Issuu on Google+

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER | VOLUME VI MARET 2014

k o g i n s e n sta ik e M re em P ad pus k am an A n K ng o N a u j r Pe

L

ITS Point I September 2013


Pelindung Rektor ITS Penasihat Kepala Badan Koordinasi, Pengendalian dan Komunikasi Program Penanggung Jawab Pusat Informasi dan Komunikasi Pemimpin Redaksi Bekti Cahyo Hidayanto Koordinator Liputan Aldrin Dewabrata Redaktur Lutfia, Eka Setyowati, Lisana Shidqina, Fatimatuz Zahroh, M Muizzuddin, Nanda Iriawan R, Jaharani, Aldrin Dewabrata Reporter Haris Santika, Firman Faqih Nosa, Ali Mustofa, Arinda Nur Lathifah, Ihram, Fiqly Firnandi R, A Marsha Alviani, Elika Tantri, Fifi Alfiana R, N P B Setianingsih, Teguh Julianto, Holly Aphrodita, Akhmadi, Addinul Hakim, Adi Prasetyawan Sekretaris Redaksi Sulistyaning Tyas Alamat Redaksi Perpustakaan ITS Lt 6 Kampus ITS Sukolilo-Surabaya Telp. (031) 5994251-54 ext 1195 Fax. (031) 5927012 E-mail: itspoint@its.ac.id URL: http://www.its.ac.id/itspoint

2

Catatan Redaksi

A

LAPORAN UTAMA

da hal baru dalam Majalah ITS Point edisi ke-19 (Maret 2014) ini. Jika ITS selama ini banyak dikenal karena penelitian dan prestasi akademikanya, ITS Point kali ini akan membahas tentang prestasi non akademik yang banyak dihasilkan oleh sivitas akademika ITS. Tak hanya mahasiswa, prestasi olah raga dan seni rupanya juga banyak disumbang dari karyawan, dosen bahkan alumni ITS. Selain mengangkat laporan utama tentang capaian ITS dalam prsetasi non akademik, ITS Point edisi ini akan mengulas kembali perayaan Dies Natalis ke-53, serta beberapa kegiatan strategis yang baru saja dilaksanakan di ITS. Lebih dari itu, ITS Point juga menghadirkan ulasan penelitian seputar seni dan olah raga.

DAFTAR ISI 2 | LAPORAN UTAMA 6 | DIES NATALIS 10 | PROFIL DOSEN 12| PROFIL KARYAWAN 14 | PROFIL MAHASISWA 16 | PROFIL ALUMNI 18 | RISET 26 | KIPRAH MEREKA 29 | UNIT 30 | GALERI 32| ORMAWA LMB 34 | MAHASISWA INSPIRATIF 38 | MAHASISWA BICARA 39 | FYI 40 | KOMUNITAS 42 | NEWS 46 | PASCASARJANA 48 | UPCOMING BOOK 49 | PROGRAM 50 | SISI LAIN 51 | OPINI 52 | SURAT PEMBACA 53 | AGENDA

10

PROFIL

Akhir kata, kami tim redaksi mengucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca. ITS Point Masih terbit dalam versi elektronik yang dapat dilihat dan diunduh di its.ac.id.

18

RISET INSPIRATIF

34

PROGRAM

42

ITS Point I September 2013

ITS Point I September 2013

1


LAPORAN UTAMA

LAPORAN UTAMA Namun lambat laun aktivitas tersebut berkembang lebih dari hanya sekedar hobi. Alfi bercerita, UKM Maritim Challenge bak rumah kedua baginya. Ia bisa melakukan segala hal dan memperoleh semuanya di sana. “Keluarga, organisasi, kekompakan hingga pengabdian masyarakat saya dapatkan di sini,” lanjutnya. Hal itu pula yang mendorong ia untuk terus tekun berlatih di UKM Maritime Challenge. Hingga akhirnya mahasiswa angkatan 2011 tersebut terpilih sebagai salah satu kontingen ITS dalam ajang Atlantic Challenge International (ACI) 2012 Irlandia. “Alhamdulilah, kami berhasil meraih penghargaan Spirit of Atlantic Challenge di sana,” jelas sekertaris UKM Maritime Challenge tersebut. Sementara itu, prestasi mahasiswa ITS yang hobi di bidang olah vokal juga tidak kalah ciamik. Pertengahan tahun lalu, Paduan Suara Mahasiswa (PSM) ITS berhasil meraih juara tiga kategori Polifonia dalam kompetisi Festival Internacional de Música de Cantonigròs di International De Habaneras Y, Polifonia, Spanyol. Sementara di Italia, mereka berhasil meraih 3 medali sekaligus pada ajang Rimini Choral International Competition 2011. Prestasi Nasional Masih Mentereng Meskipun tidak sememukau prestasi UKM Maritim Challenge dan PSM, prestasi unit-unit penyaluran bakat yang lain di ITS juga berderet. Seperti halnya UKM Cinta Rebana. Tiga tahun terakhir, unit kegiatan ini mencetak puluhan prestasi regional. Bahkan, mereka menjadi kiblat permainan rebana terbaik di wilayah Jawa Timur.

B

Menengok Prestasi Non Akademik Kampus Perjuangan 2 ITS Point

I September 2013

anyak cara untuk mengembangkan kemampuan diri. Pun begitu dengan minat bakat. Di ITS, berbagai potensi mahasiswa ditampung dalam masing-masing bidang yang telah disediakan. Baik itu potensi akademik maupun non akademik. Berbicara potensi non akademik, beragam prestasi berhasil diraih oleh mahasiswa kampus perjuangan, khususnya dari bidang seni dan olah raga. Sebagian besar mahasiswa tentu tidak hanya memikirkan urusan akademik saja. Mereka juga butuh relaksasi pikiran dengan menyalurkan hobi pada bidang lain. Terlebih, jika hobi tersebut mampu mendatangkan prestasi. Misalnya saja seperti Alfi Nur Shoba S, mahasiswa Jurusan Transportasi Laut ITS. Awalnya, ia bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Maritim Challenge ITS hanya untuk menyalurkan hobi saja. “Saya orangnya gemar olahraga, apalagi yang berhubungan dengan latar belakang jurusan saya yaitu maritim,” ujarnya.

Prestasi lain datang dari para mahasiswa pecinta fotografi. Mereka yang tergabung dalam UKM Fotografi (Ukafo) tersebut berhasil meraih predikat juara I pada ajang Canon Marathon Photo Contest pertengahan tahun lalu. “Kompetisi tersebut merupakan salah satu lomba fotografi tingkat nasional yang ada di Indonesia,” ungkap M Zain Fajar Ramadhani, Ketua Lembaga Minat Bakat ITS. Di sisi lain, prestasi tidak hanya diukur melalui perolehan medali atau penghargaan. Mahasiswa yang mampu menjaga eksistensi pamor seni dihadapan rekan-rekannya pun patut diacungi jempol. Seperti yang dilakukan anakanak UKM Teater Tiyang Alit. UKM yang lincah bermain ekspresi ini cukup dikenal di kalangan mahasiswa kampus perjuangan. “Kami selalu memaksimalkan potensi yang kami miliki di setiap penampilan,” ujar Miftahul Riza Rizki Fauzi, kepala divisi keaktoran UKM Teater Tiyang Alit. Riza menambahkan, eksistensi yang ditunjukkan UKM Teater Tiyang Alit berkat usaha dari seluruh anggota. Mereka yang tergabung menjadikan seni teater sebagai passion-nya. Sehingga semua dilakukan dengan ikhlas dan berjalan secara optimal. “Kami semua di sini sudah ada kecocokan antara satu dengan yang lain dalam segala hal. Jadi tidak ada alasan untuk tidak nyaman,” tutur mahasiswa asal Kebumen tersebut. ITS Point I September 2013

3


LAPORAN UTAMA Bidang Olahraga Turut Sumbang Medali Prestasi bidang olahraga mahasiswa ITS memang tak seheboh mahasiswa kampus tetangga. Namun hal tersebut jangan dipandang sebelah mata. Pasalnya, untuk ukuran kampus teknik, pencapaian mahasiswa ITS sudah cukup bagus. “Kita masih sering kalah jika menghadapi atlet nasional. Tapi itu sudah merupakan pencapaian yang baik,” ungkap Fajar. Seperti halnya yang ditunjukkan tim futsal putri ITS. Barubaru ini, mereka berpartisipasi dalam sebuah kejuaran futsal tingkat nasional yang digelar di Institut Teknologi Bandung. Meskipun gagal menjadi yang terbaik, mereka mampu mempersembahkan trofi juara ketiga untuk almamater ITS. Di samping itu, para Srikandi Sepuluh Nopember tersebut juga sempat meraih runner up pada kejuaraan nasional (kejurnas) futsal putri 2013. Selanjutnya, mahasiswa yang gemar bermain kartu pun juga turut membuat almamater tersenyum. Mereka yang tergabung dalam UKM Bridge ITS beberapa waktu lalu baru saja pulang dari Bangkok, Thailand. Di sana, mereka mengikuti turnamen the 32th ASEAN Bridge Club Championships 2013. Tidak tanggung-tanggung, UKM ini berhasil menyabet dua penghargaan sekaligus. Masing-masing juara dua untuk kategori pasangan putra dan kategori pasangan putri. Prestasi lainnya adalah peringkat empat

LAPORAN UTAMA junior dalam kompetisi Gabrial UI Cup 3 yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia Jakarta. Dari bidang olahraga air, mahasiswa ITS juga masih membukukan prestasi. Pada Kejuaraan Daerah Renang Jawa Timur beberapa waktu lau, mahasiswa kampus perjuangan menggondol 12 medali emas, 2 perak, dan 3 perunggu. Fajar mengungkapkan, potensi mahasiswa ITS untuk berprestasi dalam bidang non akademik sebenarnya cukup besar. Sayanganya, pada beberapa kondisi terdapat kendala yang menghambat performa dari kontingen ITS. “Pada umumnya, kendala yang terjadi dari segi pendanaan. Sehingga persiapan dari UKM menjadi kurang maksimal,” jelas mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan tersebut. Di Balik Prestasi Mahasiswa ITS Derasnya kucuran prestasi yang diraih ITS tentu tidak lepas dari pola pembinaan yang matang. Pembinaan dilakukan secara terstruktur dan sistematis sejak mahasiswa masuk ke ITS. ‘’Pembinaan dilakukan sejak masa orientasi dan konsolidasi, yaitu Orientasi Keprofesian dan Kompetensi Berbasis Kurikulum (OK2BK),’’ ungkap Dr Ir Bambang Sampurno MT, Kepala Badan Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni ITS.

Bambang menambahkan, semua prestasi tersebut juga tak lepas dari empat strategi yang dicanangkan ITS. Strategi yang dimaksud di antaranya pengembangan bidang character building & leadership, bidang penalaran & kreativitas, bidang minat bakat & student welfare, dan bidang technopreneurship.

Fajar menambahkan, keberhasilan sebuah UKM berpondasi pada kemampuan manajerialnya. Ketika akan mengikuti kompetisi, UKM harus melakukan pemilihan terhadap anggota yang benar-benar siap. Sehingga tidak asal-asal mengirim kontingen untuk berlomba. Selain itu, pola pembinaan anggota juga harus terstruktur dan konsisten.

Sisi lain pendukung keberhasilan ITS juga dapat dilihat dari fasilitas yang disediakan. Berbagai fasilitas tersebut di antaranya stadion sepak bola yang representatif, lapangan bola basket yang memadai, lapangan futsal, lapangan bulu tangkis, hingga dinding panjat tebing.

Sementara itu, Riza, salah satu anggota UKM Teater Tiyang Alit, menilai peran LMB dalam hal pengembangan potensi minat bakat mahasiswa ITS masih kurang maksimal. Hal itu dapat dilihat dari minimnya kegiatan-kegiatan besar yang digelar oleh LMB. “Memang ada, tapi lingkupnya masih terlalu kecil. Itu pun kadang yang mengadakan dari UKM,” ujarnya.

Selain itu, ITS juga memberlakukan kebijakan tentang Satuan Kegiatan Ekstrakuliler Mahasiswa (SKEM) untuk melatih kemampuan mahasiswa di bidang non akademik. Sejak diberlakukan pada 2008 silam, kebijakan ini sukses menghidupkan UKM-UKM di ITS. ‘’Perusahaan sudah tahu standar IPK-nya ITS, mereka mencari kelebihan lain dari mahasiswa kita yakni softskill,’’ ujar Bambang. Di samping faktor-faktor tersebut, peran LMB dalam menopang prestasi non akademik mahasiswa ITS tidak dapat dikesampingkan. Selama ini, LMB merupakan lembaga yang mengontrol kinerja dan perkembangan seluruh UKM di ITS. “Jika diibaratkan, LMB ini sama saja dengan Badan Eksekutif dari UKM,” ungkap Fajar.

4

ITS Point I September 2013

Di samping itu, belum terpusatnya sekertariat ditengarai menjadi faktor kurang maksimalnya fungsi LMB. Riza menambahkan, seharusnya sekertariat LMB dan UKM berada pada satu atap. Sehingga alur koordinasi bisa berjalan lebih lancar. Menanggapi hal tersebut, Fajar menghimbau agar anakanak UKM tidak perlu terlalu memikirkannya. Ia melanjutkan, lebih baik mereka fokus terhadap pengembangan bakat setiap anggotanya. “Sebab, semua mahasiswa ITS sebenarnya berbakat. Sayangnya, belum bisa berprestasi semua karena potensinya belum dimaksimalkan,” tutupnya. (lik/ady/ali) ITS Point I September 2013

5


DIES NATALIS

DIES NATALIS

Menilik Kembali Semarak Dies 53 ITS

K

embali pada ingatan beberapa waktu silam saat pelaksanaan Mlaku-mlaku Nang Tunjungan Mbarek ITS. Acara tersebut terbilang berhasil. Bahkan di luar perkiraan. Itulah yang kemudian disimpulkan oleh Ketua Penyelenggara Dies Natalis ke-53 ITS, Ir Mas Agus Mardyanto ME PhD. Wakil Dekan FTSP tersebut mengaku terkejut dengan jumlah pengunjung yang datang memadati Jalan Tunjungan. “Saya tidak mengira sampai sebanyak itu, untuk jalan saja sampai berdesak-desakan. Untungnya keamanan terjaga, tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya. Tak kalah meriah dengan kegiatan andalan Dies 53 tersebut, banyak pula kegiatan-kegiatan lain yang menyita perhatian masyarakat. Jalan sehat misalnya. Animo masyarakat sekitar ITS terhadap jalan sehat ini terbilang tinggi. Mulai dari anak-anak hingga orang tua. Bahkan ada pula yang datang dari luar kota khusus ikut acara jalan sehat ini. Salah satunya Muhammad Anas. Pria yang datang dari Jombang tersebut mengaku sengaja datang langsung dari Jombang dan akan kembali selepas hadiah dibagikan. ‘’Saya pengen ke ITS, lha wong hadiahnya banyak katanya,’’ ungkap Muhammad Anas, warga asal Jombang. Memang benar, total ada 83 bingkisan disiapkan panitia untuk jalan sehat ini. Mulai dari sembako, alat rumah tangga seperti mesin cuci, kompor gas, alat elektronik hingga enam unit sepeda. Sebagai hadiah utama, panitia memberikan dua unit sepeda motor Honda Revo. Bukan hanya jalan sehat yang melibatkan masyarakat, Dies 53 juga memberikan hiburan gelaran wayang kulit. Cerita Lahirnya Parikesit yang diambil sebagai tema, dianggap mampu menggambarkan kelahiran kampus perjuangan ini. ‘’Parikesit itu anaknya Abimayu. Sedangkan Abimayu itu anaknya Arjuna. Arjuna kan seorang pahlawan. Jadi,

6 ITS Point

I September 2013

Gema Dies Natalis ke-53 ITS telah dirasakan bersama oleh sivitas akademika ITS maupun masyarakat Surabaya. Bagaimana bisa semua rangkaian acara dies natalis mampu mencuri perhatian banyak orang?

Parikesit itu menandai kelahiran ITS,’’ terang Agus lagi. Di bidang olahraga pun Dies 53 menyuguhkan warna baru. Yakni dengan diadakannya turnamen golf sebagai ajang silaturahim Ikatan Alumni (IKA) ITS. Acara ini berlangsung di Bukit Darmo Golf Surabaya dengan dihadiri oleh sedikitnya 170 orang alumni ITS. Tak hanya kegiatan-kegiatan hiburan, Dies 53 ini juga memberikan anugerah terhadap jurusan-jurusan terbaik untuk beberapa kategori. Sesuai dengan nilai yang ingin diangkatnya, yakni meningkatkan etos kerja, penghargaan tersebut dimaksudkan agar sivitas akademika di ITS semakin termotivasi untuk bekerja lebih maksimal. Selain itu juga untuk memberikan apresiasi terhadap jurusanjurusan yang sudah memberikan kinerja terbaiknya sejauh ini. Ada beberapa kategori pada penganugerahan ini. Masing-masing kategori dan peraihnya adalah untuk kategori umum, Jurusan Teknik Lingkungan menjadi yang terbaik, kategori pendidikan dan kategori manajemen, berturutturut Jurusan Sistem Informasi dan Jurusan Teknik Sipil memperoleh poin tertinggi. Sementara untuk kategori terakhir, Jurusan Teknik Kimia menjadi yang paling unggul. Meski sukses menggelar kegiatan-kegiatan tersebut, ternyata ada kegiatan dies53 yang tidak berjalan sesuai rencana awal. Sempat disinggung terkait ITS Mengajar dan Festival Banjari, Agus mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan masukan dari mahasiswa. “Tapi kurang koordinasi antara yang mengusulkan dan panitia, padahal kami juga sudah mengundang kalau ada rapat,” katanya. Pihaknya tak lupa mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam event besar tersebut. Terutama untuk panitia dan alumni. “Alumni juga banyak memberikan bantuan tenaga, pikiran, serta materi,” pungkasnya. (oly/nir)

TERIAK: Suguhan lomba teriak gratis di meriahnya Dies 53. Pengunjung antri uji keberuntungan. Sumber: Istimewa

ITS Point I September 2013

7


DIES NATALIS

DIES NATALIS

Orasi Ilmiah Dies 53 ITS

Etos Kerja Tinggi untuk Kemajuan Indonesia “Sebuah negara bisa berkembang dan maju juga karena peran kualitas manusianya, apalagi kalau ditambah banyak lulusan teknik, maka negara tersebut bisa menjadi negara yang unggul.” Menteri Pekerjaan Umum RI Ir Djoko Kirmanto Dipl H

R

angkaian acara Dies Natalis ITS ke-53 tahun 2013 telah usai. Tepat pada peringatan hari pahlawan 10 Nopember, Minggu (10/11), upacara resmi pun digelar di gedung Grha ITS Surabaya. Tak tanggungtanggung, pihak ITS mengundang Menteri Pekerjaan Umum (PU) dari Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Dua, Ir Djoko Kirmanto Dipl HE sebagai pembicara dalam materi orasi ilmiah upacara kampus perjuangan tersebut. Mengawali sambutannya, Djoko menyampaikan, tema orasi yang ia bawakan saat itu lebih banyak mengadopsi tema Dies ITS sendiri. Tema yang ia ambil adalah Membangun Etos Kerja dan Kreativitas untuk Pembangunan Infrastruktur yang Mampu Menghadapi Persaingan Global. Ia menilai betapa pentingnya etos kerja dan ide kreativitas demi mewujudkan kompetensi sumber daya alam dan manusia di Indonesia. “Sebuah negara bisa berkembang dan maju juga karena peran kualitas manusianya, apalagi kalau ditambah banyak lulusan teknik, maka negara tersebut bisa menjadi negara yang unggul,” cetus Djoko. Dalam orasinya, ia menjelaskan ada lima pokok bahasan penting. Pertama adalah mengenai etos kerja sebagai pandangan hidup dan kaitannya dengan kreativitas serta keunggulan.

DEMI INDONESIA: Menteri PU berikan lima petuah untuk meningkatkan etos kerja dan kreativitas di kampus teknik. Sumber: Istimewa 8

ITS Point I September 2013

Di sini, ia menjelaskan, etos kerja berarti semangat hidup, perlu dijadikan sebuah ideologi dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Dengan ditambahkan unsur kreativitas yang berarti kemampuan dalam menghasilkan suatu produk yang genuine dan baru, diharapkan masyarakat dapat sadar akan pentingnya adat kebiasaan yang disiplin, bersungguh-sungguh serta berinovasi tinggi dalam bekerja.

Kedua, contoh peran etos kerja yang dapat membawa kemajuan di negara-negara maju. Beberapa contoh di Cina, Jepang, dan Korea sudah hampir menjadikan etos kerja sebagai kebiasaan sehari-hari. “Mereka menerapkan jiwa disiplin tinggi, bersemangat, serta tak pantang putus asa dalam berusaha dan bekerja,” lanjutnya. Selain itu, gagasan selanjutnya yang ia bacakan yaitu mengenai tantangan Indonesia untuk menjadi negara maju dengan dukungan infrastruktur. “Sejak 2005, secara bertahap kita telah menunjukkan pada dunia bahwa kita bukanlah negara gagal,” tuturnya. Lalu, ia menyebutkan tantangan yang berhasil dilalui oleh Indonesia demi kemajuan Indonesia. Keberhasilan tersebut dicapai dengan meningkatnya peringkat infrastruktur Indonesia secara keseluruhan dari peringkat 92 naik menjadi 82. Kemudian disusul kualitas jalan dari peringkat 90 menjadi 78, pelabuhan laut yang mendapat peringkat 89 dari 104 serta sarana transportasi udara dari 89 menjadi 68. “Itu semua dihitung dalam peringkat dunia,” jelasnya. Terakhir, dari semua bahasan penting tersebut, perlunya tindakan bersama dalam meningkatkan etos kerja dan kreativitas tersebut. Menurutnya, ada tiga faktor utama yang harus terlibat dalam mewujudkannya yaitu, pemerintah, dunia usaha/swasta serta pendidikan. “Dari situ, integritas yang terjalin antar ketiganya akan mewujudkkan good governance, yaitu suatu bentuk pola pemerintahan masyarakat yang baik, unggul serta beretos kerja tinggi demi meningkatkan kesejahteraan,” pungkasnya. (akh/nir)

ITS Point I September 2013

9


K

PROFIL DOSEN

PROFIL DOSEN

ecintaan Sudjud pada seni bisa dibilang cukup tinggi. Terutama pada gamelan. Di usia yang sudah tak lagi muda, ia tetap kukuh mempertahankan budaya negeri di tengah era globalisasi. Dialah Ir Sudjud Darsopuspita MT, salah satu dosen di Jurusan Teknik Mesin yang begitu gemar bermain gamelan. Seni bukanlah hal yang asing baginya. Sejak kecil ia sudah dihadapkan dengan berbagai jenis kesenian. Mulai dari seni musik, tari, hingga pagelaran-pagelaran wayang, baik itu wayang kulit maupun wayang orang. “Ya mungkin ini nurun dari keluarga, karena keluarga saya bisa dibilang orang yang suka seni,” tutur Sudjud. Pun dengan gamelan, kecintaannya untuk memainkan alat musik pukul itu sudah ia mulai sejak di bangku sekolah. Hingga menginjak bangku SMA ia rutin mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang berbau kesenian. Ayahnya memang seorang seniman, namun proses belajar gamelan lebih banyak secara otodidak. “Dulu alat-alat gamelan milik warga kampung ditaruh di rumah bapak, jadi saya bisa belajar lebih leluasa,” jelas pria asal Solo itu. Ditambah sedikit latihan dari sekolah, kemampuannya dalam memukul gamelan semakin hari makin berkembang. Saat masuk kuliah, ia juga tak pernah melepaskan seni dari dalam dirinya. Ia dikenal sebagai sosok yang gigih dalam berlatih. Ia sering menyempatkan diri bergabung dengan Pusat Latihan Tari (PLT) di Surabaya. “Dulu itu di Surabaya belum banyak grup tari. Jadinya saya ikut PLT,” ungkapnya. Sejak saat itu, ia sering mengisi acara yang diadakan oleh pemerintah kota Surabaya maupun Provinsi Jawa Timur. Tarian yang disuguhkan juga bervariasi. Dirinya sering menyebut tarian tersebut dengan tari kreasi baru. “Ini tari ciptaan baru. Tari yang kita dapat dari Jogja, namun kita kembangkan sendiri,” imbuh Sudjud. Sudjud juga pernah menjadi pembina tari dan karawitan di PLT. Hingga saat ini, ia masih aktif di PLT. Meski tak turun langsung, ia selalu memantau setiap aktivitas di sanggar tari yang saat ini sudah berada di bawah pembinaan Taman Budaya Jawa Timur tersebut. Hingga usianya yang sudah menginjak 64 tahun, ia masih gemar bermain gamelan dan sejenisnya. Hampir seluruh elemen musik tradisional tersebut mampu ia mainkan. “Yang nggak bisa hanya gendhang dan gender, selain itu bisa semua,” ungkap pria yang memiliki tiga putra ini. Di tengah kesibukannya sebagai dosen, ia masih menyempatkan diri untuk bermain gamelan. Saat ini, Ia bergabung dengan beberapa dosen dan mahasiswa di Jurusan Teknik Elektro. Kebetulan di sana memilik peralatan gamelan yang cukup lengkap. Tiap minggu mereka sering mengadakan latihan bersama. “Tapi sekarang agak jarang, karena pelatihnya sibuk,” katanya sambil tertawa. Di zaman sekarang, kecintaan kaum pemuda pada dunia seni bisa dibilang cukup rendah. Menurut Sudjud, hal itu sudah menjadi hal yang klasik bahkan sudah menjadi permasalahan nasional. “Sekarang tradisi itu makin tergusur,” tambahnya.

10 ITS Point

I September 2013

Ia menambahkan, perkembangan teknologi yang begitu pesat merupakan salah satu faktor penting tergusurnya budaya negeri. “Sekarang saja di TV sudah banyak acara-acara yang bagus dan setiap hari non stop,’’ katanya. Ia juga mengatakan, kalaupun ada pemuda yang suka seni, pasti kebanyakan di antara mereka ada faktor keturunan di dalamnya. “Yang senang ya yang punya minat dan bakat tentang seni,” ungkapnya. Namun itupun bukan sebuah jaminan. Faktor lingkungan juga sangat berpengaruh bagi mereka yang suka seni. Bisa saja lingkungan tersebut membuatnya jauh dari nilai-nilai seni. Saat ini Sudjud melihat minat pemuda dalam seni memang masih kurang. Di UKM saja, ia melihat antusiasme mahasiswa ITS untuk terjun dalam bidang seni juga masih sangat jarang. “Kalau dulu ikut UKM berdasarkan minat dan bakatnya. Kalau sekarang karena untuk mencari SKEM (Satuan Kegiatan Ekstrakurikuler Mahasiswa, red),” ujar Sudjud. Menurut Sudjud, semua itu hanya tergantung niatnya saja. Jika sudah niat, mereka tidak akan mengalami kendala saat bermain. Ia berharap agar kaum muda terutama mahasiswa lebih mencintai budaya sendiri. Sehingga budaya tersebut tidak tergerus oleh pesatnya era globalisasi. Sang Pendiri UKTK Pengabdiaannya di ITS tak hanya sebagai dosen. Ia juga merupakan salah satu pendiri Unit Kegiatan Tari dan Karawitan (UKTK) di ITS. Bahkan ia merupakan pembina pertama di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus perjuangan tersebut. “Dulu ITS punya gamelan, lengkap dengan wayang kulitnya,” tutur Sudjud. Saat itu peralatan tersebut tidak digunakan. Sehingga ia pun berpikir untuk memanfaatkannya. Sebenarnya, hal itu adalah inisiatif dari rekannya yang bernama Gunawan Wibisono, salah satu dosen di Jurusan Matematika. “Dia mengajak saya, daripada mubadzir ya mending kita gunakan,” ungkapnya. Akhirnya, mereka membersihkan peralatan-peralatan tersebut dan memulai latihan gabungan dengan beberapa dosen dan karyawan. Antusiasme mahasiswapun bisa dibilang cukup banyak. Mahasiswa yang ikut dalam UKTK juga sesuai dengan minat dan bakat masingmasing. Sehingga dalam melatih terasa lebih mudah. “Bahkan anak didik saya ada yang mahir menjadi dalang,” ujarnya dengan tersenyum. Di UKTK, ia juga sering mengadakan berbagai lomba tari. Tak hanya itu, Sudjud juga banyak berperan ketika ITS mengadakan pagelaran wayang kulit. Bahkan ia juga menjadi salah satu faktor dibalik datangnya beberapa dalang terkenal ke ITS. Layaknya Ki Manteb, Anom Suroto, dan juga beberapa dalang terkenal lainnya. “Kalau ada gelaran wayang, biasanya ITS selalu menghubungi saya,” kata dosen yang sudah mengabdi pada ITS sejak tahun 1976 ini. (guh/fz)

Seni Bagian Hidup Sang Pendiri UKTK Ir Sudjud Darsopuspita MT ITS Point I September 2013

11


B

PROFIL KARYAWAN

PROFIL KARYAWAN

eberapa piala penghargaan berdiri gagah di balik lemari kaca. Kumpulan arsip juga terlihat rapi di sudut ruangan. Sesekali ketenangan ruangan ini pecah oleh sedikit senda gurau karyawan di dalamnya, serius tapi santai. Di ruang UPT Tata Usaha dan Kearsipan inilah Agus Santoso, SSos MMedKom menggerakkan penataan arsip di ITS. Mulai dari mengumpulkan, memilah, mengkode dan terakhir menyimpannya. Agus sudah hampir tiga tahun memimpin pengelolaan kearsipan ITS. Prinsip yang dibangunnya, ia tak ingin arsip yang tersimpan itu hanya tertata dengan rapi, tetapi juga harus lengkap. “Itu yang selama ini menjadi motivasi saya, karena senjata utama kami di kearsipan ini adalah menyediakan sesuatu yang berguna untuk orang lain,” ujarnya. Bercerita tentang kondisi kearsipan tiga tahun lalu, Agus mengungkapkan bahwa dulu sistem kearsipan yang ada belum terintegrasi dengan baik. Setiap unit memiliki kebijakan pengelolaan arsip dengan standar yang berbeda. “Mereka mengelola arsip seolah untuk kepentingan sendiri,” kata lelaki kelahiran 25 November 1985 tersebut.

Meski begitu, banyak pula pihak yang justru termotivasi dengan adanya sistem terintegrasi seperti ini. Mereka justru menjadi semakin giat dalam mengelola kearsipan karena ada yang mendukung kinerja mereka. Sering kali orang-orang berpandangan bahwa menjadi arsiparis merupakan pekerjaan remeh. “Ah orang lulusan SMA saja juga pasti bisa,” kata Agus menirukan tanggapan orang lain. Namun nyatanya, setelah melakukan pembuktian, fakta menunjukkan bahwa mencari arsip tidaklah mudah. Arsiparis yang berperan untuk meng-coding dan memilah-milah arsip untuk disimpan justru jauh lebih sulit. Di tambah lagi Agus adalah pemimpin unit termuda yang ada di ITS. Sehingga wajar jika masih ada yang mempertanyakan kemampuan dan pengalamannya. “Justru hal ini menjadi motivator buat saya untuk selalu belajar dan mencari pengalaman itu” kata agus dengan sambil tersenyum. Terbukti, berkat keseriusannya, tahun ini UPT TU dan Kearsipan meraih predikat sebagai pengelola kearsipan terbaik nasional. Ke depannya, Agus berencana untuk membuat buku tentang kearsipan dan juga mengadakan seminar nasional untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya pengelolaan kearsipan. (oly/izz)

Jadi Pimpinan Muda itu Penuh Tantangan

Melihat hal tersebut, Agus berkeinginan untuk membenahinya. Ia memulainya dengan membenahi kinerja UPT Tata Usaha (TU) dan Kearsipan terlebih dahulu. Agus pun melibatkan kepala unit lain untuk melancarkan program UPT TU dan Kearsipan yang berkeinginan untuk mengintegrasikan arsip di ITS. Untuk segera mencapainya, UPT TU dan Kearsipan kemudian dipersiapkan untuk melakukan sosialisasi lebih lanjut dan pembinaan ke setiap unit yang ada. Di proses inilah Agus harus berhadapan dengan beberapa tantangan, seperti mengubah mindset orang lain agar menyimpan arsip tidak untuk kepentingan sendiri tetapi juga untuk ITS. Selain itu ia juga harus menghadapi pihak-pihak yang justru menjadi tergantung dengan adanya sistem kearsipan terintegrasi seperti itu. “Mengubah pola kebiasaan orang itu yang susah, perlu tenaga ekstra untuk proses ini,” ungkapnya. Untuk itu, dilakukan pembinaan secara rutin agar pihak-pihak yang terlibat dapat lebih terkendali. “Jadi kami membuat sistem, melakukan sosialisasi, dan tidak asal saja melepaskan mereka untuk bekerja sendiri. Selalu ada pembinaan,” jelasnya.

“karena senjata utama kami di kearsipan ini adalah menyediakan sesuatu yang berguna untuk orang lain”

Agus Santoso Ketua UPT TU dan Kearsipan

12

ITS Point I September 2013

ITS Point I September 2013

13


PROFIL MAHASISWA

PROFIL MAHASISWA

Manusia Air Dengan Segudang Prestasi

M

ahasiswa satu ini bukan mahasiswa biasa. Kemampuannya dalam berenang tidak bisa dianggap remeh. Berbagai prestasi bergengsi telah berhasil ia torehkan. Hingga kini, julukan manusia air pun seakan melekat pada mahasiswa Jurusan Kimia satu ini. Dicky Limanto namanya. Berbagai prestasi telah ia bawa pulang. Baik itu tingkat daerah maupun tingkat nasional. Saking banyaknya, ia pun tak bisa menghitung berapa medali yang telah sukses ia sabet. Pasalnya, dunia air memang sudah dicintai mahasiswa yang akrab disapa Dicky ini sejak balita. Saat usia lima tahun, ia bahkan sudah bisa berenang dengan baik. Maklum saja, hampir seluruh anggota keluarganya adalah orang-orang yang suka berenang. “Ya saya diajari oleh keluarga, kakak saya juga pandai berenang,” ujarnya. Bakatnya dalam berenang memang sudah terlihat sejak Dicky kecil. Di usianya yang masih menginjak enam tahun, ia sudah berani mengikuti pertandingan antar klub se-Jawa Timur. Saat itu, ia sukses menjadi juara ketiga. Padahal itu adalah kali pertamanya ikut pertandingan. Sejak saat itu, ia menjadi semangat untuk berlatih. Prestasi tersebut tampaknya menjadi awalan baginya untuk meraih prestasi-prestasi berikutnya. Sejauh ini, prestasi terbaik Dickya adalah saat ia menjadi salah satu atlet jawa timur pada gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2012 lalu. Meski belum bisa merebut medali, finish di posisi ke empat sudah merupakan suatu kebanggaan baginya. Apalagi event ini merupakan tingkat nasional. Saat itu ia turun di kelas 200 meter dengan gaya punggung. Tak hanya itu, ia juga mejadi salah perenang terbaik di Jawa Timur. 14

ITS Point I September 2013

Berbagai prestasi individu telah ia pegang. Bahkan, ia sudah enam kali menjadi perenang terbaik di tingkat provinsi. Tiga diantaranya didapat selama tiga tahun berturut-turut sejak 2011. “Yang terakhir di tahun 2013,” katanya. Untuk menjadi perenang terbaik memang bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, ia harus mengumpulkan delapan hingga sepuluh medali emas dalam satu pertandingan. “Dan itu harus beda jarak dan juga beda gaya,” jelas pria asal Surabaya itu. Selain menjadi perenang terbaik Jatim, ia juga beberapa kali turut ambil bagian pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas). Di tahun 2004, ia sukses menyabet medali emas. “Itu kali pertama kali saya ikut Kejurnas,” imbuhnya. Di masa SMA, ia juga tak kalah garangnya. Beberapa kali ia sukses mewakili sekolahnya pada berbagai perlombaan yang digelar. Ia juga sering mewakili Surabaya pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda). Prestasi terbaiknya hadir di tahun 2009. Saat itu, ia sukses mempersembahkan dua medali emas untuk kontingen Surabaya. Masing-masing pada 200 meter gaya ganti dan 200 meter gaya punggung. Ditengahkesibukannyadikampus,ternyataiamasihmenyempatkan dirinya untuk berlatih. Jika menjelang pertandingan, maka ia harus berlatih dua kali dalam sehari, yaitu di pagi dan sore hari. Tetapi jika di hari biasa, cukup berlatih di sore hari saja. Kendala dalam berlatih tampaknya hanya berada pada kesibukannya dalam kuliah. Tak jarang jadwal latihannya harus bentrok dengan kegiatan kuliah di kampus. “Kalau bentrok saya kuliah dulu,” katanya. Hingga saat ini, ia rutin berlatih di Graha Samudera Moro, yang juga merupakan tempat berlatih TNI Angkatan Laut yang berada di kawasan Tanjung Perak.

“Intinya jangan takut duluan, nanti tidak bisa” Dicky Limanto Mahasiswa Jurusan Kimia Si Manusia Air Gaya Punggung Hampir semua gaya renang telah ia kuasai. Namun, renang gaya punggunglah yang palin ia sukai. “Mungkin feel saya lebih di gaya punggung, tapi yang lain juga bisa,” tambah Dicky. Selain gaya punggung, ia juga lihai di gaya ganti dan jarak jauh. Bahkan ia telah mampu berenang sejauh 1500 meter. Itu merupakan catatan terbaiknya. Kalaubolehjujur,Dickymengakulebihsukaberenangdilautdaripada di kolam. Menurutnya, di laut ia bisa melihat pemandanganpemandangan indah di dasar laut. Selain itu, berenang di laut menurutnya lebih mudah daripada di air tawar. “Karena laut asin, massa jenisnya lebih kecil. Jadi badan mudah terangkat,” ujarnya. Namun, meski begitu, berenang di laut juga memiliki risiko yang besar. Salah satunya disebabkan oleh gelombang yang besar. Akibat prestasinya yang bisa dibilang luar biasa itu, di jurusannya Dicky sering kali dipanggil manusia air. Meski banyak mahasiswa yang jago berenang, namun julukan tersebut tampaknya sudah menyatu pada dirinya. “Mungkin karena saya berenang terus, jadi teman-teman sering bilang gitu,” kata Dicky. Meski dipandang sudah kaliber, Dicky juga tak sungkan untuk memberikan tips bagaimana cara berenang yang baik. Ia mengatakan, dalam berenang yang paling penting adalah tidak

boleh takut dengan air. Selain itu juga harus yakin bahwa saat berenang dia tidak akan tenggelam. “Intinya jangan takut duluan, nanti tidak bisa,” tutur pria kelahiran 2 Juli 1993 itu. Bagi orang yang belum bisa berenang, mengapung di atas air merupakan hal yang sangat sulit. Namun bagi Dicky tidak. Menurutnya, cukup dengan menahan nafas, dengan sendirinya tubuh akan bisa terangkat. “Yang sulit itu biasanya pada gerakan tangan,” terangnya. Ia menambahkan, seorang perenang tidak boleh ngawur dalam berenang. Menurutnya, dengan gerakan yang tidak diatur akan bisa membuatnya lebih mudah tenggelam. “Biasanya gerakan tangan orang yang belum bisa berenang itu ngawur. Harusnya pelanpelan dan lebih tenang,” imbuh mahasiswa yang juga aktif di UKM Renang itu. Di sisi lain ia pun berharap agar di perlombaan-perlombaan lain ia bisa kembali merebut juara. Terutama di PON 2016 nanti. selain mengincar emas, ia juga punya ambisi tersendiri, yakni memecahkan rekor perenang tercepat di kelas 200 meter gaya punggung. Saat ini, rekor tersebutmasih dipegang oleh perenang Bali, I Gede Siman, dengan catatan dua menit dua detik. “Saat ini waktu terbaik saya 2 menit 14 detik,” pungkasnya. (guh/fz)

ITS Point I September 2013

15


PROFIL ALUMNI

PROFIL ALUMNI

P

erolehan Best Overall dalam Turnamen Golf Dies Natalis ITS ke-53 menambah daftar panjang kemenangan Abdul Aziz dalam cabang olahraga ini. Sebagai juara bertahan, Aziz mengaku punya kiat khusus yang membuatnya unggul di berbagai pertandingan. Salah satunya, tidak berambisi untuk menang. “Nothing to lose. Yang penting kita bermain, jangan ambisius,” ujar Aziz saat ditemui ITS Online disela-sela acara Gathering Alumni FTK beberapa waktu lalu. Aziz adalah alumni Jurusan Teknik Sistem Perkapalan angkatan 1984. Kegemaran Aziz bermain golf muncul 17 tahun silam, bermula dari ajakan sejumlah kerabat dekatnya. Kini, Aziz memaknai golf tidak hanya sekedar aktivitas olahraga. Melainkan juga sebagai sarana untuk membangun jaringan. “Saat bermain golf kita berjumpa dengan berbagai kalangan, dari situ koneksi terbangun,” imbuhnya. Prestasi Aziz di lapangan golf tak perlu diragukan lagi. Selain dua tahun berturut-turut unggul di Turnamen Golf Dies Natalis ITS, Aziz juga meraih gelar juara umum turnamen golf yang diadakan Ikatan Alumni Universitas Indonesia pada 2012 lalu. Sebelumnya, pria kelahiran Blitar, ini juga sempat membawa pulang Piala Bergilir Turnamen Golf Menhankam pada tahun 2005. Di kancah internasional, Aziz yang saat ini menjabat sebagai Kepala Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan Gresik ini juga punya prestasi membanggakan. Ia mewakili Indonesia untuk memenangkan Mercedes Trophy World Final 2012 di Australia. Tak sampai disitu,

Aziz, Taklukan Lapangan Golf

Aziz juga maju ke putaran final Garuda Indonesia Loyalty Golf Tournament di Cina dan meraih Juara 3. Prestasi yang cemerlang ini diakui Aziz sebagai hasil dari latihannya secara rutin. Seperti pemula pada umumnya, ia sempat mengalami banyak kekalahan ketika awal bermain golf. Namun, hal itu justru melecutnya untuk berlatih lebih keras. Jika pegolf amatir lainnya membutuhkan 90 kali pukulan untuk menaklukkan 18 hole, Aziz mengaku pernah memenangkan pertandingan dengan 79 kali pukulan saja. Selisih yang tidak begitu besar jika dibandingkan dengan pegolf professional yang umumnya membutuhkan 65 hingga 70 kali pukulan. Meski begitu, acara bermain golf tidak pernah sekalipun menggangu jam kerja Aziz. Di tengah kesibukannya, Aziz selalu meluangkan waktu untuk latihan paling sedikit tiga kali dalam seminggu. Pastinya, Aziz memanfaatkan waktu-waktu di luar jam kerja untuk latihan tersebut. “Biasanya sekitar jam enam sore sampai jam sembilan malam,” katanya. Latihan rutin yang dilakukan Aziz tak melulu di lapangan golf. Aziz juga melakukan latihan fisik secara intensif untuk memperkuat kaki dan lengannya. Aziz berpesan, untuk mulai belajar golf diperlukan mentor yang dapat melatih dengan baik. “Bila tidak, permainan kita, cara kita memegang stick dan memukul golf tidak terpola,” papar Aziz. (oly/ald)

DAFTAR KEMENANGAN AZIZ Juara I Turnamen Golf Piala Bergilir Menhankam Tahun 2005

“Nothing to lose. Yang penting kita bermain, jangan ambisius.” Abdul Aziz

Juara Umum Turnamen Golf Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) Tahun 2012 Juara Umum Turnamen Golf Ikatan Alumni ITS (IKA ITS) Tahun 2012 dan 2013 Mercedez Trophy World Final Juara 3 Garuda Indonesia Loyalty Golf Tournament dan masih banyak lagi

16 ITS Point

I September 2013

ITS Point I September 2013

17


RISET

RISET

Gantikan Bahan Perahu Kayu dengan Bambu

P

erahu dayung acapkali terbuat dari kayu. Padahal, harga kayu cenderung mahal dan lama produksi kayu mencapai puluhan tahun lamanya. Karenanya, Ir Daniel M Rosyid PhD MRINA, menggagas inovasi bambu sebagai material pengganti kayu. Dengan menggunakan bambu, pembuatan perahu jauh lebih murah harganya dan lebih ramah lingkungan. Perahu dayung hasil penelitian ini rencananya akan digunakan oleh tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Maritime Challenge. Perahu tersebut akan mendampingi mereka saat berjuang perlombaan Atlantic Challenge, Agustus 2014, di Perancis. Dikatakan Daniel, harga bambu di Indonesia lebih murah dibandingkan dengan kayu. Bambu juga material yang lebih ramah lingkungan. Dari segi masa tanamnya, bambu lebih cepat berkembang biak. Sebab, untuk menghasilkan kayu yang dapat digunakan sebagai bahan kapal, membutuhkan waktu sekitar sepuluh hingga lima belas tahun, sedangkan bambu hanya lima tahun saja. Dalam riset kapal ini, penggunaan bahan bambu memang hanya sepuluh persen dari total keseluruhan kebutuhan kayu. Bambu hanya digunakan untuk menggantikan bagian-bagian dalam perahu yang menggunakan kayu lurus. ”Bagian yang bisa diganti dengan bambu akan diganti. Salah satunya tempat duduk perahu,” jelas Daniel. Pembuatan perahu dengan bahan bambu ini menggunakan

18 ITS Point

I September 2013

teknik bambu laminasi. Prosesnya adalah dengan membuat papan kayu dari bambu dengan merekatkan menggunakan lem khusus. Lem tersebut membuat bambu ini bisa bertahan di laut. Untuk membuat kapal, harus digunakan bambu yang kuat dan mempunyai kualitas yang baik. Hal ini dapat dilihat dari umur dan jenisnya. Dalam pengerjaan, bambu juga harus ditipiskan terlebih dahulu. Sebab, bambu mempunyai massa yang lebih berat dibandingkan kayu. Untuk membuat bambu tahan rayap, bambu harus dicelupkan ke dalam oli semala beberapa hari. Tak ada perbedaan desain dari perahu dengan kombinasi bambu dan kayu dengan perahu kayu. Demikian pula dengan posisi dayung dan layarnya. Daniel mengakui bahwa penelitian yang sudah berjalan sejak lima tahun lalu ini masih sederhana. Perkembangan demi perkembagan akan terus dilanjutkan. Ia mempunyai harapan lunas kapal dapat menggunakan bambu. Lunas sendiri adalah bagian terpenting dari perahu. ‘’Harapannya komponen ini juga menggunakan bahan bambu,” ungkap Daniel. Dikatakan Daniel, perahu ini ditargetkan selesai pada bulan Februari 2014. Setelah selesai, perahu akan langsung dikirimkan ke Perancis dua bulan sebelum perlombaan dimulai. Sebab, perjalanan kapal yang mengangkut perahu menuju Perancis tidak sebentar. “Sehingga harus dikirim sejak jauh-jauh hari,” pungkasnya dosen pembina UKM Maritime Challenge ini. (fin/ran)

ITS Point I September 2013

19


RISET

RISET

Rancang Otomasi Pembuatan Pola Busana

“Untuk judul risetnya sendiri kami beri nama Otomasi dan Optimasi Produksi Busana Berbahan Baku Kain Batik,” terang wanita yang akrab disapa Nanik ini. Ia menekankan dalam implementasinya, riset ini hanya khusus pada busana-busana berbahan baku kain batik saja lantaran merupakan identitas bangsa Indonesia. Karena itu, lanjutnya, pengusaha kecil menengah yang bergerak di bidang industri konveksi khususnya batik lah yang menjadi perhatian pada penelitian ini. Lebih lanjut, Nanik menjelaskan ada dua fokus utama dari penelitian yang dimulai sejak tahun 2011 ini. Yaitu otomasi pembuatan pola busana berdasarkan pola dasar yang dapat dikustomisasi menjadi model busana baru dan optimasi peletakan pola busana yang telah dihasilkan sehingga kain yang terbuang dalam proses produksi dapat diminimalkan. “Estimasi impresi dari tekstur kain batik yang nantinya akan menjadi bahan busana dan visualisasi hasil akhir pun tak luput dari perhatian kami,” paparnya. Untuk fokusan pertama, wanita asal Pasuruan ini menuturkan hal tersebut bisa dilakukan dengan mengacu pada pola-pola dasar, aturan, dan teknik desain busana. Namun, di dalam perjalanannya, ada dua tantangan yang ia hadapi. Yakni penyediaan antarmuka yang memudahkan user dalam memasukkan data desain busana dan pengumpulan pengetahuan tentang pola-pola dasar, aturan, dan teknik desain busana. Lain lagi dengan fokusan kedua, ia mengatakan yang terpenting adalah bagaimana meletakkan pola busana sehingga diperoleh sisa kain yang minimal. Ia menggunakan metode Extended Local Search (ELS) yang dimodifikasi dan pengelompokan poligon untuk menyelesaikan masalah ini. Nanik mengungkapkan terdapat beberapa produk yang telah ia capai sejauh ini. Seperti modul estimasi impresi citra batik, modul optimasi pola busana di atas bahan kain polos, dan modul optimasi pola busana di atas bahan kain batik. “Untuk capaian lainnya yaitu modul otomasi pembuatan pola busana dan modul ekstraksi fitur geometrik dari citra batik,” tambah wanita yang juga Ketua Jurusan Teknik Informatika ITS ini.

D

ewasa ini, perkembangan teknologi informasi telah banyak digunakan sebagai alat bantu untuk mempermudah kerja seorang desainer dalam merancang dan meningkatkan kualitas produk. Dr Nanik Suciati SKom MKom, dosen Jurusan Teknik Informatika ITS turut andil dalam membantu kerja para desainer. Melalui risetnya, ia berusaha membangun aplikasi cerdas untuk membantu proses produksi busana.

20

ITS Point I September 2013

Menurutnya, secara sederhana riset ini bisa dipahami sebagai aplikasi Corel Draw yang memuat motif-motif batik di dalamnya. Ke depan, ia pun mengutarakan ingin menyempurnakan fungsifungsi dari modul yang telah dibuatnya. Bahkan, ia menargetkan akan menyelesaikan riset ini di tahun 2014. “Karena ini merupakan tools yang bermanfaat bagi banyak orang sehingga harus segera diselesaikan,” tutupnya. (man/izz)

ITS Point I September 2013

21


RISET

RISET

T

iga ruh ITS, sains, teknologi dan seni, seolah menjadi satu dalam riset milik Ir Djoko Purwanto MEng PhD ini. Riset ini berhasil membuat sebuah robot pemahat yang mampu membentuk pahatan sesuai dengan gambar yang diinginkan dalam tempo yang cepat. Hanya dalam waktu 20 hingga 30 menit saja, hasil pahatan itu bisa dinikmati keindahannya. Membuat pahatan yang bernilai seni dengan menggunakan robot bukan perkara yang mudah. Sebab, dibutuhkan persiapan matang sebelum robot difungsikan. Djoko menjelaskan, hal pertama yang dilakukan adalah membuat perencanaan dalam mesh file, desain yang dibuat dalam software. Mesh file ini akan menghasilkan gambar tiga dimensi yang siap untuk dipahat di atas kayu.

Manfaatkan Teknologi Robotika dalam Seni Pahat

Selanjutnya, menentukan robot motion planning. Tahap ini akan merupakan pemilihan bagian mana yang dapat dikerjakan terlebih dahulu oleh robot. ‘’Fungsinya untuk memilih bagian mana yang akan di pahat kasar dan di pahat halus,’’ lanjut Djoko. Data ini kemudian disimpan compaq flash dan dikirimkan ke controller di bagian belakang robot untuk diproses. Robot juga diprogram sedemikian rupa agar sesuai dengan perpindahan yang dimaksud oleh pengguna. ‘’Tangan robot harus dijelaskan dari mana ke mana ia akan bergerak. Dengan begitu, jalannya akan halus dan sesuai dengan keinginan pemahat,’’ lanjut dosen Teknik Elektro ini. Dalam memahat, dua lengan robot memegang peranan penting. Lengan pertama bertugas memahat kayu dan sementara lengan yang lain berfungsi sebagai vacuum cleaner yang menyedot kotoran hasil pemahatan kayu. Lengan pemahat robot dilengkapi dengan besi batangan mirip bor yang berdiameter sekitar enam milimeter. Bor kecil ini

22

ITS Point I September 2013

biasanya berfungsi untuk memakan kayu ke bawah. Padahal sebenarnya dapat digunakan sebagai pemahat jika memutar dengan cepat dan bergerak menyamping. Ia memutar sambil memakan dari samping. Hasil dari tahap ini adalah pahatan yang bertingkat membentuk setiap level pahatan. “Memang, pahatan kasar bertujuan untuk memudahkan robot dalam memahat halus,” jelasnya. Tahap akhir dari proses pahatan dengan robot ini adalah tahap pahat halus. Bedanya, pada proses ini, diameter bor yang digunakan lebih kecil yaitu tiga millimeter dengan interval step satu millimeter. Djoko menjelaskan setiap perbedaan alat yang digunakan akan memiliki perencanaan yang berbeda. Ketika sudah pekerjaan halus tapi menggunakan tools yang terlalu besar, maka tidak akan sesuai. “Nanti akan memakan sebelahnya, tidak sesuai koordinat,” pungkasnya. Menurut Djoko, setiap patung titik-titik koordinatnya berbeda. Bahkan jarak antar koordinat bisa sangat sekali. Meski begitu, tidak butuh waktu lama untuk membuat satu pahatan. Untuk desain yang relatif sederhana hanya dibutuhkan waktu 20 menit saja. Tentu, jika semakin komples desain, waktu yang dibutuhkan akan semakin lama. Dikatakan Djoko, penelitian robot poahat ini telah dimulai sejak tahun 2012. Saat ini, focus pengembangan penelitian ada pada pemberian input khusus melalui pengambilan gambar dengan menggunakan kamera. Caranya adalah dengan menggunakan lima kamera yang melakukan pemotretan secara bersamaaan. Dengan demikian akan didapatkan pahatan yang serupa dengan aslinya. ‘’Jika tidak bersamaan, maka hasilnya akan berbeda,’’ tutup Djoko. (fin/ran)

ITS Point I September 2013

23


RISET

RISET

Sepeda Sehat Ala ITS S

epeda memang tengah digandrungi beragam kalangan sejak mencuatnya isu pemanasan global belakangan ini. Namun, jika umumnya sepeda dengan spesifikasi biasa ramai mewarnai jalanan kota, lain halnya dengan sepeda inovatif yang satu ini. Prof Dr Ing I Made Londen Batan MEng, dosen Jurusan Teknik Mesin ITS adalah penciptanya. “Namanya Sepeda Flexi,” terang Londen. Ia mengatakan bahwa risetnya bermula di tahun 2004. Menurutnya, sepeda yang dikembangkan di Laboratorium Perancangan dan Pengembangan Produk Jurusan Teknik Mesin ITS ini diciptakan dengan berbagai kemudahan yang memanjakan para penggunanya. Pasalnya, ada beberapa aspek yang ditekankan dalam perancangan sepeda yang telah meraih berbagai penghargaan di tingkat nasional ini. Diantaranya adalah aspek aman, efisien, dan ergonomis. “Nyaman berarti desain sepeda harus ergonomis, yaitu menyesuaikan bentuk tubuh penggunanya dan efisien karena diharapkan pengguna hanya mengeluarkan energi yang kecil untuk menggunakannya,” terangnya. Karena itu, lanjutnya, desain yang seperti itulah yang mendukung keamanan para penggunanya. Lebih lanjut, Londen menuturkan ada beberapa keistimewaan yang dimiliki sepeda yang didanai oleh Direktorat Perguruan Tinggi (Dikti) sejak tahun 2009 hingga 2012 ini. Yakni bisa dilipat, bisa dirubah menjadi sepeda gunung, balap, dan santai serta bisa dirubah dimensinya sesuai dengan ukuran orang dewasa, remaja, dan anak-anak. Tak pelak, Flexy Bike ini pun langsung menyabet juara dua kategori desain sepeda pada kompetisi yang diselenggarakan oleh Polygon di tahun 2006 silam.

24 ITS Point

I September 2013

Pun demikian, ia mengatakan semua itu dilaluinya secara kebetulan. Londen menceritakan ide ini berawal ketika ia ingin mengembangan riset yang ramah lingkungan. “Bagi kami para akademisi, yang penting itu kita punya mainan (riset, red),” candanya. Londen yakin melalui produk yang dihargainya senilai Rp 6-18 juta ini sedikit banyak akan membantu program-program untuk memperbaiki kondisi lingkungan saat ini. Bicara soal penggunaannya, ia mengatakan hanya dibutuhkan waktu beberapa detik saja untuk merubah spesifikasi sepeda agar menjadi sesuai dengan keinginan penggunanya. Ia mencontohkan untuk bisa merubah dimensi dari ukuran orang dewasa menjadi ukuran anakanak ia hanya menghabiskan waktu sebesar tujuh detik saja. “Sejak awal sepeda ini memang dirancang sepraktis mungkin, jadi hanya cukup mencukil dan menarik beberapa bagian di rangkanya saja,” tambah Londen. Di akhir, Londen mengungkapkan tak ingin risetnya mentok sampai di sini saja. Ia berkomitmen untuk bisa melanjutkan misi kemanusiaannya dengan mengembangkan sepeda beroda tiga di tahun 2014. “Konsumennya adalah mereka yang sedang menderita penyakit stroke. Jadi kalau riset sebelumnya berguna untuk menyehatkan orang sehat, yang ini untuk menyehatkan orang sakit,” tutupnya. (man/izz)

ITS Point I September 2013

25


S

KIPRAH MEREKA

Wasit Kempo Termuda

ekilas, sosok Taufik Syukur tidak ada bedanya dengan staf perpustakaan lain. Namun, jika mengenalnya lebih dekat, Taufik, begitu ia akrab dipanggil, mempunyai hobi yang menarik. Di sela-sela waktu luangnya, ia tampak asyik menggambar. Kadang, ia juga meronce manik-manik menjadi bros yang cantik. Tak hanya itu, Taufik adalah seorang pesenam terkenal. Dalam dunia aerobik, ia lebih dikenal sebagai Muhammad Taufik. Kiprahnya di dunia tersebut bermula sekitar 10 tahun lalu. Kala itu, ia sedang mengikuti acara jalan-jalan yang diadakan oleh salah satu perusahaan di Surabaya. ‘’Di acara itu saya bertemu teman saya. Dia jadi instruktur senam di acara itu,’’ tuturnya memulai kisah. Singkat cerita, Taufik merasa tertarik dengan apa yang dilakukan temannya itu. Sebab, ia sempat merasa heran dengan kehidupan temannya tersebut. Pasalnya, walau tidak terlihat memiliki pekerjaan tetap tetapi temannya tadi mempunyai kehidupan yang sukses. Taufik mengetahui bahwa dunia senamlah yang mengubah kehidupan temannya. “Saya langsung bilang kalau saya ingin belajar senam aerobik ke dia. Waktu itu, katanya saya punya bakat,” jelasnya sambil melayani mahasiswa yang hendak menitipkan tas.

N

ama Adesya Abdullah mungkin tidak begitu dikenal di ITS. Tapi, jangan salah, mahasiswa Teknik Kimia ITS 2010 ini justru dikenal luas di pecinta seni bela diri Kempo Jawa Timur. Di usianya yang baru 21 tahun, ia bahkan sudah mencicipi bagaimana rasanya menjadi pelatih dan wasit kempo. Ketika ditemui di jurusannya, ia berkisah jika kecintaannya pada bela diri kempo berawal dari keterpaksaan. Tahun 2004 silam, kedua orang tuanya memaksa dia untuk ikut bela diri kempo (dojo) di Unair. ‘’Saya sempat menolak, karena saya lebih suka sepakbola,’’ kata mahasiswa yang akrab Dede ini. Lambat laun, ia luluh. Setiap sore ia rajin mengikuti pelatihan. Tak lama setelah berlatih, Dede mendapat kesempatan untuk berlaga di kejuaraan antar dojo se-Jawa Timur yang digelar oleh PT. Semen Gresik. Ia turun di kelas berat 54 kilogram. Hebatnya, baru pertama bertanding ia berhasil menyabet juara dua. Kemenangan itu berdampak besar bagi dirinya. Dede mengaku, mulai merasa menemukan passion. Kecintaannya pada kempo kian besar. Begitu juga dengan kemampuannya yang semakin meningkat. Mahasiswa asli Surabaya ini semakin dipercaya untuk berlaga di berbagai kejuaraan lokal maupun nasional. “Kirakira ada delapan kali kejurnas kempo yang saya ikuti,” jelasnya. Saat masuk di ITS tiga tahun silam, Dede terus mengasah keahliannya. Ia pernah mengikuti Kejuaraan Mahasiswa Nasional (Kejurmasnas) Kempo di Jember. Dalam kompetisi tersebut, ia berhasil merah juara tiga dalam kategori embu pasangan dewasa. Di tahun yang sama, ia mengambil sertifikasi pelatih beladiri 26 ITS Point

I September 2013

kempo di Pondok Gede, Jakarta. Menariknya, kala itu, Dede menjadi salah satu peserta termuda yang mengikuti sertifikasi pelatih. “Rupanya, umur saya mencuri perhatian para penguji. Mereka bersemangat untuk mengetes saya,” ungkapnya. Dua tahun berselang, mahasiswa angkatan 2010 ini mendapat amanah menjadi ketua UKM Shorinji Kempo ITS. Selama masa kepengurusannya, ia lebih banyak menjadi pelatih untuk juniorjuniornya. “Tekad saya waktu itu memang ingin menghidupkan UKM ini lagi. Sebab, dulu kempo ITS pernah ditakuti,” ujarnya. Karier kepelatihannya akhirnya meluas. Acapkali ia mendapat undangan untuk melatih kempo di dojo lain seperti dojo Unair dan Universitas Widya Mandala. Dengan senang hati, ia pun menerima undangan tersebut. “Alhamdulillah sudah punya lisensi kepelatihan tingkat Jawa Timur, jadinya bisa melatih di daerah Jatim mana aja,” lanjutnya. Saat ini, Dede telah menguasai 70 gerakan beladiri kempo (waza). Ia sudah berada di kelas sabuk hitam dan satu. Level ini sebenarnya masih bisa ditingkatkan hingga dan empat. Untuk naik satu dan, wajib menguasai 20 teknik. ‘’Saya pikir-pikir lagi, karena sekarang sudah masuk semester akhir kuliah,’’ katanya. Tak puas hanya sebagai pelatih saja, Dede mencoba untuk menjadi wasit Kempo. Hal ini tidak sulit bagi. Beberapa lomba resmi pernah ia pimpin seperti lomba kempo di Piala Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Piala Walikota Surabaya. ‘’Karena masih dan satu, saya hanya bisa menjadi wasit di Surabaya,’’ tambahnya. Meski begitu, sepak terjangnya ini, berhasil menem patkan Dede sebagai wasit termuda di Surabaya. (akh/ran)

Dugaan Ridwan terbukti benar. Taufik tipe orang yang cepat belajar. Ia hanya butuh waktu empat bulan saja untuk berlatih. Padahal, biasanya untuk menjadi instruktur dan pelatih senam aerobik handal, dibutuhkan waktu paling sedikit satu tahun untuk belajar. Menurutnya, hal tersebut lantaran rekam jejaknya sebagai penari saat masih anakanak dan remaja.

KIPRAH MEREKA

Sukses Jadi Pesenam, Taufik Tak Lalai Tugas Ketika disinggung soal prestasi, Taufik menjawab dengan tertawa. Katanya, dalam waktu 10 tahun sejak pertama kali belajar, ia sudah banyak makan asam garam dunia senam. Tak hanya menjadi pelatih saja, ia kerap kali mengikuti berbagai kompetisi senam aerobik. Berulang kali berlaga, berulang kali pula ia mendulang juara. ‘’Sampai nggak muat lemarinya,’’ katanya sambil tertawa. Sosok Taufik di dunia senam aerobik memang tidak diragukan. Pasalnya, kini ia telah menjadi salah satu pesenam andalan Jawa Timur. Beberapa sanggar senam terkenal di Surabaya dan di luar provinsi bergantian mengantri mengudangnya sebagai instuktur. ‘’Tapi saya lebih suka menjadi bintang tamu saja. Jadi tidak terikat kontrak di satu tempat,” tutur peraih lima kali juara senam aerobik se-Jawa Bali tersebut. Dari pengalaman itu, Taufik mempunyai kenalan serta kolega senam yang tak terhitung jumlahnya. Meski begitu, ia tidak pernah membedakan-bedakan dalam bergaul sesama pesenam. Mulai dari yang masih amatir hingga profesional se-Indonesia pun ia selalu membuka tangan. Selai itu, sosok Taufik juga dikenal humoris. Menurutnya, ketika menjadi instruktur atau pelatih senam, harus bisa membawakan suasana yang nyaman. Caranya, melalui interaksi yang intensif dengan para peserta. “Kuncinya pesenam itu adalah rendah hati, sabar serta harus humoris,” ungkap pria asli Madura ini. Meski dunia senam sangat menjanjikan, Taufik tidak meninggalkan kewajibannya sebagai staf perpustakaan ITS. Menurutnya, jika hanya dipandang gaji, memang senam lebih besar. Tetapi menjadi saat ini ia telah menjadi pegawai negeri, sebuah profesi yang dapat dijalani hingga tua. “Kalau senam, ketika sudah tua dan tidak berwajah bagus lagi, maka tidak dipakai lagi. Sebab, pasti kalah dengan yang lebih muda,” pungkasnya. (akh/ran)

ITS Point I September 2013

27


KIPRAH MEREKA

Di Balik Kemudi Sapu Angin B

eberapa waktu terakhir nama ITS semakin mewangi. Mobil keluaran terbarunya, mobil formula hemat bahan bakar yaitu Sapu Angin Speed, berhasil membawa pulang kategori Best Rookie Award dalam kompetisi internasional di Jepang September lalu. Bahkan yang masih hangat, dalam IEMC 2013 yang di laksanakan di Sirkuit Kenjeran Park lalu, ITS mampu mengulang prestasinya sebagai juara umum kompetisi nasional ini. Kemenangan-kemenangan itu tak lepas juga dari peran driver mobil andalan ITS, Tjahyadi Rizky Pradana. Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin tersebut merupakan driver dari Sapu Angin Speed dan Sapu Angin ITS kategori prototipe di ajang IEMC. Kepiawaiannya dalam mengendalikan mobil menjadi salah satu faktor keberhasilan Sapu Angin meraih prestasi. Mahasiswa yang akrab dipanggil TJ (baca: Tije) ini memang acap kali mengikuti kompetisi-kompetisi slalom. Ia pun banyak mendulang prestasi di kompetisikompetisi sejenis. “Saya sering ikut kejuaraan nasional slalom, beberapa kali juga sempat menjadi juara,” ungkapnya. Sejak SMP, kemampuan dalam menjinakkan mobil telah dirasakan oleh TJ. “Memang sudah hobi saya sejak SMP ,” ujarnya. Tidak selalu meraih kemenangan, TJ bahkan pernah tidak sampai finish karena mobil yang dikendarainya mengalami masalah. “Itu pengalaman terpahit yang pernah saya alami. Sedangkan pengalaman termanis adalah ketika Sapu Angin Speed mendapat Best Rookie Award,” sebutnya. Meskipun memiliki berjibun pengalaman dan prestasi dalam mengendarai mobil, TJ tak lantas menganggap enteng amanahnya sebagai driver Sapu Angin. Ia mengaku, persaingan dalam kompetisi yang diikuti Sapu Angin ITS sangatlah berat. “Mobil yang digunakan pesaing juga nggak kalah kencang dari mobil kami,” ungkapnya. Untuk menyiasati hal tersebut, Tj berupaya menyesuaikan diri dengan mobil yang akan dikendarainya dengan memperbanyak latihan. “Kalau latihannya rutin dan intensif, kita bisa lebih terbiasa dengan mobil yang kita kendarai. Keseriusan dalam latihan itu sangat penting,” kata mahasiswa angkatan 2010 tersebut. Terpisah, Dr Ir Bambang Sampurno MT, dosen Jurusan Teknik Mesin ITS yang juga Kepala Badan Pembinaan Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni mengakui pentingnya peran driver. Ia mengatakan bahwa faktor yang paling mempengaruhi kemenangan Sapu Angin ITS ini bukan hanya karena tingkat efisiensi mobil yang tinggi, melainkan juga faktor driver yang mengendarainya. “Kalau driver-nya nggak bagus, cuma rem gas terus, ya tidak mungkin bisa menang sebaik apapun mobilnya,” jelas dosen Jurusan Teknik Mesin tersebut. (oly/izz) 28

ITS Point I September 2013

Tampil Elegan dengan Website Baru

R

esmi menggelar soft launching awal Agustus lalu, website resmi ITS tampil elegan dengan wajah barunya. Beragam keunggulan ditawarkan, salah satunya adalah rancangan website untuk pengguna bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dual language ini sengaja dilakukan guna menggencarkan langkah ITS go international. Berbeda dengan situs sebelumnya yang hanya menampilkan informasi dari ITS Online, kini seluruh produk ITS Media Center dikemas menarik menjadi satu kesatuan. Mulai dari ITS TV, Beranda, ITS Point, Y-ITS hingga e-Klipping dari berita luar juga bisa diakses di sini. Konsep integrated elektronic media juga menjadi salah satu kelebihan dari wajah baru website. Fasilitas media video elektronik Youtube dan majalah elektronik Issuu.com terhubung pada fitur-fitur penting di website. Konsep rancangan multiplatform juga memudahkan akses dari browser standar komputer hingga gadget. Kepala Pusat Komunikasi dan Informasi (Puskominfo) Bekti Cahyo Hidayanto SSi MKom ITS menyebutkan bahwa peremajaan situs baru ini sudah lama direncanakan. Terlebih, dengan permintaan alumni dan warga mancanegara yang ingin mengetahui informasi ITS melalui website. Langkah ini sekaligus guna merefleksikan landasan teknologi di ITS. “Meski baru tercapai target 50 persen, setidaknya kita sudah melakukan perubahan daripada terus tertinggal di bawah 50 persen,” tandas Bekti. ITS Media Center sendiri merupakan unit yang berada di bawah Puskominfo. Dengan digawangi oleh redaksi ITS Online dan ITS TV, unit ini bertujuan tidak lain untuk menghimpun segala bentuk informasi dari berbagai sumber untuk keperluan komunikasi. Tugas ini merujuk pada Organisasi Tata Kerja (OTK) ITS Pasal 148 tahun 2012 terkait tugas Puskominfo. Segala tugas itu membuat ITS Media Center tak pernah berhenti dari rutinitas menggali berbagai informasi tentang ITS. ITS On-

UNIT

line dan ITS TV lah yang secara khusus mengemban fungsi kerja ini. Keduanya hanya saja dibedakan dengan output informasi yang dihasilkan. Redaksi ITS Online merupakan bagian dari ITS Media Center yang bergerak dalam bidang jurnalistik dan tulis menulis. Hasilnya diberikan dalam bentuk online berupa berita, profil, opini hingga editorial yang dapat diakses dalam situs ITS. Sedangkan dalam bentuk cetak, berupa majalah ITS Point yang terbit empat kali dalam setahun. Serta tak ketinggalan majalah Y-ITS yang tersedia dalam e-magazine yang dapat diunduh pula dari website baru ITS. Berbeda dengan ITS Online, ITS TV lebih bergerak dalam bidang jurnalistik dengan output audio visual. Beberapa acara khusus menjadi agenda wajib mereka untuk live streaming seperti upacara Penerimaan Mahasiswa Baru, upacara Pelepasan Wisuda hingga upacara Dies Natalis. Menariknya, seluruh kegiatan tersebut dikelola oleh mahasiswa. Tidak sembarang mahasiswa, mereka wajib mengikuti berbagai tes dan pelatihan yang menguji kemampuannya dalam dunia tulis menulis. Didukung dengan berbagai fasilitas yang memadai, diharapkan output yang dihasilkan pun maksimal. Seperti kamera digital berbagai tipe, voice recorder, hingga keperluan live streaming lengkap dengan komputer dengan akses internet yang kilat. Berpusat di Perpustakaan Pusat lantai 6, seluruh kegiatan media ini dapat ditemui. “Seluruh kegiatan yang dilakukan sama halnya dengan rutinitas sehari-hari, tidak ada yang sifatnya temporer,” ungkap Dosen Jurusan Sistem Informasi ini. Sayangnya, Bekti mengaku beberapa pihak belum menyadari pentingnya media tersebut untuk dimanfaatkan. “Jadinya banyak acara yang hanya ramai dijurusannya sendiri. Kami berharap mereka juga harus aktif memberikan laporan kegiatan apa yang akan dilakukan agar semuanya berjalan seirama,” ungkap Dosen Jurusan Sistem Informasi ini. (lik/fz) ITS Point I September 2013

29


GALERI

Dialog Indonesia Baru

Kerja Sama ITS dan Astra Hinda Motor

Target Pertahankan Juara, ITS Luncurkan Baita Sena 30 ITS Point

I September 2013

GALERI

ITS Luncurkan 45 Sepeda Kampus

BoDA Kunjungi Kediaman Tjokroainoto

Semakin Banyak Jenis SayOr ITS ITS Point I September 2013

31


ORMAWA LMB

ORMAWA LMB

HMJ, Bangkitkan Jiwa Seni Mahasiswa D alam lingkup Organisasi Mahasiswa (Ormawa) ITS, pengembangan keprofesian menjadi tanggung jawab Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Berbagai acara seputar keprofesian pun kerap kali dilaksanakan. Uniknya, lambat laun tidak hanya kegiatan akademik keprofesian saja yang digelar. Kini, aktivitas berbau seni dan hiburan dapat dengan mudah ditemui dalam lingkup jurusan.

Alunan sayup-sayup lagu terdengar dari arah kantin Jurusan Teknik Industri dan Sistem Informasi ITS. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 12.00 siang. Aktivitas kuliah mahasiswa sedang berhenti karena memasuki waktu istirahat sholat dan makan siang. Tak heran banyak dari mereka yang memenuhi kantin. Namun bukan itu yang menjadi perhatian, alunan musik yang dibunyikan bukan berasal dari radio. Melainkan asal band komunitas Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HMSI). Aga Aligarh, salah satu pemain band, menjelaskan ia dan rekan-rekannya memang memanfaatkan waktu makan siang untuk menghibur mahasiswa yang ada di kantin. Mereka membawakan beberapa buah lagu dalam kurun waktu 30 hingga 45 menit. “Kalau kantin ramai maksimal kami main 45 menit. Kalau sepi ya setengah jam juga cukup,” terangnya. Sayangnya, tidak setiap hari band yang berjuluk Solaris tersebut tampil. Menurut Aga, mereka hanya bermain musik di kantin setiap hari Selasa dua minggu sekali. Hal tersebut disebabkan beberapa personel band lainnya sedang ada jadwal kuliah pada hari-hari yang lain.

32 ITS Point

I September 2013

Komunitas musik ini sendiri berdiri sejak empat tahun yang lalu. Saat ini, statusnya berada di bawah naungan lembaga minat dan bakat HMSI. “Semakin ke sini banyak mahasiswa SI yang berminat dan antusias untuk megikuti komunitas ini,” terang gitaris band Solaris ini. Sementara untuk latihan, Solaris memiliki studio musik sendiri. Studio tersebut dilengkapi dengan beberapa alat musik yang memadai. Seperti drum, keyboard, gitar akustik dan bass listrik. Selain itu, tiga buah gitar listrik dan dua buah microfon melengkapi inventaris studio tersebut. Aga menjelaskan, peralatan tersebut merupakan pemberian dari jurusan. Menurutnya, jurusan sangat mendukung kegiatan mahasiswa di bidang seni musik. “Bahkan kepala jurusan kami turut membentuk grup band khusus dosen. Jadi kalau latihan di studio gantian sama dosen,” paparnya.

Sementara untuk anggota, peminat dari komunitas yang tergabung dengan Departemen Kewirausahaan, Minat, dan Bakat HMTC tersebut meningkat setiap tahunnya. Anggota aktif beserta pengurusnya saat ini mencapai lebih dari 15 orang. “Untuk saat ini, anggota didominasi oleh teman-teman angkatan 2012,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Vivi ini. Sekretaris Departemen Kewirausahaan, Minat, dan Bakat HMTC ini menambahkan, selain aktif melestarikan tari Saman, komunitasnya juga membuka jasa penyewaan baju tari. Baju tari tersebut merupakan pemberian dari kelompok tari angkatan sebelumnya. “Sebagian dari hasil uang penyewaan kami masukkan ke dalam kas himpunan,” terang Vivi. (sha/ali)

Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HMTC). Tak kalah seru dengan mahasiswa Jurusan Sistem Informasi, mahasiswa Jurusan Teknik Informatika juga aktif menekuni kesenian, terutama seni tari Saman. Novita Nata Wardanie, salah satu anggota kelompok tari Saman, menjelaskan komunitas ini terbentuk sejak 2010 lalu. Sama dengan Solaris, statusnya juga berada di bawah naungan HMJ yakni HMTC.

ITS Point I September 2013

33


MAHASISWA INSPIRATIF

T

eater Kini Berseri berdiri pada 2008 silam. Kala itu, sejumlah mahasiswa penggila teater bertemu pada sebuah kegiatan. Usut punya usut, lantaran bingung untuk menyalurkan hobi, akhirnya mereka mendirikan sebuah perkumpulan teater berjuluk Kini Berseri. ‘’Kami suka teater sejak masih SMA. Saat kuliah bingung mau main di mana lalu diputuskan membuat Teater Kini Berseri,’’ ungkap Erwin Kurniawan, salah satu anggota. Filosofi dari nama perkumpulannya pun cukup unik. Dua kata yang digunakan yakni kini dan berseri memiliki makna sekarang dan ceria. Hal tersebut menginterpretasikan semangat keceriaan yang mereka usung ketika tampil di mana pun dan kapan pun. ‘’Intinya, bisa menghibur penonton di setiap pementasan yang kami buat,’’ aku mahasiswa Jurusan Biologi ini. Mengenai prestasi, pencapaian anak-anak Teater Kini Berseri cukup mentereng. Mereka pernah menjuarai berbagai kompetisi kancah regional hingga nasional. Salah satunya, pernah menjadi juara ketiga dalam lomba film indie skala nasional. Selain itu, mereka juga pernah meraih juara harapan 1 monolog pada ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas). Yang terbaru, perkumpulan mahasiswa lintas jurusan tersebut menjadi jawara pada ajang ITS Mencari Bakat (IMB) 2013. Erwin menuturkan, rentetan prestasi yang mereka raih tidak didapatkan dengan mudah. Banyak kendala yang harus mereka selesaikan dulu sebelum mencapai posisi seperti saat ini. Contohnya, seperti jatuh bangunnya teater akibat minimnya jumlah anggota. “Kami pun memutuskan untuk tetap memperjuangkan teater ini dan terbukti masih ada sampai sekarang,” pungkas mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini. (ady/ali)

34 ITS Point

I September 2013

Teater Kini Berseri, Jatuh Bangun Hingga Prestasi Siapa bilang mahasiswa ITS hanya jago dalam bidang teknik. Tengoklah sekelompok pemuda yang tergabung dalam Teater Kini Berseri. Mereka mampu mendulang rentetan prestasi lewat bidang seni, khususnya seni teater. Lalu, prestasi apa saja yang mampu mereka kumpulkan?

MAHASISWA INSPIRATIF

Raih Beragam Prestasi Lewat Pencak Silat “Menjadi atlet nasional adalah impian saya” Andika Ardiansyah Mahasiswa Jurusan Matematika

P

encak silat sepertinya sudah mendarah daging bagi Andika Ardiansyah, mahasiswa Jurusan Matematika ITS. Bagaimana tidak, pria asal Surabaya ini sudah menekuni salah satu cabang olahraga jenis bela diri ini sejak duduk di bangku SMA. Bukan hanya itu, ia pun juga sukses mengoleksi berbagai prestasi tingkat lokal hingga nasional dari hobinya tersebut.

Selain itu, mahasiswa Jurusan Matematika tersebut juga pernah menjadi kontingen kota Surabaya pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Tak tanggung-tanggung, kala itu ia menjadi salah satu kontingen yang berhasil menyumbangkan medali emas bagi Kota Pahlawan. ‘’Waktu itu saya bangga sekali karena untuk pertama kalinya menyumbang emas bagi kota Surabaya,’’ ucapnya.

Pria yang akrab yang disapa Andika ini bercerita, kisahnya di dunia pencak silat bermula dari sekedar iseng-iseng saja. Kala itu, ia disuruh oleh ayahnya untuk ikut berlatih pencak silat di sebuah persatuan Pagar Nusa. “Dari cobacoba, lama-lama jatuh cinta juga. Ternyata menyenangkan belajar pencak silat dan keterusan hingga sekarang,’’ ujarnya.

Tak berhenti sampai di situ, bak peluru yang keluar dari pelatuknya, Andika terus mendulang prestasi. Di tingkat nasional, ia memperoleh penghargaan sebagai penampil terbaik pada Festival Seni Piala Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) 2013. Dan yang paling terbaru, ia menjadi juara tiga di ajang ITS Mencari Bakat (IMB) 2013.

Tekun berlatih, Andika akhirnya menuai berbagai hasil manis. Ia pernah mendapat dua emas pada pergelaran Pekan Olahraga Mahasiswa ITS (POMITS). Berkat pencapaian tersebut, ia pun didapuk sebagai kontingen ITS pada Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (Pomda) Jawa Timur.

Andika mengaku, prestasi yang diraihnya tidak didapat dengan mudah. Perlu usaha keras dan ketekunan untuk memperolehnya. Ia pun berhasrat, suatu saat bisa menjadi atlet nasional. Ia ingin mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional lewat Pencak Silat. ‘’Menjadi atlet nasional adalah impian saya,’’ pungkasnya (ady/ali) ITS Point I September 2013


MAHASISWA INSPIRATIF

MAHASISWA INSPIRATIF

Di ‘Jalan’ Teknik, Tetap Cinta Campur Sari

P

emuda yang akrab disapa Yosep ini telah merengkuh berbagai prestasi tingkat sekolah hingga tingkat nasional. Terhitung dari tahun 2008, Yosep telah meraih 14 gelar. Raihan perdananya ia peroleh ketika juara tiga berpasangan di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kasih Bangsa Jakarta pada tahun 2008. “Saya memang sudah tertarik olahraga ini sejak Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas satu, karena dari namanya yang unik,”jelas mahasiswa kelahiran Jakarta ini. Uniknya, Yosep sudah juga sudah melalang buana di berbagai kota di Indonesia dalam kompetisi Bridge ini. Salah satunya yaitu ketika menjadi juara pertama di kelas junior piala tugu muda Semarang. Di Provinsi Banten pun ia juga sering meraih gelar juara, total enam trofi juara ia kumpulkan dari provinsi ujung barat Pulau Jawa itu. “Di tahun 2013 ini saya berhasil juara satu di piala Walikota Tangerang,” ungkapnya. Tidak sampai di sana, di tahun yang sama pula ia berhasil menjadi juara tiga junior di kejuaraan nasional yang digelar di Pontianak. “Kalau di Surabaya saya pernah juara satu junior di Piala Walikota Surabaya, juga di tahun 2013 ini,” jelasnya.

Berprestasi Karena Main Kartu Untuk memainkannya, tidak harus memiliki fisik yang kuat. Namun ketangkasan logika, daya ingat, dan taktik yang mumpuni-lah yang dibutuhkan dalam olahraga Bridge ini. Dialah Yosep Warman Hutasoit, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro 2011, salah satu atlet Bridge yang sering berjuang di kancah nasional

Yosep yang juga tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bridge ITS ini pun turut menyoroti perkembangan olahraga ini di kampus perjuangan. “Saat ini atlet ITS sudah bisa bersaing di level nasional, dan setiap atletnya sudah diperhitungkan sebagai kandidat juara,”jelasnya lagi. Singkatnya atlet ITS berpotensi besar bersaing dalam kompetisi Bridge tingkat nasional ini. Tidak hanya itu Yosep juga menyoroti perkembangan olahraga Bridge di Indonesia secara keseluruhan. Menurutnya, atlet-atlet nasional yang biasa mewakili Indonesia di level internasional sudah sangat diperhitungkan. “Namun biasanya terkendala regenerasi yang masih kurang, karena berbeda dengan olahraga yang menggunakan fisik, atlet bridge bisa terus menjadi atlet sampai umur 80 tahun,” ujar atlet yang juga pernah merengkuh gelar juara pertama tim junior di Kejuaraan Daerah (Kejurda) Banten. Yosep pun berharap, atlet bridge ITS dapat berbicara banyak dan menjadi yang terbaik di kejuaraan nasional. “Kalau bisa juga di Internasional, dan mewakili Indonesia di Tim Nasional Bridge,”pungkasnya. (ais/nir)

36

ITS Point I September 2013

N

anang Suroso asyik mengisahkan kecintaannya terhadap musik tradisional Jawa. Dengan gayanya yang khas jawa, Nanang menjawab sangat tenang setiap pertanyaan ITS Online. Tak terlihat sama sekali kerutan kening tanda ia berpikir keras. Bahkan ia tak segan melayani tantangan untuk mendendangkan tembang Jawa juga lagu campur sari lain kesukaannya. Namun, giliran diminta menyanyikan lagu pop modern, Nanang tersenyum tipis. Sebaris lirik lagu Once yang ia nyanyikan pun menjadi lagu pop rasa campur sari. Tapi memang, dia mahasiswa teknik yang unik. Bukan tak enak menyanyikan lagu pop modern masa kini, hanya saja seperti komentar beberapa kawannya: dia terlanjur kental dengan cengkok khas tembang Jawa. Pada saat karya seni tradisional Jawa itu semakin tenggelam, di jurusannya dia justru menjadi sang maestro lagu-lagu tradisional Jawa dan campur sari. Mahasiswa Jurusan Teknik Sistem Perkapalan ini pun berhasil mencuri perhatian juri pada ajang ITS Mencari Bakat (IMB) bulan lalu. Tampil secara solo, lagu campur sari yang seketika itu berhasil membius ratusan pasang mata penonton dan merebut gelar juara ke-3 IMB 2013. Nanang mengaku, kecintaannya terhadap musik yang kian ditinggalkan itu telah tumbuh sejak kecil. Di usianya yang belia ketika masih tinggal di daerah Kertosono bersama orang tuanya, dia telah akrab diperdengarkan lagu-lagu tradisional jawa yang bernada meliuk-liuk namun sangat akrab di telinga. “Orang tua saya sangat suka campur sari, hampir tiap hari muter lagu-lagu itu,” tuturnya. Kesehariannya yang seperti itulah pada akhirnya membuat Nanang jatuh hati pada salah satu seni musik tradisional jawa tersebut. Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Nanang memberanikan diri mengikuti kontes menyanyi saat perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI). Dalam keikutsertaaannya untuk pertama kali itu

pun dia sukses membawa pulang Juara 1 dengan lagu Stasiun Balapan-nya. “Waktu itu yang saya heran, apa yang bikin saya bisa menang?” katanya yang masih tak kunjung menemukan jawaban. Tampil kinclong di perlombaan pertamanya, membuat Nanang seringkali diminta untuk mengisi acara-acara hiburan seperti dalam resepsi pernikahan, perpisahan di sekolah, juga masih terus mengikuti lomba-lomba lainnya. “Pernah nggak menang. Itu pas saya nyanyi lagu pop. Soalnya masih saja keseret-seret jadi campur sari,” cerita mahasiswa angkatan 2010 tersebut. Sedangkan yang masih hangat saat ini adalah ketika Nanang tampil di malam puncak Dies Natalis ke-53 ITS bulan lalu. Sebagai finalis IMB, ia berhasil menyisipkan suasana jawa kental dalam perayaan yang di laksanakan di sepanjang jalan Tunjungan itu dengan lagunya yang berjudul Setyo Tuhu. Dibalut pakaian adat Jawa lengkap dengan blangkonnya, Nanang seorang diri memulai nyanyiannya dengan Tembang Jawa. “Pas tembang jawanya sudah habis, musik mulai main, saat itu saya nge-blank langsung,” aku penyuka tembang Layang Kangen tersebut. Mantan ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan (Himasiskal) tersebut juga tak jarang mengisi acara-acara di kampus maupun di kegiatan kemahasiswaan. Memang sejak awal masuk kuliah, Nanang berharap bisa terus mengembangkan kemampuannya tersebut. Ke depannya, Nanang memang ingin terus mendalami budaya Jawa. Mulai dari sejarah hingga kesenian Jawa. Ia juga ingin bisa bergabung dengan para budayawan yang namanya sudah menggaung di seantero negeri. Seperti Sudjiwo Tedjo misalnya. Masih dengan senyum dan nada bicaranya yang khas, Nanang dengan tegas menyatakan ingin jadi duta budaya nantinya. (oly/nir) ITS Point I September 2013

37


FYI

MAHASISWA BICARA

Kesulitan Cari Pelatih

P

erhatian ITS pada kegiatan non akademik seperti seni dan olahraga sudah cukup baik. Namun, sebagai mahasiswa yang aktif di UKM Sepak Bola Divisi Futsal Putri, yang saya rasakan adalah sering kesulitan mencari pelatih. Kebanyakan selalu mencari pelatih sendiri. Terlebih jika pelatih tiba-tiba berhenti, maka terpaksa kami berlatih tanpa ada pelatih yang mendampingi. Dalam kondisi itu, justru kami dilatih oleh tim futsal putra. Seharusnya ITS lebih memperhatikan pengadaan pelatih ini. Sehingga tidak menyebabkan kegiatan UKM fakum. Dari segi finansial, memang ITS selalu memberi dukungan. Namun, yang perlu dikritisi adalah perhatiannya terhadap kegiatan atau event di luar ITS. Terkadang masih kurang dalam fasilitas. Meski begitu, kami berterima kasih pada IKA ITS yang banyak mendukung kegiatan UKM Futsal. Termasuk untuk pendanaan dan kegiatan. Justru kami lebih mendapat perhatian dari IKA ITS dibandingkan dari ITS sendiri. Namun, agaknya ITS tidak boleh pilih kasih terhadap perhatiannya terhadap UKM yang ada. Pasalnya, ITS cenderung hanya memperhatikanUKM yang sudah berprestasi saja. Sedangkan UKM belum berprestasi masih dipandang sebelah mata. Bahkan untuk mengajukan rekomendasi keberangkatan turnamen. Dulu UKM Futsal belum mendapat juara, maka kami jarang mendapatkan perhatian. Maju untuk mengajukan rekomendasi kegiatan sering dibelit-belitkan. Mau tidak mau hal ini menghambat perkembangan UKM. Tak jarang, kami sering megadakan iuran mandiri untuk sekedar membiayai kegiatan ke luar. Misal beli kostum, konsumsi dan sewa lapangan tambahan. Oleh sebab itu, yang perlu menjadi perhatian ITS kelak adalah terus memperhatikan kegiatan mahasiswa non akademik seperti olahraga. Karena walau begitu, olahraga menjadi aspek penting bagi mahasiswa yang harus dipenuhi demi kesehatan. Terlebih di tengah kegiatan akademik mahasiswa yang bejibun. Pasti dengan olahraga membantu merefresh pikiran mahasiswa. Jika fasilitas UKM mendukung, maka minat mahasiswa akan meningkat. Akan tetapi, bentuk perhatian ITS pada kegiatan non akademik mahasiswa patut diparesiasi. Seperti baru-baru ini UKM Futsal Putri mendapat juara dua dalam kejuaraan nasional di Bandung. Hal ini menjadi bukti bahwa kegiatan non akademik mahasiswa ITS turut mengharumkan nama ITS di kancah nasional. 38

ITS Point I September 2013

Zulita Dian Utami Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember Angkatan 2010 NRP 1410100071

R

ITS Point, Bermula dari Titik

apat Kerja (Raker) Pimpinan ITS tahun 2007 berhasil mengubah wajah media publikasi milik ITS. Majalah resmi yang dulunya bertajuk Berita ITS, sejak saat itu berubah menjadi ITS Point. Yang dulunya hanya serupa tabloid, kini menjadi sebuah majalah yang lebih branding. Usut punya usut, nama ITS Point didapatkan dari sayembara yang dihelat oleh lembaga Hubungan Masyarakat kala itu. Lalu, apakah maksud dari ITS Point itu? Sebelum tahun 2007, media di ITS masih belum terintegrasi. ITS Online dan Eureka TV masih berdiri sendiri-sendiri. Hingga pada kepengurusannya yang baru, Rektor ITS kala itu yakni Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD menginstruksikan integrasi media, agar publikasi ITS semakin marak dan komprehensif. Akhirnya, media di ITS yang awalnya berjalan individu digabung dalam payung Unit Pelaksana Teknis (UPT) Media Informasi yang saat itu dikepalai oleh Ir Widya Utama. Pada awal integrasi media itu pula diadakan sayembara terkait pemilihan nama dari majalah resmi ITS.

agai nama yang dicalonkan, seperti Keputih News, Tugu Pahlawan, Kabar Sukolilo, dan lainnya, nama ITS Point dirasa paling pas untuk menjadi nama dari ujung tombak ITS dalam dunia media cetak. “Ide tentang nama itu muncul dengan sendirinya, dan saya merasa itu nama yang paling tepat,” ungkap Indah. ITS Point terdiri dari dua kata, ITS tentunya menunjukkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, sementara Point menunjukkan inti, titik dari segala hal tentang ITS. Itulah arti dari nama majalah ITS Point, yaitu majalah yang memuat inti dari segala hal yang terjadi di ITS. Tidak hanya itu, esensi lain dari makna ITS Point adalah lantaran point juga dapat diartikan sebagai titik. Kampus teknik tidak lepas dari sebuah titik. Berbagai perhitungan matematis dalam keilmuan teknik mengandung unsur titik. Begitu pula dalam menggambar teknik, pasti lekat dengan komponen titik. “Point dapat berarti sebagai pusat, titik interest,” ujarnya. (fin/izz)

Indah Tri Sukmawati, karyawan bidang kehumasan ITS lah yang memenangkan sayembara tersebut. Dari berbITS Point I September 2013

39


KOMUNITAS

KOMUNITAS

Anak KuliahMain Layang-layang

Anak Teknik Juga Suka Humor! SUC saat berlatih sebelum manggung (Istimewa/ ITS Online) Asyik sekali bermain layang-layang. Apalagi jika layang-layang tersebut terus membumbung tinggi di atas langit dan menang ketika beradu benang dengan milik lawan. Tapi, masihkah layang-layang digemari oleh kalangan mahasiswa? Apalagi bagi mahasiswa teknik seperti ITS?

L

ayang-layang sudah lama dikenal sebagai permainan tradisional anak-anak di seluruh Indonesia. Mainan ini mudah dibuat. Cukup dengan kertas, potongan bambu kecil, dan lem. Untuk memainkannya, mainan ini diterbangkan ke angkasa dengan segulung benang gelasan yang bisa ditarik ulur. Di angkasa layang-layang ia akan diadu. Siapa yang terlebih dulu memutuskan benang lawan, dialah pemenangnya. Sementara yang kalah, terombangambing dan diperebutkan banyak orang.

yang gemar bermain layangan. Selain itu komunitas ini juga sebagai sarana melestarikan budaya bangsa yang semakin luntur digerus zaman.

Namun sayang, layang-layang hanya dipandang sebagai mainan bagi anak-anak di masa kecil. Saat beranjak dewasa, banyak diantara pemuda yang mulai melupakannya. Itulah yang melatarbelakangi Fatchur Rochim dkk untuk membentuk komunitas Anak Layangan di tengah kesibukan akademik sebagai mahasiswa di kampus perjuangan.

Layang-layang yang dibuat pun bervariasi. Tidak hanya dua dimensi, mereka juga membuat layang-layang tiga dimensi. Mereka tidak menutup setiap ide yang diutarakan oleh setiap anggota. “Kita bebas, asalkan itu tetap berada dalam koridor pembuatan layang-layang,” imbuh Fatchur. Meski belum lama terbentuk, Alay juga sering mengikuti perlombaan-perlombaan. Utamanya yang digelar oleh Persatuan Layang-layang Surabaya (Perlabaya). Meski belum bisa meraih juara, mereka tetap akan berkontribusi dan bertekad menjadi yang terbaik pada kompetisisi-kompetisi berikutnya.

“Layang-layang itu budaya Indonesia, harusnya terus kita kembangkan,” ujar pria yang akrab disapa Fatchur ini. Menurutnya, saat ini layang-layang semakin jarang ditemukan. Terutama di daerah-daerah perkotaan. Kebanyakan layang-layang dimainkan di daerah pedesaan. Dan mayoritas yang memainkan adalah anak-anak kecil. Bukan orang dewasa. Komunitas Anak Layangan yang selanjutnya sering disebut dengan Alay belum lama terbentuk, yakni September 2013 bersamaan dengan pameran komunitas di Jurusan Desain Produk. Fatchcur mengatakan, dibentuknya Alay untuk dijadikan sebagai salah satu wadah bagi mahasiswa 40

ITS Point I September 2013

Hingga saat ini, Alay terus mengalami perkembangan. Dari segi anggota mereka terus bertambah. Pun dari segi kuantitas dan kreativitas layang-layang yang dibuat. “Kita rutin berkumpul tiap minggu,” jelas mahasiswa jurusan Desain Produk ini.

Lebih dari itu, ia berharap agar layang-layang bisa bangkit dan kembali eksis seperti dulu. Dikatakan Fatchur, saat ini banyak sekali orang yang tidak menghiraukan layang-layang. Apalagi di kalangan mahasiswa. Menurutnya, layanglayang bukan hanya sekedar kertas yang diterbangkan. “Akan tetapi layang-layang juga akan menjadi karya yang ke depannya sebagai identitas bangsa,” pungkasnya. (guh/ nir)

T

ak hanya di televisi, wabah stand up comedy pun sudah menjamah di berbagai universitas besar di negeri ini. Tak terkecuali dengan ITS. Sebuah komunitas yang bernama Stand Up Comedy 10 Nopember telah terbentuk di kampus perjuangan sejak tahun 2012 yang lalu. Image anak teknik yang selalu kaku, serius, dan tak punya selera humor perlahan memudar.

ITS Expo, FTI Fun Day, dan masih banyak lagi,” imbuh M Khirzan Ulinnuha, salah satu anggota. Menurutnya, bermain stand up comedy memang membutuhkan kreativitas yang lebih dari setiap comic. Tentunya agar penonton tidak merasa bosan dengan penampilan yang melulu ituitu saja. Untuk mengatasi itu, setiap comic harus teliti dalam mengamati perilaku sosial dalam masyarakat.

Awalnya, komunitas ini didirikan oleh empat mahasiswa yang memiliki hobi bercanda pada November 2012 silam. Saat itu, komuntas yang digawangi oleh Afani Roma Arisa dkk ini dibantu oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Tiyang Alit untuk bisa melakukan open mic (latihan sekaligus uji materi, red) pertamanya. “Kita gak ada tempat buat latihan, jadi kita minta bantuan Tiyang Alit,” jelas Alumni Jurusan Fisika tersebut.

Tak hanya sekedar menghibur, beberapa comic juga sering mendapat penghargaan dalam beberapa perlombaan yang diikuti. “Diantara kita ada yang pernah juara 1 dan 3 dalam acara SUC Mapanta di Universitas Airlangga (UA),” tambah pria yang akrab dipanggil Ulin tersebut.

Setelah 2 kali open mic di SCC, akhirnya mereka mendapat tawaran dari Cafe Broom untuk menjadi salah satu pengisi acara. Dan sejak itu pula, SUC 10 Nopember memiliki tempat untuk latihan tetap tiap minggunya. “Kita kan sungkan jika selalu merepotkan Tiyang Alit. Mumpung ada tawaran, ya kita ambil,” jelasnya. Sejak pindah di Café Broom, mereka lebih sering berkumpul dan melakukan open mic. Berbagai guyonan para comic (orang yang berkomedi, red) yang kreatif sering kali mengundang gelak tawa pengunjung cafe yang terletak di sekitar perumahan dosen ITS tersebut. Bahkan tak jarang diantara anggota SUC ini diundang dalam eventevent besar yang diadakan di ITS. “Kita pernah tampil di

Mereka berharap agar SUC 10 Nopember bisa lebih dikenal oleh sivitas akademika ITS dan membawa nama ITS di kancah nasional. Selain itu harapan untuk menjadi komunitas legal juga sempat muncul. “Kalau masuk LMB mungkin belum bisa, tapi kita usahakan untuk masuk LSM (Lembaga Swadaya Mahasiswa),” tambah Ulin. Sementara itu, Hari Wicaksono, pemilik Broom Stove & Pan, mengaku senang dengan kehadiran mereka. Ia melihat, beberapa di antara mereka ada yang berpotensi menjadi komedian nasional. “Saya rasa ini unik dan pasti banyak pengunjung yang suka,” ungkapnya. Ia menilai mereka memiliki mental yang luar biasa. “Di sini kan yang dihibur orang makan, bukan penikmat komedi. Jadi akan sangat sulit membuat mereka tertawa,” jelasnya. (guh/nir)

ITS Point I September 2013

41


NEWS

Gerakan 10.000 Tumbler

A

cara Gugur Gunung 2.6 (G2.6) ITS, Sabtu (7/12) berlangsung lebih meriah. Tidak hanya melakukan penanaman pohon, tim Bolo Eco Kampus dan panitia Gugur Gunung juga menyiapkan ratusan tumbler air minum. Tumbler-tumbler tersebut dibagikan para peserta gugur gunung sebagai tahap awal gerakan 10.000 tumbler ITS.

NEWS

Lagi, PSM ITS Sabet Juara Dunia

Gerakan ini senditi terbagi dalam tiga bagian yaitu pengadaan 10.000 tumbler, No Bottle Refill Only (Nori) dan publikasi seminar, serta media sosial dan poster. Detak Yan Pratama ST MSc, ketua pelaksana, mengungkapkan program ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan botol atau plastik yang biasa digunakan oleh mahasiswa. Hal ini dilakukan dalam rangka mejadikan menjadikan ITS sebagai kampus bebas plastik dengan penggunaan tumbler. “Dengan begitu, diharapkan bisa mengurangi konsumsi sampah jenis ini. Mahasiswa kan banyak yang jajan minuman tiap hari,” ujar Detak. Pada tahap pertama ini, panitia membagikan 250 botol tumbler. Botol tersebut tersebut diberikan kepada para peserta G2.6 yang memenangkan lomba urban farming. Selain itu, botol air minum tersebut juga dijadikan doorprize bagi mahasiswa yang biasa berjalan kaki saat berangkat ke kampus. “Sasaran pertama ini untuk para mahasiswa yang biasanya jalan kaki atau bersepeda ketika berangkat ke kampus,” jelasnya. Detak menambahkan, seluruh mahasiswa ITS juga bisa memperoleh tumbler tersebut dengan cara menukarkan beberapa botol minuman plastik bekas melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS. “Atau langsung membeli ke kita juga bisa,” lanjutnya. Uang hasil penjualan tumbler tersebut nantinya akan diputar lagi sebagai biaya produksi botol tumbler selanjutnya. Proses pembagian 250 tumbler berlangsung meriah. Hal itu bisa dilihat dari semangat peserta G2.6 ketika akan diumumkan pembagian botol tumbler secara gratis. Peserta yang kebetulan berjalan kaki dan bersepeda saat akan mengikuti G2.6 akhirnya memperoleh kesempatan pertama naik ke panggung untuk menerima botol tumbler. Salah seorang peserta G2.6 asal Jurusan Teknik Fisika, Natsir Hidayat mengungkapkan rasa gembiranya setelah mendapat satu buah botol tumbler. Mahasiswa Baru angkatan 2013 ini mengakui bahwa setiap hari ia memang terbiasa berjalan kaki atau kadang bersepeda saat berangkat ke kampus. Dengan adanya program pembagian tumbler ini, ia pun berhasrat untuk mengurangi penggunaan botol minuman plastik. “Pokoknya, ini nanti akan saya gunakan setiap hari. Saya isi ulang dari galon di kamar saya ketika akan berangkat ke kampus,” ungkap pria yang menetap di asrama ITS ini dengan nada sumringah. (*/ran) 42 ITS Point

I September 2013

K

emerduan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) ITS dalam beryanyi memang tak perlu diragukan. Beragam torehan prestasi kelas dunia jadi saksi kualitas tim besutan Dr Ing Ir Bambang Soemardiono ini. Bulan Juli lalu, PSM ITS kembali meraih gelar dalam 31 Festival Internacional de Musica de Cantonigros di Spanyol. “Kami sukses meraih tempat ketiga untuk kategori Institucio Pulg-Porret Competition Folk Music,” ujar Virtus Gita Anggara, ketua PSM ITS. Ia mengatakan PSM ITS berhasil mengalahkan tim lain dari 15 negara lain. Padahal lawan-lawan mereka adalah grup paduan suara profesional. Gita menjelaskan kompetisi ini dibuka secara umum, sehingga pesertanya tidak hanya kalangan mahasiswa. Tahun ini, PSM ITS menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam ajang tersebut. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, kompetisi ini marak diikuti kontingen lain dari Indonesia. Seperti PSM Institut Teknologi Bandung (ITB), PSM Universitas Padjajaran (Unpad), Gracioso Sonora Singers, dan Infinito Singers. Menurut, Bambang, gelaran ini memang jauh lebih berbobot ketimbang gelaran lain yang pernah diikuti PSM ITS, seperti Busan Choral Festival 2010 di Korea Selatan dan Rimini International Choral Competition 2011 di Italia. ‘’Lawannya jauh lebih tangguh dan berbahaya. Selain suara yang bagus, intonasinya pun tepat sekali,’’ tandas Bambang. Lebih lanjut, ia menjelaskan tim PSM ITS hanya mengikuti

dua dari lima kategori yang dilombakan. Yakni pada kategori Mixed Choir dan Folk Music yang berlatar lagu-lagu klasik dan tradisional. Dalam kategori mixed choir, lagu Veni dan O Nata Lux yang berbahasa Latin dan beraransemen musik Korea menjadi lagu yang wajib dinyanyikan. Sebagai lagu tambahan tim ITS membawakan lagu berbahasa Jerman Jadglied dan Conversion of Saul. Sementara untuk kategori kedua, folk music, mereka memilih lagu-lagu Ugo-Ugo dan Seblang Subuh yang berasal dari daerah Banyuwangi serta lagu Wor asal Papua. Bambang menilai anggota tim PSM ITS mempunyai suara yang kuat. Kekompakan tim, harmonika, dan dinamika, juga menjadi keunggulan tim ITS. “Penampilan mereka pun disempurnakan dengan memakai kostum tradisional yang meriah dari berbagai daerah di Indonesia,’’ jelas Bambang. Seluruh anggota tim yang terlibat dalam kompetisi ymengakui bahwa kompetisi berlansung ketat. Pasalnya. perolehan nilai PSM ITS yang hanya terpaut 0,2 poin dari Venezuela dalam kategori mixed choir. Hasil ini memaksa mereka harus puas berada di urutan kelima. Pelatih PSM ITS, Budi Susanto Johanes menjelaskan, intonasi suara atau ketepatan nada tim PSM ITS memang masih perlu diperkuat. “Namun yang terpenting latihan intensif yang digelar sejak bulan Februari berbuah hasil manis. Iklim di negara Spanyol yang cenderung berubah-ubah juga tidak menjadi kendala yang dirasakan tim,” tutupnya. (man/ran)

ITS Point I September 2013

43


NEWS

Sabet Tiga Penghargaan di KJI 2013

Kini ITS Punya Tim Dayung Putri

O

lahraga dayung memang banyak digemari oleh kaum adam. Namun, bukan berarti tidak ada kaum hawa yang menyenanginya. Tim dayung putri ITS misalnya. Menjadi salah satu bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa Maritime Challenge (MC), tim ini sarat akan prestasi. Tahun 2013 ini, tim dayung putri ITS sukses meraih dua gelar dalam dua ajang berbeda. Dua Pada kompetisi Dragon Boat Seguni besutan Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya, mereka mendapat juara dua. Hasil yang sama juga ditorehkan saat berlaga di ajang Marine Icon yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan ITS. Alfi Nur Shofa mengatakan, kesuksesan tim ini tidak lepas dari kerja keras seluruh anggota tim. Ia beserta teman-temannya telah melakukan latihan intensif sebelum turun di dua event tersebut. “Dalam seminggu kita latihan mendayung sebanyak empat kali di Sungai Kalimas,” ujarnya. Dikatakan Alfi, saat Marine Icon, Jumat (10/5), timnya tampil bisa tampil lebih baik. Hal itu lantaran mereka telah mengevaluasi performa pertamanya di UHT seminggu sebelumnya. “Di ajang UHT dulu, beberapa anggota tim sempat down, bahkan ada yang menangis saat tim kita kalah. Tapi itu

44 ITS Point

I September 2013

tidak terulang saat Marine Icon,” tuturnya disertai senyum. Tak heran, dua kemenangan tersebut mengundang decak kagum seluruh anggota UKM MC ITS. Hal tersebut membuktikan bahwatim dayung putri ITS tidak bisa diragukan lagi kemampuannya. Sebab, selama ini UKM MC ITS tidak pernah ikut serta dalam kompetisi lomba dayung dengan komposisi seluruh pendayungnya adalah perempuan. “Di ajang internasional seperti Atlantic Maritime Challenge pun gabungan,” jelas sekretaris MC ini. Ia berharap tim ini bisa terus menunjukkan tajinya. Selain itu, kerja keras, latihan intensif, dan peningkatkan mental tim sangat diperlukan untuk meraih prestasi di ajang bergengsi lainnya. “Di luar negeri sudah banyak tim-tim wanita yang ikut bertanding di atas kapalnya, kita harapkan di Indonesia juga begitu,” ungkap Alfi. Mukti Utami, salah satu anggota lainnya menyebutkan, tim dayung ITS memiliki tingkat emosi yang lebih stabil ketimbang tim dayung putra. Hal ini merupakan potensi yang sangat baik. Terlebih lagi untuk menghadapi yang tidak menentu saat lomba. (man/ran)

M

NEWS

eski gagal membawa pulang piala bergilir Reka Cipta Titian Indonesia, Tim ITS tetap bersinar di Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) IX yang digelar di Universitas Brawijaya, Minggu (2/12). Dalam kompetisi nasional tersebut, kontingen ITS berhasil menyabet tiga kemenangan. Dua diantaranya dari kategori jembatan kayu dan satu lagi dari kategori jembatan bentang panjang atau busur.

Sistem penilaian KJI ini merupakan akumulasi nilai dari beberapa aspek. Diantaranya adalah evaluasi proposal dan presentasi yang memiliki porsi pembobotan masing-masing 10 persen. Sedangkan 80 persen sisanya untuk perakitan sekaligus uji pembebanan terhadap jembatan. ‘’Jadi penilaian tidak hanya dari dua hari terakhir saja,’’ ujar Dr Heru Purnomo, ketua dewan juri KJI 2013.

Dalam kategori jembatan bentang panjang, jembatan OArch karya tim O-Project mampu meraih posisi juara kedua atau setara dengan penghargaan emas. Lendutan jembatan tersebut hanya terpaut tipis, 0,01 milimeter dari Politeknik Negeri Bandung. Karena itu, mereka harus merelakan gelar jembatan terkokoh.

Satu lagi, tim ITS yang berlaga dalam KJI adalah Ksatria Baja. Meski tidak menjadi pemenang tetapi tim ini patut mendapat apresiasi. Pasalnya, pada kesempatan pertama turun dalam kategori jembatan baja tersebut, mereka berani menggunakan profil hollow. ‘’Sangat jarang ada yang menggunakan hollow. Tahun ini hanya ada satu, ITS,’’ ujar Heru.

Selain itu, dalam kategori jembatan kayu, jembatan Panderman karya tim Citra S-54 ITS mampu menyabet dua kemenangan. Hasil pengukuran lendutan seperempat bentang yang hanya sekitar 1,28 milimeter dan setengah bentang sebesar 1,56 milimeter membawa Panderman menjadi jembatan terkokoh. Penghargaan setara perunggu berhasil dibawa pulang. Sementara dari hasil penilaian keseluruhan, Panderman mampu meraih posisi kedua dan mendapatkan penghargaan setara emas.

Namun, lanjutnya, dikarenakan jembatan baja milik ITS tersebut tidak lolos uji beban, maka tidak dapat mengikuti penilaian kategori yang lain. Heru juga menaksir adanya kesalahan tahapan dalam proses penyusunan jembatan sehingga mengakibatkan jembatan baja ITS, Songgolangit, menghasilkan nilai lendutan melampaui batas yang diizinkan. ‘’Saya mengira ada kesalahan ketika pemasangan tiap segmennya, tapi keberanian menggunakan profil hollow itu sangat kami apresiasi,’’ ungkapnya. (*/ran)

ITS Point I September 2013

45


PASCA SARJANA

PASCA SARJANA

PMDSU, Tempuh S2 dan S3 Empat Tahun Program beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke jenjang lebih tinggi kembali diberikan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti). Kali ini giliran Pascasarjana ITS yang bertugas dalam menggencarkan program beasiswa tersebut. Uniknya, dalam program ini mahasiswa yang telah lulus S1 dapat melanjutkan studi dan langsung mendapatkan gelar doktor hanya dalam kurun waktu empat tahun.

S

etelah sukses dengan Program Doktor Sarjana Unggul (PDSU), Dikti mengeluarkan program beasiswa Program Magister Doktor Sarjana Unggul (PMDSU) yang mulai diterapkan di tahun 2013 ini. Dari sepuluh perguruan tinggi negeri yang ditunjuk Dikti, ITS merupakan salah satu PTN terpilih untuk dapat menerapkan program tersebut. Prof Dr Ir Adi Soeprijanto MT, Direktur Pascasarjana ITS, menerangkan bahwa program tersebut baru pertama kali diterapkan di Indonesia karena adanya beberapa pertimbangan. Salah satunya yakni telah banyak doktor di Indonesia y ang diambil oleh negara asing. “Karena itulah Dikti akhirnya membuat program unggulan PMDSU agar mahasiswa Indonesia dapat menempuh S3 dalam kurun waktu empat tahun. Padahal normalnya itu sampai lima tahun,” terang Adi. Adi menerangkan bahwa dalam program tersebut, setiap PTN berhak untuk mengirimkan beberapa nama guru besar (gubes) yang ada di kampusnya. Menurut Adi, ITS sendiri mengirimkan sepuluh nama gubes yang nantinya akan diseleksi oleh Dikti untuk menjadi dosen pendamping. “Dari sepuluh gubes yang diajukan, ternyata hanya ada lima profesor yang dipilih oleh Dikti untuk menjadi dosen pendamping mahasiswa,” ujar dosen di Jurusan Teknik Elektro ini. Dalam program beasiswa unggulan tersebut, tiap profesor nantinya akan memiliki minimal tiga mahasiswa yang wajib didampingi. Awalnya, Pascasarjana ITS menargetkan terdapat 30 mahasiswa yang bisa mendapatkan beasiswa PMDSU. Namun sayangnya, pada tahun ini ITS masih belum mencapai target tersebut. Selain karena hasil seleksi Dikti yang hanya meloloskan lima orang profesor ITS, dua dari gubes ITS pun saat ini tidak lagi menerima mahasiswa bimbingan. “Saat ini mahasiswa yang berhasil mendapatkan beasiswa PMDSU ada sembilan orang dengan tiga profesor, yaitu Ir Priyo Suprobo, MS Ph D, Prof Ir Renanto, MS Ph D, dan Prof Dr Ir Gamantyo Hendrantoro, PhD” terang Adi. Mahasiswa yang akan mendaftar dalam beasiswa tersebut berhak untuk memilih profesor pembimbing. Bukan hanya alumni S1 di ITS, namun alumni seluruh perguruan tinggi

46 ITS Point

I September 2013

di Indonesia memiliki kesempatan untuk memilih profesor pendamping yang telah diseleksi oleh Dikti. Adi menjelaskan bahwa mahasiswa yang telah mendapatkan beasiswa tersebut berhak mendapatkan biaya hidup, biaya pendidikan, biaya untuk mengikuti seminar internasional, biaya riset, dan masih banyak lagi. Bahkan, Adi menambahkan bahwa mahasiswa yang mengambil S3 paling tidak harus melakukan riset di luar negeri. “Kalau bisa nanti kami akan mengusahakan agar mahasiswa tersebut bisa mendapatkan beasiswa sandwich untuk riset ke luar negeri,” terang pria berkacamata tersebut. Seleksi yang dilakukan untuk bisa mendapatkan beasiwa tersebut pun tidak main-main. Setelah seleksi berkas dengan ketentuan khusus, seleksi wawancara dengan profesor yang dipilih pun harus dilakukan oleh calon mahasiswa. profesor yang telah ditunjuk Dikti pun berhak untuk memilih mahasiswa yang nantinya akan dibimbing. Menurut Adi, mahasiswa yang terpilih pun akan dipantau oleh pendamping masing-masing. Bila dinyatakan tidak berprogres maka mahasiswa tersebut hanya berhak untuk mendapatkan gelar sampai magister. Adi menambahkan bahwa program tersebut memang masih dalam masa percobaan. Ia pun mengaku belum mengetahui program tersebut akan diadakan lagi atau tidak di tahun selanjutnya. “Nantinya, Dikti juga akan mengawasi berjalannya program ini. Bila berjalan dengan baik, maka program ini akan tetap dilanjutkan pada tahun berikutnya,” tegasnya. Tak hanya PMDSU, Pascasarjana pun turut menggencarkan beasiswa Sandwich. Hingga saat ini sudah ada beberapa universitas luar negeri yang bekerja sama dengan ITS. “Untuk yang terbaru ini ITS telah bekerjasama dengan Jerman, Australia, Inggris, Jepang, dan Belanda,” imbuh Adi. Ia pun merencanakan mulai tahun 2014 mendatang seluruh mahasiswa S3 harus mendaftarkan diri di beasiswa Sandwich. Hal tersebut ia lakukan agar mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan S3 dapat melakukan riset di luar negeri. “Masak mahasiswa S3 tidak pernah ke luar negeri. Rasanya itu kurang greget,” guraunya. (sha/izz)

ITS Point I September 2013

47


PROGRAM

UPCOMING BOOK

Menguak Pergerakan Mahasiswa ITS Judul Penulis Halaman

B

SayOr, Ditanam di Perkotaan Kualitas Pegunungan

: Derap 10 Nopember : Tim Derap : 200

“ Jangan Sekali-Kali Meninggalkan Sejarah,” Salah satu kutipan Bung Karno yang melegenda hingga sekarang. Mungkin kutipan itu juga yang menginspirasi para penulis buku Derap 10 Nopember untuk mengumpulkan puzzlepuzzle sejarah pergerakan mahasiswa ITS era 1960 hingga 1982.

uku Derap 10 Nopember merupakan edisi kedua dari kumpulan buku sejarah ITS. Pada edisi sebelumnya, diceritakan mengenai sejarah pendirian kampus ITS. Namun, buku edisi kali ini lebih membahas tentang aktivitas kemahasiswaannya. Meliputi cerita terbentuknya Senat Mahasiswa, Dewan Mahasiswa, hingga lahirnya Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Keluarga Mahasiswa ITS. Di samping itu, kisah tentang peran mahasiswa ITS saat terjadi Gerakan 30 September (G30S/PKI) 1965 dan Malapetaka Sebelas Januari (Malari) 1974 turut mewarnai buku ini. Yang paling menarik ialah kisah heroik beberapa anggota Dewan Mahasiswa ITS ketika melakukan aksi penolakan terhadap statuta Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) 1978. Bersama aktivis mahasiswa dari kampus lain, mereka mendatangi istana negara untuk meminta keadilan kepada Presiden Soeharto, presiden Indonesia kala itu.

cerita pilu para aktivis mahasiswa saat berada di balik jeruji besi menjadi pelengkap buku ini. Di situ disebutkan beberapa nama yang sempat mencicipi kerasnya sel tahanan dari yang paling singkat hingga yang paling lama. Bahkan, sang pemimpin pergerakan yakni Harun Alrasyid sempat beberapa kali pindah sel tahanan militer yang ada di Surabaya. Di akhir kisah, cerita tentang pendirian masjid ITS menjadi sisi lain dari buku ini. Di bagian tersebut juga dilengkapi dengan sejarah lahirnya lagu himne ITS, koperasi mahasiswa ITS, serta profil dari beberapa aktivis pergerakan. Sehingga, bagi yang mengaku sebagai aktivis mahasiswa wajib memiliki buku ini. Seluruh sivitas akademika pun seharusnya juga punya mengingat karya ini merupakan dokumen sejarah kampus perjuangan. (*/ali)

P

rogram urban farming, yakni pemanfaatan lahan di ITS dengan tanaman organik telah menghasilkan sayursayuran organik yang siap panen. Sayur Organik atau biasa disebut dengan SayOr, merupakan produk andalan dari program urban farming ini. Hasil panen dari urban farming telah dijual ke masyarakat umum dan mendapatkan respon yang cukup positif. Saat ini sedikitnya terdapat enam green house berukuran 7 x 14 meter yang digunakan dalam program urban farming. Greenhouse ini merupakan sumbangan dari pemerintah New Zealand yang mendukung riset urban farming di ITS. “Greenhouse didesain portable, sehingga suatu saat bisa dipindah ke lahan lain,” ujar Haryo Dwito Armono ST MEng PhD, Ketua Pusat Akselerasi Program Prioritas Eco Campus ITS. Saat ini greenhouse tersebut berada di kawasan timur kampus ITS, tepatnya di sebelah Jurusan Teknik Material dan Metalurgi. Haryo mengharapkan, program urban farming ini dapat didukung oleh berbagai pihak, terutama untuk penambahan unit greenhouse. Ia mengatakan, ITS terbuka untuk menerima bantuan tersebut dari perusahaan-perusahaan dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR).

dah mulai beragam,’’ ujarnya. Tanpa pupuk kimia dan pestisida, sayur organik ini dipelihara dengan baik dalam green house yang dijaga dengan suhu tertentu. Untuk mencegah hama, hewan-hewan predator seperti laba-laba pun sengaja dibiarkan hidup dalam greenhouse. “Walau ditanam di kota, kita bisa menghasilkan sayur yang kualitasnya sama dengan yang di pegunungan,” ungkap Haryo. Sayur-sayuran ini dipanen setelah ditanam selama 30 hari. Pemanenan dilakukan pada minggu kedua setiap bulannya. Harga jual sayOr ITS beragam bergantung jenisnya. Rentangnya antara Rp 6 ribu hingga Rp 12 ribu setiap kemasan. Menurut Kepala Badan Koordinasi Pengendalian dan Komunikasi Program (BKPKP), Ir Achmad Rusdiansyah M Eng, pengelolaan urban farming tersebut dapat melatih para mahasiswa maupun Civitas Akademika ITS untuk berwirausaha. Yakni dengan cara menjual SayOr tersebut. Pada gelaran Pesta Rakyat peringatan Dies Natalis ITS ke-53 misalnya, Sayor turut dijual di stan milik BKPKP ITS. (fin/oly/izz)

Saat ini setidaknya terdapat 20 jenis sayuran yang telah berhasil ditanam di program ini. Di antaranya, Sawi, Gambas, Pare, Terong, Mentimun, dan Pakchoy. ‘’Awalnya hanya ada Bayam Merah, Bayam Hijau dan Kangkung saja. Sekarang su48

ITS Point I September 2013

ITS Point I September 2013

49


SISI LAIN

OPINI

Menanti Kembali Bangkitnya Atletik ITS Prof Mahmud Zaki MSc

ITS Sediakan Lahan Gratis untuk Petani

k

ampus ITS memiliki lahan seluas 180 hektar dengan luas bangunan 150.000 meter persegi. Sepanjang jalan ITS acapkali ditemukan lahan dan sawah yang membentang luas. Ada berbagai tanaman yang ditanam, diantaranya sayur kangkung, padi, jagung, dan lainnya. Usut punya usut, petani yang menanamnya adalah masyarakat sekitar dan para petani tersebut tidak dipungut biaya sama sekali oleh ITS. “Istilahnya mungkin ini bentuk Corporate Social Responsibili ty (CSR) dari ITS untuk masyarakat,” tutur Drs Tribudi Utama MSM, Kepala Biro Sarana dan Prasarana (Sarpras) ITS. Pasalnya, ITS sama sekali tidak memungut biaya bagi masyarakat yang menggunakan tanah milik ITS untuk bercocok tanam. Sebab, kegiatan tanam menanam tersebut tidak memberikan dampak yang buruk untuk ITS. Tanpa ditarik pungutan, para petani sekitar ITS yang memanfaatkan lahan kosong milik ITS bebas bercocok tanam. ITS pun tidak membatasi tanaman apa saja yang boleh ditanam. Meski begitu, mereka harus mau berpindah lahan ketika

50 ITS Point

I September 2013

lahan kosong tersebut akan digunakan sebagai bangunan. Tanpa protes panjang, para petani akan pindah lahan dengan sendirinya ketika lahan kosong tersebut diminta kembali oleh ITS untuk dibangun sebuah gedung. Menurut Tribudi, tanah yang belum digunakan untuk ba ngunan justru dilestarikan oleh para petani tersebut. Selama mereka tidak merusak tanah, ITS tidak mengusir para petani tersebut untuk memanfaatkan lahan. Namun, ITS juga tetap memiliki daftar masyarakat yang menggunakan lahan tersebut. Saat ini, tercatat belasan petani yang memanfaatkan lahan ITS. “Asalkan mereka memelihara dengan baik dan tidak merusak,” ungkap Tribudi. Hubungan petani dan ITS ini telah berlangsung sejak kampus ITS Sukolilo pertama kali digunakan. Hingga saat ini, tidak ada kejadian petani tidak mau pergi ketika lahan itu diminta kembali oleh ITS untuk pembangunan. “Hal ini juga akan menambah harmonisasi hubungan antara ITS dan masyarakat sekitar,” tuturnya. (fin/izz)

mantan rektor ITS periode 1973-1982 Ketua Perkumpulan Atlet Atletik Master Indonesia (PAMI)

L

ebih dari separuh abad kampus ini berdiri. Jauh berkembang pesat dibandingkan sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di sini. Beragam prestasi pun banyak ditorehkan oleh mahasiswanya. Tidak hanya bidang keilmuan, melainkan juga keilmiahan, seni, dan bahkan olahraga. Hal itu tentu yang menguatkan posisi ITS sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Sayangnya, dari deretan prestasi mahasiswa ITS di bidang olahraga, amat jarang ditemui yang berprestasi di bidang atletik. Kebanyakan prestasi mereka berasal dari olahraga jenis permainan. Seperti futsal, basket, atau bulu tangkis. Padahal, dasar dari semua olahraga tersebut adalah atletik. Jika menerawang 15 tahun silam, hiruk pikuk olahraga atletik masih terdengar di ITS. Kala itu, saya yang menjabat sebagai pembina. Jumlahnya memang tidak banyak, namun saya cukup mengapresiasi mereka. Sebab, meski hanya dengan tiga sampai empat orang yang berlatih setiap minggunya, mahasiswa-mahasiswa tersebut masih tetap semangat. Hal itu pula yang membuat saya menjadi terpacu untuk terus membina. Bahkan, saya sempat membelikan beberapa perlengkapan olahraga atletik untuk digunakan saat latihan, seperti peluru misalnya. Sayangnya, seiring berjalanya waktu semangat pun mulai pudar. Mahasiswa yang dulunya aktif lambat laun mulai disibukkan dengan tugas kuliah dan akhir nya lulus. Generasi di bawahnya tak sedikitpun tertarik de ngan olahraga fisik ini.

Akhirnya, nasib dari peralatan atletik pun hanya sebagai penghias gudang penyimpanan. Mereka nganggur karena tidak pernah digunakan. Padahal kondisinya masih sangat layak untuk sekedar dimanfaatkan sebagai peralatan latihan. Namun, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di ITS. Menurut pengamatan saya, banyak hal yang menyebabkan perkembangan olahraga atletik mandeg di Indonesia. Salah satunya, karena rendahnya kepedulian lembaga pendidikan dalam menanamkan kecintaan anak didik mereka pada olahraga atletik. Lembaga pendidikan tingkat SD, SMP maupun SMA lebih senang mengajarkan olahraga permainan. Apalagi bagi sekolah yang terletak di daerah perkotaan. Banyak lapangan hijau yang disulap menjadi kawasan ber-paving. Sehingga tidak cocok lagi digunakan untuk olahraga atletik. Jika menengok negara-negara yang mengalami perkemba ngan pesat pada olahraga atletik, pamornya tidak kalah mentereng dibanding dengan basket, voli, atau sepak bola. Contohnya seperti di Australia, setiap akhir pekan selama empat bulan, selalu diadakan kompetisi berbagai cabang atletik untuk kalangan mahasiswa. Saya berharap akan ada mahasiswa yang mau mengembangkan lagi olahraga atletik di ITS. Sayang sekali, banyak peralatan atletik ITS yang masih bagus dan tidak terpakai. Apabila ada yang mau memanfaatkan akan dengan tangan terbuka memberikan ijin untuk menggunakannya. (*)

ITS Point I September 2013

51


52 ITS Point

I September 2013


Its point 19