Page 1

LEMBAGA PERS MAHASISWA EDENTS

KORAN EDENTS Dinamika Intelektual Mahasiswa

Dari Redaksi Isu kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan pengenaan Sumbangan Pembangunan Institut (SPI) bagi mahasiswa baru 2016 menjadi topic yang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini. Berbagai alasan dan penyebab adanya isu tersebut menjadi bahan diskusi oleh berbagai kalangan, mulai dari tingkat fakultas hingga universitas. Hal inilah yang membuat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip dan berbagai pihak lainnya membuat suata Satgas khusus guna mangawal isu tersebut. Selain laporan utama tentang UKT dan SPI tersebut, Koran Edents Volume 3 edisi 28 Maret sampai 10 April 2016 ini juga menyajikan kabar kampus dari Fakultas Hukum. Acara yang bertajuk Ngopi tersebut, LPM Gema Keadilan Fakultas Hukum ajak peserta berdiskusi tentang sensor yang dilakukan pada pertelevisian Indonesia. Pun kabar membanggakan turut mengisi rubrik kabar prestasi dalam Koran Edents ini. Giliran dua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) berhasil membawa nama baik Undip di kancah regional dan nasional. Berbagai cerita suka dan duka juga disampaikan oleh narasumber kepada awak pers Edents. Akhir kata dari dapur redaksi mengucapkan selamat membaca bagi sahabat sekalian. Ekonomi Jaya, Undip Jaya.

Kordents Volume 3 Edisi 28 Maret – 10 April 2016 Diterbitkan Oleh Lembaga Pers Mahasiswa Edents Pemimpin Umum : Akbar Sih Pambudhi; Pemimpin Redaksi : Nur Wahidin; Pemimpin Artistik : Anastania Shafira; Editor : Adhevyo Reza; Reporter : Mutia Rahmania, Cyntia Khaeroni, Emanuella, Riya Niri Layouter : Anastania Shafira Sekretariat : Gedung PKM Lt. 1 FEB Undip, Tembalang Edents Call Center : 024-91181513

Vol. 3 Edisi 28 Maret-10 April 2016

Minggu Ini

w w w.lpmedents.com

Laporan Utama

Pemberlakuan SPI, Kenaikan UKT dan Cita – Cita Undip Menjadi World Class University Hangatnya isu kenaikan UKT dan pembebanan SPI bagi mahasiswa baru 2016 mendapat tanggapan dari pihak rektorat. Ketidakseimbangan pemasukan dan pengeluaran keuangan Undip menjadi alasan logis kenaikan UKT dan adanya SPI

Salah satu isu terhangat yang beredar di Universitas Diponegoro ialah kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan wacana pengadaan S u m b a n g a n Pembangunan Institusi (SPI). Walaupun kenaikan UKT dan pengadaan SPI hanya berlaku bagi mahasiswa baru tahun 2016 yang dinyatakan lolos melalui jalur ujian mandiri, tetap saja hal ini menjadi perbincangan hangat. Saat ditanyai pertimbanganya tentang UKT dan SPI mahasiswa baru 2016, Darsono selaku Pembantu Rektor II mengatakan bahwa kenaikan hanya diperuntukan bagi mahasiswa baru, sedangkan mahasiswa lama tidak mengalami kenaikan. Alasan dibalik kenaikan UKT ini bahwa beberapa biaya operasional kampus mengalami kenaikan, sedangkan pemasukan dari UKT mahasiswa lama besaranya tetap. “ Masa sih untuk menurunkan biaya (operasional), kemudian aktivitas diturunkan, kan tidak mungkin,” jelas Darsono. Salah satu target Undip untuk menjadi World Class Univesity juga menjadi pertimbangan lain kenaikan UKT dan pengadaan SPI. Memperbanyak jumlah penelitian, meningkatkan aktivitas mahasiswa seperti mengikuti perlombaan, pembangunan, serta pemeliharaan fasilitas kampus seperti gedung perkuliahan dan laboratorium juga semakin mempertegas dasar kenaikan UKT dan pengadaan SPI. Langkah Mahasiswa Sementara itu, isu kenaikan UKT dan pengadaan SPI ini memicu reaksi yang beragam dari kalangan mahsasiswa. “ Dengan kenaikan biaya UKT dan adanya SPI, Undip yang universitas negeri jadi nggak ada bedanya sama universitas swasta,” ujar M. Sodikin selaku Ketua Departemen Kesma & Dimas BEM FEB Undip. Ia juga menambahkan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan BEM Undip untuk membuat langkah startegis guna mengawal isu tersebut. Salah satunya adalah pembentukan satuan tugas (satgas) khusus UKT yang telah terbentuk pada tanggal 8 Maret 2016 lalu. Adapun anggota satgas ini adalah Divisi Advokasi KESMA BEM Undip, perwakilan 11 fakultas, perwakilan Senat Mahasiswa, dan Majelis Wali Amanat (MWA) Unsur Mahasiswa. Satgas ini bertujuan untuk memberikan pencerdasan dan mengkaji isu-isu terkait UKT yang berkembang di tengah mahasiswa. Sodikin juga menambahkan bahwa satgas ini nantinya berfungsi sebagai “pengawalan” UKT, apakah penggunaannya sudah benar, bagaimana transparansinya, dan sebagainya. Ia berharap dengan adanya satgas dapat membantu mahasiswa baru agar tidak gagal kuliah terkait kendala biaya. Oleh karena itu, satgas juga akan membentuk posko banding UKT. Sementara itu, Darsono menjelaskan penggunaan dana UKT dan SPI. Darsono mengatakan UKT akan diperuntukan untuk kegiatan operasional, sementara SPI berlaku untuk kegiatan diluar operasional seperti pembangunan dan pemeliharaan fasilitas perkuliahan. Komposisi yang terdapat dalam UKT ialah slot keuangan khusus untuk dosen, biaya operasional Undip, gaji pegawai, dan adanya dana untuk kebutuhan mahasiswa sesuai Biaya Kuliah Tunggal (BKT). Adapun peran pemerintah tidak seratus persen memberikan subsidi untuk keperluan universitas, sehingga diperlukan sumber pemasukan lainnya. Darsono tak menampik bahwa Undip memiliki rencana untuk membangun hotel yang akan berlokasi di kawasan kampus Pleburan sebagai sumber pemasukan lain. Adapun isu mengenai pengadaan lapangan golf akan direalisasikan sebagai bentuk Corporate Social Responsibility (CSR). Audiensi Berdasarkan hasil audiensi dengan Muhammad Zainuri

dan Ambariyanto selaku Pembantu Rektor I dan Pembantu Rektor III, Zainuri memaparkan bahwa perbandingan kebutuhan Undip dalam satu tahun dengan pemasukan Undip selama satu tahun khususnya dari kebutuhan mahasiswa tahun 2015 ialah sebesar 810 milyar. Setelah dikalkulasi, ada 19,8% anggaran yang harus ditutupi dan itu merupakan tugas Pembantu Rektor III. Walau sudah menerima pemasukan dari mahasiswa yang lolos dari ujian mandiri, masih terdapat defisit sebesar 240 milyar yang harus dipenuhi. Dengan demikian, diharapkan pengadaan SPI untuk mahasiswa baru 2016 akan mengurangi defisit khususnya untuk mahasiswa S1. Untuk program DIII tidak ada pemberlakuan SPI, karena kebutuhan dari vokasi sudah mampu ditutupi secara keseluruhan. Tahun 2016 ini, Undip juga menetapkan tiga puluh persen kuota mahasiswa baru akan diisi oleh mahasiswa dari ujian mandiri. Hal ini bukan didasarkan pada keinginan untuk menambahkan pemasukan, akan tetapi adanya indeks yang menunjukkan pendaftar SNMPTN banyak yang meninggalkan Undip dengan jumlah sebesar tujuh persen mahasiswa yang lolos melalui jalur SNMPTN gagal menyelesaikan pendidikan (di Undip). Terkait isu mahasiswa yang diterima lewat jalur mandiri tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah, Darsono menjawab pemerintah mempunyai skema terkait penerimaan mahasiswa baru, SNMPTN dan SBMPTN. Kedua jalur tersebut mengikuti UKT. “Nah dari UKT itu, kitakan akan dapat dana. Lalu untuk kebutuhan seluruh Undip itukan dananya tinggi, dan ada gap. Nah itu diminta seluruh universitas, bukan hanya Undip diminta mencari cara untuk mendapatkan pendanaan,” tutur Darsono. Menurutnya di beberapa kampus lain, seperti Unair, Unesa, ITB, UI, dan lain sebagainya juga menerapkan sistem yang serupa untuk jalur Ujian Mandiri (UM) yaitu pemberlakuan SPI diluar dana UKT. Darsono juga menambahkan memang ada perbedaan dalam jalur UM. “Tetapi karena seleksinya tidak sama, maka caranya berbeda. Nah di ujian mandiri tidak ada bidikmisi. Bidikmisi hanya ada di SNMPTN dan SBMPTN,” tutupnya Himbauan Ditemui di Gedung Widya Puraya, Darsono menghimbau bahwa mahasiswa lama tidak perlu “heboh” dengan wacana ini. Darsono menegaskan bahwa kenaikan UKT bukanlah hal baru di Undip. Sejak masih menjadi Badan Layanan Umum (BLU), Undip sudah pernah mengalami kenaikan UKT. Adapun perubahan status Undip menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH) hanya menjadi salah satu faktor kenaikan UKT dan pengadaan SPI. Selain itu dengan ditetapkannya sebagai PTN BH, maka keuangan Undip akan diperiksa oleh auditor pusat dan KPK, sehingga harus ada balancing disana. Oleh karena itu, pengadaan SPI diharapkan akan menjadi penyeimbang dan penyehat keuangan universitas agar lebih masuk akal. Hasil audiensi menjelaskan bahwa PTN BH bersifat mandiri sehingga universitas diberi kewenangan untuk melakukan pengembangan. “Aku pribadi sih nggak setuju ya sama rencana itu. Terutama yang buat jalur UM. Karena aku sendiri kan masuk lewat UM. Kasihan kan udah jalur terakhir masih dibebani biaya yang tinggi,” ungkap Aryandra Anantama, mahasiswa jurusan S1 Akuntansi 2015. Meskipun begitu, Aryandra akan mendukung, jika kenaikan UKT diberlakukan di semua jalur agar terjadi keadilan di antara mahasiswa baru tahun 2016 dan pembenahan fasilitas agar benar-benar memadai untuk kegiatan pembelajaran mahasiswa. Ia juga berharap agar calon mahasiswa baru Undip tahun 2016 tidak lantas patah semangat mendengar berita ini. “ Dijaga terus motivasinya. Tetep semangat belajar, soalnya pendidikan emang udah mahal sekarang,” tandasnya. (nw)

di

lpmedents.com Diskusi Publik, Beberkan Penyebab Hengkangnya Industri Asing dari Indonesia FEB Undip (23/3) – Pada bulan Februari lalu, dua perusahaan otomotif asal Amerika memutuskan mundur dari pasar Indonesia. Tak pelak, hal ini menyisakan pertanyaan besar termasuk di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) menggelar diskusi publik bertajuk Mengapa Industri Internasional Hengkang dari Indonesia. UPK FEB Kenalkan Mendeley, Aplikasi Pembantu Menyusun Skripsi FEB Undip (21/3) – Unit Pengembangan Komputer (UPK) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) mengadakan workshop mendeley. Acara yang berlangsung di ruang 6 Gedung Laboratorium lantai 3 tersebut merupakan salah satu bentuk pelayanan UPK FEB yang rutin diadakan dan yang pertama dilakukan di tahun 2016. Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut, LPM Edents Hadirkan Redaktur Senior Suara Merdeka FEB Undip (19/3) – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edents menggelar acara Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) di gedung B Fakultas Ekonomika dan Bisnis. PJTL ini bertujuan memberikan wawasan baru dan pelatihan kepada Edentser (sebutan untuk anggota Edents – red) mengenai bidang jurnalistik. BEM Undip dan FEB Adakan Roadshow ke Kampus Pleburan FEB Undip (18/3) – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip bersama BEM Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) melakukan roadshow ke kampus D-III FEB Undip di Pleburan tepatnya di Ruang Seminar D-III FEB Undip. Acara ini dimulai pada pukul 16.30 WIB dengan sambutan dari Muhammad Irfan Priambodo selaku Ketua BEM FEB 2016.


Kunjungi ! Kabar Kampus

w w w.lpmedents.com

Kordents. 3 Edisi 28 Maret - 10 April 2016

Ngopi, Gema Keadilan Ajak Diskusi dan Edukasi

Pernahkah anda risih saat menonton acara TV belakangan ini? Sensor yang dilakukan oleh pihak regulator tampak semakin ketat. Hal ini mengundang sejumlah penggiat jurnalisme Undip mengadakan diskusi terkait kegiatan “sensor Bertempat di gedung Litigasi Fakultas Hukum, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Gema Keadilan adakan Ngopi “ Ngobrol Pintar” dengan tema sensor pada tayangan televisi. Acara yang digelar pada Kamis, 24 Maret 2016 menghadirkan anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah, Hendra kirana, produceer news Net TV Jawa tengah, Noviar Jamal Kholit dan perwakilan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang, Arip. Acara dibuka dengan pemaparan dari pihak KPID Jawa Tengah, Hendra Kirana, ia menyampaikan bahwa lembaga yang berwenang untuk melakukan sensor adalah Lembaga Sensor Film (LSF) dan bukan merupakan kewenangan dari pihak KPI. Kewenangan dari pihak KPI adalah melakukan pemberian izin dan pengawasan kepada pihak stasiun TV. Seperti yang belakangan ini terjadi yang menimpa artis dangdut, Zaskia Gotik, yang mencemarkan lambang Negara, KPI lah yang memberikan teguran kepada pihak Stasiun TV. Diskusi pun dilanjutkan dengan penjelasan dari sudut pandang stasiun TV, yaitu Net TV. Jamal Kholit pun turut menyampaikan beberapa hal yang berbeda. Bukan dari sensor melainkan dari sisi penyiaran. Menurutnya pihak stasiun TV tempat ia bernaung, lebih mengutamakan ketepatan dan kwalitas tayangan. Namun disisi lain, jika suatu tayangan memang harus disensor meskipun ada unsur penting maka tayangan tersebut tetap akan disensor.

Kabar Prestasi

Diskusipun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Salah seorang peserta mempertanyakan, apakah dirinya bisa menuntut atas kesalahan dari penayangan pihak stasiun TV. Karena menurutnya terjadi kesalahan tayangan dan informasi dalam penampilan berita tari Saman di TV dan adanya sensor yang dilakukan terhadap pakaian kebaya Putri Indonesia. Diskusi pun dilanjutkan dengan penjelasan dari pihak KPID yang menjawab tentang kualitas sinetron di Indonesia yang kurang mendidik. Menurutnya, beberapa stasiun TV sudah mendapatkan beberapa

kali teguran perihal tayangan mereka yang dianggap tidak mendidik, di mana dalam sinetron Anak Jalanan, yang mengajarkan tentang balapan dan kekerasan, lalu berbagai macam sinetron dengan tokoh setengah manusia dan setengah binatang yang dianggap tidak mendidik, pun tidak luput dari teguran. “Oleh karena itu setiap isu-isu yang ada baik isu kampus, regional , nasional maupun internasional itu akan selalu kita bahas di diskusi Ngopi,” ungkap Belle Risca saat ditanya tujuan diselenggarakannya acara Ngopi. Menurut Belle alasan mengangkat tema sensor pada televisi Indonesia karena adanya kesalahpahaman di masyarakat akan sensor yang mulai banyak terjadi ditayangan televisi Indonesia. Ia pun menambahkan bahwa para netizen sering melakukan kesalahan dengan langsung memutuskan bahwa itu merupakan kesalah KPI. “Itulah yang ingin kita bahas, kesalahpahaman masyarakat yang beredar sehingga diskusi ini tidak hanya mengedukasi tetapi kita juga membuat diskusi,” tambahnya. Adanya penurunan jumlah peserta menjadi kendala bagi panitia. “Mungkin kalau yang Ngopi sekarang sedikit berkurang, mungkin karena ruangannya pindah juga. Yang tadinya di H. 308 jadi di Gedung Litigasi karena lagi ada ujian skripsi,” ujar Belle. Belle berharap acara Ngopi selanjutnya lebih baik lagi, bukan dari segi kuantitasnya tapi lebih ke segi kualitas acaranya. (nw)

Harumkan Nama Undip Lewat Kata dan Kumite “Senang sih, awalnya udah hopeless aja karena ya sudah lah biasa aja gitu kan. Tapi ternyata bisa menang juga,”-Nurul Indah Pratiwi, perwakilan Undip dalam Kejurnas Karate Sunan Kalijaga Cup X pas pertandingan itu, kan disini ada kata dan kumite. Kalo misalkan kumite itu lebih ke kayak ke berantemnya (pertarungan) gitu, nah kalo kata itu lebih ke seninya dek,” jelas Nurul Indah Pratiwi, salah satu perwakilan Undip dalam kejurnas . Persiapan pun dlikukan secara rutin selama 2 bulan terakhir di Student Center untuk menghadapi Kejurnas tersebut.

Nama Universitas DIponegoro kembali harum oleh prestasi. Pekan lalu perwakilan dari UKM INKAI Undip berhasil membawa pulang medali dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Karate Sunan Kalijaga Cup X yang digelar di gelanggang GOR Amongrogo, Yogyakarta. Kejuaraan tersebut dihelat oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) INKAI Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kejuaraan ini merupakan kejuaraan karate terbesar di Indonesia. Kejuaraan yang berlangsung selama tiga hari (18 sampai 20 Maret 2016) tersebut diikuti oleh 65 kontingen yang tergabung dalam FORKI se- Indonesia. Kategori usia dan pertandingan pun beragam antara lain, Usia Dini, Pra Pemula, Pemula, Kadet, Junior, Under 21, dan Senior. Kontingen Universitas Diponegoro mengirimkan 18 karatekanya untuk mengikuti kejurnas yang digelar di Gor Amongrogo Yogyakarta. Pelepasan kontingen berlangsung hari Kamis, 17 Maret 2016 di lapangan Widya Puraya oleh Rektor Undip Prof. Yos Johan Utama. UKM Karate INKAI Undip berhasil menyabet tiga medali sekaligus, antara lain Juara 2 cabang kata beregu putri, Juara 2 cabang Kumite +60 kg oleh Amelia Tambunan (Fakultas Hukum), dan Juara 3 cabang kata beregu putra.

Penilaian dalam Kejurnas karate tersebut dilihat dari masing-masing kata dan kumite. Di dunia karate, kata adalah seni dalam melakukan suatu gerakan dan kumite adalah seni dalam bertarung. Penilaian kumite dinilai berdasarkan pertarungan antar peserta. Sedangkan, kata dilihat dari hafalan, kelincahan, kekuatan, dan kekompakan dari gerakan yang ditampilkan. “Kalau penilaian

Kendala Salah satu kendala yang dihadapi tim karate Undip adalah banyaknya tim ang tangguh dari kontingen lain. Nurul selaku perwakilan dari kata beregu putri mengatakan bahwa, banyak saingan berat yang ikut bertanding di sana. Salah satunya adalah perwakilan dari Lampung. Selain dari Lampung, menurut Nurul perwakilan dari Inkai Universitas Negeri Semarang (UNNES) juga merupakan lawan yang tangguh. Kendala lain adalah masalah pembuatan bunkai (demonstrasi dari kata yang akan ditampilkan) oleh kata regu putri karena kurangnya persiapan dalam pembuatannya. Namun, masalah tersebut dapat segera diatasi dan berhasil ditampilkan pada babak final. Selain itu masalah transportasi menjadi kendala lainnya yang dihadapi oleh tim Inkai Undip.

Adu Kuat Strategi, Undip Bawa Pulang Piala dari Unnes Mengikuti sebuah perlombaan baik tingkat kampus, kota/kabutapen, provinsi maupun nasional merupakan salah satu keinginan terbesar bagi mahasiswa secara umum. Baik perlombaan akademik maupun non-akademik, terlebih jika berhasil mandapat gelar juara. Itu tentu menjadi sebuah kebanggaan bagi dirinya dan bagi almamaternya. Hal tersebut pun terjadi baru-baru ini. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Catur Universitas Diponegoro Semarang berhasil menyabet juara 2 dan 3 dalam Lomba Catur Mahasiswa tingkat regional yang diadakan pekan lalu (20/3) di Universitas Negeri Semarang. Undip mengirimkan 6 tim yaitu tim A, B, C, D, E dan F. Setiap timnya terdiri dari 3 orang, sehingga total Undip mengirimkan 18 orang perwakilan dari UKM Catur yang bertarung adu strategi. Tanggapan Andreas Sitompul, mahasiswa Jurusan Fisika 2011 merupakan salah satu perwakilan dari UKM Catur Undip Tim F yang berhasil memenangkan perlombaan tersebut. Andreas mengaku bahwa sebenarnya tidak ada persiapan khusus menyambut kejuaraan tersebut, hanya berlatih dengan permainan catur yang biasa dilakukan sehari-hari di markas mereka di Student Center

Undip lantai 2. “Kalau untuk tantangan terbesarnya, temanteman dari UKM Catur masih banyak yang lebih bagus dan di hari perlombaan ternyata lawannya tangguh-tangguh,” ujar Andreas saat ditanyakan hal terberat saat masa-masa persiapan lomba. Sebelumnya mereka juga pernah mengikuti turnamen catur mahasiswa di ITB, Bandung.

Jalannya lomba Sebelum hasil diumumkan, Andreas telah memprediksi akan mendapatkan juara. Hal tersebut didasarkan karena UKM Catur Undip melakukan persiapan dengan mengirimkan tim terbaiknya dengan cara yang unik. UKM Catur Undip mengirimkan tim berdasarkan tingkatan timnya yaitu tim terbaik, menengah dan juga pengecoh. Di mana tim pengecoh bertugas mengahabiskan stamina lawan dan tim menengah berisi anggota dengan kualitas menengah. Perlombaan tersebut terdiri dari 5 babak dan setiap babaknya menggunakan sistem Swiss Manager. Swiss Manager merupakan merupakan kombinasi dari sistem “Round Robin” dan “Knock-out”. Sebenarnya UKM Catur Undip mendapat 3 juara yakni juara 2 yang diraih oleh tim Undip F, juara 3 oleh tim Undip C dan juara 4 oleh tim Undip D. Di setiap perlombaan pasti memunculkan persaingan antar pesertanya, hal tersebut pun tak luput dirasakan UKM Catur Undip.“Untuk lawan terberat, kami merasa kalau Unnes tim A lah yang paling berat, karena isinya master nasional semua,” tutur Andreas. Untuk harapan terbesarnya kedepan adalah UKM Catur Undip bisa lebih berprestasi dan bisa menjadi juara di setiap kejuaraanya sehingga lebih banyak prestasi yang terukir. (nw)

Kordents Vol. 3 Edisi 28 Maret-10 April 2016  
Kordents Vol. 3 Edisi 28 Maret-10 April 2016  

Dalam kordents kali ini, kami menyajikan laporan utama berupa penjelasan Pembantu Rektor 3 terkait kesimpangsiuran penerapan SPI dan kenaika...

Advertisement