Page 1


Dari Koleksi Risalah Nur

al-maktÛbÂt

Badiuzzaman Said Nursi


BADIUZZAMAN SAID NURSI Al-Maktûbât xxx + 822 hlm; 15 x 23,5 cm Judul Asli Judul Terjemahan Penulis Penerjemah Penyunting Tata Letak Desain Sampul

: : : : : : :

Al-Maktûbât Al-Maktûbât Badiuzzaman Said Nursi Fauzi Faisal Bahreisy Irwandi penagra ka@yahoo.com penagra ka@yahoo.com

Cetakan Pertama, Juli 2017 ISBN: 978-602-73813-6-0 Diterbitkan Oleh: RISALAH NUR PRESS Anggota IKAPI Jl. Kertamukti Terusan No. 5 Tangerang Selatan, Banten 15419 Telp. : (+62) 851 4474 9255 Email : risalahpress@gmail.com Website : www.risalahpress.com ©2017 Risalah Nur Press Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mereproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari isi buku ini dalam bentuk atau cara apa pun, tanpa izin sah dari penerbit.

Sanksi Pelanggaran Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang HAK CIPTA, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1987 jo. Undang-Undang No. 12 Tahun 1997, bahwa: 1.

Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau menyebarkan suatu ciptaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dengan pidana penjara masingmasing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah).

2.

Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000.- (lima ratus juta rupiah).


KATA PENGANTAR

egala puji bagi Allah I, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad r, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

S

Buku ini yang berjudul “AL-MAKTUBAT” adalah hasil terjemahan dari karya seorang Ulama Turki, Said Nursi, yang berjudul AL-MAKTÛBÂT. Edisi asli buku ini, yang berbahasa Turki, bersama buku-buku beliau yang lain, telah diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam—lebih dari—50 bahasa. Harapan kami, semoga dengan hadirnya buku-buku terjemahan karya beliau dapat memperkaya khazanah keilmuan dan memperluas wawasan keislaman umat Islam di tanah air. Said Nursi lahir pada tahun 1293 H (1877 M) di desa Nurs, daerah Bitlis, Anatolia timur. Mula-mula ia berguru kepada kakak kandungnya, Abdullah. Kemudian ia berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung lain, dari satu kota ke kota lain, menimba ilmu dari sejumlah guru dan madrasah dengan penuh ketekunan. Pada masa-masa inilah ia mempelajari tafsir, hadis, nahwu, ilmu kalam, fi kih, mantiq, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Dengan kecerdasannya yang luar biasa, sebagaimana diakui oleh semua gurunya, ditambah dengan kekuatan ingatannya yang sangat tajam, ia mampu menghafal hampir 90 judul buku referensial. Bahkan ia mampu menghafal buku Jam‘ul Jawâmi’—di bidang


viii

AL-MAKTÛBÂT

usul fi kih—hanya dalam tempo satu minggu. Ia sengaja menghafal di luar kepala semua ilmu pengetahuan yang dibacanya. Dengan bekal ilmu yang telah dipelajarinya, kini Said Nursi memulai fase baru dalam kehidupannya. Beberapa forum munâzharah (adu argumentasi dan perdebatan) telah dibuka dan ia tampil sebagai pemenang mengalahkan banyak pembesar dan ulama di daerahnya. Pada tahun 1894 M, ia pergi ke kota Van. Di sana ia sibuk menelaah buku-buku tentang matematika, falak, kimia, fi sika, geologi, fi lsafat, dan sejarah. Ia benar-benar mendalami semua ilmu tersebut hingga bisa menulis tentang subjek-subjek tersebut. Karena itulah, ia kemudian dijuluki “Badiuzzaman” (Keajaiban Zaman) sebagai bentuk pengakuan para ulama dan ilmuwan terhadap kecerdasannya, pengetahuannya yang melimpah, dan wawasannya yang luas. Pada saat itu, di sejumlah harian lokal, tersebar berita bahwa Menteri Pendudukan Inggris, Gladstone, dalam Majelis Parlemen Inggris, mengatakan di hadapan para wakil rakyat, “Selama al-Qur’an berada di tangan kaum muslimin, kita tidak akan bisa menguasai mereka. Karena itu, kita harus melenyapkannya atau memutuskan hubungan kaum muslimin dengannya.” Berita ini sangat mengguncang diri Said Nursi dan membuatnya tidak bisa tidur. Ia berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Akan kubuktikan kepada dunia bahwa al-Qur’an merupakan mentari hakikat, yang cahayanya tak akan padam dan sinarnya tak mungkin bisa dilenyapkan.” Pada tahun 1908 M, ia pergi ke Istanbul. Ia mengajukan sebuah proyek kepada Sultan Abdul Hamid II untuk membangun Universitas Islam di Anatolia timur dengan nama “Madrasah az-Zahra” guna melaksanakan misi penyebaran hakikat Islam. Pada universitas tersebut studi keagamaan dipadukan dengan ilmu sains, sebagaimana ucapannya yang terkenal, “Cahaya qalbu adalah ilmu-ilmu agama, sementara sinar akal adalah ilmu sains. Dengan perpaduan antara keduanya, hakikat akan tersingkap. Adapun jika keduanya dipisahkan, maka fanatisme akan la-


Kata Pengantar

ix

hir pada pelajar ilmu agama, dan skeptisisme akan muncul pada pelajar ilmu sains.”1 Pada tahun 1911 M, ia pergi ke negeri Syam dan menyampaikan pidato yang sangat berkesan, di atas mimbar Masjid Jami Umawi. Dalam pidato tersebut, ia mengajak kaum muslimin untuk bangkit. Ia menjelaskan sejumlah penyakit umat Islam berikut cara mengatasinya. Setelah itu, ia kembali ke Istanbul dan menawarkan proyeknya terkait dengan Universitas Islam kepada Sultan Rasyad. Sultan ternyata menyambut baik proyek tersebut. Anggaran segera dikucurkan dan peletakan batu pertama dilakukan di tepi Danau Van. Namun, Perang Dunia Pertama membuat proyek ini terhenti. Said Nursi tidak setuju dengan keterlibatan Turki Utsmani dalam perang tersebut. Namun ketika negara mengumumkan perang, ia bersama para muridnya tetap ikut dalam perang melawan Rusia yang menyerang lewat Qafqas. Ketika pasukan Rusia memasuki kota Bitlis, Badiuzzaman bersama dengan para muridnya mati-matian mempertahankan kota tersebut hingga akhirnya terluka parah dan tertawan oleh Rusia. Ia pun dibawa ke penjara tawanan di Siberia. Dalam penawanannya, ia terus memberikan pelajaran-pelajaran keimanan kepada para panglima yang tinggal bersamanya, yang jumlahnya mencapai 90 orang. Lalu dengan cara yang sangat aneh dan dengan pertolongan Tuhan, ia berhasil melarikan diri. Ia pun berjalan menuju Warsawa, Jerman, dan Wina. Ketika sampai di Istanbul, ia dianugerahi medali perang dan mendapatkan sambutan luar biasa dari khalifah, syeikhul Islam, pemimpin umum, dan para pelajar ilmu agama. Said Nursi kemudian diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyyah oleh pimpinan militer di mana lembaga tersebut hanya diperuntukkan bagi para tokoh ulama. Di lembaga inilah sebagian besar bukunya yang berhasa Arab diterbitkan. Di antaranya adalah tafsirnya yang berjudul Isyârât al-I’jaz fî Mazhân al-Îjâz, yang ia ditulis di tengah berkecamuknya perang, dan buku al-Matsnawi al-Arabî an-Nûrî. 1

Said Nursi, Shaiqal al-Islam, h.402.


x

AL-MAKTÛBÂT

Pada tahun 1923 M, Badiuzzaman pergi ke kota Van dan di sana ia beruzlah di Gunung Erek yang dekat dari kota selama dua tahun. Ia melakukan hal tersebut dalam rangka melakukan ibadah dan kontemplasi. Setelah Perang Dunia Pertama berakhir, kekhalifahan Turki Utsmani runtuh dan digantikan dengan Republik Turki. Pemerintah yang baru ini tidak menyukai semua hal yang berbau Islam dan membuat kebijakan-kebijakan yang anti-Islam. Akibatnya, terjadi berbagai pemberontakan dan negara yang baru berdiri ini menjadi tidak stabil. Namun, semuanya dapat dibungkam oleh rezim yang sedang berkuasa. Meskipun tidak terlibat dalam pemberontakan, Badiuzzaman ikut merasakan dampaknya. Ia pun diasingkan bersama banyak orang ke Anatolia Barat pada musim dingin 1926 M. Kemudian ia diasingkan lagi seorang diri ke Barla, sebuah daerah terpencil. Para penguasa yang memusuhi agama itu mengira bahwa di daerah terpencil itu riwayat Said Nursi akan berakhir, popularitasnya akan redup, namanya akan dilupakan orang, dan sumber energi dakwahnya akan mengering. Namun, sejarah membuktikan sebaliknya. Di daerah terpencil itulah Said Nursi menulis sebagian besar Risalah Nur, kumpulan karya tulisnya. Lalu berbagai risalah itu disalin dengan tulisan tangan dan menyebar ke seluruh penjuru Turki. Jadi, ketika Said Nursi dibawa dari satu tempat pembuangan ke tempat pembuangan yang lain, lalu dimasukkan ke penjara dan tahanan di berbagai wilayah Turki selama seperempat abad, Allah menghadirkan orang-orang yang menyalin berbagai risalah itu dan menyebarkannya kepada semua orang. Risalah-risalah itu kemudian menyorotkan cahaya iman dan membangkitkan spirit keislaman yang telah mati di kalangan umat Islam Turki saat itu. Risalah-risalah itu dibangun di atas pilar-pilar yang logis, ilmiah, dan retoris yang bisa dipahami oleh kalangan awam dan menjadi bekal bagi kalangan khawas. Demikianlah, Ustadz Nursi terus menulis berbagai risalah sampai tahun 1950 dan jumlahnya mencapai lebih dari 130 risalah. Semua risalah itu dikumpulkan dengan judul Kulliyyât


Kata Pengantar

xi

Rasâ’il an-Nûr (Koleksi Risalah Nur), yang berisi empat seri utama, yaitu al-Kalimât, al-Maktûbât, al-Lama‘ât, dan asy-Syu‘â‘ât. Ustadz Nursi sendiri yang langsung mengawasi hingga semuanya selesai tercetak. Ustadz Nursi wafat pada tanggal 25 Ramadhan 1379 H, bertepatan pada tanggal 23 Maret 1960 M, di kota Urfa. Karya-karya beliau dibaca dan dikaji secara luas di Turki dan di berbagai belahan dunia lainnya. Buku al-Maktubat yang berada di tangan pembaca ini adalah hasil dari jawaban Said Nursi atas berbagai pertanyaan yang dilontarkan para muridnya dengan cara langsung maupun lewat surat-menyurat. Dalam buku ini termuat berbagai topik pembahasan keislaman yang menarik dan mencerahkan akal. Dengan gaya bahasa yang lugas, tegas, dan mengalir, Said Nursi membahas berbagai persoalan yang terkait tentang tauhid, kenabian, ilmu kalam, ibadah, hukum Islam dan tasawuf. Berbagai pembahasan diatas dikupas dengan metode tematik. Diantaranya adalah sebagai berikut: Dalam bidang tauhid, Said Nursi menjelaskan tentang tingkatan tauhid, makrifatullah, dan asmaul husna, serta kesempurnaan iman yang dapat mengobati kesepian. Dalam hal kenabian, disebutkan lebih dari tiga ratus mukjizat nabi Muhammad r beserta hikmah-hikmah dibaliknya yang diambil dari berbagai riwayat yang sahih tanpa merujuk pada satupun buku hadis karena kondisinya yang berada di pengasingan dengan pengawalan yang super ketat. Kemudian dibahas juga hikmah diangkatnya Muhammad r sebagai nabi pada umur empat puluh tahun dan kedudukan kenabiannya. Dalam bidang ilmu kalam, dijelaskan tentang hikmah dikedari surga, hikmah diciptakannya seluarkannya nabi Adam tan, tingkatan kehidupan manusia, status keimanan Abu alib (paman nabi). Serta jawaban atas pertanyaan “apakah orang yang beriman kepada Allah tanpa iman kepada nabi Muhammad r dapat masuk surga?”.


xii

AL-MAKTÛBÂT

Dalam hal ibadah, dijelaskan tentang tafakkur, zakat, hikmah-hikmah puasa serta makna dan jenis-jenis doa seperti doa lisan kesiapan potensi, lisan kebutuhan fi tri, serta doa pada umumnya yang dipanjatkan manusia. Dalam bidang hukum Islam, dijelaskan tentang keadilan hukum waris dalam pandangan al-Qur’an dan perdebatan mengenai pernikahan nabi Muhammad r dengan Zaenab g. Dalam bidang tasawuf, buku ini menjelaskan tentang makna tarekat, kewalian dan suluk, keunggulan dan kekurangan dalam tarekat, konsep wahdatul wujud, perbedaan cinta majasi dan cinta hakiki, perbedaan antara cinta dan kasih sayang, perbedaan antara istidraj, karamah, dan ikram, serta diuraikannya makna kematian. Menjelaskan juga beberapa penyakit kronis yang ada dalam diri manusia seperti tamak, dengki, dan gibah beserta obatnya. Selain enam bidang di atas, Said Nursi juga menjelaskan beberapa tema terkait dengan kehidupan sosial seperti konsep ukhuwah Islamiyah serta konsep nasionalisme negatif dan positif. Adapun dalam bidang ilmu al-Qur’an, Said Nursi menjelaskan makna huruf-huruf muqatta’ât dan sumpah-sumpah dalam al-Qur’an. Serta tidak kalah menarik, Said Nursi juga menjelaskan tentang penyebutan gelar radhiyallahu anhu untuk selain para sahabat dan hikmah dibalik perang antar sahabat pada masa khalifah Ali d. Melalui bukunya ini Said Nursi ingin pembaca mendapat pencerahan atas berbagai perkara syubhat yang mengotori pikiran serta meluruskan berbagai pemahaman yang menyimpang dan mengajak pembaca untuk lebih dalam lagi menyelami lautan samudra iman dan islam melalui kacamata al-Qur’an agar tersingkap mutiara-mutiara hakikat cemerlang yang mengantarkan pada kesempurnaan penghambaan kepada Tuhan Pencipta semesta alam. Selamat membaca! Risalah Nur Press


DAFTAR ISI

Pedoman Transliterasi .................................................................

v

Kata Pengantar .............................................................................. vii Daar Isi ........................................................................................ xiii SURAT PERTAMA: Jawaban Singkat atas Empat Pertanyaan ................................... 1 Pertanyaan Pertama: Apakah Nabi Khidir Masih Hidup? ...................................................................... 1 Pertanyaan Kedua: Bagaimana Kematian Bisa Menjadi “Makhluk” dan Bagaimana Ia Dianggap sebagai “Nikmat”? ............................................................... 4 Pertanyaan Ketiga: Di Manakah Letak Neraka Jahannam? ........................................................................... 6 Pertanyaan Keempat: Apakah Mungkin Cinta Majasi Manusia terhadap Dunia Berubah Menjadi Cinta Hakiki terhadap Allah? ...................................................... 10 SURAT KEDUA: Sebab-sebab yang Membuat Penulis Tidak Bisa Memikul Jasa Orang Lain dan Tidak Mau Menerima Hadiah ................ 15 SURAT KETIGA: Perenungan terhadap Sejumlah Ayat, serta Penjelasan tentang Susahnya Meniti Jalan Kesesatan dan Mudahnya meniti Jalan Ketauhidan .............................................................. 19


xiv

AL-MAKTÛBÂT

SURAT KEEMPAT: Pemerolehan Penulis atas Cahaya Manifestasi Nama al-Hakîm dan ar-Rahîm ............................................................... 27 ◆ Sebuah Risalah yang Membuat Bintang Bertutur ...................................................................... 29 SURAT KELIMA: Perhatian terhadap Persoalan Keimanan di Zaman Sekarang Lebih Utama daripada Ribuan Dzauq ....................................... 31 SURAT KEENAM: Sebuah Risalah yang Menjelaskan Ragam Keterasingan yang Dialami oleh Penulis .................................................................... 35 SURAT KETUJUH: Hikmah di Balik Pernikahan Rasulullah r dengan Zaenab g 41 SURAT KEDELAPAN: Penjelasan tentang Rahasia Nama ar-Rahmân dan ar-Rahîm, serta Bagaimana Kasih Sayang Bisa Mengungguli “Cinta” Sebagaimana yang terdapat dalam ....................................................................... 45 Kisah Nabi Yusuf SURAT KESEMBILAN: Perbedaan antara Ikram Ilahi, Karamah, dan Istidraj .................................................................. 49 ◆ Mengarahkan Kemauan Fitrah ............................... 50 ◆ Perbedaan antara Iman dan Islam .......................... 53 SURAT KESEPULUH: Jawaban atas Dua Pertanyaan: .................................................... 57 Pertanyaan Pertama: Apa yang Dimaksud dengan Imam Mubin dan Kitab Mubin? ........................................ 57 Pertanyaan Kedua: Di Mana letak padang Mahsyar?... 59 SURAT KESEBELAS: Penjelasan tentang Empat Persoalan ......................................... Persoalan Pertama: Obat bagi orang yang terserang penyakit was-was ................................................................ Persoalan Kedua: Hasil renungan di padang rumput Barla...................................................................................... Persoalan Ketiga: Keadilan mutlak dan kasih sayang dalam bagian warisan anak ...............................................

63 63 64 64


Daftar Isi

xv

Persoalan Keempat: Keadilan mutlak dan hak dalam bagian warisan ibu .............................................................. 66 SURAT KEDUA BELAS: Jawaban atas Tiga Pertanyaan ..................................................... Pertanyaan Pertama: Apa hikmah dikeluarkannya Adam dari surga? ......................................................... Pertanyaan Kedua: Mengapa setan dan keburukan diciptakan? Untuk apa para Nabi diutus?........................ Pertanyaan Ketiga: Di manakah keadilan ketika musibah dan bencana terjadi? .......................................... SURAT KETIGA BELAS: Jawaban atas Tiga Pertanyaan ..................................................... Pertanyaan Pertama: Bagaimana kabarmu? Apakah engkau baik-baik saja? ......................................... Pertanyaan Kedua: Mengapa engkau tidak memohon untuk mendapatkan surat putusan bebas? ...................... Pertanyaan Ketiga: Mengapa sejauh ini engkau tidak memiliki perhatian kepada kondisi politik dunia saat ini? .................................................................................

69 70 71 74 77 77 79

80

SURAT KEEMPAT BELAS: Belum Ditulis ................................................................................ 85 SURAT KELIMA BELAS: Jawaban atas Enam Pertanyaan .................................................. Pertanyaan Pertama: Mengapa para sahabat tidak menyingkap kaum perusak di tengah-tengah masyarakat? ......................................................................... Pertanyaan Kedua: Apa hakikat dari berbagai kejadian yang menimpa barisan umat Islam di masa Ali d? ..... Pertanyaan Ketiga: Apa hikmah di balik musibah memilukan dan perlakuan buruk yang menimpa orang-orang yang penuh berkah itu? ............................... Pertanyaan Keempat: Pertanyaan tentang Turunnya Nabi Isa dan Terbunuhnya Dajjal di Akhir Zaman........ Pertanyaan Kelima: Apakah ruh-ruh yang kekal ikut merasakan kedahsyatan kiamat? ..............................

87

87 91

96 97 101


xvi

AL-MAKTÛBÂT

Pertanyaan Keenam: Apakah ayat ( ) meliputi akhirat, surga, neraka, dan penghuninya, atau tidak? ............................................................................ 102 SURAT KEENAM BELAS: Penjelasan tentang Lima Poin ..................................................... Poin Pertama: Mengapa Anda meninggalkan pentas politik?.................................................................................. Poin Kedua: Mengapa “Said Baru” sangat menghindari politik? .......................................................... Poin Ketiga: Bagaimana engkau bisa menanggung tekanan dan kesulitan yang ada? ...................................... Poin Keempat: Jawaban atas sejumlah pertanyaan yang mendatangkan keraguan .......................................... Pertanyaan Pertama: Bagaimana engkau hidup? .. Pertanyaan Kedua: Bagaimana kami bisa percaya kepadamu bahwa engkau tidak ikut campur dalam urusan dunia kami? ...................................... Pertanyaan Ketiga: Jika senang kepada kami, lantas mengapa engkau berpaling dan tidak mau bergabung bersama kami? ....................................... Pertanyaan Keempat: Kami tidak lagi percaya kepada siapapun. Lalu bagaimana kami bisa percaya kepadamu? ................................................... Poin Kelima: Terkait dengan lima persoalan kecil ........ Persoalan Pertama: Mengapa engkau tidak menerapkan prinsip-prinsip dan nilai peradaban yang kami miliki? ...................................................... Persoalan Kedua: Engkau tidak punya hak untuk mengajarkan hukum-hukum agama dengan statusmu sebagai orang buangan ............................ Persoalan Ketiga: Sejumlah sahabatku berlepas diri dariku agar mendapat simpati pihak penguasa Persoalan Keempat: Sejumlah orang yang terjerembab dalam kubangan politik .....................

105 106 107 110 113 113

117

119

119 120

120

121 122 123


Daftar Isi

xvii

Persoalan Kelima: Siapakah orang yang paling bahagia? ...................................................................... 123 Lampiran Surat Keenam Belas ....................................... 124 SURAT KETUJUH BELAS: Belasungkawa atas Kepergian Seorang Anak Kecil ................. Poin Pertama: Maksud dari ayat ( ) ................. Poin Kedua: Perumpamaan yang layak dijadikan bahan renungan .............................................................................. Poin Ketiga: Anak yang meninggal adalah makhluk Allah Sang Pemilik hakiki ................................................. Poin Keempat: Perpisahan tidak abadi, namun di waktu mendatang akan ada pertemuan kembali............ Poin Kelima: Kasih sayang merupakan wujud rahmat Ilahi yang paling lembut .................................................... SURAT KEDELAPAN BELAS: Terdiri dari Tiga Persoalan Penting ........................................... Persoalan Pertama: Perkara yang dibahas oleh para wali terkemuka itu tidak terlihat di alam nyata .............. Persoalan Kedua: Jalan yang ditempuh oleh para sahabat dan kalangan ashfi yâ lebih mulia dan lebih selamat daripada jalan wahdatul wujud .......................... Persoalan Ketiga: Persoalan penting yang tidak bisa dipecahkan dengan akal serta tidak bisa disingkap oleh fi lsafat ........................................................................... SURAT KESEMBILAN BELAS: Risalah Mukjizat Nabi Muhammad r ...................................... Catatan tentang riwayat yang ada..................................... Petunjuk Pertama: Urgensi kenabian Muhammad r . Petunjuk Kedua: Mukjizat merupakan bentuk pembenaran Tuhan semesta alam terhadap pernyataan Rasul-Nya ............................................................................ Petunjuk Ketiga: Hikmah di balik keragaman mukjizat Rasul r ................................................................................ Petunjuk Keempat: Prinsip-prinsip dalam memahami perkara gaib yang Allah ajarkan kepada Rasul-Nya ......

133 134 134 136 137 137 141 141

145

150 155 156 158

159 161 163


xviii

AL-MAKTÛBÂT

Prinsip Pertama: Tidak semua kondisi Rasul r luar biasa .................................................................... Prinsip Kedua: Wahyu eksplisit dan wahyu implisit ........................................................................ Prinsip Ketiga: Riwayat hadis dan peran para muhaddis.................................................................... ◆ Apa manfaat dari rangkaian sanad? .............. ◆ Mengapa riwayat tentang mukjizat Nabi r tidak dinukil seperti riwayat tentang hukum syariat?................................................. Prinsip Keempat: Informasi tentang peristiwa universal yang terjadi di masa mendatang ............ Prinsip Kelima: Rahasia penyembunyian dan kesamaran dalam memberitakan perkara gaib ..... Prinsip Keenam: Hendaknya selalu mengangkat kepala tinggi-tinggi untuk melihat hakikat beliau r yang sebenarnya....................................... Petunjuk Kelima: Informasi Rasul r mengenai musibah yang akan menimpa keluarganya di masa mendatang ........................................................................... ◆ Mengapa bukan Ali d yang dinobatkan menjadi khalifah pertama? ..................................................... ◆ Mengapa kekhalifahan tidak bertahan di lingkungan ahlul bait? .............................................. ◆ Apa hikmah dari adanya fi tnah berdarah yang menimpa umat Islam? .............................................. Petunjuk Keenam: Mukjizat Nabi r yang terkait dengan pemberitaan masa mendatang ............................ ◆ Makna harfi dan makna ismi dalam mencintai ahlul bait..................................................................... Petunjuk Ketujuh: Mukjizat Nabi r yang terkait dengan keberkahan makanan ........................................... Petunjuk Kedelapan: Mukjizat Nabi r yang terkait dengan air ............................................................................ Petunjuk Kesembilan: Mukjizat Nabi r yang terkait dengan pohon .....................................................................

163 165 166 168

168 169 170

171

174 177 178 179 188 191 202 215 223


Daftar Isi

Petunjuk Kesepuluh: Mukjizat “rintihan batang pohon” .................................................................................. Petunjuk Kesebelas: Mukjizat Nabi r yang terkait dengan benda mati ............................................................. Petunjuk Kedua Belas: Berbagai contoh yang terkait dengan petunjuk sebelumnya ........................................... Petunjuk Ketiga Belas: Mukjizat Nabi r yang terkait dengan kesembuhan orang sakit ...................................... ◆ Tangan Ajaib Rasulullah .......................................... Petunjuk Keempat Belas: Mukjizat Nabi r yang terkait dengan doa .............................................................. Petunjuk Kelima Belas: Terdiri dari tiga cabang .......... Cabang Pertama: Spesies binatang mengenal Nabi r ........................................................................ Cabang Kedua: Orang mati, jin, dan malaikat yang mengenal Nabi r ............................................ Cabang Ketiga: Perlindungan Allah kepada Nabi r ........................................................................ Petunjuk Keenam Belas: Sejumlah peristiwa luar biasa yang terjadi sebelum beliau diutus sebagai nabi ... Jenis Pertama: Informasi Taurat, Injil, Zabur, dan tentang kenabian suhuf para nabi Muhammad r .......................................................... Jenis Kedua: Informasi para peramal dan kaum arif tentang kedatangan Muhammad r ................ Jenis Ketiga: Peristiwa luar biasa yang terjadi saat kelahiran Nabi r .......................................................... Petunjuk Ketujuh Belas: Mukjizat Nabi r yang terkait dengan pribadi, syariat, dan peristiwa mi’raj ...... Petunjuk Kedelapan Belas: Mukjizat Nabi r yang terkait dengan al-Qur’an .................................................... Nuktah Pertama: Penjelasan tentang tingkatan manusia dalam memahami kemukjizatan al-Qur’an .................................................................... Nuktah Kedua: al-Qur’an menantang semua kalangan .....................................................................

xix

228 233 239 243 247 251 265 266 271 277 283

284 298 304

309 311

311 317


xx

AL-MAKTÛBÂT

Nuktah Ketiga: Tafakkur hakiki tentang esensi al-Qur’an .................................................................... 323 Petunjuk Kesembilan Belas: Kebenaran dan aspek petunjuk beliau yang mengarah kepada tauhid.............. 328 ◆ Karunia Ilahi dan Jejak Pertolongan Rabbani ....... 336 ◆ Lampiran Pertama: Percikan dari sosok pribadi Nabi r ........................................................................ 338 Defi nisi al-Qur’an ............................................ 353 Kilau Kemukjizatan dalam Pengulangan al-Qur’an........................................................... 353 Kemukjizatan al-Qur’an dalam menjelaskan persoalan alam................................................. 355 ◆ Mukjizat Terbelahnya Bulan .................................... 359 ◆ Pengkhususan Mi’raj bagi Rasul r......................... 365 SURAT KEDUA PULUH: .......................................................... Pendahuluan: Penjelasan tentang Urgensi Iman, Makrifat, dan Cinta kepada Allah .................................... Kedudukan Pertama: Kabar Gembira Tauhid dalam Sebelas Frasa ........................................................................ Frasa Pertama: Lâ Ilâha Illallâh .............................. Frasa Kedua: Wahdahû ........................................... Frasa Ketiga: Lâ Syarîka Lahû ................................. Frasa Keempat: Lahul-Mulk .................................... Frasa Kelima: wa Lahul-Hamd ................................ Frasa Keenam: Yuhyî ................................................ Frasa Ketujuh: wa Yumît .......................................... Frasa Kedelapan: wa Huwa Hayyun Lâ Yamût ..... Frasa Kesembilan: bi Yadihil-Khaîr ........................ Frasa Kesepuluh: wa Huwa `alâ Kulli Syai’in Qadîr ........................................................................... Frasa Kesebelas: wa Ilaihil-Mashîr .......................... Kedudukan Kedua: Petunjuk Singkat tentang Tauhid Dilihat dari Ismul A’zham .................................................. Klausa Pertama: Lâ Ilâha Illallâh ............................ Klausa Kedua: Wahdahû .......................................... Klausa Ketiga: Lâ Syarîka Lahû...............................

381 382 383 383 384 384 385 386 387 388 388 389 390 392 393 393 394 397


Daftar Isi

Klausa Keempat: Lahul-Mulk .................................. Klausa Kelima: wa Lahul-Hamd ............................. Klausa Keenam: Yuhyî .............................................. Klausa Ketujuh: wa Yumît ........................................ Klausa Kedelapan: wa Huwa Hayyun Lâ Yamût... Klausa Kesembilan: bi Yadihil-Khaîr ...................... Klausa Kesepuluh: wa Huwa `alâ Kulli Syai’in Qadîr ........................................................................... Klausa Kesebelas: wa Ilaihil-Mashîr ....................... Lampiran: Dalam tauhid terdapat kemudahan mutlak......................................................................... SURAT KEDUA PULUH SATU: Pentingnya Memelihara Hak Orang Tua dan Orang Lansia .. SURAT KEDUA PULUH DUA: Terdiri dari Dua Pembahasan ..................................................... Pembahasan Pertama: Mengajak Orang-orang Beriman untuk Menjalin Rasa Persaudaraan dan Mencintai di Antara Sesama (dalam enam aspek) ......... Aspek Pertama: Permusuhan adalah Suatu Kezaliman dalam Pandangan Hakikat ................... Aspek Kedua: Permusuhan adalah Kezaliman dalam Pandangan Hikmah ...................................... Aspek Ketiga: Permusuhan adalah Kezaliman dalam Pandangan Al-Qur'an................................... Aspek Keempat: Permusuhan adalah Kezaliman Dilihat dari Sudut Pandang Kehidupan Pribadi (terdiri dari empat prinsip)...................................... Prinsip Pertama: Engkau tidak berhak berkata, “kebenaran hanya pada manhajku” Prinsip Kedua: Engkau harus mengatakan yang benar, tetapi ............................................ Prinsip Ketiga: Musuhilah rasa permusuhan yang ada di dalam dirimu .............................. Prinsip Keempat: Memusuhi saudara seiman merupakan bentuk kezaliman terhadap diri dan saudara yang lain .............

xxi

397 406 410 412 413 416 422 435 439 447 453

453 454 455 457

458 458 459 459

460


xxii

AL-MAKTÛBÂT

Aspek Kelima: Permusuhan dan Perpecahan Membahayakan Kehidupan Sosial ......................... Aspek Keenam: Permusuhan dan Sifat Keras Kepala Merusak Kehidupan Spiritual dan Kemurnian Ubudiyah Kepada Allah ...................... Pembahasan Kedua: Tamak adalah Penyakit yang membahayakan Kehidupan Islam .................................... Penutup: Gibah (Bergunjing) ...........................................

464

469 470 478

SURAT KEDUA PULUH TIGA: Terdiri dari Tujuh Pertanyaan..................................................... 483 Pertanyaan Pertama: Bagaimana seharusnya doa seorang mukmin untuk saudara mukmin lainnya? ....... 485 Pertanyaan Kedua: Bolehkah menyebut “radhiyallâhu ‘anhu” kepada selain sahabat? ........................................... 486 Pertanyaan Ketiga: Mana yang lebih utama; para imam mujtahid atau para wali qutub? ........................................ 487 Pertanyaan Keempat: Apa hikmah dan tujuan dari fi rman Allah I yang berbunyi: ( Ì Ë Ê É)? ......... 487 Pertanyaan Kelima: Bagaimana Nabi r beribadah sebelum diutus sebagai nabi? ............................................ 489 Pertanyaan Keenam: Apa hikmah diutusnya Rasul r pada usia 40 tahun? ............................................................ 489 Pertanyaan Ketujuh: Maksud dari hadis, “Sebaik-baik pemuda adalah yang menyerupai orang tua, sementara seburuk-buruk orang tua adalah yang menyerupai anak muda.” ................................................................................... 491 SURAT KEDUA PULUH EMPAT: Konsekuensi dari nama Allah ar-Rahîm, al-Hakîm, dan al-Wadud sejalan dengan kematian dan musibah yang terjadi di alam ini ......................................................................... Kedudukan Pertama: Terdiri dari lima rambu ............. Rambu Pertama: Sang Pencipta menjadikan esensi segala sesuatu sebagai standar ..................... Rambu Kedua: Potensi Ilahi seperti kasih sayang dan cinta suci menghendaki tindakan yang bersifat mutlak...........................................................

495 496 496

499


Daftar Isi

xxiii

Rambu Ketiga: Segala sesuatu tidak pergi menuju ketiadaan, namun berpindah dari wilayah qudrah menuju wilayah ilmu ................................................ 501 Rambu Keempat: Asmaul husna memiliki manifestasi yang beragam sehingga makhluk juga beragam ...................................................................... 503 Rambu Kelima: Terdiri dari dua nuktah ................ 504 Nuktah Pertama: Berafi liasi dengan Sang wajibul wujud menjadikan segala sesuatu ada untuk segala sesuatu ................................ 504 Nuktah Kedua: Dunia dan segala sesuatu memiliki tiga aspek; (1) Mengarah kepada Asmaul husna, (2) kepada Akhirat, dan (3) kepada makhluk yang fana ...................... 505 Kedudukan Kedua: Terdiri dari Pendahuluan dan Lima Petunjuk ............................................................. 506 Pendahuluan: Terdiri dari dua pembahasan ......... 506 Pertama: Perumpamaan tidak mencakup hakikat secara utuh, melainkan hanya seperti teropong .............................................. 506 Kedua: Tujuan dan hikmah segala sesuatu .. 508 Petunjuk Pertama: Hilang satu wujud materi, namun tumbuh seribu wujud maknawi................. 510 Petunjuk Kedua: Segala sesuatu menghasilkan banyak hakikat gaib .................................................. 511 Petunjuk Ketiga: Dunia ibarat ladang yang membuahkan hasil yang sesuai dengan pasar akhirat......................................................................... 512 Petunjuk Keempat: Entitas menunaikan ragam tasbih dalam seluruh fase hidupnya ....................... 513 Petunjuk Kelima: Entitas, terutama makhluk hidup, menghasilkan sesuatu yang bersifat kekal dalam wilayah wujud ilmi ........................................ 514 Lampiran Pertama: Rahasia Doa (dalam lima nuktah) ....................................................................... 520 Nuktah Pertama: Jenis-jenis doa ................... 520 Nuktah Kedua: Efek Doa ................................ 522


xxiv

AL-MAKTÛBÂT

Nuktah Ketiga: Pengabulan doa qauliikhtiyâri ........................................................... Nuktah Keempat: Buah doa yang paling lembut ............................................................... Nuktah Kelima: Doa adalah ruh ibadah ...... Lampiran Kedua: Kisah Mi’raj dalam Kumpulan Syair Maulid Nabi ..................................................... Nuktah Pertama: Hubungan makhluk alam abadi dengan cahaya Rasulullah ................... Nuktah Kedua: Membahasakan cinta ilahi yang suci terhadap Rasulullah ....................... Nuktah Ketiga: Kita tidak sanggup membahasakan hakikat yang suci................. Nuktah Keempat: Rasulullah melihat Tuhannya di balik 70 ribu hijab ................... Nuktah Kelima: Membaca kisah “maulid Nabi” merupakan tradisi islami..................... Penutup: Rasulullah adalah sosok yang tiada duanya serta benih sekaligus buah alam................ SURAT KEDUA PULUH LIMA: Belum Ditulis ................................................................................ SURAT KEDUA PULUH ENAM: Terdiri dari Empat Bahasan ........................................................ Bahasan Pertama: Argumen al-Qur’an yang Membungkam Setan dan Sekutunya ............................... Bahasan Kedua: Tiga Kepribadian Said Nursi............... Bahasan Ketiga: Tujuh persoalan .................................... Persoalan Pertama: Yang ditulis secara terpaksa dengan bahasa “Said Lama” ..................................... Persoalan Kedua: Hikmah terbaginya masyarakat menjadi berbagai kelompok dan kabilah ........................................................................ Persoalan Ketiga: Orang zalim Eropa memberi dampak negatif dalam isu rasisme.......................... Persoalan Keempat: Nasionalisme negatif ............. ◆ Kondisi yang menarik perhatian ...................

524 525 526 527 527 528 531 532 533 534 537 539 539 555 558 558

558 559 562 563


Daftar Isi

xxv

Persoalan Kelima: Perbedaan antara bangsa Asia dan Eropa ................................................................... 564 Persoalan Keenam: Seruan bagi mereka yang berlebihan dalam menunjukkan sikap rasis .......... 566 Persoalan Ketujuh: Seruan bagi mereka yang menunjukkan semangat nasionalisme negatif ...... 568 Bahasan Keempat: Sepuluh Persoalan ........................... 570 Persoalan Pertama: Penafsiran (W V) ... 570 Persoalan Kedua: Apa maksud Ibnu Arabi dalam risalahnya kepada ar-Râzi ........................................ 572 Persoalan Ketiga: Korelasi antara “kemuliaan” dan “sifat zhalûman-jahûlan” pada manusia ......... 575 Persoalan Keempat: “Perbaharuilah iman kalian dengan lâ ilâha illallâh” ........................................... 577 Persoalan Kelima: Apakah seseorang bisa selamat dengan cukup menyebut Z sv u t [ tanpa disertai Z# " ! [? .......................................... 581 Persoalan Keenam: Sebab penggunaan ungkapan yang kurang sopan dalam maslak setan ................. 582 Persoalan Ketujuh: Tujuh petunjuk yang membuktikan adanya Ikram Ilahi dalam khidmah al-Qur’an ................................................... 586 Persoalan Kedelapan: Tidak mungkin menerjemahkan lafal al-Qur’an dan zikir.............. 589 Persoalan Kesembilan: Sikap istiqamah dalam menyikapi perbedaan di antara maslak para wali 592 Persoalan Kesepuluh: Prinsip bagi para pengunjung ................................................................ 595 SURAT KEDUA PULUH TUJUH: Al-Malâhiq (Kumpulan Lampiran), diterbitkan dalam Jilid Tersendiri....................................................................................... 599 SURAT KEDUA PULUH DELAPAN: Terdiri dari Delapan Persoalan ................................................... 601 Persoalan Pertama: Seputar tafsir mimpi dalam tujuh nuktah .................................................................................. 601


xxvi

AL-MAKTÛBÂT

Persoalan Kedua: Menyudahi diskusi tentang hadis Nabi r bahwa Nabi Musa telah memukul mata malaikat Izrail .......................................................... 608 Persoalan Ketiga: Risalah Nur menunaikan tugas “irsyad” pada zaman sekarang ........................................... 614 Persoalan Keempat: Kejadian sepele yang menarik perhatian Saudara-saudaraku ........................................... 625 Persoalan Kelima: Risalah tentang Syukur ...................... 632 Persoalan Keenam: Tidak dicantumkan di dalam buku ini .......................................................................................... 639 Persoalan Ketujuh: Tujuh sebab yang menyingkap sejumlah rahasia pertolongan ilahi .................................. 639 ◆ Jawaban atas sebuah pertanyaan khusus................ 654 ◆ Penutup persoalan ketujuh ...................................... 656 Persoalan Kedelapan: Terdiri dari delapan nuktah ........ 661 Nuktah Pertama: Keberadaan tawâfuqât ghaibiyyah pada sebagian besar al-Kalimât........... 661 Nuktah Keempat: Jawaban atas enam pertanyaan tentang hari kebangkitan ......................................... 664 Nuktah Kelima: Apakah nenek moyang Rasul r di masa fatrah memeluk sebuah agama? ............... 667 Nuktah Keenam: Adakah dari nenek moyang Nabi r yang diutus sebagai nabi?........................... 668 Nuktah Ketujuh: Terkait dengan keimanan kedua orang tua Rasul r dan kakek beliau, Abdul Muttalib ...................................................................... 669 Nuktah Kedelapan: Pendapat mana yang paling tepat terkait dengan keimanan paman beliau, Abu alib? ................................................................ 670 SURAT KEDUA PULUH SEMBILAN: Terdiri dari Sembilan Bagian ...................................................... Bagian Pertama: Sembilan Nuktah ................................. Nuktah Pertama: Cara memahami hakikat al-Qur’an .................................................................... Nuktah Kedua: Sumpah dalam al-Qur’an.............. Nuktah Ketiga: Huruf-huruf muqatta’ah ...............

673 673 673 675 677


Daftar Isi

xxvii

Nuktah Keempat: al-Qur’an tidak mungkin diterjemahkan ........................................................... 678 Nuktah Kelima: Kemustahilan menerjemahkan lafal al-Qur’an, seperti ﴾ ﴿ ............................ 681 Nuktah Keenam: Penjelasan dari makna kata ( ) ........................................................................... 682 Nuktah Ketujuh: Salah satu makna dari ) ........................................ 686 ( Nuktah Kedelapan: Dua jenis hak dalam syariat Islam............................................................................ 688 Nuktah Kesembilan: Perkara ta’abbudi dan ma’qûlul-ma’nâ .......................................................... 688 Bagian Kedua: Risalah Ramadhan dan penjelasan tentang hikmah puasa dalam sembilan nuktah.............. 690 Bagian Ketiga: Sembilan Persoalan................................. 701 Persoalan Pertama: Tingkatan pemahaman terhadap aspek kemukjizatan al-Qur’an ................ 702 Persoalan Kedua: Penjelasan tentang empat poin 705 Poin Pertama: Lafal jalalah dan asmual husna dalam al-Qur’an ........................................................ 705 Poin Kedua: Lafal jalalah berdasarkan surah ........ 705 Poin Ketiga: Posisi lafal jalalah berdasarkan halaman mushaf ........................................................ 707 Poin Keempat: Tawâfuq pada satu halaman .......... 707 Bagian Kelima: Penjelasan tentang salah satu cahaya surah an-Nur ....................................................................... 708 Bagian Keenam: Peringatan bagi para murid al-Qur’an agar tidak terperangkap oleh tipu daya setan ................. 714 Tipu Daya Pertama: Memanfaatkan cinta kedudukan dan reputasi.......................................... 714 Tipu Daya Kedua: Memanfaatkan rasa takut ....... 718 Tipu Daya Ketiga: Memanfaatkan rasa tamak ..... 723 Tipu Daya Keempat: Mengobarkan semangat kesukuan ................................................................... 726 Tipu Daya Kelima: Memanfaatkan egoisme dan kesombongan ........................................................... 736


xxviii

AL-MAKTÛBÂT

Tipu Daya Keenam: Memanfaatkan sifat malas dan senang berleha-leha ......................................... 740 Lanjutan Bagian Keenam: Enam Pertanyaan ....... 741 Bagian Ketujuh: Tujuh Petunjuk ..................................... 747 Petunjuk Pertama: Bantahan terhadap orangorang yang ingin mengubah syiar-syiar Islam ...... 748 Petunjuk Kedua: Bantahan atas sikap bertaklid kepada Eropa dalam peralihan mereka menjadi protestan..................................................................... 750 Petunjuk Ketiga: Pandangan para pelaku bid’ah bahwa, “Fanatisme agama membuat kita tertinggal dalam peradaban” ................................... 755 Petunjuk Keempat: Dua macam ahli bid’ah .......... 758 Petunjuk Kelima: Seputar munculnya imam Mahdi di akhir zaman .............................................. 759 Petunjuk Keenam: Seputar pasukan imam Mahdi 762 Petunjuk Ketujuh: Seputar perubahan sikap “Said Lama” ................................................................. 762 Bagian Kedelapan: Delapan Simbol (diterbitkan dalam jilid tersendiri)......................................................... 764 Bagian Kesembilan: Sembilan Talwih yang membahas tentang tarekat kewalian .................................................... 764 Talwih Pertama: Apa itu tarekat dan tasawuf? ...... 764 Talwih Kedua: Kunci perjalanan spiritual ............. 766 Talwih Ketiga: Kewalian adalah bukti kenabian ... 767 Talwih Keempat: Kesulitan dalam perjalanan spiritual ...................................................................... 769 Talwih Kelima: Konsep Wahdatul wujud ............... 774 Talwih Keenam: Jalan kewalian............................... 776 Talwih Ketujuh: Syariat dan Tarekat ....................... 780 Talwih Kedelapan: Bahaya Tarekat ......................... 785 Talwih Kesembilan: Manfaat Tarekat ..................... 788 Lampiran: Jalan Pintas Menuju Allah ............................. 792 SURAT KETIGA PULUH: Isyârât al-I’jâz fî Mazhân al-Îjâz dalam bahasa Arab (diterbitkan dalam jilid tersendiri) ............................................ 799


Daftar Isi

xxix

SURAT KETIGA PULUH SATU: Tiga puluh satu cahaya yang terkumpul dalam buku al-Lama’ât ...................................................................................... 799 SURAT KETIGA PULUH DUA: Risalah al-Lawami’ yang tercantum pada penutup buku al-Kalimât ...................................................................................... 799 SURAT KETIGA PULUH TIGA: Risalah “Jendela Tauhid” yang dicantumkan dalam buku al-Kalimât ...................................................................................... 799 Benih-Benih Hakikat ................................................................. 801 Tentang Penulis ........................................................................... 821


SURAT PERTAMA

(Jawaban Singkat atas Empat Pertanyaan)

Pertanyaan Pertama: Apakah Nabi Khidir masih hidup? Apabila masih hidup, mengapa sejumlah ulama terkemuka tidak mempercayainya?

Jawaban: masih hidup. Hanya saja, kehidupan memiNabi Khidir liki lima tingkatan. Khidir berada pada tingkatan kedua darinya. Karena itu, sejumlah ulama meragukan kalau ia masih hidup. Tingkatan Pertama: Kehidupan kita saat ini yang dibatasi oleh banyak ikatan. Tingkatan Kedua: Kehidupan Nabi Khidir dan Nabi Ilyas . Kehidupan mereka relatif tidak terikat. Artinya, mereka bisa berada di banyak tempat dalam satu waktu serta bisa makan dan minum kapan mereka mau. Mereka tidak selalu terikat dengan sejumlah kebutuhan hidup manusia seperti kita. Para wali yang mendapat kasyaf meriwayatkan secara mutawatir berbagai peristiwa nyata yang terdapat dalam tingkatan tersebut. Riwayat-riwayat itu menegaskan adanya tingkatan kehidupan ini. Bahkan, dalam maqam kewalian terdapat maqam yang disebut sebagai “Maqam Khidir�. Wali yang mencapai maqam tersebut bisa duduk bersama Khidir serta menerima pelajaran darinya. Akan tetapi, orang yang telah mencapai maqam tersebut kadang keliru menduga bahwa dirinya adalah Nabi Khidir.


2

AL-MAKTÛBÂT

Tingkatan Ketiga: Kehidupan Nabi Idris dan Nabi Isa . Mereka mendapatkan kelembutan nurani dengan kondisinya yang bersih dari berbagai kebutuhan hidup manusia serta masuk ke dalam kehidupan yang menyerupai kehidupan malaikat. Nabi Idris dan Isa terdapat di langit dengan fi sik duniawi mereka yang seolah-olah menyerupai kelembutan fi sik immateri dan fi sik malaikat. Hadis Nabi r yang menyebutkan bahwa Nabi Isa akan turun di akhir zaman dan mengikuti syariat Nabi Muhammad22 r memiliki hikmah sebagai berikut. Dalam menghadapi gelombang ateisme yang dibawa oleh fi lsafat naturalisme, ajaran Nabi Isa akan bersih dan terbebas dari berbagai khurafat. Pada saat terjadinya transformasi ajaran Isa kepada Islam, sosok maknawi ajaran Isa menghunus pedang wahyu samawi dan membunuh sosok maknawi ateisme, sebagaimana Isa yang mewakili sosok maknawi ajarannya membunuh Dajjal yang mewakili sosok maknawi ateisme. Dengan kata lain, ia membunuh paham ateisme (inkârul ulûhiyah). Tingkatan Keempat: Kehidupan para syuhada. Hal itu seperti yang disebutkan dalam nash al-Qur’an bahwa mereka memiliki tingkatan kehidupan yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada kehidupan orang mati dalam kubur. Ya, karena para syuhada telah mengorbankan kehidupan duniawi mereka demi jalan kebenaran, maka Allah I dengan kemurahan-Nya memberikan kehidupan yang menyerupai kehidupan duniawi di alam barzakh. Hanya saja, tanpa disertai dengan penderitaan, kepenatan, dan kerisauan. Mereka tidak sadar kalau diri mereka sudah mati. Yang mereka ketahui, mereka pergi ke alam yang lebih baik. Karena itu, mereka merasa sangat nikmat dan bahagia. Sebab, mereka tidak merasakan sakitnya perpisahan dengan orang-orang tercinta. Tidak seperti penghuni kubur lainnya di mana mereka menyadari bahwa mereka telah mati, meskipun ruh mereka bersifat abadi. Tentu saja, kenikmatan dan kebahagiaan yang mereka rasakan 22 Ini adalah makna dari banyak hadis yang berbicara tentang masalah tersebut. Lihat: al-Bukhari, bab al-Anbiyâ, h.49; dan Muslim, bab al-Iman, h.244-246.


Surat Pertama

3

di alam barzakh tidak seperti yang dirasakan oleh para syuhada. Perumpamaannya sebagai berikut: Dua orang bermimpi masuk ke dalam sebuah istana indah laksana surga. Yang satu sadar kalau yang dilihat hanyalah mimpi belaka. Jadi, kenikmatan yang ia peroleh sangat sedikit. Ia berkata dalam hati, “Kenikmatan ini akan segera berakhir ketika saya tersadar dari tidur.” Adapun yang kedua tidak merasakan hal itu sebagai mimpi. Karena itu, ia mendapatkan kenikmatan hakiki dan kebahagiaan sejati. Begitulah kehidupan barzakh yang didapat oleh para syuhada. Kondisi mereka berbeda dengan yang didapat oleh orang mati lainnya. Model kehidupan yang didapat oleh para syuhada serta keyakinan mereka bahwa mereka masih hidup adalah sesuatu yang valid berdasarkan sejumlah peristiwa dan riwayat yang sangat banyak. Bantuan yang diberikan Hamzah d, penghulu para syuhada,3 kepada orang yang meminta bantuan darinya dan bagaimana ia memenuhi kebutuhan duniawi mereka, dan sejumlah peristiwa lain menjelaskan adanya tingkatan kehidupan ini. Bahkan secara pribadi aku pernah mengalami kejadian sebagai berikut: Keponakanku sekaligus muridku, Ubaid, mati syahid di dekatku dalam perang dunia pertama. Saat tidur aku bermimpi masuk ke dalam kuburnya yang menyerupai rumah bawah tanah, padahal saat itu aku sedang ditawan di daerah yang jauhnya sejarak perjalanan tiga bulan. Aku juga tidak tahu tempat ia dikubur. Aku melihatnya berada dalam tingkatan kehidupan para syuhada. Ia mengira aku sudah meninggal dan sering menangisiku. Sementara ia sendiri merasa masih hidup. Hanya saja, ia sudah membangun rumah indah di bawah tanah karena khawatir dengan pendudukan Rusia. Mimpi sederhana ini—yang disertai sejumlah isyarat dan petunjuk—membuatku sangat yakin, seyakin menyaksikan hakikat tersebut. Tingkatan Kelima: Kehidupan spiritual penghuni kubur. Ya, kematian adalah perpindahan tempat, pelepasan ruh, dan bentuk 33 Lihat: at-abrâni, al-Mu’jam al-Kabîr, j.3, h.151; al-Mu’jam al-Ausath, j.4, h.328; al-Hakim, al-Mustadrak, j.3, h.219.


4

AL-MAKTÛBÂT

pembebasan tugas. Ia bukan peniadaan, ketiadaan, dan kefanaan. Penjelmaan ruh para wali dan kemunculan mereka di hadapan para ahli kasyaf lewat berbagai peristiwa, relasi penghuni kubur dengan kita dalam mimpi dan di saat terjaga, informasi yang mereka berikan kepada kita yang sesuai dengan fakta, serta petunjuk lainnya yang sejenis menjelaskan dan menegaskan tentang tingkatan kehidupan ini. “Kalimat Kedua Puluh Sembilan” yang secara khusus berbicara tentang keabadian ruh membuktikan tingkatan kehidupan ini secara meyakinkan lewat berbagai dalil yang kuat.

Pertanyaan Kedua: Ayat al-Qur’an berbunyi:

“(Dia) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. al-Mulk [67]: 2). Ayat di atas dan ayat-ayat lain yang sejenis memosisikan kematian sebagai makhluk sama seperti kehidupan, sekaligus memandangnya sebagai nikmat Ilahi. Akan tetapi, tampak bahwa kematian merupakan bentuk kehancuran, ketiadaan, padamnya cahaya kehidupan, dan pemutus atau penghancur segala kenikmatan. Lalu bagaimana ia bisa menjadi “makhluk” dan bagaimana ia dianggap sebagai “nikmat”?

Jawaban: Telah kami jelaskan di akhir jawaban dari pertanyaan pertama bahwa kematian hakikatnya merupakan bentuk pembebasan dan penghabisan tugas kehidupan dunia. Ia adalah perpindahan tempat dan perubahan wujud. Ia juga ajakan menuju kehidupan abadi sekaligus sebagai awal dari kehidupan yang kekal. Pasalnya, sebagaimana datangnya kehidupan kepada dunia terwujud berkat penciptaan dan penetapan Ilahi, demikian pula dengan kepergiannya dari dunia. Ia terwujud berkat penciptaan, hikmah, dan penetapan Ilahi. Sebab, kematian makhluk hidup yang paling


Surat Pertama

5

sedehana sekalipun―yaitu tumbuhan―memperlihatkan kepada kita sebuah kreasi penciptaan yang lebih rapi daripada kehidupan itu sendiri. Kematian buah, benih, dan biji yang secara lahiriah tampak hancur dan musnah, pada hakikatnya ia adalah manifestasi dari proses interaksi kimiawi yang terangkai secara sangat teratur, campuran dari berbagai besaran elemen dalam bentuk yang sangat cermat dan terukur, serta konstruksi dan formasi antar partikel dalam bentuk yang penuh hikmah di mana kematian yang tidak terlihat yang berisi tatanan penuh hikmah dan cermat tersebut, memperlihatkan bentuk kehidupan bulir dan benih yang tumbuh dan berbuah. Artinya, kematian benih merupakan awal dari kehidupan tumbuhan baru dalam bentuk bunga dan buah. Bahkan ia seperti kehidupan baru itu sendiri. Jadi, kematian adalah makhluk yang tertata rapi seperti kehidupan. Begitu pula karena kematian sejumlah buah atau binatang dalam perut manusia menyebabkan mereka naik ke tingkat kehidupan manusia, maka kematiannya merupakan makhluk yang lebih tertata daripada kehidupan mereka. Pada hakikatnya, ia merupakan awal dan permulaan dari naiknya nutrisi dalam sejumlah bagian kehidupan manusia yang mulia. Jadi, kematiannya merupakan makhluk yang lebih tertata daripada kehidupan nutrisi tersebut. Jika kematian tumbuhan yang berada dalam tingkatan kehidupan paling rendah merupakan makhluk yang tertata dengan penuh hikmah, apalagi kematian manusia yang berada dalam tingkat kehidupan yang paling tinggi. Tentu saja kematiannya akan membuahkan kehidupan kekal abadi di alam barzakh. Ini sama seperti benih yang ditanam di mana dengan kematiannya ia menjadi tumbuhan yang sangat indah dan penuh hikmah. Lalu bagaimana kematian menjadi nikmat? Jawaban: Kami akan menyebutkan empat sisi nikmat dari kematian: Pertama, kematian menyelamatkan manusia dari berbagai beban dan tugas kehidupan dunia serta dari berbagai taklif hidup yang berat. Pada waktu yang sama, ia adalah pintu penghubung


6

AL-MAKTÛBÂT

dengan 99% orang yang dicinta di alam barzakh. Dengan demikian, ia merupakan nikmat yang sangat besar. Kedua, kematian mengeluarkan manusia dari penjara dunia yang gelap, sempit, dan penuh kesulitan untuk masuk ke dalam wilayah rahmat Dzat yang dicinta dan Kekasih abadi. Di sana manusia mendapatkan kehidupan yang lapang, kekal, dan bersinar di mana tidak dibalut ketakutan serta tidak dikotori oleh kesedihan dan kerisauan. Ketiga, masa tua dan sejenisnya termasuk faktor yang membuat kehidupan menjadi sulit dan memenatkan. Dari sana terlihat betapa kematian merupakan nikmat yang melebihi nikmat kehidupan. Andai engkau membayangkan bahwa kakek-kakekmu dengan kondisi mereka yang sulit masih hidup sampai saat ini bersama kedua orang tuamu yang sudah lanjut usia, engkau pasti memahami betapa kehidupan merupakan bencana bagi mereka dan kematian merupakan nikmat. Bahkan, engkau dapat menangkap sejauh mana rahmat yang terdapat dalam kematian dan sejauh mana kesulitan yang terdapat dalam langgengnya kehidupan dengan merenungkan serangga yang menyukai bunga-bunga indah saat hawa dingin menyengat datang menyerang mereka di musim dingin. Keempat, sebagaimana tidur merupakan kelapangan dan rahmat bagi manusia; terutama bagi mereka yang mendapat cobaan, sakit, dan luka, demikian pula dengan kematian yang merupakan saudara kembar tidur. Ia adalah rahmat dan nikmat besar bagi mereka yang mendapat berbagai cobaan berat yang kadang membuat mereka bunuh diri. Adapun bagi kaum yang sesat, kematian merupakan bencana besar dan siksa dalam siksa sama seperti kehidupannya. Sebagaimana hal itu telah kami tegaskan dalam sejumlah bagian “al-Kalimâtâ€? dan semua itu berada di luar pembahasan kita saat ini.

Pertanyaan Ketiga: Di manakah letak neraka jahannam?


Surat Pertama

7

Jawaban: man:

Yang mengetahui hal gaib hanyalah Allah. Allah

I berfi r-

“Katakanlah: Pengetahuan tentang hal itu hanya di sisi Allah” (QS. al-Mulk [67]: 26). Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa neraka jahannam terdapat di perut bumi. 4 Bola bumi dengan gerak tahunannya (revolusi) menuliskan lingkaran di seputar medan yang akan menjadi mahsyar di masa mendatang, seperti yang telah kami terangkan di tempat lain. Adapun maksud dari ungkapan “neraka jahannam terdapat di perut bumi” adalah di dalam putaran tahunannya. Sementara yang membuat ia tidak bisa dilihat dan dirasakan karena kondisinya berupa api tanpa cahaya dan tertutup oleh hijab. Seperti diketahui bersama bahwa dalam orbit putaran bumi yang jaraknya sangat luas itu terdapat banyak makhluk tak terlihat karena tidak memiliki cahaya. Sebagaimana bulan yang setiap kali cahayanya ditarik, hilang pula wujudnya, demikian pula dengan banyak makhluk dan benda langit yang lain. Karena gelap tak bercahaya, kita tidak bisa melihatnya meski berada di hadapan kita. Selanjutnya, neraka ada dua: neraka kecil dan neraka besar. Neraka kecil ibarat benih bagi nereka besar. Pasalnya, di masa mendatang ia akan menjadi neraka besar dan akan menjadi salah satu tempat kedudukannya. Makna dari “neraka kecil berada di perut bumi” adalah bahwa ia berada di pusatnya. Sebab, perut bumi adalah pusatnya. Seperti diketahui dalam ilmu geologi, suhu pada umumnya makin meningkat satu derajat setiap kali menggali tanah sedalam 33 meter. Artinya, suhu di pusat bumi bisa mencapai 200.000 derajat. Sebab, setengah diameter bumi lebih dari 6000 km. Dengan 4 Lihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad, j.2, h.370, dan j.4, h.287; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, j.3, h.55; al-Baihaqi, Syuab al-Îmân, j.1, h.331, j.1, 357, j.4, h.334; dan al-Hakim, al-Mustadrak, j.4, h.612.


8

AL-MAKTÛBÂT

demikian, apinya 200 derajat lebih panas daripada api dunia. Hal ini sesuai dengan bunyi hadis Nabi .5 Neraka kecil ini menunaikan banyak tugas neraka besar di dunia dan di alam barzakh seperti yang diterangkan oleh sejumlah hadis. Adapun di alam akhirat, bumi akan mengosongkan penduduknya dan melemparkan mereka ke padang mahsyar yang merupakan orbit tahunannya. Neraka kecil yang berada di dalam perutnya juga diserahkan kepada neraka besar dengan izin dan perintah Allah. Sementara pendapat beberapa tokoh muktazilah bahwa neraka akan diciptakan nanti adalah keliru dan bodoh. Pendapat itu muncul lantaran saat ini neraka tidak terhampar dan tidak terlihat secara sempurna oleh penduduk bumi. Selanjutnya, kemampuan melihat sejumlah tempat di alam akhirat yang terhijab dengan tirai gaib lewat penglihatan duniawi serta bagaimana memperlihatkannya kepada yang lain hanya bisa terwujud dengan mengecilkan seluruh alam sekaligus menjadikannya berada dalam dua wilayah. Atau, dengan membesarkan ukuran mata kita sebesar bintang agar bisa melihat sejumlah tempatnya. Jadi, berbagai tempat di alam akhirat tidak bisa dilihat dengan penglihatan dunia kita. Pengetahuan tentangnya hanya dimiliki oleh Allah I. Akan tetapi, dari petunjuk sejumlah riwayat dapat dipahami bahwa neraka yang terdapat di akhirat memiliki korelasi dengan dunia kita. Misalnya, disebutkan bahwa tingginya panas di musim panas berasal dari “hembusan api neraka”. 6 Karena itu, neraka besar berupa api besar yang tidak bisa dilihat oleh mata akal yang lemah dan kecil. Kita hanya bisa melihatnya dengan cahaya nama Allah, al-Hakîm (Yang Mahabijaksana). Maksudnya: Neraka besar yang terdapat di bawah orbit tahunan bumi seolah-olah telah diwakili oleh neraka kecil yang terdapat di pusat bumi. Ia menunaikan sebagian tugasnya. Sementara kerajaan Ada beberapa riwayat yang menyebutkan tentang panasnya api neraka, dan bahwa ia jauh lebih panas dibanding api dunia. Lihat: al-Bukhari, bab tentang awal penciptaan, h.10; Muslim, bab al-Masâjid, h.180-187; at-Tirmidzi, bab tentang Shalat, h.5; dan Abu Daud, bab tentang Shalat, h.5. 6 Lihat: al-Bukhari, bab al-Mawâqît, h.9; Muslim, bab al-Masâjid, h.180-187. 5


Surat Pertama

9

Allah Yang Mahakuasa sangat luas. Di mana saja hikmah Ilahi mengarahkan neraka, maka ia menetap padanya. Ya, Tuhan Mahakuasa yang Mahaagung, Mahabijak yang Maha Sempurna, Pemilik perintah kun fayakun yang mengaitkan bulan dengan bumi lewat hikmah yang sempurna secara teratur seperti yang terlihat, lalu mengaitkan bumi dengan mentari lewat keagungan qudrah-Nya secara rapi, kemudian menjalankan mentari berikut seluruh planetnya lewat keagungan rububiyah-Nya yang mulia dengan kecepatan yang mendekati kecepatan putaran tahunan bumi yang Dia jalankan menuju pusat mentari, serta menjadikan bintang-gemintang yang bersinar laksana lentera sebagai bukti bercahaya atas kekuasaan rububiyah-Nya di mana ia memperlihatkan rububiyah Tuhan yang agung dan keagungan qudrah-Nya, tidak aneh jika kesempurnaan hikmah Dzat Yang Mahakuasa dan Mahaagung ini menjadikan neraka besar sebagai khazanah tempat penerangan yang dengannya Dia menyalakan bintang langit yang menatap ke akhirat dan memberinya hawa panas dan kekuatan. Dengan kata lain, Dia mengirimkan padanya api dan panas yang berasal dari neraka serta mengirimkan padanya sinar dan cahaya dari surga yang merupakan alam cahaya. Pada waktu yang sama, Dia menjadikan sebagian dari neraka sebagai sebuah tempat dan penjara untuk mereka yang layak mendapat siksa. Demikian pula sangat bisa diterima apabila qudrah dan hikmah Pencipta Yang Mahabijak yang menghimpun pohon sebesar gunung dalam sebuah benih kecil seukuran biji sawi, menyimpan neraka besar dalam sebuah benih neraka kecil yang terdapat dalam jantung bola bumi. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa surga dan neraka adalah dua buah dari dahan pohon penciptaan. Dahan tersebut menjulur atau membentang hingga masa keabadian. Sementara buahnya berada di ujung dahan. Keduanya juga merupakan hasil dari rangkaian entitas. Tempatnya berada di dua ujung rangkaian; yang rendah dan berat berada di tempat paling bawah, sementara yang tinggi dan bercahaya berada di tempat paling atas.


10

AL-MAKTÛBÂT

Keduanya merupakan muara aliran ciptaan ilahi dan gudang produk maknawi bumi. Gudang tersebut sesuai dengan jenis produknya. Yang rusak berada di bagian bawah, sementara yang baik berada di bagian atas. Keduanya merupakan telaga bagi entitas yang mengalir menuju keabadian. Tempat telaga itu berada di posisi diam dan berkumpulnya air. Yang buruk dan jelek berada di bagian bawah, sementara yang baik dan bersih di bagian atas. Keduanya adalah tempat manifestasi kelembutan dan keperkasaan, serta rahmat dan keagungan. Tempat manifestasi tersebut bisa terwujud di mana saja. Tuhan Maha Penyayang Yang Mahaindah, dan Mahaperkasa Yang Mahaagung membuka tempat manifestasinya di posisi yang Dia kehendaki. Adapun wujud atau keberadaan surga dan neraka, telah ditetapkan secara pasti dalam “Kalimat Kesepuluh”, “Kedua Puluh Delapan”, dan “Kesembilan”. Hanya saja di sini kami ingin mengatakan bahwa: Wujud “buah” bersifat pasti dan meyakinkan sebagaimana kepastian adanya dahan. Wujud “hasil” tidak diragukan sebagaimana keberadaan wujud rangkaian. Wujud “gudang” bersifat pasti sebagaimana kepastian adanya produk. Wujud keberadaan “telaga dan muara” bersifat pasti sebagaimana kepastian adanya sungai. Wujud “tempat manifestasi” bersifat pasti sebagaimana kepastian adanya rahmat dan keperkasaan.

Pertanyaan Keempat: Cinta majasi terhadap sesuatu yang dicinta bisa berubah menjadi cinta hakiki. Apakah mungkin cinta majasi terhadap dunia yang dirasakan oleh sebagian besar manusia berubah menjadi cinta hakiki?

Jawaban: Ya, jika pecinta majasi tersebut menyaksikan pada wajah dunia yang fana ini buruknya kefanaan, lalu berpaling darinya dengan mencari kekasih abadi, di mana kemudian Allah mem-


Surat Pertama

11

berinya taufi k untuk melihat dua sisi dunia yang indah—yaitu cermin Asmaul husna dan ladang akhirat—ketika itulah cinta majasi yang tidak sesuai dengan syariat akan berubah menjadi cinta hakiki. Akana tetapi, dengan syarat bisa membedakan antara dunianya yang fana yang terkait dengan kehidupannya, dan dunia luar. Sebab, ketika ia melupakan diri sebagaimana kaum yang sesat dan lalai, lalu tenggelam dalam dunia serta menganggap dunianya yang khusus seperti dunia secara umum sehingga mencintainya, maka ia jatuh dan tenggelam dalam kubangan alam. Kecuali, orang yang diselamatkan oleh pertolongan Tuhan secara luar biasa. Perhatikanlah perumpamaan berikut yang menjelaskan hakikat ini: Bayangkan kita berempat masuk ke dalam sebuah kamar. Pada dinding-dindingnya terdapat empat cermin besar sebesar tembok. Ketika itu, kamar indah tersebut berubah menjadi lima kamar. Yang satu bersifat hakiki dan umum. Sementara empat lainnya bersifat imajinasi atau bayangan dan khusus. Setiap dari kita bisa mengubah bentuk kamarnya yang khusus berikut warnanya lewat perantaraan cerminnya. Kalau cermin itu kita ubah jadi warna merah, maka kamar akan terlihat berwarna merah. Kalau kita ubah jadi warna hijau, ia akan terlihat hijau. Demikian seterusnya. Kita dapat mengubah warna dan suasana kamar dengan cara mengubah dan menyetel cermin tersebut. Bahkan, kita bisa mengubah suasananya menjadi baik atau buruk, atau yang sesuai dengan keinginan kita. Akan tetapi, kita tidak bisa mengubah dan mengganti kamar yang bersifat umum dan berada di luar cermin dengan mudah. Hukum yang berlaku pada kamar khusus dan umum itu berbeda, meskipun pada dasarnya sama. Dengan menggerakkan jari, engkau bisa merusak kamarmu. Sementara engkau tidak bisa menggerakkan batu yang terdapat di kamar yang bersifat umum itu sedikitpun. Begitupula kondisi dunia. Ia adalah tempat singgah yang indah. Kehidupan setiap kita laksana cermin besar dan luas. Setiap dari kita memiliki dunia yang bersifat khusus dari dunia yang bersifat umum. Hanya saja, pilar, pusat, dan pintu dunia kita ada-


12

AL-MAKTÛBÂT

lah kehidupan kita. Bahkan, dunia dan alam kita yang bersifat khusus merupakan lembaran, sementara kehidupan kita laksana pena. Dengan pena tersebut, ditulislah banyak hal yang kemudian dipindahkan ke dalam lembaran amal. Jika kita mencintai dunia kita, lalu kita menyaksikannya sebagai sesuatu yang bersifat sementara dan fana; tidak abadi, sama seperti kehidupan kita—karena ia dibangun di atasnya―, dan kita merasakan kefanaan tersebut, ketika itulah cinta kepadanya berubah menjadi kecintaan terhadap goresan Asmaul husna yang direfl eksikan oleh dunia khusus kita yang merupakan cermin baginya. Dari sana cinta itu beralih menjadi kecintaan terhadap manifestasi Asmaul husna. Selanjutnya, jika kita memahami bahwa dunia khusus kita merupakan ladang sementara bagi akhirat dan surga, lalu kita alihkan perasaan kita yang kuat terhadapnya seperti keinginan untuk memiliki, mendapat, dan mencintainya, kepada hasil, buah, dan bulir dari ladang tersebut yang merupakan keuntungan ukhrawinya, ketika itulah cinta majasi berubah menjadi cinta hakiki. Namun jika sebaliknya, kita akan menjadi seperti yang Allah katakan tentang mereka:

“Mereka lupa kepada Allah, sehingga Dia membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. al-Hasyr [59]: 19). Orang yang lupa dan lalai terhadap dirinya, serta tidak memikirkan kehidupanya yang segera lenyap, lalu menganggap dunianya yang bersifat khusus dan fana sebagai sesuatu yang tetap seperti dunia yang bersifat umum seraya mengira dirinya kekal hingga merasa nyaman dengannya dan menggenggamnya lewat seluruh perasaannya, maka ia akan tenggelam di dalamnya dan binasa. Cintanya akan menjadi bencana dan derita untuknya. Sebab, ia melahirkan rasa belas kasih dan getaran qalbu yang putus asa seperti anak yatim. Akhirnya, ia merasa sedih dengan berbagai kondisi makhluk hingga merasakan pedihnya perpisahan lewat musibah makhluk yang indah dan akan binasa. Melihat itu


13

Surat Pertama

semua, dirinya tak bisa berbuat apa-apa hingga merasa terpukul dalam sebuah keputusasaan yang pahit. Adapun orang pertama yang selamat dari perangkap kelalaian, ia menemukan balsam penyembuh dalam menghadapi pedihnya rasa kasihan. Pasalnya, pada kematian makhluk hidup dan lenyapnya kondisi mereka yang dicinta, ia menemukan keabadian cermin ruh mereka yang menampilkan manifestasi abadi dari Asmaul husna yang kekal. Ketika itulah, rasa kasihan tadi berubah menjadi kegembiraan abadi. Di balik seluruh makhluk yang indah yang akan menghadapi kefanaan itu, ia menyaksikan ukiran, kreasi indah, hiasan, kebaikan, dan penerangan yang bersifat permanen. Hal itu membuatnya bisa merasakan keindahan yang bersih, baik, dan suci sehingga melihat kefanaan tersebut sebagai cara untuk menambah keindahan, memperbaharui kenikmatan, dan memperlihatkan kreasi sehingga menjadikannya semakin nikmat, cinta, dan kagum.

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‍٭٭٭‏


SURAT KEDUA

(Potongan jawaban yang diberikan kepada muridnya yang telah disebutkan dan diketahui saat ia memberi beliau sebuah hadiah)7

Ketiga: Engkau telah mengirim sebuah hadiah yang dengan itu engkau ingin mengubah salah satu prinsip yang sangat penting dalam hidupku. Wahai saudaraku, bukan berarti aku tidak mau menerima hadiahmu sebagaimana aku tidak menerimanya dari saudara kandungku, Abdul Majid, dan keponakanku, Abdurrahman. Engkau lebih unggul daripada mereka dan engkau lebih dekat denganku. Karena itu, jika hadiah yang lain kutolak, maka hadiahmu kuterima. Namun cukup sekali ini saja. Dalam kesempatan yang baik ini, aku ingin menjelaskan rahasia di balik prinsip hidupku ini sebagai berikut: “Said Lama�8 tidak bisa memikul beban jasa yang diberikan orang. Bahkan, ia memilih mati daripada harus memikul beban tersebut. Ia tetap tidak mau melanggar prinsip itu meski hidupnya Murid yang dimaksud adalah Khulusi. Said Lama adalah istilah yang dipergunakan oleh Ustadz Said Nursi untuk dirinya sendiri. Yaitu mengacu pada masa sebelum beliau menulis Risalah Nur (sebelum tahun 1926 M), sebelum ia mengemban misi penyelamatan iman umat, serta sebelum ia mendapat inspirasi dari pancaran cahaya al-Qur’an untuk menerbitkan Risalah Nur. 77

88


16

AL-MAKTÛBÂT

sulit, sukar, dan penat. Nah, sifat yang diwarisi oleh hamba yang lemah ini dari Said Lama bukan sifat zuhud dan merasa cukup yang dibuat-buat. Namun hal itu disebabkan oleh sejumlah hal: Pertama: Kaum yang sesat menuduh para ulama telah menjadikan ilmu mereka sebagai sumber penghasilan. Mereka menyerang para ulama secara zalim dan melampaui batas. Mereka mengatakan, “Para ulama menjadikan ilmu dan agama sebagai sarana untuk mendapatkan penghasilan.” Tuduhan tersebut tentu harus dibantah dengan sikap nyata. Kedua: Kita diperintahkan untuk mengikuti para nabi dalam menyebarkan dan menyampaikan kebenaran. Al-Qur’an al-Karim menyebut orang-orang yang menyebarkan kebenaran sebagai pihak yang merasa cukup; tidak membutuhkan pemberian manusia. Sebagaiman dalam fi rman Allah yang berbunyi:

“Upahku tidak lain hanyalah dari Allah semata.” (QS. Yunus [10]: 72). Sementara ayat al-Qur’an yang berbunyi:

“Ikutilah orang yang tidak meminta upah dari kalian dan mereka mendapat petunjuk” (QS. Yasin [36]: 21) mengandung banyak makna dan tujuan yang mendalam terkait dengan persoalan ini. Ketiga: Sebagaimana dijelaskan dalam “Kalimat Pertama” bahwa memberi dan menerima harus dengan nama Allah. Akan tetapi, biasanya yang memberi lupa sehingga memberi atas namanya sendiri, lalu secara tidak sadar merasa berjasa. Atau, bisa juga yang menerima lupa dengan mempersembahkan pujian dan rasa syukur, yang sebenarnya milik Dzat Pemberi hakiki, kepada berbagai sebab lahiri sehingga keliru. Keempat: Tawakkal, qana’ah, dan hidup sederhana merupakan khazanah besar dan kekayaan berharga yang tidak bisa di-


Surat Kedua

17

tukar dengan apapun. Aku tidak ingin menutup pintu khazanah dan kekayaan yang tidak pernah habis itu dengan menerima harta dari orang lain. Kuucapkan ribuan syukur dan terima kasih kepada Dzat Pemberi rezeki yang Mahaagung. Sejak kecil Dia tidak membuatku bersandar pada pemberian orang. Aku mengharap rahmat-Nya dengan bersandar pada kemurahan-Nya agar sisa hidupku tetap berpegang pada prinsip tersebut. Kelima: Sejak sekitar dua tahun, lewat berbagai petunjuk dan pengalaman yang kudapat, aku merasa sangat yakin bahwa aku tidak mendapat izin untuk menerima harta orang; terutama hadiah dari orang-orang kaya dan para pejabat. Sebab, aku merasa tidak nyaman dengannya. Bahkan, ia dijadikan sebagai sesuatu yang berbahaya agar tidak bisa dikonsumsi. Atau, kadang berubah ke dalam bentuk yang membahayakanku. Dengan demikian, ia laksana perintah tersirat untuk tidak mengambil pemberian orang atau larangan untuk menerimanya. Selain itu, aku tidak merasa nyaman dikerumuni orang. Aku tidak bisa menerima kunjungan mereka setiap waktu. Sementara menerima hadiah mereka mengharuskanku untuk menerima kunjungan mereka di waktu yang tidak kuinginkan guna menjaga perasaan mereka. Inilah yang tidak kusukai. Aku lebih senang makan sepotong roti kering dan memakai pakaian dengan seratus tambalan yang membuatku tampil apa adanya, daripada memakan makanan paling nikmat milik orang, memakai pakaian paling mewah dari mereka, dan harus menjaga perasaan mereka. Ini merupakan hal yang sangat tidak kusenangi. Keenam: Sebab paling penting yang membuatku tidak menerima pemberian orang adalah ucapan Ibnu Hajar al-Haitami, sosok ulama yang bisa dipercaya dalam mazhab Syafi i, “Dilarang menerima sesuatu yang diberikan kepadamu dengan niat kesalihan jika engkau bukan orang salih.� 99 99 “Siapa yang diberi karena sebuah keadaan yang diduga ada padanya, seperti miskin, salih, atau adanya hubungan nasab, lewat berbagai indikasi bahwa ia memberi dengan tujuan tersebut atau si pemberi secara tegas menyatakan hal itu padahal kondisi sebenarnya tidak demikian, maka haram untuk menerimanya. Begitu pula haram menerima andaikan ia memiliki sifat tersembunyi yang jika diketahui oleh si pemberi niscaya tidak akan diberi olehnya. Hal yang sama berlaku pada hadiah dan


18

AL-MAKTÛBÂT

Ya, manusia zaman sekarang menjual hadiah murahan dengan harga yang mahal karena rakus dan tamak. Ia mengira pendosa yang lemah sepertiku sebagai wali yang salih lalu memberiku sepotong roti sebagai hadiah. Jika aku merasa saleh—naûdzu billâh—itu adalah tanda kesombongan dan bukti bahwa aku tidak saleh. Namun jika aku tidak merasa saleh, berarti tidak boleh menerima hadiah tersebut. Di samping itu, menerima sedekah dan hadiah sebagai imbalan dari berbagai amal yang mengarah kepada akhirat berarti memetik buah yang kekal untuk akhirat dalam bentuk yang fana di dunia.

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬

juga semua akad tabarru seperti hibah, wasiat, wakaf, dan nazar.” Tuhfatul Muhtâj li Syarhil Minhâj j.7, h.178, karya Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi i.


SURAT KETIGA

(Potongan surat yang dikirimkan kepada muridnya yang sudah dikenal)

Kelima: Dalam salah satu suratmu, engkau telah menuliskan keinginanmu untuk ikut terlibat dalam sesuatu yang menggelorakan perasaanku di sini. Karena itu, perhatikan salah satu dari seribu darinya. Yaitu: Pada suatu malam, aku berada dalam sebuah ketinggian, di sebuah tempat yang terdapat di atas puncak pohon katran yang tinggi. Dari sana aku melihat permukaan langit yang tenang dan indah yang berhias lentera bintang-gemintang. Seketika, aku melihat salah satu cahaya kemukjizatan yang tinggi dan sebuah rahasia balagah (retorika) yang bersinar dalam sumpah yang terdapat dalam ayat:

“Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang. Yang beredar dan terbenam.� (QS. at-Takwir [81]: 15-16). Ya, ayat di atas menjelaskan bintang-gemintang yang berjalan, yang terbenam dan menyebar. Ayat di atas menghamparkan sebuah goresan indah dan kreasi apik yang terdapat di permukaan langit. Ia menggambarkan sebuah layar menakjubkan yang mengandung pelajaran.


20

AL-MAKTÛBÂT

Ya, ketika bintang dan planet yang beredar itu keluar dari wilayah pemimpinnya, matahari, dan masuk ke dalam wilayah bintang yang permanen, ia memperlihatkan berbagai goresan menakjubkan dan keindahan kreasi di langit yang terus berubah dari waktu ke waktu. Mereka saling bekerjasama dan memperlihatkan bukti keindahan yang cemerlang. Salah satunya masuk ke dalam bintang-bintang kecil dan membimbingnya sebagaimana yang besar membimbing yang kecil. Terutama bintang Venus yang bersinar di cakrawala setelah terbenam di musim ini khususnya, sementara yang lain bersinar sebelum fajar. Sungguh sebuah keindahan cemerlang yang tampak di cakrawala. Kemudian ketika setiap bintang telah menunaikan tugas, lalu memimpin yang lain, dan melakukan berbagai pengabdian layaknya kumparan dalam untaian ukiran kreasi menakjubkan, ia kembali ke wilayah pemimpinnya yang agung, mentari, hingga terbungkus cahaya dan lenyap dari pandangan. Bintang dan planet yang beredar itu yang oleh al-Qur’an disebut dengan istilah al-Khunnas dan al-Kunnas diputar oleh Allah I bersama dengan bumi kita laksana perahu yang mengarungi gelombang alam serta dijalankan laksana burung yang terbang di angkasa. Ia melakukan perjalanan panjang secara sangat rapi yang hal itu menunjukkan keagungan rububiyah dan uluhiyah-Nya sejelas mentari di siang hari. Betapa agung Tuhan Yang Maha Berkuasa di antara seluruh perahu dan pesawat-Nya yang seribu kali lebih besar daripada bumi dan menempuh perjalanan delapan jam hanya dalam satu detik! Ukurlah sendiri seberapa besar kebahagiaan dan kemuliaan yang terletak dalam ubudiyah kepada Dzat Yang Maha berkuasa dan agung itu, dalam hubungan keimanan kepada-Nya, dan menjadi tamu-Nya di dunia ini. Kemudian aku mengarahkan pandangan ke bulan. Aku melihat ayat yang berbunyi:


Surat Ketiga

21

“Telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah ia sampai ke manzilah yang terakhir) ia pun kembali seperti bentuk tandan yang tua.” (QS. Yâsîn [36]: 39). Ayat tersebut mengungkap cahaya kemukjizatan yang bersinar. Ya, penetapan kedudukan bulan secara sangat cermat, serta bagaimana proses pemutarannya mengelilingi bumi, pengaturan dan pencahayaan, serta pemberian sejumlah posisi antara bumi dan matahari, semuanya berada dalam sebuah perhitungan yang sangat detil dan cermat; membuat akal tercengang. Ia membimbing semua makhluk pemilik kesadaran yang menyaksikan kecermatan tersebut untuk berkata, “Sang Mahakuasa yang menata urusan ini dalam bentuk yang luar biasa serta menetapkannya dengan sangat cermat, tak mengalami kesulitan sedikitpun. Ini semua menunjukkan bahwa yang melakukannya adalah Tuhan Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Lalu, bulan menyusul mentari. Penyusulan tersebut sangat terukur; tidak keliru bahkan meski sedetik. Serta tidak lambat dalam melakukan pekerjaannya meski hanya sekejap. Semua itu mendorong setiap orang yang mencermatinya untuk berkata, “Mahasuci Dzat yang semua akal takjub melihat kreasi-Nya. Pasalnya, bulan mengambil bentuk seperti sabit yang halus. Terutama di akhir bulan Mei dan juga kadang terjadi di waktu yang lain. Ia mengambil bentuk seperti tandan tua saat memasuki gugusan bintang. Sehingga gugusan bintang tersebut seperti sekuntum buah yang bergelayut di tandan tua yang berada di balik tirai langit yang biru. Hal itu memberikan imajinasi akan keberadaan pohon besar bercahaya. Seolah-olah satu dahan kecil dari pohon itu menembus tabir dan mengeluarkan ujungnya bersama dengan sekuntum buah. Maka, keduanya menjadi gugusan bintang dan sabit. Layar menakjubkan di atas memberikan gambaran bahwa bintang-bintang yang lain merupakan buah dari pohon gaib tersebut. Karena itu, perhatikan makna halus dari ayat, “seperti bentuk tandan yang tua.” Lalu reguk keindahan balagahnya.


22

AL-MAKTÛBÂT

Kemudian terlintas dalam benak ini ayat yang berbunyi:

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu. Maka, berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk [67]: 15). Ayat ini menjelaskan bahwa bumi ibarat perahu yang dikendalikan dan tunggangan yang diperintah. Dari petunjuk tersebut, aku melihat diriku berada pada posisi yang tinggi di atas perahu besar yang berjalan cepat itu di angkasa. Lalu aku membaca:

“Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasai.” (QS. az-Zukhruf [43]: 13). Itulah yang disunnahkan untuk dibaca saat menaiki kendaraan, entah kuda, perahu, atau yang lainnya. Aku juga melihat bahwa dengan gerakan tersebut, bola bumi berposisi seperti mesin fi lm yang menampilkan ragam tayangan. Ia menggerakkan bintang-gemintang yang berada di langit dan memimpin geraknya laksana pasukan seraya memperlihatkan berbagai pemandangan menarik dan unik yang membuat para pemikir dan kaum berakal takjub dan tercengang. Serta, membuat mereka senang menyaksikannya. Seketika aku mengucap, “Subhanallah (sungguh luar biasa)!” Betapa ringan tugas yang dengannya ditunaikan berbagai pekerjaan besar yang menakjubkan dan mulia! nak:

Dari sini ada dua catatan keimanan yang terlintas dalam be-

Pertama: beberapa hari yang lalu, salah seorang tamuku mengajukan sebuah pertanyaan. Dasar pertanyaannya mengandung sebuah syubhat. Yaitu bahwa letak surga dan neraka sangat jauh. Bayangkan penduduk surga berjalan dan terbang laksana


Surat Ketiga

23

kilat dan buraq dari mahsyar dan masuk ke surga berkat karunia Ilahi. Namun bagaimana penduduk neraka masuk ke dalam neraka sementara mereka memikul beban tubuh dan dosa mereka yang besar? Dengan cara apa mereka pergi ke sana? Yang terlintas dalam benak bahwa andaikan semua negara diundang ke sebuah konferensi umum yang berlangsung di Amerka, misalnya, maka setiap negara menaiki kapal besar menuju ke sana. Demikian pula dengan “kapal bumi” yang sudah biasa melakukan perjalanan wisata yang panjang di laut samudera alam yang dalam setahun menempuh jarak sejauh 25 ribu tahun. Bumi ini membawa penduduknya dan mengantar mereka menuju medan mahsyar serta menumpahkannya di sana. Ia juga menumpahkan apinya yang terdapat di dalam perutnya yang panasnya mencapai 200 ribu derajat seperti yang disebutkan dalam hadis dengan melihat pada penambahan suhu satu derajat pada setiap 33 meter ke dalam “neraka jahannam kecil”. Ia menunaikan sebagian tugas “neraka jahannam besar” di dunia dan barzakh—sebagaimana bunyi riwayat hadis—dan menumpahkannya di medan mahsyar. Setelah itu, dengan perintah Allah, bumi berganti menjadi bumi lain yang kekal dan indah sekaligus menjadi salah satu tempat di alam akhirat. Kedua: Sang Pencipta Yang Mahakuasa, Yang Mahabijak, serta Mahaesa dan Maha Tunggal, telah menetapkan sebuah ketentuan dan menjalankan sebuah kebiasaan. Yaitu melaksanakan begitu banyak kewajiban lewat sesuatu yang sangat sedikit, serta menunaikan sejumlah tugas agung lewat sesuatu yang sangat sederhana. Hal itu menunjukkan kesempurnaan qudrah, keindahan hikmah, dan bukti keesaan-Nya. Dalam sejumlah “Kalimat” telah disebutkan bahwa: Apabila segala sesuatu disandarkan kepada yang satu, maka kemudahan terwujud sampai pada tingkat wajib. Namun jika ia dinisbatkan kepada beragam sebab dan banyak pencipta, maka berbagai persoalan, hambatan, dan kesulitan muncul sampai pada tingkat mustahil. Pasalnya, seorang manusia, entah itu komandan atau tukang bangunan, dapat meraih hasil yang diingin-


24

AL-MAKTÛBÂT

kan serta dapat memberikan kondisi yang diminta lewat sebuah gerakan dan dengan cara yang mudah karena banyaknya pasukan atau karena banyaknya batu dan peralatan bangunan. Adapun kalau urusan tersebut diserahkan kepada banyak prajurit atau banyak batu bangunan, tentu hasilnya sulit dicapai. Bahkan tidak akan bisa kecuali dengan sangat berat. Aktivitas berjalan, berkeliling, tertarik, dan berputar yang terlihat di jagad raya serta sejumlah pemandangan indah yang mengekspresikan tasbih kepada Tuhan; terutama pada empat musim dan pada pergantian siang dan malam, terkait semua itu aku ingin mengatakan bahwa andaikan ia disandarkan kepada keesaan-Nya, maka Dzat Yang Mahaesa dengan perintah-Nya kepada sebuah planet untuk bergerak, dapat melakukan berbagai hal yang istimewa dan buah yang berharga. Seperti memperlihatkan berbagai keajaiban kreasi dalam pergantian musim, keragaman hikmah dalam silih bergantinya siang dan malam, berikut layar yang indah dalam gerak bintang, mentari, dan bulan serta yang sejenisnya. Semua itu dapat terwujud karena seluruh entitas merupakan prajurit-Nya. Jika Dia berkehendak, Dia dapat mengangkat satu prajurit sederhana seperti bumi sebagai pemimpin atas seluruh bintang. Dia jadikan mentari besar sebagai lentera yang memberikan hawa panas dan cahaya kepada penduduk bumi. Dia jadikan empat musim—yang merupakan papan ukiran qudrah Ilahi—sebagai sesuatu yang datang secara silih berganti. Lalu Dia jadikan siang dan malam yang merupakan lembaran tulisan hikmah rabbani terus berdetak. Dia tentukan bulan sebagai posisi untuk mengetahui ukuran waktu. Dia jadikan bintang dalam bentuk lentera yang terang, halus, dan berkilau di tangan malaikat yang senang dan gembira. Begitulah Dia memperlihatkan berbagai hikmah yang terkait dengan bumi lewat sejumlah kondisi indah seperti ini. Berbagai kondisi tersebut jika bukan hasil perintah Dzat Mahaagung yang kekuasaan-Nya berlaku pada seluruh entitas dan mengarah kepadanya lewat tatanan, hukum, dan penataan-Nya, maka berarti seluruh mentari dan bintang harus menempuh per-


25

Surat Ketiga

jalanan tak terhingga pada setiap hari dengan gerakan hakiki dan dengan kecepatan tak terbatas. Demikianlah, dalam keesaan terdapat kemudahan tak terhingga. Sementara dalam pluralitas terdapat kesulitan tak terbatas. Karena itu, mereka yang bekerja dan berdagang menetapkan sebuah unit bagi sesuatu yang banyak. Artinya, mereka membentuk sejumlah perusahaan di antara mereka untuk mempermudah urusan. Kesimpulan: Dalam jalan kesesatan terdapat banyak kesulitan tak terkira. Sebaliknya, dalam jalan keesaan dan hidayah terdapat kemudahan tak terhingga.

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‍٭٭٭‏


SURAT KEEMPAT

Semoga keselamatan, kasih sayang, dan keberkahan dilimpahkan kepada kalian dan kepada saudara-saudara kalian, terutama ... dan seterusnya.

Saudara-saudaraku yang mulia! Sekarang aku berada di sebuah tempat, di atas puncak pohon cemara yang sangat besar, yang tegak di atas salah satu puncak gunung Çam. Aku sengaja mengisolasi diri dan menikmati kesendirian. Ketika ingin berdialog dan duduk bersama, kubayangkan diri kalian dekat denganku. Akupun mulai berbicara dengan kalian dan merasa terhibur. Aku ingin selalu menyendiri di sini selama satu atau dua bulan selama tidak ada yang menghalangi. Ketika pulang ke Barla, kita berusaha mencari cara sesuai dengan keinginan kalian untuk bisa duduk bersama dan berdialog; sesuatu yang sangat kurindukan melebihi kerinduan kalian. Sekarang aku ingin menuliskan untuk kalian sejumlah lintasan pikiran yang muncul di benak ketika berada di atas pohon cemara: Pertama: lintasan pikiran yang berisi sesuatu yang bersifat khusus. Yaitu terkait dengan sejumlah rahasiaku, tetapi


28

AL-MAKTÛBÂT

bagi kalian tidak ada yang kurahasiakan. Sebagian ahli hakikat mendapatkan bagian dari salah satu nama Allah, al-Wadûd (Yang Maha Mencintai). Mereka melihat Wajibul wujud (Allah) melalui jendela entitas lewat manifestasi paling agung dari nama tersebut. Demikian pula dengan saudaramu ini yang tidak masuk hitungan dan bukan siapa-siapa. Ia telah diberi kondisi yang membuatnya mendapatkan bagian dari nama Allah ar-Rahîm (Yang Maha Penyayang) dan nama al-Hakîm (Yang Mahabijaksana) saat ia menjadi pelayan al-Qur’an semata dan menjadi penyeru kepada simpanan kekayaan yang agung itu yang berbagai keajaibannya tidak terhingga. Seluruh al-Kalimât tidak lain merupakan manifestasi dari karunia tersebut. Kami berharap dari Allah semoga al-Kalimât meraih kandungan makna ayat yang berbunyi:

“Siapa yang diberi hikmah, berarti ia diberi kebaikan yang banyak.” (QS. al-Baqarah [2]: 269). Kedua: secara tiba-tiba terlintas dalam benak ini untaian kalimat berikut yang menjadi bacaan dalam tarekat Naqsabandiyah:

١٠ Kemudian untaian kalimat berikut datang sesudah kalimat di atas:

١١ Setelah itu, terlintas dalam benak ini bunyi tulisanmu: “Lihatlah lembaran kitab alam yang berwarna dan terang ... dan seterusnya.” Ia merupakan untaian syair yang kaya makna dan menyiratkan ragam ekspresi. 10 Yakni, dalam tarekat Naqsabandiyah ada empat hal yang harus ditinggalkan: meninggalkan dunia, meninggalkan akhirat, meninggalkan diri, dan meninggalkan pikiran untuk meninggalkannya. 11 Artinya, wahai saudaraku yang mulia, dalam jalan ketidakberdayaan engkau harus memiliki empat sifat: fakir mutlak, kelemahan mutlak, syukur mutlak, dan kerinduan mutlak.


Surat Keempat

29

Lewat untaian syair di atas, aku menatap bintang yang bergelayut di atap langit. Akupun berkata, “Andaikan aku seorang penyair, akan kusempurnakan syair tersebut.� Meskipun tidak memiliki bakat dalam bidang syair dan prosa, namun aku bisa merasakannya. Akan tetapi, karena tidak bisa merangkainya dalam bentuk syair, akhirnya kutuliskan ia sebagaimana yang terlintas dalam qalbu. Engkau dapat mengubahnya menjadi bentuk prosa wahai yang menjadi pewarisku. Lintasan pikiran yang muncul dalam benak secara seketika adalah sebagai berikut: Perhatikan bintang-gemintang yang ada, juga manis tuturnya yang baik dan nikmat guna melihat ketetapan stempel hikmah yang bersinar di alam wujud. Semuanya bersama-sama menyeru dan berkata dengan lisan kebenaran: “Kami adalah bukti cemerlang yang menunjukkan keagungan Sang Mahakuasa Yang Mahaagung. Kami saksi jujur atas eksistensi Sang Pencipta Yang Mahaagung serta atas keesaan dan kekuasaan-Nya Kami berwisata, seperti malaikat, di atas berbagai mukjizat indah tersebut yang menghias wajah bumi. Kami ribuan mata yang menatap dari langit ke bumi dan mendekati surga12 Kami ribuan buah indah dari pohon penciptaan yang digantung oleh tangan hikmah Tuhan Yang Mahaindah dan Mahaagung di tepi langit dan di dahan galaksi bima sakti Maknanya, permukaan bumi merupakan persemaian dan landang bunga-bunga surga. Padanya diperlihatkan mukjizat qudrat Ilahi yang tak terhingga. Sebagaiamana malaikat berwisata di alam samawi dan menyaksikan mukjizat tersebut, bintang yang merupakan mata dari benda langit yang bisa melihat juga demikian. Setiap kali melihat kepada berbagai ciptaan yang memenuhi permukaan bumi seperti malaikat, ia juga melihat alam surga. Ia menyaksikan berbagai hal luar biasa yang bersifat sementara dalam gambarannya yang kekal di sana. Yakni, ketika mengarahkan pandangan ke bumi, yang lain melihat kepada surga. Artinya, ia menatap kedua alam itu secara bersamaan―Penulis. 12


30

AL-MAKTÛBÂT

Kami masjid berjalan, kediaman yang berputar, sangkar yang tinggi, lentera yang bersinar, serta perahu dan pesawat yang besar bagi penduduk langit. Kami mukjizat qudrah Dzat Yang Mahakuasa Pemilik kesempurnaan, dan kreasi luar biasa Dzat Yang Mahabijak Pemilik keagungan. Hasil hikmah yang langka, hasil ciptaan yang cerdas, dan alam cahaya. Demikianlah, Kami menjelaskan seratus ribu satu bukti lewat seratus ribu satu lisan serta memperdengarkannya kepada mereka yang benar-benar manusia. Mata orang kafi r buta; tidak bisa melihat wajah kami yang bersinar dan tidak bisa mendengar perkataan kami yang jelas. Kami adalah tanda kekuasaan yang menuturkan kebenaran. Stempel kami sama, wajah kami sama. Kami semua bertasbih dan beribadah kepada Rabb kami serta tunduk pada perintah-Nya. Kami berzikir mengingat Allah dan kami ditarik oleh cinta kepada-Nya. Kami terpaut dengan halaqah zikir galaksi bima sakti.

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KELIMA

Pimpinan dan mentari tarekat Naqsyabandiyah, Imam Rabbani d dalam bukunya, Maktûbât, menegaskan: “Aku lebih memilih ketersingkapan satu persoalan hakikat iman daripada ribuan cita rasa spiritual dan karamah.” 1313 Beliau juga berkata, “Ujung dari seluruh jalan sufi adalah kejelasan dan ketersingkapan hakikat iman.” 1414 Selain itu beliau berkata, “Kewalian ada tiga macam: kewalian kecil (wilâyah sughrâ): yaitu kewalian yang populer; kedua: kewalian pertengahan (wilâyah wusthâ); ketiga: kewalian besar (wilâyah kubrâ), yaitu terbukanya jalan menuju hakikat secara langsung tanpa masuk ke dalam dunia tasawuf. Hal itu terwujud lewat pewarisan kenabian.” 1515 Kemudian beliau berkata, “Suluk dalam tarekat Naqsyabandiyah berjalan di atas dua sayap; meyakini hakikat iman secara benar dan mengerjakan kewajiban agama. Apabila terdapat cacat pada salah satu dari kedua sayapnya, sangat sulit untuk melewati jalan tersebut.”1616 13 Imam Rabbani, al-Maktûbât jilid 1, Maktub ke-210. Ia berkata, “Andaikan aku mendapat seluruh kondisi dan cita rasa spiritual, sementara hakikatku tidak sejalan dengan akidah ahlu sunnah wal jamaah misalnya, kondisi spiritual tadi merupakan bentuk penderitaan dan ketercampakan. Sebaliknya, jika engkau mendapat akidah ahlu sunnah wal jamaah lalu terhalang dari seluruh kondisi spiritual tersebut, maka jangan bersedih karenanya.” 14 Imam Rabbani, al-Maktûbât jilid 1, Maktub ke-210. 15 Imam Rabbani, al-Maktûbât jilid 1, Maktub ke-260. 16 Imam Rabbani, al-Maktûbât jilid 1, Maktub ke-75, Maktub ke-91, dan Maktub ke-94.


32

tif:

AL-MAKTÛBÂT

Maknanya, tarekat Naqsyabandiyah memiliki tiga perspek-

Pertama, sekaligus yang paling awal dan paling agung adalah melakukan pengabdian terhadap hakikat iman secara langsung; sebuah pengabdian yang dijalani oleh Imam Rabbani di akhir-akhir hidupnya. Kedua, melaksanakan berbagai kewajiban agama dan sunnah Nabi r dalam bingkai tarekat. Ketiga, berusaha melenyapkan berbagai penyakit qalbu lewat jalan tasawuf dan menyusuri langkah-langkah qalbu. Yang pertama hukumnya fardhu, sementara yang kedua wajib, dan yang ketiga sunnah. Jika demikian kondisinya, aku mengira bahwa seandainya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Syah an-Naqsyabandi, dan Imam Rabbani serta seluruh wali kutub yang sederajat dengan mereka berada di masa sekarang, maka mereka akan mengerahkan semua upaya mereka untuk menguatkan hakikat iman dan akidah Islam. Hal itu karena keduanya merupakan sumber kebahagiaan abadi. Sementara sikap mengabaikannya melahirkan penderitaan abadi pula. Ya, masuk surga tidak mungkin tanpa iman. Namun banyak sekali orang yang masuk ke dalam surga tanpa tasawuf. Manusia tidak mungkin hidup tanpa nasi (roti). Namun ia bisa hidup tanpa buah. Nah, tasawuf laksana buah, sementara hakikat Islam ibarat nasi. Pada zaman dahulu, jalan menuju berbagai hakikat iman ditempuh dalam 40 hari lewat suluk rohani. Bahkan bisa mencapai 40 tahun. Andaikan rahmat Ilahi di zaman sekarang menyiapkan jalan untuk naik menuju hakikat tersebut dalam waktu tidak lebih dari 40 menit, sangat tidak logis jika manusia tidak peduli dengannya. Orang-orang yang membaca 33 risalah dalam buku alKalimât dengan cermat, akan mengakui bahwa ia telah membuka jalan qurani yang singkat semacam itu bagi mereka.


33

Surat Kelima

Jika demikian keadaannya, aku yakin bahwa “al-Kalimât” yang ditulis guna menjelaskan berbagai rahasia al-Qur’an adalah obat paling ampuh untuk sejumlah penyakit masa kini, salep terbaik untuk luka zaman sekarang, cahaya paling bermanfaat yang bisa melenyapkan gelap pekat yang menyelimuti masyarakat Islam, serta pembimbing paling jujur untuk mereka yang sedang bingung dan berada dalam lembah kesesatan. Wahai saudaraku, engkau mengetahui dengan baik bahwa jika kesesatan bersumber dari kebodohan, maka cara melenyapkannya sangat gampang dan mudah. Akan tetapi, jika ia bersumber dari sains dan pengetahuan, maka cara melenyapkannya sangat sulit dan rumit. Jenis yang terakhir ini di masa lalu jarang terjadi. Barangkali hanya satu dari seribu yang tersesat atas nama pengetahuan. Ketika terdapat orang-orang sesat dari jenis ini, mungkin yang bisa kembali ke jalan yang benar dengan bimbingan hanya satu dari seribu. Pasalnya, orang-orang seperti mereka bangga dengan diri sendiri. Meski bodoh, mereka merasa pintar. Aku yakin bahwa Allah I menganugerahkan “al-Kalimât” yang merupakan kilau maknawi dari kemukjizatan al-Qur’an al-Karim sebagai obat penyembuh dan balsem pembasmi racun kesesatan di masa kini.

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KEENAM

Semoga keselamatan, kasih sayang, dan keberkahan dilimpahkan kepada kalian berdua, serta kepada saudara-saudara kalian selama masih ada siang dan malam, pagi dan petang, mentari dan bulan, serta bintang di langit masih bersinar terang. Wahai saudara-saudaraku yang berupaya keras, dua teman yang penuh semangat, yang menjadi penghibur di negeri pengasingan, dunia. Manakala Allah I menjadikan kalian ikut terlibat dalam berbagai makna yang Allah berikan ke dalam pikiranku, maka kalian juga berhak untuk ikut merasakan apa yang kurasakan. Aku akan menceritakan sebagian dari sakit akibat perpisahan yang kualami dalam keterasinganku ini tanpa mengungkap sesuatu yang lebih menyakitkan darinya agar kalian tidak terlalu merasakan sakitnya. Sejak dua atau tiga bulan aku tinggal sendirian. Mungkin dalam dua puluh hari atau sekitar itu hanya ada seorang tamu yang datang. Selebihnya, aku selalu berada dalam kondisi sendirian. Dan sejak dua puluh hari tidak ada satupun dari penghuni gunung ini yang menemaniku. Mereka semua telah berpisah.


36

AL-MAKTÛBÂT

Di gunung yang membuatku merasa terasing ini, pada saat malam sudah mulai menurunkan tirainya, dalam suasana hening tanpa ada suara kecuali suara desir pohon yang sedih, aku merasakan lima jenis keterasingan: Pertama, di masa usiaku sudah mulai tua aku tinggal sendiri terasing dari seluruh kolega, orang-orang yang kucinta, dan karib kerabat. Aku merasakan keterasingan yang menyedihkan akibat ditinggalkan oleh mereka yang pergi menuju alam barzakh. Dari kondisi sepi dan terasing di atas, terbukalah wilayah keterasingan yang lain. Aku merasa terasing disertai kepedihan akibat perpisahan di mana sebagian besar entitas yang pernah memiliki hubungan denganku telah pergi, seperti musim semi yang lalu. Dari kondisi di atas terbukalah wilayah keterasingan yang lain lagi. Yaitu merasa terasing dari tanah air dan karib kerabatku. Akupun merasa sangat terasing sendiri bercampur pedihnya perpisahan. Sebab, aku berada sendirian jauh dari mereka. Dari kondisi di atas, gelap gulita malam dan gunung yang berdiri di hadapanku membuatku semakin terasing bercampur sedih yang membuatku merasa bahwa wilayah keterasingan yang lain terbuka di hadapan jiwaku yang sebentar lagi juga akan meninggalkan tempat jamuan fana ini untuk menuju masa kebadian. Perasaan terasing yang tidak seperti biasanya menyelimuti diriku dan membuatku berpikir. Seketika aku berucap, “Subhânallah!” aku berpikir bagaimana cara menghadapi semua kegelapan yang terakumulasi serta perasaan terasing yang sudah bercampur-baur ini?! Qalbuku meminta tolong dengan berkata: “Wahai Tuhan, aku terasing dan sendiri, lemah tak kuasa, lumpuh tak berdaya, tua tak memiliki pilihan.”

Lalu aku berucap, “Aku mengharap pertolongan. Aku mengharapkan ampunan. Kupinta kekuatan dari pintu-Mu ya Ilahi.” Seketika cahaya iman, limpahan rahasia al-Quran, dan kelembutan ar-Rahman memberiku kekuatan yang menggan-


Surat Keenam

37

tikan kelima jenis keterasingan di atas menjadi lima wilayah kegembiraan yang bercahaya. Lisanku terus membaca:

“Cukuplah Allah bagiku dan Dia sebaik-baik penolong.” (QS. Ali Imrân [3]: 173). Qalbuku juga membaca ayat yang berbunyi:

“Jika mereka berpaling, katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal. Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (QS. atTaubah [9]: 129). Akal inipun berbicara kepada jiwaku yang sedang tergoncang dan meminta pertolongan dengan berkata: Tidak usah berteriak wahai orang malang. Tawakkallah kepada Allah dalam bencana yang menimpa. Mengeluh adalah bencana. Bahkan, ia bencana dalam bencana, dosa dalam dosa dan bencana.Jika engkau mengetahui siapa yang mengujimu, ujian tadi akan berubah menjadi pemberian dalam pemberian, kebeningan dalam kebeningan, serta kesetiaan dalam bencana yang datang. Tidak usah mengeluh! Jadikan syukur sebagai kekayaan seperti burung bulbul. Bunga-bunga tersenyum melihat keceriaan kekasihnya, bulbul tanpa Allah, duniamu berisi derita dan siksa, fana dan kepergian, debu dalam bencana. Karena itu, tawakkallah kepada Allah dalam ujian yang menimpa. Mengapa engkau berteriak dengan ujian yang kecil, sementara engkau dibebani ujian seluas dunia. Tersenyumlah dengan bertawakkal di hadapan ujian agar ujian tersebut juga tersenyum. Setiap kali tersenyum, ia menjadi kecil hingga akhirnya menghilang. Kemudian aku menirukan perkataan salah seorang guruku, Maulana Jalaluddin ar-Rumi, yang berbicara kepada dirinya,


38

AL-MAKTÛBÂT

Ketika Allah berkata, “Bukankah Aku adalah Tuhan kalian?!” engkau menjawab, “Ya.” Bagaimana bentuk syukur atas jawabanmu, “Ya”? Yaitu dengan menghadapi ujian yang menimpa. Tahukah engkau apa rahasia dari ujian? Yaitu agar mengetuk pintu kefakiran dan fana bersama Allah. “Tahukah engkau bagaimana cara menangkal ujian? Yaitu mengetuk pintu kefakiran dan rasa tidak butuh kepada manusia.” Ketika itu jiwaku berkata, “Ya, benar.” Kegelapan lenyap dan pintu cahaya terbuka lewat rasa papa, tawakkal, fakir, dan berlindung kepada-Nya. Segala puji bagi Allah atas anugerah cahaya iman dan Islam. Aku melihat untaian kalimat al-Hikam al-Atha’iyyah yang terkenal itu berisi sebuah hakikat agung. Yaitu yang berbunyi:

Apa yang dimiliki oleh orang yang kehilangan Dia, dan apa yang hilang dari orang yang memiliki-Nya?!1717 Maksudnya, orang yang menemukan Allah berarti telah menemukan segala sesuatu. Sementara siapa yang kehilangan Dia, yang dia temukan hanya bencana. Akupun memahami salah satu rahasia hadis Nabi r, “Beruntunglah bagi yang asing!...”1818Maka akupun bersyukur kepada Allah. 17 Ia adalah bagian dari munajat Ibnu Athaillah as-Sakandari yang disebutkan di penutup al-Hikam al-Atha’iyyah. Penulis kitab Kasyf az-Zhunûn menjelaskan bahwa kitab tersebut merupakan kumpulan hikmah yang terucap lewat lisan ahli tarekat. Ketika disusun, Ibnu Athaillah memerlihatkannya kepada sang guru, Abul Abbas al-Mursi. Abul Abbas menelaah buku tersebut dan berkata, “Wahai anakku, di buku ini engkau telah membawa sejumlah maksud dari Ihya berikut tambahannya.” Karena itu, ia disenangi oleh para pemilik cita rasa spiritual karena makna-maknanya yang halus dan istimewa. Ibnu Athaillah as-Sakandari adalah orang yang mengenal Allah, alim, memiliki pengetahuan dalam bidang tafsir, hadis, dan fi kih. Ia mursyid bagi para salik. Ia menyertai gurunya, al-Mursi selama dua belas tahun. Ia wafat tahun 709 H/1309 M). 18 HR. Muslim, bab al-Iman, h.232; at-Tirmidzi, bab al-Iman, h.13; Ibnu Majah, bab al-Fitan, h.15; ad-Dârimi, bab ar-Riqaq, h.42, al-Musnad, j.1, h.398, j.2, h.177, h.222, h.389.


39

Surat Keenam

Wahai saudaraku, gelapnya berbagai jenis keterasingan di atas meski musnah oleh cahaya iman, namun telah meninggalkan pengaruh dalam diriku. Ia melahirkan pemikiran berikut: Selama aku asing, hidup dalam keterasingan, dan menuju kepada kondisi terasing, apakah tugasku di tempat jamuan ini telah selesai sehingga kalian berikut “al-Kalimat” bisa menjadi pengganti dariku, lalu kuputuskan segala tali ikatan dengan dunia secara total? Karena pemikiran ini terlintas dalam benak dalam bentuk seperti itu, maka aku bertanya kepada kalian: Apakah “al-Kalimât” yang telah ditulis sudah cukup? Apakah di dalamnya terdapat sesuatu yang kurang? Maksudku, apakah tugasku sudah selesai sehingga aku bisa melupakan dunia dan mencampakkan diri dalam dekapan keterasingan yang bercahaya dan nikmat dengan tenang. Aku ingin mengatakan apa yang dikatakan oleh Maulana Jalaluddin: Tahukah kalian apa itu samâ’? Ia adalah fana dari wujud Lalu merasakan keabadian dalam fana mutlak. Apakah layak aku mencari keterasingan yang luhur dan mulia? Karena itulah aku mengutarakan sejumlah pertanyaan kepada kalian.

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KETUJUH

Semoga keselamatan, kasih sayang, dan keberkahan senantiasa dan selalu dilimpahkan kepada kalian. Saudara-saudaraku yang mulia! Kalian telah mengutus al-Hafi dz Taufi k asy-Syami untuk mengutarakan kepadaku dua persoalan sebagai berikut: Pertama, kaum yang sesat sekarang ini mendapatkan celah untuk mengkritik pernikahan Rasul r dengan Zaenab. Hal itu sebagaimana kebiasaan kaum munafi k pada masa sebelumnya. Mereka menganggapnya sebagai pernikahan yang dibangun atas dorongan nafsu dan syahwat semata. Jawaban: Hasya lillah. Hal itu sama sekali tidak benar. Tangan syubhat yang rendah itu sedikitpun tidak mampu menyentuh kedudukan yang tinggi dan mulia tersebut. Ya, orang yang memiliki sedikit saja objektivitas dapat melihat bahwa Nabi r dari usia lima belas hingga empat puluh tahun—yang pada masa tersebut naluri biologis dan nafsu manusia sedang bergelora—tetap menjaga diri dan kehormatan seperti yang diakui oleh baik kawan maupun lawan. Beliau hanya menikah dengan seorang istri yang sudah terbilang tua, yaitu Khadijah al-Kubra g. Karena itu, banyaknya pernikahan yang


42

AL-MAKTÛBÂT

dilakukan oleh sosok mulia yang menjaga kehormatan ini sesudah berusia 40 tahun—yaitu saat naluri biologis sudah mulai menurun—sudah tentu bukan atas dorongan nafsu. Namun karena sejumlah hikmah. Salah satunya adalah: Ucapan, perbuatan, kondisi, perilaku, gerak, dan diam Rasul r merupakan sumber ajaran agama, dasar hukum, dan syariat. Para sahabat yang mulia meriwayatkan hukum-hukum tersebut dan mengemban tugas untuk menyampaikan apa yang tampak dari kehidupan beliau. Adapun rahasia dan hukum syariat yang bersumber dari kondisi beliau yang tersembunyi dari mereka berada dalam wilayah pribadi yang bersifat khusus di mana semua itu hanya bisa diriwayatkan oleh para istri beliau yang suci. Mereka menunaikan tugas tersebut dengan benar. Bahkan, hampir separuh hukum agama dan rahasianya datang dari jalur mereka. Artinya, tugas agung tersebut menuntut adanya banyak istri dan beragam sumber yang berbeda. Sementara pernikahan beliau dengan Zaenab telah disebutkan dalam kilau ketiga dari obor pertama pada “Kalimat Kedua Puluh Lima”. Yaitu tentang ayat yang berbunyi:

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian. Akan tetapi, ia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (QS. al-Ahzâb [33]: 40). Ayat di atas memberikan banyak makna lewat beragam sisi sesuai dengan pemahaman sejumlah golongan manusia. Dari ayat di atas sebagian golongan memahami bahwa Zaid

d yang merupakan pelayan Nabi r sekaligus anak angkat beliau,

tidak merasa cocok dengan istrinya yang memiliki sifat mulia. Maka ia menceraikannya seperti yang disebutkan dalam sejumlah riwayat yang sahih. Berdasarkan pengakuan Zaid sendiri bahwa Zaenab diciptakan dalam tingkatan akhlak mulia yang berbeda. Melalui fi rasatnya, ia merasa bahwa Zaenab memiliki tabiat mulia yang layak menjadi istri seorang nabi. Karena merasa tidak


Surat Ketujuh

43

sekufu secara fi trah yang menyebabkan tidak adanya keharmonisan dan keselarasan jiwa antara mereka, maka Zaid menceraikannya. Kemudian Rasul r menikahinya atas perintah Ilahi. Ayat yang berbunyi:

“Kami nikahkan engkau dengannya,” (QS. al-Ahzâb[33]: 37) menunjukkan bahwa pernikahan tersebut telah diikat dengan “akad samawi”. Ia adalah akad luar biasa, berada di luar kebiasaan dan muamalah lahiriah. Pasalnya, akad tersebut dilakukan berdasarkan perintah Ilahi sehingga Rasul r harus tunduk padanya; bukan atas keinginan pribadi. Perintah Ilahi tersebut berisi hukum syariat yang penting, hikmah yang bersifat umum, serta maslahat yang komprehensif. Lewat petunjuk ayat yang berbunyi:

“Supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri anak angkat mereka,” (QS. al-Ahzâb [33]: 37), maka ucapan orang tua kepada anak muda, “Wahai anakku,” hukumnya boleh. Ia sama sekali tidak mengubah status hukum. Ia berbeda dengan ucapan orang yang menzihar istrinya. Yakni yang berkata, “Engkau bagiku seperti ibuku” (Engkau haram bagiku). Demikian pula saat para nabi dan pembesar berbicara kepada umat dan rakyat serta saat melihat mereka dalam posisi sebagai ayah, hal itu hanya dalam statusnya sebagai seorang rasul, bukan atas nama pribadi sehingga tidak ada larangan menikahi mereka. Lalu golongan manusia yang kedua memahami bahwa seorang pemimpin besar dan penguasa melihat rakyatnya dengan memosisikan diri sebagai orang tua. Artinya, ia menyayangi mereka layaknya seorang ayah. Terlebih apabila penguasa tersebut merupakan pemimpin spiritual, baik secara lahir maupun batin. Kasih sayangnya jauh melebihi kasih sayang orang tua. Rakyat


44

AL-MAKTÛBÂT

juga menganggapnya sebagai orang tua seolah-olah mereka benar-benar merupakan anaknya. Nah, karena pandangan sebagai orang tua sulit berbalik menjadi pandangan seorang suami, serta pandangan sebagai anak perempuan tidak bisa dengan mudah berubah menjadi pandangan istri. Karena itu, tidak aneh kalau masyarakat secara umum masih agak sulit menerima perkawinan Nabi r dengan putri mereka. Al-Qur’an meluruskan pemahaman mereka dengan berkata, “Nabi r sayang kepada kalian dan memosisikan diri sebagai ayah kalian. Beliau menatap kalian atas nama rahmat Ilahi. Kalian sendiri laksana anak terkait dengan risalah yang beliau emban. Akan tetapi, secara pribadi sebagai manusia ia bukan ayah kalian. Oleh karena itu, tidak ada ganjalan dalam urusan pernikahan. Bahkan kalaupun ia memanggil kalian dengan sebutan, “Wahai anak-anakku,” dilihat dari sudut pandang hukum syaritat hal itu bukan berarti bahwa kalian adalah benar-benar anaknya.

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KEDELAPAN

Nama ar-Rahmân dan ar-Rahîm masuk ke dalam basmalah serta menyebut keduanya dalam memulai setiap urusan penting memiliki banyak hikmah. Penjelasan tentang hikmah-hikmah tersebut ditangguhkan ke waktu yang lain. Di sini aku akan mengungkapkan perasaan yang kualami. Saudaraku! Aku melihat nama ar-Rahmân dan ar-Rahîm sebagai cahaya agung. Cahaya tersebut meliputi seluruh alam. Pada keduanya terdapat kekuatan dan sinar bagi setiap jiwa di mana ia mewujudkan semua kebutuhan abadinya sekaligus menyelamatkannya dari musuh yang jumlahnya tak terhingga. Aku merasa bahwa sarana paling penting untuk mencapai kedua cahaya agung itu tersimpan dalam “kefakiran yang disertai rasa syukur” serta dalam “ketidakberdayaan yang disertai rasa kasih sayang”. Dengan kata lain, ubudiyah dan rasa papa. Meski berbeda dengan uraian para ulama ahli hakikat, bahkan berbeda dengan pandangan guruku, Imam Rabbani, aku ingin mengatakan apa yang terlintas terkait dengan persolan ini, yaitu bahwa: Perasaan yang kuat dan bersinar yang dirasakan oleh Nabi Ya’qub kepada Nabi Yusuf bukan perasaan yang bersumber dari cinta dan rindu semata. Namun bersumber dari rasa kasih sayang. Sebab, rasa kasih sayang lebih dalam dan lebih tajam


46

AL-MAKTÛBÂT

daripada rasa cinta dan rindu. Ia lebih bersinar, lebih tinggi, dan lebih bersih. Perasaan itulah yang lebih layak dengan kedudukan kenabian.19 Adapun rasa cinta dan rindu kepada para kekasih majasi dan makhluk, meskipun sangat kuat, keduanya tidak layak dengan maqam kenabian yang mulia. Artinya, penjelasan al-Qur’an tentang perasaan Nabi Ya’qub terhadap Nabi Yusuf dalam bentuk yang paling terang dan mukjizat paling berkilau di mana ia merupakan sarana untuk sampai kepada nama ar-Rahîm tidak lain merupakan bentuk tingkat kasih sayang yang tinggi dan mulia. Sementara cinta yang merupakan sarana menuju nama alWadûd terdapat pada cinta Zulaikha kepada Yusuf . Sebagaimana al-Qur’an al-Karim menjelaskan ketinggian perasaan Nabi Ya’qub yang mengungguli perasaan Zulaikha, begitu pula rasa kasih sayang itu juga tampak lebih tinggi dan lebih mulia daripada rasa cinta. Guruku, Imam Rabbani, menjelaskan bahwa keindahan berasal dari keindahan dan ketampanan yang dimiliki Yusuf ukhrawi. Karena itu, cinta yang mengarah kepadanya bukan termasuk cinta majasi yang mengandung cacat. Pasalnya, ia melihat cinta majasi tersebut sama sekali tidak sesuai dengan kedudukan kenabian. Menurutku, wahai guruku yang terhormat, penjelasan di atas sedikit dipaksakan. Hakikat sebenarnya adalah sebagai berikut: Perasaan tersebut bukan berupa cinta. Namun ia tingkatan dari kasih sayang yang seratus kali lebih cemerlang, lebih luas, dan lebih tinggi daripada cinta. Ya, kasih sayang dengan seluruh jenisnya bersifat halus dan bersih. Adapun cinta dan rindu tidak demikian. Selain itu, kasih sayang bersifat luas. Sebab, ayah yang mengasihi anak-anaknya juga mengasihi semua anak kecil. Bahkan ia juga mengasihi semua makhluk yang bernyawa. Ia menjadi sejenis cermin bagi nama ar-Rahim yang meliputi segala sesuatu. Imam Rabbani, al-Maktûbât, jilid ke-2, Maktub ke-100.

1919


47

Surat Kedelapan

Sementara cinta membatasi pandangan pada apa yang dicinta. Ia rela mengorbankan segala sesuatu untuknya atau secara tidak langsung merendahkan yang lain guna mengangkat derajat sesuatu yang dicintanya. Misalnya, salah seorang yang jatuh cinta berkata, “Mentari malu terhadap kecantikan kekasihku. Ia bersembunyi di balik tirai awan agar tidak melihatnya.” Wahai orang yang jatuh cinta! Atas dasar apa engkau menyebut mentari―yang merupakan lembaran bercahaya yang memperlihatkan delapan nama agung—dalam kondisi malu? Selanjutnya, kasih sayang bersifat tulus; ia tidak menutut apa-apa dari yang dikasihinya. Ia murni; tidak mengharap imbalan. Buktinya adalah kasih sayang yang disertai pengorbanan yang dimiliki oleh induk binatang di mana ia merupakan tingkat kasih sayang yang paling rendah. Ia tidak mengharap apa-apa dari kasih sayangnya. Sementara cinta menuntut upah dan imbalan. Rintihan orang-orang yang sedang jatuh cinta adalah salah satu bukti bahwa ia menuntut upah dan imbalan. yang merupakan cahaya Jadi, kasih sayang Nabi Ya’qub paling cemerlang yang berkilau dalam surat al-Qur’an yang paling bersinar―surah Yusuf―memperlihatkan nama ar-Rahman dan ar-Rahim, serta menjelaskan bahwa jalan kasih sayang merupakan jalan rahmat. Yang bisa membalut pedihnya kasih sayang adalah:

“Allah adalah Sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yûsuf [12]: 64).

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal.

‫٭٭٭‬

Said Nursi


SURAT KESEMBILAN

(Potongan Surat yang Dikirim kepada Muridnya yang Tulus)

Kedua: Taufi k yang diberikan kepadamu dalam menyebarkan berbagai cahaya al-Qur’an, upaya dan semangatmu merupakan karunia Ilahi. Bahkan, ia adalah bentuk karamah Qur’ani dan inayah (pertolongan) rabbani. Kuucapkan selamat kepadamu wahai saudaraku. Terkait dengan karamah, ikrâm (karunia), dan inayah, maka aku akan menjelaskan perbedaan antara karamah dan ikrâm. Yaitu sebagai berikut: Memperlihatkan karamah mendatangkan bahaya apabila tidak ada keperluan mendesak. Sementara, memperlihatkan ikram Ilahi adalah bentuk pengungkapan nikmat. Orang yang mendapat karamah, ketika muncul dari dirinya sesuatu yang luar biasa yang ia sadari, bisa jadi hal itu merupakan bentuk istidraj manakala nafsu ammarah-nya masih ada. Misalnya, ia menjadi kagum terhadap diri sendiri, bersandar pada kasyafnya, serta bisa pula bangga diri. Namun apabila sesuatu yang luar biasa muncul dari dirinya secara tanpa ia sadari, misalnya ketika datang orang yang menyimpan pertanyaan dalam hatinya lalu ia menjawabnya dengan jawaban yang tepat, maka setelah mengetahui duduk persoalannya, ia tidak mengandalkan dirinya. Namun ia justru semakin yakin kepada Allah seraya berkata, “Tuhan Yang Maha Menjaga


50

AL-MAKTÛBÂT

dan Maha Mengawasi mendidikku lebih dari yang kulakukan.” Ia pun semakin bertawakkal kepada Allah. Jenis terakhir ini adalah karamah yang tidak berbahaya. Pemiliknya tidak harus menyembunyikannya. Akan tetapi, ia tidak boleh memperlihatkannya untuk tujuan berbangga diri. Sebab, bisa jadi ia menisbatkan hal luar biasa tersebut kepada dirinya karena di dalamnya secara lahiriah ada sedikit usaha manusia. Adapun ikrâm (karunia) Ilahi lebih selamat daripada jenis karamah kedua di atas. Menurutku, ia lebih tinggi dan lebih mulia. Memperlihatkannya adalah bagian dari mengungkap nikmat-Nya. Sebab, di dalamnya tidak ada bagian dari usaha manusia. Jiwa ini tidak bisa menyandarkan karunia tadi kepadanya. Begitulah wahai saudaraku, apa yang telah kupahami dan kutulis adalah bagian dari kebaikan dan karunia Ilahi untuk dirimu dan diriku. Terutama yang terkait dengan pengabdian terhadap al-Qur’an. Semuanya adalah bentuk karunia Ilahi. Memperlihatkannya termasuk bentuk pengungkapan nikmat. Karena itu, aku menulis untukmu tentang taufi k Ilahi atas pengabdian kita ini sebagai bentuk pengungkapan nikmat. Aku yakin bahwa ia akan membuatmu bersyukur, bukan sombong.

Ketiga: Menurutku, manusia yang paling bahagia di dunia adalah yang menganggapnya sebagai negeri jamuan keprajuritan, serta bekerja sesuai dengan kerangka tersebut. Dengan anggapan semacam itu, ia dapat meraih mardhâtillah (derajat ridha) dan dapat mencapainya dengan cepat. Pasalnya, ia tidak mau menukar aset senilai berlian yang mahal dan kekal dengan serpihan kaca yang murah. Namun, ia menjadikan hidupnya berjalan dengan tenang dan istiqamah. Ya, berbagai hal yang terkait dengan dunia ibarat serpihan kaca yang mudah pecah. Sementara, sesuatu yang kekal abadi yang terkait dengan akhirat senilai berlian yang kuat dan berharga. Keinginan yang kuat, kecintaan yang bergelora, ketamakan yang sangat besar, permintaan yang intens, serta berbagai pera-


Surat Kesembilan

51

saan semacam itu lainnya yang terdapat dalam fi trah manusia demikian kuat dan mengakar. Semua itu diberikan untuk meraih berbagai urusan ukhrawi. Karena itu, mengarahkan dan mengerahkan perasaan tersebut untuk urusan duniawi yang fana sama saja dengan memberikan aset senilai berlian untuk ditukar dengan serpihan kaca yang tidak berharga. Terkait dengan persoalan ini, ada satu poin yang terlintas dalam benak yang ingin kusebutkan kepadamu. Yaitu: Al-Isyq merupakan cinta yang sangat kuat. Ketika mengarah kepada kekasih yang bersifat fana, perasaan tersebut bisa membuat pemiliknya sangat tersiksa, atau bisa pula mendorongnya mencari kekasih hakiki di mana kekasih fana tidak layak mendapat cinta semacam itu. Pada saat itulah cinta majasi beralih kepada cinta hakiki. Demikianlah, dalam diri manusia terdapat ribuan perasaan semacam itu. Masing-masing memiliki dua tingkatan seperti cinta. Yang satu bersifat majasi, dan yang lain bersifat hakiki. Contoh: Kecemasan terhadap masa depan. Perasaan ini terdapat pada setiap orang. Ketika sangat cemas memikirkan masa depan, ia sadar bahwa dirinya tidak memiliki jaminan untuk bisa sampai ke masa depan yang dicemaskan. Apalagi masa depan yang singkat itu rezekinya sudah ditanggung oleh ar-Razzaq (Sang Maha Pemberi rezeki). Karenanya, ia tidak layak dicemaskan. Ketika itulah, ia mengalihkan perhatian darinya menuju masa depan hakiki yang terbentang jauh. Yaitu masa depan yang berada di balik kubur, yang tidak ada jaminan bagi kaum yang lalai. Selanjutnya, manusia memperlihatkan rasa tamak terhadap harta dan kedudukan. Akan tetapi, ia sadar bahwa harta yang fana yang berada di tangannya bersifat sementara. Kedudukan yang menjadi sumber popularitas bisa menjadi musibah dan sumber munculnya penyakit riya yang membinasakan. Karenanya, kedua hal tersebut tidak layak mendapat rasa tamak semacam itu. Pada saat itulah, ia mengarah pada kedudukan hakiki yang berupa tingkatan maknawi, kedekatan Ilahi, dan bekal ukhrawi. Ia juga


52

AL-MAKTÛBÂT

mengarah kepada harta hakiki yang berupa amal saleh. Dari sana ketamakan majasi tadi yang merupakan akhlak tercela, berubah menjadi ketamakan hakiki yang merupakan akhlak mulia dan terpuji. Contoh lain: Manusia kadang begitu sabar, tekun, konsisten terhadap urusan sepele yang fana dengan sikap keras kepala. Lalu ia sadar betapa ia tabah menekuninya selama setahun padahal ia tidak layak untuk ditekuni meski hanya semenit. Sikap keras kepala itulah yang membuatnya tetap menekuni sejumlah hal yang bisa jadi berbahaya. Akan tetapi, ketika sadar bahwa perasaan tersebut tidak diberikan kepadanya untuk dipergunakan kepada urusan tidak penting semacam itu dan penggunaan dalam bidang tersebut bertentangan dengan hakikat dan hikmah, maka iapun segera mengarahkan sikap keras kepalanya tadi kepada sesuatu yang abadi dan mulia; yaitu hakikat iman, dasar-dasar Islam, dan amal ukhrawi. Ketika itulah, sikap keras kepala yang bersifat majasi―di mana ia merupakan sifat tercela―berubah menjadi sifat terpuji dan baik; yaitu sikap keras kepala hakiki berupa sikap teguh di atas kebenaran. Sebagaimana contoh-contoh di atas, apabila berbagai perangkat maknawi yang diberikan kepada manusia dipergunakan untuk memuaskan nafsu dan kepentingan dunia dalam kondisi lalai seolah-olah ia kekal di dalamnya, maka perangkat maknawi tersebut akan menjadi sumber dari munculnya akhlak tercela, sumber penyimpangan, serta sumber kesia-siaan. Namun apabila yang ringan darinya dipergunakan untuk dunia, lalu selebihnya dipergunakan untuk hari kemudian dan amal-amal akhirat, maka ia akan menjadi sumber bagi munculnya akhlak mulia, jalan menuju kebahagiaan dunia akhirat, serta sejalan dengan hikmah dan hakikat. Dari sini aku melihat bahwa salah satu sebab yang membuat nasihat para da’i tidak memberikan pengaruh signifi kan di zaman sekarang karena mereka berkata kepada orang yang berakhlak buruk, “Jangan mendengki, jangan tamak, jangan bermusuhan, jangan keras kepala, jangan mencintai dunia!” Artinya, para da’i itu berkata kepada mereka, “Ubahlah fi trah kalian!” Ini tentu


Surat Kesembilan

53

saja beban yang secara lahiriah sangat sulit bagi mereka. Namun andaikan para da’i itu berkata, “Arahkan sifat-sifat ini ke dalam urusan yang baik! Ubah haluannya!” Kalau itu yang dilakukan, nasihat akan memberikan manfaat dan pengaruh ke dalam jiwa. Ia berada dalam lingkup yang bisa dilakukan oleh manusia.

Keempat: Terdapat pembahasan yang cukup banyak di antara para ulama di seputar iman dan Islam. Sebagian berkata bahwa keduanya sama. Namun yang lain berkata bahwa keduanya berbeda; namun tidak bisa dipisahkan. Mereka mengemukakan banyak pendapat, ada yang berbeda dan ada pula yang mirip. Perbedaan yang kupahami di antara keduanya adalah sebagai berikut: Islam adalah komitmen, sementara iman adalah ketundukan. Dengan kata lain, Islam adalah sikap loyal, pasrah, dan taat pada kebenaran. Sementara iman adalah sikap menerima dan mengakui kebenaran. Dulu aku melihat sebagian orang ateis yang memperlihatkan loyalitas yang sangat kuat terhadap hukum-hukum al-Qur’an. Artinya, di satu sisi orang ateis bisa disebut muslim lewat komitmennya terhadap kebenaran. Ia disebut sebagai sosok muslim tanpa agama. Lalu aku menyaksikan sebagian orang mukmin tidak memperlihatkan loyalitas terhadap hukum-hukum al-Qur’an serta tidak memiliki komitmen terhadapnya. Jadi, ia mendapat istilah: orang mukmin, tapi bukan muslim. Lalu apakah iman tanpa Islam bisa menjadi sebab keselamatan di hari kiamat? Jawaban: Islam tanpa iman tidak bisa menjadi sebab keselamatan. Demikian pula, iman tanpa Islam tidak bisa menjadi sebab keselamatan. Segala puji dan karunia adalah milik Allah. Standar dan neraca Risalah Nur telah menjelaskan berbagai buah agama Islam, hakikat al-Qur’an, dan hasil dari keduanya secara sangat gamblang dan komprehensif lewat limpahan mukjizat maknawi al-


54

AL-MAKTÛBÂT

Qur’an. Andaikan keduanya dipahami, bahkan oleh orang yang tidak beragama; tentu ia akan bersikap loyal kepadanya. Risalah Nur telah memperlihatkan berbagai dalil keimanan dan keislaman berikut argumen tentang keduanya dengan sangat kuat dan kokoh. Andaikan keduanya dipahami oleh non-muslim, pasti ia akan percaya dan beriman meski tidak masuk Islam. Ya, al-Kalimât telah menerangkan buah iman dan Islam secara sangat indah dan nikmat seperti indah dan nikmatnya buah Tuba di surga. Ia menjelaskan hasilnya yang baik dan matang seperti buah kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan, ia memberikan kepada setiap orang yang melihat dan mengenalnya, rasa loyalitas, komitmen yang utuh, dan kepasrahan total. Lebih dari itu, ia memperlihatkan bukti-bukti iman dan Islam dengan sangat kokoh sekokoh semua entitas, dan banyak sebanyak partikel. Ia menganugerahkan ketundukan dan keteguhan iman yang tak terhingga. Bahkan, kadangkala aku membaca kalimat syahadat dalam wirid Syah an-Naqsyaband, aku berujar:

“Di atasnya kami hidup, di atasnya kami mati, dan di atasnya pula kami dibangkitkan esok.” Ketika itulah, aku memiliki komitmen di mana aku tidak mau mengorbankan satupun dari hakikat iman, walau diberi dunia beserta isinya. Pasalnya, membayangkan sesuatu yang bertentangan dengan sebuah hakikat dalam satu menit saja membuatku sangat menderita. Bahkan diriku rela memberikan seluruh dunia—andai aku memilikinya—selama hal itu diganti dengan hakikat iman. Pada saat aku berkata:

“Kami beriman kepada rasul yang Engkau utus, serta beriman kepada kitab yang Engkau turunkan. Kami percaya.” Ketika itu, aku merasakan kekuatan iman yang luar biasa, seluruh yang


55

Surat Kesembilan

bertentangan dengan hakikat iman manapun kuanggap mustahil secara logika, dan aku melihat kaum yang sesat berada dalam kondisi sangat bodoh dan tidak waras. Sampaikan salamku kepada kedua orang tuamu berikut hormatku pada mereka. Aku mengharap doa dari mereka. Karena engkau adalah saudaraku, maka orang tuamu adalah orang tuaku juga. Sampaikan salamku kepada seluruh penduduk kampungmu. Terutama yang mendengar al-Kalimat darimu.

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KESEPULUH

(Jawaban atas Dua Pertanyaan) Pertama: Ia adalah catatan kaki dari tujuan kedua dari “Kalimat Ketiga Puluh” yang terkait dengan “Ego dan Transformasi partikel”: Istilah Imâm Mubîn dan Kitâb Mubin disebutkan dalam al-Qur’an dalam sejumlah tempat. Sebagian mufassir berpendapat bahwa keduanya mempunyai makna yang sama. Sementara menurut sebagian yang lain makna keduanya berbeda. Mereka menafsirkan hakikat keduanya dengan beragam aspek yang kontradiktif. Kesimpulan dari pernyataan mereka adalah bahwa keduanya merupakan lambang pengetahuan ilahi. Dengan curahan nikmat al-Qur’an, aku merasa yakin bahwa Imâm Mubîn merupakan lambang dari salah satu jenis pengetahuan dan perintah ilahi di mana ia lebih mengarah kepada alam gaib daripada mengarah kepada alam nyata. Yakni, ia lebih mengarah ke masa lalu dan masa depan daripada ke masa sekarang. Dengan kata lain, ia merupakan catatan qadar ilahi yang lebih melihat ke pangkal dan buah dari segala sesuatu, akar dan benihnya, daripada ke wujud lahiriahnya. Keberadaan catatan ini telah ditegaskan dalam ‘Kalimat Kedua Puluh Enam’ dan dalam catatan kaki ‘Kalimat Kesepuluh’. Ya, Imâm Mubîn merupakan lambang dari salah satu jenis pengetahuan dan perintah ilahi. Ini berarti penciptaan pangkal dan akar sesuatu dalam bentuk yang sangat indah dan cermat


58

AL-MAKTÛBÂT

menunjukkan bahwa penataan tersebut berlangsung sesuai dengan catatan rambu pengetahuan ilahi. Sebagaimana hasil dan buah segala sesuatu merupakan catatan kecil dari perintah ilahi di mana ia berisi sejumlah program dan indeks dari apa yang akan terwujud dari entitas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa benih, misalnya, merupakan penjelasan dari program dan indeks konkret dan miniatur bagi semua yang mengatur konstruksi pohon yang besar serta bagi perintah penciptaan yang menentukan desainnya. Kesimpulannya, Imâm Mubîn laksana indeks dan program pohon penciptaan, yang akar, dahan, dan cabangnya terbentang di sekitar masa lalu, masa depan, dan alam gaib. Nah, Imâm Mubîn dalam pengertian tersebut merupakan catatan qadar ilahi atau catatan rambu-rambu qadar-Nya. Partikel digiring menuju gerakan dan tugasnya dalam segala hal lewat pendiktean rambu-rambu tersebut. Adapun Kitâb Mubin, ia lebih mengarah kepada alam nyata daripada ke dalam gaib. Artinya, ia lebih melihat ke masa sekarang daripada ke masa lalu dan mendatang. Ia lebih merupakan lambang qudrah dan iradah ilahi daripada lambang pengetahuan dan perintah-Nya. Dengan kata lain, apabila Imâm Mubîn merupakan catatan qadar ilahi, maka Kitâb Mubin merupakan catatan qudrah ilahi. Artinya, keteraturan dan kerapian yang terdapat pada segala sesuatu, entah pada wujudnya, substansinya, sifatnya, atau pada kondisinya, keduanya menunjukkan bahwa wujud tersebut dilekatkan pada sesuatu, bentuknya ditentukan, ukurannya ditetapkan, dan model khususnya diberikan lewat rambu qudrah yang sempurna dan hukum kehendak yang berlaku. Dengan demikian, qudrah dan iradah ilahi tersebut memiliki hukum yang bersifat universal dan tersimpan dalam catatan agung di mana pakaian model wujud khusus segala sesuatu dipotong, dijahit, dan dikenakan padanya dalam bentuk tertentu sesuai dengan hukum tadi. Keberadaan catatan itu telah ditegaskan dalam risalah “Takdir Ilahi dan Ikhtiar Manusia” (Kalimat Kedua Puluh Enam). Di dalamnya juga ditegaskan tentang Imâm Mubîn.


Surat Kesepuluh

59

Lihatlah kebodohan para fi lsuf serta kaum yang sesat dan lalai. Mereka telah menyadari keberadaan Lauhil Mahfudz yang berisi qudrah ilahi yang mencipta. Mereka mengetahui berbagai bentuk manifestasi kitab tersebut yang melihat hikmah rabbani berikut kehendak-Nya yang berlaku pada segala sesuatu. Mereka menangkap bentuk dan model-modelnya. Hanya saja, mereka menyebut semua itu dengan nama ‘hukum alam’ sehingga memadamkan cahayanya. Demikianlah, lewat pendiktean Imâm Mubîn, atau lewat hukum qadar dan rambu ilahi yang berlaku, qudrah ilahi dalam mewujudkannya menuliskan rangkaian entitas yang masing-masingnya merupakan tanda kekuasaan Tuhan. Ia menghadirkan dan menggerakkan partikel di lauhil-mahwi wal-itsbât (catatan penghapusan dan penetapan) yang merupakan lembaran imajiner bagi perjalanan waktu. Dengan kata lain, gerakan berbagai partikel merupakan gerakan bagaimana entitas melintas dari tulisan tadi, dari salinan tersebut, dan dari alam gaib menuju alam nyata. Artinya, dari ‘ilmu’ menuju ‘qudrah’. Adapun lauhil-mahwi wal-itsbât tersebut merupakan catatan yang terus berganti bagi lauhil mahfudz yang paling agung dan permanen. Lembar ‘penulisan dan penghapusan’ berada di wilayah makhluk yang bersifat mungkin. Artinya, ia adalah catatan segala sesuatu; yang senantiasa berhadapan dengan kematian dan kehidupan, serta kefanaan dan keberadaan (wujud). Itulah hakikat zaman. Sebagaimana setiap sesuatu memiliki hakikat, maka apa yang kita sebut dengan zaman yang terus mengalir seperti aliran sungai panjang di alam ini hakikatnya laksana lembaran dan tinta tulisan qudrah ilahi dalam lauhil-mahwi wal-itsbât.

“Yang mengetahui perkara gaib hanyalah Allah.” Pertanyaan Kedua: Di Mana letak padang Mahsyar? Jawaban: Pengetahuan tentang hal itu berada di sisi Allah. Hikmah Sang Pencipta Yang Mahabijak yang memperlihatkannya


60

AL-MAKTÛBÂT

pada segala sesuatu, bahkan dalam mengaitkan banyak hikmah yang besar dalam sesuatu yang sangat kecil, dengan sangat jelas menunjukkan bahwa bola bumi dalam revolusinya tidak melewati wilayah yang luas dengan sia-sia dan tanpa tujuan. Namun, ia mengitari sesuatu yang agung, menyusuri wilayah yang melingkupi medan luas, menetapkan batas-batasnya, mengelilingi pentas yang agung, serta menyerahkan berbagai buah maknawinya kepadanya agar hasil tersebut diperlihatkan di hadapan mata manusia di mahsyar tersebut. Artinya, medan mahsyar yang luas akan dibentangkan di daerah Syam—seperti yang disebutkan dalam20riwayat20―yang akan berposisi seperti benih berisi wilayah luas yang cakupannya meliputi jarak perjalanan 25.000 tahun. Saat ini hasil maknawi bumi dikirim ke catatan dan lembaran medan maknawi tersebut yang terhijab dari kita di bawah tirai gaib. Manakala medannya di masa mendatang dibuka, bumi akan mengevakuasi penghuninya menuju medan yang sama. Berbagai hasil maknawinya berlalu dari alam gaib menuju alam nyata. Ya, bola bumi ibarat ladang, bagaikan sumber mata air, dan seperti neraca. Ia menghasilkan banyak panenan yang dapat mengisi medan luas itu. Beragam makhluk yang ditampung oleh medan tersebut berasal darinya. Limpahan entitas yang mengisi medan itu bersumber darinya. Dengan kata lain, bola bumi berposisi sebagai benih. Sementara padang mahsyar berikut isinya bagaikan pohon, tangkai, dan gudang. Ya, sebagaimana titik bercahaya menorehkan garis atau sebuah lingkaran dengan gerakannya yang cepat, bola bumi juga menjadi sebab bagi penggambaran wilayah wujud lewat gerakannya yang cepat dan penuh hikmah. Wilayah berikut berbagai hasilnya itu adalah poros pembentukan medan mahsyar yang agung.

20 Lihat al-Hakim, al-Mustadrak, j.2, h.440; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad j.4, h.447, j.5, h.3 dan h.5; serta at-Tirmidzi, al-Qiyâmah h.3.


61

Surat Kesepuluh

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya ilmu tentangnya hanya pada sisi Allah.” (QS. al-Mulk [67]: 26).

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KESEBELAS

(Surat ini adalah obat yang sangat penting. Ia menunjuk kepada sejumlah mutiara yang berasal dari khazanah empat ayat al-Qur’an yang agung). Saudaraku yang mulia! Al-Qur’an al-Hakim mengajarkan kepada nafsu ammarah-ku empat persoalan yang berbeda dalam empat waktu yang juga berbeda. Aku menuliskan pelajaran tersebut kepada saudara-saudaraku yang mau mengambil pelajaran darinya. Berbagai bahasan ini menjelaskan sejumlah mutiara dari khazanah empat ayat mulia yang berbeda-beda dilihat dari sisi pembahasannya. Setiap bahasan memiliki bentuk dan manfaat yang menjadi ciri khas masing-masing.

Persoalan Pertama Allah I berfi rman:

“Sesungguhnya tipu daya setan sangat lemah.” (QS. an-Nisâ [4]: 76). Wahai diriku yang telah putus asa akibat berbagai bisikan dan syubhat! Munculnya berbagai khayalan dan asumsi adalah bagian dari gambaran yang datang tanpa sengaja. Ketika yang datang itu


64

AL-MAKTÛBÂT

berasal dari sesuatu yang baik dan bersifat cahaya, dalam batas tertentu hakikat aslinya akan muncul dalam gambar atau bayangannya sebagaimana cahaya dan panas mentari berpindah kepada bayangannya yang tampak di cermin. Namun jika yang datang itu bersumber dari sesuatu yang buruk dan padat, maka karakter aslinya tidak akan tertuang dalam bayangannya. Sama seperti bayangan najis dan kotoran yang terdapat di cermin, bukanlah najis dan bukan pula kotoran. Juga, bayangan ular di cermin tidak bisa mematuk. Atas dasar itu, membayangkan kekufuran bukanlah sebuah kekufuran, mengkhayalkan cacian bukanlah merupakan cacian. Apalagi jika hal itu terjadi secara tak sengaja; namun hanya lintasan pikiran semata. Ia sama sekali tidak mendatangkan bahaya. Lalu keburukan, najis, dan kekotoran yang terdapat pada sesuatu tidak lain disebabkan oleh adanya larangan Ilahi dalam pandangan kalangan yang berpegang pada kebenaran, ahlu sunnah wal jamaah. Nah, karena persoalan di atas bersifat lintasan pikiran, asumsi, dan imajinasi yang datang tanpa sengaja dan tanpa diinginkan, maka ia tidak terkait dengan larangan Ilahi. Oleh sebab itu, ia tidak buruk, kotor, dan najis meski merupakan gambaran dari sebuah keburukan, kotoran, dan najis.

Persoalan Kedua Risalah yang ditulis di bawah pohon pinus dan poplar, yang terdapat di padang rumput gunung Barla. Bagian ini dimasukkan ke dalam buku al-Kalimât.

Persoalan Ketiga Persoalan ini dan yang sesudahnya adalah contoh yang menunjukkan kelemahan peradaban modern dalam menghadapi kemukjizatan al-Qur’an yang disebutkan dalam “Kalimat Kedua Puluh Lima”. Keduanya merupakan dua contoh dari ribuan contoh yang menerangkan tingkat ketidakadilan peradaban modern terhadap hak-hak sipil yang bertentangan dengan hukum alQur’an.


Surat Kesebelas

65

Ayat al-Qur’an menetapkan:

“Laki-laki mendapatkan seperti bagian dua perempuan.” (QS. an-Nisâ [4]: 176). Ketetapan tersebut sangat adil, dan pada waktu yang sama merupakan bentuk rahmat (kasih sayang). Ya, ketetapan tersebut adalah bentuk keadilan. Pasalnya, laki-laki yang menikahi seorang perempuan menanggung naahnya seperti yang terjadi pada sebagian besar masyarakat. Sementara, perempuan menikah dengan laki-laki dan pergi bersamanya. Naahnya ditanggung oleh si laki-laki tersebut sehingga kekurangannya dalam warisan dipenuhi oleh si laki-laki (suaminya) tadi. Selain itu, ketetapan al-Qur’an juga mengandung rahmat. Sebab, anak perempuan yang lemah itu banyak membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya dan belas kasihan dari saudaranya. Sesuai ketetapan al-Qur’an, anak perempuan merasakan kasih sayang orang tuanya itu tanpa dirusak oleh perasaan khawatir. Pasalnya, sang ayah tidak melihatnya sebagai sosok yang mendatangkan bahaya baginya dan tidak menganggap anak tersebut akan menjadi sebab kepindahan setengah hartanya ke tangan orang. Dengan demikian, kasih sayang orang tua tidak disertai oleh rasa khawatir dan gundah. Lalu, ia juga merasakan kasih sayang dan perlindungan saudara laki-lakinya; tanpa disertai rasa persaingan. Pasalnya, saudara laki-lakinya itu tidak melihatnya sebagai pesaing yang akan mengambil setengah harta ayahnya untuk diletakkan di tangan orang lain. Dengan demikian, kasih sayang dan perlindungan tadi tidak dirusak oleh kedengkian dan rasa tersinggung. Dalam kondisi demikian, anak perempuan―yang secara fi trah lembut dan secara fi sik lemah―tampak kehilangan sesuatu secara lahiriah. Namun sebagai gantinya, sebetulnya ia mendapatkan kekayaan yang tak pernah habis melalui kasih sayang keluarga kepadanya. Jika tidak, maka memberinya bagian yang lebih


66

AL-MAKTÛBÂT

besar dari yang semestinya dengan menganggap hal itu sebagai bentuk kasih sayang, sama sekali bukan merupakan bentuk kasih sayang kepadanya. Namun sebuah kezaliman yang besar padanya. Sebab, hal itu bisa membuka pintu sifat rakus yang menguasai manusia di masa kini di mana ia mengingatkan kepada kezaliman yang buas yang pernah menguasai jiwa manusia pada masa jahiliyah dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan. Nah, seluruh ketetapan al-Qur’an dapat dibenarkan, sebagaimana ketetapan ini dibenarkan oleh fi rman Allah yang berbunyi:

“Tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiyâ [21]: 107).

Persoalan Keempat Allah I berfi rman:

“Untuk ibunya seperenam bagian.” (QS. an-Nisâ [4]: 11). Peradaban saat ini yang rendah, di samping menjadi sebab bagi munculnya ketidakadilan pada anak perempuan seperti yang disebutkan pada persoalan di atas dengan memberinya hak yang lebih banyak daripada yang semestinya, ia juga mendatangkan ketidakadilan yang lebih hebat dan lebih merusak kepada ibu; yaitu dengan membuat mereka tidak mendapatkan haknya. Ya, kasih sayang seorang ibu yang merupakan manifestasi rahmat Allah yang paling halus; bahkan paling nikmat dan paling layak dihormati adalah hakikat wujud yang paling tinggi dan mulia. Ibu merupakan sahabat yang paling mulia dan paling penyayang. Bahkan ia rela mengorbankan dunia, kehidupan, dan istirahatnya demi anaknya karena dorongan cinta dan kasih sayang. Bahkan induk ayam yang merupakan tingkatan keibuan yang paling sederhana serta membawa secercah kasih sayang


67

Surat Kesebelas

tidak pernah ragu menyerang anjing dan singa dalam rangka menyelamatkan anaknya meskipun ia sangat takut dan pengecut. Menghilangkan hak ibu yang memiliki hakikat yang tinggi dan mulia seperti ini sehingga tidak mendapatkan warisan anaknya merupakan bentuk ketidakadilan yang besar, kedurhakaan, dan penistaan terhadap haknya. Ia juga merupakan bentuk kufur nikmat terhadap hakikat yang layak diapresiasi di mana arasy rahmat-Nya berguncang karenanya. Lebih dari itu, ia merupakan bentuk penuangan racun di obat penawar yang bermanfaat bagi kehidupan sosial manusia. Apabila sejumlah manusia buas yang mengaku sebagai pelayan umat tidak memahaminya, maka manusia hakiki yang sempurna mengetahui bahwa ketetapan alQur’an dalam fi rman-Nya:

× .....» º

“Untuk ibunya seperenam bagian” benar-benar sebuah kebenaran dan keadilan murni.

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KEDUA BELAS

Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kalian dan kepada teman-teman kalian. Saudara-saudaraku yang mulia! Pada malam itu kalian telah mengajukan sebuah pertanyaan yang belum kujawab. Pasalnya, mengkaji persoalan keimanan dalam bentuk debat tidak diperkenankan. Ketika itu, kalian mengajukan topik permasalahan dalam bentuk perdebatan. Sekarang secara singkat aku akan memberikan jawaban terhadap tiga pertanyaan yang menjadi landasan debat kalian. Kalian bisa mendapatkan penjelasan detilnya dalam al-Kalimât yang nama dan judulnya ditulis oleh saudara kita yang apoteker itu. Hanya saja, ketika itu aku tidak teringat “Kalimat Kedua Puluh Enam” yang secara khusus berbicara tentang takdir Ilahi dan ikhtiar manusia sehingga tidak kusebutkan. Karena itu, kalian bisa merujuk kepadanya. Namun, jangan membacanya seperti membaca koran. Alasan mengapa saudara kita yang apoteker itu kusuruh untuk menelaah kembali bagian demi bagian dari al-Kalimât, karena syubhat dan keragu-raguan yang muncul pada persoalan-persoalan semacam itu bersumber dari lemahnya keyakinan terhadap rukun iman. Sementara al-Kalimât menegaskan rukun-rukun iman secara sempurna.


70

AL-MAKTÛBÂT

Pertanyaan Pertama: Apa hikmah dikeluarkannya Adam dari surga? Lalu apa hikmah dimasukkannya sebagian anak cucu Adam ke dalam neraka? Jawaban: Hikmahnya adalah penugasan. Ia diutus ke dunia untuk melaksanakan tugas. Ia diserahi sebuah tugas penting di mana hasil dari tugas tersebut berupa semua jenis keluhuran manusia, tersingkapnya seluruh potensi manusia, serta substansi manusia yang menjadi cermin komprehensif bagi nama-nama Ilahi. Andaikan Nabi Adam tetap tinggal di surga, kedudukannya statis seperti malaikat. Potensi-potensi kemanusiaan tidak berkembang. Sementara malaikat yang memiliki kedudukan tetap sangat banyak jumlahnya sehingga manusia tidak dibutuhkan untuk menunaikan bentuk pengabdian tersebut. Di sinilah hikmah Ilahi menuntut adanya negeri tempat taklif yang sesuai dengan potensi manusia yang dapat menempuh berbagai kedudukan yang tak terhingga. Oleh sebab itu, Adam dikeluarkan dari surga lewat sebuah dosa yang kita kenal bersama di mana ia merupakan konsekuensi dari fi trah manusia yang berbeda dengan malaikat. dari surga adalah wujud Artinya, dikeluarkannya Adam hikmah dan rahmat Tuhan. Sebaliknya, dimasukkannya kaum kafi r ke dalam neraka adalah bentuk kebenaran dan keadilan-Nya. Hal itu seperti yang telah disebutkan dalam petunjuk ketiga dari “Kalimat Kesepuluh�. Yaitu bahwa orang kafi r meskipun melakukan dosa dalam usia yang singkat, namun dosa tersebut mengandung kejahatan tak terhingga. Pasalnya, kekufuran adalah bentuk penghinaan terhadap seluruh entitas, pendustaan terhadap kesaksian seluruh makhluk terhadap keesaan-Nya, serta pemalsuan terhadap nama-nama Ilahi yang manifestasinya tampak dalam cermin alam. Karena itu, Allah Yang Maha Perkasa dan Agung, Penguasa seluruh entitas, melemparkan kaum kafi r ke dalam neraka agar mereka kekal di dalamnya guna mengambil hak seluruh makhluk dari mereka. Pelemparan mereka ke dalam neraka adalah bentuk kebenaran dan keadilan. Sebab, kejahatan yang tak terhingga menuntut adanya siksa yang tak terhingga pula.


Surat Kedua Belas

71

Pertanyaan Kedua: Mengapa setan diciptakan? Allah I menciptakan setan dan keburukan. Apa hikmah darinya? Bukankah penciptaan keburukan merupakan keburukan? Jawaban: Hasya lillah, tidak demikian. Penciptaan keburukan bukan merupakan keburukan, namun melakukan keburukan itulah yang merupakan keburukan. Pasalnya, “mencipta” mengarah dan bergantung pada semua hasilnya. Sementara “melakukan” bergantung pada hasil-hasil spesifi k karena terkait secara langsung. Misalnya, manfaat dari turunnya hujan mencapai ribuan. Semuanya baik dan indah. Ketika ada orang terkena bahaya hujan akibat dari tindakan buruknya, maka dia tidak berhak mengatakan bahwa penciptaan hujan tidak mendatangkan rahmat. Ia tidak berhak mengklaim bahwa penciptaan hujan adalah sebuah keburukan. Akan tetapi, ia menjadi buruk baginya lantaran tindakan buruknya dan perbuatannya sendiri. Demikian pula dengan penciptaan api. Ia mengandung banyak sekali manfaat. Semuanya merupakan kebaikan. Akan tetapi, kalau kemudian ada yang terkena api akibat perbuatan buruknya dan penggunaan yang salah, ia tidak bisa berkata, “Penciptaan api adalah sebuah keburukan.” Pasalnya, api tidak dicipta hanya untuk membakarnya. Akan tetapi, ia sendiri yang memasukkan tangan ke dalam api yang sebenarnya untuk memasak makanannya. Maka, dengan tindakan buruknya, ia menjadikan pelayan yang taat sebagai musuh. Kesimpulannya: Keburukan yang sedikit bisa diterima untuk mendapatkan kebaikan yang banyak. Pasalnya, kalau sebuah keburukan yang mendatangkan banyak kebaikan ditinggalkan agar keburukan yang sedikit itu tidak terwujud, dalam kondisi demikian akan muncul banyak keburukan. Contohnya: ketika pasukan dikirim untuk berjihad, pasti akan muncul sejumlah bahaya dan keburukan kecil, baik secara materi maupun fi sik. Seperti diketahui, jihad mendatangkan banyak kebaikan karena Islam selamat dari belenggu kekufuran. Andaikan jihad ditinggalkan karena takut terhadap bahaya dan keburukan kecil yang akan muncul, maka keburukan akan ber-


72

AL-MAKTÛBÂT

tambah banyak di mana hal itu menghalangi munculnya banyak kebaikan. Ini jelas merupakan bentuk kezaliman. Contoh lain: memotong jari yang terkena penyakit gangren (amputasi) mengandung kebaikan dan sangat bagus, meskipun secara lahiriah tindakan tersebut merupakan sebuah keburukan. Namun, andaikan jari tersebut tidak dipotong, tanganlah yang nantinya akan dipotong sehingga keburukannya malah lebih besar. Demikianlah, menciptakan keburukan, bahaya, bencana, dan setan bukan merupakan keburukan. Pasalnya, sejumlah hal tersebut diciptakan untuk sejumlah hasil yang sangat penting. Malaikat, misalnya, tidak memiliki sejumlah tingkatan untuk naik. Hal itu lantaran setan tidak menggangu mereka. Karena itu, kedudukan mereka tetap dan tidak berubah. Demikian pula dengan hewan. Kedudukannya tetap dan cacat karena tidak dikuasai oleh setan. Adapun di alam manusia jarak antar tingkatan untuk naik dan turun terbentang luas dan sangat panjang. Sebab, mulai dari tingkatan Namrud dan Fir’aun hingga kalangan shiddiqin, wali, dan nabi terdapat sejumlah tingkatan untuk naik dan turun. Karena itu, dengan penciptaan setan, dengan rahasia taklif dan pengutusan para nabi, terbukalah medan ujian, cobaan, perjuangan, dan perlombaan. Dengannya, jiwa-jiwa yang rendah laksana arang tampak berbeda dengan jiwa-jiwa yang mulia laksana berlian. Andai tidak ada perjuangan dan perlombaan, tentu semua potensi terpendam dalam diri manusia. Artinya, akan sama antara arang dan berlian. Atau, akan sama antara jiwa mulia milik Abu Bakar ash-Shiddiq d yang berada di tingkatan tertinggi, dengan jiwa Abu Jahal yang berada di tingkatan paling rendah. Dengan demikian, penciptaan setan dan keburukan bukanlah sebuah keburukan. Sebab, ia mengarah kepada sejumlah hasil menyeluruh dan besar. Kalaupun ada keburukan, hal itu diakibatkan oleh penyalahgunaan dan ulah manusia yang merupakan tindakan secara langsung dan spesifi k. Ia kembali kepada perbuatan manusia; bukan kepada penciptaan Ilahi.


Surat Kedua Belas

73

Barangkali kalian bertanya: Meskipun para nabi telah diutus, namum masih banyak orang yang jatuh ke dalam lembah kekufuran karena adanya setan. Mereka celaka akibat bisikan setan. Karena yang menjadi ukuran adalah kondisi mayoritas, sementara mayoritas manusia telah terjerat bisikan setan, berarti penciptaan keburukan adalah sebuah keburukan. Bahkan, pengutusan para nabi dapat dikatakan tidak mendatangkan rahmat. Jawaban: Kuantitas tidak bisa dijadikan sebagai tolok ukur. Yang disebut mayoritas pada dasarnya mengarah pada kualitas; bukan pada kuantitas. Andaikan terdapat seratus benih kurma, misalnya, namun ia tidak ditanam atau tidak disiram, dengan kata lain jika tidak terjadi interaksi kimiawi padanya, atau tidak mengalami proses pertumbuhan, ia akan tetap menjadi seratus benih dan nilainya sama dengan seratus ribu rupiah. Akan tetapi, jika benih-benih tersebut disiram dengan air dan mengalami proses pertumbuhan di mana sebagai akibatnya delapan puluh benih rusak dan hanya dua puluh yang terus tumbuh menjadi pohon kurma, dapatkah engkau berkata bahwa tindakan menyiram benih tadi sebagai sebuah keburukan lantaran mematikan banyak lainnya. Tentu engkau tidak bisa mengatakan hal tersebut. Sebab, kedua puluh benih yang hidup setara dengan dua puluh ribu benih. Orang yang kehilangan delapan puluh benih, namun mendapat dua puluh ribu, sudah pasti beruntung. Jadi, tindakan menyiram tidak bisa dianggap sebagai sebuah keburukan. Demikian pula andaikan engkau mendapati seratus telur burung merak, misalnya. Nilainya sama dengan 500 ribu rupiah. Akan tetapi, apabila seratus telur di atas dierami, lalu dua puluh darinya berhasil menetaskan anak, sementara delapan puluh sisanya rusak. Dalam kondisi demikian, dapatkah engkau berkata bahwa kerugian besar telah terjadi, atau tindakan tersebut merupakan keburukan, atau upaya merak mengerami telur adalah sebuah keburukan?! Tentu saja tidak. Namun ia adalah sebuah tindakan baik. Pasalnya, merak dan telurnya telah memperoleh


74

AL-MAKTÛBÂT

dua puluh merak yang harganya mahal sebagai ganti dari banyak telur rusak yang berharga murah. Begitulah, manusia telah mendapatkan keutungan seratus ribu nabi, jutaan wali, dan miliaran orang salih yang menjadi mentari, bulan, dan bintang dunia kemanusiaan lewat pengutusan para nabi, rahasia taklif, dan perang melawan setan, dibanding kerugian yang dialaminya dengan banyaknya jumlah kaum munafi k namun berkualitas rendah serta orang-orang kafi r yang merupakan jenis hewan berbahaya. Pertanyaan Ketiga: Allah I menurunkan berbagai musibah dan menimpakan bencana. Bukankah ini kezaliman terhadap orang-orang yang tidak berdosa dan juga kepada hewan? Jawaban: Sungguh sangat keliru. Kerajaan ini adalah milik-Nya. Di dalamnya Dia berhak melakukan apa saja sesuai dengan kehendak-Nya. Andaikan seorang perancang mahir menjadikanmu sebagai model bayaran, lalu ia memberimu pakaian sangat bagus yang ia jahit dengan cara terbaik. Setelah itu, ia memendekkan, memanjangkan, dan mengguntingnya. Kemudian, ia menyuruhmu untuk duduk, berdiri, serta memujimu. Semua itu dilakukan untuk memperkenalkan kemahirannya. Apakah engkau akan berkata kepadanya, “Engkau telah merusak keindahan pakaianku yang membuatku bertambah indah. Engkau telah membuatku penat dengan menyuruh duduk dan berdiri.� Tentu saja engkau tidak bisa mengatakan hal tersebut. Bahkan kalau engkau tetap mengutarakannya, itu menunjukkan sikap kedunguan. Berdasarkan contoh di atas, Sang Pencipta Yang Mahaagung telah memberimu tubuh yang indah berhias mata, telinga, hidung, dan berbagai organ dan indera lainnya. Untuk memperlihatkan jejak nama-nama-Nya yang beragam, Dia mengujimu dengan berbagai macam ujian. Kadang Dia membuatmu sakit, lalu membuatmu sehat. Adakalanya membuatmu lapar, lalu membuatmu kenyang, haus dan seterusnya. Begitulah, Dia membolak-balik dirimu dalam berbagai fase dan kondisi agar esensi kehidupan semakin jelas dan manifestasi nama-nama-Nya juga terlihat.


Surat Kedua Belas

75

Barangkali engkau bertanya, “Mengapa Dia mengujiku dengan berbagai musibah tersebut?” Sesungguhnya seratus hikmah yang agung membuatmu terdiam seperti yang dijelaskan dalam contoh sebelumnya. Sebab, seperti diketahui, diam, tak bergerak, dan tidak berbuat apa-apa merupakan satu bentuk ketiadaan dan bahaya. Sebaliknya, gerak dan perubahan adalah wujud eksistensi dan kebaikan. Kehidupan menjadi semakin sempurna dengan adanya gerak, serta semakin tinggi dengan adanya ujian. Berbagai gerak terwujud dengan manifestasi nama-nama Allah, di mana ia menjadi bersih, kuat, tumbuh, dan berkembang sehingga menjadi pena bergerak bagi tulisan ketentuan-Nya. Dengan itu, ia juga menunaikan berbagai tugasnya serta layak mendapatkan pahala ukhrawi. Sekian jawaban singkat atas tiga pertanyaan kalian yang menjadi topik perdebatan kalian sebelumnya. Adapun penjelasan rincinya terdapat pada tiga puluh tiga kalimat dari kitab alKalimât. Saudaraku! Bacakan risalah ini kepada sang apoteker itu serta kepada orang yang layak yang telah mendengarkan perdebatan tersebut sebelumnya. Sampaikan salamku kepada sang apoteker yang termasuk murid baruku. Katakan padanya: Mengkaji persoalan iman yang detil semacam ini tidak boleh dilakukan dalam bentuk perdebatan tanpa standar dan neraca. Juga, tidak boleh dilakukan di hadapan banyak orang. Sebab, dalam kondisi demikian obat bisa menjadi racun karena tanpa takaran yang tepat. Ia bisa membahayakan pihak pembicara dan pendengar sekaligus. Ia hanya boleh dilakukan saat kepala sudah dingin, hati sudah tenang, masing-masing pengkaji bersikap jujur dan objektif, serta hanya sekedar tukar pemikiran. Katakan padanya, “Jika ada syubhat dan keraguan tentang persoalan semacam ini yang terlintas dalam jiwamu, sementara engkau tidak menemukan jawaban pada al-Kalimât, tulislah surat khusus kepadaku.”


76

AL-MAKTÛBÂT

Selain itu, katakan pada sang apoteker, “Makna berikut hadir dalam benakku mengenai mimpi sang apoteker terkait ayahnya yang sudah meninggal”: Saat ayahnya yang sudah meninggal menjadi dokter, ia banyak memberi manfaat kepada banyak orang bertakwa, orang salih, bahkan kepada para wali. Ruh orang-oang seperti mereka yang telah mendapat manfaat darinya tampak pada anaknya yang dekat dengannya dalam bentuk burung di saat wafatnya. Seketika terlintas dalam benakku bahwa hal itu merupakan sambutan yang menggembirakan dan penuh dengan syafaat. Salam dan doaku untuk semua orang yang hadir bersamaku di sini, pada malam tersebut.

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KETIGA BELAS

Semoga keselamatan dilimpahkan kepada mereka yang mengikuti petunjuk. Dan kecelakaan ditimpakan kepada mereka yang menuruti hawa nafsu. Saudara-saudaraku yang mulia! Kalian sering menanyakan kondisiku, mengapa aku tidak mendatangi pemerintah untuk mendapatkan surat putusan bebas, serta mengapa aku tidak peduli dengan kondisi dunia perpolitikan. Karena pertanyaan di atas sering berulang, di samping ia ditanyakan padaku secara maknawi, maka aku harus menjawab tiga pertanyaan tersebut lewat lisan “Said Lama�; bukan dengan lisan “Said Baru.� Pertanyaan Pertama: Bagaimana kabarmu? Apakah engkau baik-baik saja? Jawaban: Alhamdulillah. Segala puji yang tak terkira bagi Allah yang Maha Pengasih. Dia telah membalik berbagai jenis kezaliman dan kesulitan yang diberikan oleh pihak penguasa padaku menjadi karunia dan rahmat. Penjelasannya sebagai berikut: Ketika aku mengasingkan diri (berkhalwat) di gua sebuah gunung, saat aku telah memisahkan diri dari politik dan menjauh dari dunia dengan menyibukkan diri dengan urusan akhirat,


78

AL-MAKTÛBÂT

pihak penguasa mengeluarkan diriku dari sana serta mengasingkanku secara sangat zalim. Namun Sang Pencipta Yang Maha Penyayang dan Mahabijak menjadikan pengasingan tersebut sebagai rahmat bagiku. Pasalnya, Dia mengubah kondisi menyepi di gunung yang berpotensi merusak keikhlasan dan keselamatan kepada khalwat di gunung Barla yang diliputi oleh rasa aman, tenang, dan ikhlas. Saat menjadi tawanan di Rusia, aku sudah bertekad dan berharap kepada Allah agar di akhir-akhir hidupku bisa mengasingkan diri di gua. Maka, Tuhan Yang Maha Penyayang menjadikan Barla sebagai gua sekaligus memudahkan diriku untuk mengambil manfaat darinya serta tidak membebani pundakku dengan berbagai kesulitan yang terdapat di gua. Hanya saja, ada sedikit masalah akibat ilusi dan anggapan sejumlah orang yang merupakan sahabat-sahabatku. Akibatnya, aku terzalimi. Mereka mengira sedang melakukan sesuatu untuk kepentinganku. Namun kenyataannya, mereka telah membuatku resah dan terganggu dalam berkhidmah pada al-Qur’an. Meskipun pihak penguasa telah memberikan jaminan, untuk bisa kembali, kepada mereka yang diasingkan serta membebaskan orang-orang yang bersalah dari penjara, namun dengan tidak adil aku tidak mendapatkan pembebasan tersebut. Hanya saja Rabb Yang Maha Penyayang ingin agar aku tetap berada dalam pengasingan, agar bisa terus berkhidmah pada al-Qur’an dan menuliskan cahaya-cahaya al-Qur’an yang kusebut dengan al-Kalimât lebih banyak lagi. Dia membuatku tetap berada dalam pengasingan tanpa dihiasi kebisingan dan gangguan. Sehingga hal itu menjadi rahmat bagiku. Meskipun pihak penguasa membolehkan kalangan yang memiliki pengaruh, para syekh, dan pimpinan kabilah yang bisa ikut campur dalam dunia mereka berada di kecamatan dan kota-kota besar serta membolehkan para karib kerabat dan semua kenalan untuk mengunjungi mereka, namun pihak penguasa dengan zalim tetap mengisolasi diriku dan mengirimku ke sebuah desa kecil. Mereka tidak membolehkan karib kerabatku dan orang-orang kampungku—kecuali satu atau dua orang—un-


Surat Ketiga Belas

79

tuk mengunjungiku. Hanya saja, Sang Pencipta Yang Maha Penyayang mengubah isolasi ini menjadi rahmat yang berlimpah untukku. Pasalnya, Dia menjadikan isolasi tersebut sebagai sarana yang membersihkan pikiranku dari berbagai urusan yang tidak penting sekaligus mengarahkannya untuk menerima limpahan dari al-Qur’an al-Hakim secara bersih dan murni. Selanjutnya, pihak penguasa awalnya tidak senang ketika aku menulis satu atau dua surat dalam jangka waktu dua tahun. Bahkan sampai sekarang mereka tidak senang ketika ada satu atau dua orang tamu datang mengunjungiku sekali dalam sepuluh hari, dua puluh hari, atau dalam sebulan, padahal tujuan mereka hanya untuk urusan ukhrawi semata. Pihak penguasa betul-betul menzalimiku. Hanya saja, Sang Pencipta Yang Maha Penyayang dan Mahabijak mengubah kezaliman mereka menjadi rahmat untukku. Sebab, aku bisa berkhalwat dan beruzlah selama tiga bulan yang di dalamnya seorang hamba dapat memperoleh 90 tahun kehidupan maknawi. Segala puji bagi Allah atas setiap kondisi yang ada. Inilah keadaanku dan kondisi kesehatanku. Pertanyaan Kedua: Mengapa engkau tidak mendatangi pemerintah untuk mendapatkan sertifi kat (surat putusan bebas)? Jawaban: Dalam hal ini aku terikat oleh takdir bukan terikat oleh pihak penguasa. Karena itu, aku serahkan kepada takdir. Aku pergi dari sini saat takdir mengizinkan dan saat rezeki di sini telah habis. Hakikat dari ungkapan di atas adalah bahwa segala yang menimpa manusia mengandung dua sebab, yaitu sebab lahiriah dan sebab hakiki. Pihak penguasa menjadi sebab lahiriah dan membawaku ke tempat ini. Adapun takdir Ilahi merupakan sebab hakiki. Dia yang menetapkanku untuk beruzlah seperti ini. “Sebab lahiriah” telah berbuat zalim, sementara “sebab hakiki” berbuat adil. Pihak penguasa berpikir seperti ini: “Orang ini berlebihan dalam mengabdi pada ilmu dan agama. Bisa jadi ia ikut campur dalam urusan dunia kita.” Dengan kemungkinan tersebut, mere-


80

AL-MAKTÛBÂT

ka mengasingkan diriku. Mereka benar-benar berbuat zalim kepadaku lewat tiga sisi. Adapun takdir Ilahi melihat diriku belum mengabdi pada ilmu dan agama dengan tulus. Karena itu, ia menghukumku dengan cara diasingkan. Dia mengubah kezaliman mereka yang berlebihan dengan rahmat yang berlipat ganda. Selama takdir yang menjadi penentu bagi pengasingan diriku, sementara takdir pasti adil, maka kukembalikan kepadanya dan kuserahkan diriku padanya. Sementara sebab lahiriah hanyalah argumen dan alasan yang tidak berharga. Artinya, mendatangi pihak penguasa sama sekali tidak berguna. Andai mereka memiliki hak atau sebab yang kuat, tentu mereka layak untuk didatangi. Aku sudah meninggalkan dunia mereka. Pada saat aku meninggalkan politik mereka secara total, maka segala keraguan dan dugaan mereka menjadi tidak berdasar. Karena itu, aku tidak ingin dugaan dan keragu-raguan mereka menjadi kenyataan dengan mendatangi mereka. Andaikan aku memiliki keinginan untuk ikut serta dalam politik keduniaan mereka yang kendalinya berada di tangan kaum asing, tentu hal itu akan diketahui dalam 8 jam; bukan 8 tahun. Apalagi aku tidak punya keinginan membaca satu koran pun dan tidak membacanya selama 8 tahun. Sejak 4 tahun yang lalu aku berada di sini di bawah pengawasan, namun tidak ada satupun indikasi dariku yang mengarah kepadanya. Artinya, pengabdian kepada al-Qur’an merupakan pekerjaan mulia dan luhur yang mengungguli semua bentuk politik. Hal Inilah yang membuatku tidak mau ikut masuk ke dalam dunia politik yang didominasi oleh kebohongan. Sebab kedua mengapa aku tidak mendatangi mereka adalah bahwa sikap merasa benar dan memiliki hak di hadapan orang yang menganggap kebatilan sebagai sebuah kebenaran adalah satu bentuk kebatilan. Karena itu, aku tidak mau melakukan ketidakadilan seperti itu. Pertanyaan Ketiga: Mengapa sejauh ini engkau tidak memiliki perhatian kepada kondisi politik dunia saat ini. Engkau sama sekali tidak mengubah sikap dalam melihat berbagai


Surat Ketiga Belas

81

peristiwa yang terjadi di dunia. Apakah engkau merasa senang dengannya? Atau engkau merasa takut sehingga hanya bisa diam? Jawaban: Pengabdian diri kepada al-Qur’an itulah yang membuatku tidak masuk ke dalam dunia politik. Ia telah membuatku lupa bahkan untuk sekedar memikirkannya. Jika bukan karena itu, seluruh perjalanan hidupku menjadi saksi betapa rasa takut tidak pernah membelenggu dan mencegah diriku untuk terus meniti jalan yang kuanggap benar. Lalu apa yang harus kutakuti? Tidak ada relasi antara diriku dengan dunia kecuali ajal. Sebab, aku tidak memiliki keluarga dan anak yang harus kupikirkan. Aku juga tidak memiliki harta serta sama sekali tidak pernah memikirkan kemuliaan keturunan dan nasabku. Semoga Allah merahmati orang yang berusaha menghancurkan reputasi sosial yang merupakan riya dan popularitas palsu. Yang tersisa hanya ajalku. Dan ia berada di tangan Sang Pencipta yang Mahaagung semata. Adakah yang berani campur tangan sebelum saatnya tiba?! Tentu saja kami memilih mati mulia daripada hidup hina. Ada yang berujar seperti “Said Lama�:

Kami adalah kaum yang tidak mau mengekor, Kami jadi pemimpin untuk semua, atau mati dalam kubur.21 Jadi, pengabdian kepada al-Qur’an membuatku tidak sempat memikirkan kehidupan sosial politik yang ada. Hal itu karena kehidupan manusia hanyalah sebuah perjalanan. Dengan cahaya al-Qur’an, aku melihat pada masa sekarang bahwa jalan tersebut mengarah pada kubangan. Umat manusia dalam perjalanannya jatuh tergelincir, lalu ketika bangkit jatuh lagi hingga akhirnya masuk ke dalam lumpur yang kotor dan busuk. Namun sebagian darinya berlalu di jalan yang aman. Sebagian lagi menemukan sejumlah cara untuk selamat dari lumpur dan kubangan tadi. Lalu sebagian lagi, yang merupakan mayoritas, melewati jalan yang gelap gulita di kubangan yang penuh lumpur dan kotor itu. 21

Karya Abu Firas al-Hamadani.


82

AL-MAKTÛBÂT

Dua puluh persen dari mereka melumuri wajah dan mata mereka dengan lumpur kotor tersebut karena mengira minyak kesturi lantaran sedang mabuk. Kadangkala mereka bangkit dan kadangkala jatuh. Begitulah mereka berlalu sampai akhirnya tenggelam. Adapun delapan puluh persen lainnya mengetahui hakikat dari kubangan tersebut. Mereka menyadari kalau itu busuk dan kotor. Hanya saja, mereka bingung tak mampu melihat jalan yang aman. Demikianlah, terdapat dua solusi untuk mereka: Pertama, menyadarkan dua puluh persen di atas yang sedang mabuk dengan pentungan. Kedua, memperlihatkan jalan yang aman dan selamat kepada orang-orang yang sedang bingung itu dengan memberikan cahaya kepada mereka (yakni dengan bimbingan). Dalam pandanganku, delapan puluh persen itu memegang pentungan untuk menghadapi yang dua puluh persen. Sementara delapan puluh persen yang bingung itu masih dalam kondisi belum diperlihatkan cahaya dengan benar. Bahkan kalaupun sudah melihatnya, karena memegang pentungan dan cahaya secara bersamaan, mereka tetap tidak akan dipercaya. Orang-orang yang bingung itu berpikir, “Akankah orang ini menjebakku dengan cahaya untuk kemudian memukulku dengan pentungan?� Lalu terkadang ketika pentungannya telah rusak, cahayanya lama-kelamaan akan padam. Demikianlah, kubangan yang dimaksud adalah kehidupan sosial manusia yang terkena polusi, alpa, dan terlumuri kesesatan. Sementara orang-orang yang mabuk adalah para pembangkang yang terus menikmati kesesatannya. Lalu kalangan yang bingung adalah yang tidak menyukai kesesatan, namun tidak mampu keluar darinya. Mereka ingin selamat, tetapi tidak menemukan jalan. Mereka berada dalam kondisi bingung. Selanjutnya, yang dimaksud dengan pentungan adalah aliran politik, dan yang dimaksud dengan cahaya adalah hakikat alQur’an. Cahaya tidak bisa dilawan dan dihadapi dengan sikap


83

Surat Ketiga Belas

permusuhan. Tidak ada yang lari dari cahaya, kecuali setan yang terkutuk. Karena itu, demi menjaga cahaya al-Qur’an, aku berkata:

“Aku berlindung kepada Allah dari setan dan politik”, seraya membuang pentungan politik dan memegang cahaya tersebut dengan kedua tanganku. Aku juga melihat bahwa pada semua aliran politik—entah yang sejalan ataupun yang berseberangan—terdapat banyak orang yang merindukan cahaya tersebut. Pelajaran al-Qur’an yang disampaikan secara bersih dari pemikiran politik dan berbagai kepentingan, serta yang membimbing dari tempat paling tinggi dan mulia, maka semua pasti bisa menerima dan tidak meragukan. Kecuali mereka yang menganggap kekufuran sebagai sebuah politik sehingga cenderung kepadanya. Mereka adalah setan berwujud manusia, atau binatang dalam bentuk orang. Segala puji bagi Allah, karena meninggalkan politik, aku tetap bisa menjaga nilai hakikat al-Qur’an yang lebih berharga daripada permata. Aku juga tidak memposisikannya serendah serpihan kaca dengan propaganda politik. Bahkan seiring perjalanan waktu, nilai dari permata al-Qur’an itu semakin bertambah serta semakin berkilau di mata setiap kelompok manusia.

Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang para utusan Tuhan Kami membawa kebenaran.”

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KEEMPAT BELAS (Belum Ditulis)

‫٭٭٭‬


SURAT KELIMA BELAS

Saudaraku yang mulia! Pertanyaanmu yang pertama berbunyi sebagai berikut: Seperti diketahui bahwa sahabat yang kecil sekalipun jauh lebih agung daripada wali. Namun mengapa para sahabat itu dengan pandangan kewaliannya tidak menyingkap kaum perusak di tengah-tengah masyarakat sehingga mengakibatkan tiga orang dari khulafa ar-rasyidin mati syahid? Jawaban atas pertanyaan di atas terdapat dalam dua kedudukan: Kedudukan Pertama: Dengan penjelasan tentang rahasia kewalian, pertanyaan tersebut dapat terjawab. Yaitu bahwa kewalian para sahabat yang mulia adalah kewalian yang besar (wilâyah kubrâ). Sumber dan pilar utamanya berasal dari warisan kenabian. Jalannya tembus dari sisi lahiriah menuju hakikat secara langsung tanpa harus melalui jalur tarikat. Ia adalah kewalian yang mengarah kepada tersingkapnya Aqrabiyah Ilahiyah (pendekatan ilahi terhadap hamba-Nya). Pasalnya, meski sangat singkat, jalan kewalian tersebut mulia dan tinggi. Hal luar biasanya sedikit, serta karamah dan kasyafnya jarang terlihat, tetapi keistimewaan dan keutamaannya sangat tinggi. Di sisi lain, karamah para wali sebagian besarnya terjadi bukan karena disengaja. Kadang peristiwa luar biasa terjadi tanpa mereka duga sebelumnya. Hal itu sebagai bentuk ikrâm


88

AL-MAKTÛBÂT

ilahi (kemurahan Allah) kepada mereka. Sebagian besar kasyaf dan karamah tampak pada mereka saat menjalani kehidupan dan suluk rohani serta saat mereka melewati barzakh tarekat. Dalam batas tertentu, ketika terlepas dari kondisi kemanusiaan, mereka meraih kondisi luar biasa. Adapun sahabat yang mulia tidak harus melewati wilayah yang luas dengan melakukan perjalanan spiritual dan suluk rohani dalam tarekat untuk mencapai hakikat. Hal itu karena mereka mendapatkan pantulan cahaya persahabatan dengan Nabi r. Lewat rahasia ini, mereka mampu menembus sisi dzahir menuju hakikat dengan hanya satu langkah dan dalam sekali duduk (bersama Rasulullah r). Misalnya: terdapat dua jalan untuk mendapat Laylatul qadr yang kemarin sudah berlalu: Pertama, melewati hari demi hari selama setahun dengan sabar untuk bisa sampai kepada malam penuh berkah itu sekali lagi. Dalam hal ini, untuk bisa mendapatkan maqam Qurbiyah Ilahiyah (kedekatan hamba dengan Sang Ilahi), jalan rohani dan perjalanan setahun penuh harus dilalui. Inilah jalan sebagian besar salik di kalangan ahli tarekat. Kedua, keluar dari bungkus fi sik materi yang terikat dengan waktu, kemudian naik secara spiritual ke tempat yang tinggi, serta melihat Laylatul qadr yang kemarin telah berlalu bersama malam hari raya yang datang sehari kemudian di mana keduanya tampak hadir secara nyata seolah-olah seperti hari ini. Hal itu karena ruh tidak terikat dengan waktu. Manakala perasaan manusia naik ke tingkat kehalusan ruh, zaman yang ada menjadi luas. Ia berisi masa lalu dan masa mendatang. Sehingga waktu masa lalu dan masa mendatang bagi orang lain menjadi seperti saat ini baginya. Dengan contoh tersebut, maka perjalanan menuju Laylatul qadr yang kemarin telah berlalu adalah dengan naik ke tingkatan ruh dan menyaksikan masa lalu seolah-olah ia sekarang. Landasan dari rahasia tersembunyi ini adalah tersingkapnya Aqrabiyah Ilahiyah (pendekatan ilahi terhadap hamba-Nya). Kami akan menjelaskannya dengan contoh berikut:


Surat Kelima Belas

89

Mentari sangat dekat dengan kita karena cahaya, panas, dan bayangannya terwujud dalam cermin yang terdapat di tangan kita. Akan tetapi, kita jauh darinya. Andaikan kita merasakan kedekatan mentari dilihat dari sisi substansinya yang bersifat cahaya, lalu memahami hubungan kita dengan bayangannya yang terdapat pada cermin, mengetahuinya lewat sarana tersebut, serta menangkap hakikat cahaya, panas, dan kondisinya, maka kedekatan mentari akan tersingkap untuk kita sampai pada tingkat yang membuat kita terpedaya melalui hubungan dengannya lewat pengetahuan dan kedekatan yang ada. Akan tetapi kalau kita ingin mendekati dan mengenalinya dilihat dari sisi kita yang jauh, kita harus melakukan perjalanan pemikiran dan akal untuk naik secara pemikiran bersama rambu-rambu ilmiah menuju langit, dan dari sana kita menggambarkan mentari yang terbentuk di angkasa alam. Kita harus mempergunakan rambu-rambu dan investigasi yang sangat panjang untuk memahami cahaya, hawa panas, dan tujuh warna yang menjadi substansinya. Setelah itu, kita dapat meraih kedekatan maknawi dengannya sebagaimana yang diperoleh oleh orang pertama lewat pengamatan sederhana dalam cerminnya. Sama seperti contoh di atas, kenabian dan kewalian yang diwariskan darinya mengarah kepada tersingkapnya Aqrabiyah Ilahiyah (pendekatan ilahi terhadap hamba-Nya). Adapun seluruh kewalian yang lain, sebagian besarnya meniti jalan al-qurbiyah al-Ilahiyah sehingga harus melewati sejumlah tingkatan sebelum sampai kepada kedudukan yang dituju. Kedudukan Kedua: Orang-orang yang berada di balik sejumlah fi tnah terhadap sahabat bukan hanya sekelompok kecil Yahudi di mana kalau demikian kondisinya kerusakan yang ada dapat dihentikan, serta fi tnah tersebut dapat dipadamkan hanya dengan menyingkap mereka. Namun ada banyak bangsa berbeda yang masuk ke dalam pangkuan Islam, sehingga berbagai aliran yang berseberangan ikut campur dan berbaur dengan Islam. Khususnya mereka yang fanatisme kesukuannya telah dihancurkan oleh Umar d.


90

AL-MAKTÛBÂT

Akhirnya, mereka menyembunyikan keinginan untuk melakukan balas dendam seraya menantikan waktu yang tepat. Pasalnya, agama mereka telah dihapus, kerajaan mereka dihancurkan, dan negeri yang menjadi kebanggaan mereka dilenyapkan. Karenanya, secara sadar ataupun tidak, mereka menyimpan keinginan untuk balas dendam terhadap kekhalifahan Islam. Oleh sebab itu, disebutkan bahwa kaum munafi k yang cerdik seperti orangorang yahudi memanfaatkan kondisi sosial di atas. Jadi, melawan dan melenyapkan berbagai fi tnah adalah dengan cara memperbaiki masyarakat tersebut dan memberikan pencerahan pada beragam pemikiran yang ada; bukan dengan menyingkap sekelompok kecil kaum perusak. Barangkali ada yang berkata bahwa Umar d dari atas mimbar menyeru kepada Sâriyah, salah seorang pimpinan pasukan, yang berada di daerah sejauh perjalanan sebulan dengan berkata, “Wahai Sâriyah, ke gunung, ke gunung!” 2222Seruan dan arahan Umar d menjadi salah satu sebab mereka mendapatkan kemenangan dalam perang tersebut. Kejadian yang terkenal ini menjelaskan tingkat bashirah-nya yang sangat tajam. Pertanyaannya adalah: Mengapa bashirah yang memiliki pandangan tajam itu tidak bisa melihat pembunuhnya, Fairuz (Abu Lu’lu’), yang pada saat itu berada dekat dengannya? Jawaban: Pertanyaan di atas akan kami jawab seperti ke.2323Ia pernah terangan yang pernah diberikan oleh Ya’qub ditanya, “Bagaimana engkau dapat mencium bau Yusuf dari baLihat: Ahmad ibn hambal, Fadha’il ash-Shahabah, h.355; at-abari alUmam wal Muluk, j.2, h.553; Ibn Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah, j.7, h.130; Ibnu Adiy, al-Kamil, j.2, h.441-442; al-Ajluni, Kasyful Khafa, j.2, h.380 (nomor hadis 3172). 22

23


Surat Kelima Belas

91

junya yang berada di negeri Mesir, sementara engkau tidak bisa melihatnya saat berada di dalam sumur yang dekat denganmu di negeri Kan’an?” Ya’qub menjawab, “Kondisi kami seperti kilat. Kadang terlihat dan kadang tersembunyi. Karena itu, kadangkala kami seperti orang yang duduk di tempat tinggi sehingga bisa melihat sekitar, namun kadangkala pula kami tidak bisa melihat depan kaki kami.” Kesimpulan: Betapapun manusia berbuat sesukanya, namun kehendak Ilahi itulah yang dominan. Takdir Ilahi berkuasa dan menentukan, sementara kehendak-Nya menolak kehendak manusia, sesuai dengan bunyi fi rman-Nya:

“Kamu tidak berkehendak, kecuali bila dikehendaki Allah.” (QS. al-Insân [76]: 30). Ada pula ungkapan yang berbunyi:

“Manakala takdir datang, mata menjadi buta”. Yang berlaku adalah ketentuan-Nya. Ketika takdir berbicara, ikhtiar manusia tak mampu bersuara. Isi pertanyaan kalian yang kedua: Apa hakikat dari berbagai kejadian yang menimpa barisan umat Islam di masa Ali d? Apa sebutan bagi mereka yang pembunuh dan yang terbunuh dalam perang? Jawaban: Perang unta (jamal) yang terjadi antara Ali d berikut sekelompok pendukungnya di satu pihak, sementara Talhah, Zubair, dan Aisyah g di pihak lain adalah perang antara “keadilan mutlak” dan “keadilan relatif ”. Penjelasannya sebagai berikut: Ali d menjadikan keadilan mutlak sebagai landasan kebijakannya dalam menata pemerintahan. Ia melaksanakan tun-


92

AL-MAKTÛBÂT

tutan dari keadilan tersebut sesuai dengan hasil ijtihadnya serta seperti yang sudah dilakukan oleh dua pendahulunya. Adapun para penentangnya berpendapat, “Kejernihan hati dan kesucian jiwa pada masa Abu Bakar dan Umar sangat sejalan dan menjadi pijakan bagi tersebarnya keadilan mutlak di tengah-tengah masyarakat. Namun seiring perjalanan waktu, berbagai kabilah yang memiliki karakter dan orientasi berbeda masuk Islam, sementara keislaman mereka lemah, hal itu menjadi sebab munculnya sejumlah penghalang penting untuk menerapkan keadilan mutlak. Penerapannya menjadi sulit. Karena itu, mereka berijtihad atas dasar prinsip keadilan relatif yang merupakan “pilihan paling ringan dari dua kondisi yang buruk.” Akan tetapi, karena persaingan di seputar kedua jenis ijtihad itu mengarah ke medan politik, terjadilah perang di antara dua kelompok itu. Karena masing-masing telah berijtihad dengan niat yang tulus untuk mencari ridha-Nya dan demi kemaslahatan Islam, sementara perang terjadi akibat dari hasil ijtihad tulus tersebut, maka bisa dikatakan bahwa yang membunuh dan yang dibunuh sama-sama penghuni surga. Keduanya mendapat pahala meskipun kita mengetahui bahwa ijtihad Ali d adalah benar, sementara ijtihad yang lain keliru. Mereka yang berseberangan dengan beliau tidak layak mendapat hukuman ukhrawi. Pasalnya, orang yang berijtihad karena Allah jika benar mendapat dua pahala, dan jika keliru mendapat satu pahala. Artinya, ia mendapat pahala sebagai upah dari usahanya dalam berijtihad. Ia termasuk bagian dari ibadah. Dengan kata lain, kekeliruannya dapat dimaklumi dan diampuni. Salah seorang tokoh ulama yang perkataannya menjadi hujjah mengutarakan sebuah syair berbahasa Kurdi:

“Jangan membincang apa yang terjadi antara sahabat yang mulia, karena yang membunuh dan yang terbunuh keduanya di surga.”24 24 Dalam Nahjil Anam, karya Ustadz al-Awhadi al-Mala Khalil al-Umri as-Sa’radi h.18.


Surat Kelima Belas

93

Adapun penjelasan tentang perbedaan antara keadilan mutlak dan keadilan relatif adalah sebagai berikut: Hak satu orang yang tidak bersalah tidak menjadi hilang demi kemaslahatan seluruh manusia. Artinya, haknya tetap terpelihara. Makna inilah yang dipahami dari ayat yang berbunyi:

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya.â€? (QS. al-Mâidah [5]: 32). Seseorang tidak boleh dikorbankan dengan alasan untuk menjaga keselamatan seluruh manusia. Sebab, hak tetap hak dalam pandangan rahmat Ilahi. Tidak boleh melihat kecil atau besarnya. Karena itu, yang kecil tidak boleh dikorbankan demi yang besar. Kehidupan dan hak seseorang tidak boleh dikorbankan untuk keselamatan masyakarat jika ia tidak ridha di dalamnya. Adapun jika pengorbanan tersebut dengan ridha dan keinginannya, maka persoalannya sudah berbeda. Adapun keadilan relatif adalah bahwa sebagian bisa dikorbankan demi keselamatan semua. Keadilan ini mengabaikan hak individu dengan alasan demi masyarakat. Namun ia berusaha menegakkan keadilan relatif dengan melihat pada keburukan yang lebih ringan. Hanya saja, apabila keadilan mutlak dapat diterapkan, tidak boleh mengambil keadilan relatif. Jika tidak, maka kezaliman akan terjadi. Menurut Imam Ali d, keadilan mutlak dapat ditegakkan sebagaimana pada masa Abu Bakar dan Umar . Karena itu, ia berusaha membangun kekhalifahan Islam di atas pondasi keadilan mutlak. Sementara para penentangnya berkata bahwa keadilan mutlak tidak dapat diterapkan. Terdapat sejumlah penghalang dan problem dalam penerapannya. Karena itu, ijtihad mereka mengarah kepada keadilan relatif. Sementara sebab-sebab lain yang disebutkan dalam sejarah, bukanlah sebab


94

AL-MAKTÛBÂT

yang sebenarnya. Namun ia hanyalah argumen dan alasan yang lemah. Barangkali engkau berkata: Mengapa Imam Ali d tidak mendapat taufi k seperti yang didapat para pendahulunya dalam menata kekhalifahan, padahal di sisi ini ia memiliki kemampuan yang istimewa, kecerdasan yang luar biasa, dan kelayakan yang tinggi untuk menjadi khalifah?” Jawaban: Imam Ali d sangat mampu dan memiliki kapasitas untuk menunaikan sejumlah tugas besar melebihi tugas politik dan pemerintahan. Andaikan taufi k yang diberikan padanya hanya pada bidang politik dan pemerintahan, tentu ia tidak mendapat gelar “penghulu para wali”; sebuah kedudukan spiritual yang layak disandangnya. Ia meraih kekuasaan dan pemerintahan maknawi yang jauh lebih tinggi daripada kekuasaan politik formal. Pasalnya, ia berkedudukan seperti guru bagi semua dan kekuasaan maknawinya berlangsung hingga hari kiamat. Adapun perang yang terjadi antara Ali d dan Muawiyah d serta para pengikutnya dalam perang Siffin adalah perang antara kekhalihafan dan kerajaan. Artinya, Imam Ali d menjadikan hukum-hukum agama, hakikat Islam, dan akhirat sebagai landasan. Ia mengorbankan sejumlah hukum pemerintahan dan kerajaan serta berbagai urusan yang menjadi tuntutan politik yang mengandung ketidakadilan. Hal itu demi hakikat dan hukum yang ada. Sementara Muawiyah d dan orang yang bersamanya memilih rukhsah (keringanan) syariat dan tidak mengambil ‘azimah guna menopang kehidupan sosial Islam dengan kebijakan kekuasaan dan negara. Mereka merasa harus mengambil jalan ini dalam dunia politik. Karena itu, mereka lebih memilih rukhsah ketimbang ‘azimah, sehingga mereka jatuh pada kesalahan. Lalu perlawanan Hasan dan Husein terhadap Bani Umayyah sebenarnya konfl ik antara agama dan ras. Kaum Bani Umayyah bersandar pada ras Arab dalam memperkuat Daulah Islam. Mereka lebih memilih bangsa Arab daripada yang lain. Artinya, mereka lebih memilih ikatan ras daripada ikatan Islam. Hal ini tentu saja membahayakan dilihat dari dua sisi:


Surat Kelima Belas

95

Pertama, dengan pandangan semacam itu mereka menyakiti bangsa-bangsa lain hingga melahirkan kebencian. Kedua, dasar-dasar yang menjadi prinsip kebangsaan dan rasisme adalah bersifat zalim; tidak memperhatikan rasa keadilan dan tidak sejalan dengan kebenaran. Sebab, dasar-dasar tersebut tidak sesuai dengan prinsip keadilan. Penguasa yang rasis lebih memilih orang-orang dari rasnya sendiri daripada yang lain, sehingga dia tidak mampu berlaku adil. Sementara Islam menghapus fanatisme jahiliyah, sebagaimana disebutkan dalam hadis:

“Islam telah menghapus fanatisme jahiliyah. Tidak ada perbedaan antara budak dari Habasyah dengan pimpinan dari Quraisy selama keduanya muslim.â€?25 Ikatan kesukuan tidak mungkin menggantikan ikatan agama. Pasalnya, di sana tidak ada keadilan. Ia malah menafi kan hak dan mengabaikan sikap objektif. Demikianlah, Sayyidina Husein d berpegang pada ikatan agama, dan sebagai pihak yang benar. Karena itu, ia melawan Bani Umayyah hingga mendapat tingkatan syahid. Barangkali ada yang bertanya: Mengapa Husein d tidak sukses dalam perjuangannya padahal ia berada dalam kebenaran? Mengapa takdir dan rahmat Ilahi membiarkan beliau dan keluarganya berakhir dengan kepedihan?â€? Jawaban: Selain orang-orang yang dekat dengan Husein d, beragam suku yang ikut serta bersamanya adalah orang-orang yang fanatisme kesukuan mereka telah terluka oleh bangsa Arab muslim. Mereka adalah orang-orang yang ingin membalas dendam sehingga menodai kesucian niat yang dimiliki oleh Husein d dan para pengikutnya. Hal inilah yang mengakibatkan mereka kalah. 25 Lihat: Muslim, al-Imârah h.53-54; Abu Daud, al-Adab h.111; Ibnu Majah, al-Fitan h.7; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad j.2, h.488.


96

AL-MAKTÛBÂT

Adapun hikmah dari peristiwa memilukan itu dilihat dari sisi takdir Ilahi adalah sebagai berikut: Hasan dan Husein berikut keluarga dan keturunan mereka dipersiapkan untuk menduduki kekuasaan maknawi. Tentu saja menggabungkan antara kekuasaan dunia dan kekuasaan maknawi atau spiritual sangatlah sulit. Karena itu, takdir Ilahi menjadikan mereka berpaling dari dunia. Dia memperlihatkan kepada mereka wajah dunia yang buruk agar mereka tidak memiliki ikatan hati dengan dunia serta melepaskan kekuasaan duniawi yang bersifat sementara dan fana. Dia menetapkan mereka untuk menggenggam kekuasaan maknawi yang mulia dan permanen sehingga menjadi rujukan bagi para wali qutub; bukan sebagai rujukan para penguasa dunia. Isi pertanyaan kalian yang ketiga: Apa hikmah di balik musibah memilukan dan perlakuan buruk yang menimpa orangorang yang penuh berkah itu? Jawaban: Sebelumnya telah kami jelaskan bahwa terdapat tiga hal yang menjadi landasan para penentang Husein d; yaitu kalangan Bani Umayyah, di mana hal itu melahirkan berbagai kezaliman dan perlakuan kejam: Pertama: hukum politik yang zalim; yaitu bahwa orangorang dapat dikorbankan demi menjaga kedaulatan dan stabilitas negara. Kedua: pemerintahan mereka mengacu kepada fanatisme kesukuan dan ras. Yang menentukan segala urusan adalah hukum kesukuan yang zalim. Yaitu segala sesuatu dapat dikorbankan demi menjaga keselamatan bangsa.� Ketiga: mengakarnya spirit persaingan kalangan Bani Umayyah sejak lama terhadap Bani Hasyim. Hal itu tampak pada Yazid dan orang-orang sepertinya. Ia melahirkan letupan potensi yang zalim dan jahat. Terdapat sebab keempat, yang terkait dengan kalangan yang bergabung ke dalam barisan Husein d. Yaitu sikap Bani Umayyah yang lebih mengedepankan bangsa Arab dalam menata


Surat Kelima Belas

97

pemerintahan, serta perasaan lebih unggul daripada bangsa lain seolah mereka seperti budak dengan memberikan sebutan mawâli. Sikap sombong Bani Umayyah itulah yang membuat orang-orang di atas bergabung dengan barisan Husein d di mana mereka membawa niat tidak tulus. Yaitu niat yang didasarkan pada sikap ingin balas dendam. Sikap ini memancing munculnya perasaan fanatisme kalangan Bani Umayyah hingga membuat mereka melakukan perbuatan memilukan itu tanpa ada belas kasih sama sekali. Keempat sebab di atas itu merupakan sebab lahiriah. Namun, jika kita melihat dari perspektif takdir Ilahi, kita mengetahui bahwa Husein d dan karib kerabatnya telah meraih sejumlah buah ukhrawi, kekuasaan rohani, dan ketinggian spiritual akibat dari peristiwa memilukan tersebut. Kepedihan dan kesulitan yang mereka dapatkan dalam peristiwa tersebut sangat ringan dan tidak berarti dibanding kedudukan tinggi yang mereka peroleh. Misalnya: Orang yang mati syahid akibat penyiksaan selama satu jam mendapatkan kedudukan tinggi dan derajat mulia sebagai syahid di mana hal itu tidak bisa diraih oleh orang yang berjuang terus-menerus selama sepuluh tahun. Andaikan orang mati syahid yang telah mendapatkan kedudukan syahid ditanya tentang penyiksaan yang dialami, pasti ia menjawab, “Aku telah memperoleh banyak hal lewat sesuatu yang sangat ringan.â€? Isi pertanyaan kalian yang keempat: Sebagian besar mamemnusia masuk ke dalam agama yang haq sesudah Isa bunuh Dajjal di akhir zaman. Namun dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa, “Kiamat tidak akan terjadi, selama di bumi ini masih ada orang yang mengucap Allah...Allah.â€?26 Bagaimana bisa orang-orang dalam jumlah besar menjadi kufur setelah sebelumnya beriman? Jawaban: Mereka yang imannya lemah menganggap tidak masuk akal hadis sahih yang menjelaskan turunnya Nabi Isa serta bagaimana ia membunuh Dajjal dan mengamalkan syariat 26 Muslim dalam al-Iman 234, at-Tirmidzi dalam al-Fitan 35, al-Musnad 3/107, 201, dan 268.


98

AL-MAKTÛBÂT

Islam. Akan tetapi, kalau hakikat yang sebenarnya dari riwayat tersebut dijelaskan, tidak ada yang aneh dan mustahil. Makna yang diberikan oleh hadis di atas dan oleh riwayat tentang Imam Mahdi dan as-Sufyani 27 adalah sebagai berikut: Ada dua aliran kekufuran (ateis) akan menguat di akhir zaman: Pertama, orang menakutkan bernama Sufyani. Ia akan mengingkari risalah Muhammad r dengan bersembunyi di balik penyakit nifak. Ia memimpin barisan munafi k, berusaha menghancurkan syariat Islam, dan akan dihadapi oleh sosok bersinar dari keluarga Nabi r yang bernama Muhammad al-Mahdi. Ia memimpin para wali dan kalangan sempurna yang terpaut dengan keturunan ahlul bait. Ia menghentikan dan menghancurkan aliran kemunafi kan yang memerankan sosok Sufyani. Kedua, aliran pembangkangan yang lahir dari fi lsafat kaum naturalis dan materialis. Aliran ini secara berangsur-angsur menyebar dan menguat lewat fi lsafat materialisme di akhir zaman hingga akhirnya mengingkari uluhiyah. Sebagaimana orang yang tidak mengenal raja serta tidak mengakui pasukan dan para komandannya, memberikan semacam kekuasaan kepada semua prajurit. Begitu pula anggota aliran tersebut yang mengingkari Allah I memberikan kepada diri mereka sendiri semacam sifat rububiyah laksana Namrud kecil. Adapun Dajjal, ia adalah tokoh pimpinan mereka. Ia memiliki kemampuan luar biasa seperti sihir dan hipnotis. Ia sangat menyimpang hingga melekatkan pada kekuasaannya semacam sifat rububiyah sekaligus mendeklarasikan uluhiyahnya.Tentu saja, ketika orang yang lemah mengaku sebagai Tuhan padahal ia kalah oleh lalat dan bahkan tak mampu menciptakan sayapnya, hal itu menunjukkan kebodohan luar biasa yang layak dihinakan. Hadis-hadis tentang Imam Mahdi terdapat pada at-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, al-Hakim, ath-abrani, Abu Ya’la al-Mushili dengan merujuk pada sejumlah sahabat. Menurut asy-Syawkani, “Hadis-hadis tentang Imam Mahdi yang dapat ditelaah berjumlah sekitar lima puluh. Di antaranya ada yang sahih, hasan, dan dhaif (lemah). Hadis-hadis tersebut mutawatir. Adapun âtsar yang berasal dari sahabat yang menjelaskan tentang Imam Mahdi banyak pula. Hukumnya marfu. Tidak perlu ijtihad dalam riwayat semacam itu (al-Idza’ah, Karya Muhammad Shiddiq Khan, h.113-114). 27


Surat Kelima Belas

99

Demikianlah, pada masa seperti itu, ketika aliran tersebut menguat, hadirlah agama yang haq yang dibawa oleh Isa . Ia merupakan sosok maknawi Isa yang turun dari langit rahmat Ilahi. Di hadapan hakikat tersebut, agama nasrani saat ini akan bersih dan terbebas dari berbagai khurafat dan penyimpangan. Ia akan bergabung dengan berbagai hakikat Islam. Artinya, agama nasrani akan berbalik menjadi Islam secara maknawi. Nah, sosok maknawi dari agama nasrani itu akan menjadi pengikut dengan mematuhi al-Qur’an, sementara Islam berkedudukan sebagai imam yang diikuti. Sebagai hasilnya, agama yang haq ini akan mendapatkan kekuatan besar. Pasalnya, pada saat Islam dan nasrani terpisah, aliran kekufuran (ateis) sulit dibendung. Namun dengan bersatu, mereka siap menghancurkan aliran tersebut seyang berada di alam cara total. Di saat-saat itulah sosok Isa langit dengan fi sik manusiawinya memimpin agama yang haq ini. Hal ini seperti yang diberitakan oleh informan yang jujur (Nabi r) dengan merujuk kepada janji Dzat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Karena beliau telah memberitahukan, maka sudah pasti benar. Dan karena yang berjanji adalah Dzat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu, maka pasti Dia akan mewujudkannya. Ya, Dzat yang mengutus malaikat secara bergilir dari langit ke bumi, menjadikan mereka kadang dalam bentuk manusia (sebagaimana menghadirkan Jibril dalam sosok sahabat, Dihyah al-Kalbi),28 mengutus makhluk spiritual dari alam arwah, serta menjadikan mereka hadir dalam bentuk manusia, bahkan mengutus arwah banyak wali―yang jasad mereka telah wafat― ke dunia, maka tidak mustahil bagi hikmah Dzat Yang Mahabijak untuk mengutus Isa , yang hidup dengan jasadnya di langit dunia, ke dunia. Bahkan meskipun ia pergi ke ujung sisi akhirat dan sudah mati, Allah I Mahakuasa memberinya jasad baru lagi, lalu mengirimnya ke dunia untuk hasil yang agung ini dan agar ia menjadi penutup bagi agama yang dibawa oleh Isa . Allah I telah menjanjikan ini semua sesuai dengan hikmah-Nya yang mulia. Karena telah berjanji, pasti Dia akan mengutusnya. 28 Lihat: al-Bukhari, bab al-Manâqib h.25, bab Fadha’il al-Qur’an h.1; Muslim, bab Fadha’il ash-Shahabah h.100, bab al-Iman, h.271; at-Tirmidzi, al-Manâqib h.12; an-Nasai, bab al-Iman h6; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad j.2, h.107, j.3, h.334.


100

AL-MAKTÛBÂT

Setiap orang tidak mesti mengetahui sosok Isa saat turun ke dunia. Ia hanya dikenali oleh kalangan tertentu dan orang-orang terdekatnya lewat cahaya iman. Jadi, tidak semua manusia mengenalinya secara terang-terangan. Pertanyaan: Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Dajjal memiliki surga palsu, tempat ia memasukkan para pengikutnya. Ia juga memiliki neraka palsu, tempat ia melemparkan orang yang tidak mau mengikutinya. Bahkan, ia menjadikan salah satu telinga tunggangannya sebagai surga dan yang lain sebagai neraka. Ia juga memiliki tubuh besar yang panjangnya sekian dan berbagai sifat lainnya. 29 Nah, yang menjadi pertanyaan, apa maksud dari semua riwayat tersebut? Jawaban: Sosok lahiriah Dajjal sama dengan manusia. Ia adalah sosok manusia penipu, setan yang bodoh dan sombong di mana ia bersifat fi r’aun, membangkang, dan lupa kepada Allah, bahkan melekatkan nama uluhiyah (ketuhanan) pada kekuasaannya yang tiran. Adapun sosok maknawinya, yang merupakan aliran kekufuran (ateis), adalah sosok yang bertubuh besar. Sejumlah riwayat tentang sifat-sifatnya yang menunjukkan ukurannya yang besar mengarah kepada sosok maknawinya. Hal itu seperti gambaran sang komandan Angkatan bersenjata Jepang pada suatu waktu yang dilukiskan sebagai manusia yang meletakkan salah satu kakinya di lautan Pasifi k dan yang lainnya di benteng Port Arthur. Jarak antara keduanya sejauh sepuluh hari perjalanan. Gambaran tentang komandan kecil itu memperlihatkan dan menjelaskan kekuatan maknawi dari pasukannya. Adapun surga palsu milik Dajjal adalah tempat-tempat hiburan dan berbagai pernak-perniknya yang menyihir. Sementara tunggangannya adalah sarana transportasi seperti kereta. Di kepalanya terdapat tempat nyala api yang kadang melemparkan orang yang tidak mengikutinya ke dalamnya. Telinga lain atau keLihat riwayat yang menjelaskan tentang Dajjal: al-Bukhari, dalam Ahâdîs al-Anbiyâ, h.3 dan h.50; Muslim, bab al-Fitan h.100-115; Abu Daud, al-Malâhim h.14; at-Tirmidzi, bab al-Fitan, h.59, h.60, h.61; Ibnu Majah, bab al-Fitan, h. 33; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad, j.3, h.367, j.5, h.397. 29


Surat Kelima Belas

101

palanya yang lain terhampar dengan karpet lembut laksana surga yang dipersiapkan untuk tempat duduk para pengikutnya. Memang benar, kereta adalah kendaraan penting bagi peradaban bodoh dan kejam saat ini. Ia membawa surga palsu bagi kalangan dunia. Hanya saja, di tangan peradaban sekarang, ia laksana malaikat zabaniyah neraka yang membawa kehancuran dan kehinaan bagi kalangan agama dan kalangan Islam yang malang. Meskipun dengan kemunculan dan transformasinya kepada Islam, agama haq yang dibawa oleh Isa menyebarkan cahayanya kepada sebagian besar manusia. Namun saat mendekati kiamat, aliran ateis kembali muncul dan menyebar secara luas sehingga tidak ada lagi di muka bumi ini secara umum orang yang mengucap, “Allah... Allahâ€?. Yakni, kelompok yang istimewa tidak lagi memiliki posisi penting di muka bumi. Hadis di atas tidak berarti bahwa kalangan yang berpegang pada kebenaran dan juru dakwah sudah tidak ada lagi di muka bumi. Namun, kalangan haq yang minoritas atau kalah dibanding kelompok ateis tetap ada hingga hari kiamat. Hanya saja, saat kiamat terjadi, ruh orang beriman dicabut sebagai bentuk rahmat Allah kepada mereka agar mereka tidak melihat kengerian hari kiamat. Kiamat hanya terjadi di hadapan kaum kafi r.30 Isi pertanyaan kalian yang kelima: Apakah ruh-ruh yang kekal abadi juga merasakan kedahsyatan kiamat? Jawaban: Ya, mereka juga ikut merasakan sesuai dengan tingkatan mereka sebagaimana malaikat secara khusus ikut merasakan lewat manifestasi kekuasaan Tuhan pada diri mereka. Seperti halnya orang yang berada di tempat hangat ketika melihat orang-orang yang menggigil kedinginan oleh salju ikut merasakan kondisi mereka karena memiliki akal dan hati nurani. Demikian pula ruh abadi yang memiliki perasaan yang terkait dengan alam, pasti ikut merasakan berbagai peristiwa besar yang terjadi di dalamnya. Masing-masing sesuai dengan tingkatannya. 30 Lihat: al-Hakim, al-Mustadrak, j.3, h.686; ath-î ˘abrani, al-Mu’jam al-Kabir, j.3, h.175; al-haytsami, Majma az-Zawa’id, j.8, h.9.


102

AL-MAKTÛBÂT

Sejumlah petunjuk al-Qur’an menjelaskan bagaimana ruh ikut merasakan siksa jika termasuk pendosa. Sebaliknya, jika termasuk kaum yang bahagia ia ikut merasakan apresiasi, penghargaan, dan kabar gembira yang ada. Nah ketika al-Qur’an menyebutkan berbagai kengerian kiamat dalam bentuk ancaman seraya berkata: “Kalian pasti akan melihatnya”, sementara orang yang melihat kengerian tersebut dengan fi sik manusiawi mereka adalah orang-orang yang hidup hingga kiamat, maka ruh yang jasadnya telah hancur dikubur juga ikut merasakan ancaman al-Qur’an tersebut. Isi pertanyaan kalian yang keenam: Allah I berfi rman:

“Segala sesuatu akan binasa kecuali di Jalan-Nya” (QS. al-Qashash [28]: 88). Apakah ayat tersebut meliputi akhirat, surga, neraka, dan penghuninya, atau tidak? Jawaban: Permasalahan ini telah menjadi bahan kajian banyak ulama, ahli kasyaf, dan para wali yang salih. Pendapat mereka itulah yang menjadi sandaran dalam masalah tersebut. Selain itu, ayat di atas memiliki aspek yang sangat luas dan mencakup banyak tingkatan. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat di atas tidak mencakup alam keabadian. Sementara yang lain berkata bahwa berbagai alam tersebut juga mengalami semacam kebinasaan dalam waktu yang sangat singkat di mana karena begitu singkat sampai-sampai kepergian dan kembalinya tidak terasa. Adapun perkataan sebagian ahli kasyaf yang memiliki pandangan ekstrem bahwa kefanaan mutlak akan terjadi tidaklah benar. Pasalnya, Dzat Allah I bersifat permanen dan kekal, maka Sifat-sifat dan nama-Nya juga kekal abadi. Nah, karena sifat dan nama-Nya bersifat kekal, maka kalangan abadi yang berada di alam baka di mana ia merupakan cermin, menifestasi, ukiran, dan wujudnya tidak pergi menuju kefanaan mutlak. Saat ini terdapat dua hal yang terlintas dalam benak ini. Kami akan menuliskannya secara global. Yaitu:


Surat Kelima Belas

103

Pertama, qudrah Allah I tidak terbatas. Bahkan, wujud dan ketiadaan jika diukur dengan qudrah dan iradah-Nya laksana dua rumah. Segala sesuatu dikirim kepadanya dan ditarik darinya dengan sangat gampang dan mudah. Jika mau, Dia dapat menariknya dalam satu hari atau satu waktu. Kemudian, ketiadaan mutlak tidak ada sama sekali, karena ada pengetahuan yang mencakup segala hal. Hal itu karena tidak ada sesuatu yang berada di luar wilayah pengetahuan Ilahi. Ketiadaan yang terdapat dalam wilayah pengetahuan tersebut adalah ketiadaan yang bersifat eksternal (lahiriah) dan sekedar simbol yang menjadi bungkus bagi wujud yang bersifat ilmi. Dari sini sebagian ulama mengistilahkan entitas ilmiah tersebut dengan “substansi permanen.” Maka, pergi ke alam fana hanya berarti melepaskan bungkus lahiriah yang terdapat pada sesuatu untuk sementara waktu, dan masuk ke dalam wujud maknawinya. Dengan kata lain, segala hal yang bersifat fana meninggalkan wujud lahiriah, namun substansinya memakai wujud maknawi. Ia juga berarti keluar dari wilayah qudrah dan masuk ke wilayah ilmu. Kedua, telah kami jelaskan dalam sebagian besar “alKalimât” bahwa segala sesuatu fana dengan makna ismi-nya dan dengan sisi yang mengarah pada zatnya. Ia tidak memiliki wujud mandiri. Ia juga tidak memiliki hakikat yang tegak sendiri. Akan tetapi, pada sisi yang mengarah kepada Allah—yaitu dengan makna harfi —ia tidak fana. Pasalnya, ia berisi manifestasi nama-nama Allah yang abadi. Karena itu, ia tidak disebut tiada, sebab ia membawa bayangan dari wujud abadi, serta memiliki hakikat permanen. Yaitu sebuah hakikat mulia karena memperoleh semacam bayangan abadi dari nama-Nya yang kekal. Selanjutnya, fi rman Allah I:

“Segala sesuatu akan binasa kecuali di Jalan-Nya,” merupakan pedang yang bisa memutus tangan manusia dari selain-Nya. Sebab, ayat di atas memutus seluruh hubungan dengan segala yang bersifat fana, di dunia yang fana, selain atas nama Allah.


104

AL-MAKTÛBÂT

Jadi, ayat di atas melihat kepada semua yang bersifat fana di dunia. Artinya, apabila sesuatu berada di jalan Allah, apabila dilihat dari makna harfi , atau apabila ia untuk mencari ridha Allah, maka tidak termasuk dalam yang selain-Nya. Dengan kata lain, ia tidak ditebas oleh pedang ayat di atas. Kesimpulan: Apabila sesuatu ditujukan untuk Allah dan ia menemukan Allah, berarti bukan selain-Nya sehingga tidak binasa. Namun jika tidak menemukan Allah dan bukan di jalan-Nya, berarti ia di luar Allah. Karenanya, ia layak dibinasakan oleh pedang “Segala sesuatu akan binasa kecuali di Jalan-Nya.” Hijabnya harus dirobek agar bisa menemukan-Nya.

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KEENAM BELAS

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Karena itu, takutlah kepada mereka!” Perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imran [3]: 173). Surat ini mendapatkan rahasia ayat yang berbunyi:

“Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut!” (QS. âhâ [20: 44), sehingga tidak ditulis dengan redaksi yang keras. Ia adalah jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh banyak orang secara tersurat maupun tersirat. Aku sama sekali tidak ingin menuliskan jawaban ini. Aku telah menyerahkan urusanku kepada Allah I. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal. Akan tetapi, aku tidak dibiarkan merasa nyaman sendiri. Mereka mengalihkan perhatianku kepada dunia ini. Karena itu, aku terpaksa berkata lewat lisan “Said Lama”, bukan lewat lisan “Said Baru.” Hal itu bukan untuk menyelamatkan diriku pribadi, tetapi untuk menyelamatkan teman-temanku dan al-Kalimât dari berbagai syubhat yang dilontarkan oleh para


106

AL-MAKTÛBÂT

penguasa dunia dan orang-orang yang menyakiti mereka. Akan kuceritakan kondisiku yang sebenarnya kepada teman-teman, para penguasa, dan para pejabat pemerintahan. Hal itu terangkum dalam lima poin:

Poin Pertama Pertanyaan: Mengapa Anda meninggalkan pentas politik dan sama sekali tidak mau mendekatinya? Jawaban: “Said Lama� sudah pernah terjun dalam pentas politik sekitar sepuluh tahun yang lalu dengan harapan bisa berkhidmah pada agama dan ilmu lewat jalur politik. Sayangnya, usaha tersebut hanya sia-sia. Pasalnya, jalur tersebut tampak memiliki banyak problem dan masih diragukan. Bagiku, terjun di dalamnya ibarat melakukan sesuatu yang kurang berguna. Ia membuatku tak bisa menunaikan tugas yang lebih penting dan lebih wajib. Ia juga berbahaya. Sebagian besarnya menipu dan dusta. Sangat mungkin seseorang menjadi alat di tangan orang asing tanpa ia sadari. Orang yang terjun dalam dunia politik bisa menjadi pendukung atau bisa pula menjadi oposisi. Jika aku termasuk pendukung, maka terjun di dalamnya bagiku hanya menghabiskan waktu dan tidak berguna. Sebab, aku bukan aparat pemerintah dan bukan pula wakil di parlemen. Dalam kondisi demikian, tidak ada artinya bagiku aktif dalam persoalan politik. Mereka tidak membutuhkan campur tanganku. Sementara jika aku termasuk dalam barisan oposisi yang menentang pemerintah, berarti aku harus terlibat lewat pemikiran atau lewat kekuatan. Jika lewat pemikiran, akupun tidak dibutuhkan karena persoalannya sangat jelas. Semua orang sudah mengetahui. Jadi, tidak perlu melakukan sesuatu yang sia-sia. Sementara jika dengan kekuatan, yaitu sikap opisisinya ditunjukkan dengan memunculkan sejumlah problem guna mencapai tujuan yang masih diragukan. Hal itu membuka peluang untuk melakukan ribuan dosa. Sebab, banyak orang mendapat bencana lantaran kesalahan satu orang. Hati nuraniku tidak rela melakukan dosa dan menggiring orangorang tak bersalah ke dalamnya hanya karena satu atau dua kemu-


Surat Keenam Belas

107

ngkinan dari sepuluh kemungkinan yang ada. Karena itu, “Said Lama” meninggalkan pentas politik dan berbagai pertemuannya, serta tidak lagi membaca koran dan merokok. Bukti jujur atas semua ini adalah bahwa sejak delapan tahun aku tidak pernah membaca satu koran pun dan tidak pernah menyimaknya dari siapapun. Silahkan tunjukkan kalau memang ada bukti bahwa aku pernah membaca atau menyimak koran dari siapapun. Padahal, delapan tahun yang lalu “Said Lama” telah membaca sekitar delapan koran setiap hari. Selain itu, sejak lima tahun, kondisiku terus diawasi dengan ketat. Silahkan buktikan kalau memang ada orang yang melihat keterlibatanku dengan politik. Padahal, orang yang sensitif sepertiku, yang tidak memiliki relasi dengan siapapun, dan yang melihat tipu muslihat terbaik adalah dengan meninggalkan semua tipu daya sesuai dengan ungkapan:

Meninggalkan semua siasat adalah siasat. Maka orang yang semacamku ini tidak mungkin bisa menyembunyikan pemikirannya meski hanya selama delapan hari; bukan delapan tahun. Andaikan ia memiliki kecenderungan pada politik, tentu hal tersebut akan segera diketahui sehingga tidak perlu melakukan investigasi.

Poin Kedua Pertanyaan: Mengapa “Said Baru” sangat menghindari politik? Jawaban: Agar upayanya untuk meraih kehidupan abadi yang lebih dari milyaran tahun tidak dikorbankan demi keterlibatan sia-sia yang hanya memakan waktu sekitar satu atau dua tahun kehidupan dunia yang masih diragukan. Selain itu, “Said Baru” menjauhi politik guna berkhidmah untuk iman dan alQur’an yang merupakan pengabdian paling agung, paling wajib, paling tulus, dan paling benar. Pasalnya ia berkata:


108

AL-MAKTÛBÂT

Aku sudah mulai tua. Aku tidak tahu berapa lama lagi akan bertahan hidup sesudah ini. Karena itu, lebih baik bagiku beramal untuk kehidupan abadi. Inilah yang semestinya dijadikan prioritas. Karena iman merupakan sarana untuk bisa sukses meraih kehidupan abadi dan kunci kebahagiaan yang kekal, maka ia harus diusahakan secara optimal. Aku adalah seorang ulama. Secara agama, aku berkewajiban untuk memberi manfaat kepada manusia. Karena itu, aku juga ingin melayani mereka dari sisi ini. Hanya saja, pengabdian ini manfaatnya untuk kehidupan sosial dan dunia. Inilah yang berada di luar kemampuanku. Apalagi sulit melakukan pengabdian yang lurus dan baik di masa yang sulit ini. Oleh sebab itu, aku meninggalkan aspek ini. Aku lebih memilih jalan pengabdian iman yang paling penting, paling wajib, dan paling selamat. Kubiarkan pintu tersebut terbuka agar berbagai hakikat iman dan sejumlah obat maknawi yang sangat ampuh bagiku bisa dirasakan oleh orang lain. Semoga Allah menerima pengabdian ini sekaligus menjadikannya sebagai penebus dosa-dosaku di masa lalu. Tidak ada yang berhak menolak pengabdian ini entah ia mukmin, kafi r, teman, atau zindik kecuali setan yang terkutuk. Pasalnya, ketiadaan iman merupakan kondisi yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Bisa jadi kenikmatan setani masih bisa dirasakan saat melakukan kezaliman, kefasikan, dan dosa besar. Namun saat iman tidak ada, kenikmatan menjadi lenyap sama sekali. Bahkan, ia adalah derita dalam derita, siksa dalam siksa, dan kegelapan dalam kegelapan. Demikianlah, tidak berusaha menggapai kehidupan abadi, berhenti meraih cahaya iman yang suci, serta masuk ke dalam permainan politik yang berbahaya dan tidak penting di masa tua seperti ini, sangat tidak rasional dan tidak arif bagi orang sepertiku yang tidak punya siapa-siapa lagi, yang hidup sendiri, dan yang sedang berusaha mencari penebus dosa-dosa masa lalu. Bahkan hal itu terbilang gila dan bodoh. Orang gila sekalipun dapat memahaminya. Mungkin engkau bertanya, “Mengapa pengabdian terhadap al-Qur’an dan iman menghalangimu dari dunia politik?�


Surat Keenam Belas

109

Jawabannya: Berbagai hakikat iman dan al-Qur’an sangat berharga dan mahal laksana intan permata. Kalau aku sibuk dengan politik, tentu akan terlintas dalam pandangan orang awam yang lengah “Mungkin orang ini ingin menjadikan kita bergabung dalam sayap politik tertentu. Bukankah orang yang mengajak dengan propaganda politik tidak lain untuk mendapat pengikut?” Dengan kata lain, mereka melihat intan yang mahal itu laksana serpihan kaca murahan. Dengan begitu berarti aku telah berbuat zalim kepada hakikat berharga tersebut dan telah menjatuhkan nilainya lewat keterlibatanku dalam dunia politik. Wahai ahli dunia! Mengapa kalian tidak membiarkan diriku dan masih terus mengusikku dengan berbagai macam cara? Barangkali kalian berkata, “Para syekh sufi kadangkala masih ikut terlibat dalam urusan kita. Sementara orang-orang kadang menyebutmu dengan panggilan syekh.” Jawaban: Wahai para pemimpin, aku bukan syekh sufi . Aku hanya seorang ulama agama. Andaikan aku mengajari mereka tarekat sufi selama empat tahun ini yang kuhabiskan di sini, kalian boleh curiga. Namun, aku selalu berkata kepada setiap orang yang datang kepadaku bahwa saat ini bukan zaman tarekat. Yang penting dan mendesak sekarang ini adalah iman dan Islam. Barangkali kalian bertanya, “Engkau disebut “Said al-Kurdi” karena mungkin membawa isu rasial dan ajakan kepadanya. Ini tidak tepat bagi kami.” Jawaban: Wahai para pemimpin, tulisan “Said Lama” dan “Said Baru” bisa kalian baca. Aku menjelaskannya sebagai saksi. Sejak lama aku memandang fanatisme kelompok dan rasisme sebagai racun mematikan. Sebab, ia merupakan penyakit bawaan dari Eropa yang sangat kotor. Nabi r dengan tegas menyatakan bahwa Islam menghapus fanatisme jahiliyah.31 Eropa telah melemparkan penyakit tersebut ke tengah-tengah umat Islam guna mencerai-beraikan mereka sehingga mudah untuk dilahap. Nah, aku berusaha sekuat tenaga mengobati penyakit ini. Para murid dan relasiku menjadi saksi atas hal tersebut. 31

Takhrijnya telah disebutkan pada “Surat Kelima Belas”.


110

AL-MAKTÛBÂT

Jika demikian wahai para pembesar, apa perlunya berusaha mengganggu dan menyakitiku di balik setiap peristiwa yang terjadi? Ini seperti menghukum prajurit di Barat lantaran kesalahan yang dilakukan oleh prajurit di Timur karena keduanya sama-sama prajurit. Atau, seperti menghukum pedagang di Bagdad karena kesalahan yang dilakukan oleh pedagang di Istanbul. Inilah yang kalian lakukan pada setiap peristiwa di mana hal itu dijadikan sebagai alasan untuk mengusikku. Perasaan seperti apa gerangan sehingga melahirkan sikap demikian? Hati nurani mana yang rela memberi keputusan seperti ini? Maslahat seperti apa yang didapat darinya?

Poin Ketiga Para sahabat dan kolegaku memperhatikan kondisiku yang tenang dan lapang, merasa aneh dengan sikapku yang memilih diam dan sabar dalam menghadapi setiap musibah yang menimpa. Mereka bertanya-tanya, “Bagaimana engkau bisa menanggung tekanan dan kesulitan yang ada? Dulu, engkau sangat pemarah; tidak rela kalau ada yang menyentuh kehormatanmu. Engkau juga tidak pernah membiarkan penghinaan sekecil apapun.” Jawaban: Perhatikan dua peristiwa dan kisah berikut. Kalian bisa mendapatkan jawaban dari keduanya. Kisah Pertama: Dua tahun yang lalu, seorang direktur, tanpa sebab dan alasan yang jelas melontarkan kata-kata yang berisi penghinaan kepadaku di saat aku tidak ada di tempat. Ucapannya sampai kepadaku. Dengan perasaan “Said Lama” selama satu jam aku merasa sangat terpukul. Namun berkat rahmat Allah, sebuah hakikat yang melenyapkan kerisauan tersebut datang ke dalam qalbu. Ia mendorongku untuk memaaan orang tadi. Hakikat yang dimaksud adalah sebagai berikut: Aku berkata kepada diriku, “Jika penghinaan yang ia lakukan serta berbagai aib yang ia ungkap terkait dengan diriku pribadi, semoga Allah meridhainya. Pasalnya, ia telah memperlihatkan aib diriku. Jika ia benar, kritik yang ia berikan akan membimb-


Surat Keenam Belas

111

ing nafsu ammarah-ku dan meyelamatkanku dari sikap sombong. Namun jika ia berdusta, ia tetap membantuku agar selamat dari penyakit riya dan popularitas palsu yang menjadi sebab munculnya riya.” Ya, aku belum pernah berdamai dengan nafsu ammarah-ku karena belum pernah mendidiknya. Kalau ada seseorang yang mengingatkanku akan adanya kalajengking yang terdapat di pundak atau tubuhku, sudah selayaknya aku berterima kasih, bukan malah marah. Adapun kalau penghinaan yang ia berikan tertuju pada statusku sebagai pelayan Iman dan al-Qur’an, berarti penghinaan tersebut tidak mengarah kepadaku. Kuserahkan orang itu kepada Sang Pemilik al-Qur’an yang telah mempekerjakanku dalam tugas tersebut. Dia adalah al-‘Azîz (Yang Maha Perkasa) dan alHakîm (Yang Maha Bijaksana). Jika ucapannya ditujukan untuk menghina dan merendahkan diriku pribadi, itu juga sebenarnya tidak tertuju padaku. Sebab, aku hanyalah tawanan dan orang asing di wilayah ini. Aku tidak memiliki hak untuk membela kehormatanku. Namun ia tertuju kepada penguasa kampung dan wilayah ini. Sebab, aku hanya tamu di dalamnya. Penghinaan kepada seorang tawanan sebenarnya mengarah kepada pemimpinnya. Ia yang akan memberikan pembelaan untuknya. Dengan hakikat tersebut aku merasa tenang. Kubaca fi rman-Nya:

“Kuserahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghafi r [40]: 44). Akupun melupakan kejadian tersebut lalu kuanggap tidak pernah terjadi. Akan tetapi, setelah itu terlihat bahwa al-Qur’an tidak memaaannya dan memberikan hukuman kepadanya. Kisah Kedua: Tahun ini aku mendengar sebuah peristiwa telah terjadi. Aku hanya mendengarnya secara global setelah ia terjadi. Akan


112

AL-MAKTÛBÂT

tetapi, aku dianggap sebagai orang yang memiliki hubungan dengan peristiwa tersebut. Padahal, aku tidak pernah melakukan korespondensi dengan siapapun. Kalaupun menulis surat, hal itu sangat jarang kulakukan, dan itupun hanya kepada seorang teman dan terkait dengan persoalan iman. Bahkan kepada saudara kandungku sekalipun aku hanya menulis satu surat selama empat tahun. Aku menahan diri untuk tidak berkomunikasi dan melakukan kontak dengan mereka. Apalagi pihak penguasa melarangku melakukan hal itu. Aku hanya sesekali bertemu dengan satu atau dua orang kolega dekatku dalam satu pekan. Adapun para tamu yang datang jumlahnya tidak lebih dari satu atau dua orang. Mereka hanya menemuiku selama satu atau dua menit sepanjang satu bulan untuk menanyakan persoalan ukhrawi. Aku benar-benar terasing. Aku tidak bisa melakukan kontak dengan siapapun dan dari apapun. Aku hidup sebatang kara tanpa ada kolega di sebuah kampung yang di dalamnya tidak ada penghasilan untukku. Bahkan semenjak empat tahun yang lalu kuperbaiki masjid yang sudah rusak bersama masyarakat sekaligus aku menjadi imam di dalamnya di mana aku memang memiliki ijazah sebagai imam dan juru dakwah dari kotaku. Semoga Allah menerima amalku. Namun demikian, bulan Ramadhan yang lalu aku tidak bisa pergi ke masjid. Kadang-kadang aku melaksanakan shalat sendirian sehingga tidak mendapat pahala shalat berjamaah yang pahalanya dua puluh lima kali lipat. Menyikapi dua peristiwa di atas itulah aku berusaha bersabar dan seperti sikap yang kuperlihatkan dua tahun yang lalu saat menghadapi sang direktur tersebut. Dengan izin Allah, Aku akan terus bersabar seperti ini. Yang terlintas dalam benakku dan ingin kuutarakan adalah jika sikap keras, tekanan dan perlakuan buruk yang ditunjukkan oleh pihak penguasa kepada diriku yang penuh kekurangan dan aib, maka kumaaî‚›an. Semoga dengan begitu diriku menjadi lebih baik di mana ia menjadi penebus dosa. Jika aku merasakan kepedihan akibat tindakan buruk yang kuterima di dunia yang merupakan tempat jamuan ini, maka aku tetap bersyukur karena aku telah merasakan kesenangan dan kenikmatannya.


Surat Keenam Belas

113

Akan tetapi, jika pihak penguasa menyiksaku lantaran aku melakukan pengabdian terhadap persoalan iman dan al-Qur’an, bukan tugasku untuk memberikan pembelaan. Namun kuserahkan ia kepada Dzat al-‘Aziz (Yang Maha Perkasa) dan al-Jabbâr (Yang Mahagagah). Jika tindakan buruk itu dimaksudkan agar orang-orang tidak mendatangi dan menaruh hormat padaku; dengan kata lain untuk membendung popularitas palsu yang sangat rapuh; bahkan ia menjadi sebab munculnya penyakit riya dan merusak keikhlasan, maka jika benar begitu, semoga mereka mendapatkan rahmat dan berkah Allah. Sebab, menurutku, meraih popularitas dan penghormatan manusia sangat berbahaya bagi orang-orang sepertiku. Pihak-pihak yang memiliki hubungan denganku sangat mengetahui bahwa aku tidak menerima penghormatan yang ditujukan padaku, bahkan aku membencinya. Sampai-sampai seorang sahabat yang baik dan mulia pernah kubentak lebih dari lima puluh kali karena terlalu menghormatiku. Namun, jika tindakan mereka yang merendahkan diriku di mata manusia tertuju pada berbagai hakikat iman dan al-Qur’an yang kusampaikan, maka tindakan mereka sia-sia. Sebab, bintang-gemintang al-Qur’an tidak akan pernah terhijab oleh apapun. Siapa yang memejamkan mata, siang akan menjadi malam baginya semata; tidak bagi yang lainnya.

Poin Keempat Jawaban atas sejumlah pertanyaan yang mendatangkan keraguan: Pertanyaan pertama: Pihak penguasa bertanya kepadaku, “Bagaimana engkau hidup? Bagaimana dengan urusan naahmu, sementara engkau tidak bekerja? Di sini kami tidak bisa menerima orang-orang yang menganggur dan malas, yang hanya makan dari usaha dan jerih payah orang lain?” Jawaban: Aku hidup dengan cara hemat dan berkah. Aku tidak mau berhutang budi kepada siapapun selain Dzat Yang


114

AL-MAKTÛBÂT

memberiku rezeki, Allah I. Karena itu, aku memutuskan untuk tidak pernah menerimanya sepanjang hidupku. Ya, orang yang biasa hidup dengan sekian sen, enggan untuk berhutang budi kepada orang lain. Sebenarnya aku tidak mau menceritakan masalah ini karena khawatir akan melahirkan sikap sombong dan ego. Aku tidak mau mengungkapnya karena sangat berat bagiku. Akan tetapi, karena dari pertanyaan mereka tersirat adanya rasa curiga padaku, maka kukatakan bahwa dalam hidup aku memiliki prinsip untuk tidak menerima pemberian orang. Sejak kecil aku tidak terbiasa menerima dari siapapun, bahkan meskipun berupa zakat. Lalu sikapku yang menolak gaji pemerintah kecuali yang diberikan oleh negara kepadaku selama dua tahun di Darul Hikmah al-islamiyyah setelah teman-temanku mendesakku hingga akhirnya aku terpaksa menerimanya, namun secara maknawi aku kembalikan kepada masyarakat. Sikapku untuk tidak menerima pemberian orang dalam memenuhi kebutuhan hidup merupakan prinsip hidupku. Orang-orang di kotaku dan semua kenalanku di kota lain mengetahui hal tersebut dengan baik. Banyak orang yang berusaha dengan berbagai cara agar aku mau menerima hadiah mereka sepanjang lima tahun ini saat aku berada dalam pengasingan. Namun aku menolaknya. Jika ada yang bertanya : “Bagaimana kamu bertahan hidup?” Jawabannya: Aku hidup dengan berkah dan ikram (kemurahan) Ilahi. Meskipun nafsu ammarah-ku ini layak dihinakan, namun dalam urusan rezeki aku mendapatkan keberkahan di mana ia merupakan bentuk ikram Ilahi sebagai salah satu kemuliaan berkhidmah pada al-Qur’an. Aku akan memberikan sejumlah contoh sebagai bentuk syukur maknawi atas berbagai nikmat yang Allah berikan padaku dengan rahasia ayat yang berbunyi:

“Terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu ungkapkan.” (QS. adh-Dhuhâ [93]: 11).


Surat Keenam Belas

115

Akan tetapi, meskipun demikian aku khawatir syukur maknawi tersebut bercampur dengan perasaan riya dan sombong sehingga keberkahannya menjadi hilang. Pasalnya, memperlihatkan keberkahan yang tersembunyi dengan rasa bangga bisa menjadi sebab terputusnya keberkahan. Namun apa daya, aku terpaksa harus menyebutkan keberkahan tersebut. Pertama: Selama enam bulan ini aku tercukupi dengan 36 kerat roti yang terbuat dari 40 liter gandum. Bahkan roti tersebut masih tersisa dan aku tidak tahu kapan akan habis.32 Kedua: Pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, makanan tidak datang kecuali dari dua rumah. Ternyata keduanya telah membuatku sakit. Dari sini aku sadar bahwa aku tidak boleh menerima makanan dari orang lain. 1,3 kg beras dan tiga kerat roti sudah cukup untuk beberapa hari Ramadhan yang tersisa. Teman yang tulus, Abdullah Cavuş, pemilik rumah yang penuh berkah yang telah menyediakan makanan untukku menjadi saksi atasnya. Bahkan beras tadi masih ada sampai lima belas hari sesudah Ramadhan. Ketiga: 1,3 kg mentega cukup untukku dan untuk para tamuku yang mulia padahal ia dimakan setiap hari dengan roti selama 3 bulan di gunung. Suatu ketika, aku kedatangan seorang tamu, Sulaiman, yang dijuluki Mubarak (orang yang penuh berkah). Saat itu roti hampir habis dan bertepatan pada hari Rabu. “Pergilah ke kampung dan carilah roti untuk dibawa kemari!” ujarku padanya. Pasalnya, di sekitar kami, bahkan sejauh dua jam perjalanan, tidak ada seorangpun yang menjual roti yang bisa kami beli. Ia menjawab, “Malam Jumat ini aku ingin tinggal bersamamu di puncak gunung ini untuk ikut berdoa kepada Allah.” “Kalau begitu, engkau boleh tinggal bersamaku dan kita bertawakkal kepada Allah.” 32

Ia bertahan sampai satu tahun penuh―Penulis.


116

AL-MAKTÛBÂT

Kemudian kami berjalan bersama dan naik ke puncak gunung meski sebetulnya tidak perlu dan tidak ada kebutuhan untuk itu. Kami membawa sedikit air serta sedikit teh dan gula. “Wahai saudaraku, tolong buatkan teh!” ujarku. Iapun mulai membuatnya. Aku duduk di bawah pohon menatap sebuah lembah yang dalam. Aku merenung dengan rasa pilu, “Kami hanya punya sekerat roti yang sudah berjamur, yang mungkin hanya cukup untuk sore ini. Tidak tahu bagaimana untuk dua hari berikutnya. Apa yang harus kukatakan untuk orang yang baik hati ini.” Saat sedang merenungkan hal tersebut, tiba-tiba kepalaku seolah diarahkan ke sebuah pohon katran. Seketika aku melihat sepotong roti besar di atas pohon tersebut yang sedang menatap kami. Aku pun berkata, “Bergembiralah wahai Sulaiman! Allah memberi rezeki kepada kita.” Kami mengambil roti tersebut seraya melihat barangkali ada jejak hewan atau burung padanya. Ternyata ia bersih; tidak ada jejak padanya. Apalagi sudah selama tiga bulan ini tidak ada seorangpun yang naik ke gunung ini. Roti itu cukup untuk kami makan selama dua hari. Ketika hampir habis, seorang lelaki jujur, Sulaiman Kervanci, yang telah menjadi sahabat yang setia selama empat tahun, datang membawa roti untuk kami. Keempat: Jaket ini kubeli dalam kondisi bekas tujuh tahun yang lalu. 4,5 lira sudah cukup untuk biaya pakaian, sepatu, dan kaos kaki selama lima tahun. Alhamdulilah, keberkahan hidup hemat dan rahmat Ilahi telah memberikan kecukupan padaku. Banyak contoh lain yang serupa dengan di atas di mana berkah Ilahi memiliki banyak sisi. Penduduk kampung ini mengetahui dengan baik berbagai bentuk keberkahan yang ada. Hanya saja, jangan pernah berpikir bahwa aku menceritakan hal tersebut dengan rasa bangga. Namun aku menceritakannya karena terpaksa. Juga, jangan pernah berpikir bahwa peristiwa di atas adalah bukti yang menunjukkan kesalehanku. Tidak, akan tetapi keberkahan tersebut adalah bentuk kebaikan Ilahi kepada para


Surat Keenam Belas

117

sahabat dan tamuku yang tulus yang datang menemuiku. Atau, ia bisa merupakan karunia Ilahi atas pengabdian terhadap alQur’an, hasil penuh berkah dari sikap hemat, serta bisa pula rezeki untuk empat kucing yang senantiasa menyertai kami di sini di mana suara geramnya berisi zikir, “Yâ Rahîm, yâ Rahîm, yâ Rahîm...” Jadi, ia merupakan rezeki mereka yang datang dalam bentuk berkah. Sementara aku hanya mendapat manfaat darinya. Ya, apabila mendengarkan suara geramnya yang menyiratkan kesedihan, engkau pasti mengetahui dengan baik bahwa ia sedang berzikir mengucap, “Yâ Rahîm, yâ Rahîm, yâ Rahîm.” Ketika membahas kucıng, terlintas pula dalam benak ini tentang ayam. Aku memiliki seekor ayam. Hampir setiap hari pada musim dingin ini, ia memberiku sebutir telur yang berasal dari perbendaharaan rahmat Ilahi. Suatu hari ia bertelur dua butir sekaligus. Akupun terheran. Aku bertanya kepada para kolegaku, “Apakah hal seperti ini bisa terjadi?” “Barangkali ini karunia Ilahi,” ujar mereka. Ayam tersebut juga memiliki seekor anak di musim panas. Si anak mulai bertelur pada awal Ramadhan yang penuh berkah. Ia terus bertelur selama empat puluh hari. Aku dan orang-orang yang melayaniku sangat percaya bahwa telur yang dihasilkan di musim dingin serta yang dihasilkan oleh si anak pada musim Ramadhan merupakan bentuk karunia Ilahi. Lalu anak ayam itu mulai bertelur saat ibunya sudah berhenti bertelur. Dengan begitu, ia tidak pernah membiarkanku tanpa telur, alhamdulillah. Pertanyaan Kedua: Pihak penguasa berkata, “Bagaimana kami bisa percaya kepadamu bahwa engkau tidak ikut campur dalam urusan dunia kami? Bisa jadi kalau kami membebaskanmu, engkau akan ikut campur dalam urusan kami. Kemudian bagaimana kami mengetahui bahwa engkau tidak menipu kami? Pasalnya, engkau menampilkan diri seperti orang yang tidak tertarik pada dunia. Secara lahir engkau tidak mengambil harta mereka, namun bisa jadi mengambilnya secara sembunyi-sembunyi. Bagaimana kami bisa memastikan bahwa tindakanmu bukan tipu daya?”


118

AL-MAKTÛBÂT

Jawaban: Kondisiku dua puluh tahun yang lalu di pengadilan militer serta perjalanan hidupku sebelum deklarasi konstitusi,33 serta pembelaan yang terdapat dalam buku Syahâdatu Madrasatî al-Mushîbah, semuanya sudah diketahui oleh orangorang yang mengenalku. Semuanya menjelaskan bahwa aku telah menjalani hidup ini tanpa pernah melakukan tipu daya, bahkan sekecil apapun. Andai melakukan tipu daya, tentu aku sudah meminta bantuan kalian disertai sanjungan dan pujian kepada kalian sepanjang lima tahun ini. Sebab, penipu biasanya selalu ingin mendapat simpati manusia, bahkan berusaha memperdaya mereka. Ia tidak akan menjauhi mereka. Sementara faktanya aku tidak pernah tunduk dan merendah kepada siapapun meskipun semua serangan dan kritikan diarahkan kepadaku. Sebaliknya, aku malah berpaling dari pihak penguasa dengan hanya bertawakkal kepada Allah I. Lalu, orang yang mengetahui hakikat akhirat dan menyingkap hakikat dunia tidak akan pernah menyesal, selama ia punya akal. Ia tidak akan pernah menoleh kepada dunia. Kemudian orang yang hidup sendirian tanpa memiliki relasi dengan siapa-siapa, tidak akan pernah mengorbankan kehidupan abadinya dengan permainan duniawi dan senda guraunya sekedar untuk satu atau dua tahun. Apalagi usianya sudah lebih dari lima puluh tahun. Bahkan andaikan mengorbankan kehidupan abadi di atas, ia bukanlah seorang penipu; melainkan orang yang hilang akal. Lalu apa gunanya memperhatikan orang yang hilang akal? Adapun syubhat tentang keberadaanku sebagai orang yang dicurigai memburu dunia secara samar, meskipun secara lahir tampak lari darinya, maka jawabannya terkandung dalam fi rman Allah yang berbunyi:

“Aku tidak menyatakan nafsuku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (QS. Yûsuf [12]: 53). 33

Yaitu deklarasi konstitusi di Daulah Utsmani pada 23 Juli 1908.


Surat Keenam Belas

119

Aku tidak pernah menganggap nafsuku bersih dari dosa. Nafsu ini cenderung kepada berbagai keburukan. Hanya saja, kehilangan kehidupan dan kebahagiaan abadi demi meraih kenikmatan sesaat di dunia yang fana ini, di negeri jamuan yang bersifat sementara, serta di masa yang telah tua dan usia yang singkat, bukanlah karakter orang yang berakal dan orang yang memiliki kesadaran. Karena itu, nafsu ammarah-ku, mau tidak mau, tunduk kepada akal. Pertanyaan Ketiga: Pihak penguasa berkata, “Apakah engkau mencintai kami? Apakah engkau suka dan senang kepada kami? Jika ya, lantas mengapa engkau berpaling dan tidak mau bergabung bersama kami? Namun jika tidak suka dan tidak senang kepada kami, berarti engkau menentang kami sehingga layak kami binasakan.� Jawaban: Jika aku mencintai kalian dan dunia kalian, tentu aku tidak akan berpaling darinya. Aku tidak menyukai kalian dan dunia kalian. Juga, aku tidak mau mencampuri urusan kalian dan tidak mau bergabung dengan kalian, karena aku memiliki tujuan yang berbeda dengan tujuan kalian. Qalbuku telah dipenuhi oleh sejumlah urusan yang tidak bisa diisi dengan yang lain. Tugas kalian hanya melihat kondisi lahiriah; bukan melihat qalbu manusia. Oleh karena kalian ingin melanggengkan pemerintahan dan memperkuat keamanan, sementara aku tidak terlibat di dalamnya, maka kalian tidak boleh memaksa qalbu ini untuk mencintainya juga. Kalian tidak layak untuk mendapatkan cinta tersebut. Jika kalian ikut campur dalam urusan qalbu, maka kukatakan, “Sebagaimana mengharap datangnya musim semi di saat musim dingin di mana hal itu tidak mungkin kulakukan, aku juga berharap dan berdoa untuk kondisi dunia yang baik dan damai serta menginginkan sadarnya pihak penguasa. Hanya saja hal itu berada di luar kemampuanku. Oleh sebab itu, aku tidak ikut campur secara langsung. Hal itu bukan tugasku dan diluar kemampuanku. Pertanyaan Keempat: Mereka berkata, “Kami mendapatkan banyak bencana dan musibah. Kami tidak lagi percaya kepa-


120

AL-MAKTÛBÂT

da siapapun. Lalu bagaimana kami bisa percaya kepadamu? Jika ada kesempatan, tidakkah mungkin engkau akan ikut campur dalam urusan kami dengan caramu? Jawaban: Sebenarnya sejumlah poin di atas sudah cukup untuk membuat kalian yakin dan percaya. Hanya saja aku ingin mengatakan bahwa saat aku tidak ikut terlibat dalam urusan kalian, sedang aku berada di kotaku dikelilingi oleh para murid dan kerabatku. Saat itu aku bersama mereka yang mau mendengar dan mengikuti petunjukku. Namun aku tidak mau ikut campur dalam dunia kalian; bahkan dalam mengobarkan sejumlah kejadian yang mengundang perhatian. Kalau demikian, mungkinkah akan ikut campur di dalamnya orang yang sedang berada dalam pengasingan di mana ia tinggal seorang diri, lemah, tak berdaya, mengarahkan perhatian hanya kepada akhirat, tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun kecuali segelintir orang di jalan menuju akhirat? Ia terasing dari manusia sebagaimana manusia juga terasing darinya. Bahkan ia melihat mereka demikian. Nah, orang semacam itu jika ikut campur dalam dunia kalian yang berbahaya dan tanpa hasil, benar-benar sangat gila dan kurang waras.

Poin Kelima Poin ini terkait dengan lima persoalan kecil: Persoalan Pertama: Pihak penguasa berkata kepadaku, “Mengapa engkau tidak menerapkan prinsip-prinsip dan nilai peradaban yang kami miliki? Mengapa engkau tidak menampilkan gaya hidup kami dan tidak mengenakan model pakaian seperti yang kami kenakan? Dengan kata lain, mengapa engkau menentang kami?� Jawaban: Wahai tuan-tuan! Atas dasar apa kalian memaksaku untuk menerapkan prinsip-prinsip peradaban kalian? Sementara kalian telah memaksaku secara zalim untuk tinggal di sebuah kampung selama lima tahun dan bahkan melarangku berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang. Seolah-olah kalian telah melenyapkan hak-hak peradabanku serta menjauhkanku dari segala hal tanpa sebab yang jelas. Kalian tidak mengizinkan diriku untuk bertemu dengan penduduk kotaku kecuali satu atau


Surat Keenam Belas

121

dua orang. Padahal, kalian telah membebaskan semua orang yang diasingkan dan membolehkan mereka tinggal di tengah-tengah keluarga dan kerabat mereka di sejumlah kota. Kalian memberikan surat izin tersebut kepada mereka. Dengan cara semacam itu, berarti kalian tidak menganggapku sebagai bagian dari bangsa dan rakyat negeri ini. Jika demikian, mengapa kalian memaksaku untuk menerapkan prinsip-prinsip peradaban kalian? Kalian telah membuat dunia yang luas ini sebagai penjara bagiku. Wajarkah orang yang berada di penjara dipaksa untuk melakukan semua itu? Kalian telah menutup pintu dunia bagiku, sehingga aku mengetuk pintu akhirat. Rahmat Ilahi pun membukakan pintu tersebut. Lalu bagaimana mungkin orang yang berada di pintu akhirat dituntut untuk menerapkan berbagai tradisi dan gaya hidup ahli dunia yang tidak jelas. Kalau kalian membebaskanku serta mengembalikan diriku ke kota dan kampung halamanku, lalu memberikan hak-hakku secara utuh, ketika itulah kalian boleh menuntutku untuk menerapkan prinsip-prinsip yang kalian miliki. Persoalan Kedua: Pihak penguasa berkata, “Kita telah memiliki lembaga formal yang mengajarkan hukum-hukum agama dan berbagai hakikat Islam. Atas dasar apa engkau masih menyebarkan risalah keagamaan? Engkau tidak punya hak untuk melakukan semua ini dengan statusmu sebagai orang buangan.� Jawaban: Kebenaran dan hakikat tidak terikat oleh sesuatu dan tidak dibatasi oleh tempat dan waktu. Jadi, bagaimana mungkin iman dan al-Qur’an dibatasi oleh sebuah lembaga resmi? Kalian boleh membatasi penerapan hukum dan prinsip-prinsip kalian pada lembaga kalian. Adapun hakikat iman dan prinsip-prinsip al-Qur’an tidak bisa dibingkai dalam berbagai muamalah duniawi dan dibatasi dalam sebuah lembaga resmi yang aktivitas di dalamnya dilakukan berdasarkan upah dan gaji. Namun, berbagai rahasia dan limpahan karunia itu yang merupakan pemberian Ilahi hanya bisa datang lewat niat yang tulus, bersih dari kepentingan dunia, dan jauh dari dorongan hawa nafsu.


122

AL-MAKTÛBÂT

Selain itu, lembaga resmi kalian telah menerimaku sebagai da’i saat aku berada di kotaku serta menunjukku untuk mengerjakan tugas tersebut. Aku pun melaksanakannya. Hanya saja, aku tidak mau menerima gaji, dengan tetap menjalankan tugas dakwah. Aku memiliki sertifi kat, yang dengan itu aku dapat menunaikan tugas dakwah dan menjadi imam di manapun. Sebab, pengasinganku merupakan tindakan kezaliman yang nyata. Selanjutnya, orang-orang yang diasingkan telah dikembalikan ke keluarga masing-masing. Dengan begitu, sertifi katku yang sebelumnya masih berlaku. Kedua, berbagai hakikat keimanan yang telah kutulis, secara langsung berbicara kepada diriku. Tidak semua orang kuajak untuk mempelajarinya. Hanya orang-orang yang ruhnya membutuhkan dan qalbunya terluka di mana mereka mencari obat-obat Qur’ani tersebut. Mereka pun menemukannya di sana. Terkecuali, tugas yang kuberikan kepada salah seorang sahabat utamaku untuk mencetak risalah yang secara khusus membahas tentang kebangkitan, sebelum penerapan aksara latin. Hal itu ditujukan untuk memenuhi penghidupanku. Hanya saja, gubernur sebelumnya yang zalim kepadaku menginvestigasi risalah tersebut. Setelah tidak menemukan sesuatu yang bisa dikritik, akhirnya iapun tidak keberatan. Persoalan Ketiga: Sejumlah sahabatku secara lahiriah berlepas diri dariku. Bahkan, mereka memberikan kritik kepadaku agar mendapat simpati pihak penguasa yang curiga kepadaku. Hanya saja, para penguasa yang mencari-cari kesalahan itu melihat sikap mereka yang berlepas diri dan menjauhiku sebagai bentuk riya; bukan sikap yang tulus. Karena itu, penguasa tetap meragukan dan mencurigai mereka. Dalam hal ini aku ingin berkata: Wahai para sahabat akhiratku! Janganlah kalian menjauhi pengabdianku terhadap al-Qur’an. Sebab, dengan izin Allah, kalian tidak akan mendapatkan bahaya dariku. Bahkan, kalau aku dizalimi lalu musibah datang menimpa, kalian tidak akan bisa lolos darinya dengan berlepas diri dariku. Kalian justru layak


Surat Keenam Belas

123

mendapatkan musibah dan teguran peringatan. Lalu apa yang terjadi sehingga kalian menjadi ragu? Persoalan Keempat: Pada hari-hari pengasinganku ini, aku melihat sejumlah orang yang terjerembab dalam kubangan politik dan terjangkit penyakit ujub. Mereka melihat diriku dengan pandangan yang menyiratkan adanya persaingan dan keberpihakan pada satu sisi. Seolah-olah aku seperti mereka yang memiliki relasi dengan berbagai aliran duniawi. Wahai tuan-tuan! Ketahuilah bahwa aku berada di dalam aliran keimanan. Aku berhadapan dengan aliran ateis dan kekufuran. Aku sama sekali tidak memiliki relasi dengan aliran yang lain. Orang yang mengambil posisi sebagai pesaing dan musuhku, serta menentang dan mencelaku, jika termasuk yang bekerja untuk mendapatkan upah, bisa jadi ada alasan yang membuatnya seperti itu. Akan tetapi, yang bekerja bukan karena upah, melainkan karena tekad dan semangat, maka hendaklah ia mengetahui bahwa ia benar-benar melakukan sebuah kesalahan. Sebab, seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya, aku tidak memiliki hubungan sama sekali dengan dunia politik. Aku telah menazarkan hidupku dan membatasi seluruh waktuku untuk menyebarkan berbagai hakikat iman dan al-Qur’an. Karena itu, orang yang menentangku dan memosisikan diri sebagai pesaingku hendaknya berpikir dengan jernih bahwa sebetulnya ia sedang menentang keimanan demi kekufuran. Persoalan Kelima: Selama dunia bersifat fana, usia sangat singkat, kewajiban begitu banyak, dan kehidupan abadi diraih disini (di dunia); Selama dunia bukan tak bertuan, serta selama pada tempat jamuan ini ada Pemelihara Yang Maha Pemurah (al-Karim) dan Bijaksana (al-Hakim); Selama kebaikan dan keburukan pasti akan dibalas; Selama Allah tidak membebani manusia di luar kemampuannya; Selama jalan yang aman lebih dipilih ketimbang jalan yang penuh bahaya, selama para kekasih duniawi dan kemegahan dunia hanya sampai di pintu kubur.


124

AL-MAKTÛBÂT

Jika demikian, maka orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak melupakan akhirat lantaran dunia; tidak mengorbankan akhirat demi kepentingan dunia; tidak merusak kehidupan abadinya untuk meraih kehidupan dunia; tidak menghabiskan usianya untuk hal-hal yang tidak berguna; serta tunduk terhadap perintah sebagaimana tamu tunduk pada tuan rumah. Dengan itu, ia bisa membuka pintu kubur dengan aman, serta memasuki negeri kebahagiaan dengan selamat. 3434

Lampiran Surat Keenam Belas

Pihak penguasa yang berkutat dengan kenikmatan dunia yang palsu menyangka bahwa orang lemah dan asing di dunia ini seperti diriku, memiliki kekuatan seperti yang dimiliki ribuan orang. Sangkaan ini mendorong mereka untuk membelenggu dan membatasi diriku. Misalnya, mereka tidak mengijinkanku untuk tinggal semalam atau dua malam di Bedre, sebagai salah satu wilayah di kampung Barla. Bahkan mereka melarangku berada di atas sebuah gunung yang dekat darinya. Kudengar mereka berkata, “Said memiliki kekuatan setara 50 ribu orang. Karena itu, kita tidak bisa melepaskannya.” Jawabanku: Wahai ahli dunia yang malang! Kalian bekerja untuk dunia dengan segala kekuatan dan potensi yang kalian miliki, namun mengapa kalian tidak mengetahui seluruh kondisinya juga sehingga kalian menilai seperti orang gila. Apabila rasa takut kalian karena diriku, maka ia sama sekali tidak beralasan. Sebab, siapapun―bukan 50 ribu orang―dapat melakukan pekerjaan lima puluh kali lipat melebihi pekerjaanku. Paling tidak, ia dapat berdiri di hadapan pintu kamarku seraya berkata, “Engkau tidak akan bisa keluar.” Atas dasar itulah, aku tidak peduli dengan berbagai kezaliman yang menimpa diriku, serta tidak menghiraukan semua perlakuan buruk yang kualami. Aku hanya berkata, “Ia tidak layak mendapat perhatian. Aku tidak mau terlibat dalam urusan dunia.” (Penulis). 34


Surat Keenam Belas

125

Namun, apabila rasa takutmu adalah dikarenakan tugasku sebagai penyeru kepada al-Qur’an, dan dikarenakan kekuatan iman yang kumiliki, maka ketahuilah dengan baik bahwa aku tidak hanya memiliki kekuatan sebesar 50 ribu orang. Kalian keliru. Berkat tugas dan kekuatan iman, aku memiliki kekuatan 50 juta orang. Dengan kekuatan al-Qur’an, kutantang seluruh Eropa berikut kaum ateis kalian. Aku telah menghancurkan bentengnya yang kokoh yang mereka sebut sebagai “hukum alam dan sains�. Hal itu terwujud berkat berbagai hakikat iman dan petunjuk alQur’an yang kusebarkan. Dengan itu, aku berhasil menjatuhkan fi lsuf ateis terbesar mereka kepada tingkatan yang ratusan kali lebih rendah daripada binatang. Andaikan seluruh Eropa berikut kaum ateis kalian berkumpul, mereka tidak akan bisa menghalangi satu saja dari sekian banyak tugasku serta tidak akan pernah bisa mengalahkanku dengan izin Allah. Kesimpulannya, sebagaimana aku tidak ikut campur dalam urusan dunia kalian, kalian juga tidak berhak ikut campur dalam urusan akhiratku. Jika kalian berusaha ikut campur, usaha kalian akan sia-sia.

Kekuatan otot tidak mampu menolak takdir Allah. Lilin yang dinyalakan Allah, tak bisa dipadamkan oleh mulut manusia. Pihak penguasa menaruh rasa ragu dan curiga kepadaku. Sepertinya mereka takut kepadaku, sebab mereka membayangkan keberadaan sejumlah hal yang tidak kumiliki. Bahkan andaipun ada, hal itu tidak bisa menjadi sasaran kecurigaan politik dan bahan tuduhan. Misalnya, kedudukan diriku sebagai syekh, pemimpin, pemilik nasab mulia, pemilik pengaruh di klan tertentu, banyak pengikut, sering bertemu dengan orang-orang sekampungnya, dan kecintaan pada urusan dunia. Lebih dari itu, mereka menganggap diriku terlibat dalam urusan politik, bahkan dalam menentang negara. Serta masih banyak lagi hal lain yang tidak terdapat pada diriku. Akibatnya, mereka berada dalam ke-


126

AL-MAKTÛBÂT

raguan dan kecurigaan. Akhirnya, aku dilarang melakukan segala hal saat mereka ingat pada pengampunan bagi mereka yang berada di dalam dan di luar penjara, yaitu bagi yang tidak layak mendapat ampunan menurut pandangan mereka. Terdapat ungkapan indah dan abadi yang disebutkan oleh sosok yang fana:

Jika kezaliman memiliki senjata, senapan, dan benteng. Maka kebenaran memiliki tangan yang kuat dan wajah yang pantang mundur. Akupun berkata:

Jika para ahli dunia memiliki kekuasaan, otoritas, dan kekuatan Maka lewat limpahan al-Qur’an, pada pelayannya terdapat: Ilmu yang tidak rancu, perkataan yang tidak akan pernah diam, hati yang tidak tertipu, cahaya yang tidak akan pernah padam. Komandan militer yang bertanggung jawab mengawasiku serta sejumlah teman mengajukan pertanyaan berikut secara berulang-ulang, “Mengapa Anda tidak mengajukan permohonan kepada berbagai pihak berwenang dan meminta untuk dibebaskan?� Jawaban: Terdapat banyak sebab yang membuatku enggan atau bahkan tidak bisa mengajukan permohonan kepada mereka: Pertama, aku tidak pernah terlibat dalam urusan para ahli dunia sehingga kemudian dihukum akibat mereka dan harus mengajukan permohonan dalam masalah ini. Namun, aku me-


Surat Keenam Belas

127

ngajukan permohonan kepada takdir Ilahi, sebab Dialah yang telah menghukumku akibat dari sikap alpaku kepada-Nya. Kedua, aku yakin bahwa dunia ini adalah negeri jamuan yang senantiasa berubah. Ia bukan negeri permanen, bukan pula tanah air hakiki. Oleh sebab itu, semua tempat sama bagiku. Selama aku tidak kekal di negeriku, maka usaha untuk mengajukan permohonan kepadanya tidak penting dan tidak berguna. Selama setiap tempat di dunia merupakan negeri jamuan, maka setiap orang bisa menjadi teman dan setiap tempat menjadi berguna dan bermanfaat selama rahmat dan karunia Pemilik negeri terus menyertaimu. Jika tidak, maka setiap orang akan menjadi musuh dan setiap tempat akan menjadi beban yang berat dan menyulitkan. Ketiga, mengajukan permohonan hanya bisa terwujud dalam bingkai hukum. Sementara muamalah dan perlakuan yang kudapat selama enam tahun ini tanpa bingkai hukum dan inkonstitusional. Pasalnya, mereka tidak memperlakukan diriku secara konstitusional sesuai dengan hukum yang berlaku bagi orang yang diasingkan. Akan tetapi, mereka melihat diriku tidak layak mendapat hak-hak sipil, bahkan hak-hak duniawi. Jadi, tidak ada gunanya mengajukan permohonan hukum kepada orang yang tidak menerapkan konstitusi. Keempat, pada tahun ini kepala desa Barla mengajukan permohonan atas namaku agar bisa pergi ke kampung Bedre yang merupakan bagian dari desa Barla dengan maksud ganti suasana untuk beberapa hari. Namun itupun tidak diberi izin. Bagaimana mungkin mengajukan permohonan kepada mereka yang menolak permintaan yang tidak penting seperti ini? Mengajukan permohonan kepada mereka hanya merendahkan derajat dan tidak berguna. Kelima, menuntut hak kepada orang yang mengklaim ketidakadilan sebagai kebenaran serta mengajukan permohonan kepada mereka adalah tindakan yang tidak benar dan sikap kurang menghormati kebenaran. Aku tidak ingin melakukan tindakan tersebut. Aku juga tidak ingin merendahkan kebenaran. Wassalam.


128

AL-MAKTÛBÂT

Keenam, tindakan para ahli dunia yang tidak menyenangkan bukan disebabkan oleh aktivitasku dalam dunia politik. Sebab, mereka mengetahui benar bahwa aku tidak terlibat dalam urusan politik; bahkan menjauhinya. Mereka menyiksaku lantaran ketaatan dan komitmenku terhadap agama. Artinya, mereka menyiksaku―baik secara sadar maupun tidak sadar―untuk membuat senang kaum kafi r. Karena itu, mengajukan permohonan kepada mereka berarti menunjukkan penyesalan terhadap agama dan setuju dengan jalan kaum kafi r. Di samping itu, takdir Ilahi yang adil pasti akan menyiksaku lewat tangan mereka yang berlumur dosa jika aku memohon kepada mereka. Sebab, mereka melakukan tindakan yang tidak menyenangkan karena aku taat kepada agama. Sementara takdir Ilahi akan menghukumku karena kekuranganku dalam menunjukkan ketakwaan dan keikhlasan serta karena kadangkala aku cenderung kepada ahli dunia. Jadi, saat ini aku tidak akan selamat dari berbagai kesulitan yang ada. Kalau aku mengajukan permohonan kepada ahli dunia, tentu takdir Ilahi akan berkata, “Wahai yang mencari muka! Rasakan balasan dari sikapmu itu.” Namun jika tidak mengajukan permohonan, para ahli dunia itu berkata, “Engkau tidak mengakui kami. Karena itu, engkau layak mendapatkan hukuman ini.” Ketujuh, seperti diketahui bahwa tugas pegawai negeri adalah mencegah pihak yang menimpakan mudharat pada masyarakat serta membantu kalangan yang memberikan manfaat kepada mereka. Ketika aku menjelaskan makna halus yang terkandung dalam kata lâ ilâha illallâh kepada seorang lansia yang bertamu kepadaku, seorang pegawai yang bertugas mengawasiku datang kepadaku. Kelihatannya ia ingin menahanku seakan-akan aku melakukan kejahatan besar. Padahal, ia jarang datang kepadaku. Iapun membuat orang lansia tadi yang mendengar tema pembicaraan dengan tulus menjadi terhalang. Ia membuatku marah. Sebelumnya ia tidak pernah memberikan perhatian kepada penduduk di wilayah itu. Namun ia mulai menunjukkan sikap baik dan mengapresiasi orang-orang yang tidak beradab dan menebarkan racun pada masyarakat.


Surat Keenam Belas

129

Seperti diketahui pula bahwa kalau seorang penjahat melakukan seratus kejahatan, ia dapat menemui pihak-pihak yang berwenang di penjara, entah ia prajurit, komandan, atau yang lain. Namun pihak yang bertugas mengawasiku, serta dua orang pejabat penting di pemerintah tidak pernah menanyakan kondisiku dan tidak pernah menemuiku sama sekali sepanjang satu tahun. Padahal mereka seringkali melewati depan ruanganku. Aku menduga mereka tidak mau mendekatiku karena rasa permusuhan. Namun kemudian aku menjadi tahu bahwa semua itu disebabkan oleh sikap curiga mereka. Mereka menjauhiku karena seolah-olah aku akan menelan mereka. Mengajukan permohonan kepada pemerintah yang; baik pimpinan maupun para pejabatnya yang seperti mereka, sangat tidak masuk akal. Ia hanyalah bentuk kehinaan yang sama sekali tidak berguna. Andaikan Said Lama masih ada, tentu ia akan berkata seperti Antarah:

Air kehidupan yang disertai kehinaan laksana neraka, neraka yang disertai harga diri adalah tempat termulia. Namun Said Lama sudah tidak ada. Adapun menurut Said Baru, tidak ada gunanya bahkan untuk berbicara dengan ahli dunia. Semoga Allah binasakan mereka dengan dunia mereka. Dan silahkan mereka berbuat apa yang mereka inginkan. Insya Allah kita akan berhadapan di pengadilan paling agung. Inilah yang bisa dikatakan oleh Said Baru, lalu ia diam. Termasuk yang membuatku tidak mau mengajukan permohonan adalah: Kedelapan, takdir Ilahi menghukum diriku lewat tangan zalim ahli dunia. Hal itu lantaran aku mencurahkan perhatianku untuk mereka yang tidak layak mendapatkannya. Ini sesuai dengan kaidah, “Hasil dari cinta yang tidak syar’i adalah permusuhan yang kejam.� Karena itu, aku lebih memilih diam karena sadar


130

AL-MAKTÛBÂT

bahwa aku layak mendapatkan hukuman tersebut. Dulu sebagai pemimpin sukarelawan aku telah membantu dalam perang dunia pertama selama dua tahun. Aku ikut terjun dalam peperangan. Aku telah mengorbankan murid-murid terbaikku dan sejumlah kolega dengan mendapat penghargaan dari pemimpin umum pasukan, Anwar Pasya. Lalu aku terluka dan menjadi tawanan. Setelah bebas sebagai tawanan, kuceburkan diri dalam jurang kebinasaan dengan menulis buku al-Khutuwât as-Sitt (Enam Langkah). Lewat buku itu, aku menantang Inggris yang sedang menduduki Istanbul. Kubantu teman-teman yang telah membuatku menjadi tawanan dengan tanpa sebab. Nah, ini adalah balasan untukku atas bantuanku terhadap mereka. Akupun mendapatkan berbagai kesulitan selama tiga bulan di mana kesulitan tersebut melebihi apa yang pernah kualami selama tiga tahun di Rusia. Meskipun Rusia melihatku sebagai pimpinan sukarelawan suku kurdi dan pihak zalim yang menyembelih banyak tawanan, namun mereka tidak melarangku memberikan pelajaran. Aku memberikan pelajaran kepada sebagian besar temanku yang menjadi tawanan dari para komandan yang jumlah mereka mencapai 90 orang. Bahkan, pemimpin Rusia suatu kali pernah ikut mendengarkan pelajaran. Ia mengiranya sebagai pelajaran politik karena tidak memahami bahasa Turki. Ia hanya melarangku satu kali, namun sesudah itu ia memberikan izin. Kemudian kami jadikan sebuah barak sebagai mesjid untuk menunaikan shalat secara berjamaah. Aku menjadi imamnya. Mereka sama sekali tidak ikut campur dalam urusan tersebut. Mereka tidak melarangku untuk berbaur dan saling berkomunikasi, serta tidak memutus korespondensi yang kami lakukan. Sementara, mereka yang dianggap sebagai saudara seagama dan setanah air justru melarangku memberikan pelajaran tanpa sebab yang jelas. Padahal, aku berusaha memberikan pelajaran keimanan kepada mereka. Mereka pun mengetahui bahwa diriku telah memutuskan hubungan dengan dunia dan politik. Bahkan mereka telah menempatkanku sebagai tawanan selama enam tahun—bukan tiga tahun—dalam kondisi yang sangat ketat. Pasalnya, mereka melarangku untuk berkumpul dengan orang-orang,


Surat Keenam Belas

131

untuk memberikan pelajaran, bahkan untuk memberikan pelajaran khusus di ruang pribadiku. Padahal, mereka tahu betul bahwa aku memiliki sertifi kat dan izin untuk itu. Mereka melarangku melakukan korespondensi. Lebih dari itu, mereka melarangku menjadi imam di mesjid yang kuperbaiki sendiri dan aku telah menjadi imam di dalamnya selama 4 tahun. Mereka membuatku tidak bisa mendapatkan pahala shalat berjamaah. Mereka juga melarangku memimpin jamaah yang terdiri dari tiga orang saudara seiman yang biasa kulakukan sebelumnya. Di samping itu, kalau salah seorang dari saudara seiman di atas menceritakan kebaikan tentangku, petugas yang mengawasiku menjadi marah. Dengan segala cara, ia berusaha mengabaikan dan mempersulit diriku agar mendapatkan penghargaan dan perhatian dari atasannya. Wahai saudaraku yang bertanya, terserah apa penilaianmu dan tolong jawab pertanyaanku: Mungkinkah orang yang berada dalam kondisi demikian akan mengajukan permohonan kepada selain Allah? Kepada siapakah kita mengajukan perkara kalau hakim dan jaksa penuntut adalah orang yang sama? Silahkan berkomentar tentang berbagai kondisi yang kami alami. Aku hanya ingin berkata bahwa banyak orang munafi k menyusup di antara teman-temanku. Karena orang munafi k lebih bahaya dan lebih buruk daripada orang kafi r, maka mereka timpakan kepadaku siksa yang tidak pernah ditimpakan oleh orang-orang Rusia itu. Wahai orang-orang malang, apa yang telah kulakukan kepada kalian? Apa yang kuperbuat kepada kalian? Aku berusaha menyelamatkan iman kalian dan menyerukan kebahagiaan abadi kepada kalian. Tampaknya, pengabdianku belum tulus sehingga yang terjadi malah sebaliknya. Sementara pada setiap kesempatan, kalian terus menyakitiku. Karena itu, sudah pasti kita akan berhadapan di pengadilan paling agung. Kuucapkan:

(Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung. Dia sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong)


132

AL-MAKTÛBÂT

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KETUJUH BELAS [Lampiran Cahaya Kedua Puluh Lima]

(Belasungkawa atas Kepergian Seorang Anak Kecil)

Wahai Saudaraku seiman, Sayyid al-Hafi dz Khalid!

Berikan kabar gembira kepada orang-orang sabar. Yaitu yang apabila mendapat musibah mereka berkata, “Kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.� (QS. al-Baqarah [2]: 155-156). Saudaraku, aku sangat sedih mendengar berita kepergian anakmu. Akan tetapi, semua ketentuan ada di tangan Allah. Sikap ridha pada keputusan-Nya dan menerima takdir-Nya adalah syiar Islam. Aku berdoa semoga Allah memberimu kesabaran serta menjadikan almarhum sebagai simpanan akhirat dan pemberi syafaat untukmu di hari kiamat. Aku akan menjelaskan kepadamu dan kepada kaum mukmin yang berduka sepertimu lima poin yang bisa menjadi kabar gembira dan pelipur lara hakiki bagimu.


134

AL-MAKTÛBÂT

Poin Pertama Allah I berfi rman:

“Anak-anak yang tetap muda.” (QS. al-Wâqi’ah [56]: 17). Makna dan rahasia dari ayat tersebut adalah sebagai berikut: Anak-anak orang beriman yang meninggal sebelum baligh akan dikekalkan di dalam surga sebagai anak-anak yang dicinta sesuai dengan kondisi surga. Mereka akan menjadi sumber kebahagiaan abadi dalam pangkuan ibu-bapak mereka yang menuju surga. Mereka akan menjadi sumber pemuas perasaan paling halus yang dimiliki kedua orang tua; yaitu rasa cinta dan kasih sayang kepada anak. Karena segala sesuatu yang nikmat terdapat di surga, maka tidak benar kalau ada yang berkata, “Tidak ada cinta dan canda dengan anak di surga, karena di sana tidak ada proses berketurunan.” Yang benar, di sana terdapat cinta dan canda dengan anak dalam bentuk yang sempurna dan nikmat sepanjang jutaan tahun tanpa disertai kepedihan dan duka. Hal itu sebagai ganti dari cinta dan canda dengan anak sepanjang sepuluh tahun di dunia yang singkat dan fana yang disertai dengan berbagai duka. Semua itu ditegaskan oleh ayat di atas dengan redaksi:

“Anak-anak yang tetap muda.” Demikianlah, ayat tersebut menjadi sumber kebahagiaan bagi orang beriman dan memberikan kabar yang sangat menggembirakan bagi mereka.

Poin Kedua Pada suatu hari, ada seorang ayah yang dipenjara bersama anaknya yang ia dicintai. Ia sangat sedih karena tidak mampu memberikan kegembiraan kepada anaknya, ditambah dengan kondisi pribadinya yang berada dalam kesulitan.


Surat Ketujuh Belas

135

Kemudian penguasa yang bijak mengutus seseorang untuk menyampaikan informasi kepadanya, “Meski ini anakmu, namun ia adalah salah seorang rakyatku dan bagian dari umatku. Aku akan mengambilnya darimu untuk kudidik di istana yang indah dan megah.” Orang itupun menangis dan meratap, “Tidak, aku tidak akan memberikan dan menyerahkan anakku. Ia pelipur lara bagiku.” Teman-temannya di penjara berkata, “Wahai Fulan, tidak perlu menangis dan bersedih. Jika engkau bersedih karena kasihan pada anak, sesungguhnya ia akan pergi menuju istana yang megah dan luas. Hal itu lebih baik daripada tinggal di penjara yang kotor, busuk, dan sempit ini. Lalu, kalau engkau bersedih karena kepentingan dirimu sendiri, sehingga si anak tetap tinggal di sini dengan tujuan agar engkau bisa mendapat manfaat yang masih belum pasti, ia akan menghadapi berbagai kesulitan di samping penderitaan yang sangat berat. Namun kalau ia pergi kesana, hal itu akan menjadi jalan bagi datangnya ribuan manfaat untukmu. Ia akan menjadi sebab yang membuat penguasa melimpahkan kasih sayangnya kepadamu. Ia juga akan menjadi penolong bagimu. Pasti pada suatu hari sang penguasa ingin membuatnya bahagia dengan mempertemukannya denganmu. Tentu saja, ia tidak akan mengirimnya kepadamu di penjara. Namun engkau yang akan dibawa menemuinya sekaligus mengeluarkanmu dari penjara. Ia akan mengirimmu ke istana agar bisa bertemu dengan anakmu. Hal itu jika engkau memang taat dan percaya kepada penguasa. Nah, sama dengan contoh di atas, wahai saudaraku, orangorang beriman sepertimu harus membayangkan hal tersebut saat anak mereka meninggal. Hendaknya mereka berkata, “Anak ini tidak berdosa. Penciptanya Maha Pengasih dan Pemurah. Sebagai ganti dari kasih sayangku yang terbatas dan didikanku yang tidak sempurna, saat ini ia telah berada dalam dekapan rahmat dan pertolongan Ilahi. Ia telah dikeluarkan dari penjara kesulitan, musibah, dan derita duniawi dan dibawa menuju naungan surga fi rdaus-Nya yang agung. Maka, selamat wahai anakku!”


136

AL-MAKTÛBÂT

Tidak ada yang tahu apa yang ia lakukan dan bagaimana ia beraktivitas kalau seandainya tetap berada di dunia? Karena itu, aku tidak meratapi kepergiannya. Aku melihatnya bahagia dan beruntung. Adapun rasa sakit yang kurasakan terkait dengan kepentinganku pribadi tidak begitu berat. Pasalnya, andaikan ia tetap di dunia, ia akan menjadi penawar hati yang menyayangi anak kecil dan aku bisa bermain-main dengannya selama sekitar sepuluh tahun yang dihiasi oleh derita dan duka. Lalu andaikan ia salih dan berbakti serta memiliki kemampuan dalam urusan dunia, ia bisa membantu dan bekerjasama denganku. Namun dengan meninggalnya, ia bisa membuatku dapat mencurahkan rasa cinta kepada anak selama sepuluh juta tahun di surga yang kekal. Ia juga bisa menolongku untuk mendapat kebahagiaan abadi. Karena itu, aku tidak terlalu bersedih dengan kepergiannya bahkan meski harus mengorbankan kepentinganku. Sebab, siapa yang kehilangan manfaat dunia yang masih diragukan, namun mendapat ribuan manfaat akhirat yang pasti terwujud, tentu tidak akan memperlihatkan duka lara dan tidak akan meratap putus asa.

Poin Ketiga Anak yang meninggal, sebenarnya adalah makhluk Tuhan Yang Maha Pengasih, salah satu ciptaan-Nya, dan titipan Allah kepada orang tua agar untuk beberapa waktu berada dalam pemeliharaan mereka. Allah menjadikan ibu dan ayahnya sebagai pelayan yang amanah baginya. Dia tanamkan pada keduanya perasaan kasih sayang yang nikmat sebagai upah duniawi atas pelayanan yang mereka berikan untuknya. Sekarang, Tuhan Yang Maha Pengasih itu yang merupakan pemilik hakiki anak tersebut—yang mempunyai sembilan ratus sembilan puluh sembilan bagian atasnya, sementara orang tuanya hanya mempunyai satu bagian. Dia mengambil anak tersebut darimu sesuai dengan rahmat dan hikmah-Nya seraya mengakhiri tugasmu untuk melayaninya. Maka, tidak sepantasnya orang beriman bersedih putus asa serta meratap yang menyiratkan keluhan pada Tuhan mereka, Sang Pemilik seribu bagian di hada-


Surat Ketujuh Belas

137

pan satu bagian yang bersifat formalitas. Ia hanya layak dilakukan oleh orang-orang yang lalai dan sesat.

Poin Keempat Seandainya dunia kekal abadi, seandainya manusia kekal selamanya di dalamnya, atau seandainya perpisahan bersifat abadi, tentu kesedihan yang pedih dan duka lara yang ada bisa dimaklumi. Namun, karena dunia merupakan negeri jamuan, maka ke mana anak yang meninggal itu pergi, kita semua juga akan pergi ke tempat yang sama. Lagi pula yang merasakan kematian bukan hanya dia. Namun ia (kematian) adalah jalan yang dilalui semua orang. Nah, karena perpisahan juga tidak abadi, namun di waktu mendatang akan ada pertemuan kembali di alam barzakh dan di surga, maka yang harus diucapkan adalah, “Segala ketentuan milik Allah. Allah yang memberi, Allah pula yang berhak mengambilnya.� Hal ini disertai harapan mendapat pahala, bersabar, dan bersyukur seraya berkata, “Segala puji bagi Allah atas segala kondisi yang ada.�

Poin Kelima Kasih sayang yang merupakan wujud rahmat Ilahi yang paling lembut, paling indah, paling baik, dan paling nikmat, adalah eliksir maknawi (obat mujarab). Ia jauh lebih tajam daripada hanya sekedar cinta. Ia juga sarana paling cepat untuk bisa sampai kepada Allah I. Ya, sebagaimana cinta majasi dan duniawi berubah menjadi cinta hakiki lewat banyak kesulitan di mana pemiliknya menemukan Allah I, demikian pula dengan kasih sayang. Namun tanpa disertai kesulitan. Ia membuat qalbu terpaut dengan Allah guna mengantar pemiliknya kepada Allah I lewat jalan tercepat dan bentuk yang paling bening. Ayah atau ibu sama-sama menyayangi anak mereka sepenuh dunia. Ketika anak mereka diambil dari keduanya, jika ia termasuk orang bahagia dan orang beriman, ia membelakangi dunia


138

AL-MAKTÛBÂT

dengan melihat Sang Pemberi hakiki hadir di hadapan dengan berkata, “Karena dunia bersifat fana, engkau tidak boleh mengaitkan qalbu dengannya.” Maka, di hadapan kepergian anaknya ia melihat sebuah relasi yang sangat kuat terhadap tempat ke mana anak mereka pergi sekaligus mendapatkan kondisi maknawi yang mulia. Kaum yang lalai dan sesat tidak memperoleh lima hakikat dan kabar gembira di atas. Bayangkan betapa mereka sangat terpukul dan sedih dengan melihat kondisi berikut: Seorang ibu yang sudah tua melihat anak satu-satunya yang sangat ia cintai sedang menghadapi sakarat. Seketika pikirannya melayang. Ia bayangkan anaknya akan tidur di dalam tanah kubur; bukan lagi di kasur empuk. Hal itu lantaran ia menganggap kematian sebagai ketiadaan dan perpisahan abadi karena menyangka akan kekal di dunia serta akibat dari kelalaian dan kesesatan. Karena itu, sama sekali tidak terpikir akan adanya rahmat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, surga, serta nikmat Firdaus-Nya yang kekal. Dari sini engkau bisa membayangkan derita yang dihadapi kaum sesat dan lalai akibat dari kepedihan yang tak disertai sinar harapan. Sebaliknya, iman dan islam sebagai sarana menggapai kebahagiaan dunia akhirat berkata kepada orang beriman: “Anak yang menghadapi sakarat ini akan dikirim oleh Penciptanya Yang Maha Pengasih menuju surga-Nya setelah ia dikeluarkan dari dunia yang kotor. Dia juga akan menjadikannya sebagai pemberi syafa’at sekaligus menjadikannya sebagai anak abadi untukmu. Karena itu, tidak usah risau dan bersedih. Perpisahan ini hanyalah sementara. Bersabarlah dengan berkata:

“Segala ketentuan adalah milik Allah.”

“Kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.”


139

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬

Al-Maktûbât


SURAT KEDELAPAN BELAS

(Surat ini Berisi Tiga Persoalan Penting)

Persoalan Pertama Pertanyaan: Para wali terkenal seperti Syekh Muhyiddin ibn Arabi, penulis kitab al-Futûhât al-Makkiyyah, dan Syekh Abdul Karim al-Jîlî, penulis kitab al-Insân al-Kâmil, membahas tentang tujuh lapis bumi, bumi putih di balik gunung Qâf, serta sejumlah hal aneh semisal al-Masymasyiyah seperti yang terdapat dalam al-Futûhât. Mereka berkata, “Kami telah melihatnya.” Nah, apakah yang mereka katakan itu benar? Jika memang demikian, di bumi tidak ada seperti yang mereka katakan. Geografi dan sains modern menyangkal ucapan mereka. Namun jika ucapan mereka tidak benar, bagaimana mungkin mereka menjadi wali yang salih? Sebab, bagaimana mungkin orang yang mengutarakan sesuatu yang bertentangan dengan realitas yang terlihat dan terindera, serta menafi kan hakikat kebenaran dikatakan sebagai ahlul haq dan ahli hakikat?! Jawaban: Mereka termasuk ahlul haq dan ahli hakikat. Mereka juga termasuk kalangan wali. Apa yang mereka saksikan, benar adanya. Hanya saja, kekeliruan terjadi pada sebagian penilaian mereka terhadap apa yang mereka saksikan saat kondisi syuhud yang memang tidak memiliki kaidah dan batasan, serta terhadap ekspresi penglihatan mereka yang sebenarnya tidak bisa dijelaskan.


142

AL-MAKTÛBÂT

Sebagaimana orang yang bermimpi tidak bisa menjelaskan mimpinya sendiri, maka para ahli syuhud dan kasyaf itu juga tidak bisa menjelaskan penyaksian mereka pada kondisi syuhud tersebut. Yang berhak dan bisa menjelaskannya hanyalah ulama pewaris para nabi yang dikenal sebagai orang pilihan (ashfi ya). Tentu saja, ketika ahli syuhud itu naik ke tingkatan ashfi ya, mereka bisa menangkap dan meluruskan kekeliruan mereka sendiri lewat petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah. Kenyataannya, sebagian mereka memang telah meluruskan kekeliruan tersebut. Perhatikan cerita imajiner berikut untuk memperjelas hakikat di atas: Pada satu waktu, ada dua pengembala yang salih. Keduanya memeras susu dari kambing mereka dan meletakkannya di sebuah wadah yang terbuat dari kayu. Lalu mereka meletakkan seruling bambu mereka di atas wadah tersebut. Kemudian salah seorang dari mereka mengantuk hingga akhirnya tertidur. Ia tidur dengan pulas. Adapun orang yang kedua tetap terjaga seraya mengawasi temannya. Tiba-tiba ia melihat seolah-olah ada hewan kecil—seperti lalat—yang keluar dari hidung temannya yang sedang tidur itu. Hewan itu terbang dengan cepat dan hinggap di pinggir wadah tersebut seraya melihat kepada susu. Lalu ia masuk ke lubang suling lewat salah satu sisinya dan keluar dari sisi yang lain. Setelah itu, ia berlalu dan masuk ke lubang kecil yang berada di bawah tanaman berduri yang dekat darinya. Tidak lama kemudian, hewan itu kembali. Ia masuk pula ke seruling tadi dan keluar dari sisi yang lain. Selanjutnya ia mendatangi temannya yang tidur itu dan masuk ke dalam hidungnya. Seketika sang teman terbangun dari tidurnya seraya berkata, “Wahai teman, dalam tidurku tadi aku melihat mimpi yang menakjubkan!” “Ya Allah, perlihatkan dan perdengarkan kebaikan pada kami! Wahai teman, katakan apa yang kau lihat dalam mimpimu!” ujarnya temannya. “Dalam mimpi aku melihat lautan susu. Di atasnya terbentang jembatan yang menakjubkan. Jembatan itu beratap. Di atapnya terdapat sejumlah jendela. Aku melewati jembatan tersebut.


Surat Kedelapan Belas

143

Di ujungnya yang kedua kulihat sebuah hutan lebat yang penuh dengan pohon berduri. Saat melihat kepadanya dengan kagum, aku melihat sebuah goa berada di bawah sebuah pohon. Segera saja aku masuk ke dalamnya. Aku melihat tumpukan emas murni dalam jumlah besar. Wahai teman, apa maksud dari mimpiku ini? ” Teman yang terjaga itupun menjelaskan, “Lautan susu yang kau lihat itu sebenarnya adalah susu yang terdapat di wadah ini. Sementara jembatan yang berada di atasnya adalah seruling. Ujung pohon yang berduri tidak lain adalah tanaman getah ini. Dan goa besar yang kau sebut adalah lubang kecil yang berada di bawah tanaman yang berada di dekat kita ini. Tolong berikan cangkul padaku untuk kuperlihatkan padamu harta yang kau katakan!” Temannya itupun datang membawa cangkul dan mereka berdua mulai menggali tanah di bawah tanaman getah. Tidak lama kemudian terlihat oleh mereka harta berupa emas yang membuat mereka gembira. Apa yang dilihat oleh orang yang bermimpi adalah benar. Ia melihat apa yang dilihatnya sebagai sebuah hakikat kebenaran. Akan tetapi, karena ia tenggelam dalam dunia mimpi, sementara dunia mimpi tidak memiliki kaidah dan batasan tertentu, maka orang yang bermimpi tadi tidak bisa menjelaskan mimpinya. Apalagi ia tidak mampu membedakan antara alam materi dan maknawi. Karena itu, sebagian penilaiannya keliru. Sehingga dengan jujur ia berkata kepada temannya, “Aku telah melihat lautan susu.” Sementara, temannya yang terjaga dapat dengan mudah membedakan alam maknawi dari alam materi. Ia dapat menjelaskan mimpinya dengan berkata kepada temannya, “Apa yang kau lihat adalah benar. Namun, lautan yang kau lihat bukan lautan yang sebenarnya. Namun dalam mimpimu wadah susu kayu ini berubah menjadi seperti lautan, dan seruling tersebut berubah menjadi jembatan.” Begitulah. Berdasarkan contoh di atas, alam materi harus dibedakan dengan alam rohani. Kalau keduanya dicampur, penilaian terhadap keduanya menjadi keliru dan tidak benar.


144

AL-MAKTÛBÂT

Contoh lain: Bayangkan engkau memiliki sebuah ruangan yang sempit. Pada keempat dindingnya kau pasang cermin besar yang menutup semua sisi dinding. Maka, ketika masuk ke dalam kamarmu, engkau melihat ruanganmu yang sempit menjadi luas dan menjadi seperti halaman. Apabila engkau berkata, “Aku melihat ruanganku seperti halaman luas,” maka perkataanmu benar. Namun jika engkau memberikan penilaian dengan berkata, “Kamarku sangat luas seperti halaman,” ketika itu engkau telah keliru. Sebab, engkau mencampur antara alam mitsal yang di sini berupa alam cermin, dengan alam nyata yang sebenarnya yang di sini berupa kamarmu. Jadi, jelas bahwa ucapan sebagian ahli kasyaf atau tulisan mereka tentang tujuh lapis planet bumi berasal dari sejumlah persepsi tanpa ditimbang dengan neraca al-Qur’an dan as-Sunnah di mana ia tidak hanya melihat kondisi fi sik dan geografi s bumi. Mereka berkata, “Salah satu lapisan bumi khusus didiami jin dan Ifrit. Luasnya sejarak perjalanan ribuan tahun.” Padahal, bola bumi yang bisa dilintasi dalam beberapa tahun tidak mengandung lapisan yang aneh dan sangat luas itu. Akan tetapi, kalau kita berasumsi bahwa bola bumi seperti benih pohon cemara di alam maknawi, alam mitsal, alam barzakh, dan alam arwah, maka pohon mitsali yang akan terwujud di berbagai alam itu akan seperti pohon cemara yang sangat besar jika dibandingkan dengan benih tadi. Karena itu, sebagian ahli syuhud, dalam perjalanan spiritual, mereka melihat sejumlah tingkatan bumi di alam mitsal sangat luas dan mencengangkan. Mereka melihatnya seluas perjalanan ribuan tahun. Apa yang mereka lihat benar dan nyata. Hanya saja, karena gambaran alam mitsal menyerupai alam materi, maka mereka melihatnya—kedua alam tersebut—bercampur secara bersamaan. Sehingga mereka menjelaskan apa yang mereka lihat sebagaimana adanya. Namun karena apa yang mereka saksikan tidak ditimbang dengan neraca al-Qur’an dan as-Sunnah, dan menuliskan apa adanya dalam buku-buku mereka saat kembali ke alam sadar, maka orang-orang menerimanya dalam kondisi yang berbeda dengan kenyataan.


Surat Kedelapan Belas

145

Pasalnya, sebagaimana wujud mitsali dari istana besar dan taman yang luas bisa dimuat oleh sebuah cermin kecil, demikian pula luas ribuan tahun dari alam mitsal dan hakikat maknawi bisa dihimpun oleh jarak setahun dari alam materi. Penutup Dari masalah ini dapat dipahami bahwa tingkat penyaksian (syuhud) jauh lebih rendah daripada tingkatan iman kepada alam gaib. Artinya, sejumlah ketersingkapan (kasyaf) yang tidak memiliki kaidah khusus yang dimiliki oleh sejumlah wali yang bersandar kepada penyaksian semata tidak bisa mencapai penilaian dan ketetapan kalangan ashfi ya dan ahli hakikat yang merupakan pewaris nabi di mana mereka tidak bersandar kepada penyaksian; tetapi kepada al-Qur’an dan wahyu. Mereka menetapkan hukum dan penilaian tentang sejumlah hakikat iman yang bersifat gaib tetapi bersih, komprehensif dan benar. Ia juga dibatasi oleh sejumlah kaidah dan dapat dikur dengan sejumlah neraca. Jadi, neraca dari seluruh kondisi spiritual, kasyaf, rasa, dan penyaksian adalah hukum-hukum al-Qur’an dan as-Sunnah yang mulia; serta rambu-rambu intuitif yang dimiliki oleh kalangan ashfi ya dan ahli hakikat.

Persoalan Kedua Pertanyaan: Banyak orang menilai wahdatul wujud sebagai tingkatan spiritual yang paling tinggi, sementara kami tidak melihat jejaknya pada para sahabat Nabi yang mulia yang berada di tingkat kewalian agung, terutama khulafa ar-Rasyidin. Juga, pada imam-imam ahlul bait, terutama kelima orang yang dihimpun dalam jubah Nabi r (Alu al-Abâ’), serta pada para mujtahid, terutama empat imamnya, dan para tabi’in. Apakah generasi yang datang sesudah mereka telah menyingkap sebuah jalan yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada jalan mereka? Apakah generasi tersebut dalam hal ini mengungguli mereka? Jawaban: Tidak demikian. Kondisinya tidak seperti itu. Tidak ada seorangpun yang dapat sampai kepada tingkatan kalangan ashfi ya di atas yang laksana bintang bersinar paling dekat


146

AL-MAKTÛBÂT

dengan mentari risalah, sekaligus pewaris pertama dari khazanah kenabian, apalagi sampai mendahului mereka. Jalan yang lurus (shirat al-mustaqim) adalah jalan mereka dan manhaj yang benar adalah manhaj mereka. Adapun wahdatul wujud adalah sebuah masyrab (jalan), pendekatan, serta sebuah keadaan. Ia adalah tingkatan yang tidak sempurna. Akan tetapi, karena bercampur dengan kenikmatan perasaan dan ekstase spiritual, maka sebagian besar orang yang masuk ke dalam maqam tersebut pada perjalanan suluk tidak ingin meninggalkannya sehingga tetap bersamanya. Mereka mengira bahwa ia merupakan tingkatan terakhir yang di atasnya tidak ada lagi tingkatan lain. Karena itu, orang yang berada di jalan ini, apabila memiliki ruh yang terlepas dari kungkungan materi dan berbagai sarananya, lalu merobek tirai sebab, bebas dari belenggunya, dan meraih penyaksian dalam ketenggelaman yang menyeluruh, maka orang seperti itu bisa jadi sampai kepada wahdatul wujud yang didasarkan pada kondisi yang dirasakan; bukan berdasarkan pengetahuan. Ia bersumber dari kesatuan penyaksian (wahdatusy-syuhud); bukan dari wahdatul wujud. Dari sanalah, pemiliknya merasakan kesempurnaan dan kedudukan yang ia miliki. Bahkan hal itu bisa membuatnya mengingkari wujud alam saat memusatkan perhatian pada wujud Allah. Adapun apabila pemilik jalan ini termasuk yang tenggelam dalam dunia materi, maka pengakuannya tentang wahdatul wujud bisa membuatnya mengingkari wujud Allah karena perhatiannya terbatas pada wujud alam. Ya, jalan yang lurus adalah jalan para sahabat, tabi’in, dan ) “Hakikat kalangan ashfi ya yang melihat bahwa ( sesuatu bersifat permanen”. Ia merupakan kaidah universal bagi mereka. Mereka mengetahui bahwa yang layak dengan hak Allah adalah fi rman-Nya:

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…” (QS. asySyûrâ [42]: 11). Artinya, Dia tidak diserupai oleh sesuatu, tidak


Surat Kedelapan Belas

147

berpihak, tidak parsial, dan tidak terbagi. Hubungan-Nya dengan entitas adalah hubungan antara Khalik dan makhluk (penciptaan). Entitas bukan ilusi seperti anggapan kalangan wahdatul wujud. Namun entitas yang tampak ini merupakan jejak kekuasaan Allah I. Jadi, ungkapan mereka ( ) “tidak ada sesuatu selain Dia” tidaklah benar. Yang benar ( ) “tidak ada sesuatu kecuali berasal dari-Nya.” Hal itu, karena entitas tidak mungkin bersifat qadim (tak bermula) atau azali. Persoalan ini mungkin bisa lebih dipahami dengan dua contoh berikut: Pertama, misalkan terdapat seorang penguasa. Penguasa tersebut memiliki lembaga penegak keadilan. Maka, lembaga tersebut mencerminkan nama “penguasa yang adil.” Pada waktu bersamaan penguasa tersebut juga merupakan sosok “khalifah”. Karena itu, ia memiliki lembaga keagamaan dan ilmiah yang memantulkan nama tersebut. Kemudian penguasa itu membawa nama “panglima militer.” Dengan nama tersebut, ia bertindak di wilayah militer. Tentaranya juga merupakan manifestasi dari nama tersebut. Sekarang, kalau ada yang berkata bahwa penguasa tersebut adalah penguasa yang adil saja, yakni hanya lembaga penegak keadilan yang mencerminkan nama sang penguasa, dalam kondisi demikian, sudah pasti bagi lembaga penegak keadilan, sifat dan kondisi para ulama urusan agama terlihat sebagai sesuatu yang relatif; bukan hakiki. Artinya, sifat yang dimiliki oleh lembaga urusan agama dan juga lembaga militer oleh lembaga penegak keadilan dianggap relatif dan aksesori; tidak hakiki dan tidak aktual. Dalam kondisi seperti itu, nama penguasa hakiki dan sifat kekuasaan hakikinya (penguasa yang adil) terwujud pada lembaga penegak keadilan. Sementara, sifat-sifatnya yang lain, seperti khalifah dan panglima tentara, bersifat relatif dan tidak hakiki. Padahal, esensi dan hakikat kekuasaan menuntut keberadaan seluruh nama tersebut dalam bentuk yang aktual dan hakiki. Di sisi lain, nama-nama hakiki tersebut menuntut keberadaan lembaga kekuasaan yang bersifat hakiki.


148

AL-MAKTÛBÂT

Demikianlah, kekuasaan uluhiyah menuntut keberadaan beragam nama dan sifat baik yang bersifat hakiki, seperti arRahmân (Maha Pengasih), ar-Razzâq (Maha Pemberi rezeki), al-Wahhâb (Maha Pemberi), al-Khallâq (Maha Pencipta), alKarîm (Maha Pemurah), al-Fa’âl (Maha Berbuat), dan ar-Rahîm (Maha Penyayang). Semua nama tersebut juga menuntut keberadaan cermin hakiki baginya. Nah, ketika penganut wahdatul wujud berkata “tidak ada sesuatu kecuali Dia” lalu menempatkan entitas pada posisi tiada dan khayalan, nama-nama Allah seperti Wajibul wujud (Wajib ada), al-Maujûd (Yang Mahaada), al-Ahad (Yang Mahaesa), al-Wâhid (Yang Mahatunggal), tetap memiliki manifestasi dan lingkup hakiki. Bahkan meskipun lingkup dan cermin dari nama-nama tersebut tidak bersifat hakiki—dan menjadi sesuatu yang bersifat imajiner dan tiada—hal itu tidak berpengaruh pada nama-Nya sama sekali. Bahkan bisa jadi wujud hakikinya lebih bening dan lebih bersinar meskipun pada guratan wujud tidak ada pada cerminya. Hanya saja, pada kondisi tersebut, nama-nama Allah yang lain seperti ar-Rahmân, ar-Razzâq, al-Qahhâr, al-Jabbâr, al-Khallâq tidak memiliki manifestasi hakiki. Ia menjadi bersifat artifi sial dan relatif. Padahal semua nama tersebut bersifat hakiki, sama seperti nama al-Maujûd. Ia tidak mungkin hanya berupa bayangan. Ia juga asli; bukan sekedar pelengkap atau aksesori. Demikianlah, para sahabat, mujtahid, orang-orang pilihan (ashfi ya), dan imam ahlul bait. Ketika mengatakan bahwa hakikat segala sesuatu bersifat permanen, mereka menegaskan bahwa nama-nama Allah memiliki manifestasi hakiki, sementara segala sesuatu memiliki wujud non-subtansial yang Allah ciptakan. Meskipun wujud tersebut bersifat non-substansial, lemah, dan tidak permanen jika dibandingkan dengan wujud Wajibul wujud, namun ia bukan ilusi dan khayalan. Allah I telah memberikan wujud pada segala sesuatu dengan manifestasi nama-Nya, alKhallâq. Dia menjaga kelangsungan wujud tersebut. Kedua, bayangkan bahwa ruangan ini memiliki empat cermin besar yang terpasang di keempat temboknya. Maka, gambar


Surat Kedelapan Belas

149

ruangan terpantul pada setiap cermin dari seluruh cerminnya. Hanya saja, setiap cermin memantulkan gambar sesuatu dalam bentuk yang sesuai dengan sifat dan warnanya. Artinya, setiap cermin akan memantulkan sebuah pemandangan khusus dari ruangan tersebut. Apabila dua orang masuk ke dalam ruangan dan salah satunya melihat kepada cermin-cermin itu, ia merasa dirinya melihat segala sesuatu tergambar di dalamnya. Ketika mendengar keberadaan cermin-cermin lain berikut gambar di dalamnya, ia merasa bahwa hal itu merupakan gambar dari cermin yang memantul pada cerminnya di mana ia hanya mengisi bagian kecil darinya. Yaitu setelah gambarnya mengecil dua kali dan setelah susbstansinya berubah. Iapun berkata, “Aku melihat gambarnya semacam itu.” Jadi, ia adalah sebuah hakikat dan kenyataan. Mendengar hal tersebut orang yang kedua berkata, “Ya, engkau melihatnya, dan apa yang engkau lihat benar. Akan tetapi, sebenarnya ia bukan gambar hakikat yang sebenarnya. Terdapat banyak cermin lain selain cermin yang kau lihat. Cermin-cermin tersebut tidak kecil dan ia bukan pantulan dari bayangan seperti yang kau lihat dalam cerminmu.” Begitulah, setiap nama Allah menuntut keberadaan cermin masing-masing. Misalnya, seluruh nama Allah seperti arRahmân (Maha Pengasih) dan ar-Razzâq (Maha Pemberi rezeki), karena merupakan nama hakiki dan asli, ia menuntut sejumlah entitas yang layak dengannya serta makhluk yang membutuhkan rezeki dan kasih semacam itu. Sebagaimana nama ar-Rahmân menuntut keberadaan makhluk hidup yang membutuhkan rezeki di alam hakiki, maka nama ar-Rahîm menuntut keberadaan surga hakiki pula. Karena itu, memandang sejumlah nama Allah seperti al-Maujûd, alWâhid, al-Ahad, dan Wâjibul wujûd sebagai nama-nama hakiki, sementara nama Allah yang lainnya sebagai pelengkap dan bayangan merupakan penilaian yang tidak adil dan sikap kurang menghormati nama-nama Allah tersebut.


150

AL-MAKTÛBÂT

Jadi, Jalan yang lurus (shirât al-Mustaqîm) adalah jalan para sahabat, kalangan ashfi ya, tabi’in, imam ahlul bait, dan imam para mujtahid yang merupakan pemilik derajat kewalian agung. Ia juga merupakan jalan yang dilewati oleh murid-murid alQur’an yang pertama.

“Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Engkaulah yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.”3535

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami. Karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkaulah Maha pemberi (karunia).”

Ya Allah, limpahkan salawat kepada sosok yang Kau utus sebagai rahmat bagi semesta alam. Juga, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

Persoalan Ketiga Yaitu persoalan penting yang tidak bisa dipecahkan dengan akal serta tidak bisa disingkap oleh fi lsafat dan hikmah. Allah I berfi rman:

35 Ayat ini biasanya dijadikan Said Nursi sebagai penutup pada sebagian besar risalah atau tulisannya. Karena sebagai munajat (doa penutup) dan sering berulang, maka untuk selanjutnya tidak disertakan terjemahannya—Peny.


Surat Kedelapan Belas

151

“Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan.” (QS. ar-Rahmân [55]: 29),

“Dia Maha Berbuat atas apa yang Dia kehendaki.” (QS. alBurûj [85]: 16). Pertanyaan: Apa rahasia di balik aktivitas yang mencengangkan akal yang terdapat di seluruh entitas? Apa hikmahnya? Mengapa entitas yang melata itu tidak tetap; melainkan terus berubah-ubah? Jawaban: Penjelasan atas hikmah ini membutuhkan seribu halaman. Karena itu, kami tidak ingin menjelaskan panjang lebar. Kami hanya akan menjawab dengan sangat singkat dalam dua halaman. Kami tegaskan bahwa siapapun, apabila menunaikan sebuah tugas alami atau menunaikan tugas sosial, serta berusaha keras untuk menyelesaikannya, sudah pasti orang yang menyaksikan mengetahui bahwa ia menunaikan pekerjaan tersebut dengan dua motif: Pertama, kemaslahatan, hasil, dan manfaat yang didapat dari tugas tersebut. Itulah yang disebut dengan tujuan akhir. Kedua, terdapat cinta, kerinduan, dan kenikmatan yang dirasakan manusia saat menunaikan tugas tersebut di mana itu mendorongnya untuk melaksanakannya dengan penuh semangat dan antusias. Inilah yang disebut dengan faktor stimulan dan tuntutan. Misalnya, makan merupakan kebiasaan alami yang disenangi manusia karena ada kenikmatan yang bersumber dari selera. Selanjutnya, terdapat proses pengembangan tubuh dan pemeliharaan kehidupan sebagai hasil dan buah darinya.

(Demikian pula halnya dengan Allah, tanpa ada maksud menyerupakan Dia dengan apa dan siapa pun). Aktivitas yang


152

AL-MAKTÛBÂT

berlangsung di alam luas ini di mana ia mencengangkan akal dan membuatnya terkagum-kagum, semuanya merujuk kepada dua bagian nama-nama-Nya. Ia berlangsung sebagai hasil dari penampakan dua hikmah yang luas yang masing-masingnya tidak terbatas.

Hikmah Pertama Asmaul Husna memiliki manifestasi tak terhingga dan tak terbatas. Keragaman makhluk menjadi berbagai spesies bersumber dari keragaman manifestasi. Nama-nama Allah ingin termanifestasi secara terus-menerus. Artinya, ia menuntut penampakan goresannya. Dengan kata lain, ia ingin menyaksikan manifestasi keindahannya dalam berbagai cermin ukiran dan memamerkannya. Artinya, nama-nama tersebut ingin memperbaharui kitab alam dan seluruh entitas setiap saat serta menulis ulang, di mana setiap tulisan memperlihatkan diri di hadapan Dzat Yang Mahasuci dan Pemilik nama-nama yang suci, dan memperlihatkannya di hadapan seluruh makhluk yang memiliki kesadaran sekaligus mendorong mereka untuk membacanya.

Sebab dan Hikmah Kedua Sebagaimana aktivitas yang terdapat pada semua makhluk bersumber dari sebuah keinginan, kerinduan, dan kenikmatan; bahkan pada setiap aktivitas terdapat kenikmatan; bahkan setiap aktivitas itu sendiri merupakan satu bentuk kenikmatan. Allah lebih daripada itu. Terdapat sebuah kasih sayang suci tak terbatas serta cinta suci tak terhingga yang layak disandang Sang Wajibul Wujud, yang sejalan dengan kekayaan-Nya yang bersifat mutlak, serta sesuai dengan kesempurnaan-Nya yang mutlak. Lalu, terdapat kerinduan suci-Nya yang bersumber dari kasih dan cinta yang suci tadi. Kemudian, terdapat kegembiraan suci tak terhingga yang bersumber dari kerinduan tersebut. Lalu terdapat kenikmatan suci yang layak disandang-Nya—jika bisa dikatakan demikian—yang bersumber dari kegembiraan suci tadi. Rahmat mutlak yang bersumber dari kenikmatan suci di atas serta yang berasal dari seluruh entitas berupa ridha dan ke-


Surat Kedelapan Belas

153

sempurnaan menyeluruh yang bertolak dari potensi kekuatannya menuju perbuatan dan penyempurnaanya dalam lingkup kreasi qudrah-Nya. Ridha yang suci—jika bisa dikatakan demikian— serta kebanggaan suci yang bersifat mutlak, semua itu sesuai dengan ar-Rahmân dan ar-Rahîm, menuntut adanya aktivitas dalam bentuk yang tak terhingga. Karena fi lsafat dan sains tidak memahami hikmah halus di atas yang terdapat dalam aktivitas di alam wujud, maka orangorang yang menggelutinya mencampur alam yang tuli, proses kebetulan yang buta dan sebab-sebab tak bernyawa, dengan aktivitas alam yang penuh ilmu, hikmah, dan pengawasan. Mereka tidak mendapat cahaya hakikat. Namun tersesat jauh.

Katakan, “Allah”, kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (QS. an-Nahl [16]: 91).

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami. Karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkaulah Maha pemberi (karunia).”

Ya Allah, limpahkan salawat dan salam kepada penyingkap misteri alam-Mu sebanyak partikel entitas. Juga, kepada keluarga dan para sahabatnya sepanjang keberadaan langit dan bumi.


154

AL-MAKTÛBÂT

Yang kekal, hanyalah Dzat Yang Mahakekal. Said Nursi

‫٭٭٭‬


SURAT KESEMBILAN BELAS Risalah ini menjelaskan lebih dari 300 mukjizat Rasul r yang menjadi indikator benarnya kerasulan beliau. Pada saat menjelaskan mukjizat tersebut, risalah ini juga sebenarnya sedang mengungkapkan jati dirinya sebagai salah satu karamah dan persembahan dari mukjizat tadi. Maka risalah ini pun menjadi luar biasa dilihat dari tiga aspek: Pertama: Penulisannya sudah pasti merupakan sebuah peristiwa luar biasa. Sebab, ia ditulis tanpa merujuk kepada satupun buku referensi; dengan mengandalkan ingatan semata, padahal ia memuat sejumlah riwayat hadis Nabi r dan isinya lebih dari seratus halaman. Lebih dari itu, ia ditulis di atas gunung, serta di lembah dan taman dalam kurun waktu sekitar 4 hari; dengan rata-rata 3 jam sehari. Dengan kata lain, ia hanya ditulis dalam 12 jam. Kedua: Para penyalinnya tidak merasa bosan dalam melakukan proses penyalinan betapapun adanya. Membacanya secara terus-menerus juga tidak membuat kenikmatannya pudar meskipun cukup panjang. Karena itu, risalah ini menggerakkan semangat para penyalin yang malas sehingga mampu menulis sekitar 70 salinan selama setahun dalam waktu yang sulit. Ini semua membuat mereka yang melihat kondisi kami yakin bahwa risalah ini termasuk salah satu karamah dari mukjizat di atas. Ketiga: Kata “Rasul r” yang terdapat dalam seluruh risalah ini, serta kata “al-Qur’an al-Karim” yang terdapat dalam ‘Bagian Kelima’ darinya dituliskan secara selaras (tawâfuq) oleh salah satu penyalin, meskipun ia tidak memiliki pengetahuan tentang ilmu tersebut. Hal yang sama juga dilakukan delapan penyalin lainnya, padahal mereka tidak pernah bertemu. Bahkan sebelumnya kami


156

AL-MAKTÛBÂT

pun tidak mengetahui adanya keselarasan itu. Tentu saja, orang yang objektif tidak akan menganggapnya sebagai sebuah kebetulan. Namun, setiap orang yang melihatnya akan menilainya sebagai salah satu rahasia gaib dan bahwa risalah ini merupakan salah satu karamah dari mukjizat Nabi Muhammad r. Demikianlah, dasar-dasar yang ada di pangkal risalah ini sangat penting. Sejumlah hadis yang terdapat di dalamnya, di samping sahih dan diterima oleh para imam hadis, juga menjelaskan berbagai riwayat yang paling valid dan kuat. Jika ingin menjelaskan berbagai keistimewaan dari risalah ini, tentu kita membutuhkan risalah lain yang sepertinya. Oleh karena itu, kami mengajak kalangan yang merindukannya untuk membacanya walau hanya satu kali agar dapat merasakan berbagai keistimewaan tersebut. Said Nursi

Catatan Dalam risalah ini aku telah menyebutkan banyak hadis Nabi r, sementara tidak ada satupun kitab hadis yang bersamaku. Karena itu, jika ada kekeliruan dalam redaksi hadis, mohon dikoreksi atau diambil makna riwayatnya. Sebab, menurut pendapat yang kuat boleh meriwayatkan hadis lewat maknanya. Maksudnya, perawi menyebutkan makna hadis dengan lafalnya sendiri. Jadi, apabila dalam risalah ini terdapat sejumlah kekeliruan yang bersifat redaksional, maka posisikanlah ia sebagai periwayatan yang berdasarkan maknanya. 3636 Said Nursi

3636 Catatan: Karena ada kemiripan, maka sebagian riwayat hadis dalam buku ini disesuaikan dengan redaksi hadis yang tercantum dalam buku asy-Syifâ bi Ta’rîf Huqûq al-Musthafâ karya al-Qâdhî `Iyâdh al-Magribi (Ihsan Qasim)―Peny.


Surat Kesembilan Belas

157

RISALAH MUKJIZAT NABI MUHAMMAD r

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafi r, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kalian lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil. Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafi r (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.� (QS. al-Fath [48]: 28-29).


158

AL-MAKTÛBÂT

[Karena “Kalimat Kesembilan Belas” dan “Tiga Puluh Satu” secara khusus berbicara tentang kerasulan Muhammad lewat pembuktian kenabiannya melalui berbagai dalil yang kuat, maka terkait dengan masalah pembuktian itu bisa merujuk kepada keduanya. Di sini—sebagai penyempurna dari keduanya—kami akan menjelaskan sejumlah kilau dari hakikat agung tersebut dalam sembilan belas petunjuk yang signifi kan].

PETUNJUK PERTAMA Tidak ada keraguan bahwa Pemilik dan Pemelihara alam ini menciptakan seluruh makhluk berdasarkan pengetahuan dan berbuat dengan penuh hikmah. Dia menata seluruh sisi dengan penuh perhatian dan penyaksian, memelihara segala sesuatu berdasarkan pengetahuan dan bashirah, serta mengatur urusan guna memperlihatkan berbagai hikmah, tujuan dan kemaslahatan yang tampak dari segala sesuatu. Karena Sang Pencipta mengetahui apa yang Dia perbuat, maka tentu Dia berbicara. Karena Dia berbicara, tentu pembicaraan-Nya diarahkan kepada makhluk yang dapat memahaminya; yaitu yang memiliki perasaan, kesadaran, dan akal pikiran. Karena Dia berbicara dengan makhluk yang memiliki akal pikiran, tentu berbicara dengan manusia yang merupakan makhluk terbaik yang memiliki perasaan dan pemahaman serta paling menghimpun sifat-sifat tersebut. Nah, karena pembicaraan-Nya akan mengarah kepada manusia, maka sudah pasti Dia akan berbicara dengan mereka yang layak menjadi mitra bicara dari kalangan manusia sempurna yang memiliki potensi paling agung dan akhlak paling mulia serta dengan mereka yang pantas menjadi suri teladan bagi umat manusia. Tentu tidak ada keraguan bahwa Dia akan berbicara dengan Muhammad r yang kapasitasnya diakui oleh baik kawan maupun lawan bahwa beliau merupakan sosok pemilik akhlak paling mulia dan potensi paling baik di mana beliau menjadi teladan bagi seperlima penduduk dunia. Setengah bumi bergabung di bawah panji maknawinya. Masa depan menjadi bersinar oleh cahaya yang telah dibawanya sepanjang tiga belas abad. Beliaulah sosok yang dikirimi salawat oleh kaum


Surat Kesembilan Belas

159

beriman serta didoakan mendapatkan rahmat, kebahagiaan, pujian, dan cinta. Lima kali dalam sehari mereka memperbaharui sumpah setia kepada beliau. Allah sudah pasti berbicara dengan beliau sekaligus menjadikannya sebagai rasul utusan dan hal itu benar-benar dilakukan. Dia juga sudah pasti menjadikan beliau sebagai teladan serta imam bagi seluruh manusia, dan hal itu benar-benar terbukti.

PETUNJUK KEDUA Rasul r telah mendeklarasikan kenabian, serta mengetengahkan argumen atasnya berupa al-Qur’an al-Karim. Beliau memperlihatkan sekitar seribu mukjizat yang cemerlang sebagaimana diakui oleh para ulama ahli peneliti.3737Seluruh mukjizat tersebut adalah benar dan pasti sebagaimana pastinya pengakuan kenabian. Bahkan upaya penisbatan berbagai mukjizat tersebut kepada perbuatan sihir seperti yang disebutkan oleh al-Qur’an dalam banyak ayat lewat ucapan orang-orang kafi r menunjukkan bahwa mereka tidak mengingkari keberadaan mukjizatnya. Hanya saja, mereka menisbatkannya kepada sihir guna menipu diri mereka sendiri dan memperdaya para pengikut mereka. Ya, kepastian mukjizat Muhammad r sangat kuat mencapai kekuatan seratus riwayat mutawatir. Sama sekali tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Pada dasarnya, mukjizat merupakan bentuk pembenaran Tuhan semesta alam terhadap pernyataan Rasul-Nya yang mulia. Dengan kata lain, mukjizat berposisi seperti perkataan Allah yang berbunyi, “Hamba-Ku benar, maka ikutilah ia!” Sebagai contoh, seandainya engkau berada di dekat sultan atau di majelisnya lalu engkau berkata kepada orang yang berada di dekatmu, “Sultan menunjukku untuk menangani tugas ini.” Ketika mereka meminta bukti atas pernyataanmu, sang sultan sendiri yang menjawab, “Ya, aku telah menugaskannya untuk melakukan tugas tersebut.” Bukankah ia merupakan bentuk ke37 Lihat: al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/10; an-Nawawi, Syarh Sahih Muslim 1/2; dan Ibnu Hajar, Fath al-Bârî 6/582-583.


160

AL-MAKTÛBÂT

saksian atas kebenaran pernyataanmu?! Apalagi jika sultan memberimu kemampuan luar biasa serta mengganti sejumlah hukumnya untukmu?! Bukankah hal itu merupakan bentuk pembenaran yang lebih kuat atas pernyataanmu daripada sekedar mengatakan, “Ya”? Demikian halnya dengan pernyataan Rasul r di mana beliau berkata, “Aku adalah utusan Tuhan Penguasa alam semesta. Buktinya, Dia telah mengubah sejumlah hukum yang biasa berlaku lewat munajat dan doaku kepada-Nya. Kalian bisa melihat bagaimana Dia membuat dari jari-jemariku memancarkan air seperti air yang memancar dari lima mata air. Lihatlah bagaimana Dia membuat bulan terbelah dua hanya lewat isyarat tanganku. Lihatlah pohon itu, bagaimana ia datang membenarkan dan menjadi saksi untukku. Lihat pula sedikit makanan ini, bagaimana ia bisa membuat kenyang dua ratus atau tiga ratus orang.” Demikianlah beliau memperlihatkan ratusan mukjizat semacam itu. Ketahuilah bahwa dalil kebenaran Rasul r dan bukti kenabiannya tidak terbatas pada mukjizat yang dimilikinya. Namun, para ulama ahli peneliti melihat bahwa seluruh gerak, perbuatan, kondisi, ucapan, akhlak, perjalanan hidup, dan fi siknya, semuanya membuktikan ketulusan dan kebenarannya. Bahkan banyak ulama Bani israil yang langsung beriman hanya dengan sekadar melihat paras beliau. Misalnya Abdullah ibn Salam yang berkata, “Ketika melihat wajahnya, aku langsung mengetahui bahwa wajahnya bukan wajah pendusta.”3838 Meskipun para ulama peneliti telah menyebutkan sekitar seribu dalil kenabian dan mukjizatnya, namun masih terdapat ribuan atau bahkan ratusan ribu mukjizat lainnya. Ratusan ribu manusia yang berbeda pandangan membenarkan kenabian beliau lewat ratusan ribu pendekatan. Al-Qur’an al-Karim saja memperlihatkan seribu bukti kenabiannya di samping kemukjizatannya yang mencapai 40 aspek. Karena kenabian telah terbukti nyata di kalangan umat manusia dan bahwa ratusan ribu39 manusia datang memproklamir38 HR. at-Tirmidzi, bab al-Qiyâmah 42; Ibnu Majah, bab al-Iqâmah 174; dan ad-Dârimi, bab ash-Shalâh 156. 39 Diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasu-


Surat Kesembilan Belas

161

kan kenabian serta mempersembahkan berbagai mukjizat sebagai bukti dan penguatnya, maka sudah pasti kenabian Muhammad r jauh lebih kuat dan lebih meyakinkan daripada yang lain. Pasalnya, poros kenabian para nabi, cara muamalah mereka dengan umat, serta berbagai bukti dan keistimewaan yang menunjukkan kenabian seluruh rasul secara umum seperti Musa dan Isa , terwujud dalam bentuk yang paling sempurna dan makna yang paling utama pada diri Rasulullah r. Lalu, karena ilat dan sebab hukum kenabian dalam wujud yang paling sempurna terdapat pada diri beliau, maka hukum kenabian beliau sangat jelas dan pasti, jauh lebih pasti daripada seluruh nabi yang lain.

PETUNJUK KETIGA Mukjizat Rasul r sangat banyak dan beragam. Hal itu karena kerasulan beliau bersifat universal dan komprehensif, mencakup seluruh alam. Karenanya, mukjizat yang menjadi saksi atas beliau tampak pada sebagian besar jenis makhluk. Hal itu akan kami jelaskan dengan perumpamaan berikut: Misalkan seorang duta istimewa yang diutus penguasa besar datang untuk mengunjungi sebuah kota yang dihuni oleh banyak kaum dengan membawa berbagai macam hadiah berharga untuk mereka, sudah pasti setiap kelompok dari mereka akan mengirim utusan untuk menyambutnya atas nama kelompok mereka. Demikian pula ketika duta agung Allah Yang Maha abadi (Muhammad r) membuat alam ini mulia dan bercahaya lewat kedatangan beliau di mana beliau diutus oleh Tuhan semesta alam ke seluruh penduduk bumi dengan membawa berbagai macam hadiah maknawi dan hakikat yang cemerlang terkait dengan seluruh hakikat alam, tentu setiap kelompok mengirim utusan untuk menyambut kedatangan beliau serta mengucapkan selamat lewat lisannya masing-masing. Ia mempersembahkan mukjizat kelompoknya ke hadapan beliau sebagai bentuk pembenaran dan sambutan atas kenabian beliau, mulai dari batu, air, pohon, manusia, hingga bulan, matahari, dan bintang-gemintang. lullah, berapa jumlah para nabi?” Beliau menjawab, “124 ribu. Di antara mereka terdapat 315 rasul.” (HR. Ahmad ibn Hambal dalam al-Musnad 5/265; Ibnu Hibbân dalam Sahih-nya 2/77; dan ath-abrâni dalam al-Mu’jam al-Kabîr 8/217).


162

AL-MAKTÛBÂT

Seolah-olah lewat kondisinya masing-masing berkata, “Selamat datang kami ucapkan kepada Anda!” Pembahasan tentang seluruh mukjizat tersebut membutuhkan berjilid-jilid buku karena sangat banyak dan beragam. Sejumlah ulama telah menuliskan beberapa jilid besar tentang rincian bukti kenabian dan mukjizat Nabi r. Karena itu, di sini kami hanya ingin memberikan sejumlah petunjuk global tentang seluruh jenis mukjizat yang kejadiannya bersifat pasti dan mutawatir secara maknawi. Bukti-bukti kenabian Rasul r terbagi dua: Pertama: Sejumlah kondisi yang disebut dengan istilah irhâsât. Yaitu berbagai kondisi luar biasa yang terjadi sebelum kenabian dan saat beliau lahir. Kedua: Berbagai bukti kenabian lain di mana hal ini terbagi dua jenis: 1. 2.

Peristiwa luar biasa yang terjadi sesudahnya sebagai pembenaran atas kenabian beliau. Peristiwa luar biasa yang terlihat di masa kehidupan beliau yang penuh berkah. Ini juga terbagi dua: a Sejumlah bukti kenabian yang tampak pada pribadinya, sejarah hidupnya, fi siknya, akhlaknya, dan kesempurnaan akalnya. b. Sejumlah hal yang tampak di luar diri beliau, yakni yang terdapat di alam dan cakrawala. Ini juga terbagi dua:

Yaitu yang bersifat maknawi dan berkaitan dengan alQur’an, serta yang bersifat materiil dan berkaitan dengan alam. Jenis terakhir ini terbagi dua pula: Jenis pertama, mukjizat yang terlihat selama fase dakwah beliau. Tujuannya; entah untuk mematahkan sikap keras kepala kaum kafi r, atau untuk menguatkan keimanan kaum beriman. Misalnya, peristiwa terbelahnya bulan, keluarnya air dari jari-jemari beliau, makanan sedikit yang bisa mengenyangkan banyak orang, pembicaraan dengan hewan, pohon, dan batu, serta ber-


Surat Kesembilan Belas

163

bagai mukjizat semisal yang mencapai dua puluh jenis. Masingmasing berada pada tingkat mutawatir maknawi dan masingmasing memiliki banyak contoh yang berulang. Jenis kedua, berbagai peristiwa yang diinformasikan Rasul r sebelum terjadi melalui pemberitaan dari Allah I. Lalu ia tampak dan terwujud persis seperti yang beliau informasikan. Sekarang kita memulai dengan jenis yang terakhir ini untuk sampai kepada indeks yang terangkai dan bersifat umum. 4040

PETUNJUK KEEMPAT Berbagai berita gaib yang diinformasikan oleh Rasulullah

r lewat pengetahuan yang Allah berikan jumlahnya sangat ba-

nyak, tak terhingga. Kami telah menyebutkan sejumlah jenisnya dalam “Kalimat Kedua Puluh Lima” yang secara khusus berbicara tentang kemukjizatan al-Qur’an. Di sana kami telah mengungkapkan berbagai bukti tentangnya. Karena itu, berbagai informasi gaib yang terkait dengan masa lalu dan para nabi terdahulu berikut sejumlah hakikat uluhiyah, hakikat alam, dan hakikat akhirat bisa merujuk kepada “Kalimat” tersebut. Adapun di sini, kami akan mengetengahkan sejumlah contoh informasi gaib yang benar yang terkait dengan berbagai peristiwa yang akan menimpa keluarga Nabi r dan para sahabat f di kemudian hari berikut apa yang akan dialami umat nantinya. Untuk memahami hakikat di atas dengan sempurna, kami akan menerangkan terlebih dahulu enam prinsip sebagai pendahuluan atasnya. Prinsip Pertama Seluruh kondisi dan perilaku Rasul r bisa menjadi dalil atas kebenaran beliau dan sebagai saksi atas kenabiannya. Tetapi, hal itu bukan berarti seluruh kondisi dan perbuatannya luar biasa. Sebab, Allah I mengutus beliau sebagai manusia sekaligus Rasul agar dengan berbagai aktivitas dan perilakunya, beliau menjadi 40 Sayang sekali aku tidak dapat menuliskannya seperti niatku semula. Aku menuliskannya seperti yang terlintas dalam hati tanpa disengaja. Selain itu, aku tidak dapat menjaga rangkaian yang terdapat dalam pembagian di atas―Penulis.


164

AL-MAKTÛBÂT

pemimpin dan pembimbing bagi seluruh manusia dalam semua keadaan mereka. Dengan demikian, hal itu bisa mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat untuk mereka sekaligus menjelaskan berbagai kreasi ilahi yang luar biasa, berikut perbuatan qudrah-Nya dalam sejumlah urusan yang biasa yang sebetulnya juga merupakan mukjizat. Andaikan seluruh kondisi Nabi r luar biasa, berada di luar dimensi manusia, tentu beliau tidak bisa menjadi teladan yang dicontoh serta tidak bisa menjadi panutan bagi yang lain lewat perbuatan dan kondisinya. Karena itu, penampakan mukjizat hanya terjadi sewaktu-waktu, saat dibutuhkan, guna menegaskan kenabiannya di hadapan orang-orang kafi r yang keras kepala. Nah, karena ujian merupakan tuntutan taklif ilahi, maka keberadaan mukjizat tidak memaksa manusia untuk percaya—artinya, tidak membuat manusia mau tak mau harus percaya. Pasalnya, rahasia ujian dan hikmah taklif menuntut pemberian ruang bagi akal untuk memilih. Andaikan mukjizat tampak dalam bentuk aksioma sehingga memaksa akal untuk percaya sebagaimana kondisi aksioma lainnya, tentu ia tidak lagi bisa memilih; tentu Abu Jahal akan segera percaya sebagaimana sikap Abu Bakar d sehingga manfaat dari taklif dan tujuan dari ujian menjadi sirna; serta arang yang hina akan sama dengan berlian yang berharga. Hanya saja, yang membuat heran dan takjub adalah ketika ribuan jenis manusia percaya kepada mukjizat Nabi r, atau dengan ucapannya dan melihat wajahnya, atau dengan berbagai bukti benarnya kenabian beliau yang lain, serta ketika ribuan ulama dan pemikir percaya kepada beliau lewat informasi yang mereka terima tentang benarnya berita yang beliau sampaikan dan keindahan riwayatnya yang dinukil secara sahih dan mutawatir, bukankah aneh jika orang-orang malang pada masa sekarang melihat seluruh dalil yang jelas tersebut seolah-olah masih tidak cukup untuk membuat mereka beriman dan percaya sehingga mereka terjerumus ke dalam lembah kesesatan?


Surat Kesembilan Belas

165

Prinsip Kedua Rasul r merupakan sosok manusia. Beliau berinteraksi dengan manusia beranjak dari posisinya sebagai manusia. Pada waktu yang sama, beliau adalah seorang rasul. Dengan kedudukannya sebagai rasul, beliau menjadi juru bicara yang amanah atas nama Allah serta sebagai penyampai yang jujur atas seluruh perintah-Nya. Risalah yang beliau bawa bersandar pada wahyu. Wahyu itu sendiri terbagi dua: Pertama, wahyu yang bersifat eksplisit, seperti al-Qur’an al-Karim dan sejumlah hadis qudsi. Dalam hal ini, Rasul r hanya sebagai penyampai; tanpa ikut campur sedikitpun. Kedua, wahyu yang bersifat implisit. Yaitu inti sari dan kesimpulannya mengacu kepada wahyu dan ilham. Namun rincian dan deskripsinya kembali kepada Rasul r. Rincian peristiwa yang datang secara global dari wahyu jenis ini, beliau kadang menjelaskannya dengan merujuk kepada ilham dan wahyu, atau beliau menjelaskannya berdasarkan fi rasat pribadi. Penjelasan yang diberikan Rasul r lewat ijtihad beliau ini; entah beliau menyampaikannya lewat kekuatan suci dan mulia yang beliau miliki sesuai dengan posisi beliau sebagai rasul, atau beliau menjelaskannya lewat sifat-sifat kemanusiaan beliau sesuai dengan adat, tradisi, dan persepsi manusia. Demikianlah. Seluruh hadis Nabi r tidak selamanya harus dilihat dalam perspektif wahyu. Juga, tidak perlu mencari jejak kerasulan dalam muamalah dan pemikiran beliau yang berjalan sesuai dengan sifat-sifat manusia. Karena sejumlah kejadian, beliau terima dalam bentuk wahyu secara global dan mutlak, maka beliau mendeskrepsikannya lewat fi rasat pribadi atau sesuai dengan pandangan umum. Jadi, kadangkala diperlukan penafsiran atau bahkan penjelasan atas berbagai perkara samar dan persoalan sulit yang terkandung dalam deskripsi tersebut. Pasalnya, sejumlah hakikat, baru bisa dipahami lewat penjelasan dan perumpamaan.


166

AL-MAKTÛBÂT

Contoh: Suatu ketika, saat sedang duduk bersama Rasul r, orangorang mendengar suara sangat keras. Maka, Rasul r menjelaskan kejadian itu dengan berkata, “Ini adalah batu yang dilemparkan di neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Sekarang ia sudah sampai ke dasar neraka.” 41 Tidak lama sesudahnya, jawabannya pun datang. Yaitu ketika seseorang datang dan berkata, “Seorang munafi k terkenal yang usianya mendekati 70 tahun telah meninggal dunia dan masuk ke neraka. Ini merupakan penjelasan dari perumpamaan (tasybîh) yang disebutkan Rasul r. 41

Prinsip Ketiga Berbagai riwayat yang disampaikan jika bersifat mutawatir berarti kedudukannya kuat dan meyakinkan. Kemutawatiran terbagi dua: Pertama, mutawatir yang jelas atau mutawatir lafzhî. Kedua, mutawatir maknawî. Ini pun terbagi dua: Pertama, bersifat sukûtî. Yaitu menunjukkan sikap menerima dengan cara tidak dibahas dan dipersoalkan. Misalnya, andaikan seseorang menceritakan kepada komunitasnya tentang sebuah peristiwa yang terjadi di hadapannya secara langsung, sementara mereka tidak mengingkari cerita tersebut. Namun mereka menyikapinya dengan cara diam. Ini berarti mereka menerima kejadian tadi. Apalagi jika kejadian itu memiliki kaitan dengan komunitas tersebut di mana mereka siap untuk mengkritik dan membantah, di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak akan mungkin menerima kesalahan, bahkan memandang dusta sebagai keburukan, maka diamnya mereka menunjukkan bahwa kejadian yang mereka dengar memang benar adanya. Kedua, kesepakatan mereka secara bersama-sama terkait dengan informasi yang ada meskipun riwayatnya beragam. Misalnya: Apabila disebutkan bahwa satu ons makanan bisa mengenyangkan dua ratus orang, maka orang-orang yang 41 Lihat: Muslim, bab surga 31, sifat Munafi qin 15; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 2/371, 3/341 dan 346; Ibnu Hibban, Sahih-nya 16/510.


167

Surat Kesembilan Belas

menginformasikan hal tersebut meriwayatkannya dalam beragam bentuk dan ungkapan. Ada yang meriwayatkan “seratus orang”, yang lain mengatakan “tiga ratus”, dan ada pula yang menyebutkan bahwa makanan itu “dua ons” bukan satu ons, demikian seterusnya. Jadi, semuanya sepakat atas kejadian tersebut, yaitu bahwa makanan yang sedikit bisa membuat kenyang banyak orang. Dengan demikian, secara umum kejadian tersebut bersifat mutawatir dilihat dari segi maknanya. Ia melahirkan keyakinan. Perbedaan bentuk riwayatnya tidak berpengaruh. Kadangkala riwayat yang disampaikan secara âhâd (perseorangan) ketika memenuhi sejumlah syarat bisa bersifat qath’i (pasti) sebagaimana riwayat yang mutawatir. Sifat qath’i tersebut kadangkala juga ditunjukkan oleh tanda-tanda eksternal. Demikianlah, sebagian besar dalil kenabian dan mukjizat Rasul r yang kita terima bersifat mutawatir yang jelas (sharîh), maknawî atau sukûtî. Sebagian darinya terwujud lewat berita âhâd. Hanya saja, berdasarkan sejumlah syarat tertentu ia dapat diterima dari para imam ahli hadis yang membidangi Jarh wa Ta’dîl (kritik hadis) sehingga petunjuknya juga bersifat qath’i sebagaimana riwayat yang mutawatir. Tentu saja apabila para muhaddis penulis enam kitab hadis, terutama Imam Bukhârî dan Muslim, di mana mereka merupakan para tokoh besar yang hafal tidak kurang dari seratus ribu hadis, juga apabila ribuan tokoh ulama bertakwa yang melakukan shalat subuh dengan wudhu shalat isya selama lima puluh tahun dari usia mereka42 menerima keabsahan riwayat âhâd, maka sudah pasti riwayat tersebut valid dan kedudukannya tidak kalah dengan riwayat mutawatir. 42

Ya, para ulama ahli hadis dan para pengkritiknya secara khusus menekuni ilmu tersebut sampai ke tingkat di mana mereka secara alamiah dapat mengetahui keluhuran ucapan Rasul r, retorika ungkapan beliau, serta maknanya. Mereka mampu memilah mana hadis Nabi r dan mana yang bukan. Ketika melihat sebuah hadis palsu di antara seratus hadis yang ada, mereka segera menolaknya dengan berkata, “Ini palsu! Ini bukan hadis!” Mereka laksana pedagang valuta mahir (yang mampu membe42

Imam Ghazali, Ihyâ `Ulûm ad-Din, 1/359.


168

AL-MAKTÛBÂT

dakan uang asli dan uang palsu—peny). Demikian halnya dengan para ahli hadis, mereka mampu mengetahui hadis asli dan riwayat palsu yang dimasukkan ke dalamnya. Hanya saja, sebagian ulama telah berlebihan dalam mengkritik hadis. Misalnya Ibnu al-Jauzi yang menilai sejumlah hadis sahih sebagai hadis palsu (maudhu).4343Perlu diketahui, yang dimaksud dengan maudhu (palsu) adalah bahwa ia bukan merupakan perkataan Rasul r; tidak berarti ia batil atau rusak. Pertanyaan: Apa manfaat dari rangkaian sanad (periwayatan) yang panjang di mana ia tidak penting untuk disebutkan dalam sebuah kejadian yang sudah diketahui bersama? Jawaban: Manfaatnya banyak. Sebab, penyebutan sanad yang panjang menjelaskan satu bentuk kesepakatan di antara kalangan perawi terpercaya, jujur, dan diakui. Hal itu menjelaskan adanya semacam relasi dan kesepakatan para ulama di dalam sanad tersebut. Seolah-olah setiap imam yang terdapat di dalamnya ikut menandatangani penilaian atas hadis Nabi r itu sekaligus memberikan label keabsahan atasnya. Pertanyaan: Mengapa berbagai mukjizat Nabi r tidak mendapatkan perhatian serius dalam periwayatannya, berbeda dengan riwayat tentang hukum syariat lain yang diriwayatkan secara mutawatir dan dengan jalur yang beragam? Jawaban: Sebab, sebagian besar manusia sangat membutuhkan hukum-hukum syariat. Ia merupakan fardhu ‘ain bagi mereka karena memiliki hubungan dengan setiap pribadi. Sementara mukjizat tidak dibutuhkan setiap orang pada setiap waktu. Bahkan seandainya dibutuhkan, maka cukup didengar satu kali saja. Ia merupakan fardhu kifayah sehingga biasanya cukup diketahui oleh sekelompok orang. 43 Lihat komentar para imam dan penghafal hadis seperti as-Suyuti, as-Sakhawi, Ibnu Shalah, Ibnu Taimiyyah, al-Laknawi, dan yang lain di seputar sikap Ibnu al-Jauzi yang berlebihan dalam bukunya al-Mawdhû’ât di mana ia memasukkan banyak hadis sahih ke dalam kumpulan hadis maudhû (palsu). Ini bisa dilihat di buku al-Ajwibah al-Fâdhilah lil as’ilah al-asyrah al-Kâmilah karya Abdul Hayy al-Laknawi yang ditahqiq oleh Abdul Fattah Abu Ghuddah di halaman 80, 120, 163, 170. Demikian pula dalam buku ar-Raf ’u wat-Takmil hal. 50-51.


Surat Kesembilan Belas

169

Karena sebab itulah kadangkala kita melihat salah satu mukjizat diriwayatkan secara qath’i jauh melebihi hukum syariat, namun perawinya hanya satu atau dua orang. Sebaliknya, perawi hukum syariat tersebut berjumlah sepuluh atau dua puluh orang.

Prinsip Keempat Sebagian dari peristiwa masa mendatang yang diberitakan Rasul r merupakan peristiwa yang bersifat universal di mana ia terjadi berulang kali dalam waktu yang berbeda-beda. Ia tidak hanya berupa sebuah peristiwa yang bersifat parsial. Rasul r kadang memberitakan peristiwa universal tersebut dalam gambaran parsial dengan menjelaskan sejumlah kondisinya di mana peristiwa universal semacam itu memiliki banyak aspek. Nah setiap kali menyampaikan, beliau hanya menyebutkan satu aspek darinya. Namun ketika semua aspek ini disatukan oleh perawi hadis, ia tampak tidak sesuai dengan realita. Misalnya: Terdapat beberapa riwayat yang berbeda tentang al-Mahdi. Uraian dan penjelasan tentangnya berbeda-beda. 4444Rasul r menginformasikan kemunculan al-Mahdi berdasarkan wahyu guna menjaga kekuatan moral orang-orang beriman di setiap masa, agar mereka tidak jatuh kepada sikap putus asa dalam melihat berbagai kejadian besar, serta untuk mengikat umat dalam sebuah ikatan maknawi lewat silsilah ahlul bait yang bercahaya. Hal itu telah kami tegaskan dalam salah satu ‘dahan’ pada “Kalimat Kedua Puluh Empat”. Dari sini engkau bisa melihat bahwa pada setiap masa terdapat sejenis al-Mahdi dari keturunan ahlul bait sebagaimana yang akan muncul di akhir zaman. Bahkan terdapat sejumlah al-Mahdi. Pada masa al-Mahdi al-Abbasi yang masih termasuk ahlul bait terdapat banyak orang yang tergolong memiliki sifat al-Mahdi besar itu. Demikianlah, sejumlah sifat yang mendahului kemunculan al-Mahdi besar di antara mereka yang memerankannya di setiap masa—seperti para khalifah dan pemimpin yang mendapat 44 Takhrij sejumlah hadis tentang al-Mahdi telah disebutkan dalam “Surat Kelima Belas”.


170

AL-MAKTÛBÂT

petunjuk—berbaur dengan karakter al-Mahdi yang sebenarnya. Maka, terjadilah berbagai perbedaan dalam periwayatannya.

Prinsip Kelima Rasul r tidak mengetahui masalah gaib selama Allah I tidak memberitahukannya. Sebab, yang mengetahui hal gaib hanya Allah I. Beliau hanya menyampaikan kepada manusia apa yang Allah ajarkan kepadanya. Karena Allah bersifat Maha Bijaksana (Hakîm) dan Maha Pengasih (Rahîm), maka hikmah dan rahmat-Nya menghendaki sebagian besar persoalan gaib tetap terbungkus dalam kesamaran. Pasalnya, peristiwa yang tidak menyenangkan bagi manusia di dunia ini lebih banyak daripada yang menyenangkan. Sementara pengetahuan manusia tentang peristiwa tersebut sebelum ia terjadi hanya melahirkan kepedihan. Karena itulah, kematian dan ajal tetap samar dan terselubung; tidak diketahui oleh manusia. Sejumlah musibah dan bencana yang akan menimpa manusia juga terbungkus dalam bingkai kegaiban. Maka, di antara hikmah dan rahmat ilahi, Dia tidak memberitahukan secara utuh dan rinci kepada Nabi-Nya terkait peristiwa dan musibah menyedihkan yang akan dialami oleh keluarga, sahabat, dan umat beliau setelah beliau wafat. Dia hanya memberitakan sejumlah peristiwa penting—sesuai dengan hikmah tertentu—sebagai bentuk informasi yang tidak meresahkan. Hal ini sejalan dengan rahmat dan kasih sayang agung yang beliau curahkan kepada umatnya serta kepada keluarga dan para sahabatnya. Sebagaimana Allah I juga memberikan kabar gembira tentang sejumlah peristiwa menyenangkan di mana sebagiannya bersifat umum dan sebagian lagi bersifat rinci. 45 Maka, beliau memberitakan kepada umatnya apa yang Tuhan informasikan 45

45 Bukti bahwa Allah tidak memberitahukan secara utuh kepada Rasul r bahwa Aisyah g akan terlibat dalam perang Jamal adalah bahwa beliau berkata kepada para isterinya, “Salah seorang di antara kalian akan digonggong oleh anjing galak” Artinya, “Salah seorang di antara kalian akan ikut serta dalam perang tersebut.” Hal itu dimaksudkan agar tidak menodai dan merusak cinta Rasul r yang demikian besar kepada Aisyah g. Namun setelah itu, Allah I memberitahukan peristiwa itu secara umum di mana beliau berkata kepada Ali d, “Tunjukkan sikap yang baik dan berikanlah tempat yang aman untuknya (Aisyah g).” (Penulis). *Lihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 6/52, 6/97, 6/393; al-Haitsami, Majma’ az-Zawâid 7/234; dan al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/411.


Surat Kesembilan Belas

171

kepadanya. Lalu para ahli hadis yang jujur meriwayatkan sejumlah riwayat yang sahih kepada kita. Mereka adalah orang-orang yang sangat bertakwa dan takut terkena ancaman Nabi r:

“Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, bersiaplah ia mengambil tempat di neraka.”46 Mereka juga sangat takut terkena ayat Allah yang berbunyi: 46

“Adakah yang lebih zalim daripada orang yang berdusta atas nama Allah.” (QS. az-Zumar [39]: 32).

Prinsip Keenam Berbagai kondisi dan sifat Rasul r memang telah dijelaskan dalam bentuk biografi dan sejarah. Akan tetapi, sebagian besar kondisi dan sifat tersebut hanya memantulkan sisi kemanusiaan beliau semata. Padahal, sosok maknawi dari pribadi Nabi r yang penuh berkah sangat tinggi. Esensi beliau yang mulia demikian bercahaya. Berbagai kondisi dan sifat yang disebutkan dalam biografi dan sejarah tidak bisa mencapai kedudukan yang tinggi itu. Sebab, sebagaimana kaidah yang berbunyi:

“Perantara sama seperti pelaku,”4747 maka setiap hari sampai saat ini pahala ibadah yang mulia terus ditambahkan ke dalam lembaran amal beliau sebanyak ibadah umatnya. Sebagaimana lewat potensi tak terbatas, beliau memperoleh curahan rahmat ilahi yang tak terhingga dalam bentuk tak terkira, beliau juga setiap hari memperoleh lantunan doa yang tak terhitung dari umatnya yang tak terbilang. Lihat: Bukhari, bab al-‘ilm 38; Muslim, al-Mukaddimah 2-4. Sebuah kaidah yang terambil dari hadis Nabi r, “Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, ia mendapatkan seperti pahala yang didapat pelakunya.” (HR. Muslim). 46

47


172

AL-MAKTÛBÂT

Nabi yang penuh berkah ini yang merupakan buah entitas yang paling sempurna, sosok penyampai informasi tentang Tuhan Pencipta jagad raya, serta sang kekasih Pemelihara alam semesta, kondisi dan sifat kemanusiaannya yang disebutkan oleh kitab sirah dan sejarah tidak mampu mencakup esensi beliau yang sempurna serta tidak mampu mencapai hakikat kesempurnaan beliau. Bagaimana mungkin sosok penuh berkah ini, yang dalam perang badar beliau didampingi dengan setia oleh malaikat ,48 dibatasi oleh kondisi lahiriah atau dijelasJibril dan Mikail kan oleh kejadian manusiawi seperti yang pernah terjadi dengan pemilik kuda di mana Rasul r pernah membeli kuda tersebut darinya, namun ia mengingkari seraya meminta beliau untuk mendatangkan saksi. Lalu seorang sahabat mulia, Khuzaimah d, datang menjadi saksi untuk beliau.” 4949 48

Agar tak seorang pun jatuh dalam kesalahan, maka siapapun yang mendengar berbagai sifat manusiawi Nabi r hendaknya selalu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi untuk melihat hakikat beliau yang sebenarnya dan melihat sosok pribadi maknawi beliau yang bercahaya dalam puncak tingkat kerasulan. Jika tidak, ia akan bersikap lancang serta jatuh ke dalam syubhat dan ilusi. kut:

Untuk menjelaskan persoalan ini, perhatikan contoh beri-

49 Lihat: al-Wâqidi, bab al-Maghâzi 1/78; Ibnu Asâkir, Târîkh Dimasyq 20/321; dan al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân 4/194-195. 49 Diriwayatkan dari Imârah ibn Khuzaimah bahwa pamannya yang merupakan salah seorang sahabat Nabi r menceritakan padanya bahwa Nabi r pernah membeli seekor kuda dari seorang Arab badui. Nabi r meminta Arab badui tadi untuk mengikuti beliau agar harga kuda tadi bisa segera dibayar. Nabi r berjalan dengan cepat, sementara orang Arab badui tadi berjalan dengan lambat. Tiba-tiba ada sejumlah orang yang menghadang Arab badui tersebut dan menawar kudanya. Mereka tidak tahu kalau Nabi r telah membelinya. Maka, Nabi r memanggil Arab badui tersebut. Namun ia malah menjawab, “Jika engkau ingin membeli kuda ini silahkan! Jika tidak, aku akan menjualnya kepada yang lain.” Ketika mendengar jawaban itu Nabi r berkata, “Bukankah aku sudah membelinya?” “Tidak, aku belum menjualnya kepadamu.” “Aku telah membelinya,” ujar Nabi r lagi. Arab badui tadi tetap bersikeras dengan berkata, “Engkau punya saksi?” Maka, Khuzaimah maju dan berkata, “Aku menjadi saksi bahwa engkau telah menjualnya.” Lalu Nabi r menghampiri Khuzaimah dengan berkata, “Dengan apa engkau bersaksi.” “Dengan sikap pembenaran terhadapmu wahai Rasulullah r.” Dalam hal ini kesaksian Khuzaimah seperti kesaksian dua orang laki-laki.” (HR. Abu Daud, an-Nasai, dan Ahmad).


Surat Kesembilan Belas

173

Sebuah benih kurma ditanam di tanah. Lalu ia terbelah memunculkan sebuah pohon kurma yang berbuah dan tinggi. Iapun terus tumbuh dan besar. Contoh lain adalah sebuah telur burung merak di mana darinya keluar sang anak setelah berada dalam kadar panas tertentu. Semakin besar, ia terlihat semakin indah lewat goresan qudrah Tuhan pada seluruh bagiannya dalam bentuk yang menakjubkan. Selain itu, terdapat sejumlah kondisi dan karakter khusus yang melekat pada benih dan telur tersebut. Keduanya menyimpan berbagai materi dan unsur yang sangat halus. Pohon kurma dan burung merak juga memiliki sifat-sifat istimewa dan kondisi yang lebih indah lagi jika dibandingkan dengan sifat-sifat ketika masih berupa benih dan telur. Manakala sifat-sifat benih dan telur dikaitkan dengan sifat-sifat pohon kurma dan burung merak lalu keduanya diingat secara bersamaan, akal manusia harus mengalihkan perhatiannya dari benih kepada pohon kurma; dan dari telur kepada burung merak. Hal itu agar akal dapat menerima sejumlah sifat yang ia dengar. Jika tidak, ia tidak akan percaya kalau ada yang berkata, “Aku telah mendapatkan satu ton kurma dari sekepal benih.â€? Atau, “Telur ini merupakan pimpinan burung.â€? Demikianlah, sisi kemanusiaan Rasul r yang mulia menyerupai benih atau telur dalam perumpamaan di atas. Perumpamaan esensi beliau yang bersinar lewat misi kerasulan sama seperti ketinggian dan kemuliaan pohon Tuba dan burung surga. Karena itu, di saat kita merenungkan konfl ik yang terjadi di pasar dengan Arab badui tadi, kita harus melupakan renungan tersebut lalu membayangkan sosok pribadi beliau yang bercahaya yang bertolak menuju ke jarak antara dua busur (Qâba Qausayni) di belakangatau lebih dekat lagi, dengan meninggalkan Jibril nya. Jika tidak, bisa jadi nafsu ammarah menunjukkan sikap lancang dan kurang etis; atau terjerumus ke dalam sikap ingkar.


174

AL-MAKTÛBÂT

PETUNJUK KELIMA Bagian ini membahas berbagai peristiwa yang terkait dengan perkara gaib. Kami akan menyebutkan sebagian contoh darinya:

Contoh Pertama: Ketika berkhutbah di hadapan para sahabat yang mulia di mana hal ini diriwayatkan dalam hadis yang sahih dan mutawatir, Rasul r berkata:

Anakku ini adalah pemimpin. Semoga dengannya Allah mendamaikan dua kelompok umat Islam.”5050Dalam riwayat lain berbunyi, “Dua kelompok besar”. Ternyata empat puluh tahun kemudian, dua pasukan besar umat Islam bertemu. Ketika itu Hasan d berdamai dengan Muawiyah d. Dengan demikian, perdamaiaan tersebut membuktikan mukjizat gaib sang kakek yang mulia, Muhammad r.

Contoh Kedua: Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Nabi r pernah berkata kepada Ali d:

Engkau akan memerangi kaum pengkhianat, kaum khawarij, dan kaum pembangkang.5151 Jadi, beliau menginformasikan tentang perang jamal, perang siffin, dan pemberontakan khawarij.

Lihat: al-Bukhari, bab as-shulh 9; at-Tirmidzi, al-Manâqib 30; dan Abu Daud 12-13. 51 Lihat: al-Hakim, al-Mustadrak 3/150; al-Bazzar dalam Musnad-nya 2/215; Abu Ya’lâ, al-Musnad- 1/397; dan ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 4/172. 50


Surat Kesembilan Belas

175

Lalu saat Rasul r melihat Zubair mencintai, beliau berkata kepada Zubair:

d dan Ali d saling

nya.

Engkau akan memeranginya dalam kondisi zalim kepada5252

Nabi r berkata kepada para isterinya yang mulia:

Suatu saat nanti, salah seorang dari kalian akan disalak oleh anjing Haw’ab.5353

Sementara di sisi kanan dan kirinya begitu banyak orang terbunuh.5454 Ternyata tiga puluh tahun kemudian sabda-sabda Nabi r tersebut terwujud. Tepatnya pada perang Jamal antara pasukan Ali d dan pasukan Aisyah g disertai alhah d dan Zubair d. Ia juga terwujud dalam perang Siffin antara pasukan Ali d dan pasukan Muawiyah d. Serta terwujud dalam perang Harwara’ dan Nahrawan antara pasukan Ali d dan kaum Khawarij. Nabi r menginformasikan kepada Ali d tentang siapa yang akan membunuhnya. Beliau r bersabda:

Wahai Ali, orang yang akan menebasmu di atas ini sehingga bagian ini basah olehnya.5555 Lihat: Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 7/545; Abu Ya’lâ, al-Musnad 2/29; dan al-Hakim, al-Mustadrak 3/413. 53 Sebuah daerah yang memiliki air, berada di jalan menuju Bashrah dari Madinah. 54 HR. Ibnu Hibban, as-Sahih 15/126; al-Hakim, al-Mustadrak 3/129; dan Ahmad ibn Hambal, Musnad-nya 6/52. 55 HR. an-Nasa’i, as-Sunan 5/153; al-Hakim, al-Mustadrak 3/151; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/263. 52


176

AL-MAKTÛBÂT

Yakni, janggutnya basah oleh darah kepalanya. Dalam hal ini Ali d mengetahui orangnya. Yaitu Abdurrahman ibn Muljam, seorang khawarij. 5656 Selanjutnya, beliau menginformasikan tentang Dzû Tsadyah (lelaki yang memiliki tanda seperti payudara wanita) di mana ia akan berada di antara kaum Khawarij yang terbunuh. Ternyata ia memang terbunuh di antara mereka. Ia adalah seorang lelaki berkulit hitam yang salah satu lengan atasnya seperti payudara wanita. Nah, Ali d menjadikannya sebagai bukti bahwa dirinyalah yang berada pada pihak yang benar. Hal itu mengungkap mukjizat Rasul yang mulia.5757 Dalam riwayat sahih yang berasal dari Ummu Salamah dan yang lain, Nabi r bersabda:

Husein akan terbunuh di af (Karbala).5858 Lima puluh tahun kemudian peristiwa memilukan itupun terjadi sehingga membenarkan informasi gaib yang beliau sampaikan. Selain itu, Nabi r sering menyatakan:

Keluargaku akan mengalami pembunuhan dan pengusiran dari umatku.5959 Apa yang beliau sampaikan benar adanya.

‫٭٭٭‬ Lihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/92; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 5/437. 57 HR. al-Bukhari, al-Manâqib 25; Muslim, bab Zakat 148; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/33. 58 HR. al-Hakim, al-Mustadrak, 3/197; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 3/107. 59 HR. al-Hakim, Mustadrak 4/534; Ibnu Hajar al-Haitsami, ash-Shawa’iq al-Muhriqah 2/527 dan 658; Ibnu Majah, al-Fitan 34; dan Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 7/527. 56


177

Surat Kesembilan Belas

Sebuah Pertanyaan Penting:

Ali d sangat layak dan sangat tepat untuk menjadi khalifah. Ia memiliki kekerabatan dengan Nabi r, memiliki keberanian yang luar biasa, serta memiliki ilmu yang sangat luas. Namun, mengapa bukan dia yang dinobatkan menjadi khalifah pertama? Mengapa kondisi kaum muslimin pada masanya sangat labil? Jawaban: Seorang wali qutub dari kalangan ahlul bait berkata, “Rasul r sebetulnya ingin kalau Ali yang menjadi khalifah (pertama). Namun beliau mengetahui bahwa Allah menghendaki yang lain. Karena itu, beliau mengurungkan keinginannya demi mengikuti kehendak Allah .6060 Berikut ini adalah salah satu hikmah yang terkandung dalam kehendak Allah I di atas: Para sahabat sangat membutuhkan kesepakatan dan persatuan sepeninggal Nabi r. Andaikata Ali d menjadi khalifah (pertama), kemungkinan besar kondisinya yang tidak sejalan dengan yang lain serta kemandirian pendapatnya, sikap zuhudnya yang hebat, kegagahannya yang langka, dan sikapnya yang tidak membutuhkan yang lain, di samping keberaniannya yang luar biasa, bisa memicu munculnya semangat persaingan antar banyak tokoh dan kabilah sehingga menimbulkan perpecahan di antara barisan umat Islam seperti sejumlah fi tnah yang terjadi pada masa kekhalifahannya. Adapun sebab penundaan kekhalifahan Ali nya adalah sebagai berikut:

d, salah satu-

Badai fi tnah telah berhembus di tengah-tengah umat Islam yang terdiri dari sejumlah kaum yang memiliki pemikiran yang beragam di mana masing-masing membawa benih perpecahan hingga menjadi 73 kelompok seperti yang diberitakan Rasul .61 Maka, harus ada satu sosok karismatik, memiliki kekuatan yang 61

Lihat: al-Khatib al-Baghdadi, Târîkh Bagdad 11/213; Ibnu Asâkir, Târîkh Dimasyq 45/322. 61 Lihat: at-Tirmidzi, bab al-Iman 18; Abu Daud, as-Sunnah 1; Ibnu Majah, bab al-Fitan 17; dan ad-Dârimi, as-Sayr 75. 60


178

AL-MAKTÛBÂT

tak tertandingi, keberanian yang luar biasa dan fi rasat yang tajam, serta berasal dari keturunan mulia yakni dari keluarga ahlul bait dan Bani Hasyim agar mampu bertahan dalam menghadapi fi tnah yang ada. Sosok luar biasa tersebut terwujud dalam pribadi Ali d. Dan terbukti dia mampu bertahan dalam menghadapi badai fi tnah itu. Nabi r telah menginformasikan bahwa ia akan berperang demi membela penakwilan al-Qur’an sebagaimana Nabi r berperang demi membela penurunannya. 6262 Kalau bukan karena Ali d, bisa jadi kekuasaan dunia akan memusnahkan dan membinasakan kalangan Umawiyyin serta membuat mereka menyimpang dari jalan yang lurus. Akan tetapi, karena mereka melihat bahwa di hadapan mereka ada Ali dan ahlul bait, mereka berusaha mencapai dan menyaingi kedudukan ahlul bait agar tidak kehilangan martabat dalam pandangan umat. Maka sebagian besar pimpinan Daulah Umawiyah mau tak mau harus mengajak para pengikut mereka untuk menjaga hakikat iman dan menyebarkannya, serta memelihara hukum-hukum al-Qur’an dan Islam meskipun mereka sendiri tidak berbuat apaapa. Karena itu, pada masa kekuasaan mereka terdapat ratusan ribu ulama mahir dan mujtahid, imam hadis, wali salih, serta orang-orang mulia. Andaikan bukan karena sejumlah kemuliaan, kesalihan, dan kewalian yang dimiliki oleh ahlul bait, tentu kalangan Umawiyyin telah tergelincir dan menyimpang dari jalan kebenaran sebagaimana hal itu terjadi di akhir kekuasaan mereka serta sebagaimana juga terjadi pada akhir kekuasaan Abbasiyah. Barangkali ada yang bertanya: Mengapa kekhalifahan tidak bertahan di lingkungan ahlul bait, padahal mereka yang paling berhak atasnya? Jawaban: Kekuasaan dunia bersifat menipu. Sementara ahlul bait bertugas menjaga berbagai hakikat Islam dan hukum-hukum al-Qur’an. Maka, siapa yang memegang kendali kekhalifahan tidak boleh tertipu oleh dunia. Ia harus ma’shûm (terpelihara dari dosa dan kesalahan) seperti Nabi r atau harus orang yang sangat bertakwa dan sangat zuhud seperti khulafa ar-Rasyidin, Umar 62 Lihat: ad-Dailami, al-Musnad 1/49; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/31; dan an-Nasa’i, as-Sunan al-Kubrâ 5/154.


Surat Kesembilan Belas

179

ibn Abdul Aziz, dan al-Mahdi pada masa kekuasaan Abbasiyah. Hal itu agar khalifah tidak terlena dan tertipu. Karenanya, kekuasaan dunia tidak cocok untuk ahlul bait. Sebab, bisa membuat mereka lupa kepada tugas utamanya; yaitu menjaga agama dan berkhidmat untuk Islam. Kekhalifahan Daulah Fatimiyah yang tegak atas nama ahlul bait di Mesir, pemerintahan kaum Muwahhidin di Afrika, Daulah Shafawiyah di Iran, semuanya menjadi bukti bahwa kekuasaan dunia tidak cocok berada di tangan ahlul bait. Sementara ketika meninggalkan kekuasaan dunia tersebut, mereka dengan sangat gigih mengerahkan upaya luar biasa dalam berkhidmat untuk Islam dan mengibarkan panji al-Qur’an. Engkau bisa melihat para wali qutub yang berasal dari keturunan Hasan d; terutama wali qutub yang empat;6363khususnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani . Engkau juga bisa melihat para imam yang berasal dari keturunan Husein d; terutama Zainal Abidin, Ja’far ash-Shâdiq, dan seterusnya. Masing-masing mereka laksana Mahdi maknawi. Mereka melenyapkan kezaliman dan kegelapan maknawi dengan menebarkan cahaya alQur’an dan hakikat iman. Mereka benar-benar membuktikan bahwa mereka merupakan pewaris sang kakek yang paling mulia, Nabi r. Barangkali ada yang bertanya: Apa hikmah dari adanya fi tnah berdarah yang menakutkan yang dialami umat Islam di masa khulafa ar-Rasyidin dan generasi terbaik, padahal musibah itu tidak layak bagi mereka. Di manakah wujud rahmat ilahi di dalamnya? Jawaban: Sebagaimana hujan deras yang disertai angin kencang di musim semi menggerakkan dan menyingkap potensi tersembunyi setiap spesies tumbuhan sehingga menebarkan benih-benih yang ada di mana ia membuat bunga-bunganya mekar dan masing-masing menerima tugas fi trinya, demikian pula dengan fi tnah yang dialami oleh para sahabat dan tabi’in. Fitnah tersebut membangkitkan bakat mereka yang berbeda-beda dan menggerakkan benih potensi mereka yang beragam. Fitnah terse63 Abdul Qadir al-Jailani, Ahmad ar-Rufâ’i, Ahmad al-Badawi, dan Ibrahim ad-Dasûki (dari kitab asy-Syuâ’ât hal. 628)—Peny.


180

AL-MAKTÛBÂT

but mengingatkan setiap kelompok dari mereka bahwa Islam sedang terancam dan bahwa api (fi tnah) akan menyala di tengahtengah barisan umat Islam. Hal ini membuat setiap kelompok berupaya menjaga ajaran Islam dan membela kehormatan iman. Masing-masing mereka memiliki misi pemeliharaan iman dan persatuan Islam. Masing-masing sesuai dengan kadar kemampuannya. Untuk itu, mereka bergerak dengan penuh semangat dan keikhlasan dalam mengemban misi tersebut. Di antara mereka ada yang menjaga (menghafal) hadis Nabi r. Di antara mereka ada yang menjaga pemahaman syariat yang mulia. Di antara mereka ada yang menjaga akidah dan hakikat iman. Serta di antara mereka ada yang menjaga al-Qur’an al-Karim. Demikianlah setiap kelompok memiliki tugas dan kewajiban yang menjadi tuntutan misi pemeliharaan iman dan penjagaan Islam. Masing-masing berusaha keras dalam menjalankan tugas mereka. Maka benih yang ditaburkan oleh “angin kencang” di setiap sudut menjadi bunga-bunga indah yang tumbuh mekar dengan aneka warna di dunia Islam. Sehingga dunia Islam menjadi taman yang penuh dengan mawar dan bunga semerbak lainnya. Namun sangat disayangkan, di tengah-tengah taman indah tersebut muncul pula sejumlah “duri” ahli bid’ah. Seolah-olah tangan qudrah ilahi telah menggoncang era tersebut dengan penuh kehormatan serta menatanya dengan keras sehingga membangkitkan semangat dan mengobarkan perasaan di kalangan kaum yang memiliki semangat keislaman. Gerakan yang bertolak dari pusat itu mendorong banyak para imam mujtahid, muhaddis, hafi dz, orang-orang salih, dan wali qutub untuk melanglang buana ke seluruh penjuru dunia Islam dan menggerakkan mereka untuk berhijrah. Ia juga menggerakkan kaum muslim yang berada di Timur dan Barat serta membuka bashirah mereka untuk meraih perbendaharaan dan khazanah al-Qur’an. Mari kita kembali kepada pembahasan semula. Berbagai persoalan gaib yang disampaikan oleh Rasul r di mana ia terjadi secara nyata mencapai ribuan bahkan lebih. Namun, kami hanya mengemukakan sebagian contoh yang kesahihannya telah disepakati oleh para penulis kitab hadis yang enam


181

Surat Kesembilan Belas

(kutub as-sittah); terutama Imam Bukhari dan Muslim. Bahkan sebagian besar darinya diriwayatkan secara mutawatir dari sisi makna. Para ulama dan peneliti sepakat bahwa kesahihan sebagiannya laksana riwayat yang benar-benar mutawatir. Perawi hadis sahih dan para imam meriwayatkan sejumlah hal yang disampaikan oleh Nabi r kepada para sahabatnya yang didalamnya Nabi r menjanjikan kemenangan atas musuh, Fathu Mekkah,6464penaklukan Baitul Maqdis,6565Yaman, Syam,66Irak,66 dan Khaibar.6767Beliau juga menginformasikan bahwa mereka akan membagi-bagikan harta kekayaan kerajaan Persia dan kekaisaran Romawi; 68 dua imperium paling besar di dunia ketika itu. Selanjutnya, ketika Nabi r memberikan informasi gaib tersebut, beliau tidak mengatakan, “Aku mengira, Aku menyangka, barangkali, dan seterusnya.” Namun beliau menginformasikan berdasarkan pengetahuan yang pasti, seolah-olah ia melihatnya secara langsung. Dan apa yang terjadi persis seperti yang beliau katakan. Padahal, ketika memberikan informasi tersebut, beliau sedang diperintah berhijrah, jumlah sahabat juga sedikit, dan seluruh dunia serta orang-orang yang berada di sekitar Madinah adalah musuh yang terus mengintai dari berbagai sisi. 68

Dalam sebuah riwayat sahih, Rasul paikan:

r seringkali menyam-

Ikutilah dua orang sesudahku; Abu Bakar dan Umar.6969 Dengan sabda di atas, Nabi r menyampaikan bahwa Abu Bakar dan Umar akan memimpin sesudah beliau dan akan menjadi khalifah. Keduanya akan menunaikan tugas kekhalifahan 64 Lihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/484 dan 4/67; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 7/361; dan ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 7/307. 65 Lihat: al-Bukhari, bab al-Jizyah 15; Ibnu Majah, bab al-fi tan 25; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 6/22, 25, dan 27. 66 Lihat: al-Bukhari, bab Fadhâ’il al-Madinah 5; Muslim, bab al-Hajj 496 dan 497. 67 Lihat: al-Bukhari, bab Jihâd 102; Muslim, bab Fadhâ’il ash-Shahâbah 34. 68 Lihat: al-Bukhari, bab jihâd 157; Muslim, bab al-Fitan 75 dan 78. 69 Lihat: at-Tirmidzi, al-Manâqib 16 dan 34; Ibnu Maja,h al-Muqaddimah 11; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 5/382.


182

AL-MAKTÛBÂT

dengan benar dan sempurna sesuai dengan ridha Allah dan Rasul-Nya.70 Kemudian Abu Bakar akan memimpin kekhalifahan dalam masa yang singkat, sementara Umar akan menggantikannya dalam masa yang lebih lama, di mana ia juga akan melakukan banyak penaklukan atas sejumlah wilayah. 70

Rasul r bersabda:

Allah telah melipat bumi untukku. Aku telah melihat penjuru Timur dan Baratnya serta kekuasaan umatku mencapai apa yang terlipat untukku darinya.7171 Ternyata apa beliau katakan benar adanya. Dalam sebuah riwayat sahih, sebelum terjadi perang Badar, Nabi r memberitakan tentang kekalahan kaum kafi r dalam perang Badar. Bahkan beliau menunjukkan tempat terbunuhnya para pembesar mereka:

Abu Jahal (akan) terbunuh di sini, Utbah di sini, Umayyah di sini, si fulan di sini dan seterusnya. 7272 Beliau juga berkata, “Aku sendiri yang akan membunuh Ubay ibn Khalaf.”73 Ternyata yang terjadi seperti yang beliau informasikan. 73

Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa beliau bertutur seperti orang yang menyaksikan para sahabat dan melihat mereka Lihat: al-Manâwi, Faidhul Qadir 2/56; Ibnu Abdil Barr, at-Tamhîd 22/126. HR. Muslim, bab al-Fitan 19; at-Tirmizi, bab al-Fitan 14; Abu Daud, bab al-Fitan 1. 72 HR. Muslim, bab al-Jannah 76 dan al-Jihad 83; Abu Daud, bab al-Jihad 115; an-Nasa’i, bab al-Janâ’idz 117; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/26, 3/219 dan 257. 73 Lihat: Ibnu Ishaq, al-Sîrah 3/310; Ibnu Hisyam, as-Sîrah an-Nabawiyyah 4/33; dan Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 4/46. 70

71


Surat Kesembilan Belas

183

dalam perang Mu’tah, padahal ketika itu keberadaan beliau sejauh perjalanan satu bulan dari perbatasan Syam. Beliau berkata:

Yang memegang bendera adalah Zaid. Namun ia terluka sehingga berpindah kepada Ja’far. Akan tetapi ia juga terluka lalu berpindah kepada Ibnu Rawâhah. Namun ia juga terluka seraya meneteskan air mata. Akhirnya, yang mengambil bendera adalah salah satu pedang Allah (Khalid ibn al-Walid) hingga Allah memenangkan mereka.7474 Beberapa pekan kemudian Ya’lâ ibn Munabbih kembali dari medan peperangan dan sebelum ia menginformasikan apa yang telah terjadi di sana, Rasulullah r menjelaskan peristiwa yang berlangsung dalam perang itu secara rinci. Mendengar hal tersebut, Ya’lâ bersumpah seraya berkata, “Demi Allah, tidak ada satupun peristiwa yang terjadi pada mereka yang tidak kau sebutkan.”7575 Dalam sebuah riwayat sahih beliau bersabda:

Kekhalifahan sesudahku akan berlangsung selama 30 tahun. Lalu setelah itu, akan berubah menjadi monarki yang kejam.7676

74 Lihat: al-Bukhari, al-Jana’idz 4, al-Jihad 7, 77; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/113. 75 Lihat: al-Baihaqi, Dalâ`il an-Nubuwwah 4/365; Ibnu ‘Asâkir, Târîkh Dimasyq 2/12; dan Ibnu Katsir, al-Bidâyah wan-Nihâyah 4/247. 76 Lihat: at-Tirmidzi, bab al-Fitan 48; Abu Daud, as-Sunnah 9; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 5/220. Lihat pula Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-Azhîm 3/302; dan Ibnu Hajar, Fathul Bârî 8/77.


184

AL-MAKTÛBÂT

Urusan ini berawal dengan kenabian dan rahmat. Lalu rahmat dan kekhalifahan. Setelah itu, berupa monarki yang kejam. Lalu berupa despotisme dan kezaliman serta kerusakan pada umat.7777 Nabi r memberitakan jangka waktu tegaknya kekhalifahan ar-Râsyidah; yaitu selama 30 tahun. Kemudian jangka waktu tersebut dilengkapi dengan enam bulan kekhalifahan Hasan d. Setelah itu, yang terjadi secara bergantian adalah kesultanan, kezhaliman, dan kerusakan umat. Dan terbukti bahwa apa yang beliau sabdakan menjadi kenyataan. Dalam riwayat sahih, Rasul r bersabda:

Utsman (akan) dibunuh saat membaca Mushaf (al-Qur’an).7878

Allah hendak memakaikan gamis kepadanya, namun mereka malah ingin melepaskannya.7979 Dan terbukti bahwa apa yang beliau sabdakan menjadi kenyataan. Dalam riwayat sahih yang lain disebutkan bahwa ketika Rasul r berbekam, Abdullah ibn Zubair tidak membuang darah beliau yang mulia, namun ia meminumnya untuk mendapatkan keberkahan darinya. Maka, beliau berkata kepada Abdullah ibn Zubair:

Lihat: ath-ayâlisi, al-Musnad 31; al-Bazzâr, al-Musnad 4/108; Abu Ya’lâ, al-Musnad 2/177. 78 Lihat: al-Hakim, al-Mustadrak 3/110; ad-Dailami, al-Firdaus 5/313. 79 Lihat: at-Tirmidzi, al-Manâqib 18; Ibnu Majah, al-Muqaddimah 11; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 6/75, 86, 114, 149; dan al-Hakim, al-Mustadrak 3/110. 77


185

Surat Kesembilan Belas

Orang-orang akan celaka olehmu dan engkau juga akan celaka oleh mereka.8080 Beliau menginformasikan bahwa Abdullah akan menjadi pemimpin dengan keberanian luar biasa dan juga akan menjadi target serangan yang hebat. Karenanya, banyak musibah dan bencana yang terjadi pada mereka. Dan terbukti bahwa apa yang beliau sabdakan menjadi kenyataan di mana Abdullah ibn Zubair mendeklarasikan diri sebagai khalifah di mekkah di masa pemerintahan Umawiyyin, lalu di dikepung oleh al-Hajjaj ibn Yusuf yang zalim dengan pasukan besar di Mekkah. Setelah melalui pertempuran yang sengit, keberanian yang luar biasa, dan peperangan berdarah. Akhirnya ia tewas; mati syahid. 8181 Nabi r juga menginformasikan “kerajaan Bani Umayyah.”8282Yakni, kemunculan daulah Umawiyyah dan kekuasaan Muawiyah sekaligus memberikan wasiat kepadanya ketika bersabda, “Jika engkau berkuasa, maka tunjukkan kelembutan dan ketulusanmu.”83 Dan mereka akan dipimpin oleh para tiran.88 Serta akan muncul dari mereka orang-orang seperti Yazîd85 dan al-Walîd.8686 83

84

85

Nabi r juga menginformasikan “keluarnya keturunan al-Abbas dengan panji hitam berikut kerajaan mereka yang jauh lebih luas dari kerajaan sebelumnya.” 87 Yaitu bahwa Daulah Abbasiyah akan muncul setelah Daulah Umayyah. Mereka akan 87

Lihat: ad-Daruquthni, as-Sunan 1/228; al-Hakim, al-Mustadrak 3/638; dan Abu Nu`aim, Hilyah al-Auliyâ 1/330. 81 Lihat: ath-abari, Târîkh al-Umam wal Mulûk 3/538; Ibnu Hibban, atsTsiqât 2/316; dan Ibnu ‘Asâkir, Târîkh Dimasyq 28/231. 82 Lihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/80; Abu Ya’lâ, al-Musnad 2/383 dan 11/402; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabîr 12/236 dan 19/38. 83 Lihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/101; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 6/207; ath-abrani, Mu’jam al-Kabîr 19/361; Abu Ya’lâ, al-Musnad 13/370. 84 Lihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 2/385 dan 522; Ibnu ‘Asâkir, Târîkh Dimasyq 46/36. 85 Lihat: Abu Ya’lâ, al-Musnad 2/176; Ibnu ‘Asâkir, Tarikh Dimasyq 63/336, 65/250, 68/41. 86 Lihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/18; al-Hakim, al-Mustadrak 4/539; dan al-Baihaqi, Dalâ`il an-Nubuwwah 6/505. 87 Lihat: al-Qâdhî ‘Iyâdh, asy-Syifâ 338; Na’îm ibn Hammad, al-Fitan 1/203; dan Ahmad ibn Hambal, Fadhâ’il ash-Shahâbah 2/947. 80


186

AL-MAKTÛBÂT

terus berkuasa dalam waktu yang lama. Seluruh yang dinyatakan oleh Rasul r menjadi kenyataan. Dalam riwayat sahih disebutkan pula bahwa beliau bersabda:

Celaka bagi bangsa Arab akibat keburukan yang sudah dekat.8888 Beliau menginformasikan bencana Jengis Khan dan Hulagu Khan, berikut penghancuran mereka atas Daulah Abbasiyah. Dan terbukti bahwa apa yang beliau sabdakan menjadi kenyataan. Dalam sebuah riwayat yang sahih beliau berkata kepada Sa’ad ibn Abi Waqqâs yang ketika itu sedang sakit parah:

Semoga engkau tetap hidup setelahku sehingga sejumlah kaum mendapat manfaat darimu sementara yang lain mendapat bencana.8989 Beliau menginformasikan bahwa ia akan menjadi pemimpin besar di mana lewat dirinya Allah akan menaklukkan sejumlah negeri dan banyak kaum yang mendapat manfaat dengan masuk ke dalam agama Islam. Sementara yang lain akan mendapat bencana di mana negeri mereka akan hancur. Ternyata pernyataan Rasul r menjadi kenyataan. Pasalnya, Sa’ad menjadi pemimpin pasukan Islam dan berhasil menghancurkan Daulah Persia. Ia juga menjadi sebab masuknya banyak kaum dan golongan ke dalam pelukan Islam. Disebutkan pula bahwa Nabi r memberikan kabar duka tentang Najasyi90 pada hari ia meninggal dunia. Yaitu di tahun ke-7 hijriyah. Ketika itu beliau menyalatkannya. Ternyata, sepekan kemudian datang berita bahwa Najasyi wafat pada hari yang diberitakan Rasul r. 90

Lihat: al-Bukhari, al-Fitan 4; Muslim, al-Fitan 1-2. Lihat: al-Bukhari, al-Farâidh 6; Muslim, al-Washiyyah 5. 90 Lihat: al-Bukhari, al-Janâidz 61; Muslim, al-Janâidz 62 dan 64.

88 89


Surat Kesembilan Belas

187

Nabi r bersabda:

Tenanglah, sebab di atasmu terdapat seorang nabi, shiddîq, dan syahîd.9191 Hal itu beliau nyatakan ketika bersama para sahabat mulia di atas gunung Uhud atau di atas Hira92 yang kala itu bergetar. Beliau menginformasikan bahwa Umar, Utsman, dan Ali nantinya akan mati syahid. Kenyataannya seperti yang beliau katakan. 92

lang!

Wahai yang papa, wahai yang hatinya mati, wahai yang ma-

Barangkali engkau menyangka bahwa Muhammad r merupakan sosok jenius sehingga dengan kejeniusannya beliau mengetahui semua persoalan gaib di atas, lalu engkau menutup mata terhadap hakikat kenabian yang cemerlang laksana mentari. Wahai orang malang! Yang kau dengar baru satu bagian dari lima belas macam jenis mukjizatnya yang bersifat universal. Engkau mengetahui bahwa semuanya terdapat dalam sejumlah riwayat sahih dan mutawatir secara maknawi. Yang kau dengar hanya sebagian kecil dari sesuatu yang terkait dengan persoalan gaib. Apakah sesudah manusia mendengar mukjizat ini, ia akan berkata kepada pemiliknya, “Ia adalah sosok jenius yang mampu menyingkap masa depan lewat fi rasatnya”?! Anggaplah kami mengikuti pendapatmu bahwa ia adalah seorang jenius. Tetapi, mungkinkah orang yang memiliki ratusan kali lipat kecerdasan dan kejeniusan luar biasa, pandangannya menjadi rancu? Mungkinkah sosok hebat semacam itu, kemuliaannya menjadi runtuh dengan memberitakan sesuatu yang tidak benar? Bukankah sangat bodoh mengingkari informasi yang disampaikan oleh sosok jenius luar biasa semacam itu terkait dengan kebahagiaan dunia dan akhirat?! 91 Lihat: al-Bukhari, Fadhâ’il ash-hâb an-Nabiy 5 r dan 7; at-Tirmidzi, alManâqib 18; dan Abu Daud, as-Sunnah 8. 92 Lihat: Muslim, Fadhâ’il ash-Shahâbah 50; at-Tirmidzi, al-Manâqib 18.


188

AL-MAKTÛBÂT

PETUNJUK KEENAM Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi r memberitahu putrinya, Fatimah g:

Engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku.93 Maksudnya, ia akan menjadi orang pertama yang meninggal dan menyusul beliau dari kalangan ahlul bait. Enam bulan kemudian apa yang beliau katakan menjadi kenyataan. Disebutkan pula bahwa “Beliau memberitahu Abu Dzar d tentang pengusirannya” dari kota Madinah, serta bagaimana “ia hidup seorang diri, dan meninggal dunia dalam kondisi sendirian.”94 Dua puluh tahun kemudian kondisinya seperti yang beliau katakan. Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi r bangun dari tidur di rumah Ummu Haram (bibi Anas ibn Malik). Lalu beliau tersenyum seraya berkata:

Ada sejumlah orang dari umatku diperlihatkan kepadaku sebagai pejuang di jalan Allah. Mereka mengarungi lautan laksana raja di atas dipan-dipan. (Mendengar hal itu) Ummu Haram berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah agar aku termasuk di antara mereka. Maka, Nabi r berdoa untuknya.95 Lihat: al-Bukhari, al-Manâqib 25; Muslim, Fadhâ’il ash-Shahâbah 99. Lihat: al-Hakim, al-Mustadrak 3/52; Ibnu Hisyam, as-Sîrah an-Nabawiyyah 5/204; Ibnu Hibban, ats-Tsiqât 2/94; dan ath-abari, Târîkh al-Umam wa al- Mulûk 2/184. 95 Lihat: al-Bukhari, bab at-Ta’bîr 12, al-Jihâd 3, 8, 63, dan 75, al-Isti`zân 41; Muslim, al-Imârah 160-161; at-Tirmidzi, al-Jihâd 15; Abu Daud, al-Jihâd 9; an-Nasa`i, al-Jihâd 40; Ibnu Majah, al-Jihâd 10; ad-Dârimi, al-Jihâd 28; al-Muwaththa, bab al-jihad 39; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/240, 263. 93

94


Surat Kesembilan Belas

189

Empat puluh tahun kemudian, ia menyertai suaminya, Ubadah ibn Shamit, untuk membebaskan Cyprus (Siprus) dan meninggal di sana. Saat ini kuburnya di sana, sangat dikenal dan sering diziarahi. Beliau r juga bersabda:

kan.

Di tengah-tengah Tsaqif ada pendusta dan pembuat kerusa96

Beliau memberitahukan tentang al-Mukhtar yang dikenal mengaku sebagai nabi dan penumpah darah, al-Hajjaj, yang zalim di mana ia telah membunuh seratus ribu jiwa. Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi r bersabda:

Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.97 Dengan hadis ini, Nabi r memberitahukan bahwa Istanbul akan ditaklukkan oleh kaum muslimin dan Sultan Muhammad al-Fatih akan memperoleh kedudukan tinggi sebagai “Sebaik-baik pimpinan.” Ternyata hal itu menjadi kenyataan. Dalam riwayat lain Nabi r bersabda:

Andaikan agama ini bergantung pada bintang, tentu ia akan diraih oleh orang-orang dari keturunan Persia.98 96 Lihat: al-Bukhari, at-Târîkh al-Kabîr 3/191, 7/157, 8/416; al-Humaidi, al-Musnad 1/156; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabîr 24/81. Lihat pula Muslim, Fadhâ’il ash-Shahâbah 229; at-Tirmidzi, al-Fitan 44 dan al-Manâqib 73; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 2/26. 97 Lihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/335; ath-abrani, al-Mu’jam alKabîr 2/38; al-Hakim, al-Mustadrak 4/468; al-Bukhari, at-Târîkh al-Kabîr 2/81. 98 Lihat: al-Bukhari, tafsir surah al-Jumu’ah 1; Muslim, Fadhâ’il ash-Shahâbah


190

AL-MAKTÛBÂT

Hadis ini mengarah kepada para ulama dan wali yang berasal dari Persia seperti Imam Abu Hanifah an-Nu’man. Beliau r juga bersabda:

ilmu.

Seorang alim Quraisy memenuhi permukaan bumi dengan 99

Hadis ini mengarah kepada Imam asy-Syafi ’i

.

Beliau r bersabda:

Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Golongan yang selamat adalah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.100 Beliau bersabda:

Qadariyyah adalah Majusi umat ini.101 Yang beliau maksud adalah golongan Qadariyyah yang mengingkari takdir. Beliau menginformasikan tentang kalangan Râfi dhah yang terbagi atas banyak cabang dan golongan. Dalam sebuah riwayat, beliau berkata kepada Ali d yang maknanya, “Engkau seperti Isa . Engkau akan menjadi sebab binasanya dua kelompok manusia: kelompok yang pertama kare230 dan 231. 99 Lihat: at-ayâlisi, al-Musnad hal. 39; Abu Nu`aim, Hilyatul Auliyâ 6/295 dan 9/65; al-Khatîb al-Bagdadi, Tarikh Bagdad 2/60; dan Ibnu Asâkir, Tarikh Dimasyq 51/326. 100 Lihat: at-Tirmidzi, bab al-Iman 18; al-Hakim, al-Mustadrak 1/218. Lihat pula Ibnu Majah, al-Fitan 17; Abu Ya’lâ, al-Musnad 7/155; ath-abrani, al-Mu’jam al-Ausath 8/22. 101 Lihat: Abu Daud, as-Sunnah 16; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 2/86; dan al-Bukhari, at-Târîkh al-Kabîr 2/341.


Surat Kesembilan Belas

191

na terlalu cinta dan yang kedua karena terlalu memusuhi.” 102 Dalam hal ini kalangan Nasrani terlalu berlebihan dalam mencintai Isa sehingga mereka binasa, bahkan melampaui batas yang dibenarkan di mana mereka berkata, “Isa adalah anak Tuhan,” Hasya lillâh. Sebaliknya, Bangsa Yahudi berlebihan dalam memusuhi Isa sehingga mereka mengingkari kenabian dan kedudukannya yang mulia. Demikian pula sekelompok manusia nantinya akan berlebihan dan melampaui batas dalam mencintai Ali d sehingga mereka binasa di mana Nabi r bersabda tentang mereka:

Mereka memiliki gelar yang dilekatkan kepada mereka: yaitu Râfi dhah.103 Sementara kelompok yang lain berlebihan dalam memusuhi Ali d. Mereka adalah kalangan Khawarij serta sebagian kalangan yang berlebihan dalam memberikan loyalitas kepada kaum Umawiyyîn; yaitu Nâshibah. Barangkali ada yang bertanya: Al-Qur’an al-Karim menyuruh untuk mencintai ahlul bait. Nabi r juga menganjurkan hal tersebut. Barangkali cinta tersebut bisa menjadi dalih bagi kalangan syiah. Nah, mengapa kalangan syiah, terutama kaum Rafi dhah tidak bisa mendapat manfaat dari cinta mereka itu dan tidak menolong mereka dari siksa? Namun sebaliknya, mereka justru mendapat siksa lantaran cinta yang berlebihan seperti yang disebutkan dalam hadis Nabi r di atas. Jawabannya: Cinta terbagi dua: Pertama, cinta dalam pengertian harfi . Yaitu mencintai Ali, Hasan, Husein, dan ahlul bait karena kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kecintaan ini menambah kecintaan kepada Rasul r dan bisa menjadi sarana untuk mencintai Allah I. Cinta seperLihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/160; al-Bukhari, at-Târîkh al-Kabîr 3/281; an-Nasa’i, as-Sunan al-Kubrâ 5/137; al-Bazzâr, al-Musnad 3/12; dan Abu Ya’lâ, al-Musnad 1/406. 103 Lihat: ath-abrani, al-Mu’jam al-Ausath 6/355; Abu Nu`aim, Hilyah alAuliyâ 4/329; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/103. 102


192

AL-MAKTÛBÂT

ti ini dibenarkan dalam syariat. Bahkan meskipun berlebihan, ia tidak menimbulkan bahaya. Sebab, ia tidak melampaui batas dan tidak melahirkan sikap mencela dan memusuhi pihak lain. Kedua, cinta dalam pengertian ismi. Yaitu mencintai ahlul bait karena sosok mereka. Yakni, mencintai Ali karena keberanian dan kesempurnaannya, serta mencintai Hasan dan Husein semata-mata karena melihat keutamaan dan fadhilah yang mereka miliki tanpa ingat kepada Nabi r. Bahkan, ada di antara mereka yang mencintai ahlul bait padahal tidak mengenal Allah dan Rasul-Nya. Cinta seperti ini tidak menjadi sarana untuk dapat mencintai Allah dan Rasul-Nya. Karena cinta seperti ini berlebihan, maka ia bisa mengantar kepada sikap mencela dan memusuhi yang lain. Demikianlah, sebagaimana telah disebutkan dalam hadis di atas, sebagian mereka berlebihan dalam mencintai Ali d dan berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar . Akhirnya mereka jatuh pada kerugian besar. Cinta negatif yang semacam ini menjadi sebab yang mendatangkan kerugian bagi mereka. Dalam riwayat yang sahih, Rasul ini dengan sabdanya:

r mengingatkan umat

Manakala umatku berjalan seperti orang sombong dan mereka dilayani oleh puteri Persia dan Romawi, Allah akan mengembalikan derita yang ada kepada mereka lalu kalangan yang jahat dari mereka menguasai kalangan yang baik.104 Tiga puluh tahun kemudian kondisinya seperti yang beliau sabdakan. Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasul kan kepada para sahabatnya:

r menginformasi-

104 Lihat: at-Tirmidzi, bab al-Fitan 74; Ibnu Hibban, ash-Shahîh 15/112; dan ath-abrani, al-Mu’jam al-Ausath 1/48, 4/53.


Surat Kesembilan Belas

193

Khaibar akan ditaklukkan oleh Ali d.105) Keesokan harinya, mukjizat Nabi itupun menjadi kenyataan di luar dugaan. Ali mengambil pintu benteng dan menjadikannya sebagai tameng. Ketika Khaibar berhasil dikuasai, ia melemparkannya ke tanah padahal sangat besar. Bahkan ia tidak bisa diangkat oleh delapan orang atau—dalam riwayat lain—oleh empat puluh orang.106 Nabi r bersabda:

Kiamat tidak akan tegak sebelum dua kelompok besar bertempur, sementara klaim mereka sama.107 Beliau memberitahukan tentang perang yang terjadi di Shiffi n antara kelompok Ali d dan kelompok Muawiyah d. Di antara informasi yang Rasul r sampaikan:

Ammar akan dibunuh oleh kelompok pembangkang.108 Setelah itu benar bahwa ia dibunuh di perang Shiffin. Hadis ini, oleh Ali dijadikan dalil atau bukti bahwa kaum yang loyal kepada Muawiyah merupakan kaum pembangkang. Akan tetapi, Muawiyah menakwilkan atau mempelesetkan makna hadis tersebut. Amr ibn al-Ash berkata bahwa pembangkang itu adalah 105

bah 34.

Lihat: al-Bukhari, Fadhâ’il ash-hâb an-Nabiy 9; Muslim, Fadhâ’il ash-Shahâ-

106 Lihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 6/7; Ibnu Hisyam, as-Sîrah an-Nabawiyyah 4/306; Ibnu ‘Asâkir, Târîkh Dimasyq 42/110; dan ath-abari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk 2/137. 107 Lihat: al-Bukhari, al-istitâbah 7; Muslim, al-Fitan 17. 108 Lihat: Ishak ibn Rahwaih, al-Musnad 4/110; al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/339. Lihat pula al-Bukhari, bab shalat 63 dan bab Jihad 17; Muslim, bab al-Fitan 72 dan 73.


194

AL-MAKTÛBÂT

mereka yang membunuhnya saja; tidak semua dari kami pembangkang. Nabi r bersabda:

Fitnah tidak akan terjadi selama Umar masih hidup. 109 Ternyata keadaannya seperti yang beliau katakan. Ketika Suhail ibn Amr—sebelum masuk Islam—ditawan dalam perang Badar, Umar berkata, “Wahai Rasulullah, ia adalah orang yang pandai bicara. Biarkan aku mencabut dua giginya yang bagian bawah sehingga ia tidak bisa lagi berbicara buruk tentangmu.” Rasulullah r menjawab:

Mudah-mudahan ia nantinya berada dalam posisi yang membuatmu senang wahai Umar. 110 Ternyata demikian adanya di mana ketika Nabi r wafat, saat peristiwa besar yang membuat kesabaran hilang itu terjadi, Abu Bakar d berdiri untuk menghibur kaum muslimin di Madinah. Abu Bakar d meneguhkan hati para sahabat dengan memberikan khutbah yang sangat berkesan. Sementara di Mekkah, Suhail juga berdiri seraya memberikan khutbah seperti Abu Bakar d sehingga kedua khutbah tersebut terekam dalam makna yang sama. Rasul r berkata kepada Suraqah:

Engkau akan dipakaikan gelang (perhiasan) Kisra. 111 109 Lihat: al-Bukhari, bab al-Fitan 17; Muslim, bab al-Fitan 26; dan al-Qâdhî ‘Iyâdh, asy-Syifâ 1/339. 110 Lihat: al-Hakim, al-Mustadrak 3/318; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/367. 111 Lihat: Ibnu Abdil Barr, al-Istî’âb 2/581; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 3/41; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubrâ 6/357; dan asy-Syafi ’i, al-Umm 4/157.


Surat Kesembilan Belas

195

Pada masa Umar d kerajaan Kisra runtuh. Perhiasan miliknya pun tiba dan Umar memakaikan kepada Suraqah seraya berkata:

Segala puji bagi Allah yang telah mengambilnya dari Kisra dan memakaikannya pada Suraqah.112 Hal ini membenarkan apa yang dikatakan oleh Nabi r. Nabi r juga bersabda:

nya.

Jika Kisra binasa, maka tidak akan ada lagi Kisra sesudah113

Ternyata sabda beliau benar. Nabi r menginformasikan kepada utusan Kisra bahwa, “Kisra akan dibunuh oleh anaknya, Syahrawaih.” Ketika utusan tersebut menyelidiki waktu terbunuhnya Kisra, ia yakin bahwa waktu terbunuhnya adalah pada saat yang diberitakan oleh Nabi r. Karena itulah ia kemudian masuk Islam.114 Sebagaimana disebutkan dalam sejumlah riwayat, nama utusan tersebut adalah Fairuz.115 Beliau memberitakan tentang surat Hatib ibn Abi Balta’ah yang mengirim surat secara rahasia kepada kaum kafi r Quraisy. ke suatu tempat Maka, beliau mengutus Ali dan al-Miqdad di mana terdapat seorang wanita yang membawa surat. Beliau menyuruh mereka berdua untuk membawa wanita tersebut ke hadapannya. Ali dan Miqdad pergi dan membawa surat dari tempat yang disebutkan oleh Rasul r. Beliau kemudian memanggil Hatib seraya berkata, “Mengapa engkau melakukan ini?” Hatib 112 Lihat: Ibn Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 5/90; asy-Syafi ’i, al-Umm 4/157; dan al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 4/390. 113 HR. al-Bukhari, bab al-Iman 3; Muslim, bab al-Fitan 75-78. 114 Lihat: Ibnu Hisyam, as-Sîrah an-Nabawiyyah 1/191; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/260; dan al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 4/390-391. 115 Lihat: al-Mâwardi, A’lâm an-Nubuwwah 1/154-155; al-Qâdhî ‘Iyâdh, al-Syifâ 1/343; dan Ali al-Qari, Syarh al-Syifâ 1/700.


196

AL-MAKTÛBÂT

memberikan alasan dan meminta maaf. Dia dimaaan oleh Rasulullah r.116 Ini adalah riwayat yang sahih dan kuat. Disebutkan pula bahwa Nabi r bersabda tentang Utbah ibn Abi Lahab:

Ia akan dimakan oleh anjing Allah.117 Yakni beliau menginformasikan kesudahannya yang sangat buruk. Tidak lama sesudah itu, Utbah pergi menuju Yaman. Lalu datanglah binatang buas dan menerkamnya. Ini membenarkan doa Rasul r atasnya. Dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa, “Ketika fathu Mekkah, Rasul r menyuruh Bilal d untuk naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan. Abu Sufyan ibn Harb, Attâb ibn Usaid, dan al-Harits ibn Hisyam yang merupakan tokoh pimpinan Qurays sedang duduk di halaman Ka’bah. Attâb berkata, “ Bapakku, Usaid, sangat beruntung karena tidak melihat apa yang terjadi hari ini.” Sementara al-Harits berkata, “Apakah Muhammad tidak menemukan seorang muazzin selain orang hitam ini?” Mendengar hal itu Abu Sufyan berkomentar, “Aku tidak akan berkata apa-apa. Sebab, andaikan aku berkata sesuatu, tentu kerikil ini memberitahukan padanya (Nabi r).” Tidak lama kemudian Nabi r mendatangi mereka seraya berkata, “Aku mengetahui apa yang kalian katakan.” Beliau menyebutkan perkataan mereka. Setelah itu, al-Harits dan Attâb berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Tidak ada seorangpun yang mengetahui hal ini selain kami sehingga aku mengatakannya padamu.” 118 Wahai yang tidak percaya kepada Nabi yang mulia ini! Wahai yang masih ingkar! 116 Lihat: al-Bukhari, bab al-Jihad 141, al-Maghâzi 46; Muslim, Fadhâ’il ash-Shahâbah 161. 117 Lihat: al-Hakim, al-Mustadrak 2/588; ath-abari, Jâmi’ul Bayân 27/41; al-Asbahani, Dalâ’il an-Nubuwwah 219; dan al-Manâwî, Faidhul Qadîr 2/395. 118 Lihat: Ibnu Hisyam, as-Sîrah an-Nabawiyyah 5/75, 76; al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl 1/347; dan Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa an-Nihâyah 4/303.


Surat Kesembilan Belas

197

Perhatikan kedua pimpinan Quraisy yang keras kepala ini, bagaimana keduanya langsung beriman karena mendengar satu informasi gaib yang beliau sampaikan. Betapa buruk qalbumu! Engkau mendengar ribuan mukjizat semacamnya dan seluruhnya sangat kuat lewat berbagai jalur yang mutawatir maknawi, namun engkau masih tetap tidak percaya. Mari kita kembali kepada pokok pembahasan. Diriwayatkan bahwa Nabi r “Menginformasikan tentang harta pamannya, Abbas, yang disimpan pada istrinya, Ummu alFadhl. Nah, ketika ditawan dalam perang Badar, ia diminta untuk membayar tebusan, sang paman berkata, “Aku tidak memiliki harta.” Maka, Nabi r menjawab, “Lalu bagaimana dengan harta yang kau simpan pada Ummu al-Fadhl?” Mendengar hal itu al-Abbas berujar, “Yang tahu hanya aku dan isteriku.” Akhirnya ia masuk Islam.119 Diriwayatkan bahwa seorang tukang sihir yahudi, Labîd, menyihir Nabi r. Ia mengikat rambut pada sisir, lalu memasukkan ke sebuah sumur. Maka, Rasul r menyuruh Ali dan para sahabat untuk pergi ke sumur tersebut dan membawa sejumlah perangkat sihir tadi. Merekapun pergi dan membawanya. Setiap kali satu ikatan lepas, Rasul r merasa ringan.120 Diriwayatkan bahwa Rasul r berkata kepada sejumlah sa: habat yang di dalamnya terdapat Abu Hurairah dan Huzaifah

Ada di antara kalian yang gerahamnya di neraka seperti gunung Uhud.121 Beliau menginformasikan murtadnya salah satu dari mereka serta menerangkan kesudahannya yang buruk. Abu Hurairah d berkata, “Mereka itu pun pergi—yakni meninggal dunia—dan 119 Lihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/353; al-Hakim, al-Mustadrak 3/366; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubrâ 6/322; dan Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 4/14. 120 Nash aslinya diriwayatkan oleh al-Bukhari 5/2174 dan Muslim 4/1719. 121 Al-Qâdhî ‘Iyâdh, asy-Syifâ 1/342; as-Suhaili, ar-Radhul Unf 4/355; athabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk 2/278; dan Ibnu Hajar, al-Istî’âb 2/552.


198

AL-MAKTÛBÂT

yang masih hidup hanya aku dan seorang laki-laki. Aku menjadi khawatir. Lalu ia meninggal dalam kondisi murtad pada perang Yamamah.” Dengan demikian, informasi Nabi r terwujud. Terdapat pula riwayat lain tentang “kasus Umair dan Shafwan ketika memberikan kabar dan pesan rahasia padanya untuk membunuh Nabi r” dengan imbalan uang yang banyak. Ketika Umair mendatangi Nabi r dengan maksud membunuhnya, Rasul r mengungkap rahasia tersebut—seraya meletakkan tangan di atas dadanya, ia pun masuk Islam.122 Demikianlah. Informasi gaib yang benar semacam itu sering terjadi. Enam kitab hadis yang terkenal berikut sanadnya menyebutkan hal tersebut. Sebagian besar peristiwa yang disebutkan dalam risalah ini adalah yang bersifat mutawatir maknawi. Keberadaannya pasti dan kuat. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab sahih mereka yang merupakan kitab paling valid setelah al-Qur’an al-Karim seperti pandangan para ulama dan peneliti. Di samping itu, ia juga dijelaskan dalam berbagai kitab hadis sahih lainnya seperti Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasai, Sunan Abu Daud, Mustadrak al-Hakim, Musnad Ahmad ibn Hambal, dan Dalâil al-Baihaqi berikut sanadnya. Wahai yang masih ingkar dan lalai! Jangan asal bicara dengan berkata, “Muhammad r adalah orang yang pintar dan cerdas!” lalu setelah itu engkau pergi begitu saja. Informasi yang benar yang terkait dengan masalah gaib ini tidak terlepas dari dua hal: Engkau bisa jadi berkata bahwa beliau memiliki pandangan yang tajam dan sangat jenius. Dengan kata lain, beliau memiliki mata batin (bashirah) yang bisa melihat masa lalu dan masa depan secara bersamaan berikut seluruh alam. Dengan itu, beliau bisa melihat segala hal dan segala peristiwa. Seluruh penjuru bumi dan seluruh alam, baik di Timur maupun di Barat, berada dalam jangkauan penglihatannya. Beliau memiliki kecerdasan luar biasa sehingga bisa menyingkap semua peristiwa masa lalu dan masa depan. Kondisi ini sebagaimana yang kau ketahui tidak mungkin 122 Lihat: ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabîr 17/56-62; Ibnu Hisyam, as-Sîrah an-Nabawiyyah 3/147-148.


Surat Kesembilan Belas

199

dimiliki manusia. Jika ia terdapat pada seseorang, berarti orang tersebut luar biasa dan memiliki kemampuan hebat yang diberikan oleh Tuhan semesta alam. Itulah sebenarnya mukjizat. Atau engkau harus percaya bahwa sosok mulia tersebut merupakan pesuruh dan murid yang menerima petunjuk dan taklimat dari Dzat yang bisa melihat segala sesuatu di mana Dia memiliki qudrah untuk bertindak apa saja di alam ini di sepanjang zaman. Segala sesuatu tertulis dalam lauhil mahfudz-Nya. Dari sana Dia mengajari “murid-Nya” tentang apa yang Dia kehendaki dan kapan Dia kehendaki. Dengan demikian, Muhammad r menerima pelajaran dari guru azalinya, Allah I, sekaligus menyampaikannya. Dalam riwayat disebutkan pula bahwa saat Nabi r mengirim Khalid ibn al-Walid untuk memerangi Ukaidir, pemimpin Daumah al-Jandal,123 beliau berkata kepadanya:

Engkau akan mendapatinya sedang memburu sapi (liar).124 Beliau juga memberitahu bahwa ia akan membawanya sebagai tawanan tanpa ada perlawanan. Khalid pergi dan ia melihatnya dalam kondisi seperti yang dikatakan oleh Rasul r. Iapun membawanya sebagai tawanan. Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi r memberitahu “Kaum Quraiys bahwa rayap memakan sahifah mereka yang menjadi kebanggaan mereka atas Bani Hasyim dan menjadi sebab putusnya silaturahim di mana rayap tersebut hanya menyisakan setiap nama milik Allah. Ternyata mereka melihat sendiri bahwa apa yang disampaikan Rasul r benar adanya.”125 Sahifah atau lembaran tersebut digantung di Ka’bah. 123 Daumah al-Jandal adalah wilayah antara Mekkah dan telaga Ghamamah, atau antara Hijaz dan Syam. 124 Ibnu Hisyam, as-Sîrah an-Nabawiyyah 5/207-208; al-Baihaqi, as-Sunan alKubrâ 9/187; Ibnu Hibban, ats-Tsiqât 2/97; dan ath-abari, Târîkh al-Umam 2/185. 125 Lihat: Ibnu Ishaq, as-Sîrah 2/147; Ibnu Hisyam, as-Sîrah an-Nabawiyyah 2/221; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/188, 189, 208, 209; dan ath-abari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk 1/553.


200

AL-MAKTÛBÂT

Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi r memberitahukan tentang munculnya wabah di saat penaklukan Baitul Maqdis. 126 Pada masa Umar d wabah penyakit menyebar secara luas di mana jumlah mereka yang meninggal dunia akibat sakit mencapai 70 ribu orang selama tiga hari.127 Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi r menginformasikan keberadaan Bashrah 128 dan Bagdad sebelum keduanya dibangun. Beliau juga menginformasikan pengumpulan harta kekayaan yang ada di bumi menuju kota Bagdad. 129 Nabi r memberitahukan tentang “peperangan mereka dengan Turki” 130 dan sejumlah umat di sekitar laut Hazar di mana sesudah itu sebagian besar mereka masuk ke dalam Islam. Serta beliau menginformasikan bahwa nantinya mereka akan menguasai Arab di mana beliau berkata:

Sebentar lagi bangsa asing (di luar Arab) memiliki jumlah yang besar di tengah-tengah kalian. Mereka akan mengambil upeti kalian dan memenggal leher kalian.131 Beliau bersabda:

Binasanya umatku di tangan kura-kura Quraisy.132 126 Lihat: al-Bukhari, al-Jidzyah 15; Ibnu Majah, al-Fitan 25; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 6/22, 25, dan 27. 127 Lihat: Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 3/283; ath-abari, Târîkh alUmam wa al-Mulûk 2/448; Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa an-Nihâyah 7/55-58; dan al-Manawi, Faidhul Qadîr 4/95. 128 Lihat: Abu Daud, al-Malâhim 10; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 5/44; ath-ayâlisi, al-Musnad 117; dan Ibnu Hibban, ash-Sahih 15/148. 129 Lihat: al-Khatîb al-Bagdadi, Târîkh al-Bagdad 1/28-33, 10/203, 14/54; ad-Dailami, al-Musnad 2/73. 130 Lihat: al-Bukhari, bab al-Jihâd 95, 96, al-Manâqib 25; Muslim, bab al-Fitan 63-66. 131 Lihat: Ma’mar ibn Rasyid, al-Jâmi’ 11/385; al-Bazzar, al-Musnad 6/359, 7/291; dan al-Hakim, al-Mustadrak 4/557, 564. 132 Lihat: al-Bukhari, bab al-Fitan 3; Muslim, al-Fitan 74; dan Ahmad ibn


Surat Kesembilan Belas

201

Yang beliau maksud adalah Yazid, al-Walid, dan sejumlah pimpinan jahat dari Umawiyyin yang seperti mereka. Beliau juga menginformasikan sikap murtad sejumlah orang di sejumlah tempat sebagaimana yang terjadi di Yamamah. 133 Saat perang Khandaq Rasul r bersabda:

Bangsa Quraisy dan sejumlah pasukan koalisi tidak akan pernah menyerangku. Akulah yang menyerang mereka.134 Kenyataannya demikian. Disebutkan pula bahwa dua bulan sebelum meninggal dunia, Nabi r bersabda:

Seorang hamba diberi pilihan. Lalu ia memilih apa yang berada di sisi Allah.135 Beliau memberitahukan tentang kabar kematiannya. Terkait dengan Zaid ibn Shauhan beliau bersabda:

Ada anggota badan yang mendahuluinya menuju surga. Tangannya terputus dalam jihad.136 Ternyata tangan tersebut menjadi syahid dalam perang Nahawand dan mendahuluinya masuk surga.

‫٭٭٭‬

Hambal, al-Musnad 2/299, 485, dan 520. 133 Lihat: al-Bukhari, al-Manâqib 25, al-Maghâzi 70-71; Muslim, bab ar-Ru’yah 21-22. 134 Lihat: al-Bukhari, bab al-Maghâzi 29; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/262, 6/394; ath-ayâlisi, al-Musnad 182; dan ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabîr 7/98. 135 Al-Bukhari, bab Fadhâ’il ashâb an-Nabiy 3; Muslim, Fadhâ’il ash-shahabah 2. 136 Al-Qâdhî ‘Iyâdh, al-Syifâ 1/343; al-Mâwardi, A’lâm an-Nubuwwah 1/121. Lihat: Abu Ya’lâ, al-Musnad 1/393; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/416.


202

AL-MAKTÛBÂT

Demikianlah, seluruh informasi gaib yang telah kami ketengahkan baru satu jenis saja dari sepuluh jenis mukjizat Nabi r. Dari jenis itupun kami hanya menyebutkan sebagian kecilnya saja. Kami telah menjelaskan secara global empat jenis informasi gaib ini dalam “Kalimat Kedua Puluh Lima” yang secara khusus berbicara tentang kemukjizatan al-Qur’an. Sekarang perhatikanlah jenis informasi di atas. Lalu gabungkan dengan keempat jenis lain yang beliau sampaikan lewat lisan al-Qur’an. Perhatikan dan lihat bagaimana ia membentuk satu argumen dan bukti yang kuat dan bersinar terhadap ar-Risâlah (kerasulan Muhammad r) di mana orang yang akal dan qalbunya masih sehat akan memahami dan membenarkan bahwa Nabi yang mulia tersebut adalah utusan yang menginformasikan hal gaib dari sisi Pencipta segala sesuatu dan dari Dzat Yang Maha Mengetahui seluruh perkara gaib.

PETUNJUK KETUJUH Kami akan menunjukkan sejumlah contoh dari mukjizat Nabi r yang terkait dengan keberkahan makanan yang diriwayatkan secara sahih dan kuat serta mutawatir secara maknawi. Menurut kami sangat tepat kalau sebelum masuk ke dalam pembahasan diawali dengan sebuah pendahuluan.

Pendahuluan Berbagai contoh yang akan diberikan seputar mukjizat keberkahan makanan, semuanya telah diriwayatkan lewat banyak jalur. Bahkan sebagiannya diriwayatkan lewat enam belas jalur periwayatan. Sebagian besar contoh tersebut terjadi di hadapan banyak sahabat yang mulia yang tidak mungkin berdusta di mana mereka memiliki tingkat kejujuran dan amanah yang sangat tinggi. Sebagai contoh, dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada tujuh puluh orang yang makan dari satu shâ’137 dan semuanya merasa kenyang. Ketujuh puluh orang sahabat tersebut mendeShâ` adalah satuan ukuran isi (takaran) yang sama dengan empat mud. Sementara satu mud setara dengan 510 gram. Jadi, satu shâ’ (510 x 4 = 2,04) kilogram (al-Makâyîl wa al-Mawâzîn asy-Syar’iyyah karya Syekh Ali Jum’ah, hal.20)―Peny. 137


Surat Kesembilan Belas

203

ngar riwayat yang disebutkan oleh salah seorang dari mereka dan mereka tidak menentang atau mengingkarinya. Dengan kata lain, mereka semua membenarkan lewat sikap diam mereka. Para sahabat yang mulia berada dalam puncak kejujuran dan kebenaran karena mereka hidup dalam masa terbaik dan mereka terjaga dari hal yang batil. Andaikan salah satu dari mereka melihat kebohongan walau sedikit saja dalam pembicaraan yang ada, tentu mereka tidak akan tinggal diam; mereka pasti akan menolak. Karena itu, riwayat yang akan kami sebutkan, di samping diriwayatkan lewat banyak jalur, para sahabat yang lain bersikap diam sebagai tanda pembenaran. Seolah-olah banyak sahabat yang meriwayatkan. Mereka yang diam sama seperti mereka yang meriwayatkan. Dengan begitu, riwayat tersebut menjadi kuat seperti riwayat yang mutawatir secara maknawi. Sejarah—khususnya riwayat hidup—menjadi saksi betapa para sahabat yang mulia setelah menghafal al-Qur’an, mereka menghafal hadis, yakni kondisi, perbuatan, dan ucapan Nabi r, baik yang terkait dengan hukum syariat ataupun mukjizat. Mereka tidak mengabaikan sekecil apapun gerak dari sejarah perjalanan hidup beliau yang penuh berkah. Mereka sangat perhatian dengan riwayat tentangnya serta mencatatkannya dalam lembaran catatan yang mereka miliki; terutama tujuh sahabat yang bernama Abdullah; khususnya penafsir al-Qur’an, Abdullah ibn Abbas, dan Abdullah ibn Amr ibn Ash. Demikianlah hadis terpelihara pada masa sahabat yang mulia hingga datang masa tokoh tabi`in 30 atau 40 tahun sesudahnya. Para tabi`in menerima hadis-hadis tersebut dalam kondisi segar dan menjaganya dengan penuh amanah dan ketulusan. Setelah itu, para imam mujtahid serta ribuan ahli hadis mencatat dan meriwayatkannya dari mereka. Mereka menjaganya lewat penulisan dan pembukuan. Lalu dua ratus tahun kemudian para penulis enam kitab hadis sahih yang terkenal itu—terutama al-Bukhari dan Muslim—menerimanya. Selanjutnya, tiba tugas dari para pengkritik hadis dan peneliti kehidupan perawi (Ahlu al-Jarh wa at-Ta’dîl). Di antara mereka ada yang sangat tegas dan ketat seperti Ibnu al-Jawzi di mana mereka


204

AL-MAKTÛBÂT

memisahkan hadis-hadis palsu yang dibuat-buat oleh kaum fasik dan bodoh dari hadis yang sahih. Sesudah mereka, menyusul para ulama mulia yang bertakwa dan warak seperti Jalaluddin asSuyuthi, seorang ulama brilian dan imam yang mendapat kehormatan berdialog dengan Rasul r dan berhadapan dengan beliau dalam kondisi terjaga sebanyak tujuh puluh kali sebagaimana hal itu dibenarkan oleh para wali ahli kasyaf. Para ulama yang bertakwa dan warak itu membedakan antara nash-nash hadis sahih dari seluruh hadis yang palsu dan ucapan lain. Begitulah hadis dan sejumlah mukjizat yang akan kita bahas, sampai pada kita dalam kondisi valid dan benar setelah diterima oleh tangan-tangan amanah yang jumlahnya tak terhingga.

Segala puji bagi Allah. Ini adalah karunia Tuhan. Karena itu, tidak boleh terlintas dalam hati, “Bagaimana kita tahu bahwa berbagai peristiwa yang telah terjadi sejak lama tetap terpelihara dari penyimpangan?”

Sejumlah Contoh Seputar Keberkahan Makanan Contoh Pertama: Enam penulis kitab hadis sahih, terutama al-Bukhari dan Muslim, sepakat dengan kesahihan hadis Anas d yang berbunyi, “Nabi r menjadi pengantin baru dengan Zaenab. Maka ibuku, Ummu Sulaim, mengambil kurma, minyak samin, dan keju. Kemudian ia membuat haisah (semacam bubur) dan meletakkannya di periuk. Lalu ia berkata, ‘Wahai Anas, Bawalah makanan ini kepada Rasulullah! Katakan, “Ibuku sengaja membuatnya untukmu. Dia juga mengirim salam dan meminta maaf karena makanannya hanya sedikit.” Akupun pergi dan menyampaikan pesan ibuku. Nabi r bersabda, ‘Letakkanlah! Lalu undang fulan, fulan, dan fulan.’ Beliau menyebut sejumlah orang. ‘Undanglah siapa saja yang kau jumpai!’ ujar beliau. Maka, aku segera mengundang nama-nama yang beliau sebut berikut setiap orang yang kujumpai. Ketika kembali, rumah itu sudah penuh.”


Surat Kesembilan Belas

205

Ada yang bertanya kepada Anas, “Berapa jumlah kalian ketika itu?” Anas menjawab, “Sekitar 300 orang.” “Aku melihat Nabi r meletakkan tangannya pada bubur tadi dan mengucap sesuatu seperti yang Allah kehendaki. Setelah itu, beliau memanggil sepuluh orang sepuluh orang untuk makan darinya. Beliau berkata kepada mereka, ‘Sebutlah nama Allah dan hendaknya setiap orang memakan yang dekat dengannya.’ Merekapun makan sampai kenyang. Sekelompok orang keluar dan sekelompok lainnya masuk sampai semuanya makan. Sesudah itu, Rasulullah berkata kepadaku, ‘Wahai Anas, angkatlah!’ Saat kuangkat, aku tidak mengetahui apakah lebih banyak ketika kuletakkan atau ketika kuangkat.”138 Contoh Kedua: Nabi r bertamu ke rumah Abu Ayyub al-Anshari. Suatu hari “Abu Ayyub membuat makanan secukupnya untuk Rasul r dan Abu Bakar d. Lalu Nabi r berkata kepadanya, “Panggillah 30 orang pembesar kaum Anshar!” Iapun memanggil mereka. Maka, mereka makan sampai selesai. Setelah itu Nabi r bersabda, “Panggillah 60 orang!” Kondisinya sama seperti sebelumnya. Beliau kembali bersabda, “Panggillah 70 orang!” Maka mereka makan sampai selesai. Begitu keluar, setiap orang dari mereka masuk Islam dan berbaiat. Abu Ayyub berkata, “Yang memakan makananku sekitar 180 orang.” 139 Contoh Ketiga: Hadis yang diriwayatkan oleh Salamah ibn al-Akwa’, Abu Hurairah, Umar ibn al-Khattab, dan Abu Amrah al-Anshari f. Mereka menyebutkan bahwa pasukan Islam kelaparan dalam suatu peperangan. Beberapa orang di antarannya mendatangi Rasulullah r. Ketika itu Nabi r meminta sisa perbekalan yang ada. Kemudian seseorang datang dengan membawa dua genggam makanan atau lebih. Yang paling banyak membawa satu gantang kurma. Semuanya dikumpulkan di atas tikar kulit. Salamah berLihat: al-Bukhari, bab nikah 64; Muslim, bab nikah 94,95; dan al-Qâdhî ‘Iyâdh, asy-Syifâ 1/297. 139 HR. ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabîr 4/185; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/94; dan Ibnu Abdil Barr, at-Tamhîd 1/295. 138


206

AL-MAKTÛBÂT

kata, “Aku menaksir banyaknya. Ia hanya seperti kambing yang sedang duduk. Lalu Nabi memanggil orang untuk membawa wadah mereka. Tidak ada satupun pasukan kecuali wadahnya terisi penuh. Sisanya sebanyak yang pertama atau lebih.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa, “Andaikan penduduk bumi datang, pasti masih cukup untuk mereka.”140 Contoh Keempat: Dalam sejumlah kitab hadis sahih, terutama sahih Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Abdurrahman ibn Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Kami berjumlah 130 orang sedang bersama Nabi r dalam sebuah perjalanan.” Dalam hadis disebutkan bahwa ada satu gantang gandung yang dibuat adonan serta seekor kambing yang hatinya dipanggang. Abdurrahman ibn Abu Bakar berkata, “Demi Allah, seluruh orang yang berjumlah 130 itu mendapatkan potongan hati kambing tadi. Makanan tersebut dibagi dalam dua talam. Lalu kami semua memakannya. Sementara sisa yang terdapat pada dua talam itu kubawa di atas unta.”141 Contoh Kelima: Dalam sejumlah kitab sahih terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Jabir terkait saat Rasul r memberikan makanan pada perang Khandak kepada seribu orang hanya dari satu gantang gandum dan kambing muda. Jabir d berkata, “Demi Allah, mereka semua makan sampai kenyang dan pergi. Periuk kami mendidih seperti biasa dan adonan kamipun menjadi roti.” Rasul r telah meletakkan ke dalam adonan tadi air seraya mendoakan keberkahan untuknya. 142 Dengan bersumpah, Jabir mengumumkan mukjizat keberkahan yang ada di tengah-tengah seribu sahabat seraya memperlihatkan keterkaitan mereka dengannya. Riwayat ini sangat kuat seolah-olah seribu orang yang meriwayatkannya.

19.

140

Lihat: al-Bukhari, bab asy-syarikah 1, al-jihâd 123; Muslim, bab al-luqathah

141

Lihat: al-Bukhari, al-Hibah 28, al-ath’imah 6; Muslim, al-Asyribah 175. HR. al-Bukhari, bab al-maghâzi 29; Muslim, al-asyribah 141.

142


Surat Kesembilan Belas

207

Contoh Keenam: Dalam kitab sahih disebutkan bahwa Abu alhah, paman dari pelayan Nabi r (Anas d), berkata, “Rasul r telah memberi makan berupa roti yang sedikit kepada sekitar 80 orang sampai mereka kenyang. Beliau menyuruh untuk memotong-motong roti tadi seraya berdoa meminta keberkahan. Karena rumahnya sempit bagi mereka, akhirnya mereka makan sepuluh orang-sepuluh orang. Kemudian mereka semua pulang dalam kondisi kenyang.” 143 Contoh Ketujuh: Dalam Sahih Muslim dan kitab asy-Syifâ serta yang lain disebutkan bahwa Jabir al-Anshari berkata, “Seorang lelaki mendatangi Nabi r untuk meminta makan kepada beliau. Maka, beliau memberinya setengah pikul gandum. Iapun memakannya bersama isteri dan tamunya. Kemudian ia menakarnya” untuk mengetahui yang berkurang darinya. Ternyata keberkahannya hilang. Ia sedikit demi sedikit berkurang. Maka, orang itupun mendatangi Nabi r dan memberitahukan apa yang terjadi. Nabi r bersabda, “Andaikan engkau tidak menakarnya, tentu engkau akan tetap bisa makan darinya dan bisa menopang hidupmu.” 144 Contoh Kedelapan: Sejumlah kitab sahih seperti Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, Dalâil al-Baihaqi dan kitab asy-Syifâ menjelaskan, “dari Samurah ibn Jundab bahwa Nabi r membawa satu talam berisi daging. Maka para sahabat datang secara bergiliran dari pagi hingga malam. Rombongan demi rombongan bergantian. 145 Seperti yang telah dijelaskan dalam pendahuluan, peristiwa seputar keberkahan makanan di atas tidak hanya riwayat Samurah. Namun seakan-akan ia mewakili sejumlah sahabat yang memakan makanan tersebut. Ia menyampaikan riwayat tentangnya sebagai wakil dari mereka. HR. al-Bukhari, al-manâqib 25, al-ath’imah 6, 48; Muslim, al-asyribah 142. HR. Muslim, al-Fadhâ’il 9; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/337, 347; dan al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/114. 145 HR. at-Tirmidzi, al-manâqib 5; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 5/12, 18; ad-Dârimi, al-muqaddimah 9; dan an-Nasâi, as-Sunan al-Kubrâ 4/170. 143

144


208

AL-MAKTÛBÂT

Contoh Kesembilan: Para perawi terpercaya seperti penulis asy-Syifâ (al-Qâdhî `Iyâdh), Ibnu Abi Syaibah, dan al-abrani dengan sanad yang baik, demikian pula para tokoh ulama meriwayatkan bahwa Abu Hurairah d berkata, “Nabi r menyuruhku untuk memanggil Ahlu Suffah (kalangan fakir miskin dari para muhajirin yang berjumlah sekitar 100 orang) di mana mereka menjadikan suffah (teras) masjid sebagai tempat tinggal. Akupun memanggil dan mengumpulkan mereka. Lalu sebuah wadah diletakkan di hadapan kami. Maka, kami memakannya sesuka kami hingga selesai. Namun ia masih tersisa sebanyak ketika diletakkan. Hanya saja, terdapat bekas jari padanya.”146 Abu Hurairah mengetengahkan riwayat tersebut atas nama seluruh Ahlu Suffah (para sahabat yang tinggal di teras masjid) dengan bersandar pada pembenaran mereka. Jadi, ia adalah riwayat yang sangat kuat. Seolah-olah semua Ahlu Suffah meriwayatkannya. Mungkinkah berita tersebut tidak benar lalu didiamkan oleh orang-orang yang sangat jujur itu; tanpa ada yang menyangkalnya?! Contoh Kesepuluh: Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Imam Ali d berkata, “Pada suatu hari Rasulullah r mengumpulkan Bani (anak cucu) Abdul Muttalib yang berjumlah 40 orang. Di antara mereka ada yang bisa makan daging seekor anak unta dan meminum 4 kilo susu. Lalu beliau membuatkan satu mud147 makanan. Mereka semua memakannya hingga kenyang. Ternyata ia masih tersisa seperti sediakala. Kemudian beliau menghadirkan satu wadah susu yang mestinya hanya cukup untuk 3 atau empat orang. Namun mereka semua meminumnya hingga kenyang. Itupun masih tersisa seperti semula seakan-akan belum diminum.” 148

HR. Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 6/315; ath-abrani, al-Mu’jam al-Ausath 3/195; dan Ibn Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/256. 147 Mud adalah satuan ukuran isi yang setara dengan 510 gram. 148 HR. Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/159; Fadhâ’il ash-Shahâbah 2/712; ath-abari, Jâmi’ul Bayân 19/122; dan al-Qâdhî ‘Iyâdh, al-Syifâ 1/293-294. 146


Surat Kesembilan Belas

209

Ini adalah sebuah contoh mukjizat keberkahan makanan seperti kepastian keberanian dan kejujuran Ali d. Contoh Kesebelas: Dalam riwayat yang sahih, ketika Nabi r menikahkan Ali d dengan Fatimah, disebutkan bahwa beliau menyuruh Bilal

untuk menghadirkan satu nampan (makanan) seukuran 4 atau lima mud, lalu menyembelih seekor anak unta untuk resepsinya. Bilal berkata, “Akupun datang dengan membawa apa yang beliau minta. Ia menancap kepala unta yang sudah dipotong tersebut lalu menyuruh mereka untuk makan secara bergiliran sampai selesai. Kemudian sisanya beliau bacakan doa dan beliau minta untuk dikirim kepada para isterinya. Beliau berkata, “Makanlah dan beri makan pula orang yang bersama kalian!” 149 Benar! Pernikahan di atas layak untuk mendapatkan keberkahan menakjubkan semacam itu. Contoh Kedua Belas:

Ja’far ash-Shâdiq meriwayatkan dari ayahnya, Muhammad al-Bâqir, dari kakeknya, Zaenal Abidin, dari Ali d bahwa “Fatimah memasak satu periuk untuk mereka berdua. Kemudian Fatimah menyuruh Ali untuk menemui Nabi r agar ikut makan bersama mereka. Maka, Nabi r menyuruh Fatimah untuk memberikan pula kepada semua isterinya masing-masing satu piring. Lalu untuk beliau sendiri, untuk Ali d dan untuk Fatimah. Ketika periuk tadi diangkat ternyata masih banyak. Fatimah berkata, “Kamipun memakannya mâsyâ Allâh.”150 Karena itu, sungguh aneh jika engkau wahai manusia masih tidak mempercayai mukjizat cemerlang tersebut padahal engkau telah mendengar bahwa para perawi hadis di atas berasal dari silsilah yang suci. Bahkan setan sekalipun tidak menemukan celah untuk mendustakannya.

HR. Abdurrazzaq, al-Mushannaf 6/315; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabîr 22/411, 24/133. 150 Ibnu Sa`ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/186-187; al-Qâdhî ‘Iyâdh, asy-Syifâ 1/294; Ibnu al-Jawzi, al-Muntazham 3/88; dan Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur`an 1/361. 149


210

AL-MAKTÛBÂT

Contoh Ketiga Belas: Para tokoh perawi seperti Abu Daud, Ahmad ibn Hambal, dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Dukain al-Ahmasi ibn Sa’ad al-Muzayyin serta dari sahabat yang mendapatkan kehormatan bersama enam saudaranya dengan menjadi sahabat Nabi r, yaitu Nu’man ibn Muqarin al-Ahmasi al-Muzayyin, juga dari riwayat Jarir dan dari sejumlah jalur periwayatan, bahwa “Rasul r menyuruh Umar ibn al-Khattab untuk membekali 400 ratus penunggang kuda dari Ahmas. Lalu Umar berkata, “Wahai Rasulullah, yang tersisa hanya beberapa gantang.” Pergi! Ujar Rasul r. Umar pun pergi dan memberikan makanan tersebut kepada mereka. Makanan tersebut berupa kurma seukuran anak unta yang sedang duduk. Setelah makan, keadaannya tetap seperti sediakala.”151 Demikianlah proses terjadinya mukjizat keberkahan makanan. Ia terkait dengan empat ratus orang; terutama Umar d. Mereka semua adalah perawi. Sebab, sikap diam mereka menunjukkan bahwa mereka membenarkan riwayat tersebut. Jangan engkau menyebutnya sebagai riwayat âhâd lalu selesai. Pasalnya, peristiwa semacam itu meskipun berupa riwayat âhâd, namun melahirkan rasa yakin dalam hati karena seperti riwayat yang mutawatir secara maknawi. Contoh Keempat Belas: Dalam sejumlah kitab hadis sahih, terutama sahih Bukhari dan Muslim, terdapat hadis Jabir d yang berisi tentang hutang ayahnya. Ia telah memberikan harta pokok ayahnya kepada para kreditor untuk mereka terima. Namun buah yang tumbuh selama dua tahun tidak cukup untuk membayar hutang mereka. Maka, Nabi r mendatangi Jabir d setelah menyuruhnya untuk memetik buahnya dan meletakkannya di pangkalnya. Lalu beliau berjalan di sekitarnya seraya berdoa. Dari buah tersebut ia bisa melunasi hutang ayahnya. Buah yang tersisa masih ada seperti yang mereka petik setiap tahun. Dalam riwayat lain, seperti yang 151 Lihat: Abu Daud, al-Adab 157-158; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/174; dan al-Bukhari, at-Târîkh al-Kabîr 3/255.


Surat Kesembilan Belas

211

mereka berikan. Jabir berujar, “Para kreditor itu adalah orang yahudi. Mereka terkesima dengan kejadian itu.” 152 Demikianlah mukjizat cemerlang seputar keberkahan makanan ini tidak hanya riwayat yang disampaikan oleh Jabir dan sejumlah orang. Namun ia bersifat mutawatir dari segi makna. Seluruh perawi meriwayatkannya sebagai wakil dari setiap pihak yang terkait dengan riwayat tersebut. Contoh Kelima Belas: Para ulama menyampaikan riwayat yang sahih, terutama at-Tirmidzi dan al-Baihaqi, dari Abu Hurairah d yang berkata, “Dalam sebuah peperangan—dalam sebuah riwayat pada perang Tabuk—pasukan mengalami kelaparan. Ketika itu Rasulullah r bertanya kepadaku, ‘Punya sesuatu?’ ‘Ya, sedikit kurma yang berada di tempat perbekalan,’ jawabku. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa jumlahnya lima belas kurma. Beliau berkata, ‘Berikan padaku!’ lalu beliau memasukkan tangannya dan mengeluarkan satu genggam kurma. Kemudian membentangkan tangannya seraya berdoa meminta keberkahan. Setelah itu beliau berkata, ‘Panggil sepuluh orang!’ Mereka semua makan sampai kenyang. Lalu sepuluh berikutnya hingga semua pasukan makan dan merasa kenyang. Selanjutnya beliau berkata, ‘Ambil yang tadi kau bawa, masukkan tanganmu serta genggam dan jangan dibalik! Akupun menggenggam lebih banyak daripada yang kubawa. Semasa Rasul r, Abu Bakar dan Umar masih hidup aku makan darinya serta memberikannya pada orang. Ketika Utsman d terbunuh, kurma tersebut dirampas dan akhirnya hilang dariku. Dalam riwayat lain Abu Hurairah berkata, “Aku telah membawa sekian banyak dari kurma tersebut dalam jihad fî sabilillah.” 153 Demikianlah, mukjizat berkahnya makanan yang diinformasikan oleh Abu Hurairah d—sahabat yang belajar kepada guru dan pemimpin semesta alam, Muhammad r. Ia termasuk murid madrasah Suffah dan memiliki hafalan kuat berkat doa Al-Bukhari, bab al-Istiqrâdh 9, al-washâyâ 36, al-Maghâzî 18; Abu Daud, al-Washâyâ 3-4; dan Ibnu Majah, ash-Shadaqât 20. 153 HR. Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah hal 130-131; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 6/117. Lihat at-Tirmidzi, al-manâqib 46; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 2/352. 152


212

AL-MAKTÛBÂT

Nabi r. Sosok sahabat mulia ini menyampaikan riwayat di atas dalam kumpulan banyak orang—seperti perang Tabuk, sudah pasti riwayat tersebut mutawatir dari segi makna dan sangat kuat sekuat seluruh pasukan; yakni sebagaimana jika ia diriwayatkan seluruh pasukan. Contoh Keenam Belas: Dalam sahih Bukhari dan kitab sahih lainnya disebutkan bahwa rasa lapar dialami oleh Abu Hurairah. Kemudian Nabi r memintanya untuk mengikuti beliau. Tidak lama kemudian terdapat satu mangkok susu yang diberikan padanya. Lalu Nabi r menyuruh Abu Hurairah untuk memanggil Ahlu Suffah (sahabat yang tinggal di teras masjid). Abu Hurairah berbisik dalam hati, “Susu ini akan diberikan kepada mereka padahal aku yang lebih butuh untuk meminumnya agar kuat kembali. Namun tidak ada pilihan lain kecuali memanggil mereka.” Jumlah mereka hampir seratus orang. Nabi r menyuruhku untuk memberikannya pada mereka. Maka akupun memberikan kepada setiap orang dari mereka hingga kenyang. Begitu seterusnya sampai seluruh mereka merasa kenyang. Selanjutnya Nabi r memegang mangkok itu seraya berkata, ‘Tinggal aku dan engkau. Duduk dan minumlah!’ Maka, akupun meminumnya. ‘Minumlah!’ ujar beliau lagi. Beliau terus mengatakan hal tersebut sampai akhirnya aku berkata, ‘Tidak, demi Allah, aku sudah kenyang.’ Nabi mengambil mangkok itu, kemudian membaca hamdalah dan basmalah, lalu meminumnya.”154 Kita ucapkan seratus ribu kali ‘selamat menikmati’ wahai Rasulullah! Mukjizat yang bersih dari noda syubhat dan murni seperti susu itu telah diriwayatkan oleh sejumlah kitab sahih, terutama Sahih Imam Bukhari yang hafal 500 ribu hadis. Dengan demikian, ia merupakan riwayat yang sama sekali tak diragukan kebenarannya dan sangat kuat seolah-olah disaksikan langsung oleh mata kepala. Sebagaimana ia juga diriwayatkan oleh sang murid madrasah Muhammad r, madrasah Suffah, di mana ia merupakan murid terpercaya, Abu Hurairah d. Ia meriwayatkannya atas 154

HR. al-Bukhari, bab ar-Riqâq 17; Muslim, fadhâ’il ash-shahâbah 164.


Surat Kesembilan Belas

213

nama seluruh Ahlu Suffah. Orang yang tidak mau menerimanya secara langsung, bisa jadi hatinya sedang sakit atau hilang akal. Pasalnya, apakah mungkin seorang sahabat agung seperti Abu Hurairah yang jujur, yang telah mencurahkan hidupnya untuk menghafal hadis Nabi r, akan menurunkan derajat hadis-hadis Nabi r yang telah beliau hafal dengan meriwayatkan sesuatu yang menimbulkan keraguan serta mengucapkan sesuatu yang berlawanan dengan realitas, sementara ia mendengar sabda Nabi r yang berbunyi, “Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, bersiaplah ia mengambil tempat di neraka.”155 Sungguh hal itu tidak mungkin. Wahai Tuhan, dengan keberkahan Rasul r yang mulia, curahkanlah keberkahan atas seluruh rezeki materiil dan maknawi yang Kau berikan pada kami. Catatan Penting Sangat jelas bahwa ketika sejumlah hal yang lemah berkumpul, ia menjadi kuat. Ketika benang-benang yang halus dipintal dan disatukan, ia menjadi kokoh dan kuat. Di sini telah kami kemukakan enam belas contoh untuk satu bagian dari lima belas bagian jenis mukjizat keberkahan yang ada. Setiap contoh yang kami berikan sangat kuat dan cukup untuk membuktikan kenabian. Andai saja sebagian riwayatnya lemah, ia tidak bisa dikatakan bahwa contoh tersebut tidak bisa menjadi dalil atas kebenaran mukjizat tersebut, sebab ia menjadi kuat ketika sejalan dengan riwayat yang kuat lainnya. Kemudian manakala keenam belas contoh di atas yang berada pada tingkatan mutawatir maknawi berkumpul, maka hal itu menunjukkan sebuah mukjizat yang besar dan kuat. Ketika ia disatukan dengan empat belas jenis mukjizat beliau seputar keberkahan yang tidak disebutkan di sini, tentu ia akan menjadi sebuah mukjizat yang sangat agung laksana gunung-gunung yang bersatu yang tak bisa dipisahkan. Lalu jika engkau menambahkan mukjizat agung dan kuat ini kepada keempat belas jenis mukjizat 155 Lihat: al-Bukhari, bab al-‘Ilm 38, al-Anbiyâ 50, al-Adab 109; Muslim, al-muqaddimah 2-4 dan az-Zuhd 72.


214

AL-MAKTÛBÂT

itu, engkau akan melihat sebuah argumen yang kokoh yang tak goyah sedikitpun. Yaitu sebuah argumen cemerlang yang menunjukkan kenabian yang benar. Demikianlah pilar-pilar kenabian Muhammad laksana gunung tinggi yang terbentuk dari sekumpulan mukjizat. Tentu sekarang engkau memahami betapa bodoh dan dungu orang yang melihat “bangunan kenabian” yang tinggi dan kokoh ini lalu mengira bahwa ia bisa runtuh lantaran syubhat yang lemah yang masuk ke dalam benaknya lewat bagian-bagian kecil dari contoh di atas. Ya, berbagai mukjizat yang menunjukkan keberkahan makanan tersebut secara tegas menunjukkan kenabian Muhammad r dan bahwa beliau merupakan pesuruh dan kekasih Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pemurah yang memberi dan menciptakan rezeki. Beliau adalah sosok hamba yang mulia di hadapan-Nya di mana Dia memberinya limpahan karunia yang penuh dengan berbagai jenis rezeki—secara luar biasa—dari sesuatu yang tiada dan dari khazanah tersembunyi yang tak pernah habis. Seperti diketahui, jazirah Arab adalah daerah yang kering dan tandus. Penduduknya, terutama di masa awal Islam, berada dalam kesulitan hidup, kesulitan air, dan sering mengalami kehausan. Atas dasar itu, mukjizat Muhammad r yang paling penting tampak dengan sangat jelas dalam hal makanan dan minuman. Mukjizat tersebut laksana karunia Rabbani, ihsan Ilahi, dan jamuan Rahmani Tuhan untuk Rasulullah r yang mulia. Dia memberi sesuai dengan kebutuhan. Ia lebih merupakan karunia daripada sekedar petunjuk atas kenabian. Pasalnya, orang-orang yang melihat mukjizat tersebut adalah kaum yang sangat percaya kepada kenabian. Setiap kali mukjizat tersebut terlihat, iman semakin bertambah dan menguat. Begitulah mukjizat beliau membuat cahaya iman mereka semakin bertambah.


Surat Kesembilan Belas

215

PETUNJUK KEDELAPAN (Petunjuk ini menjelaskan satu bagian mukjizat yang terkait dengan air)

Pendahuluan Berbagai peristiwa yang terjadi di hadapan banyak orang ketika diriwayatkan lewat jalur perseorangan (âhâd) dan tidak diingkari, maka ia menunjukkan kebenarannya. Sebab, fi trah manusia selalu ingin mengungkap serta menolak kebohongan yang ada. Terlebih lagi orang-orang yang tidak pernah mendiamkan kebohongan, yaitu para sahabat yang mulia. Khususnya, jika peristiwanya terkait dengan Rasul r. Lebih khusus lagi para perawinya merupakan tokoh sahabat ternama. Maka, perawi riwayat perseorangan tadi seakan-akan mewakili banyak sahabat yang menyaksikan secara langsung. Apalagi setiap contoh dari mukjizat yang terkait dengan air yang akan kita bahas ini diriwayatkan lewat banyak jalur, dari banyak sahabat mulia, diterima oleh para tokoh dan ulama generasi tabi`in, di mana mereka menyampaikan setiap riwayat dengan sangat amanah kepada generasi yang datang sesudah mereka. Kemudian generasi sesudah mereka menerimanya dengan penuh amanah dan menyampaikannya kembali kepada ulama pada masa berikutnya. Demikianlah, ribuan ulama mulia di setiap masa dan tingkatan saling bergantian hingga masa sekarang. Belum lagi, buku-buku hadis yang disusun pada masa kenabian dan diserahkan dari tangan ke tangan hingga sampai ke tangan para imam hadis semacam imam Bukhari dan Muslim. Mereka menyerapnya secara sempurna dan memilah berbagai riwayat sesuai dengan tingkatannya. Mereka mengumpulkan seluruh riwayat yang sahih yang bersih dari noda syubhat dalam kitab sahih mereka. Dengan begitu, mereka mengantarkan kita kepada jalan kebenaran. Semoga Allah memberikan balasan terbaik untuk mereka! Misalnya: Air yang memancar dari jari-jemari Rasul r serta bagaimana beliau bisa memberi minum kepada banyak orang merupakan


216

AL-MAKTÛBÂT

sebuah riwayat yang mutawatir. Riwayat tersebut disampaikan oleh banyak orang yang tidak mungkin sepakat berdusta. Bahkan mustahil mereka berdusta. Jadi, mukjizat di atas merupakan sesuatu yang pasti dan valid. Apalagi ia terulang tiga kali di hadapan tiga komunitas orang yang cukup besar. Kejadian tersebut diriwayatkan secara sahih oleh para tokoh sahabat, terutama Anas selaku pelayan Rasul r, Jabir dan Ibnu Mas`ud. Ia disampaikan kepada kita lewat rangkaian sanad oleh para imam hadis seperti al-Bukhari, Muslim, Imam Malik, Ibnu Syu’aib, dan Qatadah radhiyallâhu ‘anhum (semoga Allah meridhai mereka semua!). Contoh Pertama: Dalam Sahih Bukhari dan Muslim, serta yang lain disebutkan bahwa Anas ibn Malik berkata, “Aku melihat Rasulullah r saat waktu shalat asar tiba. Ketika itu orang-orang mencari air untuk berwudhu, namun mereka tidak mendapatkannya. Lalu, Nabi r yang berada di Zawra156 diberi sebuah wadah. Beliau meletakkan tangannya ke dalam wadah itu. Tiba-tiba air memancar dari jari-jemari beliau. Maka, orang-orang berwudhu darinya.” Qatadah bertanya kepada Anas, “Berapa jumlah kalian saat itu?” Ia menjawab, “Tiga ratus atau sekitar tiga ratus.”157 Engkau bisa melihat bagaimana Anas d menginformasikan peristiwa tersebut sebagai wakil dari 300 orang yang ada. Mungkinkah ketiga ratus orang itu secara maknawi tidak terlibat dalam informasi ini. Mungkinkah mereka tidak mengingkarinya jika memang peristiwa ini tidak benar-benar terjadi? Contoh Kedua: Dalam sejumlah kitab sahih, terutama sahih Bukhari dan Muslim, terdapat riwayat yang berasal dari Salim ibn Abi al-Ju’d, dari Jabir ibn Abdillah al-Anshari d yang berkata, “Pada saat melakukan perjalanan Hudaibiyah, para sahabat mengalami kehausan. Sementara di hadapan Nabi r terdapat kantong air dari kulit. Kemudian beliau berwudhu. Melihat hal itu, mereka segera menghampiri beliau. ‘Ada apa dengan kalian?’ tanya Nabi 156 157

Zawra adalah tempat yang agak tinggi, terletak di dekat mesjid Nabawi. HR. al-Bukhari, bab al-Manâqib 25; Muslim, Fadhâ`il ash-Shahâbah 6,7.


Surat Kesembilan Belas

217

r. Mereka menjawab, ‘Kami tidak memiliki air untuk berwudhu dan untuk minum kecuali yang ada di depanmu ini.’ Lalu Nabi r memasukkan tangannya ke dalam kantong air itu. Seketika air memancar dari jari-jemarinya seperti sumber mata air. Kamipun minum dan berwudhu darinya.” Salim berujar, “Aku bertanya kepada Jabir, ‘Berapa jumlah kalian waktu itu?’” “Andaikan jumlah kami 100 ribu tentu masih cukup. Namun ketika itu jumlah kami hanya seribu lima ratus orang,” jawab Jabir. 158 Dengan demikian, secara maknawi jumlah perawi riwayat di atas mencapai seribu lima ratus orang. Sebab, manusia memiliki tabiat suka mengungkap kebohongan dengan berkata, “Ini bohong.” Apalagi yang meriwayatkan kisah di atas adalah para sahabat yang mulia yang rela mengorbankan jiwa, harta, orang tua, anak, kaum, dan kabilahnya demi membela kebenaran dan kejujuran. Di samping itu, mustahil mereka mendiamkan kebohongan yang ada setelah mendengar ancaman Rasul r yang mengerikan, “Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, bersiaplah ia mengambil tempat di neraka.”159 Maka, selama mereka tidak menentang riwayat yang ada; namun menerima dan ridha dengannya, berarti mereka juga ikut serta dalam riwayat tersebut dan secara tidak langsung membenarkannya. Contoh Ketiga: Sejumlah kitab hadis Sahih seperti sahih Bukhari dan Muslim dalam menceritakan perang Buwâth 160 meriwayatkan bahwa Jabir d berkata, “Rasulullah r bersabda kepadaku, ‘Wahai Jabir tolong ambilkan air!’ ‘Kami tidak memiliki air.’ Ujarku. Nabi lalu meminta sedikit air. Tidak lama kemudian beliau diberi air. Lalu beliau memasukkan tangan ke dalamnya sambil membaca sesuatu yang tidak kuketahui. ‘Tolong ambilkan sebuah wadah!’ pinta beliau. Akupun segera membawakannya ke hadapan beliau. Selanjutnya, Nabi r mengulurkan tangannya ke dalam wadah tadi lalu merenggangkan jari-jemarinya. Kemudian Jabir menuangHR. al-Bukhar, bab al-Manâqib 25, al-Maghâzi 35; Muslim, al-Imârah 72-73. HR. al-Bukhari, bab al-Ilmu 38, al-Anbiya 50, al-Adab 109; Muslim, al-Muqaddimah 2-4 dan az-Zuhd 72. 160 Perang Buwâth adalah perang yang kedua dalam Islam. Sedangkan Buwâth itu sendiri adalah nama salah satu gunung di dekat Yanbû’. 158

159


218

AL-MAKTÛBÂT

kannya untuk beliau. Lalu beliau membaca ‘Bismillah!’. Aku melihat air keluar dari jari-jemarinya sehingga wadah tersebut penuh dengan air. Beliau menyuruh orang-orang untuk mengambilnya hingga puas. ‘Ada yang masih butuh?’ tanyaku. Lalu Rasulullah r mengangkat tangannya dari wadah tersebut yang penuh dengan air.”161 Mukjizat di atas secara maknawi bersifat mutawatir. Pasalnya, Jabir merupakan saksi terdepan. Sangat wajar kalau ia meriwayatkannya serta berbicara mewakili mereka. Sebab, saat itu posisi Jabir sebagai pelayan Rasul r. Dalam riwayat sahih yang lain Ibnu Mas`ud menyebutkan, “Aku melihar air memancar dari jari-jemari Rasulullah r.”162 Jika yang meriwayatkannya para sahabat yang terpercaya dan mulia seperti Anas, Jabir, dan Ibnu Mas`ud f, di mana masing-masing mereka berkata, “Aku telah melihat”, kira-kira mungkinkah mereka sebenarnya tidak melihatnya?! Selanjutnya, satukanlah tiga contoh di atas untuk melihat sejauh mana kekuatan mukjizat yang cemerlang itu. Sebab, manakala ketiga jalur tersebut bersatu, maka riwayat yang itu menjadi kuat secara mutawatir maknawi sekaligus menjadi bukti bahwa air memang memancar dari jari-jemari beliau. Mukjizat ini lebih hebat dan lebih agung daripada dua belas mata air yang dari batu. Pasalnya, keluarnya air dari batu dipancarkan Musa merupakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Sementara, keluarnya air dari daging dan tulang laksana telaga al-Kautsar tidak pernah ada sebelumnya. Contoh Keempat: Dalam kitabnya, al-Muwaththa, Imam Malik meriwayatkan dari sejumlah sahabat ternama, dari Muadz ibn Jabal, tentang kisah perang Tabuk bahwa mereka singgah di sumber mata air yang hanya mengeluarkan sedikit air. Maka, Rasulullah r memerintahkan mereka mengumpulkan air tersebut. Mereka pun HR. Muslim, az-Zuhud 74; Ibnu Hibban, Sahih-nya 14/457; dan Ibnu Sa’ad, abaqât al-Kubrâ 7/74. 162 HR. al-Bukhari, al-Manâqib 25; at-Tirmidzi, al-Manâqib 6; ad-Dârimi, al-Muqaddimah 5; dan Ahmad ibn Hambal, Musnad-nya 1/460. 161


Surat Kesembilan Belas

219

menimbanya dengan tangan hingga terkumpul di sebuah wadah. Setelah itu, Rasulullah r membasuh wajah dan tangannya di wadah tadi. Kemudian beliau menuangkan kembali ke sumber mata air tersebut hingga akhirnya memancarkan air dalam jumlah yang banyak. Maka, merekapun bisa mengambil air. Bahkan dalam hadis Ibnu Ishaq disebutkan bagaimana air tersebut menembus tanah hingga bersuara seperti gemuruh petir. Lalu Nabi r berkata:

Wahai Muadz, jika engkau berumur panjang, engkau akan melihat bagaimana tempat ini dipenuhi oleh taman.”163 Dan ternyata hal itu benar adanya. Contoh Kelima: Al-Bukhari meriwayatkan dari al-Barra, Muslim meriwayatkan dari Salamah ibn al-Akwa’, serta dari berbagai jalur lain dalam kitab hadis sahih, “Dalam perjalanan Hudaibiyah jumlah kami 1400 orang. Kami menemukan sebuah sumur. Kemudian kami mengambil airnya hingga tak tersisa satu tetespun. Lalu Nabi r duduk di pinggir sumur. Beliau meminta air dan dikumur-kumur. Setelah itu, dimuntahkan ke dalam sumur. Tidak lama kemudian kami bisa mengambil air darinya hingga puas. Demikian pula dengan tunggangan kami.” 164 Al-Barra berkata, “Nabi r meminta satu ember air darinya. Setelah air itu kami bawakan, beliau meludahkan air liur dari mulutnya yang penuh berkah seraya berdoa. Kemudian menuangkan air di ember tadi ke dalam sumur. Seketika sumur itu meluap sehingga bisa dikonsumsi oleh mereka dan tunggangan mereka. Contoh Keenam: Para imam perawi hadis seperti Muslim, Ibnu Jarir athabari dan yang lain meriwayatkan dari Abu Qatadah yang berHR. Muslim, Fadhâ’il ash-shahabah 10; al-Muwaththa, bab as-Safar 2; dan Ahmad ibn Hambal, Musnad-nya 5/238. 164 HR. al-Bukhari, al-Manâqib 25 dan al-Maghâzî 35; Muslim, al-Jihad 132 dan al-Imârah 72; ad-Dârimi, al-Mukaddimah 5; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/48 dan 290; dan Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 7/383. 163


220

AL-MAKTÛBÂT

kata, “Nabi r pergi bersama dengan mereka untuk membantu penduduk Mu’tah saat mendengar berita pembunuhan terhadap para amir.165 Saat itu aku membawa mîdha’ah (wadah air untuk wudhu). Rasul r berkata, ‘Jagalah wadah airmu. Sebab, suatu saat akan dibutuhkan.’ Setelah itu kami merasa sangat haus. Jumlah kami sekitar 72 orang. (Dalam riwayat ath-abari disebutkan bahwa jumlahnya hampir 300). Melihat hal tersebut Rasul r bersabda, ‘Berikan wadah airmu!’ Maka, aku segera memberikan kepada beliau. Beliau mengambil dan memasukkan mulutnya ke tempat tersebut. Aku tidak tahu apakah di dalamnya beliau bernapas atau tidak. Kemudian ketujuh puluh dua orang itu datang dan minum darinya. Mereka juga mengisi wadah milik mereka. Selanjutnya aku mengambil wadah airku tersebut. Kondisinya tetap seperti semula.”166 Perhatikanlah mukjizat yang cemerlang itu dan ucapkan:

Ya Allah, limpahkan salawat dan salam atas junjungan kami r serta atas keluarganya sebanyak tetesan air! Contoh Ketujuh: Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Imran ibn Hushain saat Nabi r dan para sahabat mengalami kehausan dalam sebuah perjalanan. “Kami dalam perjalanan bersama Nabi r. Saat itu banyak orang yang mengeluh kehausan. Lalu beliau berhenti sejenak kemudian memanggilku dan memanggil Ali. Beliau berkata, “Pergilah mencari air!” Maka, keduanya pergi mencari air. Dalam perjalanan, keduanya bertemu dengan seorang wanita yang membawa bejana. Maka mereka membawa wanita tersebut ke hadapan Nabi r. Nabi r meminta wadah lalu menuangkan Mereka adalah Zaid ibn Haritsah, Ja’far ibn Abi alib, dan Abdullah ibn Rawahah. Yaitu beliau mengirim surat kepada Raja Busra. Namun utusan beliau malah terbunuh di Mu’tah, padahal tidak ada utusan beliau sebelumnya yang terbunuh. Maka beliau memberikan panji kepemimpinan pasukan kepada Zaid seraya berpesan kepada mereka, “Jika Zaid terbunuh, maka pemimpin kalian adalah Ja’far. Jika Ja’far terbunuh, maka pemimpin kalian adalah Abdullah ibn Rawahah (al-Khafâji 3/26). 166 HR. Muslim, al-Masâjid 113; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 5/298; Abu Ya’lâ, dalam al-Musnad 7/234-235; dan Ibnu Khuzaimah, as-Sahih 1/214. 165


Surat Kesembilan Belas

221

air dari bejana tadi. Selanjutnya beliau menyuruh orang-orang untuk mengambil air. Mereka pun mengambilnya. Kami berpikir ia lebih penuh daripada sebelumnya.” Nabi r berkata, “Berikan sesuatu untuk wanita ini!” Kami pun mengumpulkan makanan dan meletakkannya di dalam kain. Lalu ia membawa makanan tersebut di atas untanya. Beliau berkata kepadanya, “Kami tidak mengurangi air milikmu sedikitpun. Akan tetapi, Allah-lah yang memberi air kepada kami...” 167 Contoh Kedelapan: Ibnu Khuzaimah meriwayatkan hadis Umar d tentang pasukan yang berada dalam kesulitan. Disebutkan bahwa mereka mengalami kehausan yang luar biasa. Sampai-sampai ada yang menyembelih untanya untuk meminum air yang terdapat di dalamnya. Maka, Abu Bakar d meminta Nabi r untuk berdoa. Beliau pun terus mengangkat kedua tangannya hingga langit mendung dan turunlah hujan. Akhirnya, mereka bisa mengisi wadah milik mereka. Hujan tersebut hanya turun di sekitar mereka; tidak melampaui batas tempat mereka.168 Ini bukan sebuah kebetulan; peristiwa itu sepenuhnya mukjizat Muhammad r. Contoh Kesembilan: Amr ibn Syu`aib (cucu Abdullah ibn Amr ibn al-Ash) yang dianggap tsiqah (bisa dipercaya) oleh keempat penulis Sunan dalam periwayatannya, menyatakan bahwa Abu alib berkata kepada Nabi r yang sedang diboncengnya di Dzul-Majaz, “Aku merasa haus, sementara aku tidak memiliki air. Maka, Nabi r turun dan menghentakkan kaki ke tanah. Seketika air keluar. ‘Minumlah!’ ujar beliau.”169 Menurut salah seorang ulama peneliti, peristiwa ini terjadi sebelum beliau diangkat sebagai nabi. Karena itu, ia termasuk 167

jid 312.

HR. al-Bukhari, bab at-Tayammum 6 dan al-Manâqib 25; Muslim, al-masâ-

Ibnu Khuzaimah, as-Sahih 1/53; Ibnu Hibban, as-Sahih 4/223; al-Bazzâr, al-Musnad 1/331; dan al-Hakim, al-Mustadrak 1/263. 169 Al-Qâdî `Iyâdh, al-Syifâ 1/290. Lihat: Ibnu Sa’ad, abaqât al-Kubrâ 1/152 dan 153; Ibnu Asâkir, Tarikh Dimasyq 66/308; al-Khatîb al-Bahgdadi, Tarikh Baghdad 3/312. 168


222

AL-MAKTÛBÂT

jenis irhâsât. Selain itu, keluarnya mata air di Arafah seribu tahun kemudian dianggap sebagai salah satu karunia ilahi kepada Rasul r. Demikianlah, mukjizat yang terkait dengan air meski tidak mencapai 90 contoh seperti sembilan contoh di atas, namun ia diriwayatkan melalui 90 sisi. Ketujuh contoh pertama sangat kuat dan pasti laksana riwayat yang mutawatir secara maknawi. Sementara dua contoh terakhir, meski jalurnya tidak kuat dan beragam serta perawinya tidak banyak, namun para penulis hadis seperti Imam al-Baihaqi dan al-Hakim meriwayatkan dari Umar d mukjizat kedua seputar ‘awan atau mendung’ yang menjadi pendukung bagi mukjizat pada contoh kedelapan yang diriwayatkan oleh Umar. Riwayatnya adalah sebagai berikut: Dalam sebuah peperangan yang diikuti Nabi r, para sahabat mengalami kehausan. Maka, Umar d meminta beliau berdoa. Ketika beliau berdoa, awanpun datang dan turunlah hujan. Setelah kebutuhan mereka terpenuhi awan itupun pergi. 170 Seolah-olah awan tersebut diperintah untuk memberikan air kepada pasukan itu saja karena hujan yang turun sesuai kebutuhan. Di samping mendukung dan menguatkan contoh kedelapan di atas, ia juga menjelaskan bahwa riwayat tersebut kuat dan pasti. Ibnu al-Jauzi—yang dikenal sangat tegas, bahkan sampai menolak sejumlah hadis sahih dan menggolongkannya sebagai hadis maudhû—berkata, “Peristiwa di atas terjadi pada perang Badar dan merupakan sebab turunnya ayat berikut:

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu” (QS. al-Anfâl [8]: 11). Karena ayat tersebut turun lantaran peristiwa di atas seraya menerangkannya dengan jelas, berarti tidak diragukan lagi bahwa ia memang benar terjadi. 170 Ibnu Khuzaimah, as-Sahih 1/53; Ibnu Hibban, as-Sahih 4/223; al-Hakim, al-Mustadrak 1/263; dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubrâ 9/357.


Surat Kesembilan Belas

223

Proses datangnya hujan berkat doa Nabi r sebelum beliau menurunkan kedua tangannya yang terangkat saat berdoa sering terjadi. Ia sebenarnya merupakan mukjizat tersendiri. Kadangkala Nabi r meminta hujan saat berada di atas mimbar. Lalu hujan itupun turun sebelum beliau menurunkan kedua tangannya. Hal ini diriwayatkan lewat jalur yang mutawatir.

PETUNJUK KESEMBILAN Salah satu jenis mukjizat Rasul r yang lain adalah pohon yang tunduk pada perintah beliau seperti manusia, lalu bagaimana ia meninggalkan tempatnya dan mendatangi beliau. Mukjizat yang terkait dengan pohon ini bersifat mutawatir dilihat dari segi maknanya sama seperti air yang keluar dari jari-jemari beliau yang penuh berkah. Bentuknya beragam dan diriwayatkan lewat banyak jalur. Ya, bisa dikatakan bahwa berita tentang kondisi pohon yang meninggalkan tempatnya lalu datang memenuhi perintah Rasul r bersifat mutawatir sharÎh. Pasalnya, ia diriwayatkan oleh para sahabat yang mulia, jujur, dan ternama seperti Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Mas`ud, Ibnu Umar, Ya’lâ ibn Murrah, Jabir, Anas ibn Malik, Buraidah, Usamah ibn Zaid, Ghailan ibn Salamah f, dan yang lainnya. Masing-masing mereka memberitakan mukjizat yang terkait dengan pohon ini secara kuat. Lalu riwayat mereka dinukil oleh ratusan tabi`in lewat banyak jalur. Di permulaan setiap jalurnya terdapat sosok sahabat yang mulia. Dengan kata lain, seolah-olah ia sampai ke kita dengan tingkat kemutawatiran ganda. Karena itu, tidak ada keraguan sedikitpun atasnya. Ia berposisi sebagai riwayat yang mutawatir secara maknawi. Meskipun mukjizat ini terjadi berkali-kali, namun kami hanya akan menyebutkan beberapa saja dari sekian banyak bentuknya yang benar dan banyak tentangnya. Hal itu kami paparkan dalam beberapa contah: Contoh pertama: Ibnu Majah, ad-Dârimi, dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Anas ibn Malik dan Ali d, serta al-Bazzar dan al-Baihaqi meri-


224

AL-MAKTÛBÂT

wayatkan dari Umar bahwa tiga orang sahabat mulia f berkata, “Rasul r pernah sangat bersedih karena orang-orang kafi r mendustakan beliau. Ketika itu beliau berkata:

Ya Allah, perlihatkan padaku satu bukti yang sesudah itu aku tidak peduli jika masih ada yang mendustakanku. Sementara dalam riwayat Anas berbunyi, “Jibril berkata kepada Nabi r yang terlihat sedih, “Maukah kutunjukkan satu bukti kepadamu.” “Ya,” jawab beliau. Maka, Rasulullah r melihat kepada sebuah pohon yang berada di balik lembah. Lalu Jibril berkata, “Panggillah pohon itu!” Seketika pohon itu datang berjalan hingga berada di hadapan beliau. “Suruhlah ia kembali!” Pohon itupun kembali ke tempatnya semula. 171 Contoh Kedua: Al-Qâdhî `Iyâdh, seorang ulama besar asal Maroko, dalam kitabnya, asy-Syifâ, meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Abdullah ibn Umar d yang berkata, “Kami bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan. Lalu ada seorang Arab badui yang berjalan mendekati beliau. ‘Wahai fulan, hendak ke mana?’ tanya beliau. ‘Hendak pulang ke rumah?’ jawabnya. ‘Maukah engkau menuju kepada kebaikan?’ tanya beliau lagi. ‘Apa itu?’ Jawabnya. ‘Yaitu engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata tanpa ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’ ‘Siapa yang menjadi saksi atas ucapan Anda ini?’ Beliau menjawab, ‘Pohon besar ini.’ Pohon tersebut berada di tepi lembah. Seketika ia tercabut lalu datang ke hadapan beliau. Beliau memintanya untuk memberi kesaksian sebanyak tiga kali. Maka pohon itupun bersaksi seperti yang beliau katakan. Setelah itu ia kembali ke tempatnya.”172 Diriwayatkan dari Buraidah lewat jalur Ibnu Shâhib al-Aslami secara sahih, “Seorang Arab badui meminta satu bukti kepaAl-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/298 dan 299. Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/298-299. Lihat juga ad-Dârimi, al-Mukaddimah 4; Ibnu Hibban, as-Sahih 14/434; dan ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 12/431. 171

172


Surat Kesembilan Belas

225

da Nabi r. Maka, beliau berkata kepadanya, ‘Katakan kepada pohon tersebut, “Rasulullah memanggilmu.” Seketika pohon itu miring ke kanan, kiri, depan dan belakang. Lalu akarnya tercabut. Kemudian ia tercabut lalu datang dengan segera hingga berada di hadapan Rasulullah r. Pohon itu berujar, ‘Salam untukmu wahai Rasulullah.’ Setelah itu, Arab badui tadi meminta Nabi r untuk menyuruhnya kembali ke tempat semula. Maka, iapun kembali seraya memasukkan akarnya ke dalam tanah seperti posisi semula. Lalu Arab badui tersebut berkata, ‘Izinkan aku bersujud kepadamu.’ Nabi r menjawab, ‘Andaikan aku hendak memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, tentu aku telah memerintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya.’ ‘Kalau begitu, izinkan aku mencium tangan dan kakimu.’ Maka, beliau mengizinkan.”173 Contoh Ketiga: Imam Muslim dan penulis kitab sahih lainnya meriwayatkan dari Jabir d yang berkata, “Kami dalam sebuah perjalanan bersama Rasulullah r. Lalu beliau pergi untuk buang hajat. Beliau tidak menemukan sesuatu untuk dijadikan pelindung. Sementara terdapat dua pohon yang terletak di tepi lembah. Beliau pergi mendatangi salah satunya, lalu mengambil salah satu dahannya. Kemudian Beliau berkata, ‘Patuhlah kepadaku dengan izin Allah!’ Pohon itupun mengikuti beliau seperti unta yang dicocok hidungnya.” Disebutkan pula bahwa beliau melakukan hal yang sama pada pohon yang kedua. Ketika berada di antara keduanya, beliau berkata, “Tutupilah diriku dengan izin Allah.” Keduanya melakukan apa yang beliau perintahkan. Maka beliau duduk di belakangnya. Setelah selesai, beliau memerintahkan kedua pohon tadi untuk kembali ke tempat mereka. 174 Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Wahai Jabir, katakan pada pohon tersebut, ‘Rasulullah memerintahkanmu untuk merapat dengan sesamamu!’ agar Aku (Rasul) bisa duduk di belakang keduanya. Maka, pohon itupun segera mendekati pohon Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 39; al-Hakim, al-Mustadrak 4/190; Ibnu Asâkir, Tarikh Dismayq 4/365; dan al-Haitsami, Majma’ az-Zawâ’id 9/10. 174 HR. Muslim, bab az-Zuhd 74; Ibn Hibban, as-Sahih 14/456, as-Sunan alKubrâ 1/94; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 392-393. 173


226

AL-MAKTÛBÂT

yang pertama hingga Rasul r bisa duduk di belakang keduanya. Aku pun segera pergi, kemudian duduk sambil merenung. Ketika menoleh, Rasulullah r telah datang, sementara kedua pohon tadi sudah berpisah. Masing-masing berdiri sendiri. Rasulullah r berdiri sejenak dan memberikan isyarat ke kanan dan ke kiri dengan kepalanya.175 Contoh Keempat: Usamah ibn Zaid, salah satu panglima Rasulullah sekaligus ‘tangan kanan’ beliau, meriwayatkan, “Kami dalam sebuah perjalanan bersama Rasulullah r. Ketika itu, tidak ada tempat kosong yang tersembunyi yang bisa beliau pakai untuk buang hajat. ‘Apakah engkau melihat pohon kurma atau batu?’ tanya beliau. ‘Ada sejumlah pohon kurma yang saling berdekatan,’ jawabku. ‘Kalau begitu, katakan padanya bahwa Rasulullah memerintahkanmu untuk datang menjadi pelindung tempat buang hajat beliau. Perintahkan pula kepada batu itu untuk melakukan hal yang sama.’ Akupun melakukannya. Demi Allah, aku melihat pohon-pohon kurma itu saling berdekatan hingga menyatu dan begitu pula dengan batunya hingga membentuk tumpukan yang menutupi beliau. Ketika sudah selesai, beliau berkata, ‘Suruh mereka berpisah!’ Demi Dzat Yang menguasai jiwaku, aku melihat pohon dan batu itu berpisah kembali ke tempat mereka semula.” 176 Kedua peristiwa yang diriwayatkan oleh Jabir dan Usamah itu juga diriwayatkan oleh Ya’lâ ibn Murrah, Ghailan ibn Salamah ats-Tsaqafi , dan Ibnu Mas`ud dalam perang Hunain. Contoh Kelima: Seorang ulama besar, Imam Ibnu Faurak—yang dijuluki Syafi i kedua karena melihat kemampuan ijtihad dan keutamaannya—menyebutkan bahwa saat perang aif, Nabi r melakukan perjalanan pada waktu malam. Saat itu beliau mengantuk. Di hadapan beliau terdapat pohon Sudrah. Tiba-tiba pohon itu terbelah dua untuknya sehingga beliau bisa lewat di antara keduanya. Ad-Dârimi, al-Muqaddimah 4; Abduh ibn Humaid, al-Musnad 320; Ibnu Abi Syaibah, al-Musnad 6/321; dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubrâ 1/93. 176 HR. al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/25; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwawah 393 dan 394; Ibnu Hajar, al-Mathâlib al-`Âliyah 4/9-10. 175


Surat Kesembilan Belas

227

Pohon tersebut tetap tegak di atas dua batang sampai sekarang.177 Contoh Keenam: Ya’lâ ibn Siyâbah menyebutkan bahwa suatu ketika pohon alhah atau Samurah datang mengitari beliau lalu kembali ke tempatnya. Melihat hal itu, Rasulullah r bersabda, “Ia minta izin untuk memberi salam kepadaku.” Maksudnya, minta izin kepada Tuhan semesta alam.178 Contoh Ketujuh: Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas`ud

d yang berkata, “Sebuah pohon memberitahukan kepada Nabi r keberadaan jin yang mendengarkan beliau pada suatu malam.

Yaitu ketika jin Nushaibin di Bathn an-Nakhl (lembah kurma) datang kepada Nabi r untuk masuk Islam. Pohon tersebut memberitahukan berita kedatangan mereka kepada Nabi r.” Diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibnu Mas`ud terkait dengan hadis di atas bahwa jin itu berkata, “Siapa yang menjadi saksi untukmu?” Beliau menjawab, “Pohon ini.” Beliau berkata padanya, “Wahai pohon kemarilah!” Pohon tersebut datang dengan membawa akarnya. 179 Demikianlah, satu mukjizat saja sudah cukup bagi rombongan jin itu. Lalu bukankah orang yang mendengar seribu satu mukjizat sepertinya kemudian masih bersikap sombong dan ingkar lebih sesat daripada setan yang dikatakan oleh al-Qur’an lewat lisan jin, “Yang kurang akal daripada Kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.” (QS. alJin [72]: 4). Contoh Kedelapan: At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi r berkata kepada seorang Arab badui, “Jika aku dapat memanggil 177 Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/301 dan 302; Ali al-Qârî, Syarh asy-Syifâ 1/620; al-Khafâji 3/57. 178 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/173; Abduh ibn Humaid, al-Musnad 154; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/24 dan 23; dan Abu Nu`aim, Dalâ’il anNubuwwah 391. 179 Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/103; al-Qurthubi al-Jâmi li Ahkâm al-Qur’an 19/5.


228

AL-MAKTÛBÂT

cabang pohon kurma ini, maukah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?!” “Ya,” jawabnya. Maka beliau memanggilnya. Seketika, pohon tadi melompat datang kepada beliau. Lalu beliau berkata, “Kembalilah!” Pohon itupun kembali ke tempatnya.180

*** Demikianlah, begitu banyak contoh seperti yang telah kami sebutkan. Semuanya diriwayatkan lewat beragam jalur. Sebagaimana kita ketahui bahwa jika sejumlah benang menyatu, tentu ia akan menjadi tali yang kuat. Mukjizat yang terkait dengan pohon ini dan diriwayatkan lewat banyak jalur serta oleh para sahabat ternama, tentu sangat kuat sederajat dengan riwayat mutawatir maknawi. Bahkan sebenarnya ia memang mutawatir hakiki. Dan tentu tidak ada keraguan bahwa ketika diterima oleh tabi`in riwayatnya sudah mutawatir. Apalagi jalur periwayatannya berasal dari para pengumpul hadis sahih seperti al-Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban, at-Tirmidzi, dan yang lain. Sudah pasti jalur periwayatannya sahih. Lebih dari itu, membaca satu hadis yang terdapat dalam sahih Bukhari seperti mendengar langsung dari para sahabat yang mulia. Jadi, kalau pohon saja mengenal Rasulullah r sekaligus memperkenalkan dan membenarkan risalah beliau, serta memberikan salam, mendatangi, dan taat kepada beliau seperti yang disebutkan dalam berbagai riwayat di atas, lalu bagaimana mungkin orang bodoh yang menganggap dirinya manusia itu masih tetap tidak mengenal dan tidak percaya kepada beliau?! Bukankah berarti ia tidak punya akal dan hati? Bukankah ia lebih rendah daripada pohon kering serta lebih hina daripada kayu bakar yang hanya layak dilempar ke dalam api neraka?

PETUNJUK KESEPULUH Yang menguatkan mukjizat yang terkait dengan pohon di atas adalah mukjizat rintihan batang pohon yang diriwayatkan secara mutawatir. 180 Al-Hakim, al-Mustadrak 2/676; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/15; as-Suyuthi, al-Khashâ’is al-Kubrâ 2/60. Lihat pula at-Tirmidzi, al-Manâqib 6; adDârimi, al-Mukaddimah 4; al-Bukhari, at-Târîkh al-Kabîr 3/3.


Surat Kesembilan Belas

229

Ya, batang pohon kering di masjid Nabawi yang menangis karena berpisah dengan beliau untuk sementara waktu serta rintihannya yang terdengar oleh banyak sahabat menguatkan berbagai contoh yang telah kami sebutkan seputar mukjizat yang terkait dengan pohon. Pasalnya, batang tersebut juga berasal dari jenis pohon. Jenisnya sama. Hanya saja mukjizat ini benar-benar mutawatir, sementara yang lain mutawatir secara maknawi. Sebab, sebagian besar bagiannya tidak sampai ke tingkat mutawatir sharĂŽh (jelas). Tiang-tiang Masjid Nabawi sebelumnya terbuat dari batang kurma. Apabila berkhutbah, Nabi r bersandar kepada salah satu batang kurma itu. Ketika beliau dibuatkan mimbar dan berdiri di atasnya, terdengar suara dari batang pohon itu seperti suara unta betina yang sedang hamil. Batang itu merintih dan menangis. Nabi r kemudian mendatanginya dan meletakkan tangan beliau di atasnya. Beliau berbicara dan menghiburnya. Seketika batang itupun diam. Mukjizat ini diriwayatkan dari banyak jalur secara mutawatir. Ya, mukjizat rintihan batang pohon tersebut sangat terkenal. Beritanya benar-benar mutawatir. Ia diriwayatkan oleh ratusan imam dari kalangan tabi`in lewat lima belas jalur dari sejumlah sahabat yang mulia. Begitulah mereka meriwayatkannya kepada generasi sesudah mereka. Di antara sahabat yang meriwayatkannya adalah Anas ibn Malik (pelayan Nabi r), Jabir ibn Abdillah al-Anshari, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, Sahl ibn Sa’ad, Abu Said al-Khudri, Ubay ibn Ka’ab, Buraidah, dan Ummul mukminin Ummu Salamah f. Masing-masing mereka menjadi pangkal dari berbagai jalur periwayatan hadis yang ada. Imam Bukhari dan Muslim serta yang imam hadis sahih yang lain meriwayatkan mukjizat yang agung dan mutawatir tersebut kepada kita. Diriwayatkan dari Jabir d, ia berkata, “Sebelumnya tiang-tiang Masjid Nabawi terbuat dari batang kurma. Apabila berkhutbah, Nabi r bersandar kepada salah satunya. Ketika beliau dibuatkan mimbar dan berada di atasnya, kami mendengar suara dari batang pohon itu seperti suara unta betina yang hamil.


230

AL-MAKTÛBÂT

Manakala Nabi r mendatangi dan meletakkan tangan beliau di atasnya, batang itupun diam.” Batang tersebut tidak sanggup berpisah dengan beliau. Menurut riwayat dari Anas d, “Sampai-sampai masjid bergetar oleh suaranya.”181 Menurut riwayat Sahl ibn Sa’ad, “Saat batang pohon itu menangis, banyak orang yang ikut menangis.” 182 Menurut riwayat dari Ubay ibn Ka’ab, “Sampai-sampai pohon itu retak lantaran menangis dengan amat sangat”. 183 Yang lain menambahkan bahwa Nabi r bersabda, “Ia menangis karena tidak lagi dibacakan kalimat zikir (di dekatnya).”184 Dalam riwayat lain disebutkan, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andaikan aku tidak datang menghampiri dan menghiburnya tentu ia akan terus seperti itu hingga hari kiamat.” Yaitu karena sedih ditinggal Rasul r.185 Dalam hadis Buraidah disebutkan, “Saat batang pohon itu menangis, Rasul r meletakkan tangan beliau di atasnya seraya berkata, ‘Kalau mau, aku bisa mengembalikanmu ke kebun yang menjadi tempat asalmu sehingga bisa tumbuh besar serta memiliki daun dan buah. Atau, kutanam engkau di surga agar buahmu bisa dimakan oleh para wali Allah.’ Setelah itu beliau menyimak jawabannya. Ia berkata, ‘Tanamlah aku di surga agar bisa dimakan oleh para wali Allah dan aku tidak peduli di manapun aku berada.’ Hal itu didengar oleh mereka yang bersama beliau. Nabi r kemudian bersabda, ‘Aku sudah melakukannya.’ ‘Ia lebih memiAt-Tirmidzi, al-Jumu`ah 10, al-Manâqib 6; Ibnu Majah, al-Iqâmah 199; adDârimi, al-Mukaddimah 6 dan ash-shalat 202; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/266. 182 Ad-Dârimi, al-Mukaddimah 6 dan ash-shalat 202; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 16/194; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 6/319; dan Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/250-251. 183 Ibnu Majah, al-Iqamah 199; ad-Dârimi, al-Muqaddimah 6; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 5/137 dan 138. 184 Lihat: al-Bukhari 3/1314; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/300; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 6/319. 185 Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/228; Ibnu Sayyidin-Nâs, Uyun al-Atsar 1/375; al-Halbi, as-Sirah al-Halbiyyah 2/366. Lihat Ibnu Majah, al-Iqamah 199; ad-Dârimi, al-Mukaddimah 6 dan ash-shalat 202; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/306. 181


Surat Kesembilan Belas

231

lih tempat yang abadi daripada tempat yang fana ini.’ Imam Abu Ishaq al-Isfara’ani—salah seorang tokoh ahli kalam—menyatakan bahwa Rasul r tidak mendatangi batang pohon itu. Namun beliau menanggilnya sehingga batang itulah yang mendatangi beliau dengan menerobos tanah. Setelah itu, beliau memerintahkan batang pohon tersebut untuk kembali ke tempatnya. 186 Ubay ibn Ka’ab berkata, “Setelah mukjizat tersebut, Nabi r menyuruh agar batang pohon itu dikubur di bawah mimbar.” Setiap kali melaksanakan shalat, beliau menghadap kepadanya. Lalu ketika Masjid Nabawi direnovasi, Ubay mengambil dan menyimpannya hingga batang pohon itu dimakan oleh tanah dan hancur. 187 Saat Hasan al-Bashri menceritakan hal ini kepada murid-muridnya, ia menangis seraya berkata, “Wahai para hamba Allah, kayu saja menangis karena rindu kepada Rasulullah r mengingat kedudukan beliau. Nah, kalian lebih layak untuk rindu bertemu dengan beliau.” 188 Kami pun mengatakan, “Ya, rasa rindu dan cinta kepada beliau terwujud dalam sikap mengikuti sunnah dan syariatnya yang mulia.”

Catatan Penting Barangkali ada yang bertanya: Mengapa berbagai mukjizat yang terkait dengan keberkahan makanan, di mana ia bisa membuat kenyang seribu orang dalam perang Khandak, hanya dengan satu shâ’ (2,04 kg), juga mukjizat air yang bisa memberi minum Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/304. Ibnu Majah, al-Iqamah 199; ad-Dârimi, al-Mukaddimah 6; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 5/137-138. 188 Ibnu Hibban, ash-Sahih 14/437; Abu Ya’lâ, al-Musnad 5/142; al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifa 1/305. Sungguh indah ungkapan berikut: Beliau menanamkan cintanya meski kepada benda tak bernyawa Sehingga mereka memberikan salam kepada beliau Beliau meninggalkan batang pohon tempat beliau biasa berkhutbah Maka iapun merintih seperti tangisan ibu saat kehilangan yang dicinta Batang itu menangis sedemikian rupa wahai manusia Kita sebenarnya lebih layak untuk merindukan beliau Jika batang pohon itu tak bisa berpisah meski sesaat Maka tidak setia namanya jika kita jauh dari beliau (Ali al-Qâri 1/626). 186

187


232

AL-MAKTÛBÂT

seribu orang lewat air yang memancar dari jari-jemari beliau yang penuh berkah, mengapa semua riwayat itu tidak terkenal? Mengapa ia tidak diriwayatkan lewat banyak jalur sebagaimana mukjizat rintihan batang pohon, padahal jumlah orang yang menyaksikan mukjizat tersebut lebih banyak daripada jumlah orang yang menyaksikan rintihan batang pohon? Jawaban: Mukjizat yang terlihat terbagi dua: Pertama, yang terlihat lewat tangan Nabi r untuk membenarkan klaim kenabian beliau sehingga menjadi bukti atasnya di mana ia menguatkan keimanan kaum mukmin, mendorong kaum munafi k untuk tulus dan percaya, sekaligus mengajak kaum kafi r untuk beriman. Nah, mukjizat rintihan batang pohon termasuk dari jenis ini. Karena itu, ia bisa dilihat baik oleh kalangan umum maupun kalangan khusus serta lebih mendapat perhatian daripada yang lain. Adapun mukjizat makanan dan air, ia lebih merupakan karamah daripada mukjizat. Bahkan ia lebih merupakan karunia ilahi. Atau, ia lebih merupakan jamuan rahmani sesuai kebutuhan. Karena itu, meskipun keduanya menjadi bukti dan mukjizat atas kenabian, namun tujuan utamanya adalah bahwa pasukan yang berjumlah hampir seribu orang itu sangat membutuhkan makanan dan minuman. Maka lewat perbendaharaan gaib-Nya, Allah I membantu mereka dengan membuat kenyang seribu orang lewat satu shâ’ sebagaimana Dia menciptakan sekian banyak kurma dari satu benih. Demikian pula ketika Dia memberi minum kepada seribu pejuang di jalan Allah saat mereka kehausan. Dia memberi mereka minum dari air penuh berkah laksana telaga al-Kautsar. Allah mengalirkannya lewat jari-jemari panglima tertinggi mereka, Nabi r. Karena itu, tingkatan mukjizat makanan dan air tidak seperti rintihan batang pohon. Hanya saja, jenis kedua mukjizat tersebut secara umum sama seperti kemutawatiran riwayat rintihan batang pohon. Selain itu, setiap orang mungkin tidak melihat keberkahan makanan dan pancaran air dari jari-jemari beliau. Namun hanya melihat bekas dan jejaknya. Sementara semua orang yang berada di masjid Nabawi mende-


Surat Kesembilan Belas

233

ngar tangisan batang pohon itu. Inilah yang membuat riwayat tentangnya lebih tersebar. Barangkali ada yang bertanya: Para sahabat yang mulia begitu perhatian kepada seluruh kondisi dan gerak Nabi r. Mereka meriwayatkannya dengan penuh amanah dan teliti. Lalu mengapa mukjizat agung semacam ini hanya diriwayatkan lewat dua puluh jalur; tidak diriwayatkan—minimal—lewat seratus jalur? Kemudian mengapa sebagian besar riwayatnya bersumber dari Anas, Jabir, dan Abu Hurairah f; bukan dari Abu Bakar dan Umar , kecuali hanya sedikit? Jawaban: Bagian pertama dari pertanyaan di atas telah dijawab pada ‘prinsip ketiga dari petunjuk keempat’. Adapun jawaban untuk bagian kedua adalah bahwa manusia jika ingin berobat, tentu akan pergi ke dokter. Sementara jika ingin membuat bangunan, tentu akan pergi ke arsitek. Dan jika ingin belajar syariat, tentu akan pergi kepada mui dan meminta fatwa darinya. Begitulah, tugas sejumlah ulama dari kalangan sahabat terfokus pada menerima, menyebarkan, dan meriwayatkan hadis kepada generasi selanjutnya. Mereka mengoptimalkan potensi yang Allah berikan demi tugas tersebut. Abu Hurairah ra mengabdikan seluruh hidupnya untuk menghafal hadis Nabi r. Sementara pada saat yang sama Umar d sibuk mengemban tugas kekhalifahan dan kebijakan negara. Karena itu, beliau menyerahkan periwayatan hadis kepada sahabat Abu Hurairah, Anas, Jabir dan yang semacam mereka. Maka tidak aneh kalau riwayat dari Umar d hanya sedikit. Di samping itu, perawi yang jujur dan dipercaya semua orang sudah cukup untuk menjadi rujukan; sehingga tidak perlu lagi merujuk kepada riwayat lain. Karenanya, sejumlah peristiwa penting diinformasikan lewat dua atau tiga jalur.

PETUNJUK KESEBELAS Petunjuk ini menjelaskan mukjizat Nabi yang terdapat pada benda tak bernyawa seperti batu dan gunung, sebagaimana ‘petunjuk kesepuluh’ menjelaskan mukjizat nabi pada pohon. Di antara sekian banyak contoh yang ada, kami akan menyebutkan delapan darinya:


234

AL-MAKTÛBÂT

Contoh Pertama: Imam Bukhari dan ulama brilian asal Maroko, al-Qâdhî `Iyâdh, meriwayatkan dari Ibnu Mas`ud—pelayan Nabi r—bahwa Nabi r bersabda, “Kami mendengar tasbih makanan saat dimakan.” 189

Contoh Kedua: Diriwayatkan dari Anas dan Abu Dzar di mana Anas berkata, “Nabi r mengambil sekepal kerikil. Lalu kerikil tersebut bertasbih di tangan Rasulullah r sehingga kami pun bisa mendengarnya. Setelah itu, beliau menuangnya ke tangan Abu Bakar d, ia tetap dalam kondisi bertasbih. Kemudian ia diletakkan ke tangan kami, namun tidak lagi bertasbih.” 190 Hal yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Dzar d. Ia menyebutkan bahwa kerikil tersebut bertasbih saat dipegang oleh Umar d. Namun ketika diletakkan di atas tanah, ia diam. Setelah itu, Umar mengambilnya dan meletakkan di tangan Utsman. Kerikil itu kembali bertasbih. Akan tetapi, saat diletakkan di tangan kami, ia tidak lagi bertasbih.” 191

Contoh Ketiga: Dalam riwayat sahih yang berasal dari Ali, Jabir, dan Aisyah disebutkan bahwa setiap kali Nabi r melewati gunung dan batu, semuanya selalu berkata:

Salam untukmu wahai Rasulullah. Dalam riwayat Ali d disebutkan, “Saat berada di Mekkah bersama Nabi r—di awal masa kenabian—beliau pergi ke sejumlah sisinya. Setiap kali bertemu dengan pohon dan gunung, ia berkata kepada beliau, “Salam untukmu wahai Rasulullah.”192 189 Al-Bukhari, bab al-Manâqib 25; at-Tirmidzi, al-Manâqib 6; ad-Dârimi, al-Mukaddimah 5; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/460. 190 Ibnu Asâkir, Tarikh Dimasyq 39/120-121; Ibnu al-Jawzi, al-Laâli al-Mutanahiyah 1/207; al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/306. 191 Al-Bukhari, at-Târîkh al-Kabîr 8/442; al-Bazzar, al-Musnad 9/431-434; ath-abrani, al-Mu’jam al-Ausath 2/59; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 431,432, dan 593. 192 At-Tirmidzi, al-Manâqib 6; ad-Dârimi, al-Mukaddimah 4; al-Hakim,


Surat Kesembilan Belas

235

Dalam riwayat jabir d, ia berkata, “Setiap kali Nabi r melewati batu atau pohon, ia bersujud kepada beliau.” 193 Yakni semua tunduk kepada beliau seraya mengucap, “Salam untukmu wahai Rasulullah”. Dalam riwayat lain yang berasal dari Jabir ibn Samurah bahwa Nabi r bersabda:

d

Aku mengetahui di kota Mekkah ada batu yang selalu memberi salam untukku. Yakni sebelum beliau diutus menjadi nabi. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Hajar Aswad.194 Diriwayatkan dari Aisyah g bahwa Nabi r bersabda:

Saat Jibril membawa risalah kepadaku, maka setiap kali melewati batu atau pohon, semuanya mengucap, ‘Salam untukmu wahai Rasulullah.’195

Contoh Keempat:

Dalam hadis al-Abbas d disebutkan bahwa ketika Nabi r menyelimuti dia dan anak-anaknya—yaitu Abdullah, Ubaidillah, al-Fadhl, dan Qutsam—dengan pakaian beliau seraya berdoa agar mereka diselamatkan dari api neraka, beliau berkata:

al-Mustadrak 2/677; dan al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/69. 193 Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/307 dan al-Khafâji 3/71. 194 Lihat: al-Qurthubi, al-Jâm’i li Ahkâm al-Qur’an 10/268; al-Manawi, Faidhul Qadir 1/19; al-Halabi, as-Sirah al-Halabiyyah 1/361. 195 Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/307, al-Khafaji 3/71; al-Haitsami, Majma’ az-Zawâ’id 8/259.


236

AL-MAKTÛBÂT

Wahai Tuhan, ini adalah pamanku, saudara ayahku. Sementara mereka adalah anak-anaknya. Lindungilah mereka dari api neraka sebagaimana aku menutupi mereka dengan bajuku ini. Mendengar doa tersebut, daun pintu dan tembok rumah ikut mengamini.196

Contoh Kelima: Sejumlah perawi hadis sahih, terutama al-Bukhari, Ibnu Hibban, Abu Daud, dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas, 197 Abu Hurairah,198 Utsman Dzun-Nurain,199 dan Said ibn Zaid 200 sebagai salah seorang yang diberi kabar gembira masuk surga, meriwayatkan bahwa Nabi r, Abu Bakar, dan Utsman naik ke bukit Uhud. Tiba-tiba bukit tersebut bergetar karena senang dan gembira dengan keberadaan mereka. Beliau bersabda:

Tenanglah wahai Uhud! Yang berada di atasmu adalah seorang nabi, orang shiddiq, dan dua syahid. Lewat hadis di atas, Nabi Umar dan Utsman secara gaib.

r mengabarkan mati syahidnya

Sebagai pelengkap dari contoh di atas, diriwayatkan bahwa ketika Rasul r berhijrah dari Mekkah dan dicari-cari oleh kaum kafi r Quraisy, beliau naik ke gunung Tsubair. 201 Tiba-tiba gunung itu berkata, “Wahai Rasulullah, turunlah! Aku khawatir mereka membunuhmu di atas punggungku sehingga Allah mengazabku.” Ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 19/263; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 433; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/71 dan 72. Lihat pula at-Tirmidzi, alManâqib 28. 197 Al-Bukhari, Fadhâ’il Ash-hâb an-Nabi 5 r dan 7; at-Tirmidzi, al-Manâqib 18; Abu Daud, as-Sunnah 8; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/112. 198 Muslim, Fadhâ’il ash-Shahabah 50; dan at-Tirmidzi, al-Manâqib 18. 199 At-Tirmidzi, al-Manâqib 18; an-Nasai, ash-Shiyâm 18. 200 At-Tirmidzi, al-Manâqib 28; al-Bazzar, al-Musnad 4/91; al-Hakim, al-Mustadrak 3/509; dan Abu Nu`aim, Hilyatul Awliyâ 4/341. 201 Tsubair adalah gunung di Muzdalifah yang berada di sebelah kiri orang yang berjalan menuju Mina. Ini terjadi sebelum Rasul r menuju gua Tsur; tempat beliau bersembunyi saat berhijrah (Al-Khafâji 3/75). 196


Surat Kesembilan Belas

237

Mendengar hal itu, gua Hira memanggil, “Ke sinilah wahai Rasulullah!”202 Dari sini sejumlah kalangan salih merasa takut ketika berada di Tsubair, namun merasa nyaman dan tenang saat berada di Hira. Lewat berbagai contoh di atas dapat dipahami bahwa sejumlah gunung besar juga tunduk dan taat sama seperti manusia. Ia sebagaimana makhluk lain yang bertasbih kepada Allah dan memiliki tugas khusus. Ia juga mengenal dan mencintai Nabi r. Jadi, gunung tidak dicipta dengan sia-sia.

Contoh Keenam:

Ibnu Umar d meriwayatkan bahwa saat berada di atas mimbar, Nabi r membaca:

“Mereka tidak menghormati Allah dengan sebenar-benarnya penghormatan...” (QS. az-Zumar [39]: 67). Kemudian beliau bersabda, “Tuhan Yang Mahagagah mengagungkan diri-Nya dengan berkata, ‘Aku adalah Dzat Yang Mahagagah. Aku Dzat Yang Mahagagah. Aku Mahabesar dan Mahatinggi.’ Seketika mimbar berguncang hingga kami khawatir beliau terjatuh.”203

Contoh Ketujuh: Diriwayatkan dari Habrul Ummah204 dan sang penafsir al205 206 Qur’an, Ibnu Abbas d serta Ibnu Mas`ud d yang meru202 Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/308; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’an 1/366; as-Suhayli, ar-Raudhul anf 1/400; dan al-Halabi, as-Sirah al-Halabiyyah 1/381. 203 Lihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 2/87; Muslim, sifat al-Munafi qin 24 dan 25; Ibn Majah, al-Mukaddimah 13; Abu Daud, as-Sunnah 19. 204 Dalam kamus al-Mu’jam al-Arabi al-Asâsi, al-Habru artinya tokoh agama. Ia biasanya digunakan sebagai julukan bagi orang-orang non-muslim. Adapun Habrul Ummah adalah gelar khusus untuk Abdullah ibn Abbas yang diberikan oleh Rasulullah r. 205 Ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 10/279, al-Mu’jam ash-Shaghir 2/272. 206 Al-Bukhari, al-Mazhâlim 32 dan al-Maghâzi 48, Tafsir surat al-Isra 12; Muslim, al-Jihad 87.


238

AL-MAKTÛBÂT

pakan ulama dari kalangan sahabat, bahwa di sekitar Ka’bah terdapat 360 patung berhala yang kakinya di lekatkan ke batu dengan timah. Nah manakala Rasulullah r masuk ke dalam Masjidil-Haram saat penaklukan kota Mekkah, beliau menunjuk berhala-berhala itu dengan tongkat tanpa menyentuhnya seraya membaca:

“.....Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. al-Isrâ [17]: 81). Setiap kali beliau menunjuk wajah berhala itu, ia pasti jatuh sehingga tidak ada berhala yang tersisa.

Contoh Kedelapan: Kisah Bahira, sang rahib, yang terkenal. Sebelum diangkat sebagai nabi, Rasul r pergi bersama pamannya, Abu alib, serta sejumlah kaum Quraisy menuju wilayah Syam. Ketika sampai ke dekat gereja sang rahib, mereka berhenti di sana. Biasanya sang rahib tidak keluar menemui orang. Namun ketika itu, ia keluar menerobos rombongan hingga kemudian memegang tangan Rasulullah r. Ia berkata, “Ini adalah pemimpin seluruh alam yang Allah utus sebagai rahmat bagi semesta alam.” Mendengar hal itu para tokoh Quraisy bertanya, “Dari mana engkau tahu?” Ia berkata, “Tidak ada satu pohon atau batupun kecuali sujud kepadanya. Mereka tidak sujud kecuali kepada seorang nabi.” Ia melanjutkan, “Nabi r datang dalam kondisi dinaungi oleh awan. Ketika dekat dengan mereka, awan itu mengikutinya hingga ke bawah pohon. Saat duduk, naungan pohon itu condong kepada beliau.” 207 Demikianlah, terdapat delapan puluh contoh seperti delapan contoh di atas. Bila disatukan, delapan contoh tersebut akan menjadi sangat kuat sehingga tidak diragukan sama sekali. Jenis mukjizat di atas (benda tak bernyawa yang bisa berbicara) menjadi bukti nyata atas kenabian Muhammad r. Ia seper207 At-Tirmidzi, al-Manâqib 3; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 7/327; al-Bazzâr, al-Musnad 8/97; dan al-Hakim, al-Mustadrak 2/672.


Surat Kesembilan Belas

239

ti riwayat mutawatir secara maknawi. Setiap contoh menguatkan yang lain sehingga melebihi kekuatan personalnya. Kondisinya seperti orang lemah yang berada dalam sebuah pasukan. Ia menjadi kuat hingga mampu menghadapi seribu orang. Atau seperti pilar yang lemah yang jika digabung dengan pilar-pilar lain menjadi sangat kuat. Apalagi jika seluruh riwayatnya sahih dan kuat.

PETUNJUK KEDUA BELAS Berikut ini tiga contoh yang masih terkait dengan petunjuk kesebelas.

Contoh pertama: Allah I berfi rman:

“Bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” (QS. al-Anfâl [8]: 17). Dengan redaksinya yang jelas serta sesuai dengan studi para mufassir dan ahli hadis, ayat di atas menerangkan bahwa Rasulullah r dalam perang Badar mengambil segenggam tanah dan pasir, lalu melemparkannya ke wajah pasukan kafi r seraya berkata:

Semoga wajah kalian rusak!208 Tanah itu pun masuk ke mata seluruh kaum musyrik sebagaimana ungkapan ‘Semoga wajah kalian rusak!’ masuk ke telinga mereka. Akibatnya, mereka sibuk membersihkan mata dari tanah lalu mundur, meskipun mereka sebenarnya berada dalam posisi menyerang. Imam Muslim meriwayatkan bahwa dalam perang Hunain ketika kaum kafi r menyerang umat Islam, Nabi r mengambil segenggam tanah lalu melemparkannya ke wajah kaum musy208 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/303 dan 368; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 2/155; Ibnu Hibban, ash-Sahih 14/430; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 3/203; dan al-Hakim, al-Mustadrak 1/268.


240

AL-MAKTÛBÂT

rikin seraya berkata, “Semoga wajah kalian rusak!” Maka—dengan izin Allah—tanah tersebut masuk ke mata setiap orang dari mereka, sebagaimana ungkapan di atas masuk ke telinga mereka. Akhirnya mereka melarikan diri dari medan perang. 209 Peristiwa luar biasa itu telah terjadi pada perang Badar dan Hunain. Ia merupakan peristiwa yang berada di luar kemampuan manusia. ia juga tidak bisa disandarkan pada sebab-sebab biasa. Karena itu, Allah I berfi rman, “Bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” (QS. al-Anfâl [8]: 17). Artinya, ia merupakan peristiwa yang sepenuhnya bersumber dari qudrah ilahi.

Contoh Kedua: Sejumlah kitab ahli hadis, terutama sahih Bukhari dan Muslim, menyebutkan bahwa seorang wanita yahudi yang bernama Zainab binti al-Harts—di daerah Khaibar—memberikan kepada Nabi r kambing panggang yang telah ia racuni. Kemudian Rasul r memakannya diikuti dengan sahabat yang lain. Tiba-tiba beliau berkata, “Angkat tangan kalian! Kambing ini memberitahukan kepadaku bahwa ia beracun.” Maka, semua mengangkat tangan mereka. Namun, Bisyr ibn al-Barrâ terlanjur memakannya. Ia akhirnya meninggal akibat racun tersebut. Nabi r segera memanggil wanita yahudi itu. Beliau berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian?” Ia menjawab, “Jika engkau memang seorang nabi, pasti perbuatanku (racun itu) tidak akan membahayakanmu. Akan tetapi, jika engkau hanya seorang raja, berarti aku telah membuat orang-orang bebas darimu.” 210 Akhirnya, Rasul r memerintahkan agar ia dibunuh. 211 Dalam sejumlah riwayat lain, ia tidak diperintahkan untuk dibunuh. 212 Menurut para ulama, ia tidak diperintahkan untuk dibunuh. Namun di209 Muslim, al-Jihad 81; ad-Dârimi, as-Siyar 16; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 7/399. 210 Al-Bukhari, bab al-Jizyah 7 dan ath-ibb 55; Muslim, ath-ibb 45. 211 Abu Daud, ad-Diyât 6; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 2/35 dan 19/221; al-Hakim, al-Mustadrak 3/242; dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubrâ 8/46. 212 Al-Bukhari, al-Hibah 28; Muslim, ath-ibb 45. Lihat pula Ibnu Hajar, Fathul-Bârî 7/497.


Surat Kesembilan Belas

241

serahkan kepada keluarga Bisyr ibn al-Barrâ sehingga merekalah yang membunuhnya.213 Sekarang mari kita perhatikan tiga hal berikut untuk menjelaskan sisi kemukjizatan peristiwa di atas: Pertama, dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa sejumlah sahabat mendengar ucapan daging kambing tersebut saat ia memberitahu kalau ia beracun. Kedua, dalam riwayat lain disebutkan bahwa setelah Rasul r memberitahukan persoalan tersebut beliau berkata:

Bacalah bismillah kemudian makan! Racun itu tidak akan memberikan bahaya setelah membaca basmalah.214) Meskipun riwayat ini tidak diterima oleh Ibnu Hajar al-Asqalani,215 namun para ulama yang lain menerimanya. 216 Ketiga, setiap orang yang mendengar informasi Nabi

r bahwa ‘kambing tersebut beracun’ percaya seolah-olah ia mendengar langsung. Pasalnya, Nabi r sama sekali tidak pernah

memberi informasi yang bertentangan dengan fakta. Ini adalah salah satunya. Ketika orang yahudi merencanakan makar untuk membinasakan Rasul r dan para sahabat, ternyata konspirasi itu tersingkap lewat informasi gaib sehingga rencana mereka gagal. Beritanya persis seperti yang beliau katakan.

Contoh Ketiga: Mukjizat Rasul r dalam tiga peristiwa yang menyerupai . mukjizat ‘tangan putih’ dan ‘tongkat’ Musa Peristiwa pertama: Imam Ahmad meriwayatkan hadis sahih yang berasal dari Abu Said al-Khudri d bahwa pada suatu 213 Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 2/202; an-Nawawi, Syarh Sahih Muslim 14/179; Ibnu Hajar, Fathul-Bârî 7/497 dan 498. 214 Al-Hakim, al-Mustadrak 4/122; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 197; al-Haitsami, Majma’ az-Zawâ’id 8/295 dan 296. 215 Lihat: Ali al-Qâri, Syarh asy-Syifâ 1/645. 216 Al-Hakim, al-Mustadrak 4/122; al-Haitsami, Majma’ az-Zawâ’id 8/295 dan 296.


242

AL-MAKTÛBÂT

malam yang gelap lagi hujan Rasulullah r memberikan sebuah tongkat kepada Qatadah ibn Nu’man. Beliau berkata, “Pergilah dengannya sebab ia akan menerangi sekelilingmu sejauh sepuluh (langkah). Jika engkau masuk ke dalam rumahmu, engkau akan melihat bayangan hitam. Pukullah dengannya hingga ia keluar sebab ia adalah setan.” Maka iapun pergi dan ternyata tongkat itu meneranginya—seperti tangan putih Musa —sampai ia tiba di rumah. Ketika masuk, ia melihat bayangan hitam itu, maka iapun memukulnya hingga keluar.” 217 Peristiwa kedua: Pedang Ukasyah ibn Muhsan al-Asadi yang berperang dalam perang Badar—perang yang berisi sejumlah keajaiban—tiba-tiba patah. Maka Rasul r memberinya satu batang kayu yang keras. Beliau berkata, “Pukulkanlah!” Seketika ia berubah menjadi pedang yang tajam dan panjang berwarna putih cemerlang sehingga Ukasyah kembali berperang dengan menggunakan pedang tersebut. Pedang tersebut terus bersamanya dalam sejumlah peperangan hingga akhirnya tewas sebagai syahid saat memerangi kaum yang murtad di Yamamah. Peristiwa ini sangat valid. Ukasyah begitu bangga dengan pedang tersebut sepanjang hidupnya. Pedang itu diberi nama al-`Aun (bantuan). Kemasyhuran pedang tersebut dengan nama al-`Aun218 serta rasa bangga Ukasyah terhadap pedang tersebut menjadi bukti atas benarnya peristiwa di atas. Peristiwa ketiga: Ibnu Abdil Barr yang termasuk salah satu tokoh ulama pada masanya meriwayatkan219 bahwa Abdullah ibn Jahsy, sepupu Rasulullah r, kehilangan pedangnya dalam perang Uhud saat berperang. Maka, Rasulullah r memberinya dahan kurma yang kemudian di tangannya berubah menjadi pedang. Ibnu Sayyid an-Nas dalam buku sirah-nya menyebutkan bahwa pedang tersebut selama bertahun-tahun tetap utuh dan 217 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/65; Ibnu Khuzaimah, ash-Sahih 3/81; Ibnu Abdil Barr, al-Istî`âb 3/1276; dan Ibnu Hajar, al-Ishâbah 5/417. 218 Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 3/185 dan 186; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/188; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 3/98 dan 99; al-Wâqidi, Kitab al-Maghâzi 1/93. 219 Ibnu Abdil Barr, al-Istî`âb 3/879; al-Baihaqi, al-I’tiqâd 295.


Surat Kesembilan Belas

243

terus berpindah-tangan sampai akhirnya pedang itu dijual kepada orang yang bernama Bugha Turki seharga 200 dinar. 220 Kedua pedang di atas merupakan dua mukjizat yang menyerupai mukjizat tongkat Musa . Bedanya, tongkat Nabi Musa tidak lagi menjadi mukjizat setelah beliau wafat. Sementara, kedua pedang di atas tetap menjadi mukjizat meski Nabi r telah wafat.

PETUNJUK KETIGA BELAS Di antara mukjizat Nabi r adalah sembuhnya orang-orang yang sakit dan terluka lewat ludah beliau. Jenis mukjizat ini bersifat mutawatir maknawi. Namun dilihat dari bagian-bagiannya, ada yang hukumnya mutawatir maknawi dan ada pula yang merupakan hadis ahad. Hanya saja, secara ilmiah ia bisa diterima dan dipercaya. Pasalnya, riwayat tersebut mendapatkan legitimasi para ulama dan dianggap sahih oleh pada ahli hadis. Dari sekian banyak contoh jenis mukjizat ini, kami hanya akan menyebutkan sebagiannya sebagai berikut:

Contoh pertama: Al-Qâdhî `Iyâdh meriwayatkan dari Sa’ad ibn Abi Waqqas yang termasuk salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga sekaligus menjadi pelayan Nabi r dan merupakan salah satu panglima beliau. Sa’ad ibn Abi Waqqas memimpin pasukan Islam pada masa Umar ibn al-Khattab d. Ia berkata, “Rasulullah r memberiku anak panah yang tidak memiliki mata atau tidak ada ujungnya. ‘Panahlah dengannya!’ ujar beliau. Rasulullah r sendiri yang telah memanahkannya hingga patah. Yaitu pada perang Uhud. Anak panah yang tidak memiliki ujung itu laksana anak panah yang runcing menembus tubuh orang-orang kafi r.”221 Ia juga berkata, “Ketika itu mata Qatadah ibn Nu’man terkena serangan hingga menonjol keluar. Maka, Nabi r mengemIbnu Abdil Barr, al-Istî`âb 3/879; Ibnu al-Atsîr, Usud al-Ghâbah 3/90; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 4/42; dan Ibnu Sayyid an-Nas, Uyûn al-Atsar 2/32. 221 Muslim, Fadhâ’il ash-Shahabah 42; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 1/142. Lihat pula Ibnu Ishaq, as-Sirah 3/307; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 4/31. 220


244

AL-MAKTÛBÂT

balikannya lagi lewat tangan beliau yang penuh berkah sehingga mata Qatadah termasuk yang paling indah.222 Peristiwa ini menjadi terkenal sehingga salah seorang cucu Qatadah, saat mendatangi Umar ibn Abdul Aziz, memperkenalkan dirinya lewat lantunan bait berikut:

Aku adalah anak orang yang matanya telah keluar ke pipi Namun lewat tangan Mustafa r ia dikembalikan lagi Mata itupun kembali seperti kondisinya semula Sungguh indah mata itu dan sungguh indah pengembaliannya Disebutkan pula bahwa beliau mengusapkan ludahnya ke sebuah luka bekas panah yang terdapat di wajah Abu Qatadah saat perang Dzî Qurad. Abu Qatadah berkata, “Hal itu sama sekali tidak membuatku sakit dan tidak menimbulkan nanah.” Pasalnya, Rasulullah r mengusapnya dengan tangan beliau yang penuh berkah.

Contoh Kedua: Imam Bukhari dan Muslim serta yang lain meriwayatkan bahwa pada perang Khaibar, Rasulullah r memberikan bendera kepada Ali yang ketika itu sedang sakit mata. Tatkala Rasulullah r meludahi matanya, dengan izin Allah ia menjadi obat penyembuh bagi matanya.223 Keesokan harinya Ali dapat mengambil pintu benteng yang terbuat dari besi di mana ia laksana perisai yang berada di tangannya. Kemudian ia berhasil menguasainya. Lihat: Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/187; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 3/251 dan 252; Ibnu Abdil Barr, al-Istî’âb 3/1275. 223 Al-Bukhari, bab al-Jihad 102 dan 143, Fadhâ’il Ashhab 9, al-Maghâzi 38; Muslim, bab Fadhâ’il ash-Sahâbah 34. 222


Surat Kesembilan Belas

245

Pada perang Khaibar, beliau meludahi betis Salamah ibn al-Akwa’ yang terluka. Seketika ia sembuh. 224

Contoh Ketiga: An-Nasa’i meriwayatkan dari Utsman ibn Hunaif bahwa seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah r. Ia berkata, “Wahai Rasulullah r tolong mintakan kepada Allah agar Allah menyembuhkan butaku.” “Mengapa?” tanya beliau. “Kebutaan ini telah menyulitkan diriku.” Lalu beliau bersabda:

Kalau begitu pergilah berwudhu. Lalu shalatlah dua rakaat dan kemudian berdoalah, “Ya Allah aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu lewat perantaraan nabiku Muhammad, nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad aku meminta Tuhan lewat dirimu agar Dia menyingkap penglihatanku. Ya Allah, jadikan beliau sebagai penolong untukku dan jadikan aku sebagai penolong untuk diriku.” Setelah itu, ia kembali dalam keadaan mata yang sudah sembuh.”225

Contoh Keempat: Pada perang Badar, Abu Jahal berhasil menebas salah satu tangan Mua`awwadz ibn `Afrâ—salah seorang dari 14 orang yang mati syahid dalam perang Badar—hingga putus. Maka, ia datang membawa tangannya. Melihat hal itu, Rasulullah r meludahi tangan tersebut dan melekatkannya kembali. Riwayat ini disebutAl-Bukhari, bab al-Maghâzi 38; Abu Daud, ath-ibb 19; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/48. 225 An-Nasa’i, as-Sunan al-Kubrâ 6/168 dan 169, Amal al-Yaumi wal Lailah 418. Lihat pula at-Tirmidzi, ad-Da`awât 118; Ibnu Majah, al-Iqamah 189; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/138. 224


246

AL-MAKTÛBÂT

kan oleh Ibnu Wahab, salah seorang imam ahli hadis. Setelah itu, Mu`awwadz kembali ke medan peperangan dan berperang sampai ia mati syahid.226 Riwayat yang lain menyebutkan bahwa Khubaib ibn Yusâf pada saat perang Badar terkena pukulan di pundaknya sehingga tubuhnya doyong. Maka, Rasulullah r memulihkan dan meludahinya hingga sehat kembali.”227 Kedua hadis di atas meskipun bersifat âhâd (perorangan) namun karena ia dianggap sahih oleh Imam Ibnu Wahab; karena terjadi dalam perang Badar yang merupakan peristiwa yang memperlihatkan banyak mukjizat; serta karena didukung oleh banyak bukti lain yang selaras, hal itu menjadikan peristiwa yang terjadi pada keduanya tidak diragukan oleh siapapun. Demikianlah, terdapat seribu satu contoh yang disebutkan dalam hadis-hadis sahih bahwa tangan Rasul r yang agung menjadi obat bagi mereka yang cacat dan sakit.

Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/324. Al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/178; Ibnul Atsîr Usud al-Ghabah 1/595; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 2/261. 226

227


Surat Kesembilan Belas

247

Tulisan yang Pantas Diabadikan dengan Tinta Emas dan Untaian Berlian Ya, seperti telah disebutkan: -

-

-

Bertasbihnya kerikil saat berada di tangan Nabi r; Berubahnya tanah dan pasir menjadi peluru yang menghantam wajah musuh hingga mereka lari terbirit-birit sesuai dengan fi rman-Nya, “Bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar” (QS. al-Anfâl [8]: 17); Terbelahnya bulan menjadi dua lewat isyarat jari telunjuk beliau seperti yang disebutkan Al-Qur’an, “dan bulan pun terbelah” (QS. al-Qamar [54]: 1); Memancarnya air dari sepuluh jari beliau dan kondisi pasukan yang segar kembali setelah meminumnya; Dan bagaimana tangan beliau menjadi balsem penyembuh bagi mereka yang terluka dan obat bagi mereka yang sakit.

Semua itu menjelaskan tingkat keberkahan yang terdapat pada tangan beliau tersebut dan keberadaannya sebagai mukjizat qudrah ilahi yang agung. Seolah-olah telapak tangan beliau merupakan “tempat zikir yang kecil” di tengah-tengah para kekasih yang andaikan pasir masuk ke dalamnya, tentu ia bertasbih dan berzikir. Ia juga laksana “gudang senjata ilahi” untuk melawan musuh yang andaikan tanah masuk ke dalamnya, tentu akan terbang seperti meriam. Ia juga seperti “apotek ilahi yang kecil” bagi mereka yang sakit dan terluka yang ketika menyentuh penyakit, seketika menjadi obat. Saat tangan itu terangkat dengan segala keagungan, ia bisa membelah bulan menjadi dua lewat jari-jemarinya. Manakala berbalik dengan sangat indah, ia memancarkan sumber rahmat yang mengalir lewat sepuluh mata air laksana telaga Kautsar. Jika tangan Nabi r yang mulia menjadi mukjizat yang cemerlang semacam itu, bukankah dapat dipahami dengan jelas kedudukan beliau di sisi Tuhan, kebenaran dakwahnya, serta tingkat kebahagiaan mereka yang berbaiat pada tangan penuh berkah tersebut?!


248

AL-MAKTÛBÂT

Pertanyaan: Banyak riwayat yang kau katakan mutawatir, padahal kami baru mendengarnya sekarang. Mungkinkah riwayat yang mutawatir tidak diketahui sejauh ini? Jawaban: Banyak hal yang bersifat mutawatir bagi para ulama syariat, namun tidak diketahui oleh yang lain. Banyak hadis mutawatir di kalangan ulama ahli hadis di mana ia tidak diketahui kecuali oleh segelintir orang di luar mereka. Demikianlah, terdapat sejumlah aksioma dan teori pada setiap disiplin ilmu yang hanya bisa dijelaskan sesuai dengan batasan yang dimiliki oleh kalangan yang memiliki spesialisasi di bidang tersebut. Sementara yang lain cukup merujuk kepada mereka di dalamnya. Entah dengan mematuhi ucapan mereka atau ikut mempelajarinya hingga sampai pada pengetahuan seperti yang mereka capai. Riwayat mutawatir hakiki dan maknawi yang kami sebutkan atau sejumlah peristiwa yang dinilai mutawatir, hukumnya telah dijelaskan oleh para ulama ahli hadis, ulama syariat, ulama ushul, dan sebagian besar ulama yang lain. Nah, kalau kemudian masyarakat umum yang alpa tidak mengetahuinya atau kalau kalangan yang bodoh menutup mata darinya, maka yang salah adalah mereka sendiri.

Contoh Kelima: Imam al-Baghawi meriwayatkan bahwa pada perang Khandak, betis Ali ibn al-Hakam terkena pukulan dan patah. Lalu Rasulullah r mengusapnya hingga sembuh seketika tanpa perlu turun dari kudanya.228

Contoh Keenam: Al-Baihaqi dan yang lain meriwayatkan bahwa Ali ibn Abi alib mengeluh karena sakit dan ia pun mulai berdoa. Maka, Nabi r berdoa:

228 Lihat: al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/185; Ibnu Abdil Barr, al-Istî`âb 3/1415; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 4/562; as-Suyuthi, al-Khashâ’is al-Kubrâ 2/119.


Surat Kesembilan Belas

249

Ya Allah, berikan kesembuhan padanya. Lalu beliau memukulnya dengan kaki beliau. Setelah itu Ali d tidak lagi merasa sakit.229

Contoh Ketujuh: Di telapak tangan Syarahbil al-Ju’fi terdapat daging tumbuh yang membuatnya tidak bisa memegang pedang dan mengendalikan tunggangan. Iapun mengadukan hal itu kepada Nabi r. Maka, beliau menggilas daging tumbuh itu dengan tangannya hingga terangkat dan tidak meninggalkan bekas. 230

Contoh Kedelapan:

r.

Enam anak kecil mendapatkan bagian dari mukjizat Rasul

Pertama: Ibnu Abi Syaibah—salah satu imam ahli hadis— meriwayatkan bahwa seorang wanita dari Khats’am datang kepada Nabi r. Ia membawa seorang anak kecil yang mendapat ujian tidak bisa berbicara. Maka, Nabi r dibawakan air, lalu beliau berkumur-kumur, dan membasuh kedua tangannya. Kemudian air tersebut diberikan kepada orang tadi seraya menyuruhnya untuk meminumkan kepada si anak tadi. Seketika anak tersebut sembuh dan memiliki kecerdasan yang melebihi orang lain. 231 Kedua: Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa seorang wanita datang dengan membawa anaknya yang kurang waras. Maka, Nabi r mengusap dadanya. Seketika si anak muntah dan mengeluarkan sesuatu seperti anak anjing hitam. Yaitu sesuatu yang hitam seperti mentimun. Akhirnya anak itupun sembuh. 232 At-Tirmidzi dalam ad-Da`awât 111; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/107 dan 128; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 5/46, 6/63; dan an-Nasa’i, as-Sunan alKubrâ 6/261. 230 Ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 7/306; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/176; dan Ibnu Abdil Barr 2/697 dan 6/176. 231 Ibnu Majah dalam ath-ibb 40; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 5/48 dan 6/321; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 25/160. 232 Ad-Dârimi, al-Muqaddimah; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/239 dan 229


250

AL-MAKTÛBÂT

Ketiga: Imam al-Baihaqi dan an-Nasa’i meriwayatkan bahwa sebuah periuk terbalik dan menimpa lengan Muhammad ibn Hâtib yang masih kecil. Maka, Nabi r mengusap dan mendoakannya. Beliau meniup dan memberikan ludahnya yang mulia. Seketika anak itu sembuh. 233 Keempat: Seorang anak yang sudah beranjak dewasa didatangkan kepada Nabi r. Ia tidak bisa berbicara sama sekali. Beliaupun bertanya padanya, “Siapa aku?” Anak itu menjawab, “Rasulullah.”234 Allah membuatnya dapat berbicara. Kelima: Sosok ulama brilian, Imam Jalaluddin as-Suyuthi, yang telah mendapat kehormatan bisa melihat Nabi r berkali-kali dalam keadaan terjaga,235 meriwayatkan bahwa seorang lelaki dari penduduk Yamamah datang kepada Nabi r dengan membawa seorang anak saat baru lahir. Maka, Rasulullah r berkata kepadanya, “Wahai anak, siapa aku?” Iapun menjawab, “Engkau adalah utusan Allah.” “Benar. Semoga Allah memberkahimu,” ujar Nabi r. Setelah itu, anak itu tidak bisa bicara sampai besar. Ia diberi nama “Mubarak Yamamah” lantaran doa keberkahan yang Nabi r berikan untuknya. 236 Keenam: Nabi r mendoakan keburukan untuk seorang anak yang memiliki watak yang buruk. Ia lewat di hadapan Nabi r yang sedang shalat. Maka, Nabi berdoa agar Allah menghentikan langkahnya hingga lumpuh.237 Dengan demikian, anak tersebut mendapatkan balasan dari perbuatan buruknya. Ketujuh: Seorang wanita meminta makanan saat beliau sedang makan. Maka, Nabi r segera memberinya dari makanan 254, dan 268; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 5/47; ath-abrani, al-Mu’jam alKabir 12/57. 233 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/18; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 5/45; al-Nasa’i, as-Sunan 4/366, 6/55, 253, dan 254; Ibnu Hibban, ash-Sahih 7/241. 234 Al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/60 dan 61; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 6/159. 235 Ibnu al-`Imâd, Syadzarât adz-Dzahab 4/45; an-Nabhani, Jâmi’ Karâmât al-Auliyâ 2/158. 236 Ibnu Qâni’, Mu’jam ash-Shahabah 3/135; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/59; al-Khatîb al-Baghdadi, Târîkh Bagdad 3/443; dan Ibnu Katsîr, al-Bidayah wan-Nihayah 6/158. 237 Abu Daud, ash-Shalat 109; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/64, 5/376; al-Bukhari, at-Tarikh al-Kabir 8/365; dan Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 1/254.


Surat Kesembilan Belas

251

yang ada di depannya. Wanita itu tidak memiliki rasa malu. Ia berkata, “Aku ingin makanan yang terdapat di mulutmu.” Nabi pun memberikan apa yang terdapat di mulut beliau. Jika diminta sesuatu, beliau memang tidak pernah menolak. Ketika sudah berada di dalam perutnya, wanita itupun berubah menjadi sangat pemalu. Tidak ada seorang wanita pun di Madinah yang lebih pemalu darinya.238 Demikianlah, terdapat begitu banyak contoh yang jumlahnya lebih dari 800 seperti yang telah kami sebutkan. Kitab-kitab hadis dan sirah (riwayat hidup) telah menceritakan sebagian besarnya. Ya, ketika tangan Rasul r yang penuh berkah itu laksana apotek Lukman al-Hakim, ludah beliau laksana mata air kehidupyang an milik Khidir , serta tiupan beliau seperti tiupan Isa bisa menyembuhkan, sementara manusia selalu mendapatkan musibah dan cobaan, sudah pasti banyak orang sakit, anak-anak, dan orang kurang waras yang dibawa kepada beliau. Mereka semua sembuh dari penyakit dan cacat mereka. Bahkan âwus al-Yamani yang termasuk imam dari kalangan tabi`in yang terkenal dengan kezuhudan dan ketakwaannya di mana ia telah berhaji sebanyak 40 kali, melaksanakan shalat subuh dengan wudhu shalat isya selama 40 tahun, serta menjumpai banyak sahabat. Sang ulama tersebut menginformasikan dengan sangat valid bahwa tidak ada seorang gila pun yang datang kepada Nabi r lalu beliau meletakkan tangannya di atas dada orang tersebut, kecuali ia sembuh dari gilanya. Jika imam seperti ath-âwus al-Yamani yang pernah berjumpa dengan para sahabat menginformasikan berita yang valid semacam ini, tentu tidak ada keraguan bahwa memang banyak orang sakit yang mendatangi Nabi r. Barangkali jumlahnya mencapai ribuan yang semuanya sembuh.

PETUNJUK KEEMPAT BELAS Di antara salah satu jenis mukjizat beliau adalah sesuatu yang sangat hebat. Yaitu sejumlah peristiwa luar biasa yang ter238

Ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 8/200 dan 231.


252

AL-MAKTÛBÂT

jadi berkat doa beliau. Jenis ini tidak ada keraguan di dalamnya dan bersifat mutawatir hakiki. Contoh dan bagian-bagiannya tidak terhitung. Banyak di antara contohnya yang mencapai tingkat mutawatir. Bahkan ia begitu masyhur dan dekat dengan tingkat mutawatir. Dan ada pula yang diriwayatkan oleh para imam besar yang bernilai sangat valid seperti riwayat mutawatir yang masyhur. Sebagai contoh, di sini kami ingin menyebutkan sebagian dari sekian banyak riwayat seputar hal tersebut di mana ia mendekati mutawatir, atau mencapai tingkat masyhur. Kami juga akan menyebutkan sejumlah bagian dari setiap contoh:

Contoh Pertama: Para imam hadis, terutama imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa doa Nabi r yang meminta hujan langsung terkabul seketika. Hal itu sering terjadi. Bahkan pernah beliau mengangkat tangan untuk meminta hujan saat di atas mimbar, ternyata doanya terkabul sebelum tangan beliau turun. 239 Riwayat ini sangat kuat sampai mencapai tingkat mutawatir. Sebelumnya kami telah menyebutkan bahwa sejumlah orang mengalami kehausan saat berada di perjalanan. Namun awan selalu berkumpul setiap kali mereka butuh air sehingga menghadirkan air untuk mereka lalu pergi lagi.240 Bahkan sebelum diutus sebagai Nabi, doa beliau sudah mustajab. Abdul Muttalib, kakek Nabi r, pernah meminta hujan lewat perantaraan beliau saat masih kecil. Seketika hujan turun. Peristiwa ini sangat terkenal hingga disebutkan oleh Abdul Muttalib dalam sejumlah syairnya.241 Umar ibn al-Khattab pernah meminta hujan lewat al-Abbas, paman Nabi r, sesudah Nabi r wafat. Ia berdoa: 239 Al-Bukhari, al-Istisqâ 6,7,9,12, dan 14; Muslim, al-Istisqâ 8-10; an-Nasa’i, al-Istisqâ 1 dan 10; dan al-Muwaththa bab istisqâ 3. 240 Ibnu Khuzaimah, ash-Sahih 1/53; ath-abrani, al-Mu’jam al-Ausath 3/324; al-Bazzar, al-Musnad 1/321; Ibnu Hibban, ash-Sahih 4/223; dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubrâ 4/354. 241 Lihat: ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 24/260-261; Ibnu Sa`ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/90 dan 2/322; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 2/15-19.


Surat Kesembilan Belas

253

Ya Allah, sebelumnya kami meminta kepada-Mu lewat Nabi kami dan Engkau menurunkan hujan untuk kami. Sekarang kami meminta kepada-Mu lewat paman Nabi kami, maka turunkan hujan untuk kami. Disebutkan bahwa hujan diturunkan kepada mereka.242 Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasul r pernah diminta berdoa agar Allah menurunkan hujan untuk mereka. Maka, beliau berdoa dengan doa istisqa. Seketika mereka mendapatkan hujan. Lalu mereka mengadukan hujan yang demikian besar sehingga beliau berdoa dan hujan itupun berhenti. 243

Contoh Kedua: Terdapat riwayat terkenal yang mendekati mutawatir bahwa saat jumlah kaum beriman masih sedikit dan menyembunyikan keimanan dan ibadah mereka, Nabi r berdoa agar Allah memuliakan Islam lewat Umar d atau Abu Jahal. Ternyata doa beliau dikabulkan dengan keislaman Umar. Ketika itu, beliau berdoa:

Ya Allah, muliakan Islam dengan Abu Jahal (Amr) ibn Hisyam atau dengan Umar ibn al-Khattab. 244 Ternyata keesokan harinya Umar datang kepada Rasulullah r dan masuk Islam. Ia menjadi sebab bagi kemuliaan Islam. Karena itu ia dijuluki al-Fârûq.245 Al-Bukhari, bab al-istisqa 3, Fadhâ’il Ashâb an-Nabiy 11; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 1/72; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubrâ 3/352; dan Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 4/29. 243 Al-Bukhari, bab al-Istisqa 6,7,9,12, dan 14; Muslim, bab al-Istisqa 8-10; an-Nasa’i, bab al-Istisqa 1 dan 10; al-Muwaththa, bab al-Istisqa 3. 244 Ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 10/159, al-Mu’jam al-Ausath 2/240 dan 11/255. Lihat pula at-Tirmidzi, al-Manaqib 17; Ibnu Majah, al-Mukaddimah 11; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 2/95. 245 Lihat: Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 3/270; ath-abari, Tarikh al242


254

AL-MAKTÛBÂT

Contoh Ketiga: Nabi r pernah berdoa untuk sejumlah sahabat untuk berbagai tujuan. Doa beliau langsung dikabulkan secara luar biasa sampai-sampai karamah dari doa tersebut mencapai tingkatan mukjizat. Di antaranya riwayat al-Bukhari dan Muslim serta yang lain bahwa beliau pernah berdoa untuk Ibnu Abbas:

Ya Allah, berikan pemahaman dalam hal agama kepadanya, serta ajarkan takwil untuknya.246 Sesudah itu ia disebut sebagai “Habrul Ummah” dan “Penafsir al-Qur’an.”247 Bahkan Umar d memberikan izin kepada Ibnu Abbas d—meskipun masih muda—untuk ikut duduk dalam majelis para tokoh sahabat.248 Al-Bukhari dan yang lain meriwayatkan dari Anas d bahwa ibunya berkata, “Wahai Rasulullah, tolong doakan untuk pelayanmu, Anas!” Maka, Rasul r berdoa:

Ya Allah, perbanyak harta dan anaknya, serta berkahi apa yang Kau telah berikan padanya. Dalam riwayat Ikrimah, Anas d berkata, “Demi Allah, hartaku sangat banyak. Anakku dan cucuku sekarang ini mencapai seratus.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia berkata, “Aku tidak tahu apa ada orang yang lebih lapang hidupnya daripada diriku. Aku telah mengubur dengan kedua tangan ini seratus anakku; bukan yang keguguran atau cucu.” Semua itu berkat doa Nabi r.249 Umam wal-Muluk 2/562; an-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ 2/325. 246 Al-Bukhari, bab al-Wudhu 10; Muslim, Fadhâ’il ash-Shahâbah 138. 247 Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 6/838; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 2/366; al-Hakim, al-Mustadrak 3/618; dan Ibnu Abdil Barr, al-Istî’âb 3/935. 248 Lihat: al-Bukhari, al-Manâqib 37, al-Maghâzi 38 dan 51; at-Tirmidzi, Tafsir al-Qur’an surah an-Nashr 1; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/338. 249 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/248 dan 6/430; ath-ayalisi, al-Musnad 6/16 dan 7/233; Ibnu Hibban, ash-Sahih 16/143.


Surat Kesembilan Belas

255

Imam al-Baihaqi dan imam hadis yang lain meriwayatkan bahwa Nabi r pernah mendoakan keberkahan untuk Abdurrahman ibn Auf.250 Ia termasuk salah seorang yang diberi kabar gembira masuk surga. Berkat doa beliau, ia mendapatkan harta berlimpah sampai-sampai ia pernah menyedekahkan 700 unta beserta bawaannya. Jadi, ia menyedekahkan unta berikut barang yang dibawanya.251 Sungguh Allah memberikan keberkahan yang menakjubkan padanya. Al-Bukhari dan yang lain meriwayatkan bahwa Nabi r mendoakan keberkahan untuk Urwah ibn Abi al-Ja’ad dalam perdagangannya. Iapun berkata, “Ketika pergi ke pasar Kinasah, aku pulang dengan membawa keuntungan sebesar 40 ribu.” AlBukhari dalam hadisnya menegaskan bahwa sekalipun yang ia beli itu tanah, ia akan tetap mendapatkan keuntungan darinya.” 252 Nabi r pernah mendoakan keberkahan untuk Abdullah ibn Ja’far. Tidaklah ia membeli sesuatu kecuali pasti mendapatkan keuntungan darinya. 253 Pada masanya ia dikenal sebagai orang kaya dan orang yang sangat pemurah. 254 Jenis semacam ini sangat banyak. Kami ketengahkan empat saja sebagai contoh. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Nabi r berdoa untuk Sa’ad ibn Abi Waqqas:

Ya Allah, kabulkan untuk Sa’ad manakala ia berdoa.255 Al-Bukhari, bab an-Nikah 7 dan 68 dan bab ad-Da’awat 53; Muslim, bab an-Nikah 79. 251 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 6/115; Abd Ibn Humaid, al-Musnad 1/407; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 1/129 dan 6/27. 252 Al-Bukhari, al-Manâqib 28; Abu Daud, bab al-Buyû’ 27; Ibnu Majah, bab ash-Shadaqât 7; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/375. 253 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/205; an-Nasai, as-Sunan al-Kubrâ 5/48 dan 180, 6/265; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 1/362. 254 Ibnu Hibban, ats-Tsiqat 3/207; Ibnu Abdil Barr, al-Isti’ab 3/881; al-Mazi, Tahdzib al-Kamal 14/367; an-Nawawi, Tahdzib al-Asma 249. 255 Ibnu Abdil Barr, al-Isti’ab 2/608. Lihat at-Tirmidzi, al-Manâqib 26; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 1/43; al-Bazzar, al-Musnad 4/50; dan Ibnu Hibban, ash-Sahih 15/450. 250


256

AL-MAKTÛBÂT

Maka, Sa’ad menjadi orang yang doanya mustajab. Orangorang pun takut didoakan keburukan olehnya. 256 Beliau berkata kepada Abu Qatadah:

Semoga engkau beruntung. Ya Allah, berkahi rambut dan kulitnya. Maka, Abu Qatadah meninggal dunia dalam usia 70 tahun, namun seakan-akan ia masih berusia 15 tahun.” Riwayat ini cukup terkenal.257 Ketika Nâbighah, seorang penyair ternama melantunkan syair di hadapan Rasulullah r yang berbunyi: Kemuliaan dan kehormatan kami sudah mencapai langit Namun lebih dari itu yang kami inginkan. Rasul r berkata kepadanya, “Hendak ke mana wahai Abu Laila?” “Ke surga wahai Rasulullah,” ujarnya. Lalu ia mendendangkan syair lain yang maknanya indah. Rasul pun bersabda:

Semoga Allah memelihara mulutmu. Maka, tidak ada satupun giginya yang tanggal. Ia memiliki gigi paling indah. Kalaupun ada yang tanggal, segera tumbuh gigi yang lain. Ia hidup selama 120 tahun. Bahkan ada yang mengatakan lebih dari itu. 258 Dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa Nabi doakan Ali d dengan berkata:

r men-

Ya Allah, lindungi ia dari panas dan hawa dingin. Berkat doa tersebut, saat musim dingin Ali d memakai baju musim panas 256 Al-Bukhari, bab al-Adzan 95; at-Tirmidzi, al-Manâqib 37; al-Bazzar, al-Musnad 3/274; Ibnu Hibban, ash-Sahih 5/168-169. 257 Lihat: al-Hakim, al-Mustadrak 3/549; Ibnu Abdil Barr, al-Isti’ab 4/1731; al-Baihaqi, Dala`il an-Nubuwwah 4/193. 258 Al-Hârits ibn Usamah, Musnad al-Harits 2/744; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/232-233; dan Ibnu Abdil Barr, al-Istî’âb 4/1516-1743.


Surat Kesembilan Belas

257

dan pada saat musim panas ia memakai baju musim dingin. Ia tidak merasa panas atau dingin. 259 Rasul r juga berdoa untuk putrinya, Fatimah g:

Ya Allah, jangan Kau buat ia lapar. Maka, Fatimah berkata, “Sesudah itu aku tidak pernah merasa lapar.”260 Ath-ufail ibn Amr pernah meminta sebuah bukti untuk kaumnya. Maka, beliau bersabda, “Ya Allah, berikan cahaya kepadanya.” Seketika cahaya memancar di antara kedua matanya. Namun kemudian Rasul r berdoa, “Ya Tuhan, aku khawatir mereka menganggapnya sebagai penyakit”. Cahaya itu kemudian berpindah ke ujung tongkatnya. Ia terang di malam yang gelap. Sehingga disebut Dzun-Nûr (pemilik cahaya).”261 Semua peristiwa di atas riwayatnya sama sekali tidak diragukan. Abu Hurairah g berkata, “Wahai Rasulullah, aku mendengar banyak hadis darimu yang kulupa.” Kemudian beliau bersabda, “Hamparkan selendangmu!” “Akupun menghamparkan selendangku. Beliau menceduk dengan kedua tangannya (seperti mengambil sesuatu) lalu bersabda, ‘Pakailah!’” Aku pun segera memakainya. Sejak saat itu aku tak pernah lupa. 262 Sejumlah peristiwa di atas bersumber dari hadis-hadis yang masyhur.

259 Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 6/327 dan 7/394. Lihat Ibnu Hajar, Fathul Bârî 7/477; Ibnu Majah, al-Mukaddimah 11; dan Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/99. 260 Ath-abrani, al-Mu’jam al-Ausath 4/210-211; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 462; dan al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwawah 6/108. 261 Ibnu Abdil Barr, al-Istî’âb 2/759; adz-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ 1/344. Lihat: al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 5/359; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 4/238; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 2/23. 262 Al-Bukhari, bab al-Ilmu 7, dan al-Manâqib 28; Muslim, Fadhâ’il ash-Shahabah 159.


258

AL-MAKTÛBÂT

Contoh Keempat: Kami ingin menjelaskan beberapa contoh terkait pengabulan ‘doa keburukan’ yang dipanjatkan oleh Nabi r untuk sejumlah orang. Pertama: Nabi r mendengar berita tentang raja Persia bernama Parwez yang merobek surat beliau. Maka beliau berdoa:

Ya Allah, binasakan ia! Ternyata ia memang hancur binasa 263 karena dibunuh oleh putranya yang bernama Syarweh dengan belati.264 Sa’ad ibn Abi Waqqas juga menghancurkan kerajaannya sehingga tidak ada lagi kekuasaan yang tersisa bagi bangsa Persia di penjuru dunia. Sementara kerajaan Kaisar dan yang lain tetap eksis karena menghormati surat yang Rasul r kirimkan kepada mereka.265 Kedua: Dalam hadis masyhur yang mendekati tingkat mutawatir—serta seperti yang ditunjukkan oleh ayat al-Qur’an— disebutkan bahwa para pembesar Quraisy berkumpul di masjidil-Haram. Mereka memperlakukan Nabi r dengan cara yang kurang baik. Maka, Nabi r mendoakan keburukan untuk mereka. Ibnu Mas`ud berkata, “Kulihat mereka semua terbunuh dalam perang Badar.”266 Ketiga: Beliau mendoakan keburukan untuk suku Mudhar, sebuah kabilah besar, karena telah mendustakannya. Maka, mereka ditimpa oleh kekeringan sampai kaum Quraisy merasa iba. Karenanya, beliau mendoakan kebaikan untuk mereka hingga mendapatkan hujan.267 Riwayat ini mendekati tingkat mutawatir. Ibnu Sa’ad, ath- abaqât al-Kubrâ 1/260; Ibnu Abdil Barr, al- Istî’âb 3/889. Lihat al-Bukhari, bab al-Ilmu 7, dan al-Jihad 101; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/243 dan 305. 264 Ibnu Hisyam, as-Sîrah an-Nabawiyyah 1/191; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât alKubrâ 1/260; ath-abari, Tarikh al-Umam wal Mulûk 2/133. 265 Al-Bukhari, bab Bad’ul wahyi 69; Muslim, bab al-Jihad 107. 266 Al-Bukhari, bab al-Wudhû’ 69; Muslim, bab al-Jihad 107. 267 Al-Bukhari, bab al-Istisqâ 2 dan 13, Tafsir surat ad-Dukhân 4; Muslim, Shifât al-Munafi qin 39-40. 263


Surat Kesembilan Belas

259

Contoh Kelima: Yaitu mengenai terkabulnya doa Nabi r yang beliau panjatkan agar sejumlah orang tertentu ditimpa keburukan. Kami akan menyebutkan tiga di antaranya dari sekian banyak contoh yang ada. 1.

2.

3.

Nabi r mendoakan keburukan untuk Utbah ibn Abi Lahab. Beliau berkata:

Ya Allah, jadikan ia dilumat oleh salah satu dari anjing-Mu. Sesudah itu Utbah bepergian. Lalu seekor singa mencarinya. Singa itu merenggutnya dari rombongan serta memakannya.268 Peristiwa ini sangat terkenal. Para imam hadis meriwayatkan dan mensahihkannya. Rasul r mengutus pasukan perang yang dipimpin oleh Amir ibn al-Adbath. Di dalam pasukan terdapat Muhallim ibn Jatstsâmah. Lalu dengan berkhianat, Muhallim membunuh Amir. Ketika berita tersebut sampai kepada Rasulullah r, beliau murka seraya berkata:

Ya Allah, jangan Kau ampuni Muhallim. Tujuh hari sesudah itu Muhallim meninggal dunia. Namun bumi menolaknya. Lalu ketika dikebumikan ia kembali ditolak oleh bumi. Akhirnya, ia diletakkan di antara dua celah dengan ditutup oleh batu. Ia terdapat di sisi lembah.269 Beliau r berkata kepada seseorang yang makan dengan tangan kiri:

268 Al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubrâ 5/211; Ibnu Abdil Barr, at-Tamhid 15/161; al-Asbihani, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/459. 269 Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 6/38-40; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 6/40-41; Ibnu Abdil Barr, al-Istî’âb 1/459. Lihat Abu Daud, bab ad-Diyât 107; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 5/112 dan 6/110; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 7/426.


260

AL-MAKTÛBÂT

Makanlah dengan tangan kanan! Namun ia menjawab, “Tidak bisa.” Akhirnya beliau mendoakan, “Semoga engkau benar-benar tidak bisa!” Ternyata ia tidak lagi bisa mengangkat tangan kanannya ke mulut. 270

Contoh Keenam: Kami akan menyebutkan sejumlah kejadian luar biasa yang benar-benar valid di mana ia terjadi berkat doa dan sentuhan Nabi r: 1.

2.

Nabi r pernah memberi beberapa helai rambutnya kepada Khalid ibn al-Walid (si pedang Allah). Beliau juga berdoa agar ia mendapatkan kemenangan. Khalid pun meletakkan rambut tadi di sorbannya. Akhirnya, tidaklah ia pergi ke medan tempur kecuali selalu mendapatkan kemenangan. 271 Sebelumnya Salman al-Farisi menjadi budak orang Yahudi. Mereka memberikan syarat kepada Salman jika ingin merdeka dengan membayar tebusan sebanyak 300 pohon kurma sampai berbuah disertai 40 ons emas. Maka, Nabi r menanamkan semua untuknya kecuali satu yang ditanamkan oleh orang lain. Seluruh pohon yang ditanam oleh beliau berbuah kecuali satu pohon yang ditanam orang lain tadi. Maka, Nabi r mencabutnya dan menanamnya kembali hingga berbuah.272 Dalam kitab al-Bazzar disebutkan bahwa semua pohon kurma itu berbuah kecuali satu. Maka, Nabi r mencabutnya dan menanamnya kembali. Akhirnya pohon itu berbuah. Beliau juga memberinya emas sebesar telur ayam setelah dibacakan doa berkah. Lalu emas itu ditimbang. 40 ons diberikan kepada majikannya. Sementara masih tersisa padanya emas seberat yang ia berikan pada mereka.273 Peristiwa ini termasuk hal luar biasa yang pernah

Muslim, bab al-Asyribah 107; ad-Dârimi, bab al-Ath`imah 8; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/45-46 dan 50. 271 Abu Ya’lâ, al-Musnad 13/138; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 4/104; alHakim, al-Mustadrak 3/338. 272 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 5/354 dan 443; al-Baihaqi, as-Sunan alKubrâ 10/321 dan 322; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/185; Ibnu Abdil Barr, al-Istî`âb 2/634-635; al-Hakim, al-Mustadrak 2/20. 273 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 5/443; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 6/270; al-Bazzar, al-Musnad 6/467-468; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 270


Surat Kesembilan Belas

3.

261

terjadi dalam kehidupan Salman d. Ia diriwayatkan oleh para imam yang terpercaya. Ummu Malik (ibu dari Malik) memiliki sebuah kantong dari kulit yang ia isi dengan mentega. Ia memberikannya kepada Nabi r. Lalu Nabi r memerintahkan Ummu Malik untuk tidak memeras kantong tersebut seraya menyerahkannya padanya. Ternyata ia penuh dengan mentega. Setiap kali anak-anak Ummu Malik tidak memiliki sesuatu, mereka datang kepada sang ibu dan mendapati mentega berada di dalam kantong tersebut. Hal itu berlangsung terus sampai akhirnya Ummu Malik memerasnya. Sejak itu mereka tidak lagi menemukan sesuatu di dalamnya. 274

Contoh Ketujuh: Air yang tadinya pahit berubah menjadi manis dan segar serta menghembuskan aroma harum berkat doa dan sentuhan Nabi r. Berikut adalah sebagian contohnya: 1.

2.

3.

Al-Baihaqi dan para imam hadis meriwayatkan bahwa sumur Quba kadangkala kering. Lalu beliau menuang bekas sisa wudhunya di sumur Quba. Setelah itu, sumur tersebut tidak pernah kering.275 Abu Nu`aim dalam Dalâ’il an-Nubuwwah dan para perawi hadis meriwayatkan bahwa di dalam rumah Anas terdapat sebuah sumur. Kemudian Nabi r meludah di dalamnya seraya berdoa. Sesudah itu, tidak ada di kota Madinah sumur yang lebih segar daripada sumur tersebut. 276 Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Nabi r diberi satu ember air zam-zam. Beliau meludahi air tersebut sehingga ia menjadi lebih harum daripada minyak kesturi. 277

2/47-48.

Muslim, Fadhâ’il ash-Shahabah 8; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/340 dan 347. 275 Al-Baihaqi, Dala`il an-Nubuwwah 6/136; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 6/101; as-Suyuthi, al-Khasha`is al-Kubrâ 2/68. 276 Lihat: al-Ashbihani, Dala`il an-Nubuwwah 1/162; as-Suyuthi, Khasa`ish al-Kubrâ 1/105. 277 Ibnu Majah, bab ath-aharah 136; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/318; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 11/97; al-Humaydi, al-Musnad 2/293. 274


262

4.

5.

AL-MAKTÛBÂT

Imam Ahmad ibn Hambal meriwayatkan bahwa Nabi r diberi satu ember air dari sumur. Lalu beliau meniupnya kemudian menuang ke dalam sumur tadi. Seketika sumur tersebut lebih harum daripada minyak kesturi. 278 Hammâd ibn Salamah, salah seorang tokoh terpercaya yang Imam Muslim mengambil riwayat darinya, menceritakan bahwa Nabi r mengisi sebuah wadah air setelah berdoa padanya. Kemudian beliau memberikan wadah tersebut kepada para sahabat mulia serta menyuruh mereka untuk membukanya hanya untuk berwudhu. Saat waktu shalat tiba, mereka membukanya, ternyata ia berisi susu segar berikut krim di atasnya. 279

Kelima contoh di atas sebagiannya sangat terkenal dan diriwayatkan oleh para imam terkemuka. Sejumlah riwayat tersebut berikut yang belum kami sebutkan, semuanya dalam bentuk mutawatir maknawi menegaskan mukjizat beliau secara sempurna. Contoh Kedelapan: Kambing yang susunya berlimpah berkat doa dan sentuhan Nabi r, padahal sebelumnya ia kering. Contohnya sangat banyak. Namun di sini kami hanya akan menyebutkan tiga riwayat saja yang cukup terkenal dan kuat. 1.

Seluruh kitab sirah (riwayat hidup) yang bisa dipercaya menceritakan bahwa saat melakukan hijrah bersama Abu Bakar d, Rasul r melewati tenda Âtikah binti Khalid alKhuzâ`i yang dikenal dengan Ummu Ma’bad. Beliaupun singgah padanya. Ummu Ma’bad memiliki sejumlah kambing yang kurus kering tidak memiliki air susu. Kemudian Nabi r bertanya, “Kambing ini tidak ada air susunya?” Ummu Ma’bad menjawab, “Darahnya saja tidak ada, apalagi air susunya.” Maka, Nabi r mengusap punggungnya dan menyentuh susunya. Setelah itu beliau berkata, “Tolong ambil wadah dan perahlah!” Ketika diperah, ternyata ia mengeluarkan air susu. Nabi r dan Abu Bakar d memi-

Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/315; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 22/51; al-Ashbihani, Dala`il an-Nubuwwah 1/33. 279 Al-Qâdhî Iyâdh, asy-Syifa 1/334; Ali al-Qari, Syarh asy-Syifa 1/673; al-Khafaji, Nasim ar-Riyadh 4/140. 278


Surat Kesembilan Belas

2.

3.

263

num air susu tersebut. Sisanya yang terdapat di wadah diminum oleh mereka yang tinggal di kemah hingga semuanya kenyang. Begitulah kambing tersebut menjadi penuh berkah dan kuat.280 Kisah kambing milik Ibnu Mas`ud d: Ibnu Mas`ud d meriwayatkan, “Aku mengembalakan kambing milik Uqbah ibn Abi Mu`ith. Tiba-tiba Rasulullah r dan Abu Bakar d lewat. Beliau bertanya, ‘Wahai fulan, apakah ada air susunya?’ ‘Ya, akan tetapi aku hanya pesuruh yang diberi amanah’, jawabku. Beliau kembali bertanya, ‘Apakah ada kambing yang belum dikawini?’ Maka, akupun membawa kambing yang dimaksud. Beliau mengusap susunya. Seketika air susunya keluar. Lalu susu tersebut diperah di sebuah tempat. Beliau meminumnya serta memberi sebagiannya kepada Abu Bakar...” Inilah yang menjadi sebab Ibnu Mas`ud d masuk Islam.281 Kisah kambing milik Halimah as-Sa’diyyah, ibu susu Nabi r. Kisahnya sangat terkenal. Ketika itu musim paceklik menimpa kampungnya sehingga semua kambing dalam kondisi kurus dan susunya kering. Sebab, kambing tersebut tidak mendapat makanan yang cukup. Ketika Rasul r dibawa ke tempat Halimah as-Sa’diyyah, kambing Halimah mendapatkan makanan yang cukup sehingga air susunya banyak. Sementara kambing yang lain dalam kondisi sebaliknya. Hal itu tidak lain dan tidak bukan ialah keberkahan Rasulullah r.282

Masih terdapat banyak contoh lain dalam kitab sirah, namun kami mencukupkan sampai di sini.

Contoh Kesembilan: Kami akan menyebutkan sebagian dari sekian banyak contoh peristiwa luar biasa yang terjadi saat Rasul r mengusap ke280 Ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 4/48-49; al-Hakim, al-Mustadrak 3/10; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/278; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/230. 281 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/462; Ibnu Abi Syaibah, al-Musnad 6/327; ath-ayâlisi, al-Musnad 1/47; ath-abrani, al-Mu’jam ash-Shaghir 1/310. 282 Abu Ya’lâ, al-Mu’jam 13/95; Ibnu Hibban, ash-Sahih 14/245; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 1/300; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/151.


264

AL-MAKTÛBÂT

pala dan wajah sebagian mereka dengan tangan beliau serta doa yang beliau panjatkan untuk mereka: 1.

2.

3.

4.

5. 6.

Beliau mengusap kepala Umair ibn Sa’ad dan mendoakan keberkahan untuknya. Sebagai akibatnya, Umair meninggal dunia dalam usia 80 tahun tanpa beruban. 283 Beliau mengusap kepala Qais ibn Zaid al-Jadzâmi seraya mendoakan kebaikan untuknya. Hasilnya, Qais meninggal dunia dalam usia seratus tahun dan kepalanya memutih. Sementara tempat yang dipegang oleh Nabi r dan rambut yang disentuh oleh beliau tetap hitam. Karena itu, ia disebut “si belang.”284 Beliau mengusap kepala Abdurrahman ibn Zaid ibn al-Khattab yang masih kecil dan jelek seraya mendoakan keberkahan untuknya. Maka, Abdurrahman bisa mengalahkan orang lain dari segi tinggi dan kesempurnaan fi sik.285 Beliau mengusap darah di wajah `Âidz ibn Amr yang terluka dalam perang Hunain. Nabi pun berdoa untuknya. Maka ia memiliki belang seperti belang kuda. 286 Beliau mengusap wajah Qatadah ibn Milhan. Maka wajahnya berkilau hingga terlihat seperti cermin. 287 Beliau memercikkan air wudhunya ke wajah Zainab binti Ummu Salamah yang masih kecil. Maka, tidak ada wanita yang wajahnya secantik Zainab. 288)

Masih banyak lagi contoh seperti di atas yang diriwayatkan oleh para imam hadis. Secara keseluruhan, riwayat tersebut dianggap sebagai mutawatir maknawi serta menegaskan adanya mukjizat Muhammad r secara mutlak. Bahkan, andaikan setiap hadis tersebut bersifat âhâd (perorangan) dan lemah, namun keseluruhannya menjadi seperti mutawatir maknawi. Sebab, seanAl-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/334. Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/334; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 5/469. 285 Ibnu Abdil Barr, al-Istî`âb 2/833; al-Mazi, Tahdzîb al-Kamâl 7/121; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 5/36. 286 Ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 18/20; al-Hakim, al-Mustadrak 3/677; ar-Rûyâni, al-Musnad 2/33. 287 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 5/27; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/217; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 5/416. 288 Ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 24/282; Ibnu Abdil Barr, al-Istî`âb 4/1854; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 7/675. 283

284


Surat Kesembilan Belas

265

dainya sebuah kejadian atau peristiwa dinukil dalam beragam bentuk dan riwayat berbeda, ini berarti peristiwa tersebut pasti terjadi. Hanya saja, riwayat dan bentuknya beragam atau lemah. Sebagai contoh: Jika dalam sebuah pertemuan terdengar suara gemuruh, lalu ada yang berkata, “Rumah Fulan runtuh,” sementara yang lain berkata, “Rumah orang lain yang runtuh,” yang lain juga berkata, “Bukan, rumah fulan,” dan seterusnya. Setiap riwayat darinya meskipun berifat ahad, lemah, atau bertentangan dengan fakta, namun kejadian aslinya tidak diragukan. Yaitu bahwa memang ada rumah yang runtuh. Dengan demikian, seluruh riwayat yang berasal dari Nabi r menegaskan kepastian kejadiannya. Asal dan pokok peristiwanya disepakati. Sementara sejumlah kejadian parsial yang telah kami sebutkan merupakan riwayat sahih. Bahkan sebagian darinya mencapai derajat masyhur. Kalaupun kita anggap masing-masingnya lemah, namun keseluruhannya menunjukkan kepastian adanya mukjizat Muhammad r itu sebagaimana riwayat dalam contoh di atas menunjukkan kepastian runtuhnya sebuah rumah. Begitulah, setiap jenis mukjizat Muhammad r yang cemerlang tidak diragukan keberadaannya. Sementara pernik-perniknya hanyalah contoh dan gambaran yang beragam dari mukjizat yang bersifat mutlak tersebut. Sebagaimana tangan, jari-jemari, liur, ludah, ucapan, dan doa beliau menjadi sumber bagi banyak mukjizat, maka seluruh perangkat halus, indera, dan organ tubuh beliau menjadi orbit dari berbagai kejadian menakjubkan. Sejumlah kitab sirah dan sejarah menerangkan berbagai kejadian tersebut serta menjelaskan banyak dalil kenabian yang terdapat dalam perilaku, fi sik, organ tubuh, dan perasaan beliau r.

PETUNJUK KELIMA BELAS Binatang, makhluk yang sudah mati, jin, dan malaikat mengenal sosok Nabi r yang mulia. Masing-masing mereka memperlihatkan sebagian mukjizatnya sebagai bentuk pembenaran


266

AL-MAKTÛBÂT

dan deklarasi terhadap kenabian beliau. Hal ini seperti yang diperlihatkan oleh batu, pohon, bulan, dan matahari. Mereka semua mengenal dan membenarkan kenabian beliau. Petunjuk kelima belas ini meliputi tiga cabang:

Cabang Pertama: Spesies binatang mengenal Nabi r dan memperlihatkan mukjizatnya. Cabang ini memiliki banyak contoh. Di sini kami hanya akan menyebutkan sebagian riwayat yang terkenal dan dianggap mutawatir maknawi. Atau, dapat diterima oleh para ulama dan umat. 1.

Peristiwa di gua yang dikenal luas sampai pada tingkat mutawatir maknawi. Yaitu bahwa saat Rasul r berlindung di gua bersama Abu Bakar d untuk menghindari kejaran orang-orang Quraisy, Allah menyuruh dua burung merpati untuk bertengger di atas mulut gua. Dalam riwayat yang lain, laba-laba membuat jaring (sarang) menutupi pintu gua.289 Sehingga ketika Ubay ibn Khalaf—salah seorang tokoh Quraisy yang tewas di tangan Rasul r di perang Badar—diminta oleh orang-orang Quraisy untuk masuk ke dalam gua, ia berkata, “Untuk apa? Di pintu gua terdapat sarang laba-laba. Kupikir ia sudah ada sebelum Muhammad dilahirkan.” Lalu dua burung merpati bertengger di atas mulut gua. Orang-orang Quraisy berkata, “Andaikan di dalam gua ada orang, tentu dua burung merpati ini tidak akan berada di depan pintunya.” Nabi r mendengar pembicaraan mereka. Tidak lama sesudah itu mereka pergi. 290 Ibnu Wahab meriwayatkan bahwa burung merpati Mekkah menaungi Nabi r saat Fathu Mekkah. Maka, Nabi r mendoakan keberkahan untuk mereka.” 291

Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/313; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/248; Abdurrazzaq, al-Mushannaf 5/389; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 3/179-181; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 11/407 dan 20/443; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât alKubrâ 1/228-229. 290 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/248; Abdurrazzaq, al-Mushannaf 5/389; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 3/179-181; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 11/407 dan 20/443; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/228-229. 291 Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/313; al-Halabi, as-Sirah al-Halabiyyah 2/210; 289


Surat Kesembilan Belas

267

Aisyah g meriwayatkan, “Kami memiliki burung yang sering datang ke rumah. Kalau Rasulullah r sedang di rumah, burung itu diam di tempatnya dan tidak kemanamana. Namun apabila Rasulullah r keluar rumah, ia datang dan pergi.”292 Artinya, burung merpati tersebut menghormati Nabi r sehingga bersikap tenang saat beliau ada. 2.

Kisah serigala yang terkenal. Kisah ini diriwayatkan melalui banyak jalur sehingga dianggap mutawatir maknawi. Selain itu, kisah menakjubkan ini diceritakan dari sejumlah sahabat terkemuka, di antaranya Abu Said al-Khudri, Salamah ibn al-Akwa’, Ibnu Abi Wahab, Abu Hurairah, serta pemilik kisahnya, sang pengembala, Uhban. Mereka semua meriwayatkan lewat beragam jalur yaitu bahwa saat seorang pengembala sedang mengembalakan kambingnya, tiba-tiba datanglah serigala menghadang salah seekor kambing darinya. Segera saja si pengembala mengambil kambing tadi darinya. Serigala itupun jongkok dan berkata kepada si pengembala, “Tidakkah engkau takut kepada Allah. Engkau telah menghalangiku untuk mendapatkan rezekiku.” Sang pengembala terkejut seraya berkata, “Sungguh aneh, serigala bisa berbicara seperti manusia! Serigala tersebut kembali berkata, “Maukah aku tunjukkan yang lebih aneh dari itu?” Rasulullah r di Madinah menjelaskan berita tentang masa lalu kepada manusia. pintu-pintu surga telah dibuka untuknya. Beliau mengajak kalian kepadanya.” 293 Meskipun semua jalur sepakat mengakui kemampuan berbicara serigala tersebut, namun jalur yang paling kuat adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah d. Di dalamnya disebutkan bahwa si pengembala bertanya, “Aku mau pergi ke Madinah, siapa yang mau mengembala kambingku?” “Aku yang akan mengembalakannya sampai eng-

Ali al-Qâri, Syarh asy-Syifâ 1/637. 292 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 6/112, 150, dan 209; Abu Ya’lâ, al-Musnad 7/418 dan 8/121; Ibnu Abdil Barr, at-Tamhid 6/314; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/31. 293 Lihat: al-Bukhari, bab al-Anbiyâ 54, Fadhâ’il ashâbi an-Nabi 5 dan 6; Muslim, bab Fadhâ’il ash-Shahabah 13; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/83; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 4/308.


268

AL-MAKTÛBÂT

kau pulang,” ujar serigala tadi. Maka, orang itu pun menyerahkan kambing gembalaannya kepada serigala. Ia pun pergi. Lalu ia bertemu Rasul r, dan beriman. Pengembala tersebut kemudian pulang. Ternyata serigala tadi benar-benar menjadi pengembala yang amanah. Kambingnya tidak berkurang. Maka, si pengembala menyembelih seekor kambing untuknya sebagai imbalan atas petunjuk yang diberikannya.294 Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Sufyan ibn Harb dan Shafwan ibn Umayyah menemukan serigala yang memburu kijang. Namun kijang itu masuk ke tanah Haram sehingga serigala tadi pergi. Keduanya takjub melihat hal tersebut. Lalu serigala itu berkata, “Yang lebih menakjubkan adalah Muhammad ibn Abdullah di Madinah. Beliau mengajak kalian masuk surga.” Saat itu Abu Sufyan berkata, “Demi Lata dan Uzza, jika engkau ceritakan kepada penduduk Mekkah, tentu ia akan kosong (karena masuk Islam).” 295 Dapat disimpulkan bahwa kisah serigala tersebut meyakinkan dan dapat dipercaya seperti riwayat yang mutawatir maknawi. 3.

Kisah Unta yang diriwayatkan lewat lima atau enam jalur dari sejumlah sahabat terkemuka: Abu Hurairah, Tsa’labah ibn Malik, Jabir ibn Abdullah, Abdullah ibn Ja’far, Abdullah ibn Abi Awfâ, serta yang lainnya. Mereka semua menyatakan bahwa seekor unta mendatangi Nabi r lalu melakukan sujud penghormatan di hadapan beliau dan berbicara dengan beliau. Dalam sejumlah riwayat lain, mereka menceritakan bahwa unta tersebut mengamuk di sebuah kebun. Tidak ada seorangpun yang masuk ke dalamnya kecuali membuatnya marah. Namun ketika Rasul r datang, ia meletakkan bibirnya di tanah, lalu berlutut. Maka, beliau meletakkan kendali di kepalanya. 296

Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/311; al-Qurthubi, al-I’lâm bimâ fi Dîn anNashârâ 361; Ali al-Qari, Syarh asy-Syifâ 1/634-635. 295 Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/311; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 6/146; al-Qurthubi, al-I’lâm bimâ fi Dîn an-Nashârâ 361. 296 Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/313; Ali al-Qâri, Syarh asy-Syifâ 1/637. 294


Surat Kesembilan Belas

269

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi r bertanya kepada mereka tentang unta tersebut. Mereka mengatakan ingin menyembelihnya.” 297 Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi r bersabda, “Unta itu mengadu kepadaku bahwa kalian hendak menyembelihnya setelah kalian pekerjakan ia untuk melakukan pekerjaan berat sejak kecil.” “Ya benar,” jawab mereka. Selain itu, unta Nabi r yang bernama “al-Adhbâ” tidak mau makan dan minum setelah Nabi r meninggal dunia hingga ia mati.298 Abu Ishaq al-Asfarâ’iny menceritakan kisah al-Adhbâ serta bagaimana ia berbicara dengan Nabi r dalam sebuah persoalan penting.299 Dalam hadis sahih disebutkan bahwa unta Jabir ibn Abdullah al-Ansari mengalami kepayahan sehingga tidak mampu melanjutkan perjalanan. Lalu Nabi r menyentuh punggungnya dengan pelan. Seketika unta itupun kembali semangat seolah tak bisa ditahan.” Hal itu lantaran sikap lembut beliau kepadanya. 4.

Al-Bukhari dan para imam hadis lain meriwayatkan, “Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan dengan sebuah suara. Maka, mereka pergi menuju sumber suara itu. Namun di jalan mereka bertemu dengan Rasul r yang baru kembali. Beliau sudah lebih dulu menuju suara tersebut. “Tidak apa-apa,” ujar beliau. Beliau menceritakan kuda milik Abu alhah. Beliau berkata kepada Abu alhah, “Kudamu sangat hebat.” Tadinya ia berjalan lambat. Namun sejak malam itu kuda tersebut tidak terkejar. 300 Dalam riwayat sahih disebutkan pula bahwa dalam sebuah perjalanan saat hendak shalat, Rasul r berkata kepada kudanya, “Bârakallah. Jangan pergi kemana-mana

Lihat: Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/173. Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/313. 299 Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/313; Ali al-Qâri, Syarh asy-Syifâ 1/637. 300 Ibnu Majah, bab al-Jihad 9; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/147; Abd ibn Humaid, al-Musnad 1/398. 297 298


270

AL-MAKTÛBÂT

sampai kami selesai shalat!” Beliau meletakkan kuda tersebut di depannya. Maka, kuda itupun tidak menggerakkan anggota badannya sampai beliau selesai shalat.301 5.

Singa yang dibuat jinak saat berhadapan dengan Safi nah

d, pelayan Rasulullah r. Tepatnya ketika Safi nah ditugaskan menemui Muadz di Yaman. Di tengah jalan ia bertemu dengan seekor singa. Iapun memperkenalkan diri sebagai pelayan Rasulullah r yang sedang membawa surat dari beliau. Mendengar hal itu, singa tadi menderum lalu pergi. Di sebutkan bahwa pada saat pulang ia menghadapi hal yang sama. Dalam riwayat lain, saat pulang Safi nah tersesat jalan dan melihat singa. Ia berkata, “Singa itu memberi isyarat kepadaku dengan bahunya sehingga mengembalikanku ke jalan semula.”302

Diriwayatkan dari Umar d bahwa Rasulullah r sedang berkumpul bersama para sahabat. Tiba-tiba seorang Arab badui datang. Orang itu bertanya, “Siapa dia?” “Nabi Allah,” jawab mereka. Arab badui itu kembali bertanya, “Demi Lata dan Uzza, aku tidak akan beriman kepadamu kecuali biawak ini beriman.” Ia kemudian melempar biawak tadi ke hadapan Nabi r. Nabi r berkata, “Wahai biawak!” Biawak tersebut menjawab dengan jelas sehingga bisa didengar oleh semua orang. Ia berkata, “Kusambut panggilanmu...”303 Seketika itu orang Arab badui itupun beriman. Ummu Salamah g meriwayatkan, “Suatu ketika Nabi r berada di padang pasir. Lalu seekor kijang memanggil beliau, “Wahai Rasulullah! (sampai akhir hadis).” Maka, kijang itupun pergi seraya mengucap dua kalimat syahadat.” 304 Begitulah. Terdapat sangat banyak contoh seperti di atas. Kami hanya menyebutkan yang sudah dikenal saja. Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/315; Ali al-Qâri, Syarh asy-Syifâ 1/641. Al-Bazzar, al-Musnad 9/285; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 7/80; alHakim, al-Mustadrak 2/675; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/45-46. 303 Atah-abrani, al-Mu’jam al-Ausath 6/127; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 6/36-38; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 377-379. 304 Ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 23/331; as-Suyuthi, al-Khashâ’ish alKubrâ 2/101. 301

302


Surat Kesembilan Belas

271

Karena itu, wahai manusia! Wahai yang tidak mengenal dan menaati Rasul r! Ambillah pelajaran! Serigala dan singa mengenal dan menaati Rasul r, maka berusahalah agar engkau tidak jatuh ke dalam posisi yang lebih rendah daripada serigala dan singa.

Cabang Kedua: Kondisi orang yang sudah mati, jin, dan malaikat yang mengenal Rasul r. Hal ini sering terjadi. Kami akan menyebutkan sebagiannya seperti yang disebutkan oleh para imam yang terpercaya sebagai contoh. Pertama-tama, kami akan menyebutkan contoh orang yang sudah mati. Adapun jin dan malaikat contohnya mutawatir dan sangat banyak. 1.

Imam Hasan al-Bashri—penghulu para ulama zahir dan batin dan salah seorang murid kepercayaan Imam Ali di masa tabi`in—meriwayatkan, “Seorang lelaki mendatangi Nabi r dalam keadaan menangis. Orang tersebut mengatakan bahwa ia telah membuang anak perempuannya yang mati di sebuah lembah.” Mendengar hal itu, Nabi r merasa iba. Maka, beliau pergi bersamanya menuju lembah yang dimaksud. Rasul r memanggil mayat tersebut dengan namanya, “Wahai Fulanah, jawablah dengan izin Allah!” Tiba-tiba ia keluar seraya berkata, “Ya aku datang.” Nabi r berujar kepadanya, “Kedua orang tuamu telah masuk Islam. Jika mau, aku akan mengembalikanmu kepada mereka.” Namun ia menjawab, “Aku tidak butuh mereka. Bersama Allah lebih baik bagiku daripada bersama mereka.” 305

2.

Imam al-Baihaqi dan Imam Ibnu `Adiy meriwayatkan dari Anas bahwa seorang pemuda dari kalangan Anshar meninggal dunia. Ia memiliki seorang ibu yang sudah tua dan buta. Sementara ia adalah anak satu-satunya. Maka, kami pun menghiburnya. Sang ibu berkata, “Wahai anakku!” “Ya,” jawab kami. Ibu itu melanjutkan, “Ya Allah, aku berhijrah ke Madinah demi ridha-Mu dan mengabdi serta berbaiat

305 Al-Qâdhî Iyâdh, asy-Syifa 1/320; al-Qurthubi, al-I’lam bima fi an-Nashara 364; Ali al-Qari, asy-Syifa 1/648.


272

AL-MAKTÛBÂT

kepada Nabi-Mu. Aku mohon Engkau bisa menolong kesulitanku, maka jangan bebani diriku dengan musibah ini.” Seketika pemuda itu hidup lagi dan makan bersama kami.” 306 Peristiwa menakjubkan ini telah disebutkan oleh Imam al-Bushayri dalam qasidahnya: Kalau bukti-buktinya yang agung sejalan dengan takdir-Nya Cukuplah tulang yang hancur dihidupkan dengan menyebut namanya. 3.

Imam al-Baihaqi dan yang lain meriwayatkan dari Abdullah ibn Ubaidillah al-Anshari yang berkata, “Aku termasuk yang ikut menguburkan Tsabit ibn Qays yang terbunuh di Yamamah. Ketika dimasukkan ke dalam kubur, kami mendengarnya berkata, ‘Muhammad Rasulullah. Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar asy-Syahîd, Utsman yang berbakti dan penyayang.’ Kami melihatnya. Ternyata ia tetap dalam kondisi mati.”307 Ia memberitahukan tentang mati syahidnya Umar sebelum menjadi khalifah.

4.

Imam ath-abrani dan Abu Nu`aim dalam kitab Dalâ’il an-Nubuwwah meriwayatkan dari Nu’man ibn Basyîr bahwa Zaid ibn Kharijah jatuh dan mati di salah satu gang di kota Madinah. Maka ia segera diangkat dan dikafani. Namun antara magrib dan isya manakala para wanita bersuara keras di sekitarnya ia berkata, “Diamlah! Diamlah!” Ia membuka wajah seraya berujar, “Muhammad adalah utusan Allah...” Selanjutnya ia berkata, “Salam untukmu wahai Rasulullah.” Setelah itu ia kembali mati seperti semula.308 Jika orang mati saja membenarkan kerasulan Muhammad r, lalu bagaimana kondisi orang yang hidup jika tidak membenarkan beliau? Bukankah orang-orang yang hidup dan malang itu lebih mati daripada orang mati di atas?!

*** Al-Baihaqi, Dala`il an-Nubuwwah 6/50; Ibnu Adi, al-Kamil 4/62. Lihat: al-Bukhari, at-Tarikh al-Kabir 5/138; al-Baihaqi, Dala`il an-Nubuwwah 6/58; Al-Qâdhî Iyâdh, asy-Syifa 1/320. 308 Ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 5/218-219; al-Baihaqi, Dala`il an-Nubuwwah 6/56-57; Al-Qâdhî Iyâdh, asy-Syifa 1/321. 306

307


Surat Kesembilan Belas

273

Selanjutnya, kondisi malaikat yang melayani dan menampakkan diri kepada Nabi r, serta keimanan dan kepatuhan jin kepada beliau merupakan sesuatu yang valid dalam bentuk mutawatir. Al-Qur’an al-Karim menegaskan hal itu dalam banyak ayatnya. Terdapat lima ribu malaikat yang taat kepada perintah beliau sama seperti para sahabat yang mulia dalam perang Badar sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an. 309 Bahkan para malaikat itu mendapatkan kehormatan untuk ikut serta dalam perang seperti para sahabat yang berjuang dalam perang Badar. 310 Dalam persoalan ini terdapat dua aspek: Pertama, keberadaan jin dan malaikat berikut hubungan mereka dengan kita. Hal ini benar-benar nyata sebagaimana keberadaan binatang dan manusia yang tidak diragukan. Kami telah menegaskan hal ini dengan sangat meyakinkan dalam ‘Kalimat Kedua Puluh Sembilan’. Para pembaca bisa merujuk kepadanya. Kedua, adanya sejumlah orang yang melihat dan berbicara dengan malaikat dan jin lewat kehormatan berafi liasi dengan Rasululllah r dan sebagai bentuk penampakan terhadap salah satu bukti mukjizat beliau. kan:

Al-Bukhari dan Muslim serta para imam hadis meriwayat-

Lihat: QS. Ali Imran [3]: 125. Al-Bukhari, bab al-Maghâzi 11; Ibnu Majah, al-Mukaddimah 11; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/465. 309 310


274

AL-MAKTÛBÂT

Dari Umar d, ia berkata, “Pada suatu hari ketika kami sedang duduk dengan Rasulullah r, tiba-tiba datanglah seseorang yang berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam. Tidak ada tanda bahwa ia datang dari perjalanan jauh dan tidak ada pula di antara kami yang mengenalnya. Kemudian orang itu duduk di dekat Nabi r...” Ia bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Rasul r menjelaskan setiap persoalan yang ia tanyakan. Setelah itu beliau berkata, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui,” jawab Umar. Beliau bersabda, “Ia adalah Jibril. Ia datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.”311 Diriwayatkan secara sahih dan mutawatir maknawi seperti yang disebutkan oleh para imam hadis bahwa para sahabat sering di dekat Nabi r dalam wujud Dihyah al-Kalbi melihat Jibril d, sahabat yang berparas tampan.312 Di antaranya adalah Umar, Ibnu Abbas, Usamah, Harits, Aisyah, dan Ummu Salamah f. Mereka berkata, “Kami sering melihat Jibril di dekat Nabi r dalam wujud Dihyah al-Kalbi. Mungkinkah mereka mengaku melihat sesuatu, kalau sebenarnya mereka tidak melihatnya?! Diriwayatkan dengan sanad sahih dari Sa’ad ibn Abi Waqqas—salah seorang sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga sekaligus Penakluk Persia—yang berkata, “Dalam perang Uhud kami melihat Rasul r didampingi oleh Jibril di sisi kanan dan Mikail di sisi kiri dalam sosok dua orang berpakaian putih. 313 Mereka laksana pengawal yang menjaga beliau.” Jika salah seorang pahlawan Islam seperti Sa’ad mengaku melihat, mungkinkah yang terjadi malah sebaliknya? 311

dan 7.

Al-Bukhari, bab al-Iman, Tafsir surah al-Luqman; Muslim, al-Iman 1, 5,

Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 2/107, 6/74, 141, 146; at-Tirmidzi, bab alManâqib 43; al-Bukhari, Manâqib Ashâb an-Nabi 25, Fadhâ’il al-Quran 1; Muslim, Fadhâ’il ash-shahabah 100. 313 Al-Bukhari, bab al-Maghâzi 18, al-Libâs 24; Muslim, Fadhâ’il ash-shahabah 46-47; Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/361. 312


Surat Kesembilan Belas

275

Kemudian Abu Sufyan ibn al-Harits ibn Abdul Muttalib— sepupu Rasulullah r—pada saat perang Badar melihat sejumlah lelaki berseragam putih yang sedang menunggang kuda belang berada di antara langit dan bumi. 314 Nabi r pernah memperlihatkan Jibril di Ka’bah. Seketika ia jatuh pingsan. 315

kepada Hamzah

Contoh peristiwa terlihatnya malaikat sangat banyak. Seluruh kejadiannya memperlihatkan satu jenis kemukjizatan Muhammad r sekaligus menunjukkan bahwa malaikat terbang seperti kupu-kupu mengitari cahaya kenabian beliau. *** Kemudian peristiwa bertemu dan melihat jin sangat sering terjadi. Kondisi ini dialami oleh masyarakat secara umum, apalagi para sahabat. Hanya saja, para imam hadis menukil sejumlah riwayat yang paling sahih dan paling kuat kepada kita. Abdullah ibn Mas`ud melihat jin serta mendengar pembicaraan mereka pada malam ketika para jin mendapatkan hidayah di Batn an-Nakhl (lembah kurma). Ia menyerupakan mereka dengan suku bangsa Zuth.316 Yaitu orang-orang tinggi yang berasal dari Sudan. Kemudian peristiwa terkenal yang dinukil dan diriwayatkan oleh para imam hadis. Yaitu saat menebang pohon al-Uzza, Khalid ibn al-Walid membunuh wanita hitam yang keluar menemuinya dengan mengurai rambutnya dalam kondisi telanjang. Dengan pedangnya, Khalid membelahnya menjadi dua lalu memberitahukan kepada Nabi r. Beliau berkata, “Ia adalah al-Uzza.”317 Sebelumnya orang-orang menyembahnya sedang ia berada di dalam patung al-Uzza. Sejak itu ia tidak akan disembah lagi. Ibnu Hisyam, as-Sirah 3/197; al-Bazzar, al-Musnad 9/317; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 4/74-75; al-Waqidi, bab al-Maghazi 1/76. 315 Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 3/12; al-Baihaqi, Dala`il an-Nubuwwah 7/81; as-Suyuthi, al-Khasha`ish al-Kubrâ 1/208. 316 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/455; al-Bazzar, al-Musnad 5/267; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 10/66; al-Baihaqi, Dala`il an-Nubuwwah 2/231. 317 Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 2/145; al-Waqidi, bab al-Maghazi 3/873874; an-Nasai, as-Sunan al-Kubrâ 4/474; Abu Ya’lâ, al-Musnad 2/196; al-Baihaqi, Dala`il an-Nubuwwah 5/77. 314


276

AL-MAKTÛBÂT

Umar ibn al-Khattab d berkata, “Ketika sedang duduk bersama Nabi r, tiba-tiba seorang tua yang membawa tongkat datang. Ia memberi salam kepada Nabi r. Nabi r pun menjawabnya. Beliau berkata, “Wahai Jin, engkau siapa?” “Hâmah,” jawabnya. Dalam hadis yang panjang, Nabi r mengajarinya sejumlah surah al-Qur’an.318 Peristiwa ini meskipun banyak dikritik oleh para ahli hadis, hanya saja para imam lain menyatakan sahih. Sepertinya kita tidak perlu berpanjang lebar dalam hal ini. Contohnya sangat banyak. Kami juga ingin menegaskan bahwa mereka yang mendapat cahaya Nabi r, dididik dengan tarbiyah beliau, serta mengikuti jejak beliau di mana jumlah mereka lebih dari ribuan, seperti Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dari kalangan para wali, demikian pula para Ulama telah berjumpa dengan malaikat dan jin serta berbicara dengan mereka. Riwayat tentang ini mutawatir, banyak, dan valid.319 Ya, pertemuan umat Muhammad r dengan malaikat dan jin serta kemampuan berbicara dengan mereka merupakan salah satu bukti tarbiyah kenabian sekaligus petunjuknya yang luar biasa.

318 Al-Baihaqi, Dala`il an-Nubuwwah 5/418-420; Abu Nu`aim, Dala`il an-Nubuwwah 370-372; Al-Qâdhî Iyâdh, asy-Syifa 1/363; adz-Dzahqat, Mizan al-I’tidal 1/338, 6/207. 319 Syekh Ibnu Taimiyyah dalam kitab at-Tawassul wa al-Wasilah menyebutkan salah satu contohnya (hal 24). Syekh Abdul Qadir al-Jailani bercerita, “Suatu saat ketika sedang melakukan ibadah, aku melihat arasy yang agung yang atasnya berhias cahaya. Arasy tersebut berkata kepadaku, “Wahai Abdul Qadir, aku adalah Tuhanmu. Aku telah menghalalkan untukmu sesuatu yang kuharamkan buat orang lain.’ Akupun menjawab, ‘Apakah engkau Allah yang tiada Tuhan selain Dia?!’ Pergilah wahai musuh Allah.’ Seketika cahaya itupun menghilang sehingga menjadi gelap. Ia kembali berkata, ‘Wahai Abdul Qadir, engkau telah selamat dariku berkat pemahamanmu terhadap agama, ilmumu dan kedudukanmu. Lewat ini aku telah berhasil menipu 70 orang.” Lalu ada yang bertanya kepada Syekh Abdul Qadir, “Bagaimana engkau mengetahui kalau ia adalah setan?” Ia menjawab, “Sebab ia berkata, ‘Kuhalalkan untukmu apa yang kuharamkan untuk orang lain.’ Sementara aku mengetahui bahwa syariat Muhammad r tidak pernah dibatalkan dan diganti. Setan itu juga mengaku sebagai Tuhan, namun ia tidak bisa mengatakan, ‘Aku adalah Allah yang tiada Tuhan selain Aku.’” Lihat al-Fatâwâ 11/307.


Surat Kesembilan Belas

277

Cabang Ketiga: Perlindungan dan penjagaan yang Allah berikan kepada Nabi r dari gangguan manusia merupakan mukjizat cemerlang dan hakikat nyata yang disebutkan oleh al-Qur’an dalam fi rman-Nya:

“Allah melindungi kamu dari (gangguan) manusia.” (QS. alMâidah [5]: 67). Pada ayat di atas terdapat banyak mukjizat. Sebab, ketika Rasul r mendeklarasikan kenabiannya, beliau tidak hanya menghadapi satu kelompok, satu kaum, satu komunitas, dan sejumlah penguasa tertentu. Namun, beliau menghadapi seluruh penguasa dan seluruh pemeluk agama. Beliau menghadapi semua, sementara tidak ada yang menjaga beliau kecuali Allah. Bahkan, paman beliau juga menunjukkan permusuhan. Kaum dan kabilahnya juga menjadi musuh bagi beliau. Namun demikian, selama 23 tahun beliau berjalan tanpa pengawal dan penjaga meskipun menghadapi banyak bahaya dan resiko. Allah telah menjaga dan melindunginya dari (gangguan) manusia sampai beliau meninggal dunia dengan sangat tenang. Semua ini menunjukkan kepada kita—dengan terang seterang mentari di siang bolong—sejauh mana kebenaran yang terkandung dalam ayat di atas, “Allah melindungi kamu dari (gangguan) manusia” serta sejauh mana ia menjadi titik sandaran beliau. Kami akan menyebutkan sejumlah peristiwa yang sangat valid dan kami ketengahkan ia sebagai contoh: 1.

Para penulis sirah (riwayat hidup) dan hadis menyebutkan bahwa ketika kaum Quraisy sepakat membunuh Nabi r, Iblis datang dalam bentuk orang tua lanjut usia yang memberikan petunjuk kepada mereka agar diambil seorang pemuda dari setiap kabilah (untuk membunuh beliau) sehingga tidak terjadi konfl ik di antara mereka. Akhirnya, terkumpul sekitar dua ratus orang dipimpin Abu Jahal dan Abu Lahab untuk pergi menuju rumah Nabi r. Ketika itu,


278

AL-MAKTÛBÂT

beliau bersama Ali d. Beliau menyuruhnya untuk tidur di tempat tidur beliau. Rasul r menunggu mereka hingga kaum Quraisy datang dan mengepung rumah beliau. Kemudian Rasul r keluar dari rumahnya dan menaburkan tanah di kepala mereka, sehingga kaum Quraisy tidak melihatnya dan beliaupun selamat dari kejahatan mereka. 320 Demikian pula perlindungan yang Allah berikan di gua sehingga mereka tidak melihat beliau lewat sejumlah tanda kekuasaan, laba-laba yang membuat sarang atau jaring di mulut gua, serta dua burung merpati bertengger di depan gua.321 2.

Kisah Suraqah ibn Malik322 saat hijrah. Quraisy menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang dapat menangkap Rasul r dan Abu Bakar d. Ia menunggang kudanya dan mengikuti beliau. Ketika sudah dekat, Nabi r berdoa sehingga kaki kuda yang ia tunggangi goyah dan iapun terjatuh darinya. Lalu ia naik lagi dan mendekat hingga mendengar bacaan al-Quran Nabi r yang tidak menoleh. Hanya Abu Bakar yang menoleh. Abu Bakar d berkata kepada Nabi r, “Kita dikejar.” “Jangan khawatir, Allah bersama kita,” ujar Nabi r seperti yang beliau katakan saat berada di dalam gua. Untuk kedua kalinya kuda Suraqah jatuh sehingga ia terpental darinya. Kemudian kudanya bangkit dan kakinya seperti berasap. Akhirnya ia memanggil mereka dengan sikap damai. Nabi pun membiarkannya pergi seraya menyuruhnya agar jangan sampai ada lagi yang mengikuti mereka. Setelah itu ia kembali. Dalam riwayat lain disebutkan adanya seorang pengembala yang mengetahui keberadaan mereka berdua. Iapun pergi untuk memberitahu bangsa Quraisy. Namun ketika memasuki Mekkah, ia dibuat lupa. Iapun menjadi

320 Ibnu Hisyam, Sirah an-Nabawiyyah 3/6-8; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât alKubrâ 1/227-228. Lihat Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/303; Said ibn Manshur, as-Sunan 2/378; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 7/399. 321 Takhrij riwayat di atas telah disebutkan sebelumnya. 322 Al-Bukhari, Manâqib Ashâb an-Nabi 25, Fadhâ’il al-Ashâb 2, Manâqib al-Anshar 45; Muslim, az-Zuhd 75.


Surat Kesembilan Belas

279

tidak tahu apa yang harus diperbuat dan lupa kepada tujuan kepergiannya hingga kembali ke tempat semula. 323 Setelah di sana barulah ia sadar kalau dirinya dibuat lupa. 3.

Para imam ahli hadis meriwayatkan lewat banyak jalur bahwa dalam perang Ghathfan dan Anmâr, pemimpin kabilahnya, Ghaurats ibn al-Harits al-Muhâribi, ingin membunuh Nabi r. Sementara beliau tidak menyadari hal tersebut. Tiba-tiba Ghaurats berada di hadapan beliau seraya menghunus pedang. Seketika beliau berdoa, “Ya Allah lindungi aku darinya dengan cara yang Kau kehendaki.” Seketika ia terjatuh akibat sakit di punggung dan pedang itupun jatuh dari tangannya.”324 Diriwayatkan pula bahwa Nabi r pernah didatangi seorang Arab badui. Tiba-tiba Arab badui itu mengambil pedangnya seraya berkata, “Siapa yang dapat melindungimu dariku?” “Allah,” ujar Nabi r. Seketika tangannya gemetar dan pedang itupun jatuh. Lalu Nabi r mengambil pedang tersebut dan berkata, “Sekarang siapa yang bisa melindungimu?” Beliau memaaannya sehingga bisa kembali kepada kaumnya. Setiba di sana ia berkata, “Aku baru saja bertemu dengan manusia terbaik.” 325 Cerita seperti itu juga pernah terjadi pada beliau di perang Badar. Ketika itu beliau sedang memisahkan diri dari para sahabat untuk buang hajat. Lalu salah seorang munafi k mengikuti beliau. Dalam peristiwa tersebut disebutkan bahwa orang munafi k itu sudah mengangkat pedangnya untuk membunuh Rasulullah r. Namun saat ditatap oleh beliau, orang itu gemetar dan pedangnya pun jatuh.

4.

Para imam ahli hadis menceritakan dalam riwayat yang terkenal dan nyaris mutawatir di mana ia juga disebutkan oleh sebagian besar ulama ahli tafsir bahwa sebab turunnya

Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/351; Ali al-Qâri, Syarh asy-Syifâ 1/715. Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/347; Ali al-Qâri, Syarh asy-Syifâ 1/710; alHakim, al-Mustadrak 3/29-30. 325 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 3/364-390; Ibnu Hibban, ash-Sahih 7/138; Abu Ya’lâ, al-Musnad 3/313. Lihat al-Bukhari, bab al-Jihad 84 dan 78, al-Maghâzi 31-32; Muslim, bab Shalâtul Musafi rin 311, Fadhâ’il as-shahabah 13. 323

324


280

AL-MAKTÛBÂT

ayat yang berbunyi:

Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Yâsîn [36]: 8-9)326 adalah ketika Abu Jahal bersumpah bahwa jika ia melihat Muhammad r sedang sujud, ia akan memukulnya dengan batu. Maka iapun datang membawa sebuah batu saat Nabi r sedang sujud. Kaum Quraisy yang lain melihat peristiwa itu. Namun ketika ingin melemparkan batu itu kepada beliau, batu itu menempel di tangannya dan kedua tangannya pun kaku dengan berada di leher. 327 Setelah menyelesaikan shalatnya, Rasul r pergi. Tangan Abu Jahal juga kembali seperti semula. Hal ini entah berkat izin Nabi r atau karena tidak diperlukan lagi. Al-Walid ibn al-Mughirah pernah mendatangi Nabi r untuk membunuhnya dengan sebuah batu besar. Namun Allah menutup penglihatannya sehingga tidak bisa melihat beliau dan hanya mendengar suaranya. Lalu ia kembali kepada para sahabatnya. Namun ia tidak bisa melihat mereka sehingga merekapun memanggilnya. 328 Setelah Rasul r keluar dari masjid, penglihatannya kembali pulih karena tidak diperlukan lagi. Ath-abari, Jâmi`ul Bayân 22/152; Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an 3/565; asSuyuthi, ad-Durr al-Mantsur 7/43; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’an 15/9. 327 Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 2/137-138; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 2/190-191. Lihat al-Bukhari, Tafsir Surah al-Alaq 4; Muslim, bab Shifâtul Munafi qin 38. 328 Ath-abari, Jâmi`ul Bayân 22/156; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 2/196-197; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 200; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’an 15/8-9. 326


Surat Kesembilan Belas

Diriwayatkan dari Abu Bakar surah al-Lahab:

281

d bahwa ketika turun

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab...” Ummu Jamil, isteri Abu Lahab, yang diberi julukan “si pembawa kayu bakar” datang menemui Rasulullah r yang sedang duduk di masjid. Ketika itu beliau bersama Abu Bakar. Ummu Jamil datang sambil membawa sekepal batu. Ketika berdiri di hadapan keduanya yang ia lihat hanya Abu Bakar. Allah membuatnya tak bisa melihat Nabi r. Seketika ia berkata, “Wahai Abu Bakar, mana sahabatmu? Aku mendengar ia mengejekku. Demi Allah, andai kutemukan, pasti kulempar mulutnya dengan batu ini.”329 Ya, pembawa kayu bakar jahannam itu sudah pasti tidak bisa melihat penguasa agung seperti itu di mana secara khusus Allah berikan kepada beliau kedudukan yang mulia. 5.

Lewat riwayat sahih terdapat hadis bahwa Amir ibn ufail dan Arbad ibn Qays datang menemui Nabi r untuk mencelakai beliau. Ketika itu Amir berkata kepada Arbad, “Aku akan membuatnya sibuk. Nah, ketika itu engkau bisa memukulnya.” Namun, Amir tidak melihat Arbad melakukan sesuatu. Ketika ditanya mengapa demikian, ia menjawab, “Demi Allah, ketika aku hendak memukulnya kulihat engkau berada di hadapanku. Apa kamu ingin aku memukulmu?”330

6.

Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Syaibah ibn Utsman al-Hajbi mendapati Nabi r pada perang Hunain atau Uhud. Ayah dan pamannya telah dibunuh oleh Hamzah d. Ia berkata, “Sekarang aku bisa melakukan balas dendam kepada Muhammad.” Ketika kedua pasukan sudah mulai beraduk,

329 Al-Humaydi, al-Musnad 1/153-154; al-Bazzar, al-Musnad 1/62, 212-213; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 6/323; Ibnu Hibban, ash-Sahih 14/440; Abu Ya’lâ, al-Musnad 1/33, 53, dan 246. 330 Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 5/260-261; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 10/312; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 5/318-320; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/49 dan 228.


282

AL-MAKTÛBÂT

ia mendatangi Nabi r dari belakang lalu mengangkat pedang untuk menghantam beliau. Namun ia berkata, “Nabi r menyadari hal tersebut. Ia malah memanggilku dan meletakkan tangannya di dadaku. Beliaulah orang yang paling kubenci ketika itu. Namun saat mengangkat tangannya, beliau menjadi orang yang paling kucintai. Beliau berkata, ‘Mendekatlah dan berperanglah!’ Maka akupun berada di hadapan beliau. Dengan pedang ini, aku menebas musuh dan melindungi beliau. Andaikan pada saat itu aku bertemu dengan ayahku, tentu aku juga akan menghabisinya demi membela beliau.”331 Fudhalah ibn Amr berkata, “Aku pernah hendak membunuh Nabi r pada saat Fathu Mekkah ketika beliau bertawaf di Ka’bah. Saat aku mendekatinya, beliau malah bertanya, “Engkau Fudhalah?” “Ya,” jawabku. “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya beliau. “Tidak ada,” ujarku lagi. Seketika beliau tertawa dan meletakkan tangannya di dadaku. Hatiku menjadi demikian tenteram. Demi Allah, ketika beliau mengangkat tangannya, tidak ada makhluk Allah yang lebih kucintai daripada diri beliau.” 332 7.

Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa orang-orang Yahudi bersekongkol untuk membunuh beliau saat beliau duduk bersandar ke sebuah tembok. Salah seorang dari mereka bangkit untuk menjatuhkan sebuah batu ke atas kepala beliau. Namun tiba-tiba Nabi r bangkit dan pergi.333 Rencana mereka pun gagal dengan pengawasan Allah terhadap beliau. Dan masih banyak peristiwa lainnya yang serupa. Imam Bukhari, Muslim, dan para imam lain meriwayatkan dari Aisyah g yang berkata, “Nabi r dikawal hingga turun

331 Ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 7/298. Lihat al-Wâqidi, Kitab al-Maghâzi 3/909-910; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 195; al-Ashbihani, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/49 dan 228. 332 Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 5/80; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 5/372; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 4/308; al-Halabi, as-Sirah al-Halabiyyah 3/56. 333 Al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 3/180-181; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 489-490; as-Suyuthi, al-Khashâ’ish al-Kubrâ 1/348.


Surat Kesembilan Belas

283

ayat yang berbunyi:

“Allah melindungi kamu dari (gangguan) manusia.” (QS. al-Mâidah [5]: 67). Ketika itu, Rasulullah r mengeluarkan kepalanya dari kemah seraya berkata, ‘Wahai para pengawal, pergilah. Tuhanku telah melindungiku.’”334 *** Risalah ini dari awal hingga akhir menjelaskan bahwa setiap spesies makhluk dan setiap alamnya mengenali Nabi r serta memiliki relasi dengan beliau. Semuanya memperlihatkan mukjizat beliau lewat setiap spesies yang ada. Dengan kata lain, Nabi r merupakan utusan Allah sebagai Tuhan semesta alam. Ya, seorang pegawai penting dan inspektur yang memiliki kedudukan tinggi di sisi penguasa, pasti dikenali oleh setiap jajaran negara. Ketika mendatangi setiap bagiannya, ia akan mendapatkan sambutan hangat. Pasalnya, ia adalah staf dari pemimpin tertinggi. Andaikan menjadi inspektur pengadilan semata, maka ia hanya mendapat sambutan di jajaran pengadilan; sementara yang lain tidak mengenalinya dengan baik. Andaikan ia inspektur umum pasukan, tentu jajaran lain tidak mengenalnya. Sementara dari berbagai contoh di atas dapat dipahami bahwa seluruh jajaran kekuasaan ilahi mengenali Nabi r dengan baik. Atau, Allah memperkenalkan beliau kepada mereka, mulai dari malaikat hingga lalat dan laba-laba. Dengan demikian, sudah pasti beliau adalah penutup para nabi dan utusan Tuhan semesta alam. Serta sudah pasti risalah beliau berlaku umum untuk seluruh alam; tidak hanya khusus untuk satu umat seperti nabi dan rasul yang lain.

PETUNJUK KEENAM BELAS (tentang Irhâsât)

Irhâsât adalah sejumlah peristiwa luar biasa yang terjadi sebelum beliau diutus sebagai nabi. Ia termasuk di antara bukti 334 At-Tirmidzi, Tafsir surah al-Maidah 4; an-Nasa’i, as-Sunan al-Kubrâ 9/8; Said ibn Manshur, as-Sunan 4/1503-1504.


284

AL-MAKTÛBÂT

kenabian karena terkait dengannya. Irhâsât ini terdiri dari tiga jenis:

Jenis Pertama: tenInformasi Taurat, Injil, Zabur, dan suhuf para nabi tang kenabian Muhammad r seperti yang disebutkan oleh teks al-Qur’an. Ya, selama kitab-kitab tersebut merupakan kitab suci (samawi) dan pemiliknya adalah para nabi yang mulia, tentu informasinya tentang sosok yang lewat cahaya yang ia bawa akan menerangi separuh dunia, akan menghapus berbagai agama, dan akan mengubah peradaban umat manusia, maka informasi tentang sosok penuh berkah yang disebutkan oleh kitab-kitab itu sangat penting dan valid. Mungkinkah kitab yang menceritakan hal-hal detil itu tidak menyebutkan kejadian terpenting dalam sejarah umat manusia? yaitu pengangkatan Muhammad r sebagai nabi?! Kalau kitab-kitab suci itu membahasnya, bisa saja ia mendustakan kenabian Muhammad guna menjaga agama dan kitab sucinya sendiri agar tidak diganti, atau justru dipercaya. Yakni dengan mempercayai Nabi yang benar itu guna menjaga agama dan kitab sucinya dari infi ltrasi khurafat dan berbagai pemalsuan. Dalam hal ini—baik kawan maupun lawan—semuanya tidak menemukan satupun petunjuk dalam kitab suci itu yang mendustakannya. Dengan demikian, yang ada hanyalah petunjuk yang membenarkannya. Nah, selama pembenaran atasnya bersifat mutlak, lalu di sisi lain terdapat alasan kuat dan sebab fundamental yang mengharuskan adanya pembenaran ini, maka tugas kami adalah menguatkan pembenaran tersebut dengan tiga argumen yang meyakinkan:

Argumen Pertama Rasul r membacakan kepada mereka sejumlah ayat untuk menantang mereka. Seolah-olah lewat lisan al-Qur’an beliau berkata, “Kitab suci kalian membenarkan karakter dan sifat-sifat yang kumiliki serta mengakui informasi yang kusampaikan kepada seluruh alam.”


Surat Kesembilan Belas

285

“Katakanlah (Muhammad), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah ia jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Âli Imrân [3]: 93).

“Maka katakanlah (kepadanya), ‘Marilah memanggil anakanak kami dan anak-anak kalian, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kalian, diri kami dan diri kalian; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Âli Imrân [3]: 61). Meskipun tantangannya demikian jelas, tidak ada satupun rahib Yahudi ataupun pendeta Nasrani yang membantah pernyataan Nabi r. Seandainya ada sesuatu yang bertentangan dengan pernyataan Nabi r, meskipun kecil, tentu kaum kafi r dan munafi k dari kalangan Yahudi yang keras kepala dan dengki itu akan mengungkapnya. Jumlah mereka cukup banyak di setiap tempat dan waktu. Jadi, terkait dengan tantangan di atas, entah mereka menemukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah yang Nabi sampaikan, atau mereka akan menghadapinya dengan jihad yang tak mengenal kasih. Nah karena tak mampu mendatangkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang beliau sampaikan, akhirnya mereka memilih untuk melakukan peperangan, pengrusakan, dan hijrah. Dengan kata lain, mereka tidak menemukan sesuatu yang bisa dijadikan sebagai pegangan. Andaikan mereka menemukan sesuatu yang berlawanan dengan pernyataan beliau, tentu mengungkapnya lebih mudah bagi mereka daripada harus mengorbankan jiwa, harta, dan menghancurkan negeri.

Argumen Kedua Ayat-ayat dalam Taurat, Injil, dan Zabur, telah bercampur dengan sejumlah kalimat asing karena terus-menerus diterjemah-


286

AL-MAKTÛBÂT

kan, serta karena komentar dan interpretasi para mufassirnya yang keliru telah berbaur di dalamnya. Karena ayat-ayatnya tidak mengandung aspek kemukjizatan seperti yang terdapat dalam alQur’an, di samping berbagai penyimpangan yang dilakukan kalangan bodoh dan orang-orang yang memiliki tujuan buruk, maka perubahan yang terjadi padanya semakin bertambah. Bahkan seorang ulama yang terkenal, Rahmatullah al-Hindi, membungkam ulama yahudi dan nasrani dengan memperlihatkan ribuan perubahan yang terdapat pada kitab-kitab suci tersebut. Meskipun sudah terdapat perubahan dan distorsi padanya, sekarang ini, seorang ulama terkenal, Husein al-Jisr, telah mengetengahkan seratus sepuluh dalil yang menunjukkan kenabian Muhammad r lewat kitab-kitab suci tersebut. Semua itu tercantum dalam bukunya yang berjudul ar-Risalah al-Hamidiyyah. Almarhum Ismail Haqqi al-Manastri telah menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Turki. Para pembaca bisa mempelajarinya. Selanjutnya, banyak pula ulama yahudi dan nasrani yang mengakui bahwa dalam kitab suci mereka terdapat penyebutan sifat-sifat Nabi Muhammad r. Di antaranya Heraklius, salah setelah orang raja Romawi yang mengakui seraya berkata, “Isa memberikan kabar gembira akan kedatangan Muhammad r.”335 Sebagaimana Muqauqis,336 Ibnu Surya,337 Ibnu Akhtab,338 dan saudaranya Ka’ab ibn Asad,339 Zubair ibn Bâthiya,340 serta para ulama dan pembesar yahudi lainnya—meskipun mereka tetap non-muslim—mengakui seraya berkata, “Ya, sifat-sifatnya terdapat dalam kitab suci kami dan disebutkan di dalamnya.” Lihat: al-Bukhari, Bid’ul wahyi (permulaan wahyu) 6; Muslim, bab al-Jihad 74. Lihat: al-Wâqidi, bab al-Maghâzi 3/964; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 85, dan 89; Ibnu Hajar al-Ishâbah 6/377. 337 Lihat: Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 3/103; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/164; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubrâ 8/246. 338 Lihat: Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 3/52; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 77-78; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 3/212. 339 Lihat: Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 4/195; ath-abari, Jâmi`ul Bayân 21 dan 151, Tarikh al-Umam wal Mulûk 2/99. 340 Lihat: Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/164; al-Wâqidi, bab al-Maghâzi 2/502; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 85-89; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 3/362. 335

336


Surat Kesembilan Belas

287

Selain itu, banyak tokoh ulama Yahudi dan Nasrani yang menghapus permusuhan dan sikap keras kepala dengan mempercayai Islam setelah mereka membaca sifat-sifat Nabi r dalam kitab suci mereka. Mereka menjelaskan hal tersebut kepada para ulama lainnya disertai dengan bukti yang ada. Di antara mereka adalah Abdullah ibn Salâm, Wahab ibn Munabbih, Abu Yasir, Syâmul—rekan raja Tubba’—sebagaimana Tubba’ sendiri beriman secara rahasia sebelum masa kenabian, 341 kedua putera Sa’yah: Usaid dan Tsa’labah yang menghimbau kabilah Bani Nadhir saat mereka memerangi Rasul r dengan berkata, “Demi Allah, inilah yang dijanjikan oleh Ibnu Haiban kepada kalian.” Ibnu Haiban adalah orang yang mengenal Allah di mana ia pernah singgah di Bani Nadhir sebelum masa kenabian. Ia berkata kepada mereka, “Sebentar lagi akan muncul seorang nabi. Ini adalah negeri tempat hijrahnya.” Ia wafat di sana. Namun kabilah Bani Nadhir tidak peduli dengan himbauan Usaid dan Tsa’labah sehingga mereka mendapatkan akibatnya. 342 Selain itu, sejumlah ulama Yahudi yang melihat sifat-sifat Nabi r dalam kitab suci mereka, seperti: Ibnu Yâmîn, 343 Mukhairiq,344 Ka’ab al-Ahbâr345 dan yang lainnya beriman dan membungkam mereka yang tidak beriman. Di antara ulama Nasrani yang beriman adalah Bahîra sang rahib seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Yaitu ketika berusia 12 tahun, Nabi r pergi bersama pamannya, Abu alib, ke wilayah Syam. Bahîra membuat makanan untuk rombongan Quraisy sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi r. Lalu ia melihat awan yang menanungi rombongan tersebut tetap di tempatnya. Ia berkata, “Jadi orang yang kumaksud masih tetap di sana.” Maka, 341

11/14.

Ibnu Sa’ad, at-abaqât al-Kubrâ 1/158-159; Ibnu Asâkir, Tarikh Dimasyq

Lihat: Ibnu Ishaq, as-Sirah 2/64-65; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 2/38-40; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/160-162. 343 Ibnu Ishaq, as-Sirah 1/29-30; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 2/353; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 6/242, Ibnu Hajar, Fathul Bârî 7/275. 344 Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 3/51/52, 4/37-38; al-Wâqidi, bab alMaghâzi 2/262-263; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 78-79; ath-abari, Tarikh al-Umam wal Mulûk 2/73. 345 Ibnu Ishaq, as-Sirah 2/123; al-Wâqidi, bab al-Maghâzi 3/1083; Abu Nu`aim, Hilyatul Auliyâ 5/386; ath-abari, Tarikh al-Umam wal Mulûk 2/487. 342


288

AL-MAKTÛBÂT

ia mengirim orang untuk mendatangkan beliau. Lalu ia berkata kepada paman beliau, “Bawalah ia kembali ke Mekkah. Orang-orang Yahudi pendengki. Mereka pasti akan membuat makar kepadanya. Kami menemukan sifat-sifat beliau dalam Taurat.346 Nestor Habasyah347 dan Raja Habasyah (an-Najasyi)348 beriman tatkala melihat sejumlah sifat Nabi r dalam kitab suci mereka. Seorang ulama nasrani yang terkenal, Dhaghâtir juga melihat sifat-sifat beliau dalam kitab sucinya dan kemudian beriman. Setelah itu, ia menyampaikan kepada orang-orang Romawi, hingga ia dihukum mati (mati syahid).349 Harits ibn Abu Syamr al-Ghassâni350—tokoh ulama Nasrani—juga beriman. Begitu pula dengan para pimpinan Uskup di Syam dan rajanya seperti penguasa Iliya, Heraklius,351 Ibnu Nathur,352 Jarud,353 dan yang lain beriman saat menemukan sifat-sifat beliau dalam kitab suci mereka. Hanya saja, Heraklius menyembunyikan keimanannya karena ingin menjaga pemerintahan dan kekuasaannya. Orang-orang seperti mereka sangat banyak. Misalnya Salman al-Farisi yang sebelumnya beragama Nasrani. Ketika melihat sifat-sifat beliau, ia langsung masuk Islam. Begitu pula dengan Tamim, seorang ulama besar,354 an-Najasyi, Raja habasyah yang terkenal,355 kalangan nasrani di Habasyah, serta para uskup dari At-Tirmidzi, al-Manâqib 3; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 7/327; alBazzar, al-Musnad 8/97; al-Hakim, al-Mustadrak 2/672; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 1/319-322; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/154-155. 347 Lihat: al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/364; Ali al-Qâri, Syarh asy-Syifâ 1/744. 348 Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/260-261; al-Hakim, al-Mustadrak 2/338, 4/23; ath-abari, Tarikh al-Umam wal Mulûk 2/232. 349 Ibnu Sa’ad: ath-abaqât al-Kubrâ 1/276; Said ibn Manshur, as-Sunan 2/226; Ibnu Hibban, ash-Sahih 2/7; ath-abari, Tarikh al-Umam wal Mulûk 2/130; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 101-102. 350 Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 3/94; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 6/287; al-Khafâji, Riyadh al-Anf 4/312. 351 Lihat: al-Bukhari, bab bad’ul wahyi 6; Muslim, bab al-Jihad 74. 352 Lihat: al-Bukhari, bad’ul wahyi 6; Ibnu Manduh, al-Iman 290-291; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 4/265; Ibnu Hajar, Fathul Bârî 1/40. 353 Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 269-270; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 6/563; ath-abari, Tarikh al-Umam wal-Mulûk 2/285; Ibnu Abdil Barr, al-Istî`âb 1/263. 354 Ibnu Asâkir, Tarikh Dimasyq 11/73. Lihat Muslim, bab al-Fitan 119; Abu Daud, al-Malâhim 14; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 24/389. 355 Lihat: al-Hakim, al-Mustadrak 2/338, 4/23; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât alKubrâ 1/260-261; ath-abari, Tarikh al-Umam wal-Mulûk 2/132; Ibnu Katsir, 346


Surat Kesembilan Belas

289

Najran. Mereka semua menyatakan, “Kami beriman ketika menemukan sifat-sifat beliau dalam kitab suci kami.” 356

Argumen Ketiga Sekadar contoh, kami akan menyebutkan sejumlah ayat dalam Taurat, Injil, dan Zabur 357 yang memberikan kabar gembira tentang Rasul r. Dalam Zabur terdapat ayat yang maknanya: Ya Allah, utuslah kepada kami penegak sunnah setelah masa fatrah.358 Penegak sunnah merupakan salah satu nama Nabi r. Dalam ayat Injil disebutkan: Almasih berkata, “Aku akan pergi ke bapakku dan bapak kalian agar Dia mengutus Paraklit ke tengah-tengah kalian.”359 Maksudnya agar Dia mengutus Ahmad ke tengah-tengah kalian. Ayat lain dalam Injil berbunyi: Aku memohon kepada Tuhanku agar memberikan kepada kalian Paraklit yang akan bersama kalian selamanya.360 Paraklit (Paraclete) adalah orang yang membedakan antara hak dan batil. Ia merupakan nama Nabi r dalam kitab suci tersebut.361 Tafsîrul Qur’an 4/361. 356 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 5/354, 438, dan 442; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 7/325; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 6/225, 245, 259, dan 267; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 2/44-47. 357 Ustadz menukil sebagian besar ayatnya dengan bahasa Arab. Ketika berusaha mengembalikan setiap ayat kepada sumbernya di dalam Injil, aku menemukan banyak perbedaan antar cetakannya serta perbedaan yang jelas dalam terjemahnya meskipun maknanya secara umum tetap terjaga. Karena itu, kami memasukkannya sebagaimana yang disebutkan oleh Ustadz Nursi dalam bentuk aslinya. 358 Ali al-Qari, Syarh asy-Syifâ 1/496; al-Khafaji, Nasim ar-Riyadh 3/279; anNabhani, Hujjatullah ala al-Alamin 115. 359 Injil Yohanes, 16: 7-8. 360 Injil Yohanes, 14: 15-17. 361 Hanya saja, para penerjemah membiarkan istilah paraklit (Paraclete) dalam terjemah Injil mereka karena sudah dikenal oleh kaum muslimin pada masa Nabi Muhammad r. Rahmatullah al-Hindi dalam buku Idzhar al-Haq meneliti perbe-


290

AL-MAKTÛBÂT

Dalam ayat Taurat disebutkan: Allah berkata kepada Ibrahim, “Hajar akan melahirkan. Dan dari anaknya itu ada yang tangannya berada di atas seluruh manusia. Sebaliknya, tangan semua manusia terulur kepadanya dengan penuh ketaatan.”362 Ayat lain dalam Taurat berbunyi: Dia berkata, “Wahai Musa, Aku menghadirkan kepada mereka seorang nabi yang berasal dari anak keturunan saudara mereka sepertimu. Kualirkan ucapan-Ku lewat mulutnya. Orang yang tidak mau menerima ucapan Nabi yang berbicara atas nama-Ku itu akan Kuhukum.”363 Ayat ketiga dalam Taurat berbunyi: Musa berkata, “Wahai Tuhan, dalam Taurat kudapati satu umat di mana mereka merupakan umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah. Jadikan mereka sebagai umatku.’ Tuhan menjawab, ‘Mereka adalah umat Muhammad.”364 Catatan: Sejumlah kitab suci di atas menyebut nama Muhammad r dengan sejumlah nama dalam bahasa Suryani yang masih bagian dari nama Ibrani. Misalnya Musyaffah, Munhamanna, Himyatha, dan nama lain yang bermakna Muhammad dalam bahasa Arab. Adapun penyebutan nama Muhammad secara jelas hanya sedikit. Hal ini karena perubahan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi akibat dengki dan keras kepala. Di antaranya: Ayat Zabur yang berbunyi: Wahai Daud, akan datang sesudahmu seorang nabi yang bernama Ahmad, Muhammad, sebagai pemimpin yang jujur. Umatdaan terjemahan dalam sejumlah cetakan mulai dari cetakannya yang pertama. 362 Kitab kejadian, 17: 20. 363 Kitab Ulangan, 18: 17-19. 364 Al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/379; Ali al-Qari, Syarh asy-Syifâ 1/746; ath-abari, Jâmi`ul Bayân 9/65; Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’an 2/250; al-Baghawi, Ma`âlim at-Tanzîl 2/298.


291

Surat Kesembilan Belas

nya mendapatkan kasih sayang.365 Ayat Taurat berikut mengacu kepada Nabi Musa dian kepada Nabi yang akan datang:

. Kemu-

Wahai Nabi, Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, dan sandaran kaum yang buta huruf. Engkau adalah hamba-Ku. Kunamai engkau dengan al-Mutawakkil. Engkau tidak kasar dan keras; tidak berteriak di pasar; tidak membalas keburukan dengan keburukan. Namun engkau memaafkan dan memberikan ampunan. Allah tidak mewafatkannya sampai ia meluruskan ajaran yang bengkok sehingga mereka mengucap Lâ Ilâha Illallâh.366 Keberadaan ayat yang terdapat dalam Taurat di atas telah disebutkan—sebelum mengalami banyak perubahan dan infi ltrasi—oleh Abdullah ibn Amr ibn al-Ash, salah seorang dari tujuh tokoh sahabat yang bernama Abdullah di mana mereka memiliki pengetahuan luas tentang kitab-kitab suci terdahulu. Juga oleh Abdullah ibn Salam, salah seorang tokoh ulama Yahudi, yang paling pertama masuk Islam di antara rekan-rekannya. Lalu oleh Ka’ab al-Ahbar, salah seorang ulama Yahudi. Ayat Taurat yang lain berbunyi: Muhammad adalah utusan Allah. Tempat lahirnya Mekkah. Tempat hijrahnya aibah (Madinah). Kerajaannya di Syam. Umatnya adalah mereka yang memberikan pujian.”367 Istilah ‘Muhammad’ dalam ayat di atas disebutkan dalam bahasa Suryani yang bermakna Muhammad. Selain itu, terdapat ayat Taurat lainnya yang berbunyi: Engkau adalah hamba dan utusanku. Kunamai engkau dengan al-Mutawakkil. Ayat ini berbicara kepada sosok yang akan diutus setelah dari anak keturunan Ismail yang merupakan saudara Musa 365

1/739.

Lihat: Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 2/326; al-Qâri, Syarh asy-Syifâ

Pasal 42: 1-11. Ad-Dârimi, al-Muqaddimah 2; ath-abari, al-Mu’jam al-Kabir 10/89; Abu Nu`aim, Hilyatul Auliyâ 5/389. 366 367


292

AL-MAKTÛBÂT

keturunan Ishaq.368 Ayat Taurat yang lain berbunyi: Hamba pilihan-Ku; ia tidak kasar dan keras.”369 Yang dimaksud “Hamba Pilihan” adalah al-Mustafa; salah satu nama Nabi r. Terdapat beragam penjelasan terkait dengan “Pemimpin alam” yang diinformasikan akan datang sesudah Isa dalam kitab Injil.370 Di antaranya. “Ia membawa sebatang besi yang akan digunakan untuk berperang, begitu pula umatnya.” 371 Yang dimaksud dengan ‘sebatang besi’ adalah pedang. Artinya, akan datang nabi yang membawa pedang di mana umatnya diperintah untuk berjihad. Ini sebagaimana gambaran yang diberikan oleh al-Qur’an di akhir surah al-Fath:

“Dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafi r.” (QS. al-Fath [48]: 29). jil.

Terdapat banyak ayat lain yang serupa dengannya dalam In372

Dalam bab ke-33 dari kitab ke-5 dari Taurat terdapat ayat yang berbunyi: “Ia berkata, ‘Tuhan datang dari Sinai, menyinari kami dari Sa`îr, akan mendekralasikan dari gunung Faran. Dia bersama Kitab Ulangan 18. Kitab Ulangan 42 ayat 1-2. 370 Injil Yohanes 14 ayat 15-17, serta 16 ayat 7-9. 371 Mazmur 2: 9. 372 Penulis mengetengahkan sejumlah ayat dalam Injil dengan bahasa Turki dengan menunjukkan kepada sejumlah tempatnya. 368 369


Surat Kesembilan Belas

293

ribuan panji suci di sisi kanannya.’”373 Ayat di atas, di samping memberitakan tentang kenabian Musa lewat datangnya al-Haq dari bukit “Sinai”, ia juga memberitakan kenabian Isa yang menyinari kami dari “Sa`îr”. Pada saat yang sama ia pun memberitakan kenabian Muhammad r lewat kemunculan al-Haq dari “Faran” yang merupakan pegunungan Hijaz. Jadi, ayat tersebut dengan jelas menginformasikan kenabian Muhammad r. Adapun “bersamanya ribuan panji suci di sisi kanannya” ini membenarkan ayat al-Qur’an yang terdapat dalam surah al-Fath, “Itulah gambaran mereka dalam Taurat.” Pasalnya, ia menggambarkan para sahabat sebagai orang-orang suci. Mereka memang para wali Allah yang saleh. Pada bab ke-42 dalam kitab Yesaya disebutkan: “Allah I akan mengutus hamba pilihan-Nya di akhir zaman. Dan Dia mengirimkan kepada beliau ar-Ruh al-Amin; yaitu Jibril yang memberikan pengajaran kepadanya. Kemudian beliau mengajarkan kepada manusia apa yang diajarkan oleh Jibril kepadanya. Dia memutuskan di antara manusia dengan haq. Beliau adalah cahaya yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Tuhan mengajariku apa yang akan terjadi. Lalu akupun menyampaikannya kepada kalian.”374 Ayat ini menerangkan secara sangat jelas sejumlah sifat Nabi r. Pada bab ke-4 dari kitab Mikha terdapat ayat yang berbunyi: “Di akhir zaman akan terdapat umat yang dikasihi. Mereka menyembah Allah dan menginjak gunung suci. Banyak orang berkumpul di atasnya. Dari setiap wilayah terdapat orang yang menyembah Tuhan tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.”375 Ayat di atas menerangkan keberadaan Arafah dan kumpulan orang dalam jumlah besar. Yaitu jamaah haji yang menuju kepada gunung suci tersebut dan beribadah kepada Allah. Umat yang dikasihi maksudnya adalah umat Muhammad r. Sifat ini merupakan perlambang mereka. Kitab Ulangan 33: 2. Kitab Yesaya, 42: 1,4,7,9. 375 Kitab Mikha, 4: 1, 2, 5.

373

374


294

AL-MAKTÛBÂT

Pada bab ke-72 dari Zabur disebutkan: “Ia berkuasa dari laut sampai ke laut, dari sungai sampai ke penjuru bumi. Ia mendapat hadiah dari Yaman dan Aljazair. Para penguasa bersujud dan tunduk kepadanya. Setiap waktu ia mendapatkan salawat dan setiap hari didoakan berkah. Cahayanya memancar dari Madinah. Sebutan tentangnya akan terus berkumandang. Namanya sudah ada sebelum mentari dicipta. Dan namanya akan terus kekal sepanjang mentari bersinar.”376 Ayat di atas dengan sangat jelas menerangkan sifat Nabi r. Adakah seorang nabi sesudah Daud selain Nabi Muhammad r yang menyiarkan agamanya di Timur dan di Barat di mana para penguasa memberikan jizyah (upeti) kepadanya dengan penuh kerendahan. Para pemimpin tunduk dengan penuh ketaatan. lalu setiap hari beliau mendapat salawat dan doa dari seperlima umat manusia, serta cahayanya memancar dari Madinah? Adakah yang demikian selain beliau? Ayat ke-20 dari bab ke-14 di dalam Injil Yohanes berbunyi: “Aku juga tidak berbicara banyak kepada kalian karena pemimpin alam ini akan datang. Aku tidak seberapa dibandingkan dirinya. Atau tidak ada sesuatu padaku yang sama dengannya.”377 Istilah “pemimpin alam” merupakan kebanggan alam. Ia adalah julukan Rasul r yang terkenal. Ayat ke-7 dari bab ke-16 dalam Injil Yohanes berbunyi: “Namun aku ingin menyatakan yang benar kepada kalian: bahwa lebih baik bagi kalian jika aku pergi. Sebab, jika aku tidak pergi, sang pelipur lara tidak datang.”378 selain Muhammad r?! Adakah pelipur lara sesudah Isa Beliaulah yang menyelematkan umat manusia dari kepunahan dan kebinasaan abadi. Beliaulah yang menjadi pelipur lara dan pemimpin seluruh alam. Ayat ke-8 dari bab ke-16 dalam Injil Yohanes berbunyi: Kitab Mazmur 72: 1-19. Injil Yohanes 14: 30. 378 Dalam cetakan tahun 1876 berbunyi, “Tidak akan datang Paraklit kepada kalian.” 376 377


Surat Kesembilan Belas

295

Ketika datang, ia akan memberikan balasan atas kesalahan, kebaikan, dan ketaatan. Nah, siapa lagi yang mengganti kerusakan alam dengan kebaikan, yang menyelamatkan manusia dari dosa dan syirik, serta mengubah dasar-dasar politik dan kekuasaan di dunia selain Muhammad r?! Ayat ke-11 dari bab ke-16 dalam Injil Yohanes berbunyi: Telah tiba masa kedatangan pemimpin alam.379 Tentu saja yang dimaksud dengan pemimpin alam di sini adalah pemimpin umat manusia, Muhammad r. Ayat ke-13 dari bab ke-2 dalam Injil Yohanes berbunyi: “Ketika ruh al-Haq datang, maka dialah yang membimbing kalian kepada seluruh kebenaran. Sebab, ia tidak berbicara atas kemauan sendiri. Namun ia berbicara sesuai dengan apa yang ia dengar sekaligus menginformasikan sejumlah hal yang akan terjadi.” Ayat ini jelas terkait dengan sosok Rasul r. Siapa lagi selain beliau yang menyeru seluruh manusia kepada kebenaran? Siapa lagi selain beliau yang hanya berbicara berdasarkan wahyu serta ? Siapa lagi semenyampaikan apa yang ia dengar dari Jibril lain beliau yang menginformasikan berbagai kejadian kiamat dan akhirat secara detil?! Lalu dalam suhuf para nabi terdapat nama-nama milik Rasul r yang mengandung arti Muhammad, Ahmad, al-Mukhtar, atau Mustafa. Semuanya dimuat dalam bahasa Suryani dan Ibrani: Dalam suhuf nabi Syuaib terdapat nama Musyaffah yang artinya “Muhammad”. Dalam Taurat terdapat nama Munhamanna yang artinya “Muhammad”. Dalam Zabur terdapat nama Himyâtha yang bermakna nabi tanah haram. Di dalamnya juga terdapat kata al-Mukhtar. Dalam Taurat terdapat nama al- Hatim Ya, sungguh pemimpin yang sangat agung. Setiap masa terdapat 350 juta orang yang tunduk dengan penuh ketaatan sejak 1300 tahun lalu. Mereka mematuhi perintah-perintah beliau dan setiap hari memperbaharui janji setia kepada beliau lewat salawat dan salam untuk beliau. 379


296

AL-MAKTÛBÂT

dan al-Khatim (penutup) dan kata Muqimus-Sunnah (penegak sunnah) dalam Taurat dan Zabur. Sementara dalam suhuf nabi Ibrahim dan Taurat terdapat kata Maz-maz, serta dalam Taurat terdapat kata Ahyad.380 Rasul r bersabda, “Namaku dalam al-Qur’an adalah Muhammad, dalam Injil Ahmad, dan dalam Taurat Ahyad. Disebut Ahyad (penyelamat) karena aku menyelematkan umat dari neraka jahannam.381 Di antara nama Nabi r yang terdapat dalam Injil adalah “Shâhibul-Qadhîb wal-Harâwah (pemilik tongkat).”382 Tentu saja beliau merupakan nabi paling agung lewat jihadnya dan jihad umatnya. Selain itu, beliau merupakan Shâhibut-Tâj (pemilik mahkota). Ini merupakan sifat yang secara khusus dimiliki beliau. Sebab, bangsa Arab dikenal sebagai kaum yang terbiasa memakai sorban dan ikat kepala. Sementara mahkota dan sorban maknanya sama. Pemilik mahkota yang disebutkan dalam Injil tidak lain adalah Rasul r. Di dalamnya juga disebutkan Paraklit. Maknanya seperti yang disebutkan dalam Injil adalah pembeda antara yang hak dan yang batil. Ia merupakan nama Nabi r yang mengajak manusia kepada kebenaran. Dalam kitab Injil, Isa berkata, “Aku akan pergi agar sang pemimpin alam datang.” Adakah selain Muhammad r yang datang sesudah Isa di mana beliau memimpin alam, memisahkan atau membedakan antara yang hak dan yang batil, serta selalu membimbing manusia kepada kebaikan. Artinya, Isa memberikan kabar gembira bahwa salah seorang dari mereka akan datang sesudahku sehingga aku tidak lagi dibutuhkan. Aku hanya mendahului kedatangannya. Hal ini seperti ditegaskan oleh al-Qur’an:

Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/234; Ali al-Qari, Syarh asy-Syifâ 1/494-497. Al-Anwâr al-Muhammadiyyah minal Mawâhib al-Ladunniyyah 143. 382 Al-Qâdhî `Iyâdh, asy-Syifâ 1/234; an-Nabhani, Hujjatullah `alal -`Alamin 114; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/378; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 2/78. 380

381


Surat Kesembilan Belas

297

“Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (QS. ash-Shâff [31]: 6). Ya, Isa memberikan kabar gembira kepada umatnya bahwa pemimpin alam akan datang. Ia menyebutkan beliau dengan nama yang berbeda-beda, baik dalam bahasa Suryani ataupun Ibrani. Menurut para ulama dan ilmuwan, seluruh nama tersebut bermakna Ahmad, Muhammad, serta Pembeda antara yang hak dan yang batil.383 Pertanyaan: Mengapa Isa lebih banyak memberikan kabar gembira tentang kedatangan Nabi r dibanding nabi-nabi yang lain, sementara yang lain sekedar menginformasikan tentang beliau saja? daJawaban: Karena, Rasul r telah menyelamatkan Isa ri pendustaan dan pemalsuan keji kaum Yahudi. Beliau juga menyelamatkan agamanya dari berbagai upaya penyimpangan yang melampaui batas. Di samping itu, beliau datang dengan membawa syariat yang toleran sebagai ganti dari syariat yang telah membebani bani Israil yang tidak beriman kepada Isa . Syariat mulia ini bersifat universal dan menyempurnakan apa yang belum terdapat dalam syariat Isa . Dari sinilah dapat dipahami mengapa Isa memberikan kabar gembira tentang Rasul r bahwa ia akan datang sebagai pemimpin alam.

‫٭٭٭‬

Demikianlah, kita melihat bagaimana Taurat, Injil, Zabur, dan seluruh suhuf para nabi memberikan perhatian terhadap nabi akhir zaman dan banyak ayat di dalamnya yang berisi sifat-sifat tentang beliau, sebagaimana telah kami jelaskan sejumlah contoh darinya. Dalam sejumlah kitab suci tersebut, beliau disebutkan dengan beragam nama dan sifat. Kira-kira, siapa sosok nabi akhir zaman yang disebutkan oleh semua kitab suci para nabi sampai 383 Al-Qâdhî Iyâdh, asy-Syifâ 1/234-235; an-Nabhâni, Hujjatullah ala al-Alamin 112 dan 115.


298

AL-MAKTÛBÂT

sedemikian rupa di dalam banyak ayatnya, selain Muhammad r?!

Jenis Kedua: Di antara irhâsât dan bukti kenabian adalah informasi para peramal dan wali Allah pada masa fatrah (sebelum masa kenabian) tentang kedatangan Muhammad r. Mereka menginformasikan hal tersebut di hadapan banyak orang. Mereka meninggalkan berbagai informasi tersebut untuk kita dalam syair-syair mereka. Informasi seperti itu sangat banyak. Kami hanya akan menyebutkan apa yang tersebar luas, yang sudah dikenal dan diakui oleh para sejarawan. Pertama: sifat-sifat Rasul r yang dilihat oleh Raja Tubba’— salah seorang raja Yaman—dalam kitab terdahulu yang kemudian ia beriman. Hal itu ia ungkap dalam sebuah syair:

Aku menyaksikan Ahmad bahwa ia Adalah utusan Allah; Sang Pencipta manusia Andaikan usiaku sampai kepada usianya Aku akan menjadi pembantu dan sepupunya.384 Yakni, aku akan menjadi seperti Ali d. Kedua: informasi Qis ibn Sâ`idah—yang dikenal sebagai orator Arab yang paling ulung—tentang risalah Muhammad r dalam sebuah syair sebelum beliau diutus:

384 Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’an 16/145; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 2/166, Tafsir al-Qur`an 4/145; Ibnu Habib, al-Muktafâ 1/49.


Surat Kesembilan Belas

299

Diutus kepada kita Ahmad Sebaik-baik nabi yang diutus Semoga Allah melimpahkan salawat untuknya Di mana banyak rombongan yang berkumpul disekitarnya.385 Ketiga: ucapan Ka’ab ibn Luay, salah seorang nenek moyang Nabi r. Lewat ilham, ia lantunkan bait berikut yang terkait dengan risalah Muhammad r:

Saat kondisi alpa Nabi Muhammad tiba Ia memberitakan sejumlah berita yang jujur pemberitanya.386 Keempat: kesaksian Saif ibn Dzi Yazin—salah seorang raja Yaman—tentang sifat-sifat Rasul r yang terdapat dalam kitab terdahulu. Ia pun beriman dan merindukan beliau. Saat kakek Nabi r pergi ke Yaman bersama rombongan Quraisy, sang raja mengundang mereka seraya berkata, “Jika di Hijaz lahir seorang anak yang di antara kedua bahunya terdapat tanda, maka ia akan menjadi pemimpin dan engkau wahai Abdul Muttalib adalah kakeknya.”387 Kelima: saat wahyu turun untuk pertama kalinya kepada Rasul r, rasa takut dan cemas menyelimuti beliau. Maka Khadijah menemani beliau untuk menemui Waraqah ibn Naufal (sepupu Khadijah) dan menceritakan kepadannya. Waraqah bertanya kepada beliau, “Apa yang engkau lihat?” Maka, rasul r menceritakan semuanya kepada Waraqah. Kemudian Waraqah berkata, “Ini adalah Namus (wahyu) yang Allah turunkan kepada Musa. Andai saja ketika itu aku masih muda. Andai saja aku masih hidup saat kaummu mengusirmu...”388 Di antara yang dikatakan oleh Waraqah saat itu, “Wahai Muhammad, bergembiralah! Aku Al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 2/111; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 2/236; as-Suyuthi, al-Khasha’is al-Kubrâ 1/182; al-Halabi, as-Sirah al-Halabiyyah 1/328. 386 Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 90; al-Ashbihani, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/156; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 2/244. 387 Lihat: al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 2/12; Abu Nu`aim, Dalâ’il anNubuwwah 97-98; al-Mâwardi, A’lâm an-Nubuwwah 1/235. 388 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad, 4/304. 385


300

AL-MAKTÛBÂT

bersaksi bahwa Engkau adalah nabi yang ditunggu-tunggu. Isa telah memberikan kabar gembira tentang dirimu.” Keenam: ketika Atskalân al-Himyari, sang Ârif billah, bertemu kaum Quraisy sebelum Nabi r diutus, ia berkata kepada mereka, “Adakah di antara kalian orang yang mengaku sebagai nabi?” Mereka menjawab, “Tidak ada.” Lalu ketika beliau sudah diutus, ia kembali menanyakan hal yang sama. Mereka menjawab, “Ya, di antara kami ada yang mengaku sebagai nabi.” Iapun berkata, “Dunia sedang menantikannya.” 389 Ketujuh: salah seorang ulama Nasrani, Ibnu al-`Alâ, memberitahukan tentang Nabi r sebelum masa bi’tsah (masa setelah Rasulullah diutus). Lalu setelah masa bi’tsah, ia melihat Nabi r seraya berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran. Aku telah menemukan sifat-sifatmu dalam Injil, dan kabar gembira akan kedatanganmu telah diberitakan oleh Ibnu al-Batûl (Isa ).”390 Kedelapan: an-Najasyi, Raja Habasyah, yang telah disebutkan sebelumnya, berkata, “Andai saja aku menjadi pembantunya sebagai ganti dari kekuasaan ini.” 391

‫٭٭٭‬

Setelah menyebutkan sejumlah informasi kedatangan Rasul r yang disampaikan oleh mereka lewat ilham dari Allah I, kami ingin mengetengahkan ucapan para peramal dan sejumlah informasi gaib yang mereka sampaikan lewat perantaraan roh dan jin. Mereka menerangkan kedatangan Nabi r dan mengabarkan kenabiannya. Jumlah mereka cukup banyak. Namun kami hanya akan menyebutkan yang mutawatir saja dan yang tertulis dalam kitab sirah dan sejarah. Kisah dan cerita mereka yang panjang 389 Ibnu Asâkir, Tarikh Dimasyq 35/250; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 5/126; as-Suyuthi, al-Khashâ’ish al-Kubrâ 1/24; al-Halbi, Sirah al-Halabiyyah 1/449. 390 Ibnu Sayyid an-Nâs, Uyûn al-Atsar 1/146. Lihat Ibnu Asâkir, at-Tarikh 3/430; as-Suyuthi, al-Khashâ’ish al-Kubrâ 1/24; al-Halbi, Sirah al-Halabiyyah 1/319. 391 Lihat: Abu Daud, bab al-Janâ’iz 58; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/461; Said ibn Manshur, bab as-Sunnah 2/228; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 7/350; Abd ibn Humaid, al-Musnad 1/193.


Surat Kesembilan Belas

301

bisa dirujuk ke sejumlah kitab sirah. Di sini kami hanya akan menyebutkan ringkasannya. Pertama: Peramal yang dikenal dengan nama Syiq yang tampak seperti setengah manusia lantaran hanya mempunyai satu tangan, satu kaki, dan satu mata. Peramal ini sering memberi informasi tentang Nabi r sehingga informasinya mencapai tingkatan mutawatir.392 Kedua: Peramal dari Syam yang bernama Satîh. Ia merupakan salah satu keajaiban dunia di mana tubuhnya tidak memiliki anggota badan dan tulang. Yang ada hanya kepala, dan wajahnya terdapat di dada. Ia hidup dengan usia cukup panjang. Berbagai informasi gaibnya yang benar sudah terkenal. Sehingga Kisra Persia ketika mengalami mimpi aneh yang mencemaskannya—di masa kelahiran Rasul r—karena melihat 14 tiang istananya retak dan roboh, ia mengutus seorang alim bernama Muwaizan untuk bertanya kepada Satîh tentang hikmah di balik mimpi tersebut. Maka, Satîh memberikan jawaban yang maknanya, “Terdapat 14 raja yang akan berkuasa di kerajaan kalian. Lalu kekuasaan kalian akan lenyap dan negara kalian akan musnah. Akan datang orang yang membawa agama baru. Orang itulah yang akan menjadi sebab musnahnya agama dan kekuasaan kalian.” Begitulah Satîh memberikan informasi yang tegas akan kedatangan nabi akhir zaman.393 Sawâd ibn Qârib ad-Dawsi, 394 Khanâfi r,395 dan Af`â Najran, Jadzal ibn Jadzal al-Kindi, 396 Ibnu Khullashah ad-Dausi,397 FatiIbnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawaiyyah 124, 129, 158, 190, dn 192; athabari, Tarikh al-Umam wal-Mulûk 1/431; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 125-128. 393 Ath-abari, Tarikh al-Umam wal Mulûk 1/459-460; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/126-130; Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq 37/361-363. 394 Al-Bukhari, Manâqib al-Anshar 35; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 2/34-36; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 7/92-95; al-Hakim, al-Mustadrak 3/704705. 395 Ibnu Abdil Barr, al-Istî`âb 2/460; as-Suyuthi, al-Khasha’ish al-Kubrâ 2/5253; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 2/362-363 dan 3/349. 396 Al-Qâdhî Iyâdh, asy-Syifâ 1/365. 397 Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq 3/451-452; as-Suyuthi, al-Khasha`ish al-Kubrâ 2/52-53; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 1/185-186. 392


302

AL-MAKTÛBÂT

mah binti an-Nu’man an-Najjariyyah,398 serta para peramal terkenal lainnya, semuanya memberikan informasi tentang kedatangan nabi akhir zaman dan orang tersebut adalah Muhammad r seperti yang disebutkan dalam sejumlah kitab sirah dan sejarah secara detil. Sa’ad ibn Kuraiz, salah seorang kerabat Utsman d telah menerima berita kenabian Muhammad r secara gaib lewat sarana peramalan. Ia mengisyaratkan keimanannya kepada Utsman d pada awal kemunculan Islam dengan berkata, “Pergilah kepada Muhammad dan berimanlah!” Maka, Utsman pun beriman. Lalu Sa’ad menggubah syair untuknya:

Berkat ucapanku, Allah memberi hidayah kepada Utsman yang dengannya. Ia mendapat petunjuk. Sungguh Allah membimbing kepada kebenaran.399

‫٭٭٭‬

Sebagaimana para peramal, sejumlah Hâtif (suara gaib) juga mengabarkan kedatangan Rasul r. Hâtif adalah suara yang jelas terdengar, namun orangnya tidak terlihat. Di antaranya: Dziyab ibn al-Harits mendengar suara gaib dari kalangan jin. Hal itu menjadi sebab yang membuat dirinya dan yang lain masuk Islam:

Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/167; ath-abrani, al-Mu’jam al-Ausath 1/234; Abu Nu`aim Dalâ’il an-Nubuwwah 107. 399 Ibnu Hajar, al-Ishâbah 7/698. Lihat: Ibnu Asâkir, Tarikh Dimasyq 39/25; Ibnu Katsîr, al-Bidâyah wan-Nihâyah 7/200. 398


Surat Kesembilan Belas

303

Wahai Dziyab wahai Dziyab Dengarkan hal yang sangat ajaib Muhammad diutus dengan membawa kitab Berdakwah di mekkah namun tak dijawab400 Juga, Ibnu Qurrah al-Ghatfani mendengar suara gaib yang berkata:

Kebenaran telah datang sehingga menjadi terang Kebatilan pun hancur sehingga menjadi kelam.401 Hal itu menjadi sebab yang membuat sebagian orang untuk beriman. Demikianlah, kabar gembira yang datang dari peramal dan suara gaib sangat terkenal dan banyak.

‫٭٭٭‬

Selain itu, dari dalam patung dan sembelihan untuk berhala terdengar pula informasi kedatangan Nabi r. Di antaranya: Patung kabilah Mazin memberitakan tentang kerasulan Muhammad saat ia berkata, “Ini nabi yang diutus. Ia datang membawa kebenaran yang diturunkan.” 402 Demikian pula, sebab masuknya Islam Abbas ibn Mirdas karena peristiwa yang terkenal, yaitu ia memiliki sebuah patung bernama “dhimar”. Lalu si patung tersebut pada suatu hari berkata:

400 Al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 2/259; Ibnul Atsir; Usud al-Ghabah 2/15; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 2/402; as-Suyuthi, al-Khasha`ish al-Kubrâ 1/174. 401 Al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 2/259; Ali al-Qari, Syarh asy-Syifâ 1/748; al-Khafâji, Nasîm ar-Riyâdh 4/323. 402 Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 115; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 2/256. Lihat ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 20/338.


304

AL-MAKTÛBÂT

Dhimar telah binasa. Ia sebelumnya disembah Sebelum datang penjelasan dari Nabi Muhammad.403 Sebelum masuk Islam, Umar d telah mendengar suara dari anak sapi yang disembelih untuk dipersembahkan kepada berhala. Anak sapi itu berkata, “Wahai keluarga pengorban, terdapat urusan yang benar dan orang fasih yang berujar Lâ Ilâha Illallah (tiada Tuhan selain Allah).”404 Demikianlah, terdapat banyak peristiwa lain yang sangat mirip dengan apa yang telah kami sebutkan. Berbagai kitab yang dapat dipercaya dalam masalah sirah dan sejarah telah memuatnya.

‫٭٭٭‬

Sebagaimana para peramal, kaum arif, serta suara gaib, bahkan patung berhala dan sembelihan mengabarkan kerasulan Muhammad r di mana setiap peristiwa menjadi sebab sebagian orang masuk Islam, demikian pula terdapat sejumlah bebatuan dan nisan yang di atasnya berisi tulisan dengan aksara kuno. Bunyi tulisannya, Muhammad Mushlih Amîn (Muhammad seorang reformis yang amanah). Lantaran hal tersebut sejumlah orang menjadi beriman. 405 Ya, ungkapan “Muhammad seorang mushlih (reformis) yang amanah” sangat layak disandang Nabi r. Pasalnya, beliau memiliki sifat reformis dan amanah. Juga, karena sebelum itu tidak ada yang mempunyai nama Muhammad selain beberapa orang yang tidak layak menyandang nama tersebut.

Jenis Ketiga: Sejumlah bukti dan peristiwa yang terjadi saat kelahiran Nabi r. Berbagai peristiwa yang kemunculannya terkait dengan kelahiran beliau di mana ia terjadi sebelum bi’tsah dianggap se403 Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 5/92; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 118; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 4/312. 404 Lihat: al-Bukhari, Manâqib al-Anshar 35; Abu Ya’lâ, al-Musnad 1/266; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 2/35; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/158. 405 Al-Bukhari, at-Tarikh al-Kabir 1/29; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/61; Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq 34/102; Ibnu Hajar, al-Ishâbah 1/72.


Surat Kesembilan Belas

305

bagai salah satu mukjizat beliau. Jumlahnya sangat banyak. Namun kami hanya akan menyebutkan beberapa contoh yang sudah dikenal dan diterima oleh para imam hadis serta dianggap sahih oleh mereka. 1.

2. 3. 4.

Cahaya yang keluar bersama beliau di saat beliau lahir. Hal tersebut dilihat oleh ibu beliau, serta oleh Ibu Utsman ibn al-Ash dan Ibu Abdurrahman ibn Auf yang menginap bersama Aminah di malam kelahiran beliau. Mereka semua berkata, “Kami melihat cahaya saat kelahiran beliau. Cahaya tersebut menerangi antara penjuru timur dan barat.” 406 Tumbangnya sebagian besar berhala yang terdapat di sekitar Ka’bah.407 Hancurnya istana Kisra berikut 14 serambinya. Surutnya danau Sawa yang dikultuskan. Serta, padamnya Api Persia yang selama seribu tahun tidak pernah padam. 408 Api tersebut terdapat di Persepolis (kota Persia) dan disembah oleh kaum Majusi. Keempat peristiwa di atas menjadi petunjuk bahwa sang anak yang baru lahir itu akan menghalau para penyembah berhala, akan menghancurkan kekuasaan Persia, dan mengharamkan pengkultusan terhadap sesuatu yang tidak Allah benarkan.

5.

Peristiwa gajah. Meskipun tidak terjadi di malam tersebut, namun ia berdekatan dengan waktu kelahiran beliau. Karena itu, ia juga termasuk dalam kategori irhasat. Al-Qur’an telah menjelaskan dalam fi rman-Nya di surah al-Fîl. Ringkasan kisahnya adalah bahwa Abrahah, Raja Habasyah, ingin menghancurkan Ka’bah. Ia menempatkan gajah besar bernama mahmud di depan pasukan. Ketika gajah itu

Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 135 dan 137. Lihat Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/127; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 18/252; Ibnu Ishak, as-Sirah 1/22 dan 28; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 1/293. 407 Al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/19; as-Suyuthi, al-Khasha’ish al-Kubrâ 1/81; Ibnu Habib, al-Muktafâ min Sîratil Musthafâ 36; al-Halabi, as-Sirah al-Halabiyyah 1/76. 408 Al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/19,126, 127; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 139; ath-abari, Tarikh al-Umam wal Mulûk 1/459; Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq 37/361. 406


306

AL-MAKTÛBÂT

sudah mendekati kota Mekkah, ia berhenti dan tidak mau melanjutkan perjalanan meski mereka berusaha sekuat tenaga. Karena tidak berhasil, akhirnya mereka kembali. Hanya saja, burung Ababil tidak membiarkan mereka pulang dengan selamat. Burung-burung tersebut melempari mereka dengan batu dari sijjil. Burung itu membuat mereka betul-betul kalah secara hina. Kisah terkenal ini terdapat dalam sejumlah buku sejarah. Ia termasuk tanda kenabian, sebab kiblatnya dan tanah yang paling beliau cintai selamat dari perusakan Abrahah secara luar biasa.409 6.

Awan yang Allah buat menaungi beliau dalam perjalanan. Halimah as-Sa’diyyah melihat awan yang menaungi beliau saat bersamanya di mana hal itu juga disaksikan oleh suaminya. Iapun memberitahukan kepada orang-orang sehingga menjadi peristiwa yang dikenal luas. 410 Saat masih berusia 12 tahun, beliau bersama pamannya pergi ke Syam. Dalam perjalanan, sang rahib Bahira melihat dan memperlihatkan kepada orang lain bahwa awan menaungi beliau dari terik matahari. 411 Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Khadijah dan para wanita yang lain melihat—saat beliau pulang dari perjalanan dari Syam—dua malaikat yang menaungi beliau laksana awan. Hal itu disampaikan oleh Khadijah kepada Maisarah, pelayannya. Maisarah memberitahukan bahwa ia sudah melihat sejak kepergiannya bersama beliau. 412

7.

Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa dalam sebuah perjalanan sebelum dilantik menjadi Rasul, beliau singgah di bawah pohon kering. Seketika pohon tersebut rindang, ber-

409 Lihat: Ibnu Ishaq, as-Sirah 36-41; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 1/168-173; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/91-92; ath-abari, Tarikh alUmam wal- Mulûk 1/440-445. 410 Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/112. 411 Lihat: at-Tirmidzi, al-Manâqib 3; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 7/327; al-Bazzar, al-Musnad 8/97; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 1/319-322; Ibnu Sa’ad, at-abaqât al-Kubrâ 1/154-155. 412 Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 2/6-7; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât alKubrâ 1/130-131, 156-157; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 172-174; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 1/218.


Surat Kesembilan Belas

307

buah, dan tumbuh berkembang dengan ranting yang banyak.413 8.

Ketika makan bersama pamannya, Abu alib, dan keluarganya, saat masih kecil, semuanya merasa kenyang dan puas. Namun jika mereka tidak makan bersama beliau, mereka tidak merasa kenyang. Peristiwa ini cukup dikenal luas dan sahih.414 Ummu Aiman, pelayan dan pengasuh Rasulullah r, berkata, “Aku tidak pernah melihat beliau mengeluh lapar atau haus, baik di saat masih kecil maupun ketika beliau sudah besar.”415

9.

Keberkahan yang tampak pada kambing dan unta milik ibu susu beliau, Halimah as-Sa’diyyah, di mana hal ini berbeda dengan kambing milik orang-orang di sekitarnya. Peristiwa ini juga terkenal dan tidak diragukan kesahihannya. 416 Selain itu, lalat tidak hinggap di tubuh ataupun baju beliau.417 Serta tidak mengganggu beliau. Syekh Abdul Qadir al-Jailani mewarisi hal ini dari sang kakek yang agung, Nabi r, di mana lalat juga tidak mau hinggap padanya.418

10.

Banyaknya lemparan meteor setelah kedatangan Nabi r ke dunia; terutama di malam kelahiran beliau. Kami telah menyebutkan jatuhnya meteor dan lemparan terhadap setan dalam ‘Kalimat Kelima Belas’. Telah kami jelaskan bahwa maksud dari lemparan meteor itu adalah untuk menghalangi pengintaian setan dan jin serta mencegah usa-

Al-Qâdhî Iyâdh, asy-Syifâ 1/368; al-Halabi, as-Sirah al-Halabiyyah 1/218. Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/119-120, 168; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 166; Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq 3/86; as-Suyuthi, al-Khashâ’ish alKubrâ 1/140-141. 415 Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/168; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 167; as-Suyuthi, al-Khasha`ish al-Kubrâ 1/141; al-Halabi, as-Sirah al-Halabiyyah 1/189. 416 Ibnu Hibban, ash-Sahih 14/244-246; Abu Ya’lâ, al-Musnad 93-96; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 24/214; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 1/299-301; Ibnu Sa’ad, ath-abaqât al-Kubrâ 1/151. 417 Al-Qâdhî Iyâdh, asy-Syifa 1/368; al-Halabi, as-Sirah al-Halabiyyah 2/624, 3/381. 418 Al-Khafâji, Nasîm ar-Riyâdh 4/335; an-Nabhani, Jami’ Karâmât al-Auliyâ 2/203. 413

414


308

AL-MAKTÛBÂT

ha mereka untuk mencuri informasi langit. Ketika wahyu diturunkan ke dunia, maka ucapan para dukun dan mereka yang berbicara tentang hal gaib yang berasal dari jin yang penuh dusta dan bertentangan dengan realita harus dihentikan. Hal ini agar wahyu tidak bercampur dengan yang lain dan tidak diragukan orisinalitasnya. Sebelum Nabi r diutus, praktek peramalan sangat banyak. Akan tetapi, setelah al-Qur’an turun, ia dilarang sama sekali sehingga banyak dari peramal yang akhirnya beriman. Pasalnya, informan mereka dari kalangan jin tidak lagi memberikan informasi gaib. Dalam hal ini, al-Qur’an menutup jalan bagi mereka. Saat ini terdapat sejenis peramalan masa lalu di Eropa di kalangan mereka yang ingin menghadirkan arwah. Kesimpulan: Banyak peristiwa dan orang yang muncul untuk menguatkan kenabian Muhammad r sebelum dilantik menjadi Rasul. Ya, sosok yang akan menjadi pemimpin dunia 419 secara maknawi; yang akan mengganti tatanan spiritual dan moral; yang akan mengubah dunia menjadi ladang akhirat; yang akan mendeklarasikan tingginya kedudukan makhluk; yang akan membimbing jin dan manusia menuju jalan kebenaran dan kebahagiaan serta menyelamatkan mereka dari ketiadaan mutlak; yang akan menyingkap misteri penciptaan dan teka-teki alam yang membingungkan; yang akan mengetahui dan mengajari sejumlah maksud Tuhan; dan yang akan mengenal sekaligus memperkenalkan Sang Pencipta agung, pasti kedatangannya dinantikan oleh semua entitas, semua spesies, dan seluruh makhluk. Mereka tentu bersiap-siap menyambut kehadirannya. Bahkan 419 Sosok yang dimaksud dalam ungkapan, “Kalau bukan karenamu...” adalah benar-benar pemimpin agung. Kekuasaannya tetap bertahan selama 1350 tahun. Beliau memiliki pengikut di setiap masa yang jumlahnya lebih dari 350 juta orang. Panjinya tersebar di separuh alam. Setiap hari para pengikut beliau memperbaharui baiat mereka lewat salawat dan salam mereka kepada beliau dengan penuh ketaatan dan ketundukan kepada perintah beliau. “Kalau bukan karenamu, alam takkan Kuciptakan.” Para ulama menerima makna dan redaksinya. Barangkali ucapan Ali al-Qari adalah jalan tengah antara kalangan yang menetapkan dan menafi kan. Ia berkata, “Maknanya sahih, meskipun redaksinya lemah.” (Syarh asy-Syifâ 1/6).


Surat Kesembilan Belas

309

sejumlah pihak memberikan kabar gembira atas kehadirannya— karena Sang Pencipta menginformasikan hal tersebut. Bukti dari semuanya telah kita lihat dalam sejumlah petunjuk dan contoh sebelumnya bahwa semua spesies makhluk memperlihatkan mukjizatnya dalam bentuk yang menyerupai penyambutan terhadapnya. Seolah-olah masing-masing berkata lewat lisan mukjizat: “Engkau benar dalam dakwahmu.”

PETUNJUK KETUJUH BELAS Mukjizat Rasul r yang paling besar sesudah al-Qur’an adalah “pribadi mulia” beliau. Yakni, berbagai akhlak mulia dan perilaku terpuji yang terkumpul dalam diri beliau. Baik kawan maupun lawan, semuanya sepakat bahwa beliau merupakan manusia yang memiliki kedudukan paling mulia, paling agung, serta paling sempurna. Bahkan sang pahlawan yang gagah berani, Imam Ali d, berkata, “Jika kami sedang berada dalam kesulitan dan mata mulai memerah, kami berlindung di belakang Rasulullah r ketika perang.”420 Demikianlah beliau berada pada puncak yang tak bisa ditandingi oleh siapapun dalam seluruh perilaku yang mulia, termasuk dalam hal keberanian. Mukjizat besar ini bisa dirujuk kepada kitab asy-Syifâ fî Huqûq al-Musthafâ karya al-Qâdhî Iyâdh al-Maghribi. Dengan sangat apik, ia menulis dan memberikan penjelasan di dalamnya.

‫٭٭٭‬

Selanjutnya, “syariat mulia” yang belum dan tidak pernah ada padanannya merupakan mukjizat agung lain yang dimiliki oleh Rasul r. Baik kawan maupun lawan, semuanya sepakat atas hal tersebut. Penjelasan dan keterangan tentang mukjizat ini dapat dilihat pada seluruh tulisan kami di Ketiga Puluh Tiga Kalimat, Ketiga Puluh Tiga Surat, Ketiga Puluh Satu Cahaya, dan Ketiga Belas Sinar.421 Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/86; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 7/354; ath-abrani, al-Mu’jam al-Ausath 3/371. 421 Al-Kalimât (Kumpulan Kalimat), al-Maktûbât (Kumpulan Surat), al-Lama’ât (Kumpulan Cahaya), dan asy-Syu’â’ât (Kumpulan Sinar)―Peny. 420


310

AL-MAKTÛBÂT

Lalu mukjizat agung lainnya adalah mukjizat “terbelahnya bulan” yang diriwayatkan dalam sejumlah riwayat mutawatir. Ia sangat kuat sehingga tidak diragukan. Ia diriwayatkan lewat banyak jalur dan dalam bentuk mutawatir dari Ibnu Mas`ud, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Imam Ali, Anas, Hudzaifah radhiyallâhu `anhum, dan banyak tokoh sahabat lainnya. Di samping itu, ia diperkuat oleh al-Qur’an yang menginformasikan keberadaannya, “Kiamat sudah dekat dan bulan telah terbelah.” (QS. al-Qamar [54]: 1). Bahkan kaum kafi r Quraisy yang keras kepala tak mampu mengingkari mukjizat tersebut. Hanya saja, mereka berkata, “Itu adalah sihir.” Dengan demikian, terbelahnya bulan jelas ada dan diterima bahkan oleh kaum kafi r sekalipun, hanya saja kemudian mereka menginterpretasikannya sebagai sihir. Risalah tentang terbelahnya bulan ini bisa dibaca pada lampiran “Risalah Mi’raj”.

‫٭٭٭‬

Selanjutnya, Rasul r memperlihatkan mukjizat agung berupa “Mi’raj” kepada penduduk langit sebagaimana beliau telah memperlihatkan mukjizat “terbelahnya bulan” kepada penduduk bumi. Hal ini bisa dilihat pada risalah Mi’raj, yaitu "Kalimat Ketiga Puluh Satu" yang menegaskan kebenaran mukjizat tersebut serta memperlihatkannya dengan jelas. Namun di sini kami akan menyebutkan semacam pendahuluan dari mukjizat tersebut. Yaitu perjalanan beliau menuju Baitul Maqdis, permintaan kaum Quraisy kepada beliau untuk menggambarkan kondisi Baitul Maqdis di pagi hari setelah Mi’raj terjadi, serta mukjizat yang terjadi dalam perjalanan tersebut. Ketika Rasul r memberitakan perjalanannya pada pagi hari sesudah mi’raj, kaum Quraisy tidak percaya. Mereka berkata, “Jika engkau benar telah pergi ke Baitul Maqdis, coba gambarkan tentang pintu, dinding, dan kondisinya kepada kami.” Rasul r berkata, “Aku sangat kebingungan. Aku tidak pernah sebingung saat itu. Namun Allah menyingkap untukku sehingga aku bisa melihatnya.” Maksudnya, beliau diperlihatkan Baitul Maqdis. Maka, beliaupun mulai menggambarkan kondisinya seraya melihat kepadanya. Kaum Quraisy percaya dengan informasi yang beliau


Surat Kesembilan Belas

311

berikan. Mereka berkata, “Kapan rombongan itu datang?” Yakni, rombongan yang Rasul r lihat di jalan. Beliau menjawab, “Hari Rabu.” Pada hari rabu tersebut, Quraisy terus menunggu. Sementara siang mulai berlalu, namun mereka belum tiba. Maka, Rasul r berdoa sehingga siang dipanjangkan; matahari ditahan. 422 Engkau dapat melihat bagaimana bumi tidak berotasi selama beberapa saat untuk membenarkan informasi yang beliau sampaikan. Mentari yang besar juga menjadi saksi atas kebenaran beliau. Sungguh malang orang yang tidak percaya kepada ucapan Nabi r di mana bumi berhenti bekerja selama beberapa saat dan matahari menahan diri untuk membenarkan ucapan beliau. Sebaliknya, sungguh beruntung mereka yang dapat melaksanakan perintah beliau seraya berkata, “Kami mendengar dan kami taat.” Renungkan hal ini, lalu ucapkan, “Segala puji milik Allah atas nikmat iman dan Islam.”

PETUNJUK KEDELAPAN BELAS Mukjizat terbesar di antara sekian mukjizat Rasul r adalah al-Qur’an al-Karim yang memuat ratusan dalil kenabian. Kemukjizatannya ditegaskan lewat 40 aspek seperti yang terdapat dalam “Kalimat Kedua Puluh Lima”. Karenanya, penjelasan tentang khazanah mukjizat agung itu bisa dilihat pada ‘kalimat’ tersebut. Di sini kami hanya menjelaskan tiga nuktah:

Nuktah Pertama: Barangkali ada yang berkata bahwa rahasia kemukjizatan al-Qur’an terdapat dalam balagah-nya yang luar biasa, sementara yang dapat memahami rahasia tersebut hanya satu dari seribu ulama balagah. Padahal, setiap kalangan seharusnya memahami kemukjizatan itu. Jawabannya: Al-Qur’an al-Karim memiliki sisi kemukjizatan bagi setiap kalangan manusia. Namun, ia mengungkap kemukjizatannya lewat gaya dan cara tertentu yang bersifat khusus. 422 Lihat: al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah 2/404, Syarh Sahih Muslim 12/52; Al-Qâdhî Iyâdh, asy-Syifâ 1/284; Ibnu Katsir, al-Bidayah wan-Nihayah 6/282.


312

AL-MAKTÛBÂT

Misalnya: ia menerangkan kemukjizatannya yang cemerlang dalam aspek balagah kepada kalangan yang ahli dalam ilmu balagah (retorika). Ia menerangkan gaya bahasanya yang indah dan istimewa kepada kalangan yang mengerti syair dan ahli pidato. Meskipun gaya bahasa al-Qur’an disenangi oleh setiap orang, namun tidak ada yang berani menirunya. Ia tidak lapuk meski sering diulang dan tidak lekang ditelan zaman. Gaya bahasanya selalu terasa segar. Di dalamnya ada prosa yang tertata dan untaian kalimat yang membuatnya indah, nikmat, dan memikat. Kemudian al-Qur’an mengungkap kemukjizatannya melalui sejumlah informasi gaib yang disampaikan. Dengannya, ia menantang kalangan peramal serta orang-orang yang mengaku mengetahui informasi gaib. Al-Qur’an juga mengisahkan kepada para sejarawan serta para ulama―yang menjejaki berbagai peristiwa di dunia―cerita yang membuat mereka bisa merasakan kemukjizatannya. Yaitu dengan menyebutkan sejumlah kisah dan kondisi umat terdahulu serta berbagai peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang, baik dalam kehidupan dunia, di alam barzakh, ataupun di akhirat. Al-Qur’an menantang mereka lewat kemukjizatannya yang menakjubkan itu. Selain itu, al-Qur’an memperlihatkan kemukjizatannya kepada sosiolog, politikus, dan ahli hukum. Yaitu dengan mengungkap kemukjizatan yang terdapat di dalam prinsip-prinsip alQur’an yang suci. Ya, syariat mulia yang bersumber dari al-Qur’an memperlihatkan secara sempurna rahasia kemukjizatan tersebut. Al-Qur’an juga menerangkan kepada kalangan yang mendalami makrifat ilahi dan hakikat alam sebuah sisi kemukjizatan yang cemerlang dalam caranya menerangkan berbagai hakikat ilahi yang suci, atau al-Qur’an membuat mereka bisa merasakan kemukjizatan tersebut. Kepada mereka yang meniti jalan kewalian dan tasawuf, al-Qur’an mengungkap kemukjizatannya kepada mereka lewat sejumlah rahasia yang terdapat dalam lautan ayat-ayatnya yang bersinar.


Surat Kesembilan Belas

313

Demikianlah, di hadapan 40 kalangan dan tingkatan manusia, al-Qur’an membuka sebuah jendela yang mengarah kepada kemukjizatannya yang cemerlang. Bahkan, al-Qur’an juga menerangkan kemukjizatannya kepada kalangan awam yang hanya bisa mendengar; tanpa mampu memahaminya lebih dalam. Mereka membenarkan kemukjizatan al-Qur’an dan bisa merasakannya meski hanya dengan mendengar. Orang awam itu berbisik dalam hati, “Gaya bahasa al-Qur’an ini sangat berbeda dengan gaya bahasa kitab lain. Bisa jadi karena gaya bahasa al-Qur’an yang lebih rendah. Namun ini tidak mungkin dan bahkan belum pernah dikatakan oleh musuh sekalipun. Atau, mungkin karena gaya bahasanya lebih tinggi. Dengan kata lain ia merupakan mukjizat.” Orang awam yang hanya mampu mendengar, dapat memahami kemukjizatan al-Qur’an dalam bentuk seperti itu. Guna sedikit membantunya untuk memahami, kami akan memberikan penjelasan sebagai berikut: Sejak pertama kali memberikan tantangan, al-Qur’an memunculkan kepada manusia dua keinginan yang amat kuat: Pertama: Keinginan untuk meniru di kalangan yang setia padanya. Yakni ada keinginan yang kuat untuk meniru gaya bahasanya yang istimewa dan keinginan mereka untuk berbicara seperti al-Qur’an. Kedua: Keinginan untuk menentang dan mengkritik di kalangan musuh. Yaitu mereka berusaha membuat gaya bahasa yang serupa dengan al-Qur’an untuk melenyapkan klaim kemukjizatan di atas. Dua keinginan kuat di atas menjadi sebab munculnya jutaan buku bahasa arab sebagaimana kita saksikan. Akan tetapi, kalau kita membandingkan buku yang paling fasih darinya dengan alQur’an; yakni kalau kita membandingkan keduanya secara bersamaan, tentu semua pendengar dan pembaca tanpa ragu-ragu akan berkata bahwa al-Qur’an tidak sama dengan seluruh gaya bahasa tersebut. Jadi, kedudukan al-Qur’an tidak sama dengan seluruh kitab itu. Bisa jadi gaya bahasa al-Qur’an lebih rendah. Namun ini tentu saja mustahil dan tak pernah dikatakan oleh se-


314

AL-MAKTÛBÂT

orangpun bahkan setan sekalipun tidak mampu mengatakannya. 423 Dengan demikian, gaya bahasa al-Qur’an mengungguli semua lewat kemukjizatannya yang menakjubkan. Lebih dari itu, orang awam yang bodoh yang tidak memahami sedikitpun makna al-Qur’an bisa merasakan kemukjizatannya, yaitu tidak bosan membacanya. Orang awam yang bodoh itu berkata, “Membaca al-Qur’an secara terus-menerus sama sekali tidak membuat jemu. Justru semakin terasa nikmat. Sementara kalau mendengar sejumlah untaian syair yang indah selama beberapa kali, aku merasa jemu dan bosan.” Karena itu, al-Qur’an sudah pasti bukan perkataan manusia. Selanjutnya, al-Qur’an memperlihatkan kemukjizatannya kepada anak-anak yang ingin menghafal al-Qur’an. Hal itu tampak pada kemampuan mereka yang akalnya masih kecil dalam menghafal al-Qur’an. Meskipun terdapat sejumlah ayat yang serupa dan mirip, namun mereka dapat menghafal al-Qur’an dengan mudah. Sementara, menghafal satu halaman buku lain tidak mampu mereka lakukan. Bahkan orang sakit dan orang yang sedang menghadapi sakarat pun di mana mereka mudah tersinggung dengan sebuah ucapan dan suara bising, namun ternyata mereka mampu menyimak bacaan al-Qur’an. Ayat-ayat al-Qur’an turun ke telinga mereka laksana mata air yang melimpah. Dengan itu, mereka merasakan kemukjizatannya. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an tidak membiarkan seorang pun terhalang dari menikmati kemukjizatannya. Setiap lapisan dari 40 lapisan manusia memiliki bagian untuk bisa merasakan kemukjizatan al-Qur’an. Bahkan alQur’an menerangkan satu jenis kemukjizatannya kepada mereka yang hanya bisa melihat;424 tanpa bisa mendengar, memahami, atau menangkap maknanya. Konkretnya sebagai berikut: 423 Bahasan pertama yang penting dari surat kedua puluh enam menjelaskan bagian ini―Penulis. 424 Pembahasan aspek kemukjizatan al-Qur’an bagi kalangan yang tuli dan buta huruf, di mana mereka hanya mampu melihat, sangat ringkas dan kurang. Pada “Surat Kedua Puluh Sembilan” dan “Ketiga Puluh”* dijelaskan secara gamblang jenis kemukjizatan al-Qur’an tersebut. Ia bisa diketahui bahkan oleh orang


Surat Kesembilan Belas

315

Kosakata mushaf yang dicetak dengan tulisan al-Hafi dz Utsman (utsmani) saling berkaitan dan memiliki relasi. Misalnya, kata “yang kedelapan adalah anjingnya” yang terdapat dalam surah al-Kahfi cocok dengan kata “Qitmir” yang terdapat dalam surah Fâthir. Kalau lembaran mushaf itu dilubangi dari kata pertama (dalam surah al-kahfi ) itu, maka kurang lebih akan mengenai kata kedua dan dari sana akan diketahui nama anjing yang dimaksud. Begitu pula dengan kata yang terulang dua kali dalam surah Yâsîn. Salah satunya berada di atas yang lain. Kedua kata tersebut juga cocok dengan kata yang terdapat di surah ash-Shaffât. Kalau salah satunya dilubangi, dari lembarannya akan terlihat kata yang sama dengan sedikit perubahan. yang terdapat di akhir surah Saba’ mengarah keKata pada kata yang sama yang terdapat di awal surah Fâthir. Dalam al-Qur’an, kata terulang sebanyak tiga kali. Kesamaan letak keduanya tentu saja bukan merupakan kebetulan. Kesamaan semacam ini sangat banyak terdapat dalam mushaf. Bahkan satu kata berulang pada sekitar enam tempat. Jika yang satu dilubangi, maka yang lain akan terlihat dengan sedikit perbedaan letak. Aku pernah menyaksikan sebuah mushaf di mana sejumlah kalimat yang serupa ditulis pada setiap halamannya dengan warna merah. Ketika itu aku bergumam, “Posisi kalimat tersebut merupakan petunjuk dari kemukjizatan al-Qur’an.” Setelah itu, aku mulai melihat sejumlah kalimat al-Qur’an. Ternyata, banyak dari ungkapannya yang memiliki letak serupa dilihat dari halaman yang ada di mana hal itu menyiratkan makna yang mendalam. sul

Karena urutan susunan al-Qur’an berdasarkan petunjuk Ra-

r, lalu ditulis oleh kaligrafer berdasarkan ilham ilahi, maka

buta sekalipun. Kami telah mengetengahkan tulisan mushaf untuk memperlihatkan aspek kemukjizatan al-Qur’an yang indah ini dalam bentuk aplikatif. Semoga Allah memberikan taufi k sehingga bisa segera dicetak―Penulis. * Sebelumnya kami berniat menulis “Surat Ketiga Puluh” dalam bentuk terindah dan terbaik. Namun ia beralih kepada “Isyarat al-I’jaz” (Petunjuk kemukjizatan al-Qur’an)―Penulis.


316

AL-MAKTÛBÂT

tulisannya yang menakjubkan dan indah menunjukkan salah satu tanda kemukjizatan. Pasalnya, posisi dan letak tersebut tidak mungkin bersifat kebetulan, dan tidak mungkin hasil dari pemikiran manusia. Andai bukan karena keterbatasan pencetakan, tentu kosakata yang serupa akan memiliki posisi yang sama persis. Selanjutnya, kita melihat dalam surah-surah Madaniyah yang panjang dan sedang, terdapat pengulangan lafal “Allah” yang indah dan apik. Biasanya ia terulang dalam bilangan tertentu, entah lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, atau sebelas kali. Di samping itu, ia memperlihatkan keselarasan bilangan yang indah pada dua sisi lembar mushaf.425, 426 , 427, 428 425 Bagi kalangan ahli zikir dan munajat, lafal-lafal al-Qur’an yang indah dan berirama, gaya bahasanya yang fasih dan menakjubkan, serta keistimewan retorikanya yang menarik perhatian, meskipun jumlahnya sangat banyak, ia menghadirkan sesuatu yang istimewa, ketenangan yang sempurna, dan konsentrasi penuh. Padahal biasanya kefasihan yang istimewa, susunan redaksional, dan keterikatan dengan tatanan dan sajak tertentu semacam itu seringkali merusak kemurnian, ketenangan kalbu, serta membuyarkan konsentrasi pembacanya. Bahkan munajat yang paling halus, paling tulus, paling rapi, yaitu munajat Imam asy-Syafi `i yang terkenal, sekaligus yang menjadi penyebab turunnya harga dan lenyapnya masa paceklik di Mesir. Aku sering membacanya, meskipun susunannya bersajak dan berirama, ia tidak bisa menjaga kemurnian dari sebuah munajat. Juga meskipun ia merupakan wirid tetapku selama sekitar sembilan tahun, namun aku tetap tidak bisa menjaga keseriuasan dan keikhlasan dalam membuat munanjat dan untaian syair yang bersajak. Dari sana aku meyakini bahwa untaian katanya yang bersajak dan rangkaian kalimatnya yang berirama, yang khusus dimiliki al-Qur’an merupakan salah satu bentuk mukjizat. Pasalnya, ia dapat menjaga kemurnian dan ketenangan kalbu tanpa dirusak oleh sesuatupun dari susunan lafalnya. Demikianlah, meskipun kalangan ahli munajat dan ahli zikir tidak dapat menangkap bentuk mukjizat ini secara akal, namun mereka dapat menangkapnya dengan perasaan. 426 Salah satu rahasia kemukjizatan maknawi al-Qur’an adalah bahwa alQur’an menjelaskan tingkat keimanan Rasul r yang sangat agung dan cemerlang di mana beliau mendapat wujud manifestasi dari Ismul A’zham (nama Allah yang agung). Dengan gaya bahasa yang alami—laksana peta suci—al-Qur’an juga menerangkan dan memberitahukan ketinggian agama yang haq, agung, dan luas ini di mana ia menjelaskan berbagai hakikat alam akhirat dan alam rububiyah. Juga, alQur’an al-Karim mengungkapkan pesan Tuhan yang berada dalam ketinggian, keagungan, dan kekuasaan rububiyah-Nya yang mutlak. Karena itu, sudah pasti ungkapan al-Qur’an dan penjelasannya dalam bentuk seperti itu tidak mungkin dirangkai oleh seluruh akal umat manusia meskipun akal tersebut berkumpul menjadi satu sebagaimana yang al-Qur’an sebutkan, “Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk menghadirkan yang semisal dengan al-Qur’an, tentu mereka tidak akan mampu melakukannya.” (QS. al-Isrâ [17]: 88). Sebab, dilihat dari tiga pilar ini, al-Qur’an tidak mungkin bisa ditiru oleh siapapun. 427 Sejumlah ayat al-Qur’an pada akhir halaman ditutup dengan sajak yang


428

Surat Kesembilan Belas

317

Nuktah Kedua Sihir populer di masa Musa . Maka, mukjizat terbesar Musa menyerupai sihir. Lalu ilmu kedokteran dan pengobatan populer di masa Isa . Maka, mukjizatnya yang paling utama juga dari jenis tersebut. Nah, di jazirah Arab pada masa diutusnya Nabi r terdapat empat hal yang populer: Pertama: Balagah dan kefasihan bahasa. Kedua: Syair dan kemahiran berpidato. Ketiga: Peramalan dan pemberitaan tentang hal gaib. Keempat: Pengetahuan tentang kejadian masa lalu dan peristiwa alam. Al-Qur’an datang dengan menantang para pemilik keempat pengetahuan di atas. Maka, para ahli balagah dan bahasa itupun bertekuk lutut di hadapan kehebatan mukjizatnya. Mereka menyimak dengan penuh kekaguman dan ketakjuban. Para penyair dan ahli pidato terkesima sehingga mereka menurunkan al-mu’allaqât as-sab`u (tujuh puisi) yang sebelumnya mereka banggakan di mana ia mewakili syair terbaik mereka. indah. Hal itu karena ayat terpanjang dalam al-Qur’an, yaitu ayat mudâyanah (QS. al-Baqarah [2]: 282), menjadi standar ukuran halaman mushaf, sementara surah al-Ikhlas dan al-kautsar menjadi standar ukuran panjang baris. Dari sini terlihat keistimewan yang halus dan petunjuk kemukjizatan al-Qur’an. 428 Dalam bahasan tentang hal ini kuberikan sejumlah contoh sederhana dan singkat. Meski ia sangat penting dan luas, namun karena kondisi yang membuatku tergesa-gesa dalam menuliskannya, maka aku membatasinya pada sejumlah petunjuk yang sangat singkat. Pembahasan ini menjelaskan karamah yang halus dan indah, serta sangat penting dilihat dari sisi taufi k ilahi yang mendukung Risalah Nur. Ya, karamah yang halus dan hakikat agung tersebut memperlihatkan rangkaian karamah Risalah Nur dalam hal tawâfuq (keselarasan) yang terwujud dalam lima atau enam bentuk. Ia juga menerangkan satu bentuk kemukjizatan alQur’an yang kasatmata dan membentuk sumber petunjuk rahasia. Di kemudian hari, hal ini benar-benar terjadi. Mushaf yang menerangkan tawâfuq (keselarasan) lafal jalalah (Allah) dalam setiap halaman telah ditulis. Delapan risalah berjudul ar-Rumûz ats-Tsamâniyah yang menerangkan kesesuaian indah dan petunjuk rahasia yang bersumber dari keselarasan huruf-huruf al-Qur’an telah hadir. Demikian pula, lima risalah yang membenarkan Risalah Nur dan memberikan penghargaan atasnya telah ditulis lantaran rahasia keselarasan di dalamnya. Ia adalah Karamah al-Ghautsiyyah, tiga risalah dari al-Karamah al-Alawiyah serta risalah al-Isyârât al-Qur’aniyyah. Dalam penulisan ‘Risalah Mukjizat Muhammad’, hakikat agung tersebut telah dapat dirasakan. Namun penulis hanya melihat sebagain kecil darinya. Ia baru menjelaskan satu tetes dari lautannya, lalu selesai tanpa diteruskan―Penulis.


318

AL-MAKTÛBÂT

Bahkan mereka menulis untaian syair tersebut dengan tinta emas dan menggantungnya di dinding Ka’bah. Al-Qur’an juga membuat para peramal lupa dan kehilangan informasi gaib yang dulunya mereka sampaikan. Al-Qur’an mengusir jin mereka dan menutup praktek peramalan itu untuk selamanya. Al-Qur’an menyelamatkan para pembaca sejarah umat terdahulu dan berbagai peristiwa dunia yang berhias khurafat dan bualan dusta. Al-Qur’an menuntun mereka menuju sejumlah kejadian masa lalu dan rangkaian peristiwa alam yang benar dan bersinar. Demikianlah keempat lapisan di atas bertekuk lutut di hadapan keagungan al-Qur’an dengan penuh ketakjuban dan penghormatan. Mereka segera berguru kepadanya serta menerima petunjuk dan bimbingannya. Tidak ada satupun dari mereka yang mampu menjawab tantangan al-Qur’an meski hanya dengan satu surah. Barangkali ada yang bertanya: Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa tidak ada seorangpun yang berani menjawab tantangan al-Qur’an dan tidak ada yang bisa menghadirkan yang serupa dengannya. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa menghadirkan sesuatu yang setara dengannya adalah mustahil?! Jawaban: Seandainya upaya menjawab tantangan al-Qur’an bisa dilakukan, tentu mereka akan mencoba melakukannya dengan segera. Sebab, kebutuhan untuk menghadapinya sangat mendesak agar terbebas dari tantangan yang ada sehingga agama, harta, diri, dan keluarga mereka bisa selamat. Karena itu, seandainya usaha menjawab tantangan al-Qur’an dimungkinkan, tentu tidak ada satupun di antara mereka yang berdiam diri. Serta sudah pasti orang-orang kafi r dan munafi k—sebagai mayoritas—menyebarluaskan informasi tersebut ke berbagai kalangan sebagaimana mereka telah menyebarluaskan segala hal yang bersifat melawan Islam. Selanjutnya, kalaupun mereka menyebarkannya—jika penentangan itu bisa dilakukan—tentu para sejarawan telah mencatatnya dalam berbagai kitab tulisan


Surat Kesembilan Belas

319

mereka. Kita lihat sejarah dan buku-buku tentang sejarah tersebar luas dan mudah diakses. Namun tidak terdapat data adanya upaya menjawab tantangan al-Qur’an kecuali beberapa alinea yang dibuat-buat oleh Musailimah al-Kazzâb. Padahal, al-Qur’an al-Karim telah menantang mereka selama 23 tahun dan memperdengarkan ayat-ayatnya yang menakjubkan ke telinga mereka seraya memberikan tantangan sebagai berikut: Al-Qur’an al-Karim berada di hadapan kalian. (1) Hendaklah orang yang “buta huruf ” seperti Muhammad “al-Amin” membuat yang serupa dengannya. Jika kalian tidak mampu, (2) hendaknya yang membuat adalah seorang tokoh berilmu; bukan orang yang buta huruf. Jika kalian tidak mampu juga, (3) hendaknya kalian berkumpul untuk membuatnya; tidak hanya satu orang. (4) Hendaknya para orang-orang berilmu dan ahli retorika di antara kalian berkumpul untuk saling membantu. Bahkan panggillah para saksi selain Allah guna menghadirkan yang serupa dengan al-Qur’an. Jika kalian tidak mampu melakukan semua itu, (5) hadirkan seluruh kitab terdahulu yang sangat fasih dan pergunakanlah untuk melakukan penentangan. Bahkan ajak pula sejumlah generasi masa mendatang. Jika tidak mampu juga, (6) cukuplah membuat sepuluh surah yang serupa dengan al-Qur’an; tidak harus seluruhnya. Jika masih tidak mampu, (7) cukuplah perkataan sefasih alQur’an meskipun ia berupa cerita yang dibuat-buat. Jika tidak mampu, (8) buatlah satu surah saja, dan cukuplah yang pendek. Jika itupun tidak mampu kalian lakukan, berarti agama dan diri kalian terancam bahaya di dunia, terlebih-lebih di akhirat. Begitulah, al-Qur’an al-Karim memberikan delapan tantangan kepada kalangan jin dan manusia. Tantangan tersebut tidak hanya berlaku selama 23 tahun. Namun terus berlangsung hingga 1300 tahun. Bahkan ia terus menantang dunia hingga kiamat tiba.


320

AL-MAKTÛBÂT

Karena itu, andai upaya menjawab tantangan al-Qur’an bisa dilakukan, tentu kaum kafi r tidak akan memilih jalan peperangan, tidak akan membiarkan diri, harta, dan keluarga mereka binasa, serta tidak akan meninggalkan jalan penentangan yang singkat dan mudah. Dengan demikian, upaya menjawab tantangan al-Qur’an tidak mungkin dilakukan. Ia berada di luar kemampuan manusia. Pasalnya, mungkinkah orang berakal yang cerdas—apalagi penduduk jazirah Arab, terutama bangsa Quraisy—membiarkan diri, harta, dan keluarganya terancam serta memilih jalan peperangan jika mampu menjawab tantangan, meski hanya dengan satu surah yang dibuat oleh salah seorang sastrawan mereka?! Mungkinkah mereka tidak menyelamatkan diri dan harta mereka, andaikan mendatangkan yang serupa dengan al-Qur’an adalah hal yang mudah dan gampang?! Kesimpulannya, seperti apa yang dikatakan oleh al-Jâhizh, “Karena menjawab tantangan al-Qur’an tidak bisa dengan merangkai kata, mereka terpaksa angkat senjata”. Barangkali ada yang bertanya: Sejumlah ulama menegaskan, “Menandingi al-Qur’an dengan mendatangkan satu ayat, satu kalimat, atau satu kata saja tidak bisa dilakukan, apalagi dengan satu surah?’ Tidak ada satupun yang berani tampil untuk menjawab tantangan al-Qur’an.” Perkataan ini berlebihan dan sulit diterima oleh akal. Sebab, banyak kalimat dalam ucapan manusia yang menyerupai kalimat dan ungkapan al-Qur’an. Lalu, apa makna dan hikmah dari ucapan mereka? Jawaban: Terdapat dua pandangan dalam menjelaskan kemukjizatan al-Qur’an: Pertama: Pandangan yang dominan dan kuat. Ia dianut oleh sebagian besar ulama. Yaitu bahwa sejumlah rahasia balagah alQur’an dan keistimewaan maknanya berada di luar kemampuan manusia. Kedua: Pandangan yang lemah. Yaitu bahwa membuat sebuah surah yang serupa dengan al-Qur’an sebenarnya mampu dilakukan oleh manusia. Hanya saja, Allah mencegah manusia


Surat Kesembilan Belas

untuk membuatnya agar al-Qur’an menjadi mukjizat Rasul Ini bisa dijelaskan dengan sebuah contoh berikut:

321

r.

Berdiri dan duduk berada dalam wilayah kemampuan manusia. Apabila seorang nabi yang mulia berkata kepada seseorang, “Engkau tidak akan bisa berdiri,” untuk menunjukkan mukjizatnya, dan orang itupun benar-benar tidak bisa berdiri. Dengan demikian mukjizatnya terbukti. Pandangan yang lemah ini disebut sebagai mazhab ash-sharfah. Yaitu Allahlah yang membuat jin dan manusia tak dapat menjawab tantangan al-Qur’an. Andaikan Allah membiarkan mereka, tentu jin dan manusia bisa mendatangkan yang serupa dengannya. Begitulah para ulama yang berpegang pada mazhab ini menyatakan bahwa tidak mungkin menandingi al-Qur’an meski hanya dengan satu kata. Ini merupakan satu pernyataan yang benar, yang sama sekali tidak mengandung keraguan. Pasalnya, Allah I menghalangi mereka untuk melakukannya guna memperlihatkan kemukjizatan al-Qur’an. Karena itu, tidak ada yang dapat menjawab tantangan al-Qur’an. Andaikan mereka ingin mengatakan sesuatu guna menjawab tantangan al-Qur’an, maka mereka tidak akan pernah mampu melakukannya tanpa kehendak Allah. Adapun dalam pandangan mazhab pertama yang lebih kuat dan yang dipilih oleh sebagian besar ulama, terdapat sebuah sudut pandang yang tepat dan cermat: Kosakata al-Qur’an dan rangkaian kalimatnya saling terkait dan saling mendukung. Sebuah kata bisa mengarah kepada sepuluh titik. Di dalamnya engkau dapat menemukan sepuluh persoalan balagah dan sepuluh relasi yang diikat dengan sepuluh kata lain. Relasi dan hubungan ini telah kami tegaskan dalam buku Isyârât al-I’jâz fî Mazhân al-Îjâz baik itu pada surah al-Fatihah atau pada awal surah al-Baqarah:

Alif lââm mîîm. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS. al-Baqarah [2]: 1-2).


322

AL-MAKTÛBÂT

Contohnya sebagai berikut: Misalkan terdapat sebuah istana besar yang temboknya dihias dengan ukiran indah dan dekorasi yang menakjubkan, maka meletakkan sebuah batu yang menjadi landasan bagi seluruh dekorasi dan ukiran di mana seluruh bagiannya saling terkait membutuhkan pengetahuan yang komprehensif tentang seluruh ukiran dan dekorasi yang memenuhi dinding istana. Contoh lain adalah tubuh manusia. Meletakkan pupil mata manusia di tempatnya yang sesuai membutuhkan pengetahuan tentang relasi mata dengan seluruh tubuh serta pengetahuan tentang sejauh mana hubungan antara pupil itu dengan seluruh bagian dan tugas tubuh. Kedua contoh di atas dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui bagaimana para ulama ahli hakikat generasi terdahulu menerangkan berbagai aspek, relasi, ikatan, dan keterpautan antara untaian kata dalam al-Qur’an yang mempunyai hubungan dengan seluruh kalimat dan ayatnya. Khususnya para ulama yang ahli dalam ilmu huruf al-Qur’an. Mereka telah mendalami bidang tersebut dan kemudian membuktikan dengan sejumlah dalil bahwa setiap huruf al-Qur’an memiliki rahasia mendalam yang membutuhkan satu halaman penuh untuk menjelaskannya. Ya, selama al-Qur’an merupakan fi rman Pencipta segala sesuatu, maka setiap kosakata al-Qur’an laksana benih atau qalbu. Dengan kata lain, kata tersebut bisa berposisi sebagai benih yang tumbuh menjadi pohon maknawi yang berisi sejumlah makna dan rahasia. Atau, laksana qalbu yang dibungkus oleh jasad yang berisi berbagai makna dan rahasia. Karena itu, kita bisa mengatakan, “Ya, benar bahwa dalam perkataan manusia terdapat sesuatu yang menyerupai untaian kata, kalimat, dan ayat al-Qur’an. Hanya saja, ayat, kata, dan kalimat al-Qur’an diletakkan pada tempat yang sesuai di mana dalam meletakkannya perlu memperhatikan banyaknya korelasi sehingga menuntut adanya pengetahuan yang integral dan universal agar diletakkan pada posisi yang tepat.”


Surat Kesembilan Belas

323

Nuktah Ketiga Pada suatu saat, Allah I menganugerahkan kepadaku sebuah tafakkur hakiki tentang esensi al-Qur’an secara global. Tafakkur tersebut kucatat sebagaimana ia masuk ke dalam qalbu dalam bahasa Arab. Setelah itu kutuliskan maknanya:


324

AL-MAKTÛBÂT

Mahasuci Dzat yang keesaan-Nya disaksikan; serta sifat-sifat keindahan, keagungan dan kesempurnaan-Nya dijelaskan oleh alQur’an al-Hakim; yang keenam sisinya bersinar dan berisi rahasia kesepakatan seluruh kitab para nabi, wali, dan ahli tauhid meski berbeda masa, aliran, dan mazhab di mana qalbu dan akal mereka sepakat membenarkan prinsip-prinsip al-Qur’an dan universalitas hukumnya secara global. Al-Qur’an merupakan wahyu ilahi seperti yang disepakati oleh Dzat yang menurunkan, yang diturunkan, dan sosok yang menerimanya. Ia adalah petunjuk, sumber cahaya iman, tempat berkumpul berbagai hakikat, pengantar kebahagiaan, pemilik buah yang sempurna, yang diterima oleh malaikat, manusia, dan jin lewat intuisi yang benar dari beragam tanda. Al-Qur’an juga didukung oleh sejumlah dalil rasional seperti pernyataan para cendekiawan, dan dibenarkan oleh fi trah yang bersih lewat adanya ketenangan qalbu. Al-Qur’an merupakan mukjizat abadi yang kemukjizatannya kekal sepanjang masa; yang wilayah petunjuknya terbentang dari mulai alam yang paling tinggi hingga yang paling bawah. Baik malaikat maupun anak-anak bisa mengambil manfaat yang sama. Al-Qur’an juga pemilik pandangan sempurna yang melihat segala sesuatu dengan sangat jelas dan komprehensif. Ia menggenggam dunia serta memperkenalkannya kepada kita sebagaimana pembuat jam membolak-balik jam yang berada di tangan seraya memperkenalkannya kepada orang lain. Nah, al-Qur’an yang agung ini juga berkali-kali menegaskan, “Allah, tiada tuhan selain Dia”, “Ketahuilah bahwa tiada Tuhan selain Allah.” kut:

Adapun makna dari tafakkur tersebut adalah sebagai beri-

Keenam sisi al-Qur’an demikian bersinar dan terang tanpa ada syubhat dan keraguan sedikitpun. Pasalnya, di belakangnya terdapat Arasy yang agung yang menjadi sandaran. Di dalamnya terdapat cahaya wahyu.


Surat Kesembilan Belas

325

Di hadapannya, terdapat kebahagiaan dunia dan akhirat yang menjadi tujuan. Korelasi dan hubungannya terpaut dengan keabadian dan akhirat yang di dalamnya terdapat cahaya surga dan cahaya kebahagiaan. Di atasnya, terdapat tanda kemukjizatannya bersinar dengan cemerlang. Di bawahnya, terdapat pilar petunjuk dan dalil yang kokoh. Ia berisi hidayah yang tulus. Di sebelah kanannya, terdapat pembenaran dan pembuktian oleh akal karena ia banyak berisi ungkapan:

(Apakah mereka tidak berakal?) Di sebelah kirinya, terdapat kesaksian jiwa sehingga karena kagum, maka iapun mengucap, “Tabârakallah,” lewat hembusan ruhiyah ke dalam qalbu. Jika demikian, bagaimana mungkin syubhat dan keraguan bisa masuk ke dalamnya? Al-Qur’an al-Hakim mengumpulkan rahasia kesepakatan semua kitab para nabi, wali dan ahli tauhid, meski masa, aliran, dan pendekatan mereka berbeda-beda. Dengan kata lain, seluruh pemilik akal yang bersih dan hati yang tenang membenarkan keseluruhan hukum-hukum al-Qur’an dan landasan dakwahnya. Mereka menyebutkan hal itu dalam kitab mereka. Jadi, mereka laksana pangkal dari pohon samawi al-Qur’an. Selanjutnya, al-Qur’an al-Kari m bersandar pada wahyu i lahi . Bahkan, ia adalah wahyu itu sendiri. Sebab, Allah—yang menurunkan al-Qur’an kepada qalbu Muhammad r—menjelaskannya lewat mukjizat Rasul-Nya yang mulia sebagai wahyu yang murni. Lewat kemukjizatan lahiriahnya, al-Qur’an yang turun dari sisi Allah menerangkan bahwa ia berasal dari Arasy yang agung dan bahwa fase-fase yang dialami oleh sosok yang menerimanya, yaitu Rasul r, serta kegundahan beliau saat wahyu pertama turun, berikut sikap ikhlas dan penghormatan beliau kepadanya yang lebih besar daripada yang lain, semua itu menjelaskan bahwa al-


326

AL-MAKTÛBÂT

Qur’an merupakan wahyu murni yang diturunkan kepadanya sebagai tamu dari Raja Azali. Lalu, secara spontan dapat dipahami bahwa al-Qur’an merupakan wahyu murni, karena yang menentangnya adalah kesesatan dan kekufuran. Ia juga sumber cahaya iman. Tentu saja, yang menentang cahaya adalah kegelapan yang pekat. Hakikat ini telah kami jelaskan dalam banyak bagian dalam Risalah Nur. Kemudian al-Qur’an adalah tempat berkumpulnya berbagai hakikat. Sementara ilusi dan khurafat tidak bisa masuk ke dalamnya. Dengan kesaksian dunia Islam yang dibentuk oleh alQur’an, syariat mendasar yang ditunjukkan oleh al-Qur’an, serta kesempurnaan mulia yang ia tampakkan, bahkan alam gaib yang dibahasnya—di samping pembahasannya tentang alam nyata— semuanya membuktikan hakikat kebenarannya. Tidak ada sedikitpun darinya yang bertentangan dengan hakikat kebenaran. Sebagaimana faktanya, al-Qur’an juga mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia menggiring umat manusia untuk meraihnya. Siapa yang masih ragu, bisa menelaah dan menyimak al-Qur’an. Sesudah itu, hendaknya ia memahami apa yang dikatakan oleh al-Qur’an. Buah yang dipetik manusia dari al-Qur’an adalah buah yang matang dan penuh vitalitas. Oleh sebab itu, akar pohon al-Qur’an tertanam kuat dalam sejumlah hakikat dan terbentang dalam kehidupan. Kehidupan buah menjadi bukti atas kehidupan pohon. Engkau bisa melihat betapa al-Qur’an telah membuahkan orang-orang pilihan yang bercahaya, para wali, serta generasi salih sepanjang masa. Al-Qur’an al-Karim adalah wadah bagi sikap ridha manusia, jin, dan malaikat. Hal itu diketahui lewat intuisi yang lahir dari sejumlah tanda di mana semuanya berkumpul mengitarinya saat dibaca laksana kupu-kupu yang terbang mengitari cahaya. Di samping sebagai wahyu, al-Qur’an diperkuat oleh berbagai dalil rasional. Buktinya adalah kesepakatan para cendekiawan,


Surat Kesembilan Belas

327

terutama para ahli kalam dan tokoh fi lsafat seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi. Semuanya sama-sama menetapkan prinsip dasar alQur’an lewat sejumlah teori dan argumen mereka. Lalu, al-Qur’an dibenarkan oleh fi trah yang sehat, di mana ketenteraman jiwa dan ketenangan hati bersumber dari cahayanya. Artinya, fi trah yang sehat membenarkan al-Qur’an lewat ketenangan yang dirasakan oleh jiwa. Lewat kondisinya, fi trah tersebut mengatakan kepada al-Qur’an, “Kesempurnaan kami tidak akan terwujud tanpamu.” Hakikat ini telah kami jelaskan dalam sejumlah risalah. Selanjutnya, secara spontan al-Qur’an merupakan mukjizat yang kekal abadi. Ia menerangkan kemukjizatannya setiap saat. Cahayanya tidak pernah redup seperti mukjizat lainnya. Masanya tidak pernah habis, namun ia terbentang untuk selamanya. Selain itu, tingkatan petunjuk al-Qur’an sangat luas dan , komprehensif, di mana sebuah pelajaran diterima oleh Jibril juga diterima oleh seorang anak kecil secara berdampingan. Para tokoh fi lsuf— seperti Ibnu Sina—berlutut di hadapannya bersama orang yang paling awam. Kedua orang tersebut menerima pelajaran yang sama. Bisa jadi, dengan kekuatan iman dan kebersihan hati, orang yang awam tadi lebih banyak mendapatkan manfaat dari al-Qur’an ketimbang Ibnu Sina. Al-Qur’an juga memiliki penglihatan tajam yang bisa melihat seluruh alam wujud dan menempatkan segala entitas di hadapannya laksana lembaran buku sehingga dapat menjelaskan tingkatan dan dunianya. Sebagaimana ketika seorang tukang jam menerima arloji kecil dengan tangannya, ia membolak-balik sekaligus memperkenalkan dan membukanya, demikian pula alam di hadapan al-Qur’an. Ia memperkenalkan dan menerangkan bagian-bagiannya. Al-Qur’an menegaskan keesaan Allah I lewat:

“Ketahuilah bahwa tiada Tuhan selain Allah.”


328

AL-MAKTÛBÂT

Ya Allah, jadikan al-Qur’an sebagai teman kami di dunia, penghibur kami di dalam kubur, penolong kami di hari kiamat nanti, cahaya di atas jembatan shirat, hijab dari neraka, pendamping di surga, serta sebagai petunjuk dan pembimbing kepada segala kebaikan. Ya Allah, terangi qalbu dan kubur kami dengan cahaya iman dan al-Qur’an. Terangi petunjuk al-Qur’an dengan kebenaran dan kemuliaan sosok yang Kau turunkan padanya alQur’an. Semoga salawat dan salam tercurah untuknya dan untuk keluarganya dari Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Amin.

PETUNJUK KESEMBILAN BELAS Dalam sejumlah petunjuk sebelumnya, telah dibuktikan lewat berbagai dalil yang jelas dan pasti bahwa Rasul r—yang kebenaran risalahnya dikuatkan oleh ribuan dalil meyakinkan— merupakan argumen yang menunjukkan keesaan ilahi serta dalil cemerlang yang menunjukkan adanya kebahagiaan abadi. Pada petunjuk ini kami akan menjelaskan secara global ringkasan argumen dan dalil cemerlang yang menunjukkan keesaan Allah I tersebut. Pasalnya, selama ia merupakan dalil yang mengantar pada makrifat ilahi, maka kita harus mengenalnya sekaligus mengetahui dengan baik aspek petunjuknya. Karena itu, di sini kami akan menjelaskan secara singkat aspek petunjuk yang mengarah kepada tauhid serta tingkat kebenarannya. Kami ingin menegaskan bahwa sosok Rasul r adalah petunjuk akan keberadaan dan keesaan Sang Pencipta Yang Mahaagung. Demikian pula dengan seluruh entitas alam. Nabi


Surat Kesembilan Belas

329

r telah menjelaskan aspek petunjuk ini yang menjadi petunjuk tauhid dan wujud berikut petunjuk yang terdapat pada seluruh entitas. Keberadaan Nabi r sebagai bukti tauhid akan kami tunjukkan kebenaran dan argumentasinya dalam lima belas pilar: Pilar Pertama Dalil yang menunjukkan keberadaan Sang Pencipta alam lewat pribadinya, lisannya, serta lewat petunjuk berbagai kondisi dan perilakunya adalah sosok yang benar dan dibenarkan oleh seluruh hakikat alam. Pasalnya, petunjuk seluruh entitas tentang keesaan Tuhan laksana kesaksian yang membenarkan sosok yang menyuarakan keesaan Tuhan. Artinya, apa yang diserukan olehnya dibenarkan oleh seluruh alam. Keesaan yang beliau jelaskan yang merupakan kesempurnaan mutlak, serta kebahagiaan abadi yang beliau kabarkan yang merupakan kebaikan mutlak, keduanya selaras dengan kebaikan dan kesempurnaan yang terwujud dalam berbagai hakikat alam. Maka beliau benar dalam seruan dan dakwahnya. Jadi, Rasul r merupakan argumen yang benar dan dibenarkan yang menunjukkan keesaan ilahi dan kebahagiaan abadi.

Pilar Kedua Dalil yang benar dan dibenarkan itu; yang memiliki ribuan mukjizat—lebih banyak daripada yang dimiliki para nabi sebelumnya—di mana beliau datang dengan membawa syariat yang toleran dan mulia, tanpa pernah terhapus dan tergantikan, serta membawa misi dakwah yang tertuju kepada seluruh jin dan manusia, tentu saja beliau merupakan pemimpin seluruh rasul. Jadi, beliau mengumpulkan seluruh hikmah dan rahasia yang terdapat pada mukjizat dan kesepakatan para nabi. Artinya, kekuatan kesepakatan seluruh nabi serta kesaksian mukjizat mereka membentuk sebuah pilar atas kebenaran dakwahnya. Tingkatan kesempurnaan yang telah dicapai oleh kalangan saleh dan para wali tidak lain adalah berkat tarbiyahnya dan bimbingan syariatnya. Rasul r adalah pembimbing dan pemimpin mereka. Karena itu, beliau menjadi pengumpul rahasia


330

AL-MAKTÛBÂT

karamah, pembenaran, studi, dan pembuktian mereka. Karena mereka meniti jalan yang pintu-pintunya telah dibuka oleh sang guru dan dibiarkan terbuka. Maka, merekapun menemukan hakikat kebenaran. Seluruh karamah, pembuktian ilmiah dan ijmak mereka menjadi pilar atas kebenaran sang guru mereka yang suci berikut kebenaran dakwahnya. Selanjutnya, bukti keesaan yang cemerlang itu—seperti telah dijelaskan pada sejumlah petunjuk sebelumnya—memiliki berbagai mukjizat yang terang dan meyakinkan, sejumlah irhâsât luar biasa, dan dalil kenabian yang tak diragukan. Semuanya membenarkan dengan cara yang agung, di mana andaikan seluruh alam berkumpul untuk menolak pembenaran tersebut, tentu tidak akan mampu.

Pilar Ketiga Rasul r yang menyeru kepada keesaan dan memberikan kabar gembira tentang adanya kebahagiaan abadi di mana beliau memiliki sejumlah mukjizat cemerlang; berbagai akhlak mulia pada dirinya yang penuh berkah; karakter istimewa dalam misi risalah yang dibawanya; serta sifat terpuji dalam syariat dan agama yang disampaikannya. Hal ini memaksa musuh yang paling keras kepala sekalipun untuk mengakui dan tidak menemukan celah untuk mengingkarinya. Karena pada diri, tugas, dan agama yang dibawanya, beliau memiliki akhlak paling mulia dan indah, karakter yang paling sempurna dan berharga, serta sifat yang paling tinggi dan utama. Sudah pasti beliau merupakan contoh dari kesempurnaan entitas, cerminan dari sejumlah akhlak yang mulia sekaligus sebagai wujud konkretnya, serta teladan yang baik atasnya. Oleh sebab itu, berbagai kesempurnaan yang memancar dari diri, tugas, dan agama yang beliau bawa merupakan pilar yang kuat dan agung atas kebenaran beliau yang tidak bisa digoyahkan oleh apapun.

Pilar Keempat Sang penyeru kepada keesaan dan kebahagiaan abadi itu yang menjadi sumber berbagai kesempurnaan dan pengajar se-


Surat Kesembilan Belas

331

jumlah akhlak mulia tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Akan tetapi, beliau berbicara berdasarkan wahyu ilahi. Beliau menerima wahyu dari Tuhan Yang Mahaagung lalu menyampaikannya kepada yang lain. Hal itu dikuatkan oleh ribuan dalil kenabian. Sebagaimana telah disebutkan dan dijelaskan pada pilar-pilar sebelumnya bahwa: -

-

-

-

Tuhan semesta alam (Allah I), yang telah menciptakan seluruh mukjizat dan mewujudkannya lewat diri Rasul-Nya, menerangkan bahwa Rasul-Nya yang mulia itu berbicara semata-mata untuk-Nya dan di jalan-Nya serta hanya menyampaikan kalam-Nya. Al-Qur’an al-Karim yang diturunkan kepada beliau, menerangkan lewat kemukjizatannya yang tampak dan tersembunyi bahwa beliau merupakan penyampai pesan Tuhan semesta alam. Sosok pribadi beliau yang mulia berikut ketulusan, ketakwaan, kesungguhan, dan kejujuran beliau dalam menyampaik perintah Allah, semua itu—pada seluruh kondisi dan karakternya—menjelaskan bahwa beliau tidak berbicara atas nama pribadi dan bukan dari hasil pemikiran beliau sendiri. Tetapi, beliau berbicara atas nama Allah, Tuhan semesta alam. Seluruh ahli hakikat yang mau mendengarkan beliau, lewat kasyaf dan pembuktian ilmiah telah membenarkan dan sepenuhnya percaya bahwa beliau tidak berbicara atas dorongan hawa nafsu, melainkan fi rman yang diwahyukan kepadanya. Beliau adalah penyampai yang amanah dari pihak Pencipta alam semesta yang menyeru manusia kepada petunjuk lewat wahyu ilahi.

Demikianlah, kebenaran dalil ini (pribadi beliau) bersandar kepada empat pilar yang sangat kuat dan kokoh tersebut.

Pilar Kelima Sang penyampai kalam azali Allah yang amanah itu dapat melihat arwah, berbicara dengan malaikat, serta membimbing


332

AL-MAKTÛBÂT

jin dan manusia secara bersamaan. Beliau menerima ilmu dari alam yang lebih tinggi daripada alam malaikat, ruh, manusia dan jin. Bahkan beliau melihat sejumlah urusan ilahi yang berada di baliknya. Berbagai mukjizat yang telah disebutkan sebelumnya serta perjalanan hidup beliau yang mulia yang sampai kepada kita secara mutawatir menegaskan hakikat ini. Karena itu, tidak mungkin jin, ruh, dan malaikat melakukan intervensi dalam sejumlah persoalan yang beliau sampaikan. Bahkan malaikat yang dekat dengan Tuhan sekalipun tidak bisa mendekati proses pe. Itupun beliau masih ternyampaian wahyu, terkecuali Jibril kadang mengungguli teman setianya itu, Jibril , yang hampir selalu menyertai beliau.

Pilar Keenam Dalil tersebut (Nabi r) yang merupakan pemimpin malaikat, jin, dan manusia, adalah buah alam yang paling bercahaya dan paling sempurna. Beliau adalah wujud rahmat ilahi, sampel cinta rabbani, bukti kebenaran yang bersinar, lentera hakikat yang terang, kunci teka-teki alam, penyingkap misteri penciptaan, penjelas hikmah alam, penyeru kepada kekuasaan uluhiyah, serta pembimbing cemerlang yang menunjukkan berbagai keindahan kreasi Tuhan. Sosok penuh berkah itu, lewat berbagai sifat komprehensif yang beliau miliki, mencerminkan model kesempurnaan entitas yang paling utuh. Karena itu, berbagai keistimewaan yang beliau miliki serta kepribadian maknawi beliau, memperlihatkan secara jelas bahwa Nabi mulia tersebut merupakan sebab utama penciptaan alam. Artinya, beliau menjadi objek penglihatan Pencipta alam. Allah melihat beliau lalu menciptakan alam. Dapat dikatakan bahwa andaikan Dia tidak menciptakan beliau, tentu Dia tidak menciptakan alam. Ya, berbagai hakikat al-Qur’an dan cahaya iman yang beliau bawa untuk seluruh jin dan manusia, serta sejumlah akhlak mulia dan kesempurnaan luar biasa yang terdapat pada diri beliau yang penuh berkah, menjadi bukti yang jujur dan kuat atas hakikat tersebut.


Surat Kesembilan Belas

333

Pilar Ketujuh Bukti kebenaran yang terang dan lentera hakikat yang bercahaya itu telah memperlihatkan agama yang lurus dan syariat yang komprehensif di mana ia berisi sejumlah hukum universal yang dapat mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Beliau juga memberikan penjelasan paling sempurna tentang hakikat alam dan fungsinya, berikut nama-nama Sang Pencipta yang Mahaagung dan sifat-sifat-Nya. Siapapun yang mencermati agama Islam yang lurus serta syariat mulia yang bersifat universal dalam penjelasannya terhadap alam, pasti akan percaya bahwa agama tersebut merupakan tatanan Sang Pencipta alam yang indah yang memperkenalkan penciptanya. Sebagaimana seorang arsitek yang ahli dari sebuah istana indah meletakkan sebuah tanda pengenal yang cocok untuk istana tersebut lalu menuliskan sebuah keterangan yang menjelaskan kemahirannya yang luar biasa, demikian pula agama yang agung dan syariat yang toleran ini berikut integralitas dan unversalitas yang terdapat di dalamnya memperlihatkan dengan jelas bahwa Dzat yang meletakkan gambaran indah ini adalah Pencipta dan Penata alam. Ya, Dzat yang mengatur alam indah ini dengan cara yang menakjubkan, pasti merupakan Dzat yang menata agama yang paling sempurna tersebut dengan aturan yang paling indah.

Pilar Kedelapan Sosok yang memiliki sejumlah sifat indah tersebut di mana risalahnya merujuk kepada sejumlah dalil dan pilar yang kokoh, Rasul tercinta r, berbicara atas nama alam gaib mengarah kepada alam nyata seraya mendeklarasikan secara terbuka kepada kalangan jin dan manusia, sembari berbicara kepada semua kaum yang berjejer di balik masa mendatang. Beliau menyeru dan memperdengarkan kepada mereka semua sebuah seruan yang luhur dan mulia pada seluruh masa di mana saja mereka berada. Ya, kami mendengar.


334

AL-MAKTÛBÂT

Pilar Kesembilan Pernyataan beliau sangat nyaring sehingga bisa didengar oleh seluruh generasi. Ya, setiap generasi mendengar gema ucapan beliau.

Pilar Kesepuluh Dari berbagai kondisi dan perjalanan hidupnya yang suci, kita memahami bahwa beliau melihat kemudian menyampaikan sesuai dengan apa yang beliau lihat. Sebab, meski bahaya menghampiri, beliau tetap menyampaikan tanpa ragu ataupun bimbang. Beliau menyampaikan dengan sangat yakin dan tenang. Bahkan beliau seorang diri menantang seluruh alam.

Pilar Kesebelas Beliau telah menyuarakan dakwahnya dengan segala kekuatan yang Allah berikan. Beliau menyuarakan dengan terang-terangan sehingga separuh bumi dan seperlima umat manusia menerima perintah beliau dan menjawab setiap kata yang beliau ungkapkan dengan ucapan, “Kami dengar dan kami taat.�

Pilar Kedua belas Beliau berdakwah dengan penuh ketulusan dan kesungguhan serta melakukan pembinaan dengan cara yang sangat kokoh di mana hukum-hukumnya tertulis pada kening setiap generasi, lembaran masa, dan wajah zaman.

Pilar Ketiga Belas Beliau berbicara dengan sangat yakin dan tenang. Beliau menyampaikan sejumlah hukum dengan sangat meyakini kebenarannya. Beliau mengajak kepadanya secara sangat jelas tanpa dihiasi kerancuan. Andaikan seluruh alam berkumpul, hal itu tidak akan memalingkan beliau dari dakwah dan dari hukum yang beliau bawa. Biografi serta sejarah kehidupan beliau menjadi bukti paling valid atas hakikat tersebut.


Surat Kesembilan Belas

335

Pilar Keempat Belas Beliau berdakwah dengan penuh keyakinan dan ketenangan, di mana beliau tidak pernah mundur sedikitpun dalam berdakwah serta tidak pernah ragu ketika menghadapi kesulitan betapapun adanya. Beliau tidak pernah takut dan cemas. Namun berdakwah dengan hati yang bersih dan tulus. Beliau menerapkan berbagai hukum yang beliau dakwahkan pada dirinya terlebih dahulu. Beliau taat dan kemudian mengajarkannya kepada yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh sikap zuhudnya yang luar biasa, rasa tidak butuhnya kepada manusia, serta sikapnya yang berpaling dari gemerlap dunia yang fana. Hal ini seperti diakui, baik oleh kawan maupun lawan.

Pilar Kelima Belas Beliau adalah orang yang paling takut kepada Allah I, paling taat terhadap perintah-Nya, paling tekun beribadah kepada-Nya, serta paling menjaga diri dari larangan-Nya. Semua ini menunjukkan bahwa beliau merupakan penyampai amanah dari Penguasa azali dan abadi. Beliau sosok utusan-Nya yang dicinta, hamba-Nya yang paling setia, serta penyampai kalam-Nya. Dari kelima belas pilar di atas, dapat disimpulkan bahwa Rasul r yang memiliki sejumlah sifat di atas telah memproklamirkan keesaan Allah I. Dengan seluruh kekuatan yang Allah berikan dan sepanjang hidupnya yang penuh berkah, beliau menyerukan lâ ilâha illallâh.

Ya Allah, limpahkan salawat dan salam untuknya dan untuk keluarganya sebanyak amal kebaikan umatnya.

‫٭٭٭‬


336

AL-MAKTÛBÂT

KARUNIA ILAHI DAN JEJAK PERTOLONGAN RABBANI Dengan harapan bisa meraih rahasia ayat al-Qur’an yang berbunyi:

“Adapun nikmat Tuhanmu, maka ungkapkanlah” (QS. adh-Dhuhâ [93]: 11), kami menyatakan bahwa jejak pertolongan rabbani dan sentuhan rahmat ilahi tampak jelas dalam penulisan risalah ini. Aku ingin menyampaikan kepada para pembaca budiman agar mereka memberikan perhatian serius kepadanya: Sebelumnya “Kalimat Ketiga Puluh Satu” dan “Kesembilan Belas” yang membahas risalah Muhammad r sudah ditulis. Karena itu, tidak ada sesuatu yang terlintas dalam qalbuku seputar penulisan risalah ini. Tiba-tiba datang lintasan pikiran ke dalam qalbu yang mendorongku untuk menulis risalah ini pada saat kekuatan hafalanku mulai berkurang karena rangkaian ujian dan musibah yang datang bertubi-tubi. Di samping itu, dalam menulis aku tidak biasa menukil dari buku (Fulan berkata...dan seterusnya). Lebih dari itu, aku tidak memegang satupun referensi hadis Nabi atau buku sirah beliau. Dalam kondisi demikian, aku bertawakkal kepada Allah. Akupun mulai menulis risalah ini dengan bertawakkal kepada-Nya semata. Maka taufi k ilahi itupun datang sehingga ingatanku menjadi kuat. Ia benar-benar sangat membantu sehingga mengalahkan ingatan “Said Lama”. Sekitar empat puluh halaman ditulis dengan sangat cepat selama kurang lebih empat jam. Bahkan, lima belas halaman dapat ditulis hanya dalam satu jam. Nukilan yang ada pada umumnya bersumber dari kitab al-Bukhari, Muslim, al-Baihaqi, at-Tirmidzi, asy-Syifâ karya al-Qadhî Iyâdh, Abu Nu`aim, ath-abari, dan yang lainnya. Saat itu, jantungku berdebar hebat. Sebab, kalau terdapat kesalahan pada nukilan tersebut tentu aku berdosa. Pasalnya, ia merupakan hadis Nabi r. Akan tetapi, kami sangat yakin bahwa pertolongan ilahi bersama kami serta kebutuhan terhadap risalah ini sangat mendesak.


337

Surat Kesembilan Belas

Berkat karunia Allah, hadis-hadis tersebut ditulis secara benar dan valid. Namun demikian, jika dalam redaksi hadis atau dalam penulisan nama perawi terdapat kesalahan, aku berharap para pembaca budiman dapat mengoreksi dan memaaan. Said Nursi

Ya, Ustadz mendiktekan dan kami menulis dranya. Ketika itu, tidak ada satupun referensi yang ada pada beliau. Beliau juga tidak menelaahnya kembali. Uraiannya sangat cepat. Kami menulis sekitar empat puluh halaman dalam dua atau tiga jam. Dari sana, kami juga yakin bahwa taufi k yang Allah berikan dalam penulisan risalah ini merupakan salah satu karamah mukjizat Nabi r. al-Hâfi dz Taufi k al-Hâfi dz Khâlid Sulaiman Sâmi Abdullah Cawu

: Penulis dra dan salinannya. : Saudara seiman dan penulis dra. : Pelayan dan penulis dra. : Pelayan tetap


338

AL-MAKTÛBÂT

LAMPIRAN PERTAMA

(Dari Risalah Mukjizat Muhammad r) [Karena kesesuaian konteks, “Kalimat Kesembilan Belas” yang berbicara tentang risalah Muhammad r berikut lampirannya yang membahas mukjizat terbelahnya bulan dimasukkan ke dalam risalah ini] Kalimat Ke-19 ini (cahaya keempat belas) 429 terdiri dari empat belas percikan:

Percikan Pertama Yang memperkenalkan kita kepada Tuhan adalah tiga petunjuk besar: Pertama: Kitab alam, yang sebagian dari kesaksiannya telah kita dengar pada tiga belas cahaya (dari Cahaya Mentari Tauhid dalam buku al-Matsnawi an-Nûri).430 Kedua: Ayat terbesar dari kitab agung ini, yaitu penutup rangkaian kenabian, Muhammad r. Ketiga: Al-Qur’an yang penuh hikmah. Sekarang kita harus mengenal petunjuk kedua yang bisa bertutur, yaitu penutup para nabi dan para rasul, Muhammad r. Kita perhatikan beliau dengan seksama. Ketahuilah bahwa petunjuk kedua ini memiliki kepribadian maknawi yang agung. Barangkali engkau bertanya, “Apa itu? Dan apa hakikat beliau?” Jawabannya: Beliau adalah sosok yang dengan keagungannya, permukaan bumi menjadi masjidnya, Mekkah menjadi mihrabnya, dan Madinah menjadi mimbarnya. Beliau adalah imam bagi seluruh kaum beriman, khatib bagi seluruh umat manusia, pemimpin para nabi, dan penghulu semua wali. Beliau adalah poros 429 Cahaya Keempat Belas dari buku al-Matsnawi an-Nûri, bukan dari buku al-Lama’ât―Peny. 430 Risalah Pertama dalam buku al-Matsnawi an-Nûri―Peny.


Surat Kesembilan Belas

339

di pusat lingkaran majelis zikir yang terdiri dari para nabi dan wali. Beliau pohon bercahaya di mana akarnya yang kokoh berupa para nabi berikut wahyu yang diterimanya, ranting hijaunya yang segar dan buahnya yang lembut bercahaya berupa para wali berikut ilham yang diperolehnya. Setiap pernyataan yang beliau lontarkan pasti diakui dan disaksikan oleh semua nabi dengan bersandar kepada mukjizat mereka, serta oleh para wali dengan bersandar kepada karamah mereka. Seolah-olah pada setiap pernyataan beliau terdapat stempel dari mereka semua. Pasalnya, ketika beliau mengucap lâ ilâha illallâh lalu menegaskan tauhid, dua barisan bercahaya—para nabi dan wali—yang berada di masa lalu dan masa mendatang mengulang-ulang perkataan yang sama dan mereka sepakat dengan hal itu meski aliran dan pendekatan mereka berbeda-beda. Seolah-olah mereka berkata secara ijma’, “Engkau benar. Kebenaranlah yang kau ucapkan.” Maka, tidak ada ilusi yang bisa menyangkal pernyataan yang telah didukung oleh kesaksian para saksi yang tak terhitung banyaknya di mana mukjizat dan karamah mereka menjadi legitimasi.

Percikan Kedua Ketahuilah bahwa bukti cemerlang ini yang menunjukkan kepada tauhid dan membimbing manusia kepadanya, di samping didukung oleh kekuatan yang terdapat pada kedua sayapnya yang berupa kenabian dan kewalian, beliau juga dibenarkan oleh ratusan isyarat kitab samawi, seperti kabar gembira dari Taurat, Injil, Zabur, serta kitab suci terdahulu. 431 Selanjutnya, beliau dibenarkan pula oleh ribuan kejadian luar biasa yang disebut dengan irhasat. Lalu beliau juga dibenarkan oleh kabar gembira yang diberikan oleh para peramal secara mutawatir. Kemudian beliau dibenarkan oleh sejumlah petunjuk mukjizatnya seperti terbelahnya bulan, keluarnya air dari jari-jemari beliau seperti telaga al-Kautsar, datangnya pohon lewat seruan beliau, turunnya hujan seketika lewat doa beliau, kenyangnya banyak orang Husein al-Jisr telah mengungkap seratus empat belas kabar gembira dari kandungan kitab-kitab suci tersebut. Semuanya tertuang dalam bukunya, arRisâlah al-Hamîdiyyah. Jika kabar gembira sebanyak itu didapatkan setelah kitab-kitab tersebut mengalami banyak penyimpangan, maka tentu sebelumnya lebih banyak lagi. 431


340

AL-MAKTÛBÂT

lewat makanan beliau yang sedikit, kemampuan beliau berbicara dengan biawak, serigala, rusa, unta, dan batu, serta masih banyak lagi mukjizat beliau lainnya seperti yang disebutkan oleh para perawi dan ahli hadis. Selain itu, beliau dibenarkan oleh syariat yang berisi kebahagiaan dunia dan akhirat. Ketahuilah, di samping dibenarkan oleh berbagai dalil âfâqi (eksternal) seperti yang telah disebutkan di atas, beliau juga seperti mentari yang menunjukkan keberadaan dirinya lewat pribadinya. Dengan kata lain, beliau juga dibenarkan oleh dalil-dalil anfusi (internal) yang melekat pada diri beliau. Pasalnya, berkumpulnya semua akhlak terpuji pada diri beliau; penyatuan berbagai karakter mulia dan perilaku bersih pada sosok maknawi beliau dalam menjalankan tugas; kekuatan iman beliau lewat bukti kekuatan zuhud, takwa, dan ubudiyahnya; keyakinan, kesungguhan, dan ketekunan beliau yang sempurna seperti yang ditunjukkan oleh sejarah hidupnya; serta kekuatan harapan beliau dalam geraknya seperti yang ditunjukkan oleh sikap tenangnya; semua itu ibarat mentari terang yang membenarkan beliau ketika mengaku berpegang pada kebenaran dan meniti jalan hakikat.

Percikan Ketiga Ketahuilah bahwa ruang lingkup waktu dan tempat memberikan pengaruh yang besar kepada cara berpikir akal. Marilah kita pergi ke generasi terbaik dan era kebahagiaan nabawi guna mengunjungi beliau meski dalam khayalan, yaitu ketika beliau melakukan tugas utamanya. Bukalah matamu dan perhatikan! Yang pertama kali terlihat dari kerajaan tersebut adalah sosok luar biasa. Ia memiliki bentuk rupa yang istimewa dan akhlak terpuji. Tangannya menggenggam sebuah kitab yang mengandung mukjizat mulia. Lisannya mengucapkan perkataan yang penuh hikmah. Ia menyampaikan khutbah abadi yang dibacakan kepada seluruh golongan jin dan munusia, bahkan kepada seluruh entitas. Sungguh menakjubkan! Apa yang beliau sampaikan? Beliau menyampaikan tentang persoalan besar dan membahas tentang berita agung. Pasalnya, beliau menjelaskan dan memecahkan teka-teki tentang rahasia penciptaan alam. Beliau membuka dan


Surat Kesembilan Belas

341

menyingkap misteri tentang rahasia hikmah entitas. Beliau menjelaskan dan menerangkan tiga persoalan rumit yang membingungkan akal. Yaitu persoalan dan pertanyaan yang ditanyakan setiap makhluk: Siapa engkau? Dari mana? Dan hendak ke mana?

Percikan Keempat Perhatikan bagaimana sosok bercahaya tersebut memancarkan sinar gemilang dari hakikat dan menyebarkan cahaya terang dari kebenaran. Hingga membuat malam manusia menjadi siang, musim dinginnya menjadi musim semi. Seolah-olah semua enti tas berubah bentuk sehi ngga alam i ni tampak tertawa gembi ra setelah sebelumnya cemberut dan sedih. Apabila engkau melihat entitas di luar cahaya petunjuknya, engkau akan melihat sebuah tempat berkabung di dalamnya. Engkau juga akan melihat makhluk seperti orang asing dan musuh; di mana yang satu dengan yang lain tidak saling mengenal. Bahkan mereka saling bermusuhan. Engkau akan melihat benda-benda matinya seperti jenazah besar. Hewan dan manusianya laksana anak-anak yatim yang sedang meratap sedih karena kepergian dan perpisahan. Itulah hakikat entitas bagi orang yang tidak masuk ke dalam wilayah cahaya beliau. Sekarang perhatikan alam dengan cahaya beliau, lewat teropong agamanya dan dalam wilayah syariatnya. Apa yang engkau lihat? Perhatikan! Bentuk alam telah berubah. Tempat berkabung berubah menjadi masjid tempat zikir dan pikir, serta majelis tempat memuji dan mengungkap rasa syukur. Musuh dan makhluk asing itupun berubah menjadi kekasih dan saudara. Setiap benda mati yang diam berubah menjadi makhluk hidup yang bersahabat, tunduk, dan menuturkan tanda kekuasaan Penciptanya. Sementara makhluk hidup yang tadinya laksana anak-anak yatim yang sedang meratap berubah menjadi kaum yang sedang berzikir dalam tasbih mereka seraya bersyukur karena telah terlepas dari tugas.

Percikan Kelima Dengan cahaya tersebut, gerakan, keragaman, dan berbagai perubahan enti tas berganti dari kesi a-si aan, kehampaan, dan pro-


342

AL-MAKTÛBÂT

ses kebetulan menjadi catatan Tuhan, lembaran ayat penci ptaan, serta cermi n nama-nama i lahi . Sehi ngga alam nai k menjadi ki tab hi kmah-Nya yang abadi . Li hatlah bagai mana manusi a nai k dari kubangan hewani yang menjadi tempatnya aki bat kelemahan, kefaki ran, dan akalnya yang mengangkut berbagai kepedi han masa lalu dan kecemasan masa mendatang. Dari sana i a nai k menuju puncak kepemi mpi nan setelah akal, kelemahan, dan kefaki ran tadi mendapat cahaya. Li hatlah bagai mana sebab-sebab kejatuhannya yang berupa kelemahan, kefaki ran, dan akal, menjadi sebab i a kembali bi sa nai k karena keti ganya mendapat cahaya yang bersumber dari pri badi cemerlang i ni . Karena i tu, andai kan pri badi i ni ti dak ada tentu seluruh enti tas dan manusi a akan jatuh terpuruk. Segala sesuatu akan menuju ke lembah keti adaan; ti dak memi li ki ni lai dan makna. Maka, enti tas yang menakjubkan dan i ndah i ni sudah pasti terpaut dengan pri badi luar bi asa yang bertugas memberi kan penerangan. Ji ka dia ti dak ada, maka enti tas ti dak akan ada. Sebab, entitas tidak berarti bagi kita tanpanya.

Percikan Keenam Barangkali engkau bertanya, “Si apa dan apa yang dikatakan sosok yang kita lihat telah menjadi mentari alam i ni sekaligus dengan agamanya i a menyi ngkap berbagai kesempurnaan enti tas?� Jawabannya: Li hat dan perhati kan apa yang beli au katakan. Beli au mengi nformasi kan dan memberi kan kabar gembi ra tentang kebahagi aan abadi . Beli au menyi ngkap rahmat yang tak terhi ngga sekali gus mengumumkan dan menyeru manusi a kepadanya. Beli au menjadi petunjuk tentang i ndahnya kekuasaan Tuhan serta penyi ngkap perbendaharaan nama-nama i lahi yang tersembunyi . Perhati kanlah beli au dari si si tugas (ri salah) yang di bawanya. Engkau pasti meli hatnya sebagai bukti kebenaran, lentera haki kat, mentari hi dayah, dan sarana menuju kebahagi aan. Se-


Surat Kesembilan Belas

343

lanjutnya, perhati kan dari si si pri badi nya (ubudi yahnya). Engkau akan meli hatnya sebagai perumpamaan ci nta Tuhan, perwujudan kasi h sayang i lahi , kehormatan haki kat kemanusiaan, serta buah pohon penci ptaan yang pali ng bersi nar. Setelah i tu, li hatlah bagai mana cahaya dan agamanya menjangkau Ti mur dan Barat secepat ki lat. Seki tar separuh bumi dan seperli ma umat manusi a meneri ma dengan penuh ketundukan persembahan hi dayahnya di mana mereka rela mengorbankan nyawa untuknya. Mungki nkah nafsu dan setan bisa menyangkal pengakuan dan pernyataan yang di lontarkan oleh sosok seperti beli au. Terutama yang terkai t dengan pernyataan yang menjadi landasan bagi semua pernyataannya. Yai tu lâ i lâha i llallâh beserta seluruh ti ngkatannya?!

Percikan Ketujuh Ji ka engkau i ngi n mengetahui bahwa yang menggerakkannya adalah sebuah kekuatan suci , maka perhati kan apa yang beli au lakukan di jazi rah yang luas itu! Engkau bi sa meli hat beragam bangsa pedalaman di sahara luas yang demikian fanati k dengan tradi si mereka dan begi tu hebat menunjukkan permusuhan. Li hatlah bagai mana sosok muli a tersebut melenyapkan semua akhlak buruk mereka hanya dalam waktu yang si ngkat. Lalu beli au menyedi akan untuk mereka sejumlah akhlak terpuji dan muli a. Beliau berhasil menjadikan mereka sebagai guru umat manusi a dan pengajar bangsa yang berperadaban. Perhati kan! Kekuasaannya ti dak hanya pada aspek lahi ri ah. Namun, beli au membuka qalbu dan akal, serta menundukkan nafsu dan ji wa. Sehi ngga beli au menjadi pujaan hati dan pembimbing akal, sekaligus menjadi pendidik nafsu dan penguasa jiwa.

Percikan Kedelapan Seperti di ketahui bersama bahwa melenyapkan tradi si yang keci l—seperti merokok mi salnya—dari sebuah li ngkungan keci l secara total kadangkala cukup suli t bagi seorang penguasa besar. Namun ki ta meli hat bagai mana Nabi r berhasi l melenyapkan


344

AL-MAKTÛBÂT

secara total berbagai tradi si dari bangsa-bangsa besar yang fanati k terhadap tradi si mereka. Beli au melenyapkan tradi si tersebut dengan kekuatan yang keci l, tekad yang ti dak besar, pada waktu yang si ngkat. Sebagai ganti nya, beli au tanamkan secara sangat kokoh sejumlah akhlak muli a dalam karakter mereka. Demikianlah, terdapat ri buan pencapai an luar bi asa dari apa yang ki ta li hat. Si apa yang belum meli hat era bahagi a tersebut, perlu kita masukkan jazirah ini ke matanya sekali gus menantangnya. Hendaklah i a mencoba melakukan hal tersebut di sana. Hendaknya juga membawa seratus fi lsuf ke daerah tersebut dan bekerja di dalamnya selama seratus tahun. Dapatkah kiranya mereka melakukan satu saja dari seratus bagi an yang di lakukan oleh Rasulullah dalam setahun di ukur dengan kondi si keti ka i tu?!

Percikan Kesembilan Ketahuilah bahwa ti daklah mudah bagi orang berakal untuk menyatakan sebuah kebohongan yang i a malu kalau ketahuan. Apalagi di ucapkan tanpa beban, tanpa ragu dan tanpa rasa bi mbang yang menunjukkan tipu dayanya, serta tanpa di buat-buat yang mengindi kasikan kebohongannya, di hadapan para musuh yang siap mengkri ti k meski i a hanya orang keci l, dalam tugas yang sederhana, pada kedudukan yang rendah, di komuni tas yang keci l, serta dalam persoalan sepele. Kalau demi ki an, bagai mana mungki n ti pu daya dan dusta masuk dan bercampur ke dalam pernyataan dan pengakuan sosok yang merupakan petugas besar, dalam tugas penting, dan pada kedudukan yang tinggi—padahal beli au membutuhkan perli ndungan besar—lalu berada dalam komuni tas yang besar, menghadapi permusuhan yang besar, dalam persoalan besar, dan dalam pengakuan yang besar pula? Nah, kita melihat bagaimana beli au mengungkapkan semuanya tanpa peduli dengan adanya hambatan, tanpa raguragu, tanpa beban, dan tanpa rasa takut. Beli au melakukannya dengan hati yang tegar, kesungguhan yang tulus, dan dengan cara yang mengundang amarah musuh, yaitu dengan menghinakan akal, merendahkan ji wa, dan menghancurkan kemuli aan mereka serta dengan nada yang tegas. Mungki nkah ti pu musli hat masuk


Surat Kesembilan Belas

345

ke dalam pengakuan beli au dalam kondi si seperti di atas?! Tentu saja ti dak mungki n. “Ia ti dak lai n merupakan wahyu yang di sampai kan padanya.� (QS. an-Najm [53]: 4). Ya, kebenaran ti dak perlu menipu, dan pandangan haki kat tidak bisa ditipu. Ya, jalannya yang benar ti dak membutuhkan penipuan, serta pandangannya yang tajam bi sa membedakan antara haki kat dan khayalan.

Percikan Kesepuluh Simak dan perhati kan apa yang beli au katakan! Beli au menerangkan tentang sejumlah haki kat menakjubkan, membahas tentang berbagai persoalan yang menari k bagi hati sekali gus mengundang akal untuk mencermati nya. Seperti telah di ketahui bersama, rasa penasaran akan hakikat sesuatu telah mendorong banyak orang yang memiliki kuriositas yang tinggi untuk melakukan pengorbanan. Nah, bagai mana seandainya ada yang berkata kepadamu, “Ji ka engkau mengorbankan setengah usi amu atau separuh dari hartamu, maka akan datang seseorang dari bulan atau planet yang memberi kan i nformasi kepadamu tentang hal-hal yang menakjubkan serta memberi tahu tentang masa depanmu.� Kuki ra engkau akan mau berkorban untuknya. Sungguh aneh! Engkau rela memenuhi rasa penasaranmu dengan mengorbankan setengah dari usi a dan hartamu, sementara engkau ti dak peduli dengan sabda Nabi r yang di benarkan oleh para spesialis dari kalangan nabi , kaum shi ddi qi n, wali , dan para ulama. Beli au r menerangkan kondi si seorang penguasa, di mana bulan di dalam kerajaan-Nya hanyalah seperti lalat yang terbang di seki tar kupu-kupu. Kupu-kupu i tu terbang di seki tar lentera. Lentera itu hanyalah salah satu dari ribuan lampu yang dinyalakan di sebuah rumah dari ribuan rumah yang di si apkan untuk para tamunya. Beli au juga memberi tahukan tentang alam yang menjadi tempat kejadi an berbagai hal luar bi asa, serta menginformasikan perubahan yang sungguh menakjubkan, di mana kalaupun bumi terbelah dan gunung-gunungnya beterbangan seperti awan, hal i tu masi h belum seberapa.


346

ini:

AL-MAKTÛBÂT

Engkau bi sa memperhati kan fi rman-fi rman Allah berikut

“Apabi la matahari di gulung”. (QS. at-Takwîr [1 :[81).

“Apabi la langi t terbelah. (QS. al-Infi thâr [82]: 1).

“Apabila bumi digoncang dengan segoncang-goncangnya.” (QS. az-Zalzalah [99]:1).

“Hari kiamat.” (QS. al-Qâri’ah [101: 1). Beli au menceri takan tentang reali tas masa depan; di mana masa depan duni a ji ka di bandi ngkan dengannya hanyalah satu tetes fatamorgana yang ti dak berarti ji ka di ukur dengan lautan yang tak bertepi . Beli au juga memberi tahukan tentang kebahagi aan; di mana kebahagi aan duni a ji ka dibandingkan dengannya hanyalah kilat selintas ji ka di ukur dengan mentari abadi .

Percikan Kesebelas Ya, di bali k hi jab alam terdapat berbagai hal menakjubkan yang menanti kan ki ta. Untuk memberi tahukan semua i tu harus ada sosok luar bi asa yang dapat menyaksi kan untuk kemudi an bersaksi , meli hat untuk kemudi an memberi takan. Dalam hal i ni , ki ta menyaksi kan kondi si beli au bagai mana beli au menyaksi kan dan kemudi an bersaksi , lalu memberi kan peri ngatan dan kabar gembi ra. Beli au juga memberi tahukan tentang apa saja yang di sukai dan di tuntut oleh Tuhan Pemeli hara alam semesta dari ki ta. Sungguh malang orang yang lalai ! Sungguh merugi orang yang tersesat! Sungguh aneh mengapa sebagi an besar manusi a demi ki an dungu! Bagai mana mereka buta terhadap kebenaran dan tuli dengan haki kat yang ada; ti dak peduli dengan berbagai


Surat Kesembilan Belas

347

hal menakjubkan yang terdapat pada sosok semacam beli au. Padahal, orang seperti beliau mesti nya di bela dan segera di hampi ri dengan membelakangi dunia dan isinya.

Percikan Kedua Belas Ketahuilah bahwa sosok yang tampak dengan kepribadian maknawinya dan yang di kenal di duni a dengan keti nggi an martabatnya, di sampi ng merupakan petunjuk yang benar akan keesaan Tuhan dan dali l kebenaran tauhi d, beli au juga merupakan petunjuk terang dan dali l cemerlang yang menjelaskan tentang kebahagi aan abadi . Lebi h dari i tu, sebagai mana lewat dakwah dan petunjuknya beli au menjadi sebab yang mengantarkan pada kebahagi aan abadi , begitu pula lewat doa dan pengabdi annya beli au juga menjadi sebab terwujudnya kebahagi aan tersebut. [Karena kesesuaian konteks, pembahasan yang terdapat dalam Risalah Kebangkitan,432 kami uraikan kembali di sini] Engkau bi sa meli hatnya keti ka berdoa dalam “shalat terbesar” yang dengan keluasaannya i a mengubah jazi rah Arab; bahkan seluruh duni a menjadi sosok yang melakukan shalat semacam i tu. Kemudi an perhati kan bagai mana beli au melaksanakan shalat tersebut dengan jamaah yang sangat banyak. Seolah-olah beli au menjadi i mam di mi hrab masanya dii kuti oleh semua mahi ngga saat ini, bahkan nusi a yang muli a, dari sejak Adam hi ngga akhi r zaman nanti . Mereka berbari s dalam bari san semua generasi dengan bermakmum dan mengami ni doanya. Lalu, perhati kan apa yang beli au lakukan dalam shalat tersebut dengan jamaah yang ada. Beli au berdoa untuk satu kebutuhan yang sangat penti ng, besar, dan universal di mana bumi dan langi t, bahkan seluruh enti tas ikut berdoa bersamanya. Lewat bahasa masing-masing, mereka berujar, “Ya, wahai Tuhan. Teri malah doanya. Kami juga—bersama seluruh manifestasi nama-nama-Mu—memohon agar bi sa menggapai apa yang i a mi nta.” Lalu perhati kan bagai mana beli au bermunajat dengan segala kepapaan yang menyiratkan rasa rindu yang sangat kuat 432 Hakikat Kelima dari Isyarat Keempat dalam “Kalimat Kesepuluh” pada buku al-Kalimât.


348

AL-MAKTÛBÂT

dan dengan kesedi han yang menyiratkan rasa cinta yang sangat mendalam, di mana hal i tu membuat seluruh alam i kut menangi s dan i kut berdoa bersamanya. Kemudi an perhati kan untuk tujuan apa beli au bermunajat? Beli au bermunajat dan berdoa untuk sebuah tujuan yang kalau ti dak tercapai , tentu manusi a dan alam, bahkan seluruh enti tas, akan terjatuh ke dalam tingkatan yang pali ng rendah; ti dak memi li ki ni lai . Namun dengan permi ntaan beli au, semua enti tas nai k menuju derajat kesempurnaannya. Selai n i tu, perhati kan bagai mana beli au bermunajat secara terus-menerus dengan segala kesungguhan dan mengharap belas kasi h. Doa beli au terdengar oleh arasy dan semua langi t serta mengundang si mpati mereka. Sehi ngga seolah-olah arasy dan langi t berkata, “Ya Allah, kabulkan doanya!” Perhati kan pula kepada si apa beli au memi nta? Ya, beli au memi nta kepada Dzat Yang Mahakuasa, Maha Mendengar, Mahamuli a, Maha Mengetahui , Maha Meli hat, dan Maha Mengasi hi ; Dzat yang mendengar seluruh doa yang pali ng samar dari makhluk yang pali ng keci l terkai t dengan kebutuhan yang pali ng sederhana. Di a mengabulkan dengan memenuhi kebutuhannya. Di a mengetahui harapan pali ng keci l pada makhluk yang pali ng rendah dalam tujuan yang pali ng dekat. Di a mengantarkan kepadanya dengan cara yang ti dak di sangka-sangka. Di a mengasi hi dan menci ntai dalam bentuk yang bi jaksana dan sangat rapi . Tentu tidak ada keraguan bahwa pemeli haraan dan pengaturan tersebut berasal dari Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui serta Maha Meli hat lagi Maha Bi jaksana.

Percikan Ketiga Belas Sungguh menakjubkan apa yang di mi nta oleh sosok yang tegak di atas bumi yang membuat seluruh nabi —yang merupakan manusia pilihan—berbari s di belakangnya. Beli au mengangkat tangan menghadap ke arasy yang agung lalu berdoa dengan di ami ni oleh ji n dan manusi a. Dari kondi si nya dapat di ketahui bahwa beli au adalah manusi a yang pali ng muli a, makhluk yang


Surat Kesembilan Belas

349

pali ng i sti mewa, serta kebanggaan seluruh alam di sepanjang zaman. Beli au memi nta syafaat lewat seluruh nama Tuhan yang termanifestasi pada cermi n enti tas. Bahkan nama-nama tersebut memohon dan meminta hal yang sama seperti pinta beliau. Perhati kan! Beli au memi nta keabadi an, pertemuan, surga, dan ri dha-Nya. Andai kan rahmat, pertolongan, hi kmah, dan keadi lan yang merupakan sarana menuju kebahagi aan abadi ti dak ada, maka doa beli au sudah cukup lantaran Tuhan membangun surga untuknya dan untuk umatnya, sebagai mana Di a mendatangkan sejumlah taman yang i ndah di seti ap musi m semi dengan berbagai ci ptaan-Nya yang luar bi asa. Ji ka ri salah beli au menjadi sebab duni a i ni di jadi kan sebagai tempat uji an dan penghambaan, maka doa beli au menjadi sebab akhi rat di jadi kan sebagai tempat pemberi an balasan dan ganjaran. Keteraturan yang luar bi asa, rahmat-Nya yang demi ki an luas, ci ptaan-Nya yang sangat sempurna tanpa cacat, serta kei ndahan yang tanpa cela sehi ngga orang semacam al-Gazali berkata, “Ti dak ada yang lebi h i ndah dari ciptaan Dzat Yang Mahaindah”433 mungki nkah i tu semua di hi asi dan di ganti kan oleh keburukan, kezali man, dan kerancuan? Dengan kata lain, tidak diciptakannya surga? Pasalnya, mendengar dan memperhati kan seruan yang pali ng rendah dari makhluk yang pali ng hi na, terkai t dengan kebutuhan yang pali ng sederhana, sementara di si si lai n ti dak mau mendengar dan mengabulkan seruan yang paling tinggi dari makhluk yang paling mulia, terkait dengan kebutuhan yang sangat mendesak, hal i tu merupakan sesuatu yang pali ng buruk dan cacat. Hal i tu ti dak mungki n terjadi . Kei ndahan yang tanpa ai b tersebut ti dak mungki n meneri ma keburukan tadi . Wahai sahabatku dalam petualangan yang menakjubkan i ni , ti dakkah cukup apa yang telah kau saksi kan?! Ji ka engkau i ngi n menjangkau seluruhnya ti dak akan mampu. Bahkan, andaikan kita masih tetap berada di jazi rah i ni selama seratus tahun, ki ta ti dak akan mampu menjangkau semuanya serta tidak akan mera433 Lihat: Al-Gazali, Ihyâ `Ulûm ad-Dîn 4/258; az-Zahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ 19/337; asy-Sya’râni, at-abaqât al-Kubrâ 2/105; al-Manâwi, Faidhul Qadîr 2/224 dan 4/495.


350

AL-MAKTÛBÂT

sa bosan memandang satu bagi an dari seratus bagi an keajai ban tugas dan aksi nya. Mari lah ki ta kembali dan meli hat masa demi masa, bagai mana semuanya demi ki an hi jau dan mendapat curahan karuni a dari era pertama tadi . Ya, engkau akan meli hat setiap masa yang engkau lalui bunganya mekar oleh mentari era kebahagi aan tersebut dan setiap masa menghasilkan ribuan “buah bersinar” berkat limpahan petunjuk beliau seperti Imam Abu Hani fah,434 Imam asy-Syâfi `i ,435 Abu Yazi d al-Bustami ,436 al-Junaid al-Bagdadi,437 Syekh Abdul Qadi r al-Jailani ,438 Imam al-Ghazali ,439 Syah Abu Hanifah (80-150 H) bernama Nu’man ibn Tsabit. Pendiri madzhab Hanafi , seorang fakih dan mujtahid. Ia salah seorang imam yang empat menurut ahlu sunnah. Lahir dan besar di Kufah, serta meninggal di Bagdad. Ia memiliki sejumlah karya. Di antaranya, Musnad dalam bidang hadis yang dikumpulkan oleh para muridnya, lalu al-Fiqh al-Akbar dan al-Makhârij dalam bidang fi kih. (al-A’lam karya az-Zarkaly, 8/36). 435 Asy-Syâfi `i (150-204 H) salah seorang imam ahlu sunnah yang empat. Lahir di Gaza, Palestina dan dibawa ke Mekkah pada saat berusia dua tahun. Ia mengunjungi Bagdad dua kali, lalu pergi ke Mesir pada tahun 199 H dan meninggal di sana. Kuburannya dikenal di Kairo. Ia termasuk keturunan Quraisy yang pandai memanah. Selain itu, ia mahir dalam bidang syair, bahasa dan sejarah Arab. Kemudian ia menekuni fi kih dan hadis, serta mengeluarkan fatwa pada saat usianya baru menginjak dua puluh tahun. Ia mewariskan banyak karya. Di antaranya yang terkenal adalah al-Umm dalam bidang fi kih dan Ahkam al-Qur’ân (al-A’lam, karya az-Zarkaly, 6/26). 436 Abu Yazid al-Bustami (188-261 H) bernama aifur ibn Isa al-Bustami. Abu Yazid adalah seorang zuhud yang terkenal. Berasal dari daerah Bustam dan meninggal di sana (suatu daerah yang terletak di antara Khurasan dan Irak). 437 Ia adalah Junayd ibn Muhammad (Abul Qasim al-Zajja al-Qawariry) wafat tahun 297 H/ 1910 M. Seorang sufi yang zuhud sekaligus pemimpinnya. Lahir dan meninggal di Bagdad. Belajar ilmu fi kih dari Sufyan al-Tsauri dan ilmu tasawuf dari pamannya, al-Saryi as-Saqathy. 438 Abdul Qadir al-Jailani adalah putra dari Abu Salih Abu Muhammad al-Jaily. Lahir di Jailan tahun 470 H. Ia adalah keturunan dari Hasan ibn Ali ibn Abu alib. Ia masuk Baghdad dan mempelajari hadis dari Abu Said al-Makhrami al-Hambali. Ia salah seorang wali qutub yang terkenal di kalangan ahlu sunnah wal jamaah, serta seorang pembaharu besar. Banyak di antara kaum muslimin yang menjadi muridnya serta banyak pula kalangan Yahudi dan Nasrani yang masuk Islam lewat perantaraan beliau. Di antara karyanya adalah buku al-Ghuniyah, Futûh al-Ghaib, dan al-Fath al-Rabbany. Ia wafat di Baghdad pada tahun 561 H. 439 Imam al-Gazali (450 – 505 H). Ia adalah Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Gazali. Ia seorang ahli ilmu kalam, fi lsuf, sufi , dan seorang reformis. Ia lahir di ûs, daerah Khurasan. Ia belajar Ilmu fi kih dan ilmu kalam dari Imam Haramain, serta belajar ilmu fi lsafat dan esoterik dari (karya) al-Farabi dan Ibnu Sina. Ia pernah mengunjungi beberapa daerah, seperti Syam, Palestina, Kairo, Iskandariah, dan Mekkah. Di antara karyanya, Ihyâ `Ulûm 434


Surat Kesembilan Belas

351

al-Naqsyaband,440 Imam al-Rabbani ,441 dan yang lai nnya. Penjelasan ri nci tentang apa yang ki ta saksi kan, ki ta tunda pada waktu yang lai n. Sekarang, mari kita bersama-sama mengirimkan salawat dan salam kepada sosok bersinar, penunjuk jalan kebenaran, dan sang pemilik mukjizat, Muhammad r: Beribu-ribu salawat dan salam sebanyak kebaikan umatnya, semoga tercurah kepada sosok yang padanya di turunkan alQur’an oleh Dzat Yang Maha Pengasi h dan Penyayang dari arasy yang agung, junjungan kami Muhammad r. Beri bu-ri bu salawat dan salam sebanyak tarikan napas umatnya, semoga tercurah kepada sosok yang kedatangan ri salahnya telah dii nformasi kan oleh ki tab Taurat, Inji l, Zabur dan ki tab suci lai nnya; yang kenabi annya telah diberitakan oleh sejumlah kejadian luar biasa yang disebut “irhasat” dan di tunjukkan oleh sejumlah keterangan yang berasal dari ji n, para wali dan peramal; serta yang dengan i syaratnya bulan terbelah. Teladan kami, Muhammad r. Beri bu-ri bu salawat dan salam sebanyak huruf yang terbentuk dalam kata-kata yang terwujud dengan izin Tuhan di cermin gelombang udara saat pembaca membacakan setiap kata dari al-Qur’an dari sejak awal turunnya hingga akhir zaman, semoga tercurah kepada sosok yang pepohonan datang menghampi ri seruannya; yang hujan datang seketika berkat doanya; yang awan meli ndungi nya dari terik matahari; yang ratusan manusi a kenyang oleh makanan di nampannya; yang ai r memancar dari sela-sela jaad-Dîn, Tahâfut al-Falâsifah, dan al-Munqizh Min ad-Dhalâl. 440 An-Naqsyaband adalah Muhammad Bahâuddin, pendiri tarekat an-Naqsyabandiyyah. Lahir di daerah Qasr al-Arifan, dekat Bukhara. Menuntut ilmu di Samarkand, menikah pada usia delapan belas tahun, serta menisbatkan diri kepada banyak guru. Terakhir ia kembali ke Bukhara hingga meninggal di sana. Di Bukhara ia mendirikan dan menyebarkan tarekatnya. Ia wafat tanggal 4 Rabiul Awal 791 H / 1389 M. yakni pada usia 73 tahun. Di antara tulisannya adalah Risâlat al-Waridat, al-Awrad al-Bahâ`iyyah, dan Tanbîh al-Ghafi lin. 441 Imam Rabbani (971 – 1034 H). Ia adalah Ahmad ibn Abdul Ahad as-Sarhindi al-Fârûqi, yang dijuluki “Pembaharu Milenium Kedua”. Tarekatnya, “anNaqsyabandiyah” tersebar di seluruh penjuru dunia Islam lewat perantaraan Khalid asy-Syahrazwari, yang dikenal dengan Maulana Khalid al-Bagdadi (1192 – 1243 H). Di antara karya Imam Rabbani yang sangat terkenal adalah “al-Maktûbât”. Diterjemahkan ke bahasa Arab oleh Muhammad Murâd dalam dua Jilid.


352

AL-MAKTÛBÂT

ri nya seperti telaga al-kautsar; yang kerikil dan tanah bertasbih di kedua telapak tangannya; yang kadal, rusa, seri gala, batang pohon, unta, gunung, batu, pepohonan di buat bi sa berbi cara oleh Allah untuknya. Beli au adalah pri badi yang telah di mi ’rajkan. Junjungan dan pemberi syafaat bagi ki ta, Muhammad r. Wahai Tuhan kami, ampuni dan kasi hi kami lewat seti ap salawat dari nya. Ami n!

‫٭٭٭‬

[Ketahui lah bahwa bukti kenabi an Muhammad ti dak terhi ngga banyaknya. Para ulama peneliti telah menulis tentangnya. Sementara aku sendi ri dengan segala keterbatasan yang ada telah menjelaskan sebagi an ki lau dari mentari tersebut dalam risalah “Ki lau Makri fat Nabi r”, dan dalam “Surat Kesembi lan Belas.” Aku juga telah menjelaskan secara global berbagai aspek kemukji zatan dari mukji zat terbesarnya, yai tu al-Qur’an. Dengan pemahamanku yang terbatas, aku telah menerangkan seki tar empat puluh aspek kemukji zatan al-Qur’an dalam risalah al-Lawâmi ’ (Kumpulan Cahaya).442 Salah satu dari aspek tersebut, yaitu retorika yang luar biasa, telah kujelaskan sebanyak empat puluh halaman dalam tafsi r berbahasa Arab yang kutuli s, yaitu “Isyârât al-I’jâz fî Mazhân al-ÎJâz”. Engkau bi sa merujuk ke ti ga buku di atas].

Percikan Keempat belas Ketahuilah bahwa al-Qur’an yang merupakan lautan mukji zat dan mukji zat terbesar dengan sangat tegas menetapkan kenabi an Muhammad r serta keesaan i lahi . Ia mengetengahkan sejumlah argumen, memperlihatkan berbagai bukti, serta memberikan dali l-dali l yang sangat kuat. Di si ni kami akan menerangkan defi ni si nya. Setelah i tu, kami akan menerangkan sejumlah ki lau kemukji zatannya; sesuatu yang mengundang tanda tanya bagi sebagi an orang. 442

Diterbitkan sebagai lampiran tambahan dalam buku “al-Kalimât”.


Surat Kesembilan Belas

353

Defi nisi Al-Qur’an

Al-Qur’an al-Hakim yang memperkenalkan Tuhan kepada ki ta adalah: Terjemahan azali bagi buku alam semesta; Penafsir abadi bagi ayat-ayat kauniyah; Penyingkap berbagai perbendaharaan nama-nama i lahi yang tersembunyi dalam lembaran langi t dan bumi ; Kunci berbagai haki kat yang terselubung dalam rangkaian peristiwa; Li san gaib dalam duni a nyata; Khazanah pembicaraan ilahi yang abadi ; Pi lar dan mentari duni a Islam; serta Peta alam ukhrawi . Al-Qur’an juga merupakan penjelasan yang gamblang, penafsi ran yang cemerlang, terjemahan yang gemilang, dan bukti yang terang atas Dzat, si fat, nama, dan kondisi Allah; Pendidik dunia manusia; Penyegar (ai r) dan Penerang (cahaya) bagi tubuh Islam; Hi kmah haki ki bagi umat manusia; serta penuntun ke tujuan penciptaan manusi a. Selai n i tu, bagi manusi a di sampi ng merupakan ki tab syari at, al-Qur’an juga ki tab hi kmah. Di sampi ng merupakan ki tab doa dan i badah, i a juga ki tab peri ntah dan dakwah. Di sampi ng merupakan ki tab zi ki r, i a juga ki tab pikir. Di sampi ng merupakan sebuah ki tab yang mencakup begi tu banyak ki tab yang sejalan dengan semua kebutuhan manusi a, i a juga seperti rumah suci yang berisi sejumlah ki tab dan ri salah, bahkan i a memperli hatkan kepada seti ap aliran dari berbagai kelompok yang berbeda-beda dari kalangan para wali dan kaum shi ddi qi n, serta kalangan arif dan para ulama, sebuah ri salah yang sesuai dengan kebutuhan setiap aliran tersebut sehi ngga seolah-olah menjadi seperti kumpulan ri salah. Perhati kan penjelasan tentang kilau kemukjizatan di bali k pengulangan ayat-ayat al-Qur’an yang di anggap cacat oleh mereka yang kurang memahami retori ka. Ketahuilah bahwa karena al-Qur’an merupakan ki tab zi ki r, ki tab doa, dan ki tab dakwah, maka pengulangannya menjadi sesuatu yang tepat bahkan wajib. Pasalnya, zi ki r perlu di ulang-ulang, doa perlu terus di panjatkan, dan dakwah harus terus di tekankan. Dalam pengulangan zi ki r terdapat pencerahan, da-


354

AL-MAKTÛBÂT

lam pengulangan doa terdapat penetapan, dan dalam pengulangan dakwah terdapat penegasan. Ketahuilah bahwa ti dak mungki n semua orang, pada setiap saat, akan selalu bi sa membaca keseluruhan al-Qur’an yang merupakan obat bagi setiap orang, pada setiap saat. Karena i tu, Dzat Yang Maha Bi jaksana dan Penyayang memasukkan sebagi an besar maksud al-Qur’an dalam sebagi an besar surah. Terutama, surah-surah yang panjang sehi ngga seti ap surah menjadi semacam al-Qur’an keci l. Dengan demikian, Allah memudahkan jalan bagi seti ap orang sehi ngga ti dak ada yang terhalang darinya. Maka dari itu, Di a mengulang-ulang persoalan tauhi d, kebangki tan, dan ki sah Musa . Ketahuilah bahwa kebutuhan jasmani pada seti ap waktu berbeda. Demikian halnya dengan kebutuhan rohani. Maka dari i tu, untuk sebagi an orang di seti ap waktu membutuhkan “Di a adalah Allah” bagi ruh seperti kebutuhan tubuh terhadap udara. Lalu untuk sebagi an lai n pada seti ap waktu seperti “dengan nama Allah”, demi ki an seterusnya. Jadi , pengulangan ayat dan kata adalah untuk menunjukkan berulangnya kebutuhan sekali gus mengi syaratkan adanya kebutuhan manusi a yang mendesak terhadapnya, serta untuk mendorong munculnya rasa butuh terhadap nutri si spi ri tual tersebut. Ketahuilah bahwa al-Qur’an merupakan peletak dasar agama yang agung dan kokoh (Islam). Ia adalah pilar dunia Islam; pengubah tatanan sosi al manusi a; serta jawaban terhadap berbagai pertanyaan dari beragam kelompok masyarakat lewat bahasa lisan ataupun keadaan. Karena merupakan peletak dasar, i a membutuhkan pengulangan untuk menegaskan, menguatkan, dan memantapkan. Ketahuilah bahwa al-Qur’an membahas berbagai persoalan besar seraya mengajak qalbu untuk mengi mani nya. Ia juga memuat sejumlah haki kat mendalam seraya mengajak akal untuk mengetahui nya. Karena i tu, untuk menanamkan di dalam qalbu dan untuk menguatkannya dalam opi ni umum di perlukan pengulangan dalam bentuk yang berbeda-beda dan gaya bahasa yang beragam.


Surat Kesembilan Belas

355

Ketahuilah bahwa seti ap ayat al-Qur’an memi li ki aspek lahi r dan bati n, batas awal dan akhi r. Serta seti ap ki sahnya memi li ki sejumlah aspek, hukum, pelajaran, dan maksud. Di satu surah engkau mendapatkan sebuah tujuan, sementara di surah yang berbeda engkau mendapatkan tujuan lai n. Demi ki an seterusnya. Jadi , sebenarnya pengulangan di dalam al-Qur’an hanyalah bentuk lahiriahnya saja. Adapun penjelasan al-Qur’an yang bersi fat global terhadap sejumlah fenomena alam, sementara bersifat samar di bagi an lai n merupakan ki lau kemukji zatan yang demi ki an terang; bukan kekurangan dan objek kritikan sebagaimana anggapan kaum atei s. Barangkali engkau bertanya: Mengapa al-Qur’an ti dak membahas tentang alam sebagai mana pembahasan i lmu hi kmah dan fi lsafat? Di a membi arkan sejumlah persoalan secara global, dan menyebutkan yang lai nnya dengan cara yang sejalan dengan perasaan dan pemikiran kaum awam. Penjelasannya ti dak membuat mereka kesuli tan; namun secara lahi ri ah sangat sederhana. Mengapa demikian? Jawaban: Karena fi lsafat menyimpang dari jalur haki kat yang sebenarnya. Dari sejumlah pelajaran dan pembahasan sebelumnya, engkau pasti memahami bahwa al-Qur’an membahas alam semesta hanyalah sebagai lanturan (digresi) untuk membukti kan Dzat, si fat, dan nama-nama Allah. Dengan kata lai n, ia memberikan pemahaman tentang makna ki tab alam yang besar i ni untuk memperkenalkan Penci ptanya kepada ki ta. Al-Qur’an mempergunakan berbagai enti tas untuk Penci ptanya bukan untuk entitas tersebut. Di sampi ng i tu, i a berbi cara kepada sebagi an besar manusi a. Karena i tu, selama al-Qur’an mempergunakan enti tas sebagai dali l, maka yang namanya dali l harus jelas bagi mereka. Selanjutnya, karena al-Qur’an merupakan petunjuk, maka agar memberi kan kesan yang kuat i a harus sejalan dengan nalar masyarakat umum, harus memperhatikan sensitivitas mereka, dan harus meli hat cara berpi ki r sebagi an besar mereka. Hal itu agar ti dak di anggap aneh oleh nalar dan pemi ki ran mereka. Nah,


356

AL-MAKTÛBÂT

ucapan dan petunjuk yang pali ng berkesan bagi mereka adalah keti ka jelas, sederhana, mudah, si ngkat, bersi fat global terkai t dengan hal yang tak perlu di ri nci dan menggunakan perumpamaan untuk mendekatkan berbagai persoalan yang sulit mereka pahami. Karena al-Qur’an merupakan petunjuk bagi semua strata manusi a, maka secara retori s i a ti dak boleh membuat sebagi an besar manusi a menyi mpang dan mengi ngkari sejumlah aksi oma yang terdapat dalam pandangan lahi ri ah mereka. Ia juga ti dak boleh mengubah apa yang sudah di kenal oleh mereka tanpa ada keperluan mendesak. Ia juga harus mengabaikan dan menglobalkan sesuatu yang ti dak harus bagi mereka dalam mengerjakan tugas. Mi salnya, al-Qur’an membahas tentang matahari ; bukan untuk matahari dan bukan dari si si substansi nya. Akan tetapi , i a membahasnya untuk Dzat yang telah membuatnya bersi nar dan menjadi kannya sebagai lentera. Ia juga membahas fungsi nya sebagai sumber keteraturan penci ptaan dan pusat tatanan makhluk. Tatanan dan keteraturan tersebut ti dak lai n merupakan cermi n untuk mengenal Sang Penci pta Yang Mahaagung. Lewat tatanan keserasi an makhluk, al-Qur’an memperli hatkan kesempurnaan Penci ptanya Yang Maha Bi jaksana dan Maha Mengetahui kepada ki ta. Ayat al-Qur’an berbunyi:

“Matahari beredar.” (QS. Yâsîn [36]: 38). Dengan ayat tersebut, al-Qur’an menjelaskan tindakan qudrah i lahi yang agung dalam si li h-berganti nya si ang dan malam serta dalam perganti an musi m panas dan di ngi n. Dalam mengarahkan perhati an padanya terdapat sebuah peri ngatan yang menyadarkan pendengar akan kebesaran qudrah Sang Penci pta dan independensi-Nya dalam pengaturan alam ini. Bagai manapun adanya dan dalam bentuk apapun, gerakan matahari yang sebe-


Surat Kesembilan Belas

357

narnya443 ti dak mempengaruhi tujuan al-Qur’an dalam memperli hatkan keteraturan yang terli hat dan tertata. Ayat yang lain berbunyi:

“Di a menjadi kan matahari sebagai lentera.” (QS. Nûh [71]: 16). Dalam penyebutan mentari sebagai lentera terdapat i lustrasi tentang alam dalam bentuk i stana beri kut gambaran tentang segala sesuatu yang terdapat di dalamnya di mana i a laksana perlengkapan, hi asan, dan makanannya yang di peruntukkan bagi penduduk dan pelancong di i stana tersebut. Ia mengi ngatkan bahwa semua i tu di sedi akan untuk para tamu dan pelayannya oleh Tangan Yang Mahamuli a dan Maha Penyayang. Matahari hanyalah makhluk yang di peri ntah, di tundukkan, serta lentera yang bersi nar. Dengan menyebutnya sebagai lentera, al-Qur’an mengi ngatkan rahmat Sang Penci pta dalam keagungan rububi yah-Nya, memperkenalkan karuni a-Nya dalam keluasan rahmat-Nya, serta mengi ngatkan kemurahan-Nya dalam keagungan kekuasaan-Nya. Sekarang perhati kan ucapan fi lsuf terkai t dengan matahari . Ia berkata: Matahari adalah benda besar yang berasal dari cai ran api . Ia berotasi pada porosnya. Perci kan api , yai tu bumi dan sejumlah planet lai n beterbangan dari nya. Benda-benda angkasa yang berbeda-beda ukuran mengitarinya... besarnya seki an... dan substansi nya adalah demi ki an... Perhati kanlah! Tidak ada yang kau dapatkan dari pembahasan di atas kecuali kebi ngungan dan keterperanjatan yang luar bi asa. Ia ti dak memberi mu kesempurnaan i lmi ah, ci ta rasa spi ri tual, tujuan kemanusi aan, dan manfaat keagamaan. Itulah standar untuk menetapkan ni lai berbagai persoalan fi lsafat yang secara lahi r tampak i ndah, namun hakikatnya beri si kebodohan. Karena Dalam bentuk lahiriahnya, matahari terlihat beredar mengitari bumi (geosentrik). Namun menurut sains modern, justru bumi yang beredar mengelilingi matahari (heliosentrik)—Peny. 443


358

AL-MAKTÛBÂT

i tu, jangan engkau terti pu oleh ki lau lahi ri ahnya lalu berpali ng dari penjelasan al-Qur’an.

Ya Allah, jadi kan al-Qur’an sebagai obat segala penyaki t bagi kami dan pemberi ketenteraman di saat hi dup dan mati . Jadi kan i a sebagai teman kami di duni a, pemberi kedamai an di kubur, pemberi syafaat di hari ki amat, cahaya saat berada di atas jembatan shi rath, tameng dan hi jab dari neraka, pendambing di dalam surga, serta petunjuk dan penuntun ke jalan kebai kan, dengan karuni a, puji an, kemurahan, kebai kan, dan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Amin!

Limpahkan salawat dan salam kepada sosok yang kepadanya Engkau turunkan al-Qur’an yang penuh hi kmah. Juga, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Ami n! Catatan: Dalam buku al-Matsnawi an-Nuri , kami telah menyebutkan li ma belas dari empat puluh jenis kemukji zatan al-Qur’an. Hal i tu terdapat dalam enam tetes dari perci kan keempat belas. Terutama, dalam enam hal dari tetes keempat. Karena i tu, di si ni kami menuli skannya secara global dengan mencukupkan pada apa yang telah di tuli s di sana. Anda bi sa merujuk kepadanya.


Surat Kesembilan Belas

359

Mukjizat Terbelahnya Bulan [Lampiran Kalimat Kesembilan Belas dan Ketiga Puluh Satu]

“Kiamat telah dekat dan bulan telah terbelah. Jika mereka (orangorang musyrik) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang berkelanjutan.” (QS. Al-Qamar [54]: 1-2) Para fi lsuf materialis serta orang-orang yang bertaklid buta kepada mereka hendak memadamkan dan melenyapkan mukjizat terbelahnya bulan yang demikian terang seperti purnama. Karena itu, mereka memunculkan sejumlah ilusi yang merusak di seputarnya. Mereka berkata, “Andaikan terbelahnya bulan benar-benar terjadi, pasti akan diketahui oleh seluruh dunia dan pasti tercatat dalam buku-buku sejarah.” Sebagai jawaban: Terbelahnya bulan merupakan sebuah mukjizat untuk menegaskan kenabian. Ia terjadi di hadapan orang-orang yang mendengar pernyataan kenabian, namun mereka mengingkarinya. Ia terjadi pada malam hari, di saat kelalaian demikian pekat, dan tampak hanya sekejap. Di samping itu, terdapat perbedaan kenampakan bulan, keberadaan awan, mendung, dan berbagai penghalang lainnya yang membuatnya tak terlihat. Apalagi teleskop dan sarana peradaban belum dikenal luas saat itu. Karenanya, proses terbelahnya bulan tidak harus dilihat oleh semua orang di semua tempat. Ia juga tidak harus masuk ke dalam buku-buku sejarah.


360

AL-MAKTÛBÂT

Sekarang perhatikan lima poin dari sekian banyak poin penting yang dengan izin Allah dapat menghapus awan ilusi yang menutupi wajah mukjizat yang terang ini:

Poin Pertama Sikap keras kepala kaum kafi r ketika itu sangat dikenal da“bulan lam sejarah. Ketika al-Qur’an menyatakan telah terbelah,” dan gemanya terdengar sampai cakrawala, tak ada satupun dari kaum kafi r yang mengingkari ayat tersebut, yakni mengingkari kejadian itu. Sebab, andaikan kejadian tersebut tidak terjadi pada saat itu dan tidak ada menurut mereka, tentu mereka tergerak dengan hebat untuk mendustakan pengakuan kenabian dan mengingkari Rasul r. Namun, tidak ada satupun buku sejarah yang menukil perkataan kaum kafi r seputar pengingkaran mereka terhadap peristiwa terbelahnya bulan. Yang ada hanyalah penjelasan ayat al-Qur’an “Mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang berkelanjutan.” Maksudnya, orang-orang kafi r yang menyaksikan mukjizat itu berkata, “Ini adalah sihir. Maka, utuslah orang ke sejumlah penjuru untuk menyaksikan apakah mereka melihat atau tidak?!” Keesokan harinya, sejumlah rombongan dari Yaman dan lainnya datang. Ketika ditanya, mereka menjawab bahwa mereka telah melihat hal yang sama. Maka, orang-orang kafi r itupun berkomentar, “Sihir anak yatim yang diasuh Abu alib telah sampai ke langit.”444 Poin Kedua Sebagian besar imam ilmu kalam seperti Sa’ad at-Taazânî berkata, “Terbelahnya bulan merupakan riwayat yang mutawatir sama seperti memancarnya air dari jari-jemari beliau di mana pasukan bisa meminum darinya. Juga seperti rintihan batang pohon lantaran berpisah dengan beliau di mana sebelumnya ia menjadi sandaran beliau saat berkhutbah dan hal itu didengar oleh jamaah masjid. Dengan kata lain, peristiwa tersebut dinukil oleh banyak orang dari banyak orang sehingga mustahil mereka 444 Lihat: at-ayâlisi, al-Musnad 1/38; Abu Nu`aim, Dalâ’il an-Nubuwwah 281; al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwah 2/266, 267. Lihat pula at-Tirmidzi, tafsir surah al-Qamar 5; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/81.


Surat Kesembilan Belas

361

sepakat untuk berdusta. Peristiwa tersebut benar-benar mutawatir sama seperti kemunculan komet Haley seribu tahun yang lalu atau keberadaan pulau Sailan (sekarang: Sri Lanka) yang belum pernah kita lihat.� Demikianlah memunculkan keraguan di seputar persoalan yang sangat pasti dan bisa disaksikan secara langsung ini merupakan bentuk kebodohan dan kedunguan. Cukuplah ia sebagai sesuatu yang mungkin, bukan mustahil. Apalagi terbelahnya bulan sangat mungkin terjadi sama seperti letusan gunung berapi (gempa vulkanik).

Poin Ketiga Mukjizat (terbelahnya bulan) datang untuk membuktikan kenabian dan meyakinkan para pengingkar; bukan untuk memaksa mereka beriman. Karena itu, ia ditampakkan kepada orang-orang yang mendengar dakwah nabi agar mereka mau menerima benarnya kenabian. Adapun memperlihatkannya pada semua tempat atau menampakkan secara jelas di mana manusia terpaksa menerima dan tunduk. Hal ini tentu saja bertentangan dengan hikmah Allah Yang Mahabijak dan Mahaagung. Juga bertentangan dengan rahasia taklif. Pasalnya, rahasia taklif menuntut terbukanya peluang bagi akal untuk bebas memilih. Andaikan Tuhan Pencipta Yang Maha Pemurah membiarkan terbelahnya bulan itu berlangsung selama dua jam, lalu menampakkannya ke seluruh alam sehingga masuk ke dalam buku-buku sejarah seperti yang diinginkan oleh para fi lsuf, maka orang-orang kafi r hanya akan menganggapnya sebagai fenomena astronomi yang biasa. Ia tidak lagi menjadi bukti atas benarnya kenabian serta tidak menjadi mukjizat Rasul r. Atau, ia bisa menjadi mukjizat aksiomatis yang memaksa akal untuk beriman kepada kenabian tanpa bisa memilih. Kalau hal itu terjadi, maka jiwa yang hina laksana arang seperti Abu Jahal akan sama dengan jiwa yang mulia laksana intan seperti Abu Bakar ash-Shiddiq d. Dengan kata lain, taklif ilahi akan sia-sia. Karena itu, mukjizat itu terjadi seketika, di waktu malam, di saat kelalaian begitu pekat, sementara perbedaan kenampakan


362

AL-MAKTÛBÂT

bulan, mendung dan sejenisnya menjadi hijab yang membuat tidak seluruh manusia bisa melihatnya. Karenanya, ia tidak tercatat dalam buku-buku sejarah. Poin Keempat Karena mukjizat ini yang terjadi di waktu malam, dalam sekejap, dan secara tiba-tiba, tentu saja tidak terlihat oleh seluruh manusia di semua tempat. Bahkan, meski ia terlihat oleh sebagian orang, ia tetap tidak mempercayai matanya. Meski membenarkannya, peristiwa seperti ini yang diriwayatkan oleh satu orang tentu tidak memiliki nilai bagi sejarah. Adapun tambahan yang diselipkan ke dalam riwayat bahwa “setelah bulan terbelah, ia jatuh ke bumi”, para ulama yang telah melakukan penelitian menolaknya. Menurut mereka, tambahan ini mungkin diselipkan oleh sebagian kaum munafi k untuk menjatuhkan nilai riwayat tersebut. Kemudian, pada waktu itu kabut kebodohan menutupi langit Inggris, sore hari di Spanyol, siang hari di Amerika, pagi hari di Cina dan Jepang, lalu di negara–negara lain terdapat penghalang lain untuk bisa melihatnya. Karena itu, mukjizat besar ini tidak terlihat padanya. Jika hal ini dipahami, renungkanlah ucapan orang yang berkata, “Sejarah Inggris, Cina, Jepang, Amerika, dan negara-negara lainnya tidak menyebutkan tentang peristiwa ini. Dengan demikian, ia tidak terjadi.” Sungguh sangat celaka mereka yang makan sisa-sisa orang Eropa!

Poin Kelima Terbelahnya bulan bukan merupakan sebuah peristiwa yang terjadi dengan sendirinya lantaran sebab-sebab alami dan secara kebetulan. Akan tetapi, ia dihadirkan oleh Pencipta mentari dan bulan Yang Mahabijak sebagai peristiwa yang menyalahi hukum alam guna membenarkan kerasulan Nabi r serta guna mendeklarasikan kebenaran dakwahnya. Maka dari itu, Allah menampakkan peristiwa tersebut sesuai dengan hikmah-Nya ser-


Surat Kesembilan Belas

363

ta merupakan tuntutan dari rahasia pemberian petunjuk, taklif, dan hikmah penyampaian risalah. Juga, Dia menampakkannya sebagai bukti bagi mereka yang menyaksikannya. Sementara itu, sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya, Dia sengaja menyembunyikannya dari penduduk negeri lainnya yang belum menerima dakwah Nabi serta menghijabnya dari mereka entah dengan awan, mendung, perbedaan kenampakan bulan, terbitnya mentari di sejumlah negeri, teriknya siang di negeri lain, terbenamnya mentari dan berbagai sebab lain yang membuat peristiwa tersebut tidak terlihat. Andaikan mukjizat ini diperlihatkan kepada semua manusia di dunia, maka akan ada dua kemungkinan: (1) Bisa jadi isyarat Rasul r dan penampakan mukjizat kenabiannya demikian jelas bagi mereka yang dalam kondisi demikian, ia sampai pada tingkat aksioma. Yakni, semua orang terpaksa membenarkan sehingga tidak ada pilihan lagi. Jika demikian, rahasia taklif akan percuma padahal iman menjaga kebebasan akal untuk memilih. (2) Atau bisa pula peristiwa tersebut tampak bagi mereka sebagai sebuah fenomena astronomi semata. Akhirnya, ia tidak ada kaitannya dengan kerasulan Muhammad dan tidak lagi memiliki keistimewaan. Ringkasnya, peristiwa terbelahnya bulan tidak diragukan adanya dan telah dibuktikan secara pasti. Di sini kami akan menunjukkan kejadiannya lewat enam dalil yang valid 445 di antara banyak dalil yang ada. Di antaranya, (1) kesepakatan para sahabat yang merupakan orang-orang yang dapat dipercaya; (2) kesepakatan para ulama tafsir saat menafsirkan, “bulan telah berbelah”; (3) riwayat semua ahli hadis yang jujur yang menyebutkan kejadiannya lewat beragam sanad dan banyak jalur; 446 (4) ke445 Yakni terdapat enam argumen yang kuat tentang “terbelahnya bulan” dalam enam jenis ijmak. Hanya saja, sayang sekali di sini ia hanya bisa disebutkan secara ringkas―Penulis. 446 Kita sebutkan misalnya tiga hadis yang disepakati kesahihannya. (1) Dari Abdullah ibn Mas’ud d yang berkata, “Bulan terbelah pada masa Rasulullah r menjadi dua. Lalu Nabi r bersabda, ‘Saksikanlah!’ (HR. Bukhari dan Muslim). (2) Anas d meriwayatkan bahwa penduduk Mekkah meminta kepada Rasulullah r untuk memperlihatkan satu bukti kekuasaan Allah. Maka, beliau memperlihatkan terbelahnya bulan kepada mereka (HR. Bukhari dan Muslim). (3) Ibnu Abbas d meriwayatkan bahwa bulan terbelah pada masa Rasulullah r (HR. Bukhari dan


364

AL-MAKTÛBÂT

saksian semua wali dan orang-orang yang jujur yang mendapat kasyaf dan ilham; (5) pembenaran ulama ilmu kalam meski aliran dan pendekatan mereka berbeda-beda; serta (6) penerimaan umat yang tidak mungkin sepakat atas kesesatan sebagaimana disebutkan dalam hadist Nabi r.447 Semua itu secara pasti membuktikan peristiwa terbelahnya bulan seterang mentari.

Kesimpulan Pembahasan sampai di sini atas nama telaah ilmiah guna membungkam para pengingkar. Setelah ini, pembicaraan atas nama hakikat dan iman. Demikianlah apa yang telah disebutkan oleh telaah ilmiah, sementara hakikat yang ada berbunyi: Penutup rangkaian kenabian yang merupakan bulan yang menerangi langit kerasulan. Wilayah ubudiyahnya naik hingga mencapai kedudukan mahbûbiyyah (kekasih Ilahi). Ia memperlihatkan karamah yang agung dan mukjizat yang besar lewat mi’raj. Yakni dengan perjalanan fi sik di cakrawala langit yang tinggi serta pengenalan penduduk langit dengannya. Dengan mukjizat tersebut, beliau menetapkan kewaliannya kepada Allah, posisinya sebagai kekasih Allah, serta keunggulannya atas penduduk langit. Demikian pula Allah telah membelah bulan yang bergantung di langit dan terpaut dengan bumi lewat isyarat seorang hamba-Nya yang berada di bumi. Dia memperlihatkan mukjizat ini sebagai penguat kerasulan sang kekasih. Sehingga beliau menjadi seperti dua orbit yang terang dari bulan. Beliau naik menuju puncak kesempurnaan dengan sayap kewalian dan kerasulan yang bersinar. Akhirnya beliau sampai ke jarak seukuran dua ujung busur atau lebih dekat lagi. Beliau pun menjadi kebanggaan penduduk langit di samping kebanggaan penduduk bumi. Muslim). Lihat Musnad al-Imam Ahmad 1/377, 413, 447, 456, 3/207, 220, 275, 4/81. Juga ath-ayâlisi meriwayatkan dengan nomor 295, 1891, 1960. Serta lihat tafsir Ibnu Katsir 6/469) untuk mengetahui kemutawatiran peristiwa tersebut. 447 Lihat: at-Tirmidzi, bab al-Fitan 7; Abu Daud, bab al-Fitan 1; Ibnu Majah, bab al-Fitan 8; ad-Dârimi, al-Muqaddimah 8; Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 5/145 dan 6/396.


Surat Kesembilan Belas

365

Semoga salawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, dan sahabatnya sepenuh bumi dan langit!

Ya Allah, dengan kebenaran sosok yang lewat isyaratnya bulan terbelah, jadikan qalbuku dan qalbu murid-murid Risalah Nur yang setia laksana bulan dalam memantulkan cahaya mentari al-Qur’an. Amin! Amin!

‫٭٭٭‬ Mengapa Mi’raj Dikhususkan kepada Muhammad r? (Kutipan dari Lampiran Risalah Mukjizat Muhammad) [Bahasan ini masih terkait dengan kajian tentang dalil-dalil kenabian Muhammad r. Ia ditulis sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan yang terdapat dalam permasalahan pertama dari tiga permasalahan penting yang termuat di akhir landasan ketiga dari Risalah Mi’raj. Ia laksana indeks singkat]. Pertanyaan: Mengapa mi’raj yang demikian agung tersebut dikhususkan kepada Muhammad r? Jawaban: Permasalahan pertamamu ini telah dibahas secara panjang lebar pada ketiga puluh tiga kalimat dalam buku alKalimât. Di sini kami hanya akan menerangkannya secara singkat dalam bentuk daar ringkas dari kesempurnaan pribadi nabi r berikut dalil kenabiannya dan mengapa beliau yang paling layak untuk mendapatkan mi’raj yang agung tersebut.


366

AL-MAKTÛBÂT

Pertama: Sejumlah kitab suci, Taurat, Injil, dan Zabur berisi sejumlah kabar gembira yang memberitakan kenabian Rasul r serta sejumlah keterangan tentangnya meski semua kitab suci tersebut mengalami perubahan sepanjang perjalanannya. Seorang ulama peneliti, Husein al-Jisr, saat ini telah menemukan seratus empat belas kabar gembira darinya. Semua itu ia tuliskan dalam bukunya yang berjudul ar-Risâlah al-Hamîdiyyah. Kedua: Dalam sejarah dan dalam berbagai riwayat yang valid terdapat begitu banyak kabar gembira yang diberikan oleh sejumlah peramal terkenal seperti Syiq dan Satîh sebelum kedatangan Nabi r di mana mereka memberikan informasi bahwa beliau adalah nabi akhir zaman. Ketiga: Robohnya sejumlah berhala di Ka’bah pada malam kelahiran beliau serta retaknya istana terkenal milik Kisra berikut ratusan kejadian luar biasa yang disebut irhasat tertera dalam buku-buku sejarah. Keempat: Memancarnya air dari jari-jemari beliau serta bagaimana beliau bisa memberikan air kepada pasukan dengannya; rintihan batang pohon yang ada di masjid nabawi (ketika itu) di hadapan jamaah besar lantaran ditinggal Rasul r; terbelahnya , bulan sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an dan berbagai mukjizat sejenis yang dianggap valid oleh para ulama peneliti yang jumlahnya mencapai seribu di mana ia dibuktikan oleh sejumlah buku sirah dan sejarah. Kelima: Baik kawan maupun lawan telah sepakat—tanpa keraguan sedikitpun—bahwa berbagai akhlak mulia yang dimiliki beliau berada dalam tingkatan yang paling tinggi serta berbagai tabiat terpuji yang melekat padanya dalam berdakwah berada dalam tingkatan yang paling mulia. Hal itu ditunjukkan oleh sejumlah interaksi dan perilaku beliau dengan manusia. Syariat beliau yang mulia berisi berbagai perilaku baik yang sempurna yang dibuktikan oleh akhlak terpuji dalam agama Islam. Keenam: Dalam isyarat kedua dari “Kalimat Kesepuluh”, kami telah menjelaskan bahwa Rasul r adalah orang yang memperlihatkan tingkatan ubudiyah yang paling tinggi dan mulia le-


Surat Kesembilan Belas

367

wat pengabdian agung dalam agamanya sebagai respon terhadap kehendak Allah dalam penampakan uluhiyah-Nya sesuai tuntutan hikmah. Rasul r adalah sosok terbaik yang memperlihatkan keindahan dalam kesempurnaan yang mutlak milik Sang Pencipta alam, serta orang terbaik yang telah memenuhi kehendak Allah I dalam memperlihatkan keindahan tersebut lewat perantaraan seorang utusan, sebagaimana tuntutan hikmah dan hakikat. Beliau adalah sosok terbaik yang menunjukkan kesempurnaan kreasi dalam keindahan mutlak milik Sang Pencipta alam, serta penyeru dengan suara yang paling tinggi. Dengan demikian, beliau telah mengabulkan kehendak Allah dalam mengarahkan perhatian makhluk kepada kesempurnaan kreasi-Nya. Beliau adalah sosok paling sempurna yang menyuarakan seluruh tingkatan tauhid. Dengan demikian, beliau telah menuruti kehendak Tuhan semesta alam dalam mendeklarasikan keesaan-Nya kepada berbagai tingkatan makhluk. Beliau adalah cermin paling bening yang memantulkan keindahan dan kehalusan estetika Sang pemilik alam seperti ditunjukkan oleh tanda-tanda kekuasaan-Nya, serta sosok terbaik yang mencintai dan membuat dirinya dicintai oleh-Nya. Dengan demikian, beliau telah memenuhi kehendak Ilahi dalam melihat sekaligus memperlihatkan keindahan suci tersebut sesuai tuntutan hikmah dan hakikat. Beliau adalah sosok terbaik yang memperkenalkan dan memberitahukan khazanah gaib yang berisi mukjizat paling indah dan permata paling berharga milik Sang Pencipta alam. Dengan demikian, beliau telah mengabulkan kehendak Tuhan dalam memperlihatkan perbendaharaan gaib tersebut. Beliau adalah sosok paling sempurna yang membimbing jin dan manusia, bahkan ruhâniyyÎn (makhluk rohani) dan malaikat lewat al-Qur’an al-Karim, serta sosok paling agung yang menjelaskan makna kreasi Sang Pencipta semesta alam yang telah Dia hiasi dengan perhiasan yang paling indah sekaligus membuat para makhluknya yang memiliki kesadaran memperhatikan dan


368

AL-MAKTÛBÂT

mengambil pelajaran darinya. Dengan demikian, beliau telah menuruti kehendak Ilahi dalam menjelaskan makna kreasi-Nya kepada makhluk yang berakal. Beliau adalah sosok terbaik yang menyingkap maksud dan tujuan dari pergolakan alam lewat sejumlah hakikat al-Qur’an, serta sosok paling sempurna yang memecahkan tiga pertanyaan misterius yang terdapat di alam. Yaitu, siapa engkau? Dari mana engkau berasal? Dan hendak ke mana? Dengan demikian, beliau telah memenuhi kehendak Ilahi dalam menyingkap teka-teka misterius tersebut kepada makhluk yang memiliki kesadaran lewat seorang utusan. Beliau sosok paling sempurna dalam menjelaskan berbagai maksud ilahi lewat al-Qur’an serta sosok terbaik dalam menerangkan jalan menuju keridhaan Tuhan semesta alam. Dengan demikian, Beliau telah memenuhi kehendak Ilahi dalam memperkenalkan apa yang Dia inginkan dari makhluk yang berakal dan apa yang Dia ridhai atas mereka lewat seorang utusan, setelah memperkenalkan diri-Nya sendiri kepada mereka lewat semua ciptaan-Nya yang menakjubkan sekaligus menanamkan kecintaan kepadanya lewat sejumlah nikmat-Nya yang berharga. Beliau adalah sosok paling agung yang menyampaikan tugas kerasulan lewat al-Qur’an sekaligus menunaikannya dalam tingkatan paling tinggi dan dalam bentuk yang paling baik. Dengan demikian, beliau telah memenuhi kehendak Tuhan semesta alam dalam mengalihkan wajah manusia dari pluralitas makhluk kepada keesaan dan dari sesuatu yang fana menuju sesuatu yang abadi. Sosok manusia yang Allah ciptakan sebagai buah alam, lalu menganugerahkan padanya sejumlah potensi yang mampu menjangkau seluruh alam seraya menyiapkannya untuk melakukan pengabdian secara total serta mengujinya dengan berbagai perasaan yang mengarah kepada pluralitas makhluk dan kemegahan dunia. Karena entitas terbaik adalah makhluk hidup, sementara makhluk hidup yang paling mulia adalah yang memiliki perasaan (kesadaran), lalu makhluk berperasaan yang paling utama


Surat Kesembilan Belas

369

adalah manusia yang hakiki. Karena itu, sosok—di antara manusia yang paling mulia—yang menunaikan tugas tersebut lalu melaksanakannya dalam bentuk terbaik dan dalam tingkatan paling tinggi, tidak diragukan lagi akan mencapai jarak seukuran dua busur atau lebih dekat lagi melalui mi’raj. Ia akan mengetuk pintu kebahagiaan abadi dan akan membuka perbendaharaan rahmat yang demikian luas, serta akan melihat berbagai hakikat iman secara langsung. Siapa gerangan sosok tersebut kalau bukan Nabi Muhammad r?! Ketujuh: Orang yang merenungkan berbagai ciptaan yang tersebar di alam akan menyadari bahwa di dalamnya terdapat proses penghiasan dalam bentuk yang paling indah dan menakjubkan. Tentu saja, proses tersebut menunjukkan keberadaan kehendak untuk memperindah dan mempercantik pada diri Pencipta alam. Kehendak kuat tersebut secara jelas membuktikan adanya keinginan kuat dan mulia serta cinta yang suci pada diri Pencipta terhadap ciptaan-Nya. Karena itu, tentu saja makhluk yang paling dicinta oleh Pencipta Yang Maha Pemurah yang mencintai ciptaan-Nya adalah sosok yang merangkum sejumlah sifat di atas, sosok yang menampakkan pada dirinya berbagai kelembutan kreasi (pencipta) secara sempurna, sosok yang mengenal dan memperkenalkan kreasi tersebut, sosok yang membuat dirinya dicintai, serta sosok yang dengan penuh penghargaan mengapresiasi keindahan berbagai ciptaan lainnya. Siapakah yang membuat langit dan bumi mendendangkan kalimat subhânallâh, mâsyâ Allâh, Allâhu akbar, yang merupakan zikir penyucian, ketakjuban, dan pengagungan terkait dengan keistimewaan hiasan, tampilan keindahan, dan kesempurnaan kecerahan yang melekat pada makhluk? Siapa yang menghentak alam dengan lantunan al-Qur’an sehingga daratan dan lautan tertarik kepada-Nya dengan penuh kerinduan yang disertai penghargaan dan apresiasi saat melakukan perenungan, pengungkapan, zikir, dan tahlil? Siapakah gerangan sosok penuh berkah itu kalau bukan Muhammad r yang amanah?!


370

AL-MAKTÛBÂT

Nabi mulia semacam ini yang akan ditambahkan kepada timbangan kebaikannya pahala sebanyak kebaikan yang dilakukan oleh umatnya sesuai kaidah, “Perantara sama seperti pelaku”; sosok yang akan ditambahkan kepada kesempurnaan maknawinya limpahan salawat yang dicurahkan oleh seluruh umatnya; dan sosok yang diberi curahan rahmat dan cinta ilahi tak terhingga di samping buah dari tugas risalah yang berupa ganjaran maknawi yang agung. Ya, sudah pasti kepergian Nabi agung semacam ini menuju surga, Sidratul Muntaha, dan arasy yang paling agung hingga sejarak dua busur atau lebih dekat lagi melalui tangga miraj, merupakan kebenaran mutlak, sebuah hakikat, dan suatu hikmah.448

Tingkatan Keenam Belas dari Risalah “Al-Ayat al-Kubra” Yang membahas tentang Risalah Muhammad r [Karena kesesuaian konteks, tingkatan tersebut dimasukkan di sini] Sang pengembara di dunia itu berbicara kepada akalnya, “Selama aku mencari Pemilik dan Tuhan Penciptaku dengan cara menginterogasi seluruh entitas alam, maka yang pertama 448 Sebuah harian islam yang perhatian terhadap kondisi umat Islam menyebutkan bahwa sejumlah politikus terkenal dan ahli hukum yang peduli dengan kehidupan sosial mengadakan sebuah konferensi di Eropa pada tahun 1927 M. Dalam konferensi tersebut, sejumlah fi lsuf asing berbicara tentang syariat Islam. Di bawah ini kami ketengahkan ucapan mereka yang kami terjemahkan. Dari sana kita mendapatkan kesaksian jujur tentang kebenaran syariat Islam. Ada sebuah ungkapan “Keutamaan yang sesungguhnya adalah keutamaan yang diakui oleh pihak musuh”: Para ilmuwan Barat sekalipun telah mengakui ketinggian prinsip Islam dan kesesuaiannya dengan dunia. Dekan Fakultas Hukum di Universitas Wina, Prof. Syabwel dalam konferensi tentang Hukum yang diselenggarakan pada tahun 1927 M, menyatakan, “Umat manusia layak bangga dengan penisbatan sosok seperti Muhammad kepada mereka. Sebab, meski buta huruf, belasan abad yang lalu beliau telah mampu menghadirkan aturan hukum di mana kami, bangsa Barat, sangat bahagia andaikan mampu mencapainya dua ribu tahun kemudian.” Bernard Shaw juga berkata, “Agama Muhammad r adalah sesuatu yang layak mendapat penghargaan tertinggi dariku karena sangat hidup. Bagiku ia adalah agama satu-satunya yang layak untuk berbagai fase kehidupan di mana ia mampu menarik setiap generasi kepadanya. Menurutku, Muhammad r layak dianggap sebagai penyelamat umat manusia. Aku yakin bahwa orang sepertinya jika memegang kendali dunia modern akan sukses menyelesaikan banyak problem serta dapat memberikan kedamaian dan kebahagiaan kepada dunia. Itulah yang dibutuhkan oleh dunia saat ini.”


Surat Kesembilan Belas

371

kali harus kulakukan adalah mengunjungi sosok manusia paling sempurna, paling berpengaruh—bahkan lewat pengakuan para musuhnya—paling terkenal, paling jujur, paling tinggi derajatnya, dan paling bercahaya akalnya. Beliau tidak lain adalah Muhammad r yang, dengan sejumlah keutamaan dan al-Qur’annya, menjadi penerang selama empat belas abad. Guna bisa mengunjungi beliau dan meminta penjelasan tentang apa yang sedang kucari, kita harus pergi bersama-sama menuju generasi terbaik; era kebahagiaan; era kenabian.” Maka dengan akalnya, ia masuk ke era tersebut. Di dalamnya ia melihat betapa era tersebut benar-benar merupakan era kebahagiaan bagi umat manusia. Pasalnya, dalam waktu singkat lewat cahaya yang beliau bawa, beliau berhasil mengubah satu kaum yang sangat buta huruf dan primitif menjadi para guru dan pembesar dunia. Si pengembara itu juga berbicara kepada akalnya dengan berkata, “Sebelumnya kita harus lebih dulu mengetahui sekelumit tentang keagungan sosok yang menakjubkan itu, yaitu kebanaran ucapan dan informasinya. Kemudian kita meminta penjelasan darinya tentang Tuhan Pencipta kita.” Iapun segera melakukan kajian. Maka, ia menemukan sejumlah bukti kuat yang tak terhingga atas kenabiannya, namun dia meringkasnya menjadi sembilan bukti: Pertama: Sifat dan tabiat mulia yang beliau miliki yang diakui bahkan oleh para musuh; ratusan mukjizat beliau seperti terbelahnya bulan menjadi dua lewat isyarat telunjuk beliau sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qur’an, “Dan bulan pun terbelah,” (QS. al-Qamar [54]: 1); kekalahan pasukan musuh di mana mata mereka dimasuki debu yang beliau lemparkan dengan kepalan tangannya seperti yang disebutkan al-Qur’an, “Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, namun Allah yang melempar,” (QS. al-Anfâl [8]: 17); kesegaran yang dirasakan oleh para sahabat sehabis meminum air yang bersumber dari jari-jemari beliau laksana telaga al-Kautsar saat mereka kehausan; serta ratusan mukjizat lainnya yang sampai kepada kita lewat riwayat yang valid atau mutawatir.


372

AL-MAKTÛBÂT

Berbagai mukjizat tersebut terangkum dalam “Surat Kesembilan Belas” pada buku al-Maktûbât. Ia adalah risalah “Mukjizat Muhammad r” yang merupakan risalah luar biasa dan memiliki karamah. Ia memuat lebih dari 300 mukjizat disertai dengan dalil yang kuat dan sanad yang terpercaya. Kemudian ia berbicara kepada dirinya sendiri, “Sosok yang memiliki akhlak baik semacam itu, keutamaan hingga pada tingkatan tersebut; serta mukjizat yang demikian banyak, sudah pasti merupakan pemilik ucapan yang paling jujur. Karena itu, tidak mungkin dia mau merendahkan diri dengan menipu, berdusta, dan menyimpang yang merupakan kebiasaan orang-orang yang tidak bermoral.” Kedua: Al-Qur’an—yang ada di tangan beliau—yang merupakan mukjizat dilihat dari tujuh aspek. Firman itu bersumber dari Pemilik alam. Firman tersebut diterima dan dipercaya oleh lebih dari tiga ratus juta orang di setiap masa. Karena “Kalimat Kedua Puluh Lima” (risalah Mukjizat al-Qur’an) yang merupakan mentari Risalah Nur—dengan berbagai dalil yang kuat— telah menegaskan bahwa al-Qur’an al-Karim merupakan mukjizat ditinjau dari empat puluh aspek dan merupakan kalam Tuhan semesta alam, maka sang pengembara tersebut mengalihkannya kepada risalah yang terkenal itu karena memuat penjelasan tentang mukjizat al-Qur’an secara detil. Kemudian ia berkata, “Sosok penerima amanah kalam Allah sekaligus penafsir aplikatif darinya, penyampai berita agung tersebut kepada seluruh manusia, serta merupakan kebenaran dan hakikat, sama sekali tidak mungkin berdusta dan tidak mungkin diragukan. Ketiga: Beliau diutus dengan membawa syariat yang suci, agama fi trah (Islam), pengabdian yang tulus, doa yang khusyuk, dakwah yang komprehensif, serta iman yang kokoh; yang tidak ada dan tidak akan pernah ada padanannya. Tidak ada dan tidak akan pernah ada yang lebih sempurna darinya. Pasalnya, “syariat” yang besumber dari seorang buta huruf (Nabi r) di mana ia memimpin seperlima umat manusia yang beragam kondisinya sejak empat belas abad yang lalu lewat sebuah


Surat Kesembilan Belas

373

kepemimpinan yang hak dan adil melalui sejumlah hukumnya yang cermat dan banyak, tidak akan pernah ada bandingannya. “Islam” yang juga bersumber dari perbuatan, perkataan, dan keadaan sosok buta huruf tersebut di mana ia memimpin tiga ratus juta manusia sekaligus menjadi rujukan mereka pada setiap masa; menjadi penuntun akal dan pencerah hati mereka, serta pendidik nafsu dan pembangkit jiwa mereka. Tentu tidak ada dan tidak akan pernah ada yang bisa menyamainya. Demikian pula keunggulan beliau dalam seluruh jenis “ibadah” yang terdapat dalam agama yang dibawanya, ketakwaaannya yang luar biasa yang melebihi siapapun, rasa takutnya kepada Allah yang amat sangat, perjuangannya yang berkesinambungan, perhatiannya yang sangat besar terhadap sejumlah rahasia ubudiyah, bahkan dalam kondisi yang paling sulit, pengamalannya terhadap ubudiyah yang murni tersebut tanpa meniru siapapun dengan menghayati segenap maknanya dalam bentuk yang paling sempurna seraya menyatukan awal dan akhir. Tentu saja, tidak terlihat dan tidak akan pernah terlihat orang yang sama dengannya. Selanjutnya lewat “al-Jausyan al-Kabir” yang merupakan salah satu dari ribuan doa dan munajatnya. Beliau menyifati Tuhan dengan makrifat rabbani yang luhur yang tidak pernah dicapai oleh seluruh kalangan arif dan wali. Bahkan mereka tidak bisa mencapai satu derajatpun dari penyifatan tersebut sejak dulu seiring dengan kontinuitas pemikiran. Ini memperlihatkan bahwa tidak ada yang menyamainya dalam hal doa. Siapa yang membaca penjelasan singkat satu saja dari sembilan puluh sembilan alinea al-Jausyan al-Kabir, yaitu pada awal Risalah Munajat, ia pasti akan mengakui bahwa tidak ada yang menyamai doa menakjubkan tersebut. Doa itu mencerminkan puncak makrifat rabbani. Ketabahan, keteguhan, serta keberanian yang dia tunjukkan dalam menyampaikan risalahnya dan dalam menyeru umat manusia ke jalan yang benar. Meskipun berbagai negara dan sejumlah agama besar, bahkan kaum, suku, dan pamannya sendiri


374

AL-MAKTÛBÂT

memusuhinya, namun sedikit pun tidak pernah ragu, khawatir ataupun cemas. Dia menantang seluruh dunia seorang diri. Allah pun menolong dan memuliakannya sehingga Islam bisa tersebar ke seluruh dunia. Siapakah yang mampu menandingi (keberhasilan) Muhammad r dalam menyampaikan ajaran Allah? Kemudian keimanannya yang kokoh, keyakinannya yang teguh, penyingkapan fi trah yang luar biasa, dan akidahnya yang luhur memenuhi dunia dengan cahaya. Seluruh pemikiran, ideologi, ungkapan ahli hikmah, pengetahuan para rohaniawan yang terkenal di masa itu tidak bisa memberikan pengaruh kepadanya meski dengan sebuah syubhat, keraguan, kelemahan, dan bisikan. Ya, semua itu tidak bisa mempengaruhi keyakinan, akidah, dan kebergantungannya kepada Allah I. Belum lagi, inspirasi yang diberikan kepada para wali dan orang-orang saleh yang menapaki tangga spiritual dan tingkatan keimanan, terutama para sahabat. Serta bagaimana mereka terus mendapat limpahan karunia dari martabat keimanannya sekaligus melihatnya berada dalam tingkat dan kedudukan yang paling tinggi. Semua itu memperlihatkan secara jelas bahwa iman beliau tidak tertandingi. Dari sini sang pengembara memahami dan membenarkan akalnya bahwa sosok pemilik syariat lurus yang tiada tara ini, Islam yang tidak bisa diserupai, pengabdian tulus yang tidak tertandingi, doa yang indah dan menakjubkan, dakwah kepada alam secara komprehensif, serta keimanan yang luar biasa, tidak mungkin berdusta ataupun melakukan tipu daya sama sekali. Keempat: Kesepakatan para nabi mengenai berbagai hakikat keimanan merupakan dalil kuat yang menunjukkan keberadaan dan keesaan Allah I. Ia juga merupakan saksi jujur atas kebenaran Nabi r dan risalah beliau. Sebab, semua yang menunjukkan benarnya kenabian para nabi, seluruh karakter suci dan mukjizat yang menjadi orbit kenabian mereka, serta segala tugas yang mereka jalankan juga terdapat pada diri Nabi r bahkan dalam bentuk yang lebih sempurna sebagaimana ditegaskan oleh sejarah. Lewat lisan kalam—yakni Taurat, Injil, Zabur dan Suhuf yang diturunkan kepada mereka—para nabi tersebut telah menginformasikan dan memberikan kabar gembira tentang


Surat Kesembilan Belas

375

kedatangan sosok penuh berkah ini. (Bahkan lebih dari dua puluh petunjuk yang jelas di antara sekian banyak petunjuk kabar gembira yang terdapat dalam kitab suci mereka telah dijelaskan dan ditegaskan secara gamblang dalam risalah Mukjizat Muhammad r). Di samping memberikan kabar gembira tentang kedatangan beliau, mereka juga membenarkannya lewat kenabian dan mukjizat mereka. Mereka memberikan dukungan atas kebenaran dakwah beliau. Pasalnya, beliau adalah sosok paling sempurna dalam mengemban tugas kenabian dan dakwah ke jalan Allah. Maka, sang pengembara itupun memahami bahwa sebagaimana para nabi tersebut menunjukkan keesaan Allah dengan ijma’ dan ucapan, mereka juga bersaksi lewat lisanul hal atas kebenaran Nabi r. Kelima: Sampainya ribuan wali kepada kebenaran dan hakikat, kesempurnaan dan karamah yang mereka dapatkan, serta kasyaf dan penyaksian yang mereka peroleh, semua itu tidak lain adalah berkat sikap mengikuti petunjuk, jejak dan tarbiyah Nabi r. Di samping menunjukkan keesaan Allah, mereka juga bersaksi atas kebenaran Nabi r—guru dan pemimpin mereka— serta atas kebenaran risalahnya. Dari sini pengembara itu melihat bahwa penyaksian mereka atas sebagian informasi yang disampaikan Nabi r dari alam gaib lewat cahaya kewalian serta keyakinan dan pembenaran mereka terhadap semua yang beliau sampaikan melalui cahaya iman—entah dengan ilmul yaqin, ainul yaqin, ataupun haqqul yaqin—hal itu memperlihatkan secara jelas sejelas mentari betapa sang pemimpin besar mereka tersebut sangat benar. Keenam: Jutaan ulama peneliti, suci, dan jujur, serta para tokoh ahli hikmah yang telah mencapai tingkatan tertinggi berkat belajar dan menelaah sejumlah hakikat suci yang dibawa oleh Nabi r—yang buta huruf—berbagai pengetahuan luhur yang bersumber darinya, dan makrifat ilahi yang tersingkap darinya, mereka semua di samping menetapkan dan membenarkan keesaan Allah yang menjadi dasar dakwah Nabi rlewat sejumlah bukti yang kuat, mereka juga sama-sama bersaksi atas kejujuran


376

AL-MAKTÛBÂT

sang guru besar mereka serta atas kebenaran ucapannya. Kesaksian mereka itu merupakan argumen yang jelas sejelas siang yang menunjukkan kejujuran dan kebenaran risalah beliau. Risalah Nur berikut sejumlah bagiannya yang lebih dari seratus misalnya hanyalah satu petunjuk yang menegaskan kebenaran Nabi r ini. Ketujuh: Hasil penyelidikan dan pengamatan sekelompok orang yang disebut sebagai ahlul bait dan sahabat—di mana mereka merupakan umat manusia yang memiliki fi rasat paling halus dan pengetahuan paling banyak setelah nabi, yang memiliki kesempurnaan paling tinggi, kedudukan paling mulia, sifat-sifat paling luhur, komitmen terhadap agama yang paling kuat, dan pandangan yang paling tajam—terhadap seluruh kondisi Nabi r yang tersembunyi dan yang tampak, pemikiran dan tindakannya dengan penuh antusias, cermat, dan sungguh-sungguh, begitu pula pembenaran mereka semua bahwa beliau adalah penduduk dunia yang ucapannya paling jujur, yang kedudukannya paling mulia, dan komitmennya terhadap kebenaran paling kuat. Semua itu menjadi bukti yang jelas (atas kebenaraan beliau berikut risalahnya) laksana siang yang menunjukkan keberadaan cahaya mentari. Kedelapan: Sebagaimana alam menunjukkan keberadaan Pencipta, Penulis, dan Pelukis yang menghadirkan, menata, mengatur, dan mengendalikannya di mana ia seolah-olah sebuah istana yang megah, atau sebuah buku yang besar, atau sebuah galeri yang menakjubkan. Ia juga menuntut keberadaan sosok yang menjelaskan sejumlah makna yang terdapat dalam kitab besar itu, yang mengetahui sekaligus memberitahukan berbagai tujuan ilahi di balik penciptaan alam ini, yang menerangkan sejumlah hikmah rabbani dalam berbagai perubahan dan transformasinya, yang mengajarkan hasil-hasil gerak fungsionalnya, serta memperlihatkan nilai esensi dan kesempurnaan entitas yang terdapat di dalamnya. Dengan kata lain, ia menuntut keberadaan sosok da`i agung, penyeru yang jujur, ustadz yang teliti, dan guru yang andal. Dari sini pengembara tersebut memahami bahwa alam—dilihat dari tuntutan di atas—menjadi petunjuk dan saksi atas kebenaran Nabi r yang merupakan sosok terbaik dalam


Surat Kesembilan Belas

377

menunaikan tugas-tugas di atas. Alam juga menjadi saksi atas keberadaannya sebagai utusan Tuhan Pencipta alam yang paling mulia dan paling benar. Kesembilan: Di balik tirai terdapat Dzat yang memperlihatkan kesempurnaan-Nya sebagai Pencipta yang cermat lewat berbagai ciptaannya yang rapi dan penuh hikmah; Dzat yang memperkenalkan diri dan membuat yang lain mencintai-Nya lewat makhluk-Nya yang tak terhingga dan indah; Dzat yang mengharuskan rasa syukur dan pujian terhadap-Nya lewat berbagai nikmat-Nya yang tak terhitung dan sangat bernilai; Dzat yang menjadikan makhluk rindu untuk beribadah pada rububiyah-Nya lewat ubudiyah yang berhias cinta, ketenangan dan rasa syukur atas tarbiyah dan pemberian kehidupan yang komprehensif yang disertai kasih sayang dan perlindungan—bahkan Dia menyiapkan sejumlah makanan dan jamuan rabbani yang bisa memuaskan daya rasa yang paling halus dan semua jenis selera—; Dzat yang mengantar makhluk untuk beriman, tunduk, patuh, dan taat kepada uluhiyah-Nya yang Dia perlihatkan lewat pergantian musim, perputaran siang dan malam, serta sejumlah tindakan lainnya yang agung, perbuatan-Nya yang menakjubkan, serta penciptaan yang penuh hikmah; dan Dzat yang memperlihatkan keadilan-Nya lewat perlindungan-Nya terhadap kebajikan dan orang-orang baik, penghapusan-Nya terhadap keburukan dan orang-orang jahat, serta kebinasaan yang ditimpakan olehNya terhadap kaum zalim dan pendusta lewat sejumlah musibah dan bencana. Selama kondisinya demikian, maka tidak aneh kalau makhluk yang paling dicintai oleh Dzat yang tersembunyi di balik tirai gaib itu serta hamba yang paling jujur bagi-Nya adalah sosok yang mengamalkan berbagai tujuan di atas dengan tulus; yang menyingkap rahasia teragung dari penciptaan alam dan memecahkan teka-tekinya; yang selalu bekerja atas nama Penciptanya serta meminta kekuatan dan pertolongan dari-Nya semata dalam segala hal sehingga memperoleh bantuan dan taufi k-Nya. Siapa gerangan sosok tersebut selain Muhammad al-Qurasyi r?


378

AL-MAKTÛBÂT

Kemudian sang pengembara itu berbicara kepada akalnya, “Ketika sembilan hakikat di atas menjadi saksi dan petunjuk yang menegaskan kebenaran Nabi r, tidak heran jika beliau menjadi poros kemuliaan umat manusia dan pusat kebanggaan alam, serta layak disebut sebagai kebanggaan manusia dan alam semesta. Kalam ar-Rahmân yang berada di tangan-Nya, yaitu al-Qur’an yang keagungan kekuasaan maknawinya menguasai setengah bumi berikut kesempurnaan pribadi dan karakternya yang mulia memperlihatkan bahwa manusia paling agung di alam ini adalah Nabi r. Jadi, keterangan yang paling tepat dan akurat tentang Sang Pencipta kita adalah keterangan beliau r. Karena itu, wahai akal mari perhatikan! Landasan seluruh pernyataan Nabi r dan tujuan keseluruhan hidup beliau adalah menjadi saksi atas eksistensi Sang Wajibul Wujud dan menjadi petunjuk atas keesaan-Nya, serta untuk menjelaskan sifat-sifat-Nya yang agung dan untuk memperlihatkan (manifestasi) nama-nama-Nya yang mulia, sekaligus memberikan ketetapan atas semua itu dengan bersandar pada ribuan hakikat yang kokoh yang terdapat dalam agamanya serta pada kekuatan ratusan mukjizat yang jelas dan cemerlang yang Allah tampakkan lewat beliau. Dengan kata lain, mentari maknawi yang menerangi alam ini serta bukti cemerlang yang menunjukkan keberadaan dan keesaan Pencipta kita adalah Nabi r yang dijuluki Habîbullah (kekasih Allah). Terdapat tiga jenis kesepakatan agung—yang tidak menipu ataupun tertipu—yang menguatkan dan membenarkan kesaksiannya. Pertama, kesepakatan kalangan bersinar yang dikenal di dunia ini dengan nama “keluarga Muhammad r”. Mereka adalah kalangan yang dipimpin Imam Ali d yang berkata, “Meski tirai gaib tersingkap untukku, ia tidak akan menambah keyakinanku”, disusul oleh ribuan wali agung yang memiliki bashirah yang tajam dan penglihatan yang tembus ke alam gaib, semisal Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang dengan bashirahnya yang tajam pernah melihat arasy yang agung dan Israfi l, padahal ia tetap berada di bumi.


Surat Kesembilan Belas

379

Kedua, kesepakatan kalangan yang dikenal dengan nama “sahabat yang mulia� yang masyhur di dunia berikut pembenaran dan keimanan mereka yang kokoh terhadap Nabi r sehingga hal itu mengantar mereka untuk siap mengorbankan jiwa dan harta, serta rela meninggalkan keluarga dan kabilah. Mereka sebelumnya kaum badui yang buta huruf dan jauh dari kehidupan sosial dan pemikiran politik. Mereka hidup dalam kegelapan masa fatrah (transisi); tidak memiliki petunjuk ataupun kitab yang bisa mencerahkan mereka. Namun dalam waktu yang relatif singkat, mereka menjadi para guru, mursyid, ahli politik, dan hakim yang adil bagi bangsa yang lebih maju dari segi peradaban, ilmu pengetahuan, sosial dan politik. Mereka mampu menguasai dunia; Timur dan Barat, serta berhasil mengibarkan panji keadalian di seluruh penjuru; Laut dan Darat. Ketiga, pembenaran kalangan ulama agung yang jumlahnya tak terhingga, yang pengetahuan mereka sangat mendalam dan luas, yang tumbuh di tengah umat dan menempuh beragam jalan. Pada setiap masa terdapat ribuan dari mereka yang unggul dalam segala bidang ilmu. Pembenaran mereka semua terhadap beliau sampai pada derajat ilmul yaqin merupakan ijma’ dan kesepakatan yang luar biasa. Dari sini sang pengembara itu menetapkan bahwa kesaksian Nabi r terhadap keesaan Allah bukan kesaksian yang bersifat pribadi dan parsial. Akan tetapi, ia adalah kesaksian yang bersifat umum dan universal. Ia sangat kokoh dimana sama sekali tidak bisa dilawan oleh seluruh setan sekalipun, meski mereka semua bersatu menyerangnya. Berikut ini adalah petunjuk singkat terkait dengan apa yang diterima oleh sang pengembara tersebut yang merenungkan berbagai sisi kehidupan di era kebahagiaan di atas dari madrasah bercahaya dalam tingkatan keenam belas dari bagian pertama:


380

AL-MAKTÛBÂT

“Tiada Tuhan selain Allah, yang eksistensi-Nya bersifat mutlak, Mahaesa dan Tunggal; yang kemutlakan eksistensi-Nya dalam keesaan-Nya ditunjukkan oleh sang kebanggaan alam dan kemuliaan umat manusia lewat keagungan kekuasaan Qur’annya, keluasaan agamanya, pluralitas kesempurnaannya, ketinggian akhlaknya, bahkan hal itu diakui oleh musuhnya. Ia juga menjadi saksi dan petunjuk lewat sejumlah mukjizatnya yang cemerlang dan terpercaya, serta lewat kekuatan ribuan hakikat agamanya yang bersinar dan kokoh yang dibuktikan oleh ijma’ keluarganya yang memiliki cahaya, kesepakatan para sahabat yang memiliki bashirah, serta dukungan para ulama di kalangan umatnya yang memiliki argumen yang cemerlang.”

‫٭٭٭‬


SURAT KEDUA PULUH

(Tiada Tuhan selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Dia pemilik seluruh kerajaaan dan pujian. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia Mahahidup; tidak mati. Di tangan-Nya tergenggam segala kebaikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu dan kepada-Nya semua kembali)449 (Kalimat di atas yang berisi rangkuman tauhid menjelaskan sebelas frasa. Membacanya selepas shalat subuh dan magrib mendatangkan banyak keutamaan. Sampai-sampai dalam sebuah riwayat sahih disebutkan bahwa ia membawa tingkatan ismul a’zham.450 Jadi, tidak aneh kalau setiap frasa darinya membersitkan harapan dan kabar gembira serta membawa salah satu tingkatan tauhid rububiyah yang agung. Dari sisi ismul a’zham ia menjelaskan keesaan dan kesempurnaan tauhid. 449 HR. Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 4/227; Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf 6/27 dan 7/171; al-Bazzâr, al-Musnad 3/260; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabir 20/65. 450 Lihat at-Tirmidzi, bab ad-Da’awât 63; Abu daud dalam al-Witr 23; an-Nasai dalam as-Sahw 58; Ibnu Majah dalam ad-Du’a 9, Ahmad ibn Hambal, al-Musnad 1/230 dan 3/120.


382

AL-MAKTÛBÂT

Karena hakikat yang luas dan mulia ini telah dijelaskan secara terang benderang dalam seluruh al-Kalimât, pembaca bisa merujuk kepadanya. Di sini kami hanya akan mengemukakan daar isi darinya seperti yang telah dijanjikan sebelumnya dalam bentuk yang ringkas dan sangat global terdiri dari dua kedudukan dan sebuah pendahuluan).

Pendahuluan Ketahuilah dengan yakin bahwa tujuan penciptaan yang paling utama dan buah fi trah yang paling agung adalah “Iman kepada Allah”. Ketahuilah bahwa tingkatan kemanusian yang paling tinggi dan derajat basyariyah yang paling baik adalah “Mengenal Allah” (makrifatullah) yang terkandung dalam keimanan di atas. Ketahui pula bahwa kebahagiaan dan nikmat terindah bagi jin dan manusia adalah “Cinta kepada Allah” yang lahir dari makrifat tadi. Serta ketahuilah bahwa kegembiraan jiwa yang paling bening dan suka cita kalbu yang paling murni adalah “Kenikmatan Spiritual” yang tepercik dari cinta tadi. Ya, seluruh jenis kebahagiaan sejati, kegembiraan murni, dan kenikmatan tiada tara hanya terdapat dalam ‘makrifatullah’ dan ‘cinta kepada Allah’. Tidak ada kebahagiaan, kegembiraan, dan kenikmatan yang sebenarnya tanpa makrifatullah. Setiap orang yang benar-benar mengenal Allah lalu mengisi kalbunya dengan cahaya cinta pada-Nya, pasti ia layak mendapatkan kebahagiaan yang tak pernah berakhir, kenikmatan yang tak pernah habis, serta cahaya dan rahasia yang tak pernah pudar. Ia akan meraihnya secara nyata, atau dalam bentuk potensi. Sementara, orang yang tidak mengenal Penciptanya dengan benar dan tidak memiliki perasaan cinta yang layak, akan sengsara secara materiil dan moril. Ia juga senantiasa mengalami penderitaan dan kesulitan yang tak terhingga. Ya, orang malang tersebut yang menderita akibat tidak menemukan Tuhan dan Pelindungnya serta gelisah lantaran hidupnya yang hina dan tak bermakna, sementara ia dalam kondisi lemah di tengah-tengah manusia yang tidak bahagia, apa yang


Surat Kedua Puluh

383

bisa membantunya dalam menghadapi kondisi yang ia hadapi, meskipun ia penguasa seluruh dunia? Betapa malangnya orang tersebut yang terombang-ambing dalam kehidupan yang fana dan berada di antara kumpulan manusia liar jika tidak menemukan Tuhan yang Mahabenar, serta tidak mengenal Pemilik dan Rabb-nya dengan benar. Namun kalau ia menemukan Tuhannya dan mengenal Pemiliknya, tentu ia menuju kepada dekapan rahmat-Nya yang luas dan bersandar pada keagungan qudrah-Nya yang mutlak, maka dunia yang buas ini akan berubah baginya menjadi taman yang menyenangkan dan pasar bisnis yang menguntungkan.

KEDUDUKAN PERTAMA Setiap Frasa dari kalimat tauhid yang menakjubkan tersebut memberikan kabar gembira dan mengembuskan harapan hangat. Pada setiap kabar gembira terdapat obat dan balsam penyembuh. Serta pada setiap balsam terdapat kenikmatan dan kesenangan maknawi. Frasa Pertama: Frasa ini memberikan kabar gembira dan harapan sebagai berikut: Jiwa manusia yang mendambakan kebutuhan tak terhingga dan pada waktu bersamaan menjadi sasaran dari musuh yang tak terbilang, jiwa yang diuji dengan kebutuhan tak terhingga dan musuh tak terbilang itu, menemukan sumber bantuan dari frasa yang agung di atas di mana ia membukakan untuknya sejumlah pintu khazanah rahmat yang luas yang mengalirkan sesuatu yang dapat memenuhi dan menjamin segala kebutuhan. Di dalamnya ia juga menemukan sandaran yang kokoh yang bisa menangkal semua kejahatan dan menyingkirkan mara bahaya. Yaitu dengan memperlihatkan kekuatan Tuhannya Yang Mahabenar kepada manusia, membimbing kepada Pemiliknya Yang Mahakuasa, serta menunjukkan kepada Pencipta dan Dzat yang disembahnya. Lewat pandangan yang lurus tersebut dan pengenalan terhadap Allah Yang Mahaesa, frasa di atas menyelamatkan kalbu manusia


384

AL-MAKTÛBÂT

dari gelap sunyi dan ilusi serta menolong jiwanya dari pedihnya kesedihan. Bahkan ia mendatangkan kegembiraan abadi. Frasa Kedua: Frasa ini memberikan harapan dan kabar gembira sebagai berikut: Jiwa dan kalbu manusia yang tertekan, bahkan tenggelam hingga sulit bernafas karena terikat kuat dengan sebagian besar entitas, pada frasa di atas menemukan jalan keluar yang aman yang bisa menyelamatkannya dari sejumlah kebinasaan. Dengan kata lain, frasa menegaskan bahwa: Allah Mahaesa. Karena itu, jangan kau penatkan dirimu wahai manusia dengan terus-menerus merujuk kepada makhluk. Jangan merendah kepada mereka sehingga tertawan oleh jasa dan perilaku buruk mereka. Jangan kau tundukkan kepala di hadapan mereka dan mencari muka pada mereka. Jangan membebani dirimu sehingga engkau bergantung pada mereka. Serta jangan takut kepada mereka. Pasalnya, Penguasa alam adalah satu. Di tangan-Nya tergenggam kunci segala sesuatu. Di tangan-Nya terdapat kendali atas segala sesuatu. Seluruh ikatan bisa lepas dengan perintah-Nya. Semua kesulitan bisa lenyap dengan izin-Nya. Jika engkau “menemukan-Nya�, maka engkau berkuasa atas segala sesuatu, bisa meraih apa yang kau inginkan, selamat dari segala beban jasa, serta bebas dari tawanan ketakutan. Frasa Ketiga: Yakni, sebagaimana tidak ada sekutu dalam uluhiyah-Nya karena Allah Mahaesa. Rububiyah, tindakan, dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu juga bersih dari sekutu. Berbeda dengan para penguasa di muka bumi. Bisa jadi ada penguasa yang tunggal dalam kekuasaannya. Hanya saja, tidak satu dan sendirian dalam bertindak. Sebab, para pegawai dan pembantunya terhitung sebagai sekutu baginya dalam menjalankan berbagai urusan. Bahkan, mereka bisa menjadi hijab antara rakyat dan penguasa. Rakyat bisa merujuk kepada mereka terlebih dulu. Namun, Allah I sebagai Penguasa azali dan abadi Mahaesa; tidak ada sekutu


Surat Kedua Puluh

385

dalam kekuasaan-Nya. Dia sama sekali tidak membutuhkan keberadaan sekutu dan pembantu dalam prosedur rububiyah-Nya. Sebab, sesuatu tidak berpengaruh apa-apa tanpa izin dan kekuatan dari-Nya. Semua bisa langsung merujuk kepada-Nya tanpa perlu perantara karena tidak ada sekutu dan pembantu bagi-Nya. Karenanya, tidak ada ungkapan, “Engkau tidak boleh masuk ke hadapan ilahi.� Begitulah, frasa di atas mengandung harapan dan kabar gembira yang mencerahkan. Seolah ia menegaskan: Manusia yang jiwanya tersinari oleh cahaya iman dapat mengemukakan seluruh kebutuhannya tanpa ada penghalang di hadapan Sang Mahaindah yang Mahaagung, Sang Mahakuasa Yang Maha Sempurna. Ia dapat meminta sesuatu yang bisa mewujudkan keinginannya di mana dan kapan saja ia berada. Ia bisa mengungkap hajat dan seluruh kebutuhannya di hadapan Sang Mahakasih yang memiliki khazanah rahmat yang luas dengan bersandar pada kekuatan-Nya yang mutlak. Dengan begitu, ia menjadi sangat gembira dan bahagia. Frasa Keempat: Yakni, seluruh kerajaan adalah miliknya tanpa kecuali. Engkau juga milik-Nya. Di samping merupakan hamba-Nya, Engkau pun pekerja dalam kerajaan-Nya. Frasa ini mengandung harapan dan mendatangkan kabar gembira. Ia menegaskan: Wahai manusia, jangan mengira engkau pemilik dirimu. Tidak. Pasalnya, engkau tidak mampu mengurus dirimu sendiri. Hal itu merupakan beban yang berat. Engkau tidak mampu menjaganya agar terbebas dari berbagai ujian dan musibah, serta tidak mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidupmu. Karena itu, jangan menyengsarakan dirimu sendiri dengan sia-sia sehingga menjadi gelisah dan risau tanpa guna. Kerajaan ini bukan milikmu; tetapi milik selainmu. Pemiliknya Mahakuasa. Dia juga Maha Penyayang. Maka, bersandarlah pada qudrah-Nya. Jangan pernah meragukan rahmat-Nya. Tinggalkan yang keruh, ambil yang jernih! Buanglah kesulitan dan sesuatu yang menyesakkan. Lalu ambillah nafas dalam-dalam! Raih kelapangan dan kebahagiaan!


386

AL-MAKTÛBÂT

Ia juga menegaskan bahwa dunia ini yang secara maknawi kau inginkan dan kau cintai, yang membuatmu sakit dan risau karena derita di dalamnya, serta tak mampu kau perbaiki, semuanya adalah kerajaan milik Sang Mahakuasa Yang Maha Penyayang. Karena itu, serahkan kerajaan ini pada-Nya. Biarkan Dia yang menanganinya. Bergembiralah dengan segala kesenangan dan kelapangannya tanpa mau dikeruhkan oleh penderitaan dan kesulitan yang ada. Tuhan Mahabijak dan Maha Penyayang. Dia bertindak di kerajaan-Nya terserah kehendak-Nya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya. Jika engkau merasa takut, pandanglah dari jendela lalu ucapkan seperti yang diucapkan oleh penyair Ibrahim Haqqi:

Mari kita melihat apa yang Tuhan lakukan Yang Dia lakukan pastilah yang paling indah. Frasa Kelima: Yakni, segala sanjungan, pujian, dan karunia adalah milik-Nya semata dan hanya pantas untuk-Nya. Sebab, semua karunia dan nikmat berasal dari-Nya. Ia bersumber dari khazanah kekayaan-Nya yang luas. Sementara khazanah kekayaan-Nya tak pernah habis. Begitulah frasa di atas memberikan kabar gembira yang halus dan indah. Ia menegaskan: Wahai manusia, jangan merasa sakit dengan hilangnya nikmat. Sebab, khazanah rahmat-Nya tak pernah habis. Jangan meradang dengan lenyapnya karunia, karena ia tidak lain merupakan buah rahmat-Nya yang luas tak terhingga. Buah akan terus datang secara silih berganti selama pohonnya tetap ada. Ketahuilah wahai manusia bahwa engkau mampu menjadikan manisnya nikmat seratus kali lebih banyak dari yang ada. Yaitu dengan melihat curahan rahmat dan pemberian karunia-Nya


Surat Kedua Puluh

387

yang tertuju padamu. Hal itu terwujud dengan bersyukur dan memuji-Nya. Sebab, sebagaimana ketika seorang penguasa besar memberikan hadiah kepadamu—apel misalnya—maka hadiah tersebut berisi nikmat yang berkali-kali lebih nikmat dibandingkan lezatnya apel itu sendiri. Yaitu nikmat adanya perhatian dari sang penguasa yang dibungkus dengan kebaikan dan karunianya. Begitu pula dengan frasa . Ia membukakan untukmu pintu yang luas yang mengalirkan kenikmatan maknawi murni di mana ia jauh lebih nikmat daripada nikmat itu sendiri. Hal itu terwujud dengan pujian dan syukur pada-Nya. Yakni, dengan merasakan karunia-Nya lewat nikmat yang Dia berikan. Yaitu dengan mengenal Sang Pemberi nikmat lewat cara merenungkan pemberian nikmat tersebut. Dengan kata lain, lewat cara merenungkan dan melihat rahmat dan kasih sayang-Nya yang terus tercurah kepadamu. Frasa Keenam: Dia-lah yang menganugerahkan kehidupan, Dia pula yang menjaganya dengan rezeki yang diberikan. Dia yang menjamin seluruh hajat dan kebutuhannya. Dia pula yang menyiapkan semua faktor penopangnya. Berbagai tujuan kehidupan yang mulia kembali kepada-Nya. Serta berbagai hasil penting dari kehidupan menuju kepada-Nya. Sembilan puluh sembilan persen (99%) buah dan hasilnya mengarah dan kembali kepada-Nya. Begitulah, frasa di atas menyeru manusia yang fana dan lemah serta memberikan kabar gembira seraya menghembuskan harapan kepadanya. Ia berkata: Wahai manusia, jangan penatkan dirimu dengan membawa beban kehidupan yang berat di atas pundakmu yang lemah. Jangan sampai dirimu menyedihkan fananya kehidupan. Jangan pernah menyesali kedatanganmu ke dunia setiap kali melihat lenyapnya sejumlah nikmat dan buahnya. Ketahuilah bahwa hidupmu yang membangun eksistensimu hanya akan kembali kepada Dzat Yang Mahahidup dan Berdiri sendiri. Dia yang menjamin seluruh kebutuhan dan penopangnya. Kehidupan hanya akan kembali kepada-Nya berikut seluruh tujuan dan hasilnya yang


388

AL-MAKTÛBÂT

banyak. Engkau hanyalah pekerja sederhana yang berada dalam bahtera kehidupan. Karena itu, laksanakan kewajibanmu dengan sebaik-baiknya. Lalu raih upahmu dan nikmati. Ingatlah selalu betapa agungnya kehidupan yang menggerakkan gelombang wujud, berikut hasil dan buahnya, serta kemurahan Pemiliknya dan keluasan rahmat-Nya yang terlimpah. Renungkan semua itu dan terbanglah di angkasa suka cita. Bergembiralah dengannya dan tunaikan syukur yang harus kau persembahkan kepada Tuhan. Ketahuilah bahwa selama dirimu istikamah, hasil dari bahtera kehidupan ini pertama-tama akan dituliskan dalam lembaran amalmu. Lalu engkau akan diberi kehidupan yang kekal abadi. Frasa Ketujuh: Artinya, Dia-lah yang menganugerahkan kematian. Yakni, Dia yang membebaskanmu dari tugas kehidupan, mengganti posisimu di dunia yang fana ini, menyelamatkanmu dari beban pengabdian, serta membebaskanmu dari tanggung jawab yang ada. Dengan kata lain, Dia menarikmu dari kehidupan yang fana menuju kehidupan yang abadi. Demikianlah, frasa ini meneriakkan ke telinga manusia dan jin yang fana dan berkata: Kabar gembira bagi kalian! Kematian bukan kemusnahan, kesia-siaan, kefanaan, kepadaman, dan perpisahan abadi. Kematian bukan ketiadaan dan bukan pula sebuah kebetulan. Ia bukan kelenyapan tanpa ada yang berbuat. Namun ia adalah pembebasan tugas yang dilakukan oleh Dzat Yang Maha Berbuat, Maha Bijaksana, dan Maha Penyayang. Ia adalah perpindahan tempat, pergantian posisi, dan perjalanan menuju kebahagiaan abadi; tanah air yang asli. Artinya, kematian adalah pintu menuju alam barzakh; alam yang menghimpun 99% orang-orang tercinta. Frasa Kedelapan: Artinya, kesempurnaan, keindahan, dan kebaikan lahiriah yang terdapat pada entitas merupakan sarana menuju cinta. Ia terwujud lewat sesuatu yang tak bisa dideskripsikan dan digambarkan yang berasal dari Sang Pemilik keindahan, kesempurnaan,


Surat Kedua Puluh

389

dan kebaikan. Secercah manifestasi keindahan-Nya menyamai seluruh hal yang dicintai di dunia ini. Tuhan yang dicinta dan disembah memiliki kehidupan abadi dan kekal yang bersih dari kelenyapan dan bayangan kefanaan. Kehidupannya sempurna; jauh dari segala bentuk aib dan cacat. Jadi, frasa di atas menegaskan hal berikut kepada semua makhluk, baik dari kalangan jin, manusia, maupun seluruh pemilik perasaan, kecerdasan, dan cinta: Kabar gembira untuk kalian! Kalian mendapatkan hembusan harapan dan kebaikan. Kalian memiliki Kekasih azali dan abadi yang bisa mengobati semua luka menganga akibat perpisahan abadi dengan orang-orang dunia yang kalian cintai. Ia memberikan balsam penyembuh lewat salep rahmat-Nya. Selama Dia ada dan kekal, segala sesuatu menjadi ringan. Karena itu, jangan risau dan kecewa. Keindahan, kebaikan, dan kesempurnaan yang membuat kalian mencintai sejumlah orang hanyalah kilasan bayangan lemah yang bersumber dari naungan tirai yang sangat tebal di mana ia merupakan salah satu manifestasi keindahan Sang Kekasih abadi. Maka, jangan kalian tersiksa oleh adanya perpisahan dengan mereka. Sebab, mereka semua hanyalah satu bentuk dari cermin yang memberi pantulan. Perubahan dan pergantian cermin akan memperbaharui dan memperindah pantulan manifestasi keindahan yang cemerlang. Selama Dia ada, segala sesuatu juga ada. Frasa Kesembilan: Artinya, seluruh kebaikan berada di tangan-Nya. Semua amal baik kalian dicatat dalam kitab-Nya. Seluruh amal salih yang kalian lakukan ada padanya. Frasa di atas menyeru jin dan manusia, memberikan kabar gembira kepada mereka, serta menghembuskan harapan dan kerinduan. Ia berkata: Wahai orang-orang malang! Ketika kalian meninggalkan dunia menuju kubur, jangan berujar, “Oh, sungguh sangat sedih. Harta kami lenyap begitu saja. Amal kami hilang percuma. Kami


390

AL-MAKTÛBÂT

masuk ke dalam kubur yang sempit setelah berada di dunia yang luas...” Jangan... Jangan kalian meratap putus asa. Pasalnya, semua milik kalian terpelihara di sisi-Nya. Semua amal yang kalian kerjakan telah dicatat pada-Nya. Jadi, tidak ada yang hilang. Tidak ada usaha yang terlupakan. Sebab, Allah Yang Mahaagung yang menggenggam segala kebaikan akan membalas amal kalian. Dia akan memanggil kalian untuk menghadap kepada-Nya setelah Dia meletakkan kalian di dalam tanah, tempat sementara kalian. Maka, betapa kalian sangat bahagia! Kalian telah menunaikan pengabdian dan telah menyelesaikan tugas. Kalian telah bebas. Hari-hari penat dan lelah telah berakhir. Sekarang kalian berjalan untuk mendapatkan upah dan menerima keuntungan. Ya, Sang Mahakuasa dan Mahaagung yang memelihara seluruh benih dan biji yang merupakan lembaran amal, daar pengabdian, dan ruang tugas musim semi masa lalu, kemudian Dia menebarkannya di musim semi yang indah saat ini dalam bentuk yang istimewa, sangat berkilau, penuh berkah, dan menakjubkan. Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahaindah tersebut sudah pasti juga menjaga hasil kehidupan dan amal kalian. Lalu Dia akan memberikan balasan dalam bentuk yang terbaik dan berlimpah. Frasa Kesepuluh: Artinya, Dia Mahaesa, Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang berat bagi-Nya. Tidak ada yang membuat-Nya penat dan sulit. Menciptakan musim semi yang sempurna—misalnya— begitu mudah dan gampang bagi-Nya sama seperti menciptakan sebuah bunga. Menciptakan surga bagi-Nya semudah menciptakan musim semi. Makhluk yang jumlahnya tak terhingga yang Dia hadirkan dan Dia perbaharui setiap hari, setiap tahun, dan setiap masa, semuanya menjadi bukti akan qudrah-Nya yang tak terbatas. Frasa di atas juga memberikan sebuah harapan dan kabar gembira sebagai berikut:


Surat Kedua Puluh

391

Wahai manusia! Amal-amal yang telah kau tunaikan, dan ubudiyah yang telah kau kerjakan tidak akan hilang begitu saja. Terdapat negeri balasan yang kekal dan tempat kebahagiaan yang sudah disiapkan untukmu. Di hadapanmu terdapat surga kekal yang menantikan kedatanganmu. Percayalah dengan janji Penciptamu Yang Mahaagung yang kepada-Nya engkau bersujud dan menyembah. Yakinlah kepada-Nya. Mustahil Dia mengingkari janji yang sudah Dia tetapkan atas diri-Nya. Sebab, qudrahNya tak bercampur dengan aib dan cacat. Perbuatan-Nya tidak disertai oleh kelemahan dan ketidakberdayaan. Sebagaimana Dia telah menciptakan dan menghidupkan taman kecil untukmu, Dia mampu untuk menciptakan surga yang luas. Bahkan Dia benar-benar telah melakukannya, lalu menjanjikannya untukmu. Oleh karena Dia telah berjanji, maka pasti akan menepatinya. Dia akan mengantarkanmu menuju surga tersebut. Selama pada setiap tahun kita melihat bagaimana Dia mengumpulkan dan menebarkan lebih dari 300 ribu spesies tumbuhan dan hewan di muka bumi dengan sangat rapi dan terukur serta dengan sangat cepat dan mudah, maka sudah pasti Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahaagung tersebut juga mampu mewujudkan janji-Nya. Selama Tuhan Yang Mahakuasa mutlak pada setiap tahun menghadirkan ribuan model kebangkitan dan surga dalam bentuk yang beragam; selama Dia menginformasikan surga yang dijanjikan, dan menjanjikan kebahagiaan abadi pada semua perintah samawi-Nya; selama seluruh urusan-Nya benar, nyata, dan jujur; selama semua jejak-Nya menjadi saksi bahwa seluruh kesempurnaan adalah petunjuk bahwa Dia bersih dari segala cacat; selama mengingkari janji, berdusta, dan sikap menangguhkan adalah sifat paling buruk di samping aib, maka sudah pasti Sang Mahakuasa yang Mahaagung, Sang Mahabijak yang Maha Sempurna, Sang Maha Penyayang Yang Mahaindah akan melaksanakan janji-Nya. Dia akan membuka pintu-pintu kebahagiaan abadi dan memasukkan kalian wahai kaum beriman ke dalam surga, . tanah air ayah kalian, Adam


392

AL-MAKTÛBÂT

Frasa Kesebelas: Artinya, orang-orang yang dikirim ke negeri dunia—negeri ujian—untuk berbisnis dan menunaikan sejumlah tugas, akan kembali lagi kepada Dzat yang telah mengirim mereka, Pencipta Yang Mahaagung. Hal itu setelah mereka melaksanakan tugas, menyempurnakan bisnis mereka, dan menyelesaikan berbagai pengabdian. Mereka akan bertemu dengan Tuhan Maha pemurah yang telah mengirim mereka. Dengan kata lain, mereka akan mendapatkan kehormatan untuk berada di hadapan Tuhan Yang Maha Penyayang dalam kedudukan yang disenangi di sisi Raja Yang Mahakuasa; tanpa ada hijab antara mereka dan diri-Nya. Mereka telah lepas dari ikatan sebab, hijab dan perantara. Masing-masing mereka akan menemukan dan mengenal secara sempurna Pencipta, Tuhan, dan Pemiliknya. Frasa di atas membersitkan harapan dan kabar gembira melebihi seluruh harapan dan kabar gembira lainnya. Ia menegaskan: Wahai manusia! Tahukah engkau kemana akan kembali? Dan kemana engkau akan digiring?” Pada penutup ‘Kalimat Ketiga Puluh Dua’ disebutkan bahwa menghabiskan seribu tahun dari kehidupan dunia yang bahagia tidak bisa menyamai sesaat dari kehidupan surga. Serta menghabiskan seribu satu tahun yang penuh kesenangan dalam kenikmatan surga tidak bisa menyamai sesaat dari kegembiraan melihat keindahan Sang Mahaindah, Allah I.451 Jadi, wahai manusia, engkau akan kembali ke medan rahmat-Nya, dan akan menuju hadirat-Nya. Keindahan yang kau lihat pada para kekasih majasi sehingga kau cintai dan tergila-gila padanya, bahkan keindahan yang terdapat pada seluruh entitas dunia tidak lain merupakan semacam bayangan dari manifestasi keindahan Allah dan nama-nama-Nya. Surga dengan seluruh perangkat, kenikmatan, bidadari, dan istananya hanyalah salah satu manifestasi dari rahmat-Nya. Semua bentuk rindu, cinta, 451 Lihat: HR. Muslim bab Iman 297; at-Tirmidzi dalam tafsir surah ke-10; dan Ibnu Majah dalam al-Mukaddimah 13.


Surat Kedua Puluh

393

dan ketertarikan tidak lain merupakan kilau dari cinta Tuhan dan Kekasih abadi. Jadi, kalian akan pergi ke hadirat-Nya yang agung. Kalian akan diundang ke negeri jamuan yang kekal, yaitu menuju surga yang abadi. Karena itu, jangan bersedih dan menangis saat masuk ke dalam kubur. Namun bergembiralah dan hadapi ia dengan senyum dan rasa senang. Frasa di atas melanjutkan tugasnya dalam memberikan cahaya harapan dan kabar gembira dengan berkata: Wahai manusia! Jangan membayangkan engkau akan pergi menuju kefanaan, ketiadaan, kesia-siaan, kegelapan, kealpaan, kehancuran, dan tenggelam dalam ketiadaan. Akan tetapi, engkau akan pergi menuju keabadian; bukan pada kefanaan. Engkau digiring menuju wujud yang kekal; bukan ketiadaan. Engkau mendatangi alam cahaya; bukan kegelapan. Engkau berjalan menuju Tuhan dan Pemilikmu yang haq. Engkau akan kembali kepada tempat Penguasa alam; Penguasa wujud. Engkau akan istirahat dan merasa lapang di medan tauhid tanpa tenggelam dalam pluralitas. Engkau mengarah pada adanya pertemuan; bukan perpisahan.

KEDUDUKAN KEDUA

(Petunjuk Singkat tentang Tauhid Dilihat dari Ismul A’zham) Klausa Pertama: Klausa di atas berisi tauhid ulûhiyah dan tauhid ma’bûdiyah. Kami akan menunjukkan keduanya dengan sebuah argumen yang kuat sebagai berikut: Di alam ini, terutama di lembaran muka bumi, aktivitas yang sangat rapi terlihat dengan jelas. Kita menyaksikan proses penciptaan yang penuh hikmah. Kita menyaksikan dengan ainul yaqin proses “pembukaan” yang sangat teratur. Yakni, proses pemberian bentuk dan busana yang tepat pada segala sesuatu. Kita menyaksikan pula proses pemberian karunia yang penuh cinta dan kasih sayang. Seluruh kondisi tersebut dengan jelas mene-


394

AL-MAKTÛBÂT

gaskan keberadaan Tuhan Yang Mahaagung, Yang Maha Berbuat, Maha Mencipta, Maha Membuka, dan Maha Memberi. Bahkan ia menunjukkan keesaan-Nya. Ya, entitas yang senantiasa lenyap dan terbaharui secara terus-menerus menjelaskan bahwa mereka merupakan manifestasi nama-nama Sang Pencipta Yang Mahakuasa, bayangan cahaya nama-Nya yang mulia, jejak perbuatan-Nya, ukiran pena qadar-Nya dan lembaran qudrah-Nya, serta cermin keindahan kesempurnaan-Nya. Tuhan semesta alam menjelaskan hakikat agung di atas dan tingkatan tauhid tertinggi tersebut lewat seluruh kitab suci dan lembaran wahyu yang Dia turunkan. Para ahli peneliti dari kalangan ulama dan al-Kâmilûn (orang-orang yang mencapai derajat kesempurnaan) juga menegaskan tingkatan tauhid tersebut lewat pembuktian ilmiah dan kasyaf mereka. Alam berikut kelemahan dan kepapaannya pun menunjukkan tingkatan tauhid itu lewat sejumlah kreasi yang menakjubkan, tanda kekuasaan yang luar biasa, dan khazanah kekayaan yang ia miliki. Artinya, Allah I—sebagai saksi azali—dengan seluruh kitab suci dan lembaran wahyu, kalangan ahli syuhûd (orangorang yang mencapai tingkatan penyaksian) dengan seluruh pembuktian dan kasyaf mereka, serta alam nyata dengan seluruh urusan penuh hikmah dan kondisinya yang rapi, semuanya sepakat dengan keberadaan tingkatan tauhid tersebut. Siapa yang tidak menerima Dzat Yang Mahaesa sebagai Tuhan dan sembahan, ia harus menerima tuhan-tuhan yang tak terhingga jumlahnya. Atau, harus mengingkari dirinya dan seluruh alam seperti sikap kalangan sofi s yang dungu. Klausa Kedua: Klausa di atas menjelaskan tingkatan tauhid yang jelas. Kami akan menunjukkan sebuah argumen sangat kuat yang menegaskan tingkatan ini secara sempurna sebagai berikut: Setiap kali membuka mata dan mengarahkan pandangan pada entitas, perhatian kita pertama-tama tertuju pada tatan-


Surat Kedua Puluh

395

an yang bersifat umum dan sempurna serta neraca yang cermat dan komprehensif. Segala sesuatu berada dalam suatu aturan yang teliti. Semuanya ditimbang dengan timbangan yang akurat. Seluruhnya dihitung dengan sebuah perhitungan yang cermat. Apabila kita cermati, penglihatan kita akan tertuju pada tatanan dan neraca yang terus terbaharui. Yakni, Dzat Yang Mahaesa mengubah tatanan tersebut secara teratur dan memperbaharui neraca yang ada dengan ukuran tertentu. Sehingga segala sesuatu menjadi model ukuran bagi berbagai bentuk yang tertata rapi yang jumlahnya sangat banyak. Jika kita perhatikan lebih cermat, keadilan dan hikmah Tuhan akan terlihat di balik penataan dan neraca tersebut sehingga setiap gerakan diikuti oleh hikmah dan maslahat serta disertai oleh sebuah kebenaran dan manfaat. Kalau kita perhatikan lebih cermat lagi, pandangan perasaan kita tertuju pada manifestasi qudrah Tuhan dalam bentuk aktivitas penuh hikmah yang sangat bijaksana serta wujud pengetahuan yang mencakup segala hal. Bahkan ia mencakup semua kondisinya. Yakni, tatanan dan neraca yang terdapat pada seluruh entitas menerangkan pengaturan dan timbangan yang bersifat umum dan menyeluruh; lalu pengaturan dan timbangan tersebut memperlihatkan hikmah dan keadilan yang komprehensif; kemudian hikmah dan keadilannya menjelaskan sebuah qudrah dan pengetahuan kepada pandangan kita. Dengan kata lain, Sang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu terlihat oleh akal dari balik tirai yang ada. Kemudian kita melihat pada awal dan akhir dari segala sesuatu, terutama pada makhluk hidup. Kita melihat bahwa awal, pangkal, dan akarnya begitu pula dengan buah dan hasilnya berwujud pada sebuah bentuk dan pola tertentu di mana seolah-olah benih dan pangkal tersebut merupakan program, indeks, dan pengenalan yang berisi semua perangkat makhluk. Ia juga terkumpul pada hasil dan buahnya. Di dalamnya terkandung seluruh eksistensi dari makhluk hidup tadi. Ia tanamkan di sana perjalanan hidupnya. Seakan-akan benih makhluk hidup terse-


396

AL-MAKTÛBÂT

but yang merupakan asal-muasalnya adalah buku kecil berisi semua rambu-rambu penciptaan dan pembentukannya. Adapun buahnya laksana indeks bagi perintah pembentukannya. Kemudian kita melihat pada sisi lahir dan batin makhluk hidup tersebut. Kita menyaksikan pengelolaan dan pengaturan dari qudrah ilahi yang penuh hikmah, serta deskripsi dan penataan dari iradah-Nya yang pasti berlaku. Artinya, kekuatan dan qudrah ilahi yang menghadirkan entitas tersebut serta perintah dan iradah-Nya yang memberinya bentuk. Begitulah setiap kali mencermati pangkal dan awal dari seluruh entitas, kita melihat sesuatu yang menunjukkan pengetahuan Dzat Yang Maha Mengetahui. Setiap kali menelaah akhir dan penghujungnya, kita juga menyaksikan program dari Sang Pencipta. Setiap kali memperhatikan sisi lahiriah sesuatu, kita melihat busana indah yang sangat rapi hasil kreasi Tuhan Yang Maha Berbuat, Memilih, dan Berkehendak. Serta, setiap kali melihat sisi batin sesuatu, kita menyaksikan perangkat yang sangat teratur hasil kreasi Pencipta Yang Mahakuasa. Seluruh kondisi dan keadaan tersebut menjelaskan secara aksiomatis bahwa tidak mungkin sesuatu, waktu, dan ruang berada di luar genggaman Sang Pencipta Yang Mahaagung dan Mahaesa. Juga tidak mungkin berada di luar kendali dan pengaturan-Nya. Namun segala sesuatu dan seluruh urusan ditata dalam genggaman Tuhan Mahakuasa Yang Maha Berkehendak. Ia diperindah dan ditata lewat sentuhan Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ia dibuat bagus dan indah lewat rahmat Tuhan Yang Mahakasih dan Maha Memberi. Ya, tatanan, neraca, pengaturan, dan timbangan pada seluruh alam secara jelas menunjukkan keberadaan Dzat Yang Mahaesa, Mahatunggal, Mahakuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana. Dia memperlihatkan tingkatan keesaan yang agung kepada seluruh makhluk yang memiliki perasaan dan penglihatan. Ya, pada segala sesuatu terdapat sebuah kesatuan, sementara kesatuan menunjukkan keberadaan Dzat Yang Mahasatu dan esa.


Surat Kedua Puluh

397

Sebagai contoh, mentari yang merupakan lentera dunia adalah satu. Artinya, Pemilik dunia ini juga satu. Udara, api, dan air misalnya—yang merupakan pelayan makhluk hidup di bumi—juga satu. Artinya, Dzat yang mempekerjakan dan menundukkan materi tersebut untuk kita juga Satu. Klausa Ketiga: Klausa ini telah diterangkan secara sangat gamblang dalam ‘mauqif pertama’ dari “Kalimat Ketiga Puluh Dua’’. Karena itu, Anda bisa merujuk padanya. Sebab, tidak ada penjelasan yang mengungguli penjelasannya. Ia tidak membutuhkan penjelasan yang lain. Sebab, tidak ada penjelasan yang menyamainya. Klausa Keempat: Artinya, langit dan bumi, dunia dan akhirat, serta semua makhluk dari tanah hingga arasy, dari bumi hingga planet, dari partikel hingga mentari, dari yang azali hingga yang abadi, semua merupakan kerajaan-Nya. Dia pemilik tingkat kekuasaan paling agung yang terwujud dalam tingkatan tauhid paling mulia. Dalam benak hamba yang lemah ini terlintas sebuah lintasan pikiran yang indah pada saat yang indah lewat ungkapan bahasa Arab. Kutuliskan ia sebagaimana adanya. Lalu aku akan menjelaskannya sebagai hujjah terbesar bagi tingkatan kekuasaan Tuhan yang agung dan kedudukan tauhid-Nya yang paling mulia.


398

AL-MAKTÛBÂT

Dia Pemilik kerajaan. Sebab, alam yang besar itu seperti alam yang kecil ini di mana ia merupakan kreasi qudrah-Nya dan tulisan qadar-Nya. Penciptaannya terhadap hal itu dijadikannya sebagai masjid, pembentukannya terhadap hal ini dijadikannya sebagai entitas yang bersujud. Penghadirannya terhadap hal itu dijadikannya sebagai kerajaan, sementara pembentukannya terhadap hal ini dijadikannya sebagai budak. Kreasinya pada hal itu terlihat sebagai sebuah kitab, goresan-Nya pada hal ini tampak sebagai sebuah pesan. Qudrah-Nya pada hal itu memperlihatkan keagungan-Nya, rahmat-Nya pada hal ini menata nikmatNya. Keagungan-Nya dalam hal itu menjadi saksi bahwa Dia Esa, nikmatnya dalam hal ini memperlihatkan bahwa Dia Tunggal. Jejak-Nya dalam hal itu pada keseluruhan dan semua bagian, stempel-Nya dalam hal ini pada fi sik dan semua organ. Bagian Pertama:

Dia Pemilik kerajaan. Sebab, alam yang besar itu seperti alam yang kecil ini di mana ia merupakan kreasi qudrah-Nya dan tulisan qadar-Nya. Alam yang besar, yaitu jagat raya, dan manusia yang merupakan alam kecil dan miniatur jagat raya, keduanya memperlihatkan bukti-bukti keesaan yang tertulis di cakrawala dan diri lewat pena qadar dan qudrah-Nya. Ya, dalam diri manusia terdapat contoh miniatur dari kreasi rapi yang terdapat di alam. Ketika kreasi pada wilayah yang besar itu menjadi saksi atas Tuhan Pencipta Yang Mahaesa, kreasi rapi dan mikro yang terdapat dalam diri manusia juga menunjukkan keberadaan Sang Pencipta dan keesaan-Nya. Sebagaima-


Surat Kedua Puluh

399

na manusia merupakan tulisan Rabbani yang memiliki tujuan mendalam serta untaian takdir ilahi yang rapi, seluruh entitas juga merupakan untaian takdir yang dihias dengan pena yang sama dan ukuran yang diperbesar. Jika demikian, mungkinkah ada selain Dzat Yang Mahaesa yang ikut terlibat dalam stempel tauhid—tanda-tanda pembeda—yang terdapat di wajah manusia dan mengarah kepada manusia yang jumlahnya tak terhingga. Atau, mungkinkah ada selain Allah yang ikut terlibat dalam stempel keesaan yang terdapat pada entitas di mana ia menjadikan seluruh makhluk bekerjasama dan bahu-membahu? Bagian Kedua:

Penciptaannya terhadap jagat raya dijadikannya sebagai masjid, pembentukannya terhadap manusia dijadikannya sebagai entitas yang bersujud. Sang Pencipta Yang Mahabijak telah menciptakan alam yang besar dalam bentuk yang indah dan menghiasinya dengan ukiran tanda kebesaran-Nya di mana hal itu menjadikan jagat raya seperti mesjid yang megah. Lalu Dia menciptakan manusia dalam bentuk terbaik seraya memberinya akal di mana hal itu menjadikannya bersujud penuh kagum di hadapan mukjizat kreasi-Nya dan keindahan qudrah-Nya. Dia juga menyuruh manusia membaca tanda-tanda kebesaran-Nya sehingga menjadikannya sebagai hamba yang bersujud di mesjid megah itu lewat ubudiyah dan ketundukan yang ditanamkan pada fi trahnya. Nah, mungkinkah Tuhan hakiki yang disembah oleh mereka yang bersujud dan beribadah di dalam mesjid megah ini bukan Sang Pencipta Yang Mahaesa?


400

AL-MAKTÛBÂT

Bagian Ketiga:

Penghadirannya terhadap jagat raya dijadikannya sebagai kerajaan, sementara pembentukannya terhadap manusia dijadikannya sebagai budak. Sang Raja Diraja Yang Mahaagung telah membangun alam yang besar ini, terutama permukaan bumi, seperti wilayah yang saling terkait dalam jumlah tak terhingga. Setiap wilayah laksana sawah atau ladang tempat bercocok tanam pada setiap saat, setiap musim, dan setiap masa. Dari sana muncul hasil dan panenan. Begitulah Dia mengisi kerajaan-Nya secara terus-menerus dan menata urusan-Nya setiap waktu. Bahkan Dia menjadikan wilayah paling besar darinya, yaitu partikel di jagat raya, sebagai ladang luas tempat menanam dan menuai hasil lewat qudrah dan hikmah-Nya. Dia kirimkan hasilnya dari alam inderawi ke alam gaib dan dari wilayah qudrah ke wilayah pengetahuan. Dia juga menjadikan permukaan bumi—yang merupakan wilayah sedang—sebagai ladang. Di dalamnya pada setiap musim dan secara kontinyu ditanam berbagai spesies. Lalu darinya pada setiap musim diperoleh sejumlah hasil dan panenan maknawi yang dikirim menuju alam gaib dan alam ukhrawi. Selanjutnya, Dia mengisi kebun di bumi—yang merupakan wilayah kecil—secara berulang-ulang, bahkan seribu kali lewat qudrah-Nya, lalu mengosongkannya dengan hikmah-Nya. Kemudian dari entitas hidup yang merupakan wilayah terkecil—seperti pohon dan manusia—Allah I mendatangkan seratus kali lipat hasil dan panenan. Artinya, Sang Maha Diraja Yang Mahaagung membentuk segala sesuatu—baik yang bersifat parsial maupun universal, baik kecil maupun besar—laksana “model” yang diberi ratusan pakaian kreasinya yang terukir dengan ukiran yang terus terbaharui lewat ratusan bentuk dan pola. Dengan itu, Dia memperlihatkan sejum-


Surat Kedua Puluh

401

lah manifestasi nama-nama-Nya dan mukjizat qudrah-Nya. Dia menghadirkan segala sesuatu dalam kerajaan-Nya laksana lembaran yang padanya Dia goreskan sejumlah tulisan penuh makna lewat ratusan bentuk. Dengannya, Dia juga memperlihatkan sejumlah tanda-tanda kekuasaan-Nya yang penuh hikmah seraya menyuruh makhluk yang memiliki perasaan untuk membacanya. Sebagaimana Dia telah membangun alam yang besar ini sebagai kerajaan-Nya, Dia juga menciptakan manusia sebagai budak-Nya. Dia memberinya sejumlah perangkat, organ, indera, dan perasaan, terutama nafsu ammarah, keinginan, rasa butuh, selera, dan harapan di mana Dia menjadikannya berada di kerajaan yang luas sebagai budak, hamba, dan sosok yang membutuhkan seluruh kerajaan-Nya. Maka, mungkinkah yang mengendalikan kerajaan tersebut lalu menjadi Tuan atas budak tadi sosok selain Sang Raja Diraja yang menjadikan seluruh entitas mulai dari jagat raya yang luas hingga sayap nyamuk sebagai kerajaan dan ladang, serta menjadikan manusia yang kecil sebagai sosok yang melihat dan mengawasi kerajaan luas ini sekaligus sebagai petani, pedagang, pemandu, dan budak serta menjadikannya sebagai tamu mulia dan mitra bicara yang dicinta? Bagian Keempat:

Kreasinya pada jagat raya terlihat sebagai sebuah kitab, goresan-Nya pada manusia tampak sebagai sebuah pesan. Kreasi Sang Pencipta Yang Mahaagung di alam besar mengandung banyak makna yang Dia perlihatkan laksana kitab indah di mana hal itu mendorong akal manusia untuk mencari hikmah pengetahuan hakiki darinya serta menulis pustaka sesuai dengannya. Kitab indah dan penuh hikmah tersebut sangat terkait dengan hakikat yang ada dan merujuk kepadanya sampai-sampai ia disebut sebagai “al-Qur’an visualâ€? penuh hikmah yang merupakan salinan dari kitab mubĂŽn.


402

AL-MAKTÛBÂT

Sebagaimana kreasi-Nya di seluruh alam berubah menjadi kitab yang fasih karena sangat rapi, demikian pula dengan goresan dan ukiran hikmah-Nya pada diri manusia terurai menjadi “bunga pesan ilahi”. Artinya, kreasi indah tersebut sarat dengan makna di mana ia bisa membuat berbicara sejumlah perangkat yang terdapat dalam mesin hidup itu. Sementara goresan Rabbani yang Dia torehkan menjadikannya berada dalam bentuk terbaik sehingga menjadi bunga bayan dan pesan-Nya; bunga vitalitas gaib yang terdapat pada kepala materi tak bernyawa itu. Jadi, Allah I memberikan pada kepala manusia kemampuan berbicara dan memberikan penjelasan sehingga perangkat mulia dan maknawi yang terdapat di dalamnya menyingkap banyak tingkatan yang membuatnya layak untuk mendapat pesan Penguasa Azali Yang Mahaagung. Dari sana manusia meraih posisi tinggi dan mulia. Dengan kata lain, goresan Rabbani yang terdapat dalam fi trah manusia telah membuka dan memekarkan bunga pesan ilahi. Kalau begitu, mungkinkah ada selain Dzat Yang Mahaesa yang terlibat dalam kreasi seluruh makhluk yang sangat rapi dan teratur itu di mana ia laksana sebuah kitab? Mungkinkah ada selain-Nya yang ikut terlibat dalam goresan yang terdapat pada fi trah manusia di mana ia membuatnya layak mendapat pesan ilahi? Tentu saja tidak ada. Bagian Kelima:

Ó ‫ﻪ ﻓِﻲ ﺫ‬ÔÔ‫ﺭﺗ‬Ó ‫ﺪ‬Ú Ô‫ﻗ‬ ‫ﺬﺍ‬Ó ‫ﻪ ﰲ ٰﻫ‬Ô Ô‫ﻤﺘ‬Ó ‫ﺣ‬Ú ‫ﺭ‬Ó .‫ﻪ‬Ô Ó‫ﻤﺘ‬Ó ‫ﺸ‬Ú ‫ِﺮ ِﺣ‬Ô ‫ﻈﻬ‬Ú Ô‫ ِﻢ( ﺗ‬Ó‫ﻌﺎﻟ‬Ó Ú‫ﺍﻙ )ﺍﻟ‬Ó .‫ﻪ‬Ô Ó‫ﻤﺘ‬Ó ‫ﻌ‬Ú ِ‫ﻢ ﻧ‬Ô ‫ﻈ‬Òِ Ó‫ﻨ‬Ô‫ﺴﺎ ِﻥ( ﺗ‬Ó Ú‫)ﺍ ِﻹﻧ‬

Qudrah-Nya pada jagat raya memperlihatkan keagunganNya, rahmat-Nya pada manusia menata nikmat-Nya. Qudrah ilahi memperlihatkan keagungan rububiyah di alam besar ini. Sementara rahmat rabbani menata berbagai karunia dalam diri manusia; yang merupakan alam kecil (mikrokosmos). Dengan kata lain, dilihat dari sisi kebesaran dan keagungan, qudrah Sang Pencipta telah menghadirkan seluruh alam laksana


Surat Kedua Puluh

403

sebuah istana megah. Dia menjadikan mentari yang terdapat di dalamnya sebagai lentera yang terang benderang, bulan sebagai lampu sedang, dan bintang sebagai lampu kecil. Dia menjadikan muka bumi sebagai hidangan makanan yang terhampar, sawah yang indah, dan kebun yang rimbun. Dia menjadikan gunung sebagai khazanah dan simpanan kekayaan-Nya, pasak peneguh, dan benteng yang kokoh. Begitulah Dia menjadikan segala sesuatu sebagai landasan dan penopang istana megah itu dengan skala yang lebih besar. Keagungan rububiyah-Nya memperlihatkan— sebagaimana dilihat dari sisi keindahan, rahmat-Nya mencelup— berbagai jenis karunia yang Dia berikan kepada seluruh makhluk, bahkan kepada yang paling kecil. Dia menata dan memperindah entitas lewat berbagai karunia serta menghiasnya dengan kelembutan dan kemurahan seraya mendorong lisan kecil yang menuturkan keindahan rahmat ilahi untuk menyamai lisan agung yang menuturkan kebesaran keagungan-Nya. Dengan kata lain, benda-benda langit yang besar seperti mentari dan arasy, saat dengan lisan keagungan mengucap, “Yâ Jalîl (wahai Yang Maha Mulia), yâ Kabîr (wahai Yang Maha Besar), yâ Azhîm (wahai Maha Agung)..” maka lisan rahmat yang terdapat pada lalat, ikan, dan hewan kecil mengucap, “Yâ Jamîl (wahai Yang Maha Indah), Ya Rahîm (wahai Yang Maha Penyayang), Ya Karîm (wahai Yang Maha Pemurah)...” Dengan itu, ia membentuk alunan musik yang indah yang disertai dengan kenikmatan. Maka, mungkinkah ada selain Dzat Yang Mahaagung pemilik keindahan serta Dzat yang Mahaindah pemilik keagungan yang terlibat dalam penciptaan alam besar dan kecil di atas? Tentu saja tidak ada. Bagian Keenam:

ِ ‫ﻮ‬Ó Ú‫ﻮ ﺍﻟ‬Ó ‫ﻫ‬Ô ‫ﺪ‬Ô ‫ﻬ‬Ó ‫ﺸ‬Ú Ó‫ ِﻢ( ﺗ‬Ó‫ﻌﺎﻟ‬Ó Ú‫ﺍﻙ )ﺍﻟ‬Ó Ó ‫ﻪ ﰲ ﺫ‬Ô Ô‫ﻤﺘ‬Ó ‫ﺸ‬Ú ‫ِﺣ‬ ‫ﺍ‬Ó‫ﻪ ﻓِﻲ ٰﻫﺬ‬ÔÔ‫ﻤﺘ‬Ó ‫ﻌ‬Ú ِ‫ ﻧ‬.‫ﺪ‬Ô ‫ﺍﺣ‬ .‫ﺪ‬Ô ‫ﺣ‬Ó Ó‫ﻷ‬Ú‫ﻮ ﺍ‬Ó ‫ﻫ‬Ô ‫ﻦ‬Ô ِ‫ﻌﻠ‬Ú Ô‫ﺴﺎ ِﻥ( ﺗ‬Ó Ú‫)ﺍﻹِﻧ‬ Keagungan-Nya pada jagat raya menjadi saksi bahwa Dia

Esa, nikmat-Nya dalam diri manusia memperlihatkan bahwa Dia Tunggal.


404

AL-MAKTÛBÂT

Keagungan rububiyah yang terlihat pada keseluruhan alam menegaskan dan menunjukkan wahdâniyah ilâhiyah, sebagaimana nikmat rabbaniyah yang menebarkan karunia yang tersebar, bahkan kepada seluruh bagian makhluk hidup, menegaskan dan menunjukan ahadiyah ilâhiyah. Yang dimaksud dengan wâhidiyah adalah bahwa seluruh entitas merupakan milik Sang Pencipta Yang Mahaesa dan mengarah kepada Pencipta Yang Mahaesa. Seluruhnya adalah hasil kreasi Tuhan Yang Mahaesa. Sementara maksud dari ahadiyah adalah bahwa sebagian besar nama Tuhan Pencipta segala sesuatu termanifestasi pada segala sesuatu. Sebagai contoh: Sinar mentari yang meliputi seluruh permukaan bumi menjadi contoh wâhidiyah, sementara keberadaan sinar mentari, spektrum cahayanya, panasnya, serta bayangannya pada segala benda transparan dan pada setiap tetes air menjadi contoh ahadiyah. Demikian pula, manifestasi sebagian besar nama Tuhan Pencipta segala sesuatu, terutama pada setiap makhluk hidup, lebih khusus lagi pada manusia, merupakan contoh ahadiyah. Begitulah, bagian keenam ini menunjukkan keagungan rububiyah yang mengendalikan semua urusan di alam di mana ia menjadikan mentari besar tersebut sebagai lentera terang dan pelayan bagi seluruh makhluk hidup di bumi; bola bumi yang besar sebagai pijakan, tempat menetap, dan tempat niaga makhluk; api sebagai juru masak dan teman yang siap untuk menunaikan pekerjaan di setiap tempat; awan sebagai penyaring udara dan pemberi air bagi makhluk; gunung sebagai gudang dan tempat penyimpanan; udara sebagai penyegar nafas dan jiwa; serta air sebagai penopang kehidupan dan laksana ibu yang penyayang bagi seluruh makhluk baru. Rububiyah ilâhiyah tersebut menjelaskan wahdaniyah ilâhiyah secara sangat jelas. Ya, siapakah yang dapat menjadikan mentari tunduk pada penduduk bumi selain Tuhan Sang Pencipta yang tunggal? Siapakah selain Dzat yang maha tunggal dan esa yang mampu me-


Surat Kedua Puluh

405

ngendalikan udara, menugaskannya dengan beragam tugas dan menjadikannya sebagai pelayan dimuka bumi? Siapakah selain Sang Mahaesa yang mampu mempekerjakan api sebagai juru masak bagi makhluk dan menjadikannya dapat melahap sesuatu yang ukurannya ribuan kali lebih besar darinya? Begitulah, segala sesuatu, setiap elemen, dan setiap benda langit menunjukkan kebaradaan Sang Yang Mahaesa pemilik keagungan dilihat dari sisi rububiyah tersebut. Jika sifat wâhidiyah tampak dari sisi keagungan-Nya, nikmat dan karunia Tuhan memperlihatkan ahadiyah ilâhiyah dilihat dari sisi keindahan dan rahmat-Nya. Sebab, makhluk hidup, terutama manusia, dilihat dari sisi kreasi yang komprehensif dan rapi, memiliki berbagai perangkat dan organ yang memperkenalkan beragam karunia Tuhan yang tak terhingga. Dengan itulah manusia mendapat manifestasi seluruh nama Allah yang mulia sebagaimana ia terwujud pada seluruh alam. Manusia laksana titik pusat yang memperlihatkan semua nama Allah yang mulia secara sekaligus dalam cermin esensinya. Dengan itu, ia memperlihatkan ahadiyah ilâhiyah. Bagian Ketujuh:

Jejak-Nya dalam jagat raya pada keseluruhan dan semua bagian, stempel-Nya dalam diri manusia pada fi sik dan semua organ. Artinya, sebagaimana Pencipta Yang Mahaagung memiliki jejak dan tanda yang sangat nyata pada seluruh alam, Dia juga meletakkan tanda wahdâniyah pada setiap bagian alam dan setiap spesiesnya. Sebagaimana Dia memberi stempel wahdâniyah pada wajah manusia yang merupakan alam kecil dan pada tubuhnya, Dia juga memberi stempel yang sama pada setiap anggota tubuhnya.


406

AL-MAKTÛBÂT

Ya, Sang Yang Mahakuasa pemilik keagungan memberi tanda tauhid yang jelas pada segala sesuatu; pada keseluruhan dan pada setiap bagian. Karena itu, bintang dan atom menjadi saksi atas-Nya. Dia memberi stempel wahdâniyah pada segala sesuatu untuk menjadi petunjuk atas-Nya. Karena hakikat yang agung ini telah ditegaskan pada “Kalimat Kedua Puluh Dua”, “Kalimat Ketiga Puluh Dua”, dan “Surat Ketiga Puluh Tiga”, maka pembahasannya bisa dilihat pada semua “kalimat” tersebut. Untuk itu, kami cukupkan sampai di sini. Klausa Kelima: Artinya, kesempurnaan yang merupakan penyebab datangnya pujian dan sanjungan pada seluruh makhluk, khusus milik Allah I. Karena itu, pujian tersebut juga hanya untuk-Nya. Semua pujian dan sanjungan yang telah dan akan ada, dari azali hingga abadi, dari siapa ia keluar dan kepada siapa diberikan, semua itu adalah milik Allah semata. Pasalnya, kesempurnaan dan keindahan, nikmat dan karunia yang menjadi sebab datangnya pujian dan sanjungan, serta apa saja yang menjadi orbit pujian, semuanya milik Allah I semata. Ya, ubudiyah, sujud, doa, pujian, dan sanjungan makhluk terus-menerus naik kepada-Nya menuju hadirat-Nya yang suci. Hal ini sebagaimana yang dipahami dari sejumlah isyarat AlQur’an.452 Kami akan menunjukkan sebuah hujjah yang menegaskan hakikat tauhid tersebut: Ketika melihat alam, kita menyaksikannya laksana sebuah kebun besar. Atapnya dihiasi bintang-gemintang. Tanahnya dihiasi berbagai entitas yang indah. Sejumlah benda langit yang bersinar dan rapi serta entitas bumi yang penuh hikmah dan indah dalam kebun besar tersebut, semuanya menegaskan lewat lisan masing-masing: 452

Barangkali salah satu ayat yang dimaksud adalah QS. Fâthir [35]: 10:

“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (Peny.)


Surat Kedua Puluh

407

“Kami adalah mukjizat qudrah Sang Mahakuasa Yang Mahaagung. Kami bersaksi atas keesaan Sang Pencipta Yang Mahabijak dan Pencipta Yang Mahakuasa.” Dalam taman alam ini, kita melihat bumi seperti kebun yang berisi ratusan ribu kelompok tumbuhan berwarna-warni dan bentuk yang indah, serta berisi ratusan ribu kelompok hewan yang beraneka-ragam. Bentuknya yang rapi dan modelnya yang terukur menegaskan: “Kami merupakan mukjizat dan kreasi luar biasa Sang Pencipta Yang Mahaesa lagi Mahabijak, serta petunjuk dan saksi atas keesaan-Nya.” Kita juga melihat puncak pohon yang terdapat dalam kebun besar tersebut. Kita melihat betapa buah dan bunganya tercipta sebagai hasil dari puncak pengetahuan dan hikmah, serta merupakan puncak kemurahan, kelembutan, dan keindahan. Dengan bentuk dan warnanya yang beragam, seluruh buah dan bunga indah itu menegaskan lewat lisan yang sama: “Kami mukjizat persembahan Tuhan Maha Pengasih pemilik keindahan, serta karunia luar biasa dari Tuhan Maha Penyayang pemilik kesempurnaan.” Berbagai benda langit dan entitas yang terdapat di kebun alam, tumbuhan dan hewan yang terdapat di taman bumi, bunga dan buah yang terdapat di atas pohon, semuanya menjadi saksi bahkan dengan suara nyaring menegaskan: “Pencipta dan Pembentuk kami—yang telah mempersembahkan kami kepada kalian—Yang Mahakuasa dan Mahaindah, Mahabijak dan Pemurah, Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang berat bagi-Nya, serta tidak ada sesuatu yang berada di luar wilayah kekuasaan-Nya. Bintang dan atom sama saja bagi kekuasaan-Nya. Sesuatu yang bersifat universal sangat mudah baginya sama seperti yang bersifat parsial. Yang parsial dan kecil sangat berharga sama seperti keseluruhan. Yang paling besar mudah baginya sama seperti yang paling kecil. Yang kecil tercipta dengan rapi sama seperti yang besar. Bisa jadi yang kecil lebih cermat dan rapi daripada yang besar. Seluruh kejadian masa


408

AL-MAKTÛBÂT

lalu yang merupakan bentuk keajaiban qudrah-Nya menjadi saksi bahwa Sang Mahakuasa mutlak itu mampu mencipta berbagai hal menakjubkan lainnya yang akan terjadi di masa mendatang. Sebagaimana Dzat yang menciptakan hari kemarin mampu mendatangkan hari esok, maka Sang Mahakuasa yang menciptakan masa lalu itu juga mampu menghadirkan masa depan. Sang Pencipta Mahabijak yang telah menciptakan dunia tersebut mampu untuk menghadirkan akhirat. Ya, sebagaimana Sang Mahakuasa Yang Mahaagung adalah Tuhan sembahan hakiki, Dzat yang layak dipuji juga hanya Dia semata. Sebagaimana ibadah hanya milik-Nya, pujian dan sanjungan juga hanya layak disandang oleh-Nya. Maka, mungkinkah Sang Pencipta Mahabijak yang telah menciptakan langit dan bumi membiarkan manusia sia-sia, padahal Dia yang telah menciptakanya sebagai hasil terbesar dari langit dan bumi serta buah alam yang paling sempurna? Tentu saja tidak mungkin. Logiskah Sang Mahabijak Yang Maha Mengetahui yang telah memelihara pohon serta menata urusannya dengan penuh perhatian sekaligus membesarkannya dengan penuh hikmah akan mengabaikan buah dari pohon tersebut yang merupakan buah dan manfaatnya sehingga berserakan dan dibiarkan diambil para pencuri sehingga sia-sia? Tentu saja tidak adanya perhatian semacam itu mustahil terjadi. Sebab, perhatian terhadap pohon adalah demi buahnya. Demikianlah, buah alam paling sempurna serta tujuan dan hasilnya yang memiliki perasaan adalah manusia. Lalu mungkinkah Sang Pencipta alam Yang Mahabijak mempersembahkan pujian, ibadah, syukur, dan cinta yang merupakan inti buah yang memiliki perasaan dan kesadaran kepada selain-Nya? Mungkinkah Dia menyia-nyiakan hikmah-Nya yang cemerlang dan menjatuhkannya pada tingkat ketiadaan? Atau, Dia membalik qudrah-Nya yang mutlak kepada ketidakberdayaan serta mengubah pengetahuan-Nya yang komprehensif menjadi kebodohan? Tentu saja tidak mungkin.


Surat Kedua Puluh

409

Mungkinkah syukur dan ibadah yang dipersembahkan oleh makhluk yang memiliki kesadaran—di mana mereka merupakan orbit tujuan ilahi dalam membangun istana alam, terutama manusia yang merupakan makhluk terbaik—sebagai balasan atas nikmat yang mereka peroleh sampai kepada selain Pembuat istana tersebut? Mungkinkah Sang Pencipta Yang Mahaagung membiarkan syukur dan ibadah yang merupakan puncak tujuan dipersembahkan kepada selain-Nya? Mungkinkah Dzat yang membuat diri-Nya dicintai makhluk lewat beragam nikmat yang jumlahnya tak terhingga serta memperkenalkan diri kepada mereka lewat mukjizat kreasi-Nya yang tak terkira membiarkan syukur, ibadah, pujian, cinta, makrifat, dan ridha mereka diberikan kepada sebab dan alam, lalu Dia tidak peduli dengannya sehingga mendorong mereka untuk mengingkari hikmah-Nya yang mutlak serta merendahkan kekuasaan rububiyah-Nya hingga ke tingkat tiada? Tentu saja hal itu sangat tidak mungkin. Mungkinkah makhluk yang tak mampu mencipta musim semi, menghadirkan buah, dan mencipta buah apel—yang memiliki tanda yang sama—di seluruh bumi menjadi sekutu dalam pujian bersama Dzat Yang layak mendapat pujian secara mutlak dengan mencipta satu buah apel kemudian mempersembahkan kepada salah seorang dari mereka, lalu mendapatkan pujian darinya? Tentu saja tidak mungkin. Sebab, Dzat yang menciptakan satu buah apel juga merupakan Pencipta buah apel yang terdapat di seluruh alam. Pasalnya, tanda dan stempelnya sama. Kemudian, Dzat yang menciptakan seluruh apel di dunia adalah Dzat yang menghadirkan benih dan buah yang merupakan sumber rezeki. Artinya, Dzat yang memberikan nikmat terkecil pada makhluk hidup yang paling kecil adalah Pencipta alam di mana Dialah satu-satunya Pemberi rezeki Yang Mahaagung. Jadi, pujian dan syukur hanya layak disandang oleh-Nya. Hakikat alam selalu bertutur lewat lisan kebenaran:


410

AL-MAKTÛBÂT

“Segala puji dari setiap orang adalah milik-Nya, mulai dari zaman azali hingga abadi.� Klausa Keenam: Artinya, Dia yang menganugerahkan kehidupan. Jadi, hanya Dia Pencipta segala sesuatu. Sebab, kehidupan merupakan ruh, cahaya, hasil dan intisari alam. Siapa yang menganugerahkan dan memberikan kehidupan berarti Dia Pencipta seluruh alam. Dialah Maha menghidupkan, Mahahidup, dan Maha Berdiri sendiri. Kami ingin menunjukkan argumen kuat tentang tingkatan tauhid ini dengan uraian sebagai berikut: Kita menyaksikan sejumlah kemah yang tegak di atas bumi di mana ia merupakan tempat bagi pasukan makhluk hidup yang jumlahnya sangat besar. Kita juga menyaksikan sebuah pasukan baru dari banyak pasukan Tuhan Mahahidup yang jumlahnya tak terhingga. Mereka datang dari alam gaib dengan sejumlah perlengkapan dan perangkatnya pada setiap musim semi. Ketika mencermati pasukan besar tersebut, kita melihat kelompok tumbuhan mencapai dua ratus ribu spesies. Sementara kelompok hewan sekitar seratus ribu spesies yang berbeda. Setiap jenis dan setiap kelompok mengenakan pakaian khusus. Mereka juga memiliki makanan tertentu, latihan tertentu, dilengkapi dengan senjata dan perangkat yang sesuai, serta jangka waktu pengabdian yang khusus. Namun meski berbeda-beda, lewat qudrah-Nya yang mutlak, hikmah-Nya yang tak terbatas, pengetahuan-Nya yang tak terhingga, kehendaknya yang tak bertepi, rahmatnya yang luas serta simpanan kekayaannya yang tak pernah habis, pemimpin besar mereka tidak melupakan seorang prajurit pun. Ia tidak pernah merasa bingung dengan urusan mereka serta tidak pernah menangguhkan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Namun setiap kelompok dan setiap jenis yang jumlahnya lebih dari 300 ribu diberi rezeki, pakaian, dan senjata yang berbeda-beda. Mereka diberi latihan khusus serta dibebastugaskan pada waktu yang berbeda. Semuanya berjalan dengan rapi, terukur, dan pada waktu yang tepat. Hal itu bisa dilihat oleh setiap orang yang mempunyai mata yang melihat dan diketahui oleh


Surat Kedua Puluh

411

setiap pemilik hati yang hidup dengan ainul yaqin, sebagaimana telah kami sebutkan dalam “kalimat” lain. Kalau demikian, apakah mungkin ada yang ikut serta dalam menghidupkan dan berkehendak, serta mendidik dan menyuplai rezeki selain Pemilik pengetahuan yang meliputi seluruh kondisi pasukan, serta Pemilik kekuasaan yang menata urusannya dengan seluruh kebutuhannya? Tentu saja tidak mungkin. Sebab, seperti diketahui, apabila dalam sebuah pasukan terdapat sepuluh jenis prajurit, maka proses melengkapi setiap prajurit dengan beragam perlengkapan sepuluh kali lebih sulit daripada melengkapi semua pasukan dengan perlengkapan yang sama. Dari sini manusia yang lemah tersebut melengkapi mereka dengan pakaian dan perlengkapan yang sama, sementara Sang Mahahidup dan Berdiri Sendiri melengkapi pasukan besar itu yang jumlah spesiesnya lebih dari 300 ribu jenis dengan sejumlah perlengkapan hidup yang kesatuannya berbeda-beda. Semua itu terwujud dengan sangat mudah, tanpa merasa penat, dengan sangat rapi, dan penuh hikmah. Sehingga setiap individu dari pasukan di atas digiring untuk bertutur dengan lisanul hal (keadaan), “Dialah Yang menghidupkan.” Bahkan, ia menjadikan jamaah besar itu di mesjid alam yang besar ini mengucap:

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui


412

AL-MAKTÛBÂT

apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. al-Baqarah [2]: 255). Klausa Ketujuh: Artinya, Dia yang mendatangkan kematian. Yakni, sebagaimana Dia menganugerahkan kehidupan, Dia juga yang akan merenggutnya sekaligus memberikan kematian. Ya, kematian bukan penghancuran dan kepadaman sehingga dinisbatkan kepada sebab dan disandarkan kepada alam. Tetapi, meski kelihatannya sebuah kehancuran dan kepadaman, namun sebenarnya ia merupakan awal dan permulaan dari kehidupan abadi manusia serta perlambang dari kehidupan tersebut. Sebagaimana benih ditanam di bawah tanah dan secara lahir tampak mati, namun secara batin ia menjalani kehidupan benih yang parsial menuju kehidupan bulir yang universal. Karena itu, Sang Mahakuasa mutlak yang menganugerahkan dan mengendalikan kehidupan, sudah pasti juga Dzat yang menciptakan kematian. Kami ingin memberikan penjelasan tentang tingkatan tauhid agung yang dikandung oleh klausa di atas: Dalam “jendela kedua puluh empat” dari “Surat Ketiga Puluh Tiga” kami telah menjelaskan bahwa seluruh entitas berjalan sesuai dengan kehendak ilahi. Seluruh alam berlalu sesuai perintah-Nya. Seluruh makhluk mengalir secara terus-menerus di sungai zaman dengan izin Allah. Ia dikirim dari alam gaib dan diberi wujud lahiri di alam nyata. Kemudian secara rapi ia diturunkan ke alam gaib. Ia terus-menerus datang dari masa depan lewat perintah ilahi, berjalan menyusuri kondisi saat ini dan hidup di dalamnya, kemudian dituang ke masa lalu. Aliran makhluk dalam wilayah rahmat dan karunia-Nya terwujud dengan penuh hikmah. Perjalanannya dalam lingkup hikmah dan keteraturan terwujud dalam puncak pengetahuan.


Surat Kedua Puluh

413

Berlalunya ia dalam wilayah kasih sayang dan neraca-Nya terwujud dalam bingkai rahmat yang luas. Demikianlah makhluk berjalan sejak awal hingga akhir disertai dengan berbagai hikmah, maslahat, hasil, dan tujuan agung. Artinya, Sang Mahakuasa Yang Mahaagung dan Sang Mahabijak Yang Mahasempurna memberikan kehidupan secara terus-menerus lewat qudrah-Nya yang mutlak serta menugaskan berbagai jenis entitas berikut seluruh bagian-bagiannya, serta alam yang terbentuk pada berbagai jenis tersebut. Kemudian Dia mengistirahatkannya dengan hikmah seraya memperlihatkan kematian padanya. Lalu mengirimnya ke alam gaib. Dengan kata lain, Dia memindahkannya dari wilayah qudrah (kekuasaan) ke wilayah ilmu (pengetahuan). Siapa yang tidak mampu menata jagat raya, serta kekuasaannya tidak berlaku pada seluruh zaman, qudrahnya tidak bisa mendatangkan kematian dan kehidupan kepada seluruh alam— sebagaimana yang diberikan kepada satu individu—serta tidak dapat menjadikan musim semi seperti sebuah bunga yang diberi kehidupan, ditempatkan di atas bumi, lalu dipetik lewat kematian. Nah, yang tidak mampu melakukan semua itu tidak akan mungkin bisa mematikan dan menghidupkan. Artinya, kematian makhluk hidup—betapapun kecilnya—harus seperti kehidupannya. Yakni, semua harus terwujud lewat hukum Tuhan Yang Mahaagung. Dia yang menggenggam seluruh hakikat kehidupan dan seluruh jenis kematian. Dia menjalankan semua dengan izin, kekuatan, dan pengetahuan-Nya. Klausa Kedelapan: Yakni, kehidupan-Nya bersifat permanen, azali, dan abadi; tidak mengalami kematian, kefanaan, dan ketiadaan. Sebab, kehidupan itu sendiri adalah sifat yang menyatu dengan Dzat-Nya (dzati). Sementara yang bersifat dzati itu tidak akan mungkin lenyap. Ya, Dzat yang bersifat azali tentu abadi, yang tak bermula pasti tak berakhir, dan yang wujudnya bersifat wajib pasti kekal selamanya.


414

AL-MAKTÛBÂT

Ya, kehidupan; yang seluruh wujud berikut cahayanya merupakan bayangan dari bayangan kehidupan-Nya, bagaimana mungkin akan tiada. Ya, kehidupan; yang semua wujud menjadi tanda darinya, tidak akan pernah fana dan tiada. Ya, kehidupan; yang lewat manifestasinya semua jenis kehidupan menjadi tampak secara terus-menerus di mana ia menjadi sandaran semua hakikat entitas, sudah pasti tidak akan pernah fana dan lenyap. Ya, kehidupan; yang kilau manifestasi darinya melahirkan kesatuan bagi segala sesuatu yang banyak yang bisa fana, yang menjadikannya kekal, yang menyelematkannya dari keterserakan, yang menjaga wujudnya, serta menjadikannya sebagai bentuk keabadian, tentu saja kefanaan tidak akan pernah mendekati kehidupan yang bersifat wajib ini di mana seluruh kilau kehidupan terhitung sebagai manifestasi wujud-Nya. Bukti kuat atas hakikat di atas adalah lenyap dan fananya entitas. Yakni, sebagaimana entitas lewat beragam wujud dan jenis kehidupannya menjadi petunjuk dan saksi atas kehidupan Tuhan Yang Mahahidup yang tidak pernah mati, serta atas wujud kehidupan tersebut,453 ia juga menjadi petunjuk dan saksi, lewat beragam bentuk kematian dan jenisnya, atas abadinya kehidupan Tuhan. Pasalnya, setelah entitas lenyap maka yang semisal dengannya datang untuk mendapatkan kehidupan yang sama sekaligus menggantikan posisinya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yang Mahahidup secara permanen ada. Dia yang memperbaharui manifestasi kehidupan secara terus-menerus. Sebagaimana buih yang berada di permukaan sungai dan menghadap mentari tampak berkilau lalu menghilang digantikan oleh buih yang lain. Pengalihan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a saat memberikan argumen kepada Namrud terkait dengan proses mematikan dan menghidupkan, kepada kemampuan Allah yang mendatangkan mentari dari Timur dan tidak mampunya Namrud mendatangkannya dari Barat, hal itu merupakan bentuk pengalihan menuju tingkat yang lebih tinggi. Yakni, dari proses mematikan dan menghidupkan yang bersifat parsial kepada proses mematikan dan menghidupkan yang bersifat universal. Artinya, pengalihan ke wilayah yang lebih luas dari dalil pertama; bukan naik ke dalil nyata dengan meninggalkan dalil yang tersembunyi, seperti yang disebutkan sebagian mufassir—Penulis. 453


Surat Kedua Puluh

415

Demikianlah seterusnya yang terjadi pada kelompok entitas. Masing-masing berkilau lalu padam dan kembali pada kondisi semula. Kondisi berkilau dan padam yang terjadi secara bergiliran tersebut menunjukkan keberadaan mentari yang permanen dan tinggi. Demikian pula pergiliran hidup dan mati yang berlangsung secara bergantian di antara entitas menunjukkan keabadian Dzat Yang Mahahidup. Ya, entitas laksana cermin. Akan tetapi, sebagaimana gelap menjadi cermin bagi cahaya di mana semakin gelap maka cahaya tadi semakin terang, maka dilihat dari kebalikannya dan dari banyak sisi, entitas juga berposisi sebagai cermin. Misalnya: entitas menunaikan tugas cermin dengan memperlihatkan qudrah Sang Pencipta lewat kelemahan yang terdapat pada dirinya, menjelaskan kekayaan Tuhan lewat kefakirannya, serta ia menunjukkan keabadian-Nya lewat kondisi fana yang dialaminya. Ya, kondisi kefakiran yang terdapat dipermukaan bumi serta pepohonan yang berada di atasnya di musim dingin, lalu pergantian kondisi tersebut dengan kekayaan musim semi yang cemerlang, menunjukkan keberadaan Dzat Mahakuasa yang kekuasaan-Nya bersifat mutlak, keberadaan Dzat Mahakaya yang kekayaannya tak terhingga, serta bahwa entitas merupakan cermin bening yang memperlihatkan qudrah dan rahmat-Nya. Ya, seolah-olah dengan lisânul hal seluruh entitas berkata dan bermunajat kepada Tuhan dengan munajat Uwais al-Qarani sebagai berikut: Ya Ilahi... Engkau Tuhan kami. Sementara Kami adalah hamba-Mu yang tak berdaya mendidik diri sendiri. Engkaulah yang mendidik kami. Engkau Pencipta, sementara kami adalah makhluk dan ciptaan. Engkau Pemberi rezeki, sementara kami yang membutuhkan rezeki. Tangan kami terbatas.


416

AL-MAKTÛBÂT

Engkaulah yang mencipta dan memberi rezeki kepada kami. Engkau Penguasa, sementara kami adalah budak. Yang mengendalikan urusan kami bukan kami. Engkaulah penguasa kami. Engkau Mahamulia dan Mahaagung, sementara kami adalah makhluk yang hina. Akan tetapi, pada kami terdapat manifestasi kemuliaan. Kami adalah cermin kemuliaan-Mu. Engkau Mahakaya mutlak, sementara kami adalah makhluk yang fakir. Kepada tangan kami yang fakir diserahkan kekayaan yang berada di luar kuasa kami. Engkau Mahakaya dan Maha Pemberi. Engkau Mahahidup dan Maha Abadi, sementara kami adalah makhluk yang akan mati. Kami lihat manifestasi kehidupan yang abadi dalam mati dan hidup kami. Engkau Mahakekal, sementara kami adalah makhluk yang fana. Kami melihat kekekalan dan keabadaian-Mu dalam kefanaan dan kepergian kami. Engkau Maha Mengabulkan dan Maha Memberi, sementara kami, seluruh makhluk, meminta dengan lisan ucapan dan kondisi kami. Kami meratap, bersimpuh, dan memohon pertolongan. Engkau kabulkan pinta kami. Kau penuhi keinginan kami. Kau wujudkan harapan kami. Engkaulah Yang Maha Mengabulkan wahai ilahi. Demikianlah, seluruh entitas, baik secara parsial maupun universal, bermunajat kepada Tuhan seperti Uwais al-Qarani dengan munajat maknawi. Masing-masing menunaikan tugas cermin. Lewat kelemahan, kefakiran, dan ketidakberdayaannya, setiap entitas memproklamirkan qudrah dan kesempurnaan Allah I. Klausa Kesembilan: Artinya, seluruh kebaikan berada di tangan-Nya; seluruh amal kebajikan berada dalam lembaran catatan-Nya; dan seluruh karunia berada dalam simpanan kekayaan-Nya. Karena itu, siapa yang menginginkan kebaikan, hendaknya meminta kepada-Nya.


Surat Kedua Puluh

417

Siapa yang mengharap karunia, hendaknya bersimpuh di hadapan-Nya. Kami akan menunjukkan sejumlah dalil yang sangat luas dan kilau dari petunjuk ilmu ilahi yang tak terhingga untuk memperlihatkan hakikat “klausa� di atas dengan jelas. Yaitu sebagai berikut: Sang Pencipta yang Maha menghadirkan dan yang dengan perbuatan lahiriah-Nya mengendalikan alam ini, memiliki ilmu yang meliputi segala hal. Ilmu tersebut khusus dimiliki oleh-Nya semata; tanpa pernah terlepas dari-Nya. Sebab, sebagaimana keberadaan mentari tidak mungkin tanpa cahaya, demikian pula Sang Pencipta Mahaagung yang menghadirkan makhluk dengan sangat rapi jauh lebih tidak mungkin ilmu-Nya terlepas dari-Nya. Ilmu yang meliputi segala hal itu sangat penting dan fundamental bagi-Nya. Ia juga fundamental bagi segala sesuatu dilihat dari sisi keterkaitan. Maksudnya, tidak mungkin ada yang tersembunyi dari-Nya dalam kondisi apapun. Sebab, sebagaimana segala sesuatu yang terhampar di muka bumi tidak mungkin tak melihat mentari yang berada di hadapan mereka tanpa hijab, maka jauh lebih tidak mungkin lagi segala sesuatu terhijab dari pengetahuan Dzat Yang Maha Mengetahui dan Mahaagung. Hal itu karena kondisinya yang tampak. Artinya, segala sesuatu berada dalam jangkauan penglihatan dan penyaksian-Nya, serta pengetahuan-Nya menembus segala sesuatu. Apabila sinar mentari yang tak bernyawa itu, cahaya manusia yang lemah ini, cahaya sinar Rontgen (sinar X) yang tak memiliki perasaan, dan sinar sejenis lainnya yang bersifat baru, terbatas, dan fana, dapat menyaksikan dan menembus segala sesuatu yang berada di hadapannya, apalagi dengan cahaya pengetahuan azali yang bersifat wajib, komprehensif, dan berdiri sendiri. Jadi, tidak mungkin ada yang tersembunyi dari-Nya dan tidak ada yang berada di luar pengetahuan-Nya.


418

AL-MAKTÛBÂT

Di alam terdapat tanda dan petunjuk yang terhampar yang jumlahnya tak terhingga. Semuanya menunjukkan hakikat ini. Di antaranya sebagai berikut: Seluruh hikmah yang terdapat pada makhluk menunjukkan adanya pengetahuan Tuhan yang komprehensif tersebut. Pasalnya, pelaksanaan amal dengan hikmah hanya bisa terwujud dengan adanya pengetahuan. Begitu pula dengan perhatian dan penghiasan pada makhluk. Ia juga menunjukkan adanya pengetahuan Tuhan yang komprehensif. Pasalnya, Dzat yang bekerja dengan halus dan penuh perhatian pasti mengetahui. Ia bekerja berdasarkan pengetahuan. Juga, semua entitas yang tertata dan terukur dengan ukuran yang teliti, serta setiap bentuk yang terukur dan telah ditentukan kadarnya. Semua itu menunjukkan adanya pengetahuan Tuhan yang komprehensif. Sebab, pelaksanaan amal dengan rapi hanya bisa terwujud dengan pengetahuan. Lalu, semua perhatian dan dekorasi juga menunjukkan adanya pengetahuan tersebut. Pasalnya, Dzat yang menciptakan makhluk dengan takaran, ukuran, ketetapan, dan kecermatan pasti melakukan apa yang Dia kehendaki dengan mengacu pada pengetahuan yang kuat. Begitu pula semua ketentuan yang tertata rapi yang terlihat pada seluruh entitas, serta berbagai hal yang dibentuk sesuai dengan hikmah, maslahat, kondisi produktif yang ditata sesuai kaidah qada dan qadar, semua itu menunjukkan pengetahuan Tuhan yang komprehensif. Ya, pembentukan segala sesuatu yang beragam secara sangat rapi, penataan segala sesuatu dalam bentuk khusus dan sesuai dengan wujud dan maslahat hidupnya, semua itu hanya terwujud dengan pengetahuan yang komprehensif. Pengiriman rezeki kepada semua makhluk hidup—lewat cara yang tak terduga—pada waktu yang sesuai, serta dalam bentuk yang tepat untuk masing-masingnya hanya bisa terwu-


Surat Kedua Puluh

419

jud dengan pengetahuan yang komprehensif. Pasalnya, Dzat yang memberi rezeki sudah pasti mengetahui kondisi makhluk yang membutuhkan rezeki, mengetahui waktu pengiriman rezeki tersebut, dan mengetahui kebutuhannya. Lalu Dia memberikannya dalam bentuk yang terbaik. Begitu pula wafatnya semua makhluk hidup dengan ajal yang sudah ditentukan—dalam kondisi yang tak mereka ketahui—menunjukkan pengetahuan Tuhan yang meliputi segala hal. Sebab, ajal setiap kelompok makhluk hidup digariskan pada masa tertentu antara dua batas meskipun secara lahiriah waktu datangnya ajal masing-masing tidak terlihat. Karena itu, menjaga hasil, buah, dan benih darinya setelah ajalnya datang memastikan penunaian tugas oleh generasi selanjutnya sekaligus mengubah buah dan benih tadi menjadi kehidupan yang baru. Hal tersebut juga menunjukkan keberadaan pengetahuan Tuhan yang bersifat komprehensif. Lalu, berbagai bentuk rahmat yang tercurah kepada seluruh makhluk yang disesuaikan dengan kondisi masingmasing, hal itu menunjukkan pengetahuan Tuhan yang komprehensif dalam lingkup rahmat-Nya yang luas. Sebab, Dzat yang membesarkan anak-anak makhluk dengan susu serta menolong tanaman bumi yang membutuhkan air dengan hujan, harus mengenal mereka sekaligus mengetahui kebutuhan mereka. Dia juga harus melihat tanaman tersebut dan memahami pentingnya hujan bagi mereka. Setelah itu, Diapun mengirimkan hujan tersebut. Demikianlah, manifestasi rahmat-Nya yang luas dan tak terhingga yang disertai dengan perhatian dan hikmah-Nya menunjukkan pengetahuan Tuhan yang komprehensif. Perhatian mendalam dan dekorasi luar biasa yang terdapat pada kreasi seluruh entitas yang sangat rapi menunjukkan pengetahuan-Nya yang komprehensif. Sebab, seleksi terhadap kondisi yang tepat, penuh hikmah, dan indah di antara ribuan kondisi berbeda hanya bisa terwujud dengan pengetahuan yang mendalam. Jenis seleksi semacam itu terhadap seluruh entitas menunjukkan pengetahuan Tuhan yang komprehensif.


420

AL-MAKTÛBÂT

Kemudahan mutlak dalam menciptakan entitas menunjukkan pengetahuan yang sempurna. Sebab, kemudahan dalam melakukan pekerjaan tertentu dan dalam menghadirkan sebuah kondisi sejalan dengan tingkat pengetahuan dan kemahiran yang dimiliki. Pasalnya, semakin banyak ilmu, semakin mudah melakukan pekerjaan. Atas dasar tersebut saat melihat entitas, kita memahami bahwa masing-masing menjadi mukjizat dari kreasi dan penciptaan Tuhan. Dia mencipta dalam bentuk yang mencengangkan akal dengan cara yang sangat mudah, tanpa ada kesulitan sedikitpun, dalam waktu yang sangat singkat, serta dalam bentuk mukjizat yang paling sempurna. Artinya, terdapat pengetahuan tak terhingga yang membuat pekerjaan tersebut terlaksana dengan sangat mudah. Demikianlah, tanda-tanda yang sudah disebutkan di atas dan ribuan tanda sejenis menunjukkan bahwa Dzat yang menata urusan alam dan mengatur kondisinya memiliki pengetahuan yang meliputi segala hal. Dialah yang ilmu-Nya meliputi seluruh urusan serta pekerjaan-Nya terwujud dalam kondisi yang sejalan dengannya. Karena Tuhan semesta alam memiliki pengetahuan semacam itu, maka sudah pasti Dia melihat manusia dan melihat amalnya. Dia juga pasti mengetahui apa yang layak dan pantas untuk manusia sehingga memperlakukan manusia sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya. Wahai manusia, sadarlah! Renungkan keagungan Dzat yang mengetahui dan mengawasi kondisimu. Ketahui dan sadarilah hal itu! Barangkali ada yang berkata, “Pengetahuan saja tidak cukup. Kehendak juga sangat dibutuhkan. Sebab, tanpa kehendak pengetahuan tidak memadai.� Jawaban: Seluruh entitas menjadi petunjuk dan saksi atas adanya pengetahuan yang komprehensif. Di samping itu, ia menun-


Surat Kedua Puluh

421

jukkan kehendak mutlak Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu tersebut. Pemberian ciri secara sangat rapi pada segala sesuatu—terutama pada makhluk hidup—lewat sebuah kemungkinan di antara sekian banyak kemungkinan yang berbaur, dengan sebuah cara yang memberikan hasil dari sekian banyak cara yang tidak produktif, di mana ia berkisar dalam banyak kemungkinan, hal itu menunjukkan adanya kehendak menyeluruh lewat berbagai sisi yang tak terhingga. Pasalnya, pemberian bentuk yang terukur dan ciri yang rapi, yang dihitung secara sangat cermat lewat takaran yang sangat teliti dalam bentuk yang sangat teratur di antara banyak kemungkinan tak terhingga yang melingkupi wujud segala sesuatu, di mana ia dikelilingi banyak cara tak terkira, dalam lingkaran banyak unsur yang saling berbaur, semua itu dengan sangat jelas menunjukkan bahwa ia merupakan jejak kehendak-Nya yang bersifat universal. Pasalnya, memilih kondisi tertentu di antara banyak kondisi tak terhingga hanya terwujud dengan proses penentuan dan spesifi kasi, serta dengan maksud dan kehendak tertentu. Tentu saja spesifi kasi menuntut adanya pelaku yang mengkhususkan dan pilihan membutuhkan pelaku yang memilih. Nah, yang mengkhususkan dan yang memilih itu tidak lain adalah kehendak-Nya. Misalnya: Penciptaan tubuh manusia—yang menyerupai mesin yang tersusun dari ratusan perangkat yang berbeda-beda—dari setetes nutfah (sperma); penciptaan burung yang memiliki ratusan organ yang beraneka-ragam dari sebutir telur sederhana; dan penciptaan pohon yang memiliki banyak ranting dari sebuah benih kecil, hal ini tentu saja menunjukkan qudrah dan pengetahuan Tuhan, di samping menjadi saksi kuat atas kehendak Penciptanya Yang Mahaagung. Dengan kehendak tersebut, Allah I menentukan semua yang dibutuhkan oleh entitas tersebut. Dia memberi bentuk yang khusus untuk masing-masing bagian dan organ. Lalu membungkusnya dengan kondisi tertentu.


422

AL-MAKTÛBÂT

Kesimpulannya, sebagaimana kemiripan organ fundamental yang terdapat pada entitas dan makhluk hidup dilihat dari landasan, hasil, keselarasan, dan bagaimana ia memperlihatkan tanda yang sama, menunjukkan secara pasti bahwa Pencipta semua hewan itu satu. Demikian pula identifi kasi yang beragam, pemberian ciri yang penuh hikmah, serta penentuan yang cermat pada tandanya, meski beragam dan berbeda-beda, ia menunjukkan secara jelas bahwa Penciptanya Yang Esa adalah Dzat yang bekerja, memilih, dan berkehendak. Dia melakukan apa yang Dia kehendaki. Apa yang Dia kehendaki Dia kerjakan. Serta apa yang tidak Dia kehendaki tidak Dia kerjakan. Dia berbuat dengan maksud dan kehendak tertentu. Jadi, terdapat sejumlah petunjuk dan bukti atas pengetahuan dan kehendak ilahi sebanyak jumlah entitas bahkan sebanyak kondisinya. Karena itu, sikap sebagian fi lsuf yang menolak adanya kehendak ilahi, sikap sejumlah ahli bi’dah yang mengingkari takdir ilahi, sikap sebagian kaum sesat yang menyatakan bahwa Allah tidak mengetahui detil-detil sesuatu, serta sikap kalangan naturalis yang menisbatkan sejumlah entitas kepada kekuatan alam dan sebab, semuanya merupakan kebohongan ganda dan sikap mengada-ada. Bahkan, ia merupakan kesesatan dan kebodohan yang berlipat-lipat sebanyak jumlah entitas. Sebab, orang yang mendustakan berbagai kesaksian jujur yang jumlahnya tak terhingga berarti mengada-ngadakan kebohongan tak terkira. Dari sini engkau bisa melihat betapa besar kesalahan, betapa jauh dari hakikat kebenaran, serta betapa zalimnya orang yang dengan sengaja mengucap, “Itu perkara yang alami dan natural,” sebagai ganti dari, “In syâ Allah.. jika Allah berkehendak,” dalam persoalan yang tidak mungkin terjadi tanpa kehendak Allah I. Klausa Kesepuluh: Artinya, tidak ada yang berat bagi-Nya. Tidak ada sesuatu yang bersifat mungkin kecuali Allah mampu memberinya pakaian wujud dengan sangat mudah. Persoalan ini sangat gampang


Surat Kedua Puluh

423

bagi-Nya di mana dengan sekadar memberi perintah maka sesuatu itupun terjadi sesuai dengan bunyi fi rman-Nya:

“Keadannya-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah ia.” (QS. Yasin [36]: 82). Tukang yang sangat mahir, ketika tangannya menyentuh sesuatu, ia segera bekerja seperti mesin. Sebagai gambaran dari kemahirannya itu, muncul komentar bahwa pekerjaan dan kreasi tersebut mudah dan tunduk padanya sehingga seolah-olah ketika baru disentuh sudah langsung selesai. Pekerjaan baru ditunaikan, hasilnya sudah jadi. Begitu pula segala sesuatu di hadapan qudrah Sang Mahakuasa Yang Mahaagung. Ia sangat tunduk dan patuh kepada-Nya. Qudrah-Nya mengerjakan sesuatu dan menunaikannya dengan sangat mudah; tanpa ada yang berat dan sulit sedikitpun. Sampai-sampai al-Qur’an menggambarkan hal itu dengan fi rman-Nya:

“Keadannya-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah ia.” (QS. Yasin [36]: 82). Kami akan menerangkan lima dari rahasia tak terhingga yang terdapat pada hakikat agung ini. Semuanya kami tuangkan dalam lima nuktah454 berikut: Nuktah Pertama: Sesuatu yang paling besar sangat mudah bagi qudrah ilahi sama seperti benda terkecil. Menghadirkan spesies makhluk berikut semua anggotanya sangat mudah sama seperti menciptakan satu makhluk. Menciptakan surga yang luas sangat mudah sama seperti menciptakan musim semi. Menciptakan musim semi sangat mudah sama seperti menciptakan sebuah bunga. 454 Nuktah adalah persoalan ilmiah yang terinspirasi dari pengamatan yang cermat dan pemikiran yang mendalam―Al-Jurjâni, at-Ta’rîfât.


424

AL-MAKTÛBÂT

Kami telah menjelaskan rahasia ini di bagian akhir ‘Kalimat Kesepuluh’ dan di penjelasan landasan kedua dari ‘Kalimat Kedua Puluh Sembilan’. Yaitu dalam enam rahasia perumpamaan: rahasia nuraniyyah, rahasia syaffâfi yyah (transparansi), rahasia muqâbalah (kondisi berhadapan), rahasia muwâzanah (keseimbangan), rahasia intizhâm (keteraturan), rahasia at-â’ah (ketaatan). Di sana kami telah menegaskan bahwa bintang dan partikel sama mudahnya bagi qudrah ilahi. Dia telah menciptakan spesies yang jumlahnya tak terhingga semudah menciptakan satu makhluk tanpa kesulitan sama sekali. Karena enam rahasia tersebut telah dijelaskan dalam “kedua kalimat” di atas, maka tidak perlu dibahas di sini. Anda bisa merujuk pada keduanya. Nuktah Kedua: Dalil kuat dan argumen cemerlang yang menunjukkan bahwa segala sesuatu sama saja bagi qudrah ilahi adalah bahwa kita menyaksikan dengan mata kepala bagaimana penciptaan berbagai hewan dan tumbuhan terjadi secara sangat rapi, dengan kreasi yang indah, dan dalam jumlah yang banyak. Di dalamnya juga tampak pencirian yang sangat jelas meski dalam kondisi sangat bercampur. Di dalamnya juga tampak kreasi dan keindahan yang luar biasa meski dalam jumlah yang sangat besar. Segala sesuatu diciptakan secara sangat mudah dan cepat walaupun membutuhkan banyak perangkat dan rentang waktu guna memperlihatkan kreasi yang indah. Sehingga mukjizat kreasi yang menakjubkan itu seolah muncul ke permukaan secara seketika tanpa berasal dari sesuatu. Aktivitas qudrah ilahi yang kita lihat di seluruh muka bumi dan di setiap musim menunjukkan secara nyata bahwa entitas terbesar bagi qudrah yang menjadi sumber aktivitas tersebut sangat mudah dan gampang sama seperti yang terkecil darinya. Juga, bahwa penciptaan spesies yang jumlahnya tak terhingga sangat mudah bagi-Nya semudah menciptakan satu entitas.


Surat Kedua Puluh

425

Nuktah Ketiga: Unit terbesar sama seperti bagian terkecil bagi qudrah Sang Pencipta Yang Mahakuasa yang lewat aktivitas dan kendali-Nya mengatur semua urusan di alam. Menghadirkan sesuatu yang bersifat universal dalam jumlah besar dilihat dari elemennya semudah menciptakan sesuatu yang bersifat parsial. Memperlihatkan kreasi Tuhan yang menakjubkan bisa terwujud dalam unsur parsial yang paling kecil. Rahasia hikmah dari hakikat ini terpancar dari tiga sumber: Pertama: Sokongan wâhidiyyah Kedua: Kemudahan dalam kesatuan (wahdah) Ketiga: Manifestasi ahadiyyah. Sumber Pertama: Sokongan Wâhidiyah Yakni, jika setiap sesuatu dan segala sesuatu merupakan milik Dzat Yang tunggal, maka dilihat dari sisi wâhidiyah Dia dapat mengumpulkan kekuatan semua pada setiap sesuatu dan menata urusan segala sesuatu dengan mudah semudah menata sesuatu. Agar lebih mudah dipahami, kami berikan contoh berikut: Sebuah negeri dipimpin seorang penguasa. Penguasa tersebut mampu mengumpulkan kekuatan maknawiyah semua pasukan pada seorang prajurit. Hal itu bisa dilakukan lewat prinsip kesatuan kekuasaan yang ia miliki. Karena itu, prajurit tersebut bisa menawan panglima musuh, bahkan atas nama penguasa ia dapat menguasai orang yang jabatannya lebih tinggi daripada panglima tadi. Kemudian, sebagaimana sang penguasa mempekerjakan seorang pegawai atau prajurit serta menata urusan seluruh pegawai dan semua prajurit lewat kekuasaannya yang satu di mana seolah-olah ia mengirim setiap orang dan setiap sesuatu untuk memberikan sokongan, maka setiap orang dapat bernisbat kepada kekuatan seluruh rakyat. Dengan kata lain, ia bisa mendapatkan bantuan dari mereka. Akan tetapi, kalau tali kekuasaan yang satu itu terputus sehingga tercerai berai, maka setiap prajurit akan kehilangan


426

AL-MAKTÛBÂT

kekuatan yang tak terhingga. Ia akan jatuh dari posisi yang sangat berpengaruh menjadi seperti manusia biasa. Ketika itu, muncul banyak masalah dalam melakukan penataan sebanyak jumlah anggota yang ada. Begitu pula—( )—dengan Pencipta alam ini. Karena satu dan esa, Dia dapat mengumpulkan seluruh nama-Nya yang mengarah kepada semua entitas kepada tiap sesuatu. Dia menghadirkan ciptaan secara sangat rapi dan menakjubkan. Jika dibutuhkan, Dia menghadap kepada satu entitas dengan membawa seluruh entitas serta mengarahkan mereka kepadanya. Ia menyokong dan menguatkannya dengan mereka. Dia juga menciptakan semua entitas lewat rahasia wâhidiyah serta menata dan mengatur urusannya sama seperti menciptakan sebuah entitas. Dari rahasia ini—rahasia sokongan wâhidiyah—bisa disaksikan di alam ini berbagai jenis spesies yang sangat tinggi dan bernilai di tengah jumlah yang sangat banyak. Sumber Kedua: Kemudahan dalam Kesatuan Artinya, sejumlah perbuatan yang ditunaikan dengan prinsip kesatuan, dari satu pusat, satu kendali, dan satu kaidah melahirkan kemudahan mutlak. Sementara jika dikendalikan dari banyak pusat, dengan prinsip yang beragam, dan lewat banyak tangan, maka akan mendatangkan sejumlah persoalan yang rumit. Misalnya: jika seluruh prajurit dalam sebuah pasukan dibekali dengan sejumlah perlengkapan dari satu markas, lewat satu aturan, dan dipimpin satu komandan, maka urusannya menjadi mudah semudah membekali seorang prajurit. Namun jika pembekalan tersebut diserahkan kepada banyak pabrik dan markas yang berbeda-beda, maka untuk membekali seorang prajurit saja dibutuhkan seluruh pabrik militer yang memproduksi perlengkapan kemiliteran. Artinya, jika urusan tersebut diserahkan kepada satu pusat, membekali sebuah pasukan menjadi mudah semudah membekali seorang prajurit. Akan tetapi, jika tidak diserahkan kepada satu


Surat Kedua Puluh

427

pusat, proses membekali seorang prajurit dengan sejumlah peralatan fundamental mendatangkan banyak kesulitan sebanyak anggota pasukan. Begitu pula, apabila buah dari sebuah pohon—dilihat dari sisi kesatuan—dibekali dengan materi kehidupan yang berasal dari satu pusat, berdasarkan satu hukum, dan bersandar kepada satu akar, maka ribuan buah akan muncul dengan sangat mudah semudah satu buah. Sementara apabila setiap buah dikaitkan kepada pusat dan titik yang berbeda-beda, lalu masing-masing diberi banyak materi kehidupan, tentu akan muncul banyak kesulitan sebanyak buah di pohon itu. Pasalnya, materi kehidupan yang dibutuhkan sebuah pohon dibutuhkan pula oleh setiap buah. Demikianlah. Dengan dua contoh di atas, sesungguhnya Pencipta alam yang satu dan esa berbuat apa yang dikehendaki lewat sebuah kesatuan. Karena itulah, penciptaan segala sesuatu menjadi mudah semudah menciptakan satu entitas. Apalagi Dia mengerjakan sesuatu dengan sangat rapi sebagaimana ketika mengerjakan semua hal. Dia menciptakan seluruh elemen yang jumlahnya tak terhingga secara istimewa. Dia memperlihatkan kemurahan-Nya yang mutlak lewat lisan karunia dan kelembutan yang tak bertepi. Dengan itu pula Dia memperlihatkan kebaikan dan kreasi-Nya yang mutlak. Sumber Ketiga: Manifestasi Ahadiyah Artinya, Sang Pencipta Yang Mahaagung tidak berbentuk fi sik. Karena itu, Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kehadiran dan penyaksian-Nya tidak disertai keterlibatan alam dan tempat. Perantara dan benda tidak menghijab perbuatan-Nya. Tidak ada keterpisahan dan keterbelahan dalam perhatian-Nya. Sesuatu tidak menghalangi sesuatu yang lain. Dia mengerjakan perbuatan yang tak terhingga seperti mengerjakan satu hal. Karena itu, Dia memasukkan sebuah pohon yang sangat besar ke dalam benih yang kecil, memasukkan alam ke satu individu, serta menata urusan seluruh entitas lewat tangan qudrah-Nya sebagaimana menata satu entitas.


428

AL-MAKTÛBÂT

Sebagaimana rahasia ini telah kami jelaskan dalam “kalimat” yang lain, kami juga ingin menegaskan bahwa sinar mentari yang relatif tidak terikat bisa masuk kepada setiap hal yang berkilau. Pasalnya ia bersifat cahaya. Andaikan mentari berada di hadapan ribuan, bahkan jutaan cermin, tentu bayangannya akan masuk ke dalam setiap cermin tanpa ada keterbagian, sama seperti jika terdapat pada satu cermin. Kalau cermin tersebut memiliki kemampuan menampung secara baik, tentu mentari yang besar memperlihatkan sejumlah jejak di dalamnya. Yang satu tidak menghalangi yang lain. Sebab, bayangan mentari masuk ke dalam cermin sebagaimana ia juga masuk ke dalam ribuan cermin lain dengan sangat mudah. Ia terdapat di satu tempat dengan sangat mudah semudah keberadaannya di ribuan tempat lain. Jadi, setiap cermin dan setiap tempat menjadi manifestasi dari wujud mentari sebagaimana hal itu juga terjadi pada ribuan tempat lainnya. Dalam hal ini, Pencipta alam Yang Mahaagung memiliki wujud manifestasi lewat rahasia pantulan ahadiyah-Nya, dengan seluruh sifat-sifat-Nya yang mulia yang merupakan cahaya, serta dengan seluruh nama-Nya yang baik yang bersifat cahaya. Maka, Dia hadir dan melihat pada setiap tempat. Dia tidak dibatasi oleh ruang. Penglihatan-Nya tidak terbagi. Dia berbuat apa yang Dia inginkan sesuai dengan yang Dia kehendaki pada setiap tempat di waktu yang bersamaan tanpa ada kesulitan dan kerumitan sedikitpun. Lewat rahasia “sokongan wâhidiyah”, “kemudahan dalam kesatuan”, dan “manifestasi ahadiyah-Nya”, apabila seluruh entitas dikembalikan kepada Pencipta Yang Esa, maka keberadaan seluruh makhluk menjadi mudah seperti mudahnya keberadaan satu makhluk. Karena itu, setiap makhluk memiliki nilai yang tinggi sebagaimana seluruh makhluk dilihat dari sisi kecermatan dan kreasinya. Seluruh detil-detil kreasi yang rapi dan yang terdapat di seluruh makhluk meskipun sangat banyak, semuanya menerangkan hakikat ini. Sebaliknya, apabila seluruh entitas tidak dinisbatkan kepada Sang Pencipta Yang Mahaesa, maka setiap entitas berada dalam kesulitan sebanyak kesulitan yang terdapat pada seluruh


Surat Kedua Puluh

429

entitas. Nilai seluruh entitas turun menjadi senilai satu entitas. Dalam kondisi demikian, sesuatu tidak bisa hadir ke alam wujud. Atau kalaupun hadir, ia tidak akan bernilai apa-apa. Dari rahasia ini, kalangan sofi s yang tenggelam dalam dunia fi lsafat memilih jalan kesesatan dan kekufuran dengan berpaling dari jalan kebenaran. Mereka menganggap jalan kemusyrikan, yang tentu saja ribuan kali lebih rumit dan tidak logis daripada jalan tauhid, sebagai jalan kebenaran. Karena itu, mereka mengingkari wujud segala sesuatu dan menanggalkan akal. Nuktah Keempat: Menciptakan surga semudah menghadirkan musim semi, dan menghadirkan musim semi semudah menumbuhkan sebuah bunga bagi qudrah Tuhan semesta alam yang menata seluruh urusan dengan perbuatan-Nya yang terlihat dan tampak nyata. Bisa jadi di hadapan qudrah tersebut nilai keindahan kreasi yang menakjubkan dari sebuah bunga senilai dengan keindahan musim semi yang bersinar. Rahasia dari hakikat ini ada tiga: Pertama: sifat wajib dan “kemurnian” yang terdapat pada Pencipta Yang Mahaagung. Kedua: kondisi-Nya yang tidak terikat dengan tetap memiliki esensi yang berbeda. Ketiga: kondisi-Nya yang tidak menempati ruang dengan tetap tidak terbagi. Rahasia Pertama: sifat wajib dan “kemurnian” melahirkan kemudahan mutlak. Rahasia ini sangat dalam dan halus. Agar lebih mudah dipahami, kami berikan contoh berikut: Tingkatan wujud beragam. Alam entitas juga berbeda-beda. Karena itu, satu pertikel dari tingkatan wujud yang memiliki eksistensi kuat menyamai sebuah gunung dari tingkatan wujud yang eksistensinya kurang kuat sekaligus menguasai gunung tersebut. Misalnya, daya ingat yang terdapat pada manusia—yang secara lahir tidak sampai sebesar biji sawi—bisa menyerap dan menguasai eksistensi alam makna seukuran perpustakaan besar.


430

AL-MAKTÛBÂT

Sebuah cermin kecil seukuran kuku dapat menampung sebuah kota yang sangat besar dari tingkatan eksistensi alam mitsal. Kalau cermin dan daya ingat tersebut memiliki perasaan dan kekuatan untuk mencipta, tentu keduanya akan mendatangkan perubahan tak terhingga pada wujud maknawi dan mitsali tadi, meskipun memiliki kekuatan wujud lahiriah yang sangat kecil. Artinya, semakin kokoh eksistensi, iapun menjadi semakin kuat. Sesuatu yang sedikit bisa menjadi seperti banyak. Terutama apabila wujud dan eksistensi tersebut terbebas dari materi, tidak terikat, dan memiliki kekokohan yang sempurna, maka manifestasi parsial darinya dapat menata banyak alam dari seluruh tingkatan alam wujud. Allah lebih dari semua itu. Sang Pencipta Mahaagung dari jagat raya ini adalah Dzat Yang Wajib ada. Yakni, wujudnya bersifat mandiri, azali, dan abadi, Dia tidak boleh tiada dan tidak mungkin lenyap. Wujud-Nya adalah bentuk tingkatan eksistensi yang paling kokoh, paling kuat, dan paling sempurna. Sementara, tingkatan wujud lainnya dibandingkan dengan wujud-Nya, seperti bayangan yang amat lemah. Wujud-Nya bersifat wajib, kokoh, dan sangat esensial. Sementara, wujud makhluk yang bersifat mungkin sangat ringan dan lemah. Sampai-sampai Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi dan banyak tokoh semisalnya dari ahli hakikat memosisikan seluruh tingkatan wujud yang lain laksana ilusi dan khayalan. Mereka berkata:

“Tiada yang ada selain Dia.� Menurut mereka, selain Dzat wajibul wujud tidak bisa disebut sebagai wujud. Pasalnya, seluruh jenis tersebut tidak layak diberi lambang wujud. Demikianlah, wujud seluruh makhluk yang bersifat tidak esensial dan bersifat baru, serta keberadaan segala sesuatu yang


Surat Kedua Puluh

431

bersifat mungkin yang tidak memiliki stabilitas dan kekuatan sangat tidak berharga di hadapan qudrah Wajibul wujud. Proses menghidupkan seluruh ruh di hari kebangkitan nanti serta pengadilan terhadap mereka sangat mudah bagi qudrah tersebut; semudah membangkitkan dan menghidupkan dedaunan, bunga, dan buah di musim semi. Bahkan seperti menghidupkannya di sebuah kebun, atau bahkan di sebuah pohon. Rahasia Kedua: perbedaan esensi Tuhan dan kondisi-Nya yang tidak terikat melahirkan kemudahan mutlak. Tidak diragukan lagi bahwa Sang Pencipta alam bukan berasal dari jenis alam. Tentu saja esensi-Nya tidak serupa dengan yang lain. Karena itu, seluruh penghalang dan ikatan yang berada dalam wilayah alam tidak bisa menghalangi dan membatasi perbuatan-Nya. Dia mahakuasa untuk menata seluruh alam dalam waktu bersamaan serta melakukannya secara langsung. Andaikan kendali urusan dan perbuatan lahiriah-Nya di alam diserahkan kepada entitas dan makhluk, tentu ia akan melahirkan banyak masalah dan kerumitan sehingga tidak ada satupun tatanan dan sesuatu di alam wujud yang bisa muncul dan eksis. Misalnya: andaikan kemahiran dalam membangun kubah diserahkan kepada bebatuannya, serta andaikan kepemimpinan sebuah batalion, yang mestinya dipegang oleh komandan, diserahkan kepada para prajurit itu sendiri, tentu hasil yang diharapkan tidak akan terwujud. Atau, bisa jadi akan muncul banyak masalah dan kesemrawutan. Sementara, jika pembangunan kubah diserahkan kepada arsitek mahir yang bukan berasal dari jenis batu, serta kendali batalion diserahkan kepada komandan yang memiliki hak kepemimpinan dilihat dari pangkatnya, maka proses pembangunan dan pengaturan batalion tersebut akan berjalan dengan mudah. Sebab, batu dan demikian pula prajurit saling merintangi. Sementara, arsitek dan komandan melihat dan mengatur setiap titik bangunan atau prajurit tanpa ada rintangan sedikitpun.


432

AL-MAKTÛBÂT

Dalam hal ini, Allah lebih dari semua itu. Esensi Dzat wajibul wujud yang suci bukan berasal dari jenis esensi makhluk yang bersifat mungkin. Justru seluruh hakikat alam tidak lain merupakan kilau dari nama al-Haq (Yang Maha Benar) yang merupakan salah satu nama-Nya yang mulia. Karena esensi-Nya yang suci bersifat wajib ada, bersih dari unsur materi, dan berbeda dengan seluruh esensi lain, di mana tidak ada yang sama dan semisal dengannya, maka pengaturan dan pembinaan alam bagi qudrah Tuhan Mahaagung yang azali itu sangat mudah semudah menata musim semi, bahkan semudah menata sebuah pohon. Juga, proses menghadirkan kebangkitan, negeri akhirat, surga dan neraka, sangat mudah semudah menghidupkan pepohonan secara terus-menerus di musim semi setelah sebelumnya mati di musim gugur. Rahasia Ketiga: kondisi-Nya yang tidak menempati ruang dan tidak terbagi, menjadi sebab bagi datangnya kemudahan mutlak. Selama Sang Pencipta Yang Mahakuasa tidak terikat dengan tempat, maka tentu Dia hadir dengan qudrah-Nya di segala tempat. Juga, karena tidak terbagi, maka Dia bisa mengarah kepada segala sesuatu dengan seluruh nama-Nya yang mulia. Karena Dia hadir di setiap tempat dan mengarah kepada segala sesuatu, maka entitas, perantara, dan benda tidak bisa menghalangi perbuatan-Nya. Andai saja Dia membutuhkan sesuatu—di mana sebetulnya Dia tidak butuh—maka sesuatu itu hanya sekadar perantara dan sarana mencapai kehidupan serta sebab penunaian berbagai perbuatan seperti kabel listrik, dahan pohon, dan syaraf manusia. Jadi, tidak ada yang bisa menghambat, membatasi, dan ikut campur. Sebab, semuanya laksana fasilitas pemudah, media percepatan, dan sarana penyambung. Artinya, Dia tidak membutuhkan sesuatu dilihat dari sisi ketaatan dan ketundukan terkait dengan perbuatan qudrah Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahaagung. Bahkan kalaupun ada kebutuhan— meski sebetulnya tidak—maka sesuatu itu hanya menjadi fasilitas dan sarana untuk memudahkan.


Surat Kedua Puluh

433

Kesimpulan: Sang Pencipta Yang Mahakuasa menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kapasitas-Nya tanpa ada yang berat, rumit, dan sentuhan langsung, serta secara sangat gampang. Dia menghadirkan segala sesuatu yang universal semudah menghadirkan hal-hal parsial, serta menciptakan hal-hal parsial sebaik menciptakan yang universal. Ya, Pencipta hal yang bersifat universal, langit, dan bumi adalah Pencipta hal parsial dan spesies pemilik kehidupan yang dihimpun oleh langit dan bumi; bukan yang lain. Sebab, hal-hal parsial dan kecil tersebut adalah miniatur, buah, dan benih dari hal-hal universal. Dzat yang menciptakan hal parsial tersebut tentu adalah Pencipta segala elemen yang menghimpunnya, serta pencipta langit dan bumi. Pasalnya, kita menyaksikan bahwa hal parsial itu laksana benih dan salinan miniatur dari hal universal. Karena itu, elemen universal, langit, dan bumi sudah pasti berada dalam genggaman Pencipta hal parsial tersebut agar rangkuman entitas universal dan komprehensif tadi serta esensi dan prototipenya berada dalam hal parsial tersebut; di mana ia merupakan miniaturnya sesuai dengan rambu-rambu hikmah dan neraca pengetahuan-Nya. Ya, hal-hal parsial tidak kalah dengan yang universal dilihat dari keajaiban kreasi dan penciptaan. Bunga tidak kalah indah dari bintang cemerlang. Biji tidaklah lebih rendah dari pepohonan yang matang. Bahkan, pohon maknawi yang tersimpan dalam biji kecil—lewat tulisan takdir—lebih menakjubkan dari pohon yang membentang—lewat ukiran qudrah—di taman. Penciptaan manusia lebih menakjubkan daripada penciptaan alam. Sebagaimana kalau Qur’an hikmah ditulis dengan partikel eter di atas permata istimewa, bisa lebih bernilai daripada Qur’an keagungan yang tertulis di langit lewat bintang-gemintang, demikian pula banyak sekali hal parsial yang lebih mulia daripada hal universal dilihat dari sisi kreasi dan penciptaan.


434

AL-MAKTÛBÂT

Nuktah Kelima: Dalam uraian sebelumnya, kami telah menjelaskan sebagian dari rahasia dan hikmah penciptaan entitas dan makhluk yang terjadi dengan sangat mudah dan gampang serta dengan sangat cepat. Keberadaan segala sesuatu dengan sangat mudah dan cepat tersebut memberikan keyakinan kepada kaum beriman bahwa penciptaan surga bagi qudrah Sang Pencipta makhluk juga sangat mudah semudah menghadirkan musim semi, sementara menghadirkan musim semi semudah kebun, dan menghadirkan kebun semudah bunga. Juga, mengumpulkan dan membangkitkan seluruh manusia sangat gampang segampang mematikan dan membangkitkan seseorang. Hal itu sesuai dengan bunyi fi rman-Nya:

“Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja.” (QS. Luqman [31]: 28). Demikian pula, menghidupkan seluruh manusia pada hari kebangkitan sangat mudah semudah mengumpulkan semua prajurit yang tercerai berai saat istirahat lewat suara terompet. Hal itu sesuai dengan bunyi fi rman-Nya:

“Tidaklah teriakan itu selain sekali teriakan saja. Tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada kami.” (QS. Yasin [36]: 53). Kemudahan dan kecepatan tak terhingga tersebut, meskipun secara aksiomatis menunjukkan dan membuktikan kesempurnaan qudrah Sang Pencipta serta betapa segala sesuatu begitu mudah bagi-Nya, namun di sisi lain ia membingungkan kaum yang sesat. Mereka bingung melihat antara pembentukan dan penciptaan segala sesuatu lewat qudrah Tuhan yang begitu mudah hingga sampai pada tingkatan wajib, dengan terbentuknya sesuatu dengan sendirinya di mana hal itu amat sangat mustahil. Pasalnya, mereka melihat sesuatu yang biasa terlihat


Surat Kedua Puluh

435

hadir ke alam wujud dengan sangat mudah sehingga mengira tidak dicipta; tetapi terbentuk dengan sendirinya. Sungguh sebuah kebodohan yang amat parah. Pasalnya, mereka menjadikan bukti qudrah Tuhan yang bersifat mutlak sebagai petunjuk atas ketiadaannya. Mereka membuka berbagai pintu kemustahilan yang tak terhingga. Sebab, dengan persepektif mereka, setiap partikel makhluk harus memiliki sifat sempurna yang hanya menjadi milik Tuhan Yang Mahaagung. Misalnya sifat mahakuasa mutlak, mengetahui, meliputi, dan sejenisnya sehingga bisa membentuk dirinya sendiri. Klausa Kesebelas: Yakni, kepada-Nya semua kembali; dari negeri fana ke negeri abadi. Kepada-Nya semua pulang; dalam satu tempat abadi milik Yang Maha Tak Bermula dan Mahakekal. Kepada-Nya semua digiring; dari wilayah sebab ke wilayah qudrah Tuhan Yang Mahaesa. Kepada-Nya semua berjalan; dari dunia menuju akhirat. Dengan kata lain, tempat kembali kalian adalah tempat-Nya serta tempat selamat kalian adalah rahmat-Nya. Demikianlah, “klausa” ini memberikan banyak hakikat sejenis. Terkait dengan hakikat yang menjelaskan tentang kembalinya makhluk ke surga dan bagaimana ia meraih kebahagiaan abadi, hal itu telah kami jelaskan secara jelas tanpa membutuhkan keterangan lagi. Yaitu pada ‘dua belas bukti’ kuat yang terdapat di “Kalimat Kesepuluh” serta pada ‘enam landasan’ yang terdapat di “Kalimat Kedua Puluh Sembilan” berikut sejumlah dalilnya yang sangat kuat sekuat bukti terbitnya mentari setelah sebelumnya terbenam. Kedua “kalimat” itu telah menegaskan bahwa kehidupan yang merupakan mentari maknawi dunia akan hadir secara abadi di pagi hari kebangkitan setelah sebelumnya lenyap oleh rusaknya dunia. Sekelompok jin dan manusia akan mendapatkan kebahagiaan abadi, dan sebagian lainnya mendapatkan derita abadi. Karena “Kalimat Kesepuluh” dan “Kedua Puluh Sembilan” telah menjelaskan hakikat tersebut secara lengkap, maka Anda bisa merujuk kepadanya. Kami ingin menegaskan bahwa:


436

AL-MAKTÛBÂT

Sang Pencipta alam dan Pencipta manusia Yang Mahabijak di mana Dia memiliki pengetahuan komprehensif dan mutlak, kehendak universal yang mutlak, serta qudrah yang mutlak— seperti telah ditegaskan dalam berbagai penjelasan sebelumnya—telah menjanjikan surga dan kebahagiaan abadi untuk orang beriman dalam seluruh kitab dan lembaran suci-Nya. Karena sudah berjanji, maka pasti Dia akan mewujudkannya. Sebab, mengingkari janji adalah mustahil bagi-Nya. Pasalnya, tidak memenuhi janji adalah sebuah cacat. Sementara kesempurnaan mutlak bersih dari segala cacat. Tidak menunaikan janji juga bisa terjadi karena kebodohan atau bisa karena kelemahan. Sementara bodoh dan lemah tidak mungkin ada pada diri Tuhan Yang Mahakuasa. Jadi, tidak mungkin Dia mengingkari janji. Kemudian, seluruh nabi, terutama sosok kebanggaan alam, Nabi r, serta seluruh wali, kalangan ashfi yâ, dan kaum mukmin selalu berdoa kepada Dzat Yang Maha Penyayang dan Pemurah tersebut agar memberikan kebahagiaan abadi yang sudah Dia janjikan. Mereka bersimpuh dan meminta hal itu kepada-Nya. Di samping itu, mereka memintanya dengan seluruh nama-Nya yang mulia. Sebab, seluruh nama-Nya, terutama kasih sayang, rahmat, keadilan, dan hikmah sebagai konsekuensi dari nama ar-Rahmân, ar-Rahîm, al-Âdil dan al-Hakîm; serta rububiyah-Nya yang mutlak dan kekuasaan-Nya yang agung sebagai konsekuensi dari nama ar-Rabb dan Allâh, serta berbagai nama sejenis lainnya, menuntut keberadaan akhirat dan kebahagiaan abadi. Semuanya menjadi saksi dan bukti atas keberadaannya. Bahkan semua entitas dengan seluruh hakikatnya menunjukkan keberadaan negeri akhirat (seperti yang telah dijelaskan dalam “Kalimat Kesepuluh”). Selanjutnya, al-Qur’an al-Hakim dengan ribuan ayatnya serta penjelasan argumennya yang benar dan meyakinkan menunjukkan hakikat itu pula.


Surat Kedua Puluh

437

Sang kekasih yang mulia, Nabi r, yang merupakan kebanggaan umat manusia, telah mengajarkan, membuktikan, dan menjelaskan sekaligus menyaksikan dan mempersaksikan hakikat tersebut dengan bersandar kepada ribuan mukjizatnya yang cemerlang sepanjang hidup beliau yang penuh berkah serta lewat seluruh kekuatan yang Allah berikan.

Ya Allah, limpahkan salawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya sebanyak tarikan nafas penduduk surga di surga. Kumpulkan dan berikan kami kebahagiaan beserta orang-orang yang menyebarkan buku ini, teman-temannya, sahabatnya, serta para orang tua kami, saudara dan saudari kami di bawah panji beliau. Berikan syafaat beliau kepada kami. Serta masukkan kami ke dalam surga bersama keluarga dan para sahabat beliau dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Amin. Amin.


438

AL-MAKTÛBÂT

‫٭٭٭‬


Surat Kedua Puluh

439

Lampiran Klausa Kesepuluh dari Surat Kedua puluh

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’d [13]: 27).

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang bersekutu yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); adakah kedua budak itu sama kondisinya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Az-Zumar [39]: 29). Pertanyaan: Anda telah menyebutkan di sejumlah bagian Risalah Nur bahwa dalam kesatuan terdapat puncak kemudahan, sementara dalam pluralitas dan persekutuan terdapat puncak kesulitan. Anda juga menegaskan bahwa dalam kesatuan terdapat kemudahan sampai pada tingkat wajib, sementara dalam persekutuan terdapat kesulitan hingga pada tingkat mustahil terwujud. Padahal, berbagai persoalan dan kemustahilan juga terjadi pada sisi kesatuan. Misalnya, Anda berkata bahwa jika partikel-partikel tersebut bukan pesuruh, tentu setiap partikel memiliki pengetahuan komprehensif dan qudrah yang mutlak atau ia memiliki mesin


440

AL-MAKTÛBÂT

dan pabrik maknawi tak terhingga. Ini jelas tidak mungkin. Sementara, jika partikel itu merupakan pesuruh ilahi tentu ia juga harus mewujudkan seluruh urusan tadi agar bisa melaksanakan berbagai tugas yang diberikan kepadanya; yaitu berupa tugas yang tak terbatas. Jawaban: Dalam banyak “kalimat” kami telah menjelaskan bahwa apabila penciptaan seluruh entitas diserahkan kepada Sang Pencipta Yang Esa, maka urusannya akan menjadi mudah semudah menciptakan sebuah entitas. Sementara, jika ia diserahkan kepada banyak sebab dan kepada kekuatan alam, maka penciptaan seekor lalat sekalipun menjadi sulit sesulit menciptakan langit. Menciptakan bunga juga menjadi sulit sesulit menciptakan musim semi, serta menciptakan buah juga seperti menciptakan sebuah kebun. Karena persoalan ini sudah dijelaskan dalam sejumlah “kalimat” lain, Anda bisa merujuk padanya. Di sini kami hanya ingin menjelaskan tiga hal dalam tiga contoh yang menenangkan jiwa terkait dengan hakikat tersebut. Contoh Pertama: sebuah partikel yang bening dan berkilau tidak mampu menampung cahaya korek api dan tidak menjadi sumber baginya. Ia hanya memiliki cahaya sesuai dengan ukuran besarnya dan kadar kondisinya sebagai partikel yang kecil. Akan tetapi, jika ia bernisbat kepada mentari dan membuka matanya ke arah mentari tersebut (menghadap kepadanya), maka partikel kecil itu bisa menyerap mentari itu berikut seluruh sinar, spektrum cahaya, dan panasnya bahkan jaraknya. Partikel tersebut mendapatkan semacam manifestasi wujudnya yang agung. Dengan kata lain, jika partikel tersebut tidak bernisbat; bersandar pada dirinya sendiri, maka ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali seukuran partikel. Namun jika ia dianggap sebagai suruhan mentari serta bernisbat dan menjadi cermin baginya, maka partikel tersebut bisa menampilkan sebagian dari aktivitas mentari. Dalam hal ini, Allah lebih dari semua itu. Setiap entitas, bahkan setiap partikel, apabila dinisbatkan kepada banyak hal dan sekutu, serta kepada berbagai sebab, kepada kekuatan alam,


Surat Kedua Puluh

441

dan kepada dirinya sendiri, maka setiap partikel dan entitas itu bisa jadi memiliki ilmu yang mencakup segala hal dan memiliki qudrah yang bersifat mutlak, atau bisa jadi padanya terdapat sejumlah mesin yang tak terhingga agar bisa menunaikan berbagai tugas yang diserahkan kepadanya. Akan tetapi, apabila partikel itu dinisbatkan kepada Dzat Yang Mahaesa, maka setiap ciptaan dan partikel menjadi bernisbat kepada-Nya. Ia laksana pegawai yang mendapat perintah-Nya. Hubungan dan penisbatan itu membuatnya mendapatkan satu manifestasi dari-Nya. Dengan langkah dan penisbatan ini, ia terkait dengan pengetahuan dan qudrah mutlak Tuhan. Ia bisa menunaikan berbagai tugas yang jutaan kali berada di atas kemampuannya. Semua itu terwujud berkat kekuatan Penciptanya dan berkat rahasia hubungan tadi. Contoh Kedua: terdapat dua orang saudara; yang satu pemberani yang bersandar dan bangga kepada diri sendiri. Sementara yang lain berjiwa mulia yang memiliki semangat patriotisme. Saat terjadi peperangan, yang pertama tidak menisbatkan diri kepada negara karena ego dan bangga dengan dirinya sendiri. Bahkan, ia ingin menunaikan sendiri berbagai tugas yang ada. Hal itu membuatnya harus memikul segala sumber kekuatan yang ia miliki serta harus membawa seluruh perangkat dan perlengkapan dengan kemampuannya yang terbatas. Karena itu, ia tidak mampu memerangi musuh kecuali dengan kekuatannya sendiri yang terbatas. Ia hanya bisa menghadapi kekuatan seorang kopral; tidak lebih. Sementara saudara yang lain yang tidak bangga diri namun melihat dirinya lemah, ia menisbatkan diri kepada penguasa dan bergabung dalam pasukan. Dengan penisbatan tadi, pasukan negara yang besar menjadi titik sandarannya. Ia terjun dalam medan perang dengan kekuatan moril yang besar; setara dengan kekuatan sebuah pasukan. Pasalnya, raja dapat memobilisasi pasukan untuknya. Ia hadapi musuh; bahkan yang berpangkat jenderal sekalipun. Saat musuh kalah, ia bisa membawanya sebagai tawanan menuju kamp atas nama raja. Rahasia dan hikmah dari kondisi di atas adalah sebagai berikut:


442

AL-MAKTÛBÂT

Orang pertama yang bebas, karena harus membawa berbagai sumber kekuatan dan perangkatnya sendiri, ia hanya mampu melakukan sebuah pekerjaan yang paling sederhana. Adapun orang yang bekerja pada raja tidak harus membawa semua sumber kekuatannya sendiri. Namun pasukanlah yang membawakan untuknya dengan perintah raja. Lewat hubungan tersebut, ia mengaitkan dirinya dengan kekuatan yang besar. Sama seperti orang yang mengaitkan perangkat teleponnya dengan jaringan telepon sederhana milik negara. Nah, Allah lebih dari semua itu. Apabila setiap makhluk dan partikel dinisbatkan secara langsung kepada Dzat Yang Mahaesa dan bernisbat kepada-Nya, maka semut dapat menghancurkan istana Firaun; lalat dapat merobohkan Namrud dan melemparkannya ke dalam neraka sebagai tempat terburuk; bakteri kecil bisa memasukkan seorang zalim yang angkuh ke dalam kubur; benih cemara yang kecil menjadi seperti pabrik pohon yang besar sebesar gunung; serta partikel udara dapat menunaikan berbagai tugas yang rapi dan beragam untuk sejumlah bunga dan buah sekaligus masuk ke dalam aneka bentuknya. Semua itu berkat kekuatan Tuhan Pencipta makhluk. Kemudahan yang tampak jelas ini secara aksiomatis berasal dari penugasan Tuhan dan penisbatan hubungan dengan-Nya. Sementara apabila kondisinya dibiarkan dan tak beraturan, tali dibiarkan sampai lapuk, serta diserahkan kepada dirinya sendiri dan kepada berbagai sebab yang banyak, ketika itu amal yang kecil sekalipun membutuhkan kekuatan sebesar fi sik dan perasaannya. Contoh ketiga: dua orang teman ingin mengadakan sebuah penelitian yang berisi sejumlah data statistik geografi s tentang sebuah negara yang belum pernah ia lihat sama sekali. Salah satu dari mereka menisbatkan diri kepada raja atau penguasa negara tersebut. Ia masuk ke biro pos dan telekomunikasi. Lalu melakukan kontak lewat telepon melalui perwakilan negara itu dengan harga yang murah. Lewat cara tersebut, ia dapat berhubungan dengan berbagai instansi dan dapat memperoleh sejumlah informasi. Maka ia dapat memperoleh hasil penelitian tentang data statistik geografi s dengan sangat baik, akurat, dan ilmiah.


Surat Kedua Puluh

443

Adapun yang satunya lagi, bisa jadi ia melakukan perjalanan selama lima puluh tahun, mengarungi berbagai kesulitan guna menyaksikan sendiri berbagai tempat yang ada dan guna mendengar sendiri berbagai kejadian di dalamnya. Atau, ia harus mengeluarkan uang milyaran untuk membentangkan kabel jaringan telepon ke negara tersebut serta harus memiliki berbagai perangkat komunikasi seperti sang penguasa agar hasil penelitiannya bermutu seperti hasil penelitian temannya. (

) “Allah memiliki perumpamaan yang paling

agung.� Apabila seluruh makhluk yang jumlahnya tak terhingga ini dinisbatkan kepada Dzat Yang Mahaesa, maka segala sesuatu mendapatkan bentuk dan wujud dari hubungan dan penisbatan tersebut. Ia menjadi manifestasi dari Mentari azali itu. Maka, ikatannya terhubung dengan rambu-rambu hikmah-Nya, hukum pengetahuan-Nya, dan tatanan qudrah-Nya. Pada saat yang sama lewat kekuatan dan pertolongan-Nya ia dapat melihat segala sesuatu. Ia mendapatkan manifestasi ilahi yang laksana penglihatan-Nya yang dapat melihat segala sesuatu, laksana wajah-Nya yang dapat mengarah kepada segala hal, serta laksana ucapan-Nya yang terdengar oleh segala sesuatu. Namun apabila hubungan tadi diputus, segala hal juga menjadi terputus. Sesuatu menjadi susut seukuran fi siknya. Dalam kondisi demikian, ia harus menjadi pemilik uluhiyah mutlak agar bisa seperti dalam kondisi teman yang pertama. Intinya, jalan keesaan dan iman mengandung kemudahan mutlak sampai pada tingkat wajib. Sementara jalan kemusyrikan, sebab, dan pluralitas mengandung problem sampai pada tingkat mustahil. Pasalnya, Dzat Yang Mahaesa memberikan kondisi tertentu bagi banyak hal. Dari sana diperoleh hasil tertentu tanpa disertai rasa penat. Sementara jika pemerolehan kondisi tersebut diserahkan kepada berbagai sebab yang banyak, tentu hal itu hanya bisa terwujud dengan banyak beban dan kesulitan.


444

AL-MAKTÛBÂT

Jadi, sebagaimana disebutkan dalam “Surat Ketiga” bahwa peredaran pasukan bintang dalam medan langit di bawah kendali mentari dan bulan, pemberian pemandangan yang indah pada setiap malam dan tahun sebagai sarana zikir dan tasbih disertai posisinya yang menarik, juga pergantian musim dan bagaimana ia memperlihatkan berbagai manfaat dan hasil penuh hikmah, apabila semua itu dikembalikan kepada keesaan-Nya, maka Sang Penguasa azali menjalankannya dengan sangat mudah laksana menggerakkan seorang prajurit seraya menundukkan bumi yang laksana prajurit pasukan langit serta menetapkannya sebagai pemimpin umum atas seluruh benda yang tinggi itu. Setelah mendapat tugas, ia bergerak dengan semangat dan bergetar mendengarkannya. Sama seperti seorang maulawi saat berzikir. Hasil penting itupun diraih. Di sisi lain, kondisi indah tersebut terwujud dengan biaya yang sangat ringan. Akan tetapi, kalau bumi disuruh berhenti dan tidak ikut campur, lalu pemerolehan hasil tersebut diserahkan kepada langit itu sendiri, serta jalan yang plural dan syirik dilalui sebagai ganti dari keesaan, maka dalam kondisi demikian masing-masing dari jutaan bintang itu harus menempuh ukuran yang ribuan kali lebih besar daripada bola bumi serta harus menempuh jarak milyaran tahun dalam dua puluh empat jam. Kesimpulan: Al-Qur’an al-Karim menyerahkan urusan makhluk yang jumlahnya tak terhingga kepada Sang Pencipta Yang Mahaesa. Ia menisbatkan segala sesuatu secara langsung kepada-Nya sehingga meniti jalan yang mudah sampai pada tingkat wajib. Seperti itu pula yang dilakukan oleh orang-orang beriman. Adapun kaum musyrik dan para pembangkang, mereka menisbatkan sebuah ciptaan kepada sebab-sebab yang tak terhingga. Mereka meniti jalan yang sukar sampai pada tingkat mustahil. Sementara seluruh ciptaan yang mengikuti cara alQur’an dalam hal ini setara dengan sebuah entitas. Bahkan, segala sesuatu ketika bersumber dari Dzat Yang Mahaesa jauh lebih mudah daripada jika sebuah entitas bersumber dari banyak hal yang tak terhingga. Pasalnya, seorang komandan bisa mengatur seribu tentara dengan mudah sama seperti mengatur satu orang


Surat Kedua Puluh

445

tentara. Namun apabila pengaturan seorang tentara itu diserahkan kepada seribu komandan,maka urusannya menjadi ribuan kali lebih rumit. Demikianlah, ayat al-Qur’an berikut memberikan pukulan dan tamparan keras ke kepala kaum musyrik sekaligus menghentak mereka:

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.� (QS. az-Zumar [39]: 29).

Ya Allah, limpahkan salawat dan salam kepada junjungan kami, Muhammad r, sebanyak partikel entitas serta kepada keluarga, dan seluruh sahabat beliau. Amin. Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam.


446

AL-MAKTÛBÂT

Ya Allah, wahai Yang Mahaesa, Yang Satu, dan Tempat Bergantung. Wahai yang tiada tuhan selain Dia semata tanpa ada sekutu bagi-Nya; Wahai Pemilik kekuasaan dan segala pujian. Wahai Yang menghidupkan dan mematikan. Wahai yang menggenggam segala kebaikan; Wahai Dzat yang berkuasa atas segala sesuatu. Wahai yang kepada-Nya tempat kembali sesuai kebenaran rahasia kalimatkalimat ini; Jadikan penyebar risalah ini berikut seluruh rekan dan sahabatnya bahagia; tergolong kalangan ahli tauhid yang sempurna; tergolong yang bersikap jujur dan benar; serta tergolong kaum beriman yang bertakwa. Amin.

Ya Allah, dengan kebenaran rahasia keesaan-Mu, jadikan penyebar buku ini sebagai orang yang menebarkan berbagai rahasia tauhid, kalbunya sebagai manifestasi cahaya iman, serta lisannya menuturkan berbagai hakikat al-Qur’an. Amin, Amin, Amin!

‫٭٭٭‬


SURAT KEDUAPULUH SATU

“Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orangorang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.” (QS. al-Isrâ [17]: 23-25)


448

AL-MAKTÛBÂT

Wahai orang yang lalai! Wahai orang yang di rumahnya tinggal bersama ayah yang lanjut usia, ibu yang sudah tua, salah seorang dari kerabat, saudara seagama yang sudah lemah, atau orang yang papa dan tidak berdaya! Cermatilah ayat di atas! Perhatikan bagaimana sebuah ayat memberikan kepada orang tua yang sudah lansia lima macam kasih sayang dalam bentuk yang beragam. Ya, hakikat termulia di dunia ini adalah kasih sayang ibu dan ayah terhadap anak mereka. Demikian pula, kewajiban paling utama adalah kewajiban untuk menghormati mereka sebagai balasan atas kasih sayang tersebut. Pasalnya, mereka telah mengorbankan kehidupan mereka dengan suka cita demi kehidupan anak mereka. Karena itu, setiap anak―selama masih memiliki rasa kemanusiaan dan tidak berubah menjadi binatang―harus menghormati para orang tua yang terhormat, setia, dan rela berkorban itu. Selain itu, ia juga harus melayani mereka secara tulus, berusaha mendapatkan ridha mereka, serta membuat hati mereka senang dan bahagia. Paman dan bibi memiliki posisi yang sama dengan ayah dan ibu. Sungguh tidak memiliki hati nurani orang yang merasa terbebani dengan keberadaan mereka yang telah lanjut usia itu dan menginginkan kematian mereka. Bahkan, perbuatan tersebut sangat tercela dan hina. Ketahuilah hal ini dan sadarlah! Ya, betapa sangat zalim dan tidak punya hati nurani sikap mengharap kepergian orang yang selama ini telah berkorban untuk hidupnya. Wahai manusia yang diuji dengan kesempitan hidup! Ketahuilah bahwa pilar keberkahan rumahmu, serta sarana yang dapat mendatangkan rahmat dan menangkal musibah adalah orang yang telah lanjut usia itu, atau keluargamu yang buta yang terasa berat bagimu. Jangan pernah berkata, “Kehidupanku sulit. Aku tidak bisa memenuhi tuntutan hidupku.” Sebab, andai tidak ada keberkahan lantaran keberadaan mereka, tentu kehidupanmu akan lebih sulit. Pahamilah hakikat ini dan percayalah! Aku memiliki banyak bukti tentangnya. Aku juga bisa membuatmu mempercayainya. Namun agar tidak terlalu panjang, aku sengaja meringkasnya. Percayalah dengan perkataanku ini. Aku


Surat Kedua Puluh Satu

449

bersumpah demi Allah bahwa hakikat ini sangat jelas dan pasti. Bahkan diriku dan setanku juga tunduk di hadapannya. Karena itu, hakikat yang telah menghancurkan sikap keras kepala nafsu ammârah diriku dan membuat setanku terdiam sudah pasti juga dapat meyakinkanmu. Ya, Sang Pencipta Yang Mahaagung dan Mulia yang Maha Pengasih (ar-Rahmân) dan Penyayang (ar-Rahîm) serta Mahalembut (al-Lathîf) dan Pemurah (al-Karîm)―lewat kesaksian seluruh alam―saat mengirim anak-anak ke dunia, seketika itu pula Dia mengirimkan rezeki mereka dengan cara yang sangat halus. Seperti memancarnya air susu ibu laksana mata air ke mulut mereka. Begitu pula rezeki untuk mereka yang telah lanjut usia yang kembali seperti anak-anak. Bahkan mereka lebih layak mendapat kasih sayang dan lebih membutuhkan belas kasih. Allah mengirimkan rezeki untuk mereka dalam bentuk keberkahan. Dia tidak membebani kalangan yang bakhil untuk memberi makan kepada mereka. Al-Qur’an menjelaskan:

“Allah Maha Pemberi rezeki yang memiliki kekuatan dan Mahakokoh.” (QS. adz-Dzâriyât [51]: 58).

“Betapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Ankabût [29]: 60). Ini adalah hakikat mulia yang disuarakan oleh seluruh makhluk hidup lewat lisânul hâl (keadaan mereka). Bukan hanya kerabat dekat yang lanjut usia yang rezekinya datang kepada mereka dalam bentuk keberkahan. Namun juga rezeki sejumlah makhluk yang dianugerahkan untuk menjadi sahabat manu-


450

AL-MAKTÛBÂT

sia seperti kucing. Rezeki kucing dikirim dalam rezeki yang dianugerahkan pada manusia. Ia juga datang dalam bentuk keberkahan. Hal ini didukung oleh sebuah contoh yang kulihat sendiri. Yaitu seperti yang diketahui oleh para sahabat dekatku, dua atau tiga tahun yang lalu, aku memiliki jatah makan setiap hari setengah kerat roti. Satu kerat roti di desa ukurannya kecil. Seringkali tidak cukup untukku. Lalu ada empat ekor kucing yang datang bertamu dan tinggal bersamaku. Ternyata roti tadi cukup untukku dan untuk mereka. Bahkan biasanya masih tersisa. Kondisi ini terjadi padaku secara berulang-ulang. Akupun menjadi sangat yakin bahwa dirikulah yang mendapatkan manfaat dari keberkahan kucing-kucing tersebut. Saat ini kutegaskan bahwa kucing-kucing tersebut justru sama sekali tidak menjadi beban bagiku dan mereka hidup bukan karena jasa baikku. Namun akulah yang bisa bertahan hidup karena jasa mereka. Wahai manusia, jika “binatang setengah buas” saja yang datang sebagai tamu ke sebuah rumah menjadi poros keberkahan, apalagi jika yang datang ke rumah tersebut makhluk termulia yaitu manusia. Apalagi jika yang datang orang yang paling sempurna di antara mereka, yaitu seorang mukmin. Apalagi jika yang datang kalangan lemah dan sakit yang paling membutuhkan penghormatan dan kasih sayang di antara kaum mukmin. Apalagi jika yang datang kerabat dekat yang paling layak mendapatkan bantuan dan kasih sayang di antara mereka. Apalagi jika yang datang kerabat yang paling tulus dan paling sayang di antara mereka, yaitu kedua orang tua. Jika mereka yang lanjut usia tinggal di sebuah rumah, maka engkau bisa membandingkan betapa ia menjadi sebab keberkahan, pengantar turunnya rahmat, dan faktor penangkal bala yang sangat agung. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis:

“Kalau bukan karena adanya para orang tua yang ruku (shalat), tentu musibah sudah ditimpakan kepada kalian.”455 455 az-Zubaydi, Tâj al-‘Arûs, 5/5243. Lihat: Abu Ya’la, al-Musnad, 11/287; ath-abrani, al-Mu’jam al-Kabîr, 22/309; dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, 3/345.


Surat Kedua Puluh Satu

451

Jadi, wahai manusia, perhatikan dan ambillah pelajaran. Ketahuilah bahwa jika tidak mati, engkau pasti juga akan menjadi tua renta. Jika engkau tidak menghormati orang tuamu, akan datang padamu suatu masa di mana engkau juga tidak dihormati oleh anak-anakmu. Hal itu sesuai dengan kaidah:

“Balasan sesuai dengan amal perbuatan�. Karena itu, jika engkau mencintai akhirat, ambillah sebuah harta karun yang sangat besar. Yaitu layani mereka dan dapatkan ridha mereka. Jika engkau mencintai dunia, maka buatlah mereka senang agar hidupmu lapang dan rezekimu datang bersama keberkahan. Jika tidak, sikap merasa terbebani dengan mereka, mengharap kematian mereka, lalu melukai hati mereka yang halus dan sensitif akan membuatmu seperti yang disebutkan oleh ayat berikut:

Merugi di dunia dan akhirat. (QS. al-Hajj [22]: 11). Apabila engkau menginginkan rahmat Tuhan Yang Maha Pengasih, maka kasihi titipan Tuhan Yang Maha Pengasih serta seluruh amanat yang Dia titipkan di rumahmu. Aku memiliki seorang saudara akhirat, yaitu Mustafa Cavus. Ia adalah orang yang mendapat taufi k dalam hal agama dan dunia. Sebelumnya aku tidak mengetahui rahasia di balik itu semua. Kemudian akupun mengetahui sebabnya. Yaitu orang saleh tersebut memahami betul hak-hak yang dimiliki oleh ibu dan ayahnya. Ia menjaga hak mereka tersebut sebagaimana mestinya. Maka, ia mendapatkan kelapangan dan rahmat berkat mereka. Semoga demikian pula dengan akhiratnya. Jadi, siapa yang ingin bahagia, hendaknya ia menirunya.


452

AL-MAKTÛBÂT

Semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepada sosok yang bersabda, “Surga berada di telapak kaki ibu.”456 Demikian pula kepada seluruh keluarga dan sahabatnya.

‫٭٭٭‬

456 al-Qudho’i dalam Musnad asy-Syihab 1/102, HR ad-Daylami dalam al-Musnad 2/116. Lihat pula HR an-Nasai dalam al-Jihad 6, HR Ahmad ibn Hambal dalam al-Musnad 3/429.


SURAT KEDUA PULUH DUA (Risalah Ukhuwah)

Surat kedua puluh dua ini terdiri atas dua pembahasan. Pembahasan pertama mengajak orang-orang beriman untuk menjalin rasa persaudaraan dan mencintai di antara sesama.

PEMBAHASAN PERTAMA

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah kedua saudaramu”. (QS. al-Hujurât [49]: 10).

“Tolaklah (perbuatan buruk) dengan perbuatan yang lebih baik sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan menjadi seperti teman yang setia.” (QS. Fushshilat [41]: 34).


454

AL-MAKTÛBÂT

“Dan (termasuk orang bertakwa) orang-orang yang menahan amarah dan memaaan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 134). Fanatisme, keras kepala, dan kedengkian yang menyebabkan perpecahan, kebencian, dan permusuhan di antara orangorang yang beriman adalah suatu keburukan dan kezaliman. Sifat-sifat itu tidak dapat dibenarkan dalam pandangan hakikat dan hikmah. Ia tidak sesuai dengan ajaran Islam, yang merupakan representasi dari spirit kemanusiaan yang agung. Di samping itu, sifat-sifat permusuhan itu bisa menghancurkan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, dan kehidupan maknawi. Bahkan, itu merupakan racun mematikan bagi kehidupan seluruh umat manusia. Berikut ini akan kami jelaskan enam aspek di antara berbagai aspek yang berkaitan dengan kebenaran pernyataan di atas: Aspek Pertama: Permusuhan adalah Suatu Kezaliman dalam Pandangan Hakikat. Wahai orang-orang yang hatinya dipenuhi rasa kebencian dan permusuhan terhadap saudaranya yang beriman. Wahai orang yang tidak adil! Bayangkan engkau sedang berada di dalam sebuah kapal atau rumah bersama sembilan orang yang tak bersalah dan seorang pelaku kejahatan. Kemudian engkau melihat seseorang yang berusaha menenggelamkan kapal atau meruntuhkan rumah itu. Dengan serta-merta engkau pasti akan berteriak sekeras mungkin untuk memprotes kezaliman yang dilakukan orang itu. Sebab, tidak ada aturan yang membolehkan untuk menenggelamkan kapal itu selama ada satu orang yang tak bersalah, meskipun di dalamnya terdapat sembilan pelaku kejahatan. Sebagaimana menenggelamkan kapal di atas, memendam rasa permusuhan terhadap saudara seiman juga merupakan kezaliman dan kejahatan yang keji. Orang yang beriman adalah suatu “bangunan Rabbani” dan “perahu Ilahi”. Hanya karena ia mempunyai satu sifat buruk yang membuatmu tidak senang atau merasa dirugikan, sementara ia memiliki sembilan atau bahkan dua puluh sifat baik, seperti iman, Islam, dan tetangga, engkau


Surat Kedua Puluh Dua

455

tidak patut untuk memusuhi dan mendengkinya. Permusuhan dan kedengkian ini sudah pasti mendorongmu berkeinginan untuk menenggelamkan perahu eksistensinya dan membakar bangunan wujudnya. Inilah kezaliman dan kejahatan keji itu. Aspek Kedua: Permusuhan adalah Kezaliman dalam Pandangan Hikmah. Cinta dan permusuhan adalah dua hal yang berlawanan, seperti cahaya dan kegelapan. Pada dasarnya, keduanya tidak dapat bersatu. Jika sebab-sebab cinta lebih dominan dan cinta itu telah menancap di dalam hati, rasa permusuhan akan berubah menjadi permusuhan artifi sial, bahkan bisa berubah wujud menjadi kasih sayang dan rasa iba. Pada dasarnya, seorang mukmin mencintai saudaranya, dan dia harus menyayanginya. Ketika saudaranya melakukan kesalahan, semestinya itu membuatnya iba dan berupaya memperbaikinya, tidak dengan kekuatan dan kekerasan, melainkan dengan perilaku yang lembut dan santun. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah r:

“Tidak dibenarkan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, di mana bila keduanya bertemu, masing-masing berpaling dari saudaranya. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam.”457 Sebaliknya, jika sebab-sebab permusuhan lebih menonjol dan telah menancap di dalam hati, cinta akan berubah menjadi cinta semu yang dibungkus dengan kepura-puraan dan sikap mencari muka. Maka ketahuilah wahai orang yang zalim. Betapa kebencian dan permusuhan terhadap saudara seiman merupakan kezaliman yang besar! Jika engkau mengatakan batu-batu kerikil yang tidak ada nilainya itu lebih berharga daripada Ka’bah yang mulia atau lebih besar daripada Gunung Uhud, tidak diragukan lagi bahwa 457 Lihat: al-Bukhârî, al-Âdâb, 57 dan 62, al-Isti’dzân, 9; Muslim, alBirr, 23, 25, dan 26.


456

AL-MAKTÛBÂT

engkau telah melakukan suatu kebodohan yang nyata. Juga termasuk kebodohan yang nyata jika engkau membesar-besarkan kesalahan kecil yang dilakukan saudaramu seiman dan lebih mengutamakannya daripada keimanan dan keislamannya. Bukankah kesalahannya itu laksana batu kerikil, sementara keimanan dan keislamannya bernilai seperti Ka’bah dan Gunung Uhud?! Sungguh sikapmu yang lebih mempertimbangkan perilaku-perilaku kecil saudaramu daripada keislaman dan keimanannya merupakan tindakan yang sangat zalim. Orang yang memiliki secuil akal pun, tentu bisa memahami hal ini. Ya, persatuan dalam iman menghendaki persatuan hati orang-orang mukmin, sementara kesatuan akidah menuntut kesatuan kehidupan sosial masyarakat. Engkau bisa merasakan adanya semacam ikatan dengan prajurit yang bersamamu dalam sebuah batalion; engkau bisa merasakan adanya hubungan yang akrab dengan seseorang yang bekerja dalam satu komando; engkau bahkan bisa merasakan eratnya tali persaudaraan dengannya lantaran engkau tinggal di satu kota yang sama; lalu bagaimana dengan ikatan keimanan yang memberimu cahaya dan kesadaran yang membuatmu dapat merasakan aneka ragam tali persatuan, kesatuan, dan persaudaraan sebanyak asma-asma Ilahi?! Dengan keimanan, engkau dapat memahami bahwa sesungguhnya penciptamu satu, pemilikmu juga satu, sesembahanmu satu, pemberi rezekimu satu, demikian hitungan satu demi satu itu hingga mencapai seribu. Dengan keimanan pula, engkau mengetahui bahwa nabimu satu, agamamu satu, kiblatmu pun juga satu, demikian angka satu demi satu itu hingga mencapai seratus. Lalu, engkau pun tinggal bersama saudaramu seiman di satu desa yang sama, di bawah naungan satu negara yang sama, demikianlah angka satu itu merambah hingga sepuluh. Jika demikian halnya, bahwa terdapat banyak ikatan di antara sesama orang beriman yang menuntut persatuan dan kesatuan, kesesuaian dan keserasian, cinta dan persaudaraan, serta memiliki rantai maknawi yang mampu menghubungkan semua bagian alam semesta, maka betapa zalim orang yang berpaling dari tali-tali ikatan tersebut dan lebih mengedepankan sebab-se-


Surat Kedua Puluh Dua

457

bab sepele yang lebih rapuh daripada sarang laba-laba, yang dapat melahirkan sifat-sifat semacam perpecahan, kemunafi kan, kedengkian, dan permusuhan. Jika sebab-sebab sepele itu yang dikedepankan, akan muncul perasaan dendam dan permusuhan yang hebat terhadap seudara seiman. Bukankah ini merupakan suatu penghinaan terhadap tali ikatan yang semestinya menyatukan?! Bukankah ini merupakan sikap yang menyepelekan sebab-sebab yang semestinya melahirkan suatu cinta?! Bukankah ini juga merupakan sikap yang menghancurkan suatu hubungan yang semestinya menghendaki persaudaraan?! Jika hatimu masih hidup dan akalmu masih sehat, engkau akan memahami hal ini dengan baik. Aspek Ketiga: Permusuhan adalah Kezaliman dalam Pandangan al-Qur'an. Allah I berfi rman:

“Dan seseorang yang berdosa, tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. al-An’âm [6]: 164). Ayat ini menjelaskan tentang keadilan mutlak (al-‘Adâlah al-Mahdhah), yaitu tidak boleh menghukum seseorang atas kesalahan orang lain. Ayat al-Qur’an di atas dan berbagai sumber ajaran Islam lainnya menegaskan bahwa memendam permusuhan dan kebencian terhadap orang mukmin adalah kezaliman yang besar. Sebab, ia seperti mencela semua sifat-sifat baik akibat satu kesalahannya. Ia menjadi sebuah kezaliman yang lebih besar lagi jika permusuhan tersebut meluas terhadap keluarga dan kerabatnya, sebagaimana yang digambarkan oleh al-Qur’an berikut:

“Sesungguhnya manusia sangat berlaku zalim.” (QS. Ibrâhîm [14]: 34).


458

AL-MAKTÛBÂT

Apakah setelah mendengar penjelasan tentang kezaliman di atas, engkau masih mempunyai alasan untuk memusuhi saudaramu seiman dan menganggap dirimu benar?! Ketahuilah! Dalam pandangan hakikat, kejahatan-kejahatan yang menjadi sebab timbulnya permusuhan dan kebencian bersifat padat, seperti tanah dan kejahatan itu sendiri. Sifat benda padat tidak berpindah dan tidak memantul pada yang lain, kecuali kejahatan yang ditiru seseorang dari orang lain. Sedangkan kebaikan yang menjadi sebab timbulnya rasa cinta bersifat halus, seperti cahaya dan cinta itu sendiri. Sifat cahaya dapat berpindah dan memantul pada yang lain. Dari sinilah terlahir suatu pepatah: “Sahabat dari seorang sahabat juga merupakan sahabat.” Sebagaimana banyak orang sering mendengung-dengungkan: “Karena kebaikan satu orang, seribu orang dimuliakan.” Wahai orang yang tidak adil! Jika engkau mendambakan kebenaran, itulah hakikat yang sebenarnya. Karena itu, permusuhan dan kedengkianmu terhadap keluarga dan kerabat yang dicintai orang yang engkau benci sangat bertentangan dengan kebenaran. Aspek Keempat: Permusuhan adalah Kezaliman Dilihat dari Sudut Pandang Kehidupan Pribadi. Jika engkau ingin mengetahui hal tersebut, dengarkanlah beberapa prinsip yang merupakan pondasi aspek keempat ini. Prinsip Pertama: Ketika engkau menganggap bahwa manhaj dan pendapatmu benar, engkau berhak untuk berkata, “Manhaj atau pendapatku benar, atau lebih baik.” Akan tetapi, engkau tidak boleh berkata, “Hanya manhaj atau pendapatku yang benar.” Sebab, pandanganmu yang penuh dengan kebencian dan pikiranmu yang terbatas tidak bisa menjadi tolok ukur dan penentu yang menetapkan kekeliruan pendapat orang lain. Orang bijak mengatakan:


Surat Kedua Puluh Dua

459

“Mata cinta terlalu suram untuk melihat kesalahan, sementara mata benci menampakkan semua keburukan.”458 Prinsip Kedua: “Engkau harus berkata benar dalam setiap perkataan, namun engkau tidak berhak untuk menyampaikan semua kebenaran. Engkau pun harus jujur dalam setiap ucapan, tetapi tidaklah benar jika engkau mengatakan semua kejujuran.” Sebab, orang yang tidak mempunyai niat ikhlas sepertimu bisa jadi membuat marah orang yang mendengar untaian nasihatmu. Maka, yang terjadi justru kebalikan dari apa yang diharapkan. Prinsip Ketiga: Jika engkau menginginkan permusuhan, musuhilah rasa permusuhan yang ada di hatimu. Berjuanglah untuk memadamkan api permusuhan itu dan cabutlah hingga akar-akarnya. Berusahalah memusuhi musuh yang paling tangguh dan paling berbahaya bagimu, yaitu hawa nafsu yang ada di dalam dirimu. Perangilah keinginan hawa nafsu dan berusahalah memperbaikinya; jangan malah engkau memusuhi orangorang mukmin karena dorongan hawa nafsu itu. Jika engkau masih menginginkan permusuhan, musuhilah orang-orang kafi r dan zindik. Jumlah mereka sangat banyak. Ketahuilah bahwa tabiat cinta adalah layak untuk dicintai, sebagaimana sifat permusuhan pantas dimusuhi sebelum yang lainnya. Jika engkau ingin mengalahkan musuhmu, balaslah perbuatan buruknya dengan kebaikan. Dengan itu, api permusuhan bisa padam. Sebaliknya, jika engkau membalas keburukannya dengan keburukan yang serupa, permusuhan di antara kalian akan bertambah kuat. Seandainya engkau secara lahiriah berhasil mengalahkan musuhmu dengan perbuatan buruk yang serupa, hatinya akan dipenuhi kebencian terhadapmu sehingga permusuhan akan terus berlanjut. Sementara itu, membalasnya dengan kebaikan akan membuatnya menyesal dan bisa pula ia menjadi sahabat karibmu. Sebab, pada dasarnya tabiat seorang mukmin adalah mulia. Jika engkau memuliakannya, ia akan tunduk kepadamu Syair karya Abdullâh ibn Mu‘âwiyah ibn Abdullâh ibn Ja‘far ibn Abî âlib (Adab ad-Dunyâ wa ad-Dîn, h.37). Bait tersebut juga dinisbatkan kepada Imam asy-Syâfi ‘î; lihat Dîwân asy-Syâfi ‘î (Beirut: Dar an-Nûr, t.t.), h. 91, dengan redaksi: “…sebagaimana mata benci….” 458


460

AL-MAKTÛBÂT

dan menjadi saudaramu. Bahkan seandainya ia hina secara lahiriah, ia tetaplah mulia dilihat dari sisi keimanannya. Seorang penyair mengatakan:

Jika engkau memuliakan orang mulia, ia akan tunduk; Jika engkau memuliakan orang hina, ia akan memberontak.459 Ya, kenyataan membuktikan bahwa ketika engkau berkata kepada orang jahat, “Engkau orang baik,” sering kali itu akan medorongnya menjadi baik. Sebaliknya, jika engkau mengatakan kepada orang baik, “Kamu orang jahat,” mungkin saja itu membuatnya menjadi jahat. Oleh karena itu, pasanglah telinga terhadap prinsip-prinsip suci al-Qur’an berikut ini:

“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan yang tidak berguna, mereka berlalu dengan menjaga kehormatannya.” (QS. al-Furqân [25]: 72).

“Dan jika kalian memaaan, bersikap lapang, serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taghâbun [64]: 14). Dengan mengikuti prinsip al-Qur’an di atas dan yang lainnya, kesuksesan dan kebahagiaan akan tercapai. Prinsip Keempat: Orang yang hatinya dipenuhi dengan kedengkian dan permusuhan terhadap sesama mukmin, selain menzalimi saudaranya seiman, sesungguhnya ia sedang menzalimi dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia melampaui batas kasih sayang Ilahi. Sebab, dengan kedengkian dan permusuhan tersebut, ia 459 Karya al-Mutanabbî. Lihat: al-‘Urf ath-ayyib fî Syarh Dîwân Abî ath-ayyib (Beirut: Dâr al-Qalam, t.t.), h.387.


Surat Kedua Puluh Dua

461

menjatuhkan diri ke dalam penderitaan yang pedih, dan penderitaan itu bertambah pedih bila melihat musuhnya mendapatkan kenikmatan; ia pun tersiksa akibat rasa takut terhadap sang musuh. Jika permusuhan itu muncul akibat kedengkian, balasannya adalah siksa yang pedih. Sebab, kedengkian membuat si pendengki lebih sakit daripada yang didengki. Kedengkian dapat membakar pelakunya dengan kobaran apinya, sementara orang yang didengki tidak dirugikan atau hanya menderita sedikit kerugian. Obat kedengkian adalah si pendengki harus merenungkan akibat dari kedengkiannya dan hendaknya ia menyadari bahwa kekayaan, kekuatan, kedudukan, dan hal-hal duniawi yang dinikmati orang yang didengkinya hanya bersifat sementara dan fana; manfaatnya pun sedikit, namun tantangannya besar. Adapun jika kedengkian timbul akibat faktor-faktor yang bersifat ukhrawi, sebenarnya itu bukanlah suatu kedengkian. Kalaupun ada perasaan dengki yang timbul pada hal-hal yang bersifat ukhrawi, bisa jadi si pendengki termasuk orang yang berlaku riya, di mana hal itu akan menghapus amal ukhrawinya di dunia. Atau, si pendengki berprasangka buruk terhadap orang yang didengkinya sehingga ia menzaliminya. Kemudian, orang yang mendengki sebenarnya tidak rela terhadap takdir dan rahmat Allah. Sebab, ia merasa kecewa atas karunia-Nya terhadap orang yang didengkinya dan merasa senang atas malapetaka yang menimpanya. Artinya, ia seakan-akan mengkritik takdir dan rahmat Allah. Sebagaimana diketahui bahwa barangsiapa mengkritik takdir Allah, ia laksana orang yang menanduk gunung; dan barangsiapa memprotes rahmat dan karunia Ilahi, ia akan terhalang darinya. Apakah arif dan adil jika seorang mukmin memendam kebencian dan permusuhan selama setahun terhadap saudaranya hanya karena persoalan sepele yang sebenarnya tidak pantas menyebabkan timbulnya permusuhan selama sehari? Padahal keburukan saudaramu terhadapmu tidak pantas dinisbatkan hanya kepadanya


462

AL-MAKTÛBÂT

sehingga dengan keburukan yang dilakukannya itu kamu menghukumnya. Sebab, ada beberapa hal lain yang ikut terlibat. 1. 2.

3.

Takdir ilahi ikut andil. Maka, hendaklah kamu menerima takdir itu dengan sikap ridha dan pasrah. Setan dan nafsu ammârah juga ikut berperan. Jika engkau mengeluarkan kedua unsur tersebut (poin 1 dan 2), yang akan muncul adalah rasa belas kasih terhadap saudaramu sebagai ganti dari permusuhan. Sebab, ia dikalahkan oleh nafsu ammârah-nya. Setelah itu, nantikanlah penyesalan darinya akibat tindakannya itu. Kekurangan-kekurangan dan kecerobohanmu pun ikut terlibat. Inilah yang mungkin tidak engkau lihat atau engkau enggan mengakuinya. Singkirkan pula unsur ini bersama dua unsur sebelumnya.

Dengan demikian, engkau akan melihat unsur-unsur yang tersisa (keburukan saudaramu) menjadi hal yang sepele. Jika engkau menyikapi keburukan saudaramu dengan sifat maaf dan budi luhur, engkau akan selamat dari perbuatan menzalimi dan menyakiti orang. Akan tetapi, jika engkau membalas keburukan saudaramu yang bersifat duniawi dan tak berharga itu dengan kebencian dan permusuhan tanpa akhir—seolah-olah engkau akan kekal di dunia,—maka engkau akan termasuk orang yang oleh alQur’an disebut zhalûman jahûlan (sangat zalim dan bodoh), serta lebih mirip dengan seorang Yahudi dungu yang menghabiskan banyak harta untuk ditukar dengan serpihan kaca yang mudah pecah dan kristal salju yang cepat menghilang lantaran mengiranya permata yang berharga. Demikianlah, kami telah menjelaskan berbagai kerugian yang ditimbulkan oleh permusuhan dan dendam terhadap kehidupan pribadi manusia. Jika engkau benar-benar mencintai dirimu, jangan berikan peluang bagi sifat permusuhan dan dendam yang sangat berbahaya bagi kehidupan pribadi untuk merasuk ke dalam hatimu. Kalaupun keduanya sudah terlanjur masuk dan telah bersemayam di dalamnya, hendaknya engkau mengabaikan keduanya.


Surat Kedua Puluh Dua

463

Renungkanlah ucapan al-Hâfi zh Syirazî, sosok yang memilik basirah yang mampu menembus kedalaman hakikat, berikut ini:

Sesungguhnya dunia beserta isinya bukanlah barang berharga yang pantas diperselisihkan. Jika dunia yang besar beserta isinya saja tidak bernilai seperti itu, apalagi dengan hal-hal kecil lainnya. Renungkan pula perkataan beliau:

Kedamaian dan keselamatan di kedua alam bergantung pada dua hal: keluhuran budi terhadap kawan, serta perlakuan bijak terhadap lawan. Barangkali engkau akan mengatakan, “Hal itu di luar kemampuanku. Sebab, rasa permusuhan telah terlanjur tertanam dalam fi trahku. Aku tidak punya pilihan lain. Di samping itu, mereka telah melukai perasaanku dan menyakitiku sehingga aku tidak bisa memaaan mereka.” Jawabannya: Jika akhlak buruk tidak terwujud dalam bentuk perbuatan dan tidak menjadi dasar sebuah tindakan seperti gibah misalnya, serta pelakunya menyadari kesalahannya itu, maka hal itu tidak membahayakan. Selama engkau tidak memiliki pilihan lain dalam hal tersebut, dan engkau tidak bisa mengelak dari permusuhan tadi, maka kesadaran dalam hal menyadari kekurangan dan kesalahan itu akan membebaskanmu―dengan izin Allah―dari akibat buruk permusuhan yang tertanam dalam dirimu. Sebab, hal itu dianggap sebagai penyesalan yang tersirat, taubat yang tersembunyi, dan istigfar maknawi. Pembahasan ini kami tulis memang untuk memperoleh istigfar yang bersifat maknawi ini sehingga orang mukmin tidak menganggap kebatilan sebagai kebenaran, serta tidak memperlihatkan kebatilan lawannya yang sebenarnya berada di pihak yang benar.


464

AL-MAKTÛBÂT

Aku pernah mengalami suatu kasus yang pantas untuk direnungkan. Suatu hari, aku melihat seorang ilmuwan mengkritik seorang ulama, sampai-sampai ia berani mengafi rkannya. Kritiknya itu disebabkan adanya perselisihan di antara keduanya dalam persoalan politik. Namun, pada waktu yang sama, ilmuwan tersebut memuji seorang munafi k yang memiliki kesamaan pandangan politik dengannya. Peristiwa ini benar-benar menggoncangku. Lalu aku katakan:

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan dan fi tnah politik. Sejak saat itu, aku menarik diri dari kancah politik. Aspek Kelima: Permusuhan dan Perpecahan Membahayakan Kehidupan Sosial. Barangkali ada yang mengatakan bahwa ada hadis yang menyatakan bahwa perbedaan pendapat di antara umat Islam adalah rahmat. Hadis itu berbunyi:

Perbedaan (pendapat) di antara umatku adalah rahmat.460 (1) Bukankah perbedaan pendapat itu akan menimbulkan perpecahan, sikap partisan, dan munculnya banyak pendapat?! (2) Di sisi lain, perbedaan ini bisa menyelamatkan kaum awam dari kezaliman kaum elit yang zalim. Jika kaum elit dari sebuah desa atau kota bersatu, mereka akan menindas kaum awam. Namun, jika terjadi perpecahan di antara kaum elit itu, orang awam yang terzalimi bisa berlindung kepada salah satu pihak. (3) Selanjutnya, hakikat kebenaran akan tampak jelas dengan adanya adu pemikiran dan perbedaan pendapat.

460 Lihat: an-Nawawî, Syarh Shahîh Muslim, j.11, h.91; al-Qurthubî, alJâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, j.4, h.159; dan as-Suyûthî, Tadrîb ar-râwî, j.2, h.175.


Surat Kedua Puluh Dua

465

Sebagai jawaban atas pertanyaan pertama, kami ingin menegaskan bahwa perbedaan yang disebutkan dalam hadis adalah perbedaan yang bersifat positif dan membangun. Artinya, tiaptiap pihak berusaha membenahi dan mempromosikan manhaj dan pendapatnya, tanpa berupaya menjatuhkan dan menolak manhaj orang lain. Setiap pihak pun berupaya menyempurnakan dan melakukan perbaikan terhadap manhaj pihak lain. Adapun perbedaan yang negatif adalah upaya untuk menghancurkan pihak lain dengan sikap partisan dan permusuhan. Bentuk perselisihan ini ditolak oleh hadis tersebut. Pasalnya, pihak-pihak yang terlibat dalam konfl ik tidak sanggup melakukan suatu hal yang positif dan membangun. Sebagai jawaban atas pertanyaan kedua, kami katakan bahwa jika sikap partisan dilakukan atas nama kebenaran, ini bisa menjadi tempat perlindungan bagi orang yang mencari haknya. Namun, pada zaman sekarang ini, sikap partisan hanya terjadi karena motif-motif pribadi dan atas nama nafsu ammârah sehingga menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang yang tidak adil, bahkan menjadi sandaran bagi mereka. Seandainya setan mendatangi salah satu pihak yang berbeda pendapat, lalu ia mendukung dan sepakat dengan pendapat pihak tersebut, niscaya pihak tersebut akan memuji dan mendoakannya. Namun sebaliknya, jika pada pihak yang berseberangan dengannya terdapat sosok yang seperti malaikat, pihak tersebut akan melaknat dan menyudutkannya. Adapun jawaban atas pertanyaan ketiga, beradunya pemikiran dan tukar pandangan demi kebenaran dan untuk mencapai hakikat dapat terwujud jika perbedaannya terletak dalam hal sarana, sementara asas dan tujuan-tujuannya sama. Perbedaan ini mampu memberikan sumbangsih besar dalam menyingkap kebenaran dan menguak berbagai sisinya dengan jelas. Namun, jika tukar pikiran dilakukan demi motif-motif pribadi dan untuk bertindak sewenang-wenang, menyombongkan diri, memenuhi keinginan nafsu yang lalim, serta mengejar ketenaran dan popularitas, maka sinar kebenaran tidak akan berkilau dalam tukar pikiran seperti ini. Justru yang lahir hanyalah api fi tnah.


466

AL-MAKTÛBÂT

Seharusnya mereka bersatu dalam tujuan, namun karena bukan atas nama kebenaran, maka pemikiran mereka tidak menemukan titik temu di dunia ini, sehingga muncullah sikap melampaui batas dan lahirlah sejumlah perpecahan yang tidak bisa diatasi. Kondisi dunia saat ini menjadi buktinya. Kesimpulannya, jika tindakan dan perilaku seorang mukmin tidak sejalan dengan prinsip-prinsip mulia yang digariskan oleh hadis Nabi, yaitu:

“Cinta karena Allah dan benci karena Allah,”461 serta menyerahkan semua urusan kepada Allah, maka kemunafi kan dan perpecahan akan terus mendominasi. Ya, siapa pun yang tidak menjadikan prinsip-prinsip dasar tersebut sebagai pedoman, ia justru akan melakukan kezaliman meskipun sedang mendambakan keadilan.

Peristiwa penuh ibrah:

Dalam suatu peperangan, Imam Ali d terlibat perang tanding dengan salah seorang jawara kaum musyrik. Ia berhasil mengungguli dan menjatuhkan lawannya. Ketika Imam Ali hendak membunuhnya, ia meludahi wajah Imam Ali. Akhirnya, Imam Ali membebaskan dan meninggalkannya. Orang musyrik itu pun memandang aneh sikap Imam Ali dan bertanya, “Mengapa engkau tidak membunuhku?” Imam Ali menjawab, “Awalnya, aku ingin membunuhmu karena Allah. Namun, ketika engkau meludahiku, aku pun marah. Karena pengaruh nafsu telah menodai keikhlasanku, aku pun tidak jadi membunuhmu.” “Semestinya kelakuanku lebih memancing kemarahanmu sehingga engkau segera membunuhku. Jika agamamu begitu suci Lihat: Abu Daud, as-Sunnah, h.2; Ahmad bin Hambal, al-Musnad, j.5, h.146; al-Bazzâr, al-Musnad, j.9, h.461. Lihat pula: ath-ayâlisî, al-Musnad, h.101; Ibnu Abî Syaibah, al-Mushannaf, j.6, h.170, j.6, h.172; dan j.7, h.80. 461


Surat Kedua Puluh Dua

467

dan tulus, sudah pasti ia adalah agama yang benar,” ujar orang musyrik itu.462 Dalam peristiwa yang lain, seorang penguasa yang adil memecat seorang hakim ketika melihatnya marah saat melakukan eksekusi potong tangan terhadap pencuri. Jika hakim itu memotong tangan pencuri demi tegaknya syariat dan hukum Ilahi, maka ia seharusnya menunjukkan rasa kasihan terhadapnya dan memotong tangannya tanpa menunjukkan kemarahan dan kasih sayang. Karena nafsu mempunyai andil dalam keputusan tersebut, sementara nafsu menafi kan kemurnian keadilan, sang hakim pun dicopot dari jabatannya.

Penyakit dan Kondisi Sosial Umat Islam yang Memilukan Suku paling primitif pun bisa mengerti kondisi bahaya yang mengancam sehingga mereka melupakan konfl ik internal mereka dan menggalang persatuan untuk menghadapi serangan musuh dari luar. Jika mereka yang primitif saja bisa mewujudkan kemaslahatan sosial, mengapa mereka yang mengemban misi pengabdian dan dakwah Islam tidak dapat melupakan permusuhan sepele di antara mereka sehingga membuka jalan bagi musuh yang tak terhitung jumlahnya untuk menyerang umat Islam?! Padahal musuh telah menyatukan barisan dan mengepung umat Islam dari segala penjuru. Kondisi ini tentu sebuah kemunduran yang mencemaskan, kemerosotan yang memilukan, dan penghianatan terhadap kehidupan sosial umat Islam. Berkaitan dengan kondisi tersebut, akan kukisahkan sebuah cerita yang mengandung pelajaran. Terdapat dua marga dari suku Hasnan yang menyimpan rasa permusuhan hingga memakan korban lebih dari lima puluh orang. Akan tetapi, bila ancaman dari luar datang, yaitu dari suku Sabkan atau Haydaran, kedua marga tersebut bahu-membahu secara total dan melupakan permusuhan di antara mereka guna memukul mundur serangan musuh dari luar tersebut. Wahai orang-orang yang beriman! Tahukah kalian berapa banyak kelompok musuh yang siap menyerang kaum mukmin?! 462

Lihat: al-Matsnawî ar-Rûmî, terj. al-Kafâfî, j.1, h.443.


468

AL-MAKTÛBÂT

Terdapat lebih dari seratus kelompok yang mengepung Islam dan umat Islam, seperti rangkaian lingkaran yang saling bertautan. Namun, ketika kaum muslim seharusnya bahu-membahu untuk membendung serangan dari pihak musuh, setiap kelompok dalam umat Islam hanya mementingkan kepentingan kelompoknya, seakan-akan membuka jalan bagi terbukanya semua pintu untuk para musuh sehingga dapat menembus pertahanan Islam. Apakah hal ini pantas bagi umat Islam? Jika kalian ingin menghitung lingkaran musuh yang mengepung Islam, mereka adalah kaum sesat, kaum ateis, hingga dunia kaum kafi r, bencana, dan kondisi dunia yang tidak stabil. Semuanya menjadi lingkaran yang saling bertautan dan membentuk tujuh puluh lingkaran. Semuanya hendak mencelakakan kalian dan ingin membalas dendam atas kalian. Untuk menghadapi musuh-musuh bebuyutan tersebut, kalian hanya memiliki satu senjata yang ampuh, satu parit pertahanan yang tepercaya, dan satu benteng yang kokoh, yaitu ukhuwah Islamiyah, persaudaraan antar-umat Islam. Jadi, sadarlah dan ketahuilah, wahai umat Islam, bahwa mengguncang benteng Islam dengan permusuhan dan alasan-alasan yang sepele sangat bertolak belakang dengan hati nurani dan kemaslahatan umat Islam secara keseluruhan. Disebutkan dalam beberapa hadis Nabi bahwa orang-orang seperti Dajjal dan Sufyani, yang memimpin orang-orang zindik dan kaum ateis pada akhir zaman, memanfaatkan perselisihan di antara kaum muslim dan umat manusia serta memanfaatkan ambisi duniawi mereka sehingga mereka mampu menghancurkan umat manusia hanya dengan sedikit kekuatan, menebarkan kekacauan, serta membelenggu umat Islam. Wahai kaum mukmin! Jika kalian benar-benar menginginkan kehidupan yang mulia, dan menolak menjadi tawanan kehinaan, sadarlah dan kembalilah pada akal sehatmu. Masuklah ke dalam benteng suci ukhuwah Islamiyah yang diamanatkan fi rman Allah:


Surat Kedua Puluh Dua

469

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman bersaudara.” (QS. al-Hujurât [49]: 10). Bentengilah dirimu dengannya dari serangan kaum zalim yang memanfaatkan perselisihan internal di antara kalian. Jika tidak, kalian tidak akan sanggup membela hak-hak kalian dan melindungi kehidupan kalian. Sebab, sangat jelas bahwa seorang anak kecil dapat memukul jatuh dua pendekar yang sedang bertarung; sebuah kerikil pun dapat menaik-turunkan timbangan yang berisi dua gunung yang sepadan. Wahai kaum mukmin! Kekuatanmu akan hilang akibat kepentingan pribadi, egoisme, dan sikap partisan. Kekuatan kecil pun sanggup membuat kalian mengalami kehinaan dan kehancuran. Jika kalian benar-benar mempunyai komitmen terhadap kehidupan sosial umat Islam, jadikanlah prinsip mulia berikut ini sebagai pedoman hidup:

“Orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, yang saling mendukung satu sama lain.463 Dengan berpegang pada prinsip tersebut, engkau akan terbebas dari kehinaan dunia dan selamat dari kepedihan akhirat. Aspek Keenam: Permusuhan dan sifat keras kepala merusak kehidupan spiritual dan kemurnian ubudiyah kepada Allah. Sebab, keikhlasan yang merupakan sarana untuk mencapai keselamatan telah hilang. Hal demikian disebabkan orang berkepala batu yang hanya berpihak pada pendapat dan kelompoknya senantiasa berharap dapat mengungguli musuhnya, bahkan dalam perbuatan-perbuatan baik yang dia lakukan sehingga ia tidak mendapatkan taufi k untuk beramal tulus hanya karena Allah. Selain itu, ia tidak mampu bersikap adil karena lebih mengutamakan orang yang memihak pada pendapatnya dalam keputusan dan muamalah. 463

Lihat: al-Bukhârî, ash-Shalâh, 88; dan Muslim, al-Birr, 65.


470

AL-MAKTÛBÂT

Dengan demikian, keikhlasan dan keadilan yang merupakan dua dasar utama dalam berbuat kebaikan akan hilang akibat permusuhan dan kebencian. Pembahasan aspek ini bisa sangat panjang sehingga dalam kesempatan ini hanya akan diuraikan sekadarnya. Karena itu, kami cukupkan sampai di sini.

PEMBAHASAN KEDUA

“Allah adalah Dzat pemberi rezeki dan pemilik kekuatan yang kokoh.” (QS. adz-Dzâriyât [51]: 58).

“Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberikan rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-‘Ankabût [29]: 60). Wahai orang mukmin! Dari uraian sebelumnya engkau telah mengetahui bahaya besar yang diakibatkan oleh permusuhan dan kebencian. Maka ketahuilah bahwa sikap tamak juga merupakan penyakit yang sama seperti rasa permusuhan, bahkan ia lebih berbahaya bagi kehidupan Islami. Ya, tamak adalah sebab kegagalan dan kerugian. Ia adalah penyakit, kenistaan, dan kehinaan. Tamak itulah yang menyebabkan ketidaksuksesan dan kerendahan. Bukti nyata atas hal tersebut adalah kehinaan dan kenistaan yang dialami oleh bangsa Yahudi, bangsa yang paling rakus terhadap dunia. Tamak memperlihatkan dampak buruknya mulai dari wilayah makhluk hidup yang paling luas hingga individu yang

Al-Maktubat part1  

Buku ini yang berjudul “AL-MAKTUBAT” adalah hasil terjemahan dari karya seorang Ulama Turki, Said Nursi, yang berjudul AL-MAKTÛBÂT. Edisi as...

Al-Maktubat part1  

Buku ini yang berjudul “AL-MAKTUBAT” adalah hasil terjemahan dari karya seorang Ulama Turki, Said Nursi, yang berjudul AL-MAKTÛBÂT. Edisi as...

Advertisement