Page 1


“Dari Redaksi Tahun ini, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) genap berusia 57 tahun. Dalam rangka memperingati hari jadi fakultas yang jatuh pada 14 Maret, FEB Undip menyelenggarakan seragkaian acara yang tidak hanya dalam bidang akademik namun juga bidang minat dan bakat. Rangkaian acara ini ditujukan untuk meningkatkan prestasi mahasiswa di samping untuk menjalin hubungan dengan stakeholders baik dalam ruang lingkup internal maupun eksternal. Selain itu, Pembukaan kelas International Undergraduate Program (IUP) yang bertujuan untuk mendapatkan pengakuan Internasional, diperkuat dengan pengambilan tema Dies Natalis ke 57 FEB Undip yaitu Synergy for Recognition International. Kelas intenasional ini diharapkan menghasilkan lulusan yang berdaya saing global. Semarak Dies Natalis dan langkah FEB untuk mendapat pengakuan internasional akan dikupas dalam Buletin Erlangga 17 Volume 1 Edisi April 2017 sebagai laporan utama. Selain itu, buletin volume 1 ini juga menghadirkan rubrik Tea Time bersama Dumairy yang merupakan akademisi UGM sekaligus penulis buku. Nikmatnya Cokless yang merupakan minuman olahan coklat asli juga akan dibahas dalam buletin kali ini. Terakhir, kami dari Redaksi LPM Edents memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan. Kritik dan saran selalu kami harapkan dari para sahabat Edents.

BULETIN ERLANGGA 17 DITERBITKAN OLEH : Lembaga Pers Mahasiswa Edents

Pemimpin Umum: Adhevyo Reza

Pemimpin Redaksi: Akhmad Sadewa

Redaktur Pelaksana Buletin: Dias Wahyu Rawikarani Pemimpin Artistik: Henty Eka Palupy

Layouter dan Ilustrator: Hesti A, Rahmat, Abdan Reporter:

Cyntiha, Agung, Dian F, Susi,

Veronica, Dewi H, Tio, Abdan, Sequioia, Anum

Sirkulasi dan Pendanaan:

Selamat membaca!

Dewi Setyoningrum

Tim Buletin 1

doc.Edents

kiri-kanan Tio Kurniawan, Susi Susanti, Chynthia, Dias Wahyu R

Erlangga17 17||Volume Volume11Edisi EdisiApril April2017 2017 Erlangga


“Daftar Isi

1 Tea Time with Dumairy 3 Langkah FEB Mendapat Pengakuan Internasional Sinergisitas sebagai Roda FEB Undip Menuju 5 Polling: Pengakuan Internasional 7 9 11 12 13 15 18 19 Semarak Dies Natalis FEB Undip

Semarak Dies Natalis 57 Tahun FEB Undip: Tingkatkan Sinergisitas Internal Fakultas

KOMIK “KAMPUS KEREN”

RESENSI FILM “MOONLIGHT”

KOLOM PEMIMPIN UMUM

Opini "Dunia di Mata Mahasiswa"

Geliat Usaha : Ayo Maniskan Harimu dengan Cokelat!

Opini

"Bentuk Kepedulian Mahasiswa Untuk Indonesia" Erlangga Erlangga 17 17 || Volume Volume 11 Edisi Edisi April April 2017 2017


Tea Time with Dumairy Oleh : Herdini

Perjalanan Organisasi bapak? Waktu mahasiswa itu saya aktif di Keluarga Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pertanian. Kemudian aktif juga di HMI lalu juga di Senat Mahasiswa. Dan lima setengah tahun saya sekolah S1. Hanya tahun pertama saya tampa organisasi. Jadi mulai tahun kedua itu sudah terlibat di organisasi. Karena jenuh belajar terus. Tidak ada selingannya. Jadi saya aktif di jurusan. Di eksternal di HMI. Kemudian senat mahasiswa sampe ketika saya lulus saya juga sekjen senat mahasiswa. Karena memang belum berakhir periodenya. Periodenya berakhir oktober saya lulus juni. Jadi sampai antara juni dan oktober itu masih harus merangkap istilahnya sekertaris umum senat mahasiswa fakultas ekonomi UGM. Kemudian setelah kuliah

doc. Edents

Dumairy merupakan seorang akademisi yang terkenal melalui karyanya dalam bentuk tulisan seperti buku Matematika Ekonomi. Pria kelahiran Belawan, Sumatra Utara menempuh pendidikan sarjananya tahun 1975 di jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Gajahmada (UGM), Yogyakarta. Setelah lulus di tahun 1980, Dumairy melanjutkan jenjang pendidikan S2 nya di Katholieke Universiteit Leuven (KUL), Belgia dan melanjutkan jenjang S3 nya di UGM. Bagaimana kisah hidup Dumairy selengkapnya? Berikut adalah hasil wawancaranya.

selesai, organisasi yang masih saya ikuti walaupun dalam banyak hal saya gak aktif itu misalnya ada PERHEPI (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia) saya cuma aktif di diskusi-diskusi. Kemudian ISEI itu otomatis ya. Saya baru aktif di waktu itu cukup aktif, organisasinya namanya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Wilayah

"Mahasiswa lebih peka dengan masalah lingkungan sosial terserah apakah kepekaannya mau disampaikan secara unjuk rasa ataupun melalui akademik" - Dumairy, Akademisi FEB UGM

1

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017


Jogja. Kemudian ketika kuliah saya juga nyambi sebagai wartawan. Saya ikut pers mahasiswa tapi juga ikut pers di luar. Di pers mahasiswa ekonomi UGM itu punya buletin namanya Equibrium ya kan. Nah di situ saya di redaksi. Kalo di pers sesungguhnya wartawan. Harus kesana kemari dan itu koran nya koran infestigatif. Koran pendidikan gak koran biasa. Jadi untuk studi kasus gitu. Setelah jadi wartawaan lalu juga nyambi jadi redaksi jurnal namanya agro ekonomika perhimpunan ekonomi pertanian yang menerbitkan, lalu setelah jadi dosen sampai sekarang ini yang pernah saya jabat misalnya, saya pernah jadi sekertaris di jurusan, saya pernah jadi pengelola di program MM UGM 10 tahun sejak berdirinya sampai 1998. pernah jadi wakil dekan bagian keuangan. Terakhir pernah jadi sekretaris program studi ekonomi islam di sekolah pasca UGM. Dan terakhir sampai tahun lalu kepala bidang studi ekonomi kerakyatan. Itu riwayat keorganisasian milik saya. Alasan untuk mengabdi jadi akademisi? Karena saya merasa itu lembaga tempat kerja yang bebas dari intrik politik. Itu yang ke satu Yang kedua. Tantangan nya itu gak monoton. Gak monoton nya bisa kayak gini. Mata kuliah yang saya ampu harus berganti-ganti. Yang kedua, masing-masing tu juga berkembang ya kan? Ilmu-ilmunya nah sementara kalo kerja di lembaga yang lain kecuali lembaga penelitian ya, itu kan cenderung monoton, nah saya dulu ketika saya cari kerja saya sudah diniatin. Saya cari kerja yang membuat saya terus bisa tertarik menekuninya, gak bosen. Apa pengalaman menarik selama hidup Bapak? Yang tidak bisa dilupakan ya ketika berangkat haji. Karena saya bisa melupakan

apa yang ada di dalam negeri. Termasuk gak mikir anak-anak. Saya gak ngira itu. Karena saya punya anak termasuk deket, tapi saya sampai sana itu bisa saya gak mikir rumah. Nah itu saya luar biasa itu. Saya gak ngira. Sekali saja saya nelpon anak. Karena saya mau pulang. Memastikan bahwa bapak sama ibu akan pulang tanggal sekian sampai jakarta lalu baru akan ke jogja tanggal sekian, itu saja. Itu sangat luar biasa menurut saya. Gak mikir kerja, gak mikirin jabatan yang sudah saya tinggal ya kan? Gak mikirin rumah. Menarik dan menambah wawasan tentang. ya kalok kesana itu membayangkan medan perjuangan nabi untuk mengembangkan islam itu bisa nangis itu.

Motto hidup bapak? Saya itu awalnya gak punya motto, tapi saya punya prinsip. Hidup janganlah punya hutang syukur bisa punya kelebihan untuk berbagi kepada orang lain Kecuali hutang seperti kredit rumah karena memang tanpa kredit susah. Harapan bapak untuk mahasiswa sekarang ini? Mahasiswa lebih peka dengan masalah lingkungan sosial terserah apakah kepekaannya mau disampaikan secara unjuk rasa ataupun melalui akademik seperti tulisan, forum, diskusi dengan pihak kepentingan semua jalur ditempuh tidak bisa semuanya disampaikan melalui forum resmi namun juga tidak bisa semuanya di sampaikan melalui unjuk rasa. Namun apabila mau turun ke jalan harus benarbenar paham dengan materi yang ingin di unjuk rasakan artinya mahasiswa itu harus mempunyai konsep atau ide. (sdw)

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017

23


LIPUTAN UTAMA

Langkah FEB Menuju Pengakuan Internasional

doc.www.feb.undip.ac.id

Oleh : Dian Fauziah dan Susi Susanti

3

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro telah resmi membuka Program Kelas Internasional Jalur Sarjana (International Undergraduate ProgramIUP) pada awal tahun 2017. IUP dirancang sebagai kelas khusus dengan bahasa Inggris sebagai media komunikasi dalam semua kegiatan kampus. IUP yang dibuka terdiri dari tiga jurusan, yaitu Bisnis Internasional, Akuntansi, serta Ekonomi & Keuangan. Sesuai dengan namanya, Kelas IUP dirancang dengan tujuan menghasilkan lulusan yang berdaya saing global dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi calon mahasiswa nasional maupun internasional. “Kelas IUP sendiri adalah untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa-mahasiswa agar memiliki student mobility yang baik, kemudian juga exposure terhadap international accounting juga lebik baik dan lebih luas”, jelas Fuad selaku ketua Departemen Akuntansi FEB Undip. Pembukaan IUP yang bertujuan untuk mendapatkan pengakuan Internasional, diperkuat dengan pengambilan tema Dies Natalis ke 57 FEB Undip yaitu Synergy for Recognition International. Dalam rangka memperoleh pengakuan tersebut, Suharnomo selaku Dekan FEB Undip, menuturkan banyak kriteria yang harus dipenuhi oleh FEB. Diantaranya adanya kunjungan (visitasi) oleh negara-negara yang menjadi partner kerjasama Undip diantaranya yaitu dari, Prancis, Inggris, Finlandia, Belanda, Australia, dan negara

lainnya. “Iya, ada banyak sekali borang ya, borang itu isian jadi FEB Undip di visit oleh Jepang tiap tahun oleh Professor Itto dan banyak dari negara lain dari Malaysia, dari Singapura, dari Jepang sendiri,” jelas Suharnomo. Kunjungan ini dilakukan setiap tahun dan FEB wajib melaporkan progress kepada pihak yang berkunjung.

Kelas Internasional VS Kelas Reguler Menurut Fuad, perbedaan antara kelas Internasional dan kelas reguler yang paling terlihat adalah penggunaan bahasa. “Perbedaan antara kelas internasional dengan kelas reguler yang paling kelihatan adalah penggunaan bahasa dan disamping itu juga ada value added yang lain misalnya ada leadership, competence, kemudian ada uniqueness yang berkaitan dalam IUP, kemudian student mobility juga diharapkan lebih tinggi”, ujar Fuad. IUP sendiri memiliki beberapa kriteria yang tidak ada dalam kelas reguler, misalnya saat penerimaan mahasiswa IUP yang terpisah dengan penerimaan mahasiswa reguler. Ada beberapa kriteria penilaian tambahan untuk kelas Internasional, diantaranya mengasah kemampuan bahasa Inggris, psikotes, dan aspek lainnya. Begitu pula dengan dosen yang mengampu. Dosen yang mengajar pun harus familiar dengan semua hal tersebut.“ Mungkin kalau dilihat dari tataran ideal ya belum, tapi kita akan perbaiki itu pelan-pelan, apa yang kurang kita perbaiki,

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017


LIPUTAN UTAMA langkah pertama itu jarang sekali yang sudah sempurna, tapi kita mulai kearah sana dan saya yakin 5-10 tahun kedepan kita akan dapat melihat hasil yang kita harapkan”, tambah Fuad.

Banyak Aspek yang Harus Dibenahi Suharnomo menjelaskan bahwa FEB adalah satu-satunya fakultas di Undip yang berani membuka kelas Internasional.Hal ini dibuktikan dengan IUP FEB yang telah meraih akreditasi Internasional oleh Lembaga Akreditasi Internasional yang berpusat di Tokyo, Jepang, yaitu Abest 21 (The Alliance on Business Education and Scholarship for Tomorrow, a 21st century Organisation). “Fakultas kita acreditted internasional, dan saya sebagai salah satu dari 14 dekan di dunia yang menjadi Assesor untuk kelas bisnis internasional, jadi sangat oke fakultas kita diakui secara internasional dan saya sendiri menjadi assesor juga secara internasional dan diakui di ABEST 21,” jelasnya. Pembukaan kelas Internasional mendapat beragam sambutan dan tanggapan positif dari masyarakat luar terutama dari SMA-SMA favorit di Indonesia. Walaupun telah terakreditasi secara internasional, tetapi masih banyak aspek yang harus diperbaiki, terutama dari segi mahasiswa. Hal ini dikarenakan fakultas yang sudah terakreditasi internasional menuntut mahasiswanya untuk lebih ‘agresif’, salah satu caranya dengan mengikuti berbagai kompetisi baik nasional maupun internasional. Menurut Muhammad Yusuf Alfatha selaku Ketua BEM FEB 2017, masih ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki, seperti politik kontrol, kualitas sumber daya manusia dan fasilitas penunjang. Selain itu, aspek operasional dan sistem mengajar dosen dalam perkuliahan juga patut dibenahi. Meski begitu, dirinya mengakui bahwa saat ini FEB pantas mendapatkan pengakuan dari dunia internasional. Dibukanya kelas Internasional FEB Undip, juga didukung dengan banyaknya penelitian yang jauh di atas target yang ditetapkan pihak Universitas Diponegoro. “Penelitian FEB tahun lalu mendapat jatah dari Universitas untuk

Scopus Index Zet itu 22 tapi kita bisa penuhi 36. Tahun ini kita dapat jatah 25 sampai akhir tahun, tetapi saat ini kita sudah mencapai 19. Saya rasa kita akan beratus-ratus persen nanti memenuhi target dari universitas. Jadi jangan salah kita yang terbaik, best untuk international journal yang terindeks Scopus,” ungkap Suharnomo. Belum Menemukan Kendala Suharnomo mengaku belum menemui kendala yang signifikan terkait pembukaan IUP ini. “Kendala saya rasa tidak ada ya, karena kita pertama kali mulai jadi kita banyak kerja keras, tapi saya rasa tidak ada kendala signifikan ya kita anggap sebagai tantangan dan harus begitu. Orang kalau mau naik kelas itu harus berani berkeringat bekerja keras”, tutur Suharnomo. Lebih lanjut, Suharnomo berharap mahasiswa dapat memaksimalkan semua peluang yang disediakan oleh fakultas. “Mahasiswa please buka mata lebar-lebar, buka telinga lebar-lebar. Lihat kompetisi, lihat peluang itu, ikutlah didalamnya. Uji nyali, jangan takut kalah, jangan takut salah.” Harap Suharnomo. Fuad berharap kedepannya IUP ini dapat berkembang baik. “Harapannya secara keseluruhan baik dalam departemen Akuntansi maupun FEB international recognition, internasional standar dapat kita capai, lulusan mahasiswa kita mau kerja dimanapun di belahan dunia ini juga memiliki akses yang sama, kesempatan yang sama dengan mahasiswa-mahasiswa internasional lain”, ujar Fuad Pada hakikatnya FEB Undip memang dipandang telah mampu dan layak mendapatkan pengakuan internasional. Melihat syarat mutlak mendapat pengakuan internasional yakni pembukaan IUP telah dilaksanakan. Sekarang yang perlu diperhatikan adalah tentang sinergisitas di lingkungan FEB. Selaras dengan tema Dies Natalis FEB Undip ke 57 yaitu Synergy for Recognition International, FEB Undip terus berbenah mensinergikan diri di berbagai aspek untuk mencapai tujuan yang lebih besar. (sdw)

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017

45


Polling

5

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017


Polling

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017

67


doc.Edents

Semarak Dies Natalis FEB Undip

doc.Edents

Pelepasan Balon sebagai simbolis Dies Natalis ke-57 FEB Undip

7

Yos Johan Utama (Rektor Undip) M. Natsir (Menristekdikti) Suharnomo (Dekan FEB) sedang jalan-jalan santai dengan masyarakat FEB Undip Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017


Semarak Dies Natalis FEB Undip

Yos, Rektor Undip dan Suharnomo, Dekan FEB bernyanyi dalam pentas seni Dies Natalis FEB Undip

Sarapan bersama yang disediakan secara gratis dalam perayaan Dies

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017

89


LIPUTAN UTAMA

Semarak Dies Natalis 57 Tahun FEB Undip: Tingkatkan Sinergisitas Internal Fakultas Oleh: Albertus Agung Prasetyono dan Cynthia Farah Sakina

9

Tahun ini, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) genap berusia 57 tahun. Dalam rangka memperingati hari jadi fakultas yang jatuh pada 14 Maret, FEB Undip menyelenggarakan serangkaian acara yang tidak hanya dalam bidang akademik namun juga bidang minat dan bakat. Rangkaian acara ini ditujukan untuk meningkatkan prestasi mahasiswa di samping untuk menjalin hubungan dengan stakeholders baik dalam ruang lingkup internal maupun eksternal. “Kalau dari segi penanggungjawabnya pun dibedakan menjadi dua, yaitu akademik dan minat bakat (mikat). Hal ini dikarenakan kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan,” jelas Harjum Muharam, Ketua Dies Natalis ke-57 FEB Undip. Serangkaian acara yang diagendakan dari bulan Maret hingga April ini berpuncak pada Pidato Ilmiah Dies Natalis. Acara yang jatuh pada 14 Maret 2017 itu disampaikan oleh Maryono selaku Direktur Utama Bank BTN dan Ketua Ikatan Alumni (IKA) Undip. Pidato Ilmiah tersebut mengangkat tema Strategi Percepatan Perumahan Rakyat yang Berkeadilan. Adapun puncak kegiatan nonakademik jatuh pada acara Jalan Sehat pada Sabtu, 18 Maret 2017. Acara Jalan Sehat ini juga merupakan momentum bagi sivitas akademika FEB Undip untuk saling bertemu dan berinteraksi yang juga diisi dengan serangkaian senam bersama dan pembagian doorprize. Selain Jalan Sehat, Dies Natalis FEB Undip tahun ini juga menyelenggarakan Smart Run dengan kategori 5K dan 10K yang bekerjasama dengan bank BRI. Acara yang jatuh pada Minggu, 19

Maret 2017 ini merupakan penyegaran dari serangkaian acara Dies Natalis FEB Undip dari tahun-tahun sebelumnya. Perayaan yang Lebih Sederhana Harjum menjelaskan bahwa secara keseluruhan peringatan tahun ini akan dikemas secara lebih sederhana jika dibandingkan dengan perayaan tahun lalu. Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan biaya yang dimiliki oleh fakultas. “Tahun ini rencananya acara Dies FEB tidak terlalu besar, tidak seperti tahun lalu yang mengadakan Alumni Gathering. Untuk tahun ini rangkaian acaranya lebih sederhana yang ditambah dengan adanya Smart Run,” jelas Harjum

Makna dan Evaluasi Dies Natalis 57 FEB Undip Dies Natalis 57 Tahun FEB Undip yang mengusung slogan Sinergy for International Recognition ini bermakna menyatukan semua kekuatan dan stakeholder yang dimiliki FEB Undip baik mahasiswa, karyawan, dosen, termasuk alumni agar mempermudah mendapat pengakuan pengakuan secara internasional. “Supaya dapat pengakuan internasional itu kita harus menguatkan dan mempererat hubungan di dalam. Kita juga berupaya agar kualitas mahasiswa, dosen, dan hasil riset FEB Undip diakui oleh harakat luas,” tutur Harjum selaku ketua pelaksana Dies Natalis 57 Tahun FEB Undip. Ada dan pentingnya pengakuan dunia internasional terhadap FEB Undip akan semakin mendukung dan meningkatkan kualitas program studi kelas internasional yang saat ini sudah dibuka untuk program studi Akuntansi, Manajemen, Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, dan Teknik Kimia.

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017


“Supaya dapat pengakuan internasional itu kita harus menguatkan dan mempererat hubungan di dalam. Kita juga berupaya agar kualitas mahasiswa, dosen, dan hasil riset FEB Undip diakui oleh masyarakat luas,” – Harjum Muharam, Ketua Dies Natalis ke-57 FEB Undip adanya dukungan dari beberapa pihak pemberi sponsor dikarenakan keterbatasan biaya, bantuan mahasiswa dari beberapa ormawa, dan bantuan civitas akademika FEB lainnya. “Beberapa kegiatan yang sudah berjalan dengan baik yaitu kuliah umum bapak Muliaman Hadad, Seminar Reformasi Perpajakan, Seminar Alumni Berbagi, Seminar OJK, dan semua itu zero budget dari fakultas,” jelas Harjum.

Jalin Sinergisitas Serangkaian acara yang diselenggarakan turut didukung oleh Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi (IKAFE) Undip beserta stakeholders yang kerap menjalin kerjasama dengan Universitas Diponegoro. Pada tahun ini, serangkaian kuliah umum yang semula sudah direncanakan dapat ditingkatkan menjadi beberapa seminar keilmuan. Selain membentuk dan meningkatkan sinergisitas dengan pihak eksternal, Harjum juga menekankan guna mencapai pengakuan internasional haruslah diraih dengan menjalin sinergisitas internal yang baik dan kokoh terlebih dahulu. Guna mencapai tujuan ini, Harjum memaparkan adanya beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh FEB Undip yaitu diantaranya, “kita harus memiliki kualitas dosen yang bagus agar dapat mendidik dan menghasilkan mahasiswa yang baik dan berkualitas. Nah ini bisa dengan menyiapkan input dosen yang baik, kemudian menyeleksi calon mahasiswa yang berkualitas, dan kita juga harus mendapatkan dukungan dari semua tenaga pendidik yang berkompeten,” jelas Harjum. Sistem dan kurikulum pendidikan yang update juga menjadi poin penting yang harus FEB Undip perhatikan. Adapun dukungan fasilitas yang baik dan mumpuni

LIPUTAN UTAMA

juga dapat menunjang sinergisitas yang ingin dicapai dan diwujudkan. Disinggung seputar pencapaian FEB sejauh ini, Harjum menilai pencapaian dan pengakuan nasional yang sudah diraih sejauh ini sudah cukup baik jika dilihat dari akreditas yang diperoleh. “Adanya program studi Ekonomi Islam yang diterima masyarakat dengan cukup baik langsung memperoleh akreditasi B padahal belum memiliki lulusan. Peminatnya juga semakin membludak dari tahun ke tahun,” tambah Harjum

Tanggapan Mahasiswa Serangkaian acara peringatan Dies Natalis 57 Tahun FEB Undip juga tak luput dari perhatian mahasiswa. Agung, salah satu mahasiswa Departemen Manajemen Undip menilai serangkaian acara yang sudah dilaksanakan sudah cukup meriah dan massif serta dapat menggerakkan banyak masyarakat. “Banyak mahasiswa antusias dengan Dies Natalis FEB Undip. Tidak sedikit juga mahasiswa luar FEB UNDIP ikut memeriahkan acara tersebut,” tutur Agung. Menilai dari kelebihan dan kekurangan serangkaian acara Dies Natalis 57 Tahun FEB Undip ini, ia menuturkan bahwa momentum ini dapat menjadi sarana revitalisasi fakultas dan mahasiswa juga diajak untuk lebih mengenal serta menjadi bagian dari fakultas. Serangkaian acara Dies juga dapat mendekatkan hubungan antara dosen dengan mahasiswa secara lebih kekeluargaan di luar konteks akademik. Di sisi lain, Agung berpendapat bahwa pendanaan dan anggaran dana masih belum akuntable dan jelas serta masih banyak mahasiswa internal FEB Undip yang tidak ikut memeriahkan acara. (sdw)

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017

11 10


KOMIK

KAMPUS KEREN

hai eko, lagi ngapain ?

hai nomi, ini lagi baca Kordents

Eko. tahu ga kalo fakultas kita makin keren, loh !

keren kenapa nom ?

caranya seperti pembukaan Program Kelas Internasional Jalur Sarjana, kerjasama dengan negara-negara asing, dan sertifikasi ABEST 21

Ya makin keren lah, Dies natalies kali ini kan FEB berusaha mendapat pengakuan dunia internasional

yang bener nom ?

Caranya gimana, Nom?

iya bener, ko

doc.Edents

wah keren yah! makin bangga jadi anak FEB

11

ya ampun,pedenya ni anak

jelas harus bangga !

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017

FEB aja keren, apalagi aku, keren sekali


doc.joblo.com

Sutradara Produser Berdasarkan Pemeran Tanggal Rilis

Moonlight adalah film kompleks yang diangkat dari drama In Moonlight Black Boys Look Blue yang bercerita mengenai kemiskinan, narkoba, KDRT, dan bullying. Moonlight mengemas ceritanya dalam tiga fase kehidupan (anak-anak, remaja, dan dewasa). Pengisahan di film ini dibagi menjadi tiga episode (Little, Chiron, dan Black) yang dikemas menjadi satu film. Film ini mengisahkan tentang fase kehidupan seorang anak keturunan Afrika – Amerika bernama Chiron yang emosinya tertekan karena dicederai lingkungan tempat tinggalnya. Chiron hidup bersama sang ibu yang seorang pecandu narkoba akut. Pada episode satu (Little), sang tokoh utama, Chiron (Alex Hibbert) adalah seorang anak kecil berumur 10 tahun yang selalu dibuli oleh teman sebayanya. Disaat Chiron bersembunyi dari teman – temannya di sebuah rumah kosong, Chiron bertemu dengan Juan (Mahershala Ali), seorang pengedar narkoba lokal. Chiron menemukan sosok orangtua yang selama ini tak dimilikinya pada Juan dan menemukan rumah ke dua di tempat tinggal Juan dan pacarnya Teressa (Janele Monae). Pada episode ini, kita dapat melihat bahwa pembulian bisa merusak karakteristik seorang anak kecil. Pada episode Chiron, Chiron sudah beranjak SMA, namun tak terlepas oleh bully teman-temannya bahkan lebih parah, Chiron dihajar teman sekelasnya. Pada episode ini, kehidupan Chiron menjadi lebih parah, matinya “sang bapak kedua” nya, Juan, membuat Chiron merasakan kerasnya dunia ini. Fase ini menjadi titik balik kehidupan Chiron. Dimana dia memiliki sahabat bernama Kevin (Jharrel Jerome) yang seorang penyuka sesama jenis, dan di episode ini, anda bisa melihat adegan Disturbing antara Chiron

RESENSI FILM

: Barry Jenkins : Adele Romanski, Dede Gardner, Jeremy Kleiner : Drama In Moonlight Black Boys Look Blue : Trevante Rhodes, Andre Holland, Janele Monae, Ashton Sanders, Jharrel Jerome,Naomie Harris, Mahershala Ali, Alex Hibbert : 26 Oktober 2016

dan Kevin. Akan tetapi di akhir episode, Kevin disuruh teman sekelas Chiron untuk menghajar Chiron hingga babak belur dan saat itupun Chiron menyadari bahwa diam saja tidak akan membuat teman sekelasnya berhenti mem-bully-nya. Pada episode terakhir yang diberi judul Black, Chiron sudah tahu bagaimana cara berhadapan dengan seseorang. Chiron mengikuti jejak Juan sebagai pengedar narkoba. Chiron pun memiliki watak gahar, namun dibalik itu Chiron masih dihantui oleh kenangan masa lalunya, bahkan sisi sensitifnya tak hilang. Panggilan telepon dari Kevin yang diperankan oleh Andre Holland, sahabat lamanya yang sudah lama tak terdengar kabarnya semakin membuat Chiron mengingat masa lalunya. Secara naratif, Moonlight sangat minimalis, namun Jenkins memberikan sentuhan Stylish bagi film ini. Faktor yang menarik dari film ini adalah dialogdialog yang solid, dimana semua itu mengalir dengan sempurna, nyata, dan menggambarkan dengan baik perubahan – perubahan yang terjadi disetiap karakter. Plot dari film ini tidak terlalu spesial, tidak ada twist, bagian melankolis yang dipaksakan, semua mengalir apa adanya dengan sempurna layaknya kehidupan nyata. Karakter kontrovesial di film ini adalah Juan yang diperankan oleh Mahershala Ali. Ia menjadi seorang ayah bagi Chiron, namun tetap menjual narkoba ke ibu Chiron, Paula. Meski karakter Paula sebagai ibu yang kejam, namun pada akhir episode, kita bisa melihat bagaimana Paula sebagai manusia yang memiliki perasaan dan penyesalan di masa lalunya. Karakter penting disini adalah Kevin, Juan, dan Teressa yang ikut berperan terhadap transformasi Chiron. (sdw)

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017

13 12


KOLOM PEMIMPIN UMUM

Waktu yang Tak Akan Kembali, dan Kau yang Menyia-nyiakanya

doc. blog.sribu.com

Oleh : Adhevyo Reza*

13

Selamat datang di negeri yang ketidakteraturannya dikemas sedemikian mungkin agar terlihat teratur. Negeri dimana nilai-nilai luhur yang dulu dijunjung tinggi mulai luntur oleh pergerakan zaman yang dianggap kultur. Selamat menikmati bagaimana kesemrawutan yang menjadi mafhum dan kebenaran hanya menjadi penonton. Yang berbicara berbeda dari pendapat umum disebut ngelantur. Agaknya paragraf di atas cukup mencerminkan apa yang terjadi hari ini di Indonesia, setidaknya bagi penulis. Ada satu kesalahan yang tempo hari hanya dianggap kesalahan kecil, tetapi hari ini karena pembiaran-pembiaran yang dilakukan sudah menjadi budaya. Terlambat, ngaret, gak on time, dan apapun itu namanya pada hakikatnya sama tidak menepati waktu sesuai kesepakatan. Kita bisa melihat bagaimana budaya ngaret tersebut terjadi di sekeliling kita. Mulai dari lingkup pertemanan hingga lingkup pemerintahan. Dari lingkup yang paling kecil, pertemanan. Kita terbiasa menjadikan tidak tepat waktu ini menjadi makanan sehari-hari. Selalu tercipta

pola pikir saat bertemu selalu mundur beberapa menit dari waktu yang sudah dijanjikan sebelumnya. Berbagai macam alasan pun dilontarkan, ada yang memang niat untuk terlambat, ada yang ada keperluan terlebih dahulu, dan yang ironis adalah orang yang biasanya disiplin akan menjadi mengikuti budaya tersebut karena ketepatan waktunya tidak akan dihargai oleh yang lain. Kita sering mendengar selentingan “udah biasa ngaret� atau “yaelah kaku banget sama waktu�. Seandainya waktu dapat diputar kembali tidak akan ada orang yang mengeluh soal waktu. Waktu semua orang di bumi ini sama, 24 jam sehari. Artinya, setiap ada ketidaksesuaian waktu yang telah dijanjikan akan membuang waktu seseorang dalam hari tersebut. Dari lingkup yang lebih luas di sekitar penulis adalah perkuliahan. Bagaimana kelas yang seharusnya dimulai pada jam yang sudah disepakati saat kontrak kuliah tetap saja dilanggar baik itu oleh mahasiswanya maupun dosennya. Bukan berarti penulis mengesampingkan alasanalasan yang bersifat penting dan tidak bisa

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017


KOLOM PEMIMPIN UMUM terjadi adalah etos kerja yang dimiliki oleh masyarakatnya. Masyarakat Jepang memiliki beberapa etos kerja yang agaknya sulit kita temukan di negara ini. Salah satu prinsip tersebut adalah Kaizen. Kaizen adalah prinsip yang menekankan ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan. Prinsip ini dijunjung tinggi dalam dunia kerja oleh masyarakat Jepang. Mereka menganggap keterlambatan akan menjadi sebuah kerugian bagi diri sendiri, perusahaan, dan konsumen. Mereka juga umumnya malu pulang lebih awal dan disiplin dalam membedakan waktu kerja dan istirahat. Lalu apa yang mau ditunggu lagi oleh bangsa kita untuk lebih menghargai waktu? Sudah banyak contoh di luar sana yang dapat kita contoh bahwa disiplin adalah salah satu kunci kesuksesan seseorang bahkan negara. Tidak peduli itu dari hal yang paling kecil dari lingkup pertemanan hingga lingkup kerja. Karena ketika kita terlambat dan membuang waktu kita dengan percuma, jutaan orang lainya sedang memicu dirinya untuk lebih baik. “Percayalah, waktu tidak akan kembali dan kau akan menyesal ketika kau sadar sudah banyak waktu yang kau siasiakan dengan tidak bermanfaat”.

doc.Edents

ditinggalkan, tapi mungkin sebagian dari keterlambatan itu dilakukan dengan sengaja. Di lingkup organisatoris kampus yang ‘katanya’ bergerak sebagai agen perubahan juga melakukan hal yang sama. Rapat yang seharusnya dimulai pukul 15.00 bisa berubah hingga baru dimulai satu jam kemudian. Bagaimana kita bisa kita mengharapkan negara ini maju jika dipegang oleh orang-orang yang tidak disiplin bahkan pada hal yang kecil? Penulis berkeyakinan inilah salah satu yang menjadi negara ini sulit maju, kerap mengesampingkan hal-hal yang kecil dengan dalil prioritas dan pada akhirnya melupakan hal yang kecil tadi. Solusi yang ditawarkan untuk masalah yang sudah menjadi budaya ini adalah salah satu pihak “membohongi” pihak lain perihal waktu untuk bertemu. Memajukan perjanjian bertemu karena pertemuan yang sesungguhnya akan terjadi pada waktu yang sebenarnya dikehendaki. Apa itu solusi? Seperti yang sudah disinggung di kalimat pertama artikel ini, “Selamat datang di negeri yang ketidakteraturanya dikemas sedemikian mungkin agar terlihat teratur”. Perihal lainnya yang cukup menyedihkan adalah seakan seseorang yang berbeda dengan orang lainya (re: tepat waktu) terlihat berada di posisi yang salah dan yang terlambat berada di posisi yang benar. Ada satu kalimat bijak yang umum diucapkan oleh orang-orang “Kesalahan yang dilakukan berulang-ulang dan dianggap benar, akan menjadi sebuah kebenaran,”. Hal tersebut dilakukan berulang-ulang dan pada akhirnya akan dianggap menjadi sebuah kebenaran. Agaknya kita perlu mencontoh negara lain yang lebih maju dari sisi kedisiplinan. Jepang, negara yang luluh lantak setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu pada tahun 1945, dan hari ini menjelma menjadi ‘Macan Asia’ bahkan merambah belahan dunia lainya. Padahal banyak para ahli saat itu yang berpendapat hingga beberapa puluh tahun setelahnya Jepang belum akan bangkit. Salah satu faktor yang menyebabkan perubahan itu cepat

*) Penulis merupakan Pemimpin Umum LPM Edents periode 2016/2017

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017

15 14


Opini

doc.edents

DUNIA DI Oleh:MATA MAHASISWA Gracye Atriana Pane*

Mahasiswa, satu kata penuh makna. Satu kata berisi jutaan wajah dengan beribu ekspresi. Sosok penuh semangat yang diharapkan masyarakat untuk selalu ada di pihaknya, sang agen perubahan. Sosok yang berkobar-kobar membela masyarakat lemah, membela negara, namun tetap dengan kemampuan akademis sebagai bekal masa depannya. “Di bawah kuasa tirani, kususuri jalan ini, berjuta kali turun aksi, bagiku satu langkah pasti� Seperti itu penggalan lirik lagu buruh tani yang familiar di telinga mahasiswa. Turun aksi, begitu terdengar kabar yang menindas rakyat lemah, kelompok semangat 45 ini turun ke jalan, menyuarakan dukungan terhadap rakyat kecil, berkobarkobar menuntut pemerintah. Mahasiswa, temanku, seperti itu jugakah kau dalam kehidupan sehari-harimu? Walaupun sebenarnya banyak yang bisa kau lakukan di samping turun aksi. Sepulang dari aksimu, betapa sangat terpujinya saat kau punguti sampahmu.

15

Melihat satu contoh sederhana yang sudah menjamur dan dicela seluruh negeri, korupsi. Terima kasih mahasiswa atas aksimu mendorong para pencuri uang rakyat, tapi lantas bagaimanakah kau dalam kehidupan sehari-harimu? Salah satu contoh sederhana yang saya lihat di majalah dinding Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, korupsi dalam hal uang bulanan. Siapa korban dalam hal itu? Jawabannya adalah orang tua kita. Contoh lainnya dalam hal mengerjakan tugas ataupun ujian. Gunakan hati nurani, kerjakanlah dengan penuh kejujuran. Apapun yang kita peroleh, itulah hasil dari apa yang kita kerjakan selama ini. Namun, mau dikatakan apa lagi, setiap orang tentu menginginkan hasil yang terbaik dalam akademisnya. Begitulah nilai kejujuran di mata mahasiswa. Mahasiswa, seorang pelajar pada jenjang yang paling tinggi. Sosok gagah dan keren yang dikagumi pelajar pada tingkat di bawah kita. Dengan wawasan pengetahuan dan tingkat prestasi kita yang baik, kita tentu dapat membantu masyarakat kecil

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017


Opini universitas. Membangun pertemanan hingga menciptakan kelompok pertemanan yang telah terseleksi alam. Ada yang memiliki satu teman yang sama setiap harinya, ada yang berteman dengan siapapun, dimanapun berada pasti ada yang menyapa. Kelompok pertemanan setiap anak ini pun pada akhirnya diberi ‘label’ oleh sesama mahasiswa. Ada kelompok mahasiswa hits, kelompok mahasiswa pintar, kelompok nakal, kelompok pendiam, dan lain-lain. Melihat kondisi mahasiswa sebenarnya, seharusnya setiap anak dapat berbaur dengan berbagai macam pribadi yang ada. Kampus masih merupakan lingkup kecil dibandingkan dunia di luar sana. Kira-kira begitulah mahasiswa melihat kondisi sosial saat ini. Pada akhirnya, kita dituntut untuk menjadi mahasiswa yang komplit dan berimbang. Mau tidak mau itulah yang harus kita lakukan, meningkatkan kualitas kehidupan sosial, membantu masyarakat, meningkatkan prestasi akademik, dan lain sebagainya. Hal tersebut karena kitalah pemegang tongkat estafet pembangunan negeri ini. Mahasiswa, temanku, bagaimanakah dunia di mata kalian ?

doc.Edents

yang selama ini kita bela. Belajarlah dengan giat, pelajari seluk beluk negeri ini, jadilah orang hebat, buka lowongan pekerjaan, berdayakan sumber daya yang ada, tingkatkan taraf hidup nasional. Namun, realita saat ini, di beberapa kalangan mahasiswa, kuliah menjadi nomor yang kesekian. Satu lagi contohnya adalah organisasi. Alasan kita mengikuti organisasi adalah untuk mengimbangi akademis kita maka seharusnya berada pada urutan di bawah perkuliahan. Realitanya, organisasi lah yang diutamakan. Seminar dan rapat, tentu rapat lah yang menang. Seminar ini merupakan hal yang sederhana, saat kita pergi mengikuti seminar, adakah kita catat ilmu-ilmu yang kita peroleh? Adakah yang kita bawa pulang sehabis seminar itu? Ataukah hanya mengharapkan makan siang secara gratis? Betapa sedihnya sang pembicara jika mengetahui hal tersebut. Seperti itulah hal akademis di mata mahasiswa. Mahasiswa, sang agen perubahan. Apa kabar kamar kosan atau bilik rumahmu? Terasa nyaman tentunya. Suasana tenang, tak ada bunyi bebatuan, tangisan segala usia, dan seruan-seruan minta tolong. Seringkali kau acuhkan hanya demi ketenangan sesaat. Marilah keluar sebentar, lihatlah realita negeri kita ini. Hanya sejengkal dari kita, ada rakyat yang menderita, anakanak jalanan yang diperdaya dengan tidak semestinya, pemuda-pemuda seusia kita yang kesana kemari melakukan kejahatan hanya untuk mendiamkan perut, anak-anak yang menggunakan buku justru sebagai pembungkus dagangannya. Marilah ciptakan gerakan kita, beri pelajaran gratis bagi anakanak jalanan, beri pelatihan keterampilan bagi pemuda-pemuda yang tidak bisa mengenyam bangku kuliah, galang bantuan untuk masyarakat yang ditimpa bencana. Berbicara kehidupan sosial, merupakan hal yang telah dibangun mahasiswa sedari menginjakkan kakinya di gerbang

*) Penulis merupakan Pemimpin HRD LPM Edents periode 2016/2017

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017

17 16


17

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017


Geliat Usaha

Ayo Maniskan Harimu dengan Cokelat !

doc.Edents

Oleh: Dewi Hastuti danVeronica

Cokelat merupakan salah satu bahan makanan yang memiliki khasiat bagi kesehatan dan juga memiliki banyak penggemar. Cokelat mengandung antioksidan kuat yang membantu mencegah penyakit jantung, degenerasi makula, penuaan dini, bahkan mengurangi risiko kanker, Alhasil, kini keberadaan cokelat mulai menjamur bahkan mulai dijadikan ladang bisnis. Chockles merupakan salah satu jenis usaha yang menyajikan minuman dengan menggunakan kakao atau cokelat sebagai bahan dasarnya. Usaha minuman cokelat ini sudah mulai berdiri sejak 2014 lalu dan pertama kali berlokasi di Jogja. Olahan minuman berbahan cokelat ini dinilai lebih diminati masyarakat dibandingkan olahan kopi atau minuman yang lainnya, “Pertamanya sih bikin kafe, cuma waktu itu kita fokusnya di kopi bukan di cokelatnya. Nah pas kita bikin kopi itu, ternyata lebih disukai coklat daripada kopi seperti itu ternyata,” terang Chriss selaku pemilik dari Chockles. Hingga saat ini, sudah terdapat 7 cabang di daerah Semarang dan 16 cabang “Chockles” yang tersebar di daerah Jogja. Chockles memiliki keunggulan pada bahan

baku dan kualitasnya. “Bahan baku kita benar – benar dari kakao asli, 100% biji kakao asli, jadi kualitas yang berbicara,” ungkap Chriss. Chockles menyediakan berbagai jenis minuman es cokelat dengan kisaran harga bervariatif, mulai dari es cokelat original seharga Rp 6.000,- hingga minuman jenis premium classic seharga Rp 12.000,-. Masing – masing cabang Chockles mendatangkan jumlah omset yang berbeda dari tiap kota. Cabang di Semarang menghasilkan omset yang mencapai 150 juta untuk setiap bulannya bagi pemiliknya. Saat masa awal perintisan usaha, merupakan masa yang paling rentan mengalami kendala. Chriss mengaku awalnya mengalami hambatan dalam membangun merk dan kepercayaan publik. Di samping kepercayaan publik, lokasi usaha pun turut menjadi kendala yang dihadapi. “seperti Tembalang ini, kan kita mencari tempat sangat susah sekali ya, nah itu yang jadi masalah,” jelasnya. Chriss berharap usaha ini bisa menjadi brand market yang kuat, Tidak lupa, Chriss juga mengungkapkan keinginannya untuk membuka cabang pada kota-kota besar lainnya seperti Bandung dan Jakarta.

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017

19 18


Opini

Bentuk Kepedulian Mahasiswa Untuk Indonesia

doc.kangdim.files.wordpress.com

Oleh : Vefon Hadamean

Sadar sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lahirnya Indonesia, mahasiswa mengambil peran dalam beberapa sendi dalam masyarakat. Mahasiswa mengambil peran dalam aksi-aksi kemanusiaan di tengah masyarakat. Berikut wujud kepedulian mahasiswa terhadap Indonesia yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.

19

Mahasiswa menggalang dana untuk membantu korban bencana alam. Melihat bencana alam yang kerap melanda Tanah Air muncul inisiatif dari mahasiswa untuk andil dalam membantu dan meringankan beban mereka yang terkena musibah. Penggalangan dana yang dari para mahasiswa dan warga kampus pun dilakukan untuk meringankan beban yang dihadapi oleh saudara-saudara yang mengalami musibah. Sebut saja musibah gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh pada Rabu 7

Desember 2016. Gempa berkekuatan 6.4 Skala Rither melululantahkan Pidie Jaya, merusak puluhan rumah warga, rumah toko, fasilitas umum serta menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit. Mahasiswa dengan cepat melakukan penggalangan dana yang kemudian disalurkan untuk membantu korban gempa bumi. Mahasiswa mengadakan donor darah massal. Tak jarang kita melihat ada kegiatan donor darah di kampus. Dengan bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI), mahasiswa mengoordinir kegiatan donor darah. Kegiatan donor darah yang berlangsung di kampus telah turut andil dalam membantu mengisi kantong-kantong darah untuk yang membutuhkan. Pasalnya, menurut standar World Health Organization (WHO), PMI membutuhkan 5,1 juta kantong darah pertahun untuk didonorkan. Seseorang yang menyumbangkan darahnya tiga

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017


Opini

Mahasiswa ikut mengajar. Melihat kondisi pendidikan di Indonesia yang semakin memprihatinkan, mahasiswa ikut ambil bagian dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tertulis dalam cita-cita bangsa. Mahasiswa mengajar di sekolah-sekolah di Indonesia bukan hanya untuk mencerdaskan dalam bidang keilmuan dan kreatifitas, tetapi menyisipkan juga nilai-nilai moral dan etika. Salah satu kegiatan mengajar yang melibatkan mahasiswa diselenggarakan oleh salah satu organisasi internasional yaitu AIESEC. Mahasiswa bekerja sama dengan pihak sekolah mengajar mata pelajaran bahasa Inggris sesuai silabus yang telah disediakan oleh pihak sekolah. Selain itu ada juga yang disebut Kuliah Kerja Nyata (KKN), KKN merupakan rangkaian kegiatan dimana mahasiswa mengajar di suatu sekolah di daerah tertentu sebagai pengabdian terhadap masyarakat. Sama seperti kegiatan mengajar lainnya, mahasiswa mengajar sesuai dengan silabus yang telah ditetapkan oleh sekolah. Mahasiswa peduli pada alam. Kepedulian terhadap lingkungan hidup semakin berkurang, namun generasi muda khususnya mahasiswa mempunyai cara untuk peduli pada lingkungan. Tergerak karena banyaknya hutan di Indonesia telah terkikis bahkan habis karena adanya perluasan wilayah perkebunan dan

pemekaran pembangunan kota. Melihat berkurangnya jumlah pohon tak jarang mahasiswa tergerak hatinya untuk ikut melakukan penghijauan kembali atau biasa disebut reboisasi. Maka gerakan menanam seribu pohon dilakukan guna menumbuhkan tunas-tunas baru untuk kelestarian alam. Tak hanya hutan saja, melakukan penanaman kembali tanaman bakau di pantai untuk mengurangi dampak abrasi adalah wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan. Jika kamu adalah mahasiswa pernahkah melakukan hal-hal yang disebutkan di atas? Jika belum tunggu kapan lagi kita berkontribusi untuk Indonesia ? Yuk, bersama kita wujudkan kepedulian sejak di bangku kuliah.

doc.Edents

sampai empat kali dalam setahun, mampu terhidar dari ancaman penyakit seperti Hepatitis, sipilis, bahkan HIV. Oleh karena itu, generasi muda dalam hal ini mahasiswa dapat berkontribusi dalam kegiatan sosial sekaligus dapat menjaga kesehatan diri.

*) Penulis merupakan magang 2016 LPM Edents

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2017

20


Buletin Erlangga 17 Edisi April 2017  

Tahun ini, FEB Undip genap berusia 57 tahun. Dalam rangka memperingati hari jadi fakultas yang jatuh pada 14 Maret, FEB Undip menyelenggarak...

Buletin Erlangga 17 Edisi April 2017  

Tahun ini, FEB Undip genap berusia 57 tahun. Dalam rangka memperingati hari jadi fakultas yang jatuh pada 14 Maret, FEB Undip menyelenggarak...

Advertisement