Masyarakat Indonesia, secara khusus yang memiliki perhatian pada masalah politik negeri ini, tengah berdecak kagum. Banyak media memberitakan dengan nada kekaguman pada seorang sosok aktivis mahasiswa yang berani meniup peluit pada presidennya dalam sebuah acara sambilmengacungkan “kartu kuning” – menurut berapa sumber sebenarnya adalah buku paduan suara dan ada yang berkata bahwa itu map kuning – laksana seorang wasit. Kritis dan berani, ia laksana pengadil atas penilaiannya terhadap kinerja pemerintah, khususnya masalah KLB gizi buruk dan campak ujung negeri. Menyuarakan agar pemimpin berbuat adil dalam kinerja pemerintahannya, meskipun dengan sensasi tertentu adalah suatu hal yang wajar. Tapi, seperti halnya dalam tulisan Prof. Dr. Hamka, dalam menjaga dan membela keadilan, rakyat umum wajib taat kepada Ulil Amri (pemerintah yang sah).