S E K I L A S I N F O P E R T A N I A N | M I N G G U A N AGROTEKPEDIA SEPTEMBER 2022 Menanam Pisang dari Jantungnya? Bisakah? Manusia Penyebab Meningkatnya Penyakit Tumbuhan Carbon Farming Edisi E3 disi 1 Edisi 2
AGROTEKPEDIA H I M P U N A N M A H A S I S W A A G R O T E K N O L O G I SEPTEMBER 2022 Kingdom: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Liliopsida Subkelas: Commelinidae Ordo: Zingiberales Famili: Musaceae Genus: Musa Spesies: Musa paradisiaca L. (pro sp.) [acuminata balbisiana] K L A S I F I K A S I P I S A N G MENANAM PISANG DARI JANTUNGNYA? BISAKAH? Biasanya kalau kita ingin menanam pisang, tentulah dengan menggunakan anakan atau bonggolnya. Anakan pisang dipisahkan dari induknya, kemudian ditanam ditempat yang baru, hingga akhirnya terbentuklah tanaman pisang yang baru. Nah, bagaimana jika yang kita tanam adalah jantungnya? Apakah akan tumbuh? Apakah dari jantung pisang yang kita tanam itu akan menghasilkan tanaman pisang yang baru? Jawabannya tentu tidak bisa. Akan tetapi, lain halnya jika kita menanam jantung pisang itu dengan teknik kultur jaringan (kuljar). Dengan teknik kuljar, tanaman pisang bisa ditumbuhkan dan diperbanyak dari jantungnya. Hal ini berkaitan dengan teori totipotensi sel, yang menyatakan bahwa setiap bagian sel pada tumbuhan mengandung informasi genetik dan sarana fisiologis yang mampu untuk membentuk individu lengkap, jika ditempatkan pada lingkungan yang sesuai. Intinya, setiap sel tumbuhan memiliki potensi untuk tumbuh menjadi tanaman lengkap, asalkan kita dapat memberikan lingkungan pertumbuhan yang sesuai untuk bagian tanaman tersebut. Oleh karena itulah jantung pisang dapat digunakan sebagai bahan atau sumber tanam. EDISI 1
References: Shelake, Rahul & Kathithachalam, Angappan & Marimuthu, Murugan (2011) An efficient protocol for large scale plantlet production from male floral meristems of Musa spp cultivars Virupakshi and Sirumalai. In Vitro Cellular & Developmental Biology - Plant. 47. 611-617. 10.1007/s11627-011-9406-z.
Penanaman Pada Media Kultur (Inisiasi dan Multiplikasi) Jantung yang sudah dibersihkan, kemudian dipotong kecil kecil dan ditanam pada media kultur. Ada beberapa jenis media yang dapat digunakan untuk inisiasi jantung pisang, salah satunya adalah media MS (Murashige & Skoog). Pada media ini juga ditambahkan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) seperti auksin, sitokinin maupun dipakai bersamaan untuk merangsang pertumbuhan jantung pisang.
Berikut sekilas tentang cara penanaman jantung pisang dengan teknik kultur jaringan ; Pemilihan dan Pembersihan Jantung Jantung yang akan kita tanam haruslah dalam kondisi yang sehat, dan tidak berpenyakit. Jantung kemudian dikupas dan dibersihkan/disterilisasi dengan disinfektan, (seperti sabun, alkohol, bakterisida dan fungisida) untuk menghilangkan mikroorganisme yang menempel pada jantung tersebut.
Kemudian potongan jantung pisang yang sudah ditanam tersebut dipindah secara berkala pada media yang baru, hingga jantung pisang tersebut dapat membentuk tunas baru. Tunas tunas yang telah terbentuk terus diperbanyak dan dipotong potong (multiplikasi). Ketika tunas sudah cukup tinggi, barulah tunas dipisah-pisahkan sehingga menjadi satu individu baru.
Penanaman Kultur Jantung Pisang di Tanah Setelah jantung pisang tumbuh membentuk individu baru di dalam botol. Selanjutnyadiadaptasikan dilingkungan kebun. Proses ini bertujuan agar individu yang dihasilkan dari laboratorium (In Vitro) dapat menyesuaikan dirinya ketika ditanam di luar laboratorium (Ex Vitro). Proses adaptasi waktunya bervariasi, tergantung dari kondisi lapangan atau iklim disetiap lokasi. Setelah proses adaptasi selesai, barulah bibit yang berasal dari jantung tadi bisa ditanam ditanah. http://rhinbiotechnology.comImages source: https://www.researchgate.net https://slicesofbluesky.com http://www.robertharding.com/
AGROTEKPEDIA H I M P U N A N M A H A S I S W A A G R O T E K N O L O G I SEPTEMBER 2022 MANUSIA PENYEBAB MENINGKATNYA PENYAKIT TUMBUHAN Aktivitas manusia, yang awalnya mencari makan dengan cara berburu dan mengumpulkan, mulai merubah lingkungan dari ekosistem alami menjadi ekosistem pertanian (agroekosistem) dengan membuka hutan untuk bercocok tanam. Awalnya hanya dengan areal yang sempit dan berpindah-pindah. Lama kelamaan bercocok tanam secara besar-besaran dengan menanam tanaman yang sama pada areal yang luas (monokultur). Kegiatan demikian menyebabkan makanan tersedia dalam jumlah yang banyak pada suatu areal baik untuk manusia, hewan maupun parasit. EDISI 2 Hal ini merupakan salah satu penyebab terjadinya epidemi patogen. Praktek penanaman monokultur yang berkesinambungan dengan tanaman yang seragam secara genetik telah menyebabkan terjadinya mekanisme seleksi terhadap patogen yang mulai beradaptasi untuk dapat hidup pada genotip tanaman tersebut. Monokultur berkesinambungan menyebabkan patogen memperoleh makanan yang terus menerus baik dalam segi tempat maupun segi waktunya.
penyebab terjadinya epidemi patogen. Kemudian manusia berusaha mengadakan pemuliaan tanaman dan seleksi agar juga diperoleh tanaman yang tahan. Namun, karena penanaman yang dilakukan secara monokultur, dengan keragaman rendah, maka terjadilah tekanan seleksi pada parasit. Parasit yang berhasil membentuk ras baru akan berkembang pesat.
Images Source: https://www.pexels.com/id https://slicesofbluesky.com
Sengaja atau tidak manusia juga mengadakan seleksi tanaman yang ditanamnya. Umumnya pemilihan didasarkan pada penampilan, rasa, gizi dan nilai ekonomi suatu produk tanaman.
References: Pemasukan tanaman baru dari daerah atau negara lain tanpa disadari juga telah menyebabkan meningkatnya penyakit tumbuhan karena dua alasan. Alasan pertama yaitu adanya kemungkinan penyakit yang terikut sedangkan musuh alaminya tertinggal. Hal ini akan menyebabkan penyakit berkembang pesat tanpa dihambat oleh musuh alami seperti di tempat asalnya. Alasan yang kedua yaitu bahwa ada kemungkinan di tempat barunya, tanaman yang baru ternyata rentan terhadap patogen yang telah lebih dahulu ada sehingga akan memicu peningkatan populasi patogen yang dulunya tidak berkembang tersebut. Peningkatan populasi patogen pada gilirannya akan menyebabkan mudah patahnya ketahanan tanaman varietas lain yang sebelumnya tahan. Abdul Latief Abadi (2003) Bayumedia Publishing Hal 1 28 Ilmu Penyakit Tumbuhan I ISBN 979 3323 37 X
Demikian juga persilangan yang memang sengaja dilakukan. Hal ini menyebabkan keragaman genetik dari tanaman budidaya yang dipilih manusia untuk ditanam menjadi berkurang. Kurangnya keragaman genetik dalam suatu areal pertanian juga merupakan
AGROTEKPEDIA H I M P U N A N M A H A S I S W A A G R O T E K N O L O G I SEPTEMBER 2022 Apa itu Carbon Farming? Carbon farming merupakan metode kultivasi atau budidaya (pertanian, perkebunan atau kehutanan) berbasis karbon (arang) dengan tujuan untuk mengurangi atau menangkap emisi Gas Rumah Kaca, sekaligus menyimpan tanpa melepaskan carbon dari tanaman dan tanah. EDISI 3 Pertanian karbon mencakup serangkaian praktik pertanian yang mana menurut artikel MIT (Massachusetts Institute of Technology) baru baru ini dirancang untuk “meningkatkan penyimpanan karbon atmosfer di dalam tanah. Banyak dari praktik ini umum dilakukan dalam pertanian organik, pertanian regeneratif dan pendekatan lain untuk produksi pangan.” CARBON FARMING Bagaimana Praktik Carbon Farming?
6.Menambahkan bahan organik Dalam proses yang dikenal sebagai penyerapan karbon, tanaman berfotosintesis, menghilangkan CO2 dari atmosfer dan menyimpannya. Ketika mereka mati, karbon terus disimpan di dalam tanah atau dilepaskan kembali ke atmosfer.
1.Menerapkan teknik olah tanah TOT (Tanpa Olah Tanah/No Tillage)
Praktik carbon farming adalah praktik pengelolaan yang diketahui dapat menyerap karbon dan/atau mengurangi emisi GRK. Praktik ini diidentifikasi oleh Natural Resource Conservation Service (NRCS) sebagai praktik konservasi yang meningkatkan kesehatan tanah dan menyerap karbon sambil menghasilkan manfaat tambahan yang penting, termasuk: peningkatan kapasitas menahan air tanah, fungsi hidrologis, dan keanekaragaman hayati. Beberapa praktik dalam pertanian yang mendukung carbon farming antara lain:
2.Meninggalkan sisa biomassa di tanah setelah panen 3.Menggunakan tanaman penutup 4.Rotasi tanaman 5.Praktik pengendalian hama terpadu
Images Source: https://www pexels com/id https://www carboncycle org/ https://ec.europa.eu/clima/eu action/forests and agriculture/sustainable carbon cycles/carbon farming en https://www.carboncycle.org/what is carbon farming/ https://www cleanenergywire org/factsheets/carbon farming explained pros cons and eus plans
https://www holganix com/blog/what is carbon farming how it works and what we still dont know https://www.greenamerica.org/food climate/what carbon farming
References: https://www.cleanenergywire.org/factsheets/carbon farming explained pros cons and eus plans
Sharma, M , Kaushal, R , Kaushik, P , & Ramakrishna, S (2021) Carbon farming: Prospects and challenges Sustainability, 13(19), 11122. Thompson, N. M., Hughes, M. N., Nuworsu, E. K., Reeling, C. J., Armstrong, S. D., Mintert, J. R., ... & Foster, K. A. (2022) Opportunities and challenges associated with" Carbon farming" for US row crop producers Center for Commercial Agriculture Retrieved March
Tim Penyusun: Divisi Pengembangan dan Penelitian Pertanian HIMAGROTEK UNU PURWOKERTO Kontributor Auliya Azmi Gintang Nila Cahya Yusroni Fairuz Adzkiya Editor Mela Prastika Muhamad Ikhsan Maulana Hanif Sanjaya Layouter Mela Prastika Copyright Agrotekpedia 2022 TIM AGROTEKPEDIA SEP 2022 | VOL 1 TERIMA KASIH BANYAK. Nantikan Agrotekpedia Edisi Berikutnya !