Issuu on Google+

Edisi 33 Mei 2010

KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010

Media Komunitas dan Komunitasnya Jalan Terjal Memantau Pelayanan Publik


2

editorial Tim Kerja: KOMBINASI diterbitkan oleh COMBINE Resource Institution (CRI) atas dukungan Ford Foundation. Pemimpin Redaksi: Ade Tanesia Redaktur Pelaksana: Yossy Suparyo Redaktur Foto: Adriani Zulivan Kontributor: Adriani Zulivan, Ahmad Rovahan, Riezky Andhika Pradana, Saiful Bakhtiar, Tomy Widiyatno Taslim,Yossy Suparyo Penata Letak: Roni Wibowo & Rikki Zoels Foto: Adriani Zulivan, Dokumen CRI Illustrator: Dani Yuniarto Sampul Depan: Roni Wibowo Sampul Belakang: Ahmad Faisal Ismail Combine Resource Institution adalah lembaga yang mendukung pengembangan jaringan informasi berbasis komunitas. Dengan mengelola sendiri sistem informasi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, komunitas akan mampu menggali, mengolah, dan mengomunikasikan informasi secara strategis, untuk kepentingan komunitas dalam rangka menuju penguatan masyarakat sipil di Indonesia. Alamat Redaksi: Jl KH Ali Maksum RT06 no 183 Pelemsewu Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta Indonesia 55188 Telp./Fax.: 0274-411123 E-mail: redaksi@kombinasi.net Website: www.kombinasi.net

Dari Kami Setelah reformasi 1998, demokrasi yang terjadi di Indonesia yang ditandai dengan maraknya media komunitas dalam bentuk buletin, radio, video, film, blog, dan lain-lain. Keberadaan radio komunitas misalnya, telah memperoleh legalitas melalui Undang-Undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002. Ini bisa dikatakan sebagai kemenangan suara rakyat untuk mengelola medianya sendiri yang berarti menjamin tersalurkannya kepentingan rakyat. Dalam perjalanannya, apakah media komunitas yang bertebaran ini telah menjalani perannya sebagai media untuk komunitasnya. Apakah media komunitas justru menjadi lembaga yang terasing di komunitasnya sendiri. Hal ini patut dipertanyakan karena beberapa kasus yang terjadi di radio komunitas sudah menampakkan gejala ditinggalkan oleh komunitasnya sendiri. Dalam dunia media komersil, target sasaran adalah penopang keberlangsungan media tersebut. Metode penelitian akan dilakukan untuk mengetahui perilaku penggunaan media serta kebutuhan informasi apa saja yang kini diminati oleh kelompok sasarannya. Walaupun kepentingan media komunitas sa -ngat berbeda dengan media komersil, tetapi mengetahui tanggapan komunitas sangat penting. Kombinasi edisi 33 secara khusus mengangkat tema utama mengenai hubungan antara media komunitas dengan komunitasnya sendiri. Beberapa tulisan yang akan kami angkat, yaitu mengenai cara pembuat video komunitas menjaring tanggapan penontonnya yang dituliskan oleh Adriani Zulivan. Selain itu juga bagaimana membangun partisipasi penonton dalam pembuatan film berbasis komunitas sebagai bagian dari pendidikan melek film seperti yang dituliskan oleh Tomy Widiyatno Taslim. Saiful Bakhtiar menuliskan mengenai upaya radio komunitas menjaring survei pendengarnya. Sementara Ade Tanesia menceritakan kasus dua radio komunitas yang membuat diskusi kelompok terarah untuk menjaring tanggapan dari pendengar perempuan di komunitasnya. Di samping tema utama, masih banyak topik menarik yaitu persoalan paten nama domain yang dituliskan oleh Yossy Suparyo. Kemudian Ahmad Rovahan menuliskan suka duka radio komunitas dari Jaringan Radio Komunitas di Cirebon saat melakukan pemantauan terhadap program pemerintah berkaitan dengan proteksi sosial. Pada rubrik video komunitas, Riezky Andhika Pradana menuliskan laporan khusus mengenai kongres komunitas film di Solo. Rub-rik televisi mengangkat dua tema, yaitu persoalan posisi televisi komunitas di saat era dijitalisasi televisi dan perilaku menonton televisi pada para perempuan di Dusun II Gatak, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Rubrik perpustakaan mengangkat Sanggar Al Faz, sebuah tempat belajar bersama korban luapan lumpur Lapindo di kawasan Porong, Sidoarjo. Untuk rubrik cetak, Yossy Suparyo menuliskan langkahlangkah cepat menulis berita. Akhir kata, selamat membaca Kombinasi edisi 33.

Redaksi menerima kiriman tulisan dan foto kegiatan komunitas KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010


info sekilas ■ KENDARI

JRK Sultra Ikuti Temu Pewarta

■ BANDAR LAMPUNG

Pendengar Keluhkan Transportasi Kualitas layanan publik Pemerintah Kota Bandar Lampung dinilai belum memuaskan. Penilaian ini berdasar banyaknya keluhan pendengar Radio Komunitas Suara Kota 107,7 FM dalam program layanan publik (26/03).

Keberadaan media komunitas di Sulawesi Tenggara (Sultra) mendapat perhatian sejumlah elemen. Untuk itu, Jaringan Radio Komunitas Sulawesi Tenggara (JRK Sultra) mengirim wakilnya di ajang Temu Pewarta (29/03). Kegiatan yang diikuti oleh sejumlah media massa lokal dan lembaga swadaya masyarakat ini memberi kesempatan pada pewarta warga untuk belajar dari pewarta arus utama mengenai pemberitaan. [Ibe | JRK Sultra] ■ CIREBON

JARIK Cirebon Awasi Proteksi Sosial Bekerjasama dengan COMBINE Resource Institution (CRI), 11 anggota Jaringan Radio Komunitas (JARIK) se-Wilayah III Cirebon melaksanakan pelatihan pengawasan proteksi sosial melalui radio komunitas di kampus ISIF Fahmina Cirebon (4/3). Pemantauan dilakukan secara terus menerus untuk program pembagian beras miskin (Raskin), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan seterusnya. Dalam pelaksanaannya, radio komunitas melakukan Diskusi Kelompok Terfokus (DKT) di tiap wilayah kemudian dilanjutkan dengan DKT tingkat kota atau kabupaten. Hal ini sebagai pemetaan isu lokal agar menjadi masukan bagi pemangku kepentingan di tingkat kabupaten atau kota. KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010

Sebagian besar pendengar mengeluhkan kondisi jalan raya. Jalan berlubang akan mengganggu pengguna jalan sebab berpotensi menyebabkan kecelakaan. Selain itu, warga mengeluhkan keberadaan terminal bayangan di sejumlah kawasan yang menimbulkan kemacetan. [Bayu | Suara Kota 107,7 FM]

3

■ KONAWE

Program Pendampingan Radio Komunitas

SAPONDA - Upaya mengembangkan radio komunitas (rakom) merupakan alasan berdirinya Jaringan Radio Komunitas Sulawesi Tenggara (JRK Sultra). Setahun ini upaya tersebut dilakukan lewat program pengembangan, seperti yang dilakukan empat rakom di Teluk Luar Kendari yang memokuskan diri pada kampanye pelestarian sumber daya alam laut (19/02). [Ibe | JRK Sultra]

■ YOGYAKARTA

Standardisasi Harga Cegah PKL Nakal Ulah nakal oknum Pedagang Kaki Lima (PKL) Malioboro yang menaikkan harga seenaknya sangat merugikan konsumen dan pedagang lain. Hal ini dikeluhkan tak sedikit wisatawan dan sesama PKL. Hal itu kerap terjadi di masa liburan, terutama oleh pedagang makanan. Lembaga Pemberdayaan Komunitas kawasan Malioboro (LPKKM) beserta Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kota Yogyakarta merancang peraturan standardisasi harga. Agar tak lagi merugikan PKL dan konsumen, rancangan ini diharap bisa diterapkan sebelum musim liburan sekolah. Pelaku pelanggaran akan ditindak sesuai dengan kesepakatan. [Suara Malioboro]

■ LOMBOK TIMUR

Rakom Ancam Rakom Lombok Timur – Hasil pemantauan JRK Lombok Timur (17/03) menemukan bahwa SGSN FM, sebuah radio komunitas (rakom) di Sumbawa Barat, mengancam keberadaan rakom di wilayah Lombok Timur. Hal ini diakibatkan daya jangkau yang meliputi seluruh Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah. Keresahan ini menjadi agenda perjuangan JRK Lotim agar mendapat perhatian KPID NTB. Dengan kekuatan (ERP) nyaris mengalahkan radio swasta, radio yang berada pada frekuensi 107,7 Mhz ini dikendalikan dari Gedung MMA di kawasan pertambangan PT Newmount Nusa Tenggara, Batu Hijau, Maluk. Rakom yang sefrekuensi dengannya, seperti BKL FM, Gelora FM, Ninanta FM, Sartika FM, dan Pris FM hanya mampu menjangkau 500 meter dari studio, sebab akan langsung tertindih oleh siaran dari rakom-rakom lain yang tidak berizin siar. [Sekretariat JRK Lotim]


4

info sekilas

■ LOMBOK BARAT

Anggaran bagi Rakom

■ LIMAPULUH KOTO

Unjuk Bakat Siswa TK di Radio

■ PADANG PARIAMAN

Pesan Siaga Bencana Lewat Mural

Jika tahun ini radio komunitas (rakom) di Lombok Barat menjadi program pembinaan dan pengembangan jaringan, tahun depan ia akan mendapat dana anggaran pembinaan Departemen Komunikasi dan Informasi. Hal ini diputuskan dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Tingkat Kabupaten Lombok Barat (17/03) lalu. Rencana ini disambut baik Forum Komunikasi Radio Komunitas. Dengan begitu, terbukti keseriusan pemerintah dalam menggarap rakom yang berfungsi sebagai penyampai program pemerintah yang mampu menyentuh lini terbawah masyarakat. [Erwin | SGSFM]

■ PADANG PARIAMAN

Rindu Kunjungan Rakom Asing Empat radio komunitas (rakom) di Kabupaten Padang Pariaman, Kiambang FM, Suandri FM, Bahana FM dan Padang Sago FM merindukan kedatangan Jun’ichi Hibino, direktur rakom YY FM Jepang. Kunjungan Jun’ichi akhir 2009 lalu memberi inspirasi bagi pegiat rakom. “Rakom di Padang Pariaman harus mampu menjadi media yang menyuarakan masyarakat lokal,” kata Jun’ichi kala itu. Kerinduan itu juga tertuju pada radio Wederland Wereldomroep (RNW) Belanda yang mengunjungi Suandri FM dan Kiambang FM. [Yefni | Suandri FM]

Taman Kanak-kanak Pendidikan Islam (TKPI) di Jorong Taratak, Nagari Kubang, untuk keempat kalinya mengisi program kesenian di radio komunitas Stallon FM (30/03). Ini merupakan acara tahunan yang dilaksanakan setiap dua bulan menjelang tutup tahun ajaran. Seperti halnya belajar disekolah, muridmurid bersama gurunya menyanyi bersama. Satu per satu murid diminta ke depan untuk menampilkan bakatnya. Ada yang bernyanyi, ada pula yang membaca doa. [Simen Hadi | Stallon FM]

Peserta “Workshop Media dan Adokasi” yang diselenggarakan IDEP dan Wahli Sumatra Barat membuat mural berisi pesan siaga bencana di sejumlah titik keramaian di kota Padang (14/03). Pesan yang disampaikan lewat seni tidak sekadar diterima nalar, namun juga menyentuh hati sehingga tak cepat terlupakan. Radio Komunitas Padang Sago FM (RKPS) berperan mengkampanyekan kegiatan ini melalui radio komunitas. [RKPS] ■ LOMBOK UTARA

Arisan: Rangkai Silaturahmi

■ MEDAN

MITRA FM Galang Penghijauan 20 Ribu Pohon 16 Forum Kelompok Pendengar (FOKER) MITRA FM menggalakkan penghijaun di lingkungan masing-masing (22/03). Gerakan pembibitan 20.000 batang mahoni ini bermula dari keprihatinan akan makin menyempitnya ruang hijau terbuka. Meski tujuan utamanya adalah menjaga keseimbangan ekosistem dan turut berpartisipasi menjaga lingkungan hidup, nantinya pohon-pohon ini diharap menjadi aset perekonomian desa. Desa akan menjual kayu yang matang untuk pendidikan anak-anak setempat. [MITRA FM]

Masbangik - Demi membangun silaturahmi dan menyolidkan persaudaraan, radio komunitas BKL FM adakan arisan bulanan (07/03). Bertempat di studio BKL FM, kegiatan ini berisi dengar pendapat antar kru terkait rencana program. Harapannya, kegiatan yang menjadi agenda rutin tahunan ini mampu mewujudkan cita-cita melayani masyarakat untuk memperoleh informasi. [BKL FM]

KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010


info sekilas ■ PADANG PARIAMAN

Suandri FM Himpun Pengaduan Masyarakat

Radio Suandri FM dan LBH Padang membuka posko pemantauan bantuan pasca gempa di Kecamatan IV Koto Aur Malintang (13/03). Posko ini melayani pengaduan terkait hak masyarakat sesuai UU No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pengaduan dilayani di posko atau melalui telepon dan SMS di 081267619283. [Azwar Mardin | Suandri FM]

■ PADANG PARIAMAN

5

■ BANTUL

RKPS Siarkan Info Kesehatan

Jurnalistik Basis Komunitas

Radio Komunitas Padang Sago (RKPS) menyiarkan informasi kesehatan. Materi yang dibahas antara lain kebersihan lingkungan, mencuci tangan, diare, dan air minum. Program ini memberi kesempatan warga untuk bertanya pada ahli kesehatan melalui pesan pendek. Siaran ini ingin menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. [Rian Sukri | RKPS]

Piyungan-Srimartani. Minggu (28/03) lalu, Radio komunitas Srimartani FM mengadakan pelatihan jurnalisrtik berbasis komunitas. Kegiatan yang diikuti perwakilan pemuda dusun seDesa Srimartani ini diselenggarakan untuk menjaring relawan yang akan menghidupi Srimartani FM sekaligus meningkatkan mutu pegiatnya. [Gadienks | Srimartani FM]

■ PEMALANG

■ BANTUL

117 Tahun Tanpa Listrik

Pelatihan Menulis Sadewo FM

■ PADANG PARIAMAN

Abadikan Pengetahuan Lewat Lirik Lagu Radio Kiambang FM di Kecamatan 6x11 Enam Lingkung, Padang Pariaman punya cara sendiri untuk mengabadikan pengetahuan warganya. Mereka membuat lirik lagu berbahasa Minang berisi pengalaman, gagasan, dan harapan. Lirik-lirik lagu tersebut dipadukan dengan musik dan tari.

Setelah Februari lalu memberi sembako, Minggu (07/03) lalu PPK FM Sragi mendatangi kembali gubug Mbah Kudung (117) untuk memasang listrik yang dialirkan dari rumah tetangga dengan sistem sewa.

“Orang minang menyukai seni. Apapun yang disampaikan lewat seni biasanya warga menyukainya,” ujar Hendri Iksan, Direktur Radio Kiambang FM yang memelopori ide tersebut. [Radio Komunitas Kiambang FM]

Disampaikan pula bantuan uang dari seorang dermawan yang mengetahui kisah Mbah Kudung dari grup di situs jejaring sosial Facebook bernama “Bantu Kudung, Manusia Tertua” yang dikelola PPK FM. [Djnarto, Djazka | PPK FM Sragi]

■ PADANG PARIAMAN

■ BANTUL

Pendidikan Ala Layar Tancap Suandri FM menggelar kegiatan nonton bersama di Korong Batu Basa Dusun Kampung Pinang Nagari III Koto Aur Malintang (11/03). Tak kurang dari 200 warga menyaksikan tayangan mengenai rekonstruksi rumah aman gempa. Dua film anak, Garuda di Dadaku dan Laskar Pelangi, turut pula memeriahkan acara. [Buya Mulyadi, Azwar Mardin | Suandri FM) KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010

Srimartani FM Jalin Kerjasama dengan AKBIDYO Sejak Februari lalu, Akademi Kebidanan Yogyakarta (AKBIDYO) menjalin kerjasama dengan radio komunitas Srimartani FM. Kerjasama tersebut diwujudkan dalam Program Desa Binaan Srimartani dan siaran yang mengangkat persoalan kesehatan reproduksi dan kesehatan ibu hamil. [Gadienks | Srimartani FM]

Sabtu (13/03) lalu, Sadewo FM dan Write Leadership Center (WLC) mengadakan Pelatihan Menulis Buku. Pelatihan yang menghadirkan penerbit dan sejumlah penulis buku best seller ini ditujukan bagi guru se-Yogyakarta. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan bobot nilai sertifikasi guru, mengingat banyak guru yang tidak lulus sertifikasi akibat tidak memiliki karya tulis. [Jodins | Sadewo] ■ BANTUL

Terbit: Sadeworo # II Sadeworo merupakan majalah dinding (mading) edisi kedua yang diterbitkan radio komunitas Sadewo FM di Desa Wonolelo, Pleret, Bantul. Dalam tiap terbitannya, Sadeworo memuat kiriman tulisan masyarakat. Sadeworo ditempel di enam papan yang diletakkan di titik-titik strategis desa, meliputi Studio Sadewo FM, Balai Desa, Koperasi Santri Pondok Pesantren Binaul Ummah, Balai Kumpul Warga Dusun Cegokan, Masjid SD Muhammadiyah Bojong, dan Gardu Dusun Depok. Seluruh isi dalam Sadeworo juga menjadi bahan siar Sadewo FM. [Jodins | Sadewo]


6

utama

Menjaring Tanggapan Komunitas Ade Tanesia Hal yang sama terjadi pada jenis media komunitas lain seperti radio komunitas yang kini jumlahnya sudah lebih dari 600 yang tersebar di seluruh Indonesia. Persoalanpersoalan yang masih sangat mendominasi radio komunitas adalah peralatan, sehingga relasi dengan komunitas yang seharusnya terus menerus kerap terabaikan. Tidak heran jika beberapa radio komunitas yang awalnya didukung oleh warga, kini justru ditinggalkan. Mengenakan istilah media komunitas memang tidak semudah yang dibayangkan oleh para pelakunya. Di dalam media komunitas ada unsur partisipasi dan rasa kepemilikan dari komunitasnya. Selain itu isinya juga mencerminkan kebutuhan masyarakatnya atas informasi. Untuk mencapai hal ini, media komunitas perlu konsisten membina relasinya dengan komunitas. Banyak cara untuk memelihara relasi tersebut. Radio komunitas misalnya, sering mengadakan acara nonsiaran seperti jumpa fans, film komunitas mengadakan diskusi seusai acara pemutaran film yang sering dilakukan oleh dampingan Yayasan Kampung Halaman.

“Sebenarnya penyakit utama komunitas film adalah membuat film.� Pernyataan Yosep Anggi Noen di dalam artikelnya berjudul Membuat Film Saja Tidak Cukup di Harian Kompas (6/04/2010) sangat menohok. Menurutnya, banyak komunitas film yang hanya aktif memroduksi film tetapi seringkali tidak memperhatikan aspek penyajiannya kepada penonton. Itu baru satu hal. Belum lagi seharusnya film yang berbasis pada komunitas harus menjaring tanggapan dari penonton.

Metode survei dan diskusi dengan kelompok tertentu dalam komunitas juga bisa dilakukan. Sebagai contoh adalah Radio Primadona FM di Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, mengadakan diskusi dengan kelompok pendengar perempuan dari komunitasnya. Melalui diskusi tersebut pihak radio memperoleh tanggapan mengenai informasi yang mereka harapkan seperti informasi pendidikan, kesehatan anak dan perempuan, penyegaran rohani, dan konsultasi masalah rumah tangga. Program konsultasi ini ternyata sangat dibutuhkan perempuan mengingat banyaknya kasus perceraian di daerah tersebut. Biasanya sebelum membuat media komunitas maka pengelola mengadakan pemetaan kelompok-kelompok yang ada di wilayahnya. Kemudian melalui media tersebut, kebutuhan informasi dan komunikasi setiap kelompok bisa terpenuhi. Namun identifikasi

kebutuhan informasi tidak bisa dilakukan satu kali saja. Media komunitas harus secara aktif mengamati perubahan kebutuhan komunitasnya. Pada titik inilah dibutuhkan sebuah relasi rutin dan metode yang strategis untuk memahami kebutuhan komunitas akan informasi dan komunikasi. Persoalan menjaring tanggapan dari komunitas ini bukan hanya terjadi di Indonesia, dalam acara Global Voices Citizen Media Summit 2010 yang diadakan di Chili pada awal Mei 2010 ini, Direktur Eksekutif Global Voices memimpin suatu panel diskusi mengenai cara mengukur dan evaluasi dampak dari media warga. Anne Nelson, akademisi bidang jurnalisme dari Universitas Colombia mengungkapkan aktivis yang mulai mengembangkan media warga kerap tidak memikirkan pengukuran dampak medianya, kecuali diminta oleh pihak yang mendanai. Bagi para pengelola media komunitas bisa belajar dari BBC World Service Trust (http:// www.bbc.co.uk/worldservice/trust/research/ methods/), sebuah lembaga yang melakukan penelitian untuk mengukur dampak media terhadap masyarakatnya. Biasanya mereka melakukan penelitian sasaran pada empat tingkatan yaitu tingkatan pengambil keputusan, tingkatan organisasi komersial, pemerintah, dan lembaga nirlaba, tingkatan praktisi, dan tingkatan individu dengan beragam target sasaran. Adapun jenis penelitian yang dilakukan antara lain tes awal, yaitu produk media seperti sandiwara radio atau film dipresentasikan dulu ke target sasaran; evaluasi dampak media (impact evaluation) ; dan umpan balik sasaran. Metode yang dilakukan pun bisa beragam seperti wawancara mendalam, analisis jaringan sosial, analisis konten, web-metrics, diskusi kelompok terarah, umpan balik cepat berbasis komunitas, pengamatan, dan lain-lain. Menjaring tanggapan sasaran merupakan tantangan bagi para pengelola media komunitas. Oleh karena tanpa adanya tanggapans maka media komunitas seperti terasing dari komunitasnya sendiri.

KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010


utama

7

Jangan Abaikan Pendengar Perempuan Ade Tanesia Santapan Rohani yang disiarkan sore hari ternyata juga diminati oleh para ibu. Menurut mereka hal ini sangat baik untuk memberikan ajaran agama bagi keluarga, terutama anakanak. Berdasarkan diskusi dengan pengelola Radio Komunitas Paworo dan Radekka, hambatan untuk membuat program atau membangun keterlibatan perempuan dalam radio komunitas cukup besar. Diantaranya adalah tidak mudah bagi perempuan untuk datang ke studio, apalagi sebagian besar radio komunitas baru mulai siaran pada malam hari. Waktu luang perempuan kebanyakan di pagi hari yang bentrok dengan waktu bagi pengelola radio untuk bekerja mencari nafkah. Pengelola radio komunitas memang perlu bekerja lebih keras untuk mendorong keterlibatan perempuan di komunitasnya. Diskusi Kelompok Terarah merupakah salah satu cara yang bisa dilakukan oleh media komunitas untuk menjaring tanggapan dari komunitasnya. Biasanya diskusi ini hanya diikuti maksimal oleh 15 peserta dengan dipandu oleh fasilitator yang sudah mempersiapkan topik-topik yang akan didiskusikan. Radio Paworo FM di Sanden, Bantul, DIY dan Radio Radekka FM di di Desa Semoyo, Gunung Kidul, DIY telah melakukan diskusi khusus dengan pendengar perempuan yang ada di desanya. Melalui diskusi kelompok ini radio komunitas bisa mengetahui informasi yang dibutuhkan oleh perempuan, kritik, harapan, dan seberapa jauh mereka bisa terlibat dalam radio komunitas. Selain itu juga jam siaran yang sesuai dengan waktu luang perempuan dalam satu hari. Ibu Neti dari diskusi di Radio Paworo FM mengungkapkan adanya ketidak sesuaian antara waktu luang ibu-ibu dengan jam siaran radio. Menurutnya waktu luang ibu-ibu biasanya antara jam 09.00-10.00. Itulah saat perempuan bersantai setelah sibuk mempersiapkan anak sekolah dan mengurusi pekerjaan rumah tangga lainnya. “Seharusnya di jam-jam itu radio komunitas menyiarkan program resep-resep masakan. Lah kadang cuma muterin lagu-lagu atau malah ndak ada siaran. Radio Paworo kurang tepat mengatur jam siarannya,” ungkap Ibu Neti.

KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010

Ibu Leginah misalnya, mengungkapkan bahwa ia ingin diperbanyak informasi kesehatan dan pendidikan. Selain itu sebagai seorang pedagang mi, ia juga ingin memperoleh informasi seputar dunia usaha kuliner. Untuk hiburan ia minta lebih banyak diputarkan lagu-lagu nostalgia. “Kalau Radio Paworo ada informasi itu saya pasti ndak ganti ke frekuensi lain,” ujarnya sambil tertawa. Menurut Leginah untuk masalah kewanitaan memang lebih baik dipandu oleh penyiar wanita. “Kita jadi merasa dekat kalau penyiarnya wanita juga. Misalnya ada resep dari daun sirih untuk kesehatan wanita akan lebih enak disampaikan oleh wanita,” lanjutnya. Berbeda dengan Radio Paworo, pendengar perempuan di Radio Radekka kebanyakan anggota kelompok usaha kecil. Mereka menginginkan adanya acara khusus mengenai tips peningkatan ekonomi rumah tangga serta informasi mengenai cara beternak yang baik. Kritik terhadap radio komunitas juga dilayangkan misalnya masih minimnya berita kesehatan, terutama tips pengobatan tradisional yang lebih murah dan mandiri. Program

Ada beberapa tips agar suara dan kepentingan perempuan bisa terjaring dalam radio komunitas, diantaranya: 1. Lakukan pemetaan siklus kehidupan perempuan di komunitas anda 2. Buatlah program sesuai dengan waktu paling efektif bagi perempuan untuk mendengarkan radio 3. Jika kelompok perempuan tidak bisa datang ke studio untuk berbagi informasi,maka datangilah ruang-ruang yang menjadi ajang kegiatan mereka. adakan talkshow yang akan disiarkan pada jam-jam siaran sesuai waktu luang mereka. 4. Jika hendak membuat pelatihan, sesuaikanlah waktu dan tempat yang sungguh nyaman bagi perempuan. Jika mereka hanya bisa 2 jam dalam satu hari, lakukanlah pelatihan sesuai waktu tersebut. 5. Sediakanlah alat permainan anak di studio anda, oleh karena bagi perempuan yang memiliki anak kecil akan datang dengan membawa anaknya. Tentunya masih banyak tips yang lebih khusus sesuai budaya di wilayah radio komunitas tersebut. Namun yang jelas pasti ada celah bagi perempuan untuk terlibat dalam radio komunitas. Sekali anda memberikan celah itu, maka perempuan akan gigih untuk ikut serta meningkatkan kesejahteraan komunitasnya.


8

utama

Video Komunitas:

Bangun Kepekaan dan Gali Persoalan Adriani Zulivan

Bahasa gambar (visual) lebih mudah dimengerti dibanding bahasa tulis. Untuk itu, tak sedikit kalangan membantu masyarakat dari pelbagai komunitas untuk menyuarakan diri dan identitasnya lewat video. Proses dimulai dengan membantu masyarakat untuk menyoroti persoalan yang terdapat dalam komunitasnya. Persoalan itu kemudian digali akar penyebabnya, dengan pelbagai cara seperti mewawancarai pihak-pihak terkait. Kemudian video dibuat. Setelah selesai proses pembuatan, video ditayangkan. Jika film komersil akan “selesai� saat disajikan ke penonton, maka video komunitas tak hanya berhenti sampai peredaran. Video komunitas harus menjaring tanggapan penontonnya.

Menjaring Tanggapan Menjaring tanggapan penonton bisa dilakukan lewat dua cara, yaitu tanggapan langsung dan tidak langsung. Tanggapan langsung dilakukan lewat cara pemutaran film dan nonton bersama yang dilanjutkan dengan acara diskusi tanya-jawab. Biasanya, awalnya pemutaran video komunitas dilakukan di komunitas yang persoalannya diangkat dalam film tersebut. Kemudian baru dikelilingkan ke pelbagai tempat seperti lapangan, kampus, sekolah, dan tempat-tempat umum lainnya. Pemutaran video kerap dirangkaikan dengan kegiatan diskusi yang biasanya menghadirkan seluruh pemangku kepentingan dalam komunitas, seperti masyarakat dan aparat desa, guru, dan murid. Diskusi ini berfungsi untuk menambahkan data dan informasi terkait film yang ditayangkan.

Tiap kelompok berhak saling memberikan pendapatnya. Ada ketidakberhasilan dalam menjaring tanggapan penonton, misalnya masyarakat yang berkepentingan tidak mau berbicara, disebabkan karena malu atau tidak biasa terlibat dalam diskusi. Salah satu cara untuk menyuarakan yang tidak mau bersuara ialah mengajak mereka untuk menulis. Mereka diminta menuliskan pendapatnya di kartu meta. Jika tidak juga berhasil, maka ada inisiatif untuk mengulang pemutaran, dengan asumsi bahwa orang-orang yang datang tidak tepat. Misalnya, murid sekolah seringkali takut berkomentar jika pemutaran diadakan di sekolah mereka, sebab tentu saja para guru mereka, yang mungkin saja juga menjadi bagian dari tema yang dibahas di video, ada di sana. Untuk itu, pemutaran diulang di tempat lain di luar sekolah. Kasus menarik terjadi di Jambi ketika ada wakil rektor di sebuah perguruan tinggi di Jambi yang tersulut amarah usai menyaksikan video yang dibuat mahasiswanya sendiri. Video itu menceritakan persoalan minimnya fasilitas pembelajaran yang disediakan oleh kampus, padahal mahasiswa merasa sudah membayar untuk fasilitas tersebut. Sebuah video dari sebuah komunitas yang mengangkat persoalan yang sama dengan

yang dihadapi oleh komunitas lainnya cenderung akan diputar berulang-ulang. “Ada saja komunitas yang meminta video yang sudah ada untuk ditayangkan di komunitas mereka,� kata Zamzam Fauzanafi, Direktur Kampung Halaman (KH). Pemutaran kembali ini dilakukan setelah pemutaran di internal suatu komunitas. Misalnya, suatu film yang kira-kira sesuai dengan persoalan yang dihadapi suatu komunitas lain, bisa diputarkan di komunitas baru. Misalnya saja, di suatu desa terdapat persoalan pengairan sawah, di komunitas lain terjadi persoalan serupa. Maka film diputar, agar bisa belajar dari pengalaman tersebut. Pemutaran antar komunitas ini memperoleh tanggapan langsung. Yang mencari tanggapan adalah pembuat KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010


utama

9

sung membuat rencana pemecahan persoalan. Misalnya yang terjadi di sebuah desa yang punya persoalan irigasi. Masyarakat kemudian dicoba dipertemukan dengan sejumlah ahli pertanian dari universitas. Lalu kemudian rancangan ahli tersebut dicoba diterapkan ke kondisi riil. KH berupaya pendampingan hingga tuntas. Bahkan ada sebuah komunitas yang sampai meminta pendampingan ke Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta untuk kasus hukum yang terjadi di desa mereka. Meski hasil dari akhir dari fasilitasi aksi ini tidak selalu mampu menyelesaikan masalah, namun inilah cara KH membantu masyarakat. Hal yang penting adalah membuka ruang diskusi antar kelompok desa (warga, aparat desa), warga sekolah (guru, murid), dan seterusnya merupakan satu proses terpenting. Mungkin, meski persoalan tidak mampu teratasi, namun anak muda yang sebelumnya tidak pernah diajak urun rembuk untuk persoalan desa, kini dapat mengutarakan pendapatnya. Masyarakat akhirnya mampu merencanakan bersama. Tak selalu ujung dari menjaring tanggapan ini sampai dengan melakukan rencana aksi.

film sendiri. Terkadang juga menggunakan fasilitator, seperti tim Kampung Halaman atau pihak luar yang terdiri dari ahli.

Tanggapan Tidak Langsung Penonton video yang menonton lewat internet dapat langsung memberikan tanggapan mereka di wadah komentar yang telah tersedia di tiap video. “Begitu mudah, seperti orang berkomentar di video yang diunggah ke Facebook,� lanjut Zamzam. Selama ini, KH juga membagikan Digital Versatile Disc (DVD) ke sejumlah orang yang meminta dan membutuhkannya. Sayangnya, KH belum memiliki metode yang tepat untuk memperoleh umpan balik dari orang yang diberikan. KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010

Sejauh ini KH hanya mencatat identitas orang yang diberi video atau ketika sebuah komunitas meminta video untuk diputar, maka KH meminta agar panitia memberikan laporan tertulis mengenai tanggapan penonton dan jalannya acara. Mungkin saja dari situ akan tergali persoalan di dalam komunitas tersebut. Jika tidak dikirim, mereka akan ditelepon dan diminta mengirim foto atau rekaman video saat penyelenggaraan diskusi. Sedang kan untuk program Depot Video dikasih kartu untuk diisi setelah menonton.

Setelah Ditanggapi, Apa Selanjutnya? Jika di desa, karena mempertemukan seluruh pemangku kepentingan, maka lang-

Cara lain adalah dengan membuat pameran. Pengambil kebijakan diundang untuk memberi tanggapan. Pertama diputar dulu untuk banyak orang. Kemudian orang pembuat film dihadirkan dalam komunitas lain, sehingga ia bisa berbagi pengalamannya. Bagi Kampung Halaman, ide utama ketika mengajari anak-anak membuat video sebenarnya bukan persoalan teknis, melainkan bagaimana membangun kepekaan mereka agar mampu menganalisis persoalan. Intinya, membuat video sekaligus mengenali kondisi lingkungan dan kondisi dirinya sendiri (menyangkut posisi mereka dalam komunitas). Semua video yang dibuat tentu saja harus ada tanggapan. Jika sampai mampu mengubah kebijakan adalah persoalan lain.


10

utama

Siapa Pendengar Radio Anda? Saiful Bakhtiar Barangkali judul di atas merupakan pertanyaan yang sangat sering anda dengar. Sudahkah anda tahu siapa pendengar radio anda? Petikan berita yang saya ambil dari suarakomunitas.net ini menjadi pembelajaran bagi kita semua. Akhir Juli 2006, lumpur Lapindo menyembur di Desa Siring. Dalam hitungan minggu luapan lumpur menenggelamkan desa-desa di sekitarnya, seperti Desa Jatirejo, Renokenongo, Besuki, dan Kedungbendo. Desaku, Renokenongo yang berjarak 200 meter dari titik luapan tinggal kenangan. Bersama warga lainnya, saya menempati pengungsian di Pasar Baru Porong. Di pengungsian itulah saya berkenalan dengan radio komunitas. Radio komunitas ini dimanfaatkan untuk menyebarluaskan informasi korban lumpur, kita menyebutnya sebagai Radio Suara Porong. Sebelumnya saya belum pernah berkecimpung di dunia radio, terlebih radio komunitas. Saya tertarik ikut serta dalam pengelolaan radio komunitas. Dampak positifnya saya menjadi tahu banyak hal, mulai dari dunia organisasi, manajemen, penyiaran, liputan, dan lain-lain. Jadi, selain memanfaatkan radio sebagai alat menyuarakan aspirasi korban lumpur, saya menekuni dunia elektronika dan perlistrikan yang bermanfaat untuk pengecekan sekaligus perbaikan alat-alat radio. Peran KBR 68H Utan Kayu dan Radio Komunitas Angkringan Yogyakarta sangat besar. Pelbagai pengetahuan dan teknik saya dapatkan dari mereka. Dari dunia teknik itu, saya mencoba menganalisis apresiasi pendengar Radio Suara Porong. Langkah pertama yang saya tempuh adalah menghitung tanggapan pendengar lewat layanan pesan pendek (short message service atau

SMS). Interaksi antara penyiar dan pendengar lewat SMS menunjukkan besar atau kecilnya penerimaan program siaran yang dirancang oleh radio. Selain SMS, saya menggunakan teknik kunjungan langsung ke kediaman para pendengar. Tanggapan pendengar bisa tergali dengan iseng bercakap-cakap berdialog dengan warga di radius jangkauan dan frekwensi radio 107.80 FM. Melalui kunjungan tersebut saya dapat mengetahui tanggapan baik pendengar. Saya juga mengetahui bagaimana membujuk pendengar radio yang masih acuh tak acuh, bahkan saya mendapatkan ilham untuk membuat usulan program untuk radio. Dari situ pula saya mengetahui berapa prosentase pendengar radio suara porong di suatu wilayah. (Adi, Radio Suara Porong)

Kebutuhan menjaring tanggapan pendengar merupakan upaya media penyiaran untuk mengukur kinerjanya. Dalam dunia penyiaran baik komersial maupun komunitas, penelitian penyiaran terbagi dalam dua, rating dan non-rating. Pengistilahan rating tidak melulu milik media komersial. Karena jenis penelitian rating merupakan upaya untuk mengetahui tanggapan sasaran terhadap program yang sudah disiarkan sementara penelitian non-rating adalah penelitian untuk mengetahui prospek suatu program yang akan disiarkan. Jika membaca cerita radio komunitas Suara Porong, mereka telah melakukan kegiatan penelitian rating dan non-rating. Dalam penelitian akan ditemukan umpan balik dari pelbagai pihak. Umpan balik tersebut menKOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010


utama jadi bagian yang sangat penting bagi pengelola media penyiaran. Bagi media komunitas, penyusunan program siaran di radio komunitas wajib memperhatikan kebutuhan warganya. Kebutuhan warga dapat digali lewat survei pendengar yang dilakukan secara rutin. Kegiatan ini mudah dilakukan sebab pegiat radio juga bagian dari warga di areal berdirinya radio. Mereka bisa berbincang-bincang secara bebas dengan keluarganya, tetangganya, maupun kelompok-kelompok warga lainnya.

Kenapa radio Komunitas perlu mengetahui repon pendengarnya?

Di era yang lalu pilihan mendengarkan radio hanyalah Radio Republik Indonesia (RRI) namun kini rasanya sangat mudah untuk menemukan frekuensi radio di suatu wilayah. Di Jogjakarta setidaknya tercatat lebih dari 40 radio komersial dan lebih dari 40 radio komunitas. Bisa kita bayangkan betapa penuhnya frekuensi di radio penerima kita. Realita ini membawa kita khusus-

nya radio komunitas untuk secara sadar adanya media lain (radio komersial) yang tidak bisa ditolak masuk ke radio penerima di komunitas kita. Realita ini menjadi tantangan bagi pengelola radio komunitas untuk lebih memahami siapa pendengarnya, apa tanggapan mereka akan program yang kita buat dan apa kebutuhan mereka. Kekuatan radio komunitas adalah ketika pengelola mengetahui komunitasnya secara total. Mulailah melakukan mencari informasi demografis seperti jumlah penduduk, jenis kelamin, sebaran usia, pekerjaan, dan penghasilan. Data ini bisa kita peroleh di kantor desa atau kecamatan atau kantor statistis. Langkah selanjutnya kita bisa mecari gaya hidup warga kita. Pengelola radio komunitas perlu mengetahui pada jam berapa warganya mendengarkan radio. Jika di wilayah kita pada siang hari banyak warga yang pergi bekerja tentu kita bisa mengukur berapa banyak pendengar radio komunitas kita pada siang hari, sangat sedikit. Namun ketika

11

sore hari ketika sebagian warga berkumpul dengan keluarganya saat itulah mereka punya waktu untuk mendengarkan radio komunitasnya. Pengetahuan ini bisa kita pakai untuk menentukan kapan kita memulai siaran dan program apa yang akan disiarkan. Setelah kita mengetahui demografis warga kita dan aktivitasnya, jangan lupa tanyakan juga tren lagu yang sedang disuka pada semua kalangan baik anak-anak, muda, dewasa dan tua. Langkah-langkah tersebut akan memudahkan bagi pengelola radio komunitas dalam membuat program-program radio sekaligus membuat program yang memang tepat dan dibutuhkan warga. Langkah-langkah sederhana untuk mengetahui siapa pendengar kita ini bisa menjadi penguat bagi pengelola radio komunitas dalam upaya lebih melayani warganya. Mari kita lebih dekat dengan komunitas kita. Langkah-langkah

menjaring

tanggapan

pendengar 1. Kartu Permintaan (request) Kartu permintaan lagu bisa sekaligus menjadi alat menjaring umpan balik dari pendengar. Dalam kartu permintaan sisipkan pertanyaan acara apa yang paling disuka dan kenapa? Apa program acara Anda ingin disiarkan di radio?. Jika di wilayah Anda, kartu request masih tinggi peminatnya, buatlah undian berhadiah. Hadiah tidak harus selalu mahal, bisa saja foto bersama kru radio Anda. Murahkan? 2. SMS Simpanlahn nama dan nomor HP para pendengar. Jika SMS dibaca masih manual (langsung dari HP), salinlah nomor dan nama di buku. Untuk menjaring tanggapan pendengar, cobalah arahkan pendengar sebelum meminta lagu dengan mengetik saran/masukan (spasi) nama

KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010

(spasi) request lagu yang ingin diputar. 3. Telepon Jika pendengar berinteraktif langsung dengan Anda, cobalah tanyakan identitas dan apa saran bagi radio. 4. Mendatangi warga Sesering mungkin datang ke pos ronda, warung, pertemuanpertemuan untuk menanyakan apakah mereka mendengar radio Anda?. Apa program yang disuka? Apa program siaran yang ingin disiarkan. Pertemuan tatap muka akan juga semakin menguatkan ikatan emosional radio komunitas dengan pendengarnya. 5. Mencari informasi demografis warga Data demografis penting untuk menentukan siapa pendengar kita. Carilah data-da-

ta kependudukan di wilayah jangkau siaran. Data jumlah penduduk, usia, jenis kelamin, pekerjaan dan penghasilan. Data ini bisa kita pakai dalam penyusunan program siaran. 6. Mencari tahu gaya hidup warga Gaya hidup seperti aktivitas keseharian warga, waktu kerja mereka. Jika kita mengetahui maka kita tidak harus siaran 24 jam. 7. Mencari tahu tren musik semua kalangan usia Hiburan seperti pemutaran musik menjadi daya tarik banyak pendengar. Jangan ragu untuk menanyakan lagu-lagu apa yang sedang mereka sukai dari semua kalangan usia.


12

utama

Kuasa Penonton dan Mutu Film Partisipatif Tomy Widiyatno Taslim

Film memiliki maknanya sendiri bagi setiap penonton. Artinya, penonton secara sadar maupun tidak, secara individu telah memiliki bekal pengetahuan, untuk menentukan apakah film yang ditontonnya memberikan sesuatu bagi dirinya atau hanya melintas di depan mata sebagai hiburan sesaat. Penonton berkuasa memainkan posisinya dalam proses komunikasi. Apakah ia akan menjadi pasif, kritis, atau menikmatinya tanpa beban apapun.

Ketika film diputar dihadapannya, penonton memiliki pilihan ini. Bahkan, sebelum diputar pun, calon penonton boleh untuk memilih meninggalkannya dengan alasan tertentu. Namun untuk kepentingan politik, dengan memakai kekuasaan maka negara bisa saja memaksa calon penonton untuk hadir di ruang menonton. Industri film juga juga akan mengupayakan pelbagai metode bujuk rayu lewat iklan serta mobilisasi massa untuk menggiring penonton. Proses pemaksaan ini berlangsung secara simultan dengan kekuatan modal finansial dan kekuasaan politik. Penonton tidak berdaya karena keterbatasan ruang untuk mengelak dari serangan ini. Bahkan, biasanya dua kekuatan ini bersatu untuk semakin memosisikan calon penonton sebagai obyek pasif dengan segala kelemahannya. Hal ini tidak terjadi dalam film-film yang berbasis komunitas, justru di dalamnya sarat akan upaya mendidik warga agar kritis terhadap film yang ditonton.

Pendidikan Melek Film Dalam kerja-kerja sosial-pendidikan kritis, calon penonton (rakyat) harus disadarkan bahwa film adalah buatan manusia yang tidak bebas nilai. Sehingga, calon penonton berhak untuk mencurigai tontonan film ini, apakah memiliki pesan yang baik atau tidak. Kerja mencurigai ini merupakan hak calon penonton agar mampu berjarak dengan obyek yang akan ditontonnya. Cara yang bisa dilakukan untuk mendu-

kung kerja di atas adalah dengan melakukan pendidikan melek film. Calon penonton diajak untuk memahami film sebagai alat, bukan tujuan, yang digunakan pembuatnya untuk menyampaikan pesan tertentu. Film dibongkar elemen-elemennya, dari mulai bentuk, gaya, dan siapa pembuatnya. Hasil pembongkaran (analisis) ini kemudian didiskusikan. Tiap elemen pasti akan ditemukan hal-hal menarik yang mampu memberikan gambaran bahwa konstruksi film sengaja dibuat untuk menampilkan sebuah kesan tertentu. Selain itu, para pembuat di belakangnya juga bisa dianalisis perannya. Apakah sekadar bekerja sebagai profesional, atau memiliki latar belakang ideologis tertentu yang menyebabkan filmnya memiliki karakter tertentu. Proses-proses inilah yang wajib dilakukan sebelum film diputar, agar terjadi hubungan yang relatif setara antara film dan penonton. Proses-proses ini tidak mudah dilakukan, namun bukan berarti mustahil. Relasi antara pembuat film dan subyek dalam dunia perfilman konvensional lazimnya KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010


utama

13

mentar, atau kritikan atas materi/isi film yang disampaikan, tidak semata terfokus pada keindahannya. Hal-hal yang disampaikan ini menjadi catatan bagi pembuat film, yang idealnya juga sebagai aktivis dan fasilitator forum. Kalau pembuat film hanya memosisikan diri sebagai seniman yang berlindung di balik argumen kebebasan ekspresi, maka hal ini dianggap gagal. Film partisipatif memang masih memberikan peran bagi seniman/sutradara untuk mengolah filmnya dari sisi bentuk maupun gaya. Akan tetapi hal ini melalui kesepakatan-kesepakatan dengan pelbagai pihak yang terlibat dalam proses pembuatannya. Apabila porsi seniman/sutradara terlalu besar, maka film yang dihasilkan tidak berbeda dengan film kebanyakan yang dibuat menggunakan cara-cara konvensional.

atan film ini jelas bukan untuk menghibur tidak sejajar. Pembuat film adalah pembuat diri sendiri maupun penonton kebanyakan. keputusan tertinggi, sejak tahap pengemProses-proses yang setara, partisipatif, dan bangan gagasan, penulisan skenario, passaling menguatkan merupakan tujuan utacaproduksi, sampai dengan pemutaran manya, lebih kuat daripada hasil karya film film. Kata subyek tidak lazim digunakan itu sendiri. Pembuat film melakukan disdalam konteks ini. Biasanya hanya disekusi-diskusi dengan subyek, kru, dan bahbut sebagai pemain (obyek). Kru film pun kan calon penonton untuk merancang film merupakan manusia-manusia yang dipilih yang akan digarap. Proberdasar kompetensinses ini akan penuh dengan ya dan berelasi secara negosiasi. Kemudian akan profesional. Kalau meTujuan pembuatan terjadi tawar menawar, lihat komposisi hubunfilm ini jelas bukan kesepakatan. Di sinilah rugan yang seperti ini, ang pendidikan kritis (mebagaimana akan terjadi untuk menghibur diri dia) lahir dan hidup deproses-proses yang setsendiri maupun pengan segala konsekuenara dalam pembuatan sinya. Proses-proses ini sefilm? Barangkali pernonton kebanyakan. jak awal telah menegastanyaan ini terlalu naif. kan bahwa film akan diguNamun, jika kita ingin nakan sebagai alat untuk melakukan kerjamemosisikan film dalam konteks sosialkerja yang lebih besar. pendidikan kritis, pertanyaan tersebut wajar diajukan. Kualitas film partisipatif tidak dilihat sepenuhnya dari bentuk dan gayanya, tePembuatan film dengan metode partisipatif tapi terlihat ketika dilakukan diskusi pasadalah salah satu solusi dalam upaya memcapemutaran. Penonton akan memberiosisikan antara pembuat film, subyek, dan kan apresiasinya melalui pertanyaan, kopenonton secara egaliter. Tujuan pembuKOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010

Alangkah baiknya kalau dalam distribusi dan pemutaran film-film partisipatif dilengkapi dengan buku saku yang menjelaskan tentang metode penggarapan film tersebut dan bagaimana cara untuk menontonnya. Hal ini perlu dilakukan agar ketika film diputar di tempat lain ada informasi pembuka yang bisa disampaikan oleh fasilitator yang memutarnya. Proses ini dilakukan untuk membangun kesepahaman sejak awal, bahwa film partisipatif memiliki karakternya sendiri, dan diperlukan metode tersendiri untuk menontonnya agar didapatkan hasil maksimal. Hasil ini berupa analisis/komentar atas permasalahan yang disampaikan, serta solusi-solusi untuk menghadapi masalah tersebut. Hasil analisis ini dicatat secara serius dan disampaikan ke pembuat dan subyeknya. Umpan balik ini bukan terfokus pada bentuk atau gaya film, akan tetapi pada substansi persoalan yang disampaikan dalam film. Jika ini bisa dilakukan dengan baik, maka film partisipatif akan mampu menjadi alat bagi gerakan pendidikan kritis yang lebih luas, tidak terpaku pada komunitas pembuat dan subyeknya saja. Selain itu, kualitas gagasannya pun akan terus berkembang seiring dengan dinamika distribusi dan ekshibisi film ke pelbagai komunitas. (Penulis adalah Pekerja Film Partisipatif)


14

radio komunitas

Jalan Terjal Memantau Pelayanan Publik Ahmad Rovahan

Para pegiat radio komunitas dalam Jaringan Radio Komunitas Se-Wilayah III (JARIK) Cirebon memaknai kerja pemantauan layananlayanan publik sebagai perjuangan. Berjuang bukan hanya dengan senjata, tapi juga melalui media. Sebelas Radio Komunitas (Rakom) JARiK Cirebon yang tersebar di 5 wilayah, seperti Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan,

kini tengah memantau berjalannya program pemerintah tentang kesejahteraan masyarakat yang bergulir di wilayahnya masing-masing. Dalam prakteknya melakukan pemantauan tidaklah mudah, banyak kendala yang dihadapi para reporter dari radio komunitas. Muammar dari Rakom Best FM misalnya, dengan berbekal alat perekam suara, pulpen dan kertas, mencari informasi dari warga mengenai realisasi program pemerintah di wilayahnya. Menurut Muammar, mengawasi dan mencari informasi yang bersinggungan dengan kepemerintahan, memiliki kesukaran tersendiri. Ketakukan warga atas kekuatan para penguasa menyebabkan penggalian informasi sulit dilakukan. Selain itu, Muammar juga menceritakan

pengalamannya ketika mengkla-rifikasi informasi kepada seorang janda tua penjual es kelapa muda yang tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Walaupun secara nyata dia telah dirugikan oleh kebijakan pemerintah, namun korban tetap ketakutan untuk memberikan informasi tersebut. �Dia membenarkan informasi itu, tapi dia takut untuk diberitakan karena khawatir ada masalah dengan ketua RW dan Instansi lainnya. Padahal banyak orang yang lebih layak dari dia, malah mendapatkan semua program dari pemerintah,� ujar Muammar Berbeda dengan Muammar, kesulitan yang dirasakan oleh Sobih Adnan, Ketua Rakom Ain FM adalah mengajak masyarakat untuk memperjuangkan haknya. Banyak pelangKOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010


radio komunitas

garan yang ditemukan, tapi masyarakat bersikap apatis. Namun apatis ini bukan karena takut, tapi karena selama ini aspirasi mereka tidak di dengar oleh Pemerintah. “Masyarakat di wilayah saya aspirasinya selalu mentok di kebijakan akhir pemerintah, sehingga ketika diajak untuk memperjuangkan haknya. Mereka meyakini hasilnya akan sama seperti dulu,” kata Sobih. Masalah lain yang dirasakan oleh Sobih adalah ketika mencari data mengenai program di kantor pemerintahan baik desa maupun kecamatan. Dua instansi ini tidak mau terbuka dalam memberikan informasi, bahkan terkesan menutup-nutupi. “Sepertinya mereka belum belajar tentang UU keterbukaan Informasi Publik, sehingga mereka menganggap data program tersebut hanya hak milik mereka saja,” lanjutnya. Belajar dari pelbagai pengalaman pegiat rakom yang lain dalam mencari informasi, membuat Saiful Arbiyanto Ketua Rakom Bonbar FM memiliki cara tersendiri. Untuk bisa mendapatkan informasi yang cukup banyak, saiful menggunakan cara informal seperti mengajak ngobrol narasumber sehingga tidak terkesan sedang diwawancara.

Jadi Tempat Mengeluh Warga Walaupun banyak yang takut dalam memberikan informasi, ternyata program yang dilaksanakan oleh JARIK Cirebon ini didukung oleh masyarakat. Di beberapa wilayah, para aktivis JARiK dijadikan tempat mengeluh oleh para masyarakat tentang program pemerintah yang ditemukan melenceng. Di Astanajapura Cirebon misalnya, ketika Tim dari JARiK Cirebon KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010

mencari Informasi tentang Program keluarga Harapan (PKH) di SDN Sidamulya I dan MI Buntet Pesantren, ternyata para Kepala Sekolah seperti menemukan tempat bercerita mengenai program PKH yang menurut mereka asing. “Saya setiap bulan menerima formulir tentang PKH, tapi saya juga tidak tahu ini program apa? Karena tidak ada yang berkordinasi ke sini,” ujar Muhammad Kepala SDN I Sidamulya. Selain itu, Muhammad juga merasa kebingungan dengan prosedur teknis program bantuan untuk siswa miskin tersebut. Karena, daftar nama murid penerima bantuan PKH yang mengatasnamakan SDN I Sidamulya ternyata banyak yang palsu. “Dari beberapa nama yang tercantum, banyak yang bukan asal sekolah disini, padahal jelas di atas formulir tertulis SDN I Sidamulya,” tambah Muhammad. Selain Muhammad, Kepala MI Buntet Pesantren Hj.Mutimmah S.Ag, juga melaporkan hal yang sama, bahkan lebih parah dibandingkan yang terjadi di SDN I SIdamulya. Mutimmah menjelaskan, dari 15 murid yang tercantum dalam penerima bantuan PKH dari MI Buntet Pesantren, hanya satu nama siswa yang asli. Temuan-temuan ketidak tepatan realisasi program proteksi sosial pemerintah yang diawasi oleh JARiK Cirebon cukup beragam, mulai dari PNPM, JAMKESMAS, RASKIN dan lainnya. Sedangkan urutan tertinggi adalah masalah Raskin. Dari 5 kota yang diawasi oleh JARiK Cirebon, kesemuanya memiliki masalah terutama berkaitan dengan kualitas beras. Informasi yang dihimpun oleh Tim JARiK dari warga 5 kota, mayoritas mengatakan kualitas beras Raskin tidak layak konsumsi, sehingga harus dicampur

15

dengan beras lain yang kualitasnya lebih baik dan harga yang lebih mahal pula. Sehingga adanya beras Raskin belum sepenuhnya membantu kebutuhan pangan rakyat kecil.

Jalan Keluar Terbaik Pengawasan proteksi sosial bukan untuk mencari kesalahan pemerintah dalam melaksanakan program. Tapi berusaha untuk mengetahui masalah yang ada dan mencarikan solusi yang terbaik dalam mengatasi masalah tersebut. Oleh karena itu, setiap informasi yang didapat akan ditulis dalam bentuk berita dan akan di Upload ke Website Suarakomunitas. net dan Jarikcirebon.co.cc. Selain itu, seperti yang sudah diagendakan, JARiK Cirebon akan mengadakan rembug warga tingkat lokal di setiap wilayah. Dalam rembug warga ini, JARiK juga akan melibatkan pemangku kepentingan lokal untuk bisa bermusyawarah bersama dengan perwakilan warga atas masalah yang dihadapi diwilayahnya. Untuk lebih memberikan tidak lanjut dari hasil rembug warga yang dilakukan, JARiK Cirebon juga akan melakukan Diskusi Kelompok Terarah (DKT) dengan pemangku kepentingan di tingkat kota/kabupaten, yang akan diselenggarakan di 5 wilayah. DKT ini bertujuan untuk bisa memberikan dorongan kepada para pemangku kepentingan dalam memberikan solusi atas masalah yang dihadapi oleh warga. Sehingga masalah-masalah yang ditemukan akan lebih diperhatikan. Pada titik ini radio komunitas tidak hanya menjadi media di udara, tetapi juga menjembatani warga dengan pemerintah agar setiap persoalan komunitas terpecahkan dengan tuntas.


16

video komunitas

Kongres Komunitas Film Di Solo Riezky Andhika Pradana Sejak Reformasi 1998 hingga saat ini, terutama sejak Konfiden melaksanakan Festival Film Independen pada 1999, banyak tumbuh komunitas film di Indonesia dan memiliki andil besar dalam memajukan perfilman Tanah Air. Salah satunya adalah mengangkat kembali gairah perfilman Indonesia yang sempat mengalami mati suri. Namun, Undang-Undang No. 33/2009 yang telah disahkan pemerintah ternyata tidak cukup mengakomodir kepentingan komunitas film di Indonesia. Untuk melakukan pemetaan komunitas film Indonesia dan mencatat keberhasilan kerja dan tantangan nyata yang dihadapinya serta memperkuat jaringan yang telah terbentuk sebelumnya, di Taman Budaya Surakarta, Solo, Jawa Tengah pada 17-20 Maret 2010 lalu diadakan Kongres Nasional Kegiatan Perfilman Berbasis Komunitas. Acara ini dihadiri oleh 42 komunitas film baik yang memiliki kelengkapan legal-formal, maupun tidak. Kongres ini terdiri dari kelas-kelas yang membicarakan pelbagai persoalan dari film komunitas. Di antaranya Diskusi Produksi Film Berbasis Komunitas, Pembuatan Film, Pemetaan Alat Produksi, Standarisasi  Pengetahuan Produksi Film, Pemetaan Tujuan Produksi Film Nonkomersil, Mengelola Program Pemutaran Film, Kesinambungan Festival Film dan Kompetisi, Lokalatih Film, Pemberdayaan Organisasi, Pendidikan Film Secara Informal Berbasis Komunitas dan Penyegaran Kembali Jaringan Komunitas Film. Kelas mengenai program pemutaran film misalnya, mengevaluasi sejauh mana pro-

gram pemutaran film yang dilakukan oleh komunitas film selama ini, serta persoalan yang dihadapi dan melihat kembali kebutuhan program pemutaran film berdasar konteks masing-masing basis kegiatan. Setelah berdiskusi, dibacakan pemetaan masalah yang berhasil ditangkap, di antaranya masalah yang cukup klasik yaitu, fasilitas, sumber film, kemudian kemampuan programming yang berkaitan dengan jumlah penonton, perizinan, dan fasilitas. Sebenarnya banyak masalah yang muncul di luar itu, di antaranya visi komunitas, hingga akhirnya komunitas mudah gulung tikar.

Pada kelas Kesinambungan Festival Film dan Kompetisi terdapat gagasan utama pembahasan, di antaranya nilai-nilai seperti apa yang membedakan antara festival dengan kompetisi, sejauh mana festival & kompetisi yang diselenggarakan selama ini telah menemukan bentuk yang ideal, kebutuhan nyata dari penyelenggaraan festival film dan kompetisi dan bagaimana mempertahankan keberlanjutan penyelenggaraan festival dan kompetisi. Dalam kelas ini, diketahui selama ini masih ada kerancuan mengenai konsep festival-festival yang diadakan oleh komunitas-komunitas film bahwa festival haruslah berbentuk kompetisi. Selain itu persoalan keberlanjutKOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010


video komunitas

an festival juga menjadi hal penting yang dibahas. Kelas Standardisasi Pengetahuan Produksi Film dilatarbelakangi permasalahan pengetahuan produksi masing-masing komunitas, darimana pengetahuan tersebut mereka peroleh, dan bagaimana proses transformasi pengetahuan tersebut. Permasalahan tujuan produksi film yang dilakukan oleh komunitas menjadi latar belakang diadakan Kelas Pemetaan Tujuan Produksi Film Nonkomersil. Terungkap dalam kelas tersebut bahwa kebanyakan tujuan produksi adalah untuk dikirim ke festival ataupun kompetisi film. Kelas Lokalatih Film yang difasilitasi Bowo Leksono membahas mengenai lokalatih yang sering diadakan oleh komunitas-komunitas film. Dalam kelas tersebut muncul beberapa macam permasalahan yang dihadapi, seperti keefektifan lokalatih sebagai transfer pengetahuan, tujuan serta konteks lokalatih yang belum jelas. Dalam kelas Pemetaan Alat Produksi yang difasilitasi oleh Bambang Kuntaramurti muncul gambaran saat ini kebanyakan komunitas film tidak memiliki peralatan produksi film yang memadai, untuk mengatasi hal tersebut mereka menempuh pelbagai cara mulai dari meminjam, menyewa, sampai merakit alat sendiri. Kelas Pemberdayaan Organisasi dengan fasilitator Ade Darmawan dari Ruang Rupa membahas pengelolaan, kebertahanan dan keberlangsungan organisasi. Dalam kelas KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010

tersebut  muncul permasalahan komunitas film dalam organisasi, mulai dari keanggotaan, regenerasi, visi dan misi, hingga dengan pemberdayaan organisasi. Melalui diskusi selama tiga hari tampak permasalahan utama komunitas film adalah minimnya pengetahuan mendasar mengenai film. Selain itu banyak dari arah tujuan mereka yang kurang jelas. Jika bergerak di bidang pendidikan, pemberdayaan masyarakat maka persoalan yang terangkat hanya berhenti di wilayah teknis. Jika di bidang pemberdayaan masyarakat. Kebanyakan dari komunitas tersebut juga tidak memiliki penawaran ‘alternatif’ untuk fasilitas tempat program pemutaran, di samping banyaknya DVD bajakan yang sangat mudah didapat. Beberapa hal yang dihasilkan oleh kongres ini antara lain invetarisasi kegiatan perfilman berbasis komunitas di Indonesia. Selain itu juga dihasilkan beberapa rekomendasi kerja bersama antar komunitas film yang terbagi dalam beberapa kelompok kerja, yaitu: Kelompok Kerja Pengetahuan, dengan fokus kerja pembentukan “Pool of Knowledge� dalam konteks film untuk komunitas film di Indonesia yang berbahasa Indonesia. Pengetahuan yang dimaksud meliputi pengetahuan produksi film, teori film, sejarah, kebijakan nasional dan analisisnya, dasar komunikasi, sampai penyediaan modul lokalatih dan pembentukan rancangan silabus pendidikan informal film untuk komunitas di Indonesia. Begitu pula

17

dengan pengetahuan soal penguatan dan pemberdayaan organisasi, penggalangan dana, dan hal lain yang berhubungan langsung dengan keberlanjutan kerja komunitas. Dalam pleno akhir kongres dibentuk Kelompok Kerja Penelitian dan Pengembangan Jejaring yang memilih 3-5 anggota kelompok kerja dengan mempertimbangkan faktor keterwakilan bentuk organisasi, keterwakilan ranah kerja organisasi (produksi, distribusi, pameran, pendidikan, peng-arsipan), keterwakilan geografis (Jawa, Sumatra, Kalimantan) dan keterwakilan jender (wanita-pria). Kelompok kerja ini bertugas untuk melakukan analisis lanjutan dari hasil pemetaan dalam kongres dan membentuk usulan-usulan sistem dan mekanisme kerja bersama dalam jaringan komunitas skala nasional. Kelompok kerja ini juga bertugas merumuskan, mengusulkan, dan menguatkan batasan-batasan di mana jejaring ini berfungsi dan bekerja, sehingga komunitaskomunitas film dapat menentukan posisinya sebagai bagian dari jejaring atau tidak dan dapat mengukur seberapa jauh sumbangsih dapat diberikan, berikut manfaat untuk komunitasnya masing-masing. Semoga saja kongres ini dan terbentuknya jaringan kerja perfilman berbasis komunitas mampu menjadikan perfilman Indonesia menjadi lebih berbobot dan mendidik di mana saat ini penonton kita hanya disuguhi tontonan yang hampir seragam.


18

portal

Bisakah Nama Domain Dipatenkan? Yossy Suparyo

Dalam dunia maya atau internet, siapapun dapat berinteraksi layaknya di dunia nyata. Mereka saling menyapa, berdiskusi, melayani, bahkan melakukan transaksi perdagangan. Lembaga pendaftaran nama domain (domain name) terbesar dan tertua di dunia, Network Solutions Incorporation (NSI) menyatakan sejak 1992 terdapat lebih dari lima juta alamat domain yang berakhiran dengan com, org, dan net. Bertambahnya pihak yang ingin memiliki situs di Internet membuat kebutuhan akan nama domain meningkat. Hal ini mendorong beberapa pihak, baik pribadi maupun badan usaha, untuk menjadi penjual (reseller) atau sekadar perantara (broker) nama domain kepada pihak-pihak yang membutuhkannya. Bahkan, kini cara memiliki namadomain dari pihak ketiga lebih populer dibanding membeli ke pihak NSI. Situs broker jual beli nama domain yang terkenal antara lain www.domainmart.com, www. buydomains.com, dan www.domainsale. com. Hak pemilikan nama domain sebenarnya sangat temporer. Secara rutin pemilik domain harus membayar hak pemanfaatan nama domain tertentu. Perhitungan pembayaran biasanya satu tahun, apabila pemilik domain tidak membayar hingga melewati batas waktu maka secara otomatis nama domain itu tidak dapat diakses, bahkan nama itu bisa dimiliki oleh orang lain yang menginginkannya.

Kemudahan di atas bukan tanpa risiko. Situasi ini menyebabkan hak kepemilikan domain sedikit kabur. Bila dirunut tatacara mendapatkan kepemilikan dapat dipastikan pihak penyelenggaran nama domainlah yang memiliki hak kepemilikan nama domain itu. Akibatnya, bila nama domain itu memiliki tingkat kunjungan yang tinggi, pihak penjual yang nakal bisa menaikkan harga bayar seenaknya. Pemilik situs harus membayar lebih mahal agar dapat terus memiliki nama domain itu. Selain permasalahan hak milik, masalah lain yang bisa muncul adalah jual-beli nama domain unik. Anda bisa menjual nama domain Anda pada pihak lain dengan harga yang berlipat ganda karena nama domainnya tergolong unik, misalnya pengusaha asal Houston baru-baru ini menjual nama domain www.business.com seharga US$ 7.5 juta setara dengan 7,5 triliun. Pada perkembangannya jual beli nama domain dapat menimbulkan masalah hingga ranah hukum. Michael Bosman dari Redlands, California harus memberikan domain name www.worldwrestlingfederation.com kepada World Wrestling Federation (WWF). Awalnya, Bosman telah mendaftarkan nama domain tersebut ke lembaga pendaftaran setempat dengan biaya US$100. WWF menggugat kepemilikan domain itu sebab nama domain identik dengan nama lembaga WWF. Karena Bosman gagal membuktikan nama domain tersebut

dengan  identitas atau hal-hal yang ia miliki, seperti nama panggilannya atau ke-luarganya atau nama salah satu binatangpeliharaannya maka kasus ini dimenangkan oleh WWF. Untuk menghindari sengketa penggunaan nama domain, sebaiknya Anda memanfaatkan jasa pengelolaan nama domain nasional (id). Anda bisa mengurus kepemilikan nama domain di Pengelola Nama Domain Indonesia (Pandi). Nama domain nasional bercirikan .id sebagai keterangan pemilik domain adalah warga atau lembaga yang tinggal di Indonesia. Penggunaan nama domain nasional juga akan meningkatkan promosi nama Indonesia di dunia internet. Ada beberapa pengelompokkan nama domain Indonesia, yaitu situs pribadi (.web. id), situs lembaga nirlaba (.or.id), situs lembaga komersil (.co.id), situs pemerintah (.go.id), situs militer (.mil.id), situs pendidikan (.ac.id), dan situs jaringan (.net.id). Setiap jenis kelompok nama akhiran domain memiliki aturan dan syarat yang berbeda-beda. Silahkan memilih! KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010


televisi

19

Satu Televisi Beda Selera Yossy Suparyo

Seluruh televisi memiliki program unggulan pada jam tayang yang sama, biasanya pukul 19.00-21.00. Sebagian besar warga hanya memiliki satu televisi di rumahnya. Lewat pesawat televisi yang sama, ada 3-7 orang di setiap keluarga siap memangsa menu tontonannya. Bagaimanakah cara perempuan menyeleksi tayangan, bernegosiasi, dan membangun kompromi dengan anggota keluarga lainnya? Tulisan ini mengupas kegiatan Literasi Televisi di Dusun II Gatak, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul yang dilakukan selama enam minggu–awal November hingga pertengahan Desember 2009—yang dilakukan oleh Masyarakat Peduli Media (MPM) Yogyakarta. Di daerah ini seluruh tayangan televisi tak berbayar dapat diakses, baik dikelola lembaga televisi nasional (Indosiar, RCTI, SCTV, GlobalTV, Trans7, TransTV, TVOne, MetroTV) maupun daerah (JogjaTV, RBTV, dan TATV). Ibu Supoyo (65) suka menonton acara reality show, seperti Jika Aku Menjadi di TransTV. Ia menyukai acara ini sebab tayangan ini membuat dirinya bisa larut dalam cerita, kadang merasa sedih, trenyuh, bahagia, geram. Bagi Ibu Supoyo yang telah berusia lebih dari setengah baya dan hidup dengan ekonomi pas-pasan, acara ini memberikan ruang katarsis atas segala permasalahan hidup yang dihadapi. Ia merasa memperoleh kekuatan hidup kembali setelah menonton acara ini. Sementara itu, Ibu Slamet (57) memilih pasif. Ia menonton televisi menyesuaikan selera suaminya dan anaknya. Penentu keputusan ada di suami dan anaknya. Awalnya, dia sering mengeluh dengan jenis tayangan pilihan suaminya, lama kelamaan dia mampu menyesuaikan diri. Baginya, menonton TV hanyalah ativitas sambilan sembari mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dan bercengkarama deKOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010

pilihan selera penonton terhadap jenisjenis tayangan kesukaan. Bagi perempuan, untuk memutuskan jenis program televisi favoritnya mungkin mudah, kemampuan mereka untuk menentukan program yang sering ditonton masih rendah.

ngan anggota keluarga lainnya. Televisi sering kali berfungsi sebagai latar pembicaraan keluarga. Waliyem (33) dan Yumiani (27) mengaku terpaksa menyukai tayangan kartun sebab tayangan ini menjadi materi tontonan anaknya sembari sarapan. Waliyem menonton tayangan kartun hampir setiap hari sejak anaknya berumur lima tahun hingga delapan tahun. Awalnya, anaknya tidak mau sarapan bila tidak menonton kartun Spongebob. Kondisi Yumiani tak jauh beda dengan Waliyem. Waktu menonton televisi baginya tidak dapat dipastikan, bila ada waktu kosong ia menekan tombol remote control. Keduanya membatasi waktu menonton hingga pukul 21.00 agar anaknya cepat tidur. Dari fakta-fakta di atas, ada tiga motif yang mempengaruhi kegiatan perempuan menonton televisi. Pertama, aktivitas menononton televisi tidak bisa semata-mata dilihat hanya dari dimensi program, yaitu

Kedua, sebagian besar peserta mengaku saat menonton televisi, mereka juga melakukan beberapa jenis kegiatan lainnya, seperti makan, mengerjakan tugas-tugas, memasak, membersihkan rumah atau perabot, bermain, menanta barang-barang, dan mengasuh anak. Bahkan, beberapa kegiatan terlihat kontradiksi dengan kegiatan menonton televisi seperti membaca buku, mendengarkan radio atau kaset, mengerjakan PR, bahkan tidur. Jadi, menonton televisi bukanlah kegiatan yang soliter, menyendiri, dan terpisah dari kegiatan-kegiatan lainnya. Menonton televisi merupakan aktivitas yang terkait dengan tanggung jawab dan tugas-tugas rutin pengelolaan rumah tangga. Ketiga, meskipun aktivitas menonton televisi tidak disertai sikap selektif, seleksi jenis tontonan tetap ada. Mekanisme seleksi tidak didasarkan atas faktor selera, melainkan program tayangan telah lebih dulu dipilihkan oleh orang lain. Akibatnya, antar anggota keluarga sering berselisih untuk memperebutkan remote control. Jadi, menonton televisi pun merupakan kegiatan yang melibatkan relasi sosial, berhubungan dengan hubungan-hubungan kekuasaan tertentu yang menyangkut perbedaan status, usia, dan peran berbasis jender.


20

televisi komunitas

Televisi Komunitas di Era Siaran Televisi Dijital:

Antara Ada dan Tiada Saiful Bakhtiar

Pertanyaan ini muncul begitu mendengar adanya upaya pemerintah Indonesia untuk “menggusur” siaran televisi analog menjadi dijital. Tidak main-main niat pemerintah, terbukti pada 13 Agustus 2009 melalui Televisi Republik Indonesia (TVRI) siaran televisi dijital diluncurkan. Langkah yang terbilang sangat berani di tengah ketidaksiapan. Bahkan, di era kepemimpinan Muhammad Nuh sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi siaran dijital direncanakan akan dapat dinikmati secara penuh di seluruh Indonesia mulai 2011, atau paling lambat 2012. Sementara “matinya” siaran televisi analog diagendakan pada 2017. Gerakan siaran televisi dijital telah juga dimulai di sejumlah negara. Jepang akan menggunakan teknologi siaran televisi dijital secara penuh pada 2011. Sementara di Jerman, gerakan ini sudah di mulai di kota Berlin pada 2003 dan kota Muenchen pada 2005. Televisi dijital atau DTV adalah jenis televisi yang menggunakan modulasi dijital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal gambar, suara, dan data ke pesawat televisi. Televisi dijital merupakan alat yang digunakan untuk menangkap siaran televisi dijital, perkembangan dari sistem siaran analog ke dijital yang mengubah informasi menjadi sinyal dijital berbentuk bit data seperti komputer (http://id.wikipedia.org/ wiki/Televisi_digital). Adapun keunggulan siaran televisi dijital terletak pada kualitas gambar. Anda akan disuguhkan tulisan tentang yang menyuguhkan keunggulan siaran televisi dijital seperti gambar yang lebih halus dan tajam, jernih, stabil, dan tanpa efek bayangan atau gambar ganda, meski pesawat penerima berada dalam keadaan bergerak dengan kecepatan tinggi.

Dimana ruang televisi komunitas? Di tengah riuh rendahnya persiapan siaran televisi dijital, pembahasan alokasi frekuensi televisi komunitas seolah tak terdengar. Garin Nugroho, sineas sekaligus pemerhati televisi Komunitas mengatakan televisi komunitas memiliki ‘ruang’ untuk bereksplorasi dan melayani komunitasnya meskipun masih kendala dengan frekuensi. Lebih lanjut sutradara “Di Bawah Pohon”, menilai adanya posisi dilematis dalam pengelolaan televisi komunitas. Sisi manajemen atau kemampuan produksi program masih belum mampu dijawab oleh para pengelola televisi komunitas. Kondisi ini semakin diperburuk dengan kemampuan kemandirian dalam pengelolaan biaya produksi dan keberlangsungan televisi komunitas. “Rata-rata ‘hidup’ televisi komunitas jangka pendek, kemampuan produksi program yang konsisten dan terus menerus serta memiliki nilai tambah belum kuat,” ujar Garin. Menghadapi adanya rancangan besar pemerintah untuk meninggalkan siaran ana-

log ke dijital, Garin menilai kesiapan televisi komunitas masih dipertanyakan. “Selama hal-hal PR dalam pengelolaan tidak berubah maka tidak akan banyak perubahan di televisi komunitas,”tutur Garin. Di tengah banyaknya temuan titik lemah televisi komunitas, sesungguhnya televisi komunitas memiliki banyak potensi dan kemanfaatan di era siaran dijital. Tantangan terberat seperti yang disebutkan Garin adalah mendekatkan kembali peran televisi komunitas bagi komunitasnya sendiri. “Pertarungan” dalam manajemen pengelolaan menjadi kunci untuk langkah strategis. Saat siaran televisi dijital menjadi suatu kepastian, maka televisi komunitas bisa berbenah untuk menjawab makin banyaknya konten dan saluran yang ada agar para penonton bisa bisa lebih menikmati tayangan dan program yang lebih mendidik. televisi komunitas di era siaran dijital bisa menjawaban akan banyaknya konten siaran televisi swasta nasional yang disesaki sajian gaya hidup yang membodohkan bangsa. KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010


perpustakaan

21

Mimpi Sanggar Al-Faz di Tengah Lumpur Saiful Bakhtiar

Tepat pada 1 Januari 2009, Sanggar Al-Faz lahir dari rahim ‘panas’nya luapan lumpur Lapindo, Sidoarjo Jawa Timur tepatnya di Desa Besuki. Kegelisahan makin kurangnya perhatian orang tua kepada anak setelah peristiwa luapan lumpur Lapindo menjadi alasan para pegiat untuk mendirikan sanggar ini. Orang tua cenderung fokus pada ganti rugi akibat Lumpur Lapindo yang belum selesai hingga kini. Sementara itu, anak-anak yang masih butuh perhatian malah terabaikan.

iri dengan menyanyikan lagu Selamat Ulang tahun dan tipu lilin yang dilakukan oleh seluruh anggota Sanggar Anak Al-Faz.

lebih dari 1.000 eksemplar. Mulai dari bacaan untuk anak-anak hingga bacaan untuk orang dewasa. Alat musiknya pun semakin banyak. Buku-buku tersebut diperoleh dari sumbangan para dermawan. Ada juga komputer dari COMBINE Resource Institution yang sebenarnya digunakan untuk mengirim berita tapi juga untuk latihan para anggota Sanggar Al-Faz tersebut.

Irsyad (45), pendiri Sanggar Al-Faz, merasa bahwa anak-anak di daerahnya cenderung liar karena kurangnya perhatian orang tua mereka. Akhirnya ia mendirikan sanggar tersebut sebagai sarana bermain anak. Selain bermain, mereka juga bisa menimba ilmu di sanggar tersebut.

Di sanggar ini mereka diajarkan pelbagai macam musik tradisional dan lagu wajib. Ada juga pelatihan komputer, membaca puisi, menyanyi, menari dan juga arti kebersamaan. Perjalanan sanggar telah memasuki usianya yang pertama. Banyak halangan dan rintangan yang telah dilalui oleh sanggar tersebut. Di antaranya ialah kurangnya anggota dan cemooh dari parawarga yang merasa bising sejak adanya sanggar.

Awal mula sanggar tersebut hanya berisi beberapa buku saja. Rak bukunya pun hanya satu. Setelah beberapa bulan, ada kawan dari Malang yang memberi fasilitas berupa alat musik tradisonal. Bersabar merupakan kunci utama. Itulah yang Irsyad katakan. Kini setelah 12 bulan berjalan, Sanggar Al-Faz telah memiliki buku bacaan yang

Kini sedikit demi sedikit para warga bisa beradaptasi dan jumlah anggotanya juga bertambah banyak hingga 35 orang. Pada perayaannya yang pertama Januari 2010 silam, di sanggar dilangsungkan acara syukuran sederhana. Di mulai dari bernyanyi bersama dilanjut dengan pelepasan balon Sanggar Al-Faz, makan bersama dan diakh-

KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010

Kegiatan anak-anak di sanggar mendapat ruang ketika diselenggarakannya Festival Budaya Anak Pinggiran (FBAP) bertema Mengais Dunia yang Hilang yang diselenggarakan pada 18-20 Desember 2009 bertempat di Gelanggang Olah Raga (GOR), Sidoarjo. Acara ini sendiri diisi oleh pelbagai komunitas yang berada di Jawa Timur. Anak-anak Sanggar Al-Faz menunjukkan penampilan pertamanya dengan menyanyi bersama komunitas dari Malang dan dilanjutkan dengan penampilan Jaranan dan lagu Suwe Ora Jamu. Apresiasi untuk belajar bersama dengan Sanggar Al-Faz juga datang SMA Pelita Harapan di Cikarang Jakarta. SMA ini memilih Sanggar AL-Faz sebagai tempat untuk melaksanakan kurikulum sekolahnya. “Sebenarnya di sekolah anak-anak dicetak untuk jadi seorang pemimpin dan ingin agar mereka menjadi pemimpin yang tahu kondisi masyarakatnya dan bisa menggunakan kepemimpinannya itu secara bijaksana jadi mereka tidak menyengsarakan rakyatnya,” Jhon Sihombing, guru pendamping SMA Pelita Harapan. Satu tahun perjalanan Sanggar Al-Faz jika diibaratkan seperti bayi yang baru belajar untuk berjalan. Kini yang menjadi impian sanggar tersebut adalah membuat tempat khusus untuk sanggar karena selama ini sanggar berada di rumah Irsyad. “Saya ingin mereka lebih bebas mengapreasikan apa yang mereka inginkan,” ucapnya. Perlu waktu dan perjuangan yang tidak pernah berhenti untuk mewujudkan mimpi tersebut.


22

cetak

Langkah Cepat Menulis Berita Langsung

Yossy Suparyo

Berita langsung adalah berita yang ditulis untuk mewartakan peristiwa secara cepat. Tujuannya agar suatu peristiwa dapat sesegera mungkin dihadirkan kepada pembaca.

Untuk dapat menulis berita langsung pewarta harus memiliki keterampilan menulis cepat, tanpa meninggalkan unsur kelengkapan berita dan keberimbangan narasumber. Membuat berita langsung yang cepat dan lengkap, Anda harus membiasakan diri menulis garis besar berita (outline) dengan teliti. Sementara menyusun garis besar, cepatlah pilih segi (angle) berita yang ingin Anda tulis. Misalnya, apakah Anda akan mengutamakan isi kejadian atau runtutan kejadian. Perhatikan contoh berikut ini: Anda akan meliput panen kolam lele di Desa Wonolelo. Sebelum pergi meliput, tuliskan pertanyaan yang akan Anda ajukan dalam secarik kertas. Misalnya, (1) Tiap berapa bulan panen lele dilakukan; (2) Berapa jumlah kolam yang akan dipanen; (3) Berapa kilogram hasil panen tiap kolam; (4) Berapa ki-

logram benih yang dikembangbiakan sebelumnya; (5) Berapa harga jual lele perkilogram; (6) Bagaimana cara memanen lele yang tepat. Selain itu pewarta selalu memperhatikan unsur 5W+1H, yaitu apa yang terjadi (what), di mana kejadiannya (where), Kapan terjadinya (when), Siapa yang terlibat dalam kejadian (who), Mengapa peristiwa itu terjadi (why), dan Bagaimana kejadiannya (how). Berita langsung ditulis dengan teknik piramida terbalik, informasi yang paling penting ditulis pada awal berita. Lalu susun dengan cara berikut ini. 1. Paragraf pertama disebut dengan teras berita. Teras berita berisi materi yang paling penting dari peristiwa. Buatlah 2 hingga 4 kalimat yang memuat unsur apa kejadiannya, di mana kejadiannya, siapa yang terlibat dalam kejadian KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010


cetak tersebut dan kapan kejadiannya. Misalnya: Musim panen lele di Desa Wonolelo, Pleret, Bantul telah tiba (15/4/2009). Lima kolam berukuran 5 x 10 meter yang dikelola Forum Warga Wonolelo menghasilkan lima ton lele. Peternak memperoleh pemasukan hingga 50 juta rupiah. Apa kejadiannya = panen lele. Di mana kejadiannya = Desa Wonolelo, Pleret, Bantul Kapan kejadiannya = 15/4/2009 artinya 15 April 2009 Siapa yang terlibat = Forum Warga Wonolelo 2. Uraikan informasi dalam paragraf pertama dengan satu paragraf lanjutan yang berisi kalimat pernyataan. Misalnya Petani lele di Desa Wonoleo selalu memanen kolamnya setiap empat bulan. Menurut Muhidin (45), Ketua Forum Warga Wonolelo, petani akan merugi bila lele dipanen terlalu lama sebab harga jualnya murah. 3. Tulislah kalimat berbentuk kutipan langsung dari narasumber. Usahakan atribut narasumber telah ditulis dalam paragraf sebelumnya. “Pembeli menyukai lele berukuran sedang. Satu kilogram berisi 6-7 lele,” ujarnya. 4. Lanjutkan tulisan dengan penajaman informasi. Penajaman dapat dilakukan dengan mencari narasumber yang berpendapat berbeda atau menguatkan. Ingat, Anda tetap harus memperhatikan isi teras berita. Misalnya tentang penjualan hasil panen yang mencapai 50 juta.  Hal senada diakui oleh Waginah (36), Pedagang Pecel Lele Monggo Kerso di Jalan Pleret. Setiap dua hari sekali ia membeli lele langsung dari kolam sebanyak 10 kilogram.

KOMBINASI | Edisi 33 | Mei 2010

5. Kutiplah pendapat narasumber lain agar berita yang Anda tulis mengandung unsur berimbang. “Pembeli menyukai ukuran lele sedang karena rasa lelenya lebih enak,” ujar Waginah seraya menebar senyum. 6. Buatlah paragraf penutup yang berisi kesimpulan. Usaha kolam lele yang dikembangkan Forum Warga Wonolelo mampu menumbuhkan perekonomian warga setempat. Dari penjualan hasil panen, setiap anggota mendapat hasil bagi keuntungan sebesar 2,5 juta rupiah.

23

Sisanya dipergunakan untuk pembelian benih, makanan ikan, perbaikan kolam, dan kas kelompok (YS). YS = inisial penulis berita 7. Lalu buatlah judul yang tepat. Lele Sumber Ekonomi Warga Wonolelo 8. Susunlah paragraf yang telah dibuat berdasarkan urutannya. (Lihat boks)  Latihlah keterampilan menulis Anda secara rutin. Usahakan setiap hari Anda menulis satu berita. Tak harus berita yang rumit, peristiwa di sekitar Anda jauh lebih baik. Ayo terus mencoba.

boks

Lele Sumber Ekonomi Warga Wonolelo Musim panen lele di Desa Wonolelo, Pleret, Bantul telah tiba (15/4/2009). Lima kolam berukuran 5 x 10 meter yang dikelola Forum Warga Wonolelo menghasilkan lima ton lele. Peternak memperoleh pemasukan hingga hingga  50 juta rupiah. Petani lele di Desa Wonoleo selalu memanen kolamnya setiap empat bulan. Menurut Muhidin (45), Ketua Forum Warga Wonolelo, petani akan merugi bila lele dipanen terlalu lama sebab harga jualnya murah. “Pembeli menyukai lele berukuran sedang. Satu kilogram berisi 6-7 lele,” ujarnya. Sebagian besar pembeli lele yang dikembangbiakan oleh Forum Warga adalah pedagang di pasar kecamatan dan kabupaten. Muhidin mengatakan petani lele Forum warga Wonolelo memiliki 40 pelanggan yang biasa membeli lele antara 2 kwintal hingga satu ton. Selain pelanggan besar, ada juga pembeli yang berasal dari warga setempat yang berdagang pecel lele kali lima di sepanjang jalan PleretWonolelo. Hal senada diakui oleh Waginah (36), Pedagang Pecel Lele Monggo Kerso di Jalan Pleret. Setiap dua hari sekali ia membeli lele langsung dari kolam sebanyak 10 kilogram. “Pembeli menyukai ukuran lele sedang karena rasa lelenya lebih enak,” ujar Waginah seraya menebar senyum. Usaha kolam lele yang dikembangkan Forum Warga Wonolelo mampu menumbuhkan perekonomian warga setempat. Dari penjualan hasil panen, setiap anggota mendapat hasil bagi keuntungan sebesar 2,5 juta rupiah. Sisanya dipergunakan untuk pembelian benih, makanan ikan, perbaikan kolam, dan kas kelompok (YS). 



Kombinasi Edisi 33 Mei 2010