Page 1


2 i LE N S A

Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009


P E N D apa I 3

matamedia Televisi telah menjadi bagian hidup kita sehari-hari. Sejak pagi hingga malam, dan bahkan saat tidur pun ditemani televisi. Hal itu memengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku khalayak baik dari anak-anak sampai orang tua. Namun, besarnya pengaruh negatif televisi terhadap anak ternyata jauh lebih besar dibanding positifnya. Sejumlah tindak kekerasan dilakukan o­leh anak-anak yang meniru a­de­gan Smack Down di televisi. Ka­ta-kata yang sebetulnya men­­­jadi wilayah orang dewasa seper­ ti perkosaan, kondom, dan lainnya kini telah lazim diketahui anak. Selera mereka dan remaja dalam banyak hal juga banyak dibentuk oleh televisi. Mengingat besarnya pe­ ngaruh televisi terhadap ke­hi­ dupan masyarakat, se­la­yak­nya kita menaruh perhatian se­rius mengenai hal itu. Di­bu­tuhkan sikap kritis dari ma­sya­rakat

untuk bisa memilih acara pro­ gram televisi yang sehat bagi anak-anak. Mengapa masyarakat yang harus mengambil si­kap? Per­ tama, para pemilik mo­dal siaran televisi hanya me­ne­ kan­­kan laba besar. Mereka me­­maksa pegawai untuk mem­buat acara yang bisa me­ na­­rik penonton sebanyak-ba­ nyak­nya tanpa memedulikan pe­­nga­ruh negatif. Kedua, pe­ me­rin­tah sekarang tidak lagi bi­sa campur tangan mengenai si­ar­an televisi seperti era Or­ de Baru. Ketiga, jumlah ko­ mi­sioner Komisi Penyiaran In­donesia/Daerah (KPI/KPID) sa­ngat terbatas sehingga tidak mung­kin dapat mengontrol

siaran semua televisi. Harapan agar masyarakat bersikap kritis terhadap televisi tentu harus disertai langkah nyata. Untuk itulah Masyarakat Peduli Media (MPM) Yogya­ karta menyelenggarakan pen­ didikan melek media atau lebih populer disebut literasi media bagi masyarakat. Keberadaan buletin ini ada­ lah wujud kepedulian ka­mi untuk meningkatkan ke­mam­ puan melek media ma­sya­ rakat, terutama di ka­lang­an ibu-ibu. Pilihan pada ke­lom­ pok ibu sebagai sasaran ke­ giatan karena posisi mereka strategis dalam memengaruhi perubahan pola menonton televisi di keluarga.[+] matamedia Penanggungjawab Lukas S. Ispandriarno Pemimpin Redaksi Darmanto Wakil Pemimpin redaksi Masduki Sekretaris Redaksi Budi Hermanto Redaktur Pelaksana/Editor Saiful Bakhtiar Anggota Redaksi Denta M., Y. Suparyo, Khamim Thohari Tata Artistik/fotografi jrwahyu.com Staf Administrasi & Distribusi Widodo Iman Kurniadi Alamat Redaksi Jl. Kemakmuran No. 2 Jogjakarta Website www.pedulimedia.or.id mpm_jogja@yahoo.co.id


4 i Kampungkita

“Keputusan untuk tidak mengkonsumsi TV di rumah adalah komitmen saya dan suami di awal pernikahan”

P

e n g g a l a n k a l i m at ya n g mengawali diskusi saya dengan Anjas Wulandari (30)-Ibu muda yang aktif di Balai Besar Teknik Ke­se­ha­ tan Lingkungan dan Pem­ber­ an­tasan Penyakit Me­nu­lar Jogjakarta. “Saat itu saya me­ min­ta suami untuk rela tidak ber-TV. Kami merasa ti­dak ada manfaat lebih yang bi­sa didapat dari TV, malah kemudharatan yang ba­nyak terinventarisir dari me­nonton TV.” Lebih lanjut Bu Anjas mengatakan TV bisa digantikan sarana lain seperti bu­ku, ma­ jalah, koran dan internet. Kesepakatan dia­wal pernikahan pun te­lah mem­per­tim­bang­kan ji­ka di kemu­dian hari anak-anak meminta a­danya TV. “Kese­pa­ katan itu kan yang bikin ber­ dua, di­akhir kesepakatan kita me­nam­bahkan klausul bahwa

kese­pakatan gak punya TV bi­sa berubah suatu saat jika rapat keluarga memutuskan bah­wa “kita harus punya TV”, dan sampai saat ini anak-anak be­lum mengusulkan seperti itu”. Ibu bagi Syaka Ran (5), Eksan Ran (3) dan Abat Ran (6 bln) menambahkan, meskipun di rumah anak-anak tidak me­ nonton TV, mereka sama se­ ka­li tidak buta TV. “ketika ber­ kunjung ke rumah eyang, atau teman-teman mereka melihat TV. Jadi tau lah sedikit tentang acara TV, tapi tidak detilnya ”. Jika anak-anak mulai mem­ bincangkan sebuah ta­ya­ngan TV yang mereka lihat khu­sus­ nya si sulung Syaka, bia­sanya, keluarga Anjas mulai me­lan­ jutkan ceritanya dengan ce­ri­ta yang sama tetapi dari sum­ber yang berbeda seperti bu­ku,

Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009

majalah atau internet. Di ru­ mah juga disediakan banyak ko­lek­si buku, majalah, CD film yang diputar di komputer, dan yang pasti selalu ada waktu un­tuk bermain dengan anakanak. Niatan tidak menonton TV di rumah bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak yang bertanyatanya. De­ngan sabar bu Anjar men­je­las­kan kehadiran TV di ru­mah akan ada jika anak-anak su­dah minta. Dengan adanya pen­je­las­an yang ada sekarang ini semua anggota keluarga su­ dah maklum bahkan langkah me­re­ka ditiru oleh anggota ke­ lu­ar­ga lainnya. Tanpa berkeinginan ber­an­ dai-andai namun jika di­ke­mu­ dian hari anak-anak meminta ke­ha­dir­an TV ditengah rumah me­re­ka akan ada banyak dis­ ku­si dengan anak-anak dan


TV di Rumah Kami “Energi anak-anak seolah tidak ada redupnya. Sebagai orang tua kita harus menjadi teman sekaligus orang tua baginya”.

Awalnya Ratnasari Suhatma (28) tidak pernah percaya dam­ pak menonton TV bagi a­nakanak bisa dilihat secara lang­sung. Namun, satu hari ketika pulang dari kantor, kaget, saat Ratna disambut anaknya Philo (2) dan mengatakan “ada bom di tempat budhe”. Setelah di­te­lisik ternyata saat itu, Philo me­nonton berita pengboman hotel J.W Marriot dan Ritz Charlton di Jakarta. Tidak berhenti sampai di situ, Philo tiba-tiba bisa bernyanyi la­ gu berjudul Isabela yang dinya­ nyi­kan oleh band ST 12. Bagi Ratna yang aktif me­ nga­jar Bahasa Inggris di salah sa­tu perguruan tinggi negeri di Jogjakarta TV seperti dua si­si mata uang. Ada sisi negatif dan

positif yang melekat. TV bi­sa menjadi media informasi, sa­ra­ na mendidik, hiburan untuk ke­lu­ arga tetapi tidak jarang tayangan TV menjadi ‘moster’ yang siap me­ner­kam dan membahayakan perkembangan jiwa anak. “Ketidakkonsistenan kita se­ ba­­ga­­i penonton itu sendiri­lah yang jadi sumber masalah” tutur Ratna. “Terkadang ditengah kesi­ bukan saya, lengah sedikit saja tayangan TV sudah menyajikan program-program yang bukan sepatutnya ditonton anak seusia Philo”. Berbagai strategi pernah dicoba diantaranya tidak me­ non­ton tayangan TV di pagi ha­ ri yang kebanyakan berisi info­

taiment. Menyediakan ba­nyak permainan di rumah dan me­ lakukan aktivitas bersama seper­ ti bersepeda atau hanya sekedar jalan puter-puter kampung. “Terkadang nonton kartun pun perlu didampingi, apalagi saat iklan, saya hrus jelaskan kenapa TV ada iklan” lanjut bu Ratna. Menurut Ratna, dalam per­ kembangan anak ada dua hal yang orang tua terkadang lu­ pa. Pertama, anak selalu men­ contoh, khususnya orangtua. Hal yang kedua, siaran TV di Indonesia mudah diakses anakanak.“Kedua kelemahan ini sebetulnya bisa menjadi cara atau strategi orang tua untuk mengatur pola menonton TV”. [+]

su­­a­mi. “Seandainya kami pu­ nya TV akan ada perjanjian de­­ngan anak-anak dan suami. So­al isi perjanjian tergantung dis­kusi”. Pandangan Bu Anjas ten­tang TV di tengah keluarga: “Bagi yang punya TV, monggo saja,

yang penting ada kesepa­katan di dalam keluarga kapan TV boleh hidup, kapan harus mati. Ada kesepakatan juga acaraacara apa yang layak di­tonton dan tidak perlu, dam­pingi anakanak menonton TV sehingga bisa dilanjutkan dengan diskusi

yg membangun. Kesepakatan harus ditaati oleh semua ang­ go­ta keluarga. Hati-hati, kare­na menurut saya, yg bandel a­da­lah bapak atauibu yg le­bih susah melepaskan diri da­ri TV daripada anak-anak”. Ba­ga­imana dengan keluarga anda?[+]

Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009


6 i l i pu t an

TV di Mata Ibu

S

iapa nyangka penemuan Gelombang Elektromagnetik oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) melahirkan banyak perkembangan dunia komunikasi elektronik, Televisi. Tabung layar yang dari generasi ke generasi selalu mengalami inovasi. Di Indonesia sendiri, salah satu penanda sejarah lahirnya budaya menonton “kotak ajaib�

adalah kelahiran TVRI pada tahun 1961. TVRI sendiri menghiasi layar kaca keluarga Indonesia selama lebih dari dua puluh tahun. Alih-alih TVRI hanya menjadi corong pemerintah, muncullah Keputusan Menteri Penerangan RI Nomor : 190 A/ Kep/ Menpen/ 1987 tentang

siaran saluran terbatas. Lahirnya keputusan ini seolah membawa angin segar bagi dunia pertelevisian Indonesia. Berturut-turut 24 agustus 1989 lahirlah RCTI disusul SCTV pada tahun 1993, TPI, ANTV, Indosiar, Metro TV dan beberapa staisun televisi swasta lainnya. Pertanyan kemudian

Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009

apakah dengan maraknya televisi swasta membawa dampak positif bagi keluarga Indonesia? Tidak jarang dua kubu, pro dan kontra, selalu memperdebatkannya. Lalu bagaimana pandangan para ibu tentang TV sebagia pngasuh baru bagi anak-anak mereka? Berikut petikan


k a m pun g k i t a I 7 “Harapan saya sebagai Ibu, banyak acara di TV yang mendidik bagi anak-anak dan kalau bisa sinetron dikurangi” tutur Rini. Hal tersebut juga diamini oleh Sisri “ Ya semoga TV lebih sering menayangkan acara yang mendidik anak-anak”

... tayangan yang lebih baik kedepannya... wawancara dengan sejumlah ibu di seputar Jogja. Adalah ibu Sri Harjani atau biasa dipanggil Sisri. Ibu yang hobbi memasak menilai masih sedikitnya tayangan di indistri televisi Indonesia yang mempertontonkan tayangan yang bersifat mendidik bagi anak-anak “ Masih terlalu sedikit acara yang mendidik bagi anakanak usia sekolah”. Bagi Sisri, tayangan TV menjadi sesutu yang sulit terbendung untuk masuk ke rumahnya. Dia pun punya strategi tersendiri untuk menghadapi gempuran program-program TV bagi anak-anaknya. “Di rumah jika jam belajar tiba, yaitu jam 6 sore sampai jam 8 malam TV dimatikan. Baru setelah itu sekeluarga nonton TV. Jika anak saya yang kecil (kls 6 SD) saya usahakan unuk mendamping”. Hal senanda juga disampaikan oleh Parini. “ ya yang sering saya lakukan sebisa mungkin mendampingi Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009


8 i l i pu t an

anak saya ketika menonton TV”. Pandangan seperti ini sangat mudah dijumpai di masyarakat, namun uniknya mereka merasa tidak berdaya menghadapi sodoran keindahan yang ditayangankan di TV. Durasi atau waktu menonoton TV menghabiskan lebih dari dua jam perhari. “Rata-rata 4-5 jam” ujar Rini. Sementara itu Sisri mampu menghabiskan waktu dideapan TV ratarata antara dua sampai empat jam perhari. Kondisi ini menjadi ‘lahan’ basah bagi banyak pihak, baik dari kalangan ekonomi, hingga politik. Bagi para

pelaku bisnis televisi sering dimanfaatkan sebagai media iklan yang sangat efektif untuk memperkenalkan produk pada konsumen. Perdebatan sisi negatif dan pistif kehadiran TV di tengah ruang keluarga Indonesia tentu akan terus bergulir. Namun bagi para ibu, mereka berharap penataan tayangan yang lebih baik kedepannya. “Harapan saya sebagai Ibu, banyak acara di TV yang mendidik bagi anakanak dan kalau bisa sinetron dikurangi” tutur Rini. Hal tersebut juga diamini oleh Sisri “ Ya semoga TV lebih sering menayangkan acara yang mendidik anak-anak” Harapan dan pandangan

Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009

para ibu tersebut tentu harus segera disikapi oleh berbagai pihak. Sudah selayaknya kehadiran televisi diposisikan kembali kedalam empat fungsi utama. Televisi sebagai media yang memberikan informasi (to inform), menjadi media pendidikan (to educate), sarana hiburan bagi masyarakat (to entertain), dan kontrol sosial (social control). Jika keempatanya bisa dirangkai dalam tayangan-tayangan yang bermutu maka tentu televisi bisa menjadi rahmat namun jika tidak maka kita tunggu kehadiran televisi hanya menjadi laknat semata. [+]


k a m pun g k i t a I 9

Pernahkan anda merasa sangat tergantung dengan sebuah tayangan di TV yang harus selalu anda ikuti? Atau anak-anak anda tiba-tiba begitu hapal dengan tiap kata yang muncul diiklan? Jika jawabannya Iya maka ini sebai sebuah pertanda awal adanya ketergantungan pada TV.

Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009


10 i LI P U T A N 10 i k l iapu m pun t an g K i t a

Acara-acara teve belakang­ an ini memang tak bisa dipungkiri, bisa “menyihir” pemirsanya untuk tetap terpaku di depannya. Apa­lagi adanya tayangan kompetisi yang berbalut komedi, yang bisa memaku kita mulai petang hari hingga menjelang tengah malam non-stop. Sebut saja beberapa acara seperti “Take Him Out”, “Indonesia Idiol” “Bisokop Mlama” dan masih banyak tayangan yang memanjakan pemirsa. Jika kondisinya sudah sedemikian akutnya pola menonton kita, apakah kita bisa hidup tanpa TV? Dalam satu wawancara dengan Bowo (21) secara jujur dia mengakui tidak bisa berpisah dari TV.“Kelihatanya tidak bisa, lha kalau di counter (warung jual pulsa-red) itu tidak ada kerjaan lain selain nonton TV.”

Bagi Bowo pekerjaannya sebagi penjual pulsa menjadikan TV sebagai satu-satunya hiburan. “Wah…bisa lama saya kalau nonton TV, bisa sampai 7 jam. Kan saya jaga counter jadi gak ada kerjaan lain selain nonton TV”. Lalu bagiamana jika kita sudah terlanjut sangat ‘cinta mati’ dengan TV? Apakah langkah mengenyahkan TV dari ruang anda bisa menjadi solusi? Beberapa kalangan ber­ pendapat salah satu cara yang efektif adalah dengan ti­dak adanya TV di rumah. Na­mun beberapa kalangan me­li­hat dari sisi pengelolaan wak­ tu menonton tayangan TV. Kampanye bertajuk: Turn off TV, Turn on Live! (Matikan TV, Ber­alihlah ke Kehidupan Nyata) terus dilancarkan se­jak tahun 2006. Dukungan kam­panye ini

Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009

sejatinya harus te­rus digalang dari semua pihak ter­masuk pengelola stasiun televisi. Akan menjadi langkah yang berat jika kita masih sangat mudah menjumpai tayangan teve, seperti di kantor, di kantin, di apotik, atau di lokasi-lokasi umum lainnya dan kita tidak bisa memalingkan wajah dari tayangan-tayangan tersebut. Bagi Nunung Indriayani (35) bisa hidup tanpa TV jika kita punya banyak kegiatan yang menyiat banyak waktu “beraktifitas yang banyak, nanti pasti lupa nonton TV. Kerja di puskesmas, hadir di pertemuan ibu-ibu nanti kan nggak kober (sempat-red) nonton TV”. Entah bagaimana pun cara yang tiap orang lakukan namun fakta membuktikan masih tingginya waktu yang dihabiskan keluarga Indonesia dihadapan TV. Bagiaman dengan anda?[+]


k a m pun g k i t a I 11

Parini

Siti Wijayanti

Eko Hari Wibowo

Sarwo Edi Wibowo

Sri Harjani

Pandangan Dan Harapan Warga Jogja Pada Tayangan TV Indonesia Parini (27) atau yang akrab disapa Rini menilai saat ini tayangan yang ada di TV indonesia banyak yang tidak mendidik. Sebagai ibu rumah tangga sekaligus pedagang, dia berharap banyak acara di TV yang mendidik bagi anakanak dan kalau bisa sinetron dikurangi Hal yang sama juga disampaikan oleh Siti Wijayanti (30). Siti karyawan di salah satu PTS di Jogjakarta melihat saat ini tayangan TV terlalu banyak kekerasan, kurang mendidik dan tidak sehat untuk anak-anak. Bagi Siti yang mempunyai hobi membaca, berharap diperbanyak tayangan yang informatif, mendidik dan jika perlu perbanyak berita. Sementara itu Sarwo Edi Wibowo (21) melihat konglomerasi media menyebabkan banyak tayangan TV yang tidak sehat, dan dampaknya tayangan-tayangan khususnya jurnalistik menjadi kurang berbobot. Bagi Eddy, yang sehari-hari masih berada di bangku kuliah

mengatakan keinginan besar kelak di Indonesia akan ada perbaikan mutu tayangan TV dan muncul TV-TV yang lebih tersegmen seperti di luar negeri, ada channel khusus seperti kartun, olah raga dan program lainnya. Lain halnya dengan Eko Hari Wibowo (21), mahasiswa yang juga nyambi jualan pulsa melihat tayangan TV di Indonesia sudah cukup bagus. “Lumayan bagus sekarang ini banyak acara-acara yang menghibur, seperti acara musik dan komedi.â€? Harapan Bowo adalah makin kreatifnya acara-acara yang muncul di TV Indonesia. Bagi ibu rumah tangga seperti Sri Harjani, menilai masih terlalu sedikit acara yang mendidik bagi anak-anak usia sekolah. Sri Harjani berharapan kedepan akan bisa melihat tayanga-tayangan TV yang lebih sering menayangkan acara yang mendidik anak-anak. [+] Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009


12 i P anduan

Lindungi Anak dari Iklan Mainan di Pernahkan Anda mendengar anak anda tiba-tiba menga­takan “Aku ingin itu!” saat menonton iklan mainan di televisi.

A

nak-anak cenderung tidak melihat bahwa ma­ inan yang diiklankan di televisi berbeda dengan ketika me­re­ ka telah membeli dan mem­ bukanya di rumah. Untuk men­ cegah kekecewaan mereka, orang tua punya peran penting un­tuk membantu anak-anak me­ mahami bahwa apa yang me­re­ ka lihat di televisi iklan be­la­ka. Berikut langkah-langkah yang bisa Anda coba lakukan; Sampaikan Tujuan Iklan TV Pada Anak Jelaskan pada anak tuju­an iklan di televisi adalah men­jual produk. Adanya pe­nam­bahan efek suara, tek­nik produksi, peng­gunaan ka­me­ra, dan pro­ses editing, se­mu­anya di­ gunakan untuk me­ning­katkan daya tarik produk yang dijual. Sebagai orang tua, kewajiban kita adalah menyampaikan bentuk mainan sebenarnya. Ingatkan pada anak bahwa beberapa mainan susah dalam memakainya ketimbang yang

dibayangkan. Terkadang anak terjebak de­ngan mudahnya mainan yang ada di iklan televisi. Ke­nya­taannya,mereka me­ mer­lukan banyak waktu un­tuk mencobanya. Hal ini disebabkan perbedaan ke­ mam­puan dan bakat anak se­hing­ga tidak semua mainan yang diiklankan cocok buat se­mua anak. Tidak semua mainan dijual lengkap Terkadang mainan yang diiklankan tidak menyampaikan kondisi yang akan diterima pem­beli seperti adanya kali­mat “Bagian lain dijual ter­pisah” atau “baterai tidak ter­masuk”. Cari tahu cara memainkannya Banyak iklan televisi atau­pun cetak menyebutkan “mainan siap dimainkan de­ ngan...” namun sebetulnya anak-anak perlu merangkai ter­lebih dahulu mainan yang di­ belinya. Dalam beberapa kasus bah­kan merangkain mainan

Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009

mem­butuhkan banyak waktu dan susah. Pastikan mainan cocok untuk usia anak Anda. Ketika orang tua membeli mainan di toko, periksa ting­kat usia yang disarankan di ke­mas­ an mainan. Hal ini bia­sa­nya ada di panduan yang di­bu­­at oleh pabrik mainan. Se­la­in usia juga tingkat ke­mam­­pu­an anak yang di­perlu­kan untuk mainan ter­ sebut juga perlu diketahui. Kenali produk mainan yang akan dibeli Karena banyak produk mainan, lebih baik carilah segala informasi tentang ma­ inan yang tertera di kemasan sebelum membeli. Secara bi­jak anda menilai mainan ter­sebut atau tanyalah teman yang telah membeli terlebih da­hulu. Cobalah menilai ku­alitas mainan dan langkah-lang­kah merangkai mainan tersebut. Diolah dari:http://myfloridalegal.com/ pages.nsf/main/d96f5f1541b5ca185256cc900 5fe061!OpenDocument


r e k a m p r o s e s I 13

Penyusunan

Tools

Literasi

Media Televisi

Mengawali program Pengembangan Pen­didikan Melek Media untuk Masyarakat di Provinsi DIY oleh Masyarakat Peduli Media (MPM) Yogyakarta dengan dukungan dana dari Yayasan Tifa, pada 29-30 Agustus 2009 diadakan Workshop penyusunan tools media literasi (TV).

Kegiatan diikuti 15 peserta yang dipilih oleh MPM, dan seorang peserta tamu yang antusias untuk terlibat. Adapun latar belakang peserta cukup beragam. Sebagian besar adalah kalangan akademisi, yaitu dari UNY, UGM, UII, UAJY, UPN, UMY, dan STPMD. Selain itu ada pula Guru, wakil organisasi (wanita) keagamaan, Ibu Rumah Tangga, dan kalangan LSM yang relevan. Workshop menghadirkan tiga narasumber, Bobi Guntarto (aktrivis LSM anak dan media), Satria Arismunandar (praktisi tv), dan Bekti Nugraha dari Dewan Pers, dengan fasilitator Daan Satriya dan Saiful Bakhtiar berhasil menyusun tools untuk kegiatan literasi media televise di masyarakat. Tools itulah yang akan dioperasionalkan oleh para trainer dalam pendampingan di kelompok ibu-ibu. [+] Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009


14 i r e k a m p r o s e s

Workshop

Literasi Media di

Lima Kampus

s

ebagai tindak lanjut dari

kegiatan workshop penyusunan tools, MPM bersama UII, UMY, UPN “Veteran” Yog­yakarta, UAJY dan Sekolah Tinggi Pem­ba­ ngunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” me­ nyelenggarakan Workshop tentang literasi media yang dilakukan secara bergulir di lima kam­pus dan masing-masing diikuti oleh 20 ma­hasiswa. Workshop yang digelar antara 10-16 Sep­ tem­ber 2009 itu dimaksudkan untuk (1) meng­ ampanyekan kepada mahasiswa men­ge­nai ge­ rak­an literasi media televisi untuk masyarakat, (2) meng­himpun masukan atas rancangan tools

yang telah disusun, dan (3) proses rekrutmen calon relawan. Berdasarkan hasil observasi dan penilaian selama berlangsungnya workshop, dari setiap kampus dipilih empat peserta untuk mengikuti TOT. Adapun fasilitator dan narasumber Work­ shop di lima kampus, yaitu Moch. Faried Cahyono dan Arif Wibawa (UPN), Yossy Suparyo dan Muzayin Nasarudin (UII), Fajar Junaedi dan Saiful Bakhtiar (UMY), Anton Birowo dan I Gusti Ngurah Putra (UAJY), serta Zein Mufarrih Muktaf dan Sahrul Aksa (STPMD). [+]

G

TOT Literasi

Media Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009

una membekali pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa yang disiapkan menjadi trainer (pelatih) literasi media di masyarakat, tanggal 10-11 Oktober 2009 diadakan Training for Trainer (TOT). Pesertanya adalah mahasiswa yang telah terseleksi melalui workshop di lima perguruan tinggi yang memiliki program studi ilmu komunikasi. Fasilitator TOT, Mukhotib MD dengan piwainya berhasil mendorong antusiasme peserta untuk menjadi relawan dalam program pengembangan literasi media di masyarakat. Mereka dibekali pengetahuan dan ketrampilan mengenai pendampingan di masyarakat, model pendidikan orang dewasa, serta melakukan microteaching untuk menerapkan Satuan Acara Pelatihan yang ada dalam tools. [+]


k a m pun g k i t a I 15

Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009


16 i LE N S A

S EL A M A TK A N A N A K KIT A D A RI TO N TO N A N Y A N G T A K BERM A RT A B A T

Vol I • Nomor 01 • Oktober 2009

MATAMEDIA VOL, NOMOR 1  

Edisi ini mengulas padangan ibu rumah tangga tentang televisi

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you