Kinclong: Napak Tilas Rumah Bersih antar Masa dan Masyarakat

Page 1

KINCLONG Exhibition

KINCLONG Napak Tilas Rumah Bersih antar Masa dan Masyarakat

Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia


KINCLONG Exhibition

Manusia memiliki keinginan mendalam untuk mengatur lingkungan sekitarnya menjadi suatu hal yang rapi dan teratur. Ketika segala hal dalam rumah telah menempati posisinya masing-masing, maka kita merasa puas dan bangga karena rumah kita bersih, dan tidak lagi gelisah ketika terdapat sesuatu yang berantakan atau kotor. Namun begitu, bersih ternyata bukanlah suatu nilai universal dan justru memiliki sejumlah pemaknaan dari berbagai konteks. Kinclong Exhibition mengeksplorasi konsep mengenai apa yang dianggap “bersih” dan “kotor” dalam konteks rumah dan masyarakat. Tiap kurator mengangkat topik yang disusun mulai dari konsep dan konteks sejarah kebersihan yang beragam, kemudian memasuki rumah dan masyarakat, diikuti dengan eksplorasi ruang-ruang spesifik, dan diakhiri dengan refleksi terhadap konsep “bersih” di masyarakat.

KINCLONG Exhibition

KINCLONG Napak Tilas Rumah Bersih antar Masa dan Masyarakat Main Curator Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, ST., M.Sc., Ph.D

Executive Curator & team

Aditya Bayu Perdana | Siti Arfah Annisa | Sherley Ika Christianti | Mohammad Resha Khambali | Nadira Adiswari | Sarah Khansha Suhada | Adelia Andani Djarot | Rezqi Vebra Youza |

Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

KINCLONG: Napak Tilas Rumah Bersih antar Masa dan Masyarakat Pameran Workshop Sejarah dan Teori Arsitektur 1 | 2021 Cetakan pertama , Februari 2021 Kurator Utama | Main Curator Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, ST., M.Sc., Ph.D Kurator Eksekutif | Executive Curator Aditya Bayu Perdana Kurator | Curator Mohammad Resha Khambali | Siti Arfah Annisa | Rezqi Vebra Youza | Nadira Adiswari | Sarah Khansha Suhada | Sherley Ika Christianti | Adelia Andani Djarot Desain Layout | Layout Design Mohammad Resha Khambali | Rezqi Vebra Youza Desain Grafis & Video | Graphic Design & Video Sherley Ika Christianti | Nadira Adiswari | Sarah Khansha Suhada Penerbit | Publisher Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia ISBN 978-623-7882-14-5 (PDF) Copyright ------------Hak cipta dilindungi oleh undang - undang. Dilarang mengutip, memperbanyak, atau menyalin baik secara menyeluruh atau sebagian, dalam bentuk elektronik, cetak dan lain sebagainya tanpa izin tertulis dari penerbit.

KINCLONG


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Napak Tilas Rumah Bersih antar Masa dan Masyarakat

Sherley Ika Christianti Menghindari Anomali (Avoiding Anomaly)

Aditya Bayu Perdana Babad Bersih-bersih (Chronicles of Clean)

Mohammad Resha Khambali Kebersihan yang Terucap (The Spoken Cleanliness)

Nadira Adiswari Yang Kalis dan Tertulis (The Written Cleanliness)

Siti Arfah Annisa Bukan Toilet Biasa (Peculiar Privy)

Sarah Khansha Suhada Jantung Rumah (Heart of Home)

Adelia Andani Djarot Pancarona Dinding Putih (Colors of a White Wall)

Rezqi Vebra Youza Paradoks Rumah Modern (Paradox of Modern Home)

KINCLONG Exhibition


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Pengantar Kuratorial | Kuratorial Preface Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, ST., M.Sc., Ph.D

Sebagai pendahuluan dari Pameran Daring ini, pada bulan November dan Desember 2020, masih dalam suasana pandemic Covid 19, delapan mahasiswa Program Magister Departemen Arsitektur FTUI melibatkan diri dalam sebuah Workshop Daring bertema ‘Arsitektur, Antropologi dan Budaya Material’ dari sisi Kesejarahan (Historis). Dalam Workshop ini, mahasiswa mengilas (review) berbagai bacaan, termasuk tiga bacaan utama yaitu ‘Consumption Studies and the Home’ dalam buku An Anthropology of Architecture (2014) karya Victor Buchli, juga Purity and Danger: An Analysis of the Concepts of Pollution and Taboo (1966) karya Mary Douglas, serta Objects of Desire: Design and Society Since 1750 (1986) karya Adrian Forty. Mahasiswa kemudian meresponse bacaan-bacaan tersebut dari sudut pandang masing-masing, dan mengusulkan sebuah sub-tema bagi suatu Pameran Daring yang mengerucut pada sebuah judul yaitu ‘Kinclong’. Ide ini mencerminkan budaya material yang berkaitan dengan pengetahuan tentang ‘Dirt’ (kotor), ‘Clean’ (bersih), ‘Out of Place’ (tidak pada tempatnya),

‘Hygiene’ (kebersihan), dan ‘Everyday’ (Keseharian), yang representasinya muncul secara berbeda dan unik pada Arsitektur dan Masyarakat tertentu yang dipengaruhi oleh aspek sejarah sosial, budaya,dan politik yang terjadi. Sub tema 1 dan 2 berjudul Avoiding Anomaly (‘Penghindaran Anomali’), dengan kurator Sherley, dan Chronicles of Clean (‘Babad Bersih Bersih’), dengan kurator Bayu, mengawali Pameran ini. Sherley membahas mengenai konsep kotoran atau dirt yang merupakan suatu anomali atau hal ambigu yang terjadi di dalam keseharian manusia, yang disikapi secara berbeda-beda oleh berbagai macam budaya di masyarakat, termasuk dalam rancang design Arsitektur Modern. Sementara itu, Bayu dengan tema ‘Babad Bersih Bersih’ membahas Kebiasaan mandi dan membersihkan diri yang merupakan praktek kuno yang dapat ditemukan dalam berbagai peradaban manusia di berbagai belahan dunia. Bayu mengajak kita melalui berbagai tulisan dan gambar pilihannya untuk menapak tilasi berbagai pemandian

1

KINCLONG serta kebiasaan mandi antar budaya dan periode historis - dari pemandian Caracella di Roma hingga Taman Sari di Yogya, dari kebiasaan mandi Viking hingga Arab, dan juga pasang surut pendapat mandi di Eropa dari abad pertengahan hingga revolusi Industri.

muncul di masyarakat, keadaan politik dan sosial, serta tentunya budaya dan kepercayaan, dengan mengambil tiga rujukan hunian masyarakat dengan budaya tulisan yaitu hunian masyarakat Inggris, Australia, dan India di abad 19-20 Masehi.

Sementara itu, dalam Sub Tema 3 dan 4 yang berjudul The Spoken Cleanliness (‘Kebersihan Terucap’), dengan Kurator Resha, dan The Written Cleanliness (‘Kebersihan Tertulis’) dengan Kurator: Nadira, melanjutkan konsep ‘Clean’ (Bersih) ini melalui perjalanan melihat konteks dan membaca teks. Resha mengajak pembaca untuk sedikit melihat bagaimana konsep kebersihan semacam ini terwujud dalam budaya lisan (tanpa tulisan) dari masyarakat adat yang direpresentasikan dalam dua rumah adat di Indonesia, yaitu rumah adat masyarakat desa Suroba, lembah Baliem, Papua, dan masyarakat desa Raténggaro, Pulau Sumba, NTT. Sementara itu Nadira, mengajak pembaca untuk memandang kebersihan sebagai konsep yang lahir sebagai perpaduan dampak dari standar yang

Selanjutnya, dalam Sub Tema 5 dan 6 yang berjudul Peculiar Privy (‘Bukan Toilet Biasa’) dengan Kurator Annisa, dan Heart of Home (‘Jantung Rumah’) dengan Kurator Khansha, perjalanan tentang ‘Kinclong’ ini memasuki aspek yang lebih pribadi dalam sebuah rumah yaitu Toilet dan Dapur. Annisa membahas perkembangan desain kamar mandi dari sejak revolusi industri yang menjadi pembeda kelas sosial di masyarakat. Menurut Annisa, kamar mandi juga muncul sebagai representasi dari gerakan modernisme. Arsitek-arsitek era modern seperti Le Corbusier, Adolf Loss, dan Frank Llyod Wright memiliki perhatian terhadap kebersihan yang diwujudkan melalui gagasan desain kamar mandi. Sementara Khansha, membahas tentang perkembangan rancangan dapur

2


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

KINCLONG sebagai jantung dari hunian rumah tangga yang sepanjang evolusinya memperlihatkan perbedaan persepsi dan perkembangan pengetahuan tentang konsep bersih, efisien, aman, dan nyaman dalam rumah sebagai upaya meringankan beban kerja di ruang domestik yang identik dengan gender wanita. Dapur menjadi ruang persimpangan yang melibatkan peran wanita dalam suatu hunian dengan dunia perancangan arsitektur, yang pada akhirnya membentuk konsep dapur modern sebagaimana yang kita kenal sekarang.

nya dengan arsitektur. Dalam budaya materi, putih adalah keadaan di mana arsitektur meneriakkan kebebasannya dari noda. Maka retorika putih dalam arsitektur bergantung pada apa yang ia anggap sebagai noda dan bagaimana desain memperlakukannya. Sementara itu, Vebra membahas tentang Paradoks Arsitektur Modern yang representasinya cenderung membersihkan dan menghilangkan aspek keseharian dari penggunaannya, sesuatu yang bertolak belakang dengan sejarah awal modernism. Sehingga arsitektur modern yang menjadi ‘bersih dan sederhana’ (clean and simple) itu tidak selamanya membuat penggunanya nyaman.

Sub Tema 7 dan 8 yang berjudul Colours of a White Wall (‘Warna-Warni Suatu Dinding Putih’) dengan Kurator Adelia, dan Paradox of Modern Homes (‘Paradoks Rumah Modern’) dengan Kurator: Vebra, menjadi penutup dari Pameran ‘Kinclong’ ini dengan menghadirkan Retorika dan Paradoks yang membuka ruang penjelajahan pemikiran lebih lanjut bagi wacana tentang ‘Kinclong’ ini di masa mendatang. Pada bagian ini, Adelia mempertanyakan retorika di balik warna putih dalam hubungan-

munculnya pengetahuan baru selanjutnya. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari apa yang kami hadirkan ini, oleh karena itu masukan dan saran tentunya sangat berharga bagi perbaikan dan upaya melengkapi materi dari Pameran ini di masa datang. Akhirnya kami ucapkan Selamat menikmati dan menjelajah Pameran Virtual ini. Hormat kami, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, ST., M.Sc., Ph.D Kurator Utama

Demikian dapat kami sampaikan, bahwa Buku Katalog pameran virtual ini menjadi penghantar dan rujukan bagi pengunjung untuk bisa menjelajah delapan sub tema Arsitektur dari tema ‘Kinclong’ yang dirangkai sedemikian rupa sehingga tidak membentuk suatu kesimpulan tertentu di bagian akhir agar tidak membatasi pengunjung dan justru membuka ruang-ruang diskusi dan dialog bagi

3

4


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Hello & Welcome

Pengantar Kuratorial | Curatorial Preface

Banyak dari kita yang membersihkan rumah setiap hari dan merasa bangga apabila mebel dan bahkan diri kita sendiri tampil kinclong berkat perawatan yang telaten. Debu dan kotoran adalah pendatang tidak diinginkan yang perlu dienyahkan tiap harinya dengan kegiatan bersihbersih. Namun mengapa kita menganggap demikian? Dalam bukunya, Purity and Danger, antropolog Mary Douglas menuturkan bahwa manusia memiliki keinginan mendalam untuk mengatur lingkungan sekitarnya menjadi suatu hal yang rapi dan teratur. Ketika segala hal dalam rumah telah menempati posisinya masing-masing, maka kita merasa rumah kita bersih dan duniapun terlihat cukup teratur, sedikit penawar bagi kegelisahan yang timbul akibat ketidakpastian semesta.

Namun setelah tiba pada definisi ini, kita juga diingatkan bahwa “bersih” merupakan suatu kondisi yang sangat terikat dengan pemikiran dan budaya manusia. Apa-apa yang dianggap bersih dan teratur sangatlah bervariasi antar konteks, dan menganggap bahwa definisi modern dari “bersih” dapat diterapkan secara universal di berbagai pengalaman manusia merupakan tindakan yang gegabah.

Maka dari itu, melalui pameran singkat ini, kita akan berupaya (dan kami harap dapat berhasil) untuk memperluas pemahaman kita tentang kebersihan, dan manifestasinya di rumah antar masa dan masyarakat.

Aditya Bayu Perdana | Executive Curator 5

6


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

40 Kebersihan yang Terucap

(The Spoken Cleanliness)

Daftar Isi | Table of Contents

Kebersihan Terucap : Kebersihan dan Ruang Domestik dalam Budaya Tradisional: studi kasus di Suroba dan Raténggaro, Indonesia

1

Pengantar Kuratorial | Kuratorial Preface

5

Daftar Isi | Tabel of Contents

12 Menghindari Anomali

(Avoiding Anomaly)

Konsep Dirt sebagai Konsep Anomaly/Ambiguity

Yang Kalis dan Tertulis 56 (The Written Cleanliness) Antropologi dan budaya material modern

70

Bukan Toilet Biasa (Peculiar Privy) Tentang Kamar Mandi dan Perkembangannya

Babad Bersih-bersih 24 (Chronicles of Clean) Ulasan Singkat Pemandian, Mandi, dan Kebersihan Antar Masa

7

8


KINCLONG Exhibition

Jantung Rumah (Heart of Home)

KINCLONG Exhibition

K I N C L O N G

82

Dapur-Jantung Rumah : Persimpangan antar Kebersihan dan Wanita Kitchen - Heart of The Home : Crossroad of Hygiene and Women Dapur Pra-Industri Dampak Revolusi Industri Merasionalkan Dapur Menampilkan Dapur Dapur Kontemporer

121

Profil Kurator

125

Daftar Istilah

100 Pancarona Dinding Putih

(Colors of a White Wall) Putih dan kebersihan Putih dan kemurnian Putih dan Kekosongan

Paradoks Rumah Modern 114 (Paradox of Modern Home) Everyday Surface Aesthetic Qualities: Messy, Dirty, Ugly, Ordinary

9

10


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

11

Sherley Ika Christianti

Nil21 \l 1033 (Nilfisk-Advance, 1912)

Gambar 1: Foto Wanita membersihkan rumah di Denmark tahun 1912 CITATION

Menghindari Anomali (Avoiding Anomaly)

Konsep Dirt sebagai Konsep Anomaly/Ambiguity Pernahkan kita berpikir, ketika melangkahkan kaki kedalam rumah, mengapa kita selalu melepas alas kaki dan meletakannya di rak sepatu? bahkan ada kebiasaan orang-orang yang berganti dengan sandal di dalam rumah. Bagi beberapa budaya, mungkin mengenakan alas kaki didalam rumah bukanlah menjadi masalah besar, namun sebagian besar dari kita akan merasa bahwa sepatu yang telah digunakan untuk beraktifitas diluar rumah, merupakan sesuatu yang ‘kotor’ dan tidak pantas untuk digunakan di dalam rumah. Padahal kita tidak menganggapnya sesuatu yang ‘kotor’ ketika kita meletakannya di rak sepatu, bahkan ketika kita hendak mengambilnya dan menggunakannya kembali untuk beraktifitas. Sebagai contoh sederhana berikutnya ketika kita duduk di meja makan sambil memakan makanan yang telah disediakan, tidak pernah terlintas di benak kita bahwa makanan itu merupakan hal yang kotor kecuali makanan tersebut tercemari oleh sesuatu. Namun ketika makanan atau minuman itu tidak sengaja tumpah di pakaian yang sedang kita gunakan, maka kita akan menganggap makanan ini merupakan ‘kotoran’ yang

12


KINCLONG Exhibition

mengotori pakaian kita yang bersih. Dari kedua contoh ini dapat kita lihat bahwa kotoran atau sesuatu yang kotor, merupakan sesuatu yang dipersepsikan oleh pikirkan kita terhadap hal yang dianggap kotor tersebut. Persepsi yang terbangun ini memberikan pengertian mengenai ‘kotoran’ pada dasarnya merupakan sesuatu yang ‘tidak pada tempatnya’ seperti yang diungkapkan Forty didalam bukunya Object of Desire: Design and Society since 1750 mengenai persepsi ‘kotoran’ ini:

KINCLONG Exhibition

menghindarinya, menganggapnya tidak ada sama sekali dengan tidak melihatnya, atau mengatakan hal tersebut merupakan sesuatu yang salah. Selain itu disisi lain kita dapat menghadapinya dan membuat pola pola baru sehingga anomali-anomali ini jadi memiliki ‘tempat’ bukan lagi suatu yang ‘tidak pada tempatnya’. Lalu bagaimanakah kita dapat menghindari atau menghadapi anomali ini?

Gambar3: Lukisan dinding Lascaux Painting CITATION Pro06 \l 1033 (Saxx, 2006)

toran’ merupakan sebuah sistem simbolik bagaimana cara pandang dan pengamatan orang-orang tentang higenitas terhadap suatu objek. Sehingga sebenarnya persepsi yang kita berikan terhadap kotoran ini juga merupakan simbolisasi dari sesuatu yang tidak biasa yang sering kita sebut sebagai anomali atau sesuatu yang ambigu. Anomali adalah suatu elemen yang tidak cocok dengan elemen yang sama pada umumnya. sedangkan sesuatu yang ambigu adalah karakter dari sebuah pernyataan yang memiliki dua intrepretasi yang bebeda. Anomali sering kita anggap sebagai suatu kekacauan dan gangguan, yang pada taraf tertentu dapat ditoleransi, atau dihindari, hingga dapat dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya dan harus dihilangkan dan dibersihkan. Seperti kotoran debu di lantai rumah, dapat menjadi kuman yang dapat menjadi sumber penyakit sehingga membahayakan orang yang tinggal di dalam rumah tersebut jika tidak segera dibersihkan. Didalam menyikapi anomali ini, secara umum dapat dilakukan dengan

“… dirt is that it is matter out of place: dirt is the label we attach to what we perceive as disorder, a state that is often regarded as threatening.”

Gambar 2 : Ilustrasi seorang wanita membersihkan rumah CITATION Rog20 \l 1033 (Roghman, 1648)

Douglas di dalam bukunya Purity and Danger juga menyebutkan hal yang sama bahwa konsep dari ‘ko-

13

Human Desire to Avoid Anomaly Terkadang kita merasa bosan dan mulai tidak nyaman dari hal hal kecil yang ‘tidak pada tempatnya’ di dalam rumah sendiri. Misalnya ketika ada sesuatu yang kotor kita langsung merasa perlu membersihkannya, sehingga apa yang kita dapat merasa kembali nyaman untuk beraktifitas lagi di dalam ruang domestic tersebut. Atau ketika kita merasa sudah tidak nyaman dengan tatanan rumah, kita mulai berpikir untuk menata ulang perabot-perabot rumah untuk mendapatkan suasana yang baru di rumah. Perasaanperasaan ketidaknyamanan inilah yang mendorong kita untuk menyikapi suatu objek yang tidak pada tempatnya dan memiliki keinginan untuk membuat sesuatu itu tertata dan indah. Sebagai contoh yang sederhana yaitu ketika melihat langit malam yang cerah dan penuh bintang-bintang, orang-orang jaman dahulu mulai merasa tidak nyaman ketika melihat hal ketidak teraturan pada langit mereka sebagai suatu anomali dari alam, sehingga mereka mulai mencari-cari pola dari bintang-bintang tersebut yang sering kita sebut dengan rasi bintang. Sebagai contoh gambar-gambar dinding di Gua Lascaux di Perancis 16,500 tahun lalu yang merupakan gambar binatang-binatang sebagai peta langit malam pada masa prasejarah memperlihatkan tiga bintang terang yang sekarang disebut sebagai the Summer Triangle. Rasi bintang ini kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang untuk banyak hal, salah satunya penunjuk arah karena muncul di tempat yang sama. Hal ini kemudian dicatat didalam buku Claudius Ptolemy yang berjudul Almagest dan para peneliti, astronomer masih mengembangkan untuk menemukan jika terdapat pola-pola baru didalam rasi bintang hingga sekarang.

Dari sini dapat dilihat bahwa, Dalam menyikapi maka perasaan tidak nyaman dan gelisah terhadap ‘kotoran’ sebagai sesuatu yang anomali, membuat manusia berusaha untuk menghilangkannya atau jika tidak dapat dihilangkan maka akan ditata menjadi pola yang lebih nyaman untuk dilihat dan memiliki tempat yang layak.

Gambar 4: Andromeda Constellation ChartCITATION IAU4 \l 1033 (IAU, 2011)

14


KINCLONG Exhibition

Dari kecil kita selalu diajarkan untuk hidup rapi dan bersih, merawat diri, memakan-makanan yang sehat, sehingga kita dapat hidup sehat dan terhindar dari penyakit. Dari sini sebenarnya sudah dapat dilihat bahwa budaya didalam pengertian secara publik, memberikan standar terhadap nilai-nilai yang berkembang didalam suatu komunitas. Budaya dan tradisi disini memberikan dasar-dasar yang menghadirkan persepsi masyarakat secara positif terhadap ide pola-pola pada suatu objek, yang tertata dengan rapi dan memberikan pandangan bahwa suatu hal itu baik jika objek tersebut berada didalam tatanan. Sedangkan seorang individu melalui tradisi ini juga dapat menentukan bahwa objek tersebut merupakah hal yang buruk, atau kotor sebagai bentuk anomali didalam masyarakat. Namun berbeda dengan persepsi individu yang dapat diubah polanya secara privat, tradisi dan budaya merupakan permasalahan public yang persepsinya tidak dapat diubah dengan mudah hanya dengan perubahan satu individu saja sehingga tidak dapat mengabaikan begitu saja, tantangan dari penyimpangan bentuk polanya. Pada dasarnya peristiwa-peristiwa anomali akan selalu ada di sekitar kita, sehingga untuk mengurangi ke janggalannya biasanya suatu tradisi memberikan intrepretasi tertentu terhadap keberadaan anomali tersebut agar dapat diterima dengan baik di masyarakat. Seperti yang dipercayai oleh masyarakat etnis china yang kita kenal, simbol Yin dan Yang pada faham Taoisme sebagai suatu harmoni dari alam semesta yang mempengaruhi hampir

Dari sini sebenarnya sudah dapat dilihat bahwa budaya di dalam pengertian secara publik, memberikan standar terhadap nilai-nilai yang berkembang di dalam suatu komunitas.

seluruh filosofi, sains, literature, politik, pemikiran dan kehidupan sehari-hari etnis ini, sebenarnya merupakan simbol toleransi terhadap anomali, hal-hal ambigu dan ketidak konsistenan di dalam suatu tradisi. Yin dan Yang ini memberikan konsep bahwa tidak ada hal yang sepenuhnya hitam, atau sepenuhnya putih, segalanya selalu terikat dengan paradox dan perubahan. Sehingga suatu anomali akan dianggap sesuatu yang wajar dan tidak berbahaya melainkan menjadi bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Meskipun demikian pada masyarakat di China konsep mengenai harmoni sendiri juga dilambangkan sebagai suatu kebersihan dan kerapian dari perabot-perabot rumah mereka. Seperti yang digambarkan pada piring porselen tahun 1700an memperlihatkan seorang wanita muda yang bersandar pada sisi belakang kursi. Buku-buku, gulungan, serta furniturnya, melambangkan pentingnya seorang Chinese untuk menempatkan barang barang sesuai tatanan (order) dan harmoni didalam rumah. Meja dan kursi ditempatkan menempel dinding. Tidak ada hal yang berantakan atau kacau dan harta benda selalu ditata dengan rapi.

15

KINCLONG Exhibition

Dalam suatu tradisi tertentu, eksistensi dari anomali dapat dikontrol secara fisik karena dianggap berbahaya dan perlu dihindari atau bahkan dimusnahkan, sehingga menciptakan suatu aturan untuk menghindari anomali untuk menegaskan pengertian dari sesuatu yang tidak pada tempatnya itu. Misalnya di Indonesia sendiri sebagai contoh permukiman di Kampung naga, yang terletak di Tasikmalaya, Jawa Barat. Di kampung naga ini memiliki beberapa aturan yang belaku, salah satu tradisi disana mengatakan bahwa jumlah populasi warganya dibatasi, sehingga jika terdapat seorang keluarga yang melahirkan anak namun tidak diikuti oleh angka kematian, maka anggota keluarga harus keluar dan tinggal di luar area kampung. Kemudian sebagai sumber kehidupan, masyarakat disana sangat menghargai sungai dan area atas (gunung) sebagai sumber air, sehingga mereka memberikan peraturan ketat mengenai kebersihan di area sungainya, dan melarang untuk membangun bangunan diarea atas. Dan secara simbolik bahwa area tersebut area yang dianggap suci, sehingga rumah-rumah yang dibangun disana memanjang dari gunung ke arah sungai. Gambar 6: Konsep Yin & Yang pada kepercayaan Taoisme (E T Archive) CITATION Phi98 \l 1033 (Steele, 1998)

Gambar 7: Beauty in The Home (Visual Art Library) CITATION Phi98 \l 1033 (Steele, 1998)

16


(Garnier, 1917)

Gambar 14: “Contemporary” Furniture (Diimpor dari Finland), Mid-1960s, St. Petersburg (Oleh Ekaterina Gerasimova, 2005, For the Project “Everyday Aesthetics in the Modern Soviet Flat.” (Reid, 2009)

Gambar 6: Kampung Naga, (dokumen pribadi)

17

18

Museum by Dmitrii Sidorov) (Reid, 2009)

Gambar 13: Rekonstruksi dari Domestik Interior pada era Stalin (Sillamae Ethnographic

Oleh Tony Garnier

khoroshem vkuse” Source Podruga [Girlfriend], Moscow 1959, pg. 220-21 (Reid, 2009)

didalam lanskap arsitektur. Segalanya yang terlihat bersih secara fisik sudah diterima sebagai suatu standar dan memberikan ide-ide desain yang memiliki nilai keindahan didalam bangunannya. Kebersihan di sini bukan hanya konsep mengenai kebersihan itu sendiri, melainkan cleanliness and dirtiness sudah menjadi subyek untuk menilai sesuatu sebagai beauty and ugliness. Mary Douglas setuju bahwa menghindari, membersihkan maupun menghadapi ‘kotoran’ sebagai sebuah anomali di dalam prakteknya, justru merupakan sebuah tindakan yang kreatif yang men-

Gambar 12: “good” and “bad” Taste in Home Furnishing. From M. Chereiskaia “Zametki o

Dalam menghadapi ‘kotoran’ sebagai anomali, tradisi dan budaya terus berkembang sebagai refleksi mereka terhadap perubahan itu sendiri. Termasuk di dalam ranah arsitektur, konsep tentang ‘Dirt & Cleanliness’ memiliki persepsi yang terus berubah di setiap masanya. Terutama konsep ‘kotoran’ di era arsitektur modern menjadi salah satu aspek desain yang utama didalam perkembangannya “Dirt” sebagai Anomali yang mempengaruhi Arsitektur Modern Sejak sekitar tahun 1930an, keindahan dari sesuatu yang bersih menjadi sebuah norma

KINCLONG Exhibition Gambar 9-11: Ilustrasi Peta Utopia Ideal city Une Cité Industrielle

KINCLONG Exhibition


jadi titik awal arsitektur modern sebagai aspek utama dalam mendesain. Masa peralihan ke era modern diawali dengan konsep-konsep penataan kota baru yang dikembangkan dengan mementingkan kesehatan sebagai salah satu kebutuhan utama di dalam rancangannya. Sebagai contoh, kota utopia yang di dirancang dan dipublikasikan oleh Tony Garnier pada tahun 1917 merupakan titik awal modern era dalam sejarah arsitektur dan tata kota. Di dalam rancangan kota baru ini, prin-

with a tapestry received as a gift c.1965 (photo: Ekaterina Gerasimova, 2004 for project Everyday Aesthetics in the Modern Soviet Flat). (Reid, 2009)

19

Flat” (Reid, 2009)

the housekeeping and crocheted.’ Mother’s needlework

for the Project “Everyday Aesthetics in the Modern Soviet

Gambar 15: “All of This is My Mother’s s [work]. She did

in St. Petersburg (Diambil oleh Ekaterina Gerasimova, 2004

Kemudian dalam perkembangannya konsep terhadap dirt menjadi sebuah simbol yang menjadi tren konsumsi masyarakat di rumah-rumah sehingga didalam bukunya yang berjudul an Anthropology of Architecture, Victor Buchli, berusaha mengungkapkan konsep dirt didalam penerapanya di era modern dengan menjabarkan mengenai aspek-aspek dari rumah itu sendiri. Ia menyebutkan bahwa dalam arti positif, ‘kotoran’ atau dirt juga merupakan salah satu simbol dari prosperity dalam rumah itu sendiri, bagaimana rumah itu dirawat, dipelihara, penghuninya berkeluarga didalamnya. Bagaimana peran setiap anggota keluarga, perempuan dan laki-laki di dalam rumah dari kebiasaan domestic yang mereka. Bagaimana pergerakan furnitur di dalam rumah dan efeknya sebagai identitas Gambar 16: Standard Apartment Block from the Early 1960s

sip-prinsip kota yang ideal yang memperhatikan aspek perumahan masyarakat, lapangan pekerjaan, tempat rekreasi, dan kesehatan. Dengan masyarakat sebagai pertimbangan utama dengan gedung kongres sebagai pusat kota, berbeda dengan era sebelumnya, fasilitas yang paling besar disini adalah rumah sakit sebagai kebutuhan kesehatan masyarakat, dan fasilitas kesejahteraan masyarakat seperti taman rekreasi dan tempat olahraga diletakan berdampingan dengan permukiman-nya. Sedangkan area industrinya sendiri dipisahkan dari permukiman untuk menjauhkan polusi dari permukiman masyarakat dihubungkan dengan sungai dan alat transportasi.

Gambar 17: “New Furniture for New Flats” (Ogonek dalam (Reid, 2009)

KINCLONG Exhibition

Gambar 19: Michel Ecochard’s Planning and Building Framework in Casablanca (Fabrizi, 2016)

Gambar 20 : Plan Voisin, Paris, France, Le Corbusier 1925 (Corbusier, 1925

kebiasaan individu yang didalamnya. Furniture disini juga bagian dari kenyamanan dalam arsitektur itu sendiri, maka sering ada pandangan bahwa memindah-mindah barang/ furniture di dalam rumah, membuat suasana rumah bisa lebih baru dan nyaman meski tidak merubah fisik rumahnya. Bagaimana keterikatan barang-barang obyek di dalam rumah dengan pemiliknya, yang menegaskan kualitas moral keluarga, ikatan afektif, dan kehidupan rumah tangga, dan kepribadian dari penghuni-penghuni rumahnya. Konsep mengenai keterikatan terhadap rumah dapat memperlihatkan kepentingan inner sense dari rumah tersebut terhadap pemiliknya, dan dapat menggambarkan tentang cerita-cerita, memori yang penting yang terjadi pada penghuni di rumah tersebut, secara personal dan domestik. Dari Model-model ruang interior modern yang berkembang di Russia, menggambarkan ketika ruang tersebut penuh sesak dengan barang, peletakan barangnya terlihat tidak teratur atau bahkan terkadang tidak pada tempatnya, justru membuktikan adanya kehidupan di dalam ruang domestik tersebut. Berbeda dari era-era sebelumnya yang sering disimbolkan dengan kekayaan dan kemegahan rumah dan interiornya, keseharian rumah tangga tercermin oleh barang-barang seperti alat musik, hobi atau koleksi buku-buku pemiliknya. Namun terdapat pandangan yang bertolak belakang dengan rumah sebagai symbol yang melambangkan pemiliknya, moderninst memahami hal ini sebagai penolakan di dalam konsep desain mereka karena nilai dari rumah akan berkurang dengan adanya keterikatan keluarga terhadap rumah tersebut, sehingga whiteness/penggunaan warna-warna netral menjadi simbol fashion dari sesuatu yang lebih bersih di eropa era modern. Jika menciptakan attachment dari bagaimana rumahnya terhadap penghuninya, namun justru ketika berada di pasar dunia properti di eropa, flat yang memiliki suasana yang putih terang yang dalam arti ini netral dan justru lebih diinginkan dipasaran, sehingga konsep yang lebih populer di dunia properti memiliki suasana yang lebih netral dan terang. Maka properti yang masih memiliki ikatan dari pemilik sebelumnya ketika masuk ke pasar properti,

20


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Sebuah apartment akan memiliki nilai komersial yang bagus ketika barang-barang yang terikat dengan pemiliknya disingkirkan dan dibuat menjadi hunian yang dapat digunakan oleh semua orang seolah merupakan suatu standar hunian publik yang dapat dipasarkan. Ruang ruang yang bersih dari “kotoran”, furniture yang diletakan sesuai pada tempatnya akan dapat dijual dengan lebih mudah karena telah melepaskan keterikatan ruang domestic tersebut dari penghuni sebelumnya. Sebagai contoh area perumahan di era Khrushchev mengorbankan keindahan estetika dengan faktor teknis, fungsi dan ekonomi. Lukisan-lukisan yang unik, mungkin tidak dapat diterima secara umum, bahkan tidak diinginkan oleh para desainer modern interior, sehingga dekorasi rumah yang memiliki kualitas formal lebih diutamakan daripada representasi naturalistiknya. Dirt sebagai anomali, justru dianggap sebagai sesuatu yang normal dan membuat sebuah kebiasaan baru yang mempengaruhi desain dalam arsitektur modern. Estetika akhirnya terbentuk dari konsep-konsep dalam menyikapi dirt ini, dan justru malah bukan menjadi hal yang anomali melainkan bagian dari kehidupan dalam bermasyarakat. Ide-ide baru menggunakan konsep kebersihan, pemilihan warna putih (warna-warna netral), penataan furnitur yang rapi, ruang-ruang yang fungsional, material yang ekonomis selanjutnya menjadi konsumsi masyarakat modern dan menjadi pertimbangan di dalam desain hunian dan urban arsitektur modern

Dalam urban design dan bangunan hunian diatas, terjadi repetisi-repetisi

bentuk dan warna yang disebabkan oleh fungsi dan teknis dari desain bangunan justru menjadi hal-hal yang biasa dalam urban arsitektur modern. Penataan furniture dan ruang-ruang interior yang sama dan sudah seperti menjadi acuan dalam mendesain kebutuhan hunian masyarakat. Hal inilah yang kemudian menjadi hal yang umum dan biasa dalam desain arsitektur modern dan seperti membentuk suatu budaya dan era tersendiri.

21

22


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Babad Bersih-Bersih (Chronicles of Clean) Aditya Bayu Perdana

Dalam tulisan Bill Bryson (2010) mengenai sejarah kerumahan di Inggris, Bryson membuka bab tentang kamar mandi dengan mengutip pernyataan yang baginya (dan bagi penulis juga) sangatlah salah atau setidaknya sangat tidak lengkap dari buku The City in History oleh Lewis Mumford: “For thousands of years city dwellers put up with defective, often quite vile, sanitary arrangements, wallowing in rubbish and filth they certainly had the power to remove, for the occasional task of removal could hardly have been more loathsome than walking and breathing in the constant presence of such ordure” Gambar 1. Faraday giving his card to Father Thames. ‘And we hope the Dirty Fellow will consult the learned Professor.’ Sumber Wellcome Library. No. M0012507. Punch Magazine, Volume 29 halaman 26; 21 July 185

23

24


KINCLONG Exhibition

Bagaimana Mumford mencapai kesimpulan reduktif ini merupakan suatu misteri, karena pada masanya, lumrah diketahui dalam bidang sejarah, arkeologi, dan antropologi bahwa berbagai masyarakat kuno memiliki standar kebersihan yang cukup tinggi. Kota-kota kuno seperti Mohenjo Daro di lembah sungai Indus dan puluhan kota Romawi di seantero Laut tengah memiliki sistem drainase kompleks yang membawa air bersih dan membuang air kotor secara efisien. Sebagaimana yang akan kita akan lihat pula, kebiasaan mandi dan membersihkan diri merupakan praktek kuno yang dapat ditemukan dalam berbagai peradaban manusia di berbagai belahan dunia. Namun memang, kebiasaan dan pemahaman manusia terkait “bersih” bukanlah standar yang seragam maupun mutlak di seluruh dunia. “Bersih” merupakan konsep yang senantiasa terikat dengan kondisi masyarakat yang kerap berubah-rubah antar tempat dan masa, sehingga konsepsi bersih sebagaimana yang kita pahami sekarang pun juga terikat erat dengan berbagai faktor yang membentuk dunia modern alihalih suatu kenyataan abadi. Maka untuk lebih memahami bagaimana “kebersihan modern” bisa tercipta, kita perlu menapak tilas berbagai tempat dan waktu untuk mengurai tumbuh kembangnya konsep relatif ini… Mungkin kita tidak bisa menapak semuanya, maka berikut akan dibahas beberapa highlight. Penu-

KINCLONG Exhibition

lis berupaya mengkompilasi materi berikut dari berbagai sumber, yang sayangnya sebagian besarnya berkutat pada konteks Barat. Karena itu penulis mohon maaf apabila gambaran berikut kurang lengkap. Kuno & Klasik Berbagai budaya pra-modern memiliki kebiasaan membersihkan diri yang menjadi bagian signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat India kuno menuturkan dalam berbagai kitab akan pentingnya praktek membasuh dan mencuci diri dengan air untuk kebersihan spiritual sehari-hari – pemikiran yang pengaruhnya masih terlihat dalam kata Indonesia modern cuci dan suci, keduanya berasal dari akar kata Kawi/Sansekerta śuci yang berarti murni. Masyarakat Mesoamerika di semenanjung Yucatán tercatat mandi setiap hari dan hanya mau menggunakan air yang dianggap paling bersih, entah langsung di sumber air terdekat atau melalui sistem pengaliran yang membawakan air murni tersebut ke tengah kota – kebiasaan yang begitu mencengangkan dan patut-dicatat bagi pelancong Spanyol abad 16 M karena pada waktu yang sama orang Eropa Barat cenderung jarang mandi dan memiliki sejumlah kecurigaan dengan pemandian. Permukiman manusia umumnya selalu bermula dari lokasi geografis dengan akses pada suatu badan air

25

Gambar2. Atas: Pemandian Agung Mohenjo Daro di peradaban Sungai Indus. Bawah: Ruang tepidarium di Thermae (pemandian) Pompeii

26


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

bagian bangunan berbeda. Secara garis besar: pengunjung berganti baju di Apodyterium, meminyaki dan menggosok diri di ruang hangat Tepidarium, mandi uap di ruang panas Caldarium, dan merendam diri di kolam dingin Frigidarium sebelum kembali ke Apodyterium. Mandi merupakan kegiatan yang membutuhkan waktu lama namun dinikmati sebagai kesempatan bersosialisasi dengan berbagai warga Romawi, karena itu pemandian Romawi berperan layaknya pusat komunitas dengan berbagai fasilitas pelengkap seperti perpustakaan, fasilitas olahraga, dan tempat makan-minum.

– baik sungai, sumur, maupun lainnya – yang secara efektif berperan sebagai ruang bersih-membersih komunal bagi masyarakat sekitar. Namun arkeologi menunjukkan bahwa beberapa permukiman kuno juga memiliki sesuatu yang menyerupai kamar mandi pribadi lengkap dengan sistem drainasenya sendiri, dari yang relatif sederhana di Skara Brae, Orkney (dihuni ±3180-2500 SM) hingga yang rumit di Istana Knossos, Kreta (dihuni ±1650-1450 SM). Lebih signifikan secara skala, berbagai kebudayaan kuno juga mengembangkan tipe bangunan khusus untuk mengakomodasi kegiatan membersihkan diri dalam skala yang lebih besar dan luas: pemandian umum. Di lembah Sungai Indus, kota kuno Mohenjo-Daro (dihuni antar 2500-1900 SM) memiliki sekitar 700 sumur yang tersambung dengan sistem rumit drainase air serta struktur pemandian berukuran besar. Salah satu tipologi pemandian kuno yang dibahas dalam banyak literatur adalah pemandian Romawi, disebut balneae atau lebih umumnya thermae dalam bahasa Latin. Bagi masyarakat Romawi, pemandian merupakan bagian esensial dari kehidupan sehari-hari sehingga kota-kota mereka dari Londinium hingga Palmyra selalu dilengkapi dengan pemandian publik sebagai bagian integral dari fasilitas kota. Orang Romawi mandi dalam tahap demi tahap yang masing-masingnya dilayani oleh

Abad Pertengahan Seiring merosotnya kekuataan adidaya Romawi dari abad 3 M ke atas, berbagai kota-kota Romawi di seantero Eropa dan Asia mengalami transformasi yang signifikan. Di Eropa Barat, terdisintegrasinya kekaisaran Romawi Barat melahirkan ketidakstabilan ekonomi dan politik. Berbagai kota mengalami deurbanisasi dan infrastruktur Romawi seringkali tidak bisa dijaga, termasuk pemandian yang seringkali terlantarkan atau dialihfungsikan. Sementara itu di wilayah kekaisaraan Romawi Timur, kebiasaan mandi Romawi diwarisi oleh masyarakat Kekaisaraan Bizantium bersamaan dengan sistem ekonomi, sosial, serta politik imperial yang relatif fungsional hingga 1456 M. Kebiasaan mandi dan tipologi bangunan pe-

27

Gambar 3. Dari kanan atas searah jarum jam: Sisa hamman di benteng Aleppo, Suriah, dibangun sekitar tahun 1200an ; Pemandian Baños Arabes di Ronda, Spanyol, dibangun sekitar 1300an; “Sultan Harun al-Rashid mengunjungi Hammam” miniatur Persia oleh Kamal-ud-din Bihzad (1450-1535) dari salinan naskah Khamsah karya Niẓāmī. Kini disimpan di British Library, koleksi no. Or. 6810, f.27v

mandian Romawi juga diwarisi oleh peradaban Islam yang mulai berekspansi pada abad 7-8 M. Sebagaimana pemandian Romawi sebelumnya, pemandian Muslim (dikenal sebagai ḥammām dalam Bahasa Arab) seringkali menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Muslim urban sehingga selama berabad-abad kedepan berbagai kota Islami dari Cordoba hingga Ishafan memiliki banyak pemandian yang didanai oleh berbagai pihak sebagai salah bentuk sumbangan (waqaf ) bagi keperluan publik. Pemandian Muslim menjaga layout dasar dan urutan mandi pemandian Romawi, namun memodifikasi dan mengenalkan sejumlah elemen baru seperti air mengalir yang dianggap lebih bersih dibanding kolam-kolam air stagnan Romawi. Di Eropa Barat, pemikiran Kristen dalam konteks warisan budaya Romawi menghadirkan sikap yang ambigu akan mandi. Mandi cenderung masih dipraktekkan dalam lingkup pribadi maupun umum berskala kecil bagi

28


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

masyarakat yang mampu, terutama di wilayah Italia dan Eropa selatan yang infrastruktur Romawinya cenderung bertahan cukup baik. Namun begitu, sejumlah penulis Kristen di abad pertengahan awal mulai memandang mandi – diartikan sebagai mandi ala Romawi dengan berbagai fasilitas gemerlap – sebagai budaya pagan yang mengumbar nafsu duniawi dan penuh dosa sehingga tidak bersih secara spiritual. St Hieronimus, salah satu penulis Kristen awal dengan pendekatan asketisme, menghardik pembacanya yang merasa jijik dengan keadaan tidak mandi, dan memberi komentar yang kerap dirujuk mengenai tidak perlunya mandi bagi umat Kristen yang berbakti: “Apakah kulitmu sudah menjadi kasar dan berdaki karena tidak lagi mandi? Ia yang sudah disucikan oleh Kristus [dibaptis] tidak perlu mandi lagi”. Pandangan ini bukanlah pandangan normatif yang disetujui semua tokoh Kristen terkemuka masa itu. St Augustinus dari Hipo misal menulis bahwa mandi merupakan bagian penting dari menjaga kebersihan iman dan merasa kekaguman Hieronimus akan kotoran penuh lagak. Namun dengan pengaruh asketisme dalam tulisan sejumlah tokoh gereja awal, tumbuh pemahaman di Eropa Kristen bahwa kebersihan iman tidak sepenuhnya bergantung dan bahkan dapat dipisahkan dari upaya kebersihan fisik seperti mandi.

Gambar 5 Menguburkan korban wabah di kota Tournai, Belgia. Ilustrasi oleh Pierart dou Tielt (1340-1360) dari naskah Tractatus quartus bu Gilles li Muisit. Koleksi Bibliothèque royale de Belgique. MS 13076-77, f. 24v.

Modern Awal

Gambar 4. Kiri: Lukisan St Hieronimus, salah satu penulis Kristen awal dengan pendekatan asketisme yang mencemooh mandi, meski pandangannya bukanlah konsesus umum. Kanan: Ilustrasi pemandian dari naskah Facta et dicta memorabilia karya Valerius Maximus, koleksi Staatsbibliothek, Berlin. Ms. Dep. Breslau 2, vol. 2, fol. 244

29

Pada abad pertengahan akhir sekitar tahun 1300an, wabah pes melanda seantero Eurasia dan Afrika Utara dengan estimasi kematian yang mencapai 75-200 juta nyawa. Wabah ini terutama memporak-porandakan tatanan sosio-ekonomi Eropa yang diperkirakan kehilangan hingga sepertiga populasi penduduknya. Wabah membuat para pemikir dan masyarakat Eropa mulai berpikir lebih seksama terkait sikap mereka akan kebersihan, dan kemungkinan perubahan yang mungkin dapat diterapkan untuk menghindari wabah selanjutnya. Sayangnya, berbagai pemikir mencapai kesimpulan yang sepenuhnya salah; berbagai pemikir dan penulis terbaik Eropa setuju bahwa mandi membuka pori-pori kulit yang membuat tubuh mudah dirasuki oleh “miasma mematikan”. Tindakan paling bijak adalah menyumbat pori-pori tersebut dengan membiarkan kerak dan daki. Maka selama kurang lebih 600 tahun ke depan, menghindari mandi menjadi tindakan yang normal bagi

30


KINCLONG Exhibition

orang Eropa dan penggunaan pemandian umum secara efektif musnah. Desiderius Erasmus pada tahun 1526 menulis: “25 tahun yang lalu, tidak ada tempat yang lebih populer di Brabant daripada pemandian umum… Kini tidak ada satupun yang tersisa, wabah baru mengajarkan kita untuk menghindarinya”. Sikap skeptis masyarakat Eropa akan mandi dan hilangnya tipologi bangunan pemandian tampaknya menjadi anomali di antara peradaban sezaman lainnya. Kekaisaran Utsmaniyah di masa yang sama mulai banyak membangun dan bereksperimen dengan arsitektur pemandian yang lebih ambisius. Pemandian umum di Tiongkok mulai memiliki rujukan umum 混堂 hùn táng akibat meningkatkanya jumlah dan kelumrahan pemandian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dinasti Míng (1368-1644). Di Jepang, pemandian umum 銭湯 sentō telah dikenal sejak periode Kamakura (1185–1333) namun menjamur di seantero negeri pada periode Edo (1603-1868). Di Jawa, pemandian dan pertirtaan dalam berbagai skala kerap dibangun oleh para bangsawan dari masa ke masa, dari Pertirtaan Jalatunda (997), Candi Tikus (abad 13-14), hingga Taman Sari (±1758). Di Bali, Pura Tirta Empul pertama kali didirikan pada tahun 962 dan terus dipakai hingga sekarang. Masyarakat Maya di Amerika Tengah kerap membangun struktur pemandian uap bernama temāzcalli yang dapat ditemukan di berbagai lokasi. Sementara itu di Prancis, Raja

KINCLONG Exhibition

Louis XIII tercatat tidak pernah mandi hingga ulang tahunnya yang ke 17 pada tahun 1608, dan setelah itu sang Raja tampaknya tidak menjadikan mandi sebagai bagian dari rutinitasnya. Dalam banyak kesempatan, pelancong Eropa yang kerap menulis kebiasaan mandi masyarakat non-Eropa menggarisbawahi betapa

mandi telah menjadi praktek yang begitu asing dan eksotis bagi masyarakat Eropa. Ketika kolonis Eropa mulai mendatangi dan menduduki wilayahwilayah di luar Eropa, sejumlah catatan sejarah yang menunjukkan bahwa para kolonis Eropa bersikukuh dengan kebiasaan tanpa-mandinya, yang seringkali membuat orang-orang pribumi di berbagai tempat terheran-heran. Semisal di Jawa, sudah menjadi kebiasaan umum bagi warga pribumi untuk pergi ke kali di pagi hari untuk membersihkan diri. Di sisi lain, orang Belanda cenderung benci mandi dalam artian mengguyurkan air ke sekujur tubuh, termasuk juga perempuannya khususnya para nona. Untuk menggantikan mandi, mereka lebih senang mengenakan pakaian dalam yang tipis. Sehingga pada 1753, orang Belanda yang memberitakan dirinya melakukan wassen (mandi) sebenarnya hanya berganti pakaian tanpa kontak dengan air sama sekali. Tetap ada sesuatu yang menyerupai standar mandi bagi kalangan Eropa meski umumnya sangat rendah, tercatat bahwa garnisun Belanda di Jawa diwajibkan untuk mandi sekali tiap 8-10 hari meski ketentuan ini seringkali dilanggar.

Gambar 6 Atas: Ilustrasi Temazcal Maya dari Codex

Gambar 7. Para wanita dan seorang anak lelaki di pemandian umum jaman Edo, lukisan ukiyo-e karya Utagawa Toyokuni I (1769–1825)

Magliabechiano, fol. 77r, koleksi Biblioteca Nazionale Centrale,

dari sekitar tahun 1799. Kini disimpan Metropolitan Museum of Art, NY. No. JP2724a–c

Firenze. Bawah: Foto Candi Tikus pada tahun 1929. Foto koleksi Tropenmuseum. No. TMnr 10028295

31

32


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Gambar 8. Kiri: Wanita di Jawa membersihkan diri dan mencuci baju di kali, foto antar tahun 1903-1910, koleksi Tropenmuseum. no. TMnr 10021596. Kanan: Pemandian Taman Sari, foto dari awal 1900an, koleksi KITLV. no. KITLV 28125.

Revolusi Industri Revolusi industri yang terjadi di Inggris pada abad 19 M kembali menjadi biang keladi perubahan yang mengubah sepenuhnya hubungan masyarakat dengan kebersihan, setidaknya di Eropa pada awalnya. Di Inggris, urbanisasi pesat kota London menghadirkan tekanan berat pada infrastruktur London, terutama infrastruktur sanitasi. Kondisi sanitasi yang begitu buruk membuat kondisi kehidupan masyarakat kelas bawah mengenaskan dan memfasilitasi sejumlah wabah, salah satunya yang paling parah adalah wabah Kolera 1832. Sungai Thames menjadi tempat pembuangan limbah industri dan rumah tangga yang begitu banyak tiap harinya, hingga alirannya hampir terhenti akibat air yang pekat dengan polutan. Pada musim panas 1858, bau Sungai Thames menjadi begitu busuk hingga berbagai warga London – termasuk Parlemen Inggris – tidak tahan melakukan kegiatan apapun yang berdekatan dengan bantaran Thames, kejadian yang dijuluki oleh koran The Times waktu itu sebagai The Great Stink. Akutnya permasalahan sanitasi di pusat-pusat urban seperti London mendorong berbagai aktor, dari masyarakat, ilmuwan, hingga pemerintahan, untuk memikirkan ulang hubungan mereka dengan kebersihan. Pemikiran ulang ini terutama didasari oleh konsep-konsep sains yang berkembang di Eropa masa itu. Pada pertengahan 1800an, “teori miasma” mendominasi pemikiran publik Eropa yang menganggap adanya suatu “udara buruk” yang membawa berbagai pernyakit. Pemikiran ini melatarbelakangi keputusan parlemen Inggris untuk membangun ulang infrastruktur sanitasi London besar-besaran di bawah panduan insinyur Joseph Bazalgette yang sistem gorong-gorongnya hingga kini masih melayani London kontemporer. Kemudian, tokoh seperti

33

Gambar 9. Ilustrasi satirikal "Sup Monster, umum dikenal dengan nama, Air Thames" oleh William Heath (1795-1840) pada tahun 1828 menggambarkan mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat London masa itu akan pencemaran lingkungan akibat revolusi industri, terutama pada hal-hal tdak kasat mata seperti debu dan mikroba.

Louis Pasteur mulai mengukuhkan teori bakteri dan mikroorganisme, bahwa penyakit tidak disebabkan oleh udara semata namun partikulat seperti debu dan mahkluk-mahkluk kecil tak kasat mata yang menempel pada permukaan berbagai benda. Pemikiran ini mendorong upaya untuk menjaga kebersihan segala permukaan benda dalam upaya untuk menjaga kesehatan, terutama di rumah sakit awal yang salah satu praktisi awalnya meliputi Florence Nightingale. Mandi pun akhirnya mulai diperkenalkan kembali di tengah masyarakat Eropa sebagai bagian esensial dalam menjaga kesehatan badan, meski hingga 1861 seorang dokter di Inggris masih bisa mempublikasikan sebuah buku serius bagi pembaca dewasa yang berjudul: Baths and How to Take Them. Memasuki 1900an, berbagai produk dipasarkan dengan “fitur-fitur higenis” untuk memudahkan upaya menjaga kebersihan, dan desain ultra-higenis menjadi bagian yang tidak dipertanyakan dalam gerakan-gerakan garda depan berbagai bidang, termasuk misal arsitektur modern yang mengumumkan bahwa ornamen merupakan kejahatan dan bahwa esensi bangunan ada-

34


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

waktu dan tempat. Berbagai konsep bersih yang berlawanan masih saling beradu misal antar masyarakat tradisional dengan masyarakat urban terindustrialisasi, dan dengan pandemi terkini mungkin suatu konsep bersih yang baru akan muncul dan meramaikan berbagai definisi bersih eksisting.

lah bentuk geometris murni dan permukaan polos-mengkilat. Tumbuhlah ideal kebersihan bahwa bercak sekecil apapun dalam rumah merupakan hal yang memalukan, sehingga upaya bersih-bersih perlu komitmen tinggi yang wajib ditegakkan oleh tiap rumah tangga tiap harinya. Kebersihan dengan landasan sains di penghujung abad 19 M ini memang turut meningkatkan kesehatan masyarakat, namun dalam berbagai buku seringkali dipatok dengan standar yang begitu tinggi dan hampir mustahil dicapai di dalam rumah sehari-hari hingga menjadi sumber kegelisahan berbagai penghuni rumah di Barat kedepannya. Dalam banyak hal, pemikiran ini masih banyak melekat dalam masyarakat urban kontemporer, yang kini sudah terbiasa dengan iklan aneka ragam produk kebersihan dan mengasosiasikan desain paling mutakhir dengan permukaan yang paling bersih dan mengkilat, misal layar kaca di smartphone terbaru atau dinding putih polos rumah minimalis. Namun sebagaimana dikemukakan di awal, bersih merupakan suatu konsep yang sedari awal memiliki banyak makna kontekstual, dan konsep bersih “modern” kitapun tidak berlaku sepanjang

35

36


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Kebersihan yang Terucap (The Spoken Cleanliness) Mohammad Resha Khambali

Gambar 1: Seorang Ibu di Sumba melakukan aktifitas menenun, ini identik dengan gender perempuan dan telah menjadi definisi domestic space tersendiri di dalam rumah Sumba. By Michael Sunders. Dokumen Rumah Asuh

Ada perbedaan yang mencolok saat membicarakan tentang historiografi budaya tradisional Indonesia dan budaya tradisional negara – negara lain di belahan barat, yaitu tentang bagaimana cara sejarah tersebut terdokumentasikan. Saat budaya barat telah terdokumentasikan dengan tulisan, kehidupan budaya Indonesia masih menggunakan tradisi lisan untuk terus dapat berjalan beriringan dengan waktu. Sore hari adalah waktu yang begitu indah bagi masyarakat Indonesia yang hidup dalam budaya tradisional untuk sekedar bercengkrama di latar rumah. Namun, ini justru menjadi saat – saat yang penting bagi kelangsungan budaya tersebut, dimana saat itu orang tua akan bertutur kata tentang apapun kepada generasi setelahnya. Disini terjadi transfer budaya lisan antar generasi yang menjadi tonggak kehidupan budaya itu sendiri. Seperti contohnya di Sumba, salah satu daerah yang akan dibahas pada tulisan ini, para tetua

37

38


KINCLONG Exhibition

pada sore hari akan duduk di katendeng dan bale kebijaksanaan untuk mengajarkan sesuatu atau bercerita kepada anak muda di dalam rumah itu. Saat berbicara tentang arsitektur dalam budaya tradisional, tradisi lisan ini terwujud dalam adanya praktek langsung antar penduduk baik saat renovasi rumah ataupun pembangunan kembali rumah tradisional. Tentu ini menjadi beresiko tinggi saat adanya celah antar generasi yang berpraktek dan tidak berpraktek membangun secara langsung. Saat praktek langsung pembangunan rumah ini kosong pada satu masa, generasi tersebut tidak akan mampu mengajarkan kembali pada generasi setelahnya. Inilah yang berbeda dengan tradisi tulisan, dimana semuanya akan terdokumentasi dengan baik dalam sebuah tulisan atau gambar yang dapat dimafaatkan kembali kapan saja. Menyambungkan tradisi lisan ini dengan kebersihan yang pada dasarnya adalah sebuah konsep heterogen yang kontekstual, maka tidak aneh jika kebersihan dalam masyarakat tradisional bisa jadi memiliki perwujudan yang sangat berbeda dengan konsepsi masyarakat urban kontemporer, meski kenyataan ini kerap luput dari berbagai pengamat modern. Maka dari itu, dalam tulisan ini akan mengajak pembaca untuk sedikit melihat bagaimana konsep kebersihan semacam ini terwujud dalam dua budaya di Indonesia dan rumah adat mereka: satu di desa Suroba, lembah Baliem, Papua; satu di desa Raténggaro, Pulau Sumba, NTT. Di bawah langit biru itu ada berlian hitam kelam memojok di ufuk timur di bumi cendrawasih. Kulit yang berkilau telah menunggu untuk dihakimi dari kacamata manusia yang tak mengerti akan keindahan. Apapun itu tetap berperaga tanpa ragu. Apakah awan selalu bersih dan tanah itu kotor, apakah batang kayu kurus itu rapuh dan pohon besar itu perkasa? Inilah segenggam cerita dari tanah dimana matahari terbit terlebih dahulu saat kita masih terlelap. Gambar 2 Pembangunan Menara Kayou di Suroba. By Yori Antar

39

KINCLONG Exhibition

Manusia perwira itu duduk berdampingan dengan tawa dan tangis yang menyatu. Tak mengapa berkalung perak saat sang emas ada di pangku. Beratap alang berlantai bambu, menusuk harum semerbak dari kawan yang beralas debu. Apakah pantas jiwa itu berkawan bau? Terkulai di antara intan yang menyeru. Janganlah sendu yang membiru pada jemarimu oh Ibu. Inilah segelintir cerita dari tanah dimana padang savana terhampar dan kebudayaan batu menjadi satu.

Gambar 3: Seorang Ibu duduk diteras rumah adat Sumba. By Paskalis Khrisno

Sedikit bahasa kiasan diatas akan mengantarkan pembahasan ini tentang cleanliness and domestic space dalam budaya tradisional. Bagaimana Suroba dan Sumba sebagai dua daerah yang kental dengan budaya tradisional akan diceritakan kembali dalam tiga bagian yang tersambung satu sama lainnya. Pembahasan ini akan mengambil sudut pandang manusia modern melihat tentang budaya tradisional dalam beberapa hal baik dari sisi antropologi dan fisik bangunan. Bagian 1: Perbandingan Modern dan Tradisional Mahluk sosial yang bernama manusia ini mempunyai kebutuhan dasar untuk dapat hidup, tetapi apa yang mereka sebut rumah bukan hanya ruang kosong dimana mereka dapat berlindung dari cuaca. Rumah adalah sebuah dimensi menyeluruh dari budaya yang terendapkan. Cleanliness culture, clean and dirt, budaya relativitas tentang sesuatu yang sesuai atau tidak pada tempatnya. Budaya perilaku konsumerisme akibat kehidupan sosial dan kebutuhan ekstra ini juga menjadi poin sebab akibat lain dari munculnya banyak ruang didalam rumah. Sedangkan manusia lain yang masih hidup dalam ranah tradisi mengawali definisi rumah sebagai kebutuhan dasar. Ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Rapoport (1969) Rumah awalnya muncul dari sebuah proses desain kebutuhan dasar yang menawarkan wawasan tentang shelter dan

40


KINCLONG Exhibition

Gambar 4: Modern House owner. By https://

Gambar 5: Katoda Amahu House Owner. Dokumen Pribadi

KINCLONG Exhibition

Gambar 6 Deretan unit rumah tipikal modern. By Liandro Siringoringo

jerseyeveningpost.com diakses 20 Desember 2020

dwelling. Seringkali ditemui di dalam rumah itu ada empat hingga belasan keluarga yang menyatu. Bukan aneh atau tabu karena rumah itu bukan tempat untuk beraktifitas, melainkan tempat untuk pulang dan tidur. Namun, bukan berarti budaya tradisional ini jalan ditempat, saat mendapatkan paparan arus budaya baru, manusia tradisi ini juga berevolusi menjadi sebuah pribadi baru. Mengadaptasi apapun itu menjadi sesuatu yang baru. Saat membicarakan tentang kepemilikan rumah, dalam budaya modern rumah cenderung dimiliki secara pribadi (Ilustrasi gambar 4). Sedangkan pada budaya tradisional Indonesia rumah dimiliki secara bersama - sama (Gambar 5). Ini akan menghasilkan suatu tatanan sosial yang berbeda didalam rumah. Disisi lain sebenarnya keduanya memiliki persamaan yaitu ada pilihan untuk menggunakan bentuk bangunan generik, yaitu satu desain di pakai dan direplikasi untuk banyak rumah. Pada dasarnya duplikasi bentuk rumah terjadi pada budaya modern dan tradisional. Tetapi yang menarik untuk dibahas adalah dasar apa yang mempengaruhi bentukan dan duplikasi tersebut. Bila dalam budaya modern duplikasi dapat memberikan biaya yang paling efisien dan tuntutan komersialisme (Gambar 6). Pada budaya tradisional ini lebih pada titik dimana mereka terikat oleh dimensi ketuhanan dan budaya (Gambar 7). Bagian 2: Ruang Domestik Suroba dan Sumba Irene Cieraad (2017) mengatakan, konsep domestic space diperkenalkan oleh Mary Douglas pada era 1970an. Ini adalah sebuah

41

Gambar 7 Sebuah desa Sumba dari kejauhan. By https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Village-Sumba.jpg diakses 28 Desember 2020

interpretasi simbolik dan antropologi ruang. Domestic space bukanlah sekedar living space, tetapi lebih kepada domain area gender. Living space yang kita kenal di dalam rumah berupa area beraktifitas bagi pemilik dan penghuni di dalamnya. Ruang - ruang di peradaban modern seperti ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur bersih, dapur kotor, ruang hobi, ruang belajar, ruang kerja dan lain sebagainya ini semua dipahami sebagai bentuk representasi keseharian hidup penghuni rumah. Saat berbicara gender beberapa ruang diatas dapat menjadi domain gender yang berbeda, misalkan dapur yang lebih dikuasai oleh perempuan dan ruang kerja yang lebih didominasi oleh laki - laki. Apabila itu semua dirasakan dalam budaya modern, lalu bagaimana dengan budaya tradisional. Bagaimana kehidupan area ruang domestik dalam budaya tradisional. Tentu sedikit berbeda dan menarik dibahas lebih lanjut. Berbicara tentang rumah di Suroba, kita tidak membicarakan satu ba-

42


KINCLONG Exhibition

Gambar 8: Site Plan Silimo Bithnean Suroba. Sumber O Kika O Suroba 2017

1. Pilamo (Honai Laki – Laki) 2. Uma (Honai Perempuan) 3. Wamerek / Wam Dabuls (Kandang Babi) 4. Honai makan (Adaptasi budaya baru) 5. Hunila (Dapur) 6. Lubang upacara bakar batu 7. Horakola (Pintu Masuk)

43

ngunan tunggal di bawah satu atap. Silimo atau sebutan dari kumpulan bangunan kecil inilah yang disebut rumah (Gambar 8). Pilamo mengambil peranan penting sebagai bangunan utama dan harus terletak tepat sejajar dengan horakola. Uma adalah tempat tinggal bagi perempuan dan Hunila adalah area eksklusif bagi perempuan didalam satu silimo. Pemisahan secara fisik ini terjadi karena adanya tradisi yang mengatakan demikian dan diadopsi selama bertahun - tahun bahkan berabad - abad secara turun temurun. Pilamo sebagai daerah kekuasaan laki - laki memiliki kekuasaan penuh dalam area penentuan kebijakan di dalam silimo, semua pembahasan kehidupan adat dimulai dan diakhiri disini. Penentuan semua hal dilakukan oleh seorang kepala suku laki - laki yang mempunyai kekuasaan secara penuh. Walaupun tradisi Suroba menuturkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan, dapat dilihat bahwa kebanyakan bangunan dalam kompleks silimo tipikal diperuntukkan bagi para wanita. Jumlah uma cenderung lebih banyak dibanding pilamo, dan dapur hunila yang berperan penting dalam kehidupan sehari-hari merupakan ruang yang diakui sebagai milik wanita karena lelaki yang memasuki hunila dianggap pamali oleh masyarakat Dani (meski anak-anak dan tamu asing masih diperbolehkan). Ini sejalan dengan pengalaman Elizabeth Pisani (2014), yang dalam penjelajahannya ke berbagai pelosok

KINCLONG Exhibition

Indonesia memperhatikan bahwa di banyak desa Indonesia posisi kekuasaan resmi seperti kepala suku umum ditempati lelaki, namun para wanitalah yang menentukan berbagai aspek domestik krusial seperti tanah, rumah, harta, dan anak. Maka dari itu meski terdapat pembagian berbasis gender pada rumah Suroba, terlihat bahwa kehadiran dan peran perempuan dianggap penting dan dialokasikan ruang signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Ini juga terlihat ketika penulis hadir di salah satu upacara Bakar Batu Suroba yang mana para laki dan perempuan semua diikutsertakan dengan perannya masing-masing. Berlanjut ke desa Raténggaro di pesisir barat Pulau Sumba, desa ini dihuni oleh masyarakat Sumba yang menggunakan bahasa Kodi. Nama desa ini berasal dari dua kata: raté yang berarti makam, dan Garo, nama leluhur yang pertama kali mendirikan desa tersebut. Sedikit berbeda dengan di Suroba, budaya di Raténggaro cenderung berkaitan erat dengan keluarga, keturunan, dan nenek moyang. Masyarakat Sumba memiliki pemahaman dualis Ina-Ama, atau Ayah-Ibu, bahwa semesta dimulai dari pertemuan dua unsur yang berkebalikan namun membentuk satu pasang. Pemahaman dualis ini tercermin pada perkembangan desa Raténggaro yang bermula dari pasangan rumah

44

Uma Katoda Kataku (rumah yang dimiliki garis keturunan ayah) dan Uma Kalama (rumah yang dimiliki garis keturunan ibu), dibangun saling berhadap-hadapan di kedua ujung pelataran makam leluhur yang menjadi pusat desa (Gambar 9). Memahkotai puncak tiap atap rumah, sepasang ukiran kayu berbentuk figur manusia yang disebut kadu uma (tanduk rumah) juga melambangkan leluhur ina-ama yang hidup berdampingan dan mengawasi para keturunannya. Perwujudan simbolik di Raténggaro tentang gender juga cenderung mengacu pada pemahaman Ina-Ama, dan dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan dari strata sosial hingga adat ketuhanan. Sebagai contoh, hanya lelaki yang bisa menjadi Rato (pemimpin adat), namun wanita memegang peran utama dalam menjaga kelangsungan rumah tangga. Dalam rumah, terdapat ruang dan bahkan pintu masuk yang diperuntukkan bagi penghuni laki dan wanita. Menarik pula untuk dilihat bahwa struktur sosial keluarga juga diwujudkan dalam kepemilikan simbolik dari ponga (kolom) utama rumah. Ponga Kataku adalah kolom pertama yang didirikan saat pembangunan rumah dan dimiliki sang ayah sebagai penopang utama, diikuti oleh Ponga Panginjétong yang dimiliki oleh sang ibu sebagai perdana menteri dalam menjaga kelancaran hidup sehari-hari.


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

1

2

Gambar 9: Kampung Ratenggaro, menunjukkan 1. Uma Katoda Kataku (Rumah Bapa) dan 2. Uma Kalama (Rumah Ibu) . By

Bagian-bagian dalam rumah adat Sumba di Raténggaro: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

Koro Bakolo ruang kemarat tempat nenek moyang bersemayam Lélé gelang kayu yang mengkepalai sejumlah kolom untuk menghindari naiknya tikus Katonga Tana serambi duduk-duduk Tabolo Déta Tabolo Wawa Pintu masuk lelaki Peda tempat penyimpanan makanan Pintu masuk wanita Koro Ti’i tempat tidur wanita dan penyimpanan barang Dapur/perapian Katendeng tempat duduk di dekat perapian Tempat tidur lelaki Balé-balé Kebijaksanaan tempat orang tua bercerita dan memberi nasehat pada anak-anaknya

Empat kolom (ponga) utama rumah memiliki nama: (a) Ponga Kataku (b) Ponga Panginjétong (c) Ponga Kertanda Limbioro, dan (d) Ponga Kertanda Handoka

Gambar 10: Interior Uma Katoda Kataku. Dokumen Pribadi

45

Paskalis Khrisno Dokumen Rumah Asuh

Gambar 11: Struktur sosial yang di representasikan dalam

Gambar 12: Nama pemilik kolom di ukir sesuai dengan

kolom rumah. By Yori Antar Dokumen Rumah Asuh

struktur sosialnya. By Zefanya Dolorosa Dokumen Rumah Asuh

46


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Gambar13: Keluarga Suroba berdiri didepan Pilamo dan Uma. Dokumen Rumah Asuh

Bagian 3: Dirt is matter out of place Suroba dan Sumba Kotoran hanyalah benda di tempat yang salah, semua materi yang tidak pada tempatnya bukanlah kotoran, polusi bukan hanya kebalikan dari kebersihan; itu juga muncul dari kerancuan kategori, itulah beberapa interpretasi Mary Douglas (2000) di dalam bukunya Purity and Danger. Semua ini berbicara tentang teori relativitas, bahwa kotor dan bersih adalah sebuah ketepatan posisi dan kategori, ini bukanlah sesuatu yang absolut. Warna kulit dan kebudayaan seringkali menjadi sebuah obyek justifikasi terhadap konsep dirt and clean, dahulu saat kulit putih lebih superior dari kulit hitam menjadikan kulit hitam adalah suatu konsep dirt yang berbeda kasta. Budaya menyembah arwah nenek moyang terkadang juga menjadi sebuah dirt seperti terlihat didalam foto masyarakat Sumba diatas (Gambar 16). Saat sekarang agama telah menjadi sesuatu yang jamak, hal yang lain serasa menjadi asing. Selain itu membawa senjata tajam seperti parang yang dilakukan masyarakat Sumba, bagi orang modern bukan lagi suatu kebiasaan yang umum. Seolah senjata itu tidak lagi pada tempatnya untuk era saat ini. Dibalik itu semua me-

47

Gambar 14: Seorang Ibu yang terpotong enam ruas jari tangannya. Dokumen Rumah Asuh

48


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Gambar 15: Dua orang lelaki Sumba membawa parang. By

Gambar 16: Memberi persembahan untuk nenek moyang

Paskalis Khrisno

Marapu. By Pastor Robert Ramone Cssr

mang terjadi disparitas antara masyarakat tradisional dan modern tentang konsep dirt and clean ini yang menarik untuk dibahas. Kotoran disini bukan berarti barang yang kotor, melainkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pada foto sebelumnya (Gambar 14) adalah seorang Ibu yang telah memotong enam ruas jarinya, ini untuk menunjukkan kedukaan untuk anak yang meninggal. Bila dilihat dari kacamata tradisi, dirt sudah tidak lagi menjadi relatif. Bagi yang mempercayainya, itu menjadi sebuah perlakuan yang absolut walaupun harus berkorban terpotongnya ruas jari. Ada juga tradisi lain yang mewajibkan seorang anak untuk memotong sebagian daun telinga saat orangtuanya meninggal. Semua ini merepresentasikan kesedihan yang begitu dalam saat ditinggal oleh orang - orang tercinta.

Apakah masyarakat tradisional yang seringkali dianggap dirt oleh masyarakat modern merupakan kelompok manusia terbelakang? Mungkin anggapan itu tidak juga benar. Mereka tetap mengikuti perkembangan dunia luar tetapi dengan batasan tradisi yang jelas. Adanya prilaku mengkombinasikan pakaian adat dengan pakaian modern seperti celana kain (Gambar 17), memberikan bukti adanya budaya modern yang mendorong masuk kedalam Suroba, budaya lain menyimpan uang di Bank yang sebenarnya merupakan sebuah budaya baru bagi masyarakat Suroba juga sudah diadaptasi, terlihat dari banyaknya masyarakat Suroba yang sudah memiliki rekening di bank. Dahulu mereka hanya mengenal barter tanpa adanya uang secara fisik, tetapi saat ini bukan lagi uang secara fisik, uang secara virtual dalam bentuk saldo di dalam bank pun mereka sudah melakukannya. Untuk mema-

49

Gambar 17: Seorang laki - laki Suku Dani memakai celana kain modern dipadu dengan atribut adat. By Dokumen Pribadi

hami lebih lanjut mari berbalik sudut pandang apabila kita ada di ruh tubuh itu, mungkin kebersihan yang selalu kita jaga sebagai masyarakat modern justru dianggap dirt oleh mereka. Sedikit bergeser ke hal fisik bangunan, Foto dibawah adalah sebuah komplek perumahan yang dibangun oleh kementerian PUPR di Tambolaka Sumba Barat Daya (Gambar 19). Menarik dibahas tentang historiografi masyarakat pulau sumba yang masih kental dengan adat, apakah rumah tipe sederhana layak huni sebutan pemerintah ini benar benar menjadi layak untuk masyarakat adat. Kategori layak huni oleh pemerintah ini serasa perlu diselaraskan dengan adat. Pertanyaannya apakah rumah adat masuk dalam kategori tidak layak huni? Setelah pembahasan dalam tiga bagian diatas, terlihat bahwa budaya tradisional mempunyai dimensi yang lain bila dilihat dari sisi Cleanliness dan domestic space. Yang mem-

Gambar 18: Rumah adat Sumba di Ratenggaro. Dokumen

Gambar 19: Rumah layak huni versi kementerian PUPR di

Rumah Asuh

Tambolaka Sumba Barat Daya.

50


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

bedakan secara mendasar adalah adanya tradisi lisan sebagai cara hidup yang sangat dipengaruhi dengan unsur ketuhanan. Ini menjadikannya tidak lagi ada tawar menawar bagi orang yang mempercayainya. Walaupun ini semua hanya mengalir dengan media lisan tanpa adanya catatan tertulis. Selain itu konsep dirt dan clean bagi semua orang adalah sesuatu yang relatif, tidak akan sama apa yang di mata kita sebagai masyarakat modern sesuatu yang dianggap dirt dan bagi masyarakat tradisional yang dianggap dirt. Menurut Mary Douglas (2000) memang kekotoran atau dirt adalah sesuatu yang tidak pada tempatnya. bukan sesuatu yang absolut tentang salah dan benar, tentang kanan dan kiri atau tentang baik dan buruk.

51

52


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Yang Kalis dan Tertulis (The Written Cleanliness) NADIRA ADISWARI

Dalam keseharian, konsep kebersihan adalah persoalan konteks semata, seperti konsep yang dipopulerkan Mary Douglas (2002) dalam bukunya, Purity and Danger: “If we can abstract pathogenicity and hygiene from our notion of dirt, we are left with the old definition of dirt as matter out of place. This is a very suggestive approach. It implies two conditions: a set of ordered relations and a contravention of that order. Dirt then, is never a unique, isolated event. Where there is dirt there is system. Dirt is the by-product of a systematic ordering and classification of matter, in so far as ordering involves rejecting inappropriate elements.” (Douglas 2002:36) Gambar 1: Dolce Domum

Kutipan di atas menyiratkan bahwa kotoran adalah hal yang tak memiliki tempat. Akan tetapi, Richard Fardon (2013) mengkritik bahwa penjelasan Mary Douglas di atas dirasa lebih tepat jika mendefinisikan kotoran

53

54


KINCLONG Exhibition

sebagai hal yang berada di tempat yang tak semestinya. Bagian ini akan mengangkat translasi budaya Anglo-Saxon di abad ke-19 dan abad ke-20 Masehi—yang bermula di Inggris dan sekitarnya—ke dalam cara masyarakat mengupayakan kebersihan pada tata ruang domestiknya. Budaya ini kemudian juga akan dibahas penerapannya di masyarakat Australia dan India, berkaitan dengan adaptasinya terhadap konteks sosial di kedua negara tersebut. Dampak kebersihan dalam politik, media dan budaya populer akan turut melengkapi diskusi dalam bagian ini.

KINCLONG Exhibition

Inggris kelas menengah ke atas memiliki organisasi ruang domestik yang seolah terbagi atas apa yang pantas dan tidak pantas untuk dilihat. Memang benar terdapat pemisahan lantai antara ruang tidur dan ruang untuk kegiatan lainnya, namun kita tidak mengartikan kata “dilihat” dalam konteks privasi, tetapi dalam konteks kebersihan. Dalam tipologi hunian kelas menengah ke atas, masyarakat Inggris abad 19 M mengenal dua ruangan penting, yaitu parlour atau drawing room, dan scullery. Drawing room merupakan bagian yang “pantas dilihat”; yaitu tempat penghuni menerima tamu dengan dikelilingi furnitur indah dan beberapa foto atau lukisan yang digantung di dinding, dan di beberapa rumah juga merupakan tempat meletakkan dan memainkan piano. Sementara itu,

Yang Terlihat dan yang Tersembunyi: Inggris Abad 19-20 M Pada tahun 1800-an, masyarakat

scullery merupakan ruang untuk mencuci pakaian sekaligus alat makan dan alat masak, letaknya “tersembunyi” di dekat dapur dan sejauh mungkin dari drawing room. Paham ini terbawa hingga paruh awal abad ke-20 M, seiring dengan populernya representasi aktivitas domestik dan interior ruang domestik dalam karya-karya pelukis London di era Edwardian. Drawing room kerap digambarkan sebagai latar penting dari kegiatan keluarga-keluarga kelas menengah, dan menempatkan manusia sebagai objek tableaux vivants (“gambar hidup”). Wanita seringkali menjadi representasi dari tableaux vivants ini, di mana ia menjadi bagian dari keindahan drawing room yang ditempatinya, salah satunya dalam lukisan Dulce Domum

(1885) karya John Atkinson Grimshaw. Walter Richard Sickert dan Spencer Gore merupakan bagian dari segelintir seniman yang karyanya menjadi respons terhadap “kemewahan” lukisan-lukisan yang menggambarkan drawing room di rumah-rumah kelas borjuis. Sickert menjadikan seorang wanita sederhana yang berpakaian seperti masyarakat kelas pekerja sebagai objek lukisannya, dilatari oleh interior ruangan yang juga lebih bersahaja. Adapun Spencer Gore justru mengangkat kegiatan seorang wanita di dalam scullery sebagai fokus dari lukisannya, di mana ia menghadirkan keadaan sebuah bekas town house mewah yang disulap menjadi hunian yang lebih sederhana. Di dalam scullery yang sebelumnya

Gambar 4: Lady on A Sofa (kiri) Gambar 2: Edwardian Interior (kiri)

Gambar 3: Girl on a Sofa (kanan)

55

Gambar 5: Symphony in White, No. 2: The Little White Girl (kanan)

56


KINCLONG Exhibition

mempengaruhi seberapa besar mereka memprioritaskan ruang untuk fasilitas kebersihan di dalam rumah, yang sering kali dikorbankan jika keadaan tidak memungkinkan. Beberapa pernyataan menunjukkan bahwa pendapatan keluarga juga mempengaruhi kualitas material dan finishing bangunan. Parameter ini juga berkaitan dengan pemeliharaan, khususnya bagaimana istri dapat menata dan menjaga kebersihan rumah, dan bahkan merawat kesehatan anggota keluarga: “Walls, ceiling, and furniture filthy. Dirty flock bedding in living-room placed on a box and two chairs. Smell of room from dirt and bad air unbearable, and windows and door closed. There is no through ventilation in this house. Children pale, starved-looking, and only half clothed.” (Rowntree 2000:156) Rowntree mencatat kepemilikan berbagai alat penunjang kegiatan servis seperti tungku, saluran air, belanga untuk mencuci pakaian, setrika, dan bahkan alat pemeras kain. Rowntree juga mencatat cara mereka mendapatkannya, seperti melalui cicilan atau penggunaan bersama. Tren penggunaan alat-alat domestik ini terjadi sejak tahun 1880-an, sebagai dampak dari perkembangan pengetahuan tentang kebersihan. Akan tetapi, di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 Masehi, pemerintah menjalankan sebuah program relokasi bagi golongan kelas pekerja di kota York

digunakan sebagai ruang komunal tersebut, Gore menampilkan kesederhanaan jemuran kain yang menghiasi jendela dan perapian yang malah menjadi tempat menyimpan peralatan dapur. Kebersihan yang Berharga: Masyarakat Inggris Kelas Pekerja Abad 20 M Namun sayangnya, hunian yang memiliki ruang servis di dalamnya seringkali masih merupakan sebuah kemewahan yang belum bisa dinikmati oleh keluarga dari kelas ekonomi rendah pada masa itu. Melalui pengamatan dalam Poverty: A Study in Town Life (1899), sosiolog Seebohm Rowntree mencoba mengkategorisasi hunian kelas pekerja di kawasan kumuh kota York berdasarkan alokasi ruang untuk masing-masing kegiatan, material bangunan hunian, kepemilikan berbagai jenis objek, serta pemeliharaan kebersihan hunian. Kategori pertama memiliki dua ruangan dan sebuah scullery di lantai bawah, serta tiga kamar tidur di lantai atas, berbeda dengan lantai atas rumah kategori kedua yang hanya memiliki dua kamar tidur. Sementara itu, hunian kategori ketiga merupakan rumah berderet yang setiap unitnya hanya memiliki masing-masing satu ruangan di lantai atas dan lantai bawah. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masyarakat kelas bawah

57

KINCLONG Exhibition

Gambar 6: The New Home (kiri) Gambar 7: The Gas Cooker (kanan)

menuju area rural New Earswick. Program ini hadir dari proses perencanaan yang lebih mempertimbangkan kesejahteraan penduduk, serta memandang kebersihan dari sudut pandang kesehatan. Untuk itu, pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik menjadi salah satu fokusnya. Di beberapa perumahan juga tersedia lahan terbuka untuk menjemur pakaian, mengakomodasi aktivitas fisik anak, dan bahkan menanam sayuran. Tentu pendapatan masing-masing keluarga tetap mempengaruhi kategorisasi hunian yang disediakan berdasarkan organisasi ruangnya. Akan tetapi, fasilitas kebersihan tetap diutamakan, meskipun kelas terendah harus memiliki bak mandi yang masih tergabung di dalam scullery, sehingga jika tidak sedang digunakan harus di-

tutup dengan papan kayu yang sekaligus menambah permukaan untuk mengakomodasi kegiatan scullery. Di beberapa rumah, kompor atau tungku terletak di sudut ruang duduk keluarga. Drawing room menjadi bagian yang seringkali dikorbankan karena kegunaannya tidak sebanding dengan biaya yang dibutuhkan untuk menyediakannya. Kebersihan dan Adaptasi: Pemukim Awal Inggris di Australia Abad 18 M Kondisi geografis yang berbeda menjadi salah satu faktor kesederhanaan konstruksi dan organisasi ruang dalam rumah para pendatang Inggris yang pertama menginjakkan kaki di Australia. Faktor lainnya adalah keterbatasan sumber daya untuk mendirikan bangunan yang serupa

58


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Gambar 8: Lahan Terbuka di Belakang Rumah-rumah di

Gambar 9: Ruang Duduk dengan Tungku di Pinggirnya, New

Station Road dan Poplar Grove, New Earswick, York.

Earswick, York.

dengan tempat tinggal mereka di Inggris, dikarenakan umumnya para pemukim awal berasal dari kelas ekonomi yang lebih rendah. Hal ini menjelaskan keadaan rumah-rumah para pemukim awal di akhir abad ke18 M yang umumnya hanya terdiri dari satu ruangan, di mana aktivitas tidur, makan, mempersiapkan makanan, dan mencuci berlangsung berdampingan tanpa sekat. Akan tetapi, memasuki abad ke-19 M terjadi kemajuan pesat dalam organisasi ruang domestik para pendatang Inggris di Australia Dampaknya, diferensiasi ruang kemudian menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kegiatan domestik seperti dalam kebudayaan Georgian. Adapun peletakan masing-masing ruangnya memiliki beberapa pertimbangan yang berasal dari faktor keamanan maupun faktor geografis itu sendiri. Misalnya, peletakan dapur sebagai massa bangu-

nan yang terpisah dari ruang-ruang domestik lainnya bertujuan untuk menghindari risiko panas dan bahaya api, sekaligus mengusir lalat. Akan tetapi, sejak tahun 1860-an dapur mulai bergabung dengan bangunan utama, untuk menyederhanakan penataan utilitas bangunan seperti aliran air dan juga penggunaan bahan bakar. Meski begitu, letaknya tetap terpisah dari ruang komunal lainnya dan lebih berdekatan dengan ruang servis lainnya. Namun berbeda dengan hunian masyarakat Inggris, ruang servis di rumah masyarakat Australia abad ke-19 tidak menyatukan kegiatan perawatan alat makan dengan pakaian. Masyarakat Inggris cenderung untuk memisahkan aktivitas “hanya” berdasarkan keterlibatan kotoran di dalamnya, sehingga pembagiannya menjadi “ruang untuk tindakan menghilangkan kotoran” (scullery) dan ruangan-ruangan lain di luar itu (drawing

59

room dan ruangan-ruangan lainnya). Sementara itu, masyarakat Australia memisahkan aktivitas berdasarkan perlakuan terhadap objek-objek yang digunakan, sehingga terdapat pemisahan antara ruangan untuk membersihkan diri (kamar mandi), ruangan untuk menyiapkan makanan (dapur), ruangan untuk membersihkan alat makan (scullery), dan ruangan untuk membersihkan pakaian (laundry). Salah satu contohnya dapat ditemukan pada sebuah hunian kelas atas yang diiklankan di harian The Sydney Gazette and New South Wales Advertiser berikut: “... situated in George street, Parramatta; consisting of a capacious dwelling house, the house adjoining, a large kitchen, laundry, servant’s rooms, bakehouse, stabling for nine horses, stockyard, and a garden....” (The Sydney Gazette and New South Wales Advertiser edisi 17 September 1814 halaman 2)

pada 1911, namun kemudian disempurnakan oleh Lance Hill dan dipasarkan olehnya dengan merek Hills Hoist. Alat ini kemudian menjadi populer dan banyak ditemukan di rumah-rumah masyarakat Australia, karena penggunaannya yang meminimalisir kebutuhan untuk memasang tali jemuran dari satu sisi halaman ke sisi lainnya, sehingga dapat menghemat penggunaan ruang. Hills Hoist juga dipasarkan sebagai sebuah alat rumah tangga yang juga berfungsi sebagai rangka untuk memasang material pelindung dari cahaya, sehingga dapat mengakomodasi kegiatan lainnya yang berlangsung di luar ruangan. Bentuknya pun memungkinkan anakanak untuk bermain dan bergantung pada tali-talinya. Kegunaan tersebut diilustrasikan dalam seri perangko Inventive Australia (2009), bersama sejumlah produk populer lainnya yang juga dirancang oleh warga negara Australia.

Berkembang dari Kebersihan: Australia Abad 19 M

Kebersihan dan Benturan Budaya: India Abad 19 M

Ketersediaan lahan dan pemanfaatan ruang yang baik menjadi peluang untuk mengembangkan teknologi yang digunakan dalam kegiatan domestik. Gilbert Toyne, seorang pandai besi dari Australia, menciptakan sebuah alat penjemur pakaian yang terdiri dari sebuah tiang berputar yang memiliki empat cabang dengan kait-kait untuk membentangkan tali. Rancangan ini berhasil dipatenkan

Arsitektur India, khususnya di Benggala, merupakan percampuran dari pengaruh beberapa budaya, seperti budaya Arab dan Portugis. Akan tetapi, pengaruh yang paling, terutama terlihat sejak abad ke-19 Masehi dan seterusnya, adalah pengaruh kebudayaan Inggris, mengingat kedudukan East India Company (EIC) di India dari abad ke-17 hingga abad ke-19. Di era kejayaan EIC, mulai bermun-

60


KINCLONG Exhibition

Gambar 10: Inventive Australia

KINCLONG Exhibition

Gambar 11: Iklan Hills Hoist Gambar 12: English Interior in India Mengambil sudut pandang dari beranda di dekatnya, ruang duduk di India era kekuasaan East India Company ini diisi dengan

bergaya Eropa. Cuaca yang panas dan kelembaban lama-kelamaan dapat melapukkan kayu dan mengundang jamur pada furnitur berlapis kain, sehingga bertolak belakang dengan ajaran Hindu yang mengharuskan kebersihan seluruh permukaan rumah, termasuk lantai yang digunakan untuk beribadah. Oleh karena itu, drawing room yang menjadi primadona di hunian masyarakat Inggris karena kemegahan dan ornamennya, tidak memiliki signifikansi yang sama besarnya di India. Salah satu kritik terhadap interior bergaya British-Persian ini dapat dilihat dalam sebuah novel karya Rabindranath Tagore yang terbit di tahun 1929: “In another wing of the house there

culan bungalow-bungalow yang dibangun dan ditempati oleh pendatang Inggris. Tipologi bungalow di abad ke-19 Masehi ini cenderung berupa bangunan satu lantai yang luas dan memiliki organisasi spasial yang simetris, serta terletak di tengah-tengah plot dan dikelilingi beranda. Sementara itu, perubahan pada hunian masyarakat lokal menengah ke atas terlihat dari penataan interiornya, seperti menyandingkan perabot khas Persia—yang memusatkan aktivitas dengan duduk di atas lantai—dengan furnitur Inggris yang menggunakan kursi dan meja. Akan tetapi, iklim dan kebudayaan di India lebih sesuai untuk penggunaan material yang bersifat lebih tidak porus, dibandingkan dengan ornamen

61

furnitur-furnitur yang memiliki unsur kayu berukir dan upholstery.

was an English drawing room, furnished with eighteenth century English furniture… The upright chairs, the sofas, the chandelier suspended from a ceiling joist – everything was wrapped in holland cloth… The room was covered with European carpets, patterned with plump flowers in rich colours… It was the only modern room in the house, yet it seemed as though it was the most ancient, most ghost­ ridden of all the rooms, filled with the suffocating, choking and musty smell of disuse, denied the contacts of daily life, dumb.” (Tagore dkk. 2006, 44) Akan tetapi, warisan budaya lokal tetap dibawa dalam hunian-hunian menengah ke atas di tahun 1800an, melalui organisasi ruang yang

62

tetap disusun berdasarkan pemisahan aktivitas pria dan wanita. Pria menempati lingkar luar hunian, sementara wanita—umumnya terdiri dari anggota keluarga ditemani pembantu yang berjenis kelamin perempuan—menggunakan ruangan-ruangan di lapisan dalam, yang biasa disebut antahpur, andarmahal, atau zenana. Kebersihan Untuk Semua, India Pasca-kemerdekaan Lain halnya dengan arsitektur pasca-kemerdekaan Indonesia yang gencar memunculkan ikon, prioritas pemerintah India di awal kemerdekaannya pada tahun 1947 adalah mengupayakan tempat tinggal


KINCLONG Exhibition

atau beberapa ruangan khusus untuk kegiatan servis (meski bentuknya lebih sederhana di rumah-rumah kelas terbawah yang hanya memiliki dapur). Fitur lainnya yang juga mencolok adalah penyediaan ruang terbuka (courtyard) di masing-masing unit hunian, yang mana merupakan pengaruh dari ciri khas arsitektur tradisional India. Di masa lalu, masyarakat India cenderung tinggal dalam beberapa kelompok keluarga di satu rumah besar, sehingga courtyard berguna sebagai titik berkumpul bagi semua penghuni. Akan tetapi, courtyard dipertahankan dalam desain rumah modern yang dihuni satu keluarga inti, karena kemampuannya untuk menghadirkan cross ventilation dan pencahayaan alami ke dalam rumah.

Gambar 13: Vilaval Ragini

KINCLONG Exhibition

Gambar 14: Tipologi Rancangan Perumahan Rakyat

Gambar 15: Tipologi Rancangan Perumahan Rakyat

Hyderabad Kelas A

Hyderabad Kelas A

Terlihat adanya penyediaan ruang khusus untuk mandi.

Terlihat adanya penyediaan ruang khusus untuk mandi.

dari negara-negara Barat. Gandhi menekankan bahwa penyakit seharusnya dicegah dengan melakukan kebiasaan baik dan menjaga kebersihan, mengingat tindakan buang air dan meludah sembarangan masih lazim di antara masyarakat India terutama pada masa itu. Bercermin kepada ajaran Hindu, Gandhi juga mengajarkan bahwa kebersihan merupakan tanggung jawab dan hak semua orang, terlepas dari status sosialnya. Beliau giat mengajak masyarakat untuk bersama-sama melakukan manual scavenging, yaitu membersihkan kakus maupun kotoran manusia yang dibuang sembarangan. Kegiatan ini merupakan praktik yang awalnya hanya menjadi tanggung jawab kaum Dalit (masyarakat

di bawah kasta Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra) yang kerap menerima berbagai diskriminasi bahkan hingga saat ini. Meski nyatanya manual scavenging membawa masalah bagi kesehatan, sayangnya praktik ini masih berlangsung hingga abad ke-21 karena kurangnya pemerataan kualitas sanitasi di India. Akan tetapi–menyusul kebijakan perbaikan sanitasi di tahun 1993–PM Narendra Modi meluncurkan sebuah kampanye kebersihan yang berlangsung dari tahun 2013 hingga 2019, bertepatan dengan tahun ke-150 setelah kelahiran Gandhi. Meski membawa semangat Gandhi dan menjadikan Gandhi sebagai ikon kampanye ini, Modi berupaya untuk menyediakan fasilitas sanitasi yang

Seorang wanita yang sedang merapikan perhiasannya,

“Kebersihan Untuk Semua?“: Jalan Panjang Menuju Kebersihan bagi Masyarakat India Seiring dengan perkembangan ilmu patologi di Eropa pada akhir tahun 1800-an, dampak yang dialami bangsa Inggris dalam hal memaknai kebersihan dalam kehidupan sehari-hari juga ikut dirasakan dalam arsitektur India. Sebelumnya, kebudayaan asli India utara memiliki kepercayaan bahwa wabah yang menjangkiti sebuah desa merupakan akibat dari kedatangan iblis, sehingga rakyat setempat akan membuat batas yang melingkari desa mereka ketika terjadi sebuah epidemi. Mahatma Gandhi juga turut membawa ajaran positif yang dipelajarinya

dibantu oleh dua orang asisten perempuannya di dalam area zenana dari sebuah istana.

yang layak bagi masyarakatnya. Salah satu gagasan mengenai perumahan rakyat India dimuat dalam sebuah artikel dalam jurnal American Institute of Architects (AIA) pada Agustus 1946. Dalam rancangan ini, hunian dibagi menjadi beberapa tipe, di mana fasilitas dan biaya sewanya dibedakan berdasarkan tingkat ekonomi masing-masing keluarga (gambar 14 dan 15). Dari semua tipe hunian yang digagas dalam artikel tersebut, terdapat kesamaan pada program ruangnya, di mana seluruhnya memiliki ruangan khusus untuk tidur dan satu

63

64


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

layak guna menghilangkan kebiasaan buang air sembarangan–yang pada akhirnya diharapkan dapat menghapuskan manual scavenging. Program kampanye ini juga mencakup penyediaan sistem pengolahan limbah cair dan padat yang layak serta penyediaan sumber air bersih. Dari budaya-budaya yang dibahas dalam bagian ini, meski ketiganya memiliki unsur Anglo-Saxon, terdapat perbedaan dalam implementasinya. Dalam hal ini, Inggris sebagai pelopor, sedangkan Australia dan India sebagai tempat adaptasi budaya tersebut ke dalam konteks geografis dan budaya lokal.

65

66


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Bukan Toilet Biasa (Peculiar Privy) Siti Arfah Annisa

“Hygienic rationalism again came into conflict with established social conventions as a result of the introduction of baths and bathrooms into working-class homes.” (Adrian Forty, 1986)

Gambar 1. Imperial Porcelain Bathtub

67

Dalam banyak hal, revolusi industri yang terjadi di Eropa pada penghujung abad 18 M membawa berbagai perubahan yang efeknya masih bisa dirasakan secara signifikan oleh masyarakat kini. Sejarawan sosial yang menulis tentang revolusi industri kerap membahas isu-isu luas dan gejolak perubahan yang mengantarkan kita kepada dunia modern, dari tumbuhnya konsumerisme hingga hak sipil bagi kaum wanita. Namun, menarik juga untuk dibahas bahwa pada periode sejarah yang penuh dengan simpang siur kejadian ini, masyarakat diperkenalkan kepada aspek baru dalam rumah yang akan menjadi subjek tulisan ini: kamar mandi modern. Berkembangnya konsep kamar mandi modern sebagaimana yang

68


KINCLONG Exhibition

kita kenal sekarang terikat erat dengan fenomena ketidakbersihan yang merajalela di hampir seluruh kota Eropa pada masa awal revolusi industrialisasi. Rumah-rumah dan apartemen tanpa ventilasi dan air bersih, pakaian yang jarang diganti, hingga aroma badan yang menyengat akibat jarang mandi merupakan fenomena yang masih lazim ditemukan di penghujung abad 18. Sejarah panjang tentang mandi dan kamar mandi dapat menunjukkan bahwa makna kebersihan terus berubah tergantung waktu dan budaya di masyarakat. Sejarah Kamar Mandi Domestik Memasuki abad 19, kebersihan menjadi isu penting yang mulai digaungkan kembali akibat munculnya berbagai wabah penyakit di Eropa kala itu. Dengan hadirnya era revolusi industri, perkembangan teknologi pemipaan membuat kamar mandi yang awalnya bersifat eksklusif hanya untuk sebagian kalangan, kemudian perlahan mulai masuk ke dalam rumah-rumah yang lebih privat dan dapat diakses oleh masyarakat segala lapisan. Seiring dengan berkembangnya teknologi pemipaan pada abad 19, kamar mandi mulai dirancang sebagai ruang yang terpisah (separated room) di dalam rumah. Perlengkapan-perlengkapan di kamar mandi dan penyusunan ruangnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar dengan biaya yang terjangkau, sehingga kamar mandi dapat dimiliki

oleh semua rumah. Pada masa itu, industri memegang peranan penting dalam menciptakan standar-standar kamar mandi. Industri manufaktur mencitrakan kamar mandi yang berkualitas sebagai ruang yang harus terdiri dari elemen bathtub, sink, dan toilet yang tidak terpisahkan. Ketiga perlengkapan saniter utama tersebut pada akhirnya mendominasi desain kamar mandi dan terus mengalami evolusi desain yang dipengaruhi oleh mitos-mitos yang diciptakan oleh industri kapitalisme. Selain itu, masyarakat juga memanfaatkan desain kamar mandi untuk menunjukkan perbedaan kelas sosialnya. Somerset Maugham menulis pada tahun 1922 bahwa bathtub merepresentasikan kelas sosial secara lebih efektif jika dibandingkan dengan kekayaan dan pendidikan. Bak mandi merupakan salah

69

Gambar 2. Unitas: Toilet Pedestal Keramik Pertama

KINCLONG Exhibition

satu perlengkapan saniter utama di kamar mandi. Pada akhir abad 19, bak mandi dirancang layaknya furnitur mewah untuk menunjukkan kelas sosial dengan menggunakan tembaga sebagai material utamanya (Gambar 1). Meskipun memerlukan biaya yang tinggi, terkadang timah digunakan sebagai material penggantinya. Setelah perang dunia pertama, bak mandi mulai digunakan secara luas untuk masyarakat dan diproduksi dalam jumlah besar di Amerika dan Eropa. Bak mandi terkadang juga dilengkapi dengan shower. Shower awal mulanya sudah digunakan di abad ke-19 untuk tujuan medis. Pada akhir 1800an, shower mulai digunakan di rumah-rumah masyarakat kelas atas. Selain bak mandi, wastafel juga merupakan perlengkapan saniter yang terdapat pada kamar mandi di dalam rumah. Wastafel dikenal dalam beberapa nama sebutan lain seperti sink, wash basin, lavatoria, lavabos, lavers, dan benetiers yang pada dasarnya memiliki fungsi utama sebagai tempat mencuci tangan dan muka. Dalam Bahasa Indonesia sendiri, istilah “wastafel” berasal dari Bahasa Belanda wastafel yang secara harfiah bisa diartikan sebagai meja (tafel) cuci (wass). Jejak evolusi wastafel dengan berbagai macam bentuknya sudah terlihat sejak abad pertengahan. Pada tahun 1830, desain wastafel hanya berbentuk meja dengan mangkuk air yang diletakkan di atasnya. Seiring dengan masuknya pemipaan air ke dalam rumah, wastafel mulai dirancang berbentuk mangkuk air yang built-in dalam satu set furnitur mewah dengan harga yang mahal.

Gambar 3. Bathroom, 28 Ashley Place, Wesminster, London. Kamar mandi di dalam rumah pada tahun 1893.

Perlengkapan saniter lainnya yang tidak terpisahkan sebagai bagian dari kamar mandi adalah toilet. Pasca revolusi industri, perkembangan desain toilet pada kamar mandi di dalam rumah tidak terlepas dari komodifikasi industri manufaktur. Pada tahun 1870, Thomas William Twyfords, pengusaha manufaktur asal Inggris, menciptakan valve toilet dengan nama “Optimus” sebagai pengembangan dari desain-desain toilet yang sudah ada sebelumnya. Selain itu, J.R. Mann juga memperkenalkan toilet dengan syphonic system yang menjadi cikal bakal sistem toilet sentor modern. Kemudian pada tahun 1885,

70


KINCLONG Exhibition

Twyford mulai memproduksi “Unitas”, toilet pertama yang menggunakan pedestal keramik (Gambar 2). Toilet tersebut didesain menggunakan dekorasi ukiran berwarna warni untuk menampilkan citra masyarakat kelas atas yang eksklusif. Pada awal kemunculannya ke dalam rumah, kamar mandi di Eropa didesain dengan perlengkapan saniter yang dibuat seakan seperti furnitur mewah dengan porselain dan kabinet kayu secara built-in. Secara visual, interior kamar mandi pada pertengahan abad 19 terlihat tidak berbeda dengan ruang-ruang lain di dalam rumah yang menggunakan karpet (Gambar 3). Bahkan dalam beberapa kasus, kamar mandi dibuat menyatu dengan dressing room yang sudah ada sebelumnya di dalam rumah. Memasuki abad 20, konsep tentang kamar mandi mulai mengalami pergeseran. Kamar mandi dianggap sebagai ruang yang penting untuk melawan stigma kotor dan wabah penyakit, sehingga perlengkapan saniter di dalamnya harus dapat terjangkau setiap sudutnya untuk dibersihkan. Hal ini membuat desain bak mandi pada tahun 1900 tidak lagi dirancang built-in dalam kabinet kayu, namun berdiri bebas menggunakan kaki bak mandi.

ukuran kamar mandi mulai disesuaikan untuk mengakomodasi ukuran perlengkapan saniter yang kecil. Perubahan ukuran kamar mandi menjadi lebih kecil dan padat dapat dilihat melalui katalog dari industri manufaktur perlengkapan saniter, seperti pada J.L. Motts Iron Works. Kira (1976) menyatakan bahwa kamar mandi modern digambarkan sebagai kombinasi dari elemen bak mandi, wastafel, dan toilet. Oleh karena itu, evolusi kamar mandi modern juga tidak terlepas dari evolusi ketiga elemen tersebut. Pada akhir abad ke-19, desain kamar mandi masih dipengaruhi oleh gaya eklektisisme yang penuh dekorasi. Kecenderungan ini mulai menghilang memasuki abad ke-20, karena adanya batasan mekanisasi pada industri manufaktur, serta perubahan kecenderungan desain menjadi lebih simpel. Pada tahun 1920, bak mandi dan wastafel didesain dominan menggunakan warna putih sebagai simbol higienitas di Eropa masa itu. Di tahun tersebut, kamar mandi dengan bak mandi, toilet, dan wastafel juga sudah mulai merata dimiliki oleh kelas pekerja di Eropa dan menjadi ruangan yang dibuat terpisah dengan ruang-ruang lain di dalam rumah. Hal ini membuat eksklusivitas kamar mandi yang awalnya hanya dimiliki kelas atas perlahan mulai menghilang. Walaupun masih tetap ada usaha-usaha untuk menjadikan kamar mandi sebagai representasi pembeda kelas sosial melalui mitos-mitos yang terus diciptakan oleh industri kapitalisme. Di penghujung tahun 1920-an, teknologi pewarnaan sudah mulai berkembang

Evolusi Desain Kamar Mandi Di awal masuknya kamar mandi ke dalam rumah sebagai ruang yang terpisah, masyarakat hanya mengalihfungsikan kamar tidur di rumahnya menjadi kamar mandi, sehingga ukuran kamar mandi kala itu sangat besar jika dibandingkan dengan ukuran kamar mandi modern saat ini. Memasuki abad ke-19,

71

KINCLONG Exhibition

dan diaplikasikan ke dalam desain-desain perlengkapan saniter. Hingga memasuki tahun 1930, desain kamar mandi mulai menggunakan warna-warna selain putih, memakai elemen keramik di dinding-dinding kamar mandi, dan dilengkapi dengan berbagai macam dekorasi serta aksesoris pelengkap. Kamar mandi tidak lagi hanya menjadi simbol kebersihan di rumah, tetapi juga dirancang untuk memberikan kenyamanan dan keindahan interior ruangannya. Kecenderungan untuk menghias kamar mandi dengan berbagai elemen dekorasi ini dipengaruhi dari keinginan masyarakat untuk tetap menunjukkan perbedaan kelas sosial antara kelas elit dan kelas pekerja. Sekitar tahun 1929 hingga awal 1940an, terjadi depresi ekonomi yang menyebabkan krisis finansial di Eropa serta diperparah oleh efek Perang Dunia II, sehingga pergerakan industri kamar mandi melambat. Hal ini membuat desain kamar mandi tidak banyak mengalami perubahan signifikan hingga tahun 1950-an. Memasuki tahun 1950, industri mulai memproduksi produk-produk manufaktur secara inovatif dengan bentuk dan warna yang lebih beragam. Munculnya banyak proyek pembangunan perumahan pasca perang juga memicu produksi perlengkapan saniter secara besar-besaran. Beberapa industri juga mulai memproduksi kamar mandi yang bersifat multi privasi sehingga dapat digunakan bersamaan oleh anggota keluarga dalam satu rumah. Pada tahun 1960an, eksplorasi terhadap material baru dalam desain perlengkapan

Gambar 4. Bathroom interior illustrated in picture, 1884 (atas) Gambar 5. Twyfords, J7 Bathrooms, 1911 (bawah)

kamar mandi mulai berkembang. Bak mandi mulai dirancang dengan material fiber glass dan keramik. Begitu pula desain toilet semakin variatif, compact, dan lebih berorientasi kepada pengguna. Desain kamar mandi dan elemen-elemennya terus berevolusi dari masa ke masa. Hal ini dipengaruhi oleh industri kapitalisme yang terus berinovasi memproduksi dan menjual produk baru melalui mitos dan tren yang diciptakan melalui iklannya serta kebutuhan dan keinginan masyarakat yang juga terus berubah. Evolusi desain tersebut terus terjadi hingga saat ini di masa kontemporer.

72


KINCLONG Exhibition

Gambar 6. 1920s Gallery of Crane Bathrooms

Gambar 7. Standard Sanitary Mfg. Co.‟s ad, 1930 (atas) Gambar 8. Crane T Bathroom, 1952 (bawah)

73

KINCLONG Exhibition

Kamar Mandi dalam Modernisme Gagasan-gagasan tentang kesehatan, kebersihan, dan reformasi desain juga muncul seiring dengan bangkitnya gerakan modernisme. Pada tahun 1930, estetika kebersihan telah menjadi norma di dalam lanskap domestik. Selain dilihat dari bukti-bukti fisik melalui objek desainnya, pernyataan langsung dari para arsitek modernis juga menunjukkan adanya keselarasan antara konsep kebersihan dan modernisme. Salah satu arsitek modernis yang menunjukkan perhatiannya terhadap kebersihan yaitu Le Corbusier. Bangunan Villa Savoye yang dirancangnya pada tahun 1929 merupakan perwujudan dari obsesinya terhadap kebersihan untuk mendominasi wacana arsitektur. Keberadaan kamar mandi yang dilengkapi dengan trinitas bak mandi-wastafel-toilet, serta kehadiran wastafel di tengah-tengah koridor Villa Savoye merupakan simbol terhadap kebersihan dan kesehatan dalam arsitektur Le Corbusier. Kehadiran kamar mandi dan toilet di apartemen Le Corbusier juga menerapkan estetika kebersihan. Pada tahun 1940an, di Perancis hanya terdapat 11% apartemen yang memiliki kamar mandi, dan kurang dari 1% yang memiliki shower. Hal inilah yang membuat kamar mandi yang dirancang Le Corbusier pada era tersebut menjadi menarik, karena rancangannya cenderung menunjukkan obsesi akan kebersihan. Pentingnya kamar mandi di dalam rumah telah menjadi perhatian bagi para arsitek modernis. Dalam pandangan arsitek modernis, kamar mandi atau toilet merupakan cara untuk memod-

Gambar 9-11. Kamar Mandi & Sink di Villa Savoye

Gambar 12-13. Kamar Mandi di Apartemen Le Corbusier

Gambar 12-13. Kamar Mandi di Apartemen Le Corbusier

74


KINCLONG Exhibition

ernisasi arsitektur, sehingga sejarah arsitektur modern dapat dilihat dari sudut pandang toilet. Adolf Loos dalam artikel Plumbers di tahun 1898 menyatakan bahwa salah satu prinsip fundamental dari modernisme adalah citranya terhadap higienitas dan gagasannya untuk membawa kebersihan dan keteraturan di masyarakat. Begitu pula arsitek modernis lainnya, Mies van der Rohe, juga merancang gambar Villa Tugendhat (192830) di Brno, Republik Ceko dengan kabinet dan wastafel built-in, begitu pula adikaryanya yang paling terkenal, Farnsworth House (1945-51). Bagi Mies, kebersihan dan simplisitas adalah esensi dari modernisme. Arsitektur modern menggunakan logika dan ilmu pengetahuan untuk melawan kotoran, debu, dan penyakit. Frank Lloyd Wright juga termasuk salah satu arsitek modern yang memiliki kepekaan terhadap kebersihan. Wright juga meyakini bahwa toilet jongkok lebih sehat dibandingkan toilet duduk. Pada karya fenomenalnya Fallingwater (1936-1939), ia merancang toilet dengan ketinggian hanya 10,5 inchi dari lantai dan didesain dengan jendela besar yang menghadap ke lanskap di luar rumah. Pasca Perang Dunia I dan II, ide-ide desain kamar mandi turut dipengaruhi dengan maraknya proyek perumahan masyarakat. Kamar mandi mulai dirancang secara prefabrikasi melalui industrialisasi. Buckminster Fuller merupakan salah satu arsitek modernis yang membuat konsep desain kamar mandi prefabrikasi yang hemat ruang disebut

KINCLONG Exhibition

masih rendah pada masyarakat India, membuat pemerintah setempat melakukan berbagai cara agar toilet dapat masuk ke dalam rumah. Salah satunya seperti kampanye “No Toilet No Bride” di Haryana, India. Toilet direpresentasikan sebagai simbol rumah tangga dan diciptakan mitos toilet sebagai syarat untuk menikahi perempuan di India. Pada akhirnya, kampanye ini dianggap berhasil dilihat dari meningkatnya kepemilikan perlengkapan sanitasi sebanyak 21% di rumah-rumah India. Desain toilet di India sebagian besar juga berbentuk toilet jongkok, dikarenakan minimnya lahan di India. Adanya perbedaan istilah nama Indian Toilet (toilet jongkok) dan British Toilet (toilet duduk) juga menunjukkan adanya isu rasialis dalam norma kebersihan. Di Jepang, kebersihan memiliki makna yang sangat penting dan mempunyai korelasi dengan keindahan dan estetika. Kata 綺麗 kirei dalam bahasa Jepang dapat diartikan cantik, indah, bersih, suci, dan tertata. Pada rumah dan apartemen di Jepang, toilet menjadi salah satu area yang dirancang dengan mengutamakan privasi dibandingkan dengan ruang lainnya sebagai bentuk etika untuk memisahkan area bersih dan tidak bersih. Masyarakat Jepang pada awalnya menggunakan toilet jongkok tradisional yang disebut 和式 washiki, atau dikenal pula dengan sebutan Japanese-style Toilet. Pasca Perang Dunia II dan terjadinya pendudukan Barat pada 1960an, toilet duduk mulai marak dan terjadi perubahan tren mengganti toilet jongkok dengan toilet duduk pada ru-

Gambar 15. Kamar Mandi di Nakagin Capsule Tower, Jepang.

Dymaxion Bathroom pada tahun 1938. Konsep ini kemudian dikembangkan pada tahun 1960 dengan menggunakan teknologi plastik. Di Jepang, arsitek Kisho Kurokawa dalam gerakan metabolism juga mengembangkan unit kamar mandi yang compact untuk mengakomodasi bak mandi, wastafel, dan toilet pada bangunan Nakagin Capsule Tower (1970). (Gambar 16). Melalui karya-karya arsitektur tersebut, dapat dikatakan bahwa modernisme juga mengedepankan prinsip higienitas yang direpresentasikan melalui rancangan kamar mandi di dalam rumah. Setiap arsitek tentu memiliki ideologi dan karakter desain yang berbeda, namun norma-norma kebersihan tetap menjadi perhatian utama bagi arsitek di era modern. Toilet Antar Budaya Kamar mandi dan toilet merupakan kebutuhan dasar yang perlu ada di setiap rumah modern. Toilet modern memiliki tantangan tersendiri untuk masuk ke lapisan masyarakat tertentu

75

Gambar 16. Toilet Jongkok di Jepang (Washiki)

di berbagai negara karena faktor sosial, budaya, dan ekonomi. Kurangnya akses masyarakat bawah terhadap air bersih dan sanitasi yang layak masih menjadi masalah global yang harus diselesaikan. Sistem sentor dan toilet duduk modern di Barat dianggap belum dapat menjadi solusi yang merata dan berkelanjutan untuk masyarakat di beberapa negara dengan kondisi sosial budaya yang berbeda. Seperti misalnya di India sebagai salah satu negara dengan sanitasi terburuk di dunia, lebih dari 100 juta masyarakatnya tidak memiliki toilet di rumahnya. Masyarakat India masih banyak bergantung pada toilet umum di ruang-ruang publik. Kesadaran terhadap kebersihan yang

76


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

ang-ruang publik di Jepang. Pada tahun 2016, toilet duduk sudah merata ada pada 81% rumah-rumah di Jepang, kecuali di beberapa rumah tradisional atau daerah yang masih kuat secara tradisi. Kesimpulan Setiap budaya masyarakat memiliki makna, persepsi, dan metode terhadap kebersihan yang berbeda-beda. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, serta kondisi sosial dan ekonomi di masyarakat pada masa tersebut. Sejarah perkembangan budaya mandi dan kamar mandi dari masa ke masa di berbagai budaya menunjukkan adanya pengaruh dari norma-norma higienitas terhadap arsitektur dan desain. Dalam hal ini terlihat dari evolusi desain kamar mandi—khususnya kamar mandi di dalam rumah—yang terus berkembang desainnya seiring zaman untuk menyesuaikan kebutuhan dan keinginan masyarakat yang juga terus berubah. Dalam hal ini, industri manufaktur berperan signifikan dalam mengkampanyekan gerakan kebersihan melalui inovasi-inovasi desain perlengkapan saniter yang merespon kebutuhan dan menyesuaikan dengan keinginan masyarakat. zaman untuk menyesuaikan kebutuhan dan keinginan masyarakat yang juga terus berubah. Dalam hal ini, industri manufaktur berperan signifikan dalam mengkampanyekan gerakan kebersihan melalui inovasi-inovasi desain perlengkapan saniter yang merespon kebutuhan dan menyesuaikan dengan keinginan masyarakat.

77

78


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Jantung Rumah (Heart of Home) SARAH KHANSHA SUHADA

Dapur seringkali menjadi suatu ruang penting dalam kehidupan domestik sehari-hari. Layaknya fungsi jantung, ruang dapur berperan menjaga keberlangsungan hidup penghuni rumah melalui sumber api dan makanan. Sampai sekarang pun, frase “kitchen is the heart of home” menjadi sebuah konsep utama dalam tahap awal merancang dapur karena mempunyai peran yang signifikan dalam kehidupan rumah tangga. Aktor yang berperan secara signifikan dalam proses perkembangan bentuk dapur ini adalah wanita, peran seorang wanita dalam menghuni suatu ruang dapat memengaruhi perubahan ruang domestik, dan inilah yang berpengaruh terhadap evolusi desain dapur dari masa ke masa.

Gambar 1. Dapur di Greenbelt, Maryland, Proyek Perumahan Federal.

79

“Few tasks are more like the torture of Sisyphus than housework, with its endless repetition: the clean becomes soiled, the soiled is made clean, over and over, day after day - The Second Sex” (1949)

80


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

pra-industrial. Melihat dari berbagai macam budaya, dapur-perapian seringkali menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dapur pada masa ini teridentifikasi sebagai bagian dari perapian sentral terbuka tempat keluarga berkumpul untuk menghangatkan diri sekaligus tempat bagi para perempuan untuk memasak dan mendistribusikan makanan kepada seluruh anggota keluarga. Penempatan dapur-perapian sejenis ini dapat dilihat contohnya pada rumah panjang masyarakat Haudenosaunee (kerap disebut Iroquois) di bagian selatan provinsi Ontario, Kanada dan bagian utara negara bagian New York, AS. Dapur dan perapian terbuka yang berada di tengah ruangan biasa digunakan dalam kebanyakan perumahan masyarakat Eropa

Seperti yang dipaparkan oleh Simone de Beauvoir dalam bukunya The Second Sex (1949), perempuan dengan pekerjaan rumah tangganya dianggap menyiksa, karena pekerjaan ini selalu berulang. Gerakan emansipasi wanita di masyarakat Barat pada abad 19, ingin melepaskan wanita dari rutinitas pekerjaan yang membosankan dan semua ini berpusat di dapur. Perancang seperti Christine Frederick berupaya meringankan beban kerja sekaligus meningkatkan martabat para ibu rumah tangga dengan memperbaiki kondisi ruang dapur serta Arsitek Bruno Taut juga mengakui peran kreatif para ibu rumah tangga dalam membentuk rancangan interior, terutama dapur, dengan menulis: “Der Architekt denkt, die Hausfrau lenkt” sang arsitek berpikir, sang ibu rumah tangga membimbing. Berbagai perdebatan inilah yang pada akhirnya membentuk konsepsi dapur modern sebagaimana yang kita kenal sekarang. Evolusi dapur modern ini sangat menarik untuk ditelusuri dan penulis akan coba uraikan dalam tulisan berikut. DAPUR PRA-INDUSTRI Dapur menjadi komponen penting yang dapat diidentifikasi pada suatu hunian dari berbagai tempat dan waktu, pada kesempatan kali ini penulis akan mengulas beberapa contoh dapur kuno yang dapat memperlihatkan gambaran kondisi dapur pada masyarakat

Gambar 2. Interior Rumah Panjang - Desa Iroquois, Ontario, Canada. (2013)

81

Gambar 3. Ilustrasi dapur Eropa dari tahun 1518, direproduksi dalam buku Manners, Custom and Dress During the Middle Ages and During the Renaissance Period oleh Paul Lacroix pada tahun 1874. Terlihat seorang anak laki-laki sedang membalik-balik babi bakar, sementara di seberangnya seorang lelaki yang lebih tua mengawasi beberapa periuk keramik tertutup yang diletakkan sangat dekat dengan api. Seorang pelayan masuk dengan membawa lentera, kebutuhan dasar ketika dapur seringkali gelap.

yang tampaknya berperan ganda sebagai tempat membakar makanan yang lebih besar [h]. Dapur umum pada rumah Yunani Kuno, dipisahkan dari rumah utama karena memasak dianggap sebagai pekerjaan kotor yang menjadi ranah kerja para budak, yang untuk kasus dapur dikhususkan untuk budak perempuan.

abad pertengahan yang bertujuan untuk menyebarkan kehangatan dari perapian terbuka. Namun karena sistem ventilasi yang belum memadai dapur selalu diibaratkan sebagai tempat yang gelap, berasap, dan kotor, sehingga mendapat julukan ‘smoke kitchen’. Namun terdapat penempatan dapur yang berbeda pada beberapa kebudayaan, dapat ditemukan penempatan dapur terpisah dari bangunan utama, salah satu contohnya adalah rumah Yunani Kuno. Semisal di rumah House of Many Colors pada situs kota kuno Olynthus, terlihat adanya pemisahan ruang antara dapur dengan fungsi lainnya. Dapur di rumah tersebut terdiri dari ruang kerja utama dengan perapian [label k], relung yang kemungkinan dipakai untuk mencuci alat makan [g], serta semacam cerobong ventilasi asap

Pemisahan dapur ini juga dapat ditemukan pada hunian masyarakat kelas atas di Eropa abad pertengahan, karena julukan dapur sebagai ‘smoke kitchen’ yang diasosiasikan pada zaman tersebut, maka pada dapur istana dan rumah bangsawan mendapat perlakukan berbeda, dijaga kebersihannya, dan menjaga area tetap rapi. Dapur menjadi wilayah para pembantu sementara para bangsawan pemilik rumah bersantap di aula makan khusus yang

82


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Gambar 6. Ilustrasi dapur di St. Mary Guildhall, Coventry, Inggris,

Gambar 9. Apartemen aturan lama (1918)

Gambar 8. NApartemen aturan baru (1941)

yang pada tahun 1861 dimanfaatkan ulang sebagai dapur umum untuk penenun miskin di area tersebut.

Gambar 4. Rekonstruksi rumah no. 33 di Priene, sebagai gambaran rumah Yunani kuno tipikal, dari buku Ancient Cities. The Archaeology of Urban Life in the Ancient Near East and Egypt, Greece, and Rome (2011) oleh Charles Gates

Gambar 7. Litografi menggambarkan seorang wanita yang bekerja di dapur, tahun 1874

Seiring waktu, kemajuan pada peralatan dapur di Eropa menghasilkan tungku dan cerobong asap yang mampu mengarahkan asap sehingga tidak mengotori keseluruhan ruang. Namun bersamaan dengan meningkatnya kebersihan area dapur, ruang dapur sendiri cenderung tetap dianggap sebagai ruang kotor yang sebaiknya dipisahkan sejauh mungkin dari ruang utama rumah. Di rumah-rumah besar Inggris, jarak antar ruang makan dan dapur bisa jadi sangat jauh. Misal di Audley End House, Essex, jarak antar dapur dan ruang makan mencapai 182 m. Namun tentunya hal ini hanya bisa dicapai oleh sebagian masyarakat dengan tingkatan ekonomi tertentu, karena dalam rumah masyarakat biasa tidak jarang ditemukan ruang memasak yang sekaligus digunakan sebagai tempat makan atau kegiatan lainnya. DAMPAK REVOLUSI INDUSTRI

terpisah dari dapur. Karena bangsawan yang seringkali perlu menjamu berbagai tamu untuk berbagai acara, dapur masyarakat kelas atas Eropa abad pertengahan kerap menjadi ruang besar yang penuh kesibukan, dioperasikan oleh lusinan pembantu yang masing-masingnya memiliki tugas dan peran khusus. Salah contoh dapur besar semacam ini adalah St. Mary Guildhall di Coventry, Inggris yang pertama kali dibangun antara tahun 1340-1342.

Gambar 5. Denah House of Many Colors di kota Olynthus. Dapur dan perapian rumah dapat dilihat pada ruang yang dilabel huruf [k]. Ilustrasi dari Encyclopedia of Global Archaeology (2014) disusun oleh Springer, dengan editor utama Claire Smith.

83

Revolusi Industri yang terjadi sekitar abad 19 selalu menimbulkan permasalahan baru di berbagai kota Eropa Barat dan Amerika Serikat akibat pesatnya pertumbuhan kota dalam skala yang sebelumnya belum terpikirkan. Berbagai penduduk kota (terutama imigran dan buruh) seringkali harus berhadapan dengan hunian yang sesak dengan infrastruktur yang tidak memada. Pada penghujung abad 19 dan awal abad 20, permasalahan urban di kota-kota Barat ini mendorong munculnya berbagai upaya untuk menetapkan aturan serta standar layak huni baru untuk meningkatkan kualitas hidup warga kota. Salah satunya di New York pengesahan New York State Tenement House Act pada tahun 1901 menghasilkan perbedaan antar apartemen yang dibangun berdasarkan aturan lama (old law tenement) dan aturan baru (new law tenement). Pada apartemen aturan lama, unit huniannya terdiri dari satu atau dua ruang sempit tanpa adanya jendela. Untuk dapur bisa dibilang sangat buruk, peralatan dapur ditempatkan bersebelahan dengan tempat tidur, gorden,

84


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Gambar 10. Ilustrasi dari iklan kabinet Hoosier yang diproduksi

Gambar 11. Model “Dapur Efisiensi” yang dipasarkan perusahaan

McDougall Company, dari The Ladies Home Journal, edisi April

Woodward & Lothrop (1905-1940)

1917, halaman 34

dan barang-barang lainnya yang mudah terbakar. Pada apartemen aturan baru, dapur mulai diberi ruang dengan jarak dan luas yang lebih memadai serta diharuskan berdekatan dengan jendela. Perkembangan dapur di Amerika dan Eropa Barat juga berkaitan erat dengan keberadaan masyarakat kelas menengah yang mengalami pertumbuhan signifikan pada penghujung Revolusi Industri karena kelas menengah mempunyai kemungkinan untuk berinvestasi secara material dan emosional pada perkembangan dapur rumah mereka. Berbeda dengan masyarakat kelas atas cenderung menganggap dapur sebagai area yang kotor, gelap, bau dan merupakan area pembantu. Maka dari itu, masyarakat kelas menengah berupaya untuk meningkatkan kondisi dapur mereka dengan membeli dan mencoba berbagai produk dapur komersial,

salah satunya kabinet Hoosier oleh The Hoosier Manufacturing Co. dari Indiana. Kabinet ini memaksimalkan ruang penyimpanan pada dapur yang dapat menghemat ruang, sehingga membantu pekerjaan ibu rumah tangga jauh lebih efisien. MERASIONALKAN DAPUR Berkat peran dari sains dan teknologi dalam Revolusi Industri, anggapan bahwa setiap aspek kehidupan manusia akan dapat lebih baik dan efisien dengan adanya penerapan prinsip sains dan rasionalisme, pendekatan yang disebut sebagai manajemen saintifik atau Taylorism. Disini tokoh yang berpengaruh dengan penerapan manajemen saintifik pada berbagai aspek domestik adalah ekonom wanita Amerika Christine Frederick (1883-1970). Frederick memperkenalkan konsep efisiensi untuk menghemat ruang, waktu dan

85

Gambar 12. (KIRI) Denah dapur efisien sebagaimana dituturkan Christine Frederick dalam bukunya, Household Engineering: scientific management in the home (cetak ulang tahun 1923).

tenaga dalam berbagai kegiatan rumah tangga sehari-hari. Efisiensi dapur diperhatikan agar para wanita bisa dengan lebih cepat menyelesaikan pekerjaan dapur yang ‘tidak produktif’ dan memberatkan. Melalui standar yang dituturkan, Frederick mendorong perubahan susunan dapur eksisting menjadi dapur baru yang dapat digunakan dengan lebih aman, cepat, mudah, berdasarkan pengaturan rasional yang tepat guna. Gagasan manajemen saintifik dan efisiensi terbukti populer di AS dan mulai menyebar ke negara-negara Eropa pada awal abad 20, salah satunya di Jerman yang mulai mengeksplorasi berbagai konsep efisiensi hunian dipicu oleh krisis perumahan pada Periode Weimar pasca PD I. Untuk menghemat biaya, banyak arsitek dan dewan pembangunan berfokus untuk mengembangkan suatu desain standar yang dapat diterapkan pada tiap unit hunian. Penerapan awal manajemen saintifik ada pada Haus am Horn, model rumah eksperimental oleh Georg Muche yang dipamerkan pada Bauhaus

86


KINCLONG Exhibition

krisis perumahan di Jerman dengan merancang jenis dapur baru yang lebih efisien dan hemat tempat yaitu dapur Frankfurt. Desain dapur ini dianggap sebagai ruang kerja yang perlu sepenuhnya dipisahkan dari ruang lain demi efisiensi. Schütte-Lihotzky melakukan studi pola penggunaan, alur kerja, dan wawancara dengan ibu rumah tangga untuk menghasilkan desain ruang yang memerlukan sedikit langkah antar berbagai kegiatan. Rancangan dapur ini disambut dengan baik sebagai salah satu bentuk penyelesaian masalah yang rasional. Namun desain ini tidak fleksibel, meskipun tujuan awalnya mengurangi waktu untuk pekerjaan rumah tangga, namun konsep ruang terpisah seakan mengisolasi dari seluruh kegiatan pada ruang rumah lainnya, juga dengan luas ruang yang terbatas menghalangi anggota keluarga lain untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Pada masa yang sama, arsitek Bruno Taut (1880-1938) menyayangkan rasionalisasi ala Frederick karena menghasilkan rancangan kaku yang mengorbankan kenyamanan dari pengguna. Taut sendiri mendukung rasionalisasi dan mendorong klien wanitanya untuk menjadikan rumah mereka lebih efisien, namun tidak dengan adanya pembatas yang kaku antar aktivitas sebagaimana terjadi dalam dapur Frankfurt. Taut cenderung lebih banyak menanggapi

Gambar 14. Foto Dapur Frankfurt dari majalah Das neue Frankfurt #5 edisi 1926-1927 (1926)

Werkschau pada tahun 1923. Dalam desainnya mulai dilakukan pembagian konvensional antara ruang yang berbeda di rumah, ruang tamu, ruang makan, dan dapur, untuk memungkinkan berbagai kemungkinan pola sirkulasi penggunaan, desain dapur berupa meja berbentuk L dilengkapi dengan wastafel serta kabinet atasbawah built-in yang pada masa itu masih tergolong baru. Terinspirasi dari manajemen saintifik dari gagasan Frederick, arsitek wanita Austria Margarete Schütte-Lihotzky (1897-2000) juga berupaya untuk menanggapi

87

KINCLONG Exhibition

MENAMPILKAN DAPUR Pasca PD II, dapur mengalami evolusi yang cukup jelas. Pengaruh ideal Bauhaus dan dapur Frankfurt terbukti berpengaruh dalam mempopulerkan mebel fit-in dan tampilan kontinu yang mana berbagai komponen dapur dari kompor, meja counter, serta lemari dan kabinet merupakan satu kesatuan yang dipasang bersamaan. Mebel lepas seperti kabinet Hoosier pun tidak lagi beredar. Namun ide fungsionalitas murni pada dapur Frankfurt ditinggalkan, dan interaksi sosial di dalam dapur mulai dipopulerkan. Warna dan elemen-elemen dekoratif pun mulai diterapkan di dapur. Pada tahun 1943 perusa-

Gambar 15.Foto dapur GEHAG, dapur yang diterapkan dalam rancanganGemeinnützige Heimstätten-, Spar- und BauAktiengesellschaft (GEHAG)

kebutuhan klien wanitanya terkait interior karena dia menganggap wanita sebagai pemegang keputusan utama terkait urusan dalam rumah, sehingga rancangannya memiliki landasan dari praktek para ibu rumah tangga yang lazim pada masanya. Bersama asistennya Franz Hillinger, Taut membuat sebuah rancangan dapur pada tahun 1926 untuk perumahan sosial di Jerman, salah satunya yang paling terkenal adalah Hufeisensiedlung atau “Perumahan Tapal Kuda” di Berlin. Pada dapur GEHAG, terdapat beberapa lemari multiguna, meja makan, serta meja lipat kecil yang dapat digunakan oleh anggota keluarga untuk membantu pekerjaan di dapur. Desain ini memungkinkan ibu rumah tangga untuk mengemban perannya dengan lebih santai dan fleksibel.

Gambar 16 .Iklan salah satu rancangan Armstrong Kitchen dari majalah American Home

88


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

segitiga antar kulkas, wastafel, dan kompor – yang pertama kali diperkenalkan psikolog dan insinyur industrial wanita Lilian Moller Gilbreth pada 1920an. Dengan mengefektifkan area kerja pada tiga komponen dapur ini, maka sisa ruang di dapur bisa dimanfaatkan sebagai area menjamu dan ruang sosial. Tren populer pada tahun ini desain dapur menggunakan ma-

haan AS Libbey-Owens-Ford Glass Company menugaskan nyonya H Creston Dohner untuk mendesain model dapur baru yang akan dipajang di berbagai pusat perbelanjaan di seluruh negeri. Rancangannya, Kitchen of Tomorrow, menerapkan ide dari Haus am Horn dan dapur Frankfurt, ide desain kontinu, ruang kerja efisien hampir dan peralatan built-in, dengan tampilan futuris minimalis dan fungsi rangkap dengan menutup bahwa “setelah kerja usai, dapur ini bisa berperan ganda sebagai ruang bermain” Memasuki 1950-an, dapur menjadi salah satu lambang optimisme, kemakmuran, superioritas teknologi di AS. Tidak lagi hanya mengutamakan fungsionalitas, desain dapur pada dekade ini kian menekankan pada penampilan dengan berbagai pilihan model dan warna, terutama warna pastel pink dan hijau mint. Konsep ruang terbuka open-plan dimanfaatkan secara maksimal agar dapur mudah dilihat dari berbagai bagian rumah. Dapur menjadi tempat sosial dan dipamerkan sebagai bagian rumah yang membanggakan saat menjamu teman dan tetangga yang berkunjung Tren ini berlanjut hingga 60an yang mana fungsi rangkap dapur sebagai tempat bersenang-senang dan pertemuan sosial mendominasi. Efisiensi kerja pada dapur periode ini juga dipengaruhi pemikiran segitiga dapur – bahwa area kerja di dapur dibentuk dari

Gambar 18. MSalah satu iklan untuk dapur AS pada dekade 50-an

Gambar 19. Dapur Mutschler (1966)

terial kayu dan nada warna yang lebih tenang dan meminimalkan desain agar dapur mudah dibersihkan, karena fungsi rangkapnya sebagai ruang sosial yang tampilannya perlu dijaga.

dan efisien – tidak jauh berbeda dengan janji kabinet Hoosier 200 tahun silam. Namun tidak hanya efisien secara fungsi, dapur paling populer pun perlu memiliki tampilan bersih, umumnya diwujudkan dengan permukaan putih bersih, meja granit mengkilap, dan kabinet yang tersusun rapi, sebagai cerminan dari rumah tangga yang baik dan teratur. Dengan banyaknya permasalahan lahan pada lingkungan perkotaan, trend desain kontemporer juga melahirkan dapur minimalis yang banyak diterapkan dalam apartemen kota. Memaksimalkan fungsi dalam ruang seminimal mungkin adalah kunci dalam mendesain dapur untuk apartemen kecil. Berbeda dengan dapur Frankfurt yang membatasi fungsi dengan batasan tembok, konsep ruang terbuka lebih populer dalam

DAPUR KONTEMPORER

Gambar 17. Iklan Kitchen of Tomorrow, di majalah Life, edisi 9 Agustus 1943, halaman 53. (1943)

89

Pemikiran mengenai desain dapur antar abad 19 dan 20 yang timbul dalam konteks masyarakat urban industrial di Barat masih banyak mempengaruhi desain dapur masa kini. Efisiensi fungsi dan tampilan masih menjadi sesuatu yang menarik perhatian, kecenderungan untuk meningkatkan efisiensi masih sarat terasa dengan munculnya berbagai peralatan yang akan membantu pekerjaan rumah tangga dengan memutakhirkan dapur konvensional menjadi smart kitchen yang lebih cepat, praktis,

90


KINCLONG Exhibition

Gambar 20. Dapur yang populer dalam banyak desain

Gambar 21. Rancangan dapur open plan dalam apartemen di

kontemporer

distrik Sanchong, Taipei oleh A Lentil Design. Desain open-plan

KINCLONG Exhibition

yang menggabungkan fungsi dapur dan ruang makan memberi kesan leluasa pada ruang apartemen yang relatif sempit. (2017)

yang dalam jangka panjang merugikan seluruh manusia. Maka dari itu, rancangan off-grid mencoba untuk tidak menggunakan jaringan utilitas eksisting dengan harapan bahwa dapur – atau ruang buatan manusia lainnya – dapat berfungsi secara mandiri menggunakan sumber daya sekitar secara berkelanjutan dengan jejak karbon minimal. Model ini terutama diusung oleh mereka yang ingin mencari gaya hidup hijau, mengurangi dampak lingkungan, serta mengurangi biaya hidup. Sepanjang sejarahnya, perubahan yang membentuk dapur modern berkaitan erat dengan peran para wanita dan kondisi sosio-budaya di sekitar wanita. Berbagai perubahan ini mendorong para desainer untuk mengubah dapur ke dalam bentuk yang lebih ideal yang kemudian

rancangan kontemporer. Dapur umum disandarkan pada dinding, namun pada posisi yang secara efektif bertindak layaknya pusat fungsional hunian, terbuka dan terhubung ke berbagai ruang lainnya. Jika melihat keterhubungan dan posisi sentral dapur semacam ini mungkin bisa dianggap paralel dengan dapur-perapian kuno. Berlawanan dengan tren dapur canggih dan minimalis, terdapat pula rancangan dapur off-grid yang berupaya untuk menanggapi isu lingkungan eksternal. Dapur modern seringkali bergantung pada suplai air dan listrik eksternal dari jaringan utilitas berskala besar (grid). Masifnya kebutuhan akan sumber daya ini seringkali memerlukan pengorbanan yang signifikan dan menyumbang pada degradasi lingkungan hidup

91

Gambar 22. Dapur di Kabin Wee-ely, sebuah kabin off-grid di Minnesota, AS. Didesain dan dibangun oleh Dale Mulfinger dari SALA Architect berkolaborasi dengan Wee Cabin co. (2017)

dikaitkan dengan efisiensi, kebersihan, dan keteraturan – sifat-sifat yang hingga kini masih mempengaruhi bayangan kita tentang dapur yang ideal. Namun karena kondisi masyarakat yang selalu berubah mengikuti perkembangan zaman, dapur yang ideal pun senantiasa akan berubah untuk menanggapi permasalahan dan tuntutan baru.

92


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Pancarona Dinding Putih (Colors of a White Wall) Adelia Andani Djarot

Gambar 1.

Jika budaya materi menggambarkan bagaimana manusia memahami dunia, maka komitmen arsitektur terhadap warna putih dapat mewakili angan manusia akan suatu kondisi ideal. Warna putih dekat dengan praktik kebersihan vernakular, pun lekat dengan ideologi-ideologi modern. Fakta bahwa warna ini memiliki bagian dalam diskursus arsitektur membuktikan bahwa putih adalah warna yang diistimewakan. Ketimbang warna yang absolut, putih bagi Seniman Jepang Kenya Hara adalah suatu kualitas (whiteness) yang lahir dari pertemuan warna dengan indera manusia (Hara, Designing design, 2007). Sehingga, bidang putih tidak pernah hanya membawa rona, tetapi juga tekstur, aroma, rasa, dan nuansa yang selalu sedikit berbeda satu dengan yang lain. Ia merupakan fenomena fisik yang selalu berdiri dalam konteks yang dinamis; dapat berubah dan menua. Putih yang absolut hanyalah gagasan yang dibangun melalui upaya membinasakan warna lain secara repetitif.2 Upaya yang besar ini menandai signifikansi warna putih, perannya sebagai pernyataan dan wajah dari suatu agenda.

93

94


KINCLONG Exhibition

Kurasi ini mengartikulasikan agenda-agenda yang dibawa warna putih dalam konteks hunian. Bidang pada hunian melingkupi ruang domestik, berinteraksi dengan individu penghuninya dan mewakili mimpi dari sebuah rumah tangga. Di sisi lain, ia mengisi ruang kota ruang kota, menyuarakan nilai politisnya dan mewakili visi suatu masyarakat. Melalui agenda-agenda ini, putih menjadi alat retorika arsitektur yang menyerukan kebebasannya dari the others.

KINCLONG Exhibition

rumah tangga (Gambar 2 dan 3). Desain menjadi alat yang efektif untuk menyebarkan sekaligus mengobati keresahan ini, terutama ketika ia diproduksi secara massal. Estetika kebersihan meringankan kegelisahan yang muncul melalui stimuli visual. Ini karena mata menerima dan memahami informasi lebih cepat dari indra lain, terutama dengan dukungan media massa. Permukaan yang putih terlihat bersih, dan yang lebih penting, ia dapat memberi peringatan ketika permukaan tidak bersih. Warna, tekstur, dan bentuk menjadi jaminan visual higienitas yang tak tampak.

pur sebagai mortar bangunan, beserta dengan arahan menggunakannya. Tulisan Vitruvius memberi gambaran bagaimana praktik membangun di masa itu bersandar pada praktik kebersihan: “Some mouldings are flat, others in relief. In rooms where there has to be a fire or a good many lights, they should be flat, so that they can be wiped off more easily. In summer apartments and in exedra where there is no smoke nor soot to hurt them, they should be made in relief. It is always the case that stucco, in the pride of its dazzling white, gathers smoke not only from its own house but also from others.” (Vitruvius, 1914).

Putih dan kebersihan Melalui praktik kebersihan arsitektur, warna putih telah menjadi bagian dari arsitektur sejak manusia nomaden mulai menetap. Masyarakat era Netolitikum tengah menemukan bahwa menggosokkan kapur ke permukaan dinding dan lantai ruang dalam secara rutin dapat menghindarkan mereka dari wabah (Wigley, 2020). Praktik ini menghasikan permukaan lantai dan dinding dalam rumah yang lebih putih dibandingkan di luar. Perbedaan ini memberi indikasi visual bahwa putih adalah ruang domestik, berbeda dari yang tak terolah; arsitektur yang berbeda dari lingkungannya. Di sini, putih adalah kondisi yang dihasilkan oleh praktik kebersihan yang menerus. Putih menyediakan suatu standar visual dengan menandai bidang yang sudah dibersihkan dan kapan upaya membersihkan perlu dilakukan kembali. The Ten Books on Architecture (25 SM) adalah manuskrip tertua yang menyebutkan penggunaan ka-

Dengan menggunakan kapur sebagai material bangunan dan bukan pelapis, putih datang dari bidang itu sendiri dan bukan hasil dari pembersihan. Tekstur menjadi penjamin agar permukaan yang kotor dapat kembali ke kondisi putih. Kualitas yang ditawarkan warna putih juga memberikan kepuasan visual yang spesifik: “And further, such walls, owing to the solid foundation given by thorough working with polishing instruments, and the smoothness of it, due to the hard and dazzling white marble, will bring out in brilliant splendour the colours which are laid on at the same time with the polishing” (Vitruvius, 1914).

95

Gambar 2

Meleburnya gagasan tentang kebersihan dan estetika memuncak dengan kemunculan mass culture dan penemuan mikrobakteria oleh Louis Pasteur di tahun 1860an. Kesadaran bahwa penyebab penyakit adalah sesuatu yang tidak terdeteksi oleh indera ini meresahkan. Masyarakat mulai menyadari bahwa permukaan yang bebas debu bukan berarti bebas kuman; bersih tidak sama dengan higienis. Kesadaran ini mendorong revolusi dalam praktik kebersihan, terutama pada masyarakat kelas menengah Amerika dan Eropa. Pada pertengahan abad ke-20, estetika kebersihan bukan hanya milik arsitektur, tapi juga perlengkapan

Putih dan kemurnian Putih telah sejak lama menjadi kelaziman dalam praktik berarsitektur. Namun, sikap kaum Modernis terhadap warna putihlah yang membuat gagasan arsitektur “putih” nampak segar. Dalam praktik kebersihan, putih tidak pernah tampil sevulgar ini. Le Corbusier adalah tokoh yang vokal menyuarakan obsesinya terhadap putih. Menulis dalam bahasa Prancis, Le Corbusier menggunakan kata blanc untuk warna putih. Namun blanc juga memiliki konotasi jernih (clear) atau tidak berwarna (colorless), yang diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi blank atau kosong. Sementara bahasa Inggris white berakar dari bahasa Jerman weiß, yang berarti warna paling terang dan paling nampak. Pada praktiknya, karya-karya Le Corbusier lebih lantang menampilkan putih sebagai warna ketimbang ketidakberwarnaan.

96


KINCLONG Exhibition

Argumen Le Corbusier tentang putih pertama kali muncul dalam terbitan L’Esprit Nouveau di tahun 1923 (Gambar 4). Melalui artikel Salon d’Automne, ia mengagungkan kepolosan putih sembari mengecam eksotisme ornamen. Moralitas menjadi pembelaan Le Corbusier atas obsesinya terhadap putih. Obsesi ini kemudian ia elaborasi dalam The Decorative Art of Today (1925), di mana terdapat satu bagian yang mempromosikan dan mengatur peran dari warna putih: “A Coat of Whitewash; The Law of Ripolin.” Whitewash atau pengapuran berbicara tentang putih dalam praktik vernakular, sementara Ripolin adalah warna putih hasil industri modern yang menggantikannya. Narasi ini menghubungkan kualitas visual dengan pikiran dan jiwa. Mengubah rumah menjadi serba putih berarti menjernihkan pikiran seseorang dan menyenangkan jiwanya. Putih memperlihatkan setiap sudut bangunan, memberi jalan untuk bangunan terlihat dengan telanjang, murni, dan “apa

KINCLONG Exhibition

Gambar 5

Gambar 3

adanya.” Ini menjadi kualitas tertinggi arsitektur. Di sinilah putih dalam arsitektur vernakular bertolak belakang dengan modern; sementara putih pada hunian vernakular adalah hasil dari praktik membersihkan yang agresif, putih pada hunian modern adalah upaya agresif itu sendiri. Meski mengagungkan putih, The Law of Ripolin tidak menghilangkan warna lainnya, melainkan mengucilkannya, meletakkannya sebagai yang marginal. Pada Villa Savoye dan House 14-15 Weissenhof-Siedlung, misalnya. Sementara warna putih mewarnai bidang yang menonjol, warna lain bersembunyi di balik bayangan pilotis (Gambar 7 dan 9), di ruang dalam (Gambar 10), ataupun pada bangunan sekunder (Gambar 8). Bidang yang utama, yang merepresentasikan wajah bangunan, rata berwana putih. Bahkan di atas bidang kertas, warna yang merepresentasikan arsitektur Le Corbusier hanya putih (Gambar 6). Jika putih mencerminkan kondisi moral yang ideal, maka warna lain adalah kondisi amoral yang tidak bisa (atau tidak perlu) dihilangkan, namun bisa disembunyikan.

Gambar 4--------------------------------------------

Sebelum Le Corbusier, gagasan tentang amoralitas warna sudah dikemukakan oleh Plato dan Aristotle. Bagi Plato, warna setara dengan retorika; “sebuah tiruan tanpa yang aslinya, sesuatu yang seutuhnya buatan dan tidak pasti:

97

98


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Gambar 6

Gambar 8

Gambar 7

99

tujuannya adalah untuk mengelabui dan menghasut, memalsukan dan menutupi” (Batchelor, 2000, p. 63). Sebaliknya, kondisi yang jujur dan murni ialah filosofi. Ini serupa dengan disegno vs. colore yang terjadi dalam dunia seni di Eropa abad ke-16 (Batchelor, 2000). Gambar, yang membentuk figur asal dari gagasan pelukis, menjadi kondisi yang lebih “murni” dan “jujur” dari warna yang menghiasi gambar tersebut. Namun putih bukan kondisi tak berwarna; putih sendiri adalah warna; retorika di atas bentuk. Sejarawan Mark Wigley (2001) menginterpretasikan dinding putih sebagai “pakaian” dari bangunan, tidak berbeda dari ornamen, hanya lebih sederhana. Karena putih adalah kondisi ideal, setiap warna yang melekat pada permukaan putih adalah penodaan terhadap arsitektur itu sendiri. Maka kondisi di mana bidang putih tidak lagi putih adalah kematian bagi gagasan arsitektur yang ideal. Batchelor mendeskripsikan kematian ini “bukan dalam arti akhir kehidupan,

100


KINCLONG Exhibition

melainkan kilasan kematian dalam kehidupan: pemusnahan atas setiap kepercayaan dan sistem, harapan dan angan, orientasi, dan ilusi…” (Batchelor, 2000, p. 16). Bidang yang tidak lagi putih menunjukkan dominasi oleh the others, sesuatu yang tidak diharapkan, yang asing dan mengancam. Le Corbusier, yang memahami putih sebagai kemurninan, diam-diam menggambar mural pada dinding putih rumah arsitek Eileen Gray. Totalnya ada delapan mural. Gray menganggap tindakan ini sebagai vandalisme, “pemerkosaan” terhadap karya dan rumahnya, terlepas dari nilai artistik mural tersebut. Dan ketika menerbitkan mural tersebut dalam L’Architecture d’aujourd’hui (1948), Le Corbusier merujuk pada rumah tersebut sebagai rumah di Cap-Martin, mengasingkan nama Gray dari arsitekturnya sendiri (Colomina, 1994). Dengan menodai dinding putih, Le Corbusier membunuh ide Gray. Pada tahun 2015, rumah ini dibangkitkan dari kematian melalui restorasi. Hampir seluruh desainnya mengikuti rancangan Gray, kecuali mural Le Corbu yang tetap dipertahankan. Le Corbusier bukan satusatunya arsitek Modernis yang terobsesi dengan putih. Dalam proyek pameran Weissenhof-Siedlung di Stuttgart, 17 arsitek Eropa berkolaborasi merancang sebuah kompleks berisi 21 bangunan hunian, termasuk dua unit rumah karya Le Corbusier. Proyek memberi kontribusi signifikan dalam melekatkan putih pada gerakan Modernisme. Mies van der Rohe berperan sebagai pengarah artistiknya, sekaligus penyumbang rancangan

Gambar 2--------------------------------------------

unit terbanyak. Seluruh bangunan di sini beratap datar, berjendela lebar, dan bermuka putih. Proyek ini menjadi percontohan rumah industrial yang ideal, mempromosikan Neues Bauen (New Way of Building) yang kemudian melahirkan International Style. Putih dan kekosongan Kontras dengan putih versi Le Corbusier, putih bagi beberapa arsitek modern Jepang meneruskan kualitas ketidakrampungan dan ketidaksempurnaan yang dominan tercermin dalam kebudayaan Jepang (Forty, 2013). Hara (2007) menggambarkan putih sebagai kizen, yang dalam budaya kuno mewakili situasi implisit sesaat sebelum sesuatu terjadi, yang kemudian menjadi eksplisit. Pada lukisan maupun pengecatan dinding, warna putih pada kanvas atau dinding menjadi dasar yang membuat warna lain di atasnya lebih tajam. Sehingga sebagai ruang, putih adalah kondisi nol yang kosong, yang definisinya dibangun oleh apa yang mengisinya; seperti

101

KINCLONG Exhibition

Gambar 2--------------------------------------------

tepian pada kertas. Putih mengizinkan arsitektur “kaya akan ruang dan waktu” membuat masa depannya tidak terbatas (Hara, 2007, p. 216). Pada tahun 2012, arsitek Sou Fujimoto membuat sebuah rumah tinggal mungil di Tokyo milik pasangan muda yang ingin tinggal seperti nomaden. Hampir seluruh dindingnya transparan, dan ketinggian lantainya tak beraturan. Selain ruang-ruang utama, platplat lantai di rumah ini tidak memiliki fungsi spesifik sehingga penggunanya bebas menentukan dan mengubah fungsi ruang di kemudian waktu. Selain dinding transparan, seluruh bagian rumah ini berwarna putih, interior dan eksteriornya. Bidang yang seluruhnya putih membebaskan fungsi dari warna, dan membuat adaptasi ruang bergantung pada posisi dan ukuran ruang. Putih pada House NA menyediakan kanvas kosong untuk proses adaptasi tersebut. Ini adalah masa depan arsitektur – setidaknya di Tokyo – bagi Fujimoto.

Pada karya-karya arsitek Fujimoto, putih adalah konsekuensi dari konsep cave-like architecture (Fujimoto, 2011). Seperti gua baru ditemukan oleh manusia, arsitektur yang “kosong” dalam hal bentuk maupun fungsi memberi kesempatan pada penghuninya untuk memaknai dan memanfaatkan ruang berdasarkan tafsirannya. Penghuni yang tidak memiliki kendali dan rasa familiar atas ruang akan menggali kreativitasnya untuk mengadaptasikan ruang. Dengan strategi demikian, Fujimoto mengharapkan munculnya bentuk interaksi ruang yang baru, di luar prediksi arsitek. Di sudut lain Tokyo, biro arsitektur SANAA membangun hunian berupa kumpulan kubus putih dalam satu kavling. Dibangun sejak 2005, rumah ini menampung keluarga klien serta unit untuk disewakan. Menurut kolaborator SANAA, Ryue Nishizawa (2010), program dalam rumah ini dipecah ke dalam unit-unit kecil yang serupa untuk membuat unit pemilik dan penyewa tetap menjadi satu kesatuan. Kubus-kubus ini dilubangi untuk menghasilkan transparansi antara ruang domestik dan ruang kota. Dinding yang seluruhnya putih berperan membangun kemenerusan antara ruang dalam, luar, dan celah di antaranya. Putih menjadi kamuflase yang menyamarkan keberadaan rumah di tengah kota dan mempertahankan transparansinya. Bagi kolaborator SANAA, Kazuyo Sejima (2016), putih adalah

102


KINCLONG Exhibition

warna yang normal dan netral. Putih tidak menciptakan hierarki, sebaliknya, ia menangkap dan membiaskan cahaya yang jatuh ke permukannya, mengaburkan batasan antar ruang. Putih merupakan konsekuensi dari visi SANAA yang melihat arsitektur sebagai lingkungan, baik itu pada proyek berskala besar seperti fasilitas publik, maupun berskala kecil seperti hunian (Sejima & Nishizawa, 2011). Visi ini menghasilkan hubungan ruang dalam dan ruang luar yang kabur dan kompleks. Dengan konsep ini, arsitektur SANAA berharap dinding tidak memisahkan arsitektur dari lingkungan. Pada desain Fujimoto, putih mewakili kepolosan gua, sedang pada desain SANAA menghasilkan kenetralan. Manifestasi putih sebagai

kekosongan terbentuk ketika putih berperan sebagai konsep desain itu sendiri, bukan warna yang ditambahkan pada desain. Maka dari itu, putih dalam praktik ini adalah bentuk komitmen ketimbang obsesi; selama konsep arsiteknya tetap, putih pun ikut serta. Komitmen ini adalah manifetasi fungsionalisme melalui warna. Putih ada selama warna lain belum diperlukan. Ketidakrampungan pada putih beresonansi dengan gerakan Metabolisme yang subur di kota Tokyo. Bencana, pertumbuhan ekonomi, dan kepadatan penduduk Tokyo membuat perubahan dan pembangunan ulang berkembang dengan cepat. Kebanyakan pemilik lahan tidak mengharapkan bangunannya abadi, sehingga ratarata masa hidup bangunan hunian

103

KINCLONG Exhibition

hanya 26 tahun (Kitayama, Tsukamoto, & Nishizawa, 2010). Usia yang pendek ini membuat jaringan dan wajah Tokyo dinamis, sementara dinamika tersebut membuat Tokyo kota yang demokratis dalam hal membangun. Kota senantiasa mengantisipasi perubahan, sehingga arsitektur putih di Tokyo tidak menuntut pemutihan yang konstan. Sebaliknya, dengan menuanya bangunan, arsitektur membaur dengan ruang kota, seolah kota itu sendiri yang membentuk arsitektur. Penutup Putih adalah warna yang diistimewakan. Fakta bahwa putih memiliki bagian dalam diskursus arsitektur membuktikan hal tersebut. Pengistimewaan terhadap putih sering kali dilakukan paralel dengan kondisi sosial. Arsitek Renaisans

Leon Battista Alberti menyetarakan keindahan marmer putih pada dinding kuil dengan warna kulit perempuan; putih yang datang dari lapisan pada dinding atau wajah wanita adalah keindahan yang palsu dan vulgar (dikutip dalam Wigley, 2020). Pada World Columbian Exposition tahun 1893 di Chicago, warna putih digunakan pada seluruh bangunan bersamaan dengan pelarangan warga kulit hitam masuk ke dalam area pameran. Dominasi putih terhadap arsitektur adalah puncak dari resonansi dengan gerakan yang lebih luas. Meski membawa label sebagai warna yang ‘bersih,’ ‘netral,’ dan ‘kosong,’ putih memiliki kekuatan politis. Namun untuk menyuarakan retorikanya, putih perlu mendominasi ruang, dan karenanya, selalu ada yang

104


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

perlu disingkirkan. Le Corbusier mengukuhkan dominasi putih dengan mengadakan warna lain sebagai yang marginal. Warna lain yang memasuki teritori putih dianggap sebagai penodaan, polusi atas kondisi ideal. Sementara Fujimoto dan SANAA membawa putih ke dalam visi besar praktik mereka dan meninggalkan kemungkinan lainnya. Sehingga peran totalitas putih selesai ketika arsitektur dihuni. Kehadiran warna lain di atas putih adalah bagian dari

105

106


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Paradoks Rumah Modern (The Paradox of Modern Home) Rezqi Vebra Youza

Lukisan karya Marry Ellen Best yang di buat pada tahun 19830an menggambambarkan bagaimana kondisi interior dan kondisi kedupana pada era victoria. wanita menggunakan ruang domestik sebagai ranah aktifitas dan personal mereka untuk melakukan berbagai macam kegiatan Gambar 1. Miss Crompton’s Room (watercolour on paper), Mary Ellen Best c. 1830s

107

Modernisme adalah sebuah era di mana arsitektur mengalami banyak perubahan dan perkembangan. Banyak faktor yang membuat hal tersebut terjadi diantaranya revolusi industri, perkembangan teknologi yang begitu maju, hingga berbagai wabah dan penyakit yang membuat wajah arsitektur pada masa itu berubah. Banyak penyederhanaan dan penyesuaian yang diciptakan untuk agar sebuah desain arsitektural menjadi bersih dan memberikan kesan mudah dibersihkan. Pada paper ini saya akan lebih mengulas bagaimana wajah arsitektur berubah pada era modernisme, yang pada saat awal modernisme arsitektur muncul sebagai bentuk aktivitas manusia, namun seiring berjalannya waktu arsitektur berubah mementingkan kesan bersih dan simpel setelah wabah dan penyakit yang menyerang Eropa pada akhir 1900 an. Pada akhirnya identitas bersih dan simpel ini menjadi identitas arsitektur modern dan terus dibawa oleh arsitek pada masa tersebut dan menjadi sebuah ideologi dalam mendesain sebuah bangunan dan melupakan kebutuhan dari penggunanya. Arsitektur menjadi sebuah karya dari arsitek yang melupakan jati dirinya bahwa pada akhirnya arsitektur akan digunakan oleh pengguna, sehingga arsitektur seharusnya mewadahi aktivitas dari penggunanya.

108


KINCLONG Exhibition

Early Modernism: Houses of Victorian Era 1800-1900 Revolusi Industri abad ke18 dan ke-19 mengubah hampir setiap bidang kehidupan Eropa, dan objek sehari-hari tidak hanya mengungkapkan perubahan ekonomi tetapi juga sosial. Sebagai sebab dan akibat, ekonomi Eropa yang dulunya manual dan berbasis tenaga kerja digantikan oleh industri dan manufaktur. Hal tersebut juga perlahan-lahan mempengaruhi arsitektur dan kehidupan domestik di Eropa. Pada awal perkembangan arsitektur modern, yaitu pada masa

“Modernisme menjadi Era di-

mana segala mentuk kebudayaan mencapai puncaknya karena revolusi industri, perkembangan teknologi, dan wabah yang menuntut masyarakat dan arsitek untuk menciptakan sebuah standar kehidupan yang baru”

Gambar 2. The Artist in Her Painting Room, York (watercolour on paper) by Mary Ellen Best, c. 1830s.

109

KINCLONG Exhibition

Era Victoria arsitektur hadir masih mementingkan kebutuhan orangorang yang hidup di dalamnya, dengan mempertimbangkan faktor keseharian dari penggunanya. Pada masa awal perkembangan era modern ini belum muncul suatu aturan yang kaku dalam menentukan tatanan arsitektur dan ruang domestik di dalam rumah. Wanita memiliki peran yang sentral di dalam rumah karena ruang domestik pada masa itu masih dianggap sebagai ruang untuk wanita dan pekerjaan yang berada di ruang domestik semua didominasi oleh wanita, sehingga ruang arsitektur yang hadir bisa disesuaikan dengan keinginan penghuni rumah. kerapian dan kebersihan dianggap belum menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan dengan mendetail dan memiliki definisi yang berbeda dengan arsitektur modern yang muncul pasca 1900 an. Hal tersebut menghasilkan sebuah arsitektur yang hidup dan memiliki tanda-tanda kehidupan di dalamnya sebagai sisa-sisa dari aktivitas dari penghuninya, dari bentuk aktivitas dan hiasan-hiasan yang diberikan penghuni rumah di dalam ruang domestiknya. Dua lukisan Mary Ellen di atas memperlihatkan bagaimana kehidupan domestik di Era Victoria yang masih begitu nyaman dengan kegiatan yang dia lakukan. Arsitek masih belum begitu mengatur bagaimana arsitektur dan bentuk arsitektur yang seharusnya ada. Arsitektur masih menjadi sebuah

cerminan kehidupan domestik orang-orang yang ada di dalamnya. Aktivitas menjadi sebuah sentral dari terbentuknya arsitektur, keindahan dan kerapian tetap dipertimbangkan tetapi tidak begitu kaku dan terlalu mengatur sehingga penghuninya masih bisa merasakan arsitektur yang hidup di dalamnya ruang domestik mereka.

Rise of Modernism: Hygiene and Domesticity, 1900-1955 Pasca 1900 an modernisme mulai berkembang pesat. Banyak faktor yang menjadi pemicu dalam berkembangnya arsitektur modern pada masa ini. Beberapa faktor tersebut antara lain Revolusi Industri yang terjadi di Eropa sehingga teknologi dan kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat yang berkembang begitu pesat, mulai munculnya Mass Consumerism dimana segala hal mulai diproduksi secara masal dan banyak karena konsumsi yang meningkat, dan yang paling krusial adalah masalah Hygienity, karena penyebaran wabah dan penyakit yang terjadi di Eropa pada akhir abad ke 19 yang membuat kebersihan dan higienitas menjadi hal yang perlu di pertimbangkan. Masyarakat dan mulai memperhatikan higienitas pasca wabah dan penyakit yang mulai menyebar di akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20an. sehingga karena faktor-faktor tersebut mulai muncul desain-desain yang simpel dan dapat

110


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Gambar 3. Libbey-Owens-Ford promoted the “Kitchen of Tomorrow,” di mana teknologi dapat diterapkan secara efektif untuk mempermudah memasak bagi keluarga Anda.

Gambar 4. Pameran Pameran Dunia New York disponsori oleh produsen kaca Amerika yang ditampilkan banyak produk baru untuk rumah, termasuk isolasi dan blok kaca.

karena faktor-faktor tersebut mulai muncul desain-desain yang simpel dan dapat menyesuaikan denah penggunanya mulai dari dapur, toilet, hingga semua elemen dalam domestic life.

menyesuaikan denah penggunanya mulai dari dapur, toilet, hingga semua elemen dalam domestic life. Mass Consumerism dimana segala hal mulai diproduksi secara masal dan banyak karena konsumsi yang meningkat, dan yang paling krusial adalah masalah Hygienity, karena penyebaran wabah dan penyakit yang terjadi di Eropa pada akhir abad ke 19 yang membuat kebersihan dan higienitas menjadi hal yang perlu di pertimbangkan. Masyarakat dan mulai memperhatikan higienitas pasca wabah dan penyakit yang mulai menyebar di akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20an. sehingga

Pada masa ini mulai hadir furnitur dan elemen interior yang diproduksi secara masal dan bisa di tempatkan sesuai layout yang diinginkan, satu desain untuk berbagai macam layout dan kebutuhan rumah. Hal tersebut muncul karena pengaruh revolusi industri, mass consumerism dan isu hygiene menjadi materi yang dijual secara masal. Sehingga desain-desain yang dimunculkan cenderung simple,

111

Gambar 5. Le Corbusier, ‘Ou` en est l'architecture, L’Architecture Vivante, Portfolio 1, Text, page 1. Edition Morance´, FLC. (#FLC/ ADAGP, Paris and DACS, London 2004.)

112


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

menyatakan, ‘Kebersihan dan kesehatan moral bergantung pada tata letak kota. Tanpa kebersihan dan kesehatan moral, sel sosial menjadi berhenti berkembang.’ Dalam pemikiran Le Corbusier ‘home as living Machine’ juga dapat diartikan sebagai rumah yang menjadi sebuah mesin untuk kesehatan penghuninya, yang menjadi perhatian utama arsitekarsitek modern pasca wabah dan penyakit.

Gambar 6. Pen Pits (1936), watercolour by Edward Wadsworth (1889–1949). House designed by P J B Harland for Sir Arthur Bliss. Wadsworth, artist and engraver, was involved in dazzle camouflage for First World War warships and a founder member of avant-garde British art groups such as Unit One. (# Estate of Edward Wadsworth 2004. All rights reserved, DACS.)

bersih, dan terkesan mudah dibersihkan. Sesuai dengan pemikiran pada masa modernisme yang menganggap dekorasi dan ornamen sebagai bentuk sebuah kejahatan dalam arsitektur karena mengundang kekotoran dan polusi. Isu higiene membuat desain menjadi simpel, produksi massal mempermudah memproduksi barang yang simpel dan tanpa banyak dekorasi untuk kepentingan isu higienitas tersebut.

Modernist Design

Architect

and

Healthy

Penyakit tuberculosis dan wabah yang menyebar membuat arsitektur modern berubah. Banyak arsitek mementingkan Kesehatan dan higienitas menjadi isu utama dalam sebuah desain. Arsitektur

Modernisme awal abad ke-20 muncul pada saat gagasan penyembuhan melalui asosiasi simbolis daripada penerapan metode ilmiah masih relatif sangat tinggi. Tahayul, mitos, dan subjektivitas berpasangan dengan gaya hidup fungsional modernis yang menekankan kerapian, kebersihan, udara segar, dan sinar matahari. Pada 1920-an, Villa Savoye dan sanatorium in Paimio dan Zonnestraal dengan atap datar, teras, serta interior dan furniture yang dirancang dengan tepat, mengungkapkan teori desain fungsionalitas dan rasionalitas yang diidentifikasikan dengan modernisme. Karya mereka secara filosofis mewujudkan desain yang putih bersih yang sangat didambakan setelah pembantaian dan kekotoran Perang Dunia Pertama. Le Corbusier di dalam tulisannya City of tomorrow,

113

Balkon, teras, dan atap datar saat digunakan untuk penyembuhan pasien, baik di Chalet Swiss atau perumahan sosial perkotaan, merupakan inspirasi untuk fitur modernis serupa di blok apartemen pemilik dan perumahan pinggiran kota di mana balkon juga dapat digunakan sebagai beranda tidur atau ruang terbuka. perluasan ruang tamu yang lebih kecil. Ekspresi yang terlihat dari desain modernis dan teori-teori hidup sehat dengan penuh semangat diadopsi oleh masyarakat kelas menengah yang sadar akan estetika yang disibukkan dengan kebersihan dan kemajuan industri yang kemudian akan dimasukkan ke dalam perumahan yang didanai publik untuk kelas pekerja perkotaan yang kekurangan sosial. Keuntungan tambahan yang memberi kesehatan untuk pengentasan tuberkulosis paru dan kondisi pernapasan lainnya adalah bonus.

secara komersial dengan fitur-fitur identik seperti atap datar dan komponen panel lapis kayu, adalah bentuk awal dari prefabrikasi. Karena relatif mudah untuk dibuat dan dipasang, pembuatannya juga menyediakan pekerjaan aman dan cepat. Sangat sesuai bagi pasien tuberkulosis di sanatorium koloni yang fungsional seperti di Zonnestraal. Produksi massal kursi malas rotan murah untuk penggunaan sanatorium memperkenalkan konsep relaksasi yang nyaman untuk bersantai. Ketika diadaptasi dan diinterpretasikan oleh desainer modernis melalui data antropometri dan eksploitasi teknik fabrikasi baru mereka menjadi ikon modernisme. Sementara kursi gulir Aalto dianggap sebagai contoh unik furnitur modern, kursi malas berbingkai logam untuk teras berjemur Paimio adalah cikal bakal dari beberapa desain serupa oleh Aalto dan istrinya Aino yang diproduksi di kayu beech laminasi oleh Artek untuk keperluan kehidupan domestik. Tidak dapat diklaim bahwa pengenalan dan penggunaan atap datar, balkon, rumah musim panas, dan kursi malas adalah akibat langsung dari metode pengobatan dini untuk tuberkulosis, tetapi popularitas fitur arsitektur modernis ini dalam mencapai suatu standar kesehatan, kebersihan, dan higienitas yang baik.

Rumah musim panas bagi pasien tuberkulosis, ketika diproduksi

114


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Today, when we describe a building as having “clean lines,” it’s hard to imagine that this phrase has its origins in the tuberculosis epidemic. Though modern architects eschewed style and ornament in the name of rationality, the minimal non-style they created became one of the most iconic architectural styles of all: International Style” (Nora Landes dalam Modernist Architects Believed Their Designs Would Make You Healthier)

Gambar 7. At home by the open window’, Edinburgh Dispensary Scheme (1911), T.B. slides No. 23. (Lothian Health Services Archive, Special Collections Division, Edinburgh University Library.)

Gambar 11. View of the Lovell ‘Health House’ designed by Richard Neutra, menggunakan prinsip desain modernism dengan atap datar dan banyak bukaan untuk kepentingan kesehatan Gambar 8 & 9. Aino and Alvar Aalto, metal frame recliner for sun terraces, Paimio (1937)- Kiri Le Corbusier, chaise longue, 1928, FLC L1 (20) 17. (# FLC/ADAGP, Paris and DACS, London 2004.) - Kanan

Gambar 12. Grace Miller in her home, Palm Springs, California, ca. 1937

Gambar 10. Living room with the ‘‘long chair’’ by Marcel Breuer in Jack and Molly Pritchard’s flat

115

116


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Nyonya Farnworth merasa bahwa tinggal rumah yang di desain oleh Mies Van der Rohe seperti berada di dalam sebuah kendang dimana dia sebagai binatang yang dipertontonkan, bahkan dia merasa tidak memiliki privasi Ketika melakukan aktivitas karena semua yang dia lakukan akan terlihat dari luar. Edith Farnsworth menjelaskan:

Gambar 13. Farnsworth house, designed by Ludwig Mies van der Rohe in 1951, an icon of 20th century modern architecture;

“Do I feel implacable calm?... The truth is that in this house with its four walls of glass I feel like a prowling animal, always on the alert. I am always restless. Even in the evening. I feel like a sentinel on guard day and night. I can rarely stretch out and relax…

photo by andrewzahn

Over Clean Modernity: User Transgression Arsitektur modern pasca 1900 an terus berubah dan berkembang, dari yang awalnya menghadirkan sebuah desain simpel untuk Kesehatan dan kebersihan kemudian hal tersebut menjadi ideologi bagi arsitek pada zaman itu yang mengembangkan desain yang bersih, rapi, higienitas, tanpa ornamen, dan putih. Namun kelamaan hal tersebut lambat laun menjadikan sebuah desain yang over simplicity. Contoh kasus Farnsworth House yang didesain oleh Ludwig Mies Vander Rohe yang dituntut ke pengadilan oleh client nya karena desain yang tidak humanis dan terlalu men-simplicity kan kebutuhan user dan hilangnya faktor keseharian dari penggunanya. Mies van der Rohe yang menjunjung tinggi moto-nya yang mengatakan bahwa ‘Less is More’ justru terlalu men-simplicity-kan desainnya dan melupakan kebutuhan client-nya yaitu Edith Farnsworth.

What else? I don’t keep a garbage can under my sink. Do you know why? Because you can see the whole ‘kitchen’ from the road on the way in here and the can would spoil the appearance of the whole house. So I hide it in the closet farther down from the sink. Mies talks about his ‘free space’: but his space is very fixed. I can’t even puta clothes hanger in my house without considering how it affects everything from the outside. Any arrangement of furniture becomes a major problem, because the house is transparent, like an X-ray”

Gambar 14. Edit Farnsworth di dalam rumahnya

Mies van der Rohe: "Less is more." Edith Farnsworth: "We know that less is not more. It is simply less!

Gambar 14. Farnsworth house, designed by Ludwig Mies van der Rohe in 1951

117

118


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Kasus ini menjadi salah satu contoh bagaimana arsitektur modern yang gagal memenuhi kebutuhan penggunanya. Arsitektur seharusnya memenuhi kebutuhan penggunanya arsitek juga harus memperhatikan keseharian dari pengguna, sehingga arsitektur yang hadir dapat menjadi bagian dari keseharian penggunanya. Tidak selamanya ideologi seorang arsitek akan sama dengan penggunanya terutama dalam kehidupan keseharian apalagi rumah tinggalnya. Conclusion Arsitektur Modern hadir dengan mempertimbangkan faktor kebersihan, kerapian, dan higienitas. Tetapi pada akhirnya ideologi tersebut menghadirkan sebuah desain yang over simplicity dan mulai tidak memperhatikan kebutuhan usernya. Desain yang seperti itu menjadi sebuah bumerang bagi arsitek, bahwa tidak selama idealisme arsitek itu benar dan idealisme serta kebutuhan user juga perlu di pertimbangkan. Dalam kasus ini everydayness menjadi hilang dan menjadi sebuah kritik di dalam arsitektur modern. Karena pada akhirnya sebuah arsitektur akan digunakan oleh user, sehingga pengguna lah yang bisa

119

120


KINCLONG Exhibition

Curators Profile

KINCLONG Exhibition

Team Curators Profile

Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, ST., M.Sc., Ph.D | Main Curator

Kurniawan was born in Muntok - Bangka, one of Indonesian tin Mining Islands. Kurniawan obtained his ‘Sarjana Teknik’ (ST) Degree in Architecture from Universitas Indonesia, and finished his Ph.D degree from the Bartlett School of Architecture, University College London (UCL), where he previously also took a Master program (M.Sc) in Architectural History. His research interest is about socio-cultural history of Indonesian architecture and urbanism, in relation to the context of colonialism and postcolonialism. Besides this such research, he also carries out other research related to tradition and modernism, and participated in various International and National seminars/workshops on such topics. He is the author of ‘Postcolonial History of Architecture and Urbanism; Power and Space of Indonesian Tin Mining in Bangka Island’ (2011) and ‘The Hybrid Architecture of Colonial Tin Mining Town of Muntok’ (2013). Some of his articles were also published in accredited National and recognized International Journals.

Aditya Bayu Perdana | Executive Curator Biasa dipanggil Adit, Bayu, atau Abay, Aditya Bayu Perdana tertarik dengan berbagai topik terkait sejarah, budaya, arsitektur, tipografi, dan kaligrafi. Berpengalaman membantu penelitian terkait arsitektur candi dan kuil India, betah membaca di rumahnya sambil minum teh, sangat terganggu dengan pernyataan tanpa sumber, dan dalam waktu senggangnya menulis-nulis dalam aksara tradisional nusantara. Siti Arfah Annisa | Team Curator Nisa atau Annisa. Setelah lulus dari arsitektur Institut Teknologi Bandung, ia memulai kariernya di dunia media dan penulisan arsitektur. Ketertarikannya terhadap bahasa, budaya, dan media membuatnya terus fokus untuk mengembangkan diri menjadi seorang penulis dan peneliti di bidang arsitektur. Saat ini ia melanjutkan pendidikan pascasarjana dengan kekhususan Sejarah dan Teori Arsitektur di Universitas Indonesia. Sherley Ika Christianti | Team Curator Sherley seorang lulusan sarjana arsitektur yang sebelumnya juga pernah bekerja di kontraktor sebelum kembali menekuni bidang arsitektur pada peminatan sejarah. Selain menggambar, hobinya dalam bidang game dan membaca, juga membawa Sherley menjadi sangat tertarik dengan sejarah. Saat ini sedang menempuh studi pascasarjana pada bidang peminatan Teori dan Sejarah Arsitektur di Universitas Indonesia.

121

122


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Team Curators Profile

Mohammad Resha Khambali | Team Curator

Adelia Andani Djarot | Team Curator

Lahir 05 Desember 1990. Pascasarjana di Universitas Indonesia dengan peminatan Sejarah dan Teori Arsitektur. Sejak tahun 2010 Resha memulai perjalanan cinta tanah air bersama Rumah Asuh untuk meneliti arsitektur nusantara di Sumba, Riung, Suroba, Asmat, Batak dan lainnya. Selain itu Resha juga mengerjakan beberapa proyek arsitektural bersama dengan PT Han Awal & Partners hingga saat ini.

Adelia Andani percaya bahwa kehidupan lebih besar daripada bangunan. Setelah lulus studi sarjana, ia memutuskan untuk menjadi penulis agar bisa menjelajahi bagaimana ruang dan manusia bergumul dari sudut pandang lain.

Nadira Adiswari | Team Curator

Rezqi Vebra Youza | Team Curator

Terkesan dengan hubungan antara ruang dan budaya populer, Nadira kembali menekuni arsitektur dengan mengambil peminatan Sejarah dan Teori Arsitektur dalam studi magisternya. Selain itu, Nadira juga tertarik pada bidang pengajaran.

Dipanggil Vebra, Veb, atau Ve. Dari masa kuliah S1 di Arsitektur Interior UI sudah tertarik dengan teori arsitektur dan sejarah. Menyukai konsep abstrak, filsafat, dan budaya serta bahasa. Menguasai beberapa Bahasa seperti Belanda, Italia, Prancis, dan Jepang. Hobi membaca dan berolahraga, karena isi kepala harus seimbang dengan fisik yang sehat. Berpengalaman sebagai asisten dosen di departemen Arsitektur

Sarah Khansha Suhada | Team Curator Sarah? Bukan. Panggil Khansha atau Khan. Memulai eksplorasinya di dunia arsitektur sejak menempuh pendidikan sarjana dan memulai tertarik dengan sejarah dan teori arsitektur sehingga sekarang menjajaki tahap pascasarjana di Universitas Indonesia. Sehari-harinya selalu mengulik berbagai macam jenis tontonan dari berbagai macam genre, pembaca aktif berbagai jenis buku dan dengan randomnya menjadikan itu sebagai motivasi untuk mempelajari beberapa bahasa.

123

124


KINCLONG Exhibition

Daftar Istilah

KINCLONG Exhibition

Dalam arsitektur memiliki arti nilai dari suatu properti bangunan yang dilihat dari kemungkinan properti tersebut dapat dipasarkan dan digunakan secara umum oleh siapa saja. Chronicles of clean

Avoiding anomaly: why we clean and kinds of clean Almagest Merupakan catatan buku yang awalnya berbahasa Yunani yang ditulis oleh Claudius Ptolemy yang berisi tentang sebuah risalah astronomi yang mengemukakan gerakan kompleks bintang-bintang dan lintasan planet dan merupakan sumber terpenting mengenai informasi tentang astronomi Yunani Kuno Astronom Merupakan ahli dalam bidang ilmu tentang matahari, bulan, bintang, dan planetplanet lainnya; atau yang disebut dengan ilmu falak Taoisme Merupakan faham filosofi China yang diajarkan oleh Laozi pada masa dinasti Zhou Timur. berdasarkan dari kontemplasi terhadap alam semesta. Yang kemudian menjadi agama yang percaya dengan keajaiban Anomali Merupakan ketidaknormalan; penyimpangan dari normal; kelainan; Suatu elemen yang tidak cocok dengan elemen yang sama pada umumnya Ambigu Merupakan suatu karakter dari sebuah pernyataan yang memiliki dua intrepretasi yang berbeda; bermakna lebih dari satu sehingga kadang-kadang menimbulkan keraguan, kekaburan, ketidakjelasan, dan sebagainya. Yin dan Yang sering digambarkan dengan bentuk sinar matahari yang berada di atas gunung dan di lembah yang merupakan simbol keharmonisan yang mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini dan bagaimana mereka saling membangun satu sama lain Domestik Di ranah arsitektur dan sosial masyarakat diartikan dengan urusan dalam hal fungsinya mengenai rumah tangga di dalam rumah, ruang-ruang domestik terbentuk dari fungsi yang mewadahi aktivitas-aktivitas dasar berumah tangga.

Nilai Komersial

125

Apodyterium Bagian dalam pemandian Romawi yang ditujukan untuk berganti pakaian balneae Salah satu istilah yang digunakan untuk merujuk pemandian umum Romawi, dari akar kata Yunani βαλανεῖον balaneion yang berarti “mandi” secara umum. Lihat juga thermae Caldarium Bagian dalam pemandian Romawi berupa ruang panas yang ditujukan untuk mandi uap (seperti sauna) Frigidarium Bagian dalam pemandian Romawi yang ditujukan untuk berendam air dingin setelah selesai menggunakan caldarium ḥammām ‫ ماّمح‬ Pemandian umum Muslim, dikenal juga dengan Pemandian Arab dan Pemandian Turki. Turunan tipe pemandian Romawi yang berkembang dalam banyak pusat urban peradaban Islam hùn táng 混堂 Rujukan untuk pemandian umum di Tiongkok yang mulai muncul pada masa Dinasti Míng (1368-1644) Miasma Bau yang memuakkan, dalam konteks sejarah medis juga julukkan untuk teori kuno yang menyalahkan bau tidak sedap sebagai penyebab penyakit (alih-alih mikroorganisme yang menyebabkan bau tersebut) Pertirtaan Istilah untuk permandian yang biasa ditemukan dalam sastra Bali, Kawi, dan Jawa Pes bubo wabah yang disebabkan bakteria Yersinia pestis sentō 銭湯 Pemandian umum Jepang Śuci dalam bahasa Sansekerta dan Kawi berarti “murni”, berkaitan dengan kata bahasa Indonesia modern cuci dan suci

126


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Temāzcalli Struktur pemandian uap (mirip sauna) yang banyak dibangun oleh masyarakat Maya di Amerika Tengah. Umumnya digunakan untuk dipakai sekelompok kecil orang, sehingga ukurannya tidak terlalu besar namun banyak ditemukan di berbagai situs Tepidarium Bagian dalam pemandian Romawi yang ditujukan meminyaki diri dengan zaitun dan menggosok diri Thermae Salah satu istilah yang digunakan untuk merujuk pemandian umum Romawi, dari akar kata Yunani θερμός thermos yang berarti “panas”. Lihat juga balneae waqaf dalam hukum Islam, sumbangan pribadi untuk kepentingan umum (umumnya berupa gedung atau tanah) dalam jangka waktu tertentu atau selamanya

Pongga Kertanda Handoka Tiang ketiga didalam Uma Katoda Kataku Pongga Kertanda Limbioro Tiang keempat didalam Uma Katoda Kataku Pongga Panginjetong Tiang kedua yang didirikan pada saat membangun uma. Pongga Panginjetong memiliki jabatan sebagai ibu dalam uma, sehingga pemegang utama dari Pongga Panginjetong menjadi wakil kepala dari sebuah uma. Uma Rumah (Honai) yang diperuntukkan untuk perempuan di Suroba Uma kalama Diartikan dalam bahasa Indonesia adalah rumah daun kelapa, ini adalah rumah kedua atau rumah Ibu di kampung Ratenggaro Sumba Barat Daya Uma Katoda Kataku Diartikan dalam bahasa Indonesia adalah rumah penggal kepala, ini adalah rumah utama atau rumah Bapa di kampung Ratenggaro Sumba Barat Daya Wamerek / Wam Dabuls Sebutan untuk kandang babi di Suroba

The Spoken Cleanliness Bakar batu Suatu upacara adat memasak dengan cara memanaskan batu dan menanamnya kedalam tanah bersama bahan yang dimasak Honai Sebutan untuk sebuah bangunan rumah di suku Dani Papua Silimo Sebutan untuk kumpulan rumah (honai) di dalam suatu keluarga suku Dani Suroba Horakola Pintu utama untuk memasuki sebuah Silimo di Suroba Hunila Sebutan untuk dapur di Suroba Ina Ama Budaya dualisme ayah dan ibu di Sumba Pamali Larangan atau pantangan Pilamo Rumah (honai) yang diperuntukkan untuk laki laki di Suroba Pongga Kataku Tiang pertama yang berdiri ketika pembangunan sebuah uma. Pongga Kataku memiliki jabatan sebagai bapak dalam uma, sehingga pemegang utama dari Pongga Kataku adalah kepala dari sebuah uma.

Parlour/drawing room ruangan di dalam rumah yang digunakan penghuni untuk menerima tamu, diisi dengan furnitur-furnitur, berbagai pajangan, dan terkadang juga menjadi tempat menggunakan alat musik. populer di kalangan Eropa menengah ke atas sekitar abad ke-19 dan ke-20 Masehi Scullery ruangan di dalam rumah yang digunakan penghuni untuk membersihkan pakaian sekaligus membersihkan alat makan dan alat masak. sering dijumpai di hunian masyarakat Inggris sekitar abad ke-19 dan ke-20 Masehi. hunian masyarakat kelas bawah kerap harus memasukkan aktivitas mandi dalam ruangan ini karena keterbatasan lahan dan biaya. Antahpur/andarmahal/zenana area lapisan dalam dari sebuah hunian yang digunakan oleh penghuni wanita, di mana penghuni pria beraktivitas di area lapisan luar. banyak ditemukan dalam ruang domestik penganut Hindu atau Islam di India, Bangladesh, dan sekitarnya. Georgian (era, kebudayaan) berkaitan dengan atau terjadi sepanjang masa kekuasaan Raja Edward VII,

127

128

The Written Cleanlinesss


KINCLONG Exhibition

sejak tahun 1901 hingga 1910. Kitchen - Heart of The Home : Crossroad of Hygiene and Women Haudenosaunee Biasa disebut Iroquois merupakan orang yang menghuni Rumah Panjang di Amerika Utara Taylorism Manajemen Ilmiah ; gagasan tentang analisis kerja yang meyakini bahwa peningkatan produktivitas bermanfaat, baik bagi para pengusaha maupun para pekerja jika biaya produksi ditekan serendah-rendahnya smoke kitchen Istilah untuk dapur yang diibaratkan sebagai tempat yang gelap, berasap, dan kotor. Old Law Tenement Apartemen yang didirikan di New York setelah Tenement House Act tahun 1879 dan sebelum New York State Tenement House Act tahun 1901 New Law Tenement Apartemen yang didirikan di New York mengikuti New York State Tenement House Act tahun 1901 Kitchen of Tomorrow Istilah untuk rancangan dapur yang diciptakan tahun 1943 oleh perusahaan Libbey-Owens-Ford Heart of the home Frase yang muncul untuk menggambarkan dapur sebagai jantung dari rumah period of pop & free love era revolusi budaya pop di Amerika pada tahun 1960-an Smart kitchen Dapur yang dirancang untuk menghemat energi dan waktu agar berkelanjutan dan efisien. Off-the-grid Merupakan gaya hidup atau karakter bangunan yang memanfaatkan sumber langsung dari alam, menentang penggunaan utilitas publik seperti air, gas, dan sistem pembuangan limbah rumah, semua yang dibutuhkan diolah secara mandiri tanpa adanya campur tangan teknologi Built-in Istilah untuk suatu alat yang telah terpasang/menyatu dan siap digunakan Counter-top Permukaan horizontal dirancang di dapur, kamar mandi dan ruang kerja lainnya. Peculiar Privy

129

KINCLONG Exhibition

Built-in Istilah untuk menyatakan suatu alat yang telah terpasang/menyatu di dalam perangkat lain Dressing room Ruangan khusus untuk menyimpan dan berganti pakaian Eklektisisme Sikap berfilsafat dengan mengambil teori yang sudah ada dan memilah mana yang disetujui dan mana yang tidak sehingga dapat selaras dengan semua teori itu Fiberglass Material serat kaca berupa kaca cair yang ditarik menjadi serat tipis. Metabolisme Gerakan modern arsitektur yang berasal di Jepang dan paling berpengaruh di tahun 1960-tren kira-kira dari akhir 1950-an hingga 1970-an awal Siphonic system Metode drainase dengan memanfaatkan debit dan tekanan air yang tinggi, melalui pemipaan Washiki 和式 Toilet jongkok Jepang The paradox of white Ripolin Merek cat yang didirikan di Belanda oleh ahli kimia Carl Julius Ferdinand Riep pada 1897. Nama Ripolin diambil dari nama Riep. Merk ini adalah yang pertama menjual cat enamel, yakni cat yang memberi lapisan keras, kedap air, dan dapat dicuci. Villa Savoye Villa bergaya modern karya Le Corbusier dan Pierre Jeanneret di Poissy, Prancis. Karya ini menjadi contoh ideal dari International Style dan Five Point of Architecture Le Corbusier. Dibangun pada 1929-1931 untuk Pierre and Eugénie Savoye, Villa Savoye masuk dalam UNESCO World Heritage Site sejak 2016. Weissenhof Siedlung Kompleks perumahan yang dibangun untuk pameran internasional di Stuttgart, 1927. Digagas oleh Deutscher Werkbund (German Association of Craftsmen), pameran ini mempromosikan Neues Bauen (New Way of Building). Ada 17 arsitek yang terlibat, dengan arahan artistik dari Mies van der Rohe. L’Esprit Nouveau

130


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition

Terbitan berkala yang disunting oleh arsitek Le Corbusier, penyair Paul Dermée, dan pelukis Amédée Ozenfant. Edisi pertamanya diterbitkan pada 1920 dan berakhir pada 1925 dengan total 28 edisi. Le Corbusier Arsitek Swiss-Prancis, desainer, pelukis, perencana kota, penulis, dan salah satu pelopor dari arsitektur modern. House NA Rumah tinggal di Tokyo karya Sou Fujimoto yang dibangun pada tahun 2012. Rumah ini terdiri dari 21 plat lantai, dengan luas total 914 kaki persegi. Moriyama House Rumah tinggal di Tokyo karya biro SANAA yang dibangun pada tahun 2005. Rumah ini terdiri dari hunian pribadi dan untuk sewa. Sou Fujimoto Arsitek Jepang kelahiran Hokkaido tahun 1971. Ia lulus dari University of Tokyo pada tahun 1994, dan mendirikan kantornya sendiri, Sou Fujimoto Architects, pada tahun 2000. SANAA Firma arsitektur yang berbasis di Tokyo, Jepang. Studio ini didirikan pada tahun 1995 oleh arsitek Kazuyo Sejima dan Ryue Nishizawa, dan dianugerahi Penghargaan Pritzker pada tahun 2010. Kenya Hara Desainer grafis, kurator dan penulis asal Jepang. Hara adalah lulusan Universitas Seni Musashino dan telah menjadi pengarah artistik Muji sejak 2001 Eileen Gray Arsitek dan desainer furnitur asal Irlandia dan salah satu pelopor Gerakan Modern dalam arsitektur.

dan inovatif, khususnya penggunaan kaca, baja, dan beton bertulang; gagasan bahwa bentuk harus mengikuti fungsi (fungsionalisme); pelukan minimalis; dan penolakan ornamen. Hal Itu muncul pada paruh pertama abad ke-20 dan menjadi dominan setelah Perang Dunia II hingga 1980-an, ketika secara bertahap diganti sebagai gaya utama untuk bangunan institusi dan perusahaan oleh arsitektur postmodern. Revolusi industri Revolusi Industri, sekarang juga dikenal sebagai Revolusi Industri Pertama, adalah transisi ke proses manufaktur baru di Eropa dan Amerika Serikat, dalam periode dari sekitar 1760 hingga antara 1820 dan 1840. Victorian Era adalah periode pemerintahan Ratu Victoria, dari 20 Juni 1837 sampai kematiannya pada 22 Januari 1901. Mass consumerism adalah tatanan sosial dan ekonomi yang mendorong perolehan barang dan jasa dalam jumlah yang terus meningkat. Dengan revolusi industri, tetapi khususnya di abad ke-20, produksi massal menyebabkan produksi berlebih — pasokan barang akan tumbuh melampaui permintaan konsumen, dan dengan demikian produsen beralih ke rencana usang dan iklan untuk memanipulasi pengeluaran konsumen. City of Tomorrow Buku Le Corbusier yang sangat penting adalah analisis masalah kota dan solusinya. Ia tidak menghindari satu pun masalah, mengakui pertumbuhan populasi yang tak terelakkan, kebutuhan akan kecepatan dan sentralisasi, dan memberikan pemecahan masalah yang masuk akal dan menyeluruh. Buku ini, baik secara praktis dan artistik, karya visi. Everydayness keseharian (kebosanan) yang dialami oleh semua orang dalam masyarakat terlepas dari kelas atau keahlian khusus, kritik terhadap realitas kebosanan sehari-hari vs. janji sosial tentang waktu luang dan waktu luang, dapat membuat orang memahami dan kemudian merevolusi kehidupan sehari-hari mereka. Ini penting bagi Lefebvre karena kehidupan sehari-hari adalah tempat dia melihat kapitalisme bertahan dan mereproduksi dirinya sendiri. Tanpa merevolusi kehidupan sehari-hari, kapitalisme akan terus menurunkan kualitas kehidupan sehari-hari, dan menghambat ekspresi diri yang sebenarnya. Kritik terhadap kehidupan sehari-hari sangat penting karena baginya hanya melalui perkembangan kondisi kehidupan manusia — bukan kontrol abstrak kekuatan produktif — manusia dapat mencapai eksistensi utopis yang konkret.

Missing dirt: messiness as part of home Modernisme Modernisme adalah gerakan filosofis dan gerakan seni yang muncul dari transformasi luas dalam masyarakat Barat selama akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Gerakan tersebut mencerminkan keinginan untuk menciptakan bentuk-bentuk baru seni, filosofi, dan organisasi sosial yang mencerminkan dunia industri yang baru muncul, termasuk fitur-fitur seperti urbanisasi, teknologi baru, dan perang. Seniman berusaha untuk berangkat dari bentuk-bentuk seni tradisional, yang mereka dianggap ketinggalan jaman atau usang. Arsitektur modern adalah gaya arsitektur yang didasarkan pada teknologi konstruksi yang baru

131

132


Appendix


Daftar Referensi Bab 1 Belton, Pádraig. 2017. An Analysis of Mary Douglas’s Purity and Danger: An Analysis of Concepts of Pollution and Taboo. Buchli, Victor. 2013. An anthropology of architecture. London ; New York: Bloomsbury. Douglas, Mary. 2000. Purity and danger: an analysis of concept of pollution and taboo. Routledge classics. London ; New York: Routledge. Fabrizi, Mariabruna. 2016. “Understanding the Grid /1: Michel Ecochard’s Planning and Building Framework in Casablanca.” SOCKS. 7 Desember 2016. http://socksstudio.com/2016/12/07/understanding-the-grid-1-michel-ecochards-planning-andbuilding-framework-in-casablanca/. Fang, Tony. 2014. “Understanding Chinese Culture and Communication: The Yin Yang Approach.” https://doi.org/10.13140/2.1.4977.4088. Forty, Adrian. 1986. Objects of desire: design and society since 1750. New York, N.Y: Thames and Hudson. Garnier, Tony, François Chaslin, dan Thierry Paquot. 2019. “Une cité industrielle.” Lyon: Editions Deux-Cent-Cinq. Reid, Susan E. 2009. “Communist Comfort: Socialist Modernism and the Making of Cosy Homes in the Khrushchev Era.” Gender & History 21 (3): 465–98. https://doi.org/10.1111/j.1468-0424.2009.01564.x. Staub, Alexandra. 2018. The Routledge Companion to Modernity, Space and Gender. Steele, Philip, dan Jessie Lim. 2008. Step into the Chinese Empire. New York: Lorenz Books. Watson, Donald, Alan J. Plattus, dan Robert G. Shibley, ed. 2003. Time-saver standards for urban design. New York: McGraw-Hill.

Appendix 2


Widodo, Johannes. 2020. “History of City.” Lecture dipresentasikan pada Architectural History and Theory 1 Course, Departemen Arsitektur FTUI, Desember 9. https://www.youtube.com/watch?v=IsRsk2pQf1E&t=3752s.

Bab 2 Archibald, Elizabeth. 2012. “Bathing, Beauty and Christianity in the Middle Ages.” Insights 5 (1). Bender, Barbara. 2002. “Landscape and Politics.” Dalam The material culture reader, disunting oleh Victor Buchli, 135–74. Oxford ; New York: Berg. Bryson, Bill. 2010. At Home: A Short History of Private Life. http://www.vlebooks.com/vleweb/product/openreader?id=none&isbn=97814090955 45. Buchli, Victor. 2013. An anthropology of architecture. London ; New York: Bloomsbury. Campkin, Ben. 2013. “Placing ‘Matter Out of Place’: Purity and Danger as Evidence for Architecture and Urbanism.” Architectural Theory Review 18 (1): 46–61. https://doi.org/10.1080/13264826.2013.785579. Chalana, Manish. 2017. Messy Urbanism: Understanding the “other” Cities of Asia. https://doi.org/10.5790/hongkong/9789888208333.001.0001. Douglas, Mary. 2000. Purity and Danger: An Analysis of Concept of Pollution and Taboo. London; New York: Routledge. http://www.myilibrary.com?id=19533. Driessen, Jan, dan Colin Mcdonald. 1988. The drainage system of the palace of Knossos. Fagan, Garrett G. 1999. Bathing in Public in the Roman World. Ann Arbor [Great Britain]: University of Michigan Press. Forty, Adrian. 1986. Objects of desire: design and society since 1750. New York, N.Y: Thames and Hudson. Frank, Roberta. 2007. “Terminally Hip and Incredibly Cool: Carol, Vikings, and AngloScandinavian England.” Representations 100 (1): 23–33. https://doi.org/10.1525/rep.2007.100.1.23.

Appendix 3


Halliday, Stephen. 1999. The great stink of London: Sir Joseph Bazalgette and the cleansing of the Victorian capital. Thrupp, Stroud, Gloucestershire: Sutton Pub. Hraundal, Thorir Jonsson. 2013. “Rus in Arabic Sources: Cultural Contacts and Identity (PhD Dissertation).” https://www.academia.edu/4094697/Rus_in_Arabic_Sources_Cultural_Contacts_an d_Identity_PhD_dissertation_. López Medel, Tomás, dan Berta Ares Queija. 1990. De los tres elementos: tratado sobre la naturaleza y el hombre del Nuevo Mundo. El Libro de bolsillo 1503. Madrid: Quinto Centenario : Alianza. Mumford, Lewis. 1961. The City in History: Its Origins, Its Transformations, and Its Prospects. New York: Harcourt, Brace & World. Ro, Christine. 2019. “The Peculiar Bathroom Habits of Westerners.” BBC Future. 7 Oktober 2019. https://www.bbc.com/future/article/20191004-the-peculiar-bathroomhabits-of-westerners. Sarmento, J., dan Z. Kazemi. 2014. “Hammams and the Contemporary City: The Case of Isfahan, Iran.” International Journal of Heritage Studies 20 (2): 138–56. https://doi.org/10.1080/13527258.2012.736873. Schafer, Edward H. 1956. “The Development of Bathing Customs in Ancient and Medieval China and the History of the Floriate Clear Palace.” Journal of the American Oriental Society 76 (2): 57–82. https://doi.org/10.2307/595074. Smith, Virginia Sarah. 2007. Clean: a history of personal hygiene and purity. Oxford ; New York: Oxford University Press. Soekiman, Djoko, dan Niken Juwita. 2011. Kebudayaan Indis: dari zaman kompeni sampai revolusi. Jakarta: Komunitas Bambu. Thamrin, Mahandis. 2019. “Berdiri di Kota Tahi.” National Geographic Indonesia, April 2019. Till, Jeremy. 2009. Architecture depends. Cambridge, Mass: MIT Press. Tjahyono, Gunawan, dan John Micsic. 1998. Indonesian Heritage vol. 6: Architecture. Jakarta: Buku Antar Bangsa for Grolier International. Urbach, Henry. 1998. “Writing Architectural Heterotopia.” The Journal of Architecture 3 (4): 347–54. https://doi.org/10.1080/136023698374125.

Appendix 4


Wright, Rita P. 2010. The ancient Indus: urbanism, economy, and society. Case studies in early societies. New York: Cambridge University Press. Zoetmulder, P. J., dan S. O. Robson. 1982. Old Javanese-English dictionary. ’sGravenhage: M. Nijhoff.

Bab 3 Adi, Ignatius Nugroho, dan Yori Antar. 2017. Berburu dan berguru di Tanah Marapu. Jakarta: Yayasan Uma Nusantara bekerja sama dengan Yayasan Tirto Utomo dan Lembaga Studi Pelestarian Budaya Sumba. Cieraad, Irene. 1999. At Home: An Anthropology of Domestic Space. Syracuse: Syracuse University Press. Douglas, Mary. 2000. Purity and danger: an analysis of concept of pollution and taboo. Routledge classics. London ; New York: Routledge. Forty, Adrian. 1986. Objects of desire: design and society since 1750. New York, N.Y: Thames and Hudson. Martens, L. 2008. “The Visible and the Invisible.” Dalam Dirt: New Geographies of Cleanliness and Contamination, disunting oleh Ben Campkin dan Rosie Cox. London: I.B. Tauris. Miller, Daniel. 2001. Home Possessions: Material Culture behind Closed Doors. Oxford, UK; New York, NY: Berg. http://site.ebrary.com/id/10231680. Pisani, Elizabeth. 2015. Indonesia Etc.: Exploring the Improbable Nation. Rapoport, Amos. 1969. House Form and Culture. Englewood Cliffs, N.J.: PrenticeHall. http://books.google.com/books?id=Fa-AAAAAMAAJ. Sunders, M., dan F. Lionardi. 2017. O kika o suroba. Jakarta: Yayasan Uma Nusantara.

Appendix 5


Bab 4 Amer, Mohamed. 2016. “Courtyards: Influence of the Indian Traditional Architectural Element on Community Interactions.” GoUNESCO, September. Buckley, Cheryl. 2008. “From York to New Earswick: Reforming Working-Class Homes, 1899-1914.” Studies in the Decorative Arts 16 (1): 92–106. https://doi.org/10.1086/652815. Chaudhuri, Supriya. 2012. “Interiors and Interiority in Nineteenth-Century India.” Dalam The Domestic Space Reader, disunting oleh Kathy Mezei dan Chiara Briganti, 351–58. Toronto ; Buffalo: University of Toronto Press. Desai, Miki, dan Madhavi Desai. 2011. “The colonial bungalow in India.” International Institute for Asian Studies Newsletter, 2011. Douglas, Mary. 2000. Purity and Danger: An Analysis of Concept of Pollution and Taboo. London; New York: Routledge. http://www.myilibrary.com?id=19533. Eliade, Mircea. 1996. Patterns in Comparative Religion. Lincoln: University of Nebraska Press. Fardon, Richard. 2013. “CITATIONS OUT OF PLACE: Or, Lord Palmerston goes viral in the nineteenth century but gets lost in the twentieth.” Anthropology Today 29 (1): 25–27. Fleming, P.B. 1946. “Low Cost Housing in Hyderabad.” Journal of the American Institute of Architects, Agustus, 72–80. Kinchin, Juliet. 2012. From Drawing Room to Scullery: Reading the Domestic Interior in the Paintings of Walter Sickert and the Camden Town Group. The Camden Town Group in Context. Tate. https://www.tate.org.uk/art/research-publications/camdentown-group/juliet-kinchin-from-drawing-room-to-scullery-reading-the-domesticinterior-in-the-r1104375. King, Sara. 2013. Commonwealth Government Records about South Australia. Lawrence, Roderick J. 1982. “Domestic Space and Society: A Cross-Cultural Study.” Comparative Studies in Society and History 24 (1): 104–30. Madhavan, N. 2015. “Gandhi vs Gandhi: Why Swachh Bharat Needs Scavenger Robots.” Hindustan Times. 4 Oktober 2015. https://www.hindustantimes.com/columns/gandhi-vs-gandhi-why-swachh-bharatneeds-scavenger-robots/story-n5GRP74sWm6HRGE01ROPNJ.html.

Appendix 6


Masoodi, Ashwaq. 2017. “The Changing Fabric of Dalit Life.” Mint. 21 April 2017. https://www.livemint.com/Leisure/avsrwntNuBHG3THdAb5aMP/The-changingfabric-of-Dalit-life.html. Muthesius, Hermann, dan Dennis Sharp. 1979. The English House. New York: Rizzoli. Rowntree, Benjamin Seebohm. 2000. Poverty: A Study of Town Life. Centennial ed.; [Nachdr. der Ausg.] London 1901. Bristol: Policy Press. Tagore, Rabindranath, Sukanta Chaudhuri, Śaṅkha Ghosha, dan Supriya Chaudhuri. 2006. Relationships = Jogagog. Delhi: Oxford University Press. Thorat, Sukhadeo, Anuradha Banerjee, Vinod K. Mishra, dan Firdaus Rizvi. 2015. “Urban Rental Housing Market: Caste and Religion Matters in Access.” Economic and Political Weekly 50 (26/27): 47–53. https://doi.org/10.2307/24482557.

Bab 5 Baran, Gülsüm. 2010. “A Study on Modern Bathroom through Sanitary Ware after the Nineteenth Century.” Turkey: Middle East Technical University. Graduate School of Natural and Applied Sciences. https://open.metu.edu.tr/handle/11511/19601. Buchli, Victor. 2013. An anthropology of architecture. London ; New York: Bloomsbury. Douglas, Mary. 2000. Purity and danger: an analysis of concept of pollution and taboo. Routledge classics. London ; New York: Routledge. Forty, Adrian. 1986. Objects of desire: design and society since 1750. New York, N.Y: Thames and Hudson. Gürel, Meltem Ö. 2008. “Bathroom as a modern space.” The Journal of Architecture 13 (3): 215–33. https://doi.org/10.1080/13602360802214943. Jennings, Jan. 2011. “Le Corbusier’s ‘Naked’: ‘Absolute Honesty’ and (Exhibitionist) Display in Bathroom Settings.” Interiors 2 (3): 307–31. https://doi.org/10.2752/10.2752/204191211X13116005651956. Kira, A. 1976. The Bathroom. 2. ed. New and expanded ed. New York, N.Y: Viking Pr.

Appendix 7


Lahiji, Nadir, dan Daniel S. Friedman, ed. 1997. Plumbing: sounding modern architecture. New York: Princeton Architectural Press. Passanti, Francesco. 1997. “The Vernacular, Modernism, and Le Corbusier.” Journal of the Society of Architectural Historians 56 (4): 438–51. https://doi.org/10.2307/991313. Quitzau, Maj-Britt, dan Inge Røpke. 2009. “Bathroom Transformation: From Hygiene to Well-Being?” Home Cultures 6 (3): 219–42. https://doi.org/10.2752/174063109X12462745321345. Stopnitzky, Yaniv. 2017. “No Toilet No Bride? Intrahousehold Bargaining in MaleSkewed Marriage Markets in India.” Journal of Development Economics 127 (Juli): 269–82. https://doi.org/10.1016/j.jdeveco.2017.04.003. Wright, Lawrence. 2000. Clean and Decent: The Fascinating History of the Bathroom and WC. Classic History. London: Penguin Books.

Bab 6 Bruno, Giuliana. 2002. Atlas of emotion : journeys in art, architecture, and film. New York : Verso, 2002. https://search.library.wisc.edu/catalog/9910016287802121. Bryson, Bill. 2011. At Home: A Short History of Private Life. http://www.vlebooks.com/vleweb/product/openreader?id=none&isbn=97814090955 45. Bullock, Nicholas. 1988. “First the Kitchen: Then the Façade.” Journal of Design History 1 (3/4): 177–92. Fiederer, Luke. 2017. “AD Classics: Haus Am Horn / Georg Muche.” ArchDaily. 12 Juni 2017. https://www.archdaily.com/873082/ad-classics-haus-am-horn-germanygeorg-muche. Foxhall, Lin. 2007. “House clearance: unpacking the ‘kitchen’ in Classical Greece.” British School at Athens Studies 15: 233–42. Frederick, Christine. 1919. Household engineering: scientific management in the home. Chicago: American school of home economics.

Appendix 8


Gadacz, René R. 2019. “Longhouse | The Canadian Encyclopedia.” The Canadian Encyclopedia. 8 Januari 2019. https://www.thecanadianencyclopedia.ca/en/article/longhouse. Hiller, Nancy. 2009. “The Hoosier Cabinet and the American Housewife.” Indiana Magazine of History 105 (1): 1–30. Marques, Stuart. 2019. “THE EARLY TENEMENTS OF NEW YORK—DARK, DANK, AND DANGEROUS.” NYC Department of Records & Information Services. 17 Mei 2019. https://www.archives.nyc/blog/2019/5/16/the-early-tenements-of-newyorkdark-dank-and-dangerous. Mitchell, Nancy. 2017. “How A Decade of Domesticity Changed Our Nation’s Kitchens.” Apartment Therapy. 25 Agustus 2017. https://www.apartmenttherapy.com/brief-history-of-1950s-1960s-kitchens-247463. Peach, Mark. 1995. “‘Der Architekt Denkt, Die Hausfrau Lenkt’: German Modern Architecture and the Modern Woman.” German Studies Review 18 (3): 441. https://doi.org/10.2307/1431773. Ryker, Lori. 2005. Off The Grid: Modern Homes + Alternative Energy. Salt Lake City: Gibbs Smith. Satpathy, Sambit. 2020. “6 Connected Appliances You Need for a Smart Kitchen.” Architectural Digest India. 12 Mei 2020. https://www.architecturaldigest.in/content/6connected-appliances-you-need-for-smart-kitchen/. Wolford, Nancy, Ellen Cheever, dan NKBA. 2015. Kitchen and Bath Design Principles: Elements, Form, Styles. 2nd edition. Hoboken: Wiley.

Bab 7 Attfield, Judy. 2000. Wild Things: The Material Culture of Everyday Life. Oxford: Berg. Batchelor, David. 2000. Chromophobia. Focus on contemporary issues. London: Reaktion Books. Bederman, Gail. 1996. Manliness & Civilization: A Cultural History of Gender and Race in the United States, 1880 - 1917. Women in Culture and Society. Chicago: Univ. of Chicago Press.

Appendix 9


Forty, Adrian. 1986. Objects of desire: design and society since 1750. New York, N.Y: Thames and Hudson. Forty, Adrian. 2013. Concrete and Culture: A Material History. London: Reaktion Books. Fujimoto, Sou. 2011. “Primitive Future.” Dipresentasikan pada A New Innocence: Emerging Trends in Japanese Architecture, Harvard Graduate School of Design, Februari 18. https://www.youtube.com/watch?v=MGLO-GPYfbg&t=4250s. Gardner, John. 1882. Household medicine and sick-room guide: a familiar description of diseases, remedies and methods of treatment, diet, &c., expressly adapted for family use. xviii, 667 p. London: Smith, Elder, & Co. //catalog.hathitrust.org/Record/100477504. Hara, Kenya. 2007. Designing Design. 4. Aufl. Baden: Lars Müller. Kitayama, Kō, Yoshiharu Tsukamoto, Ryūe Nishizawa, dan Mostra Internazionale di Architettura, ed. 2010. Tokyo metabolizing: Japan Pavilion at the 12th International Architecture Exhibition, La Biennale di Venezia, August 29 - November 21, 2010. Tokyo: Toto Shuppan. Larson, Erik. 2004. The devil in the white city: murder, magic, and madness at the fair that changed America. New York: Vintage Books. Sejima, Kazuyo, dan Ryue Nishizawa. 2011. “Architecture is Environment.” Dipresentasikan pada A New Innocence: Emerging Trends in Japanese Architecture, Harvard Graduate School of Design, Maret 31. https://www.youtube.com/watch?v=dtTo9qNrQB8. Wigley, Mark. 2001. White Walls, Designer Dresses: The Fashioning of Modern Architecture. 1. MIT Press paperback ed. Cambridge, Mass.: MIT Press. Wigley, Mark. 2020. “Chronic Whiteness.” e-flux architecture. 10 November 2020. https://www.e-flux.com/architecture/sick-architecture/360099/chronic-whiteness/.

Appendix 10


Bab 8 Agarez, Ricardo, dan Nelson Mota. 2015. “Architecture in Everyday Life.” FOOTPRINT, Desember, 1-8 Pages. https://doi.org/10.7480/FOOTPRINT.9.2.1090. Beam, Alex. 2020. Broken glass: Mies van der Rohe, Edith Farnsworth, and the fight over a modernist masterpiece. First edition. New York: Random House. Campbell, Margaret. 2005. “What Tuberculosis Did for Modernism: The Influence of a Curative Environment on Modernist Design and Architecture.” Medical History 49 (4): 463–88. https://doi.org/10.1017/S0025727300009169. Campkin, Ben. 2013. “Placing ‘Matter Out of Place’: Purity and Danger as Evidence for Architecture and Urbanism.” Architectural Theory Review 18 (1): 46–61. https://doi.org/10.1080/13264826.2013.785579. Landes, Nora. 2019. “Modernist Architects Believed Their Designs Would Make You Healthier.” Artsy. 1 Juli 2019. https://www.artsy.net/article/artsy-editorial-modernistarchitects-believed-designs-healthier. Leddy, Thomas. 1995. “Everyday Surface Aesthetic Qualities: ‘Neat,’ ‘Messy,’ ‘Clean,’ ‘Dirty.’” The Journal of Aesthetics and Art Criticism 53 (3): 259–68. https://doi.org/10.2307/431351. Ward M. Canaday Center for Special Collections. 2016. “House and Home: The Intersection of Domestic Architecture and Social History, 1870-1970, October 19, 2016 - May 5, 2017 | University of Toledo Digital Repository.” University of Toledo Digital Repository. 19 Oktober 2016. https://utdr.utoledo.edu/islandora/object/utoledo%3A110. Wendl. 2015. “Sex and Real Estate, Reconsidered: What Was the True Story Behind Mies van Der Rohe’s Farnsworth House?” ArchDaily. 3 Juli 2015. https://www.archdaily.com/769632/sex-and-real-estate-reconsidered-what-was-thetrue-story-behind-mies-van-der-rohes-farnsworth-house.

Appendix 11


Daftar Gambar Bab 1 No

Caption (dalam narasi)

Daftar gambar (di akhir logbook)

1

Foto Wanita membersihkan rumah di Denmark tahun 1912.

Media: foto Tahun: 1912 Oleh: Nilfisk-Advance Koleksi: Nilfisk-Advance Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Model C5_1912.jpg Lisensi: Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported

2

Ilustrasi seorang wanita membersihkan rumah.

Media: lukisan Tahun: 1648-1650 Oleh: Geertruydt Roghman Koleksi: Collections Database: Five Colleges and Historic Deerfield Museum Consortium Link: https://museums.fivecolleges.edu/detail.php?m useum=&t=objects&type=exact&f=&s=urn&rec ord=586 Lisensi: -

3

Lukisan dinding Lascaux Painting.

Media: foto dari lukisan Tahun: 2006 Oleh: Prof saxx Koleksi: Lascaux Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Lasca ux_painting.jpg Lisensi: GNU Free Documentation License

4

Andromeda Constellation Chart.

Media: diagram Tahun: 2011 Oleh: Alan MacRobert Koleksi: Sky and Telescope magazine (Roger Sinnott and Rick Fienberg) Link: https://www.iau.org/static/public/constellations/ gif/AND.gif Lisensi: Sky and Telescope

gambar

Appendix 12


5

Konsep Yin & Yang pada kepercayaan Taoisme.

Media: foto dari lukisan sutra Tahun: 1998 Oleh: Koleksi : E T Archive, dalam Steele, Philip, dan Jessie Lim. 2008. Step into the Chinese Empire. Link: Lisensi: -

6

Beauty in The Home.

Media: foto dari lukisan porselen Tahun: 1998 Oleh: Koleksi : Visual Art Library, dalam Steele, Philip, dan Jessie Lim. 2008. Step into the Chinese Empire. Link: Lisensi: -

7

Kampung Naga.

Media: foto Tahun: 2012 Oleh: Rezcky Nugraha Koleksi: Link: Lisensi: -

8-10

dari kiri, searah jarum jam:

Media: sketsa peta kota Tahun: 1904-1918 (publikasi 1917) Oleh: Tony Garnier Koleksi: Musée Urbain Tony Garnier Link: https://www.penccil.com/gallery.php?p=49050 4414159# Lisensi: -

Ilustrasi Peta Utopia Ideal City Une Cité Industrielle oleh Tony Garnier.

Media: sketsa peta kota Tahun: 1904-1918 (publikasi 1917) Oleh: Tony Garnier Koleksi: Musée Urbain Tony Garnier Link: https://www.penccil.com/gallery.php?p=49050 4414159# Lisensi: Media: sketsa peta kota Tahun: 1904-1918 (publikasi 1917) Oleh: Tony Garnier Koleksi: Musée Urbain Tony Garnier Link: https://www.penccil.com/gallery.php?p=49050 4414159# Lisensi: -

Appendix 13


11

“Good” and “Bad” Taste in Home Furnishing.

Media: sketsa Tahun: 1959 Oleh: M. Chereiskaia Koleksi: konten dalam Podruga [Girlfriend], Moscow 1959, hlm. 220-21.ilustrasi dalam Reid, Susan E. 2009. “Communist Comfort: Socialist Modernism and the Making of Cosy Homes in the Khrushchev Era.” Gender & History 21 (3): 465–98. Link: https://www.researchgate.net/publication/2276 29276_Communist_Comfort_Socialist_Modern ism_and_the_Making_of_Cosy_Homes_in_the _Khrushchev_Era Lisensi: -

12

Rekonstruksi dari Domestik Interior pada era Stalin.

Media: foto Tahun: Oleh: Dmitrii Sidorov Koleksi: The Sillamae Ethnographic Museum, ilustrasi dalam Reid, Susan E. 2009. “Communist Comfort: Socialist Modernism and the Making of Cosy Homes in the Khrushchev Era.” Gender & History 21 (3): 465–98. Link: https://www.researchgate.net/publication/2276 29276_Communist_Comfort_Socialist_Modern ism_and_the_Making_of_Cosy_Homes_in_the _Khrushchev_Era Lisensi: -

13

“Contemporary” Furniture (Diimpor dari Finland), Pertengahan 1960an, St. Petersburg.

Media: foto Tahun: 2004 Oleh: Ekaterina Gerasimova Koleksi: Everyday Aesthetics in the Modern Soviet Flat. ilustrasi dalam Reid, Susan E. 2009. “Communist Comfort: Socialist Modernism and the Making of Cosy Homes in the Khrushchev Era.” Gender & History 21 (3): 465–98. Link: https://www.researchgate.net/publication/2276 29276_Communist_Comfort_Socialist_Modern ism_and_the_Making_of_Cosy_Homes_in_the _Khrushchev_Era Lisensi: -

14

“All of This is My Mother's [work]. She did the housekeeping and crocheted.” Mother’s needlework with a tapestry received as a gift.

Media: foto Tahun: 2004 Oleh: Ekaterina Gerasimova Koleksi: Everyday Aesthetics in the Modern Soviet Flat. ilustrasi dalam Reid, Susan E. 2009. “Communist Comfort: Socialist Modernism and the Making of Cosy Homes in the Khrushchev Era.” Gender & History 21 (3): 465–98. Link: https://www.researchgate.net/publication/2276 29276_Communist_Comfort_Socialist_Modern ism_and_the_Making_of_Cosy_Homes_in_the _Khrushchev_Era Lisensi: -

Appendix 14


13

Standard Apartment Block from the Early 1960s in St. Petersburg.

Media: foto Tahun: 2004 Oleh: Ekaterina Gerasimova Koleksi: Everyday Aesthetics in the Modern Soviet Flat. ilustrasi dalam Reid, Susan E. 2009. “Communist Comfort: Socialist Modernism and the Making of Cosy Homes in the Khrushchev Era.” Gender & History 21 (3): 465–98. Link: https://www.researchgate.net/publication/2276 29276_Communist_Comfort_Socialist_Modern ism_and_the_Making_of_Cosy_Homes_in_the _Khrushchev_Era Lisensi: -

14

“New Furniture for New Flats”.

Media: Advertisement Tahun: 1959 Koleksi: konten dalam Ogonek 1959. ilustrasi dalam Reid, Susan E. 2009. “Communist Comfort: Socialist Modernism and the Making of Cosy Homes in the Khrushchev Era.” Gender & History 21 (3): 465–98. Link: https://www.researchgate.net/publication/2276 29276_Communist_Comfort_Socialist_Modern ism_and_the_Making_of_Cosy_Homes_in_the _Khrushchev_Era Lisensi: -

15

Plan Voisin, Paris, France, Le Corbusier 1925.

Media: maket Tahun: 1925 Oleh: Le Corbusier Koleksi: dalam Plan Voisin, Paris, France, 1925. Fondation Le Corbusier Link: http://www.fondationlecorbusier.fr/corbuweb/m orpheus.aspx?sysId=13&IrisObjectId=6159&sy sLanguage=enen&itemPos=2&itemCount=2&sysParentName =Home&sysParentId=65 Lisensi: FLC/ADAGP

16

Michel Ecochard’s Planning and Building Framework in Casablanca.

Media: Photo Sketsa Plan Tahun: 1952 Oleh: Michel Ecochard Koleksi: dalam Fabrizi, Mariabruna. 2016. “Understanding the Grid /1: Michel Ecochard’s Planning and Building Framework in Casablanca.” Link: http://socksstudio.com/2016/12/07/understanding-the-grid1-michel-ecochards-planning-and-buildingframework-in-casablanca/ Lisensi: -

Appendix 15


Bab 2 No

Caption (dalam narasi)

Daftar gambar (di akhir logbook)

1

Faraday giving his card to Father Thames. ‘And we hope the Dirty Fellow will consult the learned Professor.’

Media: kartun Tahun: 1855 Oleh: Koleksi: Wellcome Library. No. M0012507. dalam Punch Magazine, Volume 29 halaman 26; edisi 21 Juli 1855 Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Carica ture;_Faraday_giving_his_card_to_Father_Th ames._Wellcome_M0012507.jpg Lisensi: Domain publik

2

Atas: Pemandian Agung Mohenjo Daro di peradaban Sungai Indus.

Media: foto Tahun: 2014 Oleh: Saqib Qayyum Koleksi: Wikimedia Commons Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Mohe njo-daro.jpg Lisensi: Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported

Bawah: Ruang tepidarium di Thermae (pemandian) Pompeii.

3

Dari kanan atas searah jarum jam: Sisa hammam di benteng Aleppo, Suriah, dibangun sekitar tahun 1200an; Pemandian Baños Arabes di Ronda, Spanyol, dibangun sekitar 1300-an; “Sultan Harun alRashid

gambar

Media: lukisan Tahun: 1884 Oleh: Josef Theodor Hansen (1848-1912) Koleksi: Musée d'Orsay, via Wikimedia Commons Link: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Tepidarium_at _the_Forum_baths_in_Pompeii_by_Hansen,_ Joseph_Theodor_(1848-1912).jpg Lisensi: domain publik Media: foto Tahun: 2005 Oleh: Bernard Gagnon Koleksi: Wikimedia Commons Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Alepp o_Citadel_16_-_Hammam.jpg Lisensi: Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported, 2.5 Generic, 2.0 Generic and 1.0 Generic Media: foto Tahun: 2015 Oleh: Julia Kostecka Koleksi: Wikimedia Commons Link: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Arab_Baths_i n_Ronda_Spain_(18535883696).jpg Lisensi: Creative Commons Attribution 2.0 Generic license.

Appendix 16


mengunjungi Hammam” miniatur Persia oleh Kamalud-din Bihzad (1450-1535) dari salinan naskah Khamsah karya Niẓāmi. 4

Kiri: Lukisan St Hieronimus, salah satu penulis Kristen awal dengan pendekatan asketisme yang mencemooh mandi, meski pandangannya bukanlah konsesus umum. Kanan: Ilustrasi pemandian dari naskah Facta et Dicta Memorabilia karya Valerius Maximus.

5

Menguburkan korban wabah di kota Tournai, Belgia. Ilustrasi oleh Pierart dou Tielt (1340-1360) dari naskah Tractatus quartus bu Gilles li Muisit.

Media: ilustrasi Tahun: 1495 Oleh: Kamal-ud-din Bihzad (1450-1535) Koleksi: British Library. Or. 6810, f.27v Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Bihhz ad_001.jpg Lisensi: domain publik

Media: lukisan Tahun: antara 1475 sampai 1480 Oleh: Pinturicchio Koleksi: Walters Art Museum, no. 37.1089 Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Berna rdino_Pinturicchio__Saint_Jerome_in_the_Wilderness__Walters_371089.jpg Lisensi: domain publik Media: ilustrasi dari naskah Facta et dicta memorabilia karya Valerius Maximus Tahun: ±1470 Oleh: Master of Anthony of Burgundy Koleksi: Staatsbibliothek, Berlin. Ms. Dep. Breslau 2, vol. 2, fol. 244 Link: https://inpress.lib.uiowa.edu/feminae/DetailsPa ge.aspx?Feminae_ID=32501 Lisensi: domain publik

Media: ilustrasi dari naskah Tractatus quartus bu Gilles li Muisit Tahun: ±1353 Oleh: Pierart dou Tielt (1340-1360) Koleksi: Bibliothèque royale de Belgique. MS 13076-77, f. 24v. Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Doutie lt3.jpg Lisensi: domain publik

Appendix 17


6

Atas: Ilustrasi Temazcal Maya dari Codex Magliabechiano, fol. 77r. Bawah: Foto Candi Tikus pada tahun 1929.

Media: ilustrasi dari naskah Tahun: pertengahan abad 16 M Oleh: Koleksi: Biblioteca Nazionale Centrale, Firenze. Codex Magliabechiano, fol. 77r Link: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Codex_Maglia bechiano_(folio_77r).jpg, http://www.famsi.org/research/graz/magliabec hiano/thumbs_0.html Lisensi: domain publik Media: foto Tahun: 1929 Oleh: Dr. Wicher Gosen Nicolaas van der Sleen Koleksi: Tropenmuseum. No. TMnr 10028295, via Wikimedia Commons Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLL ECTIE_TROPENMUSEUM_De_Candi_Tikus_ TMnr_10028295.jpg Lisensi: Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported

7

Para wanita dan seorang anak lelaki di pemandian umum jaman Edo, lukisan ukiyo-e karya Utagawa Toyokuni I (1769– 1825) dari sekitar tahun 1799.

Media: lukisan ukiyo-e Tahun: ±1799 Oleh: Utagawa Toyokuni I (1769–1825) Koleksi: Metropolitan Museum of Art, NY. No. JP2724a–c Link: https://www.metmuseum.org/art/collection/sear ch/60028174, https://ukiyoe.org/image/met/DP145701 Lisensi: domain publik

8

Kiri: Wanita di Jawa membersihkan diri dan mencuci baju di kali, foto antar tahun 1903-1910.

Media: foto Tahun: 1903-1910 Oleh: Koleksi: Tropenmuseum. no. TMnr 10021596 Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLL ECTIE_TROPENMUSEUM_Javaanse_vrouwe n_tijdens_het_wassen_van_kleding_in_de_rivi er_TMnr_10021596.jpg Lisensi: domain publik

Kanan: Pemandian Taman Sari, foto dari awal 1900-an.

Media: foto Tahun: ±1900 Oleh: Ohannes Kurkdjian (1851–1903) Koleksi: KITLV. no. KITLV 28125 Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:KITLV _-_28125_-_Kurkdjian_-_Soerabaja__Taman_Sari_or_Water_Castle_in_Yogyakart a_-_circa_1900.tif Lisensi: domain publik

Appendix 18


9

Ilustrasi satirikal "Sup Monster, umum dikenal dengan nama, Air Thames" oleh William Heath (1795-1840) pada tahun 1828 menggambarkan mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat London masa itu akan pencemaran lingkungan akibat revolusi industri, terutama pada halhal tak kasat mata seperti debu dan mikroba.

Media: ilustrasi Tahun: 1828 Oleh: William Heath (1795-1840) Koleksi: Wellcome Library. no. 12079i Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Monst er_Soup_commonly_called_Thames_Water._ Wellcome_V0011218.jpg, https://catalogue.wellcomelibrary.org/record=b 1160239 Lisensi: domain publik

Appendix 19


Bab 3 No

Caption (dalam narasi)

Daftar gambar (di akhir logbook)

1

Seorang ibu di Sumba melakukan aktivitas menenun, ini identik dengan gender perempuan dan telah menjadi definisi domestic space tersendiri di dalam rumah Sumba.

Media: Tahun: Oleh: Koleksi: Link: Lisensi:

2

Pembangunan Menara Kayu di Suroba.

Media: foto Tahun: 2017 Oleh: Yori Antar Koleksi: Yayasan Uma Nusantara (Rumah Asuh) Link: Lisensi: -

3

Seorang ibu duduk di teras rumah adat Sumba.

Media: foto Tahun: 2014 Oleh: Paskalis Khrisno Koleksi: Yayasan Uma Nusantara (Rumah Asuh) Link: Lisensi: -

4

Modern house owner.

Media: Tahun: Oleh: Koleksi: Link: Lisensi:

gambar

Appendix 20


5

Katoda Amahu House Owner.

Media: foto Tahun: 2013 Oleh: Mohammad Resha Khambali Koleksi: Yayasan Uma Nusantara (Rumah Asuh) Link: Lisensi: -

6

Deretan unit rumah tipikal modern.

Media: foto Tahun: 2014 Oleh: Liandro Siringoringo Koleksi: Link: liandrosiringoringo.com, instagram Lisensi: © Liandro Siringoringo

7

Sebuah desa Sumba dari kejauhan.

Media: foto Tahun: 2011 Oleh: Spencer Weart Koleksi: Wikimedia Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Villag e-Sumba.jpg Lisensi: Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported

8

Site Plan Silimo Bithnean Suroba.

Media: ilustrasi, dari buku O Kika O Suroba Tahun: 2017 Oleh: Michael Sunders & Fabiola Lionardi Koleksi: Yayasan Uma Nusantara (Rumah Asuh) Link: Lisensi: -

1. Pilamo (Honai Laki – Laki) 2. Uma (Honai Perempuan) 3. Wamerek / Wam Dabuls (Kandang Babi) 4. Honai makan (Adaptasi budaya baru) 5. Hunila (Dapur) 6. Lubang upacara bakar batu 7. Horakola (Pintu Masuk) 9

Kampung Ratenggaro, menunjukkan: 1. Uma Katoda Kataku (Rumah Bapa); dan 2. Uma Kalama (Rumah Ibu).

Media: foto Tahun: 2017 Oleh: Paskalis Khrisno Koleksi: Yayasan Uma Nusantara (Rumah Asuh) Link: Lisensi: -

Appendix 21


10

Interior Uma Katoda Kataku.

Media: ilustrasi, dari buku Berburu dan Berguru di Tana Marapu Tahun: 2011 Oleh: Mohammad Resha Khambali Koleksi: Yayasan Uma Nusantara (Rumah Asuh) Link: Lisensi: -

11

Struktur sosial yang direpresentasikan dalam kolom rumah.

Media: foto Tahun: 2011 Oleh: Yori Antar Koleksi: Yayasan Uma Nusantara (Rumah Asuh) Link: Lisensi: -

12

Nama pemilik kolom diukir sesuai dengan struktur sosialnya.

Media: foto Tahun: 2011 Oleh: Zefanya Dolorosa Koleksi: Yayasan Uma Nusantara (Rumah Asuh) Link: Lisensi: -

13

Keluarga Suroba berdiri di depan Pilamo dan Uma.

Media: foto Tahun: 2013 Oleh: Michael Sunders Koleksi: Yayasan Uma Nusantara (Rumah Asuh) Link: Lisensi: -

14

Seorang ibu yang terpotong enam ruas jari tangannya.

Media: foto Tahun: 2017 Oleh: Michael Sunders Koleksi: Yayasan Uma Nusantara (Rumah Asuh) Link: Lisensi: -

15

Dua orang lelaki Sumba membawa parang.

Media: foto Tahun: 2011 Oleh: Mohammad Resha Khambali Koleksi: Link: Lisensi: -

Appendix 22


16

Memberi persembahan untuk nenek moyang Marapu.

Media: foto Tahun: 2009 Oleh: Pastor Robert Ramone Cssr Koleksi: Link: Lisensi: -

17

Seorang laki - laki Suku Dani memakai celana kain modern dipadu dengan atribut adat.

Media: Tahun: Oleh: Koleksi: Link: Lisensi:

18

Rumah adat Sumba di Ratenggaro.

Media: foto Tahun: 2013 Oleh: Paskalis Khrisno Koleksi: Yayasan Uma Nusantara (Rumah Asuh) Link: Lisensi: -

19

Rumah layak huni versi kementerian PUPR di Tambolaka Sumba Barat Daya.

Media: foto Tahun: Oleh: Koleksi: Link: https://sikumbang.ppdpp.id/lokasiperumahan/WKB1010072020T001 Lisensi: Copyright © ppdpp.id

Bab 4 No

Caption (dalam narasi)

Daftar gambar (di akhir logbook)

gambar

Appendix 23


1

Dolce Domum

Media: lukisan Tahun: 1885 Oleh: John Atkinson Grimshaw Koleksi: johnatkinsongrimshaw.org Link: https://www.wikiart.org/en/john-atkinsongrimshaw/dulce-domum-1885, https://www.johnatkinsongrimshaw.org/DulceDomum.html Lisensi: domain publik

2

Edwardian Interior

Media: lukisan Tahun: 1907 Oleh: Harold Gilman Koleksi: Tate T00096 Link: https://www.tate.org.uk/art/artworks/gilmanedwardian-interior-t00096 Lisensi: Creative Commons CC-BY-NC-ND (3.0 Unported)

3

Girl on a Sofa

Media: lukisan Tahun: 1891 Oleh: Philip Wilson Steer Koleksi: Ipswich Museum, UK Link: https://www.wikiart.org/en/philip-wilsonsteer/girl-on-a-sofa-1891 Lisensi: domain publik

4

Lady on A Sofa

Media: lukisan Tahun: 1910 Oleh: Harold Gilman (1876–1919) Koleksi: Tate N05831 Link: https://www.tate.org.uk/art/artworks/gilmanlady-on-a-sofa-n05831 Lisensi: CC-BY-NC-ND 3.0

5

Symphony in White, No. 2: The Little White Girl

Media: lukisan Tahun: 1864 Oleh: James Abbott McNeill Whistler Koleksi: Tate N03418 Link: https://www.tate.org.uk/art/artworks/whistlersymphony-in-white-no-2-the-little-white-girln034181 Lisensi: Creative Commons CC-BY-NC-ND (3.0 Unported)

Appendix 24


6

The New Home

Media: lukisan Tahun: 1908 Oleh: Walter Richard Sickert Koleksi: Ivor Braka Ltd (koleksi pribadi) Link: https://www.tate.org.uk/art/researchpublications/camden-town-group/juliet-kinchinfrom-drawing-room-to-scullery-reading-thedomestic-interior-in-the-r1104375 Lisensi: -

7

The Gas Cooker

Media: lukisan Tahun: 1913 Oleh: Spencer Gore (1878–1914) Koleksi: Tate T00496 Link: https://www.tate.org.uk/art/artworks/gorethe-gas-cooker-t00496 Lisensi: CC-BY-NC-ND 3.0

8

Lahan Terbuka di Belakang Rumahrumah di Station Road dan Poplar Grove, New Earswick, York.

Media: foto Tahun: ±1905 Oleh: Koleksi: Library & Archive, Joseph Rowntree Foundation, York, England Link: https://www.jstor.org/stable/10.1086/652815 | Lisensi: -

9

Ruang Duduk dengan Tungku di Pinggirnya, New Earswick, York.

Media: foto Tahun: ±1912 Oleh: Koleksi: Library & Archive, Joseph Rowntree Foundation, York, England Link: https://www.jstor.org/stable/10.1086/652815 | Lisensi: -

10

Inventive Australia

Media: seri perangko Tahun: 2009 Oleh: Stuart McLachlan (desain), Sharon Rodziewicz (typography) Koleksi: Australia Post Design Studio Link: https://australianstrampcatalogue.com/2009.ph p Lisensi: -

Appendix 25


11

Iklan Hills Hoist

Media: iklan Tahun: 1956 Oleh: Koleksi: konten majalah The Australian Women’s Weekly, November 1956 Link: https://99percentinvisible.org/article/hillshoist-iconic-rotary-clothesline-shapedsuburban-australia/ Lisensi: -

12

English Interior in India. Mengambil sudut pandang dari beranda di dekatnya, ruang duduk di India era kekuasaan East India Company ini diisi dengan furnitur-furnitur yang memiliki unsur kayu berukir dan upholstery.

Media: lukisan Tahun: ±1825 Oleh: Koleksi: Metropolitan Museum of Art, NY. No. 51.609 Link: https://www.metmuseum.org/art/collection/sear ch/364294 Lisensi: domain publik

13

Vilaval Ragini. Seorang wanita yang sedang merapikan perhiasannya, dibantu oleh dua orang asisten perempuannya di dalam area zenana dari sebuah istana.

Media: lukisan Tahun: antara 1830 sampai 1840 Oleh: Indian School, Jaipur Style Koleksi: Royal Collection Trust Link: https://www.rct.uk/collection/925224/vilavalragini Lisensi: Royal Collection Trust

Appendix 26


14

Tipologi Rancangan Perumahan Rakyat Hyderabad Kelas A. Terlihat adanya penyediaan ruang khusus untuk mandi.

15

Tipologi Rancangan Perumahan Rakyat Hyderabad Kelas C. Fasilitas servis terbatas pada dapur untuk kegiatan menyiapkan makanan.

Media: diagram, berdasarkan Fleming, P. B. "Low Cost Housing in Hyderabad." AIA Journal, August 1946. 72-80. Tahun: 2020 Oleh: Nadira Adiswari Koleksi: pribadi Link: Lisensi -

Media: diagram, berdasarkan Fleming, P. B. "Low Cost Housing in Hyderabad." AIA Journal, August 1946. 72-80. Tahun: 2020 Oleh: Nadira Adiswari Koleksi: pribadi Link: Lisensi -

Appendix 27


Bab 5 No

Caption (dalam narasi)

Daftar gambar (di akhir logbook)

1

Imperial Porcelain Bathtub.

Media: katalog Tahun: 1888 Oleh: J.L. Mott Iron Works Koleksi: New York Public Library Digital Catalog Link: https://digitalcollections.nypl.org/items/510d47 db-cccf-a3d9-e040-e00a18064a99 Lisensi: domain publik

2

Unitas: Toilet Pedestal Keramik Pertama.

Media: foto Tahun: 1886 Oleh: Twyfords Bathrooms Koleksi: Wikimedia Commons Link: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Unitas.png Lisensi: domain publik

3

Bathroom, 28 Ashley Place, Wesminster, London.

Media: foto Tahun: 1893 Oleh: Historic England Archive/Heritage Images Koleksi: Historic England Archive/Heritage Images Link: https://walzerjahrhundert.tumblr.com/post/476 29283673/bathroom-in-london-1895 Lisensi: -

Kamar mandi di dalam rumah pada tahun 1893.

4

Bathroom interior illustrated in picture, 1884.

gambar

Media: katalog Tahun: 1884 Oleh: J.L. Mott Iron Works Koleksi: New York Public Library Digital Catalog Link: https://digitalcollections.nypl.org/items/510d47 db-be35-a3d9-e040-e00a18064a99 Lisensi: domain publik

Appendix 28


5

Twyfords, J7 Bathrooms, 1911.

Media: Foto Tahun: 1911 Oleh: Twyfords Bathrooms Koleksi: Twyfords Bathrooms Link: http://www.bricksandbrass.co.uk/design_by_ro om/bathroom_and_toilet/bathroom_and_toilet. php Lisensi: domain publik

6

1920s Gallery of Crane Bathrooms

Media: katalog Tahun: 1920-an Oleh: Crane Koleksi: Antique Home Style Link: https://www.antiquehomestyle.com/inside/bath rooms/1920s/gallery/index.htm Lisensi: domain publik

7

Standard Sanitary Mfg. Co. s ad, 1930.

Media: katalog Tahun: 1930 Oleh: Standard Sanitary Koleksi: Vintage Stitches Link: https://www.flickr.com/photos/vintagestitches/6 96516052 Lisensi: -

Appendix 29


8

Crane T Bathroom, 1952.

Media: katalog Tahun: 1952 Oleh: American Vintage Home Koleksi: American Vintage Home Link: https://www.flickr.com/photos/americanvintage home/3497874118/sizes/c/ Lisensi: American Vintage Home

9-11

(dari kiri atas searah jarum jam) Kamar Mandi & Sink di Villa Savoye.

Media: foto Tahun: Oleh: Paul Kozlowski Koleksi: FLC Link: http://www.fondationlecorbusier.fr/ Lisensi: FLC/ADAGP Media: foto Tahun: Oleh: Paul Kozlowski Koleksi: FLC Link: http://www.fondationlecorbusier.fr/ Lisensi: FLC/ADAGP Media: foto Tahun: Oleh: Koleksi: FLC Link: http://www.villa-savoye.fr/ Lisensi: FLC/ADAGP

12-13

(kiri ke kanan) Kamar Mandi di Apartemen Le Corbusier

Media: foto Tahun: 2018 Oleh: Antoine Mercusot Koleksi: FLC Link: http://www.fondationlecorbusier.fr/ Lisensi: FLC/ADAGP Media: Foto Tahun: 2018 Oleh: Antoine Mercusot Koleksi: FLC Link: http://www.fondationlecorbusier.fr/ Lisensi: FLC/ADAGP

14

Kamar Mandi di Apartemen Le Corbusier.

Media: denah Tahun: Oleh: Le Corbusier Koleksi: Oeuvre Complet Link: https://www.treehugger.com/touringtoilets-le-corbusier-4857593 Lisensi: Oeuvre Complet

Appendix 30


15

Kamar Mandi di Nakagin Capsule Tower, Jepang.

Media: foto Tahun: 2018 Oleh: Alma Reyes Koleksi: Taiken Japan Link: https://taiken.co/single/trapped-in-acapsule-life-at-the-nakagin-capsule-tower/ Lisensi: Alma Reyes Taiken Japan

16

Toilet Jongkok di Jepang (Washiki)

Media: foto Tahun: 2018 Oleh: Maritomo Koleksi: nippon.com Link: https://www.nippon.com/en/guide-tojapan/gu006002/ Retrieved: 22 December 2020 Lisensi:

Appendix 31


Bab 6 No

Caption (dalam narasi)

Daftar gambar (di akhir logbook)

1

Dapur di Greenbelt, Maryland, Proyek Perumahan Federal.

Media: foto Tahun: 1942 Oleh: Marjory Collins Koleksi: Perpustakaan Kongres. no. LC-DIGfsa-8d20971 Link: https://lccn.loc.gov/2017832028 Lisensi: domain publik

2

Interior Rumah Panjang - Desa Iroquois, Ontario, Kanada, 2013.

Media: Foto Tahun: 2013 Oleh: Laslovarga Koleksi: Wikimedia Commons Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Iroquo ian_Village,_Ontario,_Canada36.JPG Lisensi: CC BY-SA 3.0

3

Ilustrasi dapur Eropa dari tahun 1518, direproduksi dalam buku Manners, Custom and Dress During the Middle Ages and During the Renaissance Period oleh Paul Lacroix pada tahun 1874.

Media: ilustrasi Tahun: Reproduksi pada buku tahun 1871 Oleh: Paul Lacroix Koleksi: Link: https://www.gutenberg.org/files/10940/10940h/10940-h.htm#ch04l Lisensi: domain publik

gambar

Terlihat seorang anak laki-laki sedang membalikbalik babi bakar, sementara di seberangnya seorang lelaki yang lebih tua mengawasi beberapa periuk keramik tertutup yang diletakkan sangat dekat

Appendix 32


dengan api. Seorang pelayan masuk dengan membawa lentera, kebutuhan dasar ketika dapur seringkali gelap. 4

Rekonstruksi rumah no. 33 di Priene, sebagai gambaran rumah Yunani kuno tipikal, dari buku Ancient Cities. The Archaeology of Urban Life in the Ancient Near East and Egypt, Greece, and Rome (2011) oleh Charles Gate.

Media: ilustrasi Tahun: 2015 Oleh: Koleksi: WorldHistory Link: https://www.worldhistory.biz/ancienthistory/59522-olynthos-houses.html Lisensi: -

5

Denah House of Many Colors di kota Olynthus.

Media: ilustrasi Tahun: 2014 Oleh: Tsakirgis B Koleksi: Springer Link: https://link.springer.com/referenceworkentry/10 .1007/978-1-4419-0465-2_1455 Lisensi: Springer Science+Business Media New York 2014

Dapur dan perapian rumah dapat dilihat pada ruang yang dilabeli huruf [k]. Ilustrasi dari Encyclopedia of Global Archaeology (2014), disusun oleh Springer dengan editor utama Claire Smith. 6

Ilustrasi dapur di St. Mary Guildhall, Coventry, Inggris, yang pada tahun 1861 dimanfaatkan ulang sebagai dapur umum untuk penenun miskin di area tersebut.

Media: lukisan Tahun: 1861 Oleh: Koleksi: Wellcome Collection gallery Link: https://wellcomecollection.org/works/dwvsnv7t Lisensi: Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)

Appendix 33


7

Litografi menggambarkan seorang wanita yang bekerja di dapur, tahun 1874.

Media: lithograph Tahun: 1874 Oleh: L. Prang & Co Koleksi: Library of Congress Prints and Photographs Division Washington, D.C Link: http://www.loc.gov/pictures/item/97502879/ Lisensi: Hak cipta oleh L. Prang & Co.

8

Apartemen aturan baru, 1941.

Media: foto Tahun: 1935 Oleh: Koleksi: NYC Municipal Archives Collection. Link: https://www.archives.nyc/blog/2019/5/16/theearly-tenements-of-new-yorkdark-dank-anddangerous Lisensi: domain publik

9

Apartemen aturan lama, 1918.

Media: foto Tahun: 1916 Oleh: Jessie Tarbox Beals (1870-1942) Koleksi: Columbia University Libraries. No. koleksi 1627, box 16, folder 128 Link: https://css.cul.columbia.edu/catalog/rbml_css_ 0080 Lisensi: domain publik

10

Ilustrasi dari iklan kabinet Hoosier yang diproduksi McDougall Company, dari The Ladies Home Journal, edisi April 1917, halaman 34.

Media: ilustrasi Tahun: 1917 Oleh: Koleksi: dalam The Ladies Home Journal, edisi April 1917, halaman 34 Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:McDo ugall_Cabinet_ad_(portion)_from_1917.png Lisensi: domain publik

11

Model “Dapur Efisiensi” yang dipasarkan perusahaan Woodward & Lothrop (19051940)

Media: foto Tahun: 1917 Oleh: Koleksi: Library of Congress No. LC-H2591369-A Link: https://dustyoldthing.com/evolution-ofkitchen/4/ Lisensi: domain publik

Appendix 34


12

Denah dapur efisien sebagaimana dituturkan Christine Frederick dalam bukunya, Household Engineering: scientific management in the home (cetak ulang tahun 1923).

Media: ilustrasi Tahun: 1919 Oleh: Christine Frederick Koleksi: Wellcome Collection gallery Link: https://wellcomecollection.org/works/dmsvcjd3 -, https://wellcomeimages.org/indexplus/image/L 0019286.html Lisensi: domain publik

13

Dapur di Interior Haus am Horn

Media: foto Tahun: 1923 Oleh: Georg Muche and Adolf Meyer Koleksi: Bauhaus's exhibition (Marcel Breuer Digital Archives) Link: https://cutt.ly/0hN7PvI Lisensi: domain publik

14

Foto Dapur Frankfurt dari majalah Das neue Frankfurt #5 edisi 1926-1927

Media: foto Tahun: 1926 Oleh: Margarete Schütte-Lihotzky Koleksi: Wikimedia Commons, dimuat dalam Das neue Frankfurt #5 edisi 1926-1927 Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Frankf urterkueche.jpg Lisensi: domain publik

15

Foto dapur GEHAG, dapur yang diterapkan dalam rancangan Gemeinnützige Heimstätten-, Sparund BauAktiengesellschaft (GEHAG).

Media: foto Tahun: 1926 Oleh: Bruno Taut & Franz Hillinger Koleksi: GEHAG Archiv Link: https://cutt.ly/3hN7Ii0 Lisensi: domain publik

Appendix 35


16

Iklan salah satu rancangan Armstrong Kitchen dari majalah American Home

Media: foto Tahun: 1936 Oleh: American Home Magazine Koleksi: Antique Home Style Link: http://www.antiquehomestyle.com/inside/kitche n/1930s/gallery/page7.htm Lisensi: domain publik

17

Iklan Kitchen of Tomorrow, di majalah Life, edisi 9 Agustus 1943, halaman 53.

Media: ilustrasi Tahun: 1943 Oleh: Koleksi: dimuat dalam majalah Life edisi 9 Agustus 1943 Link: https://www.ghostofthedoll.co.uk/retromusings/ kitchens-of-tomorrow-1943/ Lisensi: -

18

Salah satu iklan untuk dapur AS pada dekade 50-an

Media: foto Tahun: 1958 Oleh: Midcentury Living Koleksi: Link: https://www.apartmenttherapy.com/briefhistory-of-1950s-1960s-kitchens-247463 Lisensi: domain publik

19

Dapur Mutschler, 1966.

Media: foto Tahun: 1966 Oleh: Ethan Koleksi: Link: https://www.wallswithstories.com Lisensi: CC BY 2.0

20

Dapur yang populer dalam banyak desain kontemporer

Media: foto Tahun: 2020 Oleh: Mireya Acierto/Getty Images Koleksi: Link: https://www.architecturaldigest.in/content/6connected-appliances-you-need-for-smartkitchen/ Lisensi: -

Appendix 36


21

Rancangan dapur open plan dalam apartemen di distrik Sanchong, Taipei oleh A Lentil Design, 2017.

Media: foto Tahun: 2017 Oleh: A Lentil Design Koleksi: decoist Link: https://www.alentildesign.com/copy-ofprojects-info-03-1 Lisensi: © A Lentil Design

Desain open-plan yang menggabungkan fungsi dapur dan ruang makan memberi kesan leluasa pada ruang apartemen yang relatif sempit. 22

Dapur di Kabin Wee-ely, sebuah kabin off-grid di Minnesota, AS. Didesain dan dibangun oleh Dale Mulfinger dari SALA Architect berkolaborasi dengan Wee Cabin co.

Media: foto Tahun: 2017 Oleh: Troy Thies Photography Koleksi:Link: https://salaarc.com/projecttypes/featured/wee-ely/ Lisensi: Troy Thies Photography

Appendix 37


Bab 7 No 1

Caption (dalam narasi) Villa Savoye yang Diterlantarkan. Munculnya warna lain di dinding putih menandakan pengabaian.

2

Lantai dengan plester kapur putih berusia 10.800 tahun di Kharaysin, Yordania.

Daftar gambar (di akhir logbook)

gambar

Media: foto Tahun: 1959 Oleh: René Burri Koleksi: Archiwik Link: http://www.archiwik.org/index.php?title=File:F4 8574da1d3a3831617070c08cf72706.jpg Lisensi: © René Burri Media: Tahun: Oleh: Koleksi: Link: Lisensi:

Kesan putih sudah ditemukan pada ruang domestik sejak zaman Netolitikum PraTembikar sebagai hasil dari proses pemolesan kapur. Putih menjadi penanda area domestik dan nondomestik. 3

Katalog iklan kulkas Sears Coldspot 7.5 kaki kubik, 1931. Lemari pendingin elektrik menggunakan material kayu dan ruang penyimpanan berenamel. Ruang penyimpanannya diangkat dari lantai dengan kaki setinggi 11 inci.

Media: iklan Tahun: 1931 Oleh: Sears Koleksi: Sears Archive Link: http://www.searsarchives.com/brands/detail/co ldspot1931.htm Lisensi: © Transform SR Brands, LLC

Appendix 38


4

Katalog iklan kulkas Sears Coldspot 6.3 kaki kubik, 1940. Kulkas pertama yang diproduksi dengan material alumunium, dirancang oleh insinyur Herman Price dan desainer industrial Raymond Loewy sejak tahun 1934. Penjualan tahun pertama kulkas ini meningkat 300% dari sebelumnya.

Media: iklan Tahun: 1940 Oleh: Sears Koleksi: Sears Archive Link: http://www.searsarchives.com/brands/detail/co ldspot1940.htm Lisensi © Transform SR Brands, LLC

5

Sampul L'Esprit Nouveau 19 yang disunting oleh Le Corbusier dan sesama pelukis dan penulis Purisme Amédée Ozenfant. Edisi pertamanya diterbitkan pada 1920.

Media: ilustrasi sampul buku Tahun: 1923 Oleh: Koleksi: Universita Degli Roma Tre Link http://arti.sba.uniroma3.it/esprit/index.php?opti on=com_artisba&view=catalogo&Itemid=141 Lisensi: © 2016 Biblioteca di Area delle Arti. Tutti i diritti riservati.

6

Foto-foto dari film iklan untuk cat Ripolin yang dibuat di dinding boulevard Paris oleh Félix Mesguich pada bulan Oktober 1898.

Media: foto Tahun: 1898 Oleh: Félix Mesguich atas persetujuan Agence nouvelle de Publicité (ANP) Koleksi: Lectures pour tous, année II, Paris, Hachette et Cie, page 355, [1899]. via Wikimedia Link: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Ripoli n_movie_add_1898.jpg Lisensi: Creative CommonsAttribution-Share Alike 4.0 International

7

Penggalan dari Le Corbusier, The Decorative Art of Today, “The Law of Ripolin, A Coat of Whitewash,” 1925.

Media: buku Tahun: 1987 Oleh: Le Corbusier Koleksi: Buku The Law of Ripolin, A Coat of Whitewash Link: Lisensi: © The Architectural Press in London

Appendix 39


8

Gambar Studi Fasad Villa Savoye. Warna putih mendapat hak istimewa dalam desain Villa Savoye; ia ditempatkan di permukaan yang strategis sementara warna lain diabaikan.

Media: gambar tampak Tahun: 1929 Oleh: Le Corbusier Koleksi: Foundation Le Corbusier via Le Corbusier World Heritage | Link: https://lecorbusierworldheritage.org/en/villa-savoye-et-loge-dujardinier/ Lisensi: © FLC/ADAGP

9

Gambar studi fasad salah satu rumah di Weissenhof Siedlung

Media: gambar tampak Tahun: Oleh: Koleksi: Foundation Le Corbusier via Le Corbusier World Heritage Link: https://lecorbusier-worldheritage.org/villasavoye-et-loge-du-jardinier/ Lisensi: © FLC/ADAGP

10

Area di bawah pilotis Villa Savoye, 1929.

Media: foto Tahun: Oleh: Koleksi: Foundation Le Corbusier via Le Corbusier World Heritage Link: https://lecorbusier-worldheritage.org/villasavoye-et-loge-du-jardinier/ Lisensi: © FLC/ADAGP

Warna selain putih tidak hilang dari karya Le Corbusier dan Pierre Jeanneret; mereka disembunyikan di bawah bayangan, di belakang tembok, atau ditinggalkan di bangunan sekunder.

11

Gardener’s Lodge di Villa Savoye oleh Le Corbusier dan Pierre Jeanneret, 1929.

Media: foto Tahun: Oleh: Bénédicte Gandini Koleksi: Foundation Le Corbusier via Le Corbusier World Heritage Link: https://lecorbusier-worldheritage.org/villasavoye-et-loge-du-jardinier/ Lisensi: © FLC/ADAGP

Appendix 40


12

Rumah karya Le Corbusier di Weissenhof Siedlung

Media: foto Tahun: Oleh: Cemal Emden Koleksi: Foundation Le Corbusier via Le Corbusier World Heritage Link: https://lecorbusier-worldheritage.org/villasavoye-et-loge-du-jardinier/ Lisensi: © FLC/ADAGP

13

Interior Rumah karya Le Corbusier di Weissenhof Siedlung yang berwarna-warni

Media: foto Tahun: Oleh: Cemal Emden Koleksi: Foundation Le Corbusier via Le Corbusier World Heritage Link: https://lecorbusier-worldheritage.org/villasavoye-et-loge-du-jardinier/ Lisensi: © FLC/ADAGP

14

Karya seni Photoshop Pèlerinage sur la Modernité (Ziarah Modernitas) Kondisi hipotetis Villa Savoye tanpa upaya konservasi yang masif dan konstan. Alih-alih meninggalkan noda, sang seniman menanggalkan kemurnian dan oleh karena itu martabat Villa Savoye dengan menggambar di atasnya.

Media: foto Tahun: 2014 Oleh: Xavier Delory Koleksi: ArchDaily Link: https://www.archdaily.com/557974/howvandalizing-a-classic-exposes-the-hypocrisyof-today-s-modernists Lisensi: © Xavier Delory

15

Mural Le Corbusier pada E-1027 Eileen Gray, 1938.

Media: foto Tahun: Oleh: Michelle Brown Koleksi: e.1027 Link: http://www.e1027.org/photographs/recent?vie w=slider#16 Lisensi: © Michelle Brown

Dirancang oleh Eileen Grey dan dibangun pada

Appendix 41


tahun 1929, rumah ini disusupi dan dinodai oleh Le Corbusier. Tanpa izin, ia melukis mural pada dinding putihnya setelah Gray dan suaminya pindah. Rumah itu akhirnya dibeli oleh Le Corbusier. 16

Ruang Utama E1027 Karya Eileen Grey Setelah Restorasi. Villa E-1027 barubaru ini dipugar dan diisi dengan funitur berdasarkan desain Gray, tetapi muralnya tetap dipertahankan.

17

Tampilan House NA karya Sou Fujimoto Enam Tahun Setelah Didirikan.

Media: foto Tahun: 2015 Oleh: Manuel Bougot Koleksi: ArchDaily Link: https://www.archdaily.com/640870/imagesfrom-the-much-anticipated-restoration-ofeileen-gray-s-e-1027 Lisensi: © Manuel Bougot

Media: foto Tahun: 2018 Oleh: Dan Hill Koleksi: Link: https://medium.com/iamacamera/housena-by-sou-fujimoto-25a75839025a Lisensi: © Dan Hill

Intervensi waktu dan aktivitas penghuni rumah telah mengubah permukaan putih menjadi nuansa putih yang berbeda. 18

Appendix 42


19

Moriyama House karya SANAA, 2015. Desainnya mencoba membangun kesinambungan dengan pola perkotaan dengan cara dibongkar, dilubangi, dan diputihkan.

Media: foto Tahun: 1903 Oleh: Edmund Sumner Koleksi: Dezeen Link: https://www.dezeen.com/2017/04/14/edmundsumner-decade-old-photographs-ryuenishizawa-seminal-moriyama-housephotography-architecture-residential-japanesehouses/ Lisensi: © Edmund Sumner

Appendix 43


Bab 8 No 1

Caption (dalam narasi) Lukisan karya Mary Ellen Best yang dibuat pada tahun 19830an menggambarkan bagaimana kondisi interior dan kondisi kehidupan pada era Victoria.

Daftar gambar (di akhir logbook)

gambar

Media: lukisan cat air Tahun: ±1830 Oleh: Mary Ellen Best (1809–1891) Koleksi: York Museums Trust, Fine Art Collection. Koleksi no. YORAG : R2394 Link: https://www.yorkmuseumstrust.org.uk/collectio ns/search/item/?id=20003230 Lisensi: © York Museums and Gallery Trust

Wanita menggunakan ruang domestik sebagai ranah aktivitas dan personal mereka untuk melakukan berbagai macam kegiatan. 2

The Artist in Her Painting Room, York oleh Mary Ellen Best, dibuat pada tahun 1830an.

Media: lukisan cat air Tahun: ±1830 Oleh: Mary Ellen Best (1809–1891) Koleksi York Museums Trust, Fine Art Collection. Koleksi no. YORAG : R2396 Link: https://www.yorkmuseumstrust.org.uk/collectio ns/search/item/?id=20001839 Lisensi: © York Museums and Gallery Trust

3

Libbey-Owens-Ford promoted the “Kitchen of Tomorrow,” di mana teknologi dapat diterapkan secara efektif untuk mempermudah memasak bagi keluarga Anda.

Media: brosur iklan Tahun: 1943 Oleh: Libbey-Owens-Ford Co. Koleksi: University of Toledo Link: https://www.utoledo.edu/library/virtualexhibitio ns/hhvx/images/hhvx-cat.pdf Lisensi: domain publik

Appendix 44


4

Pameran Dunia New York yang disponsori oleh produsen kaca Amerika yang ditampilkan banyak produk baru untuk rumah, termasuk isolasi dan blok kaca.

Media: foto Tahun: 1964 Oleh: Koleksi: University of Toledo Link: https://www.utoledo.edu/library/virtualexhibitio ns/hhvx/images/hhvx-cat.pdf Lisensi: domain publik

5

Le Corbusier, ‘Ou` en est l'architecture, L’Architecture Vivante, Portfolio 1, Text, page 1. Edition Morance´.

Media: sketsa Tahun: 1927 Oleh: Le Corbusier Koleksi: Foundation Le Corbusier via NCBI Link: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC 1251640/figure/f4/ Lisensi © FLC/ADAGP, Paris and DACS, London 2004

6

Pen Pits (1936), watercolour by Edward Wadsworth (1889–1949). House designed by P J B Harland for Sir Arthur Bliss. Wadsworth, artist and engraver, was involved in dazzle camouflage for First World War warships and a founder member of avant-garde British art groups such as Unit One.

Media: lukisan tempera Tahun: 1936 Oleh: Edward Wadsworth (1889-1949) Koleksi: NCBI Link: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC 1251640/ Lisensi: © Estate of Edward Wadsworth 2004

7

‘At home by the open window’, Edinburgh Dispensary Scheme (1911), T.B. slides No. 23.

Media: foto Tahun: 1911 Oleh: Koleksi: NCBI Link: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC 1251640/figure/f6/ Lisensi: © Margaret Campbell 2005

8-9

kiri: Aino and Alvar Aalto, metal frame recliner for sun

Media: foto Tahun: 1937 Oleh: Paimio Koleksi: NCBI Link:

Appendix 45


terraces, Paimio (1937)

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC 1251640/figure/f14/ Lisensi: © Margaret Campbell 2005

kanan: Le Corbusier, chaise longue, 1928.

Media: foto Tahun: 1928 Oleh: Koleksi: Foundation Le Corbusier via NCBI Link: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC 1251640/figure/f15/ Lisensi: © FLC/ADAGP, Paris and DACS, London 2004

10

Living room with the ‘‘long chair’’ by Marcel Breuer in Jack and Molly Pritchard’s flat.

Media: foto Tahun: 1936 Oleh: Marcel Breuer Koleksi: NCBI Link: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC 1251640/ Lisensi: © Margaret Campbell 2005

11

View of the Lovell ‘Health House’ designed by Richard Neutra, menggunakan prinsip desain modernisme dengan atap datar dan banyak bukaan untuk kepentingan kesehatan.

Media: foto Tahun: Oleh: Julius Shulman Koleksi: Link: https://www.artsy.net/article/artsyeditorial-modernist-architects-believeddesigns-healthier Lisensi: © J. Paul Getty Trust, Getty Research Institute

12

Grace Miller in her home, Palm Springs, California, ca. 1937.

Media: foto Tahun: ±1937 Oleh: Julius Shulman Koleksi: Link: https://www.artsy.net/article/artsyeditorial-modernist-architects-believeddesigns-healthier Lisensi: © J. Paul Getty Trust, Getty Research Institute

13

Farnsworth house, designed by Ludwig Mies van der Rohe in 1951, an icon of 20th century modern architecture.

Appendix 46


14

Farnsworth house, designed by Ludwig Mies van der Rohe in 1951.

Media: foto Tahun: 2015 Oleh: Koleksi: Newberry Library, Chicago, Illinois via ArchDaily Link: https://www.archdaily.com/769632/sexand-real-estate-reconsidered-what-was-thetrue-story-behind-mies-van-der-rohesfarnsworth-house Lisensi: © Newberry Library, Chicago, Illinois

15

Edith Farnsworth di dalam rumahnya

Media: foto Tahun: Oleh: Oleh Gorman’s Child Photography(?) Koleksi: Newberry Library, Chicago, Illinois via ArchDaily Link: https://www.archdaily.com/769632/sexand-real-estate-reconsidered-what-was-thetrue-story-behind-mies-van-der-rohesfarnsworth-house Lisensi: © Newberry Library, Chicago, Illinois

Appendix 47


KINCLONG Exhibition

KINCLONG Exhibition