Issuu on Google+


MOVIEMAGZ MOVIEMAGZ TEAM

CHIEF OFFICER : Starkiller

Dari Redaksi :

CONSELOR : dhukhun Editor Hary Susanto QC.P (Quality Control Person) _n1A_ DESIGNER starkiller Quilava, The Unfortunate Kyd mysecondhenz MARKETING : dhukhun & achoenk WRITER :

Hary Susanto, Ajoem AzwarHamzah, Eichi01, Renian, Tyo, Simplicious, lyna_3n bleach77, AdR

Edisi Mei 2014

Musim Blockbusters Movies memang belum dimulai. Tetapi para Superhero sudah memulai menginvasi bioskop-bioskop kesayangan kita, dimulai dengan Captain America the Winter Soldier yang merajai Box office bulan April kemarin, dan saat ini The Amazing Spiderman tengah bercokol hampir di semua bioskop di Indonesia. Lalu X-Men Days of Future Past akan memboyong semua jagoan mutan mereka di akhir Mei nanti. Perfilman negeri kita sendiri juga tidak kalah ramai, beberapa judul unggulan juga telah tayang dibioskop seperti, Me & You vs The World, Jalanan, 3600 detik dan juga sebuah Film action Guardian.


IDFL.ME

IDFL.ME


contents


APRIl & MEY 2014 Movies The amazing spiderman

10

x-men days of future past

18

Captain america winter soldier Under the skin Dom hemingway Heaven is for real Transcendence

26 40 42 44 48

22 States

50

Godzilla

52

Specials features Rio 2

56

Joe

58

Sabotage Nonstop

60

Enemy

66

64

Amazing Actrees & Director ScarlettJohansson Carlos saldanha

36 54


04 APRIL 2014

02 MEY 2014

04 APRIL 2014

02 APRIL 2014

11 APRIL 2014

11 APRIL 2014

28 APRIL 2014

16 MEY 2014

23 MEY 2014


Calendar

MARCH MOVIES


Andrew Garfield, Emma Stone, Jamie Foxx, Paul Giamatti Dane DeHaan, Felicity Jones THE AMAZING

SPIDER -MAN

2

Director: Marc Webb Writers: Alex Kurtzman, Roberto Orci


B

agi penggemar film, bisa jadi The Amazing Spiderman 2 merupakan salah satu film yang paling ditunggutunggu di tahun 2014. Yup, setelah sukses dengan filmnya yang pertama di tahun 2012, kini sekuel The Amazing Spiderman siap hadir untuk menghibur para penggemarnya dan para penyuka film super hero di tahun 2014 ini. Jika tidak ada hambatan, film The Amazing Spiderman 2 akan dirilis serentak pada tanggal 2 Mei 2014 di bioskop-bioskop seluruh negara, termasuk Indonesia. Rencana pembuatan sekuelnya ini sebenarnya telah diungkapkan oleh sang produser, Matt Tolmach. Ia mengatakan bahwa film The Amazing Spiderman dipastikan memiliki sekuel, dan sekuelnya itu tidak hanya satu film. Pada akhir cerita The Amazing Spiderman pun, penonton sudah diberikan sedikit bocoran mengenai siapa musuh yang akan dilawan oleh Spiderman dalam film keduanya nanti.


THE AMAZING SPIDER-MAN 2 ama seperti film pertamanya, The Amazing Spiderman 2 akan kembali disutradarai oleh Marc Webb. Tadinya Webb sempat menyatakan keraguannya untuk bisa kembali duduk di kursi sutradara. Namun pada bulan September 2012 akhirnya Webb pun menyatakan kepastiannya untuk kembali menyutradarai sekuelnya ini. Pada tanggal 4 Februari 2013, Webb mengumumkan di akun Twitternya bahwa pengambilan gambar pertama The Amazing Spiderman 2 telah dimulai. Ada beberapa perubahan yang dilakukan dalam film Spiderman kali ini. Proses pengambilan gambar tidak lagi dilakukan secara digital, namun dilakukan pada film 35mm dalam

S

format anamorphic. Ini membuat prosesnya lebih rumit namun menghasilkan kualitas gambar yang lebih tajam. Pihak Sony Pictures selaku pemegang lisensi film Spiderman juga mengungkapkan bahwa inilah film Spiderman

pertama yang keseluruhan lokasi syutingnya dilakukan di New York, sehingga ini menjadikan The Amazing Spiderman 2 sebagai film pertama sekaligus terbesar yang pernah dibuat di kota New York. Sedangkan untuk komposer musiknya, James Horner akan digantikan oleh Hans Zimmer. Pastinya kalian sudah tahu kan hasil karya komposer besar ini yang telah menciptakan berbagai soundtrack film-film besar seperti The Lion King, Gladiator, dan The Dark Knight. Sama seperti Webb, para pemeran utama dalam The Amazing Spiderman pertama akan kembali mengisi peran yang sama dalam sekuelnya ini. Andrew Garfield akan kembali berperan sebagai Peter Parker/Spiderman dan Emma Stone berperan sebagai Gwen Stacy. Selain


Peter Parker: You know what it is I love about being Spider-Man? Everything!

wajah-wajah lama, akan muncul beberapa wajah baru seperti Jamie Foxx yang menjadi musuh Spiderman bernama Electro, Dane DeHaan yang berperan sebagai Harry Osborn, serta Chris Cooper yang menjadi Norman Osborn. Menariknya, sebenarnya pihak penulis cerita berniat memunculkan karakter Mary Jane. Namun karena dianggap dapat merusak kisah hubungan antara Peter Parker dan Gwen Stacy, maka karakter Mary Jane batal dimunculkan. Trailer The Amazing Spiderman 2 yang berdurasi 4 menit pertama kali dirilis Sony Pictures pada tanggal 17 Juli 2013 pada even San Diego Comic-Con International. Namun trailer resmi pertamanya baru dirilis pada saat pembukaan film The

Hobbit : The Desolation of Smaug pada bulan Desember 2013. Dalam The Amazing Spiderman 2, diceritakan hubungan Peter Parker dan Gwen Stacy masih terjalin dengan baik. Meskipun terkadang Peter masih dihantui oleh pesan terakhir ayah Gwen yang memintanya untuk menjauhi anaknya, namun Peter memutuskan untuk tetap dekat dengan Gwen. Di tengah kesibukannya sebagai pelajar sekolah dan tanggung jawabnya sebagai Spiderman, muncul sebuah masalah baru. Seorang penjahat kuat bernama Electro mengancam keselamatan penduduk kota New

York. Sosok asli dibalik wujud Electro adalah orang bernama Max Dillon. Sebenarnya Max adalah seorang karyawan biasa yang bekerja sebagai teknisi mesin di perusahaan Oscorp. Ia juga mengidolakan sosok Spiderman yang dianggapnya sempurna. Namun karena suatu kecelakaan, Max berubah menjadi jahat dan mampu mengendalikan kekuatan listrik. Sejak itu ia pun mengubah jati dirinya menjadi Electro. Ia pun mengincar Spiderman yang dianggap sebagai musuh yang memiliki kekuatan setara dengannya. bleach77


THE AMAZING SPIDER-MAN 2

P

ada saat Peter berusaha melawan Electro dan melindungi penduduk kota New York, ia menemukan sebuah fakta mengejutkan tentang ayahnya. Secara tidak sengaja Peter menemukan sebuah ruang rahasia yang berisi berbagai penemuan yang dibuat oleh ayahnya. Bersama dengan penemuan tersebut, ia juga menemukan sebuah video. Dalam video tersebut, ayah Peter menjelaskan alasan mengapa ia menyembunyikan penemuan-penemuan yang telah dibuatnya. Ia mengatakan bahwa penemuannya tersebut bisa berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah, sehingga ia merasa harus menyembunyikannya agar tidak digunakan untuk mencelakakan dunia. Dalam waktu yang bersamaan, Peter juga bertemu kembali dengan sahabat lamanya, Harry Osborn. Namun Peter menyadari bahwa Harry yang sekarang sudah berbeda.

Harry yang sekarang sudah menunjukkan ambisinya untuk menguasai perusahaan Oscorp yang dimiliki ayahnya, Norman Osborn. Peter juga merasa ada keterkaitan antara penemuan yang dibuat oleh ayahnya dengan perusahaan Oscorp. Mampukah Peter memecahkan teka-teki tentang masa lalunya ini sekaligus menghadapi Electro yang mengancam keselamatan penduduk kota New York? Lalu bagaimanakah perkembangan hubungan antara Peter dan Gwen? Untuk mengetahuinya, kita harus menunggu film yang akan dirilis dalam format 2D serta 3D ini tayang di Indonesia. Sedikit tips, dalam The Amazing Spiderman pertama, efek 3D dalam filmnya begitu terasa sehingga membuat penonton begitu terpukau. Sehingga tidak ada salahnya untuk menikmati sekuelnya ini dalam format 3D untuk merasakan aksi-aksi Spiderman secara lebih nyata.


Spider-Man bergabung dalam Avengers ?

M ANDREW GARFIELD

PETER PARKER

eski dalam versi komik Spider-Man adalah tim Avenger, namun karena hak ciptanya dibeli oleh Sony Pictures maka Spider-Man tidak bisa bergabung dengan “The Avengers” yang menjadi hak Marvel Studios bersama Walt Disney Pictures. Tetapi Belum lama ini produser “The Amazing Spider-Man 2”, Avi Arad, mengungkapkan bahwa di masa depan tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi, jika suatu saat franchise “SpiderMan” sudah kehabisan ide. Untuk saat masih ada banyak hal yang bisa dieksplorasi tentang ‘Spider-Man’. Ada banyak cerita yang perlu digali tentang ‘The Sinister Six’. Selain itu juga ada hubungan antara Spider-Man dan Venom yang akan menciptakan sebuah dunia baru. Sehingga tidak mungkin Spider-man untuk bergabung dalam “The Avengers” dalam waktu dekat ini.

The Amazing Spider-Man 2 Rajai Box Office

S

etelah memecahkan rekor di Amerika Serikat dalam perilisannya tempo hari. Kini sekuel petualangan Spider-Man yang dibintangi oleh Andrew Garfield dan juga Emma Stone ini melanjutkan tren positif dengan merajai chart Box Office di Inggris. Film yang menelan biaya 200 USD ini juga menyedot jutaan penonton di Korsel hanya dalam waktu 4 hari sejak dirilis 23 April lalu ini. Proses syuting The Amazing Spiderman sendiri telah berjalan sejak awal bulan Februari 2013, dengan mengambil tempat di Brooklyn dan Rochester, New York.

EMMA STONE GWEN STACY


Moviemagz

MOVIES REVIEWS

Sebagai salah satu sekuel superhero yang paling dinanti tahun ini, Tahe Amazing Spider-Man 2 sudah memenuhi segala ekspektasimu. Webb masih setia mengikuti pakem awal yang sudah dibuatnya tiga tahun lalu. Spidey versinya masih dihiasi oleh narasi dan romansa yang semakin kuat dan emosinal, aksi spektakuler menggelegar dan kali ini lebih banyak villain berbahaya yang kehadirannya tak sampai merusak cerita

T H E AMAZING

SPIDER-MAN 2

M

arc Webb telah membangaun pondasi awal yang bagus lewat The Amazing Spider-Man (2012), baik naskah maupun set piecenya dan pastinya ratusan juta dollar yang berhasil diraup sudah menjadi modal besar buat sekuelnya. Apalagi ada benang merah besar yang di ceritanya dalam wujud masa lalu Peter dan the “man in shadows‘ yang akan membuat setiap serinya seperti tidak bisa terpisahkan, seperti ingin mencipatkan peluang universe yang lebih besar ke depannyasesuatu yang tidak dihadirkan Raimi, So, here it is! The Amazing Spider-Man 2, hadir sebagai hidangan pembuka dari menu

serbuan blockbuster musim panas tahun ini. Skrip awal milik James Vanderbilt yang kemudian ditulis ulang oleh Alex Kurtzman dan Roberto Orci plus Jeff Pinker membuang semua keterlibatan Mary Jane sama sekali yang sebelumnya sudah sempat dilakukan penggambilan gambar dengan Shailene Woodley sebagai sang love interst abadi Peter. Menampilkan lebih banyak lagi cerita cinta antara Peter dan Gwen dengan kualitas keintiman yang lebih ditingkatkan. Romansa Peter dan Gwen dengan balutan chemistry solid dari pasangan dunia nyata Andrew Garfield dan Emma Stone bekerja maksimal menghadirkan komposisi romantika

manis dan humor segar sampai pada suatu titik ia akan menghancurkan hatimu, baik para penonton awam maupun para fanboy komiknya yang sebenarnya sudah bakal tahu bagaimana The Amazing Spider-Man 2 akan menghadirkan klimaksnya. Drama yang solid serta emosi dan hati yang besar yah, meskipun harus diakui sedikit terlalu panjang mengingat ada ambisi begitu besar untuk memasukan lebih banyak masalah ke dalamnya. Salah satu dari masalah itu selain tentu saja benang merah besar berwujud masa lalu Peter yang ditampilkan dengan opening awal yang melibatkan proses “kematian” Richard dan Mary Parker (Embeth Davidtz) yang lalu ditutup lagi dengan kehadiran (lagi) nada


MOVIES REVIEWS

misterius the “man in shadows‘ yang berbicara dengan Hary Osborn sampai kemudian ia melepaskan pejahat Rusia, Aleksei Mikhailovich Sytsevich (Paul Giamatti) dari penjara dalam bentuk Rhino dengan mechanical suit-armor canggih. Musuh besar buat sang manusia laba-laba adalah Electro, tukang listrik Oscorp yang karena sebuah kecelakaan aneh (seperti biasanya) merubah Max Dillon (Jamie Foxx) menjadi sosok Electro, sang supervillain dengan kemampuan mengontrol listrik. Rhino, Electro dan seperti masih belum cukup ramai, Webb kemudian memasukan Green Goblin untuk menambah kekacauan yang akan dihadapi Spider-Man.

Di sini Electro mendapatkan jatah terbanyak, lalu disusul oleh Green Goblin yang dibawakan secara mengesankan oleh Dane DeHaan, sementara Rhino hanya tampil sebentar di awal,membuka jalan untuk kisah utamanya dan di akhir untuk menutup Rise of Electro dengan kemunculan yang sama sekali berbeda. Semuanya mendapat giliran tampil secara terorgansir sehingga berimbas dengan baik pada pengembangan struktur cerita yang lebih rapi. Spidey masih sama cerewet dan menghiburnya seperti yang seharusnya. Dan tidak hanya mengayunkan diri melewati gedunggedung tinggi New York, Webb memoles semua adegan berayun

itu dengan dukungan CGI canggih, kamera sinematografer Daniel Mindel bergerak luwes mengikuti sang jangoan yang ditangkap melalui berbagai sudut pandang, terkadang penontonnya seperti dibawa membumbung dan menukik, membentuk sebuah parade action spektakuler. Jelas ada peningkatan besar ketimbang pendahulunya, dan faktor Electro membuat tampilan The Amazing Spider-Man 2 menjadi terasa lebih fantasitis lagi ketika semburan listrinya mampu disajikan cantik di layar lebar lengkap dengan dentuman scoring elektronik garapan Hans Zimmer dan The Magnificent Six yang terdengar ramai sekaligus aneh.

Review by : Harry Susanto (MOVIENTHUSIAST)


Patrick Stewart, Ian McKellen, Hugh Jackman , Ellen page Michael Fassbender, Nicholas Hoult, James McAvoy

Director: Bryan Singer Writers: Simon Kinberg , Jane Goldman


The ultimate X-Men ensemble fights a war for the survival of the species across two time periods in X-Men: Days of Future Past. The characters from the original X-Men film trilogy join forces with their younger selves from X-Men: First Class in an epic battle that must change the past – to save our future.�


X-Men: Days of Future Past

Fox

Studios menjawab berbagai kritik terhadap X-Men: First Class, dengan mengangkat salah satu judul paling terkenal dari komik X-Men yang pernah dibuat : Days of Future Past. Hasil adaptasi dari komik klasik karangan Chris Claremont dan John Byrne, yang menceritakan tentang perjalanan X-Men melintasi ruang waktu. Kisah tentang para jagoan X-Men kembali ke masa lalu untuk mengubah kehancuran mereka di masa depan lewat

pertempuran epic yang melibatkan semua karakter asli dari film “X-Men� trilogi. Mereka bergabung bersama untuk berperang demi mempertahankan kelangsungan ras mereka di dua waktu yang berbeda. Para karakter dari film original trilogi X-Men bergabung dengan diri mereka yang lebih muda dari X-Men: First Class di sebuah pertempuran yang harus mengubah masa lalu untuk menyelamatkan masa depan mereka Dikisahkan masa depan adalah masa yang kelam bagi para

para mutan, dimana mereka diburu serta dibunuh oleh robot raksasa Amerika bernama Sentinels. Untuk mencegah hal tersebut Professor X (Patrick Stewart) mengirim Wolverine (Hugh Jackman) untuk kembali ke masa lalu, tepatnya di tahun 1973. Wolverine bertugas untuk membantu Professor X muda (James McAvoy) dan mutanmutan lainnya. Mereka harus bersatu untuk menghentikan aksi Sentinels, robot yang diprogram untuk memburu dan membunuh


para mutan. Film ini mengambil setting 10 tahun setelah X-Men: First Class dan 10 tahun setelah X-Men: Last stand. Disutradarai kembali oleh Bryan Singer, X-Men: Days of Future Past merupakan film ketujuh dari seri X-Men dan merupakan film ketiga yang digarap Singer setelah X-Men pada 2000 dan X2 pada 2003. X-Men: Days of Future Past Mengambil lokasi setting diberbagai tempat di belahan dunia antara lain : Rusia, China, dan Jepang. Selain untuk menyesuaikan dengan jalan cerita, sang sutradara Bryan Singer berencana

menghadirkan cita rasa baru yang lebih internasional. Konsep masa lampau dan masa depan yang di usung film ini memungkinkan Singer untuk membawa semua aktor yang pernah membintangi film X-Men. Mulai dari Hugh Jackman, Ian McKellen, Patrick Stewart, Halle Berry, Ellen Page, Shawn Ashmore, James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence, dan Nicholas Hoult. Tentu saja X-Men: Days of Future Past akan menjadi sebuah kisah epik dalam sejarah X-Men.


S

entinels merupakan ancaman utama dalam kisah X-Men: Days of Future Past. Sosok yang dianggap bertanggung jawab terhadap lahirnya Sentinels adalah Bolivar Trask yang diperankan oleh Peter Dinklage. Nama aktor mungil ini mulai dikenal setelah berperan sebagai Tyrion Lanister dalam sebuah serial televisi sukses HBO berjudul Game Of Throne. Bolivar Trask adalah pendiri dari Trask Industries, sebuah perusahaan raksasa dalam dunia fiksi X-Men. Bolivar Trask sendiri adalah seorang ahli genetika dan teknologi, yang mengkhususkan diri dalam riset memajukan kehidupan manusia dan melindungi umat manusia dari ancaman mutan. Perwakilan pembuat film yaitu desainer produksi John Myhre memiliki penjelasan tersendiri mengenai desain karakter Future Sentinel. “Mereka adalah senjata

biomekanik. Kami harus muncul dengan sesuatu yang menjadi versi terakhir dan benar-benar bisa menghentikan X-Men,� ujarnya kepada pihak majalah Empire. John juga mengaku bahwa mereka memiliki ide saat membuat pelat magnetik yang sangat besar. Mereka membayangkan jika pelat yang dibuatnya bisa berkontraksi dan tumbuh. Future Sentinel pun dibuat bisa menjadi kurus saat melewati ruang kecil. Pelatnya pun bisa membuka diri untuk menjadi bentuk yang lebih besar. Bryan Singer juga sempat mengunggah fotonya bersama salah satu Sentinel. Dalam foto tersebut tampak ukuran asli Sentinel jika dibandingkan dengan manusia. Beberapa detil bagian Sentinel juga ditampakkan. Seperti misalnya senjata di tangan kanan Sentinel dan tulisan SNTNL2 yang dapat diartikan Sentinel Mk 2.


S

elain Wolverine franchise X-Men juga berhasil mengangkat nama Mystique lewat beberapa filmnya. Keberhasilan Jennifer Lawrence memerankan karakter ini dengan baik dan cukup menarik perhatian. Sehingga baru-baru ini produser X-Men: Days of Future Past, Simon Kinberg, mengungkapkan kemungkinan karakter Mystique dapat digali lebih dalam lagi dengan dibuatkan spin-offnya. Sayangnya, hingga saat ini mereka masih belum bisa mewujudkannya. Namun tidak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi di masa depan. Mengingat nama besar seorang Jennifer Lawrence bisa menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Sampai saat ini di antara sekian banyak karkater X-Men yang pernah muncul dalam versi film, hanya Wolverine yang pernah dibuat spin-off. Selain Mystique, Deadpool dan Gambit juga disebut-sebut masuk dalam daftar Fox Studio. Bahkan nama Channing Tatum sempat dikaitkan dengan Gambit, Tatum sendiri mengaku memiliki ketertarikan dan sempat mendapat tawaran untuk peran Gambit. Jennifer Lawrence kembali menunjukkan

totalitasnya, demi tuntutan peran Mystique, Jennifer harus rela seluruh tubuhnya dibalut cat biru, mengenakan wig merah dan lensa kontak kuning. Aktris peraih Oscar itu juga harus berdiri atau duduk di kursi sepeda selama kurang lebih 8 jam untuk menyelesaikan proses riasannya. Jennifer berperan sebagai Mystique menggantikan Rebecca Romijn yang telah bermain dalam trilogi X-Men. Sari segi kostum juga sedikit berbeda dengan yang dikenakannya dalam film pertama. Di saat itu, Lawrence hampir telanjang dan ditutupi dengan make-up. Sementara di sekuelnya ini, ia lebih dimudahkan dengan hanya mengenakan sebuah body suit. Warna biru juga tampak lebih gelap sehingga dengan yang ditampilkan oleh Rebecca Romijn pada film-film awal X-Men.


A

cara San Diego Comic Con 2013 kemarin menjadi sebuah momen istimewa. Di mana Bryan Singer memberi kejutan kepada pengunjung dengan memboyong hampir semua pemain X-Men: Days of Future Past untuk menghadiri acara yang diadakan pada Minggu (21/07). Sebuah kesempatan langka pengunjung bisa bertatap muka dengan pemain X-Men seperti Hugh Jackman (Wolverine), Halle Berry (Storm), Jennifer Lawrence (Mystique), Nicholas Hoult (Beast), Peter Dinklage, Ellen Page (Shadowcat), Shawn Ashmore (Iceman), Anna Paquin (Rogue) dan banyak lagi. Kedua pemeran Professor X, Patrick Stewart dan James McAvoy, serta kedua pemeran Magneto, Ian McKellen dan Michael Fassbender, tampak menghadiri acara tersebut. Dalam kesempatan itu pula Bryan Singer mengatakan bahwa di masa mendatang bakal ada film X-Men lainnya yang bakal dibuat. “Dunia X-MEN

lebih besar dari dunia superhero Marvel dan DC. Ada kesempatan untuk mengembangkan filmnya,� ujar sang sutradara. Tentu saja ini merupakan kabar yang akan disambut dengan gembira oleh penggemar X-men. Setelah tahun 2014 ini tepatnya pada 23 Mei tayang X-Men: Days of Future Past, selanjutnya dijadwalkan pada tahun 2016 nanti akan dirilis film selanjutnya X-Men: Apocalypse. Dipastikan keterlibatan kembali Bryan Singer dan sejumlah pemain X-men sebelumnya seperti Jennifer Lawrence, James McAvoy, Michael Fassbender.


W

olverine menjadi tokoh yang paling menonjol dibandingkan tokoh X-Men lainnya. Bahkan 20th Century Fox sudah membuatkan dua film tersendiri untuk Tokoh bercakar besi ini. Seiring kesuksesan X-Men merajai Box Office di berbagai negara semakin melambungkan nama Hugh jackman pemeran Wolverine. Pemilihan Hugh jackman untuk peran Wolverin adalah salah satu casting tokoh superhero terbaik dalam satu dekade ini, bersama dengan Robert Downey, Jr yang memerankan Iron Man. Bahkan baru-baru ini majalah Forbes memasukkan namanya dalam peringkat ketiga di jajaran aktor dengan bayaran termahal versi Forbes tahun ini. Hugh Jackman bahkan bisa saja menduduki posisi teratas, seandainya kabar yang beredar benar bahwa 20th Century Fox siap membayarnya senilai $100 miliar, atau lebih dari Rp 1 triliun, untuk 4 film WOLVERINE berikutnya. Sayangnya dalam sebuah kesempatan Hugh Jackman sempat membuat pernyataan bahwa film solonya Wolverine 3 nanti kemungkinan adalah film terakhirya memerankan mutan serigala. Disebutkan juga bahwa Hugh sedkit kecewa dengan Wolverine yang dianggapnya kurang sukses dipasaran. Hugh Jackman telah memainkan karakter Wolverine dalam empat film X -Men dan dua film Wolverine solo. Bagi sebagian fans X-Men tentu akan kecewa, mengingat sosok hugh Jackman sudah begitu menyatu dengan Wolverine. Tapi ini juga merupakan kesempatan besar bahwa X-Men akan terus berkembang nantinya. Untuk saat ini kita bisa puas dengan kembali melihat beraksinya mutan bercakar besi dalam X-Men: Days of Future Past.


Chris Evans, Samuel L. Jackson, Scarlett Johansson

CAPTAIN AMERICA THE WINTER SOLDIER Director: Anthony Russo, Joe Russo Writers: Christopher Markus, Stephen McFeely


S

etelah meraih sukses lewat film Captain America : The First Avengers serta The Avengers, bersiaplah untuk melihat kembali aksi Captain America dalam film terbarunya yang diberi sub judul The Winter Soldier ini. Film ini dirilis serentak di seluruh negara pada tanggal 26 Maret 2014. Berita mengenai pembuatan sekuel film Captain America ini sebenarnya telah diketahui banyak orang karena pada saat perilisan film pertamanya di tahun 2011, Christopher Markus dan Stephen McFeely yang merupakan penulis cerita film Captain America : The First Avengers, mengatakan bahwa mereka sedang mengerjakan proyek sekuelnya. Tampaknya mereka yakin bahwa film Captain America ini akan diterima oleh para penikmat film. Dan ternyata keyakinan mereka memang menjadi kenyataan karena film tersebut meraih sukses besar. Agar film sekuelnya ini bisa lebih baik dari film pertamanya, pihak studio tampaknya benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Ini terlihat dari pencarian sutradara serta para pemain pendukung yang sudah dilakukan sejak tahun 2012. Sekuel film Captain America ini tidak lagi disutradarai oleh Joe Johnston, namun digantikan oleh Anthony Russo dan Joe Russo. Sedangkan

untuk bagian penulis skenario tetap dikerjakan oleh Christopher Markus dan Stephen McFeely. Selain Chris Evans yang kembali berperan sebagai Captain America, film ini juga akan dibintangi oleh Scarlett Johansson, Sebastian Stan, serta Samuel L.Jackson . Salah satu hal yang spesial dalam film ini adalah keikutsertaan aktor senior Hollywood Robert Redford yang telah berpengalaman di dunia akting. Dalam suatu wawancara, Redford mengatakan bahwa ia tertarik bergabung karena kecanggihan teknologi yang disajikan dalam film superhero bersenjatakan tameng tersebut. Dari segi cerita pun, Chris Evans menjanjikan bahwa sekuelnya ini akan lebih menarik karena adanya pengembangan karakter Steve Rogers/Captain America. Ini dikarenakan banyaknya komplain yang mengatakan bahwa karakter Captain America kurang digali lebih mendalam dalam film The Avengers, sehingga sikapnya pun dianggap ganjil saat ia terbangun di abad ke-21 setelah membeku selama puluhan tahun lamanya sejak perang dunia kedua. Meskipun sudah ada adegan tambahan yang memperlihatkan hal tersebut melalui versi DVD maupun Blu-ray, akan tetapi masih terdapat kekurangan yang harus dilengkapi. Sehingga, kisah bagaimana Captain America beradaptasi terhadap abad 21 pun akan diperdalam dalam Captain America: The Winter Soldier. bleach77


F

ilm ini mengisahkan kejadian setelah peristiwa bencana di New York dengan The Avengers. Steve Rogers tengah menjalani hidup dengan tenang di Washington DC dan mencoba menyesuaikan diri dengan dunia modern. Namun ketenangan ini rupanya tidak berlangsung lama karena mendadak salah seorang anggota S.H.I.E.L.D diserang oleh orang yang tidak dikenal. Steve pun

kemudian ditugaskan untuk mencari tahu latar belakang dibalik penyerangan tersebut. S.H.I.E.L.D juga meminta bantuan Black Widow (Scarlett Johansson) dan sekutu baru bernama Falcon (Anthony Mackie) untuk membantu Steve menangani masalah ini. Nama asli Falcon adalah Samuel T.Wilson dan ia adalah seorang pelatih burung liar serta memiliki kemampuan untuk berbicara dan mengendalikan burung-burung tersebut. Diceritakan

bahwa Wilson merupakan seorang pekerja sosial di Harlem yang direkrut oleh Red Skull. Ia lalu menggunakan Cube Cosmic untuk memberikan Wilson kekuatan batin yang memungkinkannya untuk berkomunikasi dengan burung sehingga ia bisa mengendalikan mereka. Namun pada akhirnya Wilson mengetahui jati diri Red Skull yang sesungguhnya dan


ia pun melarikan diri. Tak lama kemudian ia bertemu Steve yang meyakinkannya untuk menjadi superhero dan membantu umat manusia. Maka sejak saat itu Falcon pun bergabung ke dalam S.H.I.E.L.D. Mereka lalu mengetahui bahwa pelaku penyerangan terhadap anggota S.H.I.E.L.D tersebut adalah Winter Soldier. Namun alangkah terkejutnya Steve begitu mengetahui jati diri Winter

Soldier yang sesungguhnya yang tidak lain adalah Bucky Barnes (Sebastian Stan) yang merupakan teman dekatnya. Pada film pertamanya, diceritakan bahwa Bucky terjatuh ke dalam jurang karena membantu Steve dalam suatu pertarungan. Ternyata Bucky belum meninggal. Tubuhnya yang membeku dan kehilangan salah satu lengannya ditemukan oleh pihak Rusia. Mereka pun lalu membawa Bucky ke Moskow dan

memberikannya lengan buatan. Namun sayangnya Bucky kehilangan seluruh ingatan masa lalunya. Pihak Rusia lalu memutuskan untuk memprogram ulang ingatannya dan mengubahnya menjadi alat pembunuh bagi negara mereka yang disebut Winter Soldier. Mampukah Steve mengatasi perasaannya dan melawan Bucky yang sama sekali tidak mengingatnya? Dan bisakah ia mengembalikan ingatan teman baiknya tersebut seperti sedia kala?


P

asca The Avengers 2012 lalu, fase kedua dari MCU (Marvel Cinematic Universe) akan selalu memulai segalanya dengan kata “setelah New York”. Ya, setelah New York, Tony Stark mengalami serangan panik, berhadapan dengan Mandarin palsu dan diakihir dengan menghacurkan seluruh ‘mainannya’ di Iron Man 3. Setelah

Review By Hary Susanto MOVIENTHUSIAST

New York, Thor kembali ke bumi di sekuelnya, The Dark World guna menyelamatkan kekasihnya, Jane dari Aether milik Dark Elf dan megindikasikan kembalinya Loki. Dan setelah New York, Captain America juga punya ceritanya sendiri yang tentu saja kali ini lebih besar, lebih banyak actionnya, dan lebih banyak teka-teki yang

terdapat di film keduanya ini. Di film keduanya ini Cap mendapatkan sebuah seragam baru yang lebih keren dan tentunya kostumnya mengikuti versi komiknya, super soldier yang satu ini dirinya tidak akan bermaian sendiri tapi ia di temani oleh seorang agen cantik dan seksi yang mempunyai sandi Black


Widow (Scarlet Johannsen), selain itu film ini juga memperkenalkan karkater superhero baru yaitu Falcon (Anthony Mackie) yang lincah mengangkasa untuk menghadapi masalah baru, sebuah konpirasi besar mematikan yang melibatkan politik, S.H.I.E.L.D, Nick Fury (Samuel L.Jackson) dan salah satu pemimpin seniornya

macam Tony Stark yang berlidah runcing dan juga tidak ada Loki “the entertainer” di sini, jadi tidak mengherankan jika tonenya memang sedikit lebih serius guna menyesuaikan tema dan ancamannya yang juga lebih serius, seperti misalnya, The Winter Soldier.

Meskipun porsi humornya sedikit tergerus oleh tone-nya yang lebih serius, komposisi sempurna antara narasi politik, action seru dan kedalaman karakternya membuat Captain America: The Winter Soldier tampil jauh lebih baik dari seri pertamanya, bahkan tidak berlebihan terbaik dari seluruh Marvel Phase 2. Seperti biasa, jangan lewatkan penampakan mid creditnya yang menghadirkan beberapa karkater penting buat sekuel The Avengers tahun depan.

Alexander Pierce (Robert Redford), serta hantu dari masa lalu berwujud Winter Soldier. Captain America: The Winter Soldier dibawah arahan duo bersudara Anthony dan Joe Russo ini mengalami peningkatan skala dalam hal apapun, seperti yang saya sebutkan diatas. Tetapi jangan harapakan eskapisme biasa, The Winter Soldier itu adalah thriller politik dengan banyak sentuhan spy thriller ala Bourne lengkap bersama adegan kejar-kejaran menegangkan ketika Nick Fury disergap di jalan-jalan Washigton D.C dan pertarungan jarak dekat sang Kapten yang dilengkapi dengan koreografi apik, jauh dari kekakuan The First Avengers. Tetapi perombakan terbesar sebenarnya terjadi pada naskahnya yang diluar dugaan jauh lebih bagus, berbobot, dan penuh teka-teki. The Winter Soldier tidak menawarkan humor seperti dua koleganya, toh, Steve Rogers sendiri sebenarnya terlalu hitam-putih untuk dijadikan objek bercanda, ia bukan tipe superhero slengean

Steve Rogers: This isn’t freedom. This is fear.

Pastinya pengunaan sub judul “The Winter Soldier” bukan tanpa arti, ada villain baru yang menamakan dirinya Winter Soldier, sosok super soldier misterius yang kekuatannya sama dengan Captain America. Menariknya, karakter Winter Soldier itu bukan sosok villain biasa, naskah garapan Christopher Markus dan Stephen McFeely memberinya origins yang disadur dari komiknya, sebuah origins kelam yang akan terasa sangat personal dengan sejarah Steve Rogers. Jika kamu adalah seorang fan boy sejati.


Captain America The Winter Soldier

Sementara karakter-karakter lain juga tidak terasa disia-siakan. Natasha Romanoff mendapatkan porsi sama besarnya dengan sang Kapten, lebih ‘intim’ karena keduanya memiliki krisis kepercayaan yang sama. Pentolan S.H.I.E.L.D, Nick Fury bahkan punya momen kerennya sendiri. Lalu kemunculan superhero baru bernama Sam Wilson alias Falcon juga turut di perkenalkan di dalam film ini. Sementara nama-nama baru lainnya juga tidak mengecewakan. Ada Robert Redford sebagai Alexander Pierce yang mencurigakan, ada si cantik dari serial televisi Revange, Emily VanCamp didapuk sebagai Sharon Review By Hary Susanto MOVIENTHUSIAST

Carter alias Agent 13 dan Maria Hill yang masih dimainkan oleh Cobie Smulders. Memang Russo bersaudara ini dalam hal filmografi-nya saja masih sangat sedikit, mereka pernah mempunyai satu film komedi dan dua film kecil. Buang dugaan kalian yang jelek-jelek tentang Russo bersaudara ini dan tanpa diluar dugaan film keduanya ini tampil fantastis ketika harus

Steve Rogers: The price of freedom is high... and it’s a price I’m willing to pay! You told me not trust anyone and this is how it ends: EVERYTHING goes!

mengemban tugas membawa Captain America: The Winter Soldier agar tampil sama besarnya dengan film Marvel lainnya, atau paling tidak lebih baik ketimbang seri pertamanya, dan mereka melakukannya dengan sangat baik. Komposisi aksi, ketegangan, ledakan dan spesial efek berhasil ditampilkan berimbang dengan dramanya. Russo bersaudara ini tahu benar kapan harus berhenti dan kapan harus memacu tensi di dalam filmnya, sulit dipercaya jika mengetahui bahwa Captain America: The Winter Soldier ini dibuat oleh sutradara You, Me and Dupree.


THE WINTER SOLDIER

B

agi kalian yang sedang menunggu perilisan film Captain America : The Winter Soldier, mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa orang misterius yang berada di balik topeng Winter Soldier adalah Bucky Barnes yang merupakan teman dekat Steve Rogers. Namun mungkin banyak yang belum mengetahui latar belakang karakter yang satu ini. Karakter Bucky pertama kali muncul pada komik Captain America edisi 1 pada bulan Maret 1941. Karakter ini diciptakan oleh Joe Simon dan Jack Kirby dengan tujuan untuk menjadi rekan sekaligus sahabat bagi Captain America. Dijelaskan oleh Joe Simon bahwa nama Bucky diambil dari nama teman dekatnya yaitu Bucky Pierson yang merupakan bintang tim basket saat sekolah dulu. Sejak penampilan perdananya, Bucky rutin tampil dalam setiap komik Captain America. Setelah era Perang Dunia disaat kepopuleran superhero mulai redup, Bucky muncul bersama Captain America dalam kelompok superhero buatan Marvel

bahwa Captain America dan Bucky hilang pada akhir Perang Dunia II dan mereka pun digantikan diam-diam oleh presiden America oleh orang lain dengan tetap memakai identitas mereka. Pada tahun 1960an, Bucky sering muncul dalam cerita flashback Perang Dunia II bersamaan dengan Captain America dalam majalah Tales of Suspense edisi 63-71 yang terbit bulan MaretNovember 1965. Kematian Bucky lalu diceritakan pada komik The Avengers edisi 56 yang terbit pada bulan September 1968. Barulah pada tahun 2005, karakter Bucky ‘dihidupkan’ kembali oleh penulis Ed Brubaker. Diceritakan yang pertama bernama All-Winner bahwa tentara patrol Rusia Squad dalam edisi All Winners menemukan tubuh Bucky yang Comics edisi 19 dan 21 yang telah membeku dan kehilangan terbit pada tahun 1946. Setelah salah satu lengannya. Bucky Bucky diceritakan tertembak dan pun dibawa ke Moscow, namun mengalami luka yang serius, ia sayangnya ia mengalami amnesia. pun digantikan oleh pacar Captain Ilmuwan Rusia lalu memasangkan America yang bernama Betsy Ross lengan buatan padanya dan yang kemudian menjadi superhero menanamkan ingatan yang baru. Golden Girl. Komik Captain America Mereka juga memprogram Bucky pun lalu berakhir pada edisi ke-75 menjadi seorang pembunuh dan pada bulan Februari 1950. memberinya nama baru Winter Captain America dan Bucky Soldier. Karakter buatan Ed lalu muncul kembali bersama Brubaker inilah yang kemudian karakter Human Torch dan Subdiadaptasi oleh Marvel Studio Mariner pada komik Young Men untuk muncul dalam film Captain edisi 24 pada bulan Desember America : The Winter Soldier. 1953, bersamaan dengan dilanjutkannya komik Captain America. Sayangnya karena tingkat penjualan yang buruk, komik tersebut harus dihentikan. Begitu juga dengan komik Captain America yang harus berhenti kembali pada volume ke-78. Beberapa tahun kemudian pada komik The Avengers volume 4 yang terbit pada bulan Maret 1964, diceritakan


Serba -Serbi Captain America The Winter Soldier

Scarlett Johansson Ingin Dibuat Film Black Widow

2008 | Michael Hanake

2010 | Miguel Angel Vivas

D Cetak Tiga Rekor Baru

2008 | Michael Hanake

F

ilm terbaru Marvel yaitu Captain America: The Winter Soldier meraih sukses besar dalam pemutaran di minggu pertama di seluruh dunia. Di Amerika dan Kanada, Captain America: The Winter Soldier langsung menempati posisi puncak dalam daftar box office. Dalam tiga hari pemutaran, film tersebut berhasil meraih pemasukan 96,2 juta dolar Amerika. Selain menjadi pemuncak box office, Captain America: The Winter Soldier berhasil mencetak tiga rekor baru. Rekor pertama adalah film dengan pemasukan terbesar di bulan April. Rekor sebelumnya dipegang oleh Fast Five (2011). Rekor kedua, Captain America: The Winter Solder merupakan film Marvel dengan pemasukan terbesar kelima di minggu pertama. Secara keseluruhan, Captain America: The Winter Soldier menempati posisi delapan dalam film berdasarkan karakter dari komik Marvel dengan pemasukan terbesar di minggu pertama. Rekor ketiga, Captain America: The Winter Soldier berhasil meraih pemasukan 303 juta dolar Amerika di seluruh dunia. Jumlah itu sudah mengalahkan pemasuka film pertamanya yang meraih 200 juta dolar Amerika.

the strangers

ari sekian banyak Superhero Marvel yang tampil dalam versi film, bisa dibilang Scarlett Johansson sebagai satu-satunya aktris yang memerankan Superhero wanita hingga kini. Jadi banyak pihak terutama fans menganggap Black Widow sudah layak untuk memiliki film sendiri. Hal senada juga pernah diucapkan oleh Scarlett Johansson saat premiere Captain America: The Winter Soldier di London. Di beberapa komik maupun animasi, karakter Black Widow tergolong kompleks. Ia berasal dari karakter jahat asal Uni Soviet yang kemudian menjadi anggota The Avengers setelah dicuci otaknya. Ia juga pernah digambarkan sebagai sosok pengkhianat. Setelah tampil mendampingi Captain America dalam The Winter Soldier, kemungkinan besar Black Widow juga akan muncul kembali dalam Avengers: Age of Ultron pada 1 Mei 2015 nanti.


2008 | Michael Hanake

Chris Evans Siap Tinggalkan Dunia Akting 2017

U

Captain America 2 Terpengaruh The Raid

ekanaH leahciM | 8002

capan Chris Evans soal pensiun dari dunia akting ternyata tidak main-main. Dikutip dari harian Ace Showbiz, Kamis (27/3/2014), bintang ‘Snowpiercer’ ini bahkan sudah mulai menentukan waktu pensiunnya, yakni dua tahun setelah dua proyek besar Marvel bertajuk ‘Avengers: Age of Ultron’ dan ‘Captain America 3’. “Syuting Avengers: Age of Ultron bakal berakhir di bulan Agustus. Jadi tidak aneh kalau 2015 nanti saya tidak akan melakukan kegiatan akting.” ungkap Evans. “Kurasa saya juga akan pensiun di 2017.” lanjutnya. Di luar proyeknya bersama Marvel, Evans diketahui sedang mempersiapkan film drama ‘1 : 30 Train’ yang merupakan debutnya sebagai sutradara.

1967 | Terence Young

K

emiripan Captain America: The Winter Soldier dengan The Raid rupanya bukan isapan jempol semata. Diakui Joe dan Anthony Russo selaku sutradara Captain America, beberapa adegan pertarungan yang ada sedikit banyak terinspirasi dari film The Raid. “Kami sangat-sangat mencintai The Raid. Gaya bertarung yang disuguhkan juga sangat memberi pengaruh besar bagi cara kerja kami,” ucap mereka. Selain itu, sedikit menyinggung teknik pengambilan gambar, teknik-teknik kamera yang dipakai oleh The Raid di adegan perkelahian juga ternyata mampu mempengaruhi Joe dan Anthony Russo. Apalagi, kalau melihat sepak terjang keduanya di dunia laga, dapat diketahui kalau The Winter Soldier adalah karya perdana mereka.


AMAZING ACTREES

Simplicious - @vikharisca


Scarlett

johansson

S

I am very independent. I can look after myself but I still need a lot of love and care.

carlett Ingrid Johansson lahir di New York pada tanggal 22 November 1984. Ayahnya, Karsten Johansson, merupakan seorang Danish asal Copenhagen yang berprofesi sebagai arsitek. Sementara ibunya, Melanie Sloan, seorang Ashkenazi Jewish, bekerja sebagai produser film. Bahkan, kakeknya dari pihak ayah, Ejner Johansson, juga berkecimpung di dunia perfilman sebagai sutradara dan screenwriter. Maka tak heran kalau Scarlett mempunyai ketertarikan akan film, karena ia juga dibesarkan dalam lingkungan yang cinta perfilman. Orang tua Johansson sangat terbuka dan mengijinkan Scarlett untuk mengejar impiannya. Malah awalnya Scarlett tertarik akan teater musikal, bahkan ia rajin mengikuti kelas tap dance. Hingga ia masuk ke sekolah Professional Children’s School di Manhattan. Johansson tumbuh dan dibesarkan dalam rumah tangga yang sederhana. Namun, kedua orangtuanya

I don’t talk about my personal relationships, it always

ends up kicking you in the face.

But I’ve read a lot of things about

myself and think, “Wow! That girl sounds really saucy.”.

bercerai saat Scarlett berumur 13 tahun. Aktris yang tidak menyukai panggilan ScarJo ini, dari tahun 2001-2002 pernah menjalani hubungan dengan teman sekelasnya di Professional Children’s School, Jack Antonoff yang merupakan gitaris Fun. Scarlett juga pernah berpacaran dengan lawan mainnya di Black Dahlia (2006), Josh Hartnett selama 2 tahun. Kemudian, Scarlett berpacaran dengan aktor Kanada, Ryan Reynolds pada tahun 2007. Dan mereka dikabarkan bertunangan pada Mei 2008. Hingga pada 27 September 2008, mereka melangsungkan pernikahan di Tofino, British Columbia. Mereka juga menghabiskan $ 2.8 juta untuk membeli rumah di dekat Los Angeles. Tetapi, pada 14 Desember 2010, Ryan dan Scarlett memutuskan untuk bercerai. Dan pernikahan mereka resmi berakhir pada 1 Juli 2011. November 2012, info berhembus kalau Scarlett menjalin hubungan dengan Romain Dauriac, seorang pemilik agensi periklanan. Hingga September 2013, Scarlett dan Dauriac mengumumkan pertunangan mereka.


Early Career Scarlett memulai karir aktingnya saat berumur 9 tahun, dimana sebelumnya ibunya menyuruh Scarlett untuk mengikuti audisi. Ia memulai debutnya pada film fantasy-comedy, North (1994). Dua tahun berikutnya, ia mendapat peran utama sebagai Amanda di fillm Manny & Lo (1996). Berkat peran tersebut, Scarlett mendapat respon positif dan bahkan dinominasikan dalam Independent Spirit Award for Best Lead Female di usianya yang sangat muda. Setelah hanya mengisi minor roles di Fall (1997) dan Home Alone 3 (1997), ia mencuri perhatian dengan penampilannya dalam film yang disutradarai Robert Redford, The Horse Whisperer (1998). Atas perannya dalam film yang berdasarkan kisah novel sukses milik Nicholas Evans, Scarlett menerima penghargaan Hollywood Reporter Young Star.

Teenager Being Adult

Gagal diterima di jurusan Film Purchase University, New York, Scarlett berpindah fokus pada karirnya. Kemudian ia membintangi Lost in Translation, yang membuatnya bermetamorfosis, dengan mendapatkan peran dewasa. Bayangkan saja kalau ia memerankan seorang istri muda berusia 25 tahun di umurnya yang baru 18 tahun. Hingga ganjarannya, ia mendapatkan BAFTA Award dan juga Upstream Prize for Best Actress. Skill memainkan peran drama yang mulai mengambang, ia membintangi Girl with a Pearl Earring (2003).Dari film inilah titik awal dimana Scarlett sering mendapatkan peran seduktif. Pada Juni 2004, ia diundang untuk bergabung ke dalam Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS). Tahun 2004 memiliki jam terbang karir yang tinggi bagi Scarlett. Di tahun yang sama, film yang ia perankan, seperti film The Perfect Score; A Love Song for Bobby Long; A Good Woman; In Good Company; dan juga menjadi pengisi suara sebagai Mindy di The SpongeBob SquarePants Movie.


Iconic Roles Tak usah heran lagi, kalau setiap peran yang Scarlett mainkan, akan selalu membekas saat selesai menontonnya. Dimulai dengan peran sampingannya sebagai Olivia Wenscombe di film The Prestige karya Christopher Nolan. Kemudian perannya sebagai Cristina di film Vicky Cristina Barcelona yang diarahkan Woody Allen. Dan tentunya kita tak akan lupa dengan perannya sebagai Natasha Romanoff atau Black Widow, yang mulai muncul di

film Iron Man 2 (2010). Berkaitannya superhero Avengers Assemble di setiap filmnya, membuat Black Widow juga sering muncul di The Avengers (2012), Captain America: The Winter Soldier (2014), dan Avengers: Age of Ultron (2015) yang akan datang. Bahkan, seperti yang sudah diumumkan oleh pihak Marvel, rencananya Black Widow yang diperankan oleh Scarlett ini akan difilmkan. Satu lagi, mungkin peran Samantha Morton dalam film Her (2013) akan selalu terngiang di benak penontonnya. Pasalnya, peran yang Scarlett mainkan hanya bermodalkan suara tanpa raga yang menyerupai digital voice assistant di sebuah OS.

Upcoming Project Saat ini, Scarlett tengah disibukkan untuk mempromosikan duo filmnya yang rilis di bulan bersamaan, Captain America: The Winter Soldier dan Under the Skin. Mei 2014, ia juga membintangi film arahan Jon Favreau bertajuk Chef. Di film ini, ia juga bermain dengan Robert Downey Jr., Jon Favreau, dan Sofia Vergara. Scarlett juga akan bermain sebagai Lucy, bersama dengan Morgan Freeman dan Analeigh Tipton dalam film action yang disutradarai oleh Luc Besson, Lucy (2014). Dan jangan lupa untuk menanti Black Widow di sekuel film Avengers: Age of Ultron (2015). Serta rencananya, Black Widow sendiri akan difilmkan oleh Marvel.

Simplicious - @vikharisca


UNDER THE SKIN

B

utuh waktu setidaknya sekitar 10 tahun untuk terciptanya Under the Skin. Bahkan sang sutradara beraksen British yang juga seorang music video director, Jonathan Glazer hiatus duduk di bangku sutradara dalam waktu yang lama sejak menangani Birth (2004). Seperti halnya Alfonso Cuar贸n dengan Gravity-nya, Jonathan Glazer melakukan comeback dengan proyek prestisiusnya, Under the Skin. Diadaptasi berdasarkan novel millennium kedua milik Michel Faber dengan judul yang sama. Premis cerita film ini berinti pada seorang alien HQ femme fatale yang mengisi tubuh wanita muda berwujud Laura (Scarlett Johansson), berpenampilan tubuh yang memikat lawan jenis, berambut

hitam-abu, bibir merona bak darah, dibalut dengan mantel bulu. Lalu lelaki mana yang tidak akan terpana dengan first-sight saat melihat Laura? Lalu Laura berkendara dalam sebuah transit van, mengelilingi jalanan Skotlandia sambil mencari mangsanya. Setiap pria yang ditemuinya, si alien mempersilahkan masuk. Dengan bahasa tubuh si alien penggoda yang memikat korban untuk berhubungan, si alien akan mengambil cairan tubuh pria yang terjebak dan juga memanen organ tubuhnya. Dalam melakukan aksi berburu hitchhikers, Laura diawasi oleh alien lainnya yang berwujud lelaki pengendara motor. Kemudian saat si alien mencoba berburu hitchhikers di sebuah pantai, dia menyaksikan tenggelamnya seorang


pria (Krystof HĂĄdek) dan anak perempuannya. Laura menyaksikan dengan tenang tanpa berperasaan, lalu membunuh pria tersebut dan mengambil tubuhnya, sementara itu juga meninggalkan si balita. Di suatu hari yang lain, Laura merayu seorang pria yang ternyata memiliki kelainan seksual neurofibromatosis disfigurement (Scott Dymond), si alien merasa kasihan dan membiarkan pria tersebut melarikan diri. Namun ditengah pelariannya, si pria dilacak dan dibunuh oleh pengendara sepeda motor, yang menetapkan target incaran yang akan dimangsa oleh alien wanita. Setelah mengalami krisis identitas karena bermasalah dengan misi yang sebelumnya, Laura depresi berat sehingga mengalami catatonic. Lalu si alien ditolong oleh seorang pria (Michael Moreland) dan dibawa ke rumahnya. Bukannya berusaha untuk meningkatkan kesiapannya untuk menyelesaikan misi, Laura malah jatuh cinta dan menaruh kepercayaan pada pria tersebut.

Mengalami kebingungan yang luar biasa akibat berhubungan dengan pria sebelumnya, Laura pergi berjalan-jalan di pelosok hutan dan menginap di sebuah pondok. Saat terbangun, ia malah dikagetkan dengan penjaga hutan yang berusaha memperkosa.

“

Sederet nama Aktris papan atas sempat dipertimbangkan untuk mengisi peran utama dalam film ini Laura. Nama-nama tersebut antara lain : Gemma Arterton, Eva Green, Megan Fox, January Jones, Abbie Cornish, Olivia Wilde, Amanda Seyfried, Blake Lively dan Jessica Biel.

Film karya sineas Jonathan Glazer awalnya memang sudah melakukan premiere di beberapa festival film, macam Telluride Film Festival, 70th Venice International Film Festival, dan 2013 Toronto International Film Festival. Rencananya film ini akan diputar pada tanggal 4 April 2014 untuk region United States. [Simplicious] - @vikharisca


Dom Hemingway Director: Richard Shepard / Writer: Richard Shepard / Stars: Jude Law, Richard E. Grant, Demian Bichir

D

ua belas tahun setelah dipenjara, Dom Hemingway (Jude Law), seorang ahli pembobol brankas menagih janji uang tutup mulut demi melindungi sang bos, Mr. Fontaine (Demian Bichir). Bersama sang sahabat, Dickie (Richard E. Grant), Dom mulai bergerak ke Perancis untuk bertemu Mr. Fontaine. Kehidupan liar Dom kini menguasai dirinya sendiri. Dengan uang berlimpah, berpesta hingga mabuk, menggunakan obatobatan terlarang serta dikelilingi gadis-gadis cantik kini menjadi gaya hidupnya. Hingga pada suatu saat, Dom lolos dari kematian setelah kecelakaan fatal menimpanya. Menyadari dirinya memiliki kesempatan hidup kedua, Dom memutuskan untuk menyambung kembali hubungan dengan anak perempuannya, Evelyn (Emilia Clarke).

Kenyataan memang tak seindah kata-kata, niat Dom memperbaiki hubungan dengan anaknya malah membawa Dom kembali ke dunia kelam yang dulu pernah ia singgahi, untuk menyelesaikan urusan yang dulu ia perbuat. Dibintangi oleh aktor kawakan Jude Law, film yang proses pengambilan gambarnya dimulai pada 2012 silam ini menyajikan

genre black comedy yang kini semakin menjamur di perfilman box office. Film ini juga menjadi penanda kembalinya Richard Shepard menyutradarai film layar lebar sejak terakhir kali menangani The Hunting Party (2007). Selama hampir tujuh tahun, Shepard lebih senang berada di balik layar dari serial-serial televisi top macam 30 Rock serta Girls. [adi_06]


HEAVEN IS FOR REAL

H

A Little Boy’s Astounding Story of His Trip to Heaven and Back

eaven Is For Real, sebuah film berdasarkan #1 New York Times best-selling book dengan judul yang sama. Heaven Is For Real mengisahkan tentang kesaksian nyata yang dialami anak empat tahun bernama Colton (Connor Corum) yang mengalami perjalanan ke Surga, sementara tubuhnya terbaring di ruang operasi darurat. Dari Surga, Colton juga melihat ke bawah di ruang operasi darurat, juga Todd

Burpo (Greg Kinnear), ayahnya yang seorang pastor Nebraska sedang berdoa di ruang tunggu. Berdasarkan pengalamannya, Colton menceritakan rincian perjalanan Surga yang luar biasa dengan keluguannya dan berbicara blak-blakan layaknya seorang anak kecil tentang hal-hal yang terjadi dan belum pernah ditemuinya. Di Surga, ia bertemu adiknya yang mati keguguran dan kakek buyutnya yang meninggal 30 tahun sebelum Colton lahir. Colton berbagi tentang hal-hal yang hampir mustahil untuk diketahui tentang masing-masing. Lalu Colton melanjutkan, melihat adanya kuda Yesus yang sangat indah, juga tentang kebesaran dan kemuliaan Yesus yang duduk di takhta, dengan barisan malaikat yang memuji dan menyembah. Serta

menyaksikan bagaimana Roh Kudus mencurahkan kuasa-Nya dari langit. Dengan kepolosan dan kata-kata seorang anak kecil dibantu oleh ayahnya untuk mengerti semuanya. Kemudian keluarga Todd yang sebelumnya tidak percaya akan hal itu, malah semakin tertantang untuk mengetahui makna dan tujuan dari peristiwa yang dialami Colton. Heaven Is For Real disutradarai oleh nominator Oscar, Randal Wallace. Dari segi cast dibintangi oleh nominator Oscar dan pemenang Emmy, Greg Kinnear dan juga Kelly Reilly. Film ini diakuisisi dan diproduksi oleh Sony Pictures Entertainment. Heaven Is For Real akan dirilis pada tanggal 16 April 2014 (USA). [Simplicious] - @ vikharisca


TRANSCENDENCE


S

ebuah film terbaru yang akan dimainkan oleh Johnny Depp dengan judul Transcendence akan tayang pada tahun 2014 ini. Sang aktor bakal menjadi tokoh utama bernama Dr. Will Caster, seorang peneliti yang menciptakan mesin dengan intelegensi tinggi. Uniknya dalam film tersebut, Johnny Depp tidak berdandan menor seperti di film-film sebelumnya. Kita bisa melihat bagaimana ia berdandan ekstrim dalam The Lone Ranger, Dark Shadows, Alice in Wonderland, hingga seri Pirates of the Caribbean. Transcendence mendapat pengarahan dari debut perdana sinematografer handal bernama Wally Pfister sebagai seorang sutradara. Wally sukses membawa keindahan visualisasi dalam film-film arahan Christopher Nolan seperti The Dark Knight, Inception, dan judul-judul lain seperti Italian Job serta Moneyball. Film yang disutradarai oleh Wally Pfister dan ditulis oleh Jack Paglen ini juga dibintangi oleh beberapa artis ternama seperti Rebecca Hall, dan Morgan Freeman. Dr. Will Caster (Johnny Depp) mengembangkan sebuah teknologi komputer yang sangat canggih dan mampu melampaui otak manusia. Dimana mesin tersebut dapat menampung semua data, informasi, bahkan emosi dari manusia. Ia menjadi terkenal karena penelitiannya ini,

namun hal ini juga menjadikannya target ekstrimis anti-technology. Setelah acara seminarnya, Dr. Will Caster ditembak oleh salah satu aktifis dan menjadi sekarat. Istri (Rebecca Hall) dan sahabatnya

“

Christian Bale sempat menjadi pilihan utama untuk peran utama Wally Pfister’s, sampai negosiasi gagal dan terpilihlah johnny Depp.

Max Waters (Paul Bettany) memutuskan untuk mentransfer isi otak Dr. Will Caster ke dalam teknologi yang ia ciptakan. Walaupun awalnya Evelyn merasa eksperimen tersebut tidak berjalan lancar, ternyata tidak lama kemudian Evelyn melihat bahwa Will memberikan respon terhadap eksperimen tersebut di dalam bentuk sebuah komputer. Namun, tindakan ini malah menimbulkan malapetaka. Will berusaha mengusai semua teknologi manusia dan tak bisa dikendalikan. Ia menimbulkan kekacauan dimana-mana dan membuat semua orang kewalahan. Banyak yang menduga-duga bahwa film ini bakal bernuansa layaknya filmfilm Christopher Nolan. Akan teteapi, kita harus menunggu bagaimana jadinya Transcendence nanti setelah ditayangkan secara perdana pada 17 April 2014. [azwar hamzah]


MOVIES REVIEWS

Johnny Depp

TRANSCENDENCE Dimulai dengan ide yang usang dan berkembang menjadi sebuah sci-fi thriller berfilosfi tinggi dan provokatif yang mebelah antara manusia dan teknologi ciptaanny, Transcendence adalah awal ambisius yang canggung dengan tanggung jawab seharga 100 juta Dollar yang harus diemban sutradara baru seperti Wally Pfister. Tidak sampai seburuk yang dibilang kritkus, bahkan sebenarnya dengan konsep hitech sebesar itu, Transcendence seharusnya bisa lebih baik... di tangan Nolan mungkin?

D

engan atau tanpa lumuran make-up tebal, nama Johnny Depp masih punya pesona kuat buat penontonnya menonton Transcendence tanpa tahu terlebih dahulu apa isi sci-fi thriller yang

ditawarkan sutradara debutan Wally Pfister ini. Jika Depp saja mungkin belum cukup meyakinkanmu, dan kamu masih trauma dengan The Lone Ranger, masih ada Morgan Freeman, Rebecca Hall, Paul Bettany sampai Cillian Murphy di dalamnya turut meramaikan film yang di eksekutif produseri oleh Christopher Nolan ini. Tetapi sebenarnya kekuatan Transcendence tidak melulu berasal dari pikatan ensemble cast-nya, konsep fiksi ilmiah yang ditawarkannya menghadirkan premis lama yang dipoles lebih ambisius dan juga provokatif pun terasa menantang. Konsep tetang manusia, mesin dan teknolgi, dalam kasus Transcendence, Pfister besama penulis naskah Jack Paglen mencoba membawanya lebih jauh untuk mencapai apa yang disebut dengan “keajaiban teknologi�. Ini adalah cerita tentang pasutri yang juga ilmuwan AI jenius, Dr. Will dan Evelyn Caster

(Johnny Depp & Rebecca Hall) yang punya ambisi untuk merubah dunia menjadi lebih baik dengan teknologi ciptaan mereka. Tetapi tidak semua orang suka dengan apa yang dilakukan Will dan Evelyn, terutama dari para teroris anti teknologi pimpinan Bree (Kate Mara) yang lalu mengambil tindakan radikal, membunuh semua ilmuwan komputer tidak terkecuali Will yang pada akhirnya harus tewas terkena racun radiasi. Tetapi sebelum meninggal, Evelyn bersama sahabatnya, Max Waters (Paul Bettany) melakukan hal yang tak kalah radikalnya, yakni mengungah otak Will ke program ciptaan mereka dan menjadikan Will sebagai AI paling hebat yang pernah diciptakan manusia. Tetapi seperti kata paman Ben, “With great power, comes great responsibility� dan tanggung jawab luar biasa itu berada di tangan Evelyn yang tidak pernah menyangka bahwa apa yang Moviemagz Mei 2014 46


dilakukannya ternyata berkembang di luar kendali dan seperti tidak akan pernah bisa dihentikan. Transcendence memang menjadi debut penyutradaraan Wally Pfister, namun sebenarnya ia bukan orang asing lagi ketika berada di belakang kamera. Pfister adalah sinematografer hebat yang juga langganan Christopher Nolan dalam melensakan film-film sang master dari Memento sampai The Dark Knight Rises. Tetapi debutan tetaplah debutan, dan meskipun Transcendence terasa solid di konsep dan visualnya ia masih punya banyak kekurangan mendasar. Selain menyianyiakan beberapa cast-nya macam Morgan Freeman dan Cillian Murphy, yang jelas terlihat adalah bentukan plotnya yang berjalan lambat, terutama pada pembukaan sampai 20-30 menit selanjutnya, yap, itu sedikit membosankan dan minim emosi belum lagi premisnya yang Review By Hary Susanto MOVIENTHUSIAST

sedikit berat. Tetapi setelahnya, ketika karakter Will mencapai tahapannya bermain sebagai Tuhan, Transcendence perlahan mulai mengeluarkan kekuatannya. Daya pikatnya ada pada kejaiban teknologi yang menakjubkan yang berhasil diciptakan Will dalam wujud AI. Will melakukan banyak hal yang belum pernah disentuh oleh manusia, membuat mereka kagum sekaligus takut di saat bersamaan akan sepak terjang sang mesin yang seakan tidak pernah berhenti. Dan seperti penontonnya, para karakter manusianya pun meragukan apakah benar-benar masih ada Will di sana. Nah, krisis kepercayaan dan ketakutan manusia akan teknologi yang berkembang terlampau pesat ini memang yang sepertinya menjadi bahan menarik untuk diperbicangakan dalam Transcendence. Pfister cukup pintar untuk menutupi beberapa hal

yang membuat para karakter dan penontonnya punya alasan besar untuk meragukan kemanusiaan Will, apakah sang dokter masih sama seperti yang dulu? Apakah kini ia hanya komputer super canggih yang punya ambisi menguasai dunia dengan kecerdasaan tanpa batasnya? Romasanya sepertinya memang sengaja harus sedikit dikorbankan untuk menciptakan teritori beranama “keraguan” dan “ketakutan”, sekali lagi kita tidak tahu apakah Will masih benarbenar mencitai Evelyn atau ia hanya memafaatkan istrinya untuk ambisinya. Dan penampilan Depp yang ‘normal’ dan dingin membuat semuanya menjadi terasa kabur. Ya, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi sampai Transcendence berakhir nanti, yang pasti ada aroma penuh ancaman yang terbentuk dari setiap teknologi baru buatan Will yang menakjubkan sekaligus mengerikan.


2 STATES

Director: Abhishek Varman / Writers: Chetan Bhagat, Abhishek arman Stars: Arjun Kapoor, Alia Bhatt, Amrita Singh, Ronit Roy

2

States merupakan film Hindi terbaru yang akan tayang pada bulan April mendatang. Film ini dibintangi oleh Arjun Kapoor dan Alia Bhatt. Keduanya merupakan salah satu artis muda yang sedang bersinar dalam beberapa tahun terakhir ini. Sebelumnya, terdapatbeberapa nama bintang besar seperti Shah Rukh Khan, Saif Ali Khan, Ranbir Kapoor dan Imran Khan yang diisukan akan mengisi peran Krish Malhotrayang pada akhirnya diperankan oleh Arjun Kapoor. Sementara untuk peran Ananya Swaminathan yang dimainkan oleh Alia Bhatt, sebelumnya juga sempat ditawarkan pada sederet aktris ternama seperti Priyanka Chopra, Deepika Padukone, dan Asin Thottumkal. 2 States sendiri merupakan adaptasi dari novel terkenal milik Chetan Bhagat yang juga berjudul serupa. Novel ini mengisahkan tentang sepasang kekasih (Krish dan Ananya) yang berasal dari Moviemagz Mei 2014 46

dua daerah berbeda di India yang menghadapi kesulitan dalam meyakinkan orang tua mereka untuk menyetujui pernikahannya. Hal itujuga tersirat dalam judul novelnya yang bertuliskan “2 States : The Story of My Marriage”. Sejauh preview ini dibuat, plot asli untuk film ini belum juga diketahui. Walaupun melihat plot novelnya yang terlihat cukupc liche dantergolong sangat biasa, film ini tetap mencuri perhatian saya karena ada nama besar Chetan Bhagat, seorang penulis novel yang menginspirasi film-film berkualitas seperti 3 Idiots (melalui novelnya yang berjudul “Five Point Someone”) dan Kai Po Che! (melalui novelnya yang berjudul “Three Mistakes of My Life”). Nama Karan Johar dan Sajid Nadiadwala yang duduk di bangku Produser untuk film ini cukup bisa menjadi jaminan kalau 2 States tidak akan digarap ala kadarnya. Selain itu, track record pemeran

utamanya sejauh ini cukup positif, terutama Alia Bhatt yang barubaru ini menuai pujian dari kritikus dan audience berkat penampilan memukaunya dalam film Highway. Film inimerupakan debut sang sutradara, Abhishek Varman, yang sebelumnya hanya berperan sebagai asisten sutradara dalam film Jodhaa Akbar (2008) dan My Name Is Khan (2010). Jika tak ada halangan, film ini akan rilis di bioskop pada 18 April 2014 mendatang. [Ackiel_Khan]


GODZILLA


We knew the world would not be the same. Some people cried. Most people were silent.

M

emperingati anniversary ke-60 sejak originalnya dibuat, Toho melakukan reboot dengan judul yang sama. Namun kali ini produksi sepenuhnya diserahkan kepada Warner Bros dan Legendary Pictures, dengan sentuhan Amerikanya. Premis eposnya pun masih identik, menceritakan tentang monster kaiju yang muncul akibat arogansi ilmiah dari percobaan nuklir, hingga membahayakan keselamatan umat manusia. Plotnya memang terkesan sederhana, sama halnya dengan Godzilla yang lalu. Tetapi film arahan Gareth Edwards ini berbeda, Godzilla tampil dengan isu kontemporer yang tak sekedar percobaan nuklir, juga disesaki dengan drama kemanusiaan. Dimulai dengan pemandangan pantai dengan percobaan bom atom, dan awan jamur yang diiringi hujan abu dari langit. Dengan munculnya kaiju berwujud Godzilla yang membuat panik, hingga diterjunkannya pasukan militer. Lalu, ada si Walter White yang berwujud Joe Brody (Bryan Cranston), seorang ilmuwan nuklir berusaha menemukan cara untuk mengatasi kemunculan Godzilla. Ada Si Kick-Ass yang berperan sebagai Ford Brody (Aaron TaylorJohnson), seorang pasukan US Navy Lieutenant. Film ini akan mengajarkan bagaimana menghargai pentingnya keluarga, menjaga keseimbangan alam, dan juga bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi. Dari segi cast, Godzilla banyak diisi oleh aktor dan aktris yang mumpuni, seperti Bryan Cranston, Aaron Taylor-Johnson, Elisabeth Olsen, Juliette Binoche, Ken Watanabe, dan lain-lain. Dalam penggarapan naskah ceritanya, ditangani oleh Frank Darabont, David Callaham, dan Max Borenstein. Rencananya, film ini akan diputar di US dan Indonesia pada 16 Mei 2014.

Simplicious - @vikharisca


AMAZING DIRECTOR

CARLOS SALDANHA by Simplicious - @vikharisca

Creativity on His Nativity

Carlos Saldanha, seorang sutradara asal Rio de Janeiro, lahir pada 20 Juli 1968. Karena lahir dan dibesarkan di kota seni artistik yang khas ala Brazil, masa kecil Saldanha mulai muncul ketertarikan akan kartun animasi dan hobi menggambar. Saat beranjak dewasa, pada tahun 1991, Saldanha menginjakkan kakinya ke New York City untuk melanjutkan program pendidikannya ke School of Visual Arts di Manhattan. Saldanha termasuk murid yang sangat bertalenta, hingga ia mampu membuat dua film animasi pendek yang membuat reputasinya semakin Moviemagz Mei 2014 54

diperhitungkan di Manhattan. Dalam kehidupan rumah tangganya, Saldanha dikenal jarang ditempa berita miring. Dengan mempersunting seorang matematikawan, Isabella Scarpa sebagai istrinya, sampai saat ini mereka dikaruniai empat anak, Manoela, Sofia, Julia dan Rafael.


CAREER Setelah kelulusannya pada tahun 1993 dan meraih gelar Master of Computer Art, Saldanha tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan, sahabat karibnya, Chris Wedge mengajak Saldanha bergabung dengan Blue Sky Studios. Ia langsung menjadi animator untuk beberapa proyek Blue Sky, semacam iklan komersial dan short-films. Carlos Saldanha juga pernah ikut menangani visual effects untuk film The Fairy Godmother (1997), A Simple Wish (1997), dan juga Fight Club (1999). Sekitar awal millennium, Pixar dan Dreamworks Animation bekerjasama dengan Blue Sky Studios untuk memproduksi sebuah film animasi, yang membuat keputusan untuk mengubah Blue Sky Studios menjadi sebuah full-fledged movie studio. Karir professional Carlos Saldanha dimulai saat ditunjuk sebagai codirector Ice Age (2002), menemani Chris Wedge yang menjabat sebagai sutradara. Alhasil, debut manis Blue Sky Studios berhasil dicetak dan juga mendapat nominasi Oscar sebagai Best Animated Feature. Tak murni sebagai director di Ice Age, ia membuat sebuah short movie dengan karakter utama yang merupakan spin-off dari Ice Age, tupai saber-tooth bernama Scrat. Dengan judul Gone Nutty (2002), film ini juga mendapat apresiasi yang luar biasa. Malah Scrat menjadi iconic character film Ice Age. Selanjutnya Saldanha juga membantu proyek Blue Sky selanjutnya sebagai codirector di film Robots (2005). Hingga kemudian, Saldanha dipercaya untuk menyutradarai sekuel Ice Age selanjutnya, yaitu Ice Age: The Meltdown (2006) dan Ice Age: Dawn of the Dinosaurs (2009).

HONOR HIS HOMETOWN Setelah kesuksesannya menggarap Ice Age: Dawn of the Dinosaurs, Carlos Saldanha mendapat tiket emas untuk menciptakan filmnya sendiri yang ia mau. Dengan merangkap sebagai penulis utama, Saldanha memilih untuk membuat film dengan kekhasan kota tercintanya, Rio de Janeiro. Tahun 2011, film tersebut dirilis dengan judul Rio. “There are a lot of movies that take place internationally, like Kung Fu Panda portraying a little bit of China, and Ratatouille portraying a little about Paris, but it’s hard Moviemagz Maret 2014 55

to find a movie that portrays Rio or Brazil. I thought this was a good way to show a little bit of it.� Rio menceritakan tentang seekor burung macaw Brazil yang hampir punah, sekaligus tidak dapat terbang, bernama Blu (Jesse Eisenberg) yang kabur dari rumahnya di Minnesota ke Rio de Janeiro untuk mengejar cintanya, Jewel (Anne Hathaway). Dengan bekingan pendukung suara oleh artis ternama, macam Blu (Jesse Eisenberg), Jewel (Anne Hathaway), Jamie Foxx (Nico), dan khususnya putri Saldanha, Sofia Scarpa Saldanha sebagai Young Linda. Saldanha berhasil menghadirkan film domesticated-animation yang indah dengan pengisi suara yang jempolan, serta tak lupa keindahan kota Rio de Janeiro lewat Rio. [Simplicious] - @vikharisca


S W VIE E R S E VI O M


P

asti kalian sudah tahu karakter utama yang ada di dalam film ini? Yap, ia adalah Blu. Jenis Blu ini adalah spesies langkah dari jenis burung Spix Macaw dan karena sangki langkahnya Blu di rawat oleh seorang penyayang binatang bernama Linda. Seperti yang kita ketahui juga bahwa Blu akhirnya bertemu dengan seekor burung betina bernama Jewel. Blu dan Jewel pun saling jatuh cinta satu sama lainnya, Blu dan Jewel pun di biarkan pergi bebas mencari kawanannya. Itulah sepenggal cerita dari film pertama Rio yang dirilis tahun 2011. Kini, Blu dan Jewel tinggal di Rio de Janerio bersama ketiga anaknya yang bernama Tiago, Carla, Bia. Adegan pertama dibuka dengan sebuah pesta besar menanti pergantian tahun. Masyarakat setempat berdansa bersama-sama di sebuah jalan raya, di sebuah atap bangunan para binatang ini juga tidak mau kalah dengan manusia yang sedang berdansa dan bernyanyi bersama dibawah sana. Blu yang sebelumnya di pelihara oleh Linda di rumahnya dan dimana dahulunya Blu juga sering sekali memakai ataupun memakanmakanan manusia yang diberikan oleh Linda, ternyata kebiasaan lamanya itu masih ia tanamkan dan ia turunkan ke anak-anaknya yang ternyata lebih suka makan-makanan manusia dan memakai benda-benda yang

sering di pakai manusia. Hingga pada suatu hari tanpa sengaja Blu melihat Linda dan Tulio di televisi sedang di wawancarai oleh wartawan televisi, di film ini Linda dan Tulio sudah menikah. Linda yang sedang berada di hutan Amazon ini sedang mencari tahu apakah spesies dari burung Spix Macaw ini masih ada atau sudah punah? Blu yang kangen sama Linda sang pengasuhnya dulu ia berencana ingin pergi ke Amazon bertemu Linda dan juga Tulio. Tapi sebelum berangkat ke Amazon Blu bertanya kepada teman-teman dekatnya, seperti apa Amazon itu. Hingga pada akhirnya Blu beserta keluarganya memutuskan untuk pergi ke Amazon untuk bertemu dengan Linda di sana. Dan petualangan Blu pun dimulai di Amazon. Di dalam film terbaru dari Rio 2 ini juga menghadirkan berbagai macam kelucuan yang di jamin akan mengocok perut Anda. Selain itu film ini juga menghadirkan ajang pencarian bakat menyanyi antar binatang yang di tinggal di dalam hutan Amazon. Film Rio 2 ini menghadirkan dua penjahat sekaligus, siapa ya kira-kira penjahatnya itu? Apakah Blu bisa bertemu dengan Linda atau Blu mampu mengalahkan dua penjahat sekaligus? Jangan lupa tonton film Rio 2 sudah mulai tayang pada tanggal 11 April 2014. [Tyo].


S W E VI E R S E VI O M

Director : David Gordon Green / Writers: Larry Brown (novel), Gary Hawkins (screenplay) / Stars: Nicolas Cage, Tye Sheridan, Gary Poulter

J

oe dari David Gordon Green ini mengingatkan saya dengan apa yang pernah dibuatnya dalam Snow Angels 2007 lalu, setahun sebelum ia mulai membuat kekacauan dalam tiga komedi sinting ala Appatow (Pineapple Express, Your Highness, The Sitter). Dipenuhi oleh setting outdoor dalam aroma depressing yang mencekam sekaligus melankolis dan sosok ayah yang gila, hanya saja Joe tidak punya timbunan salju sedingin Snow Angels. Settingnya berada di selatan yang kering, lengkap dengan logat southern kental dan daerah hutan tempat di mana Nicolas Cage berjanggut tebal dan bertato besar di lengan menjadi Joe, mantan napi kharismatik yang kini mencoba menata kembali hidupnya dengan menjadi mandor buat para pekerja hutan yang didominasi pria-pria kulit hitam. Di hutan itu juga ia bertemu dengan Gary (Tye Sheridan), remaja 15 tahun yang meminta pekerjaan darinya. Merasa bersimpati dengan semangat Gary, Joe memberinya pekerjaan. Dari sini hubungan ‘ayah-anak’ keduanya mulai terjalin, sesimpel itu? Tentu saja tidak. Naskah garapan David Gordon Green ini sebenarnya sederhana, yang mungkin terlihat menarik adalah studi karakternya. Pertama tentu saja ada Joe, di mainkan oleh Nicolas Cage yang akhirnya kembali ke jalan yang benar setelah beberapa tahun ini terjerumus ke proyek film-film aksi gajebo, mengikuti jejak sang sutradara yang terlebih dahulu sudah kembali ke habitatnya sejak tahun


lalu dalam Prince Avalanche. Cage tampil prima, performanya kuat sebagai Joe, pria pemarah yang mencoba meredam emosinya agar tidak lagi mengulagi masalah seperti di masa lalu meskipun yah, masalahnya yang sepertinya selalu datang mencarinya. Dan kedatangan Gary seperti memberi arti baru buat hidup Joe. Melihat bagaimana semangat besar dalam diri pemuda tanggung itu, bagaimana etos kerja Gary yang besar guna menjaga ibu dan adik perempuannya dari ayah tirinya yang alkoholik, pemalasa dan abusive sudah menumbuhkan rasa simpati dalam diri Joe yang kemudian memilih untuk menjadi malaikat pelindungnya. Dan ketika Nicolas Cage kembali ke performa terbaiknya, si kecil Tye Sheridan kembali menajamkan aktingnya pasca penampilan cemerelangnya di Mud yang mempertemukannya dengann pememenang Oscar tahun ini, Matthew McConaughey.

David Gordon Green kembali membuat drama indie bagus dan Nicolas Cage juga akhirnya “bertobat” dari film-film “kejar setoran”, Joe sudah memberikan banyak kesenangan dalam temanya yang muram, alurnya yang lambat dan settingnya yang kering, belum lagi saya menyebut kualitas akting Tye Sheridan yang lagi-lagi sukses memesona untuk ukuran aktor muda yang baru membintangi tiga film.

Seperti Prince Avalanche, Joe diisi oleh banyak set hutan, relasi odd couple dan tempo yang seperti merangkak pelan, ya, ini mungkin bukan jenis film yang bisa dikonsumsi semua penontonnya. Kekuatannya ada pada characterdriven dan kekuatan akting para cast-nya ketimbang plot adaptasi dari novel lama milik Larry Brownyang terasa sedikit klise. Meskipun harus diakui juga, secara teknis Gordon Green bersama sinematografer langganannya, Tim Orr juga sudah bekerja dengan baik membungkus Joe dengan visual depressing atmosferik yang juga cantik dan melow serta menambahkan sedikit humor pada dialog-dialog southern-nya dan juga sedikit kebrutalan guna mencegah menjadikannya terlalu sentimental.


S W E VI E R S E VI O M

David Ayer seharusnya tahu untuk tidak pernah memasang sosok Arnie dalam sebuah drama misteri, mereka tidak cocok, apalagi naskah garapannya juga tidak pernah kuat meskipun merupakan adaptasi bebas dari sumber populer. Ya, Sabotage hanya menyisakan humorhumor garing, parade kekerasan yang vulgar dan Arnie berambut aneh yang mulai tumbuh uba di sana-sini.

Moviemagz Mei 2014 60


S

eperi kebanyakan film-film terkenal lainnya, Sabotage juga tidak pernah jauhjauh dari yang namanya polisi. Kali ini ada satuan polisi elit khusus anti narkoba; DEA pimpinan John “Breacher” Warthon (Arnold Schwarzenegger) melakukan misi penyergapan seperti biasanya ke gudang kartel narkoba bersama anak-anak buah kepercayaannya: James “Monster” Murray (Sam Worthington) dan istrinya Lizzy Murray (Mireille Enos), Joe “Grinder” Philips (Joe Manganiello), Julius “Sugar” Edmonds (Terrence Howard), Eddie “Neck” Jordan (Josh Holloway), Tom “Pyro” Roberts (Max Martini), Bryce “Tripod” McNeely (Kevin Vance) dan “Smoke” Jennings (Mark Schlegel). Hanya saja ada yang berbeda kali ini. Misi itu berakhir buruk, tidak hanya menewaskan salah satu anggota Breacher, namun ada yang mengambil uang sebesar 10 juta Dollar milik kartel yang hendak mereka curi. Tidak berhenti

sampai disitu, atasan Breacher yang mengetahui kejadian itu kemudian menghukum Breacher dan timnya dengan dipensiunkan sementara dari tugas lapangan. Namun masalah terbesar datang ketika satu per satu anggota geng Breacher tewas secara mengenaskan setelah peristiwa penyergapan itu. Ada premis bagus dari novel bagus, sutradara dan penulis naskah menjanjikan dan sebuah ensemble cast menarik, tetapi bagi penonton awam ini hanya film terbaru dari Arnie, tidak lebih, tidak kurang. Tetapi jangan terlalu banyak berharap ini akan diwarnai banyak ledakan dan keributan ala kebanyakan film Schwarzenegger. Ya, memang Sabotage sendiri memang masih tidak jauh-jauh dari otot, senjata berat, dialog humor one liner dan sedikit aksi. Yang di jual dari film ini adalah adanya sisi misteri dan sisi psikologis karakternya ketimbang parade aksi, hasilnya, Sabotage dengan kandungan misteri gelap dan kadar violence

cukup vulgar terlihat seperti sebuah horor slasher beralut kemacoan yang sayang tidak mampu berjalan beriringan dengan sempurna. Untuk sebuah naskah yang ceritanya dipinjam dari novel misteri populer, Sabotage ternyata selembek bisep Arnie yang mulai mengendur, konyol dan diakhiri dengan twist menggelikan. Ya, kita memang masih akan dibawa dalam balutan misteri untuk menebak-nebak siapa dan kenapa mereka harus melewati banyak kematian mengerikan, tetapi prosesnya cacat dan konklusinya maksa, meninggalkan terlalu banyak kebodohan, humor garing dan Sam Worthington berjanggut kambing. Sementara itu, meskipun tampil tidak terlalu buruk, Sabotage bukanlah jenis film yang cocok dipasangkan dengan Schwarzenegger, apalagi pada akhirnya naskahnya menuntut lebih dari apa yang bisa diberikan mantan gubernur California itu.


S W VIE E R S E VI O M

K

Director : Jean-Marc Vallée / Writers : Craig Borten, Melisa Wallack Stars : Matthew McConaughey, Jennifer Garner, Jared Leto

ita tahu Matthew McConaughey adalah anak Texas sejati, baik sebagai pribadi maupun sebagai aktor. Dari pembunuh sadis, playboy kelas kakap sampai pengacara hebat, kita sudah melihat McConaughey beraksi dengan segala aksen Texas kentalnya dan juga beberapa kali dengan topi koboinya. Tetapi ada yang berbeda kali ini di film terbarunya. Masih menjadi “Texas boy”, hanya saja di drama biopik ambisius milik sutradara JeanMarc Vallée (C.R.A.Z.Y, Young Victoria), Dallas Buyers Club bisa jadi akan menandai terciptanya sejarah, di mana seorang bocah asal Texas berhasil mengangkat tropi Oscar untuk pertama kalinya. McConaughey melakukan sesuatu yang ekstrim, McConaughey harus rela melakukan diet ketat, menghilangkan 23 kilogram berat tubuhnya untuk menjadi

Ron Woodroof, tukang listrik dan fans berat rodeo asal Dallas, Texas di era 80′an yang umurnya diperkirakan hanya bersisa 30 hari lagi setelah dokter memvonisnya mengidap AIDS. Seperti kebanyakan orang lain yang tak siap mati, Woodroof yang panik kemudian melakukan penelitian mandiri ke sana-sini, mencari jalan untuk menyembuhkan penyakitnya, termasuk mengkonsumsi berbagai macam obat-obatan dari yang legal, ekperimental sampai bahkan sampai yang dilarang oleh FDA (Lembaga negara yang berurusan dengan obat-obatan dan makanan) di mana pada akhirnya mempertemukannya dengan dokter muda, Eve (Jennifer Garner) yang bersimpati kepadanya dan Rayon (Jared Leto), seorang transeksual dengan penyakit yang sama yang kemudian bersamasama dirinya membentuk sebuah organisasi bawah tanah bernama “Dallas Buyers Club”.

Seperempat awalnya Dallas Buyers Club seperti ingin menghadirkan sebuah melodrama emosional nan depresif tentang bagaimana seseorang menghadapi sisa-sisa hidupnya pasca divonis akan mati karena HIV, apalagi setelah kamu melihat bagaimana luar biasanya McConaughey menampilkan sebuah rasa putus asa hebat dalam sebuah adegan di dalam mobil. Jika kamu mengira film ini akan


menghabiskan sisa durasinya dengan lebih banyak penderitaan, keputusaasaan dan air mata, itu wajar jika kamu berada di dalam bagian penonton yang belum pernah mengetahui kisah seorang Ron Woodroof sebelumnya. Dalam perjalannya Dallas Buyers Club tidak berakhir sesempit itu. Ya, Ron Woodroof akan mati, sama seperti manusia-manusia lain dengan atau tanpa AIDS. Tetapi bukan itu yang menjadikannya menarik, bahkan sampai dipuji-puji kritikus. Jean-Marc Vallée dengan bantuan duo screenwriter Craig Borten dan Melisa Wallack yang menerjemahkan naskahnya tahu benar bagaimana membuat Dallas Buyers Club berkembang dari tontonan depresif cengeng menjadi sebuah biopik besar yang akan merembet ke manamana, dari sebuah drama survival dari seorang pecundang, pemabuk, pecandu

hebatnya di slot peran pendukungnya. Di mainkan oleh Jared Leto, karkater transgender Rayon tidak hanya menandakan kembalinya sang vokalis 30 narkoba homofobik dan opurtunis Seconds to Mars setelah empat licik menjadi manusia baru berhati tahun absen berakting, namun besar yang akan merubah undangia adalah screen stealer di Dallas undang tentang obat-obatan Texas Buyers Club. Karakter Rayon yang selamanya. Ada sebuah fakta fiktif itu sama kompleksnya dengan menarik di sini ketika penyelidikan Ron Woodwroof. Rayon adalah Woodroof membentur tembok karakter yang membutuhkan bernama “bisnis medis” yang pengorbanan besar dari Leto. Sama diisi dengan berbagai kepalsuan, seperti McConaughey ia juga kepentingan, kekuasan dan tentu saja harus menurunkan berat badannya jumlah uang yang besar, menjadikan sampai 15 Kg, menghilangkan manusia-manusia yang sudah semua bulu ditubuhnya, mencukur susah semakin menderita karena habis alisnya, merubah suaranya percobaan mahal yang sia-sia. Maka dengan aksen Texas, menggunakan dari situlah Dallas Buyers Club lahir, make-up tebak dan wig, ya, selain sebagai sebuah organisasi sebuah dedikasi tidak percuma bisnis yang mencari untung dari seorang Jared Leto, lihat saja dengan mencari anggota sebanyakbagaimana juri-juri Independent banyaknya dengan imbalan obatSpirit, Critics’ Choice, Golden obatan “aman”, dalam perjalannya Globe and Screen Actors Guild organisasi ilegal itu juga akan award terpesona oleh performa merubah seorang Ron Woodroof fantastisnya. selamanya. Sementara ada akting yang tidak kalah

Ron Woodroof: Let me give y’all a little news flash. There ain’t nothin’ out there can kill fuckin’ Ron Woodroof in 30 days.


Moviemagz

MOVIES REVIEWS

Liam Neeson :

NON STOP Dari Paris sampai kockpit pesawat yang sempit, di manapun kamu menempatkannya dalam sebuah film aksi, Liam Neeson sejauh ini belum pernah gagal untuk selalu disukai dan dipercaya penontonnya. Non-Stop juga bukan pengecualian. Kombinasi maut Neeson, penyutradaraan cepat Jaume ColletSerra dan naskah misteri penuh kejutan menghasilkan sajian dengan semburan adrenalin tingkat tinggi, berbaur manis bersama ketegangan dan klimaks yang dijamin efektif memuaskan buat kalian pencinta film aksi dan thriller.

Tua-tua keladi, semakin tua semakin jadi. Ya.. itulah pepatah yang tepat untuk seorang actor kawakan sekelas Liam Neeson. Entah kenapa Liam Neeson yang sudah mulai tua malah lebih sering mendapatkan film action ketimbang film non action yang sesuai dengan umurnya. Setelah dua seri film Taken ralis di pasaran dunia Liam Neeson berubah menjadi seorang polisi udara di genre film action thriller di ketinggian 40.000 kaki dibawah garapan sutradara Perancis, Jaume Collet-Serra dimana sang sutradara pernah kerja sama dengan Liam di film Unknown 2011 lalu. Hampir 90% settingnya berada di pesawat penumpang yang berada di ketinggian 40.000 kaki. Neeson adalah Bill Marks, U.S. federal air marshal alkoholik yang benci terbang. Tetapi kali ini ia harus melupakan dulu soal ke tidak sukaannya berada di angkasa dengan kecepatan Moviemagz Mei 2014 64


MOVIES REVIEWS

menjelang bubar. Sejak karkater Bill Marks menerima pesan misterius di smart phone-nya, kadar suspense-nya seakan-akan tidak pernah berhenti menguji rasa penasaran. Penonton tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di menit berikutnya, sama seperti Bill yang malang, selalu ada kejutan baru menunggu dirinya. Beruntung Non-Stop punya ColletSerra yang piwai mengolah set pieces-

“

Bill Marks: I’m not hijacking this plane. I’m trying to save it! .

“

800km/jam karena ada seorang tak dikenal di antara para penumpang dalam penerbangan New YorkLondon menerornya dengan menebar ancaman akan membunuh setiap orang jika permintaannya untuk mentransfer uang sebesar 150 juta Dollar ke sebuah akun rahasia tidak di penuhi. Sebenarnya film ini terinspirasi dari sebuah film Thriller yang samasama bersetting di dalam pesawat seperti Flightplan dan Red Eye sampai referensi klasik, Strangers on Train-nya Hitchcok dan novel Ten Little Indians milik Agatha Christie, misteri yang ditawarkan oleh NonStop terjaga rapi sampai 20 menit

nya, menggerakan kameranya dengan dinamis untuk menciptakan adegan demi adegan yang jauh dari monoton meskipun parade aksinya baru datang menjelang akhir dan masih dijumpai beberapa plot hole yang untung saja tidak sampai terlalu menganggu. Sementara para penumpang lainnya juga mempunyai andil besar dan memberikan daya tarik tersendiri karena membuat kita selalu berada dalam posisi yang sama tidak tahunya dengan Bill, harus menebak-nebak mana si pelaku dan mana yang hanya penumpang biasa dan semuanya itu mencurigakan.

Review by : Harry Susanto (MOVIENTHUSIAST)


SS W W VVIEIE E E RR S S E E VVII O O MM

ENEMY S

eperti biasanya, sutradara Kanada Denis Villeneuve kembali menghadirkan tema kesukaannya, sebuah thriller pelan yang membakar plus twist, hanya jika dibandingkan dengan filmfilm Villeneuve lainnya, Enemy yang diadaptasi dari novel The Double-nya JosĂŠ Saramago ini bisa dibilang penuh ekperimen dan jauh lebih njelimet untuk dikonsumsi, sedikit banyak sudah mengingatkan saya kepada filmfilm milik David Lynch yang ‘gila’ itu. Villeneuve kembali membawa kembali Jake Gyllenhaal dari Prisoners yang dingin, memaksanya menumbuhkan janggut tebal

untuk didapuk sebagai guru sejarah bernama Adam Bell. Suatu hari ketika Adam menyewa sebuah film yang direkomendasikan rekan kerjanya, ia menemukan sebuah kejutan besar di sana. Adam mendapati bahwa salah satu figuran di dalam film tersebut persis dengan dirinya. Dilanda rasa pensaran luar biasa, Adam kemudian terobsesi menyelidiki aktor yang belakangan diketahui bernama Anthony Claire itu. Menariknya, keduanya yakin mereka bukan saudara kembar. Dibuka dengan opening scene di sebuah tempat temaram, seperti sebuah klub seks terselubung yang

melibatkan wanita telanjang dan tarantula, lalu adegannya langsung melompat ke sebuah kelas di mana karakter Adam Bell sedang mengajar tentang kediktaktoran. Ya, adegan pembukaanya seperti tidak nyambung, dan itu baru awal dari perjalanan panjang nan membingungkan yang dibungkus Villeneuve oleh dominasi nuansa palet pastel suram yang mencekam dan dua Jake Gyllenhaal berewokan dengan dua pasangan dan kehidupan berbeda (MĂŠlanie Laurent & Sarah Gadon) yang kemudian ditemukan dalam satu frame yang membuat semuanya menjadi semakin membingungkan Tetapi tenang saja, meskipun terkesan rumit dan penuh Moviemagz Februari 2014 66


simbolisme macam karya-karya David Lynch, sebenarnya Enemy tidak sampai sesureal dan seabsurd itu. Ya, memang mungkin kamu akan dipaksa untuk menontonnya lebih dari satu kali dalam usaha menemukan maksud dari semua momen surealnya, tetapi kamu akan menyadari bahwa Villeneuve dan penulis naskah Javier Gullon sebenarnya sudah sangat berbaik hati untuk memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menganggumu. Ini seperti sebuah jigsaw puzzle kuning besar berdurasi satu jam setengah di mana setiap kepingannya menunggu untuk ditemukan guna membentuk wajahnya secara keselurhan. Dan kepingan-kepingan Moviemagz Februari 2014 67

“

Berbeda dengan film-filmnya sebelumnya, dalam Enemy Denis Villeneuve mencoba sesuatu yang berbeda ketika ia dengan sukses menghadirkan tekateki psikologis rumit yang berpotensi ditinggalkan dan dicintai penontonnya sama besarnya, dan

saya memilih yang pertama.

itu sebenarnya sudah terhampar di setiap adegan, di setiap dialog yang semunya secara cerdas berhasil diolah Villeneuve menjadi sebuah sajian thriller kompleks sekaligus cerdas. Ya, Villeneuve berhasil mempermainkan penontonnya, memoles premis yang sebenarnya simpel jika dirangkai secara normal, memaksa kita untuk menyusun satu adegan ke adegan lain, menyambung setiap momen, membedakan mana batasan antara nyata dan mana yang tidak, dan jika kamu menelan semuanya bulat-bulat maka Enemy dipastikan akan menghancurkanmu dengan endingnya yang bisa membuamu mengeluarkan sumpah serapah..

Review by : Harry Susanto (MOVIENTHUSIAST)


S W E VI ebenarnya sangat mudah mengulas film satu ini, ya, I, Frankenstein itu E R S buruk, sangat buruk, bahkan buat penontonnya yang sudah membentengi E I V pikirannya dengan ekpektasi paling rendah sejak jauh-jauh dari rumah, MO

S

ini akan menjadi pengalaman menonton yang sangat mengecewakan. Dari sini sebenarnya kamu sudah bisa berhenti membaca, dan jangan bilang saya tidak memperingatkanmu. Jangan salah, sebenarnya sci-fi fantasi adaptasi komik grafis Kevin Grevioux ini punya konsep menarik terutama ketika ia mencoba membawa monster horor klasik rekaan Mary Shelley populer itu ke setting modern masa kini, memoles fisik mahkluk mengerikan ciptaan Dokter Frankenstein menjadi terlihat lebih rupawan tanpa embel-embel baut besar di leher, lebih lincah dengan ukuran tubuh atletis dan lebih mematikan ketika sang monster dalam wujud Aaron Echart penuh jahitan beraksi menghantamkan dual stick bajanya ke kepala-kepala para serdadu Iblis berkostum parlente di tengah-tengah peperangan abadi Gargoyle (Miranda Otto) dan Demon (Bill Nighy). Sayang, semua kesenangan itu hanya sebatas konsep gila yang tidak bekerja. Memulai kisahnya dengan ending novelnya, I, Frankenstein terlihat seperti sekuel dari literatur lama milik Mary Shelley yang bolak balik dibuatkan filmnya itu. Tidak usah heran jika aroma gotik-modernnya terasa familiar dengan apa yang pernah dihadirkan quadrilogi Undeworld, karena keduanya memang berasal dari kepalanya Grevioux sang empunya komik yang turut membantu merebus naskahnya, dan kebetulan, juga ada Bill Nighy di dalamnya. Lalu kamu juga merasakan deja-vu dengan trilogi Blade, bukan hanya karena tokoh utamanya sama-sama seorang antihero pembasmi setan- vampire di Blade-, tetapi juga ketika setiap kali

Moviemagz Mei 2014 69


ia menghancurkan demon yang berakhir dengan balutan api menyilaukan. Tetapi, jujur saja, I, Frankenstein itu lebih kacau dari franchise Underworld dan Blade yang buat saya sudah termasuk medioker, bahkan parade pertarungan penuh CGI mewah antara pasukan Gargoyle pimpinan Miranda Otto dan iblis yang dikomandani oleh sang pangeran kegelapan dalam wujud Bill Nighy itu akan menjadi cepat usang dan membosankan. Tanggung jawab jelas ada pada pundak sang sutradara sekaligus penulisnya, Stuart Beattie (penulis naskah Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl, Collateral, G.I. Joe: The Rise of Cobra ) yang tidak piawai meramu konsepnya menjadi sajian yang, yah, paling tidak berada di taraf menghibur lah. Plotnya payah dan membosankan, karakter Adam si monster Frankenstein itu konyol bukan main, tidak hanya karena tampilan fisiknya yang sangat jauh berbeda dari gambaran versi klasiknya, tidak hanya karena tampang jutek Aaron Eckhart di sepanjang film seperti sedang mederita hernia, tetapi ada kekosongan dibalik tubuh penuh jahitan. Memang ada cerita tentang perjalanan panjang dari sosok Adam – begitu ia dinamakan oleh sang ratu Gorgoyle-, ciptaan yang marah dalam usahanya mencari jawaban tentang eksitensinya di dunia, tetapi bagian itu tidak pernah benar-benar dipoles dengan serius, hanya sebagai tempelan belaka buat konflik utamanya; peperangan malaikat dan iblis di bumi yang sebenarnya juga sama saja mengecewakannya, termasuk romansanya bersama ilmuwan cantik, Terra Wade (Yvonne Strahovski) yang terobsesi membangkitkan orang mati. Beruntung masih ada Bill Nighy yang sejauh ini belum pernah mengecewakan ketika memerankan sosok antagonis dengan keangkeran yang keluar dari permainan kata-kata halus dan tatapan dinginnya. Summary : Sekali lagi, I, Frankenstein itu buruk, bahkan saking buruknya ia bahkan bisa membuat arwah Mary Shelley bangkit dari kuburnya dan mencekik mati Stuart Beattie yang lacang merusak ciptaannya.


E

ntah apa yang ada di pikirannya, alih-alih membuat seri ke-limanya tahun lalu, Oran Peli sang kreator-produser malah menundanya, lebih memilih untuk menghadirkan The Marked Ones yang didapuk sebagai spin-off latino dari franchise Paranomal Activity kesayangannya. Ya, memang tidak pernah mudah untuk melanjutkan cerita keluarga terkutuk, Featherston yang sudah mulai basi itu, bahkan sejak seri ke-tiganya saja sudah ia tampak terseok-seok hingga puncaknya, Paranormal Activty 4 mederita banyak di narasinya yang mulai melebar ke manamana. Tetapi sebagai seorang fans garis kerasnya, saya tentu saja tidak melewatkan begitu saja kehadiran “sepupu� wara laba horor laris ini dekade ini, meskipun sekali lagi banyak ulasan negatif menyerangnya, Masih setia menggunakan format found footage mentah, sama dengan pendahulunya, The Marked Ones bergentayangan di komunitas hispanik yang mendiami Oxnard, California. Memperkenalkan karakter baru bernama Jesse (Andrew Jacobs), remaja yang baru saja lulus SMU. Keluarga Jesse tinggal di sebuah apartemen kecil, bertetanggaan dengan penghuni aneh yang berada persis di lantai bawahnya. Pasca kematian salah satu penghuninya, Jesse bersama sahabatnya, Hector (Jorge Diaz) nekat memasuki kediaman tetanggannya itu, mendokumentasi semua dengan kamera genggamnya, menemukan

barang-barang aneh berbau ilmu hitam dan pintu bawah tanah tersembunyi. Dan seperti kebanyakan horor, kelancangan dipastikan akan berbuah petaka, maka Jesse dan Hector harus menerima konsekunsi fatal dari segala keusilan mereka. Mengambil setting waktu setelah peristiwa seri ke-empatnya. Meskipun dilebeli sebagai spin-off, The Marked Ones ini lebih pantas kamu sebut sebagai sebuah sekuel karena ceritanya menyambung langsung dari cerita terdahulu. Sebagai benang merahnya, The Marked Ones menampilkan kembali manusia-manusia dari pradesesornya seperti Ali Rey (Paranormal Activity 2), KatieKristi kecil (Paranormal Activity 3) dan tentu saja, Katie Featherston dewasa yang selalu muncul di semua serinya, menemani karkater-karkater baru Jujur, meskipun mengakui sebagai fans beratnya saya tidak pernah berharap banyak pada instalemen terbaru PA ini, apalagi mengingat ini sebuah spin-off. Dan benar saja, The Marked Ones mengecewakan, termasuk buat penonton yang memuja franchise ini macam saya. Tidak ada hal baru di sini, seperti berjalan di tempat yang sama, semuanya sudah pernah kamu lihat, parahnya The Marked Ones tersaji dengan kualitas keangkeran yang menurun jauh , bahkan dari seri ke-empatnya sekalipun yang digadang-gadang sebagai seri terburuk. Di bawah kendali Christopher B. Landon sutradara yang juga bertindak sebagai

penulis naskahnya termasuk naskah dua seri PA terdahulu, The Marked Ones lagi-lagi sangat pelit memberikan petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi di dunia PA. Ini seperti menyusun kepingan 1000 puzzle di mana The Marked Ones mungkin hanya memberikan 1/10 kepingannya dengan banyak mengulangi hal- hal yang sama. Tidak ada gambaran besar, tidak ada arah ke mana franchise ini akan berakhir anti. Kesabaran dalam membangun kengeriannya menghilang, orisinalitasnya payah, kecuali kamu menganggap “Ouija board� elektronik berlampu merah, kuning, hijau dan biru itu sebagai sesuatu yang istimewa. The Marked Ones terasa lebih mengagetkan ketimbang menakutkan. Tetapi ada kesenangan tersendiri menikmati 10 menit terakhirnya, 10 menit yang mungkin menjadi bagian terbaik dari The Marked Ones , 10 menit yang agak menggedor kuat jantungmu, sisanya, ini tidak lebih dari sebuah perpanjangan franchise yang tidak perlu.


A

nimasi CGI terbaru DreamWorks ini memang punya konsep aneh. Mencoba membawa hubungan manusia dengan hewan peliharaannya, dalam kasus Mr. Peabody & Sherman- adaptasi dari salah satu segmen kartun jadul berusia 50 tahun, The Rocky and

Bullwinkle Show- adalah anjing ke level lebih tinggi, bukan lagi sekedar relasi antara majikan dan petnya, namun ayah dan anak, dan yang mengejutkan si ayah adalah Mr. Peabody (Ty Burrell), beagle kecil berdasi merah super jenius yang juga bisa berbicara dan bertingkah layaknya manusia. Lalu ada Sherman (Max Charles), putranya, seorang bocah manusia yang diadopsinya sejak bayi secara legal. Dan petualangan seru melintasi waktu pun dimulai ketika Sherman terpaksa harus menunjukan mesin waktu ciptaan Mr. Peabody -WABAC machine- ke teman sekelasnya, Penny Peterson (Ariel Winter). Dibanding animasi Lego Movie yang muncul lebih dahulu tahun ini, Mr. Peabody & Sherman mungkin kalah pamor. Keduanya hanyalah karakter lama, bagian kecil yang berada di bawah bayang-bayang serial kartun rusa dan tupai yang juga sama tuanya itu. Tetapi dibawah tangan dingin sutradara Rob Minkoff (The Lion King, dua seri Stuart Little) dan animator-animator kreatif DreamWorks, siapa sangka Mr. Peabody & Sherman bisa menjadi tontonan santai yang menyenangkan buat semua usia. Penonton mudanya akan dihibur oleh kualitas animasi penuh warna, efek 3D memanjakan mata dan tentu saja deretan karakter-karakter yang lucu dan loveable, bahkan joke-jokenya juga tidak sampai seberat Lego yang terasa segmented dan terlalu dewasa itu.

Moviemagz Mei 2014 72


Sementara audiens yang lebih dewasa akan menikmati perjalanan menembus waktunya, kekacauan paradoks yang ditimbulkan, termasuk akan sibuk menerangkan kepada anak, adik atau keponakan mereka yang mungkin akan bertanya siapa-siapa saja tokoh sejarah yang didatangi trio Mr. Peabody, Sherman dan Penny? Dari momen kabur dari kejaran Raja Tut di Mesir kuno, lolos dari hukuman pancung bersama Marie Antoinette di revolusi Perancis, menolong Leonardo da Vinci membuat sang Monalisa tersenyum sampai ikut dalam pertempuran legendaris Troya bersama Raja Agamemnon, dan masih banyak lagi cameo-

cameo ikonis yang berseliweran di sini- Oedipus, Einstein, Spartacus, bahkan Bill Clinton- semua disajikan seru dan menghibur tanpa harus berusaha berumit ria. Harus diakui, narasi time travel Mr. Peabody & Sherman garapan Craig Wright (“Six Feet Under,” “Dirty Sexy Money”) meskipun tidak menawarkan hal baru dan sesuatu yang rumit seperti kebanyakan film-film bertema perjalan waktu lainnya, namun ia tetap menyenangkan untuk diikuti. Dukungan pengisi suaranya juga sedikit banyak membantu. Ada Ty Burell, aktor jebolan sitkom televisi Modern Family mengisi jiwa Mr.

Peabody yang canggih, sedikit sombong namun penuh kasih sayang dan perhatian, sementara Searman dikuasai oleh keceriaan Max Charles, aktor muda yang sempat memerankan Peter Parker kecil di The Amazing SpiderMan. Lalu ada bintang Modern Family lainnya, Ariel Winter turut memeriahkan kekacauan yang menyenangkan ini dalam wujud Penny Peterson.


D

ari meledaknya jembatan Mapo yang membelah sungai Han sampai runtuhnya sebuah pencakar langit, sulit dipercaya thriller oktan tinggi Korea Selatan satu ini faktanya hanya berada dalam satu lokasi sempit saja di nyaris 98 menitnya. Ya, ia punya konsep thriller klaustrofobik seperti Buried atau mungkin yang paling mendekatinya, Phone Booth, hanya saja garapan Kim Byung-woo ini berksala lebih besar, tidak hanya karena stasiun radio yang berada di sebuah gedung tinggi itu lebih luas ketimbang peti mati dan bilik telepon umum, namun juga karena premis tentang terorisme, satire sosial-media dan sindiran terhadap pemerintahan yang semuanya tersaji live via televisi. Diceritakan pagi itu, mantan anchor televisi top yang dimutasi ke bagian radio sebagai penyiar, Yoon Young-hwa (Ha Jung-woo) melakukan aktivitasnya seperti

Moviemagz Mei 2014 74

biasa; menerima telepon yang masuk sembari membahas tentang topik hangat tentang isu-isu politik dan pemerintahan. Hanya saja ketika suara pria di ujung telepon yang merasa tak terima ketika Young-hwa memutus perbicangannya sepihak berakhir, sebuah bunyi ledakan keras terdengar dari kejahuan. Apa yang terjadi sungguh mengerikan, ternyata ancaman bom dari sang penelpon misterius yang dianggap hanya gertakan sambal oleh YoungHwa benar-benar terjadi, jembatan Mapo luluh lantak. Thriller berbau aksi terorisme mungkin bukan barang baru untuk dipamerkan, tetapi dengan melakukan pendekatan berbeda siapa sangka kombinasi usang itu bisa menjadi sangat menggigit, coba lihat apa yang dilakukan Kim Byung-woo ketika ia berhasil memanfaatkan minimnya lokasi untuk menghasilkan teror maksimal. Ya, thriller dengan lokasi

terbatas punya tantangan tersendiri untuk dibuat, di satu sisi ia jelas menghemat budget, di satu sisi lagi, jika tidak piawai mengolahnya, ia akan menjadi tontonan basi. Beruntung Byung-woo tahu persis bagaimana melakukan pekerjaannya. The Teror Live adalah one of kind thriller yang efektif, setidaknya sampai second act-nya. Semua insdien yang melibatkan ledakan hanya terlihat melalui televisi dan jendela dari gedung tempat kerja karakter utamanya. Narasi yang juga ditulis Kim Byung-woo bergerak cepat secara real time sejak 5 menit pertama. Di mulai dari ledakan besar di jembatan Mapo, Byung-woo kemudian membentuk protagonis kita untuk menjadi sosok anti hero egois yang tidak mau melaporkan perbincangannya ke pihak berwajib, alih-alih, ia malah menghubungi bekas atasannya, meminta pekerjaannya sebagai news anchor dikembalikan


dan memafaatkan kekacauan luar biasa itu buat memperbaiki hidup dan kariernya. Dari sini kadar suspensenya seperti tidak pernah mengendur, setelah membentuk identitas tokoh utama sedari awal yang dalam perjalannya kemudian terjebak antara berbagai kepentingan, Byung-woo menempatkan sang teroris yang hampir di sepanjang filmnya hanya terdengar suaranya via telefon dengan sebuah motif personal yang mengundang dilema moral dan simpati. Ya, caranya mungkin salah, namun kita bisa memaklumi kenapa ia sampai melakukan itu semua. Sementara ada sentilan keras terhadap media massa yang opurtunis, media massa rakus yang memanfaatkan segalanya demi menaikan rating, bagi mereka deritamu adalah beritaku, dan itu benarbenar menjadi subteks terbesar The Terror Live selain korupsi dalam pemerintahan. Sedikit mengendur ketika memasuki babak terakhirnya. Setelah Byung-woo mengungkap siapa pelakunya, otomatis ia langsung meninggalkan beberapa kelogisan yang susah payah dibangun rapi sejak awal. Suspense-nya berkurang dan ia bergerak menjadi action yang cheesy. Beruntung endingnya tidak sampai menjadi murahan, ada perubahan besar terjadi pada tokoh utamanya dalam perjalannya menuju akhir yang menentukan. Dan beruntung juga Byung-woo memiliki aktor sebaik Ha Jungwoo (The Chaser, The Yellow Sea, The Berlin File) yang sukses mengemban beban besar di sini sebagai sentral segalanya nyaris tanpa cela.


MOVIES REVIEWS

Director: Carl Rinsch Writers: Chris Morgan, Hossein Amini Stars: Keanu Reeves, Hiroyuki Sanada, Ko Shibasaki Tidak bisa mengingat dengan jelas kapan sebuah film adaptasi novel percintaan yang menempatkan remaja SMA dalam sorot utama penceritaan berhasil membuat perhatian saya tertahan – satu hal pasti, tidak ada satu pun dari tahun lalu. Ketimbang memuaskan, ratarata menjelma sebagai suguhan yang menjemukan. Apakah ini sebuah pertanda bahwa saya tidak lagi cocok menikmati sebuah film dengan target pasar utama adalah para remaja usia belasan? Tentu itu bukan menjadi alasan. Sebuah film remaja yang bagus, tentunya bisa dinikmati semua kalangan. Untuk saya, Me & You vs The World arahan Fajar Nugros termasuk salah satu dari sedikit yang berhasil. Memang, menilik dari sisi penceritaan tidak terlampau istimewa dan bisa dikatakan klise, namun Me & You vs The World masih begitu menyenangkan untuk disimak. Terlebih, segala kenangan Review By Taufik Rizal CINETARIZ

manis dan pahit saya semasa SMA pun turut kembali mengemuka saat menyaksikan film ini. Didasarkan pada novel karangan Stanley Meulen, Me & You vs The World memperkenalkan penonton kepada Sera (Dhea Seto), seorang gadis SMA kutu buku yang kehidupan sosialnya hanya berkisar di sekolah. Nilai-nilainya memang sempurna, kedua orang tua serta para guru menyayanginya, akan tetapi, sebagai seorang remaja kehidupan Sera berjalan begitu hambar dan monoton. Nyaris tidak ada kesenangan di dalamnya. Segalanya berangsurangsur menemui titik perubahan saat takdir mempertemukannya dengan Jeremy (Rio Dewanto) yang mencoba mengenalkan konsep ‘Menaklukkan Dunia’ kepada rekanrekan sekolahnya. Menentang keras di awal, tanpa disadari Sera menemukan sebuah dunia baru yang selama ini tidak pernah

dirasakannya yang membuatnya jatuh hati. Sera menerima ajakan Jeremy untuk menyelami kehidupan penuh kebebasan dan suka cita ini lebih dalam – bahkan membuatnya rela menanggalkan predikat siswi teladan. Segalanya memang tampak baik-baik saja dan mengasyikkan... hingga Sera dan Jeremy bertindak melampaui batas. Klise? Memang. Me & You vs The World beranjak dari sebuah novel remaja dengan kadar keklisean tinggi yang memudahkan siapapun untuk menebak kemana sederetan konflik yang diapungkan akan bermuara. Tapi apa ini berarti buruk? Tidak. Bagus atau tidak, menarik atau tidak, sebuah film tidak ditentukan oleh seberapa klise (atau seberapa inovatif) jalinan pengisahannya melainkan bergantung kepada penanganan yang terampil sehingga saat disajikan mampu menggugah


selera penonton. Dan... Fajar Nugros berhasil melakukannya untuk Me & You vs The World. Beruntung, dia diberkahi tim yang solid sehingga meski serba klise dalam penuturannya, film produksi Rapi Films ini masih dapat hadir sebagai sebuah tontonan yang jenaka, mengasyikkan, manis sekaligus menyentuh. Para penonton usia belasan akan dengan mudah menggilainya, sementara mereka yang telah menapaki usia dua puluh ke atas masih bisa menikmatinya terlebih bagi yang memiliki banyak cerita tentang masa-masa SMA. Kekuatan utama dari Me & You vs The World bersumber dari departemen akting, naskah, dan musik. Rio Dewanto dan Dhea Seto yang ditempatkan di garda terdepan mampu menunjukkan performa yang solid dengan chemistry yang terajut secara meyakinkan dan bisa dipercaya. Review By Taufik Rizal CINETARIZ

Mengingat telah terbiasa di ranah romansa, Rio Dewanto seolah tiada mengalami kesulitan berarti. Dia mampu menampilkan ekspresi dan reaksi yang tepat dalam konflik yang dihadapinya, memberikan ‘bantuan’ kepada Dhea Seto tentang apa yang seharusnya dilakukan. Kehadiran deretan pemain pendukung pun menguatkan posisi para pemeran utama. Mereka mendapat porsi penting dan bukan sekadar pengisi ruang kosong belaka. Salah satu yang menonjol adalah Gofar Hilman – sebagai Baron, sahabat Jeremy – yang difungsikan sebagai tokoh yang menghadirkan gelak tawa. Gofar Hilman melakoninya dengan tidak berlebihan, tampak bersenangsenang, dan menghidupkan setiap adegan yang dia jalani. Memberi keceriaan yang dibutuhkan oleh film ini. Tapi tentu saja Me & You vs The World tak akan hadir sekuat ini tanpa sokongan naskah olahan Endik

Koeswoyo dan skoring musik dari Andhika Triyadi. Tidak sepenuhnya patuh pada sumber asli, Endik Koeswoyo melakukan sejumlah perombakan dan membubuhkan cukup banyak dialog ceplas ceplos yang menyegarkan serta menyuntikkan sedikit kehangatan. Menjadi semakin bernyawa saat Andhika Triyadi turun tangan untuk melakukan tugasnya, menghidupkan setiap adegan dalam film. Salah satu yang terbaik adalah adegan di penghujung film yang berlangsung di India dan melibatkan tarian-tarian. Magis! Kehadiran tembang pengiring yang meminjam vokal merdu Ashilla pun menajamkan suasana yang menggugah dan menyayat hati. Perpaduan (dan peleburan) dari kesemuanya inilah yang menjadikan Me & You vs The World terasa lebih kokoh, hidup, dan mengikat ketimbang film romansa remaja belakangan ini. Menyenangkan.


DAFTAR FILM INDONESIA RILIS APRIL 2014

Perfilman Indonesia penuh sesak di bulan April ini. Betapa tidak, terdapat belasan film karya sineas dalam negeri yang akan memeriahkan bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Adaptasi dari novel laris masih menjadi unggulan utama di bulan ini. Selain itu, ada pula film seram berdasarkan urban legend, film yang menempatkan girl band sukses, aktris asing dan entertainer yang tengah naik daun sebagai pemain utama, hingga film dokumenter yang telah melanglang buana di beragam festival film tingkat internasional. Untuk lebih lengkapnya, inilah film-film Indonesia yang dirilis pada April 2014:

1. 3600 DETIK Sutradara : Nayato Fio Nuala Penulis Naskah : Haqi Achmad Pemain : Shae, Stefan William, Wulan Guritno, Febby Febiola, Joshua Suherman, Indra Birowo Tanggal rilis : 3 April 2014 SINOPSIS >> Kehidupan Sandra (Shae) berubah drastis semenjak kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Sandra menunjukkan kemarahannya terhadap dunia dengan mengecat rambutnya menjadi merah terlebih sang ibu, Widya (Wulan Guritno), kelewat sibuk dengan pekerjaannya. Mencoba untuk memerbaiki keadaan, Widya mengajak Sandra pindah ke luar kota. Nyatanya, kehidupan tidak lantas menjadi lebih baik. Kawan-kawannya menyebut Sandra dan sahabat barunya, Leon (Stefan William), sebagai dua orang aneh. Tak ingin dipandang sebelah mata, Sandra pun mengajak Leon untuk membuktikan diri. Kala semuanya seperti telah membaik, Leon mendadak hilang. Belakangan diketahui, Leon menyimpan sebuah rahasia besar. Moviemagz Mei 2014 78


2. CALEG BY ACCIDENT Sutradara : Joko Nugroho Penulis Naskah : Joko Nugroho, Erwin Akbar Pemain : Julia Perez, Agus Kuncoro, Babe Cabiita, Rony Dozer, Lely Sagita Tanggal rilis : 3 April 2014 SINOPSIS >> Sundari (Julia Perez), Radit (Agus Kuncoro), dan Ridho (Babe Cabiita) yang telah bersahabat sejak kecil pernah berikrar akan menjadi sahabat untuk selamanya. Akan tetapi, menginjak usia dewasa, persahabatan mereka menemui ujian kala ketiganya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif karena didesak oleh keadaan. Persahabatan manis yang lantas berubah menjadi persaingan hati, kini menjelma dalam bentuk perseteruan sengit di panggung politik. Review By Taufik Rizal CINETARIZ


3. CRUSH Sutradara : Rizal Mantovani Penulis Naskah : Teguh Sanjaya, Alim Sudio Pemain : Deva Mahendra, Anisa, Angel, Christy, Kezia, Ryn, Gigi, Steffy, Cherly, Felly, Sam Brodie Tanggal rilis : 10 April 2014 SINOPSIS >> Demi mengembangkan citra ke arah lebih baik, produser meminta Cherrybelle untuk membentuk koreografi tari baru. Untuk mewujudkannya, pihak manajemen mendatangkan penari senior di Jakarta, Andre (Deva Mahendra), sebagai pelatih. Kehadiran Andre membuat para personil salah tingkah, terutama Kezia. Suatu hari, Andre menemukan sebuah surat cinta dari penggemar rahasia yang membuatnya marah dan memutuskan untuk berhenti mengajar. Merasa bersalah, Cherly sebagai ketua Cherrybelle pun memutuskan untuk mencari Andre yang belakangan diketahui berada di kota Glenmore yang diperkirakan dekat dengan Melbourne. Mendapat bonus jalan-jalan ke Australia, personil Cherrybelle pun memanfaatkannya untuk memulai petualangan menyusuri keberadaan Andre.

5. SEPATU DAHLAN ISKAN Sutradara : Benni Setiawan Penulis Naskah : Benni Setiawan Pemain : Aji Santosa, Donny Damara, Kinaryosih, Ray Sahetapy, Kirun, Teuku Rifnu Wikana, Elyzia Mulachela Tanggal rilis : 10 April 2014 SINOPSIS >> Didasarkan pada novel laris manis rekaan Khrisna Pabichara, Sepatu Dahlanberceloteh seputar kehidupan masa kecil hingga remaja dari Menteri BUMN, Dahlan Iskan, di Magetan. Menjalani kehidupan yang susah, Dahlan cilik (Aji Santosa) terbiasa berjalan kaki sejauh 12 km ke sekolah tanpa mengenakan sepatu.dan bekerja keras untuk membantu orang tua mencari nafkah. Kala itu, Dahlan mendambakan sepatu dan sepeda. Sebuah keinginan yang membawa Dahlan ke dalam petualangan hidup yang penuh warna.


4. JALANAN Sutradara : Daniel Ziv Penulis Naskah : Daniel Ziv, Ernest Hariyanto Pemain : Bambang Mulyono, Boni Putera, Titi Juwariyah Tanggal rilis : 10 April 2014 SINOPSIS >> Jalanan berkisah tentang Jakarta dan potret Indonesia melalui mata tiga pengamen muda yang humoris dan gigih menjalani hidup; Titi, Boni, dan Ho. Film ini mengikuti ketiganya secara intim dan mengangkat keseharian mereka yang terpinggirkan dari hiruk-pikuk Ibukota, tanpa rekayasa. Menggunakan lagu-lagu orisinil berkarakter kuat karya trio musisi tersebut sebagai kemudi cerita, film ini menelusuri kesepian, duka, asmara, kisruh perceraian, meriah perkawinan, hingga dorongan seksual mereka di tengah riuh rendah Jakarta yang dikendalikan oleh globalisasi dan korupsi.

6. KESURUPAN SETAN Sutradara : Subakti IS Penulis Naskah : Endik Koeswoyo Pemain :Cicio Manassero, Ola Rossa, Kiki Fatmala, Donny Tanggal rilis : 17 April 2014 SINOPSIS >> Olla (Ola Rossa) yang mengidap penyakit tidur berjalan nyaris tewas tertabrak mobil. Khawatir peristiwa akan terulang, Handoko (Donny Kesuma) dan Nining, membeli sebuah rumah yang jauh dari jalan raya. Sebelum pindah, Olla dan kawan-kawannya mendatangi rumah tersebut tanpa sepengetahuan Handoko. Yang tidak mereka ketahui, ini bukan rumah biasa. Ada roh jahat yang menjadi penghuni dan siap untuk meneror mereka.


7. ME & YOU VS THE WORLD Sutradara : Fajar Nugros Penulis Naskah : Endik Koeswoyo Pemain : Rio Dewanto, Dhea Seto, Gofar Hilman, Bucek, Zoya Amirin, Manohara Odelia, Atiqah Hasiholan Tanggal rilis : 17 April 2014 SINOPSIS >> Jeremy (Rio Dewanto) yang jenuh dengan pekerjaan dan rutinitasnya, mencetuskan konsep ‘Menaklukkan Dunia’ yang tidak disangka-sangka memperoleh tanggapan memuaskan sehingga sang atasan memberi lampu hijau untuk mengembangkannya. Jeremy mengkreasi acara yang cowok banget dan membawanya ke sekolah-sekolah dimana dia berjumpa dengan Sera (Dhea Seto) yang juga tengah mengalami kebosanan dengan dunia remaja SMU. Adanya kecocokan diantara keduanya, membuat Jeremy dan Sera menjadi dekat satu sama lain.

8. JOMBLO KEEP SMILE Sutradara : Yoyok Sri Hardianto Penulis Naskah : Andovi da Lopez, Jovial da Lopez Pemain : Caisar, Kemal Palevi, Kimberly Ryder, Joe P Project, Reza Aditya Tanggal rilis : 17 April 2014 SINOPSIS >> Di tengah kesibukan mempersiapkan pernikahan sang kakak, Agus (Kemal Palevi) jatuh cinta kepada temannya semasa SMA, Angeline (Kimberly Ryder). Mengira Angeline adalah sosok yang materialistis, Agus melakukan pendekatan dengan mengendarai mobil baru yang merupakan kado dari sang ayah untuk sang kakak. Lantaran kelewat fokus terhadap Angeline, Agus melupakan banyak hal termasuk mobil sang kakak. Dia pun meminta bantuan Boris (Caisar), bos Mafia se-Asia Tenggara, untuk memecahkan masalahnya.


9. MALL KLENDER Sutradara : Jose Poernomo Penulis Naskah : Riheam Junianti Pemain : Shandy Aulia, Tasya Kamila, Denny Sumargo, Igor Saykoji Tanggal rilis : 24 April 2014 SINOPSIS >> Sejak diramalkan indera keenamnya akan terbuka di usia 23 tahun, Mila (Shandy Aulia) menjadi sangat penasaran dengan dunia gaib. Bersama ketiga sahabatnya, Panji (Denny Sumargo), Karina (Tasya Kamila), dan Danang (Igor Saykoji), Mila mencari bukti-bukti keberadaan aktivitas supernatural di berbagai tempat sehingga impian mereka untuk mempunyai acara investigasi dunia gaib bisa tercapai. Sayangnya, mereka tidak pernah berhasil mendapatkan satu bukti pun hingga sebuah tantangan dari seorang pemilik mal datang kepada mereka. Mereka dikurung selama 24 jam di dalam sebuah mal yang digosipkan angker. Pada waktu itu juga umur Mila menjadi 23 tahun.


10. MODAL DENGKUL Sutradara : Ceppy Gober Penulis Naskah : Dani Jaka Pemain : Sonya Fatmala, Rully Fiss, Aline Adita, Dallas Pratama Tanggal rilis : 24 April 2014

7. GUARDIAN Sutradara : Helfi Kardit Penulis Naskah : Helfi Kardit Pemain : Dominique A Diyose, Sarah Carter, Tio Pakusadewo, Nino Fernandez Tanggal rilis : 30 April 2014 SINOPSIS >> Setelah sang suami terbunuh, Sarah (Dominique A Diyose) yang mencoba untuk mengajarkan ilmu bela diri kepada sang putri, Marsya (Belinda Camesi), ternyata masih diburu oleh Paquita (Sarah Carter) dan kelompoknya. Mengetahui hal ini, Sarah lantas meminta bantuan sahabat suaminya di kepolisian, Kapten Roy (Nino Fernandez), yang rupanya juga diincar oleh anak buah Oscar (Tio Pakusadewo).

SINOPSIS >> Jodi (Rully Fiss), karyawan pemalas yang tidak kunjung mengalami kemajuan karir setelah tiga tahun bekerja, akhirnya dipecat. Di tengah keterpurukannya, Jodi bertemu dengan teman semasa SMA, Kunyuk (Dallas Pratama), yang menawarinya pekerjaan sebagai pemijat pria. Terdesak keadaan, Jodi menerimanya dan dalam waktu singkat, Jodi menjadi salah satu pemijat paling dicari. Kehidupan Jodi pun berjalan mulus, termasuk menjalin hubungan dengan pelanggannya yang kaya, Anet (Aline Adita). Semuanya mendadak berubah saat Jodi jatuh hati dengan seorang pelayan cantik di restoran mewah, Dianka (Sonya Fatmala).


Dara berparas cantik yang lahir di New York, USA, tanggal 2 Juni 1995 ini memang daftar film yang ia mainkan belum begitu banyak di tanah air, berkat kecantikan wajah yang dimiliki dirinya Chelsea sering kali jadi brad ambasador dari berbagai macam produk di Indonesia. Movie Magz (MM): Sekarang kamu lagi sibuk apa? Chelsea Islan (CI): Saat ini aku sedang sibuk dengan Promo Film Street Society dan juga persiapan untuk Kuliah. MM: Bisa kamu jelaskan peran kamu di dalam film street society sebagai siapa? Selain kamu, ada siapa lagi yang ikut serta bermain di film Street Society? Dan filmnya sendiri mengenai apa? CI: Peran aku di Film Street Society ini bisa dibilang cukup tricky, Nama karakterku adalah Karina dan disitu Karina adalah DJ yang baru pindah ke Jakarta dari Berlin. Karina sendiri ada beberapa misi yang harus dia selesaikan. Kepribadian dan jiwa Karina pun juga agak licik dan

terganggu. Selain aku, di Film ini juga banyak sekali Aktor dan Aktris ternama yang hebat yaitu; Marcel Chandrawinata, Ferry Salim, Kelly Tandiono, Edward Gunawan, Edward Akbar, Daniel Topan, Wulan Guritno, Yogie Tan dan Moudy Zanya. MM: Sebelum bermain di film Street Society kamu pertama kali bermain di film apa dan dengan siapa lawan mainnya waktu itu? CI: Film sebelumnya dan yang pertama aku adalah “Refrain�, yang dibintangi oleh Afgansyah Reza dan Maudy Ayunda. MM: Siapa yang menyuruh kamu pertama kali untuk terjun ke dunia hiburan tanah air? CI: Sebenarnya sejak kecil aku

sudah sering ikut pentas seni teater dan dari situlah aku kemudian berfikir untuk ikut serta dalam film layar lebar. Aku memang suka sekali dengan Akting. MM: Katanya suka olahraga ekstrim, bisa kamu jelaskan kenapa kamu memilih olahraga ekstrim tersebut?Dan olahraga ekstrim apa yang kamu suka? CI: Menurut aku kita boleh saja mencoba hal baru. Aku sendiri memang suka Diving, Swimming, Cycling dan Gokarting. Olahraga tersebut justru yang seru untuk aku pribadi. MM: Belajar aktingnya dari mana? CI: Aku belajar Akting sejak main Teater.


MM: Akting yang menurut kamu berat saat menjalani adegan apa, kenapa dan dimana? CI: Akting yang cukup berat adalah di adegan-adegan terakhir di Film Street Society dimana Karina “looses her mind�. Ini adalah surprise untuk semua penonton.

MM: sebelum jadi artis, pernah tidak mengalami kegagalan ataupun ditolak saat melakukan casting? Biasanya ditolak karena apa? CI: Sebelumnya aku tidak pernah ditolak, namun aku sudah pernah casting 2 film sebelumnya dan tidak masuk nominasi. MM: Apa reaksi pertama kali temen kamu saat mereka tahu sahabatnya bermain di film yang bertemakan balapan?Soalnya kan banyak yang bilang kalau film ini mengikuti gaya di film Fast & Furious. CI: Teman-teman aku turut senang dan excited dengan hasil karya aku. Kalau soal gaya, tentunya menurut aku tidak bisa di samakan dengan Fast and Furious karena dari segi sinematografi dan cerita pun berbeda. MM: Cara kamu mendalami peran yang kamu mainkan di film ini seperti apa?apakah jalan bareng dulu biar kenal karakter satu sama lainnya sesama pemain, atau gimana? CI: Untuk mendalami karakter aku sebagai Karina, aku harus banyak baca buku psikologi dan mengasah akting skill dan aku sendiri harus build chemistry dengan para pemain agar lebih lancar aktingnya saat shooting.

MM: Syutingnya sendiri memakan waktu berapa lama dan berapa hari syutingnya? CI: Shootingnya memakan waktu sekitar 3 bulan. MM: Sebelum melakukan syuting atau lagi istirahat, waktu itu ada keinginan tidak kamu merasakan sensasi drift dari para pemilik mobil ber cc besar itu? CI: Aku mendapatkan kesempatan untuk menyetir mobil tersebut saat shooting, namun dari keseluruhan Film Street Society aku hanya mendapatkan 1 scene dimana aku harus mencoba untuk menyetir mobil Lamborghini Gallardo. MM: Genre filmnya sendiri lebih ke drama percintaan atau banyak adegan memicu adrenalin? CI: Genre filmnya adalah Action, namun film ini terdiri dari 50% Action dan 50% Drama. Balanced. MM: Menurut kamu film-film Indonesia sudah bisa dibilang maju belum dari segi cerita, akting pemain dan sebagainya? CI: Menurut aku sendiri, film-film di Indonesia sudah maju dari segi cerita dan akting pemain karena industri perfilman di Indonesia is developing. MM: Aktor, aktris, dan film favoritnya hingga sampai saat ini

siapa? CI: Aktor favorit aku adalah Johnny Depp, Aktris favorit aku adalah Natalie Portman. Film favorit aku adalah Upside Down atau The Royal Tenenbaums dan Moonrise Kingdom (directed by Wes Anderson). MM: Menuurut kamu perlu tidak adanya kurikulum belajar seni, seperti belajar menjadi sutradara, penulis skenario dll di dalam pendidikan kita? CI: Menurut aku itu sangat penting jika kurikulum tersebut dimasukan ke dalam pendidikan di Indonesia karena di luar negeri anak-anak itu berhak memilih subject apa saja yang mereka ingin pelajari. Maka dari itu kurikulum belajar tentang seni sangatlah penting dan tentunya lebih interaktif. MM: Proyek film selanjutnya apa? CI: Projek film selanjutnya adalah Film Di Balik Pintu Istana yang menceritakan tentang Kejadian Mei 98 dan Tragedi Trisakti. Sebuah Film Sejarah. Wajib ditonton :) [Tyo].


103 mts Release Date 29 October 2010 Genre Fantasy, Horror Runtime Director André Øvredal Stars Otto Jespersen, Robert Stoltenberg Rating Rated PG-13 for some sequences of creature terror

T

idak peduli seberapa palsunya genre ini, tampaknya mockumentary benar-benar sudah menjadi tren mewabah akhirakhir bagi para sienas dunia untuk dapat menghadirkan efek horror lebih nyata. Setelah terakhir ada Singapura dengan Haunted Changinya, kali ini Norwegia pun sepertinya juga tidak mau ketinggalan menghadirkan sajian fake documenter versi mereka dalam The Troll Hunter yang diluar dugaan saya sebelumnya ternyata mampu tampil mengagumkan. Dari judulnya saja sebenarnya kita sudah dapat mengetahui bahwa horror-thriller garapan André Øvredal akan menawarkan sesuatu yang berbeda dari mockumentary

lainnya yang kebanyakan selalu terjebak dalam kisah-kisah hantu, klenik ataupun alien. Nah, dalam The Troll Hunter, André Øvredal akan mengajak penontonnya, khususnya bagi mereka para pengila mockumeter bersama ketiga mahasiswa yang juga para filmaker muda serta seorang pemburu profesional bernama Hans untuk menjadi saksi sebuah perburuan terhebat abad ini. Seperti menyaksikan acara perburuan hewan buas dalam Discovery Channel ataupun National Geographic, namun bukan singa ataupun beruang yang dijadikan target buruan mereka disini, melainkan Troll, ya, anda tidak salah baca, memang Troll, mahluk raksasa buas berwajah jelek dengan bau tubuh luar biasa

yang berasal dari mitologi bangsa skandinavia dimana biasanya hanya dapati dalam dongeng anak-anak maupun kisah-kisah fantasi seperti seri Harry Potter atau trilogi Lord of The Rings kini akan hadir dalam balutan dokumenter yang digarap dengan sangat realistis, meyenangkan dan menegangkan ini. Dari awal tampaknya André Øvredal sudah menyiapkan The Troll Hunter dengan sangat baik. Dibuka dengan narasi yang sepertinya ingin meyakinkan penontonnya bahwa dokumenter yang berasal dari potonganpotongan footage hard drives sepanjang 283 menit ini memang bukan rekayasa dan sudah dibuktikan keasliannya oleh tim investigasi yang berwenang


meskipun kita tahu bahwa pernyataan tersebut seperti kebanyakan mocku lainnya hanyalah akalakalan pembuatnya untuk menarik perhatian. Lucunya lagi closing credit terdapat sebuah pernyataan menggelikan, “no Trolls were harmed during the making of the movie” yang seakan-akan malah membenarkan kepalsuan film ini. Menyaksikan The Troll Hunter seperti menyaksikan gabungan antara keseraman mistis dalam The Blair Witch Project dan ketegangan ala Cloverfield, namun menariknya disini André Øvredal juga menyelipkan serta tips-tips bagaimana memburu Troll yang baik dan benar, fakta-fakta menarik dibalik mahluk berbulu itu, semuanya tersaji dalam balutan humorhumor suble ala budaya Norse yang satir. Jika dibanding kan kedua film diatas, The Troll Hunter terasa lebih ‘rajin’ dalam memberikan penampakanpenampakan’ dan kejutan-kejutan di sepanjang 90 menit, sehingga jauh dari kesan membosankan, terutama bagi mereka yang kurang menyukai genre ini, apalagi semuanya terbungkus oleh rangkaian adegan aksi yang mencekam plus dukungan CGI rapi dan meyakinkan, membuat para Troll

yang terdiri dari berbagai jenis dan ukuran ini terlihat sangat nyata. Selain itu André Øvredal sepertinya tahu benar bagaimana mengkesploitasi keindahan lanskap Norwegia yang dingin dengan sangat baik. Senang rasanya ketika mengetahui bahwa The Troll Hunter ternyata mampu berbicara lebih banyak dari yang saya kira sebelumnya. Yup, untuk ukuran sebuah horror mockumentary yang kurang terdengar gaungnya, jelas karya André Øvredal satu ini layak di beri acungan dua jempol, bukan hanya karena sukses menghadirkan premis yang orisinil dan menyegarkan, namun juga bagaimana Øvredal mengemasnya dengan apik, serealistis mungkin dan sangat menghibur.

Hans:“ My job is to kill al l the t r olls who br eak ou their t t of errito ries…”


Release Date 21 December 12 Genre Thriller, Mystery Runtime 108” min Director Oriol Paulo Stars José Coronado, Hugo Silva, Belén Rueda Rating Rated PG-13 for alcohol, sex and nudity and some frightening scenes

Y D O B THE

Aka. EL CUERPO

Menonton sebuah film bergenre thriller dengan kandungan misteri dan suspense bertegangan tinggi di dalamnya bisa kalian rasakan lewat sebuah film baru berjudul The Body a.k.a El Cuerpo, debut dari sutradara Spanyol, Oriol Paulo. Dimana kesemuanya itu dikemas menjadi sebuah kesenangan tersendiri yang dimulai dari pangkal hingga ujungnya dengan sebuah ‘bonus’ besar: a jaw droping surprise di ending-nya. Moviemagz Mei 2014 90


D

ibuka oleh peristiwa tertabraknya seorang satpam kamar mayat hingga koma setelah sebelumnya ia lari terbirit-birit seperti dikejar hantu dari tempat kerjanya. Tetapi kecelakaan itu hanya permulaan dari sebuah rollercoaster misteri yang berliku. Selanjutnya kita akan menemukan Detektif Jaime Pena (Jose Coronado) dan pasukannya datang menyelidiki, bukan untuk mencari siapa pelaku penabrakan namun kenapa sampai satpam tua itu kabur tungang langgang. Semuanya terjadi karena adanya kejadian aneh yang melibatkan hilangnya mayat seorang wanita kaya bernama Mayka Villaverde (Belen Rueda) yang baru saja meninggal akibat serangan jantung. Teori-teori pun mulai bermunculan, ada yang mengatakan bahwa mungkin saja dicuri untuk dijual organnya, atau dibunuh sang suami Ă lex Ulloa (Hugo Silva) dan mayatnya diambil agar jejak-jejak pembunuhannya tidak terdeteksi, atau teori yang paling gila, Mayatnya hidup lagi. The Body menghadirkan misteri-misteri yang dijamin akan mengelitik rasa penaranmu. Sejak awal sang sutradara sudah mengeber alur ceritanya dengan cepat tanpa pernah mengendurkan intensitasnya

sedikitpun. Aroma pekat horor klaustrofobik menyesakan dengan setting kamar mayat bercampur dengan elemen suspense misteri gelap ala Hitchock dan juga neo-noir sempat meleburkan batas antara realita dan supranatural. Akan ada banyak pertanyaan yang keluar dari kepalamu. Siapa yang mencuri mayat Mayka? Apakah benar Mayka hidup kembali guna menuntut balas ke suaminya yang telah membunuhnya? Tentu saja akan ada jawaban di ujung sana yang sudah menantimu, tetapi sebelum kamu benar-benar sampai di sana, Paulo seperti terlebih dahulu ingin mempermainkanmu dengan caranya yang pintar (baca: licik), sama seperti ia sudah mempermainkan karakter-karakter di dalamanya sama seperti apa yang pernah dibuatnya ketika menuliskan naskah buat thriller Spanyol lain yang juga dibintangi Belen Rueda (The Orphanage). Terserah apakah dalam perjalananya nanti kamu akan suka atau tidak dengan cara Paulo menghamburkan kepingan puzzle-nya bersama rentetan rewind penting yang didominasi oleh hubungan Mayka dan Ulloa dan juga selingkuhan Ulloa, Carla (Aura Garrido) yang pasti kamu akan dengan sabar menunggu dan menanti bagaimana semua kepingan itu tersusun dalam sebuah rahasia besar sudah dipersiapkan Paulo untuk membuatmu menganga di

10 menit terkahir. Ya, itu adalah sebuah giant twist yang datangnya tak disangka-sangka, twist yang akan memutar balik narasi The Body 180 derajat dan mengirimnya ke teritori yang sama sekali berbeda. Untuk mengatakan lebih banyak tentang endingnya ini jelas tidak akan menguntungkanmu sebagai penontonnya. Cukup saya katakan bahwa Paulo sangat percaya diri dalam mengeksekusi set piecesnya, termasuk menyembunyikan satu pecahan puzzle penting yang tidak akan pernah kamu temukan sebelum ceritanya benar-benar berakhir. Mungkin konklusinya terasa terlalu sempurna, nyaris tanpa cela, terlalu too good to be true, tetapi apapun itu, harus diakui Paulo berhasil dengan total ‘mengerjaimu’. Pertunjukan utamanya memang misteri dan twistnya, tetapi bukan berarti tidak ada karakter menarik di dalamnya. Setiap tokohnya punya motif terselubung, setiap karakternya punya masa lalu yang ingin dihilangkan. Sayang Belen Rueda tidak maksimal karena tuntutan perannya yang harus membuatnya terkesan misterius. Namun perseteruan Jose Coronado dan Hugo Silva di sepanjang film itu bisa menjadi highlight tersendiri terutama bagaimana satu dengan yang lainnya berusaha adu pintar dengan motif berbeda.


Release Date 31 July 2008 Genre Thriller, Drama Runtime 105� min Director Nash Edgerton Stars David Roberts, Claire van der Boom Rating Rated R for violence and language and some sex scene

K

ita sama-sama mengenal seorang Joel Edgerton sebagai aktor Australia yang namanya tengah naik beberapa tahun terakhir ini sejak menjadi saudara Tom Hardy di The Warrior, remake The Thing sampai salah satu tentara pemburu Osama Bin Laden di Zero Dark Thirty, tp jujur saya tidak pernah tahu jika ia ternyata juga jago sebagai screenwriter, dan The Square yang penyutradaraannya diserahakan kepada sang abang, Nash Edgerton 2008 lalu adalah buktinya. Ide ceritanya sendiri datang

dari kepala Joel dan membutuhkan tujuh tahun untuk dapat benarbenar merampungkan narasi thriller kriminal domestik tentang pasangan selingkuh; Raymond Yale (David Roberts) and Carla Smith (Claire van der Boom) yang sudah menyusun rencana matang untuk kabur bersama dari kota kecil mereka dan memulai hidup baru dengan mencuri satu tas berisi uang milik suami Carla. Tetapi seperti kata orang bijak, “manusia boleh berencana, tetapi pada akhirnya Tuhan yang memutuskan�. Ya, tuhan di sini jelas adalah Edgerton sang

empunya cerita dan Edgerton tampaknya tidak suka dengan aksi perselingkuhan. Jadi Alih-alih membuat rencana Ray dan Carla berjalan mulus, Edgerton memberi mereka satu kesalahan kecil yang di luar perkiraan ternyata menjadi awal dari rangkaian peristiwa demi peristiwa mengerikan. Saya suka ceritanya, tidak percuma memang Edgerton mengodognya sampai tujuh tahun karena hasilnya sangat solid dan efektif. Ibarat bola salju yang menggelinding dan berakhir dengan sebuah kekacauan, itulah yang terjadi pada perjalanan Moviemagz Mei 2014 92


plot The Square. Sedikit pelan di awal dengan segala perkenalan dan sedikit latar belakang namun selanjutnya ia sangat percaya diri mulai bergulir hebat, menjadi rumit dan merampas semua perhatianmu bersama retetan kejadian dan ketidakberuntungan yang dialami oleh dua cast utamanya, bagaimana satu adegan dengan adegan lainnya saling membelit erat menghasilkan bencana bernama surata takdir yang kejam. Dan ketika dua bersaudara Edgerton seperti memberi sedikit mulus, BAMMM!! endingnya akan menghantamu

keras. Bukan berarti kamu tidak melihatnya (ending) datang, tetapi hanya sepersekian detik dari ketika kamu menyadari apa yang akan terjadi dan tiba-tiba, ya, seperti yang saya katakan, BAMMM! Tidak ada seorangpun yang menyukai adultery, perselingkuhan, perzinahan atau apapun lah namanya. Dan seperti kebanyakan film-film bertama sama, The Square pun tidak memberi ruang kebahagiaan buat pasangan terlarang yang dihantam banyak cobaan itu. Namun entah kenapa saya bersimpati dengan dua tokoh utamanya dan bisa

merasakan ketegangan dan ketakutan yang merka rasakan, seperti ingin melihat mereka bisa lari bersama dan membangun kebahagiaan meskipun yah, berakhir tidak sesuai rencana. Mungkin karena Edgerton sudah membuat karakter-karakter di dalamnya tidak berlebihan dan membumi. Mereka begitu manusiawi, memancarkan sifat ketakutan dan rasa curgia berlebih serta bagaimana bagaimana sebisa mungkin menutupi kebohongan dan rahasia mereka.


S

There is some thing within us all.

howtime telah mengumpulkan sebuah kelompok luar biasa yang terdiri dari aktor, sutradara, dan penulis untuk menghidupkan serial baru pencampuran semua jenis ikon makhluk horor melegenda di “Penny Dreadful�. Judul serial ini mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, namun namanya sendiri mengacu pada sebuah publikasi Inggris tua yang menampilkan cerita serial horor menyolok yang hanya memakan biaya, biasakah anda menebaknya? Ya! hanya satu penny (sen). Meskipun serial ini mungkin awalnya mewakili sebuah bentuk hiburan murah, tetapi Penny Dreadful buatan AMC ini tidak. Bagi anda yang mencari serial gelap, twisted dan mengerikan, anda bisa mendapatkannya dalam episode pilot serial ini, yang menampilkan beberapa pemandangan paling mencekam dan

rentetan jalan cerita yang mungkin belum pernah anda saksikan dilayar televisi sebelumnya. Serial yang berbasis di London ini dibuka pada akhir 1800an dengan seorang ibu muda yang bangun untuk pergi ke kamar mandi di tengah malam dan satu-satunya cahaya yang ada hanyalah lampu minyak di tangan, dan saat sang ibu muda sedang membuang air kecil, sesuatu muncul dari dinding dan menculiknya. Kita kemudian mengetahui bahwa telah terjadi serangan serupa di beberapa tempat dan biasanya berakhir dengan lautan darah merah dan uraian usus. Di sinilah letak keindahan dari sebuah serial yang tayang di sebuah jaringan televisi berbayar, anda bisa menyaksikan adegan kekerasan atau adegan tidak senonoh yang memang dibutuhkan untuk mendukung isi cerita tanpa sensor sana-sini, dan seperti yang Josh Harnett sebutkan. “You can have the characters say f**k�. Moviemagz Mei 2014 96


Sebagian besar jalan cerita Penny Dreadful berfokus pada tiga peneliti yang mencoba untuk mencegah kekerasan dan perbuatan tidak senonoh. Pertama adalah Vanessa (Eva Green), yang kita tidak akan mengetahui banyak tentangnya selain ia mempunyai kemampuan meramal, ia juga tahu bagaimana menakuti seorang vampir dengan hanya menatapnya, dan sering berdoa untuk tetap menjaganya jauh dari mara bahaya. Josh Harnett berperan sebagai Ethan Chandler, seorang Amerika yang penyendiri dan seorang penembak jitu yang berusaha untuk menjaga kenangan masa lalunya tetap terkubur. Setelah terkesan dengan ketangguhan dan kemampuan menembaknya, Vanessa mengundang Ethan untuk bergabung dengannya dan Sir Malcom (Timothy Dalton) dalam penyelidikan mereka. Meskipun mereka tidak secara terangterangan memberitahu Ethan apa yang diperlukan. Itu adalah sebuah tindakan cerdas, karena Ethan mungkin tidak akan mempercayai mereka, tapi itu juga menjadi

semacam langkah yang buruk karena mereka cepat kehabisan opium saat bertempur melawan ribuan vampir, mengarungi kolam dengan darah 3 inci dengan tumpukan ribuan mayat yang sudah hancur. Adegan pertempuran melawan para penghisap darah sangat baik dikoreografikan, membuat kita berharap akan banyak lagi melihat petualangan dan aksi melawan makhluk-makhluk pembunuh di episode kedepannya.


Dari sana kita akan menemukan bahwa putri dari Sir Malcom adalah wanita yang diculik di awal episode. Ia percaya bahwa vampir telah menculiknya, dan ia rela melakukan apapun untuk mendapatkan putrinya kembali, seperti menjadikan seorang koroner paling elit sekaligus terkutuk di London (Harry Treadway) sebagai penasihat ahli tentang mayatmayat vampir, berharap akan menemukan beberapa petunjuk mengenai keberadaan pemimpin mereka. Penampilan Treadway disni sangat intens dan berkarakter, setiap saat ia muncul di layar televisi, anda tidak akan bisa mengalihkan penglihatan anda pada dirinya. Tampaknya ada sesuatu yang membahayakan tentang koroner cemerlang ini, dan jika indra anda peka padanya, seperti yang akan kita ketahui di akhir episode, ia tidak lain dan tidak bukan adalah Victor Frankenstein, dan dia baru saja berhasil mendapatkan ilmu menghidupkan

kembali mayat dengan menggabungkan organ-organ tubuh mereka. Sejak kita melihat Frankenstein dan monsternya di episode satu, anda yang mempunyai uang receh lebih harus bertaruh pada serial ini akan menampilkan si makhluk menakutkan, Dracula, sebagai pemimpin para vampir yang menghuni jalan-jalan kota London. Bagi anda yang sangat menyukai serial Dracula yang baru tayang di NBC pada musim gugur kemarin, Penny Dreadful bisa menjadi serial alternatif sambil menunggu musim kedua serial Dracula tersebut. Tapi saya yakin kualitas cerita dan penggambaran akan sedikit jauh


berbeda dari serial NBC tersebut, mengingat Penny Dreadful tayang di jaringan televisi premium, tentu saja tidak akan ada adegan yang disensor seperti yang terdapat pada serial Dracula yang terkesan “tanggung� itu. Selain akan dimanjakan dengan cerita yang mencekam, adegan sadis tidak manusiawi dan tentunya bumbu seks ala Showtime, jangan lupa juga deretan para pemeran dalam serial ini. Sebut saja Josh Harnett yang sudah cukup lama kabarnya tidak terdengar tibatiba muncul dalam sebuh serial televisi ini. Bukan fenomena baru memang seorang aktor atau aktris yang terjun ke layar kaca, karena memang banyak aktor dan aktris perfilman Hollywood yang mulai melirik seksinya layar kaca sejak dua atau tida tahun belakangan. Terlebih dalam kurun beberapa tahun ini layar kaca dipenuhi dengan serial-serial berkualitas dengan deretan akting yang memukau para penonton setianya. Selain Harnett, adapula

si seksi berwajah antagonis, Eva Green, yang jam terbangnya di layar kaca sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, lalu ada aktor kawakan mantan James Bond, Timothy Dalton. Dai jajaran pemain muda ada Billie Piper yang pernah menjadi companion Doctor Who, si tampan Harry Treadaway sebagai Victor Frankenstein dan si karismatik muda Reeve Carney sebagai Dorian Gray. Well, kita tunggu saja penampilan mereka dalam serial yang sudah ditunggutunggu banyak orang di Amerika sana pada 11 Mei mendatang di saluran televisi Showtime.

K yd


Meet

The Dreadfuls

Timothy Dalton

Sir Malcom

Anggun, misterius dan pribadi yang benar-benar tenang, Vanessa adalah keindahan menggoda dan tangguh penuh rahasia dan bahaya. Dia sangat jeli, bahkan berpandangan jauh kedepan serta seorang cenayang berpengalaman. bakat supernaturalnya sangat kuat dan berguna bagi orang-orang di sekitarnya, terutama Sir Malcom, tetapi mereka semua itu juga beban yang berat. Iblis -iblis dalam dirinya sangat nyata bagi Vanessa dan orang di sekitarnya, and mereka mengancam untuk menghancurkan hubungannya, kejiwaannya dan tentu kehidupannya.

Josh Harnett

Ethan Chandler

Seorang penjelajah Afrika tangguh dalam sebuah misi pribadi yang mendalam, Sir Malcom telah membayar harga yang berat untuk karirnya yang menarik. Meskipun rumahnya yang megah penuh dengan cendra mata yang luar biasa dari perjalanannya, itu semua didapatkan tanpa keluarga dan orang-orang yang ia cintai di sisinya. Dengan bantuan Vanessa, ia bertekad untuk merubah segala keburukan di masa lalu dengan perjalanan terberatnya ada di depan.

Vanessa Ives Eva Green

Seorang pria asal Amerika yang menawan dan menemukan dirinya terjebak di sudutsudut tegelap London pada era Victoria. pesona Ethan dan perilakunya adalah penakluk para wanita. Ketika Sir Malcom menemukannya untuk membantu dalam misi pribadi, Ethan bertemu Brona Croft, seorang wanita lokal cantik dengan masa lalu yang misterius. Namun dibalik mata cerah Ethan, mengintai rahasia yang gelap. Dia lari dari sesuatu, dan masa lalu yang mengganggunya mengancam untuk menyalip dirinya di setiap kesempatan.

Moviemagz Mei 2014 100


Dorian Gray Reeve Carney

Dorian adalah pemuda kaya raya yang ketampanannya hampir mengerikan. Kulitnya memancarkan cahaya keemasan yang memabukkan para pemuda dan menawarkan janji-janji. Seseorang yang mementingkan kesenangan nan ceroboh, ia memiliki sifat jahat yang berbatasan dengan bahaya. Seperti tidak ada yang menggangu hidupnya dan tidak ada resiko yang terlalu besar pula. Bahkan, wajar kalau ia tertarik pada itu semua.

Ia lebih terlihat seperti penyair romantis dari pada seorang ahli bedah, Dr. Frankenstein adalah seorang yang halus, berjiwa lembut yang terpesona oleh misteri kehidupan dan kematian. Ia telah mendedikasikan hidupnya untuk meneliti apa yang membuat seusatu hidup, dan telah mengorbankan segalanya untuk mengejar penelitian ilmiahnya. Tapi dia bermain dengan api, dan penelitiannya terbayar dengan cara yang mengejutkan dengan konsekuensi yang menghancurkan.

Danny Sapani

Sembene

Brona adalah seorang imigran Irlandia miskin yang mencoba untuk melarikan diri dari masa lalu yang kelam dan kotor. Namanya dalam bahasa Gaelic berarti “kesedihan�, namun ia tetap indah, bersemangat dan sangat hidup. Brona membentuk ikatan dengan Ethan Chandler, yang akan melakukan apapun untuknya.

Dr.Victor Frankenstein Harry Treadaway

Billie Piper

Brona Croft

Sembrene adalah orang Afrika yang memiliki jaringan parut ritual di wajahnya yang mengabdi sebagai penjaga dan kepercayaan Sir Malcom. Dia memiliki udara misteri tentang dirinya dan upaya heroik akan terbukti sangat berharga bagi Sir malcom dalam misi pribadinya.


I

nside Llewyn Davis, salah satu karya terbaik Coen bersaudara yang tahun lalu mendapat begitu banyak pujian, namun ternyata tidak begitu dipedulikan pada musim penghargaan tahun ini. Walaupun demikian Coen bersaudara masih punya satu proyek lagi, kali ini berupa serial yang akan rilis di FX ( salah satu stasiun TV di Amerika ) berjudul FARGO, cukup familiar dengan nama itu? Memang betul, ini adalah judul yang sama dengan film mereka yang mereka buat 18 tahun lalu, yang mana kala itu film ini memenangkan Academy Award. Beberapa waktu yang lalu pihak FX telah merilis teaser pertama dari serial ini, yang mana memberi kita sedikit gambaran mengenai serial tersebut. Joel and Ethan Coen sendiri bertanggung jawab penuh dalam serial ini sebagai produser eksekutif, didampingi oleh Warren Littlefield dan Noah Hawley yang juga sama-sama bertanggung jawab sebagai penulis cerita. Terdiri dari 10 episode, sama dengan serial FX yang lain. Dengan komitmen yang pendek ini para pembuat serial ini berkesempatan

untuk menarik para talent top, sementara masih membuka pintu bagi kemungkinan menjadikan ini sebuah antologi yang akan berkembang dengan satu set karakter-karakter baru. Kita beralih ke karakter-karakter yang akan berperan disini, Billy Bob Thornton akan memerankan Lorne Malvo, “seorang pria manipulative, berasal-usul tidak jelas yang bertemu dengan seorang penjual asuransi dari kota kecil dan membawanya ke jalan kehancuran.“ Martin Freeman memerankan Lester Nygaard, karakter yang terinspirasi dari Jerry Lundegaard, karakter yang diperankan oleh William H. Macy di film originalnya. Lester yang “ditindas oleh istrinya,� namun hidupnya berubah saat Malvo datang ke kotanya. Turut membintangi adalah pendatang baru Allison Toleman sebagai Deputy Molly Solverson, yang tampaknya mengisi peran yang berdasarkan Marge Gunderson-nya Frances McDormand. Adam Bernstein (Breaking Bad) yang akan menyutradarai episode pertama serial Fargo ini. Moviemagz Mei 2014 102


Teasernya sendiri cukup simple, menunjukkan Thornton yang sedang membersihkan es dan salju dari mobilnya, memang sebuah pemandangan yang familiar untuk kita di musim dingin, sementara lagu “It Only Hurts For a Little While� dari The Ames Brothers diputar di radio. Saat bagian dari lagunya yang berbunyi “it only hurts for a little while, that’s what they tell me, just wait and see,� membuat kita bertanya-tanya, bila lirik tersebut mengacu kepada antisipasi kita yang intense dan panjang terhadap serial ini (atau mungkin kematian karena mesin pemotong kayu). Satu hal yang jelas, klip ini memiliki ambiance yang dingin , teramat sangat dingin, dari film pertama. Dan walaupun cuma muncul sebentar, Thornton berhasil memperlihatkan ekspresi sinis pada wajahnya. Mungkin bagian tersulit pada serial ini adalah pada percakapan antar karakter,

disini para pelatih dialek disewa oleh produser agar semua pemeran berbicara dengan logat North Dakota yang otentik. Bukan cuma soal pengucapan saja, namun juga soal berapa banyak yang harus dan tidak harus dikatakan. Fargo

versi serial TV yang akan tayang pada 15 april nanti akan mengikuti jiwa dari versi film layar lebarnya, sangat gelap, penuh drama yang tidak biasa, menggabungkan komedi dengan graphic violence. Bersettingkan dalam dunia yang sama dinginnya dengan film terdahulu, tetapi dengan karakter-karakter yang berbeda. Secara keseluruhan, drama Frago ini bercerita tentang sebuah drama karakter, bukan tentang siapa yang melakukan dan apa yang dilakukan, melainkan tentang manusia itu sendiri dan lingkaran hubungan yang mereka jalin,.

E ichi01


The Untold Story of America’s First Spy Ring.

B

erdasarkan buku karya Alexander Rose, Washington Spies, dan diangkat ke layar kaca oleh Craig Silverstein, Turn menceritakan kisah yang tidak pernah diceritakan sebelumnya tentang jaringan mata-mata pertama di Amerika. Thriller sejarah selama Perang Revolusi, serial Turn berpusat pada seorang Abe Woodhull (Jamie Bell), seorang petani yang tinggal di pemukiman koloni Inggris di Long Island yang bersamasama dengan teman-teman masa kecilnya untuk membentuk jaringan the Culper Ring, sekelompok agen rahasia yang tidak hanya berangkat untuk membantu George Washington mengubah arus perang revolusi Amerika, tetapi juga melahirkan jaringan spionase modern. Turn berseting di Long Island, Amerika Serikat pada tahun 1778 dan mendramatisir sebuah cerita nyata dari the Culper Ring (jaringan Culper), sebuah jaringan dari beberapa orang mata-mata yang kerjanya adalah untuk membantu Jendral George Washington memerangi Inggris. Salah satu anggota utamanya adalah Abe Woodhull, seorang petani Kubis muda dan seorang ayah yang tidak ingin terjebak dalam kekacauan sosial dan politik dalam koloni-koloni. beberapa penduduk desa seperti ayahnya, Hakin Richard Woodhull (Kevin McNally), yang menurutnya berpurapura sejalan dengan orang-orang Inggris lebih masuk akal, sementara yang lain memihak kepada patra pemberontak, tentunya. Simpati Abe secara umum sesungguhnya adalah dengan para pemberontak,


tetapi untuk sebagian besar lainnya, dia hanya ingin menanam kubis dan mengabdi pada istri dan anaknya yang masih bayi. Dengan tidak begitu bersemangat, Abe tertarik menjadi mata-mata untuk the Culper Ring, dan segera rasa patriotisme yang sebelumnya tidak aktif menjadi terangsang. Mematamatai adalah sebuah pekerjaan berbahaya, bahkan pada tahun 1778, karena anda tidak akan pernah bisa memastikan siapa saja yang benar-benar ada di sisi siapa. Ben Talmadge (Seth Numrich), seorang perwira di kesatuan kontinental, peracaya bahwa informasi adalah kunci dari kemenangan atas Inggris dan menentang perwira seniornya ntuk merekrut Abe. Teman Abe, Caleb Brewster (Daniel Henshall) salah satu pemimpin the Culper Ring. Mereka sudah saling mengenalnselama bertahun-tahun, tetapi itu tidak berarti Caleb mempercayai Abe sepenuhnya, atau sebaliknya. Masalah yang paling menjengkelkan dari serial ini adalah cinta segita yang terasa dibuat-buat dan merusak kredibilitas urutan sejarah aslinya. beberapa tahun sebelumnya, Abe pernah secara diam-diam bertunangan dengan Anna Strong (Heather Lind), tetapi akhirnya politik datang diantara mereka dan menjadi penghalang, ang mana ayah Abe adalah pendukung setia Tory, sedangkan ayah dari Anna pendukung setia Whig dan hubungan merekapun harus berakhir. Abe dan Anna akhirnya sama-sama menikah dengan orang lain, tapi jelas masih ada percikan diantara mereka. Dan yang lebih menyulitkan lagi,


Caleb, membawa obor untuk Anna dari waktu mereka masih menjadi teman masa kanak-kanak. Sesungguhnya, Turn merupakan serial spionase standar namun tidak berarti ini adalah sebuah serial jelek, hanya mungkin kualitasnya tidak setingkat dengan standar serial AMC lainnya seperti Breaking Bad, Mad Men dan The Walking Dead. Tidak ada jaringan televisi yang bisa diharapkan menawarkan standar kualitas seperti beberapa serial AMC yang saya sebutkan diatas, namun Turn mempunyai beberapa aset berharga, yang paling utama tentunya adalah adanya Jamie Bell sebagai pemeran utama yang berperan sebagai Abe Woodhull. Faktanya adalah dia berhasil menjadikan serial ini dan karakternya sebagai Abraham Woodhull tetep menarik meskipun secara keseluruhan plot serial ini tidak sebanding dengan keahliannya sebagai seorang aktor yang pernah memenangi dan masuk kedalam beberapa nominasi penghargaan bergengsi lewat filmnya, Billy Elliot pada tahun 2000 silam,

dan akan berperan kedalam dua buah film besar ditahun mendatang lewat The Adventures of Tintin 2 dan The Fantastic Four sebagai The Thing pada tahun 2015. Well, kita tunggu saja akting menawannya pada 6 April mendatang.

K yd

FACTS! The Culper Ring adalah sebuah jaringan mata-mata yang dibentuk oleh Mayor Benjamin Tallmadge, dibawah perintah Jendral George Washington pada musim panas tahun 1778 di masa pendudukan Inggris atas kota New York pada puncak Perang Revolusi Amerika. Nama the “Culper Ring” berasal dari nama samaran dua orang anggota utamanya, Abraham Woodhull dan Robert Townsend, yang masing-masing dikenal sebagai “Samuel Culper, SR” dan “Samuel Culper, JR”.


S

erial ini berfokus pada sekelompok geek yang memproklamirkan diri tanpa kelamin di Silicon Valley, California. Di masa demam teknologi moderen ini , orang yang sukses adalah yang paling tidak mampu menangani kesuksesan tersebut. Para jenius di pemrograman komputer yang kecewa mengetahui bahwa orang lain tidak merespon seperti komputer. Richard adalah seorang programmer komputer yang tinggal di Hacker Hostel dengan sahabatnya Dinesh, Big Head, Gilfoyle. Mereka tinggal secara gratis di bawah naungan Erlich si jutawan internet, asalkan dia mendapat 10% saham dalam proyek-proyek mereka. Setelah penawaran proyek yang gagal dengan miliuner Peter Gregory, Richard tampaknya ditakdirkan untuk tetap bekerja di perusahaan teknologi Hooli , didirikan oleh megalomaniacal Gavin Belson . Ketika Monica , kepala operasional

Gregory dan Jared , seorang eksekutif Hooli , menyadari nilai algoritma kompresi situs, perang penawaran meletus antara Belson dan Gregory , dengan Richard terjebak dalam pertikaian. Apakah para geek tersebut akan menjadi the Next Big Thing? Di sutradarai oleh Mike Judge, Alec Berg sebagai eksekutif produser dan Thomas Middleditch sebagai Richard. Josh Brener (Big head ), Amanda Crew (Monica), Kumail Nanjiani (Dinesh), Martin Starr (Gilfoyle ), Zach Woods (Jared Dunn) dan T. J. Miller (Erlich) turut meramaikan serial ini. Season pertama terdiri dari 8 episode. Serial ini mencoba menggambarkan kehidupan perusahaan teknologi di Silicon Valley. Dilakukan senyata mungkin dengan banyak mereferensi perusahaan sebenarnya.

L yna_3n


dengan serial penegak hukum yang menonjolkan maskulinitas serta drama personal, hingga muncullah Brooklyn NineNine. Mengangkat tema komedi serta

didukung oleh kedekatan masyarakat Amerika akan cerita-cerita para penegak hukm menjadikan serial baru FOX ini menjadi hiburan segar.

CHEMISTRY Apa jadinya jika sebuah tayangan memiliki naskah, tema cerita, hingga para pemain yang top tanpa adanya sebuah chemistry yang terjalin apik? Well, sebagian dari anda mungkin langsung tertuju pada aktin Natalie Portman-Hayden Christiansen di trilogy prekuel Star Wars.

Buruk ‘kan? Brooklyn Nine-Nine menyadari betul pentingnya chemistry yang harus dibangun antarkarakter. Di 11 episode perdana, nyaris tidak ada kontinuitas cerita yang disajikan, justru, kekuatan tiap-tiap karakter hingga hubungan karakter satu dengan lainnya. Barulah setelah mid-season break, serial ini mulai menambahkan cerita yang terjalin tiap episode.

FOX is Backing This Series Big Time Jika program anda diberi porsi spesial setelah event Superbowl di Amerika, berarti anda harus merasa sangat beruntung. Superbowl adalah tayangan televisi yang paling banyak meraup jumlah penonton di Amerika. Superbowl tahun ini bahkan menjadi tayangan televisi yang paling banyak ditonton sepanjang sejarah Amerika dengan lebih dari 110 juta pasang mata! Fox sebagai official broadcaster tentu tidak menyia-nyiakan hal ini, 30 menit selepas Superbowl, adalah serial

baru Brooklyn NineNine yang mendapat kehormatan untuk diberi jatah episode spesialnya. Hasilnya? Brooklyn Ninie-Nine yang biasanya ditonton sekitar 2-3 juta penonton, meningkat menjadi 15 juta penonton! Jika FOX saja percaya bahwa serial ini sangat menjanjikan, kenapa kita tidak?

adi_06


S

iapa yang merindukan era 90an akan bernostalgia dengan serial komedi baru Surviving Jack. Nominasi Emmy Christopher Meloni (True Blood ,Law & Order : SVU) kembali ke layar kaca sebagai Dr.Jack Dunlevy. Serial ini didukung juga oleh Rachael Harris, Connor Buckle, Claudia Lee, Kevin Hernandez dan Tyler Foden. Setelah menjadi ibu rumah tangga full time Joanne Dunlevy (Rachael Harris) akhirnya memutuskan untuk kembali ke sekolah hukum. Jack Dunlevy mantan militer dan seorang ahli onkologi, adalah pria yang kaku. Dia yang biasanya berkutat dengan rutinitas sebagai “ayah yang bekerja”, harus mengambil alih tanggung jawab dalam mengurus keluarga. Putra remaja Jack, Frankie baru mulai tahun pertamanya di SMA. Kurus dan kurang percaya diri yang Frankie ingin lakukan adalah terbang di bawah radar. Tapi dengan tinggi badan dan kemampuan di lapangan permainan ia mulai menarik perhatian gadis –gadis. Hal yang menempatkan dia dalam beberapa situasi canggung. Untung bagi Frankie ada Jack yang membimbingnya mengatasi masalah dengan “selembut mungkin”. Jack selalu berniat baik meskipun

L yna_3n

dengan cara yang tidak biasa, tanpa saringan dan bahkan kadang-kadang tidak benar. Tetapi dibandingkan Frankie, Jack lebih dipusingkan dengan putrinya gadis 17 tahun yang super pintar. Rachel yang selama ini “dijalan lurus” karena di bawah pengawasan ketat sang ibu mulai berulah. Dia mengambil keuntungan dari ketidak mampuan Jack memahami pikiran gadis remaja. Apakah gaya pengasuhan Jack dalam menjaga anak-anaknya dari kesulitan akan sukses? Atau istrinya harus meletakkan buku-buku hukumnya lagi? Jangan lupa istilah “ Orang tua selalu tau “……mungkin Serial tv ini diambil dari Buku Justin Halpern, “I Suck at Girls”. Diproduksi oleh Doozer bekerja sama dengan Warner Bros Television. Dengan produser eksekutif nominator Emmy Award Bill Lawrence (Spin City, Scrubs, Cougar Town), Halpern, Schumacker dan Jeff Ingold. Episode pilot disutradarai oleh Victor Nelli.


E ichi01

Moviemagz Mei 2014 110


M

asih tergolong baru, Matt Chemiss yang sekarang menjabat sebagai presiden WGN America, mencoba peruntungan dengan membeli skenario pertamanya. Salem, proyek pertama WGN America adalah sebuah drama dari Brannon Braga (24, Star Trek: TNG, Terra Nova) dan Adam Simon (The Haunting in Connecticut). Terdiri dari 13 episode, serial yang berdurasi 1 jam ini dibuat oleh Fox 21 ini Ber-settingkan abad ke 17 di Massachusetts, serial ini berusaha mengeksplorasi apa yang sesungguhnya menyebabkan terjadinya pengadilan penyihir yang begitu terkenal kala itu. Tidak hanya itu, serial ini juga mencoba menguak kebenaran mistis yang ada dibalik kejadian mengerikan dalam sejarah Amerika. Para pengisi peran disini cukup terpecaya, sebut saja Janet Montgomery, Shane West, Seth Gabel, Ashley Madekwe dan Xander Berkeley akan bekerja sama dalam serial perdana TV kabel ini. Dari Teaser pertama yang sudah dirilis pihak WGN Amerika, terlihat jelas begitu gelapnya jalan cerita yang ditawarkan serial ini. Premis yang ditawarkan dijelaskan dengan begitu baik, Para penduduk desa yang pada saat itu begitu paranoid bahwa adanya penyihirpenyihir diantara mereka. “Iblis telah datang kepada kalian� begitu lah kirakira penyataan salah satu bintang utama

serial ini, seolah-olah bagi penduduk tidak ada yang lebih buruk daripada perburuan penyihir. Para penduduk Salem akan mengotori tangan mereka dengan darah orang tidak berdosa. Disini tidak bercerita tentang vampire atau pun manusia serigala, ini murni cerita tentang penyihir. Bercerita tentang orang dibalik serial ini, Brannon dan Adam menegaskan bahwa semua penyihir dalam serial ini nyata. Terlebih lagi drama yang berfokus pada kisah cinta yang epik ini, membungkus sebuah kenyataan yang mengejutkan. Cherniss sendiri bergabung dalam perusahaan ini setelah selama satu periode di Warner Bros. Sebelum itu, ia menghabiskan beberapa tahun di pos programming top di Fox da FX sekaligus. Presiden Fox 21, Bert Salke menambahkan : “Salem adalah Proyek kami yang kami kerjakan dengan penuh semangat di Fox 21, dan antusiasme Matt dan Peter untuk serial ini terjadi dengan instan dan memuaskan. Salem yang semula berjudul Malice, diciptakan dan ditulis oleh Braga dan Simon yang sudah memiliki reputasi di WME (William Morris Endeavor). Brannon Braga sendiri berharap bahwa serial ini akan menjadi sesuatu yang berbeda, lebih masuk akal, dalam artian orang-orang pada era itu memang percaya bahwa halhal seperti itu bisa terjadi,


Shane West S

hannon Bruce Snaith, pria kelahiran LA 10 Juni 1978, di sebuah pinggiran kota Baton Rogue. Buah hati pasangan musisi Don Snaith dan Leah Catherine Launey, yang pada akhirnya bercerai disaat West berusia 10 tahun. Keingian West dalam dunia seni terlihat pada saat dia berusia 15 tahun. Dengan keinginan besar West memberanikan diri hijrah ke Hollywood mencoba peruntungannya. Kala itu West sudah berusia 23 tahun, usia yang cukup tua untuk mengemban peran dalam drama Picket Fences (Tahun 1992~96). Namun penampilan West yang terllihat muda dari usianya membuat ia berhasil berperan sebagai seorang anak remaja. Karir West pun berlanjut, dia muncul sebagai bintang tamu dalam acaraacara keluarga seperti “Boy Meets World” (ABC, 1993-2000), dan film TV “The Westing Game” (Showtime, 1997). Setelah debutnya di Los Angeles, West pun memberanikan diri muncul dalam sebuah film, mungkin ini bisa dibilang film pertama West dalam dunia peran, sebuah film komedi-drama semi-autobiografi dari Barry Levinson, “Liberty Heights” (1999). Karir West terus menajak ke tahun berikutnya, sampai pada puncak karirnya dikala itu, West kembali mendapat peran yang baru dalam sebuah serial televise “ Once and Again “, perannya kali ini adalah seorang siswa SMA 16 tahun, Eli Sammler, hampir sama dengan kisah hidupnya, Eli disini seorang anak broken home yang berusaha matimatian untuk belajar dan sembari mengurus adik perempuannya, dengan harapan tinggi agar keluarganya bisa kembali pulih, Serial ini banyak menadapat pujian dari kritikus dan mendapat banyak penghargaan. Dengan kesuksesannya dalam serial Once and Again, West langsung kebanjiran peran mulai dari serial-serial tv lokal sampai peran film-film pun dilahapnya. Namun, film yang benar-benar membuat West berdiri dipuncak popularitas adalah film “A Walk to Remember” (2002), sebuah drama yang menguras air mata, diambil dari novel karya Nicholas Sparks. Kisah percintaan remaja yang begitu romantis.

Bakat seni yang mengalir didarahnya tidak hanya di dunia peran, namun juga di dunia tarik suara, West yang kala itu aktif di Los Angeles sebagai anggota band Johnny Was. Namun dengan mudah West mengesampingkan banyak kesempatan yang ditawarkan kepadanya, dan lebih memilih fokus untuk dunia peran. Usaha berikutnya adalah “The League of Extraordinary Gentleman” (2003), sebuah adaptasi epik dari serial novel grafis karya Alan Moore tentang sebuah tim yang terdiri dari pahlawanpahlawan yang berasal dari sastra klasik, yang melawan kejahatan di era pergantian abad. West berperan sebagai versi dewasa dari Tom Sawyer - Mark Twain,seorang agen rahasia Amerika yang membantu Sir Allan Quartermain (Sean Connery) melawan kejahatan yang diabolik. Setelah adanya masalah dalam proses produksi yang menyebabkan sebagian besar dari film yang telah selesai tersebut dipotong dan ditulis ulang, film akhirnya rilis pada musim panas 2003 dan mengecewakan hampir semua orang yang menontonnya di bioskop. Tapi karir Shane West tidak berhenti disitu, west segera kembali sebagai pemeran dalam “ER,” mulai 2004. Ada yang unik disini, Ia memiliki beberapa kesamaan dengan karakter yang diperankannya, yaitu Dr. Ray Barnett, mereka berdua sama-sama lahir di New Orleans dan sama-sama bekerja sambilan sebagai vokalis band rock. Tetapi, bagaimanapun juga Barnett adalah orang yang


is da’ man! konfrontasional, kadang-kadang bersikap tidak pantas dan menganggap dirinya orang penting yang membuatnya selalu bermasalah dengan para staf rumah sakit di County General Hospital. Akhirnya, para produser melembutkan karakter Barnett dengan cara memasangkannya dengan Dr. Neela Rasgotra (Parminder Nagra) dalam cinta yang bertepuk sebelah tangan. Barnett mencintai Rasgotra, yang merupakan istri dari Dr. Michael Gallant (Sharif Atkins); saat Gallant tewas di Iraq, Barnett mencoba untuk mengisi posisinya, tetapi ditolak. Ini membuatnya menjadi kacau-balau dan puncaknya adalah kecelakaan lalu-lintas yang membuatnya terluka parah. Setelah kehilangan kedua kakinya akibat kecelakaan tersebut, Barnett kembali ke Lousiana dan bekerja di tempat rehabilitasi fisik sembari memulihkan dirinyasendiri. Kehilangan kaki agaknya memberi Barnett perspektif yang baru dalam hidupnya, dan arena itu, hubungan percintaan yang sudah lama ia idamkan dengan Rasgotra mulai berbunga. Saat serial tamat, pasangan ini telah pindah ke New Orleans untuk hidup dan bekerja. Tahun 2008, West membuat

terkesan para kritikus dan penggemar musik dalam penampilannya yang menghipnotis sebagai Darby Crash, almarhum frontman dari band punk the Germs dalam “What We Do Is Secret,” biopik tentang hidup Crash yang pendek dan hiruk-pikuk. Walaupun merupakan proyek yang sulit, perlu sembilan tahun untuk menyelesaikannya, film ini menuai banyak pujian selama penayangnya yang tidak lama, dengan West menuai banyak sekali pujian dalam aktingnya sebagai Crash yang dekstruktif, tetapi menarik. West berperan sangant meyakinkan sampai-sampai anggota band yang tersisa mengundangnya untuk bernyanyi dalam beberapa konser reuni, yang lagi-lagi mendapat respon positif dari penggemar berat the Germs. Di tahun-tahun berikutnya setelah “Secret,” West menjaga agar tetap low profile,memilih bekerja untuk produksi independen atau berbudget rendah seperti “The Lodger” (2009), remake dari thriller Alfred Hitchcock tentang Jack the Ripper, dan thriller high-tech “Echelon Conspiracy” (2009). Hanya sedikit dari filmfilm tersebut yang masuk bioskop,tetapi West kembali ke mata publik dalam serial televisi reboot “Nikita” (The CW, 2010- ) dengan bintang Asia Maggie Q sebagai mantan assassin yang bekerja mandiri. West berperan sebagai Michael, operator yang melatih Nikita dan paling mengerti motivasinya. 2014 ini kembali West mencoba peruntungannya di sebuah serial TV swasta, Salem. Drama seri yang di produksi WGN Amerika, sebuah stasiun tv swasta yang masih bisa dibilang baru ini, bercerita tentang fenomena penyihir yang sangat terkenal di Amerika pada abad 17. Tidak tanggungtanggung disini West mengemban tugas sebagai peran utama pria, John Alden. Digambarkan disini John Alden adalah seorang yang tampan, dan pragmatis. Diperkirakan awal bulan ini Salem akan tayang dan menghibur para penggemar serial dengan unsur mistis seperti penyihir dan lain-lain.


FRIENDS WITH BETTER LIVES Friends WIth Better Lives (FWBL) Merupakan serial komedi romantis CBS yang tayang 31 Maret mendatang. Melanjutkan tongkat estafet setelah finale series “How I Met Your Mother”. Dengan para pemain James Van Der Beek (Will ), Kevin Connolly (Bobby) , Majandra Delfino(Andi) , Zoe Lister-Jones (Kate), Brooklyn Decker (Jules ) dan Rick Donald (Lowell). Friends with Better Lives (FWBL) menceritakan kehidupan enam orang teman yang dari luar terlihat “sempurna”. Sebenarnya, masingmasing orang memiliki masalah mereka sendiri. Misalnya Andi dan Bobby pasangan suami istri dengan dua anak. Meski bahagia, mereka merindukan masa muda mereka. Saat-saat menyenangkan dengan sedikit tanggung jawab yang harus ditanggung seperti kehidupan teman-teman mereka. Will yang baru

menduda dan terlihat menikmati gaya hidup “bujangan” , aslinya masih merindukan sang mantan istri. Jules dan Lowell pasangan yang baru bertunangan. Mereka memutuskan akan menikah setelah percintaan singkat yang “panas”. Kate wanita lajang dengan karir yang sukses. Sayangnya tidak sukses dalam percintaan. Dia sulit menerima saat Jules teman terakhir yang masih “single” akhirnya bertunangan. Dengan problema masing-masing tersebut, bisakah mereka melihat satu sama lain tanpa bertanyatanya. Siapakah yang memiliki rumput yang lebih hijau? FWBL ditulis oleh Dana Klein (penulis friends) yang jelas sudah memiliki jam terbang dalam bidang “pertemanan”. Walaupun di warnai juga dengan masalah keluarga, cerita akan lebih fokus pada hubungan antar para tokoh.

L yna_3n


Medical Drama goes inside Catherine Black’s Head.

D

rama medikal terbaru ABC ini tidak akan menjadi seperti serial Grey’s Anatomy untuk ABC. Serial dengan 13 episode terbatas ini bermaksud untuk menunjukkan “kasus neurologis brilian” yang memungkinkan sang karakter utama, Catherine Black (Kelly Reilly) ntuk bersinar. Yang membuatnya menjadi sebuah serial menarik? Catherine menderita gangguan bipolar manik. Mirip dengan karakter utama serial Homeland, Carrie Mathison yang diperankan dengan apik oleh Claire Dense, karakter Reilly tidak didefinisikan oleh penyakit mentalnya, sebaliknya, produser eksekutif Amy Holden Jones menjelaskan pada ajang TCA 2014 winter press tour, “Penyakit mentalnya ini adalah bagian dari karakter, bukan cerita utama dari serial ini.” Seperti pada serial House, setiap episode dari Black Box akan fokus pada setidaknya satu kasus neurologis. Dan ketika Catherine dalam masa pengobatan, malah membuatnya dalam kondisi yang prima. Hanya pada saat Ia tidak dalam masa pengobatanlah, Catherine masuk ke dalam keadaan manik. Dan yang menariknya lagi, Catherine menutup-nutupi keadaan mentalnya ini dari keluarga dan kekasihnya.

K yd

Dr. Black tinggal di kota New York, dimana dia bekerja di sebuah pusat neurologis begengsi yang dikenals ebagai “The Cube”. Di dalam dinding modern ini, Catherine menarik pasien dari seluruh dunia. Diluar dinding The Cube, ia menyimpan beberapa rahasia dari keluarga dan kekasihnya. Hanya ada satu orang yang mengetahui segalanya, psikiaternya, Dr. Helen Hartramph (Vanessa Redgrave). Hartramph yang intuitif, sangat mendalam dan kuat, seorang mentor mengesankan dan sekaligus figur seorang ibu bagi Catherine. Sementara itu, Catherine membuat pria dalam hidupnya pada kaki mereka saat ia terombang-ambing antara Will (David Ajala), seorang koki baru yang seksi dan tampan dan memiliki restoran sendiri di Brooklyn, serta rekan kerja yang karismatik dan suka main perempuan, seorang ahli bedah saraf , Dr Ian Bickman (Ditch Davey). Will menginginkan cinta dan komitmen, tapi apakah seseorang seperti Catherine bisa berkomitmen? di lain sisi, Bickman, yang pekerjaanya adalah yang paling utama dalam hidupnya dan ia tidak akan pernah memikirkan untuk berkomitmen pada seseorang, paling tidak hingga ia bertemu dengan Catherine, tapi apa Bickman tau benar-benar siapa dan bagaimana Catherine? Kurang dari yang ia bayangkan.


Contact Us : riza_idfl.us19@yahoo.com @IDFL_Moviemagz



Movie Magz Edition XIII