Issuu on Google+


DIALOG BULAN PUASA

8

Keterangan :

Selaku Pak Kyai oleh : Haji Bakri Wahid, B.A. Daeng Naba oleh : Syamsul Marlin, B.A. 1


BAGAIMANA SHALAT PUASA DI KUTUB Utara ??? DG. NABA : Assalamu Alaikum PAK KIAY : Alaikummussalam, mana Dg. Naba ini‌ DG. NABA : Ini saya Pak Kiay PAK KIAY : O, sudah lm diluar ? DG. NABA : Ia, tapi saya belum masuk di kamar PAK KIAY : Mm saya lihat-lihat juga ini persoalan2. DG. NABA : Ia, ini saya baca-baca surat Pak Kiay. Pokoknya banyak sekali ini surat-surat Pak Kiay. PAK KIAY : Apa-apa lagi ? DG. NABA : Dg. Naba lupa Kacamata PAK KIAY : O, lupa kacamata? DG. NABA : Lantas kurang jelas ini Pak Kiay PAK KIAY : Apa itu DG. NABA : Ki bantu-bantu ini Pak Kiay Ini dari Ipati Daerah Kaimatu.. PAK KIAY : Dimana itu Kaimatu ? DG. NABA : Tidak tahu demi itu Kaimatu Pak Kiay. Ini dari Kotamubagu, orangnya bernama Domopoli. Ini lagi Pak Kiay selanjutnya dari Gowa dari Mangelai 2


Baso. Ini dari Bima Ki Hamid Hasan. Ini M. Dahlan dari Cenderawasih U. Pandang. Selanjutnya dari Masaba, supaya dari Palopo Utara. Selanjutnya dari Syarif Abbab Kap. Jawa Saba Malaysia. Selanjutnya dari Muh. Saat Alimar, Guru SD Kartika Balikpapan. Ini rupanya surat dari Parigi, Usman. Parigi itu dimana Pak Kiay. PAK KIAY : Dari Sulawesi Tengah DG. NABA : Memang itu dari Sulawesi Tengah. Ini dari Kemba M. Yusri Jahya. Selanjutnya dari M. Aris Bulukumba, surat anda telah diterima. Bari Toli2, Husain Pakaya. Banyak surat dari Toli2. Dulu ada dua suratnya ini Pak Kiay. Ini dari Hasbullah Said Cenderawasih U. Pandang. Selanjutnya dari Basimin Pangkalan Sukarno Ujung Pandang. Pertanyaanya belum dibaca Pak Kiay, pokoknya nama2 saja dulu. A. Wahid Iwan D.S. di Jln. Rajawali Lr. 9 U. Pandang, Iswan Lapaola dari U. Pandang. Kemudian dari Arman Habib U. Pandang. Dari Basri Hasan Jl. Abubakar Lambogo U. Pandang. Selanjutnya dari Muh. Daud Siswa SMA Langkana Raya Mailili dari Luwu. Ini surat dari Abdullah Jl. Bungaya No. 75 U. Pandang, sudah terima surat anda. Watasoppeng dari Abd. Gaffar Arsal. Selanjutnya dari U. Pandang, Muh. Abidin Yaman. Burhan Ismail Banta-Bantaeng U. Pandang. Selanjutnya dari Aminuddin M. Baranti Rappang. Sebelum terakhir, M. Arifin Asâ€&#x;ad BBA Jl. Sungai Sadang U. Pandang. Selanjutnya M. Nawawi Patinrera Bulukumba. Selanjutnya dari Abd. Muttalib Kantor Pos Ujung Pandang. Demikian surat2 Pak Pak Kiay yang saya ambil di 3


meja tadi. Nah sekarang jawaban surat (Ini surat yang duluKay), sekarang dijawab. Ini rupanya dari Pelda Hemma Kamiseng Perawat R.S. Bayangkara U. Pandang. Pertanyaannya, bagaimana cara orang-orang yang berada di daerah kutu Utara menjalankan puasa/ sembahyang lima waktu sehari semalam, maksud kami bagaimana mengetahui subuh dan magrib, sebab menurut sejarah, di daerah tersebut tiga ln hanya sekali melihat matahari. PAK KIAY : Jawabnya Dg. Naba, persilahkan berangkat ke kutub Utara, nanti disitu diperhitungkan persoalan waktu sholat. DG. NABA : A. a. begitu ? Kalau Dg. Naba, lain lagi. PAK KIAY : Bagaimana ? DG. NABA : Menurut Dg. Naba, orang tidak ada hidup di kutub Utara. Masa ada orang hidup di kutub. PAK KIAY : Karena itu, saya persilahkan kesana. DG. NABA : O. o.. begitu. Jadi Pak Kiay, sejalan dengan Dg. Naba. PAK KIAY : Sebenarnya Dg. Naba, andaikata betul ada, (ini semua andai) karena tidak dipastikan, andaikata ada manusia di kutub Utara, dipersilahkan mengambil peta bumi terdekat yang mempunyai waktu agak stabil. DG. NABA : O. ia‌ Griduil isitlahnay Pak Kiay PAK KIAY : Betul 4


DG. NABA : Yang kedua Pak Kiay, batalkah puasa bila seseorang disuntik bila sakit, ditetes telinganya dengan obat, ditetes cairan / darah. Sebab menurut pendapat medis itu berhubungan dengan kerongkongan. PAK KIAY : Begini Dg. Naba, kalau orang sakit, agama Islam membolehkan untuk tidak berpuasa. Jadi jangan dipikir-pikir kalau dia berpuasa, dia sakit lantas bagaimana puasanya, jawabnya kalau memang betul sakit agama membenarkan untuk tidak puasa. Tapi dapat juga kita jawab ada mungkin sakit yang kecil-kecil, ada yang sakitnya keras. DG. NABA : Dari atas dulu Pak Kiay umpamanya sakit-sakit plu disuntk‌.. PAK KIAY : Jawabnya Dg. Naba, tidak membatalkan puasa, di tetes telinga dengan obat juga tidak masuk membatalkan puasa, sebab telinga walaupun barangkali bertalian dengan kerongkongan tetapi jauh itu Dg. Naba syarafnya mungkin bertalian. DG. NABA : Ada lobangnya memang mungkin bertali Pak Kiay, tetapi lain lobang telinga, lain lobang kerongkongan. PAK KIAY : Ia.. ia, ,oleh sebab itu kalau masih masuk di telinga, tidak tiba di perut. DG. NABA : Nah sekarang tetes obat dengan mata, itu juga tidak membatalkan puasa. Hanya tetes hidung, itu memang cepat masuknya itu. Itu Dg. Naba kalau tetes hidung yang memang masuk ke kerongkongan, memang harus ditinggalkan. Begitu 5


juga impus cairan darah ke dalam tubuh, itu tidak membatalkan puasa. Tetapi dulu pernah kita peringatkan kalau orang suntik narkotik, itu tidak bisa. Kenapa? Karena itu bukan obat, tetapi itu candu, dan candu bagaimana masuknya, tetap dilarang oleh agama. Begitu Dg. Naba. DG. NABA : A. lalu Pak Kiay, diimpus dengan cairan atau impus darah, ini berarti orang sakit keras. PAK KIAY : Betul. Oleh sebab itu tidak usah puasa. DG. NABA : O, begitu, cocok – cocok Pak Kiay Itu sudah selesai Pak Kiay. Jadi itulah jawaban Pak Kiay melalui Dg. Naba terhadap surat anda. Atas perhatian anda, kami ucapkan by terima kasih. Begitulah Pak Kiay. Selanjutnya, ada lagi surat ini dari Kamil Pidu, di atas Kapal Kabaena. Masalah, di atas kapal ini. PAK KIAY : Masih tetap diikuti dialog Pak Kiay dengan Dg. Naba DG. NABA : Ya, itu tandanya setia, perlu diberi hadiah. Hadihanya apa ? jawaban pertanyaan. PAK KIAY : Itu hadiahnya ya ? DG. NABA : IE. Ini lagi Pak Kiay. Apakah surga dan neraka itu diciptakan Tuhan sesudah atau sebelum hari qiamat. Kalau belum, dimanakah ditempatkan orang-orang yang telah meninggal sesuai dengan amal perbuatannya selama di dunia. Ini pertanyaan Pak Kiay. Rupanya waktu dia berlayar, di ingat ? surga dan neraka. Salah-salah masuk kapalnya. 6


PAK KIAY : Apakah masuk surga, atau masuk neraka. Terus Dg. Naba. Pertanyaan itu, nanti kita jawab di belakang sekali. DG. NABA : O, ia yang kedua Pak Kiay, apa bedanya orang yang meninggal dalam bulan puasa dengan orang yang meninggal di luar bulan puasa ? PAK KIAY : Jawabnya jelas ada bedanya Dg. Naba. Yang mati dalam bulan puasa dan yang mati di luar bulan puasa bedanya ialah bulannya. DG. NABA : A. a, begitu. Ada tambahnya lagi Pak Kiay PAK KIAY : Apa tambahannya ? DG. NABA : Kalau di a mati bulan puasa ini (yang sekarang bulan puasa ini) dengan sesudah bulan puasa, artinya bukan bulan puasa lagi. Kalau di amat bulan puasa ini pendek umurnya. Kalau yang akan datang, tambah sedikit. PAK KIAY : Jadi kalau sudah mati sekarang, pendek umur. Kalau sudah lepas bulan puasa, masih tambah sedikit lagi. DG. NABA : O. a, begitu. PAK KIAY : Begini Dg. Naba, mungkin beliau ini teringat-ingat dengan suatu hadist yang mungkin ulama atau mubaligh memberikan penjelasan begini : Di dalam Hadist itu dikatakan Qad ja-akum syahramaadlaana, Syahrun mubaa rukun, kataballaahu „ alaikum Shisyaamuhu fiehi, yuftahu abwaabul jinaani wayuqhlaqu abwaabul jahiemi. Artinya, telah datang kepada kamu bulan 7


Ramadhan kata Nabi, bulan berkat, Allah perintahkan kamu puasa pada bulan itu. Di bulan itu dimana dibuka semua pintu surga dikunci semua pintu neraka. Jadi kalau ada orang mati , di bulan puasa karena pintu surga terbuka, pitu neraka terkunci, itulah kira-kira yang menimbulkan apakah ada bedanya orang mati. Tidak mungkin dia masuk surga langsung. Oleh sebab itu dikaitkan dengan pertanyaan apakah sudah ada anak surga sekarang dan anak neraka sekarang. Itu ada pertanyaan Dg. Naba. DG. NABA : O, bt. Maksdunya begini Pak Kiay, ada menurut anggapan orang, lebih mulia katanya kalau mait bulan Ramadhan daripada mati bulan lain. Bagaimana juga anggapan umum kalau mati di tanah suci, itu suci. Kalau mati di negeri sendiri, tidak baik. PAK KIAY : Begini Dg. Naba, kalau perbedaan itu karena masalah amal, jelas ada bedanya. Dia sedang beramal puasa, terus mati, itu berarti mati dalam beramal. Tentu akan berbeda mait dengan tidak dalam beramal, disitu letaknya. Begitu juga pergi naik haji. Di dalam beramal karena naik haji apabila kalau dia naik dengan ikhlas, dapat dikatakan mati syahit seperti orang yang mati di Colombo baru-baru ini, itu dibilang mati syahit. Adapun mati, perbedaan matinya itu Dg. Naba antara bulan puasa dan di luar bulan puasa, tidak ada bedanya. Yang membedakan kita adalah amal. Kalau kita mati bulan Ramadhan dan dia adalah pencuri, perampok, peminum tuak, di dalam 8


kuburnya dia tidak dapat kesenangan. Tetap akan mendapat siksa. DG. NABA : Ia, namanya siksaan kubur. PAK KIAY : Sebaliknya, biar di luar Ramadhan seseorang meninggal tetapi amalnya baik, dia akan mendapat kesenangan. Begitu Dg. Naba. Adapun hadist yang menjelaskan dibuka pintu surga, ditutup pintu neraka, itu memerlukan pengertian penafsiran Dg. Naba. Apa yang dimaksudkan oleh hadist itu, itu panjang maksudnya. DG. NABA : O, panjang maksudnya ? PAK KIAY : Ia, atau dengan singkat kita katkaan begini : Datang bulan puasa, dirantai setan, artinya manusia itu adalah sebahagian setan ada pada dirinya. Sebab Nabi katakan : “Maminkjum Min Ahadin Illa Walahu Syaitan�. Tidak ada seorang manusia yang tidak punya setan. Semuanya ada setannya. Kalau menjalankan ibadah puasa, dorongan setan itu sudah terantai. Kalau terantai dorongan setan kepada kejahatan, niscaya tertutuplah pintu neraka. Disitu terbuka pintu surga, karena amalnya. DG. NABA : Jadi dengan kata lain, setan itu kita yang ikat, karena kita puasa. PAK KIAY : Betul. Itu maksud Hadist DG. NABA : Ia, ia. Baiklah Pak Kiay. Demikianlah Bapak Kamil Pidu di atas Kapal Kaba Ena semoga jawaban Pak Kiay memuaskan anda. Selamat berlayar. Begitu kalau Dg. Naba Pak Kiay 9


PAK KIAY : Sekarang Dg. Naba, apa lagi. DG. NABA : Lanjutkan yang lalu Pak Kiay, masalah pendidikan anak2. Pak Kiay sudah menjelaskan faktor keenam, yaitu faktor guru berbeda antara mengajar dengan mendidik. PAK KIAY : Betul Dg. Naba. Kalau mendidik, membiasakan sesuatu yang baik untuk diulang-ulang sampai tertanam jadi sifat pada diri anak didik. Sedangkan mengajar, memberikan se-mata2 pengetahuan. Bersifat yang baik itu harus pula dicontohkan oleh guru kepada Murid itu Dg. Naba. DG. NABA : Ia, pantas ada orang bilang kalau guru kencing berdiri, murid kencing berlari. PAK KIAY : Ya ada kebenaran demikian Dg. Naba. Inilah salah satu faktor daripada kenakalan anak2 remaja jika guru tidak dapat memberikan percontohan yang baik. DG. NABA : Ibu saja itu ? Tidak ada faktor lain lagi Pak Kiay ? PAK KIAY : Tentu ada. DG. NABA : Apa lagi Pak Kiay ? PAK KIAY : Faktor kelima yang menjadi sebab kenakalan anak2, adalah faktor masyarakat Dg. Naba. DG. NABA : Faktor masyarakat, maksud Pak Kiay bagaimana ? PAK KIAY : Begini Dg. Naba, bila didalam suatu masyarakat banyak contoh2 yang kurang baik‌

10


DG. NABA : Ia, kalau Dg. Naba, dalam masyarakat banyak contoh2 tidak baik, bukan kurang baik, tidak baik memang. PAK KIAY : Banyak yang tidak baik. Ini pangkal Dg. Naba, pangkal terciptanya kenakalan anak2. Karena di dalam masyarakat, tidak dapat diberikan contoh baik, tapi contoh yang tidak baik. Apalagi Dg. Naba bila ada kesempatan bagi anak2 remaja untuk meniru contoh2 yang tidak baik itu tadi, itu bahaya. DG. NABA : Antara lain contoh yang tidak baik dan yang baik bagaimana Pak Kiay ? PAK KIAY : Begini Dg. Naba DG. NABA : Umpamanya ini ? PAK KIAY : Saya lanjutkan dulu Dg. Naba. Ada kesempatan bagi remaja meniru contoh2 yang tidak baik. Apalagi remaja yang datang dari keluarga yang memang tidak ada perhatian dari orang tua membinanya atau dengan kata lain dari keluarga yang kurang terbina, segeralah contoh2 tadi, dia ikut dan dia jadi pengedar yang buruk itu ke – tengah-tengah masyarakat. DG. NABA : Ya betul, betul. Nah sekarang apa contoh yang tidak baik Pak Kiay ? Dengan kata lain apa contoh yang buruk itu. PAK KIAY : Contoh2 Dg. Naba yang dalam keadaan tidak baik, banyak saja. Tapi yang kita ambil yang dapatlah kita lihat se-hari2. Antara lain film cabul, poster2 11


yang terpampang di muka umum dengan adegan2 ciuman dan sebagainya. Bacaan2 cabul, tablet2 perangsang, yang sangat menarik bagi remaja yang goncang jiwanya sebagai tempat pelarian Dg. Naba. DG. NABA : Kalau begitu Ka, contoh2 yang Pak Kiay buat, yang Pak Kiay kemukakan, umumnya di film cabul itu, bukan remaja Ka, tetapi yang tua2. PAK KIAY : Walaupun Dg. Naba filem2 cabul itu dibatasi umur yaitu 17 tahun ke atas, tetapi kadang-kadang yang 17 tahun ke atas itu, kurang terjaga, kurang tertib. Tetapi kadang-kadang masih dapat lolos nonton, ini disini Dg. Naba. Begitu juga persoalan ini tentu bukan lagi persoalan masyarakat tok, tetapi semua yang berkompeten dalam persoalan ini tentu ikut serta. DG. NABA : Memang Pak Kiay, seharusnya interasi semua Pak Kiay. Pak Kiay kasih penerangan baik2, tetapi orang lain merusak, bagaimana bisa. PAK KIAY : Itulah Dg. Naba‌ DG. NABA : Ia Dg. Naba bilang begini yang lain bilang begini, ah rusak, tidak cocok Pak Kiay. Kalau begitu Pak Kiay begini. Soal remaja bukan se-mata2 soal orang tua. Dan soal remaja, bukan hanya soal remaja tetapi soal orang tua juga. PAK KIAY : Itu satu sama lain mempunyai kaitan. Disamping orang tua, terlibat guru. Disamping guru, terlibat masyarakat, itu otomatis. 12


PAK KIAY : Memang benar demikian Dg. Naba. Soal orang tua, soal masyarakat dengan kata lain soal pemerintah. Karena itu Dg. Naba di dalam Undang-undang Pendidikan No. 5 tahun 1950 disebut ada tiga pusat pendidikan. DG. NABA : Ia ada tiga pusat pendidikan PAK KIAY : Ia yang di dalam kalimatnya, disitu dinyatakan, membentuk manusia susila, yang cakap, percaya kepada diri sendiri, bertanggung jawab kepada masyarakat. DG. NABA : A. a‌ tujuan pendidikan disitu dikatakan, membentuk manusia susila, artinya yang tidak susila perlu disingkirkan. PAK KIAY : Ia, yang tidak susila, harus disingkirkan, perlu dibentuk manusia susila. DG. NABA : Lalu cakap, percaya kepada diri sendiri, bertanggung jawab kepada maya. Kalau begitu tiga tujuan pendidikan, mana yang tiga itu. Itu tadi kan tujuannya Pak Kiay ? PAK KIAY : Dg. Naba, tadi kita sudah kemukakan di atas. Ketiga pusat pendidikan itu ialah : rumah tangga, sekolah, masyarakat. DG. NABA : O. a.. ia .. sekolah, artinya anak-anak dididik di sekolah, di rumah tangga. PAK KIAY : Tapi satu sama lain Dg. Naba merupakan kaitan kesatuan yang tidak dipisah-pisahkan Dg. Naba. DG. NABA : Artinya ketiganya itu saling berhubungan 13


PAK KIAY : Betul Dg. Naba DG. NABA : A. apa isi dan tujuan pendidikan di rumah tangga Pak Kiay sebaiknya. PAK KIAY : Tadi sudah ditunjukkan tujuan pendidikan menurut negara kita. Sekarang isi dan tujuan pendidikan rumah tangga itu apa. Sebenarnya Dg. Naba, isi dan tujuan pendidikan rumah tangga itu, dapat disimpulkan kepada tiga pula. Pertama isi pendidikan itu ialah pemantapan iman, dan menjauhkan kemusryikan. Itu harus didik di rumah tangga. Yang kedua Dg. Naba, melaksanakan ibadah. Jadi pendidikan di rumah tangga, dimulai dengan menjalankan ibadah. Dan yang ketiga, Dg. Naba, ialah pembentukan kebiasaan yang baik atau dengan istilah akhlakuk Karima. Ini is pendidikan rumah tangga. DG. NABA : O, ia. Jadi tiga. Yang pertama pemantapan iman, dan menjauhkan kemusryikan. Yang kedua, menjalankan ibadah, dan yang ketiga menjalankan akhlak yang baik. PAK KIAY : Betul Dg. Naba. DG. NABA : A. a.. ia.. Tapi kurang Pak Kiay, yaitu dimana letaknya hormat sama orang tua. PAK KIAY : Itu Akhlak, DG. NABA : Hormat kepada guru PAK KIAY : Akhlak.. DG. NABA : A. a.. disitu ? 14


PAK KIAY : Pokoknya Dg. Naba bisa bercerita apa ditanya terjawab pada soal yang tiga itu. Itu isi pendidikan rumah tangga Dg. Naba. Supaya anak tidak jadi anak nakal. DG. NABA : Bagaimana cara yang ditempuh dalam pematangan iman ? PAK KIAY : Ini Dg. Naba bertanya bagaimana cara yang ditempuh oleh rumah tangga di dalam pemantapan dan mematangkan iman seorang anak di rumah tangga. Begini Dg. Naba. Contoh-contoh pendidikan rumah tangga, itu telah digambarkan oleh Allah s.w.t. di dalam Al Qur'an. Seperti surat Lukman ayat 12 dan banyak lagi ayat-ayat lain seperti surat Yusuf, surat Ibrahim dan sebagainya. DG. NABA : Nah sekarang Pak Kiay perlu diterangkan azasazas pendidikan Lukman di rumah tangga itu. PAK KIAY : Azas-azasnya DG. NABA : Ia, bunyi ayatnya itu bagaimana PAK KIAY : Begini Dg. Naba. Di dalam surat itu, azas-azas pendidikan Lukman terhadap anaknya di rumah tangga. DG. NABA : Ini Lukman, siap ini Pak Kiay ? PAK KIAY : Ini Lukmanul Hakim, tersebut di dalam Al Qur'an DG. NABA : O, yang masuk namanya dalam kran PAK KIAY : Betul DG. NABA : O, bukan Lukman yang dekat sana itu. 15


PAK KIAY : Bukan Lukman pegawai itu, tetapi yang tersebut dalam Al Qur'an. Di dalam ayat itu berbunyi begini: Wa ideqaala luqmaanu libnihi nahua yaidhuhu, yaa bunayya laatusyik billaah, innasysyirka lachulmun adhim. Suatu ketika berkata Lukman kepada anaknya. DG. NABA : Satu saja anaknya ? PAK KIAY : Disebutkan disini anaknya saja. Apakah satu atau dua, sekarang apa yang dilakukan oleh Lukman ? Wahua Yaidhuhu Ia mengajarnya, menasehatinya. Diantaranya, Ya Bunayya : Hai anakku, jangan kau persekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah dengan sesuatu, adalah sesuatu keqiliman yang amat besar. DG. NABA : Inilah dasar-dasar pengajaran Lukman di rumah tangganya PAK KIAY : Ia. Jadi pada ayat ini dapat kita tarik bahwa pengajaran (azas) pendidikan rumah tangga mengajar anaknya tentang iman, dan menjauhkan Tuhan dipersekutukan dengan sesuatu DG. NABA : Saya belum dapat memahami apa yang sesungguhnya isi dari pendidikan rumah tangga dari ayat tersebut. PAK KIAY : Begini Dg. Naba, kalau itu belum dapat Dg. Naba fahami, baiklah saya berikan keterangan yang lebih jauh. Pertama, bahwa pendidikan di rumah tangga dalam pemantapan iman menurut ayat ini Dg. Naba, ialah pengajaran, nasehat, penjelasan tentang iman kepada ke Esaan Allah. Jadi dimantapkan ini. 16


Harus diyakinkan bahwa Allah itu Maha Esa, Esa zatnya, Esa sifatnya, Esa Af alnya atau perbuatannya. Ini diberikan penjelasan-penjelasan. Yang kedua lagi, kemudian pemantpaan iman itu dijalankan melalui ibadah. Semuanya itu dilakukan oleh orang tua di rumah tangga terhadap anaknya. Jadi disuruh anak sembahyang, dia sendiri sembahyang. Supaya realisasi dari pada Iman tadi, dapat dibuktikan melalui ibadah. DG. NABA : Jadi kalau begitu Pak Kiay, kalau mendidik anak bersembahyang, orang tua sembahyang. PAK KIAY : Betul DG. NABA : Jadi kalau begitu orang tua tidak sembahyang, otomatis anak tidak sembahyang PAK KIAY : Ia, sulit. DG. NABA : O . ia.. ia.. jadi tidak boleh hanya menyuruh saja. PAK KIAY : Betul. Itu sudah kita jelaskan tadi, menyuruh itik masuk air, cocok. Tetapi menyuruh kambing masuk sungai, itu susah. Jadi diikat lehernya, terjun dulu baru jadi. Begitu Dg. Naba‌ DG. NABA : Begitu pula mendidik sembahyang. Kalau begitu Pak Kiay nanti saja kita lanjutkan. Asalamu Alaikum. PAK KIAY : Alaikummussalam.

17


HAID DAN PUASA PAK KIAY : Ah.., segar-segar perasan Pak Kiay hari ini, eh e e mana Daeng Naba ini belum datang juga, baiklah saya bacakan surat-surat masuk. Yang pertama Daeng Naba sudah pernah bacakan. Yang kedua, ialah pertanyaan dari Sdr. Muh. Yahya TDK, Moncobalang Gowa. Baiklah saya bacakan pertanyaannya. Biasa saya mendengar dari orang ataukah dari insan yang akan meninggal dunia, bahwa sebelum sakratul maut datang, atau sebelum nyawanya dicabut, lebih dahulu ada tanda-tanda alamat yang dibawa langsung dari guru tarakatnya. Bila tana alamat sudah datang, maka ia sudah memastikan bahwa ia akan meninggal dunia. Karena apa yang dipelajari dari guru, sudah ada. Mohon adfis. Adapun tanda-tanda dari guru itu, tidak bisa kita perpegangi, karena persoalan ini adalah persoalan agama. Agama, bukan ajaran guru, agama adalah ajaran dari Allah dan Rasul. Jadi ajaran dari alalh dan Rasul itu, berhak dipegang. Kalau ada ketentuan dari Allah dan Rasul, itulah yang kita pegangi. Sdr. Muh. Yayhay TDK, di dalam Hadist dinyatakan : innannafa lan tufaariqidduniya hatta tara mag dahu fil jannati au tianar. Sesungguhnya nyawa sebelum dipisahkan dari badannya, akan diperlihatkan kepadanya tempatnya di sruga atau di neraka. Jadi berdasarkan hadist ini, seseorang yang berada sebelum nyawanya dicabut, dari badannya, maka diperlihatkanlah tempatnya dahulu, surga tempatnya atau neraka. Barulah sesudah itu nyawanya dicabut. Antara tanda ini, ada jarak yang 18


panjang ada jarak yang pendek. Jadi inilah satu tanda yang akan datang kepada orang-orang yang akan mati. Itulah tanda yang datang dari Hadist, yang penjelasannya dari Rasulullah. Adapun tandatanda dari guru tarekat, umpamanya, belum dapat kita benarkan sebelum di mengemukakan dasarnya dari Al Qur'an atau Hadist. Sebab agama sumbernya dari situ, bukan sumbernya dari Guru. Demikian Sdr. Yahya TDK. Selanjutnya, rupanya Dg. Naba juga belum datang, saya jelaskan lagi surat yang ketiga, ialah Sdr. Hasan Sandiri. Jadi Sdr. Hasan Sandiri Jln. Mawas Komplex Pertanian Maricaya Selatan. Pertanyaannya, saya akan berikan satu diantara pertanyaannya. Apakah wajib dikeluarkan zakat Fitrah bagi anak-anak yang masih dalam kandaungan ibunya. Bersamaan dengan pertanyaan Sdr. Hasan Sandiri, ada beberapa orang juga yang bertanya, yang sama dengan ini berarti sudah sekaligus terjawab. Ada yang berkata, anak dalam rahim Ibu sudah bertubuh, sudah beroh apakah wajib dikeluarkan zakat fitrahnya. Jawabnya tidak wajib dikeluarkan zakat fitrah anak yang masih dalam kanduangan. Sebab itu anak belum berwujud ke dunia. Kalau sudah berwujud ada di dunia, barulah dikenakan wajib mengeluarkan zakat fitra oleh orang tuanya. Demikian Sdr. Hasan Sandiri tentang pertanyaan Sdr. Pertanyaan yang keempat (Dg. Naba masih saya tunggu belum datang Sdr-sdr sekalian). Bagaimana hukumnya bagi wn yang habis haid, tetapi belum mandi atau membersihkan diri, tetapi sudah bangun makan 19


sahur nanti besoknya baru mandi membersihkan diri. Ini pertanyaan dari si pengirim Hasnah UP. Jawabnya, Dr. Hasnah bagi wanita yang dalam keadaan haid, mau puasa besok, tetapi belum bisa mandi tengah malam itu, lantas makna sahur berniat puasa, itu jawabnya boleh. Jadi tidak ada larangan makan sahur dan berniat bagi wanita haid. Yang dilarang di dalam hadist, cum lima perkara. Membaca Al Qur'an, menyentuh Al Qur'an, masuk Mesjid, sembahyang, tawaf di Mesjid. Inilah yang dilarang bagi wanita haid. Jadi makan sahur puasa besok, tidak terlarang. Tetapi sudah jelas dia besok harus sembahyang subuh, mandi dahulu. Demikian Sdr. Hasnah, Jawaban Pak Kiay, tetapi saya terima dari Dg. Naba, karena Dg. Naba belum datang. Terpaksa Pak Kiay sendiri yang ladeni. Dan ada lagi ini surat dari saudara M. Choled jalan domba ujung Pandang dimana suratnya berbunyi, begini : “Apakah syah itu perkawinan, apabila berlainan umur, pendidikan dan kepercayaan ?â€? Misalnya begini Pak Kiay : Seorang pemuda yang jauh di bawah umur dari pada calon istrinya, sedangkan calon istri tersebut punya pendidikan lebih tinggi dan juga beragama lain lagi fanatik. Bagaimana kira2 pendapat Pak Kiay tolong jelaskan‌ Begini Saudara M. Choled, kalau Pak Kiay perhatikan isi pertanyaan saudara, pasti saudara masih bujangan tentunya, bagaimana .. ya, kan ! ? Nah, kalau begitu akan saya jawabkan pertanyaannya. Soal perbedaan umur, pendidikan, 20


dan agama tidaklah menjadi masalah ,asalkan sama2 matang dan dewasa dalam pemikiran2 yang sehat. Jadi kalau saudar Choled minta pendapat Pak Kiay tentang perbedaan tersebut, maka pendapat Pak Kiay tidak ada persoalan lagi, asal tentunya mereka dewasa dalam segala hal. Begitu jawab dari Pak Kiay kiranya saudara M. Choled puas, dan juga surat berikutnya dari saudara Bodhy jln. Lembu No. 17 Ujung Pandang. O, siapa itu ? DG. NABA : saya Pak Kiay PAK KIAY : silahkan masuk Dg. Naba DG. NABA : Assalamu Alaikum PAK KIAY : Alaikummussalam w.w. DG. NABA : O, saya terlambat bangun Pak Kiay PAK KIAY : Itulah, suratnya saya sudah jawab Dg. Naba DG. NABA : Alhamdulillah,untung kemarin saya titip sama Pak Kiay PAK KIAY : Itulah, saya pikir-pikir jangan – jangan Dg. Naba tidak datang, habis waktu lagi. DG. NABA : Ia, ini gara-gara surat Pak Kiay PAK KIAY : Bagaimana sampai gara-gara surat DG. NABA : Surat saya baca sampai larut malam. Sampai akhirnya terlambat bangun. Untunglah rupanya belum selesai. Sudah lm Pak Kiay ? 21


PAK KIAY : Ia, begitulah sudah selesai 4 soal saya jawab. DG. NABA : Empat surat sudah selesai ? masalah, bukan main lamanya. Untung Pak Kiay saya masih sempat datang. Ini Pak Kiay, surat-surat yang saya bawa ini Pak Kiay, ini adalah lagi surat dari Baco Jl. Banda Uj. Pandang. Ada lagi dari Azis di Uj. Pandang Pak Kiay. Ini lagi dari Abdullah, Uj. Pandang juga. Selanjutnya dari Uj. Pandang dari Colleng Jaya Dengan. Ngunjung. Kp. Lette Mariso. Sudah terima suratnya. Ini lagi H.S. Mahmud Tahir dari Uj. Pandang juga ? PAK KIAY : Saya tidak lihat alamatnya dari mana ini Dg. Naba. Memang tidak pakai alamat barangkali itu, mungkin di Uj. Pandang. DG. NABA : Kira-kira dari Uj. Pandang. Jadi pokokknya kita sudah terima Pak Kiay. Kemudian ini dari Uj Pandang, Muh. Rafiuddin S. Bantang-Bataeng Uj. Pandang. Selanjutnya, dari Abd. Fattah Peg. Pengadilan Negeri Benteng Selayar. Ini dari Selayar, dari seberang Laut. Ini langsung sebut nama Ya. Amrulllah M.S. Komplex Patompo Uj. Pandang. Jawabannya, bersabar. Selanjutnya dari Jln. Rajawali Mariso Muh. M. Dengan. Bali di Lette ini Pak Kiay. Pindah memang dia. Ini dari Watampone, dari M. Abbas Ka. Peg. R.S.U. Bone. Selanjutnya Pekalongan, dari Jarkasih HS. Jln. Dr. Wahidin Gang 9/10 Kodya Pekalongan. Selanjutnya dari Salak, Hamzah Zaidin dari Takalar. Ini lagi Sandakang, ini surat dari 22


Malaysia. Anak perantau berasal dari Enrekang Djaafat M. juga surat anda sudah diterima. Selanjutnya dari La Ode Raliani. Ini dari Buton karena pakai La Ode Pak Kiay. PAK KIAY : Kalau La Ode, laki-laki DG. NABA : Inimi kita cara Laode Pak Kiay Gunung Haji. Ini dari Lampung Sumatera Selatan, Masriun. Selanjutnya Abd. Madjid K. Kaltim. PAK KIAY : Kalimantan Timur DG. NABA : Begitu suratnya Pak Kiay ya ? Ini lagi yang tercinta Pak Kiay dan Dg. Naba A.R. Nompo dari Gowa, KEc. Limbung Bajeng. PAK KIAY : Walaupun tidak yang terbenci. DG. NABA : Memang harus dicintai Pak Kiay dan Dg. Naba, artinya jangan hanya surat dikirimi, Dg. Naba diundang ton. Apalagi kalau bukan puasa. Pak Kiay. Ini dari Uj. Pandang dari Lukman H.S. S. Saddang. Selanjutnya Pak Kiay ‌ masih banyak ini Pak Kiay PAK KIAY : Nanti lagi kalau banyak DG. NABA : Dari Syamsul Bakri, Syamsul AlAM, St. Syamsuniar, St. Syamsuniarma, semua di Uj. Pandang. Jln. Rajawali. Ini lagi Pak Kiay tanpa nama dan tgl. Nya juga tidak ada. Tapi biarmi, pokoknya sudah terima. Ini lagi dari Bahtiar Alamran Uj. Pandang. Kalau yang ini dari B. Dengan. Ngalle Uj. Pandang. Selanjutnya dari Makkasau Dengan. Situju Kec. Sabbang Kab 23


Luwu. Selanjutnya dari Mr. Ham Uj. Pandang. Apa isi suratnya, nanti s Pak Kiay. Pokoknya sekarang sudahnya sudah diterima. Dari Yunus Ibrahim di Uj. Pandang, Jln. Dr. Ratulangi. Selanjutnay Faruddin Dengan. Malasi. Ini lagi tidak punya nama dan tgl. Nya juga tidak ada. Pokoknya sudah diterima Pak Kiay. Jadi pusing Dg. Naba, tidak jadi Nabami. Ya masih ada suratsurat Pak Kiay, tapi besok lagi saya bacakan, cukup sekian dulu. Kita sambung dialog kita yang lalu Pak Kiay‌ masalah Nakal-nakal yang lalu Pak Kiay. Kia sudah bicara tentang masalah pendidikan lapangan pendidikan, dan tujuan pendidikan. Rumah Tangga, lapangan sekolah, lapangan masyarakat. Lalu apa contoh-contoh lapangan pendidikan dari kemasyarakatan itu. PAK KIAY : Begini Dg. Naba, Kemasyarakatan barangkali yang kita bicarakan dulu, sesudah selesai, yang kita bicarakan ialah bahwa tujuan dan isi pendidikan rumah tangga. DG. NABA : O, tujuan pendidikan Lukman terhadap anak. Jadi masalah masih di dalam pemantpana iman di dalam rumah tangga. PAK KIAY : Dan menjauhkan kemusyrikan DG. NABA : O, ia, ia baru Dg. Naba ingat. Begitulah Pak Kiay kalau sudah tua. Malah sudah terlambat lagi datang. PAK KIAY : Begitu Dg. Naba, bahwa pendidikan dalam rumah tangga ada tiga dulu (kita ulang kembali). Pemantapan iman dan menjauhkan kemusyrikan. 24


Yang kedua menjalankan ibadah, yang ketiga membina akhlak yang baik. Dulu yang kita bicarkan ibadah, kedua menjalankan ibadah, yang ketiga membina akhlak yang baik. Dulu yang kita bicarakan ialah tentang pemantapan iman itu dan menjauhkan musyrik. Sekarang yang perlu kita bicarakan ialah contoh-contoh kemusyrikan itu. DG. NABA : Ini sebenarnya contoh-contoh kemusyrikan itu apa? PAK KIAY : Contoh-contoh kemusyrikan itu Dg. Naba, ialah Tahayul dan Khurafat, tenung, nujum dan Ramalan, azimat dan sihir. Ini semua Dg. Naba, bentuk-bentuk kemusyrikan yang bisa merusak dan membuat hancurnya keimanan seseorang. DG. NABA : Jadi kalau begitu Pak Kiay, apa yang dimaksud dengan Tahayyul dan Khurafat ? PAK KIAY : Sekarang Dg. Naba meminta penjelasan batas pengertian atau definisi Tahayyyul dan Kurafat. Begini Dg. Naba. Tahayyul dan Kurafat, ialah mempercayai sesuatu membawa alamat baik atau membawa alamat buruk tanpa ada dalil dari agama dan tidak ada dalil yang cocok menurut akal. DG. NABA : O. o. begitu, jadi itu namanya Tahayul PAK KIAY : Ia, tapi dipercayai membawa alamat baik atau buruk. Padahal kalau dicari dalil agama tidak ada, diperhitungkan menurut akal juga tidak masuk akal. Tapi dipercayai. DG. NABA : Ia, itu namany a Tahayyul dan Khurafat 25


PAK KIAY : Betul Dg. Naba. DG. NABA : Ia, berapa macam Tahayyul, berapa macam Khurafat PAK KIAY : Begini Dg. Naba. Banyak macam Tahayyul dan Khurafat DG. NABA : Banyak macamnya PAK KIAY : Banyak Dg. Naba. Hampir-harap meliputi semua aspek kehidupan manusia. Antara lain tahayyul kepada binatang, baik yang disembeli atau binatang terbang, Tahayyul kepada hari, tahayyul kepada bulan, pokoknya banyak Dg. Naba. DG. NABA : Ia, banyak ya. Mana contoh yang dimaksud tahayul kepada binatang, dan Tahayyul kepada Bintang.. atau bintang tidak ada ? PAK KIAY : Mungkin ada juga, tetapi kita belum sampai kesana. Diantaranya ialah Dg. Naba, menguburkan Kepala Kerbau setiap membangun sesuatu bangunan. DG. NABA : O, jadi itu menguburkan kepala kerbau kalau membangun sesuatu bangunan, lalu dipotongkan kepala kerbau, itu namanya tahayul. PAK KIAY : Betul Dg. Naba DG. NABA : A. bagaimana ia dikatakan tahayul PAK KIAY : Jadi Dg. Naba, kalau itu, sudah jelas bahwa menguburkan kepala kerbau untuk sesuatu bangunan. 26


DG. NABA : Contohnya bikin jembatan Pak Kiay‌ PAK KIAY : Itu tahayyul. Sekarang Dg. Naba tanya bagaimana dikatakan itu tahayyul. Mari Dg. Naba saya ajak membentangkan satu2 menurut definisi di atas tadi. Begini, tahayyul tadi ada kepercayaan, kenapa begitu tadi, mempercayai ada membawa alamat baik ada membawa alamat buruk. Jadi Dg. Naba, penanaman kepala kerbau itu, itu juga ada kepercayaannya. Kepercayaan akan membawa alamat baik kalau dilakukan penanaman kepala kerbau dan akan membawa alamat tidak baik tidak ditanamkan atau tidak dilakukan penanaman kepala kerbau. Itu bentuk tahayyul, serta tidak ada dalil dari agama. Dari Al Qur'an tidak ada, dari hadistpun tidak ditemukan agar disembeli kerbau supaya dikuburkan dahulu untuk membangun suatu bangunan DG. NABA : Ia,tidak ada dasar, tidak ada dalil dalam agama. Lalu ? PAK KIAY : Menurut akal yang sehat berpikir, juga tidak ditemukan yang semacam itu. Apa hubungan Kepala kerbau yang ditanam dengan jembatan umpamanya. Tahan dan tidak tahannya jembatan, itu bergantung kepada tehnik pembuatannya Dg. Naba. DG. NABA : Ia, bukan bergantung kepada Kepala Kerbau. PAK KIAY : Ia begitu, namun itulah yang dipercayai, inilah yang dikatakan tahayyul.

27


DG. NABA : Ia, ia. Tapi ada yang bergantung kepada Kepala Kerbau. Apa itu yang bergantung kepada kepala kerbau ? ialah tanduknya. Dan lagi Pak Kiay itu kepala kerbau kalau dipotong ada jembatan yang mau dilalui begitu, baik, asal diundang Dg. Naba. Kepalanya jangan dikuburkan, kasih sama kita Pak Kiay. Kan baik itu. Jadi yang pokok, jangan tanam kepala kerbau. Potong kerbau, boleh. PAK KIAY : Kalau potong tidak apa2. Tapi kepercayaan semacam itu yang dikatakan Tahayyul. DG. NABA : O, kalau begitu, tahayyul itu ialah kepercayaan yang tidak sesuai dengan agama dan tidak sesuai dengan akal. PAK KIAY : Benar begitu Dg. Naba, sungguh benar DG. NABA : Sekarang, dimana letak membawa kepada kemusyrikan. Kepercayaan yang begitu, dimana letaknya kemusyrikanya. PAK KIAY : Jadi kepercayaan kepada Tahayyul membawa kepada kemusyrikan. Sekarang Dg. Naba tanya dimana letak kemusryikan. Letaknya kemusryikan, begini Dg. Naba. Kalau Dg. Naba ditanya ditanamkan kepala kerbau dipercaya jembatan selamat. Bangunan itu akan selamat, rupanya ada yang bisa menyelamatkan bangunan selain dari Allah. Itulah yang dikatakan musyrik Dg. Naba. DG. NABA : O, a, percaya kepada kepala kerbau.

28


PAK KIAY : Ia, yang akan menyelamatkan kalau ditanam, tidak selamat kalau tidak ditanam. Jadi berarti ada kekuatan selain Allah. DG. NABA : Betul-betul, jadi disitu Pak Kiay letak kemusyrikannya pulang kepada kepercayaan atau kekuasaan yang lain, itulah yang dinamakan musyrik. PAK KIAY : Ia, betul Dg. Naba. Oleh sebab itu, semenjak anak2 kepercayaan semacam ini Dg. Naba jangan diberikan kesempatan berkembang. Karena disamping akibat itu, masih ada akibat2 lain yang biasa ditimbulkan. DG. NABA : Antara lain Pak Kiay, akibat apa ? PAK KIAY : Begini, akibat yang ditimbulkan, ialah memakan daging sisa yang ditanamkan itu, itu hukumnya juga haram Dg. Naba. DG. NABA :

Memakan daging sisa yang ditanamkan, haram hukumnya. Bagaimana itu Nasnya Pak Kiay

PAK KIAY : Begini Dg. Naba, di dalam Firman alah Al Qur'an surat Al Baqarah, dinyatakan dalam ayat itu “Inna ma Harrama Alaikumul Maitata, Waddama Walah mal hinzir Wamauhillali gairil lahibihi�. Ini ayat yang menjelaskan yang artinya : sesungguhnya telah diharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, dan apa yang disembelih bagi selain Allah. DG. NABA : Jadi berapa yang diharamkan disini ?

29


PAK KIAY : Yang pertama bangkai, kedua darah, yang ketiga daging babi, yang keempat sembelian selain bagi Allah DG. NABA : O ‌ begitu, jadi bangkai diharamkan. Padahal kita ini suka makan bangkai Pak Kiay PAK KIAY : Bangkai apa ? DG. NABA : Bangkai ayam. PAK KIAY : Kalau bangkai itu, tidak disembeli Dg. Naba DG. NABA : O. o. begitu PAK KIAY : Ia, jadi bangkai itu mati sendiri tanpa disembelih, tapi kalau yang sudah disembeli, namanya tidak bangkai. DG. NABA : Tetapi mati.. PAK KIAY : Ia mati tetapi disembeli. Nah sekarang yang dimaksud menurut ahli tafsir WSalmuradubihi ma subiha Aladzirki gairillahi Taâ€&#x;ala minalmahluqatib latii yaksibuhannas Taqsimandiniyan wayataqarrab na ilaiha bilsyafai. Pengertian disini yang dimaksudkan sembelihan selain Allah, ialah sembelihan2 yang dilakukan oleh mahluk untuk menghormati sesuatu penghormatan baik yang terhadap manusia atau terhadap yang bersifat keagungan, dimana mereka dengan penyembelihan itu mendekatkan diri kepadanya. Adanya mahluk2 halus dan mereka mendekatkan diri kepada mahluk2 halus itu, itulah yang sebabnya mereka melakukan penyembelihan. Itulah yang dikatakan Uhillaligairi. 30


DG. NABA : A. a. jadi kalau begitu, penyembelihan itu, untuk mendekatkan diri kepada mahluk2 yang menguasai wilayah itu. Oleh karena itu diadakan persembahan. PAK KIAY : Betul. Jadi Dg. Naba, pada hakekatnya kepercayaan yang semacam ini kepercayaan animisme. Sekarang manusia sudah modern, kepercayaan animisme ini masih berkembang yang seharusnya sudah terkikis dengan zaman yang modern. DG. NABA : Rupanya sudah waktu Pak Kiay PAK KIAY : Sudah waktu persoalannya

Dg.

Naba,

sudah

tergantung

DG. NABA : Memang, tidak apa2 tergantung Pak Kiay. Asal tidak jatuh. PAK KIAY : Jadi asal tergantung tidak jatuh DG. NABA : Ia sampai disini dulukay. Assalamu Alaikum PAK KIAY : Alaikummussalam W.W.

31



Dialog Bulan Puasa 8