Kombinasi Edisi 24 April 2008

Page 1

s Menopang Keberlangsungan Radio Komunitas Teknologi Informasi untuk Difabel Usaha Bawang Goreng di Brebes Edisi 24 April 2008


02 editorial dari kami : Keberadaan radio komunitas di Indonesia telah dirasakan manfaatnya bagi komunitas lokal. Sebagai media informasi dari, untuk, dan oleh komunitas, radio komunitas telah memainkan peranan pentingnya, terutama di saat komunitas menghadapi persoalan bersama. Sayangnya, tidak semua radio komunitas bisa mempertahankan keberlangsungannya, dalam hal ini membiayai dirinya sendiri. Seperti kita tahu bahwa UU Penyiaran tidak mengizinkan radio komunitas menerima iklan komersial. Hal itu tentu membuat radio komunitas harus sangat kreatif dalam mencari-cari sumber dana. Kombinasi edisi 24 akan mengangkat tema utama mengenai pengalaman radio komunitas dalam mencari sumber dana bagi keberlangsungan radionya. Sebagai pengantar, Tanja E Bosch (Trainer UNESCO Community Radio Afrika Selatan dan dosen Pusat Studi Media dan Film, Universitas Cape Town, Afrika Selatan) mengungkapkan, bahwa banyak cara bagi radio komunitas untuk mencari celah sumber dana. Bush Radio, sebuah radio komunitas di Cape Town, Afrika Selatan, telah membuat berbagai kegiatan untuk memperoleh pemasukan, di antaranya melakukan Daycare Center, membuat program radio anak, program untuk anak sekolah yang terkait tema kampanye HIV/AIDS dan anti narkoba, serta memberikan pendidikan alternatif bagi anak-anak muda. Seluruh kegiatan ini dibiayai oleh perusahaan lokal yang berada di daerah Radio Bush. Radio Komunitas Kothmale di India, misalnya, menggunakan lahan kosong milik warga untuk toko jual beli tanaman, juga memroduksi ILM yang dipesan oleh berbagai organisasi masyarakat sipil. Lalu bagaimana dengan di Indonesia ? Basri Andang dari Makassar mengungkapkan, bahwa beberapa radio komunitas di Sulawesi Selatan mampu menggalang dana dari pembuatan kartu pendengar, pendaftaran pendengar dengan registrasi SMS, membangun kerja sama dengan pihak pemerintah desa dan kabupaten untuk sosialisasi program mereka, sampai ada yang membangun kincir air agar bisa meminimalkan beban pembayaran listrik. Saiful Bakhtiar menulis tentang Panutan FM di Tanjung Batu, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, yang berhasil mengenalkan program kartu anggota ke warganya. Masih banyak lagi contoh kasus menarik yang mengungkapkan kreativitas radio komunitas dalam upaya menghidupi dirinya sendiri. Kita juga akan berkenalan dengan sosok Bambang Widayadi dari Brebes, yang telah menggunakan limbah bawang merah yang terbuang karena tidak lolos masuk “sensor�untuk dijadikan bawang goreng.

Tim kerja : Pemimpin Redaksi: Ade Tanesia Editor: Biduk Rokhmani Tim Penulis: Ade Tanesia, Ambar Sari Dewi, Basri Andang, Biduk Rokhmani, Elanto Wijoyono, Saiful Bakhtiar, Tanja E Bosch, Yossy Suparyo Layout: Roni Wibowo Ilustrator: Danney Junerto Ilustrasi sampul : Danney Junerto + Roni Wibowo Alamat Redaksi: Jalan Ngadisuryan No 26, Yogyakarta 55133 Telepon/fax: 0274-418929 e-mai : office@combine.or.id http://www.media.kombinasi.net

Di tengah kesulitan hidup yang semakin membelit warga, kita bisa melihat bagaimana masyarakat berusaha bertahan dengan segala daya kreativitasnya. Mereka berkreasi dari limbah bawang merah, para pengelola radio komunitas pun tak kalah kreatif untuk tetap menjadi sumber informasi bagi warganya. Sering kali, pemerintah menghimbau agar masyarakat mandiri. Mereka lupa bahwa rakyat telah belajar dari segala penderitaannya untuk tetap bertahan. Mereka terus bergelut dengan kehidupannya sambil menatap dingin ulah para wakil rakyat yang duduk di gedung DPR. Selamat menikmati Kombinasi edisi 24!

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 24 | April 2008


info sekilas

03

Teknik Menguasai Aplikasi Kantoran Canggih dan Gratis

Jurus Jitu Integrasi GIS ke Sistem Web Judul

: Sistem Informasi Geografis - Membangun Aplikasi Web-based GIS dengan MapServer (Disertai CD) Penulis : Eddy Prahasta Penerbit : Penerbit Informatika, Bandung Cetakan : I, Januari 2007 Dimensi : 20 cm; xviii+740 hlm Kode Buku: 050 Pra s

Judul

: Panduan Lengkap Menguasai OpenOffice 2.x (Disertai CD) Penulis : Ana Heryana Penerbit : Informatika Cetakan : I, September 2007 Dimensi : 20 cm; xxviii+268 hlm Kode Buku : 050 Her p

Pada era kekinian, kita tidak mungkin memisahkan aspek-aspek spasial (ruang) dengan aspek nonspasial terkait (properties) yang dimilikinya. Untuk itulah, sistem informasi geografis (SIG) hadir di tengah-tengah kita. Terlebih, kemajuan teknologi internet mendukung SIG makin canggih dan adaptif. Berbekal sistem itu, para pengguna bisa lebih memaknai data spasial, tidak sekadar gulungan peta dan tabel-tabel.

OpenOffice 2.x adalah salah satu perangkat lunak office suite yang disebarluaskan dengan lisensi open source software. Aplikasi tersebut memiliki tingkat kehandalan setara dengan MS Office maupun WordPerfect, namun ia bisa diunduh secara gratis. OpenOffice 2.x merupakan pilihan yang tepat bagi siapa pun, terutama yang memiliki keterbatasan budget maupun lembaga yang mengerjak an pemberdayaan masyarakat.

Integrasi SIG ke sistem web menjadikan SIG sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem antarmuka grafik komputer. Aplikasi SIG menghasilkan desain antarmuka web yang makin bersahabat. Pengguna jasa internet dapat bertamasya ke mana pun dan kapan pun, tanpa harus hadir secara fisik. Pengguna cukup menggunakan aplikasi internet browser, secara otomatis mereka merasakan sensasi bertamasya ke mana pun tak ubahnya seperti di dunia nyata.

OpenOffice 2.x kurang populer dibanding aplikasi kantoran yang komersial, karena minimnya buku petunjuk penggunaan OpenOffice 2.x yang berbahasa Indonesia. Selain itu, banyak kalangan yang mengalami ketergantungan dengan perangkat lunak office suite proprietary hingga enggan mencoba maupun beralih ke OpenOffice 2.x. Kalangantersebut lebih suka melakukan tindakan pembajakan daripada beralih pada sistem yang lain.

Buku itu menjelaskan pemanfaatan MapServer sebagai salah satu aplikasi pendukung SIG secara tahap demi tahap, dari awal hingga akhir. MapServer merupakan salah satu program aplikasi antarmuka grafik komputer (computer graphic interface) yang dapat dimanfaatkan untuk membangun aplikasi sistem informasi geografis berbasis web (web-based GIS). MapServer bisa diunduh secara gratis karena ia bersifat terbuka (open source code) yang didukung oleh banyak pihak dan komunitas yang besar. MapServer bisa mendukung kinerja beragam sistem operasi (operating system). Sub-toll dan framework-nya selalu berkembang dan relatif mudah digunakan sehingga dapat menjadi pilihan jitu para pemula.

Buku itu memberikan petunjuk yang lengkap bagaimana teknik dan tips penggunaan OpenOffice 2.x. Buku tersebut dapat dijadikan sebagai sumber referensi dan pendamping dalam memanfaatkan perangkat lunak OpenOffice 2.x. Materi-materi disajikan dalam bentuk penjelasan langkah kerja dan dilengkapi dengan gambar yang memperlihatkan kinerja OpenOffice 2.x. Buku itu dapat digunakan oleh pengguna pemula dan menengah sehingga sangat cocok sebagai bahan ajar untuk menjelaskan kerja-kerja aplikasi berbasis open source.

Eddy Prahasta merupakan salah satu penulis sistem informasi geografis yang sangat produktif. Ia telah menulis belasan buku dengan topik serupa yang telah dipublikasikan dan mendapat sambutan dan apresiasi publik yang baik. Selain penjelasan konsep SIG yang gambang, penulis memberikan contoh mapfile, script, template, dan lain sebagainya. Contohcontoh yang dituliskan dapat mengilustrasikan bagaimana MapServer dapat dikonfigurasikan dan kemudian dioperasikan oleh penggunanya. Buku itu memang terkesan seperti panduan bagaimana memublikasikan aplikasi peta interaktif lewat jaringan internet dengan menggunakan MapServer. Namun dengan kemampuan tulisnya yang lincah, secara perlahan, penulis menggiring para pembacanya untuk memasuki ruangruang diskusi lintas disiplin. Ia mencoba menjembati para pembacanya yang berasal dari beragam disiplin ilmu untuk turut berkampanye tentang budaya literasi, meningkatkan kecerdasan spasial warga, mencintai kebudayaan bangsa dengan mengajak berselancar dan bersilaturahmi dengan berbagai daerah di Indonesia, membuka cakrawala pembaca tentang budaya maritim, dan lain-lain. Buku itu penting untuk dibaca oleh berbagai kalangan, seperti mahasiswa, militer, akademisi, aktivis NGO, juga pegawai pemerintah untuk menggali beragam sumber daya yang dimiliki. Tak berlebihan jika SIG dikatakan sebagai pengetahuan terapan yang membantu pengelolaan dan pertukaran sumber daya antara masyarakat dan bangsa.

Buku Baru Koleksi Pustaka Kombinasi No

Pengarang

Judul

Nalaka Gunawardene dan Frederick Noronha (ed.)

Communicating Disaster: A Asia Pacific Resource Book

2.

William N Dunn

Pengantar Analisis Kebijakan Publik

3.

Onong U Effendy

Radio Siaran:

4.

Ulla Carlsson dan Cecilia von Feilitzen (ed.)

In The service of Young People: Studies and reflections on media in the Digital Age

5.

Tim Awari

Panduan Mengelola Bisnis Warnet

1.

Penerbit

Kode Buku

TVEAP-UNDP

384.544 Nal c

GMU-Press

340.1 Dun p

Mandar Maju

384.54 Eff r

Nordicom

302.2 Car i

Depkominf Awari 384.016 Dep p

Pustaka Kombinasi memiliki beragam jenis koleksi seperti buku atau monograf, laporan kegiatan berbagai lembaga, modul pelatihan, audio visual, audio, lerangkat lunak, dan lain sebagainya. Perpustakaan melayani kunjungan dari 09.30-16.00 (Senin-Jumat). Informasi lebih lanjut silakan klik di http://pustaka.kombinasi.net


04 info sekilas Pelatihan Pengelolaan

Radio Komunitas di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur Oleh Saiful Bakhtiar

“The tree is an element of regeneration which in it self is a concept of time (pohon adalah sebuah elemen dari regenerasi dan dari pohonlah kita belajar konsep waktu)” Joseph Beuys, seniman Jerman, era 1960.

Perjalanan dari Yogyakarta-Balikpapan kami tempuh kurang dari dua jam menggunakan pesawat. Dari Balikpapan, kami kemudian kembali menempuh perjalanan melalui udara selama satu jam. Sesampainya di Bandar Udara Kalimaru, Berau, kami dijemput rekan dari WWF Berau. Kami beruntung, sesampainya di Tanjung Redep, cuaca cerah menyambut kami. Bersama dengan rekan dari WWF, kami beristirahat di sebuah hotel yang persis di depannya mengalir Sungai Segah. Sementara kami berkemas, matahari sore menyinari Sungai Segah dan pantulan sinarnya membentuk pemandangan sore yang sungguh luar biasa. Di tepi Sungai Segah atau tepian, demikian orang Berau lebih familiar menyebutnya, deretan para pedagang nampak mulai menjajakan sajiannya, setiap sore. Berbagai makanan dan minuman pun siap dihidangkan. Semakin malam, semakin ramai. Dari tepian Sungai Segah, kita juga bisa melihat deretan kapal-kapal yang berlabuh. Dari sana juga terlihat Museum Sambaliung.

yang terjadi di sekitar Berau, diharapkan mampu dikurangi dengan peran dan kehadiran radio komunitas di tengah-tengah warga.

Bom pun tidak meledak lagi Penggunaan bom untuk menangkap ikan sampai pelestarian penyu menjadi permasalahan yang terjadi di Berau, selama ini. Berbagai pendekatan dan kebijakan untuk mengurangi dampak kerusakan terus dilakukan. Pendekatan media komunitas, seperti radio komunitas, diharapkan mampu menjadi salah satu media kampanye yang efektif. Untuk menjawab permasalahan tersebut, berbagai materi pun didesain untuk pelatihan selama empat hari, dari visioning media radio komunitas sampai pada pengenalan awal produksi. Antusiasme peserta nampak dalam setiap sesi. Pengetahuan baru bagi mereka menjadi penyebabnya. Uniknya, pelatihan itu tidak hanya diikuti oleh pengurus dan calon pengurus radio komunitas, namun hadir pula beberapa perwakilan dari radio komersial.

Hari berikutnya, kami bertemu dengan kurang lebih 20 peserta pelatihan pengelolaan radio komunitas di Cafe Kampus Singkuang, Tanjung Redep. Di luar bayangan kami, peserta kali itu didominasi “amunisi-amunisi muda” yang masih sangat haus akan pengetahuan tentang pengembangan dan pengelolaan radio komunitas. Pelatihan “Pengelolaan Radio Komunitas” itu sendiri digagas atas inisiatif dan kerja sama Joint Program Berau (WWF-TNC Berau).

Darwis, dari Kantor WWF Berau, mengatakan, keterlibatan radio komersial sebagai upaya agar ke depannya isu-isu pelestarian lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab radio-radio komunitas yang tersebar di Berau, namun kampanye dan penyadaran akan pelestarian lingkungan Berau menjadi tanggung jawab semua media termasuk radio komersial.

Program itu dilandasi atas pemikiran peran penting radio komunitas, sebagai media yang memiliki kedekatan emosional yang tinggi dengan warga. Berbagai permasalahan lingkungan

Hal tersebut juga diamini oleh Milka dari Radio Sangakala FM, salah satu radio komersial di Berau. Milka mengatakan, keberadaan pelatihan pengelolaan radio komunitas juga

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 24 | April 2008


05 membuka mata bagi pengelola radio komersial di Berau akan tanggung jawab sosial dalam upaya pelestarian kawasan Berau. Lebih lanjut, gadis yang juga berprofesi sebagai perawat di RSUD Berau dan aktif sebagai pengelola Radio Sangkala FM, itu mengatakan, terlebih sejak 8 April 2004, Kabupaten Berau telah menetapkan program Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Berau dan tentu program itu harus didukung oleh semua pihak, termasuk media kepenyiaran, terutama radio. Lain halnya dengan Yani dari Radio Komunitas Panutan FM yang berada di Tanjung Batu. Yani, yang sejak tahun 1993 telah mengelola radio komunitas di Tanjung Batu, mengungkapkan bahwa dengan adanya kegiatan yang baru kali pertama diikutinya itu membuka mata bagi pengelola radio komunitas untuk lebih aktif dalam penggalian isu-isu lokal, terutama lingkungan, melalui pendekatan analisis sosial yang diberikan. Kampanye “testiomonila korban bom� dirasakan efektif mengurangi cara penangkapan ikan menggunakan alat-alat yang berbahaya. Tidak hanya itu, pengenalan teknik produksi dan pengemasan program menjadi sebuah ilmu tambahan yang selama ini dipelajarinya secara otodidak. Tanggapan yang muncul dari Dydi, sebagai calon pegiat radio komunitas di kawasan lingkar tambang, berbeda dengan peserta lainnya. Dydi menjelaskan, pengetahuan yang didapatkannya menjadi sebuah bekal, karena di wilayahnya akan ada dua radio komunitas yang diharapkan bisa segera mengudara dan dapat dinikmati oleh komunitasnya dalam tiga bulan ke depan.

Kegiatan pelatihan pengelolaan radio komunitas yang berlangsung selama empat hari itu dilanjutkan dengan pertemuan para pegiat dan calon pegiat radio komunitas. Pertemuan kali itu menggali kemungkinan dibentuknya wadah bersama radio komunitas di wilayah Kabupaten Berau. Irwan dari Comviro mengharapkan, keterlibatan aktif dari berbagai pihak, terlebih radio-radio komunitas yang berada di wilayah Berau dalam upaya pembentukan jaringan radio komunitas. Lebih lanjut, pria yang aktif di Buletin Media Berau, itu mengungkapkan, keberadaan wadah bagi radio komunitas akan sangat berguna ke depannya bagi pegiat-pegiat radio komunitas, terlebih dalam pengurusan perizinan frekuensi. Dalam pertemuan itu juga disepakati, selama tiga bulan ke depan, para pegiat radio komunitas Berau akan melakukan pertemuan-pertemuan untuk memantapkan gagasan pembentukan jaringan. Dari pelatihan itu terlihat antusiasme dan semangat yang tinggi untuk membangun dan mengembangkan radio komunitas sebagai bagian dari kampanye pelestarian lingkungan dan bentuk keterlibatan warga serta kesadaran warga untuk menjaga kelestarian alam Berau. Lebih lanjut, peran radio komunitas juga diharapkan mampu memberikan yang terbaik bagi alam Berau yang dikenal sebagai pusat keragaman hayati dan burung endemik yang unik, sekaligus menyukseskan upaya pengusulan kawasan hutan kapur Berau menjadi situs warisan dunia. Semoga...***


06 info sekilas Mencari Posisi

Radio Komunitas

dalam Penanggulangan Bencana Oleh Elanto Wijoyono

Tak ada lagi alasan untuk menyudutkan radio komunitas bahwa informasi yang disiarkannya tidak bisa dijamin keakuratan dan keaktualannya. Radio komunitas, secara hukum, telah diakui berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dan diperdalam di Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Pemerintah. Lembaga itu merupakan salah satu bentuk dari lembaga penyiaran komunitas, di samping bentuk-bentuk lembaga penyiaran yang lain, yaitu lembaga penyiaran publik, lembaga penyiaran swasta, dan lembaga penyiaran berlangganan. Jadi, proses produksi dan penyiaran informasi dari sebuah radio komunitas juga mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik, tidak berbeda dengan proses jurnalistik yang terjadi di lembaga penyiaran lainnya.

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 24 | April 2008


07 Namun, menurut Direktur Pelaksana Daerah PKBI Daerah Istimewa Yogyakarta Mukhotib MD yang telah sarat pengalaman dalam dunia penyiaran komunitas, tetap perlu ada identifikasi lebih dalam mengenai peran yang bisa diemban oleh radio komunitas dalam ranah penanggulangan bencana. Bagaimanapun, radio komunitas telah terbukti memiliki posisi yang kuat dan penting di masyarakat, baik dalam tahap mitigasi bencana, tanggap darurat, maupun dalam tahap pascabencana dan pemulihan. Apakah kemudian radio komunitas perlu diperkuat kedudukannya dalam konteks penanggulangan bencana dengan dimasukkan ke dalam peraturan perundang-undangan dan turunannya, akhirnya dipandang tidaklah terlalu penting lagi. Hal itu menjadi salah satu pandangan yang terlontar dalam diskusi terbatas “Mencari Posisi Peran Radio Komunitas dalam Penanggulangan Bencana� yang diselenggarakan oleh COMBINE Resource Institution di Pendapa Karta Pustaka, 22 Februari 2008 lalu.

Pewarta warga menyikapi bencana Informasi apa saja yang harus diolah oleh radio komunitas dan bagaimana informasi itu disampaikan kepada masyarakat, menjadi titik kunci pengidentifikasian peran radio komunitas dalam konteks penanggulangan bencana. Para pegiat radio komunitas sendiri ternyata telah melakukannya secara mandiri sejak lama. Sukiman, pegiat Radio Komunitas Lintas Merapi FM, misalnya, radio komunitas yang ia kelola bersama warga desanya dapat b e r p e ra n s e b a g a i p u s a t k e g i a t a n masyarakat, yang mampu membangun sendiri metode pendidikan kebencanaan bagi masyarakat. Radio komunitas yang terletak di Dusun Deles, Desa Sidorejo, Kemalang, Klaten yang tepat berada di lereng tenggara Gunung Merapi itu berupaya menyampaikan informasi tanpa harus memiliki program siaran berita. Radio siaran komunitas itu hanya memiliki program siaran hiburan. Informasi dan berita mereka sampaikan di sela-sela program hiburan itu. Menurut Sukiman, hal tersebut dilakukan karena masyarakat

desanya yang rata-rata hanya berprofresi sebagai petani dan penambang pasir itu cenderung tidak menyukai program berita. Padahal, berita-berita terkini, termasuk peringatan dini terhadap ancaman Gunung Merapi yang selalu dipantau oleh reporter Lintas Merapi FM itu, penting untuk diketahui oleh masyarakat, terutama para penambang pasir yang berada di daerah rawan bahaya di aliran Sungai Woro. Peran peringatan dini juga mampu disandang oleh Endra Harsaya, atau yang dikenal dengan nama Hendro Plered, pegiat Radio Komunitas Swadesi FM. Radio komunitas yang terletak di Desa Jambidan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyak ar ta itu telah secara rutin berkomunikasi dengan Tim SAR Parangtritis, Bantul. Radio komunikasi yang ada di studio digunakan terus untuk memantau situasi terkini terkait mitigasi bencana dengan berbagai jaringan komunik asi radio, termasuk Posko Pemantauan Gunung Merapi di Balerante, Klaten serta Kantor Badan Meteorologi dan Geofisika Yogyakarta. Peran radio komunitas pada tahap pemulihan pun juga pernah diemban oleh R adio Komunitas Swadesi FM itu. Pa s c a g e m p a b u m i y a n g m e l a n d a Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 lalu, radio tersebut menggagas acara bertajuk Konco Adukaduk, Udak-udak, Tuthuk-tuthuk yang ditujukan sebagai program acara untuk menemani para warga atau pekerja yang sedang membangun rumah atau rekonstruksi pascagempa.

Penguatan posisi radio komunitas Dari beberapa pengalaman pengelola radio komunitas yang disampaikan, dapat dipahami bahwa sebenarnya radio komunitas telah memiliki posisi yang cukup kuat di masyarakat. Fungsinya telah dipahami bersama sebagai salah satu sumber informasi, termasuk dalam hal kebencanaan. Ke depan, peran itu hanya perlu diperkuat dan dipublikasikan secara lebih luas kepada masyarakat. Tak hanya

dengan kegiatan on-air, sebuah radio pun juga bisa memanfaatkan kegiatan off-air untuk mengembangkan pendidikan kebencanaan kepada warganya. Hal itu pun bisa cukup memberikan dampak yang efektif. Radio Komunitas Lintas Merapi, misalnya, radio itu turut berperan dalam menggagas dan mengembangk an berbagai forum warga di lereng Merapi. Forum-forum warga itu, antara lain, berupa kelompok pemuda pecinta lingkungan, peronda siaga Merapi, dan berbagai kelompok tani mandiri. Pengembangan berbagai kelompok kerja dan forum warga yang mampu memberikan pemasukan ekonomi menjadi salah satu tujuan utama karena warga ingin mereka bisa siap secara ekonomi ketika ancaman bencana melanda. Warga lereng gunung api aktif itu sadar bahwa untuk bisa berdaya di tengah ancaman bencana tidak bisa hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah dan lembaga lainnya. Daya tersebut, bahkan, akan mampu mereka manfaatkan untuk membantu warga lain yang terkena musibah. Pascagempa 27 Mei 2006 lalu, warga lereng Merapi itu beramai-ramai menggalang bantuan berupa layanan pembangunan rumah sederhana bagi korban gempa di Klaten dan Bantul. Dalam konteks kebijakan dan peraturan perundang-undangan pun, penguatan peran radio komunitas itu pun dapat disisipkan sebagai agenda. Walaupun dalam salah satu lontaran di atas, dipandang bahwa apakah radio komunitas penting untuk masuk atau tidak dalam peraturan hukum, tetapi bukan berarti hal itu tidak perlu diupayakan. Dalam satu hingga dua tahun ini, negara dan beberapa provinsi tengah sibuk menyiapkan perangkat hukum dalam hal penanggulangan bencana, termasuk Yogyakarta dan Klaten, Jawa Tengah. Di Yogyakarta, masih belum disepakati apakah jaringan radio komunitas akan diupayakan untuk bisa masuk dalam Rencana Aksi Daerah (RAD) dan peraturan daerah mengenai penanggulangan bencana. Sementara, di Klaten, Jawa Tengah, Radio Komunitas Lintas Merapi telah diakui sebagai salah satu sumber daya penting yang dapat berperan dalam penanggulangan bencana. Hal itu telah dituangkan dalam Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana Letusan Gunung Merapi Kabupaten Klaten.***


08 utama

Menjaga Kelangsungan Radio Komunitas

Oleh Tanja E Bosch*

Keberlangsungan keuangan bagi radio komunitas adalah hal yang mungkin bisa terjadi. Tetapi ramuan yang paling penting dalam membicarakan keberlangsungan radio komunitas adalah proses awal berdirinya radio komunitas yang didukung sepenuhnya oleh komunitas. Proses inilah kunci atau pondasi paling hakiki bagi radio komunitas.

K

eberlangsungan menempati posisi tertinggi dalam daftar permasalahan yang terjadi di banyak radio komunitas. Dengan berkurangnya dukungan finasial dari lembaga-lembaga donor, radio komunitas harus mulai berpikir berbagai cara untuk menjamin kelangsungannya. Bush Radio, salah satu contoh sukses radio komunitas di Cape Town, Afrika Selatan. Mereka membuat berbagai kegiatan untuk meningkatkan pendapatan. Programprogram yang mereka lakukan di antaranya Daycare Center, program radio anak, program-program untuk anak sekolah terkait tema AIDS dan kampanye anti narkoba, dan pendidikan alternatif bagi anak-anak muda. Semua kegiatan itu dibiayai oleh perusahaan lokal yang berada di daerah Bush Radio berada. Bush Radio juga terlibat dalam beberapa kegiatan, seperti program pendidikan pemungutan suara bagi pemula yang didanai oleh NIZA (institusi Belanda untuk Afrika Selatan) dan sekaligus mendorong minat mendaftar bagi pemilih pemula serta peningkatan toleransi politik. Lain halnya Radio Kothmale di India. Mereka menggunakan lahan kosong yang dimiliki warga untuk membuka toko jual beli tanaman yang dijual pada komunitasnya. Beberapa radio komunitas di Afrika Selatan secara intensif memfokuskan pada tematema sosial. Mereka melakukan “eksplorasi� ide berdasarkan konsep sosial. Lembaga sosial, LSM dan pemerintah mempunyai dana atau anggaran untuk produksi media kampanye atau ILM dalam berbagai kegiatan atau even tertentu. Di Nepal, ketika digencarkan kampanye bahaya merokok, Kementrian Kesehatan Nepal mengeluarkan

anggaran bagi radio-radio komunitas untuk membuat ILM-ILM singkat yang berisi anjuran meninggalkan kebiasaan buruk merokok. Radio Sagarmatha dan beberapa radio komunitas di Kathmandu India juga secara kreatif membuat ILM-ILM pendek bertemakan kampanye HIV yang dibiayai oleh departemen kesehatan. Strategi lainnya yang selama ini berjalan dengan baik dilakukan oleh radio komunitas di Afrika Selatan adalah menjual airtime. Mereka menjual blocking time kepada lembaga-lembaga untuk berdiskusi atau menyampaikan informasi kepada komunitas. Seperti yang dilakukan oleh Institute for Democracy in Southern Africa (Idasa) yang mengadakan talkshow di radio komunitas setempat dengan tema demokrasi dan pemerintahan lokal. Hal itu mungkin saja bisa dilakukan di radio komunitas Anda. Namun yang perlu diingat adalah pengelola radio komunitas harus memastikan isi diskusi atau pembicaraan tidak mengandung atau menjurus pada konflik atau tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip radio komunitas Anda. Di Afrika Selatan pun banyak radio komunitas yang menjalin kerja sama yang saling menguntungkan bahkan terkadang tanpa harus diukur dengan uang. Bush Radio, misalnya, barter dengan koran lokal setempat untuk membacakan berita-berita mereka, sebagai imbalannya Bush Radio mendapatkan halaman khusus promosi program yang dimuat di koran tersebut. Pembicaraan keberlangsungan, terlebih keuangan bagi radio komunitas, menjadi isu terpenting bahkan bagi radio komunitas yang telah mampu “bertahan� sekalipun. Radio komunitas yang sudah mampu

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 24 | April 2008


09 mendanai semua biaya operasional tetapi tidak memiliki kualitas program yang bagus atau memiliki program yang bagus namun ditinggal pendengarnya, niscaya radio komunitas yang mengalami kondisi seperti itu pun tidak akan bertahan lama. Langkah-langkah perbaikan dan pemantauan produksi program harus terus diperhatikan. Pendengar mana pun tidak akan menerima program siaran Anda yang tidak dikelola secara profesional. Tantangan bagi radio komunitas adalah profesionalitas program tanpa meninggalkan nilai-nilai akses, partisipasi, dan pemberdayaan warga atau komunitas. Untuk menuju ke sana, kuncinya adalah membuat program yang menyajikan sesuatu yang unik dan sangat lokal. Beberapa radio komunitas telah mencoba juga melakukan produksi yang diambil dari contoh program, baik radio internasional maupun nasional, namun mereka kemudian melakukan pengemasan kembali yang berbasis sangat lokal.

keberimbangan jenis kelamin relawan menjadi faktor utama. Dalam penelitian itu menunjukan relawan perempuan yang lebih tua yang memiliki banyak waktu untuk k e g i a t a n , c e n d e r u n g l e b i h s u k s e s. Kesuksesan itulah yang mendorong beberapa radio komunitas di Afrika Selatan mulai 'menggaji' relawannya, walaupun hanya terbatas pada pengganti biaya perjalanan. Meskipun banyak tantangan terkait dengan keberlangsungan, keberadaan radio komunitas diibaratkan seperti tulisan hiasan sebagai bukti nyata dari media publik alternatif. Dengan semakin bertambahnya kepemilikan konglomerasi media massa, keberadaan radio komunitas menjadi sebuah entitas penting dalam masyarakat. Radio telah terbukti dan teruji lebih dari 50 tahun memberikan banyak kontribusi dalam perkembangan dan partisipasi komunikasi warga. Radio adalah media yang sangat potensial sebagai media partisipasi, dan akar dari kebaradaan radio adalah komunitas yang menjamin proses komunikasi.

mereka “dibajak” oleh beberapa organisasi atau stasiun radio komersial

Selain program yang harus diperhatikan, penataan lainnya adalah survei pendengar. Servei pendengar memiliki hubungan yang kuat dengan pengembangan program. Banyak pegiat radio komunitas yang memandang survei pendengar membutuhkan banyak biaya. Pendengar adalah segalanya. Radio komunitas tidak akan bertahan jika pendengarnya tidak lagi memiliki perasaan memiliki. Radio komunitas memerlukan pemetaan komunitas dan membuat survei pendengar yang mengeluarkan biaya sedikit, temu fans club, misalnya. Tindakan itu dilakukan untuk memberi masukan bagi pegiat untuk membuat program yang tepat.

Hal terakhir untuk menjaga kelangsungan radio komunitas adalah terkait dengan relawan dan partisipasi komunitas. Di Afrika Selatan, relawan dilihat sebagai sosok yang tidak dibayar atau tidak memiliki skill dan setelah menerima pelatihan di radio komunitas, mereka “dibajak” oleh beberapa organisasi atau stasiun radio komersial, di mana mereka bisa mendapatkan gaji. Penelitian yang telah dilakukan oleh Le m b a g a R a d i o 2 T E N d i Au s t r a l i a menunjukkan bahwa keberhasilan pendanaan yang diperoleh radio tidak hanya disokong oleh faktor banyaknya komunitas, namun sosok-sosok relawan juga menjadi penentu. Umur dan

Keberlangsungan pendanaan bagi radio komunitas adalah sebuah hal yang mungkin bisa dilakukan. Namun, sekali lagi, yang paling hak ik i atau mendasar dalam radio komunitas adalah keterlibatan komunitas radio komunitas itu sendiri. Jika kemudian kita melihat permasalah keberlangsungan t i d a k h a ny a p a d a s i s i p e m a s u k a n pendanaan, pasti kita bisa juga melihat keterlibatan komunitas dan kepemilikan kolektif menjadi modal sekaligus garansi keberlangsungan, paling tidak untuk peralatannya. Pada akhirnya, sejarah menunjukan radio komunitas tidak dapat “menggantungk an hidup”-nya pada kucuran dana dari lembaga donor atau LSM. Radio komunitas harus percaya diri, kepemilikan dan investasi komunitas menjadi kekuatan radio komunitas yang pada akhirnya akan mendukung keberlangsungannya.

* Trainer UNESCO Community Radio Afrika Selatan dan dosen Pusat Studi Media dan Film, Universitas Cape Town, Afrika Selatan.


10 utama

Petani Pun Punya Radio

Oleh Saiful Bakhtiar

Mengamati keberlangsungan radio komunitas memang sangat unik dan beragam. Jika Radio Panutan FM di Kalimantan Timur bertahan melalui kartu keanggotaan, lain halnya dengan para pegiat Radio Komunitas Baina FM di Babakan Mulya, Kuningan, Cirebon. Awalnya, Baina FM secara tegas menyatakan bahwa para pegiat di radionya berstatus relawan alias tidak memperoleh gaji. Setelah melalui proses rekrutmen, ada 30 relawan yang terdaftar dan mengawali perjalanan Baina FM. Selain relawan yang sudah dibentuk, mereka kemudian menjaring dukungan dari warga, dan setidaknya sekitar 500 warga menyatakan dukungannya dengan membubuhkan tanda tangan. Tidak berhenti pada tanda tangan, warga pun menyumbang tiang antena, kabel, meja siaran, tali pancang, dan ada juga yang berupa uang. Antusiame warga terhadap kehadiran Baina FM sangat nampak saat warga dari empat dusun di Babakan Mulya menyaksikan langsung pendirian tower. Libatkan kegiatan komunitas Wilayah Babakan Mulya yang berada di lereng Gunung Cermai sangat menonjol di bidang pertanian. Tidak heran jika Radio Komunitas Baina FM tanpa ragu membuat id station-nya “Radiona Petani, Milik Urang Sararea� (Radio Petani, Milik Kita Bersama).

Masduki (38), pengelola program Baina FM, menuturkan bahwa mereka ingin mengubah citra kaum tani. “Melalui radio komunitas, kami ingin mengangkat keterpurukan petani yang identik dengan kemiskinan dan kebodohan,� tutur sosok yang lebih tenar di udara dengan panggilan Sawor itu. Untuk memancing partisipasi warga,

Baina FM sungguh jeli mendeteksi potensi komunitasnya. Para pengelola pun membuat program yang sesuai dengan kegiatan keseharian masyarakat. Di antaranya, siaran langsung pengajian anak yang dipandu seorang ustadz, sholawatan dari kelompok ibu majelis taklim, dan rebana yang disiarkan setiap Kamis. Penjadwalan itu dibuat secara b e r g i l i r, s e h i n g g a s e t i a p d u s u n

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 24 | April 2008


11

mendapatkan kesempatan yang sama. Dengan menjaring kegiatan warga, Baina FM bisa lebih dekat dengan komunitasnya.

penerbit nasional untuk bekerja sama d e n g a n B a i n a F M g u n a menyelenggarakan kegiatan seputar ternak belut yang berskala nasional.

Tidak hanya petani dan warga Babakan Mulya yang mendapat dampak positif akan kehadiran radio komunitas Baina FM, para pengusaha salon di wilayah kecamatan lain, seperti Kecamatan Kramat Mulya pun turut berbagi ilmu secara on-air di Biana FM. Langkah itu langsung mendapat respons sekaligus stimulus bagi pengusaha lainnya untuk ikut ngobrol di studio radio komunitas.

Kunci keberlangsungan Baina FM juga terletak pada kreativitas yang dilakukan oleh para pengelolanya. Saat ini, mereka juga menjalin kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan dalam bentuk penayangan ILM “Katarak”,dengan kontrak selama satu tahun. Meskipun, para pengelola mengakui jika dihitung secara nominal pemasukannya relatif kecil. Namun itu membuktikan adanya kepercayaan dari dinas kesehatan untuk menunjuk radio komunitas sebagai media sosialisasi.

Kreatif mencari dana Penataan program sekaligus administrasi jelas sangat terlihat rapi di Radio Komunitas Baina FM. Mereka mencatat setiap interaksi dalam program siaran.“Ini langkah keseriusan kami untuk melangkah lebih baik ke depan,” tutur Ketua BPPK Baina FM Sunardi (40) alias Kang Boim. Berbagai upaya untuk menjadikan Radio Komunitas Baina FM sebagai pusat informasi bagi kaum tani di wilayah Babakan Mulya pun ditempuh. Salah satunya adalah pendirian koperasi yang dibentuk dua bulan setelah radio berdiri. Bermodal Rp 10 juta, dana itu dikelola dalam bentuk simpan-pinjam bagi para petani. Koperasi itu disokong oleh warga, petani, pendengar, bahkan sampai penyiarnya. Dengan iuran wajib sebesar Rp 10.000 dan iuran bulanan sebesar Rp 1.000, koperasi itu menjadi ruh bagi keberlangsungan Baina FM. Ruspendi (38), salah seorang juru dana, mengatakan bahwa selama satu tahun semenjak berdirinya Baina FM, kini telah terkumpul dana Rp 25 juta yang dikelola dalam bentuk barang maupun dana simpanpinjam. Lebih lanjut, sosok, yang aktif di PPK Kecamatan Babakan Mulya dan punya nama siaran Kang Kabayan Sabarakom, itu mengatakan mereka ingin mengembangkan unit usaha lain, yaitu pembuatan warung kopi. Di samping koperasi, warung kopi, dan berbagai unit usaha serta kreativitas onair, Baina FM kini juga dituntut untuk menjadi pengelola program off-air. Keberhasilan membuat talkshow “Cara Beternak Belut” telah menarik sebuah

Berbagai kegiatan untuk menunjang keberlangsungan terus digagas dan dilakukan. Seperti yang dituturkan Ruspendi, bahwa dalam waktu dekat akan dibuat perkumpulan para pendengar “Baina Fans Club”. Wadah itu dibuat untuk mempererat komunikasi antarwarga dan pengelola, sekaligus sarana untuk membicarakan setiap kegiatan. Juga, yang paling penting guna membahas strategi-strategi untuk menjamin keberlangsungan Radio Komunitas Baina FM.

Jalan masih panjang Tanpa terasa, perjalanan Baina FM telah melewati masa satu tahun pada tanggal 21 Februari lalu. Hajatan yang terbilang mewah guna menandai eksistensi radio komunitas selama itu pun diselenggarakan. Dukungan dari warga sangatlah terasa. Bahkan, salah seorang pendengar merelakan satu kolam ikannya 'dibobol', dijadikan pesta ikan. Namun, dibalik dukungan penuh dari warga, Baina FM juga menghadapi kendala. Sunardi mengungk apk an bahwa Baina FM masih sangat membutuhkan tenaga ahli. Dia berharap ada pelatihan yang mampu meningkatkan kemampuan teknis personelnya. Kendala lainnya adalah kesulitan mencari sumber informasi untuk petani. Pe t a n i m e m b u t u h k a n

informasi yang sesuai dengan persoalan mereka, misalnya setelah panen, mereka butuh info mengenai harga pasar, pupuk, obat-obatan, termasuk berita inovasi pertanian. Hal itulah yang belum seluruhnya bisa dilayani oleh Baina FM. Selama ini, sajian informasi pertaniannya berasal dari majalah atau koran bekas yang ada di balai desa. Terkadang, Baina FM mengundang narasumber dari dinas pertanian atau pakar peternak dari luar daerah yang berhasil. Dengan cara itu, mereka berharap ada info baru untuk petani sehingga susah yang dirasakan kaum petani tidak berlanjut. Database informasi pertanian diharapkan menjadi jawaban untuk meningkatkan pengetahuan petani yang berujung pada perbaikan tingkat kehidupan mereka. Radio yang mulai mengudara pada pukul 15.00 itu akan terus berproses. Kang Boim menuturkan selain untuk misi sosial, Baina FM juga berusaha membuat unit-unit usaha radio komunitas yang dapat bermanfaat untuk pegiat rakomnya sendiri. Semoga.***


12 utama

Radio Komunitas di Sragen

Bernafas dari Iklan Lokal, Bersaing di Acara Hajatan Oleh Biduk Rokhmani

Di Sragen, terdapat lebih dari 300 radio yang setiap hari mengudara dan memperebutkan frekuensi. Dari ke-300 radio itu hampir 90 persennya merupakan radio ilegal, meskipun ada sekitar 40 di antaranya yang saat ini tengah berproses menjadi radio komunitas. Tidak terlalu jelas kapan pastinya kali pertama radio-radio ilegal itu mengudara. Dari beberapa keterangan yang saya peroleh, maraknya kemunculan radio ilegal di wilayah Sragen itu, awalnya, k arena adanya permintaan dari orang-orang yang punya hajat yang ingin acaranya dapat disiarkan ke seluruh penjuru desa. Ah ya, tentu saja, akan ada kebanggaan tersendiri bagi si empunya hajat jika acara hajatannya dikenal luas seluruh penduduk kampung, walaupun masih dengan sarana yang cukup sederhana, yakni menggunakan sound system yang diputar keras-keras. Maka, lantas, marak orang membuka usaha penyewaan sound system guna mengakomodasi kebutuhan orang-orang yang menyelenggarakan hajatan. Karena para pengelola penyewaan sound system itu butuh diakui keberadaannya, maka mereka pun perlu “mengumumkan” eksistensi usaha yang mereka geluti supaya tetap dikenal dan tidak mudah dilupakan orang. Dari sanalah, para

pengusaha penyewaan sound system itu mulai mengutak-atik frekuensi radio dan mengudara, sekadar bereksistensi agar usahanya tetap dikenal orang. Tentu saja, frekuensi yang ditempati pun asal-asalan. Maksudnya, asal ada frekuensi kosong maka di sanalah mereka mengudara. Acara yang diampu pun juga seadanya, sekadar memutar lagu-lagu, minim berita atau informasi. Hal itu, tentu akan terjadi persaingan yang tidak sehat, gencet-menggencet gelombang dan saling memperebutkan frekuensi. “Mereka, para pengusaha penyewaan sound system itu, tidak berani turun alias tidak bersiaran sehari pun, soalnya mereka takut kalau tidak mengudara bakalan ditempati orang lain. Jadi, setiap hari, ada tanggapan atau tidak mereka tetap saja mengudara karena takut frekuensinya dipakai orang lain,” terang Hariyanto, pengelola Radio Radiks FM yang terletak di Kompleks Wisma Talang Asri, Desa Kedawung, Kecamatan Kedawung, Sragen, salah satu radio ilegal yang kini tengah

berproses menjadi radio komunitas. Hingga saat ini, menurut Hariyanto, telah ada sekitar 300-an radio yang “menjajah” gelombang frekuensi di wilayah Sragen. “Di setiap desa, ada lebih dari satu radio ilegal yang mengudara, bisa ada dua hingga lima radio di satu desa, dan di masing-masing desa ada radio seperti itu,” ujar Hariyanto, yang lebih dikenal dengan nama udara Wahyu ketika bersiaran. Bayangkan saja, dengan jumlah desa dan kelurahan sekitar 2081 di Sragen, jika masingmasing desa atau kelurahan terdapat dua saja radio semacam itu, bagaimana dengan penyediaan gelombang frekuensi yang terbatas itu?

Menjadi radio komunitas Kondisi itu ternyata menimbulkan kegelisahan pada diri beberapa pengelola radio ilegal. Lantas, beberapa bulan lalu,

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 24 | April 2008


13 beberapa orang di antaranya berkumpul dan bersepakat mengubah radio yang dulunya ilegal menjadi radio komunitas yang secara regulasi lebih aman dalam beroperasi. “Dulu, kami juga beroperasi seperti mereka (radio-radio ilegal, red) dan mengandalkan acara hajatan untuk bisa hidup. Namun, sekarang, setelah tahu tentang radio komunitas dan ketentuan-ketentuannya, kami tengah berusaha mengarah ke sana. Kami mulai membatasi menerima menyiarkan acara hajatan, tapi lebih mengakomodasi usaha-usaha lokal yang dikelola warga di sekitar studio radio. Juga, menambah siaran berita, selain hiburan tetap menempati persentase utama,” jelas Didik Prihantoro, pengelola sekaligus pemilik Karimaya FM. Saat ini, Karimaya yang terletak di Perum Puro Asri A2 No 8, Karangmalang, Sragen itu tengah berproses melakukan merger dengan Radio Fresh FM. Didik bersama Andi Susan Setiawan, pengelola Fresh FM, berpikir merger adalah solusi terbaik bagi mereka karena secara geografis kedua radio itu terletak pada radius yang relatif berdekatan. Realisasi merger itu dapat dilihat dari perubahan nama kedua radio itu menjadi Radio Zora FM yang berarti 'zona informasi dan budaya'. Para penyiar lama dari kedua radio pun bersiaran secara bergantian di Zora FM. Lain Zora, lain pula dengan Radio Mewah FM yang studionya berada di rumah Suroto

Warsito di Sumengto RT 01 R W XII, Karangtengah. Suroto yang mengelola radio “Mepet Sawah” bersama istrinya, Sutarni itu mendirikannya sejak Oktober 2005. “Awalnya, karena kami hanya tinggal berdua di rumah maka kami membuat radio sederhana ini untuk mengisi sepi. Lama-kelamaan banyak tetangga yang ternyata jadi pendengar setia, jadilah kami bertahan mengelolanya sampai sekarang,” kata Sutarni, yang juga bekerja sebagai staf di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sragen itu.

Iklan lokal Ketatnya persaingan dalam bereksistensi antara radio ilegal dan “radio komunitas” menjadikan radio-radio yang tengah berproses menjadi radio komunitas itu mulai gencar melakukan aksi “merapat” kepada komunitasnya. Pendekatan pun dilakukan pada para pelaku dan pemilik usaha-usaha kecil yang bertebaran di seputar studio radio berada, bukan sebagai objek usaha melainkan diposisikan menjadi mitra, yakni dengan cara menginformasikan usaha-usaha yang mereka geluti melalui iklan di radio. “Sebenarnya, kami tidak pernah menawarkan kepada mereka untuk beriklan di Radiks, tapi justru mereka yang datang sendiri kepada kami, minta dibuatkan iklan. Bahkan materi dan pengisi suaranya merek a juga

menyerahkan pada kami. Sekarang ini, iklan yang ditayangkan di Radiks berupa usaha kecil yang dikelola warga di sekitar sini, ada usaha bengkel las, warung mie ayam, juga toko kelontong, dan lain-lain,” ungkap Hariyanto. Saat ini, sudah ada 10 pengiklan yang memasang iklan mereka di radio yang berdiri pada 21 Mei 2005 itu. Sebagai imbalan atas j a s a ny a , p a r a p e n g e l o l a R a d i k s F M menentukan tarif Rp 50 ribu sebagai ganti rekaman (produksi awal). Lantas, setiap bulannya, para pengiklan juga dikenai iuran Rp 50 ribu dengan kompensasi iklan akan ditayangkan di Radiks FM 8-10 kali setiap hari. Pendapatan iklan itu, menurut Hariyanto, dimanfaatkan guna membiayai operasional radio, seperti pajak listrik. Juga, ada honor cuma-cuma untuk para penyiar yang berjumlah sekitar 10 orang, per orang rata-rata menerima Rp 50 ribu sebagai ganti uang transport. Hal yang sama juga terjadi di Radio Mewah FM dan Zora FM. Itulah salah satu trik yang bisa digarap oleh para pengelola radio yang? kecuali Radiks? rata-rata masih memakai peralatan yang relatif cukup sederhana itu agar tetap bisa bertahan hidup. Ya, mereka memang belum sepenuhnya menerapkan aturan-aturan yang ditentukan untuk radio komunitas, tapi toh mereka tengah berusaha menuju ke sana.***


14 utama

Lebih Dekat ke Komunitas,

Radio Pun Tak Kesulitan Dana Oleh Basri Andang

Banyak cara pengelola radio komunitas menggalang dana agar radio tetap on-air. Di Sulawesi Selatan, misalnya, banyak cerita sukses pengelola radio mengembangkan usahausaha yang 'dihalalkan' untuk membantu daya hidup radio mengingat peraturan telah 'mengharamkan' radio komunitas mencari uang, termasuk beriklan niaga. Hal itu pun memicu kreativitas para pengelola radio untuk terus berusaha mencari dana agar radio tetap on-air dan dapat melayani kebutuhan informasi komunitasnya. Beberapa cara penggalangan dana dan kiat radio komunitas menanggulangi biaya operasional, meliputi pembuatan kartu pendengar, pendaftaran pendengar dengan registrasi SMS, membangun kerja sama dengan pihak pemerintah desa atau kabupaten, hingga membangun kincir air agar bisa keluar dari beban pembayaran listrik setiap bulannya.

Studio permanen dari kartu pendengar Cara penggalangan dana yang paling banyak dipakai pengelola radio adalah pembuatan k ar tu pilihan pendengar atau atensi pendengar. Harga kartu pendengar pun bervariasi di masing-masing radio. Setiap radio berhak menetapkan harga?yang berbedabeda mulai dari Rp 350-1.000 per lembar untuk sekali baca. Dalam penggalangan dana melalui kartu pilihan pendengar, Radio Komunitas Iga FM yang terletak di Desa Lalabata, Kabupaten Barru, sejak berdiri pada 26 Juni 1999 lalu, radio itu mendapat pemasukan yang cukup besar dari hasil penjualan kartu pilihan pendengar. Iga FM cukup berhasil mengembangkan kartu pilihan pendengar selama tujuh tahun hingga mampu mendirikan studio permanen dari hasil penjualan kartu pilihan pendengar dengan pemasukan mencapai Rp 1 juta per bulan. Studio yang dulunya hanya gubuk berdinding bambu langsung tersulap menjadi studio permanen sejak tahun 2006. Selain itu, pengelola Radio Iga FM juga mengembangkan registrasi SMS sebanyak 200 orang pendengarnya dengan tarif Rp 10.000 per bulan. Juga, membangun kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Barru untuk Iklan Layanan Masyarakat (ILM) selama satu tahun dengan kesepakatan pembayaran Rp 100.000 per bulan. Menurut Kepala Studio Iga FM Aliel, registrasi SMS dilakukan untuk mengakomodasi pendengar yang mau memberikan atensi, sekaligus menunjukkan kepada masyarakat awam kalau radio komunitas tidak kampungan dengan teknologi informasi komunikasi yang sedang berkembang. “Ternyata lumayan juga peminatnya. Sekarang sudah mencapai 200 orang. Tapi kami tidak

tinggalkan kartu pilihan pendengar dan jumlahnya masih lebih banyak,'' katanya.

Kreativitas Teras Radio Komunitas Teras FM juga memiliki cerita sukses menggalang dana. Radio yang berlokasi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Manggala, Kota Makassar itu ternyata memiliki pengelola yang cukup kreatif mengembangkan usaha-usaha untuk mempertahankan daya hidupnya. Sebut saja, penjualan kartu atensi harian seharga Rp 1.000 per lembar sekali baca, pendaftaran atensi bulanan dengan kontribusi sebesar Rp 10.000 per bulan, kontribusi komunitas terhadap radio untuk 100 orang sebesar Rp 1.000 per bulan, membuat program mingguan Kelera (Kenalan Lewat Radio) dengan pembayaran Rp 1.000 setiap minggu, program kerja sama talk show, pembuatan spot bagi usaha-usaha komunitas Rp 10.000 per bulan, dan pendaftaran keanggotaan komunitas yang dikenakan pembayaran Rp 5.000 selama 6 bulan, serta tidak ketinggalan kerja sama ILM dengan berbagai pihak tanpa tarif yang baku. Dengan cara penggalangan dana seperti itu, kini, pengelola Teras FM sudah tidak lagi pusing memikirkan biaya operasional, terutama biaya pembayaran listrik setiap bulan. Bahkan, sejak dikembangkan modelmodel tersebut selama dua tahun terakhir, Radio Teras FM sudah mampu membayar listriknya sendiri, dan tidak lagi menggantungkan pembayaran listrik kepada Yayasan Pabbata Ummi sebagai lembaga pemrakarsa berdirinya rakom itu. Paling tidak, Teras FM sudah dapat membayar sendiri pemakaian listriknya sebesar Rp 200 ribu per bulan. “Yah, paling tidak, kita tidak lagi pusing memikirkan biaya listrik yang selama ini menjadi masalah hampir setiap radio. Itu pun sudah mampu memberikan insentif kepada pengelola lainnya,'' kata Ketua Umum BPPK Teras FM Bakti Gadingka.

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 24 | April 2008


Menurut Bakti, semua kiat penggalangan dana yang dilakukan Teras FM tidak lepas dari strategi memperkuat kepemilikan komunitas dengan radio sehingga hampir semua model yang dikembangkan selalu memberikan kontribusi balik bagi komunitas. Misalnya, kalau mereka memanfaatkan program mingguan Kelera dengan membayar Rp 1.000 per orang maka diberikan waktu selama dua jam untuk tampil wawancara dan kenalan dengan anggota komunitas lainnya di studio. Begitu juga kalau mendaftar sebagai anggota komunitas dengan membayar Rp 5.000 yang berlaku selama lima bulan, maka mereka akan terus disapa pada acara yang dipilih. Belum lagi, spot usaha komunitas dengan memakai suara pimpinan usaha dengan konsepnya sendiri yang kemudian diproduksi oleh bagian produksi. “Jadi bukan suara penyiar atau pengelola radio. Kita memberikan kesempatan bagi komunitas untuk memromosikan usahanya dengan caranya sendiri,'' terangnya.

Kincir air Sando Batu Berbeda lagi dengan Radio Swara Sando Batu FM yang terbilang masih sangat muda yang praktis belum ada pengalaman soal penggalangan dana. Kecuali, hanya sedikit kiat masyarakat membantu pembangunan kincir untuk pasokan listrik bagi radio. Radio masyarakat adat itu baru mulai beroperasi pada tanggal 9 Maret 2008 lalu. Proses inisiasi pendiriannya dilakukan sejak tahun 2006 melalui musyawarah kampung oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Selatan, yang merekomendasikan perlunya sistem informasi dan komunikasi masyarakat adat Sando Batu. Realisasinya, lantas diawali dengan

pertemuan komunitas sebagai persiapan sosial dan membangun kelembagaan radio. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembuatan pesawat dan pembangunan kincir sebagai sumber listriknya. Guna mengemban visi sebagai sarana informasi dan komunikasi bagi masyarakat adat Sando Batu, maka radio itu dilengkapi RIG. Mengingat lokasinya sangat jauh dari pusat Kota Sidrap, dan minim sarana transportasi, serta sulit dijangkau karena berada di deretan pegunungan Latimojong?ditambah lagi belum adanya fasilitas listrik dari PLN? mak in memperkuat alasan ketidaklayakan mendirikan radio di desa itu. Desa Leppangeng memang termasuk kategori desa miskin dan sangat tertinggal di wilayah Kabupaten Sidrap. Namun, hal itu tidak mematahkan motivasi masyarakat adat Sando Batu di Desa Leppangeng untuk mendirikan radio komunitas. Medan yang berat dengan kondisi jalan berupa jalan tanah dan berbukitbukit serta tidak ada listrik, bukan menjadi penghalang. Peralatan radio dan komputer yang rawan kerusakan tidak diangkut pakai motor akan tetapi diangkut dengan jalan kaki sejauh 20 km demi menghindari kerusakan. Sementara, ketidak tersediaan listrik disiasati dengan membangun kincir air berkapasitas 3.000 watt. Aliran listrik dari kincir inilah yang kemudian dipakai mengoperasikan radio dan komputer serta dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar studio. “Pokoknya, bagaimanapun caranya radio harus beroperasi di Desa Leppangeng,'' begitu tekad Kepala Desa Leppangeng Anci. Dalam hal penggalangan dana untuk mendukung

15


16 berbagi keberlanjutan hidupnya, radio yang berada di wilayah adat Sando Batu, Desa Leppangeng, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidrap itu mempunyai cerita tersendiri dalam menanggulangi kekurangan dana pembuatan kincir. Keswadayaan komunitas juga terlihat ketika dana pembangunan kincir yang tersedia dari Pemkab Sidrap hanya Rp 6,1 juta dan ternyata itu tidak cukup untuk merampungkan sebuah kincir. Pasalnya, hampir semua dana pembangunan kincir hanya bisa dipakai membeli kabel sekitar Rp 4 juta dan dinamo sebesar Rp 1 juta. Membengkaknya biaya kabel karena disebabkan jarak kincir dengan studio yang terlalu jauh, mencapai 1,5 km. Sementara, bangunan bak air, saluran air dari sungai ke bak, pipa, kincir, dan gardunya semua belum tersedia. Jika dihitung, jumlah totalnya masih membutuhkan dana sekitar Rp 4 juta. Hal itu kemudian dibahas dalam pertemuan komunitas, pemuka adat, aparat pemdes, BPD, LKMD, serta masyarakat, dan berhasil menyepakati untuk 'menswadayakan' kekurangan pembangunan kincir. Lantas, ada yang menyumbang semen, seng, dana, dan tidak kalah pentingnya tenaga kerja.

Alasannya sederhana saja, kincir harus segera selesai karena tanpa kincir maka radio tidak bisa beroperasi dan masyarakat tidak bisa menikmati penerangan. “Tidak ada masalah kita berswadaya guna menutup kekurangannya untuk kepentingan bersama dan hanya satu kali kita membayar, setelah itu kita tidak repot-repot lagi membayar listrik tiap bulan,'' kata Ketua LKMD Desa Leppangeng Syamsuddin. Sekarang, masyarakat yang berdomisili di Dusun Wala-Wala, Desa Leppangeng sudah menikmati listrik dan bercuap-cuap di udara melalui Radio Swara Sando Batu. Dengan mengudaranya Radio Swara Sando Batu FM (RSSB) pada tanggal 09 Maret 2008 di gelombang 107,7 MHz dengan motto Saddanna Sando Batu Lako Tau Buda' yang berarti “suara Sando Batu untuk semua orang” makin memperkuat gerakan masyarakat adat dan radio komunitas. Dari segi keberlanjutan radio, pengelola RSSB FM agak enteng karena tidak membayar listrik setiap bulan. Tidak seperti radio lain yang memakai listrik PLN yang harus mengeluarkan kocek ratusan ribu setiap bulannya. Mungkin saja di seluruh Indonesia, Radio Swara Sando Batu itu satu-satunya radio komunitas yang memakai listrik dari kincir air.***

Mari Bertahan Radio Komunitas Oleh Saiful Bakhtiar

“Undang-undang Penyiaran dan Peraturan Pemerintah No 51/2005 menyebutkan sumber pembiayaan radio komunitas berasal dari (1) sumbangan; (2) hibah; (3) sponsor; dan (4) usaha lain yang tidak mengikat”. Sebelum banyak berbicara tentang bagaimana menjaga keberlangsungan radio komunitas, berikut beberapa indikator “radio komunitas yang sehat”. Indikator itu akan menjadi alat evaluasi bagi pengelola radio komunitas untuk mampu mengatakan bahwa radio komunitas yang Anda kelola adalah media yang efektif. 1. Misi yang jelas yang berisikan informasi program, harga penawaran iklan, dan disertai penataan administrasi 2. Data pendengar yang jelas dan kegiatan yang sedang dilakukan bersama pendengar radio komunitas Anda 3. Pembuatan program yang sangat lokal juga lagu-lagu yang diputar 4. Kepemimpinan pengelola radio komunitas yang kuat dan objektif 5. Proses evaluasi yang terus-menerus dilakukan, baik pada program, manajemen, dan pelayanan pada komunitas 6. Hubungan yang selalu terbuka pada siapa pun baik di dalam radio komunitas sendiri (staf dan relawan) maupun pihak lain (LSM atau pemerintah) terlebih pada pendengar yang bisa memberikan masukan untuk peningkatan kreativitas program 7. Pendanaan yang tidak tergantung pada lembaga atau pihak mana pun. 8. Penulisan peraturan yang jelas yang dipakai untuk staf maupun relawan.

Jika Anda sudah melihat semua indikator berada di radio komunitas Anda, berbanggalah, berarti radio komunitas Anda masuk dalam kategori radio yang sehat. Namun sebaliknya, segeralah berbenah jika Anda tidak menemukan indikator tersebut di radio komunitas yang Anda kelola. Langkah selanjutnya, bersiaplah untuk membuat terobosan baru atau memoles program yang sudah ada untuk mendapatkan sumber-sumber pemasukan radio komunitas Anda. Semoga langkah-langkah berikut bisa meningkatkan pemasukan radio komunitas Anda. Ingat, dengan syarat radio komunitas Anda harus sehat. 1.

2.

3.

Buat kegiatan-kegiatan yang melibatkan komunitas Anda Pendanaan dapat ditingkatkan dengan melibatkan komunitas pendengar Anda dalam acara-acara khusus contohnya lomba karaoke. Buat merchandise Barang-barang seperti kaos, topi, stiker, tas, atau pernakpernik lain yang tidak mahal untuk diproduksi, tetapi itu bisa menjadi alat promosi yang efektif. Bekerja sama dengan LSM dan pemerintah Dibutuhkan kreativitas dan kejelian dalam menangkap peluang kerja sama dengan LSM atau pun pihak pemerintahan. Pengelola radio komunitas selalu melakukan up-date informasi baik pemerintah atau jaringan LSM terkait dengan program yang akan dijalankan.

Keberlangsungan radio komunitas sangatlah mungkin. Semoga Anda bisa melihat peluang dan secara kreatif membangunkan kekuatan radio komunitas Anda demi keberlangsungan dan peningkatan kualitas program.

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 24 | April 2008


17 Menembus Keterbatasan:

Teknologi Informasi untuk Difabel

Oleh Ambar Sari Dewi

Namanya Eko Ramaditya Adikara. Laki-laki berusia 27 tahun itu memiliki profesi yang unik, seorang game music composer dan bekerja sebagai salah seorang music composer di perusahaan game Nintendo Jepang. Rama, panggilan akrabnya, membuat backsound sebuah video game.

Untuk

membuatnya, ia menggunak an flute dan beberapa perangkat lunak yang bisa mengubah suara flute menjadi musik digital. Sedangkan untuk berkomunikasi dengan Nintendo di Jepang, Rama memanfaatkan internet sebagai media komunikasinya. Ia juga mengelola blog yang cukup aktif dan interaktif. Jika sempat, mampirlah ke www.ramaditya.com, Anda akan disuguhi berbagai cerita dan beberapa hasil karya Rama. Tak bisa dipercaya, weblog itu dikelola oleh seorang tuna netra. Ya, Rama adalah seorang tuna netra. Aktivitas Rama dengan internet atau perangkat teknologi informasi dan

komunikasi lainnya dimungkinkan berkat bantuan beberapa aplikasi komputer. Rama menggunakan perangkat lunak JAWS untuk mengedit musik yang ia buat atau mengetik laporan jurnalistiknya. JAWS adalah perangkat pengubah teks di komputer menjadi suara. Sedangkan untuk membantunya berkomunikasi melalui telepon seluler, Rama menggunakan aplikasi TALK. Menderita gangguan penglihatan, pendengaran, atau kehilangan kemampuan berjalan tidak menghalangi Rama dan banyak penyandang difabel lain untuk berkarya. Berkat kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), mereka mampu mengoperasikan komputer, menggunakan ponsel, bahkan

menjadi seorang web master. Berbagai inovasi teknologi terus diciptakan untuk membantu mereka menggunakan perangkat teknologi tersebut. Kondisi fisik merek a buk anlah halangan untuk berkreasi, bahkan tak jarang mereka justru lebih kreatif. Rama hanyalah salah satu contoh difabel yang memanfaatkan TIK untuk berkreasi. Dari penelusuran saya, saya menemukan beberapa difabel yang menggunakan TIK dalam kehidupan sehari-hari, bahkan menjadikannya sebagai profesi. Salah satunya adalah Paulus Ganesha. Developer J2EE di PT Sigma Karya Sempurna (balicamp) ini adalah seorang tuna rungu. Namun kecintaannya pada


18 ekonomi rakyat

dunia pemrograman berbasis desktop dan web tidak dihalangi oleh keterbatasannya itu. Hal itu tercermin dari b e r b a g a i t u l i s a n n y a d i http://paganekoso.wordpress.com. Sayangnya, Paulus tidak meng-update blognya secara rutin. Difabel lain yang cukup produktif meng-update blognya adalah Cak Fu alias Bahrul Fuad (http://cakfu.info). Pria kelahiran Surabaya itu adalah seorang tuna daksa. Panas tinggi yang dialaminya ketika ia masih kecil menyebabkan kedua kakinya lemah dan tidak bisa digunakan untuk berjalan. Namun demikian, Cak Fu tidak mudah putus asa. Buktinya, ia berhasil melengkapi pendidikannya hingga S2. Melalui blog-nya, Cak Fu menyuarakan pemikirannya terkait dengan keadaan difabel di Indonesia. Cak Fu mencoba untuk berbagi gagasan guna membangun kesetaraan. Jika Cak Fu mencurahkan gagasan mengenai difabel berdasarkan pengalamannya sebagai Koordinator Center on Difabel Community Development and Empowerment, lain lagi dengan Haris. Difabel asal Nganjuk itu berbagi pengalamannya mencari uang lewat internet. Berbagai situs atau lowongan kerja berbasis w e b i a t a m p i l k a n d i b l o g n y a http://alhakim.wordpress.com.Tak cuma lowongan kerja, hobinya ngoprek peralatan elektronika ia tuangkan dalam blog itu.

Teknologi yang aksesibel Era teknologi informasi dan komunikasi, saat ini, turut berperan menggeser paradigma kecacatan.

Perkembangan teknologi yang begitu pesat, khususnya teknologi informasi, membuat pola kehidupan masyarakat juga semakin dinamis. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat itu, maka kata kuncinya adalah bagaimana menciptakan teknologi yang aksesibel bagi seluruh anggota masyarakat termasuk di dalamnya para difabel (Cak Fu, http://cakfu.info/?p=47). Bahkan, tema Hari Penyandang Cacat Sedunia tahun 2006 yang dicanangkan oleh PBB adalah e-accessibility. Harapannya, teknologi yang dapat diakses semua kalangan akan memberikan kesempatan yang lebih besar pada para difabel dalam memainkan perannya di masyarakat. Teknologi yang aksesibel adalah bentuk perwujudan hak asasi manusia. Berbagai upaya untuk menciptakan teknologi yang aksesibel terus dilakukan oleh semua pihak. Dalam bidang TIK, berbagai perangkat lunak yang dapat membantu para difabel untuk mengakses informasi telah dikembangkan dan dipakai oleh jutaan difabel di seluruh dunia. Perangkat lunak JAWS seperti yang digunakan oleh Rama dan para penyandang tuna netra lainnya hanyalah salah satu contoh. Program aplikasi antarmuka untuk mengakses informasi berbasis web, juga telah dikembangkan oleh IBM. Aplikasi ini bernama IBM Web Adaptation Technology, sebuah piranti lunak yang secara dinamis mengadaptasikan halaman web sesuai dengan kebutuhan mereka yang memiliki keterbatasan pandangan, motorik, dan tulis-menulis. Selain inovasi yang dikembangkan oleh vendor

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 24 | April 2008


19 terkemuka seperti IBM, di Belanda telah dikembangkan sebuah perangkat lunak untuk mereka yang memiliki gangguan pada sistem otot, yang tidak mampu m e n g g e r a k k a n t u b u h n y a (http://www.perl.com/pub/a/2003/08/28/pvoice.html). Aplikasi itu dikembangkan oleh seorang bapak yang memiliki putri dengan gangguan tersebut. Berawal dari kebutuhan agar Krista, anaknya, mampu berkomunikasi dengan dunia luar, Jouke Visser mengembangkan aplikasi berbasis pearl bernama pVoice. Dengan aplikasi tersebut, Krista dapat menggunakan komputer tanpa harus memegang mouse atau mengetik kata dari keyboard. Ia hanya perlu menggerakkan kepalanya dan aplikasi itu akan menampilkan berbagai macam simbol yang mewakili kategori-kategori kata. Aplikasi itu menjadikan Krista dapat belajar menambah perbendaharaan kosa kata. pVoice kini telah dijadikan sebagai salah satu proyek Open Source dan terusmenerus dimodifikasi oleh komunitas itu. Membuat teknologi informasi yang aksesibel bagi para difabel, bukan hanya persoalan pemenuhan hak asasi manusia semata. Hal ini juga membawa makna yang baik bagi industri dan bisnis. Sebuah studi menunjukkan bahwa web yang aksesibel, menempati ranking yang lebih tinggi dalam mesin pencari ketimbang yang tidak. Web yang aksesibel juga terbukti lebih murah dalam biaya pemeliharaan web dan memungk ink an perusahaan untuk meraih pelanggan yang lebih luas . Namun, Rama dan kawan-kawan tidak hanya membutuhkan teknologi yang aksesibel semata. Komitmen dari semua pihak untuk menjadikan mereka sebagai bagian dari kita sangatlah penting untuk dilakukan. Seabrek peraturan dan undang-undang tak akan cukup untuk mewadahi kreativitas dan pemikiran mereka. Santunan dan bantuan juga tidak akan menciptaan peluang dan kesempatan yang lebih baik, bahkan menjadikan para difabel makin tergantung dan tidak berdaya. Bagi Rama dan kawan-kawan, yang diharapkan dari berbagai pihak bukanlah bantuan atau santunan. Terlebih lagi, bantuan yang sifatnya membuat para difabel menjadi manja dan malas. Mereka menginginkan kemitraan dan kesetaraan. Irawan, salah seorang web master situs http://kartunet.com, menyatakan hal itu dalam wawancara dengan Faisal Riza dari Perspektif Baru (http://www.perspektifbaru.com/wawancara/596#com ments). Rama, Paulus, Cak Fu, atau Haris hanyalah segelintir dari ribuan penyandang difabel yang mengenyam dan menikmati kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Pengetahuan dan kemampuan yang mereka miliki telah membuka berbagai peluang, yang pada gilirannya meningkatkan harkat dan martabat mereka sebagai manusia. Dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi, mereka mampu membuktikan bahwa mereka sama dan setara dengan orang normal. Rama dan kawan-kawan meraihnya dengan kerja keras dan kini saatnya menuai hasil.***

Mini Glossary Oleh Yossy Suparyo

Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan terjemahan dari Geographic Information System (GIS). SIG merupakan sistem informasi khusus untuk mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). SIG bisa juga dimaknai sebagai sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola, dan menampilkan informasi bereferensi geografis, misalnya, data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Teknologi SIG dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi, dan perencanaan rute. Misalnya, SIG membantu perencana menghitung waktu secara cepat guna tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunakan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi. Jurnalisme warga (citizen journalism) juga dikenal dengan jurnalisme par tisipatif. Merupak an aktivitas masyarak at biasa?nonjurnalis?dalam mengumpulkan, melaporkan, menganalisis, dan menyebarkan berita dan informasi. Ada beberapa istilah lain yang memiliki kesamaan arti dengan jurnalisme warga, yaitu jurnalisme open source, media warga (citizen media), dan jurnalisme berjaringan (networked journalism). Masyarakat, dalam ruang yang disediakan, menjadi pewarta atas peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Mereka juga bisa melakukan lebih jauh, seperti halnya yang dilakukan jurnalis profesional, seperti mewawancarai tokoh, membuat feature, opini, foto, atau pun tulisan yang sifatnya analisis. Radio komunitas adalah stasiun siaran radio yang dimiliki, dikelola, diperuntukkan, dan didirikan atas inisitif sebuah komunitas. Pelaksana penyiaran (seperti radio) komunitas disebut sebagai lembaga penyiaran komunitas. Radio komunitas juga sering disebut sebagai radio sosial, radio pendidikan, atau radio alternatif. Intinya, radio komunitas adalah "dari, oleh, untuk, dan tentang komunitas". Radio komunitas di Indonesia mulai berkembang pada tahun 2000. Radio komunitas merupakan buah dari reformasi politik tahun 1998 yang ditandai dengan dibubarkannya Departemen Penerangan sebagai otoritas tunggal pengendali media di tangan pemerintah. Keberadaan radio komunitas di Indonesia semakin kuat setelah disahkannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran. Sumber terbuka (Inggris: open source) adalah sistem pengembangan yang tidak dikoordinasi oleh suatu orang/lembaga pusat, tetapi oleh para pelaku yang bekerja sama dengan memanfaatkan kode sumber (source-code) yang tersebar dan tersedia bebas (biasanya menggunakan fasilitas komunikasi internet). Pola pengembangan itu mengambil model ala bazar, sehingga pola open source memiliki ciri bagi komunitasnya yaitu adanya dorongan yang bersumber dari budaya memberi, yang artinya ketika suatu komunitas menggunakan sebuah program open source dan telah menerima sebuah manfaat kemudian akan termotivasi untuk menimbulkan sebuah pertanyaan apa yang bisa pengguna berikan kembali kepada orang banyak. Open source lahir karena kebebasan berkarya, tanpa intervensi berpikir, dan mengungkapkan apa yang diinginkan dengan menggunakan pengetahuan dan produk yang cocok. Kebebasan menjadi pertimbangan utama ketika dilepas ke publik. Komunitas yang lain mendapat kebebasan untuk belajar, mengutak-atik, merevisi ulang, membenarkan, ataupun bahkan menyalahkan, tetapi kebebasan itu juga datang bersama dengan tanggung jawab, bukan bebas tanpa tanggung jawab.


20 telusur femTALK 89,2 Suitcase Mobile Radio

Memberi Ruang “Aman” bagi Suara Wanita Oleh Ade Tanesia

Sejak pertengahan tahun 1970-an, deregulasi kebijakan media industri di Fiji telah mengakibatkan perkembangan koran, radio komersial, televisi, dan media digital yang begitu pesat yang dimulai sekitar tahun 1990-an. Tetapi sejalan dengan perkembangan media itu, masyarakat Fiji sendiri tetap menjadi konsumen media yang pasif, apalagi untuk kaum wanitanya. Media alternatif yang bisa menampung aspirasi masyarakat pun masih sangat minim.

M

elihat kondisi itu, pada bulan September 2000, femLINKpacific melansir program media untuk perempuan serta mengadvokasi dan menerapkan konsep media komunitas. Hal itu juga merupakan respons terhadap persoalan sosial yang terjadi di Fiji. femLINKpacific melihat bahwa masyarakat Fiji tidak hanya mempunyai persoalan ekonomi tetapi juga membutuhkan sarana untuk mengartikulasikan pandanganpandangan mereka terhadap isu sosial dan ekonomi yang sedang berlangsung. Pada titik itulah, femLINKpacific menginisiasi sebuah program media komunitas. Semboyannya adalah “wanita bicara kepada sesamanya untuk perdamaian”. Dengan menggagas inisiatif media komunitas, femLINKpacific ingin menyediakan sebuah “ruang aman” bagi perempuan untuk mengekspresikan dan bertukar gagasan di antara mereka. Bentuk-bentuk media yang mereka jelajahi sangat beragam. femLINKpacific menggunakan media audio visual, radio komunitas, dan agar lebih memperkuat komunitas maka diluncurkan sebuah program mobile radio yang disebut 'femTALK 89.2 suitcase mobile radio.” Proyek yang diluncurkan sejak tahun 2004 itu didukung oleh UNESCO's Intergovernmental Programme for the Development of Communication (IPDC). Target utama dari program itu adalah perempuan yang tinggal di daerah pedesaan dan semi perkotaan. Isu yang terjadi di lingkungan mereka tidak pernah diangkat atau bahkan disebarkan ke jaringan organisasi yang memperjuangkan masyarakat sipil.

Dengan menggunakan transmiter dengan daya rendah, femLINKpacific mendorong perempuan untuk saling mengemukakan pendapat dan gagasannya tentang suatu persoalan. femTALK 89,2 melakukan perjalanan dari satu komunitas ke komunitas lainnya untuk berbagi cerita, opini, dan ide-ide. Di dalam setiap siaran radio ada kesempatan untuk memromosikan pemimpin lokal perempuan yang potensial. Radio itu memberikan kesempatan bagi kaum perempuan untuk didengar oleh pemimpin lokal sampai ke tingkat provinsi. Lalu, ketika disiarkan di ibukota, maka rekaman wawancara itu juga menjadi informasi bagi pemegang kebijakan di tingkat nasional untuk mengetahui realitas perempuan di daerah pedesaan. Persoalan yang diangkat oleh perempuan dari berbagai komunitas itu sangat beragam. Ada yang mengangkat p e r s o a l a n H I V / A I D S d i d a e ra h ny a . femTALK juga mengunjungi perempuan yang tinggal di lokasi permukiman baru di Vakabalea, Navua. Mereka adalah korban banjir yang kini hendak membangun kembali rumah dan pertanian mereka. Bicara kepada femLINK pacific, beberapa perempuan, ibu-ibu, dan nenek menceritakan pengalamannya ketika menghadapi banjir besar yang menghancurkan rumah dan pertanian. Kebanyakan dari mereka baru saja membangun kembali kehidupan keluarganya. “Kami sekeluarga menerima uang pemuk iman kembali sebesar $10,000. Tetapi hal itu tidak cukup, terutama ketika harus membangun rumah setelah banjir. Setelah banjir, kita menghadapi berbagai penyakit dan hama yang menghancurkan seluruh pertanian. Kita memang menerima pertolongan dari

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 24 | April 2008


21

kelompokk e l o m p o k komunitas agama dan sektor privat seperti supermarket, tetapi tetap saja masih banyak yang kita butuhkan untuk bisa bertahan,� ujar seorang ibu. Banyak komunitas di pedesaan mengeluhkan infrastruktur jalan yang sangat buruk sehingga menghambat akses mereka untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Ada pula yang mengangkat persoalan wanita cacat yang selalu diabaikan dalam proses pembangunan. Mereka selalu dianggap sebagai penerima proyek-proyek sosial daripada didudukkan sebagai pihak yang bisa memengaruhi kebijakan-kebijakan negara terhadap persoalan kesejahteraan. Perempuan di pedesaan juga mencari bantuan untuk beberapa isu sosial termasuk kekerasan domestik atau manajemen stres. Selain itu, mereka ingin diperkenalkan dengan jaringan kelompok-kelompok pendamping yang bisa membantu mereka dalam mengatasi pemakaian narkoba di kalangan remaja. Selama ini, femLINKpacific telah

melakuk an 40 k ali siaran program perempuan di akhir minggu di kawasan Suva, kemudian 11 siaran di daerah pedesaan di Fiji, memroduksi 12 video komunitas, dan lebih dari 36 edisi buletin. Setelah sukses mengembangkan Suitcase Community Radio, kini mereka ingin mengembangkan jaringan radio komunitas nasional. Untuk itu diperlukan penguatan jaringan koresponden di daerah pedesaan. Koresponden itu, setiap bulan akan mengirimkan tiga produksi audio berisi wawancara dengan komunitas lokalnya. Hasil wawancara tersebut akan disiarkan setiap akhir minggu di radio komunitas mereka dan juga menjadi bahan untuk buletin elektronik. Diharapkan gagasan dan opini dari perempuan desa di seluruh wilayah Fiji bisa terdengar ke berbagai kalangan dan bisa memengaruhi kebijakan negara. femLINKpacific juga melansir program The Generation Next Project dengan

memb e r i k a n pelatihan kepada 15 remaja dari komunitas lokal agar mereka bisa menjadi produser, penyiar radio, dan juru bicara komunitasnya mengenai isu pembangunan dalam kerangka hak-hak asasi perempuan. Selama tiga hari pelatihan di femLINKpacific Community Media Centre, para remaja perempuan itu juga diajarkan mengenai proses teknis produksi dan pengembangan konten program. Ketika infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi belum terjangkau di beberapa daerah, maka proyek radio yang mendatangi narasumber dan pendengarnya tersebut sangat efektif. Terbukti bahwa banyak kaum perempuan yang begitu bersemangat dengan proyek itu. Mereka dapat mengekspresikan persoalan nyata yang dihadapinya dan berbagi dengan perempuan lain di daerah lain. “Ketika warga di negara kami bisa berbagi opininya secara bebas dan aman, maka kita baru bisa mengatakan bahwa kita telah mengalami demokrasi,� ungkap Sharon Bhagwan Rolls, salah satu pengelola femLINKpacific. ***


22 komuniti

Keresahan Perajin Bawang Goreng di Brebes

Usaha Bawang Goreng yang Tak Lagi Renyah Oleh Saiful Bakhtiar

Brebes, telur asin, dan bawang merah seolah telah menjadi kesatuan yang melekat. Brebes yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat dan memiliki curah hujan rata-rata 18,94 mm per bulan sangat potensial untuk pengembangan produk pertanian, salah satunya bawang merah. etiap tahunnya, Brebes mampu memasok 30-40 persen untuk kebutuhan bawang merah nasional. Namun ironinya, untuk memenuhi kebutuhan bibit, 40 persen di antaranya, masih harus diimpor dari Filipina. Selain itu? tidak hanya pada masuknya bibit? impor bawang konsumsi pun makin merajalela dan menyebabkan pendapatan petani Brebes mengalami penyusutan. Dalam kondisi seperti itu diperlukan berbagai terobosan usaha pengolahan produk bawang merah untuk peningkatan kesejahteraan petani bawang merah.

S

Mulai tahun 1998, langkah itu dirintis. Beberapa usaha untuk membuat atau menemukan alat goreng yang bagus dilakukan. Bukan hal yang mudah tentunya. Berburu di Tegal yang terkenal dengan industri teknologi tepat guna sampai ke Ceper, Kendal, bahkan sampai produk teknologi BBPT, Bandung pun dilakoni dan dicobanya. Tapi setelah beberapa alat dicoba, hasil yang dirasakannya kurang optimal. Karenanya, Bambang mencoba memodifikasi sendiri alat itu dengan melihat dan mengumpulkan kelebihan sekaligus menghilangkan sisi kekurangan alat-alat yang telah dibeli di Tegal, Kendal, dan Bandung.

Adalah sosok Bambang Widayadi (47), pria asal Piyungan, Bantul yang sejak 11 tahun terakhir menekuni profesi perajin bawang goreng. Awalnya, ia melihat potensi bawang merah yang melimpah yang tidak lolos 'sensor' secara kualitas dan hanya mampu bertahan maksimal seminggu, Bambang pun memberanikan diri berbisnis produk bawang goreng. Bermodal keberanian untuk menjajaki potensi pasar, usaha itu terus ia rintis. Tepatnya tahun 1997, bermodal Rp 1 juta dan dengan teknologi yang awalnya masih sangat tradisional, bisnis yang berbasis home industry itu pun dimulai. Dalam perjalanannya, usaha itu dihadapkan pada persaingan dan permintaan pasar yang menuntut harga murah dengan kualitas yang baik, namun tentu saja dengan teknologi sederhana hal itu tidak mampu ia wujudkan. Hobi mengutakatik peralatan mendorong bapak beranak tiga itu untuk mencari teknologi tepat guna yang cocok untuk pemenuhan alat goreng bagi bawang merah.

Akhirnya, pada tahun 2001, dia mampu menyelesaikan teknologi modifikasi hasil rakitannya dengan hasil olahan yang dinilainya lebih bagus. Bahkan, pada di tahun 2003, alat penggorengan hasil modifikasinya dikirimkan pada kegiatan Krenova (Lomba Kreativitas Masyarakat) tingkat provinsi di Semarang, dan alat itu mendapat penghargaan juara ketiga. Kelompok perajin Di Brebes, Bambang tidaklah sendirian menjalani usaha bawang goreng itu. Tahun 1998, Bambang bersama rekan-rekannya menggagas pembentukan kelompok perajin bawang merah. Wadah itu menjadi jembatan pemersatu bagi perajin untuk saling bertukar informasi teknologi dan pemasaran. Awalnya, hanya terdaftar sekitar 18 anggota yang tergabung dalam kelompok perajin bawang goreng yang tersebar di wilayah Brebes. Yakni Brebes Kota, Pesantunan,

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 24 | April 2008


Limbangan, Kaligangsa, Bumiayu, Tegalglagah, Ketanggungan, bahkan sampai Bumiayu. Mereka adalah para perajin yang menjalankan usahanya secara home industry dan setiap hari hanya mampu mengggoreng 10-20 kg bawang mentah, serta masih menggoreng secara tradisional. Di tahun itu pula, mereka mendapatkan bantuan dari Bank Dunia dengan adanya program hibah. Hibah dari Bank Dunia berupa mesin produksi dan mereka juga mendapatkan dana dalam bentuk pinjaman. Uniknya, mesin hibah yang diberikan mengalami beberapa kali perbaikan karena dianggap belum cocok untuk menghasilkan produk bawang goreng yang bagus. Kemudian, melalui sentuhan tangan Bambanglah mesin itu dimodifikasi yang lantas bisa digunakan dan dirasakan cocok oleh para perajin. Sekarang, setelah terbentuk kelompok perajin dan menerima hibah mesin, kemampuan produksi tergantung kapasitas kemampuan pasar yang mereka kuasai. Alat yang sekarang dipakai mampu memroduksi dalam satu jam sebanyak 60 kilogram bawang mentah. Jika dibandingkan, jumlah produksi yang dihasilkan perajin yang tergabung dalam kelompok dan di luar kelompok, rata-rata produksi perajin anggota kelompok mencapai satu kuintal matang per hari?jika kondisi pasar memungkinkan. Sementara, perajin di luar kelompok?ada sekitar 20 perajin yang terbilang masih dengan sistem produksi tradisional?hanya mampu memroduksi lima kilogram bawang goreng matang tiap hari. Biaya produksi ikut meningkat Lain dulu, lain sekarang. Kini, masa keemasan bawang goreng mulai pudar. Tidak sedikit anggota kelompok yang mulai beralih profesi atau gulung tikar. Sampai saat ini, karena berbagai kendala, terlebih peluang pasar, anggota yang masih aktif produksi dalam skala besar tercatat hanya tinggal 11 anggota dari 18 anggota kelompok yang terdaftar. Kelesuan pasar, menurut Bambang, dirasakan setelah naiknya harga BBM. Lebih lanjut, Bambang mengatakan, dalam satu minggu terakhir, harga minyak goreng dan terigu naik, sehingga otomatis hasil produksi turun karena daya beli konsumen juga menurun. Untuk menaikkan harga jual sangatlah susah sehingga terpaksa mereka harus mengurangi keluaran produksi. Dalam kondisi sekarang, bawang goreng matang dijual seharga Rp 22.000 per kilogram untuk kelas satu, sedangkan jenis kelas sedang Rp

23

19.000 per kilogram. Bambang menuturkan, sekarang ini, produksi yang dilakukan lebih karena pemenuhan kolega bisnis yang sudah menjadi mitra usahanya sejak lama. “Kadang rugi, kadang pas-pasan saja, Mas. Terlebih karena usaha ini kan home industry, jadi terkadang tenaga tidak dihitung, sehingga meskipun untung sedikit produksinya tetap bisa jalan,� paparnya.

Teknologi pengirisan yang sudah menggunakan mesin perajang turut memberikan keuntungan. Saat ini, ada dua alternatif cara menggoreng, menggoreng dengan wajan dan sistem oven. Diukur dari biaya produksi, penggorengan wajan jauh lebih murah dan efektif waktu dibanding sistem penggorengan oven, sehingga masih banyak perajin bawang yang masih menggoreng secara manual. Seiring meningkatnya biaya produksi, berbagai cara untuk menggaet pembeli terus dilakukan. Bambang pun mulai melakukan penjajakan pasar hingga ke berbagai wilayah, termasuk Jakarta. Selain Jakarta, mereka juga mendistribusikannya ke wilayah Batang, Pekalongan, Purwokerto, Tegal, dan Slawi. Pembelinya adalah para agen yng sudah lama menjadi mitra bisnisnya. Mereka membeli dan memasarkan ulang, sekaligus mengemas ulang bawang gorengnya. Penawaran dari industri besar selama ini banyak berdatangan, namun dirasakan masih belum sesuai dan cocok dengan apa yang diinginkan perajin. Kemungkinan menembus atau menjadi supplier bagi industri mie instan nampaknya juga masih sulit, karena bawang goreng Brebes ketahanannya hanya sampai sembilan bulan. Sementara, perusahaan mie instan, seperti Indofood, memerlukan produksi bawang goreng yang ketahanannya jauh lebih lama. Produk yang biasa mereka minta biasanya menggunakan bawang goreng jenis Sumenep. Jenis itu, selain ketahanannya jauh lebih lama, juga lebih murah. Bagi Bambang, kendala sekarang yang dihadapi adalah pasar atau daya beli yang mengalami penurunan. Hal itu tidak diimbangi oleh kenaikan biaya produksi dan bahan baku. Sampai saat ini, bersama dengan anggota kelompok yang lain, ia terus melakukan terobosan pasar. Namun, dukungan dari berbagai pihak masih sangat diperlukan terlebih ketersediaan informasi pasar untuk pengembangan distribusi produk bawang goreng Brebes. Dia juga berharap, adanya penemuan teknologi lanjutan berupa teknologi pengupasan kulit ari bawang merah yang sampai sekarang masih dilakukan secara tradisional.***


BERBAGI INFORMASI UNTUK MEMPERKUAT MASYARAKAT SIPIL Iklan Layanan Masyarakat ini dipersembahkan oleh Combine Resource Institution