Page 1

Unit Fotografi UGM bersama Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat UGM “Mempersembahkan”

PKKH UGM 2019

Buku Foto KKN PPM-UGM SUMATRA | JAWA DAN BALI | KALIMANTAN | SULAWESI | NUSA TENGGARA | PAPUA

David Kurniawan Pratama | Pisonia Ansettri Reyhan Pradipta | Garin Essyad Aulia | Putri Syakira | M. Muyassaroh | Aji Wiko | Faiza Rahman Hakim | Handhika Putri | Muhammad Naufal E | Okky Fauzan Sadhewa | Rahmi Dwi Agustin | Safira Adi | Syaifulloh Ibnu M. | Julio Marcelino B. M. Rizky Yoga Z. | Anggita Syifa K. | Saqib Fardan A. M. Irsan Nashrurriza | Leon Tandela | Atoro Aditya | Indah Pratiwi | Irvan Yurdianto Rahmat Alam Akbar | Rizka Handayani | Zildjian Raka | Ifana Futramsyah | Benarifo Ahmada | Hafiz Cahyo Dwi Nugroho Anom Parikesit | Ichsan Indrayana Aryadipura Kenrick | Ichlasul Arif | Leonardo Juan | Satria Aji | Syahrul Alfi | Tio Ardiansah | Naufal Hanif Z.


Sambutan Pembina Unit Fotografi UGM Prof. Dr. Harno Dwi Pranowo, M.Si Dokumentasi sebuah peristiwa menjadi sangat penting untuk dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bagi manfaat, kepentingan, dan peningkatan sebuah aktivitas. KKN-PPM merupakan ikonpenting dan melegenda bagi Universitas Gadjah Mada sehingga menjadi sebuah kebutuhan untuk mendokumentasikan hasil perjalanan tersebut dalam bingkai sebuah lensa kamera. Itulah sebabnya Unit Fotografi UGM bekerjasama dengan Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM menyelenggarakan Pameran Fotografi KKN-PPM UGM 2019. Kami berharap agar UFO memperoleh manfaat dari kerjasama ini, dan menjadi sebuah momentum penting tentang eksistensi aktivitas UFO di antara keperluan mengangkat dan menyebarluaskan hasil karya mahasiswa UGM ke masyarakat luas. Selain karya fotografi mahasiswa saat melaksanakan pembelajaran melalui KKN PPM dipamerkan selama 3 hari ini, kami juga mengemas karya yang telah dipamerkan ini menjadi sebuah buku foto yang dapat dikoleksi dengan mudah, dan dapat disebarkan secara online dengan teknologi informasi yang tersedia. Terimakasih kami sampaikan kepada Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM yang berkenan bekerjasama menggelar acara pameran fotografi ini. Juga kami sampaikan terimakasih kepada seluruh pameris, dan panitia yang telah mencurahkan perhatian dan waktunya untuk keberhasilan acara ini.


Daftar Pameris Pameran KKN PPM-UGM 2019

01

Sumatra David Kurniawan Pratama Pisonia Ansettri

Jawa dan Bali

02

Reyhan Pradipta Garin Essyad Aulia Putri Syakira M. Muyassaroh Aji Wiko Faiza Rahman Hakim Handhika Putri Muhammad Naufal E. Okky Fauzan Sadhewa Rahmi Dwi Agustin Safira Adi Syaifulloh Ibnu M. Julio Marcelino B.

03

Kalimantan M. Rizky Yoga Z. Anggita Syifa K. Saqib Fardan A.

Sulawesi

04

M. Irsan Nashrurriza Leon Tandela Atoro Aditya Irvan Yurdianto Indah Pratiwi

Maluku

05

Rahmat Alam Akbar Rizka Handayani Zildjian Raka Ifana Futramsyah Benarifo Ahmada Hafiz Cahyo Dwi Nugroho

06

Nusa Tenggara Anom Parikesit Ichsan Indrayana A

Papua

07

Kenrick Ichlasul Arif Leonardo Juan Satria Aji Syahrul Alfi Tio Ardiansah Naufal Hanif Z.


Buku Foto Pameran KKN 2019

Pulau Sumatra

David Kurniawan Pratama | Pisonia Ansettri


David Kurniawan Pratama-Biologi 2016

Mandat Adat, Budaya Berdaya

Seni budaya asli Sumatera Utara banyak yang menarik. Salah satu yang unik dan indah adalah tari tradisionalnya: Tari Tor-tor. Kebetulan, rumah di samping pondokan penulis yang terletak di Lumban Sijabat, rutin mengadakan latihan Tari Tor-tor untuk anak-anak; anak SD hingga SMP. Latihan ini rutin diadakan setiap hari Senin dan Jumat sore. Latihan selalu diiringi dengan musik tradisional, entah itu berupa lagu dari hasil rekaman, ataupun lagu yang dimainkan secara langsung menggunakan seruling dan taganing khas Batak Toba. Penari selalu dilengkapi dengan kain Ulos yang diletakkan di bahu, dan sarung yang diikat setinggi pinggang. Gerakan dalam tarian tersebut tidak melibatkan gerak yang begitu banyak; gerakan hanya berpusat pada gerakan pergelangan tangan maju dan mundur serta lutut yang ditekuktekuk mengikuti ritme iringan lagu, sehingga penari terkesan naik dan turun dengan telapak tangan yang saling bertemu menyerupai sikap salam. Pada tari tertentu, penari membutuhkan peralatan tambahan, seperti mangkok. Mangkok tersebut dapat diletakkan di atas kepala, sambil menari-nari.

Secara pribadi, penulis merasa takjub dengan adanya latihan tari tradisional tersebut. Dengan adanya latihan tari tradisional tersebut, harapan agar budaya tradisional seperti ini survive seakan kembali lagi. Terlepas dari hal tersebut adalah sebuah keharusan dari adat atau tidak, latihan ini tentu dapat mengasah kemampuan anak-anak dalam kemampuan menari, dan mempertahankan budaya daerahnya sendiri. Tidak hanya itu, sebelum latihan dimulai, para penari diwajibkan untuk menyanyikan beberapa lagu wajib nasional, dan selalu dimulai dan ditutup dalam doa. Mungkin hal ini sudah umum bagi para pembaca, tapi menurut penulis hal ini adalah hal yang luar biasa, dimana pengenalan akan Tuhan, penanaman rasa cinta Tanah Air, adat, dan budaya, serta pembenahan skill, semua dilakukan sejak dini. Wow.

Lokasi : Desa Tomok, Simanindo, Samosir, Sumatera Utara


David Kurniawan Pratama-Biologi 2016

Uji Diri

Lokasi : Desa Tomok, Simanindo, Samosir, Sumatera Utara

Hari itu hari Jumat, dan setiap sore selalu terdengar musik daerah khas Batak. Pada minggu pertama kehadiran tim KKN penulis di sana, penulis serta beberapa teman penasaran tentang apa yang ada di rumah sebelah. Kami pun datang menghampiri, dan ternyata hadir banyak anak-anak bersarung dengan kain Ulos di bahu. Ada taganing yang hadir dan speaker yang siap untuk mengiringi. Ternyata, merekamereka ini hendak berlatih Tari Tor-tor. Mereka berlatih di halaman depan rumah yang cukup luas untuk anak-anak berbaris memanjang ke samping hingga 7 orang. Musik mulai dimainkan, dan mereka mulai berlatih. Musik yang dimainkan memancing warga lain untuk datang menyaksikan latihan tarian tersebut, tak terkecuali beberapa teman yang ada di pondokan, salah satunya Reyka.

Melihat anak-anak tersebut berlatih tampak membuatnya rindu untuk menari. Ia meminjam sarung dan kain Ulos dari anak yang menonton dan segera bergabung dengan anak-anak yang sedang berlatih. Bergabungnya Reyka ke dalam latihan menjadi tontonan baru bagi kami teman-temannya dan warga sekitar. Bagi Reyka, hal tersebut menjadi sebuah ajang ‘nostalgia’ masa kecil, dan juga menjadi ajang uji diri; menguji kemampuan diri yang sekarang dan membandingkannya dengan masa kecil.


David Kurniawan Pratama-Biologi 2016

Namaku David

Lokasi : Desa Tomok, Simanindo, Samosir, Sumatera Utara

Kluster Soshum rutin menjalankan program mengajar bahasa Inggris di SD. SD yang ada di Desa Tomok hanya 2: SDN 10 dan SDN 17. Untuk pergi ke SDN 10, kami harus menggunakan angkot karena jaraknya yang cukup jauh jika berjalan kaki, berbeda dengan SDN 17. Hari itu, penulis berkesempatan untuk membantu kluster Soshum mengajar bahasa Inggris di kelas 5. Saat itu, kelas dihadiri dengan kehadiran seseorang yang tak biasa; berseragam berbeda dari murid yang lain, bertubuh kecil, dan sangat lucu. Salah satu teman penulis, Vindy, langsung menghampiri anak tersebut. Ternyata, anak tersebut masih TK dan turut mengikuti kelas karena mengikuti kakaknya yang sedang mengikuti kelas di sekolah. Kehadiran David Kecil di kelas hanya sekali itu saja, dan menjadi pertemuan yang unik, karena ia kebetulan memiliki nama yang sama dengan penulis.


David Kurniawan Pratama-Biologi 2016

Siap untuk Meroket? Lokasi : Desa Tomok, Simanindo, Samosir, Sumatera Utara

2 minggu terakhir di Desa Tomok, kluster Saintek melaksanakan program-program terakhirnya. Salah satunya adalah Eksperimen Sains Sederhana dan Lomba Cerdas Cermat. Eksperimen Sains Sederhana diperuntukkan kelas 1 hingga 3 SD, sedangkan Lomba Cerdas Cermat diperuntukkan kelas 4-6 SD. Eksperimen sederhana yang kami bawa adalah roket air. Sedari awal, anak-anak sudah menunjukkan antusiasme yang tinggi untuk melihat bagaimana roket air ini meluncur. Sarah, yang menjadi penanggung jawab program tersebut, sangat bersemangat dan senang melaksanakan program tersebut. Ia bertemu langsung dengan anak-anak dan berinteraksi pula, sambil menjaga semangat anak-anak sebelum mendemonstrasikan roket air. Maka dari itu, Sarah mengajak anak-anak bernyanyi sambil mengikuti gerakan-gerakannya untuk menumbuhkan rasa ingin tahu serta menjaga mereka agar tetap semangat. Tidak hanya anak-anak, para tenaga pendidik juga tampak antusias untuk melihat seperti apa roket air yang ditunggu-tunggu anak-anak tersebut. Dalam demonstrasinya, kami menjelaskan secara singkat bagaimana merancang dan memasang alat peluncur roket air, serta membantu anak-anak serta tenaga pendidik dalam mendemonstrasikannya. Anak-anak tampak sangat senang, dan terus ingin bermain. Setelah demonstrasi selesai, anak-anak dengan tertib kembali ke kelas. Para guru dan kepala sekolah terlihat sangat takjub dan senang karena dapat melihat serta mendemonstrasikan roket air. Program ini kami anggap sukses dan berjalan sangat lancar, dan menjadi sebuah kebanggaan, kesenangan, dan kelegaan tersendiri bagi kami, khususnya Sarah. Ia pulang dengan wajah lelah, namun bahagia.


Pisonia Ansettri Hukom-Bahasa Korea 2016

Pelleng

Lokasi : Sitellu Tali Urang Julu, Pakpak Bharat, Sumatera Utara

Pelleng adalah makanan tradisional suku batak Pakpak yang bentuknya menyerupai nasi kuning tetapi dengan tekstur yang berbeda. Pelleng terbuat dari nasi yang dihaluskan kemudian dibentuk dan dipadatkan hingga menyerupai kubah. Pelleng disajikan dengan gulai ayam dan biasanya didampingi minuman tuak. Pelleng merupakan makanan penyemangat. Menurut pernyataan warga Pakpak, Pelleng dahulu merupakan makanan yang disajikan untuk ritual sebelum seseorang berangkat berperang. Kini, Pelleng disajikan dalam acara-acara adat seperti saat melepas seorang anak untuk pergi merantau atau ketika akan menghadapi ujian. Ketika berkunjung ke rumah-rumah warga, hampir setiap saat kami disuguhkan Pelleng. Bahkan beberapa warga bersedia mengajarkan kami cara membuat Pelleng. Waktu itu, sampai bosan disuguhi pelleng, tapi sekarang jadi rindu makan pelleng sambil bercerita dengan warga.


Pisonia Ansettri Hukom Bahasa Korea 2016

SD Cikaok

Lokasi : Sitellu Tali Urang Julu, Pakpak Bharat, Sumatera Utara

Tiga orang siswa SD di sela-sela mengerjakan kerajinan tangan yang diajarkan oleh kakak dan abang mahasiswa. Mereka tengah sibuk menata biji-bijian pada gambar yang diberikan, tetapi di wajah mereka selalu ada senyum yang ditorehkan.

Orang dewasa terkadang harus membayar mahal untuk mendapatkan sesuatu yang disebut kebahagiaan yang pada akhirnya menghasilkan senyum dan tawa, tapi anakanak? Mereka tidak perlu. Jika diibaratkan dengan warna, mereka bukanlah putih atau hitam yang terlalu solid. Mereka adalah warna hijau. Hijau muda yang menyejukkan pandangan dan membuat hati tentram. Hijau yang bisa berarti kedamaian; anak-anak itu adalah sumber kedamaian karena mereka adalah elemen paling tulus di dunia. Pada akhirnya, Senyum, tawa, canda mereka berubah menjadi rindu bagi kakak dan abang mahasiswa yang banyak menghabiskan waktu dengan mereka.

Senyum tulus yang mereka sunggingkan kepada kakak dan abang mahasiswa, selalu menjadi obat. Senyum, tawa, canda mereka berubah menjadi semangat bagi kakak dan abang mahasiswa yang mengajar. Meskipun hanya dengan menata kacang-kacangan pada gambar yang diberikan, mereka bisa tesenyum dan tertawa riang. Mereka bisa dengan bebas mengekspresikan apa yang mereka inginkan. Mereka bisa dengan bebas menata letak kacang-kacangan, beras, dan jagung sesuai kreativitas mereka. Bahagia itu tidak sulit.


Pisonia Ansettri Hukom Bahasa Korea 2016

Es Lilin Endi

Lokasi : Sitellu Tali Urang Julu, Pakpak Bharat, Sumatera Utara

Namanya Endi, siswa kelas 1 SD Cikaok. Dengan mata yang terpejam dan pipi yang dimainkan temannya, ia memamerkan dirinya sedang memakan es lilin. Endi hanyalah satu dari sekian banyak siswa di SD Cikaok yang antusias ketika kami datang ke sekolahnya untuk mengajar. Disaat jam istirahat, sering kali siswa-siswa tersebut mengajak kami untuk bermain, bercengkrama hingga mengajari hal-hal baru. Ketika melihat kakak dan abang mahasiswanya datang membawa kamera, mereka dengan antusias memanggil-manggil minta difoto. Ketika kamera membidik mereka, mereka pun menunjukkan gaya-gaya yang lucu dan ketika melihat hasilnya, mereka akan tertawa bersama. Seperti sebuah puzzle. Es lilin, teman-teman disekitarnya, kakak dan abang mahasiswa adalah potongan puzzle yang disatukan dan menghasilkan kebahagian bagi Endi. Ia tak butuh ponsel dengan fitur canggih. Ia hanya butuh fitur sederhana di hidupnya. Ia hanya butuh temantemannya, kakak dan abang mahasiswa, dan terakhir, Es Lilin.


Buku Foto Pameran KKN 2019

Pulau Jawa dan Bali

Aji Wiko | Reyhan Pradipta | Garin Essyad Aulia | Putri Syakira | M. Muyassaroh | Faiza Rahman Hakim | Handhika Putri | Muhammad Naufal E. | Okky Fauzan Sadhewa | Rahmi Dwi Agustin | Safira Adi | Syaifulloh Ibnu M. | Julio Marcelino B.


Apa yang Ingin Kau Genggam sebagai Kenang-Kenangan? Sebuah destinasi wisata akan semakin lengkap jika wisatawan yang berkunjung memperoleh kenangkenangan berupa oleh-oleh, baik makanan maupun hiasan. Untuk semakin menguatkan citra desa wisata yang dimiliki Desa Tanjungjaya, mahasiswa turut mendampingi bahkan menginisiasi IKM-IKM yang menawarkan buah tangan khas Desa Tanjungjaya. Pendampingan akhir yang kami lakukan adalah membawa produk-produk buah tangan ke pameran produk dalam Festival Kalitjaah yang diadakan di Tanjung Lesung, bersaing dengan produk-produk lokal khas Provinsi Banten lainnya. Kami melakukan pendampingan IKM dari kampung ke kampung. Penamaan administrasi yang membingungkan pada awalnya bagi kami, desa seluas kecamatan, kampung seluas desa jika dibandingkan provinsi lain di Jawa. Kampung terjauh yang kami dampingi ialah Kampung Kepuh yang berada di puncak bukit. Hawa dingin yang merasuk tiap matahari mulai lingsir terhangatkan oleh tongkrongan bapak-bapak yang tiap selepas Isya berkumpul di sanggar depan surai. Mereka menamainya Sanggar “Anyaman Bambu Gunung�. Secara harfiah, memang demikian adanya, warga Kampung Kepuh mendapatkan bahan-bahan kerajinan dari kebun-kebun yang di kampungnya sendiri yang terpusat pada bambu sebagai pokoknya. Hari itu, sehari sebelum pameran dilaksanakan, kami tetap terjaga hingga jumlah batas produk memenuhi syarat untuk dipamerkan. Tenang, tidak ada tekanan untuk target itu, hanya tawa-tawa yang memecah kesibukan, kopi dan pisang panas yang menemani kegiatan.

Lain kampung, lain cerita. Pendampingan kami di IKM Sukamulya sama terkenangnya. Bermodal batok kelapa yang berserakan di kebun tempatnya bertumpu sebagai sumber mata pencaharian, Pak Teddy dan saudaranya di Kampung Sukamulya mengukir berbagai bentuk kerajinan apa saja. Perabotan rumah tangga menjadi inspirasi bentuk yang akan diukir dari batok kelapa. Jika tidak sedang ramai oleh anak-anak yang belajar mengaji dan baca tulis dari istrinya, teras rumah yang beratapkan alang-alang milik keluarga Pak Teddy akan terisi dengan berbagai macam ukuran batok kelapa, ada yang baru dihaluskan, ada yang sudah terlihat bentuk ukiran. Namun jangan membayangkan peralatan yang lengkap yang membantu Pak Teddy dan saudara-saudaranya untuk mengukir batok kelapa. Hanya ada pisau, obeng, dan amplas. Tidak pernah terpikirkan bahwa ukiran batok kelapa yang selama ini mengisi waktu senggang bisa menjadi barang bernilai ekonomi. Teras rumah atap alang-alang itu juga yang menemani istri dan kakak Pak Teddy mengolah kue-kue tradisional dan keripik pisang. Ketika kali pertama datang ke Kampung Sukamulya, kami merasa jika kegigihan warga Sukamulya harus mendapat apresiasi lebih dariini. Pendampingan dilakukan berminggu-minggu, perjalanan 15 menit dari pondokan menuju Kampung Sukamulya dengan medan batu kali dan pasir kerikil dilakoni. Seminggu setelah mengakhiri pendampingan IKM Sukamulya, kami resmi melepas produk-produk ke pasaran, pada saat itu, adik dan istri Pak Teddy menghampiri dan memeluk kami sembari beruraian air mata. Mengucapkan terima kasih. Tetapi harusnya mereka tahu, kamilah yang sebenarnya musti berterima kasih, atas kehangatan layaknya keluarga, atas pengajaran dan pengalaman yang tidak akan kami dapatkan di tempat dan waktu lainnya. n.b. Kampung-kampung yang kami dampingi dapat dikunjungi di akun instagram @cikadu_edutourism_centre @jurtabambu @almulya.tdmworks

Lokasi : Unit Tanjungjaya, Provinsi Banten

Muti’ah Muyassaroh-Ilmu Sejarah 2016


Surga 5 Indra Manusia Lokasi : Unit Tanjungjaya, Provinsi Banten

Muti’ah Muyassaroh-Ilmu Sejarah 2016 Berbekal motor yang diangkut dari Jogja, kami menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan menuju Kampung Kepuh dari pondokan. Jalanan sepi dan lengang yang ditemani suara serangga dan burung dari dalam hutan, tapi bukan berarti bebas hambatan. Jalanan yang lebih tepat disebut rute sungai yang kering alih-alih jalan menuju sebuah kampung. Jalan bebatuan, batu besar hingga kerikil pasir terpampang. Ketika kali pertama kami melakukan perjalanan ke Kampung Kepuh, pikiran kami penuh dengan doa-doa keselamatan yang tak hentinya terlontar dalam hati, tidak jarang motor kami terjatuh dan terselip di antara bebatuan. Tapi apakah lantas membuat kami menghentikan perjalanan dan kembali ke pondokan? Tidak. Perjalanan panjang kami terbayar lunas ketika kali pertama menginjakkan kaki, tercium bau harum aroma manis dari dapur yang mengepul, diiringi alunan dentungan alu dan lesung. Setelah disilakan memasuki dapur berdinding bambu berukuran sekitar 7x10 meter, tampak dua tungku menyala bersamaan di samping lesung berbentuk lingkaran. Warga Kampung Kepuh menamainya kue balok, singkong yang direbus yang berbentuk kotak dengan pilihan rasa manis atau gurih. Seperti kembali ke permainan masa kanak-kanak, singkong yang sudah ditumbuk serasa play-doh, kami bermain-main sekaligus berharap kue buatan kami tidak berakhir buruk. Setelah akhirnya selesai dan dapat dinikmati, kami mencicipi kue yang dibuat dengan tangan sendiri. Akhirnya, beberapa dari kami yang tidak pandai memasak pun dapat merasakan kenikmatan makanan buatan sendiri. Meskipun tentu saja diberi sentuhan terakhir dari warga.


Janji untuk Kembali Lokasi : Unit Tanjungjaya, Provinsi Banten

Muti’ah Muyassaroh-Ilmu Sejarah 2016 Tidak ada sinyal, minim penerangan. Tempat ideal untuk pelarian dari kepenatan dunia perkuliahan berkedok pengabdian mahasiswa. Pagi bersekolah, siang bermain di pelataran depan sumur milik bersama, malam beristirahat dan berkumpul dengan keluarga sembari menyiapkan pelajaran untuk sekolah pada esok hari. Siapa menyangka hal-hal sederhana menjadi sumber kebahagiaan, bahkan nantinya akan melahirkan kerinduan. Kami berjanji akan kembali lagi ke sini, entah akan berapa tahun lagi, tapi kami pastikan dengan tetap terkoneksi.


Pelarian dari Hingar-bingar Muti’ah Muyassaroh-Ilmu Sejarah 2016

Sebagai salah satu wilayah pendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, Desa Tanjungjaya diharapkan mampu merepresentasikan desa wisata dengan sebaik-baiknya. Wisata yang dapat dipersembahkan juga beragam, wisata alam yang membentang hingga wisata budaya yang banyak ditawarkan. Potensi-potensi wisata yang dimiliki banyak yang masih mentah, masih dapat dipertajam dan diasah lagi agar semakin tampak, pun ditilik dari keinginan masyarakatnya yang juga berdaya usaha agar citra desa wisata semakin melekat. Kampung Kepuh, satu dari sekian kampung digadang menjadi desa wisata, sebuah alternatif dari wisata di Tanjung Lesung yang hingar-bingar. Bersama mahasiswa, warga Kampung Kepuh mereka konsep desa wisata yang ingin diangkat. Wisata alam menawarkan pesona yang tidak dapat ditolak oleh siapapun. Tetapi, bukankah akan menjadi lebih terkenang jika fasilitas pendukung turut memberi andil dalam perasaan tenang dan senang ketika berwisata? Kampung Kepuh ingin mempersembahkan konsep wisata desa dengan keindahan wisata alam yang terbentang didukung dengan kehangatan tradisi desa. Mahasiswa melakukan simulasi mendampingi Kampung Kepuh untuk melakukan simulasi wisata sekaligus meresmikan 13 pangendongan –bahasa Sunda yang berarti penginapan, rumah singgah tradisional untuk menginap beserta pemilik rumah yang ditawarkan dalam paket wisata. Adat istiadat desa yang masih dijunjung tinggi namun tidak kaku diyakini dapat menggenapkan perasaan puas dan lepas ketika berwisata. Tidak hanya sebagai tontonan, calon wisatawan nantinya akan berpartisipasi dalam tradisi desa keseharian.

Salah satu paket wisata yang diujicobakan pertama kali oleh mahasiswa adalah pengolahan biji kopi secara tradisional, mulai dari memilih biji kopi pilihan, menyangrai, hingga menumbuk dengan menggunakan alu dan lesung hingga menjadi bubuk kopi yang nantinya akan kami bawa pulang ke masa perkuliahan sebagai kenang-kenangan dan pelipur kepenatan. Tapi perjalanan masih panjang untuk mengukuhkan titel desa wisata bagi Kampung Kepuh. 50 hari mengabdi bagi kami tidak cukup, kami butuh lebih dari itu untuk setia mendampingi Kampung Kepuh berdiri bangga sebagai desa wisata. Namun kami harus dihadapkan realita, pun kami juga harus percaya bahwa dukungan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sementara kami kembali ke perkuliahan, sembari kami mencari cara lain terbaik untuk mendukung Desa Tanjungjaya. Lokasi : Unit Tanjungjaya, Provinsi Banten


A Trauma Healing Festival Lokasi : Unit Tanjungjaya, Provinsi Banten

Muti’ah Muyassaroh Ilmu Sejarah 2016 Tidak afdol rasanya jika tidak memasukkan festival sebagai program kerja dalam pengabdian mahasiswa sebagai acara puncak sekaligus ajang perpisahan dengan warga. Setelah berembuk dengan petinggi dan pokdarwis (kelompok sadar wisata) Desa Tanjungjaya, kami mengetok palu menentukan 3 Agustus 2019 sebagai waktu pelaksanaan festival. Undangan untuk perlombaan dalam rangkaian acara festival telah disebar di sekolah-sekolah setingkat TK hingga SMK, undangan dari mulut ke mulut juga tak hentinya dilontarkan tiap kami bertemu warga. Pun menjelang hari pelaksanaan, setiap sore selepas ashar pondokan kami pasti ramai dengan anak-anak yang membantu pengadaan dekorasi festival. 2 Agustus 2019, sehari sebelum festival, tepatnya selepas warga pulang dari surai untuk salat maghrib, Desa Tanjungjaya digoncang gempa berkekuatan 7.4 SR yang kemudian disusul dengan peringatan adanya potensi tsunami. Panik dan ketakutan sekaligus trauma dengan gempa dan tsunami yang dialami warga pada Desember 2018 akibat erupsi Gunung Krakatau yang tidak sedikit merenggut nyawa sanak saudara dan harta benda, warga bersama kami berkumpul di titik tertinggi di Desa Tanjungjaya sembari saling menjaga satu sama lain.

Setelah akhirnya BMKG mengakhiri perin gatan dini potensi tsunami, keadaan berangsur-angsur tenang, kami bersama warga kembali ke rumah dengan tetap tidak menurunkan kewaspadaan. Kurang dari 12 jam pelaksanaan festival dimulai, kami dirundung kebingungan mengenai kepastian adanya festival setelah peristiwa yang terjadi. Beberapa opsi dilayangkan, mulai dari tetap dilaksanakan dengan syarat-syarat tertentu hingga tidak diadakan sama sekali mengingat masih adanya trauma yang dialami warga, serta lokasi festival yang hanya berjarak 7 menit perjalanan kaki dari bibir pantai.

Waktu menunjukkan tanggal 3 Agustus, berbekal nasihat dari tokoh desa dan diskusi panjang, festival akan tetap dilaksanakan pada hari ini. Berbanding terbalik dengan ketakutan awal kami yang khawatir warga masih mengalami trauma, gempa yang terjadi semalam tidak menurunkan sepeserpun antusiasme warga. Pagi hari kami memang bergerilya mengabarkan bahwa festival tetap akan dilaksanakan, tetapi kami hanya bisa menjangkau warga sekitar pondokan. Siapa akan menyangka bahkan warga luar kampung tempat pondokan kami pun berdatangan. Festival dipenuhi dengan lebih dari 200 siswa-siswi dari TK hingga SMK serta warga Desa Tanjungjaya yang meramaikan dan larut dalam hiruk-pikuk festival, yang kelak kami akan menyadari dan menamainya sebagai a trauma-healing festival.


Bekal Energi Ragawi dan Rohani Lokasi : Unit Tanjungjaya, Provinsi Banten

Muti’ah Muyassaroh-Ilmu Sejarah 2016 Sebagai salah satu wilayah pendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, Desa Tanjungjaya diharapkan mampu merepresentasikan desa wisata dengan sebaik-baiknya. Wisata yang dapat dipersembahkan juga beragam, wisata alam yang membentang hingga wisata budaya yang banyak ditawarkan. Potensipotensi wisata yang dimiliki banyak yang masih mentah, masih dapat dipertajam dan diasah lagi agar semakin tampak, pun ditilik dari keinginan masyarakatnya yang juga berdaya usaha agar citra desa wisata semakin melekat. Kampung Kepuh, satu dari sekian kampung di Desa Tanjungjaya yang diproyeksikan menjadi destinasi desa wisata merupakan kampung dengan RTM (Rumah Tangga Miskin) terbanyak di Desa Tanjungjaya. Warga Kepuh meyakinkan bahwa obyek wisata alam di sana akan menjadi destinasi wisata yang ke depannya akan mampu meningkatkan kesejahteraan kampung. Bersama 13 bapak inang, kami membuka jalur untuk kali pertama sekaligus melakukan simulasi wisata alam curug –air terjun– untuk dapat dinilai dan dirancang konsep wisata curug yang akan ditawarkan. Seperti pembukaan jalur pada umumnya, medan yang ditempuh tidaklah mudah, berbekal tali tampar, golok, dan senjata tajam lain serta keberanian, membutuhkan waktu total 5 jam berjalan kaki dengan sesekali mendaki perbukitan dan tebing untuk dapat menikmati 3 curug cikal bakal destinasi wisata di Kampung Kepuh. Sebelum perjalanan panjang, masing-masing ibu inang kami dari pangendongan memberi bekal makanan yang sepertinya terlalu banyak untuk ukuran satu porsi makan. Tapi rasanya menyenangkan, serasa seperti mendapat bekal dari ibu sebelum berangkat dan pergi bersama bapak ke sekolah. Perjalanan sudah semakin jauh, medan semakin sulit, tapi kami tidak bisa berhenti untuk kembali. Membayangkan perjalanan 5 jam jalan kaki dengan jalan mulus saja lelahnya luar biasa, terlebih medan yang belum dijamah warga seperti ini, perjalanan kami dari curug ke curug tidak jarang berhenti untuk mengisi ulang kekuatan dan tentu saja keberanian.


Muhammad Aji Wiko Sumbodo Ekonomi Pertanian dan Agribisnis/2016

Tradisi Pencukuran Rambut Gimbal Lokasi : Kecamatan Batur/Jawa Tengah

Tradisi pencukuran rambut gimbal atau biasa disebut dengan “cukur rambut gembel� oleh warga setempat, merupakan tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. Dahulu kala seorang putri cantik bernama Sinta Dewi memesona Pangeran Kidang Garungan. Pangeran berniat mempersunting Sinta Dewi. Gayung pun bersambut, Sinta Dewi menerima lamaran Pangeran Kidang. Padahal, Sinta Dewi belum pernah berjumpa dengan pangeran. Ketika mereka bertemu, Sinta Dewi terkejut karena pengeran Kidang merupakan manusia berkepala kijang. Karena Sinta Dewi terlanjur menerima lamaran, Akhirnya Sinta Dewi menginginkan syarat yaitu dibuatkan sumur dalam waktu semalam saja dan pangeran Kidang menyanggupinya. Akan tetapi saat pangeran Kidang sedang menggali sumur, pengawal Sinta Dewi mengubur Pangeran Kidang dari atas. Karena marah akhirnya Pangeran Kidang bersumpah bahwa keturunan Sinta Dewi akan berambut gimbal.


Kegiatan Pencukuran dilakukan terhadap anak-anak setempat yang memiliki rambut gimbal. Kegiatan bertempat di candi arjuna yang berlokasi di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Pencukuran rambut gimbal juga menjadi salah satu dari rangkaian acara Dieng Culture Festival yang merupakan festival budaya tahunan yang diadakan warga setempat. Upacara pencukuran rambut gimbal menjadi daya tarik sendiri terhadap peserta Dieng Culture Festival. Menurut mereka, kegiatan ini unik karena tidak semua daerah memilii tradisi seperti ini. Kegiatan ini juga sekaligus menjadi penutup dari rangkaian acara Dieng Culture Festival. Kegiatan Pencukuran yang dilakukan oleh pemangku adat dan pemimpin di daerah tersebut mengingat kegiatan pencukuran harus dilakukan secara sakral. Karena konon kalau pencukuran rambut gimbal tidak dilakukan melalui ritual sakral, anak akan menjadi sakit-sakitan. Oleh karena itu kegiatan pencukuran dilakukan oleh orang yang dipercaya di daerah tersebut. Salah satu syarat dalam ritual pencukuran rambut gimbal yaitu keinginan dari anak yang dicukur harus terpenuhi, apa pun permintaannya. Oleh karena itu sebelum kegiatan pencukuran, orang tua ataupun warga setempat harus mempersiapkan keinginan dari anak tersebut. Kegiatan ini sudah menjadi syarat wajib yang harus dipenuhi pada setiap kali acara pencukuran rambut gimbal dilakukan.


Faiza Rahman Hakim-Teknik Geologi (2016)

Sapaan Semesta Gunung Bismo Tegapnya Gunung Sindoro dan Sumbing yang bersekutu dengan utuhnya cahaya bintang. Kemudian perlahan berganti oleh kehadiran sang fajar yang muncul di cakrawala. Di dataran, kabut pun ikut terhempas secara perlahan dan memperlihatkan cahaya peradaban. Seolah memberi pertanda bahwa pagi semakin dekat. Lokasi : Unit Slukatan, Jawa tengah

Pandangan itu dapat terlihat dari jalur pendakian Gunung Bismo yaitu pada Pos 4 Camp area Swetawira, Gunung Bismo. Terletak di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Gunung Bismo merupakan gunung nonaktif yang termasuk kedalam kompleks gunungapi Dieng. Terbentuk setelah pembentukan Formasi Pra-kaldera (episode pertama) yang selanjutnya membentuk aktivitas vulkanik di dalam kaldera (episode kedua) menghasilkan produk – produk vulkanik seperti lava dan jatuhan piroklastika. Proses geologi lanjut seperti proses teknonik, proses eksogenik, dan proses lainnya menyebabkan pembentukan morfologi gunung seperti saat ini. Memliki ketinggian ±2365 mdpl (meter diatas permukaan air laut), gunung tersebut dikategorikan pada gunung yang tidak terlampau tinggi bagi para pendaki. Salah satu jalur pendakian Gunung Bismo terletak di Dusun Silandak, Desa Slukatan, Kec. Mojotengah, Kab. Wonosobo, Jawa Tengah. Jalur pendakian ini memiliki karakteristik medan yang cukup curam dengan jarak tempuh dari basecamp hingga puncak ± 4 Km. Terdapat empat pos yang harus ditempuh sebelum mencapai Puncak Hastinapura (±2338 mdpl) yaitu Pos 1 “Batas Hutan Dewabrata”, Pos 2 “Hutan Pakis Ganggaputra”, Pos 3 “Sigandul Pitamaha”, dan Pos 4 “Camp Area Swetawira”.

Untuk mencapai Puncak Hastinapura tidak memerlukan waktu yang cukup lama, cukup menempuh ± 4,5 jam saja. Pemandangan indah tersuguhkan selama perjalanan menuju puncak, megahnya kaldera purba dapat terlihat di sebelah timur jalur pendakian serta gagahnya Gunung Sindoro dan Sumbing selalu terlihat sepanjang pendakian. Selain itu, terdapat juga tumbuhan dan binatang khas gunung Bismo yaitu tumbuhan pakis yang dapat ditemukan disekitaran Pos 2 serta Lutung Jawa dengan karakteristik ekornya yang panjang dapat ditemukan disekitaran Puncak Hastinapura. Jalur pendakian via Silandak ini baru saja diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah beberapa bulan yang lalu. Oleh karena itu, hampir setiap akhir pekan jalur pendakian ini ramai dikunjungi oleh para pendaki. Tidak hanya memiliki wisata pendakiannya saja tetapi terdapat juga wisata alam lainnya di sekitaran Dusun Silandak seperti Curug manten, Mata Air Mudal dan Jembatan Gantung Slukatan yang berada di Dusun Slukatan. Selain itu, terdapat juga beberapa pemandian air panas di sekitaran Desa Slukatan.


Faiza Rahman Hakim-Teknik Geologi (2016)

Harapan Muda Slukatan Lokasi : Unit Slukatan, Jawa tengah

Tidak hanya Khamid, siswa- siswi lainnnya pun terlihat sangat antusias jika kakakkakak dari UGM ini datang dan mengisi kegiatan baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Seringkali kakak - kakak UGM menekankan pada mereka untuk menggapai cita – cita setinggi mungkin, melanjutkan pendidikan hingga tingkat akhir karena semua itu merupakan bekal bagi mereka untuk berkehidupan. Kehadiran mereka di masa yang akan datang sangatlah diharapkan oleh desa karena dengan segala ilmu yang didapatkannya diharapkan dapat merubah kondisi desa yang berada di bawah garis kemiskinan. Khamid merupakan satu diantara ratusan anak lainnya yang berpeluang besar untuk mengubur mimpi – mimpinya. Sudah selayaknya negara menjamin pendididikan pada anak – anak di usia tersebut karena ilmu pegetahuan merupakan bekal dalam berkehidupan. Pendidikan di negeri ini bukan hanya ditakdirkan untuk segelintir orang yang mampu saja tetapi bagi semua warga negara yang ada didalamnya. Semoga asa anak-anak Slukatan dalam menuntut ilmu tidak pernah patah karena buruknya kondisi pendidikan di desa. Tetap semangat wahai harapan muda generasi penerus bangsa karena sejatinya menuntu ilmu itu sangatlah penting

Menurut Badan Pusat Statistik 2018 di dalam laporannya yang berjudul Kecamatan Mojotengah dalam Angka, populasi di Desa Slukatan didominasi oleh anak - anak dengan rentang usia 0-14 tahun. Tingginya angka tersebut tidak seimbang dengan sarana pendidikan yang ada di Desa Slukatan. Tedapat beberapa sarana pendidikan di Desa Slukatan diantaranya empat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), satu Taman Kanak-kanak, dua Sekolah Dasar (SD), dan satu Madrasah Ibtidaiyah (MI). Permasalahan pendidikan di Desa Slukatan terletak pada minimnya sekolah lanjutan seperti tidak adanya Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Mengengah Atas. Salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdekat ialah SMP Negeri 2 Garung yang terletak di timur Desa Slukatan. Perjalanan yang cukup jauh dengan jarak ± 13 Km harus ditempuh oleh para murid jika ingin melanjutkan sekolahnya ke SMP tersebut. Kondisi geografis Desa Slukatan yang berada di lereng bagian selatan Gunung Bismo dengan ketinggian desa ±1150 mdpl menyebabkan siswa-siswi tersebut harus menuruni kaki gunung terlebih dahulu untuk mencapai sekolah lanjutan tersebut. Kondisi jarak yang cukup jauh dan medan yang cukup curam disertai kondisi jalan yang cukup buruk merupakan beberapa tantangan yang harus dihadapi sebelum bersekolah. Selain itu, tidak tersedianya transportasi umum untuk mencapai sekolah lanjutan tersebut merupakan kendala lainnya. Umumnya siswa-siswi lulusan sekolah dasar lebih memilih melanjutkan usaha orang tuanya yaitu berkebun dibanding melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, beberapa orang memilih untuk merantau untuk mencari pekerjaan di kota dengan berbekal pendidikan tamatan SD. Khamid (8 tahun) kini sedang menduduki kelas 2 di SDN 2 Slukatan. SDN 2 Slukatan sendiri merupakan satu - satunya sekolah dasar yang berada di Dusun Silandak. Tingginya semangat yang dimiliki Khamid ditunjukan dengan raut wajah yang selalu riang ketika mengikuti berbagai program kerja KKN-PPM UGM di SDN 2 Slukatan.


Faiza Rahman Hakim-Teknik Geologi (2016)

Mari Menabung Lokasi : Unit Slukatan, Jawa tengah

Hidup di bawah garis kemiskinan pada daerah tertinggal, warga Desa Slukatan memiliki berbagai permasalahan – permasalahan yang sulit dihadapi, seperti kesehatan dan pendidikan. Pendidikan yang masih sangat minim di Desa Slukatan ditunjukan dengan sedikitnya sarana pendidikan yang tersedia di desa tersebut. Hanya terdapat dua buah sekolah dasar yang sekaligus menjadi tingkat sarana pembelajaran yang paling tinggi. Hal tersebut menjadikan salah satu faktor sebagian besar siswa dan siswinya tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka lebih memilih putus sekolah untuk membantu pekerjaan orang tuanya yaitu berkebun, ada juga yang merantau ke kota dengan tujuan mencari pekerjaan yang lebih layak, dan beberapa diantaranya memilih untuk langsung berkeluarga. Dengan ilmu dasar yang masih sangat minim, tentunya akan menjadi permasalahan terutama dalam hal berkehidupan selanjutnya. Meski dikategorikan kedalam daerah tertinggal dan miskin, bukan berarti masyarakat tersebut miskin akan kemauan belajar, terutama pada generasi mudanya. Kemauan yang tinggi dalam belajar suatu hal yang baru, kemauan untuk membaca berbagai macam buku, dan kemauan untuk terus berkreasi, semua itu ditunjukan dari antusias siswa dan siswi SD Negeri 2 Slukatan ketika kakak-kakak dari KKN PPM UGM melaksanakan program kerja terkait pendidikan. Salah satunya adalah dalam program kerja “Pemberian Pelajaran Keterampilan Membuat Tabungan Sekaligus Memberikan Pendidikan Menabung Bagi Anak-anak SD”. Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja dalam bidang pendidikan yang mengajak siswa – siswi sekolah dasar untuk mengasah keterampilan dalam berkreativitas dan menanamkan nilai pentingnya menabung sejak usia dini.

Program kerja tersebut dikemas dengan konsep yang kreatif dimana masing – masing siswa memiliki kesempatan untuk berkreasi membuat tabungannya sendiri. Bahan dasar yang digunakan berupa karton tebal untuk membentuk tabungannya yang kemudian dibalut oleh hiasan dari kertas lipat. Kreativitas siswa-siswi yang cukup tinggi ditunjukan oleh hiasan yang dibuat pada tabungannya. Beberapa siswa membuat tabungan dengan hiasan tokoh kartun dan beberapa lainnya membuat tumbuh – tumbuhan atau binatang. Masing - masing siswa pun memiliki kesempatan untuk memberikan nama pada tabungan sesuai dengan keinginannya. Selain kreativitas, penanaman nilai giat menabung pun tidak lupa diberikan oleh kakak-kakak KKN PPM UGM. Dengan menyisikan sebagian uang jajannya, siswa dan siswi akan mulai belajar dalam mengatur dan menghemat uang serta bertanggung jawab terhadap sejumlah uang yang dimiliknya. Dengan terbiasanya menabung saat usia dini, diharapkan mereka bisa mengatur uangnya ketika dewasa kelak sehingga setidaknya dapat meningkatkan taraf hidup dari gais kemiskinan.


Faiza Rahman Hakim-Teknik Geologi (2016)

Senam Doreng Silandak Lokasi : Unit Slukatan, Jawa tengah

Dalam rangka memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74, Desa Slukatan mengadakan serangkaian acara untuk memperingati hari jadi tersebut seperti berbagai macam perlombaan dan tentunya upacara 17 Agustus. Kegiatan peringatan HUT RI ke-74 berlangsung selama dua hari, dimulai dari tanggal 17 - 18 Agustus 2019. Lokasi kegiatan bertempat di Lapangan Bismo, Desa Slukatan. Di hari pertama, Lapangan Bismo sudah dipadati oleh warga dari ketiga dusun yang ada di Desa Slukatan yakni warga Dusun Silandak, Dusun Slukatan, dan Dusun Bismo. Pagi itu, semua warga desa mengikuti upacara 17 Agustus dengan tertib. Di siang harinya, berbagai lomba digelar dalam perayaan Agustusan. Tedapat sejumlah lomba yang tak pernah absen dalam perayaan Dirgahayu RI yaitu lomba makan kerupuk, balap karung, tarik-tambang, estafet air, voli air, futsal, panjat pinang, dan senam. Perlombaan 17an tersebut diikuti oleh anak-anak, pemuda hingga orangtua. Pada sore hari, tibalah lomba yang di tunggu-tunggu oleh seluruh warga desa yaitu lomba senam. Lomba ini dianggap sangat bergengsi terutama bagi ibu – ibu dan remaja antar dusun karena merepresentasikan kekompakan yang dimiliki masing – masing dusun. Seketika lapangan bismo dipenuhi oleh warga, tidak hanya orang tua tetapi anak – anak juga memiliki rasa penasaran yang sama. Peserta pertama yang tampil berasal dari tim Dusun Bismo yang selanjutnya diikuti oleh tim dari Dusun Slukatan dan yang terakhir merupakan penampilan peserta dari Dusun Silandak.

Tim yang berasal dari dusun Silandak ini mendapat kesempatan tampil pada urutan terakhir. Senam Doreng merupakan nama dari tim senam Dusun Silandak yang memiliki arti senam untuk mempersatukan persaudaraan. Tim yang memiliki anggota 13 orang ini, diketuai oleh Bu Rustiana, tersusun oleh ibu – ibu dan juga remaja. Tim ini melakukan persiapan yang cukup lama yakni selama dua minggu sebelum lomba diselenggarakan. Tentunya rasa gugup sepintas selalu menghantui tim Senam Doreng sebelum penampilan dimulai. Namun, hal itu dapat diatasi oleh ketua tim yaitu Bu Rustiana. Memiliki sifat yang sangat energik dan periang serta memiliki suara yang lantang, Bu Rustiana tidak henti – hentinya memberikan semangat kepada seluruh anggota tim untuk selalu percaya diri dan tampil maksimal. Tampil dengan kostum atribut Banzer yang lengkap menunjukan bahwa keberanian dan ketegasan tim Senam Doreng sangatlah tinggi. Dibalut dengan rias wajah yang indah dan pipi yang merah mebuat penampilan dari tim ini semakin cantik. Tim ini membawakan dua buah lagu yakni lagu pertama lagu yang dipopulerkan oleh Siti Badriah dengan judul Terong Dicabein yang selanjutnya dilanjutkan dengan lagu penutup berupa lagu yang dipopulerkan oleh Alan Walker, K-391, dan Emelie Hollow yang berjudul Lily. Kedua lagu tersebut ditampilkan dalam versi modifikasi. Banyak dari gerakan senamnya yang menyita perhatian warga sehingga tingkat kepercayaan diri dari tim pun semakin meningkat ketika warga sekitar bersorak sorai dan bertepuk tangan. Usaha keras memang tidak akan menghianati hasil, tim Senam Doreng berhasil mencatatkan namanya sebagai pemenang lomba senam di perayaan HUT RI ke-74 ini dan membuktikan bahwa ibu – ibu serta remaja Dusun Silandak memang tidak main - main dalam hal kekompakannya.


Faiza Rahman Hakim-Teknik Geologi (2016)

Tiga Sahabat Kecil Lokasi : Unit Slukatan, Jawa tengah

Kafa, Delta, dan Abizar merupakan bocah kecil asal Dusun Silandak. Hubungan mereka bertiga tidak hanya sebatas teman biasa tetapi lebih dari itu. Merupakan sebuah refleksi dari arti sebuah sahabat dimana mereka tidak dapat terpisahkan bagai inai dengan kuku. Susah senang mereka lalui bersama serta bisa saling melengkapi satu sama lain. Delta (tengah) si bocah berbaju merah merupakan orang tertua diantara kedua sahabat lainnya, dia memiliki peranan yang penting didalam hubungan pertemanan karena dianggap orang yang paling tua. Kerap kali Kafa dan Abizar selalu mengikuti kemana Delta pergi. Kemudian, Kafa (kiri) yang menggunakan baju loreng hijau memiliki umur yang sedikit lebih muda dari delta, mereka berdua memiliki hubungan persaudaraan sehingga tidak heran jika mereka berdua jauh lebih dekat. Sedangkan, Abizar (kanan) merupakan si bungsu dengan umur yang paling muda diantara ketiganya. Diantara ketiga bocah tersebut, Delta dan Kafa sedang menempuh Pendidikan Usia Dini (PAUD) sedangkan si bungsu Abizar belum besekolah. Ketiganya sering ditemukan bersama di sekitaran Dusun Silandak. Hanya sekedar untuk berkumpul dan bermain menghabiskan waktu bersama karena bagi mereka hal itu sudahlah cukup untuk membuat hari – harinya bahagia. Biasanya mereka berkumpul baik di dalam rumah maupun di luar rumah dengan memainkan berbagai macam permainan anak-anak seperti permainan tradisional, mobil-mobilan, dan bahkan robot-robotan. Pada suatu sore, mereka terlihat sedang bermain pasir di depan pekarangan SDN 2 Slukatan.

Sayangnya, lontaran keras segumpal pasir mengenai wajah Kafa hingga hampir seluruh mukanya tertutup oleh butiran pasir hitam. Sontak Kafa pun menangis dan permainan pun seketika berhenti, tangisan Kafa bagaikan peluit pertanda bahwa permainan telah usai. Kedua sahabatnya pun mencoba membantu membereskan pasir di tubuh Kafa dan beberapa kata maaf tidak lupa mereka ucapkan. Selang beberapa menit kemudian kondisi berubah drastis, lebarnya bukaan senyuman Kafa yang dihiasi dengan gigi yang tanggal dan pipi yang merah seolah - olah menunjukan bahwa kejadian tadi bukanlah suatu permasalahan yang harus dipeributkan. Canda tawa pun menghiasi sisa-sisa waktu bermain mereka di sore yang semakin gelap itu. Bagi mereka bahagia itu sangat sederhana, selalu bersyukur dengan segala apa yang dimiliki dan menikmatinya.


Handhika Pratama Putri Yulianto Ilmu Keperawatan 2015 Lokasi : Mojotengah, Jawa Tengah

Desa Slukatan yang terletak di kaki Gunung Bismo memiliki berbagai keindahan alam salah satunya Gunung Bismo itu sendiri yang menjadi tempat wisata unggulan desa tersebut. Tidak hanya itu, desa Slukatan juga dikelilingi oleh beberapa gunung dan bukit yang menyejukkan mata. Desa Slukatan juga menyuguhkan keindahan deretan 3 gunung yaitu Sindoro, Kembang dan Sumbing yang dapat dinikmati dari dusun Silandak dimana pos pendakian Gunung Bismo berada. Terdapat hamparan ladang pertanian mulai dari sayuran hingga kopi yang menjadi produk unggulan desa tersebut. Meskipun desa Slukatan memiliki berbagai keindahan alam, namun ada beberapa masalah yang ada di desa tersebut. Salah satunya yaitu Kesadaran akan pentingnya mengenyam pendidikan yang lebih tinggi masih rendah. Sebagian besar masyarakat tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SD. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor ekonomi dan lokasi yang jauh dan susah untuk menjangkau fasilitas pendidikan yang lebih tinggi seperti SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Merupakan tantangan bagi kami untuk meningkatkan kesadaran akan penitngnya pendidikan kepada anak – anak desa slukatan. Perlahan kami tumbuhkan semangat untuk selalu belajar dengan berbagai program kerja yang laksanakan. Selain itu kami juga perbaiki fasilitas pendidikan seperti perpustakaan yang sebelumnya kurang layak menjadi perpustakaan yang nyaman untuk membaca buku bagi anak – anak SD. Selain bidang pendidikan, Peningkatan kesadaran untuk perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) ternyata masih dibutuhkan terutama di daerah yang jauh dari akses fasilitas kesehatan seperti desa Slukatan. Salah satu sasaran kami yaitu anak – anak desa Slukatan yang masih memiliki kesadaran dan pengetahuan kesehatan yang rendah. Dengan pendekatan dan metode promosi kesehatan yang tepat, kami dapat mengedukasi anak – anak desa Slukatan dengan suasana yang menyenangkan mulai dari mengajarkan berbagai pengetahuan seputar kesehatan, kebiasaan mencuci tangan, hingga bagaimana menggosok gigi yang baik dan benar. Sehingga harapan kami untuk anak – anak desa Slukatan yaitu meningkatnya kesadaran untuk hidup bersih dan sehat yang dapat dimulai dari lingkungan keluarga dan sekolah.


Syaifulloh Ibnu Mukmin-Sastra Inggris, 2016

Menerbangkan Harapan

“Harapan merupakan alas berpijak sekaligus cahaya penerang dalam kehidupan”, kataku. Seseorang pun berkata padaku, “Menurutku, harapan jadi satu yang menguatkan nyawa untuk bertahan dan berusaha. Oleh karenanya, dia tidak boleh mati.” Begitulah opini kami tentang arti sebuah harapan. Sebenarnya, tak perlu panjang kali lebar untuk menerangkan arti dari sebuah kata ‘harapan’. Cukup dua kata, singkat, mendalam, penuh makna. ‘Cahaya’ dan ‘nyawa’, itulah definisi dari kata ‘harapan’. Layaknya surya yang selalu terbit dari ufuk timur lalu tenggelam di ujung barat atau yang sekedar menggantikannya dikala malam, lunar mungkin atau sang gugusan bima sakti. Mereka adalah cahaya yang menerangi sekaligus nyawa yang menghidupkan bumi dan seisinya. Surya selalu tampil sebagai penghidup harapan bagi mereka yang terbangun di kala subuh. Lunar dan bima sakti, bekerjasama menghidupkan harapan yang sempat padam di kala senja tiba sesaat lalu terbenam. Pun, mereka selalu di atas, di tempat di mana setiap mata dapat melihatnya. Begitu pun dengan harapan setiap insan, diterbangkan untuk menguatkan nyawa yang mungkin sudah terlalu letih dengan kerasnya dunia. Bahkan, bagi sebagian ‘malaikat bumi’, harapan adalah penghidupan atas nyawa mungil yang sudah berbulanbulan dinanti.

Karya visual tersebut diambil sehari sebelum peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia yang ke-74. Tepat pada tanggal 16 Agustus 2019 setelah penayangan film kemerdekaan bersama anak-anak dan pemuda-pemudi dusun Trajon, desa Bojasari, kecamatan Kertek, Wonosobo. Kegiatan penerbangan lampion tersebut memiliki arti mendalam antara mahasiswa KKN-PPM UGM unit JT190 dengan warga sekitar terutama anak-anak dan pemuda setempat. Selain sebagai wujud kedekatan dan keakraban, ada harapan yang ikut diterbangkan bersama lampion-lampion tersebut. Baik harapan pribadi maupun harapan untuk negeri ini, Indonesia. Selagi setiap insan di negeri ini memiliki harapan yang cemerlang, Ibu Pertiwi akan selalu tersenyum. Seperti halnya ‘cahaya’ dan ‘nyawa’, harapan adalah penghidupan dalam siklus manusia. Mulai dari usia yang masih sangat kecil, remaja, dewasa, hingga renta. Harapan adalah penguat setiap makhluk ciptaan Tuhan untuk tetap bernyawa. Harapan dapat dibagikan dan dinikmati setiap insan sebagai suatu virus yang positif. Sudahkah kita memberi harapan kepada orang lain untuk tetap hidup dan mewujudkannya bersama? Lokasi : Dusun Trajon, Desa Bojasari, Kecamatan Kertek, Wonosobo


Rahmi Dwi Agustin-Sosial Ekonomi Pertanian 2016

Tani Tembakau dalam Kejayaan yang Tak Lagi Hijau Lokasi : Desa Bansari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah

Bergegas siapkan kamera, tanpa tas, cukup lilitkan di badan. Iseng sekali sore itu. Sepertinya itu minggu terakhir setelah selama 50 hari tinggal di sana. Berniat mencari momen yang ciamik di Desa Bansari. Dari pondokan ke arah barat sampai tidak menemukan pemukiman. Lalu balik lagi, karena takut. Lanjut keliling dusundusun yang sudah mulai sepi. Pemandangan tanaman tembakau terlihat menawan di sore itu. Melewati sekolah dasar dan masil lurus setelah itu belok ke kanan di pertigaan. Ke arah gedung kesenian. Sampailah di Dusun Malatan. Matikan motor di pinggir jalan dan ‘jepret’. Mengabadikan rajangan mbako yang ditata rapi di pinggir jalan. Terdiam dan membayangkan betapa letihnya mengangkat, menjemur setiap hari. Ada seorang bapak memanggil. Disuruhlah mampir, masuk ke ruangan penuh daun tembakau. Duduk di kursi, disodorkan teh hangat dan kerupuk bersama empat orang buruh tani. Awalnya enggan, malu. Dipaksa, jangan malu kata bapak itu. Padahal hanya pendatang, mampir sebentar saja. Kenal pun tidak. Ramah sekali, sampai masih teringat sampai saat ini. Ngalor-ngidul. Pertanyaan pun muncul. “Asale dari mana mbak?”, “Jogja mawon, caket mriki”. Dan lain sebagainya. Tiba-tiba ditanyai nomer whatsapp oleh seorang laki-laki, yang paling muda disitu. Untuk silaturahmi kata dia. Gelak tawa ibu-ibu. Benar-benar tak terlupakan. Tak mudah memang berbaur dalam hitungan detik. Belum terbiasa berbaur sambil membawa kamera. Serasa kurang sopan. Tapi apa boleh buat kala itu. Nikmati saja waktu yang ada. Mengabadikan keuletan ibu buruh tani sambil ngobrol ngalor ngidul memang sederhana tetapi sangat bermakna.

Daun-daun yang mulai menguning, sudah ditunggu-tunggu. Sinar matahari yang disyukuri setiap hari. Doa tak pernah sekalipun terlewatkan, demi sumber penghidupan satu-satunya. Sudah tua, memang, tapi tak henti bekerja. Memilah dengan rasa syukur, sebagai wujud tuai atas apa yang telah ditabur. Satu persatu, lembar demi lembar. Memilih dengan segenap jiwa yang lapang, sebagai bentuk doa dan pengharapan untuk musim tanam tembakau kembali di masa mendatang. Tangan buruh tani yang memilah memilih dengan keuletan dan memastikan hanya daun terbaik yang mampu lolos seleksi sebelum disesap menjadi kepulan asap rokok. Di balik gemerlapnya dunia cukai rokok, buruh tani tembakau mengais rezeki. Sejak sebelum fajar menyambut hingga terlelap kembali di balik Sindoro, kerutan di tangan ini menjadi bukti bahwa akan selalu ada aktor korban ketimpangan dari megahnya industri kretek di negeri ini.


Okky Fauzan Sadhewa Teknik Industri Pertanian 2016

Jembatan Asa Menuju Kejernihan Hati

Lokasi : Desa Tambakbulusan, Demak

Pada hari itu, 7 Juli 2019, kami tim KKN-PPM UGM bersama warga mengobservasi sebuah kali yang melintasi desa. Kali atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai sungai merupakan saluran air mengalir menuju ke laut. Sungai seyogyanya mengalirkan air dengan mudah dan lancar tanpa hambatan apapun, sehingga tidak muncul aliran baru atau sering disebut sebagai meluap. Luapan tersebut biasanya disebabkan karena dua hal, yaitu adanya endapan di dasar sungai berupa kerikil dan bebatuan atau tumpukan sampah. Sebab pertama adalah faktor alam, sedangkan sebab kedua adalah faktor manusia. Begitulah alasan mengapa muncul gerakan buang sampah tidak di sungai. Meskipun demikian, tentu tidak seluruh orang mau menuruti dan peduli akan hal tersebut. Ada saja warga yang tidak sepakat. Sebuah gerakan bersih-bersih digerakkan oleh salah seorang ketua RT di Desa Tambakbulusan, Demak. Mahasiswa berkolaborasi dengan warga RT bersama-sama menyisir sungai sembari mengambil sampah untuk kemudian dibuang di TPS (Tempat Pembuangan Sampah Sementara). Kondisi sungai yang memiliki karakteristik landai memperparah keadaan. Aliran air yang idealnya cepat nampaknya statis pada realitanya. Hal ini menjadi bahaya sebab bila hujan deras terjadi, bukan hanya air yang mengisi jalanan, tapi sampah yang berbau menyengat pun ikut meramaikan. Bahkan dalam kondisi tidak hujan pun bau tetap saja menyengat. Benar, pagi itu saat membersihkan, kami harus memakai masker dan sarung tangan untuk mentolerir bau tidak sedap. Sampah berjubel bahkan mungkin sudah tahunan mengendap diangkat ke permukaan. Pembersihan yang dilakukan secara manual dengan peralatan terbatas tentu tidak mampu memberantas semua sampah, bahkan ketika dilakukan secara rutin.

Setidaknya sebagai langkah untuk mengurangi sampah juga membentuk pola pikir masyarakat agar paham konsekuensi buang sampah di sungai tidaklah enak. Bagaimanapun, alam ada di sekitar kita. Sudah seharusnya kita sebagai makhluk hidup yang hebat luar biasa mampu menyikapinya dengan bijak. In Frame, para mahasiswa KKN bersama warga berusaha mengangkat sampah dari sungai di sekitar jembatan akses masuk desa. Digunakan berbagai macam peralatan pembantu diantaranya tongkat, pacul, juga saringan. Mereka menggunakan sarung tangan dan masker sebagai perlindungan dari kotor juga bau tidak sedap.


Kampanye Wisata Berbasis Usaha Okky Fauzan Sadhewa Teknologi Industri Pertanian-2016 Lokasi : Desa Tambakbulusan, Demak

Pagi itu, pada tanggal 21 Juli 2019, kami tim KKN-PPM UGM merealisasikan sebuah agenda untuk membersihkan pantai. Sesuai dengan tema kami berkenaan dengan pengembangan desa wisata yang ramah dan mendidik terhadap turis pendatang yang kami tekankan pada sisi Eco Edu Tourism. Pantai dipilih sebab memang menjadi objek wisata unggulan desa tempat kami KKN. Panorama pesisir pantai yang memanjang dipenuhi aneka ragam tanaman bakau menjadikan pantai ini terasa unik dan spesial. Menggandeng lembaga desa seperti BUMDES dan Karang Taruna kami lakukan untuk menghimpun massa yang lebih banyak. Ternyata masalahnya hampir sama dengan sungai yang melintasi desa. Sampah ada dimana-mana, baik itu di pasir pantai juga di sekitar tanaman bakau yang mengendap bersama tanah becek.

Peralatan manual seperti tusuk sampah kami gunakan untuk memudahkan kerja kami. Selain itu masker dan sarung tangan juga wajib dikenakan sebagai perlindungan ekstra. Butuh tenaga ekstra juga kecermatan untuk mengambil endapan sampah yang terkamuflase sebab tertutupi lumpur. Terlebih kami harus melakukan operasi itu secara cepat, sebabnya adalah banyak serangga seperti nyamuk bersarang di sekitaran sampah tersebut yang bisa menimbulkan efek sakit berupa bentol-bentol parah jika tergigit. In Frame, mahasiswa KKN bersama anak-anak desa saling menukar senyum ketika mengangkut trashbag berisi sampah ke tempat pembuangan di area pantai. Pengangkutan dilakukan secara berhati-hati sebab isi yang penuh dijaga supaya tidak tumpah juga agar tidak robek di tengah jalan. Lokasi foto pada area tracking mangrove Pantai Glagah Wangi atau Istambul, Desa Tambakbulusan.


Tarian Api Pengobar Semangat Okky Fauzan Sadhewa Teknik Industri Pertanian 2016 Lokasi : Desa Tambakbulusan, Demak

Pada pagi itu, 4 Juli 2019, kami datang sebagai warga sementara desa yang membawa berbagai misi diantaranya memasyarakat. KKN adalah saat yang tepat bagi mahasiswa untuk lebih dekat sekaligus mengenal masyarakat di desa lokasi KKN. Terdapat banyak elemen masyarakat yang hadir sebagai entitas-entitas yang saling berhubungan satu sama lain membentuk aktivitas kemasyarakatan. Persebaran berdasarkan umur dapat digolongkan menjadi tiga kelompok meliputi anak-anak, dewasa, dan lanjut usia. Kami diberikan kesempatan yang lebih oleh desa untuk mengenal elemen anak-anak. Alhasil muncul berbagai program yang melibatkan generasi penerus desa misalnya seperti kegiatan belajar mengajar dan praktik bersih lingkungan. Pada kenyataannya, mahasiswa tidak selamanya menjadi pengajar yang membagikan ilmunya kepada masyarakat, ada kalanya mahasiswa mendapatkan ilmu berharga baik itu berupa pengetahuan maupun praktik melakukan sesuatu. Seperti yang terjadi pada pagi hari itu disaat anakanak berkumpul berkenalan dengan kami di sebuah lahan persawahan. Ketika sedang asyik bernyanyi, muncul beberapa anak datang membawa obor dan selongsong bambu lengkap dengan minyak tanah.

Tanpa mengenal rasa takut mereka mendemonstrasikan dan melakukan atraksi kepada kami. Terlihat keceriaan di wajah anak-anak sebab telah berhasilnya mereka mengenalkan sebuah tradisi yang masih dilestarikan. Sebuah atraksi penuh kehati-hatian yang mengundang decak kagum dan rasa ngeri sebab hadirnya si jago merah. In Frame, sekelompok anak bermain api melalui sebuah selongsong bambu yang berisi minyak tanah. Keceriaan, kegembiraan, senyuman, dan gelak tawa muncul ketika api berhasil menari-nari di udara ketika ditiup dengan penuh keberanian dengan latar belakang lahan persawahan dalam suasana pagi hari.


Membangun Asa Semangat Persatuan Okky Fauzan Sadhewa Lokasi : Teknik Industri Pertanian 2016 Desa Tambakbulusan, Demak

Pada hari itu, 17 Agustus 2019, bendera nasional merah putih berkibar di seluruh daerah di Indonesia secara serempak. Hal itu terjadi disaat datang bulan kemerdekaan setiap Bulan Agustus. Rasa nasionalisme yang tinggi menjadi salah satu penyebab terciptanya fenomena itu. Seringkali perayaan menyambut hari kemerdekaan diadakan secara meriah oleh masyarakat, tidak terkecuali di Desa Tambakbulusan, Demak. Bahkan masyarakat disana mengambil momen hari kemerdekaan sebagai salah satu ajang promosi desa wisata. Digabungkanlah acara kemerdekaan dengan kegiatan karnaval tahunan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, semua melebur pada hari itu, menjadi suatu hari yang cair dan sungguh meriah.

Karnaval dikemas dalam konsep parade atau pawai berjalan dari ujung ke ujung desa sembari menampilkan kreativitas masyarakat setiap RT sebagai peserta baik berupa drama, lakon, tarian, nyanyian dalam balutan fashion unik nan menarik. Budaya karnaval ini sudah menjadi saat yang ditunggutunggu oleh setiap warga desa. Selain sebagai bentuk ekspresi kreativitas masyarakat, karnaval ini dijadikan sebagai salah satu jenis perlombaan utama pada lomba tujuhbelasan antar RT dengan hadiah berupa piala dan uang pembinaan. Hal tersebut menjadikan mereka lebih totalitas dalam mencuri perhatian juri perlombaan juga menambah decak kagum penonton yang memagari pawai tersebut. Peserta yang ikut melibatkan bukan hanya oleh orang dewasa tetapi juga melibatkan anak-anak. In Frame, sekelompok anak-anak usia SD sedang menampilkan kepiawaiannya baris berbaris dipandu oleh salah seorang mahasiswa KKN. Hal ini pada saat atraksi di acara karnaval bertempat di jalan depan rumah kediaman kepala desa yang disaksikan banyak pasang mata.


Safira Adi Nareswari Antropologi/ 2016 Lokasi : Desa Wonogiri, Kajoran, Magelang- Jawa Tengah

Suatu hari, teman saya mendapat giliran mengajar dan saya giliran mendokumentasikan kelas ini, saya mendapati suasana seperti dengan difoto. Dari sinilah saya dan teman saya mendapatkan kesan terbaru yakni cara belajar anak anak kelas 2 (dua) yakni anak anak diberi waktu untuk bermain main terlebih dahulu sampai disaat mereka merasakan yang namanya ‘capek’ maupun ‘bosan’. Jikalau anak anak belum merasa ‘bosan’ maupun ‘capek’, teman saya ‘memancingnya’ dengan duduk di depan dan beberapa anak ikut duduk sambil membaca buku dan berdiskusi. Akhirnya, lambat laun anak anak yang tadinya selalu ‘bermain’ (berlarian dan ngusili temannya) mulai mengambil buku dan ikut duduk untuk belajar bersama di depan.

Dibalik pengambilan foto ini, banyak sekali peristiwa yang bisa dibilang ‘wow’ dan ‘amazing’. Bahkan sangat jauh dengan ekspektasi kami sebagai mahasiswa KKN yang mengajar di sekolah tersebut. Sekolah ini bernama SDN Wonogiri, sekolah berstatus negeri satu satunya di desa Wonogiri yang terletak di dusun Tuanan. Kelas 2, yang menurut pemahaman kami adalah anak anak yang manut dan bisa diatur. Akan tetapi, pemahaman kami yang dulu sudah tidak berlaku lagi disaat saya membantu teman saya mengajar di hari pertama. Kelas 2 (dua), saat ini menjadi kelas yang dimana anak anaknya sangat ‘nakal’, ‘sulit diatur’, ‘berisik’, usil, dan masih banyak lagi. Hari demi hari, kami bergantian mengajar dan seusai mengajar mempunyai kesamaan kesan seusai mengajar murid kelas 2.

Selain inisiatif dari kakak KKN (begitulah anak anak menyebutnya) untuk memberikan contoh yang baik, ‘diskusi’ menjadi metode kedua untuk mengalihkan perhatian beberapa anak kelas 2 (dua) yang masih bermain dan sangat sesuai diterapkan pada sekolah yang telah menerapkan (Kurikulum 2013), termasuk SDN Wonogiri ini. Diskusi tersebut tidak hanya seputar materi pelajaran saja, tetapi juga diselingi dengan diskusi mengenai cita cita, nama, dan aktivitas sehari hari. Adik adik kelas 2 (dua) ini sangat antusias dan senang dengan metode diskusi. Saking senangnya, jam sudah menunjukkan pukul 11.00, artinya tanda adik adik kelas 2 (dua) pulang sekolah. Akhir kata, ada 1 (satu) kalimat yang terlintas dalam pikiran yakni ..“ Kreatifitas dalam menciptakan metode mengajar sangat dibutuhkan namun tanpa melibatkan perasaan ‘asih’ dan ‘asuh’, kreatifitas yang diterapkan tidak akan berjalan dengan baik.”..


Safira Adi Nareswari Antropologi/ 2016 Lokasi : Desa Wonogiri, Kajoran, Magelang- Jawa Tengah

Berbagai lauk pauk yang dibuat dan diletakkan mengelilingi tumpeng nya menggambarkan ciri keunikan yang terlihat dari masing masing lauk. Ditambah uniknya dengan cerita dibalik pembuatan puncak tumpengan nya tersebut yang mendekati mulainya acaranya beberapa menit lagi.. Alhasil, walaupun puncak tumpeng tersebut hanya bertahan pada saat dibawa ke aula kantor desa (sebelum tumpeng tersebut dipotong dan di hidangkan kepada para tamu undangan), tetapi tamu undangan bisa menikmatinya. Tumpeng inilah yang menjadi media untuk mengungkapkan bentuk syukur sekaligus bentuk rekonsiliasi masyarakat desa Wonogiri berdamai dengan konflik yang terjadi pada masa lalu. Proses dibalik layar pembuatan tumpengan ini tidak hanya dibuat seorang diri saja, melainkan kami mahasiswa yang ber KKN di desa Wonogiri sangat Cerita dan memoar, menjadi salah satu media yang paling terkesan antusias membantu menyusun lauk dengan berkolaborasi bersama dalam mengulik seluk beluk mengenai desa Wonogiri sendiri ibu ibu kader posyandu dan 1 (satu) mbak yang bekerja di kelurahan. dan juga makna dibalik pembuatan nasi kuning untuk tirakatan. Kondisi awal tumpeng dibawa dari rumah ke salah seorang ibu kader Dahulunya, Wonogiri pernah terjadi konflik yang melibatkan tidak posyandu belum ada puncaknya. Sesampainya di sebuah bangunan hanya melibatkan beberapa dusun, tetapi juga pernah melibatkan bertuliskan “POS PAUD Sakura”, teman teman KKN langsung gercap desa sekitar. Namun, dari sini Desa Wonogiri mencoba terus belajar mencoba membuat puncak tumpeng tersebut, namun yang menjadi yang namanya untuk bisa ‘nerimo’ dan menyelesaikan permasalahan kendala adalah ibu ibu kader tidak punya cetakan kerucut dari bahan secara kekeluargaan. Hari berganti hari, tahun berganti tahun, dan seperti cetakan kue. Akhirnya, untuk mengatasi tersebut, jadilah zaman berganti zaman, desa Wonogiri semakin berbenah dari masa kertas coklat bungkus makanan kemudian digulung membentuk lalunya. Usaha berbenah tersebut mulai dari mengadakan karnaval kerucut untuk cetakan puncak tumpengnya itu. Hasil pertama, dengan mengundang desa sekitarnya untuk berpartisipasi dan puncak tumpeng bisa bertahan, namun hanya beberapa menit saja. mengundang kyai dari berbagai desa sekitar pada acara malam Kesal, 3 orang mahasiswa KKN yang membuat puncak tumpeng tirakatan 17 Agustus. Tidak hanya undangan dalam acara saja, tetapi tadi mencoba cara kedua dan hasilnya yak berhasil bertahan lama juga lewat makanan Tumpengan (Nasi Kuning). Tumpengan menjadi sodara sodara. Akan tetapi, rasa senang tersebut tidak bertahan lama, salah satu potret desa Wonogiri dan juga desa di seluruh Indonesia bu lurah bilang “Yah, itu puncak tumpengnya ambles mba”. Yasudah, kami semuanya hanya bisa nerimo dan menahan malu. tentunya untuk mewujudkan rekonsiliasi dan toleransi.


Safira Adi Nareswari Antropologi/ 2016 Lokasi : Desa Wonogiri, Kajoran, Magelang- Jawa Tengah

… “Halohalohalo, kakak kakak perkenalkan kami adalah anak anak dusun Salakan yang bersekolah di perguruan Muhammadiyah desa Wonogiri, ada yang SD dan TK. Kami semua sebagian besar tinggal di dusun Salakan- Tangkil. Seluruh warga dusun yang ada di desa Wonogiri mulai dari Ngemplak- Bleber, Tuanan Pengkol, Sabrang- Bompon mengenal dusun kami (Salakan- Tangkil) sebagai markasnya orang orang Muhammadiyah. Kenapa markas..? – karena warga dusun kami sebagian adalah orang orang Muhammadiyah. Sekolah kami juga sangat dekat jaraknya yakni SD Muhammadiyah dan TK ABA Muhammadiyah seperti yang sudah dikasih tau diawal. Sekolah kami ada 6 (enam) kelas kayak sekolah pada umumnya, tapi yang membedakan dengan sekolah negeri adalah jumlah muridnya. 1 (satu) kelas nya ada yang jumlahnya 8 murid, 12 murid dan bahkan ada yang 6 murid saja, tetapi dengan jumlah yang sedikit membuat kami jadi efektif belajar nya dan lebih mudah memahami materi nya. Katanya orang orang, sekolah kita ini adalah sekolah yang paling tua di desa Wonogiri dan sering langganan juara UN, Alhamdulillah. Sekolah kami sangat terbuka sekali, tidak hanya anak anak Muhammadiyah (anak anak Salakan) saja yang bersekolah disini, tetapi tidak menutup kemungkinan anak anak NU juga bisa bersekolah disini dan kami bermain bersama sama, tidak memandang dia Muhammadiyah ataupun NU. Oiya, katanya masyarakat sini, desa Wonogiri adalah ‘miniatur nya Indonesia’. Kok bisa..?- Udah segitu dulu ya cerita kami kak, kami pamit undur pulang dulu. Sampai ketemu besok”…

Itulah penggalan cerita yang dibangun atas hasil pengamatan dan terlibat mengajar serta interaksi dengan murid murid di sebuah sekolah Muhammadiyah tertua di desa Wonogiri. Cerita sedikit mengenai desa Wonogiri yang mempunyai 4 dusun yakni Tuanan- Pengkol, Sabrang- Bompon, Ngemplak- Bleber dan Salakan- Tangkil. Setiap dusun nya dihuni oleh 3 kelompok agama yang bisa dibilang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia yakni NU, Muhammadiyah dan LDII. Dusun Salakan- Tangkil sebagian besar warganya ‘menganut’ Muhammadiyah. Dusun Ngemplak- Bleber dusun Tuanan- Pengkol dan Sabrang- Bompon sebagian besar ‘menganut’ NU. Serta, dusun Pengkol dan sebagian Ngemplak warganya ‘menganut’ LDII. Namun, dengan masing masing ‘menganut’ kelompok agama nya masing masing, tidak membuat masyarakatnya tercerai berai apalagi dengan anak anak Wonogiri. ‘Miniatur Indonesia’ inilah yang membuat mereka sadar dan bergerak bahwa mereka- anak anak Wonogiri adalah ‘agen perubahan’ untuk menyerukan dan menjaga persatuan perdamaian dengan senyum khas anak anak Indonesia.


Muhammad Naufal Erzal Kedokteran Hewan 2016 Lokasi : Desa Palon dan Desa Kemiri, Kabupaten Blora, Jawa Tengah

Berpakaian serba putih, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau juga disebut Paskibraka Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora berjalan dengan gagah dan rapi saat melaksanakan tugasnya dalam peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 di Lapangan Kridaloka Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Anggota Paskibraka Kecamatan Jepon ini merupakan gabungan siswa/i dari berbagai Sekolah Lanjut Tingkat Atas (SLTA) di Kecamatan Jepon. Kegiatan berlangsung pada tanggal 17 Agustus 2019 sejak pukul 07.00 WIB yang diikuti oleh seluruh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) Kecamatan Jepon dan perwakilan siswa dari berbagai sekolah di Kecamatan Jepon. Upacara dipimpin langsung oleh Camat Jepon, Ani Wahyu Kumalasari, S.STP, M.A.


Muhammad Naufal Erzal Kedokteran Hewan 2016 Lokasi : Desa Palon dan Desa Kemiri, Kabupaten Blora, Jawa Tengah

Raut gembira terlihat dari wajah seorang anak yang mengikuti permainan “Estafet Air” dalam perlombaan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 di Desa Palon, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora yang diadakan oleh mahasiswa tim Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Unit JT-147 Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora bersama dengan pemuda Desa Palon. Perlombaan ini dilakukan di depan pondokan mahasiswa KKN-PPM UGM Unit JT-147. Sasaran kegiatan ini merupakan anak-anak usia 5-12 tahun untuk mengisi momen peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke74. Perlombaan semacam ini rutin dilakukan setiap tahunnya oleh pemuda Desa Palon dan pada tahun 2019 ini dilakukan dengan berkolaborasi bersama mahasiswa tim KKN-PPM UGM Unit JT-147 Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Anak-anak begitu antusias mengikuti kegiatan ini, bukan karena hadiahnya, namun kegiatan seperti ini memang yang mereka nantikan setiap tahunnya, ditambah pada tahun ini mereka kedatangan kakak-kakak mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam tim KKN-PPM UGM Unit JT-147 ini. Selain permainan “Estafet Air”, ada beberapa permainan lainnya yang dilombakan, seperti “Estafet Karet dengan Sedotan” dan “Memasukkan Paku ke Dalam Botol”.


Muhammad Naufal Erzal Kedokteran Hewan 2016 Lokasi : Desa Palon dan Desa Kemiri, Kabupaten Blora, Jawa Tengah

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Unit JT-147 (dari kiri ke kanan: Arip Ripki Nurpatoni, Lazuardi Akmal, Eko Setyawan) saat mengikuti permainan “Memasukkan Paku ke Dalam Botol” bersama anakanak Desa Palon, Kabupaten Blora dalam kegiatan lomba memperingan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 di depan pondokan mahasiswa KKN-PPM UGM Unit JT-147. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara mahasiswa tim Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKNPPM) Unit JT-147 Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora bersama dengan pemuda Desa Palon. Sasaran kegiatan ini merupakan anak-anak usia 5-12 tahun untuk mengisi momen peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-74. Perlombaan semacam ini rutin dilakukan setiap tahunnya oleh pemuda Desa Palon dan pada tahun 2019 ini dilakukan dengan berkolaborasi bersama mahasiswa tim KKN-PPM UGM Unit JT-147 Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Anak-anak begitu antusias mengikuti kegiatan ini, bukan karena hadiahnya, namun kegiatan seperti ini memang yang mereka nantikan setiap tahunnya, ditambah pada tahun ini mereka kedatangan kakak-kakak mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam tim KKN-PPM UGM Unit JT-147 ini. Selain permainan “Memasukkan Paku ke Dalam Botol”, ada beberapa permainan lainnya yang dilombakan, seperti “Estafet Karet dengan Sedotan” dan “Estafet Air”.


Muhammad Naufal Erzal Kedokteran Hewan 2016 Lokasi : Desa Palon dan Desa Kemiri, Kabupaten Blora, Jawa Tengah

Kembang Gula Kelapa, salah satu jajanan khas Desa Palon yang dibuat oleh Mba Nurul, salah seorang warga di Desa Palon. Sesuai dengan Namanya, jajanan ini terbuat dari bahan utama gula yang dipanaskan kemudian dicampur dengan parutan kelapa yang ditambah dengan pewarna makanan untuk mempercantik tampilan dari makanan ini. Pembuatan makanan ini awalnya hanya sebagai bentuk percobaan saja, disajikan untuk kegiatan di sekitar rumah. Namun, lambat laun ternyata makanan ini menjadi favorit bagi warga Desa Palon bahkan sudah sampai ke luar desa. Proses pembuatan jajanan ini tidaklah sulit, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM Unit JT-147 diajarkan langsung bagaimana membuat makanan ini. Pada awalnya masukkan gula ke wajan, kemudian panaskan hingga gula meleleh dan berwarna kecoklatan, lalu masukkan parutan kelapa kemudian aduk hingga tercampur antar gula dan kelapa. Sampai proses ini sudah cukup sebenarnya, namun untuk mempercantik tampilan, dapat ditambahkan pewarna makanan secukupnya saat mencampurkan gula dan parutan kelapa pada wajan. Setelah itu, bagi-bagi campuran bahan di atas wadah bersih lalu tunggu hingga kering. Lama pembuatan makanan ini tidak lebih dari 30 menit. Hanya saja perlu kehati-hatian saat mencampur gula dan kelapa, jangan sampai terlalu lama yang dapat berakibat makanan menjadi gosong.


Muhammad Naufal Erzal Kedokteran Hewan 2016 Lokasi : Desa Palon dan Desa Kemiri, Kabupaten Blora, Jawa Tengah

Ekspresi bahagia mewarnai wajah murid SD Negeri Palon saat mahasiswa Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM Unit JT-147 melaksanakan program kelas tambahan mengajar Bahasa Inggris. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa KKN-PPM UGM Unit JT-147 terhadap pendidikan terutama pengenalan Bahasa Inggris kepada anak-anak karena tidak adanya mata pelajaran Bahasa Inggris di SD Negeri Palon ini. Harapannya, dengan kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan anak-anak setidaknya dalam mengenali Bahasa Inggris yang dapat bermanfaat di kemudian hari.


Putri Syakira-Gizi Kesehatan (2016)

Lestari Alamku Lokasi : Kalibawang, Kab. Kulon Progo


Degan adalah salah satu daerah pedukuhan yang terletak di bagian selatan Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, yang langsung berbatasan dengan Kecamatan Nanggulan di selatannya. Penduduk mayoritas bermata pencaharian petani, dengan hanya beberapa sebagai pegawai negeri atau pekerjaan kantoran lain. Karena kondisi ini, kelompok tani dan ternak terbentuk di Degan I. Desa tempat saya tinggal, Kita akan bisa melihat keindahan alam yang merupakan kombinasi dari keindahan sawah, Pegunungan dan sungai. Selain itu, Dari desa kita akan bisa melihat keindahan bukit-bukit saat udara cerah. Setiap pagi warga yang ada di desa selalu berangkat kesawah setelah mereka selesai melaksanakan sholat subuh. Di Banjararum yang jauh dari keramaian, bersih udaranya dan sangat sejuk, desa ini terpencil dan sangat sedikit penduduknya. Disaat malam hari cuacanya sangat dingin Degan 1 nama pedukuhanku. Masyarakat di sana masih sangat minim dengan alat transportasi, walaupun demikian masyarakat di desa tetap makmur karena dengan adanya pendidikan di sana itu menjadi salah satu perubahan yang dapat mendorong warga desa banjararum semakin maju dan berkembang. Di desa tempat ku tinggal bersama ibu dukuh, beliau mempunyai rumah yang sangat sederhana.

Pemandangan alam pedesaan biasanya akan identik dengan keberadaan sawah dan pohon dengan ukuran sedang. Selain itu, Adanya sungai juga akan menambah suasana alami khas pedesaan. Selama ini, Sawah dan sungai telah menjadi karakter khas dari pemandangan desa. Hal in terjadi karena sungai akan menjadi sumber untuk pengairan sawah agar tetap subur. Suasana sejuk begitu terasa menjelang terbitnya sang fajar di ufuk timur menuju ke barat untuk menyinari padukuhan ini. Kondisi alam yang masih lestari nan hijau mendukung produktivitas pertanian sebagai aktivitas utama penduduk desa Kecamatan Kalibawang ini. Kami berharap semoga desa ini tetap lestari walaupun kami tau bahwa desa ini sudah terancam gundul, produksi pertania akan menurun, suasana sejuk akan berubah menjadi gerah setiap saat, kearifan lokal akan tergeser oleh multikulturalisme dan kemungkinan terparah yang kami khawatirkan adalah hilangnya identitas desa ini. Yaitu desa kecil di daerah Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Dalam foto pemandangan alam pedesaan, Terlihat adanya sawah yang baru saja ditanami padi, Sehingga nampak hijau dan segar. Selain itu kita juga bisa melihat pohon-pohon di tanah persawahan dengan warna hijau segar. tentu ini menambah keindahan suasana pedesaan. Selain itu, Saudara juga bisa lihat foto keindahan perpaduan langit dan sawah pagi hari yang indah.


Putri Syakira-Gizi Kesehatan (2016)

Bahagia Tanpa Batas Lokasi : Kalibawang, Kab. Kulon Progo

Sejak mataku menemukanmu tersenyum diantara terik hari, gugur dan semi bukanlah musim. Tubuhmu kini langit yang menyimpan bintang dan aku berteduh dibawahmu, kau memamerkan bulan sabit lewat senyum suka cita bibirmu telah menjadi obat bagi memar luka-lukaku, aku tak bisa pergi dan meninggalkanmu, hanya dengan melihat senyuman bocah ini aku bisa bayangkan warna keluarganya tentulah warna cinta, bibirmu laksana alat musik yang mampu mengusik lirik rinduku dengan asyik, mereka lah sosok lelaki dan perempuan yang telah kunamai dengan sebutan senyaman dan senyuman. Semata dunia tahu, jika aku tergelincir di bibir tempat senyummu terlahir. Kusangka kau penyair yang menciptakan puisi lewat tarikan bibir diwajah indah nan rupawan, kabut dan daun yang kedinginan itu tentu kini merasa hangat karena senyumanmu, ku miringkan kepala saat ku lihat senyummu, ku lihat banyak hati yang terpikat sesaat kau menyadari bayak yang ingin bersamamu membersamai angan-anganmu. Jika bumi hanya berisi senyuman-senyuman yang manusia buat, aku selalu membayangkan betapa setan akan bertaubat dan mendengar mereka tak berhenti membicarakan warna senyum indahmu. Kau bisa buta aksara, tapi senyumku akan tetap mampu kau baca, sehingga sepekat apapun warna yang membungkus tubuhmu mampu menerangiku hingga dasar desir hatimu. Kini aku tak punya daya bicara untuk mengungkapkan segala rasa, cahaya pagi semakin hangat sejak mencium wajah yang menyimpan senyummu. Ku ungkapkan segala rasa agar kau biarkan senyummu membuyarkan rindu-rindu yang tak pernah mampu untukku bayar.

Seandainya pelangi pulang tanpa mejikuhibiniu-nya, senyumanmu tetap jadi warna pelangi yang paling indah, tuhan sengaja menciptakan senyuman manusia sebagai segala duka lara dunia, ku intip lubang kamera dan ku lihat rona kemerahan yang kau pancarkan, sehingga ku tahu kau menyelinap dikepalaku dan meledakkannya , kau menetap dihatiku lalu merebut seisiku, ketika kau berbicara pada udara barangkali hidup adalah asal, asal lengkung senyum yang sering melengking di sela degup jantung saat ku melihatmu. Lihat aku, kini asa ku selalu saja berlari, menerjang dan terdiam berharap caramu memelukku tak melulu melalui kedua tangan. Kurasa benar, ruang itu kian riang sejak senyummu terpasang dibawah sepasang mata yang menatap mataku dan kutahu saat ini tuhan sedang pamer isi surga dengan menciptakan senyumanmu yang sepakat jadi sepikat ialah sepaket senyumanmu akan menjadi dunia baru lewat langit dan jilbabmu yang memburu biru itu yang akan menjadi sepasang sayap yang selalu siap mengajakku terbang dan terbangun dari mimpi buruk untuk menikmati indahmu di Negara ku Indonesia.


Putri Syakira-Gizi Kesehatan (2016)

Kartini Masa Kini Lokasi : Kalibawang, Kab. Kulon Progo

Setelah pertandingan bola air selesai selanjutnya adalah lomba memasukan pensil ke dalam botol, kalau ini Ahmad juaranya. Dia berturut-turut memenangkan juara 1 dalam lomba ini, makanya pada saat ada lomba ini sudah pasti Ahmad akan ikut serta. Tidak butuh “17 agustus tahun 45‌ itulah hari kemerdekaan kitaâ€?. Yaa.. itulah salah satu lirik lagu kemerdekaan yang sering dinyanyikan pada waktu lama untuk Ahmad memenangkan lomba ini, hanya dengan sekali percobaan Ahmad langsung saat HUT RI. Cerita ini dimulai pada saat kami merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia. Pada memenangkan lomba ini. tanggal 17 agustus kami pasti akan mengadakan berbagai jenis lomba, ada lomba makan kerupuk, balap karung, memasukkan paku ke dalam botol, main bola, Ternyata lomba yang diadakan pertama yaitu lomba saja jagoan kami Dimas dan masih banyak lagi yang lainnya. Selain lombanya yang banyak, hadiah yang makan kerupuk tentu disiapkan pun berasal dari anak kkn dan pemuda desa tak heran banyak orang mewakili kami untuk mengikuti lomba itu. Tentu saja mulai dari yang paling muda sampai yang tua pun ikut memeriahkan, entah itu ada alasan tertentu mengapa sampai Dimas memilih lomba makan kerupuk, yaa tentu saja karena Dimas mengikuti lomba ataupun yang cuma menonton saja. tukang makan dan kerupuk yang digunakan di lomba Tidak terasa sudah jam setengah 3, saya pun segera pergi ke lapangan untuk ini menggunakan kerupuk yang ukurannya lebih melihat lomba yang diadakan. Sesampainya saya di sana, saya sempat kaget besar dibandingkan kerupuk yang biasa kita makan, karena banyaknya orang yang sudah datang padahal belum jam 3 tepat tapi makanya Dimas memilih lomba ini. Akhirnya lomba para warga sudah berdatangan. Saya pun pergi ke tempat kerumunan banyak pun dimulai, lomba ini dikuti oleh 5 orang termasuk warga yang ternyata disana sedang diselenggarakan lomba bola air yang diikuti Dimas. Pada saat peluit dibunyikan semuanya tanpa oleh perempuan dan laki-laki. Aku melihat lomba bola air yang tidak pernah pikir panjang langsung menyambar kerupuk yang di sebelumnya saya temukan di daerah saya RIAU, lomba dimainkan di sawah yang gantung, walau mulut mereka semua penuh tetap ada lumpurnya dengan pemain yang tidak seperti biasanya, kali ini lomba bola saja mereka melanjutkan makan sampai kerupuk air juga diikuti oleh anak perempuan yang ada di desa kkn saya, dengan penuh yang di atas kepala mereka habis termakan. dan tentu semangat pantang menyerah demi mengalahkan pemuda desa yang kala itu juga saja dengan kecepatan dan kelaparan yang melanda Dimas berhasil di posisi pertama. mengikuti pertandingan.


Putri Syakira-Gizi Kesehatan (2016)

Aku Untuk Indonesiaku Lokasi : Kalibawang, Kab. Kulon Progo

Indonesia, Negara yang memiliki ribuan pulau serta keindahan alam yang membuat semua mata terpana. Sungguh bangga aku dilahirkan di tanah air tercinta ini hingga sampai sekarang aku masih berpijak di tanah negeri tercintaku. Ketika itu, matahari bagai mengapung diatas kepala, dan hari akan terasa sangat panjang. Tak ada pepohonan, tak ada gedung-gedung, hanya tanah lapang yang tak terjangkau jarak pandang. Orang-orang berlalu untuk mencari naungan tempat berteduh

Namaku Annisa Permata, seorang anak yang terlahir dan dibesarkan oleh keluarga yang sangat menyayangi anak-anaknya. Aku adalah seorang anak yang memiliki segudang harapan terhadap negeri ini, bagiku menjadi generasi muda itu bukan sekedar cerdas tapi seorang generasi itu adalah seorang yang mampu menjaga, melindungi dan membanggakan negerinya. Aku memang sangat menyukai keindahan. Hari yang paling menyenangkan adalah Hari Kemerdekaan .

Menurut temanku , hari tersebut adalah hari yang paling membosankan karena guru pasti akan bercerita panjang lebar tentang para pahlawan. Namun menurutku kegiatan itu membuatku menjadi mengetahui lebih banyak tentang pahlawan-pahlawan Indonesia. Sekolah kami juga mengadakan upacara untuk menghormati para pahlawan pada tanggal 17 Agustus . Kami mengheningkan cipta dengan iringan musik piano yang merdu . Aku sangat sedih karena banyak anak yang bermain-main saat upacara dilaksanakan . Mereka sangat tidak menghargai para pahlawan yang telah berjuang keras . Mungkin jika bukan jasa para pahlawan mereka mungkin belum hidup dengan keadilan pada masa ini .


Putri Syakira-Gizi Kesehatan (2016)

Sang Juara Lokasi : Kalibawang, Kab. Kulon Progo

Lomba gebuk bantal Agustusan sangat unik dan menarik untuk dilihat, adu kekuatan keseimbangan dari peserta menjadi perhitungan tersendiri bagi peserta lomba. Bertepatan di Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Pemuda pemudi karang taruna mencoba membangkitkan semangat perjuangan dengan lomba gebuk bantal ini. Peserta lomba gebuk bantal pun sudah diberi aba-aba untuk tidak memukul dibagian kepala dan hanya diperbolehkan memukul dibagian tangan dan kaki saja. Lomba diadakan di salah satu rumah warga yang memiliki kolam ikan yang sudah tidak terpakai lagi, lomba sangat banyak mengundang antusias warga mulai dari laki-laki, tradisi adu gebuk bantal ini juga diikuti kaum perempuan. Mereka tidak mau kalah dengan kaum laki-laki untuk unjuk kebolehan beradu gebuk bantal. Penonton terlihat lebih bersemangat menyaksikan gebuk bantal kaum perempuan apalagi ketika salah satu mereka ada yang terjatuh suasana gelak tawa langsung terdengar di area sekitar pertandingan, tidak hanya banyaknya peseta yang ikut berpartisapi tetapi warga yang menonton pun tidak kalah banyaknya.

Dua orang bersiap menuju arena gebuk bantal yang berupa sebatang bambu yang diletakan di tengah kolam, dengan bantal yang sudah mereka genggam, ketegangan begitu terlihat di wajah mereka. Sore itu, di kawasan sekitar Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, mereka akan mengadu kelihaian memukul lawan agar tidak terjatuh dari bambu dan tercebur, lokasi yang setiap tahun menggelar lomba gebuk bantal yang sudah menjadi tradisi tahunan ini. Hitung mundur pun dimulai, kedua peserta bersiap mengayunkan bantal ke lawan masing-masing. Pertandingan pun dimulai, saling jual beli pukulan dengan bantal terjadi silih berganti. Keseruan terjadi ketika salah satu peserta kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, namun dengan sekuat tenaga sang peserta bertahan karena bila dia terjatuh maka akan dinyatakan kalah. Teriakan-teriakan dari masyarakat yang menyaksikan langsung menambah keseruan yang terjadi di ajang yang menjadi daya tarik tersendiri. Klimaksnya, ketika salah satu peserta terjatuh dan tercebur kali diikuti teriakan seluruh penonton yang meneriaki peserta yang kalah. Dua ekspresi berbeda terlihat dari kedua peserta yang bertanding. Penyesalan di peserta yang tercebur dan tentu saja kegembiraan di kubu pemenang. Sistem pertandingan gebuk bantal sendiri dibuat seperti kompetisi dimana sang pemenang akan diadu kembali dengan pemenang yang lainnya sampai ditemukan satu pemenang yang terkuat.


Garin Essyad Aulia-PSDK(2016)

Sorak-Sorai dari Selatan Lokasi : Daerah Istimewa Yogyakarta

Tahun ini, hari keenam belas dalam bulan nomor delapan jatuh pada Jumat yang baik. Matahari yang menggantung di langit Agustus menyembur panas ke pucuk-pucuk kepala. Orang-orang mengorbankan punggung mereka untuk melindungi wajah yang berharga. Musim masih sibuk menghias warna daun-daun agar sama dengan batangnya. Sementara itu, angin laut berwatak kemarau bertugas menghias jalanan dengan sibuk yang telah dirampungkan musim. Hari ini, warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Gunung Kidul meninggalkan ladang, kandang ternak, kedai di pantai, sampai sinetron kesayangan, dan macam-macam rutinitas siang mereka untuk pergi ke tanah lapang di dekat kantor kecamatan. Di sana dihelat acara yang sudah lama mereka nantikan. Dari kejauhan terdengar lagu Paijo milik Zaskia Gotik, sebuah lagu yang berkisah tentang seorang suami yang ditinggal istri karena tidak mampu membiayai kebutuhannya saling bersahutan dengan lagu nasional Maju Tak Gentar serta orasi-orasi yang menyerukan persatuan bangsa. Desa yang terdiri dari 11 padukuhan atau dusun ini memiliki tradisi tahunan yang unik dalam menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia.Tradisi ini dinamai Karnaval 17-an dan diadakan satu hari sebelum hari kemerdekaan. Karnaval 17-an menjadi ajang bagi warga untuk mempertunjukkan kreativitas mereka. Setiap padukuhan mengirim perwakilan paling banyak 50 orang. Mereka dibebaskan untuk berkreasi sekreatif mungkin dengan satu syarat: tidak menanggalkan budaya bangsa. Ada yang berpenampilan rapi dibalut kebaya dan riasan cantik, ada yang acak-acakan dengan riasan seram, ada yang mengenakan gaun dipadu caping bambu, ada yang bermain kuda lumping menggunakan sneakers kekinian. Macam-macam. Semua unik. Semua antusias menampilkan yang terbaik, meski tahu tidak akan ada yang dinobatkan sebagai juara. Foto ini memuat para bapak berkostum prajurit Jawa dan mengenakan kacamata hitam yang sedang menunggu nama padukuhan mereka diseru untuk tampil atau lebih tepatnya untuk pawai di hadap masyarakat yang menonton. Sembari menunggu, ada yang membasuh kerongkongan dengan air mineral, ada yang merokok untuk menghilangkan asam yang bersemanyam di mulut, ada yang khusyuk menonton penampilan padukuhan lain, dan ada yang sadar dirinya sedang ditangkap mata lensa saya.


Garin Essyad Aulia-PSDK(2016)

Sum

Lokasi : Daerah Istimewa Yogyakarta

Sum, Bu Sum. Saya hanya akan fokus bercerita tentang beliau, perempuan yang mengacungkan jempol dan berdiri di antara para ibu lain, yang sekaligus perwakilan Padukuhan Puleireng dalam Karnaval 17-an. Dari jempol itu, juga teman-temannya; telunjuk, tengah, manis, dan kelingking telah berkali-kali memanjakkan lidah saya dengan masakannya. Yang paling penting, beliau ini pandai sekali memasak sambal yang luar biasa enak. Sehari-hari, Bu Sum membantu Uti (panggilan untuk ibu pemilik rumah pondokan yang kami tempati selama KKN) memasak makanan untuk keluarga Uti dan kami. Ketika hari di mana sambal Bu Sum absen dari meja makan, diam-diam saya kecewa. Bu Sum juga sering menggoda saya yang asing dengan pekerjaan dapur. Apabila muka yang digoda dirasainya sudah sedikit masam, biasanya sambil menyenggol lengan saya beliau akan mengeluarkan kalimat pamungkas “Bercanda, ya, Mbak Garin�. Jika sudah begitu, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mengubah raut wajah. Setiap pagi, saya membuat kopi di dapur dan seringkali bertemu beliau yang sedang mempersiapkan sarapan. Apabila sarapan sudah siap, sedang ia belum melihat saya membuat kopi, maka ketika saya ke dapur untuk sarapan Bu Sum akan bertanya “Sudah ngopi, Mbak Garin?�. Ah, perhatian sekali ibu satu ini Di hari penarikan, saat saya pamit pulang, beliau memeluk saya dan tiba-tiba di pipinya tercipta sungai berair hangat. Sambil menangis Bu Sum mengelus punggung saya dan merapal doa semoga kelak saya menjadi seorang menteri. Saya berucap amin dengan segenap haru. Meski itu bukanlah cita-cita saya,tidak ada alasan untuk tidak mengaminkan doa baik..


Garin Essyad Aulia-PSDK(2016)

Bungsu Lokasi : Daerah Istimewa Yogyakarta

Foto ini diambil di Pantai Wediombo, pada penghujung hari Idul Adha. Wediombo adalah salah satu pantai favorit dari ratusan pantai lainnya di Gunungkidul. Kami satu sub unit ‘kabur’ dari satu program rutin Taman Pembelajaran Al-Quran (TPA) yang seharusnya dilaksanakan sore itu. Ceritanya begini, saat saya hendak berbenah diri di kamar untuk berangkat mengajar, Koordinator Sub Unit (Kormasit) kami yang saat itu sedang duduk di ruang tamu pondokan menyeletuk “Pantai kuy!Terakhir nih, terakhir!”. Maksudnya, ini akan jadi mantai kami yang terakhirr sebelum penarikan tanggal 18 Agustus 2019. Tanpa perlu berkompromi untuk menentukan baik mana berangkat mengajar atau berangkat ke pantai, semua orang setuju untuk berangkat ke pantai. Saya langsung mengabari pembina TPA, Mbak Yanti, untuk izin tidak bisa ikut mengajar. Beliau mengiyakan, untunglah. Sebentar, izinkan saya membela diri. Hari itu sedikit sekali anak yang berangkat TPA karena beberapa hal; kelelahan menonton penyembelihan sampai pembagian daging kurban, pergi silaturahmi ke rumah saudara, dan beberapa mengira TPA diliburkan. Kedua, pengajar lokal sudah lebih dari cukup untuk mengajar beberapa anak yang berangkat mengaji. Ketiga, kalau kami memutuskan batal berangkat … Ah, saya tidak tahu akan semenyesal apa. Di pantai, dari kami ada yang menceburkan diri ke air untuk kemudian kedinginan di perjalanan pulang, ada yang sibuk memotret, ada yang berburu kulit kerang, ada yang duduk di atas batu sembari menikmati bahasa alam, dan ada yang kakinya tertusuk lidi penusuk bakso tusuk. Tiada terasa, tiba-tiba gelap mulai turun dan senja sudah jadi bangkai. Kami pulang dengan membawa pasir di sandal serta riang di jiwa masing-masing. Hari ini kami menabung kenangan baik, lagi. Dan benar saja, itu menjadi mantai kami yang terakhir karena 7 hari berikutnya kami disibukkan dengan persiapan penarikan. Foto ini sekaligus merepresentasikan karakter tiga orang di dalamnya. Helga (kanan) yang slengean, Damar (tengah) yang selow, dan Nabil (kiri) yang pemalu. Meski berbeda karakter, mereka bertiga sama-sama pribadi baik dan menyenangkan. 


Garin Essyad Aulia-PSDK(2016)

Ndhuk Lokasi : Daerah Istimewa Yogyakarta

Ndhuk adalah panggilan sayang orang Jawa untuk anak perempuan. Ketiga anak perempuan kesayangan ini berjasa dalam mewarnai hari-hari KKN saya dan teman-teman. Yang berkerudung merah muda namanya Arum. Arum, anak manis dan pandai dalam banyak hal. Pandai dalam pelajaran, pandai menjaga adik, juga pandai menyabet berbagai gelar juara. Setiap diadakan perlombaan antar anak di Puleireng, Arum pasti menang. Kalau Sinta, yang diapit di tengah, cenderung pemalu dan lebih pendiam. Dibanding dua teman di kanan kirinya. Sinta jarang main keluar rumah dan bertemu kakak-kakak KKN. Sedang Lena, yang berbaju bunga-bunga adalah anak yang enerjik dan suka bermain dengan anak laki-laki. Lena sedikit tomboy dan pemberani. Pernah, suatu kali Lena bersembunyi di rumah pondokan dan meminta saya untuk tidak memberitahu apabila ada anak laki-laki yang menanyakan keberadaannya. Rupanya, Lena sedang dalam persembunyian dari ‘musuhnya’, beberapa bocah lelaki. Foto ini diambil di balai dusun, saat semua anak-anak Puleireng dikumpulkan untuk mengikuti lomba 17-an yang prematur. Tepatnya, 7 hari lebih cepat dari seharususnya. Karena padatnya rangkaian acara perayaan 17-an di sini, sehingga lomba harus diadakan lebih awal. Meski begitu, euforia lomba tidak kurang sama sekali. Anak-anak sangat antusias. Kami pun, kakak-kakak KKN, juga ikut antusias. Berbagai tingkah lucu dan polos anak-anak selama lomba berhasil membuat perut kami keram karena tertawa.


Julio Marcelino B.-Tehnik Elektro(2016)

Bahu Membahu

Lokasi : Desa Jono, Temayang, Bojonegoro

Di Desa Jono, sudah terdapat enam kelompok tani ternak yang memiliki peran masing – masing dalam perawatan sapi potong. Ada yang memiliki peran kendang dimana sapi – sapi yang mengandung ditempatkan untuk mendapat perawatan khusus, ada yang menjadi kendang perawatan sapi – sapi muda, dan ada juga kendang penggemukkan. Kelompok – kelompok ternak tersebut mendapat bimbingan dan perhatian khusus dari Kabupaten Bojonegoro, terlebih dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro, dan Puskeswan di Kecamatan Dander yang tidak jauh dari Desa Jono.

Desa Jono, adalah salah satu desa yang menjadi bagian dari kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Desa ini menjadi salah satu lahan proyek KKN yang utama di KKN PPM UGM di Kecamatan Temayang. Jono sendiri merupakan nama salah satu tokoh yang menemukan Desa itu. Konon katanya, Raden Bagoes Soedjono merupakan salah satu penasihat zaman Kerajaan Majapahit yang menetap di suatu lokasi yang saat ini menjadi lokasi Desa Jono saat ini. Selama menghabiskan masa hidupnya, Soedjono melatih masyarakat dalam membuat peralatan besi untuk bertani, dan mengajari cara beternak sapi. Budaya tersebut masih ada hingga saat ini, dan Desa Jono merupakan tuan rumah dari kelompok – kelompok tani ternak terbaik di Bojonegoro, dan bahkan Jawa Timur. Visi yang dimiliki oleh Desa pada saat itu adalah menjadikan Desa Jono sebagai salah satu penghasil bibit – bibit unggul sapi potong di Bojonegoro, bahkan Jawa Timur.

Sebagai salah satu tujuan dari KKN PPM UGM di Temayang, Bojonegoro adalah mewujudkan upaya yang dapat membantu peternak dalam perkembangan sapi ternak menuju sapi yang unggul dan menghasilkan bibit unggul juga. Infrastruktur kandang umbaran, merupakan salah satu solusi yang ditawarkan oleh tim KKN kami. Setelah perencanaan dengan pihak desa dan pihak Pemerintah Kabupaten Bojonegoro (melalui Dinas Peternakan dan Perikanan) barulah Kelompok Tani Ternak Pura Jaya terpilih menjadi lokasi pembangunan kendang umbaran tersebut. Antusiasme masyarakat dalam menyambut proyek kendang umbaran ini sangat tinggi. Bahu membahu, masyarakat Desa Jono, terkhususnya Kelompok Tani Ternak Pura Jaya ikut serta membangun kandang bersama mahasiswa KKN. Harapannya, dibangunnya kendang umbaran ini dapat memberikan suatu space untuk sapi – sapi beraktivitas dan bergerak, sehingga sapi – sapi dapat menunjukkan natural behaviours atau tingkah alamiahnya, dan salah satu alasan khususnya dapat menjaga kesehatan sapi yang akan beranak.


Julio Marcelino B.-Tehnik Elektro(2016)

Kelas Apoteker Cilik Lokasi : Desa Jono, Temayang, Bojonegoro

Sebagai salah satu program kerja kami dalam mengabdikan diri kami kepada masyarakat di Desa Jono, kami mengadakan kegiatan mengajar di sekolah – sekolah yang ada disekitar Desa tersebut. Kegiatan tim KKN Temayang di sekolah dasar dan taman kanak – kanak di Desa Jono, Temayang, adalah memberikan pengetahuan dan wawasan kepada para murid mengenai bidang ilmu yang dipelajari masing – masing mahasiswa di perkuliahan. Hari itu, mahasiswa dan mahasiswi dari KKN PPM UGM melaksanakan sesi kelas profesi kesehatan. Tujuan dari kegiatan ini adalah memperkenalkan murid – murid di SDN dan TK 03 Jono akan profesi – profesi dibidang kesehatan, yaitu dokter dan apoteker. Sesi kelas ini bersifat interaktif, dimana mahasiswa – mahasiswi KKN memaparkan sekaligus memperagakkan tugas seorang dokter yang melayani pasien, alat – alat apa saja yang digunakan dokter dalam bekerja. Murid – murid pun diberikan kesempatan untuk juga ikut memraktekkan dan mengenakan peralatan yang dipakai seorang dokter, seperti stetoskop dan sarung tangan. Satu hal yang sangat menarik perhatian murid – murid dalam kegiatan ini adalah sesi perkenalan profesi apoteker. Alasannya adalah, saat mereka ditanya untuk pertama kali, para murid tidak mengenal apa itu apoteker. Maka, untuk memperkenalkan lebih dekat, seorang mahasiswi memberikan materi tentang peran seorang apoteker. Murid – murid SD dan TK memperhatikan dengan seksama seorang mahasiswi peserta KKN yang sedang mempraktekkan cara melipat kertas pembungkus obat.

Mahasiswi dari Fakultas Farmasi ini sedang memaparkan tentang profesi apoteker, dari perlengkapan yang digunakan, pekerjaanya dalam mengetahui jenis obat – obatan dan manfaatnya, hingga praktek melipat kertas obat seperti pada foto ini. Dengan penuh antusias para murid mengikuti sesi kelas tersebut. Murid – murid pun juga diberikan kesempatan untuk memraktekkan cara melipat keras perkamen (pembungkus obat bubuk), lengkap dengan menggunakan sarung tangan medis yang dibawa oleh para mahasiswa. Mereka dari yang awalnya belum mengerti dan mengenal profesi apoteker, setelah mengikuti kelas ini, mereka langsung mengerti dan bahkan tidak sedikit dari mereka ingin menjadi seorang apoteker kelak.


Julio Marcelino B.-Tehnik Elektro(2016)

Sayaaaaaa! Lokasi : Desa Jono, Temayang, Bojonegoro

Bagi yang menganggap foto ini settingan, percayalah, foto ini bukan settingan, namun foto ini diambil tepat saat seorang mahasiswi peserta KKN sedang memberikan kuis di dalam suatu kelas di SDN 03 Jono. Murid – murid kelas empat SD saat itu sedang melakukan sesi kelas cinta hewan. Kelas cinta hewan ini merupakan program mengajar yang dilaksanakan oleh mahasiswa – mahasiswi dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Di sesi kelas ini, murid – murid diajarkan mengenai berbagai macam hewan, mulai dari hewan liar, sampai hewan ternak. Mereka mempelajari bagaimana ciri – ciri hewan dari bentuk tubuhnya, suaranya, dan untuk hewan ternak, mereka juga mempelajari produk – produk makanan yang dapat diperoleh dari hewan ternak, seperti susu sapi, daging sapi, telur ayam, dan lainnya. Sesi kelas ini diikuti dengan semangat oleh murid – murid, dan mereka saat diberikan kuis atau pertanyaan, mereka berebutan mengacungkan tangan dengan berteriak ‘Sayaaaaaa!’ Jumlah murid yang dimiliki SDN 03 tidak dapat dibilang banyak. Bahkan satu angkatan, jumlah muridnya belasan, atau bahkan ada yang kurang dari sepuluh.

Karena sedikitnya siswa yang ada disana, maka satu ruang kelas besar dapat dibagi menjadi dua kelas dengan cara memberikan sekat ditengah – tengah ruangan yang berupa papan kayu yang tempeli hiasan kelas dan hasil karya murid – murid kelas tersebut. Pembagiannya pun juga unik, satu ruang untuk dua angkatan, misal satu kelas digunakan untuk kelas tiga dan empat. Hal ini juga berlaku untuk kelas satu dan dua. Namun, kelas lima dan kelas enam memiliki ruang kelas sendiri yang terletak disebelah persis ruang guru di sekolah itu. Memang SDN 03 memiliki jumlah siswa yang tidak sebanyak sekolah dasar lainnya, namun disitulah kami, sebagai tim merasa sangat akrab kepada seluruh warga sekolah, dan bahkan para orang tua yang sehari – hari dengan rajin menunggu putra dan putri mereka yang menuntut ilmu disekolah tersebut. Selain itu, hal yang membuat kami kagum adalah mereka, para murid, yang meskipun jumlah mereka sedikit, semangat mereka sangat membara untuk menuntut ilmu. Foto ini adalah salah satu foto yang berkesan bagi saya. Semangat dan keaktivan mereka dikelas dapat menjadi inspirasi, bahwasannya, anak – anak di Desa Jono, Kecamatan Temayang, meskipun jumlahnya sedikit, mereka sangat serius dalam belajar dan berusaha menggapai cita – cita mereka.


Julio Marcelino B.-Tehnik Elektro(2016)

Pesona Merdeka dari Penerus Bangsa

Lokasi : Desa Jono, Temayang, Bojonegoro

Sesudah berberes, para mahasiswa KKN mengajak mereka berkumpul dikelas masing – masing untuk menyemarakkan bulan kemerdekaan Indonesia. Bendera merah putih dibagikan kepada murid – murid dan para mahasiswa mengajak mereka menyanyikan lagu – lagu nasional seperti Indonesia Raya dan Maju Tak Gentar. Mereka menyanyikannya dengan semangat, bahkan saat menyanyi, mereka tak takut mengibarkan bendera yang mereka pegang. Sesi kelas tersebut lalu ditutup dengan foto bersama, dan foto ini adalah salah satu foto yang saya tangkap. Kelas pun penuh dengan semarak kemerdekaan, Saat itu kalender sudah menunjukkan Bulan Agustus, Bulan Kemerdekaan tidak hanya hiasan kelas yang bernuansa merah putih, namun Indonesia. Murid – murid SDN 03 Jono sangat bersemangat dalam murid – murid yang berada dikelas merasa sangat bahagia dan menyambutnya. Untuk itu, salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh senang dalam menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia. tim KKN – PPM UGM di Kecamatan Temayang di SDN 03 Jono adalah menghias kelas dengan nuansa merah putih. Bersama mahasiswa dan Satu hal yang memberikan kesan adalah para murid dan anak mahasiswi KKN, anak – anak itu membuat untaian rantai merah putih – anak di sana sangat photogenic. Bayangkan berada disana dari kertas lipat dan hiasan – hiasan lainnya yang mereka pasangkan di diantara mereka dengan membawa kamera. Kalimat pertama dinding dan jendela kelas mereka. Kesibukkan mereka diwarnai tawa yang mereka ucapkan adalah ‘mas fotoin dong mas’ dan diiringi dan kolaborasi. Saat itu saya sedang memotret dikelas empat, kelas yang dengan sorakkan dengan kata – kata yang sama dari teman – menjadi lokasi foto ini. Saya dengan iseng bertanya kepada salah satu temannya. Dan tidaklah susah untuk mengajak mereka berfoto, murid disitu “kamu tidak capek, dek?” Mereka pun sontak tertawa, dan hanya dengan membuka lens cap, menyalakkan kamera, dan mereka justru menjawab, “nggak capek mas, kan ada kakak – kakak KKN.” menyebutkan kata – kata ajaibnya: “Yuk lihat sinii!” atau “Yuk Ya, itulah panggilan kami selama disana, tidak banyak yang menghapal ngumpul! Kita foto bareng!” dan mereka berebut tempat untuk nama kami satu persatu. Namun mereka semua, saat melihat kami, selalu masuk kedalam frame dan memamerkan ekspresi terbaik menyapa dengan sebutan itu, ‘mas/mbak/kakak KKN’. Setelah semua mereka. Sama seperti yang ada difoto ini, bahkan sampai selesai, murid – murid saling membantu dalam membereskan sisa – sisa ada salah satu siswi yang ketutupan temannya yang berdiri didepannya. pembuatan hiasan kelas mereka.


Reyhan Pradipta-Teknik Sipil dan Lingkungan/2016

Menimbang Balita Lokasi : Desa Kedisan, Kintamani, Bangli – Bali

Kluster Medika yang sedang melakukan program kerja membantu posyandu dimana teman saya Mia sedang memegang alat penimbang balita yang akan diperiksa berat badannya. Selain penimbangan berat badan di program tersebut juga menyuntikan vaksin kepada balita agar balita tersebut dikedepannya tidak mudah terkena penyakit.


Reyhan Pradipta-Teknik Sipil dan Lingkungan/2016

Wanita Bali

Lokasi : Desa Kedisan, Kintamani, Bangli – Bali

Senyuman dari seorang wanita Bali yang akan mengikuti lomba tari yang berceritakan tentang awal terbentuknya Danau Batur pada acara Festival Kintamani dimana setiap desa di Kecamatan Kintamani mengirimkan muda mudi mereka untuk berkarya dan berkompetisi pada acara tersebut.


Buku Foto Pameran KKN 2019

Pulau Kalimantan

M. Rizky Yoga Z. | Anggita Syifa K. | Saqib Fardan A.


Anggita Syifa Khoirunnisa -PWK(2016)

Daya Tahan Tubuh Manusia dalam Merasakan Gelombang Laut di atas Kapal Lokasi : Sebatik Timur, Kalimantan Utara

“Pak, kami boleh ikut pasang bibit di tengah laut?�,bertanya dengan rasa penasaran sebelum hari itu tiba. Tanggal 14 Juli 2019, lima anggota KKN berangkat pagi ke pantai untuk mengikuti keseharian pak Taqwa yang bermata pencaharian sebagai pembudidaya rumput laut. Perjalanan ke tempat pembibitan tidaklah sebentar, kami isi waktu di kapal kecil Pak Taqwa dengan bercengkrama dan menyanyikan lagu-lagu pendukung langit cerah dan laut yang begitu luasnya. Sesampainya ditempat pembibitan rumput laut, mesin kapal dimatikan, pak Taqwa dan rekan-rekannya langsung bergerak mengulur bibit. Pembibitan dilakukan di atas kapal selama 6 jam mengelilingi petakanpetakan yang dibuat untuk membudidaya rumput laut. Bagi pak Taqwa dan rekan-rekan pembudidaya rumput laut, melakukan tarik, ulur, diam dan makan di kapal menjadi hal biasa yang dilakukan. Lihat saja, sudut bagian belakang kapal bahkan digunakan sebagai dapur untuk menyajikan makanan dan minuman yang menjadi bekal makan siang mereka setelah melakukan pembibitan. Bekal makan siang yang dibawa sudah disiapkan oleh istri-istri mereka sebelum berangkat, seperti: teh, jalangkote, nasi, lauk dan sayur. Menikmati makan siang dengan lahap setelah bekerja hampir seharian di laut lepas sudah seperti makan siang di rumah. Sementara kami yang pertama kali ikut berlayar, berekspektasi layaknya foto tim KKN lain yang seru dan ceria saat sedang berlayar, malah secara tidak sengaja melakukan percobaan daya tahan tubuh manusia dalam merasakan gelombang laut di atas kapal. Yudi, anggota tim KKN yang awalnya antusias hingga menggunakan atribut lengkap KKN, terlihat lemas setelah mengalami mual sangat parah saat berada di laut karena sama sekali tidak meminum obat anti mabuk perjalanan. Farrel, lelaki berkacamata yang duduk dengan gaya terlihat menikmati pemandangan dengan santai, ternyata juga mengalami mual tapi tidak seberapa karena meminum obat anti mabuk perjalanan setelah berlayar. Sedangkan tiga anggota KKN yang lain terlihat sangat menikmati berlayar dengan pembudidaya rumput laut, salah satunya Talitha, yang menggunakan baju putih dan memamerkan senyum bahagianya karena dia dan dua teman lainnya telah meminum obat anti mabuk perjalanan 30 menit sebelum berlayar. Memang penampakannya tidak seindah yang lain, tapi pengalamannya tak kalah diingat. Terima kasih Antimo!


Anggita Syifa Khoirunnisa -PWK(2016)

Rumput Laut: Benih Harapan Baru Sebatik Timur Lokasi : Sebatik Timur, Kalimantan Utara

Budidaya rumput laut, salah satu mata pencaharian warga pesisir Sebatik Timur. Pagi itu, alam mendukung kami untuk turut serta mengikuti perjuangan para petani rumput laut untuk menanam sumber penghidupannya. Ternyata, sulit-sulit gampang untuk menanam rumput laut. Persiapannya saja membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pembenihan rumput laut. Sore hari ibu-ibu sudah mulai sibuk menyiapkan tenda, tali tambang, tali ris, botol bekas, dan benih-benih rumput laut yang akan ditanam. Rumput laut perlu ditata terlebih dahulu di daratan dengan cara mengikatnya pada tali ris. Setiap tali harus diberi botol supaya apabila diletakkan di tengah laut dapat mengapung. Jika menonton ibu-ibu yang jarinya lincah dalam tali menali tersebut memang terlihat mudah, sehingga kami dengan percaya diri menawarkan bantuan. Tentu saja, bantuan kami tidak terlalu menolong beliau-beliau untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum matahari terbenam. Sangat sulit memang untuk memiliki keahlian tali menali seperti itu, sehingga kami hanya melanjutkan menonton. Tiba-tiba salah satu petani rumput mendekati kami. “Ini benih rumput laut besok pagi bakal ditanam. Kau mau ikut kah? Nanti kita naik kapal.� Tanpa ragu kami pun langsung menyetujui tawaran bapak tersebut. Kapan lagi kan, berlayar di lautan lepas perbatasan Indonesia-Malaysia sambil menanam benih rumput laut? Tentu saja itu kesempatan langka dan pengalaman yang tidak akan kami lupakan.

Esok harinya, giliran bapak-bapak petani rumput laut yang sudah sibuk di pagi hari untuk menanam benih rumput laut. Mereka perlu bergegas sebelum matahari mulai terik karena benih rumput laut masih rentan terhadap panas. Terlihat kerja keras dan kekompakan bapak-bapak petani rumput laut ini. Mulai dari persiapan benih rumput laut yang sudah dipasang di tali, pengecekan kapal, pengisian bensin, hingga penentuan arah angin, mereka lakukan dengan semangat dan –tentu saja harapan untuk masa depan yang lebih baik. Di tengah pekerjaannya salah satu bapak menasehati kami. “Makanya kalian sekolah yang tinggi, kami kerja seperti ini karena putus sekolah�. Kami pun hanya tersenyum diam menanggapi kata-kata tersebut. “Ayo naik Dik! Sudah mulai naik ini matahari!�


Anggita Syifa Khoirunnisa -PWK(2016)

Kehangatan Berdampingan Hidup dengan TNI Lokasi : Sebatik Timur, Kalimantan Utara

Lokasi KKN kami berada di perbatasan antar dua negara yakni Malaysia (Sabah) dengan Indonesia. Tentunya tidak asing apabila hidup berdampingan langsung dengan jajaran TNI. Mereka ditugaskan negara untuk menjaga perbatasan. Awal mula perkenalan berawal dari keinginan kami mengikuti program tanam 1000 bakau bersama TNI-AL. Beberapa kali mengadakan pertemuan dan pada akhirnya setelah program tanam bakau kami ditawarin untuk mengikuti operasi pathok perbatasan. Tidak semua pathok dapat kami kunjungi hanya pathok 1,2,3 dan 4 saja karena selebihnya berada di atas gunung ataupun di dasar laut. Perasaan bela negara muncul saat mengetahui bahwa perbatasan antar negara hanya dilihat melalui pathok yang kapan saja bisa dipindahkan dengan mudah. Perjalanan menuju pathoknya pun perlu melalui beberapa rintangan yang menantang kami. Sedangkan, untuk anggota TNI hal seperti ini menjadi kegiatan rutin yang perlu dilakukan.Saat operasi pathok adalah kali pertama kami diberi kesempatan untuk dapat berfoto dengan senjata, tentunya mendebarkan sekaligus menantang, namun tetap berhati-hati dan diawasi. Setelah mengikuti operasi pathok, kami diberi hadiah berupa makan durian sepuasnya. Rasanya sangat sulit bagi kami untuk bisa memeroleh hal-hal baru di sebatik, semacam ikut berpatroli patok perbatasan, tanam bakau di tengah laut, dan makan durian sepuasnya kalau tidak dibantu oleh jajaran TNI-AL yang bertugas di sana.

Setelah beberapa kali mengikuti kegiatan dengan mereka, kedekatan kami seperti keluarga. Kami sering diajak untuk mengikuti makan malam misalkan saja makan belut, oiya jangan bayangin belut kecil seperti di Jawa, belut di Sebatik besar-besar sekali seperti ular, dan rasanya enak, seperti ikan lele. Kedekatan kami dengan para TNI benar-benar terasa ketika kami diantarkan menuju pelabuhan, dimana itu adalah pertemuan terakhir kami dengan mereka. Salah satu teman, Saqib, mengeluarkan air mata tak henti-hentinya menangisi salah satu TNI yang kami sebut sebagai Pak Ubur-Ubur, nama aslinya adalah Ischak -kami menamai ia Pak Ubur-Ubur karena ketika kami mengikuti tanam bakau beliau tersengat ubur-ubur banyak sekali sebadan-. Di akhir pertemuan kami, Pak Ischak berkata “Saya nggak mau sedih lagi, sudah habis air mata tadi malam.�


“Sebatik itu unik, khasnya Sebatik adalah perbatasan, dan kebudayaannya tidak lain adalah keberagamaan dalam masyarakat Sebatik sendiri.â€? Berada di Provinsi Kalimantan Utara secara administratif, tidak lantas membuat Sebatik Indonesia dihuni oleh suku-suku asli kalimantan. Dengan luas sekitar 246,1 km² penduduk Sebatik sangat beragam, beberapa persen penduduknya merupakan suku Tidung asli Kalimantan, juga perantau dari Jawa dan mayoritas pendatang dari Sulawesi dan Maluku. Beragamnya penduduk Sebatik dengan ciri khasnya yang dibawa dari sukunya masing-masing, membuat Sebatik sedikit berbeda dengan wilayah Indonesia lainnya yang pada umumnya kental dengan adat dan kebudayaan turuntemurun dari leluhurnya. Terisi dari berbagai suku, menjadikan bahasa bugis, melayu, hingga jawa mewarnai Sebatik dalam keseharian masyarakatnya berkomunikasi. Menjadikan Sebatik kaya, kaya bahasa dan budaya tenggang rasa.Perbatasan merupakan ciri khas Sebatik, kehidupan perbatasan, satu pulau dengan dua negara, Sebatik Indonesia dan Sebatik Malaysia. Barangkali oleh-oleh khas Sebatik adalah makanan produksi Malaysia dengan penggunaan mata uang ringgit dan rupiahnya. Namun itulah uniknya Sebatik. Di Sebatik, tak ada makanan khas asli pulau Sebatik, bahkan tidak ada tarian, pakaian adat Sebatik maupun kebudayaan leluhur turun-temurun.

Saqib Fardan Ahmada-PSDK(2016)

Ber-Bhinneka Tunggal Ika dalam Kesehariannya Lokasi : Sebatik Timur, Kalimantan Utara

Budaya Sebatik tak lain adalah keberagaman masyarakatnya sendiri. Hal ini nampak jelas, pada momen peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke74 pada 17 Agustus 2019 silam. Tarian Tebe dan Maumere yang berasal dari Nusa Tenggara, meramaikan lapangan Tapal Batas Aji Kuning setelah upacara pengibaran bendera merah putih. Semua masyarakat Sebatik yang berada di lapangan maupun sekitarnya, turut merapat dan bersama-sama menarikan tarian tersebut. Masyarakat Sebatik dengan berbagai suku dan daerah asal yang berbeda, dengan beragam profesi dan latar belakang, TNI, pegawai pemerintah, pelajar, pedangan, karyawan, anak-anak, pensiunan, hingga ibuibu rumah tangga, bersama-sama bergandengan tangan menarikan tarian yang bahkan bukan lahir dari budayanya. Satu hal yang membuat mereka sama adalah mereka Indonesia, inilah cara mereka merayakan kemerdekaan Indonesia. Bahkan tidak hanya saat momen kemerdekaan, melainkan setiap hari mereka merayakan menjadi Indonesia, melalui budayanya yang tak lain adalah keberagaman, toleransi dan tenggang rasa. Ber-Bhinneka Tunggal Ika dalam kesehariannya, membuat Sebatik seutuhnya Indonesia.


Berada di ujung perbatasan Indonesia dengan pulaunya yang jauh dari pusat pemerintahan, menjadikan Sebatik sebagai wilayah yang harus diperhatikan, salah satunya dari segi pendidikan. Satu hal yang barangkali menjadi harapan kami tentang pendidikan bagi anak-anak di Sebatik, ialah walaupun mereka tinggal di pulau yang kecil di ujung Indonesia, namun hal tersebut tak lantas menjadi penghambat anak-anak Sebatik untuk memiliki mimpi yang besar, jauh lebih besar dari pulaunya. Bahwa dunia, tidak sebatas rumah, sekolah dan jalan pulang dari sekolah menuju rumah, melainkan teramat luas, seluas memandang ufuk yang tak berpangkal dari pinggir pantai Sebatik. Dan selayaknya seorang kakak yang berusaha membimbing dan mengajari tentang banyak hal pada adiknya. Mengajari berbagai hal tentang matematika, pengetahuan alam maupun sejarah, hingga cerita-cerita yang sarat akan amanat dan makna. Selayaknya seorang kakak yang sepantasnya menjadi teladan bagi adiknya. Namun, nyatanya kami lah yang banyak belajar dari mereka. Puluhan warna yang sama sekali tidak ada yang serupa, anak – anak tapal batas Sebatik yang mayoritas mereka adalah anak sekolah dasar mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 dengan tingkat kepolosan dan kenakalannya masing-masing. Belajar memahami. Bahwa mengajari adalah bukan hanya tentang apa dan seberapa banyak hal yang kita anggap telah kita sampaikan, melainkan tentang seberapa dalam kita bisa memahami, hal-hal yang masih belum mereka mengerti dan yang telah mereka ketahui.

Saqib Fardan Ahmada-PSDK(2016)

Anak-anak di Perbatasan Lokasi : Sebatik Timur, Kalimantan Utara

Dan barangkali, belajar memahami diri sendiri, akan seberapa sabar dan tidak pamrih atas apa-apa saja yang telah kita perbuat dan kita lakukan. Begitupula, sore itu. Sembari berjalan-jalan menyusuri pesisir pantai, kami mengajari dimana Sebatik terletak di dalam peta, dan mereka mengajari kami dimana letak kesabaran dalam menghadapi tingginya rasa keingintahuan dengan berbagai tingkah kelakuan dan kepolosan mereka. Terimakasih kesempatan baik yang berpihak kepada kami, menjadi guru sekaligus murid selama 50 hari, atau bahkan sepangjang hari yang kami lalui. Sebab, setiap orang adalah guru sekaligus pembelajar dalam sekolah kehidupan kita masing-masing, sepanjang hari yang kita lalui.


M Rizky Yoga-Sosiologi 2016

Serpihan Ingatan di Perbatasan: Anak Pekerja Keras Lokasi : Desa Kumba, Jagoi Babang, Kalimantan Barat

Dirta melihat kami yang datang dengan penampilan yang tidak biasanya Ia lihat. Rombongan muda-mudi mengenakan almamater kampus tercinta hadir disambut oleh banyak mata dari tempat nan jauh di ujung perbatasan Indonesia, sebuah desa tepi sungai bernama Kumba. Sambutan hangat, senyuman manis, suguhan lezat selalu kami dapatkan dari masyarakat Desa Kumba. Dirta salah satunya, kunjungan tamu-tamu asing ini tidak dilewatkannya, selalu ada cara bagi Dirta untuk mendapatkan perhatian dari kami para mahasiswa. Dirta merupakan salah satu dari banyaknya anak seumuran dirinya yang hampir setiap hari mengajak kami bermain dan meminta perhatian kami. Wajar saja, anak seumuran dirinya selalu dibiarkan sendiri setelah pulang sekolah, orang tuanya pasti pergi ke perkebunan dan baru pada malam hari mereka merasakan kehangatan keluarga secara bersama. Gambaran tersebut bukan sesuatu yang menyedihkan atau apa, itu hanya realita dari kehidupan yang terjadi sehari-hari. Hal itu tidak hanya terjadi di Desa Kumba, tapi di banyak tempat, pedesaan maupun perkotaan. Kita saja yang sering luput dalam memperhatikan keadaan sekitar sampai sesuatu itu terjadi pada orang lain. Dirta, anak yang masih aktif-aktifnya bermain, ketika ditanya kenapa dirinya datang terus kepada kami, jawabannya “bosan kak setiap hari itu-itu saja mainnya, sepi di rumah�. Kami yang sebenarnya cukup terganggu karena anak-anak ini pun akhirnya memaklumi keinginan mereka agar dapat bersenang-senang dan mengisi kenangan untuk masa kecilnya.


M Rizky Yoga-Sosiologi 2016

Serpihan Ingatan di Perbatasan: Orang Tua Pekerja Keras Lokasi : Desa Kumba, Jagoi Babang, Kalimantan Barat

Ki Haji Hambali, mantan kepala Desa Kumba, yang saat ini merupakan salah satu sesepuh desa yang paling mengetahui sejarah desa tersebut. Di usianya yang menginjak 77 tahun, dirinya masih sangat aktif bekerja untuk kebun-kebunnya. Kekuatan fisik warga Desa Kumba membuat kami terkagum, kebiasaan bekerja fisik sedari kecil membiasakan mereka untuk tetap luar biasa kuat hingga di usia senja. Kebiasaan hidup di Desa Kumba yang membentuk kekuatan fisik masyarakat di sini sempat membuat kami mempertanyakan dan sedikit meremehkan fungsi gym dan fasilitas kebugaran lainnya di perkotaan. Namun kami teringat kembali, bahwasannya kehidupan dimanapun tidak bisa dibanding-bandingkan. Setiap tempat, setiap kehidupan, memiliki kelebihannya masing-masing, latar kehidupan sosial yang berbeda turut mempengaruhi perbedaan ini. Sesuatu memang tidak bisa dengan mudah dibandingkan, tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Perbedaan kekuatan otot manusia di tempat berbeda cukup dapat menggambarkan latar kehidupan yang rumit dan beragam. Banyak hal memiliki dinamika dan kompleksitasnya masing-masing, things are colorful in their own way.


M Rizky Yoga -Sosiologi(2016)

Serpihan Ingatan di Perbatasan: Bertamu Senang, Bersapa Senang Lokasi : Desa Kumba, Jagoi Babang, Kalimantan Barat

Melakukan KKN di daerah yang kita selama ini tidak pernah menyangka akan mengunjunginya dan hidup 50 hari di sana, memberikan banyak pandangan baru mengenai interaksi dalam kehidupan. Di Desa Kumba ini, salah satu pengalaman penting yang kami pelajari adalah: jangan malu untuk menyapa dan berkunjung ke tempat orang lain. Keramahan memang sudah menjadi hal yang cukup langka dan mahal di kehidupan modern saat ini. Namun, di tempat terpencil seperti Desa Kumba hal tersebut justru menjadi kebiasaan sehari-hari. Kami mahasiswa yang terlalu lama terbiasa berkehidupan dalam gemerlap kota dan berinteraksi dengan orang-orang modern sedikit canggung di awal hanya untuk memulai interaksi dengan masyarakat lokal. Bukan apa-apa, kami hanya merasa tidak enak, apakah kehadiran kami diterima dan tidak mengganggu mereka?

Setelah beberapa waktu kami di sana, kami menyadari bahwa pola pikir kami lah yang terlanjur berbeda. Mereka sebenarnya sangat ingin kami sapa dan kami kunjungi. Mereka sangat ramah dan hangat setiap kali kami mengunjungi. Mereka pun selalu bertanya kenapa tidak dari awal kami bertamu, kami pun hanya bisa menjawab bahwa kami tidak enak karena takut mengganggu atau dalam bahasa Jawa “pekeweuh“. Pola pikir inilah yang cukup membuat kami sedikit terlambat untuk melebur ke dalam masyarakat lokal, walaupun hal itu tetap berhasil dilakukan. Kami terlalu terbiasa hidup dengan dinginnya interaksi di perkotaan yang serba individual. Menyapa dan berkunjung adalah sesuatu yang mengganggu dalam pola pikir kami, namun sebenarnya definisi keramahan bagi warga lokal justru itu. Tetapi balik lagi, latar kehidupan yang berbeda lagi-lagi menjadi faktor yang membolakbalikan logika ini. Kami lupa atau mungkin sebenarnya tidak tahu, bagaimana semestinya menjadi masyarakat yang ramah dan hangat terhadap sesama.


Buku Foto Pameran KKN 2019

Pulau Sulawesi

M. Irsan Nashrurriza | Leon Tandela | Atoro Aditya | Indah Pratiwi | Irvan Yurdianto


M. Irsan Nashrurriza Hakim-PWK(2016)

Sunset Pantai Katembe

Lokasi : Lakudo, Buton Tengah, Sulawesi Tenggara

Sunset merupakan pemandangan utama di Pantai Katembe. Pantai Katembe adalah salah satu wisata utama di Kecamatan Lakudo, Buton Tengah. Pantai Katembe memiliki garis pantai yang panjang dan air yang tenang. Arah pantai yang menghadap ke barat menghasilkan view sunset yang epik. Nelayan di Kecamatan Lakudo biasa bekerja di malam hari. Nelayan yang tertangkap kamera merupakan nelayan yang sedang bersiap-siap untuk melaut setelah matahari terbit. Nelayan biasa melaut sampai pagi hari. Metode yang digunakan nelayan juga bermacammacam, salah satunya adalah menggunakan jaring seperti yang tampak pada foto. Selain jaring metofe lain yang digunakan adalah menggunakan pancing atau tombak. Beberapa nelayan yang mempunyai kondisi finansial lebih baik juga membangun keramba-keramba ikan di tengah laut dan membudidayakan ikan pada keramba tersebut


M. Irsan Nashrurriza Hakim-PWK(2016)

Senyum Indonesia Lokasi : Lakudo, Buton Tengah, Sulawesi Tenggara

Senyum anak kecil ini diambil pada saat pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan dilakukan di Puskesmas Desa Waara. Pemeriksaan dilakukan untuk memantau perkembangan dan kecukupan gizi dari balita. Pemantauan dilakukan untuk mencegah balita stunting atau kerdil akibat dari kekurangan gizi selama seribu hari pertama kelahiran (seribu HPK) Sosialisasi tentang seribu hari pertama kelahiran dilakukan untuk mengedukasi orangtua agar memenuhi gizi balita sesuai dengan kebutuhannya khususnya pada seribu hari pertama kelahiran. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur tinggi atau panjang balita, berat badan balita, serta indeks massa tubuh (IMT). Sosialisasi juga dilakukan dengan pengadaan program pembagian makanan tambahan seperti bubur kacang hijau atau bubur mutiara. Pertumbuhan pada fase balita merupakan masa emas sehingga gizi balita pada fase ini sangat penting. Kekurangan gizi pada fase balita dapat mengakibatkan balita tumbuh lambat (stunting), rentan terkena infeksi, dan perkembangan otak yang terhambat. Pemeriksaan kesehatan pada balita bersamaan dengan posyandu balita dan bekerja sama dengan bidan desa. Setelah dilakukan pemeriksaan pada balita dilakukan penyuluhan kepada ibu balita guna memberikan solusi pada permasalahan tumbuh kembang balita.dengan penyuluhan ini diharapkan ibu balita dapat memperhatikan pertumbuhan putra putri nya. Selain melakukan pemeriksaan, masyarakat juga mendapatkan buku saku yang berisi tentang informasi-informasi kesehatan. Informasi tersebut adalah informasi tentang seribu hari pertama kelahiran, penyakit tidak menular, pengecekan darah, dan sebagainya.


M. Irsan Nashrurriza Hakim-PWK(2016)

Anak Buton Lokasi : Lakudo, Buton Tengah, Sulawesi Tenggara

Anak-anak Buton. Sulawesi tenggara terbagi menjadi beberapa suku besar. Salah satunya adalah suku Buton. Suku Buton merupakan suku pelaut. Pembeda utama suku Buton dengan suku lainnya adalah warna kulit suku Buton yang lebih gelap. Orang Buton terkenal pula dengan peradabannya yang tinggi dan hingga saat ini peninggalannya masih dapat dilihat di wilayah-wilayah Kesultanan Buton, diantaranya Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terbesar di dunia, Istana Malige yang merupakan rumah adat tradisional Buton yang berdiri kokoh setinggi empat tingkat tanpa menggunakan sebatang paku pun, mata uang Kesultanan Buton yang bernama Kampua, dan banyak lagi. Masyarakat Buton memiliki beragam bahasa yang begitu beragam. Hingga sekarang dapat ditemui lebih dari tiga puluhan bahasa dengan berbagai macam dialek. Wujud akulturasi dalam bidang bahasa, dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa Sansekerta yang dapat Anda temukan sampai sekarang dimana bahasa Sansekerta memperkaya perbendaharaan bahasa Buton.Dalam perkembangan selanjutnya bahasa Sansekerta di gantikan oleh bahasa Arab seiring masuknya Ajaran Islam di Kerajaan Buton pada abad ke-15 M, banyaknya penggunaan bahasa Arab pada kosakata bahasa Buton menunjukkan tingginya pengaruh Islam dalam Kesultanan Buton. Disamping itu bahasa Buton juga menyerap unsur-unsur bahasa melayu.


Leon Tandela-Teknik Sipil dan Lingkungan(2016)

Bermain di Pilar Dermaga Lokasi : Desa Luk Panenteng, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah

Siang hari yang terik di dermaga Desa Luk Panenteng, sekumpulan bocah-bocah desa bermain dengan gembira. Hari itu merupakan hari dimana kami segerombolan mahasiswa KKN menanti kedatangan wakil rektor universitas kami Universitas Gadjah Mada, Pak Djagal didampingi oleh dosen pembimbing kami, Pak Adjie. Beliaubeliau datang jauh-jauh dari Yogyakarta untuk menyaksikan hasil kuliah kerja nyata kami selama 50 hari di desa Luk Panenteng dan Ombuli. Ditandai oleh acara puncak yaitu festival kebudayaan yang diselenggarakan oleh mahasiswa dan dinas pariwisata kabupaten. Kembali lagi ke dermaga, melihat bocah-bocah desa tersebut sungguh menyenangkan. Keceriaan mereka dalam bermain sungguh membuka memori masa kanak-kanak. Mereka loncat ke laut lepas dari atas dermaga, berenang dan memanjat kembali ke atas dermaga melalui pilar-pilar. Bocah yang duluan sampai ke atas mengulurkan tangannya untuk membantu teman-temannya untuk memanjat naik. Mereka sungguh bebas dan tidak terikat dengan gawai yang menjadi mainan anak-anak zaman sekarang. Bermain dengan bocah-bocah selama menjadi kegiatan rutin kami untuk mengisi hari-hari KKN. “Ayo kakak, kita berenang di Paisu Pok!� ajak seorang bocah dengan logat khas Banggai Kepulauannya.


Leon Tandela-Teknik Sipil dan Lingkungan(2016)

Sumber Mata Air di Desa Luk Panenteng Lokasi : Desa Luk Panenteng, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah

Air di Paisu Pok selalu dingin dan membuat rindu orang-orang yang berenang didalamnya. Mandi dan berenang di danau ini menjadi kegiatan rutin kami mahasiswa KKN selama 50 hari. Danau Paisu Pok merupakan sumber air tawar di Desa Luk Panenteng yang termasuk daerah kekurangan air. Hal ini disebabkan oleh jenis batuan-batuan desa berupa batuan kapur atau gamping yang tidak bisa menahan air hujan. Selain itu, letak danau yang relatif dibawah pemukiman warga menyebabkan air tidak bisa mengalir secara gravitasi ke rumah warga. Sehingga warga perlu turun ke danau untuk menimba air demi kebutuhan rumah tangga. Beginilah kondisi di desa Luk Panenteng yang masih serba kekurangan.


Leon Tandela-Teknik Sipil dan Lingkungan(2016)

Permata Banggai Kepulauan Lokasi : Desa Luk Panenteng, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah

Danau Paisu Pok selalu menjadi daya tarik utama bagi desa Luk Panenteng ini. Tidak lengkap rasanya, berwisata di Banggai Kepulauan tanpa mengunjungi terlebih dahulu Danau Paisu Pok. Paisu Pok memiliki arti “Air yang Hitam� didalam Bahasa Banggai Kepulauan. Konon katanya, dulu air ini berwarna hitam. Sayangnya, tidak ada yang mengetahui asal mula air di danau ini perlahan menjadi biru bening seperti saat ini. Setiap tempat seharusnya memiliki kisah legenda dan sejarah yang dilestarikan turun temurun. Inilah menjadi alasan Desa Luk Panenteng yang walaupun memiliki Danau Paisu Pok indahnya luar biasa, namun masih kekurangan dalam segi cerita dan kebudayaan. Terlepas dari semua itu, Danau Paisu Pok dengan cepat menjadi objek wisata unggulan Kabupaten Banggai Kepulauan. Hal ini merupakan capaian yang luar biasa, mengingat danau ini baru saja diresmikan menjadi objek wisata sejak tahun 2018 silam. Ini berkat gotong royong antara masyarakat Desa Luk Panenteng dengan tim KKN-PPM UGM tahun 2018 dalam membangun jalan akses, dermaga, loket retribusi demi menunjang aktivitas pariwisata di desa tersebut. Danau Paisu Pok merupakan contoh nyata dimana gotong royong masyarakat dalam membangun wisata dapat memberikan manfaat tersendiri dalam upaya untuk membangun desa. Teruslah berkembang, Desa Luk Panenteng!


Leon Tandela-Teknik Sipil dan Lingkungan(2016)

Lestari Budaya Suku Sea-Sea

Lokasi : Desa Luk Panenteng, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah

Suku Sea-Sea sebagai suku asli yang mendiami Kepulauan Banggai di Provinsi Sulawesi Tengah masih menyimpan potensi wisata kebudayaan yang termasuk jarang di daerah ini. Kebudayaan ini lambat laun mulai hilang, bahkan di masyarakat Banggainya sendiri. Anak-anak muda sudah jarang mengetahui kisah-kisah sejarah yang dulunya diwariskan secara turun temurun. Hal ini patut disayangkan, mengingat Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang terkenal akan keanekaragaman budayanya dari Sabang sampai Merauke. Sebagai salah satu upaya untuk melestarikan budaya yang mulai hilang itu, mahasiswa KKN-PPM UGM tahun 2019 berkerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Banggai Kepulauan membuat sebuah festival kebudayaan yang dinamakan “Festival Sea-Sea�. Festival ini melanjutkan perjuangan oleh kakak tingkat tahun 2018 sebagai langkah untuk melestarikan sekaligus memasarkan budaya khas Banggai Kepulauan ke khalayak ramai.

Kegiatan ini menuai respon positif ditandai dengan hadirnya Wakil Rektor UGM, Asisten Deputi Kemenko Kemaritiman, Bupati Banggai Kepulauan, bahkan sudah di konfirmasi oleh anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Pak Jan Darmadi. Namun sayangnya, beliau ada agenda mendadak menjelang persiapan HUT NKRI 17 Agustus 2019 silam. Terlepas dari semua itu, tentunya merupakan hal yang penting untuk masyarakat sendiri untuk terlibat aktif dalam melestarikan budaya sendiri. Tidak perlu menunggu mahasiswa KKN untuk membuat event tahunan guna memasarkan kebudayaan tersebut ke dunia pariwisata. Karena kearifan lokal merupakan daya tarik utama bagi turis untuk berwisata. Demikian pula eksistensi sebuah masyarakat hanya bisa dijaga dengan menerapkan nilai-nilai kebudayaan didalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk pakaian, makanan, maupun adat istiadat.


Atoro Aditya Rahman -Teknik Geologi(2016) Lokasi : Desa Madongka, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Minggu pagi di Desa Madongka, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah sering kali tidak begitu diperhatikan oleh masyarakat desa setempat, khususnya anak-anak dan ibu-ibu. Bangun siang ataupun berkumpul bersama tetangga-tetangga menjadi salah satu kebiasaan di hari ini. Belum ada kegiatan rutin untuk mempererat canda tawa dan kekeluargaan selain kerja bakti semisal membangun rumah, jalan atau apa saja. Padahal kita tau tidak selalu di setiap hati minggu ada satu rumah yang baru dibangun. Kami mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN di desa ini melihat hal ini sebagai sebuah ide yang sebenarnya sangat umum namun belum banyak dilakukan di desa ini, yaitu dengan mengajak masyarakat Desa Madongka bersama-sama melakukan senam pagi. Dari kegiatan ini jelas motivasi utama tentu menambah keakraban di antara satu warga ke warga lain sehingga saling berkabar dan berinteraksi sebagai simbol kerukunan antar masyarakat Desa Madongka. Tujuan lain yang ingin kami sampaikan yaitu memberikan pemahaman secara umum tentang pentingnya menjaga kesehatan dengan kegiatan-kegiatan seperti senam pagi tersebut, dimana pelaksanaannya mudah, menyenangkan, dan bermanfaat untuk tubuh.

Dalam kegiatan ini juga kami sertakan pengecekan kesehatan sebagai penambah daya tarik acara senam pagi ini juga sebagai ruang kami untuk mengedukasi secara singkat tentang pengetahuan medical check-up bagi masing-masing warganya. Secara berturut-turut dari tekanan darah, suhu badan, dan Hemoglobin dapat diketahui dari cek kesehatan ini. Berdasarkan fakta yang ada di lapangan ternyata tidak hanya ibu-ibu dan anak-anak saja yang tertarik pada event ini namun bapak-bapak ikut turut serta meramaikan kegiatannya dan tidak mau ketinggalan untuk dicek kesehatannya oleh mahasiswa KKN di Desa Madongka. Dari kegiatan ini seperti yang tertangkap pada foto diatas, terlihat sekali motivasi yang dicari cukup tercapai. Target masyarakat yang kami tuju untuk mengikuti senam pagi dan cek kesehatan ini perlahan namun pasti hadir dan secara baik mengikuti kegiatan ini. Dari mulai ibu-ibu, anak-anak, bahkan bapak-bapak ikut hadir baik hanya menonton ataupun ikut-ikutan cek kesehatan di posko kami. Dari raut muka mereka jelas terlihat semangat dan suasana yang baik dalam mengikuti gerakan senam ditambah canda dari temanteman yang secara sepihak mulai mengubah senam menjadi tempat joget bersama dengan memutar lagu-lagu aransemen dangdut. Masing-masing diabadikan lewat video-video singkat dan jepretan dari tim dokumentasi KKN Desa Madongka agar tidak hilang ingatan dan ceritanya agar bisa diteruskan kembali ke tim yang ketiga di Desa Madongka tahun depan.


Indah Pratiwi-Sastra Inggris (2016)

Wanita Berbaju Adat Lokasi : Lakudo, Sulawesi Tenggara

Kamomose, merupakan tradisi ajang pencarian jodoh yang biasa dilakukan setelah lebaran. Yah, setidaknya begitulah yang dikatakan oleh masyarakat Lakudo di pulau Sulawesi sana. Tradisi yang unik dipenuhi orang-orang muda hingga yang sudah mulai menua, jangan heran jika menemukan saudara melihat wanita-wanita muda dengan baskom didepan sebagai tempat penampung kacang, serta para pemuda yang berjalan disekitarnya dengan sesekali melirik dengan malu disaaat dua pasang mata insan bertemu. Jika telah menemukan pasangannya, pemuda yang jatuh hati ini akan pulang dan memberitahu kepada kedua orang tuanya. Begitu dramatis dan historical. jika kakak-kakak sudah terlalu lama sendiri tidak ada salahnya mencoba datang dan mengadu nasib di acara ini, selamat menikmati.


Indah Pratiwi-Sastra Inggris (2016)

Pemandangan Sore Lokasi : Lakudo, Sulawesi Tenggara

Oranye , putih dan biru, begitulah warna langit pemandangan sore nan memanjakan mata dapat kami nikmati setiap sore di langitnya Madongka, sapuan warna yang padu disertai desiran ombak yang malu-malu hadir membuat mata enggan untuk beranjak. Jangan tanya bagaimana rasanya saat itu, karena kami takut rindu untuk kembali kesana tiada bisa dibendung lagi. Semoga suatu saat bisa datang kesana lagi dengan cerita dan status yang berbeda. See you Madongka


Indah Pratiwi-Sastra Inggris (2016)

Mahasiswa dan anak SD Lokasi : Lakudo, Sulawesi Tenggara

UGM merupakan universitas yang terletak di kota Yogyakarta yang penuh akan nuansa budaya dan pendidikan, namanya tidak asing lagi di kancah nasional bahkan seringkali digadang-gadangkan sebagai kampus terbaik di negeri ini, mulai dari prestasi sampai organisasi mahasiswa yang dinilai terdidik dan berilmu. Namun semua itu tidaklah lengkap jika kepedulian akan pendidikan itu sendiri tidak tertanam dan tumbuh subur dalam diri mahasiswa itu sendiri, mahasiswa harus bisa jadi perpanjangan tangan dari ilmu untuk adik-adik yang membutuhkan di penjuru negeri ini. Semoga apa yang diberikan dapat menjadi pembelajaran yang baik dan mengenang di hati. Tetaplah berilmu, tetaplah merakyat, tetaplah bermanfaat UGMku.


Irvan Yurdianto Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil 2016 Lokasi : Lakudo, Buton Tengah, Sulawesi Tenggara

Di Lakudo, Buton Tengah, Sulawesi Tenggara tepatnya di Desa Waara, Boneoge, dan Madongka cukup banyak menyimpan sejarah dan keindahan alamnya terutama Goa. Tim KKN PPM UGM yang ditugaskan mengabdi didaerah tersebut sangat kagum dengan keindahan alamnya, banyak potensi yang dapat berkembang didaerah tersebut terutama hasil perikanan dan pariwisata. Banyak bermacam-macam Goa di daerah tersebut dengan Goa yang digunakan untuk mandi maupun Goa yang dikeramatkan. Foto tersebut diambil saat survei Goa-Goa yang berada di Desa Madongka menggunakan kamera CANON EOS 600D dengan bantuan Flash dengan frame Atoro Aditya R (Mahasiswa Geologi Angkatan 2016) dengan orientasi landscape, banyak kendala saat menyusuri Goa tersebut seperti jalan masuk yang hanya berukuran 1 m, permukaan jalan didalam Goa yang licin, dan binatang yang dapat ditemukan didalamnya seperti ular. Dengan izin dan bantuan warga lokal yaitu La Kifli, La Hamdan, La Jerman, dan warga lokal lainnya tim survei Goa lancar dalam melakukan tugasnya.


Irvan Yurdianto Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil 2016 Lokasi : Lakudo, Buton Tengah, Sulawesi Tenggara

Momen tiba di Desa Madongka, Lakudo, Sulawesi Tenggara saat Tim KKN PPM UGM yang berjumlah 30 orang disambut hangat oleh warga sekitar. Kondisi cuaca gerimis saat tim KKN PPM UGM sampai di Desa Madongka. Senyum tawa dan gembira dari anak-anak kecil dan ibu-ibu membuat lelah hilang setelah perjalanan kapal dan speed boat selama 7 jam, tanpa canggung dan sungkan Tim KKN PPM UGM langsung berbaur dengan masyarakat bahkan setelah momen tersebut anak-anak mengajak Tim KKN PPM UGM bermain bola sekitar dermaga. Pom Pom, nama panggilan salah satu anak yang dekat dengan Tim KKN PPM UGM yang mempunyai postur tubuh gendut lucu. Foto tersebut diambil dengan menggunakan smartphone dengan orientasi portrait.


Buku Foto Pameran KKN 2019

Pulau Maluku

Rahmat Alam Akbar | Rizka Handayani | Zildjian Raka | Ifana Futramsyah | Benarifo Ahmada | Hafiz Cahyo Dwi Nugroho


Ifana Futramsyah-Teknik Fisika (2016)

“Ada Suara Apa Tuh Kak??” Lokasi : Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku

Seorang siswa kelas 3 Sekolah Dasar Inpres Klis tengah mempraktekkan penggunaan stetoskop 5 Agustus 2019. Sebuah kegiatan yang amat jarang mereka temukan di sekolah dimana mereka dapat mencoba menggunakan stetoskop dan mempraktekkannya. Kegiatan “Apoteker Cilik” digagas oleh KKN-PPM UGM Pulau Moa 2019 bertujuan memperkenalkan profesi Apoteker dan tenaga kesehatan lainnya seperti Dokter, Perawat dsb. Dalam program ini siswa-siswi SD Negeri Klis dan SD Inpres Klis juga diberikan kesempatan untuk mencoba menggunakan alat-alat kesehatan seperti Stetoskop, membuat oralit dan masih banyak lagi. Anak-anak sangat antusias dan senang mencoba alat-alat yang selama ini mungkin pertama kali mereka lihat. Mereka saling berebut mencoba hingga banyak yang berlarian. Setelah program ini banyak siswa-siswi yang bercita-cita menjadi Dokter, Apoteker dan Perawat kelak ketika besar nanti. Mari Bersama-sama kita doakan dan dukung cita-cita mereka


Ifana Futramsyah-Teknik Fisika (2016)

GERIMIS (Gerakan Minum Susu) Lokasi : Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku

Siswa perempuan kelas 3 Sekolah Dasar Inpres Klis tengah meminum susu dalam kegiatan ‘Gerakan Minum Susu’ atau GERIMIS (5 Agustus 2019) salah satu program KKNPPM UGM Pulau Moa 2019. Antusiasme mereka yang tinggi dalam mengikuti kegiatan ini terpancar dari wajah yang ‘sumringah’ pada kedua siswi tersebut. GERIMIS bertujuan untuk memberikan pengenalan dan pemahaman akan pentingnya minum susu untuk pemenuhan gizi seimbang. Stunting menjadi salah satu permasalahan yang dialami masyarakat Pulau Moa. Sehingga perlu adanya sosialisasi pemenuhan gizi seimbang. Program ini ditutup dengan minum susu bersama siswa-siswi SD Inpres Klis. Siswa-siswi sangat antusias dan berebut ingin menambah susu memberikan kelucuan bagi kami semua.


Ifana Futramsyah-Teknik Fisika (2016)

Perempuan Tangguh Bumi Kalwedo

Lokasi : Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku

Ibu-ibu dan balita tengah mengikiti kegiatan sosialisasi kesehatan bersamaan dengan posyandu (6/8/2019) bertempat di Balai Desa Klis. Kegiatan sosialisasi ini diadakan oleh Tim KKN-PPM UGM Pulau Moa bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Barat Daya. Mama-mama (sebutan dalam bahasa Maluku) sangat antusias mengikuti sosialisasi dimana materi yang disampaikan antara lain : keseimbangan gizi bagi anak, penggunaan obat rasional dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Diharapkan setelah dilakukannya sosialisasi ini masyarakat menjadi lebih sadar dan aware terhadap isu kesehatan, apalagi mama merupakan penggerak dalam keluarga. Sehingga dapat terciptanya keluarga yang sehat yang terhindar dari masalah kesehatan. Adanya anak-anak kecil menambah keseruan sosialisasi karena tingkah lucunya yang sering mengundang gelak tawa.


Ifana Futramsyah-Teknik Fisika (2016)

Beta Yakin Beta Bisa

Lokasi : Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku

“Saya ingin masuk UGM kak, untuk membangun Pulau Moa menjadi lebih baik” tegas seorang siswi SMA Negeri 1 Moa Lakor saat program “UGM Menyapa Moa” (25 Juli 2019). Siswi tersebut bernama Alen yang saat ini duduk di Kelas 12 SMA. Alen bertekad ingin berkuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Bahasa atau Sastra Inggris meskipun letaknya sangat jauh dari tempatnya saat ini. Alen juga berkesempatan mengenakan jas almamater UGM dan mendapatkan hadiah dari Tim KKN-PPM UGM Pulau Moa 2019 atas keberaniannya menjawab pertanyaan. Keberaniannya menjadi semangat bagi teman-temannya yang lain untuk dapat melek pendidikan tinggi. Karena pendidikan yang baik adalah kunci sukses untuk memajukan daerahnya. Saat ini Alen dan teman-temannya sedang belajar dengan giat untuk mempersiapkan seleksi masuk perguruan tinggi utamanya Universitas Gadjah Mada (UGM). UGM Menyapa Moa hadir di 4 SMA dan SMK yang ada di Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya. Keempat sekolah itu adalah SMA Negeri Tiakur, SMA Negeri 1 Moa Lakor, SMK Negeri Tiakur dan SMK Negeri PP Moa Lakor. Program ini bertujuan meningkatkan semangat siswa-siswi SMA/SMK sederajat yang ada di Pulau Moa untuk melanjutkan tinggi dengan memberikan sosialisasi seluk beluk perguruan tinggi dan jalur masuknya.


Ifana Futramsyah-Teknik Fisika (2016)

Beberapa mahasiswa berfoto dengan siswa kelas 12 SMA Negeri Tiakur, Kecamatan Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya , setelah kegiatan ‘UGM Menyapa Moa’ (1/8/2019). UGM Menyapa Moa berisi pengenalan seluk beluk kehidupan kampus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) utamanya Universitas Gadjah Mada (UGM). Program ini bertujuan untuk membagi informasi dan pengalaman yang diharapkan dapat mendorong dan memotivasi siswasiswi SMAN Tiakur dan seluruh yang ada di Pulau Moa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Keterbatasan akses informasi menjadi permasalahan yang dialami oleh siswa-siswi SMA/SMK sederajat di Pulau Moa. UGM Menyapa Moa hadri memberikan pengetahuan dan pencerahan.

Lokasi : Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku

Di Pulau Moa sendiri telah ada satu perguruan tinggi yakni Universitas Pattimura (cabang Moa), yang berfokus dalam dunia pendidikan. Jika anak-anak Moa mau berkuliah selain di Universitas Pattimura ini maka pilihan lainnya adalah keluar pulau. Universitas yang terdekat dengan mereka berada di Kupang dan di Ambon

UGM Menyapa Moa


Rahmat alam Akbar -Teknik Geologi 2016

Kacang merah, Pangan dan Pengabul angan-angan Lokasi : Provinsi Maluku Barat Daya

Seiring bertambahnya jumlah penduduk maka masalah ketersediaan pangan bagi masyarakat semakin menjadi masalah yang besar. Permasalahan pangan kemudian didukung oleh perubahan iklim yang menyebabkan produksi semakin menurun. Hal ini tentunya menjadi ancaman serius terhadap masalah ketahanan pangan di pulau-pulau kecil. Salah satu dari pulau kecil itu adalah Pulau Moa yang di dalamnya ada Desa Werwaru. Meski berada di wilayah terluar Indonesia, nyatanya Desa Werwaru yang terletak di Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku menyimpan berbagai potensi alam dan budaya. Tidak hanya pantainya yang indah, Desa Werwaru di anugrahi tanah yang subur sehingga memungkinkan berbagai tanaman tumbuh didalamnya. Ya, salah satunya kacang merah. Sebagai salah satu sumber pangan utama, kacang merah seolah sudah sangat melekat dalam kehidupan masyarakat. Jenis pangan yang kaya akan vitamin dan protein ini biasa dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai campuran ketika memasak nasi maupun jagung. Meski tidak dirawat secara khusus dan hanya ditaman setahun sekali karena mengandalkan air hujan, nyatanya produksi kacang merah di Desa Werwaru sangat melimpah. Hal ini menjadikan kacang merah tidak hanya menjadi konsumsi pribadi namun juga memiliki potensi nilai ekonomi yang cukup tinggi sehingga mendorong masyarakat khususnya para petani untuk menjual hasil kebunnya kepada masyarakat lain di luar desa. Tradisi tersebut sudah menjadi satu strategi dalam menjaga ketersediaan pangan sepanjang tahun.

Oh iya, di pulau ini masih berlaku sistem barter, sehingga tidak jarang ada yang menukarkan kacang merah dengan hasil kebun lainnya atau bahkan ditukar dengan hewan ternak seperti kerbau dan sapi. Selain itu ada yang spesial dalam dunia pertanian di desa ini, ya, para petani tidak perlu bersusah payah keluar desa untuk menjual hasil kebunnya, karena para konsumen sendiri yang datang langsung ke Desa Werwaru untuk membelinya. Ada juga kisah menarik dari sistematika kacang merah ini. Tidak terkait mengenai bagaimana kacang ini bisa tumbuh akan tetapi lebih ke manfaatnya terhadap pemenuhan angan-angan seorang ibu. Eci, seorang ibu berstatus single parent memiliki keinginan untuk menyekolahkan anaknya di luar kampung yang terpencil ini. Dari hasil berjualan kacang merah, eci sedikit demi sedikit menyisihkan uang untuk menyekolahkan anaknya. Tak terasa angan-anganya tercapai bahkan sampai anaknya sudah hampir wisuda.


Rahmat alam Akbar -Teknik Geologi 2016

Adik,Kakak, dan Bohlam Lokasi : Provinsi Maluku Barat Daya

Endang Hawari, Kaka Endang pu nama, seorang petualang tangguh yang ulung. Ia duduk di semester akhir di salah satu Universitas di Sleman . Kegemarannya dengan dunia sosial dan budaya telah mengantarkannya ke sebuah pertemuan hebat dengan aspekaspek etnik yang tak terlupakan. Orangnya sederhana, lincah, murah senyum, kuat, dan sedikit keras kepala. Menurutnya, hidup adalah tentang barbagi dan memahami. Hidup bersama orang-orang dengan sebuah subjek yang belum terkontaminasi modernisasi dan westernisasi itu merupakan seni untuk hidupnya. Juni 2019, Endang dan kolega berkunjung ke Pulau Moa. Berkat keuletan menekuni bidang perkuliahan di kampusnya. Ia mendapat kesempatan untuk tinggal dan mengabdi selama lebih kurang 50 hari di Pulau Moa. Tuhan memang kasih, Endang diberikan kesempatan untuk dipertemukan dengan kearifan lokal masyarakat adat Desa Werwaru, dan juga pahlawan kecil dari SD Inpres. Bagi Endang, Pulau Moa adalah pulau impiannya selama ini. Ia selalu bermimpi untuk tinggal di Indonesia bagian timur, menikmati alamnya yang indah, Bersatu melebur bersama alam dan biotanya. Penjelajahannya sampai ke Pulau Moa memerlukan perjuangan yang berat, dari dibatalkanya pesawat Hercules, Bingung mencari dana KKN untuk menutupi uang akomodasi disana, juga laut yang mengajak berguyon selama empat hari .

10 Hari disana, Endang dan koleganya sudah mulai akrab dengan anak-anak disana. Pagi itu ada yang special bagi mereka. Kakakkakak dari Tim KKN PPM UGM Pulau Moa datang menyapa dan memberikan pelajaran tambahan tentang Rumah Bohlam. Ada beberapa anak yang sangat antusias dengan pelajaran rumah bohlam yang diberikan. Dari kiri, Clifor. Clifor adalah cucu dari pak ellias yang merupakan Kepala Desa. Ia memiliki cita-cita menjadi polisi. Berkepala bundar disebelah clifor,raven. Raven bercita-cita menjadi seorang jurnalis terkenal. Jenny, gadis kecil yang paling kelihatan khas orang timurnya ini memiliki cita- cita seperti kakak endang, sebagai seorang ahli kelistrikan. Sebuah infromasi unik yang didapatakan adalah 90 persen anak kecil di Desa Werwaru bercita-cita bekerja di bidang militer. Entah darimana paradigma tersebut terbentuk. Terlihat biasa mungkin, tapi nyatanya ini lebih dari sebuah kebahagiaan bagi mereka yang tinggal jauh dari hiruk pikuk modernitas perkotaan. Tapi jangan pandang mereka dengan sebelah mata. Mereka yakin, meski pelangi tak selalu hadir setelah hujan, namun Tuhan selalu memiliki kado terindah bagi hambanya yang bersungguh-sungguh.


Rizka Handayani S.AR Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil 2016

Bakar Semangatmu

Lokasi : Seram utara timur kobi, Maluku Tengah, Maluku

Mengawali kegiatan dengan penuh keluhan, tak ubahnya kerbau yang enggan beranjak dari berkubang. Kehidupan KKN penuh program membuat mahasiswa tak berhenti berkegiatan. Briket salah satunya. Proses panjang pengerjaannya membuat kami paham akan manfaat briket dari arang tempurung kelapa. Tahapan penuh drama dari sosialisasi meyakinkan warga hingga ke tahap akhir pembakaran tempurung kelapa menyadarkan kami bahwa semangat membara merupakan kunci dari segala bentuk kesuksesan.


Rizka Handayani S.AR Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil 2016

Anak Kecil Penghapus Sendu Lokasi : Seram utara timur kobi, Maluku Tengah, Maluku

Pagi itu aku menuju sekolah dasar menjalankan program bantu. Wajah sendu tak bisa ku tutupi dari teman teman yang telah lama menunggu kedatanganku. Sepersekian detik gerombolan anak kecil memelukku dan menarik jas almamaterku, membawaku ke ruang kelas tempat mereka menuntut ilmu. Sepersekian detik itu pula senyumku merekah menghapus pilu dan beban yang sedari kemarin menghantui pikiranku. Tak seperti yang lain, anak-anak menghipnotisku dengan kebahagiaan terpancar nyata di setiap wajah manis mereka.


Rizka Handayani S.AR Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil 2016

Ora, Sejuta Kenangan Seribu Keindahan Lokasi : Seram utara timur kobi, Maluku Tengah, Maluku

Tersembunyi di balik tebing tinggi, menyentuh awan menyejukkan pandangan. Pesona tak berujung membuat kami takjub betapa menawannya Tanah Maluku. Memori demi memori tersimpan rapi, terukir indah di setiap sudut pantai pemikat hati. Ora, tak pernah terlupa, tak pernah binasa. Satu doa yang kami pinta, kami ingin kembali ke sana.


Zildjian Raka-Fisika(2016)

Fun English Lokasi : Manyeuw, Maluku Tenggara, Maluku

Fun English merupakan salah satu program kerja KKN kami. Program ini diusung oleh tim dari klaster Sosio Humaniora (Soshum) dengan tujuan untuk mengajarkan anak-anak SD berbahasa Inggris. Sesuai namanya, kegiatan ini dilakukan sembari bersenang-senang seperti bernyanyi atau bahkan bergoyang dengan melantunkan kata bahasa inggris.


Zildjian Raka-Fisika(2016)

Wonderful Sail goes to Kei Kecil Lokasi : Manyeuw, Maluku Tenggara, Maluku

Wonderful Sail merupakan program dari Kementerian Pariwisata untuk membangun wisata bahari di Indonesia. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari beberapa negara yang berkeinginan untuk mengelilingi pulau-pulau terpencil di Indonesia. Pelayaran ini memakan waktu berminggu-minggu untuk mengungkap keindahan alam Indonesia dan Pulau Kei Kecil termasuk ke dalam salah satu daftar wilayah yang akan dikunjungi oleh peserta Wonderful Sail. Secara kebetulan juga, Ohoi Namar sebuah desa yang saya tinggali sebagai tempat KKN menjadi desa wisata tujuan Wonderful Sail. Hal ini juga merupakan kali pertama bagi masyarakat Ohoi Namar didatangi oleh peserta Wonderful Sail. Ohoi Namar menjadi destinasi saat jam makan siang, sehingga para wisatawan dapat menikmati keindahan alam serta keramah-tamahan masyarakat Ohoi Namar sekaligus sembari menyantap masakan laut khas Pulau Kei Kecil. Penyambutan berlangsung dengan penampilan tarian adat, makan-makan, lalu dilanjut dengan menari bersama dengan para wisatawan. Ini semua merupakan pengalaman yang luar biasa bagi masyarakat Ohoi Namar.


Zildjian Raka-Fisika(2016)

Chilling at Benteuw Sejang Lokasi : Manyeuw, Maluku Tenggara, Maluku

Terkadang manusia membutuhkan waktu istirahat dari segala aktivitas yang telah dilakukan. Terlepas dari kegiatan KKN, kami sering menyempatkan diri hanya untuk menikmati pemandangan alam ataupun meluangkan waktu untuk bermain bersama anak-anak. Kegiatan yang biasanya dilakukan setiap menjelang berakhirnya hari ini sangat membantu melepaskan kepenatan serta lelah para mahasiswa. Pantai Benteuw Sejang namanya. Pantai yang berlokasi di Ohoi Namar yang merupakan tempat favorit bagi kami untuk menikmati sunset ditambah suara burung dan anak-anak yang bermain air. Laut di sini cukup tenang karena tidak ada ombak sehingga kami dapat berenang hingga ke tengah laut.


Benarifo Ahmada -Geografi Lingkungan 2016

Sarjana Aduk Semen Lokasi : Pulau Morotai-Maluku Utara

Jumat, 27 Juli 2018 sekitar 15.42 WIT. Masa itu adalah masa-masa tersibuk kami, tim KKN-PPM UGM MLU-003 atau yang akrab disebut Kita Morotai 2018 untuk mempersiapkan segala hal nya untuk Festival Morotai yang diselenggarakan di Pulau GaloGalo, Kecamatan Morotai Selatan. Salah satu yang dipersiakan ialah landmark bertuliskan “Galo-Galo� berukuran 15 x 3 meter di Tanjung Boleu, salah satu Pantai favorit teman-teman KKN mencari pemandangan sunrise ataupun sunset. Landmark ini diharapkan dapat mengangkat wajah Pulau Galo-Galo sebagai salah satu pulau destinasi wisata dan mampu meningkatkan taraf ekonomi warga Pulau Galo-Galo. Hampir setiap hari nya, selama dua pekan kami mengadakan kerja bakti dari jam delapan pagi hingga tiga sore untuk membangun landmark “Galo-Galo�. Bagiku, ini adalah pengalaman pertama dan paling berharga, yaitu bekerja menjadi kuli bangunan. Merasakan lelahnya mengangkat karung semen tiga roda yang sangat berat, mengangkat batu untuk dijadikan bahan campuran adonan semen, mengangkat ember yang penuh dengan air dari permukiman menuju pantai, berestafet mengangkat ember yang diisi semen untuk dimasukkan ke dalam mal landmark Galo-Galo.

Merasakan menikmati waktu luang ala-ala tukang bangunan, meminum kopi yang sudah mendingin atau es sirup yang pastinya es batunya sudah mencair dan hanya menyisakan bongkahan es batu yang berukuran mungil, sesekali warga lokal memanjat pohon kelapa untuk mengambil buah nya dan dinikmati bersama-sama, sembari melinting tembakau (Tabako Shag), bergurau bersama, berebut rokok Gudang Garam karena di Pulau Galo-Galo yang begitu kecil, stok rokok Gudang Garam sangat sedikit sehingga menyebabkan harga rokok mahal, kurang lebih Rp 25.000. Karena ini lah, aku mau tidak mau belajar melinting tembakau agar dapat menikmati rokok, bersosialisasi, sekaligus menghemat uang jajan. Foto ini bercerita mengenai kegiatan seorang mahasiswi dan mahasiswa bernama Tarasistha dan Ridho, yang sedang membantu Pak Nasri, seorang aparatur desa bidang pembangunan sekaligus salah satu bapak piara kami. Tarasistha menuangkan air yang diwadahi ember secara bertahap dan konsisten ke adukan semen dan pasir yang sedang diaduk oleh Ridho dan Pak Nasri. Mereka tidak peduli terhadap cipratan adukan semen dan air yang mengotori sendal, kaki, bahkan celana mereka, yang ada di pikirannya hanya mengabdi, mengabdi, dan mengabdi. Toh, kotoran semen nya nanti akan hilang saat kita mandi atau akan dibersihkan oleh ombak yang menggulung ke bibir pantai sebagai tanda terima kasih alam Galo-Galo kepada mereka.


Benarifo Ahmada -Geografi Lingkungan 2016

Calon Pelaut Ulung Lokasi : Pulau Morotai-Maluku Utara

Sabtu, 23 Juni 2018 sekitar 14.41 WIT, sekitar 2 hari setelah tiba nya kami di Pulau Galo-Galo. Di pagi hari kami diajak Pak Ujo bertamasya ceria ke Pulau Galo-Galo Kecil. Kenapa dibilang kecil? Berdasarkan penuturan dari Pak Ujo sendiri, setiap pulau-pulau di Kecamatan Morotai Selatan ini punya dua nama, satu pulau besar nya dan satu pulau kecil nya. Misalnya ada Pulau Dodola Besar dan Dodola Kecil. Nah, seperti kasus Galo-Galo ini, tempat mahasiswa KKN ini tinggal yaitu di Pulau Galo-Galo Besar yang samping-sampingan dengan Galo-Galo Kecil. Kedua pulau tersebut akan tersambung apabila permukaan air laut surut. Surutnya permukaan air laut biasanya terjadi pada siang hari, sekitar jam 11.00 hingga 13.00 dan akan muncul gundukan pasir yang menghubungkan kedua pulau tersebut. Fenomena menyambungnya dua pulau dalam terminologi Geografi disebut dengan Tombolo. Pulau Galo-Galo Kecil menjadi tempat wisata bagi Warga GaloGalo untuk melepas penat. Biasanya para pemuda akan berkemah di pulau ini pada akhir pekan, menyalakan api unggun, menyetel lagu, menari, bernyanyi, dan meneguk minuman khas Maluku Utara bernama Cap Tikus yang mereka beli dari Pulau Tobelo seharga Rp 20.000 – 30.000 yang dibungkus plastik, persis seperti kita membungkus es teh manis dari bakul angkringan.

Pulau ini memiliki dermaga untuk tempat berlabuhnya kapal-kapal speed boat dari Daruba, Ibu Kota Kabupaten Pulau Morotai. Di dermaga itulah aku, teman-teman, dan calon pelaut ulung dari Pulau Galo-Galo, Ilman, Dino, dan kawanan krucil-krucil lainnya melakukan atraksi lompat dari dermaga ke air laut. Yang harus dikhawatirkan adalah morfologi bibir pantai Galo-Galo Kecil yang terjal. Ibarat jurang, kira-kira kalau kita berenang 10 meter dari arah pantai menuju lautan, rasa takut akan muncul terutama untuk teman-teman yang belum bisa berenang karena apabila kita melihat ke bawah, ke dasar laut, yang terlihat hanya gelap, dan tiba-tiba dalam. Di situlah aku mengajarkan Ilman dan Dino menggunakan peralatan snorkeling, lengkap dengan fins (kaki katak), masker (kacamata renang), dan snorkel (alat bantu napas berbentuk silinder seperti pipa). Sebelum lautan mulai pasang, Pak Ujo mengajak kami kembali ke Pulau Galo-Galo Besar. Dengan cekatan, Ilman dan Dino saling bahu membahu mengangat jangkar dan mengarahkan kapal menggunakan bambu panjang sebelum mesin baling-baling kapal dihidupkan Pak Ujo. Hal tersebut yang membuat aku takjub, anak sekecil mereka sudah diajarkan bahkan mampu mengangkat jangkar kapal. Sebagai apresiasi, ku ambil kamera ku untuk memotret momen Ilman yang sibuk memainkan bambu panjang tersebut, Dino yang sadar kamera langsung berpose di hadapan kamera ku, sayang nya Ilman belum siap difoto.


Benarifo Ahmada -Geografi Lingkungan 2016

Senyum Tarik Tambang Lokasi : Pulau Morotai-Maluku Utara

Selasa, 31 Juli 2018 sekitar 16.21 WIT. Festival Morotai sudah dimulai. Festival Morotai adalah kegiatan yang dicetuskan oleh Mahasiswa KKN-PPM UGM untuk ajang promosi Pulau Morotai sebagai destinasi wisata seperti di Pulau Bali. Festival Morotai ini didukung penuh oleh Bupati Kabupaten Pulau Morotai, Pak Benny Laos. Menurutnya, jika Pulau Morotai sudah siap menjadi penyedia wisata dan semakin populer, hal tersebut dapat meningkatkan perekonomian Pulau Morotai yang berujung pada peningkatan taraf hidup masyarakat Pulau Morotai. Konsep Festival Morotai ialah mengadakan perlombaan dalam bidang seni dan olahraga untuk warga Desa Galo-Galo. Dalam bidang seni ada lomba gambar, memasak, cipta dan baca puisi. Bidang olahraga ada lomba sepak bola, tarik tambang, voli, catur, dan domino. Perlombaan yang dibuka untuk Desa-desa di Kabupaten Pulau Morotai ada lomba kerajinan, fotografi, dan yang menarik adalah lomba dayung. Festival Morotai akan ditutup dengan parade bahari, pameran fotografi, pameran kerajinan, tarian tradisional, penghargaan pemenang lomba, dan menampilkan artis lokal Morotai. Parade bahari menjadi daya tarik sendiri pada Festival Morotai. Peserta menghias kapal dan berparade dari pelabuhan Daruba menuju Pulau Galo-Galo.

Perlombaan yang sudah diadakan adalah sepakbola, baca puisi, memasak, dan tarik tambang. Pertandingan tarik tambang diadakan per Rumah Tangga (RT). Kali ini adalah giliran RT 2 dan RT 1 untuk bertanding. Ada momen lucu di pertandingan tarik tambang ini. Pak Jamdin, Warga RT 1 melakukan kecurangan. Ia membuat lubang yang digali dengan kakinya untuk menahan tubuhnya agar tidak tertarik ke arah lawan. Untungnya wasit pertandingan menyadari hal itu dan langsung menegur Pak Jamdin. Gelak tawa pecah karena tingkah Pak Jamdin ini. Setelah wasit yakin tidak ada lagi oknum yang berbuat kecurangan, barulah pertandingan yang sebenernya dimulai! Ibu-ibu dan anak-anak menyemangati tim RT mereka masing-masing. Memberikan kata-kata penyemangat ataupun memecah konsentrasi lawan dengan memberikan guyonan ataupun gerakan yang menggelitik. Tibalah momen yang bagus untuk ku memotret salah satu warga RT 2 yang sedang berkonsentrasi menarik tali tambang nya. Bukan muka serius dan penuh amarah mengumpulkan tenaga yang ku dapat, malah muka cengengesan nan menggelitik yang ku dapat. Pertandingan diakhiri dengan kemenangan oleh RT 2. Sontak warga RT 2 berlarian ke sana ke mari mengejek warga RT 1, sebagai tanda meluapnya rasa senang dan bahagia warga RT 2. Bravo RT 2!


Hafiz Cahyo Dwi Nugroho-Manaj. Sumberdaya Akuatik (2016)

Desa Gila Bola Lokasi : Maluku Utara

Masyarakat berkumpul di sebuah lapangan bola belakang SD, yang merupakan satu-satunya sekolah di Desa Airmangga. Di tengah perkebunan kelapa dan tambang emas tradisional yang perlahanlahan merusak Desa mereka, masyarakat Desa Airmangga tetap asyik bermain bola. Mereka seakan lupa dengan beban kehidupan yang ada. Harap maklum, Mereka sedang larut dalam hiruk pikuk kemerdekaan. Balutan daster yang melingkar di tubuh para pria semakin membuat suasana semakin meriah, ditambah lagi event satu tahun sekali ini sangat ditunggu-tunggu warga selain natal dan tahun baru. Tidak adanya sinyal handphone dan internet menjadi berkah tersendiri untuk mereka. Warga Desa menjadi sangat kompak dan merasa menjadi satu keutuhan berkat tidak adanya jaringan gadget di Desa ini. Imbasnya, satu-satunya hiburan bagi anak-anak dan pemuda ialah bermain sepak bola.

Tanggal 17 Agustus memang selalu ditunggu-tunggu oleh warga desa, namun setiap sore adalah saat yang ditunggu-tunggu bagi para anak-anak hingga orang dewasa untuk bermain bola. Desa ini bisa disebut desa pecinta bola. Tidak jarang ketika ada turnamen antar negara atau klub yang tayang di telivisi, yang jaraknya ribuan kilometer dari Desa Airmangga ini, membuat warganya terlibat baku pukul hanya karena berbeda pendapat dan saling ejek. Hal yang sangat jarang ditemukan di perkotaan yang notabene dialiri listrik 24 jam, berbeda dengan Airmangga yang hanya 12 jam. Ketika rumput sudah tinggi di lapangan dan membuat bola tidak dapat bergulir, mereka tidak berhenti bermain bola. Mereka tidak kehabisan akal, mereka bermain di pantai. Terdapat kisah menarik dan unik tentang sepakbola dari Desa ini. Ada satu cerita dari Timon, anak dari Desa Airmangga. Suatu hari Timon membolos sekolah. Setelah ditelusuri, Timon membolos agar badannya tetap fit untuk bermain bola di sore harinya. Bukan pertandingan antar desa, namun hanya permainan bola yang dilakukan anak-anak lain di setiap sorenya. Begitu juga yang dilakukan oleh pemuda bernama Rio. Ia tidak berangkat ke tambang hanya untuk membeli bola di Kecamatan, untuk kemudian dimainkan bersama teman-temannya pada sore hari. Memang Desa yang gila bola.


Buku Foto Pameran KKN 2019

Pulau Nusa Tenggara

Anom Parikesit | Ichsan Indrayana Aryadipura


Ichsan Indrayana Aryadipura-Teknik Sipil (2016) Lokasi : Pemenang Barat, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

Bale Tani merupakan tempat pertemuan kelompok sadar wisata Dusun Kerujuk, Pemenang, Lombok Utara. Terletak di tengah sawah, Bale ini nyaman untuk digunakan karena angin sepoi-sepoi bertiup dari pegunungan. Pokdarwis Kerujuk berfokus pada Ekowisata Kerujuk, sebuah tempat wisata alam yang menyajikan budaya khas Lombok Utara. Wisatawan dimanjakan dengan pemandangan hamparan sawah dengan pegunungan sebagai latar belakangnya. Wisatawan dapat menginap di rumah warga, merasakan kehidupan warga sekitar yang bermata pencaharian sebagai petani dan penyadap nira. Tak hanya itu, wisatawan dapat mencicipi outbond, susur sungai, pembuatan nira jahe, dan lain-lain. Dalam perkembangannya setelah gempa Lombok pada tahun 2018, Pokdarwis Kerujuk sadar bahwa perlu adanya promosi dan iklan kembali. Salah satu platform yang digunakan adalah Instagram. Ketua pokdarwis, Pak Jon, meminta kami untuk melatih mereka dalam content writing, promosi, iklan, design grafis, dan fotografi. Bale ini kami gunakan untuk mengadakan pelatihan tersebut.


Ichsan Indrayana Aryadipura-Teknik Sipil (2016) Lokasi : Pemenang Barat, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

Shasha dan anak-anak Dusun Lebah Sari, Pemenang, Lombok Utara, memakan makanan ringan di halaman Raudatul Athfal Yaa Bunayya selepas bersih-bersih lapangan dan ruang kelas. Lapangan dan ruang kelas RA Yaa Bunayya sering digunakan anak-anak untuk bermain, kendati demikian banyak bekas bahan material berupa kaca dan potongan baja tulangan tergeletak di lapangan. Selepas gempa Lombok pada tahun 2018, material bangunan diletakkan di sembarang tempat, di pinggir jalan, di halaman, bahkan di lapangan tempat bermain anak-anak. Sebelum duduk melingkar, anak-anak diajak untuk mencuci tangan dengan sabun. Setelah duduk, anak-anak dibagikan makanan ringan secara merata. Tidak hanya itu, anak-anak juga diajarkan untuk membagi makanan ke teman di sekitarnya. Mereka sangat antusias untuk berbagi makanan karena mereka pernah melewati suatu titik susah dalam hidup mereka secara bersama-sama. Selain itu sebagai pembelajaran agar sedari kecil anak-anak mau gotong royong dan berbagi.


Ichsan Indrayana Aryadipura-Teknik Sipil (2016) Lokasi : Pemenang Barat, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

Selly bermain seluncuran bersama anak-anak Dusun Lebah Sari, Pemenang, Lombok Utara, di saat jam istirahat kelas. Anak-anak antusias bergantian naik dan turun seluncuran sehingga Selly harus menjaga anak-anak dari samping. Setelah gempa Lombok 2018 silam, anak-anak mengalami trauma berkepanjangan. Bermain bersama merupakan salah satu treatment penyembuhan trauma tersebut. Anak-anak begitu gembira ketika diajak bermain kakak-kakak dari UGM. Senyum mereka mengembang sempurna, melupakan sesaat kejadian yang mereka alami setahun silam. Bagi anak-anak bermain merupakan hal yang sangat menyenangkan. Tidak hanya seluncuran, anak-anak juga bermain jungkat-jungkit yang terletak tidak jauh dari seluncuran.


Anom Parikesit-Arkeologi (2016)

Ekspresi Warga Nihaone Lokasi : Adonara, Nusa Tenggara Timur

Kala itu, kampung Nihaone disibukan dengan salah satu jadwal mendukung tim futsal kebanggaan mereka berlaga di liga futsal Lamahelan. Setiap sore kami beramai-ramai naik oto, sebutan warga lokal untuk roda empat, menuju ke lokasi pertandingan. Mobilmobil pickup yang sehari-hari mengangkat air untuk distribusi air ke warga masyarakat berganti peran mengangkut warga Nihaone yang akan memberikan dukungan kepada tim futsal Gereniha. Selain dinamika di atas mobil karena kami membaur dengan warga lainnya, kebahagiaan dan kehangatan warga masyarakat sangat terasa kala kami bersautan memberikan dukungan kepada tim futsal Gereniha yang berlaga di lapangan. Anakanak kecil menjadi sosok yang paling lekat dengan warga KKN-PPN UGM di Nihaone. Kepolosan mereka terkadang membuat warga KKN tertawa lepas dan mereka menjadi sosok yang paling berkesan ketika warga KKN kembali ke Jogja.


Anom Parikesit-Arkeologi (2016)

OI (Orang Indonesia) Adonara Lokasi : Adonara, Nusa Tenggara Timur

Dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2019, warga desa Nihaone bersama warga KKN-PPM UGM Adonara 2019 bersama merayakan Festival Nihaone dengan slogan “Soga Nara Lewotana�. Salah satu acara yang diadakan ialah jalan santai dari kampung menuju ke pantai Ina Burak menggunakan berbagai kostum dan baju adat. Tidak lupa anak-anak yang akan berangkat PERSAMI (Party Sabtu Minggu) juga turut mengikuti pembukaan festival ini di Lapangan Murai, Desa Nihaone sebelum mereka beranjak PERSAMI.


Indah Pratiwi-Sastra Inggris (2016)

Masih Di Ina Burak Lokasi : Lakudo, Sulawesi Tenggara

Jika ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Bila punya umur panjang, boleh kita menumpang party. Berikut adalah salah satu peribahasa yang mungkin cocok disematkan pada wilayah Adonara. Ini kenapa warga KKN-PPM menamai diri mereka Program Party Adonara karena warga Adonara tidak henti-hentinya berpesta. Selain di rumah, mereka juga mengadakan party di pantai, di tengah teriknya matahari siang hari. Ketika muda-mudi remaja bersatu dengan peer group sendiri-sendiri dan orang tua mengawasi di pinggir pantai, anak-anak kecil menikmati hari mereka dengan berenang di pantai Ina Burak yang memiliki pasir putih dan air laut yang segar. Salah satu anak kecil yang bernama Sili bahkan berenang dalam kondisi telanjang bulat dan menikmati hamparan pasir putih dan segarnya air laut menyentuh tubuh mungilnya.


Buku Foto Pameran KKN 2019

Pulau Papua

Kenrick | Ichlasul Arif | Leonardo Juan | Satria Aji | Syahrul Alfi | Tio Ardiansah | Naufal Hanif Z.


Muhammad Ichlasul Arif Darmawan-Teknik Sipil 2016

Snap Mor Hasil Mansar Lokasi : Samberpasi, Aimando Padaido, Biak Numfor, Papua

Dengan slogan “Menguatkan Budaya, Membingkai Pesona�, Festival Biak Munara Wampasi yang ketujuh berhasil memikat wisatawan domestik hingga mancanegara. Berbeda dengan festival-festival sebelumnya, Festival Biak Munara Wampasi merupakan acara tahunan yang paling meriah karena didukung sepenuhnya oleh Kementerian Pariwisata. Festival ini menampilkan berbagai acara, mulai dari pertunjukan tari daerah, sajian ragam kuliner khas Biak, hingga Snap Mor. Snap Mor adalah tradisi memancing yang memanfaatkan surutnya air laut. Dengan cara ini, ikan-ikan yang ada di balik terumbu karang dapat terlihat jelas, sehingga pemancing dapat langsung menombak maupun menggunakan senapan untuk menangkap ikan tersebut. Dahulu, alat yang digunakan untuk Snap Mor adalah kayu yang dibuat menjadi runcing. Namun, sejak kehadiran penjajah Belanda dan Jepang, alat pancing diubah dengan besi putih pada bagian ujungnya yang berfungsi untuk menangkap ikan. Potret di atas menunjukkan raut wajah bahagia salah satu mansar, sebutan warga Biak bagi laki-laki tua, yang berhasil menangkap ikan dengan senapan ikannya. Berbekal kacamata selam yang disebut kacamata molo dan senapan ikan.


Muhammad Ichlasul Arif Darmawan Teknik Sipil(2016)

Perempuan Timur Indonesia Lokasi : Samberpasi, Aimando Padaido, Biak Numfor, Papua

Kala itu, kampung Nihaone disibukan dengan salah satu jadwal mendukung tim futsal kebanggaan mereka berlaga di liga futsal Lamahelan. Setiap sore kami beramai-ramai naik oto, sebutan warga lokal untuk roda empat, menuju ke lokasi pertandingan. Mobilmobil pickup yang sehari-hari mengangkat air untuk distribusi air ke warga masyarakat berganti peran mengangkut warga Nihaone yang akan memberikan dukungan kepada tim futsal Gereniha. Selain dinamika di atas mobil karena kami membaur dengan warga lainnya, kebahagiaan dan kehangatan warga masyarakat sangat terasa kala kami bersautan memberikan dukungan kepada tim futsal Gereniha yang berlaga di lapangan. Anakanak kecil menjadi sosok yang paling lekat dengan warga KKN-PPN UGM di Nihaone. Kepolosan mereka terkadang membuat warga KKN tertawa lepas dan mereka menjadi sosok yang paling berkesan ketika warga KKN kembali ke Jogja.


Kenrick-Teknik Mesin 2016

Festival Biak

Lokasi : Samberpasi, Aimando Padaido, Biak Numfor, Papua

Festival Biak Munara Wampasi adalah Festival terbesar di Kabupaten Biak Numfor, dan masuk dalam agenda utama Kementrian Pariwisata Republik Indonesia. Salah satu rangkaian acara yang paling meriah adalah pada upacara pembukaan, dimana setiap elemen masyarakat se kabupaten Biak Numfor terlibat langsung dalam penyelengaraan festival, mulai dari anak-anak, hingga pejabat pemerintahan. Tidak seperti pada hari-hari pada umumnya, elemen masyarakat Biak menggunakan pakaian adat untuk memeriahkan acara. Tampak pada foto adalah kegiatan saat anak-anak sedang berbaris bersiap untuk rangkaian upacara menggunakan pakaian adat berwarna cerah. Wajah anak-anak tersebut tampak sumringah walaupun sudah bersiap sejak pagi dan terpapar sinar matahari yang cukup terik.


Kenrick-Teknik Mesin(2016)

Menikmati Snap-Mor Bersama Teman Lokasi : Samberpasi, Aimando Padaido, Biak Numfor, Papua

Kegiatan snap-mor (kegiatan menombak ikan pada perairan dangkal) adalah salah satu hiburan warga Biak yang dilakukan pada saat air laut surut. Aktivitas ini dapat dilakukan oleh berbagai kalangan, baik bersama keluarga maupun bersama sahabat. Ikan ditombak menggunakan peralatan sederhana yang dibuat oleh masing-masing warga dengan bahan kayu, adapum ujung tajam yang digunakan untuk menombak umumnya terbuat dari logam. Menombak ikan pada awalnya tampak mudah karena air sangat jernih dan ikan-ikan terlihat jelas. Tetapi pergerakan ikan yang lincah menyebabkan mahasiswa KKN tampak kesulitan dalam menombak ikan. Hal yang sebaliknya terjadi pada warga setempat. Mereka tampak lihai dalam menombak ikan demi ikan. Kegagalan maupun keberhasilan dalam menangkap ikan ditanggapi oleh masyarakat dengan sukacita. Mereka membawa pulang hasil tangkapan untuk dinikmati bersamasama sebagai hidangan.


Leonardo Juan Christanto Putra Antropologi Budaya 2016

30PK Lokasi : Biak,Papua.

“Itu goyang ke darat, Kakak Dika!� Perahu fiber dipenuhi sorak-sorai penumpangnya; tanda cemas dan gelisah melihat Dika mengendarai motor 30PK. Hari Minggu itu menjadi kali pertama Dika diperbolehkan mengendarai perahu fiber untuk membawa seluruh keluarga angkatnya mengitari pulau-pulau yang berada di sekitar Pulau Samberpasi, Aimando-Padaido, Biak. Meskipun motor 30PK bagi kakak-kakak di Samberpasi bukanlah motor tercepat untuk perahu fiber, namun tetap untuk seorang pemula, mampu mengendarai motor 30PK menjadi tantangan tersendiri—terlebih untuk Dika yang sebelumnya belum pernah mengendarai perahu fiber bermotor apapun.


Leonardo Juan Christanto Putra Antropologi Budaya 2016

Morris, Sebatang Surya, dan Samakur Lokasi : Biak,Papua.

Morris Wospakrik merupakan kakak angkat saya selama di Samberpasi. Sebagai seorang kakak, Morris seringkali mengajak saya dan Ajo (teman KKN Biak yang satu keluarga angkat) jalan-jalan, khususnya setiap hari Minggu. Hari Minggu itu menjadi hari yang cukup berkesan bagi kami, karena kami diajak ke salah satu pulau terindah di sekitar Samberpasi, yaitu Pulau Samakur atau Pulau Burung. Ditemani sebatang Gudang Garam Surya, kami berbagi cerita sembari menikmati alunan kicau burung Merpati ditengah hamparan rumput hijau di pucuk bukit Pulau Samakur.


Leonardo Juan Christanto Putra Antropologi Budaya 2016

Vakansi Lokasi : Biak,Papua.

Di minggu-minggu terakhir KKN, kami seringkali diajak kakak-kakak pergi berlibur di pulau lain. Kesempatan berlibur tersebut akhirnya kami gunakan untuk beach camp di tepi pantai Pulau Mioswarek. Bersama Isul, Morris membakar ikan tuna ekor kuning hasil tangkapan Pak Guru Yarangga untuk dijadikan fondasi liburan kami di Pulau Mioswarek.


Naufal Hanif Zulfikar-Akuntansi 2016

Sahabat Sejati

Lokasi : Desa Samberpasi, Biak Numfor, Papua

Kenapa sih KKN di Papua? Mungkin hal ini yang sering dilontarkan oleh teman-temanku di Kampus. Memang saya sendiri syok akan lokasi KKN yang tergolong daerah 3T (Tertinggal, terdepan, dan terluar). Saya awalnya membayangkan bagaimana bisa hidup selama dua bulan dengan tidak ada sinyal internet dan listrik yang hanya tersedia di malam hari. Walaupun di minggu-minggu pertama saya merasakan kesengsaraan akan tidak adanya internet dan listrik, saya mulai menyadari bahwa hal tersebut bukan apa-apa dibandingkan perjuangan mereka, Masyarakat Kampung Samberpasi, dalam berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dengan tidak adanya sinyal, hal inilah yang membuat kami, Tim KKN Biak, sangat dekat dengan masyarakat. Mulai dari bermain voli di sore hari, berenang dengan anak-anak kecil, dan mencari kayu di hutan. Mereka berdua merupakan salah dua dari banyak sahabat kecilku di Kampung Samberpasi. Mungkin tidak setiap hari kami berenang di ujung dermaga, tetapi perlu diingat bahwa foto ini merupakan hari terakhir kami, Tim KKN Biak, untuk dapat berenang bersama, melupakan kesedihan sejenak bahwa sebenarnya besok kami telah kembali pulang ke Yogyakarta. Walaupun dari raut wajah mereka tidak terlihat rasa sedih sedikitpun, tapi kami yakin sungguh berat untuk melupakan memori selama dua bulan yang kami habiskan bersama mereka.


Naufal Hanif Zulfikar-Akuntansi 2016

Sang Penari

Lokasi : Desa Samberpasi, Biak Numfor, Papua

Sungguh sebuah kesempatan yang sangat jarang bagi kami, Tim KKN Biak, diundang secara langsung oleh Bupati Biak Numfor, Bapak Herry Ario Naap, untuk menghadiri acara tahunan “Festival Biak Munara Wampasi� yang ke tujuh. Ini adalah momen dimana penari pembuka acara Fetival sedang bersiap. Dengan pakaian yang ada, dan corak body painting dari seniman lokal, berhasil membuat kami yang datang jauh dari Pulau Jawa terkesima. Pada hari pertama kami datang di Kabupaten Biak Numfor, kami langsung diundang untuk menyaksikan gladi bersih festival. Tentu saja selama seminggu penuh, kami juga diundang untuk datang mengikuti seluruh raingkaian festival. Mulai dari pembukaan, Snap mor (menangkap ikan di air laut surut), Apen beyerene (berjalan kaki diatas batu panas), hingga penutupan. Mungkin dengan kami mengikuti seluruh rangkaian festival selama seminggu, kami mulai dapat beradaptasi dengan budaya yang ada di Biak Numfor. Hal ini mengajarkan saya bahwa beberapa asumsi tentang masyarakat Papua yang seringkali dinilai masyarakat yang anarkis, tidak mengerti adat istiadat, dan tidak mengenal sopan santun salah besar. Saya sangat takjub dan terheran-heran dengan keramah tamahan yang Masyarakat Biak miliki. Walaupun kami tidak kenal dengan masyarakat disana, acap kali kami disapa dan diajak mengobrol tentang hal apapun. Memang benar Masyarakat Papua merupakan masyarakat yang keras, artian keras dalam hal ini adalah mereka keras dalam menjalani hidup. Tidak seperti yang kita alami di Pulau Jawa, menyepelekan hampir segala hal.


Naufal Hanif Zulfikar-Akuntansi 2016

Pendidikan Merupakan Sebuah Kunci Lokasi : Desa Samberpasi, Biak Numfor, Papua

Seperti yang kita ketahui, Provinsi Papua tertinggal dari beberapa aspek, salah satunya merupakan aspek pendidikan. Masih banyak anak-anak yang tidak memiliki akses ke sekolah yang baik, khususnya di kampung kami, Samberpasi. Tidak bisa dipungkiri beberapa dari mereka masih buta huruf. Salah satu penyebabnya mungkin kurangnya tenaga pengajar yang mumpuni. Bayangkan, di Kampung Samberpasi, murid sekolah dasar mulai dari kelas 1-6 hanya memiliki satu orang guru. Tapi kami percaya bahwa semangat mereka sangatlah tinggi, dan kami yakin seharusnya Papua tidak hanya dibangun dengan materi, tetapi membangun Papua hendaknya menggunakan hati. Walaupun kami merasa masih banyak kekurangan dari programprogram yang kami jalani, khususnya divisi saya, divisi pariwisata, kami sangat bahagia dan terharu ketika Kampung Samberpasi ditetapkan oleh Kepala Dinas Pariwisata menjadi kampung wisata dan satu-satunya kelompok sadar wisata yang memiliki SK di Biak Numfor.

Tentu kami memulainya dari pelatihan kepemanduan, penyambutan tamu, dan semua hal yang diperlukan untuk menjadi kampung wisata. Di hari terakhir sebelum kami pulang, Masyarakat Samberpasi dan kami mengadakan acara Festival Kasumasa Samberpasi. Hingga hari itu, saya merasakan arti pengabdian yang sesungguhnya. Perpisahan Bersama masyarakat kampung dan menyanyikan Lagu Hymne Gadjah Mada, disitu saya baru merasakan arti sesungguhnya dari Lagu Hymne Gadjah Mada. Setelah kami mengetahui bagaimana kesusahan hidup Masyarakat Samberpasi, Divisi Pariwisata di tim KKN kami tidak peduli nantinya akan memiliki dokumentasi yang bagus atau tidak. Karna, yang menjadi tujuan kami adalah bagaimana kami sebagai satu tim KKN dapat memajukan ekonomi Masyarakat Samberpasi. Kami ingin masyarakat disana memiliki penghasilan lebih yang bersumber dari sektor pariwisata.


Naufal Hanif Zulfikar-Akuntansi 2016

Kesehatan Merupakan Sebuah Kunci Lainnya Lokasi : Desa Samberpasi, Biak Numfor, Papua

Selain aspek Pendidikan, Provinsi Papua tertinggal dari segi aspek kesehatan. Kami, Tim KKN Biak, berusaha mulai dari hal yang sederhana, yakni mengajarkan mereka akan pentingnya sikat gigi dua kali sehari. Momen ini adalah momen yang sangat menyentuh hati bagi saya. Kami di kampung masing-masing memiliki keluarga angkat, dan adik-adik ini lah keluarga angkat kami. Bersyukur saya memiliki orang tua angkat yang amat sangat peduli dengan saya sejak hari pertama saya datang di kampung mereka. Di minggu pertama setelah kedatangan, saya disana sakit demam. Setiap sore saya diajak oleh keluarga angkat saya untuk dibuatkan jamu dan dipijat dengan racikan tradisional yang mereka percaya. Bahkan, saya sangat sedih ketika kakek angkat saya, yang mengantarkan saya ke puskesmas untuk cek darah antisipasi terkena malaria, meninggal dunia setelah satu hari saya sembuh dari penyakit demam saya. Perlu diketahui, untuk ke puskesmas terdekat saja, kami harus menaiki perahu selama 30 menit.

Sungguh pelajaran yang luar biasa bagi saya selama kami menetap di Kampung Samberpasi. Mulai dari diajarkan mengemudi perahu, memancing ikan, keliling pulau, hingga diajarkan membuat jamu yang sebelumnya membuat saya sembuh dari penyakit demam. Saya tidak tahu bagaimana bisa saya dapat membalas semua jasa mereka. Ditambah ketika orang tua angkat saya nangis ketika berpelukan sebelum pulang. Dan puncaknya adalah ketika kami diantar oleh perahu penyambutan yang terdiri dari bapak kampung dan anggota-anggota pokdarwis. Yaappp, anggota pokdarwis yang sebelumnya saya dan teman-teman divisi pariwisata berdiskusi dan berlatih bersama. Untuk terakhir kalinya, Kasumasa Samberpasi, Jou marandan bebye, Bila ingat akan kembali!


Satria Aji-Ilmu Ekonomi 2016

Sekolah Pantai

Lokasi : Samberpasi, Aimando Padaido, Biak Numfor, Papua

Beri saya sedikit waktu untuk menceritakan sedikit kepada anda tentang keadaan di kampung ini. Di Kampung Samberpasi, hanya ada satu sekolah yang berdiri, SD Inpres. Gurunya? Satu. Jumlah anaknya pun bisa dihitung jari. Kesadaran akan pentingnya pendidikan pun tidak dimiliki semua orang, tapi yang saya tahu, mereka mau belajar. Walaupun kadang menguras tenaga menghadapi lincahnya mereka yang suka berlarian di kelas, tapi mereka mau dan mereka semangat. Mengajar mereka yang hanya dibagi dua kelompok (Kelas 1-3 dan Kelas 4-6) memang tidak mudah, tapi semua akan terbayar saat melihat antusiasme mereka saat mengerjakan latihan soal, dan menyemangati mereka hanya untuk sekedar melawan kemalasannya menyelesaikan soal. Sekolah Pantai sendiri merupakan salah satu program dari divisi pendidikan di unit PA-006 yang selalu dilakukan setiap selasa, rabu dan jumat sore. Program ini bertujuan untuk mengaktifkan kembali rumah baca yang sudah dibangun oleh Taman Wisata Perairan (TWP) Padaido yang sudah berdiri, namun jarang dipakai.

Maka dari itu, dengan mengaktifkan kembali rumah baca, nantinya anak-anak diharapkan agar terbiasa menggunakannya dan tergugah niat belajarnya. Di Sekolah Pantai ini, kegiatan yang dilakukan pun bermacam-macam, dari belajar membaca, menulis, dan mewarnai. Selain itu, dalam pelaksanaan Sekolah Pantai ini merupakan tempat anak-anak mengasah kepercayaan dirinya, mengenal baik lingkungan tempat tinggalnya, menjaga keindahan laut di sekitar mereka. Anak-anak selalu antusias dalam mengikuti program ini dan meninggalkan aktivitas bermain mereka setiap ada sekolah pantai. Perlahan tapi pasti, anak-anak pun mulai terbiasa untuk meluangkan waktunya untuk belajar di sore hari di Taman Baca ini. Selain diisi oleh teman-teman dari divisi pendidikan, Sekolah Pantai juga selalu dibantu oleh teman-teman divisi lainnya. 1 bulan setelah kepulangan kami dari Samberpasi, kami mendapat kabar bahwa mama-mama di Samberpasi lah yang kini tetap menjaga kegiatan ini, tapi dengan menemani anak-anak agar mereka belajar setiap sore, dari senin sampai jum’at, di Rumah Baca.


Satria Aji-Ilmu Ekonomi 2016

Hari Ke 37

Lokasi : Samberpasi, Aimando Padaido, Biak Numfor, Papua

Setelah 37 hari kami membantu warga Samberpasi, akhirnya tiba waktu untuk berpisah. Berat rasanya, karena ikatan yang mulai terjalin antara kami dengan warga dan utamanya pemuda kampung sudah sangat kuat. Waktu berjalan sangat cepat, dan 37 hari ini akan selamanya menjadi hal yang hanya dapat diingat dan pengalaman yang tidak terlupakan. 37 hari juga kami membantu masyarakat Samberpasi untuk meraih kembali mimpi mereka, tentu dengan usaha yang keras dan kesabaran yang luar biasa, hal yang semula kami rasa bisa saja tidak tercapai dalam waktu 37 hari, bisa tercapai. Hari itu, hari paling kelabu. Langitnya biru, tapi tidak dengan perasaan kami semua, sendu. Tak ada mata yang tak bengkak. Tak ada hati yang tidak teriak. Sedih buat saya karena saya merasa saya belum bisa maksimal, bahwa sebenarnya saya masih ingin tinggal 2-3 hari dan pergi lagi ke banyak tempat yang ingin di jelajahi. Apa daya, waktu kami semua sudah habis, dengan misi yang tercapai: Samberpasi sudah siap menjadi desa wisata. Kejutan terakhir dari masyarakat yang akan selalu kami ingat hari itu adalah, mereka mengawal kami pulang sampai di pulau terdekat dengan perahu tradisional mereka, membentuk formasi yang dipimpin langsung oleh Bapak Kampung. Kami tidak menyangka karena biasanya formasi dan “pengawalan� itu hanya dilakukan saat menyambut tamu yang spesial, tapi waktu itu mereka pun mengantar kami pulang dengan cara yang sangat spesial.

Malam terakhir kami di Biak, sepulang menghadiri jamuan terakhir dari Bapak Sekretaris Daerah Kabupaten Biak Numfor, Bapak Markus O. Mansnembra (Bapak Sekda salah satu orang yang paling perhatian dengan kami, dan sangat membantu kelancaran program-program kami selama di Biak) kami mendapat kejutan. Hampir semua masyarakat mendatangi tempat kami menginap di Biak Kota. Malam itu saya hampir tidak tidur karena ingin memaksimalkan waktu terakhir dengan keluarga angkat saya selama di Samberpasi. Esoknya, kami diantar pulang juga oleh mereka ke Bandara Frans Kaisiepo. Tangis pecah untuk kedua kali, dan (mungkin) terakhir kalinya. Catat satu hal: kami bukanlah faktor utama dari keberhasilan ini, tapi keteguhan hati dan ketekunan semua masyarakat Samberpasi dalam berusaha lah yang selalu mendorong semangat kami untuk membantu mereka. 37 hari inilah yang akan menjadi pelajaran hidup yang penting bagi kami dan semua masyarakat Samberpasi. Keberadaan kami mungkin hanya sementara, namun ikatan ini akan terjalin selamanya, Kasumasa... Kasumasa, Samberpasi.


Satria Aji-Ilmu Ekonomi 2016

Kehidupan yang diidamkan? Lokasi : Samberpasi, Aimando Padaido, Biak Numfor, Papua

2 hari menuju puncak kegiatan di Samberpasi, cuaca hari itu sangat cerah. Sore itu saya sedang menyelesaikan pekerjaan akhir yang cukup berat. Sejenak beristirahat, sekilas saya melihat langit sore di sebelah barat pulau. Saat itu pukul empat sore, dan warna cahaya matahari sudah mulai keemasan. Yap, sudah mau memasuki golden hour. Saya bergegas menyelesaikan pekerjaan dan segera pergi ke dermaga sore itu. Sudah banyak anak-anak bermain di dermaga, berlari-lari lalu meloncat ke laut, seperti biasanya. Awalawal mungkin terlihat biasa saja, namun kalau dilihat lagi, inilah kehidupan yang mungkin diidamkan banyak orang, dan mungkin anak-anak seusia mereka di kota lain. Bebas dari gawai dan hiruk pikuk kehidupan dunia maya, hidup berdampingan dengan alam yang luar biasa indahnya, meloncat bak hidup tanpa beban, lalu naik lagi ke dermaga, loncat bergantian dengan temannya, sampai matahari terbenam, atau sampai mama-mama memanggil


Satria Aji-Ilmu Ekonomi 2016

Keindahan langit malam Samberpasi Lokasi : Samberpasi, Aimando Padaido, Biak Numfor, Papua

Memotret dan menikmati milky way memang bisa dibilang susah-susah gampang. Selain butuh lokasi yang baik, jauh dari polusi cahaya. Melihat milky way cukup mudah di Samberpasi. Kala itu bulan Juli, sehingga tak perlu waktu lama untuk melihat terbitnya sang bima sakti setelah matahari terbenam. Tidak perlu aplikasi, kita pun bisa menebak letak milkyway nya dengan mata telanjang karena langitnya sangat cerah dan minim polusi cahaya. Milkyway ini sering menjadi teman setia teman-teman KKN saat menelpon keluarga, teman dan kesayangannya (re: pacar) di pantai, yang merupakan satu-satunya tempat dimana mereka bisa mendapat sinyal. Walaupun tak tertangkap kamera, di pantai ini pun kami selalu disuguhi hamparan “bintang” di pantai, yaitu cahaya bioluminesensi plankton-plankton. Tapi kadang cerahnya langit di Samberpasi tidak berlangsung lama. Biasanya belum satu jam, sudah mulai banyak awan. Kadang tidak hujan, kadang disertai angin keras yang akhirnya memaksa saya untuk segera packing lalu kembali ke pondokan. Ada cerita horror dimana saya didatangi anak kecil saat mengambil foto milky way berlatar belakang Pulau Meosmangguandi di ujung dermaga. Saat itu saya bingung kenapa ada yang bisa tau kalo saya motret di ujung dermaga ini. Saya tidak bisa melihat siapa wajahnya karena sangat gelap. Lampu yang ada pun hanya nyala 15 detik, lalu mati beberapa saat, lalu nyala lagi. Akhirnya saya minta anak tersebut untuk memanggilkan salah satu teman saya di pondokan. Anak-anak cukup dekat dengan kami sehingga tidak mungkin ia tidak tahu dimana letak pondokan. Satu jam, dia tidak kembali. Akhirnya karena saya kedinginan saya putuskan untuk membatalkan hunting di malam itu (di Samberpasi, tidak ada sinyal jadi tidak mungkin saya WhatsApp teman-teman saya “ P P P tolong sini dong bantu gue hunting” Ternyata, warga yang rumahnya dekat dermaga tidak melihat ada satupun anak yang datang ke dermaga (Karena warga ini sudah ada di luar rumahnya dan tau saya ke dermaga karena kita saling menyapa) dan tidak ada satupun teman saya di pondokan yang melihat anak itu. Saya berhusnudzan bahwa mungkin anaknya kebelet buang air lalu pulang kerumah. Namun, sepulang dari Samberpasi, saya pun diceritakan oleh teman saya bahwa masyarakat tidak menceritakan beberapa hal karena takut kami jadi tidak leluasa, dan memang tidak ada yang separah itu sih. ternyata memang ada cerita di masyarakat bahwa di ujung dermaga adalah salah satu tempat yang “berpenghuni” di Samberpasi. Wallahua’lam. Itulah kejadian unik yang kadang selalu saya temui saat motret di malam hari. Dimanapun.


Satria Aji-Ilmu Ekonomi 2016

Indahnya Padaido

Lokasi : Samberpasi, Aimando Padaido, Biak Numfor, Papua

Hari itu kami sedang pergi Island Hopping ke beberapa pulau yang akan menjadi tujuan Pariwisata untuk wisatawan yang akan ke Samberpasi. Kami pergi ke beberapa spot seperti Pulau Nukori, Pulau Samakur dan Pasir Timbul. Nantinya, jika ada wisatawan yang akan pergi ke Samberpasi, maka tim pokdarwis akan mengarahkan wisatawan untuk Island Hopping ke beberapa tempat yang indah dan punya daya tarik sendiri. Bapak kampung Samberpasi selalu siap untuk mengantar kemanapun kami ingin pergi, entah untuk Island Hopping atau mencari spot snorkeling. Foto ini diambil saat kami beranjak pergi dari Pulau Samakur, saat itu bapak bercerita bahwa beliau sangat jago berenang. Lalu ia melepaskan bajunya dan loncat ke air, berenang sampai ke perahunya lalu menjemput kami semua. Mengutip lagu Aimando Mios, lagu yang selalu dinyanyikan warga kepulauan Aimando: “Awino yararo sup bondi naiwara Se yaswarna Yaswarna snaro sorn nairawa Na Fomaref Bandaina Srai Rambe Kewer” Artinya: “Wahai bunda, ku pergi jauh merantau di negeri orang Kukenangkan pesona laut, lumbung ikan Pesisir dan daun nyiur yang melambai”


Satria Aji-Ilmu Ekonomi 2016

Tentang Manikersi

Lokasi : Samberpasi, Aimando Padaido, Biak Numfor, Papua

Manikersi merupakan nama kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang diresmikan tanggal 14 Agustus 2019 di Samberpasi oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor. Pokdarwis ini merupakan yang pertama kalinya disahkan oleh pemda setempat. DIbalik itu semua, ada kisah yang akan selalu kami ingat: Hari pengesahan pokdarwis merupakan puncak dari pengabdian kami di Samberpasi, dan juga momen yang sudah dinantikan oleh seluruh warga sejak lama. DI hari itu juga, Kedai Indaf Sau disahkan, dan Samberpasi resmi sudah lebih siap menjadi desa wisata. Menjadi pokdarwis pertama yang disahkan, perjuangannya pun tidak mudah. Mereka harus melawan ego dan membuka diri kembali untuk belajar banyak hal. Proses tersebut tidaklah mudah, dan justru sebaliknya: kami yang lebih banyak belajar. Pengabdian kami lebih dari sekedar memberikan sosialisasi dan pelatihan, tapi juga mewariskan hal-hal yang nantinya akan selalu dapat digunakan secara berkelanjutan oleh seluruh warga, utamanya Pokdarwis. Waktu yang tidak banyak pun menjadi tantangan tersendiri untuk masyarakat, khususnya untuk kami juga. Pagi sampai sore bekerja membangun kedai dan infrastruktur pendukung, lalu dilanjut berdiskusi, kadang berlatih, malamnya belajar bahasa inggris hingga larut. Membacanya saja sudah terdengar capek, tapi semangat mereka untuk berubah membuat kami harus jauh lebih semangat lagi.


Satria Aji-Ilmu Ekonomi 2016

Kisah dari ujung nusantara

Lokasi : Samberpasi, Aimando Padaido, Biak Numfor, Papua

Foto ini diambil di hari ketiga perjalanan KKN saya di Biak. Waktu itu kami sedang membantu mendokumentasikan acara terbesar di Biak, yang juga merupakan salah satu agenda di Calendar of Event Kementerian Pariwisata: Festival Biak Munara Wampasi VII. Pembukaannya sangat meriah, dan mereka semua sangat antusias. Selama persiapan, semua penampil terlebih dulu mendapatkan face painting. Di momen itulah kami semua mulai banyak berinteraksi dengan warga Biak. Masyarakat, utamanya anak-anak, cukup menyambut kami dengan hangat, bahkan tidak sungkan untuk meminta di foto.


Syahrul Alfi Q-Arkeologi 2016

Kitorang Pu Sodara

Lokasi : Supiori, Unit Supiori Provinsi Papua

Orang papua adalah saudara kita, kita sama-sama punya tanah air, sama-sama punya hak yang sama. Tapi mengapa bangsa kita belum berbagi secara adil ? padahal kita sama-sama punya tanah air,sama-sama punya hak? Tapi dimanakah keadilan bagi saudara kita ini ? Marilah bersama-sama kita ciptakan keadilan bagi saudara-saudara kita dari timur ini.


Syahrul Alfi Q-Arkeologi 2016

Berbagi Kebahagiaan

Lokasi : Supiori, Unit Supiori Provinsi Papua

Mahasiswa KKN, Kebahagian dan Anakanak, 3 hal yang saling berkaitan tiap kali KKN-PPM UGM di laksanakan di Sabang sampai Merauke, berbagi kebahagiaan bersama anak-anak juga merupakan hal wajib bagi kami mahasiswa KKN selama kami mengabdi. Dalam foto ini Rivol mahasiswa KKN PA-010 di kerubungi anak-anak dari SD Inpres Pariem yang ingin mendapatkan sedikit ‘kebahagiaan’ dari KKN UGM yang hadir di distrik Supiori Timur.


Syahrul Alfi Q-Arkeologi 2016

The Chief Lokasi : Supiori, Unit Supiori Provinsi Papua

Salah satu tetua adat dari kampung Wandos Distrik Bondifuar Biak Utara, beliau menjadi pemimpin acara tarian pembuka untuk dimulainya acara adat Snap Mor Wandos Munara Rari Byak 2019 yakni festival tangkap ikan tradisional.


Syahrul Alfi Q-Arkeologi 2016

Antrean Melompat

Lokasi : Supiori, Unit Supiori Provinsi Papua

Disela-sela survei kawasan wisata di Kyamdori Distrik Supiori Barat, dua orang mahasiswa KKN mengantre untuk mencoba terjun ke laut dari atas pohon kelapa bersama anak-anak dan warga lokal Supiori termasuk Sekretaris Desa Bapak Elly Imbab (ujung kiri).


Syahrul Alfi Q-Arkeologi 2016

Para-para Papa Lion Lokasi : Supiori, Unit Supiori Provinsi Papua

Pondok atau sering disebut para-para milik Bapak Lion Mniber adalah salah satu tempat terbaik dan favorit kami untuk mengerjakan program kami, menulis laporan, makan siang dan malam, untuk berdiskusi sambil melihat lautan Pasifik, minum kelapa segar di saat teriknya siang hari, untuk berkumpul sebelum berenang, atau hanya sekedar nongkrong santai di pinggir pantai dengan lagu khas timur atau lagu dari Marthen Yawan (Aten)


Syahrul Alfi Q-Arkeologi 2016

Rayuan Bocah Pasir Lokasi : Supiori, Unit Supiori Provinsi Papua

Pantai-pantai di Supiori merupakan tempat bermain bagi kami mahasiswa KKN juga anak-anak di tempat kami mengabdi, bermain air dan bermain pasir pantai sudah menjadi kebiasaan setelah banyak melalui hari-hari pengabdian, anak-anak di tempat pengabdian kami sering ‘caper’ kepada kami mahasiswa KKN salah satu caranya dengan ‘merayu’ kami dengan melumuri pasir di sekujur tubuhnya dan mengajak kami bermain pasir bersama-sama di pinggir pantai di kala sore hari.


Tio Ardiansah-Teknik Geologi 2016

Surga Ikan di Supiori Lokasi : Supiori, Unit Supiori Provinsi Papua

Ikan adalah komoditi utama masyarakat Desa Paryem, Distrik Supiori Timur. Berada bersebelahan dengan Samudera Pasifik adalah anugerah karena merupakan tempat bermigrasinya ikan-ikan besar. Hal tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh penduduk sekitar dengan berprofesi sebagai nelayan. Salah satu ikan besar yang dapat ditangkap adalah Ikan Merah (sebutan warga sekitar). “ Ikan Merah disini banyak, disini harga paling mahal lima ratus ribu an jika dijual di Pasar Sorendiweri, tetapi kalo di jual di Biak bisa sampai 1 juta an lebih untuk ukuran besar.�, ujar Bapak Sarmi selaku nelayan Desa Paryem. Selain ikan merah tersebut, dapat dijumpai gerombolan Ikan Cakalang yang muncul dipermukaan laut. Nelayan sering memanfaatkan ikan cakalang untuk memancing ikan-ikan yang lebih besar seperti Ikan merah, Ikan Tuna, maupun Ikan Marlin jika beruntung. Berbekal pengalaman, umpan, dan bahan bakar, nelayan mencari ikan-ikan ditempat tinggal ikan yang tidak menentu diperairan lepas. Terkadang hal ini menyulitkan untuk menandai tempat bersarangnya ikan-ikan besar. Walaupun perairan didaerah ini kaya dengan ikan,namun kendala bahan bakar yang mahal menghambat para nelayan untuk mencari ikan. Selain itu, cuaca yang tidak menentu di Samudera Pasifik terkadang membuat para nelayan khawatir. Inovasi yang didatangkan Tim KKN-PPM UGM Supiori 2019 kepada para nelayan adalah penggunaa Avenza yang diintegrasikan dengan database tempat tinggal ikan. Teknologi ini di harapkan akan memudahkan nelayan dalam mencari ikan dan tidak tersesat jika akan pulang dari melaut. Akan tetapi, terdapat hambatan yaitu kurangnya kepemilikan smartphone di kalangan bapakbapak nelayan. Efektifitas edukasi Avenza diperlukan berupa pengedukasian kepada anak-anak muda Kampung Paryem dalam menemani orang tua mereka ataupun mengajari bagi orang tua mereka yang tergolong sudah tua.


Tio Ardiansah-Teknik Geologi 2016

Tatapan Masa Depan Lokasi : Supiori, Unit Supiori Provinsi Papua

Potret seorang anak bernama Rohit Yawan Mniber berumur sekitar 12-14 tahun. Anak ini berasal dari kampung Paryem, Distrik Supiori Timur. Hobi anak ini adalah bermain bola dan memancing. Terkadang jika cuaca baik di sore hari ia dan teman-temannya bermain bola di lapangan Kampung Paryem dan jika malam ia bersama teman-temannya mencari ikan dan udang ataupun lobster laut di pinggir-pinggir karang. Walaupun memiliki hobi yang cukup menguras energi, Rohit tetap menomorsatukan pendidikannya. Hal itu terbukti dengan tingkat kehadiran dan prestasi Rohit di SMP Paryem.Dibandingkan dengan teman-teman sebayanya yang keinginan belajar di sekolahnya kurang, Rohit percaya bahwa dengan menempuh pendidikan adalah gerbang untuk menuju kehidupan lebih baik.


Tio Ardiansah-Teknik Geologi 2016

Apa yang sedang kalian lakukan? Ayo Bermain Lokasi : Supiori, Unit Supiori Provinsi Papua

Potret seorang anak bernama Mansar Wesley Mniber berumur sekitar 4-5 tahun. Anak ini berasal dari kampung Paryem, Distrik Supiori Timur.Dalam foto menunjukan ekspresi salah satu anak bernama Mansar, yang mungkin saja sedang bingung dan berpikiran “apa yang sedang kalian lakukan?” atau mungkin saja “maukah kalian bermain bersamaku?” dengan rasa malu-malu.


Tio Ardiansah-Teknik Geologi 2016

Tertawa Bersamaku Lokasi : Supiori, Unit Supiori Provinsi Papua

Potret seorang anak bernama Marthen Mniber berumur sekitar 6-7 tahun. Anak ini berasal dari kampung Paryem, Distrik Supiori Timur. Dalam foto menunjukan ekspresi tersenyum dengan maksud mengajak kami untuk bermain dengannya.


Tio Ardiansah-Teknik Geologi 2016

Senang Dapat Membantu dan Menemaniku Bermain Lokasi : Supiori, Unit Supiori Provinsi Papua

Potret seorang anak bernama Sandia Daniel Mniber berumur sekitar 8-9 tahun. Anak ini berasal dari kampung Paryem, Distrik Supiori Timur.Dalam foto menunjukan ekspresinya tersenyum dan sesekali menggoda kami. Sering dipanggil Dani, anak ini memiliki hobi bermain menggelindingkan roda ban, mencari ikan, dan berenang bersama teman-temannya. Anak dari Kepala Desa Paryem, Bapak Melkias Mniber, ini sering menemani dan membantu kami berpergian kemana saja saat mencari ikan, udang/lobster, berenang, mencari kayu bakar, bermain UNO ataupun game yang kami bawa dari Yogyakarta.

Profile for VICKY HERMAWAN

Buku Foto Pameran KKN PPM UGM 2019  

Buku ini merupukan kumpulan foto dari mahasiswa UGM yang KKN mulai dari Pulau Sumatra hingga Pulau Papua, masing-masing memiliki cerita di d...

Buku Foto Pameran KKN PPM UGM 2019  

Buku ini merupukan kumpulan foto dari mahasiswa UGM yang KKN mulai dari Pulau Sumatra hingga Pulau Papua, masing-masing memiliki cerita di d...

Advertisement