"Miss You" Visual Art Exhibition by Jange Rae

Page 1

“MISS YOU”

A Solo Exhibition by Jange Rae at Yayaa Art Space, Sanur Bali Indonesia


Antonio Blanco With Book Of Banksy Aerosol {+} on canvas 120 x 140 cm. 2012


THE PECALANG

Aerosol {+} on canvas 150 x 120 cm. 2012


WELCOME

Aerosol {+} on canvas 120 x 100 cm. 2012


NOT FOR SALE

Aerosol {+} on canvas 120 x 100 cm. 2012


Realisme Hibrid Mohamad Arifin, 2012 Di mata dunia, Bali dibayangkan sebagai suatu tempat yang menyuguhkan semesta keindahan. Eksotisme alam dan budayanya mampu menyihir hasrat masyarakat dunia untuk datang dan mencoba mengalami nikmat yang ditawarkannya. Imajinya mencitrakan surga duniawi, ia tak lelah untuk terus menyajikan kenikmatan abadi yang tak kunjung habis untuk terus diselami. Isu ancaman terorisme dan bencana alam yang kerap melanda bumi dewata itu tak meredupkan api gairah para penikmatnya. Lampu-lampu tempat hiburan terus menyala, dentuman musiknya terus berdenyut memompa gairah malam yang larut, gelas-gelas tak pernah kosong oleh tuangan anggur kenikmatan di tiap meja para pemuja nikmat. Kemolekan alam yang terbentang luas ditambah budaya yang menawan mampu menambah sensasi nikmat yang ditawarkan. Kedatangan orang asing ke Bali tentu membawa pengaruh bagi kondisi sosial-budaya setempat. Transfer kebudayaan pada prinsipnya akan menggoyahkan nilai-nilai yang telah dianut dalam masyarakat di sana. Di sinilah kemudian terjadi pertarungan budaya baik langsung dan tidak langsung. Melalui proses panjang pertarungan budaya yang terjadi di sana pad akhirnya memberi warna baru bagi kebudayaan Bali. Segala macam budaya masuk dan meleburkan diri ke dalam kebudayaan baru dalam ruang kosmopolitan kebalian hari ini. Multikultural merupakan wajah bagi banyak budaya yang bercampur aduk di dalamnya. Identitas lokal pun menjadi retak dan globalisasi mendorong lebih kuat proses keretakan itu. Identitas lama menjadi luruh, untuk kemudian bertumbuh kembali dalam wajah yang baru. Inilah yang kemudian dinamakan kebudayaan hibrid. Proses luruhnya berbagai macam kebudayaan ke dalam satu wadah menandakan bahwa suatu kebudayaan rentan untuk dirembesi pengaruh dari luar. Gejala itulah yang sedang berlangsung di Bali, kini ia berwajah sangat kosmopolitan. Dengan kosmopolitanisme, suatu komunitas itu dibangun atas dasar kemajemukan budaya dan multi-etnisitas. Segala macam perbedaan dileburkan dalam satu wadah bernama universalisme. Jadi, sesungguhnya kehidupan kosmopolitan mengafirmasikan modernisme, di mana segala hal dan sendi kehidupannya larut ke dalam satu pusaran arus besar. Senyatanya universalisme telah mengubur dalam-dalam semua perbedaan, dalam hal ini lokalitas akan terhembas dalam gelombang besar globalisasi. Kebudayaan kosmopolitan searti dengan aktualisasi penaklukan budaya dengan politik sebagai hasrat yang mendasarinya. Sejarah peradaban manusia tak lebih dari sejarah penaklukan. Bersesuaian dengan anggapan tadi, hal inilah yang sedang dialami kebudayaan kita. Agresi penaklukan tidak dilakukan secara frontal dan terang-terangan, sebaliknya lembut dan tersembunyi. Dalam karya-karya yang dipamerkan dalam “Miss You� sepenuhnya melukiskan kebudayaan Bali dalam realisme hibrid yang dipenuhi kepalsuan. Ikon-ikon budaya barat ada di Bali: tameng pecalang, robot mainan anak, arak Bali yang terkemas, sate bali a la junk food. Ikonikon kebalian ditabrakkan dengan ikon budaya asing. Karya-karya seolah menyadarkan kepada kita bahwa kebudayaan asing perlahan sedang menaklukkan kita dengan sejumlah produk dan gaya hidup yang ditawarkannya.


Jange Rae adalah seseorang yang tak mau disebut sebagai seniman, ia juga bukan seorang seniman akademisi yang doyan menciptakan karya berdasarkan konsep yang kuat serta mendalam, bermain tanda semiotik atau bahkan sekedar menyembunyikan pesan dan makna. Ia secara sadar telah mencampakkan tuntutan-tuntutan seperti itu. Untuk waktu yang cukup lama ia pernah tinggal dan menjalani hidup di Bali. Ia mencukupi hidupnya dengan karya-karyanya. Pameran ini dari awalnya disengaja untuk mengobati rindu akan Bali yang terakhir ditinggalnnya 10 tahun yang lalu. Sebagai seniman yang cukup lama intens berkarya, tentunya telah mengalami banyak loncatan dalam pencapaian artistiknya. Mesti dalam amatan saya, periode lama yang dilaluinya tidak banyak memberi pengaruh pada periode terakhirnya. Karya-karya terdahulunya sangat dekat dengan galeri dan balai lelang di Jakarta dan Singapura. Dalam periode itu karya-karyanya tidak memiliki cita rasa yang kuat, kemungkinannya karena ia harus berhitung dengan pasar. Dalam periode ini setidaknya ia telah belajar menghadapi kenyataan dengan mengolah diri akan benturan-benturan yang ia alami semasa berada pada zona aman. Pada akhirnya ia harus berhitung dan mengatur strategi untuk menghadapi lingkungan sosial yang mengitari ruang geraknya sebagai seniman. Pengalaman seperti itulah yang sampai pada batas tertentu dapat melatih kepekaannya dalam menghadapi lingkungan sosial seni yang dihadapinya sekarang. Setelah mengalami kejenuhan yang akut akan pencapaian yang kosong, akhirnya ia berpaling dan mencoba lari dari kenyamanan. Dari banyak sisi kehidupan di Bali tentu saja sudah mengalami banyak perubahan, terutamanya dalam kehidupan sosial. Ia melihat perubahan itu lalu merekamnya ke dalam memori yang mengkoligasikan realitas sekaligus mengekspresikannya ke dalam bidang-bidang kanvas. Masa lalu yang dipenuhi kemabukan pada ekstase yang palsu, dalam banyak hal sepak terjangnya hanya akan mengotori kemurnian estetik—ia bahkan malu untuk megakui kehidupannya pada masa-masa itu. Ia telah mengalami amnesia dan pingsan untuk waktu yang cukup lama. Sekarang kita bisa melihat Jange Rae yang baru, yang mencoba membersihkan dosa artistik masa silam yang kelam. Tapi ia tidak menginginkan noda itu lepas dari dirinya, sementara ia terus menyucikan diri dengan dosa-dosa yang baru. “Miss You� adalah pameran tunggalnya yang terakhir. Karya-karya yang ditampilkan masih menyuguhkan keringanan visual, tapi ia mengkalim bahwa karya-karya itu sepenuhnya menyatakan isi yang mendalam. Setidaknya itu telah dinyatakan oleh dirinya sendiri bahwa keringanan visual itu disadari sebagai sikap dan pilihan artistiknya. Cobalah menajamkan mata untuk melihat lebih dalam fenomena budaya pop mengepung segala lini kehidupan kita, ikon-ikon yang mengalir di dalamnya adalah tanda yang dimainkan oleh subjek tertentu untuk mempengaruhi massa secara tidak sadar. Di balik semua keringanan itu ada agenda tersembunyi yang ingin dituju. Demikianlah ia menginginkan karya-karya itu menjadi alat yang menjebak jiwajiwa kosong tanpa kesadaran dan menggiringnya pada tujuan tertentu. Penonton akan terperangkap pada tatapan awal oleh bentuk visual yang nge-pop, untuk waktu yang lama penonton dibiarkan merasa nyaman dan tanpa gangguan untuk menatap lebih dalam, sampai pada akhirnya tanpa disadarinya mereka telah terjatuh pada sihir visualnya.


Suuurrrf

Aerosol {+} on canvas 120 x 100 cm. 2012


MOVE ON

Aerosol {+} on canvas 150 x 120 cm. 2012


SUN OF THE BEACH

Aerosol {+} on canvas 120 x 100 cm. 2012


PEACE PEACE PEACE

Aerosol {+} on canvas 150 x 120 cm. 2012


DELIVERY SERVICE

Aerosol {+} on canvas 120 x 150 cm. 2012


GEN X

Aerosol {+} on canvas 120 x 140 cm. 2012


Jange Rae Bandung, 26 Januari 1974 Jl. Mars Tengah No 10 Margahayu Raya, Bandung +62 896 5504 6735 SOLO EXHIBITION 2012 Solo exhibition at Yayaa Art Space, Belanjong Sanur Bali 2009 Solo exhibition at Utterly art Singapore 2006 Solo exhibition at Soka Gallery, Kemang Jakarta GROUP EXHIBITION 2012 UNEARTH ASIA at Expo Malaysia, Kualalumpur Spoon Art Fair HK 12 Grand Hyatt Hongkong Asia Top Gallery Hotel Art fair at Mandarin Oriental Hongkong 2011 Expo for Matia Naples Italia Urban in Between at Philo Art Space Jakarta Private Exhibition at Hall in Tirol Austria 2010 Subject Expose {s} at Ars Longa Gallery Jakarta Packaging at Philo Art Space Jakarta Menilik Akar at Indonesia National Gallery, Jakarta 2009 Geliart at Pasar Seni Jaya Ancol, Jakarta 2008 Jali-Jali Jakarta at Rumah Jawa Gallery, Jakarta Silence of The City at Denindo Art House, Jakarta 2007 Pameran Karya Terbaik Kompetisi Jawa Barat At Galeri Kita Bandung 1999 "Bunga - Bunga Bali " at Bali Cliff Hotel, Bali


www.warungyayaa.com


yayaa

Warung & Art Space Jl. Sekar Waru no. 4 Banjar Belanjong Sanur Bali 80228 Indonesia +62 361 270335 | info@warungyayaa.com | www.warungyayaa.com