Issuu on Google+

No. 02 - NOVEMBER 2013

www.dlajah.com


NO. 02 - NOVEMBER 2013

T N E T CON 04

Melahirkan Buah Pikiran di Hotel Savoy Homann yang Bersejarah

CHIEF EDITOR HIM

DEWAN PENASEHAT

PENGEMBANGAN BISNIS

AKHMAD HADIAN LUKITA DION LUTVAN PRAMUDYO

anggun nugraha SUNARYO KUSUMO

KEMITRAAN

TATA LETAK & DESIGN

MIKHAEL SEBAYANG

abdul aris mustaqin WINDYASARI

SOCIAL MEDIA

FOTOGRAfER

EKO JUSMAR

MOwELBLACKPACKER

WEBSITE MASTER

10

RIZKI RUSDIWIJAYA NUR KHAFIDL

PENULIS ROSALINA WATI NENI IRYANI

andi abdul muhaimin

o

Grand Hotel Preanger

ADMINISTRASI DAN KEUANGAN ida siti nuraida

14 Dlajah

@dlajahmagz

@Dlajah

REDAKSI DAN KEMITRAAN JL. KYAI GEDE UTAMA NO. 12 BANDUNG 40132 PHONE. +62.22.2501925 - FAX. +62.22.2516752 www.dlajah.com

MAJAPAHIT

HOTEL

03


Melahirkan Buah Pikiran di Hotel Savoy Homann yang Bersejarah Teks & Foto: Anggun Nugraha

Q

Q“Hantu gunung.. hantu gunung.. pinjami aku 10 Perak!�,

celoteh seekor burung kakatua yang menyambut tamu. Benar! Bukan seorang bellboy atau doorman yang akan menyambut Anda saat memasuki hotel ini tetapi seekor burung kakatua yang menyerap perbendaharaan kata dari orang-orang di sekitarnya. Hotel apa yang membenarkan burung ketimbang doorman yang menyambut tamu?

A

nda pasti tidak tahu kalau Hotel Savoy Homann di Bandung menghadirkan keanehan ini. Akan tetapi, jangan harap bila esok lusa Anda akan disambut dengan panggilan ‘hantu gunung’ dan diminta meminjamkan uang 10 perak. Itu karena kejadian tersebut terjadi tahun 1930-an saat Hotel Savoy Homann masih berupa rumah berdinding papan, bilik, dan setengah tembok.

04

Sejarah hotel ini memanjang seperti jalan di depannya, Jalan Asfi Afrika. Jalan tersebut termasuk jalan tertua di Kota Bandung. Saat itu, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memerintahkan untuk membinanya sebagai jalan utama di Kota Bandung melanjutkan susuran pembangunan jalur Anyer dan Panarukan sejauh 1.000 kilometer. Jalan Asia Afrika saat pertama dibina diberi nama Grote Postweg, atau Jalan Raya Pos.


Sejarah mengungkapkan, setiap 4,5 kilometer di sepanjang jalan ini, dahulu didirikan pos penerima dan pengiriman surat maka dari itu jalan ini disebut Jalan Pos. Berkat jalan ini pula berikutnya Bandung pun perlahan menjadi favorit peristirahatan dan usaha perkebunan teh tuan-tuan dan nona-nona Belanda. Pada Oktober 2013, sebuah pertemuan akbar dihelat di hotel ini diprakarsai Kementerian Perindustrian dan Perdagangan RI. Seluruh peserta dari berbagai daerah datang ke Kota Bandung, dan Hotel Savoy Homann dipilih sebagai tempat yang paling tepat. Hotel yang sejak awal menutupi 1 blok lahan tanah dari tepi ujung Jalan Asia Afrika hingga tepi Jalan Dalem Kaum sangatlah luas namun perhelatan itu membuat lapangan parkir penuh sesak. Setelah berputar sekali lagi ke arah Simpang Lima, saya dan rekan kerja akhirnya mendapatkan sebuah ruang parkir tepat di dekat pintu pos parkir yang ramah dijaga satpam dan petugas parkir.

Doorman dan satpam yang selalu tersenyum menyambut kami dan mempersilakan masuk dan check in di reception desk yang dijaga petugas berjas merah tua. Setelah proses yang cepat, kami pun naik ke kamar 363 yang diberikan secara percuma untuk bekerja hari itu. Bila harus membayar, kami perlu merogoh Rp 1,2 juta per malamnya tetapi kebaikan Hotel Savoy Homann begitu berarti karena kami harus bekerja semalam suntuk.

Q

Q

Fasilitas lift ada 2 area. Satu di depan dan satu di tengah. Di depan diperuntukan untuk mereka yang akan memasuki kamar-kamar sisi utara termasuk kamar-kamar yang sempat dihuni Presiden Soekarno, Perdana Menteri India Pandit Jawaharlal Nehru, dan Perdana Menteri China, Cho En Lai, serta komedian legendaris dunia, Charlie Chaplin. Sedangkan lift di tengah diperuntukkan untuk kamar di sisi selatan yang sebagian menghadap kolam renang dan gedung-gedung art deco peninggalan bersejarah kota lama. Saya dan rekan senang memandangi lembayung menguning dengan view kolam renang saat petang tiba. Saya tahu, malam akan sangat panjang dengan pekerjaan sehingga menyempatkan untuk tidur siang sejenak. Bantal yang teramat empuk menenggelamkan dalam istirahat siang yang diperlukan untuk tetap terjaga sepanjang malam. Suhu udara disesuaikan hingga kamar tak terlalu dingin ataupun panas dengan pengaturan menempel di dinding. Televisi LCD 40 inchi tak sempat diyalakan karena istirahat ini terlalu penting untuk diganggu oleh acara apapun, termasuk program tv cable yang disediakan.

05


Sore hari saya terbangun dalam keadaan segar dan rekan mengajakku untuk berjumpa Ibu Melinda Dinangrit, public relations hotel ini. Kami berbincang-bincang sembari menghabiskan sisa malam selepas dinner yang bercita rasa. Restoran hotel begitu memukau. Garden Restaurant, itu adalah sebutan untuk tempat paling diminati tamu untuk duduk dan menikmati suasana gedung bersejarah ini. Dahulu area restoran ini berupa taman di tengah gedung yang terbuka dimana hingga sekarang masih tertanam pohon-pohon palem yang dihiasi lampu-lampu berbinar romantis. Lampion-lapion bergantung menghiasi temaram Garden Restaurant yang dikelilingi dinding-dinding bergaya art deco menjulang sehingga duduk di bawahnya seolah berada di suasana outdoor di negara Eropa.

Q

Chef dan cook serta pekerja dapur hotel ini adalah orang pribumi tapi sentuhan cita rasa makanannya begitu eksotis Eropa terasa pada bumbunya. Walau tak merasakan rijstafel seperti dahulu yang menjadi signature hotel ini nmaun saya tetap menikmati hidangan sampai sempat ada keinginan untuk menambah lagi gurame fillet tepung asam manis menyegarkan.

Kamar yang kami tempati cocok sekali bagi mereka yang memang bertujuan untuk bekerja dan beristirahat dalam suasana heritage dan MICE (meeting, incentives, conference, exhibition). Saya perlu banyak mengisi baterai laptop, kamera, power bank, dan juga smartphone. Tidak seperti hotel vacation yang biasanya minim colokan listrik, di kamar hotel ini tersedia colokan listrik di beberapa tempat sehingga kami tidak sulit mengisi ulang baterai gadget kami yang bertumpuk. Televisi kami nyalakan untuk menemani suasana diskusi dengan asupan berita terkini. Tirai gorden besar yang menutup jendela, kami buka dari ujung ke ujung sehingga binar lampu-lampu di luar memberikan inspirasi saat kami bekerja. Meja yang panjang kami manfaatkan untuk meletakkan laptop-laptop kami dimana kursi-kursi yang tersedia di ujung kamar kami geser di depan meja sehingga kamar hotel sekejap dikonversi menjadi ruang kerja yang teramat nyaman.

06


Hotel Bersejarah, Dulu dan Kini

D

ahulu, hotel ini hanya memiliki 80 kamar saja, sekarang ada 185 kamar yang siap dinikmati pebisnis atau pun keluarga yang hendak beristirahat di hotel heritage ini. Homann adalah nama pemilik pertama hotel ini dan itu dilekatkan dengan nama hotel yang berkali-kali dipindahtangankan pengelolaannya dari waktu ke waktu. Kata Savoy, menurut Ibu Melinda, dimungkinkan bermakna ‘tempat menginap’. Keluarga Homann berasal dari Jerman dan hijrah ke Bandung tahun 1870 untuk menjadi bagian dari pemanfaat hukum agraria yang diberlakukan oleh Hindia Belanda saat itu.

Q

Q

Bila masuk lobby, Anda akan melihat di tepi kanan pintu masuk sebuah mural yang didominasi peta Pulau Jawa. Di atasnya akan terlihat jalur kereta api di pulau ini yang melintas di zaman hotel ini berdiri. Apa hubungan mural jalan lintas kereta api dengan Hotel Savoy Homann?

dengan fasilitas mobil shuttle penjemput tamu dari stasiun kereta api ke hotel pada tahun 1930-an. Jadi, pelayanan shuttle bus hotel pertama di Bandung patut disandang oleh hotel ini. Itulah hubungan jalur kereta api dengan hotel ini. Di tahun 30-an, hotel ini dikelola oleh Fr. J.A. van Es, seorang hotelier dengan pengalaman pengelolaan hotel Des Indes di Batavia. Tahun 1937, ia merenovasi hotel menjadi bentuk yang hampir serupa dengan apa yang kita lihat sekarang. Renovasi dilakukan oleh bantuan arsitek A.F. Aalbers dan R. De Waal yang menyuguhkan lekukan gelombang samudera pada bangunan hotel dan tiang seperti halnya sebuah pancang layar dalam perahu. Renovasi berakhir tahun 1939. Di Bandung, hanya 2 bangunan yang memiliki gaya ini; Hotel Savoy Homann, dan Gedung Bank Jabar-Banten yang dulu disebut Gedung Bank Dennis. Tentunya, arsiteknya adalah A.F. Aalbers juga. Gedung-gedung ini disebut sebagai gedung kembaran hasil Aalbers.

07


Masuk Kamar Para Pemimpin

P

agi-pagi saya mencoba menghirup udara segar di depan hotel. Ada sebuah mobil antik yang menghiasi hotel ini. Mobil ini berjenis Citroen Rosalie Familie 1932. Konon, mobil ini dibuat sebagai replika mobil yang digunakan oleh Presiden Soekarno dahulu. Nampaknya, setiap orang di hotel ini tahu banyak tentang sejarah hotel.

Setelah menikmati sarapan pagi dan mengenal sekeliling hotel dan gedung-gedung bersejarah di sekitaran Gedung Merdeka yang digunakan sebagai tempat dilangsungkannya Konferensi Asia Afrika tahun 1950, saya diajak Bu Melinda melihat kamar 244 yang ditempati Presiden Soekarno tahun 1950. Sekarang kamar ini dibuka sebagai sebuah President Suite, dan untuk siapapun yang mau menginap di dalamnya. Tarif menginap kamar tersebut dibuka pada harga Rp 4,5 juta per malam dimana di dalamnya terdapat 1 kamar tidur utama dan 1 kamar tidur cadangan, serta kamar tamu yang mewah, antik sekaligus anggun sebagai sebuah kamar bersejarah. Kamar ini memiliki kamar mandi mewah dan luas.

08

Q

View dari kamar tamu, Anda dapat melihat Jalan Asia Afrika dan

Gedung Merdeka hingga menara Mesjid Agung dan BRI Tower di seberang Alun-alun Bandung. Kamar ini berada tepat di ujung bagian gelombang samudera pada desain bangunan karya Aalbers. Di atas dan di bawahnya, terdapat kamar dengan jenis yang sama, yaitu President Suite. Nehru sempat tinggal di lantai 1 di kamar 144, dan Cho En Lai di lantai 3 kamar 344.

Menurut penjelasan Bu Melinda, RHM. Saddak sempat mengambil alih pengelolaan dari pengelola sebelumnya Fr. J.A. van Es dan istrinya. RHM. Saddak adalah pemiliki Saddak Emco yang merupakan pemilik pribumi pertama hotel ini sebelum diambil alih pengelolaannya oleh Bapak Rukhiyat dari Panghegar dan sekarang oleh group Bidakara. Sebelum check out, kami berjumpa sekelompok wisatawan. Mereka tampak terpesona dengan keberadaan hotel bersejarah ini. Nyatanya memang Savoy Homan adalah aset wisata Bandung dan sudah semestinya saat wisatawan menyambangi kota ini maka perlu menyempatkan diri menengok dan menginap di sana.


Q

Q


o o

Grand Hotel Preanger W

Perpaduan Wajah Sejarah dan Kemewahan Hotel Modern

K

Teks : Rosalina Wati Foto: Aris Bronson

etika Anda hendak berlibur atau melakukan kunjungan ke sebuah kota maka mencari hotel tentunya sudah menjadi pertimbangan penting. Memilih hotel bukan sekadar mengukur kenyamanan dan fasilitasnya tetapi bagi banyak orang, hotel bersejarah menjadi pilihan menarik yang tidak untuk dilewatkan.

Nah, sebagai kota yang bertumbuh dari kawasan pemukiman sekaligus dirancang untuk pusat pemerintah kolonial Hindia Belanda maka tentunya Bandung sudah memperlengkapi dirinya dengan ketersediaan fasilitas penginapan atau hotel. Salah satu dari sekian banyak hotel bersejarah di Bandung maka pilihan yang melengkapinya adalah Hotel Preanger. Awalnya pada 1884, banyak priangan planters, yaitu pemilik perkebunan di Priangan (sebutan untuk wilayah Bandung dan sekitarnya) datang untuk menginap dan berlibur ke Bandung. Berbagai kebutuhan mereka diakomodasi oleh sebuah toko di Jalan Groote Postweg (sekarang Jalan Asia Afrika). Berikutnya, toko tersebut mengalami kebangkrutan namun pendatang yang ingin menikmati Bandung terus bertambah. Oleh karenanya, pada 1897 seorang Belanda bernama W.H.C. Van Deeterkom toko mengubah toko tersebut menjadi sebuah hotel dan diberi nama Hotel Preanger lalu tahun 1920 berubah menjadi Grand Hotel Preanger.

10


Apabila melihat sekilas saat ini mungkin Anda tidak akan menyangka bahwa bangunan hotel memikat mata tersebut dahulunya berarsitektur indische empire. Kini, wajah baru Grand Hotel Preanger hadir dengan keanggunan pola art deco di beberapa sisi dipadukan dengan kemewahan fasilitas modern. Meskipun merupakan salah satu hotel tertua di Bandung, Grand Hotel Preanger menyediakan seluruh kriteria yang Anda butuhkan dari sebuah hotel berbintang lima. Hotel ini memiliki 189 kamar yang terdiri dari 137 kamar superior, 46 kamar eksekutif, 5 kamar suite dan 1 kamar presidential suite. Untuk tempat bersantai, hotel ini menyediakan fasilitas seperti bar, pub, coffee shop, kolam renang yang dilengkapi oleh jacuzzi, spa, sauna dan taman. Fasilitas kebugaran (gym) lengkap dengan berbagai jenis alat kebugaran dan kesehatan. Sementara bagi pelaku bisnis, hotel ini akan menjadi pilihan yang tepat karena semua kebutuhan Meeting, Incentives, Conference, Exebitions (MICE) bisa ditampung di Ramayana Ballroom yang berkapasitas hingga 400 tamu. Ruangan tersebut tentunya dilengkapi juga dengan fasilitas elektronik berteknologi tinggi seperti kebutuhan dokumentasi melalui camera motorized, LED TV 60 dan DVD player and recording.

11


o 12

Nikmati ragam menu mulai dari lokal dan internasional pemanja lidah racikan chef profesional dan berpengalaman. Semua menu tersedia di beberapa restoran, cafĂŠ dan bar. Di Preanger Brasserie tersedia sarapan prasmanan mulai pukul 06.00 sampai 10.00 WIB. Untuk makan siang dan makan malam, tersedia serangkaian masakan Indonesia, Asia dan Barat dalam bentuk prasmanan. Pilihan lain ada Postweg CafĂŠ & Resto yang menyediakan berbagai minuman pilihan untuk menemani waktu bersantai Anda sambil menikmati senandung musik dan karaoke. Bagi Anda pecinta wine, temukan berbagai wine berkualitas di Preanger Lounge & Wine Corner. Di La Pattiserie Anda bisa menikmati kelezatan kue-kue buatan tangan kreatif warga Bandung. Untuk fasilitas pendukung lainnya antara lain fasilitas untuk orang berkebutuhan khusus, brankas atau peti besi, lantai eksekutif, layanan antar jemput bandara 24 jam, layanan penatu atau dobi, penitipan bayi, ruang keluarga, ruang merokok, salon, toko, tur dan wisata, wifi, parkir valet yang selalu siap melayani pengunjung. Untuk tamu lokal hotel sendiri rata-rata berasal dari Jakarta, sedangkan tamu internasional sebagian berasal dari Eropa, Amerika, Timur Tengah, Jepang, Korea, Taiwan, India, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Tercatat mantan Sekjen PBB, Butros Butros Gali pernah tinggal di hotel ini. Berkunjung ke Kota Bandung untuk berlibur atau kunjungan bisnis, Grand Hotel Preanger dengan sejarah, keunikan arsitekturnya, fasilitasnya dan pelayanan yang ramah siap menemani dan mengakomodasi semua kebutuhan dan kunjungan Anda.


MAJAPAHIT

HOTEL Romantisme Sejarah dan Keanggunan Arsitektur Klasik Teks : Rosalina Wati Foto: www.hotel-majapahit.com

B

icara tentang hotel bersejarah di Indonesia yang setia dengan arsitektur dan interior benuansa klasik maka salah satunya jelas perlu diarahkan kepada Majapahit Hotel. Hotel yang sudah berdiri sejak 1910 ini telah menyajikan dua hal tersebut dengan elegan dan lokasinya berada di jantung Kota Surabaya. Hotel yang dirancang oleh Sarkies bersaudara dari Armenia ini meski berdesain keseluruhan klasik namun fasilitas dan pelayanannya mengikuti perubahan zaman sehingga memegang predikat sebagai hotel bintang lima. Selain sebagai gedung dari sebuah hotel, bangunannya merupakan saksi sejarah pada peristiwa 19 September 1945 saat terjadinya Insiden Bendera yang dipimpin Mr. Pluegman. Ia mengibarkan Bendera Merah Putih Biru di puncak gedung hotel. Saat itu pejuang Surabaya melakukan perobekan warna biru bendera Belanda menyisakan warna merah putih menjadi bendera Indonesia. Selain itu, salah satu komedian legendaris asal Amerika Serikat bernama Charlie Chaplin tercatat pernah menjadi salah satu tamu di Majapahit Hotel tahun 1936. Ia menginap di kamar nomor 33 yang diberi nama Kamar Merdeka. Sebelum memiliki nama Majapahit Hotel, hotel ini sempat berubah nama antara lain LMS, Oranje Hotel, kemudian Hotel Yamato, lalu Hotel Hoteru dan

14

akhirnya pada 1996 berubah nama menjadi Mandarin Oriental Majapahit Hotel Surabaya yang dikelola oleh Mandarin Oriental. Sepuluh tahun kemudian namanya berubah menjadi Majapahit Hotel. Kini, hotel ini menjadi kenangan perjuangan bangsa Indonesia yang berpadu dalam romantisme dan keanggunan bangunan dan keberanian pejuang nasionalis anak bangsa. Arsitektur bangunan hotel yang berada di Jalan Tunjungan 65 Surabaya ini masih setia dengan gaya kolonialisme klasik, hampir 80% bangunan masih tampak asli. Hanya ada beberapa sisi bangunan yang mengalami renovasi namun tidak sulit untuk tetap mengenali sisi klasiknya yang terlihat dari lorong-lorong, pilar bangunan, desain jendela, bentuk kaca, susunan lantai dan perabotan yang didominasi oleh warna coklat tua di lobi, kamar dan beberapa fasilitasnya. Arsitektur dan interior hotel ini seakan membawa tamunya ke masa lalu. Majapahit Hotel memegang predikat sebagai hotel bintang lima dengan memiliki kamar sebanyak 143 tersebar di lantai satu dan dua yang terdiri dari 1 presidential suite, 89 executive suites, 40 garden terrace rooms, 9 majapahit suites, dan 2 apartements. Kamar-kamar tersebut didesain elegan sehingga siapapun yang menginap akan betah belama-lama tinggal kamar hotel.

13


Fasilitas hotel termasuk city club country club (Finna

golf and country club), massage theraphy and spa by Martha Tilaar, loby shop, fitness gym with aerobic studio, lapangan tenis, ruang lobi, area

bermain anak-anak, dan kolam renang. Fasilitas lain seperti 24 hours room service, baby sitting service,

air conditioning, sprinkle and smoke detector, individual safe, mini-bar, 3 telephone and 2 lines per room, internet high speed acces, voice mail, fax on request, cable TV, hair dryer, dan twice a day housekeeping service.

14

Di dalam kawasan hotel, Anda akan disambut taman-taman nan rapi yang dihiasi pepohonan hijau rindang. Menyaksikan pemandangan taman dari balkon kamar hotel mampu memberikan kenyamanan tersendiri. Keindahan taman hotel ini juga sering dijadikan sebagai tempat acara pernikahan. Secara keseluruhan Majapahit Hotel akan menghadirkan pengalaman romantisme sejarah serta pelayanan terbaik bagi pengunjungnya.

15



DLAJAH-HOTELIEURS #02