Issuu on Google+

War ta Ge re j a Mas ehi Adve nt Har i Ke t ujuh

1 1 - 2 01 5

Mencari

Menemukan 14

Bebas pada Akhirnya

LegaliTAS KEMUNAFIKAN 20

Kuasa

Roti

24 Apakah

Allah Menciptakan

Dinosaurus?


11 - 2015

C E R I TA

War ta Ge re j a Mas ehi Adve nt Har i Ke t ujuh

16

11 - 2015

Mencari

Menemukan 14

Bebas

KeMUNaFiKaN 20

pada Akhirnya

LegaLiTaS Kuasa

Roti

24 Apakah

Allah Ciptakan

Dinosaurus?

S A M P U L

Mencari Legalitas— Menemukan Kemunafikan

Oleh Joseph Olstad

Adalah ide yang baik untuk menjelaskan maksud kita sebelum kita mendebatnya.

8 Semua Orang adalah Penabur P A N O R A M A

S E D U N I A

Oleh Ted N. C. Wilson

Ada kehidupan dalam Firman Allah.

12

14 Bebas pada Akhirnya

D A S A R

Oleh Gerald A. Klingbeil

Perhentian Sabat adalah lebih daripada simbol.

20 Kuasa Roti

K

E H I D U P A N

A D V E N T

Oleh Jeff Couzins

Berbagi makanan adalah tujuan utama dari keramahtamahan

24

I

M A N

D A N

S A I N S

Apakah Allah Menciptakan Dinosaurus?

Oleh Raúl Esperante

Alkitab mungkin memiliki atau tidak memiliki jawabannya.

R E N U N G A N

 Pemikiran Mendadak— atau yang Dipikirkan dengan Baik?

K E P E R C AYA A N

25 Di Jalan Yerikho

Oleh Bernd Sengewald

M

Kita merespons panggilan Kristus tergantung di mana kita berada ketika mendengarnya.

I S I

A D V E N T

Oleh Michael Mace

Kita tidak pernah tahu kapan kita akan menjadi penolong atau yang dibantu.

D E PA R T E M E N TA L 3 L A P O R A N

SEDUNIA

3 Sekilas Berita 6 Fitur Berita 10 Sebuah One-Day Church

2 2 R O H N U B U A T Alam Itu Hidup! 26 P E R T A N Y A A N

DAN

27 P E L A J A R A N A L K I T A B Elia: Sebuah Pertanyaan dan Perintah

JAWA B A N A L K I TA B

11 K E S E H A T A N S E D U N I A Penyakit Parkinson

Sebuah Pertanyaan mengenai Anak Allah

28

PERTUKARAN

IDE

32-40 D A R I I N D O N E S I A Warta Gereja Advent (WGA)

www.adventistworld.org Tersedia daring dalam 10 bahasa 2

Adventist World | 11 - 2015

t i j m e n

va n

F O T O S A M P U L : f r e e i ma g e s . c om / d o b b e n b u r g h / M i r a P a v la k o v i c


Anugerah Tiada Habisnya

LAPORAN SEDUNIA Oleh Andrew McChesney

Orang Advent Menjangkau

Imigran Eropa

Ketua Divisi Trans-Eropa adalah seorang anak yang dibesarkan di tengah peperangan.

S

A ust r i a

ementara Eropa bergumul dengan banyak imigran, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dari berbagai daerah setempat melakukan tindakan lebih jauh yakni memberi pangan, perlindungan, pendidikan, dan menolong para pengungsi memulai kehidupan yang lebih baik. Raafat Kamal, Ketua Divisi Trans Eropa, mengatakan bahwa krisis imigran ini membangkitkan kembali ingatan masa kecilnya pada saat terjadi perang Timur TeSeorang gadis imigran mendapat ngah, dan ia meminta seluruh bantuan untuk tugas sekolahnya umat Advent untuk bersatu sebagai bagian dari inisiatif gereja dalam doa dan dukungan bersama ADRA dan gerejaAdvent di Mödling, Austria. Advent yang membantu para pengungsi ini. Kamal berkata: “Saya secara pribadi melihat peristiwa ini sebagai sebuah kesempatan untuk membuat mereka dan kita semua menjadi orang yang lebih baik. Inilah indahnya kemurahan hati dan belas kasihan serta pelayanan bagi mereka yang terluka.” Para pemimpin Eropa bergumul tentang cara menangani gelombang besar imigran, yang kebanyakan ialah orang Siria, yang telah mengungsi ke Eropa sejak beberapa bulan terakhir. Banyak imigran yang terhenti pada batas wilayah negara Eropa selama berminggu-minggu sementara pemerintah mengurus serangkaian daftar permohonan perlindungan mereka. “Para pengungsi sangat kelelahan ketika mereka tiba di Serbia,” ungkap Igor Mitrovic, Directur ADRA di Serbia, yang menolong membuka pusat informasi perlindungan di Ibukota Belgrade, pada akhir Agustus lalu. “Mereka sering bercerita bahwa pengalaman mereka sepanjang perjalanan— kekerasan, pemerasan uang, berbagai situasi yang nyaris merenggut nyawa A DR A

P

encarian saya untuk tidak berdosa bahkan tidak bertahan hingga hari baptisan saya. Saya telah bangkit dari kuburan air, bersinar dengan sukacita karena saya telah memberikan hidup saya kepada Yesus. Setelah dua seri studi Alkitab yang cukup lama, saya telah bergabung dengan lima teman sekelas pada layanan Sabat sore yang memenuhi hati saya yang berusia 12 tahun dengan sukacita. Keluarga, sahabat, dan teman sekelas berkumpul di sekitar, menegaskan keputusan yang saya telah buat dan kehidupan yang saat ini saya telah berkomitmen. Tapi tidak satu pun bersama saudara seiman pernah dapat berjalan jauh menuju kesempurnaan tanpa dosa. Sore itu, sementara keluarga kami sedang berjalan di satu cagar alam, saya telah jatuh ke dalam argumen biasa dengan salah satu saudara saya—tentang sekolah; tentang siapa yang melakukan lebih banyak pekerjaan rumah—beberapa topik yang tidak layak dibincangkan. Dan dengan perasaan yang menyakitkan di perut saya, saya menyadari bahwa saya baru saja gagal dalam pencarian saya untuk menjadi sempurna. Kurang dari tiga jam telah berlalu sejak saya berjanji pada Yesus mengenai hidup saya, dan saya sudah kehilangan kesabaran saya. Cerita saya ini sangat akrab bagi jutaan orang Kristen dan Advent yang ingat saat pembaptisan mereka. Secara naif, kita berharap— mungkin bahkan percaya—bahwa kita mungkin tidak akan pernah berbuat dosa lagi, bahwa pengampunan Kristus untuk masa lalu mungkin tidak diperlukan dalam masa depan kita. Tetapi tidak lebih dari satu hari setelah kita memberikan hidup kita bagi Yesus, kita menemukan betapa kita membutuhkan banyak anugerah dan kemurahan-Nya. Hal ini terjadi ketika kita benar-benar mulai menjalani kehidupan pemuridan—tidak di saat lalu ketika kita tidak membuat kesalahan—tapi pada hari dan bulan dan tahun ketika kehancuran kita secara indah diperbaiki dan dipulihkan oleh Yesus. Di seluruh dunia Advent, lebih dari 3.500 orang dibaptis setiap hari. Datang bersama mereka; pelihara mereka; tegaskan keputusan terbaik mereka. Kemudian bantu mereka menyadari—bersama Anda—bahwa kita tidak akan pernah terlepas dari kebutuhan kasih karunia, juga kita tidak akan pernah diselamatkan oleh apa pun selain kebenaran Kristus.

Bersambung ke sebelah

11 - 2015 | Adventist World

3


LAPORAN SEDUNIA mereka, dan hal-hal kecil yang membuat mereka putus asa—menjadikan keadaan lebih buruk daripada kehancuran dan peluru yang menyerang rumah mereka.” Umat Advent setempat yang bekerja sama dengan Adventist Development and Relief Agency (ADRA) berdiri di barisan depan mengatasi krisis para imigran. Cabang ADRA dari Slovenia dan Kroasia telah secara aktif mengumpulkan berbagai bentuk dana bagi para pengungsi di Yunani, Makedonia dan Serbia. Dua setengah ton barang telah diantar secara gratis ke kepulauan Yunani Lesbos menggunakan pesawat udara Adria, angkutan udara nasional Slovenia. Anggota gereja Advent membantu para imigran di banyak negara di Eropa, termasuk Austria, Jerman, Itali, dan Inggris. “Saya mendorong anggota jemaat kita, bersama dengan pemimpin gereja mereka beserta tim ADRA untuk memulai rencana dan langkah selanjutnya,” ungkap Kamal, yang berkantor di Inggris dalam memimpin Divisi Trans Eropa dengan wilayah kerja lebih dari 20 negara di Eropa, termasuk Serbia, Hungaria, dan Yunani. “Jika belum ada, saya mendorong mereka untuk membuat rencana dan secara aktif mendukung ADRA dan gereja.” Krisis imigran ini telah membangkitkan kembali ingatan Kamal, yang dibesarkan di Lebanon yang tengah mengalami perang saudara pada tahun 19751990. Dia kehilangan keluarga dan sahabatnya pada sejumlah serangan yang dilakukan terhadap desanya. Suatu kali terjadi sebuah roket menghantam masuk ke dalam rumahnya dan menghancurkan lantai rumah mereka. Kamal meninggalkan Lebanon pada tahun 1984 untuk membangun bisnisnya dan mengambil pendidikan teologi di pendidikan tinggi Newbold College, sebuah institusi Advent di Inggris. “Para imigran sangat ketakutan dan tidak memiliki tempat tinggal, dan banyak dari mereka yang telah menyaksikan teror yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata,” ungkap Kamal. “Kita harus menolong mereka. Itulah tugas kristiani dan kemanusiaan kita.” n

4

Adventist World | 11 - 2015

Alberto C. Gulfan, Jr.,

Mengenang Penginjilannya

Mantan ketua divisi meninggal dunia setelah perjuangan yang panjang melawan kanker. Oleh Andrew McChesney,

melaporkan dari Divisi Asia Pasifik Selatan

A

lberto C. Gulfan, Jr., seorang penginjil bersemangat yang mengadakan lima sampai enam pertemuan KKR setahun, selama 12 tahun pelayanannya sebagai Ketua Divisi Asia Pasifik Selatan, meninggal dunia pada tanggal 26 September 2015 setelah perjuangan yang panjang melawan penyakit kanker. Ia menutup usia 64 tahun. Gulfan, seorang GMAHK, memiliki gaya kepemimpinan yang tenang dan rendah hati dan gemar bermain tenis yang membuatnya begitu dikasihi teman-temannya dan kawan sekerjanya. “Ia merupakan seorang pemenang dalam kebenaran Tuhan dan dalam penginjilan,” Ketua Gereja Advent Sedunia, Pendeta Ted N. C. Wilson berkata dalam surat turut berdukacita yang dikirimnya kepada istri Pendeta Gulfan, Helen Bocala-Gulfan, dan ketiga anak mereka. Pendeta Gulfan melayani gereja selama 42 tahun dan terpilih pada bulan Juni 2003 sebagai Ketua Divisi Asia Pasifik Selatan yang mencakup negara Filipina, Indonesia, dan 12 negara lainnya. Ia tidak lagi terpilih pada saat konferensi General Conference Juli 2015 oleh karena sedang menderita sakit. “Ia adalah seorang penginjil sejati. Penginjilan mengalir di dalam darah dan napas kehidupannya,” ungkap Pdt. G. T. Ng selaku Sekretaris Eksekutif Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sedunia yang mulai bekerja bersama Gulfan sebagai profesor di Adventist International Institute of Advanced Studies (AIIAS) pada tahun 1990-an. Pada saat itu bekerja seba-

gai ketua Uni Konferens Filipina, di mana daerah pelayanannya mencakup sekolah tinggi tersebut. Myron Iseminger, Wakil Sekretaris General Conference, mengatakan bahwa ia akan selalu mengingat sebuah KKR besar yang diadakan di berbagai lokasi di Pulau Mindanao, Filipina yang membaptiskan lebih dari 2000 orang pada hari Sabat yang dipimpin oleh Pendeta Gulfan. “Saya percaya bahwa dengan siapapun Anda berbicara, mereka akan setuju untuk mengatakan bahwa warisan yang ditinggalkan oleh Pendeta Gulfan ialah semangatnya dalam penginjilan,” kata Ise­ minger yang terlibat secara langsung dalam pekerjaan dengan Pendeta Gulfan sebagai asosiasi bendahara divisi selama tiga tahun. Gulfan telah memimpin berbagai peranan di dalam gereja. Ia adalah seorang penginjil literatur, pendeta gereja, pendeta distrik, pendeta dan pendidik kesehatan rumah sakit, direktur kesehatan dan pertarakan uni, ketua daerah misi, sekretaris kependetaan uni, sekretaris eksekutif uni, dan ketua uni sebelum menjabat sebagai ketua divisi. “Saya benar-benar mengapresiasi dan menyukai gaya kepemimpinannya yang tenang,” sahut Gerald A. Klingbeil, seorang Associate Editor Adventist Review dan Adventist World, yang bekerja bersama dengan Pendeta Gulfan sebagai dekan Seminari Teologi AIIAS dari tahun 2006 hingga 2009. “Beliau bukan seorang pemimpin yang suka ribut, sangat rendah hati, dan selalu mengusahakan persetuju-


Oleh Andrew McChesney

Makanan Advent Dianggap

Sesuai bagi Raja

Alberto C. Gulfan Jr. di tahun 2010.

Raja Tonga yang baru memuji sarapan pada acara penobatan.

A NN

R

geri sipil, pengusaha eksekutif, dan pemimpin agama dari berbagai denominasi. Raja yang berusia 56 tahun itu menyukai apa yang dilakukan oleh gereja Advent. “Raja, yang memiliki perhatian khusus pada kesehatan, sangat senang mengetahui bahwa sebuah program kesehatan untuk mempromosikan makanan sehat dan olahraga akan diadakan bagi masyarakat Tonga,” majalah Advent Pasifik Selatan melaporkan. n

W i k i c ommo n s

aja Tonga yang baru tampaknya berpikir bahwa makanan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sesuai untuk seorang raja. Ribuan tamu yang hadir pada hari upacara penobatannya menyantap sereal sehat serta susu kedelai yang diproduksi oleh sanitarium besar yang dimiliki oleh gereja Advent setempat. “Kami sangat yakin bahwa ini merupakan kali pertama dalam sejarah kami,” seorang jurubicara sanitarium berkata. Sanitarium tersebut, dengan kantor pusatnya yang berada di Australia dan Selandia Baru, mengirim banyak palet sereal sarapan dan susu kedelainya yang terkenal dengan merk So Good untuk perayaan di Nuku’alofa, Ibukota Kerajaan Polinesia yang memiliki 177 pulau, terletak kira-kira 2.400 kilometer (1.500 mil) timur laut Selandia Baru. Para pelajar dan staf dari Kampus Advent Beulah di Tonga melayani selama 3 hari untuk sarapan bagi sekitar 4.000 dari 15.000 tamu yang diundang pada 11 hari perayaan itu. Beberapa organisasi, termasuk kelompok gereja, menyediakan makanan dan acara-acara selama perayaan tersebut. Gereja Advent mengadakan acara spesial yang dimulai dengan doa subuh, diikuti dengan 30 menit olahraga pagi dan sarapan sehat di tiga titik daerah ibukota. Ketiga titik tersebut dipadati dengan para tamu upacara penobatan, diantaranya: Menteri kabinet, pegawai ne-

/

an bersama, tetapi ia tahu ke mana gereja harus dipimpin.” Pendeta Ng menggambarkan Pendeta Gulfan sebagai “orang sederhana yang rendah hati” serta mengingat kembali bagaimana keduanya menikmati permainan tenis bersama dua dekade yang lalu. “Ketika kami bermain tenis bersama, saya tidak pernah melihat ia marah jika kami kalah dalam permainan,” ia berkata. “Gereja benar-benar telah kehilangan so­ sok rohani yang begitu berdedikasi dan seorang prajurit Kristus yang gagah berani. “Pendeta Gulfan memiliki daya ingat yang luar biasa,” kata Linda Mei Lin Koh, yang telah mengenalnya selama 9 tahun di divisi untuk bagian pelayanan anakanak, rumah tangga , dan Bakti Wanita Advent. “Ia ingat bahwa saya suka makan marang, buah-buahan khas dari Filipina,” sahut Koh yang sekarang menjabat sebagai Direktur Pelayanan Anak-anak GMAHK sedunia. “Kapan saja saya pergi ke Uni Konferens Filipina untuk mengadakan seminar pelatihan, ia pasti akan berkata kepada saya bahwa ia telah meminta seseorang untuk membelikannya buah marang untuk saya makan.” Alberto Cuyos Gulfan, Jr., lahir pada tanggal 1 Desember 1950 di Cataingan, Masbete, Filipina, dan menikah dengan istrinya selama 38 tahun, Helen BocalaGulfan, yang telah melayani sebagai Direktur Bakti Wanita Advent dan Koordinator Shepherdess Internasional. Mereka dikaruniai 3 orang anak: Seorang anak laki-laki bernama Lloyd, dan 2 orang anak perempuan, Helen Zella dan Jarbien Pol; dan 2 orang cucu. n

Co r ps

/

M a r i n e

O l i v e r

U . S .

A n s e l

Raja Tupou VI keluar dari gereja setelah upacara penobatannya di Nuku’alofa, Tonga.

11 - 2015 | Adventist World

5


LAPORAN SEDUNIA

Ketua GC Mengikuti

Ted N. C. Wilson ingin berkomunikasi lebih dekat.

Oleh Andrew McChesney

P i x a b ay

Facebook dan Twitter

Allah Menjawab Doa

T

ed N. C. Wilson, Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sedunia, memulai akun twitter dan facebook pribadinya sebagai suatu usaha untuk mengadakan komunikasi yang lebih dekat dengan anggota gereja dan orang lain. Pendeta Wilson berkata bahwa ia akan menggunakan akun twitter-nya (@ pastortedwilson) dan halaman facebooknya (facebook.com/pastortedwilson) untuk membagikan doa-doa pribadinya, materi-materi Alkitab dan Roh Nubuat yang menjadi kesukaannya, informasi kegiatan jangkauan keluar yang terbaru dari dirinya, dan foto-foto serta berita dari berbagai perjalanannya. “Saya ingin berkomunikasi lebih baik dengan anggota gereja tentang kegiatan gereja yang menarik,” Wilson berkata. Dia berkata bahwa anggota gereja akan diarahkan kembali kepada pendeta mereka, gereja setempat, dan konferens lokal untuk mengetahui informasi tentang berbagai inisiatif itu. Pendeta Wilson mempunyai tim kecil yang bekerja bersamanya untuk sosial media, namun semua postingan harus melaluinya. Di antara hal lainnya, Pendeta Wilson menggunakan facebook untuk menjawab pertanyaan tentang visinya bagi gereja, kehidupan rohaninya, dan aktivitasnya. Anda dapat mengirimkan pertanyaan ke: askpastorwilson@adventist.org. Wilson menjawab tiga pertanyaan setiap hari Jumat. n

6

Adventist World | 11 - 2015

dengan

Kilat Petir Sekolah Advent di Jepang berdoa untuk air. Oleh Andrew McChesney

T

uhan menjawab doa melalui kilat petir mungkin kedengarannya seperti cerita yang hanya terjadi di Alkitab, namun kepala sekolah berasrama Advent di Jepang menceritakan bahwa hal itu terjadi di sekolah yang dipimpinnya. Sekolah Tinggi Hiroshima Saniku Gakuin, sekolah yang terletak di antara perbukitan Mihara, sebuah kota kira-kira 70 kilometer (45 mil) bagian timur Hiroshima, mengalami kekeringan parah pada sumber mata air mereka dan membawa lutut 300 pelajar sekolah itu untuk berdoa. Kemudian sebuah kilat petir menggelegar—lengkap dengan hamparan asap kuning dan putih—menghampiri sekolah itu pada suatu pagi, menyebabkan kerusakan yang bernilai beberapa juta dolar, namun juga secara ajaib menyebabkan keluarnya air dari sumur tua mereka. “Air di sumur kami mulai keluar, segera sesudah kilat menyambar,” Onoue berka-

ta. “Puji Tuhan! Saya tahu bahwa Allah akan menolong kami.” Air mulai mengering pada delapan titik sumur sekolah beberapa tahun yang lalu, dan masalah tersebut mulai bertambah parah di sepanjang musim panas tahun 2014. Oleh karena khawatir kekeringan air akan terjadi ketika sekolah dimulai pada musim gugur, kepala sekolah memutuskan untuk mengebor sumur yang baru dengan kedalaman kira-kira 450 meter (1500 kaki) di atas permukaan laut. “Air di sekolah ini sangat segar karena berasal dari sistem perlindungan air tanah Jepang yang murni,” Onoue menuturkannya dalam pernyataan yang diterbitkan oleh Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Divisi Asia-Pasifik Utara. Dua sumur pertama menjadi kering. Sumur ketiga mulai kering pada saat mendekati akhir dari musim panas, mengejutkan karena sempat menghasilkan air, cukup untuk memenuhi kebutuhan


N S D

seisi sekolah. Tetapi terdapat sebuah masalah: Sumur itu tidak dapat digunakan tepat pada saat sekolah dimulai karena berbagai prosedur legal dan pemeriksaan kualitas air dari pemerintah harus dilakukan terlebih dahulu. Sekolah Hiroshima Saniku Gakuin kembali membuka kelas seperti dijadwalkan, dan seluruh penghuni sekolah serta para siswa mulai berdoa dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan air. “Setiap hari kami berdoa kepada Tuhan

Foto jarak jauh sekolah berasrama Hiroshima Saniku Gakuin, yang terletak di antara perbukitan kira-kira 45 mil (75 kilometer) bagian timur Hiroshima.

untuk menuntun dan menjaga persediaan air kami,” Onoue berkata. Petir Menyambar

Pagi hari, tanggal 4 September 2014, dimulai dengan langit yang berawan dan gemuruh kilat yang terdengar dari kejauhan. Pada pukul 10.55 pagi, lima menit sebelum para siswa keluar untuk jam istirahat, sebuah ledakan yang menggetarkan telinga terjadi di sekolah. Ononue sedang duduk di kantornya, bekerja dengan membelakangi jendela. “Saya langsung berbalik ke jendela untuk melihat apa yang terjadi,” ia berkata. “Ada asap kuning dan putih yang keluar dari belakang gedung olahraga, dan saya tahu bahwa petir telah menyambarnya.” Aliran listrik pun padam di seluruh gedung se-

kolah. Onoue langsung menghubungi pegawai gedung olahraga sekolah dan merasa lega setelah mengetahui semua orang selamat. Ia memerintahkan seluruh siswa untuk tetap tinggal di dalam ruangan sementara orang dewasa memeriksa kerusakan yang terjadi. Akhirnya diketahui bahwa petir tidak menyambar gedung olahraga, melainkan sebuah antena telepon seluler yang berada dekat lapangan tenis di luar gedung olahraga. Potongan-potongan beton dari bagian atas antena berserakan di tanah setelah dihantam oleh kilat petir. Aliran listrik dipulihkan pada sore hari, namun masalah lainnya muncul di hari-hari berikutnya. Pompa air, sistem telepon, lampu jalan, sistem keadaan gawat darurat sekolah, dan alat pemanas air asrama, semuanya rusak karena sambaran petir itu. “Saya merasa sakit kepala yang amat sangat jika memikirkan biaya perbaikan dari semua kerusakan yang terjadi di sekolah kami saat itu,” Onoue berkata. Total biaya perbaikan setara dengan 5 juta dolar Amerika, dan semua ditangani oleh asuransi sekolah. Lebih dari Sebuah Harapan

Tetapi pihak asrama dan staf sekolah mulai menemukan banyak hal positif sementara mereka memikirkan tentang kerusakan-kerusakan sekolah. Musim panas itu, sekolah telah mengganti seluruh unit komputer di laboratorium mereka dengan model terbaru yang dibeli oleh Divisi Asia-Pasifik Selatan, dan tidak ada satu dari komputer itu rusak. Walaupun alat pemanas air di asrama rusak, bagianbagian yang rusak karena petir itu, ternyata yang memang sudah perlu diganti. Kemudian, seorang pegawai di bagian pemeliharaan sekolah melapor kepada Onoue bahwa sesuatu telah terjadi di tempat persediaan air sekolah. Dengan khawatir, Onoue bertanya apakah sekolah sudah tidak lagi memiliki air. “Tidak,” pekerja itu menjawab. “Sumur-sumur yang tidak menghasilkan air, sekarang mulai menghasilkan lebih dari dua kali lipat jumlahnya daripada sebelumnya!”

Onoue tidak dapat memercayai apa yang ia dengar. Ia bertanya apakah mungkin pengukur air juga telah rusak sehingga memberikan indikator air yang salah. Pekerja itu berkata bahwa ia telah memikirkan hal serupa juga, dan ia telah dua kali memeriksa alat pengukur itu dan menemukannya dalam kondisi yang akurat. Onoue berkata bahwa petir yang menyambar pada awalnya terlihat sebagai musibah yang buruk, telah menjadi suatu keajaiban Ilahi. “Kerusakan sekaligus yang disebabkan oleh kilat petir ini memungkinkan kami untuk memperbarui peralatan sistem lama kepada sistem baru,” ia berkata. “Lebih daripada itu semua, kami sangat bersyukur dapat mengalami pekerjaan Allah yang ajaib dengan mengizinkan petir menyambar aliran air di tanah sehingga menyediakan air yang cukup bagi sekolah kami.” Lebih dari satu tahun telah berlalu sejak kilat petir itu, dan sekolah tidak lagi menghadapi masalah kekurangan air. Tambahan sumur yang baru dibor itu sudah siap pakai saat ini. Onoue berkata bahwa kejadian itu telah menguatkan seluruh warga sekolah dan para siswa dalam kepercayaan mereka bahwa Allah sedang memimpin sekolah Hiroshima Sa­ niku Gakuin, yang mengikuti jejak sekolah asal mereka yaitu sekolah Alkitab yang dibuka di Tokyo pada tahun 1898. Nama sekolah dalam bahasa Jepang itu berarti “tiga bagian pendidikan sekolah,” merujuk pada aspek mental, fisik, dan spiritual dari pendidikan Advent. Onoue berkata bahwa ia menemukan kekuatan dari kata-kata Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 15:58, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!” “Melalui pengalaman ini, kami sekali lagi diberikan kepastian bahwa Hisroshima Saniku Gakuin adalah benar-benar sebuah sekolah yang Allah sengaja ba­ ngun dengan maksud dan tujuan-Nya,” Onoue berkata. n

11 - 2015 | Adventist World

7


Semua Orang adalah

Penabur Oleh Ted N.C. Wilson

Ada Kehidupan dalam Firman Allah

Catatan Editor: Artikel ini disadur dari khotbah Pendeta Wilson pada tanggal 10 Oktober 2015 pada saat rapat tahunan di Silver Spring, Maryland. Unsur gaya bicaranya tetap dipertahankan. Untuk naskah dan video lengkap, kunjungi www.adventist review.org/church-news/story3336-everyone-a-sower.

K

ita sedang hidup di zaman dengan perubahan yang tak terduga. Allah telah meminta umat-Nya yang sisa, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan, bergantung sepenuhnya kepada-Nya, dan menerima kuasa hujan akhir dari Roh Kudus. Inilah waktunya untuk seruan nyaring—pernyataan dari pekabaran malaikat pertama, kedua, dan ketiga. Kristus telah memanggil kita untuk mengikuti teladannya dalam pelayanan bagi orang lain dengan mengabarkan kebenaran dan kebajikan-Nya kepada dunia dan memberitakan kedatangan-Nya yang kedua kali. Anggota gereja sedunia dengan hampir 19 juta jiwa ini dipanggil untuk menjadi kawan sekerja dengan Sang Penabur Surgawi, Yesus Kristus, dalam mengabarkan pekabaran-Nya yang terakhir tentang kasih, kebenaran, penebusan, dan peringatan nubuatan akhir zaman menjelang kedatangan Kristus yang

8

Adventist World | 11 - 2015

tidak lama lagi. Semua orang adalah penabur, masing-masing kita bekerja bersama dalam lingkaran keterlibatan total di bawah tuntunan Roh Kudua. Perumpamaan Sang Penabur Dalam Markus 4:3-9 Yesus tengah berbicara kepada ribuan orang di tepi Laut Galilea dekat dataran indah Genesaret. Para pendengar dapat melihat para penabur dan penuai sedang sibuk menanam benih dan menuai butiran gandum. Yesus mengajarkan kebenaran kerajaan surga menggunakan perumpamaan sederhana merujuk pada apa yang sedang terjadi di sekitar-Nya. “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera

tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” Dan kata-Nya: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Sungguh suatu berkat istimewa untuk mendengarkan Firman Tuhan, mengikuti pengajarannya, mengerti petunjuk untuk menghidupkan suatu kehidupan penuh kemenangan melalui kuasa pembenaran dan penyucian Kristus. Berdiri Teguh bagi Firman Tuhan Saat ini, Firman Tuhan sedang diabaikan lebih dan lebih lagi. Sudah menjadi kebiasaan untuk salah menafsirkan dan menerapkan apa yang secara terangterangan tertulis di dalam Kitab Suci. Isi Kitab Suci ditafsirkan kembali oleh orang


PA N O R A M A S E D U N I A

Kita harus bermitra dengan-Nya sebagai penabur kebenaran. yang berpartisipasi dalam pendekatan kritikan sejarah Alkitab atau kritikan yang lebih tinggi terhadap Alkitab—mereka yang menempatkan dirinya sendiri di atas Kitab Suci sementara menafsirkannya menurut standar dan cara pendekatan mereka sendiri. Kita harus dengan setia mengikuti dan mempromosikan metode historis Alkitab yang Alkitabiah dalam menafsirkan Kitab Suci, membiarkan Alkitab untuk menafsirkan dan menerangkan dirinya sendiri. Sebagai suatu umat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, kita harus dengan hati-hati mengikuti sebuah penjelasan yang disepakati pada tanggal 12 Oktober 1986 di Rapat Tahunan yang diadakan di Rio de Janeiro, Brazil. Penjelasan tertulis ini, yakni “Methods of Bible Study,” (www.adventist.org/en/information/official-statements/document/ article/go/0/methods-of-bible-study/) dengan hati-hati menjabarkan bagaimana cara untuk mempelajari Firman Allah yang suci. Kira harus mengikuti pandangan historis dari nubuatan dan pengertian Alkitabiah. Para pendeta, guru, pemimpin gereja, dan anggota jemaat—janganlah kiranya seorang pun membalikkan Anda dari pengertian historis dan penafsiran Alkitab historis dari Firman Allah. Berdirilah teguh pada Firman Tuhan. Alkitab—Seperti yang Dibaca Perhatikanlah petunjuk berikut ini dalam menerima Alkitab sebagaimana itu dibaca: “Allah membutuhkan lebih banyak daripada apa yang diketahui oleh para pengikut-Nya. Jika kita tidak ingin membangun harapan kita tentang surga di atas dasar yang salah, kita harus menerima Alkitab sebagaimana ia dibaca dan percaya bahwa Allah bersungguh-sungguh terhadap apa yang Ia katakan.”1 “Ia ingin mengajarkan mereka bahwa jalan Tuhan adalah untuk diikuti, bahwa Firman-Nya adalah untuk dimengerti sebagaimana ia dibaca, dan bahwa manusia tidak boleh menerka-nerka sesuai pengertian mereka, yang dengan demikian berlaku tidak hormat kepada pengajaranNya.”2 Dan dalam Alfa dan Omega jld. 3 kita membaca, “banyak yang tidak ragu-ragu

mengejek firman Allah. Mereka percaya bahwa membaca perkataan itu hanyalah mendatangkan kehinaan” (hlm. 152). Marilah memiliki telinga yang mendengar Firman Tuhan, dan pikiran yang menerima Firman itu dalam bentuknya yang paling sederhana sebagaimana Alkitab itu dibaca. Penabur Menaburkan Firman Dalam Alkitab, apakah yang Yesus ­ingin para murid dan kita mengerti, tentang semua orang adalah penabur kebenaran yang mulia ini? Dalam Markus 4:14, Yesus menjelaskan: “Penabur itu menaburkan firman.” Lukas 8:11 berkata bahwa benih yang harus ditaburkan itu ialah Firman Allah. Benih memiliki kemampuan bertumbuh. Ada kehidupan di dalam Firman Allah. Matius 13:37 menegaskan bahwa Penabur dari benih yang baik itu ialah Anak Manusia, Yesus Kristus. Ia datang bukan sebagai seorang Raja melainkan seorang Penabur yang menunjuk pada penuaian yang besar yang akan dihasilkan dari ke­ sulitan-kesulitan yang penuh tantangan. Yesus meninggalkan rumah surgawinya untuk menaburkan benih Firman Allah ke dunia ini. Kita harus bermitra denganNya sebagai penabur kebenaran. “Demikian pulalah hamba-hamba-Nya harus pergi untuk menabur.... Oleh sebab itu orang yang dipanggil untuk bersatu dengan Kristus harus meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Dia.”3 Jalan yang Sederhana Dalam buku Membina Kehidupan Abadi, kita membaca bahwa “dalam setiap perintah dan dalam setiap janji dari Firman Allah adalah kuasa, kehidupan Allah, yang olehnya perintah itu digenapi dan janji itu menjadi kenyataan” (hlm. 23). Dalam pasal yang sama kita membaca, “Orang yang mempelajari firman Allah dengan hati yang terbuka terhadap penerangan Roh Kudus tentang makna firman itu, tidak akan tinggal dalam kegelapan” (hlm. 22). Dan pada halaman 24, “Pada zaman Kristus para rabi mendirikan bangunan mistik yang dipaksakan di atas banyak bagian Kitab Suci. Sebab ajaran yang sederhana dari firman Allah

mencela perbuatan mereka, mereka berusaha untuk merusakkan kekuatannya. Hal yang sama dilakukan sekarang. Firman Allah dibuat sedemikian rupa agar kelihatan aneh dan tidak jelas untuk memaafkan pelanggaran terhadap hukum-Nya. Yesus menegur perbuatan-perbuatan ini pada zaman-Nya. Ia mengajarkan bahwa firman Allah harus dipahami semua orang. Ia menunjuk kepada Kitab Suci sebagai kekuasaan yang tidak boleh diragukan dan kita harus berbuat hal yang sama.” Setiap pendeta, guru, dan anggota harus berpartisipasi menolong semua orang menjadi pelajar yang rajin akan Firman Tuhan dan kemudian membagikannya kepada orang lain. Kita semua harus menjadi penabur firman—semua orang adalah penabur—dalam lingkaran keterlibatan total pada saat akhir pekabaran penting Firman Tuhan. Kristus menginginkan kita untuk menjadi pemeran pengganti bagi Dia dalam peran penabur benih kebenaran. Kita harus memiliki keyakinan bahwa akan banyak orang yang mendengar sementara kita menabur dan akan menerima Firman Tuhan sebagai “benih yang jatuh di tanah yang subur.” Ini merupakan suatu kehormatan bagi kita. Dengan penuh hormat dan kerendahan hati kita semua menjadi penabur bagi Allah sementara kita juga bergantung sepenuhnya kepada Allah untuk tuntunan-Nya. Marilah berkomitmen dengan diri kita sendiri untuk mengikuti petunjuk Tuhan dalam Firman dan Roh Nubuat-Nya, agar setiap hari berjalan bersama denganNya dalam mempelajari Alkitab dan berdoa, sementara kita membiarkan Allah bekerja di dalam kita untuk kebangunan dan reformasi. Di Tepi Kekekalan Tema sesi General Conference tahun 2015, “Bangkitlah! Bersinarlah! Yesus Segera Datang!” harus menjadi dasar bagi kita semua sementara bergerak maju dalam lima tahun ke depan yang penuh dengan ketidakpastian. Namun, itu pasti terisi dengan lebih banyak kehadiran dan tuntunan Allah. Allah sedang memanggil Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh un-

11 - 2015 | Adventist World

9


PA N O R A M A

SEDUNIA

tuk maksud akhir zaman yang unik dan misi untuk bekerja sama dengan Sang Penabur Surgawi. Gereja ini dimulai oleh Allah sendiri pada waktu-Nya yang tepat, tempat-Nya yang tepat, dan untuk alasan-Nya yang tepat, untuk menggenapi Wahyu 12:17—umat yang “menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.” Kita berada di tepi masa kekekalan. Allah ingin bekerja di dalam dan melalui kita menjadi para penabur firman-Nya. Jawablah panggilan Allah secara pribadi dan sangat serius. Lakukanlah sesuatu untuk Yesus! Kebangunan dan reformasi merupakan dasar tetap untuk semua orang yang Tuhan ingin lakukan melalui umat-Nya yang sisa dalam mengabarkan pekabaran tiga malaikat dan mengajak orang kembali kepada penyembahan Allah yang benar. Sementara kita melihat akhir segala sesuatu mulai tiba, marilah kita memperbarui usaha kita untuk terlibat dalam segala hal yang Allah inginkan bagi umat-Nya yang sisa—setiap anggota terlibat dalam menjunjung tinggi Firman Allah dan membagikan Kristus, kebenaran-Nya, pelayanan keimamatan-Nya, kuasa penyelamatan-Nya dalam pertentangan besar, pekabaran tiga malaikatNya, pekabaran kesehatan-Nya, misi-Nya pada hari-hari terakhir bagi dunia dan kedatangan-Nya yang kedua kali. Ini merupakan pekerjaan kita untuk ditabur—yang dipercayakan kepada kita dari surga—semua kita bekerja bersama dalam lingkaran keterlibatan total di bawah tuntunan Roh Kudus. Segera, kita akan memandang ke atas dan melihat Yesus muncul di awan-awan sebagaimana yang telah Ia katakan. Ia akan datang untuk menjemput kita pulang—puncak dari pekerjaan penyelamatan-Nya menggunakan para pengikut-Nya yang mau menjangkau dunia bagi-Nya. n 1

Testimonies for the Church, jld. 5, hlm. 17. Counsels to Teachers, hlm. 353. 3 Membina Kehidupan Abadi, hlm. 22. 2

Ted N.C. Wilson adalah Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sedunia.

10

Adventist World | 11 - 2015

Sebuah

One-Day Church Bangunan dari batang bunga matahari dan daur ulang Oleh Carrie Purkeypile

Kiri: SEBELUM MARANATHA: Umat Advent di Kainja membangun gereja mereka yang pertama dari bahan yang mereka miliki: “Batang bunga matahari kering dan batu bata dari lumpur yang dikeringkan. Kanan: SIAP UNTUK DINDING: Umat Advent di Kainja telah membakar bata untuk dinding. Atap yang tahan cuaca akan membuat dinding mereka bertahan lama. Mungkin Anda pernah mendengar ungkapan “Mekar saat Anda tanam.” Orang di desa kecil Kainja, Zambia, mungkin tidak pernah mendengar ungkapan yang terkenal ini, tetapi mereka sesungguhnya sedang menghidupkannya. Kainja dipenuhi oleh kebun-kebun bunga matahari. Biji bunga matahari dari bunga matahari dari hektar ke hektar bertumbuh untuk diperas menjadi minyak di kota yang jauh. Persekutuan umat Advent di Kainja telah membaptis 13 anggota. Tetapi paling sedikit ada 35 orang yang datang ke gereja setiap minggunya, dan beberapa di antaranya adalah anak-anak. Hingga baru-baru ini jemaat ini berkumpul di sebuah bangunan yang hampir seluruhnya terbuat dari batang bunga matahari kering. Membangun dengan menggunakan batang bunga matahari pastinya cerdas, tetapi itu bukanlah solusi yang baik untuk kebutuhan mereka. Rayap dan serangga lainnya menyerang dangan dahsyat. Di seluruh bangunan jejak debu tipis sebagai hasil dari serangga memakan dinding mereka. Umat di Kainja telah bekerja membuat batu bata untuk membangun gereja yang sesungguhnya. Tidak terhitung waktu yang telah digunakan untuk membentuk dan membakar batu bata merah dari tanah liat setempat. Gedung tanpa atap yang masih dalam tahap pembangunan itu mengesankan, tetapi hanya sampai hujan turun. Ketika batu bata tanah liat ini bersentuhan dengan kelembaban, mereka akan segera rubuh, hanya akan meninggalkan jejak bahwa mereka pernah ada. Untuk mempertahankan bata ini tetap kuat, mereka benar-benar membutuhkan atap logam. Tetapi umat di Kainja tidak mampu untuk membiayai bahkan untuk lembaran atap logam yang paling murah sekali pun untuk paling tidak dalam waktu dua tahun. Perputaran keadaan itu berhenti ketika truk besar Maranatha memasuki desa. Hanya dalam beberapa jam tim mendirikan jawaban doa mereka: Kerangka bangunan baja yang kokoh menutupi kekurangan mereka—atap yang kuat untuk melindungi mereka dari panas dan hujan. Gereja Advent di Kainja sudah dalam bentuk yang lebih baik dari sebelumnya, dan bersyukur kepada Tuhan setiap hari. ASI dan Maranatha Volunteers International bekerja sama membiayai dan memfasilitasi proyek One-Day Church dan One-Day School. Sejak diluncurkan pada Agustus 2009, lebih dari 4.500 gereja One-Day telah dibangun di seluruh dunia.


K E S E H ATA N S E D U N I A

Penyakit Parkinson dan

Levodopa

Oleh Peter N. Landless dan Allan R. Handysides Rekan saya didiagnosis menderita penyakit Parkinson, dan keluarganya sangat tertekan. Dia baru berusia 62 tahun. Dia adalah seorang yang sangat aktif dan cemerlang di bidangnya. Saya pernah mendengar tentang metode terbaru stimulasi listrik, dan saya bertanya-tanya apakah saya harus menyebutkan hal itu pada istrinya.

P

enyakit Parkinson adalah gangguan berat yang akan menjadi jauh lebih umum seiring dengan usia penduduk dunia. Telah diantisipasi bahwa pada tahun 2030 akan ada dua kali lipat orang yang hidup dengan Parkinson dari jumlah sekarang.1 Untuk beberapa orang penggunaan obat Levodopa sangat sukses, dengan ditandai penurunan efek motor tremor, melambatnya gerakan kaku, dan fitur wajah datar. Dalam Parkinson lanjutan, fluktuasi mobilitas menjadi masalah yang meningkat. Demensia menyertai sekitar sepertiga dari kasus penyakit Parkinson, dan telah disarankan bahwa dengan meningkatkan kemampuan motorik dapat menunda timbulnya gangguan tersebut. Selama bertahun-tahun pakar neurofisiologi telah bereksperimen dengan stimulasi dalam area subthalamic otak. Stimulasi listrik otak manusia pertama kali digunakan oleh dokter istana, Scribanius Largus,2 dari Kaisar Claudius. Dia menggunakan “ikan torpedo listrik” untuk mengobati sakit kepala dan asam urat pada tahun 50 T.M. Ketika generasi listrik menjadi memungkinkan pada akhir abad kedelapan belas, pikiran pemanfaatannya menjadi populer. Pasien dengan penyakit Parkinson ini telah menjadi sasaran utama penelitian, dan pada bulan September 2014 pemenang Lasker-DeBakey Clinical Medical Research Award adalah Alim-Louis Benabid (seorang ahli bedah saraf dari University Hospital dari Grenoble, Perancis) dan Mahlon DeLong (seorang ahli saraf di Emory School of Medicine, Amerika Se-

rikat). Penelitian mereka dan pemanfaatannya ke dalam praktik klinis telah meningkatkan kehidupan puluhan ribu orang yang menderita penyakit Parkinson. Diperkirakan 1-2 persen mereka yang berusia lebih dari 60 tahun di AS terkena penyakit Parkinson,3 dan bahwa 7 hingga 10 juta orang di seluruh dunia hidup dengan penyakit ini.4 Tatapan kosong di wajah, suara lembut, gemetaran, tulisan tangan, kekakuan dan masalah keseimbangan, serta gaya berjalan yang menyeret, bukan satu-satunya gejala. Depresi, kecemasan, gangguan tidur—tidak mengatakan apa pun terhadap fakta bahwa orang lain mungkin cukup kasar, dengan menyatakan bahwa sang penderita memiliki kekurangan mental—dapat menambah penderitaan pasien. Sebelum Levodova ditemukan, kehidupan mereka yang menderita penyakit Parkinson adalah mimpi buruk. Masalahnya adalah bahwa sering datang periode refrakter; ini artinya bahwa obat tampaknya telah berhenti bekerja. Benabid dan DeLong, bersama dengan yang lain, telah memanfaatkan penyelidikan listrik dan mengirimkan arus listrik berirama ke pusat otak khusus yang membantu untuk mengatur gerakan, yang disebut pusat saraf subthalamic. Irama frekuensi rendah memperburuk tremor, tetapi denyut yang cepat menguranginya. Secara individual merangsang dan memanfaatkan teknik penelitian yang sangat cermat, dua peneliti ini telah mengembangkan bentuk yang telah digunakan oleh orang lain untuk meniru hasil mereka.

Apakah resistan terhadap stimulasi akan berkembang, belum diketahui. Peningkatan pemikiran untuk bunuh diri dan usaha bunuh diri telah dicatat. Tim multidisiplin, bagaimanapun, sekarang menggunakan terapi tersebut, seringkali dengan hasil efektif yang memukau. Tentunya, berbicaralah dengan istri rekan Anda, dan dorong dia untuk terbuka mengenai terapi tersebut. Dengan terapi yang canggih, dan dengan banyak hal yang belum ditemukan, penting untuk diperlakukan di institusi yang termuka. Deep-brain stimulation (DBS), sebagaimana terapi ini disebut, menjanjikan era baru dalam pengelolaan Parkinson, atau, setidaknya, masa kelegaan yang dapat membawa kenyamanan besar. Penyakit neurologis lainnya akan segera menjadi fokus perhatian untuk intervensi tersebut. Sementara kita menunggu waktunya, ketika Tuhan akan membuat semuanya menjadi baru, kemungkinan bahkan sedikit kesembuhan dari penyakit mengerikan seperti Parkinson ini, membawa harapan tambahan! n 1 Carolyn Tanner, “A Second Honeymoon for Parkinson’s Disease?” The New England Journal of Medicine 368 (14 Feb. 2013): hlm. 675, 676. 2 Michael Okum, “Deep-Brain Stimulation—Entering the Era of Human Neural-Network Modulation,” The New England Journal of Medicine 371 (9 Okt. 2014): hlm. 1369-1373. 3 National Human Genome Research Institute, www.genome. gov/10001217. 4 Parkinson’s Disease Foundation, www.pdf.org/en/parkinson_ statistics.

Peter N. Landless, seorang ahli kardiologi nuklir,

adalah Direktur Departemen Pelayanan Kesehatan General Conference.

Allan R. Handysides, seorang ahli ginekologi, baru

pensiun, sebelumnya adalah Direktur Departemen Pelayanan Kesehatan General Conference.

11 - 2015 | Adventist World

11


RENUNGAN

N

elayan sedang sibuk dengan jala mereka. Seorang pria muncul di tepi pantai. Dia mulai berbicara. Lebih banyak dan lebih banyak lagi orang berkumpul di sekitar Dia. Kemudian mereka menyaksikan sebuah mukjizat. Mereka dengan rela meninggalkan jala mereka dan segera meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikut Dia. Mereka menyerahkan segala sesuatu yang melindungi kehidupan mereka dan sebaliknya, tanpa jaminan keamanan, mereka mengikuti seseorang yang hanya sedikit mereka ketahui kepada masa depan yang tidak pasti (Matius 4:18-22). Apakah Anda pernah mengagumi kisah ini, yang terdapat dalam Injil ketika Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes tampaknya begitu saja meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus? Apakah Anda pernah bertanya pada diri sendiri jika Anda bersedia untuk melakukan hal yang sama—seperti spontan dan mendadak?

Apa Modelnya?

Jika Anda seperti saya, Anda ingin memiliki lebih banyak lagi waktu untuk berpikir dan, di atas semua, berdoa tentang keputusan yang jangkauannya jauh ke depan seperti itu; dan Anda ingin tahu sebanyak mungkin tentang orang yang Anda rencanakan untuk ikuti. Berikut adalah berita baik: Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes tidak hanya memutuskan secara mendadak. Insiden tertentu dicatat dalam Matius, Markus, dan Lukas terjadi sekitar

musim panas pada usia Yesus yang kedua puluh sembilan, kirakira satu setengah sampai dua tahun setelah Yesus memulai pelayanan publik-Nya.1 Hal ini dapat diabaikan dengan mudah; namun hal itu menjadi jelas melalui studi yang cermat terhadap teks Alkitab. Dalam Matius 4:12 kita membaca: “Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.” Referensi yang sama dapat ditemukan dalam Markus 1:14, dan konteks di Lukas juga menjelaskan bahwa Yesus sudah memulai pelayanan-Nya di Galilea ketika Ia mengundang para nelayan untuk mengikut-Nya. Yesus telah aktif sebelum penangkapan Yohanes Pembaptis. Namun, laporan ini hanya ditemukan dalam Injil Yohanes. Di sana kita dapat membaca tentang pernikahan di Kana (Yohanes 2:1-12), pembersihan Bait Suci yang pertama (ayat 1317), diikuti oleh kata-kata singkat: “Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya” (ayat 23). Yohanes menulis tentang pertemuan yang terjadi pada malam hari dengan Nikodemus (Yohanes 3: 1-21) dan bahwa baik Yesus dan Yohanes Pembaptis membaptis pada waktu yang sama. Sehubungan dengan yang terakhir kita baca: “Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara” (ayat 23, 24).

Oleh Bernd Sengewald

Pemikiran

Mendadak— atau yang Dipikirkan

dengan Baik?

Kita dipanggil untuk mengikut Yesus di mana pun kita berada. P h oto :

C r i st i n a

C h i r t e s


Sebagai manusia, kita biasanya perlu waktu—terutama untuk keputusan penting. Ketika Yesus datang ke Galilea untuk kedua kalinya, popularitas-Nya di antara orang itu begitu besar sehingga seorang pejabat istana, yang tinggal 25 kilometer (sekitar 15 mil) dari mana Yesus tinggal, mendengar bahwa Dia kembali ke wilayah tersebut dan dia melakukan perjalanan dari Kapernaum ke Kana untuk meminta Yesus menyembuhkan anak-Nya (Yohanes 4: 45-47). Singkatnya: Empat orang yang tampaknya meninggalkan segala sesuatu secara spontan untuk ikut Yesus sebenarnya memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk mengenal Tuhan dan Juruselamat mereka. Mereka sangat erat terhubung kepada-Nya, dan mereka melihat dan merasakan bagaimana Dia hidup (Yohanes 1: 35-42). Mereka mendengar khotbah-Nya dan melihat mukjizat-Nya. Mereka bahkan dibaptis atas nama-Nya (Yohanes 4: 2). Yesus Kristus tidak mengharapkan keputusan yang mendadak dari mereka. Beberapa saat setelah pembaptis­ an-Nya, Yesus telah merekrut mereka sebagai murid paruh waktu (Yohanes 1: 35-51), dan sekarang, sekitar satu setengah sampai dua tahun kemudian, Ia memanggil mereka untuk pemuridan penuh waktu.2 Sebagai manusia, kita biasanya perlu waktu—terutama untuk keputusan penting. Yesus mengakui fakta ini terhadap murid-murid-Nya. Segera Bersama Yesus

Namun demikian, ada juga kata “segera” ketika Yesus memanggil. Misalnya, seperti kepada wanita Samaria di tepi sumur Yakub yang diyakinkan bahwa dia sementara berada di hadapan Mesias, ia segera meninggalkan tempayannya dan masuk ke desanya. Di sana ia berbicara secara terbuka dan antusias tentang iman yang baru dia temukan, dan akibatnya ada pergerakan besar di antara penduduk setempat (Yohanes 4: 28-42). Orang yang kesurupan dari Gerasa di wilayah Dekapolis adalah contoh lain. Permintaannya untuk diizinkan tinggal bersama dengan Yesus ditolak. Sebaliknya, Yesus menyuruhnya pergi ke keluarganya dan berbicara tentang keajaiban yang terjadi dalam hidupnya. Pria itu meninggalkan Yesus dan berjalan di seluruh daerah Dekapolis untuk berbicara tentang pengalamannya (Markus 5: 18-20). Beberapa waktu kemudian, ketika Yesus mengunjungi wilayah itu lagi, 4.000 orang berkumpul untuk menemui-Nya. Selama tiga hari Ia mengajar dan menyembuhkan mereka, ditutup dengan untuk kedua kalinya

mukjizat memberi makan. Berbeda dengan memberi makan 5.000 orang, di mana sebagian besar orang Yahudi yang hadir, dalam hal ini sebagian besar yang hadir adalah orang bukan Yahudi dari wilayah Dekapolis. Dengan kata lain, mereka berasal dari tempat tinggal mantan orang yang kesurupan dari Gerasa, yang dengan segera membagikan pengalamannya bersama dengan Yesus Kristus (Mat. 15:. 29-39). Ikutlah Aku

Sangat penting untuk mengambil apa yang telah kita pelajari dari Yesus, dan segera menempatkannya ke dalam tindakan, dan menyampaikan berkat kepada orang lain. Tidak diragukan lagi, ini adalah salah satu cara menjawab panggilan Yesus “Ikutlah Aku.” Namun Yesus sendiri sangat berhati-hati, dan pelayanan-Nya kepada orang lain dipikirkan dengan baik. Dia tahu hati kita dan berapa banyak dia, terkadang, menuntut kita. Sambil lalu: Pernahkah Anda memperhatikan bahwa khotbah Yesus mengikuti model yang sama? Dalam Kisah Para Rasul 1:8 Ia mengatakan: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Pada tahun pertama dan setengah dari pelayan­ an-Nya, Yesus berkhotbah hanya di Yerusalem dan Yudea. Ketika penolakan dari para pemimpin Yahudi di situ menjadi terlalu besar, Dia membawa pekabaran kerajaan-Nya ke Galilea. Namun, dalam perjalanan-Nya Ia berhenti di Samaria (Mat. 4:12) dan berkhotbah di sana. Ketika penolakan di Galilea menjadi terlalu besar (Yoh. 6:66), Ia melayani di daerah di mana bangsabangsa lain hidup, termasuk di daerah Dekapolis (Mat. 16:13).3 Sangat mudah untuk mengabaikan tautan penting dan aspek yang menarik dari pelayanan Yesus ketika kita membaca Injil dengan cepat. Kronologi tidak selalu mudah untuk dipahami. Tapi semuanya memiliki dan membutuhkan waktu, terutama ketika berbicara mengenai manusia. Panggilan Kristus “Ikutlah Aku” masih mengundang kita hari ini untuk memercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Yesus. Dia tahu persis apa yang paling kita butuhkan, dan kapan kita membutuhkannya. n 1 The Seventh-day Adventist Bible Commentary (Washington, D.C.: Review and Herald Publishing Association, 1956), jld. 5, hlm. 315, 316. Bandingkan dengan catatan tambahan di Lukas 4 dalam SDABC, hld. 5, pada hlm. 216-218 dan 229-231. 2 Ibid., hlm. 319. 3 Ibid., hlm. 428.

Bernd Sengewald gembala Distrik

Schwäbisch Hall di Jerman Selatan. Bentuk awal dari artikel ini diterbitkan di BWgung, surat kabar Konferens Baden-Württemberg, yang berkantor pusat di Stuttgart, Jerman.

11 - 2015 | Adventist World

13


K E P E R C AYA A N

PASAL 20

DASAR

Bebas pada

Oleh Gerald A. Klingbeil

Akhirnya

Kita diselamatkan untuk merayakan pembebasan.

M

ereka ditempatkan dalam perahu kecil, yang membawa ratusan orang berhimpitan dalam ruang yang dirancang untuk hanya beberapa lusin orang. Anakanak, wanita, pria, kakek, dan nenek, semua mencoba untuk menemukan jalan mereka ke daratan yang lebih baik. Mereka memulai perjalanan mereka dari Irak, Suriah, Libya, Sudan Selatan, Somalia, Kongo, atau di mana pun konflik, kelaparan, atau penganiayaan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Eropa dan didorong oleh harapan untuk masa depan yang lebih baik—atau paling tidak bertahan hidup. Mereka mempertaruhkan segalanya untuk mendapat tempat peristirahatan dan kebebasan. Penderitaan mereka berbicara mengenai perjuangan kita bersama untuk suatu istirahat yang sulit dipahami, rasa saling memiliki, menyadari bahwa kita akhirnya aman dan bebas. Ketika kita melihat kapal berjuang melawan laut dan mengatasi segala rintangan, kita diingatkan bahwa perjalanan kita sendiri mencari tempat yang lebih baik dan peristirahatan yang benar.

Diciptakan untuk Bebas

Itulah saat di mana Sabat menjadi bagian dari kisah ini. Sabat adalah pengingat mingguan karunia terbesar Allah kepada umat manusia. Bahkan, itu adalah hadiah untuk semua ciptaan. Hari ketujuh dalam mingguan mengajak kita untuk mengingat dua peristiwa penting dalam sejarah manusia. Pertama, kita menyadari bahwa kehidupan itu memiliki awal. Alkitab memberitahu kita bahwa Allah menciptakan dunia ini melalui Firman-Nya—jadilah demikian (Kej. 1). Allah menginvestasikan enam hari untuk merancang dan menciptakan lingkungan yang menakjubkan dan makhluk yang paling indah. Penciptaan berbicara mengenai Allah yang menyukai warna-warna cerah, bentuk-bentuk yang menakjubkan, dan kehidupan itu sendiri. “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” (Kel. 20:8). Menghu-

14

Adventist World | 11 - 2015

bungkan hati dan pikiran kita kepada saat di mana semuanya itu dimulai. Sabat bukan teologi baru atau terang baru yang Musa secara kebetulan masukkan dalam ekspresi dasar dari karakter Allah yang kita sebut Sepuluh Perintah Allah. Ini adalah pengingat dari penciptaan yang sempurna, hubungan yang sempurna, dan kemampuan untuk memilih. Sayangnya, orangtua pertama kita memilih untuk tidak percaya kepada Pencipta yang dengan-Nya mereka bertemu setiap hari ketujuh tiap minggunya. Itu sebabnya kita harus ingat: “Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu:.... Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya”(ayat 9-11). Kita beristirahat karena Dia beristirahat. Kita beristirahat karena kita mengagumi kekudusanNya dan berkat-Nya. Kita beristirahat karena kita telah menemukan istirahat penciptaan dan memercayai-Nya untuk membuat kita utuh. Kita beristirahat karena kita mengingat. Ada, bagaimanapun, alasan penting lain yang diberikan untuk Sabat. Setelah 40 tahun di padang gurun, Israel akhirnya siap untuk memasuki Tanah Perjanjian. Sebuah generasi baru berdiri di ambang sebuah pengalaman hidup yang sama sekali baru. Gantinya tinggal di tenda, mereka akan membangun rumah permanen. Mereka perlu mendengarkan kembali ekspresi kehendak Allah dan karakter yang tegas. Dari sanalah Ulangan 5 berasal. Mereka harus melakukannya, baik secara individu maupun secara bersama, kepada Allah yang telah memimpin orangtua mereka keluar dari Mesir. Teks Alkitab Ulangan 5 sangat mirip dengan pernyataan pertama dari Sepuluh Perintah Allah di kaki Gunung Sinai. Namun ada perbedaan yang nyata, dan itu ditemukan dalam perintah mengenai Sabat yang penting. Gantinya “mengingat,” teks Alkitab mengajak kita untuk “tetap” atau “mempertahankan” (ayat 12). Memelihara Sabat


Pemeliharaan Sabat adalah keputusan kesadaran, bukan suatu peristiwa biasa. adalah keputusan kesadaran, bukan suatu peristiwa biasa. Kejutan terbesar, bagaimana pun, dapat ditemukan dalam alasan yang diberikan untuk memelihara hari Sabat. “Sebab haruslah kau ingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat” (ayat 15). Teks ini benar-benar membuat yang implisit menjadi jelas dan berusaha untuk berbicara kepada generasi baru. Penciptaan adalah dasar dari hari Sabat; pembebasan adalah ekspresinya yang paling nyata. Karena itu Setiap hari Sabat, bagi umat Israel (dan Anda dan saya) adalah untuk mengingat kondisi manusia yang sesungguhnya. Kita adalah makhluk yang hilang tetapi telah ditemukan; yang diperbudak namun telah dibebaskan; yang diselamatkan Allah yang tidak hanya membentuk manusia dengan tangan-Nya sendiri (Kej. 2:7), tetapi memberikan mereka kebebasan “dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung” (Ul. 26:8).

keselamatan-Nya. Dan konflik itu terus berlanjut. Kapal yang membawa mereka yang putus asa dalam mencari tempat tinggal, perlindungan, dan kebebasan terus masuk ke lautan sampai hari ketika Yesus pada akhirnya kembali. Kejahatan, rasa sakit, kehancuran, dan penyalahgunaan akan terus menjalar dan terjadi di dunia yang sakit dosa, di mana ratusan juta orang terus-menerus berpindah untuk menemukan keamanan dan perlindungan. Namun tiap hari Sabat mengingatkan kita bahwa kita adalah milik-Nya dan bahwa kehidupan yang membosankan dan penuh penderitaan ini tidak akan berlangsung selamanya. Dia yang selalu bekerja untuk ciptaan-Nya (Yohanes 5:17) suatu hari akan mengakhiri dan menyambut kita di peristirahatan yang sesungguhnya (Ibr. 4.): Istirahat dari diri kita sendiri, istirahat dari upaya kita sendiri yang lemah untuk kebenaran dan kekudusan, dan beristirahat dari penderitaan dan kesedihan yang tampaknya menjadi kelaziman dari keberadaan kita. Kemudian kita akan benar-benar mengenal perhentian-Shabbat-Nya. Segera, sangat segera. n

Cerita Selebihnya

* Lihat, sebagai contoh, Ellen G. White, Manuscript Releases (Silver Spring, Md.: Ellen G. White Estate, 1990), jld. 5, hlm. 88.

Tidak perlu dipertanyakan lagi, Setan begitu tertarik menghancurkan hari Sabat.* Daripada mengakui penciptaan dan kebutuhan kita akan keselamatan, dia membisikkan kemampuan mencukupi diri sendiri, pembenaran diri, atau kebebasan ke telinga kita. Tanda abadi penciptaan dan keselamatan telah menjadi fokus pertempuran kosmik antara kebaikan dan kejahatan. Ratusan tahun, bahkan ribuan tahun yang telah lalu, telah disaksikan seringkali konflik kekerasan melibatkan Sabat, mengingatkan kita bahwa Sabat bukan hanya hari lain. Sebaliknya, itu merupakan pusat pemeliharaan penciptaan Allah dan tindakan

Gerald A. Klingbeil melayani sebagai Associate Editor Adventist World. Dia menikmati setiap Sabat dan menunggu dengan antisipasi untuk Shabbat surgawi pertama kita, bersama berkumpul dengan Yesus.

Sabat Pencipta berkemurahan, setelah enam hari Penciptaan, berhenti pada hari ketujuh dan melembagakan hari Sabat untuk semua orang sebagai peringatan dari Penciptaan. Perintah keempat dari hukum Allah yang tidak dapat diubah menuntut ketaatan dari Sabat hari ketujuh ini sebagai hari peristirahatan, ibadah, dan pelayanan yang selaras dengan ajaran dan praktik Yesus, Tuhan atas hari Sabat. Hari Sabat adalah hari persekutuan yang menyenangkan bersama dengan Allah dan dengan satu sama lain. Ini adalah simbol penebusan kita di dalam Kristus, tanda pengudusan kita, tanda kesetiaan kita, dan rasa pembuka untuk masa depan kekal kita dalam kerajaan Allah. Hari Sabat adalah tanda abadi Allah dari perjanjian-Nya yang kekal antara Dia dan umat-Nya. Memelihara dengan sukacita waktu yang suci ini dari malam ke malam, dari matahari terbenam sampai matahari terbenam, adalah perayaan tindakan kreatif dan penebusan Allah. (Kej. 2: 1-3; Kel. 20: 8-11; 31:13-17; Im. 23:32; Ul. 5:12-15; Yes. 56: 5, 6; 58:13, 14; Yeh. 20:12, 20; Mat. 12:1-12; Mrk. 1:32; Luk. 4:16; Ibr. 4: 1-11).

11 - 2015 | Adventist World

15


C E R I TA S A M P U L

Mencari

LegaliTAS Oleh

Joseph Olstad

Menemukan

M

KEMUNAFIKAN

eskipun kita melakukan risiko yang terlihat berpikiran tertutup, pada umumnya kita tidak punya waktu untuk mempertimbangkan setiap ide baru atau ajaran yang melintasi radar agama kita. Kita sering mengambil dan memilih apa yang harus dipertimbangkan berdasarkan pada model teologi, atau paradigma, dalam pikiran kita yang berfungsi untuk membingkai atau menyaring informasi. Model saya sendiri membantu saya membingkai gambar pemahaman mengenai murka Allah dalam Perjanjian Lama dengan ajaran Yesus mengenai mengampuni musuh seseorang dalam Perjanjian Baru. Tanpa model ini, saya juga akan tinggal dengan kontradiksi atau tergoda untuk mendukung/mengabaikan satu bagian Alkitab atas bagian yang lain. Di sisi lain, jika seorang sarjana Alkitab mencoba untuk memberitahu saya bahwa Yesus tidak benar-benar Ilahi, atau dokumen-dokumen Perjanjian Baru adalah kumpulan pemalsuan, saya tidak termotivasi (di sebagian besar keadaan) bahkan untuk mempertimbangkan posisi tersebut. Saya hanya menyaringnya keluar dan tidak membuat upaya apa pun untuk mengubah paradigma saya dalam mengakomodasi apa yang saya anggap omong kosong. Paradigma penting dan bekerja de-

16

Adventist World | 11 - 2015

ngan baik sampai kita lupa kita sementara menggunakan mereka. Jika itu terjadi, kita mungkin mulai tanpa sadar menyaring data-data kecil yang penting yang akan meningkatkan paradigma kita untuk mencerminkan kebenaran yang lebih baik. Mungkin beberapa orang Kristen, termasuk Advent, secara tidak sadar ­mengasumsikan, ketika membaca Injil, paradigma telah menyebabkan kita untuk mengabaikan beberapa poin yang lebih tajam yang Yesus buat. Konsep legalitas adalah salah satu paradigma yang bermasalah yang memerlukan tinjauan yang lebih dekat. Saya membaca dan mendengar bentuk model ini di mana-mana—di Sekolah Sabat, khotbah, majalah, dan percakapan santai: “orang Farisi adalah legalis dan mengajarkan legalitas”; “Yesus mencela legalitas orang Farisi dan mengajarkan kita cara baru yakni kasih dan karunia”; “Kristen harus mematuhi hukum, tetapi tidak secara legalitas”; “Mematuhi Sabat adalah legalitas”; dan sebagainya. Dalam paradigma ini tampaknya legalitas merupakan ancaman utama dalam Injil; oleh karena itu, teguran dan ajaran Yesus dipandang sebagai koreksi untuk permasalahan itu. Tetapi saya menyarankan paradigma yang berbeda. Ingat ucapan yang mengatakan “Fokus Anda menentukan apa yang Anda lewatkan,” saya menekan-

kan bahwa legalitas telah menjadi fokus atau asumsi... tetapi kemunafikan telah terlewatkan. Ketika saya mulai mempertimbangkan perbedaan ini, saya meminta temanteman di gereja jika mereka bisa menunjukkan satu ayat dari Injil yang menunjukkan legalitas. Saya biasanya menerimanya baik dengan diam atau dengan tanggapan tentang “persepuluhan adas manis dan jintan.” Mungkin ungkapan yang sama yang ada dalam pikiran Anda juga. Mari kita mulai dari sana. Mengingat bahwa legalitas biasanya didefinisikan sebagai “memelihara hukum agar diselamatkan,” mari kita lihat apakah Matius 23:23 adalah contoh yang baik dari perilaku tersebut. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orangorang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

Teguran Berikut adalah pertanyaan saya: Apakah yang sebenarnya Yesus tegur? Apakah Dia menyerang legalitas sebagaimana yang umumnya dipahami? Hal itu tidak

P h oto :

f r e e i ma g e s . c om / P e t e r

Caulf i e l d


Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. kelihatan demikian. Bahkan, di satu sisi sebaliknya adalah benar. Dia tidak mempersalahkan pemeliharaan hukum orang Farisi, apa pun motif mereka; Dia mempersalahkan pengabaian mereka terhadap pemeliharaan hukum. Tetapi Yesus tidak berhenti di situ. Dia tidak hanya menegur pengabaian mereka terhadap hukum—Dia menyoroti bahwa mereka mengabaikan hal yang paling penting dari hukum menurut Yesus, orang Farisi tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga melanggar hukum yang paling penting. Tetapi Yesus menyoroti dimensi lain dari ketidaktaatan mereka. Sorotan inilah yang membawa “legalitas” ke dalam pikiran banyak pembaca. Mereka tidak hanya mengabaikan bagian yang paling penting dari hukum, tetapi memelihara bagian yang kurang penting sehingga mereka terlihat seperti penjaga hukum menyeluruh. Untuk poin terakhir ini mereka mendapatkan julukan khusus dari Yesus, tetapi bukan julukan “legalis”—julukan itu menyebutkan “munafik,” yang Dia gunakan berulang kali. Tetapi bagaimana dengan persepu-

Matius 23:24

luhan tumbuh-tumbuhan mereka yang legalitas? Apakah Yesus ingin mereka menghentikan persepuluhan itu? Tidak sama sekali. Dia memperingatkan bahwa baik perkara-perkara yang lebih berat maupun “yang lainnya,” seperti, persepuluhan, tidak seharusnya diabaikan. Yesus menutup-Nya, “Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta” dengan metafora yang mengejutkan seseorang berusaha menyingkirkan seekor nyamuk kecil (bentuk tunggal) dari air minum seseorang, tapi segera menelan sesuatu yang besar, unta berbulu. Kegilaan metode penyaringan air tersebut bertautan dengan kemunafikan pemeliharaan hukum yang lebih kecil sementara melanggar yang sangat penting. Tepi mata pisau cukur dari kata-kata Yesus tidak menyangkut persepuluhan (nyamuk), melainkan peniadaan hukum secara besar-besaran (unta). Dia meluncurkan perkataan celakalah-Nya yang berikutnya dengan menggunakan metafora paralel yang indah, kuburan yang dilabur putih (ayat 27). Tetapi intiplah ke dalam dan segera keindahannya dilupakan setelah melihat mayat

Apakah Anda

Menyadari GORILA Itu ?

Psikolog Arien Mack mengatakan bahwa “kebanyakan orang memiliki kesan bahwa mereka hanya melihat apa yang ada di sana dan melakukannya hanya dengan membuka mata mereka dan melihat.” Suatu penelitian dari Harvard University menunjukkan bahwa ini tidak terjadi. Dua kelompok orang diminta untuk menonton pertandingan basket. Kelompok yang di eksperimen itu diberitahu untuk menghitung jumlah tim yang saling melemparkan bola. Selama permainan, seorang pria dalam kostun gorila tiba-tiba berjalan ke tengah permainan dan terlihat selama lima detik. Kelompok kontrol diminta untuk menonton pertandingan yang sama tanpa menghitung. Kelompok ini dengan mudah melihat hewan yang mengganggu tersebut; Namun, lebih dari setengah peserta yang menghitung tidak melihat ada gorila. Salah satu peneliti mengatakan bahwa ia menanyakan kepada subyek, “Apakah Anda melihat seseorang yang berjalan di layar?” Tidak, tidak ada yang lewat. Ketika ditanya “Apakah Anda memperP h oto :

f r e e i ma g e s . c om / t i j m e n

va n

d o b b e n b u r g h

yang membusuk. Teguran tidak berpusat pada kuburan berlabur putih dan nyamuk, melainkan pada unta dan tulang orang yang telah meninggal, yang diterjemahkan oleh Yesus bagi kita sebagai “kemunafikan dan kedurjanaan” (ayat 28). Untuk tetap bersandar pada perumpamaan Yesus, paradigma legalitas telah membuat kita membidik kepada nyamuk dan kapur, sedangkan inti dari teguran Yesus berpusat kepada unta dan tulang orang meninggal itu. Ketika semua gambaran itu disatukan bersama-sama, Yesus menyebut gambar itu “kemunafikan.” Legalitas sebenarnya mungkin ada, tetapi sebagai paradigma, hal itu mengalihkan teguran Yesus kepada orang Farisi menjadi sesuatu yang berbeda dari apa yang Dia maksudkan. Siapakah Orang Farisi? Ketika saya mencoba melihat lebih dekat kepada ayat-ayat ini dan yang lainnya seperti mereka, gambar khas orang Farisi mulai lenyap. Orang Farisi selama ini dianggap sebagai lambang legalitas: Mereka yang menaati semua hukum di bawah matahari tetapi ketaatan yang me-

Oleh

Joseph Olstad

hatikan gorila?” Sang pengamat menjawab, “Apa?” Jadi apa yang terjadi di sini? Ketika kelompok yang diberitahu untuk menghitung, mereka mempersempit dan mengarahkan perhatian mereka untuk tugas tertentu, dan otak menciptakan model sederhana dari bola, manusia, dan gerak. Model ini, bekerja secara efisien, menyaring benda yang tidak relevan, seperti gorila, dan menyebabkan penonton melihat hanya apa yang mereka harapkan untuk lihat.* Fenomena yang sama terjadi ketika kita membaca teks Alkitab dengan harapan mengonfirmasikan apa yang sudah kita ketahui, atau kita lupa bahwa kita memiliki model yang kuat yang dapat menyaring data penting Alkitabiah. Hal ini terjadi terhadap paradigma legalitas. Kita mencari legalitas di halaman Injil, dan melewatkan gorila kemunafikan yang bergerak lambat di seluruh halaman.

* Kutipan dan analisis diambil dari Laurence Gonzales, Deep Survival (New York: W. W. Norton & Co., 2003), hlm. 79-81.

11 - 2015 | Adventist World

17


C E R I TA S A M P U L nyeluruh itu terinfeksi dengan motif yang ditandai dengan keinginan untuk dihormati, orientasi pada perbuatan, usaha memperoleh keselamatan, meningkatkan diri sendiri dengan kerangka moral sendiri. Semakin saya membaca Injil dan memperhatikan setiap dialog Yesus dengan mereka, menjadi pertimbangan, pandangan tradisional menjadi semakin bermasalah. Orang Farisi yang Yesus tekankan1 perlu dipertimbangkan kembali sebagai orang munafik yang melanggar hukum klasik, moralis pemelihara hukum yang tidak teliti.2 Gambaran Ellen White tidak begitu membesar-besarkan seperti gambaran saya. Dia menulis bahwa “kesucian secara lahir” melayani untuk menyembunyikan “kejahatan,”3 dan meskipun “mereka cermat dalam ritual ibadah, kehidupan mereka tidak bermoral dan rendah.”4 Dengan perbedaan ini dalam pandangan, banyak teks Alkitab menemukan titik temu dan lebih baik dijelaskan sebagai paradigma kemunafikan. Misalnya, Yesus memerintahkan orang banyak untuk melakukan apa yang orang Farisi dan ahli Taurat katakan untuk lakukan, tetapi tidak mengikuti teladan mereka, karena mereka tidak melakukan apa yang mereka katakan (ayat 2, 3). Ellen White mencatat bahwa Yesus membuat pernyataan ini dalam terang dengan tujuan yang lebih besar: “Tabiat... orang Farisi harus ditunjukkan lebih banyak lagi.”5 Mereka memberitakan hukum,”tetapi mereka sendiri tidak mematuhi hukum itu.”6 Pertanyaan yang paling menekan adalah “apakah Yesus berhasil menunjukkan tabiat orang Farisi?” Atau kita akan terus mengulangi, sebagai gereja, betapa sempurnanya orang Farisi berusaha memelihara hukum padahal sebenarnya mereka tidak? Suatu kali Yesus mengatakan dengan terus terang kepada mereka yang berusaha membunuh-Nya bahwa “Namun tidak seorang pun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu” (Yohanes 7:19). Sekali lagi, perhatikan peringatan Kristus: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi” (Lukas 12:1). Strategi penginjilan Yohanes Pembaptis dalam Lukas 3 memberi titik terang sehubungan dengan masalah ini. Jika para pendengarnya telah dibenamkan dalam teologi keselamatan oleh “perbuatan,” maka Yohanes melewatkan target penutupan seruannya. Setelah memberikan

18

Adventist World | 11 - 2015

pekabaran yang menggerakkan pertobatan, pendengar Yohanes bertanya, “Apakah yang harus kami lakukan?” Inilah kesempatan Yohanes untuk mengubah mereka dari moralisme legalitas mereka. Tapi tidak, dia mengatakan kepada mereka apa yang harus mereka lakukan: Bagikan pakaian Anda yang lebih, bagikan makanan Anda, bersikap jujur dalam mengumpulkan pajak, tidak memeras uang melalui tuduhan palsu, dan puas dengan upah Anda (Lukas 3:10-14). Saya melihat bahwa penekanan penutupan Yohanes tidak aman untuk “perbuatan”-yang diarahkan kepada orang banyak. Bagaimanakah jika orang berpikir bahwa melakukan perbuatan ini akan membuat mereka mendapatkan keselamatan? Jelas, hal itu bukanlah perhatian utamanya. Mari kita asumsikan bahwa Yohanes, seorang yang lebih dari seorang nabi, tahu pendengarnya lebih baik daripada kita yang ada di abad kedua puluh satu, dan tahu persis cara bagaimana mengakhiri khotbahnya. Mereka perlu bertobat dari perbuatan yang buruk dan mulai melakukan perbuatan baik. Berketepatan, Yohanes menarik “selimut rasa aman palsu keluar dari bawah kaki pendengar”—sebuah selimut yang bisa saja dengan baik telah memberikan kepada mereka kehangatan jaminan keselamatan palsu. Tetapi selimut itu bukanlah selimut “memelihara hukum demi memperoleh keselamatan”; selimut itu adalah selimut “Abraham adalah bapa kami” (ayat 8). Komentar tajam Yohanes berikutnya tersirat bahwa kecuali ada kekurangan batu di Israel, seseorang tidak seharusnya bergantung pada kesukuan sebagai suatu yang memberikan status keselamatan otomatis di hadapan Allah. Motivasi Pada titik ini seseorang mungkin menyangkal: “Ok, saya mengerti. Kemunafikan adalah masalah besar. Tapi sehubungan dengan hukum yang orang Farisi dan orang lain pelihara, bukankah mereka seharusnya memeliharanya terlepas dari motivasi legalitas?” Ini mungkin sangat benar, dan saya tidak akan terkejut jika motivasi legalitas merupakan dasar pemeliharaan hukum saat itu, yang mungkin terjadi saat ini. Tetapi bahkan jika hal itu dapat menunjukkan kalau orang Farisi secara konsisten legalitas berdasarkan standar kita, bukankah hal menarik jika hal itu terjadi, Yesus menegur secara konsisten pelang-

garan hukum mereka daripada mencoba untuk mengkritik setiap motif legaltas? Ketika Yesus menempatkan motivasi di atas meja, motivasi dalam kaitannya dengan tampil benar, atau mengumpulkan pujian dari orang, tidak mengharapkan pujian dari Allah karena perbuatan baik. Yesus berkata: “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Lukas 16:15), dan “Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang” (Matius 23:5). Ellen White sependapat: “Menunjukkan kesalehan mereka adalah selalu merupakan tujuan mereka.”7 Yesus ingin manusia melakukan perbuatan baik di hadapan Allah sebagai ganti melakukannya di hadapan orang lain. “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga” (Matius 6:1). Berbeda dengan apa yang mungkin seseorang pikirkan, Yesus ingin agar pendengar-Nya menunjukkan ketaatan dan ibadah agama mereka di hadapan Allah, karena dengan menempatkan Allah menjadi saksi penurutan seseorang adalah obat penawar untuk kemunafikan. Khotbah terbesar yang pernah dikhotbahkan adalah berhubungan secara signifikan dengan masalah ini. Pertimbangkan katakata Yesus dalam Khotbah di atas Bukit (Matius 6), di mana Dia memerintahkan resep berikut: Bagaimana Melakukan Perbuatan Benar tanpa Menjadi Munafik Pilihlah tindakan yang benar/rohani untuk dilakukan (misalnya, memberi kepada orang miskin, berdoa, berpuasa). Lakukan secara rahasia atau dengan cara tak terlihat orang lain. Hasilnya: Hanya Bapa yang melihat dan akan membalasnya sesuai dengan hal itu. Jika menginginkan penghargaan dari orang lain gantinya dari Bapa, lihatlah resep “Bagaimana Menjadi Munafik,” di mana tugas keagamaan dilakukan untuk ditunjukkan di hadapan umum secara maksimal. Dibungkus Inti dari mempertimbangkan kembali hal penting ini adalah bahwa selama le-


galitas dipandang sebagai isu besar agama yang Yesus hadapi, maka pemeliharaan hukum, meskipun dengan motivasi yang buruk, tetap diserang. Tetapi jika teguran kemunafikan lebih bernuansa Yesus sedang ditampilkan, maka pelanggaran hukum dan kesalahan menjadi isu utama. Mengapa tidak membaca ulang Injil dan bertanya pada diri sendiri, “Paradigma yang manakah yang paling cocok dengan ajaran dan teguran Yesus?” Model yang saya sarankan memiliki potensi untuk membebaskan banyak orang Kristen yang tulus mematuhi hukum tanpa ketakutan bahwa mereka akan menjadi legalis atau dalam proses menjadi seperti orang Farisi. Sebaliknya, jika kita menjadi paranoid, hal itu pasti menyangkut kemunafikan agama dan lihai dan gigih dalam pelanggaran hukum. Sudah waktunya bagi ajaran Yesus tentang kemunafikan untuk membuat perubahan besar. Legalitas telah menjadi sorotan selama berabad-abad, dan jika itu adalah masalah dalam hidup Anda atau gereja, maka dengan segala cara akuilah itu dan dengan kasih karunia Allah—secara harfiah, karunia-Nya—mencabut akarnya. Tapi sejujurnya, saya tidak melihat manusia yang memelihara hukum untuk diselamatkan sebanyak saya melihat mereka melanggar hukum karena mereka berpikir mereka sudah melakukannya. Perputaran ini lebih kepada kemunafikan daripada legalitas, dan hal itu membuat kata-kata Yesus lebih relevan hari ini daripada 2.000 tahun yang lalu. n 1 Kita harus berhati-hati tidak menyamaratakan bahwa semua orang Farisi di Palestina adalah munafik. 2 Meskipun demikian dapat dibayangkan keduanya bisa berjalan secara bersamaan. 3 Ellen G. White, The Desire of Ages (Mountain View, Calif.: Pacific Press Pub. Assn., 1898), hlm. 617. 4 Ibid., hlm. 309. 5 Ibid., hlm. 612. 6 Ellen G. White, Selected Messages (Washington, D.C.: Review and Herald Pub. Assn., 1958, 1980), jld. 2, hlm. 98. 7 E. G. White, The Desire of Ages, hlm. 612.

Oleh Anthony R. Kent

Bagaimana

Kita dapat

PRAKTIKKAN hukum Tanpa Jatuh

kepada Legalitas? Antinomianisme tentu bukan solusi! Antinomianisme membawa seorang Kristen kepada kemunafikan secepat kepada legalitas! Juruselamat kita, Yesus, sebagai contoh untuk jawabannya. Dia memelihara semua Sepuluh Hukum Allah, namun ia tidak akan pernah dapat dituduh sebagai legalis, antinomianis, atau munafik. Yesus berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Matius 11:28-30). Tidak boleh dilupakan bahwa Yesus memberi kepada manusia Sepuluh Perintah Allah di Sinai (1 Kor. 10:1-4). Dia hidup dan terus hidup oleh perintah-perintah ini hingga saat ini! Mayoritas dari perintah itu memberitahu kita apa yang tidak boleh dilakukan. Jarang orang disebut legalis karena tidak memiliki allah lain, gambar, atau terlibat dalam penghujatan. Kristen yang tidak membunuh, berzina, mencuri, berbohong, atau mengingini jarang disebut legalis, demikian juga anak-anak yang menghormati orangtua mereka. Hal itu meninggalkan satu perintah: Hari Sabat. Ironisnya orang Kristen yang beristirahat pada hari ketujuh dan mengambil kuk Yesus kadang-kadang disebut legalis, namun orang lain yang memilih untuk memakai kuk “Firaun” untuk membuat batu bata tujuh hari seminggu disebut orang bebas. Secara pribadi, saya lebih memilih untuk beristirahat dalam anugerah dan kemurahan Yesus. Tidak ada dosa atau malu untuk menjadi seorang yang disebut taat!

Joseph Olstad adalah

lulusan dari Adventist International Institute of Advanced Studies dan Universitas Andrews. Dia tinggal di Montana, Amerika Serikat, bersama istri dan tiga anak perempuannya.

Anthony R. Kent adalah Wakil Sekretaris Asosiasi Kependetaan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh General Conference di Silver Spring, Maryland. 11 - 2015 | Adventist World

19


KE H IDU PA N

A DV E NT

Oleh Jeff Couzins

Kuasa

Roti Kebiasaan khas penduduk Mauritania makan bersama di dalam mangkuk berisi roti yang dicampur dengan air.

A

lkitab berkata: “Janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman” (Kolose 2:16); akan tetapi, makna simbolis dan sosial budaya dari makanan berarti lebih daripada apa yang kita makan. Aktivitas makan menyangkut dua elemen yakni elemen biologis dan sosial budaya. Para ahli sosiologi memercayai bahwa “aktivitas makan seseorang dapat dimengerti layaknya sebuah sistem bahasa.”1 Gagasan ini dapat diterapkan kepada keluarga yang hidup di era kerasulan, di mana setiap anggota keluarga tunduk kepada otoritas sang ayah. Ayah adalah pelindung bagi semua anggota keluarga. Sebuah gambaran dari simbol yang kuat bahwa keluarga berada di bawah kepemimpinan ayah terlihat pada aktivitas makan, ketika semua bergantung kepada ayah untuk mendapatkan makanan. Alhasil, terciptalah beberapa praktik yang kuat mengenai makan dan minum.2

Lebih Ketimbang Sekadar Makanan

Nasihat para rasul untuk berbagi makanan bersama (Kis. 2:42) dapat digunakan untuk menggambarkan cara hidup normal dari orang Kristen pada abad pertama.3 Di sini, makanan berarti lebih dari sekadar sumber kekuatan untuk hidup, tetapi juga mencapai hubungan persekutuan yang lebih dalam antara sesama umat percaya dan Tuhan.4 Selain itu, dengan adanya pengulangan pada ajaran Yesus mengenai makanan dan minuman, termasuk keinginan-Nya untuk berbagi makanan dengan orang pinggiran di mata masyarakat pada umumnya, kita mendapatkan kesan bahwa bagi Yesus, makan dan minum bersama memiliki makna yang lebih dari sekadar memenuhi fungsi biologis dan sosial budaya.5 Jika kita melihat lebih teliti, kita dapat menemukan bahwa terdapat banyak keterangan mengenai makanan di dalam Alkitab; hampir di semua bagian Alkitab kita dapat menemukan ayat mengenai makanan. Namun makanan dan persekutuan di dalam Alkitab kadangkala gagal diperhatikan ketika kita berfokus pada pe-

20

Adventist World | 11 - 2015

rintah, hukum, dan doktrin, padahal di dalam Alkitab terdapat banyak hal yang terjadi sehubungan dengan meja makan. Apakah ayat-ayat sehubungan dengan makanan di dalam Alkitab hanyalah sebuah catatan dari kebutuhan praktis manusia, atau apakah ada hubungan rohani antara makanan dan persekutuan? Makanan dan Keselamatan

Makanan memiliki tempatnya pada rencana keselamatan. Sebagai contoh, oleh karena memakan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat menjatuhkan Adam dan Hawa pada dosa.6 Adalah juga melalui makanan, Allah mengajar kita tentang arti dari keselamatan.7 Upacara perjamuan yang suci hanyalah salah satu contoh simbolis yang melambangkan hubungan antara makanan dan keselamatan. Contoh yang lain terdapat pada sistem upacara korban di masa Perjanjian Lama, yang dalam berbagai bentuk dan fungsi, merujuk pada pelayanan pengorbanan Kristus. Sebagai contoh, semua perayaan utama pada masa Perjanjian Lama merujuk pada pelayanan Yesus. Sebuah perayaan berarti menyediakan bukan hanya porsi kecil makanan; itu berarti makanan untuk banyak orang. Perayaan-perayaan utama seperti (1) Paskah, yang merujuk pada kematian Yesus Kristus; (2) Pentakosta, yang merujuk pada kecurahan Roh Kudus; (3) Hari Raya Pondok Daun, yang merujuk pada kedatangan Yesus yang kedua kali; dan (4) Hari Pendamaian, yang merujuk pada penghakiman. Bagaimanapun juga, terdapat tujuan yang lebih besar daripada sebuah ajaran mengenai rencana keselamatan melalui persembahan. Sistem korban bukan hanya untuk mediasi pengampunan bagi orang berdosa, melainkan juga membawa umat ke dalam persekutuan dengan Allah (Im. 9:22). Korban penghapus dosa menggambarkan pengakuan dosa dan kesungguh-sung­ guhan untuk mendapatkan penyucian melalui pengampunan Allah. Korban bakaran mengekspresikan penyembahan, rasa syukur, dan pengabdian kepada Allah. Korban keselamatan meP h oto :

M i c h a ł

Hu n i e w i c z


lambangkan persekutuan dengan Allah dan umat percaya melalui memakan korban itu bersama-sama.8 Berbagai versi terjemahan Alkitab modern (seperti NIV) menerjemahkan korban keselamatan sebagai “korban persekutuan,” yang menunjukkan sifat alamiah sosial dan budaya dari korban tersebut. Peribadatan dan penyembahan zaman Perjanjian Lama selalu ditutup dengan makan bersama, bahwa seluruh jemaat membagi makanan dan makan bersama dalam persekutuan dengan Allah. Penyembahan kepada Allah di zaman Perjanjian Lama tidaklah lengkap tanpa seluruh umat berkumpul—nabi, imam, orang lewi, dan kaum awam—duduk bersama dan menikmati persekutuan dalam makan bersama. Dan konsep dari membagi makanan dan makan bersama ini berlanjut terus hingga zaman Perjanjian Baru. Contohnya ketika Yesus telah selesai mengajar 5000 orang dan Ia memberi mereka makan. Makanan dan Hubungan dengan Kristus

Makanan tidak dapat menyelamatkan kita, namun itu dapat menjadi tanda hubungan kita dengan Yesus Kristus. Sebagai contoh, dalam Lukas 24:41, setelah kebangkitan-Nya, Yesus meminta makanan ketika Ia bergabung dengan para murid di ruangan atas. Dalam Yohanes 21:9, setelah kebangkitan-Nya, Yesus menyediakan makanan bagi para murid yang tengah pergi menjala ikan. Pada kedua contoh tersebut, Yesus dalam wujud kebangkitan-Nya ingin membagikan makanan dan bersekutu bersama dengan murid-murid-Nya. Kisah Para Rasul 2:42 berkata: “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Memecahkan roti dalam ayat ini menunjukkan bahwa para murid makan bersama dan bersekutu satu dengan yang lain. Secara Alkitabiah, makan bersama dan bersekutu berjalan beriringan dengan pengajaran doktrin dan berdoa. Namun, kita sering kehilangan hubungan itu. Makanan dan persekutuan bukanlah hal yang terpisah yang ditambahkan ke dalam pelayanan ibadah gereja; sebaliknya itu seharusnya menjadi bagian dan kesatuan dari urutan ibadah dan penyembahan kepada Allah yang hidup. Sebagaimana dalam pelayanan bait suci Perjanjian Lama, kita dapat berkata bahwa ibadah tidaklah lengkap tanpa berbagi makanan dan makan bersama dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Dan persekutuan pun bermakna lebih daripada itu. Dalam Wahyu 3:20, Yesus berkata bahwa Ia akan masuk dan makan bersama dengan siapa pun yang membuka pintu hati kepada-Nya. Yesus menghubungkan makanan dan persekutuan kepada hubungan dengan diri-Nya sendiri. Alkitab tidak hanya berkata bahwa Yesus akan menemani Anda makan. Gantinya, Yesus berkata: “Aku akan masuk dan mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Makan bersama dan persekutuan merupakan aspek yang penting dalam hubungan sosial, sama pentingnya dengan hubungan kita dan Kristus. Semua orang yang telah diselamatkan di sepanjang sejarah dunia diundang dalam perjamuan kawin Anak Domba yang digambarkan dalam Wahyu 19:9.

rah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (ayat 20). Makan bersama tidak dalam menu lengkap selama Perjamuan Suci tidaklah mengurangi fakta bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara makanan dan keselamatan. Makan bersama tidaklah menyelamatkan kita, namun itu dapat melambangkan hubungan kita dengan Allah yang menyelamatkan kita. Dalam 1 Yohanes 1:3, 4 berkata: “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepadamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.” Persekutuan dalam gereja adalah lebih dari memiliki waktu makan bersama-sama. Makan bersama setelah peribadatan ialah lebih dari hanya makan di tempat yang sama. Bagaimanapun juga, hanyalah sepotong kecil buah yang membawa dosa masuk ke dunia. Dan saat yang sama pula, sepotong kecil roti dan segelas kecil jus anggurlah yang melambangkan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.9 Makanan mungkin terlihat tidak penting dalam rencana keselamatan secara keseluruhan, namun, berdasarkan Alkitab, itu dapat dibuktikan bahwa peribadatan tidaklah lengkap tanpa makan bersama dan persekutuan umat percaya satu dengan yang lain bersama Allah. Kita melihat buktinya ketika Yesus berjanji untuk makan bersama dengan kita dalam Wahyu 3:20, jika kita mengundang Dia masuk ke dalam hati kita. Beberapa “aktivitas lain boleh jadi menandakan persekutuan dan hubungan yang erat dengan satu sama lain daripada berbagi makanan bersama dan makan bersama.”10 Namun ekspresi penting dari makan bersama terlihat dalam nubuatan yaitu pada urutan eskatologi untuk makan bersama, atau perjamuan Mesias, perayaan pada datangnya Kerajaan Surga.11 Jadi, oleh karena kita tunduk kepada otoritas Allah Bapa kita di Surga, marilah kita berbagi makan bersama, mungkin setelah ibadah gereja pada hari Sabat, di rumah kita selama minggu berjalan, atau pada acara-acara piknik dan perkumpulan sosial lainnya. Karena jika kita melakukan hal demikian, kita juga sedang bersekutu dengan Yesus sampai Ia datang. n 1 Jan

Michael Joncas, “Tasting the Kingdom of God: The Meal Ministry of Jesus and Its Implications for Contemporary Worship and Life,” Worship 74 (2000): 330. Florence Dupont, Daily Life in Ancient Rome, trans. Christopher Woodall (Oxford: Blackwell Publishers, 1989), hlm. 103. 3 Robert W. Wall, “The Acts of the Apostles: Introduction, Commentary and Reflection,” in The New Interpreter’s Bible, ed. Leander E. Keck et al. (Nashville: Abingdon Press, 1995), jld. 10, hlm. 71. 4 G.H.C. Macgregor, “The Acts of the Apostles,” in The Interpreter’s Bible, ed. George A. Buttrick et al. (Nashville: Abingdon Press, 1954), hlm. 50. 5 Joncas, hlm. 330, 331, 346-350. 6 Ellen G. White, Patriarchs and Prophets (Mountain View, Calif.: Pacific Press Pub. Assn., 1890), hlm. 54-56. 7 Ellen G. White, The Desire of Ages (Mountain View, Calif.: Pacific Press Pub. Assn., 1898), hlm. 656. 8 Siegfred H. Horn, Seventh-day Adventist Bible Dictionary (Washington, D.C.: Review and Herald Pub. Assn., 1980), hlm. 963-966. 9 E. G. White, The Desire of Ages, hlm. 653. 10 Francis D. Nichol, ed., The Seventh-day Adventist Bible Commentary (Washington, D.C.: Review and Herald Pub. Assn., 1957, 1980), jld. 7, hlm. 763. 11 Ephraim Isaac, “The Significance of Food in Hebraic-African Thought and the Role of Fasting in the Ethiopian Church,” in Asceticism, ed. Vincent L. Wimbush and Richard Valantasis (New York: Oxford University Press, 2002), hlm. 331. 2

Makanan dan Pelayanan Gereja

Hubungan yang penting antara makanan dan persekutuan dengan keselamatan, terlihat pada perjamuan makan terakhir Yesus dan murid-murid-Nya. Yesus mengambil roti dan berkata, “Inilah tubuhKu” (Lukas 22:19). Kemudian Ia mengambil cawan dan berkata: “Ini adalah perjanjian baru oleh da-

Jeff Couzins seorang pendeta di North England Conference, Inggris.

11 - 2015 | Adventist World

21


R O H

N U B U A T

D

ALAM Itu

alam penurutan kepada Firman Allah dan keselerasan dengan kehendak-Nya, terdapat kebahagiaan. Sebuah keluarga yang dikendalikan oleh prinsip yang benar merupakan saksi bagi dunia mengenai kuasa dari iman yang murni dan suci; pengaruh mereka memiliki kecenderungan untuk menjauhkan pengaruh yang korup dan kotor yang kini membanjiri gereja dan masyarakat. Agama Yesus berkuasa untuk mengangkat manusia yang telah jatuh dalam dosa, membawa ketenangan bagi pemarah, sehingga mereka dapat duduk di kaki Yesus, berpakaikan kedamaian. Jika saja manusia lebih mencintai kesederhanaan alam dan kurang memedulikan hal yang palsu dan pertunjukan mode buatan manusia, mereka akan luput dari banyak kekacauan hidup, dan akan menemukan lebih banyak kedamaian, ketenangan, dan keteduhan daripada apa yang mereka dapat nikmati sekarang. Allah tidak menjatuhkan beban yang berat ke atas pundak ciptaan-Nya; manusialah yang membawa beban itu ke atas dirinya sendiri oleh ketidakmauan mereka untuk menyelaraskan hidup dengan alam, tetapi mendorong diri mereka untuk memenuhi tuntutan-tuntutan zaman. Inilah yang melelahkan tubuh manusia oleh membawa tekanan yang terus menerus kepada pikiran dan tubuh. Dia yang penuh kasih berfirman kepada kita melalui karya alam. Alam adalah bukti dari hikmat dan kuasa-Nya, dan di desain untuk mengesankan kepada manusia sebuah kenyataan bahwa ada Allah yang hidup, dan kepada-Nya kita dapat menaruh kepercayaan kita. “Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.” Tangan Allah membentuk setiap tunas dan bunga yang bermekaran; dengan hikmat-Nya Ia memberi tumbuhtumbuhan berbagai jenis dan berwarnawarni. Keindahan Ia berikan kepada benda tak berjiwa ini, yang hari ini ada dan

22

Adventist World | 11 - 2015

Oleh Ellen G. White

Hidup!

Allah berbicara melalui ciptaan-Nya. besok dibuang ke dalam api. Jika Allah dengan lembut mendandani rumput yang dapat dibuang itu, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Seniman Agung Dalam perjalanan kami menuju ke barat kami telah melihat hal-hal yang baru dan menarik di alam. Kami melihat gunung dalam kemegahannya, dengan puncaknya yang berbatu dan tinggi menyerupai istana zaman dahulu kala yang luar biasa besarnya. Gunung ini berbicara kapada kita mengenai murka Allah yang besar dalam mempertahankan hukumNya; karena gunung itu dihempaskan oleh badai besar dari luapan air bah. Itu seperti gelombang yang besar yang menunjukkan bahwa di hadapan suara Allah gunung itu tetap bertahan—walau kaku tertawan oleh kehebatan mereka. Gunung-gunung tinggi ini adalah milik Allah; Ia memperhatikan kekuatan bebatuan mereka. Kekayaan hasil tambang mereka adalah juga milik Allah, dan terletak di tempat yang begitu dalam di bumi. Jikalau engkau mau melihat bukti bahwa Allah itu ada, lihatlah di sekelilingmu ke mana saja alam membawamu. Ia sedang berbicara kepada seluruh inderamu dan menyatakan diri-Nya kepadamu melalui karya alam-Nya. Biarkanlah hatimu menerima penyataan Allah ini, dan alam akan menjadi seperti sebuah buku yang terbuka bagimu, yang akan mengajarimu kebenaran Ilahi melalui hal-hal yang sederhana. Pepohonan yang tinggi tidak akan diabaikan. Setiap bunga yang

mekar, dedaunan dengan warna-warni­ nya, akan menyaksikan keahlian yang tak terbatas dari Sang Seniman Agung. Bebatuan yang besar dan gunung yang tinggi muncul ke atas permukaan bumi bukanlah hasil dari sesuatu yang kebetulan. Mereka berbicara dalam kefasihan yang teduh akan Seseorang yang duduk di atas takhta alam semesta, yang lebih tinggi dan yang ditinggikan. “Diketahui oleh Dia segala pekerjaannya sejak dari awal penciptaan dunia.” Semua rencana-Nya ialah sempurna. Betapa hormat dan agung nama-Nya! Betapa sebuah pengetahuan akan pekerjaan dan karya-Nya dapat memperteguh pengenalan kita akan sifat dan karakter-Nya! Batu Zaman Allah sendirilah Batu Zaman itu, sebuah tempat perlindungan bagi umat-Nya, tempat persembunyian dari badai, naungan dari sinar yang membakar. Ia telah memberikan kita janji-Nya, yang jauh lebih kokoh dan yang tak dapat goyah seperti batu-batu besar, seperti bukit-bukit kekekalan. Gunung-gunung runtuh, bukit-bukit di dunia akan lenyap; tetapi kepada orang yang dengan iman percaya kepada-Nya, kemurahan Tuhan tak akan pernah pudar, dan janji-Nya tak akan pernah gagal. Jika kita memandang kepada Tuhan dengan kuat seperti kuatnya gunung-gunung yang berbatu, menjadikanNya sebagai sumber pertolongan kita, kita tidak akan pernah goyah dalam iman kita kepada-Nya dan kesetiaan kita kepada hukum-Nya yang suci.


Alam akan menjadi seperti buku yang terbuka bagimu, yang mengajarimu kebenaran Ilahi melalui hal-hal yang sederhana. Jika demikian, mengapa engkau tidak melihat akan hal-hal ini untuk memberimu kedamaian? Mengapa tidak, saudara dan saudariku, menjadikan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya menjadi hal yang pertama dan terutama dalam perhatianmu, setelah engkau telah mengetahui dengan pasti bahwa Bapa di surga akan menambahkan segala sesuatu yang engkau perlukan? Ia akan membuka bagimu jalan di depanmu, dan segala sesuatu yang engkau lakukan akan diberkati; karena Ia berkata, “Sebab siapa yang menghormati Aku akan Ku hormati.” Kristus mati untuk menebus engkau. Apakah kematianNya bagimu adalah kesia-siaan? Tidakkah engkau akan memegang tangan-Nya yang diulurkan-Nya kepadamu, dan berjalan bersama Dia dalam jalan sederhana yaitu

P h oto :

i sto c k / t h i n k sto c k

iman dan penurutan? Allah penuh kasih dan besar rahmatNya; namun itu tidak menjadi alasan bagi-Nya untuk membebaskan orang-orang yang mengabaikan keselamatan yang telah Ia sediakan. Manusia berumur panjang yang hidup sebelum air bah telah dilenyapkan dari bumi oleh karena mereka melanggar hukum Ilahi. Allah tidak akan lagi menggunakan air yang di atas langit dan di bawah bumi sebagai senjata-Nya untuk menghancurkan bumi; tetapi jika murka-Nya tiba kepada orang yang menghina otoritas-Nya, mereka akan dihancurkan dengan api dalam cawan bumi yang bernyala-nyala, dengan kehebatan api yang hebat dari langit. Kemudian dari bumi yang telah disucikan akan muncul sebuah puji-pujian: “Puji-pujian dan hor-

mat dan kemuliaan dan kuasa, bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba sampai selama-lamanya!” “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, Ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!” Dan setiap orang yang telah menjadikan harta surgawi menjadi yang terutama, menyadari betapa sungguh tak ternilai harganya, akan bergabung dalam nyanyian kemenangan itu. n Artikel ini diambil dari “Notes of Travel: A Sermon on the Cars,” dipublikasikan di Review and Herald, 24 Februari 1885. Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh percaya bahwa Ellen G. White (1827-1915) mempraktikkan karunia nubuatan Alkitab selama lebih dari 70 tahun pelayanan publik.

11 - 2015 | Adventist World

23


I M A N

D A N

S A I N S

Oleh Raúl Esperante

Apakah Allah Menciptakan

Dinosaurus?

B

eberapa produk dunia hiburan telah membuat pasar populer untuk barang dagangan bertemakan dinosaurus. Makhluk yang sungguh besar ini, diperlihatkan oleh dunia hiburan sebagai makhluk pemusnah manusia dengan sekali kebasan ekornya atau sekali pukulan cakarnya, memikat imajinasi kita. Namun, apakah Allah menciptakan makhluk yang demikian menakutkan? Mengapa mereka tidak disebutkan di dalam Alkitab? Dari Manakah Mereka Datang?

Bukti bahwa dinosaurus pernah hidup sangat jelas: Kita memiliki tulang-tulang, giginya, telurnya, jejak kakinya, bahkan cetakan kulitnya. Bagaimanapun juga, gambaran dinosaurus yang ditunjukkan oleh sains sangatlah berbeda dari apa yang ditunjukkan oleh industri hiburan. Ahli paleontologi telah mampu mempelajari isi dan larutan perut dinosaurus yang telah difosilkan, dan telah menemukan bahwa banyak dinosaurus sebenarnya herbivora. Studi dari tulang-tulang serta jejak kaki mereka mengungkapkan bahwa beberapa

24

Adventist World | 11 - 2015

dinosaurus berukuran kecil, bahkan memiliki ukuran yang mirip dengan domba atau anjing. Sebagai contoh, Struthiominus memiliki ukuran sebesar burung unta, dan Compsognathus tidaklah lebih besar dari ayam jantan. Kejadian 1 mengatakan kepada kita bahwa Allah menciptakan binatang darat pada hari yang keenam dalam pekan penciptaan, dan menyediakan “setiap tumbuhan hijau sebagai makanan.” Dinosaurus pastinya termasuk karena itu merupakan binatang darat. Kita seharusnya tidak perlu heran jika dinosaurus tidak disebutkan secara spesifik di dalam Alkitab. Pertama, kata “dinosaurus” tidak ada pada zaman Musa. Kedua, banyak lagi jenis binatang lain yang tidak disebutkan di dalam Alkitab, seperti kumbang, ikan hiu, bintang laut, dan beberapa nama binatang lainnya Pada akhir hari keenam dalam pekan penciptaan, Allah melihat bahwa ciptaannya itu baik–bahkan “amat baik.” Pernyataan ini menimbulkan masalah. Walaupun banyak dinosaurus ialah pemakan tumbuhan, beberapa dari mereka berukuran sangat besar, karnivora menakutkan yang akan menimbulkan bahaya bagi kehidupan manusia. Dapatkah kita menganggap hewan yang sungguh amat besar, ganas, dan berpotensi memakan manusia seperti dinosaurus ini sebagai hewan yang baik? Apakah dinosaurus karnivora cocok untuk masuk di dunia yang baru dan sempurna sebagai vegetaris?

bungan kompetitif, saling memangsa, dan hidup berparasit kepada satu sama lain. Walaupun Alkitab tidak menjelaskan secara rinci perubahan-perubahan ini, itu ditafsirkan saat ini sebagai modifikasi genetik, karena kita mengetahui dari sains bahwa perubahan besar seperti itu membutuhkan perubahan genetik. Kita tidak tahu apakah perubahan itu terjadi secara langsung atau berlangsung sepanjang beberapa generasi, hingga akhirnya dinosaurus terkubur oleh karena air bah. Pada titik tertentu dalam sejarah bumi ini, dinosaurus pun menghilang. Tidak terdapat catatan sejarah yang valid tentang dinosaurus yang hidup, kecuali beberapa orang yang masih berharap bahwa itu ada. Beberapa orang berspekulasi bahwa petunjuk Alkitab mengenai makhluk ini mungkin saja didasarkan pada ingatan budaya dari dinosaurus yang hidup di zaman sebelum air bah, namun kita tidak memiliki alasan jelas untuk memastikannya. Alkitab menyebut kuda nil (behemoth)(Ayub 40:10-13) dan buaya (leviathan) (Ayub 40:20), yaitu beberapa ahli menafsirkan hal itu sebagai contoh dinosaurus yang hidup di zaman setelah air bah. Bagaimanapun juga, banyak ahli menyamakan behemoth sebagai kuda nil dan leviathan sebagai buaya. Kedua spesies tersebut hidup di Sungai Nil, di mana orang Ibrani kuno menemukan mereka. Ketidakpastian tentang identifikasi makhluk ini tidak membenarkan pernyataan apa pun bahwa dinosaurus disebutkan di dalam Alkitab. Kebanyakan dari ilmuwan Kristen percaya bahwa dinosaurus menghilang pada saat air bah terjadi, namun diperlukan lebih banyak studi untuk pengertian yang lebih baik akan makhluk-makhluk ini. Dalam menguraikan misteri hilangnya dinosaurus ini, diperlukan penelitian yang teliti dan tepat oleh orang Kristen yang memiliki kemampuan serta minat yang kuat untuk melaksanakannya. Adalah mungkin bahwa penelitian tentang dinosaurus dapat menuntun pada terobosan baru dan penting pada pemahaman dari catatan Alkitab tentang penciptaan dan air bah.  n

Masuknya Dosa dan Dinosaurus

Catatan Alkitab mengenai penciptaan menunjukkan bahwa kutukan yang mengikuti kejatuhan Adam dan Hawa (Kejadian 3:14-19) menyebabkan perubahan biologis yang menuntun pada perubahan pada pola makan dan perilaku banyak binatang, meningkatkan hu-

Raúl Esperante, Ph.D.,

adalah seorang ilmuwan senior di Geoscience Research Institute, dan hidup di California Selatan, Amerika Serikat.

P h oto :

B r e tt

M e l i t i


M I S I

A D V E N T

Di

Jalan Yerikho Kisah Dua Orang Samaria

Oleh Michael Mace

J

ean-Francois Pina memulai hari pekerjaannya seperti biasa. Ayah satu anak ini mengemudi ke rumah sakit, memarkirkan mobilnya, dan mulai bekerja untuk hari itu. Pekerjaan Pina terkait menyelamatkan hidup orang lain. Hidup pasien bergantung pada kesiapannya, keahliannya, keamanan, dan kecepatannya. Pina mengemudikan ambulans di Lille, dekat perbatasan Perancis dan Belgia.

Panggilan Rutin

Pada hari Kamis pagi, Pina dijadwalkan menjemput seorang Kristen berusia 60 tahun bernama Nayet untuk dibawa ke rumah sakit. Nayet harus berada di rumah sakit untuk diperiksa. Sekitar satu jam perjalanan, Nayet menyadari ada yang salah dengan Pina, sang pengemudi ambulans. Pina terlihat gelisah. Akhirnya, Pina berkata bahwa ia sedang merasa tidak sehat. “Jari-jari saya perih dan serasa ditusuk-tusuk,” katanya. “Apakah rasa perih itu menjalar hingga tanganmu?” Nayet bertanya. Ketika Pina menjawab, “Ya,” Nayet langsung menduga serangan jantung. Ia berkata kepada Pina untuk menghentikan ambulans itu. Nayet berpikir untuk menghubungi Service d’Aide Medicale Urgente (SAMU), (layanan di Perancis yang mirip dengan 911 Amerika), namun ia memperhitungkan akan memakan waktu lama bagi layanan itu untuk sampai dan memberikan pertolongan. Jadi Nayet memberikan Pina dua obat yang ada di kantongnya. “Obat yang ini untuk meningkatkan aliran darah dan yang obat yang kedua untuk menstabilkan ritme jantungmu,” ia berkata. Tindakan tersebut sebenarnya tidak sepatutnya dilakukan oleh Nayet, namun dengan mempertimbangkan situasi yang mendesak dan mengambil risiko yang masuk akal, Nayet memberikan Pina beP h oto :

A lf

va n

B e e m

berapa dari obatnya sendiri, mengetahui bahwa obat tersebut cocok untuk seseorang dengan serangan jantung. Nayet bukanlah seorang praktisi medis, ia adalah seorang seniman dan penulis. Ketika Pina tidak dapat lagi mengemudikan ambulans, Nayet berkata, “Berikan kepadaku kunci mobilnya! Saat ini hidupmulah yang berada dalam bahaya, tetapi janganlah takut.” Seseorang seperti mendengar suara Yesus yang berkata lebih dari sekali kepada banyak orang, “Janganlah takut; percayalah kepada-Ku.” Pasien tersebut segera menjadi pengemudi ambulans. “Saya akan mengemudi dengan sangat cepat!” “Tidak, tolong, jangan mengemudi sangat cepat,” Pina berkata. “Anda belum pernah mengemudikan kendaraan ini dan Anda belum terbiasa.” Walaupun Pina merasa khawatir, ia harus mengakui bahwa sekarang dialah yang membutuhkan tindakan medis. Ia mendengar suara Nayet berkata, “Dalam 10 menit Anda akan baik-baik saja!” Seorang pria dengan penyakit kanker stadium akhir menenangkan hati seorang pengemudi ambulans, yang terkena serangan jantung! Setelah menjadi dokter, perawat, apoteker, dan pengemudi ambulans, Nayet menjadi penghibur baginya, sama seperti janji Yesus: “dan Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yoh. 14:16). Sementara mengemudikan ambulans, Nayet hanya memikirkan satu hal: Yaitu mengendarai mobil itu secepat mungkin; lagipula ia memang sedang mengemudikan ambulans. Ia mencari tombol untuk membunyikan sirene, tetapi ia tidak menemukannya. Jadi ia memainkan lampu depan mobil memberi tanda lalu lintas

untuk memberikannya jalan. Ketika mereka tiba di rumah sakit, Nayet memanggil paramedis, yang harus mengejutkan jantung Pina. Dalam 10 menit, Pina sudah berada di meja operasi. Seorang dokter berkata dengan keras, “lima menit lagi Anda tiba, semuanya sudah terlambat!” Sang dokter kemudian berkata kepada Nayet, “Anda telah menyelematkan hidupnya.” Dikelilingi oleh Sesama

Tiga jam kemudian Nayet memasuki ruangan pemeriksaan tubuh. Telah dipastikan bahwa kanker telah menjalar ke organ hatinya. Namun, Nayet bisa tidur dengan nyenyak malam itu, mengetahui bahwa ia telah melakukan lebih dari apa yang bisa lakukan untuk Pina. Jadi siapakah satu dari dua orang ini yang menjadi sesama bagi yang lainnya? Nayet sebenarnya menjadi orang yang membutuhkan pertolongan, namun ia jugalah orang yang menolong Pina, seorang yang seharusnya menolong Nayet. Orang Samaria yang baik hati tidak selalu seorang yang kita pikirkan. Yesus berkata, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39). Anda tidak pernah tahu; hal itu dapat menyelamatkan hidup Anda. *Kisah ini berdasarkan kejadian yang terjadi pada bulan April 2013. Dilaporkan di www.lavoixdunord.fr/region/berck-unambulancier-suave-par-le-malade-qu-il-ia36b49106n1182718.

Michael Mace

adalah penulis lepas, penerjemah, dan jurubahasa (Perancis/ Inggris). Dia tinggal bersama istrinya, Lindie, di Filipina.

11 - 2015 | Adventist World

25


P E R T A N YA A N D A N J A W A B A N A L K I T A B

Sebuah

Pertanyaan Mengenai

Apakah maksud Alkitab ketika merujuk kepada Yesus sebagai “Anak Allah”?

Anak Allah

Makna dari gelar Kristus ini telah menjadi hal yang serius diperdebatkan di kalangan orang Kristen. Pengertian yang paling umum ialah bahwa Allah telah berinkarnasi dan lahir dari perawan Maria sehingga disebut Anak Allah (Lukas 1:32; 1 Yohanes 5:18). Dalam membagikan pengertian saya mengenai topik ini, saya berharap dapat memotivasi Anda untuk terus melanjutkan penyelidikan Alkitab Anda. 1. Anak Allah: Dalam buku Perjanjian Lama terdapat frase “anak-anak Allah” menandakan bentuk orang ketiga jamak. Makhluk surga yang bertemu dengan Allah dalam sidang Ilahi disebut “para malaikat” (Bahasa Ibrani, “anakanak Allah,” Ayub 1:6; 2:1). Pada saat penciptaan, kita mengetahui bahwa “seluruh malaikat (Bahasa Ibrani, “anak-anak Allah”) bersorak-sorai (Ayub 38:7). Umat Allah pun disebut “anak-anak Allahmu” (Ulangan 14:1; lihat juga Hosea 2:1; Yesaya 45:11). Mereka menjadi anak-anak Allah melalui penciptaan dan penebusan (Keluaran 4:22, 23). Selanjutnya, raja Israel pun disebut sebagai anak Allah (2 Samuel 7:14). Allah mengurapi raja sebagai “anak sulung-Ku” (Mazmur 89:27; Mazmur 2:7). Pada peristiwa-peristiwa tersebut di atas, istilah “anak” digunakan secara kiasan. Makhluk surga merupakan anak-anak Allah melalui penciptaan; umat Allah merupakan anak-anak Allah melalui penciptaan dan penebusan; dan raja Israel menjadi seorang anak Allah melalui pengurapannya sebagai raja. Di dalam Alkitab, Allah tidak mempunyai anak melalui pembuahan alami dan kelahiran. 2. Kekekalan Anak yaitu Kristus: Kristus adalah Anak Allah yang kekal. Paulus menulis bahwa “setelah genap waktunya, maka Allah mengutus anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan” (Galatia 4:4). Kristus adalah Anak Allah bahkan sebelum Ia lahir dari seorang perempuan. Melalui Anak yang sudah ada sebelum semuanya dijadikan, Allah “menjadikan alam semesta” (Ibrani 1:2). Bagaimanapun juga, hubungan Anak dari Kristus adalah unik. Umat percaya secara rohani lahir dari Allah sebagai anak-anak Allah, tetapi Sang Anak tidak pernah dijelaskan bahwa Ia secara spiritual lahir dari Bapa; Dia adalah Anak, yang datang langsung dari Bapa (Yohanes 16:28). Ia memiliki hidup-Nya dalam diri-Nya dan Ia adalah satu dengan Bapa dalam kehendak (Yohanes 14:31; 15:10), karakter (Yohanes 14:8-11), maksud (Yohanes 15:16; 16:15; 17:4-8), dan sifat alamiah (Yohanes 8:58). Namun Ia merupakan Oknum yang

26

Adventist World | 11 - 2015

berbeda. Kita sedang menghadapi penggunaan metafora dari lata “anak.” 3. Makna Metafora: Menurut kemanusiaan kita, gambaran seorang anak menyatakan beberapa ide yang jelas. Pertama, itu menunjukkan bahwa seorang anak memiliki sifat alamiah yang sama dengan orangtuanya; yakni manusia. Ketika Kristus disebut “Anak Allah,” kita mengetahui bahwa Dia, sama seperti Bapanya, yang adalah Oknum Keallahan (Yohanes 5:18). Kedua, seorang anak dapat dibedakan dari orangtuanya. Kiasan hubungan anak berarti bahwa walaupun Kristus dan Bapa memiliki sifat alamiah yang sama, Mereka merupakan Individu yang berbeda, yang menunjukkan kejamakan oknum di antara Keilahian. Ketiga, hubungan antara orangtua dan anak adalah unik. Kesatuan mereka secara nyata tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu, kiasan ini merupakan simbol yang baik untuk menyatakan kesatuan yang dalam, yang terjadi di antara Oknum Keilahian (Yohanes 17:5). Keempat, seorang anak manusia datang dari orangtuanya melalui kelahiran alamiah. Dalam kasus Keallahan, bagaimanapun juga, Anak datang dari Bapa, bukan melalui pancaran Ilahi atau melalui kelahiran alamiah, tetapi untuk mengerjakan pekerjaan penciptaan dan penebusan (Yohanes 8:42; 16:28). Tidak terdapat dukungan Alkitab tentang generasi kekal mengenai Anak dari Bapa. Sang Anak datang dari Allah tetapi tidak dihasilkan seperti dalam pembuahan manusia dari Bapa. Kelima, gambaran hubungan ayah-anak tidak dapat secara literal diterapkan kepada hubungan Bapa-Anak di antara oknum Keallahan. Seorang anak manusia memiliki permulaannya, sedangkan Anak Allah dari Keallahan adalah kekal. Istilah “Anak” digunakan secara metafora ketika digunakan pada Keallahan. Itu menunjukkan ide bahwa terdapat oknum yang berbeda di dalam Keallahan dan kesetaraan pada sifat alamiah dalam konteks hubungan kasih yang kekal. Ellen White menulis: “Allah Yesus Kristus, Anak Allah, telah ada sejak kekekalan, oknum yang berbeda, namun Satu dengan Bapa.”1 Pernyataan ini merangkumkan maksud utama dari istilah metafora itu. 1 Ellen G. White, Selected Messages (Washington, D.C.: Review and Herald Pub. Assn., 1958, 1980), jld. 1, hlm. 247.

Sebelum pensiun, Angel Manuel Rodríguez adalah Direktur Biblical Research Institute General Conference.


P E L A JA R A N A L K I TA B

Elia Sebuah pertanyaan dan perintah 1

Pelajaran apakah yang dapat kita pelajari dari kepercayaan Elia kepada janji Allah, dan imannya yang tidak menyerah ketika ia tidak segera mendapatkan jawaban dari doanya? Baca 1 Raja-raja 18:41-45. Elia mengirim hambanya ke atas puncak gunung untuk melihat ke arah bentangan laut. Ketika tanda-tanda hujan tak kunjung terlihat, ia mengirim hambanya kembali. Elia bertekun dalam mendapatkan jawaban doanya. Enam kali, ia mengirim hambanya untuk melihat tanda-tanda hujan namun tak kunjung datang. Nanti ketika kali yang ketujuh, barulah hambanya melihat sebuah awan hitam kira-kira sebesar sebuah tangan manusia. Awan tersebut merupakan tanda bahwa hujan akan segera turun dan langit akan terbuka untuk mengairi bumi. Iman Elia tidak mudah menyerah. Ia tekun meski apa pun yang terjadi di awalnya. Ia percaya bahwa Allah akan menggenapi firman-Nya.

2

Bagaimanakah Rasul Paulus menjelaskan perlunya ketekunan bagaimanapun kesalahan masa lalu kita, kegagalan kita sekarang, ataupun pergumulan yang tengah kita hadapi? Bacalah ayat-ayat berikut ini dan ringkaskan jawaban Anda dalam sebuah kalimat: 1 Korintus 9:24-28; 2 Korintus 4:7-10; Filipi 3:12-16.

3

Bacalah 1 Raja-raja 18:45,46. Ketika hujan turun dengan derasnya sehingga membuat penglihatan menjadi kabur, tindakan baik apakah yang Elia lakukan bagi Ahab? Apakah yang dikatakan oleh tindakan tersebut mengenai karakter Elia? Kebaikan Elia dalam menuntun pasukan Ahab di tengah amukan badai menunjukkan kerendahan hati dan karakternya yang penuh murah hati. Sang nabi tetap menghormati pegawai raja dan menunjukkan belas kasihan kepada orang yang ingin membunuhnya.

O tto

P

ada zaman kemurtadan bangsa Israel, Elia menjadi orang yang tetap setia dan menuruti Allah. Pada pelajaran sebelumnya, kita berfokus pada kekeringan yang terjadi di Israel, pemeliharaan Allah bagi Elia, dan tantangan bagi Elia menghadapi nabi-nabi baal di Gunung Karmel. Kita merasa kagum dengan jawaban Allah yang ajaib kepada doa Elia di tengah keadaan yang aneh sekalipun. Pada pelajaran ini kita akan mempelajari ketekunan iman, kesederhanaan iman, dan terkadang kekecewaan yang dialami oleh para pahlawan iman. Di dalam semuanya itu kita akan menemukan belas kasihan Allah yang luar biasa, kasih karunia yang melimpah, dan kuasa mengagumkan.

S e ml e r

Oleh Mark A. Finley

4

Bacalah Roma 12:20,21; Lihat juga Amsal 25:21,22. Nasihat apakah yang diberikan Rasul Paulus kepada umat Kristen di Roma yang menghadapi penganiayaan? Bagaimanakah nasihat ini dapat diterapkan dalam kehidupan kita?

5

Pernahkah Elia merasa takut? Bacalah 1 Raja-raja 19:1-4; gambarkan ancaman Ahab kepada hidup Elia dan bagaimana tanggapan Elia. Setelah menghabiskan sepanjang hari menantang para nabi baal di atas Gunung Karmel serta menuntun pasukan Ahab melewati badai yang dahsyat, Nabi Elia mengalami kelelahan yang hebat secara fisik, emosi, mental, dan spiritual. Dalam menghadapi ancaman dari Ahab dan sang ratu kafir, Izebel, Elia nyaris putus asa.

6

Bagaimanakah Allah merespons keraguan, ketakutan, dan keputusasaan Elia? Baca 1 Raja-raja 19:5-8. Allah tidak mengirim seorang malaikat untuk berkhotbah tentang kurangnya iman Elia, atau kebutuhannya mengenai lebih banyak keberanian. Ia mengirimkan seorang malaikat dengan bekal kesehatan fisik untuk memampukan tubuh Elia dan pemeliharaan Ilahi baginya untuk beristirahat. Iman bekerja dengan nyata. Terkadang, orang membutuhkan makanan yang sehat bagi tubuh, istirahat, dan olahraga jauh melebihi kebutuhan mereka akan ceramah mengenai iman.

7

Ke manakah akhirnya Elia pergi, dan apakah yang Allah nyatakan kepada nabi yang ragu-ragu itu? Baca 1 Raja-raja 19:9-15 Elia berakhir di sebuah gua. Allah bertemu dengan Elia di sana; Allah selalu bertemu dengan kita di mana pun kita berada. Respons Allah kepada Elia ialah sebuah pertanyaan dan perintah. Pertanyaan yang sederhana dan terang-terangan: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?� Dengan kata lain: “Elia, Aku memiliki sebuah rencana bagi hidupmu, dan engkau tidak akan pernah menyadari rencana itu dari dalam gua keputusasaan.� Allah berbicara kepada masing-masing kita yang berkalikali gagal, menjadi patah semangat, dan yang sedang hidup dalam gua gelap yang kita ciptakan sendiri bagi diri kita: Aku memiliki rencana bagi hidupmu. Aku mempunyai tugas bagimu. Melalui kasih karunia-Ku, dengan kekuatan-Ku, keluarlah dari dalam gua dan berdirilah tegak di atas gunung-Ku.

11 - 2015 | Adventist World

27


PERTUKARN IDE

Kita perlu lebih banyak agama praktis. M e l i ssa

Is h

Lizwi Alpha Ntuli, Zimbabwe

Surat Perubahan Tampilan Ekstrem: Jalan Menuju Kesehatan

Kepada berita “Perubahan Tanpilan Ekstrem: Jalan Menuju Kesehatan” dari Tom Ish (Oktober 2015) saya ingin katakan, “Amin.” Kita perlu lebih dari agama praktis. Saya telah memperhatikan bahwa di banyak daerah pekabaran kita terkenal tapi yang kurang adalah kita, pembawa pekabaran itu, yakinkan mereka bahwa hal itu bisa dilakukan. Lizwi Alpha Ntuli Zimbabwe Ketika Harapan Menang Atas Kekalahan

Terima kasih telah mencetak artikel Wilona Karimabadi ini, “Ketika Harapan Menang Atas Kekalahan” (Oktober 2015), meskipun membawa kenangan sedih dan

Doa w

menyakitkan karena saya dibesarkan tanpa melihat kakek nenek saya. Saya berharap bahwa anak-anak saya, memiliki hubungan dengan ayah saya, tidak akan pernah mengalami perasaan yang sama! Gershon B. Batulayan Ashanti, Ghana 100 Tahun Lalu

Saya memiliki komentar tentang artikel pendek “100 Tahun Lalu” (Juli 2015). Tukang roti Kristen yang disebutkan, kemungkinan besar adalah, kakek dari kakek saya, Tristan Schaffer. Dia memiliki sebuah (pada masa itu) usaha produksi roti modern di Heilbronn, Jerman Barat Daya. Sekitar 1905 ia menjadi seorang Advent dan menutup usaha rotinya pada hari Sabtu, seperti yang dijelaskan dalam surat kabar. Pada tahun 1905 atau 1906 dia menjual usaha rotinya dan pindah ke sebuah desa kecil dekat Poznan (terletak di Kekaisaran Jerman, saat ini Polandia), di mana ia membeli sebuah peternakan. Tetangganya, juga petani, bertanya-tanya

mengapa babi tidak ada di peternakannya. Schaffer menggunakan hal ini untuk membagikan imannya. Yakin dengan penjelasannya, beberapa sesamanya menjadi Advent juga. Kemudian, kakek buyut saya, Karl Schaffer menikahi salah satu mereka yang dibaptis. Keputusan kakek dari kakek saya untuk menutup toko rotinya memiliki konsekuensi yang luas dan kekal untuk keluarga dan keturunannya. Sungguh menakjubkan untuk melihat bagaimana Tuhan menggunakan kisahnya untuk memengaruhi orang yang jauh. Terima kasih banyak untuk artikel ini! Rafael Schaffer Bensheim, Jerman Koreksi diperlukan untuk “100 Tahun Lalu” di Adventist World Juli 2015: Pada tahun 1905 tidak ada Yugoslavia; pada waktu itu daerah tersebut disebut Austria-Hongaria. Andor J. Molnar Los Angeles, California

PUJIAN

Tolong berdoa bagi Tuhan untuk membantu kami menyelesaikan pembangunan gereja kami, demi finansial saya dan pernikahan, dan pelayanan saya. Zock, Gabon

Melalui jawaban banyak doa, saya bisa bersekolah dan akan segera memiliki ujian akhir semester. Doakan agar Tuhan membantu saya melakukannya dengan baik. Saya memiliki tantangan belajar pada hari Sabat, dan dengan penyakit.

Doakan kesembuhan putri saya, yang berada di sebuah lembaga kanker di Oslo, Norwegia. Juga, berdoalah untuk saudara saya untuk menemukan Tuhan.

Abraham, Tanzania

Mohon doakan keluarga saya, dan agar saya bisa melunasi penggadaian saya.

Valentina, Ukraina

Karon, Amerika Serikat

28

Adventist World | 11 - 2015


Manfaat

Keanggotaan

Kepala, Hati, dan Tangan

Saya menulis mengenai artikel Youssry Guirguis, ”Kepala, Hati, dan Tangan: Misi Menggunakan Ketiganya” (April 2015). Judul dan deskripsi yang baik dari perspektif agama, tetapi tidak benar dari sudut pandang fisiologi. Meskipun fungsi peredaran darah yang dijelaskan, jantung (heart) tidak ada hubungannya dengan membuat keputusan. Tentu saja, jantung (heart) berdetak lebih kuat dan lebih sering ketika kita takut atau memiliki emosi intens lainnya, dan membuat kita tetap hidup karena otak bekerja dengan baik. Dalam Alkitab, ketika jantung (heart) disebutkan, hal itu mengacu pada otak. Judul artikel itu seharusnya “Dengan Pikiran, Tangan, dan Saku.” Bagi banyak orang, saku dan isinya adalah “organ” penting bagi tubuh kita, sangat penting karena murah hati sangat digunakan untuk penginjilan, dapat menghasilkan efek luar biasa tentang kemajuan pekerjaan itu. Tetapi jika kita mempersempit kepentingan itu (dan penggunaan saku kita), kita dapat menunda kedatangan Tuhan (dan itu bukanlah dengan jantung (heart), melainkan otak). Hiram Dario Rostán Libertador San Martín, Entre Ríos, Argentina

Tata Cara Kolom Surat: Silakan kirim surat Anda ke editor

Adventist World: letters@adventistworld.org. Isi surat itu harus jelas dan langsung pada maksudnya, maksimum 100 kata. Pastikan untuk menuliskan nama artikel yang dimaksud, tanggal diterbitkan dan halaman artikel tersebut. Juga informasikan nama Anda, kota, provinsi dan negara dari mana Anda mengirim surat tersebut. Surat tersebut akan diedit dan disesuaikan dengan kolom yang masih tersedia. Perlu diketahui bahwa tidak semua surat yang masuk akan terbitkan.

Menurut penelitian yang dipimpin oleh University of Queensland, Australia, keanggotaan dalam lebih dari satu grup sosial dapat meningkatkan harga diri. Semakin banyak anak-anak, orang dewasa yang lebih tua, dan mantan penghuni tempat penampungan tunawisma diidentifikasi dengan grup tertentu, semakin besar perasaan tujuan, makna, dan rasa memiliki yang mereka terima dari keanggotaan mereka dalam grup-grup tersebut. Sumber: The Rotarian F O T O :

f r e e i ma g e s . c om / B S K

INTERNET: Menurut survei Pew Research Center’s Global Attitudes and Trends, 64 persen responden dari negara-negara berkembang mengatakan internet adalah pengaruh positif pada pendidikan, hubungan pribadi, dan ekonomi. Tapi 42 persen menyebutnya pengaruh negatif pada moralitas. Penggunaan internet tertinggi adalah di antara anak muda yang terdidik yang membaca bahasa Inggris dan hidup di negara yang lebih maju.

Baik ATAU

Buruk?

Sumber: The Rotarian

Terima kasih telah berdoa untuk proyek pembangunan gereja kami; sedang berlangsung. Tolong terus berdoa bagi kami. Lily, Inggris Saya akan segera mengikuti ujian yang sangat penting. Terima kasih, untuk doadoa Anda.

Tolong doakan keluarga saya agar percaya kepada Kristus. Orangtua saya tidak Advent, saudari dan saudara saya tidak tahu ke gereja mana yang mau dikunjungi. David, Malawi

Doa & Pujian: Kirimkan permohonan doa rasa syukur saudara ke: prayer@adventistworld.org. Kirimlah kepada kami permohonan doa dan rasa syukur saudara (berterima kasih atas jawaban doa). Tuliskan secara singkat dan padat, maksimum 50 kata. Permohonan doa saudara akan diedit untuk maksud yang jelas. Tidak semua yang masuk akan dicetak. Sertakan nama saudara dan negara di mana saudara tinggal. Saudara juga dapat mengirimkan melalui fax: 1-301-680-6638; atau mengirim surat ke Adventist World, 12501 Old Columbia Pike, Silver Spring, MD 20904-6600 U.S.A.

Clotilde, Guadeloupe

11 - 2015 | Adventist World

29


PERTUKARN IDE

8

A RCHIVE S

111

GC

Tahun Lalu

Pada tanggal 4 November 1904, Frank H. Westphal tiba di Chili untuk menjadi pengawas misi. Sementara pekerjaan bertumbuh, ia akhirnya menjadi Ketua Konferens Chili, melayani hingga 1916. Dia tetap di Chili hingga kesehatan istrinya menyebabkan mereka kembali ke Amerika Serikat pada tahun 1920. Orang pertama menjadi Advent di Cile mungkin adalah Claude Dessignet dan istrinya, yang menerima pekabaran Advent dari D.T. Bourdeau di Perancis, yang bermigrasi ke Chili pada 1885, dan menetap di Traiguen, CautĂ­n. Pada tahun 1906 misi gereja memiliki tujuh gereja dan 237 anggota. Pada 2014, sekarang ada 614 gereja, dengan keanggotaan 109.257. Sebuah Jesuit Chili, Manuel de Lacunza y Diaz (1731-1801), merupakan salah satu penulis pertama di Amerika untuk menyambut pramilenium kedatangan Kristus kedua kali. Bukunya, La Venida del MesĂ­as en Gloria y Magestad (The Coming of the Messiah in Glory and Majesty) tidak dicetak hingga setelah kematiannya, tapi buku itu beredar dalam bentuk naskah di Spanyol dan Amerika Selatan sebelum kematiannya. Ini membangkitkan minat luas di kalangan Katolik dan Protestan di Eropa dan Amerika, menyebabkan banyak orang terbuka menerima pekabaran Advent.

Murah, dan hal itu hanya mengambil beberapa saat dari jadwal harian sibuk Anda. Bernapas dalam: Menempatkan oksigen dalam otak Anda dan energi dalam tubuh Anda. Dengar musik: Semangat, lagu energik membantu Anda merasa semangat. Bergerak: Hanya 10 menit bergerak dapat memberi energi hingga empat jam. Ke alam: Berada di luar ruangan meningkatkan energi dan vitalitas. Berjalan di luar meningkatkan tingkat energi lebih banyak dari berjalan di ruangan.

Di Belahan

Manakah Ini?

Minum air: Membantu regulasi tubuh dan fungsi otak.

P h oto

S u b m i tt e d

b y

Da n t h apu

Ram b a b u

Dunia

JAWABAN: Orang Advent di Desa Venkatanager di negara bagian Andhra Pradesh di India Selatan memiliki pelayanan untuk anak yatim dan anak-anak lain di desa mereka. Ini adalah lulusan Sekolah Alkitab Liburan mereka, dengan bangga menampilkan ijazah mereka.

30

Adventist World | 11 - 2015

Penguat Energi

Tonton (yang sesuai) video lucu YouTube: Tertawa meningkatkan tekanan darah, detak jantung, dan tingkat perasaan baik neurotransmitter.

Lihat cahaya: Orang lebih waspada setelah terkena cahaya terang.

Camilan sehat: Karbohidrat kompleks, protein tanpa lemak, dan lemak sehat (yoghurt, buah, kacang-kacangan, alpukat, roti gandum) menyediakan energi terus-menerus.

.Sumber: Women’s Health


“Lihatlah, Aku Datang Segera” Misi kami adalah untuk meninggikan Yesus Kristus, mempersatukan umat Advent di mana saja dalam iman, misi, kehidupan, dan pengharapan.

T ED

E S D

ECD

N S D

S ID

Penerbit Adventist World adalah majalah periodik internasional milik Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Sedunia. Divisi Asia-Pasifik Utara adalah penerbitnya. Penerbit Eksekutif dan Pemimpin Redaksi Bill Knott Wakil Penerbit

Cuplikan Perkembangan Sesi General Conference musim panas lalu di San Antonio, Texas, Amerika Serikat, mengumpulkan orang Advent hampir dari seluruh negara di bumi. Dan setiap malam dari sesi ini menampilkan laporan dari masing-masing divisi sedunia, sebagian besar tersedia di internet. Lihat bagaimana Tuhan menggunakan umat-Nya menyebarkan Injil. Divisi Afrika Timur Tengah https://youtu.be/JiQxji6fJNs Divisi Euro Asia https://youtu.be/CYB2swKTIxw Divisi Inter-Amerika https://youtu.be/JskXLCEWDFY Divisi Inter-Eropa http://eud.adventist.org/events/events/ general-conference/ Divisi Amerika Utara https://vimeo.com/131616219 Divisi Asia Pasifik Utara https://youtu.be/gsyynVbTFIM

Divisi Amerika Selatan http://gc2015.adventistas.org/pt/ vlstreaming/dsa-mission-do-the-extremes/ Divisi Pasifik Selatan https://www.hopechannel.com/watch/ changing-history-one-heart-at-a-time Divisi Samudera Afrika India Selatan vimeo.com/133062486  Divisi Asia Selatan Adventist.org.in Divisi Trans-Eropa https://youtu.be/QUVyxqAV3-Y

Manajer Percetakan Internasional Chun, Pyung Duk Dewan Penerbit Ted N. C. Wilson, ketua; Guillermo Biaggi, wakil ketua; Bill Knott, sekretaris; Lisa Beardsley-Hardy; Williams Costa; Dan Jackson; Peter Landless; Robert Lemon; Geoffrey Mbwana; G. T. Ng; Daisy Orion; Juan Prestol-Puesán; Ella Simmons; Artur Stele; Ray Wahlen; Karnik Doukmetzian, penasihat hukum Komite Koordinasi Adventist World Jairyong Lee, ketua; Yutaka Inada, German Lust, Pyung Duk Chun, Suk Hee Han, Gui Mo Sung Redaktur Bertempat di Silver Spring, Maryland André Brink, Lael Caesar, Gerald A. Klingbeil (associate editor), Sandra Blackmer, Stephen Chavez, Wilona Karimabadi, Kimberly Luste Maran, Andrew McChesney Redaksi Bertempat di Seoul, Korea Pyung Duk Chun, Jae Man Park, Hyo Jun Kim Editor Online Carlos Medley Koordinator Teknik dan Pelayanan Pembaca Merle Poirier Editor-at-large Mark A. Finley, John M. Fowler Senior Advisor E. Edward Zinke Manajer Finansial Kimberly Brown Asisten Redaksi Marvene Thorpe-Baptiste Dewan Manajemen Jairyong Lee, chair; Bill Knott, secretary; P. D. Chun, Karnik Doukmetzian, Suk Hee Han, Yutaka Inada, German Lust, Ray Wahlen, Ex-officio: Juan Prestol-Puesán, G. T. Ng, Ted N. C. Wilson Pengarah Seni dan Desain Jeff Dever, Brett Meliti Para Penasihat Ted N. C. Wilson, Juan Prestol-Puesán, G. T. Ng, Leonardo R. Asoy, Guillermo E. Biaggi, Mario Brito, Abner De Los Santos, Dan Jackson, Raafat A. Kamal, Michael F. Kaminskiy, Erton C. Köhler, Ezras Lakra, Jairyong Lee, Israel Leito, Thomas L. Lemon, Geoffrey G. Mbwana, Paul S. Ratsara, Blasious M. Ruguri, Ella Simmons, Artur A. Stele, Glenn Townend, Elie Weick-Dido Kepada para Penulis: Silakan mengirimkan naskah yang siap diterbitkan, melalui alamat redaksi 12501Old Columbia Pike, Silver Spring, MD 20904-6600, U.S.A. Atau melalui fax: +1 (301) 680-6638 E-mail: Internet: worldeditor@gc.adventist.org Situs Web: www.adventistworld.org Kecuali diberitahu, semua kutipan ayat Alkitab diambil dari ALkitab Terjemahan Baru. © 1974 Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Digunakan dengan izin. Adventist World diterbitkan setiap bulan dan dicetak secara berkala di Korea, Brazil, Indonesia, Australia, Jerman, Austria, Argentina, Meksiko dan Amerika Serikat. Vol. 11, No. 11

11 - 2015 | Adventist World

31


dari INDONESIA Sertifikasi Bakti Wanita Advent Tahap II “Arise, Shine ! Jesus is Coming”

S

ebanyak 75 orang terdaftar menjadi peserta dalam acara yang juga membawa tema besar GMAHK sedunia “Arise, Shine! Jesus is Coming,” di Daerah Sumatera Kawasan Selatan (DSKS), pada tanggal 10-13 September 2015 di Kantor DSKS Palembang. Pada kesempatan itu, Pdt. J.S. Perangina­ ngin, Ketua Uni Indonesia Kawasan Barat (UIKB) didampingi oleh Ibu Linda Peranginangin (Dir. BWA UIKB) hadir di Palembang memberikan materi penting bagi seluruh peserta. Tahun ini menjadi lebih istimewa karena Departemen Bakti Wanita Advent (BWA) Sedunia khususnya di Palembang turut merayakan sukacita 20 tahun pelayanan BWA. Sabat siang, dalam ibadah gabungan, Ibu Linda Peranginangin menyampaikan Firman Tuhan dengan judul “Wanita sebagai Pusat Pengaruh,” yang mengajak seluruh umat Tuhan menyadari bahwa wanita merupakan penopang yang kuat bagi gereja untuk menjadi pu-

sat pengaruh bagi lingkungan sekitar dan mempersiapkan umat menyambut kedatangan Yesus. Respons para peserta yang diwakili oleh Ibu Sarumpaet (dari Jemaat Bandar Jaya,) menyatakan kesan mendalam yang berharga mengikuti sertifikasi ini, dan termotivasi kembali untuk lebih giat melayani di gerejanya. Peserta berharap acara berikutnya akan dilaksanakan di Bandar Jaya, dan mereka siap menjadi tuan rumah acara tersebut. Dalam acara ini diharapkan setiap wanita di gereja menjadi bagian yang paling berpengaruh dalam mempersiapkan setiap anggota jemaat bagi kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. n —Dilaporkan oleh Victor J. Sinaga, Direktur Komunikasi DSKS.

32

Adventist World | 11 - 2015


KKR BWA Kota Makassar dan Jemaat Sunu Arise, Shine, Jesus is Coming!

P

ada tanggal 31 Agustus hingga 5 September, Bakti Wanita Advent (BWA) Kota Makassar yang di koordinasi oleh Ibu Nell Latumahina bekerjasama dengan Jemaat Sunu mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dengan tema : “Arise, Shine, Jesus is Coming.” Semua kegiatan KKR tersebut diambil alih oleh kaum wanita dari setiap jemaat yang ada di Kota Makassar. Kegiatan didahului oleh pemeriksaan kesehatan gratis dari BWA Jemaat Sunu, acara anak-anak, seminar kesehatan dan seminar rumah tangga yang dibawakan oleh BWA Kota Makassar. Pendeta W. Runturambi, Sekretaris Eksekutif Konferens Sulawesi Selatan Barat dan Tenggara, membuka serta memberikan sambutan sekaligus ucapan terima kasih kepada Ibu Jeane Sakul, Direktur Pelayanan BWA Uni Konferens Indonesia Kawasan Timur, yang datang menyokong kegiatan BWA Kota Makassar sekaligus menjadi pembicara pada malam pertama pada KKR BWA tersebut. Yang menjadi pembicara saat itu adalah Ibu Jeane Sakul, Ibu Mientje Kaumpungan, Dr. Evelyn Sutresman, Ibu Sonia Tendean dan Ibu Endas Ladu’u . Sedangkan yang membawakan seminar kesehatan/rumah tangga adalah Dr. Evelyn Sutresman,

Ibu Rieneke Politon, Ibu D. Rampalodji, Ibu Hanna Runturambi dan Ibu Damaris Mangin. Semua kegiatan berjalan dengan baik dan dengan pertolongan Tuhan ada 8 jiwa yang menyerahkan diri dibaptis. Diharapkan jiwa yang baru dibaptis akan tetap bangun, bersinar, sampai Yesus datang. n —Dilaporkan oleh Nell Latumahina, Koorinator BWA Kota Makassar.

Berbagi Kasih dari Menteng ke Palembang BWA Jemaat Menteng Jakarta, Berbagi Kasih di Kota Palembang

K

ota Palembang menjadi salah satu sasaran pelayanan Departemen Bakti Wanita Advent (BWA) Jemaat Menteng Jakarta. Tanggal 2427 Sepetember 2015, Tim Pelayanan BWA Menteng yang berjumlah 33 orang berada di kota pempek untuk berbagi kasih dan mengadakan pelayanan kemanusiaan di lingkungan gereja Advent. Rombongan ini dikoordinasi oleh dr. Sondang Panjaitan sebagai ketua rombongan.

11 - 2015 | Adventist World

33


dari INDONESIA Pelayanan Kesehatan bagi Masyarakat Lingkungan Gereja

Dan pada hari Minggu pagi, seperti biasa masyarakat di sekitar gereja sudah menikmati kegiatan pelayanan kesehatan secara rutin yang digagas oleh Jemaat Ratna dalam setahun terakhir ini. Namun beberapa bulan ini sempat terhenti oleh karena musibah asap yang sangat mengganggu aktivitas di luar rumah. Kehadiran Tim BWA Menteng seolah memberi angin baru untuk memulai kembali kegiatan yang sama. Sejak pukul 07.00 pagi sudah dimulai dengan senam aerobik dan jantung sehat. Dilanjutkan dengan ceramah kesehatan kepada warga sekitar yang terlihat cukup ramai berkumpul pagi itu. Ibu Sondang Panjaitan yang adalah seorang dosen dan dokter spesialis kulit dan kelamin memberikan materi berjudul “Gaya Hidup Sehat dan Kulit Sehat.” Dibantu dari Jemaat Ratna, dr. Liniyanti Oswari dan dr. Agustina dan beberapa tenaga dokter diundang untuk turut membantu me-

Pelayanan Kasih di Panti Jompo

Jemaat Ratna Palembang telah mengatur dengan baik beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan. Pada hari Jumat, rombongan berangkat menuju Panti Werdha Dharma Bakti (Di bawah pengawasan Gereja Katolik), di panti ini ada sekitar 55 orang tua dan dilayani oleh para suster yang bertugas. Kehadiran kaum ibu dari Advent membawa suasana baru dan memecah kebosanan para lansia ini. Diawali dengan kebaktian singkat, dan Firman Tuhan dibawakan dengan baik oleh Ibu Lois Simanjuntak. Kemudian dilanjutkan dengan mengajak penghuni panti untuk bernyanyi sukacita dan beberapa permainan yang menghibur. Sebagai tanda kasih, sebelum berpisah telah diserahkan baju tidur untuk wanita, dan kain sarung untuk pria, secara simbolis oleh Ibu Sondang kepada Suster Margaretha dan Suster Chrispina sebagai perwakilan panti, dan diakhiri dengan makan siang bersama-sama. Pelayanan Rohani di Jemaat Ratna

Mulai dari kebaktian vesper sampai sepanjang Sabat, anggota jemaat mendapatkan berkat rohani melalui sajian Firman Tuhan dan seminar yang dibawakan oleh tamu istimewa ini. Di saat khotbah, Ibu Sondang menyampaikan Firman Tuhan berjudul “Perempuan yang Diberkati atau Penggoda?” Yang mengajak umat Tuhan khususnya wanita agar hidup dalam kasih, kesetiaan dan menjadi berkat dalam keluarga dan bagi sesama. Sampai sore, Bapak dan Ibu Panjaitan bergantian memberikan seminar di hadapan anggota jemaat. Bukan hanya kebutuhan rohani anggota, anak-anak sekolah yang sedang tinggal di asrama juga mendapatkan perhatian berupa bantuan materi dan peralatan yang sangat dibutuhkan anak-anak itu.

34

Adventist World | 11 - 2015

layani ratusan masyarakat yang sudah hadir untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Dan tercatat ada 231 orang yang mendapatkan pelayanan dan pengobatan sampai siang hari. Kunjungan BWA Jemaat Menteng kali ini tentu membawa pengaruh yang luar biasa bagi seluruh anggota jemaat dan masyarakat sekitar gereja, betapa dunia semakin tahu bahwa kasih Kristus itu harus terlihat nyata dalam kehidupan umat-Nya. n —Dilaporkan oleh Pdt. Zwarsa Silalahi, Gembala Jemaat Ratna Palembang


Rancangan Damai Sejahtera KKR GMAHK Wilayah Misi Kepualauan Yapen

D

emi meningkatkan kualitas iman dan untuk mengetahui rancangan Tuhan yang indah dalam kehidupan, maka pada tanggal 20-26 September 2015 dilaksanakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Gedung Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Jemaat Serui Kota Wilayah Misi Kepulauan Yapen Daerah Misi Papua dengan tema: “Rancangan Damai Sejahtera,” dengan pembicara Ketua Daerah Misi Papua Pdt. John Lesli Umbora, M.Min pada malam pertama; dan Sekretaris Asosiasi Kependetaan GMAHK Daerah Misi Papua, Pdt. Herry Saidui, S.Th. Acara pembukaan KKR dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Yapen Pdt. Amsal Yowei, SE.,M.PdK sekaligus memberikan sambutan mewakili Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Yapen. Dalam sambutannya beliau berharap KKR ini meningkatkan iman percaya kepada Yesus Kristus sehingga tercipta kedamaian di antara sesama umat di dalam gereja dan juga di lingkungan masyarakat. Sambutan Kepala Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Yapen diakhiri dengan memukul tifa sebagai tanda dibukanya kegiatan KKR. Kebaktian Kebangunan Rohani berlangsung dari malam ke malam dan berakhir pada hari Sabat ketigabelas tanggal 26

ATAS: Acara baptisan oleh Pdt. Herry Saidui dan Pdt. Jems Waropen di Pantai Mariadei, Serui Papua September 2015 sehingga suasana perayaan Sabat diwarnai oleh lagu-lagu dari pemuda wilayah serta anak-anak kelas Sekolah Sabat. Dalam acara KKR ini delapan jiwa menyerahkan diri untuk dibaptis yang dilakukan oleh Pdt. Herry Saidui dan pendeta Wilayah Misi Kepulauan Yapen Pdt. Jems Waropen, S.Ag di Pantai Mariadei, Serui Papua dan dihadiri oleh umat Tuhan di Wilayah Misi Kepulauan Yapen. n —Dilaporkan oleh Philipus Wairara, Sekretaris Jemaat Yapan Wilayah Misi Kepulauan Yapen Daerah Misi Papua.

Pengharapan untuk Kota Medan “Allah Peduli” KKR Distrik Medan Selatan

T

elah berlangsung Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Distrik Medan Selatan dengan Tema: Pengharapan untuk Kota Medan “Allah Peduli,” sejak tanggal 30 September 2015 hingga 3 Oktober 2015 di GMAHK Air Bersih dan Aula Yayasan Parulian 1 Medan. Pembicara pada KKR ini adalah Sekretaris Eksekutif Uni Indonesia Kawasan Barat (UKIB), Pdt. Wendell W. Mandolang, MPTh.

11 - 2015 | Adventist World

35


dari INDONESIA

Panitia KKR yang diketuai oleh Bapak B. Sihite bersama Pdt. Samuel Sirait selaku pendeta Distrik Medan Selatan telah bekerja keras untuk menyukseskan acara akbar ini dan mengundang

semua anggota untuk hadir sehingga setiap malamnya anggota yang hadir lebih dari 400 orang dan 47 di antaranya adalah tamu. Pada puncak acara pada hari Sabat, 3 Oktober 2015, dilaksanakan ibadah Sabat yang berbeda seperti biasanya yaitu disuguhkan beberapa kesaksian baik dari anak Panti Asuhan YAPI maupun dari 1000 Missionary yang turut hadir. Pada kesempatan tersebut telah dimenangkan 11 jiwa demi kemuliaan Tuhan dan dibaptiskan di Kolam Renang Kel. Bapak K. Sijabat dan yang luar biasanya dari 11 jiwa yang dibaptis, 10 di antaranya adalah hasil dari KPA Selambo yang notabene adalah bukan Advent. n —Dilaporkan oleh Loran Napitupulu, Ketua GMAHK Teladan Medan.

KKR Celebration Cabang Sekolah Sabat Muncar, Banyuwangi diawali dengan Charity Cli­ nic di P.T. AQUASE Kumendung, Muncar, Banyuwangi pada tanggal 4 Oktober 2015. Dilanjutkan dengan KKR Satelit pada atanggal 4-6 Oktober 2015. Kemudian KKR Celebra­ tion diadakan pada tanggal 7-10 Oktober 2015. A­ cara berjalan dengan lancar dari malam ke malam. Puncak acara adalah pada hari Sabat, 10 Oktober 2015 di Sumber Yala Resort Muncar —Dilaporkan oleh Bpk. Riyanto, Sekretaris dan Komunikasi Jemaat GMAHK Banyuwangi; dan Pdtm. Panca Rury Karsum, Gembala Jemaat GMAHK Banyuwangi

36

Adventist World | 11 - 2015


Pengurapan Empat Pendeta Konferens Jawa Kawasan Timur (KJKT)

P

ada hari Sabat, 3 Oktober 2015 telah diurapi empat keluarga pendeta muda menjadi pendeta penuh. Upacara pengurapan yang kudus ini berjalan dengan khidmat, dihadiri oleh pimpinan dan staf KJKT, para pendeta se-KJKT, dan lebih dari 250 anggota jemaat. Dalam khotbah dan doanya, Pdt. J. F. Manullang, Sekretaris Asosiasi Kependetaan Uni Indonesia Kawasan Barat (UIKB) menekankan alasan mengapa Tuhan memanggil seseorang menjadi pendeta dan apa makna pengurapan pendeta. Mereka yang memperoleh pengurapan adalah: 1. Raijmon Eagle Angkuw. Lahir di Minahasa dengan istri, Gabby Wanda Supit. Di karuniai dua anak: Geoffrey Matthew Fredly, dan Ashley Gracia. Telah melayani selama 12 tahun. Sekarang melayani sebagai gembala GMAHK Jemaat Bojonegoro dan Tuban. 2. Meiky Lapasiang. Lahir di Bolaang Mongondow, dengan istri, Christine Saerang. Di karuniai dua anak: Jeremy Immanuel Laourence Lapasiang, dan Clarissa Eilia Lapasiang. Telah melayani selama 11 tahun. Sekarang melayani sebagai gembala di GMAHK Jemaat Diponegoro, Surabaya. 3. Fabyo Frets Lefrand Rumagit. Lahir di Tincep, Manado dengan istri, Oei Maria Wijayarso. Dikaruniai dua anak: Shalom Elysia Marfa Rumagit, Nathan Amazing Marlef Rumagit. Telah melayani selama 11 tahun. Sekarang melayani sebagai gembala GMAHK Jemaat Pu-

tra Agung, Surabaya dan Ekklesia Surabaya. 4. David Indra Utomo. Lahir di Solo. Dengan istri, Elia Yofi Leonita. Dikaruniai dua anak: Ailyn Yovanda Utomo, dan Alena Yovinda Utomo. Telah melayani selama 10 tahun. Sekarang melayani sebagai gembala di GMAHK Jemaat Terusan Surabaya, Malang dan Batu. Mari kita doakan, semoga kehidupan dan pelayanan keempat hamba Tuhan ini menjadi pendeta yang sesuai dengan rencana Tuhan dan dapat mempersiapkan keluarga dan anggota jemaat bagi Tuhan. n —Dilaporkan oleh Pdt. Ranap Situmeang, Sekretaris Asosiasi Kependetaan KJKT.

11 - 2015 | Adventist World

37


dari INDONESIA Bi-Union Festival of Faith 2015 Tema: “Arise! Shine! Jesus is Coming!�

A

cara Bi-Union Festival of Faith(FOF) kedua berlangsung di GOR Perguruan Tinggi Advent Surya Nusantara (PTASN) Pematangsiantar, Sumatera Utara mulai dari tanggal 23-27 September 2015. Pendeta Dr. Hermogenes Villanueva, Direktur SS/PP dari Divisi Asia Pasifik Selatan (SSD) datang khusus untuk menjadi pembicara utama di FOF tersebut. Festival of Faith ini merupakan kali yang kedua diselenggarakan di kampus PTASN yang indah dan asri ini. Sebelumnya, tahun 2012 telah diadakan kegiatan serupa dan kali ini lebih dari 740 peserta diutus oleh jemaat, daerah atau konferens, hadir di Festival of Faith. Acara ini dibuka oleh perwakilan Walikota Pematangsiantar dengan pelepasan Balon FOF 2015, namun sebelumnya dibuka dengan doa oleh rektor PTASN Pdt. Dr. RW. Sagala. Dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua UIKB, Pdt. Dr. J.S. Perangin­ angin.

Berbagai kesaksian menarik dan seminar mengenai penginjilan dan tantangannya di seluruh Indonesia yang dikemas dengan baik dengan tema dan cerita yang spesifik, mulai soal kegiatan sosial, membuka ladang baru, care group, center of influence, kebaktian kebangunan rohani, suka duka dalam penginjilan, pelayanan keluarga, pelayanan penjara, baptisan, hingga mengorganisasi gereja. Dari banyaknya kesaksian yang disampaikan, peserta mendapatkan banyak pelajaran berdasarkan pengalaman bidang pe-

Kami berterima kasih kepada para penulis setia, dari setiap konferens/ daerah/wilayah di seluruh tanah air Indonesia. Kami ingin agar proses redaksi majalah Adventist World Indonesia (AWI) yang setiap bulan diterbitkan, yang membutuhkan waktu yang sangat ketat dalam prosesnya, dapat dilaksanakan dengan lancar. Untuk itu kami berharap untuk edisi berikutnya, setiap teKS atau naskah berita yang kami terima diketik rapi (sesuai misi majalah ini) dalam format Microsoft Word/ Word Perfect, tanpa ada gambar/foto/imagE di dalam file dokumen tersebut (Karena perlu waktu untuk proses pengeluaran gambar/foto/image dari dalam file teks dokumen tersebut). Gambar/foto/image untuk naskah berita tersebut kami harapkan terpisah dari dalam file dokumen teks naskah berita. Lebih disukai dalam format jpeg tetapi jelas, terang dan jernih serta bere­solusi minimal 640x428 (lebih besar lebih baik). Jika ada keterangan gambar/foto/image yang penulis ingin sertakan, ketiklah keterangannya menjadi file name gambar tersebut (dengan cara rename file name gambar tersebut) atau informasikan keterangan gambar tersebut di dalam teks naskah berita tersebut. Maksimal 500 kata. Tim redaksi berhak mengubah tulisan tanpa mengubah isi dan maksud penulis. Berita akan diterbitkan bilamana dilengkapi dengan nama dan alamat pengirim yang jelas. Naskah tidak akan dikembalikan. Walaupun kami berusaha untuk menerbitkan seluruh berita yang masuk, tetapi atas pertimbangan tim redaksi, ada kemungkinan tidak semua naskah berita yang masuk akan diterbitkan. Kirimkan ke: adventistworld_indonesia@yahoo.co.id paling lambat tanggal 15 setiap bulan untuk diterbitkan ke edisi bulan berikutnya. Terima kasih, Tuhan memberkati kita pada saat kita menyiapkan berita baik yang menguatkan umat Tuhan khususnya di Indonesia.

38

Adventist World | 11 - 2015

Info Penting! bagi Para Penulis Setia Adventist World Indonesia


WARTA

GEREJA ADVENT “Lihatlah, Aku Datang Segera� Misi kami adalah untuk meninggikan Yesus Kristus, mempersatukan umat Advent di mana saja dalam iman, misi, kehidupan, dan pengharapan.

Penerbit Indonesia Publishing House (anggota IKAPI Jawa Barat) Jalan Raya Cimindi 72 Bandung, 40184 Ketua Pengarah J. S. Peranginangin Ketua Bidang Usaha S. Manueke Bendahara W. Purba Pemasaran S.P. Rakmeni Produksi S. M. Simbolon

KIRI DAN ATAS: Suasana acara di dalam GOR Perguruan Tinggi Advent Surya Nusantara (PTASN). BAWAH: Toba Tour Evangelism di Desa Sialagan Pulau Samosir, Sumatera Utara. layanan masing-masing. Peserta sangat antusias sehingga dalam setiap kesempatan ruangan selalu dipenuhi dengan peserta dari berbagai daerah. Acara yang dilangsungkan sekali tiga tahun ini mendapat perhatian khusus dari Hope Channel Indonesia dengan membuat liputan khusus Festival of Faith 2015 di Pematangsiantar. Dalam kesempatan itu ada juga Tour Evangelism dengan 8 bus paradep yang disiapkan panitia untuk mengangkut lebih dari 300-an peserta yang mendaftar mengikuti tour ini ke Danau Toba dan sekitarnya. Melalui tour ini traktat diberikan kepada setiap peserta untuk dibagikan di Parapat dan kampung-kampung yang dikunjungi. Setelah peserta mendapatkan begitu banyak berkat rohani khususnya pada sepanjang Sabat pada hari terakhir, pada malam harinya dilaksanakan malam budaya yang dikoordinasi oleh Pdt. Abri Santoso. Malam itu adalah untuk memperkenalkan budaya yang ada khususnya budaya Batak, Sumatera Utara. Malam itu, banyak peserta melakukan kegiatan sosialisasi, khususnya di acara malam budaya, tetapi ada juga yang menikmati buah durian dan makanan lainnya di Kota Pematangsiantar. Rangkaian acara Festival of Faith 2015 berakhir dengan penuh berkat. Semua kontingen dapat kembali ke daerah masing-masing membawa berkat rohani setelah mengikuti pesta perayaan iman bersama seluruh umat Tuhan yang datang di Festival of Faith 2015. Sampai ketemu di Festival of Faith berikutnya. n —Dilaporkan oleh Pdt. Ronie Panambunan, salah seorang peserta di Festival of Faith 2015.

Pemimpin Redaksi Roy M. Hutasoit Redaksi Pelaksana dan Desain Isi J. Pardede Tim Redaksi F. Parhusip, R.S. Keni, F. Ngantung, J. Wauran, F. Manurung, A. Siahaan Komunikasi Uni S. Simorangkir, Uni Indonesia Kawasan Barat B. Sumendap, Uni Konferens Indonesia Kawasan Timur Komunikasi Konferens/Daerah/Wilayah D. Lingga, Sumatera Kawasan Utara H. Sihaloho, Sumatera Kawasan Tengah V. J. Sinaga, Sumatera Kawasan Selatan A. Sagala, DKI Jakarta dan Sekitarnya N. Siringoringo, Jawa Barat A. Pender, Jawa Tengah D. Maart, Jawa Kawasan Timur D. Juniarto, Kalimantan Kawasan Timur J. Sihotang, Kalimantan Barat D. Kana Djo, Nusa Tenggara R. Keni, Minahasa Utara Dj. Muntu, Minahasa F. Kasenda, Bolaang Mangondow-Gorontalo Ch. Muaya, Sulawesi Tengah M. Tandilangi, Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara A. J. Uniana, Maluku F. Macpal, Nusa Utara H. Wambrauw, Papua I. Lisupadang, Luwu Tana Toraja Izin

Departemen Penerangan RI No. 1167/SK Ditjen PPG/STT/1987

Alamat Redaksi Jalan Raya Cimindi 72 Bandung, 40184 Telp. (022) 6030392; Fax. (022) 6027784 Email: adventistworld_indonesia@yahoo.co.id Pemasaran Tlp/Fax: 022-86062842 Redaksi menerima naskah berita dan foto sesuai dengan misi majalah ini, maksimal 500 kata. Tim redaksi berhak mengubah tulisan tanpa mengubah isi dan maksud penulis. Berita akan dimuat bilamana dilengkapi dengan nama dan alamat pengirim yang jelas. Naskah tidak akan dikembalikan. Walaupun kami berusaha untuk memasukkan seluruh berita yang masuk, tetapi atas pertimbangan tim redaksi, ada kemungkinan tidak semua naskah berita yang masuk akan dipublikasikan.

11 - 2015 | Adventist World

39



November 2015 indonesian