Page 1


DAFTAR ISI

Cakrawala, maskot baru Universitas Negeri Malang (UM) resmi diirilis saat perayaan Dies Natalis ke-63 dan Lustrum XIII UM. Sosoknya hadir menyapa ratusan pasang mata di Graha Cakrawala. Annisa Larasati, sang kreator yang memenangkan Lomba Maskot UM kali ini membagikan asal usul kelahiran Cakrawala pada kru Komunikasi. Seperti apa kisahnya, mari berkenalan lebih lanjut dengan Cakrawala di Rubrik Laporan Utama!

dok. Pribadi

Mengenal Lebih Dekat Maskot UM: Cakrawala

SALAM REDAKSI 4

6

SURAT PEMBACA 5 LAPORAN UTAMA OPINI 10

dok. Pribadi

Pageant jadi Passion

UP TO DATE 19

21

Pernah mengalungi gelar Duta Wisata Blitar dan Duta kesehatan Kota Batu, Viga dan Masayu jajal peruntungan di Pemilihan Duta Kampus UM. Kemenangan kembali menyapa keduanya. Kontribusi apa yang hendak mereka tawarkan untuk kampus tercinta? Simak ulasannya di Rubrik Profil!

24 dok. Pribadi

SEPUTAR KAMPUS 12

24

LAPORAN KHUSUS 20 PROFIL CERITA MEREKA

Algoritma Perjalanan Fascal

CURHAT 26 INFO 27

Berawal dari ketertarikan dengan dunia teknologi sejak kecil, Fascal kini berhasil menjalankan sebuah start up. Pria yang suka bernyanyi ini memutuskan untuk terjun di dunia programming. Pantang menyerah, terus berusaha, berdoa, dan bertawakal adalah kunci utama dalam meraih mimpinya. Yuk, baca cerita selengkapnya di Rubrik Cerita Mereka!

PUSTAKA 31 WISATA RANCAK BUDAYA 34 KOMIK 38 LENSA UM 39

Kampung topeng, mengubah masyarakat kurang beruntung dalam wadah kampung pariwisata. Ditambah dengan mengunjungi Pesona kastil Eropa di Kota Malang mengundang kru Komunikasi untuk mengunjungi tempat tersebut. Penasaran ada apa saja di sana? Yuk, simak liputannya di rubrik wisata

32

dok. Pribadi

Tak Perlu Jauh-Jauh untuk Melepas Jenuh

Tahun 41 November-Desember 2019 |

3


Salam Redaksi

UM Jaga Kearifan Lokal dan Visi Misi Pendahulu oleh Hendra Susanto

S

alam hangat dari tim redaksi kepada seluruh pembaca setia Komunikasi UM. Saat ini, di tengah derasnya arus informasi sebagai media promosi, UM terus berupaya lebih mengenalkan lembaga ini kepada khalayak melalui branding ikon-ikon khas UM. Usaha mengenalkan UM kepada publik ini dilakukan dengan beberapa model seperti maskot, batik, souvenir, dan berbagai branding lainnya. Bertepatan dengan kegiatan lustrum yang dilaksanakan beberapa waktu lalu, UM mengadakan Lomba Desain Maskot UM. Pembuatan maskot UM bertujuan untuk memberikan penguatan pengenalan UM kepada khalayak bahwa UM adalah jelmaan baru dari IKIP Malang yang tetap menjaga kearifan lokal dan visi misi para pendahulunya. Kegiatan lomba desain maskot UM dimulai sejak Juni hingga awal Agustus dengan tema “Universitas Negeri Malang Berinovasi”. Lomba tersebut terbuka untuk seluruh civitas akademika UM. Proses penilaian didasarkan pada orisinalitas dan ide desain, kesesuaian isi dengan tema, dan tingkat kemungkinan implementasi sebagai bagian dari media promosi UM. Dewan juri yang dilibatkan antara lain Dr. Pujiyanto, M.Sn., Papang Jakfar, S.Sn., Andreas Syah Pahlevi, S.Sn., M.Sn., ACA., dan Yon Ade Lose Hermanto, S.Sn., M.Sn., ACA. Berdasarkan hasil penjurian, diperoleh sepuluh finalis yang lolos, yakni Anisa Larasati (FS), Mohammad Reynaldi Dermawan (FS), Dimas Rifqi Novica (FS), Dimas Suryo Sumbodo (FS), Okky Bagus Wahyudi (FS), Arif Sutrisno (FS), Mohammad Yusrin Abdullah (FS), Miftakhul Jannah (FS), Didi Ilyas Muqaffi (FS), Vanesa Indriani (FS). Akhirnya, nama Annisa Larasati (FS) keluar sebagai pemenang dengan maskot kebangaannya yang diberi nama “Cakrawala”. Cakrawala lahir dari perpaduan konsep logo UM dengan Topeng Malangan. Maskot imut tersebut dipilih karena memenuhi beberapa persyaratan, yakni memiliki desain yang mudah dieksekusi secara masal, unik, memiliki orisinalitas yang tinggi, dan juga

dok. Pribadi

STT: SK Menpen No. 148/ STT: SK Menpen No. 148/ SK DITJEN PPG/STT/1978/ SK DITJEN tanggal 27PPG/STT/1978/ Oktober 1978 tanggal 27 Oktober 1978

telah teruji secara ilmiah. Setelah melalui proses finalisasi, desainer disarankan untuk mengerjakan beberapa revisi, termasuk memberi nama panggilan ‘si Cakra’. Konsep si Cakra merupakan sajian branding maskot UM yang disaripatikan dari budaya Panji Topeng Malangan yang memiliki konten edukatif, tri dharma perguruan tinggi, dan stilisasi logo UM. Akhirnya, kulminasi launching maskot UM “Cakrawala” dilakukan tepat pada acara puncak upacara Lustrum XIII dan Dies Natalis ke-65 UM pada (17/10). Sebagai satu kesatuan puncak launching, pada saat yang bersamaan UM juga merilis batik UM dan digital branding si Cakra melalui sticker digital pada aplikasi What’sApp. Si Cakra secara resmi diperkenalkan kepada khalayak oleh rektor UM, Prof. Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd. dengan tujuan, UM akan makin dikenali sebagai sosok baru IKIP Malang yang memiliki identitas orisinal sebagai kampus yang bersahabat, kampus pembelajaran, kampus rujukan, dan kampus bernas inovasi dan prestasi. Si cakra merupakan perwujudan spirit baru UM untuk menatap masa depan dengan penuh percaya diri bahwa UM mampu bersaing dalam era digitalisasi global. Cakra, sosok yang penuh semangat, ceria, dan optimis menjadi suatu ikon baru kebanggaan UM. Spirit yang dibawa Cakra semoga menginspirasi mahasiswa UM dan civitas UM secara umum. Seluruh civitas akademik UM berharap lustrum XIII dan dies natalis ke-65 menjadi tonggak sejarah kebangkitan UM untuk menggapai kejayaan di masa lalu melalui wajah barunya, Universitas Negeri Malang dan maskot kebanggaannya, “Cakrawala” sebagai pembawa asa baru mencapai kegemilangan di masa yang akan datang. Salam Lustrum XIII dan Dies Natalis ke-65 Universitas Negeri Malang. UM Jaga Tradisi, Bernas Inovasi dan akan terus melambungkan prestasi. Jayalah UM, jayalah bangsaku! Penulis adalah Staf Ahli Wakil Rektor III dan Anggota Pengarah Majalah Komunikasi

KOMUNIKASI • Majalah Kampus Universitas Negeri Malang • Jalan Semarang No. 5 Graha Rektorat lantai 2 Telp. (0341) 551312 Psw. 354 • E-mail: komunikasi@um.ac.id • Website: http://komunikasi.um.ac.id • Instagram: @komunikasi_um KOMUNIKASI diterbitkan sebagai media informasi dan kajian masalah pendidikan, politik, ekonomi, agama, dan budaya. Berisi tulisan ilmiah populer, ringkasan hasil penelitian, dan gagasan orisinil yang segar. Redaksi menerima tulisan para akademisi dan praktisi yang ditulis secara bebas dan kreatif. Naskah dikirim dalam bentuk softdata dan print out, panjang tulisan 2 kwarto, spasi 1.5, font Times New Roman. Naskah yang dikirim belum pernah dimuat atau dipublikasikan pada media cetak manapun. Tulisan yang dimuat akan mendapatkan imbalan yang sepantasnya. Redaksi dapat menyunting tulisan yang akan dimuat tanpa mengubah artinya. Tulisan dalam Komunikasi tidak selalu mencerminkan pendapat redaksi. Isi di luar tanggung jawab percetakan PT Antar Surya Jaya Surabaya.

4 | Komunikasi Edisi 325

Pembina Rektor (AH. Rofi’uddin) Penanggung Jawab Wakil Rektor III (Mu’arifin) Ketua Pengarah Kadim Masjkur Anggota Hendra Susanto Ketua Penyunting A.J.E. Toenlioe Wakil Ketua Djajusman Hadi Anggota Zulkarnain Yusuf Hanafi Evi Susanti Nuruddin Zanky Dila Umnia Soraya Sukamto Tika Dwi Tama Septa Katmawanti Ike Dwiastuti Redaktur Pelaksana Nida Anisatus Sholihah Editor Azizatul Qolbi Layouter Fitrah Izul Falaq Nadifah Adya Ilham Desainer dan Ilustrator Krisnawa Adi Baskhara Nur Aviatul Adaniyah Reporter Dessy Herawati Cintya Indah Sari Rosa Briliana Umi Nahdhiah Tanzilla Yulia Ageng Nur Nilam Ayu S. M. Irkhamin Azril Azi Famba Safira Putri H. Nikmatul Khoiriyah Caecilia Sherina Dewi Nurul Laili Rohmatin Zahira Alfiani Niken Puspitsari Administrasi Taat Setyohadi Suhartono Ekowati Sudibyaningsih Oni Irawan Nur Cholisah Elok Kanthiasih Hadi Mulyono Distributor Adi Santoso


Surat Pembaca

Salam Pers! Saya Zahirah, mahasiswa Sastra Inggris. Saya mengapresiasi redaksi Majalah Komunikasi karena memberikan kesempatan pada civitas UM untuk mengirim tulisan reportase. Sejauh yang saya tahu, Majalah Komunikasi memuat kegiatan-kegitatan yang berlangsung di selingkung UM. Saya ingin bertanya, apakah redaksi juga menerima tulisan reportase kegiatan yang berlangsung di luar UM? Terima kasih, semoga Majalah Komunikasi sukses selalu! Salam, Zahirah Alfiani S-1 Bahasa dan Sastra Inggris Salam! Dear Zahirah Alfiani, terima kasih atas apresiasinya. Semoga Komunkasi terus memberi manfaat pada civitas akademika UM. Redaksi menerima tulisan reportase kegiatan-kegiatan UM, baik di dalam kampus maupun di luar kampus dan dilipu toleh Reporter Komunikasi. Jadi, apabila ada kegiatan UM baik kampus maupun di luar mohon untuk menginformasikan kepada Redaksi Komunikasi agar dapat kami agendakan untuk peliputan kegiatan tersebut.

Nur Aviatul Adaniyah

Tulisan Reportase Kegiatan di Luar UM, Bolehkah?

Perjalanan branding diri untuk mengarifkan eksistensi dan tradisi Cover Story

Terima kasih Salam, Redaksi

Anyone can steal your idea, but no one can steal your execution Nadiem Makarim

ilustrasi oleh : Krisnawa Adi Baskhara

Tahun 41 November-Desember 2019 |

5


Laporan Utama

H

adir sebagai sosok baru, Cakrawala siap menjadi bagian identitas Universitas Negeri Malang (UM). Resmi dirilis pada Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII UM, Cakrawala lahir menyapa publik Graha Cakrawala pada Kamis (17/10). Menyimpan unsur topeng Malangan, Cakrawala difilosofikan sebagai manusia yang memiliki kemampuan belajar dan daya kreativitas tinggi. Ide maskot tercetus sebagai salah satu jawaban terhadap hal baru yang bisa menjadi ciri khas UM. Cakrawala didesain oleh Annisa Larasati, pemenang sayembara Lomba Desain Maskot UM. Sejumlah cerita tertuang di balik penciptaan maskot Cakrawala ini. Seperti apa kisah seru dan menariknya, semua akan dirangkum dalam Liputan Utama berikut. Munculnya Maskot “Cakrawala� Berawal dari peringatan Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII UM Tahun 2019 yang ingin menyuguhkan sesuatu yang baru untuk menjadi ciri khas UM, panitia pun menggelar Lomba Desain Maskot UM. Maskot UM digadang berfungsi sebagai penggambaran kreativitas dan keberadaan UM yang penuh inovasi dan prestasi. Tak hanya itu, perwujudan maskot sekaligus sebagai upaya promosi dan penanda brand awareness bagi UM. Diharapkan, khalayak umum akan lebih mengenal UM dan mengetahui ciri khas yang dimiliki UM selain sebagai pusat pembelajaran. Cakrawala lahir dari hasil sayembara Lomba Desain Makot UM yang dibuka untuk seuruh civitas UM. “Di UM memang banyak sekali ahli, apala-

6 | Komunikasi Edisi 325

dok. Panitia

Mengenal Lebih Dekat Maskot UM UM:: Cakrawala Cakrawala menyapa civitas UM

gi dengan adanya Jurusan Seni dan Desain (Sedesa), tentu tidak diragukan lagi kemampuannya. Namun kami selaku panitia berpandangan bahwa tidak hanya terbatas pada satu dua orang ahli, tetapi lebih memberikan kesempatan kepada semua warga UM, baik dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa untuk ikut menyumbangkan pikiran, kreativitas, dan inovasi mereka dalam lomba maskot ini�, ujar Ifa Nursanti, S.AP., Kasubag Humas UM. Memadukan Konsep Logo UM dan Topeng Malangan Annisa Larasati, desainer Cakrawala mengaku tidak menyangka bahwa dirinya akan memenangkan sayembara itu. Saat mengikuti Lomba Desain Maskot UM, ia tengah menyelesaikan studinya. Uniknya, wanita berkacamata ini juga mengangkat tema pembuatan Cakrawala pada skripsinya. Berawal dari saran dosen pembimbing, ia diarahkan kepada kesukaannya membuat maskot. Annisa

berkeinginan membuat maskot yang berbeda, sesuai dengan bidangnya. Ia ingin membuat maskot yang cukup mudah dikerjakan dan tidak realis. Sempat bingung menentukan konsep maskot yang akan dibuatnya, darah kelahiran Malang ini berhasil mencetuskan karakter baru yang terinspirasi dari Topeng Malangan. Sebelum menjadtuhkan pilihan pada Topeng Malangan, Annisa sempat terpikirkan kampus UM yang berlokasi di Blitar. Jika kampus di Kota Malang memakai singa, di Blitar apa karena Blitar ikonnya bukanlah singa. Annisa ingin di mana pun UM berada maskotnya tetap sama, satu sudah cukup dan bisa mewakili semuanya. Ia pun memutuskan untuk sebisa mungkin menghindari membuat maskot yang bertemakan singa. Dia juga mendapatkan masukan untuk tidak membuat maskot yang geologis. Selain menghindari maskot yang menyerupai maskot sebuah daerah, pada


dok. Panitia

Laporan Utama

Annisa, desainer Cakrawala

dasarnya ia memang ingin mengangkat budaya lokal Topeng Malangan. Sejak Annisa baru menduduki bangku kuliah, UM sudah banyak membahas tentang Topeng Malangan sehingga membuatnya tidak terpikirkan hal lain untuk membuat maskot selain bertemakan Topeng Malangan tersebut. “Awalnya bingung untuk konsep maskotnya itu dalam bentuk apa. Akhirnya, saya menemukan ide untuk membuat bentuk lain dengan wujud menyerupai manusia, tetapi merupakan karakter baru yang saya ciptakan,” ungkap Annisa. Di dalam Topeng Malangan terdapat banyak benda yang menghiasi sang penari. Dengan melihat logo UM, ia pun mendapat referensi berupa tumbuh-tumbuhan. Dengan penuh optimis ia mencoba menggabungkan topeng dengan tanaman itu. Setelah berhasil, ia mengonsultasikan hasilnya kepada dosen pembimbing. Memilih Topeng Malangan sebagai Tema Maskot “Saya tidak kepikiran yang lain selain Topeng Malangan karena saya terlalu fokus dengan brand UM dan bagaimana caranya untuk memvisualisasikannya dengan tetap mempertahankan elemen yang ada di lambang UM,” jelas Annisa. Topeng Malangan dipakai karena mengandung banyak unsur seperti simpang, kace, dan irah-irahan. Dalam benaknya ia menginginkan ada unsur Kota Malang yang simpel dan mudah diimplementasikan dalam maskot yang dibuatnya. Pesaing Lomba Desain Maskot UM “Saya baru tahu kalau pesertanya juga ada yang dari dosen dan sempat kepikiran bahwa hasil desain maskot saya tidak akan memenangkan lomba, yang penting mengikuti dengan sepenuh hati dan semangat,” terang perempuan murah senyum ini. Dirinya juga mengaku belum per-

nah mengikuti lomba desain sebelumnya. Lomba Maskot UM menjadi ajang pertama yang ia ikuti. “Saya lebih fokus menggeluti yang sesuai dengan hobi saya. Pertama kali mengikuti lomba yang berhadiah uang dan itu pun juga dorongan dari dosen pembimbing untuk mengikuti lomba ini. Awalnya juga coba-coba, kalau menang ya alhamdulillah, kalau tidak menang juga nggak papa,” tegasnya. Sebelum mengikuti lomba maskot UM, Annisa sudah sering memenangkan kompetisi lomba maskot di tingkat sekolah. Dia juga sempat drop tidak ingin mengikuti kompetisi lagi karena ia pernah dikira sebagai salah satu orang dalam yang mengikuti komunitas menggambar. Namun, dengan dorongan dari dosen dan orang tua akhirnya ia percaya diri untuk mengikuti lomba maskot sekaligus menyelesaikan skripsinya. Waktu Pembuatan Maskot “Saya tidak bisa memperkirakan, karena saya suka, akhirnya saya bikin sebanyakbanyaknya. Kira-kira satu bulan lebih termasuk revisi dari dosen sampai saat launching maskot di acara puncak Lustrum XIII UM. Hingga saat ini masih berlanjut untuk penyempurnaan dan pembuatan produkproduk merchandise yang bertemakan maskot UM ‘Cakrawala,” kata mahasiswi Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) ini. Ia juga menyatakan bahwa Merchandise yang didesain sudah mulai diproduksi dan dipasarkan. Perbedaan Maskot Akademik dan Maskot Hero atau Pendekar Annisa menjelaskan, perbedaan maskot akademik dengan maskot pendekar hanya terletak di baju yang dipakai maskot. Maskot akademik dari segi pakaian lebih formal daripada maskot pendekar. Awalnya, Annisa tidak terpikirkan untuk membuat

maskot pendekar dikarenakan pihak atasan lebih menyukai maskot yang memakai jas almamater UM. Sementara itu, dosen lain ingin membuat eksperimen lain dan akhirnya dibuatlah maskot pendekar. Maskot pendekar muncul dari masukan juri lomba maskot. Butuh waktu satu minggu bagi Annisa untuk membuat maskot pendekar. Namun, pada akhirnya pilihan akhir juri jatuh kepada Cakrawala yang mengenakan jas almamater UM. Memilih Nama “Cakrawala” Nama Cakrawala diambil dari nama Gedung Graha Cakrawala. Harapannya, maskot tersebut dapat menjadi representasi UM dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang tidak terbatas bagai cakrawala. Gedung Graha Cakrawala sendiri menjadikan UM dikenal oleh banyak orang. Gedung tersebut juga merupakan landmark yang sudah tertanam di UM. Sebelumnya, Annisa tidak memikirkan nama maskot tersebut. Dalam penentuan nama tersebut ia mendapat masukan dari beberapa pihak, termasuk almarhumah Aminarti Siti Wahyuni yang dulu menjabat sebagai Kabag Kerja Sama dan Humas UM. Kini nama Cakrawala banyak diperbincangkan oleh civitas UM, terlebih setelah rilis stiker Cakra di What’sApp. Perasaan Annisa Setelah Dinyatakan Menang Lomba Desain Maskot UM “Saya merasa bahagia walaupun saya merasa masih kurang maksimal karena kuliah pas-pasan, tidak seperti mereka yang memiliki keahlian. Namun, dengan kekurangan saya itu alhamdulillah saya masih bisa membuat UM bangga dengan maskot buatan saya. Saya merasa menjadi bagian dari UM dan sangat senang bisa turut berkontribusi untuk UM,” ungkap Annisa saat ditemui di Graha Rektorat. Hak Paten dan Hak Cipta maskot UM Saat ini tim Cakrawala sedang dalam proses hak paten yang dibantu oleh Lembaga Penelitian dan Pengandian Kepada Masyarakat (LP2M). Hak paten dan hak cipta dibuat untuk UM, tetapi atas nama Annisa dan tim pengembangan atau juri. Peran tim pengembang sebagai pihak yang merevisi dan sebagai juru bicara pada pimpinan. Annisa mempresentasikan hasil maskot ke juri, dan juri mempresentasikan maskot kepada pimpinan. “Saya sebagi pembuat utama maskot dan tim pengembang sebagai penyumbang ide seperti pembuatan stiker what’sApp,” terangnya.

Tahun 41 November-Desember 2019 |

7


Bangga: Aji Bagus, salah satu dosen UM menunjukkan boneka Cakrawala

Makna Cakrawala Sebenarnya tidak ada makna atau filosofi khusus yang terkandung di dalam diri Cakrawala. Filosofi bersumber pada lambang UM, seperti warna dan bentukbentuk yang terkandung di dalamnya. Perpaduan biru dominan diikuti kuning dan hijau mencirikan warna maskot. Citra gambar pada lambang UM seperti pohon Kalpataru, tiga kuncup bunga, dan bintang segi lima dimodifikasi sedemikian rupa melekat pada sosok Cakrawala. Kemudian, semua itu dikolaborasikan dengan Topeng Malangan sebagai unsur budaya khas Kota Malang. Kekhasan Topeng Malangan tampak pada berbagai hiasan yang melekat pada tubuh Cakra. Irah-irahan atau tutup kepala mewakili pohon Kalpataru dan kalung kace representasi dari bintang segi lima. Sempat menuai perbedaan pendapat karena bentuk maskot terlalu feminin. Pasalnya, Topeng Malangan memang identik dengan penari perempuan yang memakai topeng, tetapi kontroversi kecil itu tidak menjadi masalah. Meski banyak kendala yang dihadapi selama proses pembuatan, tetapi dengan tetap berpegang teguh pada kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki, Annisa pun dapat melahirkan maskotnya dengan sempurna.

desain yang berupa proyeksi merchandise. Annisa sempat bingung dengan ketentuan awal. “Harus menggambarkan konsep di dalam satu lembar tersebut cukup atau tidak,” pikirnya. Namun, akhirnya ia mampu menyelesaikannya dan mengirim berkas ke humas. Tahap selanjutnya, dia dinyatakan masuk sepuluh besar dan harus melakukan presentasi desain maskot. Setelah presentasi, desain maskot peserta harus direvisi. Setelah itu barulah panitia mengumumkan pemenangnya. Hal itu diketahui pada saat acara puncak lustrum yang menjadi pemenang lomba maskot UM. “Riset untuk pembuatan maskot membutuhkan waktu yang cukup lama. Saya juga cukup takut dengan kontroversi yang akan terjadi, yakni skripsi saya yang juga memakai maskot UM. Saya merasa sedikit ada rasa curang. Para pesaing yang mengikuti lomba maskot juga melakukan riset yang cukup singkat, tetapi saya yang sudah melakukan riset terlebih dahulu bersamaan dengan skripsi merasa kurang enak. Bahkan saya juga diskusi dengan juri lomba maskot yang sekaligus sebagai dosen pembimbing saya,” terang peramu maskot ini. “Selama ini saya orangnya juga tertutup, jadi saya kurang mengetahui siapa yang menjadi lawan saya. Pokoknya saya fokus dengan hasil pembuatan maskot saya dengan banyak berdiskusi dengan dosen pembimbing dan memikirkan kapan skripsi saya ini kelar, hehehe,” tam-

bahnya disertai canda. Annisa sempat tidak percaya diri dengan hasil maskot buatannya yang terbilang cukup simpel dan sederhana dibandingkan dengan maskot yang sebelumnya sudah menjadi kontroversi, yaitu singa dan burung kuntul, serta pesaing maskot lain yang dibuat cukup realis. Namun siapa sangka, maskot Annisa ini justru sangat representatif dengan UM. Sempat terlontar celetukan dari berbagai pihak, menanyakan alasan maskotnya tidak bercelana. Awalnya, sang desainer ingin membuat maskot yang simpel dan tidak ribet, tidak ingin membuat bajunya juga karena maskot tersebut bukan manusia. Awal mulanya sang desainer mengambil referensi dasarnya dari maskot olimpiade Jepang. Ia melihat selama ini maskot yang ada di Indonesia bukan gaya sang desainer karena terlihat mirip sekali dengan bentuk aslinya. Sedangkan maskot Jepang tidak menyerupai persis, ada beberapa unsur yang hilang. Seperti Cakrawala, ia memiliki unsur yang hilang yaitu hidung. Cakra juga mempunyai keunikan karena jari tangannya hanya empat. Rahasia Kemenangan Annisa selalu mengutamakan konsep daripada desain, itulah rahasia kemenangannya. Ia memang ingin mengutamakan konsepnya dan juri berkata bahwa konsep yang dibuat Annisa terbilang bagus dan masih jarang dibuat. “Style utama maskot Cakrawalaku adalah imut, ya itulah style-

dok. Panitia

dok. Panitia

Laporan Utama

Proses seleksi lomba maskot UM Proses seleksi diawali dengan mengirim karya dalam amplop yang berisi satu lembar konsep desain dan satu lembar karya

8 | Komunikasi Edisi 325

Cakra: visualisasi perpaduan Topeng Malangan dan logo UM


dok. Panitia

Laporan Utama

ku, ‘imut’, sedangkan yang lain bisa membuat maskot yang gahar, horor, dan lain-lain,” terang mahasiswi yang sedang menyelesaikan skripsinya ini. “Saya sebenarnya kurang percaya diri dengan hasil maskot buatan saya, tetapi setelah mengikuti lomba ini saya berpikiran untuk membuat portofolio saya sendiri yang sekarang masih proses pembuatan. Saya berfokus pada bidang yang saya geluti, yaitu ilustrasi maskot serta ingin memperkenalkan maskot melalui Instagram dan website,” jelas Annisa. Tanggapan Civitas Akademika UM tentang Cakrawala Sejak dirilis pada Lustrum XIII dan Diesnatalis ke-63 UM, Civitas UM sudah mulai mengenal Cakrawala. Tanggapan positif pun berdatangan. Terbukti, muncul pertanyaan dari warga UM ke mana harus membeli dan bagaimana cara mendapatkan maskot imut tersebut. Sepakat dengan sang desainer, salah satu mahasiswa UM juga mengatakan bahwa Cakrawala adalah mas-

kot yang lucu. “Saya sudah tahu sih, sudah melihat di media sosial gitu kan ya, lucu sih bentuknya,” ujar lelaki yang bernama Krisnawa Adi Baskara tersebut. Sama halnya dengan desainer maskot, pria yang akrab disapa Krisnawa itu juga berasal dari prodi DKV. Dari sudut pandang bidang keilmuannya, ia mengatakan bagus jika sebuah institusi memiliki face icon. “Kalau misalnya dalam bentuk manusianya itu duta kampus, nah ini dalam versi maskot, jadi punya sesuatu yang bisa dikenal masyarakat lebih luas selain branding kampus pendidikan,” terangnya. Lebih lanjut, Krisna juga berharap Cakra dapat menjadi media promosi yang ikonik pada acara-acara tertentu. “Setidaknya keberadaan Cakra akan membawa institusi UM lebih masuk dan lebih dekat dengan masyarakat,” pungkas mahasiswa yang juga tengah berjuang merampungkan skripsinya itu. Mempromosikan Cakrawala Humas sudah menyertakan desain maskot dalam kegiatan promosi, sep-

erti pada tumbler, kaos, dan jaket. Humas juga memberikan boneka Cakrawala kepada tamu yang datang sebagai suvenir. Saat melakukan kerja sama dengan lembaga lain, UM tak lupa menyertakan Cakra sebagai kenang-kenangan. Wakil Rektor IV sangat komit dengan adanya maskot. Terbukti, mereka membentuk tim khusus yang diberi nama Tim Branding UM. Semua bentuk desain branding UM akan dilakukan oleh Tim Branding UM yang terdiri atas dosen Fakultas Sastra, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ilmu Keolahragaan. Terbukti, tim branding harus selalu membuat perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan dalam proses produksi yang berbentuk suvenir. Sedangkan, produksi nantinya akan dilakukan oleh Pusat Bisnis UM. Penjualan bisa melalui Koperasi Pegawai Republik Indonesi (KPRI) UM, Plaza Akademik, dan Koperasi Mahasiswa (Kopma). Irkhamin/ Tanzilla

Tahun 41 November-Desember 2019 |

9


Opini

Pencegahan Penyakit Nomophobia pada Generasi Millenial

G

enerasi milenial dapat dikatakan sebagai generasi pembangunan. Hal ini senada dengan pernyataan Bacharuddin Jusuf Habibie dalam suatu program televisi. �Masa depan tiap bangsa ditentukan oleh peran sumber daya manusia terbaharukan." Generasi milenial dianggap paling dapat menyesuaikan zaman. Elemen-elemen yang perlu dikuasai generasi milenial menurut Habibie adalah agama, budaya, dan perkembangan IPTEK. Generasi milenial perlu menguasai IPTEK karena persaingan global menitikberatkan pada IPTEK yang didukung dengan kreativitas. Salah satu bagian dari perkembangan IPTEK adalah smartphone. Dilansir dari Wikipedia, smartphone (ponsel cerdas) adalah telepon genggam yang memiliki fungsi menyerupai komputer. Dampak positif dari penggunaan smartphone adalah dapat memberikan kemudahan dalam penyebaran informasi dengan cepat. Selain itu, smartphone juga dapat digunakan untuk melakukan transaksi, seperti belanja, mengambil uang dari bank, dan sebagainya. Dari contoh tersebut sudah menjadi gambaran bahwa masyarakat membutuhkan smartphone dalam berbagai aktivitasnya. Aktivitas itu dapat berupa transaksi jual beli, belajar, dan sebagainya. Segala kemudahan dalam penggunaan smartphone menjadikan banyak yang menggunakan smartphone sebagai kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Surahman pada tahun 2017, sebanyak 22,6 persen responden menggunakan smartphone di bawah tiga jam, 32,3 persen responden menggunakan smartphone selama tiga sampai lima jam, 19,4 persen menggunakannya antara lima sampai tujuh jam dan 25,8 persen responden menggunakannya lebih dari tujuh jam. Dari data tersebut, rata-rata responden sering online di media sosial. Media sosial pengguna terdiri dari 90,3 persen BBM (Blackberry Massanger), 93,5 persen 324 10 | Komunikasi Edisi 325

ilustrasi oleh: Krisnawa Adi Baskhara

oleh Zahid Zufar At Thaariq

WhatsApp, 80,6 persen memiliki twitter dan 77,4 persen memiliki Facebook. Meskipun smartphone memiliki dampak yang positif, terdapat juga dampak negatif yang dimiliki smartphone apabila digunakan secara berlebihan. Salah satu dampak negatif dari penggunaan smartphone yang berlebihan adalah timbulnya penyakit baru. Penyakit baru tersebut bernama nomophobia. Nomophobia merupakan singkatan dari No Mobile Phone for Phobia atau yang berarti kecenderungan untuk tidak bisa meninggalkan smartphonenya dalam jangka waktu tertentu. Orang yang sudah terkena nomophobia maka akan cenderung kesulitan atau bahkan ketakutan apabila tidak dekat dengan smartphone yang dimilikinya. Nomophobia dapat menjadi candu bagi generasi milenial. Hal ini dikarenakan banyaknya jumlah pengguna smartphone di kalangan usia 15-35 tahun (generasi milenial). Candu tersebut terlihat dari beberapa aspek. Pada aspek satu menit setelah bangun tidur, data yang dilansir kompas.com menyebutkan sebesar 79 persen langsung mengakses internet melalui smartphone. Data penguat dari sumber yang sama juga mengungkapkan sebanyak 79,5 persen sering mengupdate status dua sampai lima kali sehari. Dampak negatif lainnya dari penggunaan smartphone adalah mengubah pola hidup manusia. Pola hidup yang dimaksud sebagai berikut: (1) Boros, sebagaimana data dari tirto.id yang mengutip IPSOS Indonesia menyebutkan 64 persen suka berbelanja daring. Bahkan dari sumber yang sama mengutip perkataan David Low sekitar 69 persen generasi milenial tidak memiliki strategi yang dikuatkan dengan data 20 persen tidak berinvestasi dikutip dari The Future Money; (2) Malas, karena segala kemudahan sudah diberikan. Contoh saja dalam hal minat membaca generasi milenial dilansir dari geotimes. co.id hanya sebesar 20 persen; (3) Anti sosial karena kemudahan dalam berinteraksi di

dunia maya menjadikan generasi milenial malas dalam berinteraksi sosial (anti sosial). Nomophobia dapat menjadi penyakit yang dapat dirasakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini berdasarkan penelitian skripsi Triwahyuni (2019) yang membagi nomophobia dalam beberapa kategori, yaitu 19 persen masuk ke dalam kategori ringan, 67,4 persen masuk kategori nomophobia sedang, dan 12,7 persen masuk ke dalam kategori berat. Berdasarkan penelitian tersebut, nomophobia dapat menjadi suatu ancaman berarti bagi generasi milenial. Berdasarkan penjabaran tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pencegahan penyakit nomophobia sangat perlu untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan masalah-masalah yang timbul akibat dari adanya nomophobia. Masalahmasalah tersebut dapat menjadi suatu ancaman bagi generasi milenial karena generasi milenial merupakan generasi penerus yang akan memegang tonggak kepemimpinan bangsa ini. Dalam upaya pencegahan penyakit nomophobia pada generasi milenial, peran aktif dari pemerintah dan keluarga sangat diperlukan. Upaya-upaya pencegahan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, terapkan sistem jam malam mulai pukul 22.00 hingga 04.00. Gunakan waktu itu untuk beristirahat. Anda dapat menggunakan aplikasi Liva, Forrest App, dll. untuk mengatur jam malam ini. Kedua, terapkan sistem kekerabatan antarteman. Berkumpullah bersama teman-teman dan tinggalkan smartphone Anda sementara waktu. Manfaat dari menerapkan dua cara tersebut, Anda dapat memiliki jam istirahat yang relatif normal, dapat meluangkan waktu untuk berinteraksi sosial, dan melatih diri untuk menahan penggunaan smartphone secara berlebihan. Penulis adalah mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan dan Juara 2 Penulisan Opini majalah Komunikasi 2019


Seputar Kampus

UKMP Ciptakan Nuansa Belajar Sains Sambil Bermain

B

siswa dari SD Unggulan Al Ya’lu, juara kedua diraih oleh peserta yang bernama Abdul Hafid Alannafys, dan juara 3 diraih oleh peserta dari SD Kalam Kudus. Ketiga pemenang ini berhasil menyisihkan enam tim lain yang lolos pada tahap final. “kami mengambil tiga juri yang merupakan dosen muda FMIPA. Kami memilih dosen muda karena kami menginginkan juri yang bisa berintraksi dengan peserta yang masih anak-anak,“ ujar Ahmad. Antusias peserta Gramedia Science Day 2019 membeludak. Sebanyak 600 lebih peserta dari seluruh wilayah Jawa Timur, khususnya Malang Raya berpartisipasi dalam acara tersebut. “Sangat tak terduga. Pada awalnya kita agak ragu bisa mendapat 600 peserta yang terdiri dari 200 kelompok ini. Namun, ternyata kita malah melebihi target. Capaian ini juga disampaikan oleh regional manajer 5 Gramedia bahwa peserta kali ini menjadi peserta paling banyak daripada acara Science Day di kota lainnya,“ terang Ahmad. Anakanak yang mengikuti Science Day 2019 memancarkan kebahagiaan karena setiap permainan yang disuguhkan menarik dan menantang. Acara ini bermanfaat untuk mengasah kemampuan anak dalam bidang sains. Adanya hiburan seperti menyanyi dan menari semakin membuat acara ini jauh dari kata membosankan. Oleh karena itu, acara ini bisa disebut sebagai kompetisi kreativitas anak yang menyenangkan. Sebari belajar belajar sains, mereka juga bisa bermain dan bertemu banyak teman. Nurul

dok. Panitia

erkolaborasi dengan Gramedia, Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP) Universitas Negeri Malang (UM) gelar acara bertajuk Science Day 2019. Acara ini baru pertama kalinya diselenggarakan di Kota Malang, tepatnya di Graha Cakrawala UM pada (24/11). Gramedia Science Day merupakan acara yang diperuntukkan bagi anak sekolah dasar (SD). Tujuannya tak lain untuk mengembangkan kreativitas dan keaktivan mereka. “Kita memberikan beberapa soal ujian sekaligus permainan sehingga mereka mampu belajar dan bermain bersamaan. Kita berharap anak-anak SD mampu memiliki kreativitas lebih di masa mendatang,“ ujar Ahmad Syaifudin selaku Ketua Umum UKMP. Gramedia Science Day 2019 menyuguhkan beberapa tahapan yang dapat menguji kekompakan dan kreativitas anak-anak seperti adanya satu kali tes berupa teori tentang sains dan permainan bertahap yang dibagi menjadi tiga segmen. Permainan pertama yakni merangkai mobil listrik menggunakan bahan-bahan yang sudah disediakan, permainan kedua membuat miniatur jembatan menggunakan stik es krim, dan permainan terakhir merangkai pesawat terbang. Dari permainan bertahap tersebut, tiga pemenang terbaik dipilih sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Peserta yang menjadi pemenang dalam acara Gramedia Science Day 2019 berasal dari berbagai sekolah. Juara satu diraih oleh

dok. Panitia

Para pemenang Science Day 2019

Serius: belajar bersama untuk memecahkan masalah

Tahun 41 November-Desember 2019 |

11


Seputar Kampus

dok. Panitia

Sukses Bawa Seaside ke Atas Pentas

M

aestro English Theater kembali menggelar pementasan drama terbarunya bertajuk "Seaside" di Graha Sasana Budaya, Universitas Negeri Malang (UM) pada Selasa, (5/11) lalu. Pada pementasan kali ini, Maestro mengangkat kisah balas dendam seseorang yang tertindas pada ketidakadilan. Drama ini merupakan adaptasi dari novel yang berjudul Seaside karya Zee. Dilla Idayati selaku pimpinan produksi bahwa pementasan drama tersebut memang diadakan setiap tahun. Pemain yang tampil pada pementasan Seaside berjumlah delapan orang, yakni Dian, Faris, Rian, Rizki, Elis, Fajar, Adam, dan Velia. Keberhasilan drama tersebut tidak lepas dari persiapan yang telah dilaksanakan selama satu tahun lamanya, mulai dari pembuatan skenario, pemilihan tokoh, hingga latihan teater. Rizka Khurin Nisak, sutradara sekaligus penulis skenario menuturkan beberapa

alasan dipilihnya Seaside dalam pementasan mereka kali ini. Menurutnya, kisah tersebut memenuhi paket lengkap untuk merasakan nuansa sedih, senang, dan tragis. “Seaside sebuah drama sindiran ketika kondisi hukum di sebuah negara tidak sepenuhnya ditegakkan. Ada banyak orang yang bisa membeli hukum hanya dengan uang hingga ketidakadilan terjadi,� ungkap Rizka. Secara ringkas, Seaside bercerita tentang balas dendam seseorang karena ayahnya masuk penjara akibat ulah musuh-musuhnya. Dengan amarahnya, Seaside, sang tokoh utama menyusun rencana untuk melakukan balas dendam. Banyak skenario yang ia siapkan untuk membalaskan dendamnya, tetapi dalam pementasan Maestro hanya beberapa adegan balas dendam yang ditampilkan. Pementasan drama dengan durasi 90 menit tersebut sukses memukau penonton. Setelah pementasan, Maestro menggelar sarasehan untuk menampung kritik dan saran dari para penonton. Niken

dok. Panitia

Salah satu adegan dalam drama ketika Seaside jatuh tak sadarkan diri

Penghormatan oleh seluruh pemain drama Seaside

12 | Komunikasi Edisi 325


dok. Panitia

Seputar Kampus

Novart tak sepi pengunjung

Novart

Arungi Warna dalam Karya

M

engusung tema "Culture Shock", Himpunan Mahasiswa Jurusan Seni (HMJ Sedesa) Universitas Negeri Malang (UM) menggelar pameran bertajuk November Art atau Novart 2019. Pameran tersebut digelar di Gedung Sasana Krida UM selama tiga hari (5-7/11). Nisrina Habibah selaku tim laboratorium kuratorial Novart 2019 memilih tema "Mbeledozz" dengan membahas isu culture shock. Menurutnya, adanya perubahan budaya secara global membuat manusia harus pandai menyesuaikan diri. “Tak jarang ada kekagetan ketika berada di lingkungan baru," tegasnya. Novart merupakan acara dua tahunan yang digelar jika akhir kepengurusan HMJ Sedesa berada di tahun ganjil. Namun, jika kepengurusan HMJ Sedesa berakhir di tahun genap, akan ditutup dengan pesta seni. Novart acara yang lebih besar daripada pesta seni karena keempat prodi di Jurusan Sedesa turut serta di dalamnya. Membuka wacana seni rupa kontemporer di malang menjadi tujuan diselenggarakannya Novart. Tidak hanya memamerkan lukisan, instalasi perform art juga disajikan di Novart. Secara lebih spesifik, Novart memamerkan karya dari tiga golongan, yakni dari submission artists, commision artists, dan incubation artists. Karya submission artists merupakan hasil open submission yang dibuka untuk umum satu bulan sebelum pelaksanaan. Panitia juga mengundang Walf dan Mas Tuyul karena karya-karya mereka mewakili wacana yang diusung Novart, ada juga Aswot dan Trifoid, karya mahasiswa Sedesa angkatan 2017 dan 2018 yang masuk dalam commision artists. Sedangkan karya kategori incubation artists merupakan kolaborasi karya mahasiswa

non-Sedesa, seperti pertunjukan demo masak dari mahasiswa Jurusan Tata Boga yang berjudul Rancak Bana. Jurusan Sejarah, Sastra Inggris, dan jurusan lain juga ikut berpartisipasi dalam Novart. Pameran Novart dibuka mulai jam 10 pagi hingga 9 malam. Harga tiket pada hari pertama dan kedua sebesar Rp10.000,sedangkan untuk hari ketiga atau terkahir Rp25.000,-. “Adanya tiketing ini merupakan suatu apresiasi dari pengunjung terhadap karya-karya yang disuguhkan oleh para seniman yang berpartisipasi dalam acara Novart ini. dengan adanya tiketing juga memperkenalkan kepada masyarakat umum mengenai ekonomi kreatif saat ini," ujar Reza selaku koordinator acara. Di puncak acara Novart, pengunjung disuguhi berbagai hiburan, seperti perform art dan para guest star. Ada Balebestari, Angkasara, Hutan Hujan, Remissa, dan Rubah di Selatan. Di hari terakhir tersebut ada juga pembagian hadiah untuk para pemenang lomba War On Wall atau grafiti. “Sasaran Novart saat ini hanya untuk mahasiswa ke mahasiswa,“ tutur Reza. Namun, kesuksesan Novart terlihat dari antusias penonton yang tidak hanya berasal dari mahasiswa, anak-anak SMA pun terlihat menikmati rangkaian acaranya. Lebih lanjut, panitia berharap agar masyarakat umum dan generasi muda, khususnya yang ada di Malang dapat mengetahui ekonomi kreatif yang sedang gencar-gencarnya di Indonesia melalui ekosistem seni dan desain yang diciptakan dalam pameran tersebut. Oleh karena itu, Novart diadakan untuk meningkatkan pemahaman terkait seni dan mengenalkan kepada masyarakat umum bahwa seni tidak hanya seputar seni lukis saja melainkan banyak seni yang diangkat dalam Novart sendiri. Diah Tahun 41 November-Desember 2019 |

13


H

ujan pada Jumat (1/11) sore itu tak menyurutkan semangat peserta ReelOzInd! untuk datang ke Aula A3 Universitas Negeri Malang (UM). Mereka tidak ingin melewatkan sajian film pendek buatan Indonesia maupun Australia yang diputar secara ekslusif. Event hasil kolaborasi Fakultas Sastra (FS) UM, Kantor Hubungan Internasional (Office of International Affairs/ OIA) UM, serta Australia-Indonesia Centre ini menghadirkan beberapa film pendek pemenang Kompetisi Film Pendek AustraliaIndonesia bertajuk sama, ReelOzInd! 2019 dengan tema inti “Change” atau “Berubah”. Screening film pendek tersebut mengundang mahasiswa serta siswa sekolah menengah atas di seantero Malang. Bahkan beberapa mahasiswa asing yang tengah menuntut ilmu di UM tak ketinggalan mengisi bangku penonton. ReelOzInd! resmi dibuka setelah Dr. Suharyadi, S.Pd., M.Pd., Ketua Jurusan Sastra Inggris memberikan sambutan. Selanjutnya, sebelas judul film pendek dengan total durasi sekitar 90 menit diputar bergantian, empat di antaranya berasal dari Australia, sedangkan sisanya merupakan film buatan sineas Indonesia.

Sesi diskusi panel setelah nobar

14 | Komunikasi Edisi 325

Variasi film yang diputar pun beragam, mulai dari film aksi, dua film dokumenter, hingga tiga film animasi. Tiap judulnya menghadirkan emosi yang berbeda. “Paling suka animasi Bad Hair Day. Ceritanya ringan, gampang dicerna, pesannya juga langsung to the point,” ujar Aprila, salah satu peserta yang juga tengah menjalani studi di FS UM. “Tapi Pilgrimage, Melangun, sama A Daughter’s Memory bikin emosiku terkocok-kocok, sih,” tambahnya. Tidak sekadar menonton film, acara berlanjut dengan sesi diskusi panel. Dari empat pembicara yang hadir, dua di antaranya memang sudah ahli dalam bidang perfilman, yakni Herditya Wahyu Widodo, S.S., M.A. yang merupakan dosen Sastra Inggris FS UM serta Mahesa Desaga, alumnus Universitas Brawijaya (UB) yang karyanya pernah memenangkan kompetisi ReelOzInd!. Sementara itu, dua pembicara lain masih berstatus sebagai mahasiswa aktif FS UM di Jursan Sastra Inggris, mereka adalah Raynaldi Yudhistira dan Aubrey Kurniawardhani. Dengan adanya diskusi panel yang melibatkan partisipasi peserta secara langsung, seluruh hadirin diajak mengulik lebih dalam tentang elemenelemen yang terdapat dalam film dan budaya yang melatarbelakangi pembuatannya.

Direktur OIA UM, Evi Eliyanah, S.S., M.A. sempat menuturkan secara singkat latar belakang diadakannya acara ini. Menurut penjelasannya, acara ini lahir dari gagasan beberapa dosen Sastra Inggris yang menginginkan sebentuk acara yang berbeda sekaligus dapat menunjang kemampuan mahasiswa dalam mata kuliah tertentu. “Acara kajian film belum banyak diadakan, oleh karena itu kami memutuskan untuk menjalin kerja sama dengan Australia-Indonesia Centre supaya dapat menghadirkan ReelOzInd! di kampus kita,” ungkap wanita yang juga merupakan dosen Sastra Inggris FS UM ini. Pemilihan waktu berlangsungnya acara pun menjadi pertimbangan penting dalam perencanaan. “Memang sengaja diadakan Jumat sore, karena vibe-nya sangat pas untuk nobar,” ujarnya. ReelOzInd! sudah berjalan empat tahun dan tahun ini merupakan kali pertama dilangsungkannya screening beberapa film pemenang kompetisi tersebut di UM. “Sebelumnya sudah pernah diadakan di beberapa universitas, seperti UB, ITB, Petra,” kata Evi. “Semoga tahun depan UM juga bisa menjadi host ReelOzInd!. Akan lebih baik juga kalau acara ini bisa menginspirasi mahasiswa untuk menghasilkan karya di bidang perfilman,” pungkasnya.Zahira

dok. Panitia

Perdana di UM ReelOzInd!, Bukan Sekadar Nobar

dok. Panitia

Seputar Kampus


dok. Panitia

Tim inovator KerabaTani

Up To Date Seputar Kampus

KerabaTani Mengudara hingga Luar Negeri

M

ahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) berhasil ciptakan platform digital “KerabaTani” yang beranggotakan Austin Fascal (Fakultas Teknik), Ari Gunawan (Fakultas Ekonomi), Hafidhuddin Karim (Fakultas MIPA), Made Radikia (Fakultas Teknik), dan Widad Lazuardi (Fakultas MIPA). Keraba Tani merupakan proyek yang khusus bergerak di bidang pertanian. Platform tersebut berfokus pada penerapan ubiquitous enviromental system technologi yang mampu memonitor kondisi lahan pertanian dengan menggunakan big data untuk memberikan rekomendasi perlakuan tehadap kondisi lahan secara real time. Adapun pengukurannya, mereka menggunakan lima modul utama dalam sensor dan mengukur enam parameter kondisi lahan seperti ph tanah, suhu, tanah, udara, kelembapan tanah dan udara, serta intensitas cahaya. KerabaTani dilatarbelakangi oleh survei yang telah dilakukan terhadap mitra mereka, Kelompok Tani Mitra Mandiri yang merupakan sentra produksi kentang di Kota Batu. “Singkat cerita, setelah kami telusuri dan wawancara terhadap mitra kami, mereka sedang mengalami beberapa permasalahan sehingga membuat produktivitas pertaniannya menurun. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir terjadi penurunan 38%,” jelas Austin Fascal selaku ketua PKM-T. Permasalahan yang dialami para petani adalah ketidaktahuan petani dalam mengatasi dan merawat tanaman dengan baik dan benar. Hal tersebut dibuktikan ketika petani memberikan pupuk dan perstisida terlalu berlebih, pertumbuhan tanaman menjadi singkat dan berdampak pada berkurangnya kualitas dan kuantitas kentang. “Tujuan dari karya ini ingin membantu para pet-

ani dalam meningkatkan kembali produktivitas pertaniannya melalui teknologi real time monitoring system,” ujar Austin. “Hasil dari karya kami yaitu Keraba Tani Zenbox sebagai alat yang ditanam di area lahan dan aplikasi monitoring yang mampu memberikan rekomendasi perlakuan terhadap kondisi lahan,” tambahnya. Dalam penerapannya alat tersebut mampu berhasil meningkatkan produktivitas pertanian mitranya sebesar 38%. Dari karya tersebut Austin dan rekannya berhasil lolos dalam ajang bergengsi Pekan Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke XXXII 2019 yang diselenggarakan di Universitas Udayana (Unud), Bali pada (27-31/8) oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementererian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Selain itu, KerabaTani juga diikutkan dalam beberapa kompetisi dan berhasil menyabet juara, baik nasional maupun internasional. Kompetisi yang mereka menangkan antara lain Selected Champion for best Start-up in Creative Summer Camp di Dayeh University, Taiwan; Korea Srartup Grand Challege di Korea Selatan; Juara Favorit 1 Creatonomics Business Creativity Competition (CBCC); Best Poster Bidikmisi Scholarship Community Essay Nasional; Best 40 Startup of The Year Bank Indonesia Institute. “Alhamdullilah, kami tidak pernah mengalami hambatan yang besar dalam mengikuti PKM ini. Namun, untuk hambatan eksternal yang kami alami adalah jauh dan sulitnya akses menuju lahan mitra,” pungkasnya. “Semoga ke depan KerabaTani terus berlanjut dan mampu berkembang demi menyongsong kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kami juga ingin turut menyokong sektor pertanian sebagai megasektor yang sangat vital bagi perekonomian Indonesia,” harap Austin.Dessy

Tahun 41 November-Desember 2019 |

15


dok. Panitia

Seputar Kampus

FEB Gelar Uji Kompetensi Kewirausahaan,

Para asesor berfoto seusai uji kompetensi

dok. Panitia

Suasana uji kompetensi

16 | Komunikasi Edisi 325

ka, serta Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnaker) Kota Malang,” ujar Dr. Hj. Puji Handayati, S.E.Ak., M.M., CA.,CMA selaku ketua panitia. Serangkaian acara uji kompetensi ini dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap tes tulis dan tes wawancara. Sekitar dua puluh asesor menjadi penguji dalam tes tersebut. Kelas dibagi menjadi sepuluh, setiap kelas diawasi oleh dua asesor. Salah satu akseseor mengatakan, “Sertifikasi ini sebagai pengakuan bahwa mahasiswa yang memiliki kompetensi kewirausahaan. Para mahasiswa yang telah menempuh mata kuliah kewirausahaan tersebut diuji agar memperoleh sertifikat. Kelak sertifikat itu dapat digunakan sebagai fortofolio dalam melamar pekerjaan.” Slamet Fauzan, salah satu asesor berharap uji kompetensi ini dapat menggali kemampuan dan potensi mahasiswa agar mampu bersaing di dunia kerja, sebagai tonggak hidup yang mandiri dan berdikari dalam berwirausaha. Niken

dok. Panitia

S

ebanyak 300 Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM) mengikuti Uji Kompetensi Kewirausahaan pada Senin, (25/11) di Aula E3 dan D4 FEB UM. Uji kompetensi kewirausahaan ini bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Manajemen Wirausaha dan Produktivitas Merdeka, Malang. Sebelum diadakan uji kompetensi kewirausahaan ini mahasiswa diberikan sosialisasi atau pra-assesment pada (20/11). Uji kompetensi ini merupakan wujud kepedulian pihak jurusan untuk membekali mahasiswa yang sebelum memasuki dunia kerja. Terlebih, dalam era sekarang skill berwirausaha sangat dibutuhkan. “Uji Kompetensi Kewirausahaan sebagai sertifikat pendamping ijazah. Dalam hal ini jurusan bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Manajemen Wirausaha dan Produktivitas Merde-


Info

UM Juara Umum!

dok. Panitia

Banjir Penghargaan di KMI 2019

Wajah bahagia setelah perjuangan membuahkan hasil terbaiknya

U

niversitas Negeri Malang (UM) seakan tak henti mengukir prestasi. Dalam ajang Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo X 2019 yang diselenggarakan di Politeknik Negeri Batam (22-24/11), kontingen UM berhasil meraih sejumlah kejuaraan, yakni Juara 1 KMI Award kategori Industri Kreatif, Juara 1 KMI Award kategori Produksi Budidaya, Juara 2 KMI Award kategori Teknologi, serta Juara 3 KMI Award kategori Makanan-Minuman. Deretan prestasi tersebut berhasil menempatkan UM sebagai Juara Umum KMI tahun ini. Pemenang urutan ketiga kategori Makanan-Minuman seluruhnya berasal dari FMIPA, beranggotakan Mastika Marisahani Ulfah, Widad Lazuardi, Intan Ayu Adha W., Zahra Firdus, dan M. Kreshna Pangabdi. Berawal dari Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) UM 2019, tim ini berhasil meraih posisi kedua terbaik dan melanjutkan perjuangan menjadi delegasi Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia

(KBMI) 2019. Bersama 11 tim lain yang didanai oleh UM serta KBMI, mereka kembali mengikuti proses seleksi hingga akhirnya terpilih sebagai salah satu kontingen yang berangkat ke KMI dengan 4 tim lain. “Ada lomba bazaar video launching serta presentasi. Alhamdulillah, kami menang di bagian presentasi,” tutur Ulfah. Ia mengungkapkan bahwa meraih kemenangan bukanlah hal yang mudah. Tentunya banyak yang harus dikorbankan, seperti waktu dan tenaga. “Awalnya kami harus berjuang di beberapa ajang sebelum tembus ke KMI. Kami juga sempat bekerja bahkan hingga pagi hari, atau memproduksi produk sejak pagi hingga pukul 10 malam. Namun kerja keras kami tidak sia-sia, buktinya produk kami dinilai sebagai produk yang brilian menurut juri. Mendapat tepuk tangan dari juri dan seluruh audience merupakan pengalaman yang berkesan bagi saya,” jelas mahasiswi Jurusan Biologi tersebut. Dalam kategori Makanan-Minuman, produk yang Ulfah dan tim hasilkan bertajuk PLUCHEA, merupakan minuman

infused water berbahan daun beluntas dan jeruk nipis. Minuman tersebut bermanfaat untuk mengurangi bau badan serta bau mulut. “Kami menciptakan produk ini karena daun beluntas kaya akan antioksidan yang sangat berkhasiat. Selain itu, ketersediaan daun beluntas di Malang juga berlimpah,” kata Ulfah. Produk inovatif yang dihasilkan Ulfah dan tim serta produk dari 105 Perguruan Tinggi lain disuguhkan dalam KMI Expo pada Minggu (24/11). Produkproduk tersebut diharapkan mampu meningkatkan kegiatan wirausaha di kalangan mahasiswa, selaras dengan arah kebijakan Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) selaku penyelenggara. Ulfah juga menaruh harapan serupa terhadap mahasiswa lain supaya mampu menciptakan inovasi yang bermanfaat. “Jangan sia-siakan waktu dengan hal yang kurnag bermanfaat. Gunakan waktu untuk memahami keadaan sekeliling supaya bisa melahirkan suatu karya,” pesannya.Zahira

Tahun 41 November-Desember 2019 |

17


dok. Panitia

Cerita Mereka

Algoritma kehidupan Fascal Fascal (kiri) saat menerima penghargaan bersama temannya

M

alam puncak Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 32 menjadi salah satu momen yang tak akan terlupakan dalam hidup Austin Fascal Iskandar. Hari itu bersama keempat anggota timnya, ia mendapat kabar baik dari kerja keras yang telah dilalui selama beberapa bulan. Meraih dua medali perak sekaligus di Pimnas 32, Fascal mengaku awalnya tak berniat untuk melanjutkan kuliah. Bertekad kuat untuk langsung terjun di dunia kerja setelah lulus sekolah, hal tersebut mendorongnya untuk menempuh bangku SMK. Berbekal dorongan dari guruguru di masa SMK, lelaki kelahiran Jombang ini kemudian mengubah haluan di akhir masa sekolah. “Guru sangat menyarankan untuk berkuliah saja,” kenangnya. Berbagai prestasi yang diraih di kancah nasional cukup mencerminkan potensi besar yang dimiliki. Saat itu juga Fascal memulai langkah untuk mempelajari soal Seleksi Bersama Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Hidup di keluarga sederhana sebagai anak tunggal dengan seorang ibunda, sebenarnya hal yang berat bagi Fascal untuk meninggalkan sang bunda. Dirinya mengaku sempat merasa bersalah. Namun, lelaki yang hobi bernyanyi ini berusaha meyakinkan bundanya bahwa dari jalan yang ia pilih, ia akan bisa mendapatkan pekerjaa, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan untuk banyak orang. “Apa pun PTN-nya yang penting saya dapat ilmu baru. Saya dapat banyak koneksi,” harap Fascal ketika

18 | Komunikasi Edisi 325

itu. Lelaki yang biasa dipanggil Fascal ini bercerita menembus masa kecilnya. Kehilangan sosok ayah di masa kecil telah menanamkan jiwa berjuang dan pantang menyerah dalam dirinya. Walaupun sempat mengalami kegagalan di SBMPTN dan SNMPTN, Fascal tidak menyerah untuk melanjutkan kuliah. Dirinya lalu mendaftarkan diri lewat jalur mandiri prestasi. Motivasi melanjutkan pendidikan begitu kuat dalam diri Fascal. Berbekal berbagai prestasi, salah satunya di bidang Software Creation tingkat nasional, ia akhirnya kuliah di Teknik Informatika. “Saya ingin memperluas connection saya dengan orang banyak,” tuturnya. Hal tersebut yang mendasari Fascal untuk menetap di asrama UM. Di asrama, ia bertemu dan bertukar pikiran dengan mahasiswa dari berbagai jurusan. Melalui asrama Fascal didekatkan dengan sahabatnya, Ari Gunawan yang menjadi partner di setiap kompetisi. Dari situ ia lebih bersemangat berprestasi. Awalnya, hanya berharap bisa menjadi mahasiswa yang berprestasi agar dapat memenuhi uang kuliah tunggal lewat mandiri prestasi, tetapi lebih jauh lagi dirinya ingin membanggakan nama kampus dan orang tua. Gayung bersambut, di tengah perkuliahan Fascal mendapat kabar baik memeroleh beasiswa Bidikmisi Inspirasi yang berasal dari Komisi 3 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ketertarikan Fascal di dunia IT bermula ketika masa sekolah dasar. Rasa penasaran akan sesuatu membuatnya berani untuk mencoba melakukan hal-hal baru. Berawal

dari pertanyaan yang timbul, How application works? How they made it? Fascal melakukan modifikasi. “Sangat seru. Sangat menyenangkan untuk mempelajarinya,” tuturnya bersemangat. “Di akhir penghujung SMP, saya berpikir saya punya interest di dunia pemrograman.” Lelaki yang hobi bulutangkis ini termotivasi untuk membuat aplikasi. Ini tidak lain karena terbukti banyak aplikasi yang membantu dan memberi efek positif pada pengguna. “Tujuan saya utamanya ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi user.” Mengambil jurusan teknik komputer dan jaringan di masa SMK, Fascal mengaku mempelajari pemrograman secara otodidak. Di SMK ia sempat diajarkan dasar pemrograman. “Sehingga masih dapat sedikitsedikit seputar pemrograman” Menjadi mahasiswa baru bukan suatu halangan bagi Fascal untuk memulai langkah besar. Bersama dengan kawan yang semisi, Ari Gunawan dan Hafidhuddin Karim, Fascal menggagas sebuah start up. Walau berbeda fakultas, ketiganya memiliki misi yang kuat untuk membangun suatu startup dan memberikan dampak sosial kepada masyarakat. Mereka bertekad untuk berkolaborasi karya dengan membuat sebuah proyek. Dari situlah ide menciptakan start up bernama KerabaTani dicetuskan. Memiliki tujuan yang sama, Fascal berharap dengan menciptakan KerabaTani ia mampu mendapatkan wawasan yang lebih luas lagi seputar dunia pemrograman aplikasi. “Karena saya sendiri berperan sebagai CTO (Chief Technology Officer, red) yang ber-


dok. Panitia

Cerita Mereka

Fascal saat menjadi pemateri workshop

tanggung jawab dalam segala hal terkait teknologi yang diterapkembangkan pada startup ini. Ditambah kondisi perekonomian bangsa saat ini yang dipengaruhi oleh mega sektor pertanian, masih belum optimal. Dari situlah muncul pula empati untuk memberikan dampak sosial untuk mensejahterakan para petani,” jelasnya bercerita pada kru Komunikasi. Start up yang saat ini telah diimplemetasikan ini berfokus pada penerapan Ubiquitous Enviromental System Technology yang bekerja sebagai sistem yang mampu memonitor kondisi lahan pertanian menggunakan big data untuk memberikan rekomendasi perlakuan terhadap kondisi lahan secara real time. “Ke depannya kami akan memperluas startup ini di bidang edukasi dan bisnis pertanian,” ia mengutarakan rencana untuk masa depan KerabaTani. Sejak awal dibuat, Fascal mengaku dirinya dan kawan-kawan bertekad untuk mengembangkan lebih jauh lagi start up mereka dengan mendapatkan pendanaan yang cukup. “Agar dapat terbangunlah startup ini dan ingin segera kami implementasikan.” Dia pun menjajaki beberapa ajang untuk mendapatkan pendanaan. Usaha tak mengkhianati hasil. Awal tahun 2019 menjadi awal dari perjalanan KerabaTani yang lebih mengudara. Start up rintisannya ini mendapat pendanaan sebesar dua ratus juta melalui program Calon Perusahaa Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) yang diselenggarakan oleh Ristekdikti. Tak hanya itu, KerabaTani juga mendapat pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). “Alhamdulillah, dengan adanya CPBBT ini kami sangat bersyukur akhirnya project yang ingin kami selesaikan bisa tersampaikan. Ke depan kami sangat mengharapkan proyek ini benar-benar memberikan dampak yang postif pada masyarakat,” harap Fascal. KerabaTani kini juga tengah

Citra pemuda milenial Di tangannya usaha tak pernah abal-abal Garda terdepan penakluk teknologi Bermimpi, berkolaborasi, beraksi Jumawa tak tercatat dalam kamusnya Berpuas diri bukan ciri darinya yang juara Panjangkan tangan merangkul kawan Mensafari kemenangan memperebutkan pendanaan 1500 USD di Korea Startup Grand Challenge. “Saat ini sedang berlangsung dan diwakilkan oleh Ari dan Radik yang berangkat ke sana untuk melakukan pitching di depan investor dan dewan juri.” Dirinya dan tim kini berhasil menyelesaikan dan membuat sensor bernama KerabaTani Zenbox sebagai alat yang ditanam di area lahan dan aplikasi monitoring yang mampu memberikan rekomendasi perlakuan terhadap kondisi lahan. “Dalam penerapannya alat kami berhasil meningkatkan produktivitas pertanian mitra kami.” Perjalanan Fascal di dunia algoritma tak berhenti pada bidang pertanian saja. Agustus 2019, dalam Ajang Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQMN), Fascal mengusung sebuah aplikasi bernama Qalifa. Sebuah aplikasi yang bertujuan untuk mendukung proses jalannya pembinaan Alquran. Inovasi dan usaha kerasnya bersama tim membuahkan hasil yang menggembirakan dengan diperolehnya juara satu. Tak berhenti di situ, UM juga kembali menjadi jawara umum di MTQMN 2019. “Melalui inovasi belajar yang diformulasikan dalam aplikasi ini, kerumitan operasional dan pertemuan kebutuhan murid pelajar alquran dalam belajar melalui personalized style learning dapat terpenuhi.” Pada event Pimnas dan MTQMN berbagai proses dilalui demi memberikan hasil terbaik saat kompetisi. Apa yang didapat Fascal di dunia programming tidak disimpan untuk dirinya sendiri. Beberapa kali pria yang lahir tanggal 4 September 1998 ini menjadi pemateri workshop. Dirinya juga aktif menjadi pembina pada pembinaan Desain Aplikasi AlQuran Unit Kegiatan Mahasiswa Al-Quran Study Club. “Saya sangat tertarik untuk membagikan ilmu-ilmu yang saya dapatkan,” ceritanya. “Saya sangat suka sekali dalam melakukan sharing terhadap ilmuilmu yang sudah saya dapatkan kepada

teman-teman semuanya,” ungkapnya lebih lanjut. Sejak tahun 2016 Fascal memang telah terbiasa menjadi pemateri workshop seputar teknologi dengan menjadi microsoft learning consultant. Dirinya bertanggungjawab memberikan pelatihan materi-materi yang dibuat oleh microsoft, khususnya untuk pendidikan. “Kebanyakan para pesertanya adalah guru-guru SMA dan SMK,” terangnya. Dengan demikian, harapannya penerapan aplikasi yang dibuat oleh microsoft ini bisa diaplikasikan di sekolah-sekolah maupun universitas. “Singkat cerita memang saya dulunya ketika SMK saya bertemu dengan Ibu Amiroh. Ibu Amiroh ini beliau sudah bekerja sama dengan microsoft sebagai microsoft educator expert, yang juga mewakili microsoft untuk memberikan pelatihan-pelatihan dan workshop di berbagai acara yang diadakan oleh Microsoft Indonesia.” Dia memangmemiliki keinginan besar untuk bekerja di microsoft. “Akhirnya beliau juga membantu saya dan mengarahkan saya sebagai modal untuk masuk ke sana.” Di Tahun 2015, Fascal menjadi asisten dari Amiroh yang merupakan guru mata pelajaran dasar pemrograman dan algoritma pemrograman. Saat ini Fascal tengah menjalankan sebuah kursus privat pembuatan aplikasi berbasis android dan pemrograman lainnya. Dalam setiap perjalanan hidupnya ia selalu belajar dari pengalaman. Dari kegagalan ia memetik agar ke depannya tidak gagal lagi. “Apa pun itu saya selalu ingat dengan orang tua saya,” tuturnya. “Never give up, terus berusaha memberikan yang terbaik apapun itu hasilnya. Tetap kita serahkan semua pada Yang di Atas, yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan juga diimbangi dengan doa.” Fascal yang juga hobi bermain games ini berharap dapat menggeluti karir sebagai developer aplikasi. Diah Tahun Tahun4141November-Desember September-Oktober 2019 |

19


Laporan Khusus

UM TERAPKAN PIN PALING LAMBAT DESEMBER 2020

Ketentuan penomoran ijazah

G

una menertibkan ijazah yang dikeluarkan oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) akhirnya menerapkan kebijakan mengenai sistem Penomoran Ijazah Nasional (PIN), terhitung sejak tanggal 12 Desember 2017. Universitas Negeri Malang (UM) saat ini juga tengah melakukan persiapan untuk menerapkan sistem PIN. Sampai di akhir tahun 2020 mendatang, UM telah mencanangkan sudah menggunakan sistem PIN. Nantinya seluruh ijazah akan memiliki nomor seri yang dikeluarkan oleh Ditjen Belmawa Meskipun kebijakan mengenai PIN sudah dikeluarkan sejak tahun 2017, tetapi kebijakan tersebut tidak dapat langsung diterapkan secara menyeluruh di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Hal itu dikarenakan masing-masing perguruan tinggi harus terlebih dahulu membenahi data-data mahasiswanya yang terdaftar di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD-Dikti). “Saat ini UM tengah berupaya untuk dapat segera menerapkan sistem PIN. Untuk mewujudkan hal tersebut, kami juga melakukan sosialisasi mengenai sistem PIN ini di setiap fakultas,” ungkap Dr. Imam

20 | Komunikasi Edisi 325

Agus Basuki, ketua Satuan Penjaminan Mutu (SPM) UM. Lebih lanjut, Imam menjelaskan bahwa sosialisasi yang dilakukan di setiap fakultas juga termasuk menunjuk pihak yang akan mengawal data mahasiswa di PD-Dikti, serta membentuk operator yang nantinya bertanggungjawab terhadap pengurusan sistem PIN. Keputusan yang tertuang dalam Surat Edaran Ditjen Belmawa Kemenristekdikti Nomor 700/B/SE/2017 tersebut diharapkan mampu mempersempit ruang gerak pemalsuan ijazah yang saat ini masih banyak ditemui di Indonesia. Dengan adanya sistem PIN, ijazah yang dikeluarkan oleh setiap perguruan tinggi akan lebih mudah untuk dilacak keasliannya. “Sekarang kan banyak mahasiswa yang kuliah baru dua semester, tidak ada datanya di PDDikti, tetapi bisa lulus dan dapat ijazah. PIN ini nantinya akan memudahkan penelusuran apakah suatu perguruan tinggi benar-benar mengeluarkan ijazah tersebut, atau memang ijazah tersebut palsu,” tutur Imam. Nantinya, jika PIN sudah berhasil diberlakukan secara menyeluruh, nomor ijazah yang dulu dikeluarkan oleh masing-masing perguruan tinggi kini mempunyai nomor seri secara nasional. Nomor Ijazah Nasional tersebut terdiri dari 15 digit angka yang berupa kode program studi (5 digit), tahun lulus (4 digit), nomor

urut yang dikeluarkan oleh aplikasi PIN (5 digit), dan nomor check digit (1 digit). “Awalnya, banyak yang beranggapan bahwa pemberlakuan sistem PIN ini akan sangat menyulitkan, tetapi sesungguhnya justru sangat mudah, karena semuanya bisa dilakukan melalui website https://pin.ristek, yang terpenting adalah kerja sama yang baik dari semua pihak,” jelas Imam. Untuk mendapatkan Nomor Ijazah Nasional, operator di masing-masing fakultas harus melakukan reservasi terlebih dahulu untuk mendaftarkan mahasiswanya. Kemudian, nomor ijazah akan diberikan, lalu pihak perguruan tinggi mengkonfirmasi dan memperbarui data di PD-Dikti, melakukan validasi, dan yang terakhir adalah verifikasi melalui Sistem Verifikasi Ijazah Elektronik (SIVIL). Menurut penuturan Imam, pada bulan Desember 2020 nanti semua mahasiswa UM yang telah lulus studi sudah harus menggunakan Nomor Ijazah Nasional. Untuk mahasiswa-mahasiswa yang telah mendapatkan ijazah sebelum penerapan PIN selesai tidak menjadi masalah. “Yang terpenting mulai tahun 2020, tidak ada lagi kasus-kasus pemalsuan ijazah karena seluruh ijazah telah memiliki nomor seri nasional,” pungkasnya.Azril


Agama

ilustrasi oleh: Nur Aviatul Adaniyah

Natal, Sukacita Umat Manusia oleh Ayu Saraswati

P

ernak-pernik natal sudah mulai dijual di toko-toko. Pusat perbelanjaan mulai memasang pohon natal yang menjulang tinggi sebagai tanda bahwa Natal hampir tiba. Bahkan toko ritel pun memasang diskon besar-besaran menjelang Natal. Hari Raya Natal memang identik dengan hari raya umat Nasrani, tetapi apakah sukacita dan kebahagiaan hanya dirasakan oleh umat Nasrani? Tidak ada bukti konkret dalam Alkitab maupun Injil yang mendukung pernyataan bahwa Natal jatuh pada tepat tanggal 25 Desember setiap tahunnya. Tanggal ini ditentukan oleh seorang sejarawan bernama Sextus Julius Africanus yang diambil dari hari libur Kekaisaran Roma. Pada masa sebelum paham Kristiani tersebar, Natal adalah hari yang menandakan hari tergelap dalam musim dingin. Di negara-negara Skandinavia mereka membakar kayu dengan harapan setiap percikan api menandakan lahirnya satu ternak baru tahun berikutnya. Di sebagian besar Eropa, mereka menyembelih ternak mereka agar tidak perlu memberi makan pada musim dingin dan meminum bir yang sudah mereka persiapkan sepanjang tahun. Di Jerman mereka memilih untuk tetap tinggal di dalam rumah karena Oden, makhluk dalam mitologi mereka akan berkeliling untuk memilih orang yang akan meninggal. Setelah tersebarnya paham Kristiani, orang-orang Eropa merayakan Natal sebagai hari lahirnya Kristus. Mereka mulai mengimani Natal sebagai harapan akan munculnya sesuatu yang baik di antara umat manusia. Kepercayaan akan mitologi lokal pun mulai ditinggalkan setelah mereka menerima paham Kristiani. Hari Raya Natal menurut Kristen pun perlahan-lahan mulai berkembang pada masa itu.

Natal tak lengkap tanpa kartu dan kado natal. Pada mulanya, orang-orang Eropa mengirim kartu natal satu hari setelah natal dan diperkirakan akan tiba setelah tahun baru, karena itu kita sering melihat tulisan “Merry Christmas and Happy New Year� pada setiap kartu natal. Hadiah juga tidak absen di Hari Natal. Anak-anak percaya bahwa jika mereka menjadi anak baik, Santa Claus akan memberi mereka kado yang diletakkan di perapian atau di bawah pohon natal pada tengah malam natal. Di Inggris ada istilah boxing day, orang-orang tidak mampu akan menerima sumbangan berupa pakaian dan keperluan hidup lainnya satu atau dua hari setelah Natal. Di Indonesia Natal yang bertepatan dengan libur sekolah dan dijadikan sebagai ajang berkumpul dengan keluarga, atau mudik seperti yang dilakukan umat Islam saat Idulfitri. Biasanya mereka akan pergi ke gereja bersama, lalu mengadakan open house bagi para teman yang hendak bertamu. Pusat perbelanjaan pun tak luput menawarkan diskon besar-besaran pada saat Natal. Selain untuk menarik minat pembeli, mereka juga menghabiskan stok gudang agar pada tahun baru mereka bisa mengisi gudang mereka dengan barang-barang baru. Natal tidak hanya menjadi hari raya keagamaan umat Nasrani, Natal membawa sukacita bagi setiap umat manusia. Natal menjadi bagian dari agenda tahunan kita untuk sejenak melepas penat dari rutinitas yang selalu dilakukan selama setahun, sekaligus merenungi capaian kegiatan satu tahun yang telah dilewati. Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris dan Kru Majalah Komunikasi

Tahun 41 November-Desember 2019 |

21


Profil

dok. Panitia

Pageant Jadi Passion

Tak hanya ketampanan, public speaking juga masuk penilaian

Kejar Kontribusi Tawarkan Panggung Kolaborasi

Nama Lengkap TTL Alamat Hobi

: M. Viga Daffa Satria Bramantya (Viga) : Blitar, 6 Desember 1999 : Jl Panglima Sudirman No. 52 Wlingi, Blitar : Bermain Basket

Apa motivasi Anda mengikuti duta kampus? Motivasi saya mengikuti duta kampus tentunya ingin memberikan kontribusi untuk kampus tercinta, Universitas Negeri Malang (UM). Selain itu, duta kampus merupakan sebuah circle yang positif untuk mengembangkan diri baik dari segi soft skill maupun hard skill. Apa program dan kemampuan yang Anda tawarkan dalam seleksi duta kampus? Saya mempresentasikan inovasi tentang “Panggung Kolaborasi�. Itu merupakan sebuah kegiatan yang bertujuan untuk menyadarkan masyarakat tentang kesetaraan dan kesehatan mental. Bentuk dari kegiatan ini adalah pameran karya seni lukis yang merupakan kolaborasi antara UKM Samin dengan siswa-siswi SLB Autis LAB UM. Tahap akhir dari seleksi pemilihan Duta Kampus adalah talent show. Sebanyak 40 besar peserta yang terpilih diminta untuk menampilkan bakat yang mereka miliki. Saya menampilkan kemampuan saya dalam freestyle bola basket seperti spin ball dan trik-trik lain yang dipadukan dengan teknik bermain bola basket. Setelah talent show berakhir barulah terpilih sepuluh finalis putra-putri untuk menjalani karantina dan grand final.

Riwayat Organisasi Humas Paguyuban Duta Wisata Gus Jeng Kabupaten Blitar (2017-2019) Koordinator Bidang Perwasitan Perbasi Kabupaten Blitar (20172018) Public Relation Unit Bola Basket Fakultas Pendidikan Psikologi UM (2018-2019)

Adakah perbedaan seleksi duta wisata daerah dengan seleksi duta kampus? Tentu ada yang berbeda, karena dari gelarnya saja sudah berbeda antara duta wisata dengan duta kampus. Kalau duta wisata bergerak di bawah naungan dinas pariwisata yang tugas utamanya adalah promosi wisata daerah. Kalau duta kampus seperti yang saya jelaskan sebelumnya memiliki tugas yang lebih kompleks walaupun dalam lingkup UM. Namun, seleksi duta kampus tidak kalah ketatnya dengan seleksi duta wisata. Organisasi duta kampus juga sangat profesional, sehingga kualitas duta kampus juga tidak kalah dengan duta wisata, baik dari segi SDM maupun kemampuan lain. Tentunya yang sangat berbeda adalah tugas di dalamnya. Apa gebrakan baru yang Anda cangankan untuk UM sebagai duta kampus? Gebrakan baru yang ingin saya berikan adalah saya ingin mewujudkan inovasi saya, yaitu “panggung kolaborasi�. Ketika kegiatan ini dilaksanakan dengan sungguh-sugguh, banyak pihak yang akan ikut serta di dalamnya dan sudah pasti akan terbentuk sinergi yang baik antarcivitas akademika. Selain itu, hal ini akan menjadi nilai lebih bagi UM sebagai The Learning University. Mengingat, saat ini kolaborasi menjadi isu utama dalam bidang pendidikan dan sosial. Nikma

P

erjuangan mereka untuk menjadi The Winner Duta Kampus tentu tidaklah mudah. Terlebih, salah satu juri dalam pemilihan duta kampus tahun ini adalah Puteri Indonesia 2018, Sonia Fergina Citra. Tentunya kemenangan kedua Duta Kampus UM menyisakan kisah yang berkesan. Ingin tahu seperti apa kisah mereka hingga dinobatkan menjadi Duta kampus UM? Mari kita simak wawancara kru Komunikasi berikut ini.

22 | Komunikasi Edisi 325

dok. Pribadi

Prestasi Gus Persahabatan Duta Wisata Gus Jeng Kabupaten Blitar (2017) The Winner Duta kampus UM (2019)

Kompetisi usai, saatnya beraksi


Profil

dok. Pribadi

Duta Kampus sebagai Promotor bagi UM

Tetang ayumu, tak ada yang meragu

Nama Lengkap TTL Alamat Hobi

: Nyie Masayu Nanda Ningtyas (Masayu) : Malang, 3 Maret 2000 : Jalan Dipenegoro, Junrejo, Batu : Travelling, fotografi, olahraga

Riwayat Organisasi Bendahara Youth For Well Education and Social Movement (2019) Humas Paguyuban Duta Kampus UM (2019)

rasa, menjadi Duta Kampus adalah jawaban dari keinginan saya. Kemampuan apa saja yang harus dikuasi untuk bisa menjadi duta kampus? Ada beberapa kemampuan yang harus bisa dikuasai, di antaranya adalah kemampuan untuk bisa berbicara di depan umum (public speaking) dan selain itu juga ada 3B (brain, beauty, behaviour). Kemampuan-kemampuan tersebut menjadi kriteria yang sangat menentukan terpilihnya Duta Kampus. Di antara beberapa kemampuan yang telah saya sebutkan, jangan lupa, yang paling penting dari itu semua adalah menjadi diri sendiri, just be yourself. Program apa yang Anda canangkan saat menjadi duta kampus? Kalau program itu kan tentang kesepakatan bersama juga, tapi kalau saya sendiri lebih ingin mengubah statement sebagian orang mengenai duta kampus. Kami, duta kampus ini merupakan kaki tangan dari humas UM dan kami juga memiliki tanggung jawab sebagai promotor bagi UM. Tugas kami antara lain sebagai protokoler, membangun public relation di dalam dan di luar kampus, mewakili UM dalam event di luar kampus (attending), dan juga memberikan pelayanan informasi. Nah oleh karena itu, kami duta kampus berupaya untuk terus berprestasi dalam bidang akademik maupun nonakademik agar dapat membawa nama baik UM. Apa contoh public relation yang dilaksanakan oleh duta kampus? Public relation yang di luar kampus ini kita biasanya ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sosialisai tentang UM yang ada di bawah naungan humas. Di tahun-tahun sebelumnya duta kampus ikut serta jika humas UM menghadiri sosialisasi di kota-kota lain, termasuk di luar jawa. Di berbagai event kita menggandeng berbagai sponsor untuk menambah relasi sekaligus menjalin kerja sama yang baik dengan pihak di luar kampus. Siapa saja yang berperan dalam keberhasilan Anda menjadi duta kampus? Pertama adalah keluarga, karena dengan doa dan dukungan dari keluarga, semua dapat berjalan dengan lancar. Selain itu, teman-teman dekat saya juga berperan penting, termasuk teman-teman sekelas saat saya masih duduk di bangku SMA. Mereka rela datang di acara grand final pemilihan Duta Kampus, bahkan hingga acara selesai.Nilam

Sejak kapan Masayu mempersiapkan diri untuk ikut ajang Duta Kampus 2019? Nggak ada persiapan apa pun awalnya. Sebenernya lebih ke persiapan mental, siap menerima hasil apapun dan berusaha melawan keraguan. Karena, awalnya saya bingung mau ikut nggak ya? Tapi kemudian saya bertanya pada diri sendiri, masa iya buat mencoba aja aku takut? Jadi, akhirnya saya memberanikan diri ikut pemilihan Duta Kampus. Apa yg memotivasi Masayu untuk mengikuti pemilihan duta kampus? Dulu waktu SMA, saya terbiasa aktif dalam berbagai kegiatan, nah sekarang, saya sudah kuliah. Tapi bagi saya tetap saja, di kampus, saya nggak mau gini-gini aja. Saya ingin mengikuti kegiatan yg bisa menambah relasi, bersama dengan orang-orang yang bisa membuat saya ikut berproses. Selain itu, juga sekaligus ingin tahu tau sejauh mana kemampuan saya. Dan saya

dok. Pribadi

Prestasi Juara 2 Karate Kejuaran Nasional Jombang Open (2013) Juara 2 Karate Universitas Indonesia Championship (2014) Duta Kesehatan Kota Batu (2016) Pengibar Bendera-Paskibraka (2016) The Winner Duta Kampus UM (2019)

Masayu saat sesi tanya jawab

Tahun 41 November-Desember 2019 |

23


Ajak Mahasiswa #MencatatIndonesia 2020 Mendatang

Pasukan siap #MencatatIndonesia

dok. Panitia

“Salam SP, Mencatat Indonesia!� Yel-yel itu menjadi penyemangat saat Sosialisasi Sensus Penduduk 2020 yang berlangsung pada Rabu, (27/11) di Sasana Budaya Universitas Negeri Malang (UM). Badan Pusat Statistik (BPS) menggelar kegiatan ini dengan mendatangkan tiga pemateri, yakni Drs. Sunaryo, M.Si., Kepala BPS Kota Malang, G. Raymond H. Matondang, perwakilan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil), dan Prof. Dr. Budijanto, M.Sos., dosen Jurusan Geografi UM. Kota Malang saat ini disebut-sebut sebagai migrasi pendidikan karena banyaknya calon mahasiswa yang melanjutkan studinya di kota ini dan belum terdaftar secara resmi. Sensus bisa dilakukan dengan dua cara, de facto dan de jure. Secara de facto sensus dilakukan dengan mencatat setiap pendatang ataupun penduduk tetap tanpa memerhatikan lamanya mereka tinggal di sana. Secara de jure sensus dilakukan dengan mendata penduduk yang sudah resmi memiliki KTP di kota tersebut. Di Indonesia sensus penduduk dilakukan sepuluh sekali. Tahun 2020 sen-

24 | Komunikasi Edisi 325

sus penduduk dilakukan dengan metode kombinasi, metode yang berbeda dari tahun sebelumnya. Metode tersebut berbasis teknologi dan tradisional. Masyarakat dapat melakukan sensus sendiri melalui website sensus.bps.go.id. Sensus Penduduk Online (SPO) akan dimulai 15 Februari sampai Maret 2020. Ada beberapa tahapan yang dipersiapkan sebelum SPO digelar, di antaranya koordinasi dan konsolidasi, penyiapan basis data kependudukan, pendataan mandiri, penyusunan daftar penduduk, pemeriksaan daftar penduduk, verifikasi lapangan, dan pencacahan lapangan. Selama sensus berlangsung BPS menggandeng Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil). Namun, tidak perlu khawatir data pribadi akan bocor dan tersebar luas saat melakukan SPO karena ada hukuman bagi petugas yang tidak jujur. Seperti Pasal 21 UU No.16 Tahun 1997 tentang Kerahasiaan Data Pribadi Responden yang jika melanggar diancam dengan kurungan maksimal lima tahun dan denda maksimal Rp100 juta. Keamanan data sudah menjadi fokus terbesar BPS.

Kerja keras BPS tentu harus didukung dengan partisipasi aktif masyarakat Indonesia, baik muda maupun tua. Jadi, sempatkanlah hari Anda untuk melakukan sensus 2020 demi terwujudnya tujuan sensus yaitu menyediakan data jumlah, komposisi, distribusi, dan karakteristik penduduk menuju satu data kependudukan Indonesia. Terselenggaranya sensus penduduk 2020 juga harus didukung oleh mahasiswa. Mereka dipersiapkan menjadi agen sensus dengan tugasnya melaksanakan dan membantu menjelaskan tentang SPO kepada semua lapisan masyarakat. Marilah semuanya kita jadi bagian dari kesempatan langka dalam perjalanan #MencatatIndonesia, terlebih jika semua bisa mengisi secara online akan meminimalisir jumlah tenaga sensus serta dana yang digelontorkan. Tahun sebelumnya sensus membutuhkan anggaran sekitar Rp5,5 triliun, sementara yang disetujui Rp3,3 triliun, sedangkan untuk tahun 2020 BPS menganggarkan sekitar Rp4 triliun, tetapi belum disetujui sampai saat ini.Caecilia

dok. Panitia

Seputar Kampus


Berbagi tawa dengan anak-anak di Santa Theresia

Maba IKK Safari ke Rumah Tuhan

K

egiatan pelayanan menjadi rangkaian awal kegiatan Jemput Maba 2019. Jemput Maba 2019 merupakan program tahunan yang dilaksanakan oleh Ikatan Keluarga Katolik (IKK). Kegiatan pelayanan tahun ini bertempat di Kapel Santa Theresia Lisieux, Gempol, Sukun pada (16/11). Para maba yang tergabung dalam IKK mempersiapkan serangkaian acara selama dua minggu lamanya dengan dibantu para kakak tingkat. Kegiatan pelayanan di Santa Theresia tersebut melibatkan anak-anak yang ada di sana. Tema “Gembira di Rumah Tuhan� dipilih karena mayoritas partisipan masih berusia anakanak. Selain itu, sebagai umat beriman hendaknya memantaskan diri ketika ingin memasuki Rumah Tuhan (Gereja) dengan hati yang tenang tanpa dendam dengan sesama. Setelah mengawali acara dengan doa bersama, maba IKK mengajarkan tentang hidup baik pada sesama dan para diri

sendiri. Diakui oleh salah satu panitia, butuh penerapan dan cara yang menarik ketika menyampaikan materi ke anak-anak. Materi disampaikan dengan penayangan video kartun yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Keceriaan di wajah anakanak semakin terlihat setiap ada anak yang berani memberikan kesannya. Tak hanya itu, dengan penuh semangat mereka melantunkan lagu rohani dan lagu anak. Sebagai bentuk apresiasi, panitia akan memberikan hadiah kepada anak-anak yang berani tampil di depan. Untuk menghilangkan kejenuhan, panitia juga mengajak anak-anak untuk bermain bersama. Mengoper karet gelang dengan sedotan menjadi permainan pilihan. Tidak semua anak bisa melakukannya, butuh kesabaran untuk menjelaskan aturan permainan pada mereka. Setelah puas berbagai kebahagiaan, maba IKK pulang dengan rasa puas karena acaranya berlangsung sukses. Caecilia

dok. Panitia

dok. Panitia

dok. Panitia

Curhat

Tundukkan kepala, berdoa bersama

Tahun 41 November-Desember 2019 |

25


dok. Panitia

iNFO

Berpribadi Mawas dan Pantas Duta ISNU Jatim Putra-Putri Disandang Mahasiswa UM

Senyum kemenangan para Duta ISNU bersama para juri

M

enghadapi dunia saat ini pemuda harus maju dengan cerdas, berkelas, dan berkualitas. Begitulah yang diutarakan oleh Muchammad Alfan Salim Fanandi, mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Negeri Malang UM). Sabtu (16/11) lalu, Alfan berhasil mengharumkan nama UM dengan meraih Juara 1 Putra Duta Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) 2019 yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) ISNU. Sementara, Juara 1 Putri juga diraih oleh mahasiswa UM, Tsurroya Adibah Alkarimah. Dia tercatat sebagai mahasiswa 2018 prodi Pendidikan Bahasa Inggris. UM layak berbangga karena mereka kedua mahasiswanya berhasil menyisihkan ratusan peserta di ajang itu. Bersaing secara ketat dengan peserta lain, Alfan dan Adibah menjalani proses seleksi yang cukup panjang, dimulai dengan seleksi administrasi dan pengunggahan video motivasi di akun Instagram. Setelah dinyatakan lolos, mereka harus mengikuti karantina yang diisi dengan pembekalan dan sesi tes. Tak ketinggalan, mereka harus unjuk kebolehan di malam grand final yang dihelat di Grand City Mall, Surabaya. “Menurut saya ini cukup ketat melihat banyaknya jumlah awal dari pendaftar Duta ISNU sendiri,” tutur Adibah ketika diwawa-

26 | Komunikasi Edisi 325

ncarai oleh kru Komunikasi. Walaupun baru pertama kali digelar, sebanyak 559 pendaftar telah berpartisipasi dalam ajang ini. Sebelum grand final dihelat, keduanya bersama 98 finalis lain yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur dikarantina selama dua hari di Hotel Singgasana, Surabaya. Beragam kegiatan dilalui mulai dari sesi tes wawancara wawasan umum dan unjuk bakat serta pembekalan yang meliputi materi ke ASWAJA dan NU-an, public speaking, catwalk, serta motivasi. Menampilkan lagu Once berjudul “Dealova”, Adibah sukses menyisihkan peserta lain dan menjadi bagian dari 20 finalis yang tampil di grand final, sedangkan Alfan menampilkan pidato dua bahasa, yakni bahasa Arab dan bahasa Indonesia disertai dengan bacaan selawat. Malam grand final berlangsung dengan meriah dengan dihadiri oleh banyak kalangan. Para finalis yang lolos harus berjalan di atas catwalk dengan disaksikan para audience. Setelahnya, juri memutuskan delapan peserta yang lolos dan melaju ke sesi tanya jawab serta tes membaca Alquran. Hasil penilaian akhir menetapkan Alfan dan Adibah sebagai Juara 1 Putra dan Juara 1 Putri. “Tiada kata lain selain alhamdulillah,” ungkap mahasiswa Sastra Arab angkatan 2017 ini ketika dinobatkan menjadi Duta ISNU Putra. Dirinya mengaku

tidak menyangka akan menyandang gelar itu. Pada saat karantina, santri Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Malang ini mengaku sempat sakit gigi. Namun, ia tetap optimis dan semangat. Saat ditanya tujuan mengikuti ajang Duta ISNU, dirinya mengaku ingin menunjukkan eksistensi pemuda NU yang berwawasan luas, berpengalaman bebas, berelasi tanpa batas, dengan tetap berakhlak mawas dan pantas. Sebelumnya, Alfan juga pernah menjadi duta sekolah semasa duduk di madrasah aliyah (SMA, red.). Berbeda dengan Alfan, Adibah mengutarakan sejauh ini belum pernah mengikuti ajang pageant sebelumnya. Dirinya mengaku sempat minder dengan salah satu peserta yang merupakan runner up Puteri Muslimah 2019. Berbekal rida orang tua, Adibah pun yakin mengikuti serangkaian proses seleksi. Lebih lanjut, gadis yang berasal dari Singosari ini menuturkan, Duta ISNU tidak lain sebagai kaum nahdliyin untuk menunjukkan bahwa generasi NU mampu berkiprah di masyarakat, bisa diandalkan, dan tentunya berhaluan Islam ahlu sunnah wal jamaah an nahdliyah. “Generasi milenial harus terus berkarya dan memperbanyak wawasan agar mampu memberikan kontribusi di setiap bidang yang dibutuhkan masyarakat,” terang Adibah.Diah


Bye-Bye "Zona Nyaman�!

Jawaban oleh : Ike Dwiastuti, M.Psi., Dosen Fakultas Pendidikan Psikologi UM

Assalamualaikum, Wr. Wb. Saya mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, sejak saya menjadi mahasiswa banyak dari kehidupan saya yang harus berubah. Saya terlahir dari keluarga yang berkecukupan dan selalu dimanja, dalam hidup saya tidak merasakan susah. Keputusan saya untuk kuliah di Malang yang jauh dari rumah membuat saya terpaksa hidup mandiri. Banyak permasalahan yang terus muncul, seperti rasa berat untuk melangkah maju dan ingin kembali. Sekarang saya melaluinya sudah satu tahun, tetapi saya belum bisa mandiri, bahkan untuk merapikan pakaian saya sendiri belum bisa dan selalu meggunakan jasa orang lain. Bagaimana solusinya? ilustrasi oleh: Nur Aviatul Adaniyah

Jawaban: Waalaikumsalam, Wr. Wb. Kepada Ananda di Fakultas Ilmu Sosial. Keputusan Ananda untuk kuliah di luar kota merupakan keputusan awal yang berani dalam rangka mengembangkan diri mencapai tujuan hidup Ananda. Sebab apabila mencari kemudahan dalam segala hal, maka akan terjadi stagnan dalam diri. Pengembangan diri memang melibatkan pengambilan keputusan beresiko dan kemauan untuk berusaha lebih keras agar mencapai harapan yang diinginkan. Hal ini tidak mudah bagi Ananda yang sudah terbiasa dengan kenyaman yang ada dalam keluarga. Pada umumnya, seseorang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri ketika ada perubahan dalam kehidupan. Perubahan tersebut dapat berupa aktivitas baru, tuntutan dan tugas baru, serta lingkungan sosial baru. Ada individu yang membutuhkan waktu singkat untuk menyesuaikan diri, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu lama. Hal ini dapat dikarenakan faktor internal maupun eksternal. Sikap Ananda yang malu menceritakan permasalahan kepada orang lain, merupakan faktor internal yang dapat menghambat proses penyesuaian diri. Selain aspek penyesuaian diri, ada aspek motivasi yang memiliki peran penting untuk membuat seseorang dapat bertahan dan terus berusaha dalam mencapai tujuan hidupnya. Motivasi ini yang akan menjadi daya dorong dan daya tarik ketika mengha-

dapi kendala atau hambatan. Motivasi ada dua yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Ketika memutuskan melanjutkan kuliah di luar kota, tentu Ananda memiliki motivasi kuat. Motivasi ini yang harus selalu diingat pada saat muncul keinginan kembali pulang. Beberapa saran pengembangan yang dapat Ananda lakukan, antara lain (1) Mulailah terbuka dengan teman-teman, baik itu teman kuliah maupun teman kos, anggap mereka adalah keluarga baru. Apabila menghadapi kendala jangan ragu untuk bercerita dan meminta saran. Ananda juga dapat mengamati atau bertanya kepada teman yang berhasil dalam mengatur aktivitas kuliah dengan aktivitas pribadi. Hal ini dapat mempercepat proses penyesuaian diri; (2) Mulailah untuk mengatur diri dengan disiplin. Apabila biasanya Ananda dilayani dan dibantu dalam keluarga, maka saat ini adalah kesempatan untuk belajar mengatur diri sendiri. Ingatlah bahwa semakin Ananda dewasa maka semakin banyak tuntutan untuk mandiri. Apabila saat ini Ananda tidak belajar hidup mandiri, Ananda akan kesulitan ketika menjalani masa kerja dan masa menikah; (3) Ingat selalu motivasi Ananda ketika memutuskan kuliah di Kota Malang. Tuliskan motivasi tersebut di buku-buku catatan dan buat poster untuk ditempel di kamar.

Mahasiswa UM dapat mengirimkan tulisan berupa curahan hati (curhat) pada rubrik ini dengan space halaman A4 via email komunikasi@um.ac.id selambat-lambatnya tanggal 25 Januari 2019. Apabila nama asli tidak ingin dicantumkan, diperbolehkan untuk menggunakan nama inisial. Curhat Anda akan kami kirim ke ahlinya (dosen Fakultas Pendidikan Psikologi UM untuk mendapatkan jawaban. Tulisan curhat akan mendapat imbalan atau penghargaan yang sepantasnya. Tahun 41 November-Desember 2019 |

27


Info

dok. Panitia

dok. Panitia

P

Berfoto bersama setelah meraih kemenangan

Tim Arkadiko dan Bramanta Taklukkan KJI

S

ebanyak 24 tim dari seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia bersaing dalam ajang Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XV yang berlangsung selama empat hari (7-10/11). Kompetisi tahunan yang digagas oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan ini menjadi salah satu kesempatan bagi mahasiswa di Indonesia, khususnya Jurusan Teknik Sipil untuk meningkatkan kompetensi dan menunjukkan kemampuan terkait pembangunan jembatan di Indonesia. Tahun ini KJI diselenggarakan di Politeknik Negeri Jakarta. Universitas Negeri Malang (UM) mengirimkan dua tim terbaiknya yang terpilih sebagai finalis. Tim Arkadiko yang diambil dari nama jembatan tertua di dunia dan Tim Bramanta yang memiliki arti petualangan. Ahmad Widia Pranoto, anggota Tim Arkadiko menuturkan bahwa Teknik Sipil UM awalnya mengirimkan delapan proposal, tetapi yang lolos sebagai finalis hanya dua tim tersebut. Pada kompetisi tersebut terdapat tiga kategori yang dikompetisikan, yaitu kategori Jembatan Model Pelengkung,

28 | Komunikasi Edisi 325

Jembatan Cable Stayed, dan kategori Jembatan Rangka Baja Berskala Jalan Raya. Kedua tim yang mewakili UM lolos dalam kategori yang berbeda, yaitu kategori Jembatan Model Pelengkung yang diwakili oleh Tim Arkadiko dan kategori Jembatan Rangka Baja Berskala yang diwakili oleh Tim Bramanta. Tak hanya mewakili UM, kedua tim tersebut berhasil membawa pulang tropi kemenangan dari masing-masing kategori. Tim Arkadiko dengan anggota Ahmad Widia Pranoto dan Sanjaya Silvia berhasil memperoleh juara Harapan 1 pada kategori yang diikuti, sedangkan Tim Bramanta dengan anggota Riko Ade Sanjaya, Devy Rachmawati, Fery Samsul Saputro, dan Defa Gilang R. memperoleh juara pada empat kategori penilaian sekaligus, yakni Jembatan Terkokoh, Jembatan Terindah, K3 Terbaik, serta Implementasi Terbaik. Kompetisi yang berlangsung selama empat hari tersebut dimulai dengan presentasi yang dilanjutkan dengan perakitan jembatan. Kegiatan perakitan terbagi menjadi dua hari, bergantung pada kategori yang diikuti. Tidak hanya merasakan semangat berkompetisi, mereka

Kekompakan mereka membuahkan hasil

juga mendapatkan banyak pengalaman berharga. “Kami mendapat pengalaman pengalaman bekerja dengan tekanan yang tinggi saat berlomba, bertemu dengan para juri yang ahli dalam bidang teknik sipil, dan bertemu teman-teman baru dari Jurusan Teknik Sipil seluruh Indonesia,� ujar anggota Tim Arkadiko tersebut. Selain pengalaman kesuksesan yang diraih tim tentu lahir dari kerja keras anggota yang mengikuti proses latihan selama lima minggu di Laboratorium Uji Bahan, Gedung D9 UM. Didukung pula dengan peralatan yang memadai dan dapat digunakan secara maksimal sehingga mampu menunjang proses pelatihan. Adipra mengungkapkan bahwa kompetisi tersebut sangat berkesan bagi mahasiswa Teknik Sipil dikarenakan lomba tersebut merupakan salah satu lomba dari 22 lomba yang diadakan oleh Kemenristekdikti. Kompetisi ini memberikan wawasan dan memperluas jaringan pertemanan. “Semoga tahun depan UM bisa lolos dalam semua kategori dan bisa memperbaiki hasil yang sudah didapat saat ini,� harap mahasiswa yang akrab dipanggil Adipra tersebut. Rosa

P


Info

Pencak Silat UM Open 2019

dok. Panitia

Pertama dan Meriah

Peserta PI Bertanding di Gelanggang 5

U

KM Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Universitas Negeri Malang (UM) punya cara unik untuk menggalang persatuan berbagai cabang pencak silat di seluruh Indonesia. Melalui ajang Kejuaraan Pencak Silat UM Open, UKM ini mengajak seluruh cabang pencak silat yang tersebar di Jawa dan Bali. Tak tanggung-tanggung, dalam kejuaraan ini setidaknya terdaftar 611 peserta dari tingkat pelajar dan mahasiswa turut berpartisipasi. Selain itu, kejuaraan ini juga turut mengundang 35 wasit juri dari berbagai perguruan untuk menjadi tim penilai dalam pertandingan yang dilakukan pada (17-20/11). Kejuaraan PSHT UM ini mengangkat tema “Melalui Pencak Silat, Satukan Perbedaan Untuk Mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika”. Kegiatan tersebut berlangsung sukses, dilihat dari jumlah peserta melebihi kuota yang telah disediakan oleh panitia. “Awalnya, kuota peserta yang kami sediakan hanya 600, tetapi di hari terakhir masih banyak pendaftar yang ingin ikut kejuaraan, akhirnya kami membatasi jumlahnya,” tutur Ansori selaku ketua pelaksana. Kejuaraan ini adalah ke-

juaraan pertama yang dilaksanakan oleh UKM PSHT UM dan diikuti oleh berbagai perguruan se-Jawa dan Bali. Sebelumnya, kejuaraan hanya digelar untuk internal UKM PSHT UM. Kategori yang dikompetisikan dalam kejuaraan ini dikelompokan menjadi dua tingkat, yaitu remaja dan dewasa. Tingkat remaja diikuti oleh pelajar SMP dan SMA/sederajat, sedangkan tingkat dewasa diikuti oleh mahasiswa. Setiap tingkat terdapat dua kategori, yaitu kategori tanding dan kategori seni. Dalam kategori tanding, setiap peserta akan ditandingkan berdasarkan berat badan, seedangkan dalam kategori seni peserta dapat memilih menampilkan secara tunggal, ganda maupun regu. Dalam kategori seni terdapat keunikan yang ditampilkan oleh para peserta. Hal ini terlihat dari setiap gerakan serangan-serangan kepada musuh yang dirangkai indah yang biasa disebut sebagai seni pencak silat. UM secara khusus menyediakan tempat untuk pelaksanaan Kejuaraan Pencak Silat UM Open 2019. Ada tiga gelanggang yang disediakan di lapangan tenis UM. Antusiasme peserta juga sangat luar

biasa. Misalnya, dalam kategori seni mereka sudah mempersiapkan segala atribut untuk ditampilkan, bahkan tak jarang dari peserta perempuan juga menggunakan riasan untuk menunjang penampilan mereka di gelanggang. Pelaksanaan kejuaraan ini diharapkan mampu menjaring atlet-atlet silat yang berbakat dalam bidangnya, terlebih mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Selain itu, panitia menegaskan bahwa kejuaraan ini juga merupakan ajang untuk menggaet atlet silat masuk ke UM melalui jalur prestasi dan mampu mengharumkan nama universitas di bidang pencak silat. “Pencak silat bukan olahraga kampungan, pencak silat adalah olahraga yang pantas disandingkan dengan cabangcabang bela diri lainnya,” ungkap Ansori. UM sebagai tuan rumah juga berhasil menang di beberapa kategori, antara lain pesilat terbaik putra, juara II kategori tunggal dewasa putra, juara II dan III kategori tunggal dewasa putri, dan juara I kategori regu dewasa, juara juara I dan II kategori tanding dewasa putra, serta juara I dan III kategori tanding dewasa putri. Safira

Tahun 41 November-Desember 2019 |

29


Info

Penyerahan penghargaan oleh Wakil Rektor II UM (kiri)

B

ertepatan dengan Puncak Gebyar Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XII Universitas Negeri Malang (UM) Tahun 2019, (17/10) Jurusan Kimia mendapatkan penghargaan The Learning University Awards Bidang Kemahasiswaan Rumpun Sains dan Teknologi. Jurusan tersebut menang setelah mengalahkan pesaing beratnya dari 31 jurusan yang ada di UM. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Rektor UM, Prof. Dr. H. AH. Rofi'uddin, M.Pd. di Gedung Graha Cakrawala UM. Seperti pernyataan yang dilontarkan Pembina HMJ Kimia, Ihsan Budi Rachman, S.Si. Msc., semua tak lepas dari peran Pembina HMJ Kimia dan Ketua Jurusan Kimia yang serius membimbing dan menggembleng mahasiswa untuk menyusun proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), penelitian, dan karya tulis lainnya. "Di dalam prestasi dari perlombaan dalam negeri maupun luar negeri, mahasiswa jurusan kami di samping mahasiswa senior juga tiap event-nya mengambil mahasiswa junior sebagai pembinaannya, agar prestasinya bisa berkelanjutan," ujar Ihsan. Dalam mempersiapkan event tersebut mereka mengambil cara alami dengan cara beberapa dosen mencangkokkan penelitiannya ke mahasiswa. "Kalau bibitnya tidak bisa melanjutkan, kami menghentikannya," tambah Ihsan. Selain bergabung dengan penelitian yang dilakukan dosen, beberapa dosen yang mengampu mata kuliah mendorong mahasiswa untuk mengajukan proposal PKM dan karya tulis lainnya. Hal inilah yang menjadi nilai tambah bagi Jurusan Kimia. Ihsan juga menegaskan bahwa sebenarnya di Jurusan Kimia tidak ada tim khusus untuk mempersiapkan event tersbut. Namun, di Jurusan Kimia ada dosen yang menjadi anggota

30 | Komunikasi Edisi 325

dok. Panitia

dok. Panitia

Jurusan Kimia SABET THE LEARNING UNIVERSITY AWARD BIDANG KEMAHASISWAAN 2019

Kajur Kimia(kanan) dan Sekjur kimia (kiri) saat memegang penghargaan

Tim Penalaran UM. Dosen tersebut aktif mendampingi dan mengawasi mahasiswanya, khususnya dalam bidang PKM. Selain itu, pihak fakultas juga diberi warning dan timeline sebelum ada timeline dari UM. "Kita bisa mempersiapkan lebih awal, utamanya sekarang untuk perdanaan tahun depan meskipun panduan pedoman PKM belum keluar, tetapi fakultas dari awal sudah melakukan review," tambah Ihsan. Jadi, sebelum proposal PKM didaftarkan ke tingkat universitas, pihak internal Jurusan Kimia sudah terlebih dahulu melakukan review dan balikan kepada mahasiswa. "Harapan saya dan rekan-rekan, semoga prestasi ini bisa dipertahankan dan ditingkatkan lagi. khususnya untuk kaderisasi," harap Ihsan. Lebih lanjut, dia menuturkan bahwa selama ini ini hanya beberapa mahasiswa yang menjadi senter dalam perlombaan. Dengan diraihnya penghargaan The Learning University Award tersebut Ihsan berharap mahasiswa akan semakin termotivasi melakukan penelitian, semangat mengikuti perlombaan, sehingga peluang untuk mendapatkan kejuaraan semakin besar.Izam


Info

dok. Panitia

Divisi IV bersama dosen pembimbing acungkan jempol kemenangan

Kantongi Medali LIDM Tugas Kuliah Berbuah Juara

D

liah di Jurusan Sejarah yang mewajibkan mahasiswa membuat poster dan diikutsertakan LIDM, divisi IV tidak menyangka akan lolos sepuluh besar. Setelah lolos sepuluh besar, tim dibimbing ketat oleh dosen Jurusan Sejarah. Satu bulan sebelum pemberangkatan tim dibimbing dan melakukan monev setiap minggu bersama tim khusus dari UM. Moch. Nurfahrul Lukmanul Hakim, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbing mengatakan bahwa banyak kendala yang dialami oleh peserta divisi IV, seperti tidak membawa benner saat pameran, sehingga membuat poster dadakan dan mencetak di Yogyakarta. “Walaupun begitu tim kami tetep semangat dan optimis. Kami disediakan stan untuk menaruh poster dan banner, tapi kami tidak mempunyai X-banner. Di sana saya langsung mendesain dan mencari percetakan yang buka, akhirnya menemukan percetakan di dekat UNY. Dalam waktu tiga jam banner telah siap dan dipasang di stan. Itu menjadi pengalaman berharga bagi kami,” tutur dosen yang akrab dengan nama Fahrul

Hakim tersebut. Divisi IV menamai timnya dengan AACP yang merupakan singkatan dari Ajak Anak Cegah Pelecehan Seksual. Yelyel mereka berhasil mencuri perhatian juri. Mereka memiliki program unik terdiri dari 6B (beritahu tubuh pribadi bagian anak, beritahu tubuh batasan anak, buka hati anak untuk terbuka pada orang tua, bimbing anak dalam beraktivitas, berhatihati dengan orang asing, dan beri perlindungan pada anak). Di akhir sesi wawancara Fahrul mengajak generasi muda untuk berkreasi dan berinovasi dalam membuat sebuah karya individu maupun tim, tidak peduli dengan alasan hobi, tugas kuliah, lomba, atau yang lainnya. Bisa jadi dari inovasi sederhna itu bisa membuahkan hasil yang luar biasa di luar ekspektasi kita sendiri. “Jangan takut untuk berubah dan membuat sesuatu yang berbeda, ide dan inovasi kita itulah yang membuat perubahan bagi kita, lingkungan kita, bangsa, dan negara kita dalam mencapai kemajuan,” tutup Fahrul.Berliana

dok. Panitia

ua fakultas di Universitas Negeri Malang (UM) kembali mengharumkan nama UM dengan menjadi juara di Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LDIM). Dua fakultas tersebut yakni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (juara 3) dan Fakultas Ilmu Sosial (juara 2). LDIM diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bertempat di Universitas Negeri Yogyakarta (15-16/11). Dua divisi UM, yaitu devisi II yang beranggotakan Deni Ainur Rokhim, M. Roy Asrori, M. Musleh Kadafi, dan Ardian Arifika Widyanata unggul dengan karyanya “Villa-Chem: Virtual Laboratory on Analytical Chemistry sebagai Pengembangan Inovasi Media Pembelajaran pada Praktikum Pemisahan Kimia”. Tak hanya itu, divisi IV yang beranggotakan Abdul Fattah, Anastasya Pramudya Wardani, Cindy Sinta Dewi, dan Putri Nur Fahriyanti juga mengantongi medali perak dengan poster pencegahan pelecehan seksual. Berawal dari tugas salah satu mata ku-

Para pemenang dan juri di atas panggung kehormatan

Tahun 41 November-Desember 2019 |

31


dok. Panitia

Wisata

Berpose di antara Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun

Tak Perlu Jauh-Jauh untuk Melepas Jenuh

P

Menyapa Kampung Topeng dan Eco Park Kota Malang

erjalanan majalah Komunikasi dari tahun ke tahun selalu mengukir kenangan di hati para kru. Di ulang tahunnya yang ke-40 kali ini kru Komunikasi kembali mengkukir kenang dengan melancong ke Kampung Topeng. Seperti apa keseruannya? Mari ikuti perjalanan kami di uraian berikut ini. Perayaan ulang tahun kru Komunikasi diawali dengan doa bersama pemotongkan tumpeng yang bertempat di rumah redaktur pelaksana majalah Komunikasi, Sabtu (19/10). Acara dilanjutkan dengan makan bersama dan rujakan. Terbayang kan nikmatnya rujakan di tengah teriknya matahari kala itu. Setelah kenyang dan beristirahat sejenak, para kru sepakat untuk mengunjungi tempat wisata nan murah dan asri, Kampung Topeng Desaku Mananti di Tlogowaru, Kedungkandang, Malang. Dua topeng berukuran raksasa menyambut setiap pengunjung ke Kampung Topeng Desaku Menanti. Sebuah kampung di sudut Kota Malang, tepatnya di Kelurahan Tlogowaru, Kota Malang, Jawa Timur. Kedua topeng yang dipasang tak

32 | Komunikasi Edisi 325

lain adalah karakter Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji. Keduanya merupakan karakter dalam seni Topeng Malangan dengan epos Panji, sebuah seni pertunjukan yang dikenal asli dari Malang. Berwarna hijau dan putih, topeng setinggi 7,5 meter dan lebar 5 meter itu menambah kental iklim budaya lokal di sana. Kampung topeng tidak serta merta ada. Pada awal tahun 2016 memang ada program dari Kementrian Sosial untuk membuat progam “Desaku Mananti�. Program ini mencari gelandangangelandangan dan pengemis untuk diseleksi dan diberikan tempat di Desaku Menanti. Jenis bantuan yang diberikan oleh dinas sosial berupa bahan bangunan yang saat ini sudah digunakan untuk membangun topeng-topeng yang ada di sana. Selain itu, orang-orang pilihan tadi dibekali dengan keterampilan-keterampilan untuk meningkatkan kreativitasnya. Pelatihanpelatihan tersebut di antaranya ternak cacing, membuat topeng, dan membuat kue. Tahun 2017, tepatnya di bulan Februari barulah dibangun wahana-wahana seperti

kampung tematik pada umumnya. Dinas sosial dan masyarakat pilihan membangun perubahan secara perlahan agar Desaku Mananti bisa produktif. Gagasan Kampung Topeng pun muncul. Dari Kampung Topeng tersebut dinas sosial berharap masyarakat di sana bisa mengelolanya dengan baik dan mendapatkan pundi-pundi rupiah dari usaha yang mereka jalankan. Tidak hanya berfokus pada pengembangan ekonomi, bidang pendidikan juga menjadi perhatian dinas sosial. Biaya pendidikan anak-anak di sana menjadi tanggung jawab dinas sosial. Mereka diberi biaya untuk membeli seragam dan kebutuhan sekolah lain. Seperti apa pun kondisinya pendidikan tetaplah menjadi kebutuhan terpenting. Oleh karena itu, seiring berjalannya waktu lembaga sosial “Insan Sejahtera� menggandeng kementerian sosial berusaha memenuhi kebutuhan pendidiakn anak-anak di Desaku Mananti. “Tidak boleh ada satu pun anak yang putus sekolah, kebutuhan seragam dan keperluan sekolah akan kita bantu dari uang kas desa. Uang kas ini kami peroleh dari tiket masuk kawasan wisata


dok. Pribadi

Wisata

Kesejukan berbalut keakraban

untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pilihan di sini,� ujar Sri Wahyuning, Pembina Lembaga Kesejahteraan Sosial Insan Sejahtera saat diwawancara. Dengan adanya Desaku Menanti dinas sosial dapat mengetahui dari dekat aktivitas warga binaannya. Daya tarik sesungguhnya dari wisata ini yaitu warga binaan itu sendiri. Kalau beruntung, pengunjung bisa melihat pola pembinaan yang diterapkan dinas sosial. Seperti saat kami berkunjung ke sana, terlihat ada sekelompok mahasiswa dan anak-anak Desaku Mananti sedang mengadakan lomba memperingati tahun baru hijriah. Desa yang terdiri dari 35 KK yang didominasi oleh anakanak ini tentunya memerlukan pendapatan dari kerajinan yang mereka buat. Alasan inilah yang membuat dinas sosial membuat sebuah destinasi wisata yang bernama Kampung Topeng. Dengan demikian, wisatawan dapat membeli hasil kerajinan yang mereka buat dan mampu menambah pundipundi penghasilan. Dinas sosial juga menambah paket wisata untuk anak-anak. Di antaranya pengecatan topeng, pengenalan karakter-karakter topeng untuk mengenalkan generasi muda pada seni khas Kota Malang yang mulai terkikis perkembangan zaman. Setelah mewawancarai narasumber, kru Komunikasi menikmati keeksotikan Kampung Topeng. Di sana tersedia beberapa tempat duduk dengan pemandangan elok. Pengunjung bisa duduk melepas penat dan menenangkan diri dari hingar bingar kota. Ada beberapa spot foto yang tersedia, area outbond, play ground, dan gazebo. Bagi yang memiliki topeng, pengunjung bisa membelinya di rumah suvenir yang ada di sana. Dengan harga terjangkau pengunjung bisa membawa pulang topeng pilihannya untuk dijadikan kenangkenangan. Setelah puas berjalan-jalan dan menikmati keindahan Kampung Topeng, rombongan kru Komunikasi melanjutkan perjalanannya ke Eco Park. Keindahan Kota Malang dan Hawa yang sejuk selalu memberikan kesan tersendiri bagi masyarakat. Ini yang membuat wisata di Kota Malang selalu bermunculan setiap tahunnya. Kali ini wisata ala-ala kastil yang terletak di kawasan perumahan Citra Garden Malang memberikan hawa yang sejuk untuk melepas penat. Kawasan ini berada di dataran tinggi, jadi sangat pas untuk melihat pemandangan Kota Malang yang keren dari atas ketinggian. Berbeda dengan Kampung Topeng yang bernuansa alami, Eco Park menyajikan nuansa kemewahan dan ketenangan. Berlokasi di dalam kawasan perumahan Citra Garden, fasilitas yang ada di Eco Park yaitu kolam renang, fitness center, dan taman bermain anak. Untuk masuk dalam Eco Park ini pengunjung cukup membayar Rp25.000,- per orang. Jika hanya ingin berfoto, bermain-main di playground, atau menjajal fitness center, pengunjung bisa menikmatinya tanpa dipungut biaya. Penasaran? Puas seharian menjelajahi pinggiran kota, kru Komunikasi pun mengakhiri perjalanannya. Setelah jalan-jalan hari itu mereka pulang dengan membawa semangat baru untuk terus berdedikasi di majalah Komunikasi tercinta. Salam!Cintya

Tahun 41 September-Oktober 2019 |

33


repro Internet

Rancak Budaya

Rambah Berbagai Media, Racuni Generasi Muda dengan Prestasi dan Talenta oleh Nindy Irana M.

“MUDA, CERDAS, dan BERTALENTA” adalah tiga kata yang patut disandangkan oleh pemuda kelahiran 2 Mei 1998 ini. Siapa lagi kalau bukan Jerome Polin Sijabat, atau yang sering dikenal dengan Jerome Polin. Lini masa sedang gencar-gencarnya membicarakan pemuda yang mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan studi ke Negeri Sakura tersebut. Berawal dari YouTube, pemilik akun dengan nama Nihongo Mantappu ini mulai dikenal oleh masyarakat luas. Berkat konten-konten yang bernilai positif, memotivasi juga menghibur, dalam tahun pertamanya Jerome Polin sudah memiliki ratusan ribu subscribers yang hingga detik ini sudah hampir mencapai dua juta subscribers. Tak hanya itu, pemuda berdarah Batak ini juga seringkali membagikan video, foto, dan tulisan-tulisannya di akun Twitter @jeromepolin. Foto pribadi, video bermusik, hingga cuitan-cuitan receh selalu mendapat tanggapan menarik dari netizen. Tak puas hanya dengan merambah media elektronik, Jerome Polin mencoba lagi untuk semakin memberi dampak dan pengaruh baik melalui media cetak. Baru-baru ini sebuah buku berjudul Mantappu Jiwa telah beredar luas di berbagai toko buku di Indonesia. Dengan sebuah embel-embel “latihan soal matematika” yang ia sandangkan di baris teratas sampul buku tersebut. Buku ini sebenarnya lebih banyak menceritakan kisah kehidupannya, mulai dari hari lahir yang hampir bertepatan dengan terjadinya kerusuhan 1998, hingga ia dapat meraih beasiswa penuh ke universitas

34 | Komunikasi Edisi 325

Judul buku Penulis Penerbit Tahun Terbit Berat/Lebar

bergengsi di Jepang saat ini. Buku yang lebih mengarah pada jenis buku autobiografi ini dipenuhi dengan cerita tentang betapa beratnya perjuangan seorang Jerome Polin untuk mencapai cita-cita. Kisahnya yang berkali-kali gagal untuk menuntut ilmu di negeri tetangga hingga ia berhasil lolos seleksi beasiswa untuk memperdalam ilmu hitungmenghitung di Jepang, ditulis sedemikian rupa yang juga bahkan dapat membuat beberapa pembacanya menitikkan air mata. Buku terbitan Gramedia ini bahkan mampu terjual dua ribu eksemplar hanya dalam hitungan menit di awal pre-order-nya. Jajaran fans yang sudah menanti karya hebat dari seorang Jerome Polin ini sudah bersiap membuka aplikasi belanja online mereka, bahkan beberapa jam sebelum waktu pemesanan dimulai. Dengan gaya santai dan mudah dipahami, buku ini sangat cocok dibaca untuk semua kalangan. Mulai dari anak muda hingga orang dewasa, akan ada banyak pelajaran yang dapat diambil di dalamnya. Ukuran tulisan yang juga cukup besar dengan font-font yang unik membuat siapa pun yang membacanya akan tertarik. Berwarna dan penuh dengan kalimatkalimat bijak atau yang menurut bahasa anak muda sekarang disebut quotes, buku ini semakin memiliki kadar kemenarikan yang semakin tinggi. “Aku sadar belum tentu Roma yang aku tuju adalah Roma ‘terbaik’ yang Tuhan sediakan buatku. Singapura dan negara-negara lain yang pernah kulirik harus kulewati dengan penuh per-

: Mantappu Jiwa : Jerome Polin Sijabat : Gramedia : 2019 : 0.3 kg/13,5 cm

juangan dan kekecewaan. Berkali-kali aku mempertanyakan maksud Tuhan, tak jarang rasanya ingin menyerah. Tapi dengan usaha tanpa henti yang dibalut dengan doa tak putus, Tuhan pasti menyediakan Roma ‘terbaik’ buat umat-Nya.” Itu merupakan kutipan di salah satu halaman bukunya. Selalu ada bubuhan #rumusjerome di tiap-tiap kalimat bijak yang ia tulis. Disebut rumus karena ia memang tak jarang menyangkut-pautkan tulisannya dengan konsep matematika, baik dalam bukunya maupun di akun media sosialnya. Memang benar kata orang, kedewasaan bukan diukur dari usia. Dari buku Mantappu Jiwa yang ditulis oleh pemuda berusia 21 tahun ini pembaca bisa mengambil banyak pelajaran hidup. Kisah Jerome Polin mengajarkan pembaca untuk bersikap lebih dewasa, berani mengambil keputusan, dan berani mencoba hal baru yang akan mengubah jalan hidupnya. Tunggu apalagi, segera dapatkan buku yang akan membawa pembaca menyusuri jejak langkah Jerome Polin. Jejak langkah yang akan mengajarkan banyak hal, memotivasi generasi muda untuk dapat mengikuti kisah suksesnya. Tidak akan ada rugi membaca sebuah buku karena buku dan ilmu merupakan salah satu harta terbesar manusia yang tak akan pernah habis. Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Matematika dan Juara 2 Kompetisi Penulisan Pustaka Majalah Komunikasi


Rancak Budaya

Rahasia

Kesunyian oleh Fahrul Khakim

t

ilustrasi oleh: Nur Aviatul Adaniyah

D

i tepi sungai aku prihatin melihatmu memukulmukul air. Aku sungguh terhenyak saat kau tibatiba menyeburkan diri ke Gangga, menyelam dalam waktu yang lama. Tidak, Nak! Kau tak boleh mati seperti ibumu, Jahnawi. Aku segera menyusulmu berenang ke dasar Gangga. *** “Sebenarnya kenapa ibunya meninggalkan Brata?” tanya Durgandini. “Aku ingkar janji. Jahnawi, ibunya adalah bidadari yang mau menikahiku dengan syarat harus dituruti semua keinginannya. Dia selalu membuang bayi yang dilahirkannya ke Sungai Gangga, aku tak boleh mencegahnya apalagi bertanya. Sampai akhirnya Brata lahir, aku sebagai Raja Hastinapura belum memiliki putra yang bisa melanjutkan tahta nanti. Aku melarang Jahnawi membuang Brata sehingga membuatnya sakit hati. Jahnawi menceburkan diri ke Sungai Gangga atas pengkhianatanku pada janji pernikahan kami,” jelas Raden Sentanu, sedih. “Aku turut prihatin, Bagindaraja,” sahut Durgandini, simpatik. “Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau harus pulang ke kerajaan, sementara bayimu hanya mau menyusu pada Durgandini?” tanya Palasara. “Aku hendak membawa istrimu ke kerajaan. Aku mohon izin padamu. Aku akan berikan apa saja agar aku bisa mengajak serta Durgandini. Dia satu-satunya harapan hidup Brata.” Palasara terdiam sejenak sebelum menjawab dengan tenang. “Aku sudah tak membutuhkan kenikmatan dunia. Aku ingin melanjutkan ikhtiarku sebagai resi. Aku mengikhlaskan Durgandini pergi bersamamu, tapi aku ingin kau berlaku adil. Kau juga harus menuruti semua keinginan Durgandini jika nanti dia bersedia ikut bersamamu.” “Baiklah, Palasara. Aku janji. Sudikah kau ikut bersamaku, Durgandini?” “Baik, Bagindaraja. Saya bersedia. Saya minta paduka memenuhi syarat dari Kakanda Palasara.” Palasara kembali melanjutkan riayatnya sebagai resi sementara aku dan rombongan Raden Sentanu memacu kereta kuda menuju

istana. *** “Baginda Raden Sentanu, selama menjadi pengasuh Brata aku tak pernah meminta imbalan. Kali ini Baginda meminta saya menikahi Baginda. Aku bersedia tapi izinkan saya meminta satu syarat. Saya ingin penerus tahta Hastinapura kelak berasal dari rahim saya.” Jawaban Durgandini telak membuat Brata dan Raden Sentanu kaget. Raden Sentanu memandang Brata dengan sedih. Kubisikkan dalam benak Brata untuk mengingat kembali jasa Durgandini padanya selama ini. Kutunjukkan mosaik-mosaik rindu dalam keriput Raden Sentanu akibat mengarungi kerajaan tanpa permaisuri. Sebelum Raden Sentanu membuka mulut, Dewa Brata segera menyela persis seperti yang kuperintahkan. “Saya bersedia tidak memiliki keturunan seumur hidup, agar kelak tahta kerajaan bisa diwariskan pada keturuan Baginaraja dan ibunda Durgandini.” “Brata, apa kau yakin?” “Saya sungguh yakin, Baginda. Apalah arti saya dibandingkan dengan kejayaan Hastinapura kelak. Bukankah setiap perjuangan butuh pengorbanan? Inilah pengorbanan saya demi kelangsungan tahta kerajaan sekaligus balas jasa saya pada ibunda Durgandini,” jawab Brata dengan mantap. *** Dewa Brata masih belum mampu mengusir kegelisahannya sejak pesta pernikahan usai walau aku sudah berjuang sekuat tenaga untuk membantunya tegar. Kuajak dia jalan-jalan di taman untuk mengusir penat. Kami bertemu dengan gadis yang sedang menikmati keindahan taman Hastinapura seorang diri. Brata tak bisa menahan diri untuk berkenalan dengan gadis cantik itu. “Nama saya Amba, hamba putra patih Hastinapura. Senang bisa bertemu Baginda Dewa Brata,” jawab gadis itu dengan santun. Brata mengabaikanku saat mereka asyik mengobrol sambil memetik bunga melati hingga senja menyapa. Percik-percik rindu bergumul dalam jiwa Brata sejak saat pertemuan itu. Sampai dia kembali ke peraduan, nama Amba selalu disebut menjelang tidur. Dia bahkan mengaku padaku bahwa Tahun 41 November-Desember 2019 |

35


Rancak Budaya hatinya terpaut pada Amba tapi dia bingung. “Ingat, Brata. Kau sudah berjanji pada kerajaan Hastinapura. Kau tak dapat mencintai siapa pun, apalagi menikah.” Berkali-kali aku sudah mengingatkannya sampai dia akhirnya sadar. Dia tak lagi membahas Amba bersamaku, seketika semangat hidupnya runtuh entah kemana. Aku tak tega melihatnya termenung di kamar hampir seharian. Aku mengajaknya jalanjalan, tapi anehnya kaki Brata justru melangkah ke taman Hastinapura tanpa bisa kucegah. “Baginda Dewa Brata!” Suara lembut bagai seruling itu menerbitkan kembali nyala hidup Brata. Kami menoleh dengan ragu. Amba tersenyum memukau di hadapan kami. Rekah rindu dalam wajah Brata berubah jadi semburat matahari. “Amba, sedang apa kau di sini?” “Aku menanti kedatangan Baginda. Tiap hari aku ke sini sendirian.” Segera kubisikkan janji pamungkas Brata pada Hastinapura. “Aku tak bisa menemuimu lagi, Amba.” “Kenapa, Baginda? Apa karena aku hanyalah putri patih?” “Bukan.” “Amba ingin selalu bersama, Baginda.” “Jangan. Lupakan aku. Aku harus pulang.” Segera kutarik Brata pulang sebelum pesona Amba membuatnya berubah pikiran. Amba ternyata mengikuti kami. Aku melarang Brata untuk menoleh, tapi dia tak bisa menahan diri untuk melakukannya. “Amba, apa yang kau lakukan? Jangan ikuti aku.” “Kenapa, Baginda? Amba tak pernah berniat jahat padamu.” Brata tak mau mengakui hal yang sebenarnya karena aku melarangnya. “Aku tak mau menemuimu lagi, Amba. Jika kau terus mengikutiku lagi, aku tak segan-segan untuk memanah jantungmu,” ancam Brata. Sekuat hati dia menahan emosi yang meluap-luap. Amba terhenyak mendengarnya. Matanya berkaca-kaca sampai mulutnya kehilangan kata-kata ketika kuajak Brata melangkah pulang. * * * Sejak saat itu Brata mudah mengamuk dan meninju apa pun di kamarnya sampai tangannya memar. Aku berusaha keras untuk menenangkannya tetapi gagal. Nalurinya tak sanggup menahan diri untuk menemui Amba lagi di taman kerajaan. Aku tak akan membiarkanmu pergi, Brata. Kau sudah berjanji. Tubuhmu berontak. Kau mengambil panah, lalu mengarahkannya tepat ke arahku. Kututup mulutku karena kutahu kau akan terluka jika melukaiku. Aku juga tak akan sanggup melihat darah keluar dari kulit gagahmu, Brata. Kau membiarkanku mengikutimu pergi ke taman kerajaan. Kau yakin Amba ada di sana seperti saat kalian pertama bertemu dulu. Kulihat siluet tubuh Amba sedang duduk bersedih di samping rimbun bunga melati. Kesempatan yang tersisa segera kugunakan untuk memperingatkanmu, Brata. “Brata, kau harus ingat janjimu pada Hastinapura. Kau tak boleh mendamba cinta pada gadis mana pun. Lupakan Amba. Ingat jasa Durgandini. Kau tak boleh ingkar. Ingat riwayat ingkar ayahmu pada Jahnawi, ibumu. Hanya karena ingkar, kau kehilangan ibumu.” “Diam!” Kau menatapku tajam. “Tidak, aku tak pernah meminta apa pun selama setia menemani hidupmu, Brata. Kumohon, setialah pada janjimu.” “Tapi aku mencintai Amba.” Kau segera mencabut anak panah.

36 | Komunikasi Edisi 325

“Ingat, semua yang kulakukan untukmu selalu benar. Kau harus menuruti kata-kataku, Brata,” kataku berapi-api. “Tidak!” Brata melesatkan panah ke sembarang arah untuk melepaskan rasa sakit hati. Dia terpekur menatap tanah dengan wajah bersimbah air kesedihan. “Uhuk-uhuk! Aarrgghhh...” Suara rintih lembut itu membangkitkan kami dari kenyataan. Mata Brata terbelalak saat menoleh pada sumber suara. Amba tengah tergolek merenggang nyawa dengan anak panah mengoyak jantungnya. Brata mendekatinya, berusaha menolong, tapi hanya mampu memangku kepala Amba yang tengah tak berdaya. “Maafkan aku, Amba. Aku juga mencintaimu tapi karena aku sudah berjanji tak akan menikah, aku tak dapat memilikimu,” sesal Brata. Amba tersenyum. “Amba senang di akhir hidup ini, cinta Amba terbalas.” Air mata tak sanggup kubendung. Maafkan aku, Brata! Aku hanyalah air susu yang menitis dari Durgandini dulu. Air susu yang telah menyelamatkan hidupmu dan menemani hidupmu selamanya. Walau kusadari, aku tak akan pernah bisa menggantikan Amba untukmu. *** Durgandini sedang membelai-belai tubuh mungil Brata satu malam. Aku tidak tidur karena tugasku adalah menemani Brata setiap saat. Durgandini menaruh harapan pada kesunyian. “Kelak air susu ini yang akan menjaga hidupmu selamanya, Brata. Air susu ini juga yang kelak menjadi saksi pada janji yang telah disepakati oleh Baginda Raden Sentanu. Janji akan memenuhi segala permintaanku nanti. Aku ingin menjadi permaisurinya dan memiliki putra penerus tahta dari rahimku sendiri. Aku akan menunggu lamaran dari Baginda Raden Sentanu. Jikalau itu terjadi, air susu ini akan menjaga janji itu, Brata.” *** “Brata, jangan mati. Kau tak akan menemukan Amba dalam dinginnya dasar sungai Gangga,” bisikku padanya selama mengikutinya menyelam. “Abu Amba kemarin dilarung di sini. Aku juga ingin menemui ibuku, Jahnawi. Bukankah sungai ini tempat peristirahatan mereka?” jawab Brata. Brata, kau harus tahu. Aku memang bertugas menjaga janji itu bersamamu, tapi aku juga bersumpah untuk menjagamu tetap hidup. Jadi segera kuperintahkan organ tubuhmu untuk kembali ke permukaan. Ketika kau kembali menghirup udara, kutekankan janjiku untuk menemanimu seumur hidup. Walau tanpa sang kekasih hati, kau hanya akan menyusu sunyi. Penulis adalah Dosen Jurusan Sejarah UM dan Juara 1 Kompetisi Penulisan Cerpen Majalah Komunikasi


Menjerit, tanpa ada suara Berontak, tanpa ada gerak Menantang, tanpa buka mata Hendak lari, namun sembunyi Jangan hakimi si jago merah Ia hadir dalam keterpaksaannya Merebak merengkuh rimba Menciptakan abu yang kini bersisa Warna kelabu itu menderu Ramai-ramai menerkam paru Hilir-mudik meraung pilu Dimanakah tanggung jawab itu? Di sini, lihatlah ini! Si Riau yang risau Kondisinya kronis Rakyatnya menangis Semua ini salah siapa? Yang mereka tahu hanya derita Satwa dan Flora merintih nestapa Hangus, beriring perginya nyawa “Nak, tetaplah di rumah. Tutup pintu dan jendela, Ayah pamit cari nafkah. Walau perih paru dan mata.� Malang, 16 September 2019 Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling dan Juara 2 Kompetisi Penulisan Puisi Majalah Komunikasi ilustrasi oleh : Krisnawa Adi Baskhara

Tahun 41 November-Desember 2019 |

37


KOMIK

Nama

: Jonathan Viola Christian

Fak/Jur

: Sastra/SEDESA

Seluruh civitas akademika UM dapat mengirimkan karya berupa komik dengan tema bebas dalam bentuk soft file yang dikirim langsung ke Kantor Redaksi Majalah Komunikasi Graha Rektorat Lantai II atau via email: komunikasi@um.ac.id selambat-lambatnya tanggal 25 Januari 2020 disertai identitas diri (nama, fakultas, jurusan, dan nomor HP). Tahun 41 September-Oktober 2019 |

38 | Komunikasi Edisi 324

35


Tiada hari yang dimenangkan tanpa pagi yang didamaikan Nama : Arifandy Setiawan Fak/Jur : Teknik/Teknik Sipil Lokasi : Tumpang, Kab. Malang

Atas nama kesepian aku bertahan dalam remuk yang kian menelan Nama Fak/Jur Lokasi

: Primanda Putra Nuswantara : Teknik/Mesin : Graha Tumampel UM Jiwa yang tak menyatu dengan budaya akan rabun pada identitasnya Nama Fak/Jurusan Lokasi

: Nida Khoirunisa : FIS/Geografi : Graha Cakrawala UM

Dialah pundak, tangis dan tawa kubagi padanya Nama : Hildhan Umanta Prabasmara Fak/Jur : Ilmu Keolahragaan/Ilmu Keolahragaan Lokasi : Graha Rektorat UM

Seluruh civitas UM dapat mengirimkan karya fotografi dengan tema dan tempat bebas dalam bentuk soft file yang dikirim langsung ke Kantor Redaksi Majalah Komunikasi Graha Rektorat Lantai II UM atau via email: komunikasi@um.ac.id selambat-lambatnya tanggal 25 Januari 2020 disertai lokasi foto dan identitas diri (nama, fakultas, jurusan, dan nomor HP). Foto yang dimuat mendapat imbalan atau penghargaan yang sesuai.


Redaksi menerima tulisan reportase dengan panjang tulisan 1 halaman A4 font Times New Roman ukuran 12 spasi 1,5 dikirim maksimal dua hari setelah pelaksanaan kegiatan ke email komunikasi@um.ac.id. Naskah yang layak akan dimuat di Komunikasi online dan mendapat imbalan atau penghargaan yang sesuai

Profile for Komunikasi UM

Komunikasi UM| Edisi 325 Nov - Des 2019  

Mengenal Lebih Dekat Maskot UM: Cakrawala Cakrawala, maskot baru Universitas Negeri Malang (UM) resmi diirilis saat perayaan Dies Natalis k...

Komunikasi UM| Edisi 325 Nov - Des 2019  

Mengenal Lebih Dekat Maskot UM: Cakrawala Cakrawala, maskot baru Universitas Negeri Malang (UM) resmi diirilis saat perayaan Dies Natalis k...

Advertisement