Page 1

No. 04 - FEBRUARI 2014

www.dlajah.com


CONTENT 04 FEBRUARI 14

NO

04 CHIEF EDITOR HIM

DEWAN PENASEHAT

PENGEMBANGAN BISNIS

AKHMAD HADIAN LUKITA DION LUTVAN PRAMUDYO

anggun nugraha SUNARYO KUSUMO

KEMITRAAN

TATA LETAK & DESIGN

MIKHAEL SEBAYANG

abdul aris mustaqin

SOCIAL MEDIA

FOTOGRAfER

EKO JUSMAR

MOwELBLACKPACKER

WEBSITE MASTER NUR KHAFIDL

ASISTEN CHIEF EDITOR ROSALINA WATI

ADMINISTRASI DAN KEUANGAN ida siti nuraida

Dlajah

@dlajahmagz

@Dlajah

REDAKSI DAN KEMITRAAN JL. KYAI GEDE UTAMA NO. 12 BANDUNG 40132 PHONE. +62.22.2501925 - FAX. +62.22.2516752

03 03

15 10 MEMETIK LAUT KONDANG MERAK

Santap Siang

di Kampung Naga Meresapi Kesahajaan dan Kedamaian


+ TRAVELLUR

04 Teks: Anggun

D

ijemput oleh Mario Iroth, saya tak berharap akan memiliki kesempatan besar untuk memimpin touring kecil, sementara Mario ada di belakang motor saya. Mario Iroth ialah seorang motivator muda, philanthropist, dan pengendara motor berpengalaman asal Manado yang berdomisili di Bali. Ia telah menyisir hampir semua jalan raya dan jalan kecil di Pulau Jawa, Sumatera, hingga negara-negara di Asia Tenggara. Bulan Juni 2014 nanti, ia berencana menyapu habis jalanan di timur Indonesia demi pendidikan anak bangsa.

Nugraha Phot o: MowelBlac

kPacker


05

Sabtu pagi, 11 Januari 2014 lalu, Mario sampai di Bandung setelah bertolak dua hari sebelumnya dari kediamannya di Denpasar, Bali. Kami pun akhirnya bersua kembali di hadapan Gedung Sate Bandung yang terkenal itu. Ya! Sebelumnya kami sempat duduk bersama di Museum Renaissance Antonio Blanco, di Ubud, Bali. Kami berbincang soal petualangan sebagai backpacker, traveler, penulis, dan akhirnya berbagi pengalaman dan kegiatan bantuan untuk sesama manusia di tempat lain. Di satu titik, akhirnya kami bertemu sebagai sesama petualang berkendara motor. Saat di Ubud, Bali, saya tengah menyelesaikan penyusunan buku tentang museum yang saat ini dikelola oleh Mario Blanco, putra sang maestro lukis Antonio Blanco, yang meraih kehormatan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, yang disebut CIPTA Award untuk kategori kebudayaan tahun 2013. Nama depan yang sama memudahkan saya untuk selalu mengingat dua orang ini, di antara orang-orang paling hebat yang saya temui tahun 2013 lalu.

Mario Iroth dikenal dalam dunia maya sebagai Mario Wheel Story. Ia berkendara motor untuk tujuan yang ia ingin raih, “Menjelajahi mimpinya�. Hingga kini, kami pun masih menggali apa saja yang ada dalam relung impian seorang Mario. Dari matanya, ada sisi kemanusiaan yang besar. Dari tutur katanya, ada pengalaman yang ia tularkan menjadi pengetahuan. Ia polos dari segala sisi tetapi penuh aura positif.


Sebelum berangkat dari Bandung, kami bergambar di depan Gedung Sate bersama, dan ketika itu, Mowel Blackpacker yang juga menyukai perjalanan dengan motor, turut hadir dalam tour kecil ini. Ibrahim Tukang Touring Kuliner, anggota Nusantaride, pun hadir menyambut Mario di depan Gedung Sate. Nusantaride ialah sebuah forum pengendara motor Indonesia. Anggota-anggotanya sengaja mengundang Mario sebagai pembicara di Ujung Kulon, Banten untuk berpartisipasi, saya dan Mowel Blackpacker mengantarkan Mario Wheel Story ke Banten dari Bandung.

06

Karena lebih mengenal jalur Bandung – Sukabumi – Banten, saya memimpin di depan. Kehormatan untuk berada di posisi tengah kami berikan kepada Mario, dan Mowel menjadi sweeper di belakang. Mario rasanya tahu kalau Jawa Barat adalah salah satu provinsi terpadat di Indonesia. Dengan jumlah kendaraan bermotor begitu banyak memadati setiap jengkal jalur perjalanan, perjalanan Bandung – Sukabumi kami tempuh dalam waktu 3 jam. Jangan tanya berapa cepat atau lambatnya kami mengatur besutan motor di jalur kosong dan juga sesak di banyak titik macet. Masih kuat dalam ingatan, Bandung hari itu sudah tiga hari berturut-turut diguyur hujan dengan angin ribut setiap pukul 15.00 WIB. Pada jam itu, kami sudah selesai menyantap makan siang kami di sebuah rumah makan Sunda di Sukabumi, 95 km dari Bandung, saat hujan semakin deras. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Sawarna dalam keadaan kuyup. Jas hujan sudah kami kenakan sejak di Bandung karena sepanjang perjalanan kami, hujan tak pernah lama meninggalkan.


Franchise fast food terkenal pun kini bersandingan dengan rumah makan seafood yang dahulu seolah penguasa. Pelabuhanratu, 60 km dari Sukabumi, kini benar-benar sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi, tidak seperti beberapa dekade saat pembentukannya yang ditinggalkan pegawai pemerintah daerahnya. Kantor pusat pemerintahan yang dahulu seperti kompleks kota mati, sekarang telah berbinar, penuh gairah dan ramai dengan aktivitas. Rendezvous kami hari itu ialah Pantai Sawarna, Banten. Setelah menyuapi tangki bensin, kehormatan berada di posisi leader kami berikan pada Mario Wheel Story. Dari tarikan gas pertamanya sudah terasa, ada semangat lain. Sosok Mario yang masih muda, bersemangat, dan memiliki impian yang begitu nyata di dalam benaknya untuk berbagi pengalaman dan ilmu kepada siapa pun, sangat menginspirasi untuk menancap gas walau bertatap wajah dengan bala. Dari kecepatannya di jalan gelap, tertangkap keingintahuannya yang tak pernah dipendam. Ia rubah rasa ingin tahunya menjadi pengetahuan dan keterampilannya. Termasuk caranya mengendarai sepeda motornya yang ramping dan kokoh berkapasitas mesin 150 cc keluaran pabrik Kawasaki, ia perlihatkan sehingga tak mudah untuk bisa tetap menempel di belakangnya. Jalan berliku. Aspal licin bercampur kerikil sangat berbahaya di setiap tikungan. Hujan deras membawa batuan kecil di permukaan tanah perkebunan ke tengah jalan karena tak adanya sistem drainase yang baik di luar kota Sukabumi. Jalur yang kami lalui biasa digunakan para pengendara lain, yaitu Sukabumi – Cikembar – Ubrug – Warung Kiara – Bantargadung – Bojonggalih – Cidadap – Citarik – Pelabuhanratu. Pukul 17.00 WIB kami tiba di Kota Pelabuhanratu yang sudah sangat berbeda bila dibandingkan dengan keadaannya 10 tahun lalu saya menghampirinya. Jalannya lebar dan penuh dengan bangunan toko yang tak berbeda dengan kota besar lainnya.

07


08

Beberapa kali saya dan Mowel Blackpacker harus mengalami skidding saat tikungan berkerikil kami belah dengan kecepatan tinggi. Mario dengan KLX 150-nya tetap stabil dengan kecepatan yang tak diturunkan. Roda miliknya berbahan soft compound sehingga motornya tetap mengunci di atas aspal basah. Persiapan dan perencanaan yang matang langsung dapat kami tangkap dari caranya melampaui segala rintangan di perjalanan. Lampu kabut Mario pun langsung bermanfaat saat tikungan berbahaya dan jalan berlubang yang tak terlihat jelas di bawah permukaan air lumpur tergenang menghadang Mario. Ia melaluinya dengan memilih jalan teraman, dan kami ikuti dengan bijak.


Tujuh jam kami memompa adrenalin sepanjang Bandung dan Pantai Sawarna. Hanya bertiga untuk selanjutnya berjumpa dengan ratusan pengendara motor yang sudah mengharapkan kedatangan Mario Wheel Story. Sebuah rumah di seberang muara sungai kami tempati bersama untuk mengeringkan pakaian dan semua perlengkapan perjalanan kami. Sawarna, kampung nelayan yang berubah menjadi kampung peselancar, dipadati wisatawan yang kehujanan. Puluhan mobil diparkir tapi kami tak tahu dimana keramaian berada. Waktu belum lagi menginjak waktu Isya tapi setiap orang sudah berada di bawah lindungan atap. Hanya tawa dan canda yang jelas terdengar dari luar, saat kami bergoyang menyeberangi jembatan gantung yang sempat mencekam nyali kami disaat adrenalin sudah hampir habis. Sebelum menenggelamkan diri di bawah selimut yang hangat, berjam-jam kami evaluasi perjalanan siang hari dan berbagi rasa takjub dan ngeri. Tiga gelas kopi panas sudah cukup banyak untuk menyeimbangkan suhu tubuh. Tujuan kami mungkin berbeda dalam beberapa jam yang telah dilalui. Mungkin di antara kami ada yang mengharapkan kepuasan, sebuah pelampiasan, sebuah pelarian, sebuah petualangan, sebuah pembuktian, atau sekedar pekerjaan. Akan tetapi, suatu hal yang pasti, semua tujuan itu bersatu dalam keinginan untuk menaklukan keraguan yang ternyata setipis ilusi. Kami mendapatkan keyakinan bahwa di saat kami memusatkan tekad dalam niat yang dijalankan maka tak satupun keraguan akan menghalangi, bahkan menghentikan kami! Sampai berjumpa lagi di perjalanan berikutnya.

Keep moving!


+ TRAVELLUR

MEMETIK LAUT KONDANG MERAK Teks & Photo: Yofangga Rayson | www.thelostraveler.com

10

B

agi sebagian orang, liburan dimaknai dengan satuan kuantitas ruang dan waktu. Semakin lama, semakin banyak yang bisa dilihat. Semakin banyak ruang dan semakin lama waktu, semakin bangga. Bagi yang punya waktu sedikit, berusaha memanfaatkan jadwal. Misalnya mengambil paket liburan kilat, mendapat penjelasan sekedarnya dari tour guide, melihat-lihat sebentar, berfoto-foto, membeli cenderamata lalu berangkat ke tujuan wisata berikutnya.


Bagi saya liburan lebih dimaknai dengan kedalaman kualitas penggunaannya. Berapapun waktu yang tersedia, entah itu sedikit maupun banyak, akan menimbulkan kesan yang mendalam selama dihabiskan dengan cara yang tepat. Garis pandang diubah dari sekedar melihat dan menikmati menjadi belajar dan memahami. Seperti yang akan saya ceritakan ini. Saat itu saya hanya memiliki waktu dua hari saja berkunjung ke Pantai Kondang Merak di Jawa Timur untuk menghadiri acara Grebek Suro. Sebuah ritual yang diadakan setiap awal bulan Muharram (Suro dalam penanggalan Jawa). Upacara tersebut merupakan bentuk ucapan syukur atas segala nikmat yang telah diberikan laut kepada masyarakat nelayan sekitar pesisir Pantai Kondang Merak. Sebenarnya ada banyak nama yang diberikan untuk menyebut acara ini, kadang Petik Laut, kadang Larung Sesaji namun intinya sama, bersyukur kepada kemurahan hati yang kuasa.

11


12 Hari sudah hampir usai melewati garis tengah malam ketika saya dan Hamid berangkat. Kami membelah dingin dituntun oleh rasi Orion yang menengadah ke Kondang Merak di Pantai Selatan. Perjalanan dimulai dari Malang yang bermandikan cahaya, diteruskan ke arah Kepanjen dan Sumbermanjing. Gradasi terang gelap ruang kota sangat kentara. Di daerah suburban seperti ini penerangan berpindah dari lampu ke langit yang bersih berbintang. Kami disambut ramah oleh masyarakat setempat ketika sampai di Kondang Merak. Kontras dengan suasana dingin, mereka begitu hangat dengan pendatang. Malam dihabiskan dengan bertukar cerita ditemani kopi dan api unggun. Ketika gerimis mulai mengganggu percakapan, kami memutuskan untuk memberikan sedikit lelap untuk tubuh. Berharap semoga besok cerah tanpa sedikitpun rintik hujan. Saat rekah pagi menjelang, saya dibangunkan oleh anak cahaya yang mengecup kulit. Tanah masih basah, embun-embun pulang kepada tiada. Mata sebenarnya masih enggan untuk terbuka namun bubuk kopi telanjur terserak di dasar gelas. Ketika didih air menggenangi, asap wangi mengepul, membuatku terpaksa duduk dan berbenah. Laut dan langit yang beradu biru di depanku, pagi dan segelas kopi menjadi begitu serasi, nikmatilah selagi hangat.


Saat sepuh nelayan memimpin doa, semua kepala tunduk mengamini. Suasana mendadak lengang. Mereka hikmah, hanyut dalam lantunan puji berbahasa jawa. Begitu usai, sesaji yang telah siap diarak menuju perahu. Semua bergegas, berlari, dan berebut untuk menaiki perahu yang akan mengangkut sesajian ke tengah laut. Acaranya memang sederhana, perahunya juga cuma dua tetapi semangat mereka meluap sampai ke angkasa. Perahu didorong dari pesisir, mesin dihidupkan, menderu-deru siap membelah ombak.

Semakin siang nelayan semakin sibuk, beberapa menyiapkan sesaji sementara yang lain mendirikan tenda dan mengatur musik tetabuhan. Saya membantu sebagian lain yang membuat umbul-umbul untuk dipasang di tiang kapal. Tamu banyak berdatangan, orang-orang semakin ramai. Ada yang menggendong bayi dan ada pula yang menggandeng kekasih. Semua bersiap menikmati acara yang dilakukan hanya sekali setahun itu. Tengah hari datang ketika Matahari menggantung di pucuk langit. Waktunya memulai acara. Ritual diawali bunyi gamelan yang terkesan mistis, lalu gendang ditabuh bertalu-talu, bonang berbunyi ngilu. Setelah itu para penari Jaran Kepang datang. Mereka menari, berputar, tidur, berlari seperti sedang kesurupan. Setelah usai acara dilanjut dengan sinden dan doa penutup.

13


14 Iring-iringan perahu berakhir di sebuah lokasi berair tenang yang nyaris tak beriak. Bayangan awan bergumpal terpantul di permukaan air yang seperti cermin. Kedua perahu berhenti sejenak. Dipimpin seorang sepuh nelayan, doa kembali dipanjatkan dan sesaji pelan-pelan diturunkan.

“Mugo-mugo kabeh nelayan slamet sak teruse�

teriakan syukur dan pengharapan menggema begitu sesaji jatuh dan hanyut dibelai oleh laut. Semua sesajian dilarung ke lautan. Sepintas tidak ada yang istimewa namun jika kita bisa sedikit merenung, sangat banyak nilai-nilai luhur tersirat dalam ritual ini.

Ada nilai kebersamaan dan pengekalan sifat kekeluargaan yang jelas tertanam. Gotong royong dan saling membantu antarnelayan untuk menyelenggarakan acara ini membuktikan bahwa manusia masih membutuhkan sesama. Grebek Suro juga mengajarkan untuk bersyukur atas apa yang telah diberikan alam kepada manusia. Sedikit persembahan pantas diberikan untuk laut yang selama ini telah menjadi ladang penghidupan. Semua nelayan meyakini bahwa dengan pendekatan persuasif kepada alam maka alam akan memberikan balasan kebaikannya.


+ TRAVELLUR

P

uluhan anak tangga yang saya turuni tampak meliuk rapi seakan ingin menyambut kami untuk menuruninya. Dari di kejauhan tempat tujuan kami pun sudah terlihat, yaitu Kampung Naga. Tujuan saya datang ke tempat ini bukan hanya ingin mengunjungi dan melihat rumah adat di sana namun juga berkesempatan santap siang bersama di salah satu rumah di Kampung Naga.

Saya excited!

Santap Siang

di Kampung Naga Meresapi Kesahajaan dan Kedamaian Teks & Photo: Philardi Ogi | www.mainmakan.com

Kampung Naga memang salah satu mahkota budaya pariwisata Jawa Barat yang berlokasi di Kabupaten Garut. Hampir semua orang di Garut pastinya mengetahui kampung ini. Kami ditemani Kang Ijad, salah satu Guide anggota HIPANA yang akan mengantar dan menceritakan kepada kami mengenai Kampung Naga.

15


16

Setibanya di Kampung Naga, kami bertemu sekumpulan anak SD duduk berjejer rapi di pinggiran sungai. “Punten�, sapaku ketika melewati mereka, mencoba bersikap ramah kepada mereka yang melirik kami. “Mangga� jawab mereka sambil disertai tawa kecil. Kampung Naga memang terkenal dengan keramahan penduduknya. Masyarakatnya selain sudah biasa menerima pengunjung, juga diajarkan tata krama untuk menghormati orang lain dan tenggang rasa semenjak usia dini.

Saat makan siang tiba, kami pun menuju rumah ketua RT Kampung Naga, Pak Risman namanya. Kami disuguhi makanan yang dimasak langsung oleh ibu rumah tangga setempat. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari makanannya seperti ayam bakar, ikan goreng, sayur dan tempe. Akan tetapi, karena disantap dengan penuh rasa kekeluargaan maka rasanya luar biasa. Kami bersantap di ruangan tengah rumah sembari mendengar Pak Risman menjelaskan tentang budaya Kampung Naga dan kearifan lokal masyarakatnya.


Seluruh rumah di Kampung Naga seragam, beratapkan ijuk dan berdinding bilik anyaman yang dicat putih kapur. Terdapat 108 bangunan rumah di kampung ini, ditambah 3 bangunan umum berupa masjid, bale pertemuan, dan lumbung padi. Uniknya tidak ada satu bangunan yang dialiri listrik di kampung ini. “Apabila di sini ada listrik maka orang akan membeli barang elektronik, seperti kulkas dan tv (televisi). Takutnya nanti akan ada yang iri. Ketika ada yang membeli tv, terus tetangga sebelahnya pasti ingin juga membeli tv, bila sudah dibeli maka berikutnya kulkas (lemari es), terus tidak akan berhenti.� Ucap Pak Risman dengan logat bahasa Sunda yang kental. Masyarakat kampung naga membatasi diri terhadap modernisasi bukan hanya karena prinsip leluhur untuk melestarikan adat budaya namun juga untuk menjaga kerukunan hidup di kampung tersebut. Modernisasi yang kuat dengan unsur materi akan menyulut kecemburuan sosial yang akhirnya menjurus kepada gaya hidup yang mementingkan duniawi.

17


18

Sore hari ketika rombongan kami hendak pulang, di jalan kami menyapa penduduk Kampung Naga yang sedang bersantai di tepi sungai. Mereka tampak menikmati suara gemericik air dan hamparan sawah hijau memanjakan mata. Hal itu jelasnya memberikan isyarat bahwa kehidupan yang sederhana jauh lebih nyaman ketimbang mengejar kebutuhan materi dan mementingkan kehidupan duniawi. Sayangnya bagi kita, nilai budaya leluhur yang dicerminkan dalam keseharian Kampung Naga ini hanya jadi bahan tontonan saja. Padahal, kita bisa belajar banyak dari kesahajaan dan tenggang rasa yang kuat antarwarga di Kampung Naga.


DLAJAH-TRAVELLUR #04  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you