Page 1

Erlangga 17 | Volume 2 Edisi Mei 2016


“Dari Redaksi

doc.Edents

Tantangan baru bagi mahasiswa FEB Undip. Pasalnya, mulai tahun ajaran 2016-2017 ini Ujian Komprehensif dan Ujian Skripsi yang merupakan salah satu syarat kelulusan akan dilakukan pemisahan dalam waktu pelaksanaannya, tidak lagi digabung menjadi satu hari. Mengapa demikian? Untuk meningkatkan kualitas dari mahasiswa lulusan Undip agar mampu bersaing dengan universitas lain, khususnya ketika melamar pekerjaan menjadi salah satu faktor utama dalam perubahan kebijakan ini. Tentunya kita tidak mau lulusan Undip kalah saing dengan universitas lain, bukan? Tidak hanya di FEB saja, ternyata sistem pemisahan Ujian Komprehensif dan Ujian Skripsi sudah lebih dulu diterapkan di Fakultas Teknik (FT). Bedanya, FT menggunakan istilah Tugas Akhir yang merujuk kepada karya ilmiah yang dilakukan oleh mahasiswa. Hal inilah yang akan menjadi bahasan pada Buletin Erlangga 17 volume 3 edisi September 2016 ini. Selain itu, simak wawancara ekslusif bersama Valensa Yosephi, Mawapres 1 Undip 2016 yang merupakan penggiat organisasi dan pelahap lomba-lomba ilmiah. Dihadirkan pula opini dari Pemimpin Umum, Akbar Sih Pambudhi yang mencoba mengusik masalah Reklamasi Teluk Jakarta. Tak ketinggalan, terdapat opini dari Pemimpin Artistik LPM Edents periode 2016, Anastania Shafira, mengenai permasalahan kemajuan teknologi saat ini, memanfaatkan atau diperbudak eksistensi. Jangan lewatkan pula rubrik kuliner yang menyuguhkan kuliner unik dengan perpaduan antara angkringan dan café, Du Café. Terakhir, kami dari redaksi mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan berita. Kritik dan saran selalu kami harapkan dari para sahabat Edents. Selamat membaca!

BULETIN ERLANGGA 17

Tim Buletin 3 kiri-kanan Niri, Yulina, Luthfi, Desi, Anastania, Dewi, Okta, Emanuella, Septianus, Rismanto, Sadewa, Akbar

DITERBITKAN OLEH : Lembaga Pers Mahasiswa Edents Pemimpin Umum: Akbar Sih Pambudhi, Pemimpin Redaksi: Nur Wahidin, Redaktur Pelaksana Buletin: Yulina Masyrifatun Nisa’, Pemimpin Artistik: Anastania Shafira, Layouter dan Ilustrator: Henty Eka Palupy, Hesti, Abdan Reporter: Afnurul, Mutia, Rismanto, Ida, Niki, Rizki Amalia, Fajar Fansur, Dian P, Cynthia, Filza, Khikmah, Gadis, Emmanuela, Sirkulasi dan Pendanaan: Sandy Hadisurya S.

Erlangga 17 17 | Volume 3 Edisi September2016 Erlangga | Volume 3 Edisi Mei 2016


1

Tea Time With Valensa Yosephi

“Daftar Isi

Pemisahan Ujian Komprehensif dan Skripsi, Tantangan Baru bagi Mahasiswa

3

Oprec Edentser

7

LIPUTAN UTAMA:

5

Polling: Pemberlakuan Pemisahan Ujian Skripsi dan Ujian Komprehensif

9

LIPUTAN UTAMA: Menilik Pelaksanaan Pemisahan Ujian Komprehensif dan Sidang Tugas Akhir di Fakultas Teknik UNDIP

KOMIK “Ujian Komprehensif dan Skripsi”

13

RESENSI BUKU “Rahasia Tergelap”

17

Opini "Antara Memanfaatkan dan Diperbudak Eksistensi"

KOLOM PEMIMPIN UMUM

Kuliner

21

Du Cafe, Harga Terjangkau Kualitas Bintang Lima

Opini

Dirgahayu Republik Kapal Tua Berawak "Gila" Erlangga | Volume 2 Edisi Mei 2016 Erlangga 1717 | Volume 3 Edisi September2016

11 15 19


Teatime With Valensa Yosephi Oleh: Akhmad Sadewa Suryahadi

Eksplorasi Diri dan Nikmatilah

J

Selain menjadi Mawapres, prestasi apa saja yang Anda raih? Selama menjadi mahasiswa, cukup banyak kegiatan yang saya lakukan karena saya termasuk orang yang senang mencoba hal-hal baru (read: kepo). Dari kegiatan berorganisasi sampai berbagai lomba ilmiah dan akademik, saya coba lakukan. Beberapa prestasi yang berkesan bagi saya adalah kesempatan untuk presentasi di depan profesor dan dokter dari berbagai negara untuk mempresentasikan hasil penelitian saya dan ketika saya bersaing dengan mahasiswa Kedokteran seluruh dunia dalam kompetisi Mikrobiologi, Imunologi, dan Parasitologi Internasional di Thailand tahun 2015. Saat itu, saya berhasil mendapatkan penghargaan Bronze Medal sebagai Excellent Performer pada MCQ.

1

anakundip.com

adwal kuliah yang padat dan tuntutan belajar yang tinggi sudah menjadi teman akrab sejak masuk kuliah tahun pertama di jurusan Kedokteran. Namun, siapa sangka hal itu tidak dapat menghalanginya meraih prestasi sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) 1 UNDIP 2016? Organisasi, lomba ilmiah, dan akademik semuanya dapat berjalan dengan seimbang. Bahkan ia pernah mempresentasikan hasil penelitiannya di hadapan para profesor dan dokter seluruh dunia. Siapakah ia dan bagaimana kiatkiat suksesnya? Simak kisahnya dalam hasil wawancara tim LPM Edents berikut ini.

Seperti apa alasan Anda memilih jurusan Kedokteran sebagai tempat melanjutkan pendidikan? Hal yang paling penting saat memilih jurusan adalah memilih dengan passion (keinginanred). Walaupun banyak pertimbangan lainnya juga, seperti rencana masa depan, peluang, kebutuhan, dan berbagai hal lainnya. Apabila kita memilih berdasarkan passion, niscaya kita tidak akan merasakan satu hari pun bekerja dalam hidup. Pertimbangan ini juga yang saya ambil saat memilih jurusan Kedokteran. Saya sangat tertarik untuk mendalami bidang kesehatan manusia dan tersentuh melihat perjuangan dan interaksi dokter saat berhadapan dengan pasien.

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016


“Percayalah bahwa hambatan terbesar itu bukan datang dari luar, tapi dari dalam diri kita sendiri. Semua tantangan eksternal bisa dicari solusinya apabila kita memiliki kepercayaan diri dan keinginan untuk mengatasinya.”- Valensa Yosephi, Mawapres 1 Undip 2016 Saat kuliah, adakah pengalaman yang berkesan untuk Anda? Tentu banyak sekali hal yang mengesankan di bangku kuliah. Masa-masa awal masuk kuliah, banyak teman-teman yang shock (kagetred) karena jadwal perkuliahan yang padat dan tuntutan belajar yang tinggi. Semester 2 dan 3 kami mendapat mata kuliah anatomi. Dosen-dosennya memang terkenal ‘killer’ dan memiliki sikap disiplin tinggi. Kami belajar anatomi langsung dari preparat cadaver (mayat) dan memilih untuk tinggal di lab anatomi sampai malam hari agar bisa belajar bersama. Pengalaman tersebut tidak akan pernah saya lupakan. Apa organisasi yang pernah/sedang Anda ikuti? Selama empat tahun berkuliah, saya sempat berkontibusi pada beberapa organisasi intra dan ekstra kampus. Tahun pertama, saya bergabung dengan HIMA (Himpunan Mahasiswa) Kedokteran Umum bidang riset. Di sini saya belajar mengenai iklim riset di Kedokteran Umum dan belajar bagaimana untuk melakukan riset. Tahun kedua, saya bergabung dengan Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) FK Undip sebagai Wakil Ketua dan Asian Medical Student Association (AMSA) Undip sebagai staf. Pada tahun ketiga saya tetap berada di organisasi yang sama namun saya dipercaya menjadi Ketua Divisi Keilmiahan di KSM dan menjadi research team di AMSA Indonesia. Menurut Anda, pentingkah berorganisasi ? Apakah setelah lulus kuliah kita memilih bekerja atau membangun usaha sendiri, kita akan terus berhubungan dengan orang lain. Di sinilah pengalaman kita berorganisasi memegang peranan penting karena ada seni dalam berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Bila kita tidak mengasah soft skill kita sejak dini, mau kapan lagi?

Apakah hambatan Anda dalam mencapai cita-cita? Percayalah bahwa hambatan terbesar itu bukan datang dari luar, tapi dari dalam diri kita sendiri. Semua tantangan eksternal bisa dicari solusinya apabila kita memiliki kepercayaan diri dan keinginan untuk mengatasinya. Sering kali, tanggapan dan respon kita yang membatasi. “Ah, saya takut, tidak pantas, tidak bisa. Ah, biar orang lain saja yang melakukannya dan bersusah payah. Ah, saya malas, lelah, sudah begitu banyak tanggung jawab,” respon itulah yang tidak akan membuat kita berkembang. Sebaliknya, dengan mengatasi batasan-batasan internal dalam diri, kita akan mampu mengubah hambatan eksternal menjadi kesempatan dan batu loncatan. Apa pesan Anda untuk mahasiswa? Pesan saya bila Anda adalah seorang mahasiswa baru: jangan masuki bangku perkuliahan tanpa memiliki tujuan dan target apa saja yang ingin dicapai selama perkuliahan. Tulis beberapa target secara detail minimal empat tahun ke depan, saat Anda lulus ingin jadi lulusan seperti apakah Anda. Target ini tidak melulu harus prestasi atau pencapaian akademik, dapat juga tentang perkembangan diri yang ingin dicapai, misalnya menjadi orang yang tepat waktu. Eksplorasi diri sebanyak-banyaknya dan nikmatilah. Pesan untuk teman-teman mahasiswa lainnya: belum terlambat bagi Anda untuk mencapai beberapa hal penting. Selagi masih di bangku kuliah, manfaatkan waktu, jangan lupa siapkan diri untuk dunia kerja nanti. Apa pun yang Anda lakukan, jangan lupa juga berkontribusi untuk Undip dan masyarakat. Hidup bukanlah suatu kompetisi untuk mengambil sebanyakbanyaknya, tetapi untuk membagikan sebanyak-banyaknya. (nw)

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016

23


LIPUTAN UTAMA

Pemisahan Ujian Komprehensif dan Skripsi, Tantangan Baru bagi Mahasiswa Oleh: Albertus Agung P, Dewi Hastuti, Riya Niri Rinduastuti

Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro pada tahun ajaran 2016-2017 ini akan melaksanakan ujian komprehensif dan ujian skripsi secara terpisah bagi para mahasiswanya. Dengan berbagai macam hal yang dipertimbangkan, tujuan dari pemisahan ujian komprehensif dan ujian skripsi ini adalah untuk meningkatkan kualitas dari mahasiswa lulusan Undip agar mampu bersaing dengan Universitas lain, khususnya ketika melamar pekerjaan. Pemahaman mahasiswa Menurut Harjum Muharam selaku Ketua Jurusan Manajemen FEB Undip, latar belakang dipisahnya ujian komprehensif dengan skripsi dikarenakan pemahaman mahasiswa terhadap apa yang didapatkan selama kuliah saat itu sangat rendah. “Mahasiswa itu jika ditanya masalah manajemen keuangan, masalah akuntansi, masalah dari ekonomi mereka itu blank (kosong-red), nggak tahu apa-apa,” ungkap Harjum. Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa yang nanti belum lulus ujian komprehensif tidak bisa mengikuti ujian skripsi. Harjum juga mengungkapkan pemisahan ujian komprehensif dan skripsi pada tahun ini merupakan bentuk evaluasi dari sistem sebelumnya. “Iya, sebelumnya kan digabung ujian skripsi, waktunya cuma satu setengah jam bahkan sudah habis di ujian skripsi, komprehensifnya lewat,

3

jadi nggak ada mekanisme kontrol yang memastikan kualitas mahasiswa lulusan kita itu seperti apa,” jelas Harjum. Senada dengan yang diungkapkan Harjum, Anis Chariri sebagai Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan FEB Undip, latar belakang dipisahnya ujian komprehensif dengan skripsi dikarenakan sistem yang ada sebelumnya dirasa kurang efektif. Anis juga menambahkan ketidakefektifan ini dikarenakan ketika tidak mampu menjawab pertanyaan, mahasiswa harus berurusan dengan dosen di luar jadwal resmi yang akan memakan waktu yang lama. Maka dari itu, Anis menawarkan kepada masing-masing departemen untuk memisah ujian komprehensif dengan skripsi. “Dipisah dalam artian memang untuk kompre itu, fokusnya hanya di konsentrasi ilmu masingmasing sehingga bisa ketahuan oh ini kurang ini, kurang itu. Biar mahasiswa bisa betul-betul siap gitu,” papar Anis. Ia juga menambahkan bahwa uji coba pemisahan ujian komprehensif dan skripsi ini akan dilakukan di Jurusan Akuntansi terlebih dahulu. Diserahkan pada jurusan Anis mengungkapkan bahwa pemisahan ujian komprehensif dengan skripsi ini telah disosialisasikan di Jurusan Akuntansi dan kemudian akan menyusul di Jurusan Manajemen. “Kalau untuk Akuntansi sudah jalan. Kalau Manajemen mungkin nanti menyusul. Karena kemarin ketemu Sekretaris

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016


“Dipisah dalam artian memang untuk kompre itu, fokusnya hanya di konsentrasi ilmu masing-masing sehingga bisa ketahuan oh ini kurang ini, kurang itu. Biar mahasiswa bisa betul-betul siap gitu,”- Anis Chariri, Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan

Serius ujian Dengan dipisahkannya sistem ujian komprehensif dengan skripsi ini, Anis berharap mahasiswa bisa serius dan tidak

mengabaikan substansi serta kompetensinya di bidang ilmunya masing-masing. “Ya paling tidak dengan menggunakan sistem pemisahan ini nanti ujian kompre itu bisa jadi serius dan waktu ujian skripsi itu, mahasiswa tidak mengabaikan substansi, kompetensi, di bidang ilmu masing-masing jadi ujiannya bisa diperpendek,” jelas Anis. Sejalan dengan Anis, Harjum berharap kualitas yang dihasilkan dapat sesuai dengan yang dijanjikan dan ada mekanisme kontrol untuk menciptakan lulusan terbaik. Tresya berharap mahasiswa tidak takut untuk menghadapi ujian komprehensif. “Semoga pemisahan kompre skripsi tidak membuat mahasiswa menjadi semakin takut untuk menghadapinya. Semoga setiap mahasiswa bisa mengambil sisi positifnya sesuai dengan pemikiran masing masing,” tutup Tresya. (nw)

doc. Edents

Departemen katanya masih dalam proses pengerjaan soal ya,” terang Anis. Dalam pelaksanaan sistem baru ini masing-masing jurusan memiliki keunikan yang berbeda dari jurusan lain, sehingga perlu perencanaan matang. Anis menjelaskan bahwa pemisahan ujian komprehensif dengan skripsi sepenuhnya diserahkan pada masingmasing bidang studi. “Sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing bidang studi dari diminta untuk membuat soal,” jelas Anis. Selain itu, Harjum menegaskan bahwa sistem ini mengharuskan mahasiswa lulus tes komprehensif terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ujian skripsi. “Sistemnya akan ada sistem computerize kita akan buat bahan soal dan desainnya ada 100 soal, passing grade minimal 70. Mahasiswa harus bisa mengerjakan secara benar 70 soal kalau belum ya harus mengikuti ujian berikutnya nah untuk bisa masuk ke ujian skripsi,” tukas Harjum. Menanggapi kabar tersebut, Tresya Oktavera sebagai mahasiswa jurusan Manajemen 2013 Universitas Diponegoro mengungkapkan bahwa harus mempersiapkan diri semaksimal mugkin untuk menghadapi ujian komprehensif. “Ya harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin, selain skripsi dipersiapkan sematang mungkin juga harus mempersiapkan belajar mata kuliah dari semester satu sampai akhir supaya bisa maksimal waktu hari H,” jelas Tresya.

LIPUTAN UTAMA

Anis Chariri, Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan FEB Undip

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016

45


N

5

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016


Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016

67


doc.Edents

Oprec Edentser

doc.Edents

Darwanto selaku pembina LPM Edents sedang menyampaikan sambutan

Calon Magang Edents 2016 ketika mengajukan pertanyaan

7

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016


Oprec Edentser

doc.Edents

Pelatihan Dasar Jurnalistik Tingkat Dasar 2016

doc.Edents

Praktik materi keredaksian

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016

89


LIPUTAN UTAMA

Menilik Pelaksanaan Pemisahan Ujian Komprehensif dan Sidang Tugas Akhir di Fakultas Teknik UNDIP

Seperti Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta lainnya, Universitas Diponegoro juga memberlakukan Ujian Komprehensif serta Sidang Skripsi atau Tugas Akhir sebagai syarat mahasiswa sebelum menyandang gelar sarjana. Mayoritas fakultas melaksanakan ujian komprehensif dan sidang skripsi secara bersamaan. Namun, terdapat fakultas yang melaksanakan ujian komprehensif dan ujian skripsi secara terpisah, contohnya beberapa program studi di Fakutas Teknik. Ujian komprehensif adalah tes tertulis maupun lisan untuk melihat sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap materi yang didapat selama di perkuliahan, mulai semester awal hingga akhir. Ujian komprehensif atau yang sering disingkat ujian kompre meliputi seluruh aspek bidang ilmu dalam lingkup yang luas. Biasanya ada dua hal yang menyebabkan mahasiswa tidak lulus ujian kompre. Pertama, mahasiswa yang tidak memahami dan mempelajari materi dengan baik. Kedua, standar kriteria kelulusan yang tinggi dari dosen penguji. Sedangkan untuk sidang skripsi atau tugas akhir adalah tahap mahasiswa menyampaikan hasil karya ilmiahnya di hadapan dosen penguji. Sidang skripsi dilaksanakan setelah mahasiswa melalui serangkaian tahap, mulai dari pengajuan judul skripsi, pengajuan proposal skripsi, seminar proposal skripsi, penelitian, dan konsultasi dosen pembimbing. Dalam sidang skripsi ini mahasiswa akan mendapat kritik

9

maristmediahub.com

Oleh : Desi W, Dias Wahyu R, Septianus Angga W.

dan masukan untuk penyempurnaan karya ilmiah atau tugas akhirnya. Awal mula pemisahan Salah satu program studi (prodi) di Fakultas Teknik, yakni Teknik Geologi, telah melaksanakan ujian kompre dan sidang tugas akhir sejak berdirinya Prodi Teknik Geologi tersebut. Ujian kompre Prodi Teknik Geologi disebut juga ujian kolokium. Ujian kolokium menjadi prasyarat yang harus dilakukan semua mahasiswa Teknik Geologi sebelum membuat tugas akhir. Meskipun tidak tertulis dalam kurikulum, syarat tersebut bersifat mengikat. Karena tidak tertulis maka nilai ujian kolokium tidak masuk dalam transkrip nilai mahasiswa, melainkan akan muncul di sidang pendadaran. Alasan dilaksanakannya ujian kolokium adalah untuk menguji sejauh mana kesiapan dari mahasiswa. Ujian ini mengadopsi dari prodi Teknik Geologi universitas lain yang sudah mapan seperti Universitas Gajah Mada dan Institut Teknologi Sepuluh November. Tidak meniru secara persis, akan tetapi hanya mengambil titik tengahnya kemudian dikolaborasi dengan ciri khas prodi Teknik Geologi Undip. Sebab lain adalah kemampuan dalam penyusuan redaksional tiap mahasiswa itu berbeda-beda, seperti beda materi dan beda referensi. Dari ujian itulah dosen bisa memprediksi nilai yang layak untuk setiap mahasiswa.

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016


Sebuah Perguruan Tinggi pastilah menginginkan mencetak lulusan yang terbaik dibidangnya. Berbagai cara dan persiapan akan LIPUTAN dilakukannya. Mulai dari pemberian kurikulum yang padat hingga UTAMA ujian akhir yang menguras fokus mahasiswa. Pun Fakultas Teknik Undip telah mempersiapkan lulusannya dengan pelaksanaan serangkaian ujian guna mendukung lulusan-lulusannya di dunia kerja Sebagai bekal mahasiswa Meski tergolong sulit, pemisahan ujian kompre dan sidang tugas akhir tetap disetujui oleh mahasiswa teknik. Menurut Fajrul Falah Rosyid, mahasiswa Teknik Perkapalan, ujian kompre fokus kepada bagaimana pemahaman mahasiswa terhadap materi yang diberikan selama perkuliahan. Materi tersebut akan menjadi dasar dan bekal dalam menghadapi dunia kerja. Sedangkan tugas akhir lebih fokus kepada mempraktikkan atau aplikasi nyata dari materi yang didapat. Fajrul menambahkan bahwa pemisahan tersebut sebagai upaya universitas untuk menghasilkan lulusan-lulusan sarjana yang berkompeten untuk menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). “Selain itu dengan adanya Masyarakat Ekonomi Asean yang di depan mata, kita juga dituntut menghasilkan lulusan-lulusan sarjana yang berkompetensi di masyarakat ASEAN,� tuturnya. Mekanisme pelaksanaan Fajrul menjelaskan bahwa di Teknik Perkapalan, ujian kompre dan sidang tugas akhir memiliki mekanisme tersendiri. Tahap awal mahasiswa akan melakukan seminar proposal atau yang sering disingkat Sempro. Setelah Sempro usai, mahasiswa akan diberi waktu selama 8 bulan untuk penyelesaian tugas akhir. Setelah delapan bulan barulah mahasiswa akan mendaftar ke jurusan untuk seminar hasil. Di sela-sela seminar proposal dan seminar hasil akan ada tugas rancang yang terdiri dari rancang satu hingga rancang lima. Tugas rancang itulah yang akan dijadikan sebagai dasar ujian kompre. Pelaksanaan ujian kompre adalah selama rentang delapan bulan tersebut. Pasca ujian

kompre akan diikuti seminar hasil dan seminar tugas akhir. Pada seminar tugas akhir barulah akan ditentukan lulus tidaknya seorang mahasiswa. Selama bertahun-tahun pemisahan berjalan, baik bidang akademik maupun mahasiswa tetap merasakan beberapa kendala. Kendala dari mahasiswa tak lain adalah pemahaman materi dari semester awal hingga akhir. Sedangkan kendala di tugas akhir adalah menemukan judul yang pas, menyelaraskan pemikiran mahasiswa terhadap dosen pembimbingnya. Jangan terlalu memberatkan Pemisahan ujian kompre dan sidang tugas akhir yang dipisah dianggap efektif oleh banyak pihak. Selain lebih fokus, sistem pemisahan akan lebih memantapkan kapasitas dan kapabilitas mahasiswa terhadap prodi yang dijalaninya. Mahasiswa diharapkan jangan terburu-buru dalam menjalani proses pengerjaan tugas akhir. Banyak mahasiswa yang menjadi tidak fokus karena melihat temannya sudah lulus, sudah bekerja dan sebagainya hingga membuat tugas akhir tidak maksimal. Bagian akademik Teknik Geologi berharap agar dosen penguji tidak memberikan ujian kompre yang terlalu berat bagi mahasiswa, mengingat biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan sekali ujian terhitung mahal. “Kalau untuk Geologi ke depan pelaksanaannya saya berharap jangan terlalu memberatkan mahasiswa karena persiapan untuk ujiannya saja sudah mahal dalam arti memakan banyak biaya,� tutup Sugi, Staf Akademik Program Studi Teknik Geologi Undip. (nw)

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016

11 10


doc.Edents

KOMIK

11

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016


Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016

13 12


RESENSI BUKU

doc. bukubukularis.com

Judul Penulis Penerbit Cetakan Tebal Genre Peresensi

Mendebarkan dan membuat pembaca terperangah. Itulah kesan pertama yang akan dirasakan setelah membaca novel terbaru karya Lexie Xu ini. Ceritanya penuh dengan rahasia dan tentunya mampu membuat pembaca bergidik ngeri. Novel ini dibuka dengan narasi dari sudut pandang Ella yang kehidupannya akhir-akhir ini sangat memilukan dan penuh misteri. Mulai dari pacarnya, Andrew, yang berselingkuh saat liburan kuliah, ditambah lagi dengan teman-temannya yang berkhianat, terutama Bea (teman satu gengnya). Setelah itu, Ella memutuskan menjatuhkan diri dari ketinggian puluhan meter dari atap gedung lantai tiga Fakultas Ekonomi kampusnya. Tragis! Kemudian cerita bergulir flashback seminggu sebelum tragedi yang menimpa Ella. Pada saat itu, Giselle dikejutkan dengan kabar Merly yang tewas karena bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari atap gedung lantai tiga Fakultas Ekonomi. Berita ini sungguh mengagetkan karena Merly dikenal tidak memiliki masalah dengan siapa pun. Gadis itu selalu nemplok sana sini, bergabung dengan geng satu ke geng

13

: Rahasia Tergelap : Lexie Xu : Gramedia Pustaka Utama : Pertama, Juli 2016 : 304 Halaman : Novel Remaja : Hesti Hardana

lainnya. Meskipun begitu, tidak ada yang mau berteman dengan Merly. Giselle dan temantemannya merasa aneh dengan kondisi ini dan memutuskan untuk menelusurinya. Tak disangka Daryl dan geng klub futsalnya pun turut membantu memecahkan kasus tersebut. Penyelidikan mulai dilakukan satu per satu. Namun, tak disangka Ella menjadi korban kedua dari kasus janggal ini. Dia dikabarkan bunuh diri. Dari petunjuk-petunjuk yang didapatkan menggambarkan bahwa Ella dibunuh. Erika Guruh yang semula dimintai bantuan hanya untuk meng-hack ponsel Merly akhirnya ikut campur lebih dalam pada kasus serupa. Saat tuduhan makin menjurus ke beberapa nama, siapa sangka Giselle akan menjadi target berikutnya? Apa selanjutnya Bea, Delilah, bahkan Paulin yang menjadi target? Siapa sebenarnya sang pembunuh keji itu? Penulis dalam novel ini mengungkap misteri secara perlahan-lahan hingga semua misteri disampaikan pada saat yang tepat. Meskipun ini novel misteri, poin yang signifikan adalah plotnya yang naik turun plus karakterisasinya yang apik. Sang penulis lihai menyajikan rangkaian cerita yang bisa membuat pembaca bertanya-tanya sepanjang halamannya. Namun, pembaca tidak perlu khawatir bosan berlarutlarut karena kita akan membaca penyelidikan yang intensif di novel ini. Selain itu, kehidupan kampus diungkapkan lewat POV Giselle

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016


Lexie Xu doc. getscoop.com

dan POV Daryl yang terasa nyata dengan kehidupan perkulihan di sekitar kita. Giselle akan mengajak kita pada hubungan dengan teman-teman gengnya yang kontras dengan masing-masing kepribadian dan latar belakang keluarganya. Juga perselisihan antara geng Giselle dengan geng The Bulliers (Devi, Venita, Felis, Krissy, Maura, Amy). Hal tersebut membuat masalah menjadi semakin kompleks. Perihal penyelidikan kasusnya juga lumayan rapi diungkapkan dalam novel ini. Faktor keberadaan Erika Guruh membantu penyelidikan yang membuka kedok pelaku secara perlahan sehingga jalan cerita menjadi smooth. Pembaca bisa menikmati penyelidikan kasus meskipun hal itu dijabarkan pada halamanhalaman akhir. Nama-nama yang kita pikir berpotensi menjadi pelakunya, tapi ternyata prasangka itu meleset karena pelakunya dibuat unpredictable ditambah motif pembunuhannya yang keji. Karakter tokoh dalam novel ini cukup kuat. Giselle digambarkan sebagai cewek yang mencoba peduli pada teman-

temannya. Meskipun dia kurang peka dengan perasaan sahabat-sahabatnya ketika tertimpa masalah, tapi ketika tragedi sudah banyak terjadi, rasa simpati Giselle kambuh. Teman-temannya yang lain pun begitu. Daryl dan kawan-kawan sangat kompak dan mereka mengilustrasikan mahasiswamahasiswa zaman sekarang yang hobi bermain futsal, respect dengan perempuan, melakukan banyak sesuatu secara bersamasama, dan mereka melakukan pembullyan untuk tampil keren. Sayangnya, kehadiran Erika Guruh yang terlalu menonjol membuat dua main character-nya jadi tenggelam karena Erika muncul sebagai resolusi beberapa konflik. Meskipun bagiannya tidak banyak tetapi cukup kuat mendominasi karakter. Novel Rahasia Tergelap menjadi novel rekomendasi, bukan hanya tokoh cerita yang kuat namun alur cerita yang misteri menjadi daya tarik pembaca. Ceritanya kekinian dan kasus misterinya tidak pasaran., sehingga kamu akan mencari seri selanjutnya. Selamat membaca! (nw)

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016

15 14


KOLOM PEMIMPIN UMUM

Reklamasi Teluk Jakarta, Siapa yang Untung? selasar.com

Oleh: Akbar Sih Pambudhi

Pada tahun 2012, telah disahkan Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta No.1 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030 yang kemudian mengubah pengaturan pulau-pulau reklamasi yang sebelumnya diatur dalam Perda No. 8 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Pantura Jakarta. Jadi sejak tahun 1995 yaitu pada pemerintahan Orde Baru, sudah ada Perda yang mengatur penyelenggaraan RTR Kawasan Pantura Jakarta. Namun apa yang menjadi alasan pemerintah pada waktu itu, sehingga harus menyelenggarakan reklamasi di pantai utara Jakarta? Alasannya antara lain dengan adanya reklamasi di Pantai Utara Jakarta diharapkan dapat melindungi wilayah utara Jakarta dari bahaya banjir rob (banjir yang diakibatkan air laut pasangred). Selain itu adalah untuk menambah lapangan kerja bagi penduduk Jakarta dan meningkatkan investasi dan pendapatan asli daerah (PAD). Semua itu adalah alasan yang masuk akal, tapi mengapa semua hal itu mengalahkan dampak proyek reklamasi, yaitu pencemaran lingkungan perariran di Pantai Utara Jakarta. Dengan adanya proyek reklamasi tentu saja akan mencemari laut utara Jakarta dan secara tidak langsung mengusir keberadaan para nelayan disana. Mengapa kepentingan rakyat kecil selalu dikalahkan? Bila ingin

15

memperbaiki ekosistem di pesisir utara Jakarta, mengapa justru malah membangun proyek reklamasi? Bukankah lebih baik bila menyediakan anggaran khusus untuk proyek rehabilitasi lingkungan perairan di pesisir pantai utara Jakarta, sehingga pantai utara lebih bersih dan dapat meningkatkan hasil perikanan dan budidaya tanaman laut. Permainan pemilik modal Pada kenyataannya, proyek reklamasi Jakarta ini hanya jadi 'mainan' bos-bos konglomerat. Ironisnya, selain perusahaan pengembang pihak pemerintah daerah dan perangkat negara seperti TNI, BUMN, dan bahkan Pemerintah Provinsi (PemProv) DKI pun turut andil dalam kepemilikan saham dari proyek reklamasi tersebut. Tentulah dengan memiliki pulau hasil reklamasi, khususnya bagi para pengembang, mereka punya tujuan bisnis murni yaitu dengan membangun perumahan elit, ruko dan gedung perkantoran. Entah apa tujuan dari pihak perusahaan yang dimiliki oleh kalangan militer yang ada disana, juga dari pihak pemerintah dalam hal ini BUMD, BUMD dan PemProv DKI. Apakah mereka juga ingin membangun tempat-tempat peristirahatan atau wisata dengan tujuan bisnis dan lain-lain? Apakah mungkin PemProv DKI akan membangun perumahan rakyat atau rusun di atas pulau reklamasi? Apakah mampu rakyat

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016


KOLOM PEMIMPIN UMUM

Ladang bisnis Hasil reklamasi tentu akan menjadi ladang bisnis yang menggiurkan, sebab Jakarta adalah pusat bisnis, yang mana apa saja yang dijual, tentu akan laku keras, apalagi berada di lingkungan pantai yang banyak dicari oleh orang-orang berduit. Pulau hasil reklamasi tentu akan dimanfaatkan secara bisnis agar menguntungkan, dan semuanya ini adalah mainan orang kaya, dari dan untuk orang kaya. Semuanya ini hanya menguntungkan orang-orang kaya semata. Lalu bagaimana dengan nasib rakyat kecil yang mencari nafkah di perairan utara Jakarta? Adakah yang masih memikirkan nasib mereka? Bahkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pun juga membela orang-orang kaya, hingga tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi saat menerima suap dari bos-bos konglomerat. Yang jelas, nelayan yang mencari nafkah di perairan utara Jakarta telah menjadi korban, karena pencemaran lingkungan akibat proyek reklamasi ini. Alihkan investasi Mereka dipaksa mengalah oleh pihak-pihak yang saharusnya melindungi mereka. Mau bagaimana bila sudah terlanjur. Layaknya nasi sudah menjadi bubur, maka yang bisa dilakukan adalah jangan membuang buburnya, tapi lanjutkan proyek yang sudah berjalan, tentu dengan memberlakukan aturan baru dan meningkatkan pengawasan

pembangunan, sedangkan proyek reklamasi lainnya yang belum terlaksana harus dihentikan. Alihkan investasi untuk membiayai proyek rehabilitasi lingkungan perairan di pantai utara Jakarta. Lindungi hak-hak nelayan dalam mencari nafkah di laut Jakarta. Hendaknya dicari jalan tengah yang adil dan tidak saling merugikan pihak lain. Bila memang Menteri Perikanan dan Kelautan setuju menghentikan proyek reklamasi pantai Jakarta demi kepentingan perlindungan terhadap lingkungan hidup dan para nelayan, tapi bukan berarti dalam pelaksanaannya merugikan pihak lain yang telah terikat dengan peraturan yang ada. Kebijaksanaan pemerintah yang adil sangat bergantung kepada hasil pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh Ahok (Basuki Cahaya Putra-red) sebagai Gubernur DKI Jakarta. Untuk kesekian kalinya Ahok diuji, seberapa jauh bisa melangkah di dalam kerangka keadilan, tanpa harus merugikan pihak lain, demi tercapai tujuan dengan sebaik-baiknya. (nw)

doc.Edents

kecil membeli atau mengangsur rumah yang dibangun di atas pulau reklamasi? Sudah barang tentu, pulau reklamasi akan dimanfaatkan agar mendapatkan keuntungan maksimal bagi kepentingan Pemerintah Daerah, yaitu meningkatkan PAD dan tanpa meperdulikan nasib rakyat kecil di sekitar pantai utara Jakarta. Untuk apa Pemda DKI berusaha menghimpun kekayaan yang melimpah ruah, sedangkan kepentingan rakyat kecil selalu dikesampingkan?

*) Penulis merupakan Pemimpin Umum LPM Edents periode 2015/2016

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016

17 16


Opini

emarketer.com

Antara Memanfaatkan dan Diperbudak Eksistensi Oleh: Anastania Shafira

Seiring dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan informasi sangatlah diperlukan. Dunia semakin berkembang karena tuntutan akses infomasi yang begitu cepat. Sebut saja internet. Seolah dapat menghilangkan jarak ruang dan waktu, kita dapat terhubung dengan masyarakat dunia dimanapun dan kapanpun untuk mencari dan berbagi beragam informasi. Berbagai manfaat dari internet itulah yang membuat pengguna internet dari tahun ke tahun semakin meningkat. Seperti yang dilansir di situs emarketer.com, Indonesia menempati urutan ke-6 sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbanyak di dunia. Ditambah lagi diperkirakan tahun-tahun berikutnya pengguna internet akan terus meningkat sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin modern. Budaya Media Sosial? Kebutuhan masyarakat akan internet pada saat ini bukan hanya untuk mencari informasi atau mendukung pekerjaan seperti mengirim pesan elektronik. Namun, saat ini internet sebagian besar digunakan untuk mengakses media sosial. Seperti yang dilansir oleh www. kominfo.go.id, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta

17

orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Tidak hanya orang dewasa yang sudah berpenghasilan, bahkan anakanak di bawah umur sudah bisa mengakses dan juga memiliki akun-akun media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, Tumblr, dan sebagainya. Mengapa media sosial? Karena dengan menggunakan media sosial masyarakat dapat dengan mudah berkomunikasi jarak dekat maupun jarak jauh tanpa harus bertatap muka satu sama lain. Perkembangan ini juga didukung oleh berbagai perusahaan yang mengeluarkan berbagai macam merk smartphone, tab serta berbagai macam gadget pintar lainnya dengan harga terjangkau. Selain varian gadget pintar yang tersedia, operator seluler pun berbondong-bondong menyediakan kemudahan berselancar di dunia maya dengan mengeluarkan fitur-fitur paket internet yang murah meriah dan dapat memberikan kenyamanan dan keleluasaan bagi penggunanya, khususnya untuk mengakses berbagai media sosial. Media Sosial, Sarana Apresiasi Diri Media sosial biasanya digunakan sebagai tempat untuk mengekspresikan diri. Selain itu, banyak juga yang memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk menghasilkan

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016


Opini

Dampak Negatif Media Sosial Layaknya pisau bermata dua, media sosial pun memiliki dampak negatif jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Terlebih untuk remaja saat ini yang lebih banyak menggunakan media sosial hanya untuk update (memamerkan-red) kesehariannya. Seperti halnya dengan berfoto. Berfoto saat ini sudah menjadi hal yang sangat biasa dilakukan. Banyak orang yang berkunjung ke suatu tempat seperti restoran, mendaki gunung atau ke wisata alam lainnya hanya untuk mencari tempat untuk berfoto dan kemudian mengunggahnya ke sosial media. Hanya mengunggah foto pun tidak cukup. Remaja sekarang menjadikan jumlah like (simbol tanda suka dalam media sosialred) sebagai tolok ukur keeksisan dirinya di dunia maya. Hal inilah yang melatarbelakangi aktivitas masyarakat demi mendapatkan like, yang tentunya dapat membahayakan dirinya. Seperti yang menimpa Erry Yunanto, mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Pada Sabtu, 16 Mei 2015, ia dikabarkan terjatuh pada saat melakukan selfie (berfoto dengan gaya – red) di atas Puncak Garuda Gunung Merapi. Erry diketahui terpeleset ke dalam kawah sedalam 100-200 meter seperti dilaporkan oleh Tim SAR Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali. Mirisnya, hal serupa juga terjadi di luar negeri seperti yang dilansir www.citizen6. liputan6.com. Seorang gadis berusia 17 tahun bernama Xenia Ignatyaeva melakukan

selfie extreme di ketinggian 30 kaki dengan menggunakan kamera kesayangannya pada malam hari untuk memberikan efek kota Rusia dengan latar belakang jalur kereta api. Namun, saat Xenia kehilangan keseimbangan ia terjatuh dari sisi jembatan dan berusaha menyelamatkan diri dengan meraih kabel listrik untuk berpegangan. Naasnya kabel tersebut merupakan kabel tegangan tinggi dengan sengatan listrik sebesar 1.500 volt yang menewaskan dirinya. Cerdas Menggunakan Media Sosial Media sosial sedikit demi sedikit membawa kita ke suatu pola budaya yang baru dan mulai menentukan pola pikir kita. Besarnya dampak media sosial baik positif maupun negatif perlu dicermati lebih dalam, khususnya untuk para orang tua agar mengawasi anaknya dalam pemakaian gadget. Selain peran orang dewasa, kita sebagai pengguna dari ponsel pintar pun harus menjadi pengguna yang memahami batas-batas wajar penggunaan gadget dan media sosial. Jangan sampai kita terlalu diperbudak oleh tuntutan eksistensi dunia maya yang sebenarnya tidak terlalu memberi dampak positif bagi kehidupan kita. (nw)

doc.Edents

uang. Contohnya adalah bisnis online shop yang kini kian digandrungi. Selain dapat menjangkau pasar di seluruh penjuru Indonesia, bisnis online shop juga tidak memerlukan tempat khusus layaknya toko. Hanya dengan bermodalkan gadget dan paket internet, kita sudah bisa mengakses online shop. Selain itu bagi para remaja yang kreatif, media sosial juga bisa digunakan sebagai ajang ‘unjuk gigi’ keahliannya, seperti bernyanyi, mengedit video maupun foto, melukis, dan lain-lain.

*) Penulis merupakan Pemimpin Artistik LPM Edents periode 2015/2016

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016

19 18


Kuliner

Du Cafe, Harga Terjangkau Kualitas Bintang Lima

doc.Edents

Oleh: Luthfi Setia Mardani & Lin, ShieShielia Intan S

Du Cafe, angkringan yang berada di jalan Durian, Banyumanik ini menarik minat banyak orang karena tempatnya yang unik. Tempat yang baru dibuka tanggal 3 Juni 2016 ini mempunyai beberapa tema untuk dekorasinya. Tema dekor dibagi menjadi tiga, yaitu Amerika untuk bagian pameran mobil, Inggris, dan yang terakhir untuk bagian outdoor menggunakan peranakan Chinesse, India, Indonesia, serta Melayu. Tema tersebut dipilih karena sang pemilik menyukai tema klasik. Angkringan ini didirikan karena Andri, sang pemilik, ingin memanfaatkan lahan kosong yang dia punya. Sebelum membangun Du Cafe, dia sudah memiliki tempat cuci mobil yang berada disebelah angkringannya. Andri ingin membuat tempat dimana anak-anak bisa nongkrong di daerah Semarang atas. Dia mencari tempat yang representatif, jadi selain ada tempat, harganya juga terjangkau. Selain

19

itu, Andri juga merupakan pengoleksi mobil. Mobil-mobil yang ada di garasinya, ia manfaatkan untuk dipajang di Du Cafe. Cafe yang didirikan oleh Andri ini dipercayakan kepada Vincent sebagai pengelola tempat. Harga terjangkau untuk mahasiswa Mematok harga yang terjangkau, mangsa pasar Du Cafe adalah para mahasiswa. Du Cafe mementingkan kuantitasnya sebagai kiat sukses karena semakin banyak kuantitas, maka akan semakin terkenal murah dan enak dengan kualitas bintang lima. Variasi menu yang disediakan berupa angkringan, penyet, burger, pasta, dan steak. Untuk stock angkringan, Du Cafe mengambil dari supplier nasi kucing, sedangkan untuk makanan yang lain semuanya murni dari Du Cafe. Pemasaran Du Cafe dilakukan melalui sosial media Facebook dan Instagram. Selain itu, promosi dari mulut ke mulut juga dilakukan oleh Du Cafe.

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016


doc.Edents

Kuliner

Strategi menu baru Kendala kedua adalah kebosanan para pelanggan akan menu yang disediakan. Untuk itu, Du cafe selalu mengelola kreativitas dalam variasi menu. Angkringan ini menargetkan ada satu sampai dua menu baru dalam setiap bulannya. Hal ini bertujuan agar para pengunjung selalu penasaran dengan menu baru tersebut. Selain itu, Du Cafe juga berencana menambahkan koleksi mobil lagi untuk menambah dekorasi.

Sebagai penutup, Vincent sang pengelola menyampaikan harapannya untuk Du Cafe, “Tetap rame, semakin rame dan tambah rame. Bisa nongkrong, ngerjain tugas disini. Jadi kalo temanteman ada meeting paguyuban, UKM mau rapat disini, kita sediakan tempat, reservasi dulu, kita ada paket rapat. Ada paket A, B, C jadi bisa ambil sendiri, kaya prasmanan gitu. Kemaren kebanyakan reuni, arisan, ulang tahun, “ tutupnya. (nw)

doc.Edents

Kendala yang dihadapi oleh Du Cafe yaitu cuaca. Jika hujan turun, atap yang terbuat dari galvalum membuat suara berisik. Untuk mengatasinya, angkringan ini lebih banyak menyediakan tempat di indoor. Di bagian outdoor hanya disediakan 10 meja, agar tidak repot memindahkan makanan saat hujan turun. Sedangkan untuk suara hujan yang berisik, Du Cafe berbicara ke arah arsitekturnya. Rencananya di bagian luar akan dibangun gazebo atau memberi payung di setiap mejanya.

Pemilik Du Cafe, Banyumanik

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016

21 20


Opini

Dirgahayu Republik Kapal Tua Berawak “Gila� oleh : Albertus Agung P.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan mengatasnamakan bangsa Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan tersebut memiliki arti sebagai puncak perjuangan bangsa sekaligus menjadi jembatan emas menuju masyarakat adil dan makmur. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka adalah bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya). Kemerdekaan tidak diartikan sebagai perjuangan yang telah selesai, tetapi sebagai awal dari tantangan untuk mempertahankan dan mengisinya dengan kegiatan pembangunan. Berbicara tentang merdeka, maka akan timbul sebuah pertanyaan yang menarik, apakah bangsa Indonesia dapat dikatakan merdeka sepenuhnya? Tentu jawabannya tidak. Ibarat sebuah kapal tua, bangsa Indonesia masih berlayar tidak tentu arah. Dengan para awak yang gila harta dan kuasa, kapal ini melaju dengan penuh derita. Kapal ini pun hampir tenggelam tertimbun sampah peristiwa yang berujung pada

21

nestapa. Pengangguran di mana-mana, hukum yang tidak merata, korupsi yang merajalela, dan narkoba yang membabi buta semakin menambah duka bangsa Indonesia. Kini 71 tahun sudah kapal tua ini berlayar mengarungi samudra. Dengan berlandaskan UUD 1945 serta ideologi Pancasila, dulunya kapal ini disegani dunia. Bertolak belakang dengan kondisi sekarang, ketika kapal ini dikenal karena jajaran pemimpinnya yang menjadi pecandu korupsi. Selain godaan kepentingan dunia yang dianggap manusiawi, korupsi di Indonesia juga berkembang karena tumpulnya hukum terhadap pencuri berdasi ini. Taufik Ismail, seorang sastrawan ternama di Indonesia mengungkapkan sindiran halusnya terhadap hukum bagi narapidana korupsi. "Di Republik Rakyat Cina, koruptor dipotong kepala. Di Kerajaan Arab Saudi, koruptor dipotong tangan. Di Indonesia, koruptor dipotong masa tahanan." Mari menilik kembali kondisi hukum di Indonesia. Masih segar di ingatan kita tentang kasus pembakaran hutan yang

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016


Opini

doc.Edents

terjadi pada akhir tahun 2015 lalu. Parlas Nababan, seorang Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Palembang menganggap gugatan kasus kebakaran hutan dan lahan oleh PT Bumi Mekar Hijau di Ogan Komering Hilir itu tidak dapat dibuktikan. Padahal Kemeterian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah menunjukkan bukti dan fakta di lapangan yang cukup kuat. Yang lebih menyedihkan, Parlas mengeluarkan pernyataan yang cukup gila. Menurut Parlas, membakar hutan tidak merusak lingkungan hidup karena masih bisa ditanami lagi. Sungguh pernyataan yang tidak masuk logika dan sangat memprihatinkan. Mengingat Indonesia adalah negara hukum yang telah berusia 71 tahun, seharusnya penegak hukumnya tidak segila itu. Masalah di kapal tua ini tidak terbatas pada tingkah pemimpin dan penegak hukumnya saja, tetapi juga para generasi muda. Generasi yang digadang-gadang sebagai tulang punggung negara, nyatanya hanya menjadi budak gaya hidup Amerika dan Eropa. Generasi muda yang dulu tidak gentar berperang untuk bangsa, kini tidak malu menjadi benalu bagi negara. Dengan pola pikir pragmatis, cara hidup hedonis, dan sikap individualistis menjadikan generasi muda saat ini tidak mampu menggaungkan keperkasaannya di mata dunia. Tidak hanya itu, masih ada masalah besar bernama narkoba yang melanda generasi muda Indonesia saat ini. Menurut

United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), pada tahun 2015 jumlah pengguna narkoba di Indonesia diperkirakan sekitar 3,7 juta sampai 4,7 juta orang, jumlah tertinggi di ASEAN. Sungguh miris melihat generasi muda yang dinantikan prestasinya, malah harus berkutat dengan narkoba. Berbagai macam masalah tersebut hendaknya dijadikan bahan renungan untuk introspeksi diri, bukan untuk bersedih hati atau bahkan saling menyakiti. Jangan tampak murung karena permasalahan yang tidak berujung. Jangan juga tampak kusut karena keadaan yang semakin carut marut. Perjuangan kita di masa kini akan lebih berat dari yang telah diperjuangkan para pahlawan Indonesia ketika mengusir penjajah. Seperti pernyataan Soekarno, sosok bapak bagi Bangsa Indonesia. “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.� Bertepatan dengan hari ulang tahun ke 71 Republik Indonesia, sebagai putra dan putri bangsa, marilah kita menyongsongnya dengan semangat berjuang untuk terus membangun negara. Jangan sekadar mengenang jasa para pahlawan, karena hal tersebut tidak akan mengembalikan bangsa kita pada kejayaan masa lalu. Teruslah kumandangkan kata merdeka, dan marilah dengan serentak kita teriakkan Dirgahayu Republik Indonesia, Dirgahayu Republik kapal tua berawak gila.

*) Penulis merupakan pemenang Best Monthly Article Magang Edents 2015

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016

23 22


23

Erlangga 17 | Volume 3 Edisi September 2016

Buletin Erlangga 17 Edisi September 2016  
Buletin Erlangga 17 Edisi September 2016  

Buletin Erlangga 17  merupakan salah satu produk LPM Edents yang terbit tiga bulan sekali, dengan suguhan berita-berita seputar kampus (ting...

Advertisement