Page 1


“Dari Redaksi

BULETIN ERLANGGA 17

Tahun 2017, Universitas Diponegoro (Undip) resmi bertransformasi menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Pendirian Sekolah Vokasi merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi Undip ketika bertransformasi menjadi PTN-BH. Untuk melakukan sebuah transformasi, tentu diperlukan persiapan yang matang, tidak terkecuali pada pendirian sekolah vokasi ini. Pada Buletin Erlangga 17 Volume 2 Edisi Juni 2017 ini, akan dibahas mengenai langkah dan persiapan Undip dalam mendirikan Seoklah Vokasi. Persiapan yang dilakukan antara lain perangkat dekanat, perangkat administrasi, penyediaan sarana dan prasarana, tenaga pengajar, kurikulum, anggaran kemahasiswaan, hingga pembentukan organisasi mahasiswa (ormawa) baru.

DITERBITKAN OLEH : Lembaga Pers Mahasiswa Edents

Pemimpin Umum: Adhevyo Reza

Pemimpin Redaksi: Akhmad Sadewa S

Redaktur Pelaksana Buletin: Dias Wahyu Rawikarani

Selain itu, buletin volume 1 ini juga menghadirkan rubrik Tea Time bersama Praktisi Manajemen, T.D. Erlov Chandra, yang juga tergabung dalam Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA) Semarang. Jangan lewatkan pula rubrik Geliat Usaha yang akan mengulas tentang usaha Salon Sepatu (SATU). Terakhir, kami dari Redaksi LPM Edents memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan. Kritik dan saran selalu kami harapkan dari para sahabat Edents.

Pemimpin Artistik: Henty Eka Palupy

Layouter dan Ilustrator: Hesti A, Alyani, Abdan Fotografer : Asma

Reporter: Radey, Yayuk, Niki, Rismanto, Fana, Okta, Arsenio, Julian

Selamat membaca!

Sirkulasi dan Pendanaan: Dewi Setyoningrum

Tim Buletin 2

doc.Edents

kiri-kanan Rismanto, Dias, Julian, Ulfa, Petra.

Erlangga17 17||Volume Volume22Edisi EdisiJuni Juni2017 2017 Erlangga


“Daftar Isi

1 3 5 7 Wisata Baru Semarang 9 10 12 13 15 17

TEA TIME BERSAMA T. D. ERLOV CHANDRA: INTEGRITAS ADALAH KUNCI SEKOLAH VOKASI “TRANFORMASI, REALISASI AMANAH, DAN KELUARGA BARU BAGI UNIVERSITAS DIPONEGORO

POLLING "PEMBENTUKAN SEKOLAH VOKASI UNIVERSITAS DIPONEGORO"

KOMIK “Keluarga Baru”

RESENSI BUKU “1984”

KOLOM PEMIMPIN UMUM “JEMPOLMU HARIMAUMU”

OPINI "ORGANISASI MAHASISWA : SEBUAH PABRIK PENCETAK PARA PEMIMPIN”

GELIAT USAHA "SATU - THERE'S A SMILE ON YOUR SHOES"

OPINI "TERNYATA SEKEDAR NARASI"

Erlangga Erlangga 17 17 || Volume Volume 22 Edisi Edisi Juni Juni 2017 2017


Tea Time Bersama T. D. Erlov Chandra: Integritas adalah Kunci Oleh : Aradeya Tangguh P.

doc.Edents

aktif. Selama 23 tahun ini hanya menempuh pendidikan melalui training-training. Nah suatu saat saya nggak sengaja ketemu teman saya, sahabat lama saya bilang, “Loh kamu ikut training-training ‘kan keluar uang, tapi tidak dapat penambahan gelar akademik.” Nah, lalu saya mencoba daftar di Undip, atas berkat Tuhan saya diterima di Magister Manajemen (MM) Undip angkatan 50. Nah, saya kuliah di MM Undip juga saya terus belajar juga saya daftar lagi kuliah di Magister Ilmu Hukum Untag (Universitas 17 Agustus) , jadi ngambilnya hukum bisnis, nah hukum bisnis sama ekonomi manajemen.”

Praktisi Manajemen, T.D. Erlov Chandra, yang juga tergabung dalam Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA) Semarang merupakan seorang yang hobi dalam menjalin hubungan serta cakap dalam bidang pemasaran. Direktur Marketing & Purchasing UD. Anugerah Sukses Jaya ini tidak mendulang kesuksesannya secara instan, melainkan dengan melalui sebuah proses panjang dengan lika-liku pahitmanisnya kehidupan.

1

Bagaimana latar belakang pendidikan Anda? “Saya kuliah S1 alumni Unika, saya kuliah angkatan 1988 selesainya 1993, Jurusan Manajemen Pemasaran. Selama 23 tahun ini saya aktif di pekerjaan bisnis, juga di forum seminar, talkshow, workshop, itu

Bagaimana perjalanan kuliah Anda? “Kuliahnya Jumat dan Sabtu. Malamnya baru kuliah M.IH di Untag (Universitas 17 Agustus), Magister Ilmu Hukum. Ekonomi kan belajarnya marketing dan bisnis, nah kalau kita bisa belajar hukum bisnis kan bagus. Aku punya prinsip gitu, kalau nambah lagi hukum bisnis kan bagus. Gitu, yang penting kan kalau bisa dapet- Insya Allah, kalau Tuhan menolong, bisa dapat dua gelar sekaligus kan lebih bagus. Nah, nanti kalau sudah selesai, ya orang punya rencana dan cita-cita ya kalau Tuhan mengizinkan mau lanjutkan ke tingkat Doktoral, iya kalau Tuhan izinkan. Orang kan berusaha.”

Semangatnya tinggi sekali ya, Pak. “Dosen-dosen bilang begitu. Dosen Undip kan sudah banyak yang profesor, tapi umurnya di bawah saya. Ada beberapa yang umurnya di bawah saya. Dia sama aku nggak menghina, dia cuma sering bercanda. “Saya ini seorang akademis, seorang lecturer. Pagi, siang, malam, aku belajar terus buku-buku,

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017


jadi kalau masalah akademik, saya dengan Bapak (Elrov) memang saya di atas Bapak kemampuannya, tapi secara bisnis saya harus belajar sama Bapak karena anda ini seorang praktisi.” Jadi saya juga ngomong, “Bu, saya ini juga bukan orang yang kaya raya lho bu, saya ini cukup karena saya ini dipelihara oleh Tuhan.” Selama 29 tahun saya di Semarang dipelihara Tuhan. Saya benarbenar ditolong Tuhan. Nah dulu mulai dari nol semuanya. Saya ngomong apa adanya, memang aku kuliah kemampuannya sedangsedang saja, cuma dosen-dosen (saya) pernah bilang gini: “Bapak kemampuan akademiknya sedang, tapi Bapak ini punya semangat belajar yang luar biasa,” dia bilang gitu. Jadi saya itu punya semangat, punya cita-cita, untuk Indonesia. Selama masih hidup.” Dulu bisnis apa? Sempat melanjutkan dari orangtua? “Gini, ayah saya itu usaha emasnya itu terbesar di kota Magelang, tapi ayah saya ditipu banyak orang, sehingga ayah saya itu rugi 500 kg emas. Iya, toko emasnya sepuluh. Nah di Semarang, saya mulai dari nol, benar-benar nol. Ingat benar saya dulu itu semester 6 kuliah saja benar-benar nggak ada biaya, tapi saya punya ide jual tas dan dompet. Suplainya ke Rumah Sakit (RS) Elizabeth, RS Telogorejo, itu pelanggan saya. Susternya sama saya baik, langganan. Nah saya satu bulan itu bisa dapat income kurang lebih 2 juta (rupiah) per bulan, tahun 1990, lho. Maka dari itu, saya pacaran pun pakai uang sendiri, tidak pakai uangnya ayah saya. Pacar saya waktu itu merasa begini, aku kan ngomong: “Jujur saya ini bukan anak orang kaya lho, papa saya usahanya baru satu.” Kan istri saya puji Tuhan cantik, ada cowok yang senang sama dia, pengen jadi pacarnya, istri saya nggak mau, pacar saya nggak mau, maunya sama saya, padahal saya bukan orang kaya. Kemudian (dia) bilang: “Dia yang kaya papa mama-nya, saya nggak

mau pacaran pakai uang papa mama-nya.” Nah kalau ini benar-benar uang dari saya sendiri, murni. Tapi Tuhan itu menolong, saya waktu itu pacaran, motor saja nggak punya, tapi saya berjuang sungguh-sungguh, sekarang sudah punya motor, mobil, rumah, apartemen, kebutuhan apapun sudah Tuhan cukupkan.”

Sikap apa yang bapak terapkan sehingga bisa sukses hingga sekarang? “Saya memang dari dulu orangnya suka human relation, suka membina hubungan baik dengan siapa saja. Saya tidak peduli dia siapa, asalkan dia juga berhubungan baik di jalan benar, saya pasti mau. Semua adalah ciptaan Tuhan. Prinsip hidup saya adalah mau terus berjuang dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik dan sukses, keinginan saya gitu. Saya ini selalu berusaha mempertahankan integritas. Ketika saya ngomong A, bos percaya A, karena A ini bisa dipertanggungjawabkan. Ngomong B, B benar bisa dipertanggungjawabkan. Jadi kepercayaan itu tidak ternilai harganya. Relationship, sama semangat kerja, sama kepercayaan, itu sangat penting. Dipercaya oleh warga, dipercaya oleh teman, dipercaya oleh orang lain, itu tidak ternilai harganya.” Bagaimana cara Anda membangun hal itu di dunia perkuliahan? “Nah, di jaman kuliah dulu, saya memang aktif di Senat Mahasiswa aktif, training, seminar, talkshow itu paling hobi saya, mesti itu. Asal yang berkaitan dengan bakat kemampuan saya. Bakat saya di bidang marketing, human relation. Jadi harus mempertahankan integritas dan membangun. Itu ‘kan perlu dibangun, nah saya gitu. Jadi kita itu harus pegang integritas itu, nama baik kita itu sangat penting. Ibaratnya nama saya itu adalah brand saya. Jangan menggunakan nama kita untuk hal yang sembarangan, nah saya punya prinsip itu. Karena sukses kita dipengaruhi oleh nama baik kita, integritas.” (sdw)

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017

23


LIPUTAN UTAMA

Sekolah Vokasi: Transformasi, Realisasi Amanah, dan Keluarga Baru bagi Universitas Diponegoro

ilus. Henty

Oleh : Fana dan Okta

Tahun 2017, Universitas Diponegoro (Undip) melakukan sebuah transformasi dalam menjalankan perannya sebagai institusi pendidikan. Transformasi tersebut adalah pendirian Sekolah Vokasi. Sekolah Vokasi resmi menjadi keluarga baru Undip terhitung sejak pada 3 Januari 2017, bertepatan dengan peluncuran Undip menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Hal ini dikarenakan Sekolah Vokasi merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi Undip ketika bertransformasi menjadi PTN-BH. Sebelumnya, Undip telah menyelenggarakan pendidikan vokasi khususnya program Diploma III di berbagai bidang ilmu yang terbagi dalam 4 departemen, yaitu Departemen Teknologi Industri, Departemen Sipil dan Perencanaan, Departemen Ekonomi dan Keuangan serta Departemen Sosial dan Bahasa

3

Berangkat dari Undang-undang Pendirian Sekolah Vokasi ini merupakan salah satu langkah konkret Undip dalam menjalankan amanah dari Undang-undang nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Heri Laksito, salah satu akademisi program Diploma III Univeristas Diponegoro. “Kalau pendidikan akademik itu terdiri dari S1 dan S2, tetapi kalau pendidikan vokasi itu D1, D2, D3, D4 hingga S2 terapan. Terakhir kalau profesi

itu berkaitan dengan spesialis seperti akuntan, dan sebagainya,� pungkas Heri. Jalur akademik berfokus pada penelitian dan riset, sedangkan vokasi berfokus pada aplikasi dan kerja. Heri mengatakan perbedaan signifikan antara program vokasi dengan program D3 adalah jalur pendidikannya. Pertama, adalah jalur akademik yang terdiri dari program Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktor (S3). Kedua, adalah jalur vokasi yang terdiri dari program diploma. Sebelumnya Undip bertransformasi menjadi PTN-BH, jalur tersebut disatukan. Namun, munculnya sebuah regulasi yang mengharuskan kedua jalur tersebut dipisah, maka diciptakanlah sekolah vokasi. Perlu Persiapan Matang Untuk melakukan sebuah transformasi, tentu diperlukan persiapan yang matang, tidak terkecuali pada pendirian sekolah vokasi ini. Berbagai macam persiapan dilakukan, mulai dari persiapan penyediaan perlengkapan di setiap dekanat hingga berbagai perlengkapan dasar yang disiapkan oleh pihak rektorat. Selain itu, persiapan berupa penyusunan struktur seperti Senat Vokasi, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Vokasi, dan Lembaga Pers Mhasiswa Vokasi pun telah rampung disiapkan. “Persiapannya kita sudah bentuk Sekolah Vokasi untuk kelengkapan dekanat sudah ada, perlengkapan dasar Pak rektor sudah ada dalam membentuk sekolah vokasi jadi kita sudah berusaha mengikuti amanat undang-undang. Sudah dibentuk Senat sendiri dan BEM sendiri,� tutur Heri.

Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru Perihal sistem penerimaan mahasiswa yang disediakan oleh Sekolah Vokasi, Heri memaparkan bahwa tidak ada perbedaan dengan sebelumnya. Jalur pertama adalah Program Seleksi Siswa Berprestasi (PSSB) dengan sistem penilaian berdasarkan nilai rapor. Jalur kedua adalah melalui Ujian Mandiri (UM)

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017


LIPUTAN “Sekolah Vokasi bisa menghasilkan lulusan yang kompeten, seperti yang saya katakan bahwa anak vokasi sudah disiapkan untuk bekerja, jadi saat lulus udah UTAMA siap untuk bekerja. Ketika mereka lulus harus memiliki sertifikasi, jadi ketika lulus tidak memiliki ijazah saja ,tetapi juga memiliki sertifikasi,” –Heri Laksito, Akademisi Diploma III Universitas Diponegoro D3 dimana sistem penilaiannya berdasarkan tes. “Jalur pertama PSSB itu dari SMA dengan melalui nilai rapot dan jalur kedua dari UM D3, berbeda dengan S1 ada SNMPTN, SBMPTN dan UM. Kalau D3 hanya ada dua. Jadi tepatnya ada dua jalur untuk masuk sekolah vokasi,” ungkap Heri.

Tenaga Pengajar dan Kurikulum Heri memaparkan bahwa terdapat sedikit kendala perihal tenaga pengajar untuk Sekolah Vokasi. Selama masa persiapan, Sekolah Vokasi belum menemukan tenaga pengajar atau dosen khusus yang spesialisasinya mengajar untuk vokasi itu sendiri. Kondisi tersebut menyebabkan untuk sementara waktu, Sekolah Vokasi akan tetap menggunakan jasa dari beberapa dosen S1. Namun, ke depannya diharapkan Sekolah Vokasi akan memiliki dosen khusus yang memiliki spesialisasi untuk mengajar di program vokasi itu sendiri. Hal tersebut dapat direalisasikan dengan pembuatan SK dan open recruitment untuk dosen khusus Sekolah Vokasi. Namun, tentu hal tersebut memerlukan proses dan waktu yang tidak singkat. Terdapat perbedaan antara dosen akademik dan dosen vokasi. Keduanya memiliki karakterdan spesifikasi masing-masing. Dosen vokasi dituntut untuk memiliki skill aplikatif yang lebih mumpungi dibandingkan dengan dosen akademik. Hal itulah yang membuat keduanya berbeda dan dibutuhkan spesialisasi di antara keduanya. Untuk mencapai output yang maksimal dan mendapatkan hasil yang sesuai harapan, keduanya harus ditempatkan sesuai dengan tempat dan porsinya masingmasing. Selama ini dosen yang mengajar pendidikan di Program Diploma III Undip harus minimal berpendidikan Magister (S2) dengan proporsi pada tahun 2016 adalah 251 dosen berpendidikan S2 dan 194 berpendidikan S3. Selain itu, terdapat juga

berbagai tenaga kependidikan yang mencakup tenaga administrasi, pustakawan, laboran, teknisi, analis, programmer, operator, dan tenaga kependidikan lainnya. Jumlah tenaga kependidikan dan jenjang pendidikannya, yang mendukung penyelenggaraan program Diploma III Undip adalah 45 orang berpendidikan SMA, 54 orang berpendidikan diploma, 33 orang berpendidikan S1, dan 7 orang berpendidikan S2. Ihwal kurikulum, kurikulum antara S1 dan vokasi (D3) memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Mahasiswa vokasi disiapkan untuk bekerja, sehingga perbedaan utama adalah program vokasi lebih memfokuskan diri kepada praktik, dengan proporsi sebanyak 60% praktek dan 40% teori. Adapun beban studi Satuan Kredit Semester (SKS) dan akreditasi untuk setiap Program Studi di Sekolah Vokasi Undip disajikan dalam rentang 110 – 116 SKS.

Menciptakan Lulusan yang Berdaya Saing Pendirian Sekolah Vokasi Undip tentu menuai banyak harapan dari berbagai pihak. Heri berharap hal tersebut dapat meningkatkan lulusan Undip yang memiliki kualitas dan kompetensi yang baik untuk meningkatkan daya saing di pasar kerja. Tentu itu semua dapat dilaksanakan dengan baik apabila memiliki sertifikasi dan kompetensi yang mumpuni. “Kita punya slogan ‘be competent, be certified, be winner at global competition’ itu yang sekarang sedang progamkan untuk vokasi juara. Orang harus mulai berppikir bahwa mahasiswa harus siap lulus untuk bekerja walaupun boleh melanjutkan S1,” tutup Heri. Adapun kompetensi ini dapat dibuktikan melalui sertifikasi yang diterima oleh lulusan Sekolah Vokasi. Hal ini pula yang menjadi kelebihan bagi lulusan Sekolah Vokasi, yaitu mereka memiliki pengakuan kompetensi dari lembaga sertifikasi atau Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). (sdw)

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017

45


Polling

5

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017


Polling

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017

67


doc.Edents

Wisata Baru Semarang

doc.Edents

Kampung Pelanggi Wonosari Wisata terbaru terletak di Semarang

7

Wisatawan domestik sedang mengambil gambar keindahan Kampung Pelangi Wonosari

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017


doc.Edents

Wisata Baru Semarang

doc.Edents

Terlihat salah satu warga sedang menghias di dinding depan rumah warga Kampung Wonosari

Selain pengecatan pada dinding, kampung pelangi ini juga dipercantik dengan tanaman yang berwarna.

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017

89


Keluarga Baru

doc.Edents

KOMIK:

9

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017


Judul : 1984 Penulis : George Orwell Penerjemah : Landung Simatupang Penerbit : Bentang Pustaka Jumlah Halaman : 408 Halaman Pernahkah Anda membayangkan hidup pada zaman dimana privasi dinihilkan? Pernahkah Anda membayangkan hidup pada zaman dimana kebebasan berpendapat ditiadakan? Pernahkah Anda mengandaikan hidup berada di bawah kekuasaan pemerintah yang otoriter juga diktator? Mengerikan. Winston Smith, ialah seorang warga yang hidup di zaman pemerintahan pada tahun 1984 yang dideskripsikan sangat otoriter dan diktator. Ia digambarkan oleh George Orwell dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Winston digambarkan sebagai seorang yang pintar dan memiliki jati diri ini terlihat dari jalannya alur cerita yang mengisahkan ia sebagai orang yang selalu resah akan berkuasanya Partai Buruh sebagai simbol supremasi pemerintahan, serta Bung Besar sebagai bapak patriarki jalannya pemerintahan. Tindakan ini tidak main-main, jika kita pada era reformasi kini dapat mengutarakan pendapat dengan media apapun, namun di era Winston, segala bentuk penyampaian pendapat dilarang dengan keras. Untuk mengantisipasi terjadinya kejahatan pikiran, pemerintah menaruh teleskrin di setiap gedung apartemen dan rumah warganya agar segala tindakan verbal dan non-verbal dapat segera diketahui pemerintah. Warga yang terdekteksi melanggar dengan sekejap menghilang jejaknya dari catatan sejarah. Pemerintah dengan partainya memiliki kuasa penuh akan warganya. Bahkan, untuk urusan pernikahan pun, hanya partailah yang berhak memilihkan pasangan. Tidak boleh ada naluri seks alamiah antara suamiistri.

doc.BukuKita.com

RESENSI BUKU

Menggunakan Winston sebagai raga dalam kisahnya, George menyajikan cerita akan bobroknya pemerintahan yang menodai fakta dari sejarah. Memosisikan dirinya bekerja bekerja di Departemen Catatan. Tugasnya adalah membuat revisi di setiap media sesuai perintah Bung Besar. Inti dari pekerjaannya adalah mengubah fakta sejarah. Kebenaran diubah menjadi ketidakbenaran. Ketidakbenaran diubah menjadi kebenaran. Apa yang kau ketahui bukanlah apa yang sebenarnya. Kisah hidupnya sungguh menarik, ia sungguh seorang yang ingin menegakkan kebenaran. Ia dicap sebagai pemberontak karena ia melawan segala tindakan menyimpang yang dilakukan oleh partai. Dalam kisahnya, Winston bertemu dengan kekasih barunya bernama Julia. Winston melakukan semua ini dengan sungguh hati-hati, hingga akhirnya ia dikhianati oleh orang dekatnya pada suatu tempat rahasianya. Hingga akhirnya ia harus masuk pengasingan oleh partai dalam catatan sejarah. Menghilang tanpa jejak. Ia pun harus rela kehilangan Julia yang telah membangkitkan semangat hidupnya. Dan ia pun berakhir dengan harus menghadapi kematian akibat melawan partai. Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Meskipun diterbitkan tahun 1984, buku ini menjadi refleksi akan masyarakat Indonesia yang pernah mengalami hal serupa, yakni Era Orde Baru. Kisah ini menjadi peringatan akan dampak dari otoriterianisme pemerintah akan menanamkan jiwa pemberontakan pada setiap warganya. Namun ada akhirnya, kebenaranlah yang akan selalu menang. (sdw)

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017

11 10


KOLOM PEMIMPIN UMUM

JEMPOMU HARIMAUMU Oleh :Adhevyo Reza

Karena pepatah pada abad millennial ini sudah bukan lagi “Mulutmu Harimaumu” tapi “Jempolmu Harimaumu”. Gunakanlah sosial media sebagaimana mestinya untuk berjejaring dan bersilaturahmi. Mungkin tidak ada yang pernah menyangka kemajuan media sosial di Indonesia akan semaju hari ini. Jika kita merunut lebih detil sebenarnya perkembangan media sosial ini linier dengan perkembangan teknologi dan internet. Kemajuan teknologinya datang seperti rob, cepat dan tak terbendung. Mungkin dulu kita tak akan ada yang menyangka bahwa telepon genggam akan menjadi kebutuhan primer hari ini.

11

Melihat Media sosial Bekerja Hari ini Agaknya tidak disangka melihat bagaimana media sosial bekerja hari ini. Banyak penyalahgunaan konten dan maksud dari adanya media sosial ini. Media sosial yang dari awalnya adalah tempat berjejaring perseorangan lalu mulai bergeser kekomunitas hingga kepemerintahan. Sekarang kita sudah sangat wajar dan mafhum jika menemukan media sosial

intitusi pemerintahan seperti Kepolisian, Dinas Pemerintahan, hingga Walikota. Seiring berjalanya waktu, media sosial ini mengalami banyak pergeseran fungsi. Yang disayangkan pergeseran fungsi itu juga mengarah ke hal-hal negatif. Masih hangat di ingatan kita bagaimana ujaranujaran kebencian begitu membanjiri semua media sosial kita terkait pandagan politik saat pemilu atau pun pilkada. Kebebasan berpendapat memang dilindungi oleh undang-undang. Namun, kebebasan berpendapat seperti apa yang dilindungi? Apakah makian, hujatan, hasutan, dan fitnah? Sekitar akhir 2016 bangsa kita juga dikejutkan dengan kasus prostitusi online. Seorang wanita terbunuh dan setelah diselidiki ternyata wanita tersebut adalah Pekerja Seks Komersial (PSK). Ia membuat akun sosial media alter untuk ‘menawarkan’ dirinya. Lalu pada awal tahun 2017 terkuaknya sindikat eksploitasi seksual terhadap anak (Pedophilia) yang bergerak dalam sebuah akun Facebook. Tidakkah para pelaku kejahatan siber itu tidak tau bahwa media sosial tersebut tidak memiliki

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017


KOLOM PEMIMPIN UMUM

UU ITE : Pengekang atau Pengatur? Haruskah kita khawatir dengan adanya Undang-Undang Informasidan Transaksi Elektronik (UU ITE)? Seharusnya tidak.Tapi jika ada yang panik mungkin sebagian dari mereka merupakan oknum-oknum yang menyalahgunakan penggunanaan sosial media. Salah satu tujuan diberlakukanya UU ITE menurut pasal 4 UU ITE adalah membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap orang untuk memajukan pemikiran dan kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi seoptimal mungkin dan bertanggung jawab. Tujuan lainnya adalah memberikan rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi pengguna dan penyelenggara Teknologi Informasi. Lalu pertanyaan selanjutnya yang muncul, apakah UU ITE ini sudah sempurna? Tentu belum. Dalam perjalananya, UU ITE sendiri masih mengalami pro dan kontrabaik dari masyarakat maupun masyarakat internet atau yang biasa disebut netizen. Ada beberapa pasal yang masih dianggap pasal karet seperti pasal 27, 28, dan 29. Tentu kitamasih ingat dengan curahan hati Prita Laurasari terkait pelayanan sebuah rumah sakit yang akhirnya mengundang aksi simpatik dan solidaritas “Koin Untuk Prita”. Untuk Media Sosial yang Lebih Baik Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?

Setidaknya ada beberapa hal yang harus kitalakukan sebagai netizen. Pertama, jangan mudah menyebarkan berita berantai (Broadcast Message) yang tidak tahu menahu sumber dan kredibilitasnya. Percayalah, dalam era millennial ini, jempol Anda akan sangat berpengaruh. Yang kedua, adalah memahami betul pesan yang disampaikan. Kebanyakan masyarakat hanya membaca setengah artikel seakan mengerti satu artikel, yang lebih parah hanya membaca judul lalu dapat menceritakanya lebih hebat dari pada tulisannya. Yang terakhir dan yang paling penting adalah dewasalah dalam menggunakan sosial media kita. Karena pepatah pada abad millennial ini sudah bukan lagi “Mulutmu Harimaumu” tapi “Jempolmu Harimaumu”. Gunakanlah sosial media sebagaimana mestinya untuk berjejaring dan bersilaturahmi. Terlalu mahal harga bangsa ini jika pecah belah hanya karena masalah media sosial. Sekali lagi kita sangat tahu manfaat dari media sosial tersebut, tetapi kita juga harus bijak dalam mennggunakanya. Tentu kita tidak ingin negara kita seperti Tiongkok atau Saudi Arabia, kan? Kalau sosial media diblokir, lalu dimana kita akan mengunggah hasil swafoto kita?

doc.Edents

filter untuk menjaring para pengikutnya dengan baik? Seakan kebakaran jenggot dan kecolongan, pemerintah mengambil tindakan dengan mengusut kasus-kasus tersebut.Pelaku ditangkap, sindikat dibubarkan, tetapi akar permasalahanya tidak pernah benar-benar dibabat habis. Kejahatan-kejahatan tersebut masih banyak dan akan terus semakin banyak! Ditambah lagi banyak beredar pesan-pesan berantai yang disebarkan melalui media sosial dengan sumber yang tidak jelas.

*Penulis merupakan Pemimpin Umum LPM EDENTS 2017

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017

13 12


Opini

Organisasi Mahasiswa : Sebuah Pabrik Pencetak Para Pemimpin Oleh : Samuel Petra Novianto *

Manusia sebagai mahluk sosial tentunya tak luput dari interaksi dengan manusia lain, baik secara individu ataupun berkelompok. Yang kemudian dalam Proses interaksi tersebut muncul kebersaman tunjuan antar individu atau kelompok yang menjadi dasar terbentuknya sebuah organisasi. J James D Mooney secara teoritis mengatakaan Organization is the form of every human, association for the assignment of common purpose (organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk pencapaian suatu tujuan bersama). Jadi, dapat disimpulkan bahwa organisasi merupakan wadah bagi individu-individu yang memiliki tujuan yang sama dalam bermasyarakat. Beragamnya kehidupan dalam bermasyarakat membuat organisasi memiliki beberapa jenis yang disesuaikan dengan tujuan masing-masing yang hendak dicapai, seperti organisasi pendidikan, kesehatan, atau lainnya. Setiap kegiatan yang dibentuk tak hanya untuk mencapai tujuan bersama saja, akan tetapi menjadi wadah bagi anggotanya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Apabila keinginan bersama lebih besar daripada keinginan pribadi, maka organisasi itu akan berjalan dengan baik.

13

Media Aktualisasi Diri Perguruan tinggi sebagai salah satu institusi pendidikan merupakan bentuk sebuah organisasi yang memiliki organisasi

juga di dalamnya, yaitu organisasi mahasiswa (ormawa). Kehadiran organisasi mahasiswa dalam Perguruan Tinggi diharapkan dapat membentuk mahasiswanya tidak hanya pintar dalam segi hardskill saja, tetapi juga cakap dalam kemampuan softskill-nya. Jenis ormawa ditingkat Universitas atau Fakultas pun beragam ada yang bergerak dalam bidang penelitian, sosial, minat bakat, maupun media. Seperti yang sudah dijelaskan, organisasi merupakan wadah bagi anggotanya untuk memenuhi keinginan pribadi. Secara umum, keinginan pribadi dalam beroganisasi adalah untuk berkatualisasi diri ke arah yang lebih baik. Jika berbicara organisasi mahasiswa dapat kita katakan organisasi mahasiswa seharusnya menjadi wadah bagi mahasiswa untuk beraktualisasi diri. Lantas, kenapa mahasiswa patut berkaktualisasi diri? Abraham Maslow, seorang psikolog humanistik percaya bahwa setiap orang memiliki keinginan yang kuat untuk merealisasikan potensi-potensi dalam dirinya guna mencapai tingkatan aktualisasi diri. Ia berpendapat seorang individu ingin membuktikan manusia tidak hanya bereaksi terhadap situasi yang terjadi di sekelilingnya, tapi untuk mencapai sesuatu yang lebih. Dalam pandangan Maslow, manusia yang mengaktualisasikan dirinya, dapat memiliki banyak puncak dari pengalaman dibanding manusia yang kurang mengaktualisasi dirinya. Hal inilah yang membuat mahasiswa

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017


Opini “Kehadiran organisasi mahasiswa dalam Perguruan Tinggi diharapkan dapat membentuk mahasiswanya tidak hanya pintar dalam segi hardskill saja, tetapi juga cakap dalam kemampuan soft skill-nya�

Pabrik yang menciptakan pemimpin Salah satu hasil dari aktualisasi diri adalah ketika individu mau menjadi pemimpin bagi sekitarnya. Hal inilah yang terkadang luput dalam keorganisasian mahasiswa. Para anggota banyak yang tidak mau menjadi pemimpin dengan alasan belum siap menjadi seorang pemimpin. Hanya segelitir individu saja yang mau untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan. Hal ini dibuktikan ketika pemilihan pemimpin organisasi mahasiswa hanya sedikit yang bersedia menjadi pemimpin. Bahkan lebih mirisnya lagi ketika ditanya apakah ada keinginan kelak nanti menjadi pemimpin, terdapat individu yang tidak mau menjadi pemimpin bagi sekitarnya, karena baginya adalah sebuah beban yang berat. Kita patut sadar bahwa organisasi tak hanya sekedar menjalankan program kerja saja, tapi ada tanggung jawab moral di sana. Setiap pemimpin patut menciptakan pemimpin untuk masa selanjutnya dan anggota harus siap untuk memimpin menggantikan pemimpin sebelumnya. Di sini lah perlu ditekankan bahwa jadikan organisasi sebagai pabrik pencipta pemimpin-pemimpin yang baik. Sangat disayangkan apabila dalam proses beroganisasi kita tidak mau menjadi seorang pemimpin. Jadikan lah organisasi sebagai sarana pembelajaran kepemimpinan sepuasnya, karena ada istilah "Mahasiswa jangan takut salah". Bangsa ini membutuhkan para pemimpin yang mau memajukan negaranya ke arah yang diimpikan oleh para pendiri bangsa.

Sesuai perkiraan hitung-menghitung yang telah kita buat, jika di tingkat fakultas sudah ada 100 orang yang beroganisasi, maka seharusnya organisasi mahasiswa harusnya mampu mencetak 100 pemimpin yang kelak dapat memajukan bangsa ini. Itu pun baru di tingkat Fakultas. Apabila kita gabungkan dalam skala universitas tentu sudah mampu mencetak 1000 lebih pemimpin. Dan jika kita gabungkan lagi unviersitas di seluruh Indonesia, sudah berapa banyak pemimpin yang mampu diciptakan lewat organisasi mahasiswa? Mahasiswa harus meresapi petuah Soekarno yang selama ini selalu digaungkan kepada pemuda Indonesia "Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia�. Sudah sadarkah kita sebenarnya pemuda seperti apa yang diharapkan?

doc.Edents

patut beraktualisasi diri agar memiliki banyak pebgalaman.

*Penulis merupakan Pemimpin Marketing and Communication LPM EDENTS 2017

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017

15 14


15

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017


Geliat Usaha

SATU - There’s a Smile on Your Shoes Dewasa ini sepatu berfungsi tidak hanya sekedar sebagai pelindung kaki. Sepatu kini dipandang pula sebagai barang yang dapat digunakan untuk mempercantik penampilan. Kebersihan sepatu juga sangat penting diperhatikan oleh pemakainya, sayangnya, tidak sedikit orang sering mengabaikan kebersihan dari sepatu itu sendiri. Melihat kondisi ini beberapa orang memanfaatkannya untuk dijadikan lahan bisnis.

Awal Mula Berdirinya Usaha Salon Sepatu “SATU” Salon Sepatu merupakan salah satu usaha di bidang cuci sepatu. Salon Sepatu yang akrab dengan sebutan SATU didirikan oleh Anggara dan kedua temannya, Gunawan Setiawan dan Dewana Nur Artawan. Ketiganya merupakan Mahasiswa Departemen Manajemen angkatan 2016. Rencana awal bisnis mereka yakni membuka usaha cuci helm, cuci sepatu, dan laundry dalam satu waktu dan satu tempat. Keterbatasan modal menjadi penghambat rencana awal mereka. Lalu mereka memutuskan untuk membuka usaha Salon Sepatu SATU. Usaha salon sepatu SATU ini didirikan pada tanggal 28 Agustus 2016. Awal berdirinya SATU hanya bermodalkan uang pribadi sebesar Rp 500.000,00. Saat ini SATU memiliki lima orang karyawan. Keunggulan SATU Dibanding Salon Sepatu Lainnya Segmen pasar dari Salon Sepatu SATU sendiri lebih luas cakupannya. Salon Sepatu dapat dijangkau oleh kalangan menengah bawah maupun menengah atas dengan berbagai jenis pelayanan. “kita tuh sadar kalau semua orang butuh nyuci sepatu, tapi

doc.pribadi

Oleh: Julian, Ulfa

nggak semua bisa bayar mahal. Makanya kita buka dengan cuci reguler. Cuci reguler itu cuci dengan detergen asal bersih. Pokoknya segmen pasarnya lebih luas dibandingkan tempat cuci sepatu biasa,” tutur Anggara. Keunggulan lainnya yaitu Salon Sepatu memberlakukan sistem gratis ongkos kirim. Pelanggan hanya cukup duduk diam di rumah dan dari pihak SATU yang akan menjemput dan mengantar sepatu yang akan dicuci. Proses Bertumbuh Usaha Salon Sepatu SATU Kendala yang dihadapi SATU selama usaha ini berjalan yaitu kerusakan sepatu kulit dari salah satu pelanggan. Namun, kendala tersebut tak lantas membuat ketiganya menyerah. Mereka pun berusaha memperbaikinya dengan bertanya ke salon-salon sepatu lainnya yang lebih berpengalaman. Lewat usaha, tantangan, dan proses yang sulit tersebut membuat SATU dapat terus bertahan diantara persaingan salon sepatu lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dari omzet yang mereka dapat saat ini. Omzet yang didapat oleh SATU saat ini dapat mencapai dua juta-an perbulan. Keuntungan yang didapat ini dua kali lipat lebih banyak dari awal berdirinya. Anggara berharap pasar Salon Sepatu lebih luas dari sekarang. (sdw)

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017

17 16


Opini

Ternyata Sekadar Narasi

doc.magdalene.co

Oleh : Yayuk

Sembilan belas tahun sudah negeri ini merangkak perlahan meniti reformasi. Era baru perjalanan dan perubahan bangsa dari sistem yang sentralistis. Biasa dikenal dengan zaman otoriter, dimana segala sesuatu dilakukan guna memuaskan kepentingan penguasa, bukan lagi kepentingan nasional. Apabila melawan akan tidak hilang atau ditemukan sedang sekarat meregang nyawa. Inilah luka derita mendalam rezim orde baru. Realitanya, tumbangnya orde baru pada tahun 1998 yang diharapkan menjadi era baru bagi kepemimpinan Indonesia, tak juga membuahkan hasil maksimal. Demokrasi di era reformasi dinikmati oleh elit yang

17

berduit, yang kaya makin gagah, yang miskin makin merintih. Era reformasi dengan kebebasan berpendapat semestinya dapat dimaknai dengan baik dan tidak ada lagi penindasan bagi masyarakat, tidak terjadi korupsi, kolusi, nepotisme. Bukan seperti yang terjadi sekarang, masyarakat miskin semakin terlunta-lunta, hukum amburadul, tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Rakyat semakin terpecah belah karena ketidaktegasan pihak penguasa dalam menetapkan keadilan yang terkesan sungguh berbelit-belit, aspirasi rakyat seolah-olah hanya sebatas isapan jempol.

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017


doc.radioidola.com

Opini

Semoga mimpi dan ekspektasi menggapai kebahagiaan yang hakiki di negeri ini dapat segera terwujud. Tidak sekadar ilusi dan delusi yang digaungkan, namun harus direalisasikan semilitan mungkin. Selamat Hari Kebangkitan Nasional. Semoga reformasi tidak sekadar narasi.

doc.Edents

Pihak yang berdaulat semestinya adalah rakyat, pemerintah hanya pemimpin yang menjadi wakil rakyat untuk menjalankan tugas-tugasnya demi kepentingan rakyat, namun apa yang terjadi? Demokrasi hanyalah sebuah fatamorgana. Sungguh, era reformasi ini perlu dipertanyakan kembali. Suara-suara rakyat tumbang ditengah hiruppikuk persoalan politik, kekayaan negara menjadi incaran setiap rezim yang berkuasa. Sebenarnya apa yang diharapkan dari era reformasi? Melihat kondisi bangsa yang kian tak menentu, adakah harapan kembalinya spirit reformasi? Bangsa kita terlalu berdosa jika harus mengorbankan cita-cita para pahlawan. Sungguh keterlaluan, jika kesempatan kedua pasca kemerdekaan disia-siakan, sebuah pengorbanan dari gerakan mahasiswa yang menjadi suntikan ampuh bagi perubahan masa depan bangsa Indonesia. Saat ini, kita hampir berada pada usia kepala dua pasca reformasi, namun belum ada sinyal positif yang menunjukkan kesejahteraan masa depan bangsa Indonesia. Malah kita dapat menyaksikan sekian banyaknya persoalan bangsa yang tak kunjung terselesaikan.

*) Penulis merupakan magang 2016 LPM Edents

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Juni 2017

18


Erlangga 17 buletin dua  
Erlangga 17 buletin dua  

Dalam buletin kali ini, kami menyajikan laporan utama mengenai transformasi program D-3 menjadi Sekolah Vokasi, mulai dari persiapan tenaga...

Advertisement