MAKTÛBÂT

LAMPIRAN PERTAMA (berisi lima nuktah)

“Katakanlah, Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau bukan karena doamu.” (QS. al-Furqân [25]: 77).

Nuktah Pertama Ketahuilah bahwa doa merupakan rahasia ibadah yang agung. Bahkan ia merupakan inti dan ruh ibadah. 486 Sebagaimana yang telah kami jelaskan pada beberapa bagian dalam Risalah Nur, doa terdiri dari tiga jenis: Doa Jenis Pertama: Doa lewat “lisan kesiapan dan potensi” yang terdapat pada sesuatu. Seluruh benih dan biji meminta kepada Penciptanya Yang Mahabijak lewat lisan kesiapan dan potensi yang tersimpan padanya dengan berkata, “Ya Allah, wahai Pencipta kami, anugerahkan pada kami pertumbuhan yang membuat kami bisa memerlihatkan keindahan nama-nama-Mu sehingga kami bisa memamerkannya di hadapan seluruh mata. Ya Allah, ubahlah hakikat kami yang kecil menjadi hakikat yang besar. Yaitu hakikat pohon dan bulir. Selain itu, terdapat doa dari jenis ini, yaitu berkumpulnya sejumlah sebab. Bertemunya sejumlah sebab merupakan doa untuk mendatangkan akibat. Artinya, sejumlah sebab mengambil posisi dan kondisi khusus di mana ia menjadi seperti lisânul-hâl (lisan kondisi) yang memohon terciptanya akibat dari Dzat Yang Maha Kuasa. Benih, misalnya, lewat lisan potensinya memohon kepada Penciptanya Yang Maha Kuasa agar ia menjadi pohon. Akhirnya masing-masing mulai dari air, hawa panas, tanah, dan cahaya, mengambil kondisi tertentu di seputar benih sehingga kondisi tersebut laksana lisan yang menuturkan doa dengan berkata, “Ya Allah, wahai Pencipta kami, jadikan benih ini sebagai pohon.” 486 Lihat at-Tirmidzi bab doa 1, tafsir surat al-Baqarah 16, Ghafi r 1; Abu Daud, bab witir 23; dan Ibnu Majah bab doa 1.


Surat Kedua Puluh Empat

521

Ya, pohon yang merupakan mukjizat qudrah ilahi yang luar biasa, proses penciptaannya sama sekali tidak bisa disandarkan kepada berbagai unsur sederhana yang tak bernyawa dan tak memiliki perasaan itu. Bahkan menyerahkan proses penciptaan kepada sebab-sebab tadi adalah sesuatu yang mustahil. Dengan demikian, bertemunya sejumlah sebab hanyalah satu bentuk doa. Doa Jenis Kedua: Yaitu doa yang diminta lewat “lisan kebutuhan fi trah”. Semua makhluk hidup meminta apa yang menjadi hajat dan kebutuhannya yang berada di luar kendali dan kehendaknya. Mereka meminta kepada Penciptanya Yang Maha Penyayang. Lalu permintaan dan hajat tersebut dikabulkan pada waktu yang tepat dengan cara yang tak terduga. Pasalnya, kemampuan untuk meraih apa yang diinginkan sangat terbatas. Karena itu, pengiriman semua kebutuhan yang berada di luar kendali dan kehendak mereka serta pada waktu yang paling tepat dan lewat cara yang tak terduga tidak lain berasal dari Dzat Yang Mahabijak dan Maha Penyayang. Curahan karunia dan nikmat tersebut tidak lain merupakan bentuk pengabulan doa fi trah tersebut. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa doa jenis ini diucapkan oleh lisan kebutuhan fi trah yang dimiliki oleh setiap makhluk. Mereka meminta seluruh kebutuhannya kepada Sang Pencipta Yang Mahakuasa. Ia merupakan doa dari sejumlah “sebab” yang meminta “akibat” kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui. Doa jenis Ketiga: Yaitu doa yang diminta oleh setiap makhluk yang memiliki perasaan guna memenuhi hajat kebutuhan mereka. Doa ini juga terdiri dari dua macam: Pertama, yang pada umumnya dikabulkan ketika sudah mencapai kondisi terdesak dan sangat butuh. Atau, ia memiliki hubungan kuat dengan kebutuhan fi trah serta sejalan dengannya. Atau, sangat dekat dengan lisan potensi dan kesiapan tadi. Atau murni bersumber dari dalam lubuk hati.


522

AL-MAKTÛBÂT

Kemajuan dan penemuan yang telah diraih manusia tidak lain merupakan hasil dari jenis doa ini. Pasalnya, berbagai hal luar biasa yang mereka sebut sebagai peradaban, serta penemuan yang mereka banggakan tidak lain merupakan buah dari doa maknawi yang diminta oleh umat manusia lewat lisan potensi yang tulus sehingga dikabulkan. Tidak ada doa yang diminta dengan lisan potensi dan lisan kebutuhan fi trah, kecuali pasti dikabulkan selama tidak ada penghalang dan selama memenuhi syarat tertentu. Kedua, adalah doa yang kita kenal bersama. Ia juga terdiri dari dua cabang: Pertama, dalam bentuk perbuatan (fi ’li). Kedua, dalam bentuk perkataan (qauli). Misalnya, membajak tanah merupakan doa dalam bentuk perbuatan. Dengan itu, manusia meminta rezeki kepada Sang pemberi rezeki Yang Maha Bijaksana. Ia meminta kepada-Nya; bukan kepada tanah. Tanah hanya pintu bagi khazanah kekayaan rahmat Tuhan yang luas. Manusia mengetuknya lewat alat bajak. Kami tidak akan membahas berbagai bagian lain secara rinci. Namun kami akan membahas sejumlah rahasia doa yang berbentuk perkataan dalam sejumlah nuktah berikut:

Nuktah Kedua Ketahuilah bahwa pengaruh doa sangat besar. Terutama, ketika dilakukan secara terus-menerus dan secara integral. Doa tersebut biasanya berbuah dan terkabul. Sehingga bisa dikatakan bahwa sebab penciptaan alam adalah doa. Sebab, doa agung milik Rasul r mendahului dunia Islam yang mengutarakan doa yang sama. Mereka pun mendahului seluruh umat manusia yang mengutarakan doa yang sama. Doa tersebut adalah kebahagiaan abadi. Ia merupakan salah satu sebab penciptaan alam. Artinya, dengan ilmu azali-Nya, Tuhan Pencipta alam telah mengetahui bahwa Rasul yang mulia r akan meminta kebahagiaan abadi kepada-Nya dan pemerolehan manifestasi nama-nama-Nya. Beliau akan meminta hal tersebut atas nama seluruh umat manusia, bahkan atas nama seluruh entitas. Maka, Allah mengabulkan doa agung tersebut sehingga Dia menciptakan alam.


Surat Kedua Puluh Empat

523

Nah, ketika doa berisi nilai yang sangat penting dan bersifat komprehensif seperti telah disebutkan, mungkinkah ia tidak dikabulkan? Mungkinkah doa yang dipanjatkan minimal oleh ratusan juta manusia, sejak seribu tiga ratus tahun lalu, setiap saat, secara bersama-sama, bahkan bersama dengan golongan jin, malaikat, dan makhluk spiritual lainnya yang jumlahnya tak terhingga?! Mungkinkah doa yang mereka panjatkan untuk Rasul r agar beliau meraih rahmat Ilahi yang agung dan kebahagiaan yang kekal tidak dikabulkan?! Selama doa tersebut dipanjatkan secara integral, komprehensif, dan secara kontinyu semacam itu hingga mencapai derajat lisan potensi dan kebutuhan fi trah, sudah pasti Rasul yang mulia tersebut, Muhammad r, berkat doa tadi mendapatkan kedudukan tinggi. Andaikan seluruh akal bersatu untuk menjangkau hakikat kedudukan tersebut, tentu tidak akan mampu. Karena itu, bergembiralah wahai orang muslim. Engkau memiliki pemberi syafaat yang mulia di hari kiamat nanti. Yaitu Rasul tercinta r. Maka, berusahalah untuk meraih syafaat beliau dengan cara mengikuti sunnahnya yang suci. Barangkali engkau bertanya, “Apa yang menjadi kebutuhan Rasul r yang merupakan kekasih Tuhan terhadap doa dan salawat sebanyak itu?� Jawaban: Beliau sangat terkait dengan kebahagiaan seluruh umatnya. Beliau memiliki bagian atas berbagai bentuk kebahagiaan yang diraih oleh setiap umatnya. Beliau juga ikut bersedih dan berduka dengan setiap musibah yang menimpa mereka. Meskipun derajat kesempurnaan dan kebahagiaan yang beliau dapatkan tidak terhingga, namun sosok yang sangat ingin agar setiap umatnya mendapatkan berbagai jenis kebahagiaan yang tak terhingga dalam masa yang tak terbatas, di mana beliau juga berduka dengan berbagai penderitaan dan musibah mereka, sudah pasti beliau membutuhkan salawat, doa, dan rahmat yang tak terhingga.


524

AL-MAKTÛBÂT

Barangkali engkau berkata, “Kadangkala ada doa yang dipanjatkan secara tulus untuk sejumlah urusan yang pasti terjadi. Misalnya, doa saat shalat gerhana bulan dan matahari. Kadangkala pula berdoa untuk urusan yang tidak mungkin terjadi.” Jawaban: Dalam berbagai “Kalimat yang lain” telah kami jelaskan bahwa doa merupakan satu bentuk ibadah. Dengan doa, manusia memperlihatkan kelemahan dan ketidakberdayaannya. Adapun tujuan lahiriahnya adalah waktu untuk berdoa dan beribadah; bukan hasil dan manfaatnya. Sebab, hasil dan manfaat ibadah tersebut mengarah kepada akhirat. Dengan kata lain, buahnya akan dipetik di akhirat. Karena itu, andaikan tujuan duniawi yang tersirat di dalam doa tersebut tidak tercapai, tidak bisa dikatakan bahwa doa tadi tidak terkabul. Namun dapat dikatakan bahwa waktu doa belum berakhir. Mungkinkah doa untuk kebahagiaan abadi yang dipanjatkan oleh seluruh kaum beriman dengan penuh harap, ikhlas, dan kontinyu tidak terkabul? Mungkinkah Tuhan Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah di mana seluruh makhluk mengakui keluasaan rahmat-Nya tidak mengabulkan doa ini? Mungkinkah kebahagiaan abadi tersebut tidak terwujud? Tentu saja tidak mungkin.

Nuktah Ketiga Pengabulan doa yang terucap terwujud lewat dua sisi: Bisa doa itu sendiri terkabul, atau bisa pula yang terkabul adalah yang lebih baik darinya. Misalnya, ada yang berdoa agar diberi oleh Allah anak laki-laki. Namun Allah memberinya anak perempuan seperti apa yang terjadi pada Ibu Sitti Maryam. Dalam kondisi demikian, tidak bisa dikatakan bahwa doanya tidak terkabul. Namun dapat dikatakan bahwa ia terkabul dalam bentuk yang lebih baik. Manusia kadang berdoa untuk mendapatkan kebahagiaan duniawi. Namun Allah mengabulkan dengan memberi kebahagiaan ukhrawi. Dalam kondisi demikian, tidak bisa dikatakan


Surat Kedua Puluh Empat

525

bahwa doanya tidak terkabul. Namun dapat dikatakan bahwa ia terkabul dalam bentuk yang lebih bermanfaat baginya. Begitu seterusnya. Jadi, kita berdoa dan meminta hanya kepada Allah semata. Dia pasti mengabulkan. Hanya saja, Dia berinteraksi dengan kita sesuai hikmah-Nya, sebab Dia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Seorang pasien tidak boleh mencurigai kebijakan dokter yang mengobatinya. Bisa jadi ia meminta kepada dokter untuk mengobatinya dengan madu, namun dokter tersebut malah memberinya obat yang pahit. Sebab, dokter mengetahui bahwa dirinya sedang terkena demam. Pasien itu tidak boleh berkata, “Dokter tidak mengabulkan permintaanku.� Pasalnya, ia telah mendengar dan memperhatikan rintihan dan keluhannya. Ia mengabulkan tetapi dalam bentuk yang lebih baik.

Nuktah Keempat Buah terlezat yang dipetik oleh seseorang dari doa, serta hasil terindah yang didapat seseorang dari permintaannya adalah sebagai berikut: Orang yang berdoa mengetahui secara pasti bahwa ada Dzat yang mendengarnya, mengasihi dan membantu mengobatinya, sementara qudrah-Nya mencapai segala sesuatu. Ketika itulah ia merasa bahwa dirinya tidak sendirian di dunia yang luas ini. Namun ada Dzat Maha Pemurah yang menatapnya dengan tatapan kasih sayang. Maka, rasa tenang masuk ke dalam hatinya. Ia membayangkan dirinya berada dalam dekapan Tuhan Yang Maha Penyayang, Yang Mahakuasa dalam memenuhi hajatnya yang tak terbatas, serta dalam menangkal musuhnya yang tak terhingga. Dia selalu hadir di hadapannya sehingga ia bergembira dan merasa lapang. Ia merasa bahwa Dia telah menurunkan beban berat dari pundaknya sehingga ia memuji Allah dengan berkata:

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.


526

AL-MAKTÛBÂT

Nuktah Kelima Doa merupakan ruh dan inti ibadah. Ia adalah hasil dari iman yang suci. Sebab, dengan berdoa, sesorang memperlihatkan bahwa Dzat Yang mengendalikan seluruh alam, Yang mengetahui semua urusanku yang paling kecil, dan Yang menjangkau segala sesuatu dengan ilmu adalah kuasa untuk menolongku dalam meraih tujuan terjauhku, serta melihat semua kondisiku dan mendengar seruanku. Karena itu, aku tidak memohon kecuali hanya kepada-Nya. Karena Dia mendengar suara seluruh makhluk, maka sudah pasti Dia juga mendengar suara dan panggilanku. Karena Dia yang mengatur semua urusan, maka pengaturan seluruh detil urusanku kuserahkan hanya kepada-Nya semata. Renungkan luasnya tauhid yang suci yang dianugerahkan oleh doa kepada seseorang. Perhatikan dimensi kenikmatan dan kebeningan cahaya iman yang diperlihatkan oleh doa. Pahamilah hikmah dari fi rman-Nya:

“Katakanlah: ‘Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau bukan karena doamu’.” (QS. al-Furqan [25]: 77). Perhatikan pula fi rman-Nya:

“Tuhanmu berfi rman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu’.” (QS. Ghafi r [40]: 60). Sungguh benar ungkapan yang berbunyi, “Jika Allah tidak ingin mengabulkan, tentu doa tidak Dia perkenankan.”


Surat Kedua Puluh Empat

527

LAMPIRAN KEDUA (Kisah Mi’raj dalam Kumpulan Syair Maulid Nabi)

“Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya terdapat surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya ia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. an-Najm [53]: 13-18) Kami akan menjelaskan lima nuktah 487 di seputar peristiwa mi’raj dari kumpulan syair maulid nabi r.

Nuktah Pertama Sulaiman Afandi488 yang menulis kumpulan syair tentang maulid nabi menceritakan sebuah peristiwa cinta sedih sang buraq yang didatangkan dari surga. Karena ia termasuk wali yang saleh dan dalam kumpulan syairnya bersandar kepada berbagai riwayat sejarah Rasul r, tentu dengan gambaran tersebut ia menjelaskan hakikat tertentu. Hakikat tersebut adalah sebagai berikut: 487 Persoalan ilmiah yang terinspirasi dari pengamatan yang cermat dan pemikiran yang mendalam― al-Jurjâni, at-Ta’rîfât. 488 Ia adalah Sulaiman Jalbi, orang pertama yang menggubah kumpulan syair tentang maulid nabi dalam bahasa Turki. Ia sangat mahir di dalamnya dan memasukkannya dalam buku Wasîlatun Najah. Ia termasuk wali dan orang saleh. Ia wafat pada tahun 780 H di Bursa.


528

AL-MAKTÛBÂT

Makhluk alam abadi memiliki hubungan kuat dengan cahaya Rasulullah r. Pasalnya, dengan cahaya yang beliau bawa surga dan akhirat akan dihuni oleh jin dan manusia. Kalau bukan karenanya, tentu kebahagiaan abadi tidak ada, tentu jin dan manusia tidak bisa menempati surga, serta tidak bisa menikmati semua jenis ciptaan surga. Dengan kata lain, kalau bukan karena beliau tentu surga akan kosong dan tidak memiliki penghuni. Dalam ranting keempat dari “Kalimat Kedua Puluh Empat” telah kami sebutkan bahwa: Dari setiap jenis atau spesies telah dipilih juru bicara yang mewakili kelompoknya. Di antara juru bicara yang berada di garis terdepan adalah burung bul-bul yang menyenangi bunga mawar di mana ia mengungkapkan kebutuhan kelompok hewan yang mencapai tingkat cinta luar biasa kepada rombongan tumbuhan yang datang dari perbendaharaan ilahi sekaligus membawa rezeki hewan. Bul-bul mengungkapkannya lewat iramanya yang halus kepada berbagai tumbuhan sebagai ekspresi sambutan yang baik yang dipenuhi dengan tasbih dan tahlil. mewakili jenis malaikat dalam melaSebagaimana Jibril kukan pengabdian dengan penuh cinta kepada pribadi Muhammad r; yang menjadi sebab penciptaan alam, perantara kebahagiaan dunia dan akhirat, serta kekasih Tuhan semesta alam, seraya menjelaskan rahasia sujud dan ketundukan malaikat kepada Adam , maka penduduk surga juga demikian, bahkan hewannya sekalipun memilki hubungan dengan Rasul r. Hakikat ini dibahasakan oleh Sulaiman Afandi dengan perasaan cinta sang buraq yang menjadi tunggangan beliau.

Nuktah Kedua Salah satu hal yang terdapat dalam “kumpulan syair mi’raj nabi” tersebut adalah bahwa Sulaiman Afandi membahasakan cinta suci Allah I kepada Rasul r di mana Dia berkata, “Aku mencintaimu.” Ungkapan ini dengan makna umumnya yang kita kenal tidak layak dengan kemuliaan Allah I. Namun, karena Sulaiman


Surat Kedua Puluh Empat

529

Afandi termasuk wali dan ahli hakikat di mana kumpulan syairnya dapat diterima oleh umat Islam secara umum, maka tentu saja makna yang ia perlihatkan adalah benar. Yaitu sebagai berikut: Allah I memiliki keindahan dan kesempurnaan yang bersifat mutlak. Semua jenis keindahan dan kesempurnaan yang terbagi atas seluruh alam merupakan tanda dan pentunjuk atas keindahan dan kesempurnaan-Nya. Nah, karena pemilik keindahan dan kesempurnaan secara otomatis mencintai keindahan dan kesempurnaanya, maka Allah I mencintai keindahan-Nya 489 dengan satu bentuk cinta yang sesuai dengan Dzat-Nya yang mulia. Dia juga mencintai nama-nama-Nya yang merupakan kilau keindahan-Nya. Karena mencintai nama-nama-Nya, maka Dia mencintai kreasi-Nya yang memperlihatkan keindahan nama-nama-Nya. Jadi, Dia mencintai berbagai ciptaan-Nya yang merupakan cermin dari keindahan dan kesempurnaan-Nya. Karena Dia mencintai sesuatu yang menunujukkan keindahan dan kesempurnaan-Nya, maka Dia mencintai keelokan makhluk yang menunjukkan keindahan dan kesempurnaan nama-nama-Nya. al-Qur’an yang penuh hikmah dalam ayat-ayatnya menerangkan lima bentuk cinta tersebut. Demikianlah kondisi Rasul r. Beliau merupakan sosok paling sempurna dalam ciptaan Allah serta pribadi yang paling utama di antara makhluk-Nya. Beliau yang menghargai dan memproklamirkan kreasi ilahi dengan sebuah zikir yang menarik disertai tasbih dan tahlil. Beliau yang dengan lisan al-Qur’an membuka perbendaharaan keindahan dan kesempurnaan nama-nama-Nya. Beliau yang dengan lisan al-Qur’an menjelaskan secara sangat terang tentang tanda-tanda kebesaran yang terdapat di alam yang menunjukkan kesempurnaan Penciptanya. Beliau yang menunaikan tugas cermin rububiyah ilahi lewat ubudiyah yang bersifat universal. Bahkan, beliau meraih manifestasi seluruh Asmaul Husna secara sempurna dikarenakan esensinya yang kompherensif. 489 Lihat: Muslim, bab Iman 147; Ibnu Majah, bab doa 10; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/133 dan 151.


530

AL-MAKTÛBÂT

Dari sini dapat dikatakan bahwa karena cinta-Nya kepada keindahan-Nya, Dzat Yang Mahaindah dan Mahaagung mencintai Muhammad r yang merupakan cermin yang bisa merasakan keindahan tersebut. Karena cinta-Nya kepada nama-nama-Nya, maka Dia mencintai Muhammad r yang merupakan cermin paling bening yang memantulkan nama-nama-Nya yang mulia. Dia juga mencintai orang-orang yang menyerupai Muhammad r di mana masing-masing sesuai dengan derajatnya. Karena cinta-Nya kepada kreasi-Nya, maka Dia mencintai Muhammad r yang memproklamirkan kreasi tersebut di seluruh alam sehingga pendengaran langit terngiang-ngiang olehnya serta daratan dan lautan tergugah merindukan-Nya. Allah juga mencintai orang-orang yang mengikuti beliau. Karena mencintai ciptaan-Nya, maka Dia mencintai Muhammad r. Pasalnya, beliau adalah sosok paling mulia di antara “umat manusia” di mana manusia merupakan “makhluk berkesadaran” paling sempurna; dan makhluk berkesadaran merupakan “makhluk hidup” paling sempurna; sementara makhluk hidup adalah “ciptaan Allah” yang paling sempurna. Karena rasa cinta kepada akhlak makhluk-Nya, maka Dia mencintai Muhammad r. Pasalnya, beliau berada di puncak akhlak terpuji sebagaimana disepakati oleh baik kawan maupun lawan. Dia juga mencintai orang-orang yang meniru akhlak beliau, masing-masing sesuai dengan derajatnya. Hal itu berarti, cinta Allah meliputi alam sebagaimana rahmat-Nya. Karena itu, kedudukan tertinggi dalam kelima aspek yang telah disebutkan terkait dengan sekian hal yang Dia cinta yang jumlahnya tak terhingga adalah kedudukan yang dimiliki oleh Muhammad r. Karenanya, beliau diberi gelar “kekasih Allah (Habibullah)”. Kedudukan “kekasih Allah” tersebut, oleh Sulaiman Afandi dibahasakan dengan kalimat, “Aku mencintaimu”. Perlu diketahui bahwa ungkapan ini hanyalah sekadar teropong untuk ber-


Surat Kedua Puluh Empat

531

tafakkur sekaligus sebagai petunjuk tentang hakikat tersebut dari jauh. Namun demikian, karena ungkapan itu bisa melahirkan satu pengertian yang tidak sesuai dengan sifat rububiyah-Nya, maka yang lebih tepat adalah ungkapan, “Aku ridha kepadamu.”

Nuktah Ketiga Sejumlah dialog yang berlangsung dalam “kumpulan syair mi’raj” tersebut tidak mampu mengungkapkan berbagai hakikat suci itu dengan makna atau bahasa yang kita pahami bersama. Namun, dialog-dialog itu tidak lain merupakan tema-tema yang menjadi bahan perenungan, teropong untuk melakukan refl eksi, petunjuk tentang berbagai hakikat mulia dan mendalam, penyadaran akan sejumlah hakikat iman, serta kiasan tentang bebarapa makna yang tak bisa dijelaskan. Ia bukanlah dialog dan peristiwa seperti layaknya yang terdapat pada bebarapa kisah yang maknanya dapat dipahami bersama. Pasalnya, kita tidak dapat menangkap sejumlah hakikat tersebut dari dialog yang ada dengan imajinasi kita. Namun, kita bisa menangkapnya dengan qalbu kita lewat sentuhan iman dan getaran spiritual. Sebab, sebagaimana tidak ada yang serupa dan sama dengan Dia dalam hal Dzat dan sifat-Nya, juga tidak ada yang sama dengan Allah dalam urusan rububiyah-Nya. Sebagaimana sifat-sifat Allah tidak sama dengan sifat makhluk, cinta-Nya juga tidak sama dengan cinta makhluk. Maka, ungkapan yang terdapat dalam “kumpulan syair mi’raj” itu termasuk ungkapan yang ambigu. Karena itu kita dapat mengatakan: Sebagaimana cinta-Nya, Allah I memiliki sejumlah urusan yang sesuai dengan kemutlakan eksistensi dan kemuliaan-Nya, serta sesuai dengan kekayaan dan kesempurnaan-Nya yang bersifat mutlak. Dengan kata lain, kumpulan syair di atas menyadarkan hal tersebut lewat sejumlah peristiwa mi’raj. “Kalimat Ketiga Puluh Satu” yang secara khusus membahas tentang mi’raj Nabi telah menjelaskan sejumlah hakikat mi’raj dalam ruang lingkup dasar-dasar keimanan. Karenanya, di sini


532

AL-MAKTÛBÂT

hanya dijelaskan secara singkat dengan mencukupkan penjelasan pada “kalimat” tersebut.

Nuktah Keempat Ada sebuah pertanyaan: Ungkapan yang berbunyi, “Beliau telah melihat Tuhannya dari balik tujuh puluh ribu hijab,” menunjukkan tempat yang demikian jauh. Padahal, Allah tidak dibatasi oleh ruang atau tempat. Dia lebih dekat kepada segala sesuatu daripada segala sesuatu. Jadi, apa makna dari ungkapan tersebut? Jawabannya: Hakikat tersebut telah dijelaskan dalam “Kalimat Ketiga Puluh Satu”. Ia telah diterangkan secara panjang lebar dan rinci disertai sejumlah argumen. Di sini kami hanya ingin menyatakan bahwa: Allah I sangat dekat dengan kita, sementara kita sangat jauh dari-Nya. Perumpamaannya sama seperti mentari yang demikian dekat dari kita lewat perantaraan cermin yang berada di tangan kita. Bahkan, segala sesuatu yang bening bisa menjadi tempat atau rumah mentari. Andaikan mentari memiliki perasaan, tentu ia akan berbicara kepada kita lewat cermin yang ada di tangan kita. Hanya saja, kita sangat jauh darinya sejarak empat ribu tahun (perjalanan). Demikian pula dengan Mentari azali yang tidak bisa diserupakan dan disamakan dengan apa dan siapa pun. Dia lebih dekat kepada segala sesuatu daripada sesuatu apapun. Pasalnya Dia adalah Wajibul wujud, tidak dibatasi oleh ruang, serta tidak terhijab oleh sesuatu. Sebaliknya, segala sesuatu sangat jauh dari-Nya. Dari sana dapat dipahami rahasia jarak yang sangat jauh dalam mi’raj, meski sebenarnya tidak ada jarak sebagaimana diungkapkan oleh ayat al-Qur’an:

“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadi.”(QS. Qâf [50]: 16).


Surat Kedua Puluh Empat

533

Dari rahasia tersebut dapat dipahami pula perjalanan Rasul r dan bagaimana beliau menempuh jarak yang jauh itu dan kembali lagi dalam waktu sekejap. Jadi, mi’raj Rasul r adalah “perjalanan faktual” beliau. Ia merupakan pertanda kewaliannya. Sebab, sebagaimana para wali naik ke tingkatan haqqul yaqin dalam tingkatan iman secara maknawi lewat “perjalanan spiritual” mulai dari empat puluh hari hingga empat puluh tahun, demikian pula dengan Rasul r yang merupakan penghulu seluruh wali. Beliau naik dengan jasad, perasaan, dan seluruh perangkat halusnya; tidak hanya dengan qalbu dan ruhnya semata, seraya membuka jalan yang lurus dan lapang menuju tingkatan hakikat iman yang paling tinggi lewat mi’raj yang merupakan karamah kewaliannya yang terbesar hanya dalam empat puluh menit sebagai ganti dari empat puluh tahun. Beliau naik menuju arasy lewat tangga mi’raj. Beliau menyaksikan secara langsung dengan penglihatannya―pada kedudukan sejarak dua ujung busur atau lebih dekat lagi―hakikat iman yang paling agung, yaitu iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir. Beliau masuk ke dalam surga dan menyaksikan kebahagiaan abadi. Beliau membuka pintu jalan terbesar serta membiarkannya terbuka untuk dilalui oleh semua wali di kalangan umatnya lewat perjalanan spiritual. Yakni, dengan perjalanan ruhani dan qalbu dalam naungan mi’raj di mana masing-masing sesuai dengan tingkatannya.

Nuktah Kelima Membaca kumpulan “puisi maulid Nabi” dan “syair tentang mi’raj” merupakan tradisi islam yang baik dan sangat berguna. Ia merupakan sarana dialog yang menyenangkan, bersinar, dan manis dalam kehidupan sosial Islam. Ia merupakan pelajaran yang sangat nikmat dan indah untuk mengingatkan kepada berbagai hakikat iman. Ia juga merupakan sarana yang paling kuat, efektif, dan menggugah guna memperlihatkan sejumlah cahaya iman, serta mengobarkan rasa cinta kepada Allah dan kepada Rasul r.


534

AL-MAKTÛBÂT

Kita berdoa semoga Allah I mengekalkan tradisi baik tersebut untuk selamanya, mencurahkan rahmat kepada penulisnya, Sulaiman Afandi, serta penulis lain semisalnya, dan semoga mereka ditempatkan di dalam surga fi rdaus. Amin!

PENUTUP Karena Pencipta alam ini menciptakan dari setiap spesies individu yang istimewa, sempurna, dan universal, serta menjadikannya sebagai simbol kebanggaan dan kesempurnaan spesies tersebut, tentu Dia menjadikan sosok istimewa dan sempurna bagi seluruh alam dengan manifestasi nama yang paling agung dari nama-nama-Nya yang mulia. Di antara ciptaan-Nya harus ada sosok yang paling sempurna sebagaimana nama yang paling agung di antara nama-nama-Nya yang lain. Berbagai kesempurnaan-Nya yang tersebar di alam dikumpulkan pada sosok sempurna itu di mana ia menjadi objek pandangan-Nya. Sosok tersebut sudah pasti berasal dari makhluk hidup, karena spesies alam yang paling sempurna adalah makhluk hidup. Lalu ia tentu dari makhluk yang memiliki perasaan karena makhluk hidup yang paling sempurna adalah yang memiliki perasaan. Lalu, sosok tersebut pastilah berupa manusia karena manusia merupakan entitas yang memiliki potensi tak terhingga untuk meningkat. Sudah pasti sosok itu adalah Muhammad r. Pasalnya, tidak ada seorang pun dalam sejarah yang sama seperti hingga saat ini. Bahkan, beliau, mulai dari masa Nabi Adam tidak akan ada untuk selamanya. Sebab, Nabi mulia tersebut telah menghimpun separuh bola bumi dan seperlima umat manusia dalam wilayah kekuasaan maknawinya selama 1350 tahun lewat keagungannya yang sempurna. Beliau menjadi guru bagi seluruh pemilik kesempurnaan dalam semua jenis hakikat. Beliau meraih tingkatan sifat terpuji yang paling tinggi menurut kesepakatan kawan maupun lawan. Beliau yang pertama-tama menantang seluruh dunia dengan seorang diri. Beliau tampakkan al-Qur’an yang dibaca oleh lebih dari seratus juta manusia pada setiap menitnya.


535

Surat Kedua Puluh Empat

Karena itu, sudah pasti nabi mulia seperti beliau adalah sosok istimewa tersebut tanpa ada yang lainnya selamanya. Beliau adalah benih sekaligus buah alam. Semoga salawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga dan sahabatnya sebanyak jumlah spesies alam. Perlu diketahui bahwa menyimak maulid Nabi dan mi’rajnya, yakni menyimak awal dan akhir perjalanan vertikalnya, atau mengetahui sejarah kehidupan maknawinya merupakan sesuatu yang nikmat dan bersinar. Ia merupakan sumber kebanggaan dan kemuliaan umatnya, bahan perbincangan yang mulia bagi kaum beriman yang menjadikan beliau sebagai pemimpin, penghulu, imam, dan pemberi syafaat bagi mereka.

Wahai Tuhan, dengan kemuliaan sang kekasih mulia r, dan dengan kebenaran nama-Mu yang paling agung, jadikan qalbu para penyebar risalah ini serta teman-temannya sebagai cermin yang memantulkan cahaya iman. Jadikan pena mereka sebagai penyebar rahasia al-Qur’an, serta bimbinglah mereka ke jalan yang lurus. Amin.

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KEDUA PULUH LIMA (Belum Ditulis)

‫٭٭٭‬


SURAT KEDUA PULUH ENAM

(Surat Kedua Puluh Enam ini menjelaskan empat bahasan yang memiliki sedikit korelasi di antara masing-masingnya)

BAHASAN PERTAMA

“Jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Fushshilat [41]: 36).

Argumen al-Qur’an yang Membungkam Setan dan Sekutunya Bahasan pertama ini yang memaksa iblis, setan, dan kaum pembangkang terdiam adalah hasil dari sebuah peristiwa nyata. Ia menangkal tipu daya setan yang menakutkan dalam sebuah diskusi rasional dan netral. Peristiwa tersebut telah kutulis sepuluh tahun yang lalu secara global dalam bab al-Lawâmi. Kisahnya sebagai berikut: Sebelas tahun sebelum penulisan risalah ini, suatu hari aku menyimak bacaan al-Quran dari para penghafal al-Quran di Mesjid Bayazid Istanbul. Waktu itu bertepatan pada bulan Ramadhan yang penuh berkah. Ketika itu, tiba-tiba aku mendengar suara maknawi yang menarik perhatianku tanpa melihat orang


540

AL-MAKTÛBÂT

yang menuturkannya. Akupun menyimak dan mendengar suara tersebut. Ia berkata, “Engkau melihat al-Qur’an demikian mulia dan bersinar. Cobalah melihatnya secara netral. Lalu ukurlah dengan timbangan rasional dan objektif. Maksudku, asumsikan al-Qur’an sebagai perkataan manusia. Setelah itu, perhatikan masihkah ada sejumlah keistimewan itu padanya?” Pada hakikatnya aku tertipu olehnya. Kuasumsikan alQur’an sebagai perkataan manusia. Lalu aku melihatnya dari sisi yang ia maksud. Seketika aku berada dalam kegelapan yang pekat. Cahaya al-Qur’an yang sangat terang langsung padam. Kegelapan menyelimuti seluruh sisi persis seperti ketika seseorang mematikan tombol listrik. Namun aku segera sadar bahwa yang berbicara denganku adalah setan. Ia ingin menjerumuskan diriku ke dalam jurang. Aku pun meminta pertolongan lewat al-Qur’an. Tiba-tiba cahaya memancar di dalam qalbuku. Dengan itu, aku memiliki kekuatan untuk melakukan pembelaan. Ketika itulah perdebatan dengan setan dimulai dalam bentuk sebagai berikut: Aku berkata, “Hai setan! diskusi yang netral, tanpa berpihak kepada salah satu dari dua sisi, adalah dengan berada di tengahtengah keduanya. Namun diskusi netral yang diserukan oleh dirimu dan para sekutumu dari kalangan manusia adalah berpihak pada sisi lawan. Hal ini tentu saja tidak netral; namun merupakan bentuk ateisme yang bersifat sementara. Pasalnya, memosisikan al-Qur’an sebagai perkataan manusia serta melakukan diskusi rasional dengan asumsi semacam itu berarti mengambil posisi yang berlawanan dan berpegang pada kebatilan. Ia tidak bisa disebut netral, tetapi berpihak dan menunjukkan loyalitas pada kebatilan. Mendengar hal tersebut setan berkata, “Baik, kalau begitu ambil jalan tengah; asumsikan ia bukan kalam Allah, bukan pula perkataan manusia.” Kujawab, “Ini juga tidak mungkin. Sebab, jika ada harta yang diperebutkan, lalu dua orang yang saling mengaku berada dalam posisi berdekatan, maka dalam kondisi demikian harta tadi ditempatkan di tangan orang lain selain mereka berdua, atau


Surat Kedua Puluh Enam

541

di tempat yang bisa dijangkau keduanya. Jika salah satu diantara keduanya bisa memberikan argumen paling kuat serta bisa membuktikan pengakuannya, ia berhak mengambil harta tersebut. Akan tetapi, kalau dua orang tadi berada di tempat yang saling berjauhan, misalkan yang satu di timur dan yang satu lagi di barat, dalam kondisi demikian harta dibiarkan berada di pihak yang sedang memegangnya. Pasalnya, ia tidak bisa dibiarkan berada di tengah-tengah di antara mereka. 490 Demikianlah, al-Qur’an merupakan barang berharga dan harta bernilai. Sebagaimana jarak antara kalam Allah dan kalam manusia sangat jauh, begitu pula jauhnya jarak antara kedua sisi tersebut bersifat mutlak tak terhingga. Karena itu, harta tersebut tidak mungkin diletakkan di tengah-tengah antara keduanya. Pasalnya, tidak ada perantara antara keduanya sama sekali. Ia laksana ada dan tiada; tidak ada penengah di antara keduanya. Dengan demikian, pemegang kendali al-Qur’an adalah pihak ilahi. Karena itu, penyelesaiannya harus seperti itu dan pemaparan argumennya berdasarkan hal tersebut. Dengan kata lain, al-Qur’an berada di tangan Allah I. Terkecuali, jika ada pihak lain yang bisa mematahkan semua argumen yang menunjukkan bahwa ia merupakan kalam Allah. Ketika itulah, ia bisa ikut campur dengannya. Jika tidak, maka tidak bisa. Jangan harap hal itu mungkin terjadi. Siapa yang bisa menggoyang mutiara berharga di arasy agung yang dikokohkan oleh ribuan argumen mematikan. Adakah yang berani merobohkan pilar-pilar yang tegak dengan kokoh itu sehingga mutiara berharga tadi jatuh dari arasy yang tinggi?! Hai setan! Ahlul haq dan orang yang objektif menimbang perkara di atas dengan timbangan akal yang sehat. Bahkan mereka semakin percaya kepada al-Qur’an dengan dalil yang paling kecil sekalipun. Adapun jalan yang ditunjukkan olehmu dan oleh murid-muridmu, yaitu dengan mengasumsikan al-Quran sebagai kalam manusia, meskipun hanya sekali. Yakni, andaikan mutiara 490 Lihat: as-Sarkhasi dalam al-Mabsûth 11/8; al-Kasâni dalam Badâ-i’ ashShanâ-i’ 6/202; dan al-Marghani dalam al-Hadâyâ 2/177.


542

AL-MAKTÛBÂT

agung yang dengan kokoh berada di arasy itu dijatuhkan ke bumi, maka dibutuhkan sebuah argumen yang kuat yang bisa mengalahkan semua argumen dan dalil yang ada. Hal itu agar ia mampu naik dari bumi dan menempati arasy maknawi. Hanya dengan cara itu ia bisa selamat dari gelapnya kekufuran dan bisa mencapai cahaya iman. Sementara hal tersebut sangat sulit dicapai oleh siapa pun. Oleh sebab itu, banyak orang di zaman sekarang yang kehilangan iman akibat tipu dayamu dengan mengatasnamakan “pendekatan objektif ”. Setan pun berujar, “Konteks kalam dalam al-Qur’an menyerupai perkataan manusia. Bentuk dialognya seperti gaya bahasa manusia. Dengan demikian, ia merupakan perkataan manusia. Sebab, andaikan ia kalam Allah, tentu dalam segala aspeknya akan sangat luar biasa yang sesuai dengan kondisi Allah, dan tidak akan menyerupai perkataan manusia, sebagaimana kreasi Allah tidak sama dengan kreasi manusia.” Jawabanku sebagai berikut: Rasul r tetap berada dalam kondisinya sebagai manusia pada seluruh perbuatan, kondisi, dan fase kehidupan beliau di luar mukjizat dan sejumlah keistimewaannya. Beliau tunduk dan taat pada semua sunnatullah dan perintah penciptaan-Nya sama seperti manusia yang lain. Beliau merasa kedinginan dan juga merasa sakit. Demikianlah, beliau tidak diberikan kondisi luar biasa dalam seluruh fase kehidupannya. Hal itu agar beliau bisa menjadi teladan bagi umat lewat seluruh perbuatannya, menjadi panutan lewat tingkah lakunya, serta menjadi rujukan bagi seluruh manusia lewat gerak langkahnya. Sebab, andaikan seluruh kondisi kehidupan beliau luar biasa, tentu beliau tidak bisa menjadi teladan dan panutan bagi semua manusia. Beliau pun tidak bisa menjadi pembimbing manusia dan tidak bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam pada seluruh kondisi beliau. Begitu pula dengan al-Qur’an al-Hakim. Ia adalah panutan bagi makhluk berkesadaran, pembimbing bagi jin dan manusia, petunjuk bagi orang-orang yang mencapai derajat kesempurnaan,


Surat Kedua Puluh Enam

543

serta guru bagi ahli hakikat.491 Karena itu, al-Qur’an harus dalam bentuk percakapan dan gaya bahasa manusia. Pasalnya, manusia dan jin bisa mendapat inspirasi untuk bermunajat, belajar berdoa, menyebutkan sejumlah persoalan dengan bahasanya, dan mengenal adab-adab pergaulan darinya. Begitulah, setiap mukmin dapat menjadikannya sebagai rujukan. Andaikan al-Qur’an dalam bentuk kalam ilahi yang sebenarnya seperti yang didengar oleh Musa di gunung Sinai, sudah pasti manusia tidak mampu mendengarnya, tidak kuasa menyimaknya, serta tidak bisa menjadikannya sebagai rujukan bagi seluruh kondisinya. Nabi Musa saja, yang termasuk rasul ulul azmi, tidak kuasa kecuali sebatas mendengar sebagian dari kalam-Nya di mana beliau berkata, “Seperti itukah kalam-Mu?” Allah menjawab, “Aku memiliki kekuatan seluruh lisan dan bahasa.”492 Lagi-lagi setan berkata, “Banyak manusia yang menyebutkan sejumlah persoalan agama yang serupa dengan apa yang terdapat dalam al-Qur’an. Tidakkah mungkin manusia bisa mendatangkan sesuatu yang serupa dengan al-Qur’an atas nama agama?” Dengan limpahan cahaya al-Qur’an al-Karim, kujelaskan: Pertama, orang yang paham agama menjelaskan kebenaran dengan berkata, “Kebenaran adalah demikian, hakikatnya begini, dan perintah Allah seperti ini.” Hal itu didasari oleh dorongan cinta kepada agama, bukan berbicara atas nama Allah sesuai keinginan hawa nafsunya. Ia juga tidak melampaui batas dengan mengaku berbicara atas nama Allah atau berbicara tentang-Nya dengan meniru kalam-Nya. Namun ia merinding di hadapan fi rman-Nya:

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah” (QS. az-Zumar [39]: 32). Kedua, manusia sama sekali tidak mungkin melakukan perLihat: ad-Darimi dalam al-Mukaddimah 57; dan al-Bayhaqi dalam syu’ab al-Iman 2/398. 492 Ahmad ibn Hambal dalam ar-Radd ala az-Zindiqah wal Jahamiyah 36; Abu Naim dalam Hilyatul Awliya 6/210; dan ath-abari dalam Jami al-Bayan 6/30. 491


544

AL-MAKTÛBÂT

buatan tersebut. Ini sangat mustahil. Hanya orang-orang yang “saling berdekatan” yang bisa saling meniru. Barangkali orang yang berasal dari satu jenis atau satu golongan bisa meniru sosok lain sehingga untuk sementara waktu bisa menipu manusia. Akan tetapi, ia tidak bisa menipu mereka untuk selamanya. Sebab, orang yang peka dapat mengetahui sikap dan perbuatannya yang dibuat-buat, dan pasti suatu hari kebohongannya akan terbongkar sehingga tipu dayanya tidak akan bertahan lama. Jika orang yang ingin ditiru “sangat jauh”, misalnya orang yang awam ingin meniru Ibnu Sina dalam hal ilmu pengetahuan, atau seorang pengembala berlagak seperti raja, maka ia tidak akan bisa menipu siapapun. Justru ia akan diejek dan dihinakan orang. Sebab, seluruh kondisinya akan berkata, “Ini adalah penipu.” Kondisinya sama seperti kunang-kunang bagi kalangan astronom tidak mungkin tampil seperti bintang selama seribu tahun tanpa terindikasi adanya unsur kepura-puraan. Atau, lalat bagi orang yang bisa melihat tidak mungkin tampil sebagai burung merak selama seribu tahun tanpa terindikasi adanya kebohongan. Juga, prajurit biasa tidak mungkin menyamar jadi marsekal dalam waktu yang lama tanpa diketahui oleh siapapun. Seorang pendusta yang tidak beriman juga tidak mungkin menampilkan diri seperti orang yang paling jujur, paling beriman, dan paling kokoh akidahnya sepanjang hayat di hadapan kalangan yang cermat dan teliti di mana sikapnya itu tidak diketahui oleh orangorang jenius. Sebagaimana semua kondisi di atas seratus persen tidak mungkin terjadi serta tidak akan dipercaya oleh mereka yang masih memiliki akal, bahkan ia dianggap sebagai sikap gila dan tidak waras. Demikian pula ketika al-Qur’an diasumsikan sebagai perkataan manusia. Hal itu sama sekali tidak mungkin. Pasalnya, asumsi tersebut berarti menganggap al-Qur’an―yang merupakan bintang hakikat yang bersinar, bahkan mentari kesempurnaan yang cemerlang nan terus-menerus memancarkan cahaya hakikat kebenaran di langit dunia Islam―sebagai kilau cahaya redup yang sengaja dibuat sendiri lewat berbagai khurafat, sementara orangorang yang dekat dengannya dan mencermati kondisinya tidak


Surat Kedua Puluh Enam

545

bisa membedakan hal tersebut, bahkan justru mereka melihatnya sebagai bintang yang tinggi dan sumber segala hakikat. Ini tentu saja sebuah kemustahilan. Di samping itu, wahai setan, jika engkau terus melakukan tipu daya dalam bentuk yang berkali-kali lipat dari yang sekarang, engkau tidak akan bisa menjadikan kemustahilan tersebut sebagai sesuatu yang mungkin terjadi. Engkau tidak akan bisa menipu akal yang masih sehat. Engkau hanya bisa menipu manusia dengan cara memperlihatkan persoalan kepada mereka dari jauh sehingga engkau memperlihatkan bintang bersinar menjadi kecil seperti kunang-kunang. Ketiga, mengasumsikan al-Qur’an sebagai ucapan manusia berarti menjadikan berbagai hakikat dan rahasia al-Qur’an yang memiliki berbagai keistimewaan dan penjelasan menakjubkan, yang menghimpun semua yang kering dan basah, yang memiliki pengaruh istimewa di alam manusia serta dampak baik dan penuh berkah seperti yang terlihat di mana al-Qur’an itulah yang menghembuskan ruh kepada umat manusia, membangkitkan kehidupan di dalamnya, serta mengantar mereka kepada kebahagiaan abadi. Nah, asumsi tersebut berarti memosisikan al-Qur’an yang penuh hikmah dan hakikat mulia sebagai karya buatan manusia yang tidak memiliki ilmu dan pembantu. Hal itu juga berarti bahwa orang-orang cerdas dan dekat dengan beliau di mana mereka mengetahui betul kondisi beliau, tidak melihat sama sekali tanda-tanda penipuan. Namun mereka melihat ketulusan, keteguhan, dan kesungguhan beliau. Ini tentu saja sangat mustahil. Apalagi dengan asumsi tersebut sosok yang dalam seluruh kondisi, perkataan, dan geraknya sepanjang hidup memperlihatkan sikap amanah, iman, keikhlasan, kejujuran, dan istiqamah, serta telah membimbing dan mendidik kalangan shiddiqin berdasarkan sifat-sifat mulia tersebut, haruslah berupa sosok yang tidak dipercaya, tidak ikhlas, dan tidak memiliki akidah. Hal itu berarti melihat setumpuk kemustahilan sebagai sebuah hakikat yang nyata. Ini adalah bentuk igauan yang setan sendiri malu untuk melakukannya. Sebab, tidak ada posisi tengah dalam persoalan ini.


546

AL-MAKTÛBÂT

Andaikan al-Qur’an diasumsikan sebagai bukan kalam Allah, berarti posisinya turun dari arasy yang agung menuju bumi. Ia tidak berada di tengah-tengah. Maka, iapun menjadi sumber berbagai khurafat, padahal ia merupakan kumpulan hakikat. Demikian halnya kalau sosok yang memperlihatkan kalam Allah yang luar biasa itu diasumsikan bukan seorang rasul. Dengan asumsi tersebut, berarti al-Qur’an jatuh dari tingkatan paling tinggi kepada tingkatan yang paling rendah, dari derajat sumber kesempurnaan dan kemuliaan menuju sumber tipu daya. Ia tidak berada di tengah. Pasalnya, orang yang berdusta atas nama Allah jatuh kepada tingkatan yang paling rendah. Melihat lalat sebagai burung merak secara permanen, serta menyaksikan sifat-sifat burung merak yang tinggi pada lalat tersebut merupakan hal yang sangat mustahil. Demikian pula dengan persoalan ini. Tidak mungkin membuka kemungkinan tersebut kecuali orang gila yang sedang mabuk. Keempat, al-Qur’an merupakan pembimbing suci dan cahaya petunjuk umat Muhammad r yang merupakan komunitas terbesar dan pasukan di tengah-tengah manusia. Dengan hukumnya yang kokoh, konstitusinya yang mapan, dan perintahnya yang suci, al-Qur’an dengan pasukan tersebut bisa menyerang serta menguasai dunia dan akhirat lewat sistem yang menata kondisi mereka serta bekal maknawi dan materi yang diberikan kepada mereka. Al-Qur’an mengajari akal manusia sesuai dengan tingkatannya, mendidik qalbu mereka, menundukan jiwa mereka, membersihkan hati nurani mereka, serta menggerakkan tubuh mereka. Namun mengasumsikan al-Qur’an al-Karim sebagai ucapan manusia, berarti memosisikannya sebagai ucapan yang dibuat-buat yang tidak kuat, tidak penting, dan tidak memiliki landasan, itu sama sekali tidak mungkin. Hal itu berarti menerima ratusan kemustahilan. Lebih dari itu, sosok tersebut (Muhammad r) telah menghabiskan umurnya dalam mematuhi hukum-hukum Allah, menyeru manusia untuk mematuhinya, serta mengajarkan kepada manusia prinsip-prinsip hakikat lewat perbuatannya yang tulus. Beliau juga memperlihatkan sikap istiqamah dan jalan


Surat Kedua Puluh Enam

547

kebahagiaan lewat perkataannya yang tulus dan logis. Beliau adalah sosok yang paling takut kepada Allah, sosok yang paling mengenal Allah, serta sosok yang memperkenalkan Allah kepada manusia lewat kesaksian biografi nya sehingga seperlima umat manusia dan separuh penduduk bumi masuk ke dalam panjinya sepanjang seribu tiga ratus lima puluh tahun. Beliau menjadi pemimpin bagi umat sehingga beliau mengguncang dunia dan benar-benar menjadi kebanggaan umat manusia, bahkan kebanggaan dunia dan akhirat. Nah, dengan mengasumsikan al-Qur’an sebagai perkataan manusia berarti memosisikan beliau sebagai sosok yang tidak mengenal Allah, tidak takut kepada siksa-Nya, serta sederajat dengan orang awam. Ini berarti melakukan segudang kemustahilan. Pasalnya, persoalan ini tidak memiliki posisi tengah. Andai al-Qur’an al-Karim bukan merupakan kalam Allah dan jatuh dari arasy yang agung, ia tidak mungkin berada di tengah-tengah. Namun harus menjadi barang milik salah seorang pendusta di bumi. Karena itu wahai setan, andaikan tipu dayamu bertambah seratus kali lipat, hal itu tetap tidak akan membuat asumsi tadi diterima orang yang akalnya masih sehat dan qalbunya tidak rusak. Setan pun menjawab, “Bagaimana mungkin aku tidak bisa menyesatkan mereka? Aku telah berhasil menggiring banyak manusia dan orang berakal, khususnya yang ternama, untuk mengingkari al-Qur’an dan kenabian Muhammad.” Jawaban: Pertama, jika sesuatu yang paling besar dilihat dari jarak yang sangat jauh, ia tampak seperti sangat kecil. Sehingga orang yang melihat bintang bisa berkata, “Cahayanya seperti lilin.” Kedua, pandangan yang sangat dangkal melihat kemustahilan sebagai sesuatu yang mungkin. Diriwayatkan bahwa seorang kakek-kakek memandang ke langit untuk melihat hilal Ramadhan. Lalu ada sehelai alisnya yang sudah putih turun melengkung ke depan matanya. Ia mengira hal itu sebagai hilal. Seketika ia berkata, “Aku telah menyaksikan hilal.” Tentu saja sehelai


548

AL-MAKTÛBÂT

alis mustahil menjadi hilal. Akan tetapi, karena tujuan utamanya ingin melihat hilal, lalu sehelai alis tadi terlihat di depannya dalam bentuk sekunder, seketika ia menerima kemustahilan itu sebagai sesuatu yang mungkin. Ketiga, “mengingkari” berbeda dengan “tidak menerima” (menolak). Pasalnya, tidak menerima artinya tidak peduli. Ia adalah memejamkan mata di hadapan berbagai hakikat dan tindakan menafi kan secara bodoh. Ia bukan pernyataan. Dengan begitu, banyak hal mustahil yang tersembunyi di balik hijab tersebut. Sebab, ia tidak memikirkan hal tersebut. Adapun “mengingkari” bukan “tidak menerima”. Tetapi, ia merupakan sikap menerima ketiadaan, dan hal itu merupakan sebuah pernyataan. Dalam hal ini pelakunya mau tidak mau harus menggunakan akal dan berpikir. Karena itu, setan sepertimu bisa merampas akalnya lalu menipunya dengan sikap ingkar. Selanjutnya, wahai setan, engkau telah menipu binatang malang yang berwujud manusia. Engkau membentangkan kekufuran dan sikap ingkar yang melahirkan banyak kemustahilan kepada mereka lewat kelalaian, kesesatan, sikap keras kepala, sombong, angkuh, taklid buta, serta berbagai tipu daya sejenis di mana ia memperlihatkan kebatilan sebagai sebuah kebenaran, dan kemustahilan sebagai sesuatu yang mungkin. Keempat, al-Qur’an adalah kitab yang membimbing kalangan ashfi ya, shiddîqîn, dan wali qutub yang bersinar laksana bintang di langit manusia. Al-Qur’an dengan jelas mengajarkan kebenaran, keadilan, kejujuran, sikap istiqamah, damai, dan rasa aman kepada seluruh kalangan yang menuju kesempurnaan. Al-Qur’an merealisasikan kebahagiaan dunia dan akhirat lewat hakikat rukun iman dan prinsip rukun Islam. Ia adalah kitab yang haq, hakikat yang suci, dan kalam kebenaran yang sungguh-sungguh. Dengan demikian, mengasumsikan al-Qur’an sebagai perkataan manusia berarti al-Qur’an dipersepsikan dengan sesuatu yang berlawanan dengan sifat-sifat, pengaruh, dan cahayanya. Artinya, al-Qur’an dipersepsikan sebagai karangan dan buatan seorang pendusta. Hal ini adalah bentuk kemustahilan keji yang


Surat Kedua Puluh Enam

549

setan sendiri malu untuk melakukannya. Ia adalah igauan kufur yang mengerikan. Di samping itu, Nabi r adalah orang yang paling kokoh akidahnya, paling kuat imannya, paling jujur ucapannya, dan paling bersih qalbunya. Hal itu dibuktikan lewat kesaksian syariat yang beliau bawa dan petunjuk yang beliau perlihatkan seperti sifat takwa yang luar biasa, ubudiyah yang tulus, akhlak mulia beliau yang diakui oleh baik kawan maupun lawan, serta lewat pembenaran para ulama, ahli hakikat, dan para peniti kesempurnaan yang beliau bina. Nah, dengan asumsi di atas berarti beliau adalah sosok yang tidak punya akidah, tidak bisa dipercaya, dan tidak takut kepada Allah. Ini tidak lain adalah tindakan menerima kemustahilan yang paling keji serta kesesatan yang dibalut dalam kezaliman dan kegelapan. Kesimpulan: sebagaimana telah disebutkan dalam ‘petunjuk ke delapan belas’ dari “Surat Kesembilan Belas” bahwa orang yang hanya memiliki kemampuan menyimak dalam memahami kemukjizatan al-Qur’an berkata, “Jika al-Qur’an dibandingkan dengan seluruh kitab yang pernah kudengar, al-Qur’an sama sekali berbeda. Ia tidak sama dengan seluruh kitab tersebut.” Karena itu, hanya ada dua kemungkinan: al-Qur’an berada di bawah semua itu, atau al-Qur’an berada di atas semuanya. Kemungkinan pertama, di samping mustahil, juga musuh atau bahkan setan sekalipun tak dapat mengatakan hal tersebut. Kalau demikian berarti al-Qur’an lebih mulia dan lebih tinggi daripada seluruh kitab yang ada. Dengan kata lain, al-Qur’an merupakan mukjizat. Atas dasar itu, dengan bersandar pada sebuah argumen mematikan yang dalam ushul fi kih dan ilmu logika dikenal dengan istilah as-Sabru wa at-Taqsîm493 (eskplorasi dan pembagian), kami ingin menegaskan: Wahai setan dan para pengikutnya! Al-Qur’an al-Karim bisa jadi merupakan kalam Allah yang datang dari arasy yang agung dan dari nama yang agung, atau 493 Yaitu mengumpulkan semua sifat yang dikira merupakan alasan atau sebab dari sebuah hukum. Lalu satu persatu dibatalkan kecuali satu di antaranya di mana ia sudah jelas merupakan sebabnya.


550

AL-MAKTÛBÂT

bisa pula merupakan karangan seseorang yang tidak takut kepada Allah, tidak mempercayai-Nya, dan tidak mengenal-Nya (Hasya lillah). Kemungkinan yang terakhir ini tidak mampu dan tidak akan pernah mampu kau utarakan sesuai dengan sejumlah argumen kuat sebelumnya. Karena itu, secara pasti dan tanpa sedikitpun keraguan, al-Qur’an merupakan kalam Tuhan semesta alam. Hal itu karena dalam masalah ini tidak ada posisi tengah. Ia sama sekali tidak mungkin seperti yang telah kami tegaskan dan telah kau saksikan sendiri. Demikian halnya dengan Muhammad r. Bisa jadi beliau adalah utusan Allah, pemimpin para rasul, dan makhluk terbaik, atau beliau diasumsikan sebagai manusia yang berani mengarang-ngarang atas nama Allah di mana beliau tidak mengenal, tidak meyakini, dan tidak mempercayai siksa-Nya sehingga jatuh ke derajat yang paling rendah (Hasya lillah).494 Ini sesuatu yang tidak bisa diutarakan oleh engkau wahai iblis, serta oleh kalangan fi lsuf Eropa dan kaum munafi k Asia yang kau banggakan. Pasalnya, tidak ada seorangpun di dunia ini yang mendengar perkataan ini darimu lalu mempercayainya. Karena itu, fi lsuf yang paling rusak dan orang munafi k yang paling bejat sekalipun mengakui bahwa Muhammad r adalah sosok luar biasa yang sangat jenius dan memiliki akhlak yang paling baik. Selama persoalannya terbatas pada dua sisi tersebut, sementara sisi atau kemungkinan yang kedua mustahil, tidak ada yang menyatakannya, lalu dalam masalah ini tidak ada posisi tengah antara keduanya seperti yang telah kami jelaskan, berarti harus diterima secara jelas dan haqqul yaqin bahwa Muhammad r adalah utusan Allah, pemimpin para rasul, kebanggaan alam, dan makhluk terbaik. Semoga salawat dan salam tercurah kepada beliau sebanyak jumlah malaikat, jin, dan manusia.

Ungkapan ini terpaksa dipergunakan sebagai sebuah asumsi yang mustahil terjadi dan dengan perasaan takut. Hal itu tidak lain untuk memperlihatkan kemustahilan pandangan kaum yang sesat dengan merujuk pada keterangan al-Qur’an tentang kekufuran orang kafi r dan ungkapan kotor mereka yang terhijab―Penulis. 494


Surat Kedua Puluh Enam

551

Protes Setan yang Kedua

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. Datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya. Ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Datanglah tiap-tiap diri, bersama dengannya, seorang Malaikat penggiring dan seorang Malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini. Maka Kami singkapkan darimu tutup (yang menutupi) matamu. Maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. Yang menyertainya berkata, “Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.” Allah berfi rman, “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala.” (QS. Qâf [50]: 18-24). Ketika aku membaca ayat demi ayat dari surah Qaf di atas, setan berkata: “Kalian melihat kelugasan dan kejelasan al-Qur’an sebagai pilar kefasihannya yang paling penting. Sementara, pada ayatayat tersebut terdapat perpindahan dan lompatan yang sangat jauh. Ayat tersebut melintas dari sakaratul maut menuju kiamat. Ia berpindah dari peniupan sangkakala menuju hisab. Lalu dari sana tiba-tiba disebutkan pelemparan ke dalam neraka. Apakah kefasihan bahasa masih terdapat dalam perpindahan yang aneh tersebut? Pada sebagian besar tempat dalam al-Qur’an, kita melihat sejumlah persoalan semacam ini. Lalu di mana letak kefasihannya?”


552

AL-MAKTÛBÂT

Jawaban: Setelah balagahnya yang luar biasa, dasar terpenting dalam kemukjizatan al-Qur’an adalah simplifi kasi (Îjâz). Simplifi kasi tersebut adalah asas paling penting dan paling kuat dari kemukjizatan al-Qur’an. Simplifi kasi al-Qur’an yang menakjubkan sangat banyak dan indah sehingga membuat banyak cendekiawan terkagum-kagum. Misalnya, fi rman Allah yang berbunyi:

Dan difi rmankan, “Wahai bumi telanlah airmu, dan wahai langit (hujan) berhentilah!” maka airpun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi. Lalu dikatakan, “Binasalah orang-orang yang zalim.” (QS. Hûd [11]: 44). Ayat di atas menjelaskan peristiwa badai besar berikut dampaknya hanya dalam beberapa kalimat pendek. Meskipun penjelasannya sangat ringkas, namun penuh dengan kemukjizatan. Hal tersebut membuat para ahli balagah mengakui keindahan balagahnya. Contoh lain adalah fi rman-Nya:

(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas. Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka. Lalu Rasul Allah (Saleh ) berkata kepada mereka, “(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu. Maka Tuhan membinasakan mereka disebabkan dosa mereka. Lalu Allah mera-


Surat Kedua Puluh Enam

553

takan mereka (dengan tanah). Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu. (QS. asy-Syams [91]: 11-15). Ayat di atas memberikan sebuah penjelasan menakjubkan secara sangat ringkas dalam beberapa kalimat pendek tentang peristiwa yang terjadi pada kaum Tsamud dan akibatnya. Meskipun penjelasannya sangat ringkas, namun tidak rancu, serta lugas dan jelas. Contoh lain adalah fi rman-Nya:

(Ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus ), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap,“Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. al-Anbiyâ [21]: 87). Antara frasa hingga terdapat banyak kalimat yang tak disebutkan. Kalimat-kalimat yang tak terucap itu tidak membuatnya rancu dan tidak merusak kelugasan ayat. Pasalnya, ayat tersebut menyebutkan sejumlah peristiwa penting dalam kehidupan Nabi Yunus dan sisanya diserahkan kepada akal. Begitu pula pada surah Yusuf. Antara kata hingga terdapat sekitar delapan kalimat yang tidak disebutkan. Namun ia tidak merusak makna dan kefasihan ayat. Bentuk simplifi kasi yang menakjubkan semacam itu sangat banyak dalam al-Qur’an. Pada saat bersamaan ia juga sangat indah. Adapun ayat-ayat sebelumnya yang terdapat dalam surah Qâf, bentuk simplifi kasinya sangat mengagumkan dan menakjubkan. Pasalnya, ia menjelaskan masa depan kaum kafi r yang menakutkan dan membentang. Satu hari darinya setara dengan lima


554

AL-MAKTÛBÂT

puluh ribu tahun. Ayat tersebut menyebutkan berbagai transformasi dan perubahan besar yang menimpa kaum kafi r di masa depan mereka. Bahkan ia menjalankan pikiran dengan sangat cepat laksana kilat di atas berbagai peristiwa menakutkan tersebut. Ia juga menjadikan masa yang panjang itu seperti lembaran yang hadir di hadapan manusia. Adapun berbagai kejadian yang tak disebutkan diserahkan kepada imajinasi. Ia menjelaskannya dengan sangat fasih dan indah.

“Apabila al-Qur’an dibacakan, perhatikanlah ia dan diamlah agar kalian mendapat rahmat.” (QS. al-A’râf [7]: 204). Wahai setan, apa lagi yang bisa kau katakan! Setan berkata, “Aku tidak bisa menyanggah berbagai dalil dan argumen ini. Aku juga tidak bisa melawannya. Akan tetapi, banyak orang bodoh yang malah menyimak ucapanku. Juga banyak setan dari kalangan manusia yang malah membantuku, serta banyak fi lsuf yang egois dan sombong mengambil pelajaran dariku tentang berbagai persoalan yang memupuk kecongkakan mereka. Mereka berusaha menghalangi penyebaran pemikiran yang tertuang dalam karya-karyamu. Karena itu, aku tidak menyerah dan tidak akan pernah menyerah.”

‫٭٭٭‬


Surat Kedua Puluh Enam

555

BAHASAN KEDUA (Bahasan ini ditulis karena rasa heran yang muncul pada mereka yang selalu melayaniku ketika melihat kepribadianku yang berbeda-beda, sekaligus untuk meluruskan prasangka baik berlebihan yang tak layak kuterima dari dua orang muridku) Aku melihat bahwa sebagian keutamaan yang tertuju kepada hakikat al-Qur’an diberikan kepada perantara yang memerankan diri sebagai penyeru dan penjaja hakikat tersebut. Pandangan seperti itu salah. Sebab, kesucian dan kemuliaan rujukan itulah yang melahirkan pengaruh hebat, yang melebihi pengaruh argumen yang banyak. Masyarakat secara umum tunduk pada hukum-hukumnya lewat kesucian tadi. Ketika penyeru dan penjaja menampakkan eksistensi dirinya, yakni ketika perhatian tertuju kepadanya, pengaruh dari kesucian sumber tersebut menjadi lenyap. Karena itu, aku ingin menjelaskan hakikat berikut ini kepada saudara-saudaraku yang memberikan perhatian terhadapku melebihi kapasitasku. Kutegaskan bahwa: Manusia memiliki sejumlah kepribadian. Kepribadian tersebut memiliki sejumlah akhlak yang berbeda-beda. Misalnya, pejabat tinggi memiliki kepribadian khusus saat menjalankan tugas dari posisinya yang tinggi. Kedudukan dan posisi ini menuntut adanya sikap wibawa untuk menjaga kemuliaan posisi dan kedudukannya. Maka, memperlihatkan sikap tawaduk kepada setiap orang yang mengunjunginya akan menjatuhkan posisinya. Namun demikian, ia juga memiliki kepribadian lain saat berada di rumah dan bersama keluarganya. Yang dituntut darinya adalah sikap dan akhlak yang berbeda dengan saat ia bekerja. Sebab, semakin tawaduk hal itu akan semakin baik dan indah. Sementara kalau memperlihatkan sikap wibawa, hal itu justru akan dianggap sebagai kesombongan. Jadi, terdapat kepribadian khusus manusia dengan melihat pada tugasnya. Kepribadian ini berbeda dengan kepribadiannya


556

AL-MAKTÛBÂT

yang hakiki dalam banyak hal. Jika pejabat tersebut layak dengan tugasnya serta memiliki kemampuan untuk menjalankan pekerjaannya, maka kedua kepribadian tersebut saling berdekatan. Namun jika ia tidak layak atas pekerjaan tersebut dan tidak memiliki kemampuan, misalnya seorang prajurit diberi posisi sebagai marsekal, maka kedua kepribadian tadi akan saling berjauhan. Pasalnya, sifat-sifat prajurit yang biasa dan sederhana tidak sejalan dengan karakter mulia yang dimiliki posisi marsekal. Begitulah, pada diri saudara kalian yang fakir ini terdapat tiga kepribadian. Masing-masing sangat jauh berbeda. Pertama, kepribadian temporer yang khusus untuk mengabdikan diri pada al-Qur’an. Hal itu sesuai dengan kedudukanku sebagai penjaja khazanah pengetahuan al-Qur’an yang penuh hikmah dan mulia. Akhlak mulia yang menjadi tuntutan tugas dakwah bukanlah milikku. Ia hanyalah tabiat mulia yang menjadi tuntutan dari posisi tinggi tersebut. Maka, akhlak dan berbagai kemuliaan yang kalian lihat tidak lain berasal dari jenis ini. Ia bukan milikku. Ia adalah milik kedudukan mulia tersebut. Karenanya, jangan kalian melihat diriku dari sisi itu. Kedua, ketika aku bersimpuh di hadapan-Nya, Allah memberiku kepribadian khusus pada waktu ibadah. Kepribadian tersebut melahirkan berbagai pengaruh yang bersumber dari landasan makna ubudiyah. Landasan tersebut berupa pengakuan dan kesadaran akan kekurangan, kelemahan, dan kefakiran di hadapan Allah serta berlindung kepada-Nya dengan penuh kerendahan diri. Lewat kepribadian tersebut, aku melihat diriku sebagai orang yang paling malang, paling lemah, paling papa, dan paling lalai pada-Nya. Kalaupun seluruh dunia memberikan pujian dan sanjungan padaku, semua itu tidak akan pernah bisa membuatku merasa sudah salih dan baik. Ketiga, kepribadianku yang sebenarnya. Yaitu kepribadianku yang merupakan cerminan dari “Said Lama”. Ia adalah tabiat yang merupakan warisan dari Said Lama. Kadangkala ia memperlihatkan keinginan untuk riya dan haus kedudukan. Di samping itu, ia memperlihatkan sejumlah akhlak buruk dengan sikap


Surat Kedua Puluh Enam

557

hemat yang mencapai derajat pelit, karena aku bukan berasal dari keluarga yang memiliki kedudukan dan jabatan. Wahai saudaraku-saudaraku! Aku tidak akan mengungkap berbagai kekurangan dari kepribadianku ini serta sejumlah keburukannya agar kalian tidak menjauhiku. Wahai saudaraku, aku tidak layak mendapatkan kedudukan tinggi dan tidak memiliki kesiapan untuknya. Kepribadianku ini sangat jauh dari akhlak pengemban dakwah dan pengemban misi ubudiyah. Allah I telah memperlihatkan qudrah-Nya yang penuh kasih sesuai dengan kaidah: “Karunia ilahi tidak mensyaratkan adanya kelayakan pada diri seseorang.” Dialah yang menundukkan kepribdianku yang laksana prajurit terendah untuk mengabdikan diri pada rahasia al-Qur’an yang merupakan jabatan tertinggi dan termulia. Karena itu, beribu-ribu syukur kuucapkan kepada Allah I. Diri ini lebih rendah dari semua, namun tugas yang diberikan lebih mulia dari seluruhnya.

Segala puji bagi Allah. Ini adalah karunia Tuhan.

‫٭٭٭‬


558

AL-MAKTÛBÂT

BAHASAN KETIGA

“Wahai manusia, Kami menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal.” (QS. al-Hujurât [49]: 13). Maksudnya, Kami menciptakan kalian dalam beragam kelompok, kabilah, umat, dan bangsa agar kalian saling mengenal. Juga agar kalian mengetahui relasi sosial dan saling membantu di antara kalian. Kami menjadikan kalian bersuku-suku dan berkelompok-kelompok tidak untuk saling bertikai dan saling memusuhi. Dalam bahasan ini terdapat tujuh persoalan: Persoalan Pertama, hakikat mulia yang dikandung oleh ayat di atas secara khusus berbicara tentang kehidupan sosial. Karena itu, aku merasa perlu menuliskan bahasan ini dengan niat mengabdikan diri untuk al-Qur’an serta dengan harapan bisa membangun benteng yang dapat menahan berbagai serangan zalim. Kutuliskan ia lewat lisan “Said Lama” yang memiliki relasi dengan kehidupan sosial Islam; bukan lewat lisan “Said Baru” yang ingin menjauhi kehidupan sosial. 495 Persoalan Kedua, sebagai penjelasan dari prinsip saling mengenal dan saling membantu seperti yang dikandung oleh ayat di atas, kami ingin menegaskan bahwa sebuah pasukan dibagi ke dalam sejumlah korps, kelompok, brigade, batalion, grup, detasemen, dan regu. Hal itu dimaksudkan agar setiap prajurit mengetahui tugas-tugasnya sesuai dengan relasi yang beragam tersebut, serta agar setiap anggota pasukan dapat menunaikan tugasnya sesuai dengan prinsip kerjasama sehingga kehidupan sosial mereka terlindungi dari serangan musuh. Pembagian kepa495

Maksudnya adalah sejumlah urusan yang terkait dengan politik.


Surat Kedua Puluh Enam

559

da sejumlah kelompok tadi bukan untuk melahirkan persaingan antar batalion, melahirkan permusuhan antar detasemen, atau benturan antar regu. Begitu pula kondisinya dalam komunitas Islam yang menyerupai pasukan besar. Ia dibagi ke dalam sejumlah kabilah dan kelompok meskipun sebenarnya mereka memiliki seribu satu sisi kesatuan dan kesamaan. Pasalnya, Pencipta mereka satu, Pemberi rezeki mereka satu, Rasul mereka satu, Kiblat mereka satu, kitab suci mereka satu, dan tanah air mereka satu. Terdapat begitu banyak kesamaan yang jumlahnya mencapai ribuan sisi di mana hal itu menuntut terciptanya persaudaraan, cinta, dan kesatuan. Artinya, kondisi terbagi kepada berbagai kelompok dan kabilah seperti yang disebutkan ayat di atas, tidak lain adalah untuk saling mengenal dan saling menolong; bukan untuk saling bertikai dan saling memusuhi. Persoalan Ketiga, paham nasionalisme pada abad ini telah menyebar luas dan tertanam kuat. Orang-orang zalim Eropa, khususnya mereka yang melakukan makar, menyebarkan paham ini dalam bentuk yang negatif ke tengah-tengah umat Islam guna memecah belah mereka dan guna memudahkan mereka untuk menelan umat Islam. Karena pada paham nasionalisme ini terdapat sebuah rasa bagi jiwa, satu kenikmatan yang melenakan, serta kekuatan yang buruk, maka kita tidak bisa mengatakan kepada para aktivis sosial kemasyarakatan saat ini, “Tinggalkan paham nasionalisme tersebut!� Namun harus dijelaskan bahwa nasionalisme itu sendiri terbagi dua: Pertama, nasionalisme negatif, buruk, dan berbahaya. Ia tumbuh dan berkembang dengan menghabisi pihak lain dan eksis dengan cara memusuhi orang-orang di luar mereka. Nasionalisme semacam ini melahirkan permusuhan dan pertikaian. Karena itu, dalam hadis disebutkan:


560

AL-MAKTÛBÂT

“Islam menghapus apa yang ada sebelumnya.” Islam menolak fanatisme jahiliyah. Al-Qur’an juga menegaskan:

“Ketika orang-orang kafi r menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah. Lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin. Kemudian Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa. Mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Fath [48]: 26). Ayat dan hadis di atas secara tegas menolak paham nasionalisme negatif dan rasisme. Sebab, semangat keislaman yang positif dan suci tidak membutuhkannya. Nah, adakah satu ras di dunia yang jumlahnya sekitar 350 juta? Lalu rasisme manakah yang dapat memberikan jumlah pengikut sebanyak itu sebagai ganti dari Islam? Sepanjang sejarah tampak begitu banyak bahaya yang diakibatkan oleh nasionalisme negatif. Di antaranya: Kalangan Umawiyah mencampur sedikit pandangan nasionalisme dalam politik dan kebijakan mereka. Hal ini membuat dunia Islam murka, di samping melahirkan begitu banyak bencana akibat fi tnah internal. Begitu pula dengan bangsa-bangsa Eropa. Ketika mereka menyerukan rasisme, muncul konfl ik historis yang penuh dengan peristiwa menakutkan antara Perancis dan Jerman. Ia juga melahirkan kerusakan parah akibat perang dunia. Inilah bahaya yang menyertai kemunculan nasionalisme negatif tersebut kepada umat manusia.


Surat Kedua Puluh Enam

561

Hal yang sama terjadi pada kita. Di awal masa proklamasi konstitusi Turki usmani, beragam organisasi imigran terbentuk. Pertama-tama adalah Yunani dan Armenia dengan nama kelompok yang sangat banyak. Hal itu kemudian menimbulkan perpecahan sebagaimana dengan runtuhnya menara Babilonia yang melahirkan sejumlah suku yang terpecah belah. Sebagai akibatnya, ada di antara mereka yang menjadi santapan asing, serta ada pula yang jatuh dan tersesat jauh. Semua itu menjelaskan dampak buruk dan bahaya dari nasionalisme negatif. Sekarang kebencian dan permusuhan antar elemen dan kelompok Islam yang disebabkan oleh nasionalisme negatif menjadi bencana besar. Pasalnya, berbagai elemen tersebut, satu dengan yang lain saling membutuhkan akibat kezaliman, kesewenang-wenangan, dan kemiskinan yang mereka rasakan serta akibat hegemoni asing. Hal itu benar-benar menghancurkan mereka. Karenanya, sikap permusuhan antar mereka merupakan musibah besar yang sulit untuk digambarkan. Bahkan ia merupakan sikap yang tidak rasional sama seperti orang yang sibuk dengan gigitan nyamuk; tetapi tidak peduli dengan ular-ular raksasa yang berada di sekitar mereka. Ya, ketika ambisi Eropa yang tak pernah surut dan puas laksana ular besar sedang membuka mulut siap untuk menelan, maka sikap tidak peduli dengan ancaman Eropa, bahkan membantu mereka secara tidak langsung lewat paham rasisme, serta menumbuhkan spirit permusuhan terhadap penduduk yang tinggal di wilayah Timur atau saudara seagama yang tinggal di Selatan, merupakan bentuk kebinasaan dan bencana besar. Pasalnya, di antara mereka tidak ada yang berhak dimusuhi. Sebaliknya, apa yang datang dari Selatan tidak lain merupakan cahaya al-Qur’an dan lentera Islam yang sinarnya menerangi sekitar kita dan seluruh tempat. Maka, memusuhi saudara seagama tersebut secara tidak langsung merupakan tindakan mencederai Islam dan al-Qur’an. Permusuhan terhadap islam dan al-Qur’an adalah bentuk permusuhan terhadap semua penduduk berikut kehidupan dunia dan akhirat mereka.


562

AL-MAKTÛBÂT

Karena itu, propaganda semangat nasionalisme dengan niat berkhidmah kepada masyarakat justru menghancurkan landasan kehidupan dunia dan akhirat mereka secara bersamaan. Ia adalah sikap yang sangat bodoh; sama sekali bukan bentuk pembelaan dan semangat yang benar. Persoalan Keempat, nasionalisme positif bersumber dari adanya kebutuhan internal terhadap kehidupan sosial. Ia melahirkan sikap saling kerjasama dan saling membantu. Ia juga mewujudkan kekuatan yang bermanfaat bagi masyarakat, di samping menjadi sarana yang menopang ukhuwah islamiyah. Nasionalisme positif ini harus menjadi pelayan Islam, harus menjadi benteng yang kokoh baginya, serta menjadi pagar yang melindunginya; bukan malah menggantikan posisi Islam. Sebab, persaudaraan yang dipersembahkan oleh Islam mengandung ribuan macam persaudaraan. Ia kekal di alam abadi dan alam barzakh. Jadi, sekuat apapun bentuk persaudaraan sebangsa dan setanah air, ia hanyalah merupakan hijab bagi ukhuwah islamiyah. Sebaliknya, penegakan nasionalisme sebagai alternatif bagi Islam merupakan kejahatan bodoh, sama seperti tindakan meletakkan batu benteng di tempat penyimpanan berlian lalu membuang berlian tersebut ke luar benteng. Wahai putra-putri bangsa pencinta al-Qur’an! Sejak enam ratus tahun, bahkan seribu tahun yang lalu, dari masa Abbasiyah, kalian telah menantang seluruh dunia sebagai pembawa dan pengibar panji al-Qur’an ke seluruh penjuru dunia. Kalian telah menjadikan spirit nasionalisme kalian sebagai benteng bagi al-Qur’an dan Islam. Kalian telah membuat dunia terdiam dan tunduk. Kalian telah menyingkirkan bencana besar yang nyaris menghancurkan kehidupan dunia Islam sehingga kalian menjadi bukti yang baik dari kebenaran ayat al-Qur’an:


Surat Kedua Puluh Enam

563

“Kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum; yang dicintai oleh-Nya dan merekapun mencintai Allah; yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafi r; yang berjihad di jalan Allah. (QS. al-Mâidah [5]: 54). Karena itu, jangan kalian tertipu dan mengikuti tipu daya bangsa Eropa. Jangan sampai kalian menjadi bagian dari awal ayat di atas.496

‫٭٭٭‬

Kondisi yang Menarik Perhatian Bangsa Turki merupakan bangsa muslim terbanyak dibanding bangsa muslim lainnya di mana mereka beragama Islam di manapun mereka berada. Sementara bangsa-bangsa lain ada yang muslim dan ada yang non-muslim. Karena itu, bangsa Turki tidak terpecah sebagaimana bangsa-bangsa lainnya. Di manapun sekelompok orang Turki berada, mereka adalah muslim. Adapun yang keluar dari Islam atau yang memang bukan muslim, sesungguhnya mereka tidak bisa disebut sebagai orang Turki seperti Hungaria. Sementara bangsa-bangsa lain, bahkan yang kecil sekalipun, terdiri dari muslim dan non-muslim. Wahai saudaraku yang berkebangsaan Turki! Perhatikan! Nasionalisme yang kau miliki telah menyatu dengan Islam dalam satu bentuk yang tidak bisa dipisahkan. Ketika engkau berusaha memisahkannya dari Islam, engkau akan binasa. Tidakkah engkau melihat bahwa semua kebanggaanmu di masa lalu tercatat dalam memori Islam?! Seluruh kebanggaan tersebut tidak bisa dihapus dengan kekuatan apapun di muka bumi ini. Karena itu, jangan kau hapus dari hatimu dengan mendengarkan berbagai syubhat yang dilontarkan oleh para setan dari kalangan manusia! 496

Yaitu fi rman Allah yang berbunyi:

Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai oleh-Nya ....


564

AL-MAKTÛBÂT

Persoalan Kelima, sejumlah bangsa yang bangkit di Asia berpegang pada nasionalisme dan mengikuti Eropa dalam segala aspek. Bahkan demi sikap taklid tersebut mereka rela mengorbankan banyak hal yang bersifat sakral dan suci. Sebenarnya setiap bangsa cocok dengan pakaian yang sesuai dengan bentuk dan posturnya. Meskipun jenis kainnya sama, model bisa jadi berbeda. Sebab, tidak mungkin wanita mengenakan pakaian polisi militer. Juga tidak mungkin seorang ulama dikenakan pakaian yang terbuka. Sikap taklid buta seringkali mengantar pada kehinaan dan kerendahan. Pasalnya: Pertama, jika Eropa merupakan kedai atau barak militer, Asia laksana ladang atau masjid. Bila pemilik kedai kadang pergi ke teater, petani tidak tertarik padanya. Demikian pula dengan kondisi barak dan masjid. Lalu kemunculan sebagian besar nabi di Asia, serta kemunculan sebagian besar fi lsuf di Eropa menjadi perlambang dan petunjuk takdir ilahi bahwa yang membangkitkan dan memajukan bangsa Asia serta yang mewujudkan kelangsungan hidup bernegara mereka adalah agama dan qalbu. Adapun fi lsafat dan hikmah harus mendukung agama dan qalbu; bukan menggantikan keduanya. Kedua, agama Islam tidak bisa disamakan dengan agama Kristen. Pasalnya, sikap bertaklid buta kepada Eropa dalam mengabaikan agama merupakan kesalahan besar. Sebab, sebenarnya kalangan Eropa berpegang pada agama mereka. Sebagai buktinya, para pemimpin Barat seperti Wilson,497 Lloyd George,498 Venizelos,499 dan yang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang sangat berpegang teguh pada agama layaknya seorang pastur yang fanatik. Mereka menjadi bukti yang kuat bahwa Eropa memiliki agama; bahkan tergolong fanatik.

497 omas Woodrow Wilson (1856-1924 M) adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-28 (1913-1921 M). Ia berasal dari partai Demokrat dan dikenal sebagai politisi yang religius (Wikipedia)―Peny. 498 David Lloyd George (1863-1945 M) adalah Perdana Menteri Britania Raya, Inggris, pada tahun 1916-1922 M (Wikipedia)―Peny. 499 Eleherios Kyriakou Venizelos (1964-1936 M) adalah Perdana Menteri Yunani, yang menjabat dari tahun 1910-1920 dan 1928-1932 M (Wikipedia)―Peny.


Surat Kedua Puluh Enam

565

Ketiga, menyamakan Islam dengan Kristen adalah satu analogi yang bersifat paradoks. Ia merupakan analogi yang tidak tepat. Pasalnya, ketika Eropa berpegang teguh, bahkan fanatik terhadap agamanya, mereka tidak maju. Namun ketika tidak fanatik, mereka menjadi bangsa yang maju dan berperadaban. Fanatisme agama pada bangsa Eropa memicu terjadinya berbagai konfl ik internal selama 300 tahun. Para penguasa tiran memperalat agama untuk menindas masyarakat, kalangan marjinal, para pemikir dan ilmuwan sehingga membuat mereka marah pada agama. Adapun dalam Islam, dan sejarah menjadi saksinya, agama tidak menjadi pemicu konfl ik internal kecuali satu kali. Diukur dengan kondisi masa itu, umat Islam mengalami kemajuan yang luar biasa ketika mereka berpegang teguh pada agama. Sebagai buktinya adalah Daulah Islam di Andalusia yang menjadi guru besar bagi Eropa. Akan tetapi, ketika umat islam meninggalkan agama, mereka tertinggal dan mengalami kejatuhan. Selain itu, Islam menjadi pelindung bagi kalangan marjinal dan masyarakat awam. Yaitu dengan adanya kewajiban zakat dan pengharaman riba, serta ribuan hal sejenis yang menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada rakyat jelata. Lalu Islam juga melindungi orang-orang yang berilmu. Islam memberikan argumen dengan menggunakan akal dan ilmu pengetahuan serta membangunkan keduanya dalam jiwa lewat ayat-ayat seperti berikut:

Apakah mereka tidak merenungkan.

Apakah kalian tidak berpikir.

Apakah mereka tidak berakal.


566

AL-MAKTÛBÂT

Islam selalu menjadi benteng yang melindungi kalangan fakir dan ilmuwan. Karena itu, tidak ada faktor yang melahirkan kebencian terhadap Islam. Rahasia dan perbedaan mendasar antara Islam dan agama lain, termasuk Kristen adalah: Landasan Islam adalah tauhid murni. Karena itu, pengaruh hakiki tidak disandarkan kepada sebab dan perantara. Dalam agama Islam, sebab tidak memiliki peranan dalam mencipta. Adapun dalam agama Kristen, paham “Anak Tuhan” yang mereka anut memberikan peran kepada perantara dan sebab. Karena itu, ia melahirkan sikap angkuh dan sombong. Bahkan ia memberikan sebagian dari sifat rububiyah ilahi kepada para rahib dan pendeta sehingga ini sesuai dengan bunyi fi rman-Nya:

“Mereka menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” (QS. at-Taubah [9]: 31). Dari sini tidak aneh jika para pembesar agama Kristen sangat fanatik terhadap agama mereka. Mereka memelihara kedudukan dan ego mereka meski menjabat tugas duniawi yang tinggi. Misalnya presiden Amerika, Wilson, yang merupakan tokoh agama yang fanatik. Sementara dalam Islam yang merupakan agama tauhid murni, orang-orang yang menduduki jabatan tinggi negara harus meninggalkan ego mereka. Jika tidak, mereka menunjukkan sikap keberagamaan yang tidak benar. Karena itu, sebagian mereka mengabaikan urusan agama. Bahkan kadang ada dari mereka yang keluar dari agama. Persoalan Keenam, kami ingin menegaskan kepada mereka yang berlebihan dalam menunjukkan sikap rasis dan nasionalisme negatif: Pertama, begitu banyak migrasi terjadi di seluruh penjuru dunia, terutama di negeri kita sejak dahulu. Sejumlah kaum


Surat Kedua Puluh Enam

567

dan suku bangsa mengalami banyak perubahan dan transformasi. Migrasi ke negeri kita semakin meningkat setelah ia menjadi pusat pemerintahan Islam sehingga semua suku bangsa berhimpun di sekitarnya seperti kupu-kupu. Mereka tinggal di dalamnya sekaligus menjadi penduduk setempat. Dalam kondisi demikian, tidak mungkin memilah-milah ras sebenarnya dari masing-masing mereka kecuali dengan terbukanya lauhil mahfudz. Karena itu, membangun semangat dan pergerakan atas dasar rasisme sama sekali tidak berguna, justru melahirkan bahaya. Oleh karenanya, salah seorang propagandis rasisme dan nasionalisme negatif yang mengabaikan nilai agama terpaksa harus mengakui dengan berkata, “Bila agama dan bahasa menyatu, bangsa akan bersatu.” Jika demikian, bahasa, agama, dan ikatan kebangsaan harus menjadi perhatian; bukan rasisme. Jika ketiga hal itu menyatu, dengan sendirinya bangsa akan menjadi kuat. Namun jika salah satu dari ketiganya tidak ada, ia akan masuk pada nasionalisme negatif. Kedua, kami akan menjelaskan dua manfaat―sebagai contoh―dari ratusan manfaat yang bisa didapat dari semangat keislaman yang suci untuk putra-putri bangsa. Manfaat pertama: Yang memelihara kehidupan dan eksistensi Daulah Islamiyah―meski jumlahnya 20 atau 30 juta―dalam menghadapi seluruh negara Eropa yang besar adalah konsep al-Qur’an yang dibawa oleh prajuritnya. Yaitu, “Jika aku terbunuh berarti aku mati syahid, jika aku membunuh berarti aku mujahid.” Konsep ini mendorong putra-putri bangsa untuk menyambut kematian dengan senyuman; sesuatu yang menggentarkan hati bangsa Eropa. Apakah gerangan yang bisa membangkitkan semangat pengorbanan semacam itu pada jiwa prajurit, sementara mereka adalah orang-orang yang memiliki pemikiran sederhana dan hati yang bersih?! Semangat apa yang bisa menggantikan prinsip mulia tersebut dan dapat membuat seseorang mau mengorbankan hidup dan dunianya secara suka rela?


568

AL-MAKTÛBÂT

Manfaat kedua: Begitu negara-negara besar Eropa menyakiti daulah Islam dan terus menghantamnya, hal itu membuat 350 juta umat Islam di seluruh dunia menangis dan meratapi kezaliman mereka. Kondisi tersebut menjadikan negara-negara Imperialis itu menarik diri dengan tidak lagi menyakiti dan menyerang guna mencegah munculnya amarah umat islam secara umum. Mungkinkah kekuatan maknawi yang dominan dan permanen itu diremehkan? Mungkinkah ia diingkari dan tidak diakui? Adakah kekuatan lain yang bisa menggantikannya? Ini adalah tantangan. Hendaknya mereka bisa menunjukkan kekuatan tersebut. Karena itu, tidak semestinya kita mengabaikan kekuatan besar tersebut demi mengadopsi paham nasionalisme negatif dan semangat yang lepas dari agama. Persoalan Ketujuh, kami ingin menegaskan kepada mereka yang menunjukkan semangat nasionalisme negatif yang kuat: Jika kalian memang benar-benar mencintai dan menyayangi bangsa ini, kalian harus memiliki semangat yang diiringi kasih sayang terhadap mayoritas bangsa. Pasalnya, mengabdikan diri pada kehidupan sosial kaum minoritas dari bangsa ini yang bersifat temporer―padahal mereka tidak layak dikasihani―dengan tidak memperhatikan mayoritas, sama sekali bukan merupakan semangat nasionalisme ataupun patriotisme. Hal itu karena sikap patriotik dengan pengertian rasisme hanya memberikan manfaat untuk dua dari setiap delapan orang. Itupun dengan manfaat yang bersifat temporer. Mereka memperoleh kasih sayang dari sikap patriotik tersebut, padahal mereka tidak layak mendapatkannya. Sementara enam lainnya, bisa jadi mereka sudah tua, sakit, tertimpa musibah, anak-anak, orang yang sangat lemah atau orang bertakwa yang memikirkan akhirat secara sungguh-sungguh. Mereka mencari pelipur dan cahaya yang memberikan harapan. Pasalnya, mereka berorientasi pada kehidupan barzakh dan akhirat ketimbang kehidupan dunia. Mereka membutuhkan tangan-tangan penuh kasih yang mau memberikan pertolongan. Semangat macam apa yang tega


Surat Kedua Puluh Enam

569

memadamkan cahaya harapan mereka serta tidak memedulikan kondisi mereka yang membutuhkan pelipur lara? Itu sama sekali bukan semangat patriotisme. Mana belas kasih pada bangsa dan mana pengorbanan untuk mereka?! Kita tidak boleh putus asa dari rahmat Allah. Sejak seribu tahun yang lalu, Allah telah menyeru putra-putri bangsa ini, elemen masyarakat, dan tentaranya untuk berkhidmah pada al-Qur’an sekaligus menjadikan mereka sebagai pengibar panjinya. Karena itu, kita sangat berharap dari rahmat ilahi agar tidak membinasakan mereka dengan hambatan yang bersifat sementara insya Allah. Allah akan terus memberi bantuan kepada “cahaya tersebut” serta menjadikannya lebih terang sehingga mereka dapat melanjutkan tugas suci tersebut.

‫٭٭٭‬


570

AL-MAKTÛBÂT

BAHASAN KEEMPAT Catatan: Sebagaimana empat bahasan pada “Surat Kedua Puluh Enam” tidak saling terkait, demikian pula dengan sepuluh persoalan dalam bahasan ini. Karena itu, tidak perlu mencari relasi dan keterkaitan antar bagiannya. Ia ditulis sebagaimana yang terlintas. Bahasan ini adalah bagian dari surat yang ustadz Said Nursi kirim kepada salah seorang murid pentingnya. Ia berisi jawaban terhadap lima atau enam persoalan.

Persoalan Pertama Kedua: Saudaraku, engkau berkata dalam suratmu bahwa menurut para mufassir dalam menafsirkan terdapat delapan belas ribu alam.500 Engkau menanyakan hikmah dari bilangan tersebut? Saudaraku, saat ini aku tidak mengetahui apa hikmah darinya. Akan tetapi aku hanya ingin mengatakan sebagai berikut: Kalimat-kalimat al-Qur’an al-Hakîm tidak hanya terbatas pada satu makna. Akan tetapi, ia bersifat universal; berisi sejumlah makna untuk setiap tingkatan manusia. Hal itu karena alQur’an al-Karim merupakan pesan untuk semua tingkatan manusia. Oleh sebab itu, berbagai makna yang menjelaskannya laksana bagian dari prinsip universal tersebut. Di sini setiap mufassir dan setiap kalangan arif menyebutkan bagian dari makna universal yang ada. Dalam menafsirkan, ia bersandar kepada hasil kasyaf, dalil, atau manhajnya sehingga memilih salah satu maknanya. Di sini sekelompok orang juga menyingkap satu makna yang sesuai dengan bilangan di atas. Misalnya, dalam wirid mereka, para wali menyebut dan membaca secara berulang-ulang dengan penuh perhatian fi rman Allah yang berbunyi:

500 Lihat: ath-abari, Jâmi al-Bayân 1/63; al-Qurthubi, al-Jâmi li Ahkâm alQur’an 1/138; dan al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl 1/40.


Surat Kedua Puluh Enam

571

Ayat al-Qur’an tersebut memiliki sejumlah makna parsial, mulai dari lautan rububiyah di wilayah al-wujûb, lautan ubudiyah di wilayah al-imkân, hingga berakhir di lautan dunia dan akhirat, laut alam nyata dan alam gaib, samudera Timur dan Barat, Utara dan Selatan, lautan Romawi, lautan Persia, Laut tengah dan laut Hitam, serta celah di antara keduanya yang mengeluarkan ikan bernama al-Marjan. Lalu ke laut tengah, laut Merah, terusan Sues, serta di laut air tawar dan asin, laut air segar yang terpencar dan laut asin yang terdapat di muka bumi di mana bagian-bagiannya saling bersambung. Serta yang disebut laut kecil dan segar berupa sungai-sungai besar seperti Nil, Tigris dan Eufrat, berikut laut asin yang bercampur dengannya. Seluruh bagian tersebut terdapat dalam kandungan makna ayat di atas. Seluruhnya bisa menjadi makna yang dimaksud. Kesemuanya merupakan makna hakiki dan majasi dari ayat itu. juga mencakup banyak hakikat Begitulah, seperti yang telah disebutkan. Kalangan ahli kasyaf dan hakikat menjelaskannya dengan keterangan yang berbeda-beda sesuai kasyaf mereka. Sementara yang kupahami dari ayat tersebut adalah sebagai berikut: Di langit terdapat ribuan alam. Setiap bintang dalam kumpulannya bisa merupakan alam tersendiri. Di bumi juga terdapat setiap jenis makhluk yang merupakan alam tersendiri. Bahkan bermanusia merupakan alam kecil. Kata makna bahwa setiap alam ditata, dipelihara, dan diatur secara langsung lewat rububiyah Allah. Ketiga, Rasul r bersabda:

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi satu kaum, Dia memperlihatkan kepada mereka aib diri mereka.”501 Dalam al-Qur’an, Nabi Yusuf

berkata:

501 HR. ad-Daylami, al-Musnad 1/242; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 6/240; dan Ibnu al-Mubârak, az-Zuhd 96.


572

AL-MAKTÛBÂT

“Aku tidak menyatakan diriku bebas dari kesalahan. Sebab, sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada keburukan.” (QS. Yûsuf [12]: 53). Ya, orang yang kagum terhadap dirinya adalah orang malang. Sementara orang yang bisa melihat aib dirinya sangat beruntung. Karena itu, engkau beruntung wahai saudaraku. Namun kadang-kadang nafsu ammârah bisa berubah menjadi nafsu lawwâmah atau muthmainnah. Hanya saja ia menyerahkan senjata dan perlengkapannya kepada saraf sehingga ia menunaikan tugas tersebut hingga akhir usia. Meskipun nafsu ammârah sudah mati sejak lama, jejak dan pengaruhnya masih tetap ada. Banyak wali dan orang salih ternama mengeluhkan nafsu ammârah meskipun sudah mencapai tingkatan muthmainnah. Mereka berlindung kepada Allah dari berbagai penyakit hati meskipun hati mereka sehat dan bercahaya. Para tokoh mulia itu sebenarnya tidak mengeluhkan nafsu ammârah. Namun mereka mengeluhkan tugas nafsu ammârah yang diserahkan kepada saraf. Penyakitnya bukan di hati; akan tetapi bersifat imajinasi. Yang melancarkan serangan kepadamu wahai saudaraku, bukan nafsu dan bukan pula penyakit hatimu. Namun ia adalah kondisi yang berpindah ke saraf guna terus melakukan mujahadah hingga akhir usia sesuai dengan kondisi manusia di mana ia menjadi sebab adanya peningkatan spiritual.

Persoalan Kedua Penjelasan mengenai tiga persoalan yang ditanyakan oleh ulama terdahulu terdapat pada sejumlah bagian dari Risalah Nur. Namun di sini kami akan menjelaskan secara global: Pertanyaan pertama: Dalam risalahnya yang ditujukan kepada Fakhruddin ar-Râzi, Muhyiddin ibn Arabi menyatakan, “Pengetahuan tentang Allah berbeda dengan pengetahuan tentang keberadaan-Nya.”502 Apa maksud dari pernyataan Ibnu Arabi tersebut? 502

Lihat: al-Futûhât al-Makkiyyah, juz I hal 241 dalam bab ke-42.


Surat Kedua Puluh Enam

573

Pertama, perbedaan antara tauhid hakiki dan tauhid lahiriah yang disebutkan dalam pendahuluan “Kalimat Kedua Puluh Dua” menjelaskan maksud dari pertanyaan tersebut. Lebih jelas lagi terdapat pada mauqif kedua dan ketiga dari “Kalimat Ketiga Puluh Dua”. Kedua, yang mendorong Muhyiddin Ibn Arabi mengucapkan pernyataan di atas kepada Fakhruddin ar-Razi, salah seorang imam ahli kalam, adalah karena apa yang dijelaskan oleh para imam ushuluddin dan ulama ahli kalam terkait dengan persoalan akidah, keberadaan Allah, dan tauhid dalam pandangan Ibnu Arabi tidak memadai. Benar! Pengetahuan tentang Allah (makrifati ilahi) yang diperoleh dari dalil-dalil ilmu kalam bukan merupakan pengetahuan yang sempurna. Ia tidak mendatangkan ketenangan qalbu. Di sisi lain, ketika pengetahuan tersebut sejalan dengan manhaj al-Quran, ia menjadi pengetahuan yang sempurna dan mendatangkan ketenangan sempurna dalam qalbu. Kita berharap semoga Allah menjadikan setiap bagian dari Risalah Nur sebagai lentera yang menerangi jalan al-Quran yang lurus dan bercahaya. Kemudian makrifat ilahi yang diperoleh oleh ar-Razi dari ilmu kalam tampak cacat dalam pandangan Ibnu Arabi. Begitu pula makrifat ilahi yang dihasilkan dari jalan tasawuf juga cacat dan tidak sempurna jika dibandingkan dengan makrifat ilahi yang diraih oleh para pewaris nabi dari al-Quran secara langsung. ) “Tiada Dalam hal ini, Ibnu Arabi mengatakan, ( yang ada selain Dia,” hal itu agar ia senantiasa merasakan kehadiran Allah I, hingga pada akhirnya ia mengingkari wujud seluruh entitas. Adapun yang lain, untuk menghadirkan hati bersama Tuhan, mereka berkata, ( ) “Tiada yang terlihat selain Dia.” Mereka menutupi entitas dengan tirai kealpaan mutlak dan menempuh satu metode yang aneh. Sementara makrifat yang didapat dari al-Quran melahirkan kehadiran qalbu yang bersifat permanen, di samping tidak menafi kan wujud entitas dan tidak memenjarakannya dalam penjara


574

AL-MAKTÛBÂT

kealpaan mutlak. Namun ia menyelamatkannya dari pengabaian dan kesia-siaan serta mempergunakannya di jalan Allah I dengan menjadikan segala sesuatu sebagai cermin yang memantulkan makrifat ilahi. Ia membuka pada segala sesuatu sebuah jendela menuju makrifat-Nya sebagaimana syair yang disebutkan oleh Sa’di asy-Syirazi:

Dalam sejumlah kalimat lain dari Risalah Nur, kami telah memberikan perumpamaan untuk menjelaskan perbedaan antara mereka yang mengambil petunjuk dari al-Quran al-Karim— sebuah jalan yang lurus—dan mereka yang meniti jalan para ulama ahli kalam. Perumpamaannya sebagai berikut: Untuk mendapatkan air, ada yang mendatangkannya melalui pipa dari tempat yang jauh yang ia gali di kaki gunung. Sementara yang lain menemukan air di tempat yang mereka gali seraya memancarkannya di mana pun mereka berada. Yang pertama adalah meniti jalan terjal dan panjang. Belum lagi aliran airnya bisa jadi tersumbat atau terputus di tengah jalan. Sementara mereka yang menggali sumur mendapatkan air di mana saja mereka berada tanpa menemui kesulitan dan kepenatan yang berarti. Nah, para ulama ahli kalam memutus rangkaian sebab-akibat dengan membuktikan kemustahilan daûr wa at-Tasalsul (kausalitas dan rangkaian sebab-akibat di alam). Dari sana mereka menetapkan eksistensi Sang Wajibul wujud (Tuhan). Adapun manhaj al-Qur’an yang hakiki, ia menemukan air pada setiap tempat dan menggalinya di mana saja ia berada. Setiap ayatnya yang agung laksana tongkat Musa yang memancarkan air di mana saja dipukulkan. Manhaj tersebut membuat orang lain membaca prinsip berikut pada segala sesuatu:


Surat Kedua Puluh Enam

575

Pada segala sesuatu terdapat bukti atas-Nya Yang menunjukkan bahwa Dia adalah Esa.503 Selanjutnya, iman tidak hanya diperoleh dengan ilmu. Sebab, banyak perangkat halus pada manusia yang memiliki bagian dari iman. Sebagaimana ketika makanan masuk ke dalam lambung, ia terbagi dan terdistribusi ke sejumlah urat sesuai dengan masing-masing organ. Demikian pula dengan persoalan iman yang datang dari jalur ilmu. Ketika ia masuk ke dalam akal dan pemahaman, setiap perangkat halus tubuh―seperti ruh, qalbu, sirr, jiwa, dan sejenisnya―mengambil bagian darinya serta menyerapnya sesuai dengan tingkatannya. Jika salah satu dari perangkat halus tersebut tidak mendapat nutrisi yang sesuai, maka pengetahuannya menjadi cacat dan tidak sempurna. Demikianlah, Ibnu Arabi memperingatkan dan mengarahkan perhatian Fakhruddin ar-Razi kepada masalah penting ini.

Persoalan Ketiga Pertanyaan: apa korelasi antara kedua ayat al-Qur’an berikut ini:

“Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” (QS. al-Isrâ [17]: 70).

“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzâb [33}: 72)? Jawaban: Penjelasan tentang pertanyaan ini terdapat dalam “Kalimat Kesebelas, Kedua Puluh Tiga, dan buah kedua dari ranting kelima dalam Kalimat Kedua Puluh Empat”. Ringkasnya sebagai berikut: Dengan qudrah-Nya yang sempurna, Allah I menciptakan banyak hal dari sesuatu yang satu, sebagaimana Dia meng503 Lihat: al-Asfahani, al-Aghânî 4/39; al-Qalqasyandi, Shubhul A’sya 12/413; dan al-Absyihi, al-Mustathraf 1/61, 2/280.


576

AL-MAKTÛBÂT

giring sesuatu yang satu itu untuk menunaikan banyak tugas. Dia pun menulis seribu satu kitab dalam satu halaman. Nah, Allah I juga menciptakan manusia sebagai spesies yang menggabungkan banyak hal. Dengan kata lain, lewat spesies manusia Dia hendak menampilkan apa yang telah ditampilkan oleh berbagai tingkatan spesies hewan. Hal itu dilakukan dengan cara tidak membatasi kekuatan dan kecenderungan manusia dengan batasan fi tri. Namun ia dibiarkan bebas merdeka. Di sisi lain, Dia membatasi kekuatan dan kecenderungan seluruh hewan. Yaitu dengan berada di bawah batasan fi trinya. Jadi, setiap kekuatan manusia berada dalam ruang lingkup yang sangat luas; tak terhingga. Pasalnya, manusia adalah cermin bagi manifestasi tak terhingga dari nama-nama Tuhan semesta alam. Karena itu, kekuatan manusia diberikan potensi dalam bentuk yang tak terhingga. Contoh: andaikan manusia diberi seluruh dunia, tentu dengan sifat tamaknya ia tetap menginginkan tambahan. Ia rela membuat ribuan orang menderita demi kepentingan dirinya. Begitulah, di hadapan manusia terdapat tingkatan akhlak tercela yang tak terhingga sampai akhirnya mengantar pada tingkatan Namrud dan Fir’aun. Di situ manusia benar-benar menyandang sifat sangat zalim ( ) dalam bentuk mubâlagah. Di hadapannya juga tersingkap sejumlah derajat kemuliaan yang tak terhingga pada akhlak terpuji hingga mengantarnya menuju derajat para nabi dan kaum shiddiqin. Manusia berbeda dengan hewan. Ia tidak memiliki pengetahuan tentang segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan, karenanya ia harus belajar segala hal. Dari situ manusia disebut sangat bodoh ( ) dalam bentuk mubâlagah karena memang membutuhkan banyak hal yang tak terhingga. Adapun hewan, ketika datang ke dunia, ia hanya membutuhkan sejumlah hal. Di samping itu, ia hanya butuh waktu sebulan atau dua bulan, sehari atau dua hari, bahkan sejam atau dua jam dalam mempelajari seluk-beluk kehidupannya. Seakan-akan ia sudah sempurna di alam lain lalu datang ke dunia. Sementa-


Surat Kedua Puluh Enam

577

ra manusia, ia baru bisa berdiri setelah berumur setahun atau dua tahun. Ia tidak bisa membedakan yang baik dan yang buruk (manfaat dan bahaya) kecuali setelah berumur lima belas tahun. Jadi, bentuk mubâlagah di atas juga menjelaskan hal ini.

Persoalan Keempat Saudaraku, engkau bertanya tentang hikmah hadis Nabi yang berbunyi:

r

“Perbaharuilah iman kalian dengan lâ ilâha illallâh.”504 Kami telah menjelaskannya dalam banyak bagian pada “al-Kalimat”. Di sini, kami ingin menyebutkan satu hikmah saja darinya: Karena diri dan alam manusia terus terbaharui, maka ia juga senantiasa membutuhkan pembaharuan iman. Pasalnya, manusia sebagai individu tidak lain merupakan wujud dari banyak individu secara maknawi. Ia adalah individu sebanyak bilangan tahun usianya, sebanyak jumlah harinya, bahkan sebanyak hitungan jam yang ia lewati. Sebab, setiap individu dianggap sebagai sosok yang berbeda lantaran ketika perjalanan waktu melintasinya ia menjadi seperti model yang setiap hari memakai bentuk individu baru yang berbeda. Selain itu, sebagaimana manusia mengalami perubahan dan pembaruan seperti itu, alam yang ia huni juga terus berjalan; tidak tetap dalam satu kondisi. Ia berlalu kemudian digantikan oleh yang lain. Ia terus dalam kondisi beragam. Setiap hari pintu alam yang baru terbuka. Nah, iman merupakan cahaya bagi kehidupan setiap individu dari sosok tersebut. Di sisi lain, iman juga cahaya bagi sejumlah alam yang ia masuki. Sementara lâ ilâha illallâh merupakan kunci yang membuka cahaya tersebut. Kemudian dalam diri manusia terdapat nafsu, selera, ilusi, dan setan. Mereka mengeksploitasi kealpaannya guna memperse504 HR. at-Tirmidzi dalam Nawâdir al-Ushûl 2/204; Ahmad ibn Hambal dalam al-Musnad 2/359; dan Abdu ibn Humaid dalam al-Musnad 1/417.


578

AL-MAKTÛBÂT

mpit imannya sehingga celah-celah bagi masuknya cahaya iman tersumbat lewat penyebaran syubhat dan ilusi. Selain itu, alam manusia tidak lepas dari perkataan dan perbuatan yang bertentangan dengan lahiriah syariat. Bahkan menurut sebagian imam ia masuk dalam kategori kufur. Karena itu, terdapat kebutuhan untuk memperbaharui iman setiap waktu, bahkan setiap saat dalam sehari. Pertanyaan: Ulama ahli kalam menetapkan tauhid setelah kemunculan mereka di atas seluruh alam yang mereka beri label imkân (mungkin) dan hudûts (baru). Agar qalbu bisa tenang dan merasakan kehadiran Allah, sebagian kalangan tasawuf berkata, ) “Tiada yang terlihat selain Dia.” Hal itu setelah ( mereka melupakan dan mengabaikan entitas. Sebagian lainnya berkata, ( ) “Tiada yang ada selain Dia.” Mereka memosisikan entitas sebagai khayalan dan menganggapnya tiada agar sesudah itu qalbu mereka bisa tenang dan merasakan kehadiran Allah. Akan tetapi, engkau meniti jalan yang berbeda dari itu semua. Engkau menjelaskan sebuah manhaj lurus dari alQur’an. Engkau menjadikan perlambang dari manhaj ini berupa, ( ) “Tiada yang Dituju kecuali Dia. Tiada yang Disembah kecuali Dia.” Kuharap engkau bisa menjelaskan kepada kami secara singkat satu argumen tentang tauhid dalam manhaj Qur’ani tersebut. Jawaban: Seluruh kandungan buku al-Kalimât dan al-Maktûbât menjelaskan manhaj lurus tersebut. Sekarang untuk memenuhi permintaanmu, aku hanya ingin menjelaskan secara sangat singkat satu argumen yang kuat, luas, dan panjang di antara sekian banyak argumen yang ada. Segala sesuatu di alam ini menisbatkan segalanya kepada Sang Pencipta. Setiap jejak yang terdapat di dunia menunjukkan bahwa semua jejak bersumber dari Pemberi jejak. Setiap kreasi di alam ini menegaskan bahwa semua kreasi yang ada berasal dari perbuatan Penciptanya. Setiap nama dari nama-nama-Nya


Surat Kedua Puluh Enam

579

yang mulia yang termanifestasi pada entitas menunjukkan bahwa seluruh nama merujuk pada Pemilik nama. Dengan kata lain, segala sesuatu merupakan bukti keesaan secara langsung dan jendela yang mengarah pada makrifat ilahiyah. Ya, tidak ada jejak, apalagi makhluk hidup, kecuali ia merupakan miniatur dari seluruh entitas. Ia laksana benih alam dan buah dari bola bumi. Karena itu, Pencipta miniatur, benih, dan buah tersebut sudah pasti juga merupakan Pencipta seluruh entitas. Hal itu karena tidak mungkin Dzat yang menghadirkan buah bukan merupakan Dzat yang menghadirkan pohonnya. Karena itu, sebagaimana setiap jejak menyandarkan seluruh jejak kepada Pemberi jejak, setiap perbuatan juga mengembalikan seluruh perbuatan kepada Pelakunya. Pasalnya, kita mengetahui bahwa setiap kreasi apapun, pastilah ia memperlihatkan sisi dari hukum penciptaan yang meliputi seluruh alam di mana hukum dan dimensinya membentang mulai dari partikel hingga galaksi. Artinya, Dzat Pemilik dan pelaku dari kreasi parsial itu sudah pasti juga merupakan Pelaku dari semua perbuatan yang terpaut dengan hukum komprehensif yang meliputi seluruh alam yang luas, mulai dari partikel hingga mentari. Dzat yang menghidupkan nyamuk, pasti juga Dzat yang menghidupkan seluruh serangga, seluruh hewan, bahkan seluruh bumi. Kemudian Dzat yang menjadikan partikel berputar seperti pengikut tarekat Maulawi, pasti juga Dzat yang menggerakkan seluruh entitas secara berantai bahkan juga mentari berikut planet-planetnya. Pasalnya, hukum yang berlaku pada entitas adalah sebuah rangkaian dan seluruh perbuatan terpaut dengannya. Artinya, setiap jejak menisbatkan semua jejak kepada pemilik jejak. Setiap kreasi menisbatkan seluruh kreasi kepada pelakunya. Begitu pula setiap nama yang termanifestasi pada entitas menisbatkan semua nama kepada Pemilik namanya sekaligus menegaskan bahwa ia merupakan atribut-Nya. Hal itu karena nama yang termanifestasikan di alam saling terpaut laksana lingkaran yang saling berpautan dan tujuh warna cahaya yang saling bercampur. Masing-masing saling mengait dan berpautan. Setiap jejak saling menyempurnakan dan saling memperindah.


580

AL-MAKTÛBÂT

Misalnya: nama al-Muhyî (Yang Maha Menghidupkan). Ketika ia terwujud pada sesuatu dan ketika ia memberikan kehidupan padanya, nama al-Hakîm (Yang Mahabijak) juga tampak sehingga ia menata fi sik makhluk hidup tersebut yang merupakan wadah bagi ruhnya. Pada saat yang sama nama al-Karîm (Yang Maha Pemurah) juga terlihat. Ia menghias sangkar dan wadah tersebut. Padanya juga terdapat nama ar-Rahîm (Yang Maha Penyayang) di mana ia menyiapkan seluruh kebutuhan fi sik itu. Pada saat yang sama nama ar-Razzaq (Maha Pemberi rezeki) terwujud padanya di mana ia memberi rezeki materil dan immateril yang dibutuhkan makhluk tersebut dari jalan yang tak disangka-sangka. Begitu seterusnya. Artinya, Dzat yang memiliki nama al-Muhyî juga memiliki nama al-Hakîm yang menerangi dan meliputi seluruh alam. Dia pun memiliki nama ar-Rahîm yang memelihara seluruh entitas dengan rahmat dan kasih sayang. Dia juga memiliki nama arRazzâq yang memberi nutrisi pada seluruh makhluk. Demikian seterusnya. Dengan kata lain, setiap nama, setiap perbuatan, dan setiap jejak, merupakan bukti keesaan, stempel tauhid, dan cap ketunggalan-Nya di mana ia menunjukkan bahwa seluruh kalimat yang merupakan entitas yang tertulis pada lembaran alam dan pada baris zaman tidak lain adalah tulisan pena Penulis dan Pelukisnya.

٥٠٥ Ya Allah, limpahkan salawat dan salam kepada sosok yang bersabda: “Sebaik-baik perkataan yang pernah terucap olehku dan oleh para nabi sebelumku adalah lâ ilâha illallâh. Juga, kepada keluarga dan para sahabatnya. 505 Al-Muwaththa’, al-Qur’an 32, al-Hajj 246; HR. al-Baihaqi, as-Sunan alKubrâ 4/284. Lihat at-Tirmidzi, ad-Da’awât 123.


Surat Kedua Puluh Enam

581

Persoalan Kelima Kedua: saudaraku, dalam suratmu engkau bertanya apakah seseorang bisa selamat dengan cukup menyebut tanpa disertai ? Jawaban atas pertanyaan ini cukup panjang. Hanya saja saat ini aku ingin menegaskan bahwa dua kalimat syahadat, satu dengan lainnya, tidak bisa dipisahkan. Namun satu sama lain mengandung makna dan saling menguatkan. Yang satu hanya terwujud dengan yang lain. Karena Rasul r merupakan penutup para nabi dan pewaris seluruh rasul, tentu beliau berada di pangkal seluruh jalan menuju Allah. Tidak ada jalan yang benar dan jalan selamat di luar jalan lurus yang beliau lewati. Seluruh imam ahli makrifat dan hakikat menyebutkan seperti yang disebutkan oleh Sa’di asy-Syirâzi:

Wahai Sa’di, mustahil melewati jalan yang lurus tanpa mengikuti Nabi al-Mustafa. Mereka juga menyebutkan:

“Seluruh jalan tertutup kecuali manhaj Muhammad.” Hanya saja, kadangkala sebagian orang meniti jalan Muhammad r, namun mereka tidak sadar kalau mereka sedang berada di dalamnya. Kadangkala juga sebagian orang tidak mengenal Nabi r, namun jalan yang mereka lalui adalah bagian dari jalan beliau. Kadang mereka tidak berpikir tentang jalan Muhammad r karena merasa cukup dengan lâ ilâha illallâh entah karena kondisi “majdzub” atau “tenggelam” bersama Tuhan, atau karena pengaruh sejenis kondisi uzlah.


582

AL-MAKTÛBÂT

Meski demikian, sisi terpenting dalam masalah ini adalah: “Tidak menerima” dan ”menerima ketiadaan” adalah dua hal yang berbeda. Orang-orang yang sedang dalam kondisi “majdzub” dan beruzlah, atau orang yang tidak mendengar dan tidak mengetahui, serta orang-orang yang tidak mengenal Nabi r dan tidak berpikir tentang beliau agar menerima dan ridha pada beliau seperti mereka, sebetulnya mereka dalam kondisi bodoh pada titik tersebut. Yang mereka ketahui dalam hal makrifatullah hanya lâ ilâha illallâh. Bisa jadi mereka tergolong kelompok yang selamat. Akan tetapi, jika mereka yang mendengar tentang Nabi r dan mengetahui dakwahnya tetapi tidak membenarkannya, maka mereka termasuk orang yang mengenal Allah namun tidak berimana kepada-Nya. Pasalnya, ucapan lâ ilâha ilallâh untuk orang-orang semacam mereka tidak melahirkan tauhid yang merupakan sebab keselamatan. Kondisi tersebut bukan kondisi yang bersumber dari sikap “tidak menerima” akibat bodoh yang dianggap sebagai uzur. Namun ia bersumber dari sikap “menerima ketiadaan”, yaitu berupa pengingkaran. Orang yang mengingkari Muhammad r yang merupakan poros kebanggaan alam dan kemuliaan umat manusia dengan mukjizat dan pengaruhnya yang besar, sudah pasti tidak mendapat cahaya dan tidak disebut beriman kepada Allah. Kita cukupkan sampai di sini.

Persoalan Keenam Ketiga: terdapat sejumlah ungkapan terkait dengan jalan setan saat melakukan dialog dengan setan pada ‘bahasan pertama’. Meskipun telah diluruskan dan diperhalus dengan kalimat ) “Mahasuci Allah dari semua itu” serta ditam( pakkan dalam bentuk asumsi, namun aku masih takut dan gemetar dengannya. Lalu terdapat sedikit perbaikan pada bagian yang kukirim padamu. Apakah engkau telah mengoreksi salinan yang terkait dengannya? Aku menyerahkan hal itu kepadamu sehingga engkau dapat menghapus ungkapan yang menurutmu tidak perlu.


Surat Kedua Puluh Enam

583

Saudaraku yang mulia! Bahasan tersebut sangat penting. Pasalnya, setan adalah guru bagi kalangan zindik. Jika setan tidak diserang dan dibungkam dengan argumen yang jelas, pasti para pengikutnya tidak bisa menerima. Al-Quran al-Hakim telah menggunakan sejumlah ungkapan kaum kafi r yang keji dalam memberikan bantahan. Hal itu membuatku berani memperlihatkan kekeliruan jalan setan tersebut. Meski gemetar dan takut, aku tetap mempergunakan ungkapan yang menunjukkan kebodohan tersebut di mana ia diterima oleh kelompok setan sesuai dengan tuntutan jalan mereka serta mereka sebut sesuai dengan tabiat jalan mereka. Maka di sini aku menyebutkannya dalam bentuk “asumsi mustahil” guna menjelaskan kekeliruan jalan mereka. Dengan cara tersebut, aku berhasil membelenggu mereka di dasar sumur sekaligus menguasai medan atas nama al-Quran. Berbagai kebatilan mereka berhasil kusingkap. Engkau bisa melihat kemenangan tersebut lewat perumpamaan berikut: Misalkan terdapat menara tinggi yang menjulang ke langit. Tepat di bawahnya terdapat sumur yang dalam di mana dasarnya berada di pusat bumi. Lalu ada dua kelompok manusia yang berdikusi tentang posisi muazzin di mana suaranya terdengar oleh seluruh orang di seluruh negeri. Yakni, di tingkatan tangga menara yang mana muazzin berdiri jika melihat letak langit ke pusat bumi? Kelompok pertama berkata, “Muazzin tersebut berdiri di puncak menara. Ia mengumandangkan azan dari sana sehingga terdengar oleh semua orang. Pasalnya, kita bisa mendengar azan yang keras dan menggema tersebut. Meskipun setiap kita tidak bisa melihatnya di sana, namun masing-masing kita bisa melihat sang muazzin sesuai dengan tingkatannya saat ia naik dan turun dari menara. Dari sana diketahui bahwa muazzin tersebut naik menara. Di manapun berada, ia memiliki kedudukan yang tinggi.” Namun kelompok lain yang merupakan kelompok setan yang bodoh berkata, “Tidak. Posisi muazzin di dasar sumur; bukan di puncak menara.” Padahal, tak seorang pun yang melihat-


584

AL-MAKTÛBÂT

nya di dasar sumur, dan tidak ada yang bisa melihatnya di sana kecuali ia berupa batu besar yang tidak memiliki ikhtiar. Hanya dengan asumsi seperti itu, muazzin tersebut bisa dilihat. Jadi, wilayah diskusi dan perseteruan antara dua kelompok yang saling bertentangan itu berupa jarak yang membentang antara puncak menara hingga dasar sumur. Nah, kelompok pemilik cahaya yang merupakan hizbullah (golongan Allah) menjelaskan posisi muazzin di puncak menara kepada orang yang jangkauan pandangannya sampai ke sana. Mereka juga menjelaskan bahwa muazzin tersebut memiliki kedudukan tinggi di sejumlah tingkatan tangga menara kepada orang yang pandangannya terbatas yang tak bisa melihat ke tempat tinggi. Dengan kata lain, mereka menjelaskan kedudukannya yang tinggi pada setiap orang sesuai dengan jangkauan pandangannya. Karena itu, petunjuk yang kecil sudah cukup bagi mereka bahwa sang muazzin itu bukan benda seperti batu tak bernyawa. Namun ia seperti manusia sempurna yang dapat naik ke tingkatan paling tinggi dan bisa terlihat saat mengumandangkan azan di tingkatan tersebut. Namun kelompok lain, yaitu kelompok setan, berkata, “Jika ia memang berada di puncak menara, perlihatkanlah kepada kami. jika tidak, berarti posisinya di dasar sumur.� Mereka mengatakan hal itu dengan penuh kebodohan. Karena kebodohannya, mereka tidak mengetahui bahwa kondisi muazzin yang tak terlihat oleh setiap manusia saat berada di puncak menara adalah karena pandangan mereka tidak mampu menjangkau kedudukan yang tinggi itu. Kemudian kelompok setan itu ingin menimbulkan kerancuan agar dapat menguasai seluruh jarak yang ada, kecuali puncak menara. Guna menutup dialog dan debat antara dua kelompok di atas, salah seorang dari mereka maju ke depan dan berbicara kepada kelompok setan: Wahai kelompok yang malang! Jika posisi sang muazzin agung itu berada di dasar sumur, ia harus berupa benda mati seperti batu yang tak bernyawa dan tidak memiliki kekuatan. Juga,


Surat Kedua Puluh Enam

585

tidak mungkin ia terlihat di tingkatan manapun dari menara atau sumur. Akan tetapi, selama kalian bisa melihatnya di setiap tingkatan, berarti ia bukan benda mati yang tak bernyawa. Namun posisinya pasti di puncak menara. Karena itu, kalian bisa memperlihatkannya di dasar sumur, dan ini tidak mungkin bisa kalian lakukan dan tidak bisa diterima oleh siapapun. Atau jika tidak, hendaknya kalian diam. Sebab, wilayah pembelaan kalian terbatas di dasar sumur. Adapun wilayah lain dan jarak yang panjang itu dimiliki oleh jamaah ini; jamaah yang penuh berkah. Di manapun mereka memperlihatkannya―selain dasar sumur― mereka menang dan berkuasa.” Begitulah, bahasan tentang dialog dengan setan serupa dengan perumpamaan di atas. Ia mengambil alih jarak yang membentang dari Arasy hingga bumi, dari tangan kelompok setan sekaligus membatasi mereka pada wilayah yang paling sempit, yaitu dasar sumur. Ia membungkam mereka pada celah yang paling sempit yang tak mungkin dimasuki. Bahkan ia mustahil dan tidak logis. Pada saat bersamaan ia dapat menguasai seluruh wilayah atas nama al-Qur’an. Jika kelompok setan itu ditanya, “Bagaimana kalian memandang kedudukan al-Qur’an?”. Mereka menjawab: ia adalah kitab humanis yang mengajarkan akhlak yang baik. Ketika itulah dikatakan kepada mereka, “Kalau begitu, ia adalah kalam Allah. Kalian harus menerima hal ini. Sebab, kalian tidak bisa mengatakan ‘baik’ sesuai manhaj kalian.” Begitu pula kalau mereka ditanya, “Bagaimana kalian memandang Rasul r?” Mereka akan menjawab, “Beliau adalah manusia yang memiliki akhlak baik dan akal cerdas.” Ketika itulah dikatakan kepada mereka, “Kalau begitu, kalian harus beriman kepadanya. Pasalnya, apabila beliau memiliki akhlak yang baik dan akal yang cerdas, beliau pasti utusan Allah. Sebab, istilah ‘baik’ tidak ada dalam kamus kalian. Demikianlah, seluruh sisi hakikat dapat diterapkan pada petunjuk perumpamaan yang lain.


586

AL-MAKTÛBÂT

Atas dasar itu, ‘bahasan pertama’ yang berisi dialog dengan setan menyelamatkan iman kaum mukmin lewat petunjuk yang paling sederhana sekalipun tanpa perlu mengetahui mukjizat Muhammad r berikut berbagai buktinya yang kuat. Pasalnya, setiap kondisi dan sifat Muhammad r serta setiap fase kenabiannya laksana salah satu mukjizat beliau. Ia menjelaskan dan menegaskan bahwa kedudukan beliau berada di tingkatan paling tinggi; bukan di dasar sumur.

Persoalan Ketujuh Persoalan yang Berisi Pelajaran: Berdasarkan tujuh petunjuk yang memperkokoh kekuatan maknawi sebagian sahabatku saat ditimpa keraguan dan lemah semangat dalam berkhidmah untuk al-Qur’an, aku terpaksa menjelaskan ikram rabbani dan perlindungan ilahi yang terkait dengan khidmah al-Qur’an semata. Hal itu agar aku bisa menyelamatkan sejumlah sahabatku yang berjiwa sensitif. Dari tujuh petunjuk tersebut, empat di antaranya mengarah kepada beberapa orang yang tadinya merupakan sahabatku namun kemudian menjadi musuh terhadap diriku sebagai pelayan al-Qur’an; bukan sebagai diri pribadiku. Mereka mengambil posisi semacam itu untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Sebagai akibatnya, alih-alih memperoleh apa yang diharapkan, mereka malah mendapat tamparan keras. Adapun tiga petunjuk sisanya mengarah kepada beberapa sahabat yang tulus di mana kondisi mereka masih tetap sebagai sahabat. Hanya saja mereka tidak memperlihatkan sikap berani yang merupakan tuntutan dari kesetiaan dan persahabatan. Hal itu lantaran mereka ingin mendapat simpati para ahli dunia agar memperoleh keuntungan duniawi serta lantaran ingin selamat dari berbagai cobaan. Hanya saja, ketiga sahabatku itu justru mendapat teguran; bukan mendapat apa yang mereka inginkan. Sosok pertama adalah orang yang tadinya secara lahiriah termasuk sahabat lalu berbalik menjadi musuh. Ia adalah sosok seorang pemimpin. Dengan penuh harap, ia meminta padaku


Surat Kedua Puluh Enam

587

salinan dari buku “Kalimat Kesepuluh” lewat sejumlah perantara. Maka, akupun memberikannya. Namun kemudian ia malah berbalik menjadi musuh dan meninggalkan persahabatan denganku dengan harapan bisa naik jabatan. Ia mengirim surat kepada gubernur dengan mengadukan dan memberikan informasi tentang diriku. Sayangnya, alih-alih naik jabatan, ia malah dicopot dari tugasnya sebagai salah satu karunia ilahi atas khidmah al-Qur’an. Sosok kedua adalah seorang pemimpin yang lain. Tadinya sebagai sahabat, namun kemudian berbalik menjadi musuh dan pesaing bukan bagi diri pribadiku; tetapi bagi kedudukanku sebagai pelayan al-Qur’an. Hal itu ia lakukan agar disenangi oleh atasannya guna memperoleh simpati para ahli dunia. Akan tetapi ia malah mendapatkan teguran; bukan mendapat apa yang dia inginkan. Ia diadili atas perkara yang sama sekali tidak diharapkan, sehingga mendapat hukuman selama dua setengah tahun. Kemudian ia meminta doa dari seorang pelayan al-Qur’an agar Allah menyelamatkannya. Iapun didoakan. Ketiga adalah seorang guru sekolah. Ia bersikap seperti seorang sahabat terhadapku. Akupun menunjukkan persahabatan yang tulus kepadanya. Namun ia malah berbalik menjadi musuh agar dipindah-tugaskan ke Barla. Akibatnya, alih-alih mendapat apa yang diinginkan, ia malah mendapat teguran keras. Ia malah direkrut sebagai prajurit dan dijauhkan dari Barla. Keempat, juga seorang guru sekolah. Aku melihatnya sebagai orang yang taat dan hafal al-Qur’an. Karena itu, aku menunjukkan persahabatan yang tulus padanya agar Allah mengaruniakan padanya kemauan untuk berkhidmah pada alQur’an. Namun, hanya karena ucapan seorang pegawai negeri, ia kemudian menunjukkan sikap yang tidak simpatik pada kami guna memperoleh tempat di hati para ahli dunia. Akhirnya, bukan mendapatkan apa yang diinginkan, ia malah mendapatkan teguran. Ia mendapat teguran keras dari pengawasnya lalu dipecat dari tugasnya. Keempat orang di atas mendapatkan teguran karena mereka menjadi musuh bagi para pelayan al-Qur’an. Adapun tiga sa-


588

AL-MAKTÛBÂT

habatku yang lainnya mendapatkan peringatan; bukan teguran seperti di atas, lantaran mereka tidak mau bersikap berani yang merupakan tuntutan dari sebuah persahabatan dan kesetiaan. Pertama, salah seorang murid sejatiku yang giat dan tulus serta memiliki peran penting dalam khidmah al-Qur’an. Ia memiliki kepribadian yang mulia dan terhormat serta telah menulis alKalimât secara terus-menerus sekaligus menyebarkannya. Hanya saja, untuk beberapa waktu ia menyembunyikan al-Kalimât yang ia tulis serta tidak lagi menyalinnya saat seorang pejabat tinggi datang dan saat terjadi kasus tertentu. Hal itu ia lakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dari penguasa serta agar selamat dari kejahatan mereka. Faktanya, kesalahan akibat tidak menunaikan tugas pengabdian terhadap al-Qur’an membuatnya harus membayar denda seribu lira untuk setahun. Namun saat ia berniat untuk menyalin dan kembali kepada kondisi semula ia terbebas dari dakwaan yang diarahkan padanya. Alhamdulillah, ia menjadi bebas dan tidak perlu membayar seribu lira, karena memang kondisinya termasuk fakir. Kedua, seorang sahabat yang tulus, pemberani, dan murah hati. Sudah lima tahun ia menjadi tetanggaku. Namun selama beberapa bulan ia tidak bertemu denganku. Bahkan pada bulan Ramadhan dan hari raya pun ia juga tidak mengunjungiku karena dianggap tidak penting. Hal itu ia lakukan untuk mendapat simpati ahli dunia, terutama dari pemimpin yang baru datang. Namun harapannya menjadi sirna dan keinginannya tidak tercapai. Sebab, ia tidak lagi dianggap memiliki pengaruh seperti sebelumnya karena persoalan kampung sudah selesai. Ketiga, seorang yang hafal al-Qur’an. Ia biasa mengunjungiku sekali atau dua kali dalam seminggu. Ia ditunjuk sebagai imam di masjid. Kemudian ia meninggalkanku agar bisa memakai serban imam dan tidak pernah datang bahkan di saat hari raya. Namun tidak seperti yang ia inginkan, ia tidak bisa memakai serban tersebut meski sudah menjadi imam selama kurang lebih delapan bulan.


Surat Kedua Puluh Enam

589

Nah, peristiwa seperti di atas sangat sering terjadi. Aku tidak akan menyebutkannya agar tidak melukai perasaan yang lain. Hanya saja, betapapun kasusnya bersifat individual sehingga mungkin dianggap sebagai petunjuk yang lemah, namun ketika semuanya dikumpulkan, ia menyiratkan kekuatan dan melahirkan keyakinan bahwa kita bekerja dalam naungan karunia ilahi dan di bawah perlindungan-Nya ditinjau dari sisi khidmah alQur’an; bukan dari sisi pribadiku. Pasalnya, aku merasa diriku tidak layak untuk mendapatkan karunia ilahi tersebut. Oleh karena itu, para sahabatku yang tercinta, kalian harus memahami hal ini dengan baik. Kalian tidak boleh menghiraukan sejumlah keraguan dan ilusi yang ada. Hal ini sengaja kujelaskan kepada kalian secara khusus karena karunia ilahi itu diberikan atas pengabdian terhadap al-Qur’an. Jadi, ini bukan untuk kesombongan; namun dalam rangka bersyukur kepada Allah sesuai dengan fi rman-Nya:

“Terkait dengan nikmat Tuhanmu, ungkapkanlah!” (QS. adh-Dhuhâ [93]: 11)

Persoalan Kedelapan [Catatan kaki contoh ketiga dari ‘poin ketiga’ pada ‘sebab kelima’ di antara sebab-sebab yang menghalangi upaya ijtihad di masa sekarang, dalam “Kalimat Kedua Puluh Tujuh”.] Pertanyaan penting: Sejumlah ulama dan ahli hakikat berkata: “Ketika lafal-lafal al-Qur’an, zikir-zikir yang ma’tsur, serta tasbih yang memiliki riwayat yang valid, menerangi seluruh sisi perangkat halus manusia serta memberinya nutrisi spiritual. Bukankah lebih baik bila setiap kaum membentuk lafal-lafal tersebut sesuai dengan bahasa mereka sehingga maknanya bisa dipahami? Pasalnya, lafal semata tidak bisa memenuhi maksud yang dituju karena ia hanya merupakan bungkus?” Jawaban: lafal al-Qur’an dan tasbih dari Nabi r bukan pakaian atau bungkus yang mati yang bisa diganti dan diubah. Ia


590

AL-MAKTÛBÂT

seperti kulit hidup bagi tubuh. Bahkan ia benar-benar seperti kulit yang hidup seiring perjalanan waktu. Tidak bisa dibantah bahwa mengganti dan mengubah kulit, pasti berbahaya bagi tubuh. Selanjutnya, lafal yang penuh berkah dalam shalat, zikir, dan azan sudah menjadi sebuah nama dan identitas bagi maknanya secara ‘urfi ataupun syar’i. Sementara itu, nama dan identitas tersebut tidak bisa diganti. Aku bisa sampai pada hakikat ini setelah melakukan refl eksi dan penelaahan terhadap satu kondisi yang terjadi pada diriku: Ketika di hari arafah aku membaca surah al-Ikhlas seratus kali secara berulang-ulang, aku memperhatikan bagaimana sebagian indera batinku yang halus merasa jenuh setelah mendapatkan nutrisi secara terus-menerus. Daya pikirku tertuju pada maknanya. Namun sesudah itu ia berhenti dan jenuh. Qalbu yang ikut merasakan sejumlah makna ruhiyah juga mulai terdiam. Berbeda halnya ketika tekun dan terus membaca. Sejumlah indera tersebut tidak cepat bosan. Ia tidak dipengaruhi oleh kealpaan yang mempengaruhi daya pikir. Namun ia dapat terus mengambil bagiannya tanpa perlu mendalami dan merenungkan maknanya. Sebab, makna umum yang menjadi perlambangnya sudah cukup serta makna global dari lafalnya yang kaya sudah memadai. Barangkali ia akan mendatangkan rasa jenuh ketika proses tafakkur mulai mengarah kepada maknanya. Pasalnya, berbagai perangkat halus tersebut tidak membutuhkan pembelajaran dan pemberian pemahaman sebanyak kebutuhannya terhadap peringatan, pengarahan, dan dorongan. Oleh karena itu, lafal yang serupa dengan kulit itu cukup untuk berbagai perangkat halus tersebut dan cukup untuk menunaikan fungsi maknanya. Terutama karena lafal berbahasa Arab tersebut menjadi sumber limpahan karunia ilahi yang permanen. Pasalnya, ia mengingatkan pada kalam dan perkataan ilahi. Kondisi yang kualami ini menjelaskan kepada kita bahwa ungkapan azan, tasbih shalat, surah al-Ikhlas dan al-Fatihah, yang selalu berulang, dengan bahasa manapun selain bahasa Arab sangat berbahaya. Sebab, perangkat yang permanen itu tetap tidak


Surat Kedua Puluh Enam

591

bisa mendapatkan bagiannya setelah kehilangan sumber hakiki yang bersifat permanen yang tidak lain berupa lafal ilahi dan nabawi. Di samping itu, paling tidak sepuluh pahala pada setiap hurufnya menjadi hilang. Lalu karena tidak ada tumakninah dan kehadiran qalbu bagi setiap orang dalam shalat, maka ungkapan buatan manusia yang sudah diterjemahkan itu di saat lalai hanya menebarkan kegelapan dalam jiwa, serta berbagai bahaya lain yang sejenis. berkata bahwa Ya, sebagaimana Imam Abu Hanifah merupakan lambang atau simbol tauhid, demikian pula kita mengatakan bahwa sebagian besar kalimat tasbih, zikir, terutama azan, shalat, dan zikir sudah seperti nama dan simbol. Ia lebih mengarah kepada makna urfnya yang bersifat syar’i daripada kepada makna bahasanya. Karena itu, ia sama sekali tidak mungkin diganti. Adapun maknanya yang harus dipahami oleh setiap mukmin, maka setiap orang awam dapat memahami dan mempelajari maknanya secara umum dalam waktu singkat. Bagaimana mungkin dimaklumi seorang muslim yang menjalani hidupnya dengan memikirkan banyak hal yang tak penting, namun tidak mau mempergunakan sedikit waktunya untuk memahami makna-makna itu di mana ia merupakan kunci bagi kehidupan dan kebahagiaan abadinya. Bahkan bagaimana mungkin ia bisa dikatakan sebagai muslim dan bagaimana ia akan disebut sebagai orang berakal? Logiskah jika lafal yang merupakan tempat penyimpanan sumber cahaya tersebut rusak lantaran sikap lambat orang-orang malas itu? Selanjutnya, ketika seorang mukmin, yang berbicara deia sadar bahwa ngan bahasa manapun, mengucap dirinya sedang menyucikan Tuhan. Tidakkah ini sudah cukup?! Namun bila ia memfokuskan perhatian pada makna semata lewat bahasanya sendiri, ia hanya belajar sesuai dengan pemikiran dan akalnya, di mana hal itu mengambil bagiannya dan mendapat pemahaman satu kali. Namun jika ia mengulang-ulang kalimat penuh berkah itu lebih dari seratus kali, maka di samping pemahaman logis tersebut, makna global yang masuk ke dalam


592

AL-MAKTÛBÂT

lafal dan bercampur di dalamnya melahirkan cahaya dan limpahan karunia yang sangat banyak. Terutama, karena lafal berbahasa Arab itu memiliki kedudukan penting, suci, dan bercahaya di mana ia merupakan kalam ilahi. Ringkasnya, lafal mana pun tidak mungkin bisa menggantikan kedudukan lafal al-Qur’an tersebut di mana ia merupakan sumber ajaran agama yang fundamental. Sama sekali tidak ada lafal lain yang bisa menggantikan posisinya. Tidak ada yang bisa menunaikan tujuannya karena kedudukannya yang suci, tinggi, dan abadi, meskipun mungkin untuk sementara waktu bisa menunaikan sebagian kecil darinya. Adapun lafal-lafal suci yang tidak termasuk pokok ajaran, juga tidak perlu diganti. Sebab, kebutuhan terhadapnya terpenuhi dengan tekun dalam memberikan nasihat, bimbingan, dan wejangan. Kesimpulan: Integralitas dan keluasan bahasa Arab yang fasih, serta penjelasan lafal al-Qur’an yang merupakan mukjizat menghalangi upaya proses penerjemahan lafal yang ada. Karena itu, ia sama sekali tidak mungkin diterjemahkan. Bahkan ia mustahil. Siapa yang masih ragu tentang hal ini bisa merujuk kepada “Kalimat Kedua Puluh Lima” yang berbicara tentang mukjizat al-Qur’an agar ia bisa melihat kedudukan ayat al-Qur’an lewat kemukjizatannya, cabang-cabangnya, integralitasnya, keindahannya, dan maknanya yang mulia. Ini tidak bisa didapat pada bentuk terjemahan yang maknanya ringkas, bahkan cacat dan tidak sempurna.

Persoalan Kesembilan (Persoalan Penting dan Khusus yang Menyingkap Salah Satu Rahasia Kewalian) Kalangan haq dan istiqamah yang disebut dengan ahlu sunnah wal jamaah di mana mereka yang mewakili kelompok mayoritas umat Islam telah menjaga sejumlah hakikat al-Qur’an dan iman dalam wilayah istiqamah dengan sikap mereka yang mengikuti seluruh sunnah yang mulia, tanpa pengurangan atau penambahan. Dari kelompok inilah kemudian bermunculan sebagian besar wali yang salih. Namun tampak wali lain di jalan yang ber-


Surat Kedua Puluh Enam

593

beda dengan prinsip-prinsip ahlu sunnah wal jamaah, dan di luar sebagian ketentuannya. Karena itu, orang-orang yang mencermati keberadaan para wali tersebut terbagi dalam dua kelompok: Pertama, kelompok yang mengingkari kewalian dan kesalehan mereka. Hal itu karena mereka meniti jalan yang berbeda dengan prinsip ahlu sunnah wal jamaah. Bahkan, kelompok ini melakukan pengingkaran yang sangat jauh dengan mengafi rkan sebagian mereka. Kedua, kelompok yang mengikuti dan mengakui kewalian mereka. Karena itu, mereka berkata, “kebenaran tidak hanya terbatas pada jalan ahlu sunnah wal jamaah.” Dengan pernyataan ini, mereka membentuk satu kelompok baru dari ahli bid’ah dan tergelincir dalam kesesatan. Mereka lupa bahwa orang yang mendapat petunjuk untuk dirinya, tidak selalu bisa memberi petunjuk kepada yang lainnya. Para syekh mereka bisa dimaklumi ketika melakukan kesalahan karena mereka termasuk dalam kalangan yang tenggelam dalam kecintaan kepada Allah (majdzûb), namun tidak dibenarkan mengikuti mereka. Terdapat kelompok ketiga yang meniti jalan pertengahan. Kelompok ini tidak mengingkari kewalian dan kesalehan mereka. Akan tetapi, mereka tidak menerima jalan dan manhaj para wali tersebut. Menurut mereka, sejumlah ucapan wali yang bertentangan dengan prinsip syariat bisa bersumber dari dominasi kondisi spiritual sehingga mereka melakukan kekeliruan. Atau, ia hanya syathahât (ungkapan seorang sufi dalam kondisi dimabuk cinta) yang menyerupai hal mutasyâbihât yang makna dan maksudnya tidak dipahami. Sangat disayangkan kelompok pertama, terutama ulama ahli zahir, mengingkari kewalian banyak wali besar dengan niat untuk memelihara manhaj ahlu sunnah. Bahkan kemudian mereka terpaksa memvonis mereka sesat. Sementara kelompok lain yang mendukung para wali tadi meninggalkan jalan kebenaran dan masuk ke dalam bid’ah, bahkan sebagian mereka jatuh dalam kesesatan. Hal itu karena sikap baik sangka mereka yang berlebihan terhadap para syekh mereka.


594

AL-MAKTÛBÂT

Atas dasar itu, terdapat satu kondisi yang membuatku sering berpikir. Yaitu: Aku telah berdoa kepada Allah agar sebagian kaum yang sesat dibinasakan. Akan tetapi, kekuatan maknawi yang besar menahan doaku atas mereka. Ia menolak doa tersebut. Ia mencegahku melakukan hal semacam itu. Kemudian aku melihat bagaimana sebagian tokoh sesat itu sangat semangat melakukan kebatilan mereka dan terus menyelisihi kebenaran. Dengan kekuatan maknawi, mereka menyeret banyak orang di belakang mereka ke lembah kebinasaan dengan sangat mudah. Mereka seakan mendapat restu dalam melakukan hal itu; bukan dengan paksaan semata. Bahkan, sebagian kaum mukmin ikut dan tertipu dengan mereka karena kondisi mereka yang memiliki sisi kewalian. Maka, sebagian kaum mukmin bersikap toleran kepada mereka dan tidak melihat mereka berada dalam kerusakan yang besar. Ketika merasakan dua rahasia di atas, aku diselimuti rasa takut. Akupun berkata, “Subhanallah!, mungkinkah ada kewalian yang berada di luar jalan kebenaran? Mungkinkah ahli hakikat dan wali loyal dengan aliran sesat? Lalu di salah satu hari yang diberkahi di antara hari-hari Arafah, aku membaca surah al-Ikhlas seratus kali. Aku mengulangnya berkali-kali mengikuti tradisi keislaman yang dianggap baik. Ketika itu, hakikat berikut serta jawaban dari sebuah persoalan penting masuk ke dalam qalbuku dari rahmat ilahi lewat keberkahan bacaan Qur’an tersebut: Hakikat yang dimaksud adalah bahwa sebagian para wali meskipun terlihat memiliki kearifan dan petunjuk, serta memiliki pertimbangan akal yang rasional namun mereka majdzĂťb (ekstase). Mereka seperti Jibali Baba yang kisahnya terdapat di masa Sultan Muhammad al-Fatih; sebuah kisah terkenal yang mengandung pelajaran. 506 506 Dikisahkan bahwa seorang wali salih yang disebut Jibali Baba tinggal di Konstantinopel. Ia sangat mencintai penduduknya yang beragama nasrani. Mereka pun mencintainya, terutama anak-anak mereka. Ia sangat mengasihi mereka. Ketika Sultan Muhammad al-Fatih mengepung kota tersebut, sang wali salih tersebut berdoa kepada Allah agar peluru Sultan tidak mengenai sasaran serta agar anak-anak kecil diselamatkan. Ternyata benar, kota tersebut tidak segera bisa dikuasai. Sultan


Surat Kedua Puluh Enam

595

Sebagian wali lain, meskipun mereka berada dalam wilayah rasional, sadar, dan mendapat petunjuk, namun kadangkala mereka berada dalam kondisi di luar nalar dan tidak rasional. Sebagian dari kelompok ini merupakan kalangan yang rancu. Yakni, persoalannya menjadi kabur bagi mereka sehingga tidak bisa membedakan. Persoalan tertentu yang mereka lihat di saat ekstase (tidak sadar) mereka terapkan pada kondisi sadar. Akibatnya, mereka melakukan kekeliruan tanpa sadar kalau mereka keliru. Adapun kalangan majdzûb, sebagian dari mereka mendapat penjagaan di sisi Allah di mana mereka tidak tersesat, namun sebagian lain tidak mendapat penjagaan. Barangkali mereka berada dalam lingkungan ahli bid’ah dan sesat. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan mereka berada dalam barisan orang-orang kafi r. Begitulah. Karena mereka majdzûb, entah bersifat temporer atau permanen, mereka seperti orang gila yang baik dan diberkahi. Artinya, hukum tidak bisa diterapkan kepada mereka. Karena gila, mereka bebas tidak mendapat beban taklif. Karena tidak mendapat taklif, mereka tidak mendapat hukuman atas tindakan mereka. Meskipun kewalian mereka yang bersifat majdzub itu terlindungi, mereka loyal kepada kalangan ahli bid’ah dan sesat sehingga mengembangkan cara-cara kalangan ahli bid’ah tersebut sampai pada tingkat di mana mereka menjadi sebab buruk bagi masuknya sebagian mukmin dan ahlul haq kepada kehidupan ahli bid’ah tadi.

Persoalan Kesepuluh [Persoalan ini ditulis karena permintaan sejumlah sahabat untuk membuat sebuah prinsip bagi para pengunjung yang ingin menemuiku.] Perlu diketahui oleh semua bahwa di antara yang mengunjungi kami, ada yang datang untuk urusan dunia. Hanya saja pintu tersebut tertutup. meminta arahan dari gurunya, Ak Syamsuddin; seorang alim yang mengamalkan ilmunya dan wali yang salih. Ak Syamsuddin pun berdoa untuk mendapat kemenangan. Sementara Jibali Baba berdoa sebaliknya. Hal itu membuat Ak Syamsuddin berdoa agar Jibali Baba binasa sehingga kemenangan segera terwujud. Tidak lama kemudian, Jibali Baba wafat dan Konstanstinopel berhasil ditaklukkan.


596

AL-MAKTÛBÂT

Ada pula yang datang untuk urusan akhirat. Terkait dengan itu terdapat dua pintu: pertama, seseorang yang menganggap diriku sebagai orang yang diberkahi dan mempunya maqam di sisi Allah, karena itu ia datang. Pintu ini juga tertutup. Pasalnya, aku tidak ujub dengan diriku dan tidak senang dengan orang yang kagum padaku. Alhamdulillah aku tidak dijadikan orang yang mengagumi diri sendiri. Adapun yang kedua, seseorang yang datang padaku karena aku sebagai pelayan dan penjaja al-Qur’an sekaligus sebagai penyeru kepadanya. Selamat datang kuucapkan bagi yang datang kepada kami lewat pintu ini. Mereka ini juga terdiri dari tiga jenis. Ada yang merupakan sahabat, saudara, dan ada yang merupakan murid. Ciri dan syarat sahabat adalah memberikan dukungan yang serius atas pengabdian kami dalam menyebarkan cahaya al-Qur’an (Risalah Nur); tidak condong kepada kebatilan, bid’ah, dan kesesatan; serta berusaha untuk memberi manfaat kepada dirinya sendiri. Ciri dan syarat saudara adalah mengerahkan upaya yang sungguh-sungguh untuk menyebarkan Risalah Nur, serta ia menunaikan salat lima waktu dan menghindari tujuh dosa besar. Ciri dan syarat murid adalah menganggap Risalah Nur seolah-olah karya tulisnya sendiri; menganggap secara khusus diperuntukkan baginya sehingga membelanya seolah-olah miliknya sendiri; serta menganggap penyebaran dan pengabdian terhadap Risalah Nur merupakan tugas hidup yang paling mulia. Tiga tingkatan tersebut terkait dengan tiga sisi pribadiku. Sahabat terkait dengan diri pribadiku. Saudara terpaut dengan sosok pribadiku sebagai hamba, yakni sosok yang menunaikan tugas ubudiyah kepada Allah I. Murid terkait dengan diriku dilihat dari keberadaanku sebagai penyeru dan penjaja sekaligus sebagai pembimbing kepada al-Qur’an. Relasi semacam ini melahirkan tiga buah: Pertama, ia mengambil permata al-Qur’an sebagai pelajaran dariku atau dari Risalah Nur yang merupakan penyeru kepada alQur’an meski hanya satu pelajaran.


Surat Kedua Puluh Enam

597

Kedua, ia ikut mendapatkan ganjaran ukhrawi bersamaku. Ini dilihat dari sisi ubudiyah kepada Allah I. Ketiga, kita sama-sama mengharap rahmat ilahi di mana hati ini terpaut dan saling mendukung dalam khidmah al-Qur’an sekaligus mengharap taufi k dan hidayah dari-Nya. Jika ia sebagai murid, ia hadir pada setiap pagi bersamaku dengan namanya, dan kadangkala dengan khayalannya. Jika ia sebagai saudara, ia hadir pada sejumlah momen bersamaku dalam doaku dengan namanya dan gambarannya sehingga ia ikut mendapatkan pahala dan doa. Kemudian ia tergabung bersama seluruh saudara yang lain, lalu kuserahkan ia kepada rahmat ilahi. Sebab, ketika dalam doa aku mengucap “Ikhwati wa ikhwâni (saudara-saudariku),â€? ia termasuk dari mereka. Meski aku pribadi tidak mengenalnya, rahmat ilahi lebih mengetahui dan lebih melihat. Jika ia sebagai sahabat, ia termasuk dalam doaku dengan kedudukannya sebagai saudara secara umum selama ia menunaikan kewajiban dan menjauhi dosa besar. Aku juga berharap dari ketiga tingkatan di atas agar memasukkanku sebagai bagian dari doa dan pahala mereka.


598

AL-MAKTÛBÂT

Ya Allah, Dzat Yang Mengabulkan doa Nuh dalam dakwanya; Yang memenangkan Ibrahim atas musuhnya; Yang mengembalikan Yusuf ke Ya’qub; Yang menyembuhkan penyakit Ayyub; Yang mengabulkan doa Zakariya; dan Yang mengampuni Yunus ibn Matta. Dengan rahasia pemilik doa-doa yang mustajab tersebut, kami memohon: Lindungi aku dan penyebar risalah ini berikut teman-teman mereka dari kejahatan setan golongan manusia dan jin; beri kami kemenangan atas musuh kami; jangan serahkan kami kepada diri kami; lapangkan dada kami dan dada mereka; sembuhkan penyakit hati kami dan hati mereka. Amin, amin, amin!

‫٭٭٭‬


SURAT KEDUA PULUH TUJUH Surat ini berisi sejumlah risalah yang baik dan indah serta berisi hakikat. Ia disusun oleh penulis Risalah Nur dan dikirim ke beberapa orang muridnya. Di samping sejumlah risalah yang dikirim oleh tullabunnur kepada guru mereka, kadangkala sebagian mereka mengirim kepada sebagian yang lain. Dalam risalah tersebut mereka mengungkapkan berbagai perasaan mulia yang mereka dapat dari hasil penelaahan terhadap Risalah Nur. Karena itu, tulisan ini begitu kaya dengan risalah-risalah tersebut. Ukurannya lebih besar tiga atau empat kali dari buku ini. Karenanya, ia akan diterbitkan dalam buku tersendiri dengan judul al-Malâhiq (Kumpulan Lampiran). Ia berupa lampiran Barla, lampiran Kastamonu, dan lampiran Emirdag.

‫٭٭٭‬


SURAT KEDUA PULUH DELAPAN (Surat ini Berisi delapan persoalan)

PERSOALAN PERTAMA (Risalah Pertama)

“Jika kamu memang dapat menakwilkan mimpi.” (QS. Yûsuf [12]: 43). Kedua: saudaraku, engkau memintaku untuk menjelaskan mimpimu dulu tiga tahun yang lalu. Tiga hari setelah engkau bertemu denganku, takwilnya sudah terlihat. Tidakkah layak bagiku untuk mengomentari dan menjelaskan makna dari mimpi indah penuh berkah yang memberikan kabar gembira dan telah berlalu itu: Aku adalah pelayan mentari yang meriwayatkan pembicaraannya Lalu mengapa aku harus meriwayatkan pembicaraan malam507 Khayalan yang merupakan tali sepatu para wali adalah cermin yang memantulkan wajah bersinar di taman ilahi508 Ya, saudaraku, kita sudah terbiasa bersama-sama menelaah pelajaran hakikat murni. Karena itu, mengkaji mimpi―yang pintunya terbuka bagi berbagai khayalan―secara ilmiah tidak sejalan dengan metode penelitian ilmiah secara utuh. Akan tetapi, 507 508

Al-Maktûbât karya Imam Rabbani, jilid 1, maktub 130; jilid 2, maktub 58. Syair karya Jalaluddin Rumi, jilid 1/hal 3, cetakan Bombay 1310 H.


602

AL-MAKTÛBÂT

terkait dengan kejadian parsial di saat tidur tersebut, kami akan menjelaskan enam nuktah yang membahas tentang tidur yang merupakan saudara kembar kematian. Kami akan menjelaskannya secara ilmiah berdasarkan sejumlah kaidah dan prinsip yang terambil dari hakikat dalam bentuk yang dijelaskan oleh ayat-ayat al-Qur’an. Pada bagian ketujuh, kami ketengahkan sebuah takwil singkat dari mimpimu.

Nuktah Pertama: Banyak ayat dalam al-Qur’an seperti:

“Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,” (QS. an-Naba [78]: 9). Juga, mimpi yang dialami oleh Yusuf di mana ia menjadi landasan penting surat Yusuf, semua itu menjelaskan berbagai hakikat agung yang tersembunyi di balik tidur dan mimpi.

Nuktah Kedua: Ahli hakikat tidak mau menarik kesimpulan “rasa optimis” dari al-Qur’an, serta tidak mau bergantung pada mimpi. Pasalnya, al-Qur’an al-Hakim sering mengancam kaum kafi r dengan ancaman sangat keras. Kadang orang yang “optimis” dengan alQur’an menghadapi ayat-ayat ancaman yang keras tersebut sehingga membuatnya pesimis. Begitu pula dengan mimpi. Kadang ia muncul dalam bentuk yang berlawanan dengan realita dan kenyataan sehingga manusia menganggapnya buruk meski sebetulnya baik. Hal itu membuatnya berprasangka buruk dan putus asa, serta meruntuhkan kekuatan morilnya. Banyak mimpi yang secara lahiriah tampak menakutkan, berbahaya, dan buruk. Namun takwilnya sangat baik dan maknanya bagus. Nah, karena manusia tidak mampu menemukan relasi antara gambaran mimpi dan hakikat maknanya, iapun merasa cemas, sedih, dan gundah tanpa alasan yang jelas. Karena itu, di awal pembahasan aku berkata seperti ucapan Imam Rabbani dan kalangan ahli dalam penelitian ilmiah:


Surat Kedua Puluh Delapan

603

Aku adalah pelayan mentari yang meriwayatkan pembicaraannya...

Nuktah Ketiga: Dalam hadis sahih disebutkan bahwa mimpi yang benar adalah satu dari empat puluh bagian kenabian. 509 Artinya, mimpi yang benar itu adalah suatu kebenaran. Ia memiliki relasi dengan misi kenabian. Persoalan ketiga ini sangat penting, panjang, dan mendalam. Ia memiliki relasi dengan sejumlah tugas kenabian. Karena itu, kami tangguhkan pada waktu yang lain. Kita tutup bab ini sampai di sini.

Nuktah Keempat: Mimpi ada tiga jenis. 510 Dua di antaranya termasuk dalam Z$# " [ “mimpi kosong” seperti yang al-Qur’an ungkapkan. Keduanya tidak layak ditakwil dan tidak penting meskipun memiliki makna. Pasalnya, bisa jadi mimpi terjadi karena gambaran yang dilahirkan oleh kekuatan khayalan manusia yang mengalami suatu kecenderungan. Atau bisa pula terjadi karena lintasan khayalan atas sebuah peristiwa menakjubkan yang pernah dilihat seseorang di waktu siang, sehari sebelumnya, atau bahkan setahun atau dua tahun yang lalu. Hal itu tergambar dalam khayalannya lalu diberi bungkus tertentu. Kedua jenis mimpi tersebut termasuk “mimpi kosong” yang tak layak ditakwil. Adapun jenis yang ketiga adalah mimpi yang benar (ru’ya shâdiqah). Perangkat Rabbani yang terdapat dalam substansi manusia memiliki relasi dengan alam gaib. Ia membuka celah yang mengarah kepadanya setelah indera dan perasaan yang terikat dengan alam nyata terputus serta setelah ia tidak bekerja. Lewat celah tadi, perangkat Rabbani tersebut melihat berbagai peristiwa yang akan terjadi. Bisa jadi seseorang menerima kilau lauhil mahfudz atau model-model tulisan takdir sehingga dapat melihat sejumlah peristiwa yang sebenarnya. Hanya saja, kadang khayalan 509 at-Tirmidzi, ar-Ru’ya 6; at-ayâlisi, al-Musnad hal 147; Abu Ya’la, al-Musnad 12/63; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 19/205. 510 Lihat: al-Bukhari, at-Ta’bir 26; Muslim, ar-Ru’ya 6.


604

AL-MAKTÛBÂT

berbuat sesuatu pada kejadian tersebut seraya membingkainya dengan pakaian tertentu. Mimpi seperti ini memiliki banyak ragam dan tingkatan. Kadangkala peristiwanya persis seperti yang dilihat seseorang. Kadangkala peristiwanya tampak di balik tirai halus. Kadangkala pula ia tersembunyi di balik tirai yang tebal. Dalam hadis sahih disebutkan, “Mimpi yang dilihat oleh Rasul r pada permulaan turunnya wahyu adalah jelas, benar, dan terang seperti fajar subuh.”511

Nuktah Kelima: Mimpi yang benar merupakan ekspresi dari adanya kelebihan pada kekuatan insting atau fi rasat (perasaan akan terjadinya sesuatu). Perasaan ini terdapat pada setiap manusia, baik secara parsial maupun universal, bahkan terdapat pada hewan. Pada satu waktu, aku menemukan bahwa terdapat dua indera dalam diri manusia dan hewan di luar indera lahir dan batin. Keduanya adalah indera yang bisa merasakan sesuatu sebelum terjadi, yaitu indera sâiqah (penggiring) dan indera syâiqah (perindu) seperti indera melihat dan mendengar di antara indera yang sudah dikenal. Dengan kata lain, yang satu menggiring dan yang lain membuat rindu. Karena kebodohan kalangan sesat dan fi lsuf, mereka secara keliru menyebut kedua indera tadi sebagai “insting alamiah”. Tidak! Ia bukanlah insting alamiah. Namun ia sejenis ilham fi tri yang ditetapkan oleh takdir ilahi pada manusia dan hewan. Misalnya: kucing dan hewan yang lainnya, ketika tidak bisa melihat, maka dengan insting yang Allah berikan, ia akan mencari jenis tanaman tertentu dan meletakkannya di matanya sehingga bisa sembuh dari penyakitnya. Begitu pula dengan burung elang dan burung pemangsa daging lainnya di mana mereka laksana petugas kesehatan yang bertugas membersihkan permukaan bumi dari bangkai hewan. Burung tersebut dapat mengetahui keberadaan bangkai hewan 511 Lihat: al-Bukhari, bab bad`ul wahy 3, Tafsir Surah al-Alaq 1, at-Ta’bir 1; Muslim, bab al-Iman 252.


Surat Kedua Puluh Delapan

605

sejarak perjalanan satu hari. Hal itu bisa dilakukan lewat insting dan fi rasat (perasaan akan terjadinya sesuatu). Demikian juga dengan anak lebah yang baru berusia satu hari. Ia bisa terbang ke jarak perjalanan satu hari di udara lalu kembali ke sarangnya tanpa kesasar. Hal itu terjadi berkat insting serta ilham yang menggiring dan mendorong tersebut. Bahkan setiap orang pasti pernah mengalami banyak kejadian berulang. Ketika menyebut atau mengingat nama seseorang, tiba-tiba orang tersebut datang tanpa mereka prediksi kedatangannya. Sehingga dalam pepatah Kurdi disebutkan: Ketika engkau menyebut serigala, siapkan tongkat! Karena serigala itu datang. Artinya, perangkat halus (latifah) rabbani tersebut bisa merasakan kedatangan orang tersebut secara global. Namun karena tidak disertai dengan sentuhan akal, ia tergiring untuk menyebut orang itu tanpa sengaja. Ahli fi rasat menafsirkan hal tersebut seperti sebuah karamah. Bahkan diriku juga memiliki kondisi seperti itu dalam bentuk yang istimewa. Aku pernah berkeinginan untuk meletakkan kondisi tersebut dalam satu kaidah seraya menetapkannya dalam sebuah hukum. Namun aku tidak mendapat taufi k dan tidak mampu melakukannya. Yang jelas, pada orang bertakwa, orang salih, terutama para wali yang mulia, perasaan tersebut semakin kuat serta memperlihatkan jejak yang berhias karamah. Begitulah, dalam mimpi yang benar terdapat satu jenis dari kewalian bagi orang awam. Pasalnya, di dalamnya mereka melihat sejumlah perkara masa mendatang dan perkara gaib seperti yang dilihat oleh para wali. Dilihat dari sisi mimpi yang benar, tidur laksana salah satu tingkatan kewalian bagi orang awam, sebagaimana ia juga merupakan tempat rekreasi yang indah bagi mereka guna melihat sejumlah tayangan ilahi, seperti tayangan fi lm. Hanya saja, orang yang memiliki akhlak baik, ia akan berpikir secara baik pula. Ia melihat sejumlah tayangan dan pemandangan yang indah. Ber-


606

AL-MAKTÛBÂT

beda dengan orang berakhlak buruk. Yang tergambar selalu sesuatu yang buruk. Karena itu, ia hanya melihat pemandangan yang jelek dan buruk. Selain itu, tidur merupakan jendela alam nyata yang mengarah ke alam gaib. Ia adalah medan yang bebas bagi manusia yang terikat dan fana. Ia memperoleh satu jenis keabadian sehingga masa lalu dan masa mendatang sama seperti masa sekarang. Tidur juga merupakan tempat istirahat bagi makhluk bernyawa yang berada dalam himpitan kesulitan dan beban hidup yang berat. Karena sejumlah rahasia di atas dan yang sejenisnya, alQur’an menjelaskan hakikat tidur dalam sejumlah ayat. Misalnya dalam fi rman-Nya:

“Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS. an-Naba [78]: 9).

Nuktah Keenam: poin ini sangat penting. Aku sangat yakin dan telah terbukti lewat sejumlah pengalaman hidup yang kualami bahwa mimpi yang benar merupakan bukti nyata bahwa takdir ilahi mencakup segala sesuatu. Bagiku, mimpi tersebut―terutama dalam beberapa tahun belakangan―telah sampai pada tingkatan pasti dan yakin. Pasalnya, di suatu malam aku bermimpi melihat dialog paling sederhana, muamalah biasa, serta urusan kecil yang akan terjadi di esok hari. Di malam hari aku melihatnya secara langsung dengan mataku. Namun ia tak terucap oleh lisan. Dari sana aku yakin bahwa mimpi telah tertulis dan telah ditentukan sebelum ia terjadi. Pengalaman yang pernah terjadi padaku ini tidak sedikit dan tidak hanya sekali. Ia juga tidak hanya terjadi seratus kali. Namun ribuan kali. Bahkan dalam tidur aku bermimpi melihat sejumlah orang yang tak pernah terpikirkan dan sejumlah masalah yang tidak pernah terlintas dalam benak. Tiba-tiba orang-orang itu terlihat olehku di siang harinya. Perkara tersebut sering terjadi meski sedikit ada yang ditakwilkan. Artinya, peristiwa terkecil dari sekian banyak peristiwa terikat dan tercatat dalam takdir


Surat Kedua Puluh Delapan

607

ilahi sebelum ia terjadi. Ia bukanlah sebuah kebetulan. Berbagai peristiwa tersebut tidak terjadi tanpa kendali dan secara acak .

Nuktah Ketujuh: Takwil mimpimu yang memberikan kabar gembira dan penuh berkah merupakan satu kebaikan bagi kita dan khidmah alQura’n. Zaman telah dan senantiasa menakwilkan mimpi tersebut. Untuk itu, kami tidak perlu lagi menakwilkannya. Apalagi sebagian takwilnya sudah terlihat dalam realitas nyata. Kalau engkau mencermati, engkau akan mengetahui hal tersebut. Hanya saja, kami ingin menunjukan sebagian poinnya. Dengan kata lain, kami ingin menjelaskan salah satu hakikatnya. Peristiwa yang merupakan bagian dari hakikat mimpi adalah cerminan dari hakikat tersebut. Yaitu bahwa medan yang luas itu adalah dunia Islam. Sementara masjid yang berada di ujungnya merupakan wilayah Isparta. Air keruh yang berlumpur adalah kubangan saat ini yang terkena polusi kemaksiatan, kemalasan, dan bid’ah. Engkau sampai ke masjid dengan selamat tanpa terkena polusi. Hal itu menunjukkan bahwa engkau akan selamat dari lumpur, hatimu tidak rusak, dan meraih limpahan cahaya al-Qur’an sebelum yang lain. Adapun segelintir jamaah yang terdapat di masjid adalah para pengemban Risalah Nur seperti Haqqi, Khulusi, Sabri, Sulaiman, Rusydi, Bakir, Mustafa, Ali, Zuhdi, Lutfi , Khusrev, dan Ra’fat. Kursi kecilnya adalah kampung kecil seperti Barla. Lalu suara nyaringnya merupakan isyarat yang menunjukkan kekuatan Risalah Nur dan penyebarannya yang cepat. Kedudukan yang diberikan padamu di barisan pertama adalah posisi yang ditinggalkan oleh Abdurrahman. Jamaah yang menyerupai perangkat nirkabel menunjukkan penyebaran pelajaran iman ke seluruh penjuru dunia. Takwilnya akan terlihat dengan sempurna di masa mendatang insya Allah. Pasalnya, personil dari jamaah tersebut saat ini seperti benih kecil dan dengan izin Allah mereka akan menjadi seperti pohon besar dan pusat dakwah. Selanjutnya, pemuda yang memakai sorban itu adalah simbol pemuda yang berada di barisan penyebar dan tullabunnur.


608

AL-MAKTÛBÂT

Ia akan sejajar dengan Khulusi, bahkan bisa mengunggulinya. Kukira ia adalah salah seorang dari mereka, namun aku tidak bisa memastikan. Pemuda tersebut akan terlihat di lapangan dengan kekuatan kewalian. Adapun poin yang masih tersisa, engkau bisa menjelaskannya sebagai ganti dari diriku. Berbicara dengan sahabat sepertimu, meski dalam waktu yang panjang, sangat nikmat dan menyenangkan. Karena itu, aku menerangkan masalah singkat ini dengan panjang lebar. Barangkali aku berlebihan di dalamnya. Akan tetapi karena aku membahasnya dengan niat menjelaskan tafsir ayat-ayat al-Qur’an yang terkait dengan tidur, semoga pembahasan yang panjang tersebut insya Allah bisa dimaklumi dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan.

PERSOALAN KEDUA (Risalah Kedua)

Risalah ini ditulis untuk memecahkan persoalan yang ada sekaligus menyudahi diskusi tentang hadis Nabi 512r bahwa Nabi Musa telah memukul mata malaikat Izrail . Aku mendengar bahwa telah terjadi debat ilmiah di Egridir.513 Menurutku debat tersebut keliru, terutama pada saat sekarang ini. 512

Teks hadis yang menjadi bahan perdebatan adalah sebagai berikut:

Abu Hurairah d berkata, “Suatu hari malaikat maut diutus kepada Musa . Ketika menemuinya, Nabi Musa memukul matanya. Maka malaikat maut kembali kepada Tuhan dan berkata, ‘Engkau telah mengutusku kepada hamba yang tidak menginginkan mati.” Lalu Allah menyembuhkan matanya (yang terluka karena pukulan Musa) seraya berfi rman, ‘Kembalilah kepada Musa dan katakan kepadanya agar dia meletakkan tangannya di atas punggung sapi jantan. Maka bulu sapi yang tertutup oleh tangannya itulah sisa umurnya, satu bulu satu tahun.’ Musa berkata, ‘Wahai Tuhan, setelah itu apa?’ Allah berfi rman, ‘Kematian.’ Musa berkata, ‘Sekaranglah waktunya.’ Kemudian Nabi Musa memohon kepada Allah agar didekatkan dengan tanah suci dalam jarak sejauh lemparan batu. Abu Hurairah d berkata, Rasulullah r bersabda, ‘Seandainya aku di sana, pasti akan aku tunjukkan kuburnya kepada kalian yang ada di pinggir jalan, di bawah tumpukan pasir merah.’” (HR. al-Bukhari, dalam bab al-Jana’iz 68, al-Anbiya 31; dan Muslim, dalam bab al-Fadha’il 157). 513 Salah satu kecamatan di provinsi Isparta, dekat Barla tempat pengasingan Ustadz Nursi.


Surat Kedua Puluh Delapan

609

Aku tidak mengetahui perihal debat tersebut. Namun aku termasuk yang ditanya tentangnya. Mereka memperlihatkan padaku sebuah hadis Nabi r yang terdapat dalam kitab terpercaya. Hadis tersebut ditandai dengan simbol qaf untuk menunjukkan bahwa riwayatnya muttafaq alayh (HR. Bukhari dan Muslim). Mereka menanyakan apakah ia hadis Nabi atau bukan? Kukatakan pada mereka, “Ya, ia adalah hadis Nabi. Kalian harus bersandar dan percaya pada hadis yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim tersebut. Hanya saja, sebagaimana dalam al-Quran terdapat ayat-ayat mutasyabihat, begitupun dalam hadis Nabi juga terdapat yang mutasyabihat. Maknanya yang benar hanya diketahui oleh ulama khawas.� Kutegaskan pula, “Bisa jadi lahiriah hadis itu termasuk dalam jenis mutasyabihat yang termasuk bagian dari problematika hadis.� Seandainya aku memiliki pengetahuan tentang debat seputar hadis tersebut, tentu jawabanku tidak seringkas itu. Namun aku akan menjawab sebagai berikut: Pertama, syarat utama dalam memperdebatkan persoalan semacam ini adalah: (1) Suasana harus tenang dan objektif; (2) dilakukan dengan niat mencapai kebenaran; (3) dalam nuansa yang tidak boleh mencerminkan sikap keras kepala; (4) dilakukan di antara kalangan yang ahli dalam bidangnya; (5) serta tidak menjadikannya sebagai sarana yang mengarah pada adanya kesalahpahaman. Selama memenuhi syarat-syarat di atas, berdebat tentang persoalan tersebut dan yang sejenisnya boleh dilakukan. Bukti debat dalam rangka mencari kebenaran adalah peserta debat harus objektif serta tidak boleh kecewa dan emosi ketika kebenaran tampak pada pihak yang berseberangan dengannya. Ia harus siap menerima dan tenang. Sebab, paling tidak ia telah belajar sesuatu yang sebelumnya tidak ia ketahui. Kalau kebenaran muncul dari lisannya, berarti ilmunya tidak bertambah dan bisa jadi ia jatuh pada sikap sombong.


610

AL-MAKTÛBÂT

Kedua, apabila topik debat berupa hadis Nabi r, berarti harus ada pengetahuan tentang tingkatan hadis, derajat wahyu yang bersifat implisit, dan jenis-jenis sabda Nabi r. Tidak boleh memperdebatkan hadis yang sulit dipahami di antara mereka yang awam, tidak boleh pula membela pendapatnya demi memperlihatkan keunggulannya atas yang lain, serta tidak boleh mencari dalil yang menguatkan pendapatnya ketimbang mencari kebenaran dan objektivitas. Namun karena sudah terlanjur dipermasalahkan dan sudah menjadi bahan perdebatan, maka dampak buruknya akan berimbas pada pemahaman masyarakat awam yang tidak mampu memahami hadis-hadis mutasyabihat semacam itu. Pasalnya, andai ada yang mengingkarinya berarti ia membuka pintu kebinasaan dan kerugian bagi dirinya. Sebab, sikap ingkarnya itu akan menggiringnya untuk mengingkari sejumlah hadis sahih yang lain. Sebaliknya, jika ia menerima makna lahiriah hadis serta menyebarkannya kepada orang lain, hal itu akan membuka pintu penolakan dari kalangan yang sesat terhadap hadis Nabi r disertai ucapan buruk atasnya dengan berkata, “Ia adalah khurafat.” Karena perhatian banyak orang tertuju kepada hadis Nabi yang mutasyabih tersebut tanpa ada alasan yang dibenarkan, atau bahkan mengandung bahaya; serta karena masih banyak lagi hadis-hadis lain yang mustasyabih, maka harus ada penjelasan tentang hakikat sebenarnya guna melenyapkan keraguan yang ada. Kutegaskan bahwa penjelasan tentang hakikat ini sangat penting tanpa melihat pada validitas hadisnya. Kami akan menerangkan hakikat tersebut secara global dengan mencukupkan pada sejumlah penjelasan yang telah kami sebutkan dalam berbagai Risalah Nur (di antaranya dua belas landasan pada dahan ketiga dan keempat dari “Kalimat Kedua Puluh Empat” serta landasan yang secara khusus terkait dengan jenis-jenis wahyu dalam pendahuluan “Surat Kesembilan Belas”).


Surat Kedua Puluh Delapan

611

Hakikat dari hadis tersebut adalah bahwa malaikat tidak terbatas dalam satu bentuk seperti manusia. Mereka bersifat universal meskipun memiliki kepribadian khusus. Izrail merupakan pemimpin malaikat yang bertugas mencabut nyawa. Pertanyaan: Apakah Izrail sendiri yang mencabut nyawa, atau ia memiliki pembantu yang mencabut nyawa? Jawaban: terkait dengan hal ini terdapat tiga pendekatan. yang mencabut nyawa sePendekatan Pertama: Izrail tiap orang. Aksinya di satu tempat tidak menjadi penghalang untuk melakukan aksi di tempat lain. Pasalnya, ia berasal dari cahaya. Makhluk dari cahaya dapat hadir dan menjelma di berbagai tempat lewat sejumlah cermin yang tak terbatas. Penjelmaan “makhluk dari cahaya” memiliki karakter aslinya. Ia dianggap sebagai asli; bukan bayangan. Jika penjelmaan mentari di sejumlah cermin memperlihatkan sinar dan panasnya, demikian pula penjelmaan makhluk spiritual seperti malaikat. Ia juga memperlihatkan sosoknya dalam berbagai cermin di alam mitsal. Ia adalah sosok makhluk spiritual itu sendiri; bukan yang lain. Malaikat menjelma pada sejumlah cermin sesuai dengan kapasitas penerimaan cermin tersebut. Misalnya: Ketika Jibril menjelma, di hadapan Rasul r yang sedang berada di tengah majelis, dalam sosok sahabat Dihya al-Kalbi,514 pada saat yang sama ia menjelma di ribuan tempat dalam beragam bentuk. Sebagaimana ia bersujud di bawah arasy yang agung dengan memenuhi cakrawala timur dan barat 515 lewat sayapnya yang luas, ia juga menjelma di setiap tempat sesuai dengan tingkat penerimaan tempat tersebut. Dalam satu waktu, ia bisa hadir pada ribuan tempat. Begitulah. Berdasarkan pendekatan ini, sama sekali tidak aneh, tidak luar biasa, dan sangat logis jika sosok malaikat maut yang tampak di hadapan manusia saat mencabut nyawa—sebagai contoh parsial yang berbentuk manusia—mendapatkan Lihat: al-Bukhari, al-Manaqib 25, Fadha’il al-Quran 1; Muslim, Fadha’il ash-shahabah 100. 515 Lihat: al-Bukhari, bad’ul wahy 3, Bad’ul khalq 7, tafsir surat al-Muddatstsir 3-5; Muslim, bab al-Iman 255, 257, dan 258. 514


612

AL-MAKTÛBÂT

pukulan Nabi Musa , sosok Rasul ulul azmi yang agung, lalu mata sosok jelmaan dari malaikat maut yang memakai busana tersebut tercungkil. Pendekatan Kedua: Para malaikat agung seperti Jibril, Mikail, dan Izrail f, masing-masing laksana pemimpin umum. Mereka memiliki sejumlah pembantu dari jenis mereka dan yang menyerupai mereka namun dalam tipe yang lebih kecil. Para pembantu tersebut berbeda-beda sesuai dengan jenis makhluk yang diamanahkan padanya. Malaikat yang mencabut nyawa orang salih 516 berbeda dengan malaikat yang mencabut nyawa ahli maksiat. Mereka adalah kumpulan malaikat yang beragam seperti yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an:

“Demi para malaikat yang mencabut nyawa dengan keras. Demi malaikat yang mencabut nyawa dengan lemah lembut.” (QS. an-Nâzi’ât [79]: 1-2). Berdasarkan pendekatan ini, Nabi Musa tidak memukul malaikat Izrail . Namun ia memukul salah satu malaikat pembantu Izrail. Hal itu dengan kekuatan kenabian, kebugaran tubuh, kondisi fi siknya yang besar, serta kedudukannya di sisi Tuhan Yang Mahakuasa. Dengan begitu, masalahnya menjadi sangat logis. 517 Pendekatan Ketiga: Dalam landasan keempat dari “Kalimat Kedua Puluh Sembilan” dan sesuai dengan petunjuk hadis-hadis Nabi r telah kami jelaskan bahwa ada malaikat yang Ketika, di daerah kami, seorang wali agung yang dijuluki “Sida” mengalami sakaratul maut dan didatangi oleh malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawanya, ia memohon kepada Allah seraya berteriak, “Hendaklah malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawa para penuntut ilmu yang mencabut nyawaku, aku sangat mencintai mereka.” Peristiwa tersebut disaksikan oleh mereka yang hadir saat kematiannya―Penulis. 517 Di kota kami terdapat seorang pemberani. Saat kematian akan menjemput ia berkata kepada malaikat maut, “Akankah engkau mencabut nyawaku dalam kondisiku terbaring di atas kasur?!” Iapun segera bangkit dari kasur, menaiki kudanya, lalu menghunuskan pedang. Seakan ia berada di medan jihad dan akan duel dengannya. Setelah itu, ia menyerahkan nyawanya saat berada di punggung kuda. Iapun wafat dengan terhormat.” (penulis). 516


Surat Kedua Puluh Delapan

613

memiliki 40 ribu kepala. 518 Pada setiap kepala ada 40 ribu lisan. Dengan demikian mereka juga memiliki 80 ribu mata. Setiap lisan bertasbih lewat 40 ribu tasbih. Selama malaikat bertugas sesuai dengan jenis alam nyata, sementara mereka mewakili tasbih jenis tersebut di alam arwah, maka mereka juga memiliki bentuk. Sebab, bumi misalnya, merupakan satu makhluk yang bertasbih kepada Allah. Ia memiliki 40 ribu jenis, bahkan ratusan ribu darinya di mana masing-masing sebagai kepala yang bertasbih untuknya. Setiap jenis memiliki ribuan anggota yang berposisi seperti lidah. Begitu seterusnya. Jadi, malaikat yang bertugas di bumi mesti memiliki 40 ribu kepala, bahkan ratusan ribu kepala. Serta setiap kepala memiliki ratusan ribu lisan. Demikian seterusnya. memiliki Berdasarkan pendekatan ini, malaikat Izrail wajah yang mengarah ke setiap individu dan mata yang menatap ke setiap orang. Karena itu, pukulan Nabi Musa bukan pukulan terhadap esensi pribadi Izrail dan juga bukan pada bentuk hakikinya. Di dalamnya tidak ada unsur penghinaan, serta bukan bentuk penolakan. Akan tetapi, tindakan Musa lahir dari kondisinya yang ingin tetap menunaikan tugas kerasulan. Karena itu, ia memukul mata yang mengawasi ajalnya, dan yang hendak menghentikan tugasnya di muka bumi. Wallahu a’lam. Yang mengetahui hal gaib hanya Dia.

“Katakanlah, ‘Pengetahuan tentangnya hanya di sisi Allah.’” (QS. al-Mulk [67]: 26).

518 Lihat ath-abari, Jami al-Bayan 15/156, Abu asy-Syaikh dalam alAzhamah 2/547, 740, 742, 747, dan 3/868, serta Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an 3/62.


614

AL-MAKTÛBÂT

“Dia-lah yang menurunkan al-kitab (al-Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamât. Itulah pokok-pokok isi al-qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyâbihât. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyâbihât daripadanya untuk menimbulkan fi tnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya di mana mereka berkata, “Kami beriman kepada ayatayat yang mutasyâbihât, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imrân [3]: 7).

PERSOALAN KETIGA (Risalah Ketiga)

Persoalan ini merupakan jawaban yang bersifat sangat khusus. Di dalamnya terdapat sesuatu yang bersifat rahasia mengenai pertanyaan umum yang ditanyakan oleh ikhwah secara umum, baik lewat lisan yang terucap ataupun tidak terucap. Pertanyaannya: Engkau berkata kepada setiap orang yang mengunjungimu: “Jangan mengharap perhatian dan bantuan dari diriku. Jangan pernah menganggapku sebagai orang yang diberkahi. Aku bukan orang yang memiliki kedudukan istimewa. Sebagaimana seorang prajurit menyampaikan perintah perwira tinggi, aku juga hanya menyampaikan perintah para perwira maknawi yang memiliki kedudukan tinggi. Sebagaimana orang bangkrut yang tidak memiliki apa-apa hanya berperan sebagai penjaja di toko permata yang sangat mahal, aku juga penjaja di toko yang suci, yaitu al-Qur’an al-Karim.” Seperti itulah yang engkau sampaikan kepada setiap orang yang mendatangimu. Namun akal kami membutuhkan


Surat Kedua Puluh Delapan

615

ilmu, kalbu kami menginginkan limpahan karunia, dan jiwa kami mengharap cahaya. Kami membutuhkan banyak hal lewat beragam sisi. Kami mendatangimu dengan harapan engkau bisa memenuhi kebutuhan kami. Pasalnya, kami membutuhkan sosok wali serta sosok yang memiliki tekad dan kesempurnaan ketimbang sosok alim. Jika kondisinya seperti yang kau katakan, berarti kami keliru dalam mengunjungimu.” Begitulah ungkapan lisan hal mereka. Jawaban: Simaklah lima poin berikut, lalu renungi kunjungan kalian! Apakah ia bermanfaat atau sama sekali tidak berguna? Setelah itu, silahkan dinilai sendiri! Poin Pertama Seorang pembantu atau prajurit raja yang berada di bawah komandonya menyampaikan hadiah dan medali raja kepada para komandan dan perwira tinggi sehingga membuat mereka senang. Jika para komandan dan perwira itu berkata, “Mengapa kita mau menerima anugerah dan penghargaan raja lewat tangan prajurit biasa ini?” tentu saja sikap seperti itu menunjukkan kesombongan. Sebaliknya, jika sang prajurit menjadi ujub dan tidak menghormati perwira tadi, serta merasa dirinya lebih mulia, hal itu tidak lain kecuali kebodohan. Andaikan salah seorang dari komandan itu mau pergi ke rumah sang prajurit biasa itu di mana ia hanya bisa menyuguhkan sekerat roti untuk tamunya, niscaya raja yang mengetahui kondisi pelayannya yang amanah tersebut akan mengirimkan sepiring makanan lezat dari dapurnya untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman darinya. Nah, sebagaimana kondisi pelayan raja demikian, begitu pula dengan pelayan al-Qur’an yang tulus. Betapapun ia berasal dari kalangan awam, namun ia menyampaikan pesan-pesan al-Qur’an atas nama al-Qur’an itu sendiri kepada orang paling mulia tanpa ragu-ragu. Ia menjual permata al-Qur’an yang sangat berharga kepada orang paling kaya secara ruhiyah dengan penuh percaya diri tanpa merasa hina.


616

AL-MAKTÛBÂT

Meskipun kedudukan mereka tinggi, mereka tidak boleh memperlihatkan kesombongan di hadapan pelayan sederhana tadi atas tugas yang ia tunaikan. Si pelayan juga tidak boleh menjadi sombong saat berhadapan dengan orang-orang mulia tersebut sehingga tidak melampaui batas. Ketika sebagian orang, yang tertarik pada permata al-Qur’an yang suci, memandang si pelayan sebagai sosok wali yang salih dan mengagungkannya, maka kasih sayang suci milik hakikat alQur’an sepantasnya memberi bantuan dan limpahan dari khazanah ilahi yang khusus tanpa sepengatahuan dan campur tangan si pelayan tadi. Hal itu agar pelayan sang raja tidak malu di hadapan tamunya yang mulia. Poin Kedua Imam Rabbani Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi, yang dijuluki pembaharu milenium kedua, berkata, “Tersingkapnya salah satu hakikat iman bagiku lebih utama daripada seribu dzauq dan karamah. Selain itu, hasil dan tujuan dari seluruh tarekat adalah tersingkapnya hakikat keimanan.” 519 Jika seorang tokoh besar tarekat memberikan pernyataan semacam itu, berarti al-Kalimat―yang menjelaskan secara gamblang berbagai hakikat keimanan yang merupakan percikan dari lautan rahasia al-Qur’an―dapat memberikan sejumlah hasil kewalian yang diharapkan. Poin Ketiga Tiga puluh tahun yang lalu, sejumlah “tamparan keras” mendarat di kepala “Said Lama” yang lalai. Lalu ia berpikir bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti. Ia pun merasa dirinya terperosok ke dalam kubangan lumpur. Ia meminta pertolongan dan mencari jalan keluar. Ia mencari juru selamat yang bisa meraih tangannya. Lalu ia melihat beragam jalan di hadapannya. Ia bingung dan mulai membuka kitab Futuh al-Ghayb karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani . Ia membukanya dengan rasa optimis. Di sana ia menemukan ungkapan sebagai berikut: 519

Lihat: Imam Rabbani, al-Maktûbât (maktub ke-210).


Surat Kedua Puluh Delapan

617

“Engkau berada di Darul Hikmah. Carilah dokter yang bisa mengobati hatimu...”520 Sungguh menakjubkan! Ketika itu aku adalah anggota Darul Hikmah al-Islamiyyah.521 Seolah-olah aku datang ke sana untuk mengobati luka umat Islam. Padahal aku sendiri lebih sakit dan lebih membutuhkan pengobatan dibanding yang lain. Orang yang sakit terlebih dahulu harus mengobati dirinya, sebelum mengobati orang lain. Ya, begitulah Syekh berpesan kepadaku, “Engkau sakit. Carilah dokter yang bisa mengobatimu.” “Wahai Syekh, jadilah engkau dokter bagiku,” ujarku. Akupun mulai membaca kitab tersebut. Seolah-olah ia berbicara dengan diriku pribadi. Redaksinya yang tegas menghancurkan kesombonganku. Ia pun melakukan operasi bedah yang dalam terhadap diriku. Namun aku tidak mampu. Aku merasa tidak kuat. Pasalnya, aku menganggap ucapannya tertuju padaku. Ya, begitulah ia kubaca hingga sekitar separuhnya. Aku tidak bisa menyelesaikannya. Kuletakkan kitab tersebut di lemari. Tidak lama setelah itu aku merasa bahwa pedihnya luka telah sirna digantikan oleh kenikmatan ruhiyah yang menakjubkan. Lalu aku kembali membaca kitab “guru pertamaku” itu hingga selesai. Aku mendapatkan banyak manfaat. Aku memperhatikan wirid-wiridnya yang indah dan munajatnya yang lembut hingga mendapatkan limpahan karunia. Lalu aku menemukan kitab Maktûbat karya Imam al-Faruqi as-Sirhindi, sang pembaharu milenium kedua. Dengan rasa optimis yang tulus, aku membukanya dan di dalamnya aku menemukan sesuatu yang menakjukan. Pada dua risalahnya terdapat ungkapan “Mirza Badiuzzaman”.522 Aku merasa seakan-akan ia berbicara padaku dengan menyebut namaku. Pasalnya, nama ayahku adalah Mirza. Sementara kedua risalah tersebut tertuju 520 Lihat: Abdul Qadir al-Jailani, al-Fath ar-Rabbani, majelis keenam puluh dua. Redaksi aslinya, “Wahai hamba Allah, kalian berada di Darul Hikmah. Engkau harus memiliki perantara. Mintalah kepada Tuhan seorang dokter yang bisa menyembuhkan penyakit hati kalian...” 521 Ia merupakan majelis ilmiah tertinggi yang merupakan bagian dari Dewan Ulama Islam di Daulah Utsmaniyah. 522 Imam Rabbani, al-Maktûbât jilid 1 (maktub ke-74, 75).


618

AL-MAKTÛBÂT

kepada Mirza Badiuzzaman. Dalam hati aku berkata, “Subhanallah” luar biasa! Ia berbicara langsung pada diriku. Sebab, julukan “Said Lama” adalah Badiuzzaman. Meski yang kuketahui hanya al-Hamadzâni yang hidup di abad ke-4 H yang terkenal dengan julukan tersebut. Dengan demikian, pasti ada orang selainnya yang semasa dengan Imam Rabbani as-Sirhindi di mana ia diajak bicara dengan sebutan tersebut. Dan sudah pasti kondisinya sama dengan kondisiku sehingga aku merasa menemukan obat lewat kedua risalah itu. Imam Rabbani dalam kedua risalahnya dan dalam sejumlah risalah yang lain berpesan, “Satukan kiblat!”523Maksudnya, ikutilah seorang imam dan mursyid; jangan sibuk dengan yang lain. Pesan tersebut saat itu tidak sejalan dengan potensi dan kondisi spiritualku. Aku mulai berpikir, “Mana yang harus kuikuti?! Apakah berjalan di belakang ini atau berjalan di belakang yang itu? Aku sangat bingung sebab masing-masing memiliki keistimewaan dan daya tarik tersendiri. Karena itu, aku tidak bisa merasa cukup dengan salah satu dari keduanya. Saat sedang dalam kondisi sangat bingung seperti ini, tiba-tiba lintasan pikiran ilahi yang berasal dari Allah terlintas dalam hatiku. Ia berkata kepadaku, “Permulaan seluruh jalan, sumber seluruh saluran, mentari bagi seluruh planet adalah al-Qur’an al-Karim. Jadi, penyatuan kiblat yang sesungguhnya hanya bisa terwujud lewat al-Qur’an. Pasalnya, al-Quran adalah mursyid paling utama dan guru paling suci.” Maka sejak saat itu aku berpegang teguh pada al-Qur’an. Potensiku yang terbatas tidak mampu menyerap―secara sempurna―limpahan sang mursyid hakiki yang laksana mata air salsabil dan yang membangkitkan kehidupan tersebut. Akan tetapi, berkat limpahan karunia alQur’an, kami dapat menjelaskan limpahan karunia dan mata air Bunyi redaksinya, “Karena engkau menginginkan tekad yang kuat dalam memberikan perhatian, bergembiralah karena engkau kembali dalam kondisi selamat dan mendapat keberuntungan. Akan tetapi, engkau harus memperhatikan satu syarat: menyatukan kiblat (arah) orientasi. Sebab, banyaknya arah orientasi membuat diri sang salik tidak terarah. Di antara pepatah yang terkenal, “Orang yang tinggal di satu tempat sebenarnya tinggal di setiap tempat. Namun yang berpindah-pindah di antara berbagai tempat sebenarnya tidak berada di satu tempat.” Al-Maktub ke-25 dari al-Maktubat karya Imam Rabbani 1/87. 523


Surat Kedua Puluh Delapan

619

salsabil itu kepada para pemilik kalbu dan ahwâl sesuai dengan tingkatan masing-masing. Jadi, al-Kalimât dan sejumlah cahaya yang berasal dari al-Qur’an (Risalah Nur) bukan hanya masalah ilmiah semata, tetapi juga merupakan masalah hati dan spiritual. Ia seperti ilmu dan makrifat ilahi yang sangat berharga. Poin Keempat Para sahabat, tabiin, dan pengikut tabiin f, yang memiliki derajat tertinggi dan meraih posisi kewalian terbesar (wilâyah kubrâ), seluruh perangkat halus (latîfah) mereka telah menerima bagian dari al-Qur’an secara langsung. Karena itu, al-Qur’an menjadi mursyid hakiki dan memadai bagi mereka. Ini menunjukkan bahwa sebagaimana al-Qur’an al-Hakim menjelaskan berbagai hakikat pada setiap masa, ia juga terus memberikan limpahan kewalian terbesar kepada yang layak mendapatkannya di setiap zaman. Ya, untuk menyeberang dari sisi lahir menuju hakikat hanya terwujud dalam dua bentuk: Pertama, dengan masuk ke dunia tarekat dan menempuh sejumlah tingkatan di dalamnya lewat suluk hingga mencapai hakikat. Kedua, menyeberang menuju hakikat secara langsung lewat rahmat ilahi tanpa masuk ke dalan dunia tarekat. Jalan ini bersifat khusus, istimewa, dan sangat singkat. Ia adalah jalan para sahabat dan tabiin f. Jadi, cahaya yang memancar dari hakikat al-Qur’an dan al-Kalimât yang menerjemahkan cahaya tersebut bisa memiliki keistimewaan tersebut. Bahkan ia benar-benar memilikinya. Poin Kelima Lewat lima contoh kecil, kami akan menjelaskan bahwa di samping mengajarkan berbagai hakikat al-Qur’an, al-Kalimât juga menunaikan tugas sebagai pembimbing (mursyid). Contoh Pertama: Setelah mendapatkan ribuan kali bukti dan pengalaman; bukan hanya puluhan atau ratusan kali, maka aku merasa yak-


620

AL-MAKTÛBÂT

in bahwa al-Kalimât dan cahaya yang bersumber dari al-Qur’an dapat membimbing akal dan kalbuku lewat berbagai kondisi keimanan, serta memberi nutrisi berupa dzauq imani kepada jiwaku. Begitulah yang terjadi. Sebagaimana dalam melaksanakan berbagai aktivitas duniawi aku seperti seorang murid yang menantikan bantuan dari syekhnya yang memiliki karamah, begitupun aku menantikan kebutuhanku dari rahasia al-Qur’an al-Hakim yang berisi karamah. Ia terwujud lewat cara yang tak kuduga sebelumnya. Aku akan menyebutkan dua contoh saja dari sekian contoh yang didapat lewat keberkahan rahasia al-Qur’an. Pertama: yang dijelaskan secara rinci dalam “Surat Keenam Belas”. Yaitu: diperlihatkan kepada tamuku, Sulaiman, sepotong roti besar yang terletak di atas pohon. Kami makan dari hadiah ilahi tersebut selama dua hari. (Padahal ketika itu aku tidak memiliki apa-apa untuk disuguhkan kepadanya). Kedua: persoalan yang sangat sederhana yang terjadi baru-baru ini. Yaitu: Sebelum subuh, terlintas dalam benakku bahwa pernah kusampaikan kepada seseorang sebuah ucapan yang membuat dia waswas. Ketika itu aku berkata, “Andai saja aku bertemu dengannya, tentu kulenyapkan kekhawatiran yang terdapat di hatinya.” Saat itu juga aku teringat pada satu bagian dari kitabku yang telah dikirim ke Kota Nis.524 “Andai saja aku bisa mendapatkannya,” ujarku. Setelah shalat subuh aku duduk. Tiba-tiba orang yang dimaksud datang sambil membawa bagian dari kitab yang kuinginkan. Ia datang menemuiku. Akupun bertanya: “Apa yang kau bawa?” “Aku tidak tahu. Ada yang memberikan kitab ini padaku di depan pintu. Ia datang dari Nis. Maka kubawalah buku ini kepadamu.” “Subhanallah!” ujarku dengan penuh takjub. “Keluarnya orang ini dari rumahnya dan datangnya bagian kitab al-Kalimât dari Nis bukanlah sebuah kebetulan. Ia terwujud karena bentuk 524

Pulau yang terdapat di danau Agridir, dekat Barla.


Surat Kedua Puluh Delapan

621

pertolongan al-Qur’an yang telah menyerahkan bagian kitab tersebut pada saat yang sama kepada orang tadi sekaligus mengirimkannya kepadaku. Maka, akupun banyak bersyukur kepada Allah I. Jadi, Dzat yang mengetahui keinginan kalbuku yang sederhana dan kecil melimpahkan rahmat-Nya kepadaku serta menjagaku dengan perlindungan-Nya. Karena itu, aku tidak terbebani dan tidak memikul jasa siapapun di dunia ini. Contoh Kedua: Sejak delapan tahun yang lalu, keponakanku, Abdurrahman, telah meninggalkanku. Meskipun bersentuhan dengan berbagai hal duniawi yang melenakan dan penuh syubhat, namun ia memiliki prasangka baik yang berlebihan kepadaku. Karena itu, ia memintaku untuk menolong dan membantunya dengan sesuatu yang tidak kumiliki dan tidak mampu kulakukan. Namun pertolongan al-Qur’an al-Hakim telah membantunya. Kuberikan padanya “Kalimat Kesepuluh” yang membahas tentang al-Hasyr (hari kebangkitan). Tepatnya tiga bulan sebelum ia meninggal dunia. Risalah tersebut telah berperan dalam membersihkan dirinya dari polusi maknawi serta kotoran ilusi dan syubhat. Bahkan, seakan ia telah naik ke posisi yang menyerupai kewalian. Sebab, ia memperlihatkan tiga karamah yang jelas dalam surat yang ia tulis kepadaku sebelum ia wafat. Surat tersebut kumasukkan ke dalam bagian alinea “Surat Kedua Puluh Tujuh”. Silahkan merujuk kepadanya!525 Contoh Ketiga: Aku memiliki saudara seiman dan sekaligus murid yang berhati baik dan bertakwa. Ia adalah Sayyid Hasan Afandi dari kota Burdur.526 Ia mengharapkan dukungan dan kekuatan dari orang malang ini sebagaimana berharap dari seorang wali besar. Hal itu karena prasangka baiknya yang berlebihan kepadaku. Tiba-tiba dengan serta-merta kuberikan kepada salah seorang pen525 526

Malâhiq, Mulhaq Barla. Salah satu provinsi di sebelah Barat Daya Turki.


622

AL-MAKTÛBÂT

duduk Burdur risalah “Kalimat Ketiga Puluh Dua” untuk ia baca. Kemudian aku teringat kepada Sayyid Hasan. Akupun berkata, “Jika engkau pergi ke Burdur, berikan risalah ini kepada Sayyid Hasan untuk ia baca selama beberapa hari.” Maka, orang itupun pergi. Ia langsung memberikan risalah tersebut kepada Sayyid Hasan 40 hari sebelum ajalnya datang. Ia menerima risalah itu dengan sangat antusias. Ia terus membaca dan menyerapnya seperti orang yang sedang haus terhadap mata air salsabil. Setiap kali ia menelaahnya, ia mendapatkan limpahan karunia ilahi. Iapun terus membacanya sampai menemukan sebuah obat bagi penyakitnya. Terutama dalam pembahasan mahabbatullah (Kecintaan kepada Allah) pada mauqif ketiga dari “Kalimat Ketiga Puluh Dua”. Bahkan di dalamnya ia mendapatkan limpahan karunia yang ia nantikan dari sosok wali qutub. Dalam kondisi sehat dan kuat ia pergi sendiri ke mesjid Jami lalu menunaikan shalat. Setelah itu ia meninggal di sana. Semoga Allah memberinya rahmat yang luas! Contoh Keempat: Khulusi telah menemukan kekuatan, limpahan karunia, dan cahaya dalam al-Kalimât yang merupakan tafsiran dari rahasia-rahasia al-Qur’an, melebihi apa yang ia temukan di tarekat Naqsyabandi yang merupakan tarekat terpenting dan paling berpengaruh. Kesaksiannya tersebut telah kusebutkan dalam “Surat Kedua Puluh Tujuh”. Contoh Kelima: Saudara kandungku, Abdul Majid, benar-benar sangat terpukul dengan kematian anaknya yang bernama Abdurrahman. Karena duka yang dialaminya itu, ia meminta kekuatan dan dukungan moril kepadaku yang tak mampu kupenuhi. Meskipun aku tidak biasa melakukan korespondensi dengannya, namun tiba-tiba kukirimkan ia sejumlah risalah dari al-Kalimât. Setelah dibaca, ia menulis surat yang isinya, “Alhamdulillah, aku telah selamat. Aku hampir gila. Namun berkat anugerah Allah, setiap bagian dari kitab al-Kalimât menjadi mursyid bagiku. Meski aku berpisah dengan seorang mursyid, namun aku menemukan ba-


Surat Kedua Puluh Delapan

623

nyak mursyid sehingga aku selamat, alhamdulillah.” Sementara aku mengamati kondisinya. Kulihat ia benar-benar telah masuk ke dalam satu keadaan yang indah dan selamat dari kondisi sebelumnya. Masih banyak lagi contoh lain yang serupa dengan kelima contoh di atas. Semuanya menjelaskan bahwa ilmu keimanan, terutama ketika melakukan pengobatan maknawi sesuai dengan kebutuhan serta ketika menjadi obat bagi sejumlah penyakit yang diambil dari rahasia al-Qur’an secara langsung, maka ilmu dan obat tersebut sudah cukup memadai bagi mereka yang merasa membutuhkan dan mempergunakannya dengan ikhlas. Kondisi apoteker yang menjual obat serta kondisi penjaja yang menjajakannya, tidak berpengaruh. Maksudnya, mau dia orang biasa dan bangkrut, orang miskin dan pembantu, atau orang kaya dan berpangkat, apapun kondisinya, tidak ada bedanya. Ya, cahaya lilin tidak lagi dibutuhkan ketika sudah ada cahaya mentari. Ketika mentari telah kutunjukan, maka cahaya lilin dariku sudah tidak dibutuhkan. Apalagi jika diriku tidak memilikinya. Bahkan seharusnya mereka memberiku kekuatan maknawi lewat doa dan pertolongan mereka. Aku berhak mengharap dukungan dan pertolongan mereka. Hendaknya mereka merasa cukup dengan limpahan cahaya Risalah Nur yang mereka raih.

‫٭٭٭‬


624

AL-MAKTÛBÂT

Surat Kecil dan Khusus

[Bisa dikatakan penyempurna dari ‘persoalan ketiga’ dari “Surat Kedua Puluh Delapan”] Wahai saudara-saudara seiman, dan wahai dua muridku yang rajin, Khusrev Afandi dan Ra’fat Afandi. Kita telah merasakan tiga karamah Qur’aniyah dalam kumpulan al-Kalimât yang merupakan limpahan cahaya al-Qur’an. Namun dengan tekad, usaha, dan semangat kalian, kalian telah menambahkan padanya karamah lain yang keempat. Adapun tiga karamah yang telah dikenal itu adalah sebagai berikut: Pertama: Kemudahan dan kecepatan yang luar biasa dalam proses penulisannya. Bahkan “Surat Kesembilan Belas” yang terdiri dari lima bagian ditulis hanya sekitar 3 hari selama kurang lebih 4 jam sehari. Jadi totalnya hanya 12 jam. Ia ditulis di daerah pegunungan dan kebun tanpa ada satupun buku referensi. “Kalimat Ketiga Puluh” ditulis saat sakit, selama lima atau enam jam. “Kalimat Kedua Puluh Delapan” yang membahas tentang surga ditulis selama kurang lebih satu atau dua jam, di kebun Sulaiman yang terletak di daerah lembah. Bahkan kami (Aku, Taufi k, dan Sulaiman) merasa heran dengan proses penulisannya yang sangat cepat. Demikianlah yang terjadi dalam penulisan karamah Qur’aniyah. Kedua: Kemudahan yang luar biasa, semangat yang membara, dan tanpa rasa jenuh dalam proses penyalinannya. Padahal, terdapat begitu banyak faktor yang bisa membuat jenuh jiwa dan akal di masa sekarang. Akan tetapi, ketika salah satu bab dari alKalimât ditulis, iapun disalin di banyak tempat dengan penuh semangat, dan penyalinannya diutamakan dari kesibukan penting lainnya. Begitulah kondisinya. Ketiga: membacanya juga tidak membosankan, khususnya ketika dibutuhkan. Bahkan semakin dibaca, ia terasa semakin nikmat, tanpa ada rasa bosan. Demikian pula dengan kalian wahai saudaraku. Kalian berdua telah menghadirkan karamah Qur’aniyah yang keempat. Saudara kita Khusrev yang menyebut dirinya malas untuk menulis,


Surat Kedua Puluh Delapan

625

sejak mendengar al-Kalimât, lima tahun yang lalu, maka proses penulisan yang dilakukannya selama satu bulan terhadap 14 buku dalam sebuah tulisan yang indah sudah pasti merupakan satu bentuk rahasia al-Qur’an. Terutama “Surat Ketiga Puluh Tiga”, yaitu risalah “Jendela Tauhid” di mana haknya telah terpenuhi sebab ditulis dalam tulisan yang paling indah. Ya, risalah tersebut merupakan risalah tentang makrifatullah dan keimanan yang berbentuk sangat kuat dan bersinar. Hanya saja, sejumlah jendela pada bagian awal risalah sangat global dan singkat. Namun secara berangsur-angsur ia tersingkap dan menjadi terang di mana pendahuluan dari sebagian besar al-Kalimât memang berbentuk global lalu perlahan-lahan menjadi jelas dan bersinar; berbeda dengan seluruh tulisan yang lain.

PERSOALAN KEEMPAT (Risalah Keempat)

(Jawaban atas sebuah pertanyaan tentang kejadian sepele yang menarik perhatian saudara-saudaraku) Saudaraku yang mulia! Kalian bertanya: Masjidmu yang penuh berkah, pada malam Jumat, telah diserang tanpa sebab. Yaitu saat ada tamu yang datang. Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa mereka mengganggumu?” Jawaban: Aku terpaksa menjelaskan empat poin dengan lisan “Said Lama”, semoga ia bisa dipahami dan kalian bisa mendapatkan jawaban darinya. Poin Pertama Hakikat dari kejadian tersebut adalah makar setan dan tindak nifak untuk mengambil simpati kelompok zindik, meski menyalahi hukum dan sekedar mengikuti hawa nafsu. Tujuannya


626

AL-MAKTÛBÂT

untuk membuat kami risau di malam jumat tersebut dan membuat jamaah patah semangat sehingga para tamu tidak jadi menemuiku. Anehnya, sehari sebelumnya, yakni hari kamis, aku pergi ke salah satu tempat untuk tamasya. Saat kembali aku melihat seekor ular hitam yang panjang di mana ia seperti dua ekor ular yang bersambung. Ular tersebut datang dari arah kiri. Ia berjalan di antara diriku dan temanku. Karena ingin mengetahui sejauh mana keterkejutannya saat melihat ular itu, akupun bertanya: “Apakah engkau melihat?” “Melihat apa?” tanyanya. “Ular yang menakutkan itu!” “Mana? Aku tidak melihatnya.” Mendengar jawaban tersebut aku menjadi heran sambil berkata, “Subhanallah! Bagaimana engkau tidak melihat ular besar yang telah lewat di tengah-tengah kita?” Ketika itu tidak ada sesuatu yang terlintas dalam benakku. Akan tetapi, setelah beberapa waktu terlintas dalam hatiku, “Ini adalah isyarat untukmu. Waspadalah!” Akupun merenung. Aku sadar bahwa ia termasuk ular yang kulihat dalam mimpi. Maksudku, aku melihat pejabat berwenang yang datang dengan niat jahat dalam bentuk ular. Bahkan dalam satu kesempatan aku mengutarakan hal itu kepada kepala desa. Kukatakan padanya, “Ketika engkau datang dengan niat jahat, aku melihatmu dalam bentuk ular. Waspadalah!” Sebenarnya aku sering melihat pendahulunya dalam bentuk tersebut. Dengan kata lain, ular yang kulihat secara nyata merupakan isyarat yang menunjukkan bahwa pengkhianatan mereka kali ini adalah dalam bentuk aksi nyata terhadap diriku; tidak lagi sekedar niat terpendam. Meskipun penyerangan mereka yang kali ini berskala kecil, dan mereka berusaha menganggapnya sepele, akan tetapi ia terjadi dengan dukungan dan keterlibatan seorang guru yang kehilangan nurani. Pihak yang bertanggung jawab memberikan perintah kepada polisi, “Tangkap para tamu itu!” Ketika itu kami


Surat Kedua Puluh Delapan

627

sedang berzikir seusai shalat di masjid. Tindakan tersebut dilakukan untuk membuatku marah dengan harapan bahwa aku akan menolak dan mengusir mereka seperti sikap “Said Lama” ketika menghadapi tindakan sewenang-wenang dan non-konstitusional. Orang malang itu tidak mengetahui kalau Said tidak membela dengan tongkat patah yang ada di tangannya, sementara di mulutnya ada pedang berlian dari pabrik al-Qur’an. Sudah pasti ia mempergunakan pedang tersebut. Hanya saja, para anggota polisi itu bersikap tenang dan sadar. Mereka menunggu hingga shalat dan zikir berakhir. Sebab, pemerintah manapun tidak akan masuk ke dalam masjid selama shalat dan zikir belum selesai. Sang pimpinan marah dengan sikap mereka. Ia mengirimkan lagi seorang petugas keamanan seraya berkata, “Para polisi itu tidak mematuhiku.” Akan tetapi, Allah I tidak menyibukkanku dengan ularular seperti mereka. Aku berpesan kepada para saudaraku, “Jangan kalian disibukkan oleh mereka selama tidak ada kondisi yang memaksa. Bahkan tidak usah berbicara dengan mereka. Sebab, jawaban bagi orang bodoh adalah diam. Namun, hendaknya kalian memerhatikan hal berikut: Sebagaimana memperlihatkan sikap lemah di hadapan binatang buas akan membuatnya lebih berani untuk menyerang, demikian pula ketika memperlihatkan sikap lemah kepada orang yang berwatak binatang buas akan membuatnya lebih berani untuk menyerang. Jadi, teman-teman hendaknya bersikap waspada agar kalangan yang loyal kepada kafi r zindik tidak memanfaatkan sikap lengah kalian. Poin Kedua Allah I berfi rman:

“Janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka. (QS. Hûd [11]: 113).


628

AL-MAKTÛBÂT

Ayat di atas berisi sebuah ancaman keras. Yakni bahwa orang-orang yang menjadi alat kaum zalim, serta memberikan loyalitas kepada mereka, condong kepada mereka, bahkan hanya sekedar simpati sekalipun, mereka mendapat ancaman yang menakutkan. Pasalnya, ridha dengan kekufuran merupakan bentuk kekufuran, sebagaimana ridha dengan kezaliman juga merupakan kezaliman. Salah seorang dari ulama salih memberikan satu gambaran yang sempurna tentang salah satu hakikat ayat di atas lewat dua bait berikut: Orang yang membantu si zalim atas kezalimannya termasuk orang yang hina di dunia Orang yang merasa nikmat dalam mengabdi kepada pemburu yang zalim sama seperti anjing. Ya, sebagian mereka bertingkah seperti ular dan sebagian lagi seperti anjing. Orang yang mencari-cari kesalahan kita di malam penuh berkah seperti itu, serta terhadap tamu yang mulia, saat sedang berdoa dan bermunajat kepada Allah, lalu menceritakan tentang kita seakan kita telah melakukan tindak kejahatan, lalu kemudian melakukan penyerangan semacam ini, pasti akan mendapat kecaman seperti yang terdapat dalam makna dua bait di atas. Poin Ketiga Pertanyaan: selama engkau bersandar pada kekuatan dan pertolongan al-Qur’an, serta mengambil ilham dari limpahan karunianya untuk memberi petunjuk kepada orang-orang ateis yang paling keras kepala guna memperbaiki mereka seperti yang telah dan terus engkau lakukan, lalu mengapa engkau tidak mendakwahi orang-orang di sekitarmu yang melampaui batas serta membimbing mereka ke jalan yang benar? Jawaban: Di antara salah satu kaidah penting dalam prinsip syariat adalah:


Surat Kedua Puluh Delapan

629

“Orang yang rela menerima bahaya (mudharat) tidak layak mendapat perhatian.”527 Maksudnya, orang yang rela menerima bahaya atas keinginan dan sepengetahuannya, tidak layak dikasihani. Nah, dengan bersandar kepada al-Qur’an al-Hakim aku berdakwah dan sanggup membungkam orang-orang ateis yang keras kepala hanya dalam beberapa jam meskipun belum bisa membuatnya sadar, dengan syarat ia bukan orang yang sangat hina dan senang menyebarkan racun kesesatan sebagaimana ular yang senang menyebarkan racunnya. Sebab, berbicara kepada “ular” yang berbentuk manusia serta berkomunikasi dengan orang yang benar-benar tersesat dan tenggelam dalam nifak di mana ia rela menjual agama secara sadar dengan dunia, serta menukar berlian yang mahal dengan serpihan kaca tak berharga. Kutegaskan bahwa berbicara dengan mereka lalu menerangkan hakikat kebenaran atas mereka berarti merendahkan derajat kebenaran tersebut karena hal itu seperti kata pepatah “Mengalungkan intan pada leher sapi jantan”. Pasalnya, orang-orang yang melakukan perbuatan semacam itu sebenarnya telah berkali-kali mendengar hakikat kebenaran dari Risalah Nur. Namun mereka ingin menjatuhkan nilai kebenaran meskipun mengetahui karena senang dengan kesesatan yang ada. Mereka seperti ular yang menikmati racun. Poin Keempat Bentuk perlakuan terhadapku selama tujuh tahun ini tidak lain adalah tindakan sewenang-wenang berdasarkan hawa nafsu. Ia merupakan tindakan yang bertentangan dengan undang-undang. Sebab, hukum dan peraturan bagi orang-orang yang diasingkan, ditahan, dan dipenjara sudah sangat jelas. Sesuai undang-undang, mereka boleh berjumpa dengan kerabat dan tidak ada larangan untuk bergaul dengan siapa saja. Hak untuk beribadah dan melakukan ketaatan kepada Allah terpelihara di setiap negara dan bangsa. Orang-orang yang diasingkan sepertiku masih bisa berada di tengah kerabat dan orang-orang yang dicinta. Tidak ada larangan bagi mereka untuk berbaur, surat-menyurat, bahkan bertamasya dan seterusnya. Hanya aku yang dikecualikan. 527

Lihat: Imam Rabbani, al-Maktubat, Maktub ke-49 jilid 2.


630

AL-MAKTÛBÂT

Aku terhalang untuk melakukan semua itu. Bahkan ibadahku diganggu dan masjidku diserang. Mereka berusaha menghalangiku untuk menyebut kalimat tauhid selepas shalat seperti yang disunnahkan dalam mazhab Syâfi ’i. Ketika seorang buta huruf bernama “Syabab” datang bersama para pengawalnya ke sini (Barla) lalu mendatangiku karena sudah kenal lantaran satu kampung denganku, ia dipanggil dari masjid oleh tiga orang polisi bersenjata. Sang pimpinan berusaha untuk menutupi tindakannya yang melanggar hukum itu dengan berkata, “Mohon maaf. Jangan tersinggung dengan tindakan kami. Ini hanya tuntutan tugas!” Lalu ia membolehkannya pergi. Apabila kejadian ini dibandingkan dengan seluruh tindakan dan perlakuan yang ada, dapat diketahui bahwa perlakuan mereka terhadapku adalah tindakan sewenang-wenang. Sebab mereka mengirim “ular” dan “anjing” untuk menggangguku. Sementara aku tidak peduli dengan mereka serta menyerahkan semua urusan mereka kepada Allah Yang Mahakuasa guna menangkal kejahatan mereka. Sebenarnya, orang-orang yang memprovokasi kejadian tersebut yang menjadi sebab pengusiran, sekarang ini berada di kota mereka. Para pimpinan yang mengeksekusi juga menjadi para pemimpin kabilah. Semuanya dibebaskan, kecuali aku dan dua saudara seiman. Kami dikecualikan dari yang lain dan tidak dibebaskan. Padahal, aku tidak memiliki keterpautan dengan dunia sama sekali. Aku menerima semua ini dengan penuh kerelaan dan kukatakan, “Tidak apa-apa.” Akan tetapi, salah seorang saudara seiman telah ditunjuk sebagai mui di salah satu kota. Ia pergi dengan bebas ke seluruh penjuru negeri kecuali ke kotanya sendiri. Bahkan ia bisa pergi ke ibu kota, Ankara. Sementara yang satunya diberi kebebasan untuk berkumpul dengan ribuan orang-orang yang mereka cintai di Istanbul. Ia diizinkan untuk berjumpa dengan siapapun. Padahal, kedua orang tersebut tidak hidup sebatang kara seperti diriku yang tidak memiliki keluarga. Bahkan mereka memiliki pengaruh yang besar. Demikian adanya.


Surat Kedua Puluh Delapan

631

Adapun diriku, mereka mengirimku ke sebuah kampung dan menempatkanku di tengah-tengah orang yang sama sekali tidak memiliki hati nurani. Bahkan, aku tidak bisa pergi ke kampung yang dekat yang jaraknya hanya sekitar 20 menit dari Barla, kecuali dua kali selama 6 tahun. Mereka tidak memberikan izin kepadaku untuk pergi ke kampung tersebut untuk mencari suasana baru selama beberapa hari. Begitulah. Mereka berusaha menekanku di bawah satu intimidasi yang luar biasa. Padahal negara manapun pasti memiliki satu undang-undang. Tidak ada aturan dan undang-undang yang hanya berlaku untuk perorangan, kampung, dan wilayah tertentu. Artinya, hukum yang mereka terapkan atas diriku bukanlah hukum. Namun ia sudah keluar dari ketentuan hukum. Pihak yang bertanggung-jawab di sini memanfaatkan otoritas pemerintah untuk kepentingan pribadi. Akan tetapi, ribuan alhamdulillah. Sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang dilimpahkan, kusampaikan bahwa seluruh kekerasan dan intimidasi yang mereka lakukan menjadi seperti kayu bakar yang menyalakan api semangat sehingga menambah terang cahaya al-Qur’an. Cahaya al-Qur’an yang dihadapi dengan tindakan kekerasan tersebut menjadi tersebar luas lewat semangat yang membara. Ia membuat seluruh wilayah, bahkan seluruh kota laksana sebuah madrasah sehingga tidak hanya terbatas di Barla. Mereka menyangka telah memenjarakan diriku di sebuah desa. Namun sebenarnya desa tersebut, Barla, justru dengan izin Allah menjadi tempat mengajar, tidak seperti harapan mereka. Bahkan banyak tempat seperti Isparta menjadi madrasah.

Alhamdulillah. Ini semua berkat karunia Tuhanku.


632

AL-MAKTÛBÂT

PERSOALAN KELIMA (Risalah Kelima)

Risalah tentang Syukur

Al-Qur’an penuh dengan penjelasan yang menakjubkan serta di banyak ayat ia mendorong makhluk untuk bersyukur. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut: “Tidakkah mereka bersyukur? Tidakkah mereka bersyukur?” (QS. Yâsîn [36]: 35 dan 73).

“Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran [3]: 145).

“Jika kalian bersyukur niscaya Kami tambahkan untuk kalian.” (QS. Ibrahim [14]: 7).

“Tetapi sembahlah Allah dan jadilah orang yang bersyukur.” (QS. az-Zumar [39]: 66). Dari ayat-ayat di atas jelas bahwa amal paling mulia yang dituntut oleh Sang Pencipta Yang Maha Penyayang dari hamba adalah bersyukur. Secara tegas dan jelas, al-Qur’an mengajak manusia untuk bersyukur serta menempatkannya dalam posisi yang sangat penting sekaligus menjelaskan bahwa sikap enggan bersyukur merupakan bentuk pendustaan dan pengingkaran terhadap berbagai nikmat ilahi. Sebanyak 31 kali al-Qur’an mem-


Surat Kedua Puluh Delapan

633

berikan ancaman menakutkan dalam surah ar-Rahman lewat ayat:

“Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian dustakan?!” Al-Qur’an menunjukkan bahwa sikap enggan bersyukur merupakan bentuk pendustaan dan pengingkaran. Sebagaimana al-Qur’an al-Hakim menerangkan bahwa syukur adalah hasil dan tujuan penciptaan, demikian halnya dengan alam yang laksana al-Qur’an besar juga memperlihatkan bahwa hasil terpenting dari penciptaan seluruh entitas adalah syukur. Hal itu karena bila diperhatikan dengan seksama akan diketahui bahwa: Bentuk dan komposisi alam telah didesain dan dibuat dalam satu model dan corak tertentu di mana ia menghasilkan dan membuahkan syukur. Segala sesuatu dari satu sisi mengarah kepada syukur. Bahkan seolah-olah buah terpenting dari pohon penciptaan adalah syukur. Dan bahkan seolah-olah produk termulia yang dihasilkan oleh pabrik alam adalah syukur. Hal itu karena kita melihat bahwa “entitas alam” telah dibentuk dalam satu model dan pola yang menyerupai lingkaran besar, sementara kehidupan dicipta guna memerankan titik pusat di dalamnya. Maka kita melihat seluruh entitas melayani dan mengarah pada kehidupan. Ia menyediakan segala kebutuhan dan perlengkapannya. Jadi, Sang Pencipta alam memilih kehidupan di antara seluruh entitas-Nya. Kemudian kita melihat bahwa “dunia makhluk hidup” dihadirkan dalam bentuk lingkaran luas di mana di dalamnya manusia berperan sebagai titik pusat. Tujuan yang diharapkan dari keberadaan makhluk hidup biasanya terpusat pada manusia. Sang Pencipta Yang Mahamulia mengumpulkan seluruh makhluk hidup di seputar manusia dan menundukkan semuanya untuk melayani manusia. Dia menjadikan manusia sebagai pemimpin dan penguasa atas mereka. Jadi, Sang Pencipta Yang Mahaagung memilih manusia di antara sekian makhluk hidup. Bahkan Dia


634

AL-MAKTÛBÂT

menjadikannya sebagai objek kehendak-Nya dan target keinginan-Nya. Selanjutnya, kita melihat bahwa “dunia manusia”, bahkan dunia hewan, juga terbentuk seperti lingkaran. Di tengahnya diletakkan rezeki. Kecintaan pada rezeki ditanamkan dalam diri manusia dan hewan. Karena itu, dengan kecintaan tersebut mereka semua menjadi pelayan rezeki dan tunduk padanya. Rezekilah yang mengontrol dan mengendalikan mereka. Rezeki itu sendiri dijadikan sebagai khazanah kekayaan besar yang luas dan berlimpah. Ia berisi nikmat yang tak terhingga. Bahkan kita melihat daya rasa yang terdapat di lisan telah dibekali dengan berbagai perangkat detil dan standar maknawi yang sensitif sebanyak makanan yang ada guna mengetahui rasa dari berbagai jenis rezeki yang berlimpah itu. Dengan demikian, hakikat rezeki merupakan hakikat paling menakjubkan, paling kaya, paling aneh, paling manis, dan paling komprehensif di alam ini. Di samping itu, kita melihat bahwa sebagaimana segala sesuatu membutuhkan rezeki dan mengarah kepadanya, rezeki itu sendiri dengan segala jenisnya akan selalu eksis dengan syukur, baik secara maknawi, materi, kondisi, maupun ucapan. Rezeki didapat dengan syukur, melahirkan syukur, dan menjelaskan sekaligus memperlihatkan syukur. Pasalnya, kecintaan dan kesenangan terhadap rezeki adalah salah satu bentuk syukur alami. Menikmati dan merasakannya juga merupakan bentuk syukur, namun dalam bentuk yang tak disadari di mana seluruh hewan pun menikmati syukur jenis tersebut. Nah, manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengubah esensi syukur alami tadi—lewat sikap sesat dan kufurnya—sehingga jatuh pada kemusyrikan. Bentuk yang indah dan menarik, aroma wangi dan memikat, serta rasa enak dan lezat yang terdapat di dalam nikmat tersebut di mana ia merupakan satu bentuk rezeki, tidak lain merupakan penyeru dan pemberi petunjuk untuk bersyukur. Para penyeru tersebut, lewat ajakannya, membangkitkan selera pada makhluk hidup sekaligus menggiring mereka untuk mengapresiasi, menghargai, dan menghormati sehingga mereka memperlihatkan syukur maknawi. Bentuk, aroma, dan rasa tersebut menarik perha-


Surat Kedua Puluh Delapan

635

tian orang-orang yang memiliki perasaan untuk merenungkannya sehingga membuat mereka tertarik dan kagum. Ia juga mendorong mereka untuk menghormati dan menghargai nikmat yang berlimpah tersebut. Dari sana nikmat tersebut membimbing mereka ke jalan syukur, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, sekaligus menjadikan mereka sebagai orang yang pandai bersyukur. Lewat syukur nikmat tersebut, mereka bisa merasakan kelezatan yang paling nikmat. Hal itu terwujud lewat keberadaan nikmat yang memperlihatkan bahwa rezeki yang lezat tadi di samping mendatangkan kelezatan lahiriah yang singkat dan bersifat sementara, ia juga membuatmu memikirkan karunia ilahi yang membawa kelezatan hakiki dan abadi tanpa batas. Artinya, dengan mengingat anugerah Tuhan, Yang Maha Pemurah Yang Menggenggam khazanah rahmat-Nya yang luas, manusia bisa merasakan kegembiraan maknawi dari sekian kegembiraan surga yang abadi meski masih berada di dunia. Pada saat rezeki—lewat ungkapan syukur—menjadi sebuah perbendaharaan yang luas dan komprehensif serta penuh dengan kesenangan dan kenikmatan, ia justru jatuh terhina dengan sikap kufur. Dalam “Kalimat Keenam” telah kami jelaskan bahwa ketika daya rasa yang terdapat di lisan digunakan atas nama Allah, yakni saat mengonsumsi rezeki sebagai bentuk penunaian terhadap tugas syukur maknawi, maka daya rasa tersebut laksana pengawas yang pandai bersyukur serta laksana pengontrol terpuji atas dapur rahmat ilahi yang bersifat mutlak. Akan tetapi, ketika ia tidak menunaikan tugas tersebut lantaran memenuhi keinginan nafsu ammârah, yakni saat mengonsumsi nikmat tanpa disertai rasa syukur terhadap Dzat yang memberikannya, maka daya rasa tadi jatuh dari kedudukannya yang mulia kepada tingkat penjaga pintu pabrik dan kandang (perut). Lalu sebagaimana pelayan rezeki ini jatuh ke tingkat yang paling bawah lantaran enggan bersyukur, martabat dari hakikat rezeki itupun serta para pelayan yang lain juga turun dari tingkatan yang paling mulia menuju tingkatan yang paling rendah. Bahkan ia jatuh ke posisi yang benar-benar berseberangan dengan hikmah Pencipta Yang Mahaagung.


636

AL-MAKTÛBÂT

Standar syukur adalah qana’ah, hemat, ridha, dan rasa lapang. Adapun standar tidak bersyukur adalah tamak, boros, tidak menghargai, serta mengonsumsi semua yang diterima tanpa membedakan antara yang halal dan yang haram. Ya, di samping sebagai bentuk tidak bersyukur, tamak juga menjadi sebab keterhalangan dan mengantar pada kehinaan. Karena itu, semut sebagai serangga penuh berkah yang memiliki kehidupan sosial, menjadi terinjak-injak ketika tamak dan tidak merasa cukup. Pasalnya, ketika semestinya sejumlah biji sudah cukup baginya untuk setahun, ia malah mengumpulkan ribuan biji. Sementara lebah bisa terbang tinggi di atas kepala karena qana’ah dan merasa cukup. Bahkan tidak hanya merasa cukup dengan rezekinya, ia juga memberikan madu murni untuk manusia sebagai bentuk kemurahan lewat perintah Tuhan Yang Mahaagung. Ya, nama ar-Rahmân (Yang Maha Pengasih) yang merupakan salah satu nama-Nya yang paling agung disebutkan sesudah lafal “Allah” yang merupakan ismul a’zham; nama Dzat-Nya yang Mahasuci. Nama ar-Rahmân mencakup perhatian-Nya terhadap urusan rezeki. Karena itu, cahaya nama tersebut bisa dicapai lewat syukur yang tersimpan dalam celah-celah rezeki. Apalagi makna paling menonjol dari ar-Rahmân adalah ar-Razzâq (Dzat Pemberi rezeki). Selanjutnya, syukur memiliki beragam jenis. Hanya saja jenis syukur yang paling komprehensif dan menyeluruh sekaligus sebagai indeksnya yang bersifat umum adalah shalat. Dalam syukur terdapat iman yang murni. Ia juga berisi tauhid yang tulus. Sebab, orang yang makan apel, misalnya, lalu menyudahi dengan hamdalah, sebenarnya lewat ungkapan syukur tersebut ia memperlihatkan bahwa apel tersebut merupakan kenang-kenangan yang berasal dari tangan qudrah ilahi. Ia hadiah yang langsung diberikan dari khazanah rahmat ilahi. Dengan ucapan dan keyakinan tersebut, ia menyerahkan segala sesuatu, baik yang bersifat parsial maupun universal, kepada tangan qudrah ilahi. Ia memahami manifestasi rahmat ilahi pada


Surat Kedua Puluh Delapan

637

segala sesuatu. Dari sana ia memperlihatkan iman hakiki dan menjelaskan tauhid yang murni dengan syukur. Di sini kami ingin menjelaskan satu aspek saja dari banyak aspek kerugian yang dialami manusia yang lalai ketika ia mengingkari nikmat Allah. Apabila manusia mengonsumsi suatu nikmat yang lezat lalu menunaikan syukur atasnya, maka nikmat tersebut—lewat syukur tadi—menjadi cahaya yang menerangi. Ia menjadi salah satu buah surga ukhrawi. Di samping kelezatan yang ia terima, merenungkan bahwa ia merupakan salah satu jejak penghargaan rahmat Allah, hal itu mendatangkan kelezatan agung yang bersifat permanen dan perasaan mulia tak terhingga terhadap nikmat tersebut. Dengan begitu, orang yang bersyukur berarti telah mengirim inti dan saripati yang murni serta bahan-bahan maknawi kepada kedudukan yang mulia itu seraya meninggalkan bahan dan kulit luarnya yang telah menunaikan tugas dan tidak lagi dibutuhkan di mana ia telah berubah menjadi sampah dan kotoran yang kembali kepada unsur aslinya. Akan tetapi, jika orang yang mendapat nikmat tidak bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang Dia berikan, kenikmatan sementara itupun dengan ketiadaannya hanya meninggalkan kepedihan dan kekecewaan. Ia juga berubah menjadi sampah dan kotoran. Jadi, nikmat yang pada dasarnya berharga seperti berlian berubah menjadi arang yang tak bernilai. Lewat syukur, rezeki yang fana menghasilkan kenikmatan yang kekal dan buah yang abadi. Adapun nikmat yang tak disertai syukur berubah bentuk dari yang tadinya mulia dan indah menjadi hina dan rendah. Sebab, orang yang lalai menduga bahwa setelah kenikmatan sementara yang terdapat pada rezeki itu diambil, maka kembali menjadi kotoran semata. Ya, rezeki memiliki bentuk yang layak disenangi. Itulah yang muncul lewat adanya sikap syukur. Jika tidak, rasa senang kaum lalai dan sesat terhadap rezeki sama seperti kebinatangan.


638

AL-MAKTÛBÂT

Engkau bisa membandingkan dengannya untuk mengetahui tingkat kerugian kaum yang lalai dan sesat serta sejauh mana buruknya kondisi mereka. Makhluk hidup yang paling membutuhkan berbagai jenis rezeki adalah manusia. Allah I telah menciptakan manusia sebagai cermin komprehensif bagi seluruh nama-Nya yang mulia serta sebagai mukjizat paling menakjubkan yang menunjukkan qudrah-Nya yang mutlak. Manusia memiliki berbagai perangkat yang dengannya ia dapat menilai dan mengetahui seluruh khazanah kekayaan rahmat Tuhan yang luas. Dia menciptakannya dalam wujud sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki sejumlah perangkat sensitif sehingga dapat mengukur detil-detil manifestasi nama-nama Tuhan yang Mahamulia. Karena itu, Allah memberikan pada diri manusia rasa butuh yang tak terhingga. Dia membuatnya membutuhkan berbagai jenis rezeki materi dan maknawi dalam bentuk tak terhingga. Nah, sarana yang membuat manusia dapat naik ke tingkatan tertinggi, yaitu ahsan taqwim, dalam lingkup integralitas yang ia miliki hanya sikap syukur. Ketika syukur tidak ada, manusia jatuh ke tingkatan yang paling rendah sekaligus melakukan kezaliman besar. Kesimpulannya: Syukur adalah landasan paling agung dari empat landasan yang menjadi sandaran bagi seseorang dalam meniti jalan paling tinggi. Yaitu jalan ubudiyah dan mahbĂťbiyah (dicintai Allah). Empat landasan itu digambarkan dengan ungkapan berikut: Wahai saudaraku yang mulia, wahai yang lemah, ketahuilah bahwa engkau harus beramal dengan empat hal: kelemahan mutlak, kefakiran mutlak, kerinduan mutlak, dan syukur mutlak.

Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yang bersyukur, dengan rahmat-Mu; wahai Dzat Yang Maha Pengasih.


Surat Kedua Puluh Delapan

639

Ya Allah, limpahkan salawat dan salam kepada junjungan kami, Muhammad r, penghulu orang-orang bersyukur dan pemuji. Juga, kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya. Amin.

‫٭٭٭‬

PERSOALAN KEENAM (Risalah Keenam) Tidak dimasukkan di sini. Insya Allah, ia akan diterbitkan dalam bagian yang lain.

‫٭٭٭‬

PERSOALAN KETUJUH (Risalah Ketujuh)

“Katakanlah, ‘Dengan karunia dan rahmat Allah-lah hendaknya mereka bergembira. Ia lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus [10]: 58).


640

AL-MAKTÛBÂT

[Persoalan ini terdiri dari Tujuh Petunjuk] Pertama-tama, sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah limpahkan, kami akan menjelaskan tujuh sebab yang menyingkap sejumlah rahasia pertolongan ilahi.

Sebab Pertama Sebelum dan pada saat perang dunia pertama berkecamuk, dalam mimpi yang benar aku melihat kondisi sebagai berikut: Aku melihat diriku berada di bawah gunung Ararat. Tiba-tiba gunung itu meletus dengan dahsyat. Ia melemparkan sejumlah batu besar laksana gunung ke berbagai penjuru bumi. Dalam kondisi takut, aku melihat ibuku―semoga Allah merahmatinya― berada di dekatku. Aku pun berkata padanya, “Jangan takut ibu! Ia adalah kehendak Allah. Dia Maha Pengasih dan Maha Bijaksana.” Saat berada dalam kondisi tersebut, tiba-tiba satu sosok besar memberiku peritah dengan berkata: Jelaskan kemukjizatan al-Qur’an! Seketika aku terbangun dari tidur. Aku sadar bahwa akan terjadi letusan besar. Pagar-pagar yang mengelilingi al-Qur’an akan runtuh akibat letusan (revolusi) tersebut. Al-Qur’an sendiri yang akan melakukan pembelaan terhadap dirinya di mana ia menjadi target serangan, dan kemukjizatannyalah yang akan menjadi benteng bajanya. Orang sepertiku akan dipilih untuk menjelaskan sisi kemukjizatannya di abad ini―yang sebenarnya berada di luar kemampuanku―dan aku menyadari bahwa diriku dipilih untuk menunaikan tugas ini. Karena kemukjizatan al-Qur’an relatif sudah dijelaskan dalam “al-Kalimât”, maka memperlihatkan pertolongan ilahi dalam pengabdian kami terhadap al-Qur’an merupakan bentuk penguatan atas kemukjizatan tersebut. Sebab, pengabdian tersebut adalah untuk memperlihatkan kemukjizatannya serta termasuk keberkahan dan percikan dari kemukjizatan tersebut. Dengan kata lain, pertolongan ilahi harus diperlihatkan.


Surat Kedua Puluh Delapan

641

Sebab Kedua Karena al-Qur’an al-Hakim merupakan mursyid, ustadz, imam, dan pembimbing bagi kami dalam setiap aktivitas, dan ia memuji dirinya, maka kami akan memuji tafsirnya guna mengikuti apa yang sudah ia tunjukkan pada kami. Karena “al-Kalimât” merupakan sejenis tafsir al-Qur’an, lalu “Risalah Nur” secara umum merupakan milik al-Qur’an dan berisi berbagai hakikatnya, serta al-Qur’an mengungkap dirinya dalam bentuk yang agung dan mulia di mana ia menjelaskan berbagai keistimewaannya dan memuji dirinya dengan pujian yang layak untuknya, pada banyak ayat, terutama pada surah-sudan . Jadi, kami bertugas rah yang dimulai dengan memperlihatkan pertolongan ilahi yang merupakan tanda diterimanya pengabdian kami dalam menjelaskan kilau kemukjizatan al-Qur’an yang tercermin dalam “al-Kalimât”. Yaitu, dengan meniru guru kami, al-Qur’an, yang mengajari kami semacam ini.

Sebab Ketiga Aku tidak mengutarakan ungkapan yang terkait dengan “al-Kalimât” ini sebagai bentuk ketawadukan. Tetapi sebagai penjelasan atas sebuah hakikat. Yaitu: Berbagai hakikat dan keistimewaan yang terdapat dalam “alKalimât” bukan hasil olah pikirku dan tidak mungkin disandarkan kepadaku, namun ia adalah milik al-Qur’an semata. Hakikat tersebut merupakan percikan dari air segar al-Qur’an. Bahkan “Kalimat Kesepuluh” darinya tidak lain merupakan tetesan yang tepercik dari ratusan ayat al-Qur’an yang agung. Hal yang sama berlaku pada seluruh bagian Risalah Nur secara umum. Selama demikian kondisinya, sementara aku bersifat fana dan akan meninggalkan kehidupan, maka sebuah karya yang kekal tidak boleh dikaitkan dengan diriku. Selama kebiasaan kaum sesat dan kufur adalah mencari kesalahan penulis untuk merendahkan karyanya yang tidak sesuai dengan tujuan mereka, maka Risalah Nur yang terpaut dengan bintang langit al-Qur’an tidak boleh terikat dengan “sandaran yang rapuh dan mudah runtuh” sepertiku yang sangat mungkin menjadi objek kritikan.


642

AL-MAKTÛBÂT

Selama kebiasaan orang selalu mengkaji sejumlah keistimewaan sebuah karya pada diri dan kondisi pengarangnya yang mereka anggap sebagai sumber keistimewaan tersebut, maka merupakan bentuk ketidakadilan terhadap hakikat bila berbagai hakikat mulia dan permata berharga itu menjadi dagangan orang bangkrut sepertiku yang tak mampu memperlihatkan satu dari ribuan keistimewaan tersebut. Karena itu, kutegaskan bahwa Risalah Nur bukan milikku dan bukan berasal dariku. Namun ia adalah milik al-Qur’an. Oleh sebab itu, aku merasa perlu menjelaskan bahwa ia telah mendapat percikan dari berbagai keistimewaan al-Qur’an al-Azhim. Ya, keistimewaan setandan anggur yang nikmat bukan dari tangkainya yang kering. Nah, aku seperti tangkai kering dari anggur yang nikmat tersebut.

Sebab Keempat Sikap tawaduk kadang mengantar pada sikap kufur nikmat; bahkan menjadi sikap kufur nikmat itu sendiri. Juga, membicarakan nikmat bisa menjadi satu bentuk kesombongan dan kebanggaan. Keduanya sama-sama berbahaya. Cara satu-satunya untuk selamat; yakni agar tidak mengarah pada kufur nikmat dan kepada kesombongan adalah mengakui berbagai keistimewaan dan kebaikan yang ada tanpa klaim memilikinya. Dengan kata lain, memperlihatkannya sebagai jejak karunia Sang Pemberi hakiki. Contohnya: ketika seseorang memberimu satu setel pakaian yang sangat mewah sehingga dengan itu engkau tampil indah dan elegan, orang-orang akan berkata, “Engkau sangat tampan. Dengan baju ini, Engkau menjadi sangat menarik.” Namun kau jawab mereka dengan tawaduk, “Tidak, apanya yang menarik!” Tentu saja jawabanmu adalah bentuk kufur nikmat dan sikap tidak sopan terhadap si perancang mahir yang telah memberimu pakaian. Demikian pula ketika engkau dengan bangga berkata, “Ya, aku memang tampan. Apa ada yang menandingi ketampananku?” Jawabanmu tersebut merupakan bentuk kesombongan.


Surat Kedua Puluh Delapan

643

Sementara sikap pertengahan antara kufur nikmat dan sombong adalah dengan berkata, “Ya, aku memang tampak indah. Namun keindahan tersebut bukan pada diriku, melainkan pada busana yang kupakai. Jadi, yang berjasa adalah yang memberiku pakaian.” Andaikan suaraku bisa sampai ke seluruh penjuru dunia, aku akan berseru dengan segala kekuatan yang kumiliki, “bahwa al-Kalimât sangat indah. Ia merupakan kumpulan hakikat. Ia bukan berasal dari diriku. Namun ia merupakan kilau yang terpancar dari hakikat al-Qur’an al-Karim. Bukan aku yang memperindah hakikat al-Quran itu. Bahkan aku tidak mampu memperlihatkan keindahannya. Namun hakikat al-Qur’an yang indahlah yang membuat penjelasanku indah dan bernilai. Ada sebuah kaidah yang berbunyi:

Aku tidak memuji Muhammad dengan ungkapanku, Namun, aku memuji ungkapanku dengan Muhammad528 Dengan bersandar pada kaidah di atas, aku berkata:

Aku tidak memuji al-Qur’an dengan kalimatku. Namun, aku memuji kalimatku dengan al-Qur'an. Jika demikian keadaannya, atas nama keindahan hakikat alQur’an aku ingin mengatakan bahwa memperlihatkan keindahan al-Kalimât yang merupakan pantulan dari hakikat tersebut, serta menjelaskan pertolongan ilahi yang melahirkan keindahan cermin itu, tidak lain merupakan bentuk pengungkapan nikmat Allah yang disukai. 528 Lihat: Ibnu al-Atsir, al-Matsal as-Sa’ir 2/357; al-Qalqasyandi, as-Subh alA’sya 2/321. Abu Tammam berkata, “Aku tidak memujimu dengan syairku. Namun aku dipuji karenamu.” Ia mengambilnya dari Hasan ibn Tsabit yang memuji Nabi I dengan berkata, “Tidaklah aku memuji Muhammad dengan ucapanku. Namun ucapanku dipuji karena Muhammad.” Lihat: al-Maktûbât karya Imam Rabbani (jilid I, al-Maktub ke- 44).


644

AL-MAKTÛBÂT

Sebab Kelima Beberapa waktu yang lalu, aku mendengar dari salah seorang wali bahwa ia telah mengeluarkan sejumlah petunjuk gaib dari wali-wali terdahulu di mana hal itu membuatnya yakin bahwa secercah cahaya akan tampak dari arah Timur dan akan menghapus kegelapan bid’ah. Sudah lama aku menantikan kemunculan cahaya seperti itu dan aku terus menantikannya. Hanya saja, bunga akan mekar di musim semi. Karena itu, jalan menuju bunga suci tersebut harus disiapkan. Dengan pengabdian ini, kami menyadari bahwa kami telah menyiapkan jalan bagi orang-orang mulia yang bercahaya tersebut. Sudah barang tentu menjelaskan pertolongan ilahi yang terkait dengan al-Kalimât tidak akan menjadi sumber kesombongan. Pasalnya, ia tidak merujuk kepada pribadi kita. Tetapi, ia menjadi sumber pujian, syukur, dan ungkapan nikmat.

Sebab Keenam Pertolongan ilahi, yang merupakan stimulan, ganjaran kontan, dan upah panjar atas pengabdian terhadap al-Qur’an lewat penulisan al-Kalimât, tidak lain merupakan bentuk pemberian taufi k dalam beramal dan kesuksesan dalam berkhidmah. Sementara kesuksesan dalam berkhidmah boleh diungkapkan. Ketika taufi k dan kesuksesan yang merupakan pertolongan ilahi itu terlihat, ia adalah bentuk karunia ilahi. Sementara memperlihatkan karunia ilahi merupakan wujud syukur maknawi. Ketika pertolongan tersebut naik menuju yang lebih tinggi dari karuniaNya, sudah pasti ia merupakan bentuk karamah al-Qur’an yang berhasil dicapai tanpa campur tangan ikhtiar kita. Sementara memperlihatkan jenis karamah semacam ini tanpa disengaja dan lewat cara yang tak terduga tidaklah mengandung bahaya. Ketika pertolongan ilahi tersebut lebih dari sekedar karamah biasa, berarti ia merupakan obor kemukjizatan maknawi al-Qur’an. Karena kemukjizatannya harus diperlihatkan, maka menampakkan sesuatu yang mendukungnya juga perlu diperlihatkan. Ia tidak


Surat Kedua Puluh Delapan

645

menjadi sumber kesombongan; namun menjadi sumber pujian dan rasa syukur.

Sebab Ketujuh Delapan puluh persen (80%) manusia bukanlah pakar ulama sehingga dapat menembus kedalaman hakikat, menyelami kedalamannya, membenarkannya, serta menerimanya. Namun mereka menerima berbagai persoalan dengan mengikuti apa yang didengar dari orang yang mereka percayai dengan melihat kondisi lahiriah mereka dan atas dasar prasangka baik terhadap mereka. Sehingga sebuah hakikat yang kuat mereka lihat lemah karena berada di tangan orang yang lemah. Sebaliknya, mereka melihat persoalan sepele yang berada di tangan orang terpandang sebagai sesuatu yang bernilai. Karena itu, aku harus menjelaskan berbagai hakikat keimanan dan hakikat al-Qur’an yang berada di tanganku yang lemah yang tidak bernilai. Hal itu agar aku tidak menurunkan derajatnya di mata sebagian besar manusia. Maka kutegaskan bahwa terdapat Dzat yang mempekerjakan kami dan mengarahkan kami untuk melakukan pengabdian secara tanpa sengaja dan di luar pengetahuan kami. Dia membuat kami melakukan hal-hal besar secara tanpa sepengetahuan kami. Sebagai buktinya, kami memperoleh pertolongan ilahi dan kemudahan di luar kehendak kami. Karenanya, kami harus mengungkap pertolongan ilahi tersebut dengan suara lantang. Demikianlah, berangkat dari tujuh sebab di atas, kami akan menunjukkan sejumlah pertolongan ilahi yang bersifat universal sebagai berikut: Petunjuk Pertama: Sejumlah tawâfuq (kesesuaian) yang dijelaskan pada bagian pertama dari persoalan kedelapan dari “Surat Kedua Puluh Delapan”. Sekitar dua ratus lebih kata “ar-Rasul al-Karim” tersusun secara berhadapan dalam enam puluh halaman pada risalah al-Mukjizat al-Ahmadiyah (Kumpulan Mukjizat Nabi Muhammad r) kecuali dalam dua halaman, mulai dari petunjuk ketiga hingga petunjuk kedelapan belas. Hal itu terjadi pada salah seorang penyalin naskah tanpa adanya unsur kesengajaan. Siapapun


646

AL-MAKTÛBÂT

yang memperhatikan dua halaman dari risalah itu dengan objektif, akan membenarkan bahwa semuanya tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Sebab, bisa saja sejumlah kata yang serupa terdapat pada satu halaman dan hal itu dianggap sebagai “kesesuaian” yang kurang sempurna karena mungkin saja terjadi karena kebetulan. Namun di sini, kata “ar-Rasul al-Karim” muncul secara sangat selaras dalam banyak halaman. Bahkan pada seluruh halaman. Pada setiap halaman terdapat dua, tiga, empat, atau lebih. Dengan kata lain, jumlahnya tidak banyak. Sehingga kesamaan tersebut bersumber dari satu “kesesuaian”, bukan dari sebuah kebetulan. Apalagi hal itu terjadi pada delapan penyalin naskah. Kesesuaian di antara mereka sama, meski orangnya berbeda. Hal itu menunjukkan bahwa dalam “kesesuaian” tersebut terdapat petunjuk gaib yang kuat. Sebagaimana balagah al-Qur’an mencapai tingkatan mukjizat sehingga mengungguli seluruh karya para sastrawan hebat, bahkan tidak ada satupun yang bisa menyamainya, demikian pula dengan kesesuaian yang terdapat pada “Surat Kesembilan Belas”, yang merupakan cermin mukjizat Rasul r, pada “Kalimat Kedua Puluh Lima” yang merupakan pantulan kemukjizatan al-Qur’an, dan pada sejumlah bagian “Risalah Nur” lainnya yang merupakan sejenis tafsir al-Qur’an al-Karim. Aku ingin menegaskan bahwa kesesuaian tersebut menunjukkan sebuah keunikan yang mengungguli seluruh kitab. Dari sana dipahami bahwa ia merupakan sejenis karamah mukjizat al-Qur’an dan mukjizat Rasul r di mana keduanya tampak pada sejumlah cermin tersebut. Petunjuk Kedua: Pertolongan ilahi kedua yang terkait dengan khidmah alQur’an adalah bahwa Allah I memberiku sejumlah saudara yang kuat, tekun, tulus, bersemangat, dan rela berkorban. Mereka memiliki pena laksana pedang berlian. Allah hadirkan mereka untuk membantu sosok sepertiku yang tidak pandai menulis; yang setengah buta huruf, terasing, dan terkucilkan dari manusia. Allah membebani pundak mereka yang kuat untuk memikul tugas khidmah al-Qur’an yang memberatkan punggungku yang lemah. Berkat karunia dan kemurahan-Nya, Dia meringankan bebanku.


Surat Kedua Puluh Delapan

647

Sekelompok orang yang penuh berkah itu laksana perangkat transmisi nirkabel (seperti istilah Khulusi) dan laksana generator bagi pabrik Nur (seperti istilah Sabri). Meskipun masing-masing mereka memiliki keistimewaan yang beragam dan berbeda-beda, namun pada diri mereka terdapat semacam kesesuaian gaib (menurut istilah Sabri). Pasalnya, mereka memiliki kerinduan yang sama dalam bekerja, serta semangat dan kesungguhan dalam mengabdi. Usaha mereka menyebarkan rahasia al-Qur’an dan cahaya iman ke berbagai penjuru, upaya mereka dalam menyampaikannya ke sejumlah pihak, serta kerja mereka yang tak kenal lelah dengan penuh antusias, kecintaan, dan penuh perhatian pada masa yang sulit ini (di mana aksara sudah berganti, percetakan tidak ada, sementara orang-orang membutuhkan cahaya iman), belum lagi berbagai rintangan yang menghambat pekerjaan, melemahkan semangat, dan mengalihkan perhatian; maka pengabdian mereka dalam kondisi semacam itu tidak lain merupakan karamah al-Qur’an dan pertolongan ilahi yang sangat jelas. Ya, sebagaimana kewalian memiliki karamah, niat yang ikhlas juga memiliki karamah, dan ketulusan pun memiliki karamah. Terutama relasi yang sangat kuat dan soliditas yang kokoh di antara saudara-saudara dalam naungan persaudaraan yang tulus karena Allah. Ia mendatangkan karamah yang sangat banyak. Sehingga sosok maknawi dari jamaah seperti ini laksana seorang wali sempurna yang mendapatkan banyak pertolongan ilahi. Saudara-saudara dan sahabatku yang mengabdikan diri pada al-Qur’an! Memberikan seluruh kehormatan dan rampasan perang kepada seorang pemimpin pasukan yang berhasil dalam sebuah menaklukkan merupakan sebuah kezaliman dan ketidakadilan. Demikian pula, menisbatkan pertolongan ilahi dalam berbagai futÝhat yang terwujud lewat kekuatan sosok maknawi kalian dan lewat pena kalian, kepada pribadi yang lemah sepertiku tidaklah dibenarkan. Sebab, jelas dalam jamaah yang penuh berkah seperti ini terdapat isyarat gaib yang kuat yang lebih besar daripada sekedar kesesuaian yang bersifat gaib. Aku dapat melihatnya, na-


648

AL-MAKTÛBÂT

mun tidak dapat memperlihatkannya kepada setiap orang, dan kepada manusia secara umum. Petunjuk Ketiga: Pembuktian berbagai bagian Risalah Nur tentang semua hakikat iman dan al-Qur’an yang sangat penting, dalam bentuk pembuktian yang cemerlang, terhadap orang yang paling keras kepala sekalipun merupakan petunjuk gaib yang sangat kuat dan pertolongan ilahi yang sangat besar. Pasalnya, terdapat banyak hakikat iman dan al-Qur’an yang diakui sulit dipahami oleh orang yang dianggap jenius seperti Ibnu Sina. Ibnu Sina berkata dalam masalah kebangkitan, “Kebangkitan dan pengumpulan makhluk tidak bisa diukur dengan standar rasio.” Sementara “Kalimat Kesepuluh” (Risalah Kebangkitan) mengajarkan kepada masyarakat umum dan anak-anak tentang berbagai hakikat yang tidak bisa dijangkau oleh fi lsuf tersebut lewat kecerdasannya. Demikian pula dengan masalah “takdir dan ikhtiar” yang mampu dipecahkan oleh seorag alim besar, Sa’ad at-Taazâni, dalam lima puluh halaman pada kitabnya yang terkenal, at-Talwih dalam bagian al-Muqaddimât al-Itsnatâ Asyarah. Iapun hanya menjelaskan khusus untuk kalangan ulama. Sementara pada “Kalimat Kedua Puluh Enam” (Risalah Takdir) berbagai persoalan tersebut dijelaskan dalam dua halaman dari bahasan kedua dengan penjelasan yang memadai serta dapat dipahami oleh semua kalangan. Jika ini bukan merupakan bentuk pertolongan ilahi, lalu apa? Begitu pula dengan rahasia penciptaan alam yang disebut dengan “misteri entitas” yang membuat akal terheran-heran. Teka-teki tersebut tidak mampu dipecahkan oleh fi lsuf manapun. Namun rahasianya disingkap dan teka-tekinya diungkap oleh mukjizat maknawi al-Qur’an. Yaitu, pada “Surat Kedua Puluh Empat”, pada nuktah simbolis yang terdapat dalam penutup “Kalimat Kedua Puluh Sembilan”, serta pada enam hikmah transformasi partikel di “Kalimat Ketiga Puluh”. Semua risalah tersebut mengurai misteri alam yang tersembunyi. Ia menyingkap sejumlah rahasia menakjubkan yang terdapat pada penciptaan


Surat Kedua Puluh Delapan

649

alam berikut kesudahannya. Ia juga menjelaskan hikmah partikel dan transformasinya. Ia bisa dijangkau oleh semua orang. Siapa yang mau, bisa merujuk kepadanya. Lalu berbagai hakikat ahadiyah dan keesaan rububiyah-Nya, serta hakikat kedekatan ilahi di mana Dia lebih dekat daripada diri kita sendiri sekaligus jauhnya kita dari-Nya secara mutlak. Berbagai hakikat agung tersebut, masing-masing telah dijelaskan secara lengkap dalam “Kalimat Keenam Belas” dan “Kalimat Ketiga Puluh Dua”. Selanjutnya, qudrah ilahi yang mencakup segala sesuatu, kesamaan antara partikel dan planet di hadapan-Nya, mudahnya menghidupkan seluruh makhluk saat kebangkitan seperti mudahnya menghidupkan satu entitas, serta tidak adanya keterlibatan sekutu dalam penciptaan di mana hal itu jauh dari logika akal sampai pada tingkat mustahil. Seluruh hakikat tersebut telah disingkap dalam “Surat Kedua Puluh” saat menjelaskan klausa:

“Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” Juga, pada bagian lampirannya yang berisi tiga contoh. Ia memecahkan rahasia agung tersebut; rahasia tauhid. Di samping itu, berbagai hakikat iman dan al-Qur’an bersifat luas dan komprehensif sehingga tidak bisa dijangkau oleh manusia yang paling cerdas sekalipun. Nah, bukankah munculnya sebagian besar hakikat yang bersifat mutlak itu dengan seluruh detilnya pada diri orang sepertiku yang memiliki pikiran yang kacau, keadaan yang tidak karuan, serta tanpa ada buku rujukan, di mana ia tersusun dengan cepat pada saat yang sulit? Bukankah semua itu merupakan salah satu bukti kemukjizatan maknawi al-Qur’an, manifestasi pertolongan Rabbani, dan petunjuk gaib yang kuat? Petunjuk Keempat: Allah I menganugerahkan kepadaku kemampuan menulis enam puluh risalah529 dalam bentuk karunia semacam ini. 529

Saat ini sudah sempurna menjadi 130 risalah.


650

AL-MAKTÛBÂT

Pasalnya, orang sepertiku yang sedikit berpikir, selalu mengikuti lintasan hati, dan tidak punya banyak waktu untuk mengkaji, namun bisa menulis sebuah karya yang tak mampu ditulis oleh sekumpulan ulama dan cendekiawan sekalipun meski lewat usaha keras mereka, maka hal ini menunjukkan bahwa tulisan tersebut adalah buah dari pertolongan ilahi. Sebab, seluruh hakikat mendalam dan halus yang terdapat dalam berbagai risalah ini bisa diajarkan kepada masyarakat awam dan kepada sebagian besar mereka yang buta huruf lewat berbagai contoh dan perumpamaan. Padahal, para tokoh ulama berpendapat bahwa berbagai hakikat itu tidak bisa diajarkan. Karena itu, mereka tidak mengajarkannya, baik kepada masyarakat awam maupun kepada kalangan khawas. Atas dasar tersebut, kemudahan luar biasa yang Allah berikan dalam penulisan dan penjelasan berbagai hakikat yang ada dengan membuat sejumlah hal yang paling sulit dipahami menjadi mudah diajarkan kepada orang yang paling sederhana dan awam sekalipun tidak mungkin dilakukan oleh orang sepertiku yang memiliki keterbatasan dalam berbahasa Turki dan perkataan yang sulit dipahami, bahkan membuat sejumlah hal menjadi rumit. Dari dulu ia sudah dikenal seperti itu. Karya lamanya menjadi bukti atas reputasi buruk tersebut. Namun ketika orang sepertiku ini mendapat kemudahan yang sangat jelas, pasti hal itu merupakan buah dari pertolongan ilahi. Ia tidak mungkin berasal dari kecakapan sosok tersebut. Akan tetapi, merupakan manifestasi dari kemukjizatan maknawi al-Qur’an al-Karim serta pantulan dari perumpamaan Qur’ani. Petunjuk Kelima: Meskipun Risalah Nur telah tersebar dengan sangat luas, tidak ada seorangpun yang memberikan kritik, mulai dari ulama paling besar hingga orang yang paling awam, mulai dari orang salih yang paling bertakwa hingga fi lsuf ateis yang paling membangkang di mana mereka mewakili seluruh tingkatan manusia. Padahal Risalah Nur dilihat dan dibaca oleh mereka dan setiap kalangan mengambil pelajaran darinya sesuai dengan tingkatan masing-masing, bahkan sebagian mereka mendapat tamparan


Surat Kedua Puluh Delapan

651

keras darinya, semua itu tidak lain merupakan buah dari pertolongan ilahi dan karamah Qur’ani. Lalu bentuk risalah semacam itu yang biasanya baru ditulis setelah melakukan kajian cermat dan pembahasan mendalam, maka proses penulisan dan pendikteannya yang berlangsung cepat dan luar biasa di tengah situasi yang sulit di mana hal itu mengganggu pikiranku, tidak lain merupakan buah pertolongan Ilahi dan karunia Rabbani. Ya, sebagian besar saudaraku serta seluruh teman dan penyalin naskah mengetahui bahwa lima bagian dari “Surat Kesembilan Belas” ditulis hanya dalam tiga atau empat hari selama sekitar dua atau tiga jam perhari. Yakni, totalnya hanya 12 jam tanpa merujuk pada satupun referensi. Bahkan, bagian keempat yang sangat penting yang memperlihatkan stempel kenabian yang jelas pada kata “ar-Rasul al-Karim” telah ditulis tanpa melihat buku dalam jangka waktu empat jam di celah-celah gunung dan di bawah terpaan hujan. Demikian pula dengan “Kalimat Ketiga Puluh” yang merupakan risalah penting dan mendalam yang ditulis di salah satu kebun selama enam jam. Juga “Kalimat Kedua Puluh Delapan” ditulis dalam jangka waktu tidak lebih dari dua jam di kebun Sulaiman. Hal yang sama terjadi pada penulisan sebagian besar risalah yang lain. Orang-orang dekatku mengetahui bahwa dulu ketika aku merasa sumpek, aku tak mampu menjelaskan hakikat yang paling jelas sekalipun. Bahkan, memahaminya pun sulit bagiku. Apalagi jika rasa sumpek tersebut berujung sakit, aku sering tidak mengajar dan tidak bisa menulis. Sementara sejumlah “al-Kalimât” yang penting dan berbagai risalah lain ditulis dalam kondisi sakit dan sulit, namun dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang sangat cepat. Maka, sudah pasti ia merupakan pertolongan ilahi, karunia Rabbani dan karamah Qur’ani. Lalu sebuah kitab yang membahas berbagai hakikat ilahi dan imani semacam itu, pasti sebagian persoalan di dalamnya menyisakan bahaya bagi sejumlah orang. Karena itu, setiap masalahnya tidak disebarkan kepada semua orang. Adapun Risa-


652

AL-MAKTÛBÂT

lah Nur tidak mendatangkan bahaya apapun, tidak memberikan pengaruh buruk bagi siapapun, serta tidak melukai pikiran siapapun, meski aku menanyakannya kepada banyak orang. Sehingga kami yakin hal itu merupakan petunjuk gaib dan merupakan bentuk pertolongan Rabbani. Petunjuk Keenam: Aku yakin bahwa sebagian besar peristiwa yang kualami dalam hidup berlangsung di luar kehendak dan ikhtiarku. Ia digiring dan diarahkan sedemikian rupa sehingga menghasilkan berbagai jenis risalah yang berkhidmah kepada al-Qur’an alHakim. Bahkan, seluruh kehidupan dalam dunia keilmuan laksana mukaddimah yang menjadi landasan bagi penjelasan kemukjizatan al-Qur’an lewat “al-Kalimât”. Bahkan selama tujuh tahun sejak pembuangan dan pengasingan yang kualami tanpa sebab dan tanpa alasan di mana ia sama sekali tidak kuinginkan, kulewati hari-hariku di sebuah kampung terpencil tidak seperti jalan hidupku dan sikap menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan sosial yang dulu pernah kujalani. Semua itu membuatku yakin bahwa kondisi tersebut merupakan pembekalan bagiku dan persiapan untuk mengemban misi khidmah al-Qur’an secara tulus. Bahkan aku sangat yakin bahwa berbagai kesulitan yang sering kuhadapi serta kekerasan dan kezaliman yang kualami, tidak lain agar aku terdorong—dengan tangan pertolongan-Nya yang penuh kasih sayang—untuk memfokuskan diri hanya pada sejumlah rahasia al-Qur’an. Meskipun aku senang membaca, namun jiwaku dibuat berpaling dan menjauhi kitab lain selain alQur’an. Dari sana aku memahami bahwa yang mendorongku untuk tidak membaca—di mana ia merupakan satu-satunya hiburan bagiku dalam pengasingan semacam ini—tidak lain adalah agar ayat-ayat al-Qur’an saja yang menjadi guruku. Kemudian sebagian besar Risalah telah dianugerahkan kepadaku karena kebutuhan yang datang seketika dalam jiwa tanpa ada sebab eksternal. Ketika kusampaikan kepada sejumlah teman, mereka berkata, “Ia adalah obat untuk luka zaman ini.” Setelah


Surat Kedua Puluh Delapan

653

disebarkan, aku mengetahui dari sebagian besar saudaraku bahwa ia memenuhi kebutuhan zaman sekarang dan dapat membalut luka-lukanya. Berbagai kondisi tersebut di atas―yang berada di luar kehendak, perasaan, dan jalan hidupku―serta keseluruhan penelitian ilmiahku yang berbeda dengan tradisi para ulama dimana ia muncul tanpa disengaja, semua itu tidak menyisakan sedikitpun keraguan bahwa ia merupakan pertolongan ilahi yang sangat kuat dan karunia Rabbani yang sangat jelas. Petunjuk Ketujuh: Aku melihat sendiri seratus jejak karunia ilahi, pertolongan Rabbani, dan karamah qur’ani selama kurang lebih enam tahun dari masa pengabdian kami terhadap al-Qur’an. Sebagian darinya telah kami tunjukkan dalam “Surat Keenam Belas”. Sebagian yang lain kami jelaskan pada berbagai persoalan dari ‘bahasan keempat’ dari “Surat Kedua Puluh Enam”, serta pada ‘persoalan ketiga’ dari “Surat Kedua Puluh Delapan”. Hal tersebut diketahui oleh teman-teman dekatku. Terutama, teman yang senantiasa menyertaiku, Sayyid Sulaiman. Ia mengetahui sebagian besarnya. Kami mendapat kemudahan ilahi yang merupakan karamah yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak, baik dalam menyebarkan “al-Kalimât” atau berbagai risalah lain, maupun dalam mengoreksi dan mengatur letak, serta membuat dra dan salinannya. Dari sana kami sangat yakin bahwa semua pertolongan ilahi itu adalah karamah al-Qur’an. Selain itu, masih ada ratusan contoh yang lain. Lalu hidup kami selalu dalam naungan kasih sayang dan pertolong ilahi di mana Pemilik kasih sayang dan pertolongan tersebut, yang mempekerjakan kami dalam pengabdian ini, berbuat baik kepada kami dengan mewujudkan keinginan terkecil yang ada di dalam hati. Hal itu dianugerahkan secara tak terduga. Kondisi ini merupakan petunjuk gaib yang sangat jelas bahwa kami telah ditunjuk untuk melakukan pengabdian ini (khidmah al-Qur’an) dan kami didorong untuk melaksanakannya bermahkotakan ridha ilahi dan berada dalam naungan inayah


654

AL-MAKTÛBÂT

Rabbani.

Segala puji bagi Allah. Ini adalah karunia Tuhan.

‫٭٭٭‬

JAWABAN ATAS SEBUAH PERTANYAAN KHUSUS Rahasia ini, rahasia pertolongan ilahi, ditulis untuk menjadi pembahasan khusus dan dimasukkan ke dalam penutup “Kalimat Keempat Belas”. Akan tetapi, para penyalin naskah ternyata lupa untuk menuliskannya sehingga ia terus tersimpan. Karena itu, ia ditempatkan di sini dan tampaknya lebih tepat.” Saudaraku, engkau bertanya, “Mengapa kami menemukan pengaruh yang luar biasa pada “al-kalimât” yang kau tulis dari limpahan al-Qur’an, sementara hal itu jarang ditemukan pada tulisan kaum arif dan para mufassir yang lain? Pengaruh yang dihasilkan oleh satu baris dari “al-kalimât”, menyamai pengaruh yang dihasilkan oleh satu halaman tulisan lain. Dan kuatnya pengaruh yang terdapat pada satu halamannya, menyamai pengaruh yang terdapat pada satu buku yang lain?” Jawaban: Ia adalah jawaban yang apik dan indah. Karena pengaruh tersebut disebabkan oleh kemukjizatan al-Qur’an; bukan disebabkan oleh diriku, maka tanpa ragu aku ingin berkata sebagai berikut:


Surat Kedua Puluh Delapan

655

Ya, sebagian besarnya memang demikian. Pasalnya “alKalimât” merupakan: Pembenaran (tashdîq), bukan persepsi; 530 Keimanan, bukan kepasrahan;531 Pembuktian (tahqiq), bukan taklid buta;532 Kesaksian dan penyaksian, bukan sekedar pengetahuan;533 Tekad, bukan komitmen; Hakikat, bukan tasawuf; serta Pernyataan yang berisi argumen; bukan sekedar pengakuan. Hikmah dan rahasia dari kondisi tersebut adalah bahwa sendi-sendi keimanan pada masa lalu cukup kuat dan ketundukan yang ada juga sangat baik. Hal itu karena penjelasan para ulama dalam urusan furu’ (cabang) dapat diterima serta keterangan mereka sudah memadai meskipun tidak disertai dalil. Adapun pada masa sekarang, kesesatan atas nama ilmu pengetahuan telah menjalar ke seluruh sendi dan pilar-pilar iman. Maka, Dzat Yang Mahabijak dan Maha Penyayang yang memberikan obat yang sesuai kepada setiap orang sakit, memberiku percikan cahaya “tamsil” yang merupakan mukjizat al-Qur’an yang paling terang sebagai bentuk kasih sayang dari-Nya atas kelemahan, ketidakberdayaan, dan kebutuhanku. Hal itu agar dengan “percikan cahaya tamsil “ tersebut aku bisa menerangi tulisanku yang merupakan bentuk pengabdian terhadap al-Qur’an. Segala puji bagi-Nya. Lewat teropong “tamsil”, hakikat yang sangat jauh tampak sangat dekat. Lewat kesatuan tema dalam “tamsil”, persoalan yang berserakan menjadi terkumpul. Lewat tangga “tamsil”, hakikat yang paling tinggi dapat dicapai dengan mudah. Lewat jendela “tamsil”, keyakinan terhadap sejumlah hakikat gaib dan sendi-senTashdiq (pembenaran) adalah menisbatkan kejujuran dan kebenaran kepada sumber informasi. Sementara persepsi adalah mengetahui sesuatu secara tidak pasti, apakah benar atau tidak. Dalam ilmu logika, tashdiq adalah menangkap informasi dengan menerimanya secara sempurna. Sementara persepsi tidak demikian (at-Ta’rifat karya al-Jurjani). 531 Terambil dari fi rman-Nya, “Katakan, ‘Kalian belum beriman,’ tapi katakan, ‘Kami baru Islam (pasrah).’” (QS al-Hujurat: 14). 532 Tahqiq adalah membuktikan sebuah persoalan dengan dalilnya. Sementara taklid adalah menerima perkataan orang lain tanpa argumen dan dalil (at-Ta’rifat karya al-Jurjani). 533 Kesaksian adalah memberitakan apa yang dilihat, sementara penyaksian adalah mengetahui kebenaran lewat kebenaran. Adapun makrifat (pengetahuan) adalah mengetahui sesuatu sebagaimana adanya dengan didahului oleh ketidaktahuan. Berbeda dengan ilmu yang tidak demikian. (at-Ta’rifat karya al-Jurjani). 530


656

AL-MAKTÛBÂT

di Islam dapat diraih di mana ia mendekati penyaksian. Maka, khayalan, Ilusi dan akal terpaksa tunduk, bahkan hawa nafsu. sebagaimana setan juga ikut menyerah. Kesimpulan: betapapun kuatnya pengaruh dan keindahan gaya bahasa dalam tulisanku terlihat, namun ia bukanlah dariku dan bukan hasil olah pikirku. Tetapi, ia berasal dari cahaya “tamsil” yang berkilau di langit al-Qur’an. Bagianku hanyalah memohon kepada-Nya dengan penuh rasa butuh, serta bersimpuh di hadapan-Nya dengan penuh kerendahan. Penyakit berasal dariku, sementara obatnya berasal dari alQur’an al-Karim.

Penutup Persoalan Ketujuh [Penutup ini adalah untuk menghilangkan berbagai syubhat dan keraguan yang barangkali muncul di sekitar sejumlah petunjuk gaib yang terdapat pada delapan pertolongan ilahi. Pada saat yang sama, penutup ini menjelaskan salah satu rahasia pertolongan ilahi yang agung]. Penutup ini terdiri dari 4 nuktah:

Nuktah pertama Kami menyatakan telah melihat manifestasi sebuah petunjuk gaib di mana hal itu kami tulis dalam “pertolongan ilahi kedelapan” saat menjelaskan tentang tawâfuqât (kesesuaian). Kami telah merasakan isyarat dari tujuh pertolongan ilahi itu yang bersifat universal yang disebutkan dalam persoalan ketujuh dari “Surat Kedua Puluh Delapan”. Kami juga menyatakan bahwa tujuh atau delapan pertolongan universal tersebut masih sangat kuat sampai pada tingkat di mana masing-masingnya menguatkan berbagai petunjuk gaib tersebut. Bahkan, andai kita asumsikan bahwa sebagian darinya lemah atau tidak dipercaya, hal itu tidak mengurangi kekuatan petunjuk gaib yang ada. Pasalnya, orang yang tidak mampu mengingkari delapan pertolongan di atas, tidak akan mampu mengingkari petunjuk tersebut.


Surat Kedua Puluh Delapan

657

Akan tetapi, karena tingkatan manusia berbeda-beda, di mana tingkatan awam merupakan mayoritas, sementara mereka banyak bersandar pada penyaksian, maka tawâfuqât tersebut menampilkan berbagai pertolongan ilahi. Ia bukan yang paling kuat. Namun ada hal-hal lain yang lebih kuat darinya. Hanya saja, ia bersifat lebih umum. Karena itu, aku terpaksa menjelaskan sebuah hakikat dalam bentuk perbandingan guna melenyapkan syubhat dan keraguan yang ada pada tawâfuqât tadi. Yaitu: Terkait dengan pertolongan ilahi yang jelas itu, kami telah menegaskan bahwa tawâfuqât adalah bentuk penyaksian terhadap kata “al-Qur’an al-Karim” dan “ar-Rasul al-Karim” serta terhadap sejumlah Risalah yang telah kami tulis. Penyaksian itu sampai pada tingkat yang tidak meninggalkan keraguan sedikitpun bahwa ia dirangkai secara sengaja. Bukti bahwa kesengajaan dan kehendak itu bukan dari kami adalah tawâfuqât itu kami temukan empat tahun kemudian. Artinya, kehendak tersebut bersifat gaib dan merupakan tanda dari adanya pertolongan ilahi. Karena itu, kedua kata tersebut dibuat dalam bentuk yang tidak lazim sebagai penguat kemukjizatan Rasul r dan kemukjizatan al-Qur’an. Berkat kedua kata itu, Tawâfuqât menjadi stempel yang membenarkan risalah “Mukjizat Muhammad r” dan “Mukjizat al-Qur’an.” Bahkan, sebagian besar kata-kata yang semisalnya menampilkan adanya tawâfuqât. Namun hanya pada sejumlah halaman yang terbatas. Sementara dua kata tersebut menampilkan tawâfuqât pada sebagian besar halaman risalah secara umum, serta pada seluruh halaman kedua risalah tersebut. Kami telah berkali-kali menyatakan bahwa tawâfuqât bisa jadi juga banyak terdapat di buku-buku lain. Akan tetapi, tidak seaneh ini di mana ia menunjukkan kehendak ilahi yang tinggi dan mulia. Selanjutnya, meskipun pernyataan kami ini tidak bisa dibantah, namun di dalamnya terdapat satu atau dua sisi yang barangkali secara lahiriah tampak tidak benar. Di antaranya: Mungkin mereka berkata, “Engkau menyusun tawâfuq ini setelah melakukan tafakkur dan perenungan yang panjang. Tentu


658

AL-MAKTÛBÂT

saja, melakukan hal semacam ini dengan sengaja adalah sesuatu yang mudah. Sebagai jawaban, kami tegaskan bahwa adanya dua saksi yang jujur pada setiap pernyataan dan pengakuan sudah cukup. Sementara terkait dengan pernyataan kami, kami bisa memperlihatkan seratus bukti yang jujur bahwa kami melihat adanya tawâfuq (kesesuaian) tersebut sekitar empat tahun sesudahnya tanpa ada maksud dan unsur kesengajaan. Terkait dengan itu, aku ingin menjelaskan satu poin. Yaitu bahwa karamah kemukjizatan tersebut bukan dari sisi kemukjizatan balagah al-Qur’an. Pasalnya, dalam hal kemukjizatan balagah al-Qur’an seluruh manusia tidak mampu mencapainya lewat jalan meniti jalan balagah. Karamah kemukjizatan ini tidak mungkin didapat dengan kemampuan manusia. Sama sekali kemampuan manusia tidak ikut campur di dalamnya. Ketika ada yang ikut campur tangan akan terlihat seperti tindakan yang dibuat-buat. 534

Nuktah Ketiga Sehubungan dengan pembahasan tentang isyarat khusus dan isyarat umum, kami ingin menjelaskan satu rahasia tersembunyi dari rahasia rububiyah dan rahmaniyah. Salah seorang saudaraku memiliki perkataan yang indah. Aku akan menjadikannya sebagai tema dari persoalan ini. Yaitu: Ketika pada satu hari aku memperlihatkan padanya sebuah tawâfuq yang indah, ia berkata, “Ia sangat indah. Semua hakikat memang indah. Namun yang lebih indah adalah kesesuaian yang terdapat dalam Risalah Nur.” “Ya,” jawabku. Segala sesuatu indah. Akan tetapi, bisa jadi ia benar-benar sangat indah, atau indah dilihat dari hasilnya. Pada petunjuk kedelapan belas dari “Surat Kesembilan Belas” pada satu naskah yang terdapat di salah seorang penyalin, sembilan kata dari kata “al-Qur’an” tampak tawâfuq. Kami sambung antar kata tersebut dengan garis, dan dari semuanya tampak lafal . Ketika kami melakukan hal yang sama pada halaman sebelahnya di mana terdapat delapan kata “al-Qur’an” yang mengalami tawâfuq, tampak lafal . Pada tawâfuqât terdapat banyak lagi contoh serupa yang indah. Kami telah melihat sendiri kenyataan dari hal ini (Bakir, Taufi q, Sulaiman, Galib, dan Said)― Penulis. 534


Surat Kedua Puluh Delapan

659

Keindahan tersebut tertuju kepada rububiyah-Nya yang bersifat umum, rahmat-Nya yang komprehensif, dan manifestasi yang menyeluruh. Petunjuk gaib pada kesesuaian ini memang lebih indah seperti yang engkau katakan. Pasalnya, ia menyiratkan rahmat, rububiyah, dan manifestasi yang khusus. Agar lebih bisa dipahami, aku ingin memberikan sebuah perumpamaan. Raja menaungi seluruh rakyatnya dengan perhatian dan kasih sayang. Hal itu terwujud lewat undang-undang dan kekuasaannya. Setiap orang langsung mendapatkan karunia dan kemurahannya dan bernaung di bawah kekuasaannya. Yakni, terdapat relasi khusus bagi setiap mereka dalam bentuk yang bersifat umum. Adapun sisi kedua dari perhatian dan kasih sayangnya berupa karunianya yang khusus serta perintahnya yang bersifat khusus di mana ia berada di atas seluruh undang-undang. Setiap individu dari rakyatnya mendapatkan bagian dari karunia tersebut. Berdasarkan perumpamaan di atas, segala sesuatu memiliki bagian dari rububiyah umum dan rahmat komprehensif milik Wajibul wujud dan Pencipta Yang Mahabijak lagi Maha Penyayang. Artinya, segala sesuatu memiliki relasi dengan-Nya dalam bentuk yang khusus dilihat dari bagian yang ia peroleh. Dia berbuat kepada segala sesuatu lewat qudrah, iradah, dan ilmu-Nya yang menyeluruh. Rububiyah Allah meliputi segala sesuatu, bahkan perbuatan yang paling sederhana. Segala sesuatu membutuhkan-Nya dalam segala kondisi. Maka, urusan-Nya ditetapkan dan perbuatan-Nya ditata lewat ilmu dan hikmah-Nya. Alam tidak dapat bersembunyi di balik wilayah rububiyah-Nya yang agung atau ikut campur dan memberikan pengaruh di dalamnya. Unsur kebetulan juga sama sekali tidak ada dalam tindakan-Nya yang terukur dengan ukuran hikmah-Nya yang cermat. Kami telah menegaskan tidak adanya pengaruh alam materi dan unsur kebetulan pada dua puluh bagian dalam Risalah Nur. Kami tebas keduanya dengan pedang al-Qur’an. Kami telah memberikan berbagai argumen yang tak terbantahkan bahwa sangat mustahil alam materi dan unsur kebetulan ikut terlibat.


660

AL-MAKTÛBÂT

Hanya saja, kalangan yang lalai menyebut istilah “kebetulan” pada sejumlah hal yang hikmah dan sebabnya tidak mereka ketahui saat melihat berbagai fenomena yang diliputi oleh rububiyah-Nya yang bersifat umum. Saat tidak mampu melihat hukum perbuatan ilahi yang hikmahnya tersembunyi di balik tirai alam, mereka menisbatkan urusan kepada alam. Kedua, adalah rububiyah Allah yang bersifat khusus, anugerah yang bersifat khusus, serta bantuan yang bersifat khusus. Mereka yang tidak dapat menerima tekanan hukum alam yang bersifat umum, dibantu oleh nama ar-Rahmân dan ar-Rahîm serta mendapat pertolongan khusus hingga bisa keluar dari kesempitan dan kesulitan yang ada. Karena itu, setiap makhluk hidup, terutama manusia, meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Ia meminta bantuan dariNya pada setiap waktu. Dari sana, kebaikan dan karunia Allah yang terdapat pada rububiyah khusus ini tidak mungkin tersembunyi dalam “unsur kebetulan” dan tidak mungkin dinisbatkan kepada alam materi bahkan oleh kaum yang lalai sekalipun. Atas dasar itu, kami yakin bahwa berbagai petunjuk gaib yang terdapat pada “Mukjizat Muhammad r” dan “Mukjizat alQur’an” merupakan petunjuk gaib yang bersifat khusus. Kami percaya bahwa ia merupakan pertolongan ilahi yang bersifat khusus yang bisa memperlihatkan dirinya di hadapan kaum pembangkang. Oleh karena itu, kami sengaja mengungkapnya guna mendapat ridha-Nya semata. Kalaupun kami salah, semoga Allah memaaannya. Amin.

Ya Allah, jangan Engkau hukum kami jika kami lupa atau salah.

‫٭٭٭‬


Surat Kedua Puluh Delapan

661

PERSOALAN KEDELAPAN (Risalah Kedelapan)

[Persoalan ini menjelaskan delapan nuktah sebagai jawaban dari enam pertanyaan]

Nuktah Pertama: Kami merasakan adanya banyak jenis petunjuk gaib terkait dengan aktivitas kami dalam berkhidmah kepada al-Qur’an di bawah inayah ilahi. Kami telah menerangkan sebagiannya. Ini adalah petunjuk yang baru darinya. Yaitu keberadaan tawâfuqât ghaibiyyah (kesesuaian yang bersifat gaib) pada sebagian besar alKalimât.535 Di antaranya: petunjuk gaib yang mencerminkan satu jenis kemukjizatan pada kata ar-Rasul al-Akram, ungkapan alaihi ash-shalâtu wassalâm, dan “al-Qur’an” yang penuh berkah. Betapapun sangat samar dan lemah, namun dalam pandanganku, petunjuk gaib tersebut amat penting dan kuat. Hal itu karena ia menunjukkan bahwa khidmah yang dilakukan benar dan diterima. Ia melenyapkan rasa sombong yang ada padaku dan menunjukkan dengan pasti bahwa aku hanyalah penerjemah dari berbagai risalah. Tidak ada yang layak kubanggakan. Ia malah memperlihatkan sejumlah hal yang patut disyukuri. Karena sejumlah petunjuk gaib yang dimaksud terkait dengan al-Qur’an dan merujuk kepadanya, serta dalam rangka menjelaskan sisi kemukjizatannya tanpa ada keinginan sedikitpun dariku, lalu ia mendorong kalangan yang malas untuk berkhidmah, sekaligus memberikan rasa yakin akan kebenaran Risalah Nur di mana ia merupakan bentuk kemurahan ilahi kepada kami, dan menjelaskannya adalah bagian dari mengungkap nikmat Tuhan dan upaya memberikan argumen tak terbantahkan kepada para pembangkang, maka petunjuk tersebut harus diungkapkan. Insya Allah ia tidak berbahaya. 535 Tawâfuqât merupakan petunjuk adanya kesepakatan. Kesepakatan adalah tanda persatuan dan kesatuan. Sementara kesatuan menunjukkan tauhid. Tauhid adalah landasan paling agung dari empat landasan al-Qur’an al-Karim―Penulis.


662

AL-MAKTÛBÂT

Nah, salah satu petunjuk gaib tersebut adalah bahwa Allah I lewat kesempurnaan rahmat-Nya dan limpahan kemurahan-Nya, telah memberi kami―sebagai bentuk motivasi bagi kami untuk beramal dan pemberi keyakinan kepada hati kami yang aktif berkhidmah pada al-Qur’an dan iman―satu nikmat mulia berupa kemurahan Rabbani dan anugerah ilahi. Ia merupakan pertanda diterimanya khidmah kami dan bukti kebenaran tulisan kami. Ia berupa petunjuk gaib yang terdapat pada tawâfuqât yang tampak pada seluruh risalah kami. Terutama pada risalah “Mukjizat Muhammad”, risalah “Mukjizat al-Qur’an”, dan risalah “Jendela Tauhid”. Pada risalah tersebut sejumlah kata saling bersesuaian dalam lembaran yang sama. Ini menjadi petunjuk gaib bahwa ia disusun berdasarkan kehendak gaib. Dengan kata lain, goresan dan susunannya mengalir tanpa diketahui dan disadari oleh kalian. Karena itu jangan kalian tertipu oleh kehendak dan perasaan kalian. Terutama, pada risalah “Mukjizat Muhammad” yang di dalamnya kata ar-Rasul al-Akram dan “ash-shalawât alaih laksana cermin yang menampilkan tawâfuqât gaib dengan sangat jelas. Bahkan, kata ash-shalawât alaih tampak paralel di lebih dari seratus halaman― kecuali pada lima halaman―yang terdapat pada para penyalin naskah yang baru dan pemula. Tawâfuqât tersebut tentu saja bukan sebuah kebetulan yang memang bisa menjadi penyebab bagi adanya tawâfuqât dua kata dari setiap sepuluh kata. Ia juga tidak bersumber dari hasil pemikiran seseorang yang lemah sepertiku, yang tidak pandai berkreasi, yang pandangannya hanya tertuju kepada makna, di mana ia disusun dalam waktu yang sangat cepat sekitar empat puluh halaman dalam dua jam. Apalagi aku tidak menulisnya sendiri; tetapi hanya mendiktekan pada orang lain. Demikianlah, enam tahun kemudian barulah aku menemukan tawâfuqât tersebut berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan tafsir isyârâtul i‘jâz yang di dalamnya terdapat tawâfuqât pada sembilan kata dari kata “ ”. Para penyalin naskah terheran-heran dengan hal tersebut setelah mendengarnya dariku.


Surat Kedua Puluh Delapan

663

Sebagaimana kata ar-Rasul al-Akram dan ash-Shalawât alaih pada “Surat Kesembilan Belas” laksana cermin kecil bagi salah satu bentuk kemukjizatannya, demikian pula kata “al-Quran” pada risalah “Mukjizat al-Qur’an”, yaitu Kalimat Kedua Puluh Lima, dan pada petunjuk kedelapan belas dari “Surat Kesembilan Belas”, tampak adanya tawâfuqât indah yang menjelaskan salah satu bagian dari 40 bagian tawâfuqât yang terdapat pada seluruh risalah. Pada waktu yang sama, ia menjelaskan salah satu dari 40 bentuk kemukjizatan al-Qur’an kepada kalangan yang bersandar pada penyaksian mereka. Yaitu yang mencerminkan satu tingkatan dari 40 tingkatan manusia. Berikut penjelasannya: Kata “al-Qur’an” terulang sebanyak seratus kali pada “Kalimat Kedua Puluh Lima” dan pada petunjuk kedelapan belas dari “Surat Kesembilan Belas”. Seluruh kata mengalami kesesuain kecuali pada sebagian kecilnya. Pada halaman keempat puluh tiga dari “Sinar Kedua” terdapat tujuh kata “al-Qur’an” yang semuanya saling berhadapan. Pada halaman kelima puluh enam yang berisi sembilan kata “al-Qur’an” delapan di antaranya saling berhadapan. Pada halaman keenam puluh sembilan yang berada di hadapan kita terdapat lima kata “al-Qur’an” yang semuanya saling berhadapan. Begitulah kata “al-Qur’an” yang terulang pada semua halaman saling berhadapan. Barangkali hanya satu dari lima atau enam kata darinya yang dikecualikan. Adapun seluruh tawâfuqât pada halaman ketiga puluh tiga yang berada di hadapan kita, dari lima belas kata “ ” empat belas di antaranya saling berhadapan. Begitupula pada halaman yang ada di hadapan kita ini, sembilan kata “ ” saling berhadapan. Hanya satu yang sedikit berbeda karena si penyalin memberikan tanda koma antar kata. Juga pada halaman yang ada di hadapan kita, dua kata “ ” yang satu terdapat di baris ketiga dan yang satunya lagi berada di baris kelima belas. Keduanya saling berhadapan secara sangat indah. Di antara keduanya empat kata “ ” berbaris secara saling berhadapan. Begitulah, tawâfuqât gaib yang lain juga demikian.


664

AL-MAKTÛBÂT

Jadi, seluruh tawâfuqât yang terdapat dalam Risalah Nur, siapapun penyalinnya dan bagaimanapun baris dan halamannya, ia sudah pasti bukan hasil dari sebuah kebetulan serta bukan hasil pemikiran penulis dan penyalin. Namun tawâfuqât pada tulisan sejumlah penyalin sangat menarik perhatian. Artinya, Risalah Nur memiliki tulisan hakiki yang bersifat khusus dan sejumlah penyalin sangat dekat dengannya. Yang aneh, tawâfuqât tersebut justru lebih banyak tampak pada para penyalin yang kurang mahir daripada penyalin yang mahir. Dari sana dapat dipahami bahwa keistimewaan dan kemuliaan yang terdapat pada al-Kalimât (Risalah Nur) yang merupakan semacam tafsir al-Qur’an, bukanlah milik seseorang. Akan tetapi, corak busana yang tersusun rapi yang sesuai dengan bentuk hakikat al-Qur’an yang penuh berkah dan indah itu tidak bisa didesain dan dijahit sesuai pilihan dan perasaan seseorang. Namun keberadaannya itulah yang menuntut demikian. Tangan gaiblah yang telah mendesain, menjahit, dan memakaikannya sesuai dengan ukurannya. Kami hanya penerjemah dan pelayannya.

Nuktah Keempat: Pada pertanyaan pertamamu yang berisi lima atau enam pertanyaan, engkau berkata sebagai berikut: Bagaimana seluruh manusia dikumpulkan di padang mahsyar, apakah mereka dibangkitkan dalam keadaan telanjang? Lalu bagaimana para sahabat saling bertemu dan bagaimana kita bisa menemui Rasul r untuk mendapatkan syafa’at? Yakni, bagaimana seseorang bertemu dengan orang-orang yang jumlahnya tak terbatas? Apa jenis pakaian penduduk surga dan neraka? Siapa yang menjadi penunjuk jalan bagi kita? Jawaban: Jawaban atas pertanyaan di atas terdapat secara lengkap dan jelas dalam kitab-kitab hadis Nabi r. Di sini kami hanya akan menyebutkan satu atau dua hal penting yang sesuai dengan jalan kita: Pertama: kami telah menjelaskan dalam salah satu surat dalam al-Maktûbât bahwa padang mahsyar berada pada orbit


Surat Kedua Puluh Delapan

665

revolusi bumi. Bumi mengirimkan seluruh hasil panen maknawiyahnya dari sekarang ke lembaran padang mahsyar tersebut. Dengan gerak revolusinya tersebut, bumi berposisi sebagai wilayah wujud dan menjadi awal pembentukan padang mahsyar lewat hasil wilayah wujud tadi. Lalu bola bumi yang laksana kapal Rabbani akan menuang neraka kecil yang berada di pusatnya ke neraka besar sebagaimana ia akan menuang penghuninya ke padang mahsyar. Kedua: dalam al-Kalimât, terutama “Kalimat Kesepuluh” dan “Kalimat Kedua Puluh Sembilan” kami telah menegaskan adanya kebangkitan berikut tempatnya (mahsyar). Ketiga: adapun masalah berkumpul dan bertemu dengan teman, hal itu telah ditegaskan secara lengkap dalam “Kalimat Keenam Belas”, “Ketiga Puluh Satu”, dan “Ketiga Puluh Dua”. Intinya, seseorang dalam waktu satu menit bisa bertemu dengan jutaan manusia di ribuan tempat. Semua itu bisa terwujud dengan rahasia cahaya (nuraniyah). Keempat: Allah I telah memakaikan kepada seluruh makhluk-Nya sebuah pakaian fi tri kecuali manusia. Nah di padang mahsyar, Allah akan memberinya pakaian fi tri. Ia akan melepas pakaian tenunannya yang tidak fi tri sesuai dengan tuntutan nama Allah, al-Hakîm (Yang Maha Bijaksana). Adapun hikmah pakaian yang ia kenakan di dunia, tidak hanya untuk melindungi dari panas dan dingin, tidak hanya untuk perhiasan dan menutup aurat. Namun hikmah yang paling penting darinya adalah: bahwa pakaian tersebut menunjukkan kepemimpinan manusia atas seluruh spesies dan pemanfaatannya. Pasalnya, pakaian itu ditenun dari berbagai jenis spesies tersebut. Jika tidak demikian, maka sangat mudah bagi Allah untuk memakaikan kepada manusia sebuah pakaian fi tri yang sederhana. Pasalnya, kalau bukan karena hikmah tersebut, tentu manusia sudah menjadi bahan ejekan makhluk yang memiliki perasaan karena telah menutupi dirinya dan membalut tubuhnya dengan beragam potongan kain. Nah, di padang mahsyar nanti, hikmah tersebut tidak lagi dibutuhkan. Tidak ada alasan bagi adanya relasi antara manusia


666

AL-MAKTÛBÂT

dan seluruh spesies. Karena itu, ia tidak lagi membutuhkan pakaian yang mencerminkan sampel berbagai spesies. Kelima: terkait dengan penunjuk jalan, ia adalah al-Qur’an. Ia penunjuk jalan bagi orang-orang sepertimu yang berada dalam naungan cahaya dan panjinya. Perhatikan huruf-huruf muqatta’ât yang terdapat pada awal surah seperti dan . Ketahuilah dan saksikanlah betapa al-Qur’an merupakan kitab yang agung, betapa ia pemberi syafaat yang paling bisa diharapkan, penuntun jalan yang paling benar, serta cahaya yang paling suci. Keenam: pakaian penduduk surga dan neraka telah dijelaskan pada “Kalimat Kedua Puluh Delapan”. Hukum yang disebutkan terkait dengan tujuh puluh pakaian bidadari juga berlaku di sini. Hal itu karena orang yang menjadi penduduk surga sudah pasti ingin menikmati semua jenis kenikmatan surga setiap saat. Seperti diketahui, di surga terdapat kenikmatan dan keindahan yang sangat beragam dan variatif. Penghuni surga akan merasakan semua jenis kenikmatan yang ada setiap saat. Karena itu, ia memakai dan memakaikan bidadarinya berbagai bentuk keindahan surga dalam skala yang lebih kecil. Dengan begitu, ia dan bidadarinya laksana surga kecil. Pasalnya, sebagaimana di taman rumahnya, manusia mengumpulkan berbagai bunga yang tersebar di negerinya; sebagaimana pemilik toko mengumpulkan berbagai jenis dagangan di etalase; sebagaimana manusia memperoleh pakaian dan perabotan dari berbagai jenis makhluk yang dikendalikannya, demikian pula dengan penduduk surga. Terutama yang beribadah kepada Allah dengan seluruh perasaan dan inderanya. Jika manusia tersebut berhak untuk mendapatkan kenikmatan surga, maka Allah akan memberinya pakaian lewat rahmat-Nya serta memakaikan berbagai jenis pakaian kepada bidadarinya yang dengan itu ia memperlihatkan segala jenis keindahan, kenikmatan, dan rasa sehingga memenuhi semua keinginannya, memuaskan semua inderanya, membuat nikmat seluruh organ dan perangkatnya, serta memudahankannya dalam merasakan segala karunia dan keindahan.


Surat Kedua Puluh Delapan

667

Bukti bahwa pakaian yang beragam itu tidak hanya berasal dari satu jenis dan satu spesies adalah hadis Nabi r yang maknanya: “Bidadari memakai tujuh puluh pakaian dan sumsum tulangnya tampak dari bawahnya.”536Artinya, mulai dari pakaian yang paling atas hingga yang paling bawah terdapat sejumlah tingkatan kenikmatan yang memuaskan semua indera dan perasaan lewat beragam nikmat dan karunia. Adapun orang yang menjadi penduduk neraka, karena telah melakukan dosa dengan penglihatan, pendengaran, kalbu, akal, dan tangannya, serta dengan seluruh anggota badan, indera, dan perasaannya, maka Allah akan memberinya pakaian yang terbuat dari beragam jenis guna menjadi siksa baginya dan agar ia merasakan beragam penderitaan sesuai dengan indera dan organ yang ada sehingga pakaian tersebut menjadi neraka kecil yang mengelilinginya. Ini sejalan dengan hikmah dan keadilan Tuhan.

Nuktah Kelima: Kalian bertanya: Apakah nenek moyang Rasul r di masa fatrah memeluk sebuah agama? Jawaban: Terdapat sejumlah riwayat yang menunjukkan bahwa mereka memeluk sisa-sisa peninggalan agama Ibrahim 537 setelah masa kealpaan dan kegelapan maknawi berlangsung. Ia menjadi agama sejumlah orang. Tentu saja, orang-orang yang dan membentuk silsilah menjadi keturunan Nabi Ibrahim bersinar yang melahirkan Rasul r bukanlah orang-orang yang mengabaikan agama yang benar. Mereka tidak jatuh kepada gelapnya kekufuran. Allah I berfi rman:

“Kami tidak memberi siksa sebelum mengirim seorang Rasul”. (QS. al-Isrâ [17]: 15). HR. at-Tirmidzi, Shifat al-Jannah 5, HR Ahmad ibn Hambal dalam al-Musnad 2/345 dan 3/16. Lihat HR al-Bukhari, Bad’ul Khalq 8, dan HR Muslim, al-Jannah 14 dan 17. 537 Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyyah 2/68; ath-abari, Tarikh al-Umam wal Muluk 1/532; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 3/5. 536


668

AL-MAKTÛBÂT

Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang hidup di masa fatrah merupakan kelompok yang selamat. Kesalahan mereka dalam hal furu’ (cabang) tidak membuat mereka dihukum menurut kesepakatan ulama. Bahkan, menurut Imam asy-Syafi ’i dan alAsy’ari, mereka merupakan kelompok yang selamat, meskipun mereka berada dalam kekufuran dan tidak memiliki pilar iman. Sebab, taklif ilahi baru berlaku ketika seorang rasul diutus dan taklif tersebut terwujud saat pengutusan tersebut diketahui. Nah, karena kealpaan dan perjalanan waktu telah menutupi agama para nabi terdahulu, maka agama-agama tersebut tidak bisa menjadi hujjah atas mereka yang hidup di masa fatrah. Jika taat, mereka mendapat pahala. Namun jika tidak taat, mereka tidak disiksa. Sebab, agama tersebut tidak bisa menjadi hujjah selama ia tertutup dan tidak tampak.

Nuktah Keenam: Kalian bertanya: Adakah dari nenek moyang Nabi r yang diutus sebagai nabi? Jawaban: Tidak ada nash yang secara tegas menunjukkan . keberadaan nabi dari nenek moyang Nabi r sesudah Ismail Akan tetapi, terdapat dua nabi di luar nenek moyang beliau: Khalid Ibn Sinan dan Hanzhalah. Sebuah syair karya Ka’ab ibn Luay, salah seorang nenek moyang Nabi r di antaranya menyebutkan:

Saat kondisi lalai, Nabi Muhammad datang Beliau memberikan berbagai informasi yang benar538 Ungkapan ini menyerupai ucapan kenabian. Dengan mengacu pada dalil dan kasyaf, Imam Rabbani berkata, “Banyak nabi yang diutus di daerah India. Hanya saja, sebagian mereka tidak memiliki pengikut atau yang diketahui hanya beberapa orang saja, sehingga mereka tidak terkenal atau tidak disebut sebagai nabi.” 539 538 Abu Nu’aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 90; Ismail ibn Muhammad, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/156; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 2/244. 539 Imam Rabbani, al-Maktubat jilid 1, al-maktub ke-259.


Surat Kedua Puluh Delapan

669

Berdasarkan perkataan Imam Rabbani tersebut, bisa saja terdapat para nabi seperti mereka dari nenek moyang Nabi r.

Nuktah Ketujuh: Kalian bertanya: Riwayat mana yang paling valid dan paling kuat terkait dengan keimanan kedua orang tua Rasul r dan kakek beliau, Abdul Muttalib?” Jawaban: Sejak sepuluh tahun yang lalu, “Said Baru” tidak merujuk kepada kitab apapun selain al-Qur’an. Ia menjadikan alQur’an sebagai satu-satunya rujukan. Aku tidak memiliki waktu untuk melakukan penelitian dan kajian dalam hal-hal furu’ seperti ini pada semua kitab hadis untuk mengetahui riwayat yang paling valid dan kuat. Namun aku ingin berkata: Kedua orang tua Rasul r termasuk orang yang selamat, termasuk penghuni surga, dan termasuk kalangan beriman. 540 Tentu saja Allah I tidak akan menyakiti hati kekasih-Nya dan tidak melukai perasaan (kasih sayang) beliau yang memenuhi hati penuh berkah tersebut. Barangkali ada yang bertanya: Jika demikian, mengapa mereka tidak diberi taufi k untuk beriman dan tidak hidup sampai beliau diutus sebagai nabi?” Jawaban: Dengan kemurahan-Nya yang luas, Allah I tidak ingin menjadikan kedua orang tua Rasul r terbebani oleh jasa manusia demi menjaga perasaan beliau. Pasalnya, Allah ingin membuat kekasih-Nya tersebut senang dan membuat kedua orang tua beliau bahagia. Dia menjadikan kedua orang tua beliau benar-benar merasakan jasa dan karunia Tuhan semata agar kedudukan mereka tidak turun dari posisi sebagai orang tua kepada posisi “anak maknawi.” Karena itu, Dia tidak menjadikan kedua orang tua dan kakek beliau sebagai umatnya secara lahiriyah. Namun pada waktu yang sama, Dia memberikan kepada mereka berbagai keistimewaan, keutamaan, dan kebahagiaan umat. 540 Lihat: as-Suhayli, Rawdh al-Anf 1/299; al-Ajluni, Kasyf al-Khafa’ 1/63; anNabhani, Hujjatullah alâ al-Âlamin 412-413.


670

AL-MAKTÛBÂT

Ya, andaikan seorang ayah yang berpangkat kapten berada di hadapan anaknya yang berpangkat marsekal, tentu sang ayah berada dalam dua perasaan yang kontradiktif. Karena itu, sebagai bentuk kasih sayang sang raja kepada marsekalnya, ia tidak menjadikan ayahnya berada di bawah komandonya.

Nuktah Kedelapan: Kalian bertanya: Pendapat mana yang paling tepat terkait dengan keimanan paman beliau, Abu alib?” Jawaban: Kalangan Syiah berpendapat bahwa ia beriman, sementara sebagian besar ahlu sunnah berpandangan bahwa ia tidak beriman. Namun yang terlintas dalam benakku adalah sebagai berikut: Abu alib adalah sosok yang demikian tulus mencintai pribadi Rasul r.541Ia mencintai sosok beliau; bukan risalahnya. Tentu saja kecintaan dan kasih sayangnya yang tulus kepada Rasul r tidak hilang begitu saja dan tidak akan sia-sia. Ya, Abu alib yang sangat mencintai kekasih Tuhan serta melindungi dan menunjukkan loyalitas kepada beliau, kalaupun masuk ke neraka lantaran tidak menunjukkan keimanan―karena malu, fanatisme kesukuan, atau karena perasaan sejenis; bukan karena keras kepala dan membangkang―maka sangat mudah bagi Allah untuk menciptakan surga yang khusus untuknya di neraka sebagai balasan atas kebaikannya. Allah kuasa untuk mengubah nerakanya menjadi surga, sebagaimana kadangkala Dia menciptakan musim semi di tengah musim dingin yang sangat hebat. Atau, sebagaimana Dia mengubah penjara sempit— menurut pandangan sebagian orang—menjadi istana megah.

Pengetahuan tentangnya hanya di sisi Allah. Hanya Allah yang mengetahui perkara gaib.

541 Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyyah 1/100-101, 2/265-266; ath-abari, Tarikh al-Umam wal Muluk 1/545; al-Bayhaqi, Dala’il an-Nubuwwah 2/186-187.


Surat Kedua Puluh Delapan

‫٭٭٭‬

671


SURAT KEDUA PULUH SEMBILAN

(Surat kedua puluh sembilan ini menjelaskan sembilan bagian)

BAGIAN PERTAMA

(Terdiri dari sembilan nuktah)

Saudaraku yang mulia, setia, dan jujur! serta sahabatku yang tulus dan tekun dalam berkhidmah pada al-Qur’an! Dalam suratmu kali ini, engkau memintaku untuk memberikan jawaban atas sebuah persoalan penting, namun waktu dan kondisiku tidak memungkinkan untuk itu. Saudaraku, jumlah orang yang menyalin Risalah Nur tahun ini bertambah banyak, alhamdulillah. Koreksian kedua datang kepadaku sehingga membuatku sibuk sepanjang hari. Karena itu, banyak urusan penting yang tertunda. Sebab, menurutku tugas ini lebih penting daripada yang lain. Terutama, pada bulan Sya’ban dan Ramadhan. Oleh karena porsi hati lebih banyak daripada akal, dan jiwa sudah mulai bergejolak, maka persoalan penting ini kutunda ke waktu yang lain. Ketika, dengan rahmat Allah, sesuatu terlintas di dalam hati, aku akan menuliskannya untuk kalian sedikit demi sedikit. Sekarang, aku akan menjelaskan tiga nuktah 542.

Nuktah Pertama: “Berbagai rahasia al-Qur’an tidak bisa diketahui secara sempurna, dan hakikatnya tidak bisa dijangkau oleh para mufassir.” 542

Pada akhirnya, ia sempurna menjadi sembilan nuktah―Penulis.


674

AL-MAKTÛBÂT

Konsep ini memiliki dua aspek. Sementara orang-orang yang mengatakannya terbagi dalam dua kelompok: Kelompok Pertama: kalangan yang berpegang pada kebenaran, berilmu, dan peneliti. Mereka mengatakan, “al-Qur’an merupakan kekayaan besar yang tak pernah habis. Setiap generasi bisa mengambil bagian dari hakikatnya yang tersembunyi di mana hal itu merupakan penyempurna, disertai sikap menerima nash-nash al-Qur’an dan hukumnya yang jelas tanpa ada sikap mencampuri atau menyentuh berbagai hakikat tersembunyi yang menjadi milik generasi lain.” Ya, berbagai hakikat al-Qur’an semakin jelas seiring dengan perjalanan waktu. Ini bukan berarti meragukan penjelasan hakikat al-Qur’an yang telah disampaikan oleh generasi salaf salih. Sebab, ia merupakan nash yang qath’i dan hal prinsipil yang harus diimani. Allah I berfi rman:

“Ini adalah lisan (bahasa) Arab yang jelas,” (QS. an-Nahl [16]: 103). Ayat di atas menegaskan bahwa makna al-Qur’an sangat jelas. Pesan ilahi, dari awal sampai akhir, berkisar di seputar makna tersebut serta menguatkannya sehingga menjadi sebuah aksioma. Karena itu, menolak sejumlah makna yang didasari dengan nash akan mengantarkan pada sikap mendustakan Allah I, dan menganggap rancu pemahaman Rasul r. Dengan kata lain, makna-makna yang didasari dengan nash tersebut terambil dari sumber risalah beliau secara bersanad. Bahkan Ibnu Jarir ath-abari menulis tafsirnya yang agung dengan menyandarkan seluruh makna al-Qur’an kepada sumber risalah tersebut. Kelompok Kedua: mereka adalah “teman yang bodoh” yang lebih banyak merusak daripada memperbaiki, atau “musuh yang licik” yang ingin menentang hukum-hukum Islam dan berbagai hakikat iman. Mereka berusaha menemukan celah dari sejumlah surah al-Qur’an yang keseluruhannya seperti pagar baja dengan


Surat Kedua Puluh Sembilan

675

maksud untuk membentengi al-Qur’an. Begitulah kata mereka. Mereka menyebarkan berbagai ungkapan semacam itu untuk menanamkan keraguan seputar hakikat iman dan al-Qur’an.

Nuktah Kedua: Allah I telah bersumpah dalam al-Qur’an dengan banyak hal. Sumpah al-Qur’an tersebut berisi sejumlah poin yang sangat penting dan rahasia yang sangat banyak. Di antaranya: 1.

Firman Allah dalam surah asy-Syams:

“Demi matahari dan sinarnya di pagi hari.” (QS. asySyams [91]: 1). Sumpah pada ayat tersebut menjadi petunjuk yang memperlihatkan alam laksana istana dan kota besar di mana ia merupakan landasan dari perumpamaan indah yang terdapat dalam “Kalimat Kesebelas”. 2.

Firman Allah dalam surah Yâsîn:

“Yâsîn. Demi al-Qur’an yang penuh hikmah.” (QS. Yâsîn [36]: 1-2). Sumpah pada ayat tersebut mengingatkan kesucian kemukjizatan al-Qur’an, dan bahwa al-Qur’an merupakan sesuatu yang sangat penting sehingga menjadi alat sumpah. 3.

Firman Allah dalam surah an-Najm:

“Demi bintang ketika terbenam.” (QS. an-Najm [53]: 1). Sumpah pada ayat tersebut menunjukkan bahwa jatuhnya bintang merupakan tanda terputusnya informasi gaib dari jin dan setan sebagai upaya pencegahan bercampurnya syubhat dengan wahyu ilahi.


676

4.

AL-MAKTÛBÂT

Firman Allah dalam surah al-Wâqi’ah:

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui.” (QS. al-Wâqi’ah [56]: 75-76). Sumpah pada ayat tersebut mengingatkan akan keagungan qudrah Tuhan dan kesempurnaan hikmah-Nya dalam meletakkan bintang pada posisinya dengan sangat sempurna berikut ukurannya yang besar, serta bagaimana Dia menjalankan planet dengan sangat cepat. 5.

Firman Allah dalam surah adz-Dzâriyât dan al-Mursalât:

“Demi angin (yang menerbangkan debu) ....” (QS. adz-Dzâriyât [51]: 1).

“Demi malaikat (yang diutus untuk membawa kebaikan).....” (QS. al-Mursalât [77]: 1). Sumpah pada dua ayat di atas mengingatkan tentang berbagai hikmah yang agung dalam gerak udara dan pengarahan angin. Pasalnya, Allah I bersumpah dengan para malaikat yang diperintah mengarahkan angin. Hal itu mengalihkan perhatian kita kepada urusan yang tadinya dianggap kebetulan, ternyata mengandung sejumlah hikmah yang mendalam dan menunaikan berbagai tugas yang mulia. Begitulah, Setiap posisi sumpah memiliki kedudukan yang sangat penting. Karena waktu yang ada tidak memungkinkan untuk memberikan penjelasan secara rinci, kami akan menjelaskan secara global satu hal penting dari berbagai hal penting yang dikandung oleh sumpah dalam surah at-Tîn:


Surat Kedua Puluh Sembilan

677

“Demi buah Tin dan Zaitun.” (QS. at-Tîn [95]: 1). Lewat sumpah dengan buah Tin dan Zaitun, Allah mengingatkan tentang keagungan qudrah-Nya, kesempurnaan rahmat-Nya, dan kebesaran nikmat-Nya. Dia mengalihkan pandangan manusia yang terperosok ke dalam tingkatan paling rendah dan menunjukkan bahwa manusia mampu mencapai tingkatan maknawiyah yang tinggi. Bahkan, ia bisa naik menuju tingkatan yang paling tinggi lewat syukur, tafakkur, iman, dan amal salih. Penyebutan buah Tin dan Zaitun secara khusus sebagai sumpah di antara berbagai nikmat lainnya adalah karena: Kedua buah tersebut bermanfaat dan penuh berkah. Penciptaannya dan nikmat yang terdapat di dalamnya sangat besar sehingga perlu mendapat perhatian. Buah Zaitun menjadi landasan penting dalam kehidupan sosial dan bisnis, sebagai sarana pencahayaan, dan sebagai nutrisi bagi manusia. Demikian pula buah Tin. Penciptaan buah Tin menunjukkan salah satu mukjizat qudrah ilahi yang luar biasa. Misalnya, ketika Allah memasukkan berbagai perangkat pohon Tin yang besar ke dalam benihnya yang sangat kecil. Sumpah dengannya juga mengingatkan tentang nikmat-nikmat ilahi yang terdapat pada rasanya, manfaatnya, dan kemunculan buahnya yang terus-menerus; tidak seperti sebagian besar buah yang lain. Pada waktu yang sama, Dia mengarahkan manusia kepada sesuatu yang bisa melindunginya agar tidak terjatuh ke dalam tingkatan yang paling rendah. Yaitu dengan iman dan amal salih.

Nuktah Ketiga: Huruf-huruf muqatta’at yang terdapat di permulaan sejumlah surah adalah “kode rahasia” ilahi. Dengan huruf-huruf tersebut, Allah memberikan sejumlah isyarat dan petunjuk gaib kepada hamba-Nya yang istimewa. Sedangkan kunci “kode rahasia” tersebut ada pada hamba-Nya yang istimewa itu dan para pewarisnya.


678

AL-MAKTÛBÂT

Karena al-Qur’an al-Hakim berbicara kepada seluruh golongan manusia pada setiap waktu dan tempat, tentu ia berisi beragam makna dan sisi yang bersifat komprehensif yang bisa memenuhi kebutuhan setiap golongan pada setiap masa. Makna yang paling valid adalah yang diterangkan secara jelas oleh generasi salaf saleh. Para wali dan ahli peneliti menemukan sejumlah petunjuk gaib pada huruf-huruf muqatta’at tersebut terkait dengan perjalanan spiritual. Kami telah membahas huruf-huruf tersebut dalam tafsir Isyârât al-I’jâz di permulaan tafsir surah al-Baqarah. Karena itu, pembaca bisa merujuk kepadanya.

Nuktah Keempat: “Kalimat Kedua Puluh Lima” telah menegaskan bahwa alQur’an tidak bisa diterjemahkan dengan sempurna. Gaya bahasanya yang tinggi terkait dengan kemukjizatan maknanya tidak akan bisa diterjemahkan. Sangat sulit memindahkan rasa bahasa (dzauq) dan menjelaskan hakikat yang bersumber dari gaya bahasanya yang tinggi itu. Di sini kami hanya ingin menerangkan satu atau dua sisi darinya. Yaitu, lewat fi rman Allah berikut ini:

“Di antara tanda kekuasaan-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulit kalian.” (QS. ar-Rûm [30]: 22).

“Langit terlipat dalam genggaman tangan kanan-Nya.” (QS. az-Zumar [39]: 67).

“Dia menciptakan kalian dalam perut ibu kalian secara bertahap dalam tiga kegelapan.” (QS. az-Zumar [39]: 6).


Surat Kedua Puluh Sembilan

679

“Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam hari.” (QS. al-A’râf [7]: 54).

“Dia membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. al-Anfâl [8]: 24).

“Tidak ada seberat biji atom pun yang tersembunyi dari-Nya.” (QS. Saba [34]: 3).

“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dia Maha Mengetahui apa yang terdapat dalam dada manusia.” (QS. al-Hadîd [57]: 6). Ayat-ayat di atas dan yang sejenisnya memberikan satu gambaran hakikat penciptaan dalam satu gaya bahasa yang tinggi, menakjubkan, dan luar biasa. Ia menjelaskan bahwa sebagaimana Pencipta alam menempatkan matahari dan bulan pada tempatnya, Dia juga menempatkan atom pada tempatnya, di pelupuk mata makhluk misalnya. Dia menempatkan masing-masing pada tempatnya lewat perangkat yang sama dan pada waktu yang bersamaan. Sebagaimana menata langit dalam bentuk berlapis, membukanya dalam bentuk pintu-pintu, dan mengaturnya secara rapi, Dia juga menata lapisan mata dan membuka penutupnya lewat timbangan secara terukur lewat perangkat dan media maknawi yang sama pada waktu yang bersamaan. Sebagaimana meletakkan sejumlah bintang di langit, Dia juga menggoreskan tanda pembeda yang tak terhingga di wajah manusia serta membuka indera lahir dan batin lewat perangkat qudrah maknawi yang sama.


680

AL-MAKTÛBÂT

Artinya, demi memperlihatkan perbuatan-Nya kepada seluruh penglihatan dan pendengaran, Sang Pencipta Yang Mahaagung memasukkan satu kata dari ayat-ayat al-Qur’an pada atom dan meletakkannya pada posisinya. Lalu memasukkan kata lain dari ayat yang sama pada mentari dan meletakkan di pusatnya. Dia menjelaskan wâhidiyah dalam ahadiyah, puncak keagungan dalam puncak keindahan, puncak kebesaran dalam puncak ketersembunyian, puncak keluasan dalam puncak kecermatan, puncak kemegahan dalam puncak kasih sayang, serta puncak kejauhan dalam puncak kedekatan. Dengan kata lain, Dia memperlihatkan tingkatan paling jauh dalam hal penggabungan sesuatu yang kontradiksi, yang dianggap mustahil, dalam bentuk keniscayaan yang mutlak di mana dengan hal tersebut menetapkan lewat gaya bahasa yang tinggi dan retoris. Gaya bahasa yang menakjubkan itulah yang membuat para tokoh sastrawan bertekuk lutut di hadapan balagah al-Qur’an. Misalnya, fi rman Allah yang berbunyi:

“Di antara tanda kekuasaan-Nya, langit dan bumi tegak dengan kehendak-Nya. Kemudian ketika Dia memanggil kalian dengan sekali panggil dari bumi, seketika kalian keluar dari kubur.” (QS. ar-Rûm [30]: 25). Ayat al-Qur’an di atas menerangkan keagungan rububiyah Allah lewat gaya bahasanya yang tinggi. Yaitu, bahwa langit dan bumi laksana dua kamp pasukan yang sangat taat dan patuh. Ia seperti barak dua pasukan besar yang sangat teratur dan rapi. Entitas di dalamnya yang berbaring dibalik tirai kefanaan dan ketiadaan, dengan sangat cepat disertai ketaatan penuh, melaksanakan satu perintah atau satu isyarat yang berasal dari tiupan sangkakala guna keluar menuju padang mahsyar. Perhatikan bagaimana ayat al-Qur’an tersebut menggambarkan kebangkitan dan kiamat lewat gaya bahasa yang tinggi dan bagaimana ia memberikan dalil yang meyakinkan. Kondisinya sama seper-


Surat Kedua Puluh Sembilan

681

ti benih yang tadinya tersembunyi di dalam tanah seperti orang mati dan tetesan air yang tersimpan di dalam langit dan tersebar dalam butiran udara lalu terkumpul dengan rapi dan cepat untuk kemudian keluar ke dunia pada setiap musim semi sehingga benih di tanah dan tetesan air di langit itu berposisi seperti prosesi kebangkitan. Demikianlah kondisi yang terjadi pada hari kebangkitan dengan kemudahan yang sama. Bila hal itu tampak dengan jelas di sini, kalian tidak bisa mengingkari kebangkitan di padang mahsyar. Demikianlah, berdasarkan penjelasan ayat di atas, kalian bisa menganalogikan tingkatan balagah pada ayat-ayat lainnya. Nah, mungkinkah menerjemahkan ayat-ayat al-Qur’an semacam itu dengan terjemahan yang hakiki dan sempurna? Sudah pasti tidak mungkin. Kalaupun harus diterjemahkan, maka yang bisa dilakukan adalah memberikan makna global ayat atau menafsirkan setiap kalimatnya dalam sekitar enam baris.

Nuktah Kelima: Sebagai contoh, kita ambil satu frasa al-Qur’an, yaitu: ). Salah satu maknanya yang paling singkat sesuai de( ngan kaidah gramatika dan ilmu bayan adalah: Setiap pujian yang keluar dari siapapun yang memuji untuk objek apapun yang dipuji mulai dari azali hingga abadi semuanya adalah milik Dzat Wajibul wujud, Allah. Ungkapan “setiap pujian” bersumber dari huruf “ ” yang menunjukkan keseluruhan. Ungkapan “dari siapapun yang memuji” berasal dari kata “ ” yang berbentuk masdar (nomina verbal). Pada redaksi semacam itu ia menunjukkan makna yang bersifat umum, sebab pelakunya tidak disebutkan. Ungkapan “untuk objek apapun yang dipuji” menunjukkan makna menyeluruh karena objeknya tidak disebut. Adapun “mulai dari azali hingga abadi” ia menunjukkan kondisi kontinyu dan permanen sesuai dengan kaidah perubahan jumlah fi ’liyah kepada jumlah ismiyah.


682

AL-MAKTÛBÂT

Selanjutnya huruf lâm pada “ ” menunjukkan kekhususan. Kemudian ungkapan “milik Dzat Wajibul wujud, Allah” maka lafal Allah selalu mengarah kepada Dzat Wajibul wujud. Pasalnya, ia lafal yang mencakup seluruh nama dan sifat-Nya. Ia adalah nama-Nya yang paling agung. Sementara, Wajibul wujud melekat pada sifat uluhiyah. Ia simbol bagi Dzat-Nya yang agung. Jika makna lahiriah yang paling ringkas dari kata “ ” semacam itu, sebagaimana disepakati oleh pakar bahasa Arab, lalu bagaimana mungkin menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa lain dengan tingkat kemukjizatan dan kekuatan yang sama? Memang terdapat bahasa yang fasih di antara sekian banyak bahasa di dunia selain bahasa Arab. Namun demikian, ia tetap tidak bisa menyamai komprehensivitas dan universalitas bahasa Arab. Kosakata al-Qur’an yang datang dengan bahasa Arab fasih yang uneversal dan luar biasa, serta dalam bentuk mukjizat dan berasal dari pengetahuan Dzat yang meliputi segala hal dan menata seluruh urusan, bagaimana mungkin ia bisa disamai oleh susunan dan gramatika bahasa lain dalam bentuk terjemahan makhluk yang akalnya terbatas, perasaannya terbatas, pikirannya tidak stabil, dan kalbunya gelap? Dengan kata lain, bagaimana mungkin hasil terjemahan bisa menggantikan kalam suci tersebut? Bahkan, aku bisa mengatakan dan membuktikan bahwa setiap huruf al-Qur’an laksana salah satu perbendaharaan hakikat. Bahkan, satu hurufnya saja bisa berisi sejumlah hakikat sebanyak satu halaman penuh.

Nuktah Keenam: Untuk memperjelas makna di atas, aku akan menyebutkan kondisi bersinar dan imajinasi nyata yang pernah kualami. Yaitu, penjelasan dari makna kata ( ) berikut keterangan tentang sisi rahasianya yang tersembunyi. Suatu ketika aku merenungkan huruf ( ) yang merupakan kata ganti orang pertama pada kalimat ( ). Kalbuku terus mencari sebab perubahan bentuk dari kata ganti


Surat Kedua Puluh Sembilan

683

orang pertama tunggal kepada plural ( ). Tiba-tiba tersingkap fadhilah dan rahasia shalat berjamaah dari huruf nun tersebut. Aku melihat bahwa berkat keikutsertaanku dalam shalat berjamaah di masjid Bayazid, setiap bagian darinya laksana pemberi syafaat bagiku. Aku melihat bahwa setiap orang dari jamaah itu menjadi saksi dan pendukung atas seluruh hukum dan pernyataan dalam bacaanku. Hal itu melahirkan keberanian yang cukup pada diriku untuk mempersembahkan ibadahku yang tidak sempurna, yang bergabung bersama ibadah seluruh jamaah, menuju hadirat ilahi yang suci. Saat merenungkan hal tersebut, tirai yang lain ikut tersingkap. Aku melihat seakan-akan seluruh masjid di Istanbul saling menyatu sehingga kota itu laksana masjid jami ini. Aku merasa memperoleh doa dari mereka semua berikut pengakuan mereka. Di sana diriku tampak dikumpulkan dalam barisan melingkar pada masjid muka bumi yang saling terpaut di seputar Ka’bah. Akupun memuji Allah dengan mengucap Aku bersyukur karena memiliki banyak pemberi syafaat, banyak orang yang ikut membaca bersamaku, sekaligus membenarkanku pada setiap bacaan shalat yang kuucapkan. Aku berpikir, selama tirai telah tersingkap secara imajinatif, lalu Ka’bah yang mulia seperti mihrab bagi penduduk bumi, maka aku harus memanfaatkan kesempatan ini. Kutitipkan intisari iman yang kusebut dalam tasyahhud, “Asyhadu anlâ ilâha illallâh wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” Kuserahkan ia sebagai amanah kepada Hajar Aswad seraya menjadikan shafshaf yang ada sebagai saksi atasnya. Di sini kondisi yang lain tampak olehku. Aku melihat jamaah yang menjadi tempatku bergabung telah menjadi tiga lingkaran: Pertama, jamaah besar yang terdiri dari kaum mukmin ahli tauhid yang terdapat di seluruh permukaan bumi. Kedua, jamaah semua entitas di mana “masing-masing mengetahui shalat dan tasbih-nya.” (QS. an-Nur [24]: 41). Aku


684

AL-MAKTÛBÂT

melihat diriku bersama dengan shalat dan tasbihnya yang agung. Yang disebut dengan tugas dan kerja sesuatu tidak lain adalah simbol dari ibadah dan ubudiyahnya. Aku menundukkan kepala karena takjub dengan keagungan-Nya seraya mengucap Allahu akbar. Lalu aku memperhatikan dan mengamati jamaah selanjutnya. Ketiga, aku melihat sebuah alam, mulai dari partikel wujudku hingga indera lahirku (panca indera). Ia adalah alam yang kecil. Namun ia demikian agung sehingga melahirkan decak kagum. Ia adalah alam yang secara lahir sangat kecil, namun hakikatnya amat agung dan tugasnya sungguh mulia. Ya, aku melihat seluruh jamaah alam ini sibuk dengan tugas-tugas pengabdiannya dan kewajiban syukurnya. Aku melihat bahwa latifah rabbaniyah yang terdapat pada lingkaran di hatiku terus-menerus mengucap ( ) atas nama jamaah, sebagaimana ia juga terus diucapkan oleh lisanku atas nama dua jamaah agung pertama. Kesimpulannya, huruf ( ) pada kata ( da tiga jamaah tadi.

) menunjuk kepa-

Saat aku berada dalam kondisi tersebut, sosok maknawi penuh berkah dari penyampai al-Qur’an al-Karim berada di hadapanku dalam kondisi mulia dan penuh wibawa. Ia adalah Rasulullah r yang berada di mimbar maknawinya (Madinah al-Munawwarah). Sebagaimana yang lain, aku mendengar beliau berkhutbah dan memberikan arahan ( ) “Wahai manusia, beribadahlah kepada Tuhanmu...” (QS. al-Baqarah [2]: 21). Secara imajiner aku melihat setiap orang yang terdapat dalam ketiga jamaah di atas merespon pesan rabbani yang agung itu dengan berkata ( ) “Hanya kepada-Mu kami beribadah”. Selanjutnya, hakikat yang lain hadir dalam pikiranku sesuai dengan kaidah: “Bila sesuatu datang, ia datang bersama sejumlah hal yang menyertainya.” Hakikat yang dimaksud adalah: Selama Tuhan Pencipta alam menjadikan manusia sebagai penerima pesan-Nya, kemudian berbicara dengan seluruh entitas, lalu Rasul r


Surat Kedua Puluh Sembilan

685

benar-benar menyampaikan pesan rabbani yang agung tersebut kepada seluruh manusia; bahkan kepada seluruh makhluk yang memiliki perasaan dan bernyawa, maka sudah pasti masa lalu dan masa mendatang menjadi seperti masa sekarang. Seluruh umat manusia laksana sebuah majelis dan sebuah jamaah dalam barisan yang beragam di mana pesan itu ditujukan kepada mereka semua. Lalu tampak padaku setiap ayat al-Qur’an berada dalam puncak balagah dan kefasihan, serta benar-benar merupakan mukjizat yang cahayanya bersinar terang. Ayat al-Qur’an begitu tinggi, mulia, dan kuat karena bersumber dari kedudukan yang mulia tersebut yang keagungannya tak bertepi, keluasannya tak berujung, dan ketinggiannya tak berakhir. Ia berasal dari Dzat Yang Maha Mulia dan Agung; dari Sang Pembicara azali. Juga, karena berasal dari sang penyampai yang merupakan kekasih-Nya, pemilik kedudukan mulia dan derajat yang tinggi. Lalu ia ditujukan kepada umat yang jumlahnya sangat banyak, penting, dan beragam. Karena itu, aku merasa bahwa bukan hanya keseluruhan al-Qur’an yang menjadi mukjizat. Bahkan setiap surah dan setiap ayatnya juga mukjizat. Lebih dari itu, setiap katanya pun mukjizat. Oleh sebab itu, kuucapkan alhamdulillah atas nikmat iman dan al-Qur’an. Dengan itu, aku keluar dari khayalan yang merupakan sebuah hakikat, sebagaimana ketika masuk ke dalamnya lewat huruf nun dari na’budu. Aku memahami bahwa bukan hanya alQur’an dan kosakatanya yang menjadi mukjizat. Namun hurufhuruf al-Qur’an pun—seperti huruf nun pada kata na’budu—juga merupakan kunci hakikat agung yang bersinar. Setelah kalbu dan imajinasi ini keluar dari nun pada kata na’budu, ia disambut oleh akal seraya berkata: Aku menuntut bagianku dari apa yang kalian dapatkan. Aku tidak bisa terbang seperti kalian. Aku hanya bisa berjalan dengan kaki dalil dan argumen. Perlihatkanlah padaku jalan yang ) dan ( ) yang bisa mengantarkanku terdapat pada ( sampai pada “Dzat yang disembah dan yang dimintai pertolongan” sehingga aku bisa menyertai kalian.


686

AL-MAKTÛBÂT

Pada saat itu muncul lintasan dalam kalbu: Katakan pada akal yang sedang bingung itu agar ia mengamati semua entitas alam, baik yang hidup maupun yang mati. Masing-masing menunjukkan ubudiyah dalam bentuk sebuah tugas yang sangat rapi dalam kondisi yang sangat patuh. Meskipun sebagian entitas tersebut tidak memiliki indera dan perasaan, namun ia melaksanakan amal dan tugasnya dengan sangat patuh, teratur, dan penuh kesadaran. Dengan demikian, sudah pasti Tuhan Yang Disembah dan Pemberi perintah, menundukkan semua entitas itu dan menggiringnya kepada ubudiyah. Lalu katakan pula agar ia merenungkan semua entitas, terutama makhluk hidup. Masing-masing memiliki kebutuhan yang banyak dan beragam. Masing-masing memiliki banyak permintaan guna menjaga eksistensi kehidupan dan keberadaannya. Sementara di sisi lain ia tak mampu menjangkau kebutuhan yang paling sederhana sekalipun. Hal itu berada di luar kemampuannya. Seketika kita menyaksikan bagaimana kebutuhan yang tak terhingga tersebut dengan mudah datang dari tempat yang tak terduga pada waktu yang paling baik dan paling tepat. Kebutuhan entitas yang tak terhingga itu, serta pertolongan gaib dan curahan rahmat-Nya itu dengan jelas menunjukkan bahwa ia memiliki Dzat Pemberi rezeki yang melindunginya. Dia adalah Dzat Yang Mahakaya, Maha Pemurah, dan Mahakuasa yang menjadi tempat meminta setiap entitas dan setiap makhluk dengan mengharap bantuan dan karunia-Nya. Dengan kata lain, setiap entitas, baik secara langsung maupun tidak langsung, berucap ( ) “Hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan”. Di situlah akal menjadi tunduk seraya berkata, “Kami beriman dan percaya.”

Nuktah Ketujuh: Setelah itu, saat membaca ( ) aku melihat sejumlah rombongan manusia yang pergi menuju masa lalu. Kusaksikan rombongan nabi yang mulia, golongan shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih merupakan


Surat Kedua Puluh Sembilan

687

rombongan yang paling bercahaya. Sampai-sampai cahayanya melenyapkan pekatnya masa depan seraya meniti jalan yang lurus dan besar yang membentang menuju keabadian. Kalimat tersebut memperlihatkan jalan untuk bisa menyusul golongan beruntung itu, bahkan membuatku bisa mencapai mereka. Aku pun mengucap “Subhânallah!”. Alangkah ruginya dan sungguh celaka orang-orang yang tidak mau menyusul rombongan bercahaya tersebut di mana mereka telah berlalu dengan selamat dan aman, berhasil menghapus tirai kegelapan, dan menyinari masa depan. Orang yang memiliki perasaan sedikit saja, tentu dapat memahami hal ini. Mereka yang tidak mau mengikuti jalan rombongan tersebut dengan melakukan berbagai bid’ah, bagaimana mungkin mendapat cahaya yang bisa menerangi?! Ke mana mereka akan berjalan?! Teladan kita, Rasul r, bersabda:

“Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di neraka.”543 Orang-orang yang layak disebut sebagai ulamâus-sû adalah golongan yang celaka. Maslahat apa yang mereka dapat ketika melawan hadis di atas dalam fatwa yang mereka berikan di mana mereka menentang syiar-syiar Islam yang sudah jelas berikut bahaya yang terdapat di dalamnya, padahal tidak dalam kondisi darurat. Mereka memandang syiar-syiar Islam itu dapat diubah begitu saja. Kalaupun ada, bisa jadi sesuatu yang temporer yang berasal dari sinar makna temporer itulah yang telah menipu mereka. Misalnya, ketika kulit binatang diambil atau kulit buah dikupas, di awal ia tampak segar. Namun tidak lama kemudian daging segar dan buah tadi segera menghitam. Hal itu akibat dari 543 HR. Muslim, al-Jumuah 43; Abu Daud, as-Sunnah 5; an-Nasai, al-Idayn 22; Ibnu Majah, al-Muqaddimah 6,7; ad-Darimi, al-Muqaddimah 16 dan 23; al-Musnad, 3/310 dan 371, 4/126 dan 127.


688

AL-MAKTÛBÂT

bungkus atau tutup yang tidak alami dan asing sehingga keduanya membusuk. Begitupula ungkapan ilahi dan nabawi yang terdapat dalam syiar Islam laksana kulit hidup yang berpahala. Saat dicopot, seberkas cahaya maknanya akan tampak untuk sementara. Namun ruh makna yang penuh berkah terbang menghilang sebagaimana hilangnya kesegaran dari buah yang sudah dikupas. Ia menyisakan redaksi dan ungkapan manusia di hati dan akal yang gelap. Kemudian pergi dan cahayanya menghilang. Yang tersisa hanyalah asap. Begitulah kondisinya.

Nuktah Kedelapan: Salah satu rambu hakikat yang terkait dengan masalah ini perlu dijelaskan. Yaitu bahwa dalam syariat Islam terdapat dua macam hak: “hak pribadi” dan “hak bersama” yang dianggap sebagai hak Allah. Di antara masalah agama, ada yang terkait dengan pribadi dan ada pula yang terkait dengan masyarakat secara umum. Jenis ini disebut dengan nama “syiar Islam”. Secara umum, setiap orang memiliki bagian dari jenis ini. Sebab, ia terkait dengan semua. Intervensi apapun terhadap jenis ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak manusia secara umum selama mereka tidak ridha. Masalah terkecil dari syiar tersebut sekalipun (misalnya yang termasuk sunnah) tetap dianggap penting. Pasalnya ia terkait secara langsung dengan seluruh dunia Islam. Hendaknya pihak-pihak yang berusaha memutus, dan bekerjasama meruntuhkan, rangkaian bercahaya tersebut di mana ia terpaut dengan seluruh tokoh penting Islam sejak masa generasi terbaik hingga sekarang, dapat memahami hal ini dengan baik. Hendaknya mereka sadar bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar. Bila mereka memang memiliki perasaan, mereka seharusnya gemetar untuk melakukan kesalahan tersebut.

Nuktah Kesembilan: Ada bagian dari persoalan agama yang disebut dengan masalah ta’abbudi. Bagian ini tidak terkait dengan logika dan dikerjakan sesuai perintah. Sebab, yang menjadi illat (sebab) adalah perintah ilahi.


Surat Kedua Puluh Sembilan

689

Sementara bagian yang lain disebut ma’qûlul-ma’nâ (memiliki makna logis dan dapat dinalar). Ia memiliki hikmah dan maslahat yang membuatnya sangat layak untuk disyariatkan. Namun demikian, hikmah tersebut bukan merupakan illat pensyariatan, karena sebab hakikinya tetap perintah dan larangan Tuhan. Syiar Islam yang termasuk ta’abbudi sama sekali tidak bisa diubah oleh hikmah dan maslahat. Sebab, unsur dominannya adalah pengabdian dan ubudiyah. Karena itu, ia tidak bisa diintervensi. Meskipun misalnya terdapat seratus ribu maslahat dan hikmah, ia tidak bisa diubah sedikitpun. Juga tidak bisa dikatakan bahwa manfaat dari syiar agama hanyalah maslahat yang diketahui itu semata. Ini adalah pemahaman yang keliru. Sebab, maslahat yang sudah diketahui tadi bisa jadi hanya salah satu dari sekian banyak hikmahnya. Misalnya, kalau ada yang berkata bahwa hikmah adzan adalah panggilan untuk shalat. Maka dengan begitu berarti ia bisa digantikan dengan suara tembakan. Orang bodoh itu tidak mengetahui kalau “panggilan untuk shalat” hanya salah satu dari ribuan hikmah adzan. Bahkan walaupun suara tembakan tadi memberikan maslahat yang dimaksud, ia tidak bisa menggantikan posisi adzan yang merupakan sarana untuk menyuarakan tauhid yang merupakan buah terbesar dari penciptaan alam dan penciptaan spesies manusia. Adzan juga merupakan sarana untuk memperlihatkan ubudiyah di hadapan rububiyah ilahi atas nama seluruh orang di negeri tersebut, atau atas nama seluruh umat manusia. Kesimpulannya, neraka bukanlah sesuatu yang tidak perlu. Pasalnya, banyak hal yang sangat menuntut keberadaan neraka. Sebaliknya, surga juga tidaklah murah. Namun ia menuntut harganya yang mahal.

“Tidak sama antara penghuni neraka dan penghuni surga. Penghuni surga itulah yang mendapat kemenangan.” (QS. al-Hasyr [59]: 20).


690

AL-MAKTÛBÂT

BAGIAN KEDUA (Risalah Kedua)

Risalah Ramadhan Uraian singkat mengenai syi ar-syiar Islam telah di bahas pada penutup bagi an pertama. Karena i tu, pada bagi an kedua i ni akan di jelaskan sejumlah hi kmah yang terkai t dengan puasa di bulan Ramadhan yang penuh berkah di mana i a merupakan syi ar yang pali ng cemerlang dan muli a. Bahasan i ni beri si urai an tentang sembi lan nuktah yang menerangkan sembi lan dari seki an banyak hi kmah puasa Ramadhan.

“Bulan Ramadhan (adalah bulan) yang di dalamnya al-Qur’an di turunkan sebagai petunjuk bagi manusi a serta sebagai penjelasan tentang petunjuk dan pembeda (antara yang hak dan bati l)” (QS. al-Baqarah [2]: 185). Puasa bulan Ramadhan termasuk rukun utama di antara rukun Islam yang li ma. Ia juga termasuk syi ar Islam yang pali ng agung. Di sampi ng di tujukan untuk menampakkan rububi yah Allah I, sebagi an besar hi kmah puasa Ramadhan di tujukan untuk kehi dupan sosi al dan pri badi manusi a, untuk pembi naan dan penyuci an jiwa, serta di tujukan untuk mensyukuri berbagai ni kmat i lahi .

NuktahPertama Salah satu dari seki an banyak hi kmah yang memperli hatkan rububi yah Allah lewat puasa adalah sebagai beri kut:


Surat Kedua Puluh Sembilan

691

Allah I telah menci ptakan muka bumi sebagai hi dangan yang penuh dengan ni kmat tak terhi ngga. Di a menyi apkannya dengan sangat menakjubkan di mana sama sekali tidak pernah di perki rakan oleh manusi a. Dengan kondi si tersebut, Allah menjelaskan kesempurnaan rububi yah-Nya serta sifat kasih dan sayang-Nya. Hanya saja karena tertutup oleh hi jab kelalai an dan ti rai sebab, manusi a ti dak bi sa meli hat haki kat yang sangat jelas tersebut dengan sebenarnya, atau kadangkala melupakannya. Namun pada bulan Ramadhan yang penuh berkah, kaum beri man seketi ka menjadi seperti pasukan besar yang teratur. Mereka mengenakan selendang ubudi yah kepada Allah dan berada dalam posi si si ap berbuka guna menyambut undangan i lahi , “Si lahkan� menuju jamuan-Nya yang muli a. Dengan kondi si tersebut, rahmat Tuhan yang muli a dan komprehensi f i tu mereka sambut dengan ubudi yah yang luas, rapi , dan agung. Apakah menurutmu mereka yang ti dak i kut serta dalam ubudi yah muli a i tu layak di sebut sebagai manusi a?

Nuktah Kedua Terdapat banyak hi kmah yang di dalamnya puasa Ramadhan membuat makhluk mensyukuri berbagai ni kmat Allah. Di antaranya: Seperti yang di sebutkan pada “Kali mat Pertama�, makanan yang di bawa oleh seorang pelayan dari dapur raja tentu sangat berni lai . Tentu sangat bodoh ji ka ada yang ti dak menghargai makanan tersebut dan tidak mengenal pemberi yang sebenarnya, malah si pelayan i tu yang di beri hadi ah dan balasan. Begi tu pula dengan makanan dan ni kmat tak terhi ngga yang Allah I hamparkan di muka bumi . Sudah pasti Di a menuntut harganya dari ki ta. Yai tu bersyukur kepada-Nya atas segala ni kmat tadi . Sementara berbagai sebab lahi ri ah dan para pemi li knya hanya laksana para pelayan. Nah, Ki ta memberi kan harganya kepada para pelayan serta merasa berutang budi kepada mereka. Bahkan ki ta menunjukkan rasa hormat dan teri ma kasi h lebi h dari yang semesti nya. Padahal, Pemberi ni kmat haki ki yang layak mendapat puncak syukur dan puji an dari pada sebab-sebab. Jadi , mengung-


692

AL-MAKTÛBÂT

kapkan syukur kepada Allah adalah dengan menyadari bahwa ni kmat tersebut secara langsung bersumber dari -Nya, menghargai ni lai nya, serta merasa butuh kepadanya. Karena i tu, puasa di bulan Ramadhan merupakan kunci syukur yang haki ki , tulus, dan agung serta bersi fat menyeluruh. Sebab, sebagi an besar manusi a ti dak mengetahui ni lai ni kmat yang demi ki an banyak lantaran ti dak merasakan pedi hnya rasa lapar. Mi salnya orang yang kenyang, terutama kalangan yang kaya, ti dak dapat mengetahui nilai ni kmat yang terdapat pada sekerat roti keri ng. Namun orang mukmi n di saat berbuka dapat merasakannya sebagai ni kmat i lahi yang sangat berharga. Indra pengecapnya menjadi saksi atas hal i tu. Oleh sebab i tu, mereka yang berpuasa di bulan Ramadhan, mulai dari pemi mpi n sampai kepada kalangan yang pali ng mi ski n, memperoleh syukur maknawi dengan menyadari ni lai ni kmat tersebut. Si kap manusi a yang menahan di ri untuk ti dak menyentuh makanan di si ang hari membuatnya dapat mengetahui kalau i a benar-benar merupakan ni kmat. Pasalnya, i a berbi si k kepada di ri nya, “Ni kmat i ni bukan mi li kku. Aku ti dak bebas mengonsumsi nya. Jadi i a mi li k pi hak lai n. Ni kmat tersebut adalah bentuk karuni a dan kemurahan-Nya atas ki ta. Sekarang aku sedang menanti kan peri ntah-Nya.” Dengan cara semacam i ni berarti manusi a menunai kan syukur maknawi . Dengan demi ki an, puasa berposi si sebagai kunci syukur― dilihat dari berbagai sisi―yang merupakan tugas haki ki manusi a.

Nuktah Keti ga Salah satu hi kmah puasa di antara seki an banyak hi kmahnya yang tertuju kepada kehi dupan sosi al manusi a adalah sebagai beri kut: Manusi a di ci ptakan dalam kondi si kehi dupan yang berbeda-beda. Karena i tu, Allah menyeru kalangan kaya untuk memberi bantuan kepada mereka yang mi ski n. Nah, tentu kalangan kaya tidak dapat merasakan kondi si mi ski n yang menumbuhkan rasa kasi han, juga tidak dapat merasakan derita lapar yang mere-


Surat Kedua Puluh Sembilan

693

ka alami secara sempurna kecuali lewat rasa lapar yang di lahi rkan dari puasa. Andai kan ti dak ada puasa, tentu banyak orang kaya yang menuruti hawa nafsu ti dak mengetahui sejauh mana pedihnya rasa lapar dan hidup miskin serta sejauh mana fakir miskin membutuhkan kasi h sayang. Oleh karena itu, rasa kasi han terhadap sesama jeni s yang terdapat dalam di ri manusi a menjadi salah satu faktor yang melahi rkan si kap syukur haki ki . Pasalnya, seti ap i ndi vi du dapat menemukan orang yang lebi h mi ski n dari nya dari satu sisi, di mana i a di waji bkan untuk mengasi hi nya. Tanpa ada keharusan bagi di ri i ni untuk i kut merasakan pedi hnya rasa lapar, tentu ti dak akan ada yang berbuat bai k kepada orang lai n dengan tolong-menolong dalam i katan kasi h sayang terhadap sesama manusi a. Kalaupun hal i tu di lakukan pasti hanya sekadarnya. Sebab, i a ti dak merasakan dengan sebenarnya kondi si tersebut dalam di ri nya.

Nuktah Keempat Puasa Ramadhan di li hat dari si si pembi naan terhadap jiwa manusi a memi li ki sejumlah hi kmah. Di antaranya adalah: Secara fi trah, jiwa manusi a cenderung i ngi n bebas merdeka tanpa i katan. Bahkan i a merasa berkuasa atas di ri nya sendi ri dan bebas bergerak sesuka hati . Ia ti dak mau berpi ki r bahwa di ri nya tumbuh besar lewat berbagai karuni a i lahi yang tak terhi ngga. Terutama ji ka i a memi li ki kekayaan berli mpah dan kekuasaan di duni a. Hal i tu di topang dan di dukung oleh kelalai an yang ada. Karenanya, i a mereguk ni kmat i lahi dengan cara merampas dan mencuri laksana hewan. Akan tetapi , pada bulan Ramadhan yang penuh berkah jiwa seti ap manusi a menjadi sadar, mulai dari yang pali ng kaya hi ngga yang pali ng mi ski n bahwa di ri nya bukan pemi li k; tetapi di mi li ki , juga ti dak bebas merdeka; tetapi hamba yang di peri ntah. Karena i tu, i a ti dak bi sa melakukan pekerjaan yang pali ng sepele sekali pun tanpa peri ntah. Bahkan mengambi l dan memi num ai r sekali pun. Dengan demi ki an, perasaannya sebagai penguasa atas di ri nya lenyap. Ia teri kat oleh jerat ubudi yahnya kepada Allah I dan masuk ke dalam wi layah tugas utamanya, yai tu bersyukur.


694

AL-MAKTÛBÂT

Nuktah Keli ma Puasa Ramadhan memi li ki banyak hi kmah di li hat dari tujuannya dalam mendi di k nafsu ammârah, dalam meluruskan akhlaknya, dan dalam menjadi kannya menjauhi berbagai perbuatan yang ti dak jelas. Kami hanya akan menyebutkan satu dari nya. Yai tu bahwa nafsu manusi a cenderung lupa kepada jati di ri nya. Ia ti dak meli hat kelemahan tak terhi ngga, kefaki ran tak bertepi , dan berbagai kekurangan yang terdapat dalam di ri nya. Bahkan i a ti dak mau meli hat semua i tu, ti dak mau merenungkan puncak kelemahannya, kondi si nya yang akan lenyap, serta berbagai kesuli tan yang akan i a hadapi . Ia juga lupa kalau di ri nya berasal dari dagi ng dan tulang yang cepat rusak dan hancur. Ia merasa seolah-olah wujudnya berasal dari baja, ti dak akan pernah mati , dan akan kekal abadi . Karena i tu, engkau meli hatnya menyambar duni a dan melemparkan di ri ke dalamnya dengan rasa tamak di sertai dengan keci ntaan buta terhadapnya. Ia menguatkan cengkeramannya terhadap segala hal yang di rasa ni kmat dan berguna. Aki batnya, i a lupa kepada Sang Penci pta Yang telah mendi di knya dengan penuh kasi h sayang. Ia juga melupakan balasan amal perbuatannya dan kehidupan akhi ratnya sehi ngga terjatuh ke dalam akhlak tercela. Namun puasa Ramadhan membuat manusi a yang pali ng lalai dan membangkang dapat merasakan kelemahan, keti dakberdayaan, dan kefaki rannya. Lewat rasa lapar, masi ng-masi ng mereka memikirkan perutnya yang kosong sekali gus menyadari rasa butuh yang terdapat dalam perutnya i tu serta menyadari sejauh mana kelemahan dan kebutuhannya terhadap rahmat dan kasi h sayang i lahi . Dari lubuk hatinya, ia i ngi n mengetuk pi ntu ampunan Tuhan dengan segala kelemahan dan kefaki ran yang ada seraya melepaskan si fat keangkuhan dalam ji wanya. Lalu dengan i tu i a bersi ap-si ap mengetuk rahmat i lahi dengan tangan syukur maknawi , selama kelalai an ti dak merusak mata hati nya.


Surat Kedua Puluh Sembilan

695

Nuktah Keenam Di antara seki an banyak hi kmah puasa Ramadhan yang tertuju kepada turunnya al-Qur’an dan bahwa bulan Ramadhan merupakan waktu turunnya yang terpenti ng, adalah sebagai beri kut: Karena al-Qur’an telah turun pada bulan Ramadhan yang penuh berkah, maka ji wa harus bersi h dari berbagai kei ngi nan hi na dan jauh dari berbagai perkara buruk guna bersi ap-si ap menyambut kalam samawi tersebut dengan bai k. Yai tu dengan menghadi rkan hati pada saat turunnya di bulan i ni serta menyerupai kondi si malai kat dengan ti dak makan dan ti dak mi num, membaca al-Qur’an al-Kari m seakan-akan ayat-ayat baru turun kembali , menyi maknya dengan khusyuk, serta mendengarkan pesan i lahi tersebut agar bi sa merai h kondi si spi ri tual yang muli a seakan-akan si pembaca mendengar langsung dari Rasul r. . Atau bahkan Atau, seakan-akan i a mendengarnya dari Ji bri l mendengarnya dari Sang Penutur Azali, Allah I. Kemudi an i a menyampai kan dan membacakannya kepada orang lai n seraya menjelaskan salah satu hi kmah turunnya. Pada bulan Ramadhan yang penuh berkah duni a Islam berubah menjadi seperti masji d. Ia sungguh merupakan masji d besar yang seti ap sudutnya bergemuruh oleh jutaan penghafal alQur’an. Mereka membacakan fi rman i lahi tersebut dan memperdengarkannya kepada seluruh penduduk bumi . Dengan sangat i ndah dan terang, bulan Ramadhan memperli hatkan kebenaran ayat yang berbunyi :

“Bulan ramadhan (adalah bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an.” (QS. al-Baqarah [2]: 185). Hal i tu menegaskan bahwa bulan Ramadhan benar-benar merupakan bulan al-Qur’an. Adapun kelompok lai n dari jamaah yang besar tersebut ada yang mendengar para penghafal al-Qur’an dengan penuh khusyuk dan ada pula yang membaca ayat-ayat al-Qur’an untuk di ri nya sendi ri . Bukankah menjauhkan di ri dari masji d suci tersebut karena si buk mencari makan dan


696

AL-MAKTÛBÂT

mi num guna menuruti nafsu ammârah merupakan si kap yang sangat jelek dan buruk?! Bukankah i a akan sangat di benci oleh jamaah masji d di atas?! Demi ki anlah kondi si orang-orang yang berseberangan dengan kalangan yang berpuasa di bulan Ramadhan. Secara mori l mereka akan di hi nakan dan di kuci lkan oleh seluruh duni a Islam.

Nuktah Ketujuh Di li hat dari keberadaannya dalam memberi kan keuntungan bagi manusi a di mana manusi a datang ke duni a untuk bercocok tanam dan berbi sni s untuk akhi rat, puasa Ramadhan memi li ki sejumlah hi kmah. Namun kami hanya akan menyebutkan salah satu darinya, yaitu sebagai beri kut: Pahala amal di bulan Ramadhan di li patgandakan hi ngga seri bu kali . Seti ap huruf al-Qur’an memi li ki sepuluh pahala, di hi tung sebagai sepuluh kebai kan, dan mendatangkan sepuluh buah surga sebagai mana di sebutkan dalam hadi s Nabi r. Pada bulan Ramadhan seti ap huruf menghasi lkan seri bu pahala; bukan lagi sepuluh. Seti ap huruf dari ayat-ayat tertentu—seperti ayat Kursi —mendatangkan ri buan pahala. Pahala tersebut semaki n bertambah pada hari -hari jumat di bulan Ramadhan. Serta, i a bi sa mencapai ti ga puluh ri bu pahala pada malam “Laylatul Qadr”. Ya, al-Qur’an al-Hakim yang seti ap hurufnya memberi kan ti ga puluh ri bu buah abadi menjadi pohon bersi nar—seperti pohon Tuba surga—di mana kaum beri man di bulan Ramadhan merai h buah kekal abadi yang terhi tung jutaan. Renungkan dan perhati kan dengan seksama bi sni s suci , kekal, dan menguntungkan i tu. Lalu bayangkan mereka yang ti dak mengetahui ni lai dari huruf-huruf suci tersebut. Betapa i a sangat merugi ! Demi ki anlah, bulan Ramadhan yang penuh berkah laksana galeri bi sni s ukhrawi atau pasar yang sangat di nami s. Ia bagai kan tanah yang sangat subur untuk menghasi lkan berbagai panenan ukhrawi . Ia seperti hujan yang turun pada bulan Apri l untuk menumbuhkan dan memberi kan keberkahan kepada amal manusi a. Ia juga laksana festi val besar dan hari raya suci yang menggelar ri tual ubudi yah manusi a terhadap kekuasaan rububiyah i lahi .


Surat Kedua Puluh Sembilan

697

Karena i tu, manusi a di beri kewaji ban berpuasa agar ti dak berkutat pada berbagai kebutuhan hewani seperti makan, mi num, dan berbagai kebutuhan nafsu lai nnya yang di barengi dengan kelalai an. Juga, agar i a ti dak terjerumus ke dalam syahwat hawa nafsu dan berbagai urusan yang ti dak berguna. Dengan berpuasa, i a laksana cermi n yang memantulkan si fat shamdâni yah Tuhan di mana untuk sementara waktu i a keluar dari tabi at hewani dan masuk ke dalam kondi si yang menyerupai malai kat. Atau, i a menjadi sosok ukhrawi dan rohani yang tampak pada fi si k dengan masuk ke dalam bi sni s akhi rat dan melepaskan berbagai kebutuhan duni awi yang bersi fat temporer. Ya, Ramadhan yang penuh berkah membuat orang yang berpuasa di duni a fana dan kehi dupan si ngkat i ni mendapatkan umur yang kekal dan kehi dupan abadi . Satu bulan Ramadhan saja dapat memberikan berbagai buah usi a yang mendekati delapan puluh tahun. Keberadaan “Laylatul Qadr” yang lebi h bai k dari pada seri bu bulan sesuai dengan bunyi nash al-Qur’an merupakan argumen yang kuat atasnya. Seorang raja dapat menetapkan beberapa hari dalam masa pemeri ntahannya atau seti ap tahun, entah atas nama pencapai an puncak pemeri ntahan atau hari besar lai nnya bagi negaranya, dengan menjadi kan hari tersebut sebagai momen dan hari raya bagi rakyatnya, yang keti ka i tu i a ti dak memberlakukan hukum yang bi asanya berlaku terhadap mereka yang seti a. Namun i a menjadi kan mereka sebagai objek dari kebai kan dan karuni anya yang i sti mewa. Ia mengundang mereka ke kantornya secara langsung tanpa hi jab, memberi kan perli ndungan khusus, menghadi rkan sebuah penghormatan dan prosedur yang tak seperti bi asanya, serta mempersembahkan berbagai bentuk kemurahannya kepada mereka. Demi ki an pula dengan Tuhan Yang Mahakuasa, Yang Mahaagung, dan Maha Pemurah. Di a adalah Penguasa abadi dan azali . Di a Penguasa delapan belas ri bu alam. Pada bulan Ramadhan, Dia menurunkan al-Qur’an al-Haki m yang merupakan fi rman termasyhur-Nya yang tertuju kepada ri buan alam i tu. Kare-


698

AL-MAKTÛBÂT

na i tu, kedatangan bulan Ramadhan laksana hari raya i lahi yang i sti mewa, pameran rabbani , serta majeli s ruhani . Hal itu merupakan bagi an dari tuntutan hi kmah-Nya. Keti ka bulan Ramadhan mencermi nkan hari raya yang memberi kan kegembi raan seperti itu, ti dak aneh kalau di dalamnya terdapat peri ntah puasa agar pada ti ngkat tertentu manusi a bi sa mengalahkan berbagai kesi bukan hewani nya yang rendah. Kesempurnaan puasa terwujud keti ka seluruh i ndera manusi a seperti mata, teli nga, kalbu, khayalan, dan pi ki ran juga i kut berpuasa sebagai mana yang di lakukan oleh perut. Yai tu dengan menjauhkan seluruh i ndera dari semua larangan dan sesuatu yang ti dak berguna sekali gus mendorongnya untuk menunaikan ibadahnya masi ng-masi ng. Mi salnya, melati h li san untuk berpuasa dari perkataan dusta, gi bah, dan berbagai ungkapan kotor. Serta membasahi nya dengan bacaan al-Qur’an, zi ki r, tasbi h, tahmi d, salawat dan salam kepada Rasul r, i sti gfar, dan berbagai zi ki r lai nnya. Mi salnya, menundukkan pandangan dari segala yang di haramkan, menutup teli nga dari mendengar ucapan buruk, mendorong mata untuk meli hat dengan penuh perenungan, mendorong teli nga untuk mendengar perkataan yang benar dan al-Qur’an, serta menjadi kan seluruh i nderannya dalam kondi si berpuasa. Ji ka perut yang merupakan pabri k yang sangat besar dii sti rahatkan dengan puasa, maka pabri k-pabri k keci l lai nnya menjadi mudah pula untuk dii sti rahatkan.

Nuktah Kedelapan Salah satu hi kmah dari seki an banyak hi kmah puasa Ramadhan yang terkai t dengan kehi dupan pri badi manusi a terangkum sebagai beri kut: Puasa merupakan salah satu bentuk pengobatan ampuh bagi manusi a, yaitu sebagai “di et” jasmani dan ruhani . Hal itu telah diakui oleh ilmu kedokteran. Sebab, keti ka nafsu manusi a i ngi n bebas dalam urusan makan dan mi num, i a akan mendatangkan sejumlah bahaya fi si k dalam kehi dupan pri badi nya. De-


Surat Kedua Puluh Sembilan

699

mikian halnya keti ka manusi a melahap apa yang berada di hadapannya tanpa peduli apakah halal atau haram, maka i a akan meracuni kehi dupan maknawi nya hi ngga nafsunya suli t untuk taat kepada kalbu dan ruh. Nafsu i ni mengambi l ali h kendali dengan bebas merdeka tanpa mengetahui arah tujuan. Manusi a tak bi sa lagi mengendali kannya, malah i a yang mengendali kan manusi a. Adapun pada bulan Ramadhan, nafsu manusia terbi asa melakukan sejeni s di et lewat puasa dan berusaha dengan sungguh-sungguh melakukan penyuci an dan latihan serta belajar untuk menaati peri ntah. Karena i tu, i a ti dak terkena berbagai penyaki t yang di aki batkan oleh penuhnya perut dan penumpukan makanan. Ia si ap mendengar sejumlah peri ntah yang bersumber dari akal dan syari at. Ia juga ti dak mau jatuh ke dalam hal yang haram lewat upayanya meni nggalkan yang halal. Serta i a berusaha ti dak merusak kehi dupan maknawi nya. Kemudian, pada umumnya kebanyakan orang akan diuji dengan rasa lapar. Karena itu, mereka membutuhkan lati han. Yai tu dengan cara lapar yang melati h manusi a untuk bi sa bersabar dan bertahan. Puasa Ramadhan merupakan bentuk lati han, pembi asaan, dan kesabaran menahan lapar sepanjang li ma belas jam atau dua puluh empat jam bagi yang ti dak bersahur. Jadi , puasa merupakan terapi ampuh untuk mengobati keti daksabaran dan keti daktangguhan manusi a yang meli patgandakan berbagai musi bah yang menimpanya. Di sampi ng i tu, perut berposi si seperti pabri k yang memi li ki banyak pekerja dan pelayan. Dalam di ri manusi a terdapat sejumlah perangkat yang memi li ki hubungan dengannya. Ji ka nafsu ti dak dii sti rahatkan sejenak di waktu si ang selama satu bulan tertentu, i a akan membuat para pekerja dan pelayan tadi lupa terhadap i badah mereka, membuat mereka si buk dengan keinginannya, serta menjadi kan mereka berada di bawah kendali nya. Hal i ni tentu akan membi ngungkan perangkat dan i ndera di atas serta mengacaukannya di sebabkan oleh suara bi si ng pabri k dan asapnya yang tebal. Semua pandangan akan tertuju padanya sehi ngga lupa kepada tugas muli a yang ada. Karena i tu, banyak


700

AL-MAKTÛBÂT

para wali yang saleh bi asa melati h di ri untuk makan dan mi num sedi ki t guna nai k ke tangga kesempurnaan. Nah, dengan datangnya bulan Ramadhan, para pekerja i tu sadar kalau mereka ti dak di ci pta untuk pabri k semata. Namun perangkat dan i ndera i tu juga bi sa merasakan sejumlah keni kmatan maknawi di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Mereka mengarahkan perhati an padanya sebagai ganti dari permai nan yang terdapat di pabri k tadi . Karena itu, Pada bulan Ramadhan kaum mukmi n merai h berbagai cahaya, li mpahan karuni a, serta keni kmatan maknawi sesuai dengan ti ngkat dan derajatnya. Pada bulan yang penuh berkah tersebut terdapat banyak peni ngkatan dan li mpahan karuni a bagi kalbu, ruh, akal, ji wa, serta berbagai perangkat halus manusi a lai nnya melalui puasa. Meski pun perut menangi s dan meri nti h, semua perangkat halus manusi a tersenyum lepas.

Nuktah Kesembi lan Di li hat dari fungsi nya yang dapat menghancurkan perasaan berkuasa milik nafsu, sekali gus memperkenalkan ubudi yahnya dan memperli hatkan kelemahannya, puasa Ramadhan memi li ki sejumlah hi kmah. Di antaranya: Nafsu i ni cenderung ti dak i ngi n mengenal Tuhannya. Bahkan i a i ngi n merasa memi li ki kekuasaan dengan si fat keangkuhan yang melampaui batas. Meski pun mendapat si ksa dan tekanan, beni h dari perasaan berkuasa tersebut masi h tetap ada. Beni h i tu baru bi sa hancur dan tunduk di hadapan rasa lapar. Demi ki anlah, puasa Ramadhan yang penuh berkah menjadi pukulan keras yang langsung memati kan si fat keangkuhan nafsu manusi a. Ia menghancurkan kekuatannya, memperli hatkan kelemahan dan kefaki rannya, serta memperkenalkan ubudi yahnya. Dalam salah satu ri wayat di sebutkan bahwa, “Allah berkata kepada nafsu manusi a, “Si apa Aku dan si apa engkau?” Nafsu manusi a menjawab, “Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau.” Mendengar jawaban tersebut, Tuhan menyi ksa dan melemparkannya ke dalam neraka jahannam. Lalu Di a kembali bertanya dan nafsu manusi a tetap memberi kan jawaban yang sama, “Aku


Surat Kedua Puluh Sembilan

701

adalah aku dan Engkau adalah Engkau.” Meski pun mendapatkan berbagai si ksa, nafsu tetap bertahan dengan keangkuhan dan ke-aku-annya. Lalu Allah menyi ksanya dengan rasa lapar. Yakni Di a membi arkannya berada dalam kondi si lapar. Kemudi an Di a bertanya, “Si apa Aku dan si apa engkau?” nafsu manusi a menjawab, “Engkau adalah Tuhanku Yang Maha Penyayang, sementara aku adalah hamba-Mu yang lemah.”

Ya Allah, li mpahkan salawat dan salam kepada junjungan kami , Muhammad r, dengan salawat yang mendatangkan ri dha-Mu dan memenuhi haknya sebanyak pahala huruf al-Qur’an di bulan Ramadhan. Juga kepada keluarga dan seluruh sahabat beli au.

544 ٥٤٥

BAGIAN KETIGA (Risalah Ketiga) [Bagian ini ditulis untuk meminta pendapat saudara-saudaraku yang menjadi khadim al-Qur’an, sekaligus sebagai peringatan bagiku, dalam rangka mewujudkan niatku terkait dengan penulisan mushaf yang memperlihatkan goresan kemukjizatan. Goresan tersebut hanyalah salah satu dari dua ratus bagian kemukjizatan al-Qur’an. Akupun mengemukakan niatku itu untuk mengetahui pendapat Permohonan maaf: risalah ini ditulis dengan tergesa-gesa hanya dalam waktu empat puluh menit. Karena aku dan penulis dra dalam kondisi sakit dan lemah, tidak aneh kalau risalah ini memiliki sejumlah kekurangan. Karena itu, kami memohon maaf dari seluruh pembaca dan sekaligus berharap mereka mengoreksi apa yang dianggap tepat—Penulis. 544


702

AL-MAKTÛBÂT

mereka mengenai penulisan mushaf tersebut yang menerangkan goresan kemukjizatan, seraya tetap berpegang pada mushaf yang ditulis oleh al-Hafi dz Utsman, serta menjadikan ayat mudâyanah (QS. al-Baqarah [2]: 282) sebagai ukuran panjang halaman dan surah al-Ikhlas sebagai ukuran panjang baris]. Bagian ketiga ini terdiri dari sembilan persoalan:

Persoalan Pertama Dalam “Kalimat Kedua Puluh Lima” yang berjudul “Mukjizat al-Qur’an”, telah dibuktikan melalui sejumlah argumen yang kuat bahwa jenis kemujizatan al-Qur’an mencapai 40 aspek. Sebagiannya telah dijelaskan secara rinci bahkan di hadapan para pengingkar. Sementara jenis kemukjizatan yang lain dijelaskan secara global. Di samping itu, dalam ‘petunjuk kedelapan belas’ dari “Surat Kesembilan Belas” telah ditegaskan bahwa al-Qur’an memperlihatkan kemukjizatannya dalam beragam aspek kepada empat puluh tingkatan manusia. Petunjuk tersebut menegaskan bahwa setiap tingkatan dari sepuluh tingkatan yang ada mendapatkan bagian kemukjizatannya. Adapun untuk tiga puluh tingkatan sisanya, al-Qur’an menunjukkan kemukjizatannya kepada para wali dari berbagai masyrab dan pakar ilmu dari berbagai bidang. Hal itu ditunjukkan oleh keyakinan hakiki mereka yang mencapai derajat ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin bahwa al-Qur’an al-Karim benar-benar merupakan kalam Allah. Artinya, masing-masing mereka telah melihat salah satu aspek kemukjizatan al-Qur’an. Ya. Keindahan kilau kemukjizatan tersebut berbeda-beda sesuai dengan masyrab mereka. Pasalnya, kemukjizatan yang dipahami oleh wali yang arif berbeda dengan kemukjizatan yang dilihat oleh wali yang sedang tenggelam dalam cinta ilahi. Sisi kemukjizatan yang dilihat oleh seorang imam ushuluddin berbeda dengan sisi kemukjizatan yang dilihat seorang mujtahid dalam cabang syariat. Demikian seterusnya.


Surat Kedua Puluh Sembilan

703

Karena aku tidak bisa memberikan penjelasan detil atas setiap aspek dari beragam aspek tersebut, lantaran keterbatasan pandangan dan pikiranku dalam menjangkaunya, maka aku hanya menjelaskan sepuluh tingkatan darinya. Sementara sisanya hanya kujelaskan secara global. Akan tetapi, masih ada dua tingkatan darinya pada Mukjizat Nabi Muhammad r yang perlu mendapat tambahan penjelasan. Sekarang kami akan menjelaskannya sebagai berikut: Tingkatan pertama: mereka yang mengetahui mukjizat alQur’an lewat pendengaran mereka. Pasalnya, orang awam hanya menyimak al-Qur’an dengan telinganya. Ia memahami kemukjizatan al-Qur’an dengan mendengar. Dengan kata lain, ia berkata, “Al-Qur’an yang kudengar ini tidak seperti kitab lainnya. Ia bisa berada di atas semuanya atau berada di bawah semuanya. Kemungkinan terakhir ini tidak mampu diucapkan oleh siapapun dan tidak pernah terucap demikian. Bahkan setan sekalipun tidak mampu mengatakan hal tersebut. Dengan demikian, ia berada di atas semuanya.” Penjelasan umum ini terdapat pada ‘petunjuk kedelapan belas’. Lalu ia dijelaskan pada ‘bahasan pertama’ dari “Surat Kedua Puluh Enam” yang berjudul “Argumen al-Qur’an atas Golongan Setan” yang menggambarkan pemahaman tingkatan tersebut terhadap kemukjizatan al-Qur’an. Tingkatan Kedua: Mereka yang mengetahui kemukjizatan al-Qur’an dengan cara melihat. Artinya, al-Qur’an al-Karim memiliki petunjuk kemukjizatan yang bisa disaksikan dengan mata, bahkan oleh kalangan awam atau kalangan materialis yang akalnya turun ke mata di mana mereka hanya percaya dengan apa yang mereka lihat. Hal ini dinyatakan dalam petunjuk kedelapan belas. Ia seharusnya diberi penjelasan tambahan untuk menetapkan pernyataan tersebut. Namun waktunya tidak memadai lantaran satu hikmah rabbani yang penting yang baru kami pahami sekarang. Karena itu, sebagian aspeknya dijelaskan dengan sangat ringkas dan sederhana. Sekarang, setelah rahasia di balik hikmah tersebut diketahui, kami sangat yakin bahwa penundaannya lebih tepat. Untuk memudahkan dalam memahami tingkatan tersebut dan agar


704

AL-MAKTÛBÂT

mereka lebih bisa merasakan bentuk kemukjizatan al-Qur’an, maka kami minta dituliskan sebuah mushaf yang menerangkan salah satu dari empat puluh sisi kemukjizatannya. Sejumlah persoalan lain dari ‘bagian ketiga’ dan ‘bagian keempat’ ini tidak dimasukkan di sini. Pasalnya, ia terkait dengan tawâfuqât. Karena itu, kami hanya mencukupkan dengan indeks tawâfuqât tersebut. Nuktah ketiga dari bagian keempat ditulis dengan sebuah catatan. Catatan: Seratus enam puluh ayat ditulis dalam rangka menjelaskan hal penting pada lafal “Rasul” yang terdapat dalam al-Qur’an. Meskipun ayat-ayat tersebut memiliki karakter yang berbeda, namun dari sisi makna masing-masing saling menguatkan dan menyempurnakan. Karena itu, ayat-ayat tersebut bisa menjadi hizb qurani bagi yang ingin menghafalkan dan membaca sejumlah ayat yang beragam. Begitu pula dengan enam puluh sembilan ayat yang mengandung lafal “al-Qur’an”. Saat menjelaskan poin penting dari lafal al-Qur’an, tampak bahwa balagah ayat-ayat tersebut sangat tinggi dan kefasihannya istimewa. Maka Sangat dianjurkan bagi para saudaraku untuk menjadikannya sebagai hizb Qurani. Lafal atau kata “al-Qur’an” dalam mushaf terdapat dalam bentuk tujuh rangkaian. Sementara dua di antaranya berada di luar rangkaian. Kedua kata itu bermakna “membaca” sehingga keberadaannya di luar memberikan sebuah kekuatan. Adapun lafal “Rasul”, surah Muhammad dan surah al-Fath, keduanya merupakan surah yang memiliki hubungan paling kuat. Karena itu, kita batasi pengamatan kita terhadap rangkaian tersebut pada dua surah itu. Dan saat ini apa yang berada di luar rangkaian tidak dimasukkan. Insya Allah sejumlah rahasia yang terdapat pada lafal “Rasul” akan dituliskan jika waktunya memungkinkan.


Surat Kedua Puluh Sembilan

705

Nuktah Ketiga:545 Ia terdiri dari empat poin Poin Pertama: Lafal “Allah” disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 2806 kali. Lafal “ar-Rahmân”―termasuk yang terdapat dalam basmalah―disebutkan sebanyak 159 kali, lafal “ar-Rahîm” sebanyak 220 kali, lafal “al-Ghafûr” sebanyak 61 kali, lafal “arRabb” sebanyak 846 kali, lafal “al-Hakîm” sebanyak 86 kali, lafal “al-Alîm” sebanyak 126 kali, lafal “al-Qadîr” sebanyak 31 kali, serta lafal “Huwa” dalam “la ilaha illa huwa” sebanyak 26 kali.546 Pada jumlah lafal jalalah (Allah) terdapat sejumah rahasia dan banyak pelajaran penting. Di antaranya bahwa yang paling banyak disebutkan dalam al-Qur’an adalah lafal “Allah” dan “Rabb”. Kemudian diikuti oleh lafal “ar-Rahmân, ar-Rahîm, alGhafûr, dan al-Hakîm”. Jumlah seluruh lafal tersebut ditambah dengan lafal “Allah” adalah setengah jumlah ayat al-Qur’an. Lafal “Allah” dengan lafal “ar-Rabb” yang bermakna Allah juga setengah jumlah ayat al-Qur’an. Pasalnya, lafal “ar-Rabb” yang disebutkan sebanyak 846 kali, lima ratus sekian darinya disebutkan sebagai ganti dari lafal “Allah”, sementara dua ratus sekian tidak bermakna “Allah”. Total jumlah lafal “Allah” dengan jumlah lafal “ar-Rahmân, ar-Rahîm, dan al-Alîm” beserta jumlah lafal “Huwa” pada lâ ilâha illâ huwa juga setengah ayat al-Qur’an. Bedanya hanya empat. Dengan lafal “al-Qadîr” sebagai ganti dari lafal “Huwa” jumlahnya setengah jumlah ayat al-Qur’an. Bedanya hanya sembilan. Kita cukupkan pembahasannya sampai bagian ini. Sebab, masih banyak lagi pelajaran lain pada keseluruhan lafal Allah. Poin Kedua: dilihat dari sisi surah, al-Qur’an juga berisi banyak pelajaran. Ia memiliki sejumlah tawâfuqât yang menunjukkan adanya keteraturan, tujuan, dan kehendak Allah. Di antaranya: jumlah lafal “Allah” pada surah “al-Baqarah” sama dengan jumlah ayatnya. Bedanya hanya empat. Terdapat Nuktah ketiga dari ‘Bagian Keempat’ yang tidak dimasukkan dalam buku ini―Peny. 546 Total jumlah ayat al-Qur’an adalah 6666 dan adanya keterkaitan dengan enam angka dari bilangan asmaul husna yang terdapat di halaman ini menunjukkan sebuah rahasia penting. Hanya saja, sampai saat ini ia masih diabaikan―Penulis. 545


706

AL-MAKTÛBÂT

empat lafal Huwa sebagai ganti dari Allah seperti pada kalimat lâ ilâha illa huwa. Dengan itu, tawâfuq terwujud. Jumlah lafal “Allah” pada surah “Ali Imrân” sesuai dengan jumlah ayatnya. Hanya saja, lafal “Allah” terdapat pada 209 ayat, sementara jumlah ayat surah tersebut adalah 200. Jadi, bedanya sembilan ayat. Namun perbedaan kecil seperti itu tidak merusak keistimewaan balagahnya. Pasalnya, tawâfuqât yang mendekati sudah cukup. Jumlah ayat pada surah “an-Nisâ, al-Mâidah, dan al-An’âm” juga selaras dengan total jumlah lafal “Allah” yang terdapat pada ketiga surah tersebut. Pasalnya, jumlah ayat pada ketiganya sebanyak 464. Sementara lafal “Allah” ada 461. Keduanya sama persis, sebab lafal “Allah” pada basmalah juga dihitung. Begitu pula pada lafal “Allah” di lima surah pertama. Ia disebutkan sebanyak dua kali lipat lafal “Allah” yang terdapat pada surah “al-A’râf, al-Anfâl, at-Taubah, Yunus, dan Hud”. Artinya, jumlahnya pada kelima surah yang kedua itu hanya setengah dari jumlah lafal “Allah” di kelima surah pertama. Jumlah lafal “Allah” pada surah “Yusuf, Ibrahim, ar-Ra’ad, al-Hijr, dan an-Naml” setengah dari yang setengah tadi. Lalu jumlah lafal “Allah” pada surah “al-Isrâ, al-Kahfi , Maryam, aha, al-Anbiyâ, dan al-Hajj”547 adalah setengah dari setengah yang setengah di atas. Surah-surah berikutnya sebanyak lima surat. Lalu lima surat tetap dengan persentase yang hampir sama. Hanya saja, tedapat perbedaan pada sebagian bilangan pecahan. Perbedaan semacam itu pada konteks ini tidak ada masalah. Misalnya: sebagian darinya berjumlah 121, yang lain berjumlah 125. Lalu yang lain lagi berjumlah 154, dan yang lain berjumlah 159. Kemudian pada lima surah berikutnya, yakni dimulai dari surah “az-Zukhruf ”, jumlahnya menurun menjadi setengahnya atau menjadi setengah dari setengah jumlah setengah tersebut. Rahasia dan hikmah sesuai dengan pembagian setiap lima surah tersebut telah tersingkap. Lalu tanpa kami sadari di sini dituliskan enam surah; bukan lima surah. Karena itu, sudah pasti yang keenam itu masuk tanpa kami sengaja agar hikmah rumus setengah tadi tetap berlaku―Penulis. 547


Surat Kedua Puluh Sembilan

707

Lima surah yang dimulai dari surah “an-Najm” jumlahnya setengah dari setengah dari setengah dari setengah dari setengah tersebut. Meskipun tidak persis tapi mendekati demikian. Tidak masalah kalau perbedaannya hanya dalam bilangan kecil. Selanjutnya pada tiga kelompok lima surah pendek terdapat tiga angka lafal jalalah (Allah). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam jumlah bilangan lafal jalalah tersebut tidak ada unsur kebetulan. Namun ia sengaja ditetapkan dengan sebuah hikmah dan keteraturan. Poin Ketiga: Lafal jalalah (Allah) yang mengarah kepada berbagai posisinya di berbagai halaman mushaf al-Qur’an. Yaitu bahwa jumlah lafal jalalah dalam satu halaman memiliki korelasi dengan sisi halaman sebelah kanan dan dengan halaman yang berhadapan dengannya. Kadangkala juga dengan halaman sebelah kiri yang berhadapan dengannya serta dengan sisi baliknya. Aku telah memeriksa tawâfuqât ini dalam salinan mushafku. Kutemukan adanya tawâfuqât dengan persentase jumlah yang sangat indah pada sebagian besarnya. Aku telah memberikan tanda padanya di mushau. Ia seringkali sama persis. Kadangkala juga setengah atau sepertiganya. Apapun adanya, ia mencerminkan sebuah hikmah dan keteraturan. Poin Keempat: Tawâfuqât pada satu halaman. Aku dan teman-temanku memeriksa tiga atau empat salinan mushaf yang berbeda. Kami bandingkan antara satu dengan yang lain. Kemudian kami sampai pada kesimpulan bahwa tawâfuqât tersebut juga berlaku pada semuanya. Hanya saja, tawâfuqât sedikit tidak sempurna karena ada sejumlah kepentingan lain yang dituju oleh pihak percetakan. Ketika ia disusun dan dikordinasikan, tawâfuqât pada keseluruhan al-Qur’an dalam hal jumlah lafal jalalah yang mencapai 2806 terlihat jelas, kecuali hanya dalam beberapa bagian. Hal Itu mencerminkan cahaya kemukjizatan yang agung. Pasalnya, pikiran dan akal manusia tidak mungkin meliputi dan menjangkau keseluruhan halamannya yang banyak serta tidak mungkin ikut


708

AL-MAKTÛBÂT

campur di dalamnya. Unsur kebetulan juga tidak mungkin ikut campur dalam hal-hal seperti itu. Kami meminta agar sebuah mushaf yang mulia ditulis kembali agar “poin keempat” di atas relatif lebih terlihat dengan tetap menjaga halaman mushaf yang paling banyak tersebar serta menjaga baris-barisnya disertai penataan di beberapa posisinya yang tidak teratur karena kurang mendapat perhatian dari divisi produksi. Dari sana, rahasia dan hikmah tawâfuqât hakiki itu insya Allah akan terlihat dan ternyata ia benar-benar terlihat.

Ya Allah, Dzat yang menurunkan al-Qur’an, dengan kebenaran al-Qur’an, buatlah kami memahami berbagai rahasia al-Qur’an selama mentari dan bulan bersinar. Semoga salawat dan salam tercurah kepada sosok yang Kau turunkan padanya al-Qur’an, juga kepada seluruh keluarga dan sahabatnya. Amin.

BAGIAN KELIMA (Risalah Kelima)

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. an-Nûr [24]: 35). Dalam suasana spiritual di bulan Ramadhan yang penuh berkah, aku merasakan salah satu cahaya ayat al-Qur’an di atas. Aku melihat sesuatu yang menyerupai khayalan bahwa seluruh entitas dan makhluk hidup bermunajat kepada Rabb-nya yang Mahaagung dengan munajat “Uwais al-Qarani” yang terkenal, 548 548 Bisa dilihat di penutup ‘mauqif ketiga’ dari “Kalimat Ketiga Puluh Dua” dan ‘kedudukan kedua’ dari “Surat Kedua Puluh”.


Surat Kedua Puluh Sembilan

709

yang dimulai dengan ungkapan:

“Ilahi, Engkau Rabb-ku dan aku adalah hamba. Engkau Khalik sementara aku adalah makhluk. Engkau ar-Razzâq (Pemberi rezeki), sementara aku yang mendapat rezeki...dan seterusnya” Dalam kondisi hati semacam itu aku melihat sesuatu yang membuatku yakin bahwa setiap nama ilahi adalah cahaya bagi 18 ribu alam yang ada seperti berikut: Sebagaimana daun mawar saling membungkus, yang satu menutupi yang berikutnya, begitu pula yang terjadi dengan alam ini. Setiap alam dibungkus dengan ribuan penutup dan tirai. Yang dibawahnya ditutup oleh sejumlah alam yang lain. Aku juga melihat bahwa setiap kali satu tirai dibuka terdapat alam lain yang tampak di hadapanku. Alam tersebut tampak bagiku begitu gelap dan menakutkan seperti gambaran ayat al-Qur’an:

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila Dia mengeluarkan tangannya, tiadalah Dia dapat melihatnya. (Dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah Dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS. an-Nûr [24]: 40). Ketika melihat alam yang gelap semacam itu, tiba-tiba aku melihat salah satu manifestasi nama ilahi yang bersinar kuat laksana cahaya yang menyinari alam dari ujung ke ujung. Setiap kali satu tirai dari alam ini terbuka di hadapan akal, terbuka pula dalam khayal sebuah pintu menuju alam lain. Ketika tampak diliputi oleh kegelapan karena kelalaian, seketika sebuah nama ilahi


710

AL-MAKTÛBÂT

muncul laksana mentari yang terang sehingga menyinari seluruh alam tersebut. Begitu seterusnya. Perjalanan spiritual dan wisata imajinatif ini berlangsung cukup lama. Di antaranya: Manakala melihat alam hewan dan memperhatikan kondisinya yang lemah, papa, sangat butuh, dan lapar, alam tersebut tampak bagiku dalam kondisi sangat gelap dan penuh duka. Namun tiba-iba nama ar-Rahmân bersinar laksana mentari terang dari puncak nama ar-Razzâq. Ia menerangi alam tersebut dengan cahaya rahmat-Nya. Di dalam alam hewan, aku melihat anak-anak mereka begitu lemah, papa, dan sangat butuh. Alam mereka begitu pekat, menggugah perasaan dan membuat iba setiap orang yang melihatnya. Dalam kondisi demikian, tiba-tiba aku melihat nama ar-Rahîm bersinar dari puncak “kasih sayang”. Ia menebarkan cahayanya yang terang pada seluruh alam sekaligus mengubahnya menjadi alam yang indah dan menyenangkan. Bahkan ia mengubah air mata keluhan dan kesedihan menjadi air mata yang menyiratkan kebahagiaan, kegembiraan, dan ungkapan syukur. Kemudian tirai yang lain tersingkap, tiba-tiba alam manusia tampak di hadapanku, bagaikan tayangan fi lm. Ia begitu pekat, diliputi oleh gelap yang amat tebal dan rasa takut yang terus-menerus. Aku memohon pertolongan dari rasa takut yang kurasakan. Pasalnya, aku melihat sejumlah harapan yang tertanam dalam diri manusia yang membentang menuju keabadian, pikiran dan khayalannya seluas alam, serta perhatian dan potensinya yang menuntut kebahagiaan abadi yang mengarah kepada surga. Pada waktu yang sama, dalam dirinya tersimpan rasa papa dan butuh yang luar biasa, namun memiliki keinginan tak terhingga dan permintaan yang tak terbatas. Ia sangat lemah, namun rentan dengan berbagai terpaan musibah dan musuh yang sangat banyak. Lebih dari itu, usianya sangat singkat, hidupnya penuh derita, dan kehidupannya yang tak menentu. Ia merasakan getirnya kehilangan dan perpisahan yang sangat menyakitkan hati di mana ia melihat―dengan pandangan kelalaian―kuburan sebagai pintu kegelapan abadi yang akan menjadi tempat di mana mereka akan dilemparkan secara perorangan ataupun berkelompok.


Surat Kedua Puluh Sembilan

711

Ketika aku melihat alam manusia dalam kondisi gelap seperti itu hingga seluruh perangkat halus dalam diriku berikut hati, jiwa, dan akal, bahkan semua partikel wujudku mulai menangis dan meminta pertolongan. Tiba-tiba, nama Allah, alÂdil, memancar dari puncak al-Hakîm, serta nama ar-Rahmân memancar dari puncak al-Karîm, nama ar-Rahîm memancar dari puncak al-Ghafûr, nama al-Bâ’its memancar dari nama al-Wârits, nama al-Muhyî memancar dari puncak al-Muhsin, nama ar-Rabb memancar dari puncak al-Mâlik. Seluruh nama ilahi tersebut menerangi begitu banyak alam dalam bagian alam manusia. Ia juga membuka jendela alam akhirat yang bersinar. Serta, menebarkan cahaya terang ke dunia manusia yang gelap gulita. Lalu tirai lain yang agung tersingkap. Yaitu alam bumi. Hukum ilmiah fi lsafat yang gelap memperlihatkan, dalam khayalan, sebuah alam yang menakutkan. Tampak sebuah kegelapan yang menakutkan bagiku karena kondisi spesies manusia yang malang yang berjalan di bumi yang berevolusi di angkasa raya yang tak terbatas dengan kecepatan yang tujuh puluh kali lebih cepat dari peluru dan beredar mengelilingi rute sejauh 25 ribu tahun hanya dalam satu tahun. Ia bisa hancur dan berserakan setiap waktu karena di perutnya terdapat berbagai guncangan hebat yang bisa merusak dan meluluhlantahkan. Karena pekatnya gelap menyelimuti alam ini, diriku menjadi gemetar dan takut. Namun tiba-tiba nama Khâliq as-Samâwati wal-ardh (Pencipta langit dan bumi), serta nama Allah seperti al-Qadîr, al-Alîm, ar-Rabb, Allah, Rabb as-Samâwati wal-ardh, dan Musakhhir asy-Syams wal-qamar (Dzat yang menundukkan mentari dan bulan) memancar terang dari puncak rahmat, al-Azhamah (keagungan), dan Rububiyah. Ia menerangi alam yang gelap tadi dengan sejumlah cahaya yang cemerlang. Ia mengubah bola bumi tersebut menjadi seperti kapal pesiar dalam bentuk yang sangat rapi, teratur, sempurna, lapang, dan tenang. Aku merasa ia benar-benar seperti disiapkan untuk berwisata, melancong, berekreasi, dan berniaga. Kesimpulannya, setiap nama dari seribu satu nama ilahi yang mengarah ke alam, semuanya laksana mentari besar yang menyinari setiap alam. Bahkan, ia menyinari berbagai alam yang


712

AL-MAKTÛBÂT

terdapat di sejumlah alam tersebut. Pasalnya, manifestasi nama-nama yang lain tampak pada manifestasi setiap nama-Nya lewat rahasia Ahadiyah Tuhan. Dalam wisata ini, seolah kalbu bergembira dan mengharapkan tambahan setiap kali melihat beragam cahaya di balik setiap kegelapan. Bahkan ia ingin menaiki khayalan untuk dapat mengelilingi langit. Pada saat tersebut tirai menjadi tersingkap sehingga pentas yang sangat luas terlihat. Qalbupun masuk ke alam langit dan melihat: Bahwa bintang-gemintang yang menebarkan senyuman cemerlang ukurannya lebih besar daripada planet bumi. Mereka bergerak lebih cepat dari bumi dan saling mengelilingi antara satu dengan yang lain. Andaikan ada yang menyimpang dari porosnya dan melenceng sedetik saja, tentu ia akan bertabrakan dengan yang lain. Ketika itu, akan terdengar gema yang dahsyat disertai kehancuran alam. Bintang tidak lagi memancarkan cahaya; tetapi api yang menyala. Ia juga tidak memberikan senyuman cemerlang, namun menutupi dengan kegelapan yang pekat. Begitulah, dengan khayalan ini, aku melihat langit sebagai alam yang luas, kosong, menakutkan, dan mencengangkan. Aku sangat menyesal mengapa datang ke dalamnya. Hanya saja, pada saat aku berada dalam kondisi demikian, nama-nama mulia milik Rabb, Pencipta langit dan bumi serta milik Rabb Pencipta malaikat dan ruh menunjukkan manifestasinya dari puncak ayat berikut ini:

“Kami hiasi langit dunia dengan lentera” (QS. al-Mulk [67]: 5),

“Dia tundukkan mentari dan bulan” (QS. ar-Ra’ad [13]: 2). Bintang-gemintang yang diselimuti kegelapan itu mendapat kilau cahaya dari cahaya agung tersebut. Dari sana, langit menjadi terang oleh lentera sebanyak jumlah bintang yang ada. Ia juga dipenuhi oleh malaikat dan makhluk spiritual lainnya. Ia tampak ramai setelah tadinya dianggap kosong. Aku melihat mentari


Surat Kedua Puluh Sembilan

713

dan bintang yang beredar laksana pasukan Rabb, Penguasa alam azali dan abadi. Ia seperti bergerak dan berputar dalam sebuah manuver yang luar biasa di mana ia memperlihatkan keagungan rububiyah Sang Penguasa Yang Mahaagung. Maka, dengan segenap kekuatan yang kumiliki kutegaskan; bahkan andai mampu, dengan semua partikel wujudku dan dengan seluruh lisan makhluk—andai mereka mendengarku—akan kubacakan fi rman Allah berikut:

“Allah (sumber) cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya terdapat pelita besar. Pelita tersebut di dalam kaca. Dan kaca itu laksana bintang bercahaya seperti mutiara yang dinyalakan dengan minyak dari zaitun, yang tumbuh tidak di timur ataupun di barat. Minyaknya saja hampir menerangi meski tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Allah membuat berbagai perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. an-Nur [24]: 35). Kemudian, dari langit aku kembali dan mendarat di bumi. Aku tersadar seraya berucap:

“Segala puji bagi Allah atas limpahan cahaya iman dan al-Qur’an.”


714

AL-MAKTÛBÂT

BAGIAN KEENAM (Risalah Keenam)

[Ini ditulis untuk mengingatkan para murid al-Qur’an dan untuk menyadarkan mereka yang berkhidmah untuknya agar tidak tertipu].

“Janganlah kalian condong kepada orang-orang zalim, sebab hal itu membuat kalian tersentuh api neraka. (QS. Hud [11]: 113). Bagian keenam ini, dengan izin Allah, dapat menggagalkan enam tipu daya setan, dari golongan jin dan manusia, sekaligus menangkal enam bentuk serangannya.

Tipu Daya Setan yang Pertama Setan manusia berusaha―lewat petunjuk yang didapat dari setan jin―menipu para pelayan al-Qur’an serta memalingkan mereka dari pengabdian dan jihad maknawi yang mulia. Yaitu dengan membuat mereka mencintai kedudukan dan reputasi. Gambarannya sebagai berikut: Secara umum, dalam diri manusia dan pada setiap orang terdapat keinginan, baik sedikit maupun banyak, untuk mencintai kedudukan yang merupakan penyakit riya, dan keinginan untuk memperoleh posisi terhormat dalam pandangan manusia. Dengan motif ingin terkenal, manusia rela mengorbankan hidupnya untuk memenuhi keinginan tersebut. Perasaan ini sangat berbahaya bagi para perindu akhirat. Namun bagi ahli dunia, ia merupakan sesuatu yang menyenangkan. Di samping itu, ia menjadi sumber berbagai akhlak tercela. Perlu diketahui bahwa ia merupakan sisi lemah yang terdapat pada manusia. Ia bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menarik manusia lewat perasaannya itu. Karenanya, yang paling kutakuti dan paling kucemaskan adalah kemungkinan adanya eksploitasi kaum


Surat Kedua Puluh Sembilan

715

ateis terhadap saudara-saudaraku lewat sisi ini. Sebab, lewat cara ini, mereka telah menarik teman-temanku yang kurang dekat lalu melemparkan mereka ke dalam jurang kebinasaan. 549 Wahai saudara-saudara dan teman-teman yang menjadi pelayan al-Qur’an! Katakanlah kepada mata-mata ahli dunia yang mencari popularitas, yang berpihak kepada kaum sesat, dan yang menjadi murid-murid setan, “Ridha Ilahi, kemurahan Rahmani, dan penerimaan Rabbani merupakan sebuah kehormatan besar sehingga sambutan dan simpati manusia menjadi tidak berarti. Ketika rahmat ilahi mengarah kepada kita, itu sudah sangat cukup. Adapun sambutan dan penerimaan manusia, ia bisa diterima bila merupakan bagian atau pantulan dari rahmat ilahi. Jika tidak, ia sama sekali tidak boleh diharapkan. Sebab, ia akan redup dan hilang saat berada di pintu kubur.” Kemudian bila sikap cinta kedudukan tidak dilenyapkan, ia harus diarahkan kepada hal lain sebagai berikut: Perasaan tersebut (cinta kedudukan) dalam kondisi tertentu bisa dibenarkan. Yaitu ketika ditujukan untuk mendapat ganjaran ukhrawi dan dilakukan dengan niat mendapat doa manusia sebagai dampak positif dari aktivitas berkhidmah kepada al-Qur’an. Gambarannya sebagai berikut: Misalkan Masjid Hagia Sophia dipenuhi oleh orang-orang mulia yang memiliki kedudukan terhormat. Sementara di pintu masuk atau koridornya terdapat sejumlah anak kecil yang nakal dan orang-orang berperangai bejat. Lalu di sekitar jendela terdapat orang-orang asing yang sedang asik bermain dan bersenda gurau. Ketika ada yang masuk ke dalam masjid tersebut dan bergabung dengan jamaah mulia di atas di mana ia membaca ayatOrang-orang malang itu mengira bahwa mereka tidak berada dalam posisi bahaya dengan berpikir, “Hati kami bersama Ustadz.” Namun orang yang mendukung aliran ateis dan tertipu dengan propaganda mereka telah dimanfaatkan untuk menjadi mata-mata tanpa mereka sadari. Ucapan orang yang berada pada posisi bahaya tersebut ”Hatiku masih bersih dan mengikuti manhaj Ustadz,” serupa dengan orang yang menahan kentut saat salat. Namun tiba-tiba ia kentut sehingga berhadas. Ketika ditegur, “Salatmu sudah batal,” ia menjawab, “Mengapa batal?! Hatiku masih bersih dan suci.” (Penulis). 549


716

AL-MAKTÛBÂT

ayat al-Qur’an dengan suara indah, maka pandangan ribuan ahli hakikat itu tertuju kepadanya. Iapun mendapat pahala besar lewat doa dan ridha mereka atasnya. Namun hal ini tidak menarik perhatian anak-anak yang nakal, kalangan ateis, dan orang-orang asing di atas. Akan tetapi, andaikan orang tadi masuk ke masjid yang penuh berkah dan bergabung dengan jama’ah yang besar itu seraya melantunkan nyanyian yang merangsang syahwat dan menari, niscaya ia akan menarik perhatian anak-anak yang nakal itu. Karena tindakannya mendorong untuk berbuat keji, maka hal itu disenangi oleh orang-orang berperangai bejat tersebut serta mendapat senyuman orang-orang asing yang senang melihat kekurangan umat Islam. Sebaliknya, jama’ah besar dan penuh berkah yang berada di dalam masjid melihatnya dengan pandangan hina dan benci. Mereka melihatnya berada dalam tingkatan yang paling rendah dan nista. Berdasarkan contoh di atas, dunia Islam dan benua Asia laksana masjid besar. Kaum mukmin dan ahli hakikat yang berada di dalamnya merupakan jama’ah yang mulia tersebut. Sementara kalangan anak-anak nakalnya adalah para penjilat yang memiliki pikiran kekanak-kanakan. Lalu orang-orang yang berperangai bejat itu adalah kaum ateis yang berkiblat ke Barat di mana mereka tidak memiliki agama. Sementara orang-orang asingnya adalah para wartawan yang menyebarkan pemikiran orang-orang asing. Seluruh muslim, terutama kalangan mulia, masing-masing memiliki posisi terhormat di masjid tersebut sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Ia menjadi objek perhatian sesuai dengan posisinya. Bila ada perbuatan dan tindakan yang bersumber dari keikhlasan—yang merupakan landasan Islam—dan keinginan mencari ridha Allah sesuai dengan hukum dan hakikat yang alQur’an gariskan, lalu kondisinya secara maknawi memperlihatkan pesan-pesan al-Qur’an, ketika itulah ia masuk dalam bagian doa yang dipanjatkan oleh setiap pribadi muslim yang berbunyi:


Surat Kedua Puluh Sembilan

717

“Ya Allah, ampuni kaum mukmin, baik yang laki-laki maupun yang perempuan.” Ia memiliki hubungan persaudaraan dengan seluruh mukmin. Akan tetapi, posisinya tidak terlihat oleh sebagian kaum sesat yang seperti binatang berbahaya, dan kedudukannya tidak tampak bagi kaum bodoh yang seperti anak kecil berewokan. Andaikan orang itu meninggalkan kejayaan nenek moyang yang ia anggap sebagai simbol kemuliaan, melupakan sejarah yang merupakan sumber kebanggaan, dan menyalahi jalan generasi saleh terdahulu yang menjadi sandaran jiwanya, lalu melakukan berbagai tindakan atas dorongan hawa nafsu dan sikap riya demi meraih ketenaran dan berbuat bid’ah, maka dalam pandangan ahli hakikat dan kalangan beriman ia jatuh ke tingkatan yang paling rendah. Pasalnya, betapapun bodoh dan awam, serta akalnya tidak sadar, kalbu seorang mukmin bisa merasakan perbuatan mereka yang kagum dan ujub terhadap diri sendiri dan membenci mereka secara maknawi. Hal ini sesuai dengan rahasia bunyi hadis Nabi r:

“Waspadalah terhadap fi rasat orang mukmin, sebab ia melihat dengan cahaya Allah.”550 Demikianlah, orang yang tergila-gila dengan cinta kedudukan dan popularitas―sosok kedua― jatuh ke tingkat yang paling bawah dalam pandangan jamaah yang tak terhingga. Iapun mendapatkan posisi buruk yang bersifat sementara di kalangan orang bodoh yang ceroboh dan suka mencemooh. Yang ia temukan hanyalah sahabat palsu dan berbahaya baginya di dunia, penyebab azab di alam barzakh, dan musuh di akhirat sesuai dengan rahasia ayat berikut:

550 HR. at-Tirmidzi, Tafsir surat al-Hijr 6; ath-abrani, al-Mu’jam alKabir 8/102 dan al-Mu’jam al-Awsath 3/312, 8/23.


718

AL-MAKTÛBÂT

“Para sahabat pada hari itu satu dengan yang lain menjadi musuh, kecuali orang-orang yang bertakwa.� (QS. az-Zukhruf [43]: 67). Adapun orang dalam gambaran pertama, kalaupun keinginan mendapat kedudukan masih ada dalam kalbunya, ia memperoleh posisi maknawi yang sah dan agung yang membuatnya puas dengan syarat keikhlasan dan ridha Allah menjadi landasan utama tanpa menjadikan cinta kedudukan sebagai tujuan. Orang ini kehilangan sesuatu yang sangat sedikit dan tidak penting, namun mendapat pengganti yang banyak, bahkan sangat banyak di mana ia sangat bernilai dan tidak mendatangkan bahaya. Lebih dari itu, ia berhasil menjauhkan sejumlah ular dari dirinya dan mendapati sejumlah makhluk penuh berkah sebagai teman penggantinya. Ia merasa senang bersama mereka. Atau, seperti orang yang menggerakkan tawon namun mendapat manfaat dari lebah yang memberikan minuman penuh rahmat berupa madu. Dengan kata lain, ia mendapat doa dari orang-orang tercinta serta mendapat minuman salsabil yang laksana telaga al-Kautsar dari mereka. Semua itu didapat dari seluruh penjuru dunia dan pahalapun dicatatkan dalam lembaran amalnya. Pada suatu saat, aku menyampaikan perumpamaan di atas dengan sangat tegas kepada sosok manusia kecil yang memiliki posisi istimewa di dunia yang kemudian menjadi objek ejekan dunia Islam karena ia melakukan sebuah kebodohan besar demi meraih ketenaran. Pelajaran tersebut sangat menghentak dirinya. Akan tetapi, karena aku tidak bisa menyelamatkan diriku dari cinta kedudukan, akhirnya peringatanku itu tidak membuat orang tersebut sadar.

Tipu Daya Setan yang Kedua Perasaan takut dan khawatir tertanam kuat dalam diri manusia. Para tiran, orang-orang zalim, dan pembuat makar sering mengeksploitasi perasaan tersebut. Mereka menggunakannya


Surat Kedua Puluh Sembilan

719

sebagai sarana untuk mengekang para pengecut. Pihak intelijen dan penyeru kesesatan kerapkali memanfaatkan perasaan tersebut yang terdapat pada kalangan awam dan juga ulama dengan melemparkan berbagai teror dan isu kepada mereka. Mereka menakut-nakuti seperti seorang penipu yang memperlihatkan sesuatu yang membuat seseorang yang sedang berada di atap rumah menjadi takut. Si penipu itu membuat orang tadi berpikir macam-macam dan sedikit demi sedikit menjadikannya mundur ke belakang sampai ke pinggir atap hingga jatuh dan akhirnya tewas. Begitulah kaum sesat memunculkan perasaan takut manusia sehingga mereka meninggalkan sejumlah persoalan besar akibat rasa takut yang sepele. Sampai-sampai sebagian mereka masuk ke dalam mulut ular agar tidak terkena gigitan nyamuk. Contohnya sebagai berikut: Pada suatu petang, aku mendatangi jembatan Istanbul. Aku ditemani almarhum seorang tokoh ulama yang takut naik perahu. Namun kendaraan yang bisa kami naiki ketika itu hanya perahu. Sementara kami harus pergi ke Masjid Abu Ayyub al-Anshari. Maka, aku terus membujuknya untuk mau naik perahu. Kemudian terjadilah dialog sebagai berikut: Dia : Aku khawatir kita tenggelam. Aku : Kira-kira berapa jumlah perahu di teluk ini? Dia : Barangkali seribu perahu. Aku : Berapa perahu yang tenggelam dalam setahun? Dia : Satu atau dua perahu. Kadang dalam beberapa tahun tidak ada yang tenggelam. Aku : Berapa hari dalam setahun? Dia : 360 hari. Aku : Kemungkinan tenggelam yang terlintas dalam benakmu dan yang membuatmu takut adalah satu banding 360 ribu. Orang yang takut dengan kemungkinan ini tidak bisa disebut manusia ataupun hewan. Lalu berapa lama lagi kira-kira usiamu? Dia : Aku ini sudah tua. Mungkin tinggal sepuluh tahun lagi.


720

AL-MAKTÛBÂT

Aku : Kematian bisa terjadi setiap hari, karena ajal merupakan sebuah misteri. Karenanya, ada kemungkinan mati setiap harinya. Artinya, engkau memiliki 3600 kemungkinan mati. Jadi, bukan 1 banding 300.000 kemungkinan seperti kemungkinan tenggelam pada perahu di atas. Tetapi, yang ada 1 banding 3000 kemungkinan mati, dan bisa jadi kemungkinan tersebut terjadi pada hari ini. Kalau begitu, yang harus kau lakukan adalah meratap dan menangis serta menulis wasiat. Rupanya ungkapan tersebut berhasil mempengaruhinya. Ia menjadi sadar sehingga kunaikkan ia ke atas perahu dalam kondisi gemetar. Saat berada di perahu kukatakan padanya, “Allah I memberi kita rasa takut agar dengan itu kita menjaga kehidupan; bukan untuk menghancurkan dan merusak kehidupan. Dia tidak memberi kita rasa takut agar hidup kita menderita dan susah. Bila rasa takut tersebut bersumber dari dua atau tiga kemungkinan, bahkan lima atau enam kemungkinan, maka ia masih wajar. Barangkali ia masih bisa dibenarkan sebagai sikap waspada. Akan tetapi, bila rasa takut tersebut bersumber dari sebuah kemungkinan dari dua puluh atau empat puluh kemungkinan yang ada, ia tidak lagi disebut takut. Namun ia adalah ilusi yang menghantui manusia dan membuat hidup tersiksa. Wahai saudara-saudaraku! Ketika para penjilat kaum yang ateis itu menyerang kalian untuk membuat takut dan membuat kalian meninggalkan medan jihad maknawi yang suci, maka katakanlah kepada mereka: “Kami adalah kelompok pengabdi al-Qur’an. Kami berlindung pada benteng al-Qur’an sesuai dengan rahasia fi rman-Nya, “Kami yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an) dan Kami pula yang menjaganya.” (QS. al-Hijr [15]: 9). Kami dilindungi oleh sebuah pagar besar; yaitu pagar “Cukuplah Allah bagi kami. Dialah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imran [3]: 173). Kalian tidak akan bisa menggiring kami menuju jalan yang secara pasti mengarah pada ribuan marabahaya yang menimpa kehidupan abadi kami lantaran takut terhadap bahaya sepele―dengan satu dari


Surat Kedua Puluh Sembilan

721

ribuan kemungkinan―yang menimpa kehidupan dunia kami yang singkat ini.” Katakanlah kepada mereka: “Siapa dari kami dan orang seperti kami yang mendapat bahaya karena Said Nursi saat meniti jalan kebenaran, di mana ia merupakan teman kami dalam mengabdi pada al-Qur’an sekaligus guru dan pelopor kami dalam menjalankan pengabdian suci tersebut?! Siapa di antara murid-murid khususnya yang mendapat ujian sehingga kami juga mendapat ujian yang sama, atau kami menjadi resah karena takut pada cobaan yang mungkin menimpa kami?! Saudara kami ini memiliki ribuan teman dan sahabat akhirat. Kami belum pernah mendengar ada di antara saudara atau temannya yang mendapat bahaya sejak sekitar 30 tahun belakangan ini. Padahal selama itu ia mempunyai pengaruh dalam kehidupan sosial dengan memiliki palu dan kekuatan politik. Sementara sekarang ini, ia hanya memiliki cahaya hakikat; bukan palu politik. Meskipun namanya dulu termasuk bersama mereka yang terlibat dalam peristiwa 31 Maret551 dan sejumlah temannya dibunuh, namun sesudah itu diketahui bahwa peristiwa tersebut direkayasa oleh pihak lain. Bukan karena bersahabat dengannya sehingga teman-temannya mendapat bahaya. Tetapi karena musuhnya. Apalagi saat itu ia telah menyelamatkan banyak temannya.” Atas dasar itu, saudara-saudaraku, kalian harus mengusir para penjilat dari kaum yang sesat tersebut dengan mengatakan kepada mereka: “Kami tidak ingin kehilangan kekayaan abadi hanya karena rasa takut yang mungkin terjadi dari ribuan kemungkinan yang ada. Hal ini tidak boleh terlintas dalam benak orang-orang seperti kalian yang bagaikan setan.” Peristiwa 31 Maret 1325 sesuai dengan kalender Romawi adalah peristiwa pemberontakan militer. Yaitu dimulai dari kamp Taksim di Istanbul. Kemudian pemberontakan itu menyebar ke berbagai kamp yang lain di kota tersebut. Setelah itu, para prajurit pemberontak itu turun ke jalan-jalan, membunuh para menteri, wakil rakyat, dan panglima. Kalau bukan karena pidato yang disampaikan oleh Said Nursi kepada para prajurit di kamp dan barak mereka, mungkin akan terjadi sesuatu yang sangat buruk. Pasalnya, Pidato tersebut berhasil meredakan kemarahan para prajurit pemberontak itu. 551


722

AL-MAKTÛBÂT

Katakan pula kepada para penjilat itu: “Bila musibah dan bahaya disebabkan oleh kemungkinan satu banding satu; bukan satu dari ratusan ribu kemungkinan, selama masih memiliki sedikit akal, kami tidak takut dan tetap tidak akan meninggalkan beliau (Said Nursi).” Pasalnya dari pengalaman yang ada, telah dan masih terlihat bagaimana orangorang yang mengkhianati guru atau saudara mereka saat musibah dan bencana terjadi, ternyata musibah tersebut justru terlebih dahulu menimpa orang-orang itu. Selain itu, mereka mendapat perlakuan yang kasar, jauh dari kasih sayang, serta mereka dipandang rendah dan hina. Jasad mereka mati dan jiwa mereka juga binasa akibat kehinaan yang mereka dapatkan. Orang-orang yang menghukum mereka tidak memperlihatkan belas kasih sama sekali. Orang-orang itu berkata, “Mereka telah mengkhianati guru mereka yang begitu penyayang kepada mereka. Karena itu, mereka mendapatkan balasan di mana kedudukan mereka menjadi jatuh dan rendah. Mereka tidak layak mendapatkan belas kasih. Namun layak dihinakan dan dinistakan.” Selama keadaannya demikian, ketika seorang zalim yang keji menginjak-injak kepala seseorang lalu pihak yang dizalimi itu justru mencium kakinya, maka dengan sikap hina tersebut qalbunya sudah hancur sebelum kepalanya. Jiwanya sudah mati sebelum jasadnya. Ia kehilangan kepala sekaligus kehilangan wibawa dan kehormatan. Pasalnya, dengan menunjukkan kelemahan di hadapan si zalim tadi, hal itu justru membuatnya lebih berani bertindak kejam. Sebaliknya, bila pihak yang dizalimi itu meludahi wajah si zalim berarti ia telah menyelamatkan qalbu dan jiwanya sementara jasadnya menjadi syahid. Ya, ludahi wajah kaum zalim yang tidak punya belas kasih itu! Ketika Inggris menduduki Istanbul dan merusak meriam di jalan-jalan Istanbul, pemimpin uskup gereja Anglican bertanya kepada kantor syaikhul Islam dengan enam pertanyaan. Saat itu aku masih anggota di Dârul Hikmah al-Islamiyyah. Mereka berkata kepadaku, “Jawablah pertanyaan mereka dengan enam ratus kata seperti yang mereka inginkan.” Akupun berujar, “Menjawab pertanyaan tersebut bukan dengan enam ratus kata, enam kata,


Surat Kedua Puluh Sembilan

723

atau satu kata. Akan tetapi cukup dengan semburan ludah.” Pasalnya, ketika negara tersebut menginjak dan mencekik kita, yang harus dilakukan adalah meludahi wajah pemimpin uskup mereka terkait dengan pertanyaan yang ia tanyakan dengan penuh kesombongan. Karena itu kukatakan, “Ludahi wajah kaum zalim yang congkak itu!” Sekarang, kutegaskan bahwa negara besar seperti Inggris, ketika ia menduduki negeri kita, maka―lewat media cetak―kujawab dan kutantang mereka. Ketika itu, bisa dipastikan kondisiku dalam bahaya besar. Hanya saja, penjagaan al-Qur’an telah mencukupiku. Ia juga seratus kali lipat sudah cukup bagi kalian dalam menghadapi kaum zalim yang kemungkinan bahayanya satu banding seratus. Selanjutnya, wahai saudara-saudaraku, banyak di antara kalian yang telah mengikuti wajib militer, yang belum pun pasti sudah mendengar. Namun siapa yang belum mendengar, hendaknya mereka mendengar dariku: sebagian besar yang terluka dan menjadi korban dalam perang adalah mereka yang lari dari parit pertahanan. Sebaliknya, yang paling sedikit mengalami luka adalah mereka yang tetap berada di parit pertahanan. Disebutkan dalam ayat al-Qur’an:

Ç .....» º ¹ ¸ ¶ µ ´ ³ “Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kalian hindari, ia pasti akan menemui kalian.” (QS. al-Jumu’ah [62]: 8). Makna simbolik dari ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang yang lari dari kematian lebih berpeluang menemui ajal daripada yang lain.

Tipu Daya Setan yang Ketiga Setan memburu banyak orang dengan perangkap tamak. Dalam banyak risalah dan lewat dalil-dalil yang kuat yang kami ambil dari ayat al-Qur’an, kami telah menegaskan bahwa “rezeki halal datang sesuai dengan kadar kelemahan dan kepapaan; bu-


724

AL-MAKTÛBÂT

kan sesuai dengan usaha dan kemampuan�. Petunjuk, tanda, dan dalil yang membuktikan hakikat tersebut tidak terhingga. Di antaranya: Pepohonan yang merupakan salah satu spesies makhluk hidup yang juga membutuhkan rezeki, tetap tegak di tempatnya, namun rezekinya yang mendatanginya. Sementara hewan tidak menerima nutrisi dan tidak tumbuh sempurna seperti pohon. Hal itu karena ia sangat tamak kepada rezeki. Ikan yang paling bodoh, paling dungu, dan paling lemah mendapat nutrisi dengan cara yang paling baik. Padahal ia hidup di air, namun tampak gemuk dan berisi. Sementara monyet, rubah, dan hewan sejenis yang memiliki kepandaian dan kemampuan tampak kurus dan lemah karena kondisi kehidupannya yang buruk. Semua itu menunjukkan bahwa perantara rezeki bukan kemampuan; tetapi kepapaan. Penghidupan yang baik yang didapat oleh anak-anak—entah manusia atau hewan—serta susu murni yang diberikan kepada mereka merupakan bentuk hadiah yang dianugerahkan dari khadzanah rahmat ilahi dari tempat yang tak terduga, sebagai bentuk rahmat dan belas kasih atas kelemahan mereka. Sebaliknya, kesulitan hidup pada binatang buas, semua itu menunjukkan bahwa sarana rezeki yang halal berupa kelemahan dan kepapaan; bukan kepandaian dan kemampuan. Bangsa Yahudi yang dikenal sebagai bangsa yang paling tamak pada kehidupan dunia, mengungguli bangsa lain dalam memburu rezeki. Namun demikian, mereka bangsa yang paling hina dan paling rentan terhadap kehidupan yang buruk. Bahkan orang-orang kaya di antara mereka berada dalam kondisi memprihatinkan. Harta yang mereka peroleh dari transaksi ribawi ataupun dengan cara lain yang tidak dibenarkan, tidak membantah pernyataan di atas. Sebab, ia tidak termasuk rezeki yang halal. Banyak sastrawan dan ulama yang hidup dalam kondisi sangat sederhana, sementara banyak orang bodoh yang hidup bergelimang harta. Semua itu menunjukkan bahwa sarana untuk mendapat rezeki bukan kecerdasan dan kemampuan. Tetapi, kelemahan, kepapaan, serta kepasrahan yang disertai dengan


Surat Kedua Puluh Sembilan

725

sikap tawakkal dan juga doa, baik lewat bahasa lisan maupun bahasa tubuh dan perbuatan. Allah I berfi rman:

“Allah adalah Dzat Pemberi rezeki, Pemilik kekuatan yang kokohâ€? (QS. adz-Dzâriyat [51]: 58). Ayat tersebut menegaskan hakikat di atas. Ia menjadi bukti kuat atas pernyataan kita ini di mana ia dibaca oleh semua tumbuhan, hewan, dan anak-anak manusia lewat bahasa tubuhnya. Bahkan ia juga dibaca oleh setiap kelompok yang menginginkan rezeki. Karena rezeki ditetapkan oleh takdir ilahi dan ia diberikan sebagai bentuk karunia, sementara Pemberinya adalah Allah I yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah, maka orang yang menerima harta haram sebagai suap untuk dirinya dan kadang untuk simbol-simbol kehormatannya dengan menjatuhkan harga diri tanpa alasan yang dibenarkan sampai-sampai ia tidak percaya kepada rahmat Allah dan meremehkan karunia-Nya, kutegaskan bahwa hendaknya ia berpikir betapa tindakannya sangat bodoh dan gila. Ya, ahli dunia, terutama kaum yang sesat, tidak akan memberikan uang mereka dengan murah. Namun ia akan memberikannya dengan harga yang mahal. Harta yang bisa menjaga kehidupan duniawi untuk satu tahun, namun bisa menjadi sarana yang menghancurkan khazanah kehidupan abadi yang kekal. Maka, dengan tamak yang merusak ia mendapat murka ilahi dan berusaha mendapat ridha kaum yang sesat. Wahai saudaraku, ketika para penjilat ahli dunia dan kaum munafi k yang sesat itu menjerat kalian dengan tali ketamakan yang merupakan sisi lemah yang tertanam dalam diri manusia, renungkanlah hakikat yang telah disebutkan sebelumnya dan jadikan saudara kalian yang fakir ini sebagai teladan.


726

AL-MAKTÛBÂT

Dengan segala daya dan kekuatan yang kumiliki, aku menjamin bahwa sikap qana’ah dan hemat bisa menjaga kehidupan kalian dan menjamin rezeki kalian lebih dari gaji kalian. Apalagi uang yang tidak halal yang diberikan kepada kalian tersebut akan meminta gantinya dari kalian ribuan kali lipat. Atau, uang yang tidak halal tersebut bisa jadi menahan dan mengurangi tugas pengabdian al-Qur’an yang bisa membuka banyak pintu kakayaan abadi untuk kalian pada setiap waktu. Ini merupakan bahaya besar yang tidak bisa diganti dengan ribuan gaji. Catatan: Kaum sesat yang terbiasa bermuka dua dan menipu, selalu menghadirkan makar dan tipu daya. Yaitu saat mereka tidak mampu menghadapi berbagai hakikat iman yang kami sebarkan yang bersumber dari al-Qur’an. Dengan berbagai cara, mereka berusaha agar para sahabatku menjauhiku. Kaum sesat itu membujuk mereka dengan sikap cinta kedudukan, sifat tamak, rasa cemas, dan upaya merendahkan diriku lewat berbagai tuduhan terhadap diriku. Dalam melakukan pengabdian suci ini, kami bergerak secara positif. Akan tetapi, sayang sekali, upaya menangkal berbagai rintangan yang menjadi penghalang dalam melakukan kebaikan kadangkala membuat kami melakukan tindakan negatif. Nah, dalam menghadapi berbagai propaganda kaum munafi k tersebut, aku mengingatkan saudara-saudaraku kepada tiga poin di atas dan berusaha untuk menangkal serangan yang ditujukan kepada mereka. Sekarang ini, serangan paling berat diarahkan kepada pribadiku. Mereka berkata, “Said adalah orang Kurdi. Mengapa kalian sangat menghormati dan mengikutinya?” Karena itu, terpaksa aku menulis tipu daya setan yang keempat dengan bahasa “Said Lama” untuk membungkam orang-orang seperti mereka.

Tipu Daya Setan yang Keempat Sebagian kalangan ateis yang menempati sejumlah posisi penting menyerang diriku. Mereka menyebarluaskan berbagai


Surat Kedua Puluh Sembilan

727

propaganda yang mereka dapat dari setan dan dari bisikan kaum sesat. Hal itu menjadi alat untuk menipu saudara-saudaraku dan untuk memunculkan semangat kesukuan. Mereka berkata, “Kalian adalah bangsa Turki. Alhamdulillah terdapat sejumlah golongan ulama dan sosok mulia dari bangsa Turki. Sementara Said ini adalah orang Kurdi. Bekerjasama dengan orang yang bukan berasal dari bangsa kalian bertentangan dengan semangat kesukuan.” Jawaban: Wahai orang ateis yang malang! Alhamdulillah aku seorang muslim. Aku memiliki afi liasi dengan umat Islam yang mulia, dimana jumlah mereka mencapai 350 juta orang. Aku berlindung kepada Allah seratus ribu kali dari tindakan mengorbankan saudaraku yang banyak ini yang terpaut dengan persaudaraan abadi di mana mereka telah membantuku lewat doa mereka yang tulus; yang di tengah-tengah mereka terdapat mayoritas Kurdi. Tidak mungkin aku menggantikan mereka dengan paham rasisme dan nasionalisme negatif untuk mendapat simpati sejumlah orang yang membawa nama Kurdi dan dianggap golongan Kurdi di mana mereka termasuk kalangan yang meniti jalan kekufuran dan berlepas diri dari sejumlah mazhab. Wahai ateis, itu adalah karakter orang-orang bodoh sepertimu. Yaitu meninggalkan persaudaraan hakiki yang bersinar dan berguna dari sebuah jamaah yang berjumlah 350 juta untuk mendapat persaudaraan orang-orang kafi r seperti bangsa Hungaria atau sejumlah orang Turki yang ateis dan kebarat-baratan. Itu adalah persaudaraan sementara yang tidak berguna meski di dunia sekalipun. Karena kami telah menjelaskan esensi dari nasionalisme negatif dan bahayanya dengan sejumlah dalil pada ‘persoalan ketiga’ dari “Surat Kedua Puluh Enam”, maka silahkan merujuk kepada risalah tersebut. Di sini kami hanya akan sedikit menjelaskan satu hakikat yang diterangkan secara global pada akhir persoalan ketiga. Ia adalah sebagai berikut:


728

AL-MAKTÛBÂT

Kukatakan kepada kaum ateis itu, para penyeru semangat kesukuan, yang berlindung di balik tirai nasionalisme Turki, yang sebenarnya mereka adalah musuh bagi bangsa Turki. Kukatakan kepada mereka: “Aku memiliki hubungan yang sangat kuat dengan mukmin negeri ini yang disebut sebagai bangsa Turki serta memiliki hubungan persaudaraan yang tulus, abadi, dan hakiki, dengan umat Islam. Dengan rasa bangga, aku sangat mencintai dan loyal―atas nama Islam―kepada putra-putri negeri ini yang telah meninggikan panji al-Qur’an di seluruh penjuru dunia selama seribu tahun.” Adapun engkau wahai penipu yang merasa memiliki heroisme! Engkau hanya miliki persaudaraan simbolis; tidak hakiki, serta bersifat sementara. Persaudaraan tersebut dibangun di atas rasisme dan kepentingan pribadi. Ia membuat orang-orang lupa akan berbagai kebanggaan nasional Turki yang sebenarnya. Aku ingin bertanya: “Apakah bangsa Turki hanya terdiri dari para pemuda yang lalai, yang mengikuti hawa nafsu, yang usia mereka antara dua puluh sampai dengan empat puluh tahun saja?” “Apakah keuntungan yang diraih dari semangat nasionalisme negatif terbatas pada pendidikan ala Barat yang justru membuat mereka semakin lalai, membiasakan mereka berperilaku bejat, dan mendorong mereka berbuat dosa?” “Apakah dengan upaya mengajak mereka kepada kesenangan temporer dan tertawa sesaat malah justru membuat mereka menangis di masa tua?” Jika semangat nasionalisme dan rasisme tersebut semacam itu, jika kemajuan dan kebahagiaan abadi yang dimaksud seperti itu, dan jika engkau yang mengajak kepada nasionalisme Turki model demikian, serta membela bangsa dengan cara tersebut, maka aku benar-benar akan menjauhi seruan nasionalisme Turki tersebut dan engkau boleh menjauh dariku. Jika engkau masih memiliki sedikit semangat, kesadaran, dan sikap objektif, maka perhatikan pembagian berikut lalu berikan jawaban!


Surat Kedua Puluh Sembilan

729

Putra-putri negeri ini yang disebut bangsa Turki terbagi atas enam bagian: Bagian pertama: kaum yang salih dan bertakwa. Bagian kedua: orang-orang yang sedang sakit dan mendapat musibah. Bagian ketiga: kalangan lanjut usia. Bagian keempat: anak-anak dan balita. Bagian kelima: kaum dhuafa dan miskin. Bagian keenam: kalangan muda. Bukankah lima kelompok pertama termasuk bangsa Turki? Tidakkah mereka memiliki bagian dari semangat nasionalisme yang dimaksud? Apakah semangat nasionalisme tersebut boleh menyakiti lima kelompok di atas, merampas kegembiraan mereka, mengganggu kesenangan mereka, merusak kebahagiaan mereka demi mendatangkan suka cita yang melenakan kepada kelompok yang keenam? Apakah ini semangat patriotisme atau justru permusuhan terhadap bangsa Turki? Pihak yang mendatangkan bahaya bagi mayoritas sudah pasti musuh; bukan teman. Pasalnya, hukum tegak di atas kepentingan mayoritas. Aku ingin bertanya, “Apakah keuntungan terbesar yang didapat oleh kelompok pertama—kalangan beriman dan bertakwa—dari peradaban Barat? Atau, meniti jalan kebenaran seperti yang mereka inginkan dan pelipur lara dalam cahaya iman dengan menghadirkan kebahagiaan abadi?� Jalan yang dilewati oleh kalian dan para propagandis nasionalisme sepertimu yang berkutat dalam kesesatan bisa memadamkan cahaya maknawi milik kaum mukmin yang bertakwa, merusak kebahagiaan mereka, memperlihatkan kematian sebagai kebinasaan abadi, serta memosisikan kubur sebagai pintu menuju perpisahan abadi. Apakah keuntungan yang didapat oleh kelompok kedua, yaitu mereka yang sedang sakit dan yang terkena musibah, yang putus asa dalam hidup, berupa pendidikan peradaban tanpa agama yang mengekor kepada Barat? Padahal orang-orang malang itu sedang membutuhkan cahaya, mengharap pelipur lara, mencari pahala atas musibah yang menimpa, ingin menuntut balas


730

AL-MAKTÛBÂT

kepada pihak yang telah berbuat aniaya, serta berharap dapat menghilangkan rasa cemas dari pintu kubur yang sudah dekat. Namun, dengan semangat palsu yang diserukan oleh dirimu dan orang-orang sepertimu, kalian malah melukai dan menyakiti kalangan yang tertimpa musibah yang sangat membutuhkan pelipur lara, belas kasih, dan balutan atas luka mereka. Kalian malah menanamkan sejumlah penyakit ke hati mereka yang sedang terluka sehingga membuat mereka kehilangan harapan dan melemparkan mereka ke dalam jurang keputusasaan. Apakah ini yang dimaksud semangat nasionalisme? Apakah begini cara kalian memberi manfaat kepada bangsa? Kelompok ketiga, yaitu kalangan lanjut usia, yang mewakili sepertiga bangsa ini. Mereka sudah di ambang pintu kubur dan dekat dengan kematian. Mereka mulai menjauhi dunia dan menghampiri akhirat. Apakah mereka mendapatkan manfaat, cahaya, dan pelipur lara dengan mendengar sejarah kaum zalim seperti Jengis Khan dan Khulagu? Apakah perbuatan kalian yang telah membuat mereka lupa pada akhirat dan mendekatkannya pada dunia di mana ia sama sekali tak berguna bisa menjadi pelipur lara? Padahal semua itu merupakan bentuk keruntuhan dan kemunduran maknawi meskipun secara lahir tampak maju. Apakah cahaya akhirat ada pada bioskop? Apakah pelipur lara hakiki terdapat pada teater? Ketika orang-orang yang lanjut usia itu mengharap penghormatan dari kalangan yang mengusung semangat nasionalisme, malah dikatakan kepada mereka, “Kalian sedang menuju kematian abadi.” Mereka dibuat takut dengan kubur yang tadinya mereka bayangkan sebagai rahmat malah berubah menjadi mulut ular yang siap menelan. Para penyeru nasionalisme itu membisikkan ke telinga maknawi mereka, “Kalian sedang berjalan menuju ke sana.” Ucapan tersebut seperti tikaman yang mengarah pada mereka lalu menyayat-nyayat jiwa mereka. Kalau ini yang kalian maksud dengan semangat nasionalisme, maka aku berlindung kepada Allah seratus ribu kali dari nasionalisme tersebut. Kelompok keempat adalah anak-anak. Dari semangat nasionalisme itu mereka mengharap rahmat dan menantikan kasih


Surat Kedua Puluh Sembilan

731

sayang. Iman kepada Allah, Sang Pencipta Yang Mahakuasa dan Maha Penyayang, itulah yang menjadikan jiwa mereka senang, potensi mereka tumbuh, dan bakat mereka berkembang dengan penuh bahagia meskipun kelemahan dan ketidakberdayaan masih tersimpan di dalam diri mereka. Mereka bisa melihat kehidupan dengan penuh kerinduan lewat pengajaran sikap tawakkal dan kepasrahan islami yang hal itu membuat mereka tegar menghadapi berbagai kondisi dan kesulitan. Apakah itu bisa diganti dengan mengajarkan kemajuan peradaban yang kurang terkait dengan mereka dan mengajarkan fi lsafat materialistik yang gelap, yang dapat meruntuhkan kekuatan maknawi mereka dan bisa memadamkan cahaya jiwa mereka? Pasalnya, andaikan manusia terdiri dari fi sik jasmani semata tanpa memiliki akal, barangkali berbagai metode asing yang kalian sebut sebagai pendidikan peradaban yang membuat anakanak tak berdosa itu terhibur untuk sementara waktu dan dihiasi dengan ajaran nasionalisme dapat memberikan keuntungan duniawi sebagai mainan bagi anak-anak. Akan tetapi, anak-anak yang tak berdosa itu akan terjun ke kancah kehidupan sama seperti yang lain. Sudah pasti mereka akan membawa harapan yang sangat jauh di hati mereka yang kecil serta dalam benak mereka akan muncul sejumlah cita-cita mulia. Karena demikian hakikat sebenarnya, dalam hati mereka harus tertanam satu “titik sandaran� yang kuat dan “titik tambatan� yang kokoh dengan penguatan iman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu sebagai tuntutan kasih sayang kepada mereka yang memiliki kelemahan tak terhingga. Hanya dengan itu, belas kasih kepada mereka bisa terwujud. Jika tidak, mengasihi mereka dengan mengobarkan semangat nasionalisme negatif hanya akan menjadi sayatan maknawi terhadap anak-anak kecil yang tak berdosa itu. Sama seperti seorang ibu gila yang menyayat anaknya. Bahkan ia juga merupakan bentuk pengkhianatan dan penganiayaan terhadap mereka layaknya orang yang mengeluarkan jantung dan otak si anak untuk dijadikan nutrisi bagi pertumbuhan fi siknya.


732

AL-MAKTÛBÂT

Kelompok kelima adalah kaum dhuafa dan miskin. Orang-orang fakir yang memikul beban hidup yang berat, yang menjadi lebih menderita akibat kemiskinan yang dialami, serta orang-orang miskin yang lebih sengsara akibat dinamika kehidupan yang mengkhawatirkan, bukankah mereka berhak mendapat bagian dari semangat nasionalisme? Apakah bagian mereka terdapat pada aktivitas yang kalian lakukan di bawah payung westernisasi dan peradaban fi r’auniyah yang memenuhi ambisi orang-orang kaya yang bodoh, yang menjadi sarana ketenaran bagi tiran yang kuat dan zalim, yang justru menambah penderitaan dan keputusasaan mereka? Balsam penyembuh untuk membalut luka kefakiran mereka sama sekali tidak terdapat pada nasionalisme negatif. Namun ia berasal dari apotik Islam yang suci. Kekuatan dan perlawanan kaum dhuafa tidak bersumber dari fi lsafat materialis gelap yang merujuk pada unsur kebetulan dan alam yang tuli. Namun ia bersumber dari semangat keislaman dan dari umat Islam yang mulia. Kelompok keenam adalah para pemuda. Andaikan masa muda mereka abadi, tentu minuman memabukkan berupa nasionalisme negatif yang kalian berikan kepada mereka dapat memberikan keuntungan sementara. Namun saat sadar dari kealpaan masa muda yang nikmat melalui masa tua dan sejumlah derita, serta saat terbangun dari tidur nyenyak di subuh kerentaan yang penuh dengan penyesalan akan membuat para pemuda menangis pilu dan merasa sakit akibat minuman tadi. Selain itu, kepedihan yang dirasa akibat lenyapnya mimpi menyenangkan akan melahirkan kesedihan yang luar biasa, sehingga membuatnya menyesal dan mengeluh seraya berkata, “Oh, sungguh menyesal. Masa muda telah hilang. Usia sudah berlalu. Aku akan masuk ke dalam kubur dengan tangan kosong. Andai saja sebelumnya aku sadar.� Apakah bagian kelompok ini dari semangat nasionalisme negatif itu hanya mendapatkan kesenangan temporer dalam jangka waktu terbatas, lalu setelah itu menyesal dan menangis selamanya? Atau, kebahagiaan mereka di dunia dan kenikmatan


Surat Kedua Puluh Sembilan

733

hidup mereka terletak pada sikap syukur atas nikmat masa muda dengan menggunakan masa tersebut di jalan yang lurus; bukan di jalan kemaksiatan. Hal itu untuk membuat masa muda yang fana menjadi kekal dengan ibadah serta demi meraih masa muda yang kekal di negeri kebahagiaan abadi? Jika engkau masih memiliki sedikit kesadaran, jawablah pertanyaan tersebut! Kesimpulannya, andaikan bangsa Turki hanya terbatas pada kelompok keenam, yaitu para pemuda, dan masa muda mereka kekal, serta tidak ada negeri lain bagi mereka selain dunia, tentu aktivitas kalian yang berhias westernisasi di bawah payung nasionalisme Turki masih bisa dianggap sebagai semangat nasionalisme. Jika demikian adanya, kalian bisa berkata kepada orang sepertiku yang tidak begitu peduli dengan urusan dunia, yang menganggap nasionalisme negatif sebagai bencana seperti topan, yang berusaha memalingkan para pemuda dari nafsu dan keinginan menyimpang, yang lahir di negeri seberang; kalian bisa berkata, “Ia seorang Kurdi. Jangan kalian ikuti.� Ucapan kalian ini barangkali masih bisa dibenarkan. Akan tetapi, karena putra-putri negeri ini yang disebut sebagai orang Turki terdiri dari enam kelompok seperti yang telah kami jelaskan, maka mendatangkan bahaya kepada lima kelompok dari mereka dan merampas kebahagiaan mereka, lalu membatasi kebahagiaan duniawi yang bersifat sementara dan berdampak buruk hanya pada satu kelompok, bahkan membuat mereka mabuk dengannya, tentu hal itu bukan merupakan bentuk kesetiaan kepada bangsa Turki, melainkan pengkhianatan dan permusuhan. Ya, dari sisi ras aku bukan orang Turki. Akan tetapi, aku telah berusaha dan terus berusaha dengan segenap kemampuan, penuh semangat, kasih sayang dan rasa persaudaraan untuk kebaikan orang-orang Turki yang bertakwa, yang mendapat musibah, yang tua, anak-anak, dan yang fakir. Aku juga berusaha agar para pemuda—sebagai kelompok keenam—meninggalkan berbagai perbuatan menyimpang yang bisa meracuni kehidupan dunia mereka, yang bisa menghancurkan kehidupan akhirat mereka, dan yang mengantar pada tangisan setahun akibat tawa


734

AL-MAKTÛBÂT

selama tidak lebih dari sejam. Ini menjadi kebiasaanku sejak 20 tahun yang lalu. Bukan hanya enam atau tujuh tahun belakangan. Pasalnya, sejumlah risalah yang kuterbitkan dengan bahasa Turki dan kuambil dari cahaya al-Qur’an bisa didapat semua orang. Ya, karya-karya yang terambil dari khazanah cahaya alQur’an al-Karim telah dijelaskan kepada kalangan lanjut usia yang sangat menginginkan cahaya tersebut. Telah diperlihatkan kepada para penderita sakit dan orang-orang yang mendapat musibah bahwa obat paling mujarab dan balsam penyembuh untuk mereka terdapat dalam apotik al-Qur’an yang suci. Lewat cahaya al-Qur’an, telah diberitahukan kepada kaum tua yang sudah dekat dengan pintu kubur bahwa ia merupakan pintu kasih sayang; bukan pintu kebinasaan. Kepada anak-anak yang hatinya masih halus dan lembut, dari khazanah al-Qur’an al-Karim, dihadirkan “titik sandaran” yang sangat kuat dalam menghadapi berbagai musibah, kesulitan, dan bahaya. Diperlihatkan “titik tambatan” yang menjadi sumber harapan dan keinginan tak terhingga yang bisa mereka manfaatkan. Beban hidup yang menekan kaum dhuafa dan miskin sekaligus membuat mereka sedih diringankan oleh hakikat keimanan yang berasal dari al-Qur’an al-Hakim. Begitulah. Kami berusaha memberi manfaat kepada lima kelompok dari enam kelompok bangsa Turki. Adapun kelompok keenam yaitu para pemuda, kami memiliki persaudaraan yang tulus bersama dengan orang-orang baik dari mereka. Sementara, tidak ada persahabatan apapun dengan orang-orang ateis sepertimu. Pasalnya, kami tidak menganggap para penganut ateisme yang menanggalkan agama Islam, yang menghimpun kebanggaan nasional Turki yang sebenarnya, sebagai bagian dari bangsa Turki. Namun kami memosisikan mereka sebagai orang asing yang berkedok Turki. Orang seperti mereka, betapapun telah mengklaim mengajak kepada nasionalisme Turki, sesungguhnya mereka tidak bisa menipu orang-orang yang berada dalam garis kebenaran. Pasalnya, sikap dan tindak-tanduk mereka mematahkan klaim mereka. Wahai kaum ateis yang berkiblat ke Barat yang berusaha memalingkan saudara-saudaraku dari diriku lewat berbagai


Surat Kedua Puluh Sembilan

735

propaganda kalian! Apa manfaat yang kalian berikan untuk umat? Kalian telah memadamkan cahaya kalangan bertakwa dan salih yang merupakan kelompok pertama. Kalian menuangkan racun pada luka orang-orang yang justru membutuhkan balutan dan curahan kasih sayang di mana mereka merupakan kelompok kedua. Kalian merampas obat pelipur lara dari kelompok ketiga yang sangat layak dihormati dan dimuliakan seraya mencampakkan mereka ke dalam keputusasaan. Kalian memutus semua kekuatan maknawi kelompok keempat yang membutuhkan kasih sayang dan memadamkan rasa kemanusiaan mereka yang sebenarnya. Kalian memutuskan harapan kelompok kelima yang justru membutuhkan pertolongan dan pelipur lara hingga dalam pandangan mereka hidup lebih menakutkan daripada kematian. Kalian menuangkan minuman keras yang melahirkan kepedihan kepada para pemuda, kelompok keenam, yang membutuhkan bimbingan dan penyadaran. Apakah nasionalisme yang kalian telah banyak berkorban untuknya adalah seperti ini? Apakah begini cara kalian menghadirkan manfaat kepada bangsa Turki lewat seruan nasionalisme? Adapun diriku beribu-ribu kali berlindung kepada Allah dari semua itu. Wahai tuan-tuan! aku mengetahui bahwa ketika kalian sudah kalah dari sudut pandang kebenaran, kalian akan menggunakan kekuatan. Akan tetapi, karena kekuatan terdapat pada kebenaran; bukan kebenaran terdapat pada kekuatan, maka meski kalian letakkan dunia di atas kepalaku sebagai api yang menyala, kepala yang kukorbankan untuk menegakkan kebenaran alQur’an tidak akan tunduk kepada kalian sama sekali. Aku juga ingin menegaskan kepada kalian bahwa tidak hanya kalangan terbatas seperti kalian yang mendapat kebencian secara maknawi di mata masyarakat, tetapi kalaupun ribuan orang seperti kalian memusuhiku, maka aku tidak memberi perhatian kepada mereka melebihi perhatianku terhadap binatang berbahaya.


736

AL-MAKTÛBÂT

Apa yang mampu kalian lakukan terhadapku? Hal yang paling bisa kalian lakukan padaku adalah mengakhiri hidupku, atau menghalangi pengabdianku terhadap al-Qur’an. Sebab, hubunganku di dunia hanya dengan dua hal tersebut. Aku sangat yakin sampai pada tingkat penyaksian bahwa ajal tidak berubah. Ia sudah ditentukan dengan takdir Allah. Karena itu, aku tidak ragu jika harus mati syahid demi membela kebenaran. Bahkan itu sangat kunantikan. Terutama, karena aku sudah tua. Mungkin hidupku tidak lebih dari setahun lagi. Yang paling kucari dengan usia yang tersisa adalah mati syahid; sebagai ganti dari usia lahiriah ini. Adapun dari sisi pengabdian terhadap al-Qur’an al-Karim, dengan rahmat-Nya, Allah telah memberiku sejumlah saudara seiman dalam berkhidmah untuk al-Qur’an dan iman. Saat aku mati, pengabdian agama tersebut akan dilakukan di sejumlah markas; sebagai ganti dari satu markas. Andaikan kematian membungkam lisanku, niscaya banyak lisan kuat lain yang akan berbicara sebagai ganti dariku sehingga pengabdian tersebut tetap berjalan. Bahkan, aku dapat berkata bahwa sebuah benih di bawah tanah, dengan kematiannya bisa menumbuhkan satu bulir yang membawa seratus benih sebagai ganti dari satu benih. Karena itu, aku berharap semoga kematianku lebih banyak mengabdi pada al-Qur’an ketimbang hidupku.

Tipu Daya Setan yang Kelima Para pendukung kaum sesat ingin menjauhkan saudara-saudaraku dari diriku dengan memanfaatkan ego dan kesombongan yang tersimpan dalam diri manusia. Sebenarnya sifat paling berbahaya sekaligus paling lemah yang melekat pada manusia adalah benih kesombongan. Pasalnya, dengan memupuk benih tersebut mereka bisa mendorong manusia untuk melakukan banyak kerusakan. Wahai saudara-saudaraku! Kalian harus waspada agar mereka tidak menjerat kalian lewat benih kesombongan tersebut. Kaum sesat pada masa sekarang menunggangi “ego” yang kemudian mengantar mereka menuju lembah kesesatan. Sementara


Surat Kedua Puluh Sembilan

737

kalangan yang mengabdi pada kebenaran tidak dapat membela kebenaran kecuali dengan meninggalkan “ego”. Bahkan meskipun mereka benar dalam menggunakan “ego” mereka tetap harus meninggalkannya agar tidak menyerupai kaum sesat di atas. Sebab, mereka bisa dianggap sama-sama menyembah diri sendiri. Karena itu, hal tersebut merupakan penghinaan terhadap pengabdian kebenaran. Di samping itu, pengabdian terhadap al-Qur’an yang menyebabkan kami berkumpul menolak ego atau “aku” dan menuntut “kita”. Maka, jangan berkata, “aku”. Akan tetapi katakan “kita”. Tentu kalian percaya bahwa saudara kalian yang fakir ini tidak tampil dengan perasaan “aku” dan dia tidak menjadikan kalian sebagai pelayan bagi sifat egonya. Namun ia memperlihatkan dirinya kepada kalian sebagai pelayan al-Qur’an yang tidak memiliki sikap ego. Ia hanyalah sosok yang meniti jalan tanpa memiliki rasa ujub dan tidak loyal terhadap “ego” seperti yang telah dijelaskan kepada kalian. Di samping itu, ia telah menegaskan kepada kalian lewat berbagai dalil yang kuat bahwa sejumlah karya dan tulisan yang disiapkan untuk memberi manfaat kepada manusia adalah milik bersama. Dengan kata lain, ia merupakan percikan yang berasal dari al-Qur’an al-Hakim. Tak seorangpun yang berhak untuk merasa memilikinya dengan sifat ego. Kalaupun seandainya aku merasa memiliki karya itu dengan sifat egoku, namun selama pintu hakikat al-Qur’an telah terbuka—seperti yang dikatakan oleh salah seorang saudaraku— maka kaum yang berilmu harus mendukungku dan tidak meninggalkanku dengan tidak melihat kekurangan diriku. Meskipun karya generasi salaf dan para ulama merupakan khazanah besar yang mencukupi dan memadai untuk mengobati setiap penyakit, namun terkadang kunci untuk membuka khazanah tersebut lebih penting daripada khazanah itu sendiri. Pasalnya, ia dalam kondisi terkunci. Kuncilah yang bisa membuka banyak khazanah.


738

AL-MAKTÛBÂT

Kukira orang-orang yang memiliki “kesombongan ilmu” yang kuat juga mengetahui bahwa al-Kalimât (Risalah Nur) yang tersebar merupakan kunci bagi berbagai hakikat al-Qur’an dan merupakan pedang intan yang menebas kepala pihak-pihak yang berusaha mengingkari hakikat tersebut. Hendaknya orang-orang yang memiliki “kesombongan ilmu” mengetahui bahwa mereka tidak menjadi muridku, namun menjadi murid al-Qur’an al-Hakim. Aku hanyalah teman belajar mereka. Bahkan seandainya aku mengklaim diriku sebagai ustadz, namun karena kami telah menemukan sarana untuk menyelamatkan semua kalangan beriman, mulai dari kalangan awam sampai kalangan khawas, dari berbagai syubhat dan ilusi yang mereka hadapi saat ini, maka para ulama di atas harus menemukan cara yang lebih mudah atau mendukung caraku seraya ikut mengajarkannya. Terdapat ancaman besar terkait dengan ulama sû’ (jahat). Hendaknya kaum berilmu pada masa sekarang selalu waspada. Seandainya kalian menduga—seperti anggapan musuh—bahwa aku bekerja dalam pengabdian imani ini demi egoisme, namun terdapat banyak orang yang berkumpul di sekitar sosok egois di mana mereka berkumpul dengan sangat setia seraya menanggalkan rasa ego mereka lalu bekerja dengan sangat kompak demi tujuan duniawi dan kebangsaan. Bukankah saudara kalian ini mempunyai hak pula untuk berkumpul dalam satu ikatan kuat di seputar hakikat al-Qur’an dan iman seraya meninggalkan ego masing-masing, sebagaimana mereka bekerjasama dengan pemimpin duniawi mereka?! Bukankah ulama besar kalian salah jika menolak seruannya?! Padahal ia telah menutupi egonya serta mengajak untuk bergabung bersama hakikat al-Qur’an dan hakikat iman. Wahai saudara-saudaraku! Sisi paling berbahaya dari egoisme dalam pengabdian kita adalah sifat dengki dan cemburu. Apabila pengabdian tidak ikhlas karena Allah semata, maka rasa dengki akan ikut masuk dan merusak. Sebagaimana tangan manusia tidak merasa dengki dan cemburu kepada tangan yang


Surat Kedua Puluh Sembilan

739

satunya, juga matanya tidak dengki kepada telinganya, serta qalbunya tidak bersaing dengan akalnya, begitu pula kalian. Setiap kalian seperti organ dan indera dalam satu tubuh maknawi jamaah ini. Kalian tidak boleh saling mendengki. Namun setiap orang dari kalian harus merasa bangga dan gembira dengan keunggulan saudaramu yang lain. Ada satu hal yang tersisa. Yaitu hal yang paling berbahaya: keberadaan sifat dengki dan cemburu pada diri kalian atau sahabat kalian terhadap saudara kalian yang fakir ini. Ini hal yang paling berbahaya. Di antara kalian terdapat para ulama yang mendalam ilmunya. Pada sebagian kalangan ulama terdapat rasa ujub terhadap ilmunya (kesombongan ilmu). Meskipun tampak tawaduk, namun dari sisi itu ia memiliki sikap ujub dan ego. Karena itu, ia tidak meninggalkan ujubnya seketika. Meskipun akal dan qalbunya tetap terpaut dengan pengabdian, namun nafsunya ingin tampil beda dan terkenal akibat dari ujub atau kesombongan tadi. Bahkan ia sampai berkeinginan menentang sejumlah risalah yang sudah ditulis. Meskipun hatinya mencintai Risalah Nur serta akalnya kagum padanya, akan tetapi dirinya memendam permusuhan yang bersumber dari kecemburuan ilmu dan berharap bisa merendahkan Risalah Nur agar karya pemikirannya bisa menandingi dan tersebar luas sepertinya. Oleh sebab itu, aku terpaksa menyampaikan hal berikut: Tugas orang-orang yang berada di wilayah pelajaran alQur’an ini, dari sisi ilmu keimanan, terbatas pada menjelaskan, menerangkan dan menyusun Risalah Nur yang sudah ditulis, bahkan meskipun mereka adalah para mujtahid dan para ulama. Pasalnya, lewat sejumlah petunjuk, kami mengetahui bahwa kami adalah orang yang bertugas memberi fatwa dalam ilmu keimanan ini. Kalau ada di antara mereka yang berusaha menulis atas dasar rasa “kesombongan ilmu” tadi—di luar tugas menjelaskan dan menerangkan—maka, tindakan tersebut merupakan penentangan atau taklid yang lemah. Pasalnya, berdasarkan sejumlah dalil dan petunjuk, dapat dikatakan bahwa berbagai bagian Risalah Nur merupakan percikan dari limpahan al-Qur’an al-Karim. Sesuai dengan kaidah pembagian tugas, masing-masing kita


740

AL-MAKTÛBÂT

menunaikan salah satu tugas pengabdian untuk bisa menyampaikan percikan tersebut kepada mereka yang membutuhkan.

Tipu Daya Setan yang Keenam Yaitu upaya setan memanfaatkan sifat malas, senang berleha-leha, dan ambisi untuk menempati posisi tinggi yang ada pada diri manusia. Ya, setan dari kalangan jin dan manusia berupaya menyerang dari semua sisi yang ada. Ketika mereka melihat salah seorang teman kita memiliki kalbu yang kokoh, kesetiaan yang sempurna, niat yang tulus, dan semangat yang tinggi, mereka akan mengepungnya dari sejumlah sisi dan mulai melancarkan serangan kepadanya sebagai berikut: Mereka memanfaatkan sifat malas, rasa senang berleha-leha dan posisi mereka dalam tugas guna merusak misi kita dan menghambat pengabdian terhadap al-Qur’an. Atau, untuk memalingkan mereka dari pengabdian al-Qur’an lewat berbagai tipu daya dan makar yang jahat. Misalnya mereka menghadirkan banyak pekerjaan kepada sebagian mereka agar mereka tenggelam di dalamnya secara tanpa sadar sehingga tidak sempat berkhidmah untuk al-Qur’an. Selain itu, mereka juga mempersembahkan kepada sebagian yang lain sejumlah urusan duniawi yang menipu untuk mengobarkan hawa nafsu dan kenginan mereka. Dari sana mereka lupa berkhidmah kepada al-Qur’an. Demikian kondisinya. Bagaimanapun, cara-cara mereka menyerang sangat panjang. Namun kita singkat sampai di sini dengan mengembalikan persoalan ini kepada pemahaman dan pandangan kalian yang tajam. Wahai saudara-saudaraku, ketahui dan waspadalah! Tugas kalian ini adalah tugas yang suci. Pengabdian kalian begitu mulia. Setiap jam yang kalian miliki sangat berharga sampai-sampai laksana ibadah sehari penuh. Camkan hal ini dengan baik agar ia tidak hilang dari kalian.


Surat Kedua Puluh Sembilan

741

Wahai orang-orang beriman, bersabarlah, kuatkan kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.

Janganlah kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.

Ya Allah, limpahkan salawat dan salam kepada junjungan kami, Muhammad, Nabi yang ummi dan tercinta, berkedudukan tinggi dan bermartabat mulia. Juga, kepada keluarga dan para sahabanya. Amin.

Lanjutan Bagian Keenam (Enam Pertanyaan)

Lanjutan ini ditulis untuk menjadi bahan diskusi khusus, untuk menghindari penghinaan dan kebencian di masa mendatang. Dengan kata lain, agar ludah penghinaan mereka tidak mengenai wajah kita ketika ada yang berucap, “Celakalah orangorang masa tersebut yang tidak punya semangat!� Ia ditulis dalam bentuk resolusi agar telinga yang tuli bisa mendengar, yakni telinga para pemimpin Eropa yang buas yang berlindung di balik nilai-nilai kemanusiaan; juga agar ia dicolokkan pada mata yang tak melihat, yakni mata orang-orang zalim yang tidak adil yang memberi tempat kepada para tiran tak berhati nurani untuk berkuasa atas kami; serta agar tamparan laksana palu menerpa kepala budak peradaban yang membuat manusia


742

AL-MAKTÛBÂT

zaman sekarang menderita sehingga berteriak di semua tempat, “Hiduplah neraka!”.

“Mengapa kami tidak bertawakkal kepada Allah sementara Dia telah menunjukkan jalan kepada kami. Kami sungguh akan bersabar atas gangguan yang kalian berikan kepada kami. Hanya kepada Allah kaum yang bertawakkal itu berserah diri.” (QS. Ibrahim [14]: 12). Belakangan ini, banyak perlakuan buruk yang diarahkan kepada kaum mukmin yang lemah. Perlakuan buruk itu berasal dari kaum ateis yang bersembunyi di balik tirai. Secara khusus aku ingin menyebutkan intervensi yang ilegal mereka kepada diriku. Mereka menerobos masjidku yang kurenovasi sendiri. Ketika itu aku sedang bersama sejumlah sahabat dekatku melakukan ibadah. Kami mengumandangkan adzan dan iqamat dengan suara pelan. Mereka menginterogasi, “Mengapa kalian mengumandangkan iqamat dengan bahasa Arab dan melantunkan adzan secara sembunyi?” Aku kehabisan kesabaran untuk berdiam diri. Aku tidak akan berbicara dengan kalangan dungu dan rendah yang sudah tidak memiliki nurani, yang tidak layak diajak bicara. Namun aku akan berbicara dengan para pemimpin yang berlagak seperti Firaun, yang telah bermain-main dengan masa depan umat sesuai dengan nafsu tiran mereka. Kutegaskan: Wahai kaum ateis dan ahli bid’ah! Jawablah enam pertanyaan berikut: Pertanyaan Pertama: Setiap pemerintah, apapun adanya, setiap bangsa, bahkan para pemakan daging manusia, atau ketua geng yang kejam sekalipun, pasti memiliki aturan, prinsip, dan standar hukum yang menjadi acuan. Maka, atas landasan dan prinsip apa kalian mela-


Surat Kedua Puluh Sembilan

743

kukan penyerangan semacam ini? Tunjukkanlah kepada kami! Atau, kalian menganggap keinginan sejumlah petugas yang hina itu sebagai hukum? Pasalnya, tidak ada hukum di dunia ini yang boleh mencampuri ibadah pribadi seseorang. Tidak ada satupun hukum yang membenarkan hal tersebut. Pertanyaan Kedua: Prinsip “kebebasan beragama� secara umum berlaku di seluruh dunia. Terutama, di masa sekarang, masa kebebasan. Khususnya lagi dalam lingkup peradaban modern. Maka, kekuatan apa yang menjadi sandaran kalian dalam melakukan tindakan sembrono ini, dengan melanggar aturan yang ada dan meremehkannya di mana ia termasuk bentuk penghinaan terhadap seluruh manusia dan pengabaian terhadap penolakan tindakan kalian? Kekuatan apa yang kalian miliki sehingga kalian tetap berpegang pada kekufuran (ateisme) seolah-olah ia merupakan agama kalian? Padahal kalian menyebut diri kalian sebagai orang yang tak beragama. Lebih dari itu, kalian menyatakan sikap tidak ikut campur dengan urusan agama dan ateisme secara bersamaan. Namun, yang banyak kalian serang adalah kaum beragama. Tentu tindakan kalian ini tidak akan seterusnya tersembunyi. Akan tetapi, kalian akan ditanya tentangnya. Lalu apa jawaban kalian? Kalian tidak mampu menghadapi penolakan dan keberatan pemerintahan terkecil dari dua puluh pemerintahan yang ada terhadap kalian. Lalu bagaimana kalian mampu menghadapi dua puluh pemerintah yang sama-sama menolak usaha kalian dalam meruntuhkan kebebasan beragama dengan kekuatan dan paksaan seolah kalian tidak memperhitungkan penolakan mereka. Pertanyaan Ketiga: Dengan undang-undang dan kaidah apa kalian memaksa orang yang bermazhab Syafi i sepertiku untuk mengikuti fatwa yang bertentangan dengan kemuliaan dan kemurnian mazhab Hanafi di mana ia dilakukan oleh para ulama su’ yang menjual nurani untuk kepentingan duniawi. 552 552 Maksudnya adalah fatwa mereka yang membolehkan menegakkan syiar agama dengan selain bahasa Arab.


744

AL-MAKTÛBÂT

Kalau kalian berusaha mencampakkan mazhab Syafi i—padahal pengikutnya berjumlah jutaan—lalu kalian berusaha menjadikan mereka bermazhab Hanafi , dan menyuruh mereka mengikuti fatwa tersebut dengan paksaan dan kekerasan, maka itu bisa jadi salah satu cara zalim dari kaum ateis seperti kalian. Jika tidak, ia merupakan bentuk penistaan yang sewenang-wenang. Kami bukan pengikut orang-orang seperti mereka. Kami juga tidak mengenal mereka. Pertanyaan Keempat: Prinsip apa yang kalian jadikan sebagai sandaran dalam memaksa orang-orang sepertiku yang berasal dari bangsa lain untuk mengumandangkan iqamat dengan bahasa Turki hanya berdasar fatwa yang menyimpang dan sesat atas nama rasisme Turki di mana hal itu dianggap sebagai tindakan kebarat-baratan yang secara total menafi kan kebiasaan dan adat bangsa ini yang sudah berbaur dan menyatu dengan Islam sejak lama?! Meskipun aku mempunyai hubungan yang kuat dalam bentuk persahabatan yang tulus, dan persaudaraan yang murni dengan orang-orang Turki, namun aku tidak mempunyai relasi dengan paham rasisme Turki yang diserukan oleh orang-orang kebarat-baratan seperti kalian. Lalu, bagaimana kalian memaksaku untuk itu?! Dan atas dasar apa? Bangsa Kurdi yang jumlahnya mencapai jutaan, tidak pernah melupakan kebangsaan dan bahasa mereka sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka sudah menjalin persaudaraan dengan orang Turki di negeri ini. Mereka juga mitra jihad bangsa Turki sejak lama. Jika kalian ingin menghilangkan bangsa Kurdi dan membuat mereka lupa terhadap bahasanya, maka upaya yang kalian lakukan tehadap orang-orang seperti kami yang dianggap sebagai ras lain, merupakan bentuk cara barbar. Jika tidak, hal itu hanyalah tindakan sewenang-wenang. Orang yang bertindak sewenang-wenang tidak perlu diikuti! Kamipun tidak mengikutinya.


Surat Kedua Puluh Sembilan

745

Pertanyaan Kelima: Pemerintah manapun berhak menerapkan undang-undang kepada rakyat dan siapa saja yang termasuk rakyatnya. Akan tetapi, mereka tidak dapat menerapkan undang-undangnya kepada orang-orang yang tidak dianggap bagian dari rakyatnya. Sebab, orang-orang itu bisa berkata, “Selama kami bukan rakyat kalian, kalian juga bukan pemerintah kami.” Di samping itu, dua hukuman tidak bisa dijatuhkan kepada seseorang secara sekaligus pada sebuah negara. Seorang pembunuh entah dihukum mati atau ditahan di penjara. Ia tidak boleh dipenjara dan dihukum mati sekaligus. Atas dasar itu, aku tidak melakukan tindakan yang membahayakan negara atau bangsa. Meski demikian, kalian telah menawanku selama delapan tahun dan memperlakukanku dengan sebuah perlakuan yang tidak diterima bahkan oleh seorang penjahat, orang asing, atau orang yang berasal dari negeri paling jauh sekalipun. Kalian telah merampas kebebasanku dan mengambil hakhak sipilku. Padahal, kalian telah memberikan ampunan kepada banyak penjahat. Dan tidak ada seorangpun dari kalian yang berkata, “Orang ini juga termasuk warga negeri ini.” Maka, dengan hukum apa kalian memaksa orang asing sepertiku dengan konstitusi kalian yang menafi kan kebebasan dan yang kalian terapkan kepada bangsa kalian yang menderita tanpa kerelaan hati mereka?! Kalian memandang sejumlah tindakan heroik yang ditujukan untuk menjaga tanah air serta perjuangan dengan jiwa dan barang berharga—di mana aku menjadi sarananya sesuai kesaksian para pemimpin pasukan dalam perang dunia pertama 553— sebagai tindak kejahatan. Kalian juga memandang upaya keras 553 Seperti diketahui, Ustadz Said Nursi termasuk salah seorang pimpinan perang dalam perang dunia pertama. Beliau bersama dengan murid-muridnya ikut serta dalam perang melawan Rusia. Beliau terluka di perang terakhir yang diikuti. Lalu beliau ditawan oleh pasukan Rusia. Beliau ditawan di tahanan yang terletak di Utara Rusia selama dua tahun empat bulan. Tahun 1917 beliau baru bisa melarikan diri seiring dengan munculnya revolusi komunis dan kekacauan di Rusia.


746

AL-MAKTÛBÂT

untuk memelihara akhlak mulia bagi bangsa serta upaya menjamin kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat sebagai sebuah pengkhianatan. Kalian menghukum orang yang tidak mau menerapkan sistem dan aturan kalian yang berkiblat ke barat dan jauh dari agama di mana ia tidak memberikan manfaat, bahkan mendatangkan derita dan bahaya. Hal itu terjadi selama delapan tahun dengan hidup di bawah kontrol dan pengawasan. (Sekarang sudah menjadi 28 tahun). Padahal, hukuman tersebut hanya satu. Aku menolaknya. Namun kalian memaksaku untuk menjalaninya. Pertanyaannya, dengan undang-undang apa kalian menjatuhi diriku hukuman yang lain?! Pertanyaan Keenam: Kalian tahu bahwa antara kita ada perselisihan dan pertentangan yang mecolok. Perlakuan buruk kalian menjadi saksinya. Kalian mengorbankan agama dan akhirat hanya untuk dunia. Sementara kami siap mengorbankan dunia demi agama dan akhirat kami. Inilah rahasia pertentangan antara kita seperti sangkaan kalian. Tentu saja pengorbanan selama beberapa tahun hidup kami yang berlalu dalam kehinaan di bawah pemerintahan kalian yang bengis untuk meraih mati syahid di jalan Allah merupakan air telaga Kautsar bagi kami. Hanya saja berdasarkan limpahan petunjuk al-Qur’an al-Hakim, kutegaskan kepada kalian hal berikut agar kalian berhati-hati: Setelah membunuhku, kalian tidak akan hidup lama. Pasalnya, tangan Dzat yang Maha Perkasa akan mengusir kalian dari dunia yang menjadi surga kalian di mana ia sangat kalian cintai, lalu melemparkan kalian ke dalam kegelapan abadi. Setelah aku meninggal, para pemimpin kalian yang berlagak seperti Namrud dan berbuat tiran akan terbunuh laksana binatang dan dikirim ke tempatku. Kemudian aku akan menuntut mereka di hadapan Ilahi. Aku juga akan mengambil hakku dari mereka dengan meminta keadilan ilahi menjatuhkan mereka pada tingkatan yang paling rendah.


Surat Kedua Puluh Sembilan

747

Wahai orang-orang malang yang telah menjual agama dan akhirat demi dunia! Jika kalian benar-benar ingin hidup, jangan menggangguku! Jika tidak, pembalasanku kepada kalian akan berkali-kali lipat. Camkan ini dengan baik dan berhati-hatilah! Aku mengharap dari rahmat Allah semoga kematianku lebih banyak mengabdi pada agama daripada hidupku; serta kematianku menjadi seperti ledakan di kepala kalian sehingga membuatnya hancur berkeping-keping. Jika kalian memiliki keberanian, silahkan hadang diriku. Jika kalian berbuat sesuatu padaku, maka tunggu hukuman yang akan kalian dapatkan. Adapun diriku, dengan segenap kekuatan, akan membacakan ayat berikut di hadapan seluruh ancaman kalian:

“Yaitu orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “Manusia mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Karena itu, takutlah kepada mereka!” Perkataan itu malah membuat mereka semakin beriman dan berkata, “Cukuplah Allah sebagai Penolong kami. Dialah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imran [3]: 173).

BAGIAN KETUJUH Tujuh Petunjuk

“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia supaya kamu mendapat petunjuk. (QS. al-A’râf [7]: 158).


748

AL-MAKTÛBÂT

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka. Namun Allah enggan kecuali menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafi r tidak suka.” (QS. at-Taubah [9]: 32). Bagian ini menjelaskan tujuh petunjuk. Ia ditulis sebagai jawaban atas tiga pertanyaan. Pertanyaan pertama berisi empat petunjuk.

Petunjuk Pertama Dalil dan argumen orang-orang yang berusaha mengubah dan mengganti syiar-syiar Islam bersumber dari sikap taklid buta kepada bangsa asing, seperti yang terjadi pada sejumlah perbuatan buruk lainnya. Mereka berkata, “Orang-orang yang mendapat hidayah di London dan orang-orang asing yang baru beriman menerjemahkan banyak hal seperti adzan dan iqamat ke dalam bahasa mereka. Mereka melakukan itu di negeri mereka. Melihat kondisi tersebut, dunia Islam diam, tidak menentang. Dengan demikian, karena tidak ada yang bersuara, berarti ia boleh secara syar’i.” Jawaban: Perbedaan dalam analogi di atas sangat jelas. Orang yang sadar tidak layak mengikuti mereka dan membandingkan dengan kondisi mereka apapun adanya. Pasalnya, negeri asing dalam agama disebut sebagai dârul harb. Banyak hal yang secara agama boleh dilakukan di dârul harb; namun tidak dibenarkan di dârul islam (negeri Islam). Kemudian negara Eropa dikenal kental dengan agama Nasrani. Lingkungan tidak mendukung tersebarnya sejumlah pemahaman kalimat-kalimat suci dan makna istilah-istilah agama. Karena itu, tidak aneh kalau “makna” lebih diutamakan daripada “lafal”; yakni lafal itu ditinggalkan guna menjaga maknanya.


Surat Kedua Puluh Sembilan

749

Dengan kata lain, memilih mudarat dan keburukan yang paling ringan. Adapun dalam dârul Islam lingkungannya membimbing dan mengajarkan kaum muslimin tentang berbagai makna indah dari lafal-lafal agama. Pasalnya, semua dialog dan persoalan yang terjadi di tengah-tengah umat Islam terkait dengan tradisi, adat, sejarah Islam, syiar Islam secara umum, dan rukun-rukun Islam, semuanya secara terus-menerus mengajarkan berbagai makna indah dari lafal dan istilah agama kepada kaum beriman. Bahkan, sejumlah tempat ibadah, sekolah agama, dan kuburan, semuanya bagaikan seorang guru yang mengingatkan kaum beriman kepada makna-makna suci tersebut. Jadi, orang yang mengaku sebagai muslim, lalu setiap hari mempelajari lima puluh kalimat asing untuk kepentingan duniawi, bila selama lima puluh tahun ia tidak mempelajari sejumlah kalimat suci yang ia ulang setiap hari lima puluh kali, semisal subhânallâh, alhamdulillâh, lâ ilâha illallâh dan Allâhu akbar, tidakkah ia terjatuh ke derajat yang lima puluh kali lebih rendah daripada binatang?! Kalimat suci tersebut tidak boleh diubah, tidak boleh diterjemahkan, dan tidak boleh ditinggalkan demi binatang seperti mereka. Bahkan upaya meninggalkan dan mengubah kalimat tersebut berarti sama dengan menghancurkan seluruh tanda kubur, meratakannya dengan tanah, serta mengabaikan, menistakan, dan memusuhi nenek moyang. Dengan demikian, mereka gemetar di kubur mereka karena dahsyatnya penghinaan tadi. Para ulama sû yang tertipu oleh kaum ateis mengucapkan sesuatu yang memperdaya umat, “Imam Abu Hanifah an-Nu’man berpendapat, ‘Boleh membaca terjemah surat al-fatihah dengan bahasa Persia jika memang dibutuhkan dan sesuai tingkat kebutuhannya bagi mereka yang tidak menguasai bahasa Arab di negeri yang jauh.’ Berdasarkan fatwa tersebut, karena kita butuh, maka kita boleh membacanya dengan bahasa Turki.” Jawaban: Seluruh imam besar―kecuali Abu Hanifah―serta dua belas imam mujtahid, semuanya memberikan fatwa yang berbeda dengan fatwa Imam Abu Hanifah tersebut. Jalan utama dunia Is-


750

AL-MAKTÛBÂT

lam adalah yang dilewati oleh para tokoh imam tersebut. Umat yang besar ini tidak berjalan kecuali di jalan yang utama. Siapa yang ingin menggiring umat ke jalan khusus yang sempit berarti menyesatkan manusia. Fatwa Imam Abu Hanifah merupakan fatwa yang bersifat khusus dilihat dari lima sisi: Pertama, ia khusus untuk mereka yang tinggal di negeri asing yang jauh dari pusat negeri Islam. Kedua, ia dibangun di atas kebutuhan yang hakiki. Ketiga, ia hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Persia yang, dalam sebuah riwayat, termasuk bahasa penghuni surga. Keempat, ia dianggap boleh hanya untuk surah al-Fatihah, agar orang yang tidak mengenal al-Fatihah tidak meninggalkan shalat. Kelima, ia diperbolehkan untuk menjadi motivasi agar kalangan awam memahami artinya yang mulia dengan semangat Islam yang bersumber dari kekuatan iman. Namun, meninggalkan bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab, serta upaya menerjemahkannya dengan motif penghancuran yang bersumber dari lemahnya iman serta berasal dari pandangan rasis serta menjauhi bahasa Arab, hal itu hanya mendorong manusia untuk keluar dari agama.

Petunjuk Kedua Pelaku bid’ah yang mengubah syiar-syiar Islam, pertama-tama meminta fatwa dari ulama sû untuk membenarkan amal perbuatan mereka. Para ulama sû itupun menunjuki mereka fatwa sebelumnya yang telah kami tegaskan sebagai fatwa khusus dilihat dari lima sisi. Kedua, para pelaku bid’ah telah mengadopsi pandangan buruk dari kaum revolusioner asing. Seperti diketahui, Eropa tidak tertarik dengan aliran katolik. Karena itu, kalangan revolusioner dan ahli fi lsafat memilih aliran protestan yang dianggap menyimpang menurut katolik. Mereka mengambil pelajaran dari revolusi Perancis. Mereka hancurkan sebagian ajaran Katolik seraya memproklamirkan aliran Protestan.


Surat Kedua Puluh Sembilan

751

Nah di negeri ini, orang-orang yang menganggap dirinya paling semangat dan terbiasa bertaklid buta berkata, “Karena revolusi telah terjadi di agama Nasrani, di mana para penggagasnya, pada awalnya, disebut sebagai kaum murtad namun kemudian diterima sebagai pemeluk nasrani, maka revolusi agama semacam itu juga bisa terjadi dalam Islam.â€? Jawaban: Adanya perbedaan dalam analogi tersebut lebih jelas terlihat daripada yang terdapat di petunjuk pertama. Pasalnya, pokokpokok ajaran dalam agama Nasrani hanya diambil dari Nabi Isa . Sementara sebagian besar hukum yang terkait dengan kehidupan sosial dan cabang-cabang syariat telah dibuat oleh kalangan hawâriyyĂŽn, sekelompok pimpinan spiritual, serta sebagian besar diambil dari kitab suci sebelumnya. Hal ini karena Nabi Isa tidak pernah berkuasa secara duniawi dan tidak menjadi rujukan untuk hukum-hukum sosial yang bersifat umum. Karena itu, ketentuan urf dan hukum yang terkait dengan masyarakat madani dijadikan sebagai ajaran nasrani. Seakan-akan landasan agamanya dibungkus dengan baju dari luar dan diberi bentuk yang berbeda. Andaikan bentuk dan pakaian tersebut diubah, maka dasar-dasar agamanya tidak berubah. Hal ini tidak dianggap sebagai pendustaan dan pengingkaran terhadap Nabi Isa. Adapun Rasul r sebagai pemilik otoritas agama dan syariat merupakan kebanggaan dunia dan pemimpin seluruh alam. Timur, Barat, Andalusia, dan India merupakan salah satu singgasana kekuasaan beliau. Sebagaimana beliau yang telah menjelaskan dasar-dasar Islam, demikian halnya dengan cabang-cabang agama dan rambu-rambu hukumnya, bahkan persoalan terkecil yang merupakan bagian dari adab, semua itu datang dari beliau. Beliau yang menginformasikan dan memerintahkan. Artinya, hal-hal yang bersifat furu’iyah dalam agama Islam bukan seperti baju atau pakaian yang bisa diubah dan diganti dimana andaikan diganti, dasar-dasar agama tetap terpelihara. Namun ia adalah tubuh dari dasar-dasar tersebut, atau minimal kulitnya. Ia telah menyatu dan melekat dengannya sehingga tidak bisa dipisahkan.


752

AL-MAKTÛBÂT

Menggantinya, secara langsung, berarti mengingkari dan mendustakan pemilik syariat, Muhammad r. Adapun perbedaan antar mazhab bersumber dari cara memahami rambu-rambu teoritis yang diterangkan oleh pemilik syariat. Rambu-rambu yang bersifat muhkamât yang disebut dengan tuntutan agama (dharûriyât dîniyyah) tidak boleh ditakwil dan diganti dengan bentuk apapun. Ia tidak akan pernah menjadi objek ijtihad. Siapa yang menggantinya berarti telah keluar dari agama seperti bunyi riwayat:

“Keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya.”554 Untuk membenarkan penyimpangan dan sikap mereka yang keluar dari agama, para pelaku bid’ah mencari alasan dengan berkata, “Pastor, pimpinan spiritual, dan aliran katolik yang merupakan aliran khusus mereka telah mendapat serangan dan dihancurkan saat revolusi Perancis yang kemudian melahirkan rangkaian peristiwa dalam dunia kemanusiaan. Selanjutnya serangan mereka ini dianggap benar oleh berbagai kalangan. Setelah itu, Eropa mengalami banyak kemajuan.” Jawaban: Perbedaan dalam analogi di atas sama seperti sebelumnya. Perbedaannya sangat jelas. Sebab, nasrani, terutama aliran katolik, telah dieksploitasi oleh sejumlah penguasa dan kalangan elit sebagai sarana untuk menindas. Kalangan elit melanggengkan pengaruhnya atas masyarakat umum lewat sarana tersebut. Ia menjadi sarana untuk menindas masyarakat yang mempunyai tekad dan semangat yang disebut sebagai orang-orang anarkis. Ia juga menjadi alat untuk menghabisi para pemikir yang menyerukan kebebasan yang menolak penindasan dan kezaliman kalangan elit. Bahkan aliran tersebut dianggap sebagai penyebab hilangnya ketenangan hidup sekaligus faktor yang melahirkan kekacauan 554 HR. al-Bukhari, Fadhâ`il al-Qur`ân 36, al-Adab 95, at-Tauhid 23; Muslim, az-Zakat 142-148.


Surat Kedua Puluh Sembilan

753

dalam kehidupan sosial. Hal itu karena pemberontakan yang telah berlangsung di negara-negara Eropa selama hampir 400 tahun. Oleh sebab itu, aliran katolik ini diserang oleh aliran nasrani lainnya; bukan pihak yang mengatasnamakan ateisme. Kemarahan dan permusuhan masyarakat umum dan kalangan fi lsuf terus tumbuh hingga akhirnya terjadi peristiwa historis yang terkenal itu. Sementara, dalam Islam, siapapun pihak yang dizalimi atau pemikir manapun tidak berhak dan tidak layak mengeluhkan ajaran Muhammad r dan agama Islam. Pasalnya, agama ini tidak memicu kemarahan mereka; justru melindungi mereka. Sejarah Islam ada di hadapan kita. Sepanjang sejarah, tidak ada perang internal dalam agama Islam kecuali hanya satu atau dua kasus. Adapun aliran katolik telah memicu lahirnya revolusi dan gejolak internal sepanjang 400 tahun. Di luar itu, Islam telah menjadi benteng kokoh yang lebih melindungi masyarakat ketimbang kalangan elit. Pasalnya, Islam tidak menjadikan elit sebagai penindas masyarakat. Namun di satu sisi Islam menjadikan mereka sebagai pelayan masyarakat. Yaitu lewat kewajiban zakat dan pengharaman riba. Nabi r bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia.”555

“Pemimpin sebuah kaum adalah pelayan mereka.”556 Selain itu, Islam menyadarkan dan membangunkan akal dengan mengembalikan banyak urusan dalam al-Qur’an alHakim kepada akal. Islam juga mendorong proses tadabbur dan penelaahan. HR. al-Ajluni, Kasyf al-Khafa 1/472. Lihat ath-abrani, al-Mu’jam al-Awsath 6/58; al-Baihaqi, Syuab al-Iman 6/117. 555

556

6/334.

Al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad 10/197; al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman


754

AL-MAKTÛBÂT

Allah I berfi rman:

“Apakah mereka tidak berakal.....Tidakkah mereka merenung.....Supaya mereka memikirkan” Dengan begitu Islam mempersembahkan kepada para ilmuwan, pemikir, dan kaum intelektual sebuah posisi yang mulia atas nama agama, serta memberikan perhatian khusus. Islam tidak mengesampingkan akal, tidak membungkam mulut para pemikir, dan tidak menyuruh bersikap taklid buta seperti dalam ajaran katolik. Landasan agama nasrani saat ini—bukan nasrani yang sebenarnya—dan landasan Islam berbeda pada satu titik yang sangat penting. Karena itu, masing-masing meniti jalannya sendiri dalam banyak sisi yang menyerupai perbedaan sebelumnya. Titik penting itu adalah sebagai berikut: Islam adalah agama tauhid yang murni. Perantara dan sebab tidak bisa memberikan pengaruh. Islam mematahkan egoisme manusia dengan membangun ubudiyah yang tulus kepada Allah semata. Dengan begitu, ia memutus dan menolak berbagai rububiyah mulai dari rububiyah nafsu ammârah hingga semua bentuk rububiyah yang batil. Karena itu, andaikan ada dari kalangan elit yang bertakwa, tentu ia meninggalkan egoisme dan kesombongan. Sementara siapa yang masih bersikap ego dan sombong, ketaatannya akan melemah. Bahkan bisa jadi ia meninggalkan sebagian urusan agama. Adapun dalam ajaran Nasrani saat ini, ia menerima konsep “anak Tuhan”. Karena itu, perantara dan sebab dianggap memberikan pengaruh yang signifi kan. Atas nama agama, egoisme juga tidak dilawan. Bahkan egoisme dipandang sebagai sesuatu yang suci. Seolah-olah ia merupakan wakil Isa yang suci. Karena itu, kalangan elit nasrani yang menempati posisi tinggi duniawi mampu menjadi orang yang sangat taat. Misalnya, Wilson (mantan presiden Amerika) dan Lord George (mantan perdana men-


Surat Kedua Puluh Sembilan

755

teri Inggris). Mereka semua menjadi orang taat seperti pastor yang fanatik pada agamanya. Sementara di tubuh umat Islam jarang sekali orang yang masuk ke berbagai posisi tersebut semacam itu tetap memiliki agama yang kuat. Jarang dari mereka yang termasuk orang bertakwa dan saleh karena tidak meninggalkan egoisme dan kesombongannya. Takwa sejati tidak bisa berkumpul dengan sikap ego dan sombong. Ya, bila sikap fanatik kalangan elit nasrani terhadap agamanya dan sikap umat Islam yang meremehkan agamanya menjelaskan adanya perbedaan yang sangat penting, begitu pula para tokoh fi lsufnya. Filsuf nasrani mengambil posisi yang berseberangan dan cenderung menanggalkan agama mereka. Sementara sebagian ahli hikmah yang muncul dalam Islam membangun hikmah mereka di atas landasan agama. Ini juga menunjukkan perbedaan yang sangat penting. Selanjutnya, kalangan awam nasrani yang menghadapi ujian dan musibah serta menjalani setengah hidupnya di penjara, mereka tidak menantikan bantuan agama. Sebagian besar mereka sebelumnya tersesat dan ateis. Bahkan para pemberontak yang telah menyalakan revolusi Perancis dan yang disebut sebagai massa anarkis. Dalam sejarah mereka dikenal berasal dari kalangan awam yang sedang menghadapi masalah. Adapun dalam Islam, mayoritas mutlak yang menghabiskan sebagian usia mereka di penjara, serta telah menerima berbagai cobaan menantikan bantuan dan pertolongan dari agama. Bahkan mereka menjadi orang-orang yang taat. Kondisi ini juga menunjukkan perbedaan lain yang penting.

Petunjuk Ketiga Para pelaku bid’ah berkata, “Fanatisme agama telah membuat kita tertinggal dalam peradaban. Mengikuti perkembangan zaman baru bisa terwujud dengan meninggalkan sikap fanatik. Eropa mengalami kemajuan setelah mereka meninggalkan sikap fanatik.�


756

AL-MAKTÛBÂT

Jawaban: Kalian keliru. Kalian telah tertipu atau kalian sedang menipu orang! Sesungguhnya Eropa sangat fanatik dengan agamanya. Kalau engkau berkata kepada orang Bulgaria, tentara Inggris, atau orang Perancis yang tidak terpelajar, “Pakailah sorban ini! Atau engkau dipenjara.” Tentu sesuai dengan sikap fanatiknya, ia berkata, “Aku tidak akan merendahkan agamaku. Aku tidak akan menistakan umatku dengan sikap semacam ini, meskipun engkau menjebloskanku ke penjara bahkan jika engkau membunuhku.” Selanjutnya, sejarah menjadi saksi bahwa ketika umat Islam berpegang teguh kepada agama, pada masa itu mereka sangat maju. Namun ketika mengabaikan agama, mereka menjadi rendah dan hina. Hal yang berbeda terjadi pada agama nasrani. Ini juga bersumber dari perbedaan mendasar antar keduanya. Lalu, Islam tidak bisa disamakan dengan agama-agama yang lain. Pasalnya, ketika seorang muslim melepaskan Islamnya, otomatis ia tidak menerima nabi manapun. Bahkan ia tidak percaya dengan keberadaan Allah Ta’ala. Ia tidak beriman dengan hal sakral lainnya. Dalam hati nuraninya tidak ada tempat yang menjadi sumber kemuliaan. Sebab, hati nuraninya telah rusak. Karena itu, orang yang murtad dari Islam, tidak memiliki hak hidup karena hati nuraninya telah rusak. Selain itu, ia menjadi racun bagi kehidupan sosial. Adapun kafi r harbi—dalam pandangan Islam— masih memiliki hak hidup, bila berada di luar wilayah Islam dan memiliki kesepakatan ataupun berada di negeri Islam selama memberikan jizyah (upeti). Hidupnya dilindungi dalam Islam. Adapun orang nasrani yang menjadi ateis, ia masih bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Pasalnya, ia masih menerima sejumlah hal yang sakral dalam agama dan masih percaya dengan sejumlah nabi. Karena itu, dari satu sisi ia masih beriman kepada Allah. Maka, manfaat apa kira-kira yang bisa dipetik oleh para pelaku bid’ah, atau lebih tepatnya kaum yang ingkar itu, saat keluar dari agama? Jika mereka mengharapkan rasa aman dan stabilitas dalam negeri, maka memimpin sepuluh orang kafi r yang


Surat Kedua Puluh Sembilan

757

tidak percaya kepada Allah dan melindungi dari kejahatan mereka jauh lebih berat daripada memimpin seribu orang mukmin. Jika mereka memikirkan tentang kemajuan dari sisi peradaban, orang-orang kafi r seperti mereka membahayakan pengelolaan negara. Mereka juga menjadi penghalang kemajuan. Mereka merusak keamanan dan ketertiban yang ada sebagai pilar kemajuan dan perdagangan. Jadi sebetulnya, sesuai dengan jalan hidup mereka, mereka adalah para perusak. Orang paling bodoh di dunia ini adalah yang mengharapkan kemajuan dan kebahagiaan dari kaum kafi r yang bodoh seperti mereka. Salah seorang yang bodoh dari mereka yang menempati jabatan penting berkata, “Kita mengalami ketertinggalan lantaran ucapan kita, ‘Allah’... ‘Allah’... Sementara Eropa maju karena berkata, ‘Senapan... peluru.’ Jawaban terhadap orang-orang seperti mereka adalah dengan cara diam. Ini sesuai dengan satu kaidah, ‘Jawaban bagi orang bodoh adalah diam.’ Hanya saja, kita ingin mengatakan satu hal kepada kaum intelek malang yang mengikuti orang bodoh seperti mereka: Wahai orang-orang malang! Dunia ini hanyalah negeri jamuan. Sementara kematian adalah sesuatu yang pasti. Hal itu dibuktikan oleh 30 ribu saksi lewat jenazah mereka setiap hari. Mampukah kalian membunuh kematian? Dapatkah kalian mengingkari para saksi itu? Selama kalian tidak mampu melakukannya, ketahuilah bahwa kematian akan membuat kalian mengucap, “Allah... Allah.” Adakah peluru dan senapan kalian yang bisa melenyapkan kegelapan abadi bagi orang yang sedang sakarat sekaligus menerangi dunianya, sebagai ganti dari ucapan “Allah... Allah.” Adakah darinya yang bisa mengganti rasa putus asanya yang pekat menuju harapan yang bersinar selain zikir “Allah... Allah.”? Selama kematian tetap ada, selama tempat kembali menuju kubur itu pasti, selama kehidupan ini pasti berlalu, dan akan digantikan oleh kehidupan abadi, maka bila “peluru dan senapan” diucapkan satu kali, maka “Allah... Allah” harus diucapkan seribu kali. Bahkan peluru itu sendiri akan mengucap “Allah... Allah”


758

AL-MAKTÛBÂT

bila digunakan di jalan Allah. Serta, senapannya juga akan meneriakkan, “Allah Akbar” saat berbuka dan imsak.

Petunjuk Keempat Ahli bid’ah yang merusak terbagi dua: Pertama, memperlihatkan loyalitas kepada agama seraya berkata, “Kami ingin menguatkan agama yang telah melemah dengan menanam pohon bersinarnya di tanah nasionalisme.” Mereka ingin menguatkan agama dengan paham nasionalisme. Seakan-akan dengan itu mereka berkhidmah kepada Islam. Kedua, orang yang menciptakan sejumah bid’ah seraya berkata, “Kami ingin memvaksinasi umat dengan suntikan Islam.” Mereka bekerja atas nama umat, demi kepentingan nasionalisme, untuk menguatkan rasisme. Kepada kelompok pertama kami ingin mengatakan, “Wahai para ulama sû’ yang malang yang bisa disebut sebagai ‘orang setia yang dungu’. Wahai kalangan sufi yang bodoh yang telah hilang akal! Pohon Tuba islam telah tertanam dalam tulang sulbi dan hakikat alam. Akarnya menyebar ke seluruh sisi hakikat alam. Pohon besar ini tidak mungkin ditanam di tanah rasisme yang bersifat ilusif, temporer, parsial, khusus, dan tidak produktif, bahkan tidak punya landasan. Ia dipenuhi dengan berbagai kepentingan yang zalim dan gelap. Keinginan menanamnya di sana merupakan upaya mengada-ada yang merusak. Lalu kepada kalangan nasionalis, para pengusung bid’ah yang kedua: Wahai pengusung nasionalisme yang sedang mabuk! Era sebelumnya mungkin bisa disebut sebagai era nasionalisme. Adapun sekarang bukanlah era nasionalisme. Sebab, paham bolshevisme dan sosialisme sedang berkuasa dan meruntuhkan pandangan rasisme. Jadi, era rasisme telah berlalu. Ketahuilah bahwa nasionalisme Islam yang permanen dan abadi tidak terikat dengan rasisme yang bersifat sementara dan inkonsisten, serta tidak bisa disuntikkan ke dalamnya. Andai vaksinasi rasisme ini dilakukan, pasti akan merusak umat Islam.


Surat Kedua Puluh Sembilan

759

Rasisme tidak tepat dan tidak bisa membangkitkan umat sama sekali. Ya, memberikan vaksin rasisme hanya mendatangkan kekuatan yang bersifat sementara, bahkan sangat sementara, dengan akibat yang sangat berbahaya. Dengannya, akan lahir perpecahan di tubuh bangsa Turki. Sebuah perpecahan abadi yang tidak bisa disatukan. Ketika itu terjadi, kekuatan umat akan hilang begitu saja. Pasalnya, setiap golongan berusaha menghancurkan golongan yang lain. Sebagaimana bila dua gunung berada di dua sisi timbangan, maka kekuatan yang kecil sekalipun akan sangat mempengaruhi dua kekuatan tersebut. Sebab, ia bisa membuat salah satunya turun ke bawah dan membuat yang lain naik ke atas. Pertanyaan Kedua: penjelasan tentang dua petunjuk: Petunjuk Pertama yang merupakan Petunjuk Kelima. Ia merupakan jawaban yang sangat singkat dari sebuah pertanyaan penting. Pertanyaan: Terdapat sejumlah riwayat sahih tentang kemunculan Imam Mahdi serta bagaimana ia memperbaiki dunia setelah mengalami kehancuran di akhir zaman. Padahal sekarang adalah era jamaah; bukan individu. Pasalnya, sehebat apapun seseorang, bahkan meski ia memiliki seratus kekuatan, kalau tidak mewakili sebuah jamaah besar serta tidak mewakili sosok maknawinya, ia akan kalah dalam menghadapi kekuatan sosok maknawi dari sebuah kelompok yang menghadangnya. Karena itu, bagaimana mungkin Imam Mahdi—meski memiliki kekuatan kewalian—dapat melakukan perbaikan di era yang dipenuhi oleh kerusakan? Seandainya semua pekerjaan Imam Mahdi luar biasa, maka hal itu bertentangan dengan hikmah Ilahi dan sunnatullah yang ada di dunia ini. Intinya, kami ingin memahami rahasia persoalan Imam Mahdi.


760

AL-MAKTÛBÂT

Jawaban: Dengan kesempurnaan rahmat-Nya dan tanda perlindungan-Nya terhadap syariat Islam, berikut keberlangsungan dan keabadian syariat tersebut, Allah I mengutus pada setiap periode rusaknya umat seorang reformis, pembaharu, khalifah agung, wali qutub, dan mursyid yang sempurna dari sejumlah sosok besar dan langka yang menyerupai Imam Mahdi. Ia mampu menghilangkan kerusakan, memperbaiki umat, dan menjaga agama. Selama sunatullah berlaku demikian, tak diragukan lagi bahwa Allah I akan mengutus, di waktu yang paling rusak, di akhir zaman, sosok yang merupakan mujtahid, pembaharu, dan wali qutub paling besar. Pada waktu yang sama ia juga seorang penguasa, mahdi, mursyid, dan akan berasal dari keluarga Nabi r. Allah, Dzat Yang Mahakuasa, mampu mengisi ruang antara langit dan bumi dengan awan lalu menghilangkannya dalam semenit, sangat mampu menenangkan badai laut yang ekstrim hanya dalam sekejap. Allah, al-QadÎr Dzul Jalâl, yang hanya dalam sesaat di musim semi menghadirkan sampel musim panas, serta dalam sesaat di musim panas menghadirkan badai musim dingin, sangat mampu melenyapkan gelap yang pekat di langit dunia Islam dan berbagai bahaya yang mengelilinginya lewat perantaraan Imam Mahdi. Karena telah menjanjikan hal tersebut kepada kita, tentu Dia akan mewujudkan janji-Nya. Begitulah, kalau kita melihat persoalan ini dari sisi wilayah qudrah ilahi, maka ia sangatlah mudah. Kalau kita melihatnya dari wilayah sebab dan hikmah Rabbani, ia juga sangat mudah, bahkan paling mungkin terjadi. Karena itu, para pemikir dan cendekiawan menegaskan bahwa hikmah rabbani menuntut hal tersebut dan ia pasti terjadi. Bahkan meskipun tidak ada riwayat dari sosok yang jujur (Nabi r) yang menginformasikan tentangnya. Dengan kata lain, kedatangannya merupakan sebuah keniscayaan. Hal itu karena doa:


Surat Kedua Puluh Sembilan

761

yang dibaca secara berulang-ulang oleh umat dalam seluruh shalat mereka, minimal lima kali sehari, yang diterima lewat penyaksian, . Memaka keluarga Muhammad r seperti keluarga Ibrahim reka menempati posisi terdepan, selalu menjadi pemimpin, dan berada di puncak seluruh keturunan penuh berkah pada setiap waktu dan tempat.557 Mereka sangat banyak jumlahnya. Keseluruhan mereka membentuk satu pasukan yang sangat besar. Bila mereka bersatu, bahu-membahu, dan bekerjasama, serta membentuk sebuah kelompok, dengan menjadikan agama Islam sebagai ikatan suci umat dan poros kebangkitannya, pasukan manapun di dunia ini tidak akan mampu menghadapi mereka. Pasukan besar yang sangat kuat itu adalah keturunan Muhammad r. Ia merupakan pasukan paling elit dari pasukan Imam Mahdi. Ya, tidak ada keturunan manusia dalam sejarah dunia saat ini yang memiliki kekuatan dan posisi strategis di mana ia menempati kedudukan tertinggi dan memiliki akar keturunan mulia serta bersambung dengan pendirinya lewat pohon dan rangkaian sanad, sebagaimana para sayyid yang beruntung bernasab kepada pohon kenabian yang mulia itu, yaitu keluarga Nabi r. Sejak dulu mereka selalu menjadi pemimpin dari kelompok ahli hakikat, serta pemimpin kalangan sempurna yang ternama. Sekarang, mereka merupakan keturunan penuh berkah yang berjumlah lebih dari jutaan. Mereka adalah orang-orang yang sadar dan memiliki hati yang penuh dengan kecintaan kepada Nabi r 557 Bahkan salah seorang dari keluarga Nabi r, yaitu Sayyid Ahmad as-Sanusi, memimpin jutaan murÎd. Di antara mereka, Sayyid Idris, memimpin lebih dari seratus ribu umat Islam. Lalu Sayyid Yahya menjadi pimpinan ratusan ribu orang. Begitulah kita melihat banyak keturunan keluarga Nabi seperti tokoh pimpinan tersebut. Belum lagi yang tersembunyi. Begitu pula pemimpin tertinggi seperti Sayyid Abdul Qadir al-Jailani, Sayyid Abul Hasan asy-Syâdzili, sayyid Ahmad al-Badawi, dan yang lain―Penulis.


762

AL-MAKTÛBÂT

serta berkedudukan mulia dengan nasabnya yang membanggakan. Sejumlah peristiwa besar yang terjadi telah mendorong bangunnya kekuatan suci yang terdapat pada jamaah agung ini. Sudah pasti tekad mulia yang dimiliki oleh kekuatan agung tersebut akan berkobar. Imam Mahdi akan memegang kendali sekaligus memimpin mereka menuju jalan kebenaran dan hakikat. Lewat sunnah dan rahmat-Nya, sebagaimanan menanti datangnya musim semi setelah musim dingin, kita juga menantikan terjadinya peristiwa agung tersebut. Kita benar dalam penantian ini.

Petunjuk Kedua yang merupakan Petunjuk Keenam: Jama’ah Imam Mahdi yang bersinar akan memperbaiki dan membenahi apa yang dirusak oleh kelompok Sufyani yang berbuat bid’ah dan merusak. Ia akan menghidupkan sunnah Nabi r. Artinya, jama’ah Sufyani yang berusaha menghancurkan syariat Muhammad r dengan motif mengingkari kerasulan beliau di dunia Islam, akan dibunuh dan dibinasakan lewat pedang maknawi milik jama’ah Imam Mahdi yang luar biasa. Selanjutnya, kelompok nasrani yang militan dan rela berkorban, yang layak disebut kaum “nasrani muslim” berusaha menyatukan dan memadukan antara agama Isa yang benar dan hakikat Islam. Di bawah kepemimpinan Isa , kelompok ini menghancurkan kekuasaan kelompok Dajjal yang merusak peradaban dan keyakinan manusia dengan niat mengingkari ketuhanan dalam dunia manusia. Dengan demikian, kelompok berhasil menyelamatkan umat manuyang dipimpin Nabi Isa sia dari bencana pengingkaran Tuhan. Rahasia dan hikmah ini sangat panjang. Kucukupkan dengan penjelasan singkat ini. Pasalnya, kami telah menyebutkan secara ringkas di sejumlah tempat yang lain.

Petunjuk Ketujuh yang merupakan Pertanyaan Ketiga: Mereka berkata, “Pembelaanmu dan gaya perjuanganmu yang dulu di jalan Islam tidak sama dengan yang sekarang.


Surat Kedua Puluh Sembilan

763

Anda tidak mengikuti cara para intelek yang membela Islam dalam menghadapi Eropa. Mengapa Anda mengganti sikap “Said Lama”? Mengapa Anda tidak berjuang seperti gaya tokoh mujahid maknawi yang agung?” Jawaban: “Said Lama” dan para intelek menerima sebagian rambu fi lsafat manusia. Dengan kata lain, mereka menerima sejumlah hal darinya lalu melawan mereka dengan senjata yang sama. Mereka menerima sebagian rambu-rambu fi lsafat sebagai ilmu modern dengan penuh keyakinan. Karenanya, mereka tidak mampu memberikan gambaran tentang nilai Islam yang hakiki. Mereka mengawinkan pohon Islam dengan sejumlah ranting hikmah yang mereka anggap akarnya dalam. Dengan itu mereka merasa memperkuat Islam. Aku tinggalkan jalan itu karena peluang untuk mengalahkan musuh sedikit dan pada tahap tertentu terdapat sikap meremehkan Islam. Kuperlihatkan secara tegas bahwa dasar-dasar Islam begitu mengakar sampai ke tingkat di mana ia tidak bisa dicapai oleh dasar-dasar fi lsafat yang paling dalam sekalipun. Namun ia tetap dalam kondisi dangkal di hadapan dasar-dasar Islam. Hakikat ini dijelaskan lewat sejumlah buktinya oleh “Kalimat Ketiga Puluh”, “Surat Kedua Puluh Empat”, dan “Kalimat Kedua Puluh Sembilan”. Pada jalan sebelumnya, fi lsafat dianggap sangat dalam, sementara hukum-hukum Islam dipandang superfi sial dan dangkal. Sehingga dahan fi lsafat dijadikan pegangan untuk menjaga Islam. Namun hal itu sangat mustahil. Mana mungkin rambu-rambu fi lsafat bisa mencapai hukum tersebut?!


764

AL-MAKTÛBÂT

BAGIAN KEDELAPAN Delapan Simbol Penjelasan tentang delapan risalah singkat. Landasannya adalah tawâfuq (kesesuaian) yang merupakan salah satu prinsip penting dalam ilmu jifri, salah satu kunci penting dalam ilmu-ilmu khafi dan salah satu kunci penting dalam rahasia gaibi al-Qur’an. Insya Allah, ia akan diterbitkan sebagai sebuah risalah tersendiri. Karena itu, ia tidak dimasukkan di sini.

BAGIAN KESEMBILAN Sembilan Talwih558

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus [10]: 62). Bagian ini secara khusus berbicara tentang jalan kewalian. Ia terdiri dari sembilan talwih.

Talwih Pertama Dalam istilah “tasawuf, tarekat, kewalian, dan suluk”, terdapat sebuah hakikat suci yang bersifat nurani, ruhani, dan penuh dengan kenikmatan. Hal itu telah ditegaskan oleh para ahli kasyaf. Mereka mempelajari, menelaah, dan memperkenalkannya. Mereka telah menulis ribuan jilid tentangnya dan kemudian 558 Talwih adalah penjelasan tambahan pada catatan pinggir dalam sebuah karya tulis.


Surat Kedua Puluh Sembilan

765

menyampaikannya kepada umat. Semoga Allah membalas mereka dengan banyak kebaikan. Di sini kami akan menjelaskan beberapa bagian saja darinya sesuai dengan kondisi saat ini. Penjelasan yang sedikit ini hanya bagaikan tetesan air dari sebuah lautan hakikat yang berlimpah. Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan Tarekat? Jawaban: Tujuan dari sebuah tarekat ialah mengenali dan meraih hakikat keimanan dan al-Qur’an melalui perjalanan ruhani dalam naungan mi’raj Muhammadi lewat langkah-langkah hati untuk sampai pada suatu keadaan dan perasaan yang menyerupai syuhud (penyaksian). Tarekat dan tasawuf merupakan rahasia dan kesempurnaan manusia yang agung. Karena manusia merupakan miniatur dari alam, maka hatinya ibarat peta maknawi dari ribuan alam. Pasalnya, sebagaimana otak manusia―yang menyerupai pusat penerimaan dan pengiriman informasi di mana ia ibarat pusat maknawi dari alam ini―dapat menyerap dan menelaah ilmu pengetahuan untuk kemudian ia sebarkan kembali, maka hati manusia juga menjadi poros dari hakikat alam semesta yang tak terhingga. Ia dapat menyingkapnya, bahkan ia merupakan benihnya. Hal ini sebagaimana telah diterangkan oleh para ulama yang jumlahnya tak terbilang dalam jutaan kitab cemerlang yang telah mereka tulis. Tatkala hati dan otak manusia memiliki kedudukan dan posisi seperti yang dijelaskan diatas, terlebih lagi ia telah dibekali dengan ribuan mesin ukhrawi dan perangkatnya yang abadi, seperti pohon yang dilengkapi dengan perlengkapan yang kuat di dalam bijinya untuk berkembang, maka Dzat yang menciptakan hati dalam bentuk tersebut berkehendak untuk menjadikannya terus bergerak dan menyingkap sejumlah potensinya, serta mampu berpindah dari fase “kekuatan” menuju “perbuatan”. Selama Allah berkehendak demikian, maka wajib bagi hati untuk menjalankan fungsi penciptaannya, sebagaimana akal melakukan tugasnya. Tentu saja sarana yang paling agung untuk hal


766

AL-MAKTÛBÂT

itu ialah kondisinya yang mengarah kepada berbagai hakikat keimanan dengan cara berzikir dalam lingkup tingkatan kewalian lewat jalan tarekat.

Talwih Kedua Kunci dan sarana perjalanan suluk hati dan pergerakan spiritual tidak lain adalah zikrullah dan tafakkur. Kebaikan dan keutamaan keduanya tidak terhingga. Kalau kita mengesampingkan manfaat ukhrawi dari zikir dan tafakkur serta buah dari keduanya dalam mengantarkan manusia menuju kesempurnaan, lalu kita memfokuskan perhatian pada salah satu manfaat dari sekian banyak manfaat keduanya yang bisa diraih manusia di kehidupan dunia ini, maka kita akan melihat bahwa semua manusia pasti mencari pelipur lara dan kesenangan yang dapat menghibur hati dan meringankan beban hidupnya walau hanya sedikit. Sarana pelipur lara dan kesenangan yang disiapkan oleh peradaban modern hanya dapat memberikan kesenangan sementara yang melalaikan kepada satu atau dua orang dari sepuluh orang yang ada. Sedangkan 80% lainnya entah hidup menyendiri di pegunungan, atau menjauh ke daerah terpencil akibat kesulitan hidup yang dialami, atau menghadapi musibah atau masa tua yang mengingatkan pada kehidupan akhirat. Mereka semua terhalang dari kesenangan dan tidak mendapatkan pelipur lara dari berbagai sarana yang dimiliki oleh peradaban modern. Karena itu, sarana perlipur lara yang hakiki dan kesenangan yang paling tepat bagi mereka ialah dengan menyibukkan hati untuk terus berzikir dan bertafakkur. Saat berada di daerah pedalaman, pegunungan, atau di lembah-lembah yang sunyi, hatinya selalu mengulangi kalimat “Allah… Allah”. Dengan berzikir, ia mencari ketenangan sekaligus merenungkan hal-hal yang dapat melahirkan rasa takut dan kesepian. Dengan berzikir, seketika ia merasakan kesejukan dan kasih sayang. Orang yang berzikir itupun berkata, “Sang Pencipta yang selalu kuingat memiliki para hamba yang jumlahnya sangat banyak dan tersebar di seluruh penjuru alam. Kalau begitu, aku tidak sendirian. Tidak ada alasan bagiku untuk merasa kesepian.” Dengan begitu, ia merasakan makna


Surat Kedua Puluh Sembilan

767

ketenangan dalam kehidupan yang diselimuti iman. Ia merasakan kebahagiaan hidup sehingga semakin bertambah rasa syukurnya kepada Allah I.

Talwih Ketiga Kewalian adalah bukti risalah kenabian. Sedangkan tarekat adalah petunjuk tentang syariat. Hal itu karena hakikat keimanan yang disampaikan risalah kenabian dapat dilihat dan dibenarkan oleh kewalian dalam tingkatan ainul yaqin. Yaitu dengan penyaksian hati dan perasaan spiritual. Pembenaran terhadapnya merupakan bukti kuat akan kebenaran risalahnya. Selanjutnya, tarekat menjadi bukti atas kebenaran hukum-hukum yang dikandung oleh syariat, dan bahwa ia benar-benar bersumber dari Allah lewat limpahan pelajaran darinya dan manfaat yang didapat melalui kasyaf dan dzauq. Ya, sebagaimana “kewalian dan tarekat� menjadi hujjah dan dalil akan kebenaran “risalah dan syariat�, keduanya juga merupakan rahasia kesempurnaan Islam dan menjadi poros dari cahaya Islam. Keduanya merupakan sumber limpahan spiritualitas manusia lewat manifestasi cahaya Islam. Meskipun keduanya (kewalian dan tarekat) memiliki nilai yang sangat penting, namun masih ada sebagian kelompok sesat yang mengingkari urgensi dari keduanya. Mereka menyebabkan orang lain terhalang dari cahaya yang mereka tidak bisa dapatkan. Yang sangat disayangkan, terdapat sejumlah ulama ahlu sunnah yang hanya menilai sisi lahir, serta sebagian politikus yang alpa yang menisbatkan diri kepada ahlu sunnah, berusaha menutup pintu khazanah yang agung tersebut; khazanah kewalian dan tarekat. Mereka beralasan dengan penyalahgunaan dan kesalahan ahli tarekat yang mereka lihat. Bahkan mereka berupaya untuk menghancurkan dan mengeringkan mata air al-kautsar tersebut yang menjadi sumber kehidupan. Padahal, dalam segala sesuatu, manhaj, atau maslak, sangat jarang yang lepas dari kekurangan dan kekeliruan di mana semua sisinya hanya berisi kebaikan. Dengan demikian, sudah pasti ada kekurangan, kesalahan, dan penyalahgunaan dalam sikap dan tindakan. Sebab, ketika sese-


768

AL-MAKTÛBÂT

orang yang bukan ahlinya mengurus sesuatu, tentu akan terjadi penyalahgunaan. Akan tetapi, Allah akan menampakkan keadilan rabbani-Nya di akhirat sesuai dengan timbangan amal manusia. Siapa yang amal kebaikannya lebih berat daripada keburukannya, ia akan mendapatkan pahala dan amalnya diterima. Namun, jika keburukannya lebih berat dan kebaikannya lebih ringan, ia akan dihukum dan amalnya akan ditolak. Tentu saja, dalam hal ini yang menjadi pertimbangan bukanlah kuantitas sebuah amal, akan tetapi kualitasnya. Boleh jadi satu kebaikan dapat mengalahkan seribu keburukan, bahkan dapat menghapus dan menjadi sebab yang menyelamatkan pelakunya dari azab. Selama keadilan ilahi berlaku sesuai timbangan di atas dan hakikat pun memandangnya benar, maka tidak diragukan lagi bahwa kebaikan tarekat yang berada dalam bingkai sunnah rasul yang suci lebih berat daripada keburukannya. Bukti yang paling kuat atas hal itu ialah bahwa para ahli tarekat tetap bisa menjaga keimanan mereka disaat ada serangan dari kalangan sesat. Bahkan orang awam yang tulus dari kalangan tarekat lebih bisa menjaga diri daripada mereka yang mengaku berilmu. Pasalnya, dzauk tarekat dan rasa cinta kepada wali Allah dapat menyelamatkan keimanannya. Bahkan di saat melakukan dosa besar, hal itu tidak sampai menjadikannya kafi r, namun hanya menjadikannya fasik. Pasalnya, ia tidak mudah masuk ke dalam kelompok orang-orang zindik. Tidak ada yang dapat mengusik loyalitasnya terhadap para wali qutub di mana hatinya telah terpaut dengan mereka lewat perasaan cinta dan keyakinan yang kuat. Karena ia tidak terusik, maka sikap percaya dan ridhanya terhadap mereka tidak akan terputus. Bahkan ia tidak akan masuk ke dalam kekufuran selama rasa percayanya kepada mereka tidak hilang. Sementara, orang yang tidak pernah merasakan tarekat dan hatinya juga tidak tergerak padanya, akan sulit menjaga dirinya ditengah-tengah tipu daya para zindik saat ini, meskipun ia adalah seorang yang alim dan berilmu. Selain itu, tidak pantas menuduh atau memvonis tarekat berdasarkan kesalahan dan penyimpangan sejumlah aliran yang dengan serampangan menyebut dirinya sebagai sebuah “tarekat�.


Surat Kedua Puluh Sembilan

769

Boleh jadi apa yang mereka lakukan sudah keluar dari wilayah takwa, bahkan keluar dari wilayah islam. Kalau kita mengesampingkan berbagai manfaat mulia yang dihasilkan oleh tarekat, baik itu manfaat dari sisi agama, akhirat, atau ruhiyah, lalu kita hanya melihat satu manfaat saja yang terkait dengan dunia Islam, kita akan mendapati bahwa tarekat merupakan sarana iman yang paling utama yang dapat memperluas jaringan ukhuwah islamiyah dan memperkuat ikatan suci diantara mereka di seluruh dunia Islam. Dari dulu sampai sekarang, tarekat-tarekat sufi telah menjadi salah satu benteng utama dari tiga benteng Islam atas serangan-serangan kaum kafi r dan politik nasrani yang bertujuan untuk memadamkan cahaya Islam. Kita tidak boleh melupakan peran mereka dalam mempertahankan pusat pemerintahan khilafah islamiyah di Istanbul selama 550 tahun dari serbuan pasukan salib dari Eropa. Kekuatan iman, kecintaan spiritual, dan kerinduan yang terpancar dari makrifah ilahiyah milik mereka yang selalu menyeru nama “Allah‌Allahâ€? di berbagai pojok masjid di mana ia memancarkan cahaya tauhid di 500 tempat, hal itu membentuk sebuah titik kekuatan Islam bagi kaum mukmin di pusat pemerintahan Islam tersebut. Wahai para penyeru patriotisme yang dungu dan penyeru nasionalisme yang palsu! Masihkah kalian menjadikan satu kesalahan yang dilakukan oleh tarekat sebagai alasan untuk menafi kan peran dan kebaikannya yang besar dalam kehidupan sosial kalian?!

Talwih Keempat Di samping mudah, meniti jalan kewalian juga memiliki sejumlah kesulitan. Dalam perjalanannya yang singkat, prosesnya juga panjang. Walaupun kedudukannya tinggi, namun ia dikelilingi dengan berbagai macam bahaya. Di samping lapang, ia juga terasa sempit. Karena berbagai rahasia yang halus tersebut, para salik kadang tenggelam di dalamnya. Kadangkala juga tergelincir dan terluka. Bahkan ada yang mengundurkan diri dan menyesatkan


770

AL-MAKTÛBÂT

yang lain. Sebagai contoh adalah “as-sayr al-anfusi” dan “as-sayr al-âfâqi”. Keduanya merupakan aliran dalam tarekat. Sayr al-anfusi dimulai dari diri (nafs) dengan mengabaikan dunia luar. Ia hanya memusatkan perhatian pada kalbu seraya menembus egonya. Kemudian dari kalbu ia membuka jalan menuju hakikat. Dari sana ia menembus cakrawala alam. Ia melihatnya bercahaya dengan cahaya kalbunya. Ia pun menyelesaikan perjalanannya dengan cepat. Pasalnya, hakikat yang ia lihat dalam dirinya terlihat juga di cakrawala dalam ukuran yang lebih besar. Sebagian besar proses tarekat khafi yah, dilakukan dengan metode ini. Prinsip utama dalam meniti jalan ini ialah menghilangkan perasaan ego, serta meninggalkan hawa nafsu dan mematikan nafsu ammârah. Adapun aliran dan pendekatan yang kedua, ia dimulai dari alam. Peniti aliran ini menyaksikan manifestasi nama-nama dan sifat Allah yang mulia yang terdapat di cakrawala alam semesta yang luas ini. Lalu ia masuk ke dalam wilayah dirinya. Ia pun melihat cahaya manifestasi keagungan-Nya itu dalam ukuran yang lebih kecil di alam kalbunya. Dari situlah ia membuka jalan yang lebih singkat menuju kepada-Nya. Ia menyaksikan bahwa kalbu merupakan cermin manifestasi as-Shamad. Akhirnya, ia pun sampai pada maksud yang dituju. Pada aliran yang pertama, jika sang salik tersebut tidak sanggup mematikan nafsu ammârah dan tidak mampu menghilangkan sifat egonya dengan cara meninggalkan hawa nafsunya, ia akan jatuh dari maqam syukur ke maqam perasaan bangga. Dari sana ia bisa terjerumus ke dalam sifat sombong. Jika hal ini disertai dengan sikap yang tak terkendali yang disebabkan oleh tarikan rasa cinta, akan muncul pengakuan-pengakuan diluar batas dan kewajaran. Itulah yang disebut dengan syatahât. Ia dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Perumpamaan orang yang sedang mengalami “ekstase spiritual” seperti seorang perwira yang berpangkat letnan. Kegembiraan dan kesenangan dalam memimpin pada wilayah kekuasaannya yang sempit menyelimutinya. Maka ia mengira di-


Surat Kedua Puluh Sembilan

771

rinya seorang jenderal yang memimpin sejumlah korps dan legiun. Ia tidak bisa membedakan antara kepemimpinan di wilayah yang kecil dengan kepemimpinan universal di wilayah yang besar dan luas. Persis seperti bayangan matahari yang terpantul di cermin kecil yang oleh sebagian orang tidak bisa dibedakan dengan bayangan matahari yang tampak di lautan yang luas. Bayangan pantulannya mirip, namun luas dan besarnya berbeda. Begitulah, banyak peniti kewalian yang menganggap dirinya jauh lebih hebat daripada orang-orang yang sebenarnya memiliki kedudukan lebih tinggi. Bahkan jika dirinya diukur dengan mereka bagaikan lalat dan burung merak. Namun pemilik syatahat tersebut melihat dirinya seperti yang ia gambarkan dan merasa benar dengan apa yang dilihatnya. Bahkan aku melihat ada orang yang menganggap telah mencapai maqam wali qutub, dan berprilaku seolah-olah dirinya wali qutub. Padahal ia baru merasakan rahasia kewalian dalam dirinya dari jauh dan hanya kalbunya yang sadar. Kukatakan padanya: “Wahai saudaraku, sebagaimana hukum kerajaan memiliki beragam wujud, baik yang bersifat parsial maupun universal dalam bentuk yang sama di seluruh wilayah negeri, mulai dari posisi perdana menteri hingga tingkat kepala desa, maka kewalian dan al-quthbiyah juga memiliki wilayah dan wujud yang beragam. Setiap kedudukan memiliki banyak bayangan. Engkau telah menyaksikan manifestasi posisi wali qutub yang agung yang menyerupai perdana menteri dalam wilayah kepemimpinanmu yang kecil yang menyerupai kepala desa. Karena itu, engkau tertipu. Pasalnya, apa yang kau saksikan memang benar. Hanya saja, anggapan dan penilaianmu salah. Sebab, seciduk air bagi lalat bagaikan lautan luas.� Iapun tersadar dengan ucapanku dan selamat dari bahaya yang ia hadapi dengan izin Allah. Aku juga melihat sejumlah orang menganggap dirinya seperti Imam Mahdi. Masing-masing mereka berkata, “Aku akan menjadi Imam Mahdi.� Mereka tidak berdusta dan tidak sedang menipu. Akan tetapi mereka sedang tertipu. Pasalnya, mereka mengira apa yang mereka lihat sebagai sebuah kebenaran. Hanya saja, sebagaimana asmaul husna memiliki sejumlah manifestasi, mulai dari arasy yang agung sampai kepada partikel, maka wujud


772

AL-MAKTÛBÂT

dari manifestasi tersebut yang terdapat di alam dan diri manusia juga berbeda-beda. Tingkatan kewalian yang tidak lain merupakan wujud manifestasi asmaul husna juga berbeda-beda. Sebab utama dari kerancuan itu adalah karena sejumlah tingkatan kewalian berisi sebagian dari karakter dan tugas Imam Mahdi. Ia tampak memiliki keterpautan khusus dengan posisi wali qutub serta relasi khusus dengan nabi Khidir. Memang terdapat sejumlah kedudukan yang memiliki relasi dan ikatan dengan sejumlah tokoh ternama sehingga kedudukan tersebut disebut dengan maqam Khidir, maqam Uwais, dan maqam Imam Mahdi. Atas dasar itu, orang-orang yang sampai pada maqam itu, salah satu bagian dari maqam itu, atau pada salah satu bayangannya, menganggap diri mereka sebagai para tokoh ternama itu. Ada dari mereka menganggap dirinya sebagai nabi Khidir, Imam Mahdi, atau sebagai wali qutub. Apabila rasa ego yang cinta kedudukan telah lenyap, maka ia tidak akan dihukum. Sejumlah pernyataannya yang melampaui batas dianggap sebagai syatahât, bisa jadi ia tidak bertanggung jawab atas hal itu. Namun jika rasa egonya masih mengarah pada cinta kedudukan, maka rasa ego tersebut akan menguasai dan mengantarnya pada kesombongan seraya menanggalkan sikap syukur. Akibatnya, secara bertahap ia akan jatuh ke jurang kesombongan yang dapat melahap pahala amal. Bisa jadi mereka menjadi gila atau tersesat jauh. Pasalnya, ia memosisikan diri dalam barisan para wali agung. Hal ini pada dasarnya merupakan bentuk prasangka buruk kepada mereka. Sebab, ia melepaskan berbagai kekurangan yang ada pada dirinya di mana hal itu bisa diketahui betapapun ia tertipu kepada para tokoh wali yang mereka lihat lewat teropong dirinya yang cacat. Ia menyangka para wali itupun melakukan kekurangan seperti dirinya. Akhirnya, ia kurang menghormati mereka. Bahkan pada gilirannya, ia pun kurang hormat kepada para nabi. Karena itu, kalangan yang berada dalam keracuan itu harus kembali berpegang kepada timbangan syariat. Mereka harus memperhatikan rambu-rambu yang telah digariskan oleh para ulama ushuluddin. Mereka harus meneladani arahan-arahan


Surat Kedua Puluh Sembilan

773

yang diajarkan oleh para wali yang termasuk ulama seperti Imam Ghazali dan Imam Rabbani. Mereka tidak boleh merasa sempurna serta harus sadar bahwa kekurangan dan kefakiran melekat pada diri mereka betapa pun tingginya kedudukan yang telah dicapai. Syatahât sejumlah salik pada aliran ini bersumber dari kecintaan pada diri. Sebab, mata cinta tidak melihat kekurangan yang ada. Ia menganggap dirinya seperti potongan berlian meskipun sebenarnya seperti serpihan kaca tak berguna demi mencintai dirinya. Demikianlah, kebinasaan yang paling parah pada suluk jenis ini adalah berbagai makna parsial yang masuk ke dalam kalbu salik dalam bentuk ilham. Namun si salik membayangkannya sebagai kalam Allah serta menganggap setiap ilham yang datang sebagai ayat. Dengan ilusi semacam itu, ia tidak menghargai kedudukan wahyu yang mulia. Ya, setiap ilham, mulai dari ilham kepada lebah dan hewan, ilham kepada manusia secara umum, ilham kepada kalangan khusus, ilham kepada malaikat secara umum, sampai ilham kepada kalangan khusus yang dekat dengan Allah, semua itu merupakan satu bentuk kalimat rabbaniyyah. Hanya saja, kalam rabbani merupakan manifestasi pesan rabbani yang beragam dan bersinar melalui tujuh puluh ribu hijab sesuai dengan potensi penerimaan berbagai wujud dan tingkatan. Adapun wahyu, ia adalah nama khusus dari kalam Allah I dan perumpamaan-Nya yang paling cemerlang. Nama itulah yang disebut dengan bintang-gemintang al-Qur’an. Setiap bagiannya merupakan ayat seperti yang termaktub sesuai perintah. Karena itu, menamakan berbagai jenis ilham di atas dengan sebutan ayat merupakan sebuah kekeliruan. Sebagaimana perbandingan antara bayangan mentari kecil yang tampak di cermin berwarna yang terdapat di tangan kita dan mentari hakiki yang terdapat di langit, begitulah perbandingan antara ilham yang terdapat di kalbu para pengaku dan ayat-ayat mentari al-Qur’an yang merupakan kalam ilahi langsung. Ha ini seperti yang telah


774

AL-MAKTÛBÂT

kami terangkan dan kami tegaskan pada “Kalimat Kedua Belas, Kedua Puluh Lima, dan Ketiga Puluh Satu” dari kitab al-Kalimât. Ya, bila ada yang berkata bahwa bayangan mentari yang terdapat di cermin merupakan bentuk gambarannya dan memiliki relasi dengan mentari asli, pernyataan tersebut sudah tentu benar. Hanya saja, bola bumi yang besar ini tidak bisa dikaitkan dengan mentari di cermin kecil dan tidak mungkin mentari tersebut ditarik kepada gaya gravitasinya.

Talwih Kelima Paham Wahdatul wujud yang berisi wahdatus syuhûd dianggap sebagai aliran sufi yang penting. Maksud dari wahdatul wujud adalah membatasi penglihatan pada keberadaan Wâjibul wujud. Dengan kata lain, sesungguhnya yang ada hanya Dzat Wajibul wujud, Allah I. Sementara seluruh makhluk hanyalah bayangan semu dan ilusi yang tak layak disebut ada bila dibandingkan dengan eksistensi Dzat yang Wajib ada. Karena itu, pengikut aliran ini memandang seluruh entitas dan seluruh makhluk sebagai khayalan dan ilusi. Mereka melihatnya sebagai sesuatu yang tiada dalam tahapan “meninggalkan segala sesuatu selain-Nya”. Bahkan mereka bersikap ekstrim dengan menganggap entitas sebagai cermin imajiner dari manifestasi asmaul husna. Hakikat terpenting yang terkandung dalam aliran ini adalah bahwa entitas yang bersifat mungkin (makhluk) dipandang kecil dan tak berharga oleh para penganutnya dari para wali yang mencapai tingkatan haqqul yaqin lewat kekuatan iman mereka di mana semua itu menurut mereka turun ke tingkatan tiada dan ilusi. Artinya, keberadaan alam dianggap sebagai ilusi jika dibandingkan dengan keberadaan Allah sebagai Dzat Wajibul wujud. Hanya saja, pada aliran ini terdapat sejumlah bahaya. Yang pertama dan paling penting adalah bahwa rukun iman ada enam. Selain rukun iman kepada Allah, terdapat rukun iman yang lain. Misalnya iman kepada hari akhir. Semua rukun iman tersebut menuntut adanya entitas yang bersifat mungkin (makhluk). Artinya, rukun-rukun yang sudah valid itu tidak mungkin tegak di atas landasan imajiner.


Surat Kedua Puluh Sembilan

775

Karena itu, penganut aliran ini tidak boleh mempunyai pandangan semacam itu dan tidak boleh mengamalkan konsekuensi dari aliran tersebut saat bangun dari alam bawah sadar. Lalu ia juga tidak boleh mengubah aliran (yang dicerna dengan) qalbu, intuisi, dan rasa ini menjadi hal yang dicerna secara rasional, verbal, dan ilmiah. Pasalnya, rambu-rambu rasional, kaidah ilmiah, dan prinsip dasar ilmu kalam yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah yang suci, tidak mampu menerima aliran ini dan tidak mungkin menerapkannya. Karena itu, mulai dari khulafa ar-rasyidin, para imam mujtahid, dan ulama pengamal di antara salafus salih, aliran ini tidak terlihat. Jadi, aliran ini bukan tingkatan yang paling tinggi dan paling mulia. Namun bisa saja ia memiliki ketinggian, tetapi memiliki kekurangan dalam ketinggiannya itu. Bisa saja ia memiliki rasa manis, namun mengandung bahaya. Karena melihat wujud lahirnya yang manis, mereka yang sudah masuk ke dalamnya tidak mau keluar. Karena rasa bangga, mereka merasa berada di tingkatan paling tinggi. Karena prinsip dasar dan esensi aliran ini telah kami bahas sebagian dalam risalah “Secercah Cahaya Makrifatullah� dari buku al-Matsnawi an-Nuri, dalam al-Kalimat dan al-Maktubat, maka kita cukupkan dengan pembahasan tersebut. Di sini kita akan membahas sedikit tentang kondisi bahaya yang bisa menimpa sebagian penganut wahdatul wujud. Yaitu bahwa aliran ini hanya tepat untuk kalangan khawas al-khawas saat berada dalam kondisi ekstase, untuk mereka yang sudah lepas dari dunia materi, dan untuk mereka yang telah memutuskan hubungan dengan segala sesuatu selain Allah. Namun apabila aliran ini diterangkan dengan bentuk ilmiah dan rasional kepada mereka yang tenggelam dalam kausalitas, yang terkungkung dengan kehidupan dunia, serta yang terjerembab dalam fi lsafat materialisme dan naturalisme, maka hal itu akan membuat mereka jatuh ke dalam kubangan alam materi dan menjauhkan dari hakikat Islam. Sebab, kalangan materialis dan pecinta dunia ingin melekatkan sifat abadi kepada dunia yang fana ini. Pasalnya, ia tidak bisa melihat apa yang dicintainya hilang. Karena itu, ia berikan sifat abadi dan kekal kepada dunianya


776

AL-MAKTÛBÂT

dengan berlandaskan konsep wahdatul wujud. Pada saat itulah, dunia yang dicintainya naik ke posisi sesembahan setelah diberi sifat-sifat abadi dan kekal. Maka secara otomatis terbuka di hadapannya peluang untuk mengingkari Allah, naûdzu billah. Pilar-pilar pemikiran materialis telah tertanam kuat pada zaman sekarang dan telah menguasai sebagian besar aktivitas rasional dan ilmiah sehingga―bagi penganutnya―materi menjadi pangkal dan rujukan dari segala sesuatu. Karena itu, mempopulerkan paham wahdatul wujud pada zaman sekarang―di mana dalam paham ini materi dianggap tidak berarti bagi kalangan mukmin yang khawas―namaun bisa jadi paham ini dijadikan sebagai dalih bagi kaum materialis untuk mempropagandakan pahamnya seraya berkata, “Kami juga menyatakan dan berpikiran demikian.” Padahal, tidak ada aliran di dunia ini yang jauh dari pendekatan kaum materialis dan penyembah alam daripada aliran wahdatul wujud. Pasalnya, penganut wahdatul wujud memiliki keimanan yang mendalam kepada Allah sampai pada tingkat menganggap alam dan seluruh entitas sebagai sesuatu yang tiada, jika dibandingkan dengan hakikat keberadaan Allah. Sementara kalangan materialis menganggap penting entitas sampai pada tingkat mengingkari keberadaan Allah I. Jadi sangat jauh perbedaan antara keduanya.

Talwih Keenam Terdiri dari tiga poin Poin Pertama: Mengikuti sunnah Nabi r merupakan jalan yang paling indah dan paling terang untuk sampai kepada derajat kewalian. Bahkan ia jalan yang paling lurus dan paling berkah. Maksud dari mengikuti sunnah Nabi ialah sikap seorang muslim untuk mempelajari sunnah kemudian mencontohnya dalam setiap tindakan dan amal, serta menjadikan syariat sebagai petunjuk dalam semua interaksi dan perilakunya. Amalan dan aktivitas sehari-hari akan bernilai ibadah ketika ia mengikuti sunnah Nabi. Di samping itu, usaha untuk mengikuti sunnah dan hukum Allah dalam setiap urusan menjadikan seorang mukmin berada dalam kondisi selalu ingat dan sadar pada syariat. Hal ini akan mem-


Surat Kedua Puluh Sembilan

777

buatnya teringat pada sang pembawa syariat yang selanjutnya membuat ingat kepada Allah I. Mengingat Allah akan membuat hati menjadi tenang dan tenteram. Dengan kata lain, setiap waktu dari usianya dihabiskan dalam kondisi beribadah secara terus-menerus dan tenteram. Oleh sebab itu, mengikuti sunnah Nabi adalah jalan menuju derajat kewalian tertinggi. Ia adalah jalan para sahabat dan salaf saleh yang merupakan para pewaris Nabi. Poin Kedua: Keikhlasan merupakan asas utama untuk meniti jalan kewalian dan tarekat. Pasalnya, ikhlas adalah satu-satunya jalan untuk melepaskan diri dari syirik yang samar. Siapa yang hatinya tidak ikhlas, ia tidak akan bisa meniti jalan tersebut. Selain itu, mahabbah (cinta) juga merupakan kekuatan yang paling utama di jalan tersebut. Sang pencinta tidak akan mencari-cari kekurangan, bahkan tidak ingin melihat ada kekurangan pada sesuatu yang ia cintai. Sebaliknya, ia justru menganggap tanda terkecil yang menunjukkan kesempurnaan orang yang ia cinta sebagai dalil yang paling kuat karena ia selalu bersamanya. Atas dasar itu, mereka yang mengarahkan hatinya untuk mengenal Allah (makrifatullah) melalui pintu mahabbah, akan mengabaikan berbagai syubhat dan bantahan terkait sesuatu yang dia cintai serta dapat menyelamatkan diri dengan mudah. Walaupun ribuan setan berkumpul untuk menghadang, mereka tidak akan bisa menghapus satu petunjuk saja yang menunjukkan kesempurnaan dan kemuliaan apa yang ia cintai. Tanpa rasa cinta, manusia akan tunduk pada bisikan nafsu dan godaan setan. Ia akan terbawa oleh berbagai bantahan dan syubhat yang dihembuskan oleh setan. Tidak ada yang dapat melindunginya selain dari kekuatan iman serta tingkat kesadaran dan kewaspadaannya yang tinggi. Dengan demikian, cinta yang bersumber dari makrifatullah merupakan inti dan esensi dari semua tingkatan kewalian. Namun ada masalah besar dalam persoalan cinta ini. Yaitu dikhawatirkan sang pencinta akan berbalik arah dari yang tadinya rendah hati dan tunduk kepada Allah―di mana keduanya


778

AL-MAKTÛBÂT

merupakan kunci ubudiyyah―menjadi sikap bangga, menuntut, dan mengaku-ngaku. Ia pun menjadi lupa diri kemudian merasa sombong dengan rasa cinta yang ia miliki tanpa ada batasan dan standar. Dikhawatirkan pula cintanya akan berubah dari yang tadinya makna harfi menjadi makna ismi saat ia mengarahkan cintanya kepada selain Allah. Sehingga kondisinya berubah dari obat yang dapat menyembuhkan menjadi racun yang mematikan. Seringkali terjadi bahwa seseorang mencintai sifat, kesempurnaan, dan keindahan dari apa yang ia cintai selain Allah. Artinya rasa cinta tadi sudah bersifat ismi (karena zatnya). Ia mampu mencintainya tanpa harus ingat kepada Allah dan Rasul-Nya! Padahal di saat ia mencintai sesuatu selain Allah, hendaknya hal itu dilakukan karena Allah dan untuk Allah. Dengan begitu, hati terpaut dengannya karena posisinya sebagai cermin manifestasi nama-nama-Nya yang mulia. Cinta yang demikian tidak akan bisa menjadi perantara menuju cinta kepada Allah. Bahkan ia menjadi penghalang baginya. Sedangkan rasa cinta yang bersifat harfi , yaitu yang karena cinta kepada Allah, hal itu akan menjadi perantara untuk menambah rasa cinta kepada Allah, bahkan ia bisa dikatakan sebagai salah satu manifestasi-Nya. Poin Ketiga: Dunia adalah tempat untuk beramal dan tempatnya hikmah; bukan tempat untuk memberikan balasan dan ganjaran. Balasan atas amal dan kebaikan yang dilakukan selama di dunia akan diberikan di alam barzakh dan di negeri akhirat. Di sana pahala dan ganjaran akan diberikan. Jika demikian, tidak boleh menuntut pahala dan buah dari amal di dunia ini. Kalaupun ia diberikan di dunia, maka hendaknya ia terima dengan perasaan senang bercampur dengan rasa sedih, perasaan suka diiringi rasa duka; bukan dengan senang dan suka semata. Pasalnya, tidak bijak mengambil pahala dari sebuah amal―yang mana pahala tersebut tidak akan pernah habis jika didapatkan di akhirat―di dunia yang bersifat fana ini. Hal itu bagaikan seseorang yang merasa bosan dengan lampu yang cahayanya terus-menerus bersinar, kemudian ia bergantung pada lampu yang sinarnya hanya menyala beberapa saat saja.


Surat Kedua Puluh Sembilan

779

Berdasarkan rahasia tersebut―yakni menanti pahala di kehidupan akhirat—para wali menjalani pengabdian, kesulitan, cobaan, dan musibah yang ada. Namun mereka tidak mengeluh dan menggerutu. Lisan mereka selalu mengulang kalimat:

“Segala puji bagi Allah atas segala kondisi� Apabila Allah menganugerahkan kepada mereka karamah, kasyaf, cahaya, dan rasa, mereka menerimanya dengan penuh adab dan menganggapnya sebagai karunia besar dari-Nya. Mereka berusaha mennyembunyikanya dan tidak mau menampakkan dan membangga-banggakannya. Mereka semakin bersyukur dan semakin menguatkan ubudiyah kepada Allah. Bahkan seringkali mereka memohon kepada Allah agar menghijab kondisi tersebut dari mereka dan berharap pada-Nya agar karamah tersebut dicabut. Sebab, mereka khawatir kondisi tersebut akan merusak keikhlasan dalam beramal. Sungguh, nikmat terbaik Allah yang bisa diraih oleh seseorang yang dekat dengan Allah ialah anugerah yang diberikan kepadanya tanpa ia sadari. Hal itu supaya sikap tunduk dan meminta kepada Allah tidak berubah menjadi sikap bangga dengan ibadah dan menuntut balasan atasnya. Juga agar hal itu tidak mengubah kondisinya dari bersyukur dan memuji-Nya menjadi sikap merasa hebat dan sombong. Berdasarkan penjelasan diatas, siapa yang ingin meniti jalan tarekat dan kewalian, lalu ia berharap mendapatkan buah dari jalan yang ia tempuh ini, seperti kenikmatan maknawi atau karamah, kemudian ia berorientasi padanya dan menuntut buah tersebut serta merasa senang dengannya, itu berarti ia hanya berharap menikmati buah di kehidupan dunia yang fana ini. Apabila dicapai, ia hanyalah kenikmatan yang bersifat sementara. Dengan begitu, ia kehilangan keikhlasan dalam amal yang dengannya ia dapat meraih buah dari derajat kewalian. Bahkan dengan begitu ia memberi jalan bagi hilangnya kewalian itu sendiri.


780

AL-MAKTÛBÂT

Talwih Ketujuh Terdiri dari empat nuktah:

Nuktah Pertama Syariat merupakan buah dari pesan ilahi yang bersumber langsung―tanpa penghalang―dari rububiyah mutlak dengan rahasia ahadiyah. Maka dari itu, derajat dan kedudukan tertinggi dalam tarekat dan hakikat tidak keluar dari ruang lingkup syariat. Buah dari tarekat dan hakikat serta hasil akhirnya berupa aturan-aturan syariat yang baku. Dengan demikian, ia akan selalu berada dalam posisi sebagai penyokong syariat dan menjadi wasilah menuju kepadanya. Para peniti tarekat, posisinya akan naik secara bertahap ke tingkatan tertinggi yang di dalamnya ia meraih esensi hakikat dan rahasia tarekat seperti dalam syariat. Jika demikian, berarti tarekat dan hakikat merupakan bagian dari syariat yang agung. Karena itu, persepsi dari sebagian ahli tasawuf yang mengatakan bahwa “syariat” adalah kulit luarnya saja, sedangkan “hakikat” merupakan inti, buah, dan tujuannya, adalah persepsi yang salah. Ketersingkapan hukum syariat berbeda-berbeda sesuai dengan tingkat kemampuan dan pemahaman masing-masing individu. Apa yang dipahami oleh masyarakat umum tidak sama dengan apa yang dipahami oleh kalangan khawas. Merupakan sebuah kesalahan manakala menganggap “syariat” yang diketahui oleh kalangan awam sebagai “hakikat syariat”, sementara “tingkatan syariat” yang tersingkap bagi kalangan khawas disebut sebagai “hakikat” dan “tarekat”. Syariat memiliki sejumlah tingkatan yang mengarah kepada semua kalangan manusia. Oleh karena itu, setiap kali ahli tarekat dan ahli hakikat melangkah maju dan naik ke jenjang yang lebih tinggi, mereka semakin tertarik kepada berbagai hakikat syariat dan mematuhinya. Mereka hidup sesuai dengan tujuan dan maksud syariat. Bahkan mereka menjadikan sunnah Nabi r yang paling sederhana sekalipun sebagai tujuan yang paling mulia. Mereka selalu berusaha untuk mengikuti dan menirunya. Pasal-


Surat Kedua Puluh Sembilan

781

nya, sebagaimana kedudukan dan posisi wahyu yang lebih tinggi dari pada ilham, maka adab-adab syariat yang merupakan buah dari wahyu lebih tinggi dan lebih mulia daripada adab tarekat yang merupakan buah dari ilham. Maka dari itu, prinsip utama dalam tarekat ialah mengikuti sunnah nabi yang suci.

Nuktah Kedua Tarekat dan hakikat tidak boleh berubah dari posisinya sebagai sarana menjadi tujuan. Jika keduanya (hakikat dan tarekat) menjadi tujuan, maka amal-amal syariat dan adab-adab sunnah nabi akan terbatas hingga tidak lagi menjadi perhatian utama bagi seorang salik. Ia akan bersifat formalitas karena hati sang salik sibuk dengan adab-adab dan ritual tarekat. Dengan kata lain, ia lebih sibuk dengan halaqah zikir ketimbang shalat. Ia lebih tertarik dengan wirid tarekatnya daripada kewajiban-kewajiban agama. Ia juga lebih komitmen untuk meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan adab tarekat daripada menjauhi dosa-dosa besar. Padahal satu kewajiban yang ia tunaikan sebagai wujud ketundukan pada perintah syariat tidak dapat disamai dengan wirid-wirid dalam tarekat atau digantikan olehnya. Adab tarekat, wirid tasawuf, dan dzauq yang didapat dari keduanya hendaknya menjadi sarana untuk mendapatkan dzauq hakiki yang lebih mulia dalam menjalankan kewajiban agama, bukan menjadi tujuan. Dengan kata lain, dzauq yang didapat dari tarekat menjadi jalan baginya untuk mendapatkan kenikmatan shalat yang ia lakukan di masjid sesuai dengan tuntunan dan ketentuan shalat. Jika tidak, ia hanya akan membuat lalai dari shalatnya. Ia akan melaksanakan shalat dengan cepat, secara formalitas, tanpa ada isi dan ruh. Yang demikian itu jauh dari hakikat.

Nuktah Ketiga Pertanyaan: Apakah mungkin ada tarekat yang berada di luar koridor sunnah dan hukum syariat? Jawabannya: Ya dan tidak!


782

AL-MAKTÛBÂT

Dikatakan “ya” karena terdapat para wali yang dihukum mati dengan pedang syariat. Dikatakan “tidak” sebab para wali yang lurus telah sepakat dengan kaidah yang disebutkan oleh Sa’di as-Syirazy dalam syairnya yang bermakna: “Mustahil seseorang akan sampai pada cahaya kebenaran hakiki di luar jalan yang telah digariskan oleh Rasul r dan tanpa mengikuti sunnahnya.” Rahasia dari persoalan ini ialah bahwa Rasulullah r adalah penutup para nabi dan rasul. Beliau juga sebagai penerima wahyu Allah atas nama umat manusia dan sebagai wakil dari mereka. Oleh sebab itu, tidak boleh ada yang berjalan diluar jalannya, dan bernaung dibawah panji beliau merupakan sebuah kewajiban. Hanya saja, kalangan yang mengalami “ekstase” tidak bertanggung jawab atas penyimpangan mereka karena di dalam diri manusia terdapat perangkat halus (latifah) yang tidak tunduk pada syariat. Karena itu, ketika latifah tersebut dominan ia tidak lagi bertanggung jawab atas taklif syariat. Nah, apabila dalam diri manusia terdapat sejumlah latifah lain yang tidak tunduk pada keinginan manusia sebagaimana ketidak-tundukannya pada syariat, bahkan ia juga tidak tunduk pada akal dan keinginan hati, maka di saat seseorang dikuasai oleh latifah, hal itu tidak membuatnya keluar dari derajat wali meski telah melanggar syariat. Namun pada saat itu ia mendapatkan toleransi dengan catatan tidak keluar sesuatu darinya yang menafi kan hakikat syariat dan kaidah-kaidah iman, baik berupa pengingkaran, pemalsuan, atau pelecehan. Ia wajib mengakui kebenaran syariat walaupun ia tidak mampu melaksanakannya dengan benar. Akan tetapi, apabila ia berada dalam kondisi tak terkendali, lalu muncul hal-hal yang bersifat mendustakan dan mengingkari hakikat syariat yang baku, hal itu merupakan tanda kebinasaan. Kesimpulannya bahwa ahli tarekat yang berada di luar wilayah syariat ada dua macam: Yang pertama, sebagaimana yang baru saja kami jelaskan. Bisa jadi ia berada dalam situasi yang tak terkendali, tak terkontrol, tak sadar dan sedang mengalami “ekstase”. Atau, ia berada


Surat Kedua Puluh Sembilan

783

dalam kendali latifah yang tidak tunduk pada syariat dan sedang tidak punya kehendak sehingga keluar dari koridor syariat. Akan tetapi, sikap ini tidak muncul karena ia tidak suka pada syariat atau ia menolak hukum syariat. Namun ia meninggalkan hukum tersebut secara terpaksa tanpa ada keinginan darinya. Memang terdapat para wali yang termasuk dalam jenis ini. Terlebih lagi terdapat para tokoh wali yang pernah merasakan kondisi yang seperti ini. Bahkan di antara jenis ini ada yang divonis oleh wali ahli hakikat bahwa mereka tidak hanya keluar dari wilayah syariat, tetapi ada yang keluar dari wilayah Islam. Terkecuali dengan syarat ia tidak mengingkari semua hukum yang datang dari Rasulullah r walaupun tidak melaksanakan dengan benar, entah karena tidak merenungkannya, tidak mampu mengarah padanya, atau karena tidak mampu memahaminya. Namun apabila ia telah memahami lalu menolaknya, maka hal itu tidak bisa diterima. Yang kedua ialah mereka yang telah mabuk oleh berbagai dzauq spiritual yang didapatkan dari tarekat dan hakikat. Mereka tidak peduli terhadap hakikat syariat yang mana posisinya lebih tinggi daripada dzauq spiritual mereka. Ada di antara mereka yang menganggap bahwa syariat tidak bisa mengantarkan pada perasaan spiritual tersebut karena tidak mampu menggapainya. Karena itu, ia menunaikan syariat sebatas formalitas saja. Begitulah, secara bertahap ia akan sampai pada anggapan bahwa syariat hanya sebatas kulit lahiriah semata. Sementara hakikat yang ia dapatkan dianggap sebagai asas dan tujuan. Ia pun berkata, “Cukuplah apa yang aku dapatkan (rasakan).� Akhirnya, ia melakukan sejumlah perbuatan yang bertentangan dengan perintah syariat. Siapapun dari kelompok ini yang masih berakal dan sadar, mereka akan bertanggung jawab atas sikapnya. Mereka akan dihukum, serta mereka akan binasa. Bahkan diantara mereka ada yang menjadi sasaran olok-olok setan.

Nuktah Keempat Sejumlah orang yang berasal dari kelompok sesat dan ahli bid’ah termasuk yang dapat diterima oleh umat. Namun ada juga


784

AL-MAKTÛBÂT

orang-orang seperti mereka yang ditolak dan dijauhi oleh umat, padahal secara zahir keduanya tidak berbeda. Aku merasa heran dengan kondisi tersebut. Az-Zamakhsyari, seorang ulama muktazilah yang sangat fanatik terhadap mazhabnya, tidak dikafi rkan oleh para ulama ahlus sunnah dan tidak digolongkan ke dalam orang-orang yang sesat, padahal mereka sangat menentang pemikirannya. Mereka mencari jalan keselamatan untuknya. Di sisi lain, Abu Ali al-Jubba’i yang juga berasal dari muktazilah tidak diterima oleh kalangan ahlus sunnah dan ide-idenya ditolak, padahal fanatisme terhadap mazhabnya jauh lebih ringan daripada az-Zamakhsyari. Hal ini membuatku berpikir cukup lama hingga aku dapat memahaminya berkat karunia Allah: Penentangan az-Zamakhsyari terhadap ahlus sunnah didasari oleh keinginannya untuk mencari kebenaran seperti yang diserukan oleh alirannya di mana ia menilainya benar. Misalnya ia berkata, “Mensucikan sifat Allah yang hakiki ialah dengan cara meyakini bahwa makhluk yang menciptakan perbuatan mereka sendiri.� Ia menolak pendapat ahlus sunnah terkait dengan penciptaan perbuatan makhluk karena ingin mensucikan Allah. Adapun ulama-ulama muktazilah yang lain, mereka membantah pendapat ahlus sunnah bukan dikarenakan rasa cintanya pada kebenaran. Akan tetapi, karena akal mereka tidak dapat memahami konsep pemikiran ahlus sunnah dan juga karena akal mereka yang sempit tak dapat menyerap rambu-rambu ahlus sunnah. Oleh sebab itu, pemikiran mereka ditolak dan mereka pun juga tertolak. Sebagaimana penentangan muktazilah terhadap ahlus sunnah terbagi dua seperti yang terdapat dalam kitab-kitab ilmu kalam, begitu juga dengan ahli tarekat yang menyimpang dari sunnah Nabi. Penyimpangan mereka terlihat dari dua sisi: Pertama, terseretnya seorang wali kepada kondisi dan mazhabnya sebagaimana yang dialami oleh az-Zamakhsyari. Dalam batas tertentu hal tersebut membuatnya tidak begitu memperhatikan adab-adab syariat yang belum ia rasakan.


Surat Kedua Puluh Sembilan

785

Kedua, kondisi wali yang menganggap syariat tidak penting jika dibandingkan dengan ajaran dan kaidah dalam tarekat. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuannya untuk menyerap rahasianya yang begitu luas. Kemampuan dan kedudukannya yang terbatas tidak dapat mencapai kedudukan yang tinggi tersebut.

Talwih Kedelapan Berisi delapan bahaya: Bahaya Pertama: Ketergelinciran yang dialami para salik yang tidak mengikuti sunnah nabi ialah keyakinannya bahwa tingkatan kewalian lebih tinggi daripada kenabian. Kami telah menegaskannya pada “Kalimat Kedua Puluh Empat” dan “Kalimat Ketiga Puluh Satu” dari kitab al-Kalimât bahwa derajat kenabian lebih tinggi daripada derajat kewalian dan betapa kecilnya cahaya kewalian di hadapan cahaya kenabian. Bahaya Kedua: Sikap sebagian kalangan ekstrim yang lebih memuliakan wali daripada para sahabat f. Bahkan menganggap mereka berada pada derajat yang sama dengan para nabi. Kami telah menjelaskannya pada “Kalimat Kedua Belas” dan “Kalimat Kedua Puluh Tujuh” (Risalah Ijtihad) serta pada lampiran Risalah Ijtihad yang secara khusus membahas tentang “sahabat nabi” bahwa para sahabat memiliki kedudukan yang mulia dan istimewa karena persahabatan mereka dengan Nabi r di mana para wali tidak akan bisa sampai ke derajat tersebut, apalagi mengungguli kedudukan mereka. Mustahil bagi mereka untuk sampai ke derajat para nabi. Bahaya Ketiga: Sikap sebagian kalangan tarekat yang fanatik yang menganggap wirid tarekatnya lebih utama daripada zikir-zikir yang berasal dari Rasulullah r. Kalau sudah begitu, mereka akan terjerumus pada sikap penentangan dan meninggalkan sunnah nabi seraya sibuk dengan wirid yang berasal dari tarekat mereka. Artinya, mereka mengambil sikap kurang peduli terhadap sunnah nabi sehingga terperosok ke dalam jurang kebinasaan. Telah kami tegaskan pada banyak al-Kalimât dan telah dijelaskan pula oleh para ulama tarekat seperti Imam Ghazali dan imam Rabbani bahwa “Mengikuti satu sunnah yang diterima oleh


786

AL-MAKTÛBÂT

Allah lebih mulia daripada seratus ritual dan ibadah khusus. Sebab, sebagaimana satu ibadah wajib lebih mulia daripada seribu amalan sunnah, satu sunnah Nabi r juga lebih tinggi posisinya daripada seribu adab dan ritual dalam tasawuf.” Bahaya Keempat: Sebagian salik yang berlebihan terhadap tarekat memiliki anggapan keliru bahwa ilham memiliki tingkatan yang sama dengan wahyu. Begitu juga anggapan bahwa ilham merupakan salah satu bagian dari wahyu yang membuat mereka terjerumus ke dalam wilayah berbahaya. Kami telah menerangkan dalam “Kalimat Kedua Belas” dan “Kalimat Kedua Puluh Lima” yang berkaitan dengan kemukjizatan al-Qur’an, serta dalam risalah yang lain bahwa wahyu memiliki posisi yang tinggi, mulia, dan terang, sedangkan ilham dibandingkan dengannya bersifat terbatas dan redup. Bahaya Kelima: Sebagian ahli sufi yang tidak memahami rahasia tarekat—dalam kedudukannya sebagai sarana; bukan sebagai tujuan—terkadang mereka tertarik dan mengarah kepada karamah dan dzauq spiritual yang diberikan kepada mereka sebagai sebuah pemberian dari Allah dan bukan sesuatu yang bisa diminta. Pasalnya, Allah memberikan hal itu dengan tujuan untuk memberi kekuatan kepada kaum yang lemah, sebagai motivasi bagi mereka yang malas, dan juga untuk menghilangkan kesulitan dan rasa jenuh yang mereka rasakan setelah aktifi tas ibadah yang terus-menerus. Mereka terperangkap dalam sikap lebih mengutamakan karamah daripada kewajiban agama dan amalan-amalannya serta bacaan zikir dan wirid. Akhirnya mereka terjerumus ke dalam jurang bahaya. Telah kami jelaskan secara global dalam poin yang ketiga dari “talwih keenam” di atas dan dalam sejumlah al-Kalimât bahwa dunia ini merupakan tempat untuk beramal dan mengabdi; bukan tempat untuk meraih pahala dan balasan. Siapa yang ingin memetik buah dari amalannya di kehidupan dunia yang fana ini, pada hakikatnya ia menukar pahala dan balasan akhirat yang kekal dengan balasan dan ganjaran dunia yang fana. Selain itu, hal ini menunjukkan bahwa ia masih memiliki keterpautan dengan dunia dan keinginan bersenang-senang dengannya. Sikap


Surat Kedua Puluh Sembilan

787

ini akan memadamkan rasa rindu pada kehidupan akhirat. Namun mereka menginginkan dunia, sebab di dalamnya mereka telah mendapat sebagian dari buah akhirat. Bahaya Keenam: Sebagian salik yang bukan ahli hakikat seringkali terjerumus ke dalam jurang bahaya dengan menganggap bayangan dari sejumlah tingkat kewalian dan miniaturnya sebagai tingkatan hakiki, universal, dan asli. Kami telah menjelaskannya pada ‘dahan kedua’ dari “Kalimat Kedua Puluh Empat” dan juga pada “Kalimat-kalimat” yang lain bahwa meski bayangan matahari banyak sebanyak cermin tempat ia memantul, bayangan tersebut memiliki cahaya dan panas, namun bukan cahaya dan panas yang asli. Ia adalah cahaya semu jika dibandingkan dengan matahari yang sebenarnya. Begitu juga dengan derajat kenabian dan wali agung, ia memiliki sebagian bayangan yang oleh pengikut tarekat dapat dijadikan tempat berteduh. Akan tetapi, saat mereka masuk ke dalamnya, mereka menganggap bahwa mereka lebih mulia daripada para wali, bahkan daripada para nabi (naudzu billah) sehingga mereka pun terjatuh ke dalam jurang bahaya. Agar dapat menyelamatkan diri dari bahaya tersebut, mereka wajib menjadikan dasar-dasar keimanan dan syariat sebagai pegangan dan petunjuk. Selain itu, mereka wajib melawan dan menentang perasaan serta apa yang mereka saksikan saat semua itu bertentangan dengan dasar-dasar iman. Bahaya Ketujuh: Sebagian para pecinta dan perindu dari kalangan pengikut tarekat seringkali terjerumus ke dalam jurang bahaya disaat mereka menunjukkan kebanggaan, membuat pengakuan, menyebarkan syatahât, mengharap penghargaan orang, serta menjadi rujukan agama. Mereka lebih perhatian pada hal ini daripada bersyukur, bersimpuh, memuji Allah, dan tidak bergantung pada manusia. Padahal, sikap ubudiyah yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad r merupakan ubudiyah tertinggi, yaitu ubudiyah yang bisa disebut dengan mahbubiyyah (ubudiyah yang dilandasi dengan cinta Allah).


788

AL-MAKTÛBÂT

Asas dan inti dari ubudiyah ialah bersimpuh, memuji, berdoa, khusyuk, merasa lemah di hadapan-Nya, dan tidak bergantung pada manusia. Hanya dengan cara seperti ini, ia bisa sampai pada kesempurnaan hakikat tersebut; yaitu hakikat ubudiyah. Sebagian wali agung—secara tanpa sengaja karena lepas kendali yang bersifat sementara—terkadang jatuh pada rasa bangga, ingin diakui, dan memiliki syatahât. Karena itu, mereka tidak boleh diikuti dalam kondisi ini saja, sebab mereka adalah orang yang berada dalam jalan hidayah. Namun, pada saat mereka berada dalam kondisi ini, mereka tidak boleh dijadikan panutan, sehingga tidak boleh berjalan mengikuti mereka atau meneladani mereka. Bahaya Kedelapan: Sekelompok pengikut tarekat yang tergesa-gesa dan ingin meraih keuntungan pribadi seringkali terjerumus ke dalam jurang bahaya, karena ingin mendapat hasil dari kedudukan kewaliannya di dunia daripada di akhirat. Ketika sikap mereka menampakkan keinginan ini dan niat mereka terungkap, mereka benar-benar terjerumus di dalamnya. Padahal terdapat banyak ayat seperti yang berbunyi, “Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya,” (QS. Ali Imrân [3]: 185) yang menunjukkan secara jelas apa yang telah ditegaskan sebelumnya di dalam sejumlah “Kalimat” bahwa satu buah saja yang disediakan di alam akhirat jauh lebih bernilai daripada seribu kebun buah yang ada di dunia yang fana. Oleh karena itu, lebih baik tidak mengambil balasan tersebut di dunia ini. Kalau kemudian ia didapat tanpa kita minta dan tanpa ada keinginan dari kita, kita wajib bertahmid dan bersyukur dalam menerimanya; bukan dengan perasaan bahwa itu adalah balasan atas amal kita, akan tetapi dengan perasaan bahwa itu adalah anugerah dan karunia yang diberikan oleh Allah sebagai motivasi.

Talwih Kesembilan Kami akan menyebutkan secara global sembilan hasil dan manfaat dari sekian banyak manfaat tarekat: Manfaat Pertama: Tersingkapnya hakikat keimanan secara jelas hingga sampai pada tingkatan áinul yaqin melalui peran-


Surat Kedua Puluh Sembilan

789

taraan tarekat yang benar dan lurus. Hakikat keimanan ini merupakan kunci dan sumber bagi kekayaan abadi yang terdapat di kebahagiaan abadi. Manfaat Kedua: Mewujudkan hakikat manusia yang hakiki, karena seluruh perangkat jiwanya mengarah kepada tujuan penciptaan. Hal itu terwujud dengan cara menjadikan tarekat sebagai wasilah untuk menggerakkan hati manusia yang merupakan pusat kontrol bagi dirinya. Dengan begitu, banyak dari perangkat jiwanya yang bergerak dan muncul sehingga terwujudlah hakikat manusia yang sebenarnya. Manfaat Ketiga: Selamat dari kesepian dan kesendirian dalam perjalanan spiritual serta mendapatkan ketenangan maknawi dalam kehidupan dunia dan alam barzakh dengan menapaki salah satu rangkaian tarekat dalam perjalanannya menuju alam barzakh dan akhirat. Selain itu, ada hubungan kesetiaan dan rasa cinta dengan kafi lah tersebut dalam perjalanan menuju kehidupan yang kekal abadi. Dengan begitu, semua asumsi dan syubhat akan terbuang jauh dengan bersandar pada kesepakatan mereka yang memosisikan setiap mursyid sebagai hujjah yang kuat untuk menepis kesesatan dan ilusi yang mengotori akal. Manfaat Keempat: Terbebas dari kegalauan yang mengepungnya di kehidupan dunia dan jauh dari keterasingan yang pedih yang ia rasakan di alam ini. Hal itu karena seorang salik merasakan dzauq makrifatullah dalam iman dan mahabbatullah dalam makrifat tadi melalui tarekat yang bersih dan suci. Telah kami sebutkan sebelumnya dalam sejumlah “al-Kalimat� bahwa kebahagiaan dunia akhirat, kenikmatan yang tanpa kepedihan, ketenangan yang tanpa kegalauan, dzauq hakiki dan kebahagiaan hakiki hanya terdapat pada hakikat keimanan dan keislaman. Kami juga telah menjelaskan dalam “Kalimat Kedua� bahwa keimanan mengandung benih pohon Tuba di surga. Ya, lewat tarbiyah yang terdapat di dalam tarekat, benih tersebut akan tumbuh dan besar. Manfaat Kelima: Merasakan berbagai hakikat halus yang tersembunyi dalam setiap kewajiban syariat lewat terjaganya hati


790

AL-MAKTÛBÂT

melalui zikir yang rutin dan manhaj tarbiyah yang dipakai oleh tarekat. Dengan begitu, ibadah dan ketaatan dilaksanakan dengan penuh kerinduan; bukan sebagai aktivitas yang melelahkan dan membebani. Manfaat Keenam: Meraih maqam tawakkal, ridha, dan pasrah yang merupakan sarana untuk mencapai dzauq hakiki, pelipur lara yang sebenarnya, kenikmatan yang tidak bercampur dengan rasa sedih, dan ketenangan yang tidak dikotori oleh kegalauan. Manfaat Ketujuh: Selamat dari syirik samar, riya, dan keburukan semacamnya. Hal itu bisa didapat dengan keikhlasan yang merupakan syarat dan buah paling utama yang harus dimiliki oleh para peniti jalan tarekat. Juga terbebas dari hawa nafsu dan sifat ego lewat penyucian jiwa yang merupakan esensi amalan dalam tarekat. Manfaat Kedelapan: Menjadikan rutinitas hariannya sebagai ibadah, dan amalan dunianya sebagai amalan akhirat. Juga, mempergunakan modal usianya berikut menit demi menitnya sekaligus menjadikannya sebagai benih yang akan tumbuh mekar menjadi bunga-bunga kehidupan akhirat. Ini semua terwujud dengan zikir hati yang rutin, tafakkur, menghidupkan hati, menumbuhkan niat yang jujur dan tekad yang kuat, yang semuanya merupakan ajaran dari tarekat. Manfaat Kesembilan: Beramal untuk sampai pada derajat manusia yang sempurna (insan kamil). Hal itu dengan kondisi hati yang selalu mengarah kepada Allah selama perjalanan suluk, di saat menjalani olah spiritual, dan di waktu proses peningkatan kehidupan maknawinya. Yaitu menjadi mukmin yang hakiki dan muslim yang sempurna. Yakni, merasakan hakikat iman dan Islam; bukan sekadar tampilan luarnya saja. Kemudian dengan itu manusia sebagai representasi alam semesta menjadi hamba yang hanya mengabdi kepada Sang Pencipta yang Mahaagung, menjadi mitra bicara-Nya, menjadi wali dan hamba yang dekat dengan-Nya, menjadi cermin manifestasi Allah I dan benar-benar menjadi makhluk yang paling sempurna. Ia menjadi bukti bah-


Surat Kedua Puluh Sembilan

791

wa manusia lebih utama daripada malaikat. Begitulah, ia terbang dengan sayap iman dan amal syariat menuju derajat yang tinggi. Ia menatap kebahagiaan abadi di dunia ini, bahkan ia masuk ke dalam kebahagiaan tersebut.


792

AL-MAKTÛBÂT

LAMPIRAN

Lampiran yang sangat singkat ini sangat penting dan bermanfaat untuk semua. Untuk sampai kepada Allah I terdapat banyak jalan. Sumber seluruh jalan yang benar adalah al-Qur’an al-Karim. Hanya saja, dari semua jalan tersebut ada jalan-jalan yang lebih singkat, lebih selamat, dan lebih luas. Meski pemahamanku terbatas, aku telah mengambil dari limpahan karunia al-Qur’an sebuah jalan. Yaitu: jalan ketidakberdayaan, kefakiran, kasih sayang, dan tafakkur. Ya, sama seperti kerinduan, ketidakberdayaan merupakan jalan yang bisa mengantar menuju Allah. Bahkan ia lebih selamat. Pasalnya, ia mengantarkan kepada cinta-Nya lewat jalan ubudiyah. Begitupun kefakiran bisa mengantar menuju nama Allah, ar-Rahman. Sama seperti kerinduan, kasih sayang bisa mengantar menuju Allah. Hanya saja, perjalanannya lebih cepat dan cakupannya lebih luas. Kasih sayang bisa mengantar pada nama Allah, ar-Rahîm. Tafakkur juga sama seperti kerinduan. Hanya saja ia lebih kaya dan lebih bersinar. Pasalnya, ia mengantar kepada nama Allah, al-Hakîm. Jalan ini berbeda dari jalan yang dilalui oleh ahli suluk pada jalan khafâ’ yang memiliki sepuluh langkah (seperti sepuluh latîfah) dan jalan jahr yang memiliki tujuh langkah sesuai dengan tujuh jenis nafsu. Sementara jalan ini hanya berupa empat langkah saja. Ia lebih kepada hakikat syar’i daripada tarekat sufi . Jangan sampai kalian salah paham. Yang dimaksud dengan ketidakberdayaan, kefakiran, dan ketidaksempurnaan di sini adalah menampilkan itu semua di hadapan Allah I; bukan di hadapan manusia. Adapun wirid dan zikir jalan yang singkat ini adalah (1) mengikuti sunnah Nabi 2) ,r) menunaikan kewajiban, terutama mendirikan shalat dengan rukun-rukunnya, (3) membaca zikir


Surat Kedua Puluh Sembilan

793

sesudah shalat, dan (4) meninggalkan dosa besar. Sumber dari semua langkah ini adalah al-Qur’an. Yaitu: 1.

Firman Allah I:

“Jangan menganggap diri kalian suci.” (QS. an-Najm [53]: 32). Ayat ini mengarah kepada langkah pertama. 2.

Firman Allah I:

“Jangan kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. al-Hasyr [59]: 19). Ayat ini mengarah kepada langkah kedua. 3.

Firman Allah I:

“Kebaikan yang kau terima berasal dari Allah, sementara keburukan yang kau terima berasal dari dirimu.” (QS. an-Nisa [4]: 79). Ayat ini mengarah kepada langkah ketiga. 4.

Firman Allah I:

“Segala sesuatu binasa kecuali Dzat-Nya.” (QS. al-Qashash [28]: 88). Ayat ini mengarah kepada langkah keempat. Penjelasan ringkas mengenai keempat langkah tersebut sebagai berikut:

Langkah Pertama Ia seperti yang disebutkan oleh ayat:

“Jangan menganggap diri kalian suci.”


794

AL-MAKTÛBÂT

Yaitu tidak merasa diri sudah bersih dan suci. Hal itu karena sesuai watak dan fi trahnya, manusia mencintai dirinya sendiri. Bahkan itulah yang pertama kali ia cintai. Ia rela mengorbankan segala sesuatu untuk dirinya. Ia berikan pada dirinya pujian yang hanya layak untuk Tuhan. Ia kultuskan dirinya dan ia bebaskan dari segala aib. Bahkan ia tidak menerima adanya kekurangan untuk dirinya. Ia sangat membela dirinya dengan sangat kuat lewat kecintaan yang berlebihan. Sehingga sejumlah perangkat yang Allah berikan untuk bertahmid dan menyucikan Dzat yang layak disembah, ia alihkan kepada dirinya. Akhirnya ia seperti yang digambarkan oleh al-Qur’an, “Orang yang menuhankan hawa nafsunya.” (QS. al-Furqan [25]: 43). Ia kagum pada dirinya. Karenanya, hal tersebut perlu dibersihkan dan disucikan. Cara menyucikannya adalah dengan tidak menganggapnya suci.

Langkah Kedua Ia seperti pelajaran yang diberikan oleh ayat:

“Jangan kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” Hal itu karena manusia kerap lupa dan lalai kepada dirinya. Ketika ingat mati, ia mengalihkannya kepada yang lain. Ketika melihat kondisi fana, ia mengembalikannya kepada orang lain. Seolah-olah itu tidak terkait dengannya sama sekali. Pasalnya, sesuai tuntutannya, nafsu ammârah mengingat dirinya saat pengambilan upah dan bagian, namun di sisi lain melupakan dirinya saat penunaian tugas dan beramal. Maka, cara membersihkan dan mentarbiyah nafsu pada langkah ini adalah dengan mengamalkan kondisi sebaliknya. Yaitu tidak lupa di saat lupa diri. Dengan kata lain, lupa meraih kesenangan dan upah untuk diri, serta memikirkan diri saat pengabdian dan kematian.


Surat Kedua Puluh Sembilan

795

Langkah Ketiga Ia seperti yang dijelaskan oleh ayat:

“Kebaikan yang kau terima berasal dari Allah, sementara keburukan yang kau terima berasal dari dirimu.” Hal itu karena nafsu manusia selalu ingin menisbatkan kebaikan kepada dirinya sehingga mengantarkan kepada sikap ujub dan sombong. Maka, pada langkah ini seseorang hendaknya hanya melihat kekurangan, ketidakberdayaan, dan kefakiran dirinya, serta melihat semua kebaikan dan kesempurnaannya sebagai karunia Penciptanya Yang Mahaagung. Ia terima hal itu sebagai karunia dari-Nya seraya bersyukur sebagai ganti dari sikap bangga diri, dan memuji Allah sebagai ganti dari memuji diri. Cara menyucikan diri di tingkatan ini terdapat pada rahasia ayat, “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya.” (QS. asy-Syams [91]: 9). Yaitu mengetahui bahwa kesempurnaannya terletak pada ketidaksempurnaannya, kemampuannya terletak pada ketidakberdayaannya, dan kekayaannya terletak pada kefakirannya.

Langkah Keempat Ia adalah apa yang diajarkan oleh ayat:

“Segala sesuatu binasa kecuali Dzat-Nya.” Hal itu karena diri manusia merasa merdeka dan mandiri. Karenanya, ia menganggap memiliki semacam kekuasaan rububiyah dan menyimpan sifat pembangkangan terhadap Dzat yang layak disembah. Dengan mengenal hakikat berikut, manusia akan selamat darinya. Yaitu dari sisi makna ismi segala sesuatu bersifat fana, baru, dan tiada. Namun dilihat dari makna harfi dan kedudukannya sebagai cermin yang memantulkan nama-nama Sang Pencipta serta dilihat dari tugas dan fungsinya, ia menjadi saksi dan yang disaksikan, serta menjadi pengada dan yang diadakan.


796

AL-MAKTÛBÂT

Nah dalam hal ini, cara menyucikannya adalah dengan mengetahui bahwa ketiadaannya terletak pada keberadaannya, dan keberadaannya terletak pada ketiadaannya. Maksudnya, bila melihat dirinya dan memberikan sifat ada pada wujudnya, berarti ia tenggelam dalam gelap ketiadaan seluas jagad raya. Yaitu ketika ia lalai terhadap Dzat yang menghadirkannya, Allah, dan bersandar pada wujudnya sendiri, maka ia melihat dirinya sendirian tenggelam dalam gelapnya perpisahan dan ketiadaan yang tak bertepi laksana kunang-kunang dalam cahayanya yang redup di gelap malam yang pekat. Akan tetapi, ketika ia meninggalkan sikap ego, ia akan melihat dirinya sebagai sesuatu yang tiada. Ia hanya cermin yang memantulkan manifestasi Penciptanya yang hakiki. Dengan begitu, ia mendapatkan wujud tak bertepi dan meraih wujud seluruh makhluk. Ya, siapa yang menemukan Allah, maka ia menemukan segala sesuatu. Sebab, seluruh entitas hanyalah manifestasi dari nama-nama-Nya yang mulia.

PENUTUP Jalan yang terdiri dari empat langkah ini: ketidakberdayaan, kefakiran, kasih sayang, dan tafakkur telah dijelaskan pada dua puluh enam kalimat dari kitab al-Kalimât yang membahas tentang ilmu hakikat, hakikat syariat, dan hikmah al-Qur’an al-Karim. Di sini kami hanya ingin memberikan penjelasan singkat tentang beberapa poin sebagai berikut: Jalan ini merupakan jalan yang paling singkat. Pasalnya, ia hanya terdiri dari empat langkah. Bila ketidakberdayaan tertanam dalam diri, ia akan segera diserahkan kepada al-Qadîr Yang Mahaagung. Namun bila kerinduan yang menguasai diri—sebagai jalan yang paling pintas menuju Allah—ia akan bergantung pada kekasih majasi. Ketika ia melihatnya pergi, barulah sampai pada kekasih hakiki. Kemudian jalan ini juga paling selamat. Karena, padanya diri tidak memiliki syatahât atau klaim di luar kemampuan. Sebab, yang dilihat seseorang pada dirinya hanya ketidakberdayaan, kefakiran, dan ketidaksempurnaan, sehingga tidak melampaui batas.


Surat Kedua Puluh Sembilan

797

Lalu jalan ini juga bersifat luas dan besar. Pasalnya, ia tidak perlu menafi kan entitas dan tidak perlu memenjarakannya di mana penganut wahdatul wujud menganggap entitas tiada. Mereka berkata, “Tiada yang ada kecuali Dia,” untuk mencapai ketenangan dan kehadiran hati. Begitu pula dengan penganut wahdatusy syuhûd. Mereka memenjarakan entitas dalam penjara kealpaan. Mereka berkata, “Tiada yang terlihat kecuali Dia,” untuk sampai kepada ketenangan qalbu. Adapun al-Qur’an, dengan sangat jelas, menjauhkan entitas dan makhluk dari penafi an serta melepaskan ikatannya dari penjara. Jalan yang sesuai dengan pendekatan al-Qur’an ini melihat alam sebagai sesuatu yang tunduk pada Penciptanya Yang Mahaagung sekaligus berkhidmah untuk-Nya. Ia merupakan wujud manifestasi asmaul husna laksana cermin yang memantulkan manifestasi tadi. Artinya, ia dipergunakan dengan makna harfi sehingga tidak berkhidmah dan tunduk dengan sendirinya. Dengan demikian, manusia akan selamat dari kelalaian dan kalbunya selalu hadir sesuai dengan pendekatan al-Qur’an al-Karim. Ia pun menemukan jalan menuju Allah dari segala arah.

Kesimpulan Jalan ini tidak melihat entitas dengan makna ismi. Yakni, tidak melihatnya sebagai pesuruh yang tunduk dengan sendirinya untuk dirinya. Namun, ia membebaskan entitas dari semua itu, dan mempersandangkan untuknya sebuah tugas, serta melihatnya sebagai pesuruh yang tunduk kepada Allah I.

‫٭٭٭‬


SURAT KETIGA PULUH

Yaitu Isyârât al-I’jâz fî Mazhân al-Îjâz dalam bahasa Arab

‫٭٭٭‬ SURAT KETIGA PULUH SATU

Telah terbagi menjadi tiga puluh satu cahaya yang terkumpul dalam kitab al-Lama’ât

‫٭٭٭‬ SURAT KETIGA PULUH DUA

Yaitu al-Lawami’ yang tercantum pada penutup al-Kalimât

‫٭٭٭‬ SURAT KETIGA PULUH TIGA

Risalah “Jendela Tauhid” yang mengarah pada Makrifat Ilahiyah. Ia termuat dalam kitab al-Kalimât dan tidak dimasukkan di sini.

‫٭٭٭‬


BENIH-BENIH HAKIKAT559 (al-Hikam al-Badi’iyyah)

Penjelasan Sejak beberapa waktu yang lalu, pamanku, Badiuzzaman, tidak lagi membahas masalah dengan rasio, tetapi dengan hati. Apa yang terlintas dalam hatinya, ia diktekan kepadaku. Ia berkata, “Ilmu adalah apa yang tertanam di dalam hati. Kalau hanya tertanam di akal, ia bukan milik manusia.” Ia pun berkata, “Berbagai masalah ini bukan hanya persoalan ilmiah. Namun, sesuatu yang dirasakan oleh hati lewat sejumlah prinsip dari rambu-rambu kalbu.” Ia menyuruhku, “Pilihlah dari apa yang terlintas dalam hatiku sesuatu yang menarik bagimu!” Maka, aku pun menuliskan sejumlah alinea ini lewat karyanya sebagai berikut: Secercah cahaya makrifatullah, isyarat al-I’jaz fi Mazhân al-Îjâz, sânihât, kilau-kilau makrifat Nabi, Rumuz, Tulû’ât, Muhâkamât, Munâzharât, Isyârât, dan Kizil I’jâz. 560 Abdurrahman

1.

Era yang sakit, unsur yang luka, dan organ yang cedera, resepnya adalah mengikuti al-Qur’an.

Sayyid Abdurrahman (keponakan Ustadz Nursi) menamakan risalah ini Sânihât Badiuzzaman dan dicetak dalam dua bagian. Pertama pada tahun 1920 M, dan yang kedua pada tahun 1923 M. 560 Dari cetakan pertama yang dicetak di penerbit al-Awqaf al-Islamiyyah, Istanbul, tahun 1337 M. 559


802

2.

3.

4.

5. 6. 7.

8.

9.

AL-MAKTÛBÂT

Benua yang luas dan besar, namun kondisinya buruk. Negara yang ternama, namun nasibnya malang. Umat yang terhormat dan mulia, tapi tanpa pemimpin. Resepnya adalah persatuan Islam. Orang yang tidak memiliki kepalan yang kuat untuk menahan beban bumi, bintang, dan mentari serta tidak mampu menggerakkannya seperti biji tasbih, ia tidak bisa mengaku sebagai pencipta. Sebab, segala sesuatu terpaut dengan yang lain. Menghidupkan seluruh makhluk pada hari kebangkitan tidaklah berat bagi qudrah Ilahi sebagaimana juga tidak berat menghidupkan dan menciptakan serangga setelah tidur nyenyak sepanjang musim semi yang menyerupai kematian. Pasalnya, qudrah Ilahi bersifat dzati dan tidak berubah. Ia tidak bercampur dengan kelemahan dan tidak dimasuki hambatan, serta tidak memiliki tingkatan. Segala sesuatu sama bagi Allah. Dzat yang menciptakan mata nyamuk adalah Dzat yang juga menciptakan matahari. Dzat yang mengatur sistem pencernaan kutu adalah Dzat yang juga mengatur sistem tata surya. Dalam menata alam terdapat mukjizat yang cemerlang. Kalau kita berandai-andai bahwa semua sebab alam berbuat sesuai kehendaknya dan memiliki kuasa, tentu seluruh sebab tadi bersujud dengan segenap kelemahannya di hadapan mukjizat tersebut seraya berkata, ( ) “Mahasuci Engkau. Kami tidak memiliki qudrah. Engkau Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.� Seluruh sebab tidak memberi pengaruh hakiki. Begitulah tuntutan dari keesaan dan keagungan-Nya. Hanya saja, sebab-sebab yang ada telah menjadi tirai di hadapan qudrahNya. Begitulah tuntutan kemuliaan dan keagungan Tuhan. Hal itu agar tangan qudrah Tuhan secara lahiriah tidak terlihat langsung menangani berbagai urusan yang sepele. Sisi malakut yang menjadi tempat terpautnya qudrah Ilahi pada segala sesuatu bersifat jelas dan bersih.


Benih-benih Hakikat

10. 11.

12.

13.

14.

15.

803

Alam inderawi adalah tirai dekoratif yang menutupi alam gaib. Untuk menciptakan satu titik di tempatnya yang benar harus ada qudrah mutlak yang mampu menciptakan seluruh alam. Hal itu karena setiap huruf kitab alam yang besar ini, apalagi yang bernyawa, memiliki sisi yang mengarah kepada setiap kalimat kitab tersebut dan memiliki mata yang menatap kepadanya. Terdapat sebuah kisah terkenal, yaitu ketika orang-orang mengamati hilal hari raya dan tidak ada yang melihat, tiba-tiba seorang yang sudah lanjut usia bersumpah bahwa ia melihat hilal. Namun ternyata apa yang ia lihat bukan hilal, tetapi bulu putih yang turun melengkung dari alisnya. Sungguh jauh perbedaan antara bulu dan hilal. Juga, sungguh jauh perbedaan antara gerak partikel dan Dzat yang membentuk seluruh spesies. Alam merupakan tempat percetakan, bukan pencetak. Ia ukiran; bukan pengukir. Ia objek; bukan subjek. Ia hanya mistar; bukan sumber perbuatan. Ia hanya sistem dan tatanan; bukan penata. Ia hanya aturan; bukan pembuat aturan. Serta ia hanya syariat yang dikehendaki-Nya; bukan hakikat eksternal. Daya tarik dan ketertarikan yang terdapat di dalam jiwa, sebagai sebuah fi trah, tidak lain merupakan tarikan hakikat yang sangat menarik. Fitrah tidak berdusta. Dalam benih terdapat kecenderungan untuk tumbuh. Bila berkata, “Aku akan tumbuh dan berbuah,” maka ia benar. Dalam telur juga terdapat kecenderungan untuk hidup. Bila berkata, “Aku akan menjadi anak ayam” sehingga hal itu benar-benar terwujud dengan izin Allah, maka ia benar. Ketika kecenderungan membeku pada air, ia berkata, “Aku akan menempati area yang lebih luas” maka meskipun keras, besi tidak bisa mendustakannya. Bahkan kebenaran ucapannya akan memecah besi. Semua kecenderungan di atas adalah manifestasi perintah penciptaan yang bersumber dari kehendak Ilahi.


804

16.

17.

18.

19.

20.

AL-MAKTÛBÂT

Qudrah azali yang tidak membiarkan semut tanpa pemimpin dan lebah tanpa si pejantan, juga tidak membiarkan manusia tanpa kehadiran seorang nabi. Sebagaimana terbelahnya bulan merupakan mukjizat Muhammad r bagi manusia di alam nyata, mi’raj juga merupakan mukjizat Muhammad r yang terbesar bagi malaikat dan makhluk spiritual lain di alam malakut. Wilâyah kenabian beliau telah diperkuat oleh karamah yang cemerlang ini. Pribadi beliau yang bersinar laksana obor terang, kilat, dan bulan purnama di alam malakut. Dua kalimat syahadat antara yang satu dengan yang lain saling menguatkan. Kalimat pertama menjadi petunjuk deduktif bagi yang kedua. Kalimat kedua juga menjadi petunjuk induktif atas yang pertama.561 Kehidupan merupakan satu bentuk manifestasi keesaan pada pluralitas makhluk. Karena itu, ia mengarah kepada kesatuan. Kehidupan menjadikan sesuatu yang satu menguasai segala sesuatu. Ruh merupakan hukum yang memiliki wujud eksternal dan aturan yang memiliki perasaan. Ia bersumber dari alam perintah dan sifat iradah Tuhan sama seperti berbagai hukum alamiah yang bersifat permanen. Qudrah Ilahi membungkusnya dengan wujud inderawi dan menjadikan unsur yang lembut sebagai kulit bagi substansi tersebut. Ruh yang ada merupakan saudara bagi hukum rasional. Keduanya bersifat permanen dan berasal dari alam perintah. Andaikan qudrah azali membungkus hukum berbagai spesies dengan wujud eksternal, tentu ia menjadi ruh. Andaikan ruh melepaskan wujud dan membuang perasaannya, tentu ia juga menjadi hukum yang tidak mati. Berbagai entitas dapat terlihat dengan adanya “cahaya”. Sementara wujud entitas dikenal dengan adanya “kehidupan”. Keduanya merupakan alat penyingkap.

561 Ketahuilah bahwa pembuktian ada dua; deduktif dan induktif. Pembuktian deduktif adalah proses membuktikan sesuatu dengan cara menjadikan sebab sebagai bukti atas adanya akibat. Misalnya, api membuktikan adanya asap. Sementara pembuktian induktif adalah proses membuktikan sesuatu dengan cara menjadikan akibat sebagai bukti atas adanya sebab. Misalnya, asap menjadi bukti atas adanya api (Isyârât al-I’jâz fî mazhân al-Îjâz, hlm. 46).


Benih-benih Hakikat

21.

22.

23.

24. 25.

26.

805

Agama nasrani pada akhirnya akan meletakkan senjata dan menerima Islam, entah lewat “peredaman” atau “pemurnian”. Agama nasrani beberapa kali terkoyak hingga melahirkan protestan. Protestan juga terkoyak dan mendekat pada tauhid. Iapun sudah bersiap untuk terkoyak lagi. Bisa jadi dengan “meredam” dan akhirnya padam, atau dengan menemukan berbagai hakikat Islam yang berisi sejumlah prinsip agama Nasrani yang benar sehingga menerimanya. Rasul r mengisyaratkan rahasia agung ini dengan sabda akan turun, akan menjadi umatku, dan akan beliau, “Isa mengamalkan syariatku.” Yang menggiring mayoritas orang awam untuk taat dan menjalankan perintah adalah kesucian yang melekat pada sumber rujukan. Kesucian inilah yang menggiring mayoritas orang awam untuk lebih bisa tunduk daripada kekuatan petunjuk dan argumen. 90% persoalan syariat yang merupakan hal pokok dan aksiomatik, semuanya merupakan pilar berlian. Adapun persoalan ijtihad yang diperselisihkan hanya sekitar 10%. Jangan sampai 90 pilar berlian itu berada di bawah perlindungan sepuluh lainnya yang berasal dari emas. Kitab-kitab fi kih dan ijtihad harus menjadi teropong dan cermin untuk melihat al-Qur’an; bukan bayangan dan pengganti darinya. Orang yang memiliki kemampuan berijtihad bisa berijtihad untuk dirinya. Namun ia tidak bisa menetapkan syariat. Seruan kepada sebuah pemikiran bergantung pada penerimaan jumhur ulama terhadapnya. Bila tidak, ia tergolong bid’ah yang tertolak. Sebagai makhluk yang mulia secara fi trah, manusia selalu mencari kebenaran. Saat pencarian tersebut, kadang ia mendapat kebatilan yang kemudian ia simpan dan ia pelihara di dadanya dengan anggapan kebatilan tersebut merupakan kebenaran. Kadangkala pula saat sedang mencari hakikat kebenaran, namun tanpa sengaja ia jatuh pada kesesatan. Lalu hal itu ia sangka sebagai sebuah kebenaran sehingga ia pakai seperti memakai peci.


806

27.

28.

29.

30.

31. 32.

33.

AL-MAKTÛBÂT

Qudrah Ilahi memiliki banyak cermin. Yang satu lebih bening dan lebih halus daripada yang lain. Ia sangat beragam, mulai dari air hingga udara, dari udara hingga eter, dari eter hingga alam mitsal, dari alam mitsal hingga alam arwah, bahkan sampai kepada perjalanan zaman dan pemikiran. Pada cermin udara, satu kalimat menjadi jutaan kalimat. Pena qudrah menyalin rahasia reproduksi ini dalam bentuk yang menakjubkan. Pantulan tersebut bisa berisi identitas, atau berisi identitas dan substansi. Berbagai bentuk pantulan atau bayangan benda padat merupakan benda mati yang bergerak. Adapun berbagai pantulan atau bayangan ruh yang bercahaya pada cerminnya adalah makhuk hidup yang terpaut dengan kehidupan. Jika bukan aslinya, ia bukan selainnya. Ketika matahari bergerak pada porosnya, buahnya tidak jatuh. Namun bila tidak bergerak, maka planet yang merupakan buahnya akan jatuh dan berserakan. Cahaya pemikiran menyebarkan kegelapan selama tidak disinari dan tidak menyatu dengan cahaya kalbu. Sebagaimana bila siang mata yang putih yang tidak bersinar tidak menyatu dengan malamnya yang hitam, ia tidak menjadi mata yang melihat, demikian pula tidak ada bashirah bagi pikiran putih yang tidak disertai dengan kedalaman kalbu. Bila ilmu tidak disertai dengan ketundukan hati, ia adalah kebodohan. Pasalnya, komitmen dan keyakinan merupakan dua hal yang berbeda. Menggambarkan kebatilan dalam bentuk yang baik merupakan penyesatan bagi akal yang bening. Seorang ulama yang membimbing umat harus seperti kambing; bukan seperti burung. Kambing memberi susu kepada anaknya, sementara burung memberi muntahan makanan kepada anaknya. Keberadaan sesuatu bergantung pada keberadaan semua bagiannya. Sementara ketiadaan sesuatu bergantung pada ketiadaan satu bagian darinya. Karena itu, orang yang


Benih-benih Hakikat

34.

35.

36. 37.

38. 39.

40.

41.

42.

807

lemah cenderung merusak untuk menunjukkan kemampuannya. Ia melakukan berbagai hal negatif dan destruktif; bukan sesuatu yang positif dan konstruktif. Bila rambu-rambu hikmah tidak sejalan dengan aturan pemerintah, serta bila prinsip kebenaran tidak menyatu dengan ikatan kekuatan, ia tidak akan menghasilkan buah di tengah-tengah masyarakat. Kezaliman memakai peci keadilan, khianat mengenakan busana semangat patriotisme, jihad disebut sebagai pembangkangan, dan pengekangan disebut sebagai kebebasan. Begitulah semua bertukar bentuk. Politik yang tegak di atas kepentingan adalah binatang buas yang menakutkan. Cinta kepada sosok buas yang lapar tidak akan membuatnya simpati. Namun membuatnya semakin bernafsu di samping menuntut upah gigi taring dan kukunya. Zaman memperlihatkan bahwa surga tidak murah dan nerakapun sangat dibutuhkan. Keistimewaan kalangan elit yang mestinya bersikap tawaduk, justru menjadi sebab kesombongan dan kesewenang-wenangan. Lalu, kelemahan dan kefakiran kalangan jelata yang harusnya melahirkan sikap kasih sayang dan kedermawanan kepada mereka; justru membuat mereka ditawan dan ditindas. Bila sesuatu berisi kebaikan dan kemuliaan ia langsung diberikan dan dinisbatkan kepada kalangan elit. Namun bila berisi keburukan, ia langsung dilekatkan dan dinisbatkan kepada kalangan jelata. Bila pikiran tidak memiliki tujuan dan idealisme, atau tujuannya terlupakan, pikiran akan berubah menjadi “aku� individu dan berkutat padanya. Sumber hakiki kekacauan, kerusakan, dan semua akhlak tercela pada kehidupan sosial adalah dua kalimat berikut: a. Yang penting aku kenyang, tidak peduli yang lain mati kelaparan. b. Anda bekerja, saya makan.


808

AL-MAKTÛBÂT

Yang bisa mengobati kalimat pertama hanyalah “penerapan zakat”. Sementara obat bagi kalimat kedua adalah “pelarangan riba”. Keadilan al-Qur’an berdiri di pintu dunia seraya berkata kepada riba, “Dilarang! Engkau tidak boleh masuk!” Ketika umat manusia tidak lagi mendengar perintah tersebut, ia mendapat tamparan keras. Karena itu, ia harus mendengarnya sebelum tamparan yang lebih keras menerpa. 43.

44.

45.

46.

47. 48.

49.

Perang antar negara dan bangsa akan berganti dengan perang antar golongan dan kelas sosial. Pasalnya, sebagaimana manusia tidak rela menjadi tawanan, ia juga tidak rela menjadi budak upahan. Orang yang meniti jalan menuju tujuan dengan cara yang tidak dibenarkan seringkali dihukum dengan sesuatu yang menjadi kebalikan dari tujuannya itu. Balasan dari cinta yang tidak benar—seperti mencintai Eropa—adalah permusuhan dan pengkhianatan dari pihak yang dicinta. Melihat masa lalu dan musibah harus dengan kacamata “takdir”. Sementara melihat masa depan dan maksiat harus dengan perspektif taklif (kewajiban agama). Di sini paham jabariyah dan muktazilah mendapat titik temu. Tidak boleh merasa lemah dalam hal yang masih ada jalan keluarnya. Tidak boleh juga berkeluh kesah dalam hal yang tidak bisa diatasi sama sekali. Luka kehidupan bisa disembuhkan. Namun luka kemuliaan Islam dan kehormatan bangsa begitu dalam. Akan ada suatu masa di mana satu kata bisa menyeret pasukan masuk dalam perang, dan satu tembakan bisa membinasakan tiga puluh juta penduduk.562 Dan akan ada suatu kondisi di mana gerakan sederhana bisa membawa manusia menuju tingkatan yang paling tinggi; dan perbuatan sepele bisa menjatuhkannya ke tingkatan yang paling rendah. Satu benih kejujuran bisa melenyapkan segudang kebohongan. Sebuah hakikat lebih baik daripada segudang khayalan.

562 Satu tembakan seorang tentara yang diarahkan kepada putera mahkota Austria menjadi sebab pecahnya perang dunia pertama yang memakan korban sebanyak 30 juta penduduk—Penulis.


Benih-benih Hakikat

50.

51. 52.

53.

54. 55.

56.

57.

58.

809

Engkau harus jujur dalam setiap perkataan. Namun tidaklah tepat mengungkap semua kejujuran. Sebab, keharusan untuk jujur dalam setiap tutur kata, bukan berarti harus menuturkan semua kejujuran. Siapa yang melihat segala sesuatu dengan baik, akan berperangai dan berpikiran baik. Siapa yang berpikiran baik, ia akan menikmati hidup. Harapan membangkitkan manusia, sementara keputusasaan membunuh mereka. Daulah Islam ini yang sejak dulu memikul kewajiban jihad sebagai fardhu kifayah demi meninggikan kalimat Allah dan menjaga keberlangsungan kemerdekaan dunia Islam di mana ia laksana satu tubuh serta memposisikan diri sebagai tebusan bagi dunia Islam sekaligus pengibar panji khilafah, maka berbagai musibah yang dialaminya akan diganti dengan kebahagiaan yang menjadi kebanggaan dunia Islam. Musibah ini telah mempercepat lahirnya persaudaraan islam di berbagai penjuru dunia Islam; persaudaraan itulah yang merupakan substansi dan ruh kehidupan kita. Menisbatkan sejumlah pesona peradaban kepada agama Nasrani yang tidak berjasa di dalamnya, serta menisbatkan ketertinggalan sambil mengaitkan dengan Islam yang menjadi musuh baginya adalah bukti dari pemutarbalikan fakta. Sepotong berlian langka yang berkarat tetap lebih baik daripada sepotong kaca yang selalu berkilau. Orang-orang yang mencari segala sesuatu pada materi adalah mereka yang menaruh akalnya di mata. Sementara mata tidak bisa melihat hal yang bersifat maknawi. Ketika sebuah kiasan berpindah dari ilmuan ke orang tak berpengatahuan, ia akan berubah menjadi hakikat yang nyata dan membuka pintu menuju khurafat. Kebaikan yang melebihi kebaikan Ilahi bukanlah kebaikan. Pasalnya, segala sesuatu harus dideskripsikan sesuai dengan sifat yang melekat padanya. Popularitas membuat manusia memiliki sesuatu yang bukan miliknya.


810

59. 60. 61.

AL-MAKTÛBÂT

Hadis Nabi r merupakan sumber kehidupan dan mengilhami berbagai hakikat. Kebangkitan agama adalah kebangkitan bangsa. Sementara kehidupan agama adalah cahaya kehidupan. Al-Qur’an al-Karim yang merupakan rahmat bagi seluruh umat manusia, hanya bisa menerima peradaban yang menjamin kebahagiaan masyarakat secara umum atau minimal kebahagiaan mayoritas. Sementara peradabaan saat ini didirikan di atas lima pilar negatif: ▶ ▶ ▶ ▶

Titik sandarannya adalah kekuatan. Hal ini melahirkan pelanggaran dan tindakan yang melampaui batas. Tujuannya adalah kepentingan. Hal ini melahirkan persaingan. Prinsip hidupnya adalah pertarungan. Ini melahirkan pertikaian. Ikatan sosialnya berupa rasisme dan kesukuan yang berkembang secara masif dengan memangsa kelompok lain. Ia melahirkan benturan yang hebat. Pengabdian menariknya kepada umat adalah mendorong dan memenuhi keinginan hawa nafsu yang mendistorsi jati diri manusia secara maknawi.

Adapun peradaban yang dikandung dan diperintahkan oleh syariah Muhammad r adalah sebagai berikut: ▶

▶ ▶

Titik sandarannya adalah kebenaran sebagai ganti dari kekuatan. Hal ini melahirkan keadilan dan keseimbangan. Tujuannya adalah kemuliaan sebagai ganti dari kepentingan. Hal ini melahirkan cinta dan saling empati. Titik kesatuannya adalah ikatan agama, tanah air, dan kelompok; sebagai ganti dari ikatan ras dan suku. Hal ini melahirkan persaudaraan yang tulus, perdamaian sejati, serta kesiapan untuk membela saat ada serangan eksternal. Prinsip hidupnya adalah kerjasama; sebagai ganti dari pertarungan. Hal ini melahirkan persatuan dan solidaritas.


Benih-benih Hakikat

811

Ia mengikuti petunjuk sebagai ganti dari hawa nafsu. Hal ini membuat manusia naik secara spiritual ke tingkat kesempurnaan.

Karena itu, jangan engkau lepaskan Islam yang merupakan pelindung eksistensi kita dari genggamanmu. Berpegang eratlah padanya. Jika tidak, engkau akan binasa. 62.

63.

64.

65. 66. 67. 68.

69.

Musibah pada umumnya turun karena kesalahan sebagian besar manusia. Musibah adalah buah kejahatan dan sarana mendapat ganjaran. Orang yang mati syahid merasa dirinya masih hidup. Karena tidak merasakan sakaratul maut, ia melihat kehidupan yang ia korbankan sebagai sesuatu yang abadi dan tidak terputus. Hanya saja, kehidupan tersebut tampil dalam bentuk yang lebih baik dan lebih bersih. Keadilan al-Qur’an yang murni tidak menumpahkan darah orang yang tidak bersalah dan tidak mengorbankan kehidupannya, meskipun untuk kemaslahatan seluruh umat manusia. Sebagaimana keduanya sama dalam pandangan qudrah ilahi, dalam pandangan keadilan Tuhan keduanya juga sama. Akan tetapi, orang yang rakus dan ego menjadi sosok yang ingin melumat segala sesuatu tanpa pernah puas, bahkan meski dengan merusak alam dan spesies manusia. Rasa takut dan lemah mendorong datangnya pengaruh dari luar. Jangan mengorbankan maslahat yang pasti, hanya karena mafsadat yang masih bersifat asumsi. Politik Istanbul saat ini merupakan penyakit yang mirip dengan penyakit Spanyol.563 Banyak orang gila yang menjadi lebih baik ketika dikatakan padanya, “Engkau sehat, engkau baik-baik saja.” Sebaliknya, tidak aneh bila orang berakal menjadi sakit ketika dikatakan padanya, “Engkau sakit, engkau jahat.” Musuhnya musuh adalah teman selama ia musuh baginya. Sementara temannya musuh adalah musuh selama ia teman baginya.

563 Infl uenza (1918-1919) telah memakan banyak korban di mana lebih dari 20 juta orang di dunia kehilangan nyawa.


812

70.

71.

72.

73

74.

75.

76.

AL-MAKTÛBÂT

Ciri keras kepala adalah ketika setan membantu seseorang ia anggap setan itu sebagai malaikat dan iapun memohon rahmat untuknya; sebaliknya ketika melihat “malaikat” yang berbeda pendapat dengannya maka dianggap sebagai setan yang berubah bentuk sehingga ia laknat. Obat bagi sebuah penyakit bisa menjadi racun bagi penyakit yang lain. Bila obat itu telah melebihi batas (over dosis), ia akan berubah menjadi racun. Perhimpunan yang dibarengi dengan solidaritas dapat menjadi alat yang bisa memicu pergerakan. Sementara, komunitas yang diwarnai dengan kedengkian dapat menjadi alat yang bisa menghambat pergerakan. Bila tidak ada persatuan yang benar dalam jamaah, maka perkumpulan dan penambahan jamaah menjadi mengecil sama seperti perkalian pecahan dalam matematika. 564 Seringkali tidak bisa dibedakan antara “tidak menerima” dan “menerima ketiadaan”. Padahal dalil dari tidak menerima adalah karena tidak adanya dalil. Sementara menerima ketiadaan membutuhkan dalil ketiadaan. Yang satu (tidak menerima) merupakan keraguan, sementara yang lain (menerima ketiadaan) merupakan pengingkaran. Keraguan dalam sejumlah persoalan iman tidak berpengaruh pada objeknya, meski ketika sebuah dalil atau bahkan ratusan dalil dinafi kan. Pasalnya, masih terdapat ribuan dalil yang lain. Mengikuti mayoritas adalah suatu keharusan. Ketika kalangan Umawiyah bersandar pada mayoritas rakyat, pada akhirnya mereka masuk ke dalam golongan ahlu sunnah wal jamaah. Adapun karena kalangan Syi’ah bersandar pada minoritas, sebagian mereka masuk ke dalam golongan rafi dhah.

564 Seperti diketahui dalam matematika, bilangan bisa bertambah dengan perkalian atau penjumlahan. Misalnya 4 x 4 = 16. Akan tetapi bilangan tersebut menjadi kecil dengan perkalian dan penjumlahan pecahan. Misalnya hasil dari perkalian 1/3 x 1/3 = 1/9. Begitu pula yang terjadi dalam jamaah manusia bila persatuan tidak tegak di atas kejujuran dan istiqamah. Setiap kali bertambah, ia semakin mengecil dan semakin rusak—Penulis.


Benih-benih Hakikat

77.

78. 79.

80.

81.

82. 83.

84. 85.

813

Bila kesepakatan dalam hal “yang benar” menjadi perselisihan dalam hal “yang paling benar,” kadangkala “yang benar” tersebut lebih benar daripada sesuatu “yang paling benar tadi.” Yang baik juga menjadi lebih baik daripada yang paling baik. Setiap orang boleh berkata tentang manhajnya, “Ini benar, ini baik.” Akan tetapi, ia tidak boleh menganggap satu-satunya yang benar dan baik.” Andai tidak ada surga, tentu neraka tidak menyiksa. Ketika zaman semakin menua, al-Qur’an justru semakin muda, dan semakin jelas pula rambu-rambunya. Sebagaimana cahaya tampak seperti api, kadangkala balagah yang sangat kuat tampak seperti mubâlagah (kiasan yang berlebihan). Derajat panas tergantung dengan hawa dingin yang ada. Tingkat keindahan tergantung dari keburukan yang ada. Adapun qudrah ilahi yang azali bersifat asli, mandiri, melekat pada dzat-Nya. Karena itu, ia tidak dimasuki oleh kelemahan sehingga tidak ada tingkatan di dalamnya. Segala sesuatu sama baginya. Bayangan mentari yang merupakan manifestasi dari curahannya menjelaskan identitas yang sama di permukaan laut dan di setiap tetesannya. Kehidupan termasuk manifestasi dari tauhid yang berujung pada keesaan. Selama sosok wali di tengah manusia, waktu mustajab di hari jumat, Lailatul Qadr di bulan Ramadhan, nama Allah yang paling agung di antara asmaul husna, serta ajal pada usia tidak diketahui, maka ia akan terus bernilai dan berguna bagi seluruh individu. Dua puluh tahun dari usia yang misteri lebih baik daripada seribu tahun dari usia yang ujungnya sudah diketahui. Akibat dari maksiat di dunia menjadi petunjuk atas adanya hukuman di akhirat. Rezeki sangat penting dalam pandangan qudrah ilahi sama seperti pentingnya kehidupan. Qudrah ilahi mengeluarkan rezeki lalu takdir membungkusnya dengan pakaian terten-


814

86.

87.

88.

89.

90.

AL-MAKTÛBÂT

tu, perhatian-Nya memelihara dan menjaganya. Kehidupan telah diatur sedemikian rupa, dengan kata lain telah digariskan. Sementara rezeki tidak didapat seketika, tetapi berangsur-angsur, tersebar, dan membuat orang berpikir. Tidak ada yang mati karena lapar sebab seseorang tidak mungkin mati sebelum menghabiskan seluruh bahan yang tersimpan di tubuh. Jadi, sebab kematian adalah sakit yang berasal dari sikap meninggalkan kebiasaan; bukan karena tidak ada rezeki. Rezeki binatang buas pemakan daging adalah bangkai binatang yang tak terhingga jumlahnya. Ketika memakan rezekinya, pada waktu bersamaan ia juga membersihkan permukaan bumi. Sesuap makanan senilai satu sen, dan suapan lain senilai sepuluh sen. Keduanya sama sebelum masuk ke dalam mulut dan sesudah melewati tenggorokan. Bedanya hanya satu, yaitu kelezatan yang dirasakan mulut saat mengunyahnya selama beberapa detik. Karena itu, mengeluarkan sepuluh sen sebagai ganti dari satu sen, demi memuaskan indera pengecapan yang bertugas memeriksa dan menjaga merupakan bentuk pemborosan yang paling bodoh. Setiap kali sejumlah kenikmatan memanggil, ia harus dijawab dengan berkata “Anggap saja aku sudah makan.” Orang yang menjadikan ini sebagai prinsipnya dapat memakan masjid bernama Sanki Yedim (anggap saja aku sudah makan)565 namun tidak ia makan. Sebagian besar umat Islam di masa lalu tidak dalam kondisi kelaparan sehingga diperbolehkan hidup mewah. Namun sekarang mereka dalam kondisi lapar sehingga tidak layak untuk bersenang-senang. Mestinya lebih banyak tersenyum kepada penderitaan yang bersifat temporer daripada tersenyum kepada kenikmatan temporer. Pasalnya, kenikmatan masa lalu membuat seseorang kemudian menyesal sehingga ia merupakan cermi-

Masjid tersebut terletak di wilayah Fatih, Istanbul. Konon katanya si pembangun masjid menyimpan harta untuk membangun masjid tersebut lewat ungkapan, “Anggap saja aku sudah makan” setiap kali melihat sesuatu yang ia inginkan. Dari sinilah penamaan itu berasal. 565


Benih-benih Hakikat

91.

92.

93.

94.

815

nan dari derita yang tersimpan. Sementara derita masa lalu membuat seseorang kemudian bisa mengucap alhamdulillah yang memberitakan nikmat dan karunia tersembunyi. Lupa juga merupakan sebuah nikmat. Pasalnya, ia hanya mengingatkan derita saat itu saja dan melupakan berbagai derita yang terakumulasi darinya. Setiap musibah memiliki derajat nikmat sama seperti derajat hawa panas yang dimasuki oleh hawa dingin. Karena itu, harus ada syukur kepada Allah dengan memikirkan yang lebih besar dan melihat nikmat pada yang lebih kecil. Jika tidak, manakala ia ditiup dan dianggap besar, maka dengan sendirinya menjadi besar. Apabila risau karenanya, ia akan membengkak dan bayangan imajinatifnya dalam kalbu akan berubah menjadi kenyataan yang menyakitkan. Setiap orang memiliki jendela yang disebut sebagai strata atau tingkatan untuk melihat atau dilihat masyarakat. Apabila posisi jendela tersebut lebih tinggi daripada posisinya, ia akan menjadi sombong. Namun bila posisi jendela lebih rendah daripada posisinya, ia akan tawaduk dengan merunduk sehingga melihat dan menyaksikan pada tingkatan tersebut. Standar keagungan manusia adalah sikap tawaduk. Adapun standar kekerdilannya terdapat pada sikap sombong dan congkak. Sikap menjaga kehormatan yang ditunjukkan oleh orang lemah terhadap orang kuat, menjadi “kesombongan� jika ditunjukkan oleh orang kuat. Sebaliknya, sikap tawaduk yang ditunjukkan oleh orang kuat terhadap orang lemah, menjadi sebuah “kehinaan� jika ditunjukkan oleh orang lemah. Sikap tegas seorang penguasa pada posisinya merupakan bentuk kewibawaan. Adapun sikap lunaknya merupakan bentuk kenistaan. Sebaliknya, ketegasannya di rumah menunjukkan kesombongan dan sikap lembutnya menunjukkan ketawadukan. Apabila seseorang berbicara atas nama dirinya, maka maaf, toleransi, dan sikap mengalahnya terhadap pihak-pihak


816

AL-MAKTÛBÂT

yang menyakiti merupakan bentuk amal salih. Adapun jika ia berbicara atas nama jamaah, itu merupakan bentuk pengkhianatan dan perbuatan yang keliru. Seseorang dapat menahan amarah atas sesuatu yang kembali kepada dirinya. Ia tidak boleh membanggakan sesuatu yang terkait dengan dirinya. Namun ia bisa berbangga atas nama umat dan tidak menahan amarah yang menyangkut hak mereka. 95.

Menyerahkan urusan kepada Allah tanpa usaha adalah sebuah kemalasan. Adapun menyerahkan urusan kepada Allah saat menantikan hasil adalah bentuk tawakkal. Ridha dengan pembagian-Nya dan hasil usahanya adalah wujud qanaah yang menguatkan kecenderungan untuk berusaha. Adapun merasa cukup dengan yang ada merupakan sikap kurang semangat. 96. Sebagaimana ada ketaatan dan pembangkangan terhadap syariat, ada pula ketaatan dan pembangkangan terhadap perintah takwiniyah. Biasanya yang pertama—yang taat dan membangkang terhadap syariat—balasannya di negeri akhirat. Sementara yang kedua—yang taat dan membangkang terhadap sunnatullah—biasanya mendapat hukuman dan balasan di dunia. Sebagaimana hasil atas kesabaran berupa kemenangan, sementara balasan atas sikap malas dan lambat berupa kehinaan. Demikian pula hasil atas kerja keras berupa kekayaan dan balasan atas keteguhan adalah kemenangan. Keadilan yang tidak disertai dengan prinsip kesetaraan bukanlah keadilan. 97.

Kemiripan bisa melahirkan pertentangan. Keselarasan menjadi landasan solidaritas. Kerdilnya jiwa menjadi sumber kesombongan. Kelemahan melahirkan rasa sombong. Ketidakberdayaan menyebabkan penentangan. Rasa penasaran menjadi guru pengetahuan.

98.

Qudrah Dzat yang mencipta mengendalikan semua makhluk hidup, terutama manusia, lewat dorongan kebu-


Benih-benih Hakikat

99.

100.

101.

102.

103.

104. 105.

817

tuhan, khususnya kebutuhan rasa lapar. Dia memasukkan semua makhluk hidup dalam sebuah sistem. Dia selamatkan dunia dari kesemrawutan, serta mewujudkan kemajuan bagi manusia dengan menjadikan rasa butuh tadi sebagai guru peradaban. Kesempitan mengarah pada kenistaan; keputusasaan melahirkan pikiran sesat; dan gelapnya kalbu menyebabkan sempitnya jiwa. Apabila laki-laki menjadi seperti wanita karena kegilaannya, wanita menjadi seperti laki-laki karena sikap lancangnya. Setiap kali wanita cantik masuk dalam salah satu majelis laki-laki, hal itu melahirkan perasaan riya, dengki, dan persaingan. Ketika emansipasi wanita berkembang hal itu meningkatkan akhlak buruk di tengah peradaban manusia. Berbagai gambar yang tersenyum—sebagai miniatur jenazah—mempunyai peran penting bagi jiwa manusia yang agresif dan terkotori oleh dosa. Patung yang dilarang agama bisa dimaknai sebagai kezaliman yang membatu, hawa nafsu yang berjasad, atau riya yang berwujud. Kecenderungan untuk memperluas ijtihad adalah kecenderungan untuk menjadi sempurna jika ia berasal dari orang yang masuk secara benar ke dalam wilayah Islam dengan mengamalkan semua kewajiban. Namun ia bisa menjadi kecenderungan untuk merusak jika berasal dari orang yang mengabaikan prinsip-prinsip agama dan dianggap keluar dari Islam lewat sikap kurang pedulinya. Saat badai yang merusak datang, kemaslahatan menuntut untuk menutup jendela-jendela ijtihad, terlebih-lebih pintu-pintunya. Orang-orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap agama; tidak seharusnya diberi sejumlah keringanan (rukhsah). Namun mereka harus benar-benar diingatkan untuk mengambil yang utama (AzÎmah). Berbagai hakikat menjadi tidak bernilai di tangan orangorang yang biasa. Bola bumi ibarat hewan. Ia memperlihatkan jejak kehidupan. Bukankah ia menjadi satu spesies binatang jika ukurannya


818

AL-MAKTÛBÂT

mengecil seperti telur? Atau bila mikroba membesar seperti bola bumi, bukankah ia menyerupainya? Bila ia memiliki kehidupan, ia juga memiliki ruh. Bila alam mengecil seukuran manusia, bintang-gemintangnya berubah menjadi partikel atau substansi individu, bukankah ia bisa menjadi hewan yang memiliki perasaan?! Allah I memiliki banyak contoh hewan seperti itu. 106. Syariat ada dua: Pertama: syariat yang telah kita kenal—yang datang dari sifat kalam Allah—yang mengatur perbuatan dan kondisi manusia sebagai alam terkecil (mikrokosmos). Kedua, syariat besar yang fi tri—yang datang dari sifat iradah—yang mengatur pergerakan alam sebagai sosok manusia besar (makrokosmos). Kadang-kadang secara keliru ia disebut dengan istilah “hukum alam.” Malaikat adalah umat besar yang memikul dan menjalankan berbagai perintah takwiniyah yang datang dari sifat iradah, yang kemudian disebut dengan istilah syariat fi tri (sunnatullah). 107. Jika engkau membandingkan antara indera makhluk yang terkecil dengan indera manusia, engkau akan melihat sebuah rahasia yang menakjubkan. Yaitu bahwa manusia seperti pola tulisan ( ) yang berisi tulisan surah Yasin. 108. Filsafat materialisme merupakan wabah penyakit maknawi. Ia menyebabkan tersebarnya demam menakutkan pada umat manusia dan mengundang murka ilahi. Semakin fi lsafat materialisme diajarkan dan daya kritis manusia semakin meningkat, wabah penyakit tersebut juga semakin meluas. 109. Orang yang paling menderita, risau, dan resah adalah orang yang menganggur. Pasalnya, pengangguran adalah keponakan dari ketiadaan. Adapun bekerja merupakan kehidupan wujud dan kebangkitan kehidupan. 110. Bank-bank yang menjadi perantara riba dan menjadi pintunya, memberikan keuntungan kepada kaum kafi r yang merupakan manusia bejat, serta kepada orang yang paling


Benih-benih Hakikat

819

zalim dan paling bodoh dari mereka. Sementara bahayanya mengancam dunia Islam. Yang dilihat bukan kesejahteraan seluruh umat manusia. Pasalnya, orang kafi r yang memerangi dan melampaui batas terhadap umat Islam tidak layak mendapat perlindungan. 111. Tujuan dari khutbah Jumat adalah memberi peringatan akan pokok-pokok dan kewajiban agama; bukan mengajarkan sejumlah teori. Ungkapan bahasa Arab mengingatkan hal-hal tersebut dalam bentuk terbaik. Bila ayat dan hadis dibandingkan akan menjadi jelas bahwa manusia yang paling fasih sekalipun tidak mampu menjangkau balagah ayat al-Qur’an dan ia tidak bisa menyamainya. Said Nursi


820

AL-MAKTÛBÂT

Dengan kebenaran nama-Mu yang paling agung, dengan kehormatan al-Qur’an al-Mu’jizul bayân, serta dengan kemuliaan Rasul paling agung, masukkan mereka yang telah menerbitkan kitab al-Maktûbât ini, pihak-pihak yang membantunya dan seluruh Tullabunnur, ke dalam surga Firdaus dan ke dalam kebahagiaan abadi, amin... Berikan mereka taufi k untuk bisa berkhidmah untuk iman dan al-Qur’an selama-lamanya, amin... Tuliskan dalam lembaran kebaikan mereka seribu kebaikan untuk setiap huruf dari kitab al-Maktûbât, amin... Berikan keteguhan, ketekunan, dan keikhlasan kepada mereka dalam menyebarkan Risalah Nur, amin. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih, berikan kepada semua Tullabunnur kebahagiaan di dunia dan akhirat, amin... Jagalah mereka dari kejahatan setan jin dan manusia, amin... Ampunilah kesalahan Said yang lemah ini, amin. Atas nama seluruh Tullabunnur Said Nursi


TENTANG PENULIS

Badiuzzaman Said Nursi lahir dari keluarga yang sederhana pada tahun 1877 M di Turki Timur. Beliau dianugerahkan daya hafal dan intelektual yang luar biasa sehingga mampu manghapal dan mempelajari kitab-kitab terkait dengan ilmu tafsir, hadis, kalam, dan lain-lain, dalam kajian Islam ketika umur 14 tahun. Karena itulah para ulama memberinya gelar Badiuzzaman (orang yang mengagumkan sepanjang zaman). Selain mempelajari ilmu-ilmu agama, beliau juga mempelajari ilmu sains ketika tinggal di istana Tahir Pasya yang merupakan gubernur Provinsi Van pada tahun 1894 M. Dengan latar belakang pendidikan itu, beliau ingin mendirikan sebuah perguruan tinggi bernama Madrasah az-Zahra (Universitas az-Zahra) yang berkonsep dipadukannya ilmu agama dan sains. Namun rencana tersebut tidak tercapai karena kondisi sosial politik di turki usmani dan pecahnya Perang Dunia I. Said Nursi bersama murid-muridnya membela Turki Usmani dalam peperangan melawan Rusia. Tafsirnya yang berjudul Isyârât al-‘Ijâz ditulis dalam peperangan ini. Setelah Turki Usmani runtuh, didirikan Republik Turki yang baru pada tahun 1923 M dengan sistem sekuler. Pada masa ini Said Nursi menulis karyanya bernama “Koleksi Risalah Nur” yang terdiri dari 12 jilid. Diantaranya adalah al-Kalimât, al-Maktûbât, al-Lama’ât, as-Syuâ’ât, dan al-Matsnawi al-‘Arabi an-Nûri. Beliau membahas rukun-rukun iman, urgensi ibadah, keikhlasan


822

AL-MAKTÛBÂT

dalam beramal, dan seruan untuk persatuan umat Islam. Misi beliau adalah penyelamatan iman masyarakat Turki khususnya dan umat manusia secara keseluruhan ketika terjadi sekularisasi yang sangat radikal. Said Nursi wafat pada tahun 1960 M. Beliau mewariskan sebuah karya monumental (Koleksi Risalah Nur) dan Karya tersebut telah diterjemahkan ke dalam—lebih dari—50 bahasa di dunia.

Al-Maktubat part2  

Buku ini yang berjudul “AL-MAKTUBAT” adalah hasil terjemahan dari karya seorang Ulama Turki, Said Nursi, yang berjudul AL-MAKTÛBÂT. Edisi as...

Al-Maktubat part2  

Buku ini yang berjudul “AL-MAKTUBAT” adalah hasil terjemahan dari karya seorang Ulama Turki, Said Nursi, yang berjudul AL-MAKTÛBÂT. Edisi as...

Advertisement