Morfologi, Etnisitas, Lingkungan dan Pembangunan: Kampung Pekojan dalam Perspektif Sejarah

Page 1

Mo r f ol og i , Et ni s i t a s , Li ng k ung a nda nPe mba ng una n;

Ka mpungPe koj a n da l a m Pe r s pe kt i fSe j a r a h Edi t o r : Pr o f . Ke ma sRi dwa nKur ni a wa n Pe nul i s : Gi a no r aAc hma d I kr a rRa k s a pe r da na Ki na y ungS y ar aAr a t uz a Ri f a ndi S e pt i a wa nNug r oho


Morfologi, Etnisitas, Lingkungan, dan Pembangunan; Kampung Pekojan dalam Perspektif Sejarah

Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Indonesia Depok - Jawa Barat 2020


Morfologi, Etnisitas, Lingkungan, dan Pembangunan; Kampung Pekojan dalam Perspektif Sejarah Penulis: Gianoora Achmad Ikrar Raksaperdana Kinayung Syafira Aratuza Rifandi Septiawan Nugroho Editor: Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D. Desain Sampul: Ikrar Raksaperdana Desain Isi: Ikrar Raksaperdana, Kinayung Syafira Aratuza, Gianoora Achmad Cetakan Pertama: 2020 Departemen Arstektur, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia Jalan Kampus UI, Kukusan, Beji, Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424 Telp/Fax : (021) 78888430 Email: humas.ftui@gmail.com

50 hlm.: 25 x 35,5 cm ISBN: 978-623-7882-01-5

Gambar Sampul: KITLV Collection


KAMPUNG PEKOJAN

Pengantar Editor Buku ini membahas Kampung Pekojan sebagai sebuah lingkungan terbangun sekaligus kebudayaannya yang terbentuk sejak abad ke-17. Pekojan lebih dikenal dengan sebutan Kampung Arab, meskipun dalam sejarahnya kampung itu menjadi tempat persinggahan berbagai kelompok etnis lain, seperti Moor dan Koja dari Gujarat, Hadhrami, dan Cina. Persilangan budaya di Kampung Pekojan terjadi melalui proses migrasi penduduk, dengan faktor pendorong maupun penarik yang berbeda di setiap periode waktu, seperti urusan perdagangan, pertalian saudara, kekerasan, dan dinamika sosial lain di kota Batavia. Jejak-jejak kebudayaan tersebut dapat ditelusuri melalui bangunan tempat ibadah yang masih tersisa di sana saat ini, yang sebagian bertahan dari sejak abad ke-17.

Buku ini ditulis oleh empat penulis dengan kacamata pengamatan dan pendekatan yang berbeda-beda, sebagai tugas mata kuliah Workshop Sejarah Arsitektur Lanjut tahun 2020, yang diampu oleh Prof. Kemas Ridwan Kurniawan. Setiap penulis merujuk pada referensi tertentu untuk membedah sejarah Pekojan dengan kerangka teoritik yang ada di dalam buku. Empat buku yang digunakan sebagai bacaan awal adalah The Code of The City: Standards and the Hidden Language of Place Making tulisan E. B. Joseph (2005), Indigenous Modernities: Negotiating Architecture and Urbanism tulisan Jyoti Hosagrahar (2005), Cities and Design tulisan Paul L. Knox (2010), dan jurnal Position 1. Grand Plans Journal on Modern Architecture and Urbanism yang berisi kumpulan tulisan Sarah Williams Goldhageb, Cor Wagenaar, Eric Mumford (2010). Merespon bacaan tersebut, secara garis besar, empat isu yang diangkat oleh para penulis adalah seputar struktur morfologi tersembunyi wilayah Pekojan, akulturasi etnis penduduk dan modernitas, permasalahan lingkungan hidup, dan perencanaan kota. Di bawah pendudukan kolonialisme Belanda, Pekojan pada mulanya hanyalah perkampungan liar di luar tembok Batavia. Seiring perkembangannya, Batavia melalui proses adaptasi terus menerus, menyesuaikan kebutuhan penduduk yang terus meningkat populasinya. Adaptasi Pekojan yang semula dilakukan secara organik kemudian bergerak mengikuti kaidah-kaidah perencanaan di bawah otoritas pemerintahan. Pekojan menjadi bagian mikro dari perkembangan kota, sebagaimana kota menyesuaikan diri terhadap keadaan Pekojan. Rifandi Septiawan Nugroho mendiskusikan struktur-struktur pembentuk morfologi Kawasan Pekojan berdasarkan riwayat infrastruktur kota Batavia 1870-1930, baik yang terjadi secara terencana maupun organik. Pembacaannya dilakukan dengan menyisir arsip peta, foto, dan jejak fisik yang masih tersisa di Kampung Pekojan. Dalam pengamatannya, Pekojan adalah sebuah permukiman pedagang yang hidup dari kanal-kanal yang ada di sekelilingnya. Kanal-kanal tersebut perlahan-lahan hilang seiring dengan perkembangan mobilitas kota setelah pusat kota dipindahkan ke selatan, peningkatan jumlah penduduk, dan usaha penyehatan lingkungan, sehingga menghasilkan karakteristik kawasan yang baru. Ikrar Raksaperdana menelusuri jejak arsitektur di Kampung Pekojan dengan melakukan pengamatan mendalam pada latar belakang masing-masing kelompok etnis yang ada di Kampung Pekojan. Dari komunitas Koja, Hadhrami, Tionghoa, hingga komunitas pribumi, menciptakan keunikan masingmasing dalam pembentukan ruang di Kampung Pekojan. Setiap komunitas juga memiliki landmark masingmasing di Kampung Pekojan dalam bentuk formal, seperti tempat ibadah, hingga non-formal, seperti ruang istirahat dan berkumpul. Melihat Kampung Pekojan yang kini lekat dengan suasana “Kampung Arab”, penelusuran jejak arsitektur berdasarkan perspektif setiap komunitas akan menjadi hal yang menarik untuk dibahas, sebagai cara untuk memperlihatkan harmoni antar etnis yang ada di Kampung Pekojan. Bagaimana masing-masing komunitas di Kampung Pekojan menciptakan jejak arsitektural? Bagaimana integrasi antar komunitas dalam konteks arsitektur? Merupakan pertanyaan utama yang akan diangkat pada tulisannya. Pengamatan Ikrar dilakukan melalui interpretasi terhadap peta, foto, dan teks sejarah.

i


KAMPUNG PEKOJAN

Sedangkan Kinayung Syafira Aratuza menelusuri desain kota yang dipengaruhi oleh aspek lingkungan dan masyarakatnya, khususnya di Kampung Pekojan, sebagai kampung kota yang memiliki image sebagai Kampung Arab, dengan kisah dan jejak-jejak sejarah yang masih bertahan hingga saat ini. Kinayung bertujuan membahas perubahan lingkungan dan cara bermukim masyarakat di Kampung Pekojan pada masa pendudukan Hindia Belanda yang dikomparasi dengan keadaan saat ini, dengan cara mengumpulkan sumber-sumber yang terdiri dari peta sebagai alat tektualisasi dari realitas spasial, penafsiran terhadap foto, gambar dan teks sejarah untuk memberikan gambaran bagaimana peristiwa masa lalu terjadi, serta observasi lapangan dan wawancara dengan masyarakat dan sejarawan Kampung Pekojan. Pemahaman mengenai lingkungan kota dan cara hidup masyarakat Kampung Pekojan akan dikaji menggunakan buku dari Paul L Knox yang berjudul Cities and Design (2010) yang membahas kota dan desain kota dengan melihat aspek keberlanjutan. Sehingga dalam kajiannya, Kinayung memfokuskan pada 3 aspek utama keberlanjutan yaitu lingkungan (sumber air bersih, sistem pembuangan air kotor, persampahan, penanggulangan kebakaran dan kesehatan), ekonomi dan sosial. Gianoora Achmad memulai disukisnya dengan melihat keterkaitan sumber daya alam yang dimiliki Asia, yang menarik minat masyarakat Eropa untuk melakukan aktivitas perdagangan. Sebagai dampaknya, penduduk Eropa yang datang membangun permukiman untuk tinggal permanen di negara Asia yang didatangi, kemudian merancang kota sesuai dengan kebutuhan mereka serta mengikuti gaya arsitektur dari negara asli. Dalam hal perdagangan, khususnya perdagangan yang melibatkan pribumi– masyarakat Indonesia dan lawan dagang– negara Eropa lainnya yang datang ke Indonesia, pemberontakan adalah resiko yang pasti terjadi. Menanggapi hal ini, Belanda menugaskan Simon Stevin untuk merancang sebuah kota ideal berdasarkan pemikirannya dengan tujuan mempermudah akses perdagangan dan upaya pertahanan diri. Dengan mengumpulkan data literatur, artikel, dan buku terkait, Gianoora berusaha memperlihatkan secara singkat perkembangan pembangunan pada masa kolonial dan bagaimana Kampung Pekojan menjadi salah satu bagian penting dari sejarah tersebut. Sebagai sebuah kumpulan tulisan yang ditulis dengan menggunakan empat pendekatan berbeda, tentu saja tulisan ini tidak berusaha menarik sebuah benang merah atas utas yang bersifat kronologis. Hubungan antar tulisan dengan kajiannya masing-masing terkadang saling melengkapi, mengulang, atau kontradiktif dengan kajian lainnya. Selain itu, teori-teori yang diberikan terkadang tidak serta merta dapat diterapkan secara langsung ke dalam studi kasus. Tentu saja, terkadang ada bacaan-bacaan lain di setiap bagian tulisan yang dimasukan demi memperkaya pembahasan dengan sudut pandang yang lebih dekat dengan pembahasan. Tiada gading yang tak retak, tulisan ini tentu saja jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun tetap dibutuhkan untuk pengayaan pemahaman kami berikutnya. Salam,

Jakarta, 12 Juni 2020 Editor

ii


KAMPUNG PEKOJAN

DAFTAR ISI Pengantar Editor Daftar Isi

i iii

Rifandi Septiawan Nugroho Perkembangan Batavia & Morfologi Kawasan Pekojan

1

Ikrar Raksaperdana Jejak Arsitektur Kelompok Etnis di Kampung Pekojan

15

Kinayung Syafira Aratuza Perubahan Lingkungan & Kehidupan Berkota di Kampung Pekojan Gianoora Achmad Perkembangan Pembangunan di Kampung Pekojan CV Kontributor

25 37 48

iii


KAMPUNG PEKOJAN

Perkembangan Batavia & Morfologi Kawasan Pekojan 1870-1930 Rifandi Septiawan Nugroho

Pendahuluan Lahirnya permukiman Pekojan di Batavia bermula dari jejaring kanal yang menghubungkan kawasan itu dengan teritori lainnya. Sejak abad ke-17, berbagai komunitas yang singgah di Pekojan--Moor, Koja, Hadhrami, dan Cina, atau golongan Timur Jauh (Vreemde Oosterlingen) yang digolongkan oleh pemerintah kolonial-mengandalkan kanal sebagai jalur transportasi utama sekaligus jalur perdagangan.[1] Salah satu yang menandainya adalah keberadaan permukiman komunitas Moor dari Persia dan Koja dari Gujarat, di sepanjang tepi kanal Moorsgracht, di sisi barat tembok Batavia, sejak tahun 1633.[2] Setidaknya hingga pertengahan abad ke-18, kanal-kanal masih mendominasi seluruh wilayah permukiman di Pekojan, sebelum pusat kota Batavia dipindahkan ke Weltevreden karena alasan kualitas lingkungan yang buruk. Memasuki pertengahan abad ke-18, pemerintah kolonial membongkar dinding batas kota, serta menutup sebagian besar kanal dengan tanah untuk membasmi wabah penyakit yang berasal dari saluran air yang kotor.[1] Orang-orang Eropa memilih berpindah ke selatan menjauhi kanal-kanal kotor yang dinilai menyebabkan wabah penyakit. Sejak saat itu daerah sekitar tembok kota Batavia hanya dihuni oleh orang-orang timur asing dengan mata pencaharian pedagang skala menengah dan pengecer, meskipun kegiatan komersial masih berlangsung di sana.[3] Kondisi kota yang semakin meluas berdampak pada lahirnya sistem transportasi baru, peningkatan jumlah penduduk, serta upayaupaya penyehatan lingkungan kota yang dilakukan pemerintah kolonial. Hal tersebut turut berdampak pada perubahan struktur dasar kawasan Batavia lama dan Pekojan. Tulisan ini mendiskusikan struktur-struktur pembentuk morfologi Kawasan Pekojan berdasarkan riwayat infrastruktur kota Batavia 1870-1930 secara garis besar, melalui pembacaan terhadap arsip peta, foto, dan jejak fisik yang masih tersisa di Kampung Pekojan.

1


KAMPUNG PEKOJAN Untuk memahami proses pembedahan tersebut, kerangka teoritik dari Eran-Ben Joseph di dalam bukunya The Code of The City: Standards and Hidden Language of Place Making (2015) digunakan sebagai referensi cara memahami asal usul struktur kawasan dalam sudut pandang perencanaan formal. Selain itu, elemen-elemen pembentuk morfologi kota yang digunakan Fumihiko Maki dalam City with a Hidden Past (2018) dipinjam sebagai perangkat untuk memahami sejarah kawasan secara organik.

Metode Menurut Joseph (2015), asal-usul standar perencanaan sebuah kawasan lahir melalui tiga tahapan. Pertama, melalui pengaruh kuasa pihak otoritas, baik secara kultural maupun institusional. Kemudian, berkembang ke dalam bentuk praktik profesi perencana kota yang tertuang ke dalam peraturan-peraturan. Seiring semakin tumbuh dan berkembangnya kota, masalah-masalah yang ada menuntut pemecahan persoalan yang lebih kompleks, seperti pembenahan masalah kondisi sanitasi, keamanan, dan efisiensi penggunaan lahan. Seperti ilmu genetika, struktur dasar kawasan berperan sebagai basis fungsi dan unit fisik yang mendasari perkembangan kawasan dari satu generasi ke generasi berikutnya.[4] Selain sudut pandang yang terencana, Fumihiko Maki (2018) mengurai elemen-elemen bentuk yang bekerja secara organik di dalam sebuah kawasan. Maki membaginya menjadi formalization of nature, streets and blocks, figure and ground, gaps, dan multiple focal point. Studi Maki mengambil pendekatan seperti yang dilakukan oleh urbanis Amerika Kevin Lynch. Lynch (1960) memfokuskan pengamatannya terhadap orangorang yang mengobservasi kota lalu mensintesisnya menjadi lima struktur utama paths, edges, districts, nodes, dan landmarks. Perbedaan antara Lynch dan Maki adalah sudut pandang terhadap elemen yang diobservasi. Jika Lynch berfokus pada gambaran permukaan (figure ground), Maki melihat lapisan-lapisan yang menyebabkan struktur tertentu muncul ke permukaan, seperti mikrotopografi, budaya komunitas, dan prinsipprinsip dasar yang spesifik di setiap tempat.[5] Memahami kawasan Pekojan membutuhkan pembedahan dari kaca mata dua teori tersebut, yang formal dan yang organik. Sebagai kota yang dikonstruksi dari perencanaan spasial kolonial, aspek-aspek separasi atas pertimbangan politik dan ekonomi tidak bisa dihindari. Pemindahan pusat kota, perkembangan sarana transportasi, dan usaha penyehatan lingkungan adalah bagian dari dinamika perkotaan Batavia abad ke-17 hingga ke-20. Secara organik, Pekojan mendapatkan imbas dari upaya-upaya pemerintah kota, yang kemudian membuat karakteristik kawasan Pekojan berubah

2


KAMPUNG PEKOJAN drastis dari waktu ke waktu. Bermula dari permukiman di tepian kanal, berkembang menjadi daerah padat penduduk.

Pembentukan Kampung dan Perubahan Lahan di Batavia Hingga akhir abad ke-17, penduduk Batavia masih hidup terpisah dengan kawasan penyanggah di luar tembok kota atau yang disebut dengan Ommelanden. Menurut Niemejer (2012), bertumbuhnya kampung-kampung berdasarkan kelompok etnis di kawasan tembok Batavia ketika itu bukanlah buah politik pemisahan kolonial, melainkan lebih merupakan kepanjangan dari pola pembentukan kampung yang sudah lazim dijalankan di Asia Tengara. Pengelompokan secara sukarela mempermudah pemerintah kolonial untuk melakukan pengawasan terhadap berbagai kelompok etnis tersebut. Akan tetapi, karena pembentukan kampung-kampung ini terjadi agak terlambat, maka pengawasan tetap bermasalah. Ribuan orang Jawa dan Bali berstatus bebas yang sudah bermukim di berbagai lahan persawahan dan kawasan hitan tidak dapat lagi disuruh pindah dan bermukim di kampung masing-masing.[6] Penggarapan lahan pertanian di kawasan Ommelanden mulai dilakukan sesudah Perang Banten berakhir (1656-1659). Sekitar tahun 1650, lebih kurang 4.628 hektar lahan sudah diberikan atau dijual oleh pemerintah kolonial kepada pihak swasta.[6] Seiring dengan semakin banyak lahan diberikan VOC kepada pihak swasta, semakin banyak penduduk warga Asia yang memilih tinggal di luar kota di rumah-rumah sederhana. Menghuni rumah di luar kota menjadi semakin menarik perhatian penduduk Asia karena sejak 1654 diberlakukan larangan membuat rumah di dalam kota dengan atap dari rumbairumbai untuk mencegah kebakaran.

3


KAMPUNG PEKOJAN

Gambar 1. Batavia dan wilayah sekitarnya, 1740. Wilayah Pekojan terletak di sisi barat tembok kota. Perkembangan kota ke arah tenggara mengikuti jalur Kali Ciliwung (direproduksi Adolf Heuken, Historical Sites of Jakarta, Jakarta, Cipta Loka Caraka, 1982)

Di kawasan Pekojan, di sisi barat tembok Batavia, kelompok orang-orang “Moor” bersama dengan orang Cina dan Melayu hidup berdampingan membentuk masyarakat perdagangan Asia.[6] Sementara itu, kota Batavia di dalam tembok tetap dijaga agar sesuai dengan perencanaannya untuk kalangan Eropa, dengan jaringan jalan, paritparit, dan kanal yang lurus, mengikuti perencanaan kota di Belanda. Setiap usaha golongan bangsa lain untuk mempengaruhi rencana kota dirintangi, mereka tidak diizinkan membangun dengan keinginan sendiri yang dapat mengganggu rencana umum. Sungai Ciliwung yang berkelok-kelok dialihkan dan digantikan dengan sebuah terusan lurus, Kali Besar (Groote River) memotong kota menjadi dua bagian.[3]

4


KAMPUNG PEKOJAN Kanal sebagai Denyut Nadi Kampung Pekojan

Gambar 2. Masjid Langgar Tinggi di tepi Kali Angke KITLV, 1920an

Secara geografis, Pekojan berada di pantai utara Batavia, tepatnya terletak di antara Jalan Bandengan selatan (Ammanusgracht) dan Jalan Pekojan (Bacherachtgracht). Di dalam peta Batavia 1874, sebagian besar jalan akses permukiman Pekojan dialiri oleh kanal-kanal yang bersumber dari dua sungai besar di sisi selatan dan timur kawasan. Bangunan-bangunan penting komunitas yang masih tersisa hingga hari ini berada di sekitar kanal-kanal itu, seperti Masjid Kampung Baru (1743) dan Vihara Dewi Samudera (1784) di sisi utara, serta Masjid Jami An-Nawier (1760) dan Masjid Langgar Tinggi (1829) di selatan (gambar 2).

Gambar 3. Sebagian besar jalan di kawasan Pekojan dialiri kanal-kanal irigasi (sumber: peta Batavia 1874, Leiden University; google maps, 2011)

5


KAMPUNG PEKOJAN Populasi penduduk muslim Moor, suku pendatang dari tanah Gujarat, di Pekojan meningkat drastis akibat migrasi setelah kekalahan kesultanan Banten di tahun 1684 dan pembantaian etnis Tionghoa di tahun 1740 . Hal ini berdampak pada meningkatnya aktivitas keagamaan yang akhirnya membuat mereka membangun Masjid Jami Kampung Baru di sisi utara, sebagai masjid kedua yang dibangun pada tahun 1744-1748. Sebelumnya, masjid Al Anshor menjadi masjid pertama yang dibangun orang-orang Moor pada tahun 1648, posisinya terletak di Gang Koja menempati bekas rumah sakit Cina.[7] Pada abad ke-19, populasi orang-orang Koja mulai menurun akibat terputusnya hubungan dagang dengan India saat pendudukan Inggris.[8] Posisi mereka di Pekojan mulai digantikan oleh orang-orang Arab Hadhrami. Orang-orang Hadhrami juga meninggalkan jejak bangunan-bangunan ibadah mereka berupa masjid Langgar Tinggi (1829) dan Masjid Jami An-Nawier (1760) di tepi Kali Angke di selatan. Menurut penuturan Habib Ali Assegaf, keberadaan masjid-masjid di tepi sungai di masa lalu selain sebagai tempat untuk beribadah, juga menjadi tempat untuk peristirahatan para pedagang yang melintas di Kali Angke. [8]

Gambar 3. Figure-Ground Peta Pekojan 1874 (kiri), 1897 (kanan), terlihat jaringan kanal yang tereduksi di akhir abad ke-19. Sumber peta asli: Leiden University.

Keberadaan bangunan-bangunan penting di sekitar kanal di kawasan Pekojan mengindikasikan posisi penting kanal untuk mobilitas penduduk dan komoditas yang menghidupi mereka. Melalui perbandingan peta Pekojan tahun 1874 dan 1897 (gambar 3), terlihat perubahan struktur jaringan mobilisasi kawasan Pekojan yang semula didominasi oleh jaringan kanal kemudian berganti menjadi jalan tanah. Meski begitu, aksis-aksis kanal yang membelah permukiman masih menjadi acuan jalan hingga tahun 1904. Sehingga bisa dikatakan bahwa pergeseran bentuk dari kanal menjadi jalanan

6


KAMPUNG PEKOJAN adalah salah satu bentuk transformasi arsitektur kanal sebagai jalur transportasi air menjadi jalur transportasi darat. Sebagai jaringan, kanal di Pekojan dapat dilihat sebagai penghubung, pemisah, dan orientasi. Sebagai alat transportasi dan perdagangan di masa awal, ia berperan sebagai penghubung penduduk Pekojan dengan orang-orang di luar wilayahnya.[6] Kanal-kanal itu menerus hingga ke pelabuhan Sunda Kelapa di utara, dan pada abad ke-18, disambung dengan kanal Molenvliet ke arah selatan. Pada perkembangannya, kanal-kanal besar di utara, timur, dan selatan menjadi pemisah yang mengeksklusikan kawan Pekojan dari kawasan lainnya (lihat peta tahun 1893). Kanal-kanal besar itu masih berperan sebagai sarana transportasi dan perdagangan, di saat bersamaan, juga sebagai selubung batas bagi Kampung Pekojan. Sedangkan sebagai orientasi, kanal yang masuk ke tengahtengah area permukiman pada tahun 1893, menandai kawasan tersebut dengan nama “Kampung Air”. Sehingga, dengan demikian jejaknya sebagai sumber air yang masuk ke tengah kampung dapat ditelusuri sebagai orientasi.

Pemindahan Pusat Kota Batavia ke Weltevreden dan Usaha Penyehatan Lingkungan Praktik rancang kota di Batavia mulai terbentuk secara profesional setelah terbentuknya Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum) pada tahun 1866. Institusi ini menangani pembangunan berbagai infrastruktur dan bangunan publik, yang merupakan gabungan dari beberapa pecahan institusi yang sudah ada sebelumnya, seperti dinas perairan, bangunan institusi pemerintahan, jalan, pembangkit listrik, pelabuhan, dan lapangan terbang. Keberadaan BOW berdampak besar terhadap perubahan fisik Batavia.[9] Memasuki dekade 1830an, Batavia mulai dikembangkan ke arah selatan, mengikuti pemindahan pusat kota ke Weltevreden yang dimulai sejak 1810. Alasan utama dipindahkannya pusat kota ke selatan karena semakin menyebarnya wabah penyakit menular seperti malaria dan kolera yang bersumber dari kanal-kanal dan tambak di sekitar pantai utara Batavia pada abad ke-18.[1] Di samping itu, air Sungai Krukut, Grogol, dan Pesanggrahan dibelokkan ke dalam kota, namun membawa banyak lumpur, mengakibatkan sungai-sungai mengalami pendangkalan. Kondisi yang semakin rumit membuat pemerintah kolonial akhirnya mengambil keputusan untuk pindah ke selatan, dimulai sejak dibongkarnya tembok kota pada tahun 1808/1811.[7]

7


KAMPUNG PEKOJAN Bersamaan dengan berpindahnya rumah-rumah pembesar Eropa ke area Weltevreden dan sekitar Koningsplein, wilayah Tanah Abang pun mulai ikut berkembang pada tahun 1910-an, dan mulai memadat pada tahun 1930, dengan dibangunnya permukiman di sekitar Cideng.[10] Secara perlahan-lahan, para penduduk Arab Pekojan ikut pindah ke sekitaran Kali Krukut, Tanah Abang dan petamburan. Populasi Arab di Pekojan berkurang, digantikan penduduk Cina.[2]

Gambar 4. Peta Batavia yang meluas ke arah Weltevreden 1897, dihubungkan aksis jalan dan kanal Molenvliet. Sumber: Leiden University

Pada tahun 1900-1913, banjir besar dan wabah pandemi kolera melanda Batavia. Pemerintah Gementee Batavia mempercepat proses perbaikan kampung dan penyehatan lingkungan melalui program kampungverbetering yang dikomandoi oleh BOW. Salah satu usaha mengatasi hal ini adalah dengan melakukan rasionalisasi permukiman, melalui pengaturan jarak antar bangunan, pengaspalan jalan, dan pembangunan jalur sanitasi yang memadai di perkampungan.[11] Pada tahun 1923, jalan-jalan utama di Tanah Abang sudah diaspal dengan seluruhnya.[10] Hal serupa terjadi pula di perkampungan lainnya.

8


KAMPUNG PEKOJAN Di dalam peta Batavia tahun 1897, Kampung Pekojan terlihat mengalami perubahan besar. Kanal-kanal yang sebelumnya mendominasi kawasan kampung hanya tersisa di tiga bagian, di utara, timur, dan selatan. Sementara itu, kanal-kanal di dalam area permukiman sudah tertutup jalur setapak.

Gambar 5. Perbandingan figure ground Peta Batavia 1897 (atas) dan 1904 (bawah), sumber: Leiden University

Perkembangan Moda Transportasi Kota Perkembangan kota ke arah selatan melahirkan kebutuhan akan moda transportasi baru yang menghubungkan wilayah Tanah Abang dengan area kota lama. Dari peta kawasan Pekojan tahun 1893 dan 1904 (gambar 5), terlihat jalur kereta api dari arah Tanah Abang melintas masuk melewati tengah permukiman, menuju ke arah Stasiun Batavia.

9


KAMPUNG PEKOJAN

Gambar 6. Di dalam peta 1897, jalur kereta api terlihat melintas di permukiman Pekojan ke arah stasiun Batavia Zuid (B.O.S.)

Jalur kereta api di Batavia-Bogor mulai dibuka pada tahun 1873 oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Maatschappij (N.I.S.). Jalur ini menyambung jalur yang pada tahun 1864 sudah dibuat menghubungkan Semarang, Jogja, dan Solo.[12] Seksi pertama jalur kereta api dibangun sepanjang 9,27 kilometer, menghubungkan Stasiun Kleine Boom di Pasar Ikan dan Stasiun Gambir. Pada tahun 1913, stasiun Batavia Noord beroperasi menggantikan Batavia Hoofdstation yang terletak di sisi utara.[13] Pada 1887, sebuah stasiun baru dibangun di sisi selatannya, beroperasi di bawah perusahaan Bataviasche Ooster Spoorweg Mattschapij (B.O.S.). Stasiun B.O.S. menghubuungkan Batavia-Karawang, membuka jalur perekonomian baru di kedua wilayah. Menjelang abad ke-20, tiga perusahaan kereta api beroperasi di Batavia, selain N.I.S. dan B.O.S., terdapat perusahaan plat merah Staats Spoorwegen (S.S.). Kemudian, S.S. mengintegrasikan jalur kereta api di Batavia, mulai dari mengakuisisi jalur milik B.O.S.[14] pada 1897, disusul dengan N.I.S. pada 1917. Pada 1923, stasiun Batavia Zuid, yang terhubung dengan jalur kereta api yang melintas di dalam permukiman Pekojan, dibongkar. Seluruh aktivitas perkeretaapian dipindah ke stasiun Batavia Noord di belakang Stadhuis. Situasi itu bertahan hingga 1929, ketika dibangun stasiun baru yang di tempat stasiun Batavia Zuid, yang sekarang dikenal dengan Stasiun BEOS. Ditutupnya stasiun Batavia Noord pada tahun 1929, berdampak

10


KAMPUNG PEKOJAN pada pemindahan jalur kereta api di sekitar kawasan Pekojan. Pada peta tahun 1936 (gambar 7), jalur kereta api sudah tidak lagi melintasi bagian tengah permukiman warga. Di Batavia sendiri, sebelum ada kereta api, trem sudah digunakan sebagai moda transportasi publik sejak tahun 1869. Kereta api dan trem di Hindia Belanda, termasuk di Batavia, memiliki daya tarik yang menakjubkan. Rakyat kecil dan kaum pribumi di Hindia Belanda memilih berpergian dengan kereta karena dinilai lebih mudah bagi mereka untuk membawa barang bawaan dan hewan ternak. Di Batavia, tahun 1909, dalam satu bulan, di jalur trem listrik, sebanyak 10.404 penumpang berpergian dengan kelas utama, 72.623 di kelas kedua, dan 255.197 di kelas ketiga. Mereka diperbolehkan membawa bagasi gratis hingga 50kg.[15]

Gambar 6. Rute transportasi Trem di Hindia Belanda 1869-1962. Sumner: indearchipel.com

Perubahan drastis moda transportasi pada abad ke 19 hingga 20 berdampak besar pada perubahan fisik kawasan Pekojan. Faktor higienis dari jalan raya dan kenyamanan menggunakan transportasi masal membawa paradigma baru bagi warga kota, termasuk penduduk Pekojan. Jika dilihat dalam perkembangannya, rute transportasi dan perubahan kanal menjadi jalan raya telah mencacah Kampung Pekojan ke dalam jedajeda, jalan-jalan, dan blok-blok wilayah yang baru.

11


KAMPUNG PEKOJAN

Gambar 7. Jalur kereta api melintas di permukima Pekojan 1893 (kiri) dan 1904 (tengah), dan dipindahkan ke sisi utara pada 1936 (kanan). Kanal-kanal di dalam permukiman mulai ditutup jalur-jalur kendaraan, jalur pejalan kaki, dan permukiman. Sumber peta asli: Leiden University.

Jika dianalisis dari blok-blok kawasan secara makro, jalan-jalan yang tersisa di Pekojan memiliki dua jenis pola, yang sistematis dan yang spontan. Jalan-jalan utama yang menutup kanal sebelumnya cenderung berbentuk lebih sistematis dalam membelah blok-blok kawasan. Sedangkan jalan yang dilalui rel kereta api cenderung spontan. Pembangunan rel kereta api yang dilakukan belakangan setelah kawasan terisi penduduk menjadi penyebab perlunya dilakukan adaptasi bentuk jalur. Sementara, proses penutupan kanal dengan tanah cenderung lebih mudah dilakukan karena area permukaannya bebas dari bangunan, sehingga struktur jalan lebih terlihat jelas.

12


KAMPUNG PEKOJAN Referensi

[1]

Blackburn, Susan. 1989. Jakarta: A History. Singapore: Oxford University Press, 1989.

[2]

Asy Syahid, M.A., Kurniawan, K. R., et al, 2020. “The restoration of old mosques heritage

in Pekojan, Jakarta.“ [3] Gunawan, Restu. 2010. Gagalnya Sistem Kanal, Pengendalian Banjir dari Masa ke Masa. Jakarta: Kompas Gramedia [4]

A. Athoillah, 2018. “Pembentukan Identitas Sosial Komunitas Hadhrami di Batavia Abad

XVIII-XX.“ [5]

Joseph, E.B. 2015. The Code of the City: Standards and the Hidden Language of Place

Making. Massachusetts: MIT Press. [6] Maki, Fumihiko. 2018. Observing The City dalam City with a Hidden Past. Tokyo: Kajima Institut Publishing. [7] Niemejer, Hendrik E. 2012. Batavia, Masyarakat Kolonial Abad XVII. Depok: Komunitas Bambu. [8]

Heuken, A. SJ. 2014. Atlas Sejarah Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.

[9]

Heuken, A. SJ. 2003. Mesjid-mesjid tua di Jakarta, seri: Gedung-gedung ibadat yang tua

di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka. [10]

Wawancara dengan Habib Ali Assegaf, generasi ketiga dari pendiri Masjid Langgar

Tinggi, Pekojan [11]

Idris, I. 1970. Sejarah Perkembangan Pekerjaan Umum di Indonesia. Jakarta: Institut

Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. [12] Wolthuys, S.V. 2019. 250 Years in Old Jakarta: Tales of the Bik family and the rich history of Tanah Abang. [13]

Tillema, H. F. 1915. Kromoblanda : over't vraagstuk vanhet wonen in Kromo's groote

land. Gravenhage, The Nederlands : Masman

13


KAMPUNG PEKOJAN [14] Topografische Inrichting Batavia, 1925. Boekoe Peringetan dari Staatspoor-En Tramwegen di Hindia Belanda 1875-1925. Batavia: Topografische Inrichting Batavia [15] https://tirto.id/hikayat-stasiun-beos-antara-batavia-dengan-lumbung-padikarawang-c4E2; diakses 24/04/2020 14.32 WIB [16] Mrazek, Rudolf. 2002. Engineers of Happy Land. Princeton University Press. Knaap, G. 2007. Grote atlas van de Verenigde Oost-Indische Compagnie, II Java en Madoera. Utrecht: Royal Dutch Geographical Society. https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/imagecollection-kitlv maps.library.leiden.edu indearchipel.com

14


KAMPUNG PEKOJAN

Jejak Arsitektur Kelompok Etnis di Kampung Pekojan Ikrar Raksaperdana

Pendahuluan Menelusuri jejak arsitektur di Kampung Pekojan memerlukan pengamatan mendalam pada latar belakang masing-masing kelompok etnis yang ada di Kampung Pekojan. Dari komunitas Koja (istilah “Koja” sering juga disebut "Moor"), Hadrami, Tionghoa, hingga komunitas pribumi, menciptakan keunikan masing-masing dalam pembentukan ruang di Kampung Pekojan. Setiap komunitas juga memiliki landmark masing-masing di Kampung Pekojan dalam bentuk formal seperti tempat ibadah hingga non-formal seperti ruang istirahat dan berkumpul. Melihat Kampung Pekojan yang kini lekat dengan suasana “kampung Arab”, penelusuran jejak arsitektur dari perspektif setiap komunitas akan menjadi hal yang menarik untuk dibahas, sebagai salah satu cara untuk memperlihatkan harmoni antar etnis yang ada di Kampung Pekojan. Bagaimana masing-masing komunitas di Kampung Pekojan menciptakan jejak arsitektural dan bagaimana integrasi antar komunitas dalam konteks arsitektur merupakan pertanyaan utama yang akan diangkat pada tulisan ini.

15


KAMPUNG PEKOJAN Dari Koja hingga Hadhrami Pembahasan pertama akan mengulas tentang komunitas Koja. Sensus penduduk kota Batavia tahun 1673 menunjukan beberapa nama etnis yaitu, Eropa, Tionghoa, Sunda, Melayu, Jawa, Bali, dan Moor. Istilah Moor sering disebut sebagai “Koja”, yang diyakini merupakan penduduk pertama Kampung Pekojan sejak dilaksanakannya kebijakan pembagian wilayah [1]. Pada abad ke-17 Kampung Pekojan hanya dihuni oleh komunitas Koja dan keturunannya. Komunitas Koja adalah imigran muslim dari Gujarat dan Suraj di India Barat [2]. Komunitas Koja menapakkan sebuah landmark yang menandakan keberadaannya sebagai komunitas Muslim pertama di Pekojan pada tahun 1648, disaat komunitas Koja mendirikan masjid yang sekarang disebut sebagai Masjid Al-Anshor.

Gambar 1. Potret pedagang “Moor” atau Koja di Batavia Sumber: Mandal, 2017 Keberadaan komunitas Koja di Pekojan tidak berlangsung lama. Pada abad ke-18, kehadiran imigran Hadrami, yang datang dari wilayah Hadramaut, Yaman Selatan, mulai menggeser peran komunitas Koja di Batavia melalui perdagangan dan penyebaran agama. Pada tahun 1750, Sayyid Abdullah bin Husein Alaydrus, seorang pemuka Hadrami membangun Masjid Pekojan, yang kini disebut An-Nawier dan menciptakan peningkatan populasi Hadrami di Pekojan. Sekitar tahun 1812-1813, status etnis “Hadrami” dalam laporan sensus penduduk masih disamakan dengan komunitas Koja sebagai komunitas Arab karena jumlah komunitas Hadrami yang tinggal di Pekojan tidak sebanyak komunitas Koja, namun peran keagamaan yang tinggi pada komunitas Hadrami akhirnya menggeser peran komunitas Koja yang lambat laun hijrah dari kampung Pekojan ke kawasan sekitarnya. [3]

16


KAMPUNG PEKOJAN

Gambar 2. Masjid Al Anshor komunitas Koja (foto: awal abad ke-20) Sumber: Collectie Tropenmuseum Kendali penuh Hadrami terhadap komunitas Arab di kampung Pekojan menciptakan beberapa produk budaya, salah satunya festival keagamaan. Blackburn (2011), mengutip Pijper (1984), menjelaskan bahwa masyarakat muslim di Batavia selalu meramaikan festival keagamaan komunitas Hadrami. Pemaparan Blackburn memperlihatkan memori dari komunitas Hadrami yang telah berhasil melakukan tradisi keagamaan secara turun temurun sejak akhir abad ke-18 di Batavia. [4] “Di samping kehidupan kampung, ada pula hiburan jalanan yang dapat dinikmati semua orang, serta berbagai festival yang hampir tidak berubah seperti pada masa lalu. Perayaan besar keagamaan selalu menarik massa dalam jumlah besar. Hari raya islam kerap menarik perhatian ribuan orang untuk ke masjid-masjid besar, terutama bila terdapat penceramah favorit, orang Batavia dan sekitarnya mendatangi Masjid Pekojan.” (Pijper, 1984)

Gambar 3. Masjid An Nawier komunitas Hadrami (foto: awal abad ke-20) Sumber : Usman, 2019

17


KAMPUNG PEKOJAN Komunitas Hadrami semakin hari kian membentuk gagasan kolektif – kesadaran kolektif bahwa mereka adalah penguasa otoritas keagamaan di Batavia. Komunitas Hadrami kemudian mendirikan majelis dan pusat dakwah seperti masjid dan langgar [5]. Kegiatan pendidikan keagamaan dilakukan pada lantai dasar Masjid Langgar Tinggi di Pekojan (Berg, 1989: 73). Masjid Langgar Tinggi lah yang kemudian menceritakan tentang negosiasi ruang, tradisi dan modernitas yang pertama terlihat pada Kampung pekojan. Vin Diessen (1989:203-12) dan Heuken (1982:107-9) menjelaskan bahwa langgar dalam langgar tinggi adalah bath house atau pemandian bagi masyarakat sekitar, kemudian berkembang menjadi sebuah masjid hingga ruang untuk transit bagi pedagang yang menyusuri kali Angke, yang menjadi salah satu bukti terbentuknya ruang informal komunitas Hadrami di kampung Pekojan. Kampung Pekojan yang menjadi pusat otoritas agama Islam di Batavia lambat laun mengalami lonjakan penduduk. Penghapusan sistem wilayah berdasarkan etnis pada tahun 1919 memicu penyebaran komunitas Arab ke wilayah seperti Tanah Abang, Krukut, Pertamburan [6]. Penyebaran ini berpengaruh pada tersebarnya otoritas keagamaan yang pada masa ini erat kaitannya dengan pergerakan kemerdekaan. Jamiat Khaer, sebuah institusi pendidikan swasta pertama di indonesia yang didirikan di Pekojan pada tahun 1905, mendirikan bangunan utama di Tanah Abang pada tahun 1923.

Gambar 4. Jamiat Khaer. Kantor Jamiat Khaer di Tanah Abang (kiri) Plakat pendirian Jamiat Khaer (kanan) Sumber: Collection Sven Verbeek Wolthuys

18


KAMPUNG PEKOJAN Munculnya Jamiat Khaer dengan perlawanannya yang bernafaskan Islam menjadikan kawasan Pekojan, Tanah Abang, Krukut, dan Pertamburan kian lekat dengan identitas Islam. Terlebih dengan elemen-elemen budaya yang semakin hari semakin melekat pada daerah tersebut. Ruang-ruang informal yang terbentuk pada kampung Pekojan setelah kemerdekaan makin lekat dengan ruang untuk memfasilitasi kegiatan keagamaan yang berbau Islam. Tidak aneh jika melekat identitas “kampung Arab” di Pekojan. Namun, identitas tersebut tidak lantas menghilangkan budaya selain “Arab” yang berkembang pada kampung Pekojan. Berdasarkan hasil wawancara pada beberapa penduduk serta pengurus Masjid Langgar Tinggi - Habib Ahmad Assegaf - mengutarakan bahwa tidak jarang pula komunitas Islam turut serta dalam perayaan festival komunitas Tionghoa. Keragaman dari kampung Pekojan tersebut memicu pertanyaan mengenai peran komunitas Tionghoa di Pekojan. Pembahasan berikutnya akan mengupas kehidupan komunitas Tionghoa di Pekojan untuk mengetahui bagaimana relasi antar komunitas terjadi di Pekojan.

Komunitas Tionghoa Seperti seluruh komunitas orang asing - vreemde oosterlingen, yang termasuk orang-orang Arab, Moor dan Bengali - di Hindia Belanda, komunitas Tionghoa dikelola oleh seorang tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat ini ditunjuk oleh Belanda dan diberi gelar militer majoor (mayor), kapitan (kapten), atau luitenant (letnan) [7]. Komunitas Tionghoa secara resmi diberikan kebebasan administratif untuk mengelola komunitasnya sendiri. Kebebasan tersebut menciptakan peran besar komunitas Tionghoa terhadap ekonomi di Batavia (Lohanda, 1996). Sejatinya komunitas Tionghoa telah memenuhi peran penting pada sektor ekonomi sejak pendirian Batavia oleh Jan Pieterszoon Coen pada tahun 1619. Komunitas Tionghoa bertindak sebagai perantara antara petani lokal, pemerintahan kolonial dan pasar global. Kemudahan akses serta koneksi komunitas Tionghoa ke perdagangan antar pulau menjadi salah satu aspek yang sangat vital bagi pemerintah Hindia Belanda. Kerja sama antara komunitas Tionghoa dan pemerintah Hindia Belanda semakin erat pada abad ke - 19, ketika pajak-pajak yang dipungut oleh pemerintah Hindia Belanda - seperti pajak opium dan pegadaian - dikumpulkan oleh orang Tionghoa [8].

19


KAMPUNG PEKOJAN Pendapatan yang dikelola oleh komunitas Tionghoa menyumbang hingga 25% dari total pendapatan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1885 (Booth 1998: 308; Dick et al. 2002: 73–75; Knaap 1996: 176–177). Posisi komunitas Tionghoa yang dapat dikatakan memegang kendali akan aspek perdagangan, membuat komunitas Arab kerap bekerja sama. Kerja sama dalam bisnis tersebut yang kemudian menciptakan keserasian dalam kawasan tempat tinggal komunitas Tionghoa dan komunitas Arab yang letaknya berdampingan.

Gambar 5. Vihara Padi Lapa (kiri) Vihara Dewi Samudera (kanan) Sumber: Dokumentasi IJSS 2020

Komunitas Tionghoa meninggalkan sejumlah landmark pada Kampung Pekojan, berupa dua buah vihara. Kedua vihara tersebut adalah Vihara Padi Lapa dan Vihara Dewi Samudra. Vihara Padi Lapa didirikan pada tahun 1901, setelah dipindahkan dari kawasan Pintu Kecil. Vihara Padi Lapa awalnya berada di kawasan Toko Tiga, pada sekitar tahun 1823. Vihara ini memiliki nama asli “You Mi Hong”, didirikan oleh pengusaha asal Hakka, dan sekarang memiliki nama Vihara Padi Lapa yang dikelola oleh yayasan "You Mie Hong" [9]. Sedangkan Vihara Dewi Samudra merupakan vihara yang didirikan pada tahun 1784. Pada awal pendiriannya, vihara ini merupakan vihara pribadi milik keluarga “Lim”, seorang petinggi “Mazu” [10], hingga kemudian dibuka untuk umum dan diberikan nama Vihara Dewi Samudra. Keberadaan vihara sebagai landmark pada kampung komunitas Arab ini merupakan jembatan bagi komunitas Tionghoa untuk berbaur dengan komunitas Arab serta komunitas pribumi, hingga akhirnya menciptakan sebuah pluralitas dalam kawasan yang dirancang dengan tujuan homogenitas.

20


KAMPUNG PEKOJAN Komunitas Pribumi Berdasarkan data dari volkstelling - sensus penduduk - tahun 1930, Batavia pada abad ke-20 mengalami lonjakan kedatangan pekerja pribumi - penduduk asli, di luar komunitas kelas satu dan kelas dua di Batavia. Lonjakan migrasi yang menambah jumlah penduduk di Batavia hingga 1.636.098 jiwa menciptakan wajah-wajah baru pada ruang kota di Batavia. Sebut saja Betawi, Sunda, Jawa, Melayu, Sulawesi Utara, Minangkabau, Sumatera Selatan, Maluku, Batak, Madura, hingga penduduk Depok mewarnai ragam etnis pribumi di Kota Batavia berdasarkan data volkstelling. Heukeun menjelaskan [11] , komunitas Eropa serta pemerintahan Hindia Belanda, memberikan definisi bahwa komunitas pribumi adalah orang-orang yang bermukim di tanah Jawa, dan kerap disebut “orang Jawa”. Islam adalah agama mayoritas orang jawa yang kemudian menjadi identitas pengikat antara komunitas pribumi dan komunitas di Kampung Pekojan. Agama Islam menjadi pengikat antara perkawinan antara komunitas pribumi dengan komunitas kelas dua di Batavia (Hadrami, Moor, hingga Tionghoa) serta komunitas pribumi lainnya (etnis Bali, Sunda, Melayu, Bugis). Ikatan ini kemudian menghasilkan sebuah identitas baru khususnya di kawasan Pekojan yaitu “Betawi”. Pada bagian ini, pembahasan mengenai “komunitas Pribumi” akan fokus pada etnis “Betawi” yang pada masa tersebut kerap menjalin kerjasama dengan komunitas Arab dan Tionghoa sebagai distributor kebutuhan pokok di Pekojan. Masyarakat “Betawi” meninggalkan sebuah bentuk baru pada wajah Kampung Pekojan. Rumah-rumah dengan langgam Betawi didirikan, seiring diangkatnya peran komunitas pribumi pada lingkar dagang komunitas Arab yang pada masa tersebut kerap mengalami perseteruan internal [12]. Hingga kini dapat ditemui beberapa rumah Betawi pada Kampung Pekojan yang masih berdiri, menandakan peran pribumi yang telah dilakukan oleh komunitas pribumi pada masa tersebut.

Gambar 6. Rumah Betawi di Jalan Bandengan Selatan Sumber: Dokumentasi IJSS 2020

21


KAMPUNG PEKOJAN

Selain dalam bentuk rumah, aktivitas komunitas pribumi juga menghasilkan wajah baru pada kampung Pekojan, khususnya pada kali Angke yang menjadi batas selatan kampung Pekojan. Menyusuri kali Angke pada awal abad ke-20, akan terlihat getek-getek parkir pada beberapa bangunan yang memiliki orientasi menghadap ke sungai atau kali. Ruang-ruang di tepian kali menjadi tempat untuk aktivitas istirahat temporer bagi masyarakat yang melakukan distribusi barang (gambar 7) . Berdasarkan wawancara dari kepala pengurus Masjid Langgar Tinggi - Habib Ahmad Assegaf - dalam aspek ekonomi, kegiatan berdagang dan barter kerap dilakukan pada ruang-ruang di tepian kali. Pada Masjid Langgar Tinggi, aktivitas perdagangan dapat terlihat menciptakan sebuah ruang informal. Masjid yang sebelumnya berfungsi sebagai pemandian [13], kini menjadi semacam rest area bagi pedagang yang hilir mudik dari Tangerang ke Sunda Kelapa. Dapat terlihat pula hewan ternak hingga kayu-kayu gelondongan dibersihkan pada area ini (gambar 7).

Gambar 7. Ruang informal berupa parkir getek komunitas pribumi (awal abad ke-20) Sumber: KITLV

22


KAMPUNG PEKOJAN Kesimpulan

Kampung Pekojan menghadirkan keunikan masing-masing kelompok etnis dalam pembentukan ruang di kawasan tersebut. Keunikan yang terjadi adalah setiap kelompok etnis tetap menonjolkan karakternya sendiri dalam aspek arsitekturalnya seperti komunitas Koja dan Hadrami dengan pembangunan Masjid, komunitas Tionghoa dengan pembangunan Vihara, dan komunitas pribumi dengan pembangunan rumah-rumah adat mereka. Ruang informal yang terbentuk menjadi jembatan terhadap perbedaan karakter tersebut. Komunitas Arab dan Tionghoa yang bahu membahu dalam mengadakan festival kebudayaan dan komunitas pribumi yang turut serta dalam perayaan festival Arab dan Tionghoa memberikan warna yang unik dalam kebudayaan Kampung Pekojan. Setelah kemerdekaan, batas-batas antara karakter kelompok etnis semakin menghilang, komunitas di Kampung Pekojan menciptakan kesatuan dan akhirnya seluruh jejak arsitektur di Pekojan menjadi warna tersendiri bagi Kampung Pekojan. Masjid Al-Anshor, Masjid Kampung Baru, Masjid Jami An Nawier, Masjid Ar Raudha, Masjid Azzawiyah, Masjid Langgar Tinggi, Vihara Padi Lapa, Vihara Dewi Samudra dan beberapa rumah tradisional Betawi, menjadi satu dalam sebuah identitas, yaitu arsitektur "Kampung Pekojan".

Gambar 8. Jejak arsitektur seluruh kelompok etnis di Kampung Pekojan Sumber: Dokumentasi IJSS 2020

23


KAMPUNG PEKOJAN Referensi [1] Blackburn, S., 2011. Jakarta: sejarah 400 tahun. Jakarta: Masup. pp 28-44 [2]Athoillah., 2018. Pembentukan Identitas Sosial Komunitas Hadhrami di Batavia Abad XVIII-XX Lembaran Sejarah, 14 (2), pp 151-154. doi: https://doi.org/10.22146/lembaran-sejarah.45437 [3]Komunitas Hadrami Di Batavia Abad XVIII-XX : - Athoillah., 2018. Pembentukan Identitas Sosial Komunitas Hadhrami di Batavia Abad XVIII-XX Lembaran Sejarah, 14 (2), pp 151-154. doi: https://doi.org/10.22146/lembaran-sejarah.45437 - Wolthuys, S.V. 2019. 250 Years in Old Jakarta: Tales of the Bik family and the rich history of Tanah Abang. [4]Athoillah., 2018. Pembentukan Identitas Sosial Komunitas Hadhrami di Batavia Abad XVIII-XX Lembaran Sejarah, 14 (2), pp 151-154. doi: https://doi.org/10.22146/lembaran-sejarah.45437 [5] Grijns, K. And Nas, P., 2000. Jakarta-Batavia: Socio-Cultural Essays. Leiden: Kitlv Press. [6] Grijns, K. And Nas, P., 2000. Jakarta-Batavia: Socio-Cultural Essays. Leiden: Kitlv Press. [7] Van den Berg, L., 1886. Le Hadhramout et les colonies arabes dans l'archipel Indien. Impr. du gouvernement [8] Grijns, K. and Nas, P., 2000. Jakarta-Batavia: socio-cultural essays. Leiden: KITLV Press. [9] Tentang komunitas Tionghoa di Batavia : - Prasetyo,Y., 2013. Meneer Baba: Perkembangan Modernisasi Dalam Gaya Hidup Dan Politik Elite Tionghoa Batavia 1900-1942. Surakarta: Yuma Pustaka. - Data Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Tentang awal mula pendirian Vihara Dewi Samudra: Sidharta, M ., 2015. “The Mazu Worship on the Island of Java." [10]Adi W., 2010. Batavia, 1740: menyisir jejak Betawi. Jakarta: Gramedia [11]Grijns, K. and Nas, P., 2000. Jakarta-Batavia: socio-cultural essays. Leiden: KITLV Press. [12] Grijns, K. and Nas, P., 2000. Jakarta-Batavia: socio-cultural essays. Leiden: KITLV Press. [13] Grijns, K. and Nas, P., 2000. Jakarta-Batavia: socio-cultural essays. Leiden: KITLV Press.

24


KAMPUNG PEKOJAN

Perubahan Lingkungan & Kehidupan Berkota di Kampung Pekojan Kinayung Syafira Aratuza

Pendahuluan Kampung Pekojan atau Kampung Arab ini sudah ada sejak masa pendudukan HindiaBelanda di Indonesia, sesuai dengan namanya kampung ini memang dikhususkan untuk masyarakat dengan etnis Arab, mengingat Kampung Pekojan diawali dengan bermukimnya bangsa Moor atau India-muslim yang berasal dari pantai Koromandel di India pada abad ke16 namun mulai dikenal di abad ke-17, kemudian pada awal abad ke-19 mulai berdatangan bangsa Arab yang terus meningkat secara bertahap, yang memilih untuk bermukim bersama dengan penduduk muslim non-pribumi, seiring berjalannya waktu Kampung Pekojan mulai diisi masyarakat dari berbagai etnis yang dominasi oleh etnis tionghoa.

25


KAMPUNG PEKOJAN Kota, Desain, dan Kehidupan Kota : Kampung Pekojan Guy Julier (2000) membuat karakterisasi “budaya desain” yang membahas aspek penting dalam kehidupan berkota, yaitu kaitan antara desainer kota, konsumsi, dan produksi yang akan berimbas pada objek, ruang, dan image kota, tujuannya untuk melihat keberlanjutan kota. [1] Desainer kota diartikan sebagai perencana kota maupun pemerintahan yang mengatur kota, konsumsi adalah apa yang dibutuhkan masyarakat untuk memenuhi kehidupan sehari-hari (air bersih, pangan, kesehatan, keamanan), dan produksi adalah apa yang dihasilkan oleh masyarakat sehingga menjadi sebuah identitas. Kampung Pekojan pada masa pendudukan Hindia-Belanda diatur oleh seorang Kapiten Arab

sampai tahun 1942 yang bertanggung jawab kepada Residen Batavia sebagai

pengawas, sementara yang menangani Kampung Pekojan secara langsung disebut wijkmeester atau Tuan Bek yang bertugas mengatur pelaksanaan ronda jaga dari pukul 8 malam hingga pukul 5 pagi, melakukan pencatatan perkawinan, kelahiran, dan kematian, yang kemudian dikirimkan pada kapiten Arab, serta melakukan pencatatan warga yang sudah berusia 16 tahun keatas di Kampung Pekojan. [2] Masyarakat yang memiliki rumah maupun toko diwajibkan membayar pajak, pajak tersebut digunakan untuk biaya membersihkan kali/kanal, sampah, perbaikan jalan dan jembatan, ketertiban dan kesehatan. Kanal : Sumber Air Bersih hingga Pembuangan Kampung Pekojan hingga 1897 hampir seluruh area dikelilingi oleh kali/kanal yang pada saat itu berfungsi sebagai alat transportasi untuk mendistribusikan barang, salah satunya adalah Kali Angke yang berada tepat di sebelah Masjid Langgar Tinggi, sekitar tahun 1956 Kali Angke masih berfungsi sebagai jalur transportasi getek yang singgah ke Masjid Langgar Tinggi untuk beristirahat atau menunaikan shalat, jalur transportasi ini digunakan oleh pedagang yang akan membawa dagangannya ke Area Pecinan dan juga Pekojan. Sumber air bersih untuk keperluan minum, mandi dan mencuci diperoleh dari kali/kanal (Bacharach Scratch) [3] dan air hujan, saat ini kali/kanal yang masih bertahan adalah Kali Angke (bagian selatan Kampung Pekojan), Kali Krukut (bagian timur Kampung Pekojan) dan Kali Bandengan selatan (bagian utara KampungPekojan) yang hanya berfungsi sebagai saluran pembuangan air kotor (gambar 1).

26


KAMPUNG PEKOJAN

Gambar 1. Posisi Kali/Kanal pada Peta Kampung Pekojan 1874 (kiri) dan 2020 (kanan) Sumber : Leiden University Selain itu, sumber air bersih juga berasal dari air hujan yang ditampung, tempat penampungan air ini berada pada Gang Kampong Ajer terletak diantara Gang Koja dan Gang Gatep, Gang Kampung Ajer dahulunya disebut sebagai Kebon Bingung karena jika ada orang baru yang berkunjung kesana sulit untuk bisa kembali ke tempat asal mereka masuk pertama kali, kemudian Nama Kampung Ajer ini ada karena disana dibuatkan kolam air yaitu menampung air hujan untuk wadah para warga yang ingin mengambil air di musim kemarau. [4] Gang Kampung Ajer dapat terlihat pada peta kampung pekojan tahun 1897 yang masih eksis hingga tahun 1945, namun saat ini digantikan oleh rumah-rumah masyarakat Pekojan (gambar 2). Pada tahun 1918 setelah berdirinya Perusahaan Air Minum (PAM) di Batavia dengan sumber air bakunya berasal dari Mata Air Ciomas, Kampung Ajer ini menjadi lokasi ledeng air PAM terpusat yang digunakan oleh masyarakat bersama-sama, namun seiring berjalannya waktu semakin pesatnya pembangunan rumah serta tuntutan efisiensi, kini ledeng PAM komunal tersebut sudah tidak ada lagi, kemungkinan berganti menjadi pipa yang langsung disambungkan dari PAM Pusat ke rumah masing-masing. Berbeda dengan cara pengambilan air pada abad ke18, yaitu menggunakan dua buah ember kayu yang dipikul pada bahu, pada masa pemerintahan Belanda terdapat orang-orang dengan pekerjaan sebagai pengangkut air (gambar 3).

27


KAMPUNG PEKOJAN

Gambar 2. Letak Kampung Ajer pada Peta Kampung Pekojan 1897 (kiri), 1945 (tengah) (1945), 2020 (kanan) Sumber : KITLV dan Googlemaps

Gambar 3. Lukisan “Pengangkut air, Batavia” 1845 Sumber : KITLV-Clercq, J.H.W. le.

28


KAMPUNG PEKOJAN

Sejak tahun 1630 kanal tidak hanya digunakan sebagai sumber air bersih, tetapi juga sebagai tempat pembuangan kotoran manusia, yang hanya boleh dilakukan setelah pukul 9 malam (De Haan, 1953 [5]), bisa dipahami karena pada masa itu rumah-rumah di dalam Kota Batavia tidak ada yang memiliki kamar mandi. Segala jenis kotoran ditampung pada tempat tertentu dan pada jam 9 malam kotoran tersebut dibuang ke kali/kanal oleh para budak. Kakus dan kamar mandi baru dikenal pada pertengahan abad ke-19 di Eropa. Pelaksanaan pembersihan kali/kanal biasanya dilakukan bersama-sama dengan pembuangan sampah. Pembuangan limbah khususnya air kotor pada kali/kanal masih terjadi hingga saat ini, bedanya hanya pada penggunaan pipa saluran untuk mengalirkan air kotor dari rumah ke kali (gambar 4)

Gambar 4. Pipa pembuangan air kotor pada Kali Angke belakang Masjid Langgar Tinggi, 2020 Sumber : dokumentasi pribadi Masyarakat juga membuang sampah pada kanal, sampai pada tahun 1673 pemerintah Belanda sudah mulai menyediakan kotak-kotak dari batu bata untuk menampung sampah di setiap distrik, namun kotak sampah tersebut jarang dikosongkan, sehingga menimbulkan bau dan masyarakat masih banyak yang membuang sampah pada kali. Pada pertengahan abad ke-19 aturan mengenai membuat dan menempatkan bak sampah di muka rumah dikeluarkan, karena melihat kanal yang kering tidak memungkinkan perahu pengangkut pembuangan sampah untuk berjalan. Sistem pembuangan sampah diawasi oleh Tuan Bek, sampah yang sudah dikeluarkan

29


KAMPUNG PEKOJAN dari bak sampah akan dibuang ke tempat yang sudah ditentukan oleh Belanda, yang berada di luar tembok kota, jika ketahuan membuang sampah atau kotoran lainnya pada kali/kanal akan dikenakan denda sebesar 6 rijksdaalders namun masyarakat masih saja membuang sampah pada kali/kanal sehingga denda dinaikan jadi 25 rijksdaalders. Kebiasaan membuang sampah pada kali terus terjadi hingga saat ini oleh warga yang tinggal tepat di sebelah kali/kanal, namun kegiatan pembersihan kali cukup sering dilakukan oleh pemerintah, petugas, dan warga Pekojan sendiri. Sistem pembuangan sampah saat ini adalah dengan cara membuangnya langsung ke bak sampah utama dan juga ada beberapa warga menyimpan sampahnya di depan rumah, yang kemudian akan diambil oleh petugas kebersihan (gambar 5).

Gambar 5. Sistem pembuangan sampah, Pekojan, 2020 Sumber : dokumentasi pribadi

Kampung Pekojan dan Kebakaran Keluarnya peraturan larangan membuat, menjual dan memasang petasan mercon dari segala jenis (30 Desember 1690) adalah awal mula kesadaran mengenai kebakaran di Batavia, mercon dianggap membahayakan karena dapat menyebabkan kebakaran di dalam kota. Kebakaran juga sering terjadi karena rumah-rumah dan bangunan pada abad-17 masih terbuat dari bambu dan kayu yang sangat mudah terbakar, oleh sebab itu pada 21 Juli 1767 dibuat aturan mengenai larangan membangun rumah dengan bambu, kayu, atau bahan-bahan yang mudah terbakar lainnya, pemerintah Belanda mewajibkan untuk menggunakan material batu bata untuk dinding rumah,

30


KAMPUNG PEKOJAN membuat tembok pemisah antar rumah, dan atapnya harus terbuat dari material genteng [6] salah satu contoh Rumah Ny. Yap Proe Nio di Pekojan yang menggunakan bahan yang tidak mudah terbakar. Api sebagai kebutuhan manusia dapat menyebabkan masalah kebakaran tapi juga menjadi sebuah aspek yang dipertimbangkan dalam penggunaan material serta penataan rumah di Kampung Pekojan (gambar 6).

Gambar 6. Rumah Ny. Yap Proe Nio di Pekojan 1934 Sumber : delpher.nl Pemerintah Hindia Belanda mulai membentuk satuan pemadam pada tahun 1873 yang bernama Brandweer. Pemadam api pada masa itu hanya menggunakan tangga, alat manual semprot air tangan, serta baju dan helm mirip jas hujan, tidak tahan api. Di masa sebelum brandweer ada orang mengandalkan jasa tukang ronda, maka untuk perlengkapan ronda diadakan gardu lengkap dengan kentongan kayu. Kentongan ini dipukul saat terjadi kebakaran, perampokan, atau jika ada orang yang mengganggu ketertiban umum seperti orang mengamuk, kalau kentongan dipukul terus menerus berarti sedang terjadi kebakaran. Pada 22 Mei 1939 terjadi kebakaran gudang penyimpanan kulit kambing di Kampung Pekojan, gudang terletak di dekat kali dan masjid besar yaitu Masjid An-nawier, penyebab kebakaran adalah lilin yang membakar kulit kambing serta bambu yang diletakan disebelah gudang (gambar 7), kebakaran diperkirakan cukup sering terjadi, setidaknya terdapat 3 sampai 4 kejadian dalam setahun.

31


KAMPUNG PEKOJAN

Gambar 7. Berita dan perkiraan lokasi kebakaran yang terjadi di Kampung Pekojan tahun 1939 Sumber : delpher.nl

Kemerosotan Kesehatan dan Keamanan di Kampung Pekojan Pada tahun 1722 sebuah penyakit mematikan yang tidak dikenal mewabah di Batavia, yang diperkirakan bersumber dari kanal-kanal yang kotor, kanal yang dipenuhi oleh lumpur dan sampah ini akhirnya menimbulkan banjir yang cukup parah, dikarenakan lingkungan yang mulai tidak sehat serta banjir masyarakat asli Kampung Pekojan mulai berpindah ke berbagai tempat, salah satunya di Condet. Rumah sakit untuk orang Eropa didirikan terpisah dari warga lain. Mereka yang bukan orang Eropa ditampung di Chineesche Hospital yang didirikan tahun 1640 di jalan Pejagalan (gambar 9).

Gambar 8. Lokasi Chineesche Hospital di Kampung Pekojan, 1799 Sumber : Leiden University

32


KAMPUNG PEKOJAN Sama halnya dengan memburuknya kesehatan di Batavia termasuk kampung pekojan, pada akhir abad-18 kriminalitas mulai merajalela di Ommelanden Batavia diantaranya adalah pencurian, pembunuhan, ketidaktertiban, dan pertempuran kecil antar etnis, khususnya pada Kampung Pekojan terdapat berita yang isinya mengenai penemuan mayat pria di Pasar Ikan yang ketika diselidiki ternyata merupakan seorang yang telah merampok di Kampung Ajer Pekojan, kejadiannya pada tahun 1924. Selain itu perampokan juga dialami oleh seorang ibu dari etnis china yang sedang menggunakan transportasi becak melewati jalan Pekojan pada tahun 1950. (gambar 9)

Gambar 9. Berita kriminalitas di Kampung Pekojan tahun 1926 dan 1950 Sumber : delpher.nl

Aspek Ekonomi dan Identitas Kampung Pekojan “the way that locality comes through in product design, architecture, and urban design. As Molotch puts it: with food product and manufactured goods, place in product can be seen to operate at the regional or urban scale” (Paul L. Knox - Cities and Design) Raffles memperkirakan kira-kita terdapat 400 penduduk Arab dan Moor (belum signifikan), barulah pada tahun 1859 tercatat ada 312 orang Arab (tanpa Moor). Pada akhir abad ke-19 jumlah penduduk Arab meningkat, yaitu : 1.448 (tahun 1885), 2.245 (tahun 1900), dan 5.231 (tahun 1930). Orang Arab melakukan perdagangan, peminjaman uang, sewa gedung (realestate), jual-beli tanah. Sejak 1829 pemerintah Belanda menetapkan pungutan pajak berkenaan dengan aktivitas berdagang, mulai dari sewa kios/warung, ongkos angkut barang dagangan, sampai ijin buka rumah judi, dengan aturan selokan, riol, got harus dalam keadaan bersih.

33


KAMPUNG PEKOJAN Saat ini, yang dapat terlihat di Kampung Pekojan adalah tingginya tingkat perdagangan, berdasarkan pada data dari Badan Pusat Statistik [7], Industri Besar (1, pekerja 321), Industri Kecil (15, pekerja 408) terbanyak dibandingkan dengan kelurahan lainnya. Jumlah Swalayan 3, Restaurant 4, Pedagang Kaki Lima 56 (warung kecil, warteg). Berdasarkan observasi di Kampung Pekojan terdapat Pasar Kambing yang berada tepat di sebelah Kali Angke, selain itu banyak pedagang makanan, dan juga penampung barang bekas (gambar 10). Paul L Knox mengatakan dalam bukunya “today, more than ever, brandscape as physical sites have become key elements in linking identity, culture and place” Kampung Pekojan dikenal dengan identitas Kampung Arab selain karena banyaknya bangunan masjid tua, juga karena adanya beberapa produk makanan khas Arab (nasi kebuli, dadar jala gulai kambing, sayur marak, zalatoh, halluah, asidah, harrisah, kue kaak, dan zanzabil) yang masih cukup sering terlihat pada acara-acara tertentu, seperti pada saat bulan Ramadhan.

Gambar 10. Kegiatan ekonomi di Kampung Pekojan Sumber : dokumentasi pribadi

Perkembangan Transportasi Masyarakat Alat transportasi yang digunakan pada zaman hindia-Belanda didominasi oleh penggunaan transportasi air atau perahu yang digunakan untuk berpergian jauh atau mengangkut barang dagangan masyarakat Pekojan, salah satu tempat pemberhentian perahu yang masih ada hingga saat ini adalah Masjid Langgar Tinggi yang dulu digunakan sebagai masjid sekaligus tempat peristirahatan.

34


KAMPUNG PEKOJAN Masyarakat Kampung Pekojan juga menggunakan becak, sepeda dan kereta kuda. Kereta kuda biasa digunakan oleh para bangsawan Belanda (gambar 11) penggunaan alat transportasi tersebut masih ramah lingkungan. Perubahan dari dominasi penggunaan kanal sebagai jalur transportasi utama dapat terlihat dari perubahan Peta Pekojan, yang awalnya dipenuhi oleh kanal berangsurangsur menjadi jalan tanah untuk sepeda, becak, dan kereta kuda.

Gambar 11. Transportasi di Kampung Pekojan Sumber : F.B Smits, Circa 1900 Kemudian, alat transportasi yang lebih modern yaitu kereta api yang jalurnya pertama kali dibuka di Batavia pada tanggal 15 September 1871 sepanjang 6 kilometer (Glodok-Pinangsia-Stasiun Beos) ke Stasiun Gambir, sampai tahun 1930 jalur ini diperkirakan melewati area Kampung Pekojan tepatnya di Gang Kampung Ajer, berdasarkan pada peta Kampung Pekojan tahun 1930, yang juga melewati jalan Petongkangan yang terletak disebelah Kampung Pekojan (gambar 12) jalur kereta yang melewati kampung pekojan berakhir sekitar 1940-an. Dampak dari pembuatan jalur kereta api yaitu penebangan pohon-pohon yang ada di Kampung Pekojan.

Gambar 12. Peta Kampung Pekojan 1930 (kiri) & Jalur Kereta Api di Jl. Petongkangan, 1910 (kanan) Sumber : Tio Tek Hong, 1910

35


KAMPUNG PEKOJAN Kesimpulan Kampung Pekojan telah mengalami berbagai perubahan dari waktu ke waktu untuk memenuhi kualitas hidup dari masyarakat, sejak masa pendudukan Hindia-Belanda yang menerapkan aturan di berbagai aspek sampai pada saat ini, semua bertujuan untuk menjadikan Kampung Pekojan nyaman untuk kehidupan berkota dari segi lingkungan, sosial, serta pertumbuhan ekonomi. walaupun cara hidup masyarakat terus berubah mengikuti perkembangan zaman, namun Kampung Pekojan mempertahankan sejarah dan identitas kampung yang sudah terbentuk sejak lama berupa masjid-masjidnya yang menjadi ciri khas, kegiatan-kegiatan keagamaan serta dari segi ekonomi. Kampung Pekojan juga telah mengalami perubahan dalam meningkatkan kepentingan politik dan kebijakan, menggambarkan sejarah panjang dari ide, konsep dan pengalaman masyarakat, ke arah pendekatan yang lebih holistik memahami ‘place of design’ dengan ekonomi politik yang lebih luas.

Referensi [1] Knox, Paul L. 2010. Cities and Design series Routledge Critical Introductions to Urbanism and the City. Routledge. London. [2] Lohanda, Mona. 2007. Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia. Masup Jakarta. Jakarta. [3] Wawancara dengan Habib Ali Assegaf, generasi ketiga dari pendiri Masjid Langgar Tinggi, Pekojan [4] Wawancara dengan Bapak Usman (warga Kampung Pekojan) [5] Lohanda, Mona. 2007. Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia. Masup Jakarta. Jakarta. [6] Lohanda, Mona. 2007. Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia. Masup Jakarta. Jakarta. [7] Badan Pusat Statistik. 2019. Kecamatan Tambora dalam Angka 2018. Badan Pusat Statistik Kota Administrasi Jakarta Barat. [8] Usman. 2019. Menggali Kembali Kisah Sejarah, Budaya, Para Tokoh dan Bangunan Cagar Budaya di Kampung Arab Pekojan. [9] Heuken A. 2003. Mesjid-Mesjid Tua di Jakarta. Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta. [10] Grijns, K dan Nas Peter J.M. 2007. Jakarta Batavia : Esai Sosio-Kultural. Banana KITLV. Jakarta. [11] Scott, Merrillees. 2012. Jakarta Postcards of a Capital 1900-195. Equinox Publishing. Jakarta.

36


KAMPUNG PEKOJAN

Perkembangan Pembangunan di Kampung Pekojan Gianoora Achmad

Pendahuluan Karena alasan perdagangan, banyak negara Eropa yang tertarik dengan Asia. Negaranegara Eropa yang datang ke Asia membangun permukiman dan merancang kota dengan gaya arsitektur Eropa, khususnya gaya arsitektur Belanda/ VOC. Arsitektur tersebut memiliki desain yang serupa, jelas, tegas dan lurus. Di Indonesia tepatnya Jakarta yang saat itu masih disebut Batavia, juga memiliki bangunan serupa pada saat masa kolonial Belanda. Saat itu, pada awal abad ke-17 setelah terjadi penyerangan dari saingan dagang dan pemberontakan masyarakat pribumi, sebagai bentuk pertahanan terhadap lawan, pada tahun 1619, Belanda membangun kantor pusat Dutch East Asia Company dan menugaskan Simon Stevin untuk merancang berdasarkan pemikiran Stevin tentang yang kota ideal.

37


KAMPUNG PEKOJAN Simon Stevin dan Kota Ideal Simon Stevin (1548-1620) adalah seorang ahli matematika, fisikawan, dan military engineer asal Flanders yang menulis beberapa risalah tentang idenya mengenai arsitektur dan risalah-risalah ini memiliki pengaruh besar terhadap pembangunan permukiman di Asia. Salah satunya adalah De Sterctenbouwing (The Art of Fortifications), diterbitkan pada tahun 1594 yang memberikan panduan tentang pembangunan benteng. Stevin mengatakan ada dua jenis benteng yaitu, benteng tetap dan benteng sementara. Penggunaan material batu bata menjadi pilihan karena ringan, lebih murah, dan mudah digunakan saat membangun. Pada De Sterctenbouwing, Stevin juga menekankan pada penggunaan air sebagai sistem pertahanan [1]. Skema Stevin tentang sebuah kota adalah, kota memiliki sungai atau kanal pusat yang membentuk poros utama dari denah, membentang dari satu sisi ke sisi lain yaitu, dari laut ke daratan ke arah belakang melewati permukiman. Satu sisi permukiman sejajar dengan garis pantai. Di kedua sisi kota terdapat gerbang dan di tepi laut terdapat dermaga pelabuhan bagian dalam. Pada poros kedua, yang membentang dari bagian kanan ke bagian pertama adalah bangunan sosial dan pusat pemerintahan. Kedua sumbu mewakili sisi organisasi dari kota. Sumbu pertama melewati permukiman yang digunakan untuk transportasi sedangkan sumbu kedua untuk fungsi sosial dan publik. Kedua sumbu ini banyak digunakan di Belanda seperti kanal yang dibuat kemudian dibuat kota didalamnya. Lokasi dibangunnya kota dan permukiman ini harus dapat bertahan dengan baik, memiliki tanah yang subur dan harus ditempatkan di muara sungai besar yang bisa dilewati perahu, hal ini sangat penting untuk tujuan perdagangan. Berdasarkan pemikiran tersebut, Stevin merancang Batavia dengan desain sebuah kota berdinding, berbentuk persegi panjang. Kota terbagi dua oleh sungai Ciliwung yang disalurkan ke kanal lurus. Daerah ini dikenal sebagai Grote River atau Kali Besar. Benteng Batavia melambangkan pusat kekuasaan, sementara balai kota, pasar dan bangunan umum lainnya didistribusikan dan dikelilingi kanal. Pembangunan kota Batavia rampung pada tahun 1650 semasa pemerintahan J.P. Coen. Dibangunnya tembok yang dimulai dari Benteng Batavia sampai ke dua pintu gerbang yaitu, pintu gerbang barat Utrechtsepoort dan pintu gerbang selatan Nieuwpoort sehingga membentuk wilayah dalam tembok yang disebut Intramuros. Sampai saat ini beberapa peninggalan bangunan-bangunan, jalan dan kanal yang dibangun pada abad ke-17 masih bisa dilihat meskipun sebagian besar telah dihancurkan dan diganti bangunan yang lebih baru di awal abad ke-20.

38


KAMPUNG PEKOJAN

Gambar 1 Peta Batavia tahun 1667 yang memperlihatkan skema kota yang terdiri dari benteng, gerbang, pelabuhan, dan kanal yang terdistribusi disekeliling kota untuk mempermudah perdagangan Sumber: Tropenmuseum, Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen via www.commons.wikipedia.org

Gambar 2 Peta Batavia tahun 1627 yang Peta Batavia 1627 karya Frans Florisz. Sumber: Tropenmuseum, Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen via www.nationalgeographic.grid.id

39


KAMPUNG PEKOJAN Distrik dan Permukiman Etnis Arab Masa VOC tepatnya pada tahun 1773 terdapat 17 orang pribumi yang menduduki jabatan komandan, tetapi perlahan-lahan pribumi yang menduduki jabatan tersebut berkurang karena warga asli yang datang dari daerah asalnya berkurang atau sudah membaur menciptakan generasi baru yang hampir hilang etnisitasnya dan pindah ke tempat lain. Contohnya pada awal abad XVIII, orang Sumbawa, orang Buton, orang Mandar, mempunyai area-area nya tersendiri. Hal ini juga disebutkan berdasarkan hasil wawancara dengan Habib Ahmad Alwi Assegaf (2020), pengelola Masjid Langgar Tinggi mengatakan bahwa yang mengatur ketata kotaan pada masa kolonial kemungkinan adalah Belanda sendiri. Pada zaman kolonial Belanda, untuk memudahkan klasifikasi, daerah Pekojan sampai Pejaringan saat itu disebut Kampung Arab. Hal itu dilakukan agar Belanda mudah untuk mengatur kegiatan atau hal-hal yang dilakukan penduduk Tionghoa, penduduk Arab, dan pribumi. Gubernur Jendral H. W. Daendels membagi Jawa dalam sejumlah distrik atau pada saat itu dikenal dalam sebutan arrondissement. Pada masa jabatan ini, komandan pribumi dihapuskan karena telah terjadi pembauran di kalangan penduduk Batavia, khususnya di antara masyarakat pribumi. Oleh karena itu tidak memungkinkan untuk mempertahankan sistem pengaturan penduduk kota dengan mengikuti etnis. Hal ini juga disebabkan karena terjadinya perkawinan antar etnis dan tingginya tingkat komunikasi dan interaksi dikalangan mereka. Hal ini menyebabkan pengelompokan penduduk berdasarkan etnis tidak berlaku lagi. Pada masa pemerintahan Inggris, daerah Batavia dibagi menjadi dua, yaitu Ommelanden bagian barat yaitu Tanggerang (Benteng) dan Ommelanden selatan yaitu Buitenzorg (Bogor). Ommelanden sendiri artinya adalah kawasan luar tembok kota. Kemudian wilayah Ommelanden dibentuk menjadi satu keresidenan, yaitu Residensi Batavia. Pertengahan abad ke 19, Residensi Batavia terdiri dari 4 kwartieren, yaitu: 1. Noorder kwartier, wilayah kota yang disebut Stad en Voorsteden terdiri atas 7 distrik; 2. Ooster kwartier atau Jatinegara yang meliputi 30 tanah partikelir besar dan kecil; 3. Wester kwartier atau Tangerang yang di dalam wilayahnya terdapat 57 tanah partikelir; 4. Zuider kwartier atau Meester Cornelis yang memiliki 100 tanah pertikelir. Pada 1829 Batavia yang menjadi bagian Noorder kwartier dan terdiri dari 7 distrik dengan sebutan menggunakan angka seperti distrik ke satu, distrik ke dua, distrik ke tiga, dan seterusnya. Pada distrik ke enam yang merupakan kawasan Glodok dan sekitarnya merupakan daerah Kapitan Cina. Pada tahun 1885 distrik di Batavia dibagi menjadi empat yaitu, Penjaringan, Mangga Besar, Pasar Senen dan Tanah Abang. Keempat distrik ini merupakan bagian dari kota lama yang disebut Stad en Voorsteden. Pada pertengahan abad XVII muncul jabatan Kapitan Arab yang pada saat itu meningkatnya

40


KAMPUNG PEKOJAN jumlah pemukiman etnis Arab. Kampung Pekojan pada saat itu yang masuk ke distrik Noorder kwartier merupakan salah satu contohnya. Sampai pada tahun 1942, periode pemerintahan Hindia-Belanda, kedudukan Kapitan Arab dan Mayor China berada di bawah administrasi orang Timur-Asing atau Bestuur VOOR Vreemde Oosterlingen. Mereka bertanggung jawab langsung kepada Residen Batavia.

Dibangunnya Sekolah, Tempat Ibadah, Jembatan, dan Pasar Pada tahun 1755, warga Cina mendirikan sekolah di Petak Sembilan di halaman kelenteng dan pada tahun 1900 di tempat yang sama didirikan sekolah Tiong Hoa Hwee Koan. Bahasa yang digunakan umumnya menggunakan dialek Hokkien. Pemakaian dialek Hokkien merupakan hal umum di pemukiman Cina di Batavia pada saat itu karena banyak penduduknya yang memiliki daerah asal dari Provinsi Cina Selatan di Fukien dan Gwangdong. Seperti halnya warga Cina, di Kampung Pekojan yang merupakan kawasan tempat tinggal khusus bagi komunitas keturunan Arab dan India yang beragama Islam, didirikan pondok pesantren dan masjid. Hal ini dilakukan untuk mendukung tujuan Bangsa Arab yang datang ke Indonesia yaitu berdagang dan berdakwah. Terdapat enam bangunan masjid didirikan yang menjadi awal mula penyebaran agama Islam di Batavia pada masa itu. Masjid-masjid tersebut adalah Masjid Al-Anshor (1648 M), Masjid Jami Kampung Baru (1743 M), Masjid Jami An-Nawier (1760 M), Masjid Ar Raudoh (1770 M), Mushola Az Zawiyah (1812 M), dan Masjid Langgar Tinggi Gambar 3 Masjid Jami Kampung Baru (1830 M) [2]. Pada awal abad ke-20, Komunitas Hadhrami juga telah membangun sekolah Sumber: Menggali Kembali Kisah Sejarah, Para Tokoh, dan Islam (madrasah) seperti Madrasah Jamiat Tempat Ibadah Bersejarah sebagai Cagar Budaya Batavia di Kampung Arab Pekojan oleh Usman Khair di Pekojan yang berdiri pada tahun 1905. Pada tahun 1784, Vihara Dewi Samudra (Ma zu miao) dibangun dan tahun 1823, Vihara Padi Lapa (Da Bo Gong/ You mi hang hui miao) dibangun.

41


KAMPUNG PEKOJAN

Gambar 4 Masjid Jami An-Nawier

Gambar 5 Masjid Ar Raudah

Sumber: Menggali Kembali Kisah Sejarah, Para Tokoh, dan Tempat Ibadah Bersejarah sebagai Cagar Budaya Batavia di Kampung Arab Pekojan oleh Usman

Sumber: Menggali Kembali Kisah Sejarah, Para Tokoh, dan Tempat Ibadah Bersejarah sebagai Cagar Budaya Batavia di Kampung Arab Pekojan oleh Usman

Gambar 6 Mushola Azzawiyah

Gambar 7 Masjid Langgar Tinggi

Sumber: Menggali Kembali Kisah Sejarah, Para Tokoh, dan Tempat Ibadah Bersejarah sebagai Cagar Budaya Batavia di Kampung Arab Pekojan oleh Usman

Sumber: Menggali Kembali Kisah Sejarah, Para Tokoh, dan Tempat Ibadah Bersejarah sebagai Cagar Budaya Batavia di Kampung Arab Pekojan oleh Usman

Gambar 8 Vihara Dewi Samudra

Gambar 9 Vihara Padi Lapa

Sumber: Menggali Kembali Kisah Sejarah, Para Tokoh, dan Tempat Ibadah Bersejarah sebagai Cagar Budaya Batavia di Kampung Arab Pekojan oleh Usman

Sumber: Menggali Kembali Kisah Sejarah, Para Tokoh, dan Tempat Ibadah Bersejarah sebagai Cagar Budaya Batavia di Kampung Arab Pekojan oleh Usman

42


KAMPUNG PEKOJAN Pasar yang muncul di Batavia pada umumnya adalah pasar partikelir yang pengelolaannya disewakan kepada pemegang lisensi, pemerintah kota bertugas untuk menetapkan pajak yang dipungut perihal berbagai aktivitas yang terjadi di pasar. Menjadi bagian dari Batavia, tentu membuat pasar di Kampung Pekojan mengikuti peraturan dari pemerintahan pada saat itu. Terdapat salah satu ciri khas aktivitas jual beli di Kampung Pekojan yang terjadi di Jembatan Kambing. Pada tahun 1760, di Pekojan dibangun Jembatan Kambing yang berhadapan dengan Masjid An-Nawier. Disebut Jembatan Kambing karena banyaknya penduduk Arab yang berprofesi sebagai pedagang kambing disekitar Kali Angke. Perkembangan jembatan di Batavia sendiri ditandai saat Jembatan Inggris, jembatan tertua di Batavia pada saat itu yang dihancurkan pada tahun 1628 saat tentara Mataram menyerang Betawi. Di tahun yang sama, pembangunan jembatan Javasche Bank di Batavia dilakukan. Pembangunan jembatan ini bertujuan untuk mempermudah orang-orang pergi ke rumah sakit (hospitaalsbrug). Pada tahun 1655 dibangun Jembatan Hoenderpasarbrug, jembatan ini melintasi terusan kanal bernama Amsterdamsche-gracht.

Pembangunan dan Kehidupan di Kampung Pekojan Saat Ini Kampung Pekojan yang berlokasi di Jakarta Barat, Kecamatan Tambora tepatnya Kelurahan Pekojan memiliki luas 0,78 km2, jumlah penduduk 28.161 jiwa, kepadatan penduduk 36.104/km2, dengan jumlah RT/RW 144/12, dan jumlah KK 9.542. Perkembangan pembangunan saat ini di Kampung Pekojan dipengaruhi dengan kultur dan budayanya yang kompleks meliputi latar belakang sejarah dan penduduk multi etnis yang tinggal disana, seperti Arab, India, Cina, dan Betawi. Bangunan-bangunan bersejarah yang berumur ratusan tahun masih berdiri sampai sekarang; masjid, mushola, dan klenteng yang dibangun pada abad ke-17, 18 dan 19, berada dibawah perlindungan Pemerintah Republik Indonesia [3]. Pola kehidupan masyarakat pun berubah menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi zaman yang terus berkembang. Seperti yang dijelaskan diatas, dahulu di Kampung Pekojan, sekolah yang dibangun adalah sekolah Islam/ madrasah, sekarang sekolah Kristen dibangun dan banyak sekolah-sekolah bermunculan yang menerima keanekaragaman etnis, budaya, dan agama baik untuk Kampung Pekojan dan sekitarnya. Pasar yang dahulu adalah pasar partikelir, sekarang menjadi pasar umum yang bisa digunakan dan didatangi oleh semua kalangan. Pasar kambing khas Kampung Pekojan pun masih aktif sampai saat ini dan menjadi kawasan yang cukup ramai karena menjadi bagian penting jalan penduduk sekitar yang dilewati setiap harinya.

43


KAMPUNG PEKOJAN

Gambar 10 Jembatan kambing yang sampai saat ini masih mempertahankan ciri khasnya yaitu, area jual beli kambing Sumber: Yuana Fatwalloh via kumparan.com

Gambar 11 Posisi Kampung Pekojan pada peta Batavia tahun 1846 dan posisinya sekarang pada Google Map citra Maret 2020 Sumber: Eduard Selberg: Reise nach Java und Ausflüge nach den Inseln Madura und St. Helena. Oldenburg, Druck und Verlag von Gerhard Stalling, 1846 via www.commons.wikipedia.org

44


KAMPUNG PEKOJAN Kesimpulan Berawal dari Belanda yang menugaskan Simon Stevin untuk merancang kota ideal yang bisa menjadi area pertahanan untuk memudahkan tujuan Belanda dalam jalur distribusi perdagangan, Kampung Pekojan menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah pembangunan kota ideal tersebut. Kampung Pekojan yang menjadi kawasan tempat tinggal khusus komunitas Arab dan India beragama Islam yang memiliki tujuan untuk berdagang dan berdakwah sehingga banyak didirikan masjid, mushola, dan pesantren. Klenteng yang lokasinya dibangun dekat dengan Kampung Pekojan, hal ini menunjukkan bahwa semenjak dahulu, kehidupan multi etnis yang akur dan tentram sudah terbentuk. Meskipun sampai saat ini bangunan-bangunan, jalan, peninggalan yang menjadi saksi sejarah perkembangan pembangunan di Batavia banyak yang dihancurkan baik sengaja ataupun tidak sengaja, rusak termakan masa, tergantikan oleh bangunan baru yang lebih modern, baru, dan dibangun untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat yang berubah seiring berjalannya waktu, Kampung Pekojan dengan cerita sejarah, budaya, dan penduduk multi etnis, masih tetap berdiri. Tentu Kampung Pekojan tidak berjalan ditempat begitu saja. Perkembangan pembangunan pun dijalankan, bangunan bersejarah diberikan perlindungan. Ratusan tahun telah berlalu, Kampung Pekojan dan masyarakat-masyarakat yang peduli akan terus berkembang dengan tetap mempertahankan peninggalan sejarah yang berharga, karena pembangunan tidak dapat dihindari dan sejarah akan tetap tersimpan, diceritakan dengan sifatnya yang absolute.

Referensi [1] Profil Simon Stevin berdasarkan jurnal dari Robert C.M. Weebers dkk, “Simon Stevin’s ideas on Settlements”, 2nd International Conference on Behavioral and Psychological Sciences IPCSIT Vol. 23, 2011, LACSIT Press, Singapore [2] Berdasarkan Sumit K. Mandal, Becoming Arab: Creole Histories and Modern Identity in the Malay World halaman 72 dan konversi tahun hijriah ke tahun masehi dari tahun pertama kalinya konstruksi bangunan yang tertera di papan nama Masjid Langgar Tinggi. [3] Berdasarkan Kecamatan Tambora dalam Angka 2019 dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cagar Budaya. Badan Pusat Statistik. 2019. Kecamatan Tambora dalam Angka. Lohanda, Mona. 2007. Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia.

45


KAMPUNG PEKOJAN Mandal, Sumit K. 2018. Becoming Arab: Creole Histories and Modern Identity in the Malay World. United Kingdom: Cambridge University Press, hal. 72 Robert C.M. Weebers dkk. 2011 “Simon Stevin’s ideas on Settlements”. 2nd International Conference on Behavioral and Psychological Sciences IPCSIT Vol. 23. Singapore: LACSIT Press. Usman. 2019. Menggali Kembali Kisah Sejarah, Budaya, Para Tokoh, dan Bangunan Cagar Budaya di Kampung Arab Pekojan.

46


KAMPUNG PEKOJAN

46


KAMPUNG PEKOJAN

47


KAMPUNG PEKOJAN

CV KONTRIBUTOR Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, ST., M.Sc., Ph.D lahir di Muntok, 28 Januari 1971 Kurniawan adalah Guru Besar Arsitektur pada Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Beliau mengampu beberapa Mata Kuliah baik di level S1 dan S2 antara lain Sejarah dan Teori Arsitektur, Arsitektur Heritage, Perancangan Arsitektur, serta membimbing skripsi (S1), tesis (S2) dan disertasi (S3). Beliau menyelesaikan Pendidikan Sarjana Teknik (ST) dari Jurusan Arsitektur FTUI (1995), Master of Science (M.Sc) in Architectural History dari The Bartlett, University College London (2000) dan Doctor of Philosophy (Ph.D) in Architecture dari The Bartlett, University College London (2005) Area peminatan risetnya berkaitan dengan aspek sosial-budaya-politik dalam Arsitektur, khususnya yang berhubungan dengan Kolonialitas dan Poskolonialitas, serta Tradisi dan Modernitas. Beliau adalah pengarang buku ‘Postcolonial History of Architecture and Urbanism; Power and Space of Indonesian Tin Mining in Bangka Island’ (2011) dan ‘The Hybrid Architecture of Colonial Tin Mining Town of Muntok’ (2013), serta berbagai artikel ilmiah di berbagai jurnal antara lain yang terbaru berjudul ‘From Boluf to Kampung: Spatial Changes in The Korowai Traditional Settlements’ yang dimuat di e-journal ISVS tahun 2020, dan ‘Pulo Mas: Jakarta's failed housing experiment for the masses’ yang dimuat di Jurnal Planning Perspective tahun 2020. Beliau juga menjadi penggerak dan specialist VERNADOC Indonesia. Saat ini Beliau menjabat sebagai Ketua Dewan Riset Daerah Provinsi DKI Jakarta, Anggota Tim Ahli Bangunan Gedung DKI Jakarta, Asesor BAN-PT, serta Anggota Senat Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Rifandi Septiawan Nugroho, S.T lahir di Jakarta, 26 September 1992 Rifandi adalah penulis dan kurator independen berbasis di Tangerang Selatan. Saat ini, ia menempuh pendidikan magister bidang studi Sejarah dan Teori Arsitektur di Universitas Indonesia, juga menjadi pemimpin redaksi halaman arsitekturindonesia.org, repositori daring dokumen sejarah arsitektur di Indonesia. Proyek-proyek kuratorial Rifandi bersentuhan dengan arsip, ruang publik, dan warga kota. Ia mengkurasi “Kota & Seni” (2018), “Fraktal City” (2019) di Tangerang Selatan; “occupying>modernism” (2019), “Segar Bugar: The Story of Conservation in Jakarta 1920s-Present” (2019) di Jakarta; “Kutho Dadi Alas, Alas Dadi Kutho (2020) di Banyuwangi, dan Besar Kecil Sama Saja, Asal Nggak Sendiri (2020) di Jakarta. Sejak 2017, bersama teman-teman, Rifandi mengembangkan Kolektif Kurator Kampung (KKK). Saat ini, riset pribadinya berfokus pada arsitektur, ingatan, dan mobilisasi gagasan di wilayah desa dan kota di Jawa, khususnya pada era pendudukan Jepang (1942-1945).

48


KAMPUNG PEKOJAN Ikrar Raksaperdana, S.Ars lahir di Bandung, 15 Januari 1997 Ikrar adalah mahasiswa magister arsitektur Universitas Indonesia (2019). Ikrar memulai pendidikan di SDN Cipinang Melayu 04 Pagi Jakarta Timur (2002), SMPN 13 Bandung (2008) SMAN 3 Bandung (2011) dan meneruskan studi S1 di Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan (2014). Beberapa kegiatan mahasiswa yang pernah dijalani oleh Ikrar diantaranya adalah menjadi Hubungan Masyarakat dari Himpunan Mahasiswa Arsitektur UNPAR dan menjadi reporter dari majalah KOMUNNARS. Sejak tahun 2018, bersama teman-teman, Ikrar mengembangkan wirausaha di bidang jasa konsultan arsitektur.

Kinayung Syafira Aratuza, S.Ars lahir di Ambon, 18 Oktober 1996 Kinayung memulai pendidikan di SD Negeri (2002), SMP Negeri (2008), SMA Negeri dalam program akselerasi (2011), Studi S1 Jurusan Arsitektur di Universitas Halu Ole (2013), dan kemudian saat ini melanjutkan studi magister pada Departemen Arsitektur di Universitas Indonesia. Riwayat pengalaman kegiatan non-formal dan pekerjaan yakni pernah mengikuti Penataran Strata I, Tata Kota dan Peraturan Pertanahan oleh Ikatan Arsitektur Indonesia Daerah Sulawesi Tenggara (2018), Penataran Strata II, Peraturan Pembangunan Gedung oleh Ikatan Arsitektur Indonesia Daerah Sulawesi Tenggara (2018), menjadi panitia dalam “Rapat Kerja Daerah IAI Sulawesi Tenggara” (2018), semasa studi S1 pernah bekerja pada Pembangunan Rumah Sakit RSUD Abunawas Kota Kendari, sebagai Tim Pengawas (Februari – April 2016), pernah bekerja pada CV. Nikkou Engineering Design Consultant sebagai Drafter (Agustus 2016 – Mei 2017), kemudian mengikuti Penelitian Pemetaan Kampung Cikini Kramat oleh Laboratorium Departemen Arsitektur UI sebagai Surveyor (2019), dan terlibat dalam kegiatan “International Conference on Dwelling Form, iDwell 2020” sebagai Tim Perbendaharaan (2020).

Gianoora Achmad, S.T lahir di Denpasar, 20 Februari 1992 Gianoora Achmad adalah penulis dan illustrator lepas yang pada tahun 2013 menyelesaikan studi S1 Jurusan Teknik Arsitektur di Universitas Diponegoro dan pada Agustus 2019, mulai melanjutkan pendidikan master di Departemen Arsitektur, Universitas Indonesia dengan kekhususan Sejarah dan Teori Arsitektur. Gianoora pernah bekerja di PT. Jaya Construction Management sebagai inspektur arsitek, mengawasi beberapa proyek seperti, “L’Avenue Office and Residences”, “SOHO Podomoro City”, dan “Anandamaya Residences Hongkong Land Project” (2014-2016). Kemudian ia bekerja di Ditjen Sumber Daya Air, Direktorat Irigasi dan Rawa, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan sebagai staff (2016-2019). Pada tahun 2019, Gianoora mulai berkontribusi dalam “SENIGMA: Into Wanderland” sebuah acara tahunan bentuk apresiasi untuk memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia pada tanggal 10 Oktober yang diselenggarakan organisasi non-profit, Ubah Stigma.

49


KAMPUNG PEKOJAN

50


Morfologi, Etnisitas, Lingkungan dan Pembangunan; Kampung Pekojan dalam Perspektif Sejarah Perkembangan Batavia & Morfologi Kawasan Pekojan 1870-1930 Jejak Arsitektur Kelompok Etnis di Kampung Pekojan Perubahan Lingkungan & Kehidupan Berkota : Kampung Pekojan Perkembangan Pembangunan di Kampung Pekojan

Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia 2020


Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.