teknik kultur jaringan menggunakan bahan tanaman (eksplan) yang berasal dari serbuk sari atau kepala sari. c. Kultur protoplas ( protoplast culture), yaitu teknik kultur jaringan menggunakan bahan tanaman (eksplan) dari protoplasma (sel hidup tanaman yang telah dihilangkan dinding selnya). d. Kultur kloroplas (chloroplast culture), yaitu teknik kultur jaringan menggunakan bahan tanaman (eksplan) berupa kloroplas untuk memperbaiki sifat tanaman dengan cara membuat varietas baru. e. Kultur silangan protoplasma ( protoplast/somatic cross), yaitu teknik kultur jaringan menggunakan eksplan dari hasil penyilangan dua macam protoplasma menjadi satu yang kemudian dibiakkan hingga menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat baru dan lebih baik dari tanaman sumber protoplasma. Dari berbagai teknik kultur jaringan yang diuraikan tersebut, maka teknik yang paling digemari dan diterapkan oleh banyak kalangan terutama kalangan wirausaha adalah teknik kultur meristem karena prosesnya lebih sederhana dan mudah dilaksanakan. Oleh karena itu, pada bagian inipun akan disampaikan pembibitan jati dengan teknik kultur jaringan meristem dengan bahan eksplan dari tunas, sehingga disebut kultur tunas. Dalam pelaksanaan pembuatan bibit dengan teknik kultur tunas diperlukan peralatan dan bahan-bahan yang harus dipenuhi, misalnya lemari aliran udara steril (laminar air flow), lemari pertumbuhan (inkubator), mikroskop dengan lampu luar), sepasang pinset kecil atau pinset arloji, sepasang jarum runcing, pisau bedah atau silet (cutter), tabung pirex (12 x 100 mm), kertas saring steril, etanol 70%, dan larutan natrium hypokhlorit. Selain itu, perlu juga disiapkan bahanbahan yang lainnya, antara lain: bahan tanaman (planlet) dari tunas Jati, hormon tumbuh Kinetin atau Benziladenin, hormon Auksin (NAA) berkonsentrasi 10; 5; 0,5; dan 0,1 ¾M, serta hormon Giberelat (GA3) berkonsentrasi 1—0,001 ¾M. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan kultur jaringan adalah penggunaan media tumbuh yang cocok, oleh karena itu dalam
Indriyanto
175
TEKNIK DAN MANAJEMEN PESEMAIAN
BAB 8. TEKNIK PEMBIBITAN BEBERAPA SPESIES POHON HUTAN