Page 1

ITS Point I September 2013

ITS Point I September 2013


Catatan Redaksi

DAFTAR ISI

A

da hal baru dalam edisi ke 18 (September 2013) Majalah ITS Point ini. Biasanya selalu terbit dalam bentuk HardCopy, tapi mulai saat ini akan terbit dalam versi elektronik yang dapat dilihat dan diunduh di website its.ac.id. Untuk versi HardCopy sedang kami hitung dan upayakan dapat berada di tangan pembaca juga pada edisi selanjutnya. Desain Cover : Rina Maylina

Pelindung Rektor ITS Penasihat Kepala Badan Koordinasi, Pengendalian dan Komunikasi Program Penanggung Jawab Pusat Informasi dan Komunikasi Pemimpin Redaksi Bekti Cahyo Hidayanto Koordinator Liputan Lutfia Redaktur Eka Setyowati, Lisana Shidqina, Fatimatuz Zahroh, M Muizzuddin, Nanda Iriawan R, Jaharani, Aldrin Dewabrata Reporter Haris Santika, Firman Faqih Nosa, Ali Mustofa, Arinda Nur Lathifah, Ihram, Fiqly Firnandi R, A Marsha Alviani, Elika Tantri, Fifi Alfiana R, N P B Setianingsih, Teguh Julianto, Holly Aphrodita, Akhmadi, Addinul Hakim, Adi Prasetyawan Sekretaris Redaksi Sulistyaning Tyas Desain Cover Rina Maylina

Saat-saat sekarang ini di ITS sedang dimulainya masa perkuliahan semester gasal yang berarti juga telah bergabungnya sekitar 5000-an mahasiswa baru berbagai strata dari berbagai jurusan yang ada di ITS. Pada masa saat ini juga adalah masa Dies Natalis ITS ke 53, tentu banyak kegiatan dan event yang tidak akan dilewatkan oleh ITS Point. Pada edisi kali ini, ITS Point mengangkat laporan utama tentang ITS Kembangkan Konsorsium untuk Bangsa. Banyak hal yang mungkin belum banyak diketahui pembaca, kiprah ITS pada konsorsiumkonsorsium untuk meningkatakan daya saing bangsa. Peran organisasi kemahasiswaan dalam ikut menyelesaikan masalah dan mempercepat akselerasi masyarakat turut menjadi bahasan selain tentu saja prestasi-prestasi yang diraih sivitas akademika maupun ITS sebagai Institusi dikancah nasional maupun internasional sepanjang Maret 2013 sampai akhir Agustus 2013. Akhirnya Selamat Dies Natalis ITS ke 53, semoga semakin bermanfaat untuk masyarakat dan berguna untuk bangsa.

LAPORAN UTAMA PROFIL RISET JICA-PREDICT II MAHASISWA INSPIRATIF galeri KIPRAH MEREKA ormawa prestasi did you know international office Pasca sarjana

2 6 14 22 23 26 28 32 36 40 41 42

eco office unit LAYANAN resensi opini KOMUNITAS KONGKOW news mahasiswa berbicara AGENDA ITS kartun

44 46 48 49 50 52 53 55 56 57

Layouter Rina Maylina Distribusi Humas Alamat Redaksi Perpustakaan ITS Lt 6 Kampus ITS Sukolilo-Surabaya Telp. (031) 5994251-54 ext 1195 Fax. (031) 5927012 E-mail: itspoint@its.ac.id URL: http://www.its.ac.id/itspoint

ITS Point I September 2013

ITS Point I September 2013

1


LAPORAN UTAMA

ITS Kembangkan Konsorsium untuk Bangsa

Pada tahun 2012, konsorsium ini mendapat suntikan dana sebesar Rp 1,8 miliar. Sedangkan, pada tahun 2013, sebesar Rp 1 miliar. Kedua dana tersebut berasal dari Kemenristek.

sini, ITS dipercaya menjadi koordinator. Adapun ketua koordinator yang ditunjuk adalah Dr Ir Agus Sigit Pramono DEA dari Jurusan Teknik Mesin.

Konsorsium kedua adalah konsorsium roket atau rudal. Selain ITS, konsorsium roket beranggotakan PT Pindad, PT Dahana, PT Dirgantara Indonesia, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ITB, UGM, dan lainnya. Pada konsorsium ini, ITS menjadi anggota yang diwakili oleh Prof Dr Suasmoro dari Jurusan Fisika.

Di tahun pertama pelaksanaannya, konsorsium ini mendapat dana sebesar Rp 700 juta. Sedangkan pada tahun keduanya, dana yang dikucurkan oleh Kemenristek naik menjadi Rp 850 juta.

Konsorsium terakhir yang juga ditangani ITS di tahun 2012 adalah konsorsium kendaraan pedesaan (otomotif). Di

Di tahun 2013 ini, ITS kembali menandatangani empat konsorsium dengan Kemenristek. “Antara lain konsorsium pengembangan TV Digital, konsorsium kapal selam, konsorsium Remote Control Weapon System (RCWS), dan konsorsium Porang-Glukomanan,” tutur Gamantyo.

Kontribusi nasional: Penandatanganan Konsorsium TV Digital dan Konsorsium Porang. Sumber: Istimewa

Sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) telah melakukan berbagai penelitian dan proyek strategis, hasil kerja sama tiga elemen. Yaitu pemerintah, industri, dan akademisi. Menjelang hari jadi yang ke-53 tahun, ITS telah diamanahi oleh pemerintah Indonesia untuk menangani berbagai konsorsium nasional.

P

rof Dr Darminto Msc, Pembantu Rektor IV mengatakan bahwa banyak konsorsium yang telah ditangani ITS sejak 2012 lalu. “Tahun ini, ITS mendapat konsorsium dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), Dikti, Kementerian Pertanian (Kementan) maupun institusi lainnya,’’ rincinya. Darminto mengatakan, berbagai konsorsium tersebut memang sesuai dengan fokus penelitian ITS. Seperti di bidang kemaritiman, energi, Information and Communication Technology (ICT), dan pengembangan daerah. Sumber dana konsorsium sendiri berasal dari berbagai sumber. Antara lain dari insentif Sistem Inovasi Nasional (SINAS) Ristek, dana penelitian kompetitif nasional Dikti, hingga dana terdesentralisasi Dikti 2014. Sementara itu menurut Prof Dr Ir Gamantyo Hendrantoro MEng, Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian 2 ITS Point

I September 2013

Masyarakat (LPPM), mulai tahun 2012 ITS memegang tiga konsorsium dari Kemenristek. Konsorsium pertama yang ditangani adalah pengembangan kapal perang nasional. Pada konsorsium tersebut ITS terpilih sebagai koordinator. Ketua koordinator yang ditunjuk adalah Hendro Nurhadi Dipl Ing PhD. ‘’Dengan digarap oleh dosen dari beberapa jurusan, riset kapal perang ini diharapkan selesai dalam kurun waktu tiga tahun,’’ tutur Gamantyo. ITS tak bekerja sendiri, mengingat riset ini adalah riset nasional maka ITS juga dibantu oleh beberapa perguruan tinggi negeri lain. Yaitu Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Universitas Indonesia (UI), Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Akademi Angkatan Laut (AAL). ‘’Tak hanya itu, sejumlah perusahaan besar pun turut bekerjasama guna merealisasikan kapal perang tersebut. Seperti PT PAL Indonesia, PT Terafulk Group dan PT Len Industri,’’ rinci dosen Jurusan Teknik Elektro ini.

Kerja sama riset: Penandatanganan Nota Kesepahaman ITS-PT PAL Indonesia.Sumber: Istimewa

Untuk konsorsium TV Digital, ITS sebagai salah satu anggotanya diwakili oleh Ir Endroyono DEA dari Jurusan Teknik Elektro. Konsorsium kapal selam ditangani oleh Dr Aries Sulisetyono dari Jurusan Teknik Perkapalan. Sedangkan konsorsium RCWS dipegang oleh Subchan Ssi Msc Phd dari Jurusan Matematika. Konsorsium terakhir adalah konsorsium PorangGlukomanan. Konsorsium ini terbilang unik karena agak melenceng dari basis keilmuan ITS yang lebih bergerak pada bidang teknologi bukan pertanian. Di sini ITS berperan sebagai koordinator. Dr Ninik Fajar P. MEng dari Inovasi Teknologi (Inotek) ITS dipercaya menjadi ketua koordinator konsorsium ini. Selain dana dari Kemenristek, ITS juga mendapat dana konsorsium dari Dikti. ’’Konsorsium tersebut adalah Mobil Listrik Nasional yang diketuai Dr M Nur Yuniarto, konsorsium rekayasa biomedika yang diketuai oleh Dr Tri Arief Sardjono dari Teknik Elektro, dan konsorsium Indonesia Inter University Satelite (IINUSAT),’’ tutur Gamantyo.

Geliat ITS dalam berbagai konsorsium penting ini ternyata dibarengi pula dengan pertambahan jumlah kerja sama yang berhasil dilakukan ITS. Badan Kerjasama Inovasi dan Bisnis Ventura (BKIBV) ITS mencatat pertambahan jumlah kerja sama yang dilakukan ITS dengan pihak luar setiap tahunnya. Ir Suryo Widodo Adji Msc, Kepala BKIBV menerangkan bahwa jumlah kerja sama yang dilakukan ITS mengalami peningkatan pesat. Awalnya yang hanya sebesar 200 kontrak pada tahun 2011 dengan total perolehan dana sebesar Rp 36 miliar, di tahun 2012 meningkat hingga 260 kontrak dengan total dana mencapai Rp 60 miliar. Ia pun menargetkan agar jumlah kerja sama ITS di tahun 2013 akan lebih dari Rp 60 miliar. “Kerja sama yang paling banyak dilakukan ITS dengan pihak luar itu dalam bidang penelitian, pengabdian masyarakat, dan profesional,” terang Suryo. Tak hanya itu, dalam mendukung internasionalisasi ITS, beberapa kerja sama dengan negara lain pun turut ITS Point I September 2013

3


Inkubasi: ITS dukung pengembangan UMKM melalui Pusat Inkubator Bisnis . Sumber: Istimewa

digencarkan. Suryo menerangkan, hingga saat ini ITS telah bekerjasama dengan beberapa negara seperti Belanda, Jerman, Jepang, New Zealand, hingga Ukraina. “Kerja sama tersebut bisa datang dari penawaran yang dilakukan oleh kedua belah pihak. ITS siap membantu bila sesuai dengan keahlian dari berbagai jurusan yang ada di ITS,” terang Suryo. Dalam meningkatkan kerja sama baik dalam hal konsorsium dan penelitian, BKIBV pun tidak tinggal diam. Berapa upaya telah disiapkan agar peran ITS dalam mewujudkan Tri Dharma perguruan tinggi dapat terwujud. Salah satunya yakni pemberian penghargaan kepada peneliti ITS. Suryo memaparkan bahwa hal tersebut

K

Selain itu Suryo menambahkan bahwa perlu adanya peningkatan pelayanan di badan kerja sama seputar perpajakan, keuangan, dan surat menyurat. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan pihak yang bekerjasama dengan ITS. “Kepekaan teman-teman ITS juga sangat diperlukan agar dapat mengidentifikasi permasalahan baik yang ada di masyarakat umum maupun industri,” pungkas Suryo.

Dari Kapal Perang hingga Produk Pertanian

onsorsium kapal perang yang ditangani ITS bermula dari sebuah workshop di bidang kapal perang pada Agustus 2011 lalu. Sebagai lanjutan workshop, lahirlah sebuah riset kapal perang di skala ITS yang kemudian berujung pada proposal konsorsium. “Pembuatan proposal untuk konsorsium ini telah selesai sejak akhir tahun 2011,” ungkap Hendro Nurhadi Dipl Ing PhD, ketua konsorsium kapal perang nasional. Keunggulan dari kapal perang ini yaitu terletak material dari bahan anti radar. “Anti radar baru pertama kali 4

dilakukan karena tanpa adanya peran dari seluruh sivitas ITS, khususnya peneliti, kerja sama sebanyak apapun tidak akan pernah terselesaikan. Oleh sebab itulah Suryo berharap antusiasme seluruh sivitas ITS terus terbangun agar kerja sama yang baik dapat dilakukan dengan pihak luar.

ITS Point I September 2013

diterapkan di pesawat tempur Amerika. Konon wartawan tidak bisa mendekat dari jarak 100 meter,” jelas Dr Zainuri, salah satu anggota konsorsium yang ditemui saat konferensi pers diskusi ilmiah di NASDEC (22/2). Zainuri sendiri telah mulai meneliti bahan anti radar sejak tahun 2005 hingga 2006. Bahan yang digunakan berasal dari pasir besi. Saat ini material tersebut telah berhasil dibuat dan dapat menyerap radar hingga 99%. Selain di konsorsium bidang teknologi pertahanan dan keamanan (hankam), ITS juga terlibat di konsorsium mobil

Pertahanan nasional: ITS dipercaya menjadi koordinator konsorsium kapal perang. Sumber: Istimewa

khusus masyarakat pedesaan. Konsorsium ini merancang sebuah mobil khusus masyarakat pedesaan agar dapat memiliki empat fungsi yang berbeda. Dr Agus Sigit P, ketua konsorsium tersebut menjelaskan, nantinya mobil tersebut dirancang untuk menjadi kendaraan biasa yang dapat mengangkut orang, sebagai toko, tempat produksi, dan mengangkut barang. “Konsepnya, mobil yang digunakan satu. Namun, terdapat sebuah box di atas mobil yang dapat diganti-ganti,” terang Agus. Menurutnya konsep tersebut digunakan untuk memudahkan pekerjaan dari masyarakat pedesaan yang umumnya bertani dan berkebun. Hingga saat ini konsorsium tersebut masih dalam progres pembuatan prototype mobil. Untuk mesin mobil yang digunakan adalah sebesar 650 cc. “Mobil tersebut juga dibuat tidak untuk kecepatan yang tinggi, melainkan memaksimalkan agar memiliki kemampuan yang baik dalam hal pengangkutan barang,” ujar Agus. Konsorsium tersebut pun turut menggandeng beberapa industri otomotif. Tujuannya, agar terdapat kemudahan dalam memperoleh beberapa komponen mesin. “Kami menargetkan mobil ini dapat selesai dibuat di tahun 2014 mendatang,” tutur nya Satu lagi konsorsium unik yang ditangani ITS adalah konsorsium bidang pertanian, Porang-Glukomanan yang akan dilaksanakan di Kecamatan Saradan, Madiun.

Dr Niniek Fajar Puspita MEng, ketua koordinator konsorsium me-ngatakan, tanaman dengan nama ilmiah Amorphophallus muelleri ini merupakan tanaman bernilai jual tinggi jika diolah dengan baik. Untuk memperlancar konsorsium, ITS juga membuat Forum Jaringan Litbang Jawa Timur. Forum ini terdiri dari perguruan tinggi, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Daerah, serta Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Daerah. Total, ITS mengucurkan dana sebesar Rp 400 juta untuk forum ini. Sebagai koordinator konsorsium, ITS juga telah merancang enam langkah penting. Mulai dari inovasi budidaya dan kultur jaringan, inovasi proses atau pascapanen dan manufacturing, hingga inovasi produk nano partikel dalam bidang energi alternatif dan lingkungan. Langkah penting lainnya adalah inovasi kelembagaan dan jaringan inovasi serta inovasi bisnis/UMKM/inkubator. “Kami akan mencarikan pasar dalam negeri bagi produk Porang tersebut melalui marketing UMKM,” jelas Niniek. Adanya konsorsium ini diharapkan dapat meningkatkan Sistem Inovasi Daerah (SIDA) Madiun. “Ini adalah salah satu upaya untuk mencapai ketahanan pangan dalam negeri karena pada 2025 dunia akan terjadi krsisis energi dan pangan,” ujar Murdjito MSc Eng, penanggung jawab inovasi kelembagaan dan jaringan informasi. (ady/sha/fi)

ITS Point I September 2013

5


Pribadi Tekun dan Dinamis

PROFIL DOSEN

Fatma memang telah berhasil mengangkat nama peneliti Indonesia di kancah dunia. Ia juga telah berhasil membawa nama baik ITS. Namun ia mempunyai cerita unik. Pada masa kecilnya ia sama sekali tidak pernah bermimpi menjadi seorang peneliti. “Saya ingin menyembuhkan banyak orang, saya ingin menjadi dokter,” kenang wanita kelahiran 1980 ini.

Sri Fatmawati Ssi MSc PhD

Teliti Spons, Raih Penghargaan Internasional

Selama 15 tahun terakhir, perusahaan kosmetik L’Oreal telah bekerja sama dengan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dalam memberikan penghargaan bagi para peneliti perempuan dunia. Tahun 2013 ini, Sri Fatmawati Ssi MSc PhD, dosen Jurusan Kimia ITS, keluar sebagai salah satu penerima penghargaan internasional bergengsi ini. Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa peneliti Indonesia tidak kalah baik dengan peneliti luar negeri.

A

da dua jenis penghargaan yang diberikan pada program ini. Penghargaan pertama adalah penghargaan Laurates yang diberikan kepada peneliti senior. Dari setiap benua, hanya ada satu peneliti perempuan terbaik yang akan memenangkan pengharagaan ini. Jenis penghargaan kedua adalah Internasional Fellowship bagi para peneliti yang berusia kurang dari 35 tahun. Pada penghargaan ini, setiap kontingen diwakili oleh tiga orang pemenang. Setelah melalui seleksi panjang, nama Fatma, begitu ia biasa disapa, keluar sebagai pemenang kawasan Asia Pasifik bersama dua orang peneliti lain yang berasal dari Bangladesh dan Mongolia. Para pemenang penghargaan ini lantas mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan penelitiannya di univeristas yang telah ditetapkan, yakni pemberi penghargaan. Fatma berhasil memenangkan penghargaan ini berkat ide risetnya mengenai spons. Ia menemukan, spesies laut primitif ini ternyata mampu menjadi senyawa anti kanker dan anti alzheimer. Fatma menceritakan, ide riset ini awalnya muncul setelah mengikuti sebuah konferensi internasional di Jordania. Di sana, ia merasa tertarik pada pemaparan seorang profesor dari Perancis mengenai spesies invertebrata, spons. “Lagipula, hal ini masih berkaitan dengan komitmen ITS untuk mengembangkan potensi laut,” akunya.

6 ITS Point

I September 2013

Akan tetapi, takdir berkata lain. Pada usia 18 tahun, Fatma dinyatakan diterima di Jurusan Kimia ITS. Saat itu, Fatma mulai menyusun kembali impiannya. “Saya yakin, Allah sudah memilihkan jalan terbaik untuk saya,” ujarnya. Selama berkuliah di ITS, wanita kelahiran Sampang, Madura, ini juga aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan seperti kegiatan karawitan dan penalaran. Fatma merasa perlu untuk mengembangkan diri di luar kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Pada tahun 2002, Fatma berhasil menyelesaikan kuliah S1-nya tepat waktu. Saat itu, tidak banyak mahasiswa Jurusan Kimia yang mampu menyelesaikan kuliah dalam waktu empat tahun. Hanya ada empat orang mahasiswa angkatan 1998 yang berhasil lulus dalam waktu empat tahun, termasuk Fatma dan Adi Setyo Purnomo Ssi MSc PhD, yang kini menjadi suaminya.

Bergengsi: Sri Fatmawati raih penghargaan internasional berkat riset sopns . Sumber: Istimewa

Fatma menjelaskan, ide penelitiannya adalah mengisolasi senyawa alami yang terdapat pada spesies spons. Setelah berhasil mengisolasi dan memurnikan molekul di dalam spons tersebut, ia akan menguji aktivitas biologis mereka. “Eksplorasi ini sangat relevan untuk pengobatan berbagai penyakit, seperti malaria, kanker dan alzheimer,” ujar ibu dua orang anak ini. Dosen laboratorium Bahan Kimia Alam ini memang sangat tertarik pada senyawa. Ia selalu merasa penasaran terhadap kandungan senyawa pada tumbuhan atau makhluk hidup lain. Untuk program S3-nya saja, ia telah meneliti kandungan senyawa pada jamur lingzhi. “Penelitian tersebut berhasil membuktikan bahwa jamur lingzhi bisa dimanfaatkan sebagai obat diabetes,” kata perempuan yang mendapat gelar PhD dari Kyushu University, Jepang tersebut.

Setelah menikah, kecintaan mereka terhadap sains membawa mereka ke negeri Sakura, Jepang. Kebetulan, pasangan ini sama-sama mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi disana. Di sinilah ketekunan Fatma mulai teruji, pada saat menyelesaikan studi S2, Fatma harus juga berjuang untuk membesarkan anak pertama mereka, Fahira Yumiko Azzahra, yang baru lahir. Ia mengakui, menjadi seorang peneliti, istri, dan ibu dalam waktu bersamaan tidak mudah. Apalagi kondisi pascamelahirkan membuat wanita penggemar warna ungu ini tidak selalu fit setiap saat. Namun Fatma tidak lantas menyerah, ia bersama suami secara bergantian mengurusi kebutuhan anak pertama mereka. Usai menamatkan S2, Fatma kemudian melanjutkan program S3-nya di Kyushu University. Pada saat menempuh program S3 itulah, putri kedua mereka, Filza Michiko Farzama lahir. Lagi-lagi, ketekunan Fatma harus diuji. Sebagai peneliti yang telah memiliki jam terbang cukup tinggi, tanggung jawab Fatma sebagai seorang ibu rumah tangga

juga semakin meningkat. Ia pun tak jarang merasa kelelahan dengan aktivitas yang dilakukannya. Tapi ia tidak mau kalah dari rasa lelah tersebut. Ia selalu memaksa diri sendiri untuk selalu bersyukur terhadap semua kelebihan yang dimilikinya. Salah satu yang menyengat semangatnya adalah saat dia mengajak keluarganya untuk berkunjung di sebuah rumah sakit. Di sana ia melihat banyak orang memiliki keterbatasan yang lebih banyak darinya. “Saya tidak lagi punya alasan untuk tidak bersemangat,” imbuhnya. Bagi Fatma, hidup adalah pilihan. Setiap pilihan yang dibuat selalu memiliki konsekuensi yang harus diterima. Begitu juga pilihan untuk menjadi seorang peneliti dan ibu rumah tangga. “Saya sadar, menjadi seorang ibu sekaligus peneliti tidak mudah. Tapi selama diniatkan untuk kebaikan, Insya Allah akan baik. Rasa capek atau lelah, itu hanya konsekuesi,” ujarnya. Jadi idola Fatma menjadi idola bagi para mahasiswanya. Sosoknya yang dinamis dan baik hati menjadi daya tarik bagi para mahasiswa. Tidak jarang, Fatma menjadi tempat bercerita bagi para mahasiswanya. “Kalau sama Bu Fatma itu, kita bisa cerita banyak. Mulai dari masalah akademik sampai masalah pribadi dan percintaan,” kata Mutia Devi, salah satu mahasiswi bimbingan Fatma. Fatma juga dikenal sebagai dosen yang sangat memperhatikan penampilan. Banyak mahasiswi yang merasa kagum dengan pilihan mode yang Dikenakan Fatma dalam segala kesempatan. Bagi mereka, Fatma adalah pribadi yang sangat seimbang. “Beliau adalah peneliti yang sangat luar biasa. Tapi sama sekali tidak terlihat seperti peneliti, ibu Fatma itu cantik sekali. Saya beruntung kenal beliau,” ujar Mutia seperti tidak mampu menutupi kekegumannya. Mutia juga menceritakan, di luar pekerjaannya sebagai peneliti dan dosen, Fatma juga tetap menginspirasi. Di tengah kesibukannya, Fatma masih menyempatkan diri untuk menekuni beberapa hobinya, salah satunya memasak. Di internet, Fatma memang mengelola sebuah blog pribadi yang banyak berisi tentang resep makanan hasil kreasinya. (ram/nir)

Prestasi luar biasa ini tidak datang dengan sendirinya. Untuk mendapatkan penghargaan ini, Fatma harus berjuang memantaskan diri selama tujuh tahun sejak 2006. Ia menceritakan, pada tahun 2006, Fatma menemukan leaflet mengenai penghargaan Fellowship Internasional L’Oreal-UNESCO For Women in Scince (FWIS) ini di kampus. Sejak saat itu, ia bertekad untuk menjadi salah satu penerima penghargaan ini. “Saya melakukan persiapan bertahap,” akunya. ITS Point I September 2013

7


Genap 30 tahun di ITS

PROFIL KARYAWAN

Jujur dan Ikhlas Jadi Kunci Keberhasilan Sebagai salah satu laboran di Jurusan Teknik Elektro ITS, ia dikenal sebagai sosok yang ramah, ulet, serta selalu bekerja keras dalam melaksanakan tugasnya. Pekerjaan ini begitu ia cintai. Tak heran jika dia terpilih menjadi laboran berprestasi ITS tahun 2013 ini.

Laboran Berprestasi: 30 tahun mengabdi, Taufik harumkan nama ITS di kancah internasional . Sumber: Teguh Julianto / ITS Online

I

r Muchamad Taufik namanya. Pria yang akrab dipanggil Taufik ini memang dari awal sudah bercita-cita sebagai seorang laboran. Menurutnya, menjadi laboran merupakan hal yang sangat menyenangkan. “Laboratorium itu menarik, alat-alatnya mahal dan canggih. Tidak semua orang bisa berada di sini,” ujarnya. Sebagai seorang Laboran, ia mempunyai tugas untuk melayani mahasiswa maupun dosen yang sedang berkepentingan di dalam lab. Baik untuk kepentingan penelitian maupun pengabdian masyarakat. Menyiapkan dan mengawailalat-alat lab menjadi tugas kesehariannya di Laboratorium Komunikasi dan Multimedia Jurusan Teknik Elektro. Ditengah kesibukannya itu, Taufik tak lantas menutup diri. Selama 30 tahun mengabdi di ITS, ia selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan yang telah dimiliki. “Jika ada kesulitan saya belajar kepada yang lebih kompeten,” jelas pria berusia 51 tahun ini. Tak sedikit karya inovatif yang telah ia ciptakan demi menunjang segala kegiatan yang ada di laboratorium. Dari lima karya telah dibuat, dua di antaranya sudah terselesaikan, sedangkan sisanya masih dalam proses pengerjaan. Bahkan, satu karyanya juga menjadi salah satu faktor yang mengantarkannya sebagai laboran berprestasi ITS tahun ini.

8

ITS Point I September 2013

Awalnya, Taufik tak pernah menduga jika ia terpilih sebagai laboran berprestasi. Tahun ini merupakan kali pertamanya untuk ikut seleksi laboran berprestasi tersebut. Pasalnya, sebelumnya ia tidak pernah tahu bahwa ITS juga memberikan penghargaan kepada seorang laboran. Dikatakan Taufik, seorang laboran harus memiliki karya inovatif jika ingin mengikuti seleksi tersebut. Selain itu, keseharian laboran dalam bekerja juga menjadi poin tersendiri dalam penilaian. “Jadi ini semacam perlombaan,” jelasnya. Lewat karyanya yang berjudul Rancang bangun L-C Meter Digital Menggunakan Mikrometer PIC16F628a, ia terpilih. Sebuah alat yang mampu mengukur besar induktor dan kapasitor dengan sangat mudah. Bahkan, ketepatannya hampir mendekati 100 persen. “Selain murah, untuk mengoperasikannya, juga tidak diperlukan keahlian khusus,” tutur pria asli Surabaya ini. Sebagai laboran berprestasi ITS, Taufik berhak untuk mengikuti seleksi laboran berprestasi tingkat nasional. Masih dengan karya yang sama, Taufik masih berpeluang untuk mengharumkan nama ITS di kancah nasional. “Saat ini sudah dalam proses seleksi. 15 yang terbaik akan masuk babak final,” jelasnya.

Sejak SMA, Taufik memang dikenal sebagai sosok yang rajin dan berkompeten dalam dunia kelistrikan. Wajar saja, dia adalah salah satu lulusan Jurusan Listrik Sekolah Teknik Menengah (STM) Negeri 1 Surabaya. “Saya dari dulu suka listrik, senang dengan hal-hal yang berhubungan dengan hardware,” tuturnya. Ia pun tak jarang ditunjuk gurunya untuk menjadi asisten di laboratorium sekolahnya. Sejak lulus dari STM tahun 1982, ia selalu mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Sebelum di ITS, ia beberapa kali bekerja di beberapa perusahaan yang bergerak listrik serta teknologi informasi. Di tahun 1983, akhirnya taufik melabuhkan dirinya di ITS. Saat itu ia tidak sengaja melihat pengumuman di mading tentang penerimaan pegawai baru di ITS. “Waktu itu saya juga ingin daftar sebagai mahasisiwa salah satu program D3 di ITS, tapi akhirnya lebih memilih daftar jadi pegawai,” terangnya sambil bercanda. Usai diterima, Taufik langsung menunjukkan dedikasinya. Ia selalu tekun dan ikhlas dalam menjalankan tugasnya. Hebatnya, meski kali pertama menjadi laboran di universitas, ia tidak pernah canggung dengan alat-alat laboratorium. Pasalnya, ia sudah sering bergelut dengan berbagai alat lab di tempat ia bekerja sebelumnya. “Saat itu belum ada alat yang asing bagi saya,”ungkap Taufik. Berbeda dengan yang ada saat ini. Di tahun 1983, Laboratorium Komunikasi dan Multimedia belum memiliki alatalat yang begitu canggih. Disamping bekerja, Taufik juga menuntut ilmu. “Pagi dan siang kerja, sedangkan sore dan malamnya saya kuliah,” jelas pria yang sudah memiliki enam orang anak ini. Bermodal bekerja di ITS, ia pun mampu menamatkan studinya di Universitas Bhayangkara Surabaya. Di tahun 1990, ia berhasil meraih gelar insinyur di Jurusan Teknik Elektro. “Saya tujuh tahun baru lulus kuliah,” ungkapnya sambil tertawa. Ia mampu menyelesaikan kuliahnya meski saat itu gaji yang ia dapat dari ITS relatif kecil. Bahkan, gajinya dulu tak cukup untuk membiayai kuliahnya. Sehingga biaya kuliahnya masih harus ditutupi oleh orang tuanya. “Gaji saya dulu 24 ribu saja, sedangkan untuk bayar kuliah itu 50 ribu,” ungkapnya. Taufik mengaku, gaji yang ia dapat di ITS jauh berbeda jika dibanding dengan gaji saat ia menggarap sebuah proyek di tempat sebelumnya ia bekerja. Menurutnya, gaji satu pekan di proyek sudah sebanding dengan gaji satu bulan di ITS.

Meski dibilang kecil, namun ia tidak pernah menyesal atas pilihannya. Karena di ITS lah ia bisa belajar. “Kalau di proyek capek. Lalu proyeknya juga tidak di satu tempat, pindah-pindah. Jadi untuk kuliah juga sulit,” sahutnya. Menurutnya, mengelola waktu dalam pekerjaan merupakan hal yang sangat penting. Ia selalu membuat jadwal kerjanya setiap hari, sehingga waktu yang ia miliki bisa lebih terorganisir. Seperti membuat rencana ke depan dan lebih memproritaskan pekerjaan yang paling penting. Tak hanya itu, ia juga menyisipkan waktunya untuk mengevaluasi kinerjanya. Bagi Taufik, ITS seakan sudah menjadi rumah keduanya. Mengabdi selama 30 tahun bukanlah waktu yang sebentar. “ITS saat ini sudah menjadi kampus yang besar dan diperhitungkan. Alat-alatnya sudah canggih, beasiswa juga sudah banyak. Ini merupakan wujud ITS telah berkembang pesat,” terang Taufik. Tak hanya itu, menurutnya, mahasiswa sekarang juga sudah menjadi mahasiswa yang lebih baik. Di laboratorium, mahasiswa sekarang lebih mudah diarahkan daripada mahasiswa dahulu. Mereka sudah mengerti tentang bagaimana seharusnya yang mereka lakukan saat berada di laboratorium. Lebih lanjut, ia berharap agar laboran selalu diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. “Selama ini mungkin dosen-dosen yang sering diberi kesempatan. Padahal laboran memiliki kompetensi yang sama dalam hal teknologi,” tutupnya. Ia selalu yakin bahwa keberhasilan akan terjadi jika ada kesempatan dan rida dari Tuhan.

Taufik Di Mata Mereka

Taufik dikenal sebagai sosok yang baik dan ramah dengan orang lain. Ia mudah sekali bergaul, ia pun selalu bersedia jika dimintai bantuan rekan-rekannya maupun dosendosen. “Pak Taufik kalau dimintai tolong sangat enak,” tutur Sapari, salah satu rekan kerja Taufik di Teknik Elektro. Sapari tahu betul bagaimana Taufik. Pantas saja, ia merupakan rekan kerja Taufik selama 30 tahun di ITS. Sapari mengatakan, Taufik juga merupakan seseorang yang giat dan mau bekerja keras. Dia tahu betul bagaimana Taufik dari awal sebagai karyawan di ITS hingga sampai saat ini. “Meski saya lebih lama di sini, saya sangat sering belajar dengan dia,” katanya. Dikatakan Sapari, Taufik juga sangat gemar dengan dunia fotografi. Setiap ada acara di jurusan, Taufik selalu berada di garis terdepan dalam mengambil momen-momen penting. “ Hasil fotonya juga bagus-bagus,” terang Sapari. (guh/nir)

ITS Point I September 2013

9


PROFIL MAHASISWA

Berakal Budaya, Berjiwa Sosial Yolanda Putri Yuda Perawakannya tidak terlalu tinggi. Cara bicaranya cepat dan mudah akrab dengan lingkungannya. Dialah Yolanda Putri Yuda, Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) I ITS tahun 2013. Gadis ini sekaligus dianugerahi gelar sebagai ITS Heroes 2013.

Penghargaan Internasional: Yolanda menerima Nippon Kaiji Kyokai Award 2012 untuk kiprah sosialnya. Sumber: Istimewa

A

nugerah ini cukup spesial bagi Yolanda. Bagaimana tidak, gadis ini berasal dari Jurusan Teknik Sistem Perkapalan (Siskal), yang mayoritas mahasiswanya adalah laki-laki yang cuek dengan ajang semacam ini. “Salah satu tujuan saya juga ingin memperkenalkan jurusan saya di ITS. Serta menyemangati mahasiswa Siskal agar atmosfer Mawapres ini lebih terasa di sana,” terang Yolanda bersemangat. Terlepas dari itu, Yolanda mengaku tidak menyangka akan menyabet gelar ini. Menurut mahasiswa angkatan 2010 ini, justru kontestan lain sangat berpeluang untuk mendapatkannya. “Di babak final saya sedikit tidak percaya diri. Saya sendiri kurang bisa menuliskan ide saya, padahal soal menulis ini cukup krusial,” ungkapnya lagi. Namun gadis manis ini punya keunggulan lain selain menulis. Yolanda aktif menangani proyek sosial masyarakat dan budaya tradisional. Tidak tanggungtanggung, ia merupakan pioner dalam mengampanyekan budaya tradisional Indonesia ke dunia. “Saya bergabung dengan Association Internationale desEtudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC),” kata mahasiswi asal Lumajang ini sembari tersenyum. Organisasi tempatnya bernaung tersebut merupakan organisasi yang memiliki program pertukaran pelajar antar negara. “Dengan ini saya mengenalkan budaya luar negeri sekaligus promosi budaya Indonesia,” jelasnya. Setiap tahun, AIESEC menyelenggarakan program Global Village yang aktif ia ikuti. Melalui program tersebut Yolanda bergabung dengan 35 negera berkembang di dunia untuk berbagi tentang budaya dan mempelajarinya. Bagi Yolanda pengalaman tersebut adalah pengalaman yang sangat berharga. Niat tulus untuk melestarikan budaya Indonesia ternyata

10 ITS Point

I September 2013

giat belajar dan bekarya juga,” ungkap mahasiswi yang pernah menjadi volunteer ITS Mengajar ini. benar-benar dimiliki olah Yolanda. Ia bercita-cita, kelak akan membentuk komunitas pencinta budaya tradisional di Indonesia. Untuk mewujudkan mimpinya tersebut, kini ia telah membentuk tim di ITS untuk proyek dokumentasi budaya tradisional Indonesia. Namun Yolanda berharap nanti tim ini tidak hanya dari ITS, tapi juga merangkul teman-temannya di seluruh Indonesia untuk bergabung dalam proyek ini. “Saya sudah menghubungi teman-teman di Padang, Jakarta dan beberapa kota lainnya. Mereka setuju untuk bergabung,” ungkapnya. Mahasiswi yang pernah menjadi juara tiga lomba debat bahasa Inggris tingkat provinsi ini berencana akan mendokumentasikan budaya Indonesia dalam bentuk video. Jadi, nanti setiap budaya Indonesia bisa dipelajari melalui video tersebut. “Gampangnya, jika nanti mau belajar tari Saman, kita tinggal buka tari Saman dari Aceh itu,” jelasnya. Mahasiswi yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Departemen Riset dan Teknologi (Ristek) di Himpunan Mahasiswa Teknik Sistem Perkapan (Himasiskal) ini memang memiliki banyak pengalaman di dunia internasional. Melalui keanggotaannya di AIESEC, ia juga banyak memiliki proyek sosial kemasyarakatan.

Selain itu ia juga mengembangkan Project for International Cultures of AIESEC Surabaya. Proyek ini mengusung pelestarian budaya tradisional yang ada. “Sampai sekarang saya masih suka nyinden lagu keroncong, dan itu bentuk aksi saya untuk melestarikan budaya Indonesia,” jelas Yolanda yang juga Kordinator Karawitan di Unit Kegiatan Tari dan Karawitan (UKTK) Rara Kananta ITS.

Perhatikan Perempuan dan Mawapres Nasional

Tak hanya aktif di bidang sosial masyarakat dan pelestarian budaya, Yolanda juga aktif dalam kegiatan pemberdayaan perempuan di Surabaya. Melalui Project for Women Empowerment of AIESEC Surabaya, Yolanda dan tim fokus menggelar pelatihan untuk meningkatkan produktivitas perempuan. “Kita berharap nantinya perempuan dapat mandiri menjalai hidup,” tegasnya.

Yolanda merupakan salah satu delegasi ITS dalam program Summer Course ke National Chung Hsing University di Taiwan. Selain itu ia juga mengikuti Scholarship for ASEAN Student Forum di Bangkok Thailand. Yolanda juga pernah mendapat perhargaan dari negeri Sakura, Jepang. Ia mendapat penghargaan Nippon Kaiji Kyokai Award di tahun 2012 untuk kiprahnya di bidang sosial. Kepiawaiannya dalam menyanyi keroncong pun pernah menobatkan ia sebagai juara satu tingkat ITS, serta juara tiga di tingkat Jawa Timur. Untuk pertarungan merebut predikat Mawapres nasional, ia mengaku tidak memiliki persiapan yang spesial. Menurutnya, tetap melakukan yang terbaik dan menjadi diri sendiri telah menjadi modal baginya untuk mengikuti ajang ini. Bagi Yolanda, berkomitmen untuk selalu menginspirasi sesama adalah jalan hidupnya. “Sampai kapanpun saya akan tetap menginspirasi sesama, dan pastinya harus tetap bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya tersenyum simpul. (ais/fz)

Kiprah Yolanda tak hanya melalui AIESEC, Yolanda juga banyak meraih penghargaan bergengsi. Di antaranya,

Salah satunya adalah Projects of Children Care Environment. Dalam proyek tersebut, ia mengajar anak-anak yang kurang mampu. “Di sini kita mencoba menginspirasi dan memotivasi anak-anak ini untuk selalu ITS Point I September 2013

11


PROFIL ALUMNI

HIPA, Satukan Pengusaha ITS

Business Gathering Setiap Bulan

S

aat ini, HIPA telah membentuk ruang gerak di beberapa regional. Di antaranya Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Jakarta, dan sebagainya. Melalui regional-regional tersebut, terdapat berbagai sektor usaha yang dihimpun oleh HIPA. Seperti Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Information Technology (ICT), properti, industri kreatif, transportasi, infrastruktur dan juga agrobisnis. Setiap bulan akan digelar sebuah Business Gathering untuk menjaring ide dan penawaran bisnis dari para alumni. Industri kreatif misalnya, lima orang yang memiliki ide bisnis yang dapat dilakukan bersama-sama oleh alumni ITS akan melakukan presentasi. “Lalu pengusaha yang tertarik untuk merealisasikan usaha itu akan bergerak bersama membuat sebuah usaha baru dari ide tersebut,” ungkapnya.

Nasional (Munas) untuk kali pertama. Lantaran HIPA memang masih dalam proses eksplorasi internal terkait penetapan bisnis proses HIPA, dibutuhkan konsolidasi yang cukup krusial. Terlebih anggota HIPA saat ini baru berjumlah 100 orang saja. “Harapannya bisa menjadi 200 orang pada saat Munas nanti,” ujar alumni Jurusan Teknik Elektro ini. Cara untuk mendaftar menjadi anggota HIPA cukup mudah, yakni bisa secara langsung memasuki menu registrasi di official website HIPA: www.hipa-its.org. Untuk mahasiswa yang ingin mendapatkan pendanaan untuk memulai bisnis bisa mengirimkan proposal bisnisnya ke LPPM ITS. Selanjutnya, penyeleksian akan dilakukan oleh ITS. “Dan LPPM memberikan rekomendasi terkait usaha yang berpeluang untuk didanai,” ujarnya. (fin/fz)

Setiap bulan, pembahasan yang dipaparkan berbeda-beda sesuai dengan bidang yang sedang berpeluang besar. Pada tanggal 15 Juni 2013 HIPA menggelar Musyawarah

Alumni Pengusaha: ITS sepakati kerja sama dengan HIPA untuk mencari bibit pengusaha di ITS . Sumber: Istimewa

P

royeksi ekonomi negara pada tahun 2045, atau 100 tahun kemerdekaan, Indonesia digadang menjadi negara nomer tujuh di dunia dengan pendapatan per kapita sebesar 45 USD. Untuk menuju ke sana, Indonesia masih punya banyak sekali pekerjaan rumah. Salah satunya yakni jumlah pengusaha yang terlampau sedikit. Begitulah menurut Ir Kristiono, Ketua himpunan Pengusaha ITS (HIPA). Kebanyakan penduduk Indonesia menjadi pekerja, bukan pengusaha. Bahkan pola pikir mahasiswa saat ini adalah ketika lulus akan bekerja dimana, bukan akan membuat usaha apa. Karenanya, semangat kewirausahaan itu penting. Kristiono mencatut pendapat pengusaha kawakan, Ciputra, bahwa negara yang maju minimal memiliki jumlah pengusaha sebanyak dua persen. “Sementara kita sekarang jauh dibawah satu persen,” tandas pria yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Telkom Indonesia ini. Karenanya, dibutuhkan sebuah wadah yang menghimpun pengusaha di ITS untuk turut bersinergi mewujudkan mimpi Indonesia 2045. Total alumni ITS saat ini berjumlah lebih dari 70.000. Kemudian jika ditambah dengan mahasiswa saat ini bisa mencapai angka 100.000. Alumni dan mahasiswa ITS merupakan komunitas terdidik yang seharusnya bisa lebih berperan di kancah nasional. Kristiono mengungkapkan bahwa setidaknya minimal dua persen atau 2000 alumni dan mahasiswa ITS bisa menjadi pengusaha. Lebih tinggi lagi, seharusnya ITS dapat mencapainya bukan pada angka minimal. Melainkan sepuluh persen dari jumlah kaum intelektual 12

ITS Point I September 2013

ITS menjadi pengusaha. Itulah yang menjadi landasan mengapa ITS membentuk sebuah Himpunan Pengusaha ITS (HIPA) pada April 2013 lalu. HIPA merupakan sebuah organisasi yang bukan hanya bersegmen kalangan alumni, tapi juga untuk sivitas akademika ITS. Meski baru saja berdiri, HIPA pun segera bergerilya mencari bibit-bibit pengusaha secara langsung di ITS. Salah satunya yaitu dengan bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) bidang inkubator bisnis dan bisnis ventura. Rencananya, HIPA membuat sebuah yayasan untuk mewadahi permodalan usaha mahasiswa. Tak hanya itu, yayasan ini akan menyediakan fasilitas start up mentoring bagi pengusaha pemula. Sedangkan, bagi pengusaha ITS yang telah sukses dapat memberikan modal ventura untuk bisnis mahasiswa. “Untuk alumni sendiri, himpunan ini bisa menciptakan sebuah peluang bisnis sehingga bisa mengerjakan bisnis bersamasama,” ujarnya menjelaskan. Tujuan besarnya terletak pada menghimpun populasi alumni pengusaha ITS, inkubasi bisnis dan menciptakan sebuah aktivitas baru bersama-sama. “Sehingga nantinya di dalam himpunan ini ada pengusaha dari berbagai skala,” ungkapnya lagi. Secara struktural, tidak ada hubungan antara IKA ITS dengan HIPA. Meski IKA ITS memiliki divisi kewirausahaan dan profesional, tidak terjadi perbenturan di antara keduanya. “Aktivitas IKA ITS lebih mengarah pada pelatihan dan workshop untuk memulai bisnis saja,” ungkapnya. ITS Point I September 2013

13


Sulitnya Menguji Sampel Senyawa

RISET

Kembangkan Senyawa Anti Kanker Tanpa Efek Samping

Kanker dan Tuberkulosis (TBC) merupakan kelompok penyakit mematikan di dunia. Hingga saat ini, belum ada obat yang benar-benar ampuh mengatasi penyakit yang menyerang organ dalam tersebut. Prihatin dengan hal itu, Prof Dr Mardi Santoso coba mencarikan solusi melalui risetnya. Selama empat tahun, ia melakukan penelitian tentang senyawa-senyawa yang memiliki sifat anti kanker dan antibakteri TBC.

K

“Dari tahun ke tahun, jumlah penderita kedua penyakit tersebut terus bertambah,” ujar Mardi. Sehingga, pada tahun 2009 dosen Jurusan Kimia ITS ini mulai mencaricari referensi tentang senyawa yang memiliki sifat anti sel kanker dan anti bakteri TBC. “Awalnya, saya sudah menemukan beberapa senyawa, namun IC50-nya masih perlu diturunkan” lanjutnya. 14

ITS Point I September 2013

Selain itu, pengujian bioaktivitas senyawa membutuhkan waktu lama. Hal tersebut dikarenakan riset ini dilakukan guna menghasilkan senyawa anti kanker dan anti TBC. Artinya, hal tersebut berhubungan dengan bidang keilmuan medis dan harus diuji melalui prosedur medis pula. Sedangkan di ITS, tidak ada laboratorium yang seperti itu. Dosen Jurusan Kimia ITS ini pun menjalin kerjasama dengan instansi luar ITS guna menguji senyawa yang sudah didapatkan. Mardi mengungkapkan, dari situ lah kendalanya mulai muncul. Karena pengujiannya dilakukan di luar ITS, ia tidak bisa mengawasi proses pengujian secara intens. “Pengujian semakin sulit ketika instansi tempat dilakukan pengujian mengalami kontaminasi,” terang Mardi.

Prof Dr Mardi Santoso

anker dapat terjadi karena adanya sel tubuh yang rusak dan makar. Sel tubuh tersebut kemudian melakukan pembelahan yang melebihi batas normal dan menyerang jaringan biologis di dekatnya. Sementara TBC, merupakan penyakit yang timbul akibat infeksi dari bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru meskipun dalam beberapa kasus ada yang menyerang organ tubuh lainnya.

Empat tahun meneliti senyawa anti kanker dan anti TBC adalah waktu yang sangat pendek. Apalagi, riset yang dilakukan guna menemukan obat baru yang belum pernah ada sebelumnya. Sehingga, merupakan hal yang wajar jika hasil riset yang didapatkan saat ini pun belum sempurna.

Perangi Kanker: Senyawa yang ia teliti berpotensi menjadi obat anti kanker tanpa efek samping. Sumber: Ali Mustofa/ ITS Online

Alhasil hingga saat ini tak kurang dari 25 senyawa anti kanker dan anti TBC telah didapatkan oleh Mardi. Mantan Ketua Jurusan Kimia ITS ini menyebutkan, beberapa senyawa anti kanker juga telah diuji aktivitasnya terhadap sel normal. “Yang paling dikhawatirkan dari obat senyawa kimia adalah efek sampingnya. Untuk senyawa yang kami teliti, Alhamdulillah, hasilnya tidak toksik terhadap sel normal,” jelasnya. Dosen yang pernah menjadi pembantu Dekan FMIPA Bidang Akademik ini pun berencana, akan terus mengembangkan risetnya mengenai senyawa anti kanker dan anti TBC. Ia juga berharap dapat menemukan partner kerja yang sesuai agar risetnya semakin sempurna

Gambar aktivitas anti kanker

Profil bahan pewangi

Riset Senyawa-senyawa Pewangi

Selain mengembangkan riset tentang senyawa-senyawa bioaktif, Mardi juga meneliti wangi-wangian. Lebih dari 20 jenis minyak atsiri telah dikaji, terutama dari tanaman famili Mystaceae yang terdapat di Jawa Timur. Hal tersebut dilakukan karena Indonesia merupakan negara dengan bahan baku minyak atsiri terbesar di dunia, namun masih belum banyak yang dikaji. “Selain itu, kita biasanya hanya mengekspor minyak atsiri dan mengimpor produk olahan minyak atsiri yang harganya dapat tiga kali lipat lebih mahal,” ujarnya. Mardi melanjutkan, sebagian penelitiannya juga mengenai pengolahan minyak daun cengkeh dan minyak lawang . Selain berhasil mendapatkan senyawa-senyawa pewangi

komersial yang digunakan dalam parfum kelas dunia, ia juga menemukan senyawa-senyawa baru dengan aroma yang unik. “Kami masih bingung untuk mendeskripsikan senyawa tersebut aroma apa. Karena mendeskripsikan aroma tak semudah mendeskripsikan warna,” lanjutnya. Di sela-sela aktivitasnya sebagai Koordinator Program Pascasarjana Kimia dan Tim PAK ITS, Mardi aktif membuat proposal penelitian. Tahun ini Mardi mendapatkan Riset Penelitian Unggulan ITS, dan JICA Predict ITS yang memberinya kesempatan ke Jepang. Ia berharap dengan kesempatan ini ia dapat lebih meningkatkan kualitas penelitiannya tentang senyawa-senyawa pewangi, anti kanker, dan anti TBC. “Target saya berikutnya adalah mencari partner di sana yang bisa membantu menyempurnakan riset saya,” pungkasnya. (ali/izz) ITS Point I September 2013

15


Dini Ermavitalini, SSi MSi (kiri)

RISET

Manfaatkan Tanaman Pesisir untuk Berantas Jamur Cabai

Produk fungisida sintetik yang sering digunakan petani dalam memberantas penyakit busuk pangkal batang pada tanaman cabai rawit sering tidak ramah lingkungan. Selain merupakan hasil rekayasa kimia, produk ini bisa mengancam kesuburan tanah bila dipakai terus-menerus. Melihat kenyataan itu, Dini Ermavitalini, SSi MSi beserta tiga mahasiswanya berupaya menghasilkan produk fungisida dari sumber nabati. Penelitian dengan tema Uji Toksisitas dan Skrining Kimia Daun-daun sebagai Fungisida Nabati Pengendali Jamur pada Tanaman Cabai . Penelitian ini termasuk dari beberapa penelitian yang direncanakan oleh laboratorium botani Biologi ITS. Tujuan yang ingin diraih pun mengacu pada peta jalan laboratorium Botani, yaitu pemberdayaan tanaman pesisir pantai. Khusus untuk penelitian ini, Dini dan timnya bertujuan untuk mengeksplorasi tanaman pesisir pantai yang berpotensi sebagai biofungisida.

Untuk menanggulanginya, tanaman pesisir pantai yang digunakan oleh Dini adalah tanaman Bintaro (Cerbera manghas), Ketapang (Terminalia catappa) dan Tancang (Bruguiera gymnorrhiza). Untuk menguji toksitasnya, tanaman ini akan diekstrak. Kemudian, hasil ekstraksi tersebut akan digunakan untuk memberantas jamur Phytophthora capsici.

Cabai dipilih sebagai objek penelitian karena merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Tanaman ini juga berpotensi untuk diekspor karena tingginya permintaan pasar akan buah cabai dan produk turunannya.Sayangnya meskipun tanaman ini memiliki segmentasi pasar yang luas, terdapat banyak kendala yang ditemui dalam budidayanya.

Dalam metode penelitiannya, dosen Biologi ITS ini menggunakan pelarut metanol dan N-heksana untuk mengekstrak ketiga bahan daun uji dari tiga tanaman tersebut. Masing-masing pelarut punya fungsi yang berbeda, dimana metanol berfungsi untuk menarik senyawa-senyawa polar. Sedangkan N-heksana, untuk menarik zat-zat aktif yang bersifat nonpolar. “Dari ekstraksi tersebut akan didapatkan fraksi non polar dan polar, yang berguna pada fungisida nabati nanti,” imbuhnya.

Salah satu kendala yang sering terjadi adalah serangan penyakit penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur patogen Phytophthora capsici. “Penyakit ini mengakibatkan batang cabai rebah dan akhirnya mati,” ungkap lulusan sarjana Biologi Universitas Gadjah Mada ini. 16 ITS Point

I September 2013

Setelah mengekstraksi, tindakan selanjutnya adalah mengukur sejauh mana hasil ekstraksi bisa menghambat pertumbuhan P. capsici. Untuk mengetahuinya, Dini menggunakan dua pendekatan penelitian untuk mengukurnya, yaitu in vitro dan in vivo.

Sedangkan kontrol positif merupakan tanaman sampel yang sudah terinfeksi, dan disembuhkan kembali dengan penghambat jamur patogen sintetik. Kontrol positif ini dibuat sebagai pembanding kemampuan penyembuh antara fungisida nabati dengan fungisida sintetik. In vitro merupakan pendekatan dalam rangka mengetahui kemampuan hasil ekstraksi mengendalikan jamur patogen di dalam tanaman sampel, dalam pendekatan ini tanaman sampel berada dalam kondisi yang telah mati dan kemudian diinfeksikan dengan P. Capsici dalam media tabung reaksi. Parameternya adalah pertumbuhan miselium jamur P. Capsici pada tanaman sampel tersebut. “Uji ini dilakukan untuk mendapatkan data awal,” tuturnya. Dari hasil pengujian, diketahui hasil ekstraksi yang berasal dari pelarut metanol, dapat menangkal pertumbuhan miselium P. Capsici dalam kadar tiga puluh persen. Sedangkan hasil ekstraksi pelarut N-heksana berhasil menangkal pertumbuhan jamur tersebut dalam kadar sepuluh persen saja. Pendekatan in vivo digunakan untuk mengetahui kemampuan hasil ekstraksi dalam kondisi tanaman sampel yang masih hidup dan berada pada alam terbuka. Sama dengan in vitro, tanaman sampel juga sengaja disemprot dengan cairan yang mengandung P. Capsici. Pada pendekatan ini, Dini menggunakan media green house, sebuah tempat bangun kontruksi dengan atap tembus cahaya yang berfungsi memanipulasi kondisi lingkungan agar tanaman di dalamnya dapat berkembang optimal,sebagai tempat uji coba. Berbeda dengan pendekatan in vitro, pendekatan in vivo menggunakan parameter kontrol sehat, kontrol positif, dan kontrol negatif. “Parameter ini memang wajib digunakan karena merupakan suatu standar metode ilmiah dalam penelitian biologi,”jelasnya. Tindakan ini dilakukan untuk mengukur seberapa efektif hasil ekstrak bisa menyembuhkan tanaman yang terinfeksi jamur patogen. Kontrol sehat merupakan tanaman sampel yang sehat dan bebas dari infeksi P.Capsici. Sedangkan kontrol negatif merupakan tanaman yang sengaja disemprot dengan jamur patogen dan tidak diberi ekstrak metanol dan N-heksana.

Berdasarkan hasil pengamatan, terlihat pertumbuhan tanaman sampel yang diberi perlakuan sama dengan tanaman kontrol positif. ”Berdasarkan fakta ini, terlihat sekali bahwa kemampuan hasil ekstraksi memiliki kemampuan penyembuh tanaman yang hampir sama dengan produk fungisida sintetik,” simpul lulusan program master Bioteknologi Institut Teknologi Bandung ini. Bermodalkan fakta inilah, hasil ekstraksi sangat berpotensial menyamai kemampuan produk fungisida sintetik. Penelitian ini belumlah usai. Ibu satu anak ini menerangkan penelitian akan dilanjutkan pada identifikasi senyawa yang berperan besar dalam penangkalan jamur patogen tersebut. “Dengan mengetahui senyawa tunggal yang efektif, maka bisa dibuat formulasi sehingga produksi industri skala besar bisa dilakukan,” imbuh dosen kelahiran Surabaya ini. Beberapa kendala dialami oleh tim selama riset berlangsung. Salah satunya adalah sulitnya perkiraan waktu uji sampel pada pendekatan in vivo. Kadangkala hasil ekstraksi belum siap pada waktunya padahal tanaman sampel sudah sukses diinfeksi oleh jamur patogen. Percobaan pendekatan in vivo pun terpaksa sering diundur karena menunggu kesiapan hasil ekstraksi. Kesulitan lain yang dihadapi tim ini adalah sifat jamur patogen hanya bisa bekerja optimal pada kelembapan tinggi. Sehingga, tanaman cabai susah untuk terinfeksi jamur di kondisi udara Surabaya yang kering. Tim riset Dini pun perlu melakukan penyiraman secara kontinu terhadap tanaman sampelnya. Dini dan timnya berharap hasil penelitian ini bisa ditawarkan kepada masyarakat, khususnya petani cabai dalam mengaplikasikan fungisida nabati yang ramah lingkungan. Mereka pun bertekad melakukan penelitian lebih lanjut agar dapat menghasilkan fungisida nabati yang dapat selaras dengan pihak industri untuk mendukung kegiatan bisnis laboratorium botani jurusan Biologi. (nul/ izz) ITS Point I September 2013

17


RISET

Lapisi Kaca, ZnO Kurangi Pencemaran Udara

Gambar Struktur Molekul Zinc Oxide

Pada pelaksanaannya, Sri pun mengatakan sensor gas harus dioptimasi suhu kerjanya dengan menentukan suhu ketika resistansi lapisan tipis tidak berubah terhadap perubahan suhu. “Sensitivitas lapisan tipis terhadap gas CO dapat ditentukan dengan mengukur besarnya perubahan resistansi bahan ketika terjadi perubahan konsentrasi gas CO,” jelasnya.

Pengurangan pencemaran udara yang diakibatkan oleh berbagai jenis gas agaknya menjadi perhatian tersendiri bagi para peneliti di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Melalui salah satu dosen pembimbing, Sri Yani Purwaningsih MSi, ia memanfaatkan kandungan gas Zinc Oxide (ZnO) untuk melapisi lapisan substrat kaca sekaligus mengurangi dampak dari pencemaran udara.

P

enelitian tersebut berjudul Deposisi Lapisan Tipis ZnO pada Substrat Kaca dengan Teknik DC-Sputtering sebagai Bahan Sensor Gas Karbon Monoksida (CO). Sri mengatakan penelitian ini berawal dari sebuah fakta yang dikeluarkan World Bank pada tahun 1994 yang menyatakan pencemaran udara merupakan pembunuh kedua bagi anak balita di Jakarta. Ia menjelaskan hasil ini masih bisa dikurangi mengingat adanya peluang untuk dapat mendeteksi keberadaan gas-gas berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Bersama tim, ia pun berusaha menemukan piranti sensor gas yang berperan mengurangi dampak keberadaan gas-gas berbahaya tersebut. “Umumnya dikenal tiga macam piranti sensor gas, yaitu spektroskopik, sensor gas optik dan sensor gas zat padat,” ucapnya. Namun, dari ketiga jenis sensor gas tersebut, sensor gas spektroskopik dan sensor gas optik memliki harga yang sangat mahal dan terkadang sulit digunakan. Sedangkan 18 ITS Point

I September 2013

sensor zat padat mempunyai respon yang cepat, murah dan mudah digunakan. “Ini menurut hasil penelitian J.A Cobos pada tahun 2001 dan Ivanov pada tahun 2004,” kata Sri. Penelitian pun berlanjut ketika diketahui bahan ZnO merupakan objek penelitian yang cocok untuk menciptakan piranti ini. Hal itu dikarenakan ZnO memiliki sifat fisis yang menarik. Pihaknya mengutarakan pada lapisan struktur murni, paduan ini bersifat semikonduktor, sifat anisotropinya akan menimbulkan piezoelektrik. Selain itu, lapisan tipis ZnO juga mempunyai celah pita yang lebar atau anisotropi dalam struktur kristalnya. Sehingga lapisan ini telah dimanfaatkan dalam bidang optik dan listrik selama ini. “Terutama sebagai bahan TCO (Transparent Conductive Oxide, red) pada sel surya dan bahan sensor gas. Untuk teknik pembuatannya sendiri dinamakan sputtering,” ungkapnya.

Suhu kerja lapisan ZnO juga perlu disesuaikan. Berdasarkan penelitian yang telah dijalani, untuk membuat ini menjadi bahan sensor gas dibutuhkan suhu berkisar antara 279-281 derajat celcius. Ia juga menekankan konsentrasi gas CO yang semakin besar akan diserap oleh lapisan tipis ZnO. “Ini mengakibatkan selisih resistansi lapisan tipis ZnO sebelum dan sesudah diberi gas CO semakin besar,” terang

wanita yang menyelesaikan penelitian ini sejak tahun 2008 silam. Sehingga, bisa dikatakan selisih resistansi sebanding dengan besarnya sensitivitas lapisan terhadap gas CO. Tak hanya itu, waktu deposisi yang lama turut mengakibatkan sensitivitas lapisan tipis ZnO terhadap gas CO semakin meningkat. Dalam penelitiannya, sensitivitas lapisan tipis ZnO tertinggi diperoleh sebesar 63,77 persen yaitu bahan dengan waktu deposisi 2,5 jam pada konsentrasi gas CO 57.000 ppm. “Sedangkan sensitivitas lapisan tipis ZnO terendah diperoleh sebesar 2,38 persen yaitu bahan dengan waktu deposisi 0,5 jam pada konsentrasi CO 5.700 ppm,” lanjutnya. Menurutnya, terdapat pula beberapa saran yang diberikan terhadap penelitian ini. Di antaranya diperlukan pemberian dopping alumunium dan iodin pada lapisan tipis ZnO agar dapat menurunkan suhu kerja bahan sensor. Proses annealing pun perlu dilakukan terhadap lapisan tipis ZnO sebagai hasil dari sputtering agar diperoleh lapisan tipis yang lebih stabil. Ia mengungkapkan temuan mahasiswa bimbingnya yang bernama Erwan Sosiawan ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi dalam pengembangan teknologi thin film. “Bahkan, temuan ini juga dapat digunakan untuk merespon keberadaan gas CO,” tambahnya. Menurutnya, temuan ini juga menyulutkan semangatnya bersama tim untuk penelitian di tingkat teknologi nano ke depannya. (man/esy)

Serbuk Zinc Oxide (ZnO) yang digunakan melapisi substrat kaca. Sumber: Istimewa

ITS Point I September 2013

19


RISET

Pemodelan Spasio Temporal, Antisipasi Banjir

empat pengukur hujan yang diletakkan di DAS Sampean Watershed, Bondowoso. Pengamatan data curah hujan per jam untuk dua pengukur, yakni Tlogo dan Sentral yang digunakan untuk membangun state-space model. Data tersebut menjadi acuan untuk mereproduksi data curah hujan oleh pengukur yang lain. Yakni, Maesan dan Kejayaan, yang hanya memiliki data harian. Pada analisis Bayesian tersebut, digunakan pula Markov Chain Monte Carlo (MCMC). “MCMC ini dapat mempermudah analisis sehingga keputusan yang diambil dapat dilakukan dengan cepat dan tepat,” terang Pembantu Rektor (PR) III ITS. Ia menambahkan, ada dua kemudahan yang diperoleh dari penggunaan metode MCMC pada analisis Bayesian. Pertama, metode MCMC dapat menyederhanakan bentuk integral yang komplek dengan dimensi besar menjadi bentuk integral yang sederhana dengan satu dimensi. Kedua, dengan menggunakan metode MCMC, estimasi densitas data dapat diketahui dengan cara membangkitkan suatu rantai Markov yang berurutan dengan jumlah yang cukup besar.

B

anjir di Indonesia seakan sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya. Kejadian tersebut menggambarkan bahwa debit maksimum mampu menimbulkan kondisi yang mengkhawatirkan. Mengatasi kondisi itu, Prof Drs Nur Iriawan, MIKom, PhD, dosen Jurusan Statistika, tengah mengembangkan model data spasio temporal untuk pemodelan banjir. Melalui pemodelan ini, prediksi debit banjir pun dapat diketahui. Barjir sendiri membutuhkan langkah antisipatif dalam penyelesaiannya. Sebab bila salah langkah, banyak dampak buruk yang akan terjadi. Di antaranya, jebolnya tanggul dan bangunan air lain serta penggenangan air di wilayah permukiman. Oleh karena itu, prediksi debit banjir melalui perhitungan yang akurat diperlukan untuk mendesain hidrolis bangunan air dan manajemen sumberdaya air. Dijelaskan Nur, komponen hujan yang penting dalam proses perhitungan tersebut adalah komponen spasial dan temporal. Komponen spasial mewakili distribusi hujan dalam suatu wilayah. Yakni, pola kejadian hujan yang digambarkan oleh waktu dan posisi kejadiannya. Sedangkan komponen temporal diwakili oleh akumulasi hujan secara waktu pada satu lokasi yang berupa intensitas dan durasi hujan. Hal tersebut sesuai dengan tujuan utama dari penelitian ini, yakni untuk mengetahui data curah hujan berdasarkan skala waktu dan juga lokasi yang saling berkolerasi. “Sebagian besar orang meneliti berdasarkan spasio saja, atau time series saja, sedangkan kali ini kami mencoba menggabungkan keduanya,” tutur Nur.

20

ITS Point I September 2013

Di samping memanfaatkan data sampel yang diperoleh dari populasi, turut pula diperhitungkan suatu distribusi awal yang disebut prior. Dari distribusi prior selanjutnya dapat ditentukan distribusi posterior sehingga diperoleh estimator Bayesian yang merupakan mean atau modus dari distribusi posterior. Menurutnya, jika hanya fokus pada spasio, data diambil dari beberapa wilayah untuk satu periode tertentu. Sedangkan, jika hanya mengacu pada time series, data diambil untuk beberapa periode yang diinginkan namun hanya untuk satu lokasi. Untuk spasio-temporal ini, keduanya saling berhubungan. Data dapat diambil dari beberapa tempat yang berbeda dalam beberapa periode yang telah ditetapkan. Metode ini diterapkan untuk mendapatkan curah hujan time series resolusi rendah dari skala waktu resolusi tinggi di beberapa lokasi. Lebih spesial lagi, dalam penelitian ini, Nur menggunakan pendekatan Bayesian. Pada dasarnya data hujan resolusi tinggi dapat diperoleh melalui pengukuran hujan secara otomatis. Namun, untuk memasang alat ukur hujan beresolusi tinggi secara tersebar di seluruh wilayah, Daerah Aliran Sungai (DAS) membutuhkan dana yang cukup besar. Selain itu dibutuhkan pula waktu pengamatan yang cukup lama. “Bayesian ini sangat membantu jika data yang kita miliki terbatas,” ungkapnya. Pendekatan Bayesian ini memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan utama dari metode ini adalah kemampuannya dalam memprediksi secara akurat, terutama dalam ketersediaan data yang terbatas. Selain itu, dapat juga digunakan untuk memecahkan permasalahan model struktur yang kompleks. Kemampuan untuk menggabungkan pengetahuan sebelumnya tanpa membatasi asumsi, telah membuat inferensi Bayesian jadi lebih kuat sebagai alat prediksi.

Prediksi curah hujan harian dengan menggunakan hibrida ini menghasilkan karakteristik yang mirip dengan curah hujan yang diamati setiap harinya. Hal tersebut juga didukung oleh hasil prediksi curah hujan per jam yang diamati pada sampel lokasi. Meski tidak sejalan dengan hasil dari pengamatan pada unsampled lokasi, perbedaan data tidak terlalu signifikan. “Keakuratan data memang belum terlalu tinggi,” lanjutnya. Pemanfaatan model peramalan ini tidak hanya dapat digunakan untuk menghitung curah hujan dan memprediksikan resiko terjadinya banjir maupun resiko lainnya. Pemodelan ini juga dapat diterapkan untuk wilayah yang terjangkit wabah penyakit. Seperti yang telah dilakukan oleh beberapa mahasiswanya, Nur bercerita sekilas mengenai pemodelan tersebut. Yakni, di suatu daerah yang sedang terkena wabah penyakit Demam Berdarah (DB). Ia memaparkan bahwa mahasiswa bimbingannya tersebut memodelkan distribusi wabah penyakit pada wilayah tersebut. Dari hasil pengamatan dua arah, yakni berdasarkan ruang dan waktu, serta perhitungan ekstrapolasi didapatkan bahwa ada daerah yang penyebaran wabahnya paling berbahaya. Dengan diketahui seperti itu, maka Dinas Kesehatan bisa berupaya mencegah persebaran wabah tersebut. Selain itu, masyarakat juga dapat diimbau untuk lebih berhati-hati. “Metode ini bisa diterapkan dalam banyak hal,” ulasnya. Dalam bidang industri misalnya, ia menyebutkan bahwa pemodelan seperti ini sangat bermanfaat dalam manajemen logistik bagi sebuah perusahaan. Contoh lain dalam bidang lingkungan hidup, yakni dengan memperhitungkan volume sampah pada periode ke depan. Pemerintah bisa dengan mudah menentukan berapa jumlah truk yang akan dikirim untuk mengangkut sampah tersebut. “Dengan begitu, dapat meningkatkan efisiensi kerja serta meminimalkan cost yang dikeluarkan,” pungkasnya. (oly/esy)

Dengan memodelkan disagregasi data hujan harian menjadi per jam, Nur mengambil data menggunakan ITS Point I September 2013

21


JICA-PREDICT II

MAHASISWA INSPIRATIF

Jual Kopi Keliling, Ringankan Beban Orang Tua JICA Joint Research Batch 3 (July 2013 – June 2014)

F

inally, ten (10) of the Batch 3 Joint Research teams have been officially selected through the process of documents screening and individual interviews. According to the Work Plan of the Project, seven representatives from seven fully-supported research teams will go to Japan under the one month research programs, which will be provided by JICA. All research teams have members from partner universities in the eastern part of Indonesia (EPI) and will be conducting research together under JICA PREDICT-ITS Phase 2 scheme from July 2013 until June 2014. It is anticipated that the teams can continue their research in collaborating with partners in EPI by obtaining other research grants. The list of JICA Joint Research Batch 3 teams is shown in Table 1. Table 1. List of JICA Joint Research Batch 3 Teams

M

alam telah mengenakan jubah hitamnya. Suara jangkrik yang mengerik di beberapa sudut kampus mulai terdengar saling menyahut. Namun kehidupan kampus masih ramai. Di saat inilah, seorang mahasiswa ITS justru berangkat ke kampus dari kosnya. Menawarkan segelas minuman hangat kepada civitas akademika yang masih berurusan dengan kampus. Untuk mengais rezeki. Fajar Timur namanya. Tak seberapa jangkung, gesit, dan berani beda. Setiap malam hari, mahasiswa Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITS ini berkeliling kampus dengan membawa termos yang serta puluhan gelas dan berbagai jenis minuman. Ia tawarkan minuman itu kepada siapa saja yang masih ada di kampus. Keliling dari satu jurusan ke jurusan lain. Dari satu fakultas ke fakultas lain. Malu? Mungkin iya bagi sebagian mahasiswa lain, tapi bagi mahasiswa yang berjiwa petarung seperti dirinya, tak perlu malu asalkan halal. Usaha unik tersebut sudah dirintisnya sejak maret tahun 2012 silam. Awalnya ia mengamati aktivitas kampus ITS yang hampir tidak pernah sepi dari aktivitas mahasiswa dari pagi hingga malam hari. Ada yang belajar bersama, mengerjakan tugas, hingga aktivitas kemahasiswaan, seperti rapat dan diskusi. Fajar menangkap kondisi tersebut sebagai momen untuk memulai usaha kopi keliling. “Kalau sudah malam hari, mahasiswa ini kesulitan untuk mencari makanan dan minuman di dalam kampus,” kata mahasiswa angkatan 2011 ini. Inspirasi tersebut diperoleh sewaktu ia naik kereta dalam perjalanan pulang ke Lamongan. Anak pertama dari tiga bersaudara ini mengamati aktivitas pedagang kopi di atas kereta. Mereka menjajakan minuman panas dengan membawa termos. Ide itu akhirnya muncul.

Upcoming Agenda

Seminar on LBE, e-learning and proposal writing at Universitas Cenderawasih (UNCEN), Jayapura on Tuesday, July 9th, 2013

22

ITS Point I September 2013

For further information, contact the Project Office: JICA PREDICT – ITS Phase 2 Gedung Pusat Robotika, lantai. 1 (Ruang Arena), Kampus ITS - Sukolilo , Surabaya 60111 P. +62-31-598-1959 F. +62-31-598-2747 e-mail : predict@its.ac.id / predict.its@gmail.com URL: http://www.predict2.its.ac.id/

Bermodalkan kurang dari Rp 200 ribu di awal, Fajar berkeliling kampus selepas pukul delapan malam. Menunya pun beragam. Kopi hangat, susu hangat, sereal hangat, hingga mie instan ia sediakan. Ia berjalan berkeliling dari tempattempat strategis seperti lorong Perpustakaan Pusat ITS, Fakultas Teknik Perkapalan (FTK), Teknik Fisika, hingga ke Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP). Sekali keliling Fajar mendapat keuntungan bersih sekitar 15 ribu hingga 20 ribu rupiah dalam semalam. “Kalau dihitung, bisa-bisa omset per bulan sampai Rp 500 ribu. Lumayan buat nambah uang saku dan bantu orang tua,“ kata Fajar.

Tidak malu: Fajar berjualan kopi keliling setiap malam untuk membantu orang tua. Sumber: Arinda/ ITS Online

Namun bagi mahasiswa penggemar Robert T Kiyosaki ini, keuntungan materil bukan segala-galanya. Dari berjualan tersebut, ia mengaku mendapat banyak teman dan kenalan. Hal inilah yang menjadi alasan ia senang melakukan aktivitas tersebut. “Kalau kebetulan saya sedang tidak jualan biasanya malah dicari,” terang Fajar. Pelanggan kopi kelilingnya datang dari mahasiswa hingga dosen yang kebetulan ditemuinya disela-sela waktu mengajar kelas malam. Bahkan, tidak jarang ia mendapat pesan SMS khusus untuk memesan kopi panas si hari-hari tertentu. “Suatu hari ada yang langsung beli sampai 60 gelas, biasanya untuk forum mahasiswa malam hari,” kata Fajar. Bisnis kopi keliling milik Fajar ini tentu bukannya tanpa hambatan. Kendala utama antara lain ketika kampus sepi sehingga jual kopinya tidak seramai biasanya. “Pernah juga dilarang berjualan sama petugas keamanan kampus, tapi ada juga yang mendukung,” ujarnya. Tahun pertama berjualan, ia bisa sampai lima kali dalam sepekan berjualan kopi keliling. Namun saat ini, terhitung hanya dua kali dalam sepekan ia berjualan keliling. Hal ini disebabkan aktivitas kuliah yang semakin padat, serta pekerjaan lain yang dilakoninya untuk menambah uang sakunya. Pekerjaan lain tersebut adalah sebagai guru les atau penyebar brosur di jurusan-jurusan di ITS. (anl/nir) ITS Point I September 2013

23


MAHASISWA INSPIRATIF

MAHASISWA INSPIRATIF

Kejar Impian di Negeri Orang

Prestasi Mengajar, Leadership, Hingga Modeling Multi talenta: Edwina berprestasi dalam segenap aktivitasnya. Sumber: Elika/ ITS Online

B

erparas ayu dengan segudang prestasi, siapa yang tidak menginginkannya? Terlebih ketika prestasi gemilang yang diraih turut membawa nama baik almamater kampus. Begitulah Edwina Fiqhe Anandhita, mahasiswa Jurusan Sistem Informasi. Selain aktif di dunia model, ia juga aktif sebagai delegasi untuk forum leadership skala nasional. Meski begitu tak membuat ia lalu lalai dalam hal akademik. Merantau: Ejaz bertekad untuk menjadi seorang ahli bidang Sistem Informasi. Sumber: Akhmadi/ ITS Online

Bagi gadis yang akrab disapa Wina ini, prestasi adalah hadiah yang di berikan Tuhan kepada semua manusia. “Kita semua ini hadiah, sayang hanya sebagian orang yang mau membukanya kemasannya,” tandasnya. Memasuki bangku kuliah, Wina mengaku ia termasuk mahasiswa yang study oriented. Ia bahkan sempat tidak tertarik dengan kegiatan ektra kampus. Pasalnya, sejak SMA Wina sudah terbiasa dengan pola pembelajaran yang cukup ketat dan mengikat. Merasa bosan, Wina mencoba keluar dari kegiatan rutin kuliahnya. Mulailah ia menjadi staf magang di Kementrian Hubungan Luar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS. Dari sana, Wina lalu tergoda untuk semakin mengembangkan setiap potensi yang ada di dalam dirinya. Ia ingin semakin melebarkan sayap. “Menjadi staf magang BEM ketika itu membuka mata saya untuk mampu mengeksplor diri lebih dan lebih,” ungkapnya. Bak anak ayam yang menetas dari telur, Wina terus mencari pengalaman. Ia menyebut hal yang ia geluti sebagai passion. Salah satunya adalah ia mendirikan sebuah klub, ia beri nama Hugo Hatta Club. Sebuah komunitas yang konsen di bidang pengajaran untuk anak-anak yang kurang mampu. “Awalnya komunitas ini di Surabaya, saya membukanya di Surabaya bersama teman-teman multi kampus,” ceritanya antusias. Kecintaannya pada anakanak tergambar hingga kemudian ia diminta untuk menjadi staf public relation Badan Semi Otonom (BSO) ITS Education Care Center (IECC) BEM ITS. Tidak hanya itu, sejumlah forum leadership tingkat nasional pun tak luput ia ikuti. Seperti Forum Indonesia Muda 14, Young Educator Regional Training 2012, Klasik Muda Surabaya 2012, Indonesia Youth Forum 2013 dan sejumlah kegiatan lainnya. Wina mengaku bahwa dengan 24 ITS Point

I September 2013

M

kegiatan eksternal yang ia ikuti mampu membuat dirinya lebih percaya diri, berwawasan dan tidak canggung untuk berkomunikasi dengan orang lain. Prestasi lain yang dimiliki Wina adalah kemampuannya dalam dunia modeling. Paras menawan yang menjanjikan mampu menarik perhatian sejumlah majalah untuk menjadikannya sebagai model. Sejumlah kompetisi fashion show seperti The Best Photogenic Face Muslimah Nurani 2012, The Best Dress Putri Jilbab Indonesia 2011, Juara II Place Blissful Ramadhan Fashion Competition Ciputra World 2012, Semifinalist World Muslimah Beauty 2012 merupakan pembuktiannya dalam bidang modeling. Putri kedua dari pasangan Edy Suprapto dan Endang Winarti ini merasa bersyukur atas anugerah yang diberikan Allah SWT kepada dirinya. Mimpi terdekat Wina adalah mengasah kemampuannya kembali dalam bidang entrepreneur. “Saya ingin memiliki sebuah bisnis untuk menambah uang saku,” ungkapnya optimis. (lik/fz)

enjadi seorang hacker yang beretika adalah impian dari Ejaz Karim. Mahasiswa asal Pakistan ini rela datang jauh-jauh ke Indonesia untuk mencari ilmu dan pengalaman. Ijazah Magister Science and Technology di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menjadi target dalam menjembatani citacitanya tersebut. Sudah sejak 21 Nopember 2012 silam mahasiswa yang akrab disapa Ejaz ini telah datang ke Surabaya. Awalnya, ia mengaku memiliki rencana untuk melanjutkan studi di luar Pakistan setelah lulus jenjang sarjana Teknik Informatika di University of Lahore. Berbagai lamaran beasiswa studi magister luar negeri pun ia jajaki setelah pada 2011 silam ia lulus dari University of Lahore.

Jurusan S2 Sistem Informasi Fakultas Teknologi Informasi menjadi tempat studinya selama dua tahun ke depan. “Soalnya saya bercita-cita ingin menjadi hacker yang beretika,” akunya saat ditemui di Aula Asrama. Adalah sosok Julian Assange, pemilik dari website Wikileaks yang terkenal dengan kegiatannya menerbitkan postingan informasi rahasia organisasi dunia yang telah menginspirasi Ejaz. Tetapi ia ingin mengambil jalur yang berbeda, yaitu ingin menjadi peretas informasi yang bermoral. “Yang bisa membuat manfaat bagi orang lain, tidak malah jelek pokoknya,” jelas mahasiswa yang mengaku punya hobi berolahraga ini.

Sembari menjadi dosen Hasegawa Memorial Public School & College, ia aktif dalam mencari informasi studi lanjutan di luar negeri. Akhirnya, melalui sebuah laman website ia mendapatkan link beasiswa studi Magister di Indonesia.

Indonesia menjadi pilihan Ejaz karena menurutnya Indonesia relatif lebih terbuka terhadap mahasiswa luar negeri. Ia menilai bahwa Dikti juga telah memperluas koneksi pendidikan Indonesia secara internasional, sehingga kesempatannya untuk belajar di sini pun semakin besar. “Kalau ada kesempatan tawaran bekerja di sini pun akan saya terima,” lanjut Ejaz.

Ejaz lantas mencoba melamar untuk Program Beasiswa Kerjasama Negara Berkembang (KNB) yang ditawarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Indonesia. “Saat itu saya melihat link KNB dari Dikti, langsung saja saya coba daftar di situ,” ungkap mahasiwa kelahiran Hunza, 1 Maret 1985 ini.

Adaptasi lingkungan menjadi salah satu kendala baginya hidup di Indonesia. Ia mengeluhkan iklim di Indonesia, terutama di Surabaya, yang sangat panas dan mengundang banyak nyamuk. “Tapi lama-lama saya bisa terbiasa, demi mencari ilmu, pengalaman, dan ijazah terus,” pungkasnya dengan senyum. (akh/izz). ITS Point I September 2013

25


GALERI Peduli: Alumni Teknik Kimia beri bantuan peralatan laboratorium Sumber: Istimewa

Safety drive: Pembalab nasional, Moreno, bagikan tips berkendara aman Sumber: Istimewa

Corak Maritim: Aksi seru dragon boat mewarnai Marine Icon 2013 Sumber: Istimewa

Negarawan: Mahfud MD bicara soal karakter pemuda saat Public Figur on Talk 2013 Sumber: Istimewa

Lestarikan budaya: Salah satu pagelaran seni dalam rangkaian ITS Expo 2013 Sumber: Istimewa

Pertama di Indonesia: BEM ITS menggelar Young Enginner and Scientist Summit Sumber: Istimewa Masa Lampau: Galeri memorabilia ITS Expo ingatkan pengunjung tentang sejarah ITS dan Surabaya Sumber: Istimewa

32 ITS Point

I September 2013

ITS Point I September 2013

33


KIPRAH MEREKA

Bangkitkan Kicauan Pinggiran ITS

Wujudkan Pusat Arsip Terpadu di ITS

Profesional muda: Agus (kiri), kerap mengisi workshop kearsipan. Sumber: Dokumentasi UPT TU dan Kearsipan

T

iga tahun yang lalu, ITS belum memiliki pusat kearsipan seperti sekarang. Padahal, perguruan tinggi punya kewajiban membangun pusat arsip. Kalau tidak, maka akan terkena sanksi. Bagi Agus Santoso, S.Sos.,M. Med.Kom, kondisi tersebut adalah kesempatan bagi ITS untuk mulai membangun pusat arsip yang bertanggung jawab atas pengolahan dokumen-dokumen vital. Sosok muda Ketua Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tata Usaha (TU) dan Kearsipan ini banyak memberi angin segar di dunia kearsipan ITS. Kiprah dosen luar biasa Universitas Airlangga di dunia kearsipan ITS dimulai sejak tahun 2010. Ketika itu, ia masih menjabat sebagai staf Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK) ITS di bawah pimpinan Kepala Sub Bagian Tata Usaha (TU). Dari situlah Agus mulai mencetuskan ide dan gagasan sistem pengelolaan arsip di ITS. Ilmu kearsipan yang diperoleh selama kuliah di jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan, menjadi bekal perancangan sistem pengelolaan arsip di ITS. Di tahun pertamanya, Pengurus Forum Kearsipan Kementerian Pendidikan Nasional ini merombak pengelolaan arsip di BAUK. Pria kelahiran 25 November 1985 ini lantas melanjutkan penyusunan kode, standar opersional dan pelaksanaan, hingga prosedur pemusnahan arsip. “Untuk memusnahkan ada caranya sendiri, kalau sembarangan bisa kena sanksi hukum,” kata Agus. 28

ITS Point I September 2013

Ia mengakui tugasnya sebagai staff waktu itu memang tidak mudah. Tugasnya mencakup manajerial arsip hingga bersentuhan dengan hal teknis, seperti memilah arsip yang penuh dengan debu. Pedoman pembuatan sistem pengelolaan arsip dari pusat disesuaikan dengan kondisi di ITS. “Prosesnya saja butuh sekitar enam bulan,” ujar anak bungsu dari sembilan bersaudara ini. Awalnya sebuah unit di ITS, bulan April tahun 2012 UPT TU dan Kearsipan resmi berdiri. Ide dan gerakan penyadaran akan pentingnya pengelolaan arsip dan dokumen vital terus ia luncurkan hingga menjabat sebagai ketua. Di tahun yang sama, UPT TU dan Kearsipan telah berani membuka seminar yang mendatangkan pembicara bidang kearsipan kelas nasional. Selain itu, pria berusia 27 tahun ini juga meluncurkan berbagai kegiatan seperti seminar nasional, gerakan grebek arsip, serta perancangan sistem pengarsipan dan akses terhadap arsip. Kini, UPT TU dan Kearsipan telah memiliki sistem penyimpanan serta akses terhadap arsip yang lebih tertata. Semua dokumen di lingkungan sivitas ITS seperti Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan seluruh jurusan telah terkumpul di pusat arsip ini. Pencarian data menjadi lebih mudah, dokumen yang hilang pun berkurang. (anl/lis)

M

Menjangkau komunitas kampus: Tampilan akun Twitter yang diinisiasi Jaelani. Sumber: Istimewa

uhamad Jaelani mengerti betul kekuatan media. Itulah sebabnya, ketika tim Sapu Angin ITS sepi pendukung saat berlaga di Sepang setahun silam, ia mendirikan akun Twitter baru atas nama ITS. Sapu Angin 2 pecahkan rekor di Shell Eco-Marathon Asia 2010, begitulah bunyi tweet pertama akun bernama @ ITS_Surabaya tersebut. “Akun itu dibuat sekitar pukul satu siang waktu Taiwan (GMT+8), tepat tanggal 28 Mei 2011,” terang Jaelani. Hal tersebut lantaran jaringan internet kampus masih memblokir akses ke Twitter. Ia pun berkolaborasi dengan salah seorang teman alumni ITS yang sedang belajar di Taiwan untuk membuatnya. Kini, ada sekitar 30 ribu pengikut akun tersebut. Banyak percakapan, terutama terpaut ketertarikan calon mahasiswa belajar di ITS, maupun peristiwa-peristiwa di ITS, terangkum dalam linimasanya. Kini, akun tersebut telah mengalami berbagai perkembangan. Jaelani turut menggaet Nur Aini Rakhmawati, dosen Jurusan Sistem Informasi dan Hatta Bagus Himawan, alumnus Jurusan Sistem Informasi. Awalnya, Jaelani mengandalkan sumber informasi dari berbagai lembaga di ITS Media Center. Namun dengan bantuan dua orang tersebut, pengurus akun @ITS_Surabaya bisa lebih aktif menjaring informasi

seputar ITS dari berbagai situs serta akun Twitter lainnya. Untuk menyalurkan informasi yang lebih lengkap, mereka membuka situs dan halaman Facebook baru ITSNET. Sistem yang mereka jalankan melakukan parsing semua situs yang mengandung informasi seputar ITS. Hal tersebut tidak luput dari beberapa aplikasi yang sengaja dibuat tim ITSNET untuk meng-update otomatis. “Tidak mungkin kami yang sibuk ini, update berita dan menjawab pertanyaan satu-persatu,” jelasnya. Ia menjuluki berita-berita yang dihimpunnya sebagai ‘informasi pinggiran’ seputar kampus. Tim ini telah merencanakan beberapa layanan tambahan selama beberapa waktu ke depan. Misalnya, integrasi layanan sosial dengan data spasial. “Mungkin bentuknya peta online berisi real-time percakapan yang dikumpulkan dari media sosial ITS,” terangnya. Ada sebuah harapan khusus dari Jaelani untuk keberadaan akun tersebut selama setelah dua tahun diluncurkan. Yaitu untuk menampilkan linimasa secara langsung di layar LCD Gedung Rektorat. “Menarik saja, karena jika ada keluhan tentu pihak Rekorat pun tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ungkap pria yang sedang mengambil pendidikan doktoral di University of Tsukuba, Jepang ini. (lik/lis) ITS Point I September 2013

29


Keahlian Konstruksi Kapal Berlanjut Jadi Usaha

KIPRAH MEREKA

Sedapnya Refleksi Sebuah Kecintaan

Bangga: Hamdani bersama putrinya di restoran Mie Aceh Woyla. Sumber: Ihram/ ITS Online

A

da sejumlah kecintaan besar dalam hidup Hamdani Bantasyam: Aceh, kuliner dan ITS. Aceh sebagai tanah kelahirannya, serta ITS sebagai almamater yang turut membangun dirinya. Keduanya ia padukan dalam sebuah bisnis kuliner, yaitu restoran Mie Aceh Woyla.

Sesuai namanya, restoran ini mengusung cita rasa tradisional Aceh dalam setiap masakannya. Berbagai menu andalan daerah tersebut tersedia, seperti kopi dan teh tarek serta kopi sanger. Demi menjaga keaslian cita rasa makanan, ia sengaja mendatangkan koki berpengalaman langsung dari Aceh. “Di Aceh itu ada warung mie yang sangat terkenal, namanya warung mie Bang Baka. Nah, koki kita sudah berpengalaman membuat mie selama sepuluh tahun di situ,” ujarnya. Mie Aceh termasuk empat jenis mie yang paling digemari di Indonesia. Tak seperti di kota lain, jenis mie ini sedikit sekali ditemui di Surabaya. Mie ini terkenal karena kekentalan bumbu rempahnya. Rasanya pun cenderung lebih gurih dan segar dibanding mie lain seperti mie tok-tok Jawa. Alhasil, beberapa jenis bumbu yang tidak terdapat di Pulau Jawa harus didatangkan langsung dari Aceh. Sementara itu, teknik racikan tarek mewarnai karakteristik minuman yang disajikan, baik untuk kopi maupun teh. Teh tarek dibuat dari daun teh pilihan yang dicampur dengan batang teh. Di daerah asalnya, teh tarek biasanya dibuat dengan campuran daun ganja untuk menambah cita rasa.

30 ITS Point

I September 2013

Menariknya, restoran yang baru berumur satu tahun ini dibangun atas dasar kecintaan Hamdani terhadap ITS. Hamdani merasa bahwa mahasiswa serta alumni muda perlu memiliki sebuah tempat bertukar pikiran. Tercetuslah ide untuk membuat restoran tersebut. “Launching juga sengaja dilakukan pada tanggal sepuluh November, bertepatan dengan Dies Natalis ITS,” jelas alumni Teknik Kimia angkatan 1986 ini. Di dinding-dinding restoran, bertebar foto-foto seputar ITS. Berbagai peristiwa bisa disaksikan di situ, seperti prestasi peluncuran mobil Electric Car (EC) ITS dan Sapu Angin. Ada pula foto-foto peristiwa sejarah yang mengiringi terbentuknya ITS. “Beberapa foto saya dapatkan dari buku Titik Nol Kampus Perjuangan,” terang Hamdani. Tantangan paling besar bagi Hamdani justru dalam memberikan kenyamanan bagi para pekerjanya. Baginya, bisnis harus bisa membawa keberkahan bagi semua. “Karena koki kami dari Aceh, kami harus bisa membuatnya nyaman bekerja disini. Kalau sudah nyaman, makanannya jadi lebih enak,” ungkap Hamdani. Menurut direktur PT Nalco ini, pengalamannya berorganisasi sejak kuliah turut menjadi bekal dalam manajemen usahanya. Dalam waktu dekat, Hamdani berencana untuk membuka gerai baru Mie Aceh Woyla ini. Bahkan, menu baru, seperti martabak Aceh, juga sudah ia siapkan. Tapi Hamdani tidak mau terburu-buru mengambil langkah. “Bisnis itu tidak perlu terburu-buru. Jangan sampai bisnis malah jadi beban,” pungkasnya. (ram/lis)

Cinta Bahari: Kholick menikmati olahraga air hingga membuat kapal. Sumber: Istimewa

S

aat melakukan kerja praktek (KP) di Banyuwangi, Abdul Kholick ditantang oleh salah seorang tukang di galangan kapal setempat. “Ayo, kamu mahasiswa perkapalan masak nggak bisa bikin kapal sendiri,” ujarnya menirukan. Beberapa tahun kemudian, Kholick sudah aktif memproduksi kapal.

pal tersebut hingga saat ini sudah selesai dibuat dan siap dikirim. Akan tetapi beberapa kendala, termasuk cuaca yang kurang bagus, membuat kapal-kapal ini masih berdiri di halaman PPNS tempat Kholick berkarya. “Meskipun ada galangan lagi di Keputih Kejawan itu, tapi di sini bisa lebih cepat dan aman kerjanya,” ungkapnya.

Kholick memulai kiprahnya sebagai mahasiswa di D3 Teknik Bangunan Kapal Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS). Pada masa kuliah jenjang diploma ini, ia turut bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Maritime Challenge. “Saya bisa ke Finlandia dan pernah diajak melihat jenis kapal-kapal buatan negeri sana,” tuturnya.

Dibalik kesuksesannya itu, ada beberapa peristiwa yang turut menjadi pembelajaran baginya. Selama pembuatan 27 kapal milik KPDT ini, ia sempat harus merelakan ijazah diplomanya menjadi jaminan di sala satu bank swasta nasional Indonesia. Hal itu karena tekadnya untuk bisa meminjam uang sebagai ganti uang gaji tukang yang selama ini membuat kapal tersebut.

Pada tahun 2011, ia melanjutkan pendidikannya sebagai mahasiswa lintas jalur di jurusan Teknik Sistem Perkapalan ITS. Awal puasa tahun 2012, ia mulai menerima pesanan pembuatan kapal. Proyek pertamanya adalah 11 kapal ikan untuk pemerintah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Proyek itu belum selesai ia rampungkan ketika ia mendapat pesanan yang lebih besar. Kapal ikan jenis 3 gross ton (GT) dan 5 GT sebanyak 27 buah hendak dibeli oleh Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT). Rencananya, kapal-kapal itu akan dikirim ke beberapa daerah di Indonesia Timur seperti Pangkajene, Dompu, dan Sorong Selatan. Kesempatan itu tak ia lewatkan. Kini, ia turut mempekerjakan 15 tukang lain dalam usahanya tersebut. Semua ka-

Kecut-pahit pengalaman membuat kapal pernah membuatnya berpikir untuk tidak melanjutkan bisnisnya. Namun, ia didukung oleh seorang teman dan juga adiknya untuk terus bertahan. Kini, mereka bertiga membentuk badan usaha CV. Q & A Fibreglass. “Setelah ini mohon doanya, karena rencananya kami akan membuat kapal patroli laut untuk Dinas Perhubungan,” ceritanya. Kholick masih punya cita-cita besar untuk memiliki 10 badan usaha sendiri. Selain CV. Q & A Fibreglass, ia punya usaha hewan kurban. Tetapi usaha tersebut cenderung hanya ramai saat musim Idul Adha saja. “Harapannya usaha perkapalan ini menjadi awal pertama badan usaha saya untuk bisa membangun badan usaha lain,” ungkap pria yang hobi olahraga air ini. (akh/lis) ITS Point I September 2013

31


Aktif: Tim Maritime Challenge saat berkompetisi di Irlandia. Sumber: Istimewa

SKEM untuk Kegiatan Kemahasiswaan yang Profesional

Tak melulu berorganisasi, mahasiswa juga bisa mengembangkan soft skill-nya melalui kewirausahaan. Hal ini bukan tidak mungkin mengingat dasar menjadi seorang entrepreneur handal adalah mampu membaca peluang yang ada dan mengkombinasikannya de-ngan perkembangan teknologi. “Mahasiswa yang mempunyai produk-produk tertentu akan kita dorong untuk segera mematenkan produknya,” ungkap dosen asal Jember ini.

M

elalui Badan Kemahasiswaan yang menaungi segala aktivitas mahasiswanya, ITS bertekad memunculkan generasi dengan kemampuan akademik dan kredibilitas soft skill tinggi. Untuk itu, Satuan Kegiatan Ekstrakurikuler Kemahasiswaan (SKEM) pun dibuat sebagai salah satu tolak ukurnya. Bahkan SKEM juga telah diterapkan sebagai salah satu syarat kelulusan dalam yudisium. Sejak diterbitkannya Peraturan ITS No 3112/12/KM/2008 yang kemudian diperbarui dengan Peraturan ITS No 05942/12/KM/2010, mahasiswa ITS angkatan 2008 dan mahasiswa ajaran baru selanjutnya wajib memenuhi nilai SKEM. SKEM sendiri adalah suatu bentuk penilaian terhadap kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti mahasiswa di luar jam kegiatan akademik. Penilaiannya berupa poin-poin yang sudah ditentukan tingkatannya, serta dibedakan berdasarkan program perkuliahan jenjang sarjana (S1) maupun jenjang diploma (D3). Untuk saat ini, poin terendah atau kategori cukup dari jenjang sarjana adalah 1000 poin. Sedangkan jenjang diploma, berada setingkat di bawahnya yaitu 750 poin. Dr Ir Bambang Sampurno MT, Kepala Badan Pembinaan Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni mengamini apabila SKEM merupakan salah satu unsur terpenting dalam

Bambang: Perlu keseimbangan antara akademik dan softskill di luar waktu perkuliahan. Sumber: Akhmadi/ITS Online

proses perkuliahan mahasiswa di ITS. Menurutnya, antara kegiatan akademik maupun kegiatan kemahasiswaan tidak ada unsur dikotomi. “Jadi, keduanya sangat penting untuk mahasiswa ITS, tidak boleh ada ketidakseimbangan, misalkan menonjol dalam bidang akademik saja,” jelas pria yang akrab disapa Bambang ini. Mahasiswa yang lulus dengan IPK 3,9 tidak akan ada artinya jika ia bersikap merasa paling pintar dan menganggap rendah orang di sekitarnya. “Akibatnya, jika ia melamar kerja di mana-mana selalu ditolak,” ujar Bambang. Tidak ingin kejadian serupa dialami oleh mahasiswanya, Bambang menyerukan agar sejak mahasiswa baru (maba), mahasiswa ITS harus sudah mempunyai bentuk kegiatan di luar waktu perkuliahan. Hal ini sangat memungkinkan lantaran ITS sendiri membuka lebar kesempatan mahasiswa untuk aktif di luar akademik. “Rugi sekali jika tidak ikut kegiatan di ITS, bisa-bisa jadi mahasiswa kuper atau kurang pergaulan,” celetuk dosen Jurusan D3 Teknik Mesin ITS ini. Dalam peraturan SKEM sendiri, termuat berbagai macam jenis pengelompokan kegiatan mahasiswa. Di antaranya kegiatan bidang penalaran dan keilmuwan, minat dan bakat, organisasi dan kepemimpinan serta kegiatan bidang kepedulian sosial.

Siapkan Calon Pemimpin: Character Capacity Building Future Leader, salah satu kegiatan pelatihan untuk para generasi pemimpin ormawa di jurusan. Sumber: Istimewa

32 ITS Point

I September 2013

Misalnya, mahasiswa bisa mengikuti salah satu jenis kegiatan bidang penalaran dan keilmuan seperti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM). Ada juga kegiatan minat bakat mahasiswa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bisa diikuti. Bahkan UKM-UKM ini juga sering mengharumkan nama ITS di luar kampus. “Seperti Maritim Challenge dengan kapal Rojo Segoronya di Irlandia tahun kemarin dan Paduan Suara Mahasiswa yang sering go

international,” ungkap Bambang. Jika mahasiswa meraih juara I sampai III untuk kompetisi taraf internasional maka akan mendapat poin 1500. Sedangkan untuk taraf nasional akan mendapat poin 1000. Alhasil, pernah menjuarai event seperti itu saja sudah bisa lulus syarat SKEM untuk yudisium. “Tetapi saya kira mahasiswa di ITS ini tidak hanya puas dengan poin segitu, ada yang sampai 10.000 juga pernah,” tutur Bambang. Di sisi lain, banyaknya kegiatan kemahasiswaan di ITS tidak menampik kemungkinan ada mahasiswa yang aktif di lebih dari satu kegiatan saja. Menurut Bambang hal itu justru bagus karena dapat menguji mahasiswa dalam memanajemen waktu kuliah dan kegiatannya.

Sementara itu, melihat hasil evaluasi kebijakan SKEM yang dimulai sejak angkatan 2008 silam, Bambang optimis jika standar nilai poin SKEM ke depan bisa ditingkatkan lagi. Menurutnya, saat ini nilai SKEM sudah tidak lagi sulit untuk dicapai. Malahan orientasinya sudah berubah tidak hanya pada poin nilainya saja. ”Tetapi kualitas soft skill yang dihasilkannya itu yang terpenting,” ungkapnya. Lebih jauh, sebagai Kepala Badan Pembinaan Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni, pihaknya akan selalu mendorong setiap kegiatan kemahasiswaan yang dikelola dengan sistematis dan profesional. Menurutnya, semangat mendorong kegiatan mahasiswa seperti itu juga akan turut membentuk kemampuan soft skill mahasiswa.

Mahasiswa dan Organisasi

D

unia kemahasiswaan dalam lingkungan Keluarga Mahasiswa (KM) ITS bisa terbilang cukup tinggi atmosfernya. Seperti yang dijelaskan oleh Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS, Zaid Marhi Nugraha. Menurutnya hampir seluruh mahasiswa ITS sangat menyukai dunia organisasi. “Itu terbukti lho, kita bisa melihat setiap pekannya di ITS, hampir selalu ada kegiatan atau acara-acara,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Ari ini.

Dari situ, perannya pun berbeda-beda. Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) sebagai badan legislatif misalnya, memiliki peranan membuat undang-undang dan menyalurkan aspirasi mahasiswa.

Menurut Ari,sSetiap elemen organisasi di ITS hampir semuanya memiliki program kerja (proker) andalan. Proker-proker itulah yang justru membuat nama ITS semakin dikenal masyarakat luas.

Dari berbagai torehan prestasi di lingkup UKM inilah, terbukti bila KM ITS tak hanya memprioritaskan kemampuan dalam hal akademik melainkan juga aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan. Menurut mahasiswa angkatan 2009 ini, perjuangan dengan menjadi aktivis di organisasi bisa memberikan dampak yang baik untuk kepribadian maba sejak pertama masuk ITS. “Maba itu harusnya bersyukur jika sudah masuk ITS, karena di sini mereka akan dididik menjadi mahasiswa yang punya endurance dan karakter yang kuat,” pungkasnya. (akh/fi)

Berbicara mengenai organisasi mahasiswa (ormawa) di KM ITS, Ari memaparkan, ITS sendiri menganut sistem trias politika. Badan eksekutif bertindak sebagai eksekutor, badan legislatif sebagai aspirator dan kontrol eksekutif, serta badan yudikatif sebagai mahkamah peradilan bagi mahasiswa ITS.

Selain tiga elemen di atas, ada Lembaga Minat Bakat (LMB) yang notabene berdiri di luar sistem trias politika. Melalui kurang lebih 30 jenis UKM, masing-masing UKM juga berkontribusi mengharumkan nama ITS di luar.

ITS Point I September 2013

33


Kampung Binaan FTSP, Sinergiskan Bidang Keilmuan

Prestasi Mahasiswa Lewat UKM ITS

lin kerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Provinsi Jawa Timur. ‘’Pihak Bina Marga yang akan datang ke tempat itu secara berkala untuk mengoperasikan alat tersebut,’’ tambah Solving. Sedangkan di paruh kedua, BEM FTSP fokus untuk mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM) di desa Gunung Anyar. Rencananya, setiap bulannya mereka akan memberikan pengetahuan tentang branding produk. Tujuannnya adalah untuk meningkatkan nilai jual.

P

engabdian masyarakat dengan memanfaatkan keilmuan dunia akademik selalu menjadi salah satu tuntutan peran perguruan tinggi di Indonesia. Dalam hal ini, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakutas Teknologi Sipil dan Perencanaan (FTSP) memiliki catatan kiprah tersendiri yang membanggakan. Gunung Anyar Tambak telah menjadi pilihan bagi program kampung binaan BEM FTSP sejak dua tahun lalu. Desa tersebut dipilih karena mempunyai potensi kawasan mangrove yang luar biasa. Bahkan, saat ini kawasan mangrove yang tersebut telah menjadi salah satu objek eco wisata. Sayangnya, tidak semua masyarakat Gunung Anyar memahami manfaat dari hutan mangrove tersebut. Sebagian masyarakat yang tidak peduli lingkungan justru menyebabkan mangrove rusak. Untuk menyukseskan program kampung binaan ini, BEM FTSP telah menyusun masterplan selama lima tahun. Pada dua tahun pertama, BEM FTSP fokus untuk merubah pola pikir warga di sana untuk lebih mencintai dan menjaga lingkungan sekitarnya. ‘’Pada tahap ini, kami ingin membentuk kampung partisipatif,’’ tutur Solving Subekti, anggota BEM FTSP. Dalam paruh pertama ini, BEM FTSP melalui Departemen Riset dan Teknologi (Ristek) BEM FTSP juga berhasil menciptakan alat yang dapat digunakan untuk mengeruk sampah dari air sungai. ‘’Alat ini terealisasi berkat bantuan Program Hibah Bina Desa (PHBD) senilai Rp 37,5 juta,’’ tuturnya. Dalam pengoperasian alat tersebut, BEM FTSP menja34 ITS Point

I September 2013

Solving menerangkan, sejauh ini kampung tersebut telah mengalami perubahan yang cukup baik. ‘’Ini bisa dilihat bahwa masyarakat di sana lebih peduli lingkungan,’’ tuturnya. Selain itu, packing dan branding dari UKM warga di sana lebih baik. Awalnya UKM di sana terkendala masalah pengemasan dan pembuatan label produk UKM, sehingga kelihatan kurang bagus dan rapi. ‘’Produk UKM tersebut mendapat apresiasi oleh Ir Tri Risma Harini MT saat pembukaan UKM expo Surabaya,’’ ungkapnya Keberhasilan BEM FTSP dalam membina kampung binaan tidak lepas dari besarnya partisipasi dari setiap mahasiswa FTSP. ‘’Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja dari Departemen Pemberdayaan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) yang bernama Interaksi Mahasiswa (IM) FTSP,’’ Jelasnya. Pada setiap kegiatannya, BEM FTSP tidak hanya bekerja sendirian. Mereka turut melibatkan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di lingkup FTSP untuk bersinergi sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing. Himpunan Mahasisawa Teknik Lingkungan (HMTL), misalnya. Kontribusi HMTL dalam kampong binaan ini diwujudkan dengan menciptakan alat pengeruk sampah bagi warga Gunung Anyar. Pun dengan mahasiswa jurusan Teknik Sipil dan D3 Teknik Sipil. Keduanya jurusan tersebut berperan dalam perencanaan pembangunan jembatan di kampung binaan tersebut. Sementara itu, Himpunan Mahasiswa Despro (Hima Ide) memberi pengetahuan kepada masyarakat di sana tentang branding dan packaging produk Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM). (ady/ran)

S

ebagai salah satu kampus teknologi, prestasi mahasiswa ITS dalam hal pengembangan riset dan teknologi tentu tidak diragukan lagi. Bahkan, dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) dan Kontes Robot Nasional (KRN), kontingen ITS selalu menjadi salah satu lawan yang diperhitungkan. Namun, bagaimana dengan kemampuan mahasiswa ITS di bidang pengembangan diri mahasiswa? Lewat berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), mahasiswa ITS telah unjuk gigi dalam kegiatan pengembangan mahasiswa. UKM Maritime Challenge, Paduan Suara Mahasiswa (PSM), Tiyang Alit, Pramuka, Cinta Rebana adalah contoh UKM yang dikenal kerap menuai prestasi. Jika menilik lebih lanjut, prestasi ITS tidak hanya dihasilkan oleh enam UKM tersebut. Banyak UKM ITS yang berusia relatif muda tetapi juga memiliki segudang prestasi. Salah satunya adalah UKM Kendo. Pasalnya, UKM yang berdiri pada tahun 2008 ini telah memiliki sejumlah prestasi baik dari dalam maupun luar negeri. Jennis Fitria, ketua UKM Kendo menjelaskan bahwa sejak awal mula UKM Kendo berdiri telah ada beberapa mahasiswa ITS yang bertanding Kendo hingga ke Jepang. Keberhasilan tersebut berhasil dicapai salah satunya karena pelatih UKM merupakan warga asli Jepang. Menariknya, UKM Kendo ITS adalah satu-satunya UKM Kendo yang masih bertahan di Surabaya. ‘’Awalnya banyak mahasiswa ITS yang berlatih di Unitomo (Universitas Budi Utomo). Karena peminatnya terus bertambah, akhirnya didirikan di ITS, ‘’ ujar Jennis.

Hingga saat ini, anggota aktif UKM Kendo ITS hanya berjumlah sekitar 20 orang. Padahal, awalnya terdapat 100 mahasiswa yang mendaftar. “Ada proses yang harus dijalani. Tetapi jika sudah cinta, bermain Kendo akan terus dilakukan bahkan walaupun sudah lulus dari ITS akan tetap bertahan untuk menjadi atlet Kendo,” terang Jennis. Tak hanya Kendo, Koperasi Mahasiswa (Kopma) Dr Angka ITS juga adalah salah satu UKM yang menarik perhatian mahasiswa . UKM berbasis koperasi ini adalah salah satu UKM yang telah cukup lama berdiri di ITS. Hanang Rizki Ersa, Direktur Utama Kopma Dr Angka ITS menjelaskan bahwa Kopma telah beberapa kali menjuarai perlombaan bisnis kewirausahaan. ‘’Namun, hal ini bukan fokus utama kami,’’ jelasnya. Fokus utama UKM Kopma adalah tiga unit usaha yang telah berjalan dari Kopma. Yakni, swalayan di asrama ITS, toko souvenir di SCC, dan usaha laundry di daerah gang Makam Keputih. Sesuai dengan namanya, Kopma juga menerapkan sistem Sisa Hasil Usaha (SHU). Pembagian SHU ini dilakukan pada akhir tahun. “Semakin banyak anggota tersebut berkontribusi kepada Kopma, semakin besar profit yang bisa didapatkan,” imbuhnya. Selain itu Kopma juga merupakan satu-satunya UKM yang memiliki karyawan untuk menjaga tokonya. Hal tersebut dilakukan agar usaha yang dilakukan dapat berjalan dengan baik. “Sistem yang ada di Kopma sudah baik, saat ini kami sedang berusaha agar sistem tersebut tetap dapat berjalan dan sumber daya yang ada dapat dimaksimalkan,” tuturnya. (sha/ran)

ITS Point I September 2013

35


SA 8 Targetkan Lampaui Rekor SA 2

PRESTASI

Loloskan 548 PKM, Peroleh Lima Miliar

P

Hasil tersebut merupakan modal yang sangat berharga bagi mahasiswa kampus perjuangan, sebelum menapaki Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XXVI Mataram. Pasalnya, dengan menjadi institusi yang memperoleh pendanaan tertinggi, mengindikasikan bahwa mahasiswa ITS memiliki kompetensi lebih dibanding mahasiswa universitas lain. Kepala Badan Pembinaan Mahasiswa dan Hubungan Alumni ITS, Dr Ir Bambang Sampurno MT, mengatakan cukup senang dengan hasil ini. Sebab, hal tersebut akan semakin mendekatkan ITS terhadap gelar juara Pimnas yang telah ditargetkan selama ini. “Dengan hasil ini, menunjukkan kualitas proposal PKM mahasiswa ITS mengalami peningkatan,’’ tutur Bambang. Dosen Jurusan D3 Teknik Mesin ITS ini melanjutkan, sebanyak 548 judul proposal yang didanai berasal dari berbagai jenis PKM. Di antaranya 143 judul PKM Penelitian, 160 judul PKM Kewirausahaan, dan 56 judul PKM Pengabdian Masyarakat. Selain itu, masih ada 27

Optimistis: ITS siap berjuang di Pimnas XXVI, Mataram. Sumber: istimewa

judul PKM Teknologi serta 162 judul PKM Karya Cipta. Sementara itu, keberhasilan ITS memperoleh pendanaan PKM tertinggi diperkirakan tidak lepas dari peran program Laboratorium Base Eduation (LBE). Menurut Bambang, sistem pembimbingan yang diterapkan dalam LBE, sangat tepat guna memaksimalkan substansi keilmuan di PKM yang menjadi basis utama. Selain itu, program LBE juga mampu mengembangkan keahlian mahasiswa terhadap pembelajaran berbasis laboratorium. ‘’Di akhir tahun 2012 kemarin, sudah dilakukan workshop pendamping keilmiahan untuk kepala laboratorium (kalab) dan akan berlangsung seterusnya,’’ ujar Bambang. (ali/fi)

Gratis, ITS Bagikan Empat Software Berlisensi

I

nstitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya terus meningkatkan pelayanan fasilitas bagi sivitas akademikanya. Yang terbaru, institusi berjuluk kampus perjuangan ini menyediakan empat software berlisensi penunjang kegiatan akademis bagi seluruh warga ITS. Keempat software berlisensi tersebut dapat diunduh secara gratis di unduh.its.ac.id. Empat software berlisensi yang dimaksud antara lain Microsoft Open Value Subscription for Education, Mathematica 9.0, Minitab 16.0, dan Matlab R2013. Software tersebut diadakan guna meminimalisasi kepemilikan software ilegal di kalangan sivitas akademika ITS. “Kini masyarakat ITS tidak perlu merogoh kocek lagi untuk membeli lisensi software,” tutur Arief Rahman ST MSc, Kepala Pusat Pengelolaan dan Pelayanan TIK ITS. Program ini juga dilakukan untuk mendukung kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi di ITS. Arief menjelaskan, pendidikan dan penelitian sivitas akademika yang merupakan dua aspek penting Tri Dharma perguruan tinggi akan sangat terbantu 36

ITS Point I September 2013

I

TS kembali me-launching generasi terbaru dari mobil Sapu Angin pada akhir April lalu. Mobil yang diberi nama Sapu Angin (SA) 8 ini merupakan versi penyempurnaan dari generasi 6 dan 7. Mobil ini ditargetkan mampu menempuh jarak hingga 300 kilometer untuk setiap liter bahan bakar yang digunakan.

restasi gemilang kembali ditorehkan sivitas akademika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Berkat konsistensinya menjaga iklim keilmiahan, mahasiswa kampus perjuangan sukses meloloskan 548 judul proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2013. Dari jumlah tersebut, ITS memperoleh pendanaan tertinggi sebesar Rp 5,183 miliar dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti).

dengan adanya program ini. Sehingga, sivitas tak perlu mengunduh software dari luar yang belum jelas lisensinya. Tata cara mengunduhnya, warga ITS tinggal menggunakan login dan password akun ITS masing-masing. Tentunya lewat jaringan lokal ITS. Untuk sekarang, masing-masing paket ini masih dibatasi penggunaannya. Misalnya software Mathematica 9.0 penggunaannya terbatas hanya untuk 30 active users. Minitab 16.0 dan Matlab R2013 masing-masing tersedia untuk 45 dan 5 active users saja. Sedangkan software Microsoft Open Value for Subscription sendiri dalam waktu dekat ini hanya diperuntukkan bagi dosen dan karyawan saja. Dosen Teknik Industri ini melanjutkan, mahasiswa ITS masih belum dapat mengunduhnya dan dianjurkan untuk memanfaatkan perangkat lunak Microsoft lainnya yaitu Dreamsparks. . ‘’Rencananya, paket ini bisa diakses oleh mahasiswa pada Juli nanti,’’ tuturnya. (ali/fi)

Mobil berwarna putih ini diperkenalkan kepada publik bertepatan dengan kegiatan Mechanical City yang diadakan Jurusan Teknik Mesin, Sabtu (27/4). Mobil ini rencananya akan kembali diikutkan pada gelaran Shell Eco Marathon (SEM) 2013 yang dihelat bulan Juni di Malaysia.

Pecahkan Rekor: Sapu Angin 8 Tempuh 300 Kilometer Per Liter. Sumber: istimewa

Ir Wityanto MEng Sc, dosen pembina, menyatakan bahwa pengembangan SA 8 difokuskan pada penurunan bobot mobil. Dengan begitu, tingkat efisiensi bahan bakar yang diperoleh akan lebih tinggi. “Dengan bobot sekitar 100 kilogram, kami targetkan SA 8 bisa irit hingga 300 kilometer per liter,” terangnya. Untuk menurunkan bobot, tim pengembang SA 8 harus merombak beberapa bagian mobil. Bagian yang dirombak antara lain adalah rem dan ukuran mobil. Bila pada SA 6 dan SA 7, tim SA menggunakan rem motor, maka SA 8 menggunakan rem sepeda hidrolik. Sementara itu, ukuran mobil juga turut diperkecil. Mobil

SA 8 ini menggunakan ukuran minimal yang diperbolehkan dalam ajang SEM 2013, yakni panjang 260 sentimeter, lebar 125 sentimeter dan tinggi 115 sentimeter. “Untuk body mobil, kami tetap menggunakan fiberglass, namun dengan ketebalan yang lebih kecil,” ungkap Wityanto. Septian Surya Dani, manajer tim teknis, mengaku optimis bahwa generasi ke-8 dari mobil ini mampu memecahkan rekor efisiensi yang dicetak pendahulunya, yakni SA 2. Pada tahun 2010, SA 2 berhasil mencatatkan rekor efisiensi sebesar 237,8 kilometer per liter bahan bakar. Hingga kini, rekor ini belum bisa terpecahkan oleh mobil manapun. “Kami yakin dengan bobot yang lebih ringan, SA 8 mampu melampaui capaian SA 2 pada tahun 2010 lalu,” kata Septian. (ram/esy).

Baru Dua Tahun, Seatrans Sudah Go International

J

urusan Transportasi Laut atau biasa disebut Seatran terbilang berani menentukan target go international. Pasalnya, jurusan ini baru berumur dua tahun sejak diresmikan pada akhir 2010 silam. Tapi Seatran tampaknya tidak main-main dengan target mereka. Buktinya, jurusan ini sudah mulai menjalin kerja sama dengan The Netherlands Organisation for International Cooperation in Higher Education (Nuffic). Sebuah organisasi independen non-profit asal Den Haag, Belanda. Ir Tri Achmadi PhD, Kepala Jurusan (kajur) Transportasi Laut, mengatakan bahwa pihaknya sudah bekerja sama dengan Nuffic sejak tahun 2012 lalu dan akan berakhir hingga 2016 mendatang. Kerja sama keduanya mencakup 12 poin aktivitas. Salah satunya adalah pengiriman beberapa dosen muda untuk meneruskan studi di Belanda. “Untuk kali ini kita mengirim lima orang. Tiga doktor dan dua magister,” tutur Tri Achmadi.

Selain itu, Nuffic akan memberikan beberapa dana hibah untuk mengembangkan prodi ini. Nuffic juga membantu memenuhi segala fasilitas yang dibutuhkan demi memajukan prodi. “Bantuan itu akan dimanfaatkan sebaik mungkin selama empat tahun ini,” tambahnya. Senada dengan Tri Achmadi, Dr Ing Setyo Nugroho, Kepala Laboratorium Telematics Marine Transpor, menyambut baik kerja sama ini. Menurutnya, Jurusan Transportasi Laut harus mempercepat langkah dalam mengejar target go international. Ia juga mengungkapkan, kerja sama dengan Nuffic merupakan langkah tepat untuk meraih target tersebut. “Hal itu merupakan upaya kita untuk bisa menjadi prodi yang modern dan juga terpandang, baik di nasional maupun internasional,” ujarnya. Pada pertengahan Maret lalu, jurusan ini juga menggelar Workshop Capacity Building bersama Nuffic. “Setelah workshop akan ada program lain lagi. Kita akan ganti mengunjungi mereka di Belanda,” kata Setyo. (ram/esy) ITS Point I September 2013

37


Widya Wahana Sapu Angin Siap Menuju Australia

Menjadi Pustakawan Itu Menyenangkan

E

dy Suprayitno SS MHum, pada Mei lalu menjadi pustakawan berprestasi Propinsi Jawa Timur (Jatim). Perjuangan Edy pun belum selesai. Pasalnya, ia harus bersiap untuk berlaga di tingkat nasional. Tak soal karya dan berkas pribadi, Edy juga harus menunjukkan perannya dalam masyarakat. “Saya tinggal di kampung, banyak anak-anak yang lebih suka bermain, padahal waktunya bisa digunakan untuk membaca,” ceritanya. Karena itu, Edy kerap memberikan buku bacaan pada anak-anak di lingkungannya. Bagi Koordinator Informasi Teknologi (IT) dan Kerjasama UPT Perpustakaan ITS ini, seorang pustakawan memang harus selalu membuka diri untuk berbagi. Menurut Edy, perpustakaan berfungsi untuk mengadakan, menyimpan, mengolah, dan menyebarkan informasi. Namun dengan melakukan kerja sama, perpustakaan bisa memberikan hasil yang lebih dan sesuai dengan fungsinya. Gagasan itu pula yang mengantarkan pria asal Pasuruan ini meraih gelar pustakawan berprestasi. “Kerja sama bisa dilakukan lewat workshop dan diskusi panel untuk berbagi tacit knowledge atau pengetahuan yang tidak tercatat,” Edy menjelaskan.

Mengejar Matahari: Mobil ITS yang terbaru ini akan berlaga di World Solar Challenge. Sumber : Dokumentasi BKPKP

ITS mengukir dua sejarah baru. Setelah sukses meluncurkan mobil Sapu Angin Speed, sivitas akademika kampus perjuangan kembali meluncurkan karya terbaiknya berupa mobil surya bernama Widya Wahana Sapu Angin, Sabtu (24/8). Lahirnya generasi keempat Widya Wahana ini sangat istimewa karena dipersiapkan untuk mengikuti perlombaan bergengsi World Solar Challenge di Australia.

I

TS sendiri sebenarnya sudah punya tiga mobil surya sebelumnya. Di antaranya Widya Wahana 1, Widya Wahana 2, dan Widya Wahana 3. Ketiga mobil tersebut juga diciptakan guna mengikuti perlombaan World Solar Challenge di Australia. Sayangnya, tiga karya sivitas akademika tersebut gagal berangkat ke Australia karena kendala dana. ‘’Untuk generasi yang ini, hampir pasti berangkat,’’ ujar Dr Muhammad Nur Yuniarto, dosen pembimbing proyek Widya Wahana Sapu Angin. Dosen Jurusan Teknik Mesin ITS ini menambahkan, proyek pembuatan mobil surya ini menyerap dana yang tidak sedikit. Pasalnya, komponen mobil yang digunakan merupakan kualitas terbaik yang ada di pasaran. ‘’Dana Rp 700 juta yang terserap, sebagian besar digunakan untuk membeli sel surya dan motor,’’ terangnya. Sel surya tersebut memiliki efisiensi yang cukup tinggi hingga 22,5 persen. Di samping itu, kontingen tunggal Indonesia dalam ajang World Solar Challenge 2013 ini juga 38

ITS Point I September 2013

dilengkapi dengan baterai yang memiliki daya simpan hingga 5 KW. Kecepatan dari Widya Wahana Sapu Angin sendiri bisa mencapai 100 kilometer per jam. Hal tersebut cukup menggembirakan mengingat untuk mencapai garis finis dalam kejuaraan World Solar Challenge, mobil surya hanya memerlukan kecepatan 80 kilo meter per jam. ‘’Untuk Itu kami cukup yakin mobil ini bisa memenuhi target mencapai finis pada perlombaan nanti,’’ jelas Nur. Rektor ITS, Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA, memberikan apresiasi yang cukup tinggi terhadap karya sivitas akademika kampus perjuangan kali ini. Sebab, dengan lahirnya Widya Wahana Sapu Angin, mimpi para pendahulu ITS untuk berlaga di kejuaraan mobil surya internasional selangkah lagi terealisasi. Namun, Tri Yogi juga menyadari bahwa Widya Wahana Sapu Angin masih jauh dari kesempurnaan. Sehingga, target yang dibebankan tidak terlalu besar. ‘’Tidak ada target resmi dari ITS. Bisa mencapai finis saja kami sudah bersyukur,’’ tuturnya. Meskipun begitu, Dosen Jurusan Teknik Mesin ITS ini juga berpesan agar para kontingen tetap semangat. Tidak ada alasan bagi mereka untuk minder dengan kontingen dari negara lain. Terlebih, Widya Wahana Sapu Angin merupakan kontingen satu-satunya Indonesia dalam kompetisi tersebut. ‘’Harumkan nama ITS dan Indonesia di Australia,’’ pesan Tri Yogi. (man/ali/izz)

Tak hanya itu, pria kelahiran 27 April 1968 ini punya gagasan lain. Menurutnya, seorang pustakawan harus dapat melakukan pemasaran dengan baik. Memperkenalkan diri sebagai pustakawan menjadi penting baginya. Setiap pustakawan harus berlaku demikian di lingkungannya. Itu agar masyarakat mengenal perpustakaan. Perpustakaan, bagi Edy, memiliki produk yang dapat digunakan secara bebas sehingga masyarakat dapat berkembang. “Menjadi pustakawan itu menyenangkan,” ucapnya dengan senyum melebar. Edy pun tak akan bosan menghimbau masyarakat untuk membaca, dan memanfaatkan keberadaan perpustakaan dengan sebaik-baiknya. Baginya, perpustakaan memang layak dicintai oleh masyarakat. (set/fi/ran)

T

Lagi, ITS Wakili Indonesia Di Ajang Internasional

orehan prestasi tingkat internasional tak henti-hentinya dicapai ITS di sepanjang tahun 2013 ini. Kali ini, prestasi itu hadir dari empat orang mahasiswa Jurusan Teknik Elektro ITS yang berhasil mencatatkan namanya sebagai juara ketiga Go Green In The City (GGITC) East Asia 2013. Mereka adalah Ria Sasmita Utami, Kharisma Bani Adan, Ahmad Faisal Haq, dan Priyo Edy Wibowo. Praktis, prestasi gemilang ini menghantarkan mereka untuk bersaing dengan 22 tim terbaik dari seluruh dunia akhir juni mendatang. Terinspirasi dari klinik terapung yang berada di Kutai Barat, Priyo salah satu anggota tim mengatakan tergerak untuk membuat Green Floating Clinic. Pada akhirnya, karya yang diwujudkan melalui sebuah prototype itu pun diikutkan dalam gelaran kompetisi yang diadakan Scheider Electric ini. Ia menerangkan dari konsep klinik yang sudah ada dan berjalan memiliki beberapa kelemahan yang perlu ditingkatkan. Diantaranya adalah kendala untuk memperoleh bahan bakar fosil yang sulit untuk dimiliki. ”Karena itu, kami menawarkan ide penggunaan solar cell untuk memenuhi kebutuhan listrik pada klinik tersebut,” ucapnya.

Ia menambahkan setelah dilakukan uji coba, timnya mendapat hasil bahwa solar cell terbukti mampu menghasilkan kapasitas listrik sebesar 30 KW. “Daya tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan klinik sehari-hari,” papar mahasiswa angkatan 2010 ini. Seperti dikutip dari ITS Online, pada GGITC Country Final, Indonesia diwakili oleh ITS dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Prasetya Mulya. ‘’Kami harus bersaing dengan negara-negara di Asia, diantaranya Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam, Korea Selatan, dan Taiwan,’’ tutur Ria Sasmita Utami. Bagi mereka, perjuangan yang dihadapi tidaklah mudah. ‘’Kami harus menyiapkan prototype kurang dari seminggu. Tak hanya itu, sempat terdapat kendala saat membawa prototype ke dalam pesawat karena baterai harus dilepas dan diletakkan di bagasi,’’ tutur mahasiswi angkatan 2009 ini. Selain itu, prestasi ini turut mengharumkan nama bangsa meski belum menjangkau capaian Juara Kedua dan Pertama yang ditempati oleh Singapura dan Filipina. ‘’Setidaknya, kami berharap dapat meraih prestasi terbaik di Paris pada 27 sampai 28 Juni nanti,’’ pungkasnya. (ady/man/izz) ITS Point I September 2013

39


Internatinal Office (IO)

DID YOU KNOW?

Gerbang Baru, Jadi IKON ITS

Semakin Dewasa dalam Internasionalisasi Semarak Internasionalisasi: Mahasiswa asing dalam acara CommTECH Camp 2013. Sumber: ITS International Office.

berkaca mata tersebut. Tercatat sebanyak 28 karyawan mengirimkan berkas persyaratan ke IO ITS. Hingga akhirnya terpilihlah enam karyawan yang berhak magang di Thailand. Nur Hasan dari Perpustakaan Pusat ITS, Yashinta Nurrohma dari Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Buchari dari Jurusan Teknik Industri, Ami Wida Sari dari Jurusan Arsitektur, Maya Puspita dari Jurusan Sistem Informasi dan Lilik Chudaifah dari Badan Kerjasama Inovasi dan Bisnis Ventura (BKIBV) ITS.

Sementara itu, dua lingkaran, lambang ITS, dan kumnparan, melambangkan ITS sebagai kampus yang mengedepankan teknologi. Dua lingkaran, yang terlihat seperti lintasan bola tersebut, diinspirasi oleh lintasan atom, bagian terkecil dari suatu benda. “Berbagai bentuk teknologi bisa ditemukan, karena hasil rekayasa atom,” tambahnya.

S

atu lagi bangunan baru kembali berdiri di kampus ITS, yakni Gerbang ITS. Gerbang yang baru selesai dibangun awal tahun ini, berdiri tegak di depan bundaran ITS. Selain berdiri megah, ia dibuat dibuat dengan sembarangan. Filosofinya pun tidak main-main. Ir Porbantoro, perancang bangunan, menerangkan, tiga pilar bambu runcing yang ada di kiri dan kanan jalan itu, dibangun untuk mengabadikan sejarah berdirinya ITS, dan perjuangan rakyat Surabaya pada 10 Nopember. Sebagai gerbang, secara tidak langsung berfungsi sebagai akses masuk menuju kampus. Sedangkan unsur setengah lingkaran dan ruang kosong di bawah pilar bambu runcing dirancang sebagai akses masuk pejalan kaki. “Agar tidak campur dengan jalan kendaraan, “ jelasnya. Tempat duduk yang tersedia dalam ruang kosong di bawah bangunan bambu runcing tersebut berfungsi sebagai tempat tunggu mahasiswa atau tamu untuk menunggu janji.

Masih berkaitan dengan teknologi, terang Pembantu Rektor II ITS, Ir Muhammad Faqih MSA PhD, gerbang ITS ini akan dilengkapi dengan electronic card untuk akses masuk. “ Electronic card ini hanya bisa digunakan oleh sivitas ITS. Sedangkan, pihak lainnya hanya bisa masuk dengan izin dan melalui prosedur Satuan Keamanan Kampus,” paparnya.

Kurang Mencolok

Bangunan ini mungkin terlihat biasa saja dan tidak mencolok. Sama seperti Monumen Nasional dan Tugu Pahlawan bentuknya simpel. Namun, lanjutnya, bangunan tersebut tidak didukung faktor lokasi dan lingkungan. Mengenai faktor lingkungan, terlihat dari ketinggian pohon yang menyamai bangunan gerbang masuk. Porbantoro juga pernah meminta agar pohon di sana ditebang. Begitu juga dengan faktor lokasi. Dalam rancangan awalnya, gerbang tersebut berlokasi di lintas masuk daerah Gedung Robotika saja. (nul/nir)

Taman Refleksi, Suguhkan Manfaat Kesehatan

S

aat sinar matahari mulai bersemburat di ufuk timur, burung-burung berkicau merdu menemani beberapa masyarakat sekitar ITS yang tampak jogging di kampus ITS. Kampus ini memang kerapkali menjadi tujuan warga sekitar untuk sekedar olahraga santai di akhir pekan. Siapa yang mengira, ada sebuah taman di dalam kampus ITS yang cukup ramai dikunjungi oleh masyarakat. Taman itu memiliki bebatuan yang dapat menyehatkan, tidak lain adalah batu refleksi. Taman yang terletak di dekat Jurusan Biologi itu acapkali disebut dengan Taman Lansia. Usut punya usut, belum ada nama yang pasti untuk taman dengan banyak pohon yang membuatnya tampak rindang itu. Menurut Drs Tribudi Utama MSM, Kepala Biro Sarana dan Prasarana (Sarpras) ITS mengatakan, sebenarnya taman itu belum selesai digarap. Rencananya, akan dibuat tempat duduk dari beton yang bisa melengkapi keindahan taman itu. “Makanya, namanya belum pasti, ada yang menyebutnya Taman Lansia, Taman Refleksi, atau Taman Graffel,” jelasnya. Sengaja dibuat dengan batu refleksi karena Tribudi merasa, tidak ada taman di ITS yang memiliki nilai keberman40

ITS Point I September 2013

faatan. Sehingga ia berfikir bagaimana membuat sebuah taman yang ada memiliki fungsi, lebih dikhususkan lagi untuk kesehatan. “Sehingga saya bersikeras, harus ada batu refleksi di taman itu,” tandasnya. Tribudi yakin, taman yang memiliki nilai manfaat akan didatangi pengunjung dengan sendirinya. Keyakinannya terbukti. Tanpa melakukan publikasi tentang taman tersebut, sudah banyak orang yang berkunjung. Dan hal itulah yang saat ini terjadi, setiap pagi hari, Taman Lansia menjadi salah satu tujuan bagi para warga sekitar yang jogging. “Taman ini belum pernah kami publikasikan, tapi taman itu sendiri sudah bisa menarik banyak orang untuk datang,” ujarnya sambil tersenyum. Sebenarnya, keinginan dari pihak Sarpras, suatu saat nanti akan ada sebuah komplek pertamanan di daerah sekitar Jurusan Biologi itu. Mulai dari Taman Lansia, gazebo dan jembatan Statistika, hingga kolam yang ada di dekat UPT Penerbitan ITS Press. “Inginnya nanti bisa jadi tujuan masyarakat untuk menikmati keindahan alam di ITS,” ungkap Tribudi. (fin/nir)

ari tahun ke tahun, Internatinal Office (IO) ITS kian gencar menyusun langkah-langkah strategis. Di bawah pimpinan Dr Maria Anityasari ST ME, IO giat merealisasikan strateginya untuk mewujudkan ITS sebagai world class university. Bukan saja melibatkan dosen ataupun mahasiswa. Keterlibatan staf pun kini mulai dimatangkan untuk mencapai visi tersebut.

D

Keenam peserta magang tersebut akan menimba ilmu di Thailand. Kesempatan magang ini dapat digelar melalui kerjasama ITS dengan lima universitas di Thailand. Yakni Chulalongkorn University, Thammasat University, dan King Mongkut University. “Program ini merupakan tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) yang sudah dilakukan ITS dengan kelima universitas di Thailand tersebut,” ujarnya.

Melalui program terbarunya, Staff Internship 2013, International Office (IO) ITS mengajak karyawan untuk turut mendukung proses internasionalisasi di ITS. Program ini nantinya merupakan kesempatan bagi staf dan karyawan ITS untuk meng-upgrade diri. Tak tanggung-tanggung, ITS pun menggandeng beberapa universitas di Thailand agar peserta magang dapat merasakan atmosfer bekerja di luar negeri. Insitusi yang dituju pun dirasa lebih stel.

Bukan hanya dalam program Staff Internship 2013, IO ITS juga mengadakan Study Ekskursi (SE) dalam menindaklanjuti MoU dengan Thailand tersebut. Sebanyak 22 mahasiswa akan diberangkatkan ke beberapa kolega ITS di Thailand. “Selain dapat mempelajari sistem belajarnya, diharapkan mahasiswa yang berangkat SE juga bisa memanfaatkannya untuk memperkenalkan ITS di sana nanti,” lanjut Dosen Jurusan Statistika tersebut.

”Karyawan ITS masih butuh banyak pengalaman terkait aktivitas internasional,” tutur Dr Heri Kuswanto MSi, Wakil Ketua International Office (IO) ITS. Kegiatan ini sekaligus sebagai upaya ITS memberikan motivasi kepada sivitas akademika lainnya dalam mempersiapkan persaingan global di masa yang akan datang. Pengalaman tersebut dapat diaplikasikan sebagai upaya ITS mencapai visi menjadi universitas riset yang bereputasi internasional.

Summer Course, Gaet Empat Jurusan

“Awalnya pesimis dapat menarik minat karyawan dalam program ini,” lanjut Heri. Terlebih ini merupakan pertama kalinya diadakan. Kekhawatiran akan sulitnya ijin dari jurusan, unit, maupun badan masing-masing pun cukup mengganggu. Heri menjelaskan bahwa tidak menutup kemungkinan pihak-pihak tersebut akan merasa keberatan untuk ditinggalkan karyawannya tersebut. Namun, nyatanya kekhawatiran itu tidak terjadi. “Animo karyawan terhadap program ini cukup besar,” tegas pria

Berbagai improvement pun dilakukan yakni dengan melibatkan jurusan-jurusan yang ada. Pelaksanaan CommTECH juga mengadakan Summer Course secara bersamaan. Hingga sekarang, sudah ada empat jurusan yang memutuskan untuk bergabung. Yaitu Jurusan Biologi, Teknik Lingkungan, Desain Produk Industri, dan juga Teknik Industri. “Materi yang diberikan nantinya tidak jauh dengan disiplin ilmu yang dipelajari di masing-masing jurusan tersebut,” papar dosen yang juga alumni ITS ini. Demi mewujudkan berbagai program inisiatif tersebut, IO berharap internal ITS turut dipersiapkan guna mengawal mimpi besar tersebut. ‘’Kami perlu satu wadah besar untuk bisa bersama-sama menggapai keinginan tersebut,’’ ungkapnya. Mulai dari training bahasa Inggris yang tidak hanya untuk mahasiswa, tetapi juga karyawan. Termasuk Satuan Keamanan Kampus (SKK) untuk mendukung internasionalisasi yang ada di ITS ini. (oly/fz) ITS Point I September 2013

41


Pascasarjana (PPs)

Beasiswa LN sangat diminati

Semakin Mantap Dengan Sepuluh Program Beasiswa

S

ebagai salah satu Perguruan Tinggi terbaik di negeri ini, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya terus mengembangkan sayapnya. Cita-cita untuk menjadi salah satu institusi bertaraf internasional pun telah lama dicanangkan. Pendidikan pascasarjan merupakan salah satu kuncinya.

Ia menambahkan, dari sekian banyak program joint degree berbeasiswa, pogram Fast Track yang memiliki tingkat kesulitan paling tinggi. “Fast Track sangat berat, karena mereka harus bisa memampatkan masa kuliahnya,” ujar dosen Teknik Elektro ini. Adi melanjutkan mahasiswa yang menginginkan Fast Track harus memiliki prestasi yang baik di bidang akademiknya. Sehingga mereka tidak akan merasa berat jika program ini sudah mereka ambil. “Karena mahasiswa yang lulus seleksi Fast Track diijinkan mengambil mata kuliah magister semester satu dan dua bersamaan dengan semester tujuh dan delapan program sarjana,” ungkapnya. Dengan begitu mahasiswa tersebut akan menyelesaikan masa kuliahnya dalam waktu yang lebih cepat.

Beasiswa semakin marak bagi mereka yang menempuh program Pascasarjana. Hingga saat ini, terdapat sembilan beasiswa program pascasarjana. Baik itu berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. “Saat ini, banyak sekali program-program beasiswa sedang kami kerjakan,” ujar Prof Dr Ir Adi Soeprijanto, direktur Program Pascasarjana ITS. Dari sepuluh program beasiswa tersebut, tujuh di antaranya mendapatkan dana langsung dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). Tujuh beasiswa tersebut antara lain, Beasiswa Fresh Graduate, Beasiswa Pra-S2 Perguruan Tinggi T3 (Terdepan, Teluar, dan Tertinggal), Beasiswa Pra S2 Sain-Tek, Beasiswa Pendikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPPDN), Beasiswa Sandwich, Beasiswa Program Doktor Sarjana Unggul (BPDSU), dan yang terakhir adalah BPPDN untuk Tenaga Kependidikan. Sedangkan tiga lainnya mendapat sumber dana dari Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN). Antara lain, program Fast Track Berbeasiswa, Fast Track Mandiri, dan Beasiswa Unggulan KLN (Kejasama Luar Negeri ) Joint Degree. “Ketiganya juga merupakan program joint degree. Sehingga mahasiswa juga harus melaksanakan studi di luar negeri.” tutur Adi. Adi menjelaskan, BPPDN merupakan program beasiswa pascasarjana yang paling lama digelar di ITS. “BPPDN sudah ada sekitar sepuluh tahunan yang lalu. Tetapi dulu bernama Beasiswa Program Pascasarjana, hanya saja berubah nama menjadi BPPDN tahun ini,” katanya. BPPDN sendiri merupakan beasiswa yang diberikan oleh Dikti kepada dosen-dosen yang akan mengikuti pendidikan di program pascasarjana. Baik itu magister (S2) maupun doktor (S3). Biaya kuliah pun ditanggung seluruhnya oleh Dikti, meliputi SPP, biaya hidup, biaya buku, dan biaya untuk penelitian. Tak hanya untuk dosen, ITS juga menyediakan BPPDN bagi tenaga kependidikan maupun calon dosen. Beasiswa Fresh Graduate merupakan program yang paling banyak diminati oleh mahasiswa. Hal ini disebabkan karena IPK yang disyaratkan tidak terlalu tinggi. “Syarat IPK 42 ITS Point

I September 2013

ITS saat ini juga tengah gencar-gencarnya untuk mengadakan kerjasama dengan beberapa universitas luar negeri. Hal ini bertujuan agar proses internasionalisasi di kampus perjuangan segera tercapai. “Selain beberapa program beasiswa dalam negeri, kita juga mengadakan beberapa joint degree berbeasiswa,” jelas Adi.

Fokus: Adi mendorong kemajuan Program Pascasarjana ITS lewat internasionalisasi. Sumber: Teguh Julianto / ITS Online

hanya sebesar 3,00. Beda dengan lainnya yang rata-rata harus di atas 3,25 atau 3,5,” tuturnya. Di samping itu, Fresh Graduate tidak mengharuskan mahasiswanya untuk menjadi dosen setelah lulus nanti. Berbeda dengan BPPDN yang memang sudah terikat. “Hal ini lah yang menyebabkan Fresh Graduate paling diminati oleh mahasiswa,” ujar Adi. Kuota yang disediakan pada program ini juga paling banyak, yaitu mencapai 250 mahasiswa. Pascasarjana juga menyediakan sebuah program beasiswa menarik bagi mahasiswa S1 yang memiliki kemampuan lebih. Program Doktor Sarjana Unggul (PDSU) memang diberikan kepada mereka yang sangat menonjol selama perkuliahan di program Sarjana. Para penerima beasiswa PDSU dapat langsung ke jenjang doktor selama empat tahun tanpa harus melewati tahap magister. PDSU tidak tersedia bagi semua jurusan di ITS. PDSU hanya diberikan untuk mahasiswa di Jurusan Teknik Elektro, Teknik Kimia, dan Teknik Sipil di bawah asuhan promotor yang dipilih Dikti. “Mahasiswa dipilih oleh dosen yang telah ditunjuk Dikti. Setiap dosen berhak memilih tiga mahasiswanya,” jelas Adi. Saat ini terdapat lima dosen ITS yang telah ditunjuk Dikti. ITS juga memberikan perhatian bagi mahasiswa S3 yang ingin melakukan riset di luar negeri. Melalui beasiswa Sandwich, beberapa calon dosen tersebut juga bisa mengadakan riset di universitas luar negeri yang diinginkan. “Asalkan mahasiswa tersebut sudah lolos seleksi,” tambahnya.

Setelah lulus program magister, mahasiswa akan diberi kesempatan untuk menjalani studi S3 di luar negeri. “Selama di Indonesia, mahasiswa hanya gratis untuk SPP. Setelah di luar negeri semua biaya ditanggung,” tambah Adi. Biaya tersebut termasuk biaya hidup, praktikum, buku-buku, dan lain-lain. Hingga saat ini, ITS telah bekerja sama dengan Jerman, Perancis, dan Thailand untuk menyelenggarakan program Fast Track. Dari ketiga negara tersebut, hanya Jer-

man yang bersifat terikat. Artinya setelah lulus S3, mereka wajib untuk menjadi seorang dosen. “Kalau Perancis dan Thailand tidak wajib, karena sumber dananya sudah beda,” katanya. Fast Track juga terbuka bagi semua jurusan yang sudah memiliki program pascasarjana. “Kalau belum punya ya belum bisa. Contohnya biologi, jurusan ini belum punya S2,” terangnya. Tak hanya itu, ia pun berharap agar program ini juga bisa terlaksana di negara-negara lain. Fast Track sendiri terbagi menjadi dua, yaitu program berbeasiswa dan mandiri. Untuk program berbeasiswa, mahasiswa sudah terlepas dari semua biaya yang dibutuhkan saat kuliah. Tak hanya untuk Fast Track, BPKLN juga mendanai program Beasiswa Unggulan KLN Joint Degree. Mahasiswa yang dinyatakan lulus seleksi akan meneyelesaikan kuliah magisternya tahun pertama di ITS dan tahun kedua di universitas rekanan. “Universitasnya terserah, asalkan sudah memiliki Mou dengan jurusan yang diambil,” tandas Adi. Ia mengatakan, masih banyaknya mahasiswa yang ragu dengan kebenaran program beasiswa ini menjadi kendala tersendiri bagi pihak pascasarjana. “Tetapi perlahan-lahan, itu sudah bisa teratasi,” jelasnya. Selain itu, data kelulusan yang lambat membuat banyak mahasiswa tidak bisa mendaftar karena sudah melampaui jadwal pendaftaran. Terakhir Adi berharap agar program-program ini bisa berlanjut dan bissa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh mahasiswa. Mahasiswa yang mendaftarpun diharapkan juga mahasiswa yang memang berkompeten dan memiliki kemampuan yang bagus. “Dengan begitu pascasarjana menjadi kuat, sehingga bisa mendongkrak prestasi ITS,” tutupnya.

Akreditasi Program Pascasarjana ITS telah menyelenggarakan pendidikan di program magister sejak tahun ajaran 1993/1994. Hingga menjelang tahun ajaran 2013/2014 ini, ITS telah menyelenggarakan 17 program magister reguler, lima program magister gelar bersama, dan lima magister kerja sama. Tak hanya program magister, sejak tahun ajaran 2001/2002, Program Pascasarjana ITS juga sudah menggelar program doktoral. Hingga saat ini, Program Pascasarjana juga menggelar program doktor reguler dan juga gelar bersama. Proses akreditasi di tubuh Program Pascasarjana sendiri dilakukan oleh jurusan yang menggelar program pasca sarjana. Adi mengatakan, hampir seluruh program pasca sarjana di tiap jurusan di ITS sudah terakreditasi. Baik itu S2 maupun S3. “Minimal sudah terakreditasi B,” katanya. Akreditasi pun harus rutin diperbarui. Pasalnya hal itu perlu agar membuat program pascasarjana bisa terus berkembang. “Setiap empat tahun harus mengajukan akreditasi lagi,” tuturnya.

Adi melanjutkan, permasalahan akan timbul jika suatu program pascasarjana tidak memiliki ijin operasi. Berdasarkan Undang Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, setiap program studi harus segera mengajukan akreditasi enam bulan sebelum masa akreditasinya berakhir. Jika tidak maka izin akan dicabut dan program studi tersebut dinyatakan tidak sah. Akan tetapi, proses akreditasi memang terkadang membutuhkan waktu yang panjang. Terkadang, akreditasi baru dari BAN-PT belum juga terbit hingga akhir masa enam bulan tersebut. Jika begitu, maka status akreditasi program studi lama masih tetap berlaku. Menurut Adi, ada hal yang perlu diluruskan terhadap sistem akreditasi saat ini. Ia menjelaskan, jika suatu instusi sudah memiliki ijin operasi, maka seharusnya ia sudah mengantongi akreditasi C. “Jadi bukan tidak punya akreditasi, ini harus diluruskan,” tegasnya. (guh/izz)

ITS Point I September 2013

43


PROGRAM

Dukung Eco Campus, Budayakan Eco Office

I

TS tak henti-hentinya menggencarkan berbagai program yang mendukung terwujudnya Eco Campus di lingkungan kampus ITS Surabaya. Sebelumnya, ITS telah menginisiasi dan menerapkan program Gugur Gunung, Bird Feeder, pemilahan sampah, dan sejumlah program lainnya. Kali ini, ITS kembali mempersiapkan diri untuk penerapan program Eco Office di lingkungan kampus ITS. Program Eco Office ini mulai gencar disosialisasikan ke semua unit, biro, badan dan jurusan-jurusan yang ada di ITS. Seluruh elemen kampus mempunyai kewajiban untuk mendukungnya, tak terkecuali mahasiswanya. Sebagai langkah awal, sosialisasi pelaksanaan Eco Office ini diberikan kepada para kasubbag jurusan dan unit di lingkungan ITS dalam bentuk workshop, Selasa (7/5) lalu. Program Eco Office ini diharapkan bisa segera teraplikasikan di lingkungan ITS. Usaha untuk mewujudkan Eco Office yang dilakukan karyawan ITS selama ini sebenarnya sudah cukup bagus. Salah satunya, penerapan program surat elektronik atau e-surat yang saat ini telah dijalankan. Program tersebut cukup efektif meminimalisasi penggunaan kertas sehingga dapat menekan jumlah limbah kertas yang dihasilkan ITS. ”Kegiatan ini juga merupakan bagian dari serangkaian kegiatan Eco Campus ITS,’’ ungkap Haryo Dwito Armono ST MEng Phd. Namun, guna mewujudkan Eco Office tak cukup hanya dengan mengurangi kuantitas limbah kertas. Melainkan, juga harus menerapkan budaya hidup sehat, bersih, dan disiplin di dalam kantor yang biasa disebut dengan istilah 5R. “5R merupakan singkatan dari Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin,” rinci kepala pusat akselerasi program prioritas ITS tersebut. Haryo menambahkan, program 5R sendiri sudah banyak diimplementasikan di industri dan perusahaan. Akan tetapi untuk kategori perguruan tinggi masih jarang yang menerapkannya. ‘’ITS merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi pertama yang menerapkan 5R,’’ tutur Haryo Istilah yang terkandung dalam 5R secara garis besar dibagi dalam dua aspek. Ringkas, Rapi, dan Resik merupakan aspek fisik yang mudah untuk diterapkan. Sedangkan Rawat dan Rajin termasuk dalam kelompok aspek mental yang perlu komitmen lebih untuk mengaplikasikannya. Dampak yang akan ditimbulkan dari penerapan program 5R sendiri nantinya cukup signifikan. Selain mampu menghadirkan kenyamanan bagi karyawan ketika bekerja, program R5 nantinya juga diharapkan dapat meningkatkan 44 ITS Point

I September 2013

Haryo Dwito Armono ST MEng Phd (kiri). Sumber: istimewa

efisiensi kerja karyawan. “Bukan hanya itu, biaya untuk perawatan peralatan kerja juga akan lebih murah serta keselamatan kerja karyawan akan meningkat,” Haryo.

Berawal dari Kunjungan di Campina

Eco Office sendiri sebenarnya sudah cukup lama diwacanakan oleh Badan Koordinasi Pengendalian dan Komunikasi Program (BKPKP) ITS. Namun belum sempat direalisasikan. Sebelumnya, BKPKP telah mengkoordinasi tim Eco Campus ITS untuk melakukan studi banding ke PT Campina Indonesia yang berhasil menerapkan konsep Eco Office dengan baik setahun yang lalu. Sebanyak 64 orang mengikuti kunjungan Eco Campus di PT Campina Indonesia. Mereka terdiri dari staf BKPKP selaku hubungan masyarakat (humas) ITS dan Bolo Eco Campus yang terdiri dari perwakilan jurusan, perwakilan unit terkait, dan perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS. PT Campina sendiri dipilih karena kiprahnya menjalankan Eco Office. Berbagai penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah diterimanya. Termasuk sertifikat International Standard Organization (ISO) dalam bidang lingkungan.

Jurusan dan Unit Harus Terapkan Eco Office

Setelah adanya workshop tentang Eco Office, ITS kini tengah mengadakan kompetisi antar unit, biro, badan dan jurusan-jurusan yang ada di ITS. Kompetisi ini digunakan untuk mengukur sejauh mana jurusan maupun unit di ITS mampu mengaplikasikan program tersebut. “Penilaian akan dilakukan selama setahun,” tutur Haryo.

Studi Banding: Kunjungan Tim Eco Office ITS di Campina. Sumber: Dokumentasi ITS Eco Office Pemenang kompetisi ini akan mendapatkan reward dari ITS. ‘’Setiap jurusan dan unit harus membuat rencana kegiatan Eco Office di lingkungan kerja masing-masing,’’ tutur Dosen Teknik Kelautan ini. Jurusan dan unit harus mengumpulkan arsip foto tempat kerjanya sebelum dan sesudah diterapkannya Eco Office. Foto tersebut akan mendapat penilaian tersendiri dari ITS. Selain mengumpulkan arsip foto, unit yang ada di ITS harus mengisi borang yang berisi tentang program Eco Office yang akan dibagikan oleh ITS. Sehingga setiap unit di ITS harus mempersiapkan program kerja di lingkungannya. Dengan adanya kompetisi ini, diharapkan sivitas akademika ITS dapat menjaga lingkungan kerja masing-masing. “Eco office ini dapat merubah perilaku dari sivitas akademika ITS untuk cinta lingkungan,’’ tegasnya.

Ia mengatakan, butuh waktu lama untuk merubah perilaku dari sivitas akademika ITS. Seperti filosofi dari Jepang bahwa merubah perilaku manusia harus dipaksa. Setelah dipaksa akan timbul rasa terpaksa. Dari terpaksa menjadi biasa. Sehingga dari biasa akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan inilah yang akan menjadi budaya. Dalam mendukung Eco Office , ITS telah membuat terobosan dengan smart classroom. Kelas cerdas tersebut merupakan pilot project dari ITS yang terletak di gedung Unit Pengelola Mata kuliah Bersama (UPMB) di ruang 204. Dengan adannya smart classrom ini dapat menghemat penggunaan listrik. Tak hanya itu, ITS juga membagikan tempat sampah kepada unit dan jurusan di ITS. ‘’Ini adalah langkah awal Eco Office di ITS,’’ tegas pria asal Sidoarjo ini. (ady/esy) ITS Point I September 2013

45


DIES NATALIS

Pagelaran wayang kulit kembali mewarnai Dies Natlis tahun ini. Sumber: Istimewa

Hidupkan Kembali Atmosfer Perjuangan

T

ak terasa, di tahun 2013 ini ITS menginjak usia ke-53. Sejak didirikan pada tahun 1960 silam, kampus yang mengusung semangat kepahlawanan ini telah melalui serentetan perjalanan panjang. Kampus ITS telah berganti wajah, memperbaharui semangat, dan terus menuai prestasi dan kebanggaan. Bulan November nanti menjadi ajang ITS untuk kembali memperbaharui semangatnya. ITS perlu menghidupkan kembali semangat seluruh sivitas akademikanya. Baik mahasiswa, dosen maupun karyawan terus diajak untuk mencapai target-target bersama. Pada momen dies institusi ke-52 setahun silam, ITS telah semakin mantap menetapkan visinya sebagai universitas bertaraf internasional. Hal ini direfleksikan dengan meningkatnya keterlibatan dalam berbagai program internasional oleh mahasiswa ITS. Tak hanya itu, ITS juga semakin membuka pintunya terhadap mahasiswa internasional untuk mencicipi suasana belajar di Surabaya. Jumlah mahasiswa asing yang belajar atau mengikuti program di ITS pun semakin meningkat. “Sesuai visinya, ITS memang bertujuan menjadi kampus bertaraf internasional,” jelas Dr Ir Hidayat Soegihardjo Masiran MS, ketua tim penyelenggara Dies Natalis ke-53 ITS. Langkah ini turut didukung oleh kerja sama riset dengan insitusi luar. Seperti Jurusan Biologi ITS yang ber-partner dengan Chulalongkorn University untuk menciptakan teknologi energi terbarukan aplikatif ramah lingkungan. Bahkan, “Sekarang ITS menjadi acuan perguruan tinggi lain dalam hal kerja sama internasional,” jelas lelaki yang akrab disapa Hidayat tersebut. Rangkaian perayaan pada Dies Natalis ke-53 yang dimulai pada bulan September turut menjadi wujud rasa syukur insitusi terhadapnya.

46 ITS Point

I September 2013

Meski begitu, berbagai pencapaian tersebut tak lantas membuat ITS berhenti berbenah. “Bukan hanya untuk apresiasi dan wujud syukur, lewat gelaran ini kami ingin terus menumbuhkan semangat orang-orang ITS untuk terus bersama melakukan penyempurnaan,” jelas Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ini. Bersinggungan dengan tujuan tersebut, tema yang diangkat kali ini adalah Meningkatkan Etos Kerja dan Kreativitas untuk Keunggulan Internasional. Tema tersebut menekankan pada tiga poin utama. Yaitu etos kerja, kreativitas, dan juga internasional. Poin-poin tersebut beriringan dengan pencapaian yang sudah dan untuk didapat. Menurut Hidayat, ITS seharusnya masih mampu membuat sejarah dengan banyak prestasi lain. “Jika ITS dapat meningkatkan etos kerja baik dosen maupun karyawan, sangat memungkinkan untuk mmperoleh pencapaian lebih dari ini,” cetusnya.

Mlaku-Mlaku Hingga IMB

Seperti perayaan Dies Natalis setiap tahunnya, kegiatan rutin turnamen olahraga dan pagelaran seni tetap dihelat. Kali ini, hadiah utama kegiatan fun bike adalah sebuah rumah. Di samping itu, masih banyak terdapat rangkaian kegiatan lainnya. Seperti pengobatan gratis, donor darah, pasar murah dan penghijauan. Tak lupa pula ITS Mengajar yang bekerja sama dengan Komunitas Indonesia Mengajar yang menebar inspirasi cita-cita yang tinggi kepada anak-anak kaun marjinal. Sebuah gelaran yang terakhir disaksikan oleh ITS tiga tahun silam juga akan kembali digelar. Yakni pagelaran wayang kulit oleh Ki Cahyo Kuntadi. Dalang muda ini tengah naik daun dan telah pernah pentas di hadapan Presiden maupun anggota MPR. Hidayat dan tim juga berencana untuk menghidupkan kembali budaya lama jalan-jalan di Tunjungan. Alhasil, dalam daftar acara terdapat kegiatan Mlaku-mlaku nang Tunjungan Mbarek ITS (Jalan-jalan ke Tunjungan Bersama Anak ITS, red). Untuk ini, pihak ITS bekerjasama dengan pemangku kepentingan Kota Surabaya.

“Kami ingin perjuangan yang tertuang dalam sejarah tersebut mampu diresapi oleh sivitas akademika ITS, alumni dan juga masyarakat Surabaya,” paparnya. Hidayat ingin para sivitas akademik merasakan kembali atmosfer perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan dulu yang berat. Ia berharap semangat yang meresap akan mampu membangkitkan kembali semangat juang. Terutama untuk membangun Indonesia dan menyadarkan bahwa kita tak boleh lagi bermalas-malasan. Pada saat yang bersamaan, masyarakat Surabaya turut diajak untuk menikmati persembahan dari ITS. Yaitu dalam bentuk Pasar Seni dan Teknologi. Selain memamerkan hasil karya teknologi mahasiswa ITS, pasar akan turut dimeriahkan oleh hasil kerajinan dan makanan khas Surabaya. Bahkan, ITS merencanakan untuk lebih membuka kedekatan dengan masyarakat, terutama para kaum marginal. Bentuknya melalui keberadaan stan-stan jajan dan makanan gratis. Adakah yang lebih baik daripada bercengkerama sembari menikmati pagelaran seni? Di tempat yang sama, ITS bakal menyediakan ajang kesenian tersendiri bertajuk ITS Mencari Bakat (IMB). “Kreativitas tidak hanya tertuang dalam teknologi, kami juga ingin memberi apresiasi kepada yang berpotensi dalam bidang seni,” tambah Hidayat. IMB ini bakal lebih semarak dengan kehadiran Klantink, grup musisi Surabaya yang merupakan jawara IMB sesungguhnya (Indonesia Mencari Bakat, red). Acara akan mencapai puncaknya dengan kehadiran para peserta Gowes Jakarta-Surabaya sepanjang 850 km. Setelah segala kemeriahan bersepeda, akan menyusul rangkaian transportasi inovatif ITS. Di antaranya yaitu mo-

bil listrik EC-ITS dan mobil bertenaga surya Widya Wahana Sapu Angin Surya. Seluruh rangkaian Dies Natalis akan turut melibatkan dan mengundang para alumni. Melalui kehadiran di acara Dies, mereka diharapkan bisa saling mengeratkan hubungan kerja sama. Dengan begitu, relasi dengan berbagai pihak baik di dalam maupun luar negeri bisa semakin membaik.

Inspirasi Sang Duta Besar

Demi mendongkrak etos kerja di seluruh sektor kampus, rencana tim Dies ke-53 tak tanggung-tanggung. Mereka berencana menghadirkan langsung sosok inspiratif Dino Patti Djalal, Duta Besar Indonesia di Amerika Serikat. “Doktor Dino sangat representatif untuk tema yang diangkat kali ini,” jelas Hidayat. Dino yang juga Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu akan mengisi orasi ilmiah pada puncak acara. Hidayat serta pihak pimpinan memang berharap besar dalam peningkatan prestasi sivitas akademik ITS. Prof Dr Nur Iriawan MIKom PhD, Pembantu Rektor III, misalnya. Ia ingin melihat kembali karyawan ITS berprestasi di tingkat internasional. Peningkatan dalam kinerja sehari-hari juga ingin ia tekankan, seperti disiplin kehadiran kerja. Melalui seluruh usaha tersebut, ITS berharap bisa membangun komunitas akademis yang lebih tangguh dari sebelumnya. Seperti halnya paruh buruh elang yang tercermin dalam logo tahun ini. “Harapannya ITS pada usia 53 tahun nantinya akan menjadi perguruan tinggi yang semakin matang menuju usia 54 tahun,” pungkas Hidayat. (oly/lis)

ITS Point I September 2013

47


RESENSI

OPINI

Riset ITS Ikut Majukan Indonesia Timur

Gambaran Kecil Gerakan ITS Mengajar

Judul buku Goresan Inspirasi dari ITS Mengajar Penulis Tim ITS Mengajar Terbit Minggu, 5 Mei 2013 Jumlah halaman 85 halaman

“

Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain�, salah satu kutipan menarik dalam buku Goresan Inspirasi dari ITS Mengajar. Kutipan tersebut menggambarkan betapa militannya para pengajar muda ITS dalam upaya mencerdaskan anak bangsa. Buku edisi perdana tim ITS Mengajar ini menunjukkan realita di mana peran mahasiswa sebagai agent of change benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Tak hanya itu, solusi konkrit dari mahasiswa ITS juga dijabarkan dalam buku ini untuk mengatasi tingginya angka anak putus sekolah. Untaian kisah-kisah menarik para pengajar muda ITS menjadi menu pembuka buku karya mahasiswa kampus perjuangan ini. Beberapa elemen ITS Mengajar menuliskan pengalaman berharga mereka ketika menjadi pengajar di sekolah binaan masing-masing. Baik elemen dari unsur Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), BEM fakultas, maupun BEM ITS. Buku ini juga didukung dengan penggambaran kondisi sosial lingkungan adik-adik binaan yang memprihatinkan. Hal tersebut bertujuan mengajak pembaca untuk membayangkan bagaimana lingkungan mereka tumbuh. Bahkan, beberapa di antara peserta didik gerakan ini merupakan anak-anak yang putus sekolah. Selain itu, beberapa di an48

ITS Point I September 2013

taranya lagi masih sekolah namun dengan fasilitas seminimal mungkin. Pada bagian berikutnya, para penulis menjabarkan dasardasar gerakan ITS Mengajar dan tata pengelolaannya. Permodelan dan Standar program pengajaran ITS Mengajar juga tidak ketinggalan dituliskan. Hal ini diperlukan sebagai standar kualitas gerakan serta menunjukkan bahwa ITS Mengajar dilakukan secara professional. Hal menarik lainnya dari buku ini terdapat pada desain layout-nya. Mata pembaca akan dimanjakan dengan fotofoto lucu, unik dan ceria dari adik-adik binaan gerakan ITS mengajar. Lebih dari itu, pada beberapa momen foto juga dilengkapi dengan quote-quote jenaka yang menggambarkan suasana ketika proses dokumentasi dilakukan. Lewat buku ini, pembaca juga dipastikan akan memperoleh berbagai inspirasi baru tentang dunia pendidikan. Pasalnya, beberapa kalimat inspiratif dari para tokoh-tokoh besar dunia seperti Nelson Mandela, Albert Einstein, Frank Zappa, dan Haim Ginot juga turut ditampilkan. Mengajar tugas kita bersama yang sudah terdidik. Rintangan itu pasti, akan tetapi jika terus meratapi rintangan itu, kita tak kan pernah mencapai sisi yang lain yang mungkin lebih pantas untuk kita dapatkan. (ali/ran)

P

enelitian, salah satu elemen Tri Darma Perguruan Tinggi, merupakan kegiatan yang tak lepas dari kehidupan sehari-hari di ITS. Setiap tahun, ITS membiayai lebih dari 300 judul riset baru maupun lanjutan, dari hampir 600 proposal yang diajukan. Riset-riset tersebut menghasilkan berbagai scientific output seperti publikasi pada jurnal dan konferensi, serta paten.

instalasi pengolah sampah menjadi energi. Produk-produk ini siap untuk ditawarkan ke industri dalam waktu dekat. Namun kegiatan riset ITS tak terbatas dalam kampus saja. Di Jawa Timur, ITS juga aktif bergerak menerapkan sains dan teknologi. Termasuk di antaranya pembangunan pembangkit listrik tenaga enceng gondok dan biomassa di Lamongan. Ada Dalam tiga tahun berturut – turut, jumpula pengembangan sistem inovasi lah total pendanaan untuk riset medaerah (SIDa) di Jawa Timur. Meningkat lebih dari 30 persen. Jumlah lalui Forum Jaringan Penelitian dan penelitian serta scientific output turut Pengembangan di Jawa Timur, ITS Prof Dr Drs Darminto MSc meningkat. Peringkat sitasi ITS dalam secara langsung menangani daerah jurnal internasional, seperti Scopus, Mojokerto, Banyuwangi dan Gresik. terus membaik. Tuntutan pembuatan Rencana Penelitian Tujuan utamanya adalah memunculkan pusat-pusat bisnis dan Pengabdian Masyarakat (RPPM) setiap laboratorium berbasis produk unggulan setiap daerah. menghasilkan manajemen serta produktivitas yang lebih tertata. Tak lupa pula, jumlah paten yang didaftarkan me- Kiprah riset ITS semakin luas mencapai wilayah Indonelalui ITS bertambah 55 produk pada tahun 2012. Sebanyak sia Timur. Hasil-hasil penelitian turut berkontribusi dalam 13 produk darinya merupakan hasil Program Kreativitas pengembangan jalur laut Nusantara dari ujung Utara SuMahasiswa (PKM). matra sampai Papua. Proyek raksasa ini membutuhkan studi yang komprehensif bersama enam perguruan tinggi Namun nilai sebuah penelitian yang sesungguhnya terwu- negeri lainnya. jud dalam bentuk aplikasi yang dimanfaatkan masyarakat. Untuk menjembatani proses aplikasi itu diperlukan se- Lebih jauh lagi, ITS juga terlibat langsung dalam pengembuah inovasi. Tak lain agar produk menjadi lebih baik, leb- bangan wilayah Indonesia Timur, dimulai dari Kalimantan, ih murah dan lebih cepat beredar di tengah masyarakat. Madura hingga Papua. Keterlibatan itu terutama dalam kerja sama riset yang diinisiasi ITS dengan 21 PTN di Sistem kelembagaan di ITS telah dikembangkan sedemiki- wilayah tersebut. Keterlibatan ITS terutama dalam meninan rupa untuk mendukung proses tersebut. Lembaga gkatkan kualitas sumber daya manusia di sejumlah perguPenelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS beker- ruan tinggi lokal. jasama dengan Badan Pengelolaan dan Perlindungan Kekayaan Intelektual (BP2KI) dalam hal hak cipta serta Masih banyak pekerjaan rumah ITS untuk dalam mengpaten produk. Koordinasi ini disempurnakan dengan ad- giatkan riset dan inovasi dalam kehidupan masyarakat anya Badan Kerjasama, Inovasi dan Bisnis Ventura (BKIBV) kampus. Termasuk di dalamnya membangkitkan kesadayang menangani inovasi teknologi, inkubator bisnis serta ran dan partisipasi yang lebih besar dari berbagai elemen peluang kerja sama dan promosi dengan pihak luar ITS. dalam membangun budaya riset dan inovasi yang kokoh. Salah satu langkah peting yang telah diambil oleh BKIBV Di pihak lain, masyarakat kita terlanjur dilanda kebiasaan baru – baru ini adalah bekerjasama dengan Himpunan lebih suka membeli teknologi dari luar daripada mengemPengusaha (HIPA) ITS. bangkannya sendiri. Harapannya, bilamana pada saatnya semua kendala ini dapat diatasi, kita akan bisa bangga Dalam beberapa waktu terakhir ini, ada sejumlah produk akan kemampuan mandiri serta mengolah sumber daya siap untuk komersialisasi. Di antaranya mencakup inova- milik kita sendiri. Sesuai penuturan Pembantu Rektor IV si aspal murah yang sedang dikembangkan di mini plant bidang Riset dan Kerja sama. LPPM, proses pengolahan beras sagu dan pengembangan ITS Point I September 2013

49


KOMUNITAS

Lab-Based EAR-ducation Tak Sekadar Nikmati Musik

Aksi Kombong, Si Pembuat Robot

S

ebagai kampus teknik, robot sangat lekat dengan mahasiswa ITS. Kegiatan mengutak-atik alat nirkabel dengan basic ilmu mekatronika sudah biasa dilakukannya. Jika selama ini robot identik dengan mahasiswa teknik, apakah mahasiswa dengan latar belakang Mipa tidak dapat melakukannya? Komunitas Kombong Robot menyangkal hal tersebut. Kini, mahasiswa Mipa dapat menyalurkan minat dan bakatnya dalam bidang robotik.

Santai: Anggota LBE yang Hobi Diskusi Aneka Musik. Sumber: Arinda Nur Latifah/ITS Online

M

engasah kreativitas dan toleransi dapat dilakukan dengan mendengarkan musik. Lab-Based EAR-ducation (LBE), sebuah komunitas pendengar musik di ITS pun melakukan hal tersebut. LBE mengajak anggotanya menginterpretasikan lagu. Sehingga, menjadikan musik tidak sekedar kumpulan nada yang diperdengarkan. Komunitas ini mencoba menyatukan berbagai pecinta aliran musik di atas satu meja. Idenya sederhana, yakni bagaimana agar penggemar musik bisa kumpul bersama, mendengarkan, ngobrol, lantas berdiskusi tentang isi musiknya. “Kami tidak membatasi jenis musik tertentu untuk didengarkan,” ungkap Prof Ir Gamantyo Hendrantoro MEng, PhD, pendiri komunitas LBE. Inti dari kegiatan komunitas LBE sebenarnya adalah bagaimana para penggemar musik tidak hanya duduk dan mendengar. Melainkan bagaimana proses mamahami isi lagu, komposisi, warna musik, dan makna di balik sebuah album. Ketika sound system sederhana mulai memutar lagu, setiap kepala memfokuskan indra pendengaran untuk memahami setiap bait dan nada yang keluar dari pengeras suara. Sesaat kemudian musik berhenti, di sinilah diskusi itu berlangsung. Asal mula komunitas ini terispirasi dari sebuah klub musik di Bandung. Mereka mengundang satu pembicara yang sudah menyediakan semua musiknya. Kemudian semua anggota klub mendengarkan musik bersama-sama. Setiap kali usai mendengarkan, satu orang narasumber memberi penjelasan terkait musik yang dibawanya. Konsep komunitas musik asal Bandung tersebut kemudian dikembangkan sesuai dengan karakteristik LBE. Bedanya, pada komunitas LBE setiap anggota bisa berkontribusi dan

50 ITS Point

I September 2013

membawa masuk musik kegemarannya untuk didengarkan bersama. Ia menunjukkan koleksi musik yang pernah didengarkan dalam komunitas LBE. Tangannya dengan cekatan mengeluarkan compact disk dari ransel hitam. Tidak lama kemudian, setumpuk album musik karya komposer lokal hingga manca negara langsung tertata di atas meja. Beberapa di antaranya adalah album terbaru Djaduk, Genesis, dan berbagai genre musik lainnya mulai dari progressive rock hingga blues. “Ini contoh musik yang biasanya kami dengarkan ,” ujar Gamantyo. Pria yang menyukai aliran musik progressive rock ini mengatakan, sekali pertemuan bisa sampai 20 buah lagu yang didengarkan. “Itu bisa ada beberapa genre musik sekaligus yang diputar, mulai dari punk hingga dangdut,” kata dosen Jurusan Teknik Elektro ini. “Dengan mendengar macam-macam musik begini, kita bisa toleransi dengan kegemaran musik orang lain di sekitar kita,” tutur Gamantyo, yang pernah menjadi anggota paduan suara semasa sekolah. Meski menamakan diri sebagai komunitas musik, menjadi angota komunitas LBE tidak harus bisa bermain alat musik. Orang-orang dari latar belakang berbeda mulai dari dosen dan mahasiswa duduk berkumpul dalam satu meja berdiskusi dan mendengarkan musik dari beragam genre. Kegiatan lain dari LBE yang sudah didirikan sejak tahun 2010 silam adalah mengadakan nonton konser bersama dan diskusi dengan komunitas C2O Library, Surabaya. Selain itu, LBE juga pernah mengundang Slamet Abdul Syukur, seorang legenda nasional sekaligus komponis musik eksperimental dari Surabaya untuk berdiskusi bersama. (anl/esy)

Aneh memang ketika mendengar istilah kombong. Jika diartikan dalam bahasa Jawa, kombong berarti kandang ayam. Namun, kombong yang satu ini bukanlah kombong biasa. Pasalnya, kombong yang dimaksud adalah hunian bagi mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam (FMIPA) yang memiliki perhatian lebih pada ilmu menciptakan mesin pintar atau robot. Komunitas tersebut dapat ditemui di Jalan Belakang Teater B nomor pojok. Begitu mereka menyebutnya. “Cukup berantakan memang markas kita ini, itu mengapa sebabnya kita beri nama kombong,” gurau Rachmadani Achaddiad, salah satu anggota kombong. Sejak berdiri pada bulan April 2010, komunitas ini memang didominasi oleh mahasiswa Jurusan Fisika. Hal tersebut karena Jurusan Fisika memiliki mata kuliah yang memang konsen di bidang mekatronika. Namun, sebenarnya komunitas ini terbuka untuk siapa saja mahasiswa FMIPA yang memiliki hobi di bidang robotik. Dari berkumpulnya mahasiswa Jurusan Fisika itulah komunitas ini perlahan dibangun dan terus dipoles. Berbagai hal mereka pikirkan untuk keberlangsungan komunitas ini. Mulai dari letak markas komunitas, kegiatan yang akan dilakukan hingga sumber biaya yang nantinya akan diperoleh untuk pengembangan. Diat mengakui bahwa tidak mudah membentuk komunitas robotika seperti ini yang karirnya akan langsung melejit. Terlebih melihat ITS sendiri memiliki komunitas serupa, hanya saja tingkat institut dan untuk bergabung di dalamnya cukup sulit karena harus melalui berbagai seleksi. Bukan maksud bersaing, ia menegaskan bahwa komunitas ini hanyalah fasilitas untuk mengembangkan minat mahasiswa Mipa yang gemar robotika. Diat menjelaskan bahwa tidak ada kriteria khusus untuk bergabung dalam komunitas ini. Mereka hanya perlu menyempatkan diri untuk menyambangi markas kombong. “Memang banyak yang sungkan untuk mampir ke sini karena kebanyakan dari kami di sini dari Jurusan Fisika yang kebetulan memiliki mata kuliah di bidang mekatron-

Fokus: Anggota Kombong Beraksi Membuat Robot. Sumber: Elika Tantri/ITS Online

ika,“ terang Diat. Di bawah bimbingan Drs Bachtera Indarto Msi, komunitas kombong memiliki prestasi yang cukup gemilang. Meski belum memiliki kesempatan mendapat gelar juara, namun partisipasinya dalam mengikuti sejumlah lomba amatlah tinggi. Salah satunya adalah National Ship Design and Race Competition (Nasdarc) besutan Himpunan Mahasiswa Teknik Perkapalan ITS di mana robot yang diuji berupa kapal mini. Selain itu, komunitas ini juga berpartisipasi dalam kompetisi line tracer besutan Universitas Brawijaya dan beberapa kejuaraan robot lainnya. Aksi mereka dalam mengikuti berbagai lomba diakui Diat sebagai pemicu anggotanya dalam menguasai teknik perlombaan. Diat mengatakan bahwa setidaknya dia dan teman-teman kombong lain mampu terbiasa dengan euforia perlombaan. Diakui Diat bahwa persaingan ketika lomba selalu di luar ekspektasi. Tentu saja, lawan yang mereka hadapi memang sudah ahli di bidangnya. Namun, hal itulah yang justru menjadi suntikan untuk memperbaiki kualitas mereka dalam komunitas ini. Sama seperti komunitas robot lainnya, dalam komunitas ini robot dibuat dalam bentuk analog maupun mikro. Menariknya, semua robot dibuat dengan kemampuan otodidak dari masing-masing anggota. “Mungkin jika ada kesulitan, larinya ke alumni atau dosen pembimbing, “ ungkap mahasiswa Jurusan Fisika tersebut. (lik/esy) ITS Point I September 2013

51


Murah meriah: aneka menu unik angkringan Sarjo. Sumber: Istimewa

KONGKOW

news

Pascasarjana Teknik Geofisika Awali Cita Fakultas Kebumian

Dari Nasi Goreng Ijen Sampai Kopi Lanang

Angkringan Sarjo, Harga Murah Porsi Pas

A

ngkringan Sarjo di pelataran parkir kantin Biologi ITS terlihat ramai. Beberapa mahasiswa tampak sibuk memilih beragam menu unik yang tersaji di gerobak angkringan tersebut.

P

adatnya aktivitas yang dilakukan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memang tak jarang menimbulkan kejenuhan tersendiri. Tak heran jika melepas penat di lokasi kongkow sekitaran kawasan kampus pun kerap menjadi pilihan. Salah satu tempat favorit yang sering dikunjungi mahasiswa ITS adalah Ijen Café. “Biasanya mereka (mahasiswa ITS, red) datang untuk sekedar bersantai dan menyantap sajian yang kami sediakan di sini,” ujar Muhammad Erwin, koordinator operasional Ijen Cafe. Selain dijadikan lokasi bersantai, Café yang berlokasi di Jalan Arif Rahman Hakim 126 ini kerap menjadi rujukan mahasiswa untuk tempat mengerjakan tugas. Café yang buka sejak pukul 10.00-23.00 ini juga kerap menjadi tempat rapat, pertunjukkan musik, tari, rapat hingga nonton bareng. Menu yang disajikan pun cukup beragam. Mulai dari makanan ringan seperti kentang goreng hingga nasi goreng lengkap tersaji di cafe yang memiliki dua tingkat bangunan ini. Secara umum, kisaran harga menu yang dipatok Ijen Café cukup terjangkau yakni antara Rp 5-12 ribu. Nasi goreng Ijen dan kopi lanang merupakan dua menu andalan Café ini. Dikatakan Erwin, kopi lanang merupakan kombinasi kopi robusta. Salah satu pengujung, Jimmy Halim menerangkan sudah tiga bulan berlangganan di Ijen Café karena harga produk yang terjangkau. Pria penggila beragam jenis kopi ini mengaku sangat menyukai kopi lanang lantaran cita rasanya unik. (man/fi)

52 ITS Point

I September 2013

Ada sego rektor (nasi kuning), Sego Kuning Kering (SKK), Sego Kuning Sambel (SKS), Uduk Kering Tempe (UKT) hingga arek teknik (pisang rebus). Minuman S1 (teh), S2 (kawista) dan S3 (jus) juga tersedia. “Saya sengaja memberikan nama tersebut agar mudah diingat oleh teman-teman,” terang Bambang Sutego, pemilik angkringan Sarjo. Tak hanya unggul dalam penamaan yang relatif menarik, terdapat pula beberapa menu yang menjadi ciri khas dan merupakan incaran dari pengunjung angkringan. Seperti staff (ceker ayam), adelle (tempe becem), pak bon (wedang jahe), dan yang paling dicari adalah sirup kawista. Kawista sendiri merupakan buah yang berasal dari Pati. “Bukan hanya mahasiswa saja yang suka dengan kawista, dosen juga ikut memesan dalam jumlah yang lumayan banyak,” imbuh pria yang juga menekuni bisnis steak ketela ini. Angkringan yang dibuka mulai pukul 18.00 hingga 22.00 ini menawarkan harga yang pas untuk kantong mahasiswa. Harga yang ditawarkan pun berkisar Rp 1.000 hingga Rp 5.000. Dengan Rp 3.500 misalnya, pembeli sudah bisa menikmati sebungkus sego rektor, SKK, atau SKS beserta segelas teh manis. Meski baru didirikan Nopember 2012 lalu, nama Angkringan Sarjo yang merupakan kepanjangan dari Sarjana Bejo ini, sudah relatif dikenal mahasiswa berbagai jurusan di ITS. “Tempatnya cukup strategis, harga yang ditawarkan pun sesuai dengan kantong mahasiswa. Di sini juga bisa sambil cuci mata,” ujar Nanang, mahasiswa Teknik Perkapalan. (sha/fi)

Calon Peneliti Bumi: Mahasiswa S1 Teknik Geofisika akan mengukur mikrotermor daerah Suramadu. Sumber: Istimewa

S

etapak demi setapak, cita-cita ITS untuk membangun sebuah Fakultas Kebumian akan terwujud. Salah satu tahapan realisasinya adalah pembukaan program pascasarjana Teknik Geofisika. Pendaftaran program ini pun telah berlangsung Juni lalu. Pembukaan program pascasarjana Teknik Geofisika diawali dari kondisi ITS yang selama ini dinilai kurang berperan banyak dalam riset-riset tentang kebumian. Dr Ir Muhammad Taufik, Ketua Program Studi Teknik Geofisika, mengatakan bahwa banyak perusahaan yang meminta lulusan yang berfokus di bidang riset geofisika. “ITS pun harus segera mendirikan program ini agar bisa menjawab tantangan pihak industri tentang lulusan ITS dalam sektor hulu,” tutur Taufik. Saat ini ITS dirasa kurang dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dalam riset tentang geofisika. Memang ITS telah banyak mencetak SDM yang siap untuk mengeksekusi aktivitas kebumian, namun untuk SDM yang meneliti di mana letak SDA itu sendiri tidak banyak. “Eksekusi sudah oke, namun dalam penelitian letak SDA masih kurang,” tuturnya. Taufik melanjutkan bahwa ITS akan terlambat jika harus menunggu hingga empat tahun lagi ketika mahasiswa S1 Program Studi Teknik Geofisika lulus. Sehingga, walaupun saat ini ITS belum meluluskan sarjana Teknik Geofisika, namun ITS telah membuka Program S2 Teknik Geofisika. “Jadi, saat ini calon mahasiswa S2 Teknik Geofiska bisa dari semua jurusan,” papar Taufik.

Syarat menambah enam Sistem Kredit Semester (SKS) diberikan kepada calon mahasiswa S2 yang tidak memiliki latar belakang ilmu kebumian. Tambahan enam SKS tersebut berfungsi untuk memperdalam ilmu kebumian. Sementara untuk jurusan yang ada hubungannya dengan kebumian seperti Jurusan Fisika, Matematika, Teknik Sipil, Teknik Geomatika, Teknik kelautan dan Teknik Material dan Metalurgi tidak diwajibkan untuk mengambil beban SKS tersebut. Peraturan pemerintah dan regulasi yang tidak sesulit dulu mendukung dibukanya program pascasarjana. Sebagai program studi baru, pascasarjana Teknik Geofisika merasa perlu mempromosikan dirinya lebih luas. Mereka berencana mempromosikan program ini ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan posisi lulusan Pascasarjana Program Studi Teknik Geofisika. Promosi dilakukan dengan melakukan kerjasama riset dengan industri, sehingga riset tersebut diaplikasikan secara langsung. Sementara itu, dari segi kesiapan ITS sendiri, Taufik menyatakan bahwa ITS telah sangat siap. Dosen yang mengajar jurusan Teknik Geofisika tidak harus dari satu jurusan saja. Terkait dengan batas minimal untuk membuka program pascasarja, kuota itu telah terpenuhi dari dosen Jurusan Teknik Geomatika. “Sebab program studi Teknik Geofisika saat ini statusnya masih menjadi salah satu bidang minat dalam Jurusan Teknik Geomatika,” jelasnya. (fin/izz)

ITS Point I September 2013

53


NEWS

MAHASISWA BERBICARA

Kembangkan Penelitian, Ciptakan Biofertilizer Daerah Pesisir

Riset Kecil Tapi Bermanfaat Itu Lebih Baik

Indonesia memiliki sumber daya laut yang melimpah. Namun sayangnya sampai saat ini belum ada institusi, khususnya perguruan tinggi, yang memaksimalkan potensi tersebut. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, sebagai kampus yang berlokasi dekat dengan laut dan pesisir merasa terpanggil untuk mengambil peran tersebut. Khususnya Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITS.

S

udah banyak keluaran karya yang telah dihasilkan Jurusan Biologi melalui road map laboratoriumnya. “Bidang yang dikembangkan antara lain Botani, Zoologi, dan Bioteknologi. Selain itu, bidang Ekologi dan Mikrobiologi turut dikembangkan,” tambah Tutik Nurhidayati SSi MSi, Sekretaris Jurusan Biologi ITS. Salah satu bentuk kontribusi keilmuan di bidang kelautan yang dilakukan Biologi adalah peneltian yang dihasilkan oleh Laboratorium Botani. Laboratorium ini kerap meneliti vegetasi yang erat kaitannya dengan ekofisiologi laut dan pesisir. Seperti budidaya alga dan tumbuhan pesisir, analisis kandungan metabolit sekunder dan inventarisasi sumber daya hayati laut dan pesisir. Khusus untuk road mapnya, penelitian ini akan dijalankan hingga tahun 2020. Tutik, yang juga merupakan pengajar di Laboratorium Botani menerangkan, saat ini laboratorium tersebut sedang gencar menciptakan pupuk biofertilizer dan bioetanol dari tanaman yang tumbuh di pesisir laut. Selain itu, belakangan ini, penelitian fungisida nabati yang dipegang oleh Dini Ermavitalini SSi MSi, Kepala Laboratorium, berpotensi menghasilkan suatu produk pengganti fungisida sintetik, yang cenderung tidak ramah lingkungan. 54 ITS Point

I September 2013

Begitu juga dengan Laboratorium Zoologi. Salah satu fokus penelitiannya mengarah pada riset organisme ikan yang hidup di laut. “Ini karena Laboratorium Ekologi, sangat berfokus pada kehidupan kelautan,” imbuh Tutik. Berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai masing-masing laboratorium, setiap laboratoutium memiliki fokus yang berbeda. Namun untuk keluarannya, Tutik menegaskan bahwa hasil peneltiannya tidak akan terpaku pada produk riil saja. “Selain sebuah produk riil, rekomendasi maupun prototipe turut menjadi capaian jurusan,” tutur Tutik. Selain itu, Tutik mengungkapkan bahwa kini penelitian dosen jurusan diarahkan pada pemberdayaan kelautan. Lebih dari itu, mahasiswa diharapkan mampu melanjutkan fokus penelitian ini. Arahan yang terlihat jelas yaitu setiap tugas akhir (TA) mahasiswa diupayakan berkaitan dengan eksplorasi peneltian kelautan. Berbagai kerjasama pun telah dilakukan Jurusan Biologi guna memperkaya gerak penelitian mereka. Seperti balai penelitian kelautan, lembaga dan instansi pemerintah kelautan. “Di antaranya, kerjasama dengan Dinas Kelautan Situbondo Jawa Timur, Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) Gondol Bali dan BPP Jepara,” tambahnya. (nul/fz)

K

alau mendengar kata riset, tentu sudah tidak asing lagi di kalangan mahasiswa dan dosen. Bahkan risetpun telah merambah hingga kalangan siswasiswi SMA. Terbukti dengan banyaknya ajang bergengsi di bidang riset seperti PKM Dikti, LKTI Kemenristek, dan banyak lagi. Semakin berkembangnya minat riset dan fasilitas dana yang telah ada, seharusnya kita sudah mulai merasakan dampak dari perkembangan riset tersebut. Namun nyatanya, masih banyak masyarakat umum yang belum merasakan dampak dari riset-riset yang telah dilakukan oleh dosen dan mahasiswa. Banyak masyarakat justru tinggal di sekitar lingkungan kampus masih terkungkung dalam pendidikan yang minim dan juga pengetahuan teknologi yang kurang. Dari fakta di atas dapat ditelusuri sebenarnya apa yang salah dengan perkembangan riset kita? Padahal fasilitas sudah mulai terpenuhi, dana juga sudah ada, minat riset sudah mulai muncul di bebarapa jenjang pendidikan. Masalah utamanya adalah riset kita hanyalah sekedar riset! Riset yang berangkat dari buah pemikiran kita yang hanya memikirkan “yang penting kita ada riset.” Bukan berangkat dari pokok permasalahan suatu masyarakat. Itu artinya riset kita belum dapat diaplikasikan untuk masyarakat luas, sehingga terkesan riset kita tidak ada perkembangan. Riset yang baik ialah riset dengan kita melaksanakan riset tersebut, masyarakat dapat merasakan dampak positifnya secara langsung. Kita sudah harus mau merubah mindset riset kita. Berawal dari mulai peka dengan apa yang terjadi di sekitar kita, dilanjutkan dengan observasi lapangan. Dari situ kita akan tahu sebenarnya apa pokok permasalahan yang terjadi di masyarakat tersebut. Setelah tau akar perma-

salahannya dimana, maka kita dapat dengan tepat guna melakukan penelitian untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sebagai contoh kita tahu daerah jalanan di Keputih ketika musim hujan, dalam waktu singkat jalanan tersebut akan langsung tergenang oleh air. Yang tak pelak membuat macet jalanan menuju kampus. Dari contoh kejadian kecil itu kita dapat mengkaji akar permasalahan yang ada. Apa karena tidak ada saluran air di sekitar jalanan itu, apa ada saluran air namun tidak berfungsi dengan baik, atau karena jalanannya di aspal sehingga air tidak dapat terserap. Atau justru karena kurangnya daerah resapan air. Dari situ kita dapat melakukan riset di bidang material penyusun jalan misalnya. Kita dapat membuat material bahan aspal yang memiliki daya permeabilitas tinggi sehingga memungkinkan air untuk cepat terserap. Kita juga bisa menggali berbagai solusi dari semua disiplin ilmu. Tidak hanya bidang teknik dan sains yang dapat berkontribusi, namun dari disiplin ilmu sosial juga dapat ambil andil. Kembali lagi, akar permasalahan harus jelas terlebih dahulu agar Riset yang kita lakukan dengan menghabiskan sekian banyak dana tidak terkesan sia-sia dan memiliki nilai manfaat. Hal itu menjadi pekerjaan rumah kita bersama demi kemajuan riset Indonesia. Nama lengkap Jurusan E-mail

: Mentari Rachmatika Mukti : Fisika FMIPA 2011 : mentarinoctis93@gmail.com

ITS Point I September 2013

55


AGENDA

KARTUN

IT Fest 2013 (17-19 September 2013)

Badan Teknologi dan Sistem Informasi (BTSI) ITS menyelenggarakan beberapa workshop yang akan memperkaya pengetahuan mahasiswa ITS tentang teknologi layanan terbaru. Workshop dalam IT FEST 2013 akan didukung oleh Microsoft Indonesia, Telkomsel, Telkom Indonesia, dan Google. Dalam IT FEST 2013, BTSI ITS juga akan melakukan launching layanan terbaru untuk pengguna di ITS yaitu portal unduh suro.its.ac.id dan boyo.its.ac.id

Seminar Nasional Metrologi dan Instrumentasi 2013 (24 September 2013)

Jurusan Teknik Fisika FTI-ITS mempersembahkan: Seminar Nasional Metrologi & Instrumentasi dengan tema “Peningkatan Kontribusi Metrologi dalam Menunjang Daya Saing Nasional di Era Pasar Bebas�. Seminar Nasional ini dilaksanakan di Gedung Rektorat ITS, Keputih-Sukolilo, Surabaya pada tanggal.

Green Concept in Architecture and Environment (26 September 2013)

The conference aims to explore and to highlight the green concept in solving the problem of environment, social, cultural and institutional due to global warming and change through the implementation in architecture and environmental design.

The 5th Nano science & Nanotechnology Symposium (23 Oktober 2013)

The 5th Nanoscience & Nanotechnology Symposium is an international symposium organized by Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Institut Teknologi Bandung, Materials Research Society of Indonesia (Himpunan Riset Material Indonesia), Physics and Applied Physics Society of Indonesia (PAPSI) and Indonesian Vacuum Society (IVS). The 5th Nano science and Nanotechnology Symposium is going to be held at Meritus Hotel Surabaya.

South East Asian Conference on Mathematics and its Applications (SEACMA 2013) (11 November 2013)

The South East Asian conference on Mathematics and its applications (SEACMA) is organized by Mathematics Department, ITS, Surabaya. This international conference aims to bring academicians, and researchers for knowledge sharing in Mathematics area. The SEACMA 2013 serves as good platforms for academicians and researchers member to meet with each other and to exchange ideas.

Dies Natalis ITS ke-53 Mlaku-mlaku nang Tunjungan mbarek ITS (3 November 2013) Bersama-sama ITS, mari kita nikmatiberjalan-jalan dengan gembira di sekitar Jalan Tunjungan Surabaya. Dimeriahkan oleh Pasar Seni dan Teknologi, Temu Alumni, Panggung Seni, Jajanan dan Makanan Gratis.

Sidang Terbuka dan Orasi Ilmiah (10 November 2013)

Orasi Ilmiah oleh Ir. Djoko Kirmanto Dipl. HE (Menteri Pekerjaan Umum). Serta penganugerahan Sepuluh Nopember dan Angka Nitisastro.

56

ITS Point I September 2013

ITS Point I September 2013

57

ITS Point 18  
Advertisement