Page 1


“Dari Redaksi

Menginjak usia yang ke-56, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) semakin mantap memunculkan taringnya menjadi Fakultas yang diperhitungkan di kancah internasional. Setelah mendapatkan akreditasi internasional dari ABEST 21 pada ulang tahunnya yang ke-55 tahun lalu, FEB Undip semakin melebarkan sayapnya dengan mengangkat FEB Goes to Global sebagai tema Dies Natalis ke-56 tahun ini. Hal ini kian membuktikan bahwa FEB Undip sudah semakin siap menghadapi persaingan internasional. Salah satunya dibuktikan dengan pembukaan kelas Internasional di jurusan S1 Manajemen dan S1 Akuntansi. Sebelumnya memang sudah dibuka kelas Internasional di jurusan Manajemen yang merupakan cikal bakal dibukanya kelas Internasional di tahun ini. Selain kelas internasional, menyusul pula program double degree yang ditujukan untuk menyongsong MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Seperti yang kita tahu, MEA mulai diberlakukan sejak awal tahun 2016. Di mana dalam era MEA terjadi trading bebas yang artinya barang-barang maupun jasa dari luar negeri bebas masuk ke Indonesia, begitu pula tenaga kerjanya. Hal ini merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk FEB dan juga mahasiwa FEB sebagai pemegang tongkat estafet pergerakan bangsa. Hal inilah yang akan menjadi bahasan pada Buletin Erlangga 17 volume 1 edisi Maret 2016 ini. Tak hanya mengupas tentang persiapan FEB Goes to Global, Buletin kali ini juga menyajikan wawancara ekslusif bersama Sigit Pramono, Pemimpin Asosiasi Bankir se-Asia Tenggara atau ASEAN Bankers Association (ABA) periode 2015 hingga 2017 yang dulunya juga merupakan alumni Undip. Di bagian lain, terdapat opini dari Pemimpin HRD LPM Edents periode 2015/2016 yang mengusik masalah darurat narkoba di Indonesia. Serta kolom Pemimpin Umum yang mencoba mengkritisi LGBT

BULETIN ERLANGGA 17 DITERBITKAN OLEH : Lembaga Pers Mahasiswa Edents Pemimpin Umum: Akbar Sih Pambudhi Pemimpin Redaksi: Nur Wahidin Redaktur Pelaksana Buletin: Yulina Masyrifatun Nisa’ Pemimpin Artistik: Anastania Shafira Layouter dan Ilustrator: Dian M., Dea, Filza, Maulana Reporter: Dewi S, Anis, Anum, Novi, Anisa, Abdan, Tias, Gracye, Fajar Ayu, Sulaiman, Nur, Yuhana Sirkulasi dan Pendanaan: Sandy Hadisurya S. saat ini, Norma ataukah HAM?. Jangan lewatkan pula rubrik resensi yang menyuguhkan karya Sapardi Djoko Damono. Akhir kata, selamat ulang tahun FEB Undip dan selamat membaca bagi para calon pemimpin bangsa!

Tim Buletin 1

doc.Edents

kiri-kanan Maulana, Dian, Gracye, Akbar, Lili, Dewi, Abdan, Anis, Novi, Galuh, Nur

Erlangga Erlangga17 17||Volume Volume11Edisi EdisiApril April2016 2016


“Daftar Isi 1 5 9 12 15 19

Tea Time With Sigit Pramono: Tekun dan Tekad

International Class: Langkah Awal untuk FEB Goes to Global Polling: Persiapan Mahasiswa dan FEB Undip dalam menghadapi MEA

kaleiDieskop

Sudah Siapkah FEB Bersaing dalam MEA?

KOMIK

Persiapan Menghadapi MEA

RESENSI BUKU “Hujan Bulan Juni”

KOLOM PEMIMPIN UMUM

Opini "Darurat Narkoba Mengintai Masa Depan Bangsa" Kuliner SOWAK, Spesial Sop dan Rica-Rica Opini "Remaja Berumur 17 Tahun Bernama Kebebasan Pers" Erlangga Erlangga17 17| Volume | Volume11Edisi EdisiApril April2016 2016

3 7 11 13 17


Tea Time With Sigit Pramono: Tekun dan Tekad Oleh: Tias Widiaswara

Dunia Perbankan bukan menjadi pilihan sosok yang satu ini. Namun, karena panggilan kerja pertamanya lolos pada salah satu bank, akhirnya ia bertekad harus tekun dalam dunia tersebut. Dengan ketekunannya, ia berhasil dalam menyelesaikan masalah restrukturisasi di Bank Mandiri dan selalu dipercaya untuk menangani masalah bank lainnya. Siapakah ia dan bagaimana strategi dalam menyelesaikan masalah Perbankan? Bagaimana perjalanan karir Bapak hingga sampai saat ini menjabat sebagai pemimpin Asosiasi Bankir se-Asia Tenggara atau ASEAN Bankers Association (ABA) periode 2015-2017? Saya lulus pada tahun 1983. Waktu itu saya memperbanyak surat lamaran, yang saya ingat melamar ke perusahaan Expor Impor Indonesia (Exim), Pertamina, dan Astra. Menerima pertama kali itu Bank Exim dan kerja sampai lima tahun disana. Lalu saya ditugaskan menjadi Direktur disalah satu perusahaan leasing, namanya PT. Exim Leasing selama lima tahun. Setelah itu dipindah lagi menjadi Wakil Direktur Utama di Menricorp yaitu lembaga keuangan bukan bank dan setelah itu kembali lagi ke Bank Exim. Tahun 1997-1998 terjadi krisis dan mengakibatkan Bank Ekspor Impor Indonesia melakukan merger bersama empat bank pemerintah lainnya, yaitu Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), dan Bank

Pembangunan Indonesia (Bapindo) yang kemudian menjadi bank baru dengan nama Bank Mandiri. Saya ditugaskan lagi ke BNI sebagai Direktur Utama selama lima tahun, kemudian dipindahtugaskan di Central Asia sampai sekarang sebagai Komisaris Independen. Diorganisasi saya menjadi Wakil Ketua Ikatan Bank Indonesia yang ketika itu diketuai oleh Pak Agus Martowadoyo. Kemudian saya menggantikan Pak Agus sebagai Ketua Umum Perbanas (Persatuan Bank Swasta Nasional-red) dan Pak Agus menggantikan saya sebagai Ketua Umum Himpunan Bank Umum Negara (Himbara). Kemudian saya di Perbanas sampai sekarang dan tahun lalu saya ditunjuk sebagai ASEAN Bankers Association (ABA) Chairman yaitu Ketua Umum dari bank-bank se-Asia Tenggara. Mengapa Bapak menekuni dunia perbankan? Apa yang mendorong Bapak? Nggak menekuni, dulu saya turun dari bus kota membawa lamaran map, semua lamaran saya lempar kemana saja dan kebetulan yang menerima pertama adalah Bank Exim. Yaudah setelah itu saya harus tekun. Itu khas orang Undip, Undip itu orangnya tekun, nggak pindah-pindah. Saya beruntung karena tekun terus. Bagaimana strategi Bapak untuk memimpin ASEAN Bankers Association (ABA) untuk dua tahun ke depan? Rencana apa yang akan Bapak lakukan?

“Kalau kita mencoba lagi tapi gagal namanya gagal dua kali. Tetapi kalau kita tidak berani mencoba, kita gagal seumur hidup,�- Sigit Pramono, Pemimpin Asosiasi Bankir se-Asia Tenggara Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016

1


doc.Pribadi

negara kita itu terlalu kecil. Bank Mandiri yang paling besar di Indonesia ini pun nomor sebelas se-Asia Tenggara. Kalau yang menduduki peringkat 1-3 itu bank Singapura, bank Malaysia, kemudian ada bank Thailand. Tantangan terbesar bangsa kita adalah membuat bank-bank kita menjadi besar.

Kita sekarang sedang berusaha untuk membuat suatu produk yang bisa dipakai bersama dengan mencari kesamaan di antara sepuluh negara yang berbedabeda. Lima negara pendiri yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina, itu lebih maju diperbankan. Paling maju tentu Singapura, paling besar di Indonesia. Negara yang lain yaitu Brunei, Laos, Myanmar dan Vietnam itu kurang dari kita makanya kita coba cari yang namanya common intereset atau kepentingan bersama. Kita coba mempersatukan dan tentunya tidak mudah, apalagi Singapura maunya dia memimpin terus. Makanya kita coba mencari apa sih yang sama dari ASEAN itu. Kita semua suka durian dan hampir disemua bendera ada warna merah, jadi kita sedang mencoba untuk membuat suatu kartu yang warnanya merah dengan logo durian. Seperti apa rencana-rencana yang akan Bapak lakukan agar Indonesia dapat memiliki Qualified ASEAN Bank (QAB) sebelum tahun 2020? Itu bukan tugas saya, tapi tugas dari regulator untuk Perbanas dan tugas dari masing-masing bank. Akan tetapi sebetulnya kalau mengenai Qualified ASEAN Bank (QAB) itu, Indonesia ada beberapa yang bisa. Namun, persoalannya memang bank

2

Salah satu isu strategis yang akan dikembangkan Indonesia pada forum ABA adalah perlunya negara-negara di Asia Tenggara memiliki satu sistem pembayaran yang terintegrasi dan berlaku regional, mengapa demikian? Kartu durian tadi itu salah satunya, karena ada negara-negara yang dirugikan. Kita sepakat untuk mengeluarkan mata uang yang sama. Jadi susah untuk menyatukan dan membuat suatu mata uang yang dapat digunakan bersama atau mata uang ASEAN. Tantangannya besar sekali. Tetapi yang paling bahaya itu tentu Indonesia, karena begitu kita buka itu (Masyarakat Ekonomi ASEAN-red) nanti orang-orang disana jauh lebih mudah untuk masuk kesini. Apa harapan dan pesan Bapak untuk mahasiswa saat ini? Zaman saya mungkin ilmu ekonomi nggak terlalu banyak diterima di bank saja sudah langsung officer, sekarang teller pun sarjana gitu. Sekarang ini berat tapi sebenarnya kalian jauh lebih pintar karena bukunya lebih banyak, interaksi lebih gampang, internet juga ada. Mau nggak mau ya jauh harus lebih pintar lagi. Tantangan setiap zaman berbeda sehingga Anda sendiri yang bisa menemukan apa sih yang akan Anda lakukan. Kalau kita mencoba sesuatu untuk berkarya, untuk berbisnis, kemudian gagal, itu namanya gagal sekali. Kalau kita mencoba lagi tapi gagal namanya gagal dua kali. Tetapi kalau kita tidak berani mencoba, kita gagal seumur hidup. (nw)

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016


LIPUTAN UTAMA

International Class: Langkah Awal untuk FEB Goes to Global Oleh: Dewi, Anis, dan Anum

doc.Edents

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) kembali menggelar acara Dies Natalis sebagai perayaan hari jadi yang ke-56nya. Tema yang diusung tahun ini bertajuk FEB Undip Goes to Global yang menandai dibukanya kelas internasional untuk jurusan Manajemen dan Akuntansi. Pengadaan kelas internasional ini turut melengkapi visi Undip yaitu menjadi World Class University pada tahun 2020. Proses seleksi kelas internasional dibagi menjadi dua jalur yaitu,Ujian Mandiri (UM) lokal yang akan diselenggarakan pada tanggal 5 Juni 2016 dan UM Internasional satu hari setelahnya. Berbagai rangkaian tes akan diikuti oleh calon mahasiswa baru kelas internasional. seperti dari bahasa Inggris, skolastik (tes akademik), wawancara, dan good discussion. Dari hasil seleksi tersebut

akan diambil masing-masing 25 mahasiswa untuk kelas internasional di jurusan Manajemen dan Akuntansi. Sedangkan untuk prodi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) baru akan membuka kelas internasional tahun depan. Kelas Internasional Sistem pembelajaran kelas Internasional sudah lebih dulu diterapkan pada prodi Manajemen dinilai masih sangat sederhana, seperti beberapa mata kuliah saja yang diberlakukan kelas internasional. Di tahun 2016 ini, jurusan Akuntansi dan Manajemen akan membuka International Undergraduate Program (IUP). Strategi yang diterapkan yaitu pertama, double degree (kerjasama dengan dua mitra kampus). Kedua, in degree (jasa tunggal dengan mitra), dan terakhir students exchange yaitu mengirim mahasiswa kurang lebih selama enam bulan ke luar negri. Serta pembenahan kurikulum pembelajaran agar sesuai standar internasional. Harjum Muharram selaku Ketua Jurusan Manajemen menambahkan untuk persiapan IUP harus sejalan antara pihak dosen dengan mahasiswa. Dari segi dosen, selain pendidikan sekolah ke luar negeri, dosen juga diwajibkan ikut dalam kegiatan ilmiah di luar negeri seperti conference. Publish jurnal pada tingkat internasional juga merupakan salah satu persiapan untuk menuju IUP. Senada dengan yang diungkapkan Harjum, Suharnomo mengatakan, “Dosen untuk tiga angkatan terakhir ini akan kita paksa ke luar negeri, dan untuk pelatihan bahasa Inggris. Kita sudah kirim 17 orang ke Bali untuk mengikuti pelatihan IALF

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016

3


LIPUTAN UTAMA “Jadi, tahun 2016 ini merupakan sejarah bagi Ekonomi dan Undip sendiri untuk memiliki kelas Internasional,” ujar Suharnomo, selaku dekan FEB Undip

(Indonesia Australia Language Foundation),” ungkapnya. Dari sisi mahasiswa lebih diarahkan untuk membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris dalam setiap obrolan maupun saat pembelajaran. Soft skill yang dimiliki dapat bersaing dengan mahasiswa universitas lain, tidak hanya terfokus di tingkat Semarang atau pun di Indonesia saja. Lain halnya dengan jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP). Akhmad Syakir Kurnia selaku Ketua Jurusan IESP menuturkan bahwa, masih banyak hal yang harus disiapkan oleh jurusan IESP. Kurangnya sumber daya untuk menyampaikan materi berbahasa Inggris menjadi salah satu kendala jurusan IESP untuk membuka kelas internasional di tahun ini. “Pendidikan bukan hanya mentransformasi knowledge (pengetahuan) dosen kepada mahasiswa, tetapi yang namanya pendidikan itu proses bagaimana mentransformasi mahasiswa yang bersangkutan bisa mempraktikannya, kemudian mengakumulasi pengetahuan secara aktif,” imbuh Syakir. Prodi baru Berbicara mengenai program studi (prodi) Ekonomi Islam yang terbilang masih baru di lingkungan FEB Undip, yaitu baru 2 tahun berjalan, membuka kelas internasional nampaknya masih memerlukan persiapan yang banyak. Prodi Ekonomi Islam haruslah diperkuat terlebih dahulu dari segi kelembagaan dan institusi, yang akan ditempuh untuk menuju FEB Goes to Global. “Harapannya dengan adanya penguatan kelembagaan dan penguatan dosennya ini, bisa menghasilkan kualitas mahasiswa yang mampu bersaing di Internasional. Jadi bukannya belum siap, tapi kita masih dalam tahapan,” jelas Darwanto, Kepala Prodi Ekonomi Islam.

4

Hambatan Berbagai aspek perlu diperhatikan guna mewujudkan kelas internasional yang mampu bersaing dengan lulusan luar negeri nantinya. Aspek mahasiswa menjadi salah satu perhatian utama dalam pendirian kelas internasional tersebut, mengingat hanya sebagian mahasiswa yang dapat berbahasa Inggris dengan baik, seperti yang diungkapkan Harjum, “Kita mau buat program untuk semua mahasiswa pada tahun kedua, menyiapkan Bahasa Inggrisnya sudah harus bagus gitu, diluar kurikulum yang ada yang mungkin setiap Sabtu rutin ada di kampus untuk English Development Program,” tegasnya. Aspek penting lainnya sebagai penunjang program pelaksanaan kelas internasional adalah pendanaan.”Dirancang nantinya volunteer dari universitas kan belum ada pendanaannya, padahal kalau kita buat program itu kita tawarkan mahasiswa yang mau ikut. Itukan harus bayar untuk pengembangan softskill, bisa dilihat responnya, mudah-mudahan tahun ini bisa jalan,” ungkap Harjum. Harapan Fuad berpesan agar mahasiswa memperluas persaingannya. Bukan hanya lingkup Semarang ataupun Indonesia saja namun seluruh dunia akan bersaing dalam hal pekerjaan. Harapan dan pesan juga dikemukakan Suharnomo, “Yang penting itu mahasiswanya, karena sadari saja bahwa tidak semua keahlian itu dapat diberikan oleh kampus. Misalnya seperti skill tertentu itu harus kita cari sendiri, explore our potential in our UPK (Unit Pelaksana Kegiatan). Asah juga kompetisi menulisnya, apa pun hasilnya itu pasti baik untuk mahasiswa,” tutupnya. (nw)

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016


Polling

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016

5


Polling

6

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016


doc.Edents

kaleiDieskop

doc.Edents

Suasana saat pembacaan doorprize di Dome FEB Undip dalam rangka Dies Natalis FEB Undip ke-56.

Setelah jalan sehat, tak lupa mengisi perut dengan makanan yang bergizi. Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016

7


kaleiDieskop

doc.Edents

Peresmian Gedung Laboratorium Kewirausahaan oleh Menristekdikti, Prof. H. M. Nasir

doc.Edents

Selain itu juga terdapat Lomba Tahfidz yang merupakan rangakaian dari Dies Natalis FEB Undip ke-56.

8

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016


LIPUTAN UTAMA

Sudah Siapkah FEB Bersaing dalam MEA? doc.Edents

Oleh: Abdan Husnan Zulkaisi, Novi Pusparini, Anisa Fatmawati

Sudah tidak asing bagi kita mendengar istilah MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). MEA mulai diberlakukan pada awal Januari 2016 lalu. Pada era MEA ini negaranegara di Asia Tenggara bebas melakukan perdagangan dalam bentuk barang ataupun jasa, termasuk Negara Indonesia. Menurut Lala Irviana, staf ahli bidang kemahaiswaan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, sektor jasa di Indonesia masih dibatasi untuk masuk dalam ranah MEA. Dampak MEA Rizki Hanif, mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan 2014, memandang MEA sebagai ajang mendorong masyarakat Indonesia agar lebih maju. “Tetapi ketika datang challenge (tantangan) dari luar mereka kemudian akan berusaha untuk lebih maju daripada sekitarnya. Jadi kalau menurut saya itu bagus untuk meningkatkan tingkat ke struggle-an orang Indonesia itu sendiri,� ungkap Hanif. Tetapi Indonesia belum mempersiapkan persaingan MEA dengan baik. Kemungkinan Indonesia akan menjadi lebih tertinggal dibandingkan negara lain. Karena ketika diperingkat sebagai negara dengan basis investasi terbaik di dunia, Indonesia menempati peringkat ke 100 sekian.

Sedangkan Lala berpendapat bahwa ada pandangan yang berbeda dari berbagai kalangan. Orang-orang yang berkecimpung dalam dunia akademik akan memandang MEA sebagai hal yang positif. Karena tenaga kerja dari Indonesia dapat bekerja di luar negeri. Sedangkan orang-orang yang bergelut sebagai pelaku bisnis lebih mengarah ke sikap khawatir akan sikap keberpihakan pemerintah. Muhammad Yusuf Alfatha, mahasiswa Manajemen 2014, berpendapat bahwa MEA merupakan peluang Indonesia untuk mengekspor jasa dan produk-produk Indonesia. Indonesia juga memiliki banyak keunggulan dibanding negara-negara lain. Contohnya pada sektor sumber daya alam dan sumber daya manusianya yang melimpah. Kendala Kendala yang akan dihadapi oleh Indonesia adalah persaingan yang datang dari luar negeri. Lala menjelaskan bahwa untuk profesi dokter di Indonesia akan dipenuhi oleh tantangan. Dengan adanya MEA, tidak mustahil bahwa akan ada tenaga dokter dari luar negeri yang bekerja di Indonesia, sehingga persaingan pun akan semakin ketat. Selain itu, masyarakat

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016

9


“Kalau saya, selalu menekankan kepada mahasiswa saya bahwa bisa ngomong bahasa Inggris itu bukan pilihan, tapi keharusan,”Lala Irviana, Staf Ahli Bidang Kemahasiswaan FEB Undip

Indonesia cenderung lebih percaya dengan hal-hal dari luar negeri, termasuk layanan kesehatan daripada produk lokal. Di lain sisi, kendala yang akan dihadapi mahasiswa dan FEB adalah bahasa internasional akan lebih sering dipergunakan dalam perdagangan dan akan memudahkan dalam mentransfer ilmu dan juga dalam kegiatan jual beli di masa mendatang. “Kalau saya, selalu menekankan kepada mahasiswa saya bahwa bisa ngomong bahasa Inggris itu bukan pilihan, tapi keharusan,” tutur Lala. Sependapat dengan Lala, Alfa juga menyadari bahwa mahasiswa sekarang harus menguasai bahasa Inggris untuk menghadapi tantangan dunia global. Apalagi sekarang sudah banyak tenagatenaga dan lembaga-lembaga pendidikan bahasa Inggris. Persiapan Mahasiwa Alfa berpendapat bahwa, kita harus memaksimalkan passion kita. Jangan malah ketika punya usaha itu setengah-setengah, tapi harus maksimal. Sehingga nanti output yang dihasilkan bisa cocok berstandar Internasional jadi bisa diekspor.” Berbeda dengan Alfa, Hanif justru ingin membekali dirinya dengan pendidikan guna menghadapi MEA. ”Persiapan sekarang sih belum ada, maksud saya, sekarang saya masih mahasiswa. Tetapi untuk ke depannya visioner sekitar 20 sampai 30 tahun sehabis sarjana ini, saya pasti akan mengejar S2,” terangnya. Selain itu, Hanif juga membekali dirinya dengan mengikuti diskusi-diskusi maupun debat. Siapkah FEB menghadapi MEA? Dalam menghadapi MEA, FEB sudah menyiapkan program double degree untuk tahun 2016 ini. Diharapkan dengan adanya

10

program baru tersebut mahasiswa dapat lebih berfikiran terbuka dan dapat melihat bagaimana orang luar negeri belajar maupun bekerja. Seperti pisau bermata dua, MEA bisa menjadi peluang, tetapi bisa menjadi tantangan. Lala berharap bahwa mahasiswa punya keterampilan di luar dari yang diajarkan di kampus. Kampus bukan satu-satunya tempat belajar dan harus belajar diluar, seperti belajar bahasa asing, seera ikut di kegiatan kemahasiswaan terutama yang bisa membawa goes global. Hanif juga berharap FEB dapat bersaing dengan universitas-universitas lain. Tidak hanya di Jawa Tengah tapi juga nasional bahkan internasional. “Harapan ke depannya FEB setidaknya dalam lingkup Jawa Tengah dan Indonesia bisa lebih bersaing dengan universitas-universitas yang sudah terkenal seperti UI, UGM. Undip sendiri sudah bagus cuma saya berharap nanti Undip ini bisa masuk ke tiga besar sehingga nantinya bisa bersaing di kancah Internasional,” harap Hanif. (nw)

doc.Pribadi

LIPUTAN UTAMA

Lala Irviana, Staf Ahli Bidang Kemahasiswaan FEB Undip

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016


doc.Edents

KOMIK

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016

11


RESENSI BUKU : Hujan Bulan Juni : Sapardi Djoko Damono : PT Gramedia Pustaka Utama : Pertama, Juni 2015 : 135 halaman : 978-602-03-1843-1 : Ahmad Rodhi Sulaiman

doc.Google

Judul Penulis Penerbit Cetakan Tebal ISBN Peresensi

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada� (Aku Ingin, 1994) Sapardi memulai bereksperimen dengan masterpiece-nya yaitu mengubah antologi puisi Hujan Bulan Juni menjadi sebuah novel Novel ini bercerita tentang kisah cinta antara Sarwono dan Pingkan. Sarwono adalah dosen muda yang mengajar Antropologi yang lihai dalam membuat baitan puisi yang memenuhi sudut surat kabar dan Pingkan adalah dosen muda di program studi Jepang. Ada banyak likuan hidup yang dihadapi Sarwono dengan Pingkan, terlebih mereka adalah sosok yang berbeda dari kota, budaya, suku, bahkan agama. Sarwono adalah orang Jawa yang dari kecil hidup di Solo dan sangat taat pada agamanya (Islam). Sedangkan Pingkan adalah campuran antara Jawa dengan Manado yang meyakini agamanya (Kristen) dengan sepenuh hati. Ibu Pinkan keturunan Jawa yang lahir di Makassar dan bapaknya orang Manado. Permasalahan tentang agama ini dicuatkan oleh keluarga besar Pingkan yang berada di Manado. Harapan keluarga besarnya adalah dia menikahi sosok dosen muda yang pernah kuliah di Jepang dan

12

sekarang mengajar di Manado. Namun Pingkan tetap bersikukuh mempertahankan hubungannya dan berencana kalau nanti menikah, dia akan meninggalkan Manado dan tinggal selamanya di Jakarta. Hambatan lain juga bermunculan yaitu ketika Pingkan berhasil mendapatkan beasiswa ke Jepang. Sarwono merasa kehilangan dan ketakutan pada kehidupan dan orang yang ada di Jepang. Dimana ada sosok Katsuo sangat dekat dengan Pingkan selama di Indonesia. Novel ini tidak hanya bercerita tentang bagaimana Sarwono menahan diri dan meyakinkan dirinya sendiri kalau Pingkan tetap setia padanya, tetapi juga perjuangan Sarwono melawan batuk yang tidak berkesudahan dan membuat dia harus terkapar di pembaringan Rumah Sakit Tulisan ini membuat pikiran melayanglayang seperti seorang penyair yang pandai memuji, tapi kerap kali terlihat rapuh dan mudah meneteskan airmata. Novel ini sangat recommended untuk dibaca, sebuah novel dengan cara penulisan yang berbeda serta penuh syair di setiap kalimatnya. (nw)

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016


LGBT Saat ini, Norma ataukah HAM? Oleh: Akbar Sih Pambudhi

Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT) adalah perilaku atau tindakan yang tidak umum di masyarakat Indonesia. Lesbian adalah perilaku seorang perempuan yang tertarik dengan perempuan, sedangkan Gay merupakan seorang laki –laki yang tertarik terhadap laki–laki. Sedangkan Bisexsual yaitu orang yang tertarik dengan laki–laki dan perempuan dan Transgender adalah orang yang cara berperilaku atau penampilan tidak sesuai dengan peran gendernya. Awal 2016 LGBT menjadi hal yang sering di bicarakan di media cetak maupun elektronik di Indonesia. Bahkan banyak muncul akun–akun media sosial bermotif warna–warni yang mana hal tersebut merupakan simbol dari LGBT. Entah pada saat itu pemilik akun tersebut mengerti atau hanya sekedar mengikuti tren yang sedang panas. Pasalnya Negeri Paman Sam melegalkan pernikahan sesama jenis di seluruh negara bagian, setelah di sahkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Juni 2015 silam. Tentu saja hal ini menimbulkan sikap pro ataupun kontra masyarakat Indonesia. Beberapa artis Indonesia mendukung adanya LGBT seperti, Sherina Munaf, Jeremy Tety, dan Pandji. Dalam akun twitter Sherina mengatakan, kedepanya LGBT dan pernikahan sejenis bisa di setarakan dengan masyarakat lainya. “Banzai! Same sex marriage is now legal across the US. The dream: next, world! Wherever you are, be proud of who you are. #LGBTRights,” tulis Sherina di akun

doc.kartikaratna.wordpress.com

doc.Pixabay.com

KOLOM PEMIMPIN UMUM

twitternya. Sama halnya dengan Sherina, Jeremy Tety juga pro terhadap LGBT, hal ini ia ungkapkan saat menghadiri salah satu acara debat di televisi swasta. Namun tidak sedikit pula masyarakat Indonesia yang kontra dengan adanya LGBT. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Walikota Bandung juga memberikan pendapat yang cenderung menolak adanya LGBT. Bahkan para pejabat negara tersebut sampai di tuntut oleh para kaum LGBT atas penolakan yang mereka berikan. Yuli sebagai aktivis LGBT mengatakan, para pejabat negara telah melanggar konstitusi dan kewajibanya sebagai aparatur negara karena telah mencetuskan pernyataan-pernyataan yang diskriminasi LGBT. Saya menyetujui untuk tidak adanya diskriminiasi terhadap kaum LGBT. Justru kita harus merangkul sesama manusia meskipun dengan perbedaan yang ada. Kita tidak menutup mata bahwa memang LGBT sudah ada di sekitar kita. Karena adanya eksistensi di Amerika dan mulai maraknya LGBT di Indonesia, semakin banyak LGBT yang sudah mulai menunjukan keberadaanya. Bahkan debat mengenai eksistensi LGBT sudah masuk dalam acara televisi swasta. LGBT memang berangkat dari Hak Asasi Manusia untuk memandang kesetaraan terhadap semua manusia. Selain itu LGBT juga ingin adanya pengakuan

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016

13


KOLOM PEMIMPIN UMUM

14

Sangat di sayangkan jika sampai saat ini masih ada saja manusia yang mendukung LGBT sebagai bawaan lahir. Jika mereka kaum yang beragama dan membaca kitabnya, pasti tahu dan belajar dari masa lalu silam. Selain itu tentu kita tidak bisa mengikuti negara lain seperti Amerika Serikat ataupun negara lainya yang sudah melegalkan adanya LGBT bahkan meresmikan pernikahan sejenis. Di Indonesia dalam pembuatan undang–undang harus di dasarkan pada Pancasila dan norma – norma yang ada di Indonesia. Beberapa pakar psikologi juga menyatakan bahwa LGBT merupakan penyimpangan seksualitas yang akan berpengaruh terhadap sekitarnya. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa yang tadinya bukan gay bisa saja dia beralih menjadi gay. Dan dari segi kedokteran kita juga tahu bahwa laki – laki dan perempuan merupakan suatu pasangan yang sempurna yang diberikan anugrah dapat menghasilkan keturunan, sedangkan gay dan lesbi apakah mungkin akan mendapatkan keturunan? Hal tersebut harus menjadi bahan renungan para pihak yang pro akan LGBT. (nw)

doc.Edents

oleh masyarakat sebagai identitas agar tidak mendapatkan diskriminiasi apapun. Namun dalam UUD 1945 Pasal 28 J ayat 2 yang berbunyi “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud sematamata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.” Bunyi dari pasal tersebut sudah jelas bahwa hak dan kebebasan setiap orang wajib tunduk kepada UUD dengan pertimbangan norma–norma di masyarakat. Saya mengakui adanya LGBT di Indonesia. Namun bukan sebagai identitas melainkan perilaku sosial yang menyimpang. LGBT sudah menyimpang dari fitrah, yang sejatinya berpasang – pasangan antara laki – laki dan perempuan. Dengan adanya perilaku yang salah tersebut kita sebagai seorang manusia kita wajib untuk mengingatkan teman-teman kita yang berbuat salah. Tentu mudah menjadi manusia yang egois. “Yaitu kan urusan mereka, mau mereka nikah sesama jenis, yang penting nggak ganggu kehidupan kita”. Namun coba kita pikirkan jika ada seorang gay dia menyukai seorang laki-laki yang bukan seorang gay. Apa yang terjadi setelah itu? Ya bisa saja laki-laki tersebut akan menyimpang pula perilakunya. Dengan hal itu, apakah kalian masih ingin egois? Dalam kitab agama Samawi seperti Islam dengan Al-Quran, Kristen dengan Injil. Pasti sudah diterangkan bagaimana akhir dari kaum luth atau kaum sodom. Kaum beragama tentu takut akan peristiwa dibalikanya tanah akan terulang atau dengan kata lain datangnya azab oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut yang menjadi pelajaran bahwa LGBT bukanlah fitrah manusia ataupun ada semenjak lahir. Tetapi suatu perilaku yang menyimpang yang harus diluruskan.

*) Penulis merupakan Pemimpin Umum LPM Edents periode 2015/2016

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016


Opini

Darurat Narkoba Mengintai Masa Depan Bangsa Oleh: Galuh DIan Paramudita

Dewasa ini banyak ancaman yang merusak generasi bangsa. Salah satunya adalah obat-obatan terlarang seperti narkoba, ekstasi, shabu – shabu, ganja, dan lain- lain. Menurut Kementerian Kesehatan, narkoba diartikan sebagai NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif ). Narkoba dapat menyebabkan kecanduan serta mengganggu syaraf dan atau mampu membuat pengguna tidak sadarkan diri. Sedangkan narkotika menurut UU RI No 22 /1997 merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Pada awalnya, terdapat tiga narkotika yang terbuat dari bahan organik yaitu Candu (Papaper Somniferum), kokain (Erythroxyion coca) dan ganja (Cannabis sativa). Namun, narkoba jenis narkotika pada saat ini adalah Opium atau Opioid atau Opiat atau Candu, Codein, Methadone (MTD), LSD, PC, mescalin, barbiturat, demerol, petidin, dan lainnya. Narkoba; perusak generasi bangsa Narkoba menjadi masalah serius yang dapat mengancam masa depan bangsa. Dampak negatif yang dialami oleh pengguna narkoba meliputi dampak fisik, psikologi, sosial, dan ekonomi. Dampak fisik misalnya gangguan pada sistem neorologis : kejang, halusinasi, dan gangguan kesadaran. Dampak psikologis berupa tidak normalnya kemampuan berpikir, berperasaan cemas, serta ketergantungan atau selalu membutuhkan obat. Selain itu, narkoba juga dapat merugikan masyarakat, baik dalam bidang ekonomi maupun sosial.

Indonesia memang layak menyandang status darurat narkoba. Penyalahgunaannya sudah tersebar luas baik dari aspek wilayah, golongan, maupun usia. Menurut data yang dikutip dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Puslitkes UI, pengguna narkoba di Indonesia tahun 2004 hingga 2015 mengalami peningkatan yang drastis. Negeri ini menjadi sasaran empuk peredaran narkoba, terbukti dengan meningkatnya jumlah pengguna setiap tahunnya. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2011 hingga 2014 menunjukan trend peningkatan penyalahgunaan narkoba pada anak- anak dibawah umur. Pada tahun 2011 angka pengaduan penyalahgunaan narkoba sebanyak 12 kasus, kemudian meningkat menjadi 17 kasus pada 2012. Tahun berikutnya kembali mengalami peningkatan menjadi 21 kasus dan puncaknya pada 2014 sebanyak 42 kasus yang terjadi. Fakta lain yang mengejutkan adalah hasil penelitian yang telah dilakukan oleh pihak BNN pada tahun 2014 lalu, sebanyak 33 persen pengguna narkoba berada pada usia pelajar dan mahasiswa, yang juga sebagai pengedar narkoba. Banyak faktor yang membuat generasi muda terjerat oleh narkoba, misalnya depresi, masalah keluarga, dan lingkungan. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dimulai dari lingkungan internal. Perhatian orang tua merupakan salah satu cara untuk menghalau remaja agar terhindar dari narkoba. Anak merupakan sosok yang masih perlu bimbingan orang tua untuk menuju jalan yang baik. Oleh karena itu, arahan dan hubungan harmonis anak dan orang tua harus terjalin dengan baik. Selain itu, anak

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016

15


Opini

Aparat dan narkoba Namun miris manakala aparat yang seharusnya menjadi penyelenggara penanggulangan narkoba, ternyata ikut terjerat dalam lingkaran barang haram tersebut. Memprihatinkan memang, apabila melihat pemakai narkoba adalah oknum aparat dan wakil rakyat, yang merupakan dua sosok publik. Yang bertindak sebagai garda terdepan dalam membasmi peredaran narkoba, sekaligus menjadi pelopor

16

generasi muda untuk menjauhi narkoba. Merajalelanya narkoba di lingkungan aparat penegak hukum, baik sebagai pengguna apalagi menjadi pengedar, memperlihatkan bahwa peredaran narkoba telah memasuki tahap yang membahayakan karena mampu merambah perangkat pertahanan negara. Sanksi tegas berupa pemecatan atau pemberhentian secara tidak hormat perlu menjadi bahan kajian, khususnya pada pasal 30 UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI, yang belum secara eksplisit menyebut jenis sanksi untuk pelanggaran berat seperti terjerat kasus narkoba. Sedangkan pasal 58 ayat (2) dan pasal 61 ayat (1) UU No 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, secara tegas menyatakan bahwa bagi prajurit yang nyata-nyata mempunyai tabiat danatau perbuataan yang merugikan disiplin keprajuritan atau TNI akan diberhentikan dengan tidak hormat. Sinergitas antara masyarakat dan pemerintah diperlukan dalam menghadapi serangan narkoba ini. Pemerintah sebagai penjamin kehidupan masyarakat beserta lembaga negara yang lain juga wajib bertanggung jawab memastikan anggota jajarannya bersih dan tidak menggunakan jabatannya untuk melindungi praktik peredaran barang haram tersebut. (nw)

doc.Edents

juga perlu diberikan ruang diskusi dalam suatu keluarga sekaligus untuk memberikan teladan yang pantas. Upaya yang dilakukan aparat Upaya penanggulangan narkoba secara terpadu juga perlu antar instansi dan lembaga terkait, seperti peningkatan kualitas penyidikan, peningkatan anggaran, dan sarana prasarana pendukung, guna mempermudah penyidikan kasus narkoba. Upaya lain yang dapat dilakukan pemerintah adalah diberlakukannya eksekusi mati bagi para bandar narkoba, meskipun hal tersebut memang menuai pro dan kontra. Namun pemerintah memberikan hukuman mati bagi para bandar narkoba melalui beberapa pertimbangan, yakni membuat jera para pengedarnya, menyelamatkan nyawa ataupun korban bahaya narkoba, serta mampu memperkecil ruang sempit peredaran narkoba. Perdagangan Narkoba telah menjadi ancaman serius. Ekesekusi hukuman mati berdasarkan UU no. 35 thn 2009 menjadi sebuah upaya pemerintah melawan pengrusakan generasi bangsa. Meskipun hal tersebut tidak langsung memotong rantai perdagangan narkoba dalam waktu dekat karena selalu bermunculan rantai yang baru. Sehingga perlu adanya kinerja yang baik dari apparat penegak hukum baik TNI maupun Polri. Hal tersebut dapat tercapai jika aparatur negara bersifat bersih, berwibawa, penuh tanggungjawab, serta adanya masyarakat yang sadar dan taat hukum.

*) Penulis merupakan Pemimpin HRD LPM Edents periode 2015/2016

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016


Kuliner

SOWAK, Spesial Sop dan Rica-Rica

doc.Edents

Oleh: Nur Zharifah, Yuhana Era P.

Hadirnya sesuatu yang baru dan unik pastilah akan cepat menjadi buah bibir di masyarakat. Sowak salah satunya, tempat makan yang menyajikan menu ikan mulai ramai diperbincangkan masyarakat Tembalang akhir-akhir ini. SOWAK (Sop Iwak) merupakan tempat makan yang didirikan pada 11 Desember 2015 lalu di Tembalang. Meskipun terbilang baru, kini tempat makan yang berada di Jalan Mulawarman tersebut tak pernah sepi dari pelanggan. SOWAK menyajikan berbagai makanan dan minuman namun menu andalan tempat makan ini adalah sop iwak, rica-rica balungan (RiNgan), dan mie tulang. Uniknya, pelanggan juga dapat memilih tingkat kepedasan makanannya dari level satu sampai lima, sehingga dapat dinikmati oleh semua orang baik pencinta pedas ataupun tidak. Dari segi harga, makanan dan minuman di SOWAK memiliki kisaran harga enam ribu sampai sebelas ribu rupiah. Diakui Dewangga, pemilik usaha keluarga ini, pendirian usaha SOWAK dilatarbelakangi oleh kejenuhan akan jenis makanan yang telah banyak dijual di Tembalang saat ini. Muncul dari kebiasaan sang Ibu memasak makanan Bangka Belitung, sehingga dibuatlah menu sop iwak dengan bumbu khas Sumatera. “Makanya

kalau kadang-kadang orang Sumatera yang diajak kesini suka bilang lempah, lempah kuning, sebenernya berangkatnya dari situ kalau sop iwaknya tapi saya kemas jadi lebih mudah lagi,� jelas Dewangga. Sebenarnya, sop iwak telah banyak dijual di Semarang khususnya Semarang bawah, tapi Dewangga menyajikan dengan kemasan berbeda karena tampil pada pasar yang berbeda. Sasaran pasar dari SOWAK adalah mahasiswa dan mahasiswi. Namun tidak sedikit warga perumahan yang kini juga menjadi pelangan SOWAK. “Saat kemarin liburan itu pas warung lain tutup, di sini kami nyoba buka, karena kami kan disini baru ya, ingin liat seberapa jauh omzet kami turun saat mahasiswa itu liburan,� ujar Dewangga. Namun, seiring berjalannya waktu banyak pelanggan yang mengetahui SOWAK, sehingga kini tempat makan tersebut ramai pelanggan. Pada mulanya, Dewangga sempat cemas akan ketiadaan pelanggan yang datang karena tempat usahanya tidak berada pada akses jalan utama. Dalam

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016

17


Menu Mie Tulang menentukan luas bangunan, Dewangga juga mempertimbangkan lahan parkir untuk pelanggan. Hal tersebut dilakukan untuk membuat pelanggan merasa nyaman untuk datang ke warung dengan menu andalan sop iwak tersebut. Daerah tempat SOWAK berdiri, kini juga menjadi daerah yang cukup ramai dengan banyaknya tempat makan baru yang dibuka. Sejak awal pendiriannya, SOWAK telah mengalami berbagai kemajuan, mulai dari jumlah porsi makanan, jam operasional, hingga tampilan pelayan. Jumlah porsi yang disajikan meningkat dari mulanya hanya lima puluh porsi per hari, kini mencapai empat ratus porsi per hari. Menurut Dewangga peningkatan ini tidak langsung secara instan tetapi bertahap. Seiring dengan meningkatnya permintaan pelanggan, jam operasional yang awalnya sepuluh jam per hari juga meningkat menjadi tiga belas jam per hari. Kemajuan lainnya yaitu adanya seragam untuk para pelayan di SOWAK. Kendala Setiap usaha yang berhasil pasti pernah menghadapi berbagai hambatan. Begitu juga dengan SOWAK, awal pendirian hingga keberlangsungan usahanya menghadapi kendala berupa modal dan bahan baku. “Kalau kendalanya usaha saat

18

ini, waktu berdiri ya pasti dari segi modal kami,� jelas Dewangga. Namun ia mengatasi keterbatasannya dengan menggunakan barang bekas untuk pendirian bangunan usaha sop iwak tersebut. Seiring dengan meningkatnya permintaan, ia juga mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan baku. Namun, baginya kesulitan dalam mendapatkan bahan baku inilah yang membuat usahanya berbeda, karena orang yang ingin meniru pun perlu usaha ekstra untuk mencari bahan baku makanan tersebut. Layaknya usaha-usaha kuliner lain, Dewangga juga berniat untuk terus berinovasi dalam bentuk produk ataupun tempat usaha. Ia berharap SOWAK dapat menjadi tempat andalan orang-orang ketika sedang lapar sehingga mereka selalu berkunjung ke SOWAK. “Harapan ke depannya ya kamu (pelanggan-red) lapar makan ke SOWAK, sehari tiga kali makan di SOWAK nggak apa-apa. Ya jadi itu lapar makan, lapar makan itu aja,� harap Dewangga. (nw)

doc.Edents

doc.Edents

Kuliner

Menu Sop Iwak

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016


Opini

Remaja Berumur 17 Tahun Bernama Kebebasan Pers Oleh : Niki Agni Eka Putra M, Magang LPM Edents 2015

Berawal dari Ibu bernama Reformasi, lahirlah harapan-harapan baru bagi Indonesia. Salah satunya adalah pers, yang pada masa Orde Baru (Orba) kehilangan hak asasinya sebagai pengungkapan kebebasan berpendapat secara kolektif dari hak berpendapat secara individu yang diterima sebagai hak asasi manusia (HAM). Sedikit flashback, pers pada masa Orba terbelenggu oleh rezim yang katanya 'penak jamanku tho' Tempo, Detik, dan Editor adalah sedikit dari korban pemasungan kebebasan pers oleh rezim tersebut. Ibu Reformasi pula yang merawat dan mendidik pers. Diawali oleh penerbian UU Pers No. 40 tahun 1999 pada 23 September 1999 sebagai pengganti UU yang represif dan membelenggu. Dilanjutkan oleh Menteri Penerangan era Presiden Habibie, Yunus Yosfiah mencabut Peraturan Menteri Penerangan No. 1 tahun 1984 tentang Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang dikeluarkan Menteri Penerangan era Soeharto, Harmoko. Lalu yang paling fenomenal ketika Gus Dur, sapaan akrab KH. Abdurrahman Wahid, sebulan setelah menjadi Presiden tepatnya November 1999 membubarkan Depertemen Penerangan. Dan pers kembali mendapatkan hak asasinya. Bebas bergerak, berlarian, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan rakyat Indonesia dengan berbagai macam tingkahnya. Jika terhitung sejak zaman Reformasi, yaitu sejak UU Pers No. 40 tahun 1999 diterbitkan, usia pers di Indonesia sekarang adalah 17 tahun atau yang populer disebut

Sweet Seventeen. Masa seorang remaja sedang bebas-bebasnya mencari jatidiri menuju kedewasaan. Pers pun demikian. Bersama dengan kemajuan teknologi abad ke-21, tingkah laku pers di Indonesia semakin bebas. Jika sebelumnya hanya hadir tiap pagi dalam bentuk koran, majalah, dan sejenisnya, lalu berkembang ditambah siang, sore, hingga malam hari dalam media televisi maupun radio, kini tiap detik pun bisa dengan sekali klik enter pada gawai yang kita miliki. Tidak hanya bebas dalam dimensi waktu, isi pemberitaan pun juga semakin bebas. Hampir semua kegiatan manusia bisa menjadi berita. Kasus korupsi, kecelakaan, liputan pernikahan artis selama seminggu penuh, semuanya bisa. Berbicara kebebasan pers, berarti kita juga sedang berbicara insan pers. Menurut KBBI Offline, pengertiannya adalahorang yang berkecimpung di dunia pers. Kebanyakan orang awam menyebut insan pers hanyalah wartawan dan perusahaan pers. Padahal jika ditelisik lebih jauh, setiap individu masyarakat bisa menjadi insan pers. Ketika seseorang melihat kebakaran lalu dia berlari berteriak ada kebakaran, secara esensi dia telah menjadi insan pers. Teriakannya mengakibatkan semua orang yang mendengarnya tahu informasi jika ada kebakaran yang terjadi. Apalagi sekarang ditunjang kecanggihan teknologi dan perkembangan internet, muncul istilah citizen journalism yaitu merupakan bentuk ‘way’ bahkan ’high way’ atau jalan besar – yang seharusnya bebas hambatan- agar

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016

19


Opini

20

agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.� (QS. Al Hujurat: 6-8) Buku Fikih Jurnalistik: Etika dan Kebebasan Pers menurut Islam karangan Faris Khoirul Anam menyebutkan bahwa proses tabayyun dimulai dari kebenaran sebuah berita. Jika salah maka otomatis berita itu tidak layak dan harus dihapus. Hanya berita benar yang disebarkan. Setelah berita dijamin kebenarannya, maka lanjut ke bagaimana kebermanfaatan berita tersebut bagi masyarakat luas. Jika ternyata tidak bermanfaat, apa keuntungannya menyebarkan berita yang tidak ada faedahnya? Nah baru ketika berita itu sudah benar dan bermanfaat maka berita itu layak disebarluaskan, sebagai peranan pers dalam hal pendidikan. Akhir kata, menginjak 17 tahun pers di Indonesia lahir kembali, seperti seorang remaja yang bebas mencari identitas diri, perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian dari berbagai pihak. Agar kebebasan pers di Indonesia dapat benarbenar mencapai kedewasaannya dan tidak “manja� dengan Ibu Reformasi 1998.

doc.Edents

rakyat dapat menyalurkan semua bentuk komunikasi, baik lisan dan tulisan pada media massa baik cetak dan elektronik, agar tercapai Indonesia yang demokratis (Pujanarko, 2010). Hal tersebut idealnya bersamaan dengan sikap masyarakat yang cerdas dan bertanggung jawab, sehingga informasi yang disampaikan adalah fakta. Namun tampaknya dibungkam untuk berpendapat selama 32 tahun ditambah perkembangan teknologi yang cepat menimbulkan euforia tersendiri bagi masyarakat untuk menyampaikan informasi, terutama di dunia maya. Karena realitasnya di lapangan, banyak informasi palsu yang dengan mudahnya kita dapatkan. Contoh yang masih segar di ingatan kita adalah ketika terjadi penyerangan teroris di Sarinah, Jakarta pada Kamis 14 Januari 2016 lalu. Tak butuh waktu lama, dalam hitungan detik grup-grup chatting ditemui pesan berantai /broadcast yang, menurut penulis, tidak masuk akal dan tidak etis. Seperti foto korban tanpa sensor, tempat-tempat sasaran teror berikutnya, hingga yang paling menarik perhatian adalah yang mengaitkan sebuah hashtag bisa menyebabkan krisis ekonomi di Indonesia. Lebih parahnya, banyak yang percaya akan broadcast itu lalu menyebarkannya kembali. Perilaku tersebut, selain merugikan masyarakat awam, juga tidak sesuai dengan fungsi pers. Menurut UU No. 40 tahun 1999 tentang pers menyebutkan bahwa salah satu fungsi pers adalah sebagai media pendidikan / edukasi. Hal ini yang masih kurang dipahami oleh masyarakat, bahkan mereka belum sadar jika termasuk pelaku pers. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan proses tabayyun atau proses pengecekkan kembali kebenaran dari sebuah berita. Allah SWT telah mengatur bab tabayyun pada ayat berikut: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti

*) Penulis merupakan pemenang Best Monthly Article Magang Edents 2015

Erlangga 17 | Volume 1 Edisi April 2016


AKANSE GE RATE RBI T Maj al ahe de nts vol ume1e di sixxi v me i201 6

Buletin Edisi April 2016  
Buletin Edisi April 2016  

Buletin Erlangga 17  merupakan salah satu produk LPM Edents yang terbit tiga bulan sekali, dengan suguhan berita-berita seputar kampus (ting...

Advertisement