Page 1

LEMBAGA PERS MAHASISWA EDENTS

KORAN EDENTS Dinamika Intelektual Mahasiswa

Dari Redaksi Isu kenaikan UKT dan SPI masih menjadi topik hangat bagi mahasiswa Undip. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas melakukan konsolidasi dengan semua perwakilan fakultas atas isu tersebut. Konsolidasi tersebut menghasilkan enam tuntutan kepada rektor. Namun enam tuntutan tersebut belum ditanggapi serius oleh pihak rektorat. Hal tersebut terbukti setelah dikeluarkannya Surat Keputusan Rektor Nomor 405/UN7.P/HK/2016. Hal ini membuat BEM Undip dan mahasiswa akan menindaklanjuti Surat Keputusan tersebut. Bahasan inilah yang ditulis redaksi dalam rubrik laporan utama Koran Edents Volume tujuh ini. Selain bahasan UKT dan SPI, redaksi juga menyajikan informasi terkait kabar prestasi yang kini datang dari dua mahasiswa manajemen FEB Undip. Dua mahasiswa tersebut berhasil membawa gelar juara dari ajang Denok dan Kenang Semarang 2016 ini. Berbagai tanggapan dan program kerja dari dua mahasiswa tersebut kami tulis dalam rubrik kabar prestasi. Aksi peserta LKMM Dasar FEB Undip di CFD Simpang Lima juga turut mengisi rubrik kabar kampus kali ini. Berbagai kegiatan dan penampilan peserta LKMM Dasar ini turut menghiasi rangkaian acara. Dan untuk melihat sikap mahasiswa terhadap kondisi sekitar dari dapur redaksi mengangkat opini mahasiswa Undip. Opini kali ini ditulis oleh mahasiswa IESP angkatan 2012. Berbagai informasi tersebut dapat pembaca ketahui di Koran Edents Volume 7 edisi 23 Mei – 5 Juni 2016. Terakhir, kami dari redaksi mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan berita. Kritik dan saran selalu kami harapkan dari para sahabat Edents.

Kordents Volume 7 Edisi 23 Mei – 5 Juni 2016 Diterbitkan Oleh Lembaga Pers Mahasiswa Edents Pemimpin Umum : Akbar Sih Pambudhi; Pemimpin Redaksi : Nur Wahidin; Pemimpin Artistik : Anastania Shafira; Editor : Adhevyo Reza; Reporter : Rismanto, Septianus Angga, Emmanuela, Desi, Cynthia; Layouter : Henty Eka Palupy Sekretariat : Gedung PKM Lt. 1 FEB Undip, Tembalang Edents Call Center : 024-91181513

Opini

Minggu Ini

w w w.lpmedents.com

Volume 7 Edisi 23 Mei – 5 Juni 2016

lpmedents.com

Kabar Kampus

Care Our Children, Aksi Sosial Peserta LKMMD FEB Undip 2016

“Dari tema itu sendiri, kami ingin mengajak kepada masyarakat Indonesia khususnya Semarang untuk lebih peduli dan mengasihi anak-anak di Indonesia,” - Samuel Petra, Koordinator Aksi Sosial Care Our Children Doc.Edents

Sejumlah mahasiswa Universitas Diponegoro yang tergabung dalam peserta Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Dasar (LKMMD) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) melaksanakan aksi sosial. Acara yang bertajuk Care Our Children ini merupakan bentuk realisasi dari rangkaian acara LKMMD FEB Undip terhitung mulai 29 April – 21 Mei 2016. Acara ini merupakan bentuk perhatian dan keprihatinan mahasiswa Universitas Diponegoro terkait dengan maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak. Dimulai dengan terbongkarnya kasus “YY” dan Tagar nyala Untuk Yuyun, seperti bola salju yang hanya menunggu waktu untuk terbongkarnya kasus-kasus lain. Yang menjadi keprihatinan adalah korban yang mayoritas dibawah umur, bahkan ada yang balita. Seruan melindungi anak Dimulai sejak pukul 06.30 WIB ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh peserta di depan Gedung Perhutani. Dalam acara kali ini peserta membawa puluhan balon yang akan dibagikan kepada para anak kecil sebagai bentuk perhatian mereka terhadap anak. Selanjutnya peserta melakukan long march sepanjang jalan Pahlawan sampai dengan Simpang Lima yang dipimpin oleh Aulia Pradipta selaku koordinator acara hari itu. Sembari berjalan mereka menyanyikan beberapa lagu anak-anak dan seruan untuk melindungi anak. Rangkaian acara selanjutnya yaitu penyampaian orasi oleh Lucia Linear Anggraeni, dan Afifah Fauziah Amalia Nurhaliza di depan Simpang Lima. Orasi yang disampaikan mengenai himbauan dan pentingnya peran masyarakat luas khususnya orang tua dalam melindungi anak. Adapun pertunjukan selanjutnya ialah pembacaan puisi yang dibawakan oleh Dewi Setyoningrum dan Naufal Lazuardi.

di

Hadirnya maskot aksi Tak luput hadirnya maskot acara aksi sosial Care Our Children yaitu power ranger merah. Adanya maskot tersebut juga semakin menyemarakkan dan memeriahkan aksi sosial ini. Tidak sedikit anak-anak yang mengajak bersalaman dan berfoto dengan ranger merah tersebut. Aksi sosial Care Our Children juga membagikan balon dan flyer yang berisi himbauan untuk melindungi anak-anak baik dari kejahatan fisik maupun non fisik, terutama kejahatan seksual kepada para pengunjung car free day di Simpang Lima. Acara selanjutnya merupakan penggabungan dari aksi teatrikal dan juga parade mengelilingi Simpang Lima sembari membentuk formasi kereta. Aksi ini tidak sedikit menarik perhatian para pengunjung. Pengunjung pun cukup memberikan respon yang baik, hal ini ditunjukkan dengan penandatanganan banner stop kekerasan pada anak, Care Our Children. Aksi sosial ini ditutup dengan pemungutan sampah di sepanjang rute CFD. Peduli dan melindungi anak-anak Ditemui di akhir acara, Samuel Petra selaku koordinator aksi sosial Care Our Children menjelaskan bahwa pengambilan tema ini di dasari atas beberapa kejahatan yang terjadi pada anak-anak Indonesia saat ini. “Dari tema itu sendiri, kami ingin mengajak kepada masyarakat Indonesia khususnya Semarang untuk lebih peduli dan mengasihi anak-anak di Indonesia,” jelas Petra. Adanya acara aksi sosial Care Our Children ini sebagai bentuk realisasi dari beberapa materi LKMMD FEB Undip yang sudah di sampaikan. Yuniarko Ali Taufan selaku ketua panitia pelaksanaan LKMMD FEB 2016 berharap rangkaian acara LKMMD FEB yang akan datang bisa lebih baik dan para peserta maupun alumni LKMMD FEB dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. Salah satu pengunjung CFD pun menyambut positif acara yang diadakan. “Memang cukup prihatin ya kalau melihat kejahatan kepada anak-anak saat ini. Saya rasa adanya sosialisasi untuk melindungi anak itu harus perlu, lebih malah,” ujar Wiwi salah satu pengunjung Car Free Day Simpang Lima, Semarang. (nw)

Mulai Bisnis Kreatif dan Inovatif dengan "Digitalize Your Business" FEB – Era modern erat kaitannya dengan perkembangan teknologi yang maju. Kini perkembangan tersebut menyebar ke dalam kehidupan manusia seharihari termasuk dalam dunia bisnis yaitu adanya digitalisasi media. Oleh karena itu, Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM) menyelenggarakan seminar Digital Marketing Talks (DIGIMAN) di Hall Gedung C lantai 4 Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB). Public Hearing Ketiga, SEMA FEB Bahas Anggaran FEB Undip (18/05) - Senat Mahasiswa (Sema) FEB Undip kembali mengadakan public hearing 3 dengan mengangkat topik pengelolaan anggaran. Bertempat di Dome FEB Undip, acara ini dimulai pukul 15.44. Public hearing sendiri merupakan program kerja Sema FEB. Public hearing sendiri memfasilitasi jalannya informasi dari dekanat untuk mahasiswa. Sehingga mahasiswa dapat lebih mengerti dengan jelas dan mendapat informasi secara langsung dari dekanat. Forum Terbuka BEM FEB Bahas UKT dan SPI FEB Undip - (18/05) Mahasiswa dari berbagai jurusan dan organisasi mahasiwa (Ormawa) di Fakultas Ekonomika dan Bisnis, tampak memadati Dome FEB Undip. Mereka adalah peserta forum terbuka yang difasilitasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB. Forum yang terbuka untuk seluruh mahasiswa.EB ini merupakan forum konsolidasi ketiga.

Sampai Di Mana Makna Kebangkitan Nasional Bagi Mahasiswa? Oleh Yosua Agustin Tri Putra, Mahasiswa IESP 2012

Perlunya evaluasi dan intropeksi diri mahasiswa akan nasionalismenya guna memaknai kembali makna dari Hari Kebangkitan Nasional

perpecahan pada kesatuan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, Presiden Soekarno berharap dengan adanya Harkitnas maka nasionalisme masyarakat Indonesia kembali lagi, sehingga semangat persatuan dan kesatuan untuk membangun Indonesia tidak dapat dipecah-belah oleh sekelompok golongan.

Pada tanggal 20 Mei 2016, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang ke-108. Hari Kebangkitan Nasional merupakan hari yang diperingati dengan tujuan untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme dari seluruh rakyat Indonesia. Harkitnas ini juga bertepatan denga berdirinya Budi Utomo, yakni organisasi pemuda Indonesia yang memiliki cita-cita membebaskan rakyat dari penjajahan dan kemiskinan yang selama ini membelenggu rakyat Indonesia. Beberapa pertanyaan akan timbul dibenak kita bersama adalah mengapa perlu Harkitnas diperingati? Mengapa tanggal berdirinya Budi Utomo sebagai Harkitnas? Dan mengapa mahasiswa era sekarang perlu lebih memaknai kebangkitan nasional? Mengenang sejarah, Presiden Soekarno menetapkan Hari Kebangkitan Nasional bertepatan pada situasi ketika masa tersebut sedang ada konflik antar golongan di Indonesia. Konflik yang terjadi ketika itu sangatlah berpotensi memunculkan

Hari jadi yang sama Hari Kebangkitan Nasional ini bertepatan dengan hari berdirinya organisasi Budi Utomo, yakni tanggal 20 Mei 1908. Hari berdirinya Budi Utomo dipilih sebagai Harkitnas tidak lain karena Budi Utomo merupakan organisasi pertama Indonesia yang menjadi pelopor semangat nasionalisme pemuda Indonesia. Hal inilah yang membedakan Budi Utomo dengan organisasi pergerakan nasional lainnya yang ada pada masa tersebut, misalnya saja Sarekat Islam yang lebih memiliki jumlah anggota lebih banyak. Di era reformasi ini, mahasiswa semakin lama semakin hilang akan jiwa nasionalismenya. Hal ini dapat kita rasakan bersama ketika para mahasiswa sangat mudah sekali terpecah belah, apabila bila berkaitan dengan suku dan agama. Misalnya saja ketika berbicara sosok Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disebut dengan Ahok. Miris ketika mendengar bahwa mahasiswa berkata Ahok tidak layak menjadi gubernur karena agamanya tidak sama ataupun karena sukunya tidak sama. Padahal, mahasiswa Indonesia sebagai sosok intelektual yang berpedoman terhadap Pancasila seharusnya menganalisis bukanlah dengan menggunakan suku ataupun agama karena Indonesia adalah negara kesatuan yang tidak dapat dibeda-bedakan

baik suku maupun agama. Mahasiswa sebagai sosok Intelektual selayakanya menilai sosok Ahok melalui kinerja atau track record dari sosok Ahok. Mahasiswa harus belajar Mahasiswa Indonesia harus belajar kembali dari para founding fathers bangsa ini. Bung Karno, salah satu founding fathers Indonesia, pernah berkata dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI, “Seorang anak kecilpun, jika ia melihat peta dunia, ia dapat menunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau - pulau di antara dua lautan yang besar, lautan Pasifik dan lautan Hindia, dan di antara dua benua, yaitu benua Asia dan benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Slebes, Halmahera, Kepulauan sunda Kecil, Maluku, dan lain-lain pulai kecil diantaranya adalah satu kesatuan”. Perkataan dari Bung Karno ini memliki makna yang sangat mendalam, di mana Bung Karno menginginkan Indonesia sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak terpisah- pisah, dan tidak ada golongan-golongan. Mahasiswa kiranya dapat lebih memaknai Hari Kebangkitan Nasional yang ke-108. Kebangkitan nasional diharapkan dapat menumbuhkan kembali jiwa nasionalisme dari mahasiswa yang mulai memudar. Sehingga, Mahasiswa Indonesia akan segera kembali kepada cita-cita bersama, yakni bersatu padu melawan kapitalisme ekonomi dan kemiskinan tanpa membeda-bedakan suku dan agama di Indonesia. (nw)


Kunjungi ! Laporan Utama

w w w.lpmedents.com

Kordents. 7 Edisi 23 Mei - 5 Juni 2016

UKT & SPI Ketok Palu, Lantas Apa Selanjutnya?

“Setelah kita melakukan aksi dan audiensi yang pertama, itu sudah dibuat kesepakatan sama Rektor, tapi tidak sesuai sama SK, berarti ada yang salah sama rektorat gitu loh,” – Irfan Priambodo, Ketua BEM FEB Undip Keputusan Rektor untuk mengesahkan kebijakan terkait Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Sumbangan Pembangunan Instansi (SPI) telah resmi dikeluarkan melalui SK Rektor No. 405/UN7.P/ HK/2016. Hal tersebut menjadi perbincangan dikalangan mahasiswa serta menuai pro dan kontra. Menanggapi keputusan Rektor tersebut Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Diponegoro (BEM Undip) mengadakan konsolidasi yang terbuka untuk seluruh mahasiswa untuk mendiskusikan sikap yang akan ditempuh. Sampai saat ini konsolidasi telah diadakan sebanyak dua kali, dalam konsolidasi pertama menghasilkan enam tuntutan terhadap pihak rektorat. Konsolidasi yang kedua terdapat beberapa tuntutan yang mengalami perubahan. Hasil perubahan enam tuntutan mahasiswa menjadi penggolongan UKT calon mahasiswa baru jalur mandiri harus melewati mekanisme yang sama dengan jalur SNMPTN dan SBMPTN. Jika di tengah masa belajar mahasiswa tidak mampu membayar biaya kuliah, universitas berkewajiban mencarikan beasiswa dan atau bantuan lainnya. Mekanisme banding UKT yang terbuka untuk seluruh mahasiswa Universitas Diponegoro dari semua jalur masuk. Memperjelas fungsi dan peran mahasiswa di dalam tim Pokja dengan penambahan satu elemen mahasiswa non lembaga sebagai fungsi check and resume. Menuntut kejelasan mengenai D3 menuju sekolah vokasi sebagai syarat PTN-BH. Menolak dengan tegas pemberlakuan SPI baik untuk S1 maupun D3. Rasa kecewa mahasiswa Dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) Rektor tersebut membuat BEM Undip merasa kecewa serta menyayangkan karena pihak Rektorat telah meresmikan Surat Keputusan tersebut. Pasalnya BEM Undip telah melakukan berbagai langkah untuk mencegah adanya SPI dan kenaikan UKT di Undip. “Menyayangkan gitu ya, pertama dari pengumumanya terus yang kedua dari SK nya itu,” jelas Fawaz selaku ketua BEM Undip. Hal yang sama pula diungkapkan oleh BEM FEB atas kekecewaannya terhadap keputusan rektor untuk mengeluarkan SK tersebut. Irfan Priambodo, selaku ketua BEM FEB Undip sangat kecewa atas keputusan yang dikeluarkan oleh pihak rektorat tersebut. Sebelumnya BEM Undip juga telah melakukan audiensi terbuka dengan Rektor yang dihadiri perwakilan setiap fakultas. Namun, hasil yang telah disepakati berbeda dengan isi SK. “Setelah kita melakukana aksi dan audiensi yang pertama, itu sudah dibuat kesepakatan sama Rektor, tapi tidak sesuai sama SK, berarti ada yang salah sama rektorat gitu loh,” jelas Irfan. BEM Undip berusaha untuk tetap menolak SK terkait SPI tersebut. Langkah selanjutnya Langkah yang akan diambil oleh BEM Undip terkait dengan hal tersebut adalah menyuarakan kepada pihak Rektorat, sebab telah ada penyatuan suara dikalangan mahasiswa dengan adanya enam tuntutan yang akan diajukan. “Ada kemungkinan aksi kita ya terkait ini, karena memang pada saat konsolidasi kan sudah disepakati ada penyikapan,” imbuh Fawaz. Sejalan dengan yang diungkapkan Fawaz, BEM FEB pun mengamini akan adanya aksi tersebut yang dirasa telah berada pada satu pandangan untuk menyampaikan keenam tuntutan tersebut.

BEM Undip bersedia terus memperjuangkan keenam tuntutan yang telah disepakati sebelumnya. Selain itu BEM Undip bersedia menjadi fasilisator antara mahasiswa dengan pihak rektorat dalam hal menyampaikan tuntutan. “Kalau kita bicara tuntutan ya, kita perjuangkan semuanya agar bisa terpenuhi, kalau misalnya nanti ada salah satu poin yang tidak terpenuhi, ya kita perjuangkan dan sampai terpenuhi,”ujar Fawaz. Menurut Irfan poin yang paling penting dalam keenam tuntutan tersebut adalah tuntutan terkait SPI dan kenaikan UKT serta proses pengajuan banding UKT nantinya bagi mahasiswa baru. Permasalahan ini sempat memunculkan berbagai pandangan serta kritikan dari kalangan mahasiswa atas kinerja ketua BEM Undip yang dinilai tidak mampu memenuhi ekspektasi kalangan mahasiswa yang sebelumnya telah menolak adanya SPI. Akan tetapi Fawaz berpandangan lain terkait hal ini. Menurutnya kritikankritikan yang beredar di kalangan mahasiswa dianggapnya sebagai satu hal yang wajar. “Ya kalau aku, kalemin aja ya, maksudnya yang namanya kita hidup itu ada pro dan kontra itu pasti, ada yang misalnya mengkritik ada yang memuji itu kan alamiah saja” tutur Fawaz. Dirinya pun menanmbahkan daripada mengkritik secara personal, lebih baik seluruh mahasiswa itu bergerak bersama.

Harapan di tengah masalah Tentu ada harapan ditengah permasalahan yang sedang terjadi di Undip. Memang Undip tengah membutuhkan dana untuk menjadi World Class University dengan meningkatkan riset yang dilakukan akademisi Undip. Namun mahasiswa menyayangkan kebutuhan dana tersebut dilimpahkan langsung kepada mahasiswa, seperti yang diungkapkan Irfan. Dirinya menginginkan untuk SPI tidak menjadi sebagai syarat masuknya mahasiwa baru Tanggapan lainya muncul dari pihak mahasiswa FEB. Menurut Reihan jika peruntukan SPI nantinya diarahkan untuk pembangunan menurutnya sesuatu yang tidak perlu dilakukan, karena menurutnya di FEB Tembalang sendiri fasilitas yang sudah ada dianggap sudah mencukupi. Tetapi Reihan pun menyadari bahwa SPI ini memang akan diarahkan untuk riset dan penelitian. “Apakah untuk menuju peringkat meningkat 500 besar dunia itu, harus memberatkan mahasiswa baru? Itu kan sebenarnya tidak juga, kalau aku sih cenderung kalau buat rektorat coba pikir-pikir lagi lebih baik bagaimana untuk mahasiswa baru karena disini kita bukan mengejar prestige saja, tetapi kita juga harus memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat yang kurang,” tutup Reihan. (nw)

FEB Undip Sabet Dua Gelar dalam Ajang Denok Kenang 2016

Doc. Edents

Kabar Prestasi

Doc. Edents

Semarang yang kental akan budaya dan tradisinya menuntut adanya perbaikan di bidang pariwisata. Salah satu cara yang dilakukan adalah memilih duta wisata guna mempromosikan budaya dan wisata Semarang. Ajang Denok dan Kenang menjadi salah satu cara dalam memilihnya Pemilihan Denok dan Kenang Semarang 2016 adalah ajang tahunan bergengsi yang memperebutkan piala bergilir Walikota Semarang, Trophy juara dan uang pembinaan. Rizka Melinda Dewi, mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip prodi

S1 Manjemen berhasil meraih gelar Putri Kepribadian Denok Kenang Semarang. Selain Melinda, mahasiswa manajemen lain Saddek Syafrullah berhasil lolos ke 6 besar dan menjadi third runner up Denok Kenang. Bertempat di Java Mall, 19 April, audisi Denok Kenang diikuti oleh sekitar 300 peserta. Audisi dibagi dalam dua tahap, yaitu catwalk dan tes tertulis. Sekitar pukul 20.00 WIB audisi usai dan menyisakan 25 pasang finalis Denok Kenang. Selanjutnya para finalis harus mengikuti karantina dan berbagai pembekalan tentang budaya dan kepariwisataan.

Keenam pasangan terpilih selanjutnya akan melakukan sesi tanya jawab dengan dewan juri. Juri pada malam grand final berjumlah lima orang yang berasal dari kalangan akademisi dan media. Pada acara puncak tersebut juga turut hadir kepala dinas Kebudayaan dan Pariwisata Semarang, Walikota dan Wakil Walikota beserta jajarannya. Sebelum pengumuman para pemenang, acara dimeriahkan oleh bintang tamu Rafael Landry Tanubrata, salah satu anggota grup vokal smash.

Karantina hingga final Karantina dan pembekalan dilaksanakan selama 9 hari di beberapa tempat yang berbeda seperti Merby Club dan Balaikota Semarang. Selama karantina juga terdapat penilaian dari dewan juri meliputi tes tertulis, wawancara, dan adu bakat. Para finalis juga melakukan latihan menari di Sanggar Greget sebagai persembahan pada malam grandfinal. Mereka juga diberi kesempatan untuk berkunjung ke berbagai objek wisata guna menambah pengetahuan tentang kepariwisataan Semarang. Vihara Buddhagaya, Puri Maerakaca, dan Gua Kreo menjadi destinasi pilihan. Rizka Melinda Dewi, salah satu pemenang mengatakan dirinya tak menyangka akan meraih gelar Putri Kepribadian Denok Kenang Semarang 2016. Perempuan kelahiran 10 Februari 1994 mengakui kesulitannya dalam membagi waktu. Selama masa karantina dirinya sedang sibuk mengurus berbagai hal terkait acara wisudanya yang digelar april lalu. Semua kesibukan yang ada ia biarkan mengalir dan dilakukannya dengan tulus. Berusaha melakukan yang terbaik dan menyerahkan semua hasilnya pada Tuhan. “Pokoknya dream big, act bigger,” tuturnya. Puncak acara grandfinal Denok Kenang digelar 29 April lalu bertempat di Krakatau Ballroom Horison, pukul 18.00 WIB. Dalam kesempatan tersebut 25 pasang finalis melakukan parade dan tarian. Usai parade acara dilanjutkan dengan pengumuman 6 besar pasangan.

Kurang percaya dirinya peserta Sama halnya dengan Melinda, third runner up Denok Kenang juga merasa kurang percaya diri saat mengikuti kompetisi bergengsi itu. Saddek mengungkapkan dirinya yang berasal dari Riau harus ekstra dalam belajar tentang budaya dan kepariwisataan Semarang dibanding finalis lainnya. Lelaki yang bercita-cita menjadi pengusaha dalam bidang entertaiment ini menuturkan, “Saya tertarik dengan acara ini, tiga tahun disini saya pengen ada impact nya buat Semarang,” tutur Saddek. Ia berpesan pada mahasiswa lain agar berprestasi, berani mencoba sesuatu, berani melawan rasa takut, dan terus berusaha. Menjadi bagian dari komunitas Denok Kenang Semarang tentunya membuat Melinda maupun Saddek akan disibukkan dengan kegiatan baru. Mereka harus membantu berbagai program kerja pemerintah kota Semarang khususnya dalam bidang budaya dan pariwisata. Saddek yang sedang menempuh studi semester 6, mengatakan bahwa ada program kerja internal sendiri dari Denok Kenang untuk mengembangkan desa wisata, yang salah satu acaranya adalah penanaman pohon bakau. Sebagai duta wisata mereka juga wajib turut serta dalam acara seperti Semarang Night Carnival yang digelar 7 Mei lalu, acara Festival Banjir Kanal Barat 2016 yang digelar 21 Mei 2016. (nw)

Kordents Vol. 7 Edisi 23 Mei – 5 Juni 2016  
Kordents Vol. 7 Edisi 23 Mei – 5 Juni 2016  

Koran Edents Volume 7 Mei 2016 menyuguhkan laporan terkait langkah yang akan diambil oleh BEM Undip sebagai tindak lanjut setelah keluarnya...

Advertisement