MAJALAH OPINI EDISI 60/2024

Page 1


DAFTAR ISI

OPIUM

EDITORIAL

Riuh Suara Sumbang di Jagat Maya,

Tanda Belum Bebasnya Ruang

Demokrasi Rakyat

LAPORAN

No Viral No Justice: Kritik Rakyat

atas Penegakan Hukum Berbasis

Tren di Indonesia

Menyoal Biaya Tinggi di PTN-BH: antara

Otonomi Kampus dan Beban bagi

Rakyat Kecil yang Bercita-cita Tinggi

Batas Usia Kerja: Dipersulit untuk

Rakyat, Diotak-atik untuk Penguasa

POLITIK SOSIAL

Mengakarnya Ketimpangan Respons

Negara dalam Penanganan

Kasus Publik

INSPIRASI

Gisella Previan Laoh: dari Ruang

Kuliah ke Ruang Redaksi---Kisah

Jurnalis Muda yang Menginspirasi

INTERMEZZO

Clash of Champions: Kompetisi

Edukatif atau Sekadar Tren Media?

FISIP BEROPINI

79 Tahun Kemerdekaannya, Sudahkah

Benar-benar Merdeka Rakyatnya?

PUISI

Saat Aku Mati Esok Hari

RESENSI

Resensi Lagu Gala Bunga Matahari: Bagaimana Hidupku Tanpamu? 20 24 27 31 34 35

Riuh Suara Sumbang di anda Belum

Bebasnya Ruang

Demokrasi Rakyat

Penulis: Natalia Ginting

Demokrasi. Satu kata yang maknanya melekat dalam ingatan masyarakat. Bukan tanpa sebab, masyarakat bisa memiliki pengenalan terhadap demokrasi. Rakyat Indonesia yang juga notabenenya penduduk Indonesia, hidup di negara dengan sistem pemerintahan demokrasi, yakni pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Namun, apakah makna demokrasi benarbenar dipahami secara benar atau hanya dimaknai secara dangkal, struktural, atau bahkan sebatas prosedural?

Kerap kali demokrasi dimaknai hanya sebatasstrukturaldanprosedural.Demokrasiselalu dikaitkan dengan Pemilihan Umum (Pemilu) di mana masing-masing calon berkontestasi politik, berpartisipasimenyumbangsuaradalampemilihan, kebebasan berbicara dan berekspresi, dan lainnya. Namun,jikademokrasikitatilikdenganpendekatan kultural yang mana merupakan simbol kebanggaan rakyat Indonesia, seperti tutur bahasa yang sopan, penuhkeadabandanmoral,nyaristerabaikandalam jagatmediasosial.

Demokrasi kian hari kian merosot terbukti dari banyaknya suara sumbang yang memiliki tendensi kuat mendorong terjadinya perpecahan, terlepas dari pendapatnya yang berlawanan atau menjadialatkaumpolitikborjuisuntukmenggiring opinipublikyangfamiliarkitakenaldengansebutan buzzer. Rakyat Indonesia yang semula acap kali dinobatkan sebagai masyarakat yang berbudaya, menjunjung tinggi sopan santun, dan ramah, perlahan-lahan mulai memudar Hal ini selaras dengan laporan Microsoft bertajuk ‘Digital Civility Index (DCI)’yang menyatakan Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara sebagai negara paling tidak sopan se Asia Tenggara (CNN Indonesia, 2021).

Dilansir dari Kompas.com, terdapat tiga faktor yang memengaruhi kualitas kesopanan netizen di Indonesia, yaitu masifnya kebutuhan informasi karena ketidakpastian, kebutuhan ekonomi yang meningkatkan hadirnya berita

sensasional, dan respon frustasi terhadap kejadian tertentu. Bentuk ketidaksopanan yang dilakukan oleh netizen Indonesia meliputi hoaks dan penipuan yang mencapai angka 47 persen, ujaran kebencian yang mencapaiangka27persen,dandiskriminasisebesar13 persen. Kemunduran tingkat kesopanan paling banyak didorongolehpenggunausiadewasadenganpersentase68 persen.

Tahun 2024 sebagai tahun politik menjadi sasaranempukpergulatanpolitikbaginetizendiruang maya. Unggahan berita oleh media informasi yang bersinggungan dengan isu politik menuai ragam komentar, pro dan kontra. Bukanlah menjadi suatu masalah jika terdapat perbedaan perspektif dalam memandang suatu fenomena karena memang benar lumrahnyademokrasiadalahdemikian.Namun,ketika informasibohongsengajadiedarkandemimendapatkan uang atau ujaran kebencian yang memiliki tendensi menghancurkan pihak tertentu dilontarkan demi kepentingan pribadi, membuktikan kebodohan masyarakatdalamberselancardimediasosial. Salah satu contoh nyata dari penyebaran berita hoax di masa Pemilihan Umum (Pemilu) adalah beredarnya video berisi sistem kerja chart untuk penggelembungan suara Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Dilansir dari website resmi Tempo, informasi tersebutbelumterbuktibenar KetuaKomisiPemilihan Umum (KPU), Hasyim Asy’ari mengakui adanya ketidakcocokan data yang dihasilkan Sirekap dengan yang tertera di Formulir C dikarenakan kurang optimalnya perangkat lunak yang memindai perolehan suaraFormulirC.

“Verifikasi Tempo menyimpulkan video yang beredar dan diklaim sebagai simulasi yang menunjukkan cara kecurangan Pemilu 2024 melalui Sirekap merupakan klaim yang belum ada bukti. Perangkatlunakyangditampilkanvideotersebutbukan Sirekap. Sejumlah organisasi sipil dan pakar menyatakan perlu adanya audit Sirekap oleh auditor independe k h i f k berbagai kejanggal kat lunak tersebut”(

Pemilihan Presiden lalu

ggelembungan suara

anggotadibeberapaTempat Dikutip dari Kompas, contohkonkritnyaadalahjumlahsuaraPrabowoGibran di TPS 54, Cakung, Jakarta Timur yang seharusnya 74 suara menjadi 748 suara. Video

hoaks tersebut hadir untuk kembali membombardir pikiran masyarakat, sebab besar peluang terjadi kericuhan dan timbul rasa ketidakpercayaan kepada petinggi negeri. Benar saja. Banyak orang yang menjadi goyah dan mempertanyakan kredibilitas pemilihan presiden tahunini.

Tak hanya sekadar hoaks, komentar nyeleneh yang sebenarnya tak layak diunggah, jugabegitubanyakmenghiasilamankomentardi berbagai unggahan media sosial perusahaan media,sepertiyangterteradibawahini.

(Sumber: Instagram Tempo)

Komentaryangterteradibawahmenunjukkan minimnya pengetahuan si pengomentar sehingga n)terkesan mengeluarkan informasi asal bunyi (asbun). Pasalnya, Tempo merupakan media berita yang menjunjung tinggi independensi. Setiap menjelang periode kepemimpinan presiden akan berakhir,timTempoakanmengkritikkinerjapresiden dansusunanlainnyasebagaibentukevaluasikerja.

Beberapa contoh di atas hanyalah sejumlah kecil ketidaklayakan informasi dan komentar oleh netizen Indonesia di tahun politik 2024 ini. Perlu diketahuibahwademokrasiyangbaik,bersumberdari segala arah. Bukan hanya berpatok pada pemimpin yang menerima kritik Bukan juga sekadar pencoblosan kertas suara di Tempat Pemungutan Suara(TPS).Apalagisebataskebebasanberbicaradan berekspresi tanpa memikirkan esensi isi informasi. Demokrasiyangbenarmemerlukankolaborasiantara media independen yang menyajikan informasi berkualitas, masyarakat yang cerdas, serta calon pemimpinyangberkompetendanpahambetuldengan konsepsidemokrasi.Makadariitu,sangatdiperlukan kompetensi dan kemelekan politik yang mumpuni demitetapterjaganyademokrasibumipertiwi.

LAPORAN UTAMA

No Viral No Justice: Kritik Rakyat atas Penegakan

Hukum Berbasis Tren di Indonesia

Penulis:DavinoKrisnaHernawan&KarindityaHalimaZahra

Dinamika penegakan hukum di Indonesia menjadi satu topik yang tak kunjung usang diperbincangkan,khususnyadimediasosial.Berbagai fenomena yang menyertai proses tersebut menjadikan topik ini selalu terasa relevan untuk dibahas. Salah satunyaadalahmunculnyaistilah “no viral no justice.” Sebuah artikel ilmiah berjudul Membangun Civic Engagement Melalui Fenomena ‘No Viral No Justice’ yangditulisolehElsaGrecyadanIlhamEffendiYahya dalam Journal Civic and Social Studies menyebutkan bahwafenomena no viral no justice yangmunculpada tahun 2021 merupakan sebuah respons masyarakat yangmenilaibahwasebuahkasusyangdiviralkanakan cenderung lebih cepat ditangani dibandingkan kasus yang dimulai dengan laporan biasa. Gerakan ini ditandai dengan penggunaan tagar #percumalaporpolisi dan #noviralnojustice di media sosial Istilah no viral no justice sendiri secara etimologis memang berarti “tidak viral, tidak ada keadilan.”

Gerakan yang dibentuk oleh warganet ini menjadikritiksosialterhadaplembagapenegakhukum di Indonesia, menilai proses penegakan hukum cenderung mengarah pada viralitas kasus. Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip), Yohanes Thianika Budiarsa, S I Kom , MGMC. atau yang akrab disapa Thian menuturkan bahwa viralitas di media sosial dapat merangsang respons dari pihak-pihak yang seharusnya berwenang atassebuahkasusyangsedangterjadi.

“Tidak dimungkiri bahwa viralitas di media sosial itu kemudian mendorong pihakpihak yang memang seharusnya memiliki kewenangan untuk bertindak dan di publik menganggap mereka tidak melakukan respons apapun. Akhirnya terdesak dan karena viralitas itulah kemudian akhirnya kasus-kasus yang mungkinselamainitidakdiketahuipubliksecara luas, akhirnya menjadi diketahui publik dan penegak hukum akhirnya mengambil tindakan atas itu,” tutur Thian saat diwawancarai pada Senin(30/09).

Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Bidang Sosial Politik (Sospol) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip 2024,AufaAthaAriq Aoraqi, turut mengungkapkan pendapatnya. Ia mengatakanbahwafenomena no viral no justice merupakan salah satu gerakan yang dilakukan oleh kelompok penekan (pressure group) dalam sistemketatanegaraan.

“No viral no justice itu sebagai sebuah gerakan pressure group yang berperan untuk menyuarakan ketidakadilan dan menuntut keadilan beberapa pihak,” kata Ariq ketika diwawancaraipadaSelasa(24/09).

Fenomena yang melibatkan gerakan publik melalui media digital seperti ini ternyata bukan suatu peristiwa baru Thian mengungkapkanbahwafenomenaserupapernah terjadidalam Arab Spring Movement padatahun 2010.

“Nah, pada waktu itu (Arab Spring Movement), media sosial atau teknologi komunikasi kemudian dianggap memfasilitasi publik untuk melakukan upaya-upaya yang mendorongterjadinyademokratisasiataumereka keluardaritekananotoritastertentuyangrepresif, yang membungkam kebebasan mereka, dengan bantuan teknologi komunikasi sehingga upayaupayademokratisasiitubisatersebarsecaraluas danmasif,”ungkapThian.

Darikacamatailmiah,tentufenomenaini juga menarik untuk dianalisis. Thian menyebutkanbahwasalahsatupendekatanyang dapat digunakan untuk mengamati fenomena ini adalahkonsepglobalvillage.

“Mungkin salah satu hal yang bisa digunakan juga untuk melihat fenomena itu adalah yang disebut sebagai global village yang diperkenalkan oleh MarshallMcLuhan.Nah,pendekataniniatauideyang diprakarsaiolehMcLuhaninisebetulnyaadalahsalah satu upaya untuk menjelaskan bagaimana media itu sudah semakin hadir dan sudah tidak lagi mengenal adanyasekat-sekatyangmembedakanaudienssecara fisikdansemakinmendekatkanaudiensitusatusama lain,”jelasThian.

Berkembangnya media digital kemudian membukaruangaksesbagipublikuntukmenyuarakan aspirasinyamelaluimediasosial.Kondisiinilahyang Thianjelaskansebagaijurnalismewarga.

“Tapi sekarang ketika setiap orang bisa menjadi produsen pesan melalui media sosial, atau kita kenal juga istilah adanya jurnalisme warga atau citizen journalism, itu kemudian setiap orang bisa menghasilkan pesan dan itu bisa menjadi viral di mediasosial.Nahituyangmungkinmenurutsayaini adalahfenomenayangwajardigunakanketikabanyak saluran-saluran untuk menyampaikan aspirasi,” ucap Thian.

Salah satu aktor yang berperan dalam menyampaikan aspirasi masyarakat tentunya adalah mahasiswa. Melalui organisasi yang ada di kampus, mahasiswadapatmenjadisalahsatupenggeraksosial dengan memanfaatkan media sosial sebagai wadah kolektifuntukmenyuarakanaspirasidankritik.Media sosial berperan sebagai sebuah saluran yang mampu menggerakkan suara secara masif hanya dengan melaluiunggahanataubahkantagardarinarasi-narasi persuasif.

BEM Undip sendiri melalui Bidang Sospol, selain menggunakan cara konvensional seperti menempelkan poster dan spanduk di beberapa titik kampus atau mengajak mahasiswa untuk berdiskusi mengenai sebuah isu permasalahan, juga menggunakanunggahanfotodanvideoyangmenarik dengansuntinganyangkontroversial,seperti“Jokowi Turun Takhta, Bagaimana Rapornya?” dan “Konsesi Tambang ORMAS Keagamaan Untuk Oligarki”. Hal tersebut bertujuan untuk menarik atensi mahasiswa mengenai permasalahan yang disuarakan melalui mediasosial.

Menurut Ariq, peran mahasiswa dalam menggaet suara masyarakat memiliki dampak yang baik, tetapi belum signifikan. Untuk memengaruhi masyarakatawam,diperlukancara-caraefektifdalam mengemas sebuah narasi Selain itu, keberadaan buzzer yang dibantu oleh dorongan pemerintah turut menjadi tantangan dalam upaya menarik atensi dan suaramasyarakatmelaluiunggahandimediasosial.

Sumbergambar:Kompasiana.com/FairuzMustofa

Nah, itu agaknya mungkin bisa berdampak. Tapi ya enggak terlalusignifikanlah peran mahasiswa. Tapi memang memiliki peran yang cukup bisa menggiring opini kalangan masyarakat. Musuh kita ini bukan pemerintah saja, tapi seribu bayangan pemerintah. Artinya buzzer-buzzeritu,”ucapAriq.

Pendapat serupa turut disampaikan oleh Thian.Iamenyatakanbahwagerakansosialyang dilakukansecaradaring(onlinesocialmovement) memiliki peran penting dalam mengubah status quo, tetapi cenderung sukar untuk diwujudkan dalamjangkapanjang.

“Disatusisidalamjangkapendek, online social movement itu penting untuk membuat status quo menjadi tidak ajeg gitu, tetapi di sisi lain ketika kita berbicara mengenai jangka panjang itu sepertinya akan sulit untuk bisa mewujudkanitu,”ujarThian.

Kehadiran media sosial sebagai sarana untuk menyuarakan aspirasi publik tidak sertamerta menawarkan kemudahan, tetapi juga menimbulkan sejumlah tantangan baru yang harus dihadapi oleh aktor-aktor penggeraknya. Ariq menyampaikan bahwa dalam melakukan pergerakan, Bidang Sospol BEM Undip turut dibayang-bayangi oleh keberadaan UndangUndangInformasidanTransaksiElektronik(UU ITE).Melihatkeresahantersebut,BidangSospol BEM Undip berusaha memberikan penjelasan mengapasetiapbentukpergerakantersebutperlu hadirditengahmahasiswa.

“BEMUndip,Sospolterkhusus,kitatidak hanya mengeluarkan postingan-postingan yang kontroversial. Tapi kitajugamenjelaskankenapa postingan ini hadir, kenapa poster ini hadir, kenapavideoinihadir,”ungkapAriq.

LAPORAN UTAMA

Selain bayang-bayang UU ITE, adapun represifitas yang menjadi tantangan tersendiri bagi para aktivis. Thian menyampaikan bahwa terdapat kondisi-kondisi yang menjadi indikator kemunduran demokrasi dari reaksi para aktivis yang menginisiasi onlinesocialmovement.

“Ternyata banyak juga penurunan-penurunan atau kemunduran demokrasi, misalnya para aktivis yang mereka menginisiasi gerakan online social movement itu kemudian terancam keselamatannya, ataumisalnyamerekabahkanmengalami doxing atau perusakan nama baik. Yang kedua juga di sisi lain ketika upaya itu dilakukan melalui internet, ada juga kerentanan terhadap misalnya tiba-tiba dilakukan internet shutdown sehingga upaya untuk melakukan gerakan yang lebih masif itu menjadi terancam,” jelasnya.

Hal yang sama juga dikonfirmasi oleh Ariq. Sebagai Kepala Bidang Sospol BEM Undip, ia mengatakan bahwa telah berkali-kali menerima tindakanrepresifdariberbagaipihakdalambeberapa bentuk.

“Ancamandigitalmungkinnomorsayasudah berapa kali ditelepon, terus di-chat sama nomornomor nggak jelas. Mungkin doxing juga terbiasa,” ungkapnya.

Beranjak dari fenomena tersebut, Ariq berharap agar ke depannya kasus-kasus yang terjadi ditangani secara cepat tanggap oleh aparat tanpa bergantungpadaseruanmasyarakat.

“Harapannya (kasus-kasus yang terjadi) bisa ditindaklanjuti secara adil dan harapannya tidak nunggu dari masyarakat itu menyuarakan baru dieksekusi, tapi harusdieksekusiterlebihdahuluoleh aparatbarukemudiandibantuolehmasyarakat,”tegas Ariq.

Sebagaiseorangdosen,Thianjugamenaruh harapan kepada mahasiswa sebagai digital native agar dapat memfungsikan media sosial untuk memberikankebermanfaatansosial.

“Jadi saran saya adalah gunakan media sosial untuk, kalau kalian memang punya potensi untuk melakukan sesuatu secara viral, viralkanlah hal-hal yang baik. Kemudian ikutlah ambil bagian dalam upaya-upaya online social movement yang memangmemberikanmanfaatkepadapublik,tidak karena ingin mengejar viralitas untuk kepentingan diri sendiri saja, tapi juga ikut melakukan sesuatu yangberdampaksosial,”tutupThian.

Sumbergambar:Freepik/BeritaHukum.id

Menyoal Biaya Tinggi di PTN-BH: antara Otonomi Kampus dan Beban bagi

Rakyat Kecil yang Bercita-cita Tinggi

Penulis: Diva Fasma Sekar & Raniya Raifa Salma

Daritahunketahun,biayauangkuliahtunggal

(UKT)pendidikantinggiterusmelonjakdan fenomenainimenjadipersoalandikalangan mahasiswa yang mengaku tidak puas dengan penetapan golongan UKT yang didapatnya Penetapan tersebut dinilai tidak mencerminkan kondisi ekonomi keluarga, meskipun dokumen pendukungyangjelasdanlengkaptelahdilampirkan untukmenunjukkankemampuanfinansial.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro (Undip), Rara (nama disamarkan), mengungkapkan bahwa ia tidak puas dengan golongan UKT yang didapat, sebab tidak sesuai dengan kondisi finansial keluarganya Rara menambahkan rasa kekecewaannya karena sudah melampirkan bukti-bukti pendukung yang relevan, tetapitetapmendapatkangolongantertinggi.

“Kalau menurutku, prosesnya kurang adil karena aku sendiri dapat golongan yang kurang sebanding dengan penghasilan orang tua dan buktibukti pendukung yang sudah aku lampirin,” ujarnya saatdiwawancaraiviaWhatsApppadaKamis(3/10).

Setelah merasa bahwa penetapan UKT yang diterima tidak sesuai dengan kondisi ekonomi keluarganya, Rara memutuskan untuk mengajukan banding UKT guna mendapatkan golongan UKT yang lebih rendah. Proses banding ini diharapkan dapat memberikan perubahan yang lebih proporsional sehingga biaya kuliah yang harus dibayarlebihterjangkau.

“Nah, karena tadi di awal aku mention kalau ngerasa kurang adil karena ga sebanding dengan penghasilanorangtua,dansebagainya.Akhirnyaaku nyoba untuk melakukan banding UKT ke golongan yanglebihrendah,”tambahnya.

Kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Advokesma) Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Komunikasi,CathleneTantyRahmaikaTambunan, menjelaskan bahwa proses banding yang diajukan

Sumbergambar:tinjau.id

mahasiswa ini tidak cukup mudah karena banyak proses yang harus dilalui sebelum ajuan bandingnya disetujui.

“Padaawalnya,mahasiswamengisiformyang disediakanolehUndipmaupundarihimpunansupaya adanya track dokumen. Setelah melakukan scanning dari form, kita (pihak HMPS) memberikan form tersebut untuk difilter oleh BEM Selanjutnya, Advokesma HMPS dan BEM memfilter mana saja mahasiswa yang dapat diajukan ke sidang banding. Setelah itu, dilakukannya wawancara dengan mahasiswatersebutmengenailatarbelakangkeluarga dan pertanyaannya lainnya,” jelas Cathlene saat diwawancaraiviaLINEpadaKamis(26/09).

Cathlene juga menjelaskan bahwa tidak semua mahasiswa yang mengajukan banding dapat dikabulkan permintaan bandingnya. Berangkat dari pengisian form, mahasiswa akan mengikuti wawancarakeduajikalaumerekabelumpuasdengan keputusanpenolakanbanding.

“Akan ada wawancara kedua untuk menanyakankejelasanjikasemisalmereka ga terima. Nah, mereka akan mengisi form lagi untuk ada wawancara kembali untuk menanyakan hal-hal seputarperekonomiankeluarga,”ucapCathlene.

Meskipun telah melalui wawancara kedua, halinitidakmenutupikemungkinanbahwamasihada mahasiswa yang mengalami penolakan ajuan bandingsecaratelak,sebabmasihdinilaikurangdari segiurgensi.

“Setelah wawancara kedua tetap ada yang ditolak karena ada mahasiswa tersebut tidak mengalamimusibahdanorangtuanyamasihmampu untukmembayar,”tambahCathlene.

Meskipun prosedur banding UKT dirancang sebagai jalan bagi mahasiswa untuk memperoleh keringanan biaya, nyatanya proses yang panjang tersebut belum tentu membuahkan hasil yang memuaskan. Rara mengaku hanya mendapatkan penurunan UKT yang relatif kecil dan itu belum mampumemberikankeringananbaginya.

“Aku dapat keringanan turun satu golongan meskipundiawalakumengajukanbandinglangsung turunkebeberapagolongan,”ungkapnya.

Wakil Dekan Bidang Sumberdaya FISIP Undip, Ika Riswanti Putranti, menjelaskan bahwa permasalahan terkait banding dan penetapan UKT sebenarnyasudahmenjaditanggungjawabkelompok kerja(pokja)yangdibentukkhususuntukmenangani hal-haltersebut.

“SayaselalumemesankankepokjaUKTagar kita laksanakan secara bersama-sama. Di sana ada Advokesma BEM, juga dari HMPS, jadi semua mengikuti desk sesuai dengan HMPS masingmasing.KetikabandingUKTditolak,itutergantung verifikasidaripokja.Didalampokja,adaAdvokesma BEM, HMPS, dan lain-lain. Dokumennya pun kita cek satu per satu, ada wawancara juga. Jadi, kita semua transparan,” terang Ika saat diwawancarai padaRabu(9/10).

Otonomi Penuh atau Komersialisasi Tersembunyi?

Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), perguruan tinggi berstatus Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) diberikan otonomi penuh untuk mengelola keuangan dan sumber daya, termasuk dosen dan tenaga kependidikan. Dengan pola operasional yang menyerupai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PTN-BH memegang kendali penuh atas aset dan keuangan untuk mengembangkan potensi yangadadalamperguruantinggitersebut.

Pada bulan Juli tahun 2015, pemerintah secara resmi menetapkan Undip sebagai PTN-BH melalui penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) N o m o r 5 2 T a h u n 2 0 1 5

Peraturan ini memberikan Undip status otonom yang lebih besar dalam pengelolaan akademik, riset, dan administrasi, sehingga memungkinkan universitas tersebut untuk lebih fleksibel dalam mengembangkan potensidanmeningkatkankontribusinyadalambidang pendidikantinggi.

“Kalau membahas PTN-BH ini, dulu Undip ‘kan berevolusi ya. PTN-BH sendiri tujuannya meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam mengelolapelayananpublik.Jadi,kitapunyaotonomi untuk mengembangkan potensi yang ada. Jika kita berbicara riset, yang kita jual adalah keunikan dan karakteristikdaririsettersebut,”lanjutIka.

Sebagai PTN-BH, Undip telah menerapkan jalur mandiri untuk semua program studi yang memungkinkan mahasiswa baru untuk masuk dengan biaya tambahan melalui Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) Meskipun jalur mandiri dianggap sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan institusi, Ika menyampaikan bahwa jalur ini sebenarnya tidak memberikan dampak yang signifikanterhadapekonomikampuskarenaadafaktor lainyangturutberkontribusi.

“Kalau mau bicara pendapatan dari jalur mandiri, itu juga tidak terlalu signifikan. Dana pembiayaan perguruan tinggi juga berasal dari masyarakat,sumbanganhibah,danlain-lain.Adajuga aset, catatan belanja daerah, dan sebagainya. Jadi, pendapatanbukanhanyadariUKT,”terangnya.

Sumbergambar:masuk-ptn.com

WasteforScholarship:ProgramKerjaBEMFISIP Undip sebagai Solusi Kreatif di Tengah Isu KomersialisasiPendidikan

Berangkat dari keresahan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip tentang biaya pendidikan yang sulit dipenuhi, Bidang Pengabdian Masyarakat (Dimas) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP menginisiasi program “Waste For Scholarship (WFS)” untuk membantu mahasiswayangmengalamikesulitanekonomi.

DalammenjalankanprogramWFS,Dimas BEMFISIPUndipbekerjasamadenganhimpunan tiap program studi yang memiliki program kerja terkait pengelolaan sampah Program ini

mempunyai standar prosedur dalam keberjalanannya dan telah disetujui tiap ketua himpunan.

Fungsional Dimas BEM FISIP, Muhammad Hanif Ulinuha, menyebutkan bahwa program WFS sudah dilaksanakan saat kegiatan Pengenalan Kegiatan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dan Pendidikan Karakter (Pendikar) sesuai mekanisme yang ditetapkan mmm

“Contohnya Kegiatan PKKMB dan Pendikar, di mana kegiatan tersebut salah satu program dari himpunan yang tentunya sampahnya sudah harus terpilah sesuai dengan jenisnya sehingga setelah sampahnyasudahdipastikanterpilahdenganbaik, teman-temandarihimpunanmenghubungiDimas BEM FISIP agar dijual ke tempat pengepul sampah, namun juga diperkenankan bagi temantemandarihimpunanyanginginmenjuallangsung sampahnya ke pihak pengepul,” ucap Hanif saat diwawancaraipadaSenin(30/9).

Program WFS itu sendiri merupakan programberkelanjutanyangberlangsungselama9 bulan.Sebagaiprogramberkelanjutan,WFSsudah dirancang secara matang untuk memenuhi kebutuhansaatdanhasilnyaakanbergunauntukke depannya.

“Perlu ditekankan juga bahwasanya program ini baru diadakan pada tahun ini yang di manaprograminibukanprogrameventual,namun program yang berkelanjutan yang awal terlaksananyaprograminipadabulanMaretsampai Novembermendatang,”tambahHanif.

Sejauh program WFS berjalan, pihak birokrat tidak menunjukkan pertentangan akan hadirnyaprogramtersebut.Sebaliknya,programini justru mendapat respons positif dari birokrat, khususnyadariIkayangmengharapkanmahasiswa lebihsadarterhadapisupengolahansampah.

“Beliau (Ika) juga berharap mahasiswamahasiswi FISIP dapat lebih aware terkait isu lingkungan khususnya terkait pengelolaan sampah,”ucapHanif.

Sesuai tujuan awal diadakannya WFS, Hanif berharap program ini dapat meningkatkan kesadaran terkait penetapan UKT agar semua kalangan dapat mengenyam pendidikan tinggi tanpaharusmerasadipersulitsecaraadministratif.

“Harapannya program ini juga dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya biaya pendidikan yang lebih adil, khususnya bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi. Dengan demikian, kebijakan UKT ini dapat menjadi lebih fleksibel sehingga pendidikan tinggi dapatdiaksesolehsemuakalangan,”tutupHanif.

Batas Usia Kerja: Dipersulit untuk Rakyat, Diotak-atik untuk Penguasa

Penulis: Sabrina Aufara Sulistyo

Isu mengenai kualifikasi batas usia kerja di

Indonesia masih menjadi perhatian publik setelahMahkamahKonstitusi(MK)menolakuji materi terkait batasan usia dalam lowongan kerja pada Juli 2024 lalu. Keputusan MK ini memupus harapan pelamar dan pencari kerja di Indonesia karenadianggapsebagaibiangdarimaraknyakasus pengangguran.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2024 ada sekitar 7,1 juta angkatan kerja berusia di atas 15 tahun yang tidak memiliki pekerjaan Sementara itu pada saat yang sama, Indonesia juga sedang menghadapi badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Berdasarkan data yang disampaikan oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), diketahui bahwa PHK yang terjadi di Indonesia sepanjang 2024 disebabkan oleh beberapa faktor termasuk ketidakmampuan bersaing oleh banyak pengusaha. Banyak usaha yang belum mampu pulih kembali setelahpandemiCOVID-19dandiperparahdengan beragam situasi termasuk perang, kebijakan terkait produktertentu,sertaperubahangayahidup. Mahasiswi Program Studi Administrasi Publik, Syaqila Luthfia Akmalita, menyatakan bahwa kasus pengangguran akibat kualifikasi batas usiakerjainimenimbulkankegelisahanbagiremaja karenabanyaknyatuntutankebutuhan.

“Menurut saya kualifikasi berlakunya pembatasan usia kerja di Indonesia cukup menjadi momok melihat banyaknya usia produktif kerja di Indonesia yang semakin banyak dan kebutuhan dalam memenuhi kebutuhan yang semakin tinggi. Kegelisahan ini menjadi hal yang cukup menyita banyak perhatian bagi kami remaja yang mempunyai angan angan untuk mampu bekerja lebih baik,” ucap Syaqila saat diwawancarai pada Kamis(31/11).

Pendapat lain terkait kualifikasi batas usia kerja sebabkan pengangguran juga dikemukakan oleh Dosen Program Studi Administrasi Publik Universitas Diponegoro (Undip), Satria Aji Imawan, yang menyatakan bahwa produktivitas seharusnya tidak hanya diukur melalui usia karena usiadinilaisangatrelatif.

“Sebenarnya produktivitas seseorang tidak hanya diukur melalui usia. Usia yang muda belum tentuproduktif,sementaraituusiatuatidakotomatis produktivitasnya menurun Semestinya, produktivitas seseorang diukur melalui hasil yang diciptakan dan jenis pekerjaannya terlepas dari usianya. Saya pikir ini yang menjadi akar permasalahan angka pengangguran meningkat Sebab, produktivitas hanya diukur melalui usia, sementara usia itu relatif, tergantung populasi, daerah,danjenispekerjaanbagipopulasidandaerah tersebut,” ujar Aji saat diwawancarai pada Kamis (31/10).

Sumbergambar: Original sketch by SabrinaAufaraS.

PenetapanKualifikasiTenagaKerja:Usiadan

Pengalaman

Polemik batas usia terus menjadi perdebatan,terutamakarenaadanyakekhawatiran seputarbatasanusiayangmembatasikesempatan

kerja di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknyalowongankerjadiberbagaisektoratau bidang yang membuat batasan usia, baik lulusan baru (fresh graduate), maupun tenaga kerja berusialanjutyakni30tahunkeatas.

Syaqila menyatakan bahwa batasan usia kerja yang disertai kualifikasi pengalaman kerja turutmenjadikeresahanbagifreshgraduate.

“Pengalamanbekerja,keluhaninibanyak dirasakan bagi kalangan fresh graduate karena tuntutandarisetiapperusahaanpencarikerjayang menuntut adanya pengalaman bekerja kurang lebihnya 2-3 tahun, sedangkan bagi fresh graduate juga memikul tekanan agar segera mendapatkanpekerjaan,”jelasnya.

Dengan polemik tersebut, Aji juga menyatakan tidak setuju apabila penetapan batas usia kerja benar-benar diterapkan 100 persen di Indonesia.

“Menurutsaya,ditengahkondisiekonomi yang belum pulih pasca COVID-19, maka pembatasanusiatidakbisaserta-mertaditerapkan 100 persen. Banyak faktor yang memengaruhi, tidakhanyasoalusia.Salahsatufaktoryangperlu dipertimbangkan adalah matching antara usia, jenis pekerjaan, dan kontribusi orang tersebut terhadap menurunnya pengangguran, meningkatnyapertumbuhanekonomi,”ujarAji.

Diskriminasi Usia Kerja antara Rakyat denganPejabatTidakBerantasPengangguran MK menjelaskan definisi diskriminasi terhadap hak asasi manusia telah diatur dalam Pasal1angka3Undang-Undang(UU)Nomor39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Berdasarkan pasal tersebut, diskriminasi terjadi apabila ada pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, dan keyakinan politik.

Dengan kata lain, menurut MK, batasan diskriminasi tidak terkait dengan batasan usia, pengalaman kerja, dan latar belakang pendidikan. Selain itu, MK juga menegaskan bahwa Pasal 32 ayat (1) dan (2) UU Ketenagakerjaan telah mengatur bahwa penempatan tenaga kerja harus diatur sedemikian rupa, sehingga melindungi hakhak dan perlindungan mendasar bagi tenaga kerja.

Terlebih menurut MK, Pasal 5 UU Ketenagakerjaan juga telah mengatur larangan diskriminasibagitenagakerja.

Putusan MK tersebut menimbulkan rasa diskriminasiterhadaprakyatjikadikaitkandengan putusan MK yang dengan mudahnya mengubah batas usia sebagai syarat pencalonan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres).

Menanggapi aturan hukum tersebut, Aji menyatakanbahwaaturanpemerintahtidakcukup baikkarenaeksklusivitaslapanganpekerjaantidak sesuai dengan rencana penurunan angka pengangguran.

“Halinitentutidaklahbaikbagipenurunan angka pengangguran. Belum lagi ketika lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan populasi yang ada, maka bisa terjadi pengangguran terbuka yang tinggi. Eksklusivitas lapangan pekerjaan tidaklah sesuai dengan rencana pemerintah untuk menurunkan angka pengangguran Seharusnya pemerintah semakin inklusif agar pengangguran menurun. Konstitusi dalam hal ini, harus menyesuaikan,”tuturAji.

Apabila kualifikasi batas usia kerja di Indonesia tetap akan diterapkan, maka diperlukan langkah strategis untuk mengatasi pengangguran. Aji menyatakan bahwa harus ada suntikan modal untuk membuka lapangan pekerjaan yang lebih banyak.

“Melihat tren pekerjaan sekarang, sektor swasta menjadi primadona mengingat suntikan dana melalui sektor swasta cukup tinggi. Sektor pemerintah terbatas, belum lagi tingginya tingkat KKN. Selain itu, suntikan modal pengusaha untuk membangunusahaakanmembukalapangankerja,” jelasAji.

Intensi Publik dalam Penetapan Hukum yangKontekstual

Penegakkan hukum yang tidak mendiskriminasi rakyat menjadi harapan bagi seluruhmasyarakat,takterkecualiSyaqilayang berharap bahwa diskriminasi lowongan pekerjaanharusdiberikankebijakanyangtegas sebagaibentukkeadilan.

“Harapan saya pertimbangan mengenai diskriminasi lowongan kerja mampu diberikan kebijakan yang lebih tegas dan lugas sebagai bentuk keadilan yang jarang sekali menjadi perhatian khususnya pemerintah mengenai hal tersebut,”terangSyaqila.

Selaras dengan Syaqila, Aji turut menyampaikan harapan positifnya terkait keberjalananhukumdiIndonesia.

“Sayaharaphukumdapatdikembalikan ke dalam konteks sosial.Artinya, hukum harus melihatkontekssosial,bukanhanyaaspekyang ideal Hukum harus kontekstual terhadap perubahansosial,”tutupAji.

Sumbergambar: Original sketch by SabrinaAufaraS.

etimpangan Respons Negara enanganan Kasus Publik

umnaMahiraPrasetyawan&FahiyaKhairinNiswa

Sumberfoto:Dailypost.id

Ketimpangan dalam pelayanan dan

perhatian pemerintah terhadap rakyat menjadi salah satu masalah yang mencolok di negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia. Dalam menjalankan tugasnya, pemerintah seharusnya mengutamakan keadilan dan kesetaraan dalam melayani seluruh lapisan masyarakat. Namun kenyataannya, perhatian dan tindakan nyata sering kali hanya diberikan kepada kasus yang mendapat sorotan besar di media Fenomena ini terjadi dalam berbagai aspek, mulai dari akses layanan publik hingga penanganan kasus hukum yang berbedabeda, tergantung seberapa besar eksposur yang diterima di media. Akibatnya, banyak kebutuhan dan hak dasar masyarakat yang terabaikan, memperparah ketidakadilan yang seharusnya bisa ditekanolehperanaktifpemerintah.

Di Indonesia, kondisi ketimpangan ini semakin jelas terlihat ketika penanganan suatu masalahbaruterjadisetelahadanyaperhatianatau tekananpublikyangcukupbesar.Salahsatucontoh nyatadapatdilihatpadakasusRonaldTannuryang viralsetelahprotespublikataspembebasannyadari tuntutan penganiayaan. Tekanan media sosial dan aksi publik akhirnya memaksa MahkamahAgung

untuk menjatuhkan hukuman penjara, menunjukkan adanya ketimpangan respons hukum yang terjadi setelah kasus tersebut mengalami sorotan besar dari masyarakat.

Kepala Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Diponegoro, Dr. Nur Hidayat Sardini, S.Sos., S,H., M.Si., menyatakan bahwa kondisi ketimpangan ini dipengaruhi oleh sifat pamrih elit yangmengakar

“Negara yang pamrih, negara yang hanya memperhatikan pelayanan dan pembangunan jika tersorotolehmasyarakat.Jikatidak,tidakdilakukan, itu konyol. Adanya pujian atau tidak, pemerintah harusbekerja,”ucappriayangkerapdisapaNHSsaat diwawancaraipadaSenin(23/09).

MenurutNHS,ketimpangandalampelayanan dan perlindungan yang diberikan oleh negara menunjukkan adanya pelanggaran terhadap prinsip dasar keberjalanan negara, termasuk fungsi-fungsi utamanya.Fungsiprimerterdiridarifungsiproteksi, sedangkan fungsi sekunder terdiri dari fungsi pelayanandanadministrasi.

“Dan jika fungsi primer tidak bisa dipenuhi, makahancurnegaraitu,karenaituadalahsyaratdasar yangharusada.Fungsisekundermasihbisaditahan, tetapi jika fungsi primer rusak, negara akan menghadapimasalahyangsangatkrusial,”tuturnya.

Gerbong-Gerbongan dalam Politik dan DampaknyaTerhadapGenerasiMuda

Selainketimpangandalampelayananpublik, persoalanlainyangmunculadalahpraktik“gerbonggerbongan”ataujaringankepentingandalampolitik. Dalam banyak kasus, keterlibatan politik didasarkan pada dukungan dari kelompok atau individu yang memilikikekuatanfinansialdanpengaruhbesar.

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2022, Satrio Gilang, memberikan pandangannya terhadappraktik“gerbong-gerbongan”yangmenjadi sorotan, misalnya dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Menurut Gilang, baik di legislatif dan eksekutif, kepentingan pribadi serta kepentingan partai sering kali menjadi prioritas dibandingkan kebutuhanrakyat.

“Kalaukitaberkacapadapilkadasekarang, ya udah jelasgituyagerbong-gerbongataupartaipartai politik mana nih yang memang bahasanya punya mesin banyak lah, punya sekiranya akomodasi yang penuh, baik di pilkada provinsi sampai ke kota atau kabupaten,” ujar Gilang saat diwawancarai padaSenin(28/10).

Hal ini menunjukkan bahwa mereka yang terlibat dalam politik cenderung mengandalkan jaringan atau dukungan kuat dari partai politik, terutamayangmemilikisumberdayafinansialdan kapasitaskampanyeyangbesar

Gilang melihat bahwa dampak dari ketimpangan dalam sistem politik Indonesia membawa kemunduran yang signifikan, terutama dalam hal pengutamaan kepentingan pribadi dan partai politik di atas kepentingan masyarakat umum.

“Dampak yang paling besar adalah kemunduran, jadinya kita sistemnya gerbonggerbonganataupengamanantimlah Merekalebih mementingkan kepentingan partai politiknya daripadamasyarakatumum,”ujarGilang.

Ketika elit politik lebih mementingkan kepentingan diri sendiri atau kelompok, maka keberjalanan sistem politik, maka akan kurang efektif. Salah satu dampak besar yang dirasakan Gilang adalah ketidakmerataan akses terhadap layananpublik,sepertipendidikan,kesehatan,dan teknologi.

“Masih banyak bahwasanya masyarakat kitabahkandiluarPulauJawaaja deh kitabahas, masih banyak kita bicara akses pendidikan, akses kesehatan,danmungkinlebihjauhaksesteknologi yang masih tertinggal dengan teman-teman yang berbasis di Pulau Jawa. Lalu, kenapa penanganan ini terjadi? Karena balik lagi, ada kepentingan pribadi, ada kepentingan di mana individu ini menafsirkan bahwa ketika modal sudah dikeluarkan banyak, maka harus ada pengembalian modal ketika mereka menang atau dipilih,”tuturnya.

Ketika ditanya mengenai dampak ketimpanganinisecarapersonal,Gilangmengaku bahwagenerasimuda,terutamamerekayangtidak memilikirelasikekuasaanakansangatmerasakan dampaknya.

praktis, tetapi terhalang karena ada orang-orang yang punya kekuasaan, ada yang punya bisnis, ada yang punya harta benda yang sangat melimpah,” terangGilang.

Mahasiswa yang seharusnya menjadi agen perubahanjustrumenghadapihambatanbesaruntuk masukkesistempolitikyangtertutup,sebabadanya batasan-batasanyangtidakbisadiakses.

“Kitasebagaimahasiswaseringkaliterbatas dalam akses.Tanpa relasi atau prioritas, sulit sekali untuk masuk ke dunia politik, meskipun kita punya kompetensiyangtinggi,”tambahnya.

KrisisKepercayaan:BuahdariKetimpangan Gilang berpendapat, ketimpangan yang tumpahruahinikemudianmengarahpadapersoalan lainnya,yaknikrisiskepercayaan.

Krisis kepercayaan yang dimaksud dalam konteks ini merujuk pada penurunan kepercayaan masyarakat terhadap institusi politik, seperti partai dan pemerintah, hingga komunikasi dalam dunia politikyangtidaktransparan.

SumberFoto:Remotivi

Tak hanya itu, makna demokrasi yang semakin hilang sejatinya juga memengaruhi keinginanGilangdalamberpartisipasidibidang politik. Ia merasa bahwa ketimpangan yang terus berlangsung tidak lagi merusak politik Indonesia,tetapisudahditahapmembuntukan. Meningkatnya krisis kepercayaan ini tersorot jelaspadafenomenademoRancanganUndangUndang(RUU)Pilkadapada22Agustuslalu.

“Kalau kita bicara pilkada sekarang, kemarin sempet juga ada demo soal RUU Pilkada yang sempet didesak oleh para mahasiswa,itu‘kan jugabentukterhadapkrisis kepercayaanmahasiswa gitu yangpadasaatini tidakpercayadenganpolitiksaatinidanitujuga menjadi bahan belajar aku juga gitu, oalah gimana nanti ketika di depan sana gitu, makin banyak tentunya gerbong-gerbong politik dan partai politik lain yang mungkin hadir, makin banyak lagi nanti pengusaha-pengusaha baru danaparatur-aparaturnegarajuga,”lanjutnya. Maka dari itu, Gilang menekankan bahwa penting bagi kita untuk mulai mencoba memahami politik dari berbagai cara. Sebagai upaya meningkatkan pemahaman politik di kalangan anak muda, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) juga telah menjalankan programpembekalanbagimahasiswa.

“Memang sudah beberapa kali ada penyuluhan dan juga kemarin kita hadir di acara Kesbangpol (Kesatuan Bangsa dan Politik) terkait Pilkada 2024 ini yang memang menjadi apa ya, animonya ini kebanyakan anak-anak mahasiswa yang menjadi tonggak ujung tombaknya para calon-calon ini yang bermain Jadi menurutku pribadi sudah ada tindakan dari organisasi mahasiswa yang di mana untuk membekali para mahasiswa ini untuk setidaknya tidak dapat dibodoh-bodohi atau dipengaruhi oleh sistem politiksekarang,”tambahGilang.

Di tengah polemik krisis kepercayaan dalam lingkup politik, masyarakat sebagai agen perubahan perlu berinisiatif untuk membekali diri sebelum menghadapi rumitnya labirin politik. Hal inidapatdilakukandenganpartisipasiaktifmelalui seminar, penyuluhan, hingga mempelajari selukbelukdinamikapolitik.

“Aku banyak nonton kayak seminar misalnya seminar dari Bawaslu atau Pemilu dan bahkan aku sering hadir dalam ya kadang partai politik ngadain penyuluhan. Pada akhirnya untuk meminimalisir juga kita perlu belajar sendiri tentang dinamika politik sekarang. Aku pribadi jugasuka nonton podcast atau denger-denger soal yaaktor-aktorpengamatpolitiklahyangsekarang banyak juga ‘kan aktor politik yang mengkritisi demokrasi negara ini Lalu kadang baca buku terkait demokrasi, tatanan negara, juga yang namanyapolitikpraktissepertiapa,”tutupnya.

Gisella Previan Laoh: dari Ruang Kuliah

ke Ruang Redaksi—Kisah Jurnalis Muda yang Menginspirasi

Penulis: Davino Krisna Hernawan

INSPIRASI

Muda, inspiratif, dan konsisten melangkah

dalam dunia jurnalistik itulah Gisella PrevianLaoh,mahasiswaIlmuKomunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) angkatan 2021. Saat ini, perempuan yang akrab disapa Gisel ini sedang menjalani kesibukan magangnya sebagai Assignment Editor di CNN Indonesia melalui program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) Kampus Merdeka Batch 7. Selain magang, kini Gisel juga tengahproduktifmengerjakantugasakhirnya.

Sebelumnya, Gisel juga pernah mengikuti program yang sama, yaitu MSIB Kampus Merdeka Batch 6diDetiksebagai digital journalist untukkanal DetikNews.Kesuksesantersebuttentumelaluiproses perjalanan sejak awal dirinya menyelami dunia jurnalistik.Iamengungkapkanbahwaketertarikannya dalamkepenulisansudahadasejakiabersekolah.

“Jadi aku sebenernya baru masuk ke dunia jurnalistik itu baru mulai pas kuliah sih sebenernya.

Berawaldariaku tuh emang ngerasa adaketertarikan untuk menulis gitu, tapi pada saat aku sekolah, aku belum dapat kesempatannya gitu untuk meng-eksplor kemampuan aku di bidang itu,” tutur Gisel saat diwawancaraisecaradaringpadaSelasa(24/09).

Ketertarikan dalam dunia kepenulisan inilah yangjugamendorongGiseluntukmemilihkonsentrasi Jurnalistik Multimedia di Program Studi Ilmu KomunikasiUndip.

“Nah, pas kuliah kebetulan ‘kan aku emang mauambilIlmuKomunikasidanjugaadakonsentrasi jurnalistik ‘kan kalau di Undip, jadi aku emang berminatkayaknyanantimauambilsitu,”ucapGisel.

Pengalaman Gisel dalam dunia jurnalistik semasa perkuliahan dimulai dengan menjadi Staf Divisi Morpin di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Opini. Ia mengungkapkan bahwa dirinya cukup menikmatipengalamannyatersebut.

“Nahjadi kayak sebagai starting point-nyaaku nyoba untuk apply di LPM Opini, dengan harapan kayakakubisapunyabekaldulunihsebelumakunanti memutuskanuntuk ngambil peminatanjurnalistikaku bisa punya pengalaman dulu lewat organisasi. Makanya waktu itu aku sempat ikut LPM Opini, jadi staf di Buletin Morpin, divisinya, selama setahun dan selamasetahunituakulumayan enjoy gitulohdengan pekerjaannya,denganbidangnyagitu,”ungkapGisel.

SetelahmenjadistafDivisiMorpinselamasatu tahun, Gisel melanjutkan perjalanannya sebagai Redaktur Pelaksana (Redpel) Morpin. Ia mengaku bahwa kesediaannya sebagai Redpel Buletin Morpin didorong oleh rasa ingin bertumbuh dan berkembang denganmencobahalbaru.

“Nahterusakuberpikirnih, ‘kan akuemang enjoy ya di bidang ini gitu. Terus kalau misalkan aku stuck di staf aja ya aku ngga berkembang dong, aku ngga nyobahalbarugitu.Makanyawalaupunpastinyaaku kalau misalkan namanya naik jabatan, tanggung jawablebihbesar, tapi akujugabisadapet experience barugitu,”kataGisel.

Dari Detik News ke CNN Indonesia: Kisah PerjalananMSIBalaGisel

Berbekalpengalaman-pengalamanyangGisel dapatkan sebelumnya, ia memutuskan untuk mengikuti program MSIB Batch 6. Gisel merasa bahwa sebelum nantinya terjun ke dunia kerja, ia membutuhkan pengalaman-pengalaman magang yangrelevandengangoalsatautujuannyananti.

“Makanya pas magang ini aku juga ngambil posisi-posisi yang memang relevan gitu dengan kuliah aku, yaitu di bidang jurnalistik. Kebetulan waktu di batch 6 lalu, pas semester lalu itu, pas aku semester 6, itu juga kebetulan MSIB Batch 6 aku keterima di Detik gitu, sebagai digital journalist untukkanal DetikNews, yagampangnyajadireporter lahgitu,”jelasnya.

Pengalaman magang di Detik menjadi pengalaman yang paling berkesan untuk Gisel. Selama menjadi digital journalist di DetikNews, ia mendapat pengalaman yang lebih beragam dibandingkan dari konsentrasi jurnalistik di kampus. Selama magang, ia benar-benar merasakan bagaimana rasanya menjalani pekerjaan sebagai jurnalisdilapangan.

“Awal-awalkitamungkinturunlapangan gitu liputan itu kita masih didampingi senior-senior kita yang karyawan gitu, tapi makin setelah masuk ke bulanke-2,bulanke-3itu,kitaseringdilepassendiri. Jadi kita liputan semua sendiri, garap-garap sendiri, terus ngajuin angle juga ke kantor Dan itu jadi experience yanglumayanmembentukakusihkarena bener-benerngerasain,”ungkapnya.

Tak berhenti di situ, Gisel juga turut mendaftarkan diri pada program MSIB edisi selanjutnya, yaitu MSIB Batch 7. Pada kesempatan tersebut, ia lolos di CNN Indonesia menjadi assignment editor. Posisiyangcukupberbedadengan posisinyasebelumnyaketikamagangdiDetik.

“’Kan sebelumnya aku di media online, jadi akupengenngubahhalbaru,akupengenbelajaruntuk di TV gitu Nah kebetulan juga untungnya aku keterima gitu di CNN Indonesia TV sebagai assignment editor, gitu. Jadi aku lumayan ngalamin beberapa experience yang berbeda sih dari yang tadinya di media online, turun ke lapangan, terus sekarang kondisinya aku di TV tapi di kantornya gitu,”tuturGisel.

Gisel turut membagikan kiat-kiat yang bisa dilakukan sebagai persiapan jika ingin mengikuti program MSIB. Ia mengucapkan bahwa persiapan pertama yang bisa dilakukan adalah dengan menyiapkan portofolio yang relevan dengan posisi yangdituju.

“Kalau misalkan dari yang aku lakukan sendiri, sebenernya pertamabawaportofolio,danitu mulaidariikutorganisasi,ikut nyoba-nyoba berbagai halbaruyang emang relevan gitu yadenganapayang mau kita tuju Dari situ ‘kan itu juga jadi satu pengalaman, jadi portofolio juga untuk kita bisa masukinCVdansebagainya,”katanya.

Selain itu, sebelum mengikuti proses seleksi program MSIB, ia menyarankan agar melakukan persiapan untuk wawancara agar apa yang disampaikan kepada Human Resources (HR) atau user dari perusahaan yang dituju dapat optimal dan meningkatkanpeluanguntuklolos.

“Jadikitabisanunjukkinnih,skillapasihyang kita punya, hal baik apa sih yang kita punya, yang nanti bisa berkontribusi bagi perusahaan. Jadi, pas kita cerita ke HR, cerita dalam arti menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyain itu ya, itujadibisamenarikuntukmereka. Kayak kitabukan just an ordinary people, gitu ya, kayak ada hal yang bikinkitadi-notice lebih.Jadikitamungkin,ituakan lebih berpotensi menaikkan chance kita untuk bisa keterima,”tegasnya.

Kenapa Gisel Memilih Jurnalisme? Kisah dan Tantangannya

Motivasi Gisel untuk terjun dalam dunia jurnalistik sudah muncul sejak jenjang sekolah menengahatas(SMA).Iamenuturkanbahwadirinya menyukai proses merangkai kata atau menulis. Bahkan, ia pernah direkomendasikan oleh gurunya untuk mengikuti lomba menulis puisi saat SMA. Namun, ia juga mengungkapkan bahwa sebenarnya dirinya merasa lebih tertarik jika menulis tulisan nonfiksiatauberbasispadadatafaktual.

Ketika ditanya mengenai panutan atau role model-nya dalam bidang jurnalistik, Gisel menyebutkan bahwa sebelum benar-benar memulai praktikdalamduniajurnalistik,rolemodel-nyaadalah Najwa Shihab. Ia mengagumi kemampuan Najwa Shihab ketika mewawancarai orang dengan sangat kritis dan bisa memancing narasumbernya untuk berbicara. Namun, setelah terjun dalam bidang jurnalistik, Gisel mengungkapkan bahwa ia meneladanisalahsatuseniornyasaatmagangdiDetik karena dedikasi penuh senior tersebut dalam menjalankantugasjurnalis.

“Tapi setelah aku terjun ke dunia jurnalistik, mulai dari pas kuliah sampai sekarang magang juga, salah satu yang aku look up itu adalah salah satu seniorku waktu di Detik. Jadi engga perlu disebut namanya ya, tapi kenapa aku look up to her adalah karena menurutku dia menjadi seorang jurnalis itu tidak hanya sekadar bekerja, tidak hanya sekadar menyelesaikanpekerjaannyadia,tapidiabener-bener alloutgitu,”jelasGisel.

Perjalanan Gisel saat awal memulai terjun dalamduniajurnalistikpuntentumemilikitantangan tersendiri. Salah satunya adalah ketika ia harus melakukan pendekatan dengan narasumber yang ingindiwawancaraiuntukmenyusunsebuahtulisan.

“Sebenernya kalau kita melihat jurnalistik dalam secara keseluruhan ‘kan itu engga hanya dari prosesmenulisnyasaja,tetapiberawaldaripersiapan, terus kita wawancara ketemu narasumber sampai akhirnya kita eksekusi itu dalam bentuk tulisan atau mungkin video gitu, ya. Nah justru, aku ngerasa ada tantangannya itu pada saat harus ngewawancara narasumber karena jujur aku cukup susah berbasabasi dengan orang baru, sedangkan kalau misalkan kitangewawancaranarasumber‘kanbelumtentukita kenalyasamanarasumbernya,”ucapGisel.

Selainitu,Giseljugamenceritakantantangan dalam mewawancarai narasumber yang beragam, terutama saat magang di Detik. Seringkali ia harus melakukan wawancara ‘vox pop’ atau wawancara kepada masyarakat umum secara acak. Dari situ, Gisel mengatakan bahwa menjadi jurnalis harus bisa adaptifdanfleksibel.

“Jaditantangannyaitu,karenakitasetiaphari ketemu orangnya tuh beda-beda dengan berbagai macam karakter dan dari segi lingkungan pun lapangan itu beda-beda, ‘kan. Kita liputan di jalanan sama kita liputan di kepolisian sama kita liputan di instansi apa itu juga beda-beda gitu. Dan kita harus bisa fleksibel, harus bisa adaptif gitu dengan lingkunganyangberbedaitu,”kataGisel.

Gisel selanjutnya menambahkan bahwa digitalisasiyangterusterjadimenimbulkankondisidi manasetiaporangbisamempublikasikankontenyang dapat diakses semua orang, meski belum tentu terbukti kebenarannya. Sebagai seorang jurnalis, ia menegaskan bahwa di tengah kondisi tersebut, jurnalis harus bisa melihat suatu permasalahan melaluiberbagaisudutpandang.

“Nah as journalist, kita itu ‘kan seharusnya memegang value keberimbangan ya, kayak dalam memberitakan suatu informasi itu, kita harus engga hanyamelihatdarisatusisitapijugadarisisilainnya,” tegasnya.

Sumberfoto:Instagram@gisellaprevian

Haltersebutpentinguntukdilakukankarena produk-produktulisanyangdihasilkanolehjurnalis dapatdikonsumsiolehbanyakorang.

“Danapayangkitatulis,apayangkitabuat, produk jurnalistik itu ‘kan akan menjadi konsumsi publik pada akhirnya. Jadi kalau misalkan kita engga hati-hati dalam itu, itu akan mempengaruhi banyakorang,”ucapnya.

Gisel Berbagi Rahasia Sukses di Dunia Jurnalistik

Dari berbagai pengalaman jurnalistiknya, Giselmenegaskanbahwaketikadiberikepercayaan untuk melakukan tugas tertentu, maka harus dilakukan dengan maksimal dan sepenuh hati agar hasil yang didapatkan bisa selaras dengan usaha yangdilakukan.

“Kita kalau kerja, kalau kita ngejalaninnya dengan maksimal gitu ya, engga yang kayak asalasalan, itu kita pasti juga hasilnya akan lebih baik. Kita mungkin akan jauh jadi lebih dipercaya orang dalam mengerjakan sesuatu, diberi kepercayaan lebihbesaryangmanaitujadikesempatankitauntuk bertumbuhatauberproseslebihcepatdibandingkan orang-orangdisekelilingkita,gitu,”ungkapGisel. Selain itu, Gisel juga menambahkan bahwa profesionalitas yang cenderung dianggap sebagai hal-halkecilsaatini,mungkinakanberdampakbaik dimasadepan.Olehkarenaitu,pentinguntukselalu melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaan yangdijalani.

“Aku selalu berusaha untuk give my best dalam setiap pekerjaanku, jadi supaya orang juga kayak respect, gitu loh, kayak ‘oiya dia’, orangorangmungkinajaakaningataku.Akunggatahuya berapa tahun ke depan akan seperti apa gitu. Tapi setidaknya dengan hal-hal kecil yang kita lakukan darisekarangmungkinakanberdampakbaikuntuk kitadimasayangakandatang,gitusih,”tambahnya. Untuk mahasiswa yang ingin berkarir di bidang jurnalistik, Gisel memberi pesan untuk berani mencoba hal baru yang ada di luar zona nyaman.Meskipunmasihadakeraguan,keberanian untuk memulai itulah yang akan melatih beberapa soft skills, seperti kemampuan berkomunikasi dan beradaptasi dengan orang baru, fleksibilitas, serta kemampuanbekerjasamadenganoranglain.

“Jadi intinya adalah berani coba dulu, terlepas dari hasilnya gimana, pasti akan tetap ada halbaikdibalikitu,”tutupGisel.

Clash of Champions: Kompetisi Edukatif atau

Ce

y g p h Ruangguru, yang mengumpulkan mahasiswa-mahasiswa berprestasi dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia untuk berkompetisidalamujiankecerdasanyangpenuh tantangan Acara ini menghadirkan puluhan pesertaterpilihdenganrekamjejakakademikyang luar biasa, mulai dari Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, hingga berbagai penghargaan di bidang akademik maupun non-akademik

Popularitasnya yang terus meningkat membuatnya menjadi tontonan favorit, tak terkecuali di kalangan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip). Kepopuleran Clash of Champions mulai meluas melalui media sosial, terutamaTikTok.

Mahasiswi Administrasi Publik angkatan 2023 Sefia Dian, mengungkapkan bahwa ia pertamakali mengenalacaraini melaluicuplikan videoyangviraldiplatformtersebut.

“Awalnya, aku tahu tentang acara ini dari promosi di Instagram dan TikTok. Banyak yang bilang kalau Clash of Champions ini adalah adaptasi dari acara versi Korea, University War KarenaakubelumnontonversiKoreanya,akujadi penasaran dan tertarik buat nonton versi Indonesianya,yaituClashofChampions,”ungkap Sefia saat diwawancarai langsung pada Jumat (20/09).

Sefia berpendapat bahwa acara ini memberikan banyak manfaat positif bagi mahasiswa, seperti meningkatkan motivasi untuk berprestasidanmemberikaninspirasi.

“Menurutku,acarainijelaspunyadampak positif.Parapesertatidakcumaberprestasidalam halakademikdenganIPKyangtinggi,tetapijuga berprestasi di berbagai lomba lainnya. Kalau kita lihat lebih dalam, mereka nggak cuma unggul di bidang akademik, tapi juga bisa menginspirasi dengan perjalanan karir mereka. Ini bisa memotivasi mahasiswa lain untuk lebih berprestasi dan mengejar impian mereka,” jelasnya.

Melaluiprogram game show tersebut,Sefia memperoleh perspektif baru dari tiap peserta. Ia terkesan dengan cara peserta dalam mengatasi tantanganyangmemberinyawawasanbaru. “Yang menurutku paling menarik itu saat mereka menghadapi masalah, setiap peserta punya problem solving yang beda-beda Walaupun jawabanakhirmerekasama,caramerekamencapai jawaban itu berbeda-beda. Menurutku itu keren karena kita bisa melihat sudut pandang yang berbedadarisetiappeserta,siapayanglebihunggul dalam hafalan atau kemampuan spasial, misalnya. Itusihyangbikinakuterkesan,”ujarnya.

Berbeda dengan Sefia, Mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2022, Nikita Audia, mengenal Clash of Champion melalui TikTok, tetapi dengan kesan yang sedikit berbeda MeskipunAcarainidianggapmemberikandampak positif dengan memotivasi dan menginspirasi mahasiswa, Nikita merasa bahwa acara ini lebih banyak menyoroti kehidupan pribadi peserta daripadasubstansiakademiknya.

“Alasan utamanya di TikTok itu, Clash of Championslangsung trending, tapi fokusvideonya malah ke peserta acara itu sendiri, bukan ke acaranya. Jadi menurut aku, substansi acaranya kurang terekspos karena lebih banyak membahas hal-halpribadidariparapeserta,”jelasNikita.

SumberFoto:iNews.ID

Sumberfoto:InstitutTeknologiBandung

Padasesipenutupacara,ClashofChampions menghadirkan sesi meet and greet di Balai Sarbini, Jakarta, yang memungkinkan para penggemar bertemu langsung dengan peserta. Namun, sesi ini menuai kritik karena harga tiket yang dinilai terlalu mahal,mulaidariRp275.000hinggaRp2.000.000.

Selainmasalahsegibiaya,Nikitamerasasesi meet and greet ini terlalu berorientasi pada aspek komersial ketimbang aspek edukatif yang mulanya menjadialasanprograminidibuat.

“Kamu tahu ‘kan kalau mau ketemu peserta itu harus bayar? Menurut aku itu nggak perlu sih Lebih baik fokusnya diarahkan ke konten yang edukatif,bukankeranahprivasimereka,”ujarnya.

Clash of Champions berhasil menarik perhatian dengan respons positif dari banyak penonton. Sebagian besar mengapresiasi acara ini karena mampu menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa.Tidakhanyamemotivasiuntuklebihgiat belajar, tetapi juga mendorong penonton untuk memahami materi baru, seperti soal cryptarithm yangmenantang.

Sumberfoto:TikTok@salwapooja

Sumberfoto:X@IamPrasePrasetja

Sebagai perpaduan antara edukasi dan hiburan, Clash of Champions berhasil mencuri perhatian publik dengan menghadirkan inspirasi bagi banyak penontonnya. Di balik kesuksesan tersebut, kritik mengenai fokus acara yang dianggap terlalu condong pada aspek komersial dan hubungan parasosial menjadi pengingat pentingbahwakeseimbanganantaranilaiedukatif dandayatarikhiburanharustetapterjaga.

79 Tahun Usia Kemerdekaannya, Sudahkah Benar-benar Merdeka Rakyatnya?

MAliyak Hana

Aliyak Hana

Ilmu Pemerintahan 2024

Ilmu Pemerintahan 2024

enurutaku, Indonesiabelumsepenuhnyamerdeka,pandangankuterhadap

kemerdekaan sekarang malah mengalami penurunan Maksudnya penurunan di sini adalah merdeka tapi hanya sebatas kata yang sering diucapkan. Dengan banyaknya angka kemiskinan, infrastruktur yang tidak merata, banyaknya masyarakat yang tidak sejahtera apakah itu bisa disebut merdeka? Tentu tidak.

Untuk faktor, masalah utama yang Indonesia hadapi dan hampir dinormalisasikan adalah korupsi, kolusi, dan nepotisme (kkn). Banyak para petinggi negara sekarang yang dilantik bukan dari kemampuannya dan juga melalui orang dalam.Pemerintahanyangkurangdalammelakukantugasnyabahkanterkadangabai akan tanggung jawabnya. Banyak rakyat yang menderita karena kkn, anak-anak kurangpendidikanmenjadisalahsatudampaknyayangakanmerugikandimasayang akandatang.Kurangnyalowonganpekerjaanmenyebabkanbanyaknyapengangguran di Indonesia dan berakibat kemiskinan, tentu untuk ini perlu meningkatkan infrastruktur dan sumber daya manusia (sdm) agar menjadi berkualitas, dan menambahlowonganpekerjaan.

Lyrick Indah Putri Administrasi Publik 2024

Menurutku,darisisipolitikdandiplomasi,Indonesiamemangsudahmerdeka

karena telah terbebas dari penjajahan asing, adanya undang-undang dan kedaulatan yang mengatur negara Indonesia. Namun, kemerdekaan bagi suatu negara bukan hanya terbebas dari penjajahan bangsa asing tapi adanya kemerdekaan dari pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya. Dapat dilihat dari kondisi hukum yang ada di Indonesia, seharusnya kemerdekaan berarti semua orang samadidepanhukum.Namun,kenyataannyahukumdiIndonesiaseringkalimenjadi alatbagimerekayangmemilikikekuasaan.Narapidanakoruptoryangsudahmembuat banyak kerugian bagi Indonesia mendapatkan hukuman yang ringan atau bahkan merekamendapatkanperlakuanyangbaiksaatdipenjara. Faktoryangmenyebabkan Indonesia belum merdeka dengan sepenuhnya karena kebijakan dan regulasi dari pemerintahyangmemilikikepentinganpribadiataukelompok. Semoga kelak indonesia akan terbebas dari pemerintahan yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok dan semoga rakyat Indonesia dapatlebihterbukadansadarakanpentingnyapengetahuandalambidangpolitikagar dapat memilih pemimpin yang dapat lebih mengutamakan kepentingan dan kesejahteraanrakyat.

Riffat Zhaf Ardhana Ilmu Komunikasi 2024

Menurut gue, kalau dilihat dari berbagai aspek, Indonesia belum merdeka. Misalnya, masih banyak rakyat yang mengalami kemiskinan, fasilitas kesehatanyangbelummerata,minimnyaketersediaanlapanganpekerjaan, keadilan masih angan-angan, dan masih banyak lagi. Faktor yang bikin Indonesia belum merdeka tuh, kebijakan pemerintah yang pro pejabat tapi nggak pro rakyat. Terus, rakyat kita masih bergantung sama pemerintah juga. Harapan gue buat Indonesia, semoga kabinet ini bisa lebih baik dari sebelumnya, bisa menaungi dan menyejahterakanrakyat.

Keynira Shafa Aqilah Administrasi Bisnis 2024

Kalo menurutaku,Indonesiabelumsepenuhnyamerdekakarenamasihbanyak

bangetkesenjangansosialdankesenjanganekonomiyangterjadidiberbagai wilayahIndonesia.Nah,ekonomiIndonesia tuh jugamasihterpengaruholeh beberapa komoditas asing, apalagi dalam segi investasinya. Buat faktornya aku rasa karena maraknya praktik korupsi dalam pengelolaan bisnis dan negara. Terus juga kebijakanpemerintahyangmasihtidakadildanmeratayanggabisamenjangkauusaha kecil dan menengah. Ditambah juga banyak sektor ekonomi terutama yang berbasis sumberdayaalamyangdikelolaolehinvestorasing,bukandaridalamnegeri. Harapan buat Indonesia tentunya, semoga Indonesia ke depannya semakin berdaulatdanmenjagakeadilansosial,kesejahteraanrakyatdankeamanan.Selainitu, memilikisistempemerintahanyanglebihtransparandanamanah.

Athalla Shaquile Ayyubi

Hubungan Internasional 2024

Menurut aku, merdeka yang sekarang kita rasakan ini masih secara tertulis,

tetapikenyataannyabelum.Contohnya tuh dibidangpendidikanIndonesia yangbelummerataterutamaprogramwajibpendidikan12tahun,kitabisa lihatbanyaksekolahdidaerahtertinggalyanginfrastrukturnyamasihjauhtertinggal. Masa influencer harusturuntangan,padahalseharusnyaitumenjaditanggungjawab pemerintah.Dan kalo ditingkatuniversitasitumasihadakecenderunganJawasentris, yamemangkalaudariprofilalumnimungkinlebihbaikdiJawa, tapi kadangdarisegi infrastruktur, dosen, ataupun akademisinya universitas di luar pulau Jawa mungkin masihmemilikibanyakPR.

Semoga Indonesia lebih memahami sumber daya terutama sumber daya manusia yang dimiliki dan aku berharap juga ada kesinambungan antara pemerintah dan kaum intelektual sehingga bisa mengimbangi kekurangan Indonesia. Indonesia nih sebenernya tidak kekurangan orang pintar, melainkan kurang orang yang sadar akanseberapapentingnegarakesatuanini.SebagaicontohsaatsumberdayaIndonesia diambilolehorangyangrakus,adabeberapaorangyangsadar.Namun,lebihmemilih tutupmatadanbutuhdiarahkankembaliuntukmenjagakeutuhanNKRI.

Saat Aku Mati Esok Hari

Penulis: Cheryl Lizka

Resensi Lagu Gala Bunga Matahari: Bagaimana Hidupku Tanpamu?

Penulis: Diva Fasma Sekar

Gala Bunga Matahari

Sal Priadi

Salmantyo Ashrizky Priadi atau lebih dikenal

dengan nama panggung Sal Priadi adalah seorangpenyanyidanpenulislaguasalMalang, Indonesia. Sal Priadi berhasil menciptakan banyak karyamusikyangdigandrungibanyakpenikmatmusik di Indonesia. Lagu ciptaannya identik dengan melodi yangindah,ditambahdenganlirikyangmengirishari. Salah satu lagu yang terkenal dari Sal Priadi baru-baru ini adalah Gala Bunga Matahari. Lagu ini tidakhanyamemilikilirikyangmenyentuh,tetapijuga berhasilmencuriperhatianpublikkarenamaknayang tersirat di dalamnya. Sejak dirilis pada 14 Juni 2024, popularitas lagu ini meroket dan viral di berbagai platform musik digital, seperti Spotify, YouTube, Instagram, dan TikTok. Terhitung sejak (08/2024), videomusiknyasendiriditontonsebanyak48jutakali diYouTube.Halinimembuktikanbahwa Gala Bunga Matahari telah menjadi salah satu karya terbaik Sal Priadi yang sangat diapresiasi di dunia musik Indonesia.

RinduyangTakPernahPadam

Lagu Gala Bunga Matahari mengisahkan tentangperasaanrinduyangbegitumendalamkepada seseorang yang telah pergi dan tidak akan pernah kembali. Dalam setiap liriknya, Sal Priadi menggambarkan bagaimana rasa kehilangan ini hadir kepadaseseorangterkasihyangsudahtiada.

Sal mengutarakan keinginannya agar seseorangyangsudahtiadabisakembalimeskidalam wujud yang berbeda. Hal ini diutarakan melalui lirik “Mungkinkah,mungkinkah,mungkinkah,kaumampir hariini,bilatidakmiripkaujadilahbungamatahari”.

Melanjut pada lirik berikutnya, “Adakah sungai-sungai itu, benar-benar dilintasi dengan air susu,jugabadanmutaksakit-sakitlagi,kaudanorangorang orang di sana muda lagi” Penggalan lirik tersebut dapat diartikan sebagai perasaan sedih dan memastikan seorang tersayang berbahagia dengan tempattinggalnyayangbarudantidakmerasakansakit lagi.

Penggalan lirik lainnya juga menceritakan bagaimana seseorang mampu menjalani hidupnya dengan baik meskipun telah ditinggal orang tersayangnya. Liriknya “Kan ku ceritakan padamu, bagaimanahidupkutanpamu,kangennyamasihadadi setiapwaktu,kadangakumenangisbilaakuperlu,tapi akusekarangsudahlebihlucu,jadilahmenyenangkan seperti katamu, jalani hidup dengan penuh suka cita, danpercayakauadadihatikuselamanya”pada Chorus keduadimenitke2lewat34detik.

Dengan bahasa puitis dan metafora yang menyentuh hati, Gala Bunga Matahari berupaya menceritakan cinta abadi yang terhalang oleh batas antarakehidupandankematian.Melaluilaguini,Sal berhasil menyampaikan pesan cinta dan kerinduan yang ajan selalu hidup di hati di balik rasa kehilangan.Samasepertibungamatahatiyangterus mencaricahaya,meskisumbernyataklagiterlihat.

Tidak berhenti dari liriknya, Sal kembali menggegerkan jagat permusikkan di Indonesia, dengan merilis video musik Gala Bunga Matahari. Video musik tersebut resmi diluncurkan pada 8 Agustus 2024 dengan durasi 5 menit 27 detik di YouTube channel Sal Priadi official music video GalaBungaMatahari. Menampilkan Gempita Nora Marten, video musik ini menjadi sebuah karya seni yang berhasil menyentuhhatiparapenonton.Dalambeberapajam setelah dirilis, video musik Gala Bunga Matahari telah ditonton ratusan ribu kali dan langsung mendudukiposisiteratasditrendingYouTube.

Video musik Gala Bunga Matahari menceritakan kisah pilu yang mengisyaratkan seorangcintajembatankomunikasiantaraBumidan surga. Cerita dimulai dengan seorang gadis kecil yang diperankan oleh Gempita Nora Marten yang beradadisebuahplanetpenuhbungamatahari.

Pada sisi yang berlawanan, video musik ini menampilkan seorang kakek berada di Bumi, yang diperankan oleh Landung Simatupang, terlihat tengah berduka dan menemukan bunga matahari sebagai simbol kenangan akan istrinya yang telah tiada.

Sumberfoto:YouTubeSalPriadi
Sumberfoto:YouTubeSalPriadi

Gempita digambarkan sebagai representasi dari sosok istri kakek yang sudah meninggal dunia lebih dahulu. Meski berada di dunia yang berbeda, keduanya tetap terhubung melalui bunga matahari yang menjadi simbol komunikasi antara keduanya. Sepanjang cerita, bunga matahari hadir sebagai jembatan yang memungkinkan mereka untuk saling terikatdanmerasadekat.

Sumberfoto:YouTubeSalPriadi

Menuju akhir video, kakek tersebut meninggal dunia, menyusul istrinya dalam alam keabadian.Meskitelahtiada,kakektersebutmuncul kembalidiadeganterakhirdalamwujudseoranganak laki-laki, berdiri di sisi Gempita di dunia tempat Gempita berada.Adegan ini dapat dimaknai sebagai simbol rekonsiliasi, bahwasanya mereka kini telah bersatukembalidanterikatolehcintayangtaklekang olehwaktu.

Sumberfoto:YouTubeSalPriadi

RujukanSpiritualdalamLiriknya

Adanya implikasi spiritual dalam penggalan liriklagu Gala Bunga Matahari menjadimenariklagi ini. Lirik lagu ini mengandung referensi spiritual dengan merujuk padaAl-Quran yang mencerminkan tema kehidupan setelah kematian. Lirik tersebut ditulissamasepertiisidaribeberapaSuratdalamAlQuran, seperti pada QS. Muhammad ayat 14 yang berbunyi: “Ada sungai-sungai yang tidak berubah rasadanbaunya,sungai-sungaidariairsusu,sungaisungaidarikhamrdansungai-sungaidarimadu”. SelainitujugaterdapatpadaQSAlA’rafayat 43 yang berbunyi: “Adanya sungai-sungai yang mengalir”. Terakhir adalah “Semua permintaan dan keinginan dikabulkan,” yang terdapat dalam QS. Fussilatayat3.

Dengan demikian, lirik lagu Gala Bunga Matahari tidakhanyamenyajikankeindahanbahasa, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual yang mendalam. Referensi terhadap ayat-ayat Al-Qur'an memperkaya makna lagu ini, menghadirkan refleksi tentang kehidupan setelah kematian dan keindahan alamsurgasebagaimanadijanjikandalamkitabsuci.

TEKA-TEKI SILANG

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.