Page 1

Page 1


SYNOPSIS MENGGAGAS KUALITAS MORAL PENDIDIKAN INDONESIA

Penulis

: Delta Nia, S.Pd, M.Pd

Guru

: SDIT Al Ittihad – Pekanbaru – Riau

Design cover

: Penerbit

Dimulai dengan mengamati fenomena-fenomena yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia, perlu ada pencerahan dan ide-ide kreatif untuk memberikan solusi terbaik terhadap permasalahan yang terjadi terhadap moral para siswa di sekolah. Karena para siswa adalah asset bagi bangsa untuk masa depan. Buku ini berisi tentang berbagai alternatif solusi untuk meminimalisir

kesenjangan-kesenjangan

yang

terjadi

di

dunia

pendidikan kita. Kurikulum yang diharapkan mampu menyempurnakan system pendidikan sebelumnya, bahkan sering direvisi dan diubah, sehingga membuat bingung para pelaku pendidikan itu sendiri. Karena kurangnya konsep dasar yang mesti diterapkan tanpa landasan yang kuat. Padahal 1400 tahun yang lalu Rasulullah sallallahu wa’alihi wasallam telah membawa sebuah paradigma mendasar tentang perilaku akhlak yang mulia, sebuah gambaran moral yang agung. Pemberi cahaya dalam kegelapan di saat rendahnya peradaban moral yang dimiliki oleh bangsa-bangsa Arab ketika itu. Semoga dengan lahirnya buku ini, mencerahkan jiwa & pikiran, bahwa ada banyak hal-hal positif yang bisa dirangkum untuk

Page 2


menjawab segala problematika kualitas moral pendidikan bangsa Indonesia.

Sehingga

generasi

bangsa

ini

terselamatkan

dari

kehancuran akhlak yang sedang melanda negeri ini.

KATA PENGANTAR Dengan rasa syukur yang mendalam kepada Allah subhannahu wa ta’ala, saya berterimakasih kepada setiap orang yang telah datang dalam hidup saya, yang telah mengilhami, menyentuh, dan menerangi saya melalui kehadirannya. Saya juga berterimakasih dan mengucapkan syukur kepada orang-orang di bawah ini atas dukungan dan sumbangan pikiran besarnya dalam perjalanan penulis menciptakan buku ini.

YKPI Al

Ittihad Rumbai – Pekanbaru, yang telah memberikan fasilitas dan sarana yang memadai sehingga penulis bisa membuat buku ini. Kepada Bapak Muhammad Ramli Rahim sebagai Ketua Umum IGI telah memberi program peningkatan kompetensi guru dalam bidang pengembangan

literasi.

Ketua

IGMP

Bahasa

Indonesia

ibu

Nurbadriyah yang dengan semangatnya mampu membangkitkan motivasi dalam menulis. Penerbit Lovrinz yang dengan kualitas profesionalismenya sehingga buku ini hadir di hadapan anda pembaca. Dan suami serta anak-anak penulis; Marzuki, Faranisah Azahra Putri Marzuki dan Faiz Arif Marzuki yang dengan kehadirannya mampu menguatkan penulis sehingga bisa menyelesaikan buku ini dengan sempurna. Mudah-mudahan buku ini bisa dijadikan bahan referensi, evaluasi dan inspirasi yang bernilai tinggi serta sebagai gerbang pembuka bagi insan-insan generasi pelurus bangsa menuju bangsa Indonesia yang lebih baik. Wabilahi Taufik Wal Hidayah Wassalamualaikum Wr. Wb

Page 3


Penulis Delta Nia

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR SYNOPSIS DAFTAR ISI PENDAHULUAN I.

i ii iii iv

KUALITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA

1

II. FENOMENA-FENOMENA DI DUNIA PENDIDIKAN

2

III. FAKTOR PENYEBAB KESENJANGAN MORAL

3

IV. ALTERNATIF SOLUSI IV.1 PENDIDIKAN DALAM KELUARGA IV.1.1 Belajar dari Rumah Cinta Rasulullah IV.1.2 Pesan Kartini untuk Keluarga Indonesia

4 5 6 7

IV.2 PENDIDIKAN DI SEKOLAH IV.2.1 The Holistic Learning IV.2.2 Potret Pendidikan di Daerah IV.2.3 Menjadi Guru Yang Di damba Oleh Siswa IV.2.4 Menanamkan Jiwa Entrepreneurship IV.2.5 Merajut Perpisahan Yang Bermakna IV.2.6 Pesan Dibalik Kurikulum 2013 IV.2.7 Tokoh Panutan Bangsa IV.2.8 Menebar Ilmu Yang Bermanfaat IV.2.9 Menumbuhkan Karakter Jujur IV.2.10 Penguatan Karakter Siswa

8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

IV.3 PENDIDIKAN DI LINGKUNGAN MASYARAKAT

19

V. PENUTUP

20

VI. REFERENSI

21

VII. BIODATA PENULIS

22

Page 4


I.

KUALITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA RENDAHNYA KUALITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA Pendidikan di Indonesia kembali menjadi sorotan dalam

beberapa hari belakangan ini. Salah satu gagasan terbaru Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai sistem pendidikan membuat mata masyarakat kembali meninjau mutu pendidikan di Indonesia. Pada tahun 2014 posisi pendidikan Indonesia sangatlah buruk. The

Learning

Curve

Pearson 2014,

sebuah

lembaga

pemeringkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa Indonesia menempati peringkat terakhir dalam mutu pendidikan di dunia. Sedangkan di tahun 2015 mutu pendidikan di Indonesia masih saja berada di 10 negara yang memiliki mutu pendidikan yang rendah, peringkat tersebut di dapat dari Global School Ranking. Dilihat dari tahun 2014 berjalan ke tahun 2015 mutu pendidikan di Indonesia dapat dikatakan

mengalami

peningkatan,

meskipun

tidak

mengalami

peningkatan yang sangat signifikan. Dalam Survei Programme International Student Assessment (PISA) yang dirilis terakhir tahun 2015, Pendidikan Indonesia mengalami peningkatan enam peringkat, yaitu dari 71 ke 64 dibandingkan tahun 2012. Survei ini dilakukan di 72 negara Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), yang melihat kemampuan membaca, sains, dan matematika pada anak yang berusia 15 tahun dengan dipilih secara acak. Hasilnya, kemampuan membaca naik 10 poin, sains 32 poin, dan matematika 17

Page 5


poin. Di tahun 2017, diharapkan ada peningkatan yang signifikan terhadap mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia. Ada kesadaran yang tinggi dari peserta didik untuk mengembangkan tiga kompetensi dasar yang selalu dijadikan acuan terhadap kualitas pendidikan bangsa,

diantaranya

yaitu

kemampuan

membaca,

sains

dan

matematika. Merangkum dari beberapa sumber, dapat dikatakan bahwa ada empat faktor yang setidaknya menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, yaitu: 1.Pengunaan Buku Paket hasil tulisan orang lain. Indonesia sudah beberapa kali mengganti kurikulum yang digunakan

tetapi

setiap

terjadinya

perubahan

tersebut

tidak

menimbulkan kemajuan dari hal tersebut. Meskipun kurikulum diubah, tetapi sistem pengunaan buku acuan atau buku paket tetap saja digunakan dalam proses pembelajaran, guru-guru pun mengunakan buku tersebut menjadi acuan utama untuk mengajar tanpa ada referensi dari buku yang lainnya. Bahkan buku paket yang digunakan karena bukan ditulis oleh gurunya, tidak sesuai dengan visi dan misi sekolah,

sehingga

pesan

dalam

proses

pembelajaran

tidak

tersampaikan. 2. Sistem Pengajaran yang Monoton Sistem pembelajaran yang sama selalu di terapkan para guru untuk muridnya, dengan memberi peraturan bahwa selama guru menyampaikan materi, murid tidak di perbolehkan bertanya. Hal tersebut malah menjadikan anak murid malas bertanya dan justru tidak memperhatikan materi yang di sampaikan, tidak ada komunikasi yang aktif antara anak murid dengan guru.

Page 6


3. Kualitas Guru yang Rendah Bukan rahasia lagi bahwa para guru di Indonesia itu memiliki kualitas yang rendah, mereka lebih mementingkan mutu mereka sendiri

dari

pada

keberhasilan

para

muridnya.

Tuntutan

dari

pemerintah yang juga meminta nilai tinggi pada Ujian Nasional siswa maupun ujian kompetensi guru, justru membuat guru hanya berfokus pada hasil nilai, tanpa bisa memperbaiki kinerja dan cara pengajaran di kelas. Full teori dan administrasi, justru tidak membuat kualitas pendidikan semakin baik, tetapi semakin menyita waktu guru yang juga harus berkutat di proses administrasi. 4. Budaya Mencontek yang Semakin Menjadi Budaya mencontek, sebenarnya bukanlah dari anaknya malas belajar, tetapi dari gurunya tidak dapat mengontrol kebiasaan anak seperti itu, yang lebih parahnya lagi, ada beberapa guru yang mengajarkan anak-anaknya untuk mencontek, seperti yang sering terdengar sekarang bahwa, setiap anak-anak kelas akhir di tingkat SMP maupun SMA, yang ingin ujian nasional di berikan bocoran kunci jawaban dari sekolah. Dari beberapa faktor tersebut dapat terlihat sekali bahwa pendidikan di Indonesia sangat susah jika ingin diperbaiki, jika tidak ada perubahan yang benar-benar dilakukan untuk pendidikan di Indonesia. Dalam suatu website mengatakan bahwa Indonesia bukanlah

negara

pendidikan.

Karena

Indonesia

tidak

pernah

memandang pendidikan adalah sesuatu yang penting. Mulai dari kesejahteraan guru yang selalu dijadikan kambing hitam, padahal tidak sepenuhnya kesalahan ada pada guru. Sementara Negara-negara dengan tingkat kualitas pendidikan yang tinggi, sangat memuliakan profesi

guru,

sehingga

guru

bekerja

dengan

ikhlas

membebaninya dengan tuntutan yang kadang berlebihan.

Page 7

tanpa


Dalam hal ini indonesia harus mengubah pandangan terhadap pendidikan di indonesia, karena dengan pendidikan, Indonesia akan lebih mudah bersaing di dunia global pada saat ini. Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional. 5. Kurangnya ilmu Agama Indonesia memberi kesempatan kepada penduduknya untuk menganut agama yang diyakininya benar. Semua agama mengajarkan tentang moral dan perbuatan baik. Walaupun, bangsa Indonesia penduduknya mayoritas beragama Islam, namun tidak banyak dari mereka yang menjalankan aturan agama dengan benar. Akibatnya adalah terjadi ketimpangan-ketimpangan di lingkungan masyarakat. Namun, jika karakter beragama yang benar bisa diterapkan di Negara ini, inshaAllah semua akan tercermin dari pola hidup dan perilaku bangsa. Dengan semakin terbukanya informasi, memberi peluang yang sebesar-besarnya kepada masyarakat untuk mau belajar. Terus mencari ilmu dalam membina dan membimbing keluarga sesuai tuntunan yang ada. Otomatis kualitas pendidikanpun bisa ditingkatkan. Karena timbul kesadaran terhadap diri sendiri untuk menjadi manusia yang insani, berkomitmen dan bertanggung jawab terhadap tugas maupun amanah yang diembankan kepadanya. Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat

Page 8


dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).�

II. FENOMENA-FENOMENA DI DUNIA PENDIDIKAN Baru-baru ini kita selalu dikejutkan dengan fenomena negatif mengenai kualitas moral di dunia pendidikan kita. Banyak hal-hal yang terjadi di luar nalar kita sebagai bangsa timur yang dahulunya dikenal sebagai bangsa yang bermartabat dan bermarwah. Namun saat ini, telah terjadi penyimpangan-penyimpangan di dunia pendidikan. Salah satunya adalah sebagaimana yang diberitakan oleh kompas.com tertanggal 14 Juni 2016 lalu mengenai seorang guru yang bernama Samhudi dari Jawa Timur Sidoarjo dihukum karena mencubit muridnya. Meski dalam rangka mendidik, kata Jaksa penuntut, tindakan mencubit tidak dibenarkan. Tuntutan jaksa tersebut terbilang ringan karena ancaman pidana dalam perkara tersebut maksimal tiga tahun enam bulan penjara. Puluhan rekan seprofesi Samhudi kala itu ikut hadir dalam persidangan untuk memberikan dukungan. Mereka juga antusias mengikuti jalannya persidangan karena ikut merasa emphati untuk teman-teman mereka seprofesi dan memberi dukungan moril bagi pak Samhudi. Samhudi dilaporkan orang tua murid karena anaknya yang dihukum tidak mengikuti ibadah Sholat Dhuha 3 Februari tahun 2016 lalu. Hukuman yang diterima murid tersebut di antaranya dicubit tangannya. Namun orang tua murid yang tidak terima membawa masalah tersebut ke ranah hukum. Padahal, maksud Samhudi baik, agar peserta didik tersebut terbiasa melaksanakan sholat Dhuha secara rutin dan hanya dengan

Page 9


mencubit tangannya sedikit. Namun bagaimana reaksi orang tua yang yang tidak memahami secara benar agar anak-anak terdidik secara disiplin. Sungguh ironis memang, di saat seorang guru berusaha memperbaiki akhlak siswanya, jika tidak ada kerjasama yang baik antara orang tua dan sekolah, bisa mengakibatkan kesalahpahaman yang selayaknya tidak harus terjadi. Fenomena

siswa

yang

merayakan

kelulusannya

dengan

berkonvoi ria di jalan raya juga merupakan hal yang patut kita cermati secara serius. Peristiwa yang baru saja terjadi pada tanggal 02 Mei 2017 kemarin, saat siswa SMK/SMA di Klaten menerima hasil pengumuman

kelulusan

mereka,

terjadi

tawuran

siswa

yang

seharusnya tidak perlu terjadi. Sebagaimana yang dilaporkan oleh reporter Merdeka.com tanggal 02 Mei 2017 kemarin berikut ini. Informasi yang dihimpun menyebutkan, terjadi perusakan di beberapa tempat. Di antaranya terjadi di sebuah warnet, sebuah bengkel sepeda motor. Bahkan ada tiga orang siswa terkena luka karena berkelahi. Akhirnya ketiga siswa tersebut segera dengan cepat dilarikan ke Rumah sakit terdekat. Demikianlah fenomena yang sangat memilukan dan mencoreng dunia pendidikan kita. Apakah sedemikian parahnya kualitas moral generasi bangsa, semoga kejadian-kejadian yang memilukan ini dapat kita cegah dan mampu memperbaiki Indonesia menjadi lebih baik. Sebuah perhelatan besar dalam moment peluncuran buku seorang professor pun sempat menjadi viral di dunia maya. Acara yang seharusnya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi generasi bangsa, justru diselipi dengan adegan tari yang tidak senonoh. Apakah sedemikian rendahnya kualitas moral dan karakter bangsa ini, sehingga hal-hal tersebut bisa terjadi di Negara Indonesia yang tercinta ini.

Page 10


Masih banyak lagi fenomena-fenomena pendidikan di sekitar kita yang tidak layak penulis cantumkan di sini. Akan lebih baik, mari kita cari akar permasalahannya. Agar ke depannya, kita sebagai individu bisa mengambil pelajaran dari hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Pelajaran paling berharga yang bisa kita ambil adalah kembali mengenal ajaran Islam sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunah Nabi serta berbagai adab dan disiplin ilmu yang terkandung di dalamnya. Apalagi kita sebagai orang yang diberi amanah mendidik generasi bangsa ini hendaknya meneruskan perjuangan para pejuang-pejuang bangsa terdahulu terutama para ulamanya, yaitu menuntut ilmu, berjuang dan bersabar dalam menghadapi tantangan zaman yang kian tajam ini. Sabda Rasulullah saw.

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian

yang

mengikuti

mereka,

kemudian

yang mengikuti mereka�. (HR. Bukhari dan Muslim)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.� (At Tahrim: 6).

Page 11


III. FAKTOR PENYEBAB KESENJANGAN MORAL Kita sering membaca di media-media sosial, terjadi berbagai macam kesenjangan akhlak generasi muda bangsa Indonesia. Berbagai kejadian yang sepatutnya tidak layak untuk diberitakan seolah sudah menjadi santapan publik. Bahkan ironisnya, berita-berita yang negative tersebut justru ditayangkan hanya untuk menaikkan ranting. Tanpa memperdulikan pengaruhnya terhadap generasi muda bangsa Indonesia. Sungguh ironis memang. Namun sebenarnya diantara penyebab tersebut sering muncul adalah akibat faktor dalam keluarga. Tulisan berikut, memberikan gambaran, bagaimana besarnya peran seorang ibu dalam keluarga membimbing anak-anaknya agar menjadi insan yang mulia. Mari kita simak bersama. COPAS DARI GROUP WA Ini bukan tulisan saya tapi bagus buat direnungi para ibu, terutama para ibu di seluruh Indonesia: 1. Seorang IBU tanpa bekal Agama , Seorang

ibu

menjerumuskan anaknya

insyaaAllah ke

sesuatu

tidak yang

akan

ada

mudharat

NIAT apalagi

SENGAJA ingin mencelakakan dunia akherat bagi anak anaknya. Tapi...seorang ibu tanpa bekal agama saat mendidik anak sangat mungkin melakukan hal yang sebaliknya. Berapa banyak justru seorang ibulah yg menyuruh anaknya yang masih kecil belajar naik

Page 12


motor atau naik mobil dan bangga saat masih kanak-kanak sudah bisa mengantar orang tuanya ke pasar. Berapa banyak justru seorang ibulah yang menyuruh anak gadisnya berdandan cantik setiap keluar rumah dan bangga saat anaknya memiliki pacar. Berapa banyak justru seorang ibulah yang mengantar anaknya ikut lomba-lomba kontes model mengumbar aurat dan bangga saat anaknya menjadi artis dan dijadikan tontonan oleh khalayak ramai. Berapa banyak justru seorang ibulah yang sengaja menyuap ke kantor-kantor supaya menerima anaknya bekerja dan bangga saat anaknya memegang jabatan yang tinggi dengan hasil yang curang. Berapa banyak justru seorang ibulah yang dengan rasa kasihan dan tidak teganya enggan membangunkan anaknya untuk shalat subuh dan isya meskipun sudah baligh tanpa berfikir bagaimana nasib anaknya kelak di neraka. Berapa banyak justru seorang ibulah yg membujuk suaminya untuk membelikan anakanaknya gadget, laptop maupun tivi di kamar masing-masing supaya anak tidak ketinggalan informasi nyatanya benda-benda tersebutlah yang menjadi jalan anaknya mengenal pornografi dan kecanduan game. Berapa banyak justru seorang ibulah yang lebih senang mengajarkan

anaknya

nyanyian-nyanyian

dan

tari-tarian

yang

sebenarnya dilarang dalam Islam dibanding khusus mengajarkan lafadz-lafadz Al Qur’an dan bangga saat anaknya masih kecil fasih meniru-niru lirik dan gerakan orang dewasa. Berapa banyak justru seorang ibulah yang menjejali anaknya dengan aneka les-les pengetahuan dunia tapi enggan mengajarkan perkara shalat, ngaji dan ibadah lain pada anak-anaknya dan bangga anaknya menjadi orang "bergelar" tapi bahkan enggan untuk membaca doa ketika masuk wc. Berapa banyak justru seorang ibulah yang mendoakan anaknya supaya jadi orang yang berguna bagi umat tapi saat ujian mencari-curi bocoran jawaban UN untuk anaknya, atau bangga jika anaknya lulus

Page 13


meskipun dia sadar telah melakukan kecurangan. Dan "kejahilankejahilan" seorang ibu yang dilakukan karena minimnya agama. Anak anak itu amanah. Hanya boleh dididik sesuai keinginan yang Menitipkan. Bukan sesuai hawa nafsu kita. Rem hawa nafsu kita yang sifatnya duniawi. Ingat untuk apa kita dan anak-anak kita diciptakan. Dan kelak pasti semua kembali kepada Allah SWT. Hisab detail akan apa yang telah kita ajarkan. Kebaikan akan kembali. Keburukan akan kembali. Perbanyak istighfar. Belajar dan kaji ilmu agama. Jadikan Al Qur’an dan Hadits sebagai pedoman hidup. Amalkan sedikit-sedikit dan mengajak seisi rumah mengamalkan juga. Kita tidak akan bisa lolos dari hisab dengan alasan "maaf saya tidak tahu kalau harus mengajari ini itu". Karena perintah menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Tidak terhenti saat kita menikah, tidak terhenti saat kita menjadi nenek kakek, terus sampai kita meninggal. Jadikan diri kita setiap harinya pencari ilmu. Ada rasa ingin tahu yang besar terhadap hukum-hukum Islam. Bukan untuk mendebat dan merasa paling tahu, tapi untuk diamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kesimpulannya, sosok seorang ibu yang mulia berada dibalik keluhuran budi anak-anaknya. Seorang ibu yang mendidik anakanaknya dengan kasih sayang yang benar, sesuai ajaran Al Qur’an dan Sunnah, dapat menyelamatkan generasi ini untuk menjadi insan yang lebih baik, Insan pelurus bangsa, memperbaiki yang salah dan selalu menggapai kebenaran. Semoga bisa dijadikan bahan renungan.

2. Pelajaran Penting dari Ustad Zakir Naik Diambil dari status FB Arda Chandra 11 April 2017 ZAKIR NAIK NAIK DARAH...

Page 14


Beberapa pihak yang bertanya dalam acara Zakir Naik di Indonesia mengaku bahwa mereka datang dari keluarga Muslim dan sekarang menjadi atheis. Melihat kenyataan ini Zakir Naik akhirnya tidak mampu lagi menahan amarahnya dan 'memuntahkannya' pada sesi ceramah di Makassar ketika menjawab pertanyaan dari seorang atheis yang mendewa-dewakan ilmu politik melebihi ajaran Islam, sekalipun berasal dari keluarga Muslim. Zakir Naik menjadi naik darah.. Tenyata banyak keluarga Indonesia yang tidak peduli dalam menjaga keimanan keluarga mereka berdasarkan sikap yang selama ini sering dibangga-banggakan beberapa orang sebagai simbol kemajuan berpikir : bertoleransi. Zakir Naik tidak habis pikir, ketika orangtua melihat anaknya terlibat narkoba mereka mampu untuk bersikap khawatir dan berusaha menyelamatkan anak-anak mereka, disaat anaknya mau terjun dari bangunan tinggi karena ingin meniru Superman, mereka panik dan pasti akan mencegahnya. Namun ketika si anak terpengaruh dengan ajaran kekafiran dan atheisme, mereka sanggup untuk membiarkannya atas nama toleransi dan kebebasan berkeyakinan, padahal kerusakan yang ditimbulkan dari murtadnya seorang anak manusia jauh lebih berat dibandingkan dari kerusakan karena narkoba. Ini mungkin merupakan kesalahan mendasar dalam keluarga kita, saat ini seorang anak bisa lebih fasih berbicara tentang humanisme, demokrasi, toleransi, kesetaraan gender dan hak azazi manusia dibandingkan soal keimanan kepada Allah, karena mereka sejak

kecil

memang

dicekoki

keinginan

duniawi

dan

dibekali

kemampuan hidup seirama dengan perkembangan peradaban yang mungkin sudah salah arah. Tidak aneh kalau seorang ayah sering mengatakan harapannya agar si anak sukses jadi orang berpangkat, punya duit banyak, dihormati masyarakat, namun pembicaraan dimeja

Page 15


makan jauh dari soal menghadirkan Allah ditengah-tengah mereka. Padahal berpedoman dari perjalanan sejarah Rasulullah, justru dimasa awal kenabian beliau di Makkah, aspek keimanan inilah yang ditanamkan terlebih dahulu sebelum berbicara soal politik, sosial dan ekonomi. Menanamkan kehadiran Allah tidak harus memaksa si anak belajar mengaji, menguasai Al-Qur'an dan bahasa Arab, hafal ayatayat, dan lain-lain, Tentu saja ini penting, tapi ketika misalnya orangtua berbincang-bincang santai, mereka selalu mengkaitkan setiap kejadian yang diterima keluarga, baik berupa anugerah maupun musibah, merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan Allah beserta segala sifat-Nya. Disaat menyuap nasi dan menerima gaji, sekali-sekali seharusnya ayah berkata :"Ini rezeki dari Allah, tanpa kemurahan-Nya kita tidak bisa makan sekalipun berusaha sehebat apapun..", atau sebaliknya ketika menghadapi musibah orangtua mengingatkan anaknya ;"Allah pasti punya maksud baik mengapa Dia mendatangkan musibah ini buat kita, sesungguhnya Allah tidak akan menganiaya hamba-Nya yang beriman..". Untuk semua ini, tidak diperlukan kemampuan tinggi dari orangtua dalam ilmu agama, harus masuk pesantren, belajar nahwu syarof, menguasai kitab kuning, dan lain-lain. Saya sendiri berpikir, apakah selama ini saya sudah mendidik anak-anak untuk selalu ingat dan menghadirkan Allah dalam setiap langkah mereka dan hanya bisa mendoakan semoga mereka selamat dalam menjalani kehidupan, karena mereka sudah besar dan akan memilih sendiri kehidupan model apa yang akan dijalani. Juga sekaligus

mengingatkan

kepada

sahabat-sahabat

yang

sudah

terperangkap dalam sikap bertoleransi dan lebih memasukkan tujuantujuan duniawi kepada anak-anak :"Apakah anda tidak bisa melihat bahaya besar yang akan terjadi terhadap anak keturunan..?". Percayalah, ini bukan persoalan sepele..

Page 16


Demikianlah ulasan singkat yang disampaikan oleh Ustad Zakir Naik ketika berada di Indonesia. Betapa pilunya hati beliau ketika menyaksikan dan mendengarkan sendiri ungkapan seorang pemuda muslim yang berada di Indonesia, masih saja memandang bahwa kehidupan dunia ini segala-galanya. Tergambar jelas oleh kita betapa dangkalnya ilmu agama yang ada pada keluarganya. Bila kualitas pendidikan ingin menjadi lebih baik, perbaikilah terlebih dahulu tauhid dalam keluarga. Karena dalam keluargalah akan terbentuk keluarga yang kuat dan bermartabat. Demikianlah kenyataan yang sering kita temui di lingkungan sekitar kita. Kualitas pendidikan dikembalikan kepada keluarga masing-masing rakyat Indonesia. Jika sebuah keluarga telah mampu mendidik anak-anak mereka dengan ilmu moral yang baik, maka akan baiklah keluarga dan masyarakatnya. Namun, apabila kehidupan keluarga hancur, tidak adanya keharmonisan dalam rumah tangga, akhirnya berakibat yang tidak baik bagi anak-anak. Anak-anak akan mudah terhanyut ke dalam lingkungan yang tidak baik. Ditambah dengan begitu maraknya internet dan program-program media massa yang kurang mendidik, mengakibatkan anak-anak mudah terpengaruh kepada hal-hal yang negatif. Oleh sebab itu, peran keluarga sangat besar perannya dalam melahirkan generasi yang kuat dan berakhlakul karimah.

Peran terbesar membentuk karakter mulia bersumber dari Keluarga, maka jagalah Keluargamu dari siksa api neraka.

Page 17


IV. ALTERNATIF SOLUSI 4.1

PENDIDIKAN DALAM KELUARGA

4.1.1 BELAJAR DARI RUMAH CINTA RASULULLAH Di dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah, selalu diliputi oleh kebahagiaan dan kemuliaan. Beliau adalah sosok pemimpin dalam keluarga yang selalu membawa kesejukan dan ketenangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Dunia itu penuh dengan kenikmatan. Dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri yang shalihah.” (Lihat Shahih Jami’ Shaghir karya AlAlbani) Di antara keelokan budi pekerti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan keharmonisan rumah tangga beliau, yaitu memanggil ‘Aisyah

radhiyallahu

‘anha

dengan

nama

kesayangan

dan

mengabarkan kepadanya berita yang membuat jiwa serasa melayanglayang. Aisyah radhiyallah ‘anha menuturkan, “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, ‘Wahai ‘Aisy (panggilan kesayangan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha), Malaikat Jibril ‘alaihissalam tadi menyampaikan salam buatmu.” (Muttafaq ‘alaih) (Sumber:

http://kisahmuslim.com/899-keharmonisan-rumah-tangga-

rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam selaku Nabi bagi umat ini yang memliki akhlak sempurna dan paling tinggi derajatnya telah memberikan contoh yang sangat berharga dalam hal berbuat

Page 18


baik terhadap istri dan dalam hal kerendahan hati, serta dalam hal mengetahui keinginan dan kecemburuan wanita. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menempatkan mereka pada kedudukan yang diidamidamkan oleh seluruh kaum hawa. Yaitu menjadi seorang istri yang memiliki kedudukan terhormat di samping suaminya. Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Suatu ketika aku minum, dan aku sedang haid, lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau meminumnya dari mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas beliau mengambil potongan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.” (HR. Muslim) Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah seperti yang diduga oleh kaum munafikin atau seperti yang dituduhkan kaum orientalis dengan tuduhan-tuduhan palsu dan pengakuan-pengakuan bathil. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lebih memilih etika berumah tangga yang paling elok dan sederhana. Sikap mulia Rasulullah juga tercermin dari cara beliau mendidik Fatimah Azahra R.A dan putra-putra beliau lainnya. Fatimah lahir di tengah zaman kejahilian saat bangsa Arab merendahkan harkat dan martabat wanita. Fatimah dilahirkan di tengah masyarakat yang tidak mengenal nilai-nilai luhur ilahi, penuh dengan kebodohan dan kejahiliaan. Tradisi

batil

semacam

membangga-banggakan

diri,

mengubur hidup-hidup anak perempuan, pertumpahan darah dan peperangan menjadi budaya yang telah berakar dalam masyarakat Arab jahiliyah. Di tengah masyarakat terbelakang semacam itulah, kehadiran Fatimah, putri Rasulullah SAW menjadi tolak ukur perempuan muslim. Rasulullah SAW begitu menghormati Sayyidah Fatimah. Sebegitu mulianya akhlak Fatimah, sampai-sampai Rasulullah SAW senantiasa memuji dan menjadikannya sebagai putrinya yang paling ia sayangi

Page 19


dan cintai. Rasulullah bersabda; Fatimah as adalah belahan jiwaku. Dia adalah malaikat berwajah manusia. Setiap kali aku merindukan aroma surga, akupun mencium putriku, Fatimah. Ayat Tathir, ayat 33 surat al-Ahzab, merupakan satu diantara dari ayat-ayat tentang Sayidah

Fathimah

az-Zahra

as.

Dalam

ayat

ini

disebutkan,

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Menurut mayoritas ulama Ahli Sunnah, saat ayat ini turun, Rasulullah kemudian memanggil Fathimah, Ali, Hasan dan Husein as dan menutupi mereka dengan jubahnya dan berkata, “Ya Allah! Mereka adalah Ahli Baitku dan sucikan mereka dari segala dosa.”. Begitu agungnya Rasulullah memuliakan putrinya. Demikianlah akhlak Rasulullah, sebagai seorang Ayah yang selalu mendoakan anakanaknya dengan ilmu, kebaikan dan kemuliaan. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga)” (QS Ali ‘Imran:14). Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan istri dan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah mengingatkan hal ini dalam firmanNya. {‫جهكمم ذوُأذموُلْددهكمم ذعهدووُاا لذهكمم ذفاَمحذذهروُههمم‬ ‫}ذيِاَ أذييِذهاَ الندذيِذن آذمهنوُا إدنن دممن أذمزذوُا د‬ “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteriisterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS At Taghaabun:14).

Page 20


Makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakukan amal shaleh dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala. Catatan penting yang bisa kita ambil dari tulisan Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA berikut ini memberikan pelajaran bermakna yaitu bagaimana sebaiknya kita menempatkan cinta dalam keluarga karena Allah lillahi ta’ala. Kita dapati kebanyakan orang salah menempatkan arti cinta dan kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya, dengan menuruti semua keinginan mereka meskipun dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, yang pada gilirannya justru akan mencelakakan dan merusak kebahagiaan hidup mereka sendiri. Sewaktu

menafsirkan

ayat

tersebut

di

atas,

Syaikh

Abdurrahman as-Sa’di berkata: “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Allah telah memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya. Oleh karena itulah, seorang kepala keluarga yang benar-benar menginginkan kebaikan dalam keluarganya hendaknya menyadari kedudukannya sebagai pemimpin dalam rumah tangganya, sehingga dia

tidak

membiarkan

terjadinya

penyimpangan

syariat

dalam

keluarganya, karena semua itu akan ditanggungnya pada hari kiamat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “‫ … وُالرجل راع على أهل بيِته وُهوُ مسئوُل عنهم‬،‫”ألْ كلكم راع وُكلكم مسئوُل عن رعيِته‬

Page 21


“Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya … Seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka“. (HSR al-Bukhari (no. 2278) dan Muslim (no. 1829)). Seorang kepala keluarga yang benar-benar mencintai dan menyayangi istri dan anak-anaknya hendaknya menyadari bahwa cinta dan kasih sayang sejati terhadap mereka tidak diwujudkan dengan hanya mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat nanti. Karena pentingnya hal ini, Allah Ta’ala mengingatkan secara khusus kewajiban para kepala keluarga ini dalam firman-Nya, {‫حذجاَذرهة‬ ‫}ذيِاَ أذييِذهاَ الندذيِذن آذمهنوُا هقوُا أذمنفهذسهكمم ذوُأذمهدليِهكمم ذناَراا ذوُهقوُهدذهاَ النناَ ه‬ ‫س ذوُامل د‬ “Hai

orang-orang yang

beriman, peliharalah

dirimu

dan

keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6). Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”. (Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adzDzahabi).

Page 22


Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka)

adalah

dengan

mewajibkan

bagi

diri

sendiri

untuk

melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertaubat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya”. (Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 640)). Demikian juga dalam hadits yang shahih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiyallahu ‘anhuma masih kecil, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?”. (HSR al-Bukhari (no. 1420) dan Muslim (no. 1069)). Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal

yang diharamkan

(dalam agama),

meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut. (Fathul Baari (3/355)). Kemudian, hendaknya seorang kepala keluarga menyadari bahwa dengan melaksanakan perintah Allah Ta’ala ini, berarti dia telah mengusahakan kebaikan besar dalam rumah tangga tangganya, yang

Page 23


dengan ini akan banyak masalah dalam keluarganya yang teratasi, baik masalah di antara dia dengan istrinya, dengan anak-anaknya ataupun di antara sesama keluarganya. Bukankah penyebab terjadinya bencana secara umum, termasuk bencana dalam rumah tangga, adalah perbuatan maksiat manusia? Allah Ta’ala berfirman, ‫صيِذبرة ذفدبذماَ ذكذسذب م‬ {‫ت أذميِدديِهكمم ذوُذيِمعهفوُ ذعمن ذكدثيِرر‬ ‫صاَذبهكمم دممن هم د‬ ‫}ذوُذماَ أذ ذ‬ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS asy-Syuura:30). Inilah makna ucapan salah seorang ulama salaf yang mengatakan, “Sungguh (ketika) aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku istriku…“. (Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab “ad-Da-u wad dawaa'” (hal. 68)). Dan

barangsiapa

yang

mengharapkan

cinta

dan

kasih

sayangnya terhadap keluarganya kekal abadi di dunia sampai di akhirat nanti, maka hendaknya dia melandasi cinta dan kasih sayangnya karena Allah semata-semata, serta mengisinya dengan saling menasehati dan tolong menolong dalam ketaatan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, {‫ض ذعهدووُ إدنلْ املهمنتدقيِذن‬ ‫خنلهء ذيِموُذمدئرذ ذبمع ه‬ ‫}املذ د‬ ‫ضههمم لدذبمع ر‬ “Orang-orang yang berkasih sayang pada waktu itu (di akhirat) menjadi musuh satu sama lainnya, kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS az-Zukhruf:67).

Page 24


Ayat ini menunjukkan bahwa semua jalinan cinta dan kasih sayang di dunia yang bukan karena Allah maka di akhirat nanti berubah menjadi kebencian dan permusuhan, dan yang kekal abadi hanyalah jalinan cinta dan kasih sayang karena-Nya. (Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/170)). Lebih daripada itu, dengan melaksanakan perintah Allah ini seorang hamba –dengan izin Allah Ta’ala– akan melihat pada diri istri dan anak-anaknya kebaikan yang akan menyejukkan pandangan matanya dan menyenangkan hatinya. Dan ini merupakan harapan setiap orang beriman yang menginginkan kebaikan bagi diri dan keluarganya. Oleh karena itulah Allah Ta’ala memuji hamba-hambaNya yang bertakwa ketika mereka mengucapkan permohonan ini kepada-Nya, dalam firman-Nya, ‫}ذوُالندذيِذن ذيِهقوُهلوُذن ذرنبذناَ ذه م‬ {َ‫جذناَ ذوُهذرُرنيِاَدتذناَ قهنرذة أذمعهيِرن ذوُامجذعملذناَ لدملهمنتدقيِذن إدذماَماا‬ ‫ب ذلذناَ دممن أذمزذوُا د‬ “Dan (mereka adalah) orang-orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan:74). Imam Hasan al-Bashri ketika ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata, “Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman pada diri istri, saudara dan orang-orang yang dicintainya ketaatan (mereka) kepada Allah. Demi Allah tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya taat kepada Allah Ta’ala“[10].

Page 25


Doa yang mulia ini dapat selalu kita ucapkan di setiap sujud panjang kita kepada Allah Subhannahu wata’ala agar selalu diberi anugerah keluarga yang senantiasa taat beribadah karena Allah lillahi ta’ala. “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa…”. ‫ وُآخلر دعوُانلاَ أن الحملد لل‬،‫وُصلى ا وُسلم وُباَرك على نبيِناَ محمد وُآله وُص حبه أجمعيِلن‬ ‫رب العاَلميِن‬

Sebagaimana yang ditulis oleh : Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA dengan beberapa penyesuaian. Madinah, Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 25 Rabi’ul akhir 1430 H

4.1.2 PESAN MORAL KARTINI BAGI KELUARGA INDONESIA Jika kita mengenang kembali hari kelahiran ibu Kartini, begitu banyak pandangan terhadap tulisan-tulisan beliau. Namun tidak banyak yang mengetahui, bagaimana tahapan selanjutnya tentang kehidupan RA Kartini. “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” [Surat kepada Ny. Van Ko...l, 21 Juli 1902]. Salah satu isi surat Kartini yang berisi hasrat untuk mengubah sebuah keadaan, dan keinginan yang begitu kuat mendalami Islam secara kafah.

Page 26


Namun, seiring dengan berjalan waktu, tulisan-tulisan Kartini berikutnya tidak begitu banyak diekpos keluar, padahal justru di saat akhir hayatnya Kartini mengalami perubahan dalam pola pikir dan pandangannya terhadap dunia perempuan dan pendidikan bangsa Indonesia. Memang benar, telah banyak perjuangan yang telah ditunjukkan Kartini, terutama dalam memberikan kesempatan kepada kaum wanita untuk dapat mengenyam pendidikan yang tinggi. Hingga sampai sekarangpun pemahaman tersebut masih melekat dalam sebahagian besar pandangan masyarakat Indonesia. Sebuah dialog Tanya jawab yang dilakukan dalam forum konsultasi keluarga, akan memberi kita wawasan yang lebih luas, apa sebenarnya hal pokok dari inti perjuangan RA Kartini bagi bangsa dan keluarga Indonesia. Berikut cuplikannya yang bisa kita ambil; Assalaamu’alaikum Ustadz, bagaimana

pandangan

Islam mengenai

perayaan Hari

Kartini dan bagaimana seharusnya kita menyikapi perayaan tersebut? Jazakumullahu khairan katsiiran Wassalaamu’alaikum Jawaban: Wa’alaikumussalam Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Tidak kita pungkiri bahwa R.A. Kartini termasuk salah satu tokoh perjuangan di negara kita. Usaha yang beliau lakukan merupakan bagian dari keprihatinan beliau terhadap kesengsaraan rakyat Indonesia yang saat itu dijajah kolonial Belanda. Hanya saja, beliau lebih banyak memberikan perhatian kepada kaum wanita. Kami tidak tahu pasti, apa latar belakang beliau. Melihat sejarah perjuangan Kartini menunjukkan bahwa beliau berobsesi agar kaum wanita diberikan

hak-haknya,

seperti

Page 27

hak

pendidikan

dan

dihargai


kehormatannya. Sebagaimana umumnya penjajahan, sering kali kehormatan wanita menjadi korban. Dugaan kuat kami, perjuangan Kartini tidak ada sangkut pautnya dengan gerakan kesetaraan gender atau perjuangan emansipasi wanita. Terlepas dari itu, setidaknya ada beberapa hal yang patut kita kritisi terkait dengan sikap masyarakat ketika memperingati hari Kartini. Pertama: Gerakan Memakai Kebaya Kita tidak paham dengan tujuan masyarakat mengenakan pakaian semacam ini. Orang bisa saja beralasan, “Oh itu dalam rangka meniru baju Kartini”. Tapi apakah itu esensinya? Serendah itukah pola pikir masyarakat kita? Apakah dengan mengenakan kebaya kita telah dianggap mencerdaskan kaum wanita? Sementara kita yakin, pakaian model kebaya ini sangat jauh dari pakaian Islami. Bisa dipastikan, orang memakai pakaian ini tidak mungkin bisa menutupi auratnya. Padahal menampakkan aurat termasuk dosa besar. Barangkali hadis di bawah ini belum hilang dari ingatan kita, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‫صمنذفاَن دممن أذمهدل النناَر لذمم أذذرههذملاَ ذق موُتم ذمذعههلمم دسلذيِاَ ت‬ ‫س ذوُدنذس اَتء ذكاَدسلذيِاَ ت‬ ‫ب املذبذقلدر ذيِ م‬ ‫ت‬ ‫ط ذكأ ذمذذنلاَ د‬ ‫ضلدرهبوُذن دبذهلاَ الننلاَ ذ‬ ‫د د‬ ‫د‬ ‫ت ذماَدئلذ ت‬ ‫ت همدميِلذ ت‬ ‫ذعاَدرذيِاَ ت‬ َ‫جمدذن دريِذحذهللاَ ذوُإدنن دريِذحذهللا‬ ‫ت هرهءوُهسههنن ذكأ ذمسدنذمدة املهبمخ د‬ ‫ت املذماَدئذلدة لْذ ذيِمدهخملذن املذجننذة ذوُلْذ ذيِ د‬ ‫ذلهيِوُذجهد دممن ذمدسيِذردة ذكذذا ذوُذكذذا‬ “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (pertama), Sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (kedua), para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Page 28


Hadis ini memberi peringatan keras bagi wanita untuk berhatihati dalam urusan aurat. Ancamannya bukan sesuatu yang ringan, ancamannya adalah neraka. Kita berlindung kepada Allah darinya. Apa

makna:

“wanita

yang

berpakaian

tapi

telanjang”?

Para ulama menjelaskan, secara istilah wanita ini berpakaian tapi hakikatnya telanjang. Seperti memakai pakaian yang ketat, sehingga menampakkan lekuk tubuhnya, atau pendek, sehingga menampakkan sebagian auratnya, atau tipis, sehingga transparan dan tembus pandang. Kain semacam ini, disebut pakaian dari sisi namanya saja. Akan tetapi, hakikatnya bukan pakaian, karena tidak bisa menyembunyikan aurat. (binbaz.org.sa) Ternyata pelanggaran ini, ada pada kebaya. Jika tidak transparan, minimal ketat, yang menampakkan lekuk tubuh. Kedua: Emansipasi Wanita

.

Disadari maupun tidak, peringatan hari Kartini telah ditunggangi oleh ideologi yang dihasung dari Barat, yaitu ideologi emansipasi (kebebasan) wanita. Sebenarnya gerakan ini hanyalah meneruskan ideologi usang yang dulu dikembangkan di Mesir sekitar awal abad 20. Melalui gerakan ini, corong-corong Yahudi di berbagai penjuru dunia, hendak merusak aturan syariat. Mereka paham, umat Islam akan kesulitan diajak kembali kepada Alquran dan sunah, jika syahwat mereka dibangkitkan melalui wanita. Gerakan inilah pemicu terbesar merebaknya berbagai penyimpangan dan kebebasan pergaulan. Inikah yang disebut kebebasan? Ataukah justru penghinaan? Islam mengajarkan agar wanita menutup aurat, menjaga kehormatannya, dan mengambil peran penting dalam mendidik keturunannya. Allah berfirman, ‫ذوُذقمرذن دفيِ هبهيِوُدتهكنن ذوُذلْ ذتذبنرمجذن ذتذبيرذج املذجاَدهلدنيِدة ا م ه‬ ‫لوُذلى‬

Page 29


“Tetaplah tinggal di rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (menampakkan aurat), sebagaimana yang dilakukan masyarakat jahiliyah masa silam.� (QS. Al-Ahzab: 33) Allah Ta’ala menggandengkan perintah untuk sering tinggal di rumah, kecuali jika ada kebutuhan, dengan larangan untuk ber-tabaruj. Karena umumnya orang yang suka keluar rumah, pasti akan menampakkan auratnya. Lebih dari itu, gerakan kebebasan wanita, hakikatnya kembali mengulang adat jahiliyah. Apakah memberikan porsi penting semacam ini Islam dianggap menistakan wanita? Kita tidak tahu, siapakah yang lebih layak disebut menghinakan wanita? Apakah Allah Yang Maha Pengasih, Yang Maha Mengetahui hal terbaik untuk hamba-Nya, ataukah orang-orang yang ingin menjadikan wanita sebagai barang dagangan dan ajang untuk memuaskan pandangan dan nafsunya? Ketiga: Kesetaraan Gender Tidak terdapat bukti konkret yang menunjukkan bahwa perjuangan Kartini untuk kesetaraan gender. Beberapa literatur sejarah hanya menunjukkan bahwa beliau ingin agar wanita mendapatkan hak pendidikan yang layak. Kalaupun beliau ingin memperjuangkan isu gender, tentu beliau tidak mungkin bersedia menikah dengan bupati Rembang Adipati Joyodiningrat, yang sudah memiliki istri tiga. Lebih dari itu, hakikatnya isu ini termasuk bagian ideologi yang dihembuskan Barat kepada kaum muslimin. Kali ini yang diangkat adalah tema keadilan. Mereka ingin membuktikan bahwa Islam adalah ajaran yang tidak adil, tidak memberikan kesamaan hak, Islam hanyalah imperium bangsa Arab, yang ingin dikebunkan di berbagai wilayah jajahannya. Apapun alasannya, itulah celoteh mereka.

Page 30


Sebagai orang yang beriman, kita berkeyakinan bahwa Allah adalah

sumber

keadilan.

Allah

Dzat

yang

Maha

Adil

dan

memerintahkan manusia untuk berlaku adil. ‫اذ ذيِأمهمهر دباَملذعمددل ذوُاملمحذساَدن ذوُدإيِذتللاَدء دذيِ املقهمرذبلى ذوُذيِمنذهلى ذعلدن املذفمحذشلاَدء ذوُاملهممنذكلر ذوُاملذبمغلليِ ذيِدع ه‬ ‫إدنن ن‬ ‫ظهكللمم لذذعلنهكلمم‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫د‬ ‫ذتذذنكهروُذن‬ “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan

keji,

kemungkaran

dan

permusuhan.

Dia

memberi

pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90) Jika demikian adanya, kita pun yakin bahwa semua aturan dan firman Allah dalam Alquran adalah keadilan. Dan Allah membedakan antara laki-laki dan wanita. Allah tegaskan dalam firman-Nya, ‫س النذذكهر ذكاَمل همنذثى‬ ‫ذوُلذميِ ذ‬ “Laki-laki tidak sebagaimana wanita.” (QS. Ali Imran: 36) Terkait pembagian warisan, Allah membedakan jatah lelaki dan wanita: ‫صيِهكهم ن‬ ‫ا ه دفيِ أذموُذلْددهكمم دللنذذكدر دممثهل ذحرُظ امل همنذثذيِميِدن‬ ‫هيِوُ د‬ “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan…” (QS. An-Nisa: 11) Dan berbagai dalil lainnya, yang menunjukkan bahwa syariat membedakan antara lelaki dan wanita. Adanya syariat yang demikian, karena Dzat yang menurunkan Syariat, Allah Ta’ala Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Menyamakan lelaki dan wanita bukanlah aturan yang terbaik untuk hamba. Karena itu, aturan ini akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar di masyarakat. Atau setidaknya menyebabkan masyarakat kita menjadi cacat mental.

Page 31


Lebih dari itu, sejatinya Islam hanya membolehkan kita untuk memperingati atau merayakan dua hari raya yang Allah tetapkan, Idul Fitri dan Idul Adha, Allah a’lam‌ Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah) Dari konsultasi Syariah di atas, jelaslah bahwa hanya karena segelintir pemahaman yang tidak benar dalam mengambil hikmah pelajaran dari perjuangan RA. Kartini. Ternyata tidak ada literature yang jelas dan lengkap yang menyatakan bahwa perayaan Kartini harus diidentifikasikan dengan cara berpakaian, kesamaan gender, emansipasi wanita dan sebagainya itu. Selanjutnya artikel tentang pembahasan Fase kehidupan ke-dua dari ibu kita Kartini juga dikupas secara tuntas dalam buku Artawijaya berikut, lengkap dengan referensi pendukungnya. Dalam buku ini diceritakan secara gamblang bahwa di akhir penghujung hayatnya RA. Kartini justru mengalami perubahan pola pikir yang sangat dratis, dari pemikiran-pemikiran yang dipengaruhi oleh budaya Barat, (Belanda) dalam fase kegelapan menuju cahaya Keislaman yang memberi pengaruh besar terhadap pandangannya pada keluarga Indonesia. Sejatinya bahwa, seorang wanita sebaiknya berperan besar dalam keluarga, mendidik anak dengan jiwa raganya dan ikhlas mengabdi kepada suami. Semua tertuang dalam tulisan-tulisannya yang begitu menyentuh.

“Kami di sini memohon diusahakan

pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: Menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-

Page 32


tama.� Ra. Kartini [Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902] Menjadi ibu, seorang ibu yang seutuhnya. Mendidik anak-anak sebagai tiang utama sebagaimana Rasulullah mencontohkan dalam kehidupan keluarganya. Bukannya malah menjadi wanita karir, yang jarang berada di rumah sebagaimana yang dianut oleh kaum wanita di Indonesia saat ini. Demikianlah kesalah pahaman yang masih saja terjadi di kalangan keluarga Indonesia. Semoga kita bisa memilih mana jalan yang terbaik menurut Allah azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Semuanya sudah ditakdirkan sesuai kodratnya, inshaAllah Allah lebih mengetahui mana yang terbaik bagi kehidupan hamba-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Walaupun pada awalnya, ia kecewa dengan sistem tradisional masyarakat pada kala itu. Mengajarkan tentang Islam dan Al Qur’an, namun tidak mengerti makna maupun artinya karena situasi dan kondisi saat itu bahwa Belanda melarang masyarakat Indonesia untuk lebih mempelajari Al Qur’an secara luas dan dalam hingga mengetahui maknanya. Berikut penjelasan lebih lanjut tentang fase kehidupan Kartini menemukan hidayah dan cahaya keislaman. FASE KEDUA DALAM KEHIDUPAN RA. KARTINI Dalam hal ini penulis buku ini jelas mengupas secara tuntas tentang sejarah tulisan-tulisan Kartini. Awal tulisannya merupakan Fase pertama kehidupannya (Masa Kegelapan), dan berikutnya Fase kedua dalam Kehidupan RA. Kartini. Lebih daripada itu beliau juga mengulas beberapa perkara dimasa akhir hidup kartini, yang hampir tidak di ketahui oleh banyak kalangan.

Page 33


BERTEMU KYAI SHALEH DARAT Selain faktor teman buruk di awal fase kehidupannya, kaum muslim di sekeliling Kartini juga punya pemahaman yang salah terhadap Islam. Mereka mengajarkan Islam tanpa memahamkan apa yang diajarkan. Coba kita simak surat Kartini kepada Stella ...berikut ini.

:

“Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Al Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang di sini belajar membaca Al Qur’an tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah,

orang

diajar

membaca

tapi

tidak

dibacanya.” [Surat kepada Stella, 6 Nov 1899].

mengerti

apa

yg .

Perlu diketahui, pada waktu pemerintahan Hindia Belanda, umat muslim memang dibolehkan mengajarkan Al-Qur’an dengan syarat tidak diterjemahkan alias hanya belajar baca huruf arab saja (pengaruh ini masih dapat kita jumpai saat ini, di mana belajar Al-Quran dianggap selesai ketika telah mampu membaca Al-Quran dengan lancar sampai akhir, walaupun tidak paham maknanya –khataman-). Dan ini memang taktik Belanda agar orang-orang Indonesia tidak paham terhadap Alquran dan akhirnya mereka tidak akan angkat senjata kepada penjajah kafir belanda.

.

Suatu ketika, Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama wanita lain dari balik tabir. Kartini tertarik kepada materi yang sedang diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh Kyai Shaleh Darat. Setelah selesai pengajian, Kartini

Page 34


mendesak pamannya agar bersedia untuk menemaninya menemui Kyai

Shaleh

bagaimana

Darat.

hukumnya

“Kyai, perkenankanlah apabila

seorang

saya

yang

menanyakan,

berilmu,

namun

menyembunyikan ilmunya?“ Pertanyaan ini diajukan Kartini kepada Kyai Haji Muhammad Sholeh bin Umar, atau lebih dikenal dengan Kyai Sholeh Darat, ketika berkunjung ke rumah pamannya Pangeran Ario Hadiningrat, Bupati Demak. Waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga dan Kartini ikut mendengarkan bersama para raden ayu lainnya dari balik tabir. Karena tertarik pada materi pengajian tentang tafsir Al-Fatihah, setelah selesai Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui Kyai tersebut. Tertegun mendengar pertanyaan Kartini, Kyai balik bertanya,

“Mengapa

Raden

Ajeng

bertanya

demikian?“

“Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama (Al-Fatihah), dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab

pimpinan

hidup

bahagia

dan

sejahtera

bagi

manusia?“

Ibu Kartini muda yang di kala itu belajar Islam dari seorang guru mengaji, memang telah lama merasa tidak puas dengan cara mengajar guru itu karena bersifat dogmatis dan indoktrinatif. Walaupun kakeknya Kyai Haji Madirono dan neneknya Nyai Haji Aminah dari garis ibunya, M. A. Ngasirah adalah pasangan guru agama, Kartini merasa belum bisa mencintai agamanya. Betapa tidak? Beliau hanya diajar bagaimana membaca dan menghafal Al-Qur’an dan cara melakukan shalat, tapi tidak diajarkan terjemahan, apalagi tafsirnya. Pada waktu itu penjajah Belanda memang memperbolehkan orang mempelajari AlQurâ’an asal jangan diterjemahkan. Kartini menceritakan bahwa

Page 35


selama hidupnya baru kali itulah dia sempat mengerti makna dan arti surat Al-Fatihah, yang isinya begitu indah menggetarkan hati. Kemudian

atas

permintaan

Kartini,

Kyai

Shaleh

diminta

menerjemahkan Al Qur’an dalam bahasa Jawa di dalam sebuah buku berjudul Faidhur Rahman Fit Tafsiril Qur’an jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai surat Al Fatihah hingga surat Ibrahim. Buku itu dihadiahkan kepada Kartini saat dia (Kartini) menikah dengan R. M. Joyodiningrat, Bupati Rembang. Kyai Shaleh meninggal saat baru menerjemahkan jilid pertama tersebut. Namun, hal ini sudah cukup

membuka

pikiran

Kartini

dalam

mengenal

Islam.

Tahukah anda? Bahwa sebenarnya ungkapan "Habis Gelap Terbitlah Terang" itu sebenarnya ditemukan Kartini dalam surat Al Baqarah ayat 257, yaitu firman Allah“ …minazh-zhulumaati ilan-nuur” yang artinya “ dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)”. Oleh Kartini diungkapkan dalam bahasa Belanda "Door Duisternis Tot Licht". Dan kemudian, oleh Armien pane yang menerjemahkan kumpulan surat-surat Kartini diungkapkan

menjadi

"Habis Gelap Terbitlah Terang". Dengan kegigihannya untuk mau belajar agama Islam, akhirnya Kartini muda diberi cahaya hidayah oleh Allah subhannahu wata’ala sehingga lahirlah buku “Habis Gelap Terbitlah Terang…”. Allahu Akbar..! Allah Pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syeitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah : 257).

Page 36


KARTINI KEMUDIAN Kartini yang mulai mengenal Islam pun berubah. Pandangannya terhadap Islam menjadi positif.

.

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” [Surat kepada Ny. Van

Ko...l,

21

Juli

1902].

.

Kartini kemudian merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh pejuang feminisme dan emansipasi saat ini (sebenarnya lebih cocok disebut sebagai westernisasi), namun agar para wanita lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai Ibu. Kartini menulis dalam suratnya: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: Menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902].

.

Dan tidak hanya itu, pandangannya terhadap Barat pun berubah. Kartini menulis.

:

“Dan saya menjawab, "Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya, tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah.” [Kepada Ny. Abendanon, 12 Okt 1902].

Page 37

.


“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat Ibu, terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?� [Surat kepada Ny. Abendanon, 27 Okt 1902]. Kartini meninggal dalam usia muda, 25 tahun, empat hari setelah melahirkan putranya. Ia tak sempat belajar Islam lebih dalam. Namun yang patut disayangkan, kebanyakan orang mengetahui Ibu Kartini hanyalah sekedar sebagai pejuang emansipasi wanita. Banyak orang yang tidak tahu perjalanan Kartini menemukan Islam dan perubahan pola pikirnya

.

Semoga tulisan ini dapat menggugah kita untuk tahu lebih dalam tentang "IBU KITA KARTINI" (dalam upayanya mempelajari Islam dan mendorong kaum wanita Indonesia untuk mendidik buah hati mereka dengan kesungguhan karena Allah lillahi ta’ala), daripada sekedar peringatan tahunan tanpa makna.

.

Diambil sebagian dari catatan Al Akh Abu Muhammad Herman. [Dari Majalah Elfata dengan sedikit penyesuaian pada beberapa kata].

Page 38


Dunia yang gemerlap ibarat penjara bagi orangorang mukmin, karena mereka harus menahan nafsu dan dahaganya dari godaan dunia yang menghanyutkan. Namun ketika mereka bersabar dan bertawakal dari semua itu Allah Subhannahu Wata’ala Yang Maha Agung telah menyediakan bagi mereka Syurga yang tiada taranya, bahkan keindahannya tidak pernah terbayangkan oleh mereka‌ .

Page 39


IV.2 PENDIDIKAN DI SEKOLAH 4.2.1 THE AMAZING HOLISTIC LEARNING IN SCHOOL (PEMBELAJARAN HOLISTIK YANG MENYENANGKAN) Seringkali kita melihat bahwa sistem pendidikan di Indonesia sebetulnya hanya menyiapkan para siswa untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi atau hanya untuk mereka yang memang mempunyai bakat pada potensi akademik saja. Hal ini terlihat dari bobot mata pelajaran yang diarahkan kepada pengembangan dimensi akademik siswa

melalui

kemampuan

logika-matematika

dan

abstraksi

(kemampuan bahasa, menghafal, abstraksi atau ukuran IQ). Padahal ada banyak potensi lainnya yang perlu dikembangkan, karena berdasarkan teori Howard Gardner, tentang kecerdasan majemuk, potensi akademik hanyalah sebagian saja dari potensipotensi lainnya. Teori ini juga memberikan pandangan baru dalam dunia pendidikan secara global. Siswa dipandang berdasarkan kepada potensi yang dimilikinya. Bagaimana suatu sistem pendidikan lebih terfokus kepada potensi yang dimiliki oleh masing-masing individu. Hukum alam selalu menunjukkan bahwa di mana pun manusia di muka bumi ini, yang memiliki IQ di atas angka 120 tidak lebih dari 10 persen jumlah penduduk. Namun sebaliknya, sebagian besar mereka yang kecerdasannya bukan pada dimensi akademik justru menjadi seorang pemimpin, ilmuwan, pemikir, dan ahli strategis, serta dimensi-dimensi lainnya sepeti pekerjaan teknisi, musisi, mesin (motorik), artis, atau hal-hal lain yang sifatnya “lebih konkrit�. Kualitas produksi barang dan jasa pun sangat tergantung pada kualitas segmen penduduk yang mayoritas ini. (Doni Koesoema A., 2010).

Page 40


Tantangannya adalah apakah penduduk mayoritas pelajar di Indonesia ini sudah dipersiapkan untuk dapat bekerja secara profesional sehingga dapat menghasilkan generasi yang berkualitas? Sejak 2500 tahun lalu Socrates telah berkata bahwa tujuan yang paling mendasar dari pendidikan adalah utuk membuat seseorang yang “good” dan “smart” . Manusia yang terdidik seharusnya menjadi orang bijak, yaitu yang dapat menggunakan ilmunya untuk hal-hal yang baik ( beramal sholeh), dan dapat hidup secara bijak (thoughtful and decent human being). Ustadz

Kholid

Syamhudi

dalam

artikelnya

memberikan

rangkuman terperinci mengenai landasan pendidikan seusai syariat Allah subhannahu wa Ta’ala. Beliau mengatakan bahwa pendidikan memiliki peran sangat penting

dalam

pembentukan

kepribadian

dan

perkembangan

peradaban manusia, khususnya dalam membina manusia dan membebaskannya

dari

kebodohan,

kegelapan,

dan

kesesatan.

Sebagaiman Rasulullah diutus untuk mendidik manusia agar menjadi makhluk yang berakhlak mulia dan terlepas dari kesesatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫حمكذمذة ذوُهيِذعلرُهمهكمم ذمللاَ ذلللمم ذتهكوُهنللوُا‬ ‫ب ذوُامل د‬ ‫ذكذماَ أذمرذسملذناَ دفيِهكمم ذرهسوُالْ دممنهكمم ذيِمتهلوُ ذعلذميِهكمم آذيِاَدتذناَ ذوُهيِذزرُكيِهكمم ذوُهيِذعلرُهمهكهم املدكذتاَ ذ‬ ‫ذتمعذلهموُذن‬ “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami

telah

mengutus

kepadamu

Rasul

diantara

kamu

yang

membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” [al-Baqarah/2:151].

Page 41


Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman ‫ب ذتذعاَلذموُا إدلذىى ذكلدذمرة ذسذوُارء ذبميِذنذناَ ذوُذبميِذنهكمم أذنلْ ذنمعهبذد إدنلْ ن‬ َ‫ضللذنا‬ ‫خذذ ذبمع ه‬ ‫اذ ذوُذلْ هنمشدرذك دبده ذشميِائاَ ذوُذلْ ذيِنت د‬ ‫قهمل ذيِاَ أذمهذل املدكذتاَ د‬ ‫ذبمع ا‬ ‫ا ِهَّلل ذفإدمن ذتذوُلنموُا ذفهقوُهلوُا امشذههدوُا دبأ ذنناَ هممسلدهموُذن‬ ‫ضاَ أذمرذباَاباَ دممن هدوُدن ن د‬ “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orangorang yang berserah diri (kepada Allah)”. [Ali Imran/3:64]. Demikianlah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membina dan mendidik para sahabatnya sehingga mereka menjadi generasi terbaik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‫س ذقمردنيِ هثنم الندذيِذن ذيِهلوُذنههمم هثنم الندذيِذن ذيِهلوُذنههمم‬ ‫ذخميِهر النناَ د‬ “Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka”. [HR al-Bukhâri, 5/191, dan Muslim no. 2533]. Mereka menjadi manusia terbaik di bawah pembinaan pendidik terbaik, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga Mu’âwiyah bin al-Hakam Radhiyallahu ‘anhu mengungkapkan kekagumannya terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ungkapannya yang indah:

Page 42


‫ذماَ ذرأذميِ ه‬ ‫ت همذعلرُاماَ ذقمبذلهه ذوُذلْ ذبمعذدهه أذمحذسذن ذتمعدليِاماَ دممنهه روُاه مسلم‬ “Aku tidak akan melihat seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik darinya”. [HR Muslim no. 836]. Sebagai teladan yang baik, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mencontoh dan mengikutinya: ‫خذر ذوُذذذكذر ن‬ ‫اد أ همسذوُةت ذحذسذنتة لدذممن ذكاَذن ذيِمرهجوُ ن‬ ‫لذذقمد ذكاَذن لذهكمم دفيِ ذرهسوُدل ن‬ ‫اذ ذكدثيِارا‬ ‫اذ ذوُاملذيِموُذم امل د‬ “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. [alAhzab/33:21]. Juga dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫ذوُإدننذك ذلذعذلىى هخل هرق ذعدظيِرم‬ “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. [al-Qalam/68:4]. Oleh karena itu, semestinya menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rujukan dalam pendidikan dan pembinaan kehidupan

seluruh

manusia.

Sufyân

bin

‘Uyainah

al-Makki

rahimahullah menyatakan: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah standar terbesar. Segala sesuatu (harus) ditimbang berdasarkan akhlak, sirah dan petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua yang sesuai dengannya, itulah kebenaran; dan yang menyelisihinya, itulah kebatilan”.[1]

Page 43


GARIS BESAR PENDIDIKAN PADA MASA SALAF Salah seorang murid Syaikh Muhammad Nâshiruddin al-Albâni, yaitu Syaikh Muhammad ‘Id Abbâsi, menyimpulkan garis-garis besar yang terpenting

mengenai

pendidikan

pada

masa

Salaf.

Beliau

menyebutkan dalam makalahnya yang berjudul at-Ta’lîm fi ‘Ahdi asSalaf, sebagai berikut. 1. Menjadikan Al-Qur`ân dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai landasan dan sumber ilmu. Keduanya merupakan sumber

terpercaya

dan

maksum

dari

segala

kesalahan

dan

kekurangan. 2. Memahami Al-Qur`ân dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was allam sesuai dengan pemahaman Salafush-Shâlih, yaitu seperti para sahabat, Tâbi’în dan Tâbi’it Tâbi’în. Mereka telah dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur`an, dan juga direkomendasikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diikuti. 3. Mengikhlaskan ilmu hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadikannya sebagai puncak usaha dan tujuan kita. 4. Memulai dengan menanamkan secara kokoh keimanan kepada jiwa murid

sebelum

belajar

hukum

syariat.

Ini

dilakukan

dengan

mengenalkan tentang Rabb, nama, sifat dan perbuatan-Nya, sehingga tertanam dalam jiwa murid pengagungan, penghormatan, pengharapan dan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kecintaan kepada-Nya. Dia juga akan selalu ingat kepada kematian, kengerian hari Kiamat, surga dan neraka serta hari Perhitungan amal. Memulai pendidikan dengan sisi ini akan mempersiapkan seseorang supaya dapat melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan

Page 44


menjauhi larangan-larangan-Nya serta senantiasa istiqamah. Demikian yang disampaikan Al-Qur`ân dalam masalah pendidikan generasi pertama dan kedua. Dijelaskan oleh Ummul-Mukminîn ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha : ‫س إدذلللى املدمسللذلدم‬ ‫ب الننللاَ ه‬ ‫إدننذماَ ذنذزذل أذنوُذل ذماَ ذنذزذل دممنهه هسوُذرةت دممن املهمذف ن‬ ‫صدل دفيِذهاَ دذمكهر املذجنندة ذوُالنناَدر ذحنتللى إدذذا ذثللاَ ذ‬ ‫ذنذزذل املذحذلهل ذوُاملذحذراهم ذوُذلموُ ذنذزذل أذنوُذل ذشميِرء ذلْ ذتمشذرهبوُا املذخممذر ذلذقاَهلوُا ذلْ ذنذدهع املذخممذر أذذبللادا ذوُذلللموُ ذنللذزذل ذلْ ذتمزهنللوُا‬ ‫صنلى ن‬ ‫ب ذبللمل النسللاَذعهة‬ ‫ا ه ذعلذميِده ذوُذسلللنذم ذوُإدرُنلليِ لذذجاَدرذيِللتة أذملذعلل ه‬ ‫لذذقاَهلوُا ذلْ ذنذدهع الرُزذناَ أذذبادا لذذقمد ذنذزذل دبذمنكذة ذعذلى همذحنمرد ذ‬ ‫ذمموُدعهدههمم ذوُالنساَذعهة أذمدذهى ذوُأذذمير ذوُذماَ ذنذزلذ م‬ ِ‫ت هسوُذرةه املذبذقذردة ذوُالرُنذساَدء إدنلْ ذوُأذذناَ دعمنذدهه روُاه البخاَري‬ “Sesungguhnya yang pertama kali turun darinya ialah satu surat dari al-Mufashshal (surat-surat pendek) yang berisi penjelasan tentang surga dan neraka; sehingga apabila manusia telah mantap dalam Islam, maka turunlah (ayat-ayat tentang) halal dan haram. Seandainya yang pertama kali turun (kepada mereka) adalah “jangan minum khamr (minuman keras),” tentu mereka akan menjawab “kami tidak akan meninggalkan khamr selama-lamanya”. Seandainya yang pertama turun adalah “jangan berzina,” tentu mereka akan menjawab “kami tidak akan meninggalkan zina selama-lamanya”. Sesungguhnya telah turun firman Allah “sebenarnya hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka, dan Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit” -Qs al-Qamar 54 ayat 46- di Mekkah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pada waktu itu aku masih anak kecil yang bermain-main. Dan belum turun surat al-Baqarah dan an-Nisâ` kecuali aku sudah berada di sisinya”. [HR al-Bukhâri, no. 4993]. 5. Mengagungkan dan menghormati ilmu dan menjadikannya sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Konsekuensi dari itu, ialah memuliakan dan menghormati serta berbuat

Page 45


santun kepada para ulama dan para guru.. Demikian juga seorang murid harus merendahkan suara di hadapan mereka, tidak berbuat lancang kepada mereka, hendaklah berlemah-lembut dalam berbicara dengan mereka. Mereka ialah pewaris para nabi sebagaimana telah disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantaran itu, maka mereka para pendidik itu pun akan senang hati menyampaikan ilmu yang dimilikinya dan memberikan faidah (ilmu) yang mereka miliki. 6. Berpegang dengan metode ilmiah dengan berlandaskan dalil, hujjah, bukti kongkrit, menjauhi taklid, meninggalkan perkiraan dan prasangka keliru. Dalam pengajaran Islam, metode ini memiliki peran sangat penting. Sebab, Islam mengajak manusia untuk berfikir dan mencari dalil. Bimbingan Al-Qur`ân ini telah diamalkan oleh para Salaf terdahulu. 7. Menjadikan tujuan terbesar pendidikan dan pengajaran terfokus pada pembentukan pribadi muslim yang tunduk dan menerima perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kepribadian yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam uluhiyah-Nya dan menempuh beribadah sesuai jalan-Nya, sehingga mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar, berpegang teguh dengan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,

melaksanakan

kewajiban

khilafah

di

bumi,

memperhatikan agama dan dunia, serta beramal untuk dunia dan akhirat. 8. Dalam proses pengajaran, menghubungkan hakikat ilmiah dengan hakikat

keimanan,

menanamkan

aqidah

yang

benar

dan

mengokohkannya di dalam jiwa para murid. Inilah metode Al-Qur`ân dalam pembentukan aqidah, dimana dipaparkan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala di alam semesta, jiwa dan ufuk bumi, dan

Page 46


mengajak

manusia

untuk

merenungkan,

memikirkan,

sehingga

sampailah keimanannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, iman kepada kodrat (kekuasaan) dan sifat-sifat-Nya. Metode ini berbeda dengan pendidikan sekuler yang hanya menyampaikan hakikat ilmiah, dan memisahkan ilmu dari agama; sehingga pendidikan hanya bersifat lahiriyah dan sekedar slogan tanpa berpengaruh kepada akhlak, tidak membentuk manusia yang shalih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam menceritakan ilmu orang-orang kafir: ‫خذردة ههمم ذغاَدفهلوُذن‬ ‫ذيِمعذلهموُذن ذظاَدهارا دمذن املذحذيِاَدة اليدمنذيِاَ ذوُههمم ذعدن امل د‬ “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai”. [arRuum/30:7]. 9. Seorang pendidik harus menjadi teladan yang baik bagi para muridnya. Kaidah ini merupakan landasan yang sangat penting dalam pendidikan. Dengan cara qudwah inilah Islam memerintahkan dan memperingatkan secara keras perbuatan seseorang yang menyelisihi perkataannya, dan khususnya bagi seorang ulama. Dalam hal ini, Islam memberikan permisalan dengan permisalan yang paling buruk, dengan keledai dan anjing. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫ت‬ ‫س ذمذثهل املذقللموُدم النللدذيِذن ذكللنذهبوُا دبآِذيِللاَ د‬ ‫ذمذثهل الندذيِذن هحرُمهلوُا النتموُذراذة هثنم ذلمم ذيِمحدمهلوُذهاَ ذكذمذثدل امل د‬ ‫حذماَدر ذيِمحدمهل أذمسذفاَارا ِهَّلل دبمئ ذ‬ ‫ا ِهَّلل ذوُ ن‬ ‫ا ه ذلْ ذيِمهدديِ املذقموُذم النظاَلددميِذن‬ ‫ند‬ “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya; adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan

Page 47


kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunju kepada kaum yang zhalim”. [al-Jumu’ah/62:5] Dan firman Allah Azza wa Jalla. َ‫ذوُامتهل ذعذلميِدهمم ذنذبأ ذ الندذيِ آذتميِذناَهه آذيِاَدتذناَ ذفاَمنذسذلذخ دممنذهاَ ذفأ ذمتذبذعهه النشلميِذطاَهن ذفذكلاَذن دملذن املذغلاَدوُيِذن ذوُذللموُ دشلمئذناَ ذلذرذفمعذنلاَهه دبذهلا‬ ‫ث أذموُ ذتمتهرمكهه ذيِملذهلل م‬ ‫ب إدمن ذتمحدممل ذعذلميِده ذيِملذه م‬ ‫ك ذمذثللهل‬ ‫ض ذوُانتذبذع ذهذوُاهه ِهَّلل ذفذمذثل ههه ذكذمذثدل املذكمل د‬ ‫ث ِهَّلل ىذذلدلل ذ‬ ‫ذوُىذلدكننهه أذمخذلذد إدذلى املذمر د‬ ‫ص لذذعلنههمم ذيِذتذفنكهروُذن‬ ‫املذقموُدم الندذيِذن ذكنذهبوُا دبآِذيِاَدتذناَ ِهَّلل ذفاَمق ه‬ ‫ص ذ‬ ‫ص املذق ذ‬ ‫ص د‬ “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami

(pengetahuan

tentang

isi Al-Kitab),

kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orangorang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya yang rendah; maka perumpamaannya diulurkannya

seperti

lidahnya,

anjing;

dan

jika

jika kamu

kamu

menghalaunya,

membiarkannya,

dia

mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orangorang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir” [al-A’râf/7:175-176]. 10. Lemah-lembut terhadap murid, menyambut dan memotivasinya. Banyak dalil yang memerintahkan untuk berbuat demikian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhitungkannya sebagai faktor yang dapat mengantarkan kepada kesuksesan dan keberuntungan.

Page 48


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫ضللنل‬ ‫امدهع إدلذىى ذسدبيِدل ذررُبذك دباَمل د‬ ‫حمكذمدة ذوُاملذمموُدعذظدة املذحذسذندة ِ ذوُذجاَددملههمم دباَلندتيِ دهذيِ أذمحذسهن ِهَّلل إدنن ذرنبذك ههذوُ أذمعلذهم دبذمللمن ذ‬ ‫ذعمن ذسدبيِلدده ِ ذوُههذوُ أذمعلذهم دباَملهممهذتدديِذن‬ “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orangorang yang mendapat petunjuk”. [an-Nahl/16:125]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ) ‫( وُمسلللم‬23786) ‫ ذوُلْذ هيِمنللذزهع دمللمن ذشللميِرء إدلْن ذشللاَذنهه روُاه أحمللد‬،‫إدنن الرُرمفذق لْذ ذيِهكموُهن دفميِ ذشميِرء إدلْن ذزانللذهه‬ (2487) ‫( وُأبوُ داوُد‬2594. “Sesungguhnya kelembutan tidak menyertai sesuatu kecuali akan menghiasinya,

dan

tidak

hilang

dari

sesuatu

kecuali

akan

merusaknya”. [HR Ahmad no. 23786, Muslim no. 2594 dan Abu Dawud no. 2487]. َ‫( وُغيِرهما‬2165) ‫( وُمسلم‬6024) ِ‫ب الرُرمفذق دفميِ املذممدر هكلرُده روُاه البخاَري‬ ‫ح ي‬ ‫ا هيِ د‬ ‫إدنن ذ‬ “Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan (rifqu) dalam seluruh perkara”. [Muttafaqun ‘alaihi] ‫ا ” روُاه ابن ماَجة‬ ‫ ذممرذحباَ ا ذممرذحباَ ا دبذوُ د‬:‫ذسذيِأمدتميِهكمم أذمقذوُاتم ذيِمطل ههبموُذن املدعملذم ذفإدذذا ذرأذميِهتهموُههمم ذفقهموُل هموُا ذلههمم‬ ‫صنيِدة ذرهسموُدل د‬ (247) “Akan datang kepada kalian kaum yang menuntut ilmu; bila kalian mendapatinya, maka katakanlah kepada mereka ‘selamat datang, selamat datang orang yang menjadi wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [HR Ibnu Majah no. 247]. Oleh karena itu, dahulu, para ulama dan para pendidik berbicara kepada para penuntut ilmu dengan perkataan yang bagus, tawadhu`, mencintai mereka dan bermuamalah secara baik dengan mereka.

Page 49


Demikian juga dengan para pelajar, mereka mencintai para pendidik, senang bersama mereka, menghormati dan memuliakan guru-gurunya, serta mengambil faidah dari mereka sebaik-baiknya. Sehingga lantaran muamalah yang baik antara pendidik dengan murid, maka semua akan mendapatkan banyak manfaat dan kesuksesan. Di antara bentuk lemah-lembut kepada murid, yakni dalam menyampaikan informasi ilmiah, para pendidik menyampaikannya secara bertahap, dari yang mudah kepada yang sulit, dan dari yang biasa sampai yang komplek dan seterusnya. 11. Melakukan variasi dalam uslûb (mengajar) sehingga murid menjadi tertarik, merasa rindu dan pikirannya terkonsentrasi mengikuti pelajaran. Di antara uslûb itu, misalnya dengan metode tanya jawab, diskusi, kisah-kisah, permisalan, atau dengan penggunaan alat dan sarana pengajaran yang ada. Uslûb demikian banyak dicontohkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta pernyataan para Salaf terdahulu. AJAKAN DAN HIMBAUAN Sudah menjadi kewajiban para ulama, da’i, ustadz dan para pendidik untuk mempelajari keahlian yang dimiliki para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum agar mencapai kedudukan tertinggi dan sampai pada derajat tertinggi di dunia dan akhirat. Jadikanlah karakteristik dan keahlian mereka selalu dalam ingatan kita ketika kita melaksanakan kewajiban mendidik generasi masa ini. Karena para pendidik memiliki tujuan membentuk generasi seperti generasi Sahabat dalam aqidah dan pemahaman terhadap al-Qur`ân dan Sunnah dan menjadikan mereka taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya serta mendidik mereka menjadi orang yang zuhud terhadap dunia dan antusias dengan Akhirat. Disamping juga, untuk menanamkan pada

Page 50


mereka sikap berkorban dalam mencapai keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memiliki semangat membela agama dan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Marilah kita tanamkan hal ini dalam benak dan ingatan kita dan mari bersama-sama semangat untuk menerapkannya ketika kita menjadi pendidik baik di keluarga, lingkungan dan sekolah-sekolah, agar kita dapat mengembalikan lagi warna masa emas umat ini di atas cahaya ilmu dan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.Wabillahit taufiq. Aamiiin yaa Robbal Alamin‌ Karenanya sebuah sistem pendidikan yang berhasil adalah yang dapat membentuk mansia-manusia terampil dan berkarakter yang

sangat

diperlukan

dalam

mewujudkan

sebuah

Negara

kebangsaan yang terhormat. Melalui konsep pembelajaran holistik menyeluruh proses pembelajaran berusaha memasukkan semua unsur-unsur nilai yang dibutuhkan oleh peserta didik dalam menghadapi zaman yang semakin berkembang. Karena dengan kurikulum yang disusun secara holistik dan sistematik, diharapkan mampu membangun dan mengembangkan potensi dan karakter siswa. Selain siswa diajak untuk senantiasa care dan peduli terhadap lingkungan, namun juga untuk mengembangkan ketrampilan dalam bersosialisasi karena melibatkan siswa dalam kegiatan

nyata.

Berbeda

dengan

pola

pendekatan

traditional,

pembelajaran lebih menekankan kepada pengetahuan saja, dirancang secara terpisah-pisah dan bersifat abstraksi. Pembelajaran adalah pusat kegiatan belajar mengajar, yang terdiri dari guru dan siswa, yang bermuara pada pematangan intelektual, kedewasaan emosional, ketinggian spiritual, kecakapan hidup, dan keagungan moral. (Asmani, 2011). Sebagian besar waktu anak dihabiskan dalam rutinitas pembelajaran setiap hari. Jangan sampai waktu yang telah digunakan habis sia-sia tanpa bermakna.

Page 51


Namun dalam pembelajaran yang holistik mendorong seorang individu dalam menemukan identitas diri, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilainilai spiritual. Secara historis, pembelajaran secara holistik sebetulnya bukan hal yang baru. Para penganut pola pendekatan ini terus berkembang. Pola pembelajaran ini sangat berbeda jauh dengan pola pendekatan yang banyak digunakan saat ini.

Namun pembelajaran

holistik telah banyak digunakan oleh negara-negara maju. Mengapa pendidikan di Indonesia masih belum banyak menggunakan pola ini? Padahal

pembelajaran holistik membantu mengembangkan potensi

individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggembirakan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi

dengan

lingkungannya.

Sedangkan

pembelajaran

traditional, lebih senang melihat siswa duduk tenang dan rapi, selalu mendapat ceramah dari gurunya, murid harus mendengar, menulis tanpa melakukan kegiatan, yang membuat siswa selalu tertekan dan murung. Bangsa kita sudah terlalu nyaman dengan kondisi yang ada sekarang, sehingga munculnya pemikiran baru dijadikan sesuatu hal yang berat untuk diterima. Padahal, menurut (Basil Bernstein, 2000) melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya. Jika merujuk pada pemikiran Abraham Maslow dalam buku Goble,

2004

menyatakan

bahwa;

pendidikan

harus

dapat

mengantarkan peserta didik untuk memperoleh aktualisasi diri (selfactualization) yang ditandai dengan adanya: (1) kesadaran; (2) kejujuran; (3) kebebasan atau kemandirian; dan (4) kepercayaan. Ini

Page 52


artinya bahwa siswa diberi nilai-nilai keyakinan, keluhuran, kesadaran dan kekuatan berdiri di atas kakinya sendiri dalam melakukan apapun. Namun kenyataannya, siswa dicekoki dengan segudang teori, siswa dibebani dengan segudang tugas-tugas dan PR, tanpa memperhatikan aspek psikologi siswa. Pembelajaran holistik memperhatikan kebutuhan dan potensi yang dimiliki peserta didik, baik dalam aspek intelektual, emosional, fisik, artistik, kreatif, dan spritual. Proses pembelajaran menjadi tanggung jawab personal sekaligus juga menjadi tanggung jawab kolektif, oleh karena itu strategi pembelajaran lebih diarahkan pada bagaimana mengajar dan bagaimana orang belajar. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan strategi pembelajaran holistik, diantaranya: (1) menggunakan pendekatan pembelajaran transformatif; (2) prosedur pembelajaran yang fleksibel; (3) pemecahan masalah melalui lintas disiplin ilmu, (4) pembelajaran yang bermakna, dan (5) pembelajaran melibatkan komunitas di mana individu berada. Guru-guru memiliki segudang ilmu dan metode dalam mengajar, agar suasana di kelas menjadi hidup. Jauh berbeda dengan pola pembelajaran saat ini di Indonesia, guru masih berperan sebagai center oriented, dan siswa menjadi objeknya. Terlebih lagi, guru minim metode dalam mengajar. Dalam pola pendekatan holistik ini, peran dan otoritas guru untuk memimpin dan mengontrol kegiatan pembelajaran hanya sedikit dan guru lebih banyak berperan sebagai sahabat, mentor, dan fasilitator. (Asmani, 2011) mengibaratkan peran guru seperti seorang teman

yang

menemani

dalam

perjalanan,

orang

yang

telah

berpengalaman dan menyenangkan. Sekolah dipandang sebagai tempat yang menyenangkan, tempat yang selalu dirindukan untuk berkumpul dan tempat sarana bagi siswa bergembira. Namun kenyataannya, kebanyakan guru di sekolah sebagai diktator, siswa

Page 53


harus menerima setiap kehendak guru tanpa mempertimbangkan ide dari diri mereka sendiri, yang akhirnya menyebabkan siswa selalu merindukan liburan tiba, siswa tidak betah berada di sekolah lamalama, karena lingkungan di luar sekolah lebih menyenangkan dan menggembirakan. Sekolah hendaknya menjadi tempat peserta didik dan guru bekerja sama guna mencapai tujuan yang saling menguntungkan. Komunikasi yang terbuka dan jujur sangat penting, perbedaan individu dihargai dan kerjasama lebih diutamakan dari pada kompetisi. Tidak ada perbandingan antara siswa yang satu dengan yang lainnya. Kebersamaan adalah kunci mencapai tujuan. Namun kenyataannya, kebanyakan sekolah justru menonjolkan ranking-ranking di kelas, acuannya perbandingan dengan siswa dalam satu kelas. Akibatnya, siswa pintar semakin memiliki ego yang tinggi, dan siswa bodoh semakin terkucilkan. Gagasan pembelajaran holistik masih sangat sedikit diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, mungkin dalam penyelenggaraannya sangat jauh berbeda dengan pendidikan pada umumnya, salah satu contoh adalah homeschooling, yang saat ini telah berkembang, dan sekolah-sekolah swasta dengan kurikulum terpadu yang sudah mulai banyak diminati di Indonesia. Dan kenyataannya sekolah-sekolah pemerintah, lebih senang menggunakan pola pembelajaran traditional, semua berjalan sendiri-sendiri, tanpa satu-kesatuan yang utuh, sehingga hasil yang diperoleh seakan tanpa makna. Pembelajaran holistik di sekolah juga melakukan pendekatan secara inquiry dimana anak dilibatkan langsung dalam perencanaan, berekplorasi dan berbagi

gagasan. Anak-anak didorong untuk

berkolaborasi bersama teman-temannya dan belajar dengan cara mereka sendiri. Anak-anak diperdayakan sebagai sipembelajar dan mampu mengejar kebutuhan belajar mereka melalui tema-tema yang

Page 54


dirancang.

Proses

pembelajaran

saling

sambung-menyambung.

Sehingga memudahkan siswa mengaitkan suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya secara menyeluruh. Dan kenyataannya, sekolahsekolah pada umumnya lebih suka menggunakan berbagai macam mata pelajaran, tanpa melihat kebutuhan peserta didik, yang akhirnya menjadi beban berat bagi siswa ketika menghadapi ujian akhir. Tujuan pembelajaran pendidikan holistik justru membentuk manusia

secara

utuh

(holistic)

yang

berkarakter,

yaitu

mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual dan intelektual siswa secara optimal. Sehingga terbentuk manusia yang lifelong learners (pembelajar sejati). (Donie Koesoema, Pendidikan Karakter, 2007).

Sekolah selalu didambakan oleh siswa, karena

pandangan siswa, sekolah adalah tempat segala hal yang menarik bisa terjadi. Dengan menerapkan pembelajaran holistik diharapkan seluruh warga sekolah mampu menjadi pemegang peran penting dalam mewujudkan generasi yang siap baik psikis, jiwa maupun mentalnya. Dan harapan ke depannya, semoga pembelajaran holistik mampu diterima di tengah dunia pendidikan di Indonesia, agar sekolah menjadi tempat yang paling didamba dan dirindukan oleh siswa.

Sekolah yang didambakan siswa, adalah sebuah tempat segala hal yang menarik bisa saja terjadi, sehingga keindahannya selalu terbawa hingga dewasa. “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan Fitrah, hingga fasih lisannya (baligh), kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi atau Majusi� (Al Hadist)

Page 55


4.2.2 SEBUAH POTRET PENDIDIKAN DI DAERAH Meraih pelajaran dari pengalaman penulis yang fantastis menuju sebuah daerah nun jauh di sana, yaitu Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau membawa keberkahan tersendiri yang tak mungkin dilupakan. Ikuti terus kisah perjalanan ini dan makna yang tercermin di dalamnya, menggugah hati dan menjadikan kita untuk selalu merenung. Bahwa masih ada harapan bagi generasi bangsa ini untuk memiliki sikap dan etika moral yang patut diacungi jempol. Simak kisah berikut ini. Perjalanan jauh menuju sebuah negeri di pelosok daerah tepatnya di Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau bukanlah pekerjaan yang ringan. Rela meninggalkan keluarga, mengorbankan tugas dan profesi demi memenuhi amanah mulia memotret pendidikan di daerah terpencil nagari nan elok menuju kualitas pendidikan yang lebih baik. Segala letih, penat dan dahaga hilang sirna manakala bertemu dengan tokoh-tokoh pendidikan di daerah yang begitu bersemangat dan bahagia menyambut kedatangan kami. Wajah-wajah penuh harap, dan tulus menyambut kami dengan pelayanan yang luar biasa. Seolah-olah nasib pendidikan mereka bergantung kepada kami. Wajah-wajah ceria itu seakan hendak berkata; “wahai Ibu tim asesor, inilah jerih payah kami selama ini, bacalah hasil karya kami. Lihatlah usaha kami. Potretlah wajah anak-anak didik kami yang sedang berjuang menuntut ilmu di daerah yang jauh ini agar dapat menggapai cita-citanya..berilah kami pengakuan, berilah kami pencerahan, agar usaha yang telah kami lakukan sejak 7 tahun yang lalu ini diakui keberadaannya, kami yakin bahwa kualitas dan kemampuan kami layak disejajarkan dengan guru-guru di kota-kota besar�. Ada perasaan haru luar biasa menyaksikan kesungguhan, usaha dan kerja keras yang telah mereka lakukan selama 7 tahun sejak ditinjau oleh tim BAP (Badan Akreditasi Propinsi) Riau tahun 2009.

Page 56


Mengenai Kabupaten Kuantan Singingi, ada beberapa sekolah yang saat ini sedang diakreditasi oleh Badan Akreditasi Propinsi Riau. Beberapa diantaranya sekolah-sekolah yang diakreditasi adalah SDN 006 Kecamatan Cerenti, SDN 002 Pulau Busuk Kecamatan Inuman, SDN 010 Pulau Busuk Jaya Kecamatan Inuman dan SDN 011 Bedeng Kecamatan Inuman. Sebuah kecamatan yang terletak di wilayah Kabupaten Kuantan Singingi ini berjarak kurang lebih 207 km dari kota Pekanbaru. Namun, wajah-wajah yang penuh semangat membangun bangsa dan generasi penerus ini tercermin dari segala aktivitas mereka. Antara pimpinan sekolah, guru dan pegawai pendidikan saling bekerjasama melaksanakan kegiatan-kegiatan sekolah agar terlaksana dengan baik. Kenyataan lain yang harus dihadapi adalah minimnya bantuan sarana dan prasarana untuk pembangunan dan perbaikan sekolah. Akhirnya, pihak sekolah mengambil inisiatif sendiri untuk memperbaiki sarana dengan peralatan dan bahan seadanya. Sungguh ironis memang, di kala sekolah-sekolah besar tumbuh dengan subur di daerah perkotaan, desa yang lumayan jauh ini berusaha dengan tenaga dan sumber daya yang ada agar sekolah mereka tetap terpelihara dengan baik. Namun proses pembelajaran yang telah mereka lakukan sungguh sangat luar biasa. Karena mereka mampu menciptakan lingkungan dan budaya sekolah yang penuh dengan etika dan tata lance. Menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, kebudayaan dan tradisi yang berjalan seiring dengan kehidupan masyarakatnya yang santun. Sebuah norma yang jarang kita temui di daerah perkotaan. Demikianlah sekelumit potret pendidikan yang tercermin di daerah, khususnya di wilayah Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau tahun 2016 ini. Nun jauh di sana, ternyata masih ada anak-anak bangsa Indonesia yang memerlukan bantuan dan harapan dari kita. Harapan menuju kehidupan pendidikan yang lebih baik. Harapan untuk

Page 57


perbaikan sarana dan prasarana. Harapan untuk dapat bersekolah setinggi-tingginya. Harapan untuk selalu diperhatikan keberadaannya. Sekelumit kisah kunjungan yang penuh makna ini, membawa kesan yang mendalam bagi para tim asesor. Siswa-siswa santun dan bersahaja itu turut menyambut dengan penuh kehangatan. Alunan Rabana diiringi wajah ceria siswa-siswa mengiringi langkah kaki. Suasana tenang dan damai terasa di lingkungan sekolah. Seluruh guru, kepala sekolah dan pegawai pendidikan lainnya saling bekerjasama mengkondisikan sekolah agar tetap kondusif. Siswasiswa belajar dengan gembira. Walaupun dengan keterbatasan sarana & prasarana, para tokoh pejuang pendidikan itu berani membuktikan dirinya, bahwa mereka telah berubah. Perubahan pendidikan yang lebih baik dalam menggapai kualitas standar minimal pendidikan. Perjuangan mereka sudah selayaknya kita hargai, diakui dan diperjuangkan, agar mereka diberi kesempatan yang sebesarbesarnya untuk berkembang. Walaupun pemerintah daerah telah berusaha memajukan kualitas pendidikan di daerah ini, itu belumlah cukup. Keterlibatan pihak-pihak pemangku kebijakan, stakeholder dan para pemerhati pendidikan di negeri ini belum banyak terlibat. Agar para tokoh-tokoh pendidikan di daerah seperti siswa, guru, maupun tenaga kependidikan lainnya khususnya di daerah terpencil seperti ini lebih di kembangkan potensinya. Karena mereka telah berjuang dengan sungguh-sungguh membangun sekolah dan negeri ini walau dengan sarana dan prasarana seadanya. Semoga kunjungan tim asesor kali ini membawa perubahan yang lebih besar dan lebih baik bagi tokoh-tokoh hebat pendidikan yang luar biasa ini, sebuah potret pendidikan yang tulus & bersahaja khususnya di daerah nun jauh di sana.

Page 58


Siswa sekolah SDN 006 Cerenti dengan tenang dan tertib belajar di kelas

Page 59


Siswa SDN 010 Pulau Busuk Jaya Kecamatan Inuman melakukan kegiatan olah raga di lapangan sekolah.

Page 60


Page 61


PBM di kelas 6 SDN 002 Pulau Busuk Kec. Inuman Provinsi Riau berjalan dengan tertib & lancer

Page 62


Pendidikan yang tulus sangat langka saat ini, namun Sebuah potret pendidikan yang tulus dan bersahaja bisa kita temukan di pelosok negeri ‌ nun jauh di sana‌

Page 63


4.2.3 MENJADI GURU YANG DIDAMBA OLEH SISWA Fenomena rendahnya kualitas moral bangsa kadangkala juga bisa disebabkan oleh kurangnya kualitas moral para pendidik. Namun, dari sekian banyaknya pendidik yang rendah kualitasnya, masih banyak para pendidik yang memiliki tingkat kompetensi keguruan yang tinggi. Hal ini bisa dilihat dari banyak guru-guru yang telah berhasil menorehkan prestasi di dunia pendidikan. Salah satu faktor yang sangat berperan adalah sebagai pendidik hendaknya seorang guru memiliki tugas dan tanggung jawab moral untuk

mau

memperbaiki

nasib

generasi

penerus

bangsa

ini.

Sebagaimana makna artikel di bawah ini semoga bisa dijadikan bahan renungan untuk menambah ilmu dan wawasan. Jika ditanya kepada para pendidik generasi bangsa ini, sudahkah kita menjadi guru yang mulia. Sosok guru yang digugu dan ditiru. Sudahkah kita menjadi guru yang mulia, ketika profesi sebagai guru sudah disandang. Guru yang mulia, adalah guru yang didamba dan dicintai oleh siswa-siswanya. Sebelum kita memutuskan untuk menjadi seorang guru, hendaklah kita senantiasa intropeksi diri sendiri. Sudahkah kita memiliki karakter sebagai guru yang mulia, baik di mata keluarga, di mata siswa, di mata orang tua/wali murid maupun di mata masyarakat. Menurut kamus Wikipedia, kata Guru berasal dari bahasa sansekerta yang secara harfiahnya adalah "berat" yaitu seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, kata guru umumnya mempunyai makna merujuk kepada pendidik yang professional, dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Itulah sederet panjang makna guru. Jika disimpulkan, tugas sebagai guru adalah tugas yang berat untuk menjadi pendidik yang professional. Sudahkah

Page 64


selama ini kita memahami, dan mengamalkannya? Sebagai seseorang yang berprofesi sebagai guru, kadangkala ada yang memberi dukungan positif namun tidak sedikit pula yang memandang sebelah mata profesi ini. Namun, Nabi besar kita Muhammad SAW adalah juga seorang guru. Beliau selalu mengajar dan mendidik para sahabatnya dengan menunjukkan contoh dalam sikap maupun tingkah laku dalam setiap aspek kehidupannya. Oleh sebab itu, sudah selayaknya Rasulullah kita dipanggil sebagai guru sepanjang zaman. Rasulullah juga ditugaskan oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah telah berhasil membuktikan bahwa beliau berhasil mendidik para sahabat beliau menjadi golongan yang dikagumi dan dirahmati Allah. Sebelum mengajar, seseorang tentu saja perlu menggali dan mengasah ilmunya terlebih dahulu. Karena tugas seorang guru dalam mendidik seseorang adalah

ketika seseorang

tersebut tidak bisa atau tidak tahu apa-apa menjadi orang yang tahu, mengubah akhlak dan budi pekerti seseorang dari yang tidak baik menjadi anak yang berbudi pekerti. Guru juga harus memberikan sikap suri tauladan yang baik, memberikan contoh yang mulia kepada peserta didiknya dengan amalan dan tingkah lakunya sehari-hari. Oleh karena itu seorang yang sudah memutuskan untuk memilih profesi sebagai guru, hendaklah menyadari bahwa tugas dan tanggung jawabnya tidak mudah. Dia harus mampu menyampaikan ilmu dengan bijaksana dan ahli dalam bidangnya. Apalagi untuk zaman yang serba teknologi sekarang ini, seorang guru harus senantiasa mau mengupdate ilmunya, agar ia tidak dijuluki sosok guru yang gaptek alias gagap teknologi. Lebih daripada itu, seorang guru yang mulia adalah guru yang berhasil mendidik dirinya terlebih dahulu. Sebelum ia terjun mendidik orang lain. Subhahannallah, sungguh mulianya profesi ini.

Page 65


Guru yang sukses bukan hanya guru yang mendapatkan gaji yang besar, tunjangan profesi, atau segudang prestasi dan sanjungan saja, tetapi guru yang sukses adalah seorang guru yang mampu mengubah anak muridnya memiliki akhlak, karakter dan perilaku yang baik.

Jika kita mau bercermin dari Rasulullah, beliau selalu

mengajarkan kepada umatnya tentang tauhid kepada Allah dan akhlak yang baik. Baginda Nabi Muhammad SAW tidak pernah berkata kasar terhadap anak didik beliau dalam mengajar, beliau selalu berbicara lemah lembut dan tegas. Sebagai guru terbaik, baginda Rasulullah merupakan tauladan sepanjang masa hingga hari kiamat kelak. Golongan sahabat beliau dikenal sebagai orang yang hebat karena tidak lepas pengaruhnya dari pola didik yang telah diajarkan Baginda Rasul. Rasulullah juga selalu membiasakan berdoa untuk umatnya, oleh karena itu kita sebagai guru hendaknya juga senantiasa mendoakan dan menyayangi anak murid kita. Terlebih lagi kepada siswa

yang

memerlukan

bimbingan

khusus

dan

pencapaian

kompetensinya rendah. Dengan ilmu yang diperoleh, kita perlu memperbaiki mental, akhlak dan tingkah laku anak didik kita agar kelak menjadi generasi yang kuat, cerdas dan berakhlakul karimah. Untuk seluruh para guru, semoga amal dan jasamu dihitung sebagai ibadah dan mendapat kedudukan yang tinggi kelak di syurganya Allah‌

Page 66


Rasulullah SAW diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia… “Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu sudah ada suri tauladan yang baik bagimu…”

Page 67


4.2.4 MENUMBUH KEMBANGKAN BAKAT JIWA WIRAUSAHA PADA ANAK Mendidik siswa bukan hanya bertujuan memiliki sifat jujur, santun maupun sifat bijaksana lainnya. Namun, sudah tugas kita jualah mengasah potensi siswa agar kelak menjadi generasi yang sehat, terampil dan cerdas pola pikirnya dalam menghadapi zaman yang semakin maju dan modern ini. Contohnya saja bagaimana kita sebagai guru maupun orang tua mampu memumbuh kembangkan bakat siswa dalam berwirausaha sejak dini. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membiasakan anakanak pandai dalam berwirausaha. Karena hampir 50% waktu anak berada di sekolah, terutama sekolah yang menerapkan fullday school, kegiatan yang bisa menggali potensi anak dalam berwirausaha bisa dilakukan. Karena ada banyak waktu bagi siswa untuk melakukan kegiatan berwirausaha tersebut. Di balik kesuksesan para pengusaha saat ini, tidak terlepas dari peran orang tua, dan sekolah yang sejak dini sudah mulai memberikan semangat berwirausaha. Hal ini sudah dilakukan oleh SDIT Al Ittihad melalui program kegiatan rutinnya “Bussiness Day�. Contohnya seperti yang sudah dilakukan oleh siswa-siswa kelas 4C SDIT Al Ittihad. Hari Jumat sebagai hari terakhir siswa sekolah, sehubungan dengan liburnya siswa kelas 1 s/d 5 pada minggu depannya karena adanya ujian sekolah, maka mereka sepakat mengadakan proyek untuk berwirausaha di sekolah. Dengan memanfaatkan uang kas kelas yang ada, mereka mengelola uang tersebut untuk dijadikan usaha minuman sehat berupa sup buah. Beberapa siswa ditunjuk menjadi petugas intinya, seperti menyediakan bahan, alat dan memilih salah seorang temannya menjadi kasir. Akhirnya proyek kelaspun digulirkan di halaman sekolah, pada hari Jumat tanggal 17 April 2015 silam. Transaksi jual beli sudah

Page 68


dimulai pada pukul 09.00 wib hingga pukul 10.30 wib, dengan izin guru kelasnya. Karena kegiatan ini juga berkenaan dengan pembelajaran di kelas, yaitu tema Makanan sehat & bergizi, guru kelas turut serta mengkoordinir dan memantau siswa di lapangan. Alhamdulillah, pembelajaran wirausaha siswa berjalan dengan sukses dan

ancer.

Walaupun keuntungan dari usaha ini tidak terlalu besar, namun anakanak kelihatan sangat antusias dan gembira, karena dagangan mereka habis, terjual. Banyak manfaat yang bisa kita ambil dalam memupuk dan mendidik jiwa wirausaha siswa sejak dini, diantaranya adalah melatih ketrampilan emosional siswa, seperti kata peneliti psikiatri anak dari New York University Langone’s Child Study Center, Andrea Vazzana, (Viva.com) “Ini semua tentang membentuk perilaku anak. Keterampilan emosional sangat penting dan membantu anak menjadi lebih baik,� Selain dari pada itu, kegiatan yang melibatkan siswa secara langsung dalam berwirausaha juga dapat melatih siswa untuk terbiasa memecahkan masalah secara efektif, membantu siswa belajar dari kegagalan, yang menjadi pengalaman berharga bagi diri mereka selanjutnya. Serta melatih siswa berani dan percaya diri dalam mengambil

keputusan,

dan

menumbuhkan

keahlian

dalam

menghadapi tantangan maupun resiko. Yang tidak kalah pentingnya yaitu mengajarkan siswa untuk berkomunikasi dengan baik. Semoga dengan banyaknya kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti ini, bisa menggali potensi dan ide-ide kreatif anak.

Page 69


Dibalik kesuksesan pengusaha besar zaman ini, ada keluarga dan sekolah yang membimbingnya menjadi entrepreneurship sejati.

Page 70


4.2.5 MERAJUT ACARA PERPISAHAN YANG BERMAKNA Acara perpisahan sudah menjadi salah satu budaya di sekolah. Mulai dari jenjang TK hingga SLTA sekolah-sekolah di negeri ini selalu ada yang namanya acara perpisahan. Jika kita amati, sebagian besar sekolah tersebut, mengisi acara perpisahan untuk siswanya dengan hiasan panggung yang gemerlap, menyewa gedung yang megah, bahkan ada sekolah yang mengadakan acaranya di hotel. Penampilan siswapun diadakan, dan mereka yang memiliki bakat dalam menyanyi, menari maupun pidato semua bisa tampil di ajang tersebut. Namun, adakah makna dari semua kegiatan tersebut? Apakah siswa merasakan indahnya kenangan ketika mereka melalui kegiatan tersebut di sekolah. Apakah hal itu memberi kesan mendalam bagi mereka? Apa manfaatnya bagi kehidupan nyata mereka? Hanya segelintir sekolah yang mempunyai ide dan inovasi yang luarbiasa dalam menyambut dan mengadakan acara perpisahan di sekolah. Seperti yang dilakukan oleh salah satu SMP swasta di Jakarta. Mereka merancang konsep acara perpisahan yang berbeda dengan acara perpisahan sekolah lain. Seluruh kepanitiaan OSIS diperdayakan untuk membuat agenda acaranya. Diantara ide mereka yang cemerlang adalah, menghimbau dan menghimpun seluruh warga sekolah untuk saling maaf memaafkan. Siswa kelas IX yang akan pergi melanjutkan sekolah ke tingkatan yang lebih tinggi, harus terlebih dahulu menyalami guru-gurunya, kemudian turut juga menyalami seluruh adik kelasnya. Setelah acara maaf memaafkan selesai, pengumpulan barang-barang bekas, pakaian bekas dan sumbangan diadakan untuk disumbangkan kepada anak-anak yatim piatu dan anak-anak jalanan. Seluruh kepanitiaan adalah siswa yang akan menyelesaikan studinya yaitu kelas IX. Sebuah acara yang sangat

Page 71


positif sekali, memberikan contoh tauladan yang baik kepada adik-adik kelas mereka. Guru-guru di sekolah menyaksikan kegiatan tersebut dengan penuh haru. Karena acara perpisahan yang mereka adakan tidak perlu memungut biaya dari pihak manapun. Justru merekalah yang dengan aktif dan sukarela menyumbangkan tenaga dan sebahagian rezkinya yang diserahkan kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar mereka. Lain lagi yang dilakukan oleh sebuah sekolah tingkat menengah di Kota Padang. Siswa-siswa yang berada di tahun terakhir, diberikan penugasan proyek untuk membuat taman mungil di lahan kosong di sekitar lingkungan sekolah mereka. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok diminta untuk menyiapkan berbagai peralatan yang diperlukan untuk membuat taman mungil. Ketika semua siswa bekerja dengan hasil kreativitasnya, taman-taman mungilpun menghiasi halaman sekolah mereka dengan sangat indah. Sebuah kegiatan yang sangat positif untuk membentuk generasi yang cinta lingkungan. Dan manfaat dari kegiatan ini bisa dinikmati banyak orang. Siapapun yang berkunjung ke sekolah, nama-nama mereka masih terpatri indah di batu-batu taman hasil kreatifitas tangan mereka. Sebuah acara yang sarat dengan makna. Kelak jika mereka dewasa, manfaat dari hasil karya mereka masih bisa mereka lihat dan nikmati jika suatu hari nanti mereka berkunjung ke sekolah tersebut. Sebuah

sekolah

di

Negara

Eropa,

mengusung

konsep

perpisahan yang tidak kalah unik dan menariknya. Sekolah tersebut meminta siswanya untuk menulis di lembaran kertas putih. Isi tulisannya adalah mengenai cita-cita mereka 5 tahun ke depan, hingga 10 tahun mendatang. Kertas putih yang telah ditulisi tersebut kemudian disimpan dalam kotak besi mungil, dan dikuburkan di lahan khusus area dekat sekolah. Di atasnya diberi tanda nama-nama siswa

Page 72


angkatan tersebut beserta foto profil mereka. Jika 5 hingga 10 tahun berlalu, siswa yang berkesempatan kembali ke sekolah lamanya bisa melihat kembali tulisan mereka dalam kotak besi tersebut. Ada yang berhasil meraih cita-citanya seperti yang mereka tuliskan dahulu, ada pula menjadi seseorang yang berbeda dari apa yang pernah mereka pikirkan. Sebuah acara perpisahan yang unik namun merangsang siswa untuk memiliki target masa depan, agar cita-cita yang mereka impikan senantiasa terpatri dalam pikiran, Sehingga mereka mudah menentukan arah dan tujuannya kelak ketika dewasa. Acara-acara perpisahan banyak ragam dan jenisnya. Tinggal bagaimana kita memilih konsep tema perpisahan seperti apa yang memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan. Jika kita mau berpikir lebih sederhana dan konkret, acara perpisahan tidak perlu memungut biaya, diisi dengan pesta pora, penyewaan gedung yang mahal atau diisi dengan tampilan-tampilan yang justru manfaatnya kurang dirasakan oleh siswa ketika mereka kembali ke dunia nyatanya. Namun acara perpisahan yang sederhana, bermanfaat bagi banyak orang, kepedulian terhadap lingkungan dan alam justru merupakan acara yang paling bermakna bagi siswa. Mari bekali siswa-siswa kita dengan ketrampilan mengatur hidupnya. Ketrampilan yang mengasah otoric halusnya, ketrampilan-ketrampilan yang membuat mereka menjadi orang yang peduli dan cerdas dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. Karena, dengan bekal ketrampilan itu justru akan mengantarkan mereka menjadi insan yang berguna bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri. Membangun karakter siswa dapat kita kembangkan melalui acara perpisahan yang bermakna. Budaya sekolah yang membangun karakter siswa justru akan melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar di zamannya. Semoga peserta didik kita bisa merasakan acara

Page 73


perpisahan yang bermakna dalam kehidupan mereka yaitu dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan positif di sekolah.

Page 74


“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Pemberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi, di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 1744)

Page 75


4.2.6. PESAN DI BALIK KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 pertama kali diterapkan di sekolah sekitar tahun ajaran 2014-2015. Hanya satu semester sejak diimplementasikan, namun aura kenyamanan dalam belajar sangat kental terasa pada saat penerapannya. Namun tidak semua guru memiliki kemampuan untuk memaknai kurikulum ini. Karena sangat dibutuhkan kemauan yang kuat untuk mau melakukan perubahan terhadap pola pikir yang selama ini tertanam di benak para guru. Dan akhirnya ketika pertama kali diterapkan, timbul pro kontra yang sangat kelihatan di dalam lingkungan sekolah. Ada sebagian guru yang merasa nyaman dengan kurikulum ini, namun tidak sedikit pula guru yang menolaknya. Fenomena-fenomena ini paling banyak dirasakan oleh para pendidik maupun siswa yang berada pada jenjang sekolah dasar. Begitu besar perubahan yang terjadi di dalamnya. Baik secara implementasinya di kelas maupun secara struktur dan konsep isi yang terkandung di dalamnya dibandingkan dengan kurikulum yang selama ini digeluti para guru, yaitu KTSP. Setiap kurikulum tentu saja pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kurikukulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku. Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb, sedangkan materi yang ditambahkan adalah materi Matematika. Materi pelajaran tersebut (terutama Matematika)

disesuaikan

dengan

materi

pembelajaran

standar

Internasional sehingga pemerintah berharap dapat menyeimbangkan pendidikan di dalam negeri dengan pendidikan di luar negeri. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_2013).

Page 76

Namun

sangat


disayangkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, menyatakan menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 bagi sekolahsekolah yang baru melaksanakan kurikulum ini selama satu semester pada tanggal 5 Desember 2014 lalu. Walapun begitu, ada momenmomen

keindahan

yang

masih

menerapkannya, dan mulai

tertinggal,

ketika

kita

sudah

mengenali dan memahaminya serta

terbiasa dengan kurikulum baru ini. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang mampu memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia agar tercipta peserta didik yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia dan sesuai dengan Pancasila demi memenuhi perkembangan zaman. Kurikulum penyederhanaan,

2013 dan

adalah

kurikulum

menggunakan

pola

yang

melakukan

pendekatan

tematik-

integratif, melalui penambahan jam pelajaran yang bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran dan diharapkan siswa memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif serta terampil, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, sehingga mampu memasuki masa depan yang lebih baik. SDIT Al Ittihad .adalah salah satu contoh sekolah yang menerapkan pembelajaran kurikulum 2013. Lebih spesifiknya yakni penerapan di kelas Satu (1) dan Empat (4). Dengan 4 orang guru pada jenjang kelas paralel 1 dan 4. Pada akhir semester satu (I) tahun lalu, mereka telah melakukan aktifitas mengadakan pameran hasil proyek untuk tema 1 Indahnya Kebersamaan. Siswa dikumpulkan di samping halaman sekolah, membawa berbagai bahan maupun peralatan untuk membuat minuman khas daerah yang terdapat di

Page 77


wilayah Nusantara. Siswa sangat senang melaksanakan kegiatan ini, karena mereka bisa bersama-sama berkreasi membuat minuman khas daerah yang telah ditentukan. Ada yang membuat minuman khas Sumatra, minuman khas dari Jawa bahkan minuman khas dari daerah Aceh. Kerjasama dengan orang tua juga terlihat sangat akrab, membantu para guru kelas untuk mengatur hasil karya pameran anakanak. Semua siswa boleh mencicipi, dan diberikan secara gratis bagi warga sekolah yang ingin mengenal minuman khas daerah ini. Banyak

manfaat

dan

fungsi

yang

dirasakan

dari

pembelajaran tematik terpadu - integratif ini, diantaranya adalah

pola 1.

Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, 2.Siswa mampu menjalin kerjasama dan saling membantu sesama temannya, 3. Siswa lebih mudah memahami materi pembelajaran karena dibahas secara mendalam dan berkesan, 4. Siswa dapat dilatih memiliki kejujuran dan mampu menerima kekurangan dari temannya, 5. Siswa mampu merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas, 6. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran yang lain. 7. Siswa menjadi lebih terampil dan cekatan dalam menyelesaikan setiap pekerjaan. 8. Siswa dididik menjadi manusia pembelajar, yang menganggap bahwa belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk

dapat

menemukan

sendiri

berbagai

pengetahuan

yang

dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya dan dalam pembelajaran tematik

Page 78


juga sangat berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Salah satu ungkapan dari Bianca salah seorang siswa kelas 4, mengungkapkan bahwa kurikulum baru ini membuatnya merasa lebih senang

dan

gembira

dalam

belajar,

ia

merasakan

bahwa

pembelajaran dulu ketika di kelas 3 sangat berbeda jauh dengan sekarang,

sebab

pembelajaran

di

kurikulum

2013

ini

lebih

menyenangkan, tidak banyak harus menghafal berbagai mata pelajaran, karena semua sudah dikemas dalam 1 tema yang menarik, hal ini membuatnya sangat senang dalam belajar dan teman-temannya pun menyukainya. Setiap hari Bianca dan teman-temannya tidak perlu lagi membawa buku yang bertumpuk dalam tasnya, namun dengan satu buku untuk satu tema yang bisa digunakan untuk belajar di sekolah selama 1 bulan. Hal ini sesuai dengan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b). Namun, maraknya kontroversi yang mewarnai penerapan Kurikulum 2013, SDIT Al Ittihad adalah salah satu di antara sekolah yang merasakan banyaknya manfaat kurikulum baru tersebut. “Di Kurikulum 2013 ini, cara berpikir siswa lebih berkembang. Di sanalah peran guru untuk mendampingi serta mengarahkan mereka, dan guru kelas lebih fokus membimbing siswanya karena hanya memegang satu kelas,� tutur Hani (nama samaran) salah seorang guru. Menurutnya Kurikulum 2013 ini lebih banyak dirasakan manfaatnya dibandingkan sistem belajar dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Page 79


yang semuanya terpisah-pisah, baik dari segi mata pelajarannya, maupun guru-gurunya. Bahkan Munif Chatib, seorang praktisi pendidikan yang professional menulis dalam fbnya mengatakan bahwa “Kurikulum 2013 justru menjadikan jumlah mata pelajaran sedikit, tidak terlalu banyak. Dan standar isinya ringan disesuaikan dengan perkembangan usia anak. Selamat tinggal mata pelajaran yang banyak dan menumpuk, namun tidak sesuai dengan usia perkembangan anak. Dan beban isi kurikulum yang berat buat anak kita (KTSP). Sampaisampai orangtua yang sudah doktor pun kesulitan membantu mengerjakan soal-soal anaknya yang SD.� ujarnya. Terkait pengetahuan tentang lingkungan dan spiritual, siswa tidak pernah dilepaskan dari materi agama. Terlebih lagi, dalam Kurikulum 2013 ini, durasi untuk mata pelajaran agama ditambah dibanding

tahun

lalu.

Pendekatan

spiritualnya

lebih

terasa

dibandingkan pola pembelajaran yang lalu. Saat ini, Hani melihat siswa SDIT Al Ittihad, terutama kelas 4 lebih bersemangat dalam belajar. baik dalam pembelajaran tematik maupun mata pelajaran tambahan seperti bahasa Arab & Inggris, serta pembelajaran Al Qur’an, karena bisa dipantau secara kontinu oleh guru kelasnya, walaupun masih perlu adanya pembenahan-pembenahan di sisi lain agar proses penerapan kurikulum ini lebih sempurna. “Yang namanya barang baru, memang tidak lantas sempurna. Tapi kita sebagai praktisi pendidikan jangan sampai menyerah. Jika semua ini ditujukan untuk memperbaiki kualitas akhlak dan budi pekerti siswa, mari kita berupaya untuk melaksanakan yang terbaik,� ujarnya memberi

masukan

dan

motivasi.

Sebenarnya,

begitu

banyak

keindahan dan hikmah yang bisa kita ambil dari kurikulum ini, selama kita masih punya akal untuk mau belajar, punya hati untuk mau merasa, punya mata untuk mau melihat dan punya telinga untuk mau mendengar.

Page 80


Pesan yang ditulis oleh Munif Chatib di bawah ini, barangkali bisa membuat kita tersadar. Berikut isi pesannya. JANGAN ADA LAGI GENERASI ROBOT By Munif Chatib Robot-robot rapi berbaris Menunggu perintah menunggu tombol ditekan Lalu bergerak sesuai program Tak pernah meleset pasti tepat Itulah robot ... Namun robot tak punya hati Juga robot tak peduli Hidupnya hanya ikuti alur program Tak pusing dengan dampak Tak penting dengan penyebab Akhirnya para robot punya tipe Yang paling canggih tipe terbaru Akhirnya dunia robot punya kasta Robot usang harus pulang Berakhir di tempat sampah Anak kita jangan jadikan robot... Sekolah kita jangan jadi pabrik robot Guru kita jangan jadi pencetak robot Anak kita adalah manusia Saling berbeda dan punya makna Lihat di TV ... Banyak pejabat robot Banyak politikus robot Banyak ahli robot Negeri ini jadi negeri robot

Page 81


Yang tak peduli dengan dirinya sendiri Sungguh ...jangan ada lagi generasi robot Namun di ujung semester 1, saat memasuki semester berikutnya,

kurikulum

ini

ditinggalkan.

Alasannya,

belum

ada

keputusan resmi dari pemerintah, ditambah lagi dengan pergantian kepemimpinan di Indonesia, bertukarnya Menteri Pendidikan juga penyebab terhalangnya kurikulum ini diterapkan dengan optimal. Sangat disayangkan, ketika sebahagian guru sudah mulai mampu memaknainya, kurikulum ini seakan tidak diperdulikan. Padahal, begitu banyak pesan dan pelajaran berharga di dalamnya dalam usaha mencetak generasi emas Indonesia.

“Menjadi generasi penerus bangsa itu adalah hal yang lumrah dan biasa, namun menjadi generasi Pelurus Bangsa itu baru luar biasa�.

“Janganlah engkau bergantung kepada halhal mendasar yang tiada punya landasan dan dasar yang kuat, namun kembalilah kepada Al Qur’an dan sunnah Rasulmu, serta istiqomahlah dalam berbuat kebaikan, di manapun dan kapan pun. InsyaaAllah engkau akan menjadi insan yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia, bahkan untuk akhiratmu�

Page 82


4.2.7 MENJADIKAN RASULULLAH TOKOH PANUTAN BANGSA Jika kita bertanya kepada anak didik kita siapa yang mereka kagumi, umumnya sebagian besar anak belum bisa menjawab dengan pasti tokoh yang diidolakannya. Syukur jika mereka segera menjawab salah satu dari kedua orang tuanya, atau justru tidak tahu jawabannya. Sebagian besar anak-anak zaman modern sekarang ini kalau ditanya siapa artis idola mereka, mereka cepat bisa menjawabnya. Bagaimana tidak..? Hampir 90% tayangan televisi, maupun media masa menyajikan acara-acara yang bernuansa hiburan saja, seperti perlombaan nyanyi-nyanyian, tari-tarian, drama, film dan lain-lain yang manfaatnya masih sangat sedikit kita rasakan. Fenomena apa yang sebenarnya terjadi pada anak-anak kita?, khususnya anak-anak Indonesia yang mayoritas muslim. Mengapa mereka lebih akrab dan kenal dengan tokoh-tokoh kartun, cerita-cerita dongeng, atau tokohtokoh yang sering mereka lihat di televisi, atau di buku-buku cerita. Namun ketika ditanya soal Nabi mereka, mereka belum bisa menceritakan secara detail, padahal sangat banyak kisah menarik yang bisa dikenalkan melalui para Nabi dan Rasul yang telah dijadikan Allah sebagai manusia pilihan di muka bumi ini. Melalui, pembelajaran mengenai pahlawan, yang terdapat pada pembelajaran kelas 4 tema 6 pada kurikulum 2013 di sekolah dasar memberikan peluang

segar bagi para pendidik dalam usaha

menanamkan karakter anak didik kita. Melalui pembelajaran ini kita bisa dengan kreatif mengenalkan lebih mendalam tentang kehidupan Rasul kita, Muhammad SAW. Adalah juga seorang tokoh pahlawan, yaitu pahlawan yang abadi sepanjang zaman. Michael Hart dalam bukunya bertajuk ‘The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History’ telah menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai tokoh nomor 1 yang paling berpengaruh sepanjang sejarah, dan hanya menempatkan Nabi Isa as (Yesus Kristus) di urutan ketiga. Beliau

Page 83


menyatakan bahwa tokoh Rasulullah berada di urutan nomor satu sebagai tokoh yang paling berpengaruh di seluruh jagat raya. Berikut tulisan Michael Hart (bersumber: Muhammad, blogspot.com) “Jatuhnya pilihan saya kepada Muhammad s.a.w. dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda anya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Muhammad s.a.w. satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi�. Subhannallah, Inilah saatnya kita sebagai pendidik memperbaiki pandangan anak-anak didik kita. Mulai detik ini mari kita munculkan dan kenalkan lebih mendalam tokoh yang sangat dikagumi di seluruh dunia tersebut, tokoh yang dihormati dan dijunjung tinggi oleh berbagai kalangan, bahkan oleh pihak non muslim sekalipun,

Sesungguhnya telah ada pada [diri] Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu [yaitu] bagi orang-orang yang mengharapkan [rahmat] Allah dan [kedatangan] hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al-Ahzab: 21)

Page 84


Manusia yang paling sukses sepanjang zaman hingga hari kiamat kelak, beliaulah insan yang paling mulia Muhammad Shallallahu Wa’alaihi Wasallam. Seorang pahlawan sejati dan abadi sepanjang masa.

Page 85


4.2.8 MENEBAR ILMU YANG BERMANFAAT Ilmu yang bermanfaat, adalah ilmu yang dapat mensucikan hati dan jiwa manusia, ilmu yang bisa menghasilkan kebahagiaan baik dunia maupun akhirat. Ilmu yang bermanfaat tersebut adalah ilmu yang datang dan bersumber dari Rasulullah Saw yaitu berupa aqidah, tauhid, hadist, tafsir, fiqh dan ilmu-ilmu yang menunjang untuk mempelajari ilmu tersebut seperti ilmu bahasa Arab. Banyak dari kita yang menyangka, bahwa ilmu yang lain yang tidak ada kaitannya dengan ilmu agama yang dibawa oleh Rasulullah, juga termasuk ilmu yang bermanfaat. Padahal ilmu yang bermanfaat disini maksudnya adalah ilmu yang segala penerapannya baik di dunia maupun untuk akhirat bersumber dari ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. Menurut seorang syaikh, hakim dan katib yaitu seorang pemikir dan ahli ilmu agama bernama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (majalah sunnah edisi 06) menyatakan bahwa; ilmu adalah ilmu yang berdasarkan dalil dan ilmu yang bermanfaat yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Terkadang ada beberapa ilmu yang tidak berasal dari Rasulullah Saw seperti; ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu teknologi, ilmu pertanian dan ilmu perdagangan. Imam Ibnu Rajab (seorang imam yang wafat pada 795H) menyatakan bahwa ilmu yang bermanfaat

akan membimbing

seseorang kepada 2 hal, yaitu; 1) memberikan ilmu untuk dapat mengenal Allah SWT dan segala yang menjadi hak-Nya berupa namanama yang Maha indah, sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi dan perbuatan-perbuatan yang maha Agung. Adanya rasa pengagungan kepada Allah SWT, takut, cinta, harap dan tawakkal kepada Allah SWT serta ridha terhadap takdir dan sabar atas segala musibah yang Allah SWT turunkan kepadanya. 2) mengetahui segala yang diridhoi dan dicintai oleh Allah SWT dan menjauhi segala yang dibenci dan

Page 86


dimurkai-Nya, manifestasi perwujudannya dapat dilihat dari keyakinan, perbuatan, baik yang lahir maupun batin serta ucapan. Bagaimanakah caranya kita menebarkan ilmu yang bermanfaat kepada siswa dan anak didik kita? Semenjak dini, kurikulum di sekolah hendaklah selalu diintegrasikan dengan nilai-nilai akhlak, keislaman maupun merujuk kepada dasar Negara Republik Indonesia. Setiap sila dalam Pancasila sebenarnya sudah mengandung makna yang sangat dalam dan hakiki menyentuh sendi-sendi dalam kehidupan bernegara maupun bermasyarakat. Penerapannya di dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat harus senantiasa diaplikasikan dalam konteks nyata kehidupan sehari-hari. Jika kita melihat Negara Sakura Jepang, segala yang berkenaan dituangkan

dengan dengan

implementasi jelas

pembelajaran

dalam

kurikulum

dalam

hidup

yang

dapat

diimplementasikan di dunia nyata. Sehingga terbentuk karakter moral yang sangat tinggi dalam lingkungan keluarga orang Jepang. Dan hal tersebut tercermin dari karakter bangsa yang dimiliki oleh Negara Jepang. Sehingga Negara Jepang dikenal sebagai Negara yang berkarakter. Bagaimana dengan Indonesia? Karena Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama, sila ke 3 yang termaktub dalam Pancasila sebenarnya harus mencerminkan sifat, watak dan sikap bangsa Indonesia. Namun karena tidak adanya sinkronisasi antara nilai-nilai norma dan aturan yang ketat, akhirnya karakter bangsa Indonesia seolah selalu mengalami kemorosotan akhlak. Ditambah pula dengan longgarnya pengawasan-pengawasan terhadap tayangan-tayangan media televisi dan media masa. Oleh

sebab

itu,

sebagai

masyarakat

yang

mayoritas

penduduknya muslim, sudah seharusnya pendidikan di rumah, di sekolah maupun di masyarakat sebaiknya merujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Karena rujukan inilah rujukan tertinggi di saat tidak

Page 87


ada lagi yang patut untuk bisa diteladani. Yah, harapannya, semoga generasi bangsa Indonesia tetap mampu memelihara dan menjaga marwahnya di tengah gencarnya pengrusakan moral terhadap generasi bangsa. Nah sahabatku dimanapun berada, kita telah mengetahui ilmu yang bermanfaat menurut Al Qur’an dan sunnah Nabi, bahwa segala ilmu yang bersumber dari Rasulullah Shallallahu Wa’alaihi Wasallam insyaAllah memberi manfaat yang besar bagi kehidupan manusia, baik di dunia maupun akhirat.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

“Ya Allah…Sesungguhnya aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik dan amalan yang diterima..”.

Page 88


4.2.9 KARTU CERDAS TRIK SEKOLAH UNTUK MEMBANGUN KARAKTER JUJUR “Hendaklah

kalian

berlaku

jujur,

karena

kejujuran

itu

menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan menunjukkan kepada jalan menuju syurga”. (HR Bukhari). Kejujuran adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap individu manusia. Kejujuran adalah modal dasar menuju kebaikan, baik di dunia maupun akhirat. Kejujuran juga adalah syarat mutlak yang dimiliki oleh seorang Nabi maupun Rasul Allah. Allah SWT mengutus Baginda Rasul Muhammad SAW memiliki sosok tauladan yang selalu dikenang sepanjang masa, yaitu tauladan akan sifat kejujuran beliau, sehingga beliau diberi gelar “Al Amin” yaitu orang yang dapat dipercaya. Islam juga menjunjung tinggi kejujuran. Dalam Islam, jujur menjadi syarat mutlak seorang Nabi dan Rasul. Orang yang berlaku jujur dalam Al Qur’an akan disandingkan dengan para Nabi, orang-orang yang mati syahid dan orang yang sholeh. Berkenaan dengan karakter, Pendidikan yang melibatkan karakter di Negara Indonesia pada umumnya lebih banyak bersifat “knowing”

saja,

tanpa

melibatkan

siswa

secara

nyata

dalam

pengalaman hidup mereka. Hal ini dapat ditunjukkan melalui pembelajaran agama, PPKn, IPS dan sebagainya yang justru tidak menjamin seseorang tersebut menjadi anak yang baik. Seperti yang diungkapkan oleh Edward Wyne (1991) dalam Ratna Megawangi menyatakan bahwa 95% kita semua tahu mana perbuatan yang baik dan buruk. Masalahnya adalah kita tidak mempunyai keinginan kuat, atau mempunyai komitmen untuk melakukannya dalam tindakan yang nyata. Artinya adalah, kita sudah banyak diberi pengetahuan mengenai akhlak yang baik, namun ketika dihadapkan pada kehidupan yang

Page 89


nyata, seringkali perbuatan kita belum menunjukkan akhlak yang bermoral. Sebagaimana yang diungkapkan Ratna Megawangi dalam bukunya Pendidikan Karakter lebih menegaskan bahwa salah satu contoh konkrit adanya gap antara aspek kognitif (knowing) siswa dan perilaku siswa adalah perilaku kecurangan. Sering kita mendengar karena ingin menjadi juara kelas atau memperoleh nilai yang tinggi, beberapa siswa melakukan kecurangan saat mengerjakan tugastugas, ujian, atau ulangan yang diadakan di sekolah. Dengan berbagai cara

agar

tidak

terpantau

oleh

gurunya,

mereka

membawa

contekannya ketika ujian sedang berlangsung,. Anehnya, seperti yang dilaporkan dalam Current Health (dalam Megawangi) menyatakan bahwa hampir 50% siswa menganggap bahwa perbuatan curang atau tidak jujur tersebut adalah suatu hal yang biasa, baik dilakukan oleh siswa pandai maupun siswa yang tidak pandai, hal tersebut adalah suatu perbuatan yang tidak jujur, dan secara moral tidak dapat diterima. Orang yang berkarakter jujur adalah orang yang konsisten antara pikiran dan tindakannya. Hal ini sesuai dengan kajian Godfrey dan Waugh tentang rendahnya hubungan antara moral pada tingkat pengetahuan

(kognitif)

dengan

moral

pada

tingkat

perbuatan

(tindakan). Maksudnya adalah, ketika ia tahu bahwa perbuatan itu salah, namun tindakannya justru membenarkan hal itu. William Kilpatrick (dalam Megawangi) menegaskan bahwa penyebab

ketidakmampuan

seseorang

untuk

berperilaku

baik,

walaupun secara kognitif ia mengetahuinya adalah karena ia tidak terlatih untuk melakukan kebajikan atau perbuatan-perbuatan bermoral (moral action). Dalam pendidikan karakter sering kita mendengar, bahwa

membangun

karakter

melalui

habit

atau

pembiasaan.

Seseorang yang sudah terbiasa sarapan pagi pukul 06.00 wib, akan merasa tidak enak kalau ia tidak sarapan walaupun hanya satu hari

Page 90


saja. Demikian pula dengan kebiasaan buruk, apabila seseorang yang sudah terbiasa berkata bohong ia akan merasa tidak bersalah dalam melakukannya. Begitu pula dengan suatu kebiasaan

baik, jika ia

sudah terbiasa mengerjakan tugas-tugasnya sendiri dengan jujur, kalau sudah menjadi habit, otomatis akan membuat seseorang akan melakukan kebiasaan baik tersebut secara terus menerus. Sekolah sebagai sarana tempat menggali ilmu dan mendidik anak menjadi manusia yang mampu membangun bangsanya memiliki cara tersendiri dalam membekali para siswa untuk memiliki karakter jujur ini. Setiap sekolah tentu telah mempunyai visi dan misinya masing-masing sesuai dengan kewenangan dan ruang lingkupnya tersendiri. Khusus bagi sekolah yang berada di bawah naungan panji keislaman, Sekolah Islam Terpadu adalah sekolah yang memandang penting membangun karakter siswa melalui penanaman sikap jujur ini. Berlandaskan Al Qur’an dan sunah Nabi, maka perlu di pikirkan strategi apa yang sesuai bisa diterapkan kepada siswa agar karakter jujur ini tertanam di hati mereka. Dalam rangka mendidik dan membangun kebiasaan baik tersebut terutama kebiasaan berlaku jujur, Sekolah Dasar Islam Terpadu Al Ittihad telah menerapkan program kartu cerdas dalam memantau karakter jujur siswa-siswanya. Peran guru kelas dan orang tua sangat besar dalam upaya mensukseskan program Implementasi kartu cerdas ini Kartu cerdas terdiri dari kartu hijau inventaris kebaikan dan prestasi, kartu kuning sebagai peringatan awal tindakan kedisiplinan dan kartu merah sebagai tindakan akhir kedisiplinan yang perlu ditindak lanjuti. Ketiga macam kartu ini dibagikan secara merata kepada masing-masing siswa di kelas dan sebagai penanggung jawabnya adalah guru kelasnya sendiri. Peran keterlibatan dan kerjasama yang kuat dengan orang tua juga ditingkatkan, yaitu melalui pemanggilan orang tua apabila siswa melakukan pelanggaran berat

Page 91


yang dituliskannya sendiri pada kartu merah, bahkan dengan dikenai sanksi berupa denda. Dan sebaliknya, apabila siswa banyak melakukan kebaikan seperti Qatam Al Qur’an, selalu bersikap tertib dalam

berdoa,

membantu

temannya

yang

jatuh,

bersedekah,

menyelesaikan tugas tepat waktu dan lain-lain, maka pihak sekolah dan orang tua akan memberikan penghargaan kepada anaknya, selain itu peran guru kelasnya adalah dengan menunjuknya sebagai murid teladan di kelas. Kartu ini akan terus direkapitulasi paling lama tiga bulan sekali, sebagai bentuk kontrol internal dan eksternal kepada siswa. Di sekolah, siswa dikontrol oleh gurunya, dan di rumah siswa dikontrol oleh kedua orang tuanya, sebuah bentuk kerjasama yang indah yang dijembatani oleh penerapan kartu cerdas ini. Peran kerjasama yang erat antara guru dan orang tua dalam rangka membangun karakter jujur ini semakin terlihat jelas ketika program kartu cerdas ini dijalankan dengan komitmen yang tinggi secara kontinu dan konsisten oleh kedua belah pihak. Karena para siswa menjadi semangat dan saling berlomba dalam berbuat kebajikan dimanapun mereka berada. Semuanya diinventaris secara rutin oleh siswa-siswa,

yang dipantau secara kontinu oleh guru kelasnya.

Kejujuran mereka diuji, diasah dan dibina setiap hari melalui pembiasaan-pembiasaan yang baik yang mereka tulis sendiri melalui kartu cerdasnya. Jika mereka melakukan kebiasaan baik seperti bersedekah perbuatannya

pada di

hari kartu

itu,

maka

hijau.

mereka

Setelah

tiga

akan bulan

menuliskan kartu

hijau

direkapiltuasi, jika ada tindakan baik yang menonjol yang telah mereka lakukan, seperti Qatam Al Qur’an, guru kelas akan menfasilitasi dengan menghimbau para orang tua untuk memberikan penghargaan atas prestasi perbuatan mereka. Sedangkan, jika kartu hijau siswa banyak terisi penuh, maka siswa tersebut berhak mendapat nilai A untuk sikap spiritual dan sosialnya, yang dituliskan dalam Rapor.

Page 92


Sebaliknya, jika mereka melanggar peraturan sekolah, seperti mencontek saat ujian, lalai mengerjakan tugas sekolah atau terlambat sholat ke Masjid, maka mereka harus bertanggung jawab dengan menuliskannya di kartu kuning atau merah. Jika pelanggaran yang dilakukan siswa tergolong berat, seperti mencontek, maka siswa secara sportif wajib menuliskan kesalahannya pada kartu merah, dan guru segera melakukan tindakan disiplin dengan memanggil orang tua siswa, dan siswa tersebut tidak berhak lagi memperoleh nilai A di Rapor pada aspek sikap spiritual dan sosialnya. Sehingga, terjalin kerjasama yang baik antara pihak sekolah, guru dan orang tua dalam membentuk anak-anak yang berkarakter baik. Semoga kebiasaan yang berlandaskan kejujuran ini akan terus berlanjut hingga menjadi habit yang baik, sebagai sarana bagi siswa dalam membangun dan mengembangkan sikap karakter jujur mereka, yang kelak menjadi bekal bagi mereka hingga dewasa.

Contoh kartu cerdas. https://ae01.alicdn.com/kf/HTB1YKqSKVXXXXbiXpXXq6xXFXXXE/1pc-Hand-drawnfont-b-cartoon-b-font-bus-collection-binder-font-b-Business-b-font.jpg

“Satu orang yang jujur lebih utama dan mulia daripada 1000 orang yang selalu lari dari kebenaran‌â€?.

Page 93


4.2.10 PENGUATAN KARAKTER SISWA Kisah-kisah di bawah ini merupakan kumpulan kisah yang dimbil oleh penulis sebagai wujud nyata karakter mulia yang bisa kita ambil dari kejadian-kejadian di sekitar kita. Semoga bisa menjadi inspirasi. SANG PEMBERSIH KEHIDUPAN Hari telah menunjukkan pukul 06.00 pagi ketika pak Rahmat bersama bu Kanti keluar dari rumah mereka untuk mengais rezeki. Biasanya Pak Rahmat dan Bu Kanti sudah mulai bangun pagi sebelum pukul 05.15 pagi ba’da sholat subuh. Namun kali ini agak berbeda, karena pak Rahmat dan Bu Kanti mempersiapkan diri untuk ibadah sahur di bulan Ramadhan. Pak Rahmat dan istrinya adalah sepasang suami istri yang bekerja sebagai pemungut sampah dan pemungut barang-barang bekas untuk daerah sekitar Rumbai, sebuah kecamatan yang terdapat di kota Pekanbaru - Riau. Pak Rahmat dan istrinya telah bekerja sebagai seorang pemungut sampah dan pemulung barang-barang bekas sejak 20 tahun lalu. Pekerjaan sebagai pemungut sampah dan pemulung telah menjadi kegiatan sehari-hari bagi pak Rahmat dan bu Kanti. Sehingga dalam sehari, jika mereka berdua tidak keluar mengais rezekinya, Pak Rahmat dan bu Kanti akan merasa canggung. Karena pekerjaan tersebut sudah terlanjur menjadi darah daging mereka. Pak Rahmat dan Bu Kanti memiliki 2 orang anak. Kedua anak mereka sudah besar, anak pertama sudah bekerja sebagai guru PNS di daerah Kampar, sedangkan anak ke dua Pak Rahmat sudah bekerja sebagai pegawai di kantor PU. Sebenarnya, anak-anak pak Rahmat sudah berulang kali mengajak kedua orang tuanya berhijrah ke pulau Jawa, namun Pak Rahmat dan Bu Kanti selalu menolak, karena masih banyak

Page 94


kewajibannya kepada warga dan lingkungan yang harus dipenuhinya. Demikianlah alasan mereka kepada anak-anak. Mengapa pak Rahmat dan istrinya masih suka melakukan pekerjaan sebagai pemungut sampah dan pemulung?, yang sebagian besar masyarakat kita memandangnya bukanlah siapa-siapa. Kedua sejoli ini punya prinsip hidup dan keyakinan sendiri, bahwa setiap pekerjaan itu adalah mulia, asalkan prosesnya dilakukan dengan jujur dan bertanggung jawab serta memberi manfaat bagi orang lain maupun lingkungan sekitar. Seperti biasa, tugas pak Rahmat setiap sore harinya adalah mengumpulkan sampah-sampah masyarakat yang ada di area lingkungan rumahnya. Namun hari ini, Pak Rahmat dan bu Kanti berhalangan melakukan tugas rutinnya itu. Karena mereka akan menghadiri pernikahan putra kedua mereka di Pulau Jawa. Tepatnya di kota Malang. Pak Rahmat dan bu Kantipun memohon izin kepada warga, bahwa mereka untuk sementara tidak bisa melaksanakan tugasnya membersihkan sampah-sampah rumah

tangga khususnya yang

berada di area lingkungan rumah mereka. Pak Rahmatpun menemui ketua RT nya, dan berpamitan. Selang hanya beberapa hari saja, warga sudah merasa sangat kehilangan sosok dua sejoli ini yang selalu membersihkan kampung mereka. Biasanya, setiap hasil pembuangan sampah, lingkungan sekitar rumah mereka sudah bersih dan rapi diambil dan dikumpulkan oleh pak Rahmat dan istrinya. Namun, kali ini tidak ada seorangpun yang peduli. Sampah berserakan di mana-mana. Warga kebingungan, dengan siapa lagi mereka mencari orang yang mau memungut dan membersihkan sampah limbah rumah tangga. Apalagi mayoritas warga adalah pekerja. Sehingga kesibukan bekerja di luar rumah telah banyak menyita waktu mereka.

Page 95


Demikianlah fenomena yang sering terjadi, saat seseorang siapapun dia apakah teman, tetangga, saudara, atau tukang suruh sekalipun ada dalam rutinitas kehidupan kita, kita sangat jarang memperdulikan dan memperhatikan betapa

pentingnya kehadiran

mereka dalam kehidupan kita, namun ketika mereka tidak ada disisi, saat itulah kita akan merasa kehilangan. Kepergian sejenak Pak Rahmat dan bu Kanti sangat terasa menyentak warga. Karena ternyata, pekerjaan yang selama ini ditekuni oleh pak Rahmat maupun bu Kanti terhadap warga kampung perumahan itu, walaupun hanya sebagai petugas kebersihan, namun dampak yang ditimbulkannya sangat berpengaruh dalam kehidupan warga sekitar. Wargapun terpaksa harus menyisihkan waktunya yang hanya sebentar berada di rumah untuk membersihkan sendiri sampahsampah limbah buangan rumah tangganya menuju tempat yang telah disiapkan di area sekitar kampung. Tidak mudah ternyata, harus memboyong sekian banyak plastik sampah yang kemudian harus dibuang ke tong pembuangan besar warga tanpa dipilah-pilah terlebih dahulu, karena untuk menghemat waktu dan tenaga. Demikianlah rutinitas yang selalu dikerjakan oleh sepasang suami istri pemulung di sebuah lokasi perumahan yang lumayan elit tersebut. Warga menyadari, jika tidak ada Pak Rahmat maupun Bu Kanti walaupun beberapa hari saja, namun dampaknya terhadap keindahan, kenyamanan dan kebersihan kampung menjadi tidak terjaga dan kotor. Beruntung ada inisiatif dari bapak ketua RT, jika Pak Rahmat dan Bu Kanti kembali dari pulau Jawa, warga dihimbau untuk menghemat sampah dan merapikan serta bersedia memilah sampahsampah rumah tangganya sendiri sebelum dikumpulkan oleh Pak Rahmat dan bu Kanti. Hal ini dilakukan sebagai rasa kepedulian terhadap lingkungan dan

meringankan beban kerja Pak Rahmat dan

Page 96


Bu Kanti, serta memberi perlindungan terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekitar mereka. Ternyata, pekerjaan mulia yang telah dilakukan oleh pak Rahmat dan Bu Kanti memberi kesadaran kepada warga untuk senantiasa menghargai lingkungan sekitar dan kesadaran untuk mau menghargai status pekerjaan siapapun dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bahwa apa yang dipandang sebagian besar masyarakat kita, tentang para pemungut sampah maupun pemulung adalah sebuah profesi yang kecil, rendah, dan sepele namun ternyata mampu mempengaruhi stabilitas kenyamanan dalam kehidupan kita. Semoga menjadi amal jahiriah bagi warga terutama untuk dua sejoli sang pembersih kehidupan. Penulis: Delta Nia SOSOK YANG DIDAMBA Sebut saja namanya Ani. Ani adalah murid yang paling pendiam di kelasku. Ani tidak begitu pintar dibandingkan dengan teman-temannya yang berada di dalam satu kelas. Setiap hari jika waktu belajar tiba, Ani selalu duduk di kursi paling belakang. Dia lebih nyaman berada di sana agar bisa mengamati guru dan temantemannya. Namun Ani tidak berani mengungkapkan mengapa ia suka mengamati orang-orang dan lingkungan sekitarnya dengan seksama. Hari ini adalah hari pertama Ani berada di kelas 4. Seperti biasa, Ani tidak banyak -berbicara dibandingkan dengan temantemannya yang sudah dengan suara riuh saling bercerita tentang suasana liburan mereka bersama keluarga. Ani lebih senang merapikan laci dan loker belajarnya. Ia menatanya dengan begitu telaten, semua barang-barangnya disusun dengan rapi di dalam locker yang telah ditentukan oleh ustadzah di kelas.

Page 97


Kemudian, terlihat Ani mulai mencari-cari di bawah mejanya, apakah ada sampah atau barangnya tercecer di bawah meja. Dengan sigap ia segera mengambil secarik kertas kecil yang sudah kumuh tergeletak di lantai, menuju tempat sampah dan membuangnya di sana. Berbeda dengan teman-temannya yang lain. Di saat temantemannya asyik bersenda gurau di kelas tanpa mau memperdulikan barang maupun kebersihan di kelas, Ani justru sibuk dengan kesendiriannya. Kesibukan yang begitu mulia bagiku, karena dengan spontan ia melakukan hal-hal positif dengan merapikan buku dan memungut sampah tanpa diinstruksikan lagi di kelas. Aku juga sering memergoki Ani sedang merapikan buku-buku dan alat-alat mengajarku di kelas. Kadangkala di waktu jadwal piketnya tiba, ialah muridku satu-satunya yang paling senang menyapu. Hasil pekerjaannya bersih dan rapi. Aku salut dengan karakternya. Karena belum pernah aku menemui seorang anak kecil baru kelas 4 sudah pandai bekerja dan peduli dengan sekitarnya. Aku sudah dapat membayangkan, bahwa insyaallah anak ini kelak di masa dewasa tentulah menjadi orang yang sukses. Kebetulan saat ini, akulah sebagai guru kelasnya. Sejak pertama bertemu dengan murid-muridku yang baru ini, aku sudah menemukan sesuatu yang indah dalam karakter anak didikku itu. Siapakah yang telah berhasil melatihnya, sehingga ia bisa dengan mandirinya memperdulikan barang-barangnya dan mengambil sampah setiap kali ada sampah di dekatnya. Suatu ketika, kudekati Ani dengan pelan. Kupanggil namanya agar ia mau menemui secara pribadi di meja guruku. Anipun dengan terburu-buru mulai mendekatiku. “Ada apa Zah..?�, tanyannya ingin tahu. Mungkin dia heran, mengapa aku memanggilnya secara pribadi. “Ani, kamu di rumah anak ke berapa?� tanyaku. “Saya anak nomor satu Zah. Saya memiliki adik yang masih kecil-kecil. Adik saya ada dua

Page 98


orang Zah.” Jawabnya dengan santun dan lembut. “Ayahmu bekerja di mana? Dan Ibumu apakah juga bekerja?” tanyaku selanjutnya. Ani terdiam sejenak. Sepertinya dia agak berat mengutarakan tentang kedua orang tuanya. Sambil menunduk, dan dengan suaranya yang lirih Anipun menjawab dengan ragu. “Ayah saya kerjanya memilahmilah barang-barang yang sudah tidak dipakai orang lagi Zah. Namun, ayah selalu mengatakan bahwa pekerjaan ayah adalah pekerjaan yang paling mulia sedunia. Karena ayah sudah menyelamatkan lingkungan.” Aku terkejut mendengar ceritanya. Bagaimana mungkin seorang anak yang maaf aku kira berprofesi sebagao pemulung itu adalah Ani muridku yang sekarang sedang berada di depanku. Bagaimana mungkin, seorang pemulung, yang mungkin untuk makan saja mereka harus memeras keringat mencari rezekinya untuk sesuap nasi, namun mampu menyekolahkan anaknya di sekolah swasta Islam, yang SPPnya saja membuat kita tertegun karena biayanya yang tidak murah. Untuk memastikan dugaaanku, akupun menanyainya lagi. “Apakah ibumu juga bekerja. Siapa yang membiayaimu sekolah di sini nak..?”. Ani menjawab,”pekerjaan ibu juga sama dengan ayah Zah. Ibu dan ayah sudah menabung sejak saya masih dalam kandungan. Karena ibu dan ayah ingin semua anak-anaknya sekolah di sekolah yang bagus dan dapat memperoleh ilmu agama yang tinggi. Ayah dan ibu hanya ingin agar saya menjadi anak yang sholeh. Karena ayah sering bilang, untuk apa anak ayah jadi sarjana, professor , jadi dokter, tapi nanti di akhir hayatnya, imam masjidlah yang mengurus, mendoakan dan menyolatinya. Ayah juga ingin anak ayah selalu berbuat baik terhadap lingkungan dan alam. Saya memang perempuan Zah. Tapi adik saya dua-duanya laki-laki. Kedua adik saya juga seperti saya zah, tapi mereka pintar mengaji dan menghafal Al Qur’an. Adik saya yang nomor dua sekarang sudah hampir hafal 3 juz, padahal

Page 99


umurnya baru 6 tahun. Dan adik saya yang ketiga sudah bisa menghafal 1 juz. Ibu yang selalu rajin membimbing mereka di rumah setelah pulang bekerja”. “Saya rajin membersihkan kelas, locker dan laci meja karena saya sering melihat ibu dan ayah rajin membersihkan rumah kami, walaupun rumah kami kecil dan tidak bagus”. “Ayah dan ibu selalu bilang kalau benda-benda yang tidak terpakai kita kumpulkan dengan baik, maka bisa jadi nilai amal untuk buku amal kita di syurga. Ayah dan ibu juga rajin menanam pohon dan tanaman. Walaupun rumah saya sederhana dan tidak begitu bagus, tetapi taman di rumah saya rindang, hijau, asri, dan rapi. Jika ada waktu, cobalah berkunjung ke rumah saya Zah. Nanti saya temani ustadzah berkeliling melihat tanaman-tanaman hasil sentuhan tangan ayah dan ibu. Kadangkadang saya juga rajin membantu ayah dan ibu membersihkan dan menyiram tanaman. Kami sekeluarga suka sekali bekerja sama.”. Ketika waktu sholat tiba, kedua adik saya ikut sholat berjamaah di masjid, saya dan ibu kadang-kadang ikut juga. Namun, karena pekerjaan rumah masih ada yang harus dikerjakan, sekali waktu kami berdua saya dan ibu sholat berjamaah di rumah saja. Katanya panjang lebar. Aku asyik mendengar penjelasannya. Aku tidak menyangka, masih ada anak seusia dia yang mampu menceritakan secara detail tentang kehidupan keluarganya yang menyenangkan. Di saat orangorang disekeliling kita sibuk dengan urusannya, tidak ada yang peduli, namun Ani adalah keluarga yang istimewa di mataku. Kedua orang tuanya memang hanya orang biasa, terlalu sederhana malah. Mereka bukan pegawai, mereka bukan guru. Mereka bukan seorang pejabat Negara. Namun, bagiku apa yang telah mereka perbuat walaupun masih dalam lingkungan keluarganya sudah merupakan perbuatan mulia yang dirihoi Allah. Dan sangat jarang kita temui di keluargakeluarga Indonesia pada umumnya. Inilah sosok yang didamba bagi

Page 100


penyelamat bangsa Indonesia yang tercinta ini. Yaitu sosok yang agamis, peduli dan gemar melakukan kebaikan untuk lingkungannya, walaupun masih dalam lingkup yang kecil. Seandainya saja‌ yah seandainya‌setiap individu dalam 1 juta rakyat Indonesia yang tinggal di Negara ini berbuat dan berpikir sama seperti apa yang dilakukan keluarga Ani, barangkali tidak ada

kebakaran hutan. Tidak ada

sampah-sampah berserakan, karena setiap orang memiliki kesadaran mencintai lingkungan, kesadaran mau mengambil, memungut dan memanfaatkan sampah dimanapun ia berada, dan negeri ini ,menjadi negeri yang bersih dan indah bak permadani syurga. Udaranya sejuk dengan bentangan alamnya yang hijau dan subur, dan Negara yang indah makmur bukan hanya sekedar harapan dan cita-cita. Kabut asap yang melanda pulau Sumatra di Indonesia menggambarkan bahwa tidak banyak dari bangsa kita yang peduli. Sehingga terjadi kebakaran hutan di mana-mana. Sungguh memilukan. Penulis: Delta Nia KISAH SEBUTIR NASI Kisah ini mengingatkan kita untuk senantiasa mensyukuri nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Menghargai makanan yang kita makan walaupun yang tersisa adalah sebutir nasi. Namun, jika sebutir nasi dihitung dalam setiap piring orang yang makan, sungguh menakjubkan. Hitungannya ternyata sangat luar biasa, membuat kita segera menyadari betapa berharganya makanan, walau hanya sebutir nasi yang tersisa setiap kali kita makan. Mari kita coba hitung berapa banyak nasi yang terbuang dalam sehari di Indonesia atau dunia . Jumlah penduduk Indonesia kurang lebih 250.000.000 orang . Jika setiap kali makan , orang Indonesia membuang 1 butir nasi saja , maka setiap hari nasi yang dibuang oleh 1 orang Indonesia ada 3 butir nasi (yg makan 3x sehari) ..

Page 101


maka jumlah nasi yang dibuang oleh masyarakat Indonesia paling tidak dalam sehari ada = 3 butir x 250.000.000 = 750.000.000 butir nasi !! ini paling sedikit .. Benarkah kita hanya membuang 1 butir nasi saja setiap kali makan ? Dalam 1 kg beras terdapat sekitar 50.000 butir . Jadi dalam 750.000.000 butir nasi yang terbuang = 750.000.000 : 50.000 = 15.000 kg atau sama dengan 15 ton beras yang terbuang setiap hari .. Jumlah 1 kg beras cukup untuk memberi makan 10 orang . Maka 15.000 kg beras bisa mencukupi makan untuk 15.000 x 10 orang = 150.000 orang .. Artinya nasi yang terbuang setiap hari di indonesia sebenarnya bisa untuk memberi makan kepada 150.000 orang .. Jumlah penduduk dunia setidaknya sekarang telah mencapai 6,5 miliar .. kini nasi sudah masuk daftar menu makan penduduk dunia , walaupun bagi sebagian penduduk dunia bukan sebagai menu utama jika setiap orang di dunia membuang 3 butir nasi saja per hari , maka dalam 1 hari nasi yang terbuang di dunia adalah sebanyak 390.000 kg (390 ton) yang cukup untuk memberi makan kepada 3.900.000 orang !! FANTASTIK bukan ??!! Ironisnya , menurut data FAO PBB (FAO = Food and Agriculture Organisation = Organisasi Pangan dan Pertanian) , setiap hari ada 40.000 orang mati kelaparan di dunia ini :'(perhitungan di atas hanya 1 butir , bayangkan berapa banyak biasanya nasi yang kita tinggalkan di piring sehabis kita makan , silahkan hitung sendiri .... IRONIS . Pelajaran hikmah yang bisa kita ambil, dengan makan sampai bersih dan habis, kita telah menyelematkan dunia dari kelaparan. Subhannallah‌.

Page 102


KISAH MUSA ‘ANAK AJAIB’ SANG HAFIDZ CILIK Nama Musa mulai terkenal sejak mengikuti acara Hafidz Indonesia 2014 yang disiarkan di stasiun TV swasta. Bocah asal Bangka Belitung dari pasangan La Ode Abu Hanafi Abu Musa dan Yulianti, saat itu

masih berusia 5,5 tahun. Dia telah mampu

menghafalkan seluruh ayat suci Al-Quran, kecuali surat Al Isra dan AnNahl di juz 30. Selain menghafal Al-Quran, Musa mampu menghafal Hadist Arba’in Imam Nawawi beserta maknanya. Saat kali pertama Musa tampil di panggung, hadirin di dalam studio tersebut menangis terharu menyaksikan kemampuan Musa. Bahkan Prof Amir Faishol, pakar tafsir Al-Quran yang saat itu menjadi salah satu juri, sembari berlinang air mata mendatangi Musa lalu mencium tangannya. Bocah cilik yang masih cadel dan belum bisa mengucapkan huruf r, sebetulnya sosok anak yang pemalu. Musa memang jarang bertemu banyak orang sehingga saat kali pertama tampil di panggung sangat gugup saat itu. “Saat itu dia sudah mau menagis,” ujar Hanafi. Setelah ditenangkan , perlahan Musa mulai bisa menyesuaikan diri. Untuk memudahkan adaptasi, Hanafi membaurkan Musa dengan peserta lainnya. Bekat usaha dan kerja keras yang dilakukan Musa, ia berhasil meraih juara pertama pada program acara tersebut. Oleh karena itu, orang-orang lebih mengenal Musa dengan sebutan ‘Musa Hafidz Cilik’. Mulai saat itulah Musa terkenal di khalayak ramai baik di dalam negeri maupun di Malaysia dan Singapura. Prestasi Musa yang gemilang membuatnya bertolak ke Jeddah, Arab Saudi pada tahun 2014, untuk diikutsertakan dalam lomba hafalan Alquran Internasional. Musa harus bersaing dengan para hafidz dari seluruh dunia.

Page 103


Dalam acara yang digelar oleh Hai’ah Alamiyah Litahfidzil Quran, Musa menjadi peserta termuda dari 25 peserta anak-anak dari seluruh dunia. Dalam ajang lomba tersebut Musa menduduki peringkat ke 12 dengan mendapatkan nilai Mumtaz yakni 90,83 poin dari 100 nilai sempurna. Pasca perlombaan, Musa berhasil menuntaskan hafalan menjadi keseluruhan 30 juz Al-Quran, sebelum mengikuti acara lomba sebenarnya Musa hanya kurang dua surat saja. Pada Agustus 2014, Musa memperoleh piagam penghargaan tingkat nasional dari Muri (Museum Rekor Indonesia) sebagai Hafidz Al-Quran 30 juz termuda di Indonesia. Pada tahun ini aja, Musa mengikuti lomba Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) Internasional di Sharm El-Sheikh Mesir pada 10-14 April kemarin. Dikutip dari halaman Kemlu.go.id, jumlah peserta MHQ untuk semua cabang mencapai 80 orang yang terdiri dari 60 negara. Musa yang saat ini baru berusia 7 tahun, mengikuti lomba cabang Hifz Al-Quran 30 juz untuk golongan anak-anak, dan sekali lagi Musa menjadi peserta paling kecil diantara seluruh peserta lomba, karena peserta lainnya berusia di atas sepuluh tahun. Dalam lomba tersebut Musa berhasil meraih juara ketiga dengan memperoleh nilai 91,17.

Prestasi yang Musa raih menjadi

bukti kepada dunia bahwa anak-anak Indonesia, mampu menciptakan para Hafidz cilik tak kalah dengan anak-anak di negara-negara Timur Tengah. Dalam lomba tersebut, Musa diminta untuk menuntaskan 6 soal, yang berhasil dilalui Musa dengan tenang, tanpa ada salah maupun lupa. Lancarnya bacaan dan ketenangan Musa dalam membawakan ayat-ayat Al-Quran yang ditanyakan Ketua Dewan Juri Sheikh Helmy Gamal, membuat Wakil Ketua Persatuan Quraa Mesir meneteskan air mata.

Page 104


Decak kagum terhadap penampilan Hafidz cilik dari Indonesia tidah hanya ditunjukkan oleh dewan juri dan para hadirin, para peserta yang menjadi saingan Musa pun menunjukkan decak kagum kepada utusan Indonesia. Musa dinilai telah menjadi juara di hati dewan juri dan para hadirin, meskipun secara tertulis dia hanya memperoleh juara tiga. Menurut Syeikh Helmy Gamal bacaan Al-Quran diatur dengan kaedah dan hukum yang jelas dan tidak bisa dikesampingkan antara lain terkait makharijul huruf. Setelah tampil, Musa langsung diserbu oleh para hadirin untuk berfoto dan mencium kepalanya sebagai bentuk takzim sesuai budaya masyarakat Arab. Pada acara penutupan, Menteri Wakaf Mesir Prof. Dr. Mohamed Mochtar Gomaa memanggil Musa dan Abu Hanafi secara khusus. Pada kesempatan tersebut Menteri Gomaa atas nama Pemerintah Mesir mengundang Musa dan Hanafi pada peringatan Malam Lailatul Qadar yang diadakan pada Ramadan mendatang. Peran Orangtua Bagi Kesuksesan Musa Minat Musa terhadap Alquran sudah tampak sejak dirinya belum genap berusia dua tahun. “Setiap kali saya perdengarkan kaset murottal (pembacaan) Al-Quran anak, dia senang dan sangat antusias menirukan,� ungkap pria 35 tahun. Melihat kondisi tersebut, Hanafi pun semakin sering memperdengarkan kaset murottal kepada Musa. Sebagai seorang ayah, Hanafi mulai membimbing Al-Quran untuk anaknya itu. Pada usia 2 tahun tentu saja Musa belum bisa membaca Alquran, Hanafi menggunakan metode talqin atau membaca hafalan. Musa saat itu diminta untuk menirukan pelafalan sang ayah. Hanafi mengajari Musa dengan perlahan karena ia juga mengingat usia Musa. Satu sesi belajar saja hanya berlangsung lima sampai sepuluh menit.

Page 105


Bukan hal yang mudah untuk mengajarkan Al-Quran kepada anak yang berusia dua tahun. Proses Musa untuk menjadi Hafidz tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Bagian pertama yang diajarkan kepada Musa adalah surat terakhir Al-Quran, yakni surat An Naas. “Saya ajarkan Qul saja, butuh 2 sampai 3 hari dia ikuti. Kemudian menyambung kata Qul dengan Audzu juga butuh waktu,” ujarnya. Butuh waktu satu pekan bagi Musa untuk menghafalkan Qul A’udzu Birobbinnas (Ayat pertama dalam surat An Naas yang berarti katakanlah aku berlindung dari Tuhan manusia).

Kemudian, saat

berhasil menghafal ayat kedua, Musa lupa bagaimana bunyi ayat pertamanya sehingga hafalan harus diulang dari awal. “Jadi, surat An Naas itu mungkin bisa ratusan kali diulang sama saya,” ungkapnya. Metode talqin hanya dilakukan Musa selama dua tahun dan menghasilkan hafalan dua juz saja, yakni juz 30 dan 29. Hanafi mengajari Musa menghafal dari belakang, yakni dari juz 30 hingga 18. Kemudian, dia melanjutkan pelajaran menghafal dari juz 1. Di Usianya yang keempat tahun, Musa sudah mulai bisa membaca Al-Quran sehingga proses hafalan menjadi lebih ringan daripada sebelumnya. Karena sudah bisa membaca Al-Quran, Musa mulai bisa belajar mandiri. Setiap hari Musa mampu menghafal 2,5 sampai 5 halam Al-Quran dan diperdengarkan di depan Hanafi. Dalam bimbingan hanafi, Musa bisa menghabiskan waktu 6 sampai 8 jam untuk menghafal Al-Quran dan. Hanafi memang seorang guru ngaji. Hanafi juga menghidupi keluarga kecilnya lewat kebun karet miliknya dan usaha dagangnya.

Page 106


Lazimnya seorang bocah, waktu bermain juga menjadi kebutuhan yang tak bisa diabaikan. Untuk itu, setiap empat hari Hanafi meliburkan pelajaran menghafal Al-Quran dan memberikan Musa kesempatan bermain seharian. ”Musa main mobil, kereta, sama bola sampai kotor,” ucap Musa saat ditanya mainan kesukaannya sembari bergelayut manja di pangkuan sang ayah. Musa tampaknya tidak terbebani akan gelar Hafidz yang disematkan kepada dirinya. Sebagaimana layaknya bocah, Musa sangat senang manakala disodori akan mainan. Musa juga sudah punya cita-cita yang ingin diraihnya. “Ingin jadi pilot,” ucap Musa. KISAH NAUFAL RAZIQ, BOCAH ACEH PENEMU ENERGI LISTRIK POHON KENDONDONG Laporan Syahrir Lantoni, JAKARTA, Jawa Pos. NADA bicaranya teratur, penjelasannya runtut. Usianya baru 15 tahun, tapi layaknya sudah dewasa. Namanya Naufal Raziq. Walau hanya bocah Kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Negeri, tapi dia adalah penemu energi listrik dari pohon kedondong (Spondias Dulcis Forst). Rabu (10/5) lalu, INDOPOS (Jawa Pos Group) menemui Naufal dan ayahnya di kawasan Tebet Jakarta Selatan. Saat berbincang, siswa kelas III MTS Negeri Langsa Lama, Kota Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) itu cukup cekatan menjelaskan penemuan energi listrik dari dalam batang pohon kedondong pagar. Naufal juga memperlihatkan tiga pohon yang sudah dipermak menjadi sumber listrik. Energi listrik dari pohon kedondong itu biasa menjadi pagar halaman rumah warga di Langsa. Untuk menghasilkan

Page 107


energi listrik, pohon itu dipasangi rangkaian yang terdiri pipa tembaga, batangan besi, kapasitor, dan dioda. Temuan Naufal menghasilkan daya sebesar 0,5–1 Volt per elektroda dari dipasang pada rangkaian pohon kedondong. Menurut Naufal, arus listrik yang dihasilkan sangat bergantung kepada kadar keasaman pohon. Ini melalui beberapa evaluasi dan perbaikan, pohon listrik itu telah menerangi puluhan rumah di Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Langsa, Aceh, untuk pencahayaan lampu pada malam hari. ”Saya senang sekali dan bangga penemuan ini bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar,” ujar Naufal yang mengaku mengidolakan mantan Presiden RI B.J. Habibie dan penemu lampu pijar, Thomas Alva Edison, ini. Butuh waktu lama untuk menemukan energi listrik dari pohon kedondong. Itu berawal saat dia mempelajari ilmu pengetahuan alam dan

membaca

bahwa

buah

yang

mengandung

asam

bisa

menghantarkan listrik. Mula-mula Naufal menguji pada buah kentang. Setelah itu dia berpikir jika buahnya mengandung asam berarti pohonnya juga mengandung asam. "Akhirnya saya mulai melakukan eksperimen,” ujar bocah kelahiran Langsa, 20 Maret 2002. Dari pohon kentang, lalu Naufal melakukan eksperimen pada pohon mangga dan ternyata tidak layak. Setelah itu, dia mencoba jenis pohon lainnya. ”Akhirnya saya menemukan kedondong pagar yang kadar asam atau getahnya mampu menghantarkan listrik,” ujarnya bercita-cita ingin menjadi ilmuwan dan masuk ITB (Institut Teknologi Bandung) itu.

Page 108


Puaskah Naufal? Tidak. Karena itu kini Naufal tengah mencari cara agar ada akselerasi daya pemulihan (recovery) energi listrik dari pohon kedondong itu secara optimal. Sebab, dari percobaan sebelumnya,

kemampuan

pemulihan

dari

pohon

kedondong

membutuhkan waktu lama dan belum stabil. Saat ini, putra pertama dari tiga bersaudara pasangan Supriaman dan Ny Deski ini mengaku sedang melakukan uji coba dengan proses penyimpanan energi dari pohon kedondong ke charger baterai dan dari sana ke lampu atau mirip proses solar cell. ”Saya berharap nyala lampu bisa stabil karena pada proses sebelumnya dengan langsung dari pohon ke lampu, energinya tidak stabil dan lama kelamaan drop serta recovery secara alaminya lambat sekali,” jelasnya. Penemuan Naufal ini memang tidak datang begitu saja. Bahkan tidak hanya dari sekolah. Dukungan sang ayah sangat membantu dalam percobaannya tersebut. ”Kebetulan ayah bekerja di bidang elektronika. Jadi sedikit banyak saya tahu alat-alat elektronik,” ujarnya. Ayah Naufal, Supriaman mengatakan, saat ini sejumlah pihak menjajaki kerja sama dalam pengembangan energi pohon listrik temuan anaknya. Namun, semua dikembalikan kepada PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero). ”Kalau mau kerja sama dengan Naufal, silakan berbicara dengan Pertamina EP karena aktivitas Naufal terkait pohon listrik ini juga berkat bantuan dari Pertamina EP Aset I Field Rantau,” ujarnya. Pertamina EP memang telah mendukung penemuan Naufal, termasuk komitmen menyekolahkan dia hingga perguruan tinggi. ”Pertamina

EP

juga

telah

membantu

pengurusan

hak

paten

pembangkit listrik menggunakan pohon kedondong dari Kementerian Hukum dan HAM,” ujar Supriaman.

Page 109


Manajer mengatakan,

Humas

Pertamina

Pertamina EP

Aset

EP, I

Field

Muhammad Rantau

Baron

membantu

pengembangan energi listrik dari pohon kedondong menuju skala yang lebih besar, terutama untuk menerangi kampungnya yang memang belum tersentuh jaringan listrik. Apalagi, Naufal memang berasal dari Tampur Paloh, dusun yang jauh di pedalaman pelosok Aceh. Menurut Baron, penemuan Naufal merupakan kisah sukses sinergi antara Pertamina dan masyarakat dalam menciptakan inovasi yang memberikan solusi bagi permasalahan yang ada. Ini perlu dicontoh oleh daerah-daerah lain di Indonesia. �Naufal ini discovery untuk bangsa. Kami akan mendukung apabila muncul Naufal-Naufal lain dari wilayah kerja Pertamina EP lainnya demi kemandirian energi nasional,� katanya. KISAH ANAK BISU YANG SHOLEH DENGAN AYAHNYA Satu lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain. Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan. Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya: �Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya. Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang

Page 110


artinya, “Mengapa engkau tidak shalat wahai Abi?” Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Allah yang di langit melihatmu. Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah. Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya, tapi ia lari dariku. Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, meskipun belum sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Qur’an. Ia selalu menasihati saya tapi belum juga membawa faidah. Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar, lalu ia shalat maghrib di hadapan saya. Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Qur’an, membukanya dengan cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang artinya): “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan” (Maryam: 45). Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya.Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setelah itu berbicara kepadaku dengan bahasa isyarat yang artinya, “Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya adzab! “Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh. Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat),”Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi).” Saya katakan kepadanya, “Biar kita ke masjid dekat rumah saja.” Tetapi anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi.

Page 111


Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut. Dan Marwan selalu memandang saya.Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama datang waktu iqamat untuk shalat isya’, saat itu imam masjid membaca firman Allah (yang artinya),”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan

siapa

yang

dikehendaki-Nya.

Dan Allah

Maha

Mendengar dan Maha Mengetahui” (An-Nuur: 21). Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan tissue dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya. Selesai shalat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat, “Sudahlah wahai Abi!” Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, “Kamu jangan cemas.” Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa baru terlahir kembali ke dunia. Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi. Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik. Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya katakan,”Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu yang mengajarkannya untuk

Page 112


membuka mushaf Al-Qur’an dan menunjukkannya kepada saya?” Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya. Kemudian ia berkata, “Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini.” Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang -alhamdulillah saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta, dan kasih sayang. Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah.” Source. osserem.me TERNYATA AMALAN 'SEPELE' ITU MEMASUKKANNYA KE SURGA Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,*_ ‫ب فيِ الذجنندة فيِ ذشذجذررة ذقذطذعذهاَ دممن ذظمهدر الذطدريِدق ذكاَذن م‬ ‫*ذلقمد ذرأميِ ه‬ *‫ت هتؤُدذيِ الهممسلددميِذن‬ ‫ت ذرهجال ذيِذتذقلن ه‬ “Sungguh

aku

melihat

disebabkan pohon

seseorang

bersenang-senang

di

surga

yang ia singkirkan dari tengah jalan karena

mengganggu kaum muslimin." _(HR. Bukhari dan Muslim)_ Dalam riwayat lain; ‫ذمنر ذرهجتل بدهغ م‬ *‫خلذل‬ ‫ ذفهأد د‬،‫حذيِلنن ذهلذذا ذعلدن الهممسلدلميِذن لْ هيِلؤُدذيِدهمم‬ ‫ال ل همن د‬ ‫ ذوُ د‬:‫ ذفذقاَذل‬،‫صدن ذشذجذررة ذعذلى ذظهدر ذطدريِرق‬ ‫*الذجننذة‬ "Ada seseorang berjalan melewati ranting pohon yang melintang di tengah jalan, lalu ia berkata, 'Demi Allah! AKAN AKU SINGKIRKAN ranting pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin.'

Page 113


Maka ia dimasukkan ke surga. Janganlah menganggap remeh suatu perbuatan yang dipandang kecil oleh manusia, jika seseorang melakukannya dengan ikhlas, bisa saja itu menjadi sebab Allah akan mengampuninya dan memasukkanya ke surga. Sumber Hadits: Riyadhus Shalihin, hal. 62 Diterjemahkan oleh: Tim Warisan Salaf

Subhannallah, dahsyatnya kekuatan doa, sesungguhnya Allah Maha Mendengar segala doa jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan khusyu’ kepada Allah lillahi ta’ala, insyaaAllah dengan izinNya pula, keajaiban-keajaiban terjadi. Sebagaimana kisah tentang ibu dari seorang ulama besar Imam Syafi’I, tatkala sang Imam harus berpisah dengan bundanya tercinta untuk mempelajari ilmu dien. Allah swt mengabulkan doa sang ibu, karena sejak saat itu Imam menjadi ulama besar sepanjang zaman. Mari kita ikuti kisah yang mengharukan ini. DOA SEORANG IBU YANG SHOLEHA UNTUK ANAKNYA Bagi ibu yang bersedih melepas anaknya ke pondok, ingatlah bahwa dulu ibundanya Imam Syafi'i pun merasakan hal yang sama, dan beliau bersabar demi ilmu din yang akan dituntut putranya. Di malam sebelum Imam Syafi'i pergi untuk menuntut ilmu, sang ibu berdo'a dalam keheningan, “Ya Allah, Rabb yang menguasai seluruh alam. Anakkku ini akan meninggalkanku untuk perjalanan jauh demi mencari ridhaMu. Aku rela melepasnya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Maka

hamba

memohon

kepadaMu

Page 114

ya

Allah…

mudahkanlah


urusannya. Lindungilah ia, panjangkanlah umurnya agar aku bisa melihatnya nanti ketika ia pulang dengan dada yang penuh dengan ilmu-Mu.” Beliau khusyu' mendo'akan Imam Syafi'i hingga meneteskan air mata. Dan tatkala Imam Syafi'i hendak pergi ke Madinah (kota yang akan menjadi tujuannya menuntut ilmu), sang Ibu melepasnya dengan motivasi dan harapan, beliau meyakinkan putranya bahwa Allah akan memberinya kemudahan. “Pergilah anakku,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca, “Allah bersamamu. Insya Allah engkau akan menjadi bintang paling gemerlap di kemudian hari. Pergilah… ibu telah ridha melepasmu. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong” Demikianlah sedikit kisah dari Ibunda Imam Syafi'i yang patut kita jadikan teladan saat melepas anak pergi dalam rangka mencari ilmu. Berbahagialah saat Allah memberi kesempatan kepada anak kita untuk menuntut ilmu din, karena Allah telah menjanjikan kemudahan jalan menuju surga bagi para penuntut ilmu. Sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah sholallahu 'alaihissalam, "Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.” Berbahagialah ibu, karena Allah juga akan memberi kemuliaan bagi orang-orang yang berilmu.

Tidakkah kita menginginkan anak-

anak menjadi pribadi yang mulia selama di dunia dan juga pahala serta

Page 115


derajat yang tinggi di akhirat nanti disebabkan oleh ilmu yang mereka dapat? Maka ibu, sampaikan pesan kepada putra putri kita untuk menegakkan niat agar tetap lurus hanya untuk mengharap wajah Allah ketika hendak belajar, dan mohonlah kemudahan kepada Allah untuk mereka dalam mengamalkan setiap ilmu yang didapat, sekuat kemampuan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan kita dalam sebuah hadits, “Barangsiapa

mencari

ilmu

yang

seharusnya

dicari

untuk

mengharapkan wajah Allah, namun ternyata ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan satu tujuan dunia, maka ia tidak akan mencium wanginya surga pada hari kiamat.� (HR Abu Daud no: 3664 dengan sanad yang shahih, Ibnu Majah no: 252, Ibnu Hibban no: 89, dll) Bersabarlah sebentar saja ibu, insyaaAllah perpisahan ini hanya untuk sementara, jarak yang terpisah masih bisa ditempuh, dan kita masih bisa mendekapnya dengan do'a kita. Dan, bersyukurlah, karena dengan perpisahan ini, anak akan belajar merasakan dan mengelola kerinduan kepada orang tuanya. Sebentar saja ibu, cuma sebentar... insyaAllah Apalagi kalau bukan jannah tujuan akhir yang kita harapkan untuk kembali berkumpul bersama? Semoga Allah menjadikan anak-anak kita sebagai generasi muslim yang berilmu dan mampu beramal dengan ilmunya serta mendakwahkannya, dan semoga Allah menjaga hatinya agar tetap berada dalam fitrah dan keikhlasan hingga senantiasa memurnikan niat di setiap aktifitasnya hanya untuk mengharapkan ridho Allah.

Page 116


Generasi muslim yang bermoral dan menjadi generasi yang rabbani seutuhnya memang harus dimulai dari lingkungan keluarga. Allah

telah

perintahkan

agar

kepala

keluarga

dengan

serius

memperhatikan keluarganya. Memperhatikan segala aspek kehidupan yang ada dalam keluarganya. Allah berfirman; Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka�. Aamiin. #CatatanAnsharullah#Ilmu sumber: Group WA Keluarga Besar ICBB KISAH RASULULLAH SAAT IDUL FITRI Kisah berikut ini juga sangat menyentuh jiwa dan hati nurani kita, yaitu cerita tentang salah satu kemuliaan akhlak Rasulullah yang agung di pagi hari saat hari Raya Idul Fitri. Kisah ini terjadi di Madinah pada suatu pagi di hari raya Idul Fitri. Rasulullah saw seperti biasanya mengunjungi rumah demi rumah untuk mendoakan para muslimin dan muslimah, mukminin dan mukminah agar merasa bahagia di hari raya itu. Alhamdulillah, semua terlihat merasa gembira dan bahagia, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari kesana kemari dengan mengenakan pakaian hari rayanya. Namun tiba-tiba Rasulullah saw melihat di sebuah sudut ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih. Ia memakai pakaian yang penuh dengan tambalan dan sepatu yang telah usang. Kemudian

Rasulullah

saw

pun

segera

bergegas

menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu. Rasulullah saw kemudian meletakkan tangannya yang putih sewangi bunga mawar itu dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu

Page 117


bertanya dengan suaranya yang lembut : “Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?”. Gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita : “Pada hari raya

yang

suci

ini

semua

anak

menginginkan

agar

dapat

merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah saw. Ia bertarung bersama Rasulullah saw saling bahumembahu dan kemudian ia meninggal dunia. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?”. Setelah Rasulullah saw mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang ia membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata: “Anakku, hapuslah air matamu… Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu…. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? …. Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu….

dan

Aisyah

menjadi

ibumu….

Bagaimana

pendapatmu tentang usul dariku ini?”. Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya. Masyaa Allah! Benar, ia adalah Rasulullah saw, orang tempat ia baru saja mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala gundah di hatinya. Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah saw, namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah katapun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda

Page 118


persetujuannya. Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah saw menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah saw yang lembut seperti sutra itu. Sesampainya di rumah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan dan rambutnya disisir. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya. Lalu ia diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya. Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan, lalu bertanya : “Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat begitu sangat gembira?”. Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya gadis kecil itu menjawab : “Akhirnya aku memiliki seorang ayah! Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan,

namanya

Fatimah.

Ia

menyisir

rambutku

dan

mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.” Rasulullah saw bersabda : ”Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah SWT akan mendandani/menghiasinya pada hari Kiamat. Allah Subhannahu Wata’ala mencintai hambaNya terutama setiap rumah hambaNya, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barangsiapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di surga." Allaahu a'lam bish shawabb... Subhannallah, begitu indah dan mulianya akhlak Rasulullah saw., yang sudah sepatutnya kita contoh dan tauladani.

Page 119


Cuplikan Kisah Seputar Mendidik Anak PERGI DARI RUMAH UNTUK MEMBANGUN RUMAH Ternyata 14 tahun itu begitu singkat. Baru saja kami melepas pemuda kami yang genap berusia 14 tahun untuk kembali pergi menuntut ilmu dalam meraih cita-citanya. Dalam grand design kurikulum sekolah rumah kami, kami memiliki target bahwa di usia 14 tahun, anak-anak telah membulatkan tekad mereka untuk memilih peran kekhalifahan yang lebih spesifik di muka bumi. Sehingga jelas, kemana mereka harus menuntut ilmu, kepada siapa mereka harus berguru, serta hal apa yang harus mereka rintis. Agak mendadak sebenarnya keputusan yang ia buat untuk "pergi" dari rumah. Ia yang bercita-cita menjadi ahli tafsir dan ilmuwan sains dalam bidang Marine Biology, sebenarnya saat itu tengah berjuang mempersiapkan ujian Cambridge. Diskusi-diskusi panjang yang kami bangun sejak ia berusia 10 tahun, serangkaian psikotes yang dijalani, serta pembicaraan yang lebih detail tentang rencana masa depan yang kami bicarakan selepas ia menghafal 30 juz Al-Quran, telah mengerucutkan rencana-rencana pendidikan dalam beberapa tahun kedepan. Sebuah nama universitas di negeri kangguru telah ada dalam benaknya. Berbagai persyaratan pun dibaca, sehingga jelas pada mata pelajaran apa saat ini ia harus belajar mendalam. Berbagai komunikasi dengan beberapa pihak calon maestro pun sudah mulai saya bangun. Karena dalam kurikulum keluarga kami, di usia ini anak-anak sudah mulai mengumpulkan fortofolio hidup mereka dengan belajar melalui magang, atau merintis usaha yang berkaitan dengan cita-cita mereka kelak. Ali pun tengah aktif membantu kami pada beberapa unit usaha kami yang kami bangun sebagai inkubator bisnis bagi anak-anak.

Page 120


Namun Allah berkehendak lain. Allah memiliki rencana terbaik yang kadang berbeda dengan rencana manusia. Kesempatan untuk mempersiapkan diri mengambil kuliah syariah ternyata datang lebih dulu dari semua itu. Ummi: "Ali, ummi mau tanya, Ali mau mempersiapkan kuliah ke Australia dulu atau kuliah syariah?" Ali: "Apa aja lah mi yang datang duluan" Ummi: "Kalau begitu yang datang duluan yang ini" Saya pun menyerahkan sebuah tulisan dalam handphone untuk ia baca. Ummi: "Aa mau? kalau Aa mau, mereka memperbolehkan Aa menuntut ilmu disana meski saat ini Aa belum memiliki ijazah. Aa coba saja datang dulu kesana nak. Insya Allah seseorang itu akan dimudahkan Allah sesuai dengan takdir hidupnya. Kalau jalannya memang harus kesana, ummi sama bapak mendukung saja". Lalu ia pun melihat tulisan pada kolom biaya (heheheh). Ali: "Tapi mi, uangnya?'. Ummi: "Insya Allah, kalo sudah rezeki, uang bisa dicari" Ali: "Oke mi, Ali mau". Proses itu secepat kilat dan begitu mudah. Selang beberapa hari saja ia telah resmi menjadi santri dalam sebuah lembaga pendidikan berbasis Al-Quran setara SMA. Sebagai manager pendidikan anak-anak, kami pun ikut mengalir mengikuti arus takdir Allah tentang apa yang terbaik bagi anak-anak kami. Ali yang bercitacita mengambil kuliah jurusan tafsir Al-Quran di Universitas Madinah harus kembali pergi dari rumah untuk menyiapkan bekal ilmu meraih cita-citanya. Malam itu ia sedang menyiapkan pakaian dan semua perlengkapan untuk menuntut ilmu. Tiba-tiba ia menghampiri saya yang sedang membaca buku sambil menyusui. Dengan terbata-bata ia berkata, Ali: "Ummi, I just realize that this home is not my home anymore. When I come here, maybe just for a few days. Aa baru sadar

Page 121


bahwa Aa bakal pergi lama, setelah ini Aa pun akan pergi kuliah". Mendengar ia berbicara sambil menahan tangis, saya pun menguatkan diri untuk tidak meneteskan air mata. Ummi: "Ali, pergilah dari rumah untuk membangun rumah, nak! Sebuah rumah di surga. Semoga kelak kita bisa berkumpul lagi disana". Ia pun kemudian memeluk saya lalu kembali ke kamarnya mengemas semua keperluannya. Setelah saya selesai

menyusui,

saya

merasa

pembicaraan

kami

masih

menggantung. Saya perlu menguatkan dirinya untuk tidak lagi ragu melangkah. Saya temui ia di dalam kamar yang tengah meneteskan air mata di atas bantalnya. Ummi: "Ali, majulah, nak! jangan ragu dan jangan mundur lagi. Menurut ummi, kemudahan ini sudah Allah datangkan untuk Aa. Kita sudah membangun diskusi panjang akhirakhir ini tentang cita-cita. Sekarang saatnya Aa pergi mengejar citacita. Pergilah, nak! tinggalkan rumah untuk membangun sebuah rumah. Sebuah rumah yang tak akan adalagi perselisihan diantara kita, tidak akan ada kemarahan, kekesalan apalagi pertengkaran". Lalu ia pun memeluk saya dengan erat, dan tumpah ruah air mata kami mengalir bersama. Ali: Ummi, maafkan Aa. Maafkan kesalahan Aa ya". Ummi: "Iya nak, ummi pun minta maaf atas kesalahan ummi selama ini sama Aa. Ayo nak jangan ragu! Ibumu telah terlahir kedunia ini hanya untuk melahirkan kamu. lalu beliau meninggal setelah melahirkanmu. Pasti Allah memiliki maksud tertentu. Lalu kemudian Allah datangkan ummi dalam kehidupan kamu yang ternyata begitu singkat saja. Pasti Allah punya maksud tertentu. Ternyata hanya 10 tahun saja ummi mendampingi kamu, tapi ummi berharap waktu pertemuan kita yang singkat ini sangat berarti dalam hidup kamu". Ali: "Insya Allah, ummi. sangat, ummi". Ummi: "Ayo nak, jangan ragu! pergilah dan pulanglah kembali saat kelak Aa bisa membuktikan salah satu kebenaran AlQuran dengan ilmu sains yang Aa miliki. Ummi berdoa agar dengannya orang-orang

kafir

berbondong-bondong

Page 122

masuk

islam

melalui


pembuktian itu. Jika Aa tidak menemui ummi lagi di rumah ini maka Aa bawa saja saat berziarah ke kuburan ummi". Lalu tangisannya pun semakin keras. Ummi: "Ummi pun baru sadar, bahwa ternyata 14 tahun itu begitu singkat sekali, nak. Semua anak akan pergi meraih cita-cita mereka. Seperti bapak dan ibumu dulu pergi meninggalkan rumah ke kota Batam. Juga ummi pun pergi meninggalkan rumah dan berkeluarga. Semua orang akan pergi dari rumahnya dan pada akhirnya memiliki kehidupan sendiri-sendiri" Ali: "Oh ya, mamah Dea juga pergi ke Batam, mi?". Ummi: "Ya, beliau sakit disana, diurus sendirian oleh bapak. Lalu kemudian pulang ke Bandung saat sudah semakin parah". Ali: "Jadi mi, sekarang Aa pergi, lalu kemudian teteh pergi, Shiddiq pergi dan semua pergi. Jadi ummi kembali sendiri dong di rumah ini cuma sama bapak". Ummi: "Ya nak, kehidupan memang begitu, seperti hari ini aki dan nin hanya tinggal berdua karena semua anak telah memiliki keluarga. Kelak kita semua juga akan sendirian di Alam kubur. Tapi yang penting kita memiliki ikatan cinta dan cita-cita. Maka meski kita berpisah ingatlah satu, Aa! Bahwa kita sedang membangun sebuah rumah untuk kembali kelak berkumpul bersama. Sebuah rumah yang abadi di surga, dan setelah itu kita tidak berpisah lagi". Pelukan pun semakin erat, air mata pun semakin membanjiri pipi kami. Ummi: "Ayo nak, jangan ragu! di atas usia 14 tahun, kapasitas ummi dan bapak sudah tidak cukup lagi untuk menjadi guru bagi Aa. Kita sudah membutuhkan sentuhan-sentuhan para ulama dan maestro lain untuk mendidik Aa. Dan sekarang Aa bobo ya, besok pagi sekali kita harus pergi". Sahabat, ternyata full time parenting itu begitu singkat. Tetapi masa singkat itu adalah fondasi yang utama. Itu adalah masa mengenalkan anak kepada Tuhannya sehingga ia mengerti apa yang diinginkan Sang Penciptanya terhadap dirinya. Itu adalah masa mengenalkan

anak kepada

Rasulullah

Page 123

SAW

sehingga

ia

tau


bagaimana mengejar keinginan Allah swt terhadap dirinya sepanjang hidup di dunia. Itu adalah masa menyiapkan seorang anak menjadi seorang mukallaf ketika akil baligh tiba. Itu adalah masa membangun konsep diri dan konsep hidup seorang anak yang akan mewarnai kehidupannya. memahami

Itu

tujuan

adalah

masa

hidupnya,

mengantarkan

tujuan

penciptaan

anak dirinya,

sampai serta

membangun cinta-cita masa depannya. Itu adalah masa inkubator bagi seorang anak sebelum ia terjun langsung dalam kehidupan nyata. Itu adalah masa membangun imunitas diri dalam seorang anak sampai ia mampu membedakan jalan fujur dan jalan taqwa. Itu adalah masa merawat dan menjaga fitrah kebaikan dalam diri seorang manusia agar sepanjang hidupnya ia senantiasa mencintai dan memilih kebiakan. Itu adalah masa membangun kepribadian manusia pembelajar dalam dirinya sehingga apapun cita-cita dan tujuan hidunya, ia akan senantiasa belajar dengan penuh semangat dalam meraihnya. Itu adalah masa melatih kemadirian dan kecakapan hidup serta kemampuan dalam memecahkan persoalan sebagai bekal dalam menyusuri kehidupannya.Itu adalah masa mengenal potensi bawaan yang Allah ciptakan khusus pada dirinya, sehingga kita dapat membimbing dan mengantarkan dirinya menuju panggilan hidupnya. Waktu itu begitu singkat. Kita akan begitu menyesal bila melewatinya tanpa keseriusan saat satu per satu mereka pergi meninggalkan rumah kita untuk meraih mimpi mereka. Kerepotan mengasuh itu ternyata tak lama. Yang lama adalah hasil panen yang akan kita petik di masa kerepotan itu. Full time parenting itu ternyata begitu singkat. Setelah itu kita hanya menjadi penasihat pribadi mereka sepanjang masa. Maka lewatilah masa ini dengan penuh keseriusan, dan kelak akan tiba masanya kita bisa serius untuk kembali mengejar mimpi pribadi kita dan secara serius mempersiapkan kematian terbaik kita.

Page 124


Dari yang akan ditinggalkan dan meninggalkan Sebagaimana tulisan yang dikirim oleh Kiki Barkiah, Batujajar, Jawa Barat melalui WA. Kekuatan doa seorang ibu kepada anak-anaknya juga obat yang paling ampuh dalam rangka membentuk kepribadian akhlak yang mulia bagi anak-anak kita. Kisah nyata berikut ini penuh dengan pembelajaran bagi seluruh kaum ibu, bahwa betapa dahsyatnya doa seorang ibu yang ridho terhadap anak-anaknya dan selalu mendoakan mereka dalam sholat-sholatnya. Inilah cuplikannya. Copas dari group FB *Dahsyatnya Do'a Seorang Ibu Kepada Anaknya* SEORANG psikolog yang amat populer di Kuwait, *Dr Fauzia Addabbus*, pernah menulis di Twitter tentang rahasia-rahasia doa seorang ibu jika tiap malam dia mendoakan anak-anaknya, dan ternyata efek dari tulisan di Twitter itu telah mengubah jalan hidup banyak orang. Aku bersumpah demi Allah wahai setiap ibu, agar jangan tidur tiap malam sebelum engkau memohon pertolongan Allah dan mengabari-Nya bahwa engkau ridha atas anak-anakmu seridharidhanya, angkat kedua tanganmu sambil menyebut satu persatu nama anak-anakmu dan mengabarkan kepada-Nya bahwa engkau ridha atas mereka masing-masing. Inilah doanya, *Allahumma inni asyhaduka annii radhyatun ‘an ibni (sebut nama anakanakmu satu persatu) tamaamar-ridha wa kamalar-ridha wa muntaharridha, fallahumma anzil ridhwanaka alaihim biridha-ii ‘anhum*. Artinya:

Page 125


*“Ya Allah, aku bersaksi kepada-Mu bahwa aku ridha kepada anakanakku( anu bin anu, sebut satu persatu nama anak.....) seridharidhanya, ridha yang sempurna dan ridha yang sepenuhnya. Maka turunkan ya Allah keridhaan-Mu kepada mereka demi ridhaku kepada mereka.”* Beberapa waktu berselang, Fauzia dikejutkan oleh seorang ibu yang berkata, bahwa dia telah mengubah kehidupannya secara total, sekarang dia merasa dalam kenikmatan yang tak terlukiskan karena akibat doa itu terhadap dirinya dan anak laki-lakinya yang berumur 22 tahun. “Sejak

kelahiran

anakku

itu,

aku

hidup

dalam

penderitaan karenanya. Dia tak pernah salat dan bahkan jarang mandi, dia

sering

berdebat

panjang

denganku,

dan

tak

jarang

dia

membentakku dan tidak menghormatiku, walaupun sudah sering aku mendoakannya. Maka ketika membaca twittermu, aku berkata: “Mungkin

omongan

ini

benar?

tampaknya

masuk

akal?

dan

seterusnya. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba melaksanakan anjuranmu, walaupun aku tak yakin bahkan mentertawaimu. Setelah seminggu, nada suara putraku kepadaku mulai berubah, dan pertama kali dalam hidupku aku tertidur dalam kedamaian. Namun demikian aku masih ragu. Kemudian kudapati putraku mandi, padahal aku tak menyuruhnya. Minggu kedua dan aku terus mendoakannya sesuai anjuranmu. Putraku itu membukakan pintu untukku dan menyapaku, “Apa kabar ibu?” dengan suara lembut yang tak pernah kudengar darinya sebelum itu. Aku gembira tak terkira walaupun aku tak menunjukkan perasaanku kepadanya sama sekali.

Page 126


Suatu ketika, pada waktu yang lain aku menelepon di ponselnya, dan dia menjawabku dengan nada yang berbeda dari biasanya : “Bu, aku di samping masjid dan aku baru akan salat waktu ibu meneleponku.” Aku tidak mampu menahan tangisku, bagaimana mungkin dia yang tak pernah salat bisa mulai salat dan dengan lembut menanyaiku apa kabar? Tak sabar aku menanti kedatangannya dan segera kutanyai sejak kapan engkau mulai salat? Jawabnya; “Aku sendiri tak tahu bu, waktu aku di dekat masjid mendadak hatiku tergerak untuk salat. Sejak itu kehidupanku berubah 180 derajat.” Anakku tak pernah lagi berteriak-teriak kepadaku dan sangat menghormatiku. Tak pernah aku mengalami kebahagian seperti ini walaupun aku sebelumnya sering hadir di majelis-majelis zikir dan pengajian-pengajian.” Demikian dahsyatnya, ridha dan pentingnya doa seorang ibu. Karena beratnya kehidupan sehari-hari, seringkali seorang ibu melupakan ridha dan doa untuk anak-anaknya, sering juga dia menganggap bahwa pusat-pusat bimbingan psikologi adalah jalan lebih baik untuk perkembangan anak-anaknya; padahal justru ridha doa ibu adalah jalan tersingkat untuk mencapai kebahagiaan anakanaknya di dunia dan akhirat. Jangan pernah bilang: “Ah anakku masih kecil, ngapain didoakan?” Bagaimana jika engkau menunggu mereka makin besar dan dewasa, dan menjadi tua, di saat mereka lebih butuh akan doadoamu, padahal mungkin waktu itu engkau sudah di haribaan Ilahi? Jadi doakan mereka mulai sekarang, dan jadilah orang yang bermurah hati dengan doa-doamu untuk mereka. Allah Subhannahu wata A’la telah mengaruniai para ibu sebagai wasilah bagi anak-anak dalam hubungan mereka dengan Allah Subhannahu wata A’la melalui ridha dan doa untuk mereka.

Page 127


Seorang ibu bisa melakukannya kapanpun dia mau. Ketuklah pintu-Nya kapan saja, Allah Subhannahu wata A’la tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur.

REFERENCES

Page 128


Http://dadcando.com/default_MAKING.asp?project=Env_SMILEY&cata gory=Envelopes&lhs=Envelopes Artikel www.KonsultasiSyariah.com Catatan Al Akh Abu Muhammad Herman. [Dari Majalah Elfata dengan sedikit penyesuaian pada beberapa kata]. http://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=342475750174 http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2017/01/05/2017-kualitaspendidikan-diharapkan-membaik-389774 http://psychology.binus.ac.id/2017/02/17/rendahnya-kualitaspendidikan-di-indonesia/ http://regional.kompas.com/read/2016/07/14/19152391/guru.yang.cubit .murid.dituntut.hukuman.6.bulan.penjara Sumber:

https://muslim.or.id/1282-dahsyatnya-sedekah-di-bulan-

ramadhan.html Sumber:

https://almanhaj.or.id/4089-berkata-benar-jujur-dan-jangan-

dusta-bohong.html Sumber: https://muslim.or.id/20835-pendidikan-anak-tanggung-jawabsiapa.html http://menatahidup.com/kisah-musa-anak-ajaib-sang-hafidz-cilik/ Sumber: tang

https://muslim.or.id/2448-menjalin-cinta-abadi-dalam-rumah-

Sumber:

https://muslim.or.id/2448-menjalin-cinta-abadi-dalam-

rumah-tangga.html http://www.jawapos.com/read/2017/05/14/129868/kisahmengagumkan-naufal-raziq-bocah-aceh-penemu-energi-listrik-daripohon-kedondong https://www.facebook.com/notes/perjalanan-hidup-cita-dan-cinta/kisahseorang-anak-bisu-yang-soleh-dengan-ayahnya/262607850463432/

Page 129


https://www.facebook.com/budi.haditirto.1/posts/1164330207030386 http://stai-ali.ac.id/akademik/sistem-pendidikan/prinsip-pendidikan/ https://almanhaj.or.id/2678-garis-besar-pendidikan-pada-masasalaf.html

VII. BIODATA PENULIS

Page 130


Nama

: Delta Nia, S.Pd, M.Pd

Tempat/tanggal/lahir

: Pekanbaru, 12/02/1972

NUPTK

: 7544750653300002

No. KTA IGI

: 201609110000005

Status keanggotaan IGI diProvinsi/Kab/Kota

: Ketua Wilayah Provinsi Riau

Unit tugas

: SDIT Al Ittihad Rumbai-Pekanbaru-Riau

Alamat

: Jl. Kartika Indah Komp. Bumi Rumbai Blok. A2.2 Umban Sari-Rumbai - Pekanbaru– Riau

Delta Nia

adalah seorang guru yang sekarang masih aktif

mengajar di sebuah Lembaga Swasta yaitu YKPI Al Ittihad (Yayasan Kesatuan Pendidikan Islam) unit SDIT. Lulusan terbaik di Program Pasca Sarjana (S2) Manajemen Pendidikan di Universitas Riau pada tahun 2013. Beliau juga seorang Asesor Akreditasi Sekolah SD/MI Provinsi Riau tahun 2016 – 2021. Sudah banyak menghasilkan berbagai macam jenis tulisan, penelitian tindakan kelas, best practice dan lain-lain yang sudah dipublikasikan di media cetak maupun elektronik. Warna tulisan lebih banyak berisi tentang hal-hal yang berhubungan dengan moral, karakter, dan nilai-nilai keislaman. Tulisan artikel yang dipublikasikan sebagian besar adalah artikel pendek sekitar 500 kata, dan artikel panjang sekitar 1000-1200 kata. Saat ini diberi kesempatan oleh Organisasi Ikatan Guru Indonesia (IGI) untuk bisa menerbitkan tulisan-tulisannya dalam karya buku. Di sela-sela waktu senggang dalam melaksanakan tugas di luar maupun di sekolah, selalu menyempatkan diri untuk menulis tentang hal apa saja yang berkaitan dengan siswa, alam, karakter masyarakat maupun kondisi pendidikan yang ada di sekitar kita.

Page 131


Page 132

Book menggagas moral (delta)  

Delta's book is about moral. Please Get it more!

Book menggagas moral (delta)  

Delta's book is about moral. Please Get it more!

Advertisement