Page 1


Tidak ada kata tidak mungkin jika belum mencoba lebih keras. - Kelompok Satu, Studio Rencana Kawasan 2018

i


PRAKATA

Segala puji dan syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan studio rencana kawasan ini tanpa halangan suatu apapun. Tanpa rahmat-Nya laporan ini tidak akan jadi seperti yang penulis harapkan.

Laporan Studio Rencana Kawasan ini mengenai kawasan Pogung dan Monjali ini disusun sebagai salah satu hasil dari Studio Rencana Kawasan semester II Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang tua penulis, seluruh dosen pengampu mata kuliah Studio Rencana Kawasan, seluruh staff departemen, dan semua pihak yang yang tidak bisa disebutkan satu-persatu yang turut membantu dalam menyelesaikan tugas ini. Terima kasih penulis ucapakan juga kepada Bapak Irsyad Adhi Waskita, S.T,. M.Sc. yang telah membimbing kelompok satu dalam penyelesaian tugas ini, para kepala dukuh, staff Kelurahan Sinduadi dan Kecamatan Mlati, dan seluruh warga kawasan Pogung dan Monjali dan yang telah bersedia memberikan izin serta informasi kepada penulis.

Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca dalam menambah wawasan mengenai kawasan Pogung dan Monjali. Penulis menyadari bahwa laporan ini belum sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun senantiasa penulis harapkan ii


TA B LE OF CONT E NTS

/i

pg

/ii

pg

Quote of the day

Urban Design Reclaimed

/5

The Bigger Picture

/11

Basics

/15

Recureent Issues

/21

SWOT Analysis

/22

Konsep Rencana

/23

Rencana Individu

/32

Galeri Foto

pg

Prakata

pg

/iii

Daftar Isi

/iv

Meet The Team

/1

Profile

/2

A Little Story About Pogung and Monjali

pg

pg

pg

pg

/3

pg

iii

/4

pg

pg

pg

pg

More About Pogung and Monjali

pg

pg


iv

Me e t t he t e am

Nadia Dhiasyifa 17/410123/TK/45480

Almira Nadia Shalsaibila 17/411365/TK/45850

Nahda Saniyya 17/410124/TK/45481

Najmuna Ratri Lakshita 17/411367/TK/45852

Kelompok 1 Studio Rencana Kawasan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Rita Noor Hiadayanti 17/413495/TK/45935

Askif Azkiri 17/410107/TK/45464

Alvin Nabiela Aviciena 17/415090/TK/46379

iv


Profile

Lokasi : Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Batas amatan : Utara : Jalan Pandega Marta Selatan : Jalan teknika utara Timur : Jalan Pogung Kidul Barat : Jalan Monjali 2 Luas Amatan : Âą 558.395 m

1


A little Story About Pogung and Monjali Kawasan Pogung dan Monjali terletak di utara Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada dengan jumlah penduduk 3.088 jiwa. Kawasan ini terkenal sebagai kawasan kos-kosan. Sebab, penduduk yang tinggal di kawasan ini mayoritas adalah mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada dan sebagian Universitas Negeri Yogyakarta. Presentase penduduk yang tinggal di kawasan ini lebih banyak pendatang baru daripada penduduk asli. Menilik kondisinya di masa lalu, kawasan Pogung dan Monjali memiliki kondisi yang jauh berbeda dari kondisinya saat ini. Pada tahun 70-an hingga 90-an, masih banyak ruang terbuka hijau dapat ditemui, lahan kosong menjadi dominan di antara permukiman warga, dan penduduk asli Pogung masih menjadi mayoritas penghuni kawasan ini. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, makin banyak masyarakat luar wilayah Yogyakarta yang melanjutkan studi ke Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta yang berada dekat dengan Pogung dan

Monjali menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk luar untuk merantau dan melanjutkan studi di Yogyakarta. Proses inilah yang kemudian merubah kondisi Pogung dan Monjali menjadi kawasan yang padat permukiman sebagai sentra kost kostan mahasiswa. Dari sinilah kemudian mulai terbentuk kawasan Pogung dan Monjali yang semakin kompleks dengan makin menjamurnya bangunan komersial, jasa, hingga apartemen sebagai penunjang kebutuhan hidup mahasiswa di Kawasan Pogung dan Monjali.

12


More About Pogung and Monjali Terdapat dua macam edges yang sangat terlihat di kawasan Pogung dan Monjali berupa jalan sungai. Edges jalan berada di setiap sisi luar kawasan yang menjadi batas amatan yaitu Jalan Monjali di sisi Barat, Jalan Teknika di sisi selatan, Jalan Pogung Kidul di sisi timur, dan Jalan Pandega Marta di sisi utara. Edges berupa sungai melintas di dalam kawasan berupa Selokan Mataram dan Sungai Code yang memjadi edges perbatasan antara Padukuhan Pogung Kidul dengan Padukuhan Gemawang. Kawasan Dukuh Gemawang yang terletak di sisi barat Sungai Code merupakan kawasan yang berbatasan langsung dengan Jalan Monjali sehingga kawasan dominan berfungsi komersial maupun jasa dengan kepadatan yang relatif rendah. Sedangkan kawasan di sisi timur Sungai Code yang kemudian menjadi kawasan dengan kepadatan permukiman relatif tinggi dan dominan terdapat kost-kostan mahasiswa. Secara keseluruhan, penduduk baik di kawasan timur dan barat Sungai Code didominasi oleh masyarakat pendatang baru dari luar daerah Jogja. Hanya saja jika di kawasan barat Sungai Code beberapa masyarakatnya merupakan pindahan yang

3

yang bersifat lebih permanen dan biasanya dalam satu keluarga, sedangkan di kawasan timur Sungai Code lebih dominan oleh pendatang yang berstatus sebagai mahasiswa. Beberapa titik dapat menjadi pusat aktivitas di kawasan ini seperti area komersial linier di sepanjang jalan Pandega Marta, empat masjid yang tersebar di dalam kawasan, Gedung Serba Guna Pogung yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat pertemuan maupun olahraga, hingga pos - pos ronda yang menjadi tempat masyarakat Pogung bersosialisasi. Infrastruktur yang ada di kawasan ini dari sisi transportasi terdapat jalur Bis Trans Jogja di sepanjang Jalan Monjali dan Jalan Teknika Selatan. Sedangkan untuk kawasan di dalam kawasan lebih dominan menggunakan ojek maupun taksi daring. Fasilitas pendidikan terfasilitasi dengan KBIT Salman Al Farisi 3, TK Among Siwi, TK Roudhlotush Syibyaan, SD Salman Al-Farisi, SD Pogung Kidul, dan SD Sinduadi Timur. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan terdapat beberapa klinik dan dokter praktik yang dapat melayani kesehatan penduduk di dalam kawasan.


Urban Design Reclaimed


Group 1 :

The Bigger Picture


Neighborhood Peta Existing Neighborhood

Dalam konteks perencanaan spasial, neighborhood berarti suatu unit spasial dasar dalam sebuah kawasan. Neighborhood menjadi unit spasial dimana manusia cenderung melakukan aktivitas sehari-harinya pada luasan tersebut. Dapat dikatakan ideal jika neighborhood memiliki fasilitas - fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhankeseharian manusia di dalamnya, serta center yang menjadi pusat aktivitas dalam suatu neighborhood. Luasan neighborhood hendaknya mengikuti kemampuan berjalan manusia yang hidup di dalam neighborhood tersebut. Menurut salah satu jurnal penelitian S1 PWK UGM tahun 2015, jangkauan kebiasaan masyarakat Indonesia untuk berjalan kaki mencapai 350 m didasarkan pada pemahaman keinginan masyarakat Indonesia untuk berjalan kaki selama 5-10 menit. Dalam suatu neighborhood pun hendaknya tidak terdapat edge filter yang membagi satu neighborhood sehingga mengurangi interaksi sosial antar penduduk di dalam neighborhood. Kondisi lain yang mendukung terciptanya neighborhood yang baik adalah adanya kondisi sosial yang heterogen baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi usia. Eksisting neighborhood di kawasan ini terbagi berdasarkan sistem administrasi ketetanggaan yang ada yaitu berdasarkan Rukun Warga (RW) yang berjumlah 8 RW. Kondisi neighborhood dirasa masih kurang memadai mengingat luasan neighborhood yang jauh melebihi 350 m, ketersediaan fasilitas yang belum merata, serta kondisi sosial yang cenderung masih homogen. Oleh karena itu, direncanakan suatu sistem neighborhood baru untuk menciptakan kawasan yang lebih baik. Perencanaan neighborhood baru didasari pada analisis komprehensif atas beberapa kondisi eksisting seperti kepadatan kenduduk, kondisi bangunan, tipe rumah, edges, serta persebaran dan jangkauan center kawasan. Neigborhood baru diupayakan memiliki kondisi yang ideal dimana : luasan kurang lebih 350 m; terdapat center di setiap neighborhood; tidak ada edges filter di dalam neighborhood; tipe rumah, kepadatan penduduk, kondisi bangunan, tipe bangunan, hingga persebaran usia yang heterogen di dalam satu neighborhood. Hasilnya, terbentuk tujuh neighborhood baru yang lebih ideal.

6


Transect Peta Existing Transect

Pembagian transect merupakan salah satu metode zonasi berdasarkan bentukan daerah urban-rural. Menurut buku Urban Design Reclaimed metode ini digunakan untuk menemukan keseimbangan antar daerah selain itu juga dapat menghubungkan serta mengintegrasikan daerah yang berdekatan. Dari survey yang dilakukan, disimpulkan bahwa kawasan ini memiliki 3 transect utama yaitu T3 ( tipe rumah single family house, memiliki jalur hijau, terdapat sawah, densitas rendah) . T4 ( tipe rumah deret, sudah terdapat mixed-use tetapi jarang, fungsi utamanya adalah permukiman dan komersil ) T5 ( fungsi campuran bangunan antara komersil dan permukiman, jalan ramai terdapat kantor pelayanan publik ) Direncanakan kawasan ini akan dirubah transectnya dengan menambahkan jenis T6 dengan kriteria berupa Shopping street, jenis jalan kolektor, pusat komersil dan pelayanan

Perubahan Transect Kawasan

7

No

Area

Sebelum

Sesudah

Cara

1

Jalan Pandega

T5

T5

Pelebaran jalan, pedestrian, traffic calming,parking on street

2

Jalan Monjali

T5

T6

pelebaran jalan, pedestrian, traffic calming, parking onstreet. Pengurangan nilai sempadan

3

Jalan Jembatan Baru

T4

T5

Pembangunan apartemen


Connection Peta Existing Connection

Dalam urban design, koneksi merupakan hal yang esensial. Koneksi menjamin keterhubungan satu tempat dengan tempat lain serta kemudahan akses suatu kawasan. Setelah melalui survey, kawasan ini dinilai memiliki koneksi yang kurang baik. Hal ini dilihat dari kondisi jalan kawasan ini yang rusak/bergelombang, lebar jalan yang hanya memuat satu mobil sehingga akan terjadi kemacetan ketika rush hour, serta pola jalan di Kawasan ini. Kawasan ini memiliki pola jalan grid dengan pola cul de sac di beberapa titik. Pola grid memberikan nilai buruk karena menimbulkan kurangnya sense place dan pola cul de sac mempersulit akses ke tempat lain. Oleh karena itu dilakukan perencanaan koneksi baru untuk mendukung akses Kawasan ini yang lebih baik. Perencanaan koneksi dadasari pada overlay peta hierarki jalan, hambatan jalan, material jalan, dan vegetasi jalan. Hasilnya, Kawasan ini direncanakan akan mengubah jalan cul de sac agar kawasan lebih terakses. Ruas jalan di Monjali dan Pandega Marta dengan kondisi jalanan yang ramai juga diperluas untuk mengakomodasi kendaraan bermotor yang lalu lalang.

8


Group 2 :

Basics


Center Peta Existing Center

Center menurut Emily Talen dalam bukunya ‘Urban Design Reclaimed’ terdefinisi sebagai ‘pusat’ dimana pusat ini melayani komunitas dan terletak di antara permukiman di sekitarnya. Center biasanya tergambar sebagai ‘jantung’ dari suatu kawasan, dimana aktivitas kawasan terpusat di center, walaupun hal ini bukan sesuatu yang pasti terjadi. Pada kawasan ini, center terwujud dalam bentuk masjid, minimarket, pos ronda, balai warga, dan sekolah. Masjid diklasifikasikan sebagi center karena mendukung mayoritas masyarakat yang beragama Islam, masjid kerap dijadikan pusat aktivitas bagi masyarakat. Minimarket menjadi center yang menyediakan barang kebutuhan keseharian masyarakat, dan pos ronda termasuk dalam center karena kerap menjadi tempat berkumpul masyarakat Pogung dan Monjali. Namun perlu diperhatikan bahwa pos ronda yang menjadi center hanya pos ronda yang ramai digunakan untuk berkumpul dan biasanya juga dilengkapi dengan angkringan. Balai warga menjadi tempat untuk berkumpul baik pertemuan maupun aktivitas sosial lainnya, sedangkan sekolah dianggap berpotensi menjadi center karena site nya yang mempunyai lahan terbuka luas dan kerap didatangi banyak anak-anak. Menilik kembali pada materi neighborhood, center merupakan satu komponen penting dalam terciptanya neighborhood yang ideal. Sehingga melalui analisis peta eksisting center, jangkauan, dan koneksi antar center, dapat dilakukan rencana center baru guna mendukung tercipta- nya rencana neighborhood yang baik. Rencana center berupa RTH di timur Sungai Code, creative space di Jalan Pogung Raya, dan revitalisasi taman bawah jembatan baru UGM.

10


Edges

Peta Existing Edge

Edge dapat diartikan sebagai elemen kota yang membatasi suatu ruang. Edge dapat berupa jalan, sungai, bangunan, maupun hal lain yang berperan sebagai ‘batas’. Edge sendiri terbagi menjadi 2 jenis yaitu seam (permeable) atau filter (nonpermeable). Edge seam merupakan edge yang hanya berfungsi sebagai pembatas, namun tidak benar-benar menjadi satu batas yang menghambat akses. Sedangkan edge filter merupakan edge yang berfungsi sebagai pembatas yang tidak dapat dilalui atau menghambat akses. Edge jenis filter cenderung membatasi interaksi sosial antara dua wilayah yang berbeda. pada Kawasan ini, edge filter merupakan Jalan Monjali, Jalan Jembatan Baru hingga Jalan teknika Utara, Sungai code dan Selokan Mataram. Sedangkan jalan lainnya dalam kawasan berfungsi sebagai edge seam. Melalui analisis dari peta emotion, ambience, activity, sidewalk direncanakan untuk memperkuat sensasi seam di Sepanjang Jaan Pandega Marta. Rencana ini terwujud dalam upaya memperkecil setback dan memperlebar sidewalk, dan mengalokasikan ruas jalan untuk one layer parking on street.

11


Mix Mix atau keberagaman adalah sesuatu yang penting untuk dapat menciptakan kawasan yang baik. Tujuan dari analisis mix adalah untuk mengevaluasi keberagaman yang ada di suatu kawasan dan menawarkan rencana desain untuk mendukung mewujudkan keberagaman yang sehat. Selain itu, adanya keberagaman di suatu kawasan memungkinkan untuk menjadikan kota yang dewasa dan berkelanjutan. Pada kawasan Pogung, analisis mix dibagi menjadi tiga, yaitu analisis berdasarkan keberagaman fungsi bangunan (mix fungsional), analisis berdasarkan keberagaman bentuk bangunan (mix form), dan analisis berdasarkan keberagaman sosial (mix sosial). Pada masing-masing analisis ini terdapat penggolongan menjadi tiga kategori, yaitu high mix, medium mix, dan low mix. Peta mix fungsional diperoleh dari peta fungsi bangunan. Adapun indikator yang digunakan pada kategori low mix adalah terdapat 1-2 macam fungsi bangunan di setiap blok. Sedangkan pada kategori medium mix terdapat 3 macam fungsi bangunan dalam satu blok, dan pada kategori high mix terdapat lebih dari tiga macam fungsi bangunan. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, peta mix fungsional pada kawasan cenderung low mix.

Peta Mix Fungsional

12


Peta mix form didapat dari overlay peta KDB, peta KLB, dan peta fungsi bangunan. Indicator yang digunakan pada kategori low mix adalah jumlah macam KDB< KLB, dan fungsi bangunan ada 2 macam. Sedangkan pada kategori medium mix, jumlah macam KDB, KLB, dan fungsi bangunan terdapat 3-4 macam, dan pada kategori high mix jumlah macam KDB, KLB, dan fungsi bangunan ada lebih dari 4 macam. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, peta mix form pada kawasan ini cenderung medium mix.

Peta Mix Form

Peta mix sosial diperoleh dari overlay peta pendapatan penduduk dan peta persebaran usia penduduk. Adapun indikator yang digunakan pada kategori low mix adalah terdapat 1 macam golongan usia dan minimal 1 macam pendapatan di dalam satu blok, sedangkan untuk kategori medium mix terdapat 2 macam golongan usia dan minimal 1 macam pendapatan dalam 1 blok, dan untuk kategori high mix terdapat 3 macam golongan usia dan minimal 1 macam golongan pendapatan pada satu blok. Menurut Greenberg, 1998, maksimalisasi kemungkinan pertukaran baik ekonomi dan sosial adalah kunci kualitas kehidupan kota. Perencana juga selalu mengatakan, bahwa sebaiknya sebuah kawasan memiliki keberagaman secara ekonomi dan sosial, seperti â&#x20AC;&#x2DC;Mixâ&#x20AC;&#x2122; dalam penggunaan, tingkat pendapatan, suku bangsa, umur, pekerjaan dsb. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, peta mix sosial pada kawasan ini cenderung low mix.

Peta Mix Sosial

13


Proximity Peta Existing Proximity

Pada kawasan pogung ini memiliki penduduk yang sangat beragam. Dari penduduk yang berusia tua sampai anak anak. Selain itu dari segi pendapatan, penduduk pogung ini juga beragam dari penduduk yang berpendapatan tinggi sampai ke rendah. Keterjangkauan center yang baik adalah keterjangkauan yang berpihak pada penduduk yang memiliki usia tua, anak anak dan penduduk yang berpendapatan rendah. Hal ini karena pada usia tersebut merupakan usia yang rentan jika berpergian jauh. Selain itu dapat membantu penduduk yang memiliki pendapatan yang rendah untuk menghemat dalam mobilisasi menuju center tersebut. Namun jika dilihat dengan menggunakan peta jangkauan center keseluruhan, kawasan ini sudah memiliki keterjangkauan yang baik karena seluruh kawasan tersebut sudah terjangkau oleh semua center yang ada. Meskipun setiap center yang ada sudah dalam jarak keterjangkauan yang dekat, namun penduduk kawasan ini masih enggan untuk berjalan kaki menuju ke center. Oleh karena itu, beberapa elemen tambahan pendukung pedestrian diadakan di kawasan ini seperti menambah vegetasi, penunjuk arah, dan meningkatkan kenyamanan pedestrian.

14


Group 3 :

Recurrent Issues


Density

Density atau kepadatan menjadi hal yang dipertimbangkan daam perencanaan kawasan mengingat kawasan yang padat dengan permukiman tunggal berpotensi untuk tidak sustainable. Namun di sisi lain, kawasan yang compact (padat dan mix use) dapat mengurangi ketergantungan masyarakat akan kendaraan. Julie Campoli dan Alex MacLean dalam bukunya â&#x20AC;&#x2DC;Visualizing Densityâ&#x20AC;&#x2122; (2007) berpendapat bahwa kita harus mulai mencintai kepadatan dengan memahami bahwa dampak negatif dari kepadatan berupa â&#x20AC;&#x2DC;crowding dan monotonyâ&#x20AC;&#x2122;merupakan hasil dari perencanaan yang buruk dan bukan efek dari kepadatan itu sendiri. Peningkatan density diutamakan menggunakan bangunan permukiman olektif (asrama) pada area yang dekat dengan jalur transportasi public (untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan) dan sekolah (agar pelajar tidak perlu kendaraan untuk ke sekolah). Dengan menganalisis kondisi eksisting kepadatan kawasan ini digabungkan dengan jalur transportasi publik dan lokasi sekolah, dapat dibuat rencana density berupa asrama untuk pelajar dan mahasiswa. Lokasi asrama terletak di timur Jalan Monjali dan di barat SD Sinduadi Timur di Pogung Kidul.

16


Parking

Parkir merupakan salah satu komponen penting di suatu kawasan dengan deret komersi. Prkir ditujukan supaya penataan kendaraan lebih rapi, dan pelanggan toko semakin nyaman. Di kawasan amatan terutama di jalan Monjali dan Jalan Pandega Marta adalah pusat-pusat komersil, didaerah tersebut kondisi parkirnya belum terlalu tertata. Untuk itu direncanakan dierah ini terdapat bangunan tempat parkir serta adanya parking on street yang selain berfungsi sebagai penyedia lahan parkir juga berfungsi untuk traffic calming agar kendaraan tidak melaju terlalu cepat

17


Traffic

Kota selalu berupaya untuk mengakomodasi kebutuhan akses pedestrian dan kebutuhan kendaraan (Talen, Emily:2009). Pada akhir abad ke-20, fokus perencanaan mulai beralih dari kendaraan menuju pedestrian. Berbagai paya design diciptakan untuk mendukung terciptanya budaya berjalan kaki. Upaya ini terangkum dalam satu sistem yang biasa disebut â&#x20AC;&#x2DC;traffic calmingâ&#x20AC;&#x2122;. Traffic calming dapat mengurangi kecepatan rata- rata kendaraan, mengurangi potensi kecelakaan, serta mengurangi polusi udara dan suara. Berdasar pada Institute for Transport Studies University of Leeds, England, traffic calming dapat berupa mempersempit jalan, mengadakan island dan median, serta dengan penanaman pohon. Traffic Calming diutamakan pada ruas jalan yang ramai, terkadang macet, dan memilki persil permukiman di sisi jalan. Ruas Jalan yang memenuhi kondisi tersebut di Kawasan ini berada pada Jalan Monjali dan Jalan Pandega. Sehingga dua ruas jalan tersebut direncanakan untuk memperkecil setback, memperluas pedestrian, dan mengalokasikan jalan untuk one layer parking one street. Dengan dilakukan traffic calming di dua ruas jalan ini, output yang diharapkan adalah berkurangnya kecepatan rata-rata kendaraan yang lalu lalang dan budaya berjalan kaki dapt tumbuh di Kawasan ini.

18


Energy

Energi merupaka salah satu hal yang penting, teritama untuk beraktivitas. Analisi dilakukan dengan mengidentifikasi penggunaan energy listrik tiaptiap rumah. Setelah itu direncanakan di kawasan ini memiliki energy alternatif dari penggunaan solar cell. Walaupun di kawasan ini dilewati sungai code namun energy alternative dari air tidak di rekomendasikan karena potensial yang dihasilkan kecil.

Agriculture

Agriculture urbanism merupakan salah satu strategi dalam mewujudkan lingkungan yang baik dengan menyuplai sumber bahan makanan. Kawasan ini bisa diharapkan menjadi suatu kawasan mandiri yang memiliki sumber bahan makanan sendiri. Pada eksisting di kawasan ini ditemukan sawah serta tanaman edible lain seperti pohon manga, pisang dan lain-lain. Selanjutnya, rencana yang disusun adalah sawah sebagai daerah yang dilarang untuk dibangun, tanaman buah-buahan sebagai peneduh di pedestrian, penanaman tanaman pangan di rencana lain, serta menyusun bagaimana mekanisme dari rencana ini yang bertujuan mensejahterakan penduduk sekitar

19


Water

Drainase menjadi satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam merencanakan sebuah kawasan, terlebih melihat kondisi Kaligung yang padat akan permukiman dan RTH yang terbatas. Drainase Kaligung mengalir menuju ke barat yaitu menuju daerah yang lebih rendah di Kali Code dan Selokan Mataram. Beberapa titik di kaligung juga memiliki genangan-genangan air terutama di wilayah Pogung Kidul bagian selatan yang padat akan permukiman. Adanya Sungai Code dan Selokan Mataram juga menjadi fokus lebih di Kaligung. Bentang alam ini menjadi salah satu sumber daya yang perlu dikonservasi sebagai salah satu sumber daya yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kawasan ini Sebagai upaya memperbaiki drainase dan mengkonservasi Sungai Code dan Selokan Mataram, dibuat beberapa rencana seperti: 1. Memperbaiki dinding Sungai Code dan Selokan Mataram yang berkontur tanah menggunakan bio retentiondan susunan batuan rip-rap untuk menghindari erosi air sungai. 2. Menambahkan biopori di pinggir jalan Selokan Mataram untuk mengembalikan kesuburan tanah dan memperbanyak daerah resapan air. 3. Menambahkan lubang drainase atau resapan air di jalan Monjali, Pandega Marta, dan sepanjang jalan Pogung Kidul-Pogung Baru 4. Menerapkan sistem water treatment plant yang terletak di sisi timur Sungai Code dan mempunyai tujuan untuk menyaring air Sungai Code sehingga dapat digunakan oleh masyarakat untuk konsumsi dan mengembangkan agricultur urbanism yang terdapat di kawasan. Sistem yang digunakan dalam Water Treatment Plant ini terdiri dari 5 proses, antara lain : 1. Koagulasi : Bertujuan untuk memisahkan air dan zat pengotornya 2. Flokuasi : Flok/zat pengotor yang terendap dibentuk dan diperbesar 3. Sedimentasi : Bertujuan untuk mengendapkan partikel koloid dari proses sebelumnya 4. Filtrasi : Proses penyaringan air 5. Desinfeksi : Proses pemberian senyawa kimia untuk membasmi kuman-kuman dan bakteri Setelah melalui proses tersebut, air didistribusikan ke area - area yang terdapat dalam eksisting dan rencana agriculture urbanism dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat kawasan.

20


Strength

Weakness

Terletak di lokasi yang strategis, dekat dengan Kampus UGM dan UNY dan jalan yang memiliki fasilitas cukup banyak

Transportasi umum kurang memadahi di kawasan ini. Tidak ada transit point untuk Trans Jogja atau kendaraan umum lainnya.

Dilewati Sungai Code dan Selokan Mataram yang menjadi identitas kawasan

SWOT ANALYSIS

Karena dekat dengan kampus UGM dan UNY maka banyak mahasiswa tinggal di kawasan ini.

Opportunity

21

Pembangunan dan pengaturan tata guna lahan di kawasan ini belum teratur.

Threats


KONSEP rencana


KALIGUNG Kaligung merupakan singkatan dari Kawasan Monjali dan Pogung. Nama ini dibuat untuk merepresentasikan bahwa Pogung dan Monjali adalah satu kesatuan kawasan

Lingkaran

Mendeskripsikan arti sebagai kesatuan antara warga setempat dengan pendatang, terutama mahasiswa dan mahasiswi yang tinggal di daerah kawasan

Rumah

Mendeskripsikan kawasan ini memiliki kepadatan rumah yang cukup tinggi

Dua Aliran Air

Mendeskripsikan kawasan ini dilalui oleh dua aliran air, yaitu Sungai Code dan Selokan Mataram yang menjadi identitas kawasan

Warna Hijau

Mendeskripsikan cita-cita kawasan ini menjadi kawasan yang asri

23


Identitas Kawasan ini sebagai kawasan mahasiswa memang sudah melekat di benak banyak orang. Citra Kawasan ini selama ini adalah mahasiswa, rumah kost, warung, deretan pusat komersil dan jasa. Hal ini sudah menjadi ciri khusus kawasan ini karena memang kawasannya berdekatan langsung dengan dua kampus besar yaitu UGM dan UNY. Identitas inilah yang dijadikan kami sebagai pertimbangan dalam menentukan konsep rencana yang akan diaplikasikan melalui visi dan misi. Kami menginginkan kawasan Kawasan ini menjadi kawasan yang mendukung kehidupan di dalamnya, terintegrasikan dengan kehidupan kampus dengan tetap menjaga kelestarian alam.

VISI Terwujudnya Monjali & Pogung sebagai kawasan permukiman yang ramah mahasiswa dengan penerapan prinsip edukasi dan ekologi.

MISI - Mengintegrasikan kehidupan di kawasan permukiman dengan pusat-pusat aktivitas seperti kampus, sekolah, pertokoan. - Menyesuaikan fasilitas kebutuhan dasar dan sekunder sesuai dengan kondisi penduduk yang mayoritas adalah mahasiswa untuk meningkatkan kualitas tinggal di kawasan. - Menyediakan ruang tempat untuk interaksi antar penduduknya. - Konservasi terhadap kelestarian lingkungan alam

24


GREEN SKATE PARK

Alvin Nabiela Aviceina Lokasi : Bawah Jembatan Baru UGM

Rencana ini merupakan bentuk revitalisasi salah satu ruang publik yang sebenarnya direncanakan sebagai ruang publik, saying sekali ruang publik ini penggunaanya tidak maksimal. Nantinya di skatepark ini akan dibangun beberapa feature yang mendukung seperti ramp A, ramp U, roller, dan area untuk freestyle. Untuk mendukung konsep edugreen yang kami usung kami menambahkan vegetasi sebagai peneduh. Sarana ini ditujukan bagi anak-anak muda dari mahasiswa dan penduduk sekitar yang inginmenyalurkan hobinya serta mengembangkan bakatnya.

25


POGUNG STUDENT CENTER Askif Azikri Lokasi : Pogung Raya

Seperti cafe-cafe pada umumnya, student center ini memiliki fasilitas seperti tempat diskusi atau mengobrol, wifi, sajian makanan dan minuman, dan sebagainya. Dalam menerapkan konsep rencana Edu-Green, tempat ini difungsikan sebagai student center dengan desain yang menyatu dengan alam seperti penanaman vegetasi, akses banyak untuk angin dan cahaya alami serta penggunaan solar cell. Untuk konsep edu student center ini merupakan tempat alternatif bagi mahasiswa untuk berdiskusi, mengerjakan tugas dan hal lainnya yang berkaitan dengan perkuliahan tanpa harus pergi jauh dari tempat tinggalnya. Selanjutnya, pada konsep Green nya sendiri ditambahkan tanaman- tanaman indoor dan outdoor sebagai menguat sense terhadap lingkungan agar menimbulkan suasana yang nyaman ketika beraktivitas.

26


REVITALISASI JALAN PANDEGA MARTA DAN JALAN MONJALI

Almira Nadia Shalsabila Lokasi : Jalan Pandega Marta dan Jalan Monjali

Untuk meningkatkan kenyamanan pengguna jalan dan menyesuaikan transect kawasan kami merencanakan untuk merevitalisasi Jalan Pandega Marta dan Jalan Monjali. Pada ujung pedestrian yang berada di persimpangan jalan diberi curb extensions agar menambah keamanan pejalan kaki dan menjaga kecepatan laju kendaraan saat melewati penyebrangan. Akan dilakukan traffic claming seperti memberlakukan parking onstreet dan penanaman tanaman di Jalan Pandega Marta untuk mencegah kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Selain itu faรงade bangunan akan ditata ulang untuk menciptakan kesatuan agar menimbulkan memori kawasan tersebut. Rencana ini ditujukan untuk seluruh penduduk Pogung agar mengurangi ketergantungan menggunakan kendaraan saat bepergian terutama bepergian dengan jarak dekat.

27


TAMAN KINANTI

Nadia Dhiasyifa Lokasi : Sebelah barat Sungai Code

Rencana berupa taman dengan konsep riverfront untuk menjaga agar sungai tetap lestari dan memiliki fungsi sebagai ruang rekreasi, edukasi dan ekologi. Pada taman ini terdapat student centre dengan konsep co-working space yang memiliki fasilitas wifi gratis sebagai ruang edukasi, green house dengan tanaman buah-buahan sebagai ruang ekologi, kedai jus buah dan penjualan bibit tanaman yang dapat menunjang ekonomi warga sekitar, taman olahraga, panggung terbuka sebagai ruang ekspresi dan apresiasi, serta banyaknya fasilitas tempat duduk sebagai ruang interaksi warga sekitar. Di sebelah sungai persis, terdapat tangga duduk yang biasanya digunakan untuk memancing dan jogging track. Taman ini juga dilengkapi oleh tanaman hijau untuk memperkuat fungsi ekologi.

28


Asrama Mahasiswa

Najmuna Ratri Lakshita Lokasi : Selatan Rusun PU, Dusun Gemawang

Kawasan amatan merupakan kawasan padat penduduk, lokasinya yang dekat dengan kampus UGM namun tidak adanya jalur transportasi umum di dalamnya. Oleh karena itu, Asrama Code dirasa dapat memberikat solusi terhadap permasalahan tersebut. Asrama Code ini terletak di pinggir jalan raya yang dilalui oleh Bis Trans Jogja, sehingga penghuni asrama diharapkan dapt dengan mudah mengakses kendaraan umum jika hendak bepergian. Asrama ini memiliki beberapa fasilitas yang mendukung kebutuhan mahasiswa dan disesuaikan dengan lingkungan eksisting. Asrama dilengkapi Musholla umum, lapangan olahraga multi fungsi. Selain itu, terdapat halaman samping asrama disediakan kebun mahasiswa yang dapat ditanami sayur-sayuran, sehingga kebutuhan bahan untuk kosumsi Hal ini sebagai upaya untuk mendung argricultural urbanism di kawasan terencana. Tempat parkir disediakan di samping pintu masuk asrama yang berada di sisi utara asrama. Sebagai penunjang gerakan hemat energi di kawasan terencana, dinding pada asrama mahasiswa di desain memiliki panel surya sebagai penyedia sebagian listrik yang dibutuhkan dalam operasional asrama.

29


The Light of Code

Nahda Saniyya Lokasi : Timur bantaran Sungai Code

Penataan façade bantaran sungai Code dengan membuat peraturan semua permukiman di banataran sungai Code memiliki bentuk atap yang sama, warna untuk tiap blok rumah akan disamakan sesuai dengan aturan, pada layer pertama deretan rumah memiliki nilai klb satu sementara untuk layer ke-2 memiliki nilai klb maksimal 2. Pada jalan perintis di bantaran sungai code akan dibuat dengan material paving, selain itu pagar pembatas sungai akan dibuat dengan kawat sebagai tempat merambat tanaman dan ditanami dengan beberapa tanaman lain. Selain itu juga disediakan bangku yang didesain dengan peneduh berupa tanaman rambat. Jembatan yang menghubungkan antara barat dan timur code akan di renovasi dengan peneduh berupa tanaman. Tujuan dari rencana ini adalah untuk mengurangi ketergantungan pendudukdengan kendaraan bermotor yaitu dengan berjalan kaki baik menuju center-center terdekat atau mahasiswa dari tempat tinggalnya menuju kampus dan sebaliknya, mewujudkan Pogung yang hijau, serta mengintegrasi antara daerah stau dan yang lain, selain itu juga memberi cityscape kawasan.

â&#x20AC;&#x153;People take cars for walkable trips in part because such trips are boring and unattractive.â&#x20AC;? â&#x20AC;&#x201C; Karen Hopkin

30


Water Treatment Planning System Rita Noor Hidayanti

Rencana ini memperbaiki sistem drainase air yang ada di kawasan dengan cara: 1. Memperbaiki dinding Sungai Code dan Selokan Mataram yang berkontur menggunakan bioretention dan susunan batuan rip-rap untuk menghindari erosi air. 2. Menambahkan biopori di pinggir jalan Selokan Mataram untuk mengembalikan kesuburan tanah dan memperbanyak daerah resapan air. 3. Menambahkan lubang drainase atau resapan air di jalan Monjali, Pandega Marta, dansepanjang jalan Pogung Kidul-Pogung Baru 4. Menerapkan sistem water treatment plant yang terletak di sisi Timur Sungai Code dan mempunyai tujuan untuk menyaring air Sungai Code sehingga dapat digunakan oleh masyarakat untuk konsumsi dan mengembangkan agricultur urbanism yang terdapat di kawasan.

31


Galeri foto

32


33


Kelompok 1 Studio Rencana Kawasan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Lapora Studio Rencana Kawasan  
Lapora Studio Rencana Kawasan  
Advertisement