Page 1

ISSN 0215-0255


DARI REDAKSI Edenteser 2016

Ekonomi Islam merupakan ilmu dan praktik kegiatan ekonomi berdasarkan pada ajaran Islam yakni ajaran yang bersumber dari Al Quran dan Hadits. Di Indonesia sendiri, ekonomi Islam telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Menjamurnya usaha-usaha yang memproduksi barang maupun jasa, lembaga keuangan bank dan non bank berbasis syariah, dan berdirinya institusi atau lembaga pendidikan syariah menjadi bukti kemajuan ekonomi Islam di Indonesia. Untuk melihat sejauh mana perkembangan ekonomi Islam di Indonesia, LPM Edents berinisiatif untuk mengangkat topik ini ke dalam salah satu produk kami. Bertepatan dengan hari jadi yang ke-40, LPM Edents dengan bangga meluncurkan majalah Edents volume XXIV edisi Mei 2016. Majalah ini mengangkat tema besar “ Menilik Perkembangan Ekonomi Islam di Indonesia�. Pada laporan utama, dibahas konsep ekonomi Islam secara umum, perkembangan ekonomi Islam dalam sektor riil, dan juga perkembangan ekonomi Islam di sektor keuangan. Tak ketinggalan, ada pula ulasan mengenai penerapan ekonomi zakat, infak, dan shodaqoh dalam perekonomian Indonesia.

Sementara itu pada laporan khusus, kami menyajikan ulasan mengenai penerapan konsep ekonomi Islam dalam bidang usaha, baik barang maupun jasa. Pentingnya sertifikasi halal akan menjadi topik utama dalam dua laporan khusus kami. Serta, ada pula pembahasan mengenai potret pendidikan Islam di Indonesia dimana mulai bermunculannya program studi berbasis Islam di universitas-universitas di Indonesia. Rubrik-rubrik lain seperti sosok, sudut profesi, komunitas, kabar kampus, tentang mereka, dsb, juga turut mengisi lembar demi lembar majalah ini. Redaksi mengucapkan terima kasih untuk segenap Wadya Bala Edents yang telah berpertisipasi dan ikut andil dalam pembuatan majalah ini. Tak lupa kami sampaikan rasa terima kasih kepada pembaca setia Edents yang selalu menantikan produk-produk kami. Di usia yang genap menginjak seperempat abad ini, LPM Edents senantiasa berusaha untuk selalu menyuguhkan berita-berita yang terbaik demi para pembaca. Kritik dan saran kami nantikan demi perbaikan ke depannya. Akhir kata kami ucapkan selamat membaca majalah Edents Volume XXIV, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

MAJALAH EDENTS diterbitkan oleh:

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edents ISSN 0215-0255 Pelindung: Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., ; Pembina: Darwanto, S.E., M.Si., Surya Rahadrja, S.E., M.Si., Akt. ; Pemimpin Umum: Akbar Sih Pambudhi; Pemimpin Redaksi: Nur Wahidin; Pemimpin Perusahaan: Sandy Hadisurya Saryadi; Pemimpin HRD: Galuh Dian Paramudita; Pemimpin Marketing Communication: Muslimah Mahmudah; Pemimpin Artistik: Anastania Shafira; Redaktur Pelaksana Majalah: Sahniza Tamara, Leonardus A. Prakoso; Redaktur Pelaksana: Yulina, Adhevyo, Dara Ayu; Staf Redaksi: Sadewa, Luthfi, Benna, Gadis, Iik; Layout: Desti, Filza, Maulana Eka; Foto: Julius E.; Illustrasi: Fajar, Aisyah, Dea; Staf Artistik: Dian, Henty, Firman; Staf HRD: Panjalu, Alphonso, Handre, Adrianto, Olwan, Dicha, Gracye, Haning, Ummi; Staf Perusahaan: Nungky, Dewi, Dian, Ika, Sofi, Akhmad Rodi S., Tias, Mentari; Staf Marcomm: Petra, Afnurul, Dilla, Novi, Nur, Annisa, Ida, Anis.


Daftar Isi 03 Komik

04 Laporan Utama

16 Polling 22 Sosok

20 Tentang Mereka

23 Sudut Profesi 34 Sosial Budaya

24 Laporan Khusus

36 Sosial Movement 37 Diantara Kita EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

1


Daftar Isi 38 Kabar Kampus Undip

39 Komunitas

30 Potret

42 Pena Alumnus 43 Kabar Kampus FEB

46 Kolom PU

40 Opini Mahasiswa

48 Kolom Redaksi 50 Resensi Buku 51 Review Film 52 Kajian Kampus 2

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016


By Dea Gustiani

KOMIK

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

3


LAPORAN UTAMA

Ekonomi Islam dan Eksistensinya di Indonesia “Ilmu ekonomi Islam berkembang dengan pesat di berbagai perguruan tinggi di Indonesia sebagai jawaban terhadap tuntutan umat Islam akan suatu sistem ekonomi yang berlandaskan pada hukum Islam,” - Bondan Kanumoyoso, Sejarawan Universitas Indonesia Oleh: Akhmad Sadewa, Yulina Nisa, Leonardus Prakoso

Doc. Waspada.co.id

Secara garis besar, sistem perekonomian di dunia dibagi menjadi dua, yaitu perekonomian kapitalis dan sosialis. Perekonomian kapitalis berarti menyerahkan seluruh mekanisme perekonomian pada pasar. Masalah-masalah seperti pengangguran, kesejahteraan, hingga harga ditentukan oleh pasar. Di sisi lain, perekonomian sosialis berarti pemerintah yang menjadi ‘sopir’ dalam perekonomian. Segala sesuatu yang berkaitan dengan ekonomi ditangani oleh pemerintah. Konsep ini juga menekankan adanya kebebasan individu. Dalam praktiknya, tidak satupun negara di dunia ini menerapkan secara murni sistem perekonomian tersebut. Yang ada adalah campuran dari keduanya dengan kadar-kadar tertentu. Meskipun memiliki cara yang berbeda, keduanya memiliki beberapa persamaan. Nik Mustapha dalam buku Berbagai Aspek Ekonomi Islam menyatakan bahwa ‘keduanya yakin bahwa manusia mampu dan harus mengatur kehidupan ekonominya tanpa kendala-kendala moral apapun’. Hal ini sangat bertentangan dengan sistem dan aturan dalam agama Islam. Inilah yang menjadi cikal bakal berkembangnya sistem ekonomi yang dikenal dengan ekonomi Islam. Nik menulis pula, secara konsep, Islam yakin bahwa stabilitas keseluruhan bergantung pada kesejahteraan materiil dan spiritual manusia. Kedua aspek ini berpadu dalam bentuk manunggal di setiap tindakan dan kebutuhan manusia. Prinsip yang paling pokok dari tata sosial Islam adalah penciptaan keadilan ekonomi. Keadilan ekonomi mengimplikasikan perwujudan sejumlah tujuan dan pengentasan kemiskinan

4

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

sebagai tujuan utama. Sementara Suroso Imam menyatakan bahwa ekonomi Islam merupakan penerapan ilmu ekonomi dalam praktek sehari-hari bagi individu, keluarga, kelompok masyarakat, pemerintah, maupun penguasa dalam rangka mengorganisir faktor produksi, distribusi, dan pemanfaatan barang dan jasa yang dihasilkan tunduk dalam peraturan atau perundang-undangan Islam. Sejarah Ekonomi Islam di Indonesia Kemunculan ekonomi Islam di Indonesia telah lama terjadi. Pakar Hukum Syariah Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Yeni Salma Barlinti, meyakini bahwa ilmu ekonomi Islam masuk bersamaan dengan masuknya ajaran Islam di Indonesia. Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam perdagangan menyebabkan banyak pedagang dari daerah Timur Tengah yang membawa ajaran Islam. Dari sinilah kemudian ajaran Islam dan konsep ekonomi Islam masuk ke Indonesia. Meskipun demikian, pada masa tersebut ekonomi Islam bukanlah suatu ilmu yang dapat diaplikasikan secara universal dan tertulis. Ilmu Ekonomi Islam lebih pada praktik perdagangan yang dilakukan antara pedangang Islam dan pedagang pribumi. Pada masa kerajaan Islam nusantara, Indonesia pun telah mengenal apa yang disebut sebagai ekonomi Islam. “Berbagai kerajaan yang berbentuk kesultanan telah menerapkan sistem ekonomi Islam dalam pengelolaan ekonomi kesultanan mereka. Kesultanan-kesultanan itu antara lain adalah Kesultanan Aceh, Kesultanan Banten, dan Kesultanan Mataram,”


LAPORAN UTAMA

Doc. Kompas.com

tutur Sejarawan Universitas Indonesia, Bondan Kanumoyoso. Saat Indonesia mengalami masa penjajahan pun, ekonomi Islam tetap dapat mempertahankan eksistensinya. “Sampai dengan akhir abad 19 dapat dikatakan kekuasaan kolonial Belanda hanya terbatas di Pulau Jawa, Kepulauan Maluku, dan berbagai koloni kecil di pulau-pulau lainnya. Sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Kepulauan Nusa Tenggara masih merupakan wilayah yang merdeka. Di wilayahwilayah yang tidak berada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Belanda tersebut, kesultanan-kesultanan yang ada dapat dengan bebas menerapkan sistem ekonomi mereka sendiri,� tukas Bondan. Bondan menambahkan bahwa diperkirakan ekonomi Islam secara formal masuk dan diperkenalkan pada tahun 1950an. Adalah Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara yang telah berjasa memperkenalkan konsep ekonomi Islam di Indonesia. Mohammad Natsir adalah Perdana Menteri Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soekarno dan juga pendiri Partai Politik Masyumi, sementara Sjafruddin Prawiranegara adalah Menteri Kemakmuran Republik Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Sjafruddin juga pernah menjadi Ketua Partai Politik Masyumi, partai bentukan Natsir. “Ilmu Ekonomi Islam berkembang dengan pesat di berbagai perguruan tinggi di Indonesia sebagai jawaban terhadap tuntutan umat Islam akan suatu sistem ekonomi yang berlandaskan pada hukum Islam,� ujar Bondan. Hingga kini, ekonomi Islam telah berkembang dan bebas dikembangkan sebagai salah satu sistem perekonomian di Indonesia. Sementara menurut Firdaus dalam artikelnya yang bertajuk Mengurai Sejarah Pemikiran dan Gerakan Ekonomi Islam di Indonesia, terdapat tiga tahap dalam perkembangan ekonomi Islam di Indonesia. Ketiga tahapan tersebut adalah masa pertumbuhan, periode perkembangan, dan periode pembentukan. Masa pertumbuhan adalah periode sejak masa pedagang Islam masuk ke Indonesia dan masa Walisongo. Pada masa ini, ekonomi Islam belum begitu kentara diterapkan. Pasalnya, pada masa tersebut pengaruh kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia masih sangat kuat sehingga penyebarannya masih dalam lingkup perdagangan maupun ajaran dari Walisongo. Periode kedua, periode perkembangan, di awali dari dominasi kerajaan Islam di Indonesia, masa penjajahan Belanda

dan berkuasanya VOC, hingga masa peralihan antara orde baru dengan reformasi. Pada masa dominasi kerajaan Islam, praktikpraktik bernegara telah banyak menganut sistem ekonomi Islam. Keadaan ini merupakan penerapan sekaligus penyebaran ajaran agama Islam di Indonesia. Hingga pada masa VOC masuk, sistem ekonomi Islam di Indonesia digantikan dengan sistem ekonomi kapitalis. Dampak dari penerapan ekonomi kapitalis masih terasa hingga sekarang. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ekonomi Islam mulai menunjukkan eksistensinya kembali dengan mulai bermunculannya lembaga keuangan bank maupun non bank berbasis syariah. Periode ketiga adalah periode pembentukan. Periode ini ditandai dengan mulai ditanggapinya lembaga keuangan bank dan non bank berbasis syariah secara serius oleh pemerintah. Pada masa ini, pemerintah mulai memunculkan dasar hukum mengenai sistem ekonomi syariah dalam bentuk peraturan perundang-undangan atau sejenisnya. Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional Asumsi yang digunakan dalam proses perekonomian menjadi kunci perbedaan antara ekonomi Islam dan ekonomi konvensional. Yeni mengatakan bahwa perbedaan utama antara ekonomi konvensional dengan ekonomi Islam adalah prinsip halal dan haram atas suatu perbuatan dan kebendaan. Dalam syariat, disebutkan perbuatan-perbuatan haram yang tidak boleh dilakukan oleh muslim yaitu riba, berjudi, dan perbuatan yang gharar (menipu). Sedangkan bendabenda yang haram adalah benda-benda yang secara jelas disebutkan dalam syariat, seperti babi, bangkai, minuman yang memabukkan, dan lainnya. Di sisi lain, Suroso menyebutkan bahwa perbedaan ekonomi Islam dan konvensional terletak pada tiga poin. Pertama, dalam ekonomi Islam asumsi dasarnya ialah 'Syariah Islam' diberlakukan secara menyeluruh baik terhadap individu, keluarga, kelompok masyarakat, usahawan maupun penguasa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik untuk keperluan jasmaniah maupun rohaniah. Dengan kata lain, meskipun pada prinsipnya menganut ajaran Islam, ekonomi Islam adalah suatu sistem perekonomian yang universal yang dapat diterapkan untuk siapapun. Kedua, prinsip ekonomi Islam adalah penerapan asas efisiensi dan manfaat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan alam. Konsep inilah yang dalam ekonomi

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

5


LAPORAN UTAMA

Ekonomi Islam di Indonesia dan Berbagai Kendalanya Meskipun memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan ekonomi konvensional, keberadaan dan penerapan ekonomi Islam di Indonesia bukan tanpa kendala. Bondan menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila dan bukan negara Islam. Landasan kehidupan ekonomi negara terutama berlandasakan pada sila kelima dari Pancasila dan pasal 33 UUD 1945. Oleh karenanya, sistem ekonomi Islam sebaiknya tidak diterapkan dalam seluruh aspek perekonomian Indonesia karena tidak seluruh warga negara Indonesia adalah umat Islam. Di beberapa wilayah Indonesia, agama dari mayoritas penduduk bukan Islam. Yeni menambahkan terdapat beberapa kesulitan dalam pelaksanaan penerapan ekonomi Islam di Indonesia. Menurutnya, terdapat lima faktor penghambat penerapan ekonomi Islam. Faktor penyebabnya diantaranya adalah kurikulum pendidikan, sumber daya manusia, peraturan perundang-undangan, sosialisasi, dan kesadaran umat Islam. Pertama dari segi kurikulum pendidikan. Kurikulum pendidikan untuk semua tingkat pendidikan belum memuat pelajaran atau mata kuliah tentang ekonomi Islam. Pelajaran ekonomi Islam hanya pada sekolah-sekolah tertentu, seperti sekolah-sekolah Islam atau hanya sebagai mata kuliah pilihan yaitu hanya diikuti oleh mahasiswa yang berminat untuk mempelajarinya. Akibatnya, Indonesia tidak memiliki cukup SDM yang memahami ekonomi Islam. Kemudian tidak mendukungnya sumber daya manusia yang memadai guna menerapkan prinsip ekonomi Islam, terlebih lagi jika mereka bekerja di lembaga-lembaga keuangan Islam atau terkait dengan lembaga keuangan Islam. Akibatnya,

6

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

kegiatan-kegiatan pada lembaga-lembaga ekonomi Islam tidak dapat menerapkan konsep ekonomi Islam dengan baik dan benar. Selanjutnya dari segi peraturan formal, regulasi yang tidak sejalan dengan ajaran ekonomi Islam sangat menghambat penerapan dan perkembangan ekonomi Islam karena tidak memiliki kekuatan hukum. Berikutnya dari segi sosialisasi. Penyebaran ajaran ekonomi Islam dengan menyosialisasikannya, seperti melalui training, pengajian, atau pengabdian masyarakat lainnya, akan sangat membantu masyarakat muslim untuk memahami tentang pentingnya melaksanakan ekonomi Islam. Dan yang terakhir, dari segi umat Islam. Masih banyak orang-orang yang mengetahui, namun tidak melaksanakan ekonomi Islam atau memahami, namun tidak peduli dengan ekonomi Islam karena hanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi semata. Sistem Pendidikan Ekonomi Islam di Indonesia Dalam rangka mengembangkan suatu ilmu di masyarakat, perguruan tinggi menjadi pilar untuk mewujudkannya. Hal tersebut berlaku pula untuk mengembangkan ekonomi Islam di masyarakat. Saat ini di beberapa perguran tinggi di Indonesia telah menawarkan ekonomi Islam sebagai salah satu program studi yang dapat ditekuni mahasiswa. Tercatat UI, Unpad, Undip, Unair, UB, dan masih banyak perguruan tinggi lain telah membuka program studi ekonomi Islam. Ini mengimplikasikan bahwa pada level pendidikan tinggi, pemerintah mulai serius menggarap dan mengembangkan ekonomi Islam. Ekonomi Islam ke Depan Banyak harapan terkait dengan keberadaan ekonomi Islam di Indonesia. Yeni menyatakan bahwa ekonomi Islam harus dijalankan dengan baik dan benar dengan penuh rasa tanggung jawab terhadap Allah dan sesama manusia. Bagi umat muslim, melaksanakan ekonomi Islam tidak semata hubungan antar manusia, tetapi merupakan bentuk ibadah juga bentuk kepatuhan umat Islam kepada Allah. Jika dijalankan dengan demikian, ekonomi Islam dapat lebih berkembang dengan baik. Senada dengan Yeni, Bondan berharap agar ekonomi Islam yang berkembang di Indonesia bisa mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yaitu mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Pada akhirnya, harapan apapun berkaitan dengan ekonomi Islam, kesemuanya berkaitan dengan kemajuan bangsa Indonesia. Ekonomi Islam diharapkan mampu untuk menjadi solusi bagi permasalahan perekonomian konvensional. Dengan adanya dukungan dan kerjasama yang baik antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku ekonomi Islam, maka ekonomi Islam akan mampu untuk berkembang dan memberikan sumbangsih bagi perekonomian Indonesia dan kemajuan bangsa Indonesia. (nw)

Kunjungi! www.lpmedents.com

konvensional disebut dengan ekonomi sumber daya alam dan lingkungan. Ekonomi Islam menekankan pada pemanfaatan sumber daya alam dengan tetap menjaga kelestarian alam. Ketiga, motif ekonomi Islam adalah mencari 'keberuntungan' di dunia dan di akhirat selaku khalifathullah dengan jalan beribadah dalam arti yang luas. Ekonomi konvensional menekankan adanya efisiensi dan efektifitas dalam menjalankan perekonomian. Seringkali variabel diluar variabel ekonomi diabaikan. Yang utama adalah mencapai utilitas atau keuntungan atau kesejahteraan maksimum dengan berbagai cara. Ekonomi Islam menawarkan cara mendapatkan utilitas, keuntungan, dan kesejahteraan dengan berpedoman pada ajaran Islam. Yeni menambahkan terdapat beberapa poin keuntungan penggunaan ekonomi Islam dibandingkan dengan ekonomi konvensional. Pertama, Ekonomi Islam tidak akan pernah berubah sampai kapanpun, karena tercantum dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW yang tidak akan pernah berubah hingga akhir zaman. Sedangkan ekonomi konvensional dapat berubah. Kedua, dalam ekonomi Islam tidak hanya keuntungan untuk para pihak yang melaksanakannya, tetapi juga keuntungan untuk masyarakat, dan keuntungan spiritual. Sedangkan ekonomi konvensional lebih mengutamakan keuntungan untuk para pihak yang melaksanakannya.


doc. iaie-pusat.org

LAPORAN UTAMA

Optimisme Perbaikan Perekonomian melalui Sektor Riil Ekonomi Islam Oleh : Dara Ayu, Maulana Eka, dan Khikmah Rizqi

“Sebetulnya ada peluang yang sangat besar ketika sektor riil ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia dan Indonesia pada khususnya, kemudian banyak akad-akad syariah yang mampu dijalankan untuk pengembangan sektor riil,” – Adityawarman, Akademisi FEB Undip

Dewasa ini, perkembangan ekonomi Islam telah berhasil mencuri perhatian dunia. Kehadiran ekonomi Islam yang menawarkan solusi dari ketimpangan ekonomi konvensional di tengah krisis ekonomi dunia, seakan memberikan kesempatan bagi sistem ini untuk tumbuh dan berkembang di masyarakat. Tak hanya Malaysia, Arab Saudi, dan negara-negara dengan penduduk mayoritas Islam saja yang telah mengadopsi sistem ekonomi ini, negara-negara di Eropa seperti Inggris pun mulai menerapkan ekonomi Islam dalam sistem perekonomiannya. Begitu pula dengan Indonesia, selama tiga dekade terakhir ekonomi Islam mulai berkembang perlahan, seiring dengan munculnya instansiinstansi yang menerapkan sistem syariah. Berbicara soal ekonomi Islam, kurang lengkap jika tak membahas sektor riil yang merupakan salah satu basis utama dalam perekonomian tersebut. Sektor riil merupakan salah satu titik fokus yang berhasil dikembangkan berdasarkan fikih muamalah. Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sektor riil adalah segala bentuk kegiatan perekonomian yang terkait dengan permintaan dan penawaran agregat (aggregate demand and supply). Dengan kata lain, sektor riil adalah kegiatan yang mengacu pada sektor yang memproduksi barang dan jasa melalui pemanfaatan bahan baku dan faktor-faktor produksi lainnya seperti tenaga kerja, tanah, modal, atau peralatan produksi lainnya.

Keadaan Sektor Riil Indonesia Di Indonesia, sektor riil dibagi menjadi sembilan sektor ekonomi, antara lain: pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan; pertambangan dan penggalian; industri pengolahan; listrik, gas, dan air bersih; bangunan; perdagangan, hotel, dan restoran; pengangkutan dan komunikasi; keuangan, real estate, dan jasa perusahaan; serta jasa-jasa. Kesembilan sektor tersebut secara bersama-sama memberikan kontribusi pada pendapatan nasional suatu negara. Menurut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam lima tahun terakhir yaitu sebesar 5,8 persen per tahun. Kondisi ini menggambarkan bahwa secara fundamental, keadaan sektor riil Indonesia masih ‘cukup kokoh’ untuk menghadapi berbagai tekanan dari pihak eksternal maupun internal. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2010 sempat mencapai angka 6,4%, namun nilai tersebut mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya, yaitu 6,2% untuk tahun 2011, 6% pada tahun 2012, 5,6% di tahun 2013, dan akhirnya menjadi 5% pada tahun 2014. Menurut Bappenas, perlambatan ekonomi tersebut dipicu oleh beberapa faktor, diantaranya: (1) lambatnya proses pemulihan ekonomi dunia; (2) meningkatnya gejolak moneter dan keuangan global yang mempengaruhi arus modal, serta menuntut kebijakan moneter di luar dan dalam negeri menjadi lebih ketat; (3) tidak berjalan dan lambatnya

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

7


proses reformasi struktural menyeluruh perekonomian domestik yang berimplikasi pada rendahnya pertumbuhan investasi dan konsumsi masyarakat. Selain itu, Leonard Tampubolon selaku Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas mengatakan bahwa beberapa tahun terakhir, sektor riil Indonesia juga menghadapi berbagai hambatan dalam pelaksanaannya. Hambatanhambatan tersebut yaitu keterbatasan modal, kondisi yang masih kompleks dan tidak kompetitif untuk memulai bisnis, regulasi dan birokrasi yang tidak kondusif, tingginya biaya manufaktur dan operasional, serta infrastruktur dan sumber daya manusia yang terbatas. Ekonomi Islam dan Sektor Riil Ekonomi Islam memandang sektor riil sebagai sektor nyata dengan berlandaskan fikih muamalah, di mana setiap kegiatan yang terjadi memiliki wujud asli, baik produk, alat tukar, maupun pihak yang melakukan transaksi. Hal ini seperti yang digambarkan oleh Aris Anwaril Muttaqin selaku Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip). “Seperti jual beli, kemudian kerjasama, sewa menyewa, dan sebagainya itu terjadi secara riil. Secara person dengan person dan itu nyata ada uangnya, ada barangnya, ada semuanya sudah terealisasi, dan sudah benar-benar diusahakan,” jelas Aris. Fikih muamalah merupakan suatu bidang ilmu yang mengkaji hal-hal terkait transaksi ekonomi dalam Islam, seperti jual beli, sewa-menyewa, dan bentuk kerjasama lainnya. Pada awal perkembangannya, fikih muamalah belum menyentuh sistem perbankan maupun lembaga-lembaga keuangan lainnya. Namun, seiring dengan munculnya lembaga-lembaga keuangan syariah di Indonesia, fikih muamalah pun dikembangkan sebagai landasan operasional bagi lembaga tersebut. “Dalam ekonomi Islam itu ada juga sektor keuangan yang mana di era sekarang itu, kita mengenal adanya lembaga keuangan syariah. Jadi ada bank, ada pasar modal, kemudian ada baitul maal, amil, lazis, nah itu beberapa contoh dari lembaga keuangan ekonomi syariah. Nah lembaga keuangan syariah ini operasionalnya yaitu sebenarnya berdasarkan pada fikih muamalah,” tambah Aris. Ibarat sebuah medium, lembaga-lembaga keuangan syariah tersebut nantinya akan berfungsi sebagai fasilitator untuk mempertemukan orangorang yang membutuhkan dana dengan yang memiliki kelebihan dana. Selain itu, ekonomi Islam juga merupakan sistem ekonomi yang mengedepankan sumber-sumber kajian keislaman, dengan tujuannya adalah kemaslahatan. Kemaslahatan tersebut, pada akhirnya ditujukan untuk menghadirkan sebuah kebaikan dan menolak serta meminimalisir kerusakan dalam masyarakat. Adanya rukun dan syarat yang dirumuskan oleh para ahli atau ulama akad, menjadi hal yang harus dipenuhi dalam setiap transaksi ekonomi. Kedua hal tersebut yang tidak dimiliki oleh sistem ekonomi konvensional. Konsep win-win sollution yang diatur dalam ekonomi Islam dianggap dapat mengatasi berbagai masalah yang hingga saat ini belum dapat diatasi oleh ekonomi konvensional. Keterbatasan modal yang menjadi masalah utama dalam pengembangan sektor riil dapat diatasi melalui

8

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

lembaga keuangan syariah. Dimana lembaga tersebut akan mempertemukan pihak yang memerlukan dana (mudharib) dengan pihak yang memiliki kelebihan dana (shahibul amal) dalam suatu akad kerjasama, baik dalam bentuk qard (pinjaman), maupun mudharabah dan musyarakah. Berbeda dengan sistem konvensional yang menarik bunga dalam setiap transaksinya, ekonomi Islam tidak akan memberatkan penyumbang dana karena hal tersebut dianggap sebagai riba. Lantas, bagaimana pihak yang memiliki kelebihan dana memperoleh keuntungan? Dalam akad mudharabah dan musyarakah, shahibul amal (penyumbang dana) akan memperoleh keuntungan dengan pengelolaan dana oleh mudharib (penerima dana), dengan prinsip syirkah (bagi hasil) yang telah ditentukan diawal akad. Sementara risiko dari usaha tersebut akan ditanggung oleh shahibul amal. Konsep ini merupakan salah satu cara yang ditawarkan ekonomi Islam untuk mengatasi keterbatasan modal, lingkungan yang tidak kompetitif untuk memulai bisnis, dan keterbatasan sumber daya manusia yang menjadi permasalahan pengembangan sektor riil. Sementara itu, Adityawarman selaku Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) menjelaskan bahwa jika merujuk pada konteks global, secara umum trend invetasi telah bergeser dari investasi non-riil (finance investing) seperti investasi saham dan surat berharga, menjadi investasi riil pada sektor usaha atau bisnis yang memberikan dampak nyata ke masyarakat (impact investing). Banyak orang yang ingin menginvestasikan dananya di bidangbidang yang memberikan kemaslahatan bagi masyarakat luas, atau memakmurkan lingkungannya. Adityawarman menjelaskan, sektor yang saat ini banyak dijadikan sorotan adalah pada sektor pertanian. “Jadi sebetulnya ada peluang yang sangat besar ketika sektor riil ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia dan Indonesia pada khususnya, kemudian banyak akadakad syariah yang mampu dijalankan untuk pengembangan sektor riil,” jelasnya. Senada dengan Adityawarman, Mustafa Edwin Nasution selaku Ketua Ikatan Ekonomi Islam Indonesia mengemukakan bahwa transaksi yang terjadi di perbankan dan pasar modal syariah harus terkait dengan kegiatan yang ada di sektor riil. Dimana pembiayaan untuk investasi yang berasal dari perbankan syariah harus benar-benar digunakan untuk kegiatan produksi barang dan jasa. Hal ini disebabkan oleh maraknya kegiatan spekulasi keuntungan yang dihasilkan oleh finance investing yang menimbulkan krisis keuangan sehingga jenis investasi tersebut tidak disarankan dalam sistem perekonomian Islami. “Oleh karena itu, pengembangan kegiatan ekonomi keuangan syariah mengharamkan adanya unsur spekulasi karena ketentuanketentuannya akan membuat kegiatan perekonomian menjadi tidak stabil. Untuk itu, pemerintah seyogyanya bersama-sama masyarakat menggalakkan kegiatan ekonomi atau keuangan Islam ini,” ujar Mustafa. Dapatkah Ekonomi Islam Membangun Perekonomian Indonesia? Dalam perkembangannya, masih banyak hambatan yang dihadapi ekonomi Islam untuk membangun sektor riil Indonesia,

Kunjungi! www.lpmedents.com

LAPORAN UTAMA


LAPORAN UTAMA membangun sektor riil di Indonesia bukanlah perkara sulit. Bahkan, apabila kaum muslim mau mengubah sudut pandang ekonomi kembali ke basis syariah, maka krisis ekonomi pun dapat dihalau, kecuali yang berada di luar kontrol manusia, seperti kekeringan dan bencana alam lainnya. “Kalau semua mau tunduk patuh pada perintah Allah, maka bisa dibayangkan berapa kekuatan ekonomi yang dimiliki,” imbuhnya. ‘Kesadaran’ akan pentingnya penerapan basis syariah merupakan salah satu kunci utama yang dapat diterapkan untuk membangun ekonomi Islam di Indonesia. Aris mengharapkan harus adanya edukasi kepada masyarakat tentang peran penting dan keuntungan penerapan sistem ekonomi berbasis keislaman. Selain itu, diperlukan pula pengembangan instrumen-instrumen pengukur laju pertumbuhan ekonomi berbasis syariah guna mengetahui pengaruh ekonomi Islam dalam pendapatan nasional. Perbaikan individu umat muslim pun diperlukan untuk membangun sektor riil berbasis syariah yang seutuhnya. Umat muslim dituntut untuk mengembalikan perekonomian sesuai dengan tatanan yang diajarkan oleh Rasulullah serta memperdalam ilmu akidah dan tauhid. “Jadi kalau kita belum ngomong tauhid, salatnya belum benar, tauhidnya belum beres, sudah mau bikin koperasi syariah, bank syariah, pasar Islam, nggak nyambung,” ujar Adityawarman. Belajar dari Sirah Nabawiyah yang merupakan salah satu alternatif untuk menciptakan akidah dan tauhid yang kokoh, sebab sirah merupakan implementasi dari Al Quran dan hadis yang menceritakan perjalanan hidup Rasulullah. (nw)

doc. industri.kontan.co.id

salah satunya adalah masalah regulasi yang mengatur lembagalembaga keuangan syariah. Misalnya Undang-undang di Indonesia yang melarang perbankan untuk memiliki aset, sementara fikih muamalah mensyaratkan bahwa transaksi murabahah (jual-beli) harus menjual produk yang merupakan milik pribadi. Untuk menyiasati hal tersebut, perbankan perlu melakukan akad wakalah (pelimpahan kekuasaan) agar nasabah dapat mewakili bank untuk membeli barang secara tunai. Padahal, sebenarnya akad murabahah tidak banyak terikat oleh aturan karena jual-beli dilakukan secara langsung oleh kedua belah pihak yang melakukan transaksi. Menurut Aris, idealnya suatu negara harus membedakan regulasi antara instansi syariah dan konvensional. Meskipun sejatinya kedua peraturan tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk menstabilkan keuangan di suatu negara. “Secara otomatis, satu regulasi dengan yang dua regulasi ini tentu akan mengalami kesulitan yang dua regulasi. Artinya, tetap regulasi pemerintah hanya dibedakan, atau diberi kebebasan dalam mengatur sistemnya sendiri,” tambah Aris. Meskipun demikian, menurut Aris, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk mengembangkan ekonomi Islam dalam sektor riil. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya mayoritas penduduk muslim yang dimiliki Indonesia. “Kalau saya optimis sekali, nanti perkembangan ekonomi Islam itu akan baik di Indonesia. Ya tentu dengan banyak keunggulan salah satunya keunggulan kita kan negara yang mayoritas penduduknya adalah orang Islam, saya kira sosialisasi mengenai keislaman itu sudah terbantu di situ,” ujar Aris. Hal senada juga dikatakan oleh Adityawarman, bahwa dengan ditunjang oleh penduduk mayoritas muslim,

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

9


LAPORAN UTAMA

Indonesia Optimis Jalankan Perekonomian Islam Oleh : Adhevyo Reza, Benna Andriyani, Luthfi Setia "Menurut perkiraan data 2030, perbankan dunia akan dikuasai oleh lima besar negara dan salah satunya adalah Indonesia yang mendapat kehormatan itu dengan praktik ekonomi Islamnya." – Adiwarman Azwar Karim, Praktisi Ekonomi Syariah

Doc. kseiprogres.blogspot.com

Sistem ekonomi berbasis syariah, dewasa ini sedang giat didengungkan oleh para pelaku ekononomi Indonesia, yang mana dalam pelaksanaannya menggunakan prinsip-pinsip Islam. Juga, digadang–gadang menjadi salah satu pilar sistem perekonomian dunia dimana Indonesia akan memegang peran penting dalam pelaksanaannya, menurut Adiwarman Azwar Karim selaku praktisi ekonomi syariah sekaligus pendiri Karim Consulting. Sektor ekonomi yang telah menerapkan prinsip Islam tersebut antara lain di lingkup perbankan, pasar modal syariah, asuransi syariah serta kredit syariah. Perbedaan mendasar antara keuangan syariah dengan konvensional adalah penggunaan mekanisme bunga. Tambahan atas pinjaman atau bunga dalam syariat Islam adalah haram, sedang dalam bank konvensional jumlahnya harus tetap dibebankan, sekalipun peminjam mengalami kerugian dan bersifat memberatkan. Sementara bank konvensional masih menerapkan sistem pinjam-meminjam dengan adanya mekanisme bunga, sistem ekonomi syariah menggunakan sistem kerjasama atau jual-beli. Misalnya, kerjasama antara pemilik modal dengan pengusaha atau disebut mudharabah, yang mana pembagian keuntungan hanya dilakukan jika pengusaha mengalami keuntungan dengan proporsi yang telah ditetapkan atau disepakati diawal perjanjian. Kemudian bisa juga mekanisme jual-beli menurut syariat Islam yang disebut murabahah, di mana bank menjual suatu barang dengan mengambil margin keuntungan untuk selanjutnya dapat dicicil dengan cicilan tetap dan bentuk-bentuk transaksi lain yang disediakan oleh pihak bank.

10 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

Hal yang senada dikatakan oleh akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, Akhmad Syakir Kurnia. Menurutnya, secara epistimologi antara lembaga keuangan syariah dan lembaga keuangan konvensional adalah sama, yaitu sama–sama melihat bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya, bagaimana manusia itu mencapai tujuantujuannya dalam melakukan kegiatan ekonominya. Namun, terdapat perbedaan yang mendasar antara lembaga keuangan syariah dan konvensional. Jika lembaga keuangan konvensional dalam mencapai tujuannya didasarkan pada premis–premis positivistik dan rasionalisme, ekonomi Islam menambahkan premis–premis etika dan norma–norma agama yang diyakini dalam konteks ini adalah agama Islam. “Saya tidak melihat ini sebagai yang berbeda secara diametral, tetapi saya melihatnya Ekonomi Islam itu ya ekonomi yang selain mendasarkan pada premis positivistik dan rasionalisme, tetapi juga menambahkan nilai–nilai etika Islam,” tambah Syakir. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa antara sistem konvensional dengan sistem syariah tidak ada bedanya. Pandangan ini adalah salah mutlak. Pada sistem konvensional, konsepnya murni menggunakan sistem bunga, sedangkan syariah tidak menggunakan sistem bunga. Dalam hal yang menyebutkan bahwa margin yang digunakan hampir sama dengan bunga, tidaklah menjadi alasan untuk membenarkan pendapat sebagian orang tersebut. Untuk menentukan margin keuntungan, bank boleh saja menghitung dengan benchmark pada perhitungan yang ada, tetapi transaksi yang dilakukan harus sesuai dengan kaidah-kaidah syariah dimana ada transaksi dengan underlying asetnya dan ada akad yang menyertainya.


LAPORAN UTAMA

Perusahaan Kredit Kredit konvensional prinsipnya meminjamkan uang kepada nasabah untuk membeli suatu barang dimana uang tersebut dikenakan bunga kemudian pengembaliannya dicicil sampai lunas. Sementara kredit syariah, perusahaan kredit membeli barang kemudian menambahkan margin keuntungannya, setelah itu dihitung cicilannya tetap sampai lunas (murabahah). Seperti halnya pada transaksi murabahah di bank, margin keuntungan boleh saja dihitung dengan benchmark pada perhitungan yang ada. Asuransi Pada asuransi konvensional, terjadi transfer risiko dari nasabah ke perusahaan asuransi. Dalam hal ini, berarti ada ketidakpastian dan jika terjadi kerugian, maka perusahaan asuransi akan menanggung risiko yang sangat besar. Sebaliknya, jika tidak terjadi kerugian, maka nasabah tidak mendapatkan apa-apa. Jadi, ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan pada kedua sisi. Sementara pada asuransi syariah, akadnya adalah tolong menolong sesama peserta asuransi. Perusahaan asuransi hanya mengelola saja. Untuk itu, perusahaan mendapat fee atas pengelolaan. Premi yang dibayar oleh nasabah merupakan dana sumbangan yang dikumpulkan untuk saling tolong menolong di antara sesama nasabah jika terjadi kerugian pada salah satu nasabah. Jika terjadi kerugian pada satu nasabah, maka kumpulan dana sumbangan tersebut yang akan digunakan untuk membayar klaim. Dalam hal ini, perusahaan asuransi syariah tidak mengalami kerugian sama sekali. Sebaliknya, jika nasabah tidak mengalamai musibah, yang bersangkutan juga tidak mengalami kerugian atas preminya karena akadnya ketika membayar premi adalah atas dasar tolong-menolong sesama peserta. Reksadana, Saham, dll Reksadana maupun saham yang ditransaksikan secara konvensional tidak memperhatikan apakah transaksi tersebut bersifat spekulatif atau tidak. Demikian juga dengan jenis instrumen yang ditransaksikan, tidak melihat apakah emitennya comply secara syariah ataupun tidak. Sementara reksadana syariah maupun saham syariah, emiten atau instrumennya haruslah comply dengan syariah. Adapun instrumen maupun saham yang sesuai syariah tersebut dapat mengacu pada Fatwa MUI yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional. Kebijakan Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia Untuk memberikan pedoman bagi stakeholders perbankan syariah dan meletakkan posisi serta cara pandang Bank Indonesia dalam mengembangkan perbankan syariah di Indonesia, selanjutnya Bank Indonesia pada tahun 2002 telah menerbitkan “Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia”. Dalam penyusunannya, berbagai aspek telah dipertimbangkan secara komprehensif, antara lain kondisi aktual industri perbankan syariah nasional beserta perangkat-perangkat terkait, trend perkembangan industri perbankan syariah di dunia internasional, dan perkembangan sistem keuangan syariah nasional yang mulai

terwujud, serta tak terlepas dari kerangka sistem keuangan yang bersifat lebih makro seperti Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dan Arsitektur Sistem Keuangan Indonesia (ASKI) maupun International Best Practices yang dirumuskan lembaga-lembaga keuangan syariah internasional, seperti IFSB (Islamic Financial Services Board), AAOIFI dan IIFM. Pengembangan perbankan syariah diarahkan untuk memberikan kemaslahatan terbesar bagi masyarakat dan berkontribusi secara optimal bagi perekonomian nasional. Oleh karena itu, arah pengembangan perbankan syariah nasional selalu mengacu kepada rencana-rencana strategis lainnya, seperti Arsitektur Perbankan Indonesia (API), Arsitektur Sistem Keuangan Indonesia (ASKI), serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Dengan demikian, upaya pengembangan perbankan syariah merupakan bagian dan kegiatan yang mendukung pencapaian rencana strategis dalam skala yang lebih besar pada tingkat nasional. Sementara itu menurut Akmad Syakir, pengaruh dari bank syariah untuk perekonomian masih sangat kecil. “Mendasarkan pada data kontribusi bank syariah, kalau dari sisi nilai aset, ini masih belum bergerak diangka sekitar lima persen. Jadi kontribusinya sekitar lima persen, yang berarti bahwa kontribusinya dari nilai aset masih kecil,” tandasnya. Namun demikian, menurutnya lagi jika kita berbicara pengaruh, tentu ada harapan besar tentang bagaimana ekonomi Islam ini bisa berpengaruh kepada perekenomian kita secara keseluruhan. Menurutnya, yang menjadi harapan adalah praktik–praktik moral hazard, praktik–praktik memburu rente seharusnya bisa diminimalisir jika kita berbicara dari aspek normatif. “Adapun dalam praktiknya, kita masih banyak melihat praktik pemburu rente, praktik moral hazard yang masih banyak terjadi itu menjadi pertanyaan kita bersama, menjadi tantangan bagaimana ekonomi Islam ini berpengaruh terhadap perekonomian secara keseluruhan,” tambahnya lagi. Mengenai peran pemerintah dalam perkembangan lembaga keuangan syariah, Syakir berpendapat bahwa kita harus 'mengembalikan' apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah sebagaimana dijelaskan dalam ilmu ekonomi. Peran pemerintah sebagai fungsi regulasi, fungsi menjamin keadilan, dan fungsi agar tatanan dan norma–norma yang ada di masyarakat itu berlangsung baik. “Perihal kemudian lembaga keuangan syariah ini tumbuh dari keinginan masyarkat, pemerintah harus mengakomodasinya. Bentuknya menciptakan tatanan dan regulasi untuk tumbuh dan kembangnya bank syariah yang diinisiasi oleh masyarakat,” tutur Syakir. Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah Sebagai langkah konkrit upaya pengembangan perbankan syariah di Indonesia, Bank Indonesia telah merumuskan sebuah Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah sebagai strategi komprehensif pengembangan pasar yang meliputi aspek-aspek strategis, yaitu penetapan visi 2010 sebagai industri perbankan syariah terkemuka di ASEAN, pembentukan citra baru perbankan syariah nasional yang bersifat inklusif dan

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

11


LAPORAN UTAMA

universal, pemetaan pasar secara lebih akurat, pengembangan produk yang lebih beragam, peningkatan layanan, serta strategi komunikasi baru yang memposisikan perbankan syariah lebih dari sekedar bank. Selanjutnya, berbagai program konkrit telah dan akan dilakukan sebagai tahap implementasi dari grand strategy pengembangan pasar keuangan perbankan syariah, antara lain sebagai berikut: Pertama, menerapkan visi baru pengembangan perbankan syariah pada fase I tahun 2008, membangun pemahaman perbankan syariah sebagai Beyond Banking, dengan pencapaian target aset sebesar 50 triliun rupiah dan pertumbuhan industri sebesar 40 persen. Fase II tahun 2009, menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah paling atraktif di ASEAN dengan pencapaian target aset sebesar 87 triliun rupiah dan pertumbuhan industri sebesar 75 persen. Fase III tahun 2010, menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah terkemuka di ASEAN dengan pencapaian target aset sebesar 124 triliun rupiah dan pertumbuhan industri sebesar 81 persen. Kedua, program pencitraan baru perbankan syariah yang meliputi aspek positioning, differentiation, dan branding. Positioning baru bank syariah sebagai perbankan yang saling menguntungkan kedua belah pihak, aspek diferensiasi dengan keunggulan kompetitif dengan produk dan skema yang beragam, transparan, kompeten dalam keuangan dan beretika, teknologi informasi yang selalu up date dan user friendly, serta adanya ahli investasi keuangan syariah yang memadai. Sedangkan pada aspek branding, bank syariah lebih dari sekedar bank atau beyond banking. Ketiga, program pemetaan baru secara lebih akurat terhadap potensi pasar perbankan syariah yang secara umum mengarahkan pelayanan jasa bank syariah sebagai layanan universal atau bank bagi semua lapisan masyarakat dan semua segmen sesuai dengan strategi masing-masing bank syariah. Keempat, program pengembangan produk yang diarahkan kepada variasi produk dengan didukung oleh keunikan value yang ditawarkan (saling menguntungkan). Serta, dukungan jaringan kantor yang luas dan penggunaan standar nama produk yang mudah dipahami. Kelima, program peningkatan kualitas layanan dengan didukung oleh SDM yang kompeten dan penyediaan teknologi informasi yang mampu memenuhi kebutuhan dan kepuasan nasabah serta mampu mengkomunikasikan produk dan jasa bank syariah kepada nasabah secara benar dan jelas, dengan tetap memenuhi prinsip syariah. Keenam, program sosialisasi dan edukasi masyarakat secara lebih luas dan efisien melalui berbagai sarana komunikasi langsung, maupun tidak langsung (media cetak, elektronik, online/website), yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang manfaat produk serta jasa perbankan syariah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Pelaksanaan perbankan syariah tidak semata-mata tanpa kendala, ada beberapa permasalahan yang dihadapi perbankan syariah. Minimnya informasi bank syariah sehingga

12 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

masyarakat memiliki persepsi yang salah tentang bank syariah memjadi salah satu kendala. Secara visual dan analogis, masih ada masyarakat yang menafsirkan bank syariah sebagai bank konvensional dimana pada umumnya, menggunakan dasar pembagian hasil di dalam mendistribusikan pendapatan yang diperoleh bank. Masih minimnya literatur, referensi, dan karya tulis, menyebabkan terbatasnya sosialisasi tentang informasi dan pemahaman bank syariah. Informasi dan pemahaman bank syariah yang masih terbatas disebabkan pula masih langkanya universitas atau lembaga pendidikan di negara kita yang menyediakan kurikulum ekonomi dan perbankan syariah. Terlebih lagi, untuk mencari lembaga pendidikan tinggi yang memiliki Islamic Economic Research Center, masih jauh dari harapan. Sumber Daya Manusia masih terbatas di Indonesia, bahkan di tingkat global pun bankir yang memiliki keahlian operasional bank syariah dirasa masih langka. Bahkan para bankir yang telah mengikuti berbagai kursus dan pelatihan, dalam praktiknya masih merasakan keterbatasan pengetahuan tentang aplikasi model penghimpunan dana, pembiayaan dan jasa dari bank Syariah Jaringan dan kantor cabang juga terbatas sehingga kantor cabang bank syariah di Indonesia masih jauh dari jumlah jaringan dan kantor cabang yang dimiliki bank konvensional. Tersedianya fasilitas untuk dapat melayani nasabah yang akan bertransaksi dengan bank syariah masih sangat minim. Hal ini dapat dilihat dari jumlah bank syariah yang ada di Indonesia. Perkembangan perbankan syariah ini dibandingkan dengan total volume usaha dan jumlah perbankan nasional secara keseluruhan, relatif sangat kecil yaitu di bawah satu persen sehingga peranannya terhadap ekonomi makro belum signifikan. Namun, saat ditanya mengenai prospek bank syariah kedepannya, Syakir melihatnya sebagai sesuatu yang harus dilihat secara optimis. Menurutnya jika kita berbicara mengenai prospek, maka kita akan bicara antara harapan dan realitas. Dirinya pun tidak setuju jika prospek ekonomi Islam ini didasari karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, karena menurutnya hal tersebut dilihat dari sisi pasar yang captive, yang ternyata tidak bisa dioptimalkan juga. “Prospek perkembangan ekonomi syariah harus dilihat dari bagaimana konsep–konsep ekonomi Islam itu secara konkrit dan nyata bisa terwujud yang selanjutnya akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan,� ujar Syakir. Sejalan dengan hal tersebut, Adiwarman Azwar Karim selaku praktisi ekonomi Islam, juga mengungkapkan optimisme bahwa perekonomian syariah akan berkembang dengan baik di Indonesia. “Menurut perkiraan data 2030, perbankan dunia akan dikuasai oleh lima besar negara dan salah satunya adalah Indonesia yang mendapat kehormatan itu dengan praktik ekonomi Islamnya,� tuturnya. (nw)


LAPORAN UTAMA

Zakat, Infak, dan Shodaqoh sebagai Instrumen untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Oleh: Sahniza Tamara, Gadis Ayu Klara, Afnurul Widya Permata “Edukasi yang komperhensif sangat diperlukan. Masih banyak masyarakat yang menganggap zakat itu hanya zakat fitrah. Jika sudah zakat fitrah, sudah merasa berzakat,” - Irfan Syauqi Beik, Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Syariah IPB.

doc.static.republika.co.id

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, total penduduk Indonesia mencapai 238 juta jiwa dengan jumlah penganut agama Islam mencapai 87 persen atau sekitar 207 juta jiwa. Dengan penduduk yang mayoritas muslim ini, tak dapat ditampik bahwa ajaran Islam turut mempengaruhi berbagai lini kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk juga dalam perekonomian. Konsep ekonomi Islam sudah semakin dikenal dalam perekonomian Indonesia. Salah satu penerapan konsep ekonomi Islam dalam perekonomian adalah zakat, infak, dan shodaqoh (ZIS). Ketiga unsur ini dapat diartikan sebagai konsep berbagi dalam Islam dan merupakan ibadah bagi umat Islam. Ketiganya mempunyai persamaan dan perbedaan. Menurut Irfan Syauqi Beik, Ketua Program Studi Ilmu

Ekonomi Syariah IPB dan Staf Ahli Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), shodaqoh atau yang lazim disebut sedekah, mencakup dua hal, yaitu material dan non material. Sedekah yang bersifat non material contohnya ialah tersenyum, karena pada dasarnya tersenyum adalah memberi kepada orang lain. Sedangkan yang material adalah sedekah mahar atau infak. Material, bisa berarti uang, barang, dan makanan. “Kemudian yang wajib namanya zakat. Ibadah zakat punya kekhususan. Kalau infak dan shodaqoh penggunaannya bisa sifatnya umum. Bahkan non muslim kalau sekadar infak atau sedekah boleh saja melakukannya, membantu tetangga kita non muslim yang kelaparan, tetapi kalau zakat ada aturan khususnya,” terang Irfan. Zakat adalah bagian dari ibadah, maka kewajibannya pun dibebankan kepada mereka yang beragama Islam. Pengertian yang lain mengenai zakat disampaikan oleh

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

13


LAPORAN UTAMA Aris Anwaril, Akademisi FEB Undip, zakat pada intinya adalah membersihkan jiwa dan hati dari kecintaan terhadap harta. Secara umum, zakat meliputi zakat fitrah dan zakat maal. Zakat fitrah dapat berupa bahan makanan pokok atau uang senilai dengan bahan makanan pokok, dilaksanakan pada saat Ramadhan atau sebelum salat Idul Fitri. Sedangkan zakat maal lebih spesifik. Dalam UU Pengelolaan Zakat, rincian zakat maal sangat banyak, meliputi: emas, perak, dan logam lainnya; uang dan surat berharga lainnya; perniagaan; pertanian, perkebunan dan kehutanan; peternakan dan perikanan; pertambangan; perindustrian; pendapatan dan jasa; dan rikaz. Jenis zakat maal akan berkembang terus seiring dengan perkembangan kehidupan manusia. Ketika ditemukan sumber-sumber ekonomi baru, maka hal tersebut menjadi potensi obyek zakat selama tidak bertentangan dengan ketentuan Islam. Irfan menambahkan bahwa segala ketentuan zakat telah diatur oleh ajaran Islam. Mulai dari menghimpun, mengelola, dan menyalurkan zakat. “Aturannya adalah pertama dari sisi penghimpunan. Itu ada ketentuan-ketentuan mana saja objek (harta -red), zakat yang bisa wajib dikeluarkan, berapa kadarnya, ada ketentuannya. Kemudian dari sisi penyaluran, ada kelompok penerima zakat,” lanjut Irfan. Kalau infak dan sedekah bersifat umum dan bebas penyalurannya, sedangkan zakat khusus disalurkan kepada delapan kelompok seperti yang diterangkan dalam surat At Taubah ayat 60. Untuk membantu pengelolaan ZIS, pemerintah menyerahkan wewenang pengelolaan zakat secara nasional kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Dalam UU Nomor 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat, BAZNAS mempunyai empat fungsi. Dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, kemudian pengendalian dari pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat serta pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan pengelolaan zakat. Selain BAZNAS, ZIS juga bisa dikelola oleh lembaga amil zakat milik masyarakat. Salah satunya adalah PKPU yang telah dikukuhkan sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) berdasarkan SK Menteri Agama No. 441 pada 8 Oktober 2001. PKPU memiliki tiga kegiatan utama dalam pengelolaan ZIS. Pertama adalah mengedukasi, mengajarkan, dan menyadarkan orang-orang yang berkewajiban zakat agar mereka menunaikan kewajibannya. Kedua, mengelola dana-dana yang masuk ke PKPU sesuai kategorinya masing-masing. Kemudian yang terakhir adalah pendayagunaan dana. Hal ini dilakukan agar mempunyai nilai yang lebih produktif dan bermanfaat. Perkembangan ZIS Di Indonesia ZIS sudah lazim dilaksanakan di Indonesia. Infak dan sedekah menjadi ibadah yang umum dilakukan oleh masyarakat. Bahkan dibeberapa tempat umum telah disediakan kotak amal untuk menampung infak yang ingin disalurkan oleh masyarakat. Sementara itu menurut Aris untuk penerapan zakat, masingmasing negara memiliki perbedaan dalam hal pengelolaannya namun memiliki prinsip yang sama. Mengenai perkembangan zakat di Indonesia, Aris memiliki pendapat sendiri. “Menurut saya semakin tahun semakin baik

14 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

penerapannya. Jika dahulu hanya ada sedikit orang yang mengenal konsep zakat, namun sekarang sudah banyak. Selain itu, pengelolaan yang berbasis manual sekarang sudah dibantu dengan teknologi,” ungkap Aris. Hal lain diungkapkan oleh Irfan. Menurutnya apabila membandingkan zakat antara Indonesia dengan Malaysia, maka Indonesia relatif tertinggal. Kondisi ini terjadi akibat Malaysia lebih dulu mempunyai aturan zakat. Dalam kasus ini zakat yang dimaksud adalah zakat maal. Latar belakang kepemimpinan yang berbeda juga menjadi faktor tertinggalnya Indonesia. Sultan-sultan di Malaysia telah mempunyai peraturan tentang zakat dan modernisasi pengelolaan zakat sejak akhir tahun 80-an. “Mereka bergerak lebih cepat dari Indonesia. Mulai dari perhimpuan, penyaluran hingga programnya sudah dilaksanakan baik,” ujar Irfan. Kendati demikian, program-program penyaluran di Indonesia telah diakui oleh luar negeri. Umumnya mereka belajar mengenai cara pelaksanaan program zakat di Indonesia. Hal ini dibuktikan oleh BAZNAS yang bekerjasama dengan BI dan Islamic Research and Training (IRTI) untuk melakukan forum dengan tema International Working Group on Zakat Standardization (IWGZS) pada Juni 2014. Pertemuan tersebut menghasilkan pengelolaan manajemen zakat yang disebut Zakat Core Principle (ZCP). ZCP berisi aturan dari aspek kelembagaan, penghimpunan, pengelolaan, penyaluran, pertanggungjawaban, dan infrastruktur regulasi yang diperlukan untuk menjadi referensi pengelolaan zakat di seluruh dunia. Manfaat Zakat Bagi Masyarakat Perkembangan pelaksanaan zakat membawa berbagai manfaat. Ada dua aspek yang menonjol akibat pelaksanaan ZIS di Indonesia. Pertama dari aspek sosial. Menurut Aris, adanya penerapan ZIS akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketika orang kaya sadar akan harta yang dimilikinya, ia dapat membantu fakir miskin sehingga bisa meningkatnya kualitas kehidupan. Mulai dari kehidupan ekonomi, pendidikan hingga kesehatannya. Zakat yang diterima oleh lembaga amil akan disalurkan kepada mustahik untuk membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Meskipun kemampuan lembaga zakat di Indonesia kurang dari 10 persen dari penduduk miskin, terdapat sekitar 3,8 jutaan penduduk miskin yang menjadi mustahik zakat. Seperti yang dilakukan oleh PKPU dimana mereka menyalurkan ZIS dalam bentuk program-program peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Salah satu contoh programnya adalah peningkatan kesehatan dan pengentasan busung lapar. PKPU secara aktif melakukan pembinaan dan pendampingan kepada masyarakat untuk membantu anak-anak yang mengalami busung lapar. Jadi, dana yang didapat disalurkan dalam bentuk program-program pembinaan, bukan lagi sekedar memberikan sejumlah uang tertentu. Aspek kedua yaitu ekonomi. Potensi zakat di Indonesia mencapai 3,4 persen dari PDB. Penelitian yang dilakukan oleh Irfan dan timnya pada tahun 2011 ini, berhasil menemukan bahwa potensi zakat di Indonesia sebesar 217 triliun rupiah. 38 persen zakat penghasilan memiliki potensi sebesar 80,2 triliun rupiah. Profesi yang potensial untuk dipungut zakat penghasilan


LAPORAN UTAMA antara lain PNS, karyawan bank, karyawan perusahaan, TNI, Polri. Potensi zakat perusahaan yang mencapai 116 triliun rupiah. Potensi zakat perusahaan ini berasal dari berbagai macam sektor. Potensi yang ada ini apabila dapat dimanfaatkan dengan baik, akan memberikan efek positif untuk kesejahteraan masyarakat. Hal ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Irfan, dimana pengelolaan zakat bisa berdampak pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia dan juga pertumbuhan ekonomi.

Kendala yang Ada Dalam mengelola ZIS, terdapat kendala-kendala yang ditemui. Untuk membantu mengentaskan kendala tersebut, perlu peran dari berbagai pihak. Pemerintah perlu ikut campur dalam memaksimalkan potensi ZIS sebagai salah satu upaya pengentasan kemiskinan. Pemerintah bisa berperan lebih sebagai regulator dan pengawas, sedangkan BAZNAS sebagai pengelola zakat. Kendala pengelolaan zakat berasal dari sisi publik. Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan untuk menyadarkan masyarakat. “Edukasi yang komperhensif sangat diperlukan. Masih banyak masyarakat yang menganggap zakat itu hanya zakat fitrah. Jika sudah zakat fitrah, sudah merasa berzakat,” tukas Irfan. Masih banyak masyarakat yang belum paham mengenai kewajiban zakat, terutama pada zakat maalnya dimana setiap pekerjaan yang produktif dapat dikenakan zakat. Sebagai contoh, seorang karyawan bank berpotensi menjadi muzakki (pembayar pajak -red) karena ia memiliki penghasilan. Kendala lain berkaitan dengan pemahaman yang sering keliru, dimana masyarakat menganggap lebih baik menyalurkan langsung tanpa melalui badan amil. “Akhirnya, mereka mengumpulkan para dhuafa, lalu dibiarkan berdiri dan berbaris di lapangan dengan terik matahari hingga pingsan,” ungkap Surur. Cara-cara penyaluran zakat haruslah dengan cara manusiawi. Selan itu, terdapat pula kendala pada sisi kelembagaan, terutama dalam peningkatan kualitas pengelolaan zakat. Kualitas pengelolaan, kualitas government, dan tata kelola yang baik sangat

Doc. Edents

Respon Masyarakat dan Kendala dalam Pelaksanaan ZIS Adanya potensi zakat ini harus diimbangi oleh respon masyarakat untuk menyalurkan ZIS-nya. Hal yang masih menjadi tantangan bagi lembaga pengelola zakat adalah kurangnya respon masyarakat terhadap zakat. “Mungkin agak susah kita (PKPU –red) untuk meng-explore di Kota Semarang,” ungkap M. Miftahul Surur, Kepala Cabang PKPU Semarang. Surur menambahkan bahwa pada tahun 2011-2012, data yang terekam dalam lembaga dan badan amil zakat belum menembus angka 5 triliun rupiah dari potensi sebesar 217 triliun. “Ini tidak bisa juga dikatakan bahwa responnya kecil, karena itu yang resmi ter-record di lembaga-lembaga terdaftar. Mungkin ada yang menunaikan langsung misalkan ke tetangganya atau melalui masjid yang itu memang recordnya tidak ada,” tambah Surur. Hal ini terbukti pada sebagian masyarakat yang menyalurkan ZIS-nya tanpa melalui lembaga amil sehingga tidak terekam. Seperti yang diungkapkan oleh M. Fajri dan Fajar Fitriyanto yang mengaku bahwa mereka menyalurkan ZIS-nya secara rutin melalui masjid.

berpengaruh dalam pengelolaan zakat. Sebagai contoh, sistem pertanggungjawaban zakat. Bagaimana menjamin akuntabilitas dan transparasi pengelolaan zakat adalah pekerjaan rumah bagi masyarakat Indonesia. Dari sisi regulasi juga relatif masih bermasalah. Regulasi sangat penting untuk mendorong kebijak an-kebijak an yang lebih berpihak kepada normalisasi potensi zakat. Sebagai contoh, Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden No 3 Tahun 2014, dimana PNS, Polri, BUMN, BUMD, keseluruhan anggota dari pusat sampai daerah melakukan penyaluran zakat melalui BAZNAS pusat atau daerah. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa hal ini belum berjalan efektif. Cara mengefektifkan instruksi ini yaitu daerah menuju ke pusat. Dengan desain regulasi dan dorongan yang baik, maka akan terjadi akselerasi antara perhimpunan dan penyaluran zakat. Surur menambahkan bahwa dalam konteks menyadarkan muzakki (wajib zakat), tidaklah mudah. “Sebagai contoh, orang mengeluarkan uang untuk membeli barang, orang tersebut dapat barangnya dan secara fisik ada, berwujud. Namun jika ia mengeluarkan uangnya untuk berzakat, maka impact-nya apa? Secara fisik tidak ada, hal inilah yang terus dilakukan oleh lembaga pengelola zakat, mereka mengedukasi para masyarakat,” jelas Surur. Lembaga pengelola zakat memberikan edukasi mengenai manfaat bersedakah dan berzakat dimana kebaikan tersebut akan kembali lagi kepada orang tersebut. Harapan Kedepan Harapan kedepan mengenai zakat yang disampaikan oleh Surur adalah zakat dapat menjadi instrumen rukun Islam yang sesungguhnya. “Tidak bisa kita mengentaskan orang miskin dengan cara membuat mereka mengantri baris untuk mendapatkan zakat, hal tersebut tidak akan berhasil. Harus dikelola dengan baik, harus ada metode yang tepat,” terang Surur. Kesadaran masyarakat harus terus dibangun, kemudian dukungan dari semua pihak termasuk kampus. Zakat menjadi bagian dari kekuatan ekonomi yang riil dan ketika potensi ini dimaksimalkan maka akan memberikan manfaat yang besar. Animo masyarakat yang semakin baik dapat digali dengan melakukan edukasi mengenai nilai-nilai dasar zakat dan sedekah. Dengan begitu ada kontribusi baik terhadap perbaikan negara. (nw)

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

15


POLLING

16 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016


POLLING

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

17


18 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016


Tentang Mereka Mental Wirausaha Tidak Berasal dari Zona Nyaman Oleh: Siti Aisyah Fitria dan Anis Inayah “Jangan takut untuk memulai bisnis dan jangan takut berangan-angan,”Andrew Wiji Trisnanto, Kepala Divisi Bisnis Reaserch Center Bidang Kewirausahaan BEM Undip 2016.

Sebagai wirausahawan muda, Andrew Wiji Trisnanto menekuni dunia bisnis sejak dibangku Sekolah Dasar (SD). Sejak SD, ia menggunakan waktu bermainnya untuk mengumpulkan daun kelapa kering yang akan dibuat menjadi sapu lidi. Harga jual sapu lidi saat itu berkisar Rp 500,00 hingga Rp 700,00 per buah. Ia berinisiatif menjual sapu lidinya ke kota dengan harga Rp 2.000,00 per buah. Andrew mengaku terinspirasi dengan film anak-anak yang diperankan oleh Joshua Suherman. Insting bisnisnya berlanjut dan ia mulai berjualan kelereng serta layangan besar. Kemudian layangan tersebut dijual dengan harga mulai dari Rp 10.000,00 sampai Rp 30.000,00 per layangan. Bisnis di Usia Remaja Saat Sekolah Menengah Atas (SMA), ia mulai menekuni usaha ternak, mulai dari ternak ayam, burung, hingga jangkrik. Saat itu pangsa pasar ternak jangkrik cukup luas dan banyak diminati para tengkulak, bahkan pasarnya menembus daerah luar Jawa, seperti Jakarta dan Kalimantan hingga diekspor ke luar negeri. "Jadi tiap kandang seukuran 1x20 meter itu bisa menghasilkan 20 kg jangkring per bulan sehingga umur panennya itu ratarata satu bulan. Nah aku tuh bisa mencapai 200 kg tiap bulan (produksi jangrik –red), tapi untuk perawatan dan yang lain emang istilahnya membutuhkan waktu yang banyak," terang Andrew.

hingga ayam jawa super. Ketika semester empat, tepatnya bulan November 2014, Andrew mengikuti program Kementrian Koperasi (Kemenkop). Dari program Kemenkop, ia mendapatkan sejumlah dana yang digunakan untuk membeli freezer serta memulai usaha pembuatan yoghurt dan dipasarkan ke beberapa fakultas di Undip hingga saat ini. Tokoh Inspiratif Tokoh yang menginsprasinya di dunia bisnis adalah Chairul Tanjung. Ia berharap dikemudian hari dapat seperti idolanya yang memiliki bermacam-macam bisnis. Ia berpesan agar mahasiswa jangan malu dan takut memulai bisnis. “Jangan takut untuk memulai bisnis dan jangan takut berangan-angan. Apa yang kamu bisa mulai lakukan, ya sudah kamu lakukan itu, dan ketika kamu mau ke titik ke 10, tapi kamu nggak mau mulai dari titik pertama jadi nggak mungkin kan kamu bisa melangkah berjalan ke titik 2, kemudian mustahil sampai ke titik 10. Namun, kamu harus melalui semua titik tersebut dari awal hingga akhir,” pesan Andrew. (nw)

Pasang Surut Bisnis Seiring berjalannya waktu, usaha jangkriknya mengalami pasang surut. Harga jual jangkrik sangat fluktuatif, mengikuti permintaan dan penawaran dari tengkulak. Saat itu, harga jangkrik berkisar Rp 5.000,00 hingga mencapai harga tertinggi yaitu Rp 50.000,00 dalam satuan kilogram. Biaya perawatan untuk satu kilogram jangkrik berkisar Rp.10.000,00, termasuk untuk makanannya. Bila harga jual saat itu hanya Rp 10.000,00 berarti ia hanya menerima modal awalnya.

Doc. Edents

Prestasi yang Diraih Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Diponegoro, Fakultas Peternakan dan Pertanian. Awal masuk perkuliahan, Andrew bergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Research and Business untuk menunjang passion bisnisnya. Ia bersama tujuh orang temannya berinisiatif untuk menabung dan mendirikan usaha bersama. Setiap minggu setiap orang menyetorkan uang sebesar Rp 30.000,00 hingga akhirnya berhasil mengumpulkan modal empat juta rupiah. “Pertama itu aku dan temanku bisnis ayam dan pelihara 300 ayam broiler gitu kan. Pelihara ayam gitu kan paling bagus,” jelas Andrew. Namun bisnis ayam itu tidak berlangsung lama, hanya dijalani sekitar 1,5 bulan. Di semester tiga, teman-teman Andrew mengusulkan untuk berbisnis mulai dari ternak kambing, ayam kampung,

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

19


Tentang Mereka Aktif Berorganisasi dan Berlatih Menulis Itu Penting Oleh : Panjalu Satrio

“Jadi membagi waktunya kan kuliah ini nggak sepanjang hari. Ya kuliah sehari paling dua mata kuliah, selesai kuliah ya paling ke perpustakaan atau pergi bergaul itu,”– Augusty Tae Ferdinand, Akademisi FEB Undip

Pengalaman Berorganisasi di LPM Edents Kemudian sewaktu menjadi aktivis di senat, Augusty sering ditanyai mengenai kabar Edents. Dulu, Edents sempat mengalami masa vakum sehingga sering mengundang pertanyaan dari mahasiswa mengenai kelanjutan Edents. Kemudian Augusty dan teman-teman dari senat, memprakarsai bangkitnya Edents. Berkat usaha Augusty dan teman-temannya, Edents pun dapat aktif kembali. Bahkan ditahun ini, Edents genap menginjak usia 40 tahun dan tetap aktif dalam memberi informasi kepada semua masyarakat FEB Undip. Saat menjadi anggota LPM Edents, Augusty pernah diamanahi berbagai jabatan. Ia pernah menjadi Ketua Dewan Redaksi dan Pemimpin Umum LPM Edents. Ia aktif menjadi pengurus Edents pada periode 1977-1978. Ketika ditanya mengenai alasan masuk Edents, ia mengungkapkan bahwa awal mulanya berasal dari hobi menulis dan berorganisasi. “Edents itu happy aja, kan itu sebagai hobi. Saya juga hobi menulis karena biaya juga nggak ada masalah. Ya biaya nggak ada masalah karena ada dukungan dari fakultas,” terangnya. Setelah Edents berhasil diaktifkan kembali, Augusty dan teman-temannya pun berusaha untuk menerbitkan majalah. “Kita terbitkan itu edisi awal itu, waktu terjadi devaluasi rupiah pertama kali. Termasuk saya juga nulis artikel khusus disitu (majalah Edents – red). Waktu dolar itu menjadi 425 rupiah per US 1 dolar. Itu devaluasi pertama itu,” ungkap Augusty. Pada waktu itu, majalah edents masih sederhana, hanya berupa lembaran kertas ukuran A5 dan dicetak

20 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

Kunjungi! www.lpmedents.com

Aktif Berorganisasi Saat masih kuliah, Augusty tergolong sebagai mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi. Augusty mengaku bahwa dulu ia sempat menjadi aktivis di Senat Mahasiswa. Selain itu, untuk organisasi di luar kampus, ia mengikuti PMRKI dan organisasi di gereja. Sedangkan untuk organisasi intra kampus, ia pernah bergabung dengan LPM Edents. “Ada kegiatan apa saja saya ikut, jadi panitia gitu kan. Termasuk jadi anggota MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa -red),” jelas Augusty. Ketika disinggung bagaimana membagi waktu antara aktivitas organisasi yang beragam dengan kuliah, ia pun memberikan jawabannya. “Jadi membagi waktunya kan kuliah ini nggak sepanjang hari. Ya kuliah sehari paling dua mata kuliah, selesai kuliah ya paling ke perpustakaan atau pergi bergaul itu,” jelas Augusty. Menurutnya, sebagai mahasiswa tidak memiliki kewajiban lain disamping belajar. Lebih lanjut, ia berkata bahwa mahasiswa harus rajin kuliah, namun selepas kuliah masih ada banyak waktu. Jadi selepas jam kuliah bisa dimanfaatkan untuk berorganisasi atau bersosialisasi dengan mahasiswa lainnya sehingga tidak menggangu aktivitas kuliah.

pada bagian cover-nya saja, tetapi hal itu tidak membuat kualitas tulisan maupun para penulisnya menjadi luntur. Justru pada saat itu, diakui Augusty bahwa majalah Edents merupakan tulisan yang ditunggu oleh para mahasiswa, terlebih lagi pada kala itu belum banyak bacaan dan akses yang memadai seperti sekarang. “Dulu kecil tapi menarik sehingga orang baca kemudian suka. Dulu kan nggak ada bacaan, jadi Edents terbit selalu ditunggu orang,” tambah Augusty. Lebih lanjut menurut Augusty, Edents merupakan organisasi positif, dimana mahasiswa bisa menyalurkan hobi menulis dan menambah wawasan. “Edents itu selalu bikin kita mikir mau nulis, mikir menata bahasa, mikir sesuatu apa yang bisa kita ciptakan,” ujar Augusty. Selain itu, Augusty juga menyampaikan bahwa dalam membuat tulisan tidak bisa sembarangan, semuanya harus runtut dan jelas terstruktur. Menurutnya, menulis itu dapat mengatur bagaimana cara melahirkan pikiran dengan runtut. Pun termasuk dalam menulis harus runtut dari alenia satu ke alenia dua kemudian ke alenia tiga. Ketika sudah terbiasa dengan hal tersebut, itu akan menjadi tacit knowledge, pengetahuan yang sulit untuk dijabarkan atau dideskripsikan. Akhir kata, Augusty menyampaikan pesannya untuk para mahasiswa. Ia berpesan agar mahasiswa lebih banyak yang menulis karena menurutnya minat mahasiswa saat ini sangat sedikit untuk menulis. Hal tersebut terlihat dari penysusunan skripsi yang masih banyak tutur kata maupun kalimat yang tidak bersangkutan. Kemudian dalam majalah Edents perlu diarahkan agar mahasiswa yang menulis. Ini bisa menjadi ajang latihan bagi mahasiswa sehingga bisa berguna ke depannya. “Jangan undang ahli-ahli, itu nggak perlu lah. Menurut saya sih nggak, wong mereka nulis dimana aja boleh. Justru kita perlu tahu mahasiswa nulis bagaimana sehingga kita bisa tahu wah anak ini hebat,” tutup Augusty. (nw)

doc. Edents

Siapa yang tak mengenal Augusty Tae Ferdinand? Augusty adalah salah satu dosen di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip). Pria kelahiran Lurasik, Nusa Tenggara Timur, ini pernah menimba pendidikan jenjang sarjana muda (S1) di FEB Undip. Lulus dari FEB Undip tahun 1979, Augusty kemudian melanjutkan pendidikannya ke Shiga University di Jepang, dan kemudian ke Southern Cross University di Australia. Saat ini ia mengajar program sarjana dan pasca sarjana di FEB Undip. Dalam perjalanan karirnya, ia juga telah menulis beberapa buku salah satunya mengenai metodologi penelitian. Kali ini, Augusty berkesempatan untuk membagikan kisahnya sewaktu menimba ilmu di FEB Undip.


Tentang Mereka Sigit Pramono, Lulusan FEB Undip yang Sukses Menjadi Komisaris Oleh : Muslimah Mahmudah dan Nur Zharifah

Lulusan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro kini telah banyak memegang berbagai jabatan penting di tempat kerjanya. Sigit Pranomo salah satunya. Alumni FEB Undip angkatan 1983 ini tengah menjabat sebagai Ketua ASEAN Bankers Association (ABA) dan Komisaris Independen Bank Central Asia. Jabatan yang kini diembannya tidak serta merta ia raih, melainkan dengan usaha keras dan bertahap. Sebagai anak pertama, Sigit menyadari beban yang dipikul orang tuanya untuk membiayai kuliah dan adik-adiknya sekaligus. Hal inilah yang mendorong Sigit untuk belajar dengan fokus dan tekun saat kuliah agar tidak mengecewakan orangtuanya. Lulus dari FEB Undip, Sigit menyebar lamaran ke berbagai perusahaan, beberapa diantaranya adalah PT Pertamina, PT Astra, Bank Bumi Daya, Bapindo, dan Bank Exim. Panggilan wawancara pertama oleh Bank Exim menjadi awal perjalanan karirnya di dunia perbankan. Ingin menambah ilmu yang telah dimilikinya, Sigit melanjutkan kuliah lagi pada tahun 1995 di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya. Sigit percaya keberhasilan dicapai dengan kerja keras dan konsistensi dalam bekerja, agama menjadi pondasi yang diperlukan agar memiliki keteguhan diri. Kini, Sigit sudah memiliki segudang pengalaman di dunia perbankan. Ia terus dipercaya menjabat diberbagai posisi penting seperti direktur dan komisaris di bank-bank nasional, bahkan ia juga dipercaya menjadi Ketua ABA. Sosok Inspirasi Hidup dari keluarga yang sederhana, tak menyurutkan tekat Sigit untuk bisa sukses. Orang tua yang sangat memotivasi dan memberikan banyak inspirasi untuk Sigit, mengajarkan pentingnya kerja keras, jujur, dan disiplin. Sifat spiritual sang ayah dan jiwa entrepreneur serta plagmatis sang Ibu membuat kehidupan Sigit lebih seimbang. Hal ini melatih otak kanan dan kirinya. Di bidang seni, Sigit banyak terinspirasi oleh pamannya Punawan Muhammad, seorang penyair dan penulis, dan Karto Muhammad yang memberikan pengaruh soal fotografi. Prinsip Mencapai jabatan puncak bukanlah hal yang bisa didapat dengan instan. Sigit mengaku mengalami jatuh bangun dalam perjalanan karirnya. Dalam menghadapi berbagai rintangan, kerja keras, dan keteguhan diri menjadi kunci kesuksesannya. Selain itu, agama menjadi faktor penting yang harus dipegang teguh. Ia juga selalu konsisten dan fokus dalam perkerjaannya. Sebagai seorang bankir, ia konsisten untuk tidak berpolitisi karena menjadi bankir haruslah netral. Jatuh bangun dalam berkarir adalah hal yang normal, namun harus siap bangkit dan belajar lagi. Sigit mengaku masih terus belajar dan memperbarui ilmu-ilmu yang dimilikinya,

doc. bisnis.tempo.co

“Setiap orang harus mampu menghadapi berbagai rintangan dalam hidupnya. Kuncinya adalah jangan pernah takut untuk mencoba karena kegagalan sebenarnya adalah saat tidak pernah mencoba“- Sigit Pranomo, Ketua ASEAN Bankers Association (ABA) dan Komisaris Independen Bank Central Asia .

karena sebuah pekerjaan tidak cukup hanya mengandalkan ilmu di bangku kuliah. Dalam memimpin, Sigit juga tidak pelit dalam memberi ilmu pada bawahannya. Menurut Sigit, jika bawahan berhasil, maka akan memberikan nilai tambah dan mendorong atasannya untuk menjadi lebih tinggi lagi. Bagi Sigit, hobi juga merupakan hal yang penting. Hobi fotografi ditekuni Sigit dengan berbagai kegiatan seperti, mengikuti komunitas fotografi, dan sekarang menjadi dewan penasehat di Masyarakat Fotografi Indonesia (MFI). Diakui Sigit, hobi perlu ditekuni agar tidak kesepian dan bosan dalam menjalani pekerjaan. Bahkan, ia membangun usaha lewat hobi fotografinya tersebut. Tantangan Mahasiswa Sekarang Menurut Sigit, generasi sekarang adalah generasi yang terbiasa dengan segala hal yang instan. Didukung dengan internet, mahasiswa dapat dengan cepat mengambil informasi yang diinginkan, namun tidak membaca sepenuhnya. “Tantangannya bagaimana kalian harus mau belajar mendalam apa yang diketahui. Artinya pada akhirnya setiap kerja, kita harus ada spesialisasi juga, kita spesial dimana. Kalo kita sama-sama dengan yang lain, apa bedanya dong? Ya kita punya kelebihan dari yang lain,” tutur Sigit. Jika ingin terus meningkat dalam karir, seseorang harus menonjol dari yang lain, misalnya lebih pintar atau lebih rajin. Dengan fasilitas yang semakin memadai dan informasi yang mudah didapat, Sigit percaya generasi sekarang yang lebih pintar daripada generasinya. “Setiap orang harus mampu menghadapi berbagai rintangan dalam hidupnya. Kuncinya adalah jangan pernah takut untuk mencoba karena kegagalan sebenarnya adalah saat tidak pernah mencoba,” ujar Sigit. Pesan untuk Mahasiswa Sigit berpesan kepada mahasiswa agar terus bekerja keras. “Semua harus kerja keras, belajar lebih baik, bekerja lebih baik dari orang-orang di lingkungan Anda, kalo Anda masuk departemen ya Anda harus menonjol di antara semua orang,” pesannya. Ia juga mengingatkan ketika menjadi pemimpin, harus berbagi ilmu kepada karyawannya. Selain itu dalam hidup, kita tidak boleh menyela atau menghina orang lain dengan keadaannya, karena kita tidak tahu masa depan seseorang nantinya seperti apa. Perbanyaklah teman karena teman itu sangat penting dalam berbisnis atau berprofesi sebagai jejaring networking dan membuka kesempatan. Sigit juga menganjurkan agar mahasiswa membuka usaha, karena peluang untuk menjadi pengusaha di Indonesia terbuka lebar. (nw)

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

21


SOSOK Oleh : Galuh Dian Paramudita Adiwarman Azwar Karim merupakan akademisi sekaligus praktisi keuangan syariah. Pria yang menamatkan pendidikan akhirnya di Boston University ini berusaha menyebarkan ekonomi Islam melalui berbagai jalan. Ia tidak hanya berkontribusi dalam pengembangan perbankan dan ekonomi syari’ah di Indonesia, tetapi juga berperan sebagai intelektual dan akademisi. Ia menjadi dosen tamu disejumlah perguruan tinggi ternama seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Airlangga, IAIN Syarif Hidayatullah, dan sejumlah perguruan tinggi swasta untuk mengajar perbankan dan ekonomi syariah. Di beberapa perguruan tinggi tersebut, ia juga mendirikan Sharia Economic Forum (SEF), suatu model jaringan ekonomi Islam yang bergerak di bidang keilmuan. Disamping kegiatannya sebagai praktisi ekonomi syariah, pria yang diamanahi menjadi Wakil Ketua Badan Pelaksana Harian Dewan Syariah Nasional MUI tahun 2010 sampai dengan tahun 2015 ini juga giat menulis. Ia telah menulis lebih dari 70 tulisan tentang ekonomi Islam yang disajikan dalam berbagai forum nasional dan internasional, seperti Konferensi Ekonomi Islam International ketiga, keempat, dan kelima yang disponsori oleh Islamic Development Bank (IDB) dan Konferensi Tahunan International Western Economics Association yang ke76. Bahkan beberapa karyanya, antara lain: Bank Islam: Analisis Fikih dan Keuangan, Ekonomi Mikro Islami, Ekonomi Makro Islami, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Ekonomi Islam: Suatu Kajian Ekonomi Kontemporer, menjadi buku best seller ekonomi Islam. Berikut hasil wawancara terkait seluk beluk kesuksesan Adiwarman Azwar Karim. Bagaimana perjalanan karir Bapak hingga mendirikan Karim Consulting Indonesia ? Dulu pertama kali bekerja di Bapennas selama tiga tahun, dari tahun 1987 sampai tahun 1989. Kemudian tahun 1992, saya bekerja di Bank Muamalat sampai tahun 2001. Kemudian mulai dengan Karim Consulting ini. Jadi dari kecil, dari awal jadi pegawai, dulu gajinya cuma sejutaan. Karim Consulting Indonesia berdiri tahun 2001, tujuannya ingin menjadi visioner dalam bidang ini (ekonomi syariah –red), mau mengembangkan ekonomi syariah, kita ingin menjadikan Indonesia kiblat dari ekonomi syariah di dunia. Siapakah yang paling mendukung Bapak dalam berkarir? Semuanya, termasuk para mahasiswa. Mahasiswa memberikan semangat yang besar sekali untuk mengembangkan ekonomi syariah. Mahasiswa juga memberikan optimisme yang besar bahwa banyak ‘emas-emas’ muda di Indonesia yang akan siap menerima tongkat estafet untuk membesarkan nama Indonesia di kancah ekonomi dunia, khususnya di dunia ekonomi syariah. Apakah moto dan motivasi hidup bapak? Moto saya Allahu Akbar. Motivasi saya, selalu sebarkan kebaikan, maka kau akan diberikan kebaikan oleh yang di langit. Siapakah sosok yang menginspirasi Bapak? Dan mengapa? Tokoh insipirasi banyak. Jadi yang pertama kali menginspirasi untuk belajar dalam ekonomi Islam adalah Prof. AMP Fuddin. Beliau yang memberikan inspirasi untuk mendalami ilmu ini (ekonomi syariah –red). Kemudian ada juga yang mengajarkan saya tentang kebersihan haji, ketulusan dalam hidup, dan

22 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

sebagainya. Dan tentu ada orangtua saya. Ayah saya mengajarkan tentang kasih sayang dan moral. Setiap momen dan setiap aspek kehidupan biasanya ada orang yang memberikan inspirasi, termasuk mahasiswamahasiswa. Apa saja kendala Bapak selama berkarir? Kendala banyak dan bermacam-macam. Namun, yang paling besar tantangannya adalah kita punya pikiran yang melampaui zaman kita. Jadi kita punya pikiran-pikiran yang jauh ke depan, yang belum dipahami oleh orang-orang di zaman kita sehingga pikiran–pikiran itu bisa dianggap orang lain aneh. Kemudian banyak juga yang melecehkan, tetapi it’s then out. Dalam jangka waktu waktu lima sampai sepuluh tahun, ternyata apa–apa yang kita cetuskan itu kemudian menjadi kenyataan. Orang-orang yang tadinya menentang, melecehkan dan lain sebagainya, akhirnya menjadi pendukung utama dari pemikiran– pemikiran yang kita lontarkan lima sampai sepuluh tahun yang lalu. Jadi dalam suka duka sekarang ini, tentu banyak menemui kesenangan-kesenangan. Kesenangan itu terbukti bahwa apa yang kita sampaikan ternyata pada akhirnya benar dan menghasilkan yang terbaik. Lalu susahnya adalah untuk meyakinkan bahwa ini adalah jalan yang membukakan mata orang, apa yang disampaikan itu memang tepat dan benar cuma perlu waktu aja untuk meyakinkan orang, untuk membuktikan bahwa itu benar, sehingga mungkin kita sendiri akan dianggap sebagai orang yang nyeleneh. Mengapa Bapak tertarik mendalami Ekonomi Islam? Ekonomi Islam adalah ekonomi yang berlandaskan nilainilai Islam, jadi dibangun dalam teori yang sangat dahsyat kalau menurut ilmu ekonomi saat ini. Kemudian dipraktikan, diaplikasikan selama ratusan tahun, mulai dari zaman Rasulullah SAW sampai saat ini. Pernah menguasai dunia selama 800 tahun, dengan bentangan luas yang demikian dahsyat dan rentan waktu yang sangat panjang. Maka tentunya banyak sekali ilmu-ilmu ekonomi Islam yang bermanfaat dan bisa diambil pelajarannya. Namun sayangnya, banyak isu-isu ekonomi yang sekarang diajarkan di fakultas–fakultas ekonomi yang disebut sebagai ‘dark age’. Maksudnya adalah ada rentang waktu sekitar 500 tahunan lebih, dimana sejarah perkembangan ekonomi Islam yang tadi saya ceritakan dan rentang wilayah yang demikian luasnya itu, tidak tercatat disejarah ekonomi yang sekarang diajarkan di fakultas-fakultas ekonomi. Ini mengakibatnya apresiasi orang menjadi rendah terhadap ekonomi Islam dan yang lebih parah lagi, selain tingkat apresiasi yang rendah, tetapi juga dipandang sebagai bukan bagian dari ilmu ekonomi karena mungkin akses dan bahasanya tidak dimengerti dan akhirnya menimbulkan kecurigaan-kecurigaan yang tidak perlu. Apa pesan dari Bapak untuk para mahasiswa agar meraih kesuksesan di masa mendatang? Pesan untuk mahasiswa, mahasiswa jalani hidup yang baik–baik. Bermimpilah yang besar- besar, jangan batasi mimpi kita, biarkan ia terbang dengan jelas dan yakin dengan mimpinya. Hanya orang yang berpikir bisa merubah dunia, maka ia akan merubah dunia. Tidak mikir hanya sekedar untuk lulus, kawin, dan kerja. (nw)

dok. karimconsulting.com

Sebarkan Ekonomi Islam Melalui Berbagai Jalan


Sudut Profesi Penulis, Membutuhkan Banyak Latihan dan Pengalaman dalam Membaca Oleh: Akbar Sih Pambudi dan Novi Pusparini

doc. himflies.blogspot.com

“Jadi, berlatihlah dari sekarang. Just keep it small. Have small targets, but keep doing them. Bisa satu artikel blog satu minggu, satu cerpen satu bulan, satu novel satu tahun, dan seterusnya, tapi teruslah berlatih” - Dewi “Dee” Lestari, Penulis

Penulis merupakan salah satu profesi yang ada. Menulis adalah kegiatan membuat huruf atau angka menggunakan alat tulis dengan cara mengungkapkan ide, pikiran, perasaan ataupun karangan dalam bentuk tulisan. Menulis membutuhkan beberapa keterampilan seperti keterampilan berbahasa yang direkam dalam bentuk tulisan dan pengembangan paragraf agar mudah dimengerti oleh pembaca. Di Indonesia, memang belum diakui sebagai profesi hal ini terbukti pada saat membuat kartu kependudukan belum adanya pilihan profesi sebagai penulis. Kini, perkembangan dunia sastra Indonesia menunjukkan tren positif. Ini tercermin dari banyaknya novel– novel karya anak bangsa yang diterbitkan dan menjadi konsumsi masyarakat internasional. Selain itu, ada juga novel-novel yang sudah diangkat ke layar lebar, seperti Ketika Cinta Bertasbih, Perahu Kertas, dan masih banyak lagi. Menulis bukanlah keterampilan yang cepat dipelajari, butuh waktu yang panjang dan pengalaman dalam menekuninya. “Menulis adalah keahlian yang butuh proses panjang dan jam terbang tinggi. Jadi, berlatihlah dari sekarang. Just keep it small. Have small targets, but keep doing them. Bisa satu artikel blog satu minggu, satu cerpen satu bulan, satu novel satu tahun, dan seterusnya, tapi teruslah berlatih,” ujar Dewi Lestari, penulis. Dewi Lestari Simangunsong atau lebih dikenal dengan panggilan Dee menjadi penulis profesional sejak tahun 2001. Karyanya yang berjudul “Supernova: Ksatria Putih dan Bintang Jatuh” menjadi populer pada saat itu. Dee memang gemar menulis semenjak duduk dibangku sekolah dasar dan karyanya memiliki ciri khas. Novel–novel Dee menjadi alternatif dari kurangnya gagasan dan variasi tema tulisan yang ada di Indonesia. Fokus dalam menulis Menulis membutuhkan banyak energi untuk berpikir dan pengalaman dari membaca karya–karya orang lain. Sayangnya, negeri ini masih terkenal dengan budaya malas dalam berpikir dan minat membaca yang rendah. Faktor tersebut membuat tradisi menulis belum mengakar di masyarakat Indonesia. Dee mengatakan jika berbicara tentang budaya, tentu butuh proses bertahun–tahun untuk mengubahnya. Kita bisa menjadi agen perubahan dimulai dari diri sendiri dan keluarga dengan ikut aktif menjadi pelaku komunitas baca dan tulis. Setelah itu, bisa melangkah lebih jauh lagi dengan berkarya lewat blog atau tulisan singkat. Dee membagi pengalaman dalam karya–karyanya. Dalam membuat cerpen, Dee tidak pernah memetakan cerita.

Biasanya ia menulis secara spontan dan setelah dirasa “tabungan” karyanya cukup, barulah dibuat buku kumpulan cerpen. Ia membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk menghasilkan buku kumpulan cerpen. Sedangkan untuk menulis novel, Dee membutuhkan waktu beberapa tahun. Kendala Menulis sebuah karya pastilah membutuhkan waktu yang sangat banyak dan terdapat kendala yang dihadapi. Dalam pembuatan suatu karya tulis, hal pertama yang harus diperhatikan adalah penetuan tema, sampai mana anda mengetahui dan menguasai tema tersebut. Apalagi jika ingin membuat suatu karya yang panjang seperti novel. “Membuat novel memang tidak mudah. Kita harus punya komitmen, intuisi bercerita, paham struktur, dan menguasai teknik menulis. Selama penulisnya suka dan tertarik dengan tema tulisannya, ia akan menggali dengan semangat,“ tutur Dee. Selain itu dalam menulis, kerap kali penulis mengalami kebuntuan untuk mengutarakan ide-idenya. Ketika mengalami hal tersebut, Dee mengatasinya dengan melakukan aktivitas lain selain menulis. “Kalau writer’s block ringan, saya biasanya mandi, gerak badan, ke spa (salon kecantikan -red). Pokoknya yang relaks dan menyenangkan. Kalau writer’s block berat biasanya itu lebih ke aspek teknis. Harus ada elemen cerita yang dibongkar atau bahkan seluruh cerita harus digugurkan dan ditulis ulang,” imbuh Dee. Selain itu agar tidak mengalami kebuntuan menulis, seorang penulis haruslah mempunyai wawasan yang luas. Seorang penulis juga harus banyak membaca dan memelihara rasa ingin tahu agar tulisannya lebih bervariasi, dan tercipta ide– ide yang kreatif serta inovatif dalam menulis. Go International Saat ini, novel-novel karya penulis Indonesia sudah masuk pasar international, seperti “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang sudah diterbitkan dalam beberapa bahasa asing. Di dalam negeri, karya anak bangsa sudah dapat dinikmati oleh pasar saat ini. Tulisan karya anak bangsa juga dinilai tidak kalah dengan karya– karya penulis dari luar. Akan tetapi, masih banyak karya yang belum dapat menembus mancanegara. Indonesia memiliki penulis-penulis yang potensial di pasar internasional, akan tetapi Indonesia masih kekurangan tenaga ahli penerjemah dalam bahasa asing. Kalaupun ada, harga penerjemah sangatlah mahal sehingga karya yang sudah diterjemahkan membutuhkan biaya yang tinggi dan berujung pada harga buku yang meningkat. Akibatnya dapat menurunkan daya beli masyarakat di negara lain. Oleh karena itu harus adanya dukungan dari pemerintah agar penulis bangsa ini dapat bersaing di Dunia. “Harus ada program penerjemahan yang didukung oleh pemerintah supaya kita punya banyak koleksi naskah dalam bahasa Inggris. Ini tahap awalnya. Indonesia tidak kekurangan naskah, yang kurang adalah penerjemahan naskah,” terang Dee. (nw)

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

23


Serba-Serbi Ekonomi Islam | Laporan Khusus

Berbisnis Sesuai Syariat Islam di Bidang Halal Food dan Halal Fashion Oleh: Nungky Dwinurtanto, Alphonso Yansen, Dewi Setyoningrum “Bisnis bukanlah semata untung rugi, tapi soal surga neraka. Maka jadikan bisnis sebagai ladang dakwah.” - Jody Brotosuseno, Pemilik Waroeng Steak and Shake

doc. Pribadi

Perkembangan ekonomi Islam di dunia saat ini sudah tergolong maju. Tidak hanya berpusat pada negara yang mayoritas muslim saja, namun juga beberapa negara dengan penduduk minoritas muslim. Perkembangan ekonomi Islam membawa dampak bagi berbagai industri barang dan jasa, tak terkecuali dibidang makanan dan fashion. Makanan dan pakaian memang menjadi kebutuhan pokok bagi setiap manusia. Perlunya jaminan kualitas produk, terutama jaminan halal menjadi sesuatu yang penting bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang beragama muslim. Halal itu sendiri diartikan sebagai objek atau kegiatan yang diizinkan untuk digunakan atau dilaksanakan dalam agama Islam. Dalam Al-Quran surat Al Baqarah ayat 128, dijelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk memakan makanan yang halal dan thoyyib (baik), serta tidak menuruti jejak setan yang suka melanggar dan melampaui batas. Melihat bahwa halal merupakan segala sesuatu yang dibenarkan, jika dikaitkan dengan makanan serta pakaian, maka produk tersebut haruslah sesuai dan benar menurut ajaran Islam. Pengertian halal bukan hanya dilihat pada pemilihan bahan bakunya saja, melainkan dari proses pengolahan hingga pemasaran produk yang harus sesuai dengan kaidah halal menurut ajaran Islam. “Jadi bahan baku, proses, sampai pemasaran ke tangan konsumen itu harus halal. Semua itu merupakan konsep halal yang secara keseluruhan,” ujar Mayanggita Kirana, Akademisi IESP FEB Undip. Halal Menjadi Hal Utama Tuntutan terhadap produk halal membuat beberapa industri berlomba-lomba untuk menyertifikasikan produknya ke lembaga berwenang. Kalau di Indonesia ada Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berwenang memberikan sertifikasi halal. Produk yang tersertifikasi halal akan membuat masyarakat, khususnya

24 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

muslim, menjadi lebih tenang untuk mengonsumsi produk tersebut. “Label halal jelas berpengaruh terhadap awareness konsumen. Kalau sudah jelas mempunyai label halal yang disertifikasi, maka konsumen akan percaya bahwa MUI sudah menjamin sehingga tidak ada lagi ketakutan mereka (konsumen –red) dalam membeli produk tersebut. Image dari label halal itu membuat konsumen merasa yakin MUI sudah menjamin makanan tersebut halal, kalau mereka berani menyeleweng atau menyimpang, maka MUI lah yang akan bertanggung jawab langsung,” jelas Mayang. Kemajuan industri di Indonesia yang sangat pesat juga dipengaruhi oleh perkembangan perdagangan serta pengaruh tingkat konsumsi masyarakat. Melihat bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan fakta bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, maka pengaruh halal dari suatu produk akan memengaruhi tingkat konsumsi masyarakat itu sendiri. Sampai saat ini sudah banyak industri makanan yang melakukan sertifikasi halal untuk produknya ke MUI. “Indonesia itu sangat potensial untuk mengembangkan produk muslim, contohnya ya bajubaju muslim itu,” tukas Dian Pelangi, desainer dan pebisnis baju muslim. Hal semacam itu sudah menjadi trend akhir-akhir ini di Indonesia, banyak pengusaha yang membuka usaha berbentuk syariah ataupun mulai berlomba-lomba untuk menyertifikasikan produk mereka. Mayang menambahkan bahwa produksi halal food maupun halal fashion memiliki dampak positif terhadap perekonomian. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, penduduk Indonesia menjadi potential demand, khususnya untuk produk makanan dan pakaian. Selain itu, sekarang sudah banyak tempat penjualan baju-baju muslim


Laporan Khusus | Serba-Serbi Ekonomi Islam yang dapat dengan mudah kita jumpai. “Ya kita lihat saja, udah banyak banget yang jualan baju muslim, mulai dari remaja putri sampai ibu-ibu rumah tangga, dan ada pula wanita karir yang berjualan baju muslim sebagai sampingannya,” ujar Dian. Dian sendiri mulai terjun ke bidang fashion muslim sejak tahun 2009, ketika diajak bergabung dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Saat itu pula, untuk pertama kalinya dia bersama Kementerian Pariwisata menggelar fashion show di Melbourne, Australia. Komunitas Wanita Hijab Hijabbers Community adalah salah satu komunitas yang didirikan Dian dengan temannya sebagai wadah untuk menginspirasi wanita agar mau mengenakan busana muslim. Menurut Dian, selama ini berbusana muslim itu dianggap tidak keren, kampungan, dan tidak bisa tampil trendy. “Komunitas ini bermula puasa tahun 2011. Saat itu, ada undangan untuk fashion show saya. Teman baik saya, Ria Miranda, usul kenapa nggak undang para muslimah remaja aja? Nonton fashion show sekalian buka bersama. Akhirnya, kami sebar undangan lewat jejaring sosial, saat itu juga kami gandeng para fashion blogger,” ujar Dian. Kegiatannya pun tidak hanya mengadakan persiapan fashion show saja, melainkan acara pengajian rutin dan tausiyah. Pada prinsipnya, syiar (menyebarkan ajaran-ajaran Islam) itu tidaklah harus dilakukan di masjid, bisa saja syiar dilakukan di mall dengan memakai busana muslim yang menarik. “Nggak zamannya lagi seorang muslimah itu tertutup,” tutur Dian. Bisnis Halal Food Menjadi Pilihan Selain dibidang fashion, konsep halal juga umum ditemukan pada usaha makanan. Salah satu bisnis makanan yang menerapkan konsep halal food adalah Waroeng Steak and Shake atau yang biasa dikenal dengan sebutan WS. WS merupakan salah satu kedai makan yang menyediakan aneka macam olahan steak dan milkshake. Waroeng Steak and Shake juga menjadi salah satu brand dari Waroeng Grup. WS dirintis oleh Jody Brotosuseno bersama sang istri Siti Haryani sejak tahun 2000-an ketika masih duduk dibangku kuliah. Awalnya, usaha ini bertempat di teras rumah kontrakan Jody, lebih tepatnya di Jalan Cendrawasih, Demangan, Yogyakarta. Modal utama yang digunakan untuk merintis bisnis ini berasal dari hasil jual motor yang dimilkinya. Hasil jual motor tersebut hanya cukup untuk membayar kontrakan dan membeli beberapa peralatan warung yang meliputi sepuluh hotplate, gelas, dan selusin piring. Sementara itu, meja yang disiapkan hanya lima set. “Kami membeli peralatan tambahan setelah usaha berjalan lancar,” tutur Jody. Kini, WS dipindah tempatkan ke Jalan Kalimalang Nomor 43, Jakarta Timur. Sampai saat ini, sudah ada 66 cabang WS yang tersebar di Pulau Jawa maupun luar Jawa. Uniknya, karyawan yang dipekerjakan di WS ini semuanya laki-laki muslim, tidak merokok, sehat jasmani rohani, dan berkepribadian baik. Berbeda dengan bisnis fashion yang dimiliki Dian, semua karyawannya haruslah wanita muslimah yang berhijab. Sampai saat ini, jumlah karyawan Waroeng Group sudah ada sekitar 1.500 orang. Proses pengerucutannya sudah diatur dalam sistem struktur organisasi perusahaan. Sedangkan sistem manajemen yang diterapkan harus sesuai dengan visi

dan misi perusahaan. Waroeng Grup ingin menjadi perusahaan kuliner yang mendunia, halal dan thoyyib. Oleh karena itulah, semua brand yang tergabung dalam Waroeng Group harus tersertifikasi halal dari LPPOM MUI. Untuk mendapatkan sertifikat halal dari MUI, perusahaan harus melaluis uji klinis, uji material produk, uji supply, uji distribusi bahan, uji pengolahan, sampai pada uji penyajian. Dalam operasionalnya, ada staf quality control yang ditugaskan untuk mengawasi dan mengontrol proses produksi bahan-bahan yang akan diolah dan dijual dalam outlet. Kedua, perlu juga dipastikan bahwa semua karyawan yang terlibat dalam proses produksi maupun operasional mempunyai semangat untuk terus menjaga mutu dan kebersihan produk sehingga tetap thoyyib. Pemilik juga menegaskan bahwa selain kedua hal tadi, pihak manajemen WS memiliki program keagamaan yang bertujuan agar semua karyawan mendapatkan ruang untuk terus meningkatkan kualitas spiritualnya melalui program-program spiritual company, seperti pengajian karyawan, sholat dhuha sebelum memulai bekerja, sholat berjamaah, dan juga dibekali dengan pelatihan-pelatihan dari manajemen. Selain itu, juga diadakan beberapa program tahunan yang antara lain donor darah serentak diseluruh outlet Waroeng Group setiap bulan Februari, sedekah nasional setiap 27 April, dan hari bebas asap rokok setiap 13 Mei. Bisnis Halal itu Berkah “Bagi kami (pengusaha –red) usaha untuk menyertifikasikan halal bukanlah suatu kendala yang memberatkan, melainkan lebih kepada sebuah tanggung jawab moral kami kepada konsumen. Artinya, setiap proses sertifikasi kami laksanakan dengan penuh komitmen dan tanggung jawab,” jelas Jody. Sebelum membuat menu baru, selalu diadakan koordinasi dengan LPPOM MUI terlebih dahulu. Hal ini untuk memastikan semua bahan yang akan digunakan sudah aman dan layak dikonsumsi. Ayah dari dua orang anak ini juga menegaskan kembali bahwa halal bukan semata hanya dari bahan, tetapi proses produksi, perilaku karyawan, sampai penyajian ke tangan konsumen, itulah yang disebut thoyyib. Semua menjadi satu kesatuan yang harus diterapkan dengan komitmen dan tanggung jawab tinggi. “Manfaat berwirausaha bisnis halal food ini mendorong kami (pengusaha –red) untuk lebih mengedepankan kepuasan pelanggan. Manfaat bagi pelanggan, tentunya mereka mendapat kepuasan dari mutu produk dan pelayanan kami. Sedangkan manfaat yang kami peroleh adalah trust dari konsumen sehingga menumbuhkan image yang baik kepada perusahaan kami,” ungkap Jody. Harapan Jody, wirausahawan muda yang baru haruslah memiliki motivasi untuk dream, pray, and action karena bisnis bukan semata untung dan rugi, tetapi soal surga atau neraka. Rasullah SAW telah mencontohkan kepada umatnya sebagai sosok pebisnis yang sukses dan itulah yang harus diteladani, bisnis sesuai syariah Islam. Islam telah mengatur segala bentuk tata cara berbinis dan hukum-hukumnya. Maka, jadikan bisnis sebagai ladang dakwah untuk semua yang terlibat baik itu karyawan, manajemen, pelanggan, dan lingkungan. Itulah pesan singkat yang diutarakan Jody sebagai wirausahawan sukses untuk memotivasi para wirausahawan muda serta pebisnis halal lainya yang ada di Indonesia. (nw)

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

25


Serba-Serbi Ekonomi Islam | Laporan Khusus

Bisnis Syariah, Keberadaan Jasa Syariah yang Kian Diminati Oleh: Dicha Ariesta, Henty Eka, dan Sandy Hadisurya

doc. Edents

“Aturannya yang standar belum ada sehingga jelas disini kita (pebisnis jasa syariah –red) kalo ngga ada standarnya itu kan susah untuk menilai,� – Raden Arfan, Akademisi IAIN Walisongo.

Bisnis syariah diartikan sebagai segala bentuk bisnis dengan dibatasi oleh cara mendapatkan dan memberdayakan harta agar selalu halal dan menolak hal-hal yang bersifat haram. Bisnis syariah merupakan bisnis yang santun, bisnis yang penuh kebersamaan dan penghormatan atas hak masing-masing. Bisnis yang santun merupakan bisnis yang menjunjung tinggi syariah Islam, patuh pada larangan seperti riba, gharar, maysir, serta tidak mendukung kemaksiatan. Bisnis syariah di Indonesia saat ini sudah mulai berkembang dan menjadi tren positif karena keberadaannya yang kian menjamur. Bisnis syariah tidak hanya mencakup sektor keuangan saja, namun lebih kepada sektor riil yang potensial di masyarakat. Penggunaan konsep syariah bukan sekedar untuk mengislamisasikan sesuatu, namun sebagai rule bahwa bisnis tersebut memang harus dijalankan dengan tidak terdapat unsur penyimpangan terhadap aturan Islam didalamnya. Kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap konsep bisnis syariah ini karena didukung oleh fakta bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam serta karakteristik masyarakat Indonesia yang notabene-nya taat dalam beragama. Jasa Syariah, Salon Muslimah Salah satu contoh dari perkembangan jasa syariah adalah salon muslimah. Pesatnya perkembangan salon saat ini menjadikan wanita sebagai salah satu pangsa pasar utama. Namun, tidak semua salon menyediakan layanan salon dan perawatan tubuh bagi wanita berjilbab. Kondisi ini membuat para muslimah merasa tidak nyaman dan bingung dalam menentukan salon yang akan ia kunjungi. Salon pada umumnya yang sering dijumpai merupakan salon yang umum dan terbuka bagi laki-laki. Salon muslimah kini hadir untuk menjadi solusi dan tentunya menjadi peluang bisnis yang menggiurkan. Terbukti, berbagai varian usaha salon khusus muslimah tumbuh di berbagai kota besar di Indonesia, tak terkecuali di Kota Semarang. Kebutuhan akan perawatan

26 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

tubuh yang lengkap, nyaman, dan berbasis syariah kini semakin dicari para wanita, khususnya bagi mereka yang memakai jilbab. Salon Muslimah Nafisa, yang berada di BQ Square Tembalang adalah salah satu salon kecantikan khusus bagi wanita muslimah. Sebenarnya tidak ada perbedaan mencolok dari segi peralatan antara salon muslimah dan salon umum. Hanya saja di salon muslimah, tempat perawatan bebas dari lalulalang dan pandangan kaum Adam. Selain itu, pegawainya pun semua wanita muslim. Salon muslimah sangat menjaga privasi. Ruang publik dipisahkan dari area pelayanan. Sesuai konsepnya, salon muslimah tentu saja melarang kaum Adam masuk di area khusus perawatan salon. Suami yang ingin menemani istrinya untuk ke salon hanya dapat menunggu diruang tunggu. Nuansa Islami yang dihadirkan menjadi hal baru bagi masyarakat seperti adanya lagu-lagu Islami yang diputar di salon. Tak cukup sekadar menghadirkan nuansa Islami, produk-produk kecantikan yang digunakan juga menyertakan label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan berizin resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Selain itu, salon muslimah juga menerapkan prinsip kehalalan berdasarkan Al-Quran dan sunah. Salon muslimah tidak melayani cukur alis dan mewarnai rambut dengan warna hitam dimana hal tersebut dilarang oleh Islam. Salon yang buka setiap hari dari pukul 10.00 hingga 19.00 WIB ini, juga dilengkapi dengan butik yang berada dilantai dua. Keberadaan salon muslimah ini memberikan inspirasi bagi semua wanita muslim, sehingga konsep syariat yang diterapkan menjadi tren positif bagi masyarakat. Bukan hanya dalam salon dan perawatan khusus wanita, tapi juga dalam hal lain yang lebih luas. Belum Ada Standarisasi Dibalik menjamurnya bisnis jasa syariah, masih ada juga berbagai permasalahan yang kerap mendera. Belum adanya standarisasi, membuat bisnis dibidang jasa mengalami hambatan. Padahal standarisasi diperlukan agar pelayanan yang diberikan


Laporan Khusus | Serba-Serbi Ekonomi Islam Perlu diketahui bahwa bisnis syariah ini bisa membawa dampak positif bagi perekonomian. Selain itu, bisnis syariah juga tergolong menguntungkan, baik bagi pebisnis maupun konsumen. Raden menilai bahwa pada prinsipnya, bisnis syariah ini adalah sesuatu yang baik. “Sebetulnya bagus ya kalo kita liat dari prinsipnya. Disitu prinsipnya bagi hasil, profit sharing, yang mana disitu mendorong perilaku bisnis yang gentle,” jelas Raden. Ia menjabarkan mengenai maksud dari perilaku bisnis yang gentle, yakni bisnis yang berani untuk mengakui untung dan rugi secara bersama-sama. Konsep ini dinilai adil karena untung atau rugi akan ditanggung secara bersamasama sehingga tidak memberatkan salah satu pihak saja. Adanya bisnis jasa yang bermunculan, juga bisa menyerap tenaga kerja yang menganggur. Selain itu, bisnisbisnis yang baru dapat menggerakkan perekonomian nasional. Sudah selayaknya bisnis menjadi pilihan utama bagi kaum muslimin sebagai pondasi perbaikan ekonomi. Bisnis ala muslim atau yang biasa kita sebut bisnis syariah tujuannya menerapkan cara berekonomi ala Rasulullah. Konsep berbisnis beretika yang dilandasi oleh syariah Islam dalam muammalah. Aplikasi bisnis syariah ini baru mulai diterapkan sebagai unit usaha oleh lembaga keuangan syariah tertentu. Harapan Setelah membahas potensi, pelaksanaan, dan hambatan dalam jasa syariah, ada harapan yang disampaikan oleh berbagai pihak. Salah satunya dari pihak akademisi. Raden berharap adanya standarisasi karena selam ini, usaha-usaha yang ada masih berjalan sendiri-sendiri. Perlu adanya payung hukum yang jelas juga dibutuhkan agar jasa syariah dapat berjalan dengan baik. Selain itu, perlu juga adanya kerjasama dengan berbagai pihak terkait, sperti pelaku bisnis, pemerintah, akademisi, dan sebagainya, untuk memberikan saran demi kemajuan dunia jasa syariah. (nw)

doc. Edents

bisa maksimal. Saat ditanya mengenai isu ini, pihak Nafisa membenarkan. “Kita belum tahu standar syar’inya sebenernya yang bagaimana. Kita cuma nulis salon muslimah dengan tujuan orang-orang yang berjilbab itu bisa perawatan tanpa harus keganggu, tanpa dia berdosa,” ujar Rena, pegawai Nafisa Salon. Raden Arfan, Akademisi IAIN Walisongo, pun sependapat bahwa standarisasi itu perlu ditetapkan. Menurut Raden, bisnis jasa syariah oleh masyarakat secara umum belum diterapkan perihal aturan mengenai standar operasional prosedur antara bisnis syariah dan bisnis biasa yang pada umumnya. “Aturannya yang standar belum ada sehingga jelas disini kita (pebisnis jasa syariah –red) kalo ngga ada standarnya itu kan susah untuk menilai. Ya trus bisnis yang lain kayak bisnis di bidang perhotelan, kemudian bidang jasa apa namanya, boga itu kan, itu pun sama statusnya belum ada aturan yang ada. Itu sebatas baru sebatas untuk produknya itu halal atau tidak,” ujar Raden. Tidak adanya standarisasi dan aturan yang jelas, dapat membawa dampak buruk. Tak tertutup kemungkinan dengan tidak adanya standar yang jelas dapat membuat pelaksanaan bisnis jasa menjadi tidak sinkron dan bahkan bisa melanggar Undang-Undang. Oleh karena itu, standarisasi ini penting untuk menjaga, menyamakan, dan menilai kualitas pelayanan suatu jasa usaha. Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa perlu ada peran pemerintah dalam menciptakan peraturan dan standarisasi karena kalau pebisnis sendiri yang melakukan terobosan tanpa didukung pemerintah, maka akan sulit diwujudkan. Selain pemerintah, pihak-pihak lain seperti akademisi dan masyarakata juga diperlukan peranannya. Rule mengenai standarisasi ini bisa menjadi bahan kajian dan diskusi bagi ulama, akademisi, dan praktisi demi terbentuknya aturan baku tentang bisnis syariah. Dengan peraturan hukum yang jelas maka masyarakat tidak akan ragu lagi untuk turut berperan aktif dalam mengembangkan bisnis syariah.

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

27


Serba-Serbi Ekonomi Islam | Laporan Khusus

Perjalanan Pendidikan Ekonomi Islam di Indonesia Oleh: Anastania Shafira, Samuel Petra N., Dian Priastiwi “Nantinya prodi Ekis bisa mengahasilkan SDM baik di sektor riil atau sektor usaha, tidak hanya di lembaga keuangan. Menghasilkan riset-riset dan publikasi penelitian yang berkualitas,� - Darwanto, Ketua Prodi Ekonomi Islam Undip

doc. youngislamicleaders.org

Perekonomian yang pemikirannya berlandaskan prinsip dan aturan Islam disebut Ekonomi Islam. Pembahasan ekonomi Islam diperlukan seiring perkembangannya, baik dalam bentuk studi akademik maupun praktik operasional dari ekonomi Islam tersebut. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, didapatkan hasil hampir 95 persen penduduk Indonesia menganut ajaran Islam. Pengetahuan akan ekonomi Islam pun semakin dicari seiring meningkatnya kesadaran akan hal-hal yang dianjurkan oleh Islam, termasuk juga dilingkup ekonomi. Oleh karena itu,beberapa tahun terakhir ini pendidikan berbasis Islam meluas sehingga mendorong berbagai universitas di Indonesia untuk membuka program studi (prodi) terkait ekonomi Islam, salah satunya adalah Universitas Diponegoro. Universitas Diponegoro menjadi salah satu Perguruan Tinggi yang membuka prodi baru yaitu Ekonomi Islam. Awalnya, Ekonomi Islam merupakan mata kuliah konsentrasi pada jurusan Ekonomi Pembangunan, namun melihat potensi, minat dan kebutuhan sumber daya lulusan ekonomi yang memiliki pengetahuan berbasis Islam, maka tertuang ide pembentukan Prodi Ekonomi Islam. Begitu pun Universitas Airlangga (Unair) yang terlebih dahulu merintis Prodi Ekonomi Islam sejak tahun 2006. Dengan alasan hampir serupa, pada tahun 2006, ekonomi Islam yang masih berupa minat studi dibawah program studi Ilmu Ekonomi, kemudian berubah menjadi prodi pada tahun 2008. Penyampaian Materi Materi yang diajarkan pada Prodi Ekonomi Islam tentunya berbeda dengan materi kuliah ekonomi lainnya, seperti

28 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi Pembangungan. Seperti yang dituturkan oleh Raditya Sukmana, Akademisi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Airlangga, ekonomi Islam dan pelajaran ekonomi pada umumnya memiliki perbedaan pada konten mata kuliah, karena ilmu ekonomi konvensional dan ilmu ekonomi syariah itu berbeda. Materi yang disampaikan dibagi menjadi rumpun keilmuan, yaitu Keilmuan Syariah, Keilmuan Manajemen Syariah, Keilmuan Akuntansi Syariah, dan Keilmuan Ekonomi Syariah. Darwanto selaku Ketua Prodi Ekonomi Islam Undip menambahkan bahwa selain memberi dasar filosofi atau dasar filsafat Islam yang cukup kuat, dalam pembentukan prodi baru memang mensyaratkan perbedaan mata kuliah minimal sebesar 60 persen dibanding jurusan lain. Jadi, Ekonomi Islam sudah menjadi disiplin ilmu yang berbeda jurusan lain. Prodi Ekonomi Islam tidak hanya dijumpai di Universitas Diponegoro dan Universitas Airlangga, namun juga terdapat dibeberapa Universitas lain di Indonesia. Kurikulum Prodi Ekonomi Islam antar universitas pun tentunya berbeda, tergantung dari kebijakan setiap lembaga dan institusi serta universitasnya. Raditya mengatakan bahwa kurikulum Prodi S1 Ekonomi Islam Unair didesain dengan mengombinasikan kebutuhan akademik, bisnis, dan industri sehingga kurikulum lebih mendekati standar kompetensi profesi di bisnis dan industri syariah serta pengembangan keilmuan. Ekonomi Islam FEB Unair mempunyai sebelas kompetensi dalam struktur kurikulumnya, seperti Kompetensi Dasar Ekonomi Islam, Kompetensi Dasar Fiqih dalam Ekonomika dan Bisnis, Kompetensi Dasar Keahlian


Laporan Khusus | Serba-Serbi Ekonomi Islam

Kendala yang dihadapi Untuk memulai sesuatu yang baru, khususnya merintis Prodi Ekonomi Islam yang tergolong baru di Indonesia, terdapat kendala-kendala yang dihadapi. Raditya menuturkan masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi FEB Unair, seperti perizinan, sumber daya insani yang terbatas, dan sumber pembelajaran (text book) yang masih minim. Namun seiring berjalannya waktu dan semakin mapannya Ekonomi Islam, kendala-kendala tersebut berangsur-angsur berkurang bahkan menghilang. Mendirikan Prodi Ekonomi Islam dilatarbelakangi dengan semakin berkembangnya lembaga keuangan syariah dan non syariah sehingga permintaan terhadap lulusan dan pakar Ekonomi Islam pun terus meningkat. Berikut merupakan peluang karir dan pekerjaan dari lulusan Prodi Ekonomi Islam yaitu, Analis Laporan Keuangan Syariah, Manajer Investasi Syariah, Profesi Bankir Syariah, Analis Moneter Islam, Analis dan Perencana Keuangan Publik Syariah, Analis dan Perencana Pembangunan Ekonomi Islam, Wirausaha Muslim, Perencana Pengembangan Produk Keuangan Syariah, Analis dan Perencana Ekonomi Sumberdaya Alam dalam Prespektif Islam. Berkenaan dengan prospek kerja, Darwanto berpendapat bahwa permintaan tenaga kerja lulusan Prodi Ekonomi Islam cukup baik. Meski demikian, lulusan Prodi Ekonomi Islam di Undip justru diarahkan untuk menjadi wiraswasta atau peneliti, selain untuk bekerja pada sektor keuangan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran diberikan semacam keterampilan khusus sehingga lulusan memiliki kemampuan yang fleksibel dalam memilih antara bekerja atau berwirausaha. Terdapat pula rencana pemberian ijazah yang menerangkan kompetensi khusus dari lulusan sehingga dia bisa bekerja dimanapun walaupun fokus utamanya menyiapkan lulusan untuk berwiraswasta. Demi memajukan Prodi Ekonomi Islam FEB Unair, Departemen Ekonomi Syariah menjalin kerjasama dengan banyak pihak dalam berbagai program berkaitan dengan peningkatan dan pengembangan ekonomi Islam, diantaranya

INCEIF Malaysia, Durham University (Inggris), Markfield Institute of Higher Education, dan La Trobe University Australia, LPPI (Bank Indonesia), BTN Syariah, Bukopin Syariah, BRI Syariah, BTN Syariah melalui Wahana Karya Utama, Indonesia Magnificience of Zakat (IMZ), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Dompet Dhuafa Jawa Timur, Kamar Dagang dan Industri (KADIN), Pemkab. Sampang, dan Univeristas Muhammadiyah Jogjakarta. Harapan Dilihat dari minat mahasiswa yang memilih Prodi Ekonomi Islam, Darwanto mengatakan peminatnya terus meningkat. Ketika awal Prodi Ekonomi Islam dibuka, Undip menerima 40 orang mahasiswa dengan jumlah pendaftar dalam dua minggu mencapai 800 orang. Kemudian ditahun kedua, peminatnya meningkat mencapai 2.300 orang dengan daya tampung sebesar 60 orang. Salah satu mahasiswa Ekonomi Islam Undip, Demas Asfario mengatakan ia memilih kuliah di Prodi Ekonomi Islam karena terdapat keunikan pada Ekonomi Islam. “Saya tertarik mempelajari Ekonomi Islam karena saya dapat belajar ekonomi dari sisi agama Islam,” ujarnya. Demas berharap mahasiswa dan mahasiswi Ekonomi Islam dapat memanfaatkan ilmu yang didapat dengan baik dan bisa menjadi lulusan yang berkualitas. Darwanto juga berharap Undip dapat berkontribusi bagi pengembangan Ekonomi Islam, bukan hanya dalam teori, tetapi juga dalam praktik. “Nantinya, Prodi Ekis bisa menghasilkan SDM baik di sektor riil atau sektor usaha, tidak hanya di lembaga keuangan. Menghasilkan risetriset dan publikasi penelitian yang berkualitas,” ujar Darwanto. (nw)

doc. Pribadi

Riset, Kompetensi Ekonomi Moneter Islam, Kompetensi Ekonomi Pembangunan Islam, Kompetensi Keuangan Publik Islam, Kompetensi Perbankan Syariah, Kompetensi Manajemen Investasi Syariah, Kompetensi Analisa Laporan Keuangan Syariah, Kompetensi Pengembangan Produk Keuangan Islam, dan Kompetensi Manajemen Bisnis dan Kewirausahaan Islam. Sependapat dengan FEB Unair, Darwanto menjelaskan bahwa selama ini kurikulum ekonomi Islam diberbagai universitas masih sangat beragam. Namun, ia menambahkan bahwa untuk kedepan, kurilukum akan mulai distandarisasi. Standarisasi Ekonomi Islam dimaksudkan sebagai patokan bersama bagi seluruh Prodi Ekonomi Islam di Indonesia tanpa mengurangi ciri khas atau keunggulan di masing-masing perguruan tinggi. Di FEB Undip, mata kuliah khusus yang diunggulkan adalah pengembangan pada keuangan mikro syariah dan lembaga keuangan publik. “Karena lembaga keuangan mikro syariah yang selama ini bisa diakses oleh masyarakat di desa dan oleh sektor riil yang skalanya kecil, sedangkan mereka sebenarnya sangat membutuhkan,” tutur Darwanto.

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

29


Potret

30 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016


Potret

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

31


Potret

32 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016


Potret

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

33


Sosial Budaya

Wayang Wong, Primadona Kesenian Semarang Oleh: Desti Marina dan Anisa Fatmawati

“Wayang Wong itu komplit. Ada seni suara, seni tari, dan seni drama. Komplit!” – Sunarno selaku sutradara wayang wong Ngesti Pandawa

Kota Semarang merupakan Ibukota Provinsi Jawa Tengah yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa. Secara Geografis, Kota Semarang bersebelahan dengan Kabupaten Kendal di sebelah barat, Kabupaten Ungaran di sebelah selatan, dan Kabupaten Demak di sebelah timur. Terdapat beberapa suku yang hidup berdampingan di Kota Semarang, seperti suku Jawa, Tionghoa, dan Arab. Kota Semarang memiliki berbagai kesenian yang menarik sebagai hasil perpaduan budaya-budaya yang ada. Kesenian yang berkembang, berasal dari Kota Semarang maupun dari daerah lain. Di Kota Semarang, kita masih bisa melihat banyak pagelaran seni, khususnya pagelaran yang diadakan di Taman Budaya Raden Saleh, Semarang. Beberapa kesenian tradisional yang ada di Kota Semarang antara lain Tari Semarangan, Tari Topeng, Gambang Semarang. Ada salah satu kesenian di Kota Semarang yang menarik perhatian masyarakat Semarang, yaitu wayang wong.

Hampir semua unsur seni ada di wayang wong, ada seni tari, seni suara, dan seni drama. “Wayang wong itu komplit, ada seni suara, seni tari, dan seni drama. Komplit!,” ujar Sunarno selaku sutradara wayang wong Ngesti Pandawa. Wayang wong bukanlah kesenian asli Semarang. Kesenian tersebut aslinya berasal dari Kota Solo. Wayang wong pertama kali dipentaskan secara terbatas pada tahun 1760 dan hanya bisa dinikmati oleh kerabat-kerabat keraton serta para pegawainya. Pada masa pemerintahan Mangkunegara VII (1916-1944), kesenian wayang wong mulai diperkenalkan pada masyarakat luar. Usaha untuk memperkenalkan kesenian ini makin pesat ketika Sunan Pakubuwana X(18931939) memprakarsai pertunjukan wayang orang bagi masyarakat umum di Balekambang, Taman Sri Wedari, dan di Pasar Malam yang diselenggarakan di alun-alun. Para pemain wayang wong bukan lagi hanya para abdi dalem, melainkan juga orangorang di luar keraton yang berbakat menari.

Kesenian wayang Doc. hellericaworld.com Wayang wong adalah satu dari sekian jenis kesenian wayang di Indonesia. Adapun beberapa jenis kesenian wayang yang dikenal antara lain wayang kulit, wayang golek, wayang gung, wayang madya, dan wayang purwa. Wayang wong tidak dipergelarkan dengan memainkan boneka-boneka, akan tetapi menampilkan manusia sebagai pemeran dalam cerita tersebut. Namun, untuk perlengkapan yang dipakai sama dengan wayang kulit. Agar menyerupai wayang kulit, tidak jarang wajah pemain wayang wong dihias dengan tambahan gambar atau hiasan lain.

Komunitas seni Berbagai perkumpulan wayang wong mulai bermunculan, dari yang amatir hingga profesional. Perkumpulan wayang wong atau wayang orang yang cukup tua dan terkenal antara lain Wayang Orang Ngesti Pandawa di Semarang. Ngesti Pandawa muncul pada tahun 1973 dan masih ada hingga sekarang. Wayang wong mempunyai tempat di hati masyarakat Jawa. Di Semarang pada tahun 1980an, wayang wong menjadi primadona hiburan masyarakat. Mulai dari masyarakat tingkat bawah hingga atas. Pagelaran wayang wong rutin digelar

34 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016


Doc. i.ytimg.com

Sosial Budaya

di Taman Budaya Raden Saleh hingga sekarang. Cerita yang dibawakan sangat beragam, mulai dari Ramayana, Baratayudha hingga Mahabrata. Sunarno mengatakan bahwa cerita wayang wong zaman sekarang disesuaikan dengan selera masyarakat. “Kita memikirkan cerita apa yang akan dibawa sehingga penonton tidak merasa jenuh. Jika mereka menginginkan cerita lawak, ya sudah kita bawakan cerita lawak,” ungkapnya. Sunarno tidak pernah mengikuti sanggar atau pelatihan seni lainnya. Semua ia pelajari secara langsung dan otodidak. Hanya dengan melihat dan memperagakan apa yang ia lihat, Sunarno mampu mengingat bagaimana membawakan wayang wong dengan baik dan benar. Kini Sunarno menjadi sutradara di Ngesti Pandawa. Ngesti Pandawa merupakan perkumpulan yang terdiri dari 60 orang dan berisi pemain serta karawitan. Perkumpulan ini mempunyai tujuan untuk mempertahankan kesenian wayang wong di Semarang. Banyak anggota secara turun temurun menjadi bagian dari Ngesti Pandawa. Diketuai oleh Joko Mulyono, Ngesti Pandawa sudah beberapa kali mengadakan pagelaran di luar kota Semarang. Tidak ada batasan usia untuk menjadi bagian dari Ngesti Pandawa.

dilakukan untuk mempertahankan wayang wong. Pemain wayang wong tak segan memberi pemadatan cerita untuk membuat penonton terpaku dan tidak meninggalkan pertunjukan. “Kita perlu mengadakan sanggar tari seperti di Prambanan. Mungkin juga harus digerakan orang-orang yang memiliki bakat seni,” tutur Nurika Kurniawati, mahasiswi Ilmu Ekonomika dan Studi Pembangunan, Universitas Diponegoro. Sampai saat ini pun peminat wayang wong masih banyak. Sunarno berharap agar budaya ini tetap dilestarikan sehingga tidak punah di Kota Semarang. (nw)

Doc. Edents

Pentas Setiap malam minggu, Ngesti Pandawa menyelenggarakan pentas wayang wong di Taman Budaya Raden Saleh. Dengan membayar tiket seharga Rp 30.000, penonton bisa menikmati pagelaran selama kurang lebih dua jam. Selain Ngesti Pandawa, pemerintah juga berupaya agar kesenian wayang wong tetap ada di Kota Semarang. Pemerintah memberi bantuan dana melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Selain itu beberapa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ikut aktif menjadi wayang dalam pagelaran wayang wong. Menjaga mutu pertunjukan merupakan upaya yang

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

35


Social Movement Satoe Atap: Tempat Bernaung Anak Jalanan dan Kaum Miskin Oleh : Ika Natasya dan Tias Widiaswara

Pendidikan adalah pondasi utama dalam perbaikan kualitas hidup di era modern saat ini, namun masih banyak ketimpangan yang terjadi. Salah satunya terkait dengan fenomena anak-anak kecil yang mengais rezeki sebagai pengemis dan pengamen di jalanan. Hal tersebut sangat memprihatinkan mengingat begitu menjamurnya sekolah-sekolah di negeri ini, dari yang biasa sampai bertaraf internasional pun ada. Keprihatianan ini menjadi awal gerakan positif yang dilakukan oleh Satoe Atap untuk memerangi kebodohan di negeri ini, khususnya di wilayah Semarang. Sejarah Satoe Atap berangkat dari rasa iba mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro terhadap anak jalanan, seperti penyanyi jalanan dan kaum miskin. Ia berfikir bahwa anak yang seharusnya mendapatkan ilmu di bangku sekolah justru mengais rezeki di jalanan. Tepat pada tanggal 12 April 2007 terbentuklah suatu komunitas yang bernama Satoe Atap, dengan tujuan membimbing penyanyi jalanan dan kaum miskin layaknya anak sekolah pada umumnya. Satoe Atap merupakan singkatan dari SAyang iTOE Asli TAnpa Pamrih. Selain itu, Satoe Atap memiliki semboyan Save Street Children’s Future yang bermakna harapan agar anak-anak jalanan memiliki mimpi dan mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan seperti anak sekolah pada umumnya. Kegiatan Setiap hari Selasa dan Rabu, Satoe Atap melakukan pengajaran terhadap adik-adik binaan (sebutan bagi anak jalanan). Kegiatan lain berupa Anjangsana atau kunjungan ke rumah-rumah adikadik binaan. Di sana, ada kegiatan belajar dan bermain sambil mengadakan sharing kepada orang tua mereka. Selain itu, terdapat pula kegiatan keliling dunia dan keliling Indonesia. Keliling Dunia diadakan setiap bulan genap. Tujuan kegiatan tersebut agar adik-adik Satoe Atap mengetahui kebudayaan yang tersebar di dunia dan dapat belajar mengenai negara lain. Sedangkan keliling Indonesia dilaksanakan bulan ganjil. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengenalkan budaya-budaya yang tersebar di Indonesia. “Kalau keliling Indonesia kemarin di Padang, kita mengajarkan kebudayaan padang, baju-bajunya, dan belajar adat-istiadat Padang,” imbuh Weny Putri Haryani yang juga Koordinator Satoe Atap. Bazaar for Kids ialah kegiatan Satoe Atap bersama adikadik binaan, di mana mereka dapat memperoleh barang berupa alat tulis, perlengkapan sekolah, baju, mainan tradisional, jajanan, atau bentuk barang lainnya, namun diselingi dengan edukasi. Diharapkan dengan konsep seperti ini, adik-adik binaan dapat belajar berhitung dan menentukan skala prioritas kebutuhan mereka.

36 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

Anggota Satoe Atap mayoritas mahasiswa yang berasal dari Undip, Udinus, dan Unika. Tak dipungkiri juga banyak anggota dan volunteer Satoe Atap yang sudah bekerja dan masih aktif dalam keanggotan. “Dalam keanggotan maupun volunteer tidak ada persyaratan khusus yang terpenting mau bergabung dan mau mengajari adik-adik Satoe Atap,” ungkap Wenny. Dengan kata lain, siapapun dapat bergabung dan berkontribusi di Satoe Atap. Wenny mengungkapkan bahwa dalam hal promosi, Satoe Atap melakukan berbagai cara. Salah satunya dengan menggunakan media sosial, seperti Instagram, website, dan Facebook. Cara lain dilakukan dengan mendatangi rumah-rumah penduduk dan terjun langsung ke jalanan untuk mengajak anakanak tersebut. Langkah-langkah ini dilakukan secara rutin, karena mereka menyakini di luar sana masih banyak anak-anak yang putus sekolah. Mereka pantas mendapatkan hak pendidikan yang terenggut karena keterbatasan biaya. Satoe Atap dalam kegiatannya menampung anakanak berumur lima tahun sampai dengan anak-anak seumuran tingkat SMA/SMK pada umumnya. Wenny menuturkan bahwa, “Satoe atap berusaha memenuhi kebutuhan mata pelajaran yang memang harus diterima oleh adik binaan,” jelasnya. Ia juga mengatakan bahwa komunitas dapat mencarikan beasiswa masuk perguruan tinggi bagi yang berniat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Motivasi Wenny untuk bergabung di Satoe Atap adalah kebahagian berbagi. Kebahagiaan ketika melihat senyum anakanak didik dan kesukaannya terhadap anak kecil menjadi titik awal yang motivasinya. “Ada kebahagiaan tersendiri ketika dapat memberikan sesuatu yang lebih untuk membantu orang lain, terlagi anak-anak,” ujar Weny. Kendala Dalam perjalanannya, Satoe Atap seringkali menemui kendala yang beragam, dimulai dari minat anak binaan yang masih enggan bersekolah dan lebih memilih mengamen ataupun mengemis di jalanan. Kendala juga datang dari sumber daya pengajar dan tempat pengajaran yang masih belum tetap. Namun perlahan Satoe Atap mulai dikenal dan sudah memiliki tempat pengajaran yang telah disewa tahunan. Mengenai harapannya, Satoe Atap berharap dapat membantu lebih banyak anak-anak yang putus sekolah. Mereka juga mengiginkan anak binaan mereka meraih mimpi dan mendapatkan pendidikan yang layak. “Saya ingin Satoe Atap lebih dikenal masyarakat, terutama di Semarang. Semakin banyak anak muda yang peduli terhadap masa depan anak-anak jalanan karena mereka merupakan penerus negeri yang pantas kita lindungi,” pungkas Wenny. (nw)

Kunjungi! www.lpmedents.com

doc. Edents

“Ada kebahagiaan tersendiri ketika dapat memberikan sesuatu yang lebih untuk membantu orang lain, terlagi anak-anak,” – Weny Putri Haryani, salah satu Koordinator Satoe Atap


Diantara DiantaraKita Kita

Mereka yang Hidup Diantara Sepatusepatu Koyak Oleh: Ahmad Rodhi Sulaiman dan Adrianto Julihamtima "Di Kota besar seperti Semarang ini mendapatkan uang sangat gampang, mas, tapi tentunya harus memiliki keahlian. Jadi tukang sol sepatu memang untuk kaya tidak mungkin, tapi untuk memenuhi kebutuhan sehari, cukuplah," – Agus, Tukang Sol Sepatu

Sepatu adalah salah satu syarat wajib untuk bisa tampil formal di negeri ini, bisa dibilang hampir semua instansi, baik negeri maupun swasta, mewajibkan pengunjungnya menggunakan sepatu, tidak terkecuali para mahasiswa yang wajib mengenakan sepatu di lingkungan kampus. Kerap kali ketika sepatu kita mengalami kerusakan pada jahitan atau tapaknya, kita harus memilih untuk membeli sepatu baru atau menyerahkan kepada tukang sol sepatu untuk diperbaiki. Meskipun tukang sol sepatu sudah semakin jarang ditemukan, namun beberapa dari mereka masih bertahan menawarkan jasanya. Salah satunya adalah Dewi, wanita asli Pleburan Semarang ini menawarkan jasa sol sepatu di lapaknya yang berada di pertigaan Jalan Singosari, Pleburan. Meskipun seorang perempuan, Dewi tidak segan menjalani profesinya sebagai tukang sol sepatu. “Dulu saya bekerja sebagai buruh cuci, suami saya yang ngesol, namun karena suami merantau ke Jakarta, maka saya menggantikannya,” seloroh Dewi. Penghasilannya sebagai tukang sol sepatu terbilang tidak menentu, terkadang bisa mencapai Rp 100.000,00 per hari, namun jika sedang sepi hanya mendapat Rp 10.000,00 per hari. “Ya begitu, tidak ada musim-musim tertentu yang ramai, tidak menentu, tapi Insya Allah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Ibu dua anak itu. Bagi perempuan 24 tahun itu, menjadi tukang sol sepatu bukanlah pekarjaan yang sulit, “Dulu belajarnya sama bapak (suami -red), mudah asal mau belajar saja,” kata Dewi sambil menimang anaknya. Berkeliling Tempat Demi Menjajakan Jasanya Tukang sol sepatu yang ada di Semarang, tak hanya yang mempunyai lapak atau tempat usaha yang tetap saja, namun ada juga tukang sol yang rela berjalan jauh mengelilingi suatu kawasan. Ada pula diantara mereka yang memilih untuk berkeliling kompleks perumahan untuk menawarkan jasanya. Misalnya, Agus yang memiliki semangat besar demi meraup rupiah. Agus adalah tukang sol sepatu yang telah menekuni profesi ini selama sepuluh tahun. Terik matahari tidak membuat pria berusia 48 tahun itu mundur. Baginya, terik dan hujan adalah warna-warni kehidupan. Ia terus berkeliling dari rumah ke rumah di sekitar Kota Semarang sambil berteriak lantang. "Sol sepatu. Sol sepatu." Ya, teriakan itulah yang menjadi mantra satusatunya untuk menarik rezeki setiap hari. Spesialisasi Agus adalah memperbaiki sepatu rusak, mengganti tapak atau menjahit sepatu yang sudah menganga. Genap satu dasawarsa menekuni profesi sebagai tukang sol sepatu, membuat Agus sudah begitu terampil dan tahu betul

strategi jitu untuk memperbaiki sepatu yang menganga menjadi layak digunakan kembali. Diperhatikannya detil-detil dan setiap lekuk sepatu, seperti ia memperhatikan tantangan hidup dengan teliti. Cukup bagi Agus merangkai hidup itu dengan lembaran rupiah hasil sol sepatu. Sama seperti Dewi, bagi Agus menjadi tukang sol sepatu bukanlah pekerjaan yang sulit untuk dilakukan. Bahkan semua orang juga bisa melakukan, hanya saja harus didasari kemauan dan tidak memilih pekerjaan. "Kalau saya pilih-pilih pekerjaan, tentunya anak dan istri tidak makan," ujar ayah dua orang anak itu. Kebahagiaan Menjadi Tukang Sol Sepatu Soal penghasilan, ternyata penghasilan Agus setara dengan karyawan-karyawan yang bekerja di perusahaan. Rata-rata, sehari ia bisa mendapatkan uang Rp 100.000,00. Artinya dalam sebulan, ia bisa meraup penghasilan kurang lebih Rp 3.000.000,00. "Bedanya kerja di PT atau kantoran, gaji diterima sekali sebulan. Kalau saya terima setiap hari. Kalau mereka bilang ada uang lembur, saya juga sering dapat uang lembur. Kadang kalau rejekinya, bisa bawa uang hingga Rp 300.000,00 dalam sehari. Ya itulah uang lemburnya," lanjut Agus sambil tertawa. Selain itu, jam kerja pun dapat ditentukan sesuka hati Agus, begitu pula dengan rute dalam menjajakan jasanya. Tidak jarang panas terik matahari terus ia lalui demi sesuap nasi. Masjid yang ia lalui, kerap kali menjadi tempatnya beristirahat sejenak, sekedar untuk melepas lelah. Bahkan, ia juga sering diusir sekuriti kalau mau berkeliling ke perumahan. "Saya tinggal di Manyaran. Di sana ngekost satu kamar saja. Sementara keluarga masih di Jepara," tambah Agus. Tentunya, banyak hal yang bisa diambil untuk belajar hidup lebih baik. "Di Kota besar seperti Semarang ini, mendapatkan uang sangat gampang, Mas. Tetapi tentunya harus memiliki keahlian. Jadi tukang sol sepatu memang untuk kaya tidak mungkin, tapi untuk memenuhi kebutuhan sehari, cukuplah," sambungnya. Untuk menjahit sepasang sepatu, ia bandrol seharga Rp 30.000,00. "Yang saya jual adalah jasa. Kalau untuk benangnya, cukup murah. Jadi tidak perlu modal besar. Hanya saja tidak selalu ada sepatu yang rusak untuk diperbaiki," tambahnya lagi. Berbagai kesulitan dan rintangan harus dihadapi dengan sabar. Agus hanya berpesan, jangan mudah berputus asa dalam hidup. "Jalan hidup ini sudah ditentukan Tuhan. Yang penting tetap berusaha, pasti selalu ada jalan setiap masalah, bukan berputus asa dan mengambil jalan pintas," tutupnya, sambil mengemasi peralatan 'tempurnya'. (nw)

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

37


Kabar Kampus

REVISI UNDANG-UNDANG KPK, UNDIP ‘SAY NO’ Oleh : Gracye Pane dan Ummi Latifah

Akhir Januari 2016 silam, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia memasukkan Revisi Undang Undang (RUU) No. 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) pada rapat paripurna (rapat seluruh anggota -red). DPR sudah berupaya merevisi UU KPK sejak tahun 2010 hingga tahun 2016. Revisi Undang-undang KPK ini mengundang pro dan kontra dari berbagai lapisan masyarakat. Salah satu pihak yang menolak adanya RUU KPK yakni Universitas Diponegoro. Alasan Undip menolak RUU KPK karena hal itu dapat melemahkan KPK dalam pemberantasan korupsi, sedangkan Indonesia membutuhkan KPK untuk mencabut jamur-jamur korupsi yang telah berakar di Indonesia. KPK sebagai lembaga resmi yang dipercaya masyarakat dalam memberantas korupsi memiliki peran penting dalam negara ini. Berbagai kasus pencurian uang negara telah diungkap dan diberantas oleh KPK. Selain peran penting tersebut, KPK juga memerlukan wewenang dalam menjalankan tugasnya agar dapat lebih luas menjerat siapa pun yang terbukti melakukan korupsi. “KPK itu lembaga yang paling menjadi primadona di penegakkan hukum di Indonesia. Mereka mempunyai wewenang yang lebih daripada lembaga penegak hukum lainnya karena bisa melakukan penyadapan, langsung tangkap tangan jika terbukti bersalah, kemudian menyerahkan tersangka kepada polisi,” jelas Hedi Pudjo Santoso, Wakil Dekan I Fisip Undip. Priyatno Harsastro, Akademisi Ilmu Pemerintahan Undip mengungkapkan bahwa tindakan yang dilakukan KPK selama ini sudah baik. Ia menambahkan bahwa salah satu bahaya di dalam rencana RUU adalah membatasi keberadaan KPK, yakni hanya 12 tahun. Sejalan dengan Priyatno, Ratih Kertawardhani, Staf Ahli Bidang Sosial dan Politik BEM Undip mengungkapkan bahwa Undip akan tetap menolak revisi UU KPK selama hal tersebut melemahkan kinerja KPK dalam hal pemberantasan korupsi. Hedi berpendapat bahwa pihak yang menerima dampak paling merugikan dari RUU KPK ini adalah politisi. Melihat dari sisi mahasiswa, Rifki Hanif Juniardi, mahasiswa IESP 2014, mengungkapkan bahwa korupsi itu secara masif akan berdampak pada semua sektor. Penundaan RUU KPK Priyatno mengungkapkan bahwa penundaan RUU KPK merupakan strategi pemerintah untuk bisa menghentikan RUU KPK tersebut. “Harapannya apa dengan ditunda ini? Dalam jangka waktu yang tidak terbatas, desakan dari masyarakat semakin kuat sehingga lembaga legislatif nanti akan merevisi sendiri keinginan mereka sehingga mereka akan menarik RUU KPK dari Prolegnas dan itu tidak ada revisi bagi UU,” terangnya.

Hedi berharap agar masyarakat sipil terutama kaum-kaum yang sangat kritis terhadap keadaan sosial sekarang ini tidak kehabisan energi, karena menunda revisi tersebut seolah-olah digunakan untuk mencari kelengahan pihak yang pro anti-korupsi (kaum intelektual, mahasiswa, dan sebagainya). Sementara Ratih mengungkapkan bahwa keputusan penundaan RUU KPK meresahkan, karena tidak adanya kepastian hingga saat ini. RUU KPK ini memunculkan pihak yang pro dan kontra dalam berbagai lapisan masyarakat. Masyarakat khawatir terhadap keputusan yang dapat melemahkan KPK dalam pemberantasan korupsi akan terjadi. Tindakan yang Dapat Dilakukan Mahasiswa Sebagai salah satu pihak yang menolak RUU KPK, Undip telah melakukan tindakan nyata, yakni dengan mengadakan audiensi bersama DPRD Kota Semarang yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Elemen-elemen tersebut antara lain stakeholders, Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah, mahasiswa, media pers, dan beberapa LSM yang peduli terhadap RUU KPK ini. Menurut Ratih audiensi tersebut menghasilkan pendapat bahwa pemberantasan korupsi itu penting di Indonesia dan juga menuntut adanya naskah akademik terkait RUU KPK tersebut. Alasan dibutuhkannya naskah akademik yakni agar kita dapat mengetahui alasan adanya revisi, pasal-pasal apa saja yang direvisi atau poin apa saja yang diubah, dan manfaat dari RUU tersebut. Priyatno mengungkapkan bahwa kita dapat mendukung apa yang dilakukan KPK dengan mengetahui bahwa ada halhal yang tidak diperkenankan untuk dilakukan. Rifki sebagai mahasiswa mengungkapkan bahwa tindakan yang dapat dilakukan mahasiswa dalam upaya penolakan revisi tersebut tidak harus melalui demo. Hal serupa juga diungkapkan oleh Diana Hutabarat, mahasiswi Ilmu Pemerintahan 2014. Menurutnya, tanpa harus demo mahasiswa dapat melakukan tindakan yang lebih bisa didengar oleh pemerintah dalam menyampaikan pendapatnya. Harapan untuk KPK dan Perdebatan RUU KPK Hedi Pudjo Santoso mengungkapkan secara sosiologis kita harus melihat realitas di masyarakat di mana sebagian masyarakat menjadikan KPK sebagai sebuah institusi yang paling bersih. Diana juga mengharapkan RUU KPK ini dapat dihapuskan dan kalaupun akan direvisi, sebaiknya lebih menguatkan KPK, sehingga KPK dapat memberantas korupsi di Indonesia dengan wewenang yang seharusnya. Hal serupa diungkapkan oleh Rifki yang mengharapkan RUU KPK ini tidak hanya sekedar ditunda oleh DPR, tetapi kemudian dapat diberhentikan sepenuhnya. (nw)

“KPK itu lembaga yang paling menjadi primadona dipenegakkan hukum di Indonesia”,Hedi Pudjo Santoso, Wakil Dekan I Fisip Undip

38 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016


Komunitas

Mengenal Sejarah Melalui Komunitas Oleh: Dian Mustika

Kunjungi! www.lpmedents.com

”Satu hal yang saya percaya bahwa sejarah itu menarik dan penting untuk di bahas”,- Muhammad Yogi, salah satu pendiri Komunitas Lopen Semarang

Komunitas Lopen Semarang adalah sebuah komunitas sejarah yang didirikan pada 27 Desember 2012 oleh sekelompok mahasiswa Universitas Diponegoro. Pendiriannya didasari oleh keprihatinan bersama akan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kepemilikan sumber daya warisan sejarah dan budaya, utamanya dilingkup Kota Semarang. Mempunyai visi “Mari Bersama Sadar akan Kepemilikan Sejarah”, komunitas Lopen mengajak kita untuk mempelajari sejarah dan warisan budaya yang ada, khususnya di Kota Semarang. Kata lopen berasal dari bahasa Belanda yang berarti jalan kaki, dimana komunitas ini ingin mengajak para anggota pada khususnya dan masyarakat Semarang pada umumnya untuk menelusuri kembali jejak-jejak sumber daya sejarah dan budaya yang ada. Tujuannya adalah agar para aggota dan masyarakat, bisa lebih mengenali identitas sebagai warga kota Semarang dan lebih menghargai sumber daya sejarah serta budaya yang ada. “Kenapa memilih bahasa Belanda? Karena kita amatiran, berarti kita hanya mengandalkan research online, berarti kita mengandalkan research yang telah digitalisasi, dan rata-rata itu ada di Belanda”, tutur Muhammad Yogi, mahasiswa IESP 2009. Lopen berdiri atas inisiatif Yogi bersama temantemannya di AISEC yang berjumlah sepuluh orang. Para pendiri tersebut menempuh pendidikan di kampus yang sama, namun berbeda fakultas. Ada sebagian yang berasal dari FEB dan sebagian dari Fisip. Dalam sejarah komunitas ini, hanya ada dua orang anggota yang berasal dari jurusan sejarah dan Universitas Negeri Semarang (Unnes). Komunitas Lopen merupakan komunitas terbuka, dimana siapa saja bisa bergabung kapan pun tanpa perlu melalui open recruitment. Akan tetapi, anggota harus memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) sebagai bukti keanggotaan. Tercatat sudah 57 anggota yang memiliki KTA sampai saat ini. Anggota komunitas ini tidak hanya mahasiwa, tetapi juga dosen, musisi (salah satunya vokalis band Aljabar), dan juga ada yang sudah bekerja. Kegiatan komunitas Menurut Yogi, salah satu pendiri Komunitas Lopen, kegiatan utama komunitas ini adalah kegiatan blusukan, yaitu penulusuran jejak-jejak warisan budaya dan sejarah, namun tahun ini dalam masa vacuum dikarenakan kesibukan para anggotanya. “Sekarang kegiatannya hanya support-support aja. Kalau ada komunitas lain bikin acara, kami ikut untuk memberi materi di sana dan juga memproduksi panel A2 tentang sejarah kontemporer,” tutur Yogi. Beberapa kegiatan lain yang telah dilakukan Komunitas Lopen antara lain diskusi sejarah, pelestarian permainan tradisonal, pameran sejarah, dan sebagainya. Diskusi sejarah yang pernah diadakan, bertempat di Gedung Sobokarti dan bertemakan Sejarah Perkembangan Musik di Kota Semarang dengan dipandu oleh Samboedi, maestro drum kawakan asal Semarang. Sedangkan kegiatan pelestarian permainan

tradisional, dilakukan dengan mengadakan acara bermain layang-layang bersama di lapangan Widya Puraya, Undip Tembalang. Kegiatan pameran sejarah tentang perkembangan kota Semarang di awal abad ke 20 bertajuk Kuno Kini Nanti pada 22-28 Agustus 2013 juga menambah daftar kegiatankegiatan yang telah dilaksanakan Komunitas Lopen. Selain itu, Lopen bekerjasama dengan Komunitas OASE pada tanggal 15 Desember 2013, menggelar Kota Lama Heritage Race, yakni kompetisi mengelilingi Kota Lama dengan beragam tantangan. Konferensi Komunitas Sejarah Nasional (KKSN) yang diikuti oleh perwakilan beragam komunitas dan penggiat Sejarah dari Semarang, Solo, Yogyakarta, Banyumas dan Pekalongan, juga telah diadakan pada 14-15 Juni 2014. Lebih lanjut, ada pula rangkaian kegiatan yang terangkum dalam Semarang History 2014 dari 30 Agustus - 8 September 2014, berupa Histography (Kompetisi foto), Semarang Heritage Race, Journalist Writing Contest, dan ditutup dengan Awarding Night. Pembuatan film antologi berjudul Twaalf Uur van Semarang yang berisikan empat cerita berbeda yakni Makan, Kuli(Ah), Kakeane dan Ver van Huis dan berdurasi total 70 menit, pun telah resmi dirilis pada 27 Maret 2015. Lokasi penulusuran sejarah Seperti yang telah dijelaskan oleh Yogi, salah satu kegiatan dari komunitas ini adalah blusukan. Adapun beberapa lokasi penulusuran kegiatan blusukan oleh Komunitas Lopen, antara lain: Mausoleum Thio Sing Liong, satu-satunya makam tionghoa yang tersisa di bilangan Jalan Sriwijaya, Semarang; Tangsi Militer Mrican, bekas asrama transit bagi para pekerja migran dari seluruh Jawa yang akan dipekerjakan di perkebunan-perkebunan karet di Deli, Sumatera Utara yang dikelola oleh AVROS (Afdeling Vereeniging Ruberplanters van Oostkust Sumatera); Istana Gergaji Balekambang, bekas kediaman konglomerat pertama di Asia Tenggara yakni Oei Tiong Ham. Selain itu, diadakan juga blusukan ke kawasan Pecinan Semarang yang merupakan tempat tinggal para warga keturunan Tionghoa di Semarang. Kawasan Kota Lama, seperti gedung Spiegel, Gedung Borsumy, bekas Konsulat Siam, Gedung Marba, Gedung PTPN dan Gedung Jiwasraya, juga menjadi destinasi bagi komunitas Lopen. Selain yang telah disebutkan tadi, masih ada beberapa tempat lagi yang telah dikunjungi oleh Komunitas Lopen. Harapan “Harapan saya simple aja, warga Semarang lebih tahu tentang kotanya dan mencintai kotanya aja sih,” ujar Yogi. Yogi juga berpesan untuk mahasiswa yang berasal dari luar kota Semarang, agar para mahasiswa tersebut lebih mengenal kota Semarang. Hal ini diperlukan dimana selaku mahasiswa yang menuntut ilmu di Kota Semarang, mahasiswa pelu mengenal seluk beluk dan sejarah Kota yang ditinggalinya saat ini. (nw)

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

39


Opini Mahasiswa

doc. Pribadi

Menguak Tabir Hitam Perekonomian Indonesia (Shadow Economy) Oleh: M. Barra Fathurrahman, Mahasiswa Akuntansi 2012

Ekonomi merupakan salah satu cabang ilmu sosial yang sudah ada semenjak manusia lahir dimuka bumi. Adam Smith, seorang pakar ekonomi, mendefinisikan ilmu ekonomi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Awal mulanya, manusia hanya mengandalkan berburu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ketika itu kebutuhan mereka masih terbatas hanya pada masalah pangan. Mereka selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain ketika sumber daya di daerah yang mereka tinggali sudah habis. Beberapa ratus tahun kemudian, kegiatan ini meningkat menjadi berkebun. Manusia pada zaman ini berusaha untuk menciptakan sumber daya yang terbarukan dengan cara berkebun. Seiring berjalannya waktu, kehidupan manusia berubah menjadi semakin kompleks. Telah muncul berbagai kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi seorang diri sehigga muncullah sistem barter, sistem ini mengajarkan manusia untuk melakukan pertukaran setara. Orang-orang melakukan pertukaran barang maupun jasa untuk memenuhi kebutuhan mereka. Seiring kemajuan zaman, sistem barter ini mulai ditinggalkan dan digantikan dengan penggunaan uang. Di zaman modern ini, kehidupan manusia semakin kompleks, begitu pula dengan ilmu ekonomi yang mengikuti perkembangan zamannya. Layaknya sebuah ilmu yang memiliki sisi terang dan gelap, begitu pula dengan ilmu ekonomi. Ilmu ini bagaikan sebuah pedang yang bisa dipakai oleh semua orang. Jika pedang ini diberikan kepada samurai, maka akan teranglah jalannya. Namun jika pedang ini diberikan kepada tukang jagal, akan menjadi sebaliknya. Berdasarkan pengertian ilmu ekonomi yang dijelaskan sebelumnya, ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia untuk menciptakan kemakmuran. Seperti yang kita ketahui, perilaku manusia dalam menciptakan kemakmuran zaman ini berbeda-beda. Ada yang memilih dengan berkebun, berternak, bekerja pada sebuah perusahaan dll. Hal inilah yang dimaksud dengan jalan terang. Namun, ada pula perilaku manusia yang untuk mendapatkan kemakmurannya melakukan cara lain seperti illegal logging, berdagang narkoba, prostitusi, ekspor-impor ilegal dll. Aktifitas-aktifitas seperti inilah yang disebut shadow economy. Shadow economy merupakan semua kejadian ekonomi yang tidak tercatat dalam keuangan negara. Tidak semua kegiatan shadow economy tidak benar. Pedagang kaki lima, pedagang asongan, tukang jahit maupun profesi lain yang tidak melapor pendapatannya kepada negara, juga termasuk kegiatan shadow economy. Jadi kegiatan shadow economy ini pun terbagi menjadi dua, yaitu legal dan tidak legal. Shadow economy yang legal juga disebut dengan kegiatan ekonomi sektor informal. Mereka bisa bebas pajak. Padahal mereka pun mempunyai penghasilan juga yang mungkin tidak dilaporkan ke negara. Ketika Anda di kampung, bukankah sering makan gratis hanya dengan memancing ikan di kolam milik paman, atau menikmati singkong bakar tidak dengan membeli karena tinggal mencabut dari ladang milik kakek? Padahal kegiatan tersebut tergolong aktivitas ekonomi,

40 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

namun semuanya tidak tercatat dalam keuangan negara. Masih ingatkah bencana kabut asap yang terjadi di Riau tahun 2015 lalu? Sudah menjadi rahasia umum bahwa pelaku pembakaran-pembakaran ini adalah perusahan-perusahaan besar yang membakar lahan gambut untuk dijadikan perkebunan. Namun, pemerintah hanya berhasil menangkap dan memberi sanksi kepada empat perusahaan. Sedangkan menurut aktivis lingkungan hidup, di Riau ada banyak perusahaan besar yang berhasil lolos dari pemberian sanksi ini. Kasus diatas salah satu contoh aktifitas shadow economy ilegal di Indonesia. Beberapa contoh shadow economy lain adalah illegal fishing, human trafficking, jual-beli narkoba, korupsi dll. Shadow economy di Indonesia ibarat sebuah gunung es, apa yang nampak oleh kita adalah kegiatan shadow economy yang bersifat legal transaksi berskala kecil, apa yang tidak terlihat masih misteri. Bukankah sebuah kejahatan selalu tersimpan rapat? Ekonomi hitam bersifat gelap hanya bisa diraba-raba tidak ada yang mengetahui kebenaran sebenarnya. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Friedrich dan Dominik (2000), pada negara maju transaksi shadow economy bisa berjumlah 20% dari GDP negara tersebut dan pada negara berkembang bisa menjadi dua kali lipat atau sekitar 40% dari GDP. Dalam penelitian tersebut, disinggung bahwa keberadaan shadow economy di suatu negara masih bersifat ambigu. Shadow economy bisa bersifat positif dan negatif terhadap ekonomi suatu negara tersebut. Lantas muncul pertanyaan di benak kita, kemanakah uang hasil ekonomi hitam tersebut? Perlu kita ketahui bahwa para pelaku ekonomi hitam sangat lihai dalam memainkan perannya. Uang hasil transkasi dunia hitam mereka cuci, mereka pecah uang tersebut, dan disebar ke berbagai rekening. Kemudian dilakukan transaksi berulang sebagai layering dan sebagai tahap final, uang tersebut mereka gunakan untuk mendirikan bisnis legal, ataupun uang tersebut mereka gunakan kembali untuk mendanai aktifitas ilegal mereka. Pemerintah melalui Bank Indonesia sudah berusaha memperketat aturan untuk mencegah pencucian uang tersebut. Namun, para pelaku shadow economy masih bisa berkelit. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya kasus pencucian uang yang dilakukan para koruptor. Di Indonesia menurut penelitian Kuntarto Purnomo (2010), didapatkan bahwa besarnya pendapatan shadow economy pada periode 2000–2009, rata-rata mencapai 151,79 triliun rupiah sampai 152,39 triliun rupiah setiap tahunnya, atau sebesar 5,06%–5,08% dari PDB. Didapatkan juga bahwa potensi pajak atas aktivitas underground economy di Indonesia pada periode 2000–2009, rata-rata mencapai 18,88 triliun rupiah sampai 18,96 triliun rupiah per tahun. Meningkatkan penerimaan pajak dari aktivitas shadow economy menjadi perhatian besar otoritas pajak dibanyak negara berkembang. Hal ini merupakan tantangan bagi negara tersebut. Langkah yang jauh lebih penting adalah adanya kemauan politis dari pengambil kebijakan di negara ini untuk melakukan upaya penegakan hukum semaksimal mungkin, dengan cara mengeliminir sektor underground economy, khususnya yang bersifat ilegal. (nw)


Opini Mahasiswa Spiritual Value Solusi Ampuh Rebut Pasar Ekonomi Kreatif pada MEA Oleh : Ari Nugroho (Manajer Humas KSEI FEB Undip 2015) Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah mulai berlaku di Indonesia dan negara ASEAN lainnya. Pasalnya pada tahun 1997 silam, 10 negara anggota telah menyetujui pengintegrasian 12 sektor prioritas yaitu 7 sektor barang dan 5 sektor jasa, dalam suatu kawasan integrasi ekonomi pada tahun 2015. Tujuannya jelas, yakni menjadikan ASEAN sebagai satu wilayah dimana barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja ahli dapat bergerak secara bebas, serta aliran permodalan yang lebih bebas. Kesepakatan ini selanjutnya direalisasikan dengan Deklarasi yang mengesahkan suatu cetak biru demi mewujudkan komunitas ekonomi ASEAN (Declaration on the ASEAN Economic Community Blueprint) pada bulan Nopember 2007. Cetak biru ini dirancang untuk transformasi ASEAN menjadi a single market and production base (pasar dan basis produksi tunggal), a highly competitive economic region (ekonomi kawasan yang sangat kompetitif ), a region of equitable economic development (kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata), dan a region fully integrated into global economy (kawasan yang terintegrasi penuh dengan ekonomi global). Sektor-sektor Semakin berkembangnya ekonomi kreatif menjelang berlakunya MEA, perlu mendapat perhatian penuh oleh berbagai pihak. Ekonomi kreatif adalah penciptaan nilai tambah yang berbasis ide yang lahir dari kreativitas sumber daya manusia (orang kreatif ) dan berbasis pemanfaatan ilmu pengetahuan, termasuk warisan budaya, dan teknologi. Ekonomi kreatif terdiri dari 15 subsektor diantaranya adalah musik, periklanan, seni pertunjukan, arsitektur, tv dan radio, mode (fashion), video film dan fotografi, desain, pasar barang seni, penerbitan dan percetakan, kerajinan, teknologi informasi, riset dan pengembangan, permainan interaktif, dan kuliner. Dilansir dari Kementrian Perdagangan, pada tahun 2013, ekonomi kreatif menyumbang tujuh persen atau sekitar 642 triliun rupiah dari total PDB Indonesia. Kuliner menduduki peringkat pertama sebagai penyumbang PDB ekonomi kreatif yaitu sebesar 209 triliun rupiah (32,5%) dan diikuti oleh fashion sebesar 182 triliun rupiah (28,3%). Dewasa ini tren yang terjadi adalah hampir semua aspek kehidupan diwarnai oleh kenajuab peradaban Islam. Gaya hidup bernafaskan Islam semakin tumbuh dengan pesat dalam hal busana, produk yang dikonsumsi atau digunakan, sekolah dan pendidikan, perbankan, hingga seni dan hiburan. Hal ini akan memacu para pelaku industri ekonomi kreatif untuk menciptakan produk dan jasa yang sesuai dengan selera dan permintaan pasar.

Pergeseran tren dengan memasukkan spiritual value dalam pengambilan keputusan memilih produk merupakan pergeseran yang sangat fundamental. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Inventure pada tahun 2013, makin makmur dan makin pintar seorang muslim maka ia akan semakin religius. Buktinya jika dulu orang tidak peduli dengan praktek riba kini mereka mulai sadar jika praktik riba dilarang oleh agama. Mereka mulai beralih ke bank-bank syariah untuk menghindari riba sehingga pertumbuhan bank syariah menjadi sangat pesat selama 15 tahun terakhir yaitu mencapai 40% pertahunnya. Dari sisi kuliner konsumen muslim juga semakin aware akan kuliner yang mereka makan. Jika dulu mereka tak begitu peduli dengan kehalalan suatu produk kini mereka mulai sadar untuk mengecek label halah dari suatu produk baik makanan atau minuman. Hal yang sama juga terjadi dalam bidang fashion. Konsumen muslim mulai concern untuk menutup aurat mereka. Hal ini terbukti dengan adanya tren hijab yang sangat revolusioner dan munculnya desainerdesainer kondang yang fokus ke fashion muslim semisal Dian Pelangi. Tak hanya itu saja, subsektor lain dalam ekonomi kreatif juga mulai berkembang dengan memasukkan nilai-nilai Islam didalamnya. Semisal industri perfilm-an, pertunjukan, desain, arsitektur, dan subsektor ekonomi kreatif yang lain. Dengan demikian hal yang harus dilakukan untuk merebut pasar ekonomi kreatif pada MEA adalah dengan menambah nilai tambah dari suatu produk berupa spiritual value. Namun perlu diperhatikan, menambah spiritual value bukan berarti mengesampingkan functional dan emotional value. Suatu produk dari ekonomi kreatif harus memiliki dan unggul dalam ketiga value tersebut sehingga dapat menjangkau seluruh konsumen baik muslim maupun nonmuslim. (nw)

doc. Pribadi

Manfaat Penduduk muslim Indonesia sebesar 35% dari 42% penduduk muslim Asia Tenggara. Tentu hal ini merupakan potensi besar untuk menciptakan ekonomi kreatif yang sesuai dengan konsumen muslim. Apalagi saat ini konsumen muslim tidak hanya mencari manfaat fungsional dan emosional dari produk. Mereka juga mulai semakin peduli dengan manfaat spiritual (spiritual value) dari produk yang dipakai, yaitu manfaat terkait dengan seberapa jauh produk itu mematuhi nilai-nilai dan ajaran Islam. Contoh dari functional value adalah kualitas, harga, dan kenyamanan. Contoh dari emotional value adalah citra diri, rasa aman, kedekatan dengan brand, loyalitas, dan sebagainya. Sedangkan spiritual value berupa ketenangan jiwa, kedekatan dengan sang khalik, keikhlasan, dan sebagainya.

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

41


Pena Alumnus Eranya Generasi Milenium Oleh : Syarif Fadilah (Mantan PU Edents 2000-2001), (Redaktur Pelaksana Majalah Stabilitas) Saya yakin, Anda yang membaca ini masuk dalam kategori Generasi Z, dan beberapa masih masuk Generasi Y. Menurut laman Wikipedia, Gen Z adalah mereka yang lahir antara 1995 hingga 2012, jadi saat ini berusia antara 12-21 tahun. Sementara Gen Y atau disebut dengan beberapa julukan seperti generasi echo boomers, generasi milenium dan lainnya, adalah mereka yang lahir 1980-an hingga awal 1990-an. Kedua generasi ini adalah orangorang yang sedang mewarnai situasi sekarang ini, dan pantas kalau disebut generasi milenium (meski nama itu biasanya hanya disematkan untuk Gen Y). Berdasarkan data statistik nasional pada Agustus 2014, jumlah angkatan kerja generasi tersebut mencapai lebih dari 121 juta jiwa yang mana 66 persennya sudah bekerja. Gen Y Lahir ketika revolusi teknologi sedang mencapai puncaknya, generasi ini adalah orang-orang yang begitu peka terhadap perubahan informasi, gaya hidup, dan tentunya gadget. Jumlahnya kini mulai banyak di berbagai industri terutama dalam pekerjaan-pekerjaan ‘kerah putih’. Dekade kelahiran mereka ditandai oleh merebaknya teknologi dan merupakan masa-masa awal revolusi komputer, sehingga muncul kesadaran akan pentingnya kekuatan teknologi dan informasi. Generasi ini kemudian dinamai Generasi Millenials atau Generasi Y atau disingkat Gen Y. Dan dekade setelahnya disebut Gen Z. Istilah Gen Y diperkenalkan oleh William Strauss dan Neil Howe dalam bukunya, “The History of America’s Future 1584 to 2069”. Istilah ini menyebar secara global dan menjadi pembahasan oleh departemen sumber daya manusia perusahaan-perusahaan. Generasi Gen Y dikenal sebagai generasi yang mobile. Mereka adalah generasi yang akrab dengan kecanggihan teknologi informasi seperti gadget. Pola pikir Di sisi lain, mereka juga tumbuh dalam perekonomian yang beberapa kali mengalami krisis global. Dimulai dari krisis ekonomi di Asia Tenggara hingga krisis Eropa. Tak pelak hal tersebut mempengaruhi cara berpikir dan cara mereka merespons hubungan yang ada di dunia kerja. “Generasi Y terbiasa dengan teknologi, terutama gadget. Lingkungan mereka tidak terbatas hanya sebuah negara, bahkan hingga lingkungan internasional. Cara berpikirnya pun sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Perusahaan harus mengakomodasi gaya hidup generasi ini,” kata Sarlito Wirawan, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia. Gen Y, atau juga sering disebut Net Geners –mengacu pada keterkaitannya pada Internet, seringkali merasa tidak nyaman dengan hal-hal yang berbau pemaksaaan kehendak

42 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

karena jabatan yang lebih tinggi. Mereka lebih menyukai gaya atasan yang kolaboratif dan mau mendengar masukanmasukan termasuk dari mereka. Menurut laporan The Economist, majalah ekonomi terkemuka, kondisi itu seringkali membuat Net Geners tidak betah berlama-lama di satu kantor. Hal ini akan menciptakan masalah baru bagi para manajer. Gesekan antar generasi memang tak bisa dihindarkan di saat keberadaan Baby Boomers, Gen X dan Gen Y dalam satu kantor. Meski begitu, Gen Y nampaknya yang paling bisa menyesuaikan. Dalam sebuah survey yang dilakukan Ernst & Young, lembaga konsultasi manajemen mendapatkan bahwa ketika mereka diminta untuk bekerja sukarela dengan membuat sebuah tim lintas generasi. Gen Y, dalam survey itu, tidak mengalami masalah dengan hal itu, namun tidak dengan kolega kantor dari generasi lain. Tantangan Sadar atau tidak sadar, Anda yang saat ini masih kuliah, akan menghadapi situasi yang sama sekali berbeda dengan apa yang dihadapi pekerja-pekerja senior mereka beberapa dekade sebelumnya. Anda diprediksi tidak akan bertahan dalam satu perusahaan jika iklim dalam perusahaan itu lebih menonjolkan birokrasi vertikal yang kaku. Anda akan dinilai sebagai generasi yang tidak loyal kepada perusahaan seperti generasi-generasi sebelumnya. Anda juga merupakan generasi yang akan selalu menuntut fleksibilitas kerja. Anda dibesarkan oleh game-game online yang sudah merajalela dan akan mewarnai kondisi psikologis Anda. Misalnya, Anda akan menjadi generasi yang pantang menyerah meski berkali-kali ditimpa kegagalan dalam berusaha atau berbisnis, karena dalam game-game yang Anda mainkan, meski sudah kalah dan game over, Anda selalu bisa memulainya kembali. Kondisi ini pula yang akan mempengaruhi Gen Z. Anak-anak Gen Z bahkan sudah tumbuh di lingkungan teknologi yang lebih canggih. Misalnya saja, sejak kecil, mereka sudah akrab dengan teknologi Android. Untuk teknologi ponsel mereka sudah terbiasa dengan cara ‘menggeser’, berbeda dengan generasi sebelumnya yang sebagiannya masih menggunakan keyboard pada ponsel-ponselnya. Karena mereka hidup di lingkungan yang merupakan level tinggi dari teknologi, maka diprediksi Gen Z akan membuat terobosan yang signifikan di bidang akademik yang memungkinkan pemodifikasian instruksi. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika Gen Y dan Gen Z yang akan menjadi dominan dalam beberapa tahun, sudah seharusnya menyiapkan diri menghadapi masa depan, yang waktunya hanya beberapa tahun lagi dari sekarang. Lalu sudah siapkah Anda? (nw)


KABAR

KAMPUS

FEB Goes to Global di Usia 56 Tahun Oleh: Ida Maslakhah dan Haning H.

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) kembali merayakan hari jadinya pada Maret lalu. Hari jadi ke-56 tahun ini bertema FEB Goes to Global. Tema ini diusung dengan tujuan mencatat sebuah prasasti bahwa ditahun 2016, FEB memulai untuk membuka kelas Internasional sebagai Expose Our Faculty. Hal ini pula yang menjadi pembeda Dies Natalis kali ini dengan sebelumnya. “Sebetulnya sama, cuma tahun ini kita sedikit lebih ke-profile, menunjukkan bahwa ini loh FEB Undip,” terang Fuad, Ketua Panitia Dies Natalis FEB Undip ke-56. Beragam kegiatan diselenggarakan dalam rangka memeriahkan Dies Natalis FEB ke-56. Rangkaian kegiatan tersebut dimulai sejak Februari dengan mengadakan lomba-lomba, seperti: futsal, voli, dan memancing. Lomba memancing mendapat tanggapan positif dari peserta. “Acara ini bagus menurut saya, karena dosen, karyawan, dan mahasiswa jadi bisa berkumpul,” tutur Daus. Selain bidang olahraga, diadakan pula lomba tahfidz Al-Qur’an dan hafalan doa. Lomba yang baru pertama kali diadakan oleh ketakmiran Masjid At-Taqwa dan Mizan FEB Undip ini, bertujuan untuk meningkatkan ibadah dan mengajak mahasiswa serta anak-anak dosen atau karyawan Undip untuk lebih mencintai Al-Qur’an. Lomba-lomba menjadi lebih menarik untuk diikuti karena ada hadiah yang diperebutkan. Penyerahan hadiah pemenang lomba dilaksanakan pada Sabtu, 12 Maret 2016, bertepatan dengan acara Jalan Sehat dan Alumni Gathering. Adapun rute yang ditempuh pada jalan sehat kali ini ialah FEB-Widya Puraya-Rektorat-Fakultas Kedokteran (FK)FEB. Sebanyak sebelas medali emas diberikan kepada sebelas peserta pertama yang sampai di garis finish. Setelah menempuh rute jalan sehat, para peserta disuguhi berbagai macam makanan yang disediakan oleh pihak fakultas tanpa dipungut biaya, seperti: nasi liwet, pecel, bubur ayam, soto ayam, mi kopyok, dan bakso. Untuk minumannya, tersedia air mineral gelas, susu, teh, dan kopi. Acara jalan sehat ini dimeriahkan dengan pengundian berbagai doorprize, seperti: sepeda gunung, kulkas, mesin cuci, DVD player, dispenser, rice

cooker, setrika, dan sepeda motor serta televisi 40 inch sebagai doorprize utama. “Antusiasme Dies Natalis FEB kali ini luar biasa,” terang Fuad. Mahasiswa pun antusias terhadap kegiatan donor darah yang terselenggara berkat kerjasama Palang Merah Indonesia (PMI) Semarang dengan FEB Undip (11/3). Pendonor yang sudah mendaftar harus mengantre menunggu giliran sebelum masuk ke ruangan donor darah. Selain mahasiswa, kalangan akademisi seperti Wahyu Meiranto, Pembantu Dekan (PD) II FEB Undip, juga turut mendonorkan darahnya. Wadah bakti sosial untuk membantu sesama manusia ini diharapkan Hamam selaku Ketua Panitia, dapat terus diadakan. Selain kegiatan sosial, diselenggarakan pula kegiatan-kegiatan akademis. Kegiatan akademis yang menjadi fokus Dies Natalis kali ini diharapkan Fuad mampu melengkapi kemampuan softskill mahasiswa, yang ia kira tidak didapatkan sewaktu perkuliahan. Setiap Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) pun berlomba-lomba mengadakan seminar dalam rangka mengisi acara Dies Natalis FEB Goes to Global. Diawali dengan Seminar Nasional Kewirausahaan oleh HMJ Manajemen (HMJM) pada 11 Maret dengan tiga pembicara, yang mana ketiganya merupakan alumni Undip. Mereka ialah Novitania Mundayani selaku Owner House of Moo (lulusan Manajemen FEB Undip tahun 2013), Bambang Waluyo sebagai wiraswasta dan dosen aktif di Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Undip, dan Sigit Pramono selaku Ketua Umum Bankir ASEAN yang mempunyai

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

43


KABAR usaha di sektor ekonomi jasa dan merupakan social entrepreneur. Usai Seminar Nasional yang bertema Inovasi Bisnis Peluang Usaha Masa Depan tersebut, diadakan talkshow bersama alumni angkatan 86 yang membagikan ide-idenya kepada mahasiswa tentang bagaimana cara survive, berbagai macam struggle, dan juga tips and trick didunia kerja. Puncak Dies Natalis yang bertepatan dengan hari jadi FEB Undip pada 14 Maret, menghadirkan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M Nasir. Turut hadir dalam peresmian ini Wakil Gubernur Jawa Tengah-Heru Sudjadmiko, Rektor Undip-Yos Johan Utama, Dekan FEB Undip-Suharnomo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK)-Muliaman D. Hadad, serta jajaran petinggi lain. Setelah memberikan kuliah umum tentang peran Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), M. Nasir berkesempatan untuk meresmikan Laboratorium Kewirausahaan FEB Undip. Selain peresmian gedung baru, pihak FEB juga menandatangani Moratorium (MoU) dengan Bank Tabungan Negara (BTN), pembukaan studentpreneurship, dan penyerahan Teras Bank Rakyat Indonesia (BRI) kepada perwakilan mahasiswa. Sebelumnya telah disampaikan pula pidato ilmiah oleh Muliaman D. Hadad berkaitan dengan daya saing Indonesia diantara negara-negara di dunia dan pentingnya investasi bagi kemajuan ekonomi suatu bangsa. Pada saat memberikan sambutan, Yos Johan menyampaikan beberapa prestasi yang diraih Undip beberapa tahun terakhir. “Alhamdulillah Undip masuk lima besar (universitas terbaik di Indonesia -red) versi Webometrics dan tiga besar kampus terhijau di Indonesia,” tutur Yos. Prestasi lain yang ditorehkan FEB Undip yakni berupa akreditasi dari ABEST21, dimana FEB dinyatakan sebagai fakultas dengan peringkat ke-5 menurut akreditasi ABEST21. Sebagai kelanjutan atas prestasi yang telah diraih, pada tahun ini akan dibuka kelas internasional untuk progam S1 jurusan Manajemen dan Akuntansi dengan kapasitas 25 orang. Rangkaian kegiatan kembali dilanjutkan dengan seminar internasional yang diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi (HMJA). Seminar bertajuk Financial/Accounting Profession and Education ini mengundang Katie Cooper dari University of Wollonggong Australia, Hendi Yogi Prabowo dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dan Anis Chariri selaku akademisi FEB Undip. Seperti seminar internasional pada umumnya, semua sesi seminar menggunakan bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa Inggris merupakan salah satu hal yang belum tercapai maksimal oleh FEB Undip ini. “Sebenarnya

KAMPUS materil, oke, pembelajaran, oke, kerja keras, oke, tetapi bahasa Inggris dan tingkat percaya dirinya itu kurang. Kalau nggak ditanya, nggak bunyi, ini problem,” keluh Suharnomo. Tidak semua hal bisa diberikan kampus, misalnya emotional question, skill tertentu seperti itu harus dicari. Mahasiswa bisa meng-explore potensi mereka melalui Unit Pelaksana Kegiatan (UPK). Selain seminar, diadakan pula sebuah acara bernama Ecotive. Ecotive merupakan salah satu acara yang tidak hanya diikuti warga FEB maupun Undip, tetapi juga melibatkan pihak luar kampus. Bertempat di lantai 2 laboratorium kewirausahaan, puluhan stand berjejer rapi memamerkan beragam produk dan layanan jasa masing-masing. Produk dan jasa yang ditawarkan antara lain makanan, minuman, pakaian, buku, layanan perbankan, hingga layanan kesehatan. “Bazar ini merupakan langkah untuk memfasilitasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Undip yang mau berkembang,” ungkap Zulkifli Aulia Rahman selaku Project Officer Ecotive. Jati Dwi Arta sebagai salah satu mahasiswa FEB Undip mengungkapkan motivasinya mengikuti stand bazar ini karena ingin ikut andil dalam memajukan FEB Undip selaku keluarga dan sekaligus meng-expose usahanya dibidang pakaian. Tidak sampai di sini saja, rangkaian acara Dies Natalis FEB Goes to Global masih berlanjut. Pada 24 Maret 2016, diadakan diseminasi hasil-hasil penelitian. Kemudian, ada Seminar Nasional Ekonomi Pancasila bersama Gubernur Jawa TengahGanjar Pranowo dan FX Sugiyanto-dosen Ilmu Studi Ekonomi Pembangunan (IESP) yang berlangsung pada 1 April 2016. Workshop Metodologi Penelitian Bisnis yang dilaksanakan pada 18-21 April 2016, tak mau ketinggalan untuk mengisi acara Dies Natalis ke-56 FEB Undip. Terakhir, ada The 2nd International Research Conference on Business and Economics sebagai konferens lanjutan yang telah dilaksanakan pada tahun 2013 akan digelar pada 3-4 Agustus 2016 mendatang. Fuad berharap dengan diadakannya serangkaian kegiatan akademik yang menunjang FEB Goes to Global ini dapat membawa FEB yang lebih baik, terlebih untuk mahasiswa. “Saya sangat berharap mahasiswa itu memiliki kemampuan untuk bersaing tidak hanya di level nasional, tetapi juga internasional. Kompetensi diri mahasiswa harus ditingkatkan. Jangan hanya jago kandang, tetapi juga harus bisa ke luar,” pesan Fuad. Hal senada juga dikemukakan oleh Suharnomo selaku Dekan FEB Undip. “Mahasiswa itu harus sering uji nyali, berkompetisi dengan kampus lain. Rasakan feel-nya. Mengelola PD (percaya diri –red) itu nggak gampang. Jangan lakukan itu setelah lulus! Apapun hasilnya itu pasti baik,” tambah Suharnomo. Ia berharap citra dan nama FEB semakin baik, sehingga ketika orang bertanya “Undip ya? Oh Oke”. (nw)

“Mahasiswa itu harus sering uji nyali, berkompetisi dengan kampus lain. Rasakan feel-nya. Mengelola PD (percaya diri –red) itu nggak gampang. Jangan lakukan itu setelah lulus! Apapun hasilnya itu pasti baik,”—Suharnomo (Dekan FEB Undip)

44 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016


EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

45


KOLOM PU

Recep Tayyib Erdogan : Tokoh Islam Fenomenal Dunia Saat Ini Oleh : Akbar Sih Pambudhi

doc.Prezidenti.cz

“Kamu tidak boleh menjadi seorang yang beriman dan menjadi seorang yang tidak beriman pada masa yang sama . Seorang golongan sekuler tidak boleh mengaku dirinya muslim. Karena bagi muslim, Allah adalah yang Maha Tertinggi”- Recep Tayyib Erdogan – Presiden Turki

Recep Tayyib Erdogan merupakan Presiden Negara Turki saat ini. Beliau lahir pada 26 Febuari 1954 di Instanbul, Turki. Erdogan sendiri menghabiskan masa sekolahnya untuk belajar agama di sekolah Imam Hatif dan melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di Jurusan Ekonomi dan Bisnis di Universitas Marmara, Turki. Erdogan merupakan salah satu sosok pemimpin yang terkenal saat ini. Sebelum menjadi Presiden Turki pada tahun 2014, ia diamanahkan sebagai Perdana Menteri Turki yang kebijakan luar negeri Turki pada saat itu dinilai sangat berani. Pada Forum Ekonomi Dunia tahun 2009 di Davos Swiss, Erdogan berdebat dengan Presiden Israel Shimon Peres mengenai agresi militernya ke Jalur Gaza, Palestina. Bahkan ia menyebut Shimon Peres sebagai pembunuh anak–anak Palestina. Karir Politik Karir Politik Erdogan sendiri dimulai saat ia bergabung dengan Partai Islam bernama Milli Selamet Partisi, namun partai tersebut bubar pada tahun 1980. Di tahun 1991, Erdogan terpilih menjadi anggota parlemen melalui Partai Kesejahteraan. Nama Erdogan mulai populer di Turki pada saat ia menjadi Walikota Instanbul Raya. Ia dinilai berhasil karena mampu merancang tata kota yang modern dan nyaman. Selain itu, Erdogan juga memerangi prostitusi dan pelarangan minuman keras. Selanjutnya Erdogan mendirikan Adalet ve Kalkinma Partisi (AKP) atau dalam bahasa Indonesia Partai Keadilan dan Pembangunan Turki pada tahun 2001. Partainya menang dalam pemilu tahun 2002 sehingga Abdullah Gul dijadikan Perdana Menteri (PM) sebagai kader dari partai tersebut. Setelah amademen Undang–Undang Dasar Tahun 2003, Erdogan diperbolehkan untuk meggantikan Abdullah sebagai PM. Pada pemilu selanjutnya tahun 2007, AKP mendapat suara 47 persen atau 341 kursi di parlemen. Hal tersebut kembali membuat

46 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

Erdogan menjabat sebagai PM Turki untuk kedua kalinya secara berturut–turut dengan Abdullah Gul sebagai Presiden Turki. Pada Pemilu 2011, AKP kembali memenangkan pemilu dengan kenaikan jumlah pemilih. Partai ini meraih hampir setengah dari seluruh suara, yaitu 49,8 persen. Ketiga kalinya AKP mendapat kepercayaan di Turki. Pada pemilu selanjutnya tahun 2014, Erdogan mencoba mencalonkan dirinya sebagai Presiden Turki dengan didukung oleh partai AKP. Hasilnya, pada Agustus 2014 Erdogan terpilih menjadi Presiden Turki melalui pemilihan umum dengan masa jabatan lima tahun. Kebijakan Erdogan Turki dikenal sebagai negara sekuler. Hal ini disebabkan oleh letak geografis Turki yang berada dipersilangan dua, yaitu Benua Asia dan Eropa. Dalam hal ini, sekuler berarti memisahkan kehidupan dunia dengan agama. Atau dalam melakukan kegiatan dunia, maka aturan yang dijalankan adalah aturan dunia saat ini atau Undang–Undang yang formal dan tidak menghiraukan aturan agama. Awal mulanya Turki menjadi negara sekuler adalah seusai Perang Dunia I. Turki merupakan pihak yang kalah dalam perang sehingga sekutu menduduki Turki dan Mustafa Kamal Ataturk pada tahun 1922, menghapuskan sistem sultan dan khalifah di Turki. Bahkan, khalifah Abdul Majid II diperintahkan untuk meninggalkan Turki pada saat itu. Selain itu, banyak sistem Islam di Turki yang dihapus, seperti penghapusan urusan agama, wakaf, dsb. Sistem sekuler dinilai gagal di Turki. Hal ini terbukti dengan menangnya AKP yang menganut paham partai Islam. Ideologi Islam memang tidak sepaham dengan paham sekuler karena dalam Islam, agama lah yang menjadi panutan pertama dikehidupan sehari–hari. Erdogan mengatakan pada saat menjadi walikota Instanbul, “Kamu tidak boleh menjadi seorang


KOLOM PU

*) Penulis adalah Pemimpin Umum LPM Edents Tahun 2015/2016

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

47

Kunjungi! www.lpmedents.com

for the better by empowering millions of people who had never before participated in their nation’s political and economic life." Erdogan menempati urutan kedua sebagai pemimpin negara paling berpengaruh dimana urutan pertama ditempati oleh Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Rusia, Vladimir Putin di urutan ketiga. Pada tahun 2010 New York Times juga pernah menganugerahkan Erdogan sebagai Man of The Year 2010. Ajang tahunan yang dilakukan oleh majalah terkemuka Amerika Serikat tersebut menempatkan Erdogan sebagai orang paling populer pada tahun 2010, mengalahkan Barrack Obama. Dan masih ada beberapa survei lagi yang menempatkan Erdogan sebagai pemimpin paling populer saat ini. Posisi Turki yang berada di tengah konflik Suriah dan menjadi penghubung Uni Eropa dengan para migran membuat Erdogan sangat populer di mata dunia saat ini. Selain itu bagi kaum muslimin, Erdogan dianggap mengisi kekosongan tokoh Islam sebagai pemimpin dunia saat ini. Aksi nyata yang sudah dilakukan Erdogan terhadap negaranya juga semakin melambungkan namanya. Turki yang sebelumnya dianggap sebagai negara Islam paling sekuler di dunia, lambat laun berubah menjadi negara pro-Islam. Erdogan juga dinilai berhasil meningkatkan kesajahteraan masyaakat di negaranya dengan menjadikan Turki sebagai negara G-20. Kebijakan politik luar negeri Erdogan menuai berbagai kecaman, khususnya oleh Israel dan negara-negara barat. Erdogan sangat mendukung kaum muslimin di Palestina, Suriah dan Rohingya. Erdogan bahkan memperbolehkan kaum muslimin di negara-negara tersebut untuk mengungsi ke Turki. Walaupun kebijakan ini mendapat kritikan, namun mengapa sebagian kaum muslim sangat mengidolakan Erdogan? Hal ini menyangkut janji Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa akan kembali Khilafah Rasyidin atau ketamaduan Islam. Oleh karena itu, banyak kaum muslimin berpikiran bahwa Erdogan lah yang memulai masa transisi tersebut. Turki diharapkan menjadi negara pionir dalam membawa kemajuan peradaban Islam. Wallahu alam bissawab.(nw)

doc.Edents

yang beriman dan menjadi seorang yang tidak beriman pada masa yang sama. Seorang golongan sekuler tidak boleh mengaku dirinya muslim karena bagi muslim, Allah adalah yang Maha Tertinggi”. Kemenangan berturut–turut AKP dalam pemilu sejak tahun 2002, tak lepas dari peran Recep Tayyib Erdogan sebagai figur sentral AKP. Erdogan selangkah demi selangkah membawa Turki menuju kebangkitan. Erdogan membuat beberapa terobosan, seperti kebijakan untuk menghidupkan kembali pengajaran Al Quran dan hadis di sekolah–sekolah negeri yang hilang hampir 90 tahun. Pada tahun 2013 secara resmi larangan berhijab dicabut. Sebelumnya, wanita dilarang memakai hijab di institusi ataupun kampus-kampus. Selain itu, Erdogan membuat Turki menjadi 20 negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Pada tahun 2001, pendapatan per kapita penduduk turki hanya 3.019 dolar AS dan melesat jauh pada tahun 2013 yaitu sebesar 10.821 dolar AS. Perekonomian Turki mengalami kemajuan karena adanya reformasi pelayanan public. Perekonomian juga berjalan dengan baik dan konsisten di Turki. Reformasi pelayanan publik (misal efisiensi administrasi, pemberantasan korupsi ,dan transparansi) dan kebijakan ekonomi (deregulasi, peringanan pajak, reformasi BUMN, dan reformasi jejaring keamanan sosial) ini dijalankan seiring dengan aspirasi Turki untuk menjadi anggota Uni Eropa. Kita tak lupa dengan peristiwa jatuhnya pesawat tempur Rusia akhir tahun 2015 lalu. Peristiwa ini membuat hubungan Turki dan Rusia menjadi panas. Dengan dijatuhkannya pesawat tempur Rusia membuktikan bahwa Turki memiliki kekuatan militer yang cukup besar karena memang Turki merupakan markas militer terbesar kedua yang dimiliki oleh NATO. Selain itu, saat ini Turki sudah mulai memproduksi alat utama sistem pertahanan (alutsista) militernya di dalam negeri, seperti tank, pesawat tempur, dan satelit. Tantangan Menjadi pemimpin adalah amanah yang berat bagi setiap individu, apalagi menjadi pemimpin suatu negara. Tantangan yang dihadapi oleh Erdogan untuk membawa Turki lepas dari negara sekuler, tidak dilalui dengan mudah. Saat ini pun, banyak demonstran–demonstran pro sekuler yang menentang kebijakan–kebijakan Erdogan. Dalam pidatonya, Erdogan mengatakan “Peradaban baru akan muncul dari bawah puing– puing. Ini akan menjadi peradaban baru. Peradaban ini saya yakin akan menjadi kebangkitan peradaban Islam yang akan memimpin peradaban abad 21”. Kepemimpinan Erdogan dianggap kontroversial karena terdapat aksi nyata dalam mendukung Palestina, Suriah, dan beberapa negara Islam, yang membuat hubungan Turki dengan AS, Israel, dan negara lain menjadi panas. Belum lagi konflik antara Rusia – Turki yang dikatakan berpotensi menimbulkan peperangan. Selain itu, Erdogan dianggap sangat menginginkan kembalinya masa kekhalifahan dimana Turki menjadi pionir bagi umat Islam. “Bagi kita, demokrasi bukanlah tujuan. Ketika kita kaji lagi, demokrasi bukanlah ajaran Islam. Kita menggunakanya hanya sebagai alat,” imbuhnya. Saat ini, demokrasi dianggap sebagai sistem yang sangat baik untuk menjalankan suatu negara, namun Erdogan berpikir sebaliknya. Kepopuleran Erdogan Belum lama ini, Majalah TIME menetapkan Erdogan sebagai pemimpin paling berpengaruh saat ini. Erdogan telah membawa Turki menjadi negara yang disegani dalam waktu kurang lebih 15 tahun. Dikutip dalam Time 100 Leaders 21 April 2016, "Recep Tayyip Erdogan is a remarkable leader. He has changed his country


KOLOM REDAKSI

Potensi Pasar Modal Syariah Indonesia bagi Perekonomian Oleh: Nur Wahidin

Perkembangan Dalam Islam, kegiatan investasi merupakan kegiatan muamalah yang sangat dianjurkan karena dengan berinvestasi, harta yang dimiliki menjadi produktif dan dapat mendatangkan manfaat bagi orang lain. Kegiatan investasi tersebut menjadikan harta yang kita miliki menjadi modal bagi orang lain untuk menjalankan usahanya, hal tersebut lebih bermanfaat untuk dilakukan daripada menyimpannya di rumah atau di bawah kasur. Di dalam Al-Quran, ada larangan tegas mengenai aktivitas penimbunan terhadap harta yang dimiliki. Hal tersebut lah yang membuat tuntutan akan adanya investasi berbasis syariah mulai berkembang di Indonesia. Berkembangnya pasar modal berbasis syariah di Indonesia dimulai pada tahun 1997, yakni dengan diluncurkannya Danareksa Syariah pada 3 Juli 1997 oleh PT. Danareksa Invesment Management. Selanjutnya Bursa Efek Indonesia bekerjasama dengan PT. Danareksa Invesment meluncurkan Jakarta Islamic Index (JII) pada tanggal 3 Juli 2000 yang bertujuan untuk memandu investor yang ingin menanamkan dananya secara syariah. Melalui Islamic Indeks di Indonesia, dijelaskan bahwa pasar modal adalah lembaga syariah yang memberikan kesempatan bagi investor untuk menanamkan dananya pada perusahaan sesuai prinsip syariah.

48 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

Pasar modal syariah dapat diartikan sebagai pasar modal yang melaksanakan kegiatan atau transaksinya berdasarkan prinsip-prinsip syariah dan tentunya terlepas dari hal yang dilarang Islam, seperti riba, perjudian, spekulasi, dan sebagainya. Oleh karena itu, pasar modal syariah bukanlah suatu sistem yang terpisah dari sistem pasar modal secara keseluruhan. Secara umum kegiatan Pasar Modal Syariah tidak memiliki perbedaan dengan pasar modal konvensional, namun terdapat beberapa karakteristik khusus yaitu bahwa produk dan mekanisme transaksi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Produk Syariah Produk syariah di pasar modal antara lain berupa surat berharga atau efek. Berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM), efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek. Sejalan dengan definisi tersebut, maka produk syariah yang berupa efek tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah. Oleh karena itu, efek tersebut dikatakan sebagai efek syariah. Sampai dengan saat ini, efek syariah yang telah diterbitkan di pasar modal Indonesia meliputi Saham Syariah, Sukuk, dan Unit Penyertaan dari Reksa Dana Syariah. 1. Sukuk Sukuk merupakan obligasi syariah (Islamic bonds). Sukuk dalam bahasa Arab berarti sertifikat atau bukti kepemilikan. Sementara itu, Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A.13 memberikan definisi sukuk sebagai efek syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian yang tidak tertentu (tidak terpisahkan atau tidak terbagi). Sukuk bukan merupakan surat utang, melainkan bukti kepemilikan bersama atas suatu aset atau proyek. Setiap sukuk yang diterbitkan harus mempunyai aset yang dijadikan dasar

Kunjungi! www.lpmedents.com

Kegiatan investasi di Indonesia kini menjadi tren baru bagi para investor, baik investor pemula maupun yang sudah berpengalaman. Salah satunya investasi dalam bursa pasar modal. Pada dasarnya, berinvestasi dalam pasar modal merupakan suatu cara investasi tidak langsung (indirect investment). Dibandingkan simpanan di bank, investasi melalui pasar modal biasanya lebih sering diminati bagi mereka yang menyukai tantangan dan ingin mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Hal ini terjadi karena investasi di pasar modal memberikan keuntungan yang lebih besar daripada hanya mengharapkan bunga yang diperoleh dari investasi di bank.


KOLOM REDAKSI Investor tidak perlu repot-repot untuk membaca laporan tersebut satu per satu karena saham yang memenuhi kriteria di atas dirangkum dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh BAPEPAM-LK atau pihak yang diakui oleh BAPEPAM-LK. Metwally (1995) menyebutkan bahwa pasar modal syariah memiliki beberapa peran, yaitu memungkinkan bagi masyarakat berpartispasi dalam kegiatan bisnis dengan memperoleh bagian dari keuntungan dan risikonya, memungkinkan para pemegang saham menjual sahamnya guna mendapatkan likuiditas, memungkinkan p e r u s a h a a n meningkatkan modal dari luar untuk membangun dan mengembangkan lini produksinya, m e m i s a h k a n operasi kegiatan bisnis dari fluktuasi jangka pendek pada harga saham yang merupakan ciri umum pada pasar modal konvensional, memungkinkan investasi pada ekonomi itu ditentukan oleh kinerja kegiatan bisnis sebagaimana tercermin pada harga saham. Menurut saya, pasar modal memiliki banyak manfaat, baik secara konvensional maupun syariah. Dengan adanya investasi berupa produk-produk pasar modal, diharapkan dapat memacu sumber pendanaan bagi dunia usaha di Indonesia. Juga, memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menjadi bagian dari sebuah perusahaan. Serta, dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat Indonesia. Selain itu, pasar modal syariah juga memiliki karakteristik yang unik dibandingkan dengan pasar modal konvensional. Pasar modal syariah hanya terbatas pada sektor tertentu (sesuai dengan prinsip syariah) dan tidak berdasar hutang, didasarkan pada prinsip syariah (penerapan loss-profit sharing), melarang berbagai bentuk bunga, spekulasi, judi, dan terdapat mekanisme screening perusahaan yang harus mengikuti prinsip syari’ah. (nw)

doc.Pribadi

Doc. Republica.co.id

penerbitan. Penggunaan dana sukuk harus digunakan untuk kegiatan usaha yang halal. Imbalan bagi pemegang sukuk dapat berupa imbalan, bagi hasil, atau marjin, sesuai dengan jenis akad (perjanjian -red) yang digunakan dalam penerbitan sukuk. 2. Reksa Dana Syariah Dalam Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A.13, Reksa Dana Syariah didefinisikan sebagaimana reksa dana pada umumnya yang merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Reksa dana syariah dikenal pertama kali di Indonesia pada tahun 1997 ditandai dengan penerbitan Reksa Dana Syariah Danareksa Saham pada bulan Juli 1997. 3. Saham Syariah Saham merupakan surat berharga, bukti penyertaan modal kepada perusahaan dan dengan bukti penyertaan tersebut pemegang saham berhak untuk mendapatkan bagian hasil dari usaha perusahaan tersebut. Konsep penyertaan modal dengan hak bagi hasil usaha ini merupakan konsep yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Prinsip syariah mengenal konsep ini sebagai kegiatan musyarakah atau syirkah (serikat dagang -red). Namun demikian, tidak semua saham yang diterbitkan oleh Emiten dan Perusahaan Publik dapat disebut sebagai saham syariah. Suatu saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah jika saham tersebut diterbitkan oleh Emiten dan Perusahaan Publik yang secara jelas menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Emiten dan Perusahaan Publik yang tidak menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip syariah, namun memenuhi kriteria yaitu kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip syariah sebagaimana diatur dalam peraturan IX.A.13, yaitu tidak melakukan kegiatan usaha perjudian, perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang atau jasa, penipuan, kegiatan usaha dan perbankan berbasis bunga, jual beli yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) antara lain asuransi konvensional, serta melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah); Bagi emiten atau perusahaan yang terdaftar dan sahamnya diperdagangkan di bursa saham, apabila memenuhi kriteria di atas, maka bisa digolongkan sebagai saham syariah. Dari sekitar 463 saham yang terdaftar saat ini, 300 diantaranya merupakan perusahaan yang sesuai dengan kriteria di atas.

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi LPM Edents Tahun 2015/2016

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

49


Resensi

Pulang: Sebuah Panggilan Nurani di Tengah Pertarungan Kehidupan Ketika Diri Kami Sendiri Doc. Goodreads.com

Nama Darwis Tere Liye tentu sudah tak asing lagi ditelinga para penggemar novel fiksi. Novelis satu ini terkenal dengan karyakarya yang out of the box dan penggunaan tata bahasa yang indah serta menarik. Pulang adalah novel yang ditulis dengan latar belakang daerah di Sumatera. Dalam novel ini, pembaca diajak untuk menengok ke dalam kehidupan, pertarungan, dan sisi gelap manusia, yang akan berujung pada sebuah pembelajaran hidup. Dikisahkan tokoh utama yang bernama Bujang (15 tahun), adalah anak dari Samad dan Midah. Ayahnya adalah mantan tukang jagal yang kemudian insyaf dan menikah dengan Midah. Bujang tinggal di desa yang tertinggal, ia tak pernah sekolah. Ia mendapat ilmu membaca, berhitung, dan ilmu agama dari kedua orang tuanya. Keistimewaan Bujang adalah ia tak mempunyai rasa takut seperti manusia pada umumnya. Suatu ketika, datanglah Tauke Muda (sebenarnya dia adalah Tauke Besar menggantikan ayahnya yang meninggal, namun ayah Bujang sudah terbiasa dengan panggilan Tauke Muda) yang merupakan sahabat dari ayah Bujang. Ia mengatakan hendak pergi bersama rombongannya untuk berburu babi hutan yang meresahkan penduduk desa. Sebenarnya, orang tua Bujang tak rela jika anaknya ikut berburu dengan Tauke Muda. Namun setelah dibujuk dan diyakinkan, akhirnya Samad dan Midah mengizinkan Bujang diajak serta dalam perburuan ini. Melihat kelihaian dan keberanian Bujang, Tauke Muda meminta izin pada Samad untuk membawa Bujang ke kota. Di kota, Bujang menjadi bagian dari keluarga Tong yang dipimpin oleh Tauke Muda sendiri, keluarga ini adalah salah satu penguasa shadow economy. Diceritakan dalam novel, ada dua orang penting dalam keluarga Tong, yakni Kopong sebagai kepala tukang pukul dan Mansur sebagai kepala logistik serta keperluan lain-lain. Jalan Bujang berlalu dengan lancar. Ia berhasil dalam akademik hingga lulus kuliah di luar negeri. Selain itu, bakatnya berhasil dilirik Kopong yang merupakan petinggi tukang pukul keluarga Tong. Kopong mengirimkan Guru Bushi dan Salonga untuk mengajari Bujang menjadi tukang pukul terpandang. Dalam beberapa tahun, Bujang benar-benar menjadi orang hebat, pintar, dan tak terkalahkan. Ia sudah bepergian keliling dunia dan bertemu orang-orang terpandang. Tampaknya kesuksesan Tauke Muda tidak selalu berjalan mulus. Basyir, kawan dekat Bujang, berkhianat. Suatu ketika ia menjebak Bujang dan menyerangnya, bersama dengan Tauke Muda dan Parwez, orang paling baru di keluarga Tong. Salah satu pemicu pengkhianatan itu adalah kecemburuan Basyir pada

50 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

Judul Buku Penulis Penerbit Tebal Sampul Kota terbit Tahun terbit Peresensi

: Pulang : Tere Liye : Republika : 404 halaman : Soft Cover : Jakarta : Cetakan I September 2015 : Filza B. Elmanda

Bujang dimana Bujang selalu diunggul-unggulkan oleh Tauke Muda. Bujang memperoleh yang terbaik, baik ilmu maupun bela diri, sementara Basyir hanya menjadi tukang pukul saja. Di tengah-tengah ketidaksadarannya saat diserang Basyir, Bujang ditemui oleh sosok misterius Tuanku Imam. Tuanku Imam sendiri mengaku bahwa ia sebenarnya masih merupakan kerabat Bujang. Bujang kemudian disadarkan akan kematian Tauke Muda dalam penyerangan itu, juga diingatkan tentang panggilan religius, yaitu adzan, di alam bawah sadarnya. Tuanku Imam juga menyuruh Bujang agar merebut kembali kekuasaan keluarga Tong. Perlawanan balik oleh keluarga Tong akhirnya dimulai saat Bujang telah pulih. Pada akhirnya, pihak Basyir kalah di tangan Bujang. Setelah pertempuran itu, Bujang menjadi pimpinan tertinggi keluarga Tong menggantikan Tauke Muda. Ia dapat dipanggil sebagai Tauke Besar sekarang. Kata ‘pulang’ yang menjadi judul novel ini dapat merujuk pada nilai kereligiusan di dalamnya, yakni ‘pulang’ kepada panggilan adzan. Namun ‘pulang’ juga bisa mewakilkan kepulangan Bujang ke desanya. Di akhir cerita, dikisahkan bahwa Bujang pulang kembali ke kampung halamannya, namun ternyata ayah dan ibunya telah tiada. Novel setebal 404 halaman ini ditulis menggunakan alur campuran. Sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama, dimana tokoh ‘aku’ berperan sebagai Bujang, membuat pembaca dapat seolah-olah ikut terlibat dalam kehidupan di novel ini. Desain cover novel ini simpel namun bermakna, warna polos dengan lukisan yang ada dibalik robekan seolah menggambarkan tentang arti kata ‘pulang’. Novel ini dapat digolongkan sebagai novel action, namun tetap indah dengan gaya bahasa puitis dan pesan-pesan religius khas Tere Liye. Untuk mahasiswa atau orang yang berkecimpung di bidang ekonomi, novel ini juga memuat beberapa aspek perekonomian baru yang dapat menambah wawasan. Di samping kelebihan, novel ini masih memiliki beberapa kekurangan. Dibeberapa bab, perbatasan flashback yang kurang jelas dapat membuat pembaca awam bingung. Penggunaan beberapa istilah asing seperti katana, khanjar, triad, cryptocurrencies juga tidak disertai dengan penjelasan detil sehingga bisa membingungkan pembaca. Mengesampingkan semua kekurangannya, novel ini tetap menarik untuk dibaca karena mengandung banyak pembelajaran hidup dan agama di dalamnya. (nw)


Review Film

Memahami Perjuangan RA Kartini Melalui Film Surat Cinta Untuk Kartini Rilis Genre Penulis Skenario Sutradara Rumah Produksi Pemain Peresensi

: 21 April 2016 : Drama, Romance : Vera Varidia : Azhar Kinoi Lubis : MNC Pictures : Chicco Jerikho Rania Putri Sari Ence Bagus Ayu Diah Pasha Christabelle Grace Marbun : Fajar Sidiq Fansur./)

Surat Cinta Untuk Kartini merupakan cerita fiksi karya Vera Varidia yang akan membawa penonton kembali pada zaman Kartini memperjuangkan emansipasi wanita. Film yang berlatar belakang sejarah pada era 1900-an ini menyuguhkan kisah cinta dengan dibumbui perjuangan pada masa pergerakan kemerdekaan. Surat Cinta Untuk Kartini menampilkan dua tokoh utama, yaitu Kartini dan Sarwadi. Sarwadi adalah tukang pos dari Jepara yang sering mengantarkan surat-surat kepada Kartini, karena kebiasaannya berkirim surat dengan sahabatnya di Belanda. Sarwadi adalah duda dengan satu anak yang bernama Ningrum. Sarwadi memiliki kebiasaan memperhatikan wajah penerima surat-surat yang dihantarkannya. Film yang di sutradarai Azhar Kino Lubis ini tidak mengambil sudut pandang Kartini, tetapi dari sudut pandang tukang pos yang bernama Sarwadi dan putrinya Ningrum. Perjumpaan dengan Kartini membuat rasa penasaran Sarwadi terhadap Kartini bertambah. Diceritakan Sarwadi bertemu dengan sahabatnya, Mujur. Mujur lah yang meberitahu kepada Sarwadi bahwa Kartini adalah sosok perempuan ningrat yang tak biasa, terlalu idealis, dan aneh karena ingin mengubah tradisi yang ada, terutama terkait tentang kebebasan kaum perempuan. Tak cukup hanya dari Mujur, Sarwadi pun bertanya mengenai Kartini kepada Bude Dewi, salah satu abdi dalem di kediaman keluarga Kartini. Bude Dewi pun menceritakan bahwa Kartini adalah sosok yang cerdas, aktif, dan dekat dengan kaum pribumi, walaupun tidak ada embel-embel ningrat dibelakang namanya. Mungkin sebab itulah Mujur memandang Kartini sebagai sosok yang aneh. Mendengar penjelasan Bude Dewi, Sarwadi menjadi kagum dengan sosok Kartini. Dari kekaguman itulah, mulai tumbuh benih-benih cinta dibenak Sarwadi. Walaupun berbeda kasta, tidak menghalangi Sarwadi memperjuangkan cintanya kepada Kartini. Tokoh Sarwadi diperankan secara apik oleh Chicco Jerikho. Chicco berusaha mengintepretasikan sosok pria Jawa pada zaman itu yang berpenampilan rapi, klimis, dan memiliki logat yang medok. Dengan berbagai cara, Sarwadi pun berusaha mendekati Kartini. Salah satunya ialah ketika Kartini pergi ke pasar bersama adik perempuannya. Sarwadi tidak melewatkan kesempatan untuk mengajak Kartini berbincangbincang. Dari perbincangan itulah, Sarwadi mengetahui betapa mulia hati perempuan yang diberi gelar Raden Ajeng ini. Kartini memiliki cita-cita mengajar perempuan-perempuan pribumi agar lebih berpendidikan. Kartini yakin jikalau perempuan terdidik, maka anak-anaknya kelak akan terdidik dengan baik karena ibu yang cerdas akan bisa mendidik anak-anaknya dengan baik.

Mendengar itu Sarwadi menjadi bertambah kagum dengan sosok Kartini. Film ini menyuguhkan paradigma di masyarakat pada masa itu, terutama masyarakat Jawa yang menganggap peran wanita adalah untuk mengurus rumah tangga sehingga kebebasannya terkekang. Mendengar dan menyimak gagasan serta cara berfikir Kartini dalam perbincangannya, Sarwadi merubah fikirannya untuk menikahkan segera putrinya. Sarwadi ingin Ningrum, putri satu-satunya bisa menjadi perempuan terdidik. Walaupun hanya tokoh fiksi, namun Sarwadi lah yang menjembatani keinginan Kartini menjadi seorang guru. Ningrum, putri Sarwadi, menjadi murid pertama Kartini. Melalui Ningrum pula, Kartini mengumpulkan murid-murid lainnya untuk belajar bersama di pinggir sebuah sungai berair tenang serta ayunan kayu yang dibangun dan dibuat oleh Sarwadi. Sama halnya dengan drama pada umumnya, Surat Cinta Untuk Kartini memiliki konflik sebagai alur klimaks ceritanya. Konflik terjadi ketika Kartini, yang diperankan aktris pendatang baru Rania Putri, mengajukan beasiswa pendidikan ke Belanda. Keinginan ini kemudian ditentang oleh Pakde-nya. Tidak cukup sampai disitu, alur cerita menjadi semakin dramatis ketika Kartini dijodohkan dan akan segera dinikahkan dengan pria berkasta ningrat yang sudah beristri tiga. Tak elak berita tersebut membuat Sarwadi pupus harapan dan memutuskan menulis surat cintanya kepada Kartini yang disampaikannya secara langsung. Taka ada yang sempurna dalam sebuah karya. Dalam film ini, kisah cinta yang diangkat cukup sederhana, yaitu bagaimana orang biasa (Sarwadi) jatuh cinta dengan seorang ningrat (Kartini). Cerita berlatar belakang seperti ini cukup sering dijumpai pada dongeng-dongeng maupun film lainnya, seperti kisah Cinderella atau Ande-Ande Lumut dalam mitologi Jawa. Kehadiran sosok fiktif Sarwadi dan Ningrum lah yang membuat kisah Surat Cinta Untuk Kartini ini menjadi menarik, tanpa mengurangi esensi perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan pada masa itu. Dalam film ini, penonton dapat mengambil pesan moral serta motivasi yang tersirat. Termasuk salah satu kutipan membangun yang diucapkan Kartini. “Kita tidak bisa merubah asal kita, tetapi kita bisa merubah cara berfikir kita,� ujar Kartini. Disamping segala kekurangan yang ada, film ini tetap layak untuk ditonton karena terdapat pesan moral yang ingin disampaikan. Melalui film ini, masyarakat bisa mengetahui dan memahami bagaimana perjuangan Kartini untuk mewujudkan impiannya. (nw)

EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

51


Kajian Kampus

Cakupan Aliran Ekonomi Kelembagaan Oleh: Purbayu Budi Santosa Pengalaman penulis mengunjungi berbagai Perguruan Tinggi (utamanya Fakultas Ekonomika dan Bisnis) dan membaca karya ilmiah sivitas akademikanya, menunjukkan hal yang menarik. Terlebih ketika diundang berbagai pihak untuk membahas suatu yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi, pernah penulis diprotes bicara pembangunan ekonomi kok melintas ke berbagai disiplin ilmu. Mestinya ditampilkan angka-angka saja, sehingga jelas ada kemajuan ekonomi atau tidak. Pemahaman akan aliran ekonomi kelembagaan memang secara umum di Indonesia belumlah begitu populer dibandingkan dengan aliran ekonomi Neoklasik. Tanpa disadari atau tidak oleh para pengampu Perguruan Tinggi, penguatan aliran ekonomi Neoklasik menjadi aliran utama. Ciri khas dari aliran ekonomi Neoklasik adalah pemakaian analisis kuantitatif dalam memecahkan suatu masalah ekonomi. Secara lebih rinci aliran ekonomi Neoklasik merupakan pengembangan aliran ekonomi Klasik dengan pendekatan matematika. Aliran ekonomi Klasik dicatat dengan tokoh utamanya Adam Smith, yang menjadikan dia diangkat sebagai bapak Ilmu Ekonomi (Konvensional). Ciri utama aliran ekonomi Klasik adalah adanya kebebasan pasar untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Aliran ekonomi Klasik dikritik habis-habisan oleh Karl Marx yang bertumpu kepada ekploitasi tenaga kerja dengan upah minimum untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Teori nilai kerja dan tingkat upah yang diobrak-abrik oleh Marx menjadikan menurunnya pamor aliran ekonomi Klasik. Memperhatikan kepada kelemahan inilah beberapa pemikir mengembangkan aliran ekonomi Neoklasik. Luasnya Ekonomi Kelembagaan Kritik yang dilancarkan atas keberadaan aliran Neoklasik telah dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk oleh penulis sendiri ketika menyampaikan orasi ilmiah pada saat pengukuhan sebagai guru besar FEB Undip tanggal 11 Maret 2010. Yang perlu disampaikan di sini bahwa kita tetap saja perlu mempelajari aliran ekonomi yang ada, dan memilih mana yang lebih tepat dan sesuai keyakinan kita untuk kemajuan akademis dan praksisnya di lapangan. Demikian pula matematika, statistika, dan bahkan ekonometrika perlu juga dipakai sebagai alat analisis yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi tertentu. Sering orang salah sangka bahwa ekonomi kelembagaan adalah ilmu ekonomi untuk lembaga tertentu. Dengan demikian, perlu dipertegas bahwa ilmu ekonomi kelembagaan adalah ilmu ekonomi dengan pisau analisis secara holistis, dalam artian dapat dibantu seperti ilmu psikologi, sosiologi, antropologi, sejarah bahkan hukum. Dilihat dari kaca mata perkembangan ekonomi kelembagaan dibagi menjadi ekonomi kelembagaan lama (old institutional economics) dan ekonomi kelembagaan baru (new institutional economics), meski ada yang membagi menjadi tiga yaitu di antara keduanya ada aliran Quasi kelembagaan. Aliran kelembagaan lama mengemukakan kritik sangat tajam atas keberadaan aliran ekonomi Klasik dan Neoklasik yang secara umum terlalu menyederhanakan masalah. Penyederhanaan masalah terletak pada asumsi-asumsi yang ada, yang sebenarnya perlu dibuktikan kecocokannya. Kalau aliran Klasik dan Neoklasik sudah ada teorinya, tetapi belum ada kelembagaannya, sementara aliran ekonomi kelembagaan lama dikatakan sudah

52 EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

ada kelembagaannya, akan tetapi nihil teori. Aliran ekonomi kelembagaan baru merupakan penyempurnaan aliran ekonomi kelembagan sebelumnya di mana unsur teori ekonomi dan kelembagaan dipadukan. Meski pun begitu pada masing-masing pemikir dapat dipengaruhi oleh ideologi dan politik yang dianut olehnya. Pada akhirnya ekonomi kelembagaan begitu lentur dan luasnya. Bisa dipengaruhi berbagai ideologi seperti Sosialisme, Kapitalisme, bahkan ideologi Keagamaan dapat ikut berperan juga. Alat analisis yang dipakainya juga bisa beragam bisa kuantitatif, kualitatif bahkan paduan dari keduanya. Keadaan ini adalah absah saja sesuai keyakinan dari para peneliti dan pemikir masalah ekonomi. Mungkin yang lebih dipentingkan adalah pada aspek kejujuran dan kegunaan dari penelitian yang dilakukan berkaitan dengan kemajuan ekonomi yang mesti dicapai oleh segenap daerah/wilayah dengan dirasakan oleh penduduknya. Kalau melihat perkembangan ekonomi kelembagan di Indonesia sudah lebih maju dibandingkan pada masa sebelumnya. Berbagai Perguruan Tinggi khususnya FEB, seperti diceritakan pada awal, ada yang sebelumnya memasukkan mata kuliah tersebut kemudian menghilangkannya, tetapi ada rencana akan memasukkan kembali mata kuliah tersebut. Ada yang sama sekali belum ada mata kuliah tersebut, karena terbentur pada masalah tenaga pengampu yang memahami ekonomi kelembagaan masih terbatas. Bagi yang telah tersedia sumberdaya insani yang memahami ekonomi kelembagaan, secara umum ada yang begitu fokus kepada kualititatif, ada yang fokus kepada kuantitatif dan ada yang alat analisisnya gabungan di antara keduanya. Harapan ke depan akan makin banyak pihak yang mendalami Ilmu Ekonomi Kelembagaan, sehingga masalah kemajuan ekonomi internasional tidak dapat dianalisis dengan pisau analisis yang disamaratakan perilaku ekonominya. Biarkanlah masing-masing negara dengan keunikan kearifan lokalnya tetap dapat memacu kemajuan ekonomi, tanpa bayangan pemaksaan ideologi tertentu. Biarkanlah para ilmuwan pada masing-masing wilayah dapat melakukan rekayasa pembuatan teori ekonomi dengan disesuaikan dengan keadaan sosial budayanya. Lulusan Perguruan Tinggi akan memenuhi berbagai pasar tenaga kerja, termasuk kepada pengambil keputusan di Pemerintah. Dengan bekal ekonomi kelembagan yang ada, semestinya akan semakin mengena dalam analisisnya yang disesuaikan dengan kondisi pada masing-masing daerah. Jangan sampai pengalaman penulis diolok-olok gara-gara menyampaikan gagasannya secara holistik berulang. Jangan sampai hanya berkutat pada angka-angka yang ada tanpa interpretasi yang benar, apalagi kalau datanya direkayasa untuk kepentingan pihak tertentu Marilah kita ramai-ramai belajar secara intens berbagai aliran ekonomi yang ada, termasuk ekonomi kelembagaan. Pilihlah secara tepat aliran ekonomi yang ada, yang sekiranya cocok dengan kepentingan yang positif yang berbasis pada moralitas dan etika. Belajar dan aplikasi ekonomi kelembagaan merupakan suatu tawaran, yang tentunya dapat diterima atau tidak. Silahkan dipikirkan secara matang untuk memilihnya! Bukankah belajar ekonomi bahkan dalam kehidupan kita harus memilihnya. (nw)


EDENTS

Volume 1 Edisi XXIV Tahun 2016

53


Majalah 24  
Majalah 24  

Majalah LPM Edents adalah salah satu produk dari LPM Edents yang rutin terbit dua kali dalam satu kepengurusan. Majalah LPM Edents membahas...

Advertisement